Anda di halaman 1dari 8

Outline

STUDI DAN ORGANISASI: BISAKAH DIPOLIGAMI?

Mukadimah

– Banyak aktivis yang jeblok akademiknya ataupun banyak mahasiswa


yang orientasinya hanya kuliah tidak acuh dengan dunia organisasi.
– Organisasi kemahasiswaan baru dimanfaatkan sebagai labolatorium
sosial, belum dijadikan labolatorium akademik.

Studi: Apaan Tuh?

– Studi hanya diartikan sebagai proses menimba ilmu dalam ruang


akademik semisal kelas, labolatorium.
– Organisasi hanya dijadikan organ pelengkap kampus.
– Organisasi adalah ruang nyata untuk melangsungkan studi.

Tren Multi

– Abad ini, dunia memasuki tren multiple (windows, multiple intelligence,


sekolah terpadu, poligami)
– Manusia diciptakan dengan potensi luar biasa untuk mengemban
amanah ganda atau bahkan multi.

Solusi

– Evaluasi diri untuk menggali setiap potensi diri.


– Terus tingkatkan kemampuan diri untuk mengemban amanah multi.
– Evaluasi program kerja organisasi yang tidak bertemali dengan
pengembangan pribadi anggotanya terutama pengembangan
kemampuan akademik.

Khatimah

– Hidup adalah proses pemilahan pilihan dan setiap individu dianugerahi


hak untuk memilih.
– Poligami menjadi pilihan tepat untuk mengoptimalkan potensi dan
menjawab tantangan zaman.
STUDI DAN ORGANISASI: BISAKAH DIPOLIGAMI? *)
oleh

Eri Kurniawan **)

Mukadimah

Kehidupan kampus selalu mensyaratkan dinamika tersendiri yang


dalam perjalanan sejarahnya sering kali mewarnai perubahan sosial politik
suatu bangsa, termasuk Indonesia. Dinamika kehidupan kampus di negara
ini telah mengalami pasang surut yang dinamis. Pergantian rejim atau pucuk
kepemimpinan negara secara umum dimotori oleh keterlibatan unsur
kampus, yakni mahasiswa. Simak saja sejarah tergulingnya Sukarno,
Suharto, dan yang terkini Gusdur.

Belakangan, dinamika kampus di tanah air ini membuahkan tren yang


menarik. Tren berorganisasi senantiasa diversuskan dengan tren studi an
sich. Tahun 1998 yang menjadi tahun keemasan gerakan mahasiswa yang
berhasil menumbangkan orde baru merupakan masa dimana organisasi
kemahasiswaan (ormawa) mendapatkan posisi yang signifikan dalam
kehidupan kampus. Keberadaan ormawa memiliki kekuatan tawar yang
diperhitungkan oleh pengambil kebijakan baik di tingkat universitas maupun
nasional. Aktivis kemudian mendapatkan prestise yang luar biasa di
masyarakat. Banyak di antara mantan pelaku gerakan reformasi ini yang
mendapatkan posisi penting di organisasi kemasyarakatan dan partai politik.
Ruh gerakan reformasi ini terus ditumbuhkan dan diwariskan, sampai-sampai
ada eskalasi gerakan penumbangan rejim Mega-Hamzah yang dinilai gagal
mengemban amanah rakyat sekitar tahun 2003. Seiring itu, manajemen
universitas melakukan perubahan status dari PTN (Perguruan Tinggi Negeri)
menjadi PT BHMN (Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara). Hal ini di
antaranya didorong oleh ketidakberdayaannya pemerintah untuk
menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, teristimewa biaya
pendidikan tinggi. Perubahan status ini secara tidak langsung membawa
kecenderungan sendiri yakni orientasi mahasiswa yang cenderung study-
oriented karena didorong oleh adanya kenaikan biaya pendidikan yang akan
membebani.

Tren di atas menyebabkan perbedaan orientasi mahasiswa. Ada yang


memilih berorganisasi dan ada yang memilih studi saja. Banyak mahasiswa
yang mengaku aktivis tulen yang ternyata kuliahnya amburadul atau bahkan
ujung-ujungnya dikeluarkan (drop out) karena sering membolos. Di sisi lain,
banyak juga mahasiswa dengan orientasi hanya kuliah yang tidak acuh
dengan dunia organisasi atau bahkan apatis dengan keadaan sosial di
1
sekitarnya. Ketidakacuhan sejumlah aktivis terhadap kuliah di antaranya
disebabkan oleh kecenderungan kampus yang menjadi menara gading,
mengembangkan ilmu yang kerap kali mengambil jarak dengan realitas
sosial atau kebutuhan masyarakat. Sementara, mereka yang memilih hanya
kuliah beranggapan bahwa kuliah saja sudah cukup menjamin keberhasilan
karier mereka nanti. Fenomena ini menghadirkan dikotomi antara dunia
akademik dengan dunia kemahasiswaan.

Dikotomi dunia akademik dengan dunia kemahasiswaan diperkokoh


dengan dua realitas. Pertama, kebijakan universitas menempatkan
organisasi kemahasiswaan hanya sebatas kelengkapan non struktural.
Walaupun bukan faktor determinan, status ini memosisikan kegiatan
kemahasiswaan sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang sifatnya
komplementer (pelengkap). Dengan kata lain, aktivitas keorganisasian hanya
dijadikan aktivitas pelengkap kuliah atau akademik. Kedua, ormawa pun
merasa sebagai bagian terpisah dari dunia akademik. Ormawa mengklaim
dirinya sebagai wahana pengembangan potensi diri dan ajang aktualisasi diri
untuk menimba ilmu dan pengalaman yang tidak bisa didapatkan dunia
akademik. Dengan sebilangan jargon yang sering digaung-gaungkan
(independensi, agent of social control, agent of change, dan iron stock),
terkadang, aktivitas ormawa kurang mendapat perhatian dari pengambil
kebijakan kampus. Terlebih, ormawa sering kali menggelar aktivitas atau
membuat program kerja yang tidak bersinergi dengan aktivitas akademik.

Studi: Apaan Tuh?

Apakah mahasiswa yang orientasinya hanya studi/kuliah bisa


dikatakan sebagai orang yang benar-benar studi sementara mahasiswa yang
orientasinya berorganisasi tidak dianggap sebagai orang yang studi? Apakah
studi hanya dibatasi dalam lingkup pembelajaran di ruang kelas/kuliah?
Apakah orang yang orientasinya ganda semisal kuliah dan berorganisasi bisa
ditilik sebagai orang yang belum sepenuhnya melakukan studi? Apa sich
studi itu? Nah lo!

Selama ini, studi atau belajar hanya dimaknai sebagai proses formal
dimana di dalamnya berlangsung proses pemberian materi dari seorang
pengajar kepada anak ajar (baca: anak didik, karena universitas hanya bisa
melangsungkan proses pengajaran tinimbang proses pendidikan). Bahkan
proses penugasan tanpa dosen acap kali dianggap bukan studi, tidak belajar.
Implikasinya, orang yang berorganisasi dianggap tidak studi. Aktivitas yang
berlangsung di dunia organisasi pun dipandang tidak akademik/tidak ilmiah.
Terlebih, apabila dicermati, tidak banyak aktivitas organisasi yang ditujukan
untuk mengasah kemampuan akademik mahasiswa. Sekalipun ada,
misalnya, sering kali tidak bersinergi dengan pemangku kebijakan kampus

2
atau bahkan kurang mendapatkan respon dari mahasiswa yang lain. Ironis
memang.

Padahal, kalau kita gali dari berbagai literatur pendidikan, studi/belajar


atau pembelajaran sering diasosiasikan dengan longlife learning, learning by
doing. Bahkan ajaran agama pun mengamini hal ini. Islam, misalnya,
mewajibkan setiap pengikutnya (baik laki-laki maupun perempuan) untuk
menimba ilmu dari mulai dilahirkan sampai dikuburkan tanpa memandang
apakah seseorang mampu atau tidak mampu secara finansial. Artinya proses
penimbaan ilmu tidak terkait dengan apakah seseorang memiliki cukup
materi untuk bersekolah. Dengan kata lain, semua orang terikat oleh
kewajiban untuk belajar tanpa kecuali. Nah,apa mungkin belajar yang
diwajibkan kepada semua orang hanya dibatasi oleh ruang kelas yang
ternyata tidak ada yang gratis?
Belajar yang hakiki adalah proses bagaimana kita memahami makna
hidup dengan semua aspek kehidupannya. Belajar sejatinya bukan hanya
dalam rangka membekali anak ajar dengan sejumlah pengetahuan dan
keterampilan yang akan diaplikasikan dalam dunia kerja atau dunia usaha,
melainkan harus dilihat sebagai upaya memahamkan kita sebagai manusia
untuk sadar akan keberadaan kita, peran kita dalam kehidupan, dan tujuan
kita menjalani kehidupan. Jika dipahami seperti ini, proses belajar tidak
melulu mensyaratkan adanya pertemuan dengan pengajar, adanya ruang
kelas, dan hal-hal lain yang sifatnya formal. Belajar bisa berlangsung kapan
saja dan dimana saja. Selama kita bisa mengambil sebentuk makna dari
setiap episode kehidupan kita, maka kita sedang melakukan pembelajaran.
Dalam konteks ini, organisasi bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif
untuk belajar. Betulkah?

Di lihat dari fungsi, organisasi dibangun untuk memberikan wahana


pengembangan potensi diri. Setiap anggota bergabung ke dalam organisasi
dengan tujuan untuk mencari ajang aktualisasi diri, ajang penyaluran minat
atau bakat, atau sebilangan tujuan ‘mulia’ lainnya kendatipun nyata-
nyatanya tidak sedikit orang yang mengikuti organisasi hanya untuk mengisi
waktu luang, iseng, atau hanya ikut-ikutan. Terlepas dari semua motivasi di
atas, organisasi adalah kumpulan manusia yang di dalamnya pasti terdapat
interaksi, dinamika atau bahkan konflik. Anggotanya akan berkomunikasi,
bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan yang disepakati, layaknya
sebuah masyarakat. Inilah alasan mengapa organisasi diklaim juga sebagai
miniatur masyarakat. Oleh karenanya, tentu saja, akan banyak sekali
pelajaran dan pengalaman yang bisa diperoleh dengan melibati organisasi.
Proses belajar akan berlangsung di dalamnya selama anggota organisasi
menyadari proses karena pembelajaran baru berlangsung ketika timbul
kesadaran pembelajar akan proses.

Organisasi memang bukan satu-satunya alternatif wahana


pengembangan diri karena masih ada alternatif lain yang bisa membantu
3
mahasiswa mengembangkan potensi dirinya semisal dunia usaha, dunia
kerja atau bahkan keluarga (menikah saat kuliah). Akan tetapi, organisasi
sebagai wadah yang menampung orang terutama organisasi kemahasiswaan
nampaknya bisa memberikan nilai lebih. Simak saja sebilangan aktivitas
ormawa yang selama ini ada (baik intra ataupun ekstra kampus)—penuh
dengan pembelajaran akan perjuangan nilai idealis atau bahkan
keterampilan praktis semisal berinteraksi/berkomunikasi baik interpersonal
maupun masal, bersosialisasi, memimpin orang, menggelar kegiatan dan
sebagainya yang pada intinya membelajarkan anggotanya bagaimana
berurusan dengan orang lain. Keterampilan-keterampilan inilah yang akan
kemudian menjadi bekal berhargauntuk terjun ke dalam masyarakat paska
lulus. Apapun bentuk aktivitas yang nanti dilakukan—bekerja atau
berwirausaha—keterampilan tersebut akan sangat dibutuhkan karena
sebagian besar aktivitas tetap berurusan dengan orang.

Tren Multi

Sebagian orang masih mempersepsi realitas dunia ini dengan biner


atau dikotomis—hitam putih, benar salah, baik buruk, kanan kiri dan
sejenisnya. Seolah-olah Tuhan tidak memberikan pilihan lain selain memilah
salah satunya. Kalau tidak hitam, ya putih, misalnya. Sebagai contoh kasus,
mari kita cermati pelabelan atau pengelompokkan gerakan mahasiswa. Ada
yang dikategori kanan, ada yang kiri. Ada yang dikategori hijau, ada yang
merah. Seolah-olah tidak ada pilihan lain selain memilih salah satunya.
Padahal pengelompokkan ini juga tidak jelas, paling tidak permasalahan
mendasarnya adalah apa dasar yang bisa kita rujuk untuk mengelompokkan
hal itu. Ideologikah? Afiliasi agamakah? Jargonnyakah? Contoh lain adalah
pengelompokkan mahasiswa. Ada yang dilabeli mahasiswa yang study-
oriented, ada aktivis. Seolah-olah mahasiswa hanya dua jenis. Padahal coba
lihat realitas sebenarnya, ada juga mahasiswa yang tidak kedua-duanya,
misalnya mereka yang cenderung apatis (tidak peduli, asosial), hedonis
(suka main, hura-hura), pragmatis (suka hal-hal praktis) atau bahkan
kombinasi atau perpaduan dari tipe-tipe tersebut.

Di lihat dari tren, abad ini (abad XXI), dunia memasuki tren perpaduan
(multiple). Orang sudah tidak lagi memosisikan realitas sebagai dikotomi
karena ternyata tidak begitu adanya. Dunia tidak lagi dilihat sebagai realitas
hitam putih, melainkan ada realitas abu-abu dan sebagainya. Untuk bertahan
hidup di dunia saat ini, dibutuhkan perpaduan. Makanya, akhir-akhir ini kita
sudah tidak asing dengan tren multiple (perpaduan atau keragaman). Dunia
komputer, misalnya, sudah mengenal sistem operasi Windows yang
memungkinkan menjalankan lebih dari satu aplikasi pada saat yang
bersamaan. Apalagi saat ini sudah diciptakan generasi di atas Pentium IV
yakni Core Duo yang memiliki kemampuan multi dengan akselerasi tinggi.
Dunia telekomunikasi sudah mengintegrasikan fasilitas tambahan ke dalam
4
handpone semisal kamera, video, 3G, internet, koneksivitas infra merah dan
bluetooth, aplikasi Symbian dan Windows, dan lain-lain. Bahkan, baru-baru
ini sudah ada pabrik telekomunikasi yang mengawinkan jaringan GSM dan
CDMA dalam satu HP. Dunia persekolahan juga sudah menerapkan tren
perpaduan dengan mengintegrasikan materi tambahan semisal bahasa
Inggris, komputer, materi keagaamaan, dan sejenisnya dalam kurikulum
sekolah. Konsep kecerdasan yang awalnya hanya mengakui kecerdasan
kuantitatif sudah dibantah dengan adanya Multiple Intelligences dari Gardner
yang mengakui ragam kecerdasan yang dimiliki orang. Konsep ini pun sudah
diterapkan di sebilangan sekolah. Kenapa bisa?

Kalau ditilik, perkembangan tren itu didorong oleh tuntutan dan


kompleksitas zaman yang semakin ‘menggila’. Meningginya kebutuhan
orang terhadap pelbagai hal pada satu waktu yang sama menuntut adanya
perpaduan. Windows, sebagai contoh, didisain untuk menjawab kebutuhan
orang. Awalnya orang hanya butuh aplikasi pengetikan, perhitungan dan
database, tapi kemudian pada saat yang sama orang juga perlu
mendengarkan musik dan sejenisnya. Akhirnya dikembangkan teknologi
komputer mulai dari desktop sampai laptop yang menyediakan berbagai
fasilitas teknologi yang semakin lengkap.

Dunia pendidikan pun menghadapi tuntutan yang sama. Perguruan


tinggi saat ini dituntut tidak hanya harus bisa ‘mencetak’ ilmuwan-ilmuwan
baru yang bisa membidani kelahiran ilmu pengetahuan baru, tapi juga harus
mampu menyediakan lulusan yang bisa ‘dipakai’ oleh masyarakat.
Implikasinya, mahasiswa tidak lagi cukup dengan kemampuan akademik
saja, melainkan harus membekali dengan keterampilan atau pengalaman
yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam konteks ini, organisasi bisa
dijadikan kawah candradimuka yang bisa menggembleng mahasiswa dengan
keterampilan-keterampilan aplikatif bermasyarakat. Organisasi, sebagai
miniatur masyarakat, bisa menawarkan peluang luas untuk belajar
bermasyarakat, memimpin orang, mengatur kegiatan, dan lain sebagainya.

Di lihat dari perspektif lain, kita sebagai manusia dianugerahi dengan


potensi yang luar biasa. Sadarkah kita bahwa otak sebagai salah satu
anugerah Tuhan memiliki kemampuan menyimpan dan mengakses data
yang belum bisa dikalahkan oleh komputer secanggih apapun. Belum lagi
potensi atau bakat lain yang belum kita gali. Artinya, dengan potensi besar
itu, kita sebenarnya diciptakan untuk bisa mengemban peran ganda atau
bahkan multi. Seorang laki-laki, misalnya, bisa memangku peran atau
jabatan multi sebagai anak, ayah, lurah, direktur, pemuka masyarakat dan
lain sebagainya.

Jelas sudah bahwa paradigma dikotomis tidak laku lagi. Mahasiswa hari
ini dituntut untuk bisa memegang peran multi sebagai insan akademik,
anggota masyarakat, agen perubah sosial, selain memadukan orientasi
akademik dengan organisasi. Kuliah memang tugas pokok mahasiswa tapi
5
bukan berarti menjadi satu-satunya aktivitas yang harus dilakukan.
Berorganisasi juga memang kebutuhan mahasiswa dalam rangka
menyalurkan idealisme tapi bukan berarti menomorduakan atau bahkan
meninggalkan kuliah. Sudah saatnya mahasiswa bisa ‘berpoligami’—
mengkawinkan orientasi studi dengan organisasi, menjadi mahasiswa ber-IPK
tinggi sekaligus menjadi aktivis sejati. Keren kan?

Apa yang mesti dilakukan?

Timbul pertanyaan, apa yang harus dilakukan untuk ‘berpoligami’?


Mudah. Pertama, evaluasi diri secara mendalam. Apa kelebihan dan
kekurangan kita? Apa visi dan misi hidup kita? Ini wajib dilakukan agar kita
tahu mana area akademik yang kita harus pertahankan dan mana yang
harus ditingkatkan. Kita pun bisa memilah organisasi mana yang sesuai
dengan potensi, minat dan bakat kita dan juga di divisi atau bagian mana
kita harus bergabung. Jika ini dilakukan, maka kita bisa mengatur prioritas
aktivitas sesuai dengan kriteria mana yang penting dan mendesak. Alhasil,
kita pun bisa sukses dalam ‘berpoligami’. InsyaAllah.

Kedua, tingkatkan kemampuan diri untuk mengemban amanah multi.


Bukankah untuk berpoligami, kita harus memiliki kemampuan diri secara
fisik, psikis, materi, dan pemahaman yang lebih dari mereka yang
bermonogami? Bukankah untuk bisa memiliki fasilitas multi, sebuah
komputer harus memiliki memori RAM dan harddisk sekaligus processor
tinggi? Dengan kata lain, kita harus meng-upgrade kapasitas diri kita untuk
bisa ‘mempoligami’ orientasi studi dengan organisasi. Sibukkan diri untuk
terus belajar memaknai, membaca dan meneliti, menggali dan berbagi
pengalaman dari dan dengan orang lain, dan belajar sambil berbuat
(learning by doing).

Ketiga, organisasi harus bisa melakukan sinergi dengan pemangku


kebijakan kampus agar aktivitas yang diprogramkan bisa dijalankan dan
bahkan didukung secara optimal. Sembari secara internal berbenah untuk
meninjau ulang aktivitas atau program yang tidak bertemali dengan
pengembangan diri anggotanya (mahasiswa) termasuk pengembangan
akademik. Dalam konteks ormawa, tidak salah rupanya, kalau penentuan
struktur, regulasi dan program kerja didasarkan salah satunya pada upaya
pengembangan kemampuan akademik mahasiswa.

Khatimah

Life is a matter of choices. Ungkapan inilah yang paling cocok untuk


menggambarkan realitas kehidupan. Proses penentuan pilihan demi pilihan
akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap episode kehidupan yang
6
kita lalui. Kita bisa memilih, hanya kuliah an sich atau berorganisasi an sich
atau bahkan keduanya/tidak kedua-duanya. Tuhan telah membekali kita
dengan potensi luar biasa dan tuntutan zaman pun semakin menggelora.
Dengan ‘mempoligami’ studi dan organisasi, nampaknya kita akan lebih bisa
memanfaatkan/mengoptimalkan potensi diri sembari berusaha untuk
menjawab tantangan zaman yang silih berganti.

Wallau A’lam bis Shawab.

*) Materi ini disampaikan dalam Lokakarya Badan Perwakilan Mahasiswa Hima


Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia, Sabtu, 21 April 2007.

**) Eri Kurniawan adalah pembelajar dan pengajar di Universitas Kehidupan, tinggal
di Cihideung Bandung.