Anda di halaman 1dari 64

Genap sudah satu semester umur Fatawa pada terbitannya yang sekarang.

Pada usianya yang


genap enam bulan ini terjadi beberapa pembenahan dan perubahan kepengurusan. Semoga dengan
tim baru ini fatawa semakin dapat memberikan yang terbaik dan yang terbaik kepada pembaca.
Pembaca, bulan Rabiul Awwal adalah bulan yang dikenal sebagai bulan kelahiran nabi
Muhammad , walaupun para ahli sejarah masih berselisih tentang tanggal berapa persisnya beliu
dilahirkan. Tetapi, masyarakant umumnya menjadikan tanggal 12 sebagai tanggal kelahirannya
(sekalipun ini masih perlu penelitian ulang). Apa yang menarik dari kelahiran nabi ini? Jawaban
yang paling sederhana adalah memperingati hari kelahirannya, sebagai bentuk syukur atau apalah
namanya. Adakah syari’at maulid nabi Muhammad, sebagaimana kaum kristiani memperingati hari
lahir nabinya Isa? apakah ia memang bagian dari agama? Baca rubrik aktul kali ini, anda akan
temukan jawannya. Disarikan dari fatwa-fatawa para ulama, mematahkan subhat-subhat yang ada
seputarnya.
Pembaca, zaman huru-hara adalah saat dimana manusia mengalami kesulitan. Bagi umat Islam
kesulitan sebesar apapun diperintahkan untuk senantiasa mengadukannya kepada Allah. Kita sering
mendapatkan fenomena dimana kesulitan dirasakan semakin memuncak, disaat itu pulalah para
tokoh agama menyerukan dan menganjurkan untuk melakukan istighasah. (yang menurut bahasa
arab berarti meminta bantuan). Kepada siapa hendaknya kita beristighasah? Dimana dilaksanakan?
dan perlukah melalui perantaraan? jawab akan hal ini akan anda dapatkan pada rubrik tauhid.
Sementara kolom fatwa, akan mengupas tentang fenomena suap serta dampak dan hukumnya,
yang saat ini seolah telah menjadi suatu yang legal yang tidak bisa tidak mesti dilakukan siapa saja
yang ingin mencapai kesuksesan (pembahasan ini menggantikan pembahasan ‘Korupsi dan
dampaknya’ yang seyogyanya di muat edisi ini. Untuk itu redaksi mohon maaf).
Masih ada kolom hadits yang akan mengupas fiqih nasehat. Kolom keluarga yang mencarikan
solusi problema rumah tangga langsung oleh kibar ulama. Kolom manhaj yang membicarakan
tentang ahlu sunnah wal jamaah. Kolom akhlaq yang membicakan tentang cinta dan haqiqatnya.
Dan kolom firoq yang semakin dalam menyoroti penyimpangan ajaran sufiah yang tengah
berkembang ditengah masyarakat.
Serta kolom profil, akan mengajak anda berkelana mengenal imam ahlus sunnhah Abu Hanifah.
Sengaja kami mengakhirkan beliau dari imam yang lainnya —sekalipun menurut timbangan waktu
beliau lebih dahulu—hal ini tidak lain karena panjangnya pembicaraan dan pendapat seputar beliau.
Bagaimana beliau sesungguhnya silahkan simak profil kali ini.
Terakhir, redaksi terus menunggu masukan dan saran dari pembaca, yang dengannya semoga
dapat menjadikan Fatawa betul-betul menjadi media bacaan ilmiah yang ikut memberikan andil dalam
memperbaiki umat ini. Amain.

Penerbit: Pustaka At-Turots Al-Islamy Yogyakarta Pemimpin Umum: Abu Nida’ Ch. Shofwan Tim Pengasuh: Abu Humaid Arif
Syarifuddin, Abu Mush’ab, Abu Husam M. Nurhuda, Abu Isa, Abu Nida’ Ch. Shofwan Pemimpin Redaksi: Abu Humaid Redaksi:
Tri Madiyono, Syafaruddin, Abu Athifah, Husain Sunding, Mubarok Setting-Layout: rinto Pemimpin Usaha: Abu Husam Pemasaran
& Sirkulasi: Pak Siswanto JH (0818275597) Keuangan: Indra Rekening: Rek.Giro: 801.20173001, BNI Syari’ah Cab. Yogyakarta,
a.n. Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy Yogyakarta Alamat Redaksi: Islamic Center Bin Baaz, Jl. Wonosari Km 10, Sitimulyo,
Piyungan, Bantul, Yogyakarta Telp/Faks: (0274) 522964, 081328711260 Email: fatawa@ngajisalaf.net

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 1


Tauhid
Istighotsah _________________ 5
Fatwa
Suap dan Dampaknya di
Tengah Masyarakat ___________ 10
Hadits
Fiqih Nasehat ________________ 15

Fiqih
Hukum Qaza', Mencabut Uban dan Khitan ________ 22
Keluarga
-Hukum Melaknat Istri ________________________ 28
-Tidak Peduli dengan Istri _____________________ 29
-Buruk dalam Mempergauli Istri ________________ 31
-Hukum Memberatkan Suami dengan Banyak
Permintaan _______________________________ 32
-Kondisi Kejiwaan Istri Menghalangi Ajakan Suami __ 33
Manhaj
Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Tentang Sifat Allah,
Malaikat dan Kitabullah _______________________ 34
Aktual
Adakah Syari'at Maulid Nabi ___________________ 39
Akhlaq
Cinta Kepada Allah __________________________ 47
Firaq
Thariqat Shufiyyah __________________________ 52
Profil
Imam Abu Hanifah ___________________________ 56

2 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


 Komunikasi Dua Arah
Assalamu’alaikum wr. wb.
Alhamdulillah, saya bersyukur dengan hadirnya majalah Fatawa. Insya Allah dapat memperkaya
khazanah majalah Islami yang tetap iltizam (konsisten) di atas manhaj Ahlus Sunnah Wal
Jama’ah, berdasarkan pemahaman Salafus Sholih.
Saya mau usul : Untuk memberdayakan para pembaca, bagaimana kalau Fatawa menyediakan
rubrik khusus yang memuat tulisan-tulisan mereka. Insya Allah cara ini efektif untuk
menciptakan komunikasi dua arah antara Fatawa dan para pembacanya. Karena saya muslimah
yang belum menikah, saya ingin agar Fatawa juga menyediakan rubrik khusus yang membahas
seputar masalah kewanitaan, di luar rubrik Keluarga.
Demikian usul saya, semoga dapat dipertimbangkan.
Wassalamu’alaikum wr wb
Yuni H - Yogyakarta <Shofxxx@jannah.net>
RED: Ukhti Yuni yang insya Allah dirahmati Allah, usul ukhti untuk membuat rubrik khusuh bagi
pembaca kelihatannya cukup menarik, akan tetapi untuk saat ini karena halamannya juga
masih terasa kurang, jadi insya allah usulannya menjadi masukan. Untuk rubrik wanita insyaallah
kedepan kita akan jadikan rubrik keluarga menjadi rubrik yang juga mengupas tentang
kewanitaan. Tunggu saja, dan simak terus.

 Berbicara dengan Akhwat


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu
Pengasuh Fatawa yang saya hormati.pada kesempatan ini saya mau tanya tentang beberapa
hal yaitu:
1. Apakah boleh seseorang bermanhaj salaf tapi ikut organisasi dakwah yang bukan
bermanhaj salaf (misal ikhwanulmuslimin)walaupun didalam melakukan dakwahtetap
berpegang teguh pada manhaj salaf?
2. Bagaimana cara menjadi orang yang mengikuti manhaj salaf yang istiqomah?
3. Bagaimana hukum berbicara dengan akhwat dibalik tabir tapi hanya berdua dan bagaimana
pula apabila ada temannya, karena ada yang bilang bahwa suara wanita juga termasuk
aurat?
Sarono <al-alxxx@myquran.com>

RED: Jawaban dari pertanyaan antum secara singkat,


1. Bukanlah suatu tuntutan bahwa berdakwah harus dengan organisasi, karena organisasi,
wadah atau lembaga bukan merupakan tujuan dakwah, kecuali jika hanya ingin
menjadikannya sebagai wasilah (sarana) saja. Namun dalam menggunakan wasilah (sarana)
ini harus dipilih yang sesuai atau dibolehkan oleh syari’at, jika itu berupa organisasi, wadah

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 3


2
Surat Anda
atau lembaga, maka hendaknya dipilih yang sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut
pemahaman as-Salaf ash-Shalih. Dan kami memandang bahwa seperti Ikhwanul Muslimin pada
mereka ada kesalahan-kesalahan dan syubhat-syubhat (kerancuan) dalam jalan dakwah mereka
dan tidak mengikuti jalan sebagaimana yang ditempuh oleh para Salaf dari para sahabat, tabi’in
dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik. Maka kami sarankan agar anta tidak perlu
memasuki suatu organisasi, wadah atau lembaga dakwah seperti Ikhwanul Muslimin maupun
yang lainnya yang tidak memiliki kejelasan dalam berpegang dengan manhaj Salaf dalam
berdakwah, atau bahkan berseberangan dengan manhaj Salaf, kecuali jika anta seorang alim
yang memiliki keyakinan dan kemampuan untuk merubah dan membimbing mereka kepada
jalan para Salaf dalam berdakwah. Kalau ada diantara mereka mengatakan bahwa kami juga
mengikuti Salaf, maka dalam hal ini yang menjadi patokan kita adalah kenyataan yang mereka
amalkan di lapangan, bukan kepada perkataan atau dakwaan semata, karena siapa pun bisa
mengaku dengan ucapannya bahwa dirinya mengikuti Salaf, tapi pada prakteknya jauh dari yang
didakwakan. Kita juga harus melihat kepada asas pijakan yang dijadikan acuan dalam jalan
dakwah mereka.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada
kita dan siapa saja yang menyandarkan dirinya kepada Islam dan mendakwahkannya, agar
senantiasaa berada diatas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya  dan manhaj As-Salaf Ash-Shalih.
Wallahu A’lam.
2. Insyaallah akan antum dapatkan jawabannya pada Fatawa edisi mendatang.
3. Seorang muslim hendaknya menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah. Berbicara dengan
seorang wanita yang bukan mahramnya meskipun di balik tabir adalah termasuk diantara perkara
yang mendatangkan fitnah apalagi bila berduaan saja antara seorang laki-laki dan seorang wanita,
maka ini adalah khalwat yang dilarang oleh Rasulullah  dalam hadits berikut,

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.”
(Muttafaq alaih).
Dan dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar  , Rasulullah  bersabda,

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah
syaitan.”
Dan Rasulullah  juga bersabda,

“Janganlah kalian masuk (mendatangi) kepada para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalau memang sangat perlu sekali, boleh berbicara dengan seorang wanita di balik tabir atau
tembok bila selamat dari fitnah dan sebatas keperluannya saja.Wallahu A’lam.

4 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Tauhid
Rubrik Tauhid yang hadir secara rutin dalam Fatawa ini disajikan dalam format tanya-jawab. Yang diambil dari fatwa-fatwa Lajnah Da imah yang merupakan
lembaga majelis ulama-ulama besar Kerajaan Saudi yang didirikan oleh pemerintah Saudi Arabia (SK. No:1/137 tanggal 8/7/1391H/1993M), dalam rangka
memberikan fatwa-fatwa yang berkenaan dengan perkara-perkara agama seperti aqidah, ibadah dan muamalah. Yang pada mulanya beranggotakan Syaikh
Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (Ketua), Syaikh Abdurrazzaak Afifi Athiyyah (Wakil Ketua), Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Ghadyan
(Anggota), Syaikh Abdullah bin Sulaiman bin Mani’ (Anggota). Pada akhir tahun 1395H/1997M, Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh
digantikan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz. Fatwa-fatwa yang dinukilkan adalah fatwa yang dikeluarkan pada masa mereka; ditambah fatwa
para ulama salaf lain yang tidak terangkum kedalam kitab Majmu Fatawa Lil Lajnah Da imah.

Dihimpun dan ditermahkan oleh


Abu Nida’ dan Tim Redaksi
Tanya: mereka terhadap para berhala tersebut,
dengan harapan dapat mendekatkan
Ada sebagian orang ketika dalam
mereka kepada Allah .
keadaan tertimpa musibah dan bencana,
menyeru dalam doanya, “Ya Rasulullah!” Mereka mengatakan,
Atau selain beliau dari para wali. Ketika
dalam keadaan sakit mereka mendatangi
kuburan orang-orang saleh dan “Kami tidak menyembah mereka (para
beristighatsah (memohon bantuan/ berhala) melainkan supaya mereka
pertolongan) dengan perantaraan mendekatkan kami kepada Allah dengan
mereka. Mereka mengatakan, sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar:3),
“Sesungguhnya Allah akan Mereka juga mengatakan,
menghilangkan bala’ (musibah) dengan
perantaraan orang-orang saleh. Memang
kami memohon pertolongan kepada “Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada
mereka tetapi niat kami adalah kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).
Allah karena Allah-lah yang memberi Padahal Nabi  telah menjelaskan
pengaruh.” bahwa doa adalah ibadah. Doa tidak boleh
Apakah (perkataan dan perbuatan) ditujukan kecuali hanya kepada Allah, dan
seperti ini syirik atau tidak, dan apakah Allah  sendiri telah melarang berdoa
mereka dikategorikan sebagai orang- kepada selain-Nya. Dia  berfirman,
orang musyrik, padahal mereka (juga)
mengerjakan shalat, membaca Al-Qur’an
dan amal saleh yang lainnya?
Jawab:
Apa yang mereka lakukan itu
merupakan perbuatan syirik yang dahulu
telah dikerjakan oleh orang-orang jahiliah.
Mereka dahulu menyeru (berdoa) dan
beristighatsah (memohon bantuan)
kepada Lata, Uzza, Manat, dan yang “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa
lainnya sebagai pengagungan (pemujaan) yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula)

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 5


4
memberi mudharat kepadamu selain Allah; serta terhapusnya amal mereka banyak
sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) sekali. Tengoklah ayat-ayat Al-Qur’an dan
maka sesungguhnya kamu kalau begitu As-Sunnah yang shahih serta kitab-kitab
termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah buah tangan ulama Ahlus Sunnah! Kami
menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, memohon kepada Allah hidayah-Nya
maka tidak ada yang dapat menghilangkannya untuk kami dan Anda.
kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki
kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat Pertanyaan Kedua dan Kelima dari Fatwa
menolak kurnia-Nya. Dia memberikan No. 9027 dalam Fatawa al-Lajnah ad-Daimah li
kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki- l-Buhutsi l-‘Ilmiyyah wa l-Ifta’ jilid I hal. 149-
Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah 150.
Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Q.S. Yunus:106-107).
Kaum muslimin diwajibkan membaca
Tanya:
dalam setiap rakaat shalatnya ayat: Di negeri tempat tinggal saya, terdapat
banyak syaikh (kiyai) yang melakukan hal-
hal berikut. Mereka menabuh rebana,
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan pergi ke pekuburan lalu menyembelih
hanya kepada Engkaulah kami mohon kambing, unta, dan sapi serta memasak
pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5). beragam makanan di sana. Apakah
Hal itu sebagai petunjuk bagi mereka perbuatan seperti ini haram atau tidak?
bahwa ibadah tidaklah boleh ditujukan Mereka juga membangun sebuah
kecuali hanya untuk-Nya, dan bahwa kubbah di luar kota. Di dalamnya mereka
memohon pertolongan tidaklah boleh menabuh rebana dan gendang, dan
kecuali hanya kepada-Nya, bukan kepada sambil meninggikan suara, mereka
orang-orang mati baik dari para nabi dan menyeru, “Tolonglah kami, ya Syaikh
orang-orang saleh. Jailani!” atau nama-nama syaikh yang lain.
Janganlah Anda tertipu dengan Mereka berkeliling mengunjungi orang-
banyaknya shalat, puasa, dan bacaan Al- orang untuk menarik sumbangan dengan
Qur’an mereka karena sesungguhnya mengatakan, “Ini untuk ziarah
mereka (orang-orang yang beristighasah (mengunjungi) Syaikh Fulan bin Fulan...”
kepada makluk) termasuk orang-orang dan seterusnya. Jika ada seseorang yang
yang tersesat jalannya di kehidupan dunia sakit, mereka membawanya kepada para
ini, sementara mereka menyangka bahwa syaikh (kiyai) tersebut. Kiyai-kiyai itu lalu
mereka telah berbuat sebaik-baiknya. membacakan kepadanya ayat-ayat Al-
Yang demikian ini karena (ibadah mereka) Qur’an, dan berkata, “Datanglah kamu
tidak dibangun di atas pondasi tauhid yang dengan membawa kambing atau unta
bersih, sehingga ibadah mereka itu hanya atau hewan ternak lainnya!” Dalam
(sia-sia belaka) bagaikan debu yang setahun, orang-orang menyerahkan harta
berterbangan. Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan mereka dalam jumlah yang banyak
As-Sunnah yang menyatakan kesyirikan kepada para kiyai tersebut dan melakukan

6 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


kunjungan kepada mereka. Apakah hal untuk mendatangkan manfaat atau
ini diharamkan dalam agama kita? mencegah bahaya adalah syirik besar
yang dapat mengeluarkan pelakunya dari
Jawab: agama Islam. Allah  berfirman,
Pertama, penyembelihan unta, sapi,
kambing, dan lainnya yang mereka
lakukan di kuburan tersebut adalah
(perbuatan yang) tidak diperbolehkan,
bahkan hal itu temasuk syirik yang dapat
mengeluarkan pelakunya dari lingkaran
agama Islam jika perbuatan tersebut
dimaksudkan untuk taqarrub
(mendekatkan diri) dan mengharap
berkah kepada penghuni kuburan itu. Hal
itu karena taqarrub dengan cara seperti “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa
itu tidak boleh dilakukan kecuali hanya yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula)
kepada Allah. Allah  berfirman, memberi mudharat kepadamu selain Allah;
sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu)
maka sesungguhnya kamu kalau begitu
termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah
menimpakan suatu kemudharatan kepadamu,
maka tidak ada yang dapat menghilangkannya
kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat
ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk menolak kurnia-Nya. Dia memberikan
Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-
baginya; dan demikian itulah yang Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang Yang Maha Pengampun lagi Maha
yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Penyayang.” (Q.S. Yunus: 106-107)
Allah).’” (Q.S. Al-An‘am: 162-163).
Adapun menabuh genderang,
Demikian pula, kaum laki-laki sama maka tidak boleh baik bagi laki-laki
sekali tidak dibolehkan menabuh rebana. maupun perempuan.
Sedangkan kaum wanita, mereka
dibolehkan menabuhnya ketika pesta Ketiga, ziarah yang dilakukan para
pernikahan dalam rangka mengumumkan syaikh thariqat Shufiyyah kepada
pernikahan itu. pengikutnya untuk menarik sumbangan
adalah penipuan dan (termasuk dalam
Kedua, beristighasah dan berdoa kategori) memakan harta orang lain
kepada jin, malaikat, atau manusia yang dengan cara yang batil. Semestinya pihak-
telah meninggal atau yang masih hidup pihak yang memiliki kemampuan segera
tetapi tidak hadir (tidak ada di tempat) menangani dan menasehati mereka.

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 7


6
Begitu pula menasehati para murid-murid
(pengikut) mereka agar tidak
menyerahkan hartanya kepada mereka
kecuali dengan cara-cara yang sesuai
dengan syariat. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu,
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
Keempat, me-ruqyah orang sakit tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S.
dengan bacaan Al-Qur’an, zikir-zikir, dan Yunus: 62)
doa-doa yang ada contohnya dari Nabi 
adalah disyariatkan. Adapun membawa Tanda kewalian ini adalah iman dan
orang sakit kepada syaikh-syaikh yang taqwa kepada Allah  . Jadi,
Anda sebutkan itu untuk membacakan barangsiapa yang beriman dan
kepada si sakit bait-bait (mantra-mantra) bertaqwa, maka dialah wali Allah.1
lalu menyuruhnya menyembelih kambing Adapun orang yang berbuat syirik
atau unta, maka yang seperti ini terlarang. kepada Allah bukanlah wali Allah, bahkan
Karena termasuk ruqyah yang bid’ah dan dia adalah musuh Allah, sebagaimana
memakan harta orang lain dengan cara firman Allah ,
yang batil. Bahkan bisa jadi termasuk
dalam kategori kesyirikan jika
penyembelihan yang dimaksud ditujukan
untuk jin, orang mati, atau makhluk
lainnya dengan tujuan menghilangkan “Barangsiapa yang menjadi musuh Allah,
suatu kejelekan atau mendatangkan suatu malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya,
manfaat. Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah
Fatwa No. 6773 dalam Fatawa al-Lajnah ad-
adalah musuh orang-orang kafir.” (Q.S. Al-
Daimah li l-Buhutsi l-‘Ilmiyyah wa l-Ifta’ jilid I
Baqarah: 98)
hal. 155-157. Maka siapapun orangnya yang
menyeru kepada selain Allah atau
beristighasah (meminta bantuan) kepada
Tanya: selain Allah dalam perkara yang tidak
Syaikh (Ibnu ‘Utsaimin) ditanya mampu melakukannya kecuali Allah 
tentang orang yang beritighasah kepada maka dia seorang yang musyrik lagi kafir,
selain Allah dan menyangka bahwa orang bukan wali Allah, sekalipun dia mengklaim
itu adalah wali Allah. Sebetulnya apa tanda dirinya sebagai wali. Bahkan klaim bahwa
bahwa seseorang itu adalah wali Allah? dirinya adalah wali sementara dia tidak
bertauhid, tidak beriman serta tidak
Jawab: bertakwa kepada Allah adalah dakwaan
Tanda-tanda kewalian telah dijelaskan yang dusta lagi bertentangan dengan
oleh Allah  dalam firman-Nya, sifat-sifat kewalian.

1
Lihat tafsir Ibnu Katsir (II/423).

8 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Saya menasihatkan kepada saudara- tempat mereka mengadu dan
saudaraku sesama kaum muslimin dalam bergantung, maka hal yang seperti ini
masalah ini agar jangan tertipu oleh hakikatnya adalah bertentangan dengan
mereka (yang mendakwakan sebagai para sifat ketaqwaan dan kewalian. Oleh
wali), dan hendaknya mengembalikannya karena, itu tersebutkan dalam sebuah
kepada kitab Allah (Al-Qur’an) dan kepada hadits dari Nabi  bahwa barangsiapa
hadits Nabi  yang shahih, sehingga yang menuntut ilmu untuk mendebat
menjadikan pengharapan, tawakkal dan orang-orang yang bodoh atau ingin
kertergantungan mereka hanya kepada membantah para ulama atau agar orang-
Allah saja, sehingga membuat diri mereka orang condong kepadanya, maka baginya
sendiri merasa tenang dan tenteram ada ancaman ini dan itu. Yang menjadi
karenanya, dan sehingga –dengan begitu- inti -dari permasalahan ini- adalah
mereka menjaga harta benda mereka perkataan beliau , “agar manusia
sendiri dari rampasan (cengkeraman) para condong kepadanya”. Maka mereka
pelaku khurafat. Sebagaimana bahwa yang mengaku-aku sebagai wali dan
konsisten dengan apa yang ada dalam Al- berusaha agar manusia condong
Quran dan As-Sunnah dalam masalah kepadanya sesungguhnya adalah orang-
seperti ini dapat menjauhkan mereka dari orang yang paling jauh dari sifat kewalian.
terpedaya dengan diri mereka sendiri.
Dan nasehat saya untuk saudara-
Mereka yang mengaku-aku bahwa diri
saudaraku sesama kaum muslimin agar
mereka adalah sebagai sayid (orang
jangan tertipu oleh mereka dan yang
mulia) dan terkadang mengaku sebagai
serupa mereka, dan hendaknya
wali, kalau Anda fikirkan dan perhatikan
senantiasa mengembalikan (setiap
bagaimana kondisi mereka, Anda akan
perkara) kepada Kitab Allah (Al-Qur’an)
mengetahui betapa jauhnya dengan
dan Sunnah Rasulullah , serta hanya
kewalian dan kemuliaan. Akan tetapi
menggantungkan keinginan dan harapan
justeru Anda mendapati seorang wali yang
kepada Allah semata.
sebenarnya adalah orang yang paling jauh
dari mengaku-aku dirinya sebagai wali, Al-Majmu Ats-Tsamin (2/110). Melalui kitab
jauh dari keinginan untuk diagungkan dan ‘Fatawa Muhimmah li Umumil Ummah’ (hal 94-
dimuliakan oleh manusia atau yang 96).
semisalnya. Anda mendapatkannya
sebagai seorang yang beriman, bertaqwa,
menyembunyikan dan tidak ingin
menampakkan diri, tidak menyukai
ketenaran, tidak suka manusia condong
kepadanya atau tergantung (terikat)
olehnya dengan penuh cemas dan harap.
Jadi, dengan sekedar seseorang itu ingin
diagungkan, dihormati, dan dimuliakan
oleh manusia, serta ingin dijadikan sebagai

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 9


8
Fatwa

Fatwa Syaikh Ibnu Baz karena adanya tindakan pelanggaran


terhadap hak-hak berupa pencurian,
Dampak Suap di Tengah pengkhianatan, penipuan dalam
Masyarakat muamalah, persaksian (sumpah) palsu,
Tanya: serta jenis-jenis kezhaliman dan
Bagaimanakah keadaan masyarakat permusuhan lainnya. Semua yang telah
jika suap telah tersebar di antara disebutkan merupakan kejahatan-
mereka? kejahatan paling buruk, yang
merupakan salah satu sebab
Jawab: (datangnya) kemurkaan Rabb  ,
Tidak diragukan lagi bahwa munculnya kedengkian dan permusuhan di antara
kemaksiatan akan menyebabkan kaum muslimin, serta diratakannya
perpecahan di tubuh masyarakat, azab kepada mereka, sebagaimana
terputusnya jalinan kasih sayang di yang disebutkan Nabi ,
antara mereka, tumbuhnya rasa dengki
dan permusuhan, serta hilangnya
semangat tolong menolong dalam
kebaikan. Akibat yang paling buruk dari
suap dan kemaksiatan lainnya di tengah “Sesungguhnya manusia jika melihat
masyarakat adalah muncul dan kemungkaran lalu tidak merubahnya
tersebarnya sifat-sifat buruk, sirnanya (memperbaikinya) dikahwatirkan Allah
sifat-sifat mulia, dan sikap saling akan meratakan azab-Nya kepada mereka
menzalimi antaranggota masyarakat, secara keseluruhan.” 1

1
Kitab ad-Dakwah karya Syaikh Ibnu Baz. Dinukil dari Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal.
818-819.

10 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Hukum Syariat Tentang “Dan tolong-menolonglah kamu dalam
Suap (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat
Tanya: Apa hukum syariat tentang
dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah
Risywah (suap)?
kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah
Jawab: Suap (sogok) haram menurut amat berat siksa-Nya.” (Q.S. Al-
nash-nash dan ijma’ (kesepakatan). Maidah:2).2
Suap adalah apa saja yang diberikan
kepada hakim atau pejabat lainnya agar
menyeleweng dari kebenaran Pengaruh Suap Terhadap
(keadilan) dan memberikan keputusan Aqidah Seorang Muslim
yang sesuai dengan keinginan hawa
Tanya: Apakah pengaruh suap
nafsu si pemberi suap.
terhadap aqidah seorang Muslim?
Disebutkan dalam hadits yang shahih
Jawab: Suap -demikian pula
dari Nabi  bahwa beliau melaknat ar-
kemaksiatan lainnya- dapat
rasyi (penyuap) dan al-murtasyi (yang
melemahkan iman, mengakibatkan
menerima suap). Demikian pula
kemurkaan Allah , dan menyebabkan
diriwayatkan bahwa beliau  juga
syaitan mudah menguasai seorang
melaknat ar-ra’isy (makelar) yang
hamba untuk menjerumuskannya ke
merupakan penghubung keduanya
dalam kemaksiatan yang lain. Wajib
(antara penyuap dan yang disuap).
atas setiap muslim dan muslimah
Tidak ada keraguan bahwa dia (si
berhati-hati dari suap dan dari
penghubung) berdosa, berhak
kemaksiatan lainnya, dengan
mendapatkan cela, aib dan hukuman,
mengembalikan suap tersebut kepada
karena ia telah menjadi penolong atas
si pemberi jika hal itu memungkinkan.
perbuatan dosa dan permusuhan. Allah
Jika tidak, sedekahkan barang suap
 berfirman,
tersebut atas nama si pemberi suap
kepada faqir miskin, disertai dengan
taubat yang tulus. Mudah-mudahan
dengan begitu Al lah menerima
taubatnya.3

2
Kitab Dakwah. Dinukil dari Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 820.
3
Kitab Dakwah. Dinukil dari Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 820-821.

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 11


10
Hukum memajang “Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata,
patung ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan
(penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan
Tanya: Apa hukum memajang patung-
jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan
patung di rumah sebagai perhiasan,
(penyembahan) Wadd, dan jangan pula
bukan untuk diibadahi?
Suwaa`, Yaghuts, Ya`uq, dan Nasr.’ Dan
Jawab: Tidak boleh menggantungkan sesudahnya mereka telah menyesatkan
gambar-gambar maupun patung- kebanyakan (manusia).” (Q.S. Nuh:23-24).
patung binatang di dalam rumah,
Karena itulah, wajib memperingatkan
kantor, atau tempat-tempat pertemuan
kaum muslimin agar jangan menyerupai
berdasarkan keumuman hadits-hadits
orang-orang kafir dalam amal mereka
yang telah tetap dari Rasulullah , yang
yang mungkar, yang dengan sebabnya
menunjukkan keharaman menggantung-
terjadilah perbuatan syirik.
kan gambar dan memasang patung4 di
dalam rumah maupun di tempat lain. Dan telah shahih hadits dari Rasulullah
Hal itu karena gambar ataupun patung  bahwa beliau berkata kepada Ali bin
merupakan wasilah (pengantar) kepada Abi Thalib ,
perbuatan syirik, dan menyamai ciptaan
Allah, dan tasyabbuh (menyerupai) musuh
Islam. Demikian pula dengan
menggantung-kan hewan mati
merupakan pengrusakan. Syariat Islam “Janganlah engkau meninggalkan satu
yang sempurna datang menutup semua gambar 5 pun melainkan engkau telah
celah yang mengarah kepada kesyirikan menghancurkannya, tidak pula kuburan
dan kemaksiatan. Kesyirikan yang terjadi yang dimuliakan melainkan engkau telah
pada kaum Nabi Nuh asal mulanya merakatannya.” Diriwayatkan oleh
disebabkan oleh lima patung orang shalih Muslim di dalam shahihnya.
pada zaman itu yang mereka letakkan di
Dan sabdanya ,
tempat-tempat pertemuan mereka
sebagaimana yang Allah  jelaskan di
dalam kitabnya Al-Qur’an,
“Manusia yang paling berat azabnya pada
hari kiamat adalah para penggambar6.”
(Muttafaq ‘Alaih).
Dan masih banyak lagi hadits-hadits
yang seperti ini. Wallahu waliyyut taufiq.7

4
Makhluk yang bernyawa.
5
Idem.
6
Maksudnya para pelukis atau pembuat patung dengan objek makhluk yang bernyawa.
7
Kitab ad-Dakwah. Dinukil dari Fatawa Ulama’ Al-Biladi Al-Haram hal.567.

12 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Hukum Mengenakan
Pakaian yang Bergambar
Tanya:
Apa hukum mengenakan pakaian yang
bergambar?
Jawab:
Tidak boleh seseorang mengenakan
pakaian bergambar hewan atau
manusia, baik pakaian yang disablon,
dicelup, atau apa saja yang di dalamnya
terdapat gambar manusia atau hewan
dan sejenisnya karena Rasulullah 
telah bersabda,

“Sesungguhnya para malaikat tidak masuk Meninggalkan Pekerjaan


kedalm rumah yang di dalamnya terdapat Karena Terdapat
gambar8.”9 Kemaksiatan
Oleh karena itu kami memandang tidak Tanya:
layak bagi seorang pun menyimpan
Sebagian orang mengingkari (mencela)
gambar ‘untuk kenang-kenangan’
mereka yang meninggalkan
sebagaimana alasan mereka. Adalah
pekerjaannya lantaran di sana terdapat
wajib bagi mereka yang memiliki
kemaksiatan, dan menilai mereka
gambar-gambar untuk memusnahkan-
bersikap tergesa-gesa, merugikan diri
nya, baik itu dia pasang di dinding atau
sendiri, atau tidak akan mendapatkan
dia simpan di dalam album atau di
ganti pekerjaan. Apakah rezeki berada
tempat yang lain. Karena dengan
di tangan mereka?
keberadaan gambar-gambar itu
menghalangi masuknya malaikat ke Jawab:
dalam rumah pemilik gambar tersebut. Rezeki berada di tangan Allah . Bisa
Dan hadits yang telah saya sampaikan saja dengan meninggalkan tempat
di atas adalah hadits shahih dari Nabi kerjanya yang lama justru menjadi
. Wallahu A’lam.

8
Dalam hal ini termasuk pula patung.
9
Bukhari (hadits no. 3226), Muslim (hadits no. 85, 206).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 13


12
sebab mendapatkan rezeki, yang zalim hingga kemudian jika
sebagaimana firman Allah , datang azab Allah dia tidak dapat lari
lagi darinya. Bacalah lagi firmannya di
atas,

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah


niscaya Dia akan mengadakan baginya
jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari “Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia
arah yang tidad disangka-sangkanya.” mengazab penduduk negeri-negeri yang
(Q.S. Ath-Thalaq:2-3) berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu
Tidak mungkin mendapatkan rezeki adalah sangat pedih lagi keras.” (Q.S.
Allah dengan bermaksiat kepada-Nya, Hud: 102)
kecuali karena istidraj dari Allah . Jika Adapun komentar ‘miring’ bahwa orang
engkau melihat seseorang yang seolah- yang meninggalkan pekerjaannya
olah Allah lapangkan rezekinya, tersebut terlalu bersikap tergesa-gesa
sementara dia senantiasa berbuat dan akan merugi, maka tidak bisa kita
maksiat, maka ketahuilah bahwa rezeki katakan bahwa dia benar-benar
yang ada padanya itu sebenarnya tergesa-gesa atau tidak sampai kita
istidraj sebagaimana yang Allah  mengetahui keadaan orang tersebut:
sampaikan di dalam kitab-Nya, apakah dia dapat bertahan dengan
pekerjaan lamanya itu dan bersabar
ataukah tidak mungkin karena dipecat.
Jika dia bisa bersabar dan mengharap
pahala dari gangguan-gangguan yang
“Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia menimpanya, lebih-lebih dalam
mengazab penduduk negeri-negeri yang pekerjaan-pekerjaan penting seperti
berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu kemiliteran atau yang sejenisnya, maka
adalah sangat pedih lagi keras.” (Q.S. itulah wajib baginya, dan jika dia tidak
Hud: 102) dapat bertahan dan dikeluarkan dari
pekerjaannya, maka dosanya
Nabi  telah menjelaskan, bahwa Allah ditanggung oleh yang
terus memberi tangguh kepada orang mengeluarkannya.10

10
Fatawa Mu’asharah hal. 61. Dinukil dari Fatawa Ulama’ Al-Balad Al-Haram hal.943.

14 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Hadits

Dari Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari , bahwa Nabi  telah bersabda,


“Agama (Islam) itu adalah nasehat (beliau  mengulanginya tiga kali).”
Kami bertanya, “Untuk siapa ya Rasulullah?” Beliau  menjawab,
“Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin dan
bagi kaum muslimin umumnya.”
Dihimpun dan diterjemahkan oleh: Abu Humaid Arif Syarifuddin

karena Suhail bin Abu Shalih tidak


Takhrij-Hadits Ringkas memenuhi syarat (kriteria) shahih beliau.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Riwayat yang mengisyaratkan
Muslim (hadits no. 55) di dalam Shahih- pengulangan, dengan kalimat (
nya di dalam Kitab al-Iman: Bab Bayan ‘mengulanginya tiga kali’) pada hadits di
Anna ad-Din an-Nashihah (II/32-Syarah an- atas, terdapat dalam riwayat Imam
Nawawi), dari tiga jalur yang semuanya Ahmad dalam Musnad-nya, dan inilah
bertemu pada Suhail bin Abu Shalih dari yang dibawakan oleh Ibnu Rajab dalam
‘Atha’ bin Yazid al-Laitsi dari Tamim ad- Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam (I/202, hadits
Dari  . Riwayat inilah yang paling no. 7). Sedangkan Imam an-Nawawi
masyhur dalam periwayatan hadits ini. dalam al-Arbain (hadits no. 7)
Sedangkan Imam Bukhari hanya membawakannya tanpa pengulangan
menyebutkannya -dengan lafal serupa- dengan isyarat lafal ( ).
dalam judul sebuah bab dalam Shahih-
nya, yaitu Bab Qaul an-Nabi : ad-Din an- Biografi Periwayat Hadits
Nashihah, lilLahi, wa li Rasulihi, wa li Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari 
Aimmati l-Muslimin wa ‘Ammatihim di Beliau adalah Tamim bin Aus bin
dalam Kitab al-Iman (I/166-Fathu l-Bari), Kharijah bin Sud bin Judzaimah al-

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 15


14
Lukhami al-Filisthini (dari Palestina), Abu Makna Kata dan Kalimat
Ruqayyah ad-Dari. Beliau masuk Islam
 Kata ( - ad-din) secara bahasa
pada tahun 9 H. Sebelumnya beliau
memiliki sejumlah makna, antara lain
seorang nasrani, bahkan salah seorang
makna al-jaza’ (pembalasan), al-hisab
pendeta di Palestina. Pada suatu waktu
(perhitungan), al-‘adah (kebiasaan),
terjadi pada dirinya sebuah kisah yang
ath-tha‘ah (ketaatan), dan al-Islam
menakjubkan, yaitu kisah al-Jassasah1.
(ajaran/agama Islam). Makna yang
Dalam kisah itu terdapat cerita tentang
terakhir inilah yang dimaksud dalam
Dajjal yang akan keluar nanti di akhir
hadits ini.
jaman – semoga Allah melindungi kita
dari kejahatannya-. Nabi  meriwayatkan  Kata ( – an-nashihah) berasal
kisah ini dari beliau (Tamim), dan ini
sebagai salah satu keutamaan beliau.2 dari kata ( – an-nushhu) yang
Semenjak masuk Islam, beliau tinggal memiliki beberapa pengertian.
di Madinah sampai terbunuhnya Khalifah a. ( - al-Khulush) berarti
Utsman bin ‘Affan . Setelah itu beliau
murni , seperti dalam kalimat:
4
pindah ke Baitul Maqdis di Palestina,
tepatnya di desa ‘Ainun. Beliau termasuk ( ) ‘Madu yang
salah seorang sahabat yang murni’. Perkataan dan perbuatan
mengumpulkan al-Qur’an. Ada sekitar 40 yang murni (bersih) dari kotoran
hadits yang beliau riwayatkan dari Nabi dusta dan khianat adalah bagaikan
, satu di antaranya terdapat dalam madu yang murni (bersih) dari
Shahih Muslim, yaitu hadits ini lilin.5
( ). Hidup beliau dipenuhi b. ( ‘al-Khiyathah/al-
dengan ibadah. Beliau giat bertahajjud Khaith’) berarti ‘menjahit/ menyulam
(shalat malam), dan membaca al-Qur’an. dengan jarum’ 6. Perbuatan
Beliau wafat pada tahun 40 H di Bait seseorang yang menyampaikan
Jabrin, Palestina, tanpa meninggalkan nasehat kepada saudaranya yang
seorang anak pun, kecuali Ruqayyah. melakukan kesalahan demi
Semoga Allah meridhai beliau.3 kebaikan saudaranya, adalah

1
Al-Jassasah adalah seekor hewan melata berbulu lebat yang berbicara kepada Tamim ad-Dari
, yang juga akan berbicara kepada manusia kelak di akhir jaman. Lihat an-Nihayah (V/268)
dan Lisanu l-Arab (I/786).
2
Lihat selengkapnya kisah al-Jassasah ini dalam Shahih Muslim (hadits no. 2942).
3
Lihat biografinya dalam al-Ishabah (I/367), al-Isti‘ab (I/193), Siyar A‘lami n-Nubala’ (II/442), ats-
Tsiqat (III/39), dll.
4
Lisanu l-Arab (II/616), an-Nihayah (V/62).
5
Lihat I‘lamu l-Hadits (I/190), dan Syarah Shahih Muslim (II/33).
6
Lihat Lisanu l-Arab (II/617), Fathu l-Bari (I/167).

16 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


bagaikan orang yang menjahit/ Abu Nu’aim mengatakan bahwa
menyulam baju yang robek/ hadits ini memiliki kedudukan yang
berlubang sehingga baik kembali agung, yang dikatakan oleh Muhammad
dan layak dipakai.7 bin Aslam ath-Thusi bahwa dia adalah
 Adapun menurut istilah syar’i, Ibnu seperempat agama.11
al-Atsir menyebutkan, “Nasehat Bahkan, agama ini hanya bermuara
adalah sebuah kata yang kepadanya, seperti dikatakan oleh an-
mengungkapkan suatu kalimat yang Nawawi.12
sempurna, yaitu keinginan Ibnu Rajab berkata, “Nabi  telah
(memberikan) kebaikan kepada orang mengabarkan bahwa agama itu adalah
yang dinasehati. Makna tersebut tidak nasehat. Hal ini menunjukkan bahwa
bisa diungkapkan hanya dengan satu nasehat mencakup Islam, Iman, dan
kata, sehingga harus bergabung Ihsan yang tersebut dalam hadits-
dengannya kata yang lain.” 8 Ini Jibril13.”14
semakna dengan defenisi yang
disampaikan oleh Imam Khaththabi. Macam-macam Nasehat
Beliau berkata, “Nasehat adalah

sebuah kata yang jami‘ (luas
maknanya) yang berarti mengerahkan “Agama (Islam) itu adalah nasehat.”
segala yang dimiliki demi (kebaikan) Khaththabi berkata, “Maksudnya
orang yang dinasihati. Ia merupakan adalah bahwa tiang (yang menyangga)
sebuah kata yang ringkas (namun urusan agama ini adalah nasehat.
luas maknanya). Tidak ada satu kata Dengannya, agama ini akan tegak dan
pun dalam bahasa Arab yang bisa kuat.”15
mengungkapkan makna dari kata
Ibnu Hajar berkata, “Boleh jadi
(nasehat) ini, kecuali bila digabung
(kalimat ini) bermakna mubalaghah
dengan kata lain.”9
(melebihkan suatu perkara). Maksudnya
Kedudukan Hadits (bahwa) sebagian besar agama ini
(isinya) adalah nasehat. Ini serupa
Abu Dawud menyebutkan bahwa
dengan hadits:
hadits ini adalah salah satu dari lima hadits
yang kepadanya Fikih Islam bermuara.10

7
Lihat I’lamu l-Hadits (I/190) dan Syarah Shahih Muslim (II/33).
8
An-Nihayah (V/62).
9
I’lamu l-Hadits (I/189-190) dan Syarah Shahih Muslim (II/32-33). Lihat Fath al-Bari (I/167).
10
Lihat Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam (I/25 dan 203).
11
Idem (I/203). Lihat juga Fath al-Bari (I/167).
12
Lihat Syarah Shahih Muslim (II/32).
13
Diriwayatkan oleh Muslim (hadits no. 8) dari Umar bin al-Khaththab .
14
Jami‘u l-‘Ulum wa l-Hikam (1/206).
15
I’lamu l-hadits (I/190).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 17


16
‘Haji itu Arafah.’ 
Bisa jadi pula bermakna sebagaimana
“Nasehat bagi Kitab Allah.”
lahirnya lafal tersebut (yakni tidak lain
agama ini adalah nasehat), karena setiap Yaitu, mengimani bahwa Kitab Allah
amalan yang dilakukan oleh seseorang adalah Kalamullah (wahyu dari-Nya) yang
tanpa ikhlas maka hal itu bukan termasuk Dia turunkan (kepada Rasul-Nya ) yang
bagian agama.”16 tidak serupa sedikit pun dengan
perkataan makhluk-Nya, dan tiada
 seorang makhluk pun yang sanggup
“Nasehat bagi Allah.” membuat yang serupa dengannya.
Yaitu, beriman kepada-Nya semata Mengagungkannya, membacanya
dengan tidak mempersekutukan diri-Nya dengan sebenar-benarnya (sambil
dengan sesuatu apapun, meninggalkan memahami maknanya) dengan
segala bentuk penyimpangan dan membaguskan bacaan, khusyu’, dan
pengingkaran terhadap sifat-sifat-Nya, mengucapkan huruf-hurufnya dengan
mensifati-nya dengan segala sifat benar. Membelanya dari penakwilan
kesempurnaan dan kebesaran, (batil) orang-orang yang menyimpang
mensucikan-Nya dari segala kekurangan, dan serangan orang-orang yang
mentaati-Nya dengan tidak bermaksiat mencelanya. Membenarkan semua
kepada-nya, cinta dan benci karena-Nya, isinya, menegakkan hukum-hukumnya,
bersikap wala’ (loyal) kepada orang- menyerap ilmu-ilmu dan perumpamaan-
orang yang mentaati-Nya dan membenci perumpamaan (yang terkandung) di
orang-orang yang menentang-Nya, dalamnya. Mengambil ibrah (pelajaran)
memerangi orang-orang yang kufur dari peringatan-peringatannya.
terhadap-Nya, mengakui dan mensyukuri Memikirkan hal-hal yang menakjubkan
segala nikmat dari-Nya, dan ikhlas dalam di dalamnya. Mengamalkan ayat-ayat
segala urusan, mengajak dan yang muhkam (yang jelas) disertai dengan
menganjurkan manusia untuk sikap taslim (menerima sepenuh hati)
berperilaku dengan sifat-sifat di atas, ayat-ayat yang mutasyabih (yang sulit) –
serta berlemah lembut terhadap mereka yakni bahwa semuanya dari Allah-.
atau sebagian mereka dengan sifat-sifat Meneliti mana yang umum (maknanya)
tersebut. dan mana yang khusus, mana yang
nasikh (yang menghapus hukum yang
Khaththabi berkata, “Hakekat idhafah
lain) dan mana yang mansukh (yang
(penyandaran) nasehat kepada Allah –
dihapus hukumnya). Menyebarkan
sebenarnya- kembali kepada hamba itu
(mengajarkan) ilmu-ilmunya dan
sendiri, karena Allah tidak membutuhkan
menyeru manusia untuk berpedoman
nasehat manusia.”17
dengannya, dan seterusnya yang bisa

16
Fathu l-Bari (I/167).
17
Syarah Shahih Muslim (II/33), dan lihat I’lamu l-Hadits (I/191).

18 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


dimasukkan dalam makna nasehat bagi 
Kitabullah.18
“Nasehat bagi para imam/pemimpin kaum
 muslimin.”
“Nasehat bagi Rasulullah .” Artinya, membantu dan mentaati
Yaitu, membenarkan kerasulan mereka di atas kebenaran.
beliau, mengimani segala yang beliau Memerintahkan dan mengingatkan
bawa, mentaati perintah dan larangan mereka untuk berdiri di atas kebenaran
beliau, membela dan membantu dengan cara yang halus dan lembut.
(perjuangan) beliau semasa beliau hidup Mengabarkan kepada mereka ketika lalai
maupun setelah wafat, membenci orang- dari menunaikan hak-hak kaum muslimin
orang yang membenci beliau dan yang mungkin belum mereka ketahui,
menyayangi orang-orang yang loyal tidak memberontak terhadap mereka,
kepada beliau, mengagungkan hak dan melunakkan hati manusia agar
beliau, menghormati beliau dengan cara mentaati mereka.
menghidupkan sunnah beliau, ikut Imam al-Khaththabi menambahkan,
menyebarkan dakwah dan syariat beliau, “Dan termasuk dalam makna nasehat bagi
dengan membendung segala tuduhan mereka adalah shalat di belakang mereka,
terhadap sunnah beliau tersebut, berjihad bersama mereka, menyerahkan
mengambil ilmu dari sunnah beliau shadaqah-shadaqah kepada mereka, tidak
dengan memahami makna-maknanya, memberontak dan mengangkat pedang
menyeru manusia untuk berpegang (senjata) terhadap mereka –baik ketika
dengannya, lemah lembut dalam mereka berlaku zhalim maupun adil-, tidak
mempelajari dan mengajarkannya, terpedaya dengan pujian dusta terhadap
mengagungkan dan memuliakan sunnah mereka, dan mendoakan kebaikan untuk
beliau tersebut, beradab ketika mereka. Semua itu dilakukan bila yang
membacanya, tidak menafsirkannya dimaksud dengan para imam adalah para
dengan tanpa ilmu, memuliakan orang- khalifah atau para penguasa yang
orang yang memegang dan menangani urusan kaum muslimin, dan
mengikutinya. Meneladani akhlak dan inilah yang masyhur.” Lalu beliau
adab-adab yang beliau  ajarkan, melanjutkan, “Dan bisa juga ditafsirkan
mencintai ahli bait dan para sahabat bahwa yang dimaksud dengan para imam
beliau, tidak mengadakan bid‘ah adalah para ulama, dan nasehat bagi
terhadap sunnah beliau, tidak mencela mereka berarti menerima periwayatan
seorang pun dari para sahabat beliau, mereka, mengikuti ketetapan hukum
dan makna-makna lain yang mereka (tentu selama mengikuti dalil),
semisalnya.19 serta berbaik sangka (husnu zh-zhan)
kepada mereka.”20

18
Syarh Shahih Muslim (II/33), dan lihat juga I’lamu l-Hadits (I/191-192).
19
Syarah Shahih Muslim (2/33), dan lihat juga I’lam al-Hadits (1/192).
20
Syarah Shahih Muslim (2/33-34), dan lihat juga I’lam al-Hadits (1/192-193).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 19


18
 para rasul. Allah  mengabarkan
perkataan nabi-Nya, Hud , ketika
“Nasehat bagi kaum muslimin umumnya.” menasehati kaumnya,
Artinya, membimbing mereka menuju
kemaslahatan dunia dan akhirat, tidak
menyakiti mereka, mengajarkan kepada “Aku menyampaikan amanat-amanat
mereka urusan agama yang belum Tuhanku kepada kalian dan aku ini hanyalah
mereka ketahui dan membantu mereka pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.”
dalam hal itu baik dengan perkataan (Q.S. Al-A‘raf: 68).
maupun perbuatan, menutup aib dan
Allah juga menyebutkan perkataan
kekurangan mereka, menolak segala
nabi-Nya, Shalih , kepada kaumnya
bahaya yang dapat mencelakakan
setelah Allah menimpakan bencana
mereka, mendatangkan manfaat bagi
kepada mereka,
mereka, memerintahkan mereka
melakukan perkara yang makruf dan
melarang mereka berbuat mungkar
dengan penuh kelembutan dan
ketulusan. Mengasihi mereka,
menghormati yang tua dan menyayangi
yang muda dari mereka, diselingi dengan
memberi peringatan yang baik (mau‘izhah “Maka Shalih berkata, ‘Hai kaumku,
hasanah), tidak menipu dan berlaku hasad sesungguhnya aku telah menyampaikan
(iri) kepada mereka, mencintai kebaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah
dan membenci perkara yang tidak disukai memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu
untuk mereka sebagaimana untuk diri tidak menyukai orang-orang yang memberi
sendiri, membela (hak) harta, harga diri, nasehat.’” (Q.S. Al-A‘raf: 79).
dan hak-hak mereka yang lainnya baik Maka seorang hamba akan
dengan perkataan maupun perbuatan, memperoleh kemuliaan manakala dia
menganjurkan mereka untuk berperilaku melaksanakan apa yang telah dilakukan
dengan semua macam nasehat di atas, oleh para nabi dan rasul. Nasehat
mendorong mereka untuk melaksanakan merupakan salah satu sebab yang
ketaatan-ketaatan, dan sebagainya.21 menjadikan tingginya derajat para nabi,
maka barangsiapa yang ingin ditinggikan
Keutamaan Orang yang derajatnya di sisi Allah, Pencipta langit
Memberi Nasehat dan bumi, maka hendaknya dia
Menasehati hamba-hamba Allah melaksanakan tugas yang agung ini.22
kepada hal yang bermanfaat bagi dunia
dan akhirat mereka merupakan tugas Hukum Nasehat

21
Syarh Shahih Muslim (II/34), dan lihat juga I’lamu l-Hadits (I/193).
22
Qawaid wa Fawaid (hal. 94-95).

20 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Imam Nawawi menukil perkataan dianjurkan).” Lalu beliau memerinci hal
Ibnu Baththal, “(Memberi) nasehat itu tersebut secara panjang lebar yang tidak
hukumnya fardhu (kifayah) yang telah dapat kami muat disini. 25
cukup bila ada (sebagian) orang yang
melakukannya dan gugur dosa atas yang Faedah-Faedah
lain.” Lebih lanjut Ibnu Baththal berkata, 1. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Boleh
“Nasehat adalah suatu keharusan mengakhirkan penjelasan dari waktu
menurut kemampuan (masing-masing) khitab (penyampaian). Ini diambil dari
apabila si pemberi nasehat tahu bahwa kalimat:
nasehatnya akan diterima dan
perintahnya akan dituruti serta aman dari
‘Kami (para sahabat) bertanya, ‘untuk
perkara yang tidak disukainya (yang akan
siapa?’.”26
menyakitinya). Adapun jika dia khawatir
akan menyebabkan bahaya (yang Dan bahwa nasehat itu
mencelakakan dirinya), maka dalam hal dinamakan agama dan Islam, dan
ini ada kelapangan baginya, wallahu bahwa agama ini ada yang berupa
a’lam.”23 perbuatan sebagaimana ada yang
berupa perkataan.27
Namun, menengok kepada
maknanya yang menyeluruh, nasehat itu 2. Perkataan Imam Bukhari dalam
ada yang fardhu ‘ain dan ada yang fardhu shahihnya, “Bab sabda Nabi , “Ad-
kifayah, ada yang wajib dan ada yang diinun nashiihah, lillahi, wa lirasulihi,
mustahab. Karena Nabi  menjelaskan wa liaimmatil muslimin wa
bahwa agama itu adalah nasehat, ‘ammatihim. Wa Qouluhu Ta’ala
sementara agama itu ada di antaranya ( )” dalam
yang wajib dan ada yang mustahab, ada
kitab ‘al-Iman’, untuk menunjukkan
yang merupakan fardhu ‘ain dan ada yang
bahwa nasehat merupakan bagian
fardhu kifayah.24
dari iman.28
Hal yang serupa telah dikatakan oleh
Wallahu A’lam
Muhammad bin Nashr dalam kitabnya
Ta‘zhim Qadra ash-Shalat seperti dinukil
oleh Ibnu Rajab dalam Jami‘u l-‘Ulum wa
l-Hikam, katanya, “Dan ia (nasehat)
terbagi menjadi dua, ada yang fardhu
(wajib) dan ada yang nafilah (sunnah/

23
Syarah Shahih Muslim (II/34).
24
Qawaid wa Fawaid (hal. 95).
25
Lihat Jami‘u l-‘Ulum wa l-Hikam (I/207-210).
26
Fathu l-Bari (1/167), cet. Dar ar-Rayyan lit-Turats.
27
Qawaid wa Fawaid (hal. 95).
28
Qawaid wa Fawaid (hal. 96).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 21


20
Fiqih

Oleh Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman


dalam Kitabnya Al As’ilah wa Al Ajwibah Al Fiqhiyah
Tanya:
Apa yang dimaksud dengan qoza’? Bagaimana hukumnya dan apa dalilnya?

Jawab: Tambahan: Syaikh Abul Hasan


Yang dimaksud dengan qoza’ adalah Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-
mencukur sebagian rambut kepala dan Mishri telah membahas masalah ini dalam
membiarkan sebagian yang lain. Adapun ‘Silsilah Al-Fatawa asy-Syar’iyyah’, di
hukumnya adalah makruh. bawah pertanyaan yang ketujuh hal. 8-
9, sebagai berikut:
Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan
oleh Nafi’ dari Ibnu Umar , beliau Tanya: Kami mendapati beberapa orang
berkata, dari kaum muslimin mencukur rambut
mereka atau rambut anak-anak mereka
ِ dengan hanya mencukur rambut di atas
telinga sampai pangkal rambut di dekat
“Rasulullah  telah melarang qoza’.” pelipis. Masyarakat umumnya menyebut
Kemudian Nafi’ ditanya, “Apa yang cukur ‘cepak’. Mereka mengatakan bahwa
dimaksud denang qoza’?” Dia menjawab, model seperti ini adalah untuk menyelisihi
“Mencukur sebagian rambut kepala dan ‘kuncir/klewer’ orang Yahudi. Apakah
membiarkan sebagian yang lain.” anggapan dan perbuatan seperti ini bisa
(Muttafaq ‘alaih)1. dibenarkan?
Begitu pula hadits lain dari Ibnu ‘Umar Jawab: Setiap muslim wajib bertanya
, dia berkata, “Rasulullah  melihat kepada ulama sebelum melakukan
seorang bocah yang dicukur sebagian sesuatu. Dia tidak boleh menentukan baik
rambut kepalanya dan dibiarkan sebagian buruknya sesuatu sebelum bertanya
yang lain, maka beliau melarang (kepada mereka), seperti mengatakan
perbuatan mereka itu dengan bersabda, bahwa perbuatan ini untuk menyelisihi
orang-orang Yahudi. Padahal kalau
memang ingin meyelisihi orang-orang
“Cukurlah seluruhnya atau biarkan saja Yahudi, mestinya dia mencukur seluruh
seluruhnya.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, rambut kepalanya secara sama rata
dan Nasa’i dengan sanad yang shahih).2 karena orang-orang Yahudi biasa

1
Bukhari (no. 5576), dan Muslim (no. 2120).
2
Ahmad (II/88), Abu Dawud (no. 4195), Nasa’i (5048).

22 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Fiqih
memanjangkan rambut di kedua sisi merupakan salah satu bentuk
kepala mereka (menjadi seperti tanduk kesempurnaan cinta Allah dan Rasul-Nya
kerbau). kepada keadilan. Allah memerintahkan
Rasulullah  telah melarang qoza’, yaitu untuk berlaku adil hingga tentang
mencukur sebagian rambut dan hubungan manusia dengan dirinya
membiarkan sebagian yang lain. Hal itu sendiri. Allah melarang mencukur
sebagaimana tersebut dalam Shahihain sebagian rambut dan mebiarkan
dari hadits Nafi’ dari Abdullah bin Umar sebagian yang lain karena perbuatan itu
, dia berkata, “Rasulullah  telah adalah bentuk aniaya terhadap kepala,
melarang qoza’; dan qoza’ adalah yaitu sebagian terbuka tanpa rambut
mencukur sebagian rambut anak dan sedang sebagian yang lain tertutup. Ini
membiarkan sebagian yang lain sama dengan larangan duduk di mana
(kuncung).” Juga, hadits Abdullah bin sebagian badan kena sinar matahari dan
Umar , beliau berkata, “Rasulullah  sebagian yang lain ternaungi, sebab
melihat seorang bocah yang dicukur perbuatan seperti ini adalah bentuk
sebagian rambutnya dan dibiarkan aniaya terhadap badan. Demikian pula
sebagian yang lain. Beliau melarang larangan hanya memakai salah satu
perbuatan mereka itu dengan bersabda, sandal/alas kaki untuk berjalan.
Hendaknya keduanya dipakai atau
keduanya dilepas. Qoza’ ada empat
“Cukurlah semuanya atau biarkan macam.
semuanya.” (H.R. Ahmad). Silakan lihat 1. Mencukur rambut kepala pada
Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah’ (no. 1123). bagian-bagian tertentu secara acak. Ini
Telah terjadi perbedaan pendapat diambil dari ungkapan ‘gumpalan awan
tentang makna qoza’. Makna yang telah teracak-acak’, yaitu terpisah-pisah
disebutkan di atas merupakan di sana-sini.
pemahaman dari perawi hadits, dan 2. Mencukur bagian tengah kepala dan
pemahamannya ini lebih diutamakan membiarkan kedua belah sisinya, seperti
daripada pemahaman yang lain. yang dilakukan oleh para kaster (penjaga
Sebagian ulama menafsirkan dengan gereja).
mencukur rambut kepala di bagian- 3. Mencukur kedua belah sisi kepala dan
bagian tertentu secara acak. membiarkan bagian tengahnya, seperti
Imam Nawawi memilih makna yang lebih yang dilakukan oleh para gembel dan
umum, yaitu mencukur sebagian dan orang-orang rendahan.
membiarkan sebagian yang lain 4. Mencukur bagian depan dan membiarkan
bagaimanapun bentuknya. [Lihat Syarh bagian belakang.
Shahih Muslim pada Kitabu l-Libas XIV/
Semua bentuk-bentuk di atas termasuk qoza’.
326]. Imam Ibnul Qayyim berkata,
“Syaikh kami, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Telah terjadi perbedaan pendapat
Taimiyah -semoga rahmat Allah tercurah tentang alasan pelarangannya. Ada yang
padanya-, berkata, ‘Larangan ini mengatakan karena qoza’ memburukkan

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 23


22
Fiqih
rupa dan penampilan. Yang lain Barat (Eropa). Mereka memendekkan
mengatakan karena qoza’ termasuk model rambut bagian depan dan memanjangkan
setan. Yang lain lagi mengatakan karena rambut bagian belakang hingga terurai di
termasuk model Yahudi. [Silakan lihat tengkuknya seperti ekor domba. Sebagian
dalam Syarh Shahih Muslim oleh Imam lain memanjangkan bagian depannya dan
Nawawi (XIV/327) dan Fathul Bari (X/365)]. mencukur bagian belakang. Ini adalah
Akhir-akhir ini banyak pemuda yang akibat dari lemahnya iman dan rendahnya
meniru gaya anak-anak muda kafir dari kepribadian mereka.”

Tanya:
Apa hukumnya mencabut uban dan hukum mengubah warnanya
(menyemirnya)? Apa pula dalilnya?

Jawab: uban tersebut) satu derajat, dan menghapus


Mencabut uban hukumnya makruh darinya (dengan sebab uban tersebut) satu
(dibenci). Demikian pula mengubah kesalahan. (H.R. Ahmad dan Abu
warnanya (menyemir) dengan warna Dawud).3
hitam hukumnya makruh. Begitu pula hadits dari Ka’ab bin Murrah
Adapun dalil larangan mencabut uban  bahwa Rasulullah  bersabda,
adalah sebuah hadits dari ‘Amru bin
Syu‘aib dari bapaknya dari kakeknya,
bahwa Nabi  bersabda,

“Barangsiapa yang tumbuh ubannya karena


(memikirkan) Islam, maka pada hari kiamat
nanti dia akan mendapatkan cahaya.” (H.R.
Tirmidzi dan Nasa’i).4
Adapun dalil kemakruhan mengubah
warna uban dengan warna hitam adalah
berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdullah
“Janganlah kalian mencabut uban karena , dia berkata, “Pada hari ditaklukkannya
uban itu cahaya seorang muslim. Tidaklah kota Mekkah, Abu Quhafah5 dibawa
seorang muslim tumbuh ubannya karena menghadap Rasulullah  sedang rambut
(memikirkan) Islam melainkan Allah tulis kepalanya putih seperti kapas, maka
untuknya (dengan sebab uban tersebut) satu Rasulullah  bersabda,
kebaikan, mengangkatnya (dengan sebab

3
Ahmad (II/179, 210) –dan ini lafalnya-, Abu Dawud (no. 4202).
4
Tirmidzi (no. 1634) –dan ini lafalnya-, dan Nasa’i (3144) dengan tambahan lafal ( ).
5
Ayah Abu Bakar ash-Shiddiq .

24 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Fiqih

Adapun mengubah
(menyemir) rambut dengan
“Bawalah dia ke salah seorang isterinya agar
inai dan katam8 maka
mengubah warna rambutnya dengan sesuatu hukumnya sunnah
(bahan pewarna) dan jahuilah warna hitam.”
(H.R. Jamaah kecuali Bukhari dan “Sesungguhnya sebaik-baik bahan untuk
Tirmidzi).6 mengubah (menyemir) uban ini adalah inai
Abu Dawud dan Nasa’i 7 telah dan katam.” (H.R. Khamsah dan
meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu dishahihkan oleh Tirmidzi)10.
Abbas , ia berkata, “Rasulullah  telah Dan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, “Pernah
bersabda, ada seorang laki-laki melawati Rasulullah
 sedang rambut ubannya disemir dengan
inai, maka Rasulullah  bersabda,

“Pada akhir zaman nanti akan ada suatu ‘Betapa bagusnya ini.’” Ibnu Abbas berkata,
kaum yang menyemir dengan warna hitam “Kemudian laki-laki lain lewat sedang
seperti arang. Mereka ini tidak akan mencium rambut ubannya disemir dengan inai dan
bau harumnya surga.” katam, maka Rasulullah  bersabda,
Adapun mengubah (menyemir) rambut
dengan inai dan katam8 maka hukumnya
‘Ini lebih baik dari yang tadi.’ Kemudian
sunnah, dan tidak (menyemir) dengan
laki-laki lain lewat sedang rambut
tumbuhan waros dan za‘faron9. Hal ini
ubannya disemir dengan warna kuning,
berdasarkan hadits dari Abu Dzar , ia
maka Rasulullah  bersabda,
berkata, “Rasulullah  bersabda,

‘Ini adalah yang terbaik dari semuanya.’”


(H.R. Abu Dawud).11

6
Lihat Shahih Muslim (no. 2102), Sunan Abu Dawud (no. 4206), Sunan An-Nasa’i (no. 5076 dan
5242), Sunan Ibnu Majah (3624), dan Musnad Ahmad (III/316).
7
Abu Dawud (no. 4212), An-Nasa’i (no. 5075).
8
Sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna kemerah-merahan atau kekuning-kuningan, semacam
pacar.
9
Sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna kemerahan atau kekuningan.
10
Ahmad (V/147, 150, 154, 156, 169), Tirmidzi (no. 1752), Abu Dawud (no. 4205), Nasa’i (no. 5082),
Ibnu Majah (no. 3622).
11
Abu Dawud (no. 4211), diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (no. 3627).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 25


24
Fiqih
Tanya:
Jelaskan hukum memotong rambut kepala bagi laki-laki dan hukum
berkhitan. Sebutkan pula perbedaan pendapat tentang hukum khitan (beserta
dalil-dalil dan keterangannya)?
Jawab: Adapun khitan, wajib hukumnya bagi
Hukum memotong rambut bagi kaum laki-laki dan mulia (utama) bagi kaum
laki-laki adalah sunnah berdasarkan wanita, yaitu tidak wajib, berdasarkan
hadits dari Aisyah, ia berkata, keterangan dari banyak ulama.
Abu Abdillah berkata, “Ibnu ‘Abbas
sangat tegas dalam masalah khitan.
“Panjang rambut Nabi  adalah di antara Diriwayatkan dari beliau, bahwa, ‘Tidak
daun telinga sampai (di atas) bahu.” (H.R. sah haji dan shalatnya.’ Maksud beliau,
Khamsah kecuali Nasa’i, dan dishahihkan jika orang itu tidak berkhitan.”
oleh Tirmidzi).12 Dalil tentang wajibnya berkhitan adalah
Dan hadits dari Anas bin Malik , sebuah hadits yang menyebutkan bahwa
Nabi  pernah bersabda kepada seorang
laki-laki yang baru saja masuk Islam,
“Bahwa Nabi  membiarkan rambutnya
sampai ke kedua bahunya.”
“Bersihkan darimu rambut kekafiranmu dan
Dan dalam lafal yang lain,
berkhitanlah.” (H.R. Abu Dawud).15
Begitu pula hadits dari Abu Hurairah ,
bahwa Nabi  bersabda,

“Adalah rambut beliau  mengombak (ikal),


tidak keriting dan tidak pula lurus.
(Panjangnya) antara daun telinga dan kedua
bahunya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)13. “Ibrahim kekasih Allah berkhitan pada usia
Imam Ahmad dan Muslim14 80 tahun. Beliau berkhitan dengan kapak.”
meriwayatkan dengan lafal, (H.R. Bukhari dan Muslim).16
Allah  berfirman,

“Adalah rambut beliau  sampai pada


(batas) tengah-tengah kedua telinganya.”

12
Ahmad (VI/108, 118), Abu Dawud (no. 4187), Tirmidzi (no. 1755), Ibnu Majah (no. 3635).
13
Bukhari (no. 5563, 5564, 5565), Muslim (no. 2338).
14
Ahmad (III/113, 165), Muslim (no. 2338).
15
Abu Dawud (no. 356).
16
Bukhari (no. 3178, 5940), Muslim (no. 2370).

26 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Fiqih
“Kemudian Kami telah wahyukan kepadamu Diriwayatkan dari Nabi  bahwa beliau
(Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim,  pernah berkata kepada wanita tukang
seorang yang lurus.’” (Q.S. An-Nahl: 123). khitan khusus wanita,
Di samping itu karena khitan adalah salah
satu dari syiar (ciri khas) kaum muslimin.
Kalaulah berkhitan itu tidak wajib tentu “(Sisakanlah) syahwatnya dan jangan
tidak boleh membuka aurat untuk khitan, dihabiskan, karena hal itu lebih memuaskan
karena membuka aurat itu hukumnya suami dan wajah (bisa) lebih bercahaya.”20
haram. Namun, ketika membuka aurat Waktu yang wajib bagi laki-laki berkhitan
untuk berkhitan itu dibolehkan, hal itu adalah ketika sudah baligh, berdasarkan
menunjukkan berkhitan itu wajib. perkataan Ibnu Abbas , katanya, “Dan
Berkhitan juga disyariatkan kepada mereka (para sahabat) tidaklah mengkhitan
wanita. Abu Abdillah berkata, ‘Dan hadits seorang laki-laki melainkan setelah dia
Nabi , berusia baligh.” (Riwayat Bukhari)21.
Namun kewajiban ini akan gugur bagi
orang yang takut mengalami kebinasaan
“Apabila dua khitan (laki-laki dan perempuan) (bila dikhitan). Dan berkhitan di masa
bertemu (senggama) maka wajib mandi.”17 kecil sampai usia tamyiz (sebelum baligh)
Dalam hadits ini terdapat penjelasan lebih baik, karena akan lebih cepat
bahwa para wanita dahulu (pada zaman sembuh dan dia akan tumbuh dalam
Nabi ) berkhitan. keadaan sesempurna mungkin. Wallahu
Begitu pula hadits Umar  bahwa seorang A’lam.
wanita tukang khitan pernah mengkhitan
(seorang anak wanita), maka Umar  Dinukil dan diterjemahkan oleh Abu
berkata kepadanya, “Sisakan sedikit bila Mus’ab.
engkau mengkhitan.”18
Al-Khallal meriwayatkan dengan sanadnya
dari Syaddad bin Aus, ia berkata, “Nabi 
bersabda, “Khitan itu sunnah bagi laki-laki
dan mulia (utama) bagi wanita”.19
Hadits yang seperti hadits Syaddad itu
diriwayatkan pula dari Jabir bin Zaid 
secara mauquf.

17
H.R. Ahmad (VI/239), Tirmidzi (109), dan Ibnu Majah (608).
18
Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (V/420-421).
19
Hadits dha’if karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Hajjaj bin Artha’ah. Dia seorang
mudallis dan riwayatnya akan hadits ini mudhtharib (goncang).
20
Lihat Majma’ az-Zawaid (V/172).
21
Bukhari (no. 5941).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 27


26
Keluarga
Problematika rumah tangga dan solusinya kami tampilkan dalam bentuk soal
jawab yang dinukilkan langsung dari kitab kumpulan fatwa-fatwa ulama Tanah
Suci Haram dengan hujah di bawah bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah. Semoga
menambah bekal Anda dalam mengayuh bahtera rumah tangga.
HukumMelaknatIstri
Tanya:
Apa hukum suami yang melaknat istrinya dengan sengaja? Apakah dengan laknatnya
tersebut sang istri menjadi haram baginya untuk dia gauli atau sama hukumnya
seperti talaq? Apa pula kaffarah (penebus) perbuatan tersebut?
Jawab: bertaubat dengan sebenar-benar taubat,
Perbuatan suami yang melaknat isteri Allah  akan menerima taubatnya.
adalah perbuatan mungkar yang tidak Sedang istrinya masih tetap berada dalam
diperbolehkan, bahkan perbuatan itu tanggung jawabnya, dan tidak menjadi
termasuk dosa besar sebagaimana yang haram baginya karena laknatnya itu.
disebutkan dalam hadits yang telah pasti Wajib pula bagi suami untuk mem-
dari Rasulullah . Beliau bersabda, pergauli istrinya dengan baik, serta
menjaga lisannya dari mengucapkan hal-
hal yang dimurkai Allah . Istri pun
“Melaknat seorang mukmin sama dengan hendaknya memperbaiki pergaulan
membunuhnya.” (H.R. Bukhari No. 6105 dengan suaminya, menjaga lisannya dari
dan Muslim No. 110). mengucapkan hal-hal yang dapat
menimbulkan kemurkaan Allah  dan
Beliau  juga bersabda,
hal-hal yang dapat menimbulkan
kemarahan suaminya, kecuali dalam
perkara yang hak. Allah  berfirman,
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan
dan membunuhnya adalah kekafiran.” (H.R.
Bukhari No. 48 dan Muslim no. 64). “Dan bergaullah dengan mereka secara
Sabda beliau yang lain: patut.” (Q.S. An-Nisa:19)
Dalam fiman-Nya  yang lain,

“Akan tetapi para suami mempunyai satu


“Sesungguhnya orang-orang yang melaknat tidak
tingkatan kelebihan daripada isterinya.”
menjadi saksi dan tidak pula sebagai penuntut
(Q.S. Al-Baqarah:228)
pada hari kiamat.” (H.R. Muslim No. 2598).
Dan Allah-lah pemberi taufiq.
Jadi, suami tersebut wajib bertaubat,
Fatwa Syaikh Ibnu Baz dalam Fatawa Haiah al-Kibari
meminta penghalalan dari istrinya karena l-Ulama’ (II/287-288). Dinukil dari kitab Fatawa Ulama
laknatnya tersebut. Barangsiapa yang Al-Biladi l-Haram hal. 512-513.

28 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Keluarga

TidakPedulidenganIstri
Tanya:
Suami saya –semoga Allah memaafkannya— jauh dari sikap konsisten kepada akhlak
yang mulia dan rasa takut kepada Allah . Dia tidak peduli kepada saya sama sekali,
senantiasa bermuka masam dan sempit hati –dia pernah mengatakan bahwa sayalah
penyebabnya-, akan tetapi Allah lebih mengetahui bahwa saya –alhamdulillah—
senantiasa menunaikan apa yang menjadi haknya, selalu berusaha memberikan
ketenangan dan rasa tentram, dan menjauhkan segala sesuatu yang dapat
menyakitinya serta bersabar atas perlakuannya terhadap saya.
Setiap kali saya bertanya atau mengajaknya berbicara tentang suatu masalah, dia
marah dan jengkel, dan berkata, “Itu masalah yang remeh dan sepele.” Padahal, dia
sangat ramah jika bersama sahabat dan teman-temannya. Adapun kepada saya,
tidak ada yang saya rasakan selain penghinaan dan pergaulan yang buruk. Hal ini
sungguh menyakitkan dan menyiksa saya, sehinga beberapa kali saya berpikir akan
meninggalkan rumah.
Saya –alhamdulillah—pernah mengenyam pendidikan menengah atas, serta
menjalankan apa yang Allah wajibkan kepada saya.
Syaikh yang mulia, apakah saya berdoas jika saya meninggalkan rumah, lalu saya
didik sendiri anak-anak saya dan saya tanggung beban hidup ini sendiri? Ataukah
saya harus tetap tinggal bersamanya sekalipun dalam kondisi yang seperti itu, dan
tidak berbicara dan melibatkan diri dengan masalah-masalahnya? Saya mohon
penjelasan Anda. Semoga Allah membalas Anda dengan yang lebih baik.

Jawab: Serta sabda Nabi ,


Tidak diragukan bahwa yang wajib
dilakukan oleh pasangan suami isteri
adalah saling bergaul dengan baik, saling “Perbuatan bakti itu akhlak mulia.” (H.R.
menampakkan kasih sayang dan akhlak Muslim No. 2553).
yang mulia, disertai dengan akhlak yang
terpuji dan pergaulan yang baik,
berdasarkan firman Allah  berikut.

“Janganlah engkau meremehkan sesuatu


“Dan bergaullah dengan mereka secara yang makruf sekalipun itu hanya berupa
patut.” (Q.S. An-Nisa:19) wajah ceria ketika menjumpai saudaramu.”
(H.R. Muslim No. 2626).

“Dan para wanita mempunyai hak yang


seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang makruf.” (Q.S. Al-Baqarah:228)

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 29


28
Keluarga
“Orang mukmin yang sempurna imannya “Sesungguhnya hanya orang-orang yang
adalah yang paling baik akhlaknya, dan bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka
orang yang terbaik akhlaknya di antara tanpa batas. “ (Q.S. Az-Zumar:10)
kalian adalah yang paling baik kepada
keluarganya dan aku adalah yang terbaik di
antara kalian dalam berbuat baik terhadap
“Maka bersabarlah; sesungguhnya
keluarga.” 1
kesudahan yang baik adalah bagi orang-
Dan banyak lagi hadits-hadits lain yang orang yang bertakwa.” (Q.S. Hud:49)
menganjurkan berakhlak baik, baik ketika
Tidak mengapa mengajaknya bercanda
bertemu maupun dalam bergaul dengan
dan berbicara dengan bahasa yang dapat
sesama kaum muslimin secara umum,
menyentuh perasaannya, yang dapat
terlebih lagi dengan istri dan kerabat
membuatnya senang kepada Anda dan
dekat.
mengingatkannya dengan hak Anda.
Anda telah melakukan sikap yang terpuji Hindarilah meminta perkara-perkara
dengan bersabar atas perangai dan duniawi selama dia masih menunaikan
akhlak buruk suami Anda. Saya kewajiban yang terpenting, sampai hati
mewasiatkan kepada Anda agar lebih dan dadanya menjadi lapang untuk
meningkatkan kesabaran dan tidak memenuhi permintaan Anda secara
meninggalkan rumah karena –insya langsung. Anda akan mendapatkan
Allah— di dalamnya terdapat kebaikan kesudahan yang baik–insya Allah-.
yang banyak dan kesudahan yang terpuji Semoga Allah memberi taufiq kepada
sebagaimana firman Allah , Anda sehingga Anda meningkatkan
setiap kebaikan yang telah Anda lakukan,
dan memperbaiki keadaan suami Anda,
“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah melimpahkan kepadanya bimbingan-Nya,
beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al- serta membuatnya memperbagus
Anfal:46) akhlaknya, memperbaiki cara bergaulnya,
dan menjaga hak-hak yang harus
dipenuhinya. Sesungguhnya Dialah
sebaik-baik yang dimintai bantuan dan
Yang selalu pemberi petunjuk kepada
“Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa jalan yang lurus.
dan bersabar, maka sesungguhnya Allah
tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa
yang berbuat baik.” (Q.S. Yusuf:90) asy-Syaikh Ibnu Utsaimin (II/830-831). Dinukil dari
Fatawa Ulama’ al-Biladi l-Haram hal. 516-517

1
Abu Dawud (no. 4682), Turmudzi (no. 1162), dari hadits Abu Hurairah. Turmudzi dalam ‘Al-
Manaqib’ (hadits no. 3892).

30 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Keluarga

BurukdalamMempergauliIstri
Tanya:
Seorang wanita mengadukan buruknya sikap serta perlakuan suami?

Jawab: muslimin; maka yang wajib bagi Anda


Apabila sikap buruk suami Anda adalah membencinya karena Allah,
kenyataannya memang sebagaimana berpisah dengannya, dan tidak
yang Anda sebutkan dalam pertanyaan2, menempatkannya di hati Anda. Allah 
seperti meninggalkan shalat dan mencela berfirman,
agama, maka dengan perbuatannya itu
dia menjadi kafir. Anda tidak halal hidup
bersamanya, dan tidak halal pula Anda
tinggal di rumahnya. Bahkan wajib bagi
Anda untuk kembali kepada keluarga “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah
Anda, atau pergi ke tempat manapun niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
yang aman. Hal ini berdasarkan firman ke luar dan memberinya rezeki dari arah yang
Allah  tentang kaum mukminat yang tiada disangka-sangkanya.” (Q.S. At-
hidup bersama orang kafir, Thalaq:2-3)
Semoga Allah memudahkan
penyelesaian perkara Anda ini, dan
“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir menyelamatkan Anda dari kejelekannya
itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula (jika cerita Anda memang benar), dan
bagi mereka.” (Q.S. Al-Mumtahanah:10) Allah memberinya petunjuk kepada
Begitu pula sabda Nabi , kebenaran, serta memudahkannya untuk
bertaubat. Sesungguhnya Dia (Allah) 
Maha Pemurah lagi Mahamulia.

Fatwa Syaikh Ibnu Baz dalam Ad-Dakwah Al-


“Pemisah (pembeda) antara kita (kaum Fatawa hal. 196-197. Dinukil dari Fatawa Ulama’
muslimin) dan mereka (orang-orang kafir) al-Bilad al-Haram hal.518
adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan
shalat, maka dia telah kafir.”3
Di samping itu, karena mencela agama
adalah bentuk kekafiran yang besar
sebagaimana ijmak (kesepakatan) kaum

2
Pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan sebelum diringkas, dan begitulah pertanyaaan yang
dicantumkan dalam kitab aslinya yang berbahasa arab pent.
3
Ahmad (V/346), Turmudzi (no. 2621), Nasa’i (I/232), Ibnu Majah (no. 1079).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 31


Keluarga

HukumMemberatkanSuamidenganBanyakPermintaan
Tanya:
Banyak istri yang memberatkan suami mereka dengan permintaan-permintaan,
bahkan untuk itu suami sampai berutang. Para istri itu mengatakan bahwa itu memang
sudah hak mereka. Apakah sikap yang seperti ini dibenarkan?

Jawab:
Sikap yang seperti ini termasuk dalam
kategori pergaulan yang buruk. Allah  “Dan para wanita mempunyai hak yang
telah berfirman, seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang makruf.” (Q.S. Al-Baqarah:228)
Demikian pula tidak boleh seorang suami
menahan memberi nafkah yang telah
menjadi kewajibannya. (Hal itu) karena
ada sebagian suami yang tidak
menunaikan kewajibannya memberi
nafkah kepada istri dan anak-anaknya
“Hendaklah orang yang mampu memberi
karena amat bakhil. Istri, yang suaminya
nafkah menurut kemampuannya. Dan orang
bakhil seperti itu, boleh mengambil harta
yang disempitkan rezekinya hendaklah
suminya sesuai dengan kebutuhannya
memberi nafkah dari harta yang diberikan
sekalipun tanpa sepengetahuan sang
Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan
suami. Kasus seperti ini pernah pula
beban kepada seseorang melainkan (sekadar)
diadukan oleh Hindun binti Utbah kepada
apa yang Allah berikan kepadanya.” (Q.S.
Rasulullah . Suaminya, Abu Sufyan,
Ath-Thalaq:7)
orang yang pelit, tidak memberinya
Seorang istri tidak boleh menuntut diberi nafkah yang cukup baginya dan anak-
nafkah yang melebihi kesanggupan anaknya. Maka Rasulullah  berkata,
suaminya. Tidak boleh pula dia meminta
nafkah yang melebihi batas yang wajar
(makruf ) menurut kebiasaan
masyarakatnya, sekalipun suami
memang mampu untuk itu. Hal ini
berdasarkan firman Allah  yang berikut. “Ambillah dari hartanya dengan cara yang
makruf sebatas apa yang mencukupimu dan
anakmu.” 4
Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa al-
“Dan bergaullah dengan mereka secara Mu‘asharah hal. 36-39. Dinukil dari Fatawa Ulama’ al-
patut (makruf).” (Q.S. An-Nisa’:19) Bilad l-Haram hal 548.

4
Bukhari (no. 2211), Muslim (no. 1714).

32 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Keluarga

KondisiKejiwaanIstriMenghalangi
AjakanSuami
Tanya:
Apakah seorang istri berdosa jika dia
menolak ajakan suaminya (untuk
berhubungan badan) karena kondisi
kejiwaannya yang sedang labil, atau
karena suatu penyakit yang menderanya?
Jawab:
Seorang istri wajib memenuhi ajakan
suaminya jika dia mengajaknya
berhubungan badan. Akan tetapi, jika
istri sedang sakit, baik karena penyakit
fisik yang membuatnya tidak mampu
Halaman Kover (warna)
untuk melayani suaminya atau karena
penyakit kejiwaan, maka dalam kasus - Belakang Luar Rp. 700.000,-
seperti ini suami tidak boleh meminta - Depan Dalam Rp. 600.000,-
istrinya berhubungan badan berdasarkan - Belakang Dalam Rp. 550.000,-
sabda Nabi ,

“Tidak boleh memberi bahaya dan tidak Halaman Dalam (hitam putih)
boleh pula membalas memberi bahaya.” 5 - 1 halaman Rp. 400.000
Hendaknya suami dalam hal ini menahan - 1/2 halaman Rp. 200.000
diri atau menyalurkan syahwatnya
- 1/4 halaman Rp. 150.000
dengan cara yang tidak membahayakan
istrinya.
Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa Al-
Mar’ah Al-Muslimah. Dinukil dari Fatawa Ulama’ Al-
Biladi l-Haram hal. 560.

PASANG 4X
BAYAR 3 !!!

5
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam ‘Al-
Muwaththa’ (hal.745) secara mursal. Imam
Nawawi berkata dalam kitabnya ‘Al-Arba’in An-
HUBUNGI:
Nawawiyyah’ bahwa riwayat ini memiliki jalur Safaruddin (081328711260)
lain yang saling menguatkan.

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 33


32
Manhaj

I
bnu Taimiyyah berkata, “Ini
adalah aqidah (keyakinan)
Golongan yang Selamat lagi
Tertolong hingga Hari Kiamat –Ahlu
Sunnah wal Jamaah–, yaitu beriman
kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-
kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari
Berbangkit Setelah Mati, dan beriman
Dinukil dan diterjemahkan oleh Abu Isa
kepada taqdir Allah, yang baik maupun
yang buruk.”1 (Juz 3: 129)
1. Ahlus Sunnah Nya. Mereka yakin bahwa tidak ada yang
menetapkan sifat-sifat Allah  sama, sesuai, dan sebanding dengan
tanpa menyerupakan-Nya, dan Allah . Karena itu, mereka tidaklah
mensucikan Allah tanpa mengkiaskan Allah dengan makhluk-Nya
mengingkari sifat-sifat-Nya. karena mereka mengerti bahwa Allah
“Termasuk dalam pengertian beriman lebih tahu tentang diri-Nya, paling benar
kepada Allah adalah mengimani segala dan paling bagus perkataan-Nya
sifat yang telah ditetapkan Allah untuk dibanding makhluk-Nya.
diri-Nya di dalam Al-Qur’an dan yang Demikian pula halnya (dengan sifat Allah)
disebutkan oleh Rasulullah  tanpa yang disifatkan oleh para rasul yang jujur
menyimpangkan, mengingkari, dan dibenarkan perkataannya. Berbeda
menggambarkan, dan menyerupakannya dengan orang-orang yang berbicara
(dengan makhluk). Mereka mengimani tentang Allah tanpa dasar pengetahuan.
bahwa Allah: Oleh karena itu Allah berfirman tentang
para Rasul,

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-


Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat” (Q.S. Asy-Syura:11)
Ahlus Sunnah tidak menafikan segala
yang telah Allah  sifatkan untuk diri-
Nya. Mereka tidak menyimpangkan “Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai
makna sebenarnya, tidak mengingkari keperkasaan dari apa yang mereka katakan.
nama-nama dan ayat-ayat-Nya, tidak Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para
memvisualisasikan (takyif), dan tidak rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru
meyerupakan dengan sifat-sifat makhluk- sekalian alam.”(Q.S. Ash-Shaffat:180-182)

1
Majmu‘ Fatawa Ibnu Taimiyyah (III/129).

34 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


“Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk
membawa kebaikan.” (Q.S. Al-Mursalat:1).
Sebagian malaikat bertugas sebagai
utusan Allah untuk urusan kauni (takdir),
yang dengannya Allah  mengatur langit
dan bumi, seperti dalam firman Allah 
Dalam ayat di atas, Allah mensucikan diri- berikut.
Nya dari sifat yang diberikan kepada-Nya
oleh orang-orang yang menentang para
Rasul, dan Dia memberi salam kepada
para Rasul karena kebersihan dan “Sehingga apabila datang kematian kepada
kejujuran mereka, yang terbebas dari salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan
kekurangan dan cacat.2 oleh malaikat-malaikat Kami.” (Q.S. Al-
An‘am:61).

2. Ahlus Sunnah mengimani


keberadaan malaikat, serta
sifat dan tugas mereka. “Sebenarnya (Kami mendengar), dan
utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami
Bahwa malaikat adalah hamba Allah
selalu mencatat di sisi mereka.” (Q.S. Az-
sebagaimana halnya manusia. Ahli kalam
Zukhruf:80).
berpendapat bahwa malaikat adalah
semata-mata akal dan jiwa. Maka Dan sebagian (malaikat diutus) untuk
Syaikhu l-Islam Ibnu Taimiah urusan agama, sebagaimana dalam
membantahnya dengan mengatakan, firman-firman Allah  berikut.
“Sesungguhnya dalam kata malaikat
terkandung makna utusan, seperti dalam
firman Allah yang berikut.

“Dia menurunkan para malaikat dengan


“(Allah) Yang menjadikan malaikat sebagai (membawa) wahyu dengan perintah-Nya
utusan-utusan (untuk mengurus berbagai kepada siapa yang Dia kehendaki di antara
macam urusan).” (Q.S. Fathir:1). hamba-hamba-Nya.” (Q.S. An-Nahl:2)

2
ibid (III/129-130).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 35


34
Manhaj

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun


bahwa Allah berkata-kata dengannya, kecuali
dengan perantaraan wahyu atau di belakang
tabir atau dengan mengutus seorang utusan
(malaikat) lalu diwahyukan kepadanya
dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi
Mahabijaksana.” (Q.S. Asy-Syura:51).

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari


malaikat dan dari manusia.” (Q.S. Al- menjadikan bilangan mereka itu melainkan
Hajj:75). untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir,
Adapun jumlah malaikat, maka tidak ada supaya orang-orang yang diberi Alkitab
yang mengetahuinya selain Allah semata. yakin dan supaya orang yang beriman
Allah berfirman, bertambah imannya dan supaya orang-orang
yang diberi Alkitab dan orang-orang mukmin
itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang
yang di dalam hatinya ada penyakit dan
orang-orang kafir (mengatakan), “Apakah
yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini
sebagai perumpamaan” Demikianlah Allah
menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-
Nya dan memberi petunjuk kepada siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang
mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia
sendiri.” (Q.S. Al-Muddatstsir:31).
Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil
dari Al-Kitab dan As-Sunnah tentang
macam-macam malaikat, sifat-sifat dan
perbuatannya, sebagai bantahan bagi
yang mengatakan (bahwa malaikat
adalah) akal dan jiwa, atau perkataan lain
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu
bahwa Jibril adalah akal dan perbuatan,
melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami

36 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Manhaj
atau kekuatan baik pada diri manusia
adalah malaikat dan kekuatan jelek
adalah syaithan.”3 “Termasuk iman kepada
Beliau juga berkata, “Kebanyakan Allah dan kitab-kitab-
manusia berpendapat bahwa seluruh
makhluk akan mati termasuk malaikat, Nya adalah iman kepada
tanpa kecuali, termasuk malaikat maut, Al-Qur’an yang
Izrail. Sebagaimana yang telah
diriwayatkan dalam hadits yang marfu‘
merupakan firman
(bersambung kepada Rasulullah ). Allah I, dan Al-
Kaum Muslimin, Yahudi, dan Nasrani Qur’an yang diturunkan
telah sepakat atas kemungkinan hal itu
serta kemampuan Allah untuk itu. itu bukanlah makhluq.”
Adapun yang menyelisihi (tidak sepakat)
hanyalah beberapa kelompok yang
terpengaruh filsafat pengekor Ariestoteles hamba yang dimuliakan.” (Q.S. Al-
dan yang semodelnya. Termasuk di Anbiya’:26).
dalamnya sebagian orang yang mengaku
Islam, Yahudi, atau Nasrani seperti
penulis Rasail Ikhwani as-Shafa dan
sejenisnya dari kalangan yang
beranggapan bahwa malaikat adalah akal
dan jiwa, sehingga tidak mungkin mati
sama sekali, bahkan mereka
beranggapan bahwa malaikat adalah “Dan berapa banyaknya malaikat di langit,
tuhan-tuhan dan sesembahan di alam ini. syafaat mereka sedikitpun tidak berguna
Padahal Al-Qur’an dan seluruh kitab kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi
samawi (yang diturunkan dari langit) orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya).”
menyatakan bahwa malaikat adalah (Q.S. An-Najm:26).
hamba yang diatur. Allah berfirman,
Jadi, Allah mampu untuk mematikan
mereka dan menghidupkan lagi
sebagaimana Dia mampu untuk
mematikan manusia dan jin kemudian
menghidupkannya lagi.”4
“Dan mereka berkata, ‘(Allah) Yang Maha 3. Ahlus Sunnah mengimani
Pemurah telah mengambil (mempunyai) seluruh kitab samawi dan
anak.’ Mahasuci Allah. Sebenarnya mengimani bahwa semua kitab itu
(malaikat-malaikat itu) adalah hamba- adalah firman Allah, termasuk Al-
3
ibid (IV/119-127).
4
ibid (IV/259-260).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 37


36
Manhaj
Qur’an, ia merupakan firman Allah
dan bukan makhluk.
Dan beliau berkata, “Beriman kepada
seluruh kitab dan seluruh rasul adalah
seperti yang difirmankan Allah: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an
yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya,
demikian pula orang-orang yang beriman.”
(Q.S. Al-Baqarah:285).”5
Beliau juga berkata, “Termasuk iman
kepada Allah dan kitab-kitab-Nya adalah
iman kepada Al-Qur’an yang merupakan
firman Allah , dan Al-Qur’an yang
diturunkan itu bukanlah makhluq. Al-
Qur’an datang dari Allah  dan akan
kembali kepada Allah. Dan pada
hakekatnya Allah berfirman dengan Al-
“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), Qur’an. Al-Qur’an yang diturunkan
‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang kepada Nabi Muhammad  itulah
diturunkan kepada kami, dan apa yang sebenar-benar firman Allah, bukan
diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, perkataan siapapun selain-Nya. Maka
Ya‘qub dan anak cucunya, dan apa yang telah tidak boleh sama sekali berpendapat
diberikan kepada Musa dan Isa serta apa bahwa Al-Qur’an itu adalah cerita atau
yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb- ungkapan dari firman Allah. Bahkan
nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang apabila manusia membaca atau menulis
pun di antara mereka dan kami hanya tunduk Al-Qur’an di dalam lembaran-lembaran,
patuh kepada-Nya.’” (Q.S. Al- maka pada hakekatnya dia membaca
Baqarah:136). atau menulis firman Allah. Karena
sesungguhnya ucapan (firman) itu hanya
disandarkan kepada siapa yang
mengucapkannya pertama kali, bukan
disandarkan kepada yang menyampaikan
dan mempopulerkannya. Dan Al-Qur’an
“Dan katakanlah, ‘Aku beriman kepada itu adalah firman Allah, baik huruf
semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku maupun maksudnya. Bukan sekadar
diperintahkan supaya berlaku adil di antara huruf tanpa maksud dan bukan pula
kamu.’” (Q.S. Asy-Syura:15) sekadar maksud tanpa huruf.”6

5
ibid (III/365).
6
ibid (III/144).

38 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Aktual

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkan


apa-apa, bahkan mendapatkan dosa karena pengamalan-nya menyimpang dari
syariat. Telah banyak kita dapati berbagai macam perayaan atau peringatan
Islam yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin di seantero dunia. Salah
satu di antara bentuk perayaan tersebut adalah ‘Peringatan Maulid Nabi
Muhammad ’.

Orang-orang Kristen mengadakan setiap tanggal 12 Rabi‘ul Awwal. Padahal


perayaan dan berpesta ria pada hari tentang tanggal kelahiran Rasulullah 
kelahiran Nabi Isa, yang dikenal dengan sendiri para ahli sejarah sendiri masih
‘Hari Natal’, hari ulang tahun Nabi Isa. memperselisihkannya. Sebagian ada
Dan perayaan inilah yang ditiru sebagian yang mengatakan bahwa beliau lahir
besar kaum muslimin dengan nama pada tanggal 12 Rabi‘ul Awwal, sebagian
‘Maulid Nabi Muhammad ’. yang lain mengatakan tanggal 10 Rabi‘ul
Awwal,3 dan yang lain lagi mengatakan
Orang yang pertama kali
tanggal 9 Rabi‘ul Awwal atau bertepatan
memunculkan perayaan maulid Nabi (hari
dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M.4
ulang tahun Nabi) adalah Abu Sa’id
Lagi pula beliau wafat pada bulan dan
Kukburi, raja Irbil, pada akhir abad ke-6
hari yang sama dengan bulan dan hari
di daerah Syam.2 Dan Bani Fathimiyyun
kelahiran beliau, sehinga merayakan
merupakan pelaku pertama dalam
kelahirannya tidak lebih daripada
melakukan perayaan maulid Nabi
bersedih memperingati kematian beliau
Muhammad  pada awal abad ke – 7 di
pada waktu-waktu tersebut.
Mesir. Lantas sebagian besar kaum
Muslimin ikut-ikutan membeo mereka Bentuk perayaan seperti itu
dalam merayakan hari ulang tahun Nabi merupakan salah satu bentuk tasyabbuh
Muhammad , yang dilakukan pada (meniru-niru) orang kafir, yang telah

1
Diringkas dan diterjemahkan dari Hukmu l-Ihtifal bi dzikri l-Maulidi n-Nabawi oleh Syaikh Shalih Fauzan;
Hukmu l-Ihtifal bi l-Maulidi n-Nabawi oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz; Hukmu l-Ihtifal bi
dzikri l-Maulid wa r-Raddu ‘ala Man Ajazahu beserta lampirannya oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim
Alu Syaikh; dan Al-Murad fi Hukmi l-Maulid oleh Syaikh Imam Abu Hafsh Tajuddin al-Fakihani.
2
Risalah Hukmu l-Ihtifal bi dzikri l-Maulidi n-Nabawi oleh Syaikh Shalih Fauzan dan Al-Firqatu n-
Najiyah hal. 110.
3
As-Sirah an-Nabawiyah ash-Shahihah hal. 98.
4
Ar-Rahiqu l-Makhtum hal. 54.

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 39


38
Aktual
dilarang dalam syariat. Dan pelaku menghalangi. Akan tetapi, perayaan
tasyabbuh ini dihukumi sama dengan tersebut merupakan kebid‘ahan yang
pihak yang ditiru, sebagaimana sabda dibuat-buat oleh orang-orang yang batil
Rasulullah : dan pengekor hawa nafsu.
Tidak boleh kaum muslimin
melakukan perayaan maulid Nabi 
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, demikian pula hari ulang tahun lainnya.
maka dia termasuk dari kaum tersebut.” Hal ini berdasarkan hadits shahih dari
(H.R. Abu Dawud) Aisyah bahwa Rasulullah  bersabda,

Apabila kita membaca sejarah Nabi


, dan sejarah tiga generasi yang utama “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam
setelah beliau, yaitu para Sahabat, agama kami ini suatu perkara (amalan) yang
Tabi‘in, dan Tabi‘ut Tabi‘in, serta sejarah tidak berasal darinya, maka amalan tersebut
para imam-imam, maka akan kita dapati tertolak.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
bahwa mereka semua tidak pernah Begitu pula hadits Irbadh bin Sariyah
melakukan perayaan (peringatan) maulid dalam hadits yang cukup panjang:
Nabi Muhammad  dan tidak pula
memerintahkannya. Padahal mereka
adalah orang-orang yang paling
bersemangat terhadap kebaikan, paling
cinta kepada Nabi , paling bersungguh-
sungguh dan komitmen dalam
memegang sunah-sunnah Rasulullah ,
paling mendalam ilmunya, paling
bersemangat mengikuti sunah Rasulullah
“Wajib bagi kalian untuk bepegang teguh
, dan paling jauh dari bersikap takalluf.
dengan sunnahku dan sunnah Khulafa
Mengapa? Karena mereka tahu bahwa
Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku,
hal itu merupakan perkara yang diada-
peganglah sunah-sunah tersebut dan gigitlah
adakan alias bid‘ah dalam agama.
dengan gigi geraham kalian. Dan (aku beri
Kalaulah peringatan maulid itu
peringatkan kalian), berhati-hatilah terhadap
merupakan hal yang baik tentu mereka
perkara-perkara yang diada-adakan (dalam
akan lebih dahulu melaksanakannya.
agama) karena setiap perkara yang diada-
Akan tetapi, karena hal itu merupakan
adakan adalah bid‘ah dan setiap bid ah itu
perkara yang jelek dan buruk serta bukan
adalah sesat.” (H.R. Abu Dawud
termasuk dari ajaran agama Islam,
dishahihkan oleh Tirmidzi dan al-Abani).
bahkan merupakan perkara yang
terlarang, maka mereka pun Dan masih banyak lagi hadits-hadits
meninggalkannya. Padahal mereka yang semakna, yang intinya memerintah-
mempunyai kesempatan untuk kan untuk berpegang teguh dengan
melakukannya, dan tidak ada yang sunnah-sunnah yang shahih dan menjauhi

40 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Aktual
(meninggalkan) perkara-perkara (amalan- bahwa ini merupakan bahaya yang besar
amalan) yang tidak ada dalam sunnah dan penentangan kepada Allah dan
serta memperingatkan secara keras Rasul-Nya.
terhadap perkara-perkara yang bid‘ah.
Telah kita ketahui bersama bahwa
Islam adalah agama yang telah Rasulullah adalah nabi yang paling utama
sempurna, sehingga tidak perlu dan penutup para nabi. Beliau adalah
ditambahi dan dikurangi. Hal ini orang yang paling sempurna dalam
sebagaimana firman Allah, menyampaikan risalah Allah dan memberi
nasihat. Dan sungguh beliau telah
menyampaikan risalah kepada umat
dengan jelas dan gamblang, tanpa ada
satupun kesamaran. Tidak ada satu jalan
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi pun yang akan mengantarkan seseorang
kalian agama kalian dan telah Aku sempurnakan menuju surga dan menjauhkannya dari
nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam neraka melainkan telah beliau jelaskan
menjadi agama kalian.” (Q.S. Al-Maidah:3). kepada umatnya. Hal ini sebagaimana
Begitu juga firman-Nya, sebuah hadits yang shahih dari Abdullah
bin Amr  bahwa Rasulullah  bersabda,

“Maka hendaklah orang-orang yang


menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa
cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”
(Q.S. An-Nur:63). “Tidaklah Allah mengutus seorang rasul
melainkan wajib baginya untuk menunjukkan
Orang-orang yang melakukan kepada umatnya kebaikan yang dia tahu
perayaan maulid dan yang semisalnya untuk mereka dan memperingatkan umatnya
menyangka bahwa Allah belum keburukan yang dia tahu (mengancam)
menyempurnakan agama Islam ini untuk mereka.” (H.R. Muslim)
umat-Nya, dan Rasulullah  belum
menyampaikan apa-apa yang seharusnya Jadi, perayaan maulid Nabi dan yang
dia sampaikan kepada umat ini untuk semisalnya merupakan bentuk
diamalkan, sampai datang generasi penyelisihan generasi belakangan
belakangan yang lantas membuat sebuah terhadap syariat Islam. Sedangkan Allah
syariat yang tidak Allah izinkan dalam memerintahkan kita bila terjadi
agama yang telah sempurna ini. Mereka perselisihan agar mengembalikan perkara
menyangka bahwa hal itu merupakan tersebut kepada Allah (Al-Qur’an) dan
bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Rasulullah (As-Sunnah). firman-
kepada Allah. Maka tidak diragukan lagi Nya,

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 41


40
Aktual

memerintahkannya, dan tidak pernah


pula dilakukan oleh para sahabatnya.
Maka dari sini kita tahu bahwa perayaan
ini bukan termasuk ajaran Islam, bahkan
ia termasuk bid’ah yang sesat dan
merupakan tasyabbuh (menyerupai)
perayaan orang-orang kafir seperti
Nashara dan Yahudi.
Biasanya, dalam peringatan maulid
Nabi terdapat acara-acara yang
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah
bertentangan dengan syariat Islam,
Allah dan taatilah Rasul -Nya, dan Ulil Amri
bahkan merupakan perkara yang
di antara kamu. Kemudian jika kamu
diharamkan. Misalnya, bercampurnya
berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
laki-laki dan perempuan dalam satu
kembalikanlah dia kepada Allah (Al-Qur’an)
ruangan tanpa pembatas, diadakannya
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-
pentas musik, qasidahan dan yang
benar beriman kepada Allah dan Hari
semacamnya, merokok, minum-
Kemudian. Yang demikian itu lebih utama
minuman yang memabukkan,
(bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S.
menghambur-hamburkan harta dengan
An-Nisa’: 59)
sia-sia, dan sebagainya. Maka jelas
Kami telah mengembalikan perkara hukum perbuatan-perbuatan tersebut
maulid Nabi ini kepada Al-Qur’an. Di adalah haram. Tidaklah melakukan hal
dalam Al-Qur’an kami dapatkan perintah itu kecuali orang yang pandir.
untuk melaksanakan perintah Nabi dan
Kebanyakan orang yang bersemangat
menjahui segala larangannya, dan kami
dalam menghadiri acara peringatan
tahu bahwa Allah telah menyempurnakan
maulid Nabi atau yang semisalnya
agama ini. Dan ternyata perayaan maulid
berusaha untuk melestarikan dan
Nabi bukanlah termasuk yang
membelanya. Sementara dalam perkara-
diperintahkan oleh beliau, dengan
perkara yang diwajibkan oleh Allah 
demikian berarti peringatan tersebut
atau yang disunnahkan Rasulullah,
bukan termasuk ajaran Islam karena
mereka kurang komitmen, misalnya
bukan bagian agama yang telah Allah
mereka sering melalaikan shalat jamaah
sempurnakan.
atau justru tidak pernah ikut shalat
Kami juga telah mengembalikan berjamaah sama sekali. Hal ini tidaklah
masalah ini kepada sunah-sunnah terjadi melainkan hanya pada orang yang
Rasulullah  yang shahih, ternyata tidak lemah imannya, sedikit pengetahuan
kami tidak dapatkan satupun hadits yang agamanya, dan banyak noda-noda hitam
menyebutkan bahwa beliau pernah dalam hatinya karena banyak berbuat
melakukannya. Belaiu tidak pernah dosa dan maksiat.

42 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Aktual
Beberapa Syubhat Dan Meskipun demikian, para sahabat
Dalih Pelaksana Peringatan Nabi  tidak menjadikan hari kelahiran
Maulid beliau sebagai hari ulang tahun yang
dirayakan atau diperingati. Kalaulah hal
1. Mereka menyangka bahwa
itu disyariatkan, niscaya mereka tidak
perayaan/peringatan maulid Nabi 
akan meninggalkannya. Karena mereka
merupakan salah satu bentuk
adalah orang yang lebih cinta, lebih
penghormatan dan pengagungan
menghormati dan lebih mengagungkan-
kepada beliau .
nya dibanding kita. Mereka lebih
Sanggahan: bersemangat dalam kebaikan, ittiba’
(mengikuti), taat dan menghidupkan
Sesungguhnya penghormatan dan
sunah-sunah beliau secara lahir dan
pengagungan kepada Nabi  hanyalah
batin.
dengan cara mentaatinya, menjalankan
perintah-perintahnya,dan menjahui 2. Mereka berdalih bahwa perayaan
segala larangannya. Tidak boleh maulid Nabi  telah dilakukan dan
dilakukan dengan cara yang bid‘ah, diterima oleh banyak orang di berbagai
khurafat, dan maksiat, bahkan terkadang negara.
sampai tingkat kesyirikan —Na udzubillah
Sanggahan:
min dzalik—.
Jika berhujjah, hendaknya dengan
Orang yang paling menghormati dan
nash (dalil) baik dari Al-Qur’an maupun
mengagungkan Nabi  adalah para
Sunnah yang shahih, demikian pula
sahabat beliau. Hal ini sebagaimana
dengan sesuatu yang telah disepakati
hadits Urwah bin Mas‘ud (seorang
para ulama sebagai hujjah, seperti ijma’
musyrik) tatkala diutus menjadi duta
dan qiyas yang sahih. Suatu amalan
kaum Quraisy untuk menemui Rasulullah
sekalipun banyak orang yang
 . Setelah pulang dari menemui
melakukannya jika menyelisihi dalil yang
Rasulullah , dia kembali dan berkata
shahih, tidaklah bisa dijadikan hujjah.
kepada orang-orang Quraisy, “Wahai
Hal ini sebagaimana firman Allah ,
kaumku, demi Allah, kalian pernah
mengutusku sebagai duta kepada Kisra,
raja Rawawi, kepada Qaishar raja Persia
dan raja-raja yang lainnya; maka
sungguh saya tidak pernah melihat
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang
seorang raja pun yang dihormati dan
yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka
diagungkan oleh para sahabatnya
akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
sebagaimana sahabat Muhammad
(Q.S. Al-An‘am:116).
mengagungkan Muhammad. Demi Allah,
mereka tidak berani mengangkat Orang yang berdalih dengan dalih
pandangan mereka kepadanya demi pada poin 2 menunjukkan betapa
penghormatan dan pengagungan bodohnya orang tersebut. Dia beralasan
kepadanya”. bahwa umat ini ma’shum (terjaga) dari

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 43


42
Aktual

kesesatan dalam bersepakat. Apa


konsekuensi dari perkataan ini?
Konsekuensinya adalah bahwa umat ini
telah ber-ijma’ dalam kesesatan.
Menganggap baik suatu bid’ah karena
telah dilakukan oleh banyak orang
tidaklah terjadi melainkan hanya pada
orang-orang yang menghukumi sesuatu
tanpa didasari ilmu. Mereka menyangka
bahwa kebiasaan merupakan suatu
kesepakatan, padahal tidaklah demikian.
3. Perayaan atau peringatan maulid
Nabi  merupakan salah satu sarana
untuk menghidupkan penyebutan nama
Nabi .
Sanggahan:
Menghidupkan penyebutan nama Dalam masalah bid’ah dalam agama
Nabi  haruslah berdasarkan syariat. Hal tidak dikenal istilah bid’ah hasanah,
ini sebagaimana yang Allah perintahkan berdasarkan hadits:
dengan firmannya,
“Barangsiapa yang mengada-adakan sebuah
“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan perkara (amalan) yang tidak ada dalam
(nama)mu.” (Q.S. Al-Insyirah: 4) urusan agama kami maka amalan tersebut
tertolak tidak diterima” (H.R. Bukhari
Maksudnya adalah nama beliau ikut Muslim)
disebut bersama dengan nama Allah,
seperti dalam adzan, iqamah, khutbah, Begitu pula sabda belaiu :
shalat, tasyahhud, pembacaan hadits,
dan yang semisalnya. Hal seperti ini “Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (H.R.
merupakan perkara yang diulang-ulang Muslim)
dalam setiap harinya, bukan hanya sekali
dalam tahun ketika memperingati maulid Selain itu, mengapa rasa syukur
Nabi  yang tidak ada dasarnya. tersebut baru dilaksanakan pada akhir
abad ke-6, dan tidak dilakukan oleh
4. Perayaan maulid Nabi  termasuk generasi awal yang lebih utama seperti
bid’ah yang hasanah karena dilaksanakan para Sahabat, Tabi‘in, Tabi‘ut Tabi‘in dan
sebagai rasa syukur kepada Allah atas para imam kaum muslimin? Apakah
keberadaan Nabi  yang mulia. orang-orang itu menyangka diri mereka
Sanggahan: lebih mendapat petunjuk daripada

44 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Aktual
generasi awal tersebut? Tentu saja tidak,
sungguh sangat jauh bila mereka Sanggahan:
dibandingkan dengan generasi awal Jika yang dimaksud itu mengurangi
tersebut. Generasi tersebut lebih keyakinan orang yang meninggalkan
bersemangat terhadap kebaikan dan perayaan tersebut, maka sungguh itu
lebih banyak bersyukur kepada Allah. merupakan kedustaan yang besar. Dan
5. Perayaan maulid Nabi  itu didasari apabila yang dimaksud adalah hak-hak
oleh rasa cinta kepada beliau, sedangkan Nabi  secara syariat, maka tempat
mencintai beliau disyariatkan. kembalinya adalah Al-Kitab dan As-
Sunnah yang shahih serta tiga generasi
Sanggahan: awal yang telah dipersaksikan
Tidak diragukan lagi bahwa mencintai keutamaannya. Dan tidak ada perintah
Nabi  merupakan suatu kewajiban bagi memperingati maulid nabi dalam Kitab
setiap muslim, bahkan rasa cinta kepada dan Sunnah serta tidak ada contoh
beliau harus melebihi rasa cinta kita pelaksanaannya dari mereka. Karena kita
kepada ayah, anak, dan kepada semua beragama dengan dalil yang shahih dan
manusia. Beliau bersabda, pemahaman yang benar bukan dengan
akal dan mengenyampingkan dalil.
7. Yang mengadakan pertama kali
perayaan atau peringatan maulid Nabi
seorang yang adil dan berilmu dengan
“Tidak sempurna keimanan seseorang dari
tujuan untuk mendekatkan diri kepada
kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada
Allah.
ayah, anak, dan semua manusia.” (H.R.
Bukhari) Sanggahan:
Akan tetapi, kewajiban mencintai Bahkan itulah hakekat bid’ah di dalam
beliau  tidak berarti lantas boleh agama, dan bid’ah tidak bisa diterima dari
diungkapkan lewat amalan-amalan yang siapapun. Kebaikan niat seseorang itu
tidak beliau syariatkan, seperti maulid tidak bisa merubah sebuah amal yang
Nabi . Bahkan cinta kepada Nabi itu jelek menjadi baik, seperti hendak
mengharuskan taat kepada Nabi, bershadaqah tetapi dengan mencuri
mengikuti dan menghidupkan sunah- harta orang lain. Karena ibadah itu akan
sunahnya serta menjauhi dan diterima di sisi Allah dengan dua syarat,
meninggalkan semua larangannya baik yaitu ikhlas, mengharap wajah Allah dan
dalam perkataan maupun perbuatan. Ini mutaba’ah (sesuai dan mencocoki)
merupakan bukti cinta yang paling besar sunnah Rasulullah. Adapun orang yang
terhadap beliau. alim atau adil tidak terjaga dari
kesalahan.
6. Meninggalkan perayaan
(peringatan) maulid Nabi  akan Ibnu Majisun berkata, “Saya
mengurangi hak Nabi . mendengar Imam Malik berkata,
‘Barangsiapa membuat suatu bid’ah

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 45


44
Aktual
dalam Islam lantas dia menganggap sebuah kebaikan bertaubat. Begitu juga
bid’ah tersebut suatu kebaikan, maka dengan bentuk bid’ah yang lainnya. Maka
sungguh dia telah menyangka bahwa demikianlah perkara kaum mukminin
Nabi Muhammad  telah mengkhianati yang mencari kebenaran dan berpegang
risalah, karena Allah berfirman, teguh dengannya. Adapun orang yang
ingkar dan berbuat kesombongan setelah
mengetahui hujjahnya, maka hisabnya
di sisi Allah. Wallahu A’lam bish-Shawaab.
Daftar Pustaka:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi
kalian agama kalian dan telah Aku 1. Hukmul Ihtifal bidzikril Muladin Nabawi
sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku oleh Syaikh Shalih Fauzan; Hukmul
ridhai Islam menjadi agama kalian.” (Q.S. Ihtifal bil Muladin Nabawi oleh Syaikh
Al-Maidah: 3) Abdul Aziz binn Abdullah bin Baz;
Hukmul Ihtifal bidzikril Muladin wa ar-
Jadi, apa yang pada hari itu bukan
Raddu ‘ala Man Ajaazahu dan Mulhaq-
termasuk agama, maka pada pada hari
nya oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim
ini pun bukan termasuk agama.” 5
Alu Syaikh; dan Al-Muurad fie Hukmil
Ringkasnya, perayaan (peringatan) Mulad oleh Syaikh Imam Abu Hafsh
maulid Nabi  dengan segala modelnya Taajuddin al-Fakihani (risalah dari
adalah bid’ah yang mungkar. Wajib bagi internet).
kaum muslimin untuk menjahui dan
2. Ar-Rahiqul Mahtum karya Syiakh
meninggalkannya serta memperingatkan
Shafiyyurrahman Mubarokfuri terbitan
saudaranya tentangnya. Dan hendaknya
Dar As-Salam – Riyadh Cetakan tahun
mereka menyibukkan diri dengan
1414 H
sunnah-sunnah Rasulullah  dan
bepegang teguh dengannya. Jangan 3. As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah
terpengaruh dan tertipu dengan para karya Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari
penyeru bid’ah, yang lebih komitmen terbitan Maktabah al-‘Abikan cetakan ke
dalam menghidupkan bid’ah bahkan –3
terkadang tidak memahami sunnah sama
4. Minhaj Firqotun Najiyyah wa at-
sekali.
Thaifatul Manshurah karya Muhammad
Hendaklah mereka beramal dengan bin Jamil Zainu
ikhlash (bertauhid) dan mencontoh
5. Ilmu Ushul Bida’ karya Ali Hasan Abdul
Rasulullah dalam prakteknya. Hendaknya
Hamid terbitan Dar Ar-Rayah cetakan
siapa saja yang melakukan maulid itu
ke –2 tahun 1417 H
atau yang menganggapnya sebagai
Disarikan dan diterjemahkan oleh Tim Redaksi

5
Ilmu Ushul Bida’ karya Ali Hasan Abdul Hamid hal 20

46 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Akhlaq

Mahabbatullah (cinta kepada Allah) mengikuti kecintaan kepada-Nya.


merupakan maqam dan tingkatan Kewajiban mencintai Allah  telah
tertinggi yang hendak digapai seorang disebutkan oleh seluruh kitab yang Dia
hamba di sisi rabnya. Tidak ada suatu turunkan demikian pula yang diserukan
kedudukan pun setelahnya, melainkan oleh seluruh rasul yang Dia utus.
dia merupakan buah dari rasa cinta atau Kewajiban ini telah ditunjukkan pula oleh
yang mengikutinya, seperti rasa rindu, fitrah dan akal yang Dia ciptakan dan
rasa dekat, dan ridha. Begitu pula, tidak letakkan pada diri manusia. Begitu pula
ada suatu keadaan pun sebelum rasa telah ditunjukkan oleh segala kenikmatan
cinta itu tergapai, melainkan ia yang telah Dia limpahkan kepada
merupakan permulaannya, seperti mereka. Karena hati telah dicipta untuk
taubat, sabar, zuhud, dan yang lainnya. mencintai siapa saja yang telah
Rasa cinta yang paling bermanfaat, memberikan kenikmatan dan berbuat
paling wajib, paling tinggi, dan paling baik kepadanya, maka tentulah hati akan
agung secara mutlak adalah rasa cinta cinta kepada zat yang hanya dari-Nyalah
kepada Allah , dimana hati diciptakan bersumber seluruh kenikmatan dan
fitrahnya adalah untuk mencintai Allah . perbuatan baik, sebagaimana firman-
Sebagaimana diciptakan-Nya makhluk Nya:
adalah untuk menyembah-Nya. Allah-lah
Tuhan yang disembah oleh hati sepenuh
rasa cinta, pengagungan, pemuliaan,
ketundukan, kerendahan diri, dan
peribadatan. Ibadah tidaklah dibenarkan “Dan nikmat apa saja yang ada pada kamu,
kecuali dikerjakan semata-mata hanya maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila
untuk-Nya  karena ibadah adalah rasa kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka
cinta yang sempurna disertai sikap tunduk hanya kepada Dia-lah kamu meminta
dan perendahan diri secara sempurna. pertolongan.” (Q.S. An-Nahl:53)

Allah  dicintai dari segala sisi, Kewajiban ini ditunjukkan pula oleh
sedangkan yang selain Allah dicintai nama-nama atau sifat-sifat-Nya yang

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 47


46
yang mulia, yang dengannya Dia
memperkenalkan diri-Nya. Demikian pula
yang ditampakkan oleh kesempurnaan
dan keagungan-Nya pada hasil ciptaan-
Nya. Allah  berfirman, “Tidak beriman seorang hamba hingga aku
lebih dia cintai daripada keluarga, harta, dan
manusia seluruhnya.”1
Pada kesempatan lain, beliau berkata
menjawab perkataan Umar bin Khatab
,

“Di antara manusia ada orang-orang yang


menyembah tandingan-tandingan selain “Tidak, hingga aku lebih engkau cintai
Allah. Mereka mencintainya sebagaimana daripada dirimu sendiri.”2
mereka mencintai Allah. Adapun orang- Artinya, engkau tidak beriman hingga
orang yang beriman, mereka sangat cinta kecintaanmu sampai pada batasan
kepada Allah.” (Q.S. Al-Baqarah:165) tersebut.
Jika diri Nabi  lebih utama untuk kita
cintai daripada diri kita dalam
menjalankan segala sesuatu yang
menjadi kelaziman cinta, maka tentulah
Allah  lebih utama untuk dicintai dan
diibadahi daripada diri kita sendiri.
Perasaan cinta kepada Allah 
merupakan sumber kehidupan bagi hati
“Hai orang-orang yang beriman, dan merupakan makanan bagi ruh. Hati
barangsiapa di antara kalian yang murtad tidak akan merasakan kelezatan, hidup,
dari agamanya, maka kelak Allah akan dan kejayaan melainkan dengan cinta
mendatangkan suatu kaum yang Allah tersebut. Jika hati kehilangan rasa cinta
mencintai mereka dan mereka pun mencintai- kepada Allah, maka kepedihannya akan
Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap lebih terasa daripada pedihnya mata
orang-orang beriman dan bersikap keras tatkala kehilangan cahayanya dan
terhadap orang-orang kafir, yang berjihad pedihnya telinga tatkala hilang
di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada pendengarannya. Bahkan, kerusakan hati
celaan orang yang suka mencela.” (Q.S. Al- jika telah kosong dari rasa cinta kepada
Maidah:54) pencipta dan tuhannya yang hak, adalah
Dalam sebuah hadits yang lebih parah daripada kerusakan badan
diriwayatkan dari Anas  , setelah tatkala ruh terlepas dari jasadnya. Perkara
bersumpah Nabi  bersabda, yang seperti ini tidak ada yang

1
H.R. Bukhari dalam Kitabu l-Iman (I/54), dan Muslim dalam Kitabu l-Iman (II/15).
2
H.R. Bukhari, Kitabu l-Iman wa n-Nudzur (XI/523).

48 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


mempercayainya kecuali oleh orang yang Menjalankan segala perintah dan
pada dirinya masih ada tanda kehidupan, mematuhi segala larangannya, dan diikuti
karena orang yang sudah mati tidak lagi dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah)
dapat merasakan sakit pada lukanya. yang lain. Dengan itu semua, rasa cinta
Fath al-Mushily berkata, “Orang yang yang murni kepada Allah akan timbul.
telah jatuh cinta (kepada Allah ) akan Seorang hamba tidak akan sampai
merasa dunia ini tidak lagi memiliki kepada derajat ini, kecuali dengan pikiran
kelezatan, dan sekejap pun ia tidak (akan yang bersih, mempelajari dan merenungi
mau) lalai dari mengingat Allah .” ayat-ayat-Nya, selalu mengingat Allah,
dan bersungguh-sungguh memohon
Sebab-Sebab yang Mendatangkan kepada-Nya agar melimpahkan rasa cinta
Mahabbah kepada-Nya . Dengan begitu dia akan
Orang yang paling berbahagia dan merasakan lezatnya iman sebagaimana
paling baik keadaannya di akhirat kelak sabda Nabi  dalam sebuah hadits dari
adalah orang paling kuat cintanya kepada Anas :
Allah , karena di akhirat itulah dia akan
bertemu dengan Tuhan-nya  dan
mendapatkan kebahagiaan dengan
pertemuan itu.
Dasar-dasar cinta tidak akan terlepas
dari diri seorang yang beriman. Hanya
saja kekuatan dan pengaruhnya berbeda-
beda antara yang satu dengan yang lain.
Berikut ini sebab-sebab yang
menguatkan rasa cinta kepada Allah .
 Memutuskan keterikatan kepada “Ada tiga perkara yang jika terdapat di
dunia dan mengeluarkan dari hati dalam diri seorang hamba, maka dia akan
perasaan cinta kepada selain Allah . memperoleh rasa manis keimanan, yaitu (1)
Salah satu sebab lemahnya rasa cinta jika Allah , dan Rasul-Nya lebih dia cintai
kepada Allah adalah kuatnya rasa cinta daripada selain keduanya, (2) jika dia
kepada dunia. Akhirat dan dunia mencintai orang lain maka dia tidak
merupakan dua hal yang saling mencintainya kecuali karena Allah, (3) dan
berlawanan, dan jalan untuk menjauhkan jika dia tidak suka kembali kepada kekafiran
hati dari dunia adalah dengan hidup setelah Allah menyelamatkannya dari
sederhana (zuhud) di dunia, diiringi kekafiran itu, sebagaimana dia tidak suka
dengan sikap sabar, rasa takut, dicampakkan ke dalam Neraka.3
pengharapan, dan rasa syukur kepada-  Banyak berzikir kepada Allah  ,
Nya . karena dengan banyak berzikir kepada
 Mengenal Allah  -dengan mengenal Allah akan menjadikan hati selalu terpaut
Rububiah, Uluhiah, Asma’ dan Sifat-Nya. kepada-Nya dan senantiasa mengingat-

3
H.R. Bukhari dalam Kitabu l-Iman (no. 15), dan Muslim dalam Kitabu l-Iman (no. 60).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 49


48
Nya -ingat akan kebesaran dan
keagungan-Nya-, sehingga secara
otomatis akan timbul rasa cinta kepada-
Nya.
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu
Tanda-tanda rasa cinta seorang (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
hamba kepada Allah  niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
Setiap hamba mengaku cinta kepada dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi
Allah , hanya saja terkadang sebuah Maha Penyayang.” (Q.S. Ali Imran:31)
pengakuan terlalu gampang dikeluarkan.  Bersikap lemah lembut terhadap
Seorang hamba tidak sepatutnya sesama saudaranya kaum muslimin, dan
terpedaya oleh tipuan syaithan dan bersikap keras terhadap musuh-
tipuan dirinya sendiri ketika mengaku musuhnya, sebagaimana firman Allah :
cinta kepada Allah sebelum dia menguji
rasa cintanya itu dengan tanda-tandanya.
Di antara tanda-tanda cinta seorang “Mereka keras terhadap orang-orang kafir,
hamba kepada Allah adalah sebagai tetapi berkasih sayang terhadap sesama
berikut. mereka.” (Q.S. Al-Fath:29)
 Sangat berharap bertemu dengan Begitu pula, tidak merasa gentar
Allah  di surga, karena tidak terhadap celaan para pencela.
terbayangkan ada hati yang mengaku Inilah di antara tanda-tanda rasa cinta
mencintai sesuatu tetapi tidak berharap kepada Allah . Barangsiapa yang pada
untuk bertemu dan berjumpa muka dirinya terhimpun sifat-sifat tersebut,
dengannya. Jadi, seorang hamba yang maka sempurnalah rasa cintanya, dan
hatinya penuh dengan rasa cinta kepada barangsiapa tercampur rasa cintanya
Allah pastilah berharap untuk bisa dengan yang lain, maka dia akan
bertemu dengan-Nya . mendapatkan balasan berdasarkan besar
 Selalu mendahulukan, baik secara kecil mahabbahnya kepada Allah .
lahir maupun batin, apa yang dicintai
Allah  daripada apa yang dia cintai, Macam-Macam Mahabbatullah
sehingga dia menjauhi hawa nafsu dan Yang menjadi dasar dan ruh dari
senantiasa menjalan ketaatan kepada tauhid adalah memurnikan cinta
Allah  dan mendekatkan diri kepada- (mahabbah) hanya untuk Allah 
Nya dengan ibadah-ibadah nafilah. Orang semata, karena ini merupakan landasan
yang mencintai Allah  tentunya tidak dan hakekat ibadah. Oleh sebab itu, tidak
akan mendurhaki-Nya. sempurna tauhid seseorang sebelum dia
 Selalu ingat kepada Allah, cinta menyempurnakan rasa cintanya kepada
kepada Al-Qur’an yang merupakan kalam Allah .
Allah, serta cinta kepada Rasulullah . Mahabbah kepada Allah ada empat
Sebagaimana firman-Nya : jenis.

50 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


1. Cinta kepada Allah . Cinta jenis “Adapun orang-orang yang beriman sangat
ini merupakan dasar keimanan dan cinta kepada Allah.” (Q.S. Al-Baqarah:165)
tauhid, yaitu seorang hamba
merendahkan diri di hadapan Allah Referensi :
dan mengagungkan-Nya. Hal ini akan 1. Tazkiyatu n-Nufus, karya Dr. Ahmad
mendorongnya untuk menjalankan Farid, terbitan Dar Al-Qalam, Beirut,
segala perintah-Nya dan mematuhi Libanon.
segala larangan-Nya. 2. Mukhtashar Minhaju l-Qashidin, karya
2. Cinta karena Allah . Seseorang Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy,
mencintai sesuatu karena Allah , terbitan Maktabah Dar Al-Bayan,
seperti cinta kepada para rasul, cinta Damsyiq, Suria.
kepada orang-orang yang beriman, 3. Al-Qaulu l-Mufid ‘ala Kitabi t-Tauhid,
cinta kepada amal saleh, dan lain-lain. karya Syaikh Muhammad Ibnu Shalih
3. Cinta bersama Allah . Ini adalah Al-Utsaimin, cetakan pertama, tahun
cinta orang-orang musyrik kepada 1415 H, terbitan Dar Al-Ashimah,
sesembahan mereka, baik berupa Riyadh, KSA.
pohon, batu-batuan, berhala, Disarikan dan diterjemahkan oleh Tim
manusia, malaikat, ataupun yang Redaksi
lainnya. Cinta jenis ini merupakan
dasar dan asas kesyirikan.
4. Cinta sebagai tabiat, seperti
senang kepada makanan, minuman,
rumah, pakaian, dan lain-lain. Ini
semua jika yang menjadi sasarannya
adalah sesuatu yang mubah
(diperbolehkan), dan jika justru dapat
menolong dalam melaksanakan
ketaatan kepada Allah  , maka
berubah menjadi ibadah. Bila
sebaliknya, maka masuk ke dalam
hal-hal yang terlarang.
Inilah yang bisa kami sampaikan pada
kesempatan kali ini. Semoga Allah yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
melimpahkan kepada kita semua rasa
mahabbah yang sejati kepada-Nya, dan
menjadikan kita termasuk di antara
hamba-hamba-Nya yang Dia cintai.

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 51


50
Firaq

Bagian Kedua

Karena begitu banyak yang mesti dibicarakan dan dikupas dari ajaran ini, maka
kami akan jadikan pembahasan ini beberapa bagian. pembahasan kali ini
menyambung pembahasan yang telah lalu, setelah membicarakan hakikat sufiah,
asal usul serta beberapa ajarannya yang menyelisihi al-Quran dan as-Sunnah,
kita fokuskan dengan mengupas penyimpangan-penyimpangan yang lain.

14. Shufiyyah memiliki banyak sekte/


golongan dan thariqat, seperti Tijaniyyah,
‘Ini adalah jalan Allah yang lurus.’
Qodiriyyah, Naqsyabandiyyah, Syadziliy-
yah, Rifa’iyyah, dan yang lainnya.1 Setiap Lalu beliau  membuat garis-garis yang
sekte mengaku berada di atas kebenaran banyak di kanan kiri garis (lurus) tadi,
dan yang di luar mereka dianggap berada kemudian berkata,
di atas kebatilan, padahal Islam telah
melarang perpecahan. Allah  berfirman,

‘Ini adalah jalan-jalan lain (selain jalan Allah).


Tidak ada satu jalan pun melainkan ada
syaitan yang menyeru (manusia) kepadanya.’
Kemudian beliau  membaca ayat:
“Dan janganlah kamu termasuk orang-
orang yang mempersekutukan Allah, yaitu
orang-orang yang memecah belah agama
mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan. Tiap-tiap golongan bangga
dengan apa yang ada pada golongan
mereka.” (Q.S. Ar-Rum:31-32). “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini
Islam hanya memiliki satu golongan dan adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia;
satu jalan sebagaimana tersebut dalam dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu (yang lain), karena jalan-jalan itu akan
Mas’ud . Dia berkata, “Rasulullah  menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang
pernah membuat satu garis (lurus) demikian itu diperintahkan Allah kepadamu
dengan tangannya, dan berkata, agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-An‘am:153).”2

1
Tarekat-tarekat ini akan dibicarakan lebih lanjut pada edisi mendatang, insya Allah.
2
Hadits shahih riwayat Imam Ahmad dan an-Nasa’i.

52 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Firaq
15. Shufiyyah menyeru manusia untuk 17. Shufiyyah menghalalkan tarian,
zuhud3 dalam kehidupan dunia, dengan (menabuh) rebana, dan meninggikan suara
meninggalkan asbab (sebab-sebab4), ketika berzikir, padahal Allah  berfirman,
demikian pula jihad, padahal Allah 
berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman


itu adalah mereka yang apabila disebut nama
“Dan carilah pada apa yang telah Allah gemetarlah hati mereka.” (Q.S. Al-
dianugerahkan Allah kepadamu Anfal:3).
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
Mereka juga berzikir dengan menyebut
kamu melupakan bahagianmu dari
lafal ( ) sampai kepada hanya
(kenikmatan) dunia.” (Q.S. Al-Qashash:77)
menyebut ( ) saja, padahal
Allah  juga berfirman, Rasulullah  bersabda,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka “Sebaik-baik zikir adalah ucapan Laa ilaaha
(orang-orang kafir) kekuatan apa saja yang illallah.”5
kamu sanggupi.” (Q.S. Al-Anfaal:60).
Kemudian, meninggikan suara ketika
16. Shufiyyah memberikan derajat ihsan berzikir dan berdoa merupakan perkara
kepada guru-guru mereka, dengan yang dilarang oleh Allah  sebagaimana
menuntut para pengikutnya agar dalam firman-Nya,
membayangkan gurunya ketika berzikir
kepada Allah, bahkan ketika dalam
keadaan shalat; dengan cara meletakkan
foto Syaikh (Tuan Guru) di hadapan
mereka. Padahal, Rasulullah  ketika “Berdoalah kepada Allah dengan berendah diri
ditanya tentang ihsan beliau bersabda, dan dengan suara yang lembut. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.” (Q.S. Al-A’raf:55).
[Maksud kalimat “Tidak menyukai orang-
“Engkau beribadah kepada Allah seakan- orang yang melampaui batas” yakni karena
akan engkau melihat-Nya. Sekalipun engkau mereka berdoa dengan berteriak
tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya (menjerit) dan meninggikan suara (Tafsir
Allah melihat engkau.” (H.R. Muslim). Jalalain)].

3
Zuhud menurut persepsi mereka, bukan zuhud yang sesuai dengan syariat Islam.
4
Hal-hal yang dapat mengantarkan kepada tujuan.
5
Hadits hasan riwayat Tirmidzi (hadits no. 3305) dan Ibnu Majah (hadits no. 3790).

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 53


52
Firaq
Ketika mendengar sebagian sahabatnya dibangun dengan tujuan agar nama Allah
meninggikan suara (ketika berdoa),  disebut-sebut, bukan untuk menyebut-
Rasulullah  berkata, nyebut nama-nama khamar yang
diharamkan. Allah  berfirman,

“Hai manusia, sayangilah diri kalian karena


sesungguhnya kalian tidaklah berdoa kepada “Hai orang-orang yang beriman,
zat yang tuli tidak pula kepada zat yang tiada. sesungguhnya (meminum) khamar (arak),
Sesungguhnya kalian berdoa kepada Zat berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan
yang Maha Mendengar lagi Mahadekat, dan mengundi nasib dengan panah adalah
Dia bersama kalian.” (H.R. Muslim). perbuatan keji dari perbuatan syaitan. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan tersebut agar
[Maksud kalimat “Dia bersama kalian”
kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-
yakni dengan pendengaran dan ilmu-
Maidah:90).
Nya, Dia (Allah)  mendengar dan
melihat kita]. 19. Shufiyyah melantunkan syair-syair
rayuan dan cumbuan kepada wanita dan
18. Shufiyyah biasa menyebut-nyebut kata
anak-anak dalam majelis zikir mereka.
khamar dan mabuk (baik dalam majelis
Mereka menyebut-nyebut cinta, maulid,
mereka maupun di luar majelis, -Red.).
nafsu, Laila, Su’ad, dan yang lainnya
Ibnu al-Faridh, salah seorang penyair seakan-akan mereka berada dalam
shufi, bersenandung, kelompok musik yang diiringi tarian.
Mereka menyebut nama khamer sambil
“Kami minum mudamah (arak) di saat
bertepuk tangan dan berteriak, padahal
berzikir kepada al-Habib (Allah)
bertepuk tangan itu merupaka adat
Kami sudah bermabuk-mabukan kebiasaan dan ibadah kaum musyrikin.
dengannya sebelum anggur Allah  berfirman,
diciptakan.”
Di antara mereka ada yang melantunkan
syair berikut di dalam masjid:
“Beri kami gelas Raah (arak)! “Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu,
tidak lain hanyalah siulan dan tepukan
Dan tuangkan (arak itu) ke dalam tangan (belaka).” (Q.S. Al-Anfal:35).
gelas-gelas kami!”
20. Shufiyyah menggunakan rebana –
Lihatlah, betapa tidak malunya mereka yang mereka sebut mizhar- dalam zikir
menyebut nama-nama khamar (minuman mereka, padahal ia termasuk seruling
keras) di rumah Allah (masjid), yang syaitan.

54 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Firaq
Abu Bakar  suatu ketika mendatangi “Barangsiapa yang berpaling dari
‘Aisyah, putrinya. Dia mendapati di rumah pengajaran –Allah- Yang Maha Pemurah (Al-
‘Aisyah dua anak perempuan sedang Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang
menabuh rebana, maka Abu Bakar  menyesatkan) Maka syaitan itulah yang
berkata, “Ini seruling syaitan, ini seruling menjadi teman yang selalu menyertainya.”
syaitan.” Tetapi Rasulullah  berkata, (Q.S. Az-Zukhruf:36).
“Biarkan mereka berdua, wahaiAbu Bakar, karena
Namun herannya sebagian orang-orang
mereka berdua sedang berada di hari raya.”6
yang jahil menyangka bahwa perbuatan
Dalam hadits di atas Rasulullah  setuju seperti itu termasuk karamah (kemuliaan
dengan apa yang dikatakan Abu Bakar dari Allah), padahal bisa jadi yang
 (bahwa rebana termasuk seruling melakukan perbuatan tersebut adalah
syaitan), dan beliau  mengabarkan seorang fasik dan tidak shalat. Maka
kepadanya bahwa hari itu adalah hari bagaimana mungkin dengan keadaannya
raya, dan dibolehkan bagi bagi anak-anak yang seperti itu kita menganggap
perempuan menabuh rebana. Meskipun perbuatannya sebagai karamah?!
demikian, tidak ada di antara para Demikian pula mereka ber-istighasah
sahabat dan tabiin yang menggunakan kepada selain Allah dengan berkata
rebana dalam zikir mereka. Bahkan, itu (memanggil arwah nenek moyang
merupakan salah satu kebidahan kaum mereka), “Wahai nenek moyang.” Ini jelas
Shufiyyah yang telah diperingatkan oleh merupakan kesyirikan dan kesesatan
Rasulullah  dengan sabdanya, yang telah dikatakan oleh Allah ,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang “Dan siapakah yang lebih sesat daripada
tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) orang yang menyembah sembahan-
kami, maka amalan itu tertolak.” (H.R. sembahan selain Allah?” (Q.S. Al-Ahqaf:5).
Muslim).
Selain itu, hal ini merupakan istidraj
21. Sebagian Shufiyyah memukul-mukul (penguluran) bagi pelakunya agar
badannya sendiri dengan pisau besar senantiasa dalam kesesatan setelah dia
yang terbuat dari besi sambil berkata memilih jalan tersebut. Sebagaimana hal itu
(memanggil arwah nenek moyang telah Allah  isyaratkan dalam firman-Nya,
mereka), “Wahai nenek moyangku.”
Maka para syaitan pun datang membantu
perbuatannya tersebut karena dia telah
ber-istighasah kepada selain Allah. Hal ini
sebagaimana yang Allah  firmankan, “Katakanlah (Muhammad), ‘Barangsiapa
yang berada di dalam kesesatan, maka
biarlah –Allah- Yang Maha Pemurah
memperpanjang tempo baginya (dalam
kesesatan tersebut).’” (Q.S. Maryam:75).
6
H.R. Bukhari dengan lafal yang berbeda-beda.

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 55


54
Firaq
22. Shufiyyah mengadakan acara-acara
peringatan maulid Nabi  dan kumpul-
kumpul dengan label majelis shalawat.
Padahal justru (acara-acara) mereka
tersebut menyelisihi ajaran-ajaran Nabi “Tiada ketaatan kepada seorang pun dalam
 . Terlebih lagi ketika mereka hal kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya
meninggikan suara mereka dalam ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik
berzikir, (melantunkan) bait-bait dan (menurut syariat).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
syair-syair yang jelas-jelas mengandung 24. Orang-orang Shufi tidak berpedoman
kesyirikan. Di antaranya mereka kepada bacaan shalawat yang diajarkan
mengatakan, Rasulullah . Mereka membuat bacaan-
Bantulah (kami), wahai sang pemilik bacaan shalawat yang di dalamnya
kedudukan tinggi7, banyak terkandung kesyirikan yang nyata
yang tidak diridhai oleh (Rasulullah ).
Wahai pemberi cahaya alam semesta,
Telah tersebut dalam kitab Afdhalush
bantulah (kami)
Shalawat karya Syaikh Lubnani –seorang
Wahai Rasulullah, lepaskanlah Shufi- perkataan (bacaan shalawat)
kesusahan kami, berikut,
tidaklah kesusahan itu melihatmu,
melainkan dia akan pergi
Padahal agama Islam jelas-jelas
mewajibkan kepada kita untuk meyakini “Ya Allah, curahkan shalawat kepada
bahwa pemberi cahaya alam semesta Muhammad sampai Engkau tetapkan
dan yang bisa melepaskan kesusahan untuknya keesaan dan pengaturan terhadap
hanyalah Allah  semata. makhluk (yang terus menerus).”

23. Shufiyyah sangat fanatik terhadap Padahal ( dan ) termasuk


guru-guru mereka sekalipun guru-guru diantara nama-nama dan sifat-sifat Allah.
mereka itu menyelisihi perkataan Allah Demikian pula dalam kitab Dalailul
dan Rasul-Nya. Allah  telah berfirman, Khairat banyak terdapat bacaan-bacaan
shalawat mungkar yang tidak diridhai
oleh Allah dan Rasul-Nya.8
Demikianlah, beberapa ajaran Shufiyyah
yang menyimpang bila ditinjau menurut
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kacamata Islam. Dan di sana masih
kamu mendahului (berbuat lancing terhadap)
banyak lagi ajaran-ajaran mereka yang
Allah dan Rasul-Nya.” (Q.S. Al-Hujurat:1)
menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah yang
Dan Rasulullah  bersabda, tidak dapat dimuat dalam tulisan kecil ini.

7
Maksud mereka: Rasulullah .
8
Dinukil dari risalah Shufiyyah karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu (hal. 6-22) dengan perubahan.

56 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Profil
1

Dinukil dan diterjemahkan oleh Tim Redaksi

Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang
faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin
orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan
salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab.2
NasabdanKelahirannya Ali mendoakan keberkahan kepadanya
Beliau adalah Abu Hanifah An- pada dirinya dan keluarganya,
Nu’man bin Tsabit bin Zuthi (ada yang sedangkan dia pada waktu itu masih
mengatakan Zutha) At-Taimi Al-Kufi kecil, dan kami berharap Allah swt
maula bani Taimillah bin Tsa’labah. mengabulkan doa Ali tersebut untuk
Beliau berasal dari keturunan bangsa kami.5 Dan Abu Hanifah At-Taimi biasa
persi.3 ikut rombongan pedagang minyak dan
kain sutera, bahkan dia punya toko
Beliau dilahirkan pada tahun 80 H
untuk berdagang kain yang berada di
pada masa shigharus shahabah dan
rumah Amr bin Harits.6
para ulama berselisih pendapat tentang
tempat kelahiran Abu Hanifah, menurut Abu Hanifah itu tinggi badannya
penuturan anaknya Hamad bin Abu sedang, memiliki postur tubuh yang
Hadifah bahwa Zuthi berasal dari kota bagus, jelas dalam berbicara, suaranya
Kabul dan dia terlahir dalam keadaan bagus dan enak didengar, bagus
Islam. Adapula yang mengatakan dari wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu
Anbar, yang lainnya mengatakan dari memakai minyak wangi, bagus dalam
Turmudz dan yang lainnya lagi bermajelis, sangat kasih saying, bagus
mengatakan dari Babilonia.4 dalam pergaulan bersama rekan-
rekannya, disegani dan tidak
Perkembangannya membicarakan hal-hal yang tidak
berguna.7
Ismail bin Hamad bin Abu Hanifah
cucunya menuturkan bahwa dahulu Beliau disibukkan dengan mencari
Tsabit ayah Abu Hanifah pergi atsar/hadits dan juga melakukan rihlah
mengunjungi Ali Bin Abi Thalib, lantas untuk mencari hal itu. Dan beliau ahli

1
Diringkas dan diterjemahkan dari kitab Tarikhul Baghdad Juz 13 hal 323-454, Siyarul A’lamin Nubala’
Juz 6 hal 390-403, Tadzkiratul Hufazh Juz 1 hal 168-169, al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 10 hal 87-88.
2
al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 10 hal 87
3
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 390
4
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 395 dan Tarikhul Baghdad juz 13 hal 324-325
5
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 395
6
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 395
7
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 399-400 dan Tarikhul Baghdad juz 13 hal 330

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 57


dalam bidang fiqih, mempunyai Kufah, beliau didatangi Hubairoh salah
kecermatan dalam berpendapat, dan satu anak buah raja Marwan meminta
dalam permasalahan-permasalahan Abu Hanifah agar menjadi Qodhi
yang samar/sulit maka kepada beliau (hakim) di Kufah akan tetapi beliau
akhir penyelesaiannya.8 menolak permintaan tersebut, maka
Beliau sempat bertemu dengan beliau dihukum cambuk sebanyak 110
Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah kali (setiap harinya dicambuk 10 kali),
dan belajar kepadanya, beliau juga tatkala dia mengetahui keteguhan Abu
belajar dan meriwayat dari ulama lain Hanifah maka dia melepaskannya.11
seperti Atha’ bin Abi Rabbah yang Adapun orang-orang yang belajar
merupakan syaikh besarnya, Asy-Sya’bi, kepadanya dan meriwayatkan darinya
Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj diantaranya adalah sebagaimana yang
al-A’raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin disebutkan oleh Syaikh Abul Hajaj di
Nafi’, Nafi’ Maula Ibnu Umar, Qotadah dalam Tahdzibnya berdasarkan abjad
bin Di’amah, Qois bin Muslim, Abdullah diantaranya Ibrahin bin Thahman
bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru seorang alim dari Khurasan, Abyadh bin
fiqihnya, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Al-Aghar bin Ash-Shabah, Ishaq al-
Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Azroq, Asar bin Amru Al-Bajali, Ismail
Munkandar, dan masih banyak lagi. Dan bin Yahya Al-Sirafi, Al-Harits bin
ada yang meriwayatkan bahwa beliau Nahban, Al-Hasan bin Ziyad, Hafsh binn
sempat bertemu dengan 7 sahabat. 9 Abdurrahman al-Qadhi, Hamad bin Abu
Beliau pernah bercerita, tatkala Hanifah, Hamzah temannya penjual
pergi ke kota Bashrah, saya optimis minyak wangi, Dawud Ath-Thai,
kalau ada orang yang bertanya Sulaiman bin Amr An-Nakhai, Su’aib bin
kepadaku tentang sesuatu apapun saya Ishaq, Abdullah ibnul Mubarok, Abdul
akan menjawabnya, maka tatkala Aziz bin Khalid at-Turmudzi, Abdul karim
diantara mereka ada yang bertanya bin Muhammad al-Jurjani, Abdullah bin
kepadaku tentang suatu masalah lantas Zubair al-Qurasy, Ali bin Zhibyan al-
saya tidak mempunyai jawabannya, Qodhi, Ali bin Ashim, Isa bin Yunus, Abu
maka aku memutuskan untuk tidak Nu’aim, Al-Fadhl bin Musa, Muhammad
berpisah dengan Hamad sampai dia bin Bisyr, Muhammad bin Hasan
meninggal, maka saya bersamanya Assaibani, Muhammad bin Abdullah al-
selama 10 tahun.10 Anshari, Muhammad bin Qoshim al-
Pada masa pemerintahan Marwan Asadi, Nu’man bin Abdus Salam al-
salah seorang raja dari Bani Umayyah di Asbahani, Waki’ bin Al-Jarah, Yahya bin

8
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 392
9
Tadzkiratul Hufazh Juz 1 hal 168; Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 391-392; al-Bidayah wa an-
Nihayah Juz 10 hal 87 dan Tarikhul Baghdad juz 13 hal 324
10
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 333
11
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 326

58 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Ayub Al-Mishri, Yazid bin Harun, Abu pernah mendengar beliau berbuat
Syihab Al-Hanath Assamaqondi, Al- ghibah meskipun kepada musuhnya’
Qodhi Abu Yusuf, dan lain-lain.12 kemudian beliau menimpali ‘Demi Allah,
dia adalah orang yang paling berakal,
Penilaianparaulamaterhadap dia tidak menghilangkan kebaikannya
AbuHanifah dengan perbuatan ghibah’.”18 Beliau
Berikut ini beberapa penilaian para juga berkata, “Aku dating ke kota
ulama tentang Abu Hanifah, Kufah, aku bertanya siapakah orang
diantaranya: yang paling wara’ di kota Kufah? Maka
mereka penduduk Kufah menjawab Abu
1. Yahya bin Ma’in berkata, “Abu
Hanifah”.19 Beliau juga berkata, “Apabila
Hanifah adalah orang yang tsiqoh, dia
atsar telah diketahui, dan masih
tidak membicarakan hadits kecuali yang
membutuhkan pendapat, kemudian
dia hafal dan tidak membicarakan apa-
imam Malik berpendapat, Sufyan
apa yang tidak hafal”.13 Dan dalam
berpendapat dan Abu Hanifah
waktu yang lain beliau berkata, “Abu
berpendapat maka yang paling bagus
Hanifah adalah orang yang tsiqoh di
pendapatnya adalah Abu Hanifah … dan
dalam hadits”.14 Dan dia juga berkata,
dia orang yang paling faqih dari
“Abu hanifah laa ba’sa bih, dia tidak
ketiganya”.20
berdusta, orang yang jujur, tidak
tertuduh dengan berdusta, …”.15 3. Al-Qodhi Abu Yusuf berkata, “Abu
Hanifah berkata, tidak selayaknya bagi
2. Abdullah ibnul Mubarok berkata,
seseorang berbicara tentang hadits
“Kalaulah Allah swt tidak menolong
kecuali apa-apa yang dia hafal
saya melalui Abu Hanifah dan Sufyan
sebagaimana dia mendengarnya”.21
Ats-Tsauri maka saya hanya akan
Beliau juga berkata, “Saya tidak melihat
seperti orang biasa”.16 Dan beliau juga
seseorang yang lebih tahu tentang
berkata, “Abu Hanifah adalah orang
tafsir hadits dan tempat-tempat
yang paling faqih”.17 Dan beliau juga
pengambilan fiqih hadits dari Abu
pernah berkata, “Aku berkata kepada
Hanifah”.22
Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah,
orang yang paling jauh dari perbuatan 4. Imam Syafii berkata,
ghibah adalah Abu Hanifah, saya tidak “Barangsiapa ingin mutabahir (memiliki

12
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 393-394; Tarikhul Baghdad juz 13 hal 324; Tadzkiratul Hufazh Juz
1 hal 168; dan al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 10 hal 87.
13
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 395
14
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 395 dan al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 10 hal 87
15
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 449
16
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 398 dan al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 10 hal 87
17
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 403
18
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 363
19
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 358
20
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 343
21
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 401
22
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 340

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 59


58
ilmu seluas lautan) dalam masalah fiqih menjaga shalatnya (banyak melakukan
hendaklah dia belajar kepada Abu shalat)”.29
Hanifah”23
5. Fudhail bin Iyadh berkata, “Abu Beberapa penilaian negatif
Hanifah adalah seorang yang faqih, yangditujukankepadaAbu
terkenal dengan wara’-nya, termasuk Hanifah
salah seorang hartawan, sabar dalam Abu Hanifah selain dia mendapatkan
belajar dan mengajarkan ilmu, sedikit penilaian yang baik dan pujian dari
bicara, menunjukkan kebenaran dengan beberapa ulama, juga mendapatkan
cara yang baik, menghindari dari harta penilaian negatif dan celaan yang
penguasa”24. Qois bin Rabi’ juga ditujukan kepada beliau, diantaranya:
mengatakan hal serupa dengan 1. Imam Muslim bin Hajaj berkata,
perkataan Fudhail bin Iyadh.25 “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit
6. Yahya bin Sa’id al-Qothan shahibur ro’yi mudhtharib dalam hadits,
berkata, “Kami tidak mendustakan Allah tidak banyak hadits shahihnya”.30
swt, tidaklah kami mendengar pendapat 2. Abdul Karim bin Muhammad bin
yang lebih baik dari pendapat Abu Syu’aib An-Nasai berkata, “Abu Hanifah
Hanifah, dan sungguh banyak Nu’man bin Tsabit tidak kuat hafalan
mengambil pendapatnya”.26 haditsnya”.31
7. Hafsh bin Ghiyats berkata, 3. Abdullah ibnul Mubarok berkata,
“Pendapat Abu Hanifah di dalam “Abu Hanifah orang yang miskin di
masalah fiqih lebih mendalam dari pada dalam hadits”.32
syair, dan tidaklah mencelanya
4. Sebagian ahlul ilmi memberikan
melainkan dia itu orang yang jahil
tuduhan bahwa Abu Hanifah adalah
tentangnya”.27
murji’ah dalam memahi masalah iman.
8. Al-Khuroibi berkata, “Tidaklah Yaitu penyataan bahwa iman itu
orang itu mensela Abu Hanifah keyakinan yang adal dalam hati dan
melainkan dia itu orang yang pendengki diucapkan dengan lesan, dan
atau orang yanag jahil”.28 mengeluarkan amal dari hakikat iman.
9. Sufyan bin Uyainah berkata, Dan telah dinukil dari Abu Hanifah
“Semoga Allah merahmati Abu Hanifah bahwasanya amal-amal itu tidak
karena dia adalah termasuk orang yang termasuk dari hakekat imam, akan
23
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 403
24
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 340
25
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 360 dan Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 400
26
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 402
27
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 403
28
Siyarul A’lamin Nubala Juz 6 hal 402
29
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 353
30
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 451
31
Tarikhul Baghdad juz 13 hal 451
32
Kitabul Jarhi wat Ta’dil Juz 8 hal 450

60 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


tetapi dia termasuk dari sya’air iman, meninggal maka Allah tidak akan
dan yang berpendapat seperti ini menyia-nyiakan amalannya, bahklan -
adalah Jumhur Asy’ariyyah, Abu insya Allah- akan menerimanya; dan
Manshur Al-Maturidi … dan menyelisihi orang yang berbuat kemaksiatan selain
pendapat ini adalah Ahlu Hadits … dan syirik dan kekufuran meskipun dia
telah dinukil pula dari Abu Hanifah belum bertaubat sampai dia meninggal
bahwa iman itu adalah pembenaran di dalam keadaan beriman, maka di
dalam hati dan penetapan dengan lesan berasa dibawah kehendak Allah, kalau
tidak bertambah dan tidak berkurang. Dia menghendaki maka akan
Dan yang dimaksudkan dengan “tidak mengadzabnya dan kalau tidak maka
bertambah dan berkurang” adalah akan mengampuninya.”34
jumlah dan ukurannya itu tidak 5. Sebagian ahlul ilmi yang lainnya
bertingkat-tingkat, dak hal ini tidak memberikan tuduhan kepada Abu
menafikan adanya iman itu bertingkat- Hanifah, bahwa beliau berpendapat Al-
tingkat dari segi kaifiyyah, seperti ada Qur’an itu makhluq.
yang kuat dan ada yang lemah, ada
Padahahal telah dinukil dari beliau
yang jelas dan yang samar, dan yang
bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah
semisalnya … 33
dan pengucapan kita dengan Al-Qur’an
Dan dinukil pula oleh para adalah makhluq. Dan ini merupakan
sahabatnya, mereka menyebutkan pendapat ahlul haq …, coba lihatlah ke
bahwa Abu Hanifah berkata, ‘Orang kitab beliau Fiqhul Akbar dan Aqidah
yang terjerumus dalam dosa besar Thahawiyah …, dan penisbatan
maka urusannya diserahkan kepada pendapat Al-Qur’an itu dalah makhluq
Allah’, sebagaimana yang termaktub kepada Abu Hanifah merupakan
dalam kitab “Fiqhul Akbar” karya Abu kedustaan”.35
Hanifah, “Kami tidak mengatakan
Dan di sana masih banyak lagi
bahwa orang yang beriman itu tidak
bentuk-bentuk penilaian negatif dan
membahayakan dosa-dosanya terhadap
celaan yang diberikan kepada beliau,
keimanannya, dan kami juga tidak
hal ini bisa dibaca dalam kitab Tarikh
mengatakan pelaku dosa besar itu
Baghdad juz 13 dan juga kitab al-Jarh
masuk neraka dan kekal di neraka
wa at-Ta’dil Juz 8 hal 450
meskipun dia itu orang yang fasiq, …
akan tetapi kami mengatakan bahwa Dan kalian akan mengetahui
barangsiapa beramal kebaikan dengan riwayat-riwayat yang banyak tentang
memenuhi syarat-syaratnya dan tidak cacian yang ditujukan kepada Abiu
melakukan hal-hal yang merusaknya, Hanifah -dalam Tarikh Baghdad- dan
tidak membatalakannya dengan sungguh kami telah meneliti semua
kekufuran dan murtad sampai dia riwayat-riwayat tersebut, ternyata

33
Tarikhul Baghdad juz 13 dalam catatan kaki hal 375
34
Tarikhul Baghdad juz 13 dalam catatan kaki hal 378-379
35
Tarikhul Baghdad juz 13 dalam catatan kaki hal 384

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 61


60
riwayat-riwayat tersebut lemah dalam mengambil hadits dan meninggalkan
sanadnya dan mudhtharib dalam taqlid terhadap pendapat para imam
maknanya. Tidak diragukan lagi bahwa yang menyelisihi hadits. Diantara
merupakan cela, aib untuk ber- nasehat beliau adalah:
ashabiyyah madzhabiyyah, … dan a. Apabila telah shahih sebuah
betapa banyak daripara imamyang hadits maka hadits tersebut
agung, alim yang cerdas mereka menjadi madzhabku
bersikap inshaf (pertengahan ) secara
Syaikh Nashirudin Al-Albani berkata,
haqiqi. Dan apabila kalian menghendaki
“Ini merupakan kesempurnaan ilmu dan
untuk mengetahui kedudukan riwayat-
ketaqwaan para imam. Dan para imam
riwayat yang berkenaan dengan celaan
telah memberi isyarat bahwa mereka
terhadap Abu Hanifah maka bacalah
tidak mampu untuk menguasai, meliput
kitab al-Intiqo’ karya Al-Hafizh Ibnu
sunnah/hadits secara keseluruhan”. Hal
Abdil Barr, Jami’ul Masanid karya al-
ini sebagaimana yang dijelaskan oleh
Khawaruzumi dan Tadzkiratul Hufazh
imam Syafii, “maka terkadang diantara
karya Imam Adz-Dzahabi.36 Ibnu Abdil
para imam ada yang menyelisihi sunnah
Barr berkata, “Banyak dari Ahlul Hadits
yang belum atau tidak sampai kepada
– yakni yang menukil tentang Abu
mereka, maka mereka memerintahkan
Hanifah dari al-Khatib (Tarikh baghdad)
kepada kita untuk berpegang teguh
– melampaui batas dalam mencela Abu
dengan sunnah dan menjadikan sunah
Hanifah, maka hal seperti itu sungguh
tersebut termasuk madzhab mereka
dia menolak banyak pengkhabaran
semuanya”.
tentang Abu Hanifah dari orang-orang
yang adil” 37 b. Tidak halal bagi seseorang untuk
mengambil/memakai pendapat
BeberapanasehatImamAbu kami selama dia tidak mengetahui
Hanifah 38
dari dalil mana kami mengambil
Beliau adalah termasuk imam yang pendapat tersebut. dalam riwayat
pertama-tama berpendapat wajibnya lain, haram bagi orang yang tidak
mengikuti Sunnah dan meninggalkan mengetahui dalilku, dia berfatwa
pendapat-pendapatnya yang menyelisihi dengan pendapatku.
sunnah. dan sungguh telah Dan dalam riawyat lain,
diriwayatkan dari Abu Hanifah oleh para sesungguhnya kami adalah manusia
sahabatnya pendapat-pendapat yang biasa, kami berpendapat pada hari ini,
jitu dan dengan ibarat yang berbeda- dan kami ruju’ (membatalkan) pendapat
beda, yang semuanya itu menunjukkan tersebut pada pagi harinya. Dan dalam
pada sesuatu yang satu, yaitu wajibnya riwayat lain, Celaka engkau wahai

36
Tarikhul Baghdad juz 13 dalam catatan kaki hal 369
37
Tarikhul Baghdad juz 13 dalam catatan kaki hal 369
38
Nasehat ini diringkas dan diterjemahkan dari kitab Sifatu Shalatin Nabi  karya Syakh Nashirudin
Al-Albani dari hal 45-48.

62 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M


Ya’qub (Abu Yusuf), janganlah engakau madzhab-madzhab lainnya dengan
catat semua apa-apa yang kamu penisbahan kepadanya. Akan tetapi
dengar dariku, maka sesungguhnya aku dalil-dalil syari terpisah-pesah pada
berpendapat pada hari ini denga suatu zamannya dan juga pada zaman tabi’in
pendapat dan aku tinggalkan pendapat dan atbaut tabiin masih terpencar-
itu besok, besok aku berpendapat pencar disana-sini. Maka banyak terjadi
dengan suatu pendapat dan aku qiyas pada madzhabnya secara darurat
tinggalkan pendapat tersebut hari kalaudibanding dengan para ulama
berikutnya. lainnya, karena tidak ada nash dalam
Syaikh Al-Albani berkata, “Maka permasalahan-permasalahan yang
apabila demikian perkataan para imam diqiyaskan tersebut. berbeda dengan
terhadap orang yang tidak mengetahui para imam yang lainnya, …”. Kemudia
dalil mereka. maka ketahuilah! Apakah syaikh Al-Albani mengomentari
perkataan mereka terhadap orang yang pernyataan tersebut dengan
mengetahui dalil yang menyelisihi perkataannya, “Maka apabila demikian
pendapat mereka, kemudian dia halnya, hal itu merupakan udzur bagi
berfatwa dengan pendapat yang Abu Hanifah tatkala dia menyelisihi
menyelisishi dalil tersebut? maka hadits-hadits yang shahih tanpa dia
camkanlah kalimat ini! Dan perkataan sengaja – dan ini merupaka udzur yang
ini saja cukup untuk memusnahkan diterima, karena Allah  tidak
taqlid buta, untuk itulah sebaigan orang membebani manusia yang tidak
dari para masyayikh yang diikuti dimampuinya -, maka tidak boleh
mengingkari penisbahan kepada Abu mencela padanya sebagaimana yang
Hanifah tatkala mereka mengingkari dilakukan sebagian orang jahil, bahkan
fatwanya dengan berkata “Abu Hanifah wajib beradab dengannya karena dia
tidak tahu dalil”!. merupakan salah satu imam dari imam-
imam kaum muslimin yang dengan
Berkata Asy-sya’roni dalam kitabnya
mereka terjaga agama ini. …”.
Al-Mizan 1/62 yang ringkasnya sebagai
berikut, “Keyakinan kami dan keyakinan c. Apabila saya mengatakan sebuah
setiap orang yang pertengahan (tidak pendapat yang menyelisihi kitab Allah
memihak) terhadap Abu Hanifah , dan hadits Rasulullah  yang shahih,
bahwa seandainya dia hidup sampai maka tinggalkan perkataanku.
dengan dituliskannya ilmu Syariat,
setelah para penghafal hadits Wafatnya
mengumpulkan hadits-haditsnya dari Pada zaman kerajaan Bani
seluruh pelosok penjuru dunia maka Abbasiyah tepatnya pada masa
Abu Hanifah akan mengambil hadits- pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur
hadits tersebut dan meninggalkan yaitu raja yang ke-2, Abu Hanifah
semua pendapatnya dengan cara qiyas, dipanggil kehadapannya untuk diminta
itupun hanya sedikit dalam madzhabnya menjadi qodhi (hakim), akan tetapi
sebagaimana hal itu juga sedikit pada beliau menolak permintaan raja

Fatawa Vol. 06/ Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M 63


62
tersebut – karena Abu Hanifah hendak 2. Siyarul A’lamin Nubala’ karya Al-Imam
menjahui harta dan kedudukan dari Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin
sulthan (raja) – maka dia ditangkap dan Utsman Adz-Dzahabi cetakan ke - 7 terbitan
dijebloskan kedalam penjara dan wafat Dar ar-Risalah Beirut
dalam penjara.39 3. Tadzkiratul Hufazh karya Al-Imam Syamsudin
Dan beliau wafat pada bulan Rajab Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-
pada tahun 150 H dengan usia 70 Dzahabi terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
tahun, dan dia dishalatkan banyak 4. Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir
orang bahkan ada yang meriwayatkan cetakan Maktabah Darul Baz Beirut
dishalatkan sampai 6 kloter.40 5. Kitabul Jarhi wat Ta’dil karya Abu Mumahhan
Abdurrahman bin Abi Hatim bin Muhammad
DaftarPustaka: Ar-Razi terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
1. Tarikhul Baghdad karya Abu Bakar Ahmad Al- 6. Shifatu Shalatin Nabi  karya Syaikh
Khatib Al-Baghdadi cetakan Dar al-Kutub Nashirudin Al-Albani cetakan Maktabah Al-
Ilmiyah Beirut Ma’arif Riyadh

39
Tarikhul Baghdad juz 13 dalam catatan kaki hal 328
40
Tarikhul Baghdad juz 13 dalam catatan kaki hal 453 dan al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 10 hal 88

ACEH: LHOKSEUMAWE, LANGSA, KUTACANE, MEULABOH, TAKENGON SUMATRA UTARA:


BINJAI, SIBOLGA, PEMATANGSIANTAR, TEBING TINGGI, KISARAN SUMATERA BARAT:
PADANG, SAWAHLUNTO, BUKIT TINGGI, PARIAMAN RIAU: DUMAI, PEKANBARU,
TEMBILAHAN, BENGKALIS JAMBI: JAMBI BENGKULU: CURUP, MANNA, ARGAMAKMUR,
BENGKULU JABAR: CIBINONG, SUKABUMI, PANDEGLANG, CIANJUR JAKARTA: JAKARTA
BARAT, JAKARTA SELATAN, JAKARTA UTARA, JAKARTA, TIMUR, JAKARTA PUSAT
JAWA TENGAH: PURWOKERTO, PURBALINGGA, BANJARNEGARA, WONOSOBO, PATI,
KUDUS, PURWODADI, BLORA, KARANG ANYAR, WONOGIRI, CILACAP JAWA TIMUR:
LAMONGAN, MAGETAN, MOJOKERTO, PROBOLINGGO, BONDOWOSO, BANYUWANGI,
SITUBONDO, PACITAN BALI: DENPASAR, TABANAN, SINGARAJA NUSA TENGGARA:
DOMPU, PRAYA, KUPANG, ATAMBUA, ENDE, PULAU SUMBA KALIMANTAN: PALANGKARAYA,
TARAKAN, SINGKAWANG, SAMPIT, BALIKPAPAN, BANJARMASIN, KOTABARU,
PANGKALANBUN, BANJARBARU SULAWESI: MANADO, GORONTALO, TOLI-TOLI, PALU,
LUWUK, PALOPO, MAMUJU, BANTAENG, BAU-BAU, KOLAKA, P. MUNA MALUKU: P.
SERAM, P. BURU PAPUA: SORONG, JAYAPURA, FAK-FAK
Hubungi Bagian Pemasaran : Pak Siswanto JH (0818275597)
atau via POS: Islamic Center Bin Baz, Jl. Wonosari KM 10, Sitimulyo, Piyungan, Bantul

64 Fatawa Vol. 06/Th. I / Rabi’ul Awwal 1424 H - 2003 M