TANTANGAN SISTEM PENGELOLAAN MANAGEMENT ADMINISTRASI

Dalam aktivitas pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari, baik secara sadar atau pun tidak, kita selalu disuguhkan dengan dua istilah yang sangat populer ini, yaitu administrasi dan manajemen. Sebagai contoh kecil, dimana ketika kita melakukan pengurusan dokumendokumen (paper work) di instansi, lembaga, atau kantor yang biasanya pada kantor pemerintah, kita akan selalu dimintai kompensasi atas pembuatan paperwork tersebut dengan istilah ‘biaya administrasi”, atau misalnya ketika kita akan berobat ke Rumah Sakit, maka kita akan diminta untuk mengurus administrasi terlebih dulu—yang maksudnya untuk registrasi pasien dan pembayaran biaya berobat. Kemudian ketika ada pekerja pada suatu pabrik yang meminta THR akan diminta menunggu keputusan dari manajemen dan lain sebagainya. Administrasi berasal dari kata latin “ad” dan “ministrare” yang berarti membantu, melayani atau memenuhi. Dalam bahasa Inggris adalah “Administration”—yang sampai sekarang tetap dipergunakan dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Administrasi. Namun, karena selama lebih kurang 350 tahun Indonesia dijajah Belanda, maka sedikit banyak istilah yang digunakan Belanda terinfiltrasi kedalam Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, pengertian tersebut pada hakekatnya adalah pengertian dari Tatausaha. Menurut sudut pandang penulis, bahwa Tatausaha itu merupakan suatu kegiatan pengumpulan data dan informasi dan dilakukan pencatatan secara sistematis dalam suatu organisasi untuk menghasilkan kumpulan keterangan yang dibutuhkan. Jadi sekarang dapat dipahami, bahwa kegiatan tatausaha masih termasuk dalam unsur Administrasi dalam arti luasdan bukan merupakan faktor dari administrasi. Dengan demikian, apabila kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan tatausaha, seyogyanya kita tidak menggunakan istilah administrasi agar tidak menimbulkan bias antara kedua istilah ini. Administrasi dengan Manajemen (Administration to Management)Seperti dikemukakan pada poin sebelumnya, bahwa istilah administrasi yang digunakan sampai sekarang adalah dalam bahasa Inggris, yaitu “administration”. Cakupan dari kegiatan
administrasi sangatlah luas, yaitu keseluruhan proses mulai dari menentukan bentuk dan tujuan organisasi, cara mencapai tujuan, siapa saja yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pencapaian tujuan ini, pengendalian proses pelaksanaan, sampai bagaimana mendayagunakan instrumen atau sumber yang terbatas. Pada dasarnya, cakupan dari kegiatan penataan usaha ini adalah bagian dari disiplin ilmu lain, oleh karenanya kegiatan ilmu administrasi hanya dibatasi pada aktivitas-aktivitas

penyelenggaraan atau pelaksanaan saja—yang direpresentatifkan dengan penataan usaha. Dengan demikian pula, dapat disimpulkan bahwa kegiatan administrasi dalam arti sempit adalah kegiatan yang dilakukan oleh para administrator (pimpinan) dan dalam arti luasnya adalah keseluruhan kegiatan dalam organisasi.

.

. Administrasi dan manajemen adalah suatu ilmu yang saling berhubungan dan tidak

terpisahkan.karena di dalam administrasi terdapat manajemen yang berfungsi sebagai motor penggerak jalannya administrasi Negara.Banyak hal yang membedakan administrasi dengan manajemenai, strata yang berada di atas manajemen, eselon, strategi, qualitative, orang, reflektif,dan generalism.Dalam manajemen meliputi bidang keilmuan eksekusi,fakta, kedudukannya di bawah dari administrasi. Pembinaan Hubungan internal dan eksternal dalam Organisasi, Hubungan yang perlu di bina dalam organisasi bukan hanya menyangkut interaksi antara pimpinan dan anggotanya saja tetapi meliputi hubungan antara orang orang di dalam organisasi dan juga antara organisasi dengan pihak luar. Dalam administrasi hal internal tersebut di kenal dengan istilah human relation. Sedangkan hubungan yang bersifat eksternal di sebut pulic relation.

Telah diketahui bahwa administrasi berfungsi untuk menentukan tujuan organisasi dan merumuskan kebijakan umum, sedangkan manajemen berfungsi untuk melaksanakan kegiatan yang perlu di lakukan untuk dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas batas kebijakan umum yang telah di rumuskan.kadi kegiatan yang bersifat operasional dari manajemen dan administrasi dilakukan oleh kelompok pelaksana.Yang perlu kita ketahui secara jelas yaitu bahwa pada tingkat administrasi fungsi itu bersifat menyeluruh dan berlaku bagi seluruh organisasi. Pada tingkat manajemen fungsi itu bersifat sektoral. Pengorganisasian Beberapa tahap yang dapat dilakukan pada pengelolaan management administrasi : 1.Penggerakan(Motivating) Terdefinisikan sebagai keseluruhan proses pemberian dorongan bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan iklas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis. Fungsi penggerak merupakan fungsi terpenting karena fungsi ini mampu menjadikan manusia sebagai objek langsungnya.Motivating secara implisit berarti bahwa pimpinan organisasi berada di tengah tengah para bawahannya dan

dengan

demikian

dapat

memberikan

bimbingan,itruksi,nasihat,

dan

koreksi

jika

diperlukan.Secara eksplisit dalam pengertian ini jelas terlihat bahwa para pelaksana operatif dalam memberikan jasa jasanya memerlukan beberapa macam hal pendorong. 2.Pengawasan(Controlling) Proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi agar semua pekerjaan yang sedang di lakukan berjalan sesuai rencana yang telah di tentukan sebelumnya.Dari definisi di atas dapat di simpulkan bahwa pengawasan sangat berhubungan dengan perencanaan sehingga Harold kontz dan Cyrill O’Donnel mengatakan bahwa perencanaan dan pengawasan merupakan kedua belahan mata uang yang sama.Jelas bahwa tanpa adanya rencana pengawasan tidak mungkin dapat berjalan lancar karena tidak ada pedoman untuk melakukan pengawasan itu.Dan tanpa adanya pengawasan mungkin rencana yang memang sudah tertata dan terlaksana akan mengalami penyimpangan penyimpangan tanpa ada alat untuk mencegahnya. 3.Penilaian(evaluating) Tahap ini ada lah fungsi organik administrasi dan manajemen yang terakhir.Yaitu proses pengukuran dan pembandingan hasil hasil pekerjaan yang nyatanya di capai dengan hasil yang seharusnya di capai.Ada beberapa hal yang penting di perhatikan dalam definisi tersebut,yaitu penilaian sebagai pelaksana fungsi turut menentukan mati hidupnya suatu organisasi,Kegiatan yang terus menerus di lakukan oleh administrasi dan manajemen,penilaian merupakan kesenjangan antara hasil pelaksana yang sesungguhnya di capai dengan hasil yang seharusnya di capai.

DAFTAR PUSTAKA

http://koranrakyat.net/2008/09/01/firasat-administrasi/ Siagian, Sondang P.. 1993. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara : Jakarta.

MAKALAH MANAJEMEN TANTANGAN SISTEM PENGELOLAAN MANAJEMEN ADMINISTRASI

DI SUSUN OLEH: LUSIANA (0616039)

DOSEN PEMBIMBING: IBU RIKA DIANA

FAKULTAS SYARI’AH JURUSAN JINAYAH SIYASAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI RADEN FATAH PALEMBANG 2008

Ini termasuk rumah sakit akut umum peduli. yang orang dikarantina. dan lemah yang tidak memiliki tempat lain untuk hidup. rumah sakit jiwa. These included acute care general hospitals. Sebagai hasil dari peran mereka meningkat dalam perawatan kesehatan. and local hospitals. as scientific medical practice developed. kebidanan. dan rumah sakit khusus seperti rumah sakit anak-anak. Before the discovery of germ theory. Kesembilan belas dan rumah sakit awal abad kedua puluh di Amerika Serikat terutama untuk pengobatan penyakit menular. rumah itu sebenarnya lingkungan yang sehat dari rumah sakit. Nineteenth. hospitals became more technical places of diagnosis and treatment for those who could afford to be hospitalized and pay for the new scientific technologies. As a result of their increasing role in health care. rehabilitation hospitals. Later. rumah sakit menjadi tempat yang lebih teknis diagnosis dan pengobatan bagi mereka yang mampu dirawat di rumah sakit dan membayar untuk teknologi ilmiah baru. federal. ill. rumah sakit modern berasal historis dari "hospes" monastik Inggris abad pertengahan abad kesepuluh dimana pelancong berhenti untuk beristirahat. acute care general facilities. and specialty hospitals such as children's hospitals. Benjamin Franklin mendirikan rumah sakit pertama di Amerika Serikat. Short-term. Kemudian. Hospitals during this period provided refuge and homes for the poor. rehabilitasi. health education.021 rumah sakit di Amerika Serikat. and the infirm. Kebanyakan orang umumnya lebih disukai untuk dirawat untuk penyakit akut di rumah. sakit. Benjamin Franklin founded the first hospital in the United States.015 jangka pendek. rehabilitation. yang disewa pada tahun 1757. pendidikan kesehatan. and chronic disease hospitals. Masyarakat tidak-untuk rumah sakit- . federal. dan rumah sakit lokal. cacat. The community not-for-profit hospital continued the role of providing charity care for the poor.015 short-term. pengobatan. Most people generally preferred to be treated for acute illness at home. and screening for cancers and other diseases. general hospitals are defined as those for which a patient stay is thirty days or shorter and which provide general medical and surgical care. substance abuse. pada abad ketiga belas. in the thirteenth century. dan rumah sakit penyakit kronis. Later.and early-twentiethcentury hospitals in the United States were primarily for the treatment of communicable disease. seperti TBC atau lepra. rumah sakit menjadi sumber masyarakat penting. invalids. for which people were quarantined. Modern hospitals derive historically from the monastic "hospes" of tenth-century medieval England at which travelers stopped to rest. There were 5. sebagai praktek medis ilmiah dikembangkan. obstetrics. Rumah Sakit Pennsylvania. treatment. dan lemah itu. rumah sakit rehabilitasi. which was chartered in 1757. and infirm who had no other place to live. Rumah sakit selama periode ini diberikan perlindungan dan rumah bagi kaum miskin. Sebelum penemuan teori kuman. psychiatric hospitals. the home was actually a healthier environment than the hospital. negara bagian. penyalahgunaan zat. the hospice became a place for vagrants.Edisi 1998 dari Rumah Sakit Statistik diterbitkan oleh American Hospital Association melaporkan bahwa ada 6. hospitals became important community resources. General hospitals often provide additional services including prevention. dan penyaringan untuk kanker dan penyakit lainnya. rumah sakit menjadi tempat untuk gelandangan. Ada 5. rumah sakit umum sering menyediakan layanan tambahan termasuk pencegahan. Kemudian. Jangka pendek. akut perawatan fasilitas umum. rumah sakit umum didefinisikan sebagai orang-orang yang tinggal pasien adalah tiga puluh hari atau lebih pendek dan yang memberikan perawatan medis dan bedah umum. state. the Pennsylvania Hospital. such as tuberculosis or leprosy.

Survei Rumah Sakit dan Konstruksi Act of 1946 (Hill-Burton Act) menyediakan dana bagi masyarakat di seluruh negeri untuk membangun tidak-untuk rumah sakit komunitas-laba dan untuk memodernisasi yang lama. Untuk-laba atau rumah sakit yang dimiliki investor adalah mereka dimana para pemegang saham menerima dividen atau distribusi keuangan berdasarkan keuntungan yang dilakukan oleh rumah sakit atau korporasi rumah sakit. atau tingkat lokal umumnya perawatan untuk kelompok tertentu individu atau penyakit. departments. or the uninsured. atau yang tidak diasuransikan. ini termasuk rumah sakit pendidikan atau akademik di mana pendidikan kedokteran diajarkan. Terlepas dari kepemilikan. Public hospitals serve an important public health function in caring for vulnerable and underserved populations. federal. rumah sakit sebagian besar masyarakat rumah sakit. Acute episodes are serious short-term illnesses for which patients require immediate care and are then returned to their homes or community. rumah sakit Pemerintah di negara bagian. the mentally ill. This includes the military. Ini termasuk militer. Setelah Perang Dunia II. state. Selain itu. and services. which provide care for a wide range of acute episodes of illness. yang menyediakan perawatan untuk berbagai episode akut penyakit. and the uninsured. dan jasa. A hospital is a multifaceted organization comprising many committees. Swasta tidakuntuk rumah sakit-laba biasanya dimiliki oleh perusahaan. imigran miskin.keuntungan melanjutkan peran dalam memberikan perawatan amal bagi masyarakat miskin. Regardless of ownership. which are founded by private organizations. mental sakit. Masyarakat telah lama memandang rumah sakit sebagai organisasi pelayanan sosial. administrasi Rumah Sakit meliputi pengorganisasian dan mendukung perawatan total medis pasien selama episode penyakit di rumah sakit. among others. . Organization and Function of Hospitals Organisasi dan Fungsi Rumah Sakit Hospital administration encompasses organizing and supporting the patient's total medical care during an episode of illness in the hospital. episode akut adalah penyakit jangka pendek yang serius bagi pasien yang memerlukan perawatan segera dan kemudian kembali ke rumah mereka atau komunitas. Society has long viewed the hospital as a social service organization. yang didirikan oleh organisasiorganisasi swasta. including the poor. and is responsible for integrating the various functions and services. rumah sakit umum melayani fungsi kesehatan masyarakat yang penting dalam merawat penduduk yang rentan dan terlayani. departemen. most hospitals are community hospitals. termasuk. This legislation was critical to locating hospitals in previously underserved rural areas. For-profit or investor-owned hospitals are those in which the shareholders receive dividends or financial distributions based on the profits made by the hospital or the hospital's corporation. Private not-for-profit hospitals are usually owned by corporations. types of personnel. Undang-undang ini sangat penting untuk mencari rumah sakit di daerah pedesaan yang sebelumnya tidak terlayani. In addition. jenis personil. efficient systems and controls. After World War II. or local level generally care for specified groups of individuals or diseases. dan bertanggung jawab untuk mengintegrasikan berbagai fungsi dan layanan. this includes educational or academic hospitals where medical education is taught. antara lain. Types of Hospital Ownership Jenis Pemilikan Rumah Sakit Government hospitals at the federal. dan tidak diasuransikan. the Hospital Survey and Construction Act of 1946 (Hill-Burton Act) provided funding for communities across the country to build not-for-profit community hospitals and to modernize old ones. immigrants. Rumah sakit merupakan organisasi yang terdiri dari komite segi banyak. It requires highly trained employees.

dokter dan pasien. Eksekutif Administrasi). The chief executive officer (CEO) reports to the governing board and provides leadership in implementing the strategic goals and decisions set by the Board. The "board of trustees. Pembina pilih pemimpin administrasi rumah sakit dan delegasi operasi harian rumah sakit dan penganggaran untuk eksekutif ditunjuk. It is a business as well as a caring. peralatan dan fasilitas yang memadai.necessary supplies. terutama terdiri dari dokter. lembaga yang berorientasi pada orang dan memiliki struktur yang mirip dan hirarki otoritas sebagai setiap bisnis besar. Eksekutif Petugas (CEO laporan kepada dewan yang mengatur dan menyediakan kepemimpinan dalam melaksanakan sasaran-sasaran strategis dan keputusan yang ditetapkan oleh Dewan. The" dewan wali amanat. The physician's responsibility is to diagnose the patient's condition accurately and to prescribe the best and most cost-effective treatment plan. Staf Medis. Tanggung jawab dokter adalah untuk mendiagnosa kondisi pasien secara akurat dan untuk meresepkan rencana perawatan yang terbaik dan paling efektif-biaya. The Medical Staff. whose major purpose is to ensure the highest quality of medical care to the patients. CEO delegasi perawatan klinis dan tugas-tugas administratif untuk individu yang sangat terlatih dan tim. They ensure the quality of medical care through the selection of qualified physicians and by delegating quality assurance responsibilities to the medical staff. people-oriented institution and it has a similar structure and hierarchy of authority as any large business. physicians and patients. sistem yang efisien dan kontrol. The trustees are responsible for establishing the hospital's mission and establishing its bylaws and strategic policies. adequate equipment and facilities." or governing board. Hal ini membutuhkan karyawan yang sangat terlatih. mengoperasikan rumah sakit di kepercayaan bagi masyarakat dan memiliki kewajiban fidusia untuk melindungi aset rumah sakit melalui operasi yang efisien. Board of Trustees. primarily comprised of physicians. of course. perlengkapan yang diperlukan. but may also include other doctoral level health care professionals such as dentists or psychologists. Ini adalah bisnis serta peduli. dan. Responsibility for the quality of medical care is exercised through the medical staff. Jawab terhadap mutu pelayanan kesehatan dilaksanakan melalui staf medis. The CEO also represents the hospital to the external environment and the community. Staf medis adalah unit pemerintahan sendiri secara resmi terorganisir dalam rumah sakit. The CEO delegates the clinical care and administrative duties to highly trained individuals and teams. In these tasks. atau papan yang mengatur. the CEO must coordinate the collective effort of the hospital's personnel. tentu saja. The physician is the leader of the clinical team and the major agent working on behalf of the patient. Executive Administration. operates the hospital in trust for the community and has a fiduciary duty to protect the assets of the hospital through efficient operation. yang utama tujuannya adalah . CEO harus mengkoordinasikan upaya kolektif personil rumah sakit. Mereka menjamin kualitas perawatan medis melalui pemilihan dokter yang berkualitas dan dengan mendelegasikan tanggung jawab jaminan kualitas kepada staf medis. Trustees select the administrative leader of the hospital and delegate the hospital's daily operations and budgeting to the appointed executive. tetapi juga dapat mencakup lainnya doktor profesional tingkat pelayanan kesehatan seperti dokter gigi atau psikolog. and. CEO ini juga merupakan rumah sakit untuk lingkungan eksternal dan masyarakat. Dokter adalah pemimpin tim klinis dan agen utama yang bekerja atas nama pasien. Dalam tugas ini. Dewan Pembina ". Para wali bertanggung jawab untuk membuat misi rumah sakit dan mendirikan peraturan dan kebijakan strategis. The medical staff is a formally organized self-governing unit within the hospital.

juga disebut pelayanan perawatan pasien. It is also the largest health care occupation in the United States. "Peer review" monitors how well a physician is performing. Layanan Keperawatan. Hal ini dilakukan melalui empat fungsi: "credentialing" menentukan dan menilai kualifikasi dokter berusaha untuk berlatih di rumah sakit. yang melakukan fungsi perawatan rutin. Members of the nursing staff represent a wide range of training and experience. dan patologi klinis. . merupakan komponen terbesar dari rumah sakit. Nursing services employees are responsible for carrying out the treatment plan developed by the physician. termasuk otopsi. including autopsy. A nurse manager has overall responsibility for the care of patients on a particular unit. sitologi klinis. The clinical laboratory is a diagnostic center that performs a variety of functions. "Reappointment" ascertains whether a specific physician should be permitted to continue practicing at the hospital. "Privileging" determines the specific types of care that individual physicians will be allowed to practice at the hospital. and clinical pathology. Perawat ini dibantu oleh perawat praktis berlisensi (LPNs) dan bersertifikat perawat pembantu (CNAs). Sekutu Pelayanan Kesehatan. A clinical nurse-specialist has specific expertise or competence in a particular field of nursing. Nursing services. Nursing Services. Medical technologists perform most of the work of the laboratory under the supervision of a pathologist. Seorang supervisor keperawatan mungkin memiliki tanggung jawab manajemen secara keseluruhan beberapa unit. pengobatan. "Peer review" memonitor seberapa baik kinerja sebuah dokter. Perawatan menyediakan jasa pemeliharaan kesehatan round-the-clock. Itu juga merupakan perawatan kesehatan terbesar pendudukan di Amerika Serikat. who is a physician. Seorang manajer perawat memiliki tanggung jawab keseluruhan untuk perawatan pasien pada unit tertentu. Seorang perawat spesialis-klinis memiliki keahlian khusus atau kompetensi dalam bidang tertentu keperawatan. yang adalah seorang dokter. also called patient care services. Anggota staf keperawatan mewakili berbagai pelatihan dan pengalaman. dan untuk mengkoordinasikan pelayanan departemen seperti kerja sosial dan perencanaan pulang. Keperawatan jasa karyawan bertanggung jawab untuk melaksanakan rencana pengobatan yang dikembangkan oleh dokter. Layanan Perawatan.untuk memastikan kualitas tertinggi perawatan medis kepada pasien. teknologi medis melakukan sebagian dari pekerjaan laboratorium di bawah pengawasan seorang patolog. and for coordinating the services of departments such as social work and discharge planning. A number of departments perform support functions that help with diagnosis and treatment. clinical cytology. Sejumlah departemen melakukan fungsi dukungan yang membantu dengan diagnosis dan pengobatan. Penting peran perawat hari ini juga termasuk orang-orang advokat pasien dan pendidik kesehatan. These nurses are helped by licensed practical nurses (LPNs) and certified nurses aides (CNAs). dan dukungan pasien. Laboratorium klinis adalah pusat diagnostik yang melakukan berbagai fungsi. Important roles of nurses today also include those of patient advocate and health educator. termasuk pengawasan perawat dan staf administrasi lainnya. This is done through four functions: "Credentialing" determines and assesses the qualifications of physicians seeking to practice at the hospital. Nursing services provide round-the-clock health maintenance. who perform routine nursing functions. Allied Health Services. is the largest component of the hospital. treatment. including supervising other nursing and clerical staff. "Pengangkatan kembali" mengetengahkan apakah dokter tertentu harus diijinkan untuk terus berlatih di rumah sakit. "Privileging" menentukan jenis-jenis perawatan yang dokter individu akan diizinkan untuk praktek di rumah sakit. A nursing supervisor may have overall management responsibility for several units. and support of the patient.

The primary objective is to ensure that all environmental and emotional barriers to the patient's recovery are mitigated. beban catatan ke rekening pasien. Departemen Keuangan menyarankan CEO pada kebijakan keuangan dan . Social services helps coordinate needed communitybased services. Administrasi Layanan Dukungan. records charges to a patient's account. layanan Rehabilitasi memberikan bantuan dalam meningkatkan fungsi optimal fisik. and approves the payments of salaries and other expenditures. dan masyarakat. Pelayanan sosial mengintegrasikan pasien. and social functioning of the patient following an episode of illness.The radiology department provides radiographs to aid with diagnosis and performs radiation therapy for the treatment of some medical disorders. and the community. Business services manages the hospital's admitting and discharge functions. the medical team. maka daftar obat yang dipilih untuk dimasukkan dalam apotek. Clinical Support Services. consistent with the treatment plan prescribed by the physician. Hospital dieticians play an important therapeutic role in providing the patient with the appropriate food and nutrition. Layanan bisnis mengelola fungsi rumah sakit mengakui dan debit. dan sosial pasien menyusul episode penyakit. Rumah Sakit ahli diet memainkan peran penting dalam menyediakan terapi pasien dengan makanan yang sesuai dan gizi. Clinical pharmacy consists of communicating with patients. Rehabilitation services provides assistance in enhancing the optimal physical. konsisten dengan rencana pengobatan yang diresepkan oleh dokter. dan menangani piutang usaha dengan pembayar pihak ketiga seperti perusahaan asuransi. establishes procedures for accounting functions. Physical and occupational therapy are the primary specialties in this service. The CEO leads these administrative services and is directly responsible for the day-to-day operations of the facility. Terapi fisik dan okupasi adalah spesialisasi utama dalam layanan ini. and handles accounts receivables with third-party payers such as insurance companies. konseling pasien dan anggota lain dari tim perawatan kesehatan. farmasi klinis terdiri dari berkomunikasi dengan pasien. mental. dan konsultasi berkenaan dengan informasi obat rinci. Social services integrates the patient. mental. counseling patients and other members of the health care team. Tujuan utama adalah untuk memastikan bahwa semua hambatan lingkungan dan emosional untuk pemulihan pasien telah diantisipasi. Klinik Layanan Dukungan. tim medis. and sometimes discharge planning. Administrative Support Services. Nonmedis layanan administrasi yang diperlukan untuk rumah sakit bisnis dan manajemen pabrik fisik. dan kadang-kadang perencanaan pulang. receives and deposits all monies received by the hospital. The pharmacist works directly with the medical staff in establishing a formulary. Pembelian farmasi rumah sakit dan membagi-bagikan semua obat yang digunakan untuk mengobati pasien di rumah sakit. apoteker bekerja secara langsung dengan staf medis dalam membangun formularium. jasa sosial membantu mengkoordinasikan layanan berbasis masyarakat diperlukan. The finance department advises the CEO on financial policy and long-range planning. Nonmedical administrative services are necessary to the hospital's business and physical plant management. the listing of drugs chosen to be included in the pharmacy. The hospital pharmacy purchases and dispenses all the medications used to treat patients in the hospital. and consulting with regard to detailed drug information. CEO memimpin layanan administrasi dan secara langsung bertanggung jawab atas operasi sehari-hari fasilitas tersebut. Departemen radiologi menyediakan radiografi untuk membantu dengan diagnosis dan melakukan terapi radiasi untuk pengobatan beberapa gangguan medis.

Akuntansi merupakan pusat bisnis keuangan rumah sakit. Rekam medis diselenggarakan pada semua pasien yang masuk dan mereka diindeks menurut dokter. and establishes competitive compensation for specific positions. preparing and dispensing the payroll. praktek akuntansi rinci dan suara sangat penting untuk menjaga statistik organisasi penting bagi administrasi-pengambilan keputusan. mengembangkan deskripsi pekerjaan. penyakit. dan penyusunan anggaran modal dan operasional. dan operasi. housekeeping. Accounting is central to the hospital's financial business. public relations. and security. Information services and medical record maintenance are core functions of hospital management. develops job descriptions. Mengakui jasa sering di mana pasien pertama memiliki kontak dengan rumah sakit. Lain fungsi administrasi dan bisnis yang penting mungkin termasuk pemasaran dan perencanaan. Layanan Informasi dan pemeliharaan rekam medis adalah fungsi inti manajemen rumah sakit. dan menetapkan kompensasi yang kompetitif untuk posisi tertentu. dan keamanan. Detailed and sound accounting practices are fundamental to maintaining important organizational statistics for administrative decision-making. serta memberikan pelatihan kepada karyawan baru dan peluang untuk pertumbuhan dan aktualisasi diri bagi seluruh karyawan. Sumber daya manusia melakukan job analysis. Rekam medis baru-baru ini ditetapkan sebagai sumber pendapatan karena mereka memiliki kaitan langsung pada penggantian dari perusahaan asuransi. menyiapkan dan mengeluarkan daftar gaji. and preparing the capital and operating budgets. Medical records are maintained on all admitted patients and they are indexed according to physician. Departemen akuntansi bertanggung jawab untuk menjaga buku besar dan meringkas semua transaksi keuangan yang dilakukan oleh rumah sakit. The human resources department interacts with all departments in the hospital to ensure the quality and motivation of personnel working at the hospital. pelacakan dan merekam biaya untuk mengaktifkan penggantian sesuai untuk jasa dari perusahaan asuransi. public relations. plant and materials management. Medical records have recently been designated a source of revenue as they have a direct bearing on reimbursement from insurance companies. as well as providing training to new employees and opportunities for growth and selfactualization for all employees.perencanaan jangka panjang. and operation. . Sensitivitas dan efisiensi dari departemen ini dapat sangat mempengaruhi persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan yang diterima. disease. menetapkan prosedur untuk fungsi-fungsi akuntansi. Departemen sumber daya manusia berinteraksi dengan seluruh departemen di rumah sakit untuk memastikan kualitas dan motivasi karyawan yang bekerja di rumah sakit. Admitting services is often where the patient first has contact with the hospital. tanaman dan pengelolaan bahan. penggalangan dana. menerima dan deposito semua uang yang diterima oleh rumah sakit. dan menyetujui pembayaran gaji dan pengeluaran lainnya. fund-raising. Other important administrative and business functions may include marketing and planning. The sensitivity and efficiency of this department can greatly influence the patient's perception of the quality of care received. tracking and recording costs to enable appropriate reimbursement for services from insurance companies. The accounting department is responsible for maintaining the general ledger and summarizing all the financial transactions performed by the hospital. Human resources performs job analyses. rumah tangga.

Beberapa administrator sistem mengelola fasilitas perawatan kesehatan. Seorang administrator umum bertanggung jawab terhadap semua departemen dan praktek bisnis. manajer klinis dan manajer informasi kesehatan memiliki tugas yang lebih spesifik dari seorang administrator tidak umum. Administrasi berbagai ukuran dan tugas administrator tergantung pada ukuran administrasi. informasi kesehatan manajer. Tugas 1. Mereka mengkoordinasikan kegiatan dan membuat kebijakan untuk rumah sakit. maka dapat melakukan evaluasi dengan karyawan dan rapat staf langsung. Beberapa administrator bertanggung jawab atas pengangkatan dan pelatihan dokter dan staf lainnya.id/translate?hl=id&langpair=en| id&u=http://www. Administrator adalah penghubung antara papan rumah sakit. Mereka mungkin juga bertanggung jawab untuk hubungan masyarakat rumah sakit dan program penggalangan dana. Administrator mengembangkan program untuk rumah sakit pengajaran dan penelitian.com/topic/hospital-administration administrasi Rumah Sakit adalah manajemen rumah sakit sebagai bisnis . Praktek kelompok besar mungkin memiliki beberapa administrator dan asisten. administrasi besar memiliki beberapa administrator dan administrator asisten melakukan tugas-tugas sehari-hari seperti mengelola kegiatan departemen rumah sakit sementara satu administrator bertanggung jawab secara keseluruhan. Menjadi Administrator . Mereka harus menyadari kemajuan baru dalam pengobatan. yang mengelola departemen tertentu dan biasanya memiliki pengalaman di daerah tersebut.co. dan memiliki tugas seperti melaksanakan kebijakan. Umum vs khusus 4. administrasi terdiri dari medis dan kesehatan manajer jasa (kadang-kadang disebut eksekutif perawatan kesehatan dan perawatan administrator kesehatan) dan asisten administrator. Klinis dan manajer informasi kesehatan bekerja dalam departemen mereka sendiri.google. administrator lain dan staf medis. Ada beberapa jenis layanan manajer kesehatan: manajer klinis.http://translate. Jenis Administrator 3. yang menjaga dan merawat pasien catatan. mengelola personil dan menulis laporan untuk diberikan kepada administrator keseluruhan.answers. dan manajer yang bertanggung jawab atas masalah bisnis rumah sakit. Administrasi Ukuran 2. Dalam administrasi kecil di sana hanya dapat satu administrator merawat semua departemen. atau satu administrator dan satu administrator asisten.

administrasi publik atau administrasi bisnis yang paling membantu. Untuk menjadi seorang manajer pelayanan medis. Jika Anda tidak ingin mendapatkan gelar master.co. kantor dokter 'biasanya menyewa orang-orang dengan pengalaman kerja. Ini harus mencakup program gelar magang di pusat perawatan kesehatan.html&rurl=translate.googleusercontent.5. ilmu kesehatan. kesehatan masyarakat.google. Anda harus memiliki gelar master. Read more: Apakah Administrasi Rumah Sakit? | EHow.id&usg=ALkJrhiiWtq2RtArxL8JCoU2pBLY n7xq7w#ixzz12mjPdCeN . Program Pascasarjana biasanya dua sampai tiga tahun panjang.com http://translate.com/about_5130430_hospitaladministration_. administrasi perawatan jangka panjang. Derajat dalam administrasi pelayanan kesehatan.com/translate_c?hl=id&langpair=en %7Cid&u=http://www.ehow.

Jenis Rumah Sakit Rumah sakit dapat dibagi dalam beberapa jenis menurut kategorinya masing-masing 1. kanker. Rumah sakit tipe E (rumah sakit khusus) : RS Jiwa. epidemiologi. diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. serta faktor kebijaksanaan pemerintah yang berlaku. asuhan keperawatan yang berkesinambungan. Menurut filosofi yang dianut : profit hospital dan non profit hospital 3. ciri-ciri : Spesialis terbatas. yaitu : RS pendidikan dan non pendidikan. Rumah Sakit tipe C. Rumah sakit tipe D. 1992). RS Jantung. demografi. mereka mendefinisikan rumah sakit sebagai tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran. yaitu : 1. Sedangkan menurut Wolper dan Pena (1987). ciri-ciri : Specialis dan sub specialis lebih luas. Kusta dll Dalam beberapa kebutuhan rumah sakit juga dapat di golongkan menjadi 2. perawat serta berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan. Menurut jenis pelayanan yang diselenggarakan : General Hospital dan Specialty Hospital 4. Top referral hospital 2. Menurut pemilik : pemerintah. faktor kebutuhan masyarakat terhadap mutu pelayanan dan peraturan. Syarat Mendirikan Sebuah Rumah sakit . berbagai faktor mempengaruhi perkembangan RS. Menurut lokasi (pemerintah) : pusat. pelayanan rujukan dari kabupaten 3. swasta 2. ciri-ciri : Pelayanan rujukan dari Puskesmas 5. sosial ekonomi. provinsi dan kabupaten Sedangkan menurut kemampuan yang dimiliki rumah sakit di Indonesia dapat digolongkan dalam beberapa kategori. Menurut Kotter (1983) definisi rumah sakit adalah merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan atau jasa kesehatan. dan (2) RS pendidikan yang mengadakan tiga atau lebih program kedokteran spesialis (Trisnantoro. ciri-ciri : Specialis dan sub specialis terbatas.Konsep Rumah Sakit Menurut American Hospital Assocition (1974) definisi Rumah Sakit adalah : RS adalah Suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran. Rumah sakit tipe A. Pelayanan rujukan dari Puskesmas 4. antara lain. RS Paru. RS pendidikan dikelompokkan menjadi 2 golongan: (1) pusat ilmu kesehatan pada universitas besar yang mengadakan penelitian ilmu kesehatan dasar. teknologi. Rumah sakit tipe B.

2. Penelitian 5.0308/Yanmed/RSKS/PA/SK/IV1992 menyatakan bahwa: • • Nama rumah sakit tidak boleh memakai nama orang yang masih hidup Tidak boleh menyebutkan jenis badan hukum. terutama bagi rumah sakit-rumah sakit besar yang berfungsi sebagai tempat pendidikan. 4. Penyelenggara Rumah Sakit • • • • • • Foto copy akte notaris pendirian yayasan (pemohon) Fotocopy sertifikat tanah atau surat penunjukan penggunaan lokasi atas nama pemohon Izin lokasi dari kepala daerah Tk II Study kelayakan pendirian RS Rekmendasi PERSI Surat pernyataan dari pemohon untuk tunduk pada peraturan yang berlaku. Tambang Batubara Bukit Asam (persero) tetapi boleh dinamai Rumah Sakit Bukit Asam. Pelayanan pasien. promotif dan rehabilitatif 3. misalnya rumah sakit PT. Pendidikan. CATATAN: Semua persyaratan tersebut diajukan kepada Dinas kesehatan Tk Provonsi dan tembusannya ke dir Direjen Yanmedik Depkes RI di Jakarta Empat fungsi dari rumah sakit 1. Pelayanan Informasi Pembagian Pelayanan rumah sakit secara sederhana .1. Nama Rumah Sakit Berdasarkan SK Dirjen Yanmedik No. Pelayanan komunitas berupa suatu kerjasama dengan pihak-pihak lain di luar rumah sakit yang biasanya berupa upaya-upaya preventif. 2.

Adanya jalan yang terpisah atau alur yang berbeda antara umum dengan petugas rumah sakit. Adanya akses khusus atau tidak saling mengganggu. antara barang-barang bersih dengan barang-barang kotor http://tuloe.wordpress.com/2010/02/16/administrasi-rumah-sakit/ .Prinsip-prinsip hubungan antar bagian di rumah sakit • • • Bagian-bagian rumah sakit harus berhubungan dengan baik dan dengan tata letak yang serasi dan sesuai dengan fungsinya.

rehabilitasi. dan lemah itu. Sebagai hasil dari peran mereka meningkat dalam perawatan kesehatan. imigran miskin. pengobatan. mental sakit.ADMINISTRASI RUMAH SAKIT Edisi 1998 dari Rumah Sakit Statistik diterbitkan oleh American Hospital Association melaporkan bahwa ada 6. rumah sakit jiwa. sebagai praktek medis ilmiah dikembangkan. Kesembilan belas dan rumah sakit awal abad kedua puluh di Amerika Serikat terutama untuk pengobatan penyakit menular. Rumah Sakit Pennsylvania. dan rumah sakit penyakit kronis. kebidanan. federal. Rumah sakit selama periode ini diberikan perlindungan dan rumah bagi kaum miskin. pada abad ketiga belas. rumah sakit umum didefinisikan sebagai orang-orang yang tinggal pasien adalah tiga puluh hari atau lebih pendek dan yang memberikan perawatan medis dan bedah umum. negara bagian. rumah sakit modern berasal historis dari "monastik" hospes dari sepuluh abad pertengahan abad ke. Kemudian. atau tingkat lokal umumnya perawatan untuk kelompok tertentu individu atau penyakit. Untuklaba atau rumah sakit yang dimiliki investor adalah mereka dimana para pemegang saham menerima dividen atau distribusi keuangan berdasarkan keuntungan yang dilakukan oleh rumah sakit atau korporasi rumah sakit. Ini termasuk rumah sakit akut umum peduli. ini termasuk rumah sakit pendidikan atau akademik di mana pendidikan kedokteran diajarkan. dan penyaringan untuk kanker dan penyakit lainnya. Jangka pendek. JENIS KEPEMILIKAN RUMAH SAKIT rumah sakit Pemerintah di negara bagian. federal. yang didirikan oleh organisasi-organisasi swasta.021 rumah sakit di Amerika Serikat . rumah sakit rehabilitasi. rumah sakit menjadi tempat untuk gelandangan. sakit. pendidikan kesehatan. yang disewa pada tahun 1757. seperti TBC atau lepra. Masyarakat tidak-untuk rumah sakit-keuntungan melanjutkan peran dalam memberikan perawatan amal bagi masyarakat miskin. Survei Rumah Sakit dan Konstruksi Act of 1946 (Hill-Burton Act) menyediakan dana bagi masyarakat di seluruh negeri untuk membangun tidak-komunitas dan rumah sakit profit untuk memodernisasi yang lama. penyalahgunaan zat. rumah sakit menjadi tempat yang lebih teknis diagnosis dan pengobatan bagi mereka yang mampu dirawat di rumah sakit dan membayar untuk teknologi ilmiah baru. . Sebelum penemuan teori kuman. rumah sakit menjadi sumber masyarakat penting. dan tidak diasuransikan. Undang-undang ini sangat penting untuk mencari rumah sakit di daerah pedesaan yang sebelumnya tidak terlayaniMasyarakat telah lama memandang rumah sakit sebagai organisasi pelayanan sosial. rumah sakit umum sering menyediakan layanan tambahan termasuk pencegahan. Benjamin Franklin mendirikan rumah sakit pertama di Amerika Serikat. Ini termasuk militer. dan rumah sakit lokal. termasuk. cacat. atau yang tidak diasuransikan. dan rumah sakit khusus seperti rumah sakit anak-anak. rumah itu sebenarnya lingkungan yang sehat dari rumah sakit. dan lemah yang tidak memiliki tempat lain untuk hidup. Selain itu. Setelah Perang Dunia II . rumah sakit umum melayani fungsi kesehatan masyarakat yang penting dalam merawat penduduk yang rentan dan terlayani. antara lain. Swasta tidak-untuk rumah sakit-laba biasanya dimiliki oleh perusahaan. yang orang dikarantina. Kebanyakan orang umumnya lebih disukai untuk dirawat untuk penyakit akut di rumah. Kemudian.Inggris di mana pelancong berhenti untuk beristirahat.

Ini adalah bisnis serta peduli. mengoperasikan rumah sakit di kepercayaan bagi masyarakat dan memiliki kewajiban fidusia untuk melindungi aset rumah sakit melalui operasi yang efisien. "Privileging" determines the specific types of care that individual physicians will be allowed to practice at the hospital. whose major purpose is to ensure the highest quality of medical care to the patients. Responsibility for the quality of medical care is exercised through the medical staff. Pembina pilih pemimpin administrasi rumah sakit dan delegasi operasi harian rumah sakit dan penganggaran untuk eksekutif ditunjuk. peralatan dan fasilitas yang memadai. Hal ini dilakukan melalui empat fungsi: "credentialing" menentukan dan menilai kualifikasi dokter berusaha untuk berlatih di rumah sakit. Eksekutif Administrasi). CEO harus mengkoordinasikan upaya kolektif personil rumah sakit. lembaga yang berorientasi pada orang dan memiliki struktur yang mirip dan hirarki otoritas Dewan Pembina ". Mereka menjamin kualitas perawatan medis melalui pemilihan dokter yang berkualitas dan dengan mendelegasikan tanggung jawab jaminan kualitas kepada staf medis. dan. The medical staff is a formally organized self-governing unit within the hospital. ORGANISASI DAN FUNGSI RUMAH SAKIT administrasi Rumah Sakit meliputi pengorganisasian dan mendukung perawatan total medis pasien selama episode penyakit di rumah sakit. atau papan yang mengatur. sistem yang efisien dan kontrol. Para wali bertanggung jawab untuk membuat misi rumah sakit dan mendirikan peraturan dan kebijakan strategis. Dokter adalah pemimpin tim klinis dan agen utama yang bekerja atas nama pasien. The" dewan wali amanat. CEO ini juga merupakan rumah sakit untuk lingkungan eksternal dan masyarakat.Terlepas dari kepemilikan. "Peer review" monitors how well a . jenis personil. Eksekutif Petugas (CEO laporan kepada dewan yang mengatur dan menyediakan kepemimpinan dalam melaksanakan sasaran-sasaran strategis dan keputusan yang ditetapkan oleh Dewan. Jawab terhadap mutu pelayanan kesehatan dilaksanakan melalui staf medis. departemen. CEO delegasi perawatan klinis dan tugas-tugas administratif untuk individu yang sangat terlatih dan tim. perlengkapan yang diperlukan. tentu saja. dan bertanggung jawab untuk mengintegrasikan berbagai fungsi dan layanan Rumah sakit merupakan organisasi yang terdiri dari komite segi banyak. Staf Medis. dan jasa. tetapi juga dapat mencakup lainnya doktor profesional tingkat pelayanan kesehatan seperti dokter gigi atau psikolog. dokter dan pasien. "Privileging" menentukan jenis-jenis perawatan yang dokter individu akan diizinkan untuk praktek di rumah sakit. yang utama tujuannya adalah untuk memastikan kualitas tertinggi perawatan medis kepada pasien. Hal ini membutuhkan karyawan yang sangat terlatih. yang menyediakan perawatan untuk berbagai episode akut penyakitepisode akut adalah penyakit jangka pendek yang serius bagi pasien yang memerlukan perawatan segera dan kemudian kembali ke rumah mereka atau komunitas. Dalam tugas ini. Staf medis adalah unit pemerintahan sendiri secara resmi terorganisir dalam rumah sakit. but may also include other doctoral level health care professionals such as dentists or psychologists. This is done through four functions: "Credentialing" determines and assesses the qualifications of physicians seeking to practice at the hospital. primarily comprised of physicians. terutama terdiri dari dokter. Tanggung jawab dokter adalah untuk mendiagnosa kondisi pasien secara akurat dan untuk meresepkan rencana perawatan yang terbaik dan paling efektif-biaya. rumah sakit sebagian besar masyarakat rumah sakit.

Nursing Services. Seorang manajer perawat memiliki tanggung jawab keseluruhan untuk perawatan pasien pada unit tertentu. dan patologi klinis. A clinical nurse-specialist has specific expertise or competence in a particular field of nursing. Nursing services employees are responsible for carrying out the treatment plan developed by the physician. Sejumlah departemen melakukan fungsi dukungan yang membantu dengan diagnosis dan pengobatan. teknologi medis melakukan sebagian dari pekerjaan laboratorium di bawah pengawasan seorang patolog. and support of the patient. Itu juga merupakan perawatan kesehatan terbesar pendudukan di Amerika Serikat. dan dukungan pasien. Allied Health Services.physician is performing. It is also the largest health care occupation in the United States. Penting peran perawat hari ini juga termasuk orang-orang advokat pasien dan pendidik kesehatan. and for coordinating the services of departments such as social work and discharge planning. Medical technologists perform most of the work of the laboratory under the supervision of a pathologist. including autopsy. "Reappointment" ascertains whether a specific physician should be permitted to continue practicing at the hospital. Nursing services. Departemen radiologi menyediakan radiografi untuk membantu dengan diagnosis dan melakukan terapi radiasi untuk pengobatan beberapa gangguan medis. The clinical laboratory is a diagnostic center that performs a variety of functions. yang melakukan fungsi perawatan rutin. Layanan Keperawatan. is the largest component of the hospital. Sekutu Pelayanan Kesehatan. A number of departments perform support functions that help with diagnosis and treatment. pengobatan. Members of the nursing staff represent a wide range of training and experience. Perawat ini dibantu oleh perawat praktis berlisensi (LPNs) dan bersertifikat perawat pembantu (CNAs). Nursing services provide round-the-clock health maintenance. including supervising other nursing and clerical staff. A nursing supervisor may have overall management responsibility for several units. yang adalah seorang dokter. Seorang perawat spesialis-klinis memiliki keahlian khusus atau kompetensi dalam bidang tertentu keperawatan. The radiology department provides radiographs to aid with diagnosis and performs radiation therapy for the treatment of some medical disorders. "Pengangkatan kembali" mengetengahkan apakah dokter tertentu harus diijinkan untuk terus berlatih di rumah sakit. Layanan Perawatan. Laboratorium klinis adalah pusat diagnostik yang melakukan berbagai fungsi. and clinical pathology. dan untuk mengkoordinasikan pelayanan departemen seperti kerja sosial dan perencanaan pulang. "Peer review" memonitor seberapa baik kinerja sebuah dokter. termasuk otopsi. Keperawatan jasa karyawan bertanggung jawab untuk melaksanakan rencana pengobatan yang dikembangkan oleh dokter. juga disebut pelayanan perawatan pasien. A nurse manager has overall responsibility for the care of patients on a particular unit. Anggota staf keperawatan mewakili berbagai pelatihan dan pengalaman. Perawatan menyediakan jasa pemeliharaan kesehatan round-the-clock. These nurses are helped by licensed practical nurses (LPNs) and certified nurses aides (CNAs). termasuk pengawasan perawat dan staf administrasi lainnya. who is a physician. Seorang supervisor keperawatan mungkin memiliki tanggung jawab manajemen secara keseluruhan beberapa unit. clinical cytology. who perform routine nursing functions. treatment. also called patient care services. Important roles of nurses today also include those of patient advocate and health educator. sitologi klinis. merupakan komponen terbesar dari rumah sakit. .

farmasi klinis terdiri dari berkomunikasi dengan pasien. Social services integrates the patient. The pharmacist works directly with the medical staff in establishing a formulary. Terapi fisik dan okupasi adalah spesialisasi utama dalam layanan ini. jasa sosial membantu mengkoordinasikan layanan berbasis masyarakat diperlukan.Rehabilitation services provides assistance in enhancing the optimal physical. The finance department advises the CEO on financial policy and long-range planning. Pelayanan sosial mengintegrasikan pasien. CEO memimpin layanan administrasi dan secara langsung bertanggung jawab atas operasi sehari-hari fasilitas tersebut. menerima dan deposito semua uang yang diterima oleh rumah sakit. Klinik Layanan Dukungan. Tujuan utama adalah untuk memastikan bahwa semua hambatan lingkungan dan emosional untuk pemulihan pasien telah diantisipasi. The hospital pharmacy purchases and dispenses all the medications used to treat patients in the hospital. records charges to a patient's account. the listing of drugs chosen to be included in the pharmacy. maka daftar obat yang dipilih untuk dimasukkan dalam apotek. dan sosial pasien menyusul episode penyakit. layanan Rehabilitasi memberikan bantuan dalam meningkatkan fungsi optimal fisik. Administrasi Layanan Dukungan. receives and deposits all monies received by the hospital. konseling pasien dan anggota lain dari tim perawatan kesehatan. Pembelian farmasi rumah sakit dan membagi-bagikan semua obat yang digunakan untuk mengobati pasien di rumah sakit. dan kadang-kadang perencanaan pulang. . tim medis. establishes procedures for accounting functions. dan konsultasi berkenaan dengan informasi obat rinci. the medical team. menetapkan prosedur untuk fungsi-fungsi akuntansi. and sometimes discharge planning. The primary objective is to ensure that all environmental and emotional barriers to the patient's recovery are mitigated. dan menyetujui pembayaran gaji dan pengeluaran lainnya. dan masyarakat. Hospital dieticians play an important therapeutic role in providing the patient with the appropriate food and nutrition. konsisten dengan rencana pengobatan yang diresepkan oleh dokter. Business services manages the hospital's admitting and discharge functions. and handles accounts receivables with third-party payers such as insurance companies. Physical and occupational therapy are the primary specialties in this service. Administrative Support Services. Nonmedical administrative services are necessary to the hospital's business and physical plant management. and approves the payments of salaries and other expenditures. Rumah Sakit ahli diet memainkan peran penting dalam menyediakan terapi pasien dengan makanan yang sesuai dan gizi. Nonmedis layanan administrasi yang diperlukan untuk rumah sakit bisnis dan manajemen pabrik fisik. Layanan bisnis mengelola fungsi rumah sakit mengakui dan debit. and social functioning of the patient following an episode of illness. Social services helps coordinate needed communitybased services. apoteker bekerja secara langsung dengan staf medis dalam membangun formularium. counseling patients and other members of the health care team. Clinical Support Services. and the community. The CEO leads these administrative services and is directly responsible for the day-to-day operations of the facility. beban catatan ke rekening pasien. and consulting with regard to detailed drug information. dan menangani piutang usaha dengan pembayar pihak ketiga seperti perusahaan asuransi. consistent with the treatment plan prescribed by the physician. mental. Clinical pharmacy consists of communicating with patients. Departemen Keuangan menyarankan CEO pada kebijakan keuangan dan perencanaan jangka panjang. mental.

dan menetapkan kompensasi yang kompetitif untuk posisi tertentu. dan penyusunan anggaran modal dan operasional. plant and materials management. mengembangkan deskripsi pekerjaan. and preparing the capital and operating budgets. tracking and recording costs to enable appropriate reimbursement for services from insurance companies. Mengakui jasa sering di mana pasien pertama memiliki kontak dengan rumah sakit. and operation. rumah tangga. Sensitivitas dan efisiensi dari departemen ini dapat sangat mempengaruhi persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan yang diterima. Medical records are maintained on all admitted patients and they are indexed according to physician. tanaman dan pengelolaan bahan. Detailed and sound accounting practices are fundamental to maintaining important organizational statistics for administrative decision-making. Layanan Informasi dan pemeliharaan rekam medis adalah fungsi inti manajemen rumah sakit. penggalangan dana. Other important administrative and business functions may include marketing and planning. and security. and establishes competitive compensation for specific positions. dan operasi. housekeeping. as well as providing training to new employees and opportunities for growth and selfactualization for all employees. disease. pelacakan dan merekam biaya untuk mengaktifkan penggantian sesuai untuk jasa dari perusahaan asuransi. Rekam medis diselenggarakan pada semua pasien yang masuk dan mereka diindeks menurut dokter. preparing and dispensing the payroll. Departemen sumber daya manusia berinteraksi dengan seluruh departemen di rumah sakit untuk memastikan kualitas dan motivasi karyawan yang bekerja di rumah sakit. Akuntansi merupakan pusat bisnis keuangan rumah sakit. Admitting services is often where the patient first has contact with the hospital. public relations. The accounting department is responsible for maintaining the general ledger and summarizing all the financial transactions performed by the hospital.Accounting is central to the hospital's financial business. penyakit. The sensitivity and efficiency of this department can greatly influence the patient's perception of the quality of care received. Information services and medical record maintenance are core functions of hospital management. Sumber daya manusia melakukan job analysis. praktek akuntansi rinci dan suara sangat penting untuk menjaga statistik organisasi penting bagi administrasi-pengambilan keputusan. Lain fungsi administrasi dan bisnis yang penting mungkin termasuk pemasaran dan perencanaan. Human resources performs job analyses. develops job descriptions. The human resources department interacts with all departments in the hospital to ensure the quality and motivation of personnel working at the hospital. public relations. dan keamanan. Medical records have recently been designated a source of revenue as they have a direct bearing on reimbursement from insurance companies. menyiapkan dan mengeluarkan daftar gaji. fund-raising. Rekam medis baru-baru ini ditetapkan sebagai sumber pendapatan karena mereka memiliki kaitan langsung pada penggantian dari perusahaan asuransi. Departemen akuntansi bertanggung jawab untuk menjaga buku besar dan meringkas semua transaksi keuangan yang dilakukan oleh rumah sakit. . serta memberikan pelatihan kepada karyawan baru dan peluang untuk pertumbuhan dan aktualisasi diri bagi seluruh karyawan.

yang diantaranya adalah: luas tidaknya lingkup spesialistik yang dimiliki. Perubahan kelas rumah sakit dapat saja terjadi sehubungan dengan turunnya kinerja rumahsakit yang ditetapkan oleh Menteri KesehatanIndonesia melalui Keputusan Dirjen Yan Medik. spesialistik dan pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan”. Membantu pendidikan tenaga medis umum. pelayanan penunjang medis tambahan.Definisi rumah sakit menurut Keputusan Menteri Republik Indonesia nomor 983. Melaksanakan pelayanan administratif. Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman. c. Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi. Melaksanakan pelayanan rawat jalan atau rawat darurat dan rawat tinggal (observasi). b. tenaga kesehatan masyarakat. tenaga gizi. . Membantu pendidikan tenaga medis spesialis. Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan. 4. yaitu: • • • • • • • • • • • • • • • • Melaksanakan pelayanan medis. Sementara itu menurut Siregar (2003) menyatakan bahwa rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks. Definisi rumahsakit ini di setiap peraturan daerah pada umumnya sama. Tugas dan fungsi ini berhubungan dengan kelas dan type rumah sakit yang di Indonesia terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. 3. d”. 5. Melaksanakan pelayanan medis tambahan. Berikut merupakan tugas sekaligus fungsi dari rumah sakit secara lengkap. tenaga medis. Melaksanakan pelayanan rawat inap. kelas “a. Melaksanakan pelayanan kedokteran sosial.MENKES/SK/1992 mengenai pedoman rumah sakit umum dinyatakan bahwa: ”Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Melaksanakan pelayanan medis khusus. Membantu kegiatan penyelidikan epidemiologi. berbentuk badan dan sebagai unit pelaksana teknis daerah. Melaksanakan pendidikan para medis. tenaga keperawatan. untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. 2. tenaga kefarmasian. Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan. pelayanan penunjang medis. menggunakan gabungan ilmiah khusus dan rumit. dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern. yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud yang sama. hanya saja terdapat perbedaan pada tugas pokoknya. Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan. kekhususan menyertainya dengan adanya rumah sakit yang dibina dirjen yanmed Dpekes RI yang secara fisik berada di daerah kabupaten. kota ataupun di provinsi. Dari Sumberdaya Kesehatan yang ada di rumahsakit: (1) Tenaga kesehatan terdiri dari : 1.

biasanya hanya dilaporkan sebagai hasil dari akumulasi seluruh indikator. Kekhususan ini sangatlah tidak mungkin dimanajemeni secara umum.00 jika 5 (lima) hari kerja. Sebagai unsur manajemen. teknisi elektromedis. Kondisi ini akan berhubungan dengan kemapanan dukungan kebijakan dan dukungan anggaran yang pada akhirnya berdampak pada kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.6.30-14. jika diberlakukan secara ketat maka mereka akan menuntut uang lembur untuk pekerjaan yang dilakukannya pada waktu di luar jam dinas (07. hal yang seperti ini perlu komunikasi yang ajeg demi harmonisasi pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan. (8) Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer. (4) Tenaga kefarmasian meliputi apoteker. analis farmasi dan asisten apoteker. okupasiterapis dan terapis wicara. keterbatasan keanekaragaman jenis tenaga kesehatan akan menghasilkan kinerja rumahsakit dalam pencapaian indikator mutu pelayanan rumahsakit. rumahsakit dapat merupakan unit pelaksana teknis dinas dan atau sebagai institusi yang bertanggungjawab kepada bupati dan atau rumahsakit vertikal yang ada di daerah. 7. (2) Tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi. radioterapis. karena SDM kesehatan adalah SDM fungsional yang kepadanya melekat fungsi profesi berdasarkan latar belakang pendidikan kesehatannya. refraksionis optisien. entomolog kesehatan. (6) Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien. Mari kita hitung penghasilan mereka jika tidak melayani pasien di rumahsakit. Tentang disiplin kepegawaian seharusnya tidak diberlakukan secara ketat. analis kesehatan. (5) Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan. (3) Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan. (7) Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis. tenaga keteknisian medis. sumber daya manusia kesehatan yang dimiliki oleh rumahsakit akan mempengaruhi diferensiasi dan kualitas pelayanan kesehatan. atau 07. penyuluh kesehatan.00 jika 6 (enam) hari kerja.30 sampai 16. Pada kebanyakan daerah di Indonesia. Dari Struktur Organisasi Daerah: rumahsakit dapat berdiri dengan legalitas dan ilegal karena ada rumahsakit dengan ijin penyelenggaraan dan tidak ada ijin. otorik prostetik. teknisi gigi. Hal ini dikarenakan adanya indikator . mikrobiolog kesehatan. teknisi transfusi dan perekam medis. rumahsakit daerah dijadikan sumber pendapatan daerah dan dalam laporan pertangggungjawaban pemerintah daerah keberhasilan capaian indikator pelayanan kesehatan rumahsakit jarang dan bahkan tidak pernah dijadikan data atau informasi dalam penyusunan perencanaan dan penyusunan kebijakan. tenaga keterapian fisik. Memang ada daerah yang memberikan semacam insentif dan atau reward untuk tenaga kesehatan tertentu yang harus melayani pasiennya di luar jam dinas yang jumlahnya menurut tenaga dokter spesialis masih belum dianggap cukup (sesuatu yang wajar yang seharusnya dibayarkan). administrator kesehatan dan sanitarian. yang sebenarnya satu indikator gagal dapat menyebabkan perubahan penilaian kinerja.

Sesuatu yang aneh memang. masih adanya masyarakat yang sakit berarti derajat kesehatan masyarakat belum optimal. tentang bagaimana dan seterusnya masyarakat di rumahsakit tersebut. Beperapa peraturan daerah diimplementasikan dengan tidak paripurna. dan kelompok fungsional tidak dilantik oleh bupati kepala daerah padahal struktur organisasi rumah sakit sudah menjelaskannya. satuan pengawas internal. dimana ada kotak kelompok tenaga fungsional dalam bagan struktur organisasi tidak ada isinya dan tidak ada koordinasinya. rasionalitasnya jika makin banyak penerimaan berarti makin banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas sumberdaya di rumah sakit. bagaimana komunikasi dan manajemennya dilakukan di rumahsakit tersebut. bersumber dari oknum pegawai di tingkatan tersebut. daftar nama keluarga dan anggotanya bersumber dari BKKBN. komite rekam medik. tetapi jika tak ada rotan maka akarpun jadilah sehingga kualitas yang diharapkan belum tentu dapat dinikmati sebagai akhir dari pelayanan yang bermutu. mungkin berhubungan dengan ketidak tahuan dan ketidak mampuan membayar atau belum ada dasar hukumnya (padahal peraturan pemerintah sudah menjelaskan hal itu) Dari Manajemen Lintas Program dan Lintas Sektor Rumahsakit sebagai pintu gerbang dan unsur vital dalam penilaian adipura. Ada beberapa instansi yang memiliki keterkaitan dengan rumahsakit daerah. Sebagai contoh: peningkatan penerimaan daerah dari retribusi pelayanan kesehatan akan tidak ada artinya apa-apa jika cakupan angka rujukan ke rumahsakit vertikal atau ke kabupaten lain lebih tinggi dari angka kunjungan UGD rumahsakit yang bersangkutan atau angka pasien rawat inap kelas III. di banyak daerah rumahsakit daerah sebagai penghasil pendapatan asli daerah terbesar. karena merekakan sedang dalam pendalaman ilmu kedokteran. karena apa. Ada apa dengan kompetensi mereka dalam memberikan pelayanan. komite keperawatan. Ada item rupiah yang bisa dirinci jumlahnya dari pola tarif yang ada. dan itu dalam penyusunan program kegiatan dan anggaran rasanya belum pernah ada yang duduk bersama menyatukan pernyataan dan kesimpulan. Jika kelompok ini ada maka tenaga fungsional tersebut dapat dijadikan media informasi guna penyusunan kebijakan yang ajeg dan mumpuni secara keilmuan. Dapat ditambahkan lagi dengan adanya permasalahan kelembagaan. kenapa tidak. sedangkan komite medik. untuk pembuktiannya diperlukan analisa lebih lanjut. bukan dari RT-RW dan Lingkungan. karena yang diperlukan hanya pejabat struktural yang mengepalai beberapa bidang dan bagian. jawabannya akan berhubungan dengan ketersediaan sumberdaya manusia kesehatan dan kualitasnya. makin banyak masyarakat yang menggunakan berarti masih ada masyarakat yang sakit. Sesuatu yang riskan jika PAD dijadikan ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan karena nominal PAD adalah rupiah yang dibayarkan pasien. Hanya tinggal lagi epidemiolognya berpihak kepada siapa. Sebagai contoh: Kebijakan berobat gratis. Apa yang mereka bayar dari pelayanan yang mereka terima dapat mencerminkan tingkatan kesehatan masyarakat tersebut. Keberadaan resident tanpa pengawasan satuan pengawas internal rumahsakit dapat dipersepsikan berbagai rupa oleh masyarakat dengan latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang berbedabeda.vital dalam proses dan atau dalam output sistem pelayanan kesehatan. Epidemiolog dapat menyampaikan laporan ini jika dibutuhkan. . Rumahsakit dengan angka rujukan yang jumlahnya mendekati setengah dari jumlah kunjungan patut dipertanyakan.

Masih belum terlihat jiwa pemiliknya dalam peraturan ini. Rumahsakit dengan standar ISO 14000 dan ISO 2000. jawabnya dapat bersumber dari kualitas dan kuantitas sumber daya yang ada di rumahsakit tersebut. menurut beberapa pengamat adalah sangat tidak masuk akal jika tidak ingin dianggap aneh. dicopi dan dipastekan kemudian diedit agar menjadi sesuai dengan keadaan riel daerah. (4) Pelayanan Keperawatan dan (5) Pelayanan Rekam Medik Tujuan pemerintah dengan akreditasi ini adalah untuk: agar kualitas pelayanan diintegrasikan dan dibudayakan ke dalam sistem pelayanan di rumah sakit. rumahsakit terkareditasi 5 (lima) pelayanan. tetapi bagaimanapun juga SDM rumahsakit daerah harus terlebih dahulu menjawabnya dengan pernyataan yang diikuti oleh sikap yang terakreditasi pula. dan mereka yang berobat dengan fasilitas kartu miskin saat akan dirawat minta dirawat dengan fasilitas VIP. Dari Dukungan Kebijakan Nah ini yang lebih perlu mendapat perhatian. (2) Pelayanan Medik. Pejabat dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sedikitpun tidak menunjang dipilih untuk memimpin roda proses pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi rumahsakit. bermuncullanlah pahlawan dengan pamrih disini. bukan berdasarkan kemampuan yang dapat diberikan oleh rumahsakit. Departemen kesehatan dengan Komite Akreditasi Rumahsakit terus berupaya agar semua rumah sakit daerah harus terakreditasi minimal 5 (lima) pelayanan.dan dalam data base saat perjalanannya rumahsakit harus memberikan pelayanan seperti yang diharapkan mereka. tetapi nyatanya budaya akreditasi belum sama sekali mendarah daging di institusi RSD Kol Abundjani ini. anggaran efektif jika rasio antara . yaitu: (1) Pelayanan Gawat Darurat. karena apa. 8 (delapan) pelayanan dan 13 (tiga belas) pelayanan. Pernyataan jelasnya adalah sumberdaya manusia kesehatan yang ada di rumahsakit tersebut. dan kelompok rumahsakit yang belum terakreditasi dan atau yang belum terstandar. Proses akreditasi telah berlangsung hampir lebih dari 5 (lima) tahun. Pedoman umum mengenai persentase anggaran kesehatan dari total anggaran daerah masih perlu dipertanyakan lebih lanjut lagi. (3) Pelayanan Administrasi. begitu banyak peraturan daerah disusun dengan cara studi banding. mengapa karena ada pasien yang berobat dari keluarga miskin yang benar-benar miskin dengan nama yang tak ada dalam data base yang diberikan oleh pemerintah. Menurut Rusli. Ada apa. …? Pertanyaan yang seharusnya dijawab dengan lintas sektor dan lintas program. RSD Kol Abundjani didukung anggaran belum juga mampu menyelesaikan proyek ini. bukan hanya oleh masyarakat rumahsakit. Dari Akreditasi Rumahsakit. Dunia pelayanan kesehatan semakin hitam jadinya. masih perlu dianalisa dan disikapi dengan jalinan koordinasi dan pengawasan yang komprehensif.

Jika ini berlanjut dapat dibayangkan bagaimana pemenuhan hak pokok masyarakat sebagai pasien jika mereka tidak mampu membayar. timeliness. tetapi lembaga non profit. kalau tigaperempat anggarannya hanya untuk fisik. equity. dan misuse of health care services. Kedua bentuk ini saling bersimbiose mutalisme dalam sebuah sistem. 2001). effectiveness. jaminan mutu) pada tahun 1996. Disebut overuse apabila pelayanan kesehatan yang dilakukan ternyata memberi dampak risiko yang lebih besar daripada potensi manfaat yang dapat ditimbulkan (misalnya memberikan antibiotika untuk kasus-kasus common cold). Dari beberapa konsep tersebut kemudian dikembangkan sejumlah indikator untuk mengkuantifikasikan mutu pelayanan kesehatan. yaitu safety. Under use didefinisikan sebagai kegagalan untuk memberikan pelayanan yang efektif padahal jika dilakukan dapat menghasilkan outcome yang diharapkan (misalnya tidak memberikan imunisasi atau gagal untuk melakukan bedah katarak). dibuat terperangah oleh program tersebut. Sebagai suatu pernyataan akhir dari sebuat proses pelayanan kesehatan. Sebagai sebuah proses. Mutu Pelayanan Kesehatan yang mengemuka sebagai panglima program unggulan Depkes dengan nama Quality Assurance (QA. Sedangkan misuse didefinisikan sebagai komplikasi yang sebenarnya dapat dihindari jika pelayanan kesehatan dilakukan secara seksama. Namun demikian mengingat definisi tersebut dianggap terlalu luas. karena rumahsakit bukan badan profit. over use. pihak Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit sebagai (lagi-lagi) pihak pelaksana. dan patient awareness. Berbagai definisi mutu yang dikaitkan dengan patient safety selanjutnya diajukan. Sementara itu the IOM (1999) dan National Health Service menggunakan konsep mutu pelayanan kesehatan dalam 6 aspek. Peruntukan anggaran tentu membutuhkan kebijakan paripurna yang proporsional. Dengan metode . proses. berbagai peneliti telah mencoba mengembangkannya untuk menjamin agar pengukuran mutu pelayanan kesehatan lebih spesifik. pelayanan kesehatan dapat berbentuk makro dan berbentuk mikro. Kemajuan pertumbuhan dan pengembangan rumahsakit menjadikan rumahsakit sebagai lembaga profit tetapi tidak meninggalkan unsur sosialnya telah mengubah persepsi sumber daya manusia kesehatan dari non material menjadi sangat material. yaitu berpedoman pada struktur. Dari mutu pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah yang diajukan oleh Donabedian (1980). dan outcome. sebenarnya tidak berlaku di institusi pelayanan rumahsakit. efficiency. dan salah satu definisi yang umum digunakan antara lain menyebutkan bahwa mutu pelayanan kesehatan adalah “tingkat di mana pelayanan kesehatan untuk individu maupun populasi mampu menghasilkan outcome pelayanan sesuai dengan yang diharapkan dan konsisten dengan pengetahuan profesional terkini” (IOM. kapan SDM kesehatannya mau manggung dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam pemberian pelayanan kesehatan. karena disini setiap pekerjaan yang dikerjakan dan yang seharusnya dikerjakan bukan lagi berdasarkan panggilan hati nurani. bukan lagi panggilan profesi. Chassin mengusulkan metode lain yang menekankan pada 3 area utama.pembiayaan dan penerimaan berkisar 0.1%. tetapi telah bergeser menjadi panggilan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Salah satunya adalah indikator mutu pelayanan yang disusun oleh ACHS yang merupakan instrumen untuk mengidentifikasi area pelayanan kesehatan yang masih memerlukan perbaikan secara fundamental. yaitu under use.

tidak seperti teman-temannya di Depkes yang sebagian diantaranya berdasi dan naik mobil dinas mulus-mulus dan baru-baru. petugas kesehatan dapat mengetahui keinginan konsumen dan kekurangan yang dimilikinya. Lupa mungkin karena tampilan dokter institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit yang tak pernah berdasi dan naik kendaraan dinas apa adanya kala tugas. bahkan memberatkan konsumen itu sendiri. di sisi lain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara murah dan mudah. dana yang cukup. tetapi tidak tersedia standar quality of care yang berbasis konsumen. Dari keluhan konsumen. Tetapi sebagai institusi bawahan Depkes. Pelayanan yang baik dan memuaskan bisa diwujudkan secara bersama antara pengguna jasa pelayanan dan petugas kesehatan. klien tidak menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Sehubungan dengan hal ini. Namun. Kecenderungan perilaku para praktisi medis yang tidak mempertimbangkan prosesproses komunikasi atau pertukaran informasi. yang relatif berakar dari tradisi dan kebudayaan mereka. pemerintah dan praktisi kesehatan masyarakat bertanggung jawab untuk berupaya merealisasikan adanya kebijakan yang lebih baik. Sebaliknya. Artinya. Memahami Hak dan Kewajiban Konsumen .kuantifikasi ini selanjutnya dapat dilakukan analisis statistik untuk menilai area-area pelayanan yang dianggap memiliki defisiensi dalam menghasilkan outcome yang diharapkan. Rosalia Sciortino dalam “Menuju Kesehatan Madani” (1999:78) menyebut adanya “konstruksi rahasia” yang dipertahankan petugas kesehatan. 2. dan belum mengakar atau belum dirasakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. 1. complain maupun keluhan konsumen semestinya tidak diartikan sebagai serangan. Oleh karenanya. sistem yang berkualitas. ada beberapa kondisi yang tampak dalam pelayanan kesehatan. kondisi ini harus disertai pula dengan perbaikan pada aspek kebijakan dan manajemen. fasilitas dan tenaga medis yang memadai guna menjamin terlaksananya program kesehatan masyarakat. seorang pasien berhak untuk mempertanyakan pelayanan dokter yang dirasakannya tidak jelas. Mungkin Depkes lupa bahwa para dokter yang ada di Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit adalah seorang sarjana juga seperti halnya para petinggi Depkes. Mungkin ini jalan keluar. Upaya yang sama juga dilakukan oleh The Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) yang mengembangkan beberapa indikator yaitu Prevention Quality Indicators. masyarakat memiliki sistem pengobatan atau pengetahuan mengenai perawatan kesehatan (biomedis). dan interaksi sosial yang saling menguntungkan. Kondisi budaya ini di satu sisi menjadi kendala dalam pelayanan medis. Inpatient Quality Indicators. lagi-lagi Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit berada di posisi tak berdaya dan lagi-lagi hanyalah sebagai terminal akhir pembuangan dan berposisi layaknya sandal jepit. Fasilitas kesehatan (formal) yang tersedia masih relatif baru. tetapi diterima sebagai koreksi terhadap cara berpikir dan cara melayani konsumen. hak atas pelayanan kesehatan adalah bagian dari hak asasi manusia (HAM). Hidup sehat merupakan kebutuhan utama (primer) setiap orang. Artinya. kritik. 3. dan Patient Safety Indicators (PSIs). Pada umumnya konsumen sebagai pengguna jasa kesehatan seperti pasien. Dalam hal ini.

Memilih tempat pelayanan yang diinginkannya. Sebagai pasien. Contoh aktual adalah bayi yang dilahirkan cacat (tanpa tangan) di RSUD Bayu Asih Purwakarta (Kompas. petugas kesehatan yang mengerti hak-hak konsumen tidak mau peduli. Mendapatkan ganti rugi apabila terjadi malpraktek yang dilakukan petugas kesehatan. 5. Hanya sebagian kecil konsumen menyadari hak-haknya. Padahal masyarakat tidak pernah belajar di sekolah kesehatan. kelebihan maupun kekurangan pengobatan. Banyak alasan yang seringkali dikemukakan. dokter). Kasus ini kemudian dibawa ke pengadilan dengan tuntutan 1 milyar rupiah. ia berkewajiban mengetahui apa yang dapat atau tidak dapat diatasi oleh perusahaan asuransi. catatan medis petugas kesehatan. Mendapatkan informasi yang dapat dipahaminya mengenai penyakit yang diderita. Namun harus diyakini bahwa ukuran kepuasan tidak bisa . bagaimana sebaiknya pelayanan yang berkualitas? Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa istilah konsumen dalam pelayanan kesehatan mencakup pengertian mereka yang menerima pelayanan jasa maupun obat-obatan dari petugas kesehatan (paramedis. ia menolak suatu metode pengobatan atau tindakan medis tertentu. dan izin persetujuan pasien bila ingin akan dioperasi. 3. karena kecerobohan dalam pelayanannya. Bahkan petugas kesehatan menyadari bahwa masyarakat tidak mengerti cara hidup sehat. Bersedia bekerja sama dan mematuhi perawatan yang diberikan. yaitu: 1. konsumen berhak: 1. Menepati janji dengan petugas kesehatan. dan jaminan keamanan/keselamatannya. meskipun akhirnya ditempuh jalan damai dengan ganti rugi 25 juta rupiah. yang secara khusus disebut klien. telah menyebabkan anak mereka cacat seumur hidup. efek samping pengobatan. pertanyaan yang sering muncul adalah apa saja hak-hak konsumen dalam pelayanan kesehatan. Kebanyakan konsumen juga petugas kesehatan tidak mengetahui hak-hak dan kewajiban konsumen. hal-hal dirahasiakan. pasien. bidan. Orang tua bayi itu menuduh pihak RS. Sebagai pasien. dan seterusnya. 2. Sebaliknya. Dari persoalan ini sebenarnya tuntutan akan pelayanan kesehatan yang memuaskan (berkualitas) semakin kompleks. dan jika dianggap perlu. konsumen memiliki kewajiban. yang tidak seimbang dengan banyaknya pasien yang berkunjung setiap hari kerja. cara pengobatan. Memperoleh rasa aman dari semua proses pelayanan. tidak disiplin. 3. Memberitahu petugas kesehatan jika ia menerima perawatan dari dokter yang lain. 26 Juni 1997). biaya. Setiap konsumen memiliki hak yang dilindungi undang-undang.Dalam berbagai kesempatan diskusi dengan kelompok konsumen. yakni pelayanan yang menghormati hak-hak konsumen. pendapat dari petugas kesehatan lainnya. 4. Jika menggunakan jasa asuransi. Sedangkan yang dimaksud pelayanan yang berkualitas biasanya mengacu pada pengertian Quality of Care atau standar pelayanan yang berkualitas. membatalkan persetujuan sewaktuwaktu. 2. tetapi tidak merasa percaya diri untuk mengemukakannya di tenpat pemeriksaan. prosedur perawatan. Mengetahui sejarah atau riwayat pengobatannya. misalnya keterbatasan petugas dan fasilitas tidak memadai. 4. dalam hal ini bidan.

Setiap metode layanan (KB) tersedia bagi perempuan dan laki-laki yang ingin merencanakan keluarganya. 1994). 2. hak ganti rugi. Judith Bruce dari Population Council menempatkan enam elemen dasar yang kemudian dikenal dengan “Bruce Framework” dan menjadi sumber utama bagi penelitian mengenai kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi dari sisi tenaga kesehatan. Dari sisi provider. termasuk kartu untuk mengingatkan dan kunjungan rumah. menentukan pilihan. cara penggunaan metode. Gejala seperti ini terutama terjadi di tingkat pelayanan kesehatan dasar di pedesaan. yakni penyediaan pelayanan kesehatan yang terus menerus memperbaiki diri dengan memperhatikan kebutuhan dan tuntutan pasien. Pada tahun 1990. Pilihan terhadap Metode Layanan. menjalankan protokol (aturan) dan staf yang kompeten melakukan teknis klinik. Ukuran pencapaian pelayanan kesehatan selama ini lebih berorientasi pada pencapaian target sarana pelayanan dan penerima layanannya. Ukuran standar yang bisa dijadikan pedoman adalah kebutuhan orang banyak yang selama ini sudah dibakukan. Konsumen dan pengelola pelayanan kesehatan bisa bersama-sama merumuskan standar pelayanan yang berkualitas (quality of care). organisasi KB dunia. Informasi untuk Klien. Aspek pemenuhan kualitas kesehatan. yakni mengacu pada pemenuhan hakhak pasien. Dasarnya adalah “problem solving”. Informasi yang berkualitas dapat berdampak pada bagaimana klien menggunakan metode kontrasepsi. Informasi yang diberikan harus berisi pula informasi mengenai tiap metode. 1999. dokter. Bertolak dari “Quality of Care” Konsep quality of care adalah istilah yang digunakan secara luas dalam pelayanan kesehatan. misalnya oleh IPPF (International Planned Parenthood Federation).bertolak dari kepentingan individu saja karena kepuasan individual tidak ada batasnya. yaitu pemantauan masalah dan mencari jalan keluar dengan memperbaiki akar masalah secara berkelanjutan (The Population Council. Bagaimana klien berinteraksi dengan tenaga kesehatan. Konsumen tidak memperoleh manfaat yang optimal dari pelayanan kesehatan. standar quality of care di Indonesia belum jelas. petugas. kerahasiaan. hak atas keamanan. dan efek sampingnya. kenyamanan. atau hak-hak klien kesehatan reproduksi. . Hubungan Antarpribadi. tanggung jawab sosial. Konsep ini biasanya dirujuk pada prinsipprinsip manajemen pengawasan kualitas terhadap fasilitas pelayanan kesehatan umum. 8 No. Oleh sebab itu. 1. Pasal 4. Mekanisme untuk Mendorong Keberlanjutan. ukuran standar pelayanan cukup jelas. Dari sisi klien. Klien dapat didorong meneruskan penggunaan kontrasepsi yang efektif melalui berbagai cara. yang merumuskan 10 hak-hak klien KB antara lain: hak atas informasi. Keterampilan Teknis. dan pembelajaran kesehatan bagi pengguna (konsumen) terabaikan. 3. 5. yang dapat dipandang dari provider (penyedia jasa) dan klien (konsumen). atau pun hak-hak konsumen sebagaimana yang diatur dalam UUPK No. apakah cukup simpatik dan cukup waktu untuk bertemu dengan kliennya. proses pencapaian pelayanan yang memuaskan tidak bisa tidak melibatkan orang banyak. 4. mendapatkan pelayanan kapan dan di mana saja (akses). hak mengajukan protes (berpendapat). dan pinggiran kota. dan kemudian ditambahkan oleh YLKI dan PKBI. dan komunitas setempat. di tingkat desa sekalipun. Mempertahankan kondisi aseptic.

Penyebarluasan informasi terus-menerus kepada konsumen yang lain. . Usaha (aksi-aksi) bersama menggugat petugas kesehatan di tempat pelayanan. manusia. Penyimpangan dalam area-area penting manajemen pelayanan kesehatan yang menyebabkan kematian tersebut. 2. Masalah dan akar masalah. 3. 2) dokumentasikan informasi yang berhubungan dengan pasien dan apa yang akan dilakukan dalam merespon kebutuhan pasien. untuk ini diperlukan: 1) deskripsikan dengan jelas hasil pengkajian. rencana keperawatan dan rencana tindakan yang akan dilakukan. Jadi. strategi dasar yang penting dilakukan aktifis organisasi konsumen yang melakukan pendampingan konsumen kesehatan adalah dengan memperkuat pengorganisasian dan pendidikan kritis bagi kelompok-kelompok konsumen yang rentan seperti petani. kebijakan. Pendamping atau organizer bersama kelompok konsumen merumuskan: 1. pelayanan pasca persalinan. Instansi dan orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab. sistem ini berhubungan dengan unsur-unsur manajemen seperti peralatan. 5. cara pandang konsumen terhadap pelayanan yang diinginkan atau pelayanan yang berkualitas (quality of care versi konsumen). perempuan. Pelayanan yang Terpadu. maka organisasi konsumen dapat mengambil peran dengan melakukan advokasi kebijakan dan pembelaan hukum. 6. Hasil penelitian tentang perbaikan mutu pelayanan kesehatan di instalasi rawat inap RSD KOL. Bentuk-bentuk kasus yang dialami konsumen. 7. dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya. Seperti yang disarankan oleh The Nursing and Midwifery Council. konsep. pelayanan KB terpadu dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Klien memerlukan pelayanan yang nyaman dan terpadu. (2002). dan anggaran. ABUNDJANI BANGKO menyarankan yang diantaranya Pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien terdiri dari serangkaian proses-proses dari beberapa sistem. Mengingat gerakan konsumen saat ini didukung oleh kebijakan yang relatif jelas dengan adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK). Inisiatif konsumen sendiri dalam mengatasi masalahnya. bila suatu waktu konsumen dapat mengadili provider pelayanan kesehatan atas dasar pelanggaran terhadap hak-hak konsumen secara perorangan atau pun berkelompok (class-action). buruh dan kaum miskin kota. Misalnya. Bukan hal yang mustahil.6. bahwa memelihara kualitas RM akan membantu dalam memelihara ketrampilan dan kemandirian dalam asuhan keperawatan. Usulan. 4. memerlukan tindakan terstruktur dengan manajemen resiko dan manajemen mutu. Untuk itu semua peneliti menyampaikan beberapa saran seperti berikut: Saran untuk Perawat.

2) Menyusun berbagai prosedur dan standar pelayanan sesuai dengan hasil tingkat kebutuhan dan hasil dari penelitian ini. 3) Menjadikan RSD KOL ABUNDJANI bukan sebagai tempat mencari sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan hidup tetapi juga menjadikannya sebagai tempat ibadah dan fungsi sosial. Prosedur dan Standar Pelayanan Rawat Inap dengan Kegawatan . diantaranya survey kepuasan. survey kebutuhan pelayanan dan survey tingkat utilisasi pelayanan kesehatan rumahsakit. Saran untuk manajemen RSD diantaranya adalah: 1) Berusaha mengetahui keinginan pelanggan dengan melakukan survey pasar. Prosedur dan Standar Pelayanan Kamar Operasi d. diantaranya: a. 2) Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetensi dan kode etik profesi. memperlakukan setiap pasien dengan sopan dan sewajarnya. menghormati privasi dan kehormatan pasien. menghormati hak pasien dalam keterlibatan secara aktif pada pengambilam keputusan. menyadari berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Merangin tentang struktur organisasi dan tata kerja RSD KOL ABUNDJANI. menghargai dan menjaga informasi tentang pasiennya. menghindarkan pasien dari resiko fisik dan finansial akibat tindakan medis. bekerjasama dengan para sejawat untuk kebaikan pasien-pasien yang dirawat. Saran untuk komite staf fungsional diantaranya adalah: 1) Mematuhi tugas pokok dan fungsinya seperti yang tergambarkan dalam Peraturan Daerah Kab. Prosedur dan Standar Pelayanan Anastesi e.3) jika sudah diketahui dengan baik kondisi pasien lakukan tindakan yang dapat diterima dan dapat dilakukan dengan tahapan yang baik dan benar saat melaksanakan perawatan kepada pasien dan jelaskan bahwa setiap tindakan tidak selalu berbahaya untuk selalu untuk keselamatan dan membatu mereka. dan 4) menuliskan perencanaan perawatan agar dapat diteruskan oleh sejawat dalam perawatan berikutnya dan selalu menuliskan tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. mendengarkan dan menghormati pandangan-pandangan pasien. Prosedur dan Standar Pelayanan Laboratorium b. Prosedur dan Standar Pelayanan Radiologi c. selalu memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan. dan dapat ditambahkan bahwa Saran untuk Dokter penyelenggara utama perawatan dan pengobatan pasien di instalasi rawat inap diantaranya adalah: Bertugas berdasarkan standar General Medical Council seperti: pemberian pelayanan kepada pasien merupakan hal yang utama. jujur dan dapat dipercaya. memberikan informasi yang dapat dimengerti pasien.

faktor Standart Operating Procedure dan atau instruksi kerja. manajemen. Ia dapat berupa kelemahan pada manusia. 6) Menyusun dan memberlakukan sistem pengawasan dan pemantauan pelayanan kesehatan yang diberikan dengan efektif. misalnya dengan membuat brosur-brosur. faktor masa kerja dan lama Jabatan. 9) Menginvetarisir akar penyebab masalah dari faktor internal yang mempengaruhi kualitas layanan kesehatan dan administrasi RM terutama dalam bidang: faktor pendidikan SDM. sarana. . faktor fasilitas dan peralatan. faktot beban kerja. 7) Melaksanakan saran-saran ini dengan dukungan sumber daya manusia kesehatan dan anggaran kesehatan beserta kebijakan-kebijakan kesehatan. faktor pengendalian dan evaluasi. alat. Hal ini dilakukan dengan audit internal secara rutin dan melakukan management riview guna membahas tindak lanjut yang perlu dilakukan agar pelayanan yang diberikan selalu konsisten sesuai prosedur dan standar yang telah ditetapkan. 2) Melakukan analisis lebih dalam tentang akar masalah yang sudah ditemukan (root cause analysis). mustahil tata tertib administrasi rumahsakit akan berhasil seperti apa yang telah distandarisasikan oleh pemerintah maka oleh karena itu diperlukan adanya komitment bersama untuk sepakat menyusun pedoman RM dan melaksanakannya dengan pertanggungjawaban profesi. Akar masalah adalah penyebab paling dasar dari masalah etika yang terjadi. faktor manajemen rawat inap dan faktor staf medis fungsional. 4) Menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan guna mensosialisasikan jasa-jasa pelayanan yang mampu diberikan oleh rumahsakit. menganalisis komponen-komponen itu sehingga ditemukan akar masalah. faktor administrasi dan alur layanan. faktor pelatihan dan tambahan pengetahuan. information desk. Seperti diketahui bahwa tata tertib administrasi merupakan salah satu faktor yang menentukan di dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumahsakit. atau faktor-faktor lain. 5) Membumikan paradigma bahwa dari pasien kita mendapatkan jasa pelayanan yang mendukung kesejahteraan dan kepada pasien seharusnya tumbuh keinginan untuk membebaskan masalah kesehatannya.f. terminal komputer yang dapat diakses oleh pelanggan. Perlu adanya dukungan sistem pengelolaan RM yang baik dan benar. 3) Memastikan bahwa prosedur dan standar yang telah disusun diterapkan dan dilaksanakan dengan baik. prosedur. untuk menetapkan arah pemecahannya. 3) Menetapkan dan memilih alternatif untuk pemecahan akar masalah. budaya organisasi. kepemimpinan. Dianjurkan pula langkah-langkah umum sebagai berikut untuk pemecahan masalah mutu dan efisiensi dan efektifitas pelayanan rumah sakit: 1) Memecahkan struktur masalah yang sudah teridentifikasi kedalam komponenkomponennya. sistem. Prosedur dan Standar Pelayanan Rekam Medik.

Saran untuk Pemerintah Daerah. 5) Melakukan tindakan koreksi jika masalah etika belum terpecahkan atau terulang lagi terjadi. 4) selalu menyediakan tabungan kesehatan saat sehat dan mampu melaksanakan aktifitas memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia. 2) Berperan sebagai regulator yang melindungi dan menumbuh kembangkan kemampuan profesionalisme tenaga pemberi pelayanan kesehatan. diagnosanya. Falsafah yang mendasari program kendali mutu antara lain: . 2) bertanya dengan petugas kesehatan tidak dengan emosi tentang keadaan penyakit. Saran untuk pasien. yakni pelayanan yang sesuai dengan standar yang diakui sehingga dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan konsumen. jika ragu dan meragukan mintalah penjelasan lebih lanjut tentang kebijakan dan atau saran tersebut. kemungkinan kesembuhan dan tindakan apa saja yang akan dilakukan dan selalulah memulai komunikasi dengan kata „maaf“. Hal lain adalah Pelaksanaan Program kendali mutu harus berdasarkan falsafah bersama untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan yang diberikan oleh tim pelayanan dari berbagai disiplin ilmu. Tindakan koreksi yang dapat menimbulkan masalah etika baru adalah jika manusia sebagai penyebab akar masalah yang berulang-ulang dikeluarkan dari rumah sakit.4) Memantau dan mengevaluasi penerapan upaya pemecahan masalah yang sudah dilaksanakan. sesuai dengan beberapa kebijakan nasional pembangunan kesehatan di Indonesia diharapkan pemerintah daerah dapat: 1) Menjadi stake holder yang berpihak dan mendukung dalam berbagai aspek manajemen pelayanan kesehatan. „tolong“. 3) mengikuti semua kebijakan sarana pelayanan dan saran dari petugas kesehatan dengan jujur dan bertanggungjawab. diantaranya adalah: 1) sebelum penyakit menjadi lebih parah (persepsi masyarakat) sebaiknya segera memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang terdekat. Untuk itu perlu dikembangkan suatu sistem dan mekanisme yang efektif guna tercapainya pelayanan prima tersebut. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan mengandung arti bahwa sarana pelayanan kesehatan dan tenaga profesi kesehatan harus mampu menunjukkan akuntabilitas sosial untuk memberikan pelayanan prima kepada konsumen. dan „tolonglah saya“ atau „tolonglah kami“. 3) menjadi fasilitator dalam akselerasi peningkatan kemampuan pemberian pelayanan kesehatan sesuai dengan upaya pencapaian tujuan pembangunan kesehatan daerah.

9. Staf mempunyai pengetahuan yang cukup dan memiliki ide-ide yang kreatif untuk memecahkan masalah-masalah dalam pekerjaannya Staf dapat memecahkan masalah jika cukup informasi-informasi yang diperlukan . 5. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen. 2. 7. ganti rugi/penggantian. Masing -masing disiplin menyepakati untuk mengkaji pelayanan yang diberikan oleh anggotanya. Dengan melakukan pendekatan konkuren maupun retrospektif terhadap lingkup struktur. 4. Hak atas kenyamanan. proses dan hasil maka semua aspek-aspekantara lain: Tenaga keperawatan. Hak untuk mendapatkan kompensasi. asuhan keperawatan dan kepuasan klien harus dinilai dengan menggunakan standar-standar yang tepat. . Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. 6. Pekerja pada umumnya merasakan kepuasan kerja dan lebih produktif bila mereka dibantu dengan menciptakan lingkungan kerja yang baik dengan mengurangi hambatan dalam pekerjaannya. Program kendali mutu perlu dilaksanakan dan dibuat secara teratur dan terus menerus untuk meningkatkan mutu pelayanan. perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Hak untuk mendapatkan advokasi. Kesehatan adalah hak azazi manusia. hubungan yang jelas adalah pelayanan jasa kesehatan. Maka manusia sebagai konsumen rumahsakit berhak sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen.• • • • • • Masing-masing disiplin telah mengidentifikasi dan menyetujui falsafah dasar untuk dikembangkan menjadi tujuan masing-masing pelayanan. seperti: 1. walaupun demikian baiknya program kendali mutu ini dilakukan secara terpadu tetapi tetap ada kendala kendala yang perlu diperhatikan. 3. Hak atas informasi yang benar. Semua staf memberikan perhatian untuk mencapai tujuan institusi yang dalam hal ini memberikan efek terhadap pelayanan pada klien. Praktek perawatan tidak akan mungkin meningkatkan kecuali masalah dapat diidentifikasi dan dipecahkan. Dengan melibatkan semua staf keperawatan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan program pengendalian mutu ini. 8. apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Dari UU Perlindungan Konsumen rumahsakit adalah: salah satu institusi pemberi pelayanan dibidang kesehatan. maka tujuan akhir dari program pengendalian mutu yaitu meningkatnya mutu pelayanan keperawatan berdasarkan standar akan dapat dicapai dengan baik. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Menyimak produk Depkes tahun 1988. 5. sebagai konsumen kita perlu mengetahui faktor-faktor yang melemahkan konsumen. Proses peradilan yang ruwet dan memakan waktu yang berkepanjangan. mutu barang yang tidak bagus. delay pesawat. Maka untuk mengurangi kesewang-wenangan para produsen barang dan jasa. Masih rendahnya tingkat kesadaran konsumen akan hak-haknya. Cara lain yang lebih kreatif adalah langsung mengadu ke pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) atau lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Yang membedakan hanyalah kekuasaan. PDAM. maka program QA adalah sebuah langkah kebimbangan dan ambivalensi. yang di Depkes tidak lebih pandai dari yang di institusi pelayanan kesehatan /rumahsakit. termasuk panduan pengobatan. Maka inilah realitas ketertindasan konsumen dalam menghadapi pilihan-pilihan barang/ jasa harus mereka konsumsi. tindak kriminal di kereta api. Dan supaya dapat dana segar nan besar. apa kata dokter/perawat mereka iyakan. Artinya mengulang program mapan yang sudah terintegrasi dengan keseharian para petugas Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit dengan mengganti nama QA yang justru lebih . Semua itu adalah persoalan yang kerap kali muncul di Indonesia. Itulah kira-kira gambaran umum. Memang pada kenyataannya konsumen kerap berada dalam posisi yang tidak berimbang dibanding dengan posisi produsen. Misalnya soal layanan listrik PLN. dijamin dokter di institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit lebih peka dibanding dokter di Depkes walau sepanjang apapun gelarnya. lebih-lebih kala berbicara kepekaan terhadap keperluan masyarakat terhadap layanan kesehatan. yang mana dalam Pedoman Kerja Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit sudah sangat jelas dan rinci berisi panduan tatalaksana setiap kegiatan di Institusi pelayanankesehatan/rumahsakit yang mengacu kepada UPK. Cara ini terlalu sederhana dan tidak menyelesaikan masalah. banyak sekali keluhan dari konsumen yang merasa dirugikan. dan dokter yang berpraktik di rumahsakitpun dalam memberikan pelayanan kesehatannya. trial and error aneka macam program dari depkes. keluhan yang disampaikan kebanyakan hanya lewat surat pembaca di media massa. Parameterpun disiapkan. layanan barang/jasa yang buruk. maka bim salabim lahirlah Quality Assurance atau Jaminan Mutu. Posisi konsumen yang selalu lemah (lemah informasi dan lemah kondisi sehingga tak berani menyangga seperti kasus Prita). Pun demikian pula setelahnya. Belum terkondisikannya “masyarakat konsumen” karena memang sebagian masyarakat ada yang belum mengetahui tentang apa saja hak-haknya dan ke mana hak-haknya dapoat disalurkan jika mendapat kesulitan atau kekurangan dari standar barang atau jasa yang sewajarnya. 3. yang mana depkes tidak mau kalah dengan departemen lain untuk ikut mencicipi jajan IMF. Jaminan mutu produk tahun 1996 yang lalupun. Padahal bisa jadi kala sekolah dahulu. Masyarakat belum memiliki kemauan untuk menuntut hak-haknya. konon hasil pemikiran grusa-grusu karena ada “jajan” berupa pinjaman IMF (maksudnya hutang yang harus dibayar). mengapa hingga kini institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit ibarat tempat uji coba. Ironisnya.Bila menyimak surat pembaca di media cetak. 2. 4. monitor dan evaluasinya. antara lain: 1. nama programnya pun dibuat “greng”. panduan. baik terhadap item kegiatan ataupun terhadap program besarnya. demikian pula pelatihan. pelayanan rumahsakit dan bahkan pelayanan pajak dan lain sebagainya.

Obat merupakan barang yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit. Untuk meningkatkan mutu layanan. jiwanya masih nol saya rasa. Bedanya hanya di segi dana yang luar biasa besar dan pelatihan berulang yang justru buang-buang waktu. Sayangnya yang ini tidak pernah tersentuh. Hal ini tercermin pada perubahan fungsi klasik rumah sakit yang pada awalnya hanya memberi pelayanan yang bersifat kuratif (penyembuhan) saja terhadap pasien melalui rawat inap dan rawat jalan bergeser ke pelayanan yang lebih komprehensif meliputi promotif. kuratif dan rehabilitatif. Sistem manajemen yang berlaku global mempengaruhi pola berfikir manajer rumah sakit. Pengaruh perubahan dinamika lingkungan usaha rumah sakit yang terjadi tidak saja di Indonesia tetapi hampir diberbagai penjuru dunia. . tidak cukup dengan kajian monopoli petinggi Depkes. penentuan tarif lebih rasional. preventif. Cost recovery rate (CRR) rumah sakit menjadi hal yang sangat penting. Kebutuhan akan obat ini sering disertai dengan biaya yang besar. Rumah sakit dapat meningkatkan pendapatan dengan memperbesar omset penjualan obat. Gambaran lain adalah tehnologi kedokteran dan obat-obatan yang berkembang pesat disisi lain rumah sakit adalah lembaga pemberi jasa pelayanan kesehatan yang tergantung pada perkembangan tehnologi kedokteran. hanya 14% yang sudah terakreditasi. RSD Kol Abundjani saat ini sedang dalam proses akreditasi yang pelaksanaannya setengah isi dan setengah kosong. sebagi contoh operasi dengan menggunakan peralatan mikro merupakan suatu tindakan yang sama canggihnya dengan tehnologi program ruang angkasa dan militer yang tentu saja memerlukan SDM yang berkompetensi untuk mengelolanya. Menurut Trisnantoro (2005) saat ini sektor kesehatan berbeda jauh dengan keadaan 50 tahun lalu. disertai peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan serta mampu berkembang (growth) dan survive. Tehnologi yang digunakan saat ini sangat canggih. dari ratus rsd dan puluh rsp serta ratus rss. Pelayanan rumah sakit diera sekarang tidak terlepas dari perkembangan ekonomi masyarakat . padat karya dan padat tehnologi Ketiga sifat tersebut menuntut pengelolaan keuangan rumah sakit yang lebih professional. Hal inilah menjadikan rumah sakit menjadii lembaga yang bersifat padat modal.sempit tapi tidak lebih mendalam. lebih dari itu ada ukuran non teknis yakni keinginan dan harapan warga. dengan menekankan pada aspek efisiensi. berdasarkan hitungan-hitungan ekonomi. Siklus demikian mestinya tidak boleh terulang. Hal ini menuntut para manajer untuk lebih memperhatikan secara saksama dinamika lingkungan yang ada yang kemungkinan besar akan merubah system manajemen yang dipergunakan. artinya pengguna jasa pelayanan Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit tak lebih hanyalah obyek semata yang tak punya hak suara. Tehnologi kedokteran mempengaruhi biaya pelayanan rumah sakit. karena prosesnya sendiri tidak terakreditasi. Besarnya omset untuk obat-obatan mencapai 50-60% dari seluruh anggaran rumah sakit. efektif dan produktifitas serta memperhatikan pemerataan pelayanan. Salah satu tehnologi tinggi adalah obat yang dihasilkan oleh industri farmasi. Akreditasi rumahsakit dicanangkan sejak tahun 2007 dan sampai tahun 2009 ini capaiannya sangat menyedihkan.

disamping itu belum ada standar sumber pendanaan termasuk pembagian sumber pendapatan (keuntungan) apakah untuk pemilik atau untuk pengembangan. Hal yang dikhawatirkan adalah pasien dikelas bawah justru mensubsidi pasien kelas atas. Dengan demikian rumah sakit bukanlah lembaga yang hanya menggunakan prinsip kedokteran dan kesehatan. Rumah sakit . Kita pelajari Dalam perkembangannya rumah sakit swasta yang dikelola oleh yayasan keagamaan seperti rumah sakit Islam sangat kesulitan dalam memenuhi fungsi sosialnya oleh karena kesulitan dalam hal pendanaan. akibat hilangnya subsidi dan semakin mahalnya alat dan tenaga kesehatan yang pada akhirnya menuntut pendapatan yang tinggi. sementara penggalian dana-dana kemanusiaan sama sekali tidak dikelola secara sistematis. Untuk menjalankan fungsi sosialnya ini sebaiknya anggaran untuk pos sosial tersebut tersedia dalam APBD dan diatur dengan kemudahan-kemudahan pengelolaannya tetapi tetap dengan pengawasan yang ketat. tetapi lebih mengarah pada suatu lembaga yang harus hidup dan bermutu. Hal ini dapat membawa suatu resiko yaitu rumah sakit keagamaan akan menjadi lembaga usaha yang praktis untuk mencari keuntungan atau menghidupi SDM. Subsidi yang mengecil atau bahkan tidak ada sama sekali menyebabkan rumah sakit keagamaan kesulitan mencari sumber dana bagi orang miskin yang sakit. Kenyataan menunjukkan bahwa konsep subsidi silang sebenarnya tidak ada ataupun jika ada subsidi silang akan menggerogoti aset dan kemampuan investasi rumah sakit.Pengertian rumah sakit menurut WHO adalah suatu bagian penyeluruh dari organisasi sosial dan medis berfungsi memberikan pelayanan Kesehatan yang lengkap kepada masyarakat. Hal yang penting adalah masalah biaya operasional dan pemeliharaan yang tidak semudah biaya investasi untuk memperolehnya. Penelitian Abeng dan Trisnantoro (1997) disebuah rumah sakit swasta menunjukkan bahwa tarif kamar VIP berada dibawah unit cost. Penerapan subsidi silang dari kelas atas (VIP) ke kelas bawah (III) tidak rasional. berkembang dan mempunyai dasar etika berbagai profesi dan mempunyai etika bisnis. Akibatnya banyak rumah sakit swasta keagamaan yang mempunyai fasilitas fisik dan peralatan yang memadai tetapi kesulitan dalam mencari dana operasional. sehingga menaikan tarif akan menjadi pilihan. Dari definisi diatas bahwa rumah sakit disamping memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif kepada masyarakat juga sebagai pusat pendidikan calon tenaga kesehatan. Hal ini membuat banyak rumah sakit swasta bahkan yang dikelola oleh yayasan keagamaanpun berubah menjadi lembaga for profit sebagai jawaban terhadap perubahan lingkungan yang terjadi diluar rumah sakit akibat pengaruh globalisasi. Berdasarkan kenyataan diatas maka rumah sakit mulai berubah menjadi lembaga usaha yang membutuhkan berbagai konsep ekonomi dalam manajemen yang mungkin asing bagi para dokter atau pemilik rumah sakit. dimana pelayanan keluarga menjangkau pelayanan keluarga dan lingkungan. Rumah sakit tidak lagi harus dipandang sebagai suatu lembaga yang harus bersandar pada norma-norma dan etika profesi dokter. rumah sakit juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan. 2005). serta untuk penelitian biososial. Walaupun demikian masih banyak rumah sakit keagamaan masih melihat perubahan yang ada tanpa strategi pengembangan yang jelas (Trisnantoro. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa rumah sakit juga harus menjalankan fungsi sosialnya. baik kuratif maupun rehabilitatif.

manajemen proses dan output dari proses pelayanan kesehatan secara mikro maupun makro. Jika pemerintah yang menyampaikan kritikan ini dapat berarti bahwa masyarakat mendapatkan legalitas bahwa memang benar mutu pelayanan kesehatan harus diperbaiki. SKM.blogspot. Catatan Kuliah Manajemen Rumah Sakit 2. 4. sudahkan kita mengetahuinya. MKES Setelah membaca berita “RUMAHSAKIT HARUS BERBENAH” dan “RSD ABUNDJANI BANTAH ABAIKAN FASILITAS” di koran RADAR SARKO saya sebagai manusia kesehatan dengan ini menyampaikan pemikiran yang mungkin mengundang tanya atau pertanyaan lagi. Pedoman Pelayanan Kesehatan Depkes RI Penulis adalah magister manajemen rumahsakit UGM dan seorang calon widyaiswara dari kabupaten Merangin. 5. Dan barangkali ini hanya merupakan materi pencerahan yang semoga bermanfaat.merupakan lembaga multiprofesional yang menghasilkan berbagai produk pelayanan kesehatan yang bermutu dengan tetap memperhatikan aspek sosialnya. the function of which is to provide for the population complete health care. Wikipedia Indonesia 5. Mutu akan diwujudkan jika telah ada dan berakhirnya interaksi antara penerima pelayanan dan pemberi pelayanan. Rumahsakit menurut WHO Expert Committee On Organization Of Medical Care: “is an integral part of social and medical organization. dimana output layanannya menjangkau . Implementasinya adalah penerapan ekonomi dalam pelayanan kesehatan harus dilakukan diantaranya dengan melakukan analisis biaya di rumah sakit.html http://rusliakatili. Tesis Evaluasi Mutu Pelayanan Kesehatan Rawat Inap melalui Audit Kematian 3. lembaga sosial atau swadaya masyarakat dan bahkan pemerintah sekalipun. yang dalam bahasa Indonesianya jika diterjemahkan secara bebas dapat berarti: suatu bagian menyeluruh dari organisasi dan medis. Mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh ada tidaknya kritikan dan keluhan dari pasiennya. 3. Mutu Pelayanan Kesehatan. Sumber: 1. 6. Ambivalensi Antara Kewajiban dan Keinginan (antara penyelenggara dan pemilik) Jonirasmanto. BMJ Journal 4.com/2007/10/wajah-perumahsakitan- 1. 2. sedang mempersiapkan diri untuk Stratifikasi Khusus Widyaiswara secara mandiri. the hospital is also a centre for the training of health workers and for biosocial research”. saat-ini. Dari definisi. both curative and preventive and whose outpatient service reach out to the family and its home environment. Mengukur mutu pelayanan dapat dilakukan dengan melihat indikator-indikator mutu pelayanan rumahsakit yang ada di beberapa kebijakan pemerintah. Analisa indikator akan mengantarkan kita bagaimana sebenarnya kualitas manajemen input. berfungsi memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat baik kuratif maupun rehabilitatif.

pelayanan penunjang medis tambahan. pelayanan penunjang medis. Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan. Berikut merupakan tugas sekaligus fungsi dari rumah sakit secara lengkap. Definisi rumahsakit ini di setiap peraturan daerah pada umumnya sama. hanya saja terdapat perbedaan pada tugas pokoknya. Definisi rumah sakit menurut Keputusan Menteri Republik Indonesia nomor 983. menggunakan gabungan ilmiah khusus dan rumit. Melaksanakan pelayanan administratif. yang diantaranya adalah: luas tidaknya lingkup spesialistik yang dimiliki. Melaksanakan pelayanan medis khusus. berbentuk badan dan sebagai unit pelaksana teknis daerah. Tugas dan fungsi ini berhubungan dengan kelas dan type rumah sakit yang di Indonesia terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Dari Sumberdaya Kesehatan yang ada di rumahsakit: (1) Tenaga kesehatan terdiri dari : 1. Membantu pendidikan tenaga medis umum. yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud yang sama.MENKES/SK/1992 mengenai pedoman rumah sakit umum dinyatakan bahwa: ”Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Melaksanakan pelayanan medis tambahan. tenaga keperawatan. Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan. kekhususan menyertainya dengan adanya rumah sakit yang dibina dirjen yanmed Dpekes RI yang secara fisik berada di daerah kabupaten. 2. kelas “a. Melaksanakan pelayanan kedokteran sosial. dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern. tenaga medis. c. b. tenaga kefarmasian. Membantu kegiatan penyelidikan epidemiologi. Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi. Melaksanakan pendidikan para medis. spesialistik dan pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan”. . untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan. Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman. yaitu: • • • • • • • • • • • • • • • • Melaksanakan pelayanan medis. 3. d”. Perubahan kelas rumah sakit dapat saja terjadi sehubungan dengan turunnya kinerja rumahsakit yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Indonesia melalui Keputusan Dirjen Yan Medik. rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga kesehatan serta untuk penelitian biososial.pelayanan keluarga dan lingkungan. kota ataupun di provinsi. Membantu pendidikan tenaga medis spesialis. Melaksanakan pelayanan rawat inap. Sementara itu menurut Siregar (2003) menyatakan bahwa rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks. Melaksanakan pelayanan rawat jalan atau rawat darurat dan rawat tinggal (observasi).

atau 07. Pada kebanyakan daerah di Indonesia. analis kesehatan. mikrobiolog kesehatan. tenaga kesehatan masyarakat. teknisi gigi. 5. okupasiterapis dan terapis wicara. Mari kita hitung penghasilan mereka jika tidak melayani pasien di rumahsakit. analis farmasi dan asisten apoteker. (4) Tenaga kefarmasian meliputi apoteker. Tentang disiplin kepegawaian seharusnya tidak diberlakukan secara ketat. tenaga keteknisian medis.4. (5) Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan.00 jika 6 (enam) hari kerja. administrator kesehatan dan sanitarian. (8) Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer. otorik prostetik. (2) Tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi. Dari Struktur Organisasi Daerah: rumahsakit dapat berdiri dengan legalitas dan ilegal karena ada rumahsakit dengan ijin penyelenggaraan dan tidak ada ijin. 7.30-14.00 jika 5 (lima) hari kerja. tenaga gizi.30 sampai 16. (3) Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan. entomolog kesehatan. refraksionis optisien. hal yang seperti ini perlu komunikasi yang ajeg demi harmonisasi pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan. Sebagai unsur manajemen. rumahsakit dapat merupakan unit pelaksana teknis dinas dan atau sebagai institusi yang bertanggungjawab kepada bupati dan atau rumahsakit vertikal yang ada di daerah. tenaga keterapian fisik. teknisi elektromedis. biasanya hanya . (7) Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis. keterbatasan keanekaragaman jenis tenaga kesehatan akan menghasilkan kinerja rumahsakit dalam pencapaian indikator mutu pelayanan rumahsakit. Kekhususan ini sangatlah tidak mungkin dimanajemeni secara umum. 6. sumber daya manusia kesehatan yang dimiliki oleh rumahsakit akan mempengaruhi diferensiasi dan kualitas pelayanan kesehatan. radioterapis. rumahsakit daerah dijadikan sumber pendapatan daerah dan dalam laporan pertangggungjawaban pemerintah daerah keberhasilan capaian indikator pelayanan kesehatan rumahsakit jarang dan bahkan tidak pernah dijadikan data atau informasi dalam penyusunan perencanaan dan penyusunan kebijakan. Kondisi ini akan berhubungan dengan kemapanan dukungan kebijakan dan dukungan anggaran yang pada akhirnya berdampak pada kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Memang ada daerah yang memberikan semacam insentif dan atau reward untuk tenaga kesehatan tertentu yang harus melayani pasiennya di luar jam dinas yang jumlahnya menurut tenaga dokter spesialis masih belum dianggap cukup (sesuatu yang wajar yang seharusnya dibayarkan). (6) Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien. penyuluh kesehatan. teknisi transfusi dan perekam medis. jika diberlakukan secara ketat maka mereka akan menuntut uang lembur untuk pekerjaan yang dilakukannya pada waktu di luar jam dinas (07. karena SDM kesehatan adalah SDM fungsional yang kepadanya melekat fungsi profesi berdasarkan latar belakang pendidikan kesehatannya.

Jika kelompok ini ada maka tenaga fungsional tersebut dapat dijadikan media informasi guna penyusunan kebijakan yang ajeg dan mumpuni secara keilmuan. rasionalitasnya jika makin banyak penerimaan berarti makin banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas sumberdaya di rumah sakit. Hanya tinggal lagi epidemiolognya berpihak kepada siapa. Epidemiolog dapat menyampaikan laporan ini jika dibutuhkan. Rumahsakit dengan angka rujukan yang jumlahnya mendekati setengah dari jumlah kunjungan patut dipertanyakan. bagaimana komunikasi dan manajemennya dilakukan di rumahsakit tersebut. komite rekam medik. Apa yang mereka bayar dari pelayanan yang mereka terima dapat mencerminkan tingkatan kesehatan masyarakat tersebut. sedangkan komite medik. karena apa. Ada apa dengan kompetensi mereka dalam memberikan pelayanan. Sebagai contoh: peningkatan penerimaan daerah dari retribusi pelayanan kesehatan akan tidak ada artinya apa-apa jika cakupan angka rujukan ke rumahsakit vertikal atau ke kabupaten lain lebih tinggi dari angka kunjungan UGD rumahsakit yang bersangkutan atau angka pasien rawat inap kelas III.dilaporkan sebagai hasil dari akumulasi seluruh indikator. mungkin berhubungan dengan ketidak tahuan dan ketidak mampuan membayar atau belum ada dasar hukumnya (padahal peraturan pemerintah sudah menjelaskan hal itu) Dari Manajemen Lintas Program dan Lintas Sektor Rumahsakit sebagai pintu gerbang dan unsur vital dalam penilaian adipura. komite keperawatan. Beperapa peraturan daerah diimplementasikan dengan tidak paripurna. masih adanya masyarakat yang sakit berarti derajat kesehatan masyarakat belum optimal. Hal ini dikarenakan adanya indikator vital dalam proses dan atau dalam output sistem pelayanan kesehatan. tentang bagaimana dan seterusnya masyarakat di rumahsakit tersebut. karena merekakan sedang dalam pendalaman ilmu kedokteran. Ada beberapa instansi yang memiliki keterkaitan dengan rumahsakit daerah. dan itu dalam penyusunan program kegiatan dan anggaran rasanya belum pernah ada yang duduk bersama menyatukan pernyataan dan kesimpulan. jawabannya akan berhubungan dengan ketersediaan sumberdaya manusia kesehatan dan kualitasnya. untuk pembuktiannya diperlukan analisa lebih lanjut. dan kelompok fungsional tidak dilantik oleh bupati kepala daerah padahal struktur organisasi rumah sakit sudah menjelaskannya. Dapat ditambahkan lagi dengan adanya permasalahan kelembagaan. Sesuatu yang riskan jika PAD dijadikan ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan karena nominal PAD adalah rupiah yang dibayarkan pasien. Sebagai contoh: . satuan pengawas internal. Keberadaan resident tanpa pengawasan satuan pengawas internal rumahsakit dapat dipersepsikan berbagai rupa oleh masyarakat dengan latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang berbedabeda. Ada item rupiah yang bisa dirinci jumlahnya dari pola tarif yang ada. yang sebenarnya satu indikator gagal dapat menyebabkan perubahan penilaian kinerja. dimana ada kotak kelompok tenaga fungsional dalam bagan struktur organisasi tidak ada isinya dan tidak ada koordinasinya. kenapa tidak. karena yang diperlukan hanya pejabat struktural yang mengepalai beberapa bidang dan bagian. Sesuatu yang aneh memang. makin banyak masyarakat yang menggunakan berarti masih ada masyarakat yang sakit. tetapi jika tak ada rotan maka akarpun jadilah sehingga kualitas yang diharapkan belum tentu dapat dinikmati sebagai akhir dari pelayanan yang bermutu. di banyak daerah rumahsakit daerah sebagai penghasil pendapatan asli daerah terbesar.

Pernyataan jelasnya adalah sumberdaya manusia kesehatan yang ada di rumahsakit tersebut. dicopi dan dipastekan kemudian diedit agar menjadi sesuai dengan keadaan riel daerah. Pedoman umum mengenai persentase anggaran kesehatan dari total anggaran daerah masih perlu dipertanyakan lebih lanjut lagi. Dari Akreditasi Rumahsakit. mengapa karena ada pasien yang berobat dari keluarga miskin yang benar-benar miskin dengan nama yang tak ada dalam data base yang diberikan oleh pemerintah. Departemen kesehatan dengan Komite Akreditasi Rumahsakit terus berupaya agar semua rumah sakit daerah harus terakreditasi minimal 5 (lima) pelayanan. (2) Pelayanan Medik. (3) Pelayanan Administrasi. …? Pertanyaan yang seharusnya dijawab dengan lintas sektor dan lintas program. masih perlu dianalisa dan disikapi dengan jalinan koordinasi . Dunia pelayanan kesehatan semakin hitam jadinya. bukan hanya oleh masyarakat rumahsakit. dan kelompok rumahsakit yang belum terakreditasi dan atau yang belum terstandar. rumahsakit terkareditasi 5 (lima) pelayanan. Masih belum terlihat jiwa pemiliknya dalam peraturan ini. bersumber dari oknum pegawai di tingkatan tersebut. Dari Dukungan Kebijakan Nah ini yang lebih perlu mendapat perhatian. yaitu: (1) Pelayanan Gawat Darurat. karena apa. Pejabat dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sedikitpun tidak menunjang dipilih untuk memimpin roda proses pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi rumahsakit. tetapi bagaimanapun juga SDM rumahsakit daerah harus terlebih dahulu menjawabnya dengan pernyataan yang diikuti oleh sikap yang terakreditasi pula. Ada apa. daftar nama keluarga dan anggotanya bersumber dari BKKBN. Proses akreditasi telah berlangsung hampir lebih dari 5 (lima) tahun. dan dalam data base saat perjalanannya rumahsakit harus memberikan pelayanan seperti yang diharapkan mereka. bukan berdasarkan kemampuan yang dapat diberikan oleh rumahsakit. RSD Kol Abundjani didukung anggaran belum juga mampu menyelesaikan proyek ini. bermuncullanlah pahlawan dengan pamrih disini. (4) Pelayanan Keperawatan dan (5) Pelayanan Rekam Medik Tujuan pemerintah dengan akreditasi ini adalah untuk: agar kualitas pelayanan diintegrasikan dan dibudayakan ke dalam sistem pelayanan di rumah sakit.Kebijakan berobat gratis. menurut beberapa pengamat adalah sangat tidak masuk akal jika tidak ingin dianggap aneh. Rumahsakit dengan standar ISO 14000 dan ISO 2000. jawabnya dapat bersumber dari kualitas dan kuantitas sumber daya yang ada di rumahsakit tersebut. 8 (delapan) pelayanan dan 13 (tiga belas) pelayanan. dan mereka yang berobat dengan fasilitas kartu miskin saat akan dirawat minta dirawat dengan fasilitas VIP. tetapi nyatanya budaya akreditasi belum sama sekali mendarah daging di institusi RSD Kol Abundjani ini. begitu banyak peraturan daerah disusun dengan cara studi banding. bukan dari RT-RW dan Lingkungan.

dan salah satu definisi yang umum digunakan antara lain menyebutkan bahwa mutu pelayanan kesehatan adalah “tingkat di mana pelayanan kesehatan untuk individu maupun populasi mampu menghasilkan outcome pelayanan sesuai dengan yang diharapkan dan konsisten dengan pengetahuan profesional terkini” (IOM. Sementara itu the IOM (1999) dan National Health Service menggunakan konsep mutu pelayanan kesehatan dalam 6 aspek. Dari mutu pelayanan kesehatan. pihak Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit sebagai (lagi-lagi) pihak pelaksana. dibuat terperangah oleh program tersebut. Under use didefinisikan sebagai kegagalan untuk memberikan pelayanan yang efektif padahal jika dilakukan dapat menghasilkan outcome yang diharapkan (misalnya tidak memberikan imunisasi atau gagal untuk melakukan bedah katarak). proses. dan patient awareness. berbagai peneliti telah mencoba mengembangkannya untuk menjamin agar pengukuran mutu pelayanan kesehatan lebih spesifik. Dari beberapa konsep tersebut kemudian dikembangkan sejumlah indikator untuk mengkuantifikasikan mutu pelayanan kesehatan. Berbagai definisi mutu yang dikaitkan dengan patient safety selanjutnya diajukan. dan misuse of health care services. efficiency. over use.1%. Chassin mengusulkan metode lain yang menekankan pada 3 area utama. kapan SDM kesehatannya mau manggung dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam pemberian pelayanan kesehatan. anggaran efektif jika rasio antara pembiayaan dan penerimaan berkisar 0. Peruntukan anggaran tentu membutuhkan kebijakan paripurna yang proporsional. timeliness. yaitu safety. kalau tigaperempat anggarannya hanya untuk fisik. Jika ini berlanjut dapat dibayangkan bagaimana pemenuhan hak pokok masyarakat sebagai pasien jika mereka tidak mampu membayar. Mutu Pelayanan Kesehatan yang mengemuka sebagai panglima program unggulan Depkes dengan nama Quality Assurance (QA. Menurut Rusli. jaminan mutu) pada tahun 1996. Sedangkan misuse didefinisikan sebagai komplikasi yang sebenarnya dapat dihindari jika pelayanan kesehatan dilakukan secara seksama. effectiveness. Salah satunya adalah indikator mutu pelayanan yang disusun oleh ACHS yang merupakan instrumen untuk mengidentifikasi area . tetapi lembaga non profit. Disebut overuse apabila pelayanan kesehatan yang dilakukan ternyata memberi dampak risiko yang lebih besar daripada potensi manfaat yang dapat ditimbulkan (misalnya memberikan antibiotika untuk kasus-kasus common cold). 2001). yaitu berpedoman pada struktur. pelayanan kesehatan dapat berbentuk makro dan berbentuk mikro. Kemajuan pertumbuhan dan pengembangan rumahsakit menjadikan rumahsakit sebagai lembaga profit tetapi tidak meninggalkan unsur sosialnya telah mengubah persepsi sumber daya manusia kesehatan dari non material menjadi sangat material. Namun demikian mengingat definisi tersebut dianggap terlalu luas.dan pengawasan yang komprehensif. tetapi telah bergeser menjadi panggilan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Salah satunya adalah yang diajukan oleh Donabedian (1980). bukan lagi panggilan profesi. dan outcome. equity. karena rumahsakit bukan badan profit. yaitu under use. karena disini setiap pekerjaan yang dikerjakan dan yang seharusnya dikerjakan bukan lagi berdasarkan panggilan hati nurani. sebenarnya tidak berlaku di institusi pelayanan rumahsakit. Sebagai suatu pernyataan akhir dari sebuat proses pelayanan kesehatan. Kedua bentuk ini saling bersimbiose mutalisme dalam sebuah sistem. Sebagai sebuah proses.

Mungkin ini jalan keluar. Sehubungan dengan hal ini. tetapi tidak tersedia standar quality of care yang berbasis konsumen. fasilitas dan tenaga medis yang memadai guna menjamin terlaksananya program kesehatan masyarakat. kondisi ini harus disertai pula dengan perbaikan pada aspek kebijakan dan manajemen. Dari keluhan konsumen. Rosalia Sciortino dalam “Menuju Kesehatan Madani” (1999:78) menyebut adanya “konstruksi rahasia” yang dipertahankan petugas kesehatan. Pada umumnya konsumen sebagai pengguna jasa kesehatan seperti pasien. Sebaliknya. hak atas pelayanan kesehatan adalah bagian dari hak asasi manusia (HAM). 3. dana yang cukup. tidak seperti teman-temannya di Depkes yang sebagian diantaranya berdasi dan naik mobil dinas mulus-mulus dan baru-baru. Kondisi budaya ini di satu sisi menjadi kendala dalam pelayanan medis. dan interaksi sosial yang saling menguntungkan. sistem yang berkualitas.pelayanan kesehatan yang masih memerlukan perbaikan secara fundamental. Upaya yang sama juga dilakukan oleh The Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) yang mengembangkan beberapa indikator yaitu Prevention Quality Indicators. seorang pasien berhak untuk mempertanyakan pelayanan dokter yang dirasakannya tidak jelas. Pelayanan yang baik dan memuaskan bisa diwujudkan secara bersama antara pengguna jasa pelayanan dan petugas kesehatan. 2. dan belum mengakar atau belum dirasakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. ada beberapa kondisi yang tampak dalam pelayanan kesehatan. Lupa mungkin karena tampilan dokter institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit yang tak pernah berdasi dan naik kendaraan dinas apa adanya kala tugas. Oleh karenanya. Dengan metode kuantifikasi ini selanjutnya dapat dilakukan analisis statistik untuk menilai area-area pelayanan yang dianggap memiliki defisiensi dalam menghasilkan outcome yang diharapkan. complain maupun keluhan konsumen semestinya tidak diartikan sebagai serangan. Artinya. lagi-lagi Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit berada di posisi tak berdaya dan lagi-lagi hanyalah sebagai terminal akhir pembuangan dan berposisi layaknya sandal jepit. petugas kesehatan dapat mengetahui keinginan konsumen dan kekurangan yang dimilikinya. Tetapi sebagai institusi bawahan Depkes. yang relatif berakar dari tradisi dan kebudayaan mereka. kritik. pemerintah dan praktisi kesehatan masyarakat bertanggung jawab untuk berupaya merealisasikan adanya kebijakan yang lebih baik. di sisi lain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara murah dan mudah. Inpatient Quality Indicators. Dalam hal ini. 1. masyarakat memiliki sistem pengobatan atau pengetahuan mengenai perawatan kesehatan (biomedis). dan Patient Safety Indicators (PSIs). Fasilitas kesehatan (formal) yang tersedia masih relatif baru. Mungkin Depkes lupa bahwa para dokter yang ada di Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit adalah seorang sarjana juga seperti halnya para petinggi Depkes. Hidup sehat merupakan kebutuhan utama (primer) setiap orang. Namun. Kecenderungan perilaku para praktisi medis yang tidak mempertimbangkan prosesproses komunikasi atau pertukaran informasi. tetapi diterima sebagai koreksi terhadap cara berpikir dan cara melayani konsumen. Artinya. klien tidak menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang memuaskan. bahkan memberatkan konsumen itu sendiri. Memahami Hak dan Kewajiban Konsumen .

karena kecerobohan dalam pelayanannya. dokter). Sebagai pasien. Mendapatkan ganti rugi apabila terjadi malpraktek yang dilakukan petugas kesehatan. Namun harus diyakini bahwa ukuran kepuasan tidak bisa . Memberitahu petugas kesehatan jika ia menerima perawatan dari dokter yang lain. yang tidak seimbang dengan banyaknya pasien yang berkunjung setiap hari kerja. Sebaliknya. misalnya keterbatasan petugas dan fasilitas tidak memadai. Padahal masyarakat tidak pernah belajar di sekolah kesehatan. prosedur perawatan. Menepati janji dengan petugas kesehatan. Setiap konsumen memiliki hak yang dilindungi undang-undang. yang secara khusus disebut klien. konsumen berhak: 1. pertanyaan yang sering muncul adalah apa saja hak-hak konsumen dalam pelayanan kesehatan. dan jaminan keamanan/keselamatannya. yakni pelayanan yang menghormati hak-hak konsumen. kelebihan maupun kekurangan pengobatan. telah menyebabkan anak mereka cacat seumur hidup. 4. 3. Contoh aktual adalah bayi yang dilahirkan cacat (tanpa tangan) di RSUD Bayu Asih Purwakarta (Kompas. ia berkewajiban mengetahui apa yang dapat atau tidak dapat diatasi oleh perusahaan asuransi. 26 Juni 1997). bagaimana sebaiknya pelayanan yang berkualitas? Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa istilah konsumen dalam pelayanan kesehatan mencakup pengertian mereka yang menerima pelayanan jasa maupun obat-obatan dari petugas kesehatan (paramedis. Kebanyakan konsumen juga petugas kesehatan tidak mengetahui hak-hak dan kewajiban konsumen. 5. ia menolak suatu metode pengobatan atau tindakan medis tertentu. Jika menggunakan jasa asuransi. dan jika dianggap perlu. dalam hal ini bidan. hal-hal dirahasiakan. dan izin persetujuan pasien bila ingin akan dioperasi. 4. catatan medis petugas kesehatan. Mendapatkan informasi yang dapat dipahaminya mengenai penyakit yang diderita. 3. Banyak alasan yang seringkali dikemukakan. pasien. Dari persoalan ini sebenarnya tuntutan akan pelayanan kesehatan yang memuaskan (berkualitas) semakin kompleks. 2. yaitu: 1. efek samping pengobatan. Bersedia bekerja sama dan mematuhi perawatan yang diberikan. tetapi tidak merasa percaya diri untuk mengemukakannya di tenpat pemeriksaan. Orang tua bayi itu menuduh pihak RS. pendapat dari petugas kesehatan lainnya. bidan. meskipun akhirnya ditempuh jalan damai dengan ganti rugi 25 juta rupiah. tidak disiplin. Bahkan petugas kesehatan menyadari bahwa masyarakat tidak mengerti cara hidup sehat. Mengetahui sejarah atau riwayat pengobatannya. Sebagai pasien. Memperoleh rasa aman dari semua proses pelayanan. petugas kesehatan yang mengerti hak-hak konsumen tidak mau peduli. Sedangkan yang dimaksud pelayanan yang berkualitas biasanya mengacu pada pengertian Quality of Care atau standar pelayanan yang berkualitas. dan seterusnya. cara pengobatan. Hanya sebagian kecil konsumen menyadari hak-haknya.Dalam berbagai kesempatan diskusi dengan kelompok konsumen. Memilih tempat pelayanan yang diinginkannya. 2. membatalkan persetujuan sewaktuwaktu. biaya. konsumen memiliki kewajiban. Kasus ini kemudian dibawa ke pengadilan dengan tuntutan 1 milyar rupiah.

Pada tahun 1990. Keterampilan Teknis. 2. 4. . Dasarnya adalah “problem solving”. 8 No. yakni mengacu pada pemenuhan hakhak pasien. standar quality of care di Indonesia belum jelas. Informasi yang berkualitas dapat berdampak pada bagaimana klien menggunakan metode kontrasepsi.bertolak dari kepentingan individu saja karena kepuasan individual tidak ada batasnya. atau hak-hak klien kesehatan reproduksi. Klien dapat didorong meneruskan penggunaan kontrasepsi yang efektif melalui berbagai cara. dan efek sampingnya. kerahasiaan. termasuk kartu untuk mengingatkan dan kunjungan rumah. organisasi KB dunia. tanggung jawab sosial. misalnya oleh IPPF (International Planned Parenthood Federation). Informasi yang diberikan harus berisi pula informasi mengenai tiap metode. Dari sisi klien. menentukan pilihan. apakah cukup simpatik dan cukup waktu untuk bertemu dengan kliennya. dan kemudian ditambahkan oleh YLKI dan PKBI. Konsumen tidak memperoleh manfaat yang optimal dari pelayanan kesehatan. Setiap metode layanan (KB) tersedia bagi perempuan dan laki-laki yang ingin merencanakan keluarganya. Oleh sebab itu. 1999. yakni penyediaan pelayanan kesehatan yang terus menerus memperbaiki diri dengan memperhatikan kebutuhan dan tuntutan pasien. proses pencapaian pelayanan yang memuaskan tidak bisa tidak melibatkan orang banyak. Mekanisme untuk Mendorong Keberlanjutan. yang dapat dipandang dari provider (penyedia jasa) dan klien (konsumen). 3. hak atas keamanan. Konsep ini biasanya dirujuk pada prinsipprinsip manajemen pengawasan kualitas terhadap fasilitas pelayanan kesehatan umum. atau pun hak-hak konsumen sebagaimana yang diatur dalam UUPK No. yang merumuskan 10 hak-hak klien KB antara lain: hak atas informasi. 1994). Gejala seperti ini terutama terjadi di tingkat pelayanan kesehatan dasar di pedesaan. Informasi untuk Klien. dan pembelajaran kesehatan bagi pengguna (konsumen) terabaikan. petugas. hak mengajukan protes (berpendapat). Ukuran pencapaian pelayanan kesehatan selama ini lebih berorientasi pada pencapaian target sarana pelayanan dan penerima layanannya. ukuran standar pelayanan cukup jelas. dan pinggiran kota. di tingkat desa sekalipun. Mempertahankan kondisi aseptic. dokter. Bertolak dari “Quality of Care” Konsep quality of care adalah istilah yang digunakan secara luas dalam pelayanan kesehatan. 1. Judith Bruce dari Population Council menempatkan enam elemen dasar yang kemudian dikenal dengan “Bruce Framework” dan menjadi sumber utama bagi penelitian mengenai kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi dari sisi tenaga kesehatan. Dari sisi provider. Hubungan Antarpribadi. menjalankan protokol (aturan) dan staf yang kompeten melakukan teknis klinik. 5. cara penggunaan metode. Pilihan terhadap Metode Layanan. Ukuran standar yang bisa dijadikan pedoman adalah kebutuhan orang banyak yang selama ini sudah dibakukan. yaitu pemantauan masalah dan mencari jalan keluar dengan memperbaiki akar masalah secara berkelanjutan (The Population Council. Aspek pemenuhan kualitas kesehatan. mendapatkan pelayanan kapan dan di mana saja (akses). Bagaimana klien berinteraksi dengan tenaga kesehatan. dan komunitas setempat. hak ganti rugi. kenyamanan. Pasal 4. Konsumen dan pengelola pelayanan kesehatan bisa bersama-sama merumuskan standar pelayanan yang berkualitas (quality of care).

6. dan anggaran. ABUNDJANI BANGKO menyarankan yang diantaranya Pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien terdiri dari serangkaian proses-proses dari beberapa sistem. Instansi dan orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab. 2. Klien memerlukan pelayanan yang nyaman dan terpadu. Penyimpangan dalam area-area penting manajemen pelayanan kesehatan yang menyebabkan kematian tersebut. pelayanan pasca persalinan. Mengingat gerakan konsumen saat ini didukung oleh kebijakan yang relatif jelas dengan adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK). Inisiatif konsumen sendiri dalam mengatasi masalahnya. memerlukan tindakan terstruktur dengan manajemen resiko dan manajemen mutu. manusia. perempuan. maka organisasi konsumen dapat mengambil peran dengan melakukan advokasi kebijakan dan pembelaan hukum. Hasil penelitian tentang perbaikan mutu pelayanan kesehatan di instalasi rawat inap RSD KOL. . Jadi. 3. strategi dasar yang penting dilakukan aktifis organisasi konsumen yang melakukan pendampingan konsumen kesehatan adalah dengan memperkuat pengorganisasian dan pendidikan kritis bagi kelompok-kelompok konsumen yang rentan seperti petani. bila suatu waktu konsumen dapat mengadili provider pelayanan kesehatan atas dasar pelanggaran terhadap hak-hak konsumen secara perorangan atau pun berkelompok (class-action). Penyebarluasan informasi terus-menerus kepada konsumen yang lain. bahwa memelihara kualitas RM akan membantu dalam memelihara ketrampilan dan kemandirian dalam asuhan keperawatan. untuk ini diperlukan: 1) deskripsikan dengan jelas hasil pengkajian. kebijakan. Usulan. Untuk itu semua peneliti menyampaikan beberapa saran seperti berikut: Saran untuk Perawat. cara pandang konsumen terhadap pelayanan yang diinginkan atau pelayanan yang berkualitas (quality of care versi konsumen). Misalnya. pelayanan KB terpadu dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Seperti yang disarankan oleh The Nursing and Midwifery Council. 4. Masalah dan akar masalah. sistem ini berhubungan dengan unsur-unsur manajemen seperti peralatan. rencana keperawatan dan rencana tindakan yang akan dilakukan. Pendamping atau organizer bersama kelompok konsumen merumuskan: 1. 6. dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya. 7. Pelayanan yang Terpadu. Bukan hal yang mustahil. Bentuk-bentuk kasus yang dialami konsumen. konsep. (2002). 5. buruh dan kaum miskin kota. 2) dokumentasikan informasi yang berhubungan dengan pasien dan apa yang akan dilakukan dalam merespon kebutuhan pasien. Usaha (aksi-aksi) bersama menggugat petugas kesehatan di tempat pelayanan.

memperlakukan setiap pasien dengan sopan dan sewajarnya. menghormati hak pasien dalam keterlibatan secara aktif pada pengambilam keputusan. dan 4) menuliskan perencanaan perawatan agar dapat diteruskan oleh sejawat dalam perawatan berikutnya dan selalu menuliskan tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. 3) Menjadikan RSD KOL ABUNDJANI bukan sebagai tempat mencari sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan hidup tetapi juga menjadikannya sebagai tempat ibadah dan fungsi sosial. Prosedur dan Standar Pelayanan Laboratorium b. mendengarkan dan menghormati pandangan-pandangan pasien. menghindarkan pasien dari resiko fisik dan finansial akibat tindakan medis. menghargai dan menjaga informasi tentang pasiennya. Prosedur dan Standar Pelayanan Anastesi e. Prosedur dan Standar Pelayanan Kamar Operasi d. menghormati privasi dan kehormatan pasien. Saran untuk manajemen RSD diantaranya adalah: 1) Berusaha mengetahui keinginan pelanggan dengan melakukan survey pasar. Saran untuk komite staf fungsional diantaranya adalah: 1) Mematuhi tugas pokok dan fungsinya seperti yang tergambarkan dalam Peraturan Daerah Kab. Prosedur dan Standar Pelayanan Rawat Inap dengan Kegawatan . selalu memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan. Prosedur dan Standar Pelayanan Radiologi c. Merangin tentang struktur organisasi dan tata kerja RSD KOL ABUNDJANI. bekerjasama dengan para sejawat untuk kebaikan pasien-pasien yang dirawat. diantaranya survey kepuasan. dan dapat ditambahkan bahwa Saran untuk Dokter penyelenggara utama perawatan dan pengobatan pasien di instalasi rawat inap diantaranya adalah: Bertugas berdasarkan standar General Medical Council seperti: pemberian pelayanan kepada pasien merupakan hal yang utama. survey kebutuhan pelayanan dan survey tingkat utilisasi pelayanan kesehatan rumahsakit.3) jika sudah diketahui dengan baik kondisi pasien lakukan tindakan yang dapat diterima dan dapat dilakukan dengan tahapan yang baik dan benar saat melaksanakan perawatan kepada pasien dan jelaskan bahwa setiap tindakan tidak selalu berbahaya untuk selalu untuk keselamatan dan membatu mereka. 2) Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetensi dan kode etik profesi. 2) Menyusun berbagai prosedur dan standar pelayanan sesuai dengan hasil tingkat kebutuhan dan hasil dari penelitian ini. diantaranya: a. memberikan informasi yang dapat dimengerti pasien. menyadari berbagai keterbatasan yang dimilikinya. jujur dan dapat dipercaya.

faktor pelatihan dan tambahan pengetahuan. 3) Menetapkan dan memilih alternatif untuk pemecahan akar masalah. 5) Membumikan paradigma bahwa dari pasien kita mendapatkan jasa pelayanan yang mendukung kesejahteraan dan kepada pasien seharusnya tumbuh keinginan untuk membebaskan masalah kesehatannya. terminal komputer yang dapat diakses oleh pelanggan. faktor administrasi dan alur layanan. budaya organisasi. Akar masalah adalah penyebab paling dasar dari masalah etika yang terjadi. prosedur. 3) Memastikan bahwa prosedur dan standar yang telah disusun diterapkan dan dilaksanakan dengan baik. faktor Standart Operating Procedure dan atau instruksi kerja. . faktor manajemen rawat inap dan faktor staf medis fungsional. Prosedur dan Standar Pelayanan Rekam Medik. menganalisis komponen-komponen itu sehingga ditemukan akar masalah. Ia dapat berupa kelemahan pada manusia. alat. faktor pengendalian dan evaluasi. Perlu adanya dukungan sistem pengelolaan RM yang baik dan benar.f. kepemimpinan. 2) Melakukan analisis lebih dalam tentang akar masalah yang sudah ditemukan (root cause analysis). Seperti diketahui bahwa tata tertib administrasi merupakan salah satu faktor yang menentukan di dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumahsakit. 9) Menginvetarisir akar penyebab masalah dari faktor internal yang mempengaruhi kualitas layanan kesehatan dan administrasi RM terutama dalam bidang: faktor pendidikan SDM. faktor fasilitas dan peralatan. Dianjurkan pula langkah-langkah umum sebagai berikut untuk pemecahan masalah mutu dan efisiensi dan efektifitas pelayanan rumah sakit: 1) Memecahkan struktur masalah yang sudah teridentifikasi kedalam komponenkomponennya. faktor masa kerja dan lama Jabatan. mustahil tata tertib administrasi rumahsakit akan berhasil seperti apa yang telah distandarisasikan oleh pemerintah maka oleh karena itu diperlukan adanya komitment bersama untuk sepakat menyusun pedoman RM dan melaksanakannya dengan pertanggungjawaban profesi. information desk. 7) Melaksanakan saran-saran ini dengan dukungan sumber daya manusia kesehatan dan anggaran kesehatan beserta kebijakan-kebijakan kesehatan. Hal ini dilakukan dengan audit internal secara rutin dan melakukan management riview guna membahas tindak lanjut yang perlu dilakukan agar pelayanan yang diberikan selalu konsisten sesuai prosedur dan standar yang telah ditetapkan. untuk menetapkan arah pemecahannya. sistem. manajemen. faktot beban kerja. sarana. atau faktor-faktor lain. misalnya dengan membuat brosur-brosur. 6) Menyusun dan memberlakukan sistem pengawasan dan pemantauan pelayanan kesehatan yang diberikan dengan efektif. 4) Menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan guna mensosialisasikan jasa-jasa pelayanan yang mampu diberikan oleh rumahsakit.

3) menjadi fasilitator dalam akselerasi peningkatan kemampuan pemberian pelayanan kesehatan sesuai dengan upaya pencapaian tujuan pembangunan kesehatan daerah. Tindakan koreksi yang dapat menimbulkan masalah etika baru adalah jika manusia sebagai penyebab akar masalah yang berulang-ulang dikeluarkan dari rumah sakit. kemungkinan kesembuhan dan tindakan apa saja yang akan dilakukan dan selalulah memulai komunikasi dengan kata „maaf“. 4) selalu menyediakan tabungan kesehatan saat sehat dan mampu melaksanakan aktifitas memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia. Saran untuk pasien. Untuk itu perlu dikembangkan suatu sistem dan mekanisme yang efektif guna tercapainya pelayanan prima tersebut. 3) mengikuti semua kebijakan sarana pelayanan dan saran dari petugas kesehatan dengan jujur dan bertanggungjawab. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan mengandung arti bahwa sarana pelayanan kesehatan dan tenaga profesi kesehatan harus mampu menunjukkan akuntabilitas sosial untuk memberikan pelayanan prima kepada konsumen. diagnosanya. Falsafah yang mendasari program kendali mutu antara lain: . Saran untuk Pemerintah Daerah. 5) Melakukan tindakan koreksi jika masalah etika belum terpecahkan atau terulang lagi terjadi. diantaranya adalah: 1) sebelum penyakit menjadi lebih parah (persepsi masyarakat) sebaiknya segera memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang terdekat. dan „tolonglah saya“ atau „tolonglah kami“. „tolong“.4) Memantau dan mengevaluasi penerapan upaya pemecahan masalah yang sudah dilaksanakan. sesuai dengan beberapa kebijakan nasional pembangunan kesehatan di Indonesia diharapkan pemerintah daerah dapat: 1) Menjadi stake holder yang berpihak dan mendukung dalam berbagai aspek manajemen pelayanan kesehatan. jika ragu dan meragukan mintalah penjelasan lebih lanjut tentang kebijakan dan atau saran tersebut. yakni pelayanan yang sesuai dengan standar yang diakui sehingga dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan konsumen. 2) Berperan sebagai regulator yang melindungi dan menumbuh kembangkan kemampuan profesionalisme tenaga pemberi pelayanan kesehatan. Hal lain adalah Pelaksanaan Program kendali mutu harus berdasarkan falsafah bersama untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan yang diberikan oleh tim pelayanan dari berbagai disiplin ilmu. 2) bertanya dengan petugas kesehatan tidak dengan emosi tentang keadaan penyakit.

Staf mempunyai pengetahuan yang cukup dan memiliki ide-ide yang kreatif untuk memecahkan masalah-masalah dalam pekerjaannya Staf dapat memecahkan masalah jika cukup informasi-informasi yang diperlukan . Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. . Maka manusia sebagai konsumen rumahsakit berhak sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. Semua staf memberikan perhatian untuk mencapai tujuan institusi yang dalam hal ini memberikan efek terhadap pelayanan pada klien. hubungan yang jelas adalah pelayanan jasa kesehatan. 4.• • • • • • Masing-masing disiplin telah mengidentifikasi dan menyetujui falsafah dasar untuk dikembangkan menjadi tujuan masing-masing pelayanan. Praktek perawatan tidak akan mungkin meningkatkan kecuali masalah dapat diidentifikasi dan dipecahkan. proses dan hasil maka semua aspek-aspekantara lain: Tenaga keperawatan. maka tujuan akhir dari program pengendalian mutu yaitu meningkatnya mutu pelayanan keperawatan berdasarkan standar akan dapat dicapai dengan baik. Kesehatan adalah hak azazi manusia. 7. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Hak atas kenyamanan. Pekerja pada umumnya merasakan kepuasan kerja dan lebih produktif bila mereka dibantu dengan menciptakan lingkungan kerja yang baik dengan mengurangi hambatan dalam pekerjaannya. Masing -masing disiplin menyepakati untuk mengkaji pelayanan yang diberikan oleh anggotanya. Hak atas informasi yang benar. Dari UU Perlindungan Konsumen rumahsakit adalah: salah satu institusi pemberi pelayanan dibidang kesehatan. 8. 2. Program kendali mutu perlu dilaksanakan dan dibuat secara teratur dan terus menerus untuk meningkatkan mutu pelayanan. seperti: 1. Dengan melibatkan semua staf keperawatan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan program pengendalian mutu ini. perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. 5. Hak untuk mendapatkan kompensasi. apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Dengan melakukan pendekatan konkuren maupun retrospektif terhadap lingkup struktur. 3. 6. Hak untuk mendapatkan advokasi. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. 9. walaupun demikian baiknya program kendali mutu ini dilakukan secara terpadu tetapi tetap ada kendala kendala yang perlu diperhatikan. asuhan keperawatan dan kepuasan klien harus dinilai dengan menggunakan standar-standar yang tepat. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen. ganti rugi/penggantian.

Pun demikian pula setelahnya. lebih-lebih kala berbicara kepekaan terhadap keperluan masyarakat terhadap layanan kesehatan. PDAM. Misalnya soal layanan listrik PLN. nama programnya pun dibuat “greng”. Dan supaya dapat dana segar nan besar. apa kata dokter/perawat mereka iyakan. Padahal bisa jadi kala sekolah dahulu. Proses peradilan yang ruwet dan memakan waktu yang berkepanjangan. Belum terkondisikannya “masyarakat konsumen” karena memang sebagian masyarakat ada yang belum mengetahui tentang apa saja hak-haknya dan ke mana hak-haknya dapoat disalurkan jika mendapat kesulitan atau kekurangan dari standar barang atau jasa yang sewajarnya. layanan barang/jasa yang buruk. 3. 5. Ironisnya. Semua itu adalah persoalan yang kerap kali muncul di Indonesia. Maka inilah realitas ketertindasan konsumen dalam menghadapi pilihan-pilihan barang/ jasa harus mereka konsumsi. dan dokter yang berpraktik di rumahsakitpun dalam memberikan pelayanan kesehatannya. Menyimak produk Depkes tahun 1988. delay pesawat. Memang pada kenyataannya konsumen kerap berada dalam posisi yang tidak berimbang dibanding dengan posisi produsen. trial and error aneka macam program dari depkes. Artinya mengulang program mapan yang sudah terintegrasi dengan keseharian para petugas Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit dengan mengganti nama QA yang justru lebih . mengapa hingga kini institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit ibarat tempat uji coba. mutu barang yang tidak bagus. demikian pula pelatihan. pelayanan rumahsakit dan bahkan pelayanan pajak dan lain sebagainya. Maka untuk mengurangi kesewang-wenangan para produsen barang dan jasa. sebagai konsumen kita perlu mengetahui faktor-faktor yang melemahkan konsumen. monitor dan evaluasinya. banyak sekali keluhan dari konsumen yang merasa dirugikan. antara lain: 1. yang di Depkes tidak lebih pandai dari yang di institusi pelayanan kesehatan /rumahsakit. 4. yang mana dalam Pedoman Kerja Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit sudah sangat jelas dan rinci berisi panduan tatalaksana setiap kegiatan di Institusi pelayanankesehatan/rumahsakit yang mengacu kepada UPK. Itulah kira-kira gambaran umum. konon hasil pemikiran grusa-grusu karena ada “jajan” berupa pinjaman IMF (maksudnya hutang yang harus dibayar). termasuk panduan pengobatan. Parameterpun disiapkan.Bila menyimak surat pembaca di media cetak. Masyarakat belum memiliki kemauan untuk menuntut hak-haknya. baik terhadap item kegiatan ataupun terhadap program besarnya. Masih rendahnya tingkat kesadaran konsumen akan hak-haknya. maka program QA adalah sebuah langkah kebimbangan dan ambivalensi. yang mana depkes tidak mau kalah dengan departemen lain untuk ikut mencicipi jajan IMF. maka bim salabim lahirlah Quality Assurance atau Jaminan Mutu. keluhan yang disampaikan kebanyakan hanya lewat surat pembaca di media massa. 2. tindak kriminal di kereta api. Cara lain yang lebih kreatif adalah langsung mengadu ke pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) atau lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. dijamin dokter di institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit lebih peka dibanding dokter di Depkes walau sepanjang apapun gelarnya. Cara ini terlalu sederhana dan tidak menyelesaikan masalah. Jaminan mutu produk tahun 1996 yang lalupun. Yang membedakan hanyalah kekuasaan. panduan. Posisi konsumen yang selalu lemah (lemah informasi dan lemah kondisi sehingga tak berani menyangga seperti kasus Prita).

Sayangnya yang ini tidak pernah tersentuh. Menurut Trisnantoro (2005) saat ini sektor kesehatan berbeda jauh dengan keadaan 50 tahun lalu. lebih dari itu ada ukuran non teknis yakni keinginan dan harapan warga. Hal inilah menjadikan rumah sakit menjadii lembaga yang bersifat padat modal. Untuk meningkatkan mutu layanan. Kebutuhan akan obat ini sering disertai dengan biaya yang besar.sempit tapi tidak lebih mendalam. Hal ini tercermin pada perubahan fungsi klasik rumah sakit yang pada awalnya hanya memberi pelayanan yang bersifat kuratif (penyembuhan) saja terhadap pasien melalui rawat inap dan rawat jalan bergeser ke pelayanan yang lebih komprehensif meliputi promotif. tidak cukup dengan kajian monopoli petinggi Depkes. Gambaran lain adalah tehnologi kedokteran dan obat-obatan yang berkembang pesat disisi lain rumah sakit adalah lembaga pemberi jasa pelayanan kesehatan yang tergantung pada perkembangan tehnologi kedokteran. Obat merupakan barang yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit. penentuan tarif lebih rasional. Siklus demikian mestinya tidak boleh terulang. kuratif dan rehabilitatif. Sistem manajemen yang berlaku global mempengaruhi pola berfikir manajer rumah sakit. efektif dan produktifitas serta memperhatikan pemerataan pelayanan. artinya pengguna jasa pelayanan Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit tak lebih hanyalah obyek semata yang tak punya hak suara. preventif. sebagi contoh operasi dengan menggunakan peralatan mikro merupakan suatu tindakan yang sama canggihnya dengan tehnologi program ruang angkasa dan militer yang tentu saja memerlukan SDM yang berkompetensi untuk mengelolanya. padat karya dan padat tehnologi Ketiga sifat tersebut menuntut pengelolaan keuangan rumah sakit yang lebih professional. RSD Kol Abundjani saat ini sedang dalam proses akreditasi yang pelaksanaannya setengah isi dan setengah kosong. Besarnya omset untuk obat-obatan mencapai 50-60% dari seluruh anggaran rumah sakit. hanya 14% yang sudah terakreditasi. karena prosesnya sendiri tidak terakreditasi. Cost recovery rate (CRR) rumah sakit menjadi hal yang sangat penting. . Akreditasi rumahsakit dicanangkan sejak tahun 2007 dan sampai tahun 2009 ini capaiannya sangat menyedihkan. disertai peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan serta mampu berkembang (growth) dan survive. Pengaruh perubahan dinamika lingkungan usaha rumah sakit yang terjadi tidak saja di Indonesia tetapi hampir diberbagai penjuru dunia. dari ratus rsd dan puluh rsp serta ratus rss. Bedanya hanya di segi dana yang luar biasa besar dan pelatihan berulang yang justru buang-buang waktu. Hal ini menuntut para manajer untuk lebih memperhatikan secara saksama dinamika lingkungan yang ada yang kemungkinan besar akan merubah system manajemen yang dipergunakan. Pelayanan rumah sakit diera sekarang tidak terlepas dari perkembangan ekonomi masyarakat . Salah satu tehnologi tinggi adalah obat yang dihasilkan oleh industri farmasi. berdasarkan hitungan-hitungan ekonomi. Tehnologi yang digunakan saat ini sangat canggih. dengan menekankan pada aspek efisiensi. Tehnologi kedokteran mempengaruhi biaya pelayanan rumah sakit. Rumah sakit dapat meningkatkan pendapatan dengan memperbesar omset penjualan obat. jiwanya masih nol saya rasa.

Penerapan subsidi silang dari kelas atas (VIP) ke kelas bawah (III) tidak rasional.Pengertian rumah sakit menurut WHO adalah suatu bagian penyeluruh dari organisasi sosial dan medis berfungsi memberikan pelayanan Kesehatan yang lengkap kepada masyarakat. Rumah sakit . akibat hilangnya subsidi dan semakin mahalnya alat dan tenaga kesehatan yang pada akhirnya menuntut pendapatan yang tinggi. Untuk menjalankan fungsi sosialnya ini sebaiknya anggaran untuk pos sosial tersebut tersedia dalam APBD dan diatur dengan kemudahan-kemudahan pengelolaannya tetapi tetap dengan pengawasan yang ketat. berkembang dan mempunyai dasar etika berbagai profesi dan mempunyai etika bisnis. 2005). sementara penggalian dana-dana kemanusiaan sama sekali tidak dikelola secara sistematis. Kita pelajari Dalam perkembangannya rumah sakit swasta yang dikelola oleh yayasan keagamaan seperti rumah sakit Islam sangat kesulitan dalam memenuhi fungsi sosialnya oleh karena kesulitan dalam hal pendanaan. disamping itu belum ada standar sumber pendanaan termasuk pembagian sumber pendapatan (keuntungan) apakah untuk pemilik atau untuk pengembangan. tetapi lebih mengarah pada suatu lembaga yang harus hidup dan bermutu. Hal yang dikhawatirkan adalah pasien dikelas bawah justru mensubsidi pasien kelas atas. baik kuratif maupun rehabilitatif. Penelitian Abeng dan Trisnantoro (1997) disebuah rumah sakit swasta menunjukkan bahwa tarif kamar VIP berada dibawah unit cost. Dari definisi diatas bahwa rumah sakit disamping memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif kepada masyarakat juga sebagai pusat pendidikan calon tenaga kesehatan. Hal ini membuat banyak rumah sakit swasta bahkan yang dikelola oleh yayasan keagamaanpun berubah menjadi lembaga for profit sebagai jawaban terhadap perubahan lingkungan yang terjadi diluar rumah sakit akibat pengaruh globalisasi. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa rumah sakit juga harus menjalankan fungsi sosialnya. sehingga menaikan tarif akan menjadi pilihan. dimana pelayanan keluarga menjangkau pelayanan keluarga dan lingkungan. serta untuk penelitian biososial. Subsidi yang mengecil atau bahkan tidak ada sama sekali menyebabkan rumah sakit keagamaan kesulitan mencari sumber dana bagi orang miskin yang sakit. Akibatnya banyak rumah sakit swasta keagamaan yang mempunyai fasilitas fisik dan peralatan yang memadai tetapi kesulitan dalam mencari dana operasional. Walaupun demikian masih banyak rumah sakit keagamaan masih melihat perubahan yang ada tanpa strategi pengembangan yang jelas (Trisnantoro. Kenyataan menunjukkan bahwa konsep subsidi silang sebenarnya tidak ada ataupun jika ada subsidi silang akan menggerogoti aset dan kemampuan investasi rumah sakit. Hal ini dapat membawa suatu resiko yaitu rumah sakit keagamaan akan menjadi lembaga usaha yang praktis untuk mencari keuntungan atau menghidupi SDM. Rumah sakit tidak lagi harus dipandang sebagai suatu lembaga yang harus bersandar pada norma-norma dan etika profesi dokter. Hal yang penting adalah masalah biaya operasional dan pemeliharaan yang tidak semudah biaya investasi untuk memperolehnya. Berdasarkan kenyataan diatas maka rumah sakit mulai berubah menjadi lembaga usaha yang membutuhkan berbagai konsep ekonomi dalam manajemen yang mungkin asing bagi para dokter atau pemilik rumah sakit. rumah sakit juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan. Dengan demikian rumah sakit bukanlah lembaga yang hanya menggunakan prinsip kedokteran dan kesehatan.

Implementasinya adalah penerapan ekonomi dalam pelayanan kesehatan harus dilakukan diantaranya dengan melakukan analisis biaya di rumah sakit.html .com/hal-mutu-pelayanan-rumah-sakit.merupakan lembaga multiprofesional yang menghasilkan berbagai produk pelayanan kesehatan yang bermutu dengan tetap memperhatikan aspek sosialnya. http://artikelindonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful