Anda di halaman 1dari 5

Industri Hasil Hutan

Industri hasil hutan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan nilai hasil hutan,
menaikkan rentabilitas hutan, membantu memecahkan masalah penyediaan lapangan kerja
(penyerapan tenaga kerja) dan merupakan usaha yang secara nyata ikut menunjang usaha
pengalihan ekspor dolok (log) menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.

Industri hasil hutan dibagi atas 2 (dua) golongan pokok yaitu : Industri hasil hutan kayu
dan industri hasil hutan bukan kayu.

1. Industri hasil Hutan Kayu

Menurut jenis dan bentuk hasil akhir industri perkayuan dapat dibedakan dalam dua
golongan yaitu : Industri Kayu Primer dan Sekunder. Dalam decade terakhir terutama dalam
perkembangan industri muncullah istilah/pengertian industri terpadu.
Industri kayu terpadu adalah tujuan akhir dalam rangka memaksimumkan hasil guna
(efisiensi) pemakaian kayu. Semua bagian dari kayu diusahakan untuk dapat
digunakan/dimanfaatkan. Industri yang dapat dipadukan (diintegrasikan) meliputi penggergajian,
chips, wood based panels, pulp dan kertas, pengeringan dan pengawetan. Dengan kata lain
industri kayu terpadu adalah di mana berbagai jenis industri dengan tingkat inventasi dan
teknologi yang berbeda dapat berkembang dalam waktu yang kurang lebih bersamaan.
Dalam keterpaduan seperti di atas dapat diperoleh manfaat dalam bentuk operasi yang
terpadu (integrated operation) dan aspek-aspek ekonomis dalam produksi yang lebih
menguntungkan antara lain dalam segi investasi, pemanfaatan bahan baku (kayu), tenaga listrik,
air, tenaga kerja terdidik serta sarana-sarana lainnya.

a. Industri Kayu Primer

Industri Kayu Primer meliputi penggergajian, finir, dan plywood, fibre board, pulp dan
kertas. Golongan industri ini umumnya menghasilkan barang setengah jadi.

(1) Penggergajian Kayu

Penggergajian adalah penghasil bahan dalam memenuhi kebutuhan pembangunan dan


merupakan salah satu industri kayu terpadu.

Penggergajian adalah industri yang mengkonversi kayu dari dolok atau persegian ke
bentuk kayu gergajian melalui proses pembelahan dan pemotongan. Industri-industri kayu
lanjutan akan muncul dan berkembang kemudian, terutama bagi industri-industri kayu yang
menggunakan kayu gergajian atau limbahnya sebagai bahan baku atau bahan penunjang.

Manfaat penggergajian antara lain : mengurangi biaya pengangkutan, meningkatkan


kwalita dan nilai kayu; memepertinggi produktivitas hutan; memudahkan pemakaian;
merangsang timbulnya industri lain dan menyediakan lapangan kerja.

1
(2) Industri finir dan plywood

(a) Finir (Veneer)

Finir adalah lembaran kayu tipis dengan ketebalan sama dan lebih kecil dari 6 mm.
ketebalan di atas batas ini digolongkan dalam jenis papan.

Penggunaan utama dari finir ialah untuk pembuatan kayu lapis (plywood), dimana
beberapa lembar finir direkat menjadi satu dengan arah serat yang saling tegak lurus dalam
jumlah yang ganjil. Finir dapat juga dibuat menjadi papan lamina (laminated wood) di mana
lembaran-lembaran finir direkat menjadi satu dengan arah yang sama. Finir juga digunakan
dalam pembuatan papan balok (block board) di mana lapisan muka dan belakang adalah finir
(lapisan luar) dan lapisan tengah adalah potongan kayu memanjang yang disusun berdampingan.
Selain unutk pembuatan kayu lapis papan lamina dan papan balok, finir juga diproduksi untuk
pembuatan kotak dan batang korek api, tusuk gigi dan lain-lain.

(b) Kayu lapis (plywood)

Setelah pekerjaan pembuatan finir selesai, finir segera dikeringkan dengan alat pengering
(Roller dryer). Tujuan pengeringan adalah untuk menghindarkan jamur, hama perusak dan
memudahkan proses perekatan. Hasil pengeringan finir langsung dipotong menururt ukuran-
ukuran yang sudah ditentukan (clipper), kemudian finir-finir tersebut diuji (grading) dan
diangkut ke tempat perekat dengan forklift.
Melalui pengontrolan kwalita (quality control) finir dibagi menjadi lapisan muka (face)
lapisan belakang (back) dan lapisan tengah (core). Lapisan tengah (core) dimasukkan pada
bagian perekatan (glue spreader) di mana kedua mukanya dibubuhi perekat (glue) kemudian face
dan back melapisi core tersebut.
Dari proses ini dihasilkan plywood setengah jadi yang langsung dimasukkan ke
pengepresan dingin (cold press) dengan tujuan :
Dengan tekanan perekat akan merata, lapisan tengah (core) yang mulanya bergelombang
permukaannya akan menjadi lurus dan kaku.
Plywood lebih mudah dimasukkan ke dalam alat pengepres panas (hot press) karena
sudah menjadi kaku.
Setelah itu plywood dimasukkan ke dalam hot press. Dari hot press plywood disalurkan
ke bagian pendumpulan unutk menutupi permukaan yang berlubang dan kemudian diamplas dan
diratakan penggirannya (double saw sizing) di pak dan disimpan di gudang siap dipasarkan.

(3) Papan partikel (Particle board)

Peningkatan kiegiatan di bidang pemungutan dan pengolahan hasil hutan menyebabkan


bertmabahnya limbah kayu berupa batang, cabang, ranting, sisa potongan kayu, sebetan, finir
dan sebagainya. Salah satu usaha untuk memanfaatkan limbah ini adalah dengan
menggunakannya sebagai bahan baku industri papan partikel.
Papan partikel adalah panel kayu yang dibuat dari partikel-partikel kayu dengan perekat
urea formaldehida atau tanin formaldehida, dipanaskan pada suhu 1400C – 1800C dengan tekanan
25 kg/cm2 selama 10 menit.

2
Jenis-jenis partikel yang digunakan antara lain :
Tatal (shaving) – partikel kayu dengan ukuran tidak tertentu yang dihasilkan dari limbah
pertukangan. Serpih (Flake) – partikel kayu dengan tebal yang sama, dihasilkan l\oleh alat
penyerpih dengan orientasi serat sejajar permukaan. Cip (chip) – tatal kayu yang dihasilkan oleh
mesin Cip. Serbuk gergaji (saw dust) – dihasilkan dari penggergajian kayu; Limbah finir –
limbah yang dihasilkan pada pembuatan finir; wol kayu (woolwood).

(4) Industri papan serat (Fibre board industry)

Papan serat atau fibre board ialah suatu papan tiruan yang dibuat dari serat kayu atau
bahan berligno-selulosa lainnya di mana bahan pengikatnya berasal dari bahan baku yang
bersangkutan. Bahan lain dapat ditambahkan untuk memberikan sifat-sifat khusus seperti
kekuatan, ketahanan terhadap kelembapan, api, serangan jamur dan serangga.
Bahan baku untuk pembuatan papan serat terutama terdiri dari serat-serat tumbuh-
tumbuhan. Disamping itu tergantung dari tujuan pemakaian dapat ditambahkan bahan-bahan
penolong. Air juga merupakan bahan yang penting dalam proses pembuatan papan serat.
Ditinjau dari segi teknis hampir semua jenis serat tumbuh-tumbuhan dapat digunakan
sebagai bahan baku papan serat. Pada mulanya industri papan serat menggunakan sebagian besar
bahan bakunya berupa sisa hasil pertanian seperti merang, ampas tebu (bagasse), batang kapas
dan lain-lain. Tetapi akhir-akhir ini pemakaian kayu dan bamboo untuk papan serat lebih banyak
digunakan dibandingkan dengan sisa hasil pertanian, karena kesulitan dalam pengumpulan,
pengangkutan dan pemyimpanan.
Pembuatan papan serat berturut-turut meliputi pekerjaan sebagai berikut : pengumpulan
bahan baku, pembuatan serpih, pembuatan pembuatan pulp, pemberian bahan penolong
(pressing), perlakuan minyak (oil tempering), perlakuan panas (heat treatment), pelembapan
(humidification), pemotongan (trimming) dan seterusnya. Pekerjaan tersebut dapat berbeda
tergantung pada jenis bahan baku, proses pembuatan dan jenis papan serat yang dikehendaki.

(5) Industri pulp dan kertas

Kertas adalah suatu produk pabrik dalam suatu lembaran kontinu, dibentuk melalui
pemisahan air dari bubur serat sellulosa yang disebut pulp. Pulp dihasilkan dari prosesing kayu
secara mekanis atau secara kimia.

a) Pembuatan pulp

1) Pembuatan pulp secara mekanis

Proses mekanik dalam pembuatan pulp adalah dengan menggunakan mesin pemarut kayu
(ground wood). Bahan baku kayu pinus yang telah dikuliti dimasukkan dalam mesin gerinda
(crusher) untuk mendapatkan serat-serat kayu yang terpisah satu sama lain.
Pulp (bubur kertas yang terdiri dari serat-serat), kemudian disaring untuk memisahkan
bagian yang kasar. Pulp yang halus kemudian diputihkan dengan menggunakan bahan kimia
khusus.

2) Pembuatan pulp secara kimia

3
Bahan naku bambu/kayu dipotong-potong menjadi chips (tatal) dengan mesin pemotong
yang disebut Chipper. Tatal ini kemudian dicampur dengan larutan alkali (white liquor) untuk
proses pemasakan selama 4 jam dengan temperatur 1650C hingga masak. Sewaktu dari digester,
tatal sudah berbentuk bubur, kemudian dicuci dengan air panas dalam mesin pencuci (washer)
dan dari mesin ini didapatkan pulp yang sudah bersih dan cairan pemasak yang disebut black
liquor. Larutan hitam ini dalam proses selanjutnya diubah menjadi larutan putih untuk
pemasakan dengan cara penguapan, pengentalan dengan penambahan garam glauber (Na2SO4),
pembakaran (reduksi) serta recausetcizing melalui pencampuran dengan kapur tohar.

b) Pembuatan kertas

Mesin kertas terdiri dari wire port, pressport dan dryer port. Bahan kertas mengalami
pembentukan lembaran melalui wire port, press port, dan dryer port. Lembaran yang telah kering
mengalami pelicinan pada bagian permukaan oleh calendar, selanjutnya digulung menjadi
gulungan kertas melalui pope reel. Gulungan kertas tersebut dimasukkan ke mesin pemotong
(cutter), disortir, dihitung,\dan dipak selanjutnya disajikan kepada pemakai.

2. Industri hasil hutan bukan kayu.

Pengolahan hasil hutan bukan kayu pada umumnya belum dilaksanakan secara besar-
besaran sedangkan perkembangannya di Indonesia mempunyai prospek yang baik. Beberapa
jenis seperti rotan, gondorukem, kayu putih dan shellac diolah menjadi bahan setengah jadi dan
sampai jadi, sedangkan kopal, jelutung, dan kayu manis sampai saat ini masih diekspor dalam
bentuk bahan mentah.

a. Industri golongan rotan

Rotan dapat dipergunakan sebagai peralatan rumah tangga seperti furniture (kursi, meja,
tempat tidur, lemari, rak buku, tirai, tikar, lampit, peralatan dapur, bahan penangkap ikan, tali
temali, topi, bahan paying dan lain-lain).
Rotan merupakan tanaman khas yang tumbuh di daerah tropis. Di Indonesia tumbuh
secara besar-besaran dan penyebarannya hampir di seluruh pulau yang mempunyai hutan alam.
Potensi rotan Indonesia cukup besar, kurang lebih 90 % kebutuhan dunia dipenuhi Indonesia.
Setiap tahunnya produksi rotan Indonesia dipasarkan keluar negeri dalam bentuk rotan
asalan (rotan bulat), ini disebabkan karena industri rotan di Indonesia belum berkembang, serta
jaringan perdagangan rotan masih ada yang dikuasai oleh kaum asing.

b. Industri golongan ekstraktif

Industri hasil hutan bukan kayu golongan ekstraktif ini kegunaannya banyak sekali
sebagai bahan industri pangan, kosmetik, pharmasi, tekstil batik, bangunan (cat, vernis,
terpentin), alat-alat music, plastic, bahan peledak dan lain-lain.
Golongan ekstraktif ini terbagi atas tiga jenis utama ialah :

4
(1) R e s i n
Jenis resin ini merupakan kelompok bahan kimia yang diperoleh sebagai hasil sekresi
tanaman yang susunan kimia yang sangat kompleks, berbentuk padat, transparan dan kompak,
termasuk jenis-jenis seperti ini : Damar, Gondorukem, Shellak, kopal, Jernang,dan Kemenyan,

(2) Minyak Atsiri (minyak etheris, essential oil atau minyak terbang)
Minyak atsitri adalah minyak yang diperoleh dari minyak penyulingan bagian pohon
(daun, ranting, akar, kulit, getah, bunga) yang mempunyai sifat mudah menguap pada suhu
kamar yang mempunyai bau khas.
Penyulingan dapat dilakukan dengan air (kohobasi, suatu ketel, pemansan dengan api
langsung atau tidak langsung dapat tekanan uap sama dengan tekanan udara luar.
Penyulingan langsung dengan uap (steam distillation). Uap air dibuat dalam ketel lain
yang terpisah dari bahan. Pemansan tidak langsung dan tekanan diatur menurut kebutuhan.
Penyulingan dengan air dan uap (water-steam distillation). Bahan dan air dipisah dengan
sekat tetapi masih dalam satu ketel (dikukus). Tekanan dalam ketel sama dengan tekanan udara
luar. Yang termasuk jenis minyka atsiri : minyak akar wangi, minyak cendana, minyak nilam,
minyak ekaliptus, minyak gandapura, minuak kamper, minyak sereh, minyak terpentin, minyak
kayu putih,

(3) Minyak dan lemak (minyak gliserida, minyak ester)

Minyak dan lemak merupakan campuran ester gliserol dan asam lemak yang sangat
kompleks. Asam yang banyak terdapat dalam minyak dan lemak adalah asam palmitat, asam
oleat, dan asam steareat. Proses yang biasa digunakan untuk mengeluarkan minyka adalah secara
rendering di mana dengan pelarut minyak dan secara pressing (pengempaan) baik secara dingin
maupun panas. Dalam industri sering digunakan cara pressing.
Minyak dengan bilangan iod yagn tinggi bersifat mengering, yaitu dengan udara akan
membentuk polimer dan sifatnya minyaknya hilang, misalnya minyak kemiri, yang sering
digunakan dalam industri cat.
Minyak bila berhubungan dengan udara dan cahaya matahari akan mengalami
ketengikan. Hal ini disebabkan karena terjadi proses hidrolisa dan pembentukan asam lemak
bebas, disusul dengan proses oksidasi. Dalam praktek derajat hidrolisa dapat diketahui dengan
penetapan bilangan asam. Macam minyak dan lemak yang tergolong hasil hutan adalah minyak
jarak, tengkawang, kemiri dan wijen.