Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak dahulu masalah perilaku pada anak telah menjadi topic bahasan kajian yang
menarik bagi para ahli khususnya yang berkecimpung di dunia anak. Nakal adalah istilah yang
umum dipakai bagi anak yang mempunyai perilaku sulit dikendalikan. Tidak dapat memusatkan
perhatian, impulsive dan hiperaktif merupakan gejala-gejala yang sering ditemukan.

Keadaan yang diatas sekarang ini dikenal dengan nama Gangguan Pemusatan
Perhatian/Hiperaktif (GPPH), sejak lama telah dikenal dengan pelbagai istilah. Pada awal tahun
1900, anak yang impulsif, hiperaktif dan tidak dapat memusatkan perhatian karena adanya
kerusakan neurologis yang disebabkan oleh ensefalitis digolongkan ke dalam Sindrom
Hiperaktivitas. Kemudian pada tahun 1960-an, kelompok anak yang mempunyai koordinasi
buruk, kesulitan belajar dan emosi yang labiltetapi tidak mempunyai kerusakan otak yang
minimal (Minimal Brain Damage).

Bermacam-macam istilah yang menggambarkan adanya gejala-gejala seperti: overaktif


yang abnormal, kegellisahan, lari dan memanjat berlebihan, serta banyak bicara antara lain
Hyperkinetic Syndrome, Hyperactive, Minimal Brain Dysfunction, Minimal Cerebral
Dysfunction, Perceptual Deficit, Psychoneurologic Integration Deficit, Hyperactive Impulse
Disorder, dan Hyperactive Child Syndrome.

Kondisi ini akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan psikososial anak seperti
dampaknya pada prestasi anak di sekolah, sosialisasi yang terganggu, juga dapat menimbulkan
masalah pada perkembangan emosinya. Ini menyebabkan anak tidak dapat mencapai hasil yang
optimal sesuai dengan kemampuannya ataupun mengalami kesulitan belajar yang serius karena
kemampuannya ataupun mengalami kesulitan belajar yang serius karena sulit untuk dapat
berkonsentrasi dalam belajar. Akibat selanjutnya anak akan mendapat cap/label sebagai anak
yang nakal, bodoh dan selalu menjadi penyebab keributan di kelas. Tentunya keadaan ini sama
sekali tidak menguntungkan Untuk perkembangan anak selanjutnya. Bila tidak segera mendapat
pertolongan yang adekuat dan sedini mungkin, anak akan semakin sulit keluar dari gangguan ini.
Anak dapat tidak naik kelas, dan kemungkinan Untuk drop out dari sekolah cukup besar dan
berbagai permasalahan dapat muncul.

Dari laporan kasus yang datang di poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUPN Cipto
Mangunkusumo Jakarta, selama satu tahun (1 Juli 1995-1 Juli 1996), terdapat 11% kasus anak
dengan gejala hiperaktivitas. Dari Amerika Serikat dilaporkan insidens GPPH sebesar 2-20%
pada murid sekolah dasar. Dengan perbandingan anak laki-laki : anak perempuan 3 : 1 – 5 : 1.
Mengingat jumlah kasus yang cukup besar dari GPPH ini serta kompleksnya akibat yang
ditimbulkannya, diperlukan penanganan yang tepat dan sedini mungkin serta pendekatan yang
menyeluruh dan comprehensive. Dengan tujuan awal dalam penanganan GPPH pada anak adalah
Untuk menghilangkan atau mengurangi gejala-gejala yang ada, karena ini yang merupakan
hambatan bagi anak Untuk dapat belajar dengan baik serta bersosialisasi. Untuk ini diperlkan
kerjasama yang baik, tidak hanya dari tenaga medis khusus (psikiatri anak, saraf anak, mata,
THT), juga dari dokter umum, pendidik, psikolog, maupun pekerja social. Peran dokter umum
dan dokter keluarga dalam hal ini sangat penting, Untuk itu di perlukan pengetahuan yang cukup
luas mengenai GPPH.

Diharapkan dengan penyebarluasan pengetahuan tentang GPPH akan dapat membantu


anak-anak dengan GPPH agar mereka dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak
sebayanya yang lain.