Anda di halaman 1dari 32

Konsep Belajar

Salah satu konsep belajar cepat yang bagus dan tentunya juga
menyenangkan adalah konsep MASTER yang terdapat dalam buku Accelerated
Learning for the 21st Century. Istilah MASTER di sini adalah singkatan dari
Motivating your mind, Acquiring the information, Searching out the meaning,
Triggering the memory, Exhibiting what you know, dan Reflecting what you've
learned.

Mau tau secara detailnya, simak penjelasannya berikut ini:

1. Motivating your mind (memotivasi pikiran)

Langkah pertama dalam belajar cepat adalah motivasi. Ini penting sekali. Berapa
banyak orang yang berusaha untuk belajar tanpa motivasi? Mereka menganggap
belajar sebagai suatu bentuk "penderitaan". Dengan sikap seperti ini bisa dibilang
secara bawah sadar otak akan menolak informasi yang masuk karena dianggap
negatif! Jelas saja kita jadi sangat sulit belajar. Bandingkan dengan orang yang
termotivasi, yang menganggap belajar itu seru dan mengasyikkan. Secara bawah
sadar otak akan dengan senang hati mempersilakan informasi untuk masuk.

2. Acquiring the information (memperoleh informasi)

Ada tiga gaya belajar utama, yaitu visual (melalui penglihatan), auditori (melalui
pendengaran), dan kinestetik (melalui tindakan). Kita akan lebih cepat menangkap
informasi kalau kita belajar sesuai dengan gaya belajar kita. Oleh karenanya kita
perlu mengenali gaya belajar yang cocok untuk kita lalu mempraktekkannya.
Hasilnya kita akan lebih cepat menangkap informasi.

3. Searching out the meaning (menyelidiki makna)

Sekedar membiarkan informasi masuk sama sekali tidak cukup. Kita harus
berusaha untuk mendapatkan makna dari informasi itu. Ini sama seperti mencerna
informasi yang masuk sampai memahami hakikatnya luar dalam. Jadi bukan hanya
menghafalkan fakta, tapi terus maju sampai memahami konteksnya dan
penerapannya untuk hal-hal lain. Berapa banyak orang yang hanya berusaha
menghafal fakta tanpa memahami maknanya ?

4. Triggering the memory (memicu memori)


Memahami makna merupakan hal yang sangat penting, tapi kita juga harus mampu
mengingat fakta. Banyak orang yang punya daya ingat luar biasa. Contohnya ada
orang Jepang yang menghafalkan angka pi sampai ribuan angka di belakang
koma ! Ck…ck… (biasanya kita hanya hafal dua angka yaitu "14″ dari "3.14″).
Ada banyak teknik yang bisa memudahkan kita mengingat fakta. Singkatan seperti
"MASTER" merupakan salah satunya. Akan jauh lebih mudah untuk mengingat
enam langkah Accelerated Learning kalau kita memakai singkatan "MASTER".

5. Exhibiting what you know (memamerkan apa yang anda ketahui)

Memamerkan di sini bukan berarti sok tahu. Yang dimaksud adalah kita harus
berusaha membagikan ilmu kita ke orang lain. Saat membagikan ilmu ke orang
lain kita justru akan mendapatkan lebih banyak lagi! Misalnya seorang guru
kadang lebih cepat paham dan menguasai materi pelajarannya tentang materi
pelajarannya setelah dia mengajarkannya pada murid-muridnya.

6. Reflecting what you've learned (merefleksikan bagaimana Anda belajar)

Nah, inilah langkah terakhir dalam konsep MASTER. Kita mesti mengevaluasi
cara belajar kita. Mengapa? Sebab setiap orang punya cara belajar yang unik yang
berbeda dengan orang lain. Kita mesti mengembangkan gaya belajar pribadi yang
paling cocok dengan kita. Dan ini tentu tidak bisa dicapai dalam waktu semalam.
Kita harus mencoba, mengevaluasi, memperbaiki apa yang kurang, lalu mencoba
lagi, dan seterusnya. Dengan terus mengevaluasi perlahan-lahan gaya belajar kita
akan semakin tajam dan cocok dengan kita.

Begitulah enam langkah konsep MASTER. Sebenarnya belajar itu memang


menyenangkan, hanya cara pandang dan cara belajar kita saja yang selama ini
perlu kita pernaiki. Selamat mencoba! Dan temukan kesenangan belajarmu!

Sumber : http://www.mail-
archive.com/referensi_maya@yahoogroups.com/msg01309.html
Atensi

Atensi atau perhatian adalah pemrosesan secara sadar sejumlah kecil informasi
dari sejumlah besar informasi yang tersedia. Informasi didapatkan dari
penginderaan, ingatan maupun proses kognitif lainnya. Proses atensi membantu
efisiensi penggunaan sumberdaya mental yang terbatas yang kemudian akan
membantu kecepatan reaksi terhadap rangsang tertentu[1].

Sifat atensi

Sumberdaya mental manusia yang terbatas untuk memroses suatu rangsang


membutuhkan bantuan untuk mempercepat waktu reaksi. Mengarahkan pada suatu
informasi tertentu akan mempercepat proses mental mengolah suatu rangsang.
Misalnya dalam mengemudi, atensi yang mengarahkan pengemudi pada situasi
jalan raya akan mempercepat reaksinya menginjak pedal rem jika menghadapi
situasi membahayakan. Atensi juga terpengaruh oleh perbedaan usia, terutama
pada masa anak[2]

Proses atensi

Atensi dapat merupakan proses sadar maupun tidak sadar.

• Proses otomatis tidak melibatkan kesadaran, misalkan mengarahkan


pandangan pada rangsang yang menarik secara kognisi. Memperhatikan
secara otomatis dilakukan tanpa bermaksud untuk memperhatikan suatu hal.
Perhatian terhadap suatu hal atau tindakan dapat dibentuk sehingga menjadi
otomatis (otomatisasi) melalui latihan dan frekuensi melakukan tindakan
tersebut.
• Proses terkendali biasanya dikendalikan oleh kesadaran, bahkan
membutuhkan kesadaran untuk dapat mengarahkan atensi secara terkendali.
Biasanya proses terkendali membutuhkan waktu lebih lama untuk dilakukan,
karena dilakukan secara bertahap.

Proses pembiasaan terhadap suatu hal selain membentuk proses otomatisasi,


namun juga membentuk habituasi yang justru menyebabkan atensi menjadi
berkurang pada hal-hal berkaitan yang tidak menjadi fokus dari pembiasaan.
Penginput data di komputer lebih memperhatikan poin informasi yang biasa
diinputnya, namun kadang-kadang luput membaca informasi yang berbeda dari
biasanya. Proses pembiasaan tidak hanya menjalankan tugas atensi, namun juga
tugas-tugas lainnya seperti motorik, mengingat dan lain-lain.

Jenis fungsi atensi

Terdapat tiga fungsi dalam melakukan atensi terkendali

Deteksi sinyal

Bertugas untuk mendeteksi kemunculan dari rangsang khusus.

Atensi selektif

Memilih suatu rangsang tertentu dan mengabaikan rangsang lainnya.

Atensi terbagi

Menempatkan sumberdaya atensi secara bijaksana untuk mengkoordinasi


pelaksanaan beberapa tugas sekaligus.

Neurologi atensi

Atensi erat kaitannya dengan fungsi otak. Bagian otak yang memproses atensi
terletak pada anterior didalam frontal lobe yang aktif pada proses atensi terkendali
dan pada posterior didalam parietal lobe. Atensi juga melibatkan aktivitas saraf
pada korteks penginderaan, terutama visual dan motorik.

Atensi visual

Semakin kecil bayi semakin sulit untuk mengalihkan perhatian pada hal lain,
karena gerak motorik dan mata masih terbatas. Pada dewasa kerusakan pada
posterior parietal lobe dapat menyebabkan pengabaian yang parah pada integrasi
kontralateral visual dan penginderaan lainnya.

Gangguan pada atensi

Beberapa gangguan pada atensi menyebabkan terjadinya gangguan perilaku seperti


pada

autisme

Attention-deficit hyperactivity disorder atau ADHD

Catatan kaki

1. ^ Sternberg. R.J. (2006) Cognitive Psychology Bellmont,CA:Thomson


Wadsworth
2. ^ Bjorklund. D.F (2000) Children's thinking: Developmental function and
individual differences. 3rd ed.Bellmont, CA:Wadsworth

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Atensi"


Kategori: Psikologi | Kognisi
Kategori tersembunyi: Rintisan bertopik psikologi

Proses Berpikir
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu :
1. Pembentukan Pengertian
Pengertian, atau lebih tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga
tingkatan, sebagai berikut:
a. Menganalisis ciri-ciri dari sejumalah obyek yang sejenis. Obyek tersebut kita
perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu. Misalnya maupun membentuk
pengertian manusia. Kita ambil manusia dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-
ciri misalnya :
Manusia Indonesia, ciri - cirinya :
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit sawo mateng
* Berambut hitam
* Dan sebagainya
Manusia Eropa, ciri - cirinya :
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit Putih
* Berambut pirang atau putih
* Bermata biru terbuka
* Dan sebagainya
Manusia Negro, ciri - cirinya:
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit htam
* Berambut hitam kriting
* Bermata hitam melotot
* Dan sebagainya
Manusia Cina, ciri - cirinya:
* Mahluk Hidup
* Berbudi
* Berkulit kuning
* Berambut hitam lurus
* Bermata hitam sipit
* Dan sebagainya
Dan manusia yang lain - lainnya lagi.
b. Membanding - bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri - ciri mana yang
sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana yang tidak selalu ada
mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki.
c. Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki,
menangkap cirri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas ciri - ciri yang hakiki itu
ialah: Makhluk hidup yang berbudi.

2. Pembentukan Pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian
atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri
dari pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat.
Selanjutnya pendapat dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu :a. Pendapat
Afirmatif atau positif, yaitu pendapat yang menyatakan keadaan sesuatu, Misalnya
Sitotok itu pandai, Si Ani Rajin dan sebagainya.b. Pendapat Negatif, Yaitu
Pendapat yang menidakkan, yang secara tegas menerangkan tentang tidak adanya
seuatu sifat pada sesuatu hal : Misalnya Sitotok itu Bodoh Si Ani Malas dan
sebagainya.c. Pendapat Modalitas atau kebarangkalian, Yaitu Pendapat yang
menerangkan kebarangkalian, kemungkinan - kemungkinan sesuatu sifat pada
sesuatu hal ; misalnya hari ini mungkin hujan, Si Ali Mungkin tidak Datang. Dan
sebagainya.
3. Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru
berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada 3 macam keputusan, Yaitu
a. Keputusan induktif
yaitu keputusan yang diambil dari pendapat - pendapat khusus menuju ke satu
pendapat umum. Misalnya :
Tembaga di panaskan akan memuai
Perak di panaskan akan memuai
Besi di panaskan akan memuai
Kuningan di panaskan akan memuai Jadi (kesimpulan). Bahwa semua logam kalau
dipanaskan akan memuai (Umum)
b. Keputusan Deduktif
Keputusan deduktif ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus , Jadi
berlawanan dengan keputusan induktif. Misalnya : Semua logam kalau dipanaskan
memuai (umum), tembaga adalah logam. Jadi (kesimpulan) : tembaga kalau
dipanaskan memuai Contoh lain : Semua manusia terkena nasib mati, Si Karto
adalah manusia Jadi pada suatu hari si Karto akan mati.
c. Keputusan Analogis
Keputusan Analogis adalah Keputusan yang diperoleh dengan jalan
membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah
ada. Misalnya : Totok anak pandai, naik kelas (Khusus). Jadi (kesimpulan) Si
Nunung anak yang pandai itu, tentu naik kelas.
Inteligensi

Inteligensi/kecerdasan secara umum dipahami pada dua tingkat yakni: kecerdasan


sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk
pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses
informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem
solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. (Djaali, 2006:63)
memandang kecerdasan sebagai pemandu dan penyatu dalam mencapai sasaran
secara efektif dan efisien.

Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi
pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang
yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering
membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas
(sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari rekan-
rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.

Kecerdasan atau intelegensi adalah kemampuan adaptasi dan menggunakan


pengetahuan yang di miliki dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup
seseorang. Beberapa teori menyatakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan
dasar yang dimiliki oleh individu dalam menentukan tujuan hidupnya.

Semakin cerdas seseorang maka semakin besar peluang untuk lebih sukses di
bandingkan orang yang tidak cerdas, karena Kecerdasan merupakan kemampuan
untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat
dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun
bertambah.untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang perlu diadakan tes
kecerdasan.

Selama ini tes kecerdasan umumnya hanya di berikan kepada orang-orang yang
menempuh bangku pendidikan sehingga tampak bahwa tingkat kecerdasan orang
yang berpendidikan di anggap lebih baik di bandingkan dengan orang yang tidak
berpendidikan ,namun kenyataan di lapangan tidak semua orang yang tidak
berpendidikan tidak cerdas,hal ini di buktikan dengan banyaknya orang yang
sukses tanpa melalui jenjang pendidikan yang tinggi contoh para pedagang yang
sukses.

Berdasarkan fakta tersebut sebaiknya tes kecerdasan juga di berikan kepada orang-
orang yang tidak menempuh bangku pendidikan untuk memperoleh informasi yang
lebih jauh tentang factor utama yang mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang
selain factor pendidikan formal.

Melihat uraian diatas mengenai intelegensi analitis, kreatif dan praktis yang
mempunyai perhatian yang berbeda selama ini dalam wilayah pendidikan.
Sehingga tidak dapat merubah cepat keberhasilan pembelajaran suatu sekolah
khususnya dan umumnya bangsa dan Negara, maka perlu ada perubahan sistem
pembelajaran sekolah yang dapat menyeimbangkan berbagai macam intelegensi
peserta didik yang dimiliki, dengan mengawali pemberian tes. Misalnya
memberikan pembelajaran tes analitis dari STAT (Stern Triarchic Abilities Test).

Seperti yang dikatakan (Sternberg dalam Santrock, 2009:157) “STAT untuk


menilai intelegensi analitis, kreatif dan praktis. Ketiga jenis kemampuan ini
diperiksa melalui esai dan soal verbal, soal kuantitatif, serta gambar dan soal
pilihan ganda. Tujuannya adalah untuk mendapat penilaian intelegensi yang lebih
lengkap dibandingkan dengan yang mungkin didapat dengan tes konvensional”.

Bagian analitis dari STAT sangat mirip dengan konvensional, dimana individu-
individu diminta untuk memberikan arti dari kata-kata, melengkapai rangkaian
angka dan melengkapi matriks. Bagian praktis dan kreatif berbeda dengan tes
konvensional. Sebagai contoh, dalam bagian kreatif, individu menulis sebuah esai
tentang rancangan sekolah yang ideal. Bagian praktis meminta seseorang untuk
menyelesaikan masalah sehari-hari yang mudah, seperti merencanakan rute dan
membeli tiket sebuah acara.

Selain itu memberikan kebebasan dalam pemilihan ekstrakurikuler bagi peserta


didik, baik ektrakurikuler olahraga, kesehatan, kesenian, pecinta alam, marching
band, pramuka, paskibra, PMR, dll. Dengan batas-batas yang ditentukan oleh
dewan sekolah, agar mendapatkan arahan yang jelas terhadap intelegensi yang
dimiliki setiap individu.

Tes kecerdasan kedepannya tidak hanya diberikan kepada orang yang menempuh
bangku pendidikan, tapi juga diberikan pada orang-orang yang sempat mengenyam
bangku pendidikan agar informasi yang diperoleh tentang intelegensi lebih akurat.
Sehingga kesepakatan tentang pengertian tentang intelegensi secara utuh bisa
tercapai

Merubah paradigma kedepannya mengenai konsep semakin cerdas seseorang


semakin besar peluang untuk sukses, walaupun kenyataannya banyak orang yang
tidak mengenyam pendidikan tapi dalam kehidupan lebih berhasil.

Inteligensi/Kecerdasan

Ada banyak teori mengenai Intelligensi atau kecerdasan dari beberapa ahli
diantaranya :

Santrock (2009:151) “Kecerdasan atau keterampilan menyelesaikan masalah dan


kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman kehidupan sehari-hari”.
Artinya bahwa seorang individu dapat menyelesaikan masalah dengan kemampuan
yang dimilikinya dan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungannya baik yang
datang dari lingkungan internal maupun eksternalnya.

Seorang individu yang mempunyai intelligensi tinggi cenderung akan muncul


kecerdasannya dalam berbagai lingkungan dimanapun individu itu berada, yang
tentu menjadi harapan keluarga, masyarakat bangsa dan Negara untuk menjadi
generasi penerus yang tampil lebih baik dalam lingkungan pembelajaran. Seperti
yang dikatakan, Slavin (2006:163). Satu hal bahwa terdapat orang-orang ‘pandai’
yang dapat diharapkan tampil dengan baik dalam berbagai jenis situasi
pembelajaran.

Selama ini tes kecerdasan umumnya hanya di berikan kepada orang-orang yang
menempuh bangku pendidikan sehingga tampak bahwa tingkat kecerdasan orang
yang berpendidikan di anggap lebih baik di bandingkan dengan orang yang tidak
berpendidikan, namun kenyataan di lapangan tidak semua orang yang tidak
berpendidikan tidak cerdas, hal ini di buktikan dengan banyaknya orang yang
sukses tanpa melalui jenjang pendidikan yang tinggi contoh para pedagang yang
sukses.

Berdasarkan fakta tersebut sebaiknya tes kecerdasan juga di berikan kepada orang-
orang yang tidak menempuh bangku pendidikan untuk memperoleh informasi yang
lebih jauh tentang factor utama yang mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang
selain factor pendidikan formal.

Fakta hasil pendidikan di Indonesia saat ini sudah banyak melahirkan generasi-
generasi penerus yang berbeda-beda ditingkatan kemampuannya di seluruh lapisan
masyarakat di Indonesia. Perbedaan kemampuan tersebut menjadi budaya
pendidikan yang baku, dimana ada peserta didik yang kemampuan IQ nya tinggi
ditempatkan pada posisi atas atau menjadi peringkat pertama sedangkan peserta
didik yang IQ nya rendah di tempatkan pada posisi bawah.

Perhatian pendidikan memprioritaskan kepada kemampuan IQ peserta didik, yang


menekankan peserta didik harus mampu setinggi-tingginya dalam penguasaan
analitis. Budaya penghargaan besar hanya untuk siswa yang mempunyai
kecerdasan analitis, sementara kemampuan peserta didik itu berbeda-beda ada
yang cenderung pada kemampuan kreatifitas, dan praktis.

Santrock (2009:156) mengatakan bahwa “ para siswa yang mempunyai


kemampuan analitis yang tinggi, cenderung disukai di sekolah-sekolah
konvensional. Mereka cenderung mendapatkan nilai baik di kelas-kelas dimana
guru mengajar dan memberikan ujian yang obyektif ”

Dari kutipan tersebut jelaslah bahwa peserta didik yang mempunyai kemampuan
analitis tinggi tidak dipungkiri, sangat diharapkan oleh guru, dimana dalam hasil
ujian selalu mendapatkan skor yang bagus dalam tes IQ serta nantinya berhak
masuk ke perguruan tinggi yang kompetitif.

Sehingga peserta didik yang mempunyai tingkat intelegensi kreatif dan praktis
setinggi apapun, jarang dihargai di lingkungan sekolah. Intelegensi analitis yang
menjadi icon yang rata-rata lebih besar memberatkan peserta didik karena peserta
didik yang mempunyai inteligensi analitis sangat sedikit sekali. Contoh misalkan di
setiap sekolah ditingkatan apapun itu, yang mendapat juara pertama terlebih juara
umum pasti 1 atau paling banyak 2 orang.

Itu kenapa tejadi, karena pendidikan yang dalam hal ini sekolah yang menjadi
konteksnya, hanya melihat kemampuan peserta didik dari intelegensi analitis saja,
peserta yang mendapat peringkat atau rangking 1 s.d 3 lebih diperhatikan dan
mendapat penghargaan lebih dari guru. Makanya jumlah peserta didik yang
mempunyai intelegensi analitis lebih sedikit dibanding dengan peserta didik yang
mempunyai intelegensi kreatif dan praktis yang jumlahnya jauh lebih besar.

Santrock (2009:156) mengatakan bahwa “ para siswa yang berintelegensi kreatif


yang tinggi sering tidak berada di tingkat atas di kelas mereka. Para siswa yang
berinteligensi kreatif, mungkin tidak memenuhi harapan para guru tentang
bagaimana tugas-tugas harusnya dikerjakan. Mereka memberikan jawaban yang
unik, yang membuat mereka mendapat teguran “.

Guru cenderung tidak menyukai dan tidak memberikan penghargaan untuk peserta
didik yang mempunyai intelegensi kreatif tinggi yang tidak memberikan tugas
sekolah dengan sesuai yang diperintahkan, maka hasil pembelajaran bagaimanapun
akan tidak mengalami perubahan selama hanya konsep intelegensi analitis yang
diprioritaskan.

Pendidikan di sekolah mempunyai tujuan tertentu yang mengacu pada tujuan


nasional, seperti yang tercantum pada Undang-undang RI No 20 tahun 2003 BAB
II tentang DASAR, FUNGSI DAN TUJUAN pasal 3 yaitu “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan tersebut tidak akan mungkin tercapai jika konsep dan sistem
yang dilaksanakan dalam proses pendidikan hanya mengedepankan inteligensi
analitis dan pengembangan inteligensi analitis saja, tetapi harus ada
pengembangkan dan perhatian juga dari sekolah untuk peserta didik yang
berintelegensi kreatif yang tinggi agar tujuan nasionalpun tercapai yaitu agar
dengan pendidikan peserta didik menjadi manusia yang kreatif.

Selain intelegensi analitis tinggi dan intelegensi kreatif tinggi, peserta didik juga
ada yang lebih cenderung pada intelegensi praktis seperti peserta didik yang
berinteligensi praktis.

Santrock (2009:156) mengatakan bahwa “ siswa yang berinteligensi praktis sering


tidak berhubungan baik dengan tuntutan sekolah. Namun siswa-siswa ini sering
berprestasi baik di luar sekolah. Keterampilan sosial dan pengetahuan umum
mereka memungkinkan mereka untuk menjadi manajer atau wirausaha yang
berhasil, meskipun prestasi sekolah tidak istimewa.

Dominan di sekolah ada banyak berbagai macam pilihan ekstrakurikuler, paling


sedikit 1 atau 2 pilihan ekstrakurikuler di sekolah. Namun tidak sedikit guru yang
tidak menyukai peserta didik yang ikut aktif di ekstrakurikuler tersebut, dengan
alasan mengganggu pembelajaran di kelas, kenapa seperti itu pandangan guru?
Karena selama ini memandang bahwa pendidikan ekstrakurikuler adalah
pendidikan tambahan yang tidak terlalu penting untuk peserta didik. Padahal salah
satu untuk mewujudkan peserta didik yang cakap, mandiri dan bertanggung jawab
sesuai dengan UU RI No. 3 BAB II pasal 3, adalah dengan adanya sebuah wadah
yang mengembangkan inteligensi praktis.

Dengan siswa ikut dalam salah satu ekstrakurikuler tersebut memberikan wadah
pengembangan untuk mengukur peserta didik dalam inteligensi yang dimilki.
Karena inteligensi yang dimiliki setiap peserta didik berbeda-beda yang pada
akhirnya setelah selesai jenjang sekolah dituntut untuk bisa beradaptasi dengan
lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mandiri.

Adapun dalam proses pemenuhuan kebutuhan dirinya sendiri berbeda-beda pula


aktifitasnya, ada yang dituntut bisa menjadi ilmuwan, pemimpin perusahaan, guru,
seniman, dll. Kesemua itu tidak bisa hanya menggunakan inteligensi analitis saja
tetapi membutuhkan inteligensi kreatif dan praktis dalam sebuah lingkungan.

Tidak bisa sukses seseorang dalam bidang seni lukis, seni rupa, tari, suara, dsb bagi
orang yang inteligensi analitisnya tinggi, dan yang dibutuhkan untuk kesuksessan
dalam bidang tersebut adalah orang-orang yang mempunyai inteligensi kreatif.
Begitu pula tidak akan mungkin sukses seorang manager/ pemimpin perusahaan
bila yang mengendalikan semua proses tersebut oleh orang yang inteligensi
analitisnya tinggi, tetapi yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mempunyai
inteligensi praktis tinggi yang mampu untuk menjadikan keberhasilan sebuah
usaha. Dalam artian inteligensi analitis yang tinggi bukan tidak diperlukan, tetapi
diperlukan juga sebagai penyeimbang. Santrock (2009:156).

Oleh karena itu kondisi di berbagai sekolah bahkan di perguruan tinggi tidak akan
berubah sampai kapanpun menuju ke yang lebih baik, jika inteligensi analitis saja
yang diharapkan bangsa sebagai generasi muda.

Hakikat Intelegensi

Kemampuan untuk menyelesaikan masalah, menciptakan suatu produk yang


berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya masyarakat. (Gardner dalam
Sujiono, 2009:176). Artinya bahwa hakikat intelligensi adalah kecerdasan yang
sudah dimiliki seorang individu sejak lahir dan merupakan hal yang paling
berharga sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari untuk menciptakan
hal-hal yang baru baik karya berbentuk fisik maupun non fisik yang diperlukan
oleh manusia sebagai kebutuhan primer, sekunder dan tersier.

Melihat perkembangan jaman sudah masuk pada budaya masyarakat informasi


serba tekhnologi, maka pembuatan karya-karya baru diharapkan untuk
mempermudah dalam proses aktifitas kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan adalah kemampuan adaptasi dan belajar dari pengalaman kehidupan


sehari-hari. Kecerdasan merupakan salah satu faktor penting dalam pencapaian
suatu tujuan hidup atau kesuksesan bagi seorang individu,namun demikian
kecerdasan bukan satu-satunya faktor utama, karena inteligensi ini di pengaruhi
oleh banyak faktor seiring dengan perkembangannnya.

Faktor-faktor itu diantaranya adalah lingkungan dan proses belajar yang di tempuh
oleh seseorang. Santrock (2009:151).

(Huxley dalam Santrock 2009:151) mengemukakakan bahwa anak-anak


mempunyai rasa ingin tahu dan kecerdasan yang luar biasa di bandingan. Huxley
juga mengatakan bahwa inteligensi merupakan milik manusia yang paling berharga
yang tidak dapat di ukur secara langsung, melainkan dapat mengevaluasi
kecerdasan melalui tindakan cerdas seseorang, tes inteligensi hanya di gunakan
untuk memprediksi tingkat kecerdasan seseorang.

Ormrod (2007:105) mengemukakan bahwa kecerdasan (inteligensi) di pengaruhi


oleh beberapa faktor yaitu:

a. Faktor adaptasi: kemampuan dalam menentukan tujuan,dan beradaptasi terhadap


brbagai metode untuk mencapai kesuksesan

b. Faktor kemampuan dalam menggunakan pengetahuan yang di miliki untuk


menganlisis dan menemukan cara baru yang efektif untuk menyelesaikan masalah
secara cepat.

c. Faktor interaksi: banyak melibatkan diri dalam interaksi sosial dan mampu
melakukan koordinasi dalam kelompok yang memiliki peribadi yang berbeda-
beda.

Beberapa faktor tersebut merupakan unsur-unsur penyusun dari intelegensi atau


kecerdasan itu sendiri selain faktor-faktor lainnya. Hakikat Intelegensi adalah
bagaimana individu itu mampu untuk melakukan sesuatu yang baik dalam
menyelesaikan masalah.

Woolfolk (2007:111) “Kemampuan untuk belajar dalam jumlah pengetahuan yang


sudah diperoleh dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan baik dalam
setiap situasi yang baru dari yang pribadi sampai ke lingkungan yang umum”.
Artinya seorang individu yang mempunyai sejumlah kecerdasan pasti memiliki
kemampuan untuk beradaptasi dalam berbagai lingkungan khususnya lingkungan
pribadi dan umumnya lingkungan secara umum.

Dalam Al-Ouran surat 2 (Al-Baqarah ayat 269) yang artinya “Hanya orang-orang
yang berakallah yang dapat mengambil hikmah”. Ayat tersebut mengungkapkan
bahwa seorang individu yang memiliki intelligensilah yang mampu memaknai
apapun yang terjadi dan yang dialami oleh individu tersebut.

(Al-Alaq:15-16) “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti berbuat kerusakan,


niscaya kami tarik ubun-ubunnya. Yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan lagi
durhaka”. Dan ayat ini juga mengungkapkan bahwa akan arti pentingnya
intelligensi yang dimiliki untuk dapat dipergunakan pada tempat dan jalan yang
tepat, jika intelligensi yang sudah dimiliki tidak diaplikasikan maka intelligensi
tersebut, lama-kelamaan akan hilang.

Misalnya: seorang guru bila memberikan ilmu yang salah kepada peserta didiknya,
maka intelligensi yang dimilki tersebut akan hilang pelan-pelan dan tidak akan
memberikan makna apapun dari intelligensi yang sudah dimiliknya.

Mengapa Al Quran menyatakan bahwa kepala bagian depan (ubun-ubun) adalah


adalah bagian yang penuh dengan kebohongan dan dosa?. Atau dengan kata lain Al
Quran menyatakan bahwa apabila manusia ingin berbuat kebohongan ataupun
dosa, maka kepala (otak) depanlah yang paling berperan. Lalu apa hubungannya
antara kepala (otak) depan , bohong dan dosa?

Bila kita lihat gambar tengkorak manusia bagian depan, kita akan temukan bagian
depan otak manusia (lihat gambar 1). Apa yang dapat dijelaskan oleh ilmu faal
tentang fungsi bagian ini?. Buku yang berjudul “Essential of Anatomy &
Physiology” menyatakan bahwa : Motivasi dan tinjauan masa depan untuk
merencankan dan memulai pergerakan terjadi di sel otak bagian depan, daerah
inilah yang disebut dengan “prefrontal area”.

Selanjutnya buku ini menyebutkan bahwa “ Sehubungan dengan keterlibatannya


dalam memotivasi, otak bagian depan (prefrontal area) juga berfungsi sebagai
pusat tindakan agresif”

Jadi, bagian inilah yang bertanggung jawab dalam merencanakan, memotivasi dan
memulai tindakan baik , bohong dan dosa dan juga bertanggung jawab dalam
menyampaikan kebenaran dan kebohongan. Jadi sangatlah tepat untuk menyatakan
bahwa :”bagian otak depan adalah pusat tindakan baik, bohong dan dosa”. Persis
seperti yang dinyatakan oleh Al Quran 15 abad yang silam.

Beberapa ahli mendeskripsikan intelligensi sebagai keterampilan penyelesaian


masalah. Seperti teori Vygotsky, intelligensi harus mencakup kemampuan untuk
menggunakan unsur-unsur budaya dengan bantuan dari individu-individu yang
lebih terampil. Karena inteligensi adalah sebuah konsep yang abstrak dan luas,
tidaklah mengejutkan bahwa ada begitu banyak cara untuk mendefinisikannya dan
mengukurnya. Santrock (2009:151).

C. Macam-macam Intelligensi

Sternberg dalam Santrock (2009:156), mengatakan bahwa siswa yang memiliki


pola triarchic, yang berlainan terlihat berbeda di sekolah. Secara umum macam-
macam intelligensi dibedakan menjadi 3 diantaranya:
1. Inteligensi Analitis, yaitu : kecerdasan yang lebih cenderung dalam proses
penilaian objektif dalam suatu pembelajaran dalam setiap pelajaran, selalu
mendapatkan nilai yang bagus dalam setiap hasil ujian. Misalnya: seorang individu
dalam ujian disetiap pelajarannya selalu mendapatkan nilai di atas rata-rata.

2. Inteligensi Kreatif, yaitu : kecerdasan yang lebih cenderung pada sifat-sifat yang
unik, merancang hal-hal yang baru. Misalnya: seorang peserta didik diinstrusikan
untuk menuliskan kata “P O H O N” oleh gurunya, tetapi jawaban seorang individu
yang kreatif dengan menggambarkan sebuah pohon.

3. Inteligensi Praktis, yaitu : kecerdasan yang berfokus pada kemampuan untuk


menggunakan, menerapkan, mengimplementasikan, dan mempraktikan. Misalnya:
seorang individu mendapatkan skor rendah dalam tes IQ tradisional, tetapi dengan
cepat memahami masalah dalam kehidupan nyata, contohnya dalam pembelajaran
praktikum di laboratorium, akan cepat memahami karena dibantu dengan berbagai
peralatan dan media.

D. Paradigma Multiplle Inteligensi dalam Pendidikan

Multiplle Intelligences yang mencakup delapan kecerdasan itu pada dasarnya


merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ),
kecerdasan spiritual (SQ). semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak
sejak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah. (Kompas
dalam jurnal pendidikan Penabur 2005).

Yang menjadi pertanyaan terbesar, mampukah dan bersediakah setiap insan yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan mencoba untuk mengubah pola pengajaran
tradisional yang hanya menekankan kemmapuan logika (matematika) dan bahasa?
Bersediakah segenap tenaga kependidikn bekerjasama dengan orang tua bersinergi
untuk mengembangkan berbagai jenis kecerdasan pada peserta didik di dalam
proses belajar yang dilaksanakan di lingkungan lembaga pendidikan?

Teori multiplle Intellegences bertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar


kelak sekolah dapat mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam pola
pikirnya yang unik.
Ada beberapa macam kecerdasan yang diungkapkan oleh (Gardner dalam
Santrock, 2009:156), (Woolfolk, 2007:113), (Slavin, 2006:165), (Stefanakis dalam
Sujiono, 2009: 184), yaitu :

1. Intelegensi keterampilan verbal: kemampuan untuk berpikir dengan kata-kata


dan menggunakan bahasa untuk mengungkapkan makna. Contohnya: seorang anak
harus berpikir secara logis dan abstrak untuk menjawab sejumlah pertanyaan
tentang bagaimana beberapa hal bisa menjadi mirip. Contoh pertanyaannya “Apa
persamaan Singan dan Harimau”?. Cenderung arah profesinya menjadi: (penulis,
jurnalis, pembicara).

2. Intelegensi keterampilan matematis: kemampuan untuk menjalankan operasi


matematis. Peserta didik dengan kecerdasan logical mathematical yang tinggi
memperlihatkan minat yang besar terhadap kegiatan eksplorasi. Mereka sering
bertanya tentang berbagai fenomena yang dilihatnya. Mereka menuntut penjelasan
logis dari setiap pertanyaan. Selain itu mereka juga suka mengklasifikasikan benda
dan senang berhitung. Cenderung profesinya menjadi: (ilmuwan, insinyur,
akuntan)

3. Intelegensi kemampuan ruang: kemampuan untuk berpikir secara tiga dimensi.


Cenderung berpikir secara visual. Mereka kaya dengan khayalan internal (Internal
imagery) sehingga cenderung imaginaif dan kreatif. Contohnya seorang anak harus
menyusun serangkaian balok warna/i agar sama dengan rancangan yang ditunjukan
penguji. Koordinasi visual-motorik, organisasi persepsi, dan kemampuan untuk
memvisualisasi dinilai secara terpisah.

Contoh:

“gunakanlah balok-balok tersebut menjadi tersusun rapi seperti contoh gambar di


sebelah kiri”

Cenderung menjadi profesi : (arsitek, seniman, pelaut)

1. Inteligensi kemampuan musical: kepekaan terhadap pola tangga nada, lagu,


ritme, dan mengingat nada-nada. Ia juga dapat mentransformasikan kata-kata
menjadi lagu, dan menciptakan berbagai permainan music. Mereka pintar
melantunkan beat lagu dengan baik dan benar. Mereka pandai menggunakan
kosakata musical, dan peka terhadap ritme, ketukan, melodi atau warna suara
dalam sebuah komposisi music. Misalnya dalam pelajaran kerajinan tangan dan
kesenian (kertakes), seorang individu akan cepat memahami pelajaran dan berani
menyanyikan/memainkan peralatan musik. Cenderung berprofesi menjadi:
(composer, musisi, dan ahli terapi musik).

2. Inteligensi Keterampilan kinestetik tubuh: kemampuan untuk memanipulasi


objek dan mahir sebagai tenaga fisik. Senang bergerak dan menyentuh. Mereka
memiliki control pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan
dalam bergerak. Mereka mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya. Cenderung
berprofesi menjadi: (ahli bedah, seniman yang ahli, penari, atlet)

3. Inteligensi Keterampilan intrapersonal: kemampuan untuk memahami diri


sendiri dengan efektif mengarahkan hidup seseorang. Memiliki kepekaan perasaan
dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri, dan mampu
mengendalikan diri dalam konflik. Ia juga mengetahui apa yang dapat dilakukan
dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungan social. Mereka mengetahui
kepada siapa harus meminta bantuan saat memerlukan. Cenderung berprofesi
menjadi : (teolog, psikolog).

4. Inteligensi keterampilan interpersonal: kemampuan untuk memahami dan secara


efektif berinteraksi dengan orang lain. Pintar menjalin hubungan social, serta
mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi. Mereka juga
mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku dan harapan orang lain, serta
mampu bekerja sama dengan orang lain. Cenderung berprofesi menjadi : (guru
yang berhasil, ahli kesehatan mental).

5. Inteligensi keterampilan naturalis: kemampuan untuk mengamati pola di alam


serta memahami system buatan manusia dan alam. Menonjol ketertarikan yang
sangat besar terhadap alam sekitar, termasuk pada binatang, diusia yang sangta
dini. Mereka menikmati benda-benda dan cerita yang berkaitan dengan fenomena
alam, misalnya terjadinya awan, dan hujan, asal-usul binatang, peumbuhan
tanaman, dan tata surya. Cenderung berprofesi menjadi: (petani, ahli botani, ahli
ekologi, ahli bentang darat).

6. Inteligensi emosional : kemampuan untuk merasakan dan mengungkapkan


emosi secara akurat dan adaftif (seperti memahami persfektif orang lain).

Intelligensi dapat diklasifikasikan menurut :

Intelligensi verbal, matematis dan analitis merupakan kelompok Intelligences


Question. Intelligensi ruang, gerakan, musical, naturalis dan kreatif merupakan
kelompok Spiritual Question, dan Intelligensi interpersonal, intrapersonal, praktis
dan emosional merupakan kelompok Emosional Question.

IQ : Kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Contoh: 3 x 3 = 9

EQ : Kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Contoh :


Komitmen, loyalitas, dan kepekaan

SQ : Kemampuan member makna puncak seperti ritual (Ultimate meaning).


Contohnya : Spiritualisasi pekerjaan.

(Agustian, power point ESQ, slide:13)

E. Otak dan Intelligensi

Berbicara intelligensi tentu saja berbicara otak, karena semua informasi, gerakan,
respon semuanya bermuara di otak. Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan
yang memiliki volume 1.350 cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron.

Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan


pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran/
intelligensi. Otak dan sel saraf di dalamnya dipercayai dapat mempengaruhi
kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak mempengaruhi perkembangan
psikologi kognisi.
Otak manusia terdiri dari beberapa bagian diantaranya : otak besar, otak tengah,
otak belakang dan otak kecil. Kesemuanya itu saling mempengaruhi dan
memperkuat dalam kinerja perdetiknya.

Otak besar yang terletak di depan yang mempunyai 2 belahan yaitu, otak kanan
dan otak kiri. Belahan kanan mengatur dan melayani tubuh bagian kiri dan
sebaliknya belahan otak kiri mengatur dan melayani otak kiri. Jika otak belahan
kiri mengalami gangguan maka tubuh bagian kanan mengalami gangguan bahkan
mungkin kelumpuhan.

Otak kiri berkecenderungan untuk pemahaman matematika, bahasa, membaca,


menulis, logika, sequences (urutan), sistematis, analitis, obyektif, perlu uji, dan
perlu data (valid dan terandal). Sedang otak kanan berkecenderungan untuk
pemahaman kreatifitas, konseptual, inovasi, gagasan, gambar, warna, music, irama,
melodi, subyektif, acak, tidak logis, rasa, keyakinan, tidak ilmiah dan bermimpi.

Otak kiri dan otak kanan tersebut akan dihubungkan oleh dendrit yaitu lapisan
dalam yang berwarna putih yang banyak mengandung serabut saraf. Yang nantinya
akan masuk dalam short term memori (STM), dimana bila seorang peserta didik
melihat the first impression dari gurunya yang menarik maka panca indera peserta
didik yang mendapat ketertarikan peran gurunya tersebut akan di respon oleh
panca inderanya tersebut dan masuk pada STM.

Jika dilakukan pembelajaran diulang-ulang atau refitisi maka peserta didik akan
mengalami pemahaman yang masuknya nanti pada long term memori (LTM).
STM dan LTM semuanya bermuara di otak, jika peserta didik sudah memahami
pelajaran yang disampaikan gurunya, maka peserta didik akan mengalami proses
berpikir dan memahami apa yang meski dilakukan atau bersikap. Seperti pada
gambar di bawah ini yang menggambarkan belahan otak kanan dan otak kiri yang
sangat berhubungan erat dan saling mempengaruhi.

Belahan otak kanan dan otak kiri mempunyai Anatomi otak yang berbeda
fungsinya, otak merupakan alat untuk memproses data tentang lingkungan internal
dan eksternal tubuh yang diterima reseptor pada alat indera. Data tersebut
dikirimkan oleh urat saraf yang dikenal dengan system saraf keseluruhan. System
saraf ini memungkinkan seluruh urat saraf mengubah rangsangan dalam bentuk
impuls listrik.

Kemudian impuls listrik dikirim ke pusat system saraf yang berada di otak dan urat
saraf tulang belakang. Disinilah data diproses dan direspon dengan rangsangan
yang cocok. Biasanya dalam tahap ini timbul saraf efektor, yang berfungsi untuk
mengirimimpuls saraf ke otot sehingga otot berkontraksi atau rileks.

Di dalam jaringan system saraf pusat terdapat hirarki control. Bayak rangsangan
sederhana berhubungan dengan tindakan reflex/aksi spontan (misalnya, dengan
cepat kita mengibaskan tangan saat menyentuh pirig panas). Otak tidak tidak
terlibat langsung dalam proses ‘identifikasi’ mengenai tindakan reflex.

Tapi tindakan reflex tersebut diproses di saraf tulang belakang. Meskipun otak otak
tidak terlibat langsung dalam proses yang berhubungan dengan aksi spontan, tetap
saja kita akan mencerna data/rangsangan yang dipersepsi alat indera.

Contohnya kita tidak serta-merta menumphkan sepiring penuh makanan tanpa


alasan kecuali piring itu memang panas sehingga kita reflex menumpahkannya.
Atau bisa juga hal itu disebabkan oleh stress yang kita alami.

Fenomena semacam ini adalah fungsi yang rumit yang terjadi di otak. Bernafas,
keseimbangan, menelan, dan mencerna terjadi karena fungsi otomatis otak. Dan
kita tidak menyadari bahwa proses tubuh tersebut membutuhkan control yang
lembut dan tekhnik mengatur yang baik. Otak purba mengontrolnya secara relatif.

Misalnya kita akan menoleh jika seseorang memanggil nama kita di jalan. Aksi
tersebut dikontrol oleh bagian otak yang lebih baru. Otak dan urat saraf tulang
belakang dilindungi oleh tulang (tengkorak dan tulang belakang secara brurutan)
dan dikelilingi oleh cairan otak yang berfungsi sebagai alat penahan goncangan.

Otak Nampak seperti sebuah kembang kol yang beratnya rata-rata 1,2 kg pada laki-
laki dan 1 kg pada perempuan. Otak dapat dibagi ke dalam 3 bagian umum yaitu
otak depan, otak tengah, dan otak belakang. Posisi bagian-bagian otak tersebut
tidak sesuai dengan namanya, seperti otak depan tidak berada di bagian depan.
Karena nama bagian-bagian tersebut didasarkan pada posisi saat manusia masih
berbentuk embrio. Kemudian posisi bagian-bagian otak tersebut berubah selama
perkembangan janin dalam kandungan. Otak belakang terletak di dasar kepala,
terdiri dari empat bagian fungsional, yaitu medulla oblongata, pons, bentuk
reticular dan cerebellum. Seperti pada gambar berikut: (http//Wikimedia
common:otak)

Diantara pusat otak dan korteks terletak system limbic (berasal dari bahasa latin
yang berarti batas). Anatomo system limbic ini memungkinkan kita mengontrol
insting/naluri kita. Misalnya, kita tidak serta merta memukul seseorang yang tidak
sengaja menginjak kaki kita. System limbic terdiri dari tiga bagian utama, yaitu
amygdale dan septum yang berfungsi mengontrol kemarahan, agresi, dan
ketakutan, serta hippocampus yang penting dalam merekam memori baru.

Korteks (korteks cerebal) adalah helaian saraf yang tebalnya kurang dari 5 mm,
tapi luas bagiannya mencapai 155 cm. korteks menyusun 70 % bagian otak.
Lipatan korteks yang erat kaitannya dengan tengkorak manusia membuat otak
tampak berkerut. Saraf dalam korteks memproses data. Korteks mempunyai
sejumlah struktur dan bagian-bagian fungsional yaitu bagian kiri dan kanannya.

Beberapa ahli berpendapat bahwa kedua belahan otak dihubungkan oleh sebuah
bundle serat tebal yang disebut corpus callsum yang membantu menyatukan
aktifitas otak (memberitahu otak kiri tentang apa yang dilakukan otak kanan, juga
sebaliknya). Dalam korteks ada empat lobus atau cuping, yaitu temporal, frontal,
occipital, dan parietal.

Lobus frontal berhubungan dengan konsentrasi, lobus temporal berhubungan


dengan bahasa dan ingatan, lobus parietal berhubungan dengan sensor data, dan
lobus occipital berhubungan dengan penglihatan dan persepsi. Jadi proses
kesadaran pikiran bergantung pada interaksi kompleks di bagianbagian otak.

(Porter&Hernacki dalam Wikimedia common: otak), menyatakan bahwa otak


dibagi dalam 3 bagian dasar, yaitu batang atau otak reptile, sisitem limbic atau otak
mamalia dan neokorteks. Ketiga bagian tersebut masing-masing berkembang pada
waktu yang berbeda dan mempunyai struktur syaraf tertentu serta mengatur
tugasnya masing-masing. Batang atau otak reptile adalah komponen kecerdasan
terendah dari manusia.

Ia bertanggung jawab terhadap fungsi-fungsi sensor motorik sebagai insting


mempertahankan hidup dan pengetahuan tentang realitas fisik yang berasal dari
pancaindera. Apabila otak reptile ini dominan, maka kita tidak dapat berfikir pada
tingkat yang sangat tinggi.

Di sekeliling otak reptile terdapat system limbic yang sangat kompleks dan luas.
Sistim limbic ini terletak di tengah otak yang fungsinya bersifat emosional dan
kognitif. Perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan
belajar dikendalikan oleh sisitem limbic ini. Sistim ini juga merupakan panel
control yang menggunakan informasi dari pancaindera untuk selanjutnya
didistribusikan ke bagian neokorteks.

Neokorteks adalah bagian otak yang menyimpan kecerdasan yang lebih tinggi.
Penalaran berfikir secara intelektual, pembuatan keputusan, bahasa, perilaku yang
baik, kendali motorik sadar dan penciptaan gagasan berasal dari pengaturan
neokorteks. Menurut Gardner dalam Santrock (2009: 156), kecerdasan majemuk
(multiple intelligensi) berada pada bagian ini. Bahkan pada bagian ini pula terdapat
intuisi yaitu kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang tidak
diterima oleh pancaindera.

Bagian-bagian otak tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam


kinerjanya, lebih jelas bisa dilihat pada gambar beikut:

Jaringan otak orang hidup menghasilkan gelombang-gelombang listrik yang


berfluktuasi pada tahun 1929. Alat ini disebut Electroencephalograph atau
disingkat EEG, dengan menempelkan sepasang electrode di kulit kepala, maka
dapat diketahui perbedaan tegangan arus listrik padanya.

Apabila di layar monitor electroencephalograph tidal lagi terlihat adanya


gelombang, maka orang tersebut secara medis telah mati, meskipun di bagian
tubuh lain masih ada gerakan. Frekwensi gelombang EEG dihitung dengan jumlah
cycles per second atau cps (Hertz-Hz).

Gelombang delta adalah kondisi orang sedang tidur yang frekwensinya antara 0,5
s.d 3,5 cps. Orang tidur tanpa mimpi, otaknya menghasilkan gelombang delta,
sedangkan orang koma gelombang otaknya hanya 0,5 cps. Tidur rutin untuk
manusia, adalah upaya untuk memulihkan kondisi sel-sel tubuhnya termasuk sel
otak yang telah bekerja berat seharian.

Oleh karena itu orang sakit perlu banyak tidur beristirahat. Glombang theta dengan
putaran 3,5 s.d 7 cps, terjadi saat orang bermimpi. Mimpi ditandai dengan gerakan
bola mata yang cepat. Perasaan bermimpi yang terasa lama sekali, pada hakekatnya
hanya berlangsung dalam hitungan detik.

Hal ini karena ukuran waktu yang dipakai orang yang bermimpi ialah waktu
ukuran ruh. Bukankah waktu ribuan tahun di dunia, hanya sekejap saja menurut
ukuran akhirat. Para penemu, pencipta musisi bekerja dalam kondisi gelombang
theta. Gelombang Alpha antara 7 s.d 13 cps. Terjadi pada kondisi normal orang
dewasa bekerja, tanpa dibebani pikiran macam-macam, tanpa target yang berat.

Berdasarkan informasi yang diserap oleh gelombang-gelombang di atas, maka


terdapat jenis-jenis informasi

Memori otak manusia kerjanya mirip dengan memori komputer. Pada komputer,
memorinya disebut RAM (Random Access Memory) berfungsi merekam,
memelihara dan memanfaatkan informasi baru. Pada manusia, fungsinya lebih luas
lagi mencakup perbendaharaan kata, pengetahuan bahasa, semua informasi yang
telah kita pelajari, pengalaman hidup pribadi, segala kemahiran yang telah
dipelajari dari mulai berjalan, berbicara hingga prestasi musik dan olahraga.

Klasifikasi Memori. Para ahli membagi memori otak manusia menjadi dua yaitu
memori jangka pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long
term memory). Memori jangka pendek adalah memori yang cepat diingat, cepat
lupa dan kapasitasnya terbatas, sedangkan memori jangka panjang adalah memori
yang lambat dilupakan dan kapasitasnya tidak terbatas. Memori jangka panjang
dibagi menjadi dua yaitu memori deklaratif (eksplisit) dan memori non deklaratif
(implisit/prosedural).

Memori deklaratif/eksplisit adalah memori yang dimaksud seperti kebanyakan


orang dengan memori. Memori deklaratif/eksplisit disimpan di dalam korteks
serebral tepatnya di hipokampus. Memori deklaratif/eksplisit dibagi lagi menjadi
dua, yaitu memori episodik dan memori semantik. Memori episodik adalah
memori tentang pengalaman-pengalaman diri sendiri yang biasanya berhubungan
dengan riwayat hidup.

Memori semantik berisikan jumlah total pengetahuan yang dimiliki seperti


perbendaharaan kata, pemahaman matematika dan segala fakta yang diketahui.
Memori non deklaratif/implisit/prosedural berisikan antara lain kemahiran,
kategori, priming, hubungan dasar dan keterbiasaan (classical conditioning).
(http//Wikimedia common:otak).

Keadaan memori di atas boleh jadi merupakan tanda-tanda otak seorang individu
membutuhkan “makanan baru”. Rutinitas pekerjaan dan tenggat waktu yang ketat
seringkali membuat orang melupakan kesempatan me-recharge baterai alami
sekaligus prosesor komputer tercanggih yang dimiliki: Otak.

Kebiasaan beraktivitas, pola makan dan teman-teman bergaul, perlu diperiksa lagi
agar kecanggihan mesin ajaib di tubuh dalam keadaan terawat. Kebiasaan lama
ibarat jalan tol sepanjang 100 km menuju lokasi tujuan yang dilalui oleh ribuan
kendaraan.

Namun, aktivitas baru dapat dianalogikan dengan jalan setapak yang sangat
mungkin berjarak 50 km ke lokasi yang tuju. Jadi mendengar musik yang itu-itu
saja dan membaca surat kabar yang sama setiap hari membuat orang merasa jalan
tol ini adalah rute paling dekat menuju tujuannya.

Berikut ini beberapa tips yang dapat membuat seorang individu lebih cepat
membangun dan menemukan jalan setapak baru yang lebih singkat:

* Baca majalah/surat kabar/buku dengan topik yang belum pernah dikenali


sebelumnya. Informasi yang sama sekali baru, adalah bahan bakar dari proses
kreatif.

* Ikuti kelas-kelas keterampilan baru, seperti: kursus fotografi, keterampilan


menulis kreatif, kursus mematung, kursus menggambar atau kursus menari India.
Aktivitas motorik yang sama sekali baru dapat memberi perspektif baru dalam
kegiatan sehari-hari yang jalani.

* Hasilkan sesuatu: artikel, tulisan, gambar, sketsa dan lukisan. Seorang Individu
dapat juga membuat coretan berupa simbol-simbol dari alur pekerjaanseorang
individu. Coretan berupa simbol dapat membantu seorang individu berpikir secara
simbolis dan visual.

Bila individu terbiasa berpikir dengan kata-kata, berpikir dengan gambar, akan
memudahkan lahirnya ide baru. Perasaan produktif juga dapat memacu individu
untuk menghasilkan hal lain lagi.

* Lakukan Olahraga ritmis dan bersifat aerobik secara teratur. Berenang, jogging
dan jalan cepat bermanfaat jika sedang tersendat saat berpikir suatu masalah.
Aktivitas repetitif semacam ini memudahkan kegiatan berpikir di bawah sadar
‘meloncat’ keluar.

* Nikmati musik. Dengarkan lagu-lagu dari jenis musik yang berbeda dari yang
biasa didengar. Ingin melakukan aktivitas mental yang lebih rumit? Kalau perlu
belajar untuk memainkan instrumen musik baru.

* Memasak. Ini serius! Mengolah makanan yang mentah menjadi sajian yang
matang dan menggoda dengan seluruh proses prosedur memasak melibatkan
seluruh otak seorang individu. Jika ingin sekalian menikmatinya, jangan lupakan
kerang dan ikan laut. Makanan berprotein tinggi adalah amunisi andalan bagi otak.

* Bertemu dan bersosialisasi dengan orang baru. Membangun hubungan dengan


orang baru menambah persepsi baru tentang hidup dan kehidupan. Pelajari cara
orang lain memandang masalah dan menyelesaikannya.

* Lalui rute baru di perjalanan. Secara aktif mencari jalur alternatif baru selain
menambah peluang menghindari kemacetan juga dapat melatih kemampuan
keruangan dan daya ingat.

Jadi jangan biarkan sel-sel otak diam sehingga lama-kelamaan menyusut. Rawat
dan kembangkan kemampuan agar benda ajaib ini dapat berproduksi optimal.

Setiap Manusia Normal dilahirkan dengan kapasitas otak yang hampir sama, yakni
1.2 kg pada pria, dan 200 gram lebih sedikit pada wanita. Ini berarti, setiap orang
memiliki POTENSI yang sama untuk sukses, termasuk dalam hal belajar. Bila
peserta didik telah merasa belajar dengan keras, tekun namun belum juga
mendapatkan hasil yang diinginkan, hal tersebut berarti ada yang salah dengan
METODE BELAJAR nya, atau kemungkinan besar peserta didik tidak memiliki
metode Belajar sama sekali! Jika demikian halnya, Peta Sukses Belajar Cerdas bisa
menjadi salah satu alternative Metode Belajar yang cerdas dan efektif-efisien.

F. Pengukuran Inteligensi

Intelegensi tidak dapat di ukur seperti tinggi badan atau berat badan, karena
kecerdasan hanya dapat di ukur secara tidak langsung melalui tindakan cerdas yang
di lakukan seseorang dan melalui tes intelegensi secara tertulis.

Santrock (2009:152) mengemukakan bahwa tes kecerdasan yang dapat di lakukan


dalam bentuk tertulis adalah tes culture-fair.

Tes culture-fair yaitu tes yang menghindari tes budaya, tes tersebut telah di
kembangkan dalam dua jenis yang bebas bias budaya. Yang pertama mencakup
pertanyaan yang di kenal orang-orang dari semua latar belakang sosial ekonomi
dan etnis. Misalnya pertanyaan untuk orang-orang yang memiliki pendidikan yang
tinggi akan berbeda dengan orang yang belum berpendidikan tinggi.

1. Tes Inteligensi Individual

Tes 1905 scale, dinamakan tes 1905 karena tes ini ditemukan pada tahun 1905 oleh
Alfred Binet. Tes ini terdiri dari 30 pertanyaan, yang berkisar dari kemampuan
untuk telinga seseorang sampai kemampuan untuk menggambarkan rancangan dari
ingatan dan mendefinisikan konsep-konsep abstrak.

Tes Binet mengembangkan konsep Usia mental, tingkat perkembangan mental


seseorang bila dibandingkan dengan orang lain. Pada tahun 1912 William Stern
menciptakan konsep intelligence question (IQ), yang merujuk pada usia mental
seseorang dibagi usia kronologis, dikali 100 yaitu IQ = MA/CA x 100.

Apabila usia mental sama dengan usia kronologis, maka IQ nya adalah 100.
Apabila usia mental di atas usia kronologis, IQ nya lebih dari 100. Tes Stanford-
Binet saat ini dilakukan secara individual untuk orang yang berusia 2 tahun sampai
dewasa. Tes ini mencakup berbagai soal, beberapa soal membutuhkan respon
verbal, soal yang lainnya membutuhkan respon non verbal.

Tes skala Wechsler, yang dikembangkan oleh david Wechsler. Tes tersebut
mencakup Wechsler Presscool dan Primary scale of intelegence III (WPPSI III)
untuk mengetes anak-anak berusia 4-6,5 tahun, Wechsler Intelegence scale for
children – IV Integrated (WISC-IV Integrated) untuk anak-anak dan para remaja
berusia 6 s.d 16 tahun, dan Wechsler Adult Intellegence Scale (WAIS III).

Selain IQ secara keseluruhan, skala Wechsler juga menghasilkan IQ verbal dan IQ


kinerja (berdasarkan soal-soal yang tidak membutuhkan respons verbal). Soal IQ
verbal didasarkan pada 6 subskala verbal, IQ kerja pada lima subskala kinerja.
Skala tersebut memungkinkan penguji dapat dengan cepat pola kekuatan dan
kelemahan dalam area intelegensi siswa yang berbeda-beda. (Woolger dalam
Santrock, 2009:153).

2. Tes Intelegensi kelompok

Tes intelegensi kelompok mencakup Lorge-Throndike Intellegence test, Khulman


Anderson Intellegence tes, dan Otis –Lennon School Mentak Abilities Test. Tes
intelegensi kelompok lebih mudah dan lebih ekonomis daripada tes individual,
tetapi tes intelegensi kelompok mempunyai kekurangan. Ketika sebuah tes
diberikan dalam satu kelompok besar, penguji tidak bisa membangun koneksi,
menentukan tingkat kegelisahan siswa, dsb. (Drummond dalam Santrock,
2009:154).
Dalam situasi tes kelompok besar, para siswa bisa jadi tidak memahami perintah
atau mungkin terganggu oleh siswa lain. Oleh karena keterbatasan tersebut, saat
membuat keputusan penting mengenai siswa, tes intelegensi kelompok perlu
dilengkapai dengan informasi kemampuan siswa tersebut.

Untuk hal itu, strategi yang sama berlaku untuk tes intelegensi individual,
meskipun biasanya bersikap bijaksana untuk tidak mempercayai begitu saja akurasi
skor inteligensi nilai kelompok. Banyak siswa mengerjakan tes dalam kelompok-
kelompok besar di sekolah, tetapi keputusan untuk menempatkan seorang siswa
dlam satu kelas bagi siswa-siswa yang mempunyai keterbelakangan mental, kelas
pendidikan khusus , atau kelas untuk sisiwa-siswa yang berbakat seharusnya tidak
hanya didasarkan pada tes kelompok.

Dengan memahami intelegensi ini , maka tentunya kita dapat menerapkan


Intelegensi dalam memahami diri kita sendiri , lingkungan kita , dan memahami
orang lain. Pentingnya memahami Intelegensi ini pun akan di Implementasikan
dalam Dunia Pendidikan , dimana Intelegensi seseorang akan mempengaruhi pola
pikir dan cara pandang seseorang dalam menentukan tindakan.