Anda di halaman 1dari 4

TEKNIK PENGECORAN

June 16, 2009 · 12 Comments

Pengecoran logam merupakan salah satu ilmu pengetahuan tertua yang dipelajari oleh
umat manusia. Walaupun telah berumur sangat tua, ilmu pengecoran logam terus
berkembang dengan pesatnya. Berbagai macam metode pengecoran logam telah
ditemukan dan terus disempurnakan, diantaranya adalah centrifugal casting, investment
casting, dan sand casting serta masih banyak lagi metode-metode lainnya. Dalam
memahami ilmu pengecoran logam tidaklah cukup hanya dengan mengerti teori
pengecoran logam semata, karena ilmu pengecoran logam ini menuntut pula pemahaman
dalam penerapannya baik melalui eksperimen maupun praktikum. Pengecoran adalah
membuat komponen dengan cara menuangkan bahan yang dicairkan ke dalam cetakan.
Bahan disini dapat berupa metal maupun non-metal. Untuk mencairkan bahan diperlukan
furnace (dapur kupola). Furnace adalah sebuah dapur atau tempat yang dilengkapi dengan
heater (pemanas). Bahan padat dicairkan sampai suhu titik cair dan dapat ditambahkan
campuran bahan seperti chrom, silikon, titanium, aluminium dan lain-lain supaya bahan
menjadi lebih baik. Bahan yang sudah cair dapat dituangkan ke dalam cetakan.

Aplikasi dari proses pengecoran sangat banyak salah satunya dapat di temui dalam
pembuatan torak beserta komponen-komponennya. Dalam proses pembakaran pada
motor diesel terjadi akibat pemampatan udara di dalam silinder sehingga menaikkan suhu
udara tekan dalam ruang bakar, kemudian disemprotkan bahan bakar solar ke dalam
silinder yang telah berisi udara-panas. Setelah bahan bakar bersentuhan dengan udara-
panas maka terjadilah proses pembakaran. Proses pembakaran bahan bakar ini
menimbulkan temperatur dan tekanan di dalam silinder menjadi sangat tinggi dan gas
pembakaran mampu mendorong piston dengan tenaga yang besar sehingga terjadi
gesekan pada dinding silinder oleh cincin pada piston. Pemasangan cincin piston pada
silinder harus selalu menekan dinding silinder dengan gaya pegasnya. Hal ini menambah
besarnya gaya gesek cincin terhadap dinding silinder. Peningkatan temperatur yang
terjadi pada ruang bakar meyebabkan terjadinya pemuaian material cincin-piston dan
lebih lanjut mengadakan tekanan ke dinding silinder. Hal ini juga menyumbang besarnya
gaya gesek terhadap dinding silinder. Kekasaran permukaan bidang kontak antara
dinding piston dengan silinder dan dengan adanya gaya gesek yang besar, menyebabkan
keauasan pada dinding silinder semakin mudah. Material silinder memiliki sifat getas,
lunak dan tidak tahan panas akan mudah keausan dinding silinder. Pemilihan bahan
silinder sangat diawasi karena silinder memegang peranan penting lancarnya gerakan
piston. Proses Pembuatan Secara umum proses pengecoran dilakukan melalui beberapa
tahap mulai dari pembuatan cetakan, persiapan dan peleburan logam, penuangan logam
cair ke dalam cetakan, pembersihan coran dan proses daur ulang pasir cetakan. Hasil
pengecoran disebut dengan coran atau benda cor. Proses pengecoran bisa dibedakan atas
2 yaitu : proses pengecoran dan proses pencetakan. Proses pengecoran tidak
menggunakan tekanan sewaktu mengisi rongga cetakan sedangkan proses pencetakan
adalah logam cair ditekan agar mengisi rongga cetakan. Cetakan untuk kedua proses ini
berbeda dimana proses pengecoran cetakan biasanya dibuat dari pasir sedangkan proses
pencetakan, cetakannya dibuat dari logam. Cetakan pasir yang digunakan dalam proses
pengecoran berdasarkan jenis pola dibedakan atas :

1. pola yang dapat digunakan berulang-ulang

2. pola sekali pakai.

Pemilihan Bahan

Keausan silinder liner diperparah oleh pemakaian material bermutu rendah yaitu jumlah
komposisi material tersebut yang memiliki ketahanan aus rendah sangat besar. Dalam
penggunaan sebaiknya dipakai bahan besi cor kelabu dimana mengandung unsur besi (Fe
= 92,95 %), silikon (Si = 2,339 %), karbon (C = 3,108 %) dan mangan (Mn = 0,938 %)
yang merupakan unsur utama pada besi tuang kelabu.

Penambahan silikon pada besi-cor akan memperoleh sifat encer (fluidity) dan sedikit
getas. Mangan yang dipadukan akan menambahkan sifat kekuatan pada besi-cor. Besi-cor
ini memiliki kelebihan agak getas, kekuatan-tarik rendah, kekuatan tekan tinggi dan
mempunyai mampu cor sangat baik serta murah dan paling banyak dipergunakan untuk
benda-benda coran. Apabila bahan silinder terbuat dari bahan dibawah persyaratan yang
ditentukan untuk pemakaian ruang bakar, maka kemungkinan cepat aus besar sekali.

PENGARUH TEMPERATUR PENUANGAN ALUMINIUM A-356.0 PADA PROSES


PENGECORAN TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO CORAN

Created by :
Hari Subiyanto, Subowo ( )

Subject: Cor
Keyword: Penuangan
mekanika bahan
struktur mikro

[ Description ]

Perubahan temperatur penuangan pada proses pengecoran logam Aluminium akan


mempengaruhi laju pembekuan dan penyebab tejadinya cacat porositi, sehingga akan
mempengaruhi sifat mekanis coran paduan Aluminium A 356.0. Semakin meningkatnya
temperatur penuangan akan menghasilkan bentuk struktur mikro dan sifat mekanis yang
berbeda. Sebab semakin tinggi temperatur penuangan menyebabkan delta temperatur
liquid - undercooling semakin tinggi dan tingginya temperatur penuangan menyebabkan
terjebaknya gas hidrogen semakin banyak sehingga nilai kekuatan tarik, elongasi, dan
nilai kekerasan mengalami penurunan. Dengan studi literatur yang ada maka dilakukan
percobaan pada pengecoran Aluminium A 356.0 dengan memakai cetakan permanen
mold test bar, dengan standart US, dengan kondisi temperatur mold 400°C. Pengecoran
ini dilakukan dengan temperatur penuangan yang bervariasi yaitu : 640°C, 660°C, 680°C,
700°C, 720°C, 740°C, dan 760°C dengan banyaknya test bar tiga buah disetiap
temperatur penuangan. Dimana test bar tersebut sudah tercetak dua buah spesimen uji
tarik, satu spesimen uji kekerasan, dan foto mikro/makro. Waktu penuangan ± 10 detik
dan pembongkaran dilakukan ± 5 menit, kemudian coran dibiarkan diudara terbuka
dengan temperatur ruang ± 45°C. Dari percobaan tersebut maka dilakukan pengujian
tarik, kekerasan dan foto makro/mikro. Pengujian kekerasan dilakukan ada dua cara yaitu
pertama pengujian kekerasan dilakukan pada tepi coran(0,l mm, 1,8 mm, dan 3,5 mm)
dan kedua pengujian kekerasan dilakukan di tengah coran (11 mm dari tepi coran).
Pengamatan foto makro dan mikro dilakukan pada masing-masing temperatur penuangan
di 0,1 mm, daerah pengaruh initial chilling, 3,5 mm dari tepi coran untuk mengetahui
pengaruh laju pembekuan dan daerah tengah coran untuk mengetahui cacat porositi.
Berdasarkan percobaan tersebut didapatkan sebuah fenomena dimana semakin tinggi
temperatur penuangan semakin besar delta temperatur liquid-undercooling sehingga
mempengaruhi bentuk butiran yang semakin membesar akibatnya menurunkan nilai
kekerasan, hal ini terlihat pada nilai kekerasan pada temperatur penuangan 640°C di 0,1
mm dari tepi coran sebesar 69,05 HV sedangkan pada temperatur penuangan 760°C
sebesar 65,57 HV. Pada masing-masing test bar dari 0,1 mm hingga 11 mm dari tepi
coran kekerasan semakin menurun yang disebabkan oleh perbedaan thermal gradiennya.
Begitu juga terjadinya perubahan didaerah pengaruh initial chilling dimana semakin
tinggi temperatur penuangan daerah pengaruh initial chilling ini semakin kedalam dari
tepi coran. Begitu pula terbentuknya cacat porositi dimana semakin tinggi temperatur
penuangan jumlah porositi semakin banyak sehingga mempengaruhi nilai kekuatan tarik
dan elongasi yang semakin menurun.

Beri Nilai