Anda di halaman 1dari 9

Contoh surat perjanjian jual beli tanah

Posted on 17:50 komentar (2)


Label: Info Bisnis
Anda punya tanah yang sedang dalam proses dijual dan bingung membuat surat
jual belinya, berikut salah satu contoh surat tersebut.
SURAT PERJANJIAN JUAL BELI

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :


Nama : Aping S
Umur : 64 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan (PNS)
Alamat sekarang : Jl. Baros IV No.271 Rt.06/Rw.02
Untuk selanjutnya disebut pihak ke I (penjual).

Nama : Evin
Umur : 37 Tahun
Pekerjaan : Pedagang (Wiraswasta)
Alamat sekarang : Jl. Jurang No.411 Rt.016/Rw.012
Untuk selanjutnya disebut pihak ke II (pembeli)

Pada tanggal 20 Juni 2007 pihak ke I. Telah menjual, lepas/mutlak sebidang tanah
darat seluas 86 M2, berikut sebuah bangunan yang terletak diatas tanah tersebut
kepada pihak ke II dengan harga tunai Rp. 41.000.000,- (empat puluh satu juta
rupiah). Pembayaran dilakukan dihadapan saksi-saksi dengan tunai.

Batas-batas tanah tersebut adalah sebagai berikut :


Sebelah barat : Berbatasan dengan tanah halaman haji ono
Sebelah timur : Berbatasan dengan tanah pak amid
Sebelah utara : Berbatasan dengan rumah ibu sendi
Sebelah selatan : Berbatasan dengan jalan gang
Bangunan terdiri dari :
Ukuran panjang dan lebar : 86 M2
Atap : Asbes
Dinding : Tembok
Lantai : Semen (plesteran)

Maka, sejak tanggal 20 Juni 2008 Tanah bangunan tersebut diatas telah menjadi hak
milik pihak ke II. Pada waktu pelaksanaan jual beli tanah tersebut baik pihak ke I
(penjual) maupun pihak ke II (pembeli) juga saksi-saksi semuanya meyatakan satu
sama lain dalam keadaan sehat wal afiat, baik jasmani maupun rohani, dan segala
sesuatu dengan itikad baik.
Demikian, setelah keterangan isi jual beli ini dimengerti oleh pihak ke I dan pihak ke
II, juga saksi-saksi, maka ditanda tanganilah sebagai permulaan saat pemindahan hak
milik pihak ke I kepada pihak ke II.
Bandung, 10 Juli 1998

Tanda tangan masing-masing

Pihak Ke II (Pembeli) Pihak Ke I (Penjual)

(Evin ) (Aping S)

Saksi-saksi

Saksi Ke I Saksi Ke II Saksi Ke III Saksi Ke IV

(Priatna) (Wawan H) (Bambang Eko) (Hakiman)

Contoh Surat Kuasa, Perjanjian Jual Beli dan Sewa Menyewa

Contoh Perjanjian Sewa Menyewa :

PERJANJIAN SEWA-MENYEWA
No. …………..

Yang bertanda tangan di bawah ini :


1. Nama ………………. Pekerjaan …………. Dalam hal ini bertindak untuk
dan atas nama ……….. berkedudukan di ………….. selanjutnya disebut yang
menyewakan;
2. Nama …………… pekerjaan ……………. Alamat ……………….. dalam hal
ini bertindak untuk diri sendiri, selanjutnya disebut penyewa;
Dengan ini menerangkan bahwa pihak yang menyewakan adalah pemilik sah sebuah
rumah yang terletak di jalan ………… No. ……. Kota ………….. bermaksud
menyewakan rumahnya kepada penyewa dan penyewa bersedia menyewa rumah
tersebut dari pihak yang menyewakan berdasarkan ketentuan-ketentuan sebagai
berikut :
Pasal 1
(1) Sewa rumah ditetapkan sebesar Rp. …….. (………….) untuk jangka waktu
sewa …… tahun terhitung sejak tanggal penandatanganan surat perjanjian ini.
(2) Pembayaran sewa rumah dilakukan secara tunai oleh penyewa kepada yang
menyewakan dengan diberikan tanda terima yang sah (kuitansi) segera setelah
selesai penandatanganan perjanjian ini.
Pasal 2
(1) Jika terjadi pembatalan perjanjian ini sebelum rumah tersebut ditempati oleh
penyewa, maka uang sewa dikembalikan kepada penyewa dengan dikenakan
potongan 10% dari harga sewa sebagai ganti kerugian pemutusan perjanjian
ini.
(2) Jika terjadi pembatalan perjanjian ini sebelum jangka waktu sewa berakhir
atas kehendak penyewa sendiri, penyewa tidak dapat menuntut pengembalian
uang sewa atau ganti kerugian apapun dari yang menyewakan.
(3) Selama jangka waktu sewa, baik sebagian ataupun seluruh jangka waktu sewa
tersebut, penyewa tidak dibenarkan dan dilarang mengalihsewakan rumah
tersebut kepada pihak lain (pihak ketiga), dengan ancaman pembatalan
perjanjian disertai dengan pembayaran ganti kerugian kepada yang
menyewakan.
Pasal 3
(1) Selama waktu sewa, penyewa wajib merawat, memelihara, dan menjaga
rumah yang disewa itu dengan sebaik-baiknya atas biaya yang ditanggung
oleh penyewa sendiri.
(2) Jika terjadi kerusakan-kerusakan kecil, atau kerusakan sebagai akibat
perbuatan penyewa atau orang yang berada di bawah pengawasannya, maka
semua biaya perbaikan dibebankan dan menjadi tanggung jawab penyewa
sendiri.
(3) Jika terjadi kerusakan berat karena kesalahan konstruksi, bencana alam, maka
tanggung jawab pemilik rumah.
(4) Selama waktu sewa, penyewa tidak boleh mengubah, menambah, mengurangi
bentuk bangunan rumah yang sudah ada, dengan ancaman membayar ganti
kerugian kepada yang menyewakan.
Pasal 4
(1) Penyewa wajib membayar sendiri biaya pemakaian telepon, aliran listrik, air
PAM, Pajak Bumi dan Bangunan pada rumah yang disewanya itu.
(2) Jika terjadi kerugian akibat kelalaian memenuhi kewajiban dalam ayat (1),
penyewa bertanggung jawab mengganti kerugian tersebut.
Pasal 5
(1) Yang menyewakan menjamin penyewa bahwa, rumah yang disewa itu dalam
keadaan tidak disengketakan, bebas dari tuntutan apapun dari pihak ketiga.
(2) Yang menyewakan menjamin penyewa bahwa jual beli rumah tersebut tidak
memutuskan perjanjian ini.
Pasal 6
(1) Jika penyewa ingin memperpanjang jangka waktu sewa, maka selambat-
lambatnya dalam waktu tiga bulan sebelum perjanjian ini berakhir, penyewa
telah memberitahukan dan memusyawarahkan dengan pihak yang
menyewakan.
(2) Setelah jangka waktu sewa berakhir sedangkan penyewa tidak
memperpanjang waktu sewa, maka penyewa wajib segera mengosongkan
rumah tersebut dalam keadaan baik dan menyerahkan kunci rumah kepada
pihak yang menyewakan.
(3) Penyewa boleh mengangkat peralatan yang dipasangnya dengan biaya sendiri
pada rumah tersebut tanpa merusak rumah, dan jika karena pembongkaran
peralatan itu timbul kerusakan, maka penyewa bertanggung jawab membayar
biaya perbaikannya.
Pasal 7
Semua perselisihan yang timbul dari perjanjian ini kedua belah pihak setuju
menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat, dengan mengindahkan
kelayakan dan kepatutan.

Demikianlah surat perjanjian ini dibuat di ……… pada hari ………… tanggal
…….., setelah dibaca dan dipahami isinya kemudian ditandatangani oleh kedua
belah pihak.

Yang menyewakan Penyewa

………………….. ……………………….

Dipersiapkan oleh : Indyah Respati, S.H.


Sumber dari : Perjanjian Baku dalam Praktek Perusahaan
Perdagangan” (Abdulkadir Muhammad).
Contoh :

PERJANJIAN JUAL BELI


No. …………..

Yang bertanda tangan di bawah ini :


1. Nama ………………; Pekerjaan ………….; Bertempat tinggal di ……dalam
hal ini bertindak untuk diri sendiri/selaku kuasa dari dan oleh karenanya
bertindak untuk dan atas nama ……….. berkedudukan di …………..
selanjutnya disebut penjual;
2. Nama ……………; pekerjaan …………….; Bertempat tinggal di
……………….. dalam hal ini bertindak untuk diri sendiri/selaku kuasa dari
dan oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama …………….
Berkedudukan di …………….. selanjutnya disebut pembeli
dengan ini menerangkan bahwa :
Penjual adalah pemilik sah dari ………….. bersama-sama dengan seluruh bagian-
bagiannya, yang selanjutnya disebut unit/unit-unit. Penjual bermaksud menjual
unit/unit-unit tersebut kepada pembeli dan pembeli bersedia membeli unit-unit-unit
tersebut dari penjual berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah
disetujui oleh penjual dan pembeli
Karena itu penjual dan pembeli telah saling bersetuju membuat perjanjian ini dengan
syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut ini :
Pasal 1
(1) Berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan perjanjian ini, penjual
dengan ini menjual dan menyerahkan kepada pembeli yang dengan ini
membeli dan menerima penyerahan dari penjual atas unit/unit-unit tersebut.
(2) Unit/unit-unit tersebut menjadi milik pembeli dan pembeli mempunyai hak
milik penuh atas unit/unit-unit tersebut terhitung sejak tanggal penyerahan
unit-unit-unit.
Pasal 2
(1) Harga unit/unit-unit tersebut telah disetujui oleh penjual dan pembeli secara
tunai sebesar Rp. …….. per unit.
(2) Jika jual beli dilakukan secara angsuran, harga unit/unit-unit tersebut telah
disetujui oleh penjual dan pembeli dengan tambah 30% dari harga tunai, yang
dapat diangsur sebanyak 10 (sepuluh) angsuran, dengan jumlah angsuran yang
sama.
Pasal 3
(1) Harga unit/unit-unit tersebut dibayar secara tunai oleh pembeli kepada penjual
sebesar Rp. ………. Pada saat unit/unit-unit itu diserahkan oleh penjual
kepada pembeli, dengan diberikan tanda pembayaran lunas yang sah.
(2) Dalam hal jual beli dilakukan secara angsuran, harga unit/unit-unit tersebut
dibayar untuk angsuran pertama sebesar Rp. ……… pada saat penyerahan
unit/unit-unit itu dari penjual kepada pembeli, dengan diberikan tanda
pembayaran lunas yang sah angsuran pertama.
Pasal 4
(1) Semua biaya penyerahan dan biaya-biaya lainnya yang timbul dari perjanjian
ini dipikul oleh pembeli.
(2) Unit/unit-unit yang ntelah dijual dan diterima penyerahannya oleh pembeli
tidak dapat ditukar, dikembalikan, atau dibatalkan.
(3) Risiko karena kerusakan, kehilangan, kemusnahan yang disebabkan oleh
apapun atas unit/unit-unit tersebut dipikul oleh pembeli.
Pasal 5
(1) Penjual dengan ini menyatakan dan menjamin pembeli bahwa unit/unit-unit
bebas dari hutang pajak atau bea-bea masuk, tidak tersangkut dalam suatu
perkara, tidak dijual atau dijanjikan untuk dijual kepada pihak lain selain dari
pembeli.
(2) Penjual menjamin pembeli bahwa unit/unit-unit dalam keadaan baik dan
menjamin biaya service selama satu tahun atas kerusakan karena kesalahan
perakitan.
Pasal 6
(1) Setiap bulan tunggakan pembayaran angsuran, pembeli dikenakan denda
sebesar 10 % dari harga angsuran yang wajib dibayar bersama-sama dengan
harga angsuran.
(2) Apabila pembeli telah melakukan tunggakan pembayaran tiga kali berturut-
turut padahal sudah diperingatkan secara patut, maka terdapat bukti yang
cukup bahwa pembeli telah melakukan wanprestasi tanpa diperlukan
pernyataan hakim atau somasi.
(3) Pembeli menyetujui dan memberi kuasa penuh kepada penjual untuk menarik
kembali unit/unit-unit tersebut guna dijual kepada pihak ketiga dan hasil
penjualan itu digunakan untuk menutupi tunggakan angsuran beserta denda
dan biaya-biaya setelah dikurangi dengan tunggakan-tunggakan, denda-denda,
dan biaya-biaya lainnya, maka sisa tersebut dikembalikan kepada pembeli.
Pasal 7
(1) Penjual dan pembeli setuju menyelesaikan sengketa yang timbul dan
perjanjian ini secara musyawarah dan mufakat.
(2) Jika tidak tercapai penyelesaian secara musyawarah dan mufakat, maka
penjual dan pembeli memilih tempat tinggal tetap di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri ………… guna penyelesaian perjanjian ini dan segala akibat
hukumnya.

Demikianlah perjanjian ini dibuat di ……… pada hari ini ………… tanggal
…….., dan ditandatangani bersama oleh penjual dan pembeli.

Pihak Pembeli Pihak Penjual

………………….. ………………

Dipersiapkan oleh : Indyah Respati, S.H.

Sumber dari : Perjanjian Baku dalam Praktek Perusahaan Perdagangan”


(Abdulkadir Muhammad)

Contoh :

SURAT KUASA
No. …………..
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : .……………………………………………………..
Pekerjaan : ……………………………………………………...
Alamat : ………………………………………………………
Dalam hal ini memilih domisili hokum di Kantor Kuasanya tersebut di bawah ini
menerangkan bahwa dengan ini memberi kuasa penuh kepada :
R. Soeroso, S.H. Drs. Eddy Sadeli, S.H.
J. Budi Hariyanto, S.H. S. Husein, Sm.Hk.
Johannes Aipassa, S.H.
L. Inawati, S.H.
Advokat, Pengacara dan Penasehat Hukum pada Kantor Pengacara/Law Office “R.
Soeroso, S.H. & Assosiates”, beralamat di Jakarta Barat, Jalan Pintu Besar Utara No.
6 yang bertindak baik sendiri-sendiri maupun bersama.
---------------------------------------------------
KHUSUS--------------------------------------------
Untuk dan atas nama Pemberi Kuasa :
- Untuk memberi jawaban dan tindakan hokum lainnya atas gugatan dari (nama
penggugat …………..) yang terdaftar di pengadilan negeri Jakarta
……………. No. ………../Pdt./G.19../Jak. …., Tgl. …………….. mengenai
……… dan ……
- Untuk mengajukan gugatan balasan (Rekonpensi) terhadap ………….. (nama
………..), Alamat …………….. serta untuk mengajukan tuntutan ganti rugi,
bunga dan uang untuk paksa terhadap Sdr. ……………………. Tersebut.
Mengenai hal tersebut di atas, untuk dan atas nama Pemberi Kuasa menghadap di
muka Pengadilan Negeri serta Badan-badan Kehakiman lain atau Pembesar-
pembesar lainnya, mengajukan permohonan-permohonan yang perlu menjalankan
perbuatan- perbuatan, atau memberikan keterangan-keterangan yang menurut
hokum harus dijalankan atau diberikan oleh seorang Kuasa, menerima uang dan
menandatangani kuitansi-kuitansi, menerima dan melakukan pembayaran-
pembayaran dalam perkara ini, mempertahankan kepentingan Pemberi Kuasa,
naik banding, minta eksekusi, membalas segala perlawanan, mengadakan
perdamaian dengan persetujuan terlebih dahulu dari Pemberi Kuasa dan pada
umumnya membuat segala sesuatu yang dianggap perlu oleh Penerima Kuasa.
Surat Kuasa dan kekuasaan ini dapat dialihkan kepada orang lain dengan hak
substitusi serta secara tegas dengan retensi dan seterusnya menurut hokum, seperti
yang dimaksudkan dalam Pasal 1812 KHUPerdata dan menurut syarat-syarat
lainnya yang ditetapkan dalam Undang-undang.

………………….., ………………
19……..

Penerima Kuasa Pemberi Kuasa

(…………………) (……………….)

Dipersiapkan oleh : Indyah Respati, S.H.

Sumber dari : Perjanjian Baku dalam Praktek Perusahaan


Perdagangan” (Abdulkadir Muhammad)