P. 1
uu perikanan

uu perikanan

|Views: 1,706|Likes:
Dipublikasikan oleh lenwimaya7960

More info:

Published by: lenwimaya7960 on Oct 19, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2014

pdf

text

original

Sections

  • No. Rincian
  • A. FUNGSI EKONOMI
  • B. FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP
  • No Bidang Kegiatan

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.

06/MEN/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 - 2014 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2005 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dipandang perlu menetapkan Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010 -2014; b. bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Peraturan Menteri; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan; 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun Perencanaan Pembangunan Nasional; 2004 tentang Sistem

3. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009; 4. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan; 5. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; 6. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; 7. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga; 8. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014; 9. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2008;

10. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; 11. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009; 12. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.07/ MEN/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.04/MEN/2009; 13. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL) 2010-2014; 14. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.24/ MEN/2002 tentang Tata Cara dan Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 – 2014.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014, yang selanjutnya disebut Renstra KKP adalah dokumen perencanaan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. 2. Rencana Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan yang selanjutnya disebut Renja KKP adalah dokumen perencanaan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk periode 1 (satu) tahun. 3. Menteri adalah Menteri Kelautan dan Perikanan. Pasal 2 (1) Menetapkan Renstra KKP, yang merupakan pedoman bagi setiap unit kerja di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam penyusunan program 5 (lima) tahun. (2) Renstra KKP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

-2-

Pasal 3 Ruang lingkup dari Renstra KKP, meliputi: a. Pendahuluan, yang berisi kondisi umum, potensi, dan permasalahan; b. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Strategis; dan c. Arah Kebijakan dan Strategi, yang berisi arah kebijakan dan strategi nasional, arah kebijakan dan strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan serta dukungan lintas sektor. Pasal 4 Renstra KKP sebagai pedoman bagi unit kerja di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menyusun program dan kegiatan yang selanjutnya dituangkan dalam Renja KKP sebagaimana tersebut dalam Lampiran II yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5 Kebutuhan pendanaan dari masing-masing program dan kegiatan pembangunan kelautan dan perikanan sebagaimana tersebut dalam Lampiran III yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 6 Menteri melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Renstra KKP yang dituangkan dalam Renja KKP. Pasal 7 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 18 Februari 2010 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R.I, ttd. FADEL MUHAMMAD

-3-

Lampiran I : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.06/MEN/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014

BAB I PENDAHULUAN

A. Kondisi Umum Pembangunan kelautan dan perikanan dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tiga pilar pembangunan, yaitu propoor (pengentasan kemiskinan), pro-job (penyerapan tenaga kerja), dan pro-growth (pertumbuhan). Hasilnya, selama tahun 2005-2008 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah berhasil memberikan 3 (tiga) outcome, yaitu: (1) pencapaian pro-poor, berupa peningkatan pendapatan masyarakat pesisir melalui program pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan dan program pemberdayaan masyarakat di pulaupulau kecil yang telah menjangkau lebih dari 200 kab/kota, (2) pencapaian pro-job, berupa peningkatan penyerapan tenaga kerja kumulatif yang mencapai 7,69 juta orang, dan (3) pencapaian pro-growth, berupa pertumbuhan ekonomi sektor kelautan dan perikanan sebesar 5,7%. Setidaknya terdapat 12 indikator makro kinerja hasil pembangunan kelautan dan perikanan selama 5 tahun terakhir dapat dicatat, yaitu: 1. PDB Sektor Perikanan PDB sektor perikanan memegang peranan strategis dalam memberikan kontribusi bukan hanya untuk PDB kelompok pertanian secara umum, tetapi juga pada PDB nasional. PDB sektor perikanan berdasarkan harga berlaku pada tahun 2004 adalah Rp53,01 triliun atau sama dengan 16,11% dari PDB kelompok pertanian, atau 2,31% dari PDB nasional. Pada 2008, PDB sektor perikanan meningkat menjadi Rp136,43 triliun. Nilai ini memberikan kontribusi pada PDB kelompok pertanian menjadi sekitar 19,13% atau

90 364.70 713.144.80 59.80 2.630.331.11 2.70 106.435.50 Kenaikan rata-rata 2004-2008 (%) 21.06 21.70 74.090.30 181.458.131.90 4.40 3.290.70 20.PDB Total 329. Sampai dengan triwulan ketiga tahun 2009.954.Kelompok Pertanian .4% terhadap PDB tanpa migas dan 3.010.967.828.57% per tahun. Tanaman Perkebunan c.74% per tahun yang lebih tinggi dari pertumbuhan PDB kelompok pertanian yang tumbuh 3. Apabila dilihat berdasarkan harga konstan.065.30 541.664.80 3.36% terhadap PDB tanpa migas dan 3.8 triliun atau memberikan kontribusi 3.70 97.634.074.40 39.022.10 4.949.169.70 16.433.697.291.70 30.23 18.841.80 2.58 20.325.30 433.223.639.20 35.30 3.281.90 32.10 136.12 Sumber : BPS.40 347.807.16 2. 2009 (*Angka Sementara.04 2.083.10 84.22 19.23 20.80 4. maka pertumbuhan perikanan mencapai 5.561. **Angka Sangat Sementara) 2.20 49. juga digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan secara relatif dan merupakan ukuran kemampuan keluarga nelayan dan 2 .70 331.595. Kehutanan dan Perikanan (Atas Dasar Harga Berlaku) Tahun 2004-2008 (Miliar Rupiah) Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007* 2008** 2009 s/d Triwulan III 654.kontribusi terhadap PDB nasional sekitar 2.321.60 56.90 40.592.028.216.68 3.826.13 2. Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan Nilai tukar digunakan untuk mempertimbangkan seluruh penerimaan (revenue) dan seluruh pengeluaran (expenditure) keluarga nelayan maupun pembudidaya ikan.955.040.30 2. Peternakan. Tanaman Bhn Makanan b.47 19.942.20 2.532.077.384.87 18.883. Kehutanan & Perikanan a. Perkembangan PDB sektor perikanan sebagaimana tersebut pada tabel 1 berikut: Tabel 1. PDB perikanan mencapai Rp83.295.50 76.81 27. Perikanan Produk Domestik Bruto Produk Domestik Bruto Tanpa Migas % PDB Perikanan thd : .30 63.40 51.234.339. Selain itu.40 214.558.401.808. PDB perikanan tercatat mencapai Rp128.936.186.77 Pertanian.1% terhadap PDB nasional.774.15 triliun atau memberikan kontribusi 3.70 44. Peternakan d.335.426.75 19. Peternakan.835.10 128.90 22.00 53. Kehutanan e.60 165.50 61.992. Produk Domestik Bruto Pertanian.845.90 81.202.124.30 3.60 265.75%.15 17.40 82.66 21.12% terhadap PDB Nasional. Sampai dengan triwulan kedua tahun 2009.38 2.31 16.346.10 2.

pada akhir tahun 2008.34 105. 2009 Nelayan (NTN) 105.42 atau mengalami peningkatan sebesar 5.00 101.24 Perubahan (%) -0.68 Nelayan (NTN) 99.15 0.77 98.79 0. sebagaiman tersebut pada tabel 2 berikut: Tabel 2.76 -0.20 98.26 0.37 0.56 0.85 0.69 99.36 98.64 3 . nilai NTN mencapai 106.50 105.86 0.56 99.64 101.42 Perubahan (%) 1.01 0.46 -0.53 103.41 99.98 -0.27 -0.00 -0.67 100.28 100.50 1.99 Perubahan (%) 0. Berdasarkan hasil perhitungan BPS sampai pada bulan Agustus 2009.71 102.64 100.14 0.98 0.21% dibandingkan pada awal tahun bulan Januari 2008.92 102.pembudidaya ikan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya.78 99.30 98.36 Petani (NTP) 100.73 103.26 1.92 Perubahan (%) 0.83 105.49 Petani (NTP) 98.48 1.07 0.69 100.26 99.82 104. Nilai Tukar Nelayan dan Petani Tahun 2008 dan 2009 Tahun 2008 Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September October Nopember Desember Tahun 2009 Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sumber : BPS.70 0.12 0.79 0.10 -1.30 -2.79 99.01 102.29 -0.45 99.36 0.82 100.13 0.44% dibandingkan tahun 2008 pada periode bulan yang sama dengan nilai sebesar 100. nelayan telah dapat menyimpan hasil pendapatan yang diperoleh dari kegiatan penangkapan ikan setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.43 99.00 0.91 105.05 100.47 1.49 0.59 98. Artinya.90 106.92.64 105.06 0.15 0.16 100.48 0.42 100.66 100.21 0.18 0.45 -0. Nilai Tukar Nelayan (NTN) hingga Desember 2008 terjadi peningkatan sebesar 4.

11 15.80 9. dimana pertumbuhan budidaya sebesar 21. lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan perikanan tangkap yang hanya sebesar 2. 2009 4 .75 32.61% dari Rp57.49%.95 2. Produksi Perikanan Produksi perikanan tahun 2008 yang berasal dari kegiatan penangkapan dan budidaya mencapai 9.93%.54 17. Jika dibandingkan pertumbuhan volume produksi terhadap nilai.46 5.93 29.99 21.3.95%.05 juta ton. maka pertumbuhan nilai lebih tinggi dari pada pertumbuhan volume.78 triliun pada tahun 2009. Dari total produksi tersebut perikanan budidaya menyumbang 47. Laju pertumbuhan produksi perikanan nasional sejak tahun 2005-2009 mencapai 10.86 10.02% per tahun. Volume Produksi Perikanan Tahun 2005-2009 (Ton) Tahun Rincian 2005 Penangkapan : Perikanan laut Perairan umum Budidaya : Budidaya Laut Tambak Kolam Karamba Jaring Apung Sawah JUMLAH 4 705 869 4 408 499 297 370 2 163 674 890 074 643 975 331 962 67 889 109 421 120 353 6 869 543 2006 4 806 112 4 512 191 293 921 2 682 596 1 365 918 629 610 381 946 56 200 143 251 105 671 7 488 708 2007 5 044 737 4 734 280 310 457 3 193 565 1 509 528 933 833 410 373 63 929 190 893 85 009 8 238 302 2008 5 196 328 4 701 933 494 395 3 855 200 1 966 002 959 509 479 167 75 769 263 169 111 584 9 051 528 2009*) 5 285 020 4 789 410 495 610 4 780 100 2 437 100 1 180 700 593 800 93 900 336 300 138 300 10 065 120 Kenaikan rata-rata (%) 2005-2009 2.02 *) Angka Sementara Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka. Sedangkan nilai produksi perikanan meningkat 15.97 15.62 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp102. Peningkatan produksi perikanan selama tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada tabel 3 dan tabel 4 berikut: Tabel 3. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara umum komoditas perikanan mengalami peningkatan kualitas dan kenaikan harga.

Produksi rumput laut merupakan salah satu andalan yang masih terus dapat ditingkatkan.72 11.03 21 451. bandeng dan beberapa jenis lainnya.41% dari tahun 2005.66 1 093.05 37 162.47 6 805.85 862.82 46 705.08 1 996.61 11.70 11 678.99 2006 63 845.49 15.13 15 713.01 21.21 Tahun 2007 76 360.27 768. peningkatan dilakukan melalui fasilitasi dan beberapa program pemerintah yang khusus menangani rumput laut.26 32. Perolehan ini berdasarkan produksi hasil perikanan tangkap yang merupakan pensuplai bahan baku untuk semua produk olahan.31 645.94 17 304.93 1 620.22 48 431.27 10. nila. perkembangan produksi olahan ikan selama kurun waktu 2005 sampai 2008 meningkat sebesar 10.60 1 958.39 17.83 Kenaikan rata-rata (%) *) Angka Sementara Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka.76 9 241.33 33 255.13 670.35 50 863.91 1 996.69 46 598.05 56 077. 2009 Sementara itu.81 55.13 37 842.28 4 237.39 52.29 3 481.65 2 930.86 13 201.01 2008 89 454.91 8 736.65 3 406.38 2009 *) 102 783.66 juta ton pada tahun 2008.14 36. Nilai Produksi Perikanan Tahun 2005-2009 (jutaan rupiah) Rincian 2005 Total Nilai Penangkapan : Perikanan laut Perairan umum Budidaya : Budidaya Laut Tambak Kolam Karamba Jaring Sawah 57 622.15 583. Jumlah tenaga kerja di bidang pengolahan dan pemasaran 5 . Disamping sumber dari produksi perikanan tangkap.62 908. 4.20% per tahun yaitu dari 2.43 juta orang atau mengalami peningkatan sebesar 3.11 19 404.91 2 906.14 23 776.55 5 013.25 1 493. perikanan budidaya memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatan produksi olahan khususnya dari rumput laut dan beberapa jenis ikan hasil budidaya seperti patin.90 788.14 40 069.77 1 376.28 4 035.Tabel 4.44 3 141.78 36 171.28 27 928.30 2 916.48 27.45 51 611.74 juta ton menjadi 3.21 1 690.58 16 408. Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan tenaga kerja sektor kelautan dan perikanan pada tahun 2009 mencapai 6.27 2 929.53 5 213.93 45 025.

75 2.35% per tahun yakni dari 22.33 6. Penyediaan Ikan untuk Konsumsi Tahun 2004-2008 Tahun Rincian 2004 Total (1000 Ton) Per Kapita (Kg/Kap/Th) 4 901. .*) : angka sementara.58 kg/kapita menjadi 29.hasil perikanan dalam periode 2005 – 2009 mengalami peningkatan sebesar 10.76 2. Peningkatan penyerapan tenaga kerja perikanan selama tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada tabel 5 berikut: Tabel 5. Konsumsi ikan per kapita meningkat menjadi 7. 2009 6 . 1 2 3 4 Rincian Perikanan tangkap Perikanan budidaya Pengolahan dan pemasaran Jasa penunjang 2005 2. kedai pesisir.49 10.98 kg/kapita pada tahun 2008.28 0.58 2005 5 249.55 3.74 7.83 0. dll. Penyediaan Ikan untuk Konsumsi Dalam Negeri Penyediaan ikan untuk konsumsi domestik meningkat sebesar 8.28 2008*) 6 850.66 28.76 0.74 2.53 juta orang pada tahun 2005 menjadi 0.06 (juta orang) Kenaikan (%) 2006-2008 1.94 2007 6 380. Jumlah Tenaga Kerja Perikanan Tahun 2005-2009 No.06 2007 2.9 juta ton pada tahun 2004 menjadi 6.51 0.21 Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka.73 6.79 0.35 Keterangan : *) angka sementara Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka. 2009 Ket.04 2008 2.69 29.79 juta orang pada tahun 2009.Jasa penunjang : tenaga kerja yang terlibat pada program-program pemberdayaan: SPDN.dta : data tidak tersedia 5.55 0.95 2006 5 759. COREMAP.63 5.43 Jumlah 5.82 8. : .59 0.59 5. sebagaimana tersebut pada tabel 6 berikut: Tabel 6.85 juta ton pada tahun 2008.4 5. penyuluh. Sampai dengan tahun 2009 diperkirakan konsumsi ikan dapat mencapai 30.57 23.70 2.34 0.98 Kenaikan Rata-rata (%) 2004-2008 8.53 dta 2006 2.74% per tahun yakni dari 4.13 22.06 2009*) 2.65 0.59 2. .82% yakni dari 0.17 kg/kapita.21 25.

Selain itu.17% per tahun. 6. Pertumbuhan nilai ekspor .37 miliar pada tahun 2009. yakni dari US$1. namun kenaikan nilai ekspor hasil perikanan terjadi cukup signifikan sebesar 6. Ekspor Hasil Perikanan Meskipun volume ekspor hasil perikanan pada periode 2005-2009 mengalami penurunan yang sangat kecil sebesar 1.impor dan neraca perdagangan hasil perikanan selama tahun 20052009.48 juta dengan perkembangan per tahun sebesar 18. Sedangkan jika dilihat nilai impor komoditas perikanan. penguatan kelembagaan dan jaringan pemasaran.5%. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor-Impor serta Neraca Perdagangan Tahun 2004-2008 Tahun Rincian 2005 Volume ekspor (ton) Volume Impor (ton) Nilai ekspor (US$ 1000) 857 782 151 008 1 912 926 2006 926 478 184 240 2 103 471 2007 854 328 145 227 2 258 920 2008 911 674 280 179 2 699 683 2009 *) 796 700 218 622 2 371 000 Kenaikan Rata-rata (%) 2005 2009 -1. sampai tahun 2009 mencapai nilai sebesar US$195. Tabel 7.42 17. neraca perdagangan komoditas perikanan masih mengalami surplus yang cukup tinggi dengan pertumbuhan rata-rata 5.17 7 . Terjadinya kenaikan nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan dengan volumenya menunjukkan adanya peningkatan harga rata-rata produk perikanan yang diekspor.92 miliar pada tahun 2005 menjadi US$2. antara lain disebabkan sebagian besar komoditas ekspor telah mengarah pada produk bernilai tambah (non primary product).38 6. sebagaimana tersebut pada tabel 7 berikut.54% per tahun dalam periode 2005-2009.Peningkatan konsumsi ikan tersebut menggambarkan bahwa ketersediaan produk perikanan yang berasal dari kegiatan penangkapan ikan (capture) maupun budidaya (aquaculture) tersedia dengan baik. pengembangan sarana pemasaran hasil perikanan. penguatan informasi pemasaran dalam negeri serta promosi dan kerjasama pemasaran di dalam negeri berjalan dengan baik.42%. peningkatan tersebut juga menggambarkan bahwa kebijakan peningkatan konsumsi ikan nasional. Dengan demikian.

7.2 miliar dan 22 proyek Penanaman Modal Asing (PMA) 8 . Di samping itu. Investasi bidang Kelautan dan Perikanan Secara kumulatif sepanjang tahun 2004-2008. investasi di sektor perikanan mencapai 6 proyek Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN) dengan total nilai Rp8. China. peningkatan ekspor tersebut merupakan dampak dari penurunan kasus Rapid Alert System (RAS) yang menimpa produk perikanan Indonesia di pasar luar negeri.Tahun Rincian 2005 2006 2007 2008 259 967 2 439 707 2009 *) 195 486 2 175 514 Kenaikan Rata-rata (%) 2005 2009 18. Malaysia dan Timur Tengah). pemerintah Indonesia telah mendapatkan kembali hak untuk mengajukan Approval Number (Re-authorized for Approval Number) baru bagi Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang akan mengekspor ke Uni Eropa. yang ditandai dengan diarahkannya tujuan ekspor dari pasar-pasar tradisional (Jepang. USA dan UE) ke pasarpasar prospektif (Korea Selatan. Penurunan kasus RAS ini membuktikan meningkatnya kepercayaan Komisi Eropa atas upaya serius dan komitmen tinggi otoritas kompeten Indonesia beserta seluruh stakeholders dalam penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan secara konsisten. Saat ini otoritas kompeten telah mengusulkan Approval Number secara bertahap untuk sekitar 24 UPI baik yang baru maupun relisting. Selain itu.54 Nilai Impor (US$ 126 960 165 720 142 750 1000) Neraca 1 785 1 937 2 116 Perdagangan 966 751 170 (US$ 1000) Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka.50 5. Inspection and Quarantine of the People's Republic of China (AQSIQ). Salah satu kerjasama yang telah dijalin dengan pasar prospektif adalah ditandatanganinya ”Cooperation Agreement on Safety Assurance in the Import and Export of Aquatic Products” yang merupakan pencabutan embargo produk perikanan Indonesia di China oleh otoritas kompeten Administration of Quality Supervision. 2009 Terjadinya peningkatan nilai ekspor hasil perikanan ini disebabkan oleh arah kebijakan ekspor yang semakin baik.

3 909 8 914.00 0.7 7 305.4 159 Nasional PMA 546 4 602.02 PMDN 130 15 409.6 867 5 977. Penanggulangan Illegal Fishing dan Penyelamatan Kekayaan Negara Hasil operasi kapal-kapal patroli terutama di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) selama beberapa tahun terakhir menunjukkan trend bahwa peningkatan hari operasi patroli berbanding lurus secara proporsional dengan jumlah kapal illegal yang ditangkap.66 PMA Nasional Sumber : BKPM. Persentase kontribusi investasi sektor perikanan masih di bawah 1% terhadap investasi nasional. Selama kurun waktu 2005-2009 hasil operasi kapal pengawas telah berhasil di ad hoc kapal perikanan 9 .63 PMDN Nasional % thd 0.0 164 20 788.8 P 1 5 2007 I 3.77 0. Perkembangan Investasi Sektor Perikanan Tahun 2004-2008 Tipe P PMDN PMA 2 2004 I 5.00 0. Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan a.61 0.37 0.00 0.00 1.6 0.4 214 30 665.37 2008 I 0.33 P 0 3 106.6 10 380. Nilai investasi terbesar terjadi pada tahun 2005 untuk PMDN dan tahun 2006 untuk PMA.02 0.0 603 Nasional % thd 0.9 5. 2008 P : Jumlah Izin Usaha Tetap yang dikeluarkan I : Nilai Realisasi Investasi (PMDN dalam Rpmiliar.07 0. Kecilnya kontribusi ini berakibat kecilnya penyerapan tenaga kerja dari perkembangan investasi sektor perikanan. Secara keseluruhan investasi di sektor perikanan baik PMDN maupun PMA masih sangat kecil jika dibanding nilai investasi secara nasional. Perkembangan investasi sektor perikanan tahun 2004-2008 sebagaimana tersebut pada tabel 8 berikut: Tabel 8.0 544 0.2 32.7 34 878.4 8 496.dengan nilai US$71 juta.8 P 1 5 Tahun 2006 I 0.87 0.12 0.3 P 4 7 2005 I 4.0 2.2 0.00 0.58 0.01 0.00 0.1 24. PMA dalam US$ juta) 8.

melalui SKB/dasar hukum pembentukan pengadilan ad hoc ini. Pengadilan Perikanan tersebut telah di lengkapi dengan sarana dan prasarana pengadilan dengan 47 hakim ad hoc pengadilan perikanan. Pada kurun tahun 2009 jumlah kapal ikan asing yang ditenggelamkan mencapai 32 kapal dan 17 kapal lainnya dipulangkan ke negara asalnya. Penanganan Tindak Pidana Perikanan Pada 2005-2009 telah dilakukan penanganan pelanggaran terhadap tindak pidana perikanan sebanyak 616 kasus yang ditangani oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan. b. kerugian negara yang bisa diselamatkan selama 2005-2009 mencapai Rp1.9 triliun. Selain operasi pengawasan dengan kapal pengawas perikanan dilakukan juga operasi pengawasan dengan instansi terkait yaitu TNI AL. Langkah percepatan penyelesaian penanganan tindak pidana perikanan. 9. Sejalan dengan peningkatan tersebut. Hasil penanganan tindak pidana perikanan tersebut telah berhasil dirampas/dilelang sebanyak 145 kapal. POLRI dan BAKORKAMLA. Belawan (Sumatera Utara). Bitung (Sulawesi Utara) dan Tual (Maluku). KKP sesuai dengan fungsinya dipercaya secara nasional melakukan pekerjaan lapangan (field work). Pontianak (Kalimantan Barat). di 5 lokasi yaitu Jakarta (DKI Jakarta).yang terindikasi melakukan tindak pidana perikanan sebanyak 827 kapal perikanan yang terdiri dari 466 kapal ikan Indonesia (KII) dan 361 kapal ikan asing (KIA). Penamaan Pulau (Toponimi) Sejak tahun 2005. KKP bekerjasama dengan Mahkamah Agung (MA) membentuk pengadilan khusus perikanan. Pelaksanaan inventarisasi dan toponim pulau telah selesai dilaksanakan pada tahun 2008 dan selanjutnya diverifikasi oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupa Bumi yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden 10 . Hasil kerjasama operasi pengawasan tersebut selama tahun 2005-2009 telah berhasil menangkap kapal perikanan yang terindikasi melakukan tindak pidana perikanan sebanyak 302 kapal perikanan. untuk inventarisasi dan penamaan pulau (toponimi) di seluruh wilayah NKRI dengan melibatkan instansi terkait.

Pengelolaan BMKT yang meliputi ruang lingkup kegiatan survei. Ditjen KP3K. sebagaimana tersebut pada tabel 9 berikut: Tabel 9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Provinsi Sumatera Selatan Kep. Riau Total Sumber.794 4. 2009 Jumlah Pulau 23 470 445 286 123 294 805 33 28 10 530 130 10 1. Pemerintah membentuk Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan kapal yang tenggelam (PANNAS BMKT) yang melibatkan instansi pemerintah terkait sesuai Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2007. Pengelolaan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT) Tujuan pengelolaan BMKT selain mendukung upaya pelestarian dan pengkayaan sejarah. langkah yang telah ditempuh antara lain: 11 . Sampai dengan tahun 2009. Bangka Belitung Jawa Timur Sulawesi Utara Gorontalo Maluku Maluku Utara Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Barat Sulawesi Tenggara Lampung Bengkulu Kep. pengangkatan dan pemanfaatan BMKT agar dapat dikelola sebaik-baiknya untuk kepentingan negara. Hasil verifikasi oleh tim tersebut terdapat 13.981 10.427 pulau di 33 Provinsi. Daftar Nama Pulau yang telah dilaporkan ke PBB Tahun 2007 No.Nomor 112 Tahun 2006. ilmu pengetahuan dan kebudayaan bahari Indonesia adalah untuk meningkatkan pengelolaan potensi BMKT yang tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia diharapkan agar dapat memberikan manfaat yang optimal dan seimbang antara ekonomis dan non ekonomis.

Taman Wisata Alam Laut . Pengembangan Kawasan Konservasi Perairan Konservasi merupakan upaya perlindungan.049 767.66 ha. budaya dan ilmu pengetahuan sebagai koleksi negara.529.215 12 . sebagaimana tersebut pada tabel 10 berikut: Tabel 10. Sampai akhir tahun 2009 telah tercapai 13. 2) Penjualan BMKT untuk mengoptimalkan nilai ekonomisnya dilaksanakan dengan cara lelang oleh Kantor Lelang Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta berdasarkan rekomendasi penjualan/lelang BMKT dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada tanggal 21 November 2008.092 4. pemeliharaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam lingkup pemanfaatan nonekonomis.Taman Nasional Laut .1) Pendistribusian BMKT yang tidak terjual ke Museum Negeri Adityawarman.067.Cagar Alam Laut Jumlah Kawasan 40 7 18 7 9 Luas (Ha) 5. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar.045. dan Badan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT)-Sumatera Barat untuk mendukung pengkayaan koleksi museum. disamping itu telah dilakukan pemilihan terhadap BMKT tertentu yang langka untuk kepentingan sejarah. Jumlah dan Luas Kawasan Konservasi Laut di Indonesia Tahun 2009 No A Kawasan Konservasi Inisiasi Dephut . 3) Penerbitan rekomendasi survei sebanyak 11 buah dan rekomendasi pengangkatan sebanyak 2 buah. Upaya yang dilakukan adalah dengan menetapkan Kawasan Konservasi Perairan baik perairan laut.218 274. pesisir maupun perairan tawar dan payau.610 339.426.Suaka Margasatwa . pelestarian dan pemanfaatan suatu wilayah atau sumber daya ikan dan ekosistemnya untuk menjamin keberadaan dan keseimbangan sumber daya ikan dan ekosistemnya di dalam suatu kawasan tertentu. 11.

12.5 juta hektar tersebut didasari oleh beberapa pertimbangan ilmiah diantaranya. Satuan pendidikan lingkup KKP adalah Sekolah Tinggi Perikanan (STP) di Jakarta. 2009 Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu seluas 3. 336 spesies ikan.270. Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Kelautan dan Perikanan Pengembangan SDM di bidang kelautan dan perikanan memiliki peranan strategis dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan dan dilaksanakan melalui bidang pendidikan. Pencadangan kawasan seluas 3. habitat hidup 4 spesies penyu. Akademi Perikanan Sorong dan 8 Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) yang tersebar di wilayah nusantara.086 453 Sumber : Diolah dari Kelautan dan Perikanan dalam Angka.5 juta hektar dideklarasikan berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 38 tahun 2009 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu dan Sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lulusan pendidikan sejak 2005-2009 berjumlah 6.572 13. Akademi Perikanan Sidoarjo. kawasan ini merupakan tempat migrasi 14 spesies dari 27 spesies Cetacean di dunia.Kawasan Konservasi Perairan Nasional (Taman Nasional Perairan Laut Sawu) .Suaka Perikanan Jumlah Total Jumlah Kawasan 36 1 24 19 2 3 89 Luas (Ha) 20.Kawasan Konservasi Laut Daerah . Taman Nasional Perairan Laut Sawu mencakup (1) wilayah perairan Selat Sumba dan sekitarnya dan (2) Wilayah Perairan Pulau Sabu-Rote-Timor-Batek dan sekitarnya. Akademi Perikanan Bitung.Calon Kawasan Konservasi Laut Daerah .629 3.Daerah Perlindungan Laut/Mangrove (DPL/DPM) .155.No B Kawasan Konservasi Inisiasi Pemda dan DKP .029 siswa.591.130 3.521. 13 . termasuk paus jenis rare blue whale dan sperm whales.406 2. pelatihan dan penyuluhan. dan 500 spesies karang.

pasang surut. Pengembangan SDM kelautan dan perikanan melalui bidang penyuluhan diarahkan pengembangan keahlian dan keberpihakan kepada nelayan. Potensi Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan jumlah pulau yang besar.534 orang tersebar di 33 Provinsi. pembudidaya ikan. pelatihan struktural aparatur. dan pelatihan prajabatan dengan jumlah peserta pelatihan tahun 2005-2009 mencapai 27. Jumlah penyuluh perikanan sebanyak 4. Selain dua jenis sumber daya tersebut. sampai dengan tahun 2009 KKP telah memberikan biaya operasional penyuluh (BOP) perikanan bagi 2.778 orang. seperti sumber daya minyak dan gas bumi dan berbagai jenis mineral. pedagang ikan dan masyarakat perikanan yang meliputi teknik penangkapan ikan. Sedangkan pelatihan bagi aparatur antara lain pelatihan teknis aparatur. seperti sumber daya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya). Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang besar termasuk kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan terbesar. pelatihan pengolahan dan mutu. pembudidaya dan pengolah ikan. dan sumber daya tidak terbaharukan (non-renewable resources).181 km (World Resources Institute.1 juta km2. Panjang pantai Indonesia mencapai 95.342 penyuluh. angin dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion). Klasifikasi potensi tersebut pada umumnya dibedakan menjadi sumber daya terbaharukan (renewable resources). padang lamun.4 juta km2. mangrove. energi gelombang. terumbu karang. juga terdapat berbagai macam jasa lingkungan kelautan yang dapat 14 . Pelatihan bagi masyarakat ditujukan untuk nelayan. serta pemasaran dan manajemen usaha. dan pengolah ikan. 1998) dengan luas wilayah laut 5. Potensi dan Permasalahan 1.Pengembangan SDM kelautan dan perikanan melalui bidang pelatihan diselenggarakan dalam bentuk pelatihan bagi masyarakat (non aparatur) dan aparatur (pusat dan daerah). B. mendominasi total luas teritorial Indonesia sebesar 7. serta meningkatkan citra penyuluhan.

jasa angkutan. dan sebagainya. kolam air tawar. mutiara. dan budidaya rumput laut.dikembangkan untuk pembangunan kelautan seperti pariwisata bahari. serta (e) bioteknologi kelautan untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan seperti industri bahan baku untuk makanan. (d) budidaya air tawar terdiri dari perairan umum (danau. (6) industri penunjang. industri bahan pakan alami. dan rawa). (5) pengelolaan pasir laut. Di samping itu terdapat potensi pengembangan untuk (a) perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta hektar dengan potensi produksi 0. benih ikan dan udang serta industri bahan pangan.000 ha. sungai.9 juta ton/tahun. Peluang pengembangan usaha kelautan dan perikanan Indonesia masih memiliki prospek yang baik. potensi budidaya laut sebesar US$46. dan mina padi di sawah. budidaya moluska (kekerangan. diperlukan upaya percepatan dan terobosan dalam pembangunan kelautan dan perikanan yang didukung dengan kebijakan politik dan ekonomi serta iklim sosial yang 15 . potensi budidaya air tawar sebesar US$5. (b) budidaya laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap. (4) industri garam rakyat. waduk. (c) budidaya air payau (tambak) yang potensi lahan pengembangannya mencapai sekitar 913. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya kelautan dan perikanan dan menjadikan sektor ini sebagai prime mover pembangunan ekonomi nasional.1 miliar per tahun.7 miliar per tahun. potensi peraian umum sebesar US$1. Selain itu juga terdapat potensi dan peluang pengembangan meliputi (1) pengembangan pulau-pulau kecil. dan teripang). potensi budidaya tambak sebesar US$10 miliar per tahun. dan (7) keanekaragaman hayati laut. Potensi tersebut meliputi: potensi perikanan tangkap sebesar US$15. kerapu.1 miliar per tahun. (2) pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam. dan potensi bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun.2 miliar per tahun. dan gobia). industri maritim. (3) pemanfaatan air laut dalam (deep sea water). Potensi ekonomi sumber daya kelautan dan perikanan yang berada di bawah lingkup tugas KKP dan dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemulihan ekonomi diperkirakan sebesar US$82 miliar per tahun.

Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI). Apabila dilihat dari kontribusi sektor perikanan pada PDB nasional di negara-negara Asia-Pasifik masih didominasi perikanan tangkap. diharapkan di masa datang perlu terus disinergikan. namun secara bertahap. dan lain-lain. pengujian mutu dan pengolahan hasil perikanan. Produksi perikanan tangkap Indonesia sampai dengan tahun 2007 berada pada peringkat ke-3 dunia dengan tingkat produksi perikanan tangkap pada periode 2003-2007 mengalami kenaikan rata-rata produksi sebesar 1. Secara umum. tren perikanan tangkap dunia mulai menurun seiring dengan peningkatan kegiatan perikanan tangkap dan terbatasnya daya dukung sumber daya perikanan dunia. Berdasarkan laporan FAO Year Book 2009. budidaya. Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin). Indonesia juga merupakan produsen perikanan budidaya dunia. Di samping adanya potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang besar. tren perikanan budidaya dunia terus mengalami kenaikan. sumber produksi perikanan mulai bergeser ke kegiatan budidaya perikanan. sehingga masa depan perikanan dunia akan terfokus pada pengembangan budidaya perikanan. Dalam kaitan ini. saat ini Indonesia telah menjadi negara produsen perikanan dunia disamping China.kondusif. Sampai dengan tahun 2007 posisi produksi perikanan budidaya Indonesia di dunia berada pada urutan ke-4 dengan kenaikan rata-rata produksi pertahun sejak 2003 mencapai 8. Secara umum. koordinasi dan dukungan lintas sektor serta stakeholders lainnya menjadi salah satu prasyarat yang sangat penting. dan sekolah perikanan. LSM bidang kelautan dan perikanan. Kebijakan pengembangan perikanan Indonesia ke depan akan lebih didominasi oleh kegiatan 16 . Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN).79%. Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gappindo). Potensi lain adalah potensi sarana dan prasarana yang telah dimiliki. Di samping itu. antara lain seperti peranan Komisi Tuna Indonesia.54%. seperti unit pelaksana teknis pelabuhan perikanan. Peru. riset. USA dan beberapa negara kelautan lainnya. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). terdapat pula potensi kelembagaan. Komisi Udang.

Kondisi ini sejalan dengan tren perkembangan perikanan dunia. maka tantangan lain yang timbul adalah maraknya kegiatan illegal fishing oleh kapal-kapal ikan asing yang diakibatkan oleh industri perikanan negara-negara tetangga harus bertahan. dan (c) National Ocean Governance. termasuk oleh aktivitas manusia yang menimbulkan pencemaran perairan baik laut maupun tawar. agar dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan. kegiatan perikanan yang merusak (destructive fishing). 2. (b) National Ocean Economic Policy. dengan adanya UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan yang telah direvisi menjadi UU Nomor 45 tahun 2009 serta UU Nomor 27 tahun 2007 tentang Wilayah Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau kecil. perairan Indonesia terbuka dan terbatasnya sarana pengawasan. utamanya yang berada di perairan umum daratan maupun perairan pantai. Melihat potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang begitu besar. Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi penghasil produk perikanan terbesar dunia. Permasalahan Sumber daya ikan yang berada di perairan Indonesia baik laut maupun perairan umum cenderung mengalami degradasi dalam satu dekade terakhir ini. Untuk itu dibutuhkan kebijakan terintegrasi dan konvergen untuk membangun ocean economic dalam 3 pilar (a) National Ocean Policy. disparitas harga ikan. fishing ground negara tetangga makin habis sedangkan permintaan industri ikan dunia yang meningkat. regulasi bidang pengawasan dan kelembagaan di tingkat daerah serta dukungan internasional yang kuat untuk menanggulangi illegal fishing dan legitimasi kegiatan pengawasan. Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan kualitas sumber daya ikan terkait dengan degradasi kualitas lingkungan pesisir. seperti sumber daya yang tidak terbaharukan. Kegiatan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan sebagai bagian integral dari pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan perlu ditingkatkan dengan sarana dan prasarana pengawasan. Disamping itu potensi-potensi lainnya mulai perlu dikelola.perikanan budidaya. 17 . SDM pengawasan. karena kontribusi perikanan pada 2004-2009 terus mengalami kenaikan.

Kelemahan dari penggunakan armada kecil antara lain para nelayan memiliki hari layar yang singkat (one day fishing). penggunaan alat penangkap ikan yang tidak sesuai dengan izin dan yang tidak berizin. kondisi lingkungan harus benarbenar menjadi perhatian dalam mengawal target produksi ikan sebagai produsen terbesar. khusus di sentra-sentra usaha dan pelabuhan perikanan di daerah yang merupakan pusat kegiatan perikanan bagi para nelayan dan pemasar 18 . Peningkatan produksi perikanan budidaya ini pun tetap berada di bawah ancaman kerusakan lingkungan. seperti penggunaan metode penangkapan ikan yang merusak lingkungan (bahan peledak. yaitu perahu tanpa motor.5 sampai 3 gross tonnage (GT). Oleh karena itu. yang berakibat pada daya jual yang rendah. ditambah dengan keterbatasan untuk memanfaatkan dana perbankan. Kondisi seperti ini. perahu motor tempel dan kapal ikan berukuran 0. sementara biaya produksi terus meningkat. listrik dan obat bius). masalah sarana dan prasarana perlu menjadi fokus yang mesti diatasi. kapasitas dan cakupannya terus ditingkatkan. sementara upaya konservasi dan rehabilitasi lingkungan perairan laut dan perairan umum. Di samping itu. kualitas ikan yang kurang terjaga atau tingginya tingkat kehilangan mutu (losses). Hal ini disebabkan oleh penggunaan armada perikanan yang secara nasional masih didominasi oleh kapal berukuran kecil.penangkapan ikan yang dilakukan secara berlebih (overfishing) yang dilakukan secara illegal baik oleh pelaku dalam negeri. Produktivitas para nelayan Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. racun. Kondisi penurunan sumber daya ikan ini mengakibatkan Indonesia mengalami kesulitan dalam upaya meningkatkan produksi secara nyata (significant) melalui kegiatan perikanan tangkap. Kegiatan perikanan budidaya diprediksi mampu menaikkan produksi perikanan secara nyata. daya tampung ikan hasil tangkapan yang kecil. Gambaran mengenai kondisi tersebut memberikan tantangan bagi Indonesia untuk kembali bertumpu pada kegiatan perikanan budidaya. maupun oleh pihak asing yang melakukan praktik-praktik illegal di Indonesia. semakin menyulitkan para nelayan untuk keluar dari jerat kemiskinan yang melilit dari tahun ke tahun.

baik melalui DAK maupun TP rata-rata teralokasikan kurang dari Rp5 miliar. Dalam kurun waktu satu dekade belakangan ini. Sumatera dan Sulawesi. diperlukan perbaikan kualitas sarana dan prasarana BBI. Dari alokasi anggaran yang tersedia pada 5 tahun terakhir. TPI dan BBI cenderung tidak dapat tuntas untuk mendukung tugas dan fungsinya secara optimal. Dalam kurun 5 tahun ke depan. serta memenuhi standar sanitasi dan higienis. serta antara Rp15 miliar atau 25 miliar per unit BBI. walaupun jumlahnya relatif sedikit dan umumnya terdapat di daerah-daerah yang relatif sudah maju seperti di wilayah Jawa . dan TPI dengan kualitas yang baik dan berfungsi optimal. Kondisi sarana dan prasarana pendukung produksi dan pemasaran yang kurang berfungsi optimal di lokasi-lokasi sentra usaha kelautan dan perikanan dan pelabuhan perikanan di daerah menjadi faktor 19 . Di sisi lain.(pedagang) ikan. pembangunan sarana dan prasarana produksi dan pemasaran seperti pelabuhan perikanan klas pangkalan pendaratan ikan (PPI) dan tempat pelelangan ikan (TPI) dan Balai Benih Ikan (BBI) yang berada di Kabupaten/Kota relatif membutuhkan anggaran pembangunan yang tidak sedikit. ada juga daerah yang belum secara optimal memanfaatkan sarana prasarana pengolahan dan pemasaran yang telah dibangun karena kurangnya ketersediaan SDM yang mumpuni. KKP telah memfasilitasi pembangunan sarana dan prasarana pendukung produksi dan pemasaran ikan di daerah. dan juga berperan sebagai penyedia informasi pasar. PPI. Sentra-sentra tersebut merupakan sarana vital untuk distribusi produk secara efisien dan penyedia stok ikan untuk konsumsi masyarakat. PPI dan TPI yang jumlahnya mencapai hampir 600 BBI dan lebih dari 750 unit PPI/TPI di seluruh Kabupaten/Kota yang diikuti dengan penyiapan SDM yang handal. baik melalui dukungan penyediaan jenis-jenis kegiatan dana alokasi khusus (DAK) maupun dana tugas pembantuan (TP). Untuk membangun sarana dan prasarana ini umumnya membutuhkan anggaran pada kisaran antara Rp20 miliar atau 60 miliar untuk PPI dan TPI. Pada beberapa daerah tertentu yang telah mendapat alokasi anggaran yang besar mampu membangun beberapa unit BBI. Namun demikian.Bali. sehingga pembangunan PPI.

Beberapa hal diantaranya terkait dengan terbatasnya sarana dan prasarana pengujian di beberapa Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) dan beberapa diantaranya belum terakreditasi. Luasnya wilayah perairan Indonesia dan ZEEI yang mencapai 5. pengolahan. Di sisi lain. kecenderungan meningkatkan kegiatan penangkapan ikan secara illegal.8 juta Km2 merupakan lahan subur bagi para pelaku penangkapan ikan secara illegal. Uni Eropa. terbatasnya penerapan standar nasional Indonesia (SNI) pada UPI skala kecil dan terbatasnya surveilensi penerapan pengendalian mutu di UPI dan verifikasi penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan (quality assurance dan food safety). Tuntutan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia pada negara-negara maju turut mengetatkan persyaratan mutu produk ekspor hasil perikanan dari Indonesia ke negara-negara maju. KKP bersama Pemerintah Daerah terus berupaya meningkatkan mutu produk perikanan untuk memenuhi persyaratan yang semakin ketat. perusakan ekosistem pesisir. Indonesia masih menghadapi beberapa kondisi yang belum sepenuhnya dapat mendukung untuk memenuhi perysaratan yang semakin ketat itu. serta rendahnya ketaatan kapal 20 . Kondisi ini menyebabkan beberapa kasus penolakan produk perikanan oleh negara-negara tujuan ekspor. pengangkatan barang muatan kapal tenggelam (BMKT) secara illegal oleh kapal ikan Indonesia maupun kapal ikan asing yang merugikan negara bila kurang pengawasan. dan Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun merupakan negara tujuan ekspor perikanan Indonesia. Indonesia dituntut untuk mampu menyediakan produk yang berkualitas lebih tinggi mulai dari tahap produksi (on farm). dan distribusi yang dibuktikan melalui proses pengujian dan sertifikasi. kurangnya pemahaman pengawas mutu dan stakeholder terkait terhadap ketentuan kebijakan internasional. seperti Jepang. Sebagai akibatnya. serta masih ditengarai adanya penyimpangan pelaksanaan pembuatan sertifikasi ekspor.penghambat dalam upaya meningkatkan produksi yang tinggi. Proses penerbitan health certificate masih memakan waktu lama. serta terbatasnya jumlah dan kompetensi inspektur. Korea Selatan.

Meskipun ketersediaan sarana dan prasarana pengawasan telah bertambah.perikanan dan pelaku usaha perikanan terhadap peraturan perundang-undangan. termasuk sosialisasi ke masyarakat. pemilik tanah.169 transmitter. KKP terus melakukan penguatan dalam bidang pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan. pengembang pariwisata. Pengawasan menjadi kurang optimal utamanya karena kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang diikuti dengan kurang optimalnya peran serta masyarakat dalam pengawasan. Sarana pengawasan lainnya berupa pemasangan Vessel Monitoring System (VMS) pada seluruh kapal perikanan asing dan kapal perikanan Indonesia dengan ukuran di atas 100 GT dan telah terpasang 3. dan termasuk antar instansi yang terjadi tumpang tindih kewenangan. Di samping itu. Permasalahan lain yang muncul adalah konflik dalam pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan masih sering terjadi di era otonomi daerah dan pemekaran wilayah belakangan ini. telah memiliki 23 unit kapal pengawas untuk melakukan pengawasan terhadap ribuan kapal ikan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan di Indonesia. beberapa aturan turunannya masih belum selesai secara keseluruhan. Konflik pengelolaan sumber daya pesisir dan laut dapat terjadi antara nelayan skala besar dengan nelayan skala kecil/tradisional. telah pula dilengkapi sarana pengawasan untuk 1.369 kelompok masyarakat pengawasan (Pokmaswas). Konflik di daerah perairan pesisir dan laut. namun masih dirasa belum optimal mengingat luasnya jangkauan pengawasan dan jumlah kapal pengawas perikanan yang ada. serta pulau-pulau 21 . disamping dipicu oleh keterbatasan sumber daya ikan serta ketimpangan sosial ekonomi. Ditengarai penyebabnya antara lain. Meskipun telah terbit Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. pengusaha mutiara. pemangku adat. dan kurangnya koordinasi lintas sektor serta dukungan internasional. Sampai tahun 2009. juga karena belum terpenuhinya aturan yang jelas tentang tata ruang kawasan pesisir dan laut.

serta mengganggu usaha mereka. NTT dan NTB. resolusi konflik dan kelengkapan perangkat pertauran dan perundangan perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Lampung. perhatian Pemerintah pada umumnya. namun hanya dapat mengurangi dampaknya melalui upaya mitigasi bencana serta membangun sarana dan prasarana yang ramah terhadap bencana. 22 . seperti gempa bumi dan tsunami. Sejak peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2004 yang lalu. serta melakukan kerja sama lintas sektor dan kerja sama internasional.kecil dapat menimbulkan dampak sosial yang negatif bagi masyarakat pesisir pada umumnya termasuk nelayan dan pembudidaya ikan. dan KKP pada khususnya mulai melakukan upaya nyata untuk mitigasi bencana alam serta memperkenalkan pembangunan sarana dan prasarana yang ramah lingkungan kepada masyarakat pesisir dan masyarakat luas. Nias Sumatera Utara. Bengkulu. Beberapa lokasi rawan bencana alam misalnya Nanggroe Aceh Darussalam. Sebagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam. Bencana alam seringkali menimbulkan berbagai kerusakan mulai dari tingkat ringan hingga berat yang merusakkan sarana dan prasarana kelautan dan perikanan. Ke depan. Oleh karena itu. upaya mitigasi bencana alam di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kejadian bencana alam hampir terjadi setiap tahun dengan lokasi yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain utamanya di wilayah-wilayah tersebut. serta Papua. Indonesia tidak dapat menghilangkan peristiwa-peristiwa alam yang terjadi berulang tersebut. Selatan Jawa. Sumatera Barat. Sulawesi. serta lokasi yang menjadi sentra-sentra pembangunan kelautan dan perikanan haruslah menjadi perhatian. Maluku. perumahan penduduk hingga korban jiwa.

MISI. Oleh karena itu. DAN SASARAN STRATEGIS Pembangunan kelautan dan perikanan yang telah dilaksanakan selama ini telah membawa hasil yang cukup menggembirakan. perubahan tatanan global serta nasional yang berkembang dinamis menuntut percepatan pembangunan kelautan dan perikanan nasional secara nyata untuk mampu menyesuaikan dan memenuhi tantangan lingkungan strategis yang bergerak cepat tersebut. dan berbasiskan kepentingan nasional. meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang berwawasan kelautan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan. Munculnya kesadaran untuk menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan dan perikanan sebagai motor penggerak pembangunan nasional. tercermin dalam keputusan politik nasional. mengelola wilayah laut nasional untuk mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran.BAB II VISI. kuat. tujuan. misi. sebagaimana terimplementasi dalam UndangUndang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang salah satu misinya menyatakan: Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri. dan membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan. TUJUAN. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan misi tersebut adalah dengan menumbuhkan wawasan bahari bagi masyarakat dan pemerintah agar pembangunan Indonesia berorientasi kelautan. Sehubungan dengan hal tersebut. maju. visi. Visi Visi pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 adalah Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar 2015. sesuai dengan fungsi pembangunan kelautan dan perikanan di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh KKP diarahkan untuk mengoptimalkan segenap potensi yang ada dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional tersebut. Namun demikian. . dan sasaran strategis pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 ditetapkan sebagai berikut : A.

24 . Meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan. Misi Untuk mewujudkan visi pembangunan kelautan dan perikanan tersebut. Tujuan Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 adalah: 1. Peraturan perundang-undangan di bidang kelautan dan perikanan sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global serta diimplementasikan secara sinergis lintas sektor. SDM kelautan dan perikanan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.B. b. Konservasi kawasan dan jenis biota perairan yang dilindungi dikelola secara berkelanjutan. Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan: a. Mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. 2. Sumber daya kelautan dan perikanan dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. pelaksanaan. pengendalian dan pelaporan terintegrasi. Indonesia bebas Illegal. Sasaran Strategis Sasaran strategis pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 berdasarkan tujuan yang akan dicapai adalah: 1. 3. d. Memperkuat Kelembagaan dan SDM secara Terintegrasi: a. C. 2. b. maka misi yang diemban adalah Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan. 4. Pulau–pulau kecil dikembangkan menjadi pulau bernilai ekonomi tinggi. Memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusia secara terintegrasi. c. c. Memperluas akses pasar domestik dan internasional. Unreported & Unregulated (IUU) Fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan. Seluruh perencanaan. D. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat. pusat dan daerah.

c. 25 . Seluruh desa memiliki pasar yang mampu memfasilitasi penjualan hasil perikanan. Seluruh kawasan potensi perikanan menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable. Indonesia menjadi market leader dunia dan tujuan utama investasi di bidang kelautan dan perikanan. Sarana dan prasarana kelautan dan perikanan mampu memenuhi kebutuhan serta diproduksi dalam negeri dan dibangun secara terintegrasi.3. Seluruh sentra produksi kelautan dan perikanan memiliki komoditas unggulan yang menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu terjamin. b. 4. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Berbasis Pengetahuan: a. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional: a. b.

yaitu: . perikanan. wisata bahari.Agenda IV : Penegakkan Hukum dan Pemberantasan Korupsi .BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI A.Agenda III : Penegakan Pilar Demokrasi . energi dan sumber daya mineral yang dikembangkan secara sinergi.Agenda I : Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat . dan berkelanjutan.Agenda V : Pembangunan yang Inklusif dan Berkeadilan . Pembangunan kelautan meliputi industri kelautan seperti perhubungan laut. Kerangka pencapaian tujuan RPJMN II tersebut dirumuskan lebih lanjut dalam Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 (Renstra KKP) yang merupakan penjabaran dari Visi dan Misi Presiden Republik Indonesia. Terkait dengan penguatan daya saing perekonomian tersebut. ditetapkan lima agenda utama pembangunan nasional tahun 2009-2014. industri maritim. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional Tujuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 diarahkan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan pada upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan iptek serta penguatan daya saing perekonomian.Agenda II : Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan . Kerangka Visi dan Misi Indonesia 2014 adalah: Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera Demokratis dan Berkeadilan Misi 1 : Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera Misi 2 : Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi Misi 3 : Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2009-2014. optimal. diantaranya ditempuh melalui peningkatan pembangunan kelautan dan sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu serta meningkatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Prioritas 9: Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana. maka perumusan dan penjabaran operasionalnya dituangkan dalam 11 prioritas nasional yakni: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. 3. dan transparan. (4) penanggulangan kemiskinan. dan paskakonflik. (7) iklim investasi dan usaha. 27 . terluar. Prioritas 4: Penanggulangan Kemiskinan. Pemantapan tata kelola pemerintahan yang lebih baik melalui terobosan kinerja secara terpadu. serta kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Konservasi dan pemanfaatan lingkungan hidup mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang keberlanjutan. peningkatan daya saing produk pertanian. Prioritas 5: Ketahanan Pangan. (5) ketahanan pangan. terdepan. (10) daerah tertinggal. penuh integritas. (8) energi. 4.7% per tahun dan Indeks Nilai Tukar Petani sebesar 115-120 pada 2014. disertai penguasaan dan pengelolaan risiko bencana untuk mengantisipasi perubahan iklim. kreativitas.1% pada 2009 menjadi 810% pada 2014 dan perbaikan distribusi pendapatan dengan pelindungan sosial yang berbasis keluarga. (2) pendidikan. dan inovasi teknologi. (3) kesehatan.Terkait dengan visi. Prioritas 1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola. dan data kependudukan yang baik. serta (11) kebudayaan. misi dan agenda utama pembangunan nasional tersebut. peningkatan pendapatan petani. taat kepada hukum yang berwibawa. (9) lingkungan hidup dan bencana. pemberdayaan masyarakat dan perluasan kesempatan ekonomi masyarakat yang berpendapatan rendah. Peningkatan pertumbuhan PDB sektor pertanian sebesar 3. kapasitas pegawai pemerintah yang memadai. pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 yang terkait dengan 5 prioritas nasional sebagai berikut : 1. (6) infrastruktur. Penurunan tingkat kemiskinan absolut dari 14. Peningkatan ketahanan pangan dan lanjutan revitalisasi pertanian untuk mewujudkan kemandirian pangan. akuntabel. Dalam prioritas nasional tersebut. 2. Peningkatan kualitas pelayanan publik yang ditopang oleh efisiensi struktur pemerintah di pusat dan di daerah.

Selain itu. Lingkup pembangunan bidang SDA dan LH meliputi (1) revitalisasi pertanian. sektor-sektor yang berbasis SDA dan LH juga menjadi tumpuan utama bagi sebagian besar tenaga kerja. Prioritas 10: Daerah Tertinggal. SDA-LH sangat penting dalam pembangunan nasional. Hal ini dicerminkan dengan semakin meningkatnya kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor-sektor yang berbasis SDA dan LH terhadap pembentukan PDB nasional selama periode tersebut. 28 . Program aksi untuk daerah tertinggal. Terluar. SDA-LH perlu dikelola dengan bijaksana agar pembangunan serta keberlangsungan kehidupan manusia dapat terjaga dan lestari saat ini dan di masa yang akan datang. terluar. Prioritas ke-1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan. Lintas Bidang Perubahan Iklim Global dan Lintas Bidang Pembangunan Kelautan Berdimensi Kepulauan. baik sebagai penyedia bahan baku bagi pembangunan ekonomi maupun sebagai pendukung sistem kehidupan. yang akan dilaksanakan antara lain melalui peningkatan kinerja kementerian dalam pelayanan publik. terutama di perdesaan dan pesisir. dan pascakonflik ditujukan untuk pengutamaan dan penjaminan pertumbuhan di daerah tertinggal. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan Arah kebijakan dan strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan diimplementasikan dalam keterkaitannya dengan 5 prioritas nasional yang dirumuskan secara umum sebagai berikut: 1. Pembangunan kelautan dan perikanan berada dalam lingkup Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (SDA-LH). Di samping 5 (lima) Prioritas Nasional. terdepan. Sesuai dengan fungsinya tersebut.5. Terdepan. yakni Pengarusutamaan Pembangunan Berkelanjutan. dan (2) perbaikan pengelolaan SDA dan perbaikan fungsi LH. Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait dengan Pengarusutamaan dan Lintas Bidang. Pelaksanaan dari kebijakan ini memberikan hasil terhadap meningkatnya peran SDA dan LH dalam perkembangan perekonomian nasional. B. terdepan. terluar serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah pascakonflik. dan Pasca-Konflik.

Prioritas ke-5: Ketahanan Pangan. pengolah dan pemasar. 5. khususnya nelayan. pengembangan kawasan minapolitan. dan Pasca Konflik. peningkatan konsumsi ikan. yang dalam implementasinya akan dilaksanakan untuk memberikan konstribusi dalam menurunkan tingkat kemiskinan absolut nasional dari 14. Terdepan. Prioritas ke-10: Pembangunan Daerah Tertinggal. pengembangan lembaga pembiayaan kelautan dan perikanan. pembudidaya ikan. pembudidaya ikan. peningkatan daya saing produk perikanan. yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan melanjutkan revitalisasi perikanan dalam mewujudkan kemandirian pangan.pengelolaan keuangan negara menuju opini Wajar Tanpa Pengecualian. pemberdayaan masyarakat dan perluasan kesempatan ekonomi masyarakat yang berpendapatan rendah.5% pada tahun 2014 dan Indeks Nilai Tukar Nelayan/Pembudidaya sebesar 115 pada tahun 2014. 3. peningkatan pendapatan nelayan. 2. melalui peningkatan produksi hasil perikanan. 4. peningkatan kapasitas skala usaha dan kewirausahaan menjadi usaha yang bankable. penataan organisasi. pesisir dan pulau-pulau kecil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang keberlanjutan. serta kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. dan stabilisasi harga ikan. yang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal dan terdepan. Prioritas ke-4: Penanggulangan Kemiskinan. dan pengembangan SDM dan riset tentang perubahan iklim dan mitigasi bencana di wilayah pesisir dan laut. pengolah dan pemasar melalui perluasan jangkauan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Kelautan dan Perikanan.1% pada 2009 menjadi 8-10% pada 2014. yang akan dilaksanakan melalui konservasi dan pemanfaatan lingkungan laut. serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah pasca-konflik yang akan diimplementasikan melalui 29 . disertai penguasaan dan pengelolaan risiko bencana melalui melalui pengembangan kawasan konservasi laut dan perairan. Prioritas ke-9: Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana. Peningkatan konstribusi PDB perikanan tanpa migas menjadi 6. dan pemangkasan red tape yang terkait bidang kelautan dan perikanan.

dari pelaku ekonomi subsisten menjadi pelaku usaha modern. Arah kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mendukung kebijakan nasional dalam 5 tahun ke depan tersebut adalah : 1. dampak terhadap struktur sosial masyarakat. pembangunan kelautan dan perikanan akan mendukung 3 pilar pembangunan berkelanjutan. dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konstribusi kelautan dan perikanan pada PDB nasional. partisipasi masyarakat marjinal/minoritas (kaum miskin dan perempuan). 2. serta tatanan atau nilai sosial yang berkembang di masyarakat. Usaha membuka lapangan kerja diiringi dengan dukungan pengembangan modal dan kepastian berusaha. dan (3) lingkungan hidup. industrialisasi dan modernisasi. Terkait dengan pengarusutamaan dan lintas bidang. dan dampak ekonomi melalui peningkatan kesejahteraan. (2) sosial. Pro growth Pendekatan pro-growth dilakukan untuk mewujudkan pertumbuhan sektor kelutan dan perikanan sebagai pilar ketahanan ekonomi nasional melalui transformasi pelaku ekonomi kelautan dan perikanan. yakni: (1) ekonomi.pengelolaan/pemberdayaan pulau-pulau terluar dan pengembangan ekonomi alternatif berbasis sumber daya perikanan. Pro poor Pendekatan Pro-poor dilakukan melalui pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat pelaku usaha kelautan dan perikanan. 3. melalui berbagai dukungan pengembangan infrastruktur. dampak terhadap kualitas air. 30 . Pro job Pendekatan Pro-job dilakukan melalui optimalisasi potensi perikanan budidaya yang belum tergarap untuk menurunkan tingkat pengangguran nasional. udara dan lahan serta ekosistem dan keanekaragaman hayati. tingkat partisipasi masyarakat pelaku pembangunan.

(ii) meningkatkan pendapatan nelayan. meningkatkan efisiensi dalam penggunaan sumber daya. pengolahan dan pemasaran hasil dan pengelolaan lingkungan dalam suatu kesisteman yang mapan. Strategi yang dilakukan untuk melaksanakan keempat arah kebijakan di atas dilakukan melalui: 1. serta (iii) sektor kelautan dan perikanan menjadi penggerak ekonomi nasional. Pro sustainability Pendekatan pro-sustainability dilakukan melalui upaya pemulihan dan pelestarian lingkungan perairan. dan pulau-pulau kecil. 31 . mencegah penyebaran penyakit. pembudidaya dan pengolah ikan yang adil dan merata. Pendekatan pengembangan minapolitan dilakukan melalui: a. serta (iii) mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah dan sentra-sentra produksi perikanan sebagai penggerak ekonomi rakyat. serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Pengembangan minapolitan bertujuan untuk (i) meningkatkan produksi perikanan. Adapun sasaran pengembangan minapolitan adalah sebagai berikut (i) ekonomi rumah tangga masyarakat kelautan dan perikanan skala kecil makin kuat. pesisir. sekaligus mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan sarana produksi. Pengembangan Minapolitan Minapolitan merupakan upaya percepatan pengembangan pembangunan kelautan dan perikanan di sentra-sentra produksi perikanan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam rangka mendukung visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan. dan meningkatkan kualitas produk kelautan dan perikanan. proses produksi.4. (ii) usaha kelautan dan perikanan kelas menengah ke atas makin bertambah dan berdaya saing tinggi. produktivitas usaha. Ekonomi Kelautan dan Perikanan Berbasis Wilayah Mendorong penerapan manajemen hamparan untuk mencapai skala ekonomi.

f. Sentra Produksi Minapolitan berada dalam kawasan pemasok hasil perikanan (sentra produksi perikanan) yang dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakatnya. akses jalan. (iii) pengembangan kawasan budidaya di 541 kawasan yang terdiri dari 145 kawasan 32 . c. Pembangunan sarana dan prasarana perikanan seperti (i) pengembangan pelabuhan perikanan dengan prioritas di lingkar luar (outer ring fishing port) Indonesia di 25 lokasi. (ii) teknologi tersedia. d. dan BBM. Seluruh sentra produksi kelautan dan perikanan menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu terjamin. penyediaan air bersih. dan (iv) dapat dikembangkan secara massal. listrik.b.100 unit. Penyuluhan Penguatan kelembagaan dan pengembangan jumlah penyuluh merupakan salah satu syarat mutlak keberhasilan pengembangan minapolitan. Unit Usaha Seluruh unit usaha dilakukan dengan menggunakan prinsip bisnis secara profesional dan berkembang dalam suatu kemitraan usaha yang saling memperkuat dan menghidupi. Langkah-langkah yang akan ditempuh mengembangkan Minapolitan antara lain: dalam a. Kawasan Ekonomi Unggulan Memacu pengembangan komoditas yang memiliki criteria (i) bernilai ekonomis tinggi. e. Lintas Sektor Minapolitan dikembangkan dengan dukungan dan kerjasama berbagai instansi terkait untuk mendukung kepastian usaha antara lain terkait dengan sarana dan prasarana pemasara produk perikanan. Penyuluh akan berperan sebagai fasilitator dan pendamping penerapan teknologi penangkapan dan budidaya ikan serta pengolahan hasil perikanan. tata ruang wilayah. (iii) permintaan pasar besar. (ii) pengembangan kapal dan alat penangkapan ikan sebesar 5.

c. 238 kawasan budidaya perikanan tawar dan 158 kawasan budidaya perikanan laut.b. Jiwa entrepreneurship para pelaku tersebut dibangun agar para pelaku dapat memanfaatkan fasilitas guna memperlancar pengelolaan usaha. klaster/minapolitan industri hasil perikanan dan pasar ikan) di 33 provinsi. Kecil dan Menengah (UMKM) berpotensi ekspor sebanyak 250 UKM berpotensi ekspor sampai dengan tahun 2014. yakni nelayan.7 miliar ekor benih. (ii) usaha di perikanan budidaya mencakup 3.388 Usaha Mikro. budidaya perikanan payau. pengolah dan pemasar ikan. d.860 Unit Pengolahan Ikan (UPI) 2. e. (v) Pengembangan sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil perikanan (seperti. g. Pengembangan lembaga pembiayaan kelautan dan perikanan yang mampu menyalurkan dana pembiayaan sebesar Rp50 miliar per tahun sampai dengan tahun 2014 melalui program KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank) Pembangunan prasarana pulau-pulau kecil di 100 pulau. sentra pengolahan. Mendorong peningkatan nilai investasi perikanan mencapai Rp7. f. Perluasan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan yang mampu menjangkau 2 juta usaha kecil dan menengah di 300 kabupaten/kota. Entreprenuership Pengembangan kewirausahaan dan peningkatan skala usaha (entrepreneurship) dilaksanakan melalui upaya membangun kepercayaan (trust building) bagi para pelaku. serta (iii) usaha di pengolahan dan pemasaran: 3.5 triliun. Kecil dan Menengah (UMKM). pengembangan sistem rantai dingin (cold chain system).000 Kelompok Usaha Bersama (KUB). khususnya di pulau-pulau kecil terluar Peningkatan kapasitas skala usaha dan kewirausahaan mencapai: (i) usaha di perikanan tangkap mencakup 2. pembudidaya ikan. Pengembangan ekspor melalui pembinaan Usaha Mikro. (iv) memenuhi seluruh kebutuhan benih ikan yang mencapai sekitar 69. Strategi 33 . baik yang diperoleh melalui kredit maupun melalui program-program pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah.

benih. dan setiap wilayah punya potensi masing-masing yang sangat besar di samping juga masing-masing memiliki kekurangan atau kelemahan.entrepreneurship akan memenuhi kebutuhan nelayan dan pembudidaya serta pemasar dan pengolah dalam berproduksi seperti kapal. penangkapan. Namun demikian setiap pelaku pembangunan kelautan dan perikanan bekerja sendiri-sendiri. Pengembangan kewirausahaan dilakukan dalam rangka penciptaan usaha di sektor kelautan dan perikanan bagi sarjana yang masih menganggur. komunitas bisnis. dan pengolahan. Keadaan tersebut akan berpengaruh pada hasil kerja yang kurang optimal dalam pembangunan kelautan dan perikanan. BBM. baik secara internal antar eselon I di lingkup KKP. Melalui penciptaan dan penguatan networking. Dalam rangka meningkatkan kapasitas pemuda. 3. antara pusatdaerah. 34 . institusi. antar daerah. jaring. KKP memiliki UPT yang dapat digunakan sebagai tempat pelatihan teknis/magang budidaya perikanan. multilateral. pengolahan dan pemasaran serta pembuatan proposal. Kegiatan yang dilakukan adalah pembekalan dan motivasi dilanjutkan dengan pelatihan/magang mengenai budidaya perikanan. penangkapan. Sampai saat ini masih ada pemangku kepentingan pembangunan kelautan dan perikanan yang belum terhimpun dalam suatu bentuk jaringan kerja bahkan masih terlihat indikasi bahwa masing-masing masih mengutamakan identitas diri. kerjasama internasional (bilateral. dan regional). swasta maupun dari pemerintah melalui dana APBN. Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mengoptimalkan hasil pembangunan kelautan dan perikanan dengan menfasilitasi pengembangan jejaring kerja. Networking Setiap indvidu. BUMN. serta pemerintah mengupayakan kepastian pasar bagi penjualan produk perikanan dengan harga yang pantas. pengairan dan lain-lainnya. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta dapat memperoleh bantuan permodalan baik dari lembaga keuangan. antar instansi/lintas sektor.

35 . Dalam rangka mengurangi beban dan dan memenuhi hak dasar masyarakat secara layak untuk menempuh dan mengembangkan kehidupan bermartabat. 4.Melalui pembentukan jejaring kerja akan terbina interaksi yang baik. secara langsung dan tidak langsung. Technology and Innovation KKP akan dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan hanya jika dapat menguasai teknologi perikanan untuk sistem akuakultur. eksploitasi. sehingga terjalin suatu kesatuan yang lebih besar dan kuat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan mengeliminir kekurangan dan kelemahan yang dimiliki. penguatan lembaga keuangan mikro. serta teknologi kelautan untuk eksplorasi. 5. pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memberi fasilitas. pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kultur. penangkapan. maka dibutuhkan pemberdayaan mayarakat. Pemberdayaan masyarakat ini dalam jangka panjang diarahkan untuk (i) peningkatan kemandirian masyarakat melalui pengembangan kegiatan ekonomi. Pada prinsipnya. Empowering Kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang mendesak dan memerlukan lngkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistematis. Kegiatan penelitian dan pengembangan dilakukan untuk menemukan teknologi-teknologi baru dalam rangka meningkatkan optimasi pemanfaatan sumber daya ikan secara lestari dan bertanggung jawab. pengolahan dan pasca panen. dan kegiatan usaha ekonomi produktif yang berbasis sumber daya lokal. dorongan atau bantuan kepada masyarakat agar mampu menentukan pilihan yang terbaik dalam memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan menuju kemandirian dan kesejahteraan. konservasi dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut serta adaptasi perubahan iklim. partisipasi mayarakat. Secara umum. penggalangan partisipasi masyarakat. penguatan modal dan pengutan kelembagaan masyarakat. peningkatan kualitas sumber daya manusia. antara berbagai pemangku kepentingan dan instansi pemerintah. terpadu dan menyeluruh.

(iii) meningkatkan kapasitas aparatur sebagai pengelola di wilayahnya. (vi) mengoptimalkan peran tenaga pendamping sebagai fasilitator sekaligus motivator dalam proses perencanaan partisipatif. pengawasan sumber daya ikan. pengolahan. (iv) memperbaiki kualitas masyarakat dalam memahami kebutuhan dan potensinya serta memecahkan permasalahan yang dihadapi terkait dengan peningkatan kapasitas usaha. pelaksanaan dan pelaporan di tingkat desa serta melakukan sosialisasi. serta peningkatan kapasita sumber daya manusia. pengolahan dan pemasaran ikan. Pemberdayaan masyarakat merupakan perwujudan komitmen KKP dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan melalui kegiatan antara lain pembudidayaan ikan. (v) memanfaatkan secara optimal kelompok masyarakat kelautan dan perikanan yang telah dibentuk oleh berbagai program sebelumnya atau membentuk kelompok masyarakat baru. (iii) pengembangan kemitraan dengan lembaga swasta dan pemerintah. Melalui kelompok akan terjadi interaksi antar anggota untuk saling tukar pengalaman dan menumbuhkan kesadaran bersama untuk menguatkan 36 . pengelolaan sumber daya kelautan. pesisir dan pulau-pulau kecil. Penguatan Kelembagaan Kelompok Masyarakat Keberadaan kelompok masyarakat di bidang budidaya. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat ini akan dilakukan (i) identifikasi dan kajian seluruh potensi dan permasalahan wilayah dan sumber daya kelautan dan perikanan yang ada dalam rangka menyusun perencanaan pengelolaannya berbasis desa (ii) melibatkan secara aktif pemangku kepentingan terkait dengan upaya pemberdayaan baik yang berasal dari pemerintah pusat dan daerah maupun masyarakat. 6. penangkapan ikan. serta (vii) menerapkan upaya pemberdayaan secara konsisten dn berkelanjutan dengan pola bottom up sehigga jenis kegiatan yang dilaksanakan merupakan aspirasi kelompok masyarakat di wilayahnya.(ii) peningkatan kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya secara optimal dan berkelanjutan sesuai dengan kaidah kelestarian lingkungan. penangkapan ikan. pemasaran dan kelompok pengawasan akan memberikan keuntungan bagi anggota kelompoknya.

Pembentukan atau penguatan kelompok secara modern dapat memanfaatkan akses ekonomi. termasuk ketersediaan ikan untuk konsumsi masyarakat dari 30. Untuk mendukung prioritas bidang tersebut. meningkatnya nilai ekspor hasil perikanan dari USD 2. dan peningkatan Nilai Tukar Nelayan/Pembudidaya Ikan dari 105 pada tahun 2010 menjadi 1115 pada tahun 2014. Terkait dengan kebijakan tersebut.0% pada tahun 2010 menjadi 6. perikanan dan kehutanan.posisi tawar.5% pada tahun 2014. sosial dan budaya bagi peningkatan ketahanan sosial dan kesejahteraan masyarakat. KUB (Kelompok Usaha Bersama) penangkapan ikan. dan diarahkan pada pencapaian dua prioritas bidang. 37 . Berbagai kelompok tercakup dalam Pokdakan (kelompok pembudidaya ikan). serta (ii) Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan.76 juta ton pada tahun 2010 menjadi 22.9 miliar pada tahun 2010 menjadi USD 5. Kelompokkelompok yang sudah terbentuk akan terus diupayakan keberadaannya dan ditingkatkan kapasitasnya. Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas). dengan sasaran produksi perikanan dari 10. Perikanan dan Kehutanan. politik. maka konstribusi pembangunan kelautan dan perikanan adalah sebagai berikut: 1. Disamping itu. serta kemudahan dalam pembinaan. dan Pokmas (Kelompok Mayarakat) pengelola terumbu karang. pembangunan kelautan dan perikanan dalam 5 tahun ke depan menjadi bagian dari pembangunan bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.0 miliar pada tahun 2014. dan diseminasi teknologi. penyampaian informasi. yakni (i) Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian. Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian.39 juta ton pada tahun 2014. maka KKP akan meningkatnya ketersediaan bahan pangan dalam negeri.67 kg/kapita/tahun pada tahun 2014. Perikanan dan Kehutanan Untuk mendukung peningkatan katahanan pangan dan revitalisasi pertanian. sedangkan kelompok-kelompok baru akan ditumbuhkan. KKP akan mendorong peningkatan kontribusi PDB Perikanan terhadap PDB Nasional tanpa migas dari 3.47 kg/kapita/tahun pada tahun 2010 menjadi 38.

Fokus prioritas yang terkait adalah (1) peningkatan produksi dan produktivitas untuk menjamin ketersediaan pangan dan bahan baku industri dari dalam negeri. mewujudkan kerjasama internasional dan antar daerah.5 juta ha pada tahun 2010 menjadi 15 juta ha pada tahun 2014. 2. Unreported & Unregulated (IUU) Fishing serta kegiatan yang merusak sumberdaya kelautan dan perikanan dari 34% pada tahun 2010 menjadi 89% pada tahun 2014. dan pemasaran produk perikanan. dan (3) peningkatan kapasitas masyarakat perikanan.2014 Indikator Kinerja Utama (IKU) pembangunan kelautan dan perikanan yang akan dicapai sebagaimana tersebut pada tabel 11 berikut: 38 . mewujudkan pengelolaan pulau-pulau kecil termasuk pulau kecil terluar sebanyak 200 pulau pada tahun 2014. (3) peningkatan nilai tambah. (2) peningkatan pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan. daya saing. dan meningkatkan riset dan iptek kelautan. Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Konstribusi Kementeri Kelautan dan Perikanan dalam peningkatan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan adalah wilayah periaran Indonesia yang bebas Illegal. mewujudkan upaya rehabilitasi dan konservasi laut dan perairan dari 13. Berdasarkan target Prioritas Nasional dan Prioritas Bidang SDA-LH serta arah kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada maka tahun 2010 .

0 38. Program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap Tujuan program adalah meningkatkan produktivitas perikanan tangkap dengan sasaran peningkatan hasil tangkapan dalam setiap upaya 39 .38 2.26 5.47 444 105 3.10 2.76 5. 5.17 459 112 6.5 18. 3. 1.39 454 110 5.49 5.47 13.2 31.41 20.55 33.9 30.9 0.50 16.89 5.85 3.64 449 107 4.42 3.19 14. akan diimplementasikan ke dalam program dan kegiatan tahun 2010-2014 sebagai berikut : 1. Persentase wilayah pengelolaan perikanan bebas 62% 75% 82% 91% 100% 12. Indikator Kinerja Utama (IKU) No.39 5.9 0.29 1.9 0.41 6. A. Jumlah pulau–pulau kecil termasuk pulau kecil terluar 20 55 60 50 20 yang dikelola (pulau)*** 3.38 5.9 0. Rincian 2010 FUNGSI EKONOMI Kontribusi PDB Perikanan terhadap PDB Nasional tanpa migas (%) Produksi Perikanan (juta ton)  Perikanan Tangkap  Perikanan Budidaya Nilai Ekspor Hasil Perikanan (USD miliar) Konsumsi Ikan (kg/kap/th) Jumlah Unit Pengolahan Ikan (unit)* Nilai Tukar Nelayan/ Pembudidaya Ikan FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP 2011 Sasaran 2012 2013 2014 Rata-rata Kenaikan (%/thn) 3.79 IUU fishing (%) Keterangan : *) Jumlah Unit Pengolah Ikan (UPI) yang menjadi target sasaran pada tahun bersangkutan **) Luas target kawasan konservasi laut dan perairan pada tahun bersangkutan ***) Jumlah pulau-pulau kecil termasuk pulau kecil terluar yang menjadi target pengelolaan pada tahun bersangkutan Arah kebijakan dan strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010-2014 yang telah diuraikan tersebut.16 0.5 22. 1.5 12.1 33.02 4.5 14. B.0 10.86 5.67 464 115 21.Tabel 11. 6. Luas kawasan konservasi laut 0.9 dan perairan (juta ha)** 2.30 2.67 6.44 9. 4.6 32.

dan Berkelanjutan c. Unit kerja penanggungjawab program adalah Ditjen PT. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Ditjen PB). Pengawalan dan Penerapan Teknologi Terapan Adaptif Perikanan Budidaya g. Pengembangan Sistem Perbenihan Ikan c. Pengembangan Sistem Produksi Pembudidayaan Ikan b. Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan dan Pemberdayaan Nelayan Skala Kecil d. dan Pengawakan Kapal Perikanan e. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (Ditjen PT). Pengembangan Sistem Usaha Pembudidayaan Ikan e. 40 . Pengembangan. Pengelolaan Sumberdaya Ikan b. Pelayanan Usaha Perikanan Tangkap yang Efisien. Unit kerja penanggungjawab program adalah Ditjen PB. 2. dengan sasaran program peningkatan produksi perikanan budidaya (volume dan nilai). Pengembangan Sistem Prasarana dan Sarana Pembudidayaan Ikan d. Pembangunan. Tertib. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan f. Alat Penangkap Ikan. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya Tujuan program adalah meningkatnya produksi perikanan budidaya. Pengembangan Sistem Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pembudidayaan Ikan f. Pembinaan dan Pengembangan Kapal Perikanan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a.tangkap.

Fasilitasi Pengembangan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan c. 4. Pendayagunaan Pesisir dan Lautan c. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Program Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan Tujuan program adalah meningkatnya jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. serta distribusi dan akses pemasaran hasil perikanan. Fasilitasi Pembinaan dan Pengembangan Sistem Usaha Perikanan f. Fasilitasi Pengembangan Usaha Industri Pengolahan Hasil Perikanan g. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut.3. Program Pengelolaan Sumber Daya Laut. dengan sasaran peningkatan persentase pendayagunaan sumber daya laut. Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Luar Negeri Hasil Perikanan e. investasi. Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil 41 . Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil b. nilai tambah produk perikanan. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Penataan Ruang dan Perencanaan Pengelolaan Wilayah Laut. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Tujuan program adalah mewujudkan tertatanya dan dimanfaatkannya wilayah laut. pesisir dan pulaupulau kecil secara lestari. pesisir dan pulau-pulau kecil. dengan sasaran peningkatan volume dan nilai ekspor hasil perikanan serta peningkatan volume produk olahan. Unit kerja penanggungjawab program adalah Ditjen P2HP. Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Dalam Negeri Hasil Perikanan d. Fasilitasi Pengembangan Usaha Industri Pengolahan Hasil Perikanan b. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen P2HP).

Pelayanan Usaha dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir f. Untuk 42 . Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Kelautan. Unit kerja penanggungjawab program adalah Ditjen KP3K. Peningkatan Operasional dan Pemeliharaan Kapal Pengawas d.d. 5. Peningkatan Operasional Pengawasan Sumberdaya Perikanan b. Program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Tujuan program adalah meningkatnya ketaatan dan ketertiban dalam pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan dengan sasaran perairan Indonesia bebas Illegal. Peningkatan Operasional Pengawasan Sumberdaya Kelautan c. Unit kerja penanggung jawab program adalah Ditjen P2SDKP. kegiatan yang dilaksanakan adalah : a. Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan Tujuan program ini adalah menyiapkan ilmu. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Ditjen KP3K). Penyelesaian Tindak Pidana Kelautan dan Perikanan f. pengetahuan dan teknologi sebagai basis kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran termanfaatkannya Iptek hasil penelitian dan pengembangan oleh para pemangku kepentingan. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen P2SDKP). Unreported & Unregulated (IUU) fishing serta kegiatan yang merusak sumberdaya kelautan dan perikanan. Pengembangan Sarana dan Prasarana Pengawasan dan Pemantuan Kapal Perikanan e. Pengelolaan dan Pengembangan Konservasi Kawasan dan Jenis e. 6. UNtuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

Pendidikan Kelautan dan Perikanan b. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP). Penelitian Dan Perekayasaan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan g. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Tangkap b. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP). 8. 7.mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Unit kerja penanggungjawab program adalah BRKP. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan f. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kewilayahan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Pelatihan Kelautan dan Perikanan c. Dinamika dan Sumberdaya Non Hayati Pesisir dan Laut e. Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Tujuan program adalah meningkatkan kualitas SDM kelautan dan perikanan dengan sasaran meningkatnya kompetensi SDM kelautan dan perikanan. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan d. Unit kerja penanggungjawab program adalah BPSDMKP. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Budidaya c. Penyuluhan Kelautan dan Perikanan d. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP Tujuan program adalah meningkatkan pengendalian akuntabiltas kinerja pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran program 43 .

Pembinaan Pelaksanaan dan Koordinasi Pengelolaan Keuangan KKP 44 . Pembinaan dan Pengelolaan Kepegawaian KKP c. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Mitra Kerja Inspektorat IV dalam Pelaksanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Ditjen P2HP dan BRKP e. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Mitra Kerja Inspektorat III dalam Pelaksanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Ditjen PB dan Ditjen DJKP3K d. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. 9. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Pembinaan dan Koordinasi Perencanaan. Penganggaran dan Monitoring Evaluasi Pembangunan KP b. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur dengan Tujuan Tertentu pada Pelaksana Pembangunan Kelautan dan Perikanan serta Pengawasan pada Unit Kerja Inspektorat Jenderal f. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Mitra Kerja Inspektorat I dalam Pelaksanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Sekretariat Jenderal dan BPSDMKP b. Program Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP Tujuan program adalah meningkatkan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran meningkatnya kesesuaian pelaksanaan dukungan manajerial. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Inspektorat Jenderal Unit kerja penanggungjawab program adalah Inspektorat Jenderal. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Mitra Kerja Inspektorat II dalam Pelaksanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Ditjen PT dan Ditjen P2SDKP c.meningkatnya prosentase capaian kinerja pembangunan KP.

IPTEK Sarana dan Prasarana Bidang Kegiatan Penelitian Oceanografi a. Dukungan Lintas Sektor Pembangunan kelautan dan perikanan secara utuh memerlukan dukungan instansi terkait serta peran serta masyarakat luas. dan Satuan Kerja Perangkat Daerah melalui mekanisme dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan Penunjang Pelaksanaan Tugas KKP f.d. yang akan dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pusat. Pengembangan Data Satistik dan Informasi Kelautan dan Perikanan h. 45 . Pengembangan dan Pembinaan Kerjasama Internasional dan Antarlembaga Bidang Kelautan dan Perikanan i. Pembinaan dan Koordinasi Penyiapan Produk Hukum dan Penataan Organisasi KKP e. Adapun beberapa bentuk dukungan kegiatan yang diperlukan dari instansi lain sebagaimana tersebut pada tabel 12 berikut: Tabel 12. C. Dukungan Lintas Sektor No 1. Perumusan dan Pengembangan Kebijakan Kelautan Unit kerja penanggungjawab program adalah Sekretariat Jenderal. Rincian kebutuhan pendanaan per program dan per kegiatan dapat dilihat pada Lampiran III. Pengembangan dan Pembinaan Perkarantinaan Ikan g. Pendanaan tersebut akan digunakan untuk membiayai 9 program yang terdiri dari 58 kegiatan.42 triliun. Satuan Kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah. 2. Target pembangunan 2010-2014 menurut program dan kegiatan yang telah terinci dalam output dan outcome dapat dilihat pada Lampiran II. Pendanaan pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 telah tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014. yakni dengan pagu indikatif sebesar Rp30. Pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan di bidang Kenavigasian.

e. Pengelolaan dan Penyelenggaraan kegiatan di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Laut. c. Pengelolaan dan Penyelenggaraan kegiatan di bidang Perkapalan dan Kepelautan. a. dan Pengelolaan Sumber Daya Ikan (SDI). Penelitian dan pengembangan geologi kelautan. b. Wilayah dan Tata Ruang 6. b.No Bidang b. Peningkatan konservasi dan pengendalian kerusakan ekosistem pesisir dan laut. keamanan kewilayahan dan kelautan. Pembinaaan kepolisian perairan. Optimalisasi diplomasi terkait dengan perjanjian politik. dan Peningkatan ketersediaan data dan informasi survei sumber daya alam dan lingkungan hidup matra laut. Pengelolaan dan Penyelenggaraan kegiatan di bidang Pelabuhan dan Pengerukan. Peningkatan operasi bersama keamanan Laut. c. 3. Pengelolaan meteorologi penerbangan dan maritim BMKG. g. 5. b. Pemetaan dasar kelautan dan kedirgantaraan. c. Politik Pertahanan dan Keamanan Kegiatan Pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan di Bidang Penjagaan Laut dan Pantai. f. h. Peningkatan koordinasi pengawasan keamanan laut. 46 . d. a. Penyediaan dan Pengelolaan Energi Baru Terbarukan dan Pelaksanaan Konservasi Energi. d. dan d. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup a. Pelayanan Angkutan Udara Perintis. dan Penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan jalan lingkungan. Penyelenggaraan OMSP matra udara. 4.

pembudidaya ikan. Disadari bahwa keberhasilan pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan tidak hanya ditentukan dengan adanya dokumen RENSTRA. baik di tingkat pusat maupun daerah. Akhirnya. FADEL MUHAMMAD . visi serta misi Presiden terpilih serta program kerja Kabinet Indonesia Bersatu II masa bakti 2009-2014. pengolah hasil perikanan. kebersamaan dan kerja keras dari seluruh jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan semua pihak yang terkait diperlukan dalam rangka mewujudkan harapan untuk mensejahterakan nelayan. melainkan diperlukan dukungan sektor terkait lainnya dan masyarakat luas. dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional Tahun 2010-2014. dan masyarakat pesisir lainnya melalui pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan dapat terwujud. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Tugas dan Fungsi KKP. sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No. merupakan acuan bagi penyusunan Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga dan Rencana Kerja dan Anggaran-Kementerian Negara/Lembaga setiap tahunnya. RENSTRA yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025.I. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. ttd.BAB IV PENUTUP RENSTRA Pembangunan Kelautan dan Perikanan 2010-2014 merupakan suatu dokumen yang disusun oleh KKP. RENSTRA ini juga merupakan acuan perencanaan. MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R.

769.903.730 1.220 601.120 5. 06/MEN/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TARGET NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN PROGRAM 1 Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap Meningkatnya produktivitas perikanan tangkap dan kesejahteraan nelayan 1) 2) Jumlah Produksi perikanan tangkap (ton) Jumlah pendapatan nelayan:  pendapatan nelayan pemilik/bulan (Rp)  pendapatan nelayan buruh/bulan (Rp) 5.409.290 721.290 5.000 1.550 1.500.100 5.200.692 2.740 5.06/MEN/2010R.Lampiran II : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.384.530 837.038 2. 1) Jumlah lokasi pemantauan dan evaluasi perlindungan dan pengkayaan SDI Jumlah ekosistem PUD yang teridentifikasi (8 prov per tahun) Jumlah peraian teritorial dan kepulauan yang teridentifikasi sumber dayanya Jumlah ZEEI yang teridentifikasi sumber dayanya 6 prov 33 prov 33 prov 33 prov 33 prov 2) 8 prov 8 prov 11 WPP 33 prov 4 prov 8 prov 11 WPP 33 prov 4 prov 8 prov 11 WPP 33 prov 4 prov 8 prov 11 WPP 33 prov 4 prov 3) 1 WPP 4) 11 prov .000 KEGIATAN a.384 2.235.441.057.467.900 952. akuntabel dan tepat waktu.436. Pengelolaan Sumber Daya Ikan (SDI) Meningkatnya Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang terjamin ketersediaan sumber daya ikan dengan data dan pengelolaan pemanfaatan yang terintegrasi.

TARGET NO
b.

PROGRAM/KEGIATAN
Pembinaan dan Pengembangan Kapal Perikanan, Alat Penangkap Ikan, dan Pengawakan Kapal Perikanan

SASARAN
Terwujudnya kecukupan kapal perikanan Indonesia (yang laik laut, laik tangkap dan laik simpan), alat penangkap ikan (yang sesuai SNI) dan pengawakan yang memenuhi standar di setiap WPP 1)

INDIKATOR 2010
Jumlah dan jenis kapal penangkap ikan yang memenuhi standar laik laut, laik tangkap dan laik simpan Jumlah alat penangkap ikan dan alat bantu penangkapan ikan yang memenuhi standar Jumlah awak kapal perikanan yang memenuhi standar kompetensi Jumlah pelabuhan perikanan dengan fokus pembangunan di lingkar luar dan daerah perbatasan yang potensial Jumlah penyiapan pembangunan pelabuhan perikanan sesuai dengan rencana induk Jumlah pelabuhan perikanan yang mempunyai Wilayah Kerja Operasional Pelabuhan Perikanan (WKOPP) Jumlah keabsahan dan kelengkapan dokumen usaha perikanan tangkap Jumlah pelaku usaha perikanan tangkap yang memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan yang berlaku Jumlah kapal dan jenis alat penangkap ikan yang diperbolehkan sesuai dengan ketersediaan sumber daya ikan di setiap WPP 500 unit

2011
550 unit

2012
600 unit

2013
650 unit

2014
700 unit

2)

600 unit

976 unit

1,552 unit

2,259 unit

2,929 unit

3)

60 orang

120 orang

180 orang

210 orang

240 orang

c.

Pengembangan Pembangunan dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan

Meningkatnya pembangunan dan pencapaian standar pelayanan prima di pelabuhan perikanan dengan fasilitas penunjang produksi, pengolahan, pemasaran dan kesyahbandaran yang sesuai standar.

1)

968 unit

973 unit

978 unit

983 unit

988 unit

2)

35 Lokasi

35 Lokasi

40 Lokasi

40 Lokasi

40 Lokasi

3)

10

20 9.000 SIUP, SIPI/SIKPI 3,000

30 10.000 SIUP, SIPI/SIKPI 3,500

40 11.000 SIUP, SIPI/SIKPI 4,000

50 12.000 SIUP, SIPI/SIKPI 4,500

d.

Pelayanan Usaha Perikanan Tangkap yang Efisien, Tertib, dan Berkelanjutan

Meningkatnya pelayanan prima dan ketertiban usaha perikanan tangkap sesuai ketersediaan SDI di setiap WPP secara akuntabel dan tepat waktu.

1)

8.000 SIUP, SIPI/SIKPI

2)

2.500

3)

4.900 SIPI

5.900 SIPI

6.900 SIPI

7.900 SIPI

8.900 SIPI

2

TARGET NO
e.

PROGRAM/KEGIATAN
Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan dan Pemberdayaan Nelayan Skala Kecil

SASARAN
Jumlah kawasan potensi perikanan tangkap yang menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable serta realisasi investasi usaha perikanan tangkap. 1)

INDIKATOR 2010
Jumlah kawasan minapolitan potensi perikanan tangkap yang memiliki Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang Mandiri. Jumlah Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang Mandiri. 1 PP 5 PPI

2011
1 PP 5 PPI

2012
1 PP 5 PPI

2013
1 PP 5 PPI

2014
1 PP 5 PPI

2)

999 KUB

1.200 KUB

1.400 KUB

1.600 KUB

1.800 KUB

3)

f.

Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perikanan Tangkap

Persentase perencanaan, pengendalian dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Ditjen PT. Meningkatnya produksi, produktivitas dan mutu hasil perikanan budidaya.

Jumlah usaha perikanan tangkap yang memenuhi kelayakan usaha dan bankable Persentase perencanaan dan pelaporan pelaksanaan program kerja dan anggaran secara terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu.

999 KUB

1.200 KUB

1.400 KUB

1.600 KUB

1.800 KUB

70%

75%

80%

90%

100%

PROGRAM 2 Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya 1) 2) Volume produksi perikanan budidaya (ton) Jumlah benih dengan mutu terjamin. 5.376.200 36 miliar ekor Benih ikan 267.280 ton Bibit rumput laut 3) Jumlah kawasan perikanan budidaya yang memiliki prasarana dan sarana sesuai kebutuhan. 76 kab/kota 45 kawasan payau 76 kawasan tawar 56 kawasan laut 6.847.500 42,2 miliar ekor Benih ikan 350.420 ton Bibit rumput laut 116 kab/kota 70 kawasan payau 116 kawasan tawar 81 kawasan laut 9.415.700 50,3 miliar ekor Benih ikan 510.000 ton Bibit rumput laut 157 kab/kota 95 kawasan payau 157 kawasan tawar 107 kawasan laut 13.020.800 59,5 miliar ekor Benih ikan 750.000 ton Bibit rumput laut 197 kab/kota 120 kawasan payau 197 kawasan tawar 132 kawasan laut 16.891.000 69,7 miliar ekor Benih ikan 1.000.000 ton Bibit rumput laut 238 kab/kota 145 kawasan payau 238 kawasan tawar 158 kawasan laut

3

TARGET NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 2010
KEGIATAN a Pengembangan Sistem Produksi Pembudidayaan Ikan Meningkatnya produksi perikanan budidaya dengan mutu terjamin dan data akurat. 1) 2) 3) 4) Jumlah produksi perikanan budidaya air tawar. Jumlah produksi perikanan budidaya air payau. Jumlah produksi perikanan budidaya laut Jumlah usaha perikanan budidaya yang bersertifikat dan memenuhi standar. Jumlah produksi induk unggul. 1,4 juta ton 1.137.920 ton 2.846.475 ton 1.000 unit 6,5 juta ekor induk 267.280 ton 2) Jumlah unit perbenihan yang bersertifikat dan benih yang memenuhi standar Jumlah laboratorium uji yang memenuhi standar teknis. 51 unit 25 unit Lab. Kualitas air 20 unit Lab. HPI 9 unit Lab. Residu 2) Jumlah kawasan perikanan budidaya yang sehat serta persentasi jenis biota perairan yang dikonservasi. 1,8 juta ton 1.322.280 ton 3.703.400 ton 2.000 uni 8 juta ekor induk 350.420 ton 63 unit 31 unit Lab. Kualitas air 24 unit Lab. HPI 11 unit Lab. Residu 2,5 ton 1.587.640 ton 5.348.850 ton 4.000 unit 10,1 juta ekor induk 510.000 ton 78 unit 38 unit Lab. Kualitas air 28 unit Lab. HPI 14 unit Lab. Residu 3.4 juta ton 1.831.620 ton 7.780.675 ton 6.000 unit 12,6 juta ekor induk 750.000 ton 96 unit 43 unit Lab. Kualitas air 32 unit Lab. HPI 18 unit Lab. Residu 4,6 juta ton 2.022.220 ton 10.288.175 ton 7.000 unit 15 juta ekor induk 1.000.000 ton 116 unit 48 unit Lab. Kualitas air 35 unit Lab. HPI 25 unit Lab. Residu

2011

2012

2013

2014

b.

Pengembangan Sistem Perbenihan Ikan

Terpenuhinya kebutuhan benih untuk produksi dan pasar dengan mutu terjamin dan data akurat.

1)

c.

Pengembangan Sistem Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pembudidayaan Ikan

Kawasan perikanan budidaya yang sehat serta produk perikanan yang aman dikonsumsi.

1)

Catatan : HPI : Hama Penyakit Ikan

350 kab

350 kab

400 kab

350 kab

450 kab

4

TARGET NO
d.

PROGRAM/KEGIATAN
Pengembangan Sistem Usaha Pembudidayaan Ikan

SASARAN
Kawasan potensi perikanan budidaya menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable. 1)

INDIKATOR 2010
Jumlah kelompok usaha perikanan budidaya yang memenuhi standar kelembagaan dan jumlah tenagakerja yang memiliki kopetensi. Jumlah usaha perikanan budidaya yang memperoleh SNI serta jumlah lembaga sertifikasi yang terakreditasi LSSM : lembaga sertifikat sistem mutu 157 kelompok 394 orang 936 unit usaha 19 Lab uji 3 LSSM 1.115.666 Ha, 70 potensi kawasan

2011
788 kelompok 1.182 orang 1.203 unit usaha 26 Lab uji 4 LSSM 1.167.666 Ha, 90 potensi kawasan

2012
1.576 kelompok 1.892 orang 1.826 unit usaha 33 Lab uji 7 LSSM 1.226.666 Ha, 100 potensi kawasan

2013
1.957 kelompok 1.970 orang 3.061 unit usaha 36 Lab uji 11 LSSM 1.291.666 Ha, 130 potensi kawasan

2014
3.388 kelompok 2.364 orang 4.948 unit usaha 43 Lab uji 15 LSSM 1.365.416 Ha, 150 potensi kawasan

2)

e.

Pengembangan Sistem Prasarana dan Sarana Pembudidayaan Ikan

f.

Pengawalan dan Penerapan Teknologi Terapan Adaptif Perikanan Budidaya

g.

Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perikanan Budidaya

Kawasan perikanan budidaya yang memiliki prasarana dan sarana sesuai kebutuhan. Sentra produksi perikanan budidaya yang memiliki komoditas unggulan dan menerapkan teknologi inovatif. Terlaksananya perencanaan, pengendalian dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Ditjen PB.

Luas lahan budidaya sesuai target produksi disertai data potensi yang akurat. Persentase unit usaha yang mendapatkan pelayanan sertifikasi sesuai standar dengan informasi yang akurat. Persentase perencanaan dan pelaporan pelaksanaan program kerja dan anggaran secara terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu.

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

5

2% pangsa ekspor 6 ragam produk ekspor US$ 2.4 juta ton 72 lokasi 5 lokasi 2.49 juta ton volume impor PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2) 3) 6 .2 Milyar nilai ekspor 2. Fasilitasi Pengembangan Industri Pengolahan Hasil Perikanan Meningkatnya volume produk olahan hasil perikanan dengan kemasan dan mutu terjamin 1) Jumlah sarana prasarana pengolahan sesuai target produksi pengolahan Jumlah sentra pengolahan Volume produksi dari UKM 58 lokasi 5 lokasi 2.2% pangsa ekspor 10 ragam produk ekspor US$ 4.35 juta ton volume impor 3.41 juta ton volume impor 3. nilai ekspor atau volume ekspor. penambahan jumlah ragam produk ekspor.2 Milyar nilai ekspor 1.7 juta ton 84 lokasi 5 lokasi 2.73 juta ton volume ekspor 0. serta jumlah impor terkendali sesuai standar dan kebutuhan. distribusi dan akses pasar hasil perikanan Jumlah pangsa pasar ekspor.3 juta ton 66 lokasi 5 lokasi 2.43 juta ton volume ekspor 0.5 juta ton 78 lokasi 5 lokasi 2. jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.9 Milyar nilai ekspor 1.2% pangsa ekspor 7 ragam produk ekspor US$ 3.2% pangsa ekspor 11 ragam produk ekspor US$ 5 miliar nilai ekspor 2.8 juta ton 3.TARGET NO PROGRAM 3 Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan Meningkatnya produk olahan bernilai tambah. investasi.32 juta ton volume impor 3.38 juta ton volume ekspor 0.28 juta ton volume impor KEGIATAN a.2% pangsa ekspor 9 ragam produk ekspor US$ 3.07 juta ton volume ekspor 0. 3.6 Milyar nilai ekspor 1.58 juta ton volume ekspor 0.

Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Dalam Negeri Hasil Perikanan Meningkatnya jumlah desa yang memiliki pasar yang mampu memfasilitasi penjualan hasil perikanan dan tingkat konsumsi ikan Meningkatnya jumlah pangsa pasar ekspor perikanan Meningkatnya jumlah nilai investasi (PMA dan PMDN) bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan dan jumlah unit pengolahan ikan yang memenuhi standar ketenagakerjaan 1) 2) d. pengolahan.061 pasar 33 provinsi 3 50 434 UPI 54 TPI 7000 pasar 33 provinsi 4 50 439 UPI 72 TPI 7000 pasar 33 provinsi 4 50 444 UPI 91 TPI 7000 pasar 33 provinsi 5 50 c. pengolahan dan distribusi hasil perikanan yang memperoleh sertifikasi sesuai standar nasional dan internasional 1) INDIKATOR 2010 Jumlah laboratorium sertifikasi yang memiliki sarana prasarana sesuai standar mutu laboratorium Jumlah kegiatan penanganan. PROGRAM/KEGIATAN Fasilitasi Pengembangan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan SASARAN Meningkatnya unit penanganan.TARGET NO b. Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Luar Negeri Hasil Perikanan Fasilitasi Pembinaan dan Pengembangan Sistem Usaha dan Investasi Perikanan e.280 UPI 860 UPI 7 . distribusi dan pengujian mutu hasil perikanan yang memperoleh SNI dan persyaratan internasional Jumlah laboratorium uji mutu hasil perikanan yang memperoleh akreditasi dari KAN Jumlah Unit Pengolahan Ikan (UPI) dan hasil perikanan yang bersertifikasi Jumlah pelelangan ikan dan pasar ikan yang berfungsi sesuai standar 17 lab 2011 22 lab 2012 12 lab 2013 18 lab 2014 20 lab 2) 179 SNI 199 SNI 219 SNI 239 SNI 259 SNI 3) 17 lab 22 lab 429 UPI 611 sertifkat 36 TPI 7000 pasar 33 provinsi 3 50 12 lab 18 lab 20 lab 4) 424 UPI 18 TPI 7. Jumlah lokasi pelaksanaan kegiatan Gemarikan (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan) 1) Jumlah penambahan negara tujuan ekspor 2) Jumlah UKM binaan yang berpotensi ekspor Jumlah unit usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang memenuhi standar ketenagakerjaan sesuai SKKNI 430 UPI 430 UPI 860 UPI 1.

pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki peta potensi dan arahan pemanfaatan yang terintegrasi.400.TARGET NO f. pengendalian. Meningkatnya penataan dan pemanfaatan sumber daya kelautan. Pengelolaan dan Pengembangan Konservasi Kawasan dan Jenis Terkelolanya 20% kawasan ekosistem terumbu karang. 2 kapal. 50 ribu ton 2) 23 kawasan 28 kawasan 33 kawasan 33 kawasan 28 kawasan 3) 800. kerjasama.000 usaha 300 unit KEGIATAN a. memiliki infrastruktur dasar serta jumlah ragam dan volume produk kelautan yang dikembangkan Jumlah kawasan laut. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan Ditjen P2HP.000 usaha 255 unit 2.700. evaluasi dan pelaporan program dan anggaran berdasarkan data yang terkini dan akurat (%) 2011 2012 2013 2014 100% 100% 100% 100% 100% PROGRAM 4 Program Pengelolaan Sumber Daya Laut.000. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil 1) Jumlah kawasan pesisir yang tahan terhadap ancaman kerusakan. 20 kawasan 3 kapal 100 ribu ton 30 kawasan 3 kapal 150 ribu ton 30 kawasan 2 kapal 100 ribu ton 50 kawasan 2 kapal 100 ribu ton 10 kawasan. akuntabel dan terkini serta terkendali pemanfaatannya Jumlah kelompok usaha mikro yang mandiri serta jumlah usaha mikro di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil kawasan konservasi laut dan kawasan konservasi perairan tawar dan payau yang dikelola secara berkelanjutan seluas 4. mangrove dan 15 jenis biota perairan yang terancam punah 1) 900 ribu ha 900 ribu ha 900 ribu ha 900 ribu ha 900 ribu ha 2) 9 Kawasan dan 3 jenis 9 Kawasan dan 3 jenis 9 Kawasan dan 3 jenis 9 Kawasan dan 3 jenis 9 Kawasan dan 3 jenis 8 .000 usaha 165 unit 1. pelaporan dan publikasi secara terintegrasi. lamun.100.5 juta ha Jumlah kawasan konservasi dan jenis biota perairan dilindungi yang diidentifikasi dan dipetakan secara akurat.000 usaha 210 unit 1. pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan dan mensejahterakan masyarakat INDIKATOR 2010 Perencanaan.000 usaha 120 unit 1. PROGRAM/KEGIATAN Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen P2HP SASARAN Terlaksananya seluruh perencanaan.

Deep sea water 2011 2012 2013 2014 6 kawasan 9 kawasan 11 kawasan 13 kawasan 11 kawasan 2) 23 kawasan 28 kawasan 33 kawasan 33 kawasan 28 kawasan c.100 ha 1.400 ha 1. 30 masterplan kluster pulaupulau kecil bernilai ekonomi tinggi serta 12 master plan kawasan sentra produksi kelautan Terkelolanya 50 Kawasan minapolitan yang tahan terhadap ancaman kerusakan dan mempunyai infrastruktur dasar. akuntabel dan terkini Jumlah luasan kawasan pesisir rusak yang pulih kembali.5 juta liter 2 kapal 100 ribu ton 2 juta liter 2 kapal 100 ribu ton 3 juta liter d. 50 masterplan minapolitan. serta 3 produk kelautan 1) INDIKATOR 2010 Jumlah kawasan laut dan pesisir yang memiliki peta potensi dan arahan pemanfaatan yang terintegrasi. ekosistem baik. Jumlah ragam dan volume produk kelautan yang dikembangkan pada kawasan pesisir dan lautan.440 ha 2) 2 kapal 50 ribu ton 200 ribu liter 3 kapal 100 ribu ton 500 ribu liter 3 kapal 150 ribu ton 1. Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Terwujudnya 200 pulau kecil yang memiliki infrastruktur mamadai.000 ha 1.BMKT . Pendayagunaan Pesisir dan Lautan 3) 60 ha 1.Garam . Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil SASARAN Tersedianya 145 rencana zonasi nasional/ provinsi/ kabupaten/ kota. dan 25 di antaranya terinvestasi 1) 2) Jumlah pulau kecil yang diidentifikasi dan dipetakan potensinya secara akurat termasuk pulau-pulau kecil terluar Jumlah pulau kecil yang memiliki infrastuktur memadai secara terintegrasi termasuk pulau-pulau kecil terluar 20 pulau 55 pulau 60 pulau 50 pulau 20 pulau 20 pulau 55 pulau 60 pulau 50 pulau 20 pulau 9 . siap terhadap bencana.TARGET NO b. akuntabel dan terkini Jumlah kawasan pulau-pulau kecil yang memiliki peta potensi dan arahan pemanfaatan yang terintegrasi. PROGRAM/KEGIATAN Penataan Ruang dan Perencanaan Pengelolaan Wilayah Laut. .

akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan Ditjen KP3K 90% 90% 90% 95% 95% PROGRAM 5 Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Indonesia bebas Illegal.Dana Pemberdayaan Masyarakat Desa/PNPM KP Tenaga pendamping Kelompok Usaha Mikro 2011 2012 2013 2014 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800. Unreported & Unregulated (IUU) Fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan 1) Persentase wilayah pengelolaan perikanan bebas IUU fishing Persentase pelaku tindak pidana kelautan dan perikanan yang divonis secara akuntabel dan tepat waktu serta persentase penurunan tindak pidana kelautan dan perikanan Jumlah usaha penangkapan ikan di wilayah bagian barat yang sesuai ketentuan Jumlah usaha penangkapan ikan di wilayah bagian timur yang sesuai ketentuan 62% 75% 82% 91% 100% 2) 55% 68% 81% 93% 100% KEGIATAN a Peningkatan Operasional Pengawasan Sumber Daya Perikanan Meningkatnya usaha perikanan yang sesuai ketentuan 1) 280 kapal 880 kapal 1.Pengembangan sarana usaha Mikro LKM . Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal KP3K Meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkungan Ditjen KP3K Persentase perencanaan dan kerjasama program anggaran secara terintegrasi.329 kapal 1. INDIKATOR 2010 Jumlah kelompok usaha mikro di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang bankable.680 kapal 2) 180 kapal 563 kapal 946 kapal 1.000 usaha 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800. .TARGET NO e.712 kapal 10 .000 usaha 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800.080 kapal 2.000 usaha f. beroperasinya sarana usaha mikro di 300 kabupaten/kota pesisir.000 usaha 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800.000 usaha 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800.480 kapal 2. PROGRAM/KEGIATAN Pelayanan Usaha dan Pemberdayaan Masyarakat SASARAN Meningkatnya keberdayaan dan kemandirian 2 juta usaha skala mikro di seluruh kawasan minapolitan pesisir.

akuntabel dan tepat waktu . akuntabel dan tepat waktu Kapal Pengawas 2) Speedboat Stasiun Radar Satelit Transmitter VMS 4 wilayah 7 wilayah perairan 3 WPP 2011 9 wilayah 14 wilayah perairan 3 WPP 2012 15 wilayah 21 wilayah perairan 4 WPP 2013 21 wilayah 28 wilayah perairan 5 WPP 2014 27 wilayah 40 wilayah perairan 5 WPP 2) c Peningkatan Operasional dan Pemeliharaan Kapal Pengawas Meningkatnya wilayah pengelolaan perikanan bebas IUU fishing 1) 2) 6 WPP 6 WPP 6 WPP 6 WPP 6 WPP d Pengembangan Sarana dan Prasarana Pengawasan dan Pemantuan Kapal Perikanan Terpenuhinya sarana dan prasarana pengawasan dengan rancang bangun dan sistem pemantauan yang terintegrasi dan tepat sasaran 1) 0 15 0 0 4 32 0 1 18 28 0 0 18 32 0 0 15 30 0 0 Pemenuhan prasarana pengawasan yang memadai secara terintegrasi.Kantor dan Bangunan Pengawas Dermaga Pos Pengawas 5 2 15 6 6 10 6 6 15 7 7 15 6 6 15 e Penyelesaian tindak pidana kelautan dan perikanan Meningkatnya pelaku tindak pidana kelautan dan perikanan yang divonis secara akuntabel dan tepat waktu serta persentase penurunan tindak pidana kelautan dan perikanan Jumlah Kapal yang diperiksa 4000 4666 7666 10666 13166 11 .TARGET NO b PROGRAM/KEGIATAN Peningkatan Operasional Pengawasan Sumber Daya Kelautan SASARAN Meningkatnya wilayah perairan Indonesia yang bebas kegiatan ilegal dan merusak 1) INDIKATOR 2010 Jumlah wilayah perairan yang bebas kegiatan perusakan ekosistem perairan Jumlah wilayah perairan yang bebas kegiatan pencemaran Jumlah wilayah pengelolaan perikanan bagian barat bebas IUU Fishing Jumlah wilayah pengelolaan perikanan bagian timur bebas IUU Fishing Jumlah pemenuhan sarana pengawasan yang memadai secara terintegrasi.

HKI (Hak Kekayaan Intelektual). SNI. inovasi teknologi dan produk biologi yang meningkatkan efisiensi produksi. kualitas dan keamanan komoditas unggulan 5 5 5 5 5 12 . kualitas dan keamanan komoditas unggulan. pengendalian dan pelaporan program anggaran dan SDM secara terintegrasi dan tepat waktu dengan administrasi yang akuntabel di lingkungan Ditjen P2SDKP 2011 2012 2013 2014 92% 94% 95% 97% 100% PROGRAM 6 Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan 1) Jumlah inovasi IPTEK yang : memperoleh pengakuan (HKI. direkomendasikan dan mempunyai model penerapan 3 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI. ragam varietas baru/unggul. SNI. pengendalian dan pelaporan program anggaran dan SDM secara terintegrasi dan tepat waktu dengan administrasi yang akuntabel di lingkungan Ditjen P2SDKP Termanfaatkannya hasil riset dan inovasi IPTEK kelautan dan perikanan INDIKATOR 2010 Persentase perencanaan. ragam. Jumlah rekomendasi pengelolaan 6 buah 6 buah 4 buah 4 buah 3 buah b. penghargaan) 2 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI.TARGET NO f. penghargaan) 3 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI. penghargaan) 3 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI. PROGRAM/KEGIATAN Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen P2SDKP SASARAN Terlaksananya perencanaan. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Budidaya Jumlah rekomendasi yang meningkatkankan efisiensi produksi. SNI. dan Penghargaan). kebutuhan konservasi SDInya serta jumlah inovasi teknologi dan rekomendasi pengelolaannya. SNI. penghargaan) 2) Hasil riset yang menjadi rekomendasi basis kebijakan dan di publikasikan 5 6 7 8 10 KEGIATAN a. SNI. SNI. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Tangkap Wilayah perairan Indonesia yang teridentifikasi potensi produksi. karakteristik. penghargaan) 2 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI. rekomendasi.

5 paket data terkait SDNH. instrumentasi kelautan. pesisir. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kewilayahan. rekomendasi serta inovasi teknologi dan bioteknologi yang meningkatkan efisiensi pengolahan secara optimal. pesisir dan pulau-pulau kecil yang teridentifikasi potensi. kebutuhan konservasi SDNHL dan fenomena alamnya serta jumlah rekomendasi pengelolaan dan model pemanfaatannya. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan HKI. kualitas dan keamanan produk unggulan/ prospektif. 5 paket data terkait SDNH.laut. nilai tambah. nilai tambah. rekomendasi serta inovasi teknologi dan bioteknologi yang meningkatkan efisiensi pengolahan secara optimal. serta pulaupulau kecil 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. eksploitasi. pengawasan. Jumlah HKI (Hak Kekayaan Intelektual). dan laut 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. 3 Paket Teknologi 3 Paket Teknologi 1 HKI. 5 paket data terkait SDNH. 5 paket data terkait SDNH. 5 paket data terkait SDNH. INDIKATOR 2010 Jumlah rekomendasi dan inovasi teknologi perlindungan. dan laut e. mitigasi/adaptasi bencana dan perubahan iklim yang meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya kelautan Wilayah laut. dan laut 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. energy terbarukan. Dinamika dan Sumber Daya Nonhayati Pesisir dan Laut Jumlah rekomendasi pengelolaan dan model pemanfaatannya. PROGRAM/KEGIATAN Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan SASARAN Rekomendasi dan inovasi teknologi perlindungan pantai. ragam. karakteristik. dan laut 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. ragam. pesisir. eksploitasi. maritim. pengawasan. pesisir. dan laut 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. eksplorasi. serta Jumlah paket data terkait dengan fenomena alam dan sumber daya non hayati di wilayah pesisir . pesisir. instrumentasi kelautan. eksplorasi. mitigasi/adaptasi bencana dan perubahan iklim yang meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan 2 Rekomendasi 2011 2 Rekomendasi 2012 2 Rekomendasi 2013 2 Rekomendasi 2014 2 Rekomendasi 9 Inovasi 9 Inovasi 9 Inovasi 9 Inovasi 9 Inovasi d. 3 Paket Teknologi 1 HKI. 1 Rekomendasi 3 Paket Teknologi 4 Paket Teknologi 13 .TARGET NO c. maritim. pesisir. kualitas dan keamanan produk unggulan/ prospektif.

260 orang KEGIATAN a. 4 Rekomendasi 2011 4 Rekomendasi 2012 4 Rekomendasi 2013 4 Rekomendasi 2014 4 Rekomendasi 4 Model 4 Model 4 Model 4 Model 4 Model g.TARGET NO f. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan BRKP.900 aparatur 15. anggaran. PROGRAM/KEGIATAN Penelitian dan Perekayasaan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan SASARAN Rekomendasi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan dan model pengembangan usaha dan pemasaran berbasis minapolitan. Perencanaan.103 aparatur 8. Penyuluhan Kelautan dan Perikanan Jumlah kelompok potensi perikanan yang disuluh 300 Kelompok di 50 kawasan 400 Kelompok di 50 kawasan 500 Kelompok di 50 kawasan 600 Kelompok di 50 kawasan 700 Kelompok di 50 kawasan 14 .160 masyarakat 1. serta publikasi terintegrasi.190 orang 1. pengendalian dan pelaporan pelaksanaan program serta penganggaran secara terintegrasi.600 aparatur 12. fasilitasi HKI.000 masyarakat 1. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BRKP 85% 85% 90% 90% 95% PROGRAM 7 Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan Lulusan pendidikan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dan dapat diserap untuk kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha dan dunia industri 980 orang 1.000 masyarakat 1.300 aparatur 10000 masyarakat 1.050 orang 1. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan BRKP SDM KP memiliki kompetensi sesuai kebutuhan INDIKATOR 2010 Jumlah rekomendasi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan dan model pengembangan usaha dan pemasaran berbasis minapolitan Persentase perencanaan.200 aparatur b.000 masyarakat 2. pengendalian. Pelatihan Kelautan dan Perikanan Terselenggaranya pelatihan yang sesuai standar serta persentase lulusan yang meningkat kinerjanya sesuai standar kompetensi dan kebutuhan pasar Meningkatnya kawasan potensi perikanan yang memiliki kelompok pelaku utama yang mandiri dalam mengembangkan usaha perikanan Jumlah lulusan pelatihan yang sesuai standar serta jumlah lulusan yang meningkat kinerjanya sesuai standar kompetensi dan kebutuhan pasar 6. pelaporan program.120 orang 1. pengelolaan SDM.

TARGET NO c. keuangan. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan BPSDMKP. keuangan dan BMN yang akuntabel dan tepat waktu 30% 40% 50% 60% 70% b. PROGRAM/KEGIATAN Pendidikan Kelautan dan Perikanan SASARAN Terpenuhinya tenaga terdidik kompeten sesuai standar dan kebutuhan serta prioritas nasional Persentase perencanaan.400 orang 2014 1. SPIP dan Tindak Lanjut Temuan satker lingkup DKP yang akuntabel dan tepat waktu INDIKATOR 2010 Jumlah lulusan pendidikan yang kompeten sesuai standard dan kebutuhan serta prioritas nasional Persentase perencanaan dan kerjasama program anggaran secara terintegrasi. akuntabel dan tepat waktu 30% 40% 50% 60% 70% KEGIATAN a. BMN. pengendalian. keuangan dan BMN yang akuntabel dan tepat waktu Persentase satker mitra lingkup Ditjen PT dan Ditjen P2SDKP yang melaksanakan pengelolaan administrasi.400 orang 2012 1.400 orang 2011 1.400 orang 2013 1. pelaporan dan publikasi terintegrasi. Pengelolaan administrasi.400 orang d. 1. Laporan hasil pengawasan Ditjen PT dan Ditjen P2SDKP 30% 40% 50% 60% 70% 15 . akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan BPSDMKP. Pengawasan akuntabilitas aparatur pada unit kerja Sekretariat Jenderal (Setjen) dan BPSDMKP dan pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen Perikanan Tangkap dan Ditjen P2SDKP serta pelaksana pembangunan KP Laporan hasil pengawasan Setjen dan BPSDMKP Persentase satker lingkup Setjen dan BPSDMKP yang melaksanakan pengelolaan administrasi. Dukungan Manajemen Dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BPSDM KP 100% 100% 100% 100% 100% PROGRAM 8 Pengawasan dan peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP Persentase rekomendasi hasil pengawasan dimanfaatkan untuk peningkatan kinerja dan perbaikan sistem pengendalian di lingkup DKP yang terintegrasi.

keuangan dan BMN yang akuntabel dan tepat waktu 30% 40% 50% 60% 70% e. akuntabel dan tepat waktu Persentase tercapainya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya di lingkup KKP 40% 50% 60% 70% 80% PROGRAM 9 Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya lingkup KKP 100% 100% 100% 100% 100% 16 . PROGRAM/KEGIATAN Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen Perikanan Budidaya dan Ditjen KP3K serta pelaksana pembangunan KP SASARAN Laporan hasil pengawasan Ditjen PB dan Ditjen KP3K INDIKATOR 2010 Persentase satker lingkup Ditjen PB dan Ditjen KP3K yang melaksanakan pengelolaan administrasi. Pengawasan akuntabilitas aparatur dengan tujuan tertentu pada pelaksana pembangunan KP dan pengawasan pada unit kerja Inspektorat Jenderal Dukungan manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Itjen Laporan hasil pengawasan dengan tujuan tertentu dan pelaksanaan SPIP Persentase satker lingkup KKP yang melaksanakan SPIP dan Tindak Lanjut Temuan yang akuntabel dan tepat waktu 30% 40% 50% 60% 70% f. anggaran dan SDM secara terintegrasi. anggaran dan SDM Persentase perencanaan. Laporan perencanaan. pengendalian. pelaporan pelaksanaan program. Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen P2HP dan BRKP serta pelaksana pembangunan KP Laporan hasil pengawasan Ditjen P2HP dan BRKP Persentase satker lingkup Ditjen P2HP dan BRKP yang melaksanakan pengelolaan administrasi. keuangan dan BMN yang akuntabel dan tepat waktu 2011 2012 2013 2014 30% 40% 50% 60% 70% d.TARGET NO c. pengendalian. pelaporan pelaksanaan program.

dan tepat waktu dan BLU pembiayaan. Persentase perencanaan jangka menengah dan panjang yang terintegrasi. pengendalian. kerumahtanggaan. Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan Penunjang Pelaksanaan Tugas KKP Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang tata usaha pimpinan. dan pelaporan terintegrasi. menengah dan panjang yang terintegrasi. akuntabel. akuntabel dan tepat waktu Persentase pengendalian dan pelaporan program kerja jangka pendek dan menengah yang terintegrasi. pelaksanaan. Penganggaran dan Monev Pembangunan KP Persentase perencanaan. pengelolaan perlengkapan dan administrasi persuratan dan kearsipan 65% 75% 80% 85% 90% 60% 70% 75% 80% 90% 60% 70% 75% 80% 90% 65% 75% 80% 85% 90% 17 . akuntabel dan tepat waktu Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang tata usaha pimpinan Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang kerumahtanggaan Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang pengelolaan perlengkapan Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang administrasi persuratan dan kearsipan 2011 2012 2013 2014 60% 65% 70 % 75 % 80% 60% 65% 70 % 75 % 80% 60% 65% 70 % 75 % 80% 60% 65% 70 % 75 % 80% b. akuntabel dan tepat waktu Persentase perencanaan anggaran jangka pendek. akuntabel dan tepat waktu serta jumlah lintas sektor yang terintegrasi dengan perencanaan KKP Persentase perencanaan program kerja jangka pendek yang terintegrasi.TARGET NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 2010 KEGIATAN a. Pembinaan dan Koordinasi Perencanaan.

98%. termasuk tuntutan ganti rugi LHA. akuntabel dan tepat waktu Persentase pelaksanaan anggaran dan penyelesaian ganti rugi. yang terintegrasi. 86% 100%. 97% 100%. serat pelayanan bantuan hukum yang akuntabel INDIKATOR 2010 Persentase pemenuhan peraturan perundang-undangan sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global Persentase efektivitas dan kemutakhiran hukum laut sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global serta jumlah analisis dan rekomendasi yang diberikan Persentase efektivitas dan kemutakhiran perjanjian dan perizinan sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global serta persentase pelayanan bantuan hukum yang akuntabel Persentase efektivitas dan kemutakhiran organisasi dan tata laksana sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global. PROGRAM/KEGIATAN Pembinaan dan Koordinasi Penyiapan Produk Hukum dan Penataan Organisasi KKP SASARAN Persentase pemenuhan peraturan perundangundangan serta efektivitas dan kemutakhiran hukum laut. 98% 90% 95% 97% 98% 100% 85% 90% 95% 98% 100% 85% 90% 95% 98% 100% 18 . perjanian. dan tepat waktu Persentase revisi anggaran.TARGET NO c. perizinan. akuntabel dan tepat waktu Persentase administrasi pengelolaan keuangan yang terintegrasi. akuntabel. 100%. akuntabel dan tepat waktu 100%. 95%. 97%. Pembinaan Pelaksanaan dan Koordinasi Pengelolaan Keuangan KKP Persentase pengelolaan keuangan dan pelaksanaan anggaran yang terintegrasi. 100%. organisasi dan tata laksana sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global. akuntabel dan tepat waktu Persentase akuntansi dan pelaporan keuangan yang terintegrasi. penyiapan standar biaya khusus dan pengelolaan PNBP yang terintegrasi. serta persentase Unit Kerja yang memiliki POS (Prosedur Operasional Standar) yang terintegrasi 50% 2011 60% 2012 70% 2013 80% 2014 90% 50% 60% 70% 80% 90% 50% 60% 70% 80% 90% 50% 60% 70% 80% 90% d. 95% 100%. 90% 100%.

akuntabel dan tepat waktu Persentase pelayanan pengangkatan dan mutasi pegawai yang terintegrasi. Pengembangan Data Satistik dan Informasi KP Persentase unit kerja pusat dan provinsi yang terintegrasi dalam sistem informasi menajemen KKP dengan data yang lengkap. akuntabel. terkini dan akuntabel serta terbangunnya citra positif KKP 25% 41 % 57 % 73% 90% 75% 79 % 83 % 87% 90% 80% 83 % 85 % 88% 90% 55% 64 % 73 % 82% 90% 19 . akuntabel dan tepat waktu Persentase administrasi jabatan fungsional yang terintegrasi. akuntabel dan tepat waktu Persentase kelengkapan data dan statistik kelautan dan perikanan terkini dan akuntabel Persentase unit kerja yang terintegrasi dalam sistem informasi manajemen KKP antara pusat dan provinsi Jumlah stakeholder yang mendukung program KKP serta terbangunnya citra positif KKP Persentase perencanaan. pengendalian. pelaporan yang terintegrasi. dan tepat waktu INDIKATOR 2010 Persentase Unit Kerja yang memiliki alokasi SDM kompeten sesuai kebutuhan dengan sistem kaderisasi yang terintegrasi. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Pusdatin 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 2014 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 90% 92% 95% 97% 98% f. PROGRAM/KEGIATAN Pembinaan dan Pengelolaan Kepegawaian KKP SASARAN Persentase unit kerja yang memiliki alokasi SDM kompeten sesuai kebutuhan dengan sistem kaderisasi dan administrasi kepegawaian yang terintegrasi.TARGET NO e. akuntabel dan tepat waktu Persentase administrasi kepegawaian yang terintegrasi.

evaluasi dan pelaporan kegiatan secara terintegrasi.TARGET NO g.34% 2011 70 % 2012 75% 2013 80% 2014 83.34% 75 % 80 % 85 % 90 % 95 % 75 % 80 % 85 % 90 % 95 % 90 % 92 % 94 % 96 % 98 % 75 % 80 % 85 % 90 % 95 % 90 % 92 % 94 % 96 % 98 % 75 % 80 % 85 % 90 % 95 % 20 . ekspor dan antar area yang bebas hama penyakit ikan karantina Persentase administrasi yang terintegrasi. kerjasama. ekspor dan antar area yang bebas hama penyakit ikan karantina dengan laboratorium karantina yang sesuai standar OIE dan SNI di wilayah kerjanya Jumlah rekomendasi standar pengujian laboratorium karantina ikan yang terkini. akuntabel dan tepat waktu 63. ekspor dan antar area yang bebas hama penyakit ikan karantina dengan laboratorium karantina yang sesuai standar OIE dan SNI INDIKATOR 2010 Persentase pencapaian bebas penyakit ikan di karantina ikan Persentase perencanaan. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Puskari Persentase laboratorium karantina ikan yang menerapkan inovasi metode pengujian yang terkini sesuai standar OIE dan SNI serta berfungsinya sistem informasi karantina secara online Persentase media pembawa hama penyakit ikan impor. PROGRAM/KEGIATAN Pengembangan dan Pembinaan Perkarantinaan Ikan SASARAN Persentase media pembawa hama penyakit ikan impor. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Puskari Persentase media pembawa hama penyakit ikan impor.

PROGRAM/KEGIATAN Pengembangan dan Pembinaan Kerja Sama Internasional dan Antarlembaga Bidang KP SASARAN Persetase kerjasama dan antar kebutuhan tantangan keberhasilan internasional lembaga sesuai nasional dan global INDIKATOR 2010 Persentase keberhasilan kerja sama internasional sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global Persentase keberhasilan kerja sama antar lembaga sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global Persentase perencanaan. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Puskita Persentase fasilitasi perumusan kebijakan kelautan. perencanaan. pengendalian. publikasi dan dokumentasi. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan DEKIN 50% 55 % 62% 70 % 80% 50% 55 % 62% 70 % 80% 50% 55 % 62% 70 % 80% Disalin sesuai dengan aslinya Kepala Biro Hukum dan Organisasi MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R. perlengkapan dan kerumahtanggaan yang akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Dekin 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 2014 100% 100% 100% 100% 100% 100% 92% 95% 98% 99% 100% i. ttd. Perumusan dan Pengembangan Kebijakan Kelautan Persentase perencanaan. monitoring evaluasi serta pelaporan secara terintegrasi. FADEL MUHAMMAD Supranawa Yusuf 21 .TARGET NO h. pelaporan yang terintegrasi. ketatausahaan. pengendalian. pelaporan dan publikasi terintegrasi. kerjasama.I. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Dekin Persentase administrasi keuangan yang akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Dekin Persentase administrasi kepegawaian.

145 2.0 1.3 126. Pengembangan Sistem Produksi Pembudidayaan Ikan Pengembangan Sistem Perbenihan Ikan Pengembangan Sistem Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pembudidayaan Ikan Pengembangan Sistem Usaha Pembudidayaan Ikan Pengembangan Sistem Prasarana dan Sarana Pembudidayaan Ikan Pengawalan dan Penerapan Teknologi Terapan Adaptif Perikanan Budidaya Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen. d.8 1.8 55.104 1.8 1.8 534.8 89.3 466.5 1.7 53.7 126.6 Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap 700 2011 2012 2013 2014 TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) 1.4 53.1 125.0 4.084.4 100.8 48.2 151.4 79. d. Tertib.3 61.4 .6 354.7 93.058.0 178.7 62.6 71.0 620.3 176.7 683.5 133.6 82. e. g. c.6 62.06/MEN/2010 06/MEN/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN NO PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Milyar Rp) 2010 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN PROGRAM 1 KEGIATAN a.0 6.9 35.971.0 120.5 29. e.8 107.641.331.638 2.5 254. PROGRAM 2 KEGIATAN a.6 124.9 50.1 666.0 88.9 37.1 212.Lampiran III : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.0 791. dan Pengawakan Kapal Perikanan Pengembangan Pembangunan dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pelayanan Usaha Perikanan Tangkap yang Efisien.557 8.6 46.5 205.9 454.9 138.7 217.1 150.2 211.4 c. Pengelolaan Sumber Daya Ikan (SDI) Pembinaan dan Pengembangan Kapal Perikanan.9 179.2 50.2 139.2 94.9 134. dan Berkelanjutan Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan dan Pemberdayaan Nelayan Skala Kecil Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perikanan Tangkap 37. Alat Penangkap Ikan.6 146. b.0 88.6 1.9 120.1 239.7 54. Perikanan Budidaya 66.208.2 865.6 384.9 1. b.145 53.8 157.8 200.2 27.224.9 23.0 234.2 155.6 103.4 667.3 678.3 91.1 131. f.5 46.6 56.5 455.0 219. f.5 30.6 Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya 516.109.

4 264.1 119.5 220.9 3.5 233.2 44.049. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil 495. c.4 21. Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Pendayagunaan Pesisir dan Lautan Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Pelayanan Usaha dan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen KP3K 73.6 345.4 110. c.9 10.4 1.5 19.8 144.0 200.5 51.5 100.4 114.2 35.7 303.5 544.5 122.5 1.5 240.8 237.7 105.1 244.9 93. e.1 31.9 30.3 18.4 910.6 142.2 PROGRAM 4 KEGIATAN a.0 Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan 206.5 266.4 518.9 253.7 35.8 79.8 108. f.5 21.8 152. Peningkatan Operasional Pengawasan Sumber Daya Perikanan Peningkatan Operasional Pengawasan Sumber Daya Kelautan Peningkatan Operasional dan Pemeliharaan Kapal Pengawas Pengembangan Sarana dan Prasarana Pengawasan dan Pemantuan Kapal Perikanan Penyelesaian tindak pidana kelautan dan perikanan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen P2SDKP 23.3 3.2 56.3 771.9 22. d.7 69.1 87. f.1 429.5 578.1 404.2 102.2 98.8 590.0 317.5 31.9 33. b.1 46.9 Program Pengelolaan Sumber Daya Laut.3 20.7 76.9 176.0 122.1 745.3 368.9 170.0 PROGRAM 5 KEGIATAN a b c d e f.2 76.7 17.8 11.5 75.2 107. b.300.6 28.0 55.0 245.8 435.0 17.7 151.7 27.4 3.8 105.2 109.0 47.7 110.4 481. d.2 49.2 13.0 1.4 26.5 329.2 62.6 109.9 94.7 109.3 76.0 62.2 76.856.6 2 .6 114.4 456.7 40.0 62.0 804.0 16.617.0 15.3 49.0 190.2 15.0 216.585.9 625.020.8 40.0 616.3 536. e.8 Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan 324.3 75.9 35.5 881. Pengelolaan dan Pengembangan Konservasi Kawasan dan Jenis Penataan Ruang dan Perencanaan Pengelolaan Wilayah Laut.4 1.3 53.NO PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Milyar Rp) 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) PROGRAM 3 KEGIATAN a.2 117.2 18.1 103. Fasilitasi Pengembangan Industri Pengolahan Hasil Perikanan Fasilitasi Pengembangan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Dalam Negeri Hasil Perikanan Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Luar Negeri Hasil Perikanan Fasilitasi Pembinaan dan Pengembangan Sistem Usaha dan Investasi Perikanan Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen P2HP 37.5 72.2 65.1 53.0 166.

0 90.9 283.7 25.5 141.2 672.7 e.0 413. PROGRAM 7 KEGIATAN a.6 447.7 32.0 195. Pengawasan akuntabilitas aparatur pada unit kerja Sekretariat Jenderal (Setjen) dan BPSDMKP dan pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen Perikanan Tangkap dan Ditjen P2SDKP serta pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen Perikanan Budidaya dan Ditjen KP3K serta pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen P2HP dan BRKP serta pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur dengan tujuan tertentu pada pelaksana pembangunan KP dan pengawasan pada unit kerja Inspektorat Jenderal Dukungan manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Itjen 3.0 85.0 177. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Tangkap Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Budidaya Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kewilayahan.0 b.6 117.6 f.6 55.3 106.7 58.9 206.0 57.0 211.8 91.0 22.8 45.0 52.8 2. b.2 23.0 44.0 2.0 50.4 112.0 5.0 95.1 117.5 240.4 47.1 70. g.8 347.0 80.0 80.0 70.2 60.1 365.5 183. f.4 242.0 74.0 101.0 712. 19.0 4.0 11.5 52.0 15.7 50.0 85.7 3 .7 119.0 21.0 3.7 70.0 35.8 474.0 273. PROGRAM 8 KEGIATAN a.0 5. c. d.0 55.0 97.0 5. d.6 60.0 6.6 147.0 4.3 123. Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan 257.8 15. d.0 90.8 260.1 Pengawasan dan peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP 43.0 19.0 34.721.0 3.0 50.7 Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan 273.2 Pelatihan Kelautan dan Perikanan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan Pendidikan Kelautan dan Perikanan Dukungan Manajemen Dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BPSDM KP 19.0 3. c.5 2.0 4.348.NO PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Milyar Rp) 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) PROGRAM 6 KEGIATAN a.0 3.0 60.0 3.6 578.0 3.0 28.0 229.0 60.3 129.8 528.0 4. e. Dinamika dan Sumber Daya Nonhayati Pesisir dan Laut Penelitian dan Pengembangan IPTEK Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Penelitian dan Perekayasaan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BRKP 104.2 922.4 590. b.0 4.1 963. c.0 4.0 241.0 50.9 582.0 5.0 4.0 38.0 6.9 42.0 74.0 434.0 55.8 94.0 4.2 624.0 24.5 47.0 4.0 5.0 64.0 5.

0 92.0 16. g.8 57. f.0 16.3 c d.0 16. i.0 93.105.0 18.0 11.0 131.063. Pembinaan dan Koordinasi Perencanaan.0 64.0 14.0 92.0 55. TOTAL ALOKASI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2010-2014 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R.0 324.0 18.0 204.243.0 25. ttd.1 291.2 9.NO PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Milyar Rp) 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) PROGRAM 9 KEGIATAN a.0 14.1 29.153.0 8.4 12. e.0 12.0 21.0 59.0 14.9 10. FADEL MUHAMMAD 4 .0 542.8 8.0 257.2 4.00 7.0 19.7 66.0 12.0 Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP 194.702.0 271.0 1.0 469.00 10.0 22.0 405.0 12. Penganggaran dan Monev Pembangunan KP Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan Penunjang Pelaksanaan Tugas Kementerian Kelautan dan Perikanan Pembinaan dan Koordinasi Penyiapan Produk Hukum dan Penataan Organisasi KKP Pembinaan Pelaksanaan dan Koordinasi Pengelolaan Keuangan KKP Pembinaan dan Pengelolaan Kepegawaian KKP Pengembangan Data Satistik dan Informasi KP Pengembangan dan Pembinaan Perkarantinaan Ikan Pengembangan dan Pembinaan Kerja Sama Internasional dan Antarlembaga Bidang KP Perumusan dan Pengembangan Kebijakan Kelautan 15.0 20.7 30.I.0 56.0 326.0 84.0 1.2 13.7 131.0 20.0 133. b.0 543.4 1.0 1.0 132.205.8 732.9 961. h.

940 2.678.300 107.480 2.697.150 5.200 5.720 41.490 3.490 2.640 492.Perahu Motor Tempel .530 5.160 1.730.590 2.780 488.440 107.100 68.161.077.980 2.412.870 1.830 102.420 6.660 2.686.680 6.930 596.637.650 274.500 29.760 59.700 909.870.350 2.310 2.800.505.430 53.754.650 496.052.905.580 75.030 8.477.930 5. Tabel Proyeksi Peningkatan Produksi Perikanan Tangkap No Rincian 20091) 20102) 20113) 20123) 20133) 20143) 1 Produksi (Ton) .963.863.285.219.741.310 4.210 6.630 494.Perairan Umum 3 Jumlah Kapal Penangkap Ikan di Laut (Buah) .570 4.589.690 490.984.Perairan Umum 5 Jumlah Nelayan (Orang) .610 56.280 9.550 11.300 5.710 1.070 5.042.380 95.Lampiran IV : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.260 59.460 596. 06/MEN/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 PROYEKSI PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN TAHUN 2010-2014 A.Perairan Umum Keterangan : 1) Angka sementara 2) Angka perkiraan 3) Angka proyeksi .900 1.530 5.370 4.680 4.040 2.237.840 1.670 87.838.596.720 71.150 1.830 35.Perairan Umum 6 Rata-rata pendapatan/ nelayan (Rp/Bln) .06/MEN/2010R.620 596.560 65.720 5.510 2.260.400 13.510 2.282.880 3.590 328.000.240 878.506.342.KM > 50 GT 4 Rata-rata pendapatan/ (RTP/PP) (Rp/Bln) .023.720 2.430 4.752.900 513.900 92.590 2 Nilai Produksi (Rp 1.045.349.850 119.650 2.540 1.880 59.Perahu Tanpa Motor .100 119.900 47.170 7.310 3.400 596.213.083.348.090 83.846.KM 10 .230 205.460 233.Laut .020 4.053.130 612.470 519.708.710 208.850 23.039.750 95.300 149.820 35.789.680 77.900 486.850 1.620 4.360 5.50 GT .410 495.540 35.961.219.KM < 5 GT .070 118.257.719.440 4.040 733.590 30.270 1.732.543.759.450 1.370 101.228.720 1.530 596.312.000) .750 526.480.814.350 50.630 3.KM 30 .530 109.804.570 1.910 11.Perairan Umum 5.821.790 47.133.Laut .237.480 1.180.103.10 GT .161.426.430 79.150 1.540 77.790 47.30 GT .390 107.890 979.780 149.804.930 17.366.820 5.190 750 3.KM 5 .880 2.380 29.510.Laut .164.255.820 596.210.880 501.102.058.718.246.450 2.330 23.Laut .140.080 113.890 2.040 507.420 101.Laut .609.570 5.

Nusatenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku . Proyeksi Produksi Perikanan Tangkap di Laut Menurut Provinsi (Ton) Provinsi Jumlah Sumatera Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali .B.Papua Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 2009 1 2010 2 2011 3 2012 3 2013 3 2014 3 4 789 410 1 446 900 132 360 361 130 190 520 89 550 229 630 44 760 39 370 153 300 58 730 147 550 965 720 56 900 147 410 179 730 178 080 2 000 401 600 297 640 97 770 100 820 99 050 328 820 77 410 49 060 108 460 93 890 952 170 209 990 64 090 141 600 254 790 69 520 212 180 798 160 321 280 145 830 229 240 101 810 4 846 880 1 464 260 133 950 365 460 192 810 90 620 232 390 45 300 39 840 155 140 59 430 149 320 977 310 57 580 149 180 181 890 180 220 2 020 406 420 301 210 98 940 102 030 100 240 332 770 78 340 49 650 109 760 95 020 963 590 212 500 64 860 143 300 257 850 70 350 214 730 807 740 325 140 147 580 231 990 103 030 4 905 040 1 481 830 135 560 369 850 195 120 91 710 235 180 45 840 40 320 157 000 60 140 151 110 989 030 58 270 150 970 184 070 182 380 2 040 411 300 304 820 100 130 103 250 101 440 336 780 79 280 50 250 111 080 96 170 975 150 215 050 65 640 145 020 260 940 71 190 217 310 817 430 329 040 149 350 234 770 104 270 4 963 900 1 499 600 137 190 374 290 197 460 92 810 238 000 46 390 40 800 158 880 60 860 152 920 1 000 920 58 970 152 780 186 280 184 570 2 080 416 240 308 480 101 330 104 490 102 660 340 810 80 230 50 850 112 410 97 320 986 850 217 630 66 430 146 760 264 070 72 040 219 920 827 240 332 990 151 140 237 590 105 520 5 023 470 1 517 610 138 840 378 780 199 830 93 920 240 860 46 950 41 290 160 790 61 590 154 760 1 012 920 59 680 154 610 188 520 186 780 2 100 421 230 312 180 102 550 105 740 103 890 344 900 81 190 51 460 113 760 98 490 998 690 220 240 67 230 148 520 267 240 72 900 222 560 837 170 336 990 152 950 240 440 106 790 5 083 750 1 535 810 140 510 383 300 202 230 95 050 243 750 47 510 41 790 162 720 62 330 156 620 1 025 080 60 400 156 470 190 780 189 020 2 130 426 280 315 930 103 780 107 010 105 140 349 040 82 160 52 080 115 130 99 670 1 010 670 222 880 68 040 150 300 270 450 73 770 225 230 847 220 341 030 154 790 243 330 108 070 Keterangan : 1) Angka sementara 2) Angka perkiraan 3) Angka proyeksi 2 .

Papua Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Keterangan : 1) Angka sementara 2009 1 2010 2 2011 3 2012 3 2013 3 2014 3 196 230 20 070 9 010 7 670 2 250 450 690 13 470 60 4 920 2 180 1 760 170 4 380 21 610 18 130 2 040 1 440 120 120 105 750 55 500 9 750 5 790 4 510 24 820 5 380 35 210 12 640 9 850 5 270 7 450 198 580 20 320 9 120 7 760 2 280 460 700 13 630 60 4 980 2 210 1 780 170 4 430 21 870 18 350 2 060 1 460 120 120 107 010 56 160 9 870 5 860 4 560 25 120 5 440 35 630 12 790 9 970 5 330 7 540 200 960 20 570 9 230 7 850 2 310 470 710 13 790 60 5 040 2 240 1 800 170 4 480 22 130 18 570 2 080 1 480 130 130 108 290 56 830 9 990 5 930 4 610 25 420 5 510 36 050 12 940 10 090 5 390 7 630 203 370 20 820 9 340 7 940 2 340 480 720 13 950 60 5 100 2 270 1 820 170 4 530 22 390 18 790 2 100 1 500 130 130 109 600 57 510 10 110 6 000 4 670 25 730 5 580 36 480 13 100 10 210 5 450 7 720 205 810 21 080 9 450 8 040 2 370 490 730 14 110 60 5 160 2 300 1 840 170 4 580 22 670 19 020 2 130 1 520 130 130 110 900 58 180 10 230 6 070 4 730 26 040 5 650 36 920 13 260 10 330 5 520 7 810 208 280 21 340 9 560 8 140 2 400 500 740 14 270 60 5 220 2 330 1 860 170 4 630 22 950 19 250 2 160 1 540 130 130 112 230 58 880 10 350 6 140 4 790 26 350 5 720 37 360 13 420 10 450 5 590 7 900 2) Angka perkiraan 3) Angka proyeksi 3 .C.Nusatenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku . Proyeksi Produksi Tuna Menurut Provinsi (Ton) Provinsi Jumlah Sumatera Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung J a w a Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali .

760 1.179 239.847.500 171.599 71.718 32.630 76.08 23.805 132.520 15.140 86.315 62.320 223.851 428.141 177.498 42.900 268.360 270.382 199.99 25.505 567.179 314.060 361.230 121.037 196.801 Tahun 2011 6.900 302.36 37.I.484 179.449 29.144 38.493 601.533 32.680 100.939 8.100 47.985 32.950 132.48 17.450 169.05 52.139 Kenaikan (%/th) 29.037 8.161 153.440.038 12.212 27.785 906.168 186.460 108.955 104.261 13.320 196.302 29.113 43.88 21.277 938.023 645.19 20.41 60.999 23.979 2012 9.800 147.323 758.002 942.951 635.382 47.452 222.069 44.185 112.907 72.640 318.825 19.100 538.380 166.700 944.20 0 60.703 203.937 129.405 915.730 643.447 411.649 2013 13.07 30.43 17.509 2014 16.651 181.960 25. Proyeksi Produksi Perikanan Budidaya Menurut Provinsi No Provinsi 2009 2010 5.182 326.733 65.65 56.148 230.680 202.69 9 118.241 374.91 16.60 34.220 308.995 86.670 653.867 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 4 .198 55.065 150.913.193 223.950 334.459 116.736 562.037 168.906 130.500 96.458 86.78 130.78 31.376.420 222.431 72.095 61.613.699 215.66 43.168 47.092 41.720 285.78 14.500 32.708 380.895 62.616 7.077 107.360 11.812 139.370 100.830 25.668 126.747 12.290 1.296 146.050 334.897 1.67 23.706 185.127.331 130.924 282.872 454.724 21.058 30.452 82. Yogyakarta Jawa Timur B a l i 4.891.154 328.722 735.500 270.48 64.000 175.11 75.409 883.443 105.034 180.339 56.85 77.988 200.280 232.563 113.455 179.217.076 142.674 86.286 53.930 503.71 Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat R i a u Kepulauan Riau J a m b i Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Banten Jawa Barat Jawa Tengah D.22 23.637 104.260 854.188 383.361 37.731 288.784 797.41 48.699 484.920 1.35 47.329 13.840 164.680 19.434 77.39 40.100 1.290 683.269.780.189.032 1.013 701.973 186.852 47.050 1.878 244.668 96.690 82.316 236.480 79.140 40.649 241.182 210.51 51.239 106.073 826.728 59.730 950.11 31.056 65.420 131.76 22.661 33.01 48.453 54.46 49.320 159.500 749.623 203.289 180.463 721.730 805.800 309.020.415.96 39.832 319.361 629.934 24.610 201.236 51.010 328.D.098 363.304 202.393.253 157.35 25.402 79.467 45.090 133.370 59.454 460.467 588.370 402.176 341.141 142.345 255.399 112.750 1.38 56.

700 16.700 400.800 2.000 115.000 900.12 4.000 639.000 670.500 604.400 553.500 44.000 5.600 200.300 503.000 1.891.51 13.09 32.000 850.900 350.650 291.000 7.574.18 70.300 267.032. Rincian 2009 *) 2010 2011 2012 2013 2014 Kenaikan (%/th) Jumlah 1 Udang Udang windu Udang vaname 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Bandeng Patin Lele Nila Rumput laut Kerapu Kakap Gurame Mas Lainnnya 4.000 5.883.E.000 366.95 15.500 42.500 46. ttd.600 38.160 349.300 2.500.300 280.000 1.100 646.504.000 188.000 5.700 6.000 8.000 699.10 27.300 4.780. Proyeksi Produksi Perikanan Budidaya Menurut Komoditas No.140 291.000 1.500 460.000 7.000 11.18 30.000 20.672.847.000 1.000 700.000 5.400 651.107.376.800 7.000 15.400 738.I.600 325.038.07 14.450 244.90 19.720 344.000 383.72 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R.200 400.105.000 925.900 10.100 348.00 35.415.500 254.000.90 6. FADEL MUHAMMAD 5 .699 529.000 6.100 103.700 29.600 225.000 148.000 1.500 459.100.600 491.000 1.200 9.242.300 109.500 48.000 128.60 13.000 270.280 419.000 378.400 13.000 5.800 608.000 40.800 9.400 300.000 495.000 511.300 3.96 12.020.300 132.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->