Anda di halaman 1dari 54

PERBANDINGAN SUHU TANAH BERUMPUT DAN GUNDUL

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Oleh :
NITA NURTAFITA
107016300115

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010 M
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

PERBANDINGAN SUHU TANAH BERUMPUT DAN GUNDUL


Di Stasiun Klimatologi Pondok Betung-Tangerang

Oleh:
Nita Nurtafita
107016300115

Menyutujui:

Pembimbing I Pembimbing II

Diah Mulhayatiah, M.Pd Kusairi, S.Si


NIP. 197903092008012016 NIP. 197405021998031001
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang


telah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua karena berkat
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan ini yang
berjudul “Perbandingan suhu tanah berumput dan gundul”, sebagai salah satu
mata kuliah semester VII.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita,


baginda pejuang Islam Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari
zaman kebodohan menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Begitu
juga kepada seluruh keluarganya, para sahabatnya serta pengikut ajarannya yang
setia sampai akhir zaman.

Penulisan laporan praktek kerja lapangan ini tidak terlepas dari adanya
bimbingan dan bantuan semua pihak dengan penuh ketulusan dan keikhlasan.
Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Urip Haryoko, M.Si. selaku Kepala Stasiun Klimatologi Pondok Betung.

3. Baiq Hana Susanti, M.Sc. selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Erina Hartanti, M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika.

5. Diah mulhayatiah, M.Pd. selaku pembimbing I yang telah memberikan


bimbingan, arahan, saran-saran yang bermanfaat dan nasehat yang tulus serta
berrmakna bagi penulis.
6. Kusaeri, S.Si. selaku pembimbing II yang talah memberikan bimbingan
dalam penyusunan dan penulisan laporan ini.

7. Ayahanda Ach. Sarwah dan Ibunda Hj. Siti Masitoh, yang senantiasa
mengiringi langkah penulis dengan untaian doa, pengorbanan serta dukungan
motivasi dan materi dengan penuh keikhlasan dan harapan.

8. Kakek dan nenek tercinta (H. Fahmi Adji dan Hj. Ramih), yang telah
mencurahkan kasih sayang dan doa yang tidak putus-putusnya kepada
penulis.

9. Adik-adikku (Zulva Nadia dan M. Haris Ali Murfi) yang telah menghibur hati
dengan canda dan tawanya.

10. Staff-staff Stasiun Klimatologi Pondok Betung, yang telah membantu dalam
pengamatan, pengumpulan dan pengambilan data.

11. Abangku (Ade Maulana Dliya) yang menjadi sumber inspirasi serta semangat
dan selalu setia mendengarkan keluh kesahku.

12. Teman-teman kelompok PKL: Arum, Nina, Mita, Sutrisni, dan Icha atas
segala kekompakan dan semangatnya, serta rekan-rekan mahasiswa
Pendidikan Fisika Angkatan 2007 yang tidak dapat ditulis satu persatu oleh
penulis.

Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, mudah-
mudahan bantuan, bimbingan, semangat, do’a yang telah diberikan menjadi pintu
datangnya ridha dan kasih sayang Allah SWT di dunia dan di akhirat kelak.
Semoga laporan praktek kerja lapangan ini bermanfaat bagi penulis khususnya
dan bagi khazanah ilmu pengetahuan pada umumnya.

Wassalamu’alaikum.Wr.Wb
Jakarta, Agustus 2010

Penulis

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Wilayah Kerja BMKG Pondok Betung


Gambar 2.2 Struktur Organisasi BMKG Pondok Betung
Gambar 3.1 Termometer Tanah Berumput
Gambar 3.2 Termometer Tanah Gundul
Gambar 3.3 Termometer Tanah Berumput Kedalaman 5 cm
Gambar 3.4 Termometer Tanah Gundul Kedalaman 5 cm
Gambar 5.1 Grafik Data Suhu Tanah Berumput dan Gundul
Bulan Januari 2009 (jam 07.30) pada Kedalaman 5 cm
Gambar 5.2 Grafik Data Suhu Tanah Berumput dan Gundul
Bulan Januari 2009 (jam 13.30) pada Kedalaman 5 cm
Gambar 5.1 Grafik Data Suhu Tanah Berumput dan Gundul
Bulan Januari 2009 (jam 17.30) pada Kedalaman 5 cm
Gambar 5.4 Grafik Data Suhu Tanah Berumput dan Gundul
Bulan Agustus 2009 (jam 07.30) pada Kedalaman 5 cm
Gambar 5.5 Grafik Data Suhu Tanah Berumput dan Gundul
Bulan Agustus 2009 (jam 12.30) pada Kedalaman 5 cm
Gambar 5.6 Grafik Data Suhu Tanah Berumput dan Gundul
Bulan Agustus 2009 (jam 17.30) pada Kedalaman 5 cm
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pos Kerjasama BMKG dengan Pemerintahan Daerah


Tabel 5.1 Data Pengukuran Suhu Tanah Berumput dan Gundul
Bulan Januari 2009 Kedalaman 5 cm
Tabel 5.2 Data Pengukuran Suhu Tanah Berumput dan Gundul
Bulan Agustus 2009 Kedalaman 5 cm
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tanah merupakan media utama dimana manusia bisa mendapatkan lahan
pangan, sandang, pangan, tambang, dan tempat dilaksanakannya beberapa
aktifitas (Sunaryo 1998:32).
Tanah terdiri atas hancuran batu-batuan. Sifat-sifat tanah bergantung pada
besar kecilnya partikel-partikel yang merupakan komponen-komponen tanah
tersebut. Tanah mengandung partikel-partikel mineral, sisa-sisa tanaman dan
binatang, air, berbagai gas dan komposisi lainnya yang menjadikan tanah tersebut
menjadi subur, yang menjamin berlangsungnya kehidupan berbagai makhluk
hidup di bumi.
Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan
kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah. Suhu tanah
juga disebut intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat Celcius, derajat
Fahrenheit, derajat Kelvin dan lain-lain. Tanah dapat dipandang sebagai campuran
antara partikel, mineral, dan organik dengan berbagai ukuran dan komposisi. Suhu
tanah dapat diukur dengan menggunakan alat yang dinamakan termometer tanah
selubung logam. Suhu tanah ditentukan oleh panas matahari yang menyinari
bumi. Intensitas panas tanah dipengaruhi oleh kedudukan permukaan yang
menentukan besar sudut datang, letak garis lintang utara dan selatan dan tinggi
dari permukaan laut. Sejumlah sifat tanah juga menentukan suhu tanah antara lain
intensitas warna tanah, komposisi, panasienis tanah, kemampuan dan kadar legas
tanah.
Salah satu fungsi tanah yang terpenting adalah tempat tumbuhnya
tanaman. Akar tanaman dalam tanah menyerap kebutuhan utama tumbuhan yaitu
air, nutrisi, dan oksigen. Oksigen sangat penting untuk mendukung kehidupan
makhluk hidup dan memungkinkan terjadinya pembakaran bahan bakar. Nitrogen
merupakan penyubur tanah. Udara juga melindungi bumi dari radiasi berbahaya
yang berasal dari ruang angkasa.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis uraikan diatas,
maka penulis merasa tertarik untuk membahas dan mengangkat masalah tersebut
menjadi sebuah judul laporan praktek kerja lapangan yaitu: “Perbandingan suhu
tanah berumput dan gundul”

B. Identifikasi masalah
Dari latar belakang masalah diatas, maka dapat diidentifikasi masalah-
masalah sebagai berikut:
1. Suhu tanah berumput dan gundul dipengaruhi oleh beberapa faktor.
2. Adanya perbedaan antara suhu tanah berumput dengan gundul.

C. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan masalah lebih terarah, maka penelitian ini dibatasi pada
perbandingan suhu tanah berumput dan gundul. Batasan-batasan masalahnya
adalah sebagai berikut:
1. Dalam penelitian ini alat yang digunakan untuk mengukur suhu tanah
berumput dan gundul adalah termometer tanah dengan kedalaman 5 cm.
2. Data yang digunakan adalah data suhu tanah bulan Januari 2009 sebagai data
untuk musim hujan. Sedangkan data untuk musim kemarau adalah data pada
bulan Agustus 2009.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah
penelitian ini adalah “Bagaimana perbandingan antara suhu tanah berumput
dengan suhu tanah gundul?”

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan antara suhu
tanah berumput dengan suhu tanah gundul pada musim hujan dan kemarau.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
1. Bagi peneliti, untuk menambah pengalaman melakukan penelitian dan
wawasan tentang suhu tanah berumput dan gundul.
2. Bagi pembaca, memberikan informasi tentang suhu tanah berumput dan
gundul.
BAB II
KEADAAN UMUM STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK
BETUNG TANGERANG

A. Sejarah dan Perkembangan


Sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia dimulai pada
tahun 1841 diawali dengan pengamatan yang dilakukan secara perorangan oleh
Dr. Onnen, Kepala Rumah Sakit di Bogor. Tahun demi tahun kegiatannya
berkembang sesuai dengan semakin diperlukannya data hasil pengamatan cuaca
dan geofisika. Pada tahun 1866, kegiatan pengamatan perorangan tersebut oleh
Pemerintah Hindia Belanda diresmikan menjadi instansi pemerintah dengan nama
Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan
Meteorologi oleh Dr. Bergsma.
Pada tahun 1879 dibangun jaringan penakar hujan sebanyak 74 stasiun
pegamatan di Jawa. Pada tahun 1902 pengamatan medan magnet bumi
dipindahkan dari Jakarta ke Bogor. Pengamatan gempa bumi dimulai pada tahun
1908 dengan pemasangan komponen horisontal seismograf Wiechert di Jakarta,
sedangkan pemasangan komponen vertikal dilaksanakan pada tahun 1928. Pada
tahun 1912 dilakukan reorganisasi pengamatan meteorologi dengan menambah
jaringan sekunder. Sedangkan jasa meteorologi mulai digunakan untuk
penerangan pada tahun 1930. Pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942
sampai dengan 1945, nama instansi meteorologi dan geofisika diganti menjadi
Khiso Kauso Kusho. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945,
instansi tersebut dipecah menjadi dua: Di Yogyakarta dibentuk Biro Meteorologi
yang berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia khusus
untuk melayani kepentingan Angkatan Udara.
Di Jakarta dibentuk Jawatan Meteorologi dan Geofisika, dibawah
Kementrian Pekerjaan Umum dan Tenaga, pada tanggal 21 Juli 1947 Jawatan
Meteorologi dan Geofisika diambil alih oleh Pemerintah Belanda dan namanya
diganti menjadi Meteorologisch en Geofisiche Dienst. Sementara itu, ada juga
4
Jawatan Meteorologi dan Geofisika yang dipertahankan oleh Pemerintah Republik
Indonesia, kedudukan instansi tersebut di Jl. Gondangdia, Jakarta. Pada tahun
1949, setelah penyerahan kedaulatan negara Republik Indonesia dari Belanda,
Meteorologisch en Geofisiche Dienst diubah menjadi Jawatan Meteorologi dan
Geofisika dibawah Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Selanjutnya,
pada tahun 1950, Indonesia secara resmi masuk sebagai anggota Organisasi
Meteorologi Dunia (Word Meteorological Organization atau WMO) dan Kepala
Jawatan Meteorologi dan Geofisika menjadi Permanent Representative of
Indonesia with WMO. Pada tahun 1955, Jawatan Meteorologi dan Geofisika
diubah namanya menjadi Lembaga Meteorologi dan Geofisika di bawah
Departemen Perhubungan, dan pada tahun 1960 namanya dikembalikan menjadi
Jawatan Meteorogi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan Udara.
Pada tahun 1965, namanya diubah menjadi Direktorat Meteorologi dan
Geofisika, kedudukannya tetap di bawah Departemen Perhubungan Udara. Pada
tahun 1972, Direktorat Meteorologi dan Geofisika diganti namanya menjadi Pusat
Meteorologi dan Geofisika, suatu instansi setingkat eselon II di bawah
Depertemen Perhubungan, dan pada tahun 1980 statusnya dinaikkan menjadi
suatu instansi setingkat eselon I dengan nama Badan Meteorologi dan Geofisika,
tetap berada di bawah Departemen Perhubungan. Terakhir pada tahun 2002,
dengan keputusan Presiden RI Nomor 46 dan 48 tahun 2002, struktur
organisasinya diubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND)
dengan nama tetap Badan Meteorologi dan Geofisika.
Badan Meteoroligi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun
Klimatologi Podok Betung yang beralamat di Jl. Raya Kodam Bintaro No. 82
Jakarta Selatan yang berdiri dan telah melaksanakan pengamatan sejak tahun 1976
dengan wilayah kerja di Provinsi Banten dan DKI Jakarta.

B. Tugas dan Fungsi


Berdasarkan keputusan Kepala Badan Meteorologi No. Kep. 005 Tahun
2004 tugas dan fungsi Stasiun Klimatologi Pondok Betung Tangerang adalah:
1. Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan, keuangan,
kepegawaian, dan rumah tangga serta laporan stasiun.
2. Seksi Observasi dan Informasi mempunyai tugas melakukan koordinasi
kegiatan pengamatan, pengumpulan dan penyebaran data, pengolahan,
analisis dan prakiraan serta pelayanan jasa klimatologi.

C. Visi dan Misi


Visi Stasiun Klimatologi Pondok Betung
“Terwujudnya kondisi stasiun yang kondusif dan mampu memberikan
pelayanan jasa klimatologi dan kualitas udara yang bermanfaat bagi masyarakat
dan instansi terkait.”

Misi Stasiun Klimatologi Pondok Betung


Bersikap professional dalam:
1. Melaksanakan pengamatan data iklim dan kualitas udara.
2. Mengumpulkan dan menyebarkan data iklim dan kualitas udara.
3. Melaksanakan pengolahan, analisis dan membuat prakiraan klimatologi dan
kualitas udara.
4. Pelayanan jasa klimatologi dan kualitas udara kepada masyarakat.
D. Layanan Data dan Informasi
Stasiun Klimatologi Pondok Betung Tangerang menyediakan layanan data
dan informasi dengan cara melakukan pengamatan, pengolahan dan analisis
dengan produk sebagai berikut:
1. Data
a. Data iklim:
1) Radiasi Matahari
2) Suhu Udara
3) Angin
4) Kelembaban Udara
5) Tekanan Udara
6) Curah Hujan
7) Penguapan
b. Data Agrometeorologi
1) Radiasi Matahari
2) Curah Hujan
3) Penguapan
4) Evapotranspirasi
5) Suhu Tanah
6) Suhu Minimum Rumput
7) Fenologi
c. Data Hidrologi
1) Intensitas Curah Hujan
2) Embun
3) Kelembaban Udara
4) Perawanan
5) Penguapan
d. Data Kualitas Udara
1) Polusi Udara
2. Publikasi informasi cuaca dan iklim yang diberikan berupa:
a. Buletin Data Tahunan
b. Evaluasi dan Prakiraan Bulanan
c. Prakiraan Musim
d. Informasi Cuaca Ekstrim
e. Informasi Khusus Peringatan Dini
f. Informasi Agrometeorologi
g. Informasi Agroklimatologi
h. Informasi Kualitas Udara
Pelayanan jasa yang diberikan berupa pemberian data dan informasi
kepada user baik yang bersifat permintaan khusus maupun secara rutin. Secara
rutin informasi diberikan kepada 40 (empat puluh) instansi terkait khususnya
pemerintah daerah tingkat II se-Provinsi Banten dan DKI Jakarta serta beberapa
Dinas Teknis. Selain itu informasi juga diberikan kepada media masa (cetak dan
elektronik) melalui wawancara atau telepon. Media masa tersebut diantaranya
CTV Banten, Radar Banten, Kompas, Radio Krakatau, News Satelit dan Harian
Tribun Tangerang.

E. Jaringan Pengamatan dan Pos Kerjasama


1. Jaringan Pengamatan
a. Stasiun Klimatologi Pondok Betung
b. Stasiun Meteorologi Cengkareng
c. Stasiun Meteorologi Serang
d. Stasiun Meteorologi Halim
e. Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok
f. Stasiun Meteorologi Curug
g. Stasiun Meteorologi Jakarta
h. Stasiun Goefisika Tangerang

2. Kerjasama
Gambar 2.I Wilayah Kerja Staklim Pondok Betung

Tabel 2.1 Pos Kerjasama Staklim Pondok Betung dengan Pemerintah


Daerah
Pos Hujan Pos Hujan
Lokasi SMPK AWS ARG
Observasi Otomatis
DKI Jakarta 24
Kab/Kota Tangerang 24 1
Kab Lebak 40 5 1 1
Kab Pandeglang 13 1
Kab Serang 24 2 1
Kab Cilegon 34 1 1
Keterangan:
SMPK : Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus
AWS : Automatic Weather Station
ARG : Automatic Rain Gauge

F. Sumber Daya Manusia dan Fasilitas


1. Sumber Daya Manusia
Stasiun Klimatologi Pondok Betung mempunyai 20 orang pegawai
yang terdiri dari 1 orang Magister (S2), 10 orang Sarjana (S1), 3 orang
Diploma 3 (D3), 1 orang Diploma 1 (D1), dan 5 orang SLTA.

2. Fasilitasa
Fasilitas yang dimiliki Stasiun Klimatologi Pondok Betung antara lain:
a. 2 kantor dengan 7 ruangan
b. Sekitar 1 ha tempat pengamatan dan penelitian
c. Sarana pendukung pengamatan iklim dan cuaca, seperti:
1) Sangkar Meteorologi
2) Penakar Hujan Otomatis
3) Penakar Hujan Observatorium
4) Camble Stokes
5) Gun Bellani
6) Termometer (apung, max, min, BB, BK, min rumput, tanah)
7) Evaporigraph
8) Solarigraph
9) Evaporimeter Open Pan
10) Barograf
11) AWS
d. 2 kebun percobaan
e. 1 unit perpustakaan

G. Struktur Organisasi

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Staklim Pondok Betung


BAB III
KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teoretis
1. Pengertian Suhu
Suhu adalah besaran termodinamika yang menunjukkan besarnya energi
kinetik translasi rata-rata molekul dalam sistem gas ; suhu diukur dengan
menggunakan termometer (kamus kimia : balai putaka : 2002).
Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu
suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu
menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu
benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun
gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun
benda, makin tinggi suhu benda tersebut.
Suhu biasanya didefinisikan sebagai ukuran atau derajat panas dinginnya
suatu benda atau sistem. Benda yang panas memiliki suhu yang tinggi, sedangkan
benda yang dingin memiliki suhu yang rendah. Pada hakikatnya, suhu adalah
ukuran energi kinetik rata-rata yang dimiliki oleh molekul-molekul sebuah benda.
Sebagai contoh, ketika kita memanaskan sebuah besi atau alumunium
maka akan terjadi proses pemuaian pada besi tersebut. Ketika kita mendinginkan
air sampai pada suhu dibawah nol derajat maka air tersebut akan membeku. Sifat-
sifat benda yang bisa berubah akibat adanya perubahan suhu disebut sifat
termometrik. Dengan demikian, perubahan suhu sifat termometrik menunjukkan
adanya perubahan suatu benda.
Berdasarkan sifat termometrik inilah sehingga sebuah termometer dibuat.
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu dari sebuah benda.
Ada beberapa jenis termometer yang dibuat berdasarkan pada beberapa sifat
termometrik zat seperti pemuaian zat padat, pemuaian zat cair, pemuaian gas,
tekanan zat cair, tekanan udara, regangan zat padat, hambatan zat terhadap arus
listrik, dan intensitas cahaya.
Terdapat tiga macam skala yang11
biasa digunakan dalam pengukuran suhu,
yaitu skala Celcius, skala Fahrenheit, dan skala Kelvin. Skala Fahrenheit
didasarkan pada titik beku 320F dan titik didih 2120F. Skala Celcius didasarkan
pada titik beku 00C dan titik didih 1000C. Skala Kelvin berbeda dengan dua skala
yang lainnya, skala ini didasarkan pada suhu terendah yaitu -2730C, skala Kelvin
disebut juga skala suhu mutlak (absolut) atau skala termodinamik. Satuan Kelvin
inilah yang digunakan sebagai satuan SI untuk suhu.
Disamping tiga skala suhu diatas, ada skala lain yang masih juga
digunakan, yaitu skala Reamur (0R). Pada skala ini air membeku pada suhu 00R
dan didih pada suhu 800R.

2. Pengertian Suhu Tanah


Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan
kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah. Suhu tanah
juga disebut intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat Celcius, derajat
Fahrenheit, derajat Kelvin dan lain-lain.
Tanah dapat dipandang sebagai campuran antara partikel, mineral, dan
organik dengan berbagai ukuran dan komposisi. Suhu tanah dapat diukur dengan
menggunakan alat yang dinamakan termometer tanah selubung logam. Suhu tanah
ditentukan oleh panas matahari yang menyinari bumi. Intensitas panas tanah
dipengaruhi oleh kedudukan permukaan yang menentukan besar sudut datang,
letak garis lintang utara dan selatan dan tinggi dari permukaan laut. Sejumlah sifat
tanah juga menentukan suhu tanah antara lain intensitas warna tanah, komposisi,
panasienis tanah, kemampuan dan kadar legas tanah.
Salah satu fungsi tanah yang terpenting adalah tempat tumbuhnya
tanaman. Akar tanaman dalam tanah menyerap kebutuhan utama tumbuhan yaitu
air, nutrisi, dan oksigen. Oksigen sangat penting untuk mendukung kehidupan
makhluk hidup dan memungkinkan terjadinya pembakaran bahan bakar. Nitrogen
merupakan penyubur tanah. Udara juga melindungi bumi dari radiasi berbahaya
yang berasal dari ruang angkasa.

Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tanah:


a. Faktor lingkungan
1) Radiasi matahari
2) Radiasi dari awan
3) Konduksi panas dari atmosfer
4) Kondensasi
5) Penguapan
6) Curah hujan
7) Vegetasi
b. Faktor tanah
1) Keterhantaran dan difusivitas panas
2) Kapasitas panas
3) Aktifitas biologi
4) Radiasi dari matahari
5) Struktur, tekstur dan kelembaban
6) Garam-garam terlarut

3. Alat Ukur Suhu Tanah Berumput dan Gundul


Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika nomor:
SK.32/TL.202/KB/BMG-2006. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu tanah
berumput dan gundul yaitu termometer tanah. Satuannya derajat Celcius.
Pengukuran suhu tanah umumnya dilakukan pada kedalaman 0 cm, 2 cm, 5 cm,
10 cm, 20 cm, 50 cm dan 100 cm. Untuk mungukur suhu tanah pada kedalaman
kurang dari 50 cm dipakai termometer tanah yang dibengkokkan dan skalanya
menghadap ke atas sehingga mudah dibaca tanpa mengganggu termometernya.
Termometer tanah untuk kedalaman 50 cm dan 100 cm bentuknya berbeda
dengan kedalaman lain. Termometer berada dalam tabung gelas yang berisi
parapin, kemudian tabung diikat dengan rantai lalu diturunkan dalam selongsong
tabung logam ke dalam tanah sampai kedalaman 50 cm atau 100 cm. Pembacaan
dilakukan dengan mengangkat termometer dari dalam tabung logam, kemudian
dibaca. Benda kuning pada termometer 50 cm dan 100 cm adalah parapin yang
berfungsi agar memperlambat perubahan suhu ketika termometer terbaca di udara.
Untuk mencegah kemungkinan air masuk ke dalam tabung besi, maka tabung
bagian atas harus selalu tertutup. Karena perubahan suhu di dalam tanah
berlangsung lambat, maka kekurangpekaan dari termometer tanah tidak
mengurangi ketepatan suhu tanah yang diamati. Termometer tanah pada kedua
kedalaman ini bila merupakan suatu kapiler yang panjang dari mulai permukaan
tanah, mudah sekali patah apabila tanah bergerak turun atau pecah karena
kekeringan.

Gambar 3.1 Termometer Tanah Berumput


Gambar 3.2 Termometer Tanah Gundul

Gambar 3.3 termometer tanah Gambar 3.4 termometer tanah


berumput kedalaman 5 cm gundul kedalaman 5 cm

4. Cara Pengamatan Termometer Tanah


Pengamatan suhu tanah berumput dan gundul dapat dilakukan dengan
cara:
a. Pengamatan Suhu Tanah Berumput dengan Menggunakan Termometer
Tanah
Pengamatan pada temperatur tanah berumput dilakukan 3 kali dalam
sehari yaitu pada jam 07.30, 13.30 dan 17.30 waktu setempat.
Pada jam 07.30 dan 13.30 pengukuran suhu tanah dilakukan pada
kedalaman 0 cm, 2 cm, 5 cm, 10 cm, dan 20 cm. Sedangkan pada jam 17.30
pengukuran suhu tanah dilakukan pada kedalaman 0 cm, 2 cm, 5 cm, 10 cm, 20
cm, 50 cm dan 100 cm.
Prosedur pengamatan dilakukan sebagai berikut:
1) Membaca termometer tanah berumput pada kedalaman 0 cm, 2 cm, 5 cm, 10
cm, dan 20 cm dengan melihat ujung air raksa dalam skala derajat Celcius
yang terdapat pada tabung kaca termometer sampai persepuluhan.
2) Untuk termometer tanah pada kedalaman 50 cm dan 100 cm, pembacaan
dilakukan dengan cara:
 Buka tutup tabung besi.
 Tarik tabung gelas yang terikat pada rantai dengan hati-hati.
 Pegang ujung gelas yang tertarik pada rantai.
 Baca termometer sampai persepuluhan dengan cepat dan cermat.
 Waktu membaca usahakan membelakangi matahari, hal ini untuk
menghindari pengaruh sinar matahari pada ketelitian pembacaan.
 Kembalikan termometer ke tempat semula dengan hati-hati.
3) Dicatat di buku observasi, lalu disalin di back-up synop.
4) Untuk pengamatan berikutnya lakukan seperti hal tersebut di atas.

b. Pengukuran Suhu Tanah Gundul dengan Menggunakan Termometer


Tanah
Pengukuran pada Temperatur tanah gundul dilakukan 3 kali dalam sehari
yaitu pada jam 07.30, 13.30 dan 17.30 waktu setempat.
Pada jam 07.30 dan 13.30 pengukuran suhu tanah dilakukan pada
kedalaman 0 cm, 2 cm, 5 cm, 10 cm, dan 20 cm. Sedangkan pada jam 17.30
pengukuran suhu tanah dilakukan pada kedalaman 0 cm, 2 cm, 5 cm, 10 cm, 20
cm, 50 cm dan 100 cm.
Pengamatan dilakukan sebagai berikut:
1) Membaca termometer tanah berumput pada kedalaman 0 cm, 2 cm, 5 cm, 10
cm, dan 20 cm dengan melihat ujung air raksa dalam skala derajat Celcius
yang terdapat pada tabung kaca termometer sampai persepuluhan.
2) Untuk termometer tanah pada kedalaman 50 cm dan 100 cm, pembacaan
dilakukan dengan cara:
 Buka tutup tabung besi.
 Tarik tabung gelas yang terikat pada rantai dengan hati-hati.
 Pegang ujung gelas yang tertarik pada rantai.
 Baca termometer sampai persepuluhan dengan cepat dan cermat.
 Waktu membaca usahakan membelakangi matahari, hal ini untuk
menghindari pengaruh sinar matahari pada ketelitian pembacaan.
 Kembalikan termometer ke tempat semula dengan hati-hati.
3) Dicatat di buku observasi, lalu disalin di backup synop.
4) Untuk pengamatan berikutnya lakukan seperti hal tersebut di atas.
B. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Waktu musim hujan
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan
gundul pada musim hujan.
Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan
gundul pada musim hujan.
2. Waktu musim kemarau
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan
gundul pada musim kemarau.
Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan
gundul pada musim kemarau.
BAB IV
METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2010 sampai 6 Agustus
2010 di Stasiun Klimatologi Pondok Betung Tangerang Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika, Jalan Raya Kodam Bintaro No.82 Tangerang (12070).

B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif. Penelitian
kuantitatif adalah penelitian yang didasarkan pada pengujian data, bilangan-
bilangan melakukan analisis prediktif dari suatu teori tertentu (Creswell,
1994:117).

C. Alat Penelitian
Alat yang digunakan untuk mengukur suhu tanah berumput dan gundul
adalah termometer tanah dengan kedalaman 5 cm.

D. Variabel Penelitian
Penelitian ini bersifat komparasional karena membandingkan suhu tanah
yang berbeda. Oleh karena itu, variabel X pada penelitian ini adalah suhu tanah
berumput sedangkan variabel Y adalah suhu tanah gundul.

E. Prosedur Penelitian
Prosedur yang dilakukan untuk mengetahui suhu tanah berumput dan
gundul adalah:
1. Pengukuran Suhu Tanah Berumput dengan Menggunakan Termometer
Tanah
Pengukuran pada Temperatur tanah gundul dilakukan 3 kali dalam sehari
yaitu pada jam 07.30, 13.30 dan 17.30 WIB.
Prosedur pengamatan dilakukan 18
sebagai berikut:
5) Membaca termometer tanah berumput pada kedalaman 5 cm.
6) Dicatat di buku observasi, lalu disalin di back-up synop.
7) Untuk pengamatan berikutnya lakukan seperti hal tersebut di atas.

2. Pengukuran Suhu Tanah Gundul dengan Menggunakan Termometer


Tanah
Pengukuran pada Temperatur tanah gundul dilakukan 3 kali dalam sehari
yaitu pada jam 07.30, 13.30 dan 17.30 WIB.
Prosedur pengamatan dilakukan sebagai berikut:
a. Membaca termometer tanah berumput pada kedalaman 5 cm.
b. Dicatat di buku observasi, lalu disalin di back-up synop.
c. Untuk pengamatan berikutnya lakukan seperti hal tersebut di atas.

F. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan laporan ini
adalah:
1. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah teknik yang digunakan untuk meneliti secara
sistematis baik berupa rekaman, dokumentasi, buku, gambar, artikel, karangan,
foto, berita, dan lain-lain sebagai sumber datanya. Data yang dikumpulkan dalam
penelitian merupakan data sekunder. Yaitu data yang telah diarsip oleh Stasiun
Klimatologi Pondok Betung pada bulan Januari 2010 sebagai data untuk musim
hujan dan Agustus 2010 sebagai data untuk musin kemarau berdasarkan
pengamatan dengan menggunakan termometer tanah sehingga dapat diambil
kemungkinan terjadinya suhu tanah berumput dan gundul dengan termometer
tanah.
2. Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung para pembuat keputusan berikut
lingkungan fisiknya dan atau pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang
berjalan.
G. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi
dan dokumentasi. Observasi dan dokumentasi dilakukan terhadap alat pengukuran
suhu tanah berumput dan gundul.

H. Teknik Analisis Data


Data yang dihasilkan dari dokumentasi akan dianalisis untuk menguji
hipotesis. Karena penelitian ini bersifat komparasional yaitu menbandingkan
antara suhu tanah berumput dan gundul, maka pengujian hipotesisnya
menggunakan uji t. Uji t adalah tes statistik yang dapat dipakai untuk menguji
perbedaan atau kesamaan dua kondisi atau perlakuan pada dua kelompok yang
berbeda dengan prinsip membandingkan rata-rata (mean) kedua kelompok atau
perlakuan itu.
Dengan rumus sebagai berikut:

Dimana:
X1 = rata-rata data kelompok A (suhu tanah berumput)
X1 = rata-rata data kelompok B (suhu tanah gundul)
dsg = nilai deviasi standar gabungan data kelompok A dan kelompok B
n1 = jumlah data kelompok A
n2 = jumlah data kelompok B

BAB V
HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Waktu Musim Hujan
Dari hasil pengamatan suhu tanah berumput dan gundul dengan
menggunakan termometer tanah pada bulan Januari 2009 diperoleh data sebagai
berikut:
Tabel 5.1
Data Pengukuran Suhu Tanah Berumput dan Gundul bulan Januari 2009
kedalaman 5 cm
Temperatur tanah berumput dan gundul dalam oC
Pengukuran pada Pengukuran pada Pengukuran pada
Tanggal pukul 07.30 pukul 13.30 pukul 17.30
Pengukuran Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah
Berumput Gundul Berumput Gundul Berumput Gundul
1 27.2 26.8 29.8 31.0 28.8 29.0
2 27.2 26.4 31.0 35.0 30.0 32.0
3 28.0 26.8 31.0 35.2 30.4 34.6
4 27.4 26.0 31.0 36.0 30.0 35.0
5 26.8 27.0 31.2 31.6 30.6 34.4
6 27.2 27.2 28.2 29.0 29.2 29.8
7 27.0 26.2 28.8 30.0 29.6 30.2
8 27.2 26.0 30.0 31.2 30.0 30.4
9 27.4 26.6 28.6 29.2 29.2 29.4
10 26.0 26.0 29.2 31.0 28.4 29.2
11 27.2 26.2 28.8 29.8 27.8 27.6
12 27.0 25.6 27.8 28.0 25.4 26.2
13 25.2 24.4 26.4 27.0 27.0 27.2
14 25.8 25.0 27.0 28.0 28.0 28.0
15 25.4 24.8 27.2 28.2 28.4 29.8
16 26.4 25.0 28.8 30.4 29.2 29.6

21
Temperatur tanah berumput dan gundul dalam oC
Pengukuran pada Pengukuran pada Pengukuran pada
Tanggal pukul 07.30 pukul 13.30 pukul 17.30
Pengukuran Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah
Berumput Gundul Berumput Gundul Berumput Gundul
17 26.8 26.0 29.2 30.2 29.8 30.2
18 27.4 26.4 29.0 30.0 29.8 30.0
19 27.2 26.0 29.0 29.2 30.2 30.4
20 27.6 26.2 29.4 29.8 30.2 30.2
21 27.6 26.2 30.6 32.0 31.0 31.4
22 27.4 26.0 30.0 31.4 31.0 31.6
23 27.8 26.4 31.0 33.0 30.0 31.0
24 28.0 27.0 30.6 32.0 31.0 31.2
25 28.0 27.0 31.8 35.2 30.6 30.4
26 28.0 26.8 29.0 29.0 29.6 28.0
27 27.4 26.2 28.3 29.6 28.8 28.8
28 27.0 26.0 30.4 34.2 31.2 32.0
29 27.6 26.6 29.0 29.8 28.8 28.6
30 27.0 26.4 29.2 30.0 28.0 27.0
31 26.8 25.6 28.4 29.0 28.4 28.6
MEAN 27.10 26.16 29.35 30.81 29.37 30.06
SD 0.50 0.45 1.74 5.42 1.68 4.45
t 5.45 -3.08 -1.57

Ket :
Mean = Rata-rata Variabel

SD = Standard Deviasi

t = Test “t”

Data pengukuran suhu tanah berumput dan gundul dengan menggunakan


termometer tanah pada bulan Januari 2009 dapat juga dilihat melalui grafik
dibawah ini.

Gambar 5.1 Grafik data suhu tanah berumput dan gundul bulan
Januari 2009 (jam 07.30) pada kedalaman 5 cm
Gambar 5.2 Grafik data suhu tanah berumput dan gundul bulan
Januari 2009 (jam 13.30) pada kedalaman 5 cm
Gambar 5.3 Grafik data suhu tanah berumput dan gundul bulan
Januari 2009 (jam 17.30) pada kedalaman 5 cm

2. Waktu Musim Kemarau


Dari hasil pengamatan suhu tanah berumput dan gundul dengan
menggunakan termometer tanah pada bulan Agustus 2009 diperoleh data sebagai
berikut:
Tabel 5.2
Data Pengukuran Suhu Tanah Berumput dan Gundul bulan Agustus 2009
kedalaman 5 cm
Temperatur tanah berumput dan gundul dalam oC
Pengukuran pada Pengukuran pada Pengukuran pada
Tanggal pukul 07.30 pukul 13.30 pukul 17.30
Pengukuran Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah
Berumput Gundul Berumput Gundul Berumput Gundul
1 26.4 25.4 30.6 35.0 30.2 32.8
2 26.8 26.0 29.6 31.6 29.6 30.0
3 26.0 24.8 30.6 34.0 30.0 32.2
4 26.0 25.0 29.8 33.4 30.2 32.0
5 26.4 26.0 36.2 35.0 30.6 32.8

Temperatur tanah berumput dan gundul dalam oC


Pengukuran pada Pengukuran pada Pengukuran pada
Tanggal pukul 07.30 pukul 13.30 pukul 17.30
Pengukuran Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah
Berumput Gundul Berumput Gundul Berumput Gundul
6 26.4 25.6 31.0 35.8 33.4 33.4
7 27.0 26.0 32.0 35.0 30.0 32.2
8 27.2 27.8 32.0 36.8 31.6 33.4
9 27.6 27.0 30.6 34.6 31.0 33.2
10 27.0 26.4 33.0 36.0 30.0 32.6
11 27.2 27.0 31.4 36.2 31.4 34.6
12 27.2 27.0 31.4 35.6 31.0 32.6
13 27.8 28.0 31.8 38.0 31.4 34.6
14 28.0 28.4 33.0 38.0 31.0 35.0
15 28.0 28.0 32.6 38.6 31.6 33.8
16 28.0 28.0 32.2 37.4 31.6 34.8
17 28.0 28.2 30.6 33.4 31.0 32.2
18 27.8 27.0 30.8 32.6 31.3 31.8
19 27.4 26.4 32.2 35.8 31.4 33.0
20 27.0 26.0 31.2 35.2 31.0 32.4
21 27.4 26.0 31.2 35.8 31.2 33.2
22 27.2 26.2 32.0 38.2 31.6 34.6
23 27.0 27.0 33.0 35.0 32.0 35.0
24 27.6 27.0 31.6 36.4 31.2 33.4
25 27.8 27.4 31.6 37.0 31.2 33.6
26 27.4 27.4 32.0 36.0 32.0 34.0
27 28.0 28.0 32.6 38.6 31.2 33.0
28 27.0 27.0 32.0 37.2 31.6 34.0
29 27.6 27.4 31.4 35.2 31.4 34.0
30 27.6 28.0 32.0 31.0 31.0 35.0
31 27.8 28.0 32.6 39.2 32.2 35.0
MEAN 27.28 26.88 31.76 35.73 31.16 33.36
SD 0.35 0.99 1.45 4.02 0.58 1.39
t 1.95 -9.62 -8.89

Ket :

Mean = Rata-rata Variabel

SD = Standard Deviasi

t = Test “t”
Data pengukuran suhu tanah berumput dan gundul dengan menggunakan
termometer tanah pada bulan Agustus 2009 dapat juga dilihat melalui grafik
dibawah ini.

Gambar 5.4 Grafik data suhu tanah berumput dan gundul bulan
Agustus 2009 (jam 07.30) pada kedalaman 5 cm
Gambar 5.5 Grafik data suhu tanah berumput dan gundul bulan Agustus
2009 (jam 13.30) pada kedalaman 5 cm
Gambar 5.6 Grafik data suhu tanah berumput dan gundul bulan
Agustus 2009 (jam 17.30) pada kedalaman 5 cm

B. Analisis Data

1. Uji hipotesis data bulan Januari (musim hujan)

Karena penelitian ini bersifat komparasional, maka pengujian hipotesis


dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Uji t. Untuk menentukan nilai thitung
digunakan rumus berikut ini.

Perhitungan untuk menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada bulan Januari (jam 07.30) disajikan pada Lampiran 1.
Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh bahwa nilai thitung adalah 5,45. Dan
nilai ttabel pada taraf signifikansi 1% adalah 2,65 sedangkan pada taraf siginfikansi
5% adalah 2,00. Berdasarkan perolehan nilai tersebut, tampak bahwa nilai thitung >
ttabel baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara suhu tanah
berumput dan gundul pada bulan Januari (jam 7.30).
Dan perhitungan untuk menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan
gundul kedalaman 5 cm pada bulan Januari (jam 13.30) disajikan pada Lampiran
2. Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh bahwa nilai thitung adalah 3,08. Nilai
ttabel pada taraf signifikansi 1% adalah 2,65 sedangkan pada taraf siginfikansi 5%
adalah 2,00. Berdasarkan perolehan nilai tersebut, tampak bahwa nilai thitung > ttabel
baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan gundul
pada bulan Januari (jam 13.30).

Sedangkan perhitungan untuk menentukan nilai thitung suhu tanah berumput


dan gundul kedalaman 5 cm pada bulan Januari (jam 17.30) disajikan pada
Lampiran 3. Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh bahwa nilai thitung adalah
1,57. Nilai ttabel pada taraf signifikansi 1% adalah 2,65 sedangkan pada taraf
siginfikansi 5% adalah 2,00. Berdasarkan perolehan nilai tersebut, tampak bahwa
nilai thitung < ttabel baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%. Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu
tanah berumput dan gundul pada bulan Januari (17.30).

2. Uji hipotesis data bulan Agustus (musim kemarau)

Perhitungan untuk menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada bulan Agustus (jam 07.30) disajikan pada Lampiran 4.
Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh bahwa nilai thitung adalah 1,95. Nilai
ttabel pada taraf signifikansi 1% adalah 2,65 sedangkan pada taraf siginfikansi 5%
adalah 2,00. Berdasarkan perolehan nilai tersebut, tampak bahwa nilai thitung < ttabel
baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan
gundul pada bulan Agustus (jam 07.30).

Dan perhitungan untuk menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan
gundul kedalaman 5 cm pada bulan Agustus (jam 13.30) disajikan pada Lampiran
5. Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh bahwa nilai thitung adalah 9,62. Nilai
ttabel pada taraf signifikansi 1% adalah 2,65 sedangkan pada taraf siginfikansi 5%
adalah 2,00. Berdasarkan perolehan nilai tersebut, tampak bahwa nilai thitung > ttabel
baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara suhu tanah berumput dan
gundul pada bulan Agustus (jam 13.30).

Sedangkan perhitungan untuk menentukan nilai thitung suhu tanah berumput


dan gundul kedalaman 5 cm pada bulan Agustus (jam 17.30) disajikan pada
Lampiran 6. Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh bahwa nilai thitung nya
adalah 8,89. Nilai ttabel pada taraf signifikansi 1% adalah 2,65 sedangkan pada taraf
siginfikansi 5% adalah 2,00. Berdasarkan perolehan nilai tersebut, tampak bahwa
nilai thitung > ttabel baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%. Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara suhu
tanah berumput dan gundul pada bulan Agustus (jam 17.30).

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat


signifikan antara suhu tanah berumput dan gundul pada bulan Januari (musim
hujan) pada jam 07.30 dengan kedalaman 5 cm. Dari Tabel 5.1 terlihat bahwa
mean suhu tanah berumput lebih tinggi di bandingkan suhu tanah gundul. Hal ini
terjadi karena pada tanah berumput, panas dari dalam tanah masih tertahan oleh
akar rumput untuk naik kepermukaan tanah. Dan ketika terjadi hujan air tidak
langsung menyerap ke dalam tanah karena air tertahan oleh akar rumput.
Sedangkan pada tanah gundul, tidak ada yang menahan panas dari dalam tanah
untuk naik kepermukaan. Dan ketika terjadi hujan air langsung menyerap tanah
(tidak ada yang menghalangi sampainya air ke dalam tanah).
Pada bulan Januari (musim hujan), hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada jam 13.30. Dari Tabel 5.1 terlihat bahwa mean suhu tanah
berumput lebih rendah di bandingkan suhu tanah gundul.

Dan pada bulan Januari (musim hujan), hasil uji hipotesis menunjukkan
bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan
gundul kedalaman 5 cm pada jam 17.30. Dari Tabel 5.1 terlihat bahwa bahwa
mean suhu tanah berumput sedikit lebih rendah di bandingkan suhu tanah gundul.
Artinya, walaupun terdapat perbedaan antara kedua suhu tanah tersebut namun
sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Hal ini terjadi karena kedua tanah tersebut
sama-sama menerima panas matahari.

Sedangkan pada bulan Agustus (musim kemarau), hasil uji hipotesis


menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah
berumput dan gundul kedalaman 5 cm pada jam 07.30. Dari Tabel 5.2 terlihat
bahwa mean suhu tanah berumput sedikit lebih rendah dibandingkan suhu tanah
gundul. Artinya, walaupun terdapat perbedaan antara kedua mean suhu tanah
tersebut namun sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Hal ini dapat terjadi karena
ketika musim kemarau rumput yang berada di tanah tersebut kering bahkan mati
bila terjadi kemarau panjang, sehingga tidah ada yang menahan cahaya matahari
masuk kedalam tanah.

Pada bulan Agustus (musim kemarau), hasil uji hipotesis menunjukan


bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara suhu tanah berumput dan
gundul kedalaman 5 cm pada jam 13.30. Dari Tabel 5.2 terlihat bahwa mean suhu
tanah gundul jauh lebih tinggi dibandingkan suhu tanah berumput. Hal ini terjadi
karena pada tanah gundul cahaya matahari langsung masuk ke dalam tanah tanpa
ada yang menahan.

Dan pada bulan Agustus (musim kemarau), hasil uji hipotesis menunjukan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada jam 17.30. Dan dari Tabel 5.2 terlihat bahwa mean suhu
tanah gundul lebih tinggi dibandingkan suhu tanah berumput. Hal ini terjadi
karena pada tanah gundul cahaya matahari langsung masuk ke dalam tanah tanpa
ada yang menahan.

Rendah tingginya suhu tanah berumput dan suhu tanah gundul dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu radiasi matahari, penguapan, dan curah hujan. Pada
waktu musim hujan kadangkala penyinaran matahari menjadi berkurang bahkan
tidak ada penyinaran sama sekali. Sedangkan pada musim kemarau karena
lamanya penyinaran matahari mengakibatkan suhu tanah berumput menjadi
rendah dan suhu tanah gundul menjadi tinggi.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya, maka kesimpulan yang
dapat diambil dari penelitian ini adalah pada bulan Januari (musim hujan) jam
07.30 dan jam 13.30 terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah
berumput dan gundul. Sedangkan pada jam 17.30 tidak terdapat perbedaan yang
signifikan antara suhu tanah berumput dan gundul.
Pada bulan Agustus (musim kemarau) jam 07.30 tidak terdapat perbedaan
yang signifikan antara suhu tanah berumput dan gundul. Sedangkan pada jam
13.30 dan 17.30 terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah berumput
dan gundul.

B. Saran
Berdasarkan temuan-temuan selama penelitian, penulis mengajukan
beberapa saran sebagai perbaikan di masa mendatang.
1. Pada tanah gundul hendaknya harus selalau dijaga kondisinya agar tetap
gundul hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
2. Dalam pengamatan hendaknya mengikuti prosedur pengamatan dengan baik
agar mendapatkan hasil atau data yang maksimal.
3. Dilakukan pengarsipan data pengamatan dalam bentuk soft copy maupun
hard copy.
4. Agar dilakukan kalibrasi terhadap termometer tanah yang digunakan secara
berkala.
5. Perlu dilakukan penelitian yang sama terhadap termometer tanah pada
kedalaman yang lain dengan beberapa metode.

DAFTAR PUSTAKA
32

Prawirowardoyo, Susilo. 1996. Meteorologi. Bandung: ITB

Tjasjono, Bayong. 1995. Klimatologi Umum, Bandung: ITB

http://id.wikipedia.org/wiki/Suhu. 13 Agustus 2010, 12:52 PM


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1086/1/07002729.pdf. 24 Agustus
2010, 2.25 PM

http://www.scribd.com/doc/31837129/Agroklimatologi-Laporan-Acara-1-revisi.
15 Juli 2010, 11:05 PM

http://www.scribd.com/doc/19333723/DEFINISI-TANAH. 18 Juli 2010, 2:41 PM

http://www.scribd.com/doc/12765583/Sejarah-Fisika-Suhu-Dan-Kalor. 26 Juli
2010, 8:25 PM

http://www.staklimkarangploso.net/index.php?
option=com_content&view=article&id=34&Itemid=6. 24 Agustus 2010, 1:09
PM

http://www.staklimpondokbetung.net/. 24 Agustus 2010, 12:17 PM

Lampiran 3

Uji Hipotesis

Karena penelitian ini bersifat komparasional, maka pengujian hipotesis


dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Uji t. Dengan rumus sebagai
berikut:
Dimana:
X1 = rata-rata data kelompok A (suhu tanah berumput)
X1 = rata-rata data kelompok B (suhu tanah gundul)
dsg = nilai deviasi standar gabungan data kelompok A dan kelompok B
n1 = jumlah data kelompok A
n2 = jumlah data kelompok B
Kriteria penentuan keputusan uji t adalah
a) Jika thitung > ttabel Ha diterima dan Ho ditolak
b) Jika thitung < ttabel Ho diterima dan Ha ditolak

Langkah-langkah menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan gundul


kedalaman 5 cm pada bulan Januari 2009 (musim hujan) jam 07.30 adalah sebagai
berikut.

1. Menentukan nilai-nilai yang telah diketahui.


X1 = 27,10
X2 = 26,16
S12 = 0,50
S22 = 0,45

2. Menentukan nilai deviasi standar gabungan (dsg) dengan rumus berikut ini.
3. Menentukan nilai thitung berdasarkan rumus data-data yang telah diperoleh.

4. Menentukan nilai ttabel

Pada taraf signifikansi 5% , ttabel = 2,00


Pada taraf signifikansi 1% , ttabel = 2,65

5. Menguji hipotesis
Karena baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5% nilai thitung > ttabel, maka Ho
ditolak dan Ha diterima.

6. Memberikan interpretasi
Berdasarkan hasil uji hipotesis di atas, pada taraf signifikansi 5% dan 1%,
dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah
berumput dengan suhu tanah gundul kedalaman 5 cm pada bulan Januari 2009
(musim hujan) jam 07.30.
Lampiran 4
Langkah-langkah menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada bulan Januari 2009 (musim hujan) jam 13.30 adalah sebagai
berikut.
1. Menentukan nilai-nilai yang telah diketahui.
X1 = 29,35
X2 = 30,81
S12 = 1,74
S22 = 5,42
2. Menentukan nilai deviasi standar gabungan (dsg) dengan rumus berikut ini.

3. Menentukan nilai thitung berdasarkan rumus data-data yang telah diperoleh.

4. Menentukan nilai ttabel

Pada taraf signifikansi 5% , ttabel = 2,00


Pada taraf signifikansi 1% , ttabel = 2,65
5. Menguji hipotesis
Karena baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5% nilai thitung > ttabel, maka Ho
ditolak dan Ha diterima.
6. Memberikan interpretasi
Berdasarkan hasil uji hipotesis di atas, pada taraf signifikansi 5% dan 1%,
dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah
berumput dengan suhu tanah gundul kedalaman 5 cm pada bulan Januari 2009
(musim hujan) jam 13.30.

Lampiran 5
Langkah-langkah menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada bulan Januari 2009 (musim hujan) jam 17.30 adalah sebagai
berikut.
1. Menentukan nilai-nilai yang telah diketahui.
X1 = 29,37
X2 = 30,06
S12 = 1,68
S22 = 4,45
2. Menentukan nilai deviasi standar gabungan (dsg) dengan rumus berikut ini.

3. Menentukan nilai thitung berdasarkan rumus data-data yang telah diperoleh.

4. Menentukan nilai ttabel

Pada taraf signifikansi 5% , ttabel = 2,00


Pada taraf signifikansi 1% , ttabel = 2,65
5. Menguji hipotesis
Karena baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5% nilai thitung < ttabel, maka Ho
diterima dan Ha ditolak.
6. Memberikan interpretasi
Berdasarkan hasil uji hipotesis di atas, pada taraf signifikansi 5% dan 1%,
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu
tanah berumput dengan suhu tanah gundul kedalaman 5 cm pada bulan Januari
2009 (musim hujan) jam 17.30.

Lampiran 6
Langkah-langkah menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada bulan Agustus 2009 (musim kemarau) jam 07.30 adalah
sebagai berikut.
1. Menentukan nilai-nilai yang telah diketahui.
X1 = 27,28
X2 = 26,88
S12 = 0,35
S22 = 0,99
2. Menentukan nilai deviasi standar gabungan (dsg) dengan rumus berikut ini.

3. Menentukan nilai thitung berdasarkan rumus data-data yang telah diperoleh.

4. Menentukan nilai ttabel

Pada taraf signifikansi 5% , ttabel = 2,00


Pada taraf signifikansi 1% , ttabel = 2,65
5. Menguji hipotesis
Karena baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5% nilai thitung < ttabel, maka Ho
diterima dan Ha ditolak.
6. Memberikan interpretasi
Berdasarkan hasil uji hipotesis di atas, pada taraf signifikansi 5% dan 1%,
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu
tanah berumput dengan suhu tanah gundul kedalaman 5 cm pada bulan
Agustus 2009 (musim kemarau) jam 07.30.

Lampiran 7
Langkah-langkah menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada bulan Agustus 2009 (musim kemarau) jam 13.30 adalah
sebagai berikut.
1. Menentukan nilai-nilai yang telah diketahui.
X1 = 31,76
X2 = 35,73
S12 = 1,45
S22 = 4,02
2. Menentukan nilai deviasi standar gabungan (dsg) dengan rumus berikut ini.

3. Menentukan nilai thitung berdasarkan rumus data-data yang telah diperoleh.

4. Menentukan nilai ttabel

Pada taraf signifikansi 5% , ttabel = 2,00


Pada taraf signifikansi 1% , ttabel = 2,65
5. Menguji hipotesis
Karena baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5% nilai thitung > ttabel, maka Ho
ditolak dan Ha diterima.
6. Memberikan interpretasi
Berdasarkan hasil uji hipotesis di atas, pada taraf signifikansi 5% dan 1%,
dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah
berumput dengan suhu tanah gundul kedalaman 5 cm pada bulan Agustus 2009
(musim kemarau) jam 13.30.

Lampiran 8
Langkah-langkah menentukan nilai thitung suhu tanah berumput dan gundul
kedalaman 5 cm pada bulan Agustus 2009 (musim kemarau) jam 17.30 adalah
sebagai berikut.
1. Menentukan nilai-nilai yang telah diketahui.
X1 = 31,16
X2 = 33,36
S12 = 0,58
S22 = 1,39
2. Menentukan nilai deviasi standar gabungan (dsg) dengan rumus berikut ini.

3. Menentukan nilai thitung berdasarkan rumus data-data yang telah diperoleh.

4. Menentukan nilai ttabel

Pada taraf signifikansi 5% , ttabel = 2,00


Pada taraf signifikansi 1% , ttabel = 2,65
5. Menguji hipotesis
Karena baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5% nilai thitung > ttabel, maka Ho
ditolak dan Ha diterima.
6. Memberikan interpretasi
Berdasarkan hasil uji hipotesis di atas, pada taraf signifikansi 5% dan 1%,
dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tanah
berumput dengan suhu tanah gundul kedalaman 5 cm pada bulan Agustus 2009
(musim kemarau) jam 13.30.