Anda di halaman 1dari 17

Proposal Tugas Akhir

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bidang informasi dan komunikasi merupakan sektor ekonomi yang paling cepat
terbuka dan mendunia. Hal ini dibuktikan dengan semakin berkembangnya penggunaan
satelit, seluler, dan internet. Sejalan dengan perkembangan pada teknologi 3G (UMTS),
maka pengguna sistem komunikasi bergerak saat ini lebih membutuhkan kecepatan untuk
mengakses data yang telah menjadi raja di zaman teknologi tinggi seperti sekarang.

Kebutuhan akan akses data yang cepat sangat penting terutama sejak
berkembangnya teknologi seluler dan meluasnya pengguna internet di kalangan pelaku
bisnis maupun pelajar. Sebagai masyarakat telekomunikasi, mereka membutuhkan
layanan komunikasi suara, data, dan multimedia yang terus menerus saat mereka berada
di kantor, mall maupun di rumah. Datangnya teknologi Long Term Evolution (LTE)
menjadi angin segar untuk para konsumen yang mengagungkan kecepatan dalam
mengakses data tersebut. Dimana, sistem yang merupakan perkembangan dari sistem
3G(UMTS), 3,5G(HSDPA), 3,75G(HSPA+) bahkan 3,9G(HSOPA) menawarkan
berbagai layanan dengan kecepatan tranfer data hingga 100 Mbps.

Mengingat pentingnya kebutuhan akan akses yang cepat terhadap layanan


tersebut di masa sekarang atau mendatang, maka perlu dilakukan suatu analisis untuk
melakukan migrasi dari jaringan UMTS ke LTE. Cakupan yang akan dibahas antara lain,
penerapan teknologi yang dilakukan untuk dapat migrasi jaringan, mapping antara
teknologi UMTS dengan LTE sehingga migrasi dapat berlangsung optimal.

1.2 Rumusan Masalah


Untuk memfokuskan lingkup pembahasan tugas akhir ini, analisis dilakukan
dengan berdasar pada permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan multimedia dan
pengiriman data berkecepatan tinggi?

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

2. Bagaimana cara menerapkan teknologi LTE pada teknologi yang eksisting saat ini?
3. Bagaimana mapping antara teknologi UMTS dengan LTE sehingga migrasi dapat
dilakukan secara optimal?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian


Penyusunan Tugas Akhir ini bertujuan untuk memberikan kajian penelitian
tentang migrasi dari teknologi UMTS menuju teknologi LTE. Sedangkan manfaat yang
diharapkan dari tugas akhir ini adalah :
1. Memberikan pertimbangan-pertimbangan untuk melakukan proses migrasi dari
teknologi UMTS menuju teknologi LTE.
2. Meningkatkan kualitas layanan bagi pelanggan UMTS yang membutuhkan transfer
data dan multimedia berkecepatan tinggi dengan menggunakan teknologi LTE.

1.4 Batasan Masalah


Agar dalam pengerjaan tugas akhir ini diperoleh hasil yang optimal, maka
masalah akan dibatasi sebagai berikut :
1 Analisis mekanisme kerja perangkat jaringan LTE hanya pada E-UTRAN.
2 Frekuensi kerja dari LTE yang digunakan berada pada frekuensi 2,5 GHz.
3 Tidak membahas proses pensinyalan (signaling).

1.5 Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah :
1. Studi Literatur
Bertujuan merumuskan dan mengkaji masalah dengan berbagai referensi (buku dan
jurnal) yang mendukung.
2. Penentuan dan pengambilan data lapangan.
3. Analisis dan pengembangan sistem
Bertujuan menganalisis sistem yang eksisting dan sistem yang akan dikembangkan
serta proses perpindahannya/migrasi.
4. Diskusi dan konsultasi

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

1.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian singkat berupa latar belakang, rumusan masalah,
tujuan pembahasan, batasan masalah, metodologi penyelesaian masalah,
dan sistematika penulisan.
BAB II KONSEP DASAR TEKNOLOGI UMTS DAN TEKNOLOGI LTE
Bab ini berupa uraian konsep dan dasar teori, arsitektur, serta spesifikasi
dari sistem jaringan UMTS dan sistem jaringan LTE.
BAB III EVALUASI SISTEM UMTS DAN LTE
Dalam bab ini dibahas tentang kondisi eksisting jaringan UMTS serta
permasalahan dalam pelaksanaannya di lapangan.
BAB IV ANALISIS PROSES MIGRASI JARINGAN DARI TEKNOLOGI
UMTS MENUJU LTE
Berisi analisis proses terjadinya migrasi, tahapan-tahapan yang harus
dilakukan, serta bagaimana menentukan perangkat yang harus diganti atau
dipertahankan berdasarkan parameter yang telah ditentukan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi kesimpulan dari keseluruhan pembahasan serta saran untuk
perbaikan dan pengembangan sistem lebih lanjut.

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Sekilas Teknologi Nirkabel

Teknologi akses dapat dibedakan atas teknologi berbasis wireline dan wireless.
Teknologi wireless berevolusi dari generasi pertama (1G) yang analog ke generasi kedua
(2G) yang digital dengan system yang terkenal Global System for Mobile communication
(GSM) berkembang ke GPRS. Lalu berkembang ke 3G dengan teknologi yang dikenal
sebagai Universal Mobile Telecommunication System (UMTS), lalu ke High Speed
Downlink Packet Access (HSDPA), kemudian High Speed Uplink Packet Access
(HSUPA), lalu ke High Speed OFDM Packet Access (HSOPA) dan sebagai pelengkap
dari teknologi wireless sebelumnya yaitu Long Term Evolution (LTE).
Teknologi LTE merupakan kandidat standar jaringan 4G yang dikembangkan
oleh 3GPP (grup GSM, terutama Ericsson ). Selain LTE, masih terdapat teknologi lain
yang direncanakan sebagai standar jaringan 4G, yaitu UMB (Ultra Mobile Broadband)
diajukan oleh 3GPP2 (grup CDMA 2000, terutama Qualcomm), dan WiMAX II oleh
WiMAX Forum (terutama Intel). Untuk lebih jelas, roadmap evolusi teknologi nirkabel
di dunia seperti di bawah ini.
(1) GSM (2G) - GPRS (2.5G) - EDGE - WCDMA (3G) - HSDPA (3.5G) - LTE (4G)
(2) CDMA (2G) - CDMA 2000 - EV-DO (3G) - UMB (4G)
(3) Wi-Fi - Fixed WiMAX - Mobile WiMAX - WiMAX II (4G)

2.2 Teknologi UMTS

Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) merupakan salah satu


sistem generasi ketiga yang dikembangkan di Eropa. Standarisasi dari UMTS ini
dilakukan oleh European Telecommunication Standard Institution (ETSI), selain itu
International Telecommunications Union Telecommunication Standardisation Sector
(ITU-T) mengerjakan sistem yang sama dinamakan International Mobile

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

Telecommunation System 2000 (IMT 2000). Kedua badan standarisasi ini dapat
melakukan kerjasama sehingga terbentuk satu sistem untuk masa yang akan datang.
UMTS dirancang sehingga dapat menyediakan bandwith sebesar 2 Mbits/s. Layanan
yang dapat diberikan UMTS diupayakan dapat memenuhi permintaan pemakai
dimanapun berada, artinya UMTS diharapkan dapat melayani area yang seluas mungkin,
jika tidak ada cell UMTS pada suatu daerah dapat di route-kan melalui satelit.
Frekuensi radio yang dialokasikan untuk UMTS adalah 1885-2025 MHz dan
2110-2200 MHz. Pita tersebut akan digunakan oleh cell yang kecil (pico cell) sehingga
dapat memberikan kapasitas yang besar pada UMTS. Multiple akses yang digunakan
dapat mengalokasikan bandwith secara dinamis sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Research and Technology Development in Advanced Communications Technologies in
Europe (RACE) telah mengembangkan dua jenis multiple akses yakni Code Division
Multiple Acces (CDMA) dan Time Division Multiple Acces (TDMA), dari keduanya ini
belum diputuskan yang akan digunakan.
UMTS mobile terminal mempunyai kemampuan untuk berhubungan dengan
jaringan dan dapat menggunakan layanan UMTS. UMTS acces network bertanggung
jawab terhadap fungsi-fungsi yang berhubungan dengan radio seperti handover dan
manajemen hubungan. Fungsi dari Core Network adalah switching dan transportasi data
sedangkan fungsi-fungsi yang berhubungan dengan pergerakan terminal
diimplementasikan pada Intelligent Network (IN).

2.2.1 Arsitektur UMTS

Jaringan UMTS terdiri dari tiga bagian yang saling berhubungan (Gambar 1),
yaitu:
1. User Equipment (UE) atau Mobile Equipment (ME) merupakan peralatan telepon yang
harus digunakan bersama dengan kartu SIM (Subsriber Identity Module). Kartu SIM
berisi kode khusus mengenai informasi pelanggan yang disebut International Mobile
Subscriber Identity (IMSI).
2. UMTS Terrestrial Radio Access Network (UTRAN) merupakan Base Station
Subsystem (BSS) yang terdiri dari satu atau lebih Radio Network Sub-system (RNS)

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

yang merupakan subjaringan dibawah UTRAN. UTRAN terdiri dari satu Radio
Network Controller (RNC) dan satu atau lebih node B.

Gambar 2.1. Arsitektur jaringan UMTS=3G.

RNC merupakan elemen jaringan yang bertanggung jawab terhadap kontrol sumber radio
UTRAN. RNC berhubungan dengan Core Network (CN) dan mengakhiri protokol Radio
Resource Control (RRC) yang menentukan pesan dan prosedur antara mobile dengan
UTRAN. Node B berfungsi melakukan proses pengkodean kanal dan pemisahan,
penyesuaian data, spreading kontrol daya dan lain-lain.
3. Core Network (CN) , terdiri dari Home Location Register merupakan database yang
berlokasi didalam system rumah pengguna yang menyimpan profil data pemilik
pengguna layanan.
Mobile Services Centre / Visitor Location Register yang digunakan untuk men-switch

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

transaksi circuit switch untuk memeriksa profil layanan kunjungan pengguna pada
lokasi UE dalam system layanan.
Equipment Identity Register merupakan database yang mendaftarkan tipe UE dan
menjaga database peralatan yang baru saja dicuri atau di-blacklist karena sesuatu hal,
Gateway MSC merupakan titik switch damana UMTS dan PLMN dihubungkan pada
jaringan eksternal CS.

Jaringan Eksternal dapat dibagi kedalam dua kelompok,yaitu :


a. Jaringan CS,yang menyediakan hubungan Circuit Switched, seperti keberadaan
layanan telepon, contoh ISDN dan PSTN.
b. Jaringan PS, yang menyediakan hubungan bagi layanan paket data , contoh internet.
312 PROSIDING
2.2.2 Alokasi Frekuensi UMTS

Spektrum frekuensi 5 MHz yang digunakan pada WCDMA FDD adalah 1920
MHz – 1980 MHz arah uplink serta 2110 MHz – 2170 MHz pada arah downlink. Jadi
untuk mode operasi FDD terdapat pemisahan sebesar 190 MHz antara uplink dan
downlink. Walaupun 5 MHz merupakan jarak carrier nominal, tetapi dimungkinkan
untuk jarak carrier pada frekuensi 4,4 MHz – 5 MHz pada setiap kenaikan 200 KHz. Hal
ini diperlukan untuk mencegah interferensi, khususnya jika blok 5 MHz berikutnya
dialokasikan untuk carrier yang lainnya.
Pada TDD, sejumlah frekuensi telah ditetapkan, antara lain frekuensi 1900 MHz
-1920 MHz dan 2010 MHz – 2025 MHz. Carrier yang diberikan digunakan pada arah
uplink dan downlink sehingga tidak ada pemisahan.

2.2.3 Model Propagasi UMTS

Penentuan Cakupan Jaringan Daerah Urban , menggunakan model propagasi


Walfish Ikegami dengan persamaan, yaitu :

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

dimana Lrts adalah rugi-rugi difraksi dan penghamburan rooftop-street, dengan


persamaan:

dimana LOri adalah rugi-rugi orientasi jalan dan Lmsd adalah rugi-rugi difraksi multiscreen,
dengan persamaan :

dengan asumsi tinggi BS lebih besar dari tinggi gedung.


Penentuan Cakupan Jaringan Daerah Suburban menggunakan model propagasi Okumura-
Hata dengan persamaan, yaitu :

dimana Llain adalah faktor koreksi tambahan untuk tipe tertentu. Untuk daerah suburban,
maka :

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

2.2.4 Link Budget UMTS

Link budget merupakan perhitungan sejumlah daya yang didapat oleh penerima
berdasarkan daya output pemancar dengan mempertimbangkan semua gain dan losses
sepanjang jalur transmisi radio dari pemancar ke penerima.
Link Budget radio bertujuan untuk menghitung area cakupan sel. Dimana salah satu
parameter yang diperlukan adalah propagasi radio yang memperkirakan rugi-rugi
propagasi antara pemancar dan penerima. Parameter lain yang diperlukan adalah daya
pancar, gain antenna, rugi-rugi kabel, sensitivitas penerima dan lain-lain, seperti
ditunjukkan gambar 2.2.

Gambar 2.2. Parameter-parameter link budget


Dalam sistem komunikasi bergerak perhitungan dilakukan dua arah yaitu dari MS
ke BS (uplink) dan dari BS ke MS (downlink). Perhitungan link budget digunakan untuk
menghitung besar Maximum Allowable Path Loss (MAPL) dalam sistem agar dapat
saling berkomunikasi. Penentuan besar cakupan sel berdasarkan perhitungan MAPL arah
uplink.
Dalam link budget WCDMA ada beberapa spesifik parameter yang digunakan dalam
sistem radio akses berbasis TDMA, adalah :
1. Interference margin
Interference margin diperlukan dalam link budget karena beban sel, dimana factor
beban mengakibatkan suatu cakupan sel. Semakin banyak beban yang diizinkan dalam

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

system,semakin besar interference margin yang diperlukan dalam uplink, dan semakin
kecil cakupan areanya.
2. Fast Fading margin (=power control headroom)
Power control headroom diperlukan dalam pengiriman daya MS untuk
mempertahankan kemampuan kontrol daya cepat. Kontrol daya yang cepat mampu secara
efektif mengimbangi fast fading.
3. Gain soft handover
Handover, baik soft atau hard akan memberikan penguatan terhadap slow fading (=log
normal fading) dengan mengurangi log normal fading yang dibutuhkan. Hal ini
dikarenakan slow fading secara sebagian tidak terhubung diantara BS dan arena MS
memerlukan handover, maka MS dapat memilih BS yang terbaik untuk terkoneksi. Soft
handover memberikan tambahan gain makro diversity terhadap fast fading dengan
relative mengurangi Eb/No pada single radio link akibat kombinasi makro
diversity. Total gain soft handover diasumsikan sebesar 2-3 dB termasuk penguatan
terhadap slow dan fast fading.

Tabel 2.1. Elemen link budget arah uplink/forward link

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

Tabel 2.2. Elemen link budget arah downlink/reverse link

2.3 Teknologi LTE

LTE didefinisikan dalam standar 3GPP (Third Generation Partnership Project)


Release 8 dan juga merupakan evolusi teknologi 1xEV-DO sebagai bagian dari roadmap
standar 3GPP-2. Teknologi ini dirancang untuk menyediakan efisiensi spektrum yang
lebih baik, peningkatan kapasitas radio, latency dan biaya operasional yang rendah bagi
operator serta layanan mobile broadband kualitas tinggi untuk para pengguna.
Perubahan siginifikan dibandingkan standar sebelumnya meliputi 3 hal utama, yaitu air
interface, jaringan radio serta jaringan core. Di masa mendatang, pengguna dijanjikan
akan dapat melakukan download dan upload video high definition dan konten-konten
media lainnya, mengakses e-mail dengan attachment besar serta bergabung dalam video
conference dimanapun dan kapanpun.
LTE dapat beroperasi pada salah satu pita spektrum seluler yang telah
dialokasikan yang termasuk dalam standar IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900, 2100
MHz) maupun pada pita spektrum yang baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

Selain LTE, ada teknologi lain yang mirip dengan LTE, yaitu UMB diajukan oleh
3GPP-2 (pengembang CDMA 2000), dan WiMAX II (IEEE 802.16m) oleh WiMAX
Forum. Semuanya bertransmisi dengan OFDMA, kecuali LTE yang bagian uplink-nya
menggunakan Single Carrier Frequency Division Multiple Access (SC-FDMA) dengan
alasan efisiensi daya pada terminal. UMB membayangkan akan mencapai kecepatan data
288 Mbps (pada lebar spektrum 20 MHz), sementara LTE menjanjikan sampai 250
Mbps. WiMAX II mengaku bisa menerobos angka 1 Gbps, tetapi di mode diam.

2.3.1 Arsitektur LTE

Gambar 2.3. Arsitektur jaringan 4G (3G LTE/SAE), 3G/3,5G HSPA dan IMS

Pada gambar di atas terlihat bahwa LTE akan menjadi salah satu kandidat
teknologi generasi ke-4 (4G) dengan perubahan sistem arsitektur yang lebih sederhana
dibandingkan teknologi wireless sebelumnya. Core network pada LTE didesain berbasis

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

IP sehingga tidak menggunakan Circuit System, yang ada hanya Packet System yang
dikenal dengan System Architecture Evolution (SAE).

MME / S-GW MME / S-GW

S1

S1
S1
S1

X2 E-UTRAN
eNB eNB
X2

X2
Gambar 2.4 Arsitektur
eNB Jaringan LTE

Asitektur jaringan LTE (gambar 2.2) merupakan pengembangan dari jaringan


UMTS, tetapi pada jaringan akses LTE dikenal sebagai E-UTRAN (Evolved Universal
Terresterial Radio Access Network). Perbedaan yang mendasar adalah pada jaringan LTE
tidak memerlukan RNC (Radio Network Controller) sehingga eNode B langsung
terhubung ke MME (Mobility Management Entity) melalui interface S1, sedangkan
sesama eNode B terhubung dengan interface X2. Interface X2 juga berfungsi sebagai
handover antar sesama eNode B dan pada jaringan LTE tidak ada yang namanya soft-
handover.
Fungsi eNode B adalah :
 Penghubung antara protokol MAC, RLC , RRC dan berfungsi sebagai Radio
Resource Management.
 Mengatur dan mengirimkan informasi yang datang dari MME
 Melakukan kompresi dan enkripsi IP header pada pengguna data steream.
 Alat penghubung antara MME dengan UE (User Equipment)
 Mengatur dan mengirimkan paging message yang datang dari MME
 Mendeteksi pergerakan user atau keberadaan user.

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

2.3.2 Alokasi Frekuensi LTE

LTE dapat beroperasi pada salah satu pita spektrum seluler yang telah
dialokasikan yang termasuk dalam standar IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900, 2100
MHz) maupun pada pita spektrum yang baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.
Pada tugas akhir ini spektrum frekuensi yang digunakan adalah 2500 – 2570 MHz
untuk arah Uplink dan 2620 – 2690 MHz untuk arah Downlink dengan Bandwidth 140
MHz. Pada frekuensi tersebut mendukung dua sistem duplex yaitu FDD (Frequency
Division Duplex) dan TDD (Time Division Duplex).

2.3.3 Model Propagasi LTE

Pada tugas akhir ini model propagasi yang digunakan adalah model COST 231
Walfish-Ikegami, model ini merupakan gabungan model empiris yang digunakan untuk
menghitung path loss pada area building dan urban dengan range frekuensi dari 800 MHz
sampai dengan 2.000 MHz.
Persamaan model COST 231 Walfish-Ikegami adalah :
Pers. II-12

LCWI = Lfs + Lrts + Lms (dB)


Atau
LCWI = Lfs ; untuk Lrts + Lms < 0
Untuk free space loss (Lfs) :
Pers. II-13

Lfs = 32,4 + 20 log d (km) + 20 log f (MHz) (dB)


Untuk rooftop to street diffraction and scatter loss (Lrts) :
Pers. II-14

Lrts = -16,9 – 10 log w + 10 log f + 20 log ∆hm + Lo (dB)


Dimana :
w = street width (m)
∆hm = hr – hm (m)
Lo = -10 + 0,354Ø dB untuk : 0° < Ø < 35°

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

Lo = 2,75 + 0,075 (Ø – 35°) dB untuk : 35° < Ø < 55°


Lo = 4 – 0,114 (Ø – 55°) dB untuk : 55° < Ø < 90°
Ø = incident angel relative to the street
Untuk multiscreen (multiscatter) loss (Lms) :
Pers. II-15

Lms = Lbsh + Ka + Kd log d + Kf log f – 9 log b (dB)


Dimana :
b = distance between buildings along radio path (m)
Lbsh = -18 log (1 + ∆hb) untuk : hb > hr
Lbsh = 0 untuk : hb < hr
Ka = 54 untuk : hb > hr
Ka = 54 – 0,8hb untuk d > 500 m; hb < hr
Ka = 54 – 1,6hb d untuk d < 500 m; hb < hr
Kd = 18 untuk hb < hr
Kd = 18 + [ (15 ∆hb)/ ∆hm ] untuk hb > hr
Kf = 4 + 0,7 [ (f / 925) – 1 ] untuk kota menengah dengan
kerapatan pohon sedang.
Kf = 4 + 1,5 [ (f / 925) – 1 ] untuk daerah metropolitan
Range parameter untuk menjaga validitas model COST 231 Walfish – Ikegami
adalah sebagai berikut :
800 MHz < f < 2.000 MHz
4 m < hb < 50 m
1 m < hm < 3 m
0,02 km < d < 5 km
b = 20 – 50 m
w=b/2
Ø = 10°
Roof = 3 m for pitched roof and 0 m for flat roof
hr = 3 (number of floors) + roof

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

2.3.4 Link Budget LTE

Dalam perhitungan Radio Link Budget ada beberapa parameter penting yang
berlaku pada LTE, adalah sebagai berikut :
1. Interference Margin : diperlukan untuk mengantisipasi loading dari cell (load
of factor). Semakin besar loading maka semakin besar margin yang
dibutuhkan sehingga coverage-nya membesar. Biasanya besar interference
margin adalah 1,0 – 3,0 dB atau loading 20 – 50 %.
2. Fast Fading Margin (Power Control Headroom) : terdapat pada mobile
station untuk mengantisipasi fast fading yang terjadi ketika pergerakan MS
lambat (pedestrian). Umumnya sekitar 2,0 – 5,0 dB.
3. Soft Handover Gain : terjadi akibat penambahan penguatan macro diversity
yang timbul karena menurunnya kebutuhan Eb/No relative terhadap satu
radio link. Besarnya sekitar 2,0 – 3,0 dB
Service yang dipakai user juga berpengaruh dalam proses perhitungan ini
khususnya untuk parameter Processing Gain. Oleh karena itu, klasifikasi user
berdasarkan service dibedakan menjadi :
a. Voice dengan menggunakan codec AMR 12,2 kbps.
b. Real-time data 50 Mbps
c. Non real-time data 100 Mbps
Sedangkan parameter-parameter lainnya, sama seperti perhitungan link budget
pada umumnya. Dimana terdapat beberapa parameter untuk Transmitter dan Receiver.
Hasil akhir dari perhitungan ini adalah MAPL (Maximum Allowable Propagation Loss).

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE
Proposal Tugas Akhir

DAFTAR PUSTAKA

1. Barth, Ulrich. 2006. “GPP Long Term Evolution / System Architecture Evolution
Overview.pdf” , Alcatel.
2. Dahlman, Eric. “3G Long Term Evolution.pdf” , Ericsson.
3. HyeonWoo, Lee. 2006. “3GPP LTE & 3GPP-2 LTE Standardization.pdf” ,
Samsung Electronics.
4. Hyug, G.Myung. 2008. “Technical Overview of 3GPP LTE.pdf”
5. Kurniawan Usman, Uke. “Perencanaan Jaringan WCDMA/UMTS.ppt”
6. Prahasta, Eddy. 2001. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis.
Bandung : Informatika
7. Wibisono G dan Dwi Hantoro G. 2009. “Mobile Broadband : Tren Teknologi
Wireless saat ini & masa datang.” Bandung : Informatika
8. Herlinawati. 2008. “Penentuan Cakupan dan Kapasitas Sel Jaringan Universal
Mobile Telecommunication System (UMTS).” Lampung.
9. www.wikipedia.org

Analisis Proses Migrasi Jaringan Dari Teknologi UMTS Menuju Teknologi LTE