Anda di halaman 1dari 27

c c

c

    

  c

4 Votes

c  

c

  

Program pembangunan perkebunan melalui pola PIR-TRANS didasarkan pada Kepres No. 1
tahun 1986, sedangkan pola KKPA didasarkan atas keputusan Bersama Menteri Pertanian dan
Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil No.73/Kpts/KB.510/2/1998 dan No.
01/SKB/M/11/98 yang masa kedua pola ini bertujuan sama yaitu meningkatkan produksi non
migas, meningkatkan pendapatan petani, membantu pengembangan wilayah serta menunjang
pengembangan perkebunan, meningkatkan serta memberdayakan KUD di wilayah plasma.

!"#$#%#c
 

- Pola Perusahaan Inti Rakyat atau disingkat PIR adalah pola Pelaksanaan
Pengembangan Perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu
dan membimbing perkebunan rakyat disekitarnya sebagai plasma dalam suatu sistem kerjasama
yang saling menguntungkan, utuh dan kesinambungan.

- Perusahaan Inti adalah perusahaan perkebunan besar, baik milik swasta maupun
milik negara yang ditetapkan sebagai pelaksana proyek PIR.

- Kebun Plasma adalah areal wilayah plasma yang dibangun oleh perusahaan Inti
dengan tanaman perkebunan.

- PIRTRANS adalah proyek PIR yang dikaitkan dengan program transmigrasi

- KKPA adalah fasilitas pendanaan yang disediakan oleh Pemerintah berupa Kredit
kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya.

- KUD adalah lembaga ekonomi desa di wilayah plasma yang merupakan wadah
petani peserta/kelompok tani plasma yang berfungsi mengkoordinir pemeliharaan/perawatan,
panen, transport dan penjualan hasil produksi
- Kelompok Tani adalah wadah atau organisasi kelompok petani peserta yang berada
dalam satu hamparan yang sama

- Petani Peserta adalah petani yang ditetapkan sebagai penerima pemilikan kebun
plasma / KKPA.

cc   &   c c %

Tahapan Pembangunan kebun Plasma / KKPA meliputi :

1. Masa Konstruksi
2. Masa Penyerahan Kebun sampai Pelunasan Kredit
3. Masa Pasca Kredit Lunas

!'$"

2.1.1. Masa persiapan meliputi kegiatan : (pengurusan legalitas dan perencanaan)

- Permohonan ijin prinsip dari Menteri Pertanian melalui Direktorat Jendral Perkebunan

- Permohonan Pencadangan lahan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I

- Survey pendahuluan

- Permohonan pelepasan Kawasan Hutan kepada Menteri Kehutanan

- Study kelayakan dan Perencanaan Proyek

- SK Menteri Pertanian tentang pelaksanaan proyek dan penunjukan Perusahaan Inti

!!#$(""$

- Pembangunan fisik kebun sepenuhnya dilaksanakan oleh Perusahaan Inti sesuai dengan
standar fisik yang telah ditentukan Direktorat Jendral Perkebunan

- Pemanfaatan petani peserta sebagai tenaga kerja juga bertujuan untuk membina petani
peserta tersebut mempunyai kemampuan untuk mengelola kebun plasma nantinya

- Keberhasilan suatu proyek plasma sangat tergantung dari pembangunan fisik kebun yang
baik guna menjamin penyerahan kebun yang tepat waktu dan produksi tinggi

- Membangun fasilitas pabrik untuk menampung hasil produksi inti dan plasma

!!)*$#+"$$
2.2.1. Persiapan Penyerahan Kebun dilaksanakan sejak tanaman berumur 30 bulan s/d 48
bulan yaitu :

- Pengukuran kavling

- Pembentukan kelompok tani

- Undian Blok / Kavling

- Penilaian awal fisik kebun

- Permohonan Penilaian teknis

- Penilaian Teknis Akhir Kebun

- Pembuatan sertifikat

2.2.2. Masa Penyerahan Kebun

- Perjajian Kerjasama antara Inti, KUD, Kelompok Tani dan Bank

- Penyuluhan terpadu oleh TP3D1 dan TP3D2

- Pelaksanaan alih kebun atau akan kredit

2.2.3. Masa Pelunasan Kredit

Tugas Perusahaan Inti adalah :

- Bertangung jawab untuk membina KUD, kelompok tani serta memotong hasil produksi
petani untuk pembayaran kredit pembangunan kebun pada Bank pelaksana.

- Menerima hasil produksi petani peserta melalui KUD

Tugas KUD adalah :

- KUD berkewajiban mengkoordinasi pemeliharaan, panen, transport hasil petani peserta


ke lokasi pabrik

- Menyediakan kebutuhan petani peserta

- Melakukan administrasi terhadap penjualan hasil petani peserta

- Mengaturkan hubungan kerjasama dengan petani peserta, kelompok tani dan perusahaan
inti
- Mengadministrasikan seluruh transaksi keuangan antara kebun plasma dengan bank
secara periodik

- Memupuk sumber dana sebagai tabungan untuk menambah modal KUD

- Membantu anggota / petani peserta memperoleh bantuan kredit perbankan untuk


mengembangkan usaha

- Mempersiapkan diri untuk pembelian saham Perusahaan Inti.

Tugas dan Tanggung jawab bank

- Menerima cicilan kredit dari perusahaan inti

- Membayar pendapatan hasil produksi petani pada masing-masing KUD

- Membantu mencari potensi usaha perkebunan arus pengembalian dan penyaluran kredit
pada KUD

Tugas dan Tanggung jawab Petani Peserta

- Membayar kredit pembangunan kebun plasma/KKPA

- Melaksanakan pengusahaan kebunnya sesuai bimbingan dari Perusahaan Inti

- Menyerahkan/menjual hasil kebun plasmanya kepada perusahaan inti dengan syarat dan
harga wajar yang saling menguntungkan

- Mentaati kontrak kerja sama yang sudah di sepakati antara para petani peserta (sebagai
anggota kelompok tani) dengan perusahaan inti dan Bank.

!,-%"$

Untuk menjamin kelangsungan dan kesinambungan program PIR dan KKPA kesepakatan
kerjasama antara perusahaan inti, KUD dan petani peserta harus tetap dilaksanakan secara
konsisten, walaupun petani peserta telah melunasi kredit pembangunan kebunnya. Oleh sebab itu
TP3D1 dan TP3D2 berkewajiban untuk membina petani peserta, KUD dan perusahaan inti untuk
melakukan suatu kesepakatan kerjasama yang saling menguntungkan dan kesinambungan.

cc#*%$+)+)")

* )"
1. c# - Pendapatan secara detil melibatkan
aparat Desa, Pemda & Perusahaan
1. Masalah Tanah garapan Masyarakat
2. Komposisi petani peserta antara lokal &
transmigran - Untuk areal inti dapat diberi saguhati

3. Komposisi perbandingan Inti & Plasma - Menghormati/menghargai hak


lembaga desa/ulayat
1. Gangguan Hama babi
- Penetapan melalui keputusan instansi
5. Penjualan hak oleh petani peserta yang berwenang

6. Tidak berada dilokasi Plasma, kavling - Prioritaskan masyarakat yang terkena


diupahkan lahan garapannya

- Masyarakat miskin yang berada


disekitar proyek

- SK usulan dan penetapan petani


peserta secara prosedural dan transparan

- Inti harus 20% dari total kebun inti &


plasma

- Lengkapi dokumen perolehan tanah


bila ada yang dibeli / ganti rugi diluar
areal yang ditetapkan dan segera usul
legalitasnya

- Tanaman bibit lebih dari 24 bulan

- Kendalikan dengan system yang lebih


efektif & efisien

- Monitoring dan Pengawasan

- Koordinasi dengan aparat yang terkait

- Koordinasi dengan instansi/aparat


terkait

- Lakukan pembinaan beserta kelompok


tani dan KUD
Masalah Penyelesaian
7. Pelaksanaan perawatan & panen belum - Lakukan pembinaan secara kontiniu
memenuhi standart yang ditetapkan
- Buat kelompok percontohan
8. Penetapan kesepakatan harga sering
terkendala - Monitor secara kontiniu

9. Pelaksanaan greading TBS yang belum - Sanksi sesuai ketentuan yang


dilaksanakan sesuai aturan yang ditentukan ditetapkan

10. Kemampuan SDM dan permodalan KUD yang - Informasi tentang harga yang
sangat terbatas transparan dari inti

- Instraksi terkait harus mampu dan


profesional dalam menengahi
permasalahan yang timbul

- Tingkatkan kemampuan dan


profesional petani dalam memahami
system penetapan kesepakatan harga

- Pembinaan kepada kelompok


tani/petani secara kontiniu

- Minimalisasi masalah antri di PKS

- Lakukan perbaikan jalan dan


transportasi

- Upayakan pemberian penghargaan


pada kelompok yang menunjukan hasil
kwalitas TBS yang baik

- Training oleh dinas kopersi,


perusahaan

- Pembinaan oleh staff inti

- Study banding pada KUD yang lebih


baik

- Bantuan modal bergulir dari


perusahaan

- Pinjaman modal kerja pada Bank

- Mengumpulkan dana tabungan dari


anggota

c   

- Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah tentang 5 (lima) pola pembangunan
perkebunan yang ditetapkan pemerintah saat ini, seharusnya bertujuan meningkatkan ekonomi
kerakyatan melalui kemitraan, antara perusahaan dengan KUD atau petani. Oleh sebab itu
pengetahuan tentang plasma dan KKPA yang saat ini sedang kita laksanakan sangat penting
untuk dipahami dan ditingkatkan.

- Keberhasilan pengelolaan kebun plasma sangat tergantung pada kemampuan


pengelolaan secara teknis dan pemahaman terhadap aturan yang ditetapkan dan koordinasi
dengan instansi terkait.

- Pengelolaan teknis agronomi kebun plasma yang baik dapat dimiliki oleh inti
sebelum kavling diserahkan pada petani peserta pada umur 48 bulan.

- Management KUD yang baik dan dipercaya oleh kelompok tani/petani peserta
perlu diciptakan agar program yang dianjurkan perusahaan dapat dilaksanakan dengan baik.




- Kwalitas hasil produksi (TBS) dan masalah transport pada kebun plasma yang
telah dialihkan adalah masalah utama saat ini yang perlu dilakukan perbaikan, karena masih
dibawah standart perusahaan inti. Peran aktif pihak management sangat diharapkan untuk dapat
mendukung perbaikan masalah ini.

- Perlu adanya pengetahuan tentang plasma dan kemitraan bagi staff perusahaan
untuk pengembangan perusahaan kedepan.

c
   c

. 

 

//
0123411 5 $14,63

 &&0!
663

  &0cc cc 7cc  

 &c   /


 c c
88 & cc

 & 
/&

 c&
c c

 

1. c
 &

1. Pengembangan perkebunan melalui Pola PIR yang dikaitkan dengan program


Transmigrasi (PIR-TRANS) sebelum dikelola oleh petani didahului dengan suatu tahapan
yaitu pengalihan status pemilikan kebun plasma dari perusahaan inti kepada petani
peserta.
1. PIR-TRANS yang dilandasi dengan INPRES Nomor 1 Tahun 1986, sampai saat ini
sebagaian kebun plasma telah berhasil dialihkan pemilikannya kepada petani peserta.
Pengambil alihan kebun plasma tersebut diawali dengan penilaian fisik kebun atas dasar
standart fisik kebun dan tata cara penilaian serta klasifikasi kebun yang ditetapkan
Direktur Jenderal Perkebunan sebagai pedoman kerja.

1. Dalam penilaian fisik kebun beberapa hal pokok yang harus menjadi patokan utama
adalah :

1. Penilaian fisik yang mengkelaskan kebun tersebut, harus dapat menggambarkan tentang
tingkat pencapaian sasaran yang diharapkan dari tujuan pembangunan kebun plasma
tersebut.
2. Pemberian kriteria dan tata cara penilaian harus dapat disajikan secara sederhana tetapi
mencakup seluruh aspek yang merupakan komponen penentu.

c.Dalam mengadakan penilaian dan pemberian nilai harus diupayakan agar pengaruh faktor-
faktor subyektif seminimal mungkin, sehingga untuk obyek yang sama perbedaan penilaian oleh
berbagai penilai tidak berbeda jauh.

1. Memperhatikan ketentuan sistim penilaian fisik kebun untuk pengalihan kebun plasma
dengan pola PIR-TRANS kelapa sawit selama ini, maka dalam rangka upaya pencapaian
berbagai sasaran yang ingin dicapai perlu diadakan penyempurnaan sistem penilaian fisik
kebun plasma proyek PIR-TRANS kelapa sawit.

1. ccc c/
  

1. Pada dasarnya kavling yang dialihkan kepada petani adalah kebun yang baik yang
dicirikan oleh tiga indikator utama yaitu :

1. Kavling tersebut mempunyai indikasi untuk dapat berproduksi dengan baik atau disebut
indikator produksi
2. Proses produksi pada kavling tersebut dapat berjalan secara lancar, mudah dan dengan
biaya yang wajar atau disebut indikator efektivitas dan efisiensi.
3. Pada kavling tersebut tidak terdapat hal-hal yang mempunyai potensi untuk
memerosotkan kondisi kebun setelah dialihkan kepada petani atau disebut indikator
adanya potensi ancaman.

1. Atas dasar ketiga indikasi tersebut, maka beberapa komponen yang perlu dinilai adalah
sebagai berikut :

1. Untuk dapat diharapkan tanaman mempunyai potensi produksi yang baik ditunjukan oleh
berbagai indikator yaitu :

1) Jumlah pohon perhektar

2) Jumlah pohon telah berbunga betina


3) Jumlah pohon berbuah dan

4) Rata-rata berat tandan buah segar (TBS)

1. Untuk berjalannya proses produksi secara efektif dan efisien beberapa indikator yang
menunjukan hal itu antara lain adalah :

1) Telah dibuatnya dan terpeliharanya jalan produksi dan jalan koleksi

2) Telah dibuatnya dan terpeliharanya jalan pikul dan TPH

3) Terawatnya piringan pohon sehingga brondolan yang hilang dapat dikurangi dan terjadinya
efektivitas pemupukan.

4) Adanya kacangan penutup tanah sehingga dapat diperoleh peningkatan kesuburan tanah.

1. Berbagai hal yang bersifat ancaman antara lain diindikasikan oleh adanya :

1) Lalang yang tidak terkendali (tidak dapat dikontrol dengan cara wiping yang normal)
yang nantinya dikhawatirkan akan meluas menjadi lalang sheet dan tumbuhnya anakan kayu

2) Tidak dilaksanakannya sistim pengawetan tanah, akan menimbulkan erosi dan


kemerosotan kesuburan tanah dimasa datang.

3) Terdapatnya hama dan penyakit yang mempunyai potensi yang meluas keseluruh kebun
(sebagai contoh ulat api dan cendawan akar merah)

1. pemberian nilai bobot untuk berbagai indikator tersebut diatas, pada hakekatnya
dilakukan melalui dua pendekatan yaitu :

1. Indikator yang dinilai bobotnya sangat ditekankan kepada parameter yang terukur secara
pasti. Termasuk kedalam kelompok ini seperti jumlah pohon dan berat tandan

1. Indikator yang dinilai bobotnya lebih dititik beratkan kepada kegunaan atau fungsinya.
Sebagai contoh pemeliharaan piringan pohon ditunjukan untuk menampung brondolan
dan efesiensi pemupukan, sehingga nilai bobotnya ditentukan oleh seberapa jauh fungsi
tersebut dapat dicapai.

ccccc cc  

1. '%""

1. Pada dasarnya setiap kebun plasma mempunyai susunan hirarchi areal kebun yaitu :

1. Kavling yaitu tanaman dengan luas 2 hektar yang diukur secara planimetris/proyeksi
yang diperuntukan bagi satu kepala keluarga (KK) petani peserta
2. Hamparan, yaitu kebun plasma yang terdiri atas 20 ± 30 KK petani peserta yang nantinya
membentuk kelompok tani sehamparan.
3. Afdeling yaitu terdiri atas beberapa hamparan atau dapat juga merupakan satuan
pemukiman transmigrasi.

Pengklasifikasian kebun dilakukan untuk setiap kapling dan dilaksanakan secara sensus lengkap.

1. Penilaian atas pengklasifikasian kavling dilakukan pada saat tanaman berumur sekitar 3.5
tahun. Tata cara pelaksanaannya dilakukan melalui :

1. Setiap petugas melakukan sensus pencatatan untuk masing-masing tanaman didalam satu
kavling, dengan mengisi formulir model-A yaitu data lapangan kebun plasma. Formulir
model ± A tersebut menginventarisasikan tentang kondisi tanaman pohon demi pohon,
kondisi penutup tanah, pengawetan tanah, jalan pikul dan TPH, kemudian
direkapitulasikan ke formulir model A-1
2. Rekapitulasi dari hasil sensus setiap kavling tersebut diisikan pada formulir model B
yaitu penetapan kelas kebun atas dasar komponen dan nilai bobot dari masing-masing
komponen tersebut.

1. !'#+')%"""%""''

1. Atas dasar indikator penentu yang dikemukakan diatas, maka telah dilakukan penetapan
komponen yang dinilai dan diberi nilai bobot untuk menentukan ³elegible´ atau belum
³elegiblenya´ suatu kavling tanaman sebelum dialihkan kepada petani. Komponen-
komponen tersebut beserta nilai bobotnya adalah sebagai berikut :

""

'#+')%""" ''

"#
1. c/ cc  20

1. .$#*+'*'9" 10

1. ""

1. Standart jumlah pohon ± perkavling (2 ha yang diukur secara


planimetris/proyeksi ditentukan oleh jarak tanam.

Untuk jarak tanam 9,42 m segitiga sama sisi jumlah pohon standart 256 dan
untuk jarak tanam 9 m segitiga sama sisi jumlah pohon standart 286.

1. Jumlah pohon minimal per-kavling untuk jarak tanam 9.42 m segitiga


sama sisi adalah 240 dan untuk jarak tanam 9 m segitiga sama sisi adalah
286 dengan ketentuan sebagai berikut :

- Untuk jarak tanam 9.42 m segitiga sama sisi, jumlah pohon 240 terdiri dari
minimal 207 pohon asli (tanaman awal), maksimal 23 pohon sisipan beda umur 1
tahun dengan pohun asli dan kekurangannya sebanyak 10 pohon merupakan
sisipan beda umur 1 ± 2 tahun dengan pohon asli.

- Untuk jarak tanam 9 m segitiga sama sisi, jumlah pohon 268 terdiri dari
minimal 231 pohon asli (Tanaman awal), maksimal 26 pohon sisipan beda umur
tahun dengan pohon asli dan kekurangannya sebanyak 11 pohon merupakan
sisipan beda umur 1 ± 2 tahun dengan pohon asli.

!.$#*'*'$

1. ""

Jumlah pohon berbunga betina 85% dari jumlah pohon standart atau dengan
batas minimal yang diperhitungan 70% dari jumlah pohon standart

1. -+""

1.Jika jumlah pohon berbunga betina 85% dari jumlah standart atau lebih diberi
nilai : 10

1. Apabila jumlah pohon berbunga betina lebih rendah dari 85% dari jumlah
pohon standart dan lebih besar dari 70% dari jumlah pohon standart nilai
bobotnya proposional

3. Apabila jumlah pohon berbunga betina dibawah 70% dari jumlah pohon
standart tersebut nilai bobotnya : 0
""

'#+')%""" ''

"#
,.$#*+'*'$* 15

1. "" 15

1. Pohon berubah adalah pohon yang berat TBSnya maksimal 3 kg atau lebih 10
2. Jumlah pohon berubah 70% dari jumlah pohon standart dengan batas
minimal yang diperhitungkan 60% dari jumlah pohon standart
3. Pohon yang berat TBSnya kurang dari 3 kg tidak diperhitungkan

1. -+""
1. Jika jumlah pohon 70% dari jumlah standart atau lebih diberi nilai : 15
2. Apabila jumlah pohon berubah lebih rendah dari 70% dari jumlah pohon
standart dan lebih besar 60% dari jumlah pohon standart nilai bobotnya
proposional.
3. Apabila jumlah pohon berubah dibawah 60% dari jumlah pohon standart
tersebut nilai bobotnya : 0

1. 3
:


1. ""

Standart berat TBS rata- rata 3.5 kg (Matang panen)

1. -+""

1. Jika berat TBS rata-rata 3.5 kg atau lebih diberi nilai : 15


2. Apabila berat TBS rata-rata 3 kg sampai dengan 3.5 kg nilai bobotnya
proposional.

1. cc/ cc  

1. ""

Penutup tanah yang ideal adalah kacangan yang jumlahnya pada saat diambil alih
dianggap sudah memadai pada saat tingkat 30% dengan keadaan lalang terkendali
dan bebas anak kayu.
""

'#+')%""" ''

"#
1. -+"" 8

1. Jika lalang terkendali, bebas anakkan kayu dan selebihnya rumput lunak
diberi nilai : 6
1. Tambahan nilai bobot selanjutnya secara proposional sesuai
dengan prosentase kacangan.

Jika kacangan penutup 30% maka tambahan nilai bobotnya diberi : 4

Jika kacangan hanya 15% maka tambahan nilai bobotnya : 15/30 x 4 = 2

1. Jika lalang tidak terkendali atau banyak anakkan kayu nilai menjadi : 0
dan harus direhabilitasi dahulu sebelum dilakukan ambil alih.
1. cccc &  

1. ""

Berbagai indikator tentang diperlakukannya sistem pengawetan tanah dan parit


drainase adalah sbb :

1. Jika tingkat kemiringan lahan 8 ± 26% diperlukan teras individu,


sedangkan >27% diperlakukan teras kontour
2. Indikasi kurang berfungsinya parit drainase ditunjukan oleh keadaan daun
tanaman yang menguning.

- Dibangun teras diberi nilai

- Dibangun parit sirip ikan diberi nilai

- Dibangun parit pembuangan (Out Let) diberi nilai : 3

1. Jika parit sirip ikan dan parit pembuangan (Out Let) tidak dibangun yang
mengakibatkan lahan tergenang, durehabilitasi terlebih dahulu sebelum
dilakukan ambil alih.
2. Jika areal memerlukan teras dan teras tersebut tidak dibangun, maka
sebelum dilakukan ambil alih teras harus dibangun dulu.

""

'#+')%""" ''

"#
1. c;/ cc. .     c
c &  13
//
5
1. .'%$"%'"
1. "" 4

Kondisi jalan produksi dan koleksi dapat dilalui sepanjang musim dengan
kendaraan truck bermuatan penuh.

1. <""
1. Lebar jalan produksi 6 m dan koleksi 4±5 diberi nilai : 3
2. Diperkeras pada tanjakan dan bagian lembek diberi nilai : 3
3. Telah dibuat parit kiri ± kanan jalan diberi nilai : 2
4. Tanjakan dapat dilalui truck diberi nilai : 3
5. Telah dibuat gorong-gorong dan jembatan diberi nilai :2
6. Jika kondisi jalan tersebut tidak dapat dilalui sepanjang musim
harus direhabilitas terlebih dahulu sebelum diambil alih.

1. !."$%""'*'

""

1. TPH adalah tempat pengumpulan TBS, yang dibuat 1 TPH setiap 5


gawangan dan dalam keadaan bersih.
2. Jalan pikul adalah jalan antara 2 gawangan yang dapat dilalui tanpa
hambatan bebas dari tumbuhan kayu besar dan anakkan kayu.
3. Piringan pohon terawat dengan baik diberi nilai : 2

1. ;   7/
c

Penilaian ini dilakukan terhadap berbagai kondisi yang belum tercakup pada butir
1 s/d IV.

Faktor yang dinilai adalah kebersihan lapangan, Homogenitas tanaman Defisiensi,


crown disease, hama dan penyakit.

Batas maksimal nilai bobot adalah : 4

Batas minimal nilai bobot adalah : 1


Jumlah Nilai Bobot 100

1. 3< """

1. Hasil pengamatan dilapangan terhadap komponen tersebut diatas yang dibandingkan


dengan keadaan standart diharapkan memberikan nilai bobot perolehan untuk setiap
komponen, secara ringkas pemberian nilai bobot perolehan tersebut diformasikan sebagai
berikut :

Data Dilapangan

Nilai bobot perolehan = X Nilai bobot komponen maksimal

Standart Fisik

Hasil penilaian tersebut dituangkan pada formulir penetapan kelas kebun Plasma (Form Model ±
B), yang diturunkan dari Form Model ± A.

1. Atas dasar penilaian dilapangan terhadap keseluruhan komponen, maka setiap kavling
diklasifikasikan atas :

Kelas A = Nilai bobot > 80 ± 100 memenuhi persyaratan dialihkan


Kelas B = Nilai bobot > 70 ± < 80 belum memenuhi persyaratan untuk dialihkan dan dapat
dinilai kembali minimal 12 bulan.

Kelas C = Nilai bobot > 60 ± < 70 belum memenuhi persyaratan untuk dialihkan dan dapat
dinilai kembali setelah minimal 12 bulan.

Kelas D = Nilai bobot < 60 tidak memenuhi persyaratan dialihkan

c;   cc 

1. Pelaksanaan penilaian adalah sebagai berikut :


1. Penilaian dilakukan oleh Tim yang terdiri dari petugas yang ditunjuk oleh
Direktur Jenderal, Perkebunan, petugas Bank pelaksana dan petugas PT.
Askrindo. Petugas penilai dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Dinas
perkebunan, ataupun petugas lain yang ditunjuk.
2. Penilai masing-masing kapling dilakukan oleh petugas penilai tersebut diatas
dibantu oleh petugas kebun Inti dan petani peserta, sedangkan pengklasifikasian
masing-masing kavling dilakukan oleh Tim Penilai berdasarkan hasil penilaian
tersebut.

1. Sebelum perusahaan Inti mengajukan permohonan untuk diadakan penilaian fisik kebun
plasma kepada Drektorat Jenderal Perkebunan, maka Perusahaan Inti lebih dahulu telah
mengadakan penilaian kebun terhadap kebun-kebun yang akan dialihkan kepada petani
peserta, sehingga diperoleh keyakinan bahwa kebun yang akan dialihkan tersebut benar-
benar telah memenuhi standar fisik.

  
&c   &
 

c
/ c c

1. c 

Dalam rangka menjamin perolehan harga yang wajar dari Tandan Buah Segar (TBS) kelapa
sawit produksi petani dan mencegah persaingan tidak sehat diantara Pabrik, Kelapa Sawit (PKS),
telah dikeluarkan keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 627/Kpts-II/1998 tanggal
11 September 1998 tentang Ketentuan penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar (TBS)
Kelapa Sawit Produksi Petani.

Ketentuan dimaksud merupakan penyempurnaan dari Keputusan Menteri Pertanian No.


839/kpts/KB.320/8/97 tanggal 22 Agustus 1997 dan peraturan pelaksanaannya, dan memuat
aspek-aspek antara lain : Sortasi TBS, pengangkutan dan Penetapan Berat TBS, sanksi dan
Insentif pengiriman TBS ke Pabrik, serta Tata Cara Pembelian dan Pembayaran.

1. cc

&c 

1. 
$#$
Harga pembelian TBS oleh Perusahaan didasarkan pada rumus harga pembelian TBS. Rumus
harga tersebut adalah :

= </>
</?c>
c

Dengan pengertian :

0Harga TBS acuan yang diterima oleh Petani di tingkat Pabrik dinyatakan dalam Rp/Kg

: Indeks proporsi yang menunjukan bagian yang diterima oleh petani, dinyatakan dalam
persentase (%)

</0Harga rata-rata minyak kasar (CPO) tertimbang realisasi penjualan ekspor (FOB) dan
lokal masing-masing perusahaan pada bulan sebelumnya, dinyatakan dalam Rp/Kg

</0Rendemen minyak sawit kasar, dinyatakan dalam persentase (%)

c0Harga rata-rata inti sawit tertimbang realisasi penjualan eksport (FOB) dan lokal
masing-masing perusahaan pada bulan sebelumnya, dinyatakan dalam Rp/Kg

c0Rendemen inti sawit, dinyatakan dalam persentase (%)

Harga pembelian TBS ditetapkan setiap bulan berdasarkan harga riil rata-rata tertimbang minyak
sawit kasar (CPO) dan inti sawit sesuai realisasi penjualan ekspor (FOB) dan lokal masing-
masing perusahaan pada bulan sebelumnya. Harga pembelian TBS tersebut adalah harga franko
pabrik pengolahan kelapa sawit.

1. "#+

Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menetapkan Tim Penetapan Harga Pembelian TBS yang
keanggotaannya terdiri dari unsur :

1. Pemerintah Daerah Tingkat I


2. Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan Perkebunan
3. Dinas Perkebunan Propinsi Daerah Tingkat I
4. Perusahaan
5. Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan pihak lain yang dipandang perlu

Tim Penetapan Harga pembelian TBS mempunyai tugas :

1. Merumuskan dan mengusulkan besarnya indeks ³K´ kepada Gubernur Kepala Daerah
Tingkat I
2. Memantau penetapan besarnya indeks ³K´ serta komponen lainnya yang terkait dalam
rumus harga pembelian TBS.
3. Memantau pelaksanaan penetapan rendemen minyak sawit kasar dan inti sawit
4. Memantau pelaksanaan ketentuan dan penetapan harga pembelian TBS
5. Menyampaikan harga rata-rata penjualan minyak sawit kasar dan inti sawit kepada
perusahaan dan petani/kelembagaan petani secara periodik
6. Menyelesaikan masalah-masalah yang timbul antara perusahaan dan petani/kelembagaan
petani.

1. cccc 

1. Direktur Jendral Perkebunan membentuk Tim Pemantauan Harga yang terdiri dari unsur
direktorat Jenderal perkebunan, Kantor pemasaran Bersama PTPN I ± XIV, PT.
Perkebunan Nusantara, Perkebunan Besar Swasta, Pusat Penelitian kelapa Sawit dan
instansi terkait lainnya.

1. Tim Pemantau Harga menyusun dan menyampaikan informasi harga minyak sawit kasar
dan inti sawit pada bulan sebelumnya serta melakukan pembinaan, pemantauan dan
evaluasi atas pelaksanaan keputusan ini.

1. Dalam rangka pembinaan terhadap petani/kelembagaan petani, perusahaan :

1. Melakukan pembibingan teknis budidaya dan manajemen


2. Mengumpulkan harga pembelian TBS paling lambat setiap tanggal 7 bulan berjalan.
3. Melaporkan realisasi pembelian TBS secara berkala kepada Dinas Perkebunan propinsi
Daerah Tingkat I.

1. Petani/kelembagaan petani dan perusahaan akan dikenakan sanksi, apabila

1. Petani/kelembagaan petani menjual hasilnya kepada pihak ketiga


2. Perusahaan dalam perhitungan harga TBS produksi petani menggunakan harga CPO dan
inti sawit lebih rendah dari harga rata-rata CPO dan inti sawit yang disampaikan oleh Tim
penetapan Harga Pembelian TBS
3. Perusahaan membeli produksi TBS dari binaan perusahaan lain
4. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menetapkan sanksi sebagaimana ketentuan yang
ditetapkan.

1. c;<
 

1. TBS yang dikirim ke pabrik beratnya minimal 3 kg pertandan

1. Rotasi panen dilakukan sekali dalam tujuh hari dan pada keadaan tertentu disesuaikan
dengan kenyataan potensi produksi

1. Brondolan yang dikirim ke pabrik harus bersih, tidak bercampur tanah, pasir dan sampah
lainnya

1. Brondolan yang dikumpulkan dari piringan dimasukan ke dalam karung dan dikirim ke
pabrik bersama-sama dengan tandan
1. TBS yang dipanen harus dikirim ke pabrik pada hari itu juga (tidak lebih dari 24 jam
sejak panen)

1. ;/
c

1. Sortasi mutu panen TBS di pabrik dilakukan oleh karyawan pabrik bersama wakil
petani/kelembagaan petani

1. Penilaian mutu panen TBS yang masuk ke pabrik diberlakukan bagi seluruh TBS baik
yang berasal dari perusahaan, petani/kelembagaan petani maupun dari kebun lain.

1. Sortasi TBS dilakukan secara acak, minimal 1 (satu) truk dari setiap bagian kebun
(afdeling) atau satuan pemukiman. TBS dalam truk yang disortasi, dibongkar dan
dituangkan di lantai

1. Hasil sortasi dipabrik disampaikan oleh perusahaan kepada petani melalui kelembagaan
petani

1. TBS yang diterima di pabrik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Jumlah brondolan sekurang-kurangnya 12.5% dari berat TBS keseluruhan


2. Tandan terdiri dari buah mentah (0%), buah matang (minimal 85%) dan buah lewat
matang (maksimal 5%)
3. Tandan tidak boleh bergagang panjang
4. Tidak terdapat tandan kosong
5. Brondolan segar dalam karung harus bebas dari sampah, tanah, pasir atau benda lainnya.

1. ;c & &     




1. Pengangkut TBS bertanggung jawab mengangkut TBS dari TPH sampai ke pabrik dan
tidak diperkenankan tertinggal dalam sarana angkutan
2. Kelompok tani atau koperasi mempersiapkan sarana angkutan TBS yang sebanding
dengan berat TBS yang akan dipanen untuk menghindari terjadinya TBS menginap
3. Sarana angkutan TBS diwajibkan menggunakan jaring penutup untuk menghindari
jatuhnya TBS
4. Penimbangan TBS dilakukan di pabrik dengan timbangan yang telah di tara oleh instansi
berwenang yaitu Badan Metrologi.

1. ;cc c  c  c7 &c


c 
c

1. "

1. Sanksi diberlakukan bagi seluruh TBS yang diolah di pabrik sebagai berikut :

1. Buah mentah (gabungan fraksi 00 dengan fraksi 0) didenda sebesar 50% x BM x berat
TBS yang diterima, dengan pengertian :
- angka 50% : efisiensi yang dicapai dipabrik bila mengolah buah mentah

- BM : persentase jumlah buah sangat mentah

1. Buah lewat matang didenda sebesar 25% x (BLM ± 5%) x berat TBS yang diterima,
dengan pengertian :

- angka 25% : banyaknya brondolan yang tidak terkutip karena lewat matang

- BLM : persentase jumlah buah lewat matang

- angka 5% : batasan BLM yang diperbolehkan

1. Tandan kosong didenda sebesar 100% x TK x berat TBS yang diterima, dengan
pengertian :

- TK : persentase jumlah tandan kosong

1. Buah gagang panjang (BG) didenda sebesar 1% x BT x berat TBS yang diterima, dengan
pengertian :

- angka 1% : perkiraan berat gagang panjang dari berat TBS

- BT : persentase jumlah tandan bergagang panjang

1. Brondolan yang dikirim diterima lebih kecil dari 12% didenda sebesar 30% x (12.5% ±
X) x berat TBS diterima, dengan pengertian :

- angka 30% : kadar minyak dan inti sawit dalam brondolan

- X : persentase jumlah brondolan yang dikirim

1. Pengaturan lebih lanjut dari pelaksanaan sanksi dan atau insentif tersebut diserahkan
kepada perusahaan dan petani/kelembagaan petani

c"(

Jika buah yang dikirim baik maka kepada yang bersangkutan diberi insentif sebesar 3% dari TBS
yang diterima.

1. ;ccc<
c
   8


1. Petani menyerahkan TBS kepada perusahaan melalui petani/kelembagaan petani sesuai


dengan perjanjian.
1. Penimbangan TBS di pabrik dilakukan oleh perusahaan dan disaksikan oleh
petani/kelembagaan petani atau yang mewakili.

1. Kelembagaan petani atau yang mewakili mencatat besarnya penyetoran hasil TBS
masing-masing anggotanya berdasarkan petunjuk perusahaan dan tembusannya
disampaikan kepada perusahaan.

1. Perusahaan yang belum mempunyai pabrik mengolahkan TBS kepada pabrik pengolahan
terdekat. Untuk pengembangan perkebunan pola PIR, biaya angkut TBS yang menjadi
beban petani hanya sampai dengan emplasemen Kantor Kebun/Perusahaan.

1. Hasil pembelian TBS petani dibayarkan oleh perusahaan kepada petani setelah dikurangi
kewajiban-kewaajiban petani sesuai dengan ketentuan dan dilakukan 1 (satu) kali sebulan
atau berdasarkan kesepakatan bersama antara petani/kelembagaan petani dengan
perusahaan.

 
 
c
 c    
c/
c  
c   &<c  &c    
 & & /
c c  cc  &
  
 & /c
 c 7 
 c 
/
c
c
  &&/ 8

c

  

"#

"

c

Dalam Keputusan Bersama ini, yang dimaksud dengan :

1. Kredit kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya yang selanjutnya disebut KKPA
adalah kredit investasi dan atau kredit modal kerja yang diberikan oleh Bank kepada
Koperasi Primer untuk diteruskan kepada anggota-anggotanya guna membiayai usaha
anggota yang produktif.

1. Persuahaan Inti adalah perusahaan yang berskala menengah/besar milik swasta,


BUMN/BUND dan atau Koperasi yang melakukan kegiatan usaha dibidang perkebunan.

1. Kebun Plasma adalah areal kebun yang dibangun dilahan milik petani peserta dengan
tanaman perkebunan oleh Perusahaan Inti dengan menggunakan KKPA.

1. Petani peserta adalah petani yang memiliki lahan dan terdaftar sebagai anggota KUD.
1. Wilayah Plasma adalah wilayah yang merupakan suatu kesatuan usaha yang layak secara
ekonomi untuk dikembangkan oleh petani peserta.

1. Hubungan kemitraan dibidang perkebunan adalah hubungan kerja dibidang


pengembangan usaha perkebunan antara KUD dengan Perusahaan Inti disertai
pembinaan perusahaan Inti kepada KUD, yang dijiwai prinsip saling memerlukan, saling
memperkuat dan saling menguntungkan.

1. Iuran dana peremajaan tanaman perkebunan yang selanjutnya disebut IDAPERTABUN


adalah penyediaan dana oleh petani peserta secara swadaya untuk peremajaan yang
sekaligus merupakan asuransi pertanggungan jiwa petani agar secara mandiri dapat
melanjutkan usaha tani di masa mendatang.

1. Masa konstruksi adalah masa pembangunan kebun plasma oleh perusahaan inti sampai
dengan saat penyerahan kebun plasma.

1. Masa penyerahan kebun sampai pelunasan kredit adalah masa penyerahan kebun plasma
dari perusahaan inti melalui KUD kepada petani peserta dan masa pembayaran angsuran
kredit kebun dari pemotongan hasil penjualan produksi petani peserta kepada Bank
melalui Perusahaan Inti.

1. Masa pasca lunas adalah masa penjualan hasil produksi petani peserta kepada Perusahaan
Inti yang tidak dibebani oleh angsuran kredit kebun.

"%$

$5$

!

Tujuan keputusan ini adalah :

1. Meningkatkan penghasilan dan pendapatan petani peserta melalui pengembangan


dibidang usaha perkebunan

1. Meningkatkan usaha KUD melalui hubungan kemitraan

1. Menumbuh kembangkan peran dan fungsi KUD dalam mewujudkan interaksi yang utuh
antara usaha anggota dengan KUD dalam upaya meningkatkan produktivitas dan tingkat
efisiensi

1. Memberdayakan KUD agar mampu memanfaatkan peluang bisnis di wilayah


pengembangan kebun plasma

1. Meningkatkan pembinaan dan pengendalian dalam pembangunan perkebunan


1. Meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya lahan dan model secara
optimal untuk dapat meningkatkan produktivitas dan tingkat efisiensi.

""



,

Sasaran keputusan bersama ini adalah :

1. Mewujudkan kesadaran dan kemampuan anggota, dalam melaksanakan pekerjaan yang


dilakukan secara kooperatif jauh lebih produktif dan efisien dalam pengembangan usaha
perkebunan.

1. Terwujudnya hubungan kemitraan antara KUD/petani peserta dengan Perusahaan Inti

1. Terwujudnya usaha tani perkebunan rakyat yang efisien dengan produktivitas yang
optimal dan mempunyai daya saing tinggi.

"#+

$"$+

3

Ruang lingkup keputusan bersama ini meliputi pengaturan peranan, fungsi, kegiatan KUD dan
perusahaan Inti, hubungan kemitraan, pembinaan serta pembiayaan.

cc


 7 &c&c    
 c c

"#



@

Peran, fungsi, dan kegiatan KUD adalah :

1. Melakukan kegiatan usaha dalam pengembangan kemampuan petani anggotanya dan


wilayah usaha pengembangan perkebunan.

1. Meningkatkan produktifitas dan tingkat efisiensi dalam pengelolaan usaha tani dan usaha
lainnya
1. Meningkatkan kesadaran anggota agar aktif berkoperasi

1. Melaksanakan kegiatan usaha dengan perusahaan inti melalui hubungan kemitraan sesuai
dengan tahapan pembangunan kebun plasma meliputi :

1) Masa konstruksi

2) Masa penyerahan kebun sampai pelunasan kredit

3) Masa pasca kredit lunas

1. Mengupayakan peningkatan kesejahteraan petani peserta dan keluarganya melalui


berbagai kegiatan usaha, antara lain :

1) Simpan pinjam

2) Penyediaan dan penyaluran sarana produksi, kebutuhan pokok sehari-hari serta jasa
lainnya

3) Pemeliharaan kebun, jalan, penanganan pasca panen, pengangkutan hasil produksi, dan
kegiatan lain yang terkait.

4) Peremajaan tanaman dengan menggunakan dana IDAPERTABUN yang disisihkan dari


hasil penjualan produksi petani peserta.

1. KUD menyerahkan kebun plasma kepada masing-masing petani peserta dilengkapi


dengan fotokopi sertifikat tanah dan dokumen lain yang diperlukan

1. KUD melakukan pengelolaan kebun yang telah diserahkan oleh Perusahaan Inti secara
kelompok.

1. KUD menjual hasil produksi kebun plasma kepada Perusahaan Inti yang merupakan
mitranya.

A

Sesuai dengan skim KKPA, maka KUD dapat bertindak sebagai pelaksana pemberian kredit
(executing agent), atau penyalur kredit (chanelling agent).

"%$

$*c"

2

Perusahaan Inti bertugas :


1. Membimbing, memberi bantuan teknis budidaya dan manajemen kepada KUD/petani
peserta sesuai dengan tahapan pembangunan kebun plasma, sehingga KUD/petani peserta
dapat melaksanakan kegiatan usahanya dan bermitra dengan baik.

1. Melaksanakan pembangunan kebun plasma sesuai dengan ketentuan yang berlaku

1. Membeli, mengolah dan memasarkan seluruh hasil produksi kebun plasma

1. Memberi peran kepada KUD dalam masa konstruksi, masa penyerahan sampai pelunasan
kredit dan masa pasca kredit lunas

1. Membangun kebun inti dan atau fasilitas pengolahan sesuai standar yang ditentukan
pemerintah.

1. Membantu dalam pemotongan angsuran kredit sampai lunas dan IDAPERTABUN pada
saat pembayaran harga hasil produksi yang besarnya sesuai kesepakatan antara
Perusahaan inti dan KUD

B

Perusahaan Inti dalam penyerahan kebun plasma harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Penyerahan kebun plasma kepada KUD dan petani peserta dilaksanakan secara
berkelompok berdasarkan atas penilaian aspek teknis budidaya yang ditetapkan
Departemen Pertanian.

1. Pengelola KUD sudah mendapat pendidikan dan latihan serta kegiatan usahanya sudah
berjalan sesuai dengan tahapan pembangunan kebun

1. Pemenuhan persyaratan di atas sesuai dengan hasil penilaian Tim yang dibentuk oleh
Departemen Pertanian dan Departemen Koperasi dan PPK

1. Dalam hal tanaman belum memenuhi persyaratan teknis budidaya dapat dilakukan
perbaikan oleh Perusahaan Inti atau penyerahan dilaksanakan dengan pengurangan beban
kredit sesuai kesepakatan KUD, Perusahaan Inti dan Bank pelaksana

ccc

 & c




 

 c c  

6

1. KUD dalam melaksanakan kegiatannya bermitra dengan perusahaan inti


1. Hubungan kemitraan antara Perusahaan Inti dengan KUD disesuaikan dengan tahapan
pembangunan kebun plasma

1. Hubungan kemitraan antara Perusahaan Inti dengan KUD harus dituangkan dalam
perjanjian kerjasama yang memuat hak, kewajiban dan sanksi dan berpedoman kepada
keputusan bersama ini dan ketentuan kemitraan lainnya yang berlaku serta diketahui oleh
Bupati KDH Tk II setempat.

1. Manajemen dalam pelaksanaan hubungan kemitraan harus jelas dan terbuka

1. KUD memperoleh peluang untuk membeli dan atau memiliki saham Perusahaan Inti
mitra usahanya secara bertahap dengan nilai saham nominal dan jumlahnya sesuai
dengan kesepakatan dan ketentuan yang berlaku.

c;

c     & &

4

1. Dalam rangka pembinaan dan pengembangan KUD di bidang usaha perkebunan, Menteri
Pertanian bertugas :

1) Memberikan ijin usaha perkebunan yang meliputi usaha perkebunan dan ijin usaha
industri perkebunan

2) Memberikan penyuluhan/pembinaan kepada petani peserta agar menjadi anggota


KUD yang aktif

3) Melakukan penyuluhan dan mendorong terjadinya hubungan kemitraan usaha antara


Perusahaan Inti dengan KUD/petani peserta.

4) Melakukan pembinaan manajeman produksi kepada KUD/petani peserta

5) Membimbing dan membina KUD/petani peserta sejak penyiapan lahan, proses


produksi sampai dengan pasca panen sehingga mampu mandiri dalam melaksanakan usaha di
bidang perkebunan

6) Menertibkan petunjuk pengalihan kebun plasma dari Perusahaan Inti kepada


KUD/petani

7) Memberikan petunjuk pengelolaan inti dan plasma sebagai usaha perkebunan yang
utuh

8) Menjelaskan penerapan formula harga pembelian hasil peserta oleh Perusahaan Inti
1. Dalam rangka pembinaan dan pengembangan KUD di bidang usaha perkebunan Menteri
Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil bertugas :

1) Melakukan penyuluhan perkoperasian kepada KUD/petani peserta dan perusahaan


Inti

2) Meningkatkan kemampuan manajerial kelompok ± kelompok anggota menjadi


kelompok ± kelompok produktif dan mempunyai tingkat efisiensi tinggi

3) Meningkatkan kemampuan organisasi dan manajemen KUD

4) Meningkatkan kemampuan pengelola KUD melalui pendidikan dan latihan

5) Meningkatkan dan mengembangkan permodalan dan sarana usaha, guna mendorong


terwujudnya kegiatan diversifikasi usaha KUD

6) Memberikan petunjuk pola kemitraan antara KUD dengan Perusaahaan Inti pada
setiap tahap pembangunan kebun plasma

7) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan usaha KUD pada setiap tahap pengembangan
kebun



Pembinaan dan pengembangan KUD dibidang usaha perkebunan yang memanfaatkan KKPA,
dilaksanakan secara bersama oleh Menteri Pertanian dan Menteri Koperasi dan Pembinaan
Pengusaha Kecil yang meliputi :

1. Penilaian luas minimum dan maksimum kebun plasma


2. Penilaian komponen pembangunan kebun plasma
3. Penilaian pembangunan unit pengolahan
4. Pemantauan terhadap penetapan harga hasil produksi kebun plasma oleh Perusahaan inti
sesuai dengan ketentuan yang berlaku
5. Pemantauan penyaluran KKPA dari Bank pelaksana kepada KUD/petani peserta
6. Pemantauan pengembalian kredit petani peserta melalui KUD kepada Bank pelaksana
7. Pemantauan pemilikan dan atau pembelian saham oleh KUD dari perusahaan Inti
8. Penilaian aspek usaha dan kelembagaan KUD
9. Supervisi terhadap penyelenggaraan kebun inti, plasma dan kelangsungan hubungan
kemitraan bersama instansi terkait.

!

Biaya pembinaan dan pengembangan KUD yang dilakukan oleh pemerintah, dibebankan kepada
APBN masing ± masing Departemen dan atau APBD masing ± masing instansi terkait.

;
  
c

,

Perusahaan Inti yang telah melaksanakan hubungan kemitraan dengan KUD dalam
pembangunan kebun plasma dengan KKPA sebelum dikeluarkannya keputusaan ini, agar
menyesuaikan dengan ketentuan ini dalam jangka waktu satu tahun sejak berlakunya keputusan
ini.

;c

   

3

Petunjuk teknis Pelaksanaan Keputusan Bersama ini ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur
Jenderal Perkebunan dan Direktur Jenderal Pembinaan Koperasi Pedesaan yang dapat dilakukan
secara bersama atau masing ± masing.

@

Keputusan bersama ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan

Ditentukan di Jakarta

Pada tanggal : 26 Februari 1998

MENTERI PERTANIAN MENTERI KOPERASI

DAN

PEMBINAAN PENGUSAHA KECIL

Anda mungkin juga menyukai