Anda di halaman 1dari 2

ANDA MAHASISWA?

DROPOUTLAH SEGERA 1
oleh
Eri Kurniawan 2

Anda pasti tahu bahwa negara kita adalah negara yang tergolong negara berkembang
(baca: miskin). Simaklah berapa banyak jumlah penduduk miskin menurut Badan Pusat
Statistika tahun 2004. BPS mencatat sedikitnya 35.063 juta penduduk berada di bawah
garis kemiskinan. 4,6 juta di antaranya tinggal di Jawa barat. Fenomena ini diperparah
dengan besarnya angka pengangguran. BPS mendata saat ini pengangguran sudah
mencapai 38,2 juta orang. Ironisnya, 54% diantaranya adalah pengangguran terdidik—
para lulusan perguruan tinggi (PT) yang tidak bisa diserap oleh dunia kerja (euphemism
untuk lulusan PT yang tidak bisa bekerja). Dan angka ini diperkirakan akan semakin
membesar tiap tahunnya mengingat krisis ekonomi yang tak kunjung usai dan kondisi
ekonomi global yang tengah labil.

Angka-angka di atas, setidaknya, memperlihatkan kepada kita betapa PT sekarang ini


sudah tidak mampu menyuguhkan jawaban terhadap pelbagai persoalan dan kebutuhan
masyarakat. Mungkin, asumsi atau klaim ini terlalu gegabah. Tapi ingat, lebih dari
setengah pengangguran saat ini adalah jebolan PT. Lantas, pertanyaan yang patut kita
ajukan adalah bagaimana proses pendidikan selama di PT sehingga tidak mampu
‘mencetak’ (PT layaknya pabrik atau percetakan saja) lulusan yang diklaimnya kaum
intelektual yang bisa bekerja.

Sebagai orang yang katanya kritis, tentunya, Anda akan balik bertanya, ‘Kalau begitu
tujuan pendidikan hanyalah untuk menghasilkan orang siap bekerja?’ Entahlah. Itu
tergantung lensa yang kita pakai untuk menilik pendidikan. Tapi coba kita amati
tingginya antusiasme masyarakat terhadap PT. Setiap tahun, kalau kita lihat dari data
jumlah penduduk Indonesia yang masuk PT, semakin banyak masyarakat yang begitu
antusias masuk PT. Banyak faktor yang memotivasi tentunya. Tapi, kalau saya tidak
salah, banyak orang tua mendorong anaknya masuk PT dengan satu harapan besar bahwa
suatu hari nanti anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji dan
renumerasi yang menarik. Tentunya setelah lulus dari PT. Wah, besar sekali beban yang
harus ditanggung si anak untuk mewujudkan harapan orang tuanya!

PT memang sudah lama dijadikan tumpuan harapan yang bisa membantu mewujudkan
impian-impian masyarakat. PT diyakini sebagai gudang ilmu, pusat pengetahuan,
labolatorium penelitian, komunitas intelektual dan ilmuwan dan sederet sebutan lain yang
begitu luar biasa. Padahal coba Anda tengok ke pusat-pusat penelitian di PT, berapa
banyak laporan hasil penelitian yang ditumpuk bagaikan tumpukan koran bekas? Tidak
sedikit tentunya. Inilah alasan mengapa PT acapkali dijuluki sebagai menara gading,
karena aktivitas ilmiah yang berlangsung di dalamnya hanya berkisar tentang dan di
dalam PT itu sendiri, tidak mampu menyentuh masyarakat. Kajian-kajian yang
diselenggarakan hanyalah ajang ekstasi intelektual. Hanya berwacana ria. Penelitian pun
tidak ditindaklanjuti agar bisa aplikatif. Sebagian (sebagian besar mungkin) hanya
ditujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan saja. Jadi hanya ilmu untuk ilmu.

1 Tulisan ini banyak terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Andrias Harifa, penulis buku-buku
best-selling, di antaranya yang berjudul ‘Manusia Pembelajar’ dan ‘Sekolah Saja Tidak Pernah
Cukup’.
2 Eri Kurniawan adalah pembelajar di Universitas Kehidupan, tinggal di Ledeng, Bandung.
Lantas, pertanyaan selanjutnya, apakah salah kalau kita mengikuti pendidikan (semisal
kuliah di PT) dalam rangka mencari kesejahteraan dan penghidupan yang layak? Tidak
salah memang. Tapi, mari kita ungkap secara ringkas esensi pendidikan. Pendidikan
sejatinya adalah kehidupan itu sendiri. Artinya, berbicara pendidikan bukan hanya
berkisar tentang sekolah, kampus atau PT. Karena pendidikan melibati semua aspek
kehidupan. Pendidikan ada untuk mengaktualisasikan semua potensi yang Allah berikan
kepada manusia. Dalam bahasa Al-Qur’an, pendidikan diistilahkan dengan tarbiyah yang
secara bahasa maknanya berarti ‘meningkatkan’ atau ‘membuat sesuatu lebih tinggi’. Ini
mengandung pra-anggapan bahwa setiap manusia ketika dilahirkan memiliki potensi
yang harus ditingkatkan. Potensi inilah yang kita fahami sebagai fitrah atau dalam bahasa
Cak Nur disebut ‘bibit-bibit naluri kebaikan’. Nah, sampai di sini, kita bisa memahami
bahwa persekolahan saja, termasuk didalamnya PT, tidak akan pernah mampu
menjalankan proses pendidikan.

PT yang mengklaim dirinya sebagai salah satu lembaga ‘pendidikan’, sebagian besar
menitikberatkan proses ‘pendidikan’nya pada transfer ilmu. Aktivitas yang berlangsung
di perkuliahan melulu hanya mengisi kebutuhan kognitif. Padahal Bloom saja
menyebutkan bahwa kita memiliki tiga ranah yang harus diisi: kognitif, afektif, dan
konatif/psikomotorik. Anda pasti mengelak, ‘Itukah sebatas asumsi saja’. Baik, tapi
bukankah mahasiswa yang dikategorikan ‘teladan’ adalah mahasiswa yang IPK-nya
melangit, bisa menghapal seabreg teori dan konsep dengan baik, sehingga ia bisa
mengerjakan ujian dengan sempurna, terlepas dari apakah ia kritis dan berbudi pekerti
yang baik (berakhlakul karimah)? Nah, jadi PT sebenarnya lebih layak disebut sebagai
lembaga pengajaran tinimbang lembaga ‘pendidikan’. Betul tidak?

Jadi, kalau begitu, tidak salah ketika PT giat mengembangkan ilmu untuk ilmu karena
memang sesuai dengan tugasnya sebagai lembaga pengajaran, terlepas dari apakah ilmu
itu aplikatif untuk masyarakat atau tidak. Mengutip beberapa pandangan Peter Drucker,
konsep ihwal PT ini memang sejalur dengan perkembangan konsep ilmu pengetahuan.
Pada masa revolusi industri, ilmu pengetahuan hadir menjadi sumber perbuatan atau
penciptaan. Kemudian ilmu pengetahuan dikaitkan dengan pekerjaan dan produktivitas.
Tapi memasuki fase terakhir, ilmu pengetahuan ada untuk menghasilkan ilmu
pengetahuan baru.

Nah, sekarang setelah mengetahui esensi pendidikan dan fenomena PT, kalau Anda
mahasiswa dan Anda ingin agar proses aktualisasi potensi atau fitrah Anda bisa paripurna,
maka segeralah memutuskan untuk dropout (baca: menyudahi) perkuliahan Anda. Karena
PT secara idealis tidak mampu menyodorkan proses pendidikan yang sebenarnya dan
secara pragmatis tidak bisa memberikan bekal kompetensi kepada Anda untuk bekerja.

Terakhir, sebagai penutup, Anda kenal dengan orang-orang ini? Bill Gates (pemilik
Microsoft), Lawrence Ellison (pemilik Oracle), Michael Dell (pemilik Dell) adalah
beberapa nama orang terkaya sejagat. Atau kalau di tanah air, pernahkah Anda mendengar
nama Alam Wiyono (Direktur marketing PT Toyota-Astra), Stevanus Abrian Natan
(Direktur eksekutif PT CNI) Bob Sadino (KemChick), Willy Sidharta (Presiden direktur
PT Aqua)? Mereka semua adalah orang yang dropout dari kuliah mereka.

Wallahu A’lam