Anda di halaman 1dari 3

Nama : Nurmala Sari

Kelas : 3A
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Mata Kuliah : Pengembangan Keterampilan (PK) Menulis
Dosen : Fathiaty Murtadho, M.Pd.

RESENSI BUKU

Judul : Dasar-dasar Penyuntingan Bahasa Media


“Pedoman Menyunting Bahasa Media untuk Mahasiswa, Jurnalis
dan Umum”
Penulis : Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum.
Penerbit : Gramata Publishing
Cetakan : Pertama, Februari 2010
Tebal : 204 halaman
Peresensi : Nurmala Sari

Menyunting dapat diartikan sebagai kegiatan membaca kembali sambil


menemukan kesalahan-kesalahan kebahasaan dan nonkebahasaan sebuah tulisan.
Proses ini biasanya dilakukan oleh diri sendiri terhadap tulisan sendiri atau
penyunting terhadap tulisan orang lain. Kegiatan penyuntingan terlihat sepele
sehingga tahap ini sering sekali terabaikan, padahal, pengalaman hampir semua
penulis besar mengungkapkan, proses penyuntingan adalah sebuah tahapan
menulis yang menjadi salah satu kunci sukses mereka menjadi penulis ternama.
Tidak mudah menyunting bahasa media. Bahasa media atau bahasa
jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam
menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian,
bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai
bahasa jurnalistik atau bahasa media. Banyak dimensi kebahasaan dan
nonkebahasaan yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan oleh seorang
penyunting atau redaktur bahasa. Adakalanya, bahasa yang secara linguistik
benar, dalam media massa justru tidak sepenuhnya dapat diterima dan dianggap
benar. Demikian pula sebaliknya, selalu terdapat bentuk-bentuk kebahasaan yang
jelas-jelas bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan, tetapi bentuk-bentuk
kebahasaan demikian itu digunakan secara salah kaprah. Jika hal itu terus
berlanjut, bahasa media massa akan menjadi semakin amburadul dan menjadi
wahana belajar yang kontraproduktif bagi warga masyarakat yang membacanya.
Oleh karena itu, kehadiran buku pedoman meyunting bahasa media ini
menjadi sangat penting. Kehadiran buku ini dapat membantu jurnalis, mahasiswa
yang ingin menjadi redaktur bahasa dan masyarakat umum lainnya belajar
menyunting bahasa media.
Buku yang memiliki tebal 204 halaman ini memiliki desain sampul yang
cukup baik, meski sampul yang ditampilkan tidak glosi. Mengenai kertas yang
digunakan pun bukan merupakan kertas HVS putih, namun tulisan tercetak baik
dan jelas.
Buku karangan Rahardi mengenai dasar penyuntingan bahasa media ini
terdiri dari tiga bab. Bab pertama penulis menjelaskan mengenai dasar-dasar
kelinguistikan atau kaidah-kaidah kebahasaan yang perlu pembaca ketahui untuk
bekal menyunting. Penulis dalam bab ini akan menginformasikan kita mengenai
pilihan kata, kalimat baku-efektif, paragraf efektif dalam penyuntingan, serta hal-
hal teknis kebahasaan dalam penyuntingan. Sehingga sangat dihimbau pemakai
bahasa media atau penyunting bahasa akan menggunakan bahasa sesuai
pertimbangan kebutuhan dalam praktik berbahasa (need-aspect consideration)
bukan atas pertimbangan gengsi dalam berbahasa (prestige-aspect consideration)
yang kini marak terjadi dalam bahasa media massa.
Kemudian pada bab kedua penulis menjabarkan mengenai dasar-dasar
keredaksian, seperti prinsip kemediamassaan, ihwal berita dalam media dan
kasus-kasus kebahasaan rutin redaksi. Dalam bab inilah kita bisa memahami
bagaimana menggunakan bahasa media yang komunikatif, spesifik, jelas, dan
hemat sehingga tidak terjadi kemubaziran dalam penggunaannya.
Penjabaran terakhir terdapat dalam Bab ketiga. Penulis menjabarkan
mengenai model-model penyuntingan bahasa media dan analisisnya dalam bab
ini, misalnya, penyuntingan terhadap kata, frasa, dan kalimat, penyuntingan
terhadap bahasa dan gaya bahasa serta penyuntingan kebahasaan dalam teks pada
beberapa desk media. Penulis menghadirkan analisis penyuntingan dalam bentuk
tabel yang baik dan jelas. Tak lupa ia menyertakan alasan mengapa kata, kalimat
atau hal yang salah itu perlu disunting.
Bagi masyarakat umum yang awam tentang penyuntingan tak perlu
khawatir akan sulit memahami buku ini, karena penulis begitu baik menggunakan
gaya bahasa sehingga menjadikan buku ini mudah dicerna. Meskipun ada
beberapa kosakata yang tak umum digunakan di masyarakat akan tetapi hal itu
bukanlah kendala yang berarti.
Selanjutnya yang peresensi coba sampaikan ini merupakan hal yang
menjadi kelebihan utama dari buku ini. Pembaca akan diajak oleh penulis untuk
benar-benar masuk ke dalam pemakaian kebahasaan konkret di dalam media
massa dengan menyertakan pertanyaan-pertanyaan pendalaman dan latihan di
setiap akhir sub-bab dalam buku ini. Latihan-latihan yang dihadirkan oleh penulis
pun sengaja dicuplikkan secara otentik dari sejumlah media massa nasional. Oleh
karena itu, buku ini sangat baik untuk kepentingan akademik seorang mahasiswa
bahasa, khususnya yang hendak menjadi seorang penyunting atau redaktur bahasa
dikemudian hari. Hal ini tak lepas dari diri penulis yang merupakan salah satu
dosen luar biasa di sebuah universitas swasta di Yogyakarta.