Anda di halaman 1dari 11

CLASS ACTION DAN LEGAL STANDING

SEBAGAI SALAH SATU LANGKAH


DALAM PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia memiliki
sumber daya yang sangat kaya dan melimpah.Kekayaan akan sumber
daya (resources) ini dapat dilihat nyaris disetiap Provinsi di
Indonesia.Namun demikian,kekayaan akan sumber daya khususnya
sumber daya alam justru disatu sisi menimbulkan potensi terjadi
pencemaran dan pengerusakan lingkungan hidup dimana-mana.Keadaan
ini dapat menjadi salah satu penghambat bagi Indonesia dalam
melaksanakan pembangunan yang bertujuan guna meningkatkan
kesejahteraan rakyat Indonesia.
Masalah pencemaran dan pengerusakan lingkungan hidup ini
sesungguhnya merupakan masalah yang dialami oleh hampir seluruh
negara-negara di dunia. Berbagai masalah mengenai lingkungan hidup baik
yang disebabkan oleh alam maupun karena ulah tidak bertanggung jawab
manusia diyakini dapat mengganggu jalannya proses ekologi yang
berujung pada hancurnya rantai ekosistem dimuka bumi ini.Isu ini sudah
mulai dibicarakan pada pertemuan Internasional yang digagas oleh PBB di
Stockholm 1972.Pada konferensi yang diikuti oleh wakil 114 negara ini
memfokuskan pada empat isu utama yakni mengenai Popullation,Polution,
Poverty dan juga Policy.Pertemuan ini kemudian berlanjut pada konferensi
lingkungan hidup di Nairobi,Kenya pada tahun 1982 yang menjadi cikal
bakal terbentuknya World Commission on Environment and
Development (WCED) pada tahun 1983 dan diketuai oleh Gro Harlem
Brundtland1.Pertemuan-pertemuan Internasional ini terus berlanjut dan dari
sinilah dunia mengenal istilah Sustainable Development atau di Indonesia

1
Mantan Perdana Menteri Norwegia yang juga pernah menjabat sebagai Director-General of World Helath
Organization (WHO) periode 1998-2003.

1
disebut sebagai pembangunan yang berkelanjutan.Konsep pembangunan
yang berkelanjutan inilah yang diharapkan dapat menjadi sebuah wujud
pertanggung jawaban kita sebagai generasi saat ini kepada generasi yang
akan datang.Berbagai pertemuan internasional ini menuntut kita semua
untuk bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan pelestarian lingkungan
hidup agar tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan generasi mendatang
sembari melakukan pembangunan di berbagai bidang.
Dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,Pemerintah
Indonesia membuat berbagai konsep mengenai peraturan perundang-
undangan guna menjaga kelestarian lingkungan hidup yang ada.Pada tahun
1982 pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No 14 tahun 1982
(LN1982 No.12) tentang ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup secara terpadu dengan mengamanatkan keharusan
untuk mengkaitkan pelaksanaan pembangunan Nasional dengan konsep
“sustainable development”.Undang-undang ini mengandung berbagai
konsepsi dari pemikiran inovatif dibidang hukum lingkungan
Indonesia,sehingga perlu dikaji penyelesaiannya perundang-undangan
lingkungan modern sebagai sistem keterpaduan (Rangkuti, 1991:6).
Selanjutnya Undang-Undang No.14 tahun 1982 diganti dengan Undang-
Undang No 23 tahun 1997 (LN 1997:68) tentang pengelolaan Lingkungan
Hidup.Dalam undang-undang ini pembangunan berwawasan lingkungan
dikumandangkan dengan istilah “Pembangunan Berkelanjutan Yang
Berwawasan Lingkungan Hidup.” Dalam perkembangannya,Undang-
Undang No 23 tahun 1997 dicabut dan digantikan dengan Undang-Undang
No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.Undang-Undang No 32 tahun 2009 juga tidak lupa untuk meneruskan
prinsip mengenai pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan,hal ini dapat kita cermati pada bagian konsideran UU No.32
tahun 2009 dikatakan bahwa pembangunan ekonomi Nasional
sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 diselenggarakan berdasarkan
prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Begitu besarnya perhatian negara melalui perwujudan pembangunan
yang berwawasan lingkungan mengartikan bahwa pentingnya menjaga
kelestarian lingkungan hidup tersebut.Hal ini juga lah yang mendorong

2
pemerintah untuk senantiasa memperbaiki produk undang-undang yang
ada sehingga konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup
tersebut benar-benar dapat terlaksana.Pun demikian adanya mengenai
tindakan hukum pada pelanggaran terhadap lingkungan hidup itu
sendiri.Salah satu fokus utama yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah
mengenai gugatan dan sanksi perdata terhadap masalah sengketa
lingkungan hidup.Penggunaan instrument hukum khususnya litigasi hukum
melalui jalur peradilan merupakan salah satu jalan yang dapat ditempuh
oleh masyarakat.Kelompok masyarakat dapat mengajukan gugatan
terhadap dugaan terjadinya pengerusakan dan pelanggaran pada
kelestarian lingkungan hidup,karena setiap warga negara memiliki hak
untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat1.Pengajuan
gugatan secara perdata ini pada awalnya sangat jarang diterapkan di
Indonesia,ini dikarenakan Hukum Acara Positif Indonesia yang menganut
sistem civil law tidak mengenal prosedur gugatan secara perwakilan
layaknya yang terdapat pada negara-negara dengan sistem hukum
common law (anglo saxon) (E.Sundari,2002:98).Terobosan hukum
mengenai gugatan perwakilan ini baru muncul melalui peraturan Mahkamah
Agung (PERMA) No.1 Tahun 2002 yang mengatur mengenai acara gugatan
perwakilan kelompok.Hal ini didasarkan karena sistem hukum perdata
Indonesia,yang dapat menjadi pihak dalam sengketa perdata adalah
manusia2 serta badan hukum melalui wakilnya3 (E.Sundari,
2002:108).Disinilah pentingnya kita memahami mekanisme gugatan perdata
khususnya pada masalah sengketa Lingkungan Hidup yang terjadi di
Indonesia.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembahasan diatas,penulis mencoba merumuskan
masalah yang akan diangkat dalam makalah ini,yaitu :
1. Bagaimana penerapan gugatan perdata di Indonesia?
2. Bagaimana perbandingan gugatan class action dan
legal standing di Indonesia?
1
Amanat Undang-Undang Dasar 1945 ,Pasal 28 H ayat 1 , Perubahan II 18 Agustus 2000.
2
Pasal 118 HIR,142 Rbg
3
Pasal 123 ayat 2 HIR,147 ayat 2 Rbg,Pasal 6 no 1 dan 3 serta Pasal 8 no 2 Rv dan pasal 1655 BW.

3
II. PEMBAHASAN

A. Undang-Undang No 32 Tahun 2009


Masalah lingkungan hidup memang semakin hari semakin
meprihatinkan,bukan saja terjadi di Indonesia tetapi juga telah menjadi isu
global yang sifatnya mendunia.Salah satu langkah yang ditempuh oleh
pemerintah guna mencegah dan melindungi kelestarian lingkungan hidup
adalah dengan memperbaiki produk undang-undang.Karena itulah
pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No 32 tahun 2009 guna
menggantikan UU No 23 tahun 1997,yang salah satu tujuan nya adalah
untuk menutupi celah-celah hukum yang ditinggalkan UU No 23 tahun 1997
dengan harapan agar pelanggaran dan sengketa mengenai masalah
Lingkungan Hidup dapat ditekan seminimal mungkin.
Perbedaan medasar tersebut dijelaskan pada bagian penjelasan dari
UU No 32 tahun 2009 ini,yaitu Adanya penguatan yang terdapat dalam
Undang-Undang ini tentang prinsip-prinsip perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup yang didasarkan pada tata kelola pemerintahan yang baik
karena dalam setiap proses perumusan dan penerapan instrument
pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta
penanggulangan dan penegakan hukum mewajibkan pengintegrasian apek
transparansi,partisipasi,akuntabilitas,dan keadilan. UU No 32 tahun 2009
juga memperkenalkan ancaman hukuman minimum disamping
maksimum,perluasan alat bukti (pasal 96 huruf f),pemidanaan bagi
pelanggaran baku mutu,keterpaduan penegakan hukum pidana,dan
pengaturan tindak pidana korporasi.Undang-undang ini juga tetap
memperhatikan penggunaan asas Ultimum Remedium yang hanya berlaku
pada tindak pidana formil tertentu yaitu pemidanaan terhadap pelanggaran
baku mutu air limbah,emisi,dan gangguan.
Pada UU No 32 tahun 2009 masalah penyelesaian sengketa
lingkungan hidup diatur pada bagian ke tiga Undang-undang ini.Dimana
secara perdata undang-undang ini membatasi aturan-aturan mengenai
pengajuan gugatan oleh pihak-pihak tertentu saja,sebagai upaya
pencegahan dan usaha pelestarian lingkungan hidup,yaitu :

4
1. Ganti Kerugian dan Pemulihan Lingkungan
 Pasal 87 (1)
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan
perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan.atau
perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang
lain atau lingkungan hidup wajib membayar ganti rugi dan/atau
melakukan tindakan tertentu.
 Pasal 87 (2)
Setiap orang yang melakukan pemindahtanganan,pengubahan sifat
dan bentuk usaha,dan/atau kegiatan dari suatu badan usaha yang
melanggar hukum tidak melepaskan tanggung jawab hukum
dan/atau kewajiban badan usaha tersebut.
2. Tanggung Jawab Mutlak
Pada pasal 88 mengatur tentang tanggung jawab mutlak (Strict
Liability), dimana prinsip ini tidak dikaitkan dengan unsure
kesalahan.Pada pasal 88 ini dikatakan bahwa “Setiap orang yang
tindakannya,usahanya, dan/atau kegiatannya menggunakan
B31,menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3,dan/atau yang
menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung
jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur
kesalahan.
3. Hak Gugat Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Instansi Pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab
dibidang Lingkungan Hidup berwenang mengajukan gugatan ganti rugi
dan tindakan tertentu terhadap usaha dan atau kegiatan yang
menyebabkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang
mengakibatkan kerugian lingkungan hidup (Pasal 90)
4. Hak Gugat Masyarakat
 Pasal 91 (1)

1
Bahan Berbahaya dan Beracun adalah zat,energi,dan/atau komponen lain yang karena
sifat,konsentrasi,dan/atau jumlahnya,baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemrkan
dan/atau merusak lingkungan hidup,da/atau membahayakan lingkungan hidup,kesehatan,serta kelangsungan
hidup manusia dan mahluk hidup lain.

5
Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan kelompok untuk
kepentingan dirinya sendiri dan/atau untuk kepentingan masyarakat
apabila mengalami kerugian akibat pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup.
 Pasal 91 (2)
Gugatan dapat diajukan apabila terdapat kesamaan fakta atau
peristiwa ,dasar hukum,serta jenis tuntutan diantara wakil kelompok
dan anggota kelompoknya.
5. Hak Gugat Organisasi Lingkungan Hidup
Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup,organisasi lingkungan hidup berhak
mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan
hidup (pasal 92 ayat 1).

B. Penerapan Gugatan Perdata di Indonesia


Kepentingan hukum pada umumnya diartikan dengan adanya suatu
kerugian yang diderita langsung oleh seseorang.Seseorang yang tidak
menderita kerugian mengajukan tuntutan hak,tidak mempunyai kepentingan
(Mertokusumo, 1998:39).Namun Mahkamah Agung dalam putusannya
tanggal 7 Juli 1971 no.294/K/sip/1971 telah menafsirkan kepentingan
hukum sebagai adanya hubungan hukum.Hubungan hukum tersebut
tentulah hubungan hukum antara para pihak yang berperkara itu sendiri
dan/atau para pihak dengan objek sengketanya (E.Sundari,2002:104).
Kepentingan hukum disini dapat kita artikan secara langsung maupun tidak
langsung yang terkait secara hukum perdata.
Salah satu prinsip penting yang diterapkan dalam Undang-undang no
32 tahun 2009 adalah mengenai hak gugat masyarakat dan Organisasi
Lingkungan Hidup.Kedua jenis gugatan ini merupakan penerapan langsung
dari unsur kepentingan hukum yang menciptakan sebuah hubungan hukum
secara tidak langsung.Hak gugat masyarakat (class action) serta hak
gugat organisasi Lingkungan Hidup (legal standing) sesungguhnya belum
begitu banyak diterapkan di Indonesia,gugatan ini baru dikenal dekat sejak
dikeluarkannya PERMA No 1 tahun 2002 yang mewujudkan hak gugatan

6
tersebut dari UU no 23 tahun 1997.Kemudian pada undang-undang no 32
tahun 2009 hal ini ditegaskan lagi melalui pasal 92 dan pasal 91.Pasca
hadirnya ketiga produk hukum tersebut,bentuk gugatan perdata secara
class action dan legal standing mulai banyak terjadi di negara kita
ini.Namun sesungguhnya karena jenis gugatan ini sebenarnya adalah
keluaran negara-negara dengan model hukum common law,maka tehnis
peng-adopsiannya di negara Indonesia masih menimbulkan berbagai
macam perdebatan.Seperti halnya mengenai pengertian dari legal standing
itu sendiri,pada produk hukum mengenai lingkungan hidup,legal standing
diartikan sebagai hak gugat organisasi lingkungan hidup hal ini berbeda
dengan beberapa produk hukum seperti undang-undang perlindungan
konsumen.Namun secara umum definisi legal standing dapat diartikan
sebagai suatu tata cara pengajuan gugatan secara perdata yang dilakukan
oleh satu atau lebih lembaga swadaya masyarakat yang memenuhi syarat
atas suatu tindakan atau perbuatan atau keputusan orang perorang atau
lembaga atau pemerintah yang telah menimbulkan kerugian bagi
masyarakat. Sedangkan gugatan perwakilan dalam arti class action
didefinisikan sebagai gugatan yang diajukan oleh seseorang atau lebih
untuk mewakili kepentingannya sendiri ,sekaligus mewakili kepentingan
suatu kelompok orang,atas dasar kesamaan kepentingan.Prinsip pengajuan
gugatan secara class action tersebut tidak mengharuskan wakil yang maju
ke pengadilan untuk memperoleh kuasa terlebih dahulu dari kelompok yang
diwakilinya (E.Sundari, 2002:142).Kemudian dengan menggunakan dasar
PERMA No 1 tahun 2002 Acara Gugatan Perwakilan Kelompok kita dapat
melihat mengenai tata cara dan persyaratan gugatan perwakilan kelompok
(Bab II Perma No1 Tahun 2002).
Dengan berbagai produk hukum sebagai dasar penerpannya,hak
gugat masyarakat dan kelompok ini telah banyak dilakukan belakangan ini.
Hal ini membuktikan bahwa semakin banyaknya kepedulian masyarakat
dan berbagai organisasi lingkungan hidup yang ada di Indonesia guna
menjaga dan ikut serta secara aktif meminimalisir pelanggaran terhadap
undang-undang mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup. Contoh dari gugatan yang pernah terjadi di Indonesia diantaranya
adalah kasus rokok Bentoel yang terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta

7
Pusat,Kasus pencemaran sungan Ciujung yang diajukan di Pengadilan
Negeri Jakarta Utara,kasus pembakaran lahan di Riau yang diajukan
melalui pengadilan Negeri Pekanbaru,dan Gugatan Walhi terhadap
PT.Indorayon Utama.
C. Perbandingan Class Action dan Legal Standing
Substansi utama yang mewadahi gugatan perwakilan baik itu berupa
class action maupun secara legal standing adalah keduanya berada pada
ranah hukum perdata dan merupakan bentuk pengajuan gugatan dalam
bentuk perwakilan.Hal ini sesuai dengan Undang-undang no 32 tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dimana pada
bagian ke tiga mengatur tentang Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup
Melalui Peradilan dan kemudian dijabarkan lewat pasal 87 sampai dengan
pasal 92.Sedangkan dasar pembeda antara gugatan perwakilan secara
class action dengan legal standing terdapat pada siapa yang mengajukan
dan kepada siapa gugatan ditujukan.Seperti hal nya yang digambarkan
pada table dibawah ini ;

Jenis Penggugat Tergugat Bentuk Tuntutan Keterangan

Gugatan

1Legal 3Badan 6*Pemerintah Pemulihan Harus sesuai dengan tujuan

2Standing 4Hukum Lingkungan organisasi dalam Anggaran


7*Perusahan
5 NGO/LSM Dasar
8*Badan huku
m

*Individu
Class Individu 9*Pemerintah Pemulihan Mengalami Kerugian lang-

Action Kelompok Keadaan sung maupun berpotensi


10*Perusahan
Masyarakat Lingkungan dan mengalami kerugian
11*Badan huk Ganti Rugi
um

*Individu
(sumber : http://ejournal.usu.ac.id 1)

1
Dipaparkan ulang pada pelajaran Pengetahuan dan Hukum Lingkungan PTIK angkatan 56 pada tanggal
19 April 2010 oleh kelompok mahasiswa sindikat VI.

8
Pada gambar diatas terlihat jelas bahwa mekanisme mengenai siapa
yang berhak mengajukan gugatan dan kepada siapa gugatan itu
ditujukan,terkait dengan gugatan secara class action dan legal standing
sudah dijabarkan dengan jelasnya.
Class Action diajukan masyarakat melalui prosedur perdata yang
diwakilkan oleh satu atau sejumlah orang yang bertindak sebagai pihak
penggugat.Hal ini sesuai dengan unsur-unsur penggugat pada gugatan
class action itu sendiri yaitu Wakil Kelompok (Class Represntatif) dan
Anggota Kelompok (Class Members). Class Representatif diartikan
sebagai satu orang atau lebih yang menderita kerugian yang mengajukan
gugatan sekaligus mewakili kelompok orang yang lebih banyak
jumlahnya.Untuk menjadi wakil kelompok tidak disyaratkan adanya suatu
surat kuasa khusus dari anggota kelompok.Saat gugatan class action
diajukan ke pengadilan maka kedudukan dari wakil kelompok sebagai
penggugat aktif.Class Members diartikan sebagai sekelompok orang dalam
jumlah yang banyak yang menderita kerugian yang kepentingannya diwakili
oleh wakil kelompok di pengadilan.Apabila class action diajukan ke
pengadilan maka kedudukan dari anggota kelompok adalah penggugat
pasif.
Legal Standing dilakukan oleh Organisasi Lingkungan Hidup sebagai
perwakilan penggugat,namun tidak semua organisasi lingkungan dapat
mengajukan gugatan,melainkan harus memenuhi persyaratan,yaitu :
1. Berbentuk Badan Hukum atau Yayasan;
2. Menegaskan didalam Anggaran Dasar nya bahwa
organisasi tersebut didirikan untuk kepentingan pelestarian fungsi
lingkungan hidup; dan
3. Telah melaksanakan kegiatan nyata sesuai dengan
Anggaran Dasarnya paling singkat 2 (dua) tahun.

Kedua hal tersebut (penggugat) adalah dasar pembeda yang paling


kentara pada gugatan class action dan legal standing,walaupun keduanya
adalah sama-sama bentuk pengajuan gugatan perdata yang dilakukan
secara perwakilan kelompok (E.Sundari,2002:149)

9
III. PENUTUP

Gugatan melalui perwakilan dalam hukum perdata di Indonesia


sesungguhnya telah memiliki landasan hukum yang cukup kuat , hal ini
setidaknya terjadi pada kasus-kasus gugatan mengenai kerusakan kelestarian
fungsi Lingkungan Hidup di Indonesia.Dengan dikeluarkannya UU No 32 Tahun
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup diharapkan
keperdulian dari masyarakat baik secara individu dan kelompok serta bentuk-
bentuk organisasi Lingkungan Hidup untuk dapat terus perduli dan berperan
aktif guna menjaga dan memelihara kelestarian Lingkungan Hidup dari segala
kegiatan dan usaha yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan
Lingkungan Hidup tersebut.Penerapan gugatan melalui pengadilan baik secara
class action ataupun secara legal standing harus dijadikan sebagai salah satu
cara dalam menempuh keadilan agar setiap elemen pembangunan menyadari
arti pentingnya Lingkungan Hidup yang baik dan sehat sebagaimana konsep
Pembangunan Berkelanjutan yang berwawasan Lingkungan.
Class Action dan Legal Standing hendaknya dipahami sebagai dua jenis
gugatan perdata melalui perwakilan kelompok yang berbeda antara satu
dengan yang lain.Dimulai dari aspek penggugat berupa orang atau sekelompok
orang dengan penggugat organisasi Lingkungan,aspek yang digugat.Fokus
Legal Standing ada pada pemulihan lingkungan dengan melihat kepada konsep
tuntutan dengan fokus class action yang lebih mengarah kepada dampak dari
kerusakkan yang muncul sehingga menimbulkan apa yang dinamakan ganti
kerugian.Namun demikian,terlepas dari hal tersebut,pada kenyataanya bentuk
gugatan berupa class action dan legal standing tidak terpaku mati pada jenis
pelanggaran terhadap Lingkungan Hidup semata,karena sesungguhnya hal ini
dapat diterapkan pada bentuk-bentuk pelanggaran lain seperti perlindungan
konsumen dll sebagai salah satu cara guna mendapatkan keadilan.Tujuan

10
akhirnya tentu saja agar hukum dapat ditegakkan dengan sebaik-baik nya
sehingga rasa keadilan dalam masyarakat dapat terpenuhi dengan baik dan
tepat sasaran. “Fiat Justitia Ruat Caelum…!!!!”

DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002
tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok.
3. Modul Pengetahuan dan Hukum Lingkungan
PTIK,2007.
4. E.Sundari,2002.Pengajuan Gugatan secara Class
Action.
5. A.Tirta Irawan,2004.Gugatan Masyarakat Melalui
Pengadilan Terhadap Kasus-kasus Lingkungan .
6. H.Abdurrahman,2003.Pembangunan Berkelanjutan
dalam Pengelolaan SDA Indonesia.
7. Emerson Yuntho,2005.Class Action sebuah
pengantar.
8. Makalah Perbandingan Gugatan Class Action dan
Legal Standing di Indonesia,PTIK angkatan 56 Kelompok VI.
9. Http://antikorupsi.org .Panduan tentang Class Action
dan Legal Standing.
10. Http://bungapadi.blogspot.com .Inisiatif menegakkan
hak atas Lingkungan Hidup.

11