1 ANALISIS UJI COBA SOAL BIOLOGI KELAS XII SEMESTER 2 DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 3 MALANG

LAPORAN

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan Dosen Pembina Ibu Dra. Yuni Pantiwati, MM. M.Pd.

Disusun Oleh : Muhammad Jakfar Sadiq Wadzarul Fakhisyi Khairul Umam AD. Abdul Hafid Habib Sazali Purnamasari Widyastuti Miftakhurrohmi Khoirin Maghfiroh Ismi Nurul Qamariyah Annauratus Sholiha Yeni Puspitasari Alda Eka Puspitasari Rini Handayani Yuliati Setiya Titin N. 06330072 06330071 06330077 06330055 06330053 06330043 06330064 06330087 06330074 06330083 06330046 06330076 06330085 06330061 06330089

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN ILMU MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2009

2 BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah pengukuran, penilaian, dan evaluasi pendidikan merupakan

masalahnyang selalu terkandung dalam pekerjaan dan pendidikan keguruan, sehingga oleh karena itu, sudah seharusnya menjadi salah satu bagian yang penting dalam kelengkapan keahlian seorang guru. Bahkan tidak hanya sekedar menjadi salah satu bagian saja, akan tetapi sebaliknya merupakan bagian yang integral, yang tidak terpisahkan dari proses mengajar dan belajar. Tanpa titik tolah dasar pikiran yang serupa ini, maka pengukuran, penialaian dan evaluasi pendidikan tidak akan menunaikan fungsi sebagaimana mestinya. Ada dua macam arah pandang, yang dapat merugikan effisiensi penunian fungsi pengukuran, penialaian, dan evaluasi pendidikan, yaitu (1) pandangan yang menganggap bahwa untuk melaksanakan pengukuran, penilaian, dan evaluasi pendidikan tidak diperlukan persiapan-persiapan yang disengaja dan sistematika, sehingga siapa saja akan bisa melakukannya; dan (2) pandangan yang mengatakan bahwa pengukuran, penilaian, dan evaluasi pendidikan merupakan kegiatan yang lepas dari belajar mengajar atau setidak-tidaknya, merupakan kegiatan pengiring yang dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Kedua pandangan ini, tentu saja memperbesar kemungkuinankemungkinan tidak dilaksanakannya pengukuran, penialaian, dan evaluasi pendidikan sesuai dengan dasar-dasar pikiran yang seharusnya, bahkan secara sengaja atau tidak kemungkinan terjadinya cara-cara pelaksanaan yang menyimpang dari prinsip-prinsip pengukuran, penialaian, dan evaluasi pendidikan. Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara penialai, pengukuran, dan evaluasi pendidikan dengan proses belajar mengajar, maka dilakukanlah observasi dengan cara memberikan uji coba soal biologi SMA Kelas XII Semester 2 di Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang, pada tanggal 19 Desember 2008 dengan materi pelajaran Sistem Pencernaan pada Manusia dan Hewan.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka ada beberapa

permasalahan yang akan dipecahkan, yaitu : 1) bagaimanakah tingkat kesulitan butir-butir soal uji coba biologi yang diuji cobakan pada siswa kelas XII semester 2 di MAN 3 Malang; 2) bagaimankah daya pembeda butir-butir soal uji coba biologi yang diuji cobakan pada siswa kelas XII semester 2 di MAN 3 Malang; 3) bagaimankah tingkat validitas dan reabilitas butir-butir soal uji coba biologi yang diuji cobakan pada siswa kelas XII semester 2 di MAN 3 Malang; dan 4) apakah masing-masing distraktor soal uji coba sudah berfungsi dengan baik?

3 1.3 Tujuan Berdasarkan beberapa rumusan masalah di atas, maka tujuan dilaksanakannya uji coba soal biologi di MAN 3 Malang, seperti di bawah ini. 1. untuk mengetahui tingkat kesulitan butir-butir soal uji coba biologi yang diuji cobakan pada siswa kelas XII semester 2 di MAN 3 Malang; 2. untuk mengetahui daya pembeda butir-butir soal uji coba biologi yang diuji cobakan pada siswa kelas XII semester 2 di MAN 3 Malang; 3. untuk mengetahui validitas dan reabilitas butir-butir soal uji coba biologi yang diuji cobakan pada siswa kelas XII semester 2 di MAN 3 Malang; dan 4. untuk mengetahui fungsi dari masing-masing distraktor dari soal uji coba.

1.4

Manfaat Adapun manfaat dari kegiatan uji coba soal ini, yaitu memberikan suatu

pengetahuan kepada guru akan hubungan antara penialia, pengukuran, dan evaluasi pendidikan dengan proses dan hasil belajar mengajar yang dilakukannya dan sebagai bahan intropeksi diri akan cara-cara atau prinsip-prinsip yang kurang dipenuhi untuk mengetahui keberhasilan akan alat evaluasi yang selama ini digunakan dalam mengevaluasi hasil belajar siswanya. Selain itu, manfaat bagi siswa adalah siswa tidak lagi menjadi kambing hitam atas kekeliruan yang dilakukan guru dalam melaksanakan penilaian, pengukuran , dan evaluasi pendidikan lebih-lebih dalam menetapkan hasil belajar mengajar yang telah diikuti oleh siswa sesuai dengan ketetapan yang berlaku. Dengan demikian, keadilan dapat terwujud dimana siswa nantin ya akan memperoleh nilai sesuai dengan apa yang seharusnya menjadi haknya atau secara obyektif, bukan secara subyektif.

4 BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Penilaian

2.1.1 Penilaian Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan judgment. Interpretasi dan judgment merupakan tema penilaian yang mengimplikasikan adanya suatu perbandingan antara criteria dan kenyataan dalam konteks situasi tertentu. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotoris. Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Dalam penilaian ini dilihat sejauh mana keefektifan dan efisiennya dalam mencapai tujuan pengajaran atau perubahan tingkah-laku siswa.

2.1.1.1 Fungsi Penilaian a. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan tujuan instruksional. b. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar. Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru dan lain-lain. c. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan kemampuan dan kecakapan belajar siswa dalam berbagai bidang studi dalam bentuk nilai prestasi yang dicapainya.

2.1.1.2 Tujuan Penilaian a. Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. b. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, seberapa jauh keefektifan dalam mengubah tingkah-laku para siswa kearah tujuan pendidikan yang diharapkannya. Dalam hal ini para siswa diharapkan menjadi manusia yang berkualitas dalam aspek intelektual, social, emosional, moral, dan ketrampilan. c. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya. Kegagalan para siswa dalam hasil belajar yang dicapainya hendaknya tidak dipandang sebagai kekurangan pada diri siswa semata-mata, tetapi juga bisa disebabkan oleh program pengajaran atau strategi yang diberikan kepadanya.

5 d. Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihakpihak yang berkepentingan yakni pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa. Pertanggungjawaban kepada masyarakat dan orang tua disampaikan melalui laporan kemajuan belajar siswa (raport) pada setiap akhir program, semester, dan caturwulan.

2.1.2 Jenis dan Sistem Penilaian 2.1.2.1 Jenis Penilaian Dilihat dari fungsinya jenis penilaian ada beberapa macam antara lain: a. Penilaian formatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri. Penilaian formatif berorientasi kepada proses belajar mengajar. Dengan penilaian formatif diharapkan guru dapat memperbaiki program pengajaran dan strategi pelaksanaannya. b. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, yaitu akhir semester dan akhir tahun. Tujuannya adalah untuk melihat hasil yang dicapai oleh para siswa, yakni seberapa jauh tujuan-tujuan kurikuler dikuasai oleh para siswa. Penilaian ini berorientasi kepada produk, bukan kepada proses. c. Penilaian diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahankelemahan siswa serta factor penyebabnya. Penilaian dilaksanakan untuk keperluan bimbingan belajar, pengajaran remedial (remedial teaching), menemukan kasus-kasus dan lain-lain. d. Penilaian selektif adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan tertentu. e. Penilaian penempatan adalah penilaian yang ditujukan untuk mengetahui

keterampilan prasyarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar seperti yang diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar untuk program itu. Penilaian ini berorientasi kepada kesiapan siswa untuk menghadapi program baru dan kecocokan program belajar dengan kemampuan siswa. Dilihat dari alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi : a. Tes 1. Lisan y y Individual Kelompok

2. Tulisan y Esai  Berstruktur  Bebas  Terbatas y Objektif  Benar-salah  Menjodohkan

Tindakan y y Individual Kelompok b. Ceklist 2. Kuisioner / wawancara y y Berstruktur Tak berstruktur 3.6  Isian pendek  Pilihan ganda 3. Skala y y y Penilaian Sikap Minat 4. Sehingga dapat diperoleh tiga kategori prestasi siswa. PAP (Penilaian Acuan Patokan) . Studi kasus 6. Dengan demikian dapat diketahui posisi kemampuan siswa di dalam kelompoknya. apakah telah menguasai tujuan instruksional ataukah belum. PAN (Penilaian Acuan Norma) PAN adalah penilaian yang diajukan kepada rata-rata kelompoknya. dan di bawah ratarata kelas.2.2 Sistem Penilaian Sistem penilaian adalah cara yang digunakan dalam menentukan derajat keberhasilan hasil penilaian sehingga kedudukan siswa dapat diketahui. Sosiometri 5. b. Sistem penilaian hasil belajar pada umumnya dibedakan ke dalam dua cara atau dua system. Observasi y y y Langsung Tak langsung Partisipasi 2. yakni : di atas rata-rata kelas. Non-tes 1. Untuk itu norma atau kriteria yang digunakan dalam menentukan derajat prestasi seorang siswa. Kelemahannya adalah kurang meningkatkan kualitas hasil belajar. sekitar rata-rata kelas. dibandingkan dengan nilai rata-rata kelasnya.1. yakni : a. Keuntungan system ini adalah dapat diketahui prestasi kelompok atau kelas sehingga sekaligus dapat diketahui keberhasilan pengajaran bagi semua siswa.

Caranya adalah beberapa penelaah diberikan : butir-butir soal yang akan ditelaah.7 2. diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel. 2. setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi. Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan. atau diganti. dan (4) kamus bahasa Indonesia. ahli kebijakan pendidikan. Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal. beberapa penelaah yang diminta untuk menelaah butir soal memiliki keterampilan. Setiap komentar/masukan dari peserta diskusi dicatat oleh notulis. ahli penilaian. (2) kurikulum yang digunakan. Pada tahap awal para penelaah diberikan pengarahan.1 Pengertian Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis. perbaikannya seperti apa. atau lainnya.2. konstruksi. Teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah berdasarkan kaidah penulisan butir soal. konstruksi. kemudian tahap berikutnya para penelaah berkerja sendiri-sendiri di tempat yang tidak sama. diperbaiki. bahasa atau budaya. ahli penilaian. perbuatan. ahli materi. ahli materi. berlatar belakang psikologi.1 Analisis Butir Soal secara Kualitatif 2. ahli bahasa. penyusun atau pengembang kurikulum. para penelaah dipersilakan mengomentari/ memperbaiki berdasarkan ilmu yang dimilikinya. dan pedoman penilaian atau penelaahannya. . (3) buku sumber. kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal.2. penelaah perlu mempersiapkan bahan-bahan penunjang seperti: (1) kisi-kisi tes.2 Teknik Analisis secara Kualitatif Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif. ahli bahasa. psikolog. Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi. Namun.2 Analisis Butir Soal 2. Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama-sama berdasarkan kaidah penulisannya. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soalnya yang kriterianya adalah: baik. dan kunci jawaban atau pedoman penskorannya. kebenaran kunci jawaban atau pedoman penskorannya yang dilakukan oleh beberapa penelaah. dan sikap). Secara ideal penelaah butir soal di samping memiliki latar belakang materi yang diujikan. Berdasarkan teknik ini. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama. format penelaahan. ahli pengembang kurikulum. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang sebagai penengah.2. yaitu ditelaah dari segi materi.1. seperti guru yang mengajarkan materi itu. bahasa/budaya.1. Di samping itu.

Berilah tanda cek (V) pada kolom "Ya" bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria. maka langkah (1) urutkan skor siswa dari yang tertinggi sampai yang terendah. Format penelaahan soal yang dimaksud adalah format penelaahan butir soal: uraian. 3.1 Pengertian Penelaahan soal secara kuantitatif maksudnya adalah penelaahan butir soal didasarkan pada data empirik dari butir soal yang bersangkutan. Agar penelaah dapat dengan mudah menggunakan format penelaahan soal. b. Berdasarkan tabulasi ini. sederhana. kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan perbaikannya. (2) Pilih 10 lembar jawaban pada kelompok atas dan . Berilah tanda cek (V) pada kolom "Tidak" bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria. Petunjuknya adalah seperti berikut ini. penggunaan format penelaahan soal akan sangat membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer. 2. Kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah. Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format. Langkah pertama yang dilakukan adalah menabulasi jawaban yang telah dibuat pada setiap butir soal yang meliputi berapa peserta didik yang: (1) menjawab benar pada setiap soal. murah.2. maka para penelaah perlu memperhatikan petunjuk pengisian formatnya. tes perbuatan dan instrumen non-tes.2 Analisis Butir Soal Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif. familier dan dapat menggunakan data dari beberapa peserta didik atau sampel kecil (Millman dan Greene. daya pembeda soal.3 Prosedur Analisis Secara Kualitatif Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif. 2. alternatif jawaban yang dipilih peserta didik.2. 2.2. Klasik Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Misalnya analisis untuk 32 siswa. Adapun proses analisisnya sudah banyak dilaksanakan para guru di sekolah seperti beberapa contoh di bawah ini. dapat diketahui tingkat kesukaran setiap butir soal.3.2 Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif 2. 1. (2) menjawab salah (option pengecoh). Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal.1. (3) tidak menjawab soal. 1993: 358). pilihan ganda.2.2. a.8 2. Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan. yaitu pendekatan secara klasik dan modern. 1.

00 artinya bahwa siswa menjawab benar. Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal bentuk uraian digunakan rumus berikut ini. Pada prinsipnya. Suatu soal memiliki TK = 0. dan untuk keperluan diagnostik biasanya digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah/mudah. a. . Misalnya untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang. dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.00 . (7) Analisis efektivitas pengecoh pada setiap soal (Linn dan Gronlund. susun jumlah siswa kelompok atas dan bawah pada setiap pilihan jawaban. berarti semakin mudah soal itu. Tingkat Kesukaran(TK ) ! Jumah siswa yang menjawab benar butir soal Jumlah siswa yang mengikutites Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes.siswa pesertates pada suatu soal Jumlah pesertadidik yang mengikutites Tingkat Kesuli tan ! Mean Skor maksimum yang ditetapkan Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan tingkat kesukaran soal itu.00 artinya bahwa tidak ada siswa yang menjawab benar dan bila memiliki TK = 1. daya pembeda butir. Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir.1. 1995: 318-319).9 10 lembar jawaban pada kelompok bawah. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor soal. skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. (4) Untuk masing-masing soal. Tingkat Kesukaran (TK) Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0.00 (Aiken (1994: 66). Rumus ini dipergunakan untuk soal obyektif. (6) Hitung daya pembeda soal. Mean! Jumahskor. (5) Hitung tingkat kesukaran pada setiap butir soal. untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi/sukar. (3) Ambil kelompok tengah (12 lembar jawaban) dan tidak disertakan dalam analisis. Klasifikasi tingkat kesukaran soal dapat dicontohkan seperti berikut ini. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan. 1996: 310). Rumusnya adalah seperti berikut ini (Nitko.

(c) memberi masukan kepada siswa. (2) memperoleh informasi tentang penekanan kurikulum atau mencurigai terhadap butir soal yang bias.80) distribusinya berbentuk negatif skewed. maka prediksi terhadap informasi ini adalah seperti berikut. analisis secara klasik ini memang memiliki keterbatasan. Bila suatu butir soal termasuk kategori sukar. Adapun kegunaannya bagi pengujian dan pengajaran adalah: (a) pengenalan konsep yang diperlukan untuk diajarkan ulang. Misalnya satu butir soal termasuk kategori mudah. 1981: 270271). (e) merakit tes yang memiliki ketepatan data soal. 1) Butir soal itu "mungkin" salah kunci jawaban. semakin tinggi reliabilitas (Nunnally. 5) Pernyataan atau kalimat soal terlalu kompleks dan panjang. sedangkan tes yang mudah dengan TK= >0.0.00 . 1) Pengecoh butir soal itu tidak berfungsi. maka prediksi terhadap informasi ini adalah seperti berikut. dalam konstruksi tes. (d) tanda-tanda kemungkinan adanya butir soal yang bias. (b) tanda-tanda terhadap kelebihan dan kelemahan pada kurikulum sekolah. Tingkat kesukaran butir soal memiliki 2 kegunaan. artinya bahwa sebagian besar siswa telah memahami materi yang ditanyakan. sehingga kompetensi minimum yang harus dikuasai siswa belum tercapai.1. semakin tinggi korelasi antarsoal. Tingkat kesukaran butir soal juga dapat digunakan untuk mempredikst alat ukur itu sendiri (soal) dan kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang diajarkan guru. yaitu bahwa tingkat kesukaran sangat sulit untuk mengestimasi secara tepat karena estimasi tingkat .71 . Menurut koefisien alfa clan KR20. Di samping kedua kegunaan di atas.31 . yaitu kegunaan bagi guru dan kegunaan bagi pengujian dan pengajaran (Nitko. tingkat kesukaran butir soal sangat penting karena tingkat kesukaran butir dapat: (1) mempengaruhi karakteristik distribusi skor (mempengaruhi bentuk dan penyebaran skor tes atau jumlah soal dan korelasi antarsoal). Namun. 2) Sebagian besar siswa menjawab benar butir soal itu.00 soal tergolong mudah Tingkat kesukaran butir soal dapat mempengaruhi bentuk distribusi total skor tes. Untuk tes yang sangat sukar (TK= < 0. 4) Materi yang diukur tidak cocok ditanyakan dengan menggunakan bentuk soal yang diberikan (misalnya meringkas cerita atau mengarang ditanyakan dalam bentuk pilihan ganda). 2) Butir soal itu mempunyai 2 atau lebih jawaban yang benar. (2) berhubungan dengan reliabilitas.25) distribusinya berbentuk positif skewed. Kegunaannya bagi guru adalah: (1) sebagai pengenalan konsep terhadap pembelajaran ulang dan memberi masukan kepada siswa tentang hasil belajar mereka. 3) Materi yang ditanyakan belum diajarkan atau belum tuntas pembelajarannya.30 soal tergolong sukar 0. 1996: 310-313).10 0.70 soal tergolong sedang 0.0.

00. atau ditolak. maka soal akan sangat mudah (TK= >0. Kompetensi yang diukur tidak jelas d. . yaitu siswa yang telah memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru. karena 1RT dapat mengestimasi tingkat kesukaran soal tanpa menentukan siapa peserta tesnya (invariance). Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat. Sebagian besar siswa yang memahami materi yang ditanyakan berpikir ada yang salah informasi dalam butir soalnya. Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat mendeteksi/membedakan kemampuan siswa. Daya Pembeda (DP) Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara kelompok siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan kelompok siswa yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Pengecoh tidak berfungsi e. b. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan warga belajar/siswa yang telah memahami materi dengan warga belajar/peserta didik yang belum memahami materi. setiap butir soal dapat diketahui apakah butir soal itu baik. 2. Apabila suatu butir soal tidak dapat membedakan kedua kemampuan siswa itu. maka butir soal itu dapat dicurigai "kemungkinannya" seperti berikut ini. b. Dalam IRT. schingga banyak siswa yang menebak f.00 sampai dengan +1. BA = jumlah jawaban benar pada kelompok atas. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal.11 kesukaran dibiaskan oleh sampel (Haladyna. Indeks daya pembeda berkisar antara -1. maka soal akan sangat sulit (TK = < 0. direvisi.90). a. Jika daya pembeda negatif (<0) berarti lebih banyak kelompok bawah (warga belajar/peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benar soal dibanding dengan kelompok atas (warga belajar/peserta didik yang memahami materi yang diajarkan guru). Oleh karena itu memang merupakan kelebihan analisis secara IRT. Jika sampel berkemampuan tinggi. 1994: 145). Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti berikut ini. Berdasarkan indeks daya pembeda. Materi yang ditanyakan terlalu sulit. Butir soal itu memiliki 2 atau lebih kunci jawaban yang benar c. Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi. Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda adalah dengan menggunakan rumus berikut ini. Jika sampel berkemampuan rendah. maka semakin kuat/baik soal itu.40). 1. DP ! BA  BB 1 N 2 atau DP ! 2(BA  BB ) N DP = daya pembeda soal. Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya. komposisi sampel dapat mengestimasi parameter dan tingkat kesukaran soal tanpa bias.

0. 1993: 359-360) dan (Glass and Stanley.00 soal diterima baik soal diterima tetapi perlu diperbaiki soal diperbaiki soal tidak dipakai/dibuang rpbis merupakan korelasi product moment antara skor dikotomus dan pengukuran kriterion. Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk uraian adalah dengan menggunakan rumus berikut ini. untuk perhitungan pada data yang sama rpbis = 0. (2)   . rpbis ! Xb  Xs pq SD Yb Ys nb. = n. 1993: 360) walaupun para guru/pengambil kebijakan banyak yang suka menggunakan rpbis. sedangkan rbis merupakan korelasi product moment antara variabel latent distribusi normal berdasarkan dikotomi benar-salah dan pengukuran kriterion. serta nb + n. 1986: 315). Ys adalah rata-rata skor warga belajar siswa yang menjawab salah SDt adalah simpangan baku skor total nb dan n.1.12 BB = jumlah jawaban benar pada kelompok bawah. Adapun klasifikasinya adalah seperti berikut ini (Crocker dan Algina. p adalah proporsi jawaban benar terhadap semua jawaban siswa q adalah I ±p U adalah ordinat kurva normal.19 . untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda dapat dipergunukan rumus korelasi point biserial (r pbis) dan korelasi biserial (r bis) (Miliman and (ireene. adalah jumlah siswa yang menjawab benar dan jumlah siswa yang menjawab salah.29 0. Yb adalah rata-rata skor warga belajar/siswa yang menjawab benar Xs.0.ns . sedangkan r bis paling sedikit 25% lebih besar daripada rpbis. 1970: 169-170) seperti berikut.40 . Di samping rumus di atas.00 0. SD un n 2  n dan rbis ! Xb.20 . Maksudnya ini mengukur bagaimana baiknya soal berkorelasi dengan criterion (tidak bagaimana baiknya beberapa/secara abstrak). 0.0. N = jumlah siswa yang mengerjakan tes. DP ! Mean kelompok atas  Mean kelompok awah Skor maksimum soal Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antar peserta didik yang sudah memahami materi yang diujikan dengan peserta didik yang belum/tidak memahami materi yang diujikan. Oleh karena itu.39 0. Kelebihan korelasi point biserial: (1) memberikan refleksi konstribusi soal secara sesungguhnya terhadap fungsi tes. Kedua korelasi ini masing-masing memiliki kelehihan (Millman and Greene.30 .

Pengalaman peserta ujlan. d. semakin besar keajegan. makin tinggi pula keajegan/ketepatannya.00 karena hanya variabel-variabel dengan distribusi bentuk yang sama yang dapat berkorelasi secara tepat. Suatu pilihan jawaban (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi apabila pengecoh: 1) paling tidak dipilih oleh 5 % peserta tes/siswa. semakin besar keajegan. dan variabel kontinyu (kriterion) dan skor dikotonius tidak mempunyai bentuk yang sama. Adapun kelebihan korelasi biserial adalah: (1) cenderung lebih stabil dari sampel ke sampel. semakin ajek. Semakin objektif pemberian skor. 10) Salah penafsiran terhadap butir soal.1. Ketidaktepatan pemberian skor. (2) penilaian lebih akurat tentang bagaimana soal dapat diharapkan untuk membedakan pada beberapa perbedaan point di skala abilitas. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui berfungsi tidaknya jawaban yang tersedia. dan generalized terhadap kesempatan testing dan instrumen tes lainnya. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1). c. Secara rinci faktor yang mempengaruhi reliabilitas skor tes di antaranya: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Semakin banyak jumlah butir soal. 15) Mencontek dalam mengerjakan tes. Semakin lama waktu tes. 2) lebih banyak dipilih oleh kelompok siswa yang belum paham materi. reproducibel. Reliabilitas Skor Tes Tujuan utama menghitung reliabilitas skor tes adalah untuk mengetahui tingkat ketepatan (precision) dan keajegan (consistency) skor tes.13 sederhana dan langsung berhubungan dengan statistik tes. Ada 3 cara yang dapat dilakukan untuk menentukan reliabilitas skor tes. semakin ajek suatu tes. (3) tidak pernah mempunyai value 1. 14) Jarak antara tes pertama dengan tes kedua. Menjawab besar soal dengan cara menebak. Semakin sempit range kesukaran butir soal. 13) Adanya gangguan dalam pelaksanaan tes. yaitu : . 12) Kesiapan mental peserta ujian. Penyebaran (distribusi) jawaban Penyebaran pilihan jawaban dijadikan dasar dalam penelaahan soal. 17) Kondisi fisik peserta ujian. (3) value rbis yang sederhana lebih langsung berhubungan dengan indikator diskriminasi ICC. 16) Posisi individu dalam belajar. Semakin homogen materi semakin besar keajegan. 11) Menjawab soal dengan buru-buru/cepat. Tes yang memiliki konsistensi reliabilitas tinggi adalah akurat. Soal-soal yang saling berhubungan akan mengurangi keajegan. Indeks reliabilitas berkisar antara 0 .

Reliabilitas Instrumen Tes (soal bentuk pilihan ganda) Untuk mengetahui koefisien reliabilitas tes soal bentuk pilihan ganda digunakan rumus Kuder Richadson 20 (KR-20) seperti berikut ini. KR  20 ! k « § p(1  p ) » ¬1  ¼ k 1­ (SD )2 ½ Keterangan: k (SD)2 2. Asal mula IRT adalah kombinasi suatu versi hukum phi-gamma dengan suatu analisis faktor butir soal (item factor analisis) kemudian bernama Teori Trait Latent (Latent Trait Theory). kemudian sekarang secara umum dikenal menjadi teori jawaban butir soal (Item Response Theory) (McDonald. 2) Keajegan pengukuran setara: kesesuaian hasil pengukuran dan 2 atau lebih alat ukur berdasarkan kompetensi kisi-kisi yang lama. e. 3) Keajegan belah dua: kesesuaian antara hasil pengukuran belahan pertama dan belahan kedua dari alat ukur yang sama. reliabilitas. atau characteristics curve theory (ICC). (1) Tingkat kemampuan dalam teori klasik adalah "true score". Modern Analisis butir soal secara modern yaitu penelaahan butir soal dengan menggunakan Item Response Theory (IRT) atau teori jawaban butir soal. Kelebihan Analisis IRT Untuk mengetahui kelebihan analisis IRT. (2) Tingkat kesukaran soal didefinisikan sebagai proporsi peserta didik dalam grup yang menjawab benar soal. : Jumlah butir soal : Varian 1. Mudah/sulitnya butir soal tergantung pada kemampuan peserta didik yang dites dan kemampuan tes yang diberikan. dan Rogers. Adapun kelebihan IRT adalah bahwa: (1) . 1999: 8). Jika tes sulit artinya tingkat kemampuan peserta didik mudah. maka para guru perlu mengetahui keterbatasan analisis secara klasik. Penggunaan rumus untuk mengetahui koefisien ketiga jenis reliabilitas di atas dijelaskan secara rinci berikut ini. Nama lain IRT adalah latent trait theory (LTT). 1991: 2-5). Swaminathan. Dalam subbab ini akan disajikan kelebihan analisis secara IRT dan kalibrasi butir soal dan pengukuran kemampuan orang. Jika tes mudah artinya tingkat kemampuan peserta didik tinggi. Keterbatasan model pengukuran secara klasik bila dibandingkan dengan teori jawaban butir soal adalah seperti berikut (Hambleton. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu scal dengan kemampuan siswa. (3) Daya pembeda. dan validitas soal/tes didefinisikan berdasarkan grup peserta didik.14 1) Keajegan pengukuran ulang: kesesuaian antara hasil pengukuran pertama dan kedua dari sesuatu alat ukur terhadap kelompok yang sama.

(Bejar. memiliki informasi yang berlebihan. (5) Standar error of measurement (SEM) hanya berlaku untuk seluruh peserta didik. (3) Model tiga parameter. Selanjutnya Hambleton dan Swaminathan (1985: 13) menyatakan bahwa tujuan utama IRT adalah memberikan kesamaan antara statistik soal dan estimasi kemampuan. Kelemahan teori tes klasik di atas diperkuat Hambleton dan Swaminathan (1985: 1-3) yaitu: (1) tingkat kesukaran dan daya pembeda tergantung pada sampel. 1993: 154-157. (2) tanpa varian pada parameter abilitas. (3) statistik yang digunakan untuk menghitung tingkat kemampuan siswa diperkirakan dapat terlaksana. Namun kelemahan bekerja dengan model IRT adalah bekerja melalui suatu proses yang sulit karena kelebihan IRT adalah: (1) tanpa varian pada parameter butir soal. Jadi IRT merupakan hubungan antara probabilitas jawaban suatu butir soal yang benar dan kemampuan siswa atau tingkatan/level prestasi siswa. Ada empat macam model 1RT (Hambleton. bawah. yaitu untuk menganalisis data yang menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran soal. Dari keempat model itu tidak sama penekanannya dan sudah barang tentu tiaptiap model itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan itu dapat . daya beda soal. (Hableton dan Swaminathan. (4) tidak ada dasar teori untuk menentukan bagaimana siswa memperoleh tes yang sesuai dengan kemampuan siswa. (3) model ini menekankan pada tingkat butir soal bukan tes. (4) IRT tidak memerlukan paralel tes untuk menentukan relilabilitas tes. (3) adanya ketepatan pada pengukuran lokal. (2) skor siswa dideskripsikan bukan test dependent. sehingga mereka menjawab salah pada suatu soal.15 IRT tidak berdasarkan grup dependent. (3) konsep reliabilitas tes didefinisikan dari istilah tes paralel. dan penyebab lain. (5) IRT suatu model yang memerlukan suatu pengukuran ketepatan untuk setiap skor tingkat kemampuan. yaitu untuk menganalisis data yang hanya menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran dan daya pembeda soal. 1985: 11). daya pembeda soal. 1985: 34-50). Kadang-kadang mereka sembrono (mengerjakan dengan serampangan). yaitu untuk menganalisis data yang menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran soal. (4) Model empat parameter. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan model 4 parameter. Meningkatnya validitas skor tes diperoleh dari tingkat kesukaran tes dihubungkan dengan tingkat kemampuan setiap siswa. (1) Model satu parameter (Model Rasch). daya pembeda merupakan independen sampel yang menggambarkan untuk tujuan kalibrasi soal. 1983: 3-4). Hambleton dan Swaminathan (1985: 48) menjelaskan bahwa siswa yang memiliki kemampuan tinggi tidak selalu menjawab soal dengan betel. (2) penggunaan metode dan teknik untuk desain dan analisis tes dengan memperbandingkan kemampuan siswa pada pernbagian kelompok atas. tengah. perkiraan tingkat kemampuan peserta didik adalah independen. (2) Model dua paremeter. yaitu untuk menganalisis data yang hanya menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran coal. dan menebak (guessing). (2) asumsi pada populasi tingkat kesukaran. Hambleton dan Swaminathan. menebak. Ada tiga keuntungan IRT adalah: (1) asumsi banyak soal yang diukur pada trait yang sama.

Proporsi skor peserta didik adalah skor siswa : jumlah butir soal.50 0. Prosedur estimasi dapat dilakukan dengan tangan atau komputer. b. Data berbentuk angka 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah.30 -3 -2 -1 -0. sedangkan proses mengestimasi parameter tingkat kesukaran butir soal dinamakan kalibrasi. Peluang menjawab benar 1.28 Kemampuan Siswa 2.00 0. biasanya 0.90 1 2 3 0. (3) skor siswa. a. sedangkan proporsi skor soal adalah skor soal : jumlah siswa. Menyusun jawaban peserta didik untuk setiap butir soal ke dalam tabel Dalam menyusun jawaban peserta didik untuk setiap butir ke dalam tabel perlu disediakan kolom: (1) siswa. Pada langkah kedua ini perlu disediakan tambahan kolom: (1) proporsi skor siswa dan (2) proporsi skor butir soal. dan mempunyai satuan ukuran atau unit pengukuran. Kalibrasi butir soal dan pengukuran kemampuan orang merupakan proses estimasi parameter pada model respon butir. butir soal yang dijawab siswa betul semua atau salah semua dan siswa yang dapat menjawab dengan betul semua atau salah semua.r kemampuan orang dengan tangan (Wright and Linacre. Kalibrasi Butir Soal dan Pengukuran Kemampuan Orang. dan (4) skor butir soal.87 1 1. Model persamaan dasar Rasch adalah model probabilistik yang mencakup hasil dari suatu interaksi butir soal-orang. 1992: 32-45) seperti berikut ini.16 diklasifkasikan sesuai dengan jumlah parameter yang ditentukan pada masing-masing model dan tujuan menggunakan model yang bersangkutan. Jadi kalibrasi soal merupakan proses penyamaan skala soal yang didasarkan pada tingkat kesukaran butir soal dan tingkat kemampuan siswa. Proses mengestimasi kemampuan orang dinamakan pengukuran. Adapun contoh kurva ciri soal model satu parameter atau Rasch terlihat seperti pada grafik di bawah ini. (2) butir soal. . Adapun ciri suatu skala adalah mempunyai titik awal. soal atau siswa yang bersangkutan tidak dianalisis atau dikeluarkan dari tabel.52 0 0. Mengedit Data Berdasarkan model Rasch. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam mengkalibrasi butir dan menguki.

Faktor ekspansi kemampuan peserta didik terhadap keluasan tes adalah X = [ (I 4-U/2. (4) frekuensi soal (Fi) yaitu jumlah soal yang memiliki skorsoal sama. (7) kesalahan standar kalibrasi soal yang dikoreksi [SE(di)] atau SE = [ N/Si (N-Si)]ll2 . (6) perkalian antara frekuensi siswa dengan logit proporsi benar (nrYr). (2) nomor butir soal. Menghitung Distribusi Skor Soal Berdasarkan skor soal yang sudah diedit. (8) hasil kali frekuensi soal dengan logit proporsi salah (FiXi). Untuk memudahkan penghitungan Distribusi skor butir soal. (9) inisial pengukuran kemampuan peserta didik (br Yr).. (11) inisial kalibrasi butir soal yaitu di° = Xi . e. d. (6) skor soal (S). yaitu kolom: (1) kelompok skor soal (1). (4) faktor ekspansi kesukaran soal terhadap penyebaran sampel (Y). Menghitung Distribusi Skor Peserta Didik Untuk memudahkan di dalam menghitung distribusi skor peserta didik perlu disusun beberapa kolom yaitu kolom: (1) kemungkinan skor peserta didik (r) yang disusun secara berurutan dimulai dan skor terendah sampai tertinggi.89)/ (1-UV/8. (5) proporsi benar (Pi) yaitu Si : jumlah peserta tes. (10) perkalian antara frekuensi peserta didik dengan nilai rata-rata skor peserta didik (nrYr kuadrat). (10) hasil kali frekuensi soal dengan kuadrat logit proporsi salah(FiXi2). (7) logic proporsi benar yang dikuadraktan (Yr kuadrat).35)]12 f. (3) skor soal (Si). maka perlu disusun beberapa kolom di dalam tabel. (6) proporsi salah (1-Pi).89)/ (1-UV/8. seperti kolom: (1) kelompok skor soal (i) yaitu kelompok skor yang didasarkan pada skor soal yang sama. (4) proporsi benar (Pi-) yaitu skor peserta didik dibagi jumlah soal. dan (12) hasil kali antara frekuensi soal dengan kuadrat nilai rata-rata skor coal (FIX ?). (7) logit (log odds unit)-proporsi salah (Xi) yaitu Ln [(1 -Pi)/Pi]. Menghitung faktor ekspansi kemampuan peserta didik (x) dan kesukaran butir soal (Y). = d. kolom ini berhubungan langsung dengan kolom 2 dan kolom 3.17 c. (2) nomor soal. (9) kuadrat logit proporsi salah (FiXi)2 .nilal rata-rata skor soal. maka skor soal diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok berdasarkan skor yang sama.35)]" 2 Faktor ekspansi kemampuan peserta didik terhadap penyebaran sampel adalah X =_ [ (1+U/2. (2) skor peserta didik. (5) logit proporsi benar (Yr) yaitu Ln [Pr/(1-Pr)]. (8) hasil perkalian antara frekuensi peserta didik dengan logic proporsi benar yang dikuadratkan (nrYr kuadrat). Menghitung Tingkat Kesukaran dan Kesalahan Standar Butir Soal Dalam menghitung tingkat kesukaran dan kesalahan standar soal perlu disusun beberapa kolom di dalam tabel. (3) frekuensi peserta didik (nr) yang memperoleh skor. (5) tingkat kesukaran soal atau Yd. yaitu berupa toli skor peserta didik. Dalam menghitung faktor ekspansi diperlukan variasi distribusi kelompok skor soal (U) dan variance distribusi kelompok skor siswa (V). (3) inisial kalibrasi soal (d).

Metode pengujian fit tergantung pada jumlah butir soal dalam tes: (a) tes sangat pendek (10 atau beberapa butir). PASCAL. misal bisa sampai 20 kali kemudian dilanjutkan dengan metode UCON sampai dengan 50 kali tergantung banyaknya data. . Perbedaan hasil kalibrasi pada setiap iterasi semakin lama semakin kecil dan akan berhenti bila prosesnya sudah terpenuhi (converge) atau lebih kecil dari 0. (2) initial pengukuran kemampuan siswa (br). Hal ini menunjukkan bahwa data adalah fit dengan model. Dalam pelaksanaannya. (6) peserta tes.bi) Estimasi data yang lebih teliti dan akurat hasilnya adalah menggunakan komputer seperti menggunakan program Bigsteps. estimasi data digunakan metode Appoximation Maximum Likelihood (PROX) dan Unconditional Maximum Likelihood (UCON). e IX° . analisis secara IRT tidak serumit seperti penjelasan di atas. yaitu kolom: (1) kemungkinan skor siswa (r). Menghitung Tingkat Kemampuan dan Kesalahan Standar Siswa Dalam menghitung tingkat kemampuan dan kesalahan standar siswa disusun beberapa kolom. Untuk menghasilkan hasil yang akurat.18 g. (5) kesalahan standar pengukuran kemampuan siswa yang dikoreksi [SE (br)] yaitu X [ L/r (L-r)]112 . Menghitung probabilitas atau peluang menjawab benar setiap butir soal [P(0)}.bi) Pi (0) = €€€€€€ 1 + e D(O . Adapun Outfit butir maksudnya statistik butir soal menunjukkan bagaimana perilaku yang tidak diharapkan dari orang yang mempunyai kemampuan lebih dengan tingkat kesukaran butir yang bersangkutan. h. Dalam program Bigsteps. Maksudnya bahwa data soal sesuai dengan model Rasch atau valid yang memiliki mean= 0 dan SD=1. Pelaksanaannya sangat mudah dipahami oleh para guru karena dalam analisis digunakan program komputer.bi) atau Pi (0) = 1 €€€€€€€ 1 + e D(E) . Untuk menghitung peluang menjawab benar setiap butir pada model Rasch atau model satu parameter digunakan rumus berikut ini. Untuk mengenal lebih jauh program-program ini. BIGSTEPS. seperti program RASCAL. estimasi data dengan komputer dapat melakukan iterasi maksimum untuk metode PROX. (3) faktor ekspansi kemampuan siswa terhadap keluasan tes (X).01. Kriteria data sesuai dengan model Rasch adalah apabila hasil korelasi point bhiserial tidak negatif dan outfitnya < 2 baik outfit butir soal maupun outfit orang. atau QUEST. Outfit orang maksudnya statistik orang menunjukkan bagaimana perilaku yang tidak diharapkan pada butir soal yang mempunyai tingkat kesukaran jauh dengan kemampuan orang yang bersangkutan. bacalah pada bab berikut. (4) tingkat kemampuan siswa (br) atau (Xbr). (b) tes pendek (11-20 butir). atau (c) tes panjang ( >20 butir).

17. 15. NAMA PESERTA Fani F Febriati L. 6.K Reti A. Validitas Tabel 3.14400  (542 )(450 ) (17.17764  293764 )(17. 11.12116  202500 ) 244800  243900 (301988  293764 )( 205972  202500 ) 900 (8224 )(3472 ) = = = 900 28553728 .F Amalina Dita Yudith Qonita M. 8.P Anggraini K.1 Validitas dan Reabilitas Soal-soal Uji Coba Biologi di MAN 3 A. 7.S Fahmiyah S. 4. 16.I Farich Assafri Ayu Mufida Betty R Antari P. 1. Dyanta P. Arum D. dilakukan dengan cara membagi dua bagian skor hasil uji coba soal biologi rxy = NXY  ( § X )(§ Y ) _ §X N 2  (§ X ) 2 a N § Y 2  (§ Y ) 2 a _ = 17. Nur Laili A. 9. 5.1 Hasil 3. 13. 3.S Siti K. 12. 14.19 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3. 1 NO. 10.G Anggita O.1. 2.U Jumlah Persiapan Perhitungan Validitas Soal Multiple Choice X 46 40 38 32 32 34 30 34 28 26 28 32 28 26 28 34 26 542 Y 28 32 22 28 32 24 28 22 28 26 24 30 24 22 32 24 24 450 X2 2116 1600 1444 1024 1024 1156 900 1156 784 676 784 1024 784 676 784 1156 676 17764 784 1024 484 784 1024 576 784 484 784 676 576 900 576 484 1024 576 576 12116 Y2 XY 1288 1280 836 896 1024 816 840 748 784 676 672 960 672 572 896 816 624 14400 Keterangan : Pembangian menjadi kolom X dan Y.

246016 = 1020 35164 = 1020 Keterangan : JK(r) K N y = Kuadrat responden = Jumlah soal multiple choice = Jumlah siswa = 34.57 = = 0. B. karena hasil perhitungan validitasnya berada antara 0. 47 Mencari Jumlah Kuadrat Item ™ B2 JK(i) = N 45113 = 34 45113 = 34 1020 30 x 34 246016 ( KxN ) (496)2 (™ Xt)2 1353390 .246016 = 1020 . dapat disimpulkan bahwa soal uji coba ini sudah valid. Reabilitas Mencari Reliabilitas y Mencari Jumlah Kuadarat Responden ™Xt2 JK(r) = K 8270 = 30 8270 = 30 1020 30x34 246016 ( KxN ) (496)2 (™Xt)2 281180 .600 ± 0.20 900 5343.17 Dengan demikian.800 dengan tingakt validitas sudah tergolong tinggi.

47 d.37 = -0.0.64 ) = 11.b total  Mencari d.b 33 34.66 = .b responden ± d.47 33 varians = 1.66 JK(s) = JK(t) .37 y Mencari Varians Responden dan Varians Sisa dengan Tabel  Mencari d.76 957 1019 Memasukkan ke dalam RUMUS VS R(11) = 1Vr (.04 Item 1085.JK(r) .44 29 .610.76 ± 34.21 1107374 = 1020 y Mencari Jumlah Kuadrat Total ( ™B ) (™ Xt)2 JK(t) = ( ™B ) + (™S ) (998) (1042) = (998 + 1042) 1039916 = 2040 y Mencari Jumlah Kuadrat Sisa = 509.610.76 = 1085.JK(i) = 509.37 509.b item = 1019 ± 33 ± 29 = 957 Tabel 3.66 = 37.04 .66 29 1085.b total ± d.2 Tabel Sumber Variansi Sumber varians Responden Jumlah kuadrat 34.b Item  Mencari d. 64 957 Sisa Total y -610.b sisa = K x N ± 1 = 30 x 34 ± 1 = 1019 = N ± 1 = 34 ± 1 = 33 = K ± 1 = 30 ± 1 = 29 = d.b responden  Mencari d.47 ± 1085.

F.5 1260. Arum D. Siti K.5 2970.25 14.5 99471. Panahasini W. S.T. 82 6724 2. Abdul L.2 Proses Pengolahan Data 3.22 = 1 + 0.A 41 1681 33.75 Jumlah Rata-rata : § xi x! n 1814.1. M.5 2652. 62 3844 8. 35. Amalina 64 4096 5. Dirga M. 40 1600 34. Fahmi Wira 51.3 Hasil Analisis Butir-butir Soal Multiple Choice 3.K.3 Persiapan Mengkonversi Skor dengan Skala-5 No.Z.4 Derajat Deviasi : s! n§ x 2  ( § x ) 2 n (n  1) . 54. Royyan A. Nur Laili A. 55 3025 13. 62. Ayu Mufida 55 3025 11. Kety I. 54 2916 16. 54. P. 48 2304 26. Umar S.5 3906.5 2970. 54 2916 17. 55 3025 12.62 = 1. 67 4489 4. Fahmiyah S.25 19. 58 3364 9.25 21. Farich Assafri 55 3025 10. Reti A.N. Betty R.G. 52.25 7.J.U. Moch Sulton 50 2500 24. Siti A. 46 2116 30. 52 2704 20. 67. Anggita O. I. Faizatul M. 53 2809 18. Fani A. 46 2116 29. Febryan C.5 4556.3. 47 2209 27.C 50 2500 23.1. M. Antari P.P 49 2401 25 Izul F. Qonita M. Anggraini K.25 15. 46 2116 31.1 Pengolahan Skor dengan PAN Skala-5 Tabel 3. M.I.25 1814. Dyanta P. Nama Siswa Xi Xi2 1. Septiawan I. Firdha V.5 ! 34 = 53.62 3.1. 51 2601 22. Febriati L. 47 2209 28. Futuhatul H.S.25 3. Dita Yudith 63 3969 6. Khalid A. 46 2116 32.5 2756. Endi R.

5) 2 34.75  (1814.23 34 v 99471.

5 67 64 63 62. 27.5  3292410. 22. 1. 17.5 54. Skor 82 67. 18.9 58 €x  0€ € € €4€5€ € €p C € . 6. 19. .9 49 €x 1. 4€.  0 .5 9 40 €€ € € € € € € € €p E Tabel 3. 10. 25. 12.€ € €53. 24.  0 .€ €€p A € 5s € 1.€ €€p D € 5s € 1. 3. 2. 28. 26.25 1122 = 8. 5. 9. 7.€ € €53. 21.5 62 58 55 55 55 55 54. 20.34  1 ! 3382039. 29.5 s 53 . 16.9 (dibulatkan 9) ! Batas nilai €x 1.4 Membuat Batasan Nilai Interval Skor 67 ke atas 58 ± 66 49 ± 57 40 ± 48 39 ke bawah Nilai A B C D E Tabel 3. 23.5 54 54 53 52.5 Mengkonvirmasikan Skor menjadi Nilai No. 4€ . 4.5 9 67 €x  0€ € € €4€5€ € €p B € . 14. 15. 8. 13. 11.5 s 53.5 52 51.5 51 50 50 49 48 47 47 46 46 Nilai A A A B B B B B C C C C C C C C C C C C C C C C D D D D D . .

soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0. soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0. menduduki siswa yang pengetahuannya sangat rendah sekali dan tidak memahami teori.00 ± 0. 1 = B 33 ! ! 0. Kedudukan siswa yang mendapat nilai terendah yaitu dengan nilai E.97 yang mana indeks kesukaran antara 0. Jumlah siswa yang mendapat nilai A.09 yang mana indeks kesukaran antara 0.6 Jumlah Siswa yang Mendapat Nilai A.97 Js 34 Jadi.24 30. konsep yang ada dalam materi dan siswa ini dinyatakan tidak lulus. 31.18 yang mana indeks kesukaran antara 0. 34.18 Js 34 Jadi.09 Js 34 Jadi. D. dan E Nilai A B C D E Jumlah Siswa 3 5 16 9 1 a.2 Derajat Kesukaran MENGHITUNG INDEKS KESUKARAN Soal no. 33. .00 tergolong soal mudah. Soal no. D. 32. dapat diketahui dengan mencoba membandingkan dengan banyaknya siswa yang mendapat nilai C dan D yang menduduki nilai tertinggi ke-3 dan terendah urutan ke-2 dengan perbandingan 16 : 9 : 1 3.5 D D D D E a. 46 46 41 40 35. B.3.30 tergolong soal sukar. Soal no.2 = B 3 ! ! 0. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 0. C. dan E Tabel 3. 3 = B 6 ! ! 0. B. Hal ini.30 tergolong soal sukar.00 ± 0.1.70 ± 1. C.

00 ± 0.70 ± 1.32 yang mana indeks kesukaran antara 0.79 Js 34 Jadi. Soal no.00 tergolong soal mudah.44 Js 34 Jadi. . Soal no.94 Js 34 Jadi.6 = B 8 ! ! 0.70 tergolong soal sedang. Soal no.00 tergolong soal mudah.30 tergolong soal sukar.00 tergolong soal mudah.10 = B 27 ! ! 0.70 ± 1.94 yang mana indeks kesukaran antara 0.25 Soal no. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0.74 yang mana indeks kesukaran antara 0.24 Js 34 Jadi. Soal no.26 yang mana indeks kesukaran antara 0.30 ± 0.79 yang mana indeks kesukaran antara 0. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0. soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0.70 ± 1.00 ± 0. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 0.7 = B 32 ! ! 0. Soal no. 4 = B 9 ! ! 0. 5 = B 25 ! ! 0.26 Js 34 Jadi.30 ± 0.9 = B 15 ! ! 0.24 yang mana indeks kesukaran antara 0.44 yang mana indeks kesukaran antara 0.74 Js 34 Jadi. Soal no. soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 0.8 = B 11 ! ! 0.30 tergolong soal sukar.70 tergolong soal sukar.32 Js 34 Jadi. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 0.

70 tergolong soal sedang. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0.26 Soal no. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 1 yang mana indeks kesukaran antara 0.13 = B 22 ! ! 0.29 yang mana indeks kesukaran antara 0.00 tergolong soal mudah. Soal no.29 Js 34 Jadi.91 Js 34 Jadi.70 tergolong soal sedang.16 = B 31 ! ! 0.11 = B 14 ! ! 0. Soal no.14 = B 22 ! ! 0. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya o.65 yang mana indeks kesukaran antara 0.70 ± 1. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0.30 ± 0. Soal no.00 tergolong soal mudah.76 yang mana indeks kesukaran antara 0.70 tergolong soal sedang.30 ± 0.12 = B 26 ! ! 0.65 yang mana indeks kesukaran antara 0.00 tergolong soal mudah. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0.30 ± 0.70 ± 1.65 Js 34 Jadi. Soal no. Soal no.15 = B 34 ! !1 Js 34 Jadi.17 = B 10 ! ! 0.70 ± 1.30 ± 0.91 yang mana indeks kesukaran antara 0. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0. Soal no.70 tergolong soal sedang.76 Js 34 Jadi.65 Js 34 Jadi.41 Js 34 Jadi.41 yang mana indeks kesukaran antara 0. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 0. .

41 yang mana indeks kesukaran antara 0.74 yang mana indeks kesukaran antara 0.27 Soal no. Soal no.70 tergolong soal sedang.23 = B 7 ! ! 0.30 tergolong soal sukar.00 tergolong soal mudah. soal ini termasuk soal yang sulit karena tidak ada siswa yang dapat menjawab dengan benar soal ini dank arena indeks kesukarannya 0. 21 = B 27 ! ! 0.44 Js 34 Jadi. Soal no.44 yang mana indeks kesukaran antara 0. Soal no. soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0.79 Js 34 Jadi. Soal no.00 ± 0.41 Js 34 Jadi.79 yang mana indeks kesukaran antara 0.70 ± 1.24 = B 15 ! ! 0. soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0.70 tergolong sedang.74 Js 34 Jadi.00 tergolong soal mudah. dimana indeks kesukaran antara 0.20 = B 6 ! ! 0. . soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 0.00 ± 0. Soal no.30 tergolong soal sukar.19 = B 25 ! ! 0.18 yang mana indeks kesukaran antara 0. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 0. Soal no.18 Js 34 Jadi.44 yang mana indeks kesukaran antara 0.30 ± 0.22 = B 14 ! ! 0.18 = B 0 ! !0 Js 34 Jadi.30 tergolong soal sukar. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0.00 ± 0.70 ± 1.21 Js 34 Jadi.30 ± 0.

70 tergolong soal sedang.15 Js 34 Jadi. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0.18 Js 34 Jadi.15 yang mana indeks kesukaran antara 0.25 = B 6 ! ! 0.28 Soal no.53 yang mana indeks kesukaran antara 0.00 tergolong soal mudah.3 Daya Pembeda Penghitungan Daya Pembeda Soal No.18 yang mana indeks kesukaran antara 0.70 ± 1.1 Kelas atas yang menjawab betul = 9 Kelas bawah yang menjawab betul = 9 JA = 9 5% dari peserta test : : .15 yang mana indeks kesukaran antara 0.15 Js 34 Jadi.30 ± 0. Soal no.70 tergolong soal sedang.28 = B 5 ! ! 0. Soal no. soal ini termasuk soal yang sedang karena indeks kesukarannya 0. Soal no.79 Js 34 Jadi.00 ± 0.79 yang mana indeks kesukaran antara 0. 3. soal ini termasuk soal yang mudah karena indeks kesukarannya 0.1.30 tergolong soal sukar.47 yang mana indeks kesukaran antara 0.3. Soal no.00 ± 0.30 ± 0. soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0.53 Js 34 Jadi. 26 = B 5 ! ! 0. soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0.29 = B 18 ! ! 0.30 tergolong soal sukar.30 tergolong soal sukar. 27 = B 27 ! ! 0. soal ini termasuk soal yang sukar karena indeks kesukarannya 0. Soal no.30 = B 16 ! ! 0.00 ± 0.47 Js 34 Jadi.

11 9 JA JB = 9 BB = 0 PB = BB 0 = =0 9 JB Maka D = PA ± PB = 1.11  Butir soal ini cukup baik karena jawaban benar dari kelompok atas hanya 1 sedangkan jawaban benar dari kelompok bawah adalah 0 Soal No.11 ± 0 = 1.9 dibulatkan 1 100 BA = 9 PA = BA 9 = =1 9 JA JB = 9 BB = 9 PB = BB 9 = =1 9 JB Maka D = PA ± PB = 1 ± 1 = 0  Butir soal ini jelek.11 9 JB Maka D = PA ± PB = 3.33 9 JA JB = 9 BB = 1 PB = BB 1 = = 1.29 5 X 18 = 0. karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah Soal No.22  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 3 : 1 .33 ± 1.3 Kelas atas yang menjawab betul = 3 Kelas bawah yang menjawab betul = 1 JA = 9 BA = 3 PA = BA 3 = = 3.2 Kelas atas yang menjawab betul = 1 Kelas bawah yang menjawab betul = 0 JA = 9 BA = 1 PA = BA 1 = = 1.11 = 2.

11 9 .11 9 JA JB = 9 BB = 1 PB = BB 1 = = 1.6 Kelas atas yang menjawab betul = 1 Kelas bawah yang menjawab betul = 1 JA = 9 BA = 1 PA = BA 1 = = 1.22  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 3 : 1 Soal No.89 = 0.11 = 2.4 Kelas atas yang menjawab betul = 3 Kelas bawah yang menjawab betul = 1 JA = 9 BA = 3 PA = JB = 9 BB = 1 PB = Maka D = PA ± PB = 3.5 Kelas atas yang menjawab betul = 9 Kelas bawah yang menjawab betul = 8 JA = 9 BA = 9 PA = BA 9 = =1 9 JA JB = 9 BB = 8 PB = BB 8 = = 0.33 ± 1.11 ± 1.11 = 0 ¢ ¢¡ ¡ J A JA = 3 = 3.89 9 JB Maka D = PA ± PB = 1 ± 0.33 9 = 1 = 1.11 9 JB Maka D = PA ± PB = 1.11  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 9 : 8 Soal No.30 Soal No.

Soal No.56 9 JA JB = 9 BB = 1 PB = BB 1 = = 0.11 9 JB Maka D = PA ± PB = 0.9 Kelas atas yang menjawab betul = 5 Kelas bawah yang menjawab betul = 5 JA = 9 BA = 5 PA = BA 5 = = 0.8 Kelas atas yang menjawab betul = 5 Kelas bawah yang menjawab betul = 1 JA = 9 BA = 5 PA = BA 5 = = 0.31  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah.56 ± 0.89 9 JB Maka D = PA ± PB = 1 ± 0.7 Kelas atas yang menjawab betul = 9 Kelas bawah yang menjawab betul = 8 JA = 9 BA = 9 PA = BA 9 = =1 9 JA JB = 9 BB = 8 PB = BB 8 = = 0.11 = 0.11  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 9 : 8 Soal No.89 = 0.45  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 5 : 1 Soal No.56 9 JA JB = 9 BB = 5 .

11  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas lebih sedikit dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 1:2 Soal No.32 BB 5 = = 0.56 = 0  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah.11 ± 0.22 = -0.10 Kelas atas yang menjawab betul = 9 Kelas bawah yang menjawab betul = 7 JA = 9 BA = 9 PA = BA 9 = =1 9 JA JB = 9 BB = 7 PB = BB 7 = = 0.78 9 JB Maka D = PA ± PB = 1 ± 0.12 Kelas atas yang menjawab betul = 8 Kelas bawah yang menjawab betul = 6 JA = 9 BA = 8 .11 Kelas atas yang menjawab betul = 1 Kelas bawah yang menjawab betul = 2 JA = 9 BA = 1 PA = BA 1 = = 0.56 ± 0.78 = 0. Soal No.22 9 JB Maka D = PA ± PB = 0.22  Butir soal ini baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 9 : 7 Soal No.56 9 JB PB = Maka D = PA ± PB = 0.11 9 JA JB = 9 BB = 2 PB = BB 2 = = 0.

67 = 0.67 9 JB Maka D = PA ± PB = 0.67 9 JA JB = 9 BB = 5 PB = BB 5 = = 0.67 9 JB Maka D = PA ± PB = 1 ± 0.14 Kelas atas yang menjawab betul = 6 Kelas bawah yang menjawab betul = 5 JA = 9 BA = 6 PA = BA 6 = = 0.33 BA 8 = = 0.13 Kelas atas yang menjawab betul = 9 Kelas bawah yang menjawab betul = 6 JA = 9 BA = 9 PA = BA 9 = =1 9 JA JB = 9 BB = 6 PB = BB 6 = = 0.56 9 JB Maka D = PA ± PB = 0.67 ± 0.89 9 JA PA = JB = 9 BB = 6 PB = BB 6 = = 0.89 ± 0.56 = 0.33  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 9: 6 Soal No.15 Kelas atas yang menjawab betul = 9 .11  Butir soal ini baik karena jawaban benar dari kelompok lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 6 : 5 Soal No.67 = 0.22  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 8 : 6 Soal No.

89 9 = 8 = 0.11 ¤ ¤£ ¦ ¦¥ ¨ ¨§ £ J A JA = 9 =1 9 = 9 =1 9 ¥ J A JA = 8 = 0.44 9 = 3 = 0.89 ± 0.16 Kelas atas yang menjawab betul = 8 Kelas bawah yang menjawab betul = 8 JA = 9 BA = 8 PA = JB = 9 BB = 8 PB = Maka D = PA ± PB = 0. Soal No.33 = 0.89 9 § J A JA = 4 = 0.44 ± 0.34 Kelas bawah yang menjawab betul = 9 JA = 9 BA = 9 PA = JB = 9 BB = 9 PB = Maka D = PA ± PB = 1 ± 1 = 0  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah. Soal No.89 = 0  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah.33 9 .17 Kelas atas yang menjawab betul = 4 Kelas bawah yang menjawab betul = 3 JA = 9 BA = 4 PA = JB = 9 BB = 3 PB = Maka D = PA ± PB = 0.

22  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 7: 5 Soal No.35  Butir soal ini baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 4: 3 Soal No.18 Kelas atas yang menjawab betul = 0 Kelas bawah yang menjawab betul = 0 JA = 9 BA = 0 PA = BA 0 = =0 9 JA JB = 9 BB = 0 PB = BB 0 = =0 9 JB Maka D = PA ± PB = 0 ± 0 = 0  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah.56 9 JB Maka D = PA ± PB = 0. Soal No.78 ± 0.20 Kelas atas yang menjawab betul = 0 Kelas bawah yang menjawab betul = 0 JA = 9 BA = 0 PA = BA 0 = =0 9 JA JB = 9 .19 Kelas atas yang menjawab betul = 7 Kelas bawah yang menjawab betul = 5 JA = 9 BA = 7 PA = BA 7 = = 0.56 = 0.78 9 JA JB = 9 BB = 5 PB = BB 5 = = 0.

56 ± 0.22 Kelas atas yang menjawab betul = 5 Kelas bawah yang menjawab betul = 4 JA = 9 BA = 5 PA = BA 5 = = 0.44 9 JB Maka D = PA ± PB = 0. Soal No.67 = 0.21 Kelas atas yang menjawab betul = 9 Kelas bawah yang menjawab betul = 6 JA = 9 BA = 9 PA = JB = 9 BB = 6 PB = Maka D = PA ± PB = 1 ± 0.56 9 JA JB = 9 BB = 4 PB = BB 4 = = 0.67 9 .12  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 5:4 Soal No.33  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 9: 6 Soal No.23 Kelas atas yang menjawab betul = 4 Kelas bawah yang menjawab betul = 0 JA = 9  © © J A JA = 9 =1 9 = 6 = 0.44 = 0.36 BB = 0 PB = BB 0 = =0 9 JB Maka D = PA ± PB = 0 ± 0 = 0  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah.

24 Kelas atas yang menjawab betul = 6 Kelas bawah yang menjawab betul = 6 JA = 9 BA = 6 PA = JB = 9 BB = 6 PB = Maka D = PA ± PB = 0.67 9 = 6 = 0. Soal No.37 BA = 4 PA = BA 4 = = 0.67 ± 0.44 9 JA JB = 9 BB = 0 PB = BB 0 = =0 9 JB Maka D = PA ± PB = 0.25 Kelas atas yang menjawab betul = 2 Kelas bawah yang menjawab betul = 0 JA = 9 BA = 2 PA = JB = 9 BB = 0 PB = Maka D = PA ± PB = 0.22      J A JA = 6 = 0.67 = 0  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah.44 ± 0 = 0.22 ± 0 = 0.44  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 4:0 Soal No.22 9 = 0 =0 9 .67 9  J A JA = 2 = 0.

33  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 8 : 5 Soal No.33 ± 0.27 Kelas atas yang menjawab betul = 8 Kelas bawah yang menjawab betul = 5 JA = 9 BA = 8 PA = JB = 9 BB = 5 PB = Maka D = PA ± PB = 0.26 Kelas atas yang menjawab betul = 3 Kelas bawah yang menjawab betul = 1 JA = 9 BA = 3 PA = JB = 9 BB = 1 PB = Maka D = PA ± PB = 0.38  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 2:0 Soal No.89 ± 0.28 Kelas atas yang menjawab betul = 3 Kelas bawah yang menjawab betul = 0 JA = 9 BA = 3      J A JA = 3 = 0.33 9 = 1 = 0.22  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 3 : 1 Soal No.56 = 0.11 = 0.89 9 = 5 = 0.56 9 .11 9  J A JA = 8 = 0.

56 9 JA JB = 9 BB = 4 PB = BB 4 = = 0.56 ± 0.39 PA = JB = 9 BB = 0 PB = Maka D = PA ± PB = 0.   J A JA = 3 = 0.44 9 JA JB = 9 BB = 4 PB = BB 4 = = 0.44 9 JB Maka D = PA ± PB = 0.44 ± 0.29 Kelas atas yang menjawab betul = 5 Kelas bawah yang menjawab betul = 4 JA = 9 BA = 5 PA = BA 5 = = 0.33 9 = 0 =0 9 .44 9 JB Maka D = PA ± PB = 0.44 = 0  Butir soal ini jelek karena jawaban benar dari kelompok atas sama dengan jawaban benar dari kelompok bawah.33  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 3 : 0 Soal No.12  Butir soal ini sudah baik karena jawaban benar dari kelompok atas lebih banyak dibanding dengan jawaban benar dari kelompok bawah yaitu 5:4 Soal No.30 Kelas atas yang menjawab betul = 4 Kelas bawah yang menjawab betul = 4 JA = 9 BA = 5 PA = BA 4 = = 0.33 ± 0 = 0.44 = 0.

Soal No. " ! = = =1 9 9  =0 9 9 Pilihan Jawaban a 1 0 1 2 b 1 2 c 1 1 d* 5 4 e Jumlah 9 9 : 5% dari peserta test : 5% x 18 = 0. 3 No. Soal No. D ! PA  PB 3.11 2 0 2 = 0. D ! PA  PB 3.1.9 dibulatkan = 1 = = 4 18 = 0.11  = 18 18 18 Pilihan Jawaban a* 3 1 0 1 b 0 3 c 0 0 d 6 4 e Jumlah 9 9 : 5% dari peserta test : 5% x 18 = 0. kecuali distraktor d.40 3. Soal Kelompok Pemilih 2 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.22 6 4 2 = 0.9 dibulatkan = 1 18 18 D ! PA  PB Jadi.11  = 18 18 18 . semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik. Distraktor : Semua distraktornya sudah dapat berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh 5% pengikut tes. 2 No.4 Kriteria Distraktor Distraktor : Soal No. Soal Kelompok Pemilih 1 Atas Bawah 5% dari peserta test P! JS Pilihan Jawaban a 0 0 9 9 b* 0 0 c 0 0 d 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. P ! JS 2. Soal Kelompok Pemilih 3 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.3. karena siswa yang memilih masing-masing distraktor kurang dari 5% pengikut tes. P ! B JS 2. Distraktor : Semua distraktornya sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. 1 No.9 dibulatkan = 1 = = 2 18 = 0.

sedangkan distraktor a dan b tidak berfungsi dengan baik. D ! PA  PB 6 4  18 18 = 0. 5 No. 4 No.11 3. P ! B JS : 5% x 18 = 0. . D ! PA  PB = 0. kecuali distraktor c sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh 5% dari peserta tes. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik. Soal Kelompok Pemilih 5 Atas Bawah 0 1 a 9 8 b* 0 0 Pilihan Jawaban c 0 0 d 0 0 e 9 9 Jumlah 5% dari peserta test 1.41 Soal No. Soal No.0.06 18 = = 17 18 0 1  18 18 2. Soal No. 6 No. Distraktor : distraktor c dan e sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. P ! B JS = = 3 18 = 0. Soal Kelompok Pemilih 6 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. dan hasil D adalah negative (-).9 dibulatkan = 1 = 0.9 dibulatkan = 1 = = 2 18 8 7  18 18 = 0. P ! B JS Pilihan Jawaban a* 1 1 0 0 b 8 7 c 0 0 d 0 1 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik karena tidak dipilih oleh pengikut tes.17 = 2 18 2. D ! PA  PB 3.06 3.94 =1 = .11 = 1 18 2. karena tidak dipilih pengikut tes. Soal Kelompok Pemilih 4 Atas Bawah 0 0 a 0 0 b 1 4 Pilihan Jawaban c 2 1 d* 6 4 e 9 9 Jumlah 1. karena tidak dipilih oleh peserta tes.

9 dibulatkan = 1 = = 7 18 2 1  18 18 = 0. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik karena tidak dipilih oleh pengikut tes. Soal No.9 dibulatkan = 1 = = 17 18 0 1  18 18 = 0.9 dibulatkan = 1 = = 6 18 2 1  18 18 = 0. Soal Kelompok Pemilih 8 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. Soal Kelompok Pemilih 9 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. D ! PA  PB = 0. D ! PA  PB = 0.94 =1 = .06 18 2.06 3. Soal Kelompok Pemilih 7 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. P ! B JS Pilihan Jawaban a 2 1 5 1 b* 0 5 c 1 1 d 1 1 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. 7 No. Distraktor : distraktor sudah berfungsi dengan baik karena dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. kecuali distrakor b belum berfungsi dengan baik karena tidak dipilih oleh pengikut tes . Soal No. 9 No. D ! PA  PB 3.42 Soal No.0. 8 No.33 = 1 18 2. P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 0 0 0 b 9 8 C* 0 0 d 0 1 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. P ! B JS Pilihan Jawaban a 2 1 0 0 b 2 5 c* 5 2 d 0 1 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. Distraktor : Semua distraktornya sudah berfungsi dengan baik karena dipilih oleh lebih besar dari atau sama 5% dari pengikut tes.06 3.39 = 1 18 2.

11 No. c sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes.0. Soal No. D ! PA  PB = 0. D ! PA  PB 1 1  18 18 3. Soal Kelompok Pemilih 11 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.17 = 1 18 2. P ! B JS = = 14 18 = 0. P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 0 0 0 b 0 2 c 0 0 d 9 7 e* Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. 12 No. P ! B JS Pilihan Jawaban a* 1 2 4 3 b 4 4 c 0 0 d 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0.11 18 2.9 dibulatkan = 1 = = 16 18 0 2  18 18 = 0.10 No. Soal Kelompok Pemilih 12 Atas Bawah 8 6 a* 0 2 b 1 1 Pilihan Jawaban c 0 0 d 0 0 e 9 9 Jumlah 1. D ! PA  PB 3. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik.06 3.9 dibulatkan = 1 = = 3 18 4 3  18 18 = 0. 13 No. Soal Kelompok Pemilih 10 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. dan distraktor Soal No.43 Soal No. karena tidak dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. kecuali distraktor c. Distraktor : distraktor b.78 =0 2.89 =  2 = . Soal Kelompok Pemilih 13 Atas Bawah 0 1 a 9 6 b* 0 1 Pilihan Jawaban c 0 0 d 0 1 e 9 9 Jumlah . Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik karena tidak dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. Soal No.

16 No.06 3. D ! PA  PB = 0. 15 No. kecuali distraktor d Soal No. Soal No. D ! PA  PB 3. P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 0 9 9 b* 0 0 c 0 0 d 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0.06 18 2. Soal Kelompok Pemilih 15 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. 14 No. P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 2 0 0 b 6 5 c* 3 2 d 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik karena tidak dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes.9 dibulatkan = 1 = 16 18 = 0. karena tidak dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. D ! PA  PB 3.83 =1 = . P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 0 0 0 b 1 1 c 8 8 d* 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0.44 5% dari peserta test 1. Soal Kelompok Pemilih 14 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.89 . P ! B JS : 5% x 18 = 0.61 = 1 18 2. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik. karena tidak dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. Soal No.0.9 dibulatkan = 1 = = 11 18 3 2  18 18 = 0. Soal Kelompok Pemilih 16 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.9 dibulatkan = 1 = = 15 18 0 1  18 18 = 0.9 dibulatkan = 1 = = 18 18 0 0  18 18 =1 =0 2. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik.

Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik karena tidak dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. P ! B JS Pilihan Jawaban a 1 5 4 3 b* 0 1 c 0 0 d 4 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. karena dipilih oleh kurang dari 5% peserta Soal No. 17 No.11 3. D ! PA  PB 1 5  18 18 3. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik karena tidak dapat dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. kecuali distraktor a Soal No.9 dibulatkan = 1 = = 0 18 3 1  18 18 =0 = 2 18 2. P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 0 3 1 b 0 0 c* 0 1 d 6 7 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0.0. sedangkan distraktor a dan d tidak dapat berfungsi dengan baik. D ! PA  PB = =0 3. Soal Kelompok Pemilih 17 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. D ! PA  PB .9 dibulatkan = 1 = = 7 18 = 0. P ! B JS Pilihan Jawaban a 1 1 0 2 b 7 5 c* 1 1 d 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. Distraktor : distraktor b dan e sudah dapat berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes.67 =0 2.45 1 1  18 18 2. Soal Kelompok Pemilih 18 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.22 18 2. kecuali distraktor c.39 =4 = . Soal Kelompok Pemilih 19 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. Soal No. 18 No.9 dibulatkan = 1 = = 12 18 1 1  18 18 = 0. D ! PA  PB = 0. 19 No.

Distraktor : distraktornya a dan d sudah berfungsi dengan baik karena dipilih oleh sama dengan 5% dari pengikut tes. 21 No. Distraktor : Semua distraktornya sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. D ! PA  PB 3. kecuali distraktor b.0. Soal Kelompok Pemilih 20 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.46 3.9 dibulatkan = 1 = = 15 18 0 2  18 18 = 0.9 dibulatkan = 1 = = 0 18 5 2  18 18 =0 = 3 = 0. Soal No. P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 2 9 6 b* 0 1 c 0 0 d 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. karena dipilih oleh kurang dari 5% pengikut tes Soal No. P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 1 2 1 b 5 4 c* 1 2 d 1 1 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. D ! PA  PB . 20 No. D ! PA  PB 3.11 18 2. Soal No.17 18 2. Soal Kelompok Pemilih 21 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. Soal Kelompok Pemilih 22 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.9 dibulatkan = 1 = = 9 18 1 1  18 18 = 0. Sedangkan distraktor b dan e tidak dapat berfungsi dengan baik. 22 No. P ! B JS Pilihan Jawaban a 5 2 0 0 b 1 1 c 3 6 d 0 0 e* Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. karena tidak ada yang dipilih. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapat berfungsi dengan baik karena dipilih oleh kurang dari 5% pengikut tes.5 =0 2.83 =2 = .

karena tidak dipilih oleh kurang dari 5% peserta tes. D ! PA  PB = 0. kecuali distraktor a. Soal No. 25 No. karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. P ! B JS Pilihan Jawaban a 2 1 0 0 b 1 1 c 6 6 d* 0 1 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0.9 dibulatkan = 1 = = 2 18 7 3  18 18 = 0. Distraktor : hanya distraktor a yang sudah berfungsi dengan baik. Sedangkan distraktor yang lain belum berfungsi dengan baik. Soal No. Sedangkan distraktor b dan e tidak berfungsi dengan baik. D ! PA  PB = 0. Soal Kelompok Pemilih 23 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.67 = 1 18 2.22 3. karena dipilih oleh kurang dari 5% pengikut tes Soal No. Soal Kelompok Pemilih 24 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.9 dibulatkan = 1 = = 4 18 4 0  18 18 = 0. Soal Kelompok Pemilih 25 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. P ! B JS Pilihan Jawaban a 1 1 1 0 b 3 7 c 0 1 d 4 0 e* Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0.06 3.47 3. 23 No. 24 No.11 = 4 18 2. P ! B JS Pilihan Jawaban a 0 0 0 3 b 2 0 c* 7 3 d 0 3 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. karena dipilih oleh kurang dari peserta tes. Distraktor : Semua distraktornya sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. D ! PA  PB = 0.9 dibulatkan = 1 = = 12 18 2 1  18 18 = 0.22 = 4 18 2. Distraktor : distraktor a dan c sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes.22 .

0.17 = 4 18 2.11 3. P ! B JS Pilihan Jawaban a* 8 5 0 0 b 1 3 c 0 1 d 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0.72 =2 = .9 dibulatkan = 1 = = 13 18 1 3  18 18 = 0. Distraktor : hanya distraktor d saja yang berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. Soal No. D ! PA  PB 3.22 .11 = 2 18 2. Sedangkan b. P ! B JS Pilihan Jawaban a 3 1 2 4 b 3 1 c 1 1 d* 0 2 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. Soal Kelompok Pemilih 28 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. D ! PA  PB = 0. Soal Kelompok Pemilih 26 Atas Bawah 5% dari peserta test 1. 28 No. dan e tidak dapat berfungsi dengan baik karena dipilih oleh kurang dari 5% peserta tes. d. kecuali distraktor yang e. D ! PA  PB = 0. Soal No. Distraktor : hanya distraktor c saja yang sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. 27 No.9 dibulatkan = 1 = = 2 18 3 1  18 18 = 0. Sedangkan distraktor a. P ! B JS Pilihan Jawaban a 1 0 1 7 b 0 2 c 4 0 d 3 0 e* Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. 26 No. dan e belum dapat berfungsi dengan baik. Soal Kelompok Pemilih 27 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.11 18 2. b. Distraktor : Semua distraktornya sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes.9 dibulatkan = 1 = = 3 18 4 0  18 18 = 0.48 3. karena dipilih oleh kurang dari 5% peserta tes Soal No.

0. peringkasan. Soal Kelompok Pemilih 29 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.49 3. serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah sudah atau belum memahami materi yang telah diajarkan (Aiken. 30 No. dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian (Nitko. sudah dapat berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh 5% peserta tes Soal No. Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat .9 dibulatkan = 1 = = 9 18 3 4  18 18 = 0. P ! B JS Pilihan Jawaban a* 5 4 0 0 b 1 0 c 0 1 d 3 4 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. Distraktor : Semua distraktornya tidak dapart berfungsi dengan baik karena dipilih oleh kurang dari 5% pengikut tes.44 =0 2. Soal No. 3. D ! PA  PB 3. Distraktor : Semua distraktornya belum berfungsi dengan baik karena dipilih oleh kurang dari 5% pengikut tes.2 Pembahasan Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. 1994: 63). D ! PA  PB 3. Distraktor : Semua distraktornya belum berfungsi dengan baik karena dipilih oleh kurang dari 5% pengikut tes. P ! B JS Pilihan Jawaban a* 4 4 0 0 b 0 0 c 5 5 d 0 0 e Jumlah 9 9 : 5% x 18 = 0. 1996: 308). kecuali distraktor yang d. tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif. 29 No. Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan.06 18 2. Soal Kelompok Pemilih 30 Atas Bawah 5% dari peserta test 1.5 =1 = . kecuali distraktor yang e. Di samping itu. Tujuan penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan.9 dibulatkan = 1 = = 8 18 5 5  18 18 = 0.

(5) meningkatkan validitas soal dan reliabilitas (Anastasi and Urbina. Jadi. (4) secara materi dapat memperbaiki tes di kelas. 1995: 195). Manfaat Soal yang Telah Ditelaah Tujuan utama analisis butir soal dalam sebuah tes yang dibuat guru adalah untuk mengidentifikasi kekurangan-kekurangan dalam tes atau dalam pembelajaran (Anastasi dan Urbina. bahwa kegunaan analisis butir soal bukan hanya terbatas untuk peningkatkan butir soal. Berdasarkan tujuan ini. (2) apakah soal ini memiliki tingkat kesukaran yang tepat?. di antaranya adalah: (1) dapat membantu para pengguna tes dalam evaluasi atas tes yang digunakan. Berbagai uraian di atas menunjukkan bahwa analisis butir soal adalah : (1) untuk menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi penggunaannya. 1997: 172) atau prosedur peningkatan secara judgment dan prosedur peningkatan secara empirik (Popham. dan (d) untuk peningkatan keterampilan pada konstruksi tes. para penulis soal dapat menganalisis secara kualitatif. (3) mendukung penulisan butir soal yang efektif. daya . Linn dan Gronlund (1995: 315) juga menambahkan tentang pelaksanaan kegiatan analisis butir soal yang biasanya didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini :(1) apakah fungsi soal sudah tepat?. Oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan keduanya (penggabungan). 1997:172). Di samping itu. (2) untuk meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu tingkat kesukaran. (6) meningkatkan keterampilan penulisan soal (Nitko. Dalam melaksanakan analisis butir soal. dan kuantitatif dalam kaitan dengan ciri-ciri statistiknya (Anastasi dan Urbina. (3) apakah soal bebas dari hal-hal yang tidak relevan?. (2) memberi masukan kepada siswa tentang kemampuan dan sebagai dasar untuk bahan diskusi di kelas. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas soal dan reliabilitasnya.50 menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru. (b) untuk kerja remedial. Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk. (4) memberi masukan pada aspek tertentu untuk pengembangan kurikulum. dalam kaitan dengan isi dan bentuknya. (3) memberi masukan kepada guru tentang kesulitan siswa. dan (4) apakah pilihan jawabannya efektif? Lebih lanjut Linn dan Gronlund (1995: 3 16-318) menyatakan. maka kegiatan analisis butir soal memiliki banyak manfaat. yaitu bahwa data analisis butir soal bermanfaat sebagai dasar : (a) diskusi kelas efisien tentang hasil tes. manfaat lainnya adalah: (1) menentukan apakah suatu fungsi butir soal sesuai dengan yang diharapkan. ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu penelaahan soal secara kualitatif dan kuantitatif. 1997:184). 1996: 308-309). (c) untuk peningkatan secara umum pembelajaran di kelas. (5) merevisi materi yang dinilai atau diukur. (2) sangat relevan bagi penyusunan tes informal dan lokal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa di kelas. tetapi ada beberapa hal.

14. 3. 4. Kualitas Awal Sebelum Analisis C1 Mudah C1 sedang C4 sulit C4 sedang C2 sulit C1 sulit C4 mudah C2 sulit C4 sedang C2 sedang C1 sedang C4 sedang C2 sedang C2 mudah C2 mudah C1 sedang C2 sulit C2 sulit C4 sulit C2 sedang C1 sedang C5 mudah C2 sulit C5 sulit C1 sulit C2 sedang C2 sulit C6 sukar C2 mudah C1 mudah Kualitas Setelah Analisis Mudah Sukar Sukar Sukar Mudah Sukar Mudah Sedang Sukar Mudah Sedang Mudah Sedang Sedang Mudah Mudah Sedang Sukar Mudah Sukar Mudah Sedang Sukar Sedang Sukar Sukar Mudah Sukar Sedang Sedang Dibuang Diterima dengan baik Diterima dengan baik Diterima dengan baik Dibuang Dibuang Dibuang Diterima dengan baik Dibuang Dibuang Dibuang Dibuang Dibuang Dibuang Dibuang Dibuang Dibuang Dibuang Diperbaiki Diperbaiki Diperbaiki Diperbaiki Diperbaiki Diperbaiki Diperbaiki Diperbaiki Diterima diperbaiki Diterima diperbaiki Dibuang Dibuang Keterangan . 10. 21. 18. 28. 11. 27. 29. Soal 1. 25. 16. 20. Tabel 3. 5. dan pengecoh soal. 22.7 Pembahasan Hasil Analisis Soal Uji Coba Biologi No. 8. 17. 23. 9. butir soal yang telah dianalisis dapat memberikan informasi kepada peserta didik dan guru seperti contoh berikut ini. 19. 6. 12. serta meningkatkan pembelajaran melalui ambiguitas soal dan keterampilan tertentu yang menyebabkan peserta didik sulit. 13. Di samping itu. 24. 15. 2.51 pembeda. 7. 30. 26.

untuk banyak berlatih agar dapat membuat dan melakukan penskoran dan penilaian atas soal-soal dengan baik. dapat ditarik kesimpulan. meskipun faktor keberuntungan juga memberikan input kepada setiap individu. serta fungsi distraktor tergolong sangat kurang (jelek).2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas disarankan khususnya kepada anggota kelompok SMA. derajat beda. .52 BAB IV PENUTUP 4. bahwa validitas. karena tanpa banyak berlatih semua yang kita harapkan tidak akan pernah tercapai dengan baik. tingkat kesukaran. 4. karena usaha kita yang akan menentukan baik buruknya hasil yang dapat dicapai nantinya.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan studi pustaka di atas. tapi yang paling penting adalah kemajuan dan kemaksimalan kita yang dikenal dengan proses dari suatu usaha untuk mencapai hasil yang maksimal. reabilitas.

Jakarta : PT. P. 1999. Wayan dan Sumarta. Anas. Jakarta : Bumi Aksara Daryanto. Surabaya : Usaha Nasional Sudijono. 2008. 1986. Evaluasi Pendidikan. 1995. N. P. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.53 Daftar Pustaka Arikunto. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bina Aksara Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta Nurkancana. Radja Grafindo Persada . Suharsimi. 1894.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful