Anda di halaman 1dari 26

ANALISIS DESKRIPTIF BERBAGAI JENIS BENCANA ALAM

DI INDONESIA

Oleh: Yadi Mulyadi (NPM: 140710060057)

I. BANJIR

1.1 Pengertian

Banjir adalah peristiwa tergenang dan terbenamnya daratan (yang biasanya


kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan
air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau
pecahnya bendungan sungai.

1.2 Mekanisme Perusak

Genangan air dan aliran air dengan tekanan-tekanan mekanis air yang
mengalir secara cepat. Arus air yang bergerak atau air yang bergejolak dapat
meruntuhkan dan menghanyutkan orang-orang dan binatang di kedalaman air
yang relatif dangkal saja. Puing-puing yang terbawa oleh air juga merusak dan
melukai. Bangunan-bangunan rusak oleh karena pondasi-pondasi yang tergerogoti
oleh air dan tiang-tiang penyangga. Lumpur, minyak dan polutan-polutan lain
yang terbawa oleh air menjadi tertimbun dan merusak tanaman pangan dan isi-isi
bangunan. Banjir merusak sistim-sistim pembuangan kotoran, mengakibatkan
polusi terhadap tempat-tempat persediaan air dan bisa menyebarkan penyakit.
Kejenuhan tanah bisa menyebabkan tanah longsor atau rusaknya tanah.

1.3 Kajian Bahaya

Catatan-catatan sejarah memberikan indikasi pertama terhadap masa-masa


kembalinya banjir dan tingkatan banjir. Pemetaan topography dan tingginya
kontur di sekitar sistim air, sekaligus dengan estimasi-estimasi kapasitas sistim
hydrologi dan daerah tangkapan air. Catatan curah hujan dan salju yang mencair
untuk memperkirakan kemungkinan terlalu banyaknya beban. Daerah-daerah
pantai: catatan-catatan air pasang, frekuensi badai, topografi dan karakteristik-
karakteristik pembagian pantai. Teluk, geografi pantai dan karakteristik-
karakteristik pemecah gelombang.

1.4 Gejala dan Peringatan Dini

Akibat banjir sungai karena tingkat curah hujan yang sangat tinggi atau
salju yang meleleh secara cepat di daerah-daerah tangkapan air, membawa air
lebih banyak lagi ke dalam sistim hydrologi yang cukup dapat dikeringkan ke
dalam kanal-kanal sungai yang ada. Sedimentasi dasar-dasar sungai dan
penggundulan hutan dari daerah-daerah tangkapan air dapat memperburuk
kondisi-kondisi yang meng-akibatkan terjadinya banjir. Air pasang tinggi bisa
membanjiri daerah-daerah pantai, atau laut-laut terdorong masuk ke dalam daratan
oleh badai angin. Curah hujan yang banyak di daerah-daerah perkotaan atau
gagalnya drainase bisa mengakibatkan banjir di kota-kota ketika permukaan-
permukaan yang keras di daerah perkotaan semakin meningkatkan beban
hanyutan air bagian atas. Tsunami disebabkan oleh gempa bumi bawah air atau
letusan gunung berapi. Rusaknya bendungan atau runtuhnya tembok-tembok
penahan air ( tembok-tembok laut, selokan-selokan, tanggul-tanggul ).

Banjir bisa terjadi secara bertahap, membangun kedalaman dalam


beberapa jam, atau secara tiba-tiba dengan retaknya tembok-tembok penahan.
Curah hujan tinggi yang berkepanjangan bisa memberi peringatan akan datangnya
banjir sungai atau beban terlalu banyak dari drainase di perkotaan. Air pasang
yang tinggi yang disertai angin kencang bisa memberikan petunjuk akan adanya
banjir pantai beberapa jam sebelum banjir itu terjadi. Evakuasi masih mungkin
dengan sistim peringatan dan monitoring yang memadai yang tersedia. Tsunami
muncul beberapa jam atau beberapa menit setelah terjadinya gempa.

1.5 Parameter Kerusakan

Area yang terkena banjir (km persegi), kedalaman atau ketinggian banjir,
kecepatan aliran air, jumlah endapan lumpur atau lumpur yang tertahan. Lamanya
genangan air. Tsunami atau gelombang pasang yang diukur dari tingginya
(meter).

1.6 Komponen yang Terancam

Apapun yang berada di dataran banjir. Bangunan-bangunan dari tanah atau


bangunan dari batu dengan campuran semen yang dapat larut dalam air.
Bangunan-bangunan dengan pondasi yang dangkal atau berdaya tahan lemah
terhadap dampak atau beban-beban dari samping. Ruangan bawah tanah atau
bangunan-bangunan di bawah tanah. Sarana-sarana: pembuangan kotoran, tenaga
listrik, cadangan air. Mesin-mesin dan barang-barang elektronik termasuk industri
dan peralatan komunikasi. Cadangan pangan. Peninggalan-peninggalan budaya.
Ternak-ternak yang dikandangkan dan pertanian. Kapal-kapal nelayan dan
industri-industri kelautan yang lain.

1.7 Strategi Mitigasi

Tata guna tanah dan perencanaan lokasi untuk menghindari dataran


berpotensi banjir menjadi tempat dari elemen-elemen yang rentan. Rekayasa
bangunan di dataran banjir untuk menahan kekuatan banjir dan rancangan lantai
yang ditinggikan. Infrastruktur yang tahan rembesan.

1.8 Upaya Pengurangan Bencana

Pembersihan sedimentasi, konstruksi parit. Kesadaran akan adanya denah


banjir. Rumah-rumah yang dibangun tahan terhadap banjir (material tahan banjir,
pondasi-pondasi yang kuat ) Praktek-praktek pertanian yang cocok dengan banjir.
Kesadaran akan penebangan hutan. Praktek-praktek yang ada merefleksikan
kesadaran: daerah-daerah penyimpanan dan ruang tidur yang berada tinggi dari
permukaan tanah. Kesiapan evakuasi banjir, perahu-perahu dan peralatan
penyelamatan.
II. TANAH LONGSOR

2.1 Pengertian

Tanah longsor merupakan suatu jenis gerakan tanah, umumnya gerakan


tanah yang terjadi adalah longsor bahan rombakan (debris avalanches) dan
nendatan (slumps/rotational slides).

Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa


batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke
bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan
sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah.
Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang
gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak
mengikuti lereng dan keluar lereng. Gaya-gaya gravitasi dan rembesan (seepage)
merupakan penyebab utama ketidakstabilan (instability) pada lereng alami
maupun lereng yang di bentuk dengan cara penggalian atau penimbunan.

2.2 Mekanisme Perusak

Pada saat hujan, air hujan akan cenderung mengalir menuju jalur-jalur
sungai atau lembah-lembah yang merupakan jalur struktur patahan batuan tadi.
Akibatnya tanah lereng pada lembah-lembah sungai tersebut akan lebih jenuh air
dibandingkan dengan tanah di bagian lain pada kubah tersebut yang tidak
terlewati oleh jalur patahan tadi. Semakin deras hujan akan semakin besar debit
air yang terakumulasi ke dalam lereng pada jalur-jalur patahan. Akan tetapi air
tersebut tidak dapat meresap lebih dalam lagi ke dalam lereng karena terhalang
oleh batuan kubah andesit yang kedap air. Hal ini sangat berbahaya, karena air
yang terakumulasi pada jalur lereng-lereng tersebut akan terus menekan butiran-
butiran tanah penutup lereng (yaitu tanah lempung pasiran) dan akhirnya dapat
mendorong tumpukan tanah tersebut untuk menggelincir (longsor) ke bawah.
Karena besarnya akumulasi air yang mendorong longsoran tanah, maka longsoran
ini selalu diikuti dengan terjadinya aliran lumpur cepat. Setelah longsorpun
sampai hari ini masih terlihat rembesan air yang keluar dari lereng. Hal ini berarti,
air masih bekerja menekan lereng, dan longsoran susulan dapat terjadi lagi pada
timbunan tanah rombakan longsoran. Oleh karena itu sangat penting untuk
menjauhkan manusia dari lereng yang sudah longsor terutama saat hujan
(meskipun tidak deras). Disarankan daerah yang sudah longsor ditutup dari
kegiatan peninjauan. Sampai hari ini terlihat masih banyak orang berbondong-
bondong untuk melihat langsung dari dekat, bahkan menginjakkan kakinya di atas
tumpukan tanah yang sudah longsor. Demi keselamatan mereka hal ini harus
dicegah.

2.3 Kajian Bahaya

Klasifikasi bahaya longsor dapat diketahui dengan melihat tipe


pergerakannya, seperti dibawah ini :

1. Runtuh (Falls), Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar


batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh
bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-
gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh
dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

2. Meluncur (Slide), Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang


bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus.
Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu
yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan
tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah. Jenis
tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh
air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume
dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di
sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di
beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran
sungai di sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban
cukup banyak.

3. Rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang


gelincir berbentuk cekung. Translasi adalah bergeraknya massa
tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau
menggelombang landai. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling
banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling
banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan
rombakan.

2.4 Gejala dan Peringatan Dini

Gejala umum tanah longsor:

1. Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.


2. Biasanya terjadi setelah hujan.
3. Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
4. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

Pada prinsipnya penyebab terjadinya tanah longsor adalah gaya pendorong


pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya
dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya
pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis
tanah batuan.

Mitigasi bencana tanah longsor berarti segala usaha untuk meminimalisasi


akibat terjadinya tanah longsor. Langkah pertama dalam upaya meminimalkan
kerugian akibat bencana tanah longsor adalah:

1. Identifikasi daerah rawan dan pemetaan. Dari evaluasi terhadap lokasi


gerakan tanah yang telah terjadi selama ini ternyata lokasi-lokasi kejadian
gerakan tanah merupakan daerah yang telah teridentifikasi sebagai daerah
yang memiliki kerentanan menengah hingga tinggi.
2. Penyuluhan pencegahan dan penanggulangan bencana alam gerakan tanah
dengan memberikan informasi mengenai bagaimana dan kenapa tanah
longsor, gejala gerakan tanah dan upaya pencegahan serta
penangulangannya.
3. Pemantauan daerah rawan longsor dan dilakukan secara terus menerus
dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme gerakan tanah dan faktor
penyebabnya serta mengamati gejala kemungkinan akan terjadinya
longsoran.

2.5 Parameter Kerusakan

Bencana alam tanah longsor masih tetap berpotensi terjadi di tahun-tahun


mendatang, mengingat kondisi alam (morfologi dan geologi) di beberapa wilayah
di Indonesia berbakat untuk longsor terutama di musim hujan. Potensi terjadinya
longsoran ini dapat diminimalkan dengan memberdayakan masyarakat untuk
mengenali tipologi lereng yang rawan longsor, gejala awal longsor, serta upaya
antisipasi dini yang harus dilakukan, sehingga pengembangan dan penyempurnaan
manajemen mitigasi gerakan tanah baik dalam skala nasional, regional maupun
lokal secara berkelanjutan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi
informasi dan menggalang kebersamaan segenap lapisan masyarakat.

2.6 Komponen yang Terancam

Daerah-daerah yang terletak di sepanjang lereng Gunung Api umumnya


rawan longsor, terutama di bagian lembah. Daerah yang dinilai paling rawan
bencana longsor di Jawa Barat terutama berada di daerah Puncak, Sukabumi,
Cianjur, Sumedang, Tasikmalaya, dan Padalarang.

Lereng yang berbakat longsor umumnya mempunyai salah satu ciri


sebagai berikut :

1. merupakan lereng yang tersusun oleh tumpukan tanah lempung yang tebal
2. merupakan lereng yang tersusun oleh tumpukan tanah lempung yang
menumpang di atas batuan kompak dan keras
3. merupakan lereng yang tersusun oleh perlapisan tanah atau perlapisan
batuan yang miring ke arah luar lereng

2.7 Strategi Mitigasi

Dengan memahami fenomena penyebab terjadinya longsoran, Dinas


Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Barat telah melakukan pemetaan daerah
Rawan Bencana Gerakan Tanah Longsor di Jawa Barat dan sosialisasi kepada
Pemerintah Kabupaten/Kota se Jawa Barat serta penduduk setempat di zona
rawan longsor tentang cara praktis mengenali zona rawan longsor, tanda-tanda
atau gejala-gejala awal longsoran dan bagaimana tindakan emergencynya. Dengan
cara ini diharapkan pemerintah Kabupaten/Kota dan penduduk setempat akan
lebih memahami alamnya, lebih percaya diri dan berdaya dalam menghadapi
ancaman longsoran berikutnya.

Hal penting yang harus diperhatikan semua pihak adalah menutup lokasi
yang sudah longsor dari kerumunan massa yang akan meninjau. Meninjau
longsoran tidak harus selalu menginjakkan kaki di atas tumpukan tanah yang
sudah longsor. Ini dapat berbahaya, karena tanah tersebut masih berupa lumpur
dan pada beberapa tempat yang tak terduga dapat merupakan kubangan lumpur
yang dalam. Disarankan hanya orang yang berpengalaman saja yang dilengkapi
dengan alat pengaman khusus (misalnya tim SAR atau Tim evakuasi korban)
yang diperkenankan masuk. Para aparat dan mungkin pejabat dan masyarakat
cukup meninjau dari jauh dan tidak berada pada posisi bawah lereng. Lereng-
lereng tersebut masih jenuh mengandung air yang bersifat menekan, dan masih
potensi untuk longsor lagi.

2.8 Upaya Pengurangan Bencana

Untuk mencegah bertambahnya korban dan kerugian akibat longsoran


susulan, yang diperkirakan akan bermunculan di berbagai tempat/daerah hingga
akhir musim hujan nanti, bersama ini dapat diinformasikan untuk lebih
memberdayakan masyarakat dalam hal mencegah dan menghindari bencana
longsoran. Informasi yang menyangkut petunjuk praktis dalam mengenali hal-hal
seperti :

1. Daerah yang rawan longsor


2. Lereng yang berbakat longsor
3. Gejala awal (indikasi) akan terjadinya longsoran
4. Tindakan praktis yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya
longsoran
5. Tindakan emergency untuk menyelamatkan diri dari longsoran.

III. KEKERINGAN

3.1 Pengertian

Musim kemarau adalah musim di daerah tropis yang dipengaruhi oleh


sistem muson. Musim kemarau dikenal pula sebagai musim kekeringan. Untuk
dapat disebut musim kemarau, curah hujan per bulan harus di bawah 60 mm per
bulan (atau 20 mm per dasarian) selama tiga dasarian berturut-turut. Wilayah
tropika di Asia Tenggara dan Asia Selatan, Australia bagian timur laut, Afrika,
dan sebagian Amerika Selatan mengalami musim ini.

3.2 Mekanisme Perusak

Kekurangan air mempengaruhi kesehatan tanaman pangan, pohon, ternak,


dan manusia: tanah menjadi subyek erosi dan banjir; pengaruh-pengaruhnya
bersifat bertahap tetapi jika tidak dicek, tanaman pangan dan pohon-pohon dan
juga ternak akan mati, orang-orang kehilangan mata pencaharian, dipaksa untuk
pindah, dan mungkin saja mengalami kelaparan jika bantuan tidak disediakan:
kemudian bangunan-bangunandan infrastruktur ditinggalkan dan menjadi rusak
dan peninggalan-peninggalan budaya menjadi hilang.
3.3 Kajian Bahaya

Peta curah hujan menunjukkan daerah-daerah gurun dan kondisi-kondisi


iklim semi gurun; pemetaan tingkat erosi desertifikasi.

3.4 Gejala dan Peringatan Dini

Serangan yang lambat, bertahun-tahun periodenya, banyak peringatan dari


tingkat curah hujan, sungai, sumur dan tingkat-tingkat cadangan air, indikator
indikator kesehatan manusia dan binatang. Serangan kekeringan yang hebat,
menyebabkan kematian ternak, meningkatnya kematian bayi, migrasi.

3.5 Parameter Kerusakan

Tingkat curah hujan, kekurangan curah hujan (mm), masa kekeringan;


tingkat hilangnya lapisan tanah bagian atas, tingkat zona iklim gurun.

3.6 Komponen yang Terancam

Tanaman pangan dan hutan; kesehatan manusia dan hewan, semua


aktivitas ekonomi tergantung pada suplai air yang terus-menerus; keseluruhan
tempat-tempat hunian manusia jika terjadi kekeringan berkepanjangan.

3.7 Strategi Mitigasi

Pembagian air; perlindungan atau penggantian tempat cadangan air yang


rusak dengan manajemen dataran tinggi di mana sungai mengalir, konstruksi
bendungan-bendungan, pipa-pipa atau terowongan air; perlindungan tanah dan
pengurangan tingkat erosi dengan menggunakan bendungan-bendungan
pengontrol, menyeragamkan penanaman, manajemen ternak; pengurangan
penebangan kayu dengan tungku-tungku bahan bakar yang diperbaiki, pengenalan
pertanian dan pola-pola tanam yang fleksibel; pengendalian penduduk; program-
program pelatihan dan pendidikan.
3.8 Upaya Pengurangan Bencana

Konstruksi bendungan-bendungan pengontrol, cadangan air, sumur-sumur,


tangki-tangki air, penanaman dan penghutanan; perubahan pola-pola tanam;
memperkenalkan kebijakan-kebijakan konservasi air; mengubah praktek-praktek
manajemen peternakan; pembangunan alternatif industri-industri non-pertanian.

IV. KEBAKARAN HUTAN

4.1 Pengertian

Kebakaran hutan atau lahan adalah perubahan langsung atau tidak


langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang menyebabkan kurang
berfungsinya hutan atau lahan dalam menunjang kehidupan yang berkelanjutan
sebagai akibat dari penggunaan api yang tidak terkendali maupun faktor alam
yang dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan atau lahan.

4.2 Mekanisme Perusak

Kebakaran hutan dan lahan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor


manusia yang sengaja melakukan pembakaran dalam rangka penyiapan lahan. Di
samping itu juga bisa terjadi kebakaran dalam rangka penyiapan lahan. Di
samping itu juga bisa terjadi kebakaran akibat kelalaian, serta faktor alam.
Kebakaran terjadi karena adanya bahan bakar, oksigen dan panas. Kerusakan
lingkungan akibat kebakaran antara lain berupa hilangnya flora dan fauna serta
terganggunya ekosistem. Bahkan dapat menyebabkan kerusakan sarana dan
prasarana, pemukiman serta korban jiwa manusia. Dampak lebih lanjut akibat
asap yang ditimbulkan pada kesehatan manusia terutama gangguan pernafasan
serta gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari antara lain terganggunya lalu lintas
udara, air dan darat.
4.3 Kajian Bahaya

1. Monitoring titik api serta menetapkan daerah rawan kebakaran hutan dan
lahan.
2. Prediksi cuaca untuk mengetahui datangnya musim kering/kemarau.
3. Pemetaan daerah rawan bahaya kebakaran berdasarkan kejadian masa lalu
dan meningkatnya aktivitas manusia untuk mengetahui tingkat kerawanan
suatu kawasan.
4. Pemetaan daerah tutupan lahan serta jenis tanaman sebagai bahan bakaran.
5. Pemetaan tata guna lahan.

4.4 Gejala dan Peringatan Dini

1. Adanya aktivitas manusia menggunakan api di kawasan hutan dan lahan.


2. Ditandai dengan adanya tumbuhan yang meranggas.
3. Kelembapan udara rendah
4. Kekeringan akibat musim kemarau yang panjang.
5. Peralihan musim menuju ke kemarau.
6. Meningkatnya migrasi satwa keluar habitatnya.

4.5 Parameter Kerusakan

1. Luas areal yang terbakar (hektar)


2. Luas areal yang terpengaruh oleh kabut asap (hektar)
3. Fungsi kawasan yang terbakar (Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan
Lindung, dll).
4. Jumlah penderita penyakit saluran pernafasan atas (ISPA).
5. Menurunnya keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.
6. Menurunnya fungsi ekologis.
7. Tingkat kerugian ekonomi yang ditimbulkan.

4.6 Komponen yang Terancam

1. Kerusakan ekologis yang mempengaruhi sistem penunjang kehidupan.


2. Hilangnya potensi kekayaan hutan.
3. Tanah yang terbuka akibat hilangnya tanaman sangat rentan terhadap erosi
saat musim hujan sehinga akan menyebabkan longsor di daerah hulu dan
banjir di daerah hilir.
4. Penurunan kualitas kesehatan masyarakat untuk daerah yang luas di sekitar
daerah kebakaran.
5. Turunnya pendapatan pemerintah dan masyarakat akibat terganggunya
aktivitas ekonomi.
6. Musnahnya aset negara dan sarana, prasarana vital.

4.7 Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana

1. Kampanye dan sosialisasi kebijakan pengendalian kebakaran lahan dan


hutan.
2. Peningkatan masyarakat peduli api.
3. Peningkatan penegakan hukum.
4. Pembentukan pasukan pemadaman kebakaran khususnya untuk
penanganan kebakaran secara dini.
5. Pembuatan waduk di daerahnya untuk pemadaman api
6. Pembuatan skat bakar, terutama antara lahan, perkebunan, pertanian
dengan hutan.
7. Hindarkan pembukaan lahan dengan cara pembakaran.
8. Hindarkan penanaman tanaman sejenis untuk daerah yang luas.
9. Melakukan pengawasan pembakaran lahan dengan cara pembakaran lahan
untuk pembukaan lahan secara ketat. Melakukan penanaman kembali
daerah yang telah terbakar dengan tanaman yang heterogen. Partisipasi
aktif dalam pemadaman awal kebakaran di daerahnya. Pengembangan
teknologi pembukaan lahan tanpa membakar (pembuatan kompos, briket
arang dll). Kesatuan persepsi dalam pengendalian kebakaran hutan dan
lahan. Penyediaan dana tanggap darurat untuk penanggulangan kebakaran
lahan dan hutan. Pengelolaan bahan bakar secara intensif untuk
menghindari kebakaran yang lebih luas.
V. ANGIN BADAI

5.1 Pengertian

Badai adalah suatu gangguan pada atmosfer di suatu planet, terutama yang
mempengaruhi permukaannya serta menunjukkan cuaca buruk. Badai dapat
ditandai dengan angin yang kencang (badai angin), petir dan kilat (badai petir),
curahan hujan lebat, misalnya es (badai es), atau angin yang membawa suatu zat
melalui atmosfer (seperti badai pasir, badai salju, dll).

5.2 Mekanisme Perusak

Tekanan dan penyedotan dari tekanan angin, benturan yang terjadi selama
berjam-jam pada satu kejadian. Beban-beban angin yang kuat yang dipaksakan
pada bangunan bisa menyebabkan bangunan tersebut runtuh, terutama setelah
berkali-kali siklus kembalinya beban angin itu. Kerusakan yang lebih umum
adalah bangunan dan non-elemen bangunan ( lembaran-lembaran atap, penutup-
penutup bangunan, cerobong-cerobong asap ) terhempas angin dan melemah.
Puing-puing yang terbawa oleh angin menyebabkan kerusakan dan luka. Angin
kencang menimbulkan badai laut yang dapat menenggelamkan kapal dan
menghantan garis pantai. Kebanyakan badai menimbulkan hujan lebat. Tekanan
udara rendah yang berlebihan pada pusat tornado sangat merusak dan rumah-
rumah bisa pecah bila bersinggungan.

5.3 Kajian Bahaya

Catatan-catatan meteorologi dari kecepatan dan arah angin pada stasiun-


stasiun cuaca memberikan kemungkinan akan angin kencang di daerah manapun.
Faktor-faktor lokal topografi, vegetasi dan urbanisasi bisa mempengaruhi iklim
mikro. Catatan-catatan masa lampau dari jalur-jalur siklun dan tornado
memberikan pola-pola umum dari kemunculannya terhadap sistim angin yang
merusak.
5.4 Gejala dan Peringatan Dini

Tornado bisa menyerang secara tiba-tiba akan tetapi kebanyakan angin


kencang membangun kekuatannya dalam waktu berjam-jam lamanya. Sistim
tekanan rendah dan pengembangan badai tropis dapat dideteksi beberapa jam atau
hari sebelum angin yang merusak ini mempengaruhi penduduk. Pelacakan lewat
satelit dapat membantu mengikuti gerakan badai tropis dan memproyeksikan
kemungkinan jalurnya. Namun gerakan-gerakan sistim cuaca bersifat kompleks
dan masih sulit untuk memprediksikannya dengan akurat.

5.5 Parameter Kerusakan

Kecepatan angin. Skala-skala badai angin ( contoh Beaufort ) kedahsyatan


angin. Skala-skala hurricane lokal / taipun.

5.6 Komponen yang Terancam

Bangunan-bangunan ringan dan rumah dari kayu. Sektor-sektor


perumahan informal dan tempat-tempat tinggal kumuh. Atap-atap dan penutup-
penutup. Elemen-elemen bangunan yang ditempel dengan jelek atau kurang kuat,
pelapis-pelapis dan papan-papan.

5.7 Strategi Mitigasi

Konstruksi bangunan-bangunan untuk menahan kekuatan angin.


Persyaratan beban angin dalam peraturan pembangunan. Persyaratan keamanan
angin untuk elemen-elemen non-bangunan. Praktek-praktek bangunan yang baik.
Penempatan iklim mikro dari fasilitas-fasilitas penting, contoh lereng-lereng bukit
yang teduh. Penanaman pohon penahan angin, perencanaan derah-daerah
perhutanan di atas kota. Penyediaan bangunan-bangunan keamanan angin ( aula-
aula desa yang kuat ) untuk tempat perlindungan masyarakat di tempat-tempat
hunian yang rawan.
5.8 Upaya Pengurangan Bencana

Bangunan yang tahan terhadap angin atau rumah-rumah yang gampang


dibangun kembali. Mengamankan pemasangan elemen-elemen yang dapat
terhempas oleh angin dan menyebabkan kerusakan atau luka di mana saja, contoh,
pelapisan metal, pagar-pagar, tanda-tanda. Kesiapan terhadap aksi badai. Mencari
perlindungan di bangunan-bangunan yang kuat dan tahan angin. Tindakan-
tindakan perlindungan terhadap kapal-kapal, isi-isi bangunan atau harta benda lain
yang beresiko.

VI. GEMPA BUMI

6.1 Pengertian

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan


bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng
bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal
terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu
bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan
itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.

6.2 Mekanisme Perusak

Energi getaran yang dikirimkan lewat permukaan bumi dari kedalaman.


Getaran menyebabkan kerusakan dan menghancurkan bangunan-bangunan, yang
pada gilirannya bisa membunuh dan melukai orang-orang yang bertempat tinggal
di situ. Getaran juga mengakibatkan tanah longsor, pencairan, runtuhnya bebatuan
dan kegagalan-kegagalan daratan yang lain, yang merusak tempat-tempat hunian
di dekatnya. Getaran juga memicu kebakaran berganda, kecelakaan industri atau
transportasi dan bisa memicu banjir lewat jebolnya bendungan-bendungan dan
tanggul-tanggul penahan banjir.
6.3 Kajian Bahaya

Kejadian gempa masa lampau dan pencatatan yang akurat dari luas lahan
dan pengaruh-pengaruhnya: kecenderungan gempa bumi untuk muncul lagi di
daerah-daerah yang sama setelah masa seratus tahun. Identifikasi dari sistim-
sistim retakan gempa dan daerah-daerah sumber gempa. Dalam kasus-kasus yang
langka sangat memungkin-kan untuk mengidentifikasikan faktor penyebab
kerentakan-keretakan secara sendiri-sendiri. Pengukuran akan probabilitas adanya
kekuatan-kekuatan gerakan bumi yang beragam pada satu tempat sehubungan
dengan masa kembalinya ( waktu rata-rata antar kejadian ) untuk satu intensitas.

6.4 Gejala dan Peringatan Dini

Seketika. Sampai sekarang tidak memungkinkan untuk meramalkan


munculnya gempa bumi dalam jangka pendek dengan tepat.

6.5 Parameter Kerusakan

Skala ukuran ( Richter, Momen Seismik ) menunjukkan jumlah energi


yang dikeluarkan pada episenter- ukuran dari satu daerah yang terlanda gempa
bumi secara kasar terkait dengan jumlah energi yang dikeluarkan. Skala intensitas
( Mercalli yang Dimodifikasi, MSK ) menunjukkan kekuatan dari getaran bumi
pada satu lokasi-kekuatan getaran juga terkait dengan banyaknya energi yang
dikeluarkan, jarak dari episenter gempa bumi dan kondisi-kondisi tanah setempat.

6.6 Komponen yang Terancam

Kumpulan-kumpulan bangunan yang lemah dengan tingkat hunian yang


tinggi. Bangunan-bangunan yang didirikan tanpa perhitungan teknik sipil oleh
pemilik rumah: tanah, pecahan batu dan bangunan dari batu tanpa diperkuat oleh
kerangka. Bangunan-bangunan dengan atap yang berat. Bangunan-bangunan tua
dengan kekuatan samping yang kecil, bangunan-bangunan yang berkualitas
rendah atau bangunan-bangunan dengan konstruksi-konstruksi yang cacat.
Bangunan-bangunan tinggi yang jauh dari gempa bumi, dan bangunan-bangunan
yang dibangun diatas tanah yang lembek. Bangunan-bangunan yang ditempatkan
pada lereng-lereng yang lemah. Infrastruktur di atas tanah atau tertanam di dalam
tanah-tanah yang mengalamin perubahan bentuk. Pabrik-pabrik industri dan kimia
juga mendatangkan resiko sekunder.

6.7 Strategi Mitigasi

Rekayasa bangunan-bangunan untuk menahan kekuatan-kekuatan getaran.


Undang-undang bangunan gempa. Kepatuhan terhadap persyaratan-persyaratan
undang-undang bangunan dan dorongan akan standar kualitas bangunan yang
lebih tinggi. Konstruksi dari bangunan-bangunan sektor umum yang penting
menurut standar tinggi dari rancangan teknik sipil. Memperkuat bangunan-
bangunan penting yang sudah ada yang diketahui rentan. Perencanaan lokasi
untuk mengurangi kepadatan penduduk di perkotaan di daerah-daerah geologi
yang diketahui dapat melipat gandakan getaran-getaran bumi. Asuransi, penetapan
zona gempa dan peraturan-peraturan tata guna tanah.

6.8 Upaya Pengurangan Bencana

Konstruksi bangunan-bangunan tahan gempa dan keinginan untuk


bertempat tinggal di dalam rumah-rumah yang aman terlindung dari kekuatan-
kekuatan gempa. Kesadaran akan resiko gempa bumi. Aktivitas-aktivitas dan
pengaturan isi bangunan dilakukan dengan selalu mempertimbangkan adanya
kemungkinan getaran bumi. Sumber-sumber kebakaran yang terbuka, peralatan
yang berbahaya dan sebagainya dibuat stabil dan aman. Pengetahuan tentang apa
yang harus dilakukan pada saat terjadi suatu gempa bumi; partisipasi dalam
latihan-latihan gempa bumi, praktek-praktek, program-program kesadaran umum.
Kelompok-kelompok aksi masyarakat terhadap perlindungan sipil: pelatihan
pemadaman kebakaran dan bantuan pertama. Persiapan memadamkan kebakaran,
alat-alat penggalian dan peralatan perlindungan sipil yang lain. Rencana-rencana
perkiraan untuk pelatihan anggota-anggota keluarga pada tingkat keluarga.
VII. TSUNAMI

7.1 Pengertian

Pengertian Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang artinya Tsu berati
pelabuhan dan nami berarti gelombang. Kata ini secara mendunia sudah diterima
dan secara harfiah yang berarti gelombang tinggi/besar yang menghantam
pantai/pesisir. Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh
perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba.

7.2 Mekanisme Perusak

Secara diagramatis terlihat pada gambar di bawah ini proses terjadinya


Tsunami.

Gambar Proses Terjadinya Tsunami

Tsunami sendiri terjadi akibat gempa tektonik yang besar dilaut ( lebih
besar dari 7.5 skala Richter dan kedalaman episentrum lebih kecil dari 70 km)
yang mengakibatkan terjadinya patahan/rekahan vertikal memanjang (kasus Aceh
patahan mencapai ribuan kilometer) sehingga air laut terhisap masuk dalam
patahan dan kemudian secara hukum fisika air laut tadi terlempar kembali setelah
patahan tadi mencapai keseimbangan. Kecepatan air/gelombang yang sangat cepat
terjadi.

Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang
berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut,
atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala
arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap
fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat
merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan
pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter.
Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di
tengah laut.

7.3 Kajian Bahaya

Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga


sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai
puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan
kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena
Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa
oleh aliran gelombang tsunami.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang
dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa
manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian,
tanah, dan air bersih.

7.4 Gejala dan Peringatan Dini

Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang
berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut,
atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala
arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap
fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat
merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan
pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter.
Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di
tengah laut.

Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga


sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai
puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan
kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena
Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa
oleh aliran gelombang tsunami.

Banyak kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii,


mempunyai sistem peringatan tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani
kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi
seismologi di berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat
dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atu permukaan laut yang
terknoneksi dengan satelit.

Perekam tekanan di dasar laut bersama-sama denganperangkat yang


mengapung di laut buoy, dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang
tidak dapat dilihat oleh pengamat manusia pada laut dalam. Sistem sederhana
yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya
tsunami pernah dicoba di Hawai pada tahun 1920-an. Kemudian, sistem yang
lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1
April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika serikat membuat Pasific Tsunami Warning
Center pada tahun 1949, dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan
internasional pada tahun 1965.

Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami, CREST


Project, dipasang di pantai Barat Amerika Serikat, Alaska, dan Hawai oleh USGS,
NOAA, dan Pacific Northwest Seismograph Network, serta oleh tiga jaringan
seismik universitas.
Hingga kini, ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang, meskipun
proses terjadinya masih banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari
sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan kejadian tsunami dapat cepat
dihitung. Pemodelan tsunami yang baik telah berhasil memperkirakan seberapa
besar tinggi gelombang tsunami di daerah sumber, kecepatan penjalarannya dan
waktu sampai di pantai, berapa ketinggian tsunami di pantai dan seberapa jauh
rendaman yang mungkin terjadi di daratan. Walaupun begitu, karena faktor
alamiah, seperti kompleksitas topografi dan batimetri sekitar pantai dan adanya
corak ragam tutupan lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll), perkiraan waktu
kedatangan tsunami, ketinggian dan jarak rendaman tsunami masih belum bisa
dimodelkan secara akurat

7.5 Parameter Kerusakan

Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir
pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan
karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang
tsunami.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang
dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa
manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian,
tanah, dan air bersih.

7.6 Komponen yang Terancam

Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning


Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami
pada wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun
Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di
Indonesia.
7.7 Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana

Mitigasi harus memperhatikan semua tindakan yang diambil untuk


mengurangi pengaruh dari bencana dan kondisi yang peka dalam rangka untuk
mengurangi bencana yang lebih besar dikemudian hari. Karena itu seluruh
aktivitas mitigasi difokuskan pada bencana itu sendiri atau bagian/elemen dari
ancaman.

Beberapa hal untuk rencana mitigasi (mitigation plan) pada masa depan
dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Perencanaan lokasi (land management) dan pengaturan penempatan


penduduk
2. Memperkuat bangunan dan infrastruktur serta memperbaiki peraturan (code)
disain yang sesuai.
3. Melakukan usaha preventif dengan merealokasi aktiftas yang tinggi ke
daerah yang lebih aman dengan mengembangkan mikrozonasi
4. Melindungi dari kerusakan dengan melakukan upaya perbaikan lingkungan
dengan maksud menyerap energi dari gelombang Tsunami (misalnya
dengan melakukan penanaman mangrove sepanjang pantai)
5. Mensosialisasikan dan melakukan training yang intensif bagi penduduk di
daerah area yang rawan Tsunami
6. Membuat early warning sistem sepanjang daerah pantai/perkotaan yang
rawan Tsunami
VIII. LETUSAN GUNUNGAPI

8.1 Pengertian

Gunung meletus merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma


di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.

Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan
suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Cairan magma
yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu lava yang dikeluarkan bisa
mencapai 700-1.200 °C. Letusan gunung berapi yang membawa batu dan abu
dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa
membanjiri sampai sejauh radius 90 km.

Tidak semua gunung berapi sering meletus. Gunung berapi yang sering
meletus disebut gunung berapi aktif.

8.2 Mekanisme Perusak

Letusan eksplosif atau bertahap, yang mengeluarkan abu panas, aliran


pyroklastik, gas dan debu. Kekuatan-kekuatan letusan bisa menghancurkan
bangunan-bangunan, hutan-hutan dan infrastruktur yang dekat dengan gunung
berapi dan gas-gas beracun bisa mematikan. Abu panas jatuh sejauh berkilo-kilo
meter di sekitar gunung, membakar dan mengubur tempat-tempat hunian.Debu
bisa terbawa angin dalam jarak yang jauh, dan jatuh sebagai polutan di tempat-
tempat hunian yang jauh sekali jaraknya. Lava cair yang dilepas dari kawah
vulkanis dan bisa mengalir berkilo-kilo meter jauhnya sebelum akhirnya
membeku. Panas lava akan membakar sebagian besar barang-barang yang berada
pada jalur aliran lava. Gunung-gunung berapi bersalju menderita karena cairnya es
yang menyebabkan aliran-aliran puing-puing dan tanah longsor yang bisa
mengubur bangunan-bangunan. Letusan gunung berapi bisa mengubah pola-pola
cuaca setempat, dan menghancurkan ekologi setempat. Gunung berapi juga
menyebabkan gerakan kuat ke atas dari daratan selama proses pembentukannya.
8.3 Kajian Bahaya

Identifikasi dari gunung berapi aktif. Gunung berapi secara cepat dapat
diidentifikasi dengan karakteristik-karakteristik geologi dan topografi mereka.
Tingkat-tingkat aktivitas dari catatan-catatan historis dan analisa-analisa geologis.
Observasi seismik dapat menentukan apakah satu gunung berapi masih aktif atau
tidak.

8.4 Gejala dan Peringatan Dini

Letusan mungkin bertahap atau eksplosif. Monitoring seismik dan


geokimia, alat pengukur kemiringan, dan detektor-detektor aliran lumpur mungkin
bisa mendeteksi penghimpunan tekanan dalam waktu beberapa jam dan beberapa
hari sebelum terjadi letusan. Deteksi aliran lumpur, monitor-monitor geoteknis
dan alat pengukur kemiringan adalah beberapa strategi-strategi monitoring yang
ada. Evakuasi penduduk jauh dari lingkungan-lingkungan gunung berapi sering
memungkinkan.

8.5 Parameter Kerusakan

Volume materi yang dikeluarkan. Daya letusan dan lamanya letusan,


radius jatuhnya, dan dalamnya endapan debu.

8.6 Komponen yang Terancam

Apapun yang berada dekat dengan gunung berapi. Atap-atap rumah atau
bangunan-bangunan yang mudah terbakar. Persediaan air yang rentan kejatuhan
debu. Bangunan-bangunan yang lemah bisa runtuh di bawah tekanan-tekanan abu.
Tanaman pangan dan ternak menjadi beresiko.

8.7 Strategi Mitigasi

Perencanaan lokasi untuk menghindari daerah-daerah yang dekat dengan


lereng-lereng gunung berapi yang digunakan untuk aktivitas- aktivitas yang
penting. Penghindaran terhadap kemungkinan kanal-kanal aliran lava. Promosi
akan bangunan-bangunan yang tahan api. Rekayasa bangunan untuk menahan
beban tambahan dari endapan abu.

8.8 Upaya Pengurangan Bencana

Aliran lava dan aliran puing-puing bisa disalurkan, dibendung dan


dibelokkan menjauh dari tempat-tempat hunian sampai pada satu tingkat, dengan
pekerjaan-pekerjaan teknik sipil.

REFERENSI

Coburn, A.W., Spence, R.J.S. dan Pomonis, A. 1994. Mitigasi Bencana Edisi
Kedua. Cambridge Architectural Research Limited: Cambridge, United
Kingdom

http://ustadzklimat.blogspot.com/2009/08/karakteristik-bencana-kebakaran-
hutan.html