Anda di halaman 1dari 175

Muridku Belajar Menikmati Sex

Posted by admin on June 10, 2009 – 11:00 am


Filed under Daun Muda

Kepada pembaca yang telah menikmati kisahku dengan Cynthia dan mamanya di
“Muridku dan Mamanya yang kesepian” di link ini, ini adalah kisah lanjutan antara
aku dan Cynthia. Jarang sekali aku mendapatkan kesempatan berdua saja dengan
Cynthia, aku memang rajin datang ke rumahnya tapi kedatangan itu untuk tante Reni.

Dan demi kebaikan aku masih memilih pulang ke kost dan tidak tinggal dirumahnya
Cynthia. Gak enak diliat pembantu alasan Tante Reni. Suatu ketika saat Cynthia akan
menghadapi ulangan, aku datang untuk memberinya Les Fisika. Aku langsung saja
naik ke ruang belajar.

Disitu Cynthia sedang belajar sendiri menungguku. Dia duduk membelakangi pintu
sehingga terlihat ia mengenakan night gown tipis warna pink tanpa bra dan
menggunakan G-string putih.Rambutnya diikat buntut kuda, kakinya melipat keatas
kursi.

“Cyn.. lagi belajar sendiri?” kataku menyapa


“Ko, ini lagi belajar Gelombang Sinusodial susah bgt.. aku lupa rumusnya”jawab
Cynthia
Aku langsung duduk dihadapannya, aku membuka buku dan mulai menerangkan cara
penyelesaian soal2 sambil sesekali mengerling buah dadanya yang terjeplak di luaran
gaunnya. Saat itu masih jam 4 sore, awan mulai mendung sehingga ruangan sedikit
remang2. Sampai jam 5 aku jejalkan ilmu alam padanya.

“Istirahat dulu ya Ko, Cyn cape..” pintanya


Aku mengangguk tanda setuju. Cynthia meregangkan tangannya membuat buah dada
sekal itu tampak membesar dan begitu menggoda. Pikiran jorokku gak karuan,
gimana nggak sih, tiap dateng ke rumah ini aku kan selalu melayani tante Reni,
kadang Cynthia ikut juga dan kali ini sekali lagi aku punya kesempatan berdua saja.
Tante Reni lagi ikut Ayahnya ke Vietnam melihat bisnis propertinya disana.
Si mbok, pembantu paling tua dan berkuasa di rumah ini sedang pulang kampung.
Yang tinggal hanya dua orang pembantu muda yang masih bodoh jadi kalo gak ada
kepentingan, mereka biasa mendekam di kamar nonton tivi.

“Cyn.. kamu kog bajunya tipis bgt.. ntar ganggu konsentrasi belajar loh” kataku
“akh.. ganggu konsentrasi mengajar kali..” jawab Cynthia sambil meremas sendiri
payudaranya dihadapanku.
Luar biasa nikmatnya mengajari anak SMA yg cantik ini.. Aku berdiri dan mendekati
Cynthia dari belakang, lalu aku meremas2 payudara yang sintal itu.
“mmmffh…. ko, udah lama Cyn gak ikut di entotin” , “tadi malam aku mimpi
dientotin koko..” sambungnya lagi.

“Uuuuhh… sayang, kamu kan musti belajar. bentar lagi ujian..” jawabku sambil
memeluknya dan menciumi leher Cynthia yang harum.
“Kasih aku sekaliii aja.. aku pengen bangeeet…” pinta Cynthia memelas..
Ah… sudahlah gak perlu munafik. toh tante Reni telah memberikan aku gaji yang
setimpal, lagian memang aku suka memberikan layanan pada Cynthia.

Kubuka night gown tipis Cynthia dari tali di pundaknya. Gunung kembar 32C itu bak
melotot saat sudah tidak dihalangi bajunya.

Kulumat bagian bawah telinganya sambil meremas kedua buah dadanya dari
belakang. Cynthia mengaitkan tangannya ke leherku dan kepalanya dijatuhkan ke
pundakku.
Sungguh pemandangan yang erotis, lekukan indah tubuhnya semakin terlihat.
“Cyn.. tubuhmu indah banget!” desisku ditelinganya yang bersih

Lalu kuputar kursinya supaya berhadap2an denganku. Aku memintanya untuk naik
keatas meja belajar. Cynthia pun menuruti saja kemauanku.

Gantian aku yang duduk dikursi dan menghadap ke vaginanya yang masih ditutup G-
string namun telah becek. Vaginanya tembam, bulunya halus dibagian atas sedangkan
disisi bibir vaginanya telah dirapihkan. Aku singkap tali penghalangnya lalu kujilati
kemaluannya. Tubuh Cynthia menggelinjang kegelian saat kusodokkan jari tengahku
berulang kali..
“aauch…” rintihnya dibarengi jambakan pada rambutku.

“Cyn.. tiduran di karpet aja deh, kita pake gaya 69 aja” pintaku. Cynthia pun turun
dan mengambil posisi 69 diatasku. Kulumannya semakin nikmat mungkin tante Reni
sudah kasih ilmunya batinku..
“ouuh.. yes te..rus… enak.. ko… aku hampir..” lenguhnya setelah 5 menit kuservis.
“yes… ooooouuhh….” pantatnya diturunkan, lidahku menusuk kedalam liang
vaginanya dan diapun mendapat orgasmenya yang pertama.

“enak ya honey?” tanyaku


“enak!” jawabnya singkat lalu membalikkan posisi. Sekarang dia duduk di pangkal
pahaku, memegang erat batang kejantananku dan mengarahkannya ke vaginanya
yang masih sempit dan becek.

Bless.. penisku masuk semuanya, kedua lututnya menjepit pinggangku, Cynthia


meringis menahan sensasi geli-geli-nyeri.
Aku yang sudah tegangan tinggi merasa gak puas kalo penisku cuma diam saja di
dalam sana. Akupun langsung merubah posisi.
Sekarang Cynthia dibawah, kakinya ku kaitkan di pinggangku. aku mulai mengocok
dalam2 di liang vaginanya…
Bless…. blessh.. blesssh… hentakan ku diiringi goyangan pinggul Cynthia..

“mmmphh… enak banget sih ko…” ceracaunya


“iya, memek kamu sempit sayang.. makanya enak” jawabku.
“Kalo gini caranya.. aku.. bisa.. ssshh.. sekali lagih..sssh…” desisnya
“C’mon, get it..” jawabku sambil memacu lebih cepat sambil merebah dan menjilati
payudaranya, sesekali kugigit puting merah mudanya.
“OOohh…. enak ko… enak…”Ceracau si cantik
“terusin sayang.. nikmatin aja.. nikmatin kontolku” jawabku cepat.
Blessss… bless.. bless.. Dinding vagina Cynthia berkedut2 dan semakin panas,
gesekan dengan kontolku pun terasa semakin menjadi2.

“Aaakkhh… aku orgasme ko…. jangan berenti…” Pintanya.. tangannya dikalungkan


dileherku, pinggulnya menggelpar kesana kemari seperti mencari pertolongan.
Kuberikan waktu 1 menit padanya orgasme panjang.. kontolku melibas liang
vaginanya tanpa ampun. gelinjang tubuhnya tak tertahankan sampai akhirnya Cynthia
Squirtting sedikit (itu loh, cairan orgasme muncrat seperti kencing)

Aku melepas kejantananku, tubuh Cynthia bergetar hebat merasakan orgasme


panjang. lututnya diapitkan tapi bergemeretak. Aku masih belom puas, tapi kasihan
melihat Cynthia.
Aku ambilkan minum untuk Cynthia, lalu memeluknya yang terjerembab di karpet.
Wajahnya lemas lunglai..

Timbul niatku untuk memberi pelajaran baru bagi Cynthia. aku turun kebawah dan
mulai menjilati analnya.. sapuan lidahku terkadang sampai ke klitoris Cynthia yang
masih basah.
Pelan2 kumasukkan jariku ke lubang analnya.. lebih keras memang, tapi kalo
dilakukan dengan keras tapi lembut pasti tembus juga.

Cynthia belum bisa menikmati permainan anal ini, tangannya beberapa kali mencoba
menghambat tanganku.

“ko, jangan dong.. kan jorok..” pintanya dengan suara penuh kelelahan.
“Cyn.. mama kamu juga suka kog kalo diajak maen belakang.. kamu tenang aja”
ucapku beralasan.
Lalu kuarahkan kontolku ke anal Cynthia. Pelan2 kepala kontolku memasuki lubang
pantatnya yg sempit, tapi rupanya Cynthia tak dapat menahan sakit.
“ko, sakit bangettt… di Memek aja!!!!” pekiknya teredam sambil meringis..
terpaksa deh aku cabut lagi. sekarang aku arahkan ke memeknya, posisiku tiduran
menyamping, cynthia juga, hanya pantatnya yang sedikit ditunggingkan kebelakang.

Blesss.. bless.. ku genjot lagi vaginanya… “oouh… mmmhh…. Ssshh…. Enak


banget Cyn..!” aku merem melek menikmati vagina gadis ini, selain masih seret,
Cynthia juga baru orgasme sehingga terasa lebih menjepit batang kontolku. Sodokan
kontolku memancing gairahnya lagi, pinggulnya digoyangkan berlawanan dengan
gerakanku supaya penisku terbenam lebih jauh menyentuh dinding vaginanya.
bosan dikamar belajar, kamipun pindah ruangan. kali ini kami berdiri di Void lantai
2. Cynthia berdiri membelakangi aku, tangannya memegangi railing void, aku
memompanya dari belakang. Dari sini aku bisa melihat kearah taman belakang yang
ada kolam renangnya. Lalu muncul ideku untuk maen Outdoor.
Apalagi biasanya sore2 pembantu2 Cynthia sedang mengajak anjing2nya jalan2 sore.
Kamipun berpindah tempat lagi. dipinggiran kolam renang, kurebahkan Cynthia
beralaskan handuk putih. aku sendiri masuk sedikit ke dalam kolam yang bagian
dangkal (hanya 50 cm)

“sssh… enak banget sayang” kataku


“iya enak banget.. kontol koko gede.. pantes aja mama suka banget ya ML sm koko”
jawab Cynthia lagi.
“ouh… mmhh… ” lenguhanku makin menjadi2 karena sensasi gesekan yang timbul
memang membuatku tak bisa mengontrol pikiranku lagi.
“Cyn… aku mau keluar nih bentar lagi..” sambungku
“ya sudah dikeluarin aja di dalem, aku lagi gak subur kog” Cynthia menyambung
Bless… Bless… Bles… nikmatnya bersetubuh dengan gadis cantik ini. rumahnya
telah ku eksplorasi sepertii pengalaman mengeksplorasi tubuh wanita ini.

Aku sudah semakin gak tahan. Kulihat Cynthia juga sudah mulai menggelinjang,
maka kupercepat genjotanku.. semakin cepat… semakin cepat…
” akkkhhh… sayang… aku keluar yang…” jeritku
Crrootth…ccroooothh…. Crothh..

tiga kali kontolku menembakkan sperma kental, setiap kali memuntahkan sperma,
kontolku membesar sedikit yang menyebabkan sensasi luar biasa
dinding vagina yang sedang berkontraksi karena orgasme memijat batang kontolku
yang membesar.
“teruuussss… terusssin ko.. Cyn juga mau lagih…”
Bibir kami pun berpagutan, tanganku meremas2 buah dadanya yang mengeras.
Setelah aku mencapai orgasme ku, kontolku masih kusodok-sodokkan supaya
Cynthia juga bisa merasakan orgasme. Goyangan pinggul kami jadi semakin cepat.

“ooouuhhh…. Ooummmhhh….. terus ko….” Pintanya sambil mempercepat


goyangan pinggulnya.
“yess… ahh…aku… klimaks…. Yess…. Aaaah…” jeritnya lagi tanpa menghentikan
goyangannya.. tangannya mencengkram payudaranya sendiri… ah.. kami mengalami
hari yang sgt menyenangkan..
Spermaku meleleh keluar saat kucabut kontolku.. lalu kugendong Cynthia ke kolam
renang.
Kaki Cynthia dikaitkan dipinggangku dan memeluk erat tubuhku. kami berendam di
kolam yang cukup dalam (160 cm). aku bawa Cynthia kepinggiran kolam sehingga
dinding kolam ikut menopang punggungnya. Dipinggir kolam itu kami bermesraan..

Kuciumi bibirnya dan kulantunkan pujian pada tubuh dan kemolekannya..


Cynthia hanya tersenyum.. Rupanya dia telah belajar untuk menikmati Sex.. kami
bermesraan dalam pelukan cukup lama, kebetulanmentari sudah bersinar lagi dan
menghangatkan air di kolam cinta..
Kontolku sempat berdiri lagi,tapi Cynthia meminta untuk istirahat. Kamipun masuk
kerumah dan mandi di Bathtub kamar mandi Cynthia. Di bathtub aku sempat
mengulangi sekali lagi, sampai kami berdua orgasme. tapi kali ini permainan kami
tidak terlalu panjang dan hot. Kami lakukan penuh perasaan selayaknya sepasang
kekasih, bukan dengan mengumbar nafsu. Selesai mandi aku kembali mengajari
Fisikanya yang tertunda sex kami, lalu aku pamit pulang padanya karena hari ini aku
harus bikin tugas.
Sampai dirumah Cynthia SMS ke HP-ku,

C : ko, sudah dirumah? ko, aku pengen tanya… koko mau gak jadi pacarku? aku gak
masalah kalo mama minta dilayanin, toh dia mamaku. Aku pengen minta kasih
sayang dari koko,bukan cuma sexnya.
aku tak langsung membalas, aku cerna kata2nya. mungkin sudah saatnya aku
memberi perhatian pada seorang gadis, lagian aku juga yang telah memerawaninya.
lalu aku balas SMS Cynthia.
A: kamu gak salah cyn?? Km knp?
C: gak salah kog.. emang koko gak suka aku ya?
A: suka.. suka bgt malah.. hehe… kamu manis.. aku juga jatuh cinta sm km.. aku mau
jadi pcr km sayang..
C: hehehe… cyn sayang koko… ko, kerumahku lagi dong.. pengen dicium..
A: Kalo gitu aku bawa barang2ku deh, aku kerjakan tugas di rumah kamu aja. Supaya
kita bisa sayang2an. Love you honey..! mmuah..
Aku bergegas mengambil data2 dan laptopku, lalu kukebut lagi Honda CBR-ku
kerumahnya.
Kulewati malam yang indah bersama Cynthia, selain peluk dan cium mesra hari ini
tiga kali kami bercinta…

Bocah Kelas 5 SD VS Gadis SMA


Posted by admin on September 18, 2009 – 10:09 pm
Filed under Daun Muda
Cerita ini bermula dari waktu saya masih berumur kurang lebih 10 sampai 13 tahun.
Persisnya saya sudah lupa. Waktu itu saya mempunyai teman bernama Alex. Alex
tinggal dengan keluarganya tidak jauh dari tempat saya tinggal. Alex mempunyai
seorang kakak perempuan bernama Mona. Umurnya 4-5 tahun lebih tua dari kami,
jadi waktu itu saya dan Alex masih SD kelas 5, sedangkan dia sudah SMA.

Mona ini orangnya seksi sekali. Bukan berarti dia sering pakai baju seksi atau bicara
yang nyerempet-nyerempet hal begituan, tapi tidak tahu kenapa kalau saya sedang
berada dalam satu ruangan dengan dia, selalu pikiran saya membayangkan hal-hal
yang erotik tentang dia yang saya tidak pernah terpikirkan sama wanita lain.

Tubuhnya sebetulnya biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi, tapi proporsional. Dan
kalau orang sekarang bilang, body-nya bahenol dan tetap jelas lekuk-lekuk tubuhnya
tampak bila dia berpakaian. Rambutnya panjang sebahu dengan payudara yang
sedikit lebih besar dari rata-rata, dan mengacung ke atas.

Suatu ketika saya sedang main ke rumah Alex, Ayah Mona sedang membetulkan
mobilnya di kebun depan rumah Mona. Kami semua berada di situ melihat ke dalam
mesin mobil tersebut. Saya berdiri persis kebetulan di sebelah Mona. Dia berada di
sebelah kanan saya. Pada waktu itu Mona memakai baju jenis baju tidur, berbentuk
celana pendek dan baju atasan. Warnanya biru muda sekali sampai hampir putih
dengan gambar hiasan bunga-bunga kecil yang juga berwarna biru muda.

Lengan bajunya lengan buntung, dan pas di pinggir lengan bajunya di hiasi renda-
renda berwarna putih manis. Bajunya karena itu pakaian tidur jadi bentuknya longgar
dan lepas di bagian pinggangnya. Bagian bawahnya berupa celana pendek longgar
juga, sewarna dengan bagian atasnya dengan bahan yang sama.

Semua melihat ke dalam mesin mobil sehingga tidak ada yang melihat ke arah saya.
Pada saat itu lah saya melirik ke arah Mona dan melihat payudara Mona dari celah
bawah ketiaknya. Perlu diingat bahwa tinggi badan saya pada umur itu persis
sepayudara Mona. Dia tidak menggunakan BH waktu itu. Puting susunya yang coklat
dan mengacung kelihatan dengan jelas dari celah itu karena potongan lengan bajunya
yang kendor. Hampir seluruh payudara Mona yang sebelah kiri dapat kelihatan
seluruhnya. Tentu saja dia tidak sadar akan hal itu.

Suatu ketika ada juga saat dimana kami sedang bersama-sama melihat TV di ruang
tamu. Saya duduk di sofa untuk satu orang yang menghadap langsung ke TV. Dan
Mona duduk di sofa panjang di bagian sebelah kiri dari TV di depan kiri saya. Saya
dapat langsung melihat TV, tapi untuk orang yang duduk di sofa panjang itu harus
memutar badannya ke kiri untuk melihat TV, karena sofa panjang tersebut
menghadap ke arah lain.
Mona akhirnya memutuskan untuk berbaring telungkup sambil melihat TV karena
dalam posisi tersebut lebih mudah. Dia memakai baju tidur berupa kain sejenis sutera
putih yang bahannya sangat lemas, sehingga selalu mengikuti lekuk tubuhnya. Baju
tidur ini begitu pendek sehingga hanya cukup untuk menutupi pantat Mona. Bagian
atasnya begitu kendor sehingga setiap kali tali bahunya selalu jatuh ke lengan Mona
dan dia harus berulang-ulang membetulkannya.

Dalam posisi telungkup begitu baju tidurnya pun tersingkap sedikit ke atas dan
menampakkan vagina Mona dari belakang. Kebetulan saya duduk di bagian yang
lebih ke belakang dari pada Mona, jadi saya dapat melihat langsung dengan
bebasnya. Semakin dia bergerak, semakin bajunya tersingkap ke atas pinggulnya.
Mona pada saat itu tidak memakai pakaian dalam sama sekali, karena kebetulan
rumah sedang sepi dan sebetulnya itu waktu tidur siang.

Kadang-kadang pahanya merenggang dan vaginanya lebih jelas kelihatan lagi. Mona
agaknya tidak perduli kalau saat itu saya sedang berada di situ juga. Sesekali dia
bangun untuk ke dapur mengambil minum, dan sekali ini tali bajunya turun lagi ke
lengannya dan menampakkan sebagian payudara kiri Mona. Kali ini dia tidak
membetulkannya dan berjalan terus ke arah dapur.

Karena banyak bergerak dan membungkuk untuk mengambil sesuatu di dapur,


akhirnya payudara kirinya betul-betul tumpah keluar dan betul-betul kelihatan
seluruhnya. Sambil berjalan balik dari dapur, Mona tidak kelihatan perduli dan
membiarkan payudara kirinya tetap tergantung bebas. Sesekali dia betulkan, tapi
karena memang baju tidurnya yang belahan dadanya terlalu rendah, akhirnya turun
lagi dan turun lagi. Dan setiap kali payudaranya selalu meledak keluar dari balik
bajunya, kalau tidak yang sebelah kanan yang sebelah kiri. Mona tetap kelihatan
seperti tidak terjadi apa-apa, walaupun satu payudara terbuka bebas seperti itu.

Mona kembali berbaring telungkup di sofa panjang melihat ke arah TV. Sekarang
payudara kanannya yang tergantung bebas tanpa penutup. Setelah beberapa lama dan
menggeser-geser posisinya di atas sofa, sekarang baju tidurnya sudah tidak rapi dan
terangkat sampai ke pinggulnya lagi. Karena posisi pahanya yang sekarang tertutup,
saya hanya dapat melihat sebagian bawah pantat Mona yang mulus dan sexy.

Mona menggeser posisinya lagi, dan sekarang tali baju yang sebelah kiri turun.
Sekarang kedua payudaranya bebas menggantung di tempatnya tanpa penutup. Dari
posisi saya tentunya hanya dapat melihat yang bagian kanannya karena saya duduk di
bagian kanan. Mona balik lagi ke dapur untuk yang kesekian kalinya mengambil
minum dan tetap membiarkan payudaranya terbuka dengan bebas. Dan balik lagi
telungkup melihat TV.

Saya mencoba mengajaknya mengobrol dalam posisi itu. Tentu saja tidak mungkin
karena dia menghadap ke arah TV. Pertama-tama dia ketahuan sedang malas diajak
ngobrol dan hanya terlihat ingin melihat TV. Karena saya tetap bertanya-tanya ini itu
ke dia, akhirnya dia pun mulai menanggapi saya.

Suatu ketika karena dia harus menghadap saya tetapi malas duduk, akhirnya dia
membalikkan diri ke arah kanan untuk menghadap ke saya. Pada saat itu lah
vaginanya terlihat dengan sempurna terpajang menghadap saya. Perlu diketahui,
payudara Mona masih tetap tergantung bebas dan padat tanpa penutup karena dia
tidak repot-repot lagi membetulkan letak tali bajunya.

Baju tidur Mona terangkat lagi sampai ke pinggul. Dan dia tetap ngobrol seperti
seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Cukup lama juga kami ngobrol dengan posisi dia
seperti itu. Kadang-kadang malah kakinya mengangkang menampakkan vaginanya.
Dan dia tetap bersikap seakan-akan tidak ada apa-apa dan tetap berbicara biasa.

Akhirnya saya tidak kuat lagi. Suatu saat, pada saat dia mengambil makanan dari atas
meja dan posisinya membelakangi saya, vagina Mona mengintip dari celah pahanya
dari belakang tepat 1-2 meter di depan wajah saya. Saya buka retslueting saya yang
dari tadi sudah berisi penis yang sudah keras tidak kepalang tanggung, dan
mengeluarkannya dari celana dalam saya.

Dari belakang saya menghampiri Mona perlahan. Pada saat ini dia masih belum tahu
dan masih tetap memilih-milih makanan, sampai terasa ada tangan yang memegang
kedua payudaranya dari belakang dan merasakan ada benda panjang, besar dan
hangat menyentuh-nyentuh di sela-sela paha dan belahan pantatnya.

Mona terkejut. Saya tetap meremas dan memainkan kedua payudara Mona dengan
kedua tangan saya dan mulai perlahan-lahan menyelipkan penis saya ke dalam
vaginanya. Vagina Mona selalu basah dari pertama karena dia dapat menjaga situasi
dirinya sehingga tetap basah walaupun pada saat-saat dia tidak nafsu untuk bermain
sex. Penis saya masuk ke dalam Vagina Mona dari belakang. Mona melenguh tanpa
dapat berbuat apa-apa karena semuanya berlangsung begitu cepat. Tangannya
bertumpu ke atas meja makan.

Mungkin dia bertanya-tanya juga dalam hati, ini anak SD tapi nafsunya sudah seperti
orang dewasa. Saya mulai membuat gerakan maju mundur sambil tangan saya masih
meremas-remas payudaranya. Mona terdorong-dorong ke meja makan di depannya,
payudaranya bergoyang-goyang seirama dengan dorongan penis saya ke dalam
vaginanya. Kaki Mona dalam posisi berdiri mengangkang membelakangi saya.

Akhirnya saya klimaks. Sperma demi sperma menyemprot dengan kuatnya ke dalam
vagina Mona, sebagian meleleh keluar dari dalam vagina ke bagian paha dalam Mona
yang masih berdiri mengangkang membelakangi saya. Setelah semprotan terakhir di
dalam vagina Mona, kami masih berdiri lemas tanpa merubah posisi. Kepala saya
lunglai ke depan, kepala Mona juga, napas kami terengah-engah, dan keringat banjir
membasahi tubuh kami.

Akhirnya saya menarik penis saya keluar dari vagina Mona, dan kembali
memasukkannya ke dalam celana dalam dan menarik kembali retslueting ke atas.
Mona masih terengah-engah dalam posisi yang belum berubah bertumpu dengan
kedua tangan ke atas meja makan. Vagina dan belahan pantatnya masih terpajang
bebas bergerak seirama dengan desah napasnya.

Saya kembali duduk di depan TV, dan Mona kembali ke sofa panjang tempat tadi dia
berbaring, tapi sekarang dia tidak telungkup, melainkan duduk tanpa membetulkan
letak dan posisi bajunya atau membersihkan bekas-bekas sperma dan keringat yang
ada di sekujur tubuhnya.

Mona duduk bersandar rileks dan vaginanya terlihat terpajang dengan jelas karena
posisi duduknya yang terbuka lumayan lebar. Matanya setengah terpejam tergolek di
atas sandaran sofa. Tangannya lunglai di samping badannya. Napasnya masih
terengah-engah. Dia melirik sedikit ke arah saya dan tersenyum. Saya pun tersenyum
nakal padanya bagaikan normalnya anak umur 13 tahun. Dan dia berdiri berjalan
masuk menuju ke kamar tidurnya.

Mona ini kalau lagi merasa sendirian di rumah memang betul-betul cuek. Pada saat
lain dimana saya sedang main ke rumah Alex tapi Alexnya belum pulang sekolah,
Mona kerap kali memakai baju semaunya dan sangat minim tanpa repot-repot pakai
pakaian dalam. Kadang-kadang hanya memakai T-shirt sebatas pantat yang kebesaran
dan longgar tanpa pakai apa-apa lagi, dan sudah kebiasaan Mona kalau duduk
posisinya tidak rapi, sehingga pinggul dan selangkangannya seringkali merenggang
dan menampakkan vaginanya yang segar dan basah.

Kadang-kadang dia hanya memakai gaun tidur putih ‘backless’ tipisnya yang mini
dengan belahan dada rendah sebatas puting, sehingga puting susunya seringkali
nampak mengintip keluar. Atau mondar-mandir hanya memakai kimono handuk hijau
mudanya sebatas paha. Dan kalau pakai kimono begitu dibiarkannya tali pinggangnya
tidak diikat hingga bagian depannya tubuhnya terbuka. Jalan ke dapur atau duduk
nonton TV di sofa tanpa membenarkan letak kimononya, atau makan siang setengah
telanjang. Dan Mona sudah biasa begitu jika merasa tidak ada orang di rumah.
Vaginanya selalu bebas tanpa penutup.

Ada kalanya dimana dia baru pulang sekolah dan masih berbaju SMA putih abu-abu.
Semasuknya di rumah yang pertama dilepas adalah celana dalam dan BH-nya dulu.
Dan itu dilakukannya dengan ekspresi seperti dia sedang melepas sepatu dan kaos
kakinya, yaitu di ruang tamu, dan di depan mata saya.
Pernah celana dalam dan BH-nya dilempar ke arah wajah saya sambil dia tertawa
bercanda, atau biasanya dilemparkan saja semaunya di lantai. Terus biasanya dia
kemudian makan siang sambil nonton TV dengan baju OSIS SMA-nya ditambah
payudaranya yang montok padat berisi dan terkocok-kocok jika Mona bergerak
dengan puting susunya yang tercetak jelas. Biasanya penis saya perlahan-lahan
mengeras.

Kalau lagi tidak tahan, tanpa basa basi saya buka retslueting celana, keluarkan penis,
angkat rok SMA-nya sampai ke pinggang, tidak perduli dia sedang melakukan apa
dan memasukkan penis saya tanpa minta ijin dia dulu. Biasanya sih dia kaget, tapi
tidak berkata apa-apa sambil mulai menikmati gerakan penis saya mengaduk-ngaduk
vaginanya.

Setelah sperma saya tumpah di dalam, dia pun kembali meneruskan apapun
aktivitasnya yang sempat terhenti oleh sodokan penis saya. Malah seringkali
sepertinya aktivitas Mona tidak terganggu dengan adanya gesekan penis tegang
dalam vaginanya. Karena pernah suatu waktu dia masak di dapur dengan telanjang
bulat karena mungkin pikirnya tidak ada orang di rumah.

Selagi dia masih menghadap ke arah kompor, pelan-pelan dari belakang saya
menghampiri dengan penis teracung. Perlahan-lahan saya selipkan penis berat saya
yang sudah keras di antara celah selangkangannya dari belakang.
Dia kaget dan menengok sebentar, dengan suaranya yang khas dan nada cuek
biasanya dia hanya bilang, “Eh kamu..!”
Kemudian secara refleks dia melebarkan posisi antara kedua kakinya, sedikit
menunggingkan pantatnya dan membiarkan saya bermain dengan payudaranya dan
melanjutkan memasukkan penis saya dari belakang dan menyantapnya sampai
selesai.

Memang karena badan saya yang masih setinggi bahunya, setiap kali saya harus naik
ke kursi agar dapat memasukkan penis saya ke dalam vagina Mona. Dan itu saya
lakukan ‘anytime-anywhere’ di rumahnya selama hanya ada Mona sendiri di rumah.

Sepertinya Mona begitu merangsang karena pakaiannya dan cara dia menempatkan
posisi tubuhnya yang seakan-akan selalu menyediakan vaginanya yang segar, bersih,
sehat, basah dan berlendir itu 24 jam buat limpahan sperma dari penis saya yang
bersih, besar, berat dan panjang (walaupun waktu itu saya masih di bawah umur) ini
di dalamnya. Mungkin ini yang membedakan dia dengan remaja-remaja perempuan
lainnya.
Gue istri yang bener bener nakal
Posted by admin on February 25, 2010 – 7:06 am
Filed under Tukar pasangan

Gue istri yang bener bener nakal

Usia perkawinan kami menjelang 10 tahun, untuk menghindari kejenuhan biasanya


kami refreshing dengan menginap di ubud. Anak anak ditinggal di Surabaya karena
mereka juga sudah cukup besar. 2-3 hari suami cuti sudah cukup mencharge ulang
hubungan percintaan kami.

Kali ini kami berdua kembali menginap di ubud bali. Kamar yang kami dapat
sungguh luar biasa karena berada di puncak bukit dengan kaca yang terbuka di
sekeliling kamar. Pemandangan yang luar biasa terhampar di depan mata. Bercinta di
tempat seperti ini sungguh menggairahkan.

Belum lagi acara di malam hari yang diadakan oleh pihak hotel, sungguh menarik,
dimulai dari pementasan tari bali yang indah, acara makan malam yang romantic dan
diakhiri dengan melepaskan kepenatan di diskotik yang mulai dibuka pukul 10 malam
sampai pagi.

. Sengaja aku memakai pakaian yang mengundang, rok mini sexy yang melekat erat
di tubuhku dengan belahan dada yang sangat terbuka menyembulkan buah dadaku
yang montok. Suamiku tidak keberatan bahkan menikmati ketika para mata lelaki
melihatku dengan pandangan nafsu. “Rin..lihat cowok di ujung itu, matanya tidak
lepas dari tubuhmu…heheheh” Suamiku berbisik sambil senyum senyum bangga.
“mas nggak cemburu, Rini dilihat sama cowok cowok itu…”bisikku sambil memeluk
pinggangnya.

“hmmmm…rasa bangganya memiliki kamu mengalahkan cemburuku…sayang…eh


coba Rin mereka kamu goda…ajak kenalan gitu…aku pengen tahu sejauh mana
keberanian mereka.” Suamiku mencoba bermain api.

“Eh…jangan mas..!” Bisikku “ Kalo kebablasan gimana hayo…”


“hahahaha nggak papa sekali kali ngedate ama cowok lain gak papa asal nggak
keterusan…” Suamiku tersenyum senyum.

Aku sempat berkenalan dengan beberapa pemuda menarik, mereka ganteng ganteng
juga. Andi, Budi, …hmmm cowok cowok brondong yang menggairahkan. Suasana
yang mulai menghangat membuatku berpikir untuk mencoba sedikit nakal. Dari dulu
aku mempunyai fantasi threesome atau gang bang…mungkin tidak ada salahnya
dicoba, mumpung suamiku sedikit memberi keleluasaan.
Dan sepertinya sangat menggairahkan, bercinta dengan orang lain disaat suami ada di
dekat kita. Hmmm tapi bagaimana caranya..?

Aku biarkan suasana mengalir , lebih panas, lebih menggairahkan, dan mereka mulai
berani memelukku. Bahkan Andi sempat meremas payudaraku. Kucari suamiku
ternyata dia mabuk di pojok. Aku lebih berani untuk mengundang mereka dan
mengutarakan keinginanku dan ternyata mereka antusias sekali, tentu saja…bercinta
gratis dengan istri orang..masih sexy lagi…hm..hmmm.hmm..

Cuma aku harus berpikir bagaimana caranya agar suamiku tidak tahu…timbul ide
bagus di benakku.

Rin…dimana kamu ingin making love ? suamimu kan menempel kamu terus tuh..”
Bisik Andi. “Tenang…gw bisa kasih obat tidur..kita nanti main di sampingnya…ok ?
“ Kataku tersenyum.

“Hoho..kamu nakal sekali Rin…ML disamping suami…? ” Tawa Andi.


Seperti yang sudah aku rencanakan, suamiku ketika masuk kamar sudah dalam
keadaan mabuk, aku beri sedikit dosis rendah obat tidur di minumannya, membuatnya
terlelap dengan cepat.

Rencana nakalku berhasil, dengan cepat aku buka pintu kamar hotel dimana Andi
sudah menunggu. “ Rin…aku ajak Budi ya…supaya lebih seru..gimana” Tanya Andi.

Hmmm aku sungguh tidak keberatan, karena seperti yang sudah aku jelaskan bahwa
threesome salah satu fantasi liarku. Aku mempunyai fantasi seks yang cukup liar
dimulai dari threesome dan bondage. Memang belum ada salah satupun fantasi yang
terealisasi tapi aku sudah memutuskan di bali ini semua harus terlaksana, terutama
bondage…entah terkadang aku menikmati kalau suamiku bercinta dengan sedikit
kasar, sedikit ganas…sungguh berbeda…entah..

Sebelum menutup pintu Andi sudah memelukku erat dan meremas pantatku. “
hmmmm sekel banget pantatmu Rin…kamu sexy sekali. “ Bisik Andi sambil
melumat bibirku. Sementara Budi hanya tersenyum sambil melepas kemejanya.

Aku memang menyukai sex singkat. Session pertama harus cepat, session kedua baru
santai.

“Rin bener neeeh suamimu gak bangun…hehehe asyik banget dong bercinta di
samping suami yang ketiduran…bisa aja idemu…lebih merangsang ya Rin ? “ Tanya
Rudi, kini tubuhnya sudah sepenuhnya bugil , terlihat batangnya yang sungguh
menarik. Tidak terlalu panjang tapi diameternya mantap, yang penting beda dengan
milik suamiku. Ukuran tidak terlalu penting.
Tangan Andi sudah menyelusup ke balik bra ku dan meremas lembut, sementara Budi
sibuk menciumi paha…hmmm geli geli enak…

Andi menghempaskan tubuhku di samping suamiku yang tertidur nyenyak, dengan


cepat melumat buah dada kiriku yang kini terbuka lebar. Budi tidak mau kalah
dengan merebahkan badannya di samping kanan tepat di sebelah suamiku, juga sibuk
melumat buah dada kananku. Wow..wow.wow sungguh menggetarkan, dadaku
bergemuruh mendapatkan perlakuan seperti ini.

“ Rin…jantungmu kok keras banget berdetaknya….gue jadi ngeri “ Bisik Budi


sambil sibuk menggigit gigit telingaku. “ hei guys….gue belum pernah tidur sama
cowok lain…langsung threesome lagi !…kalian beruntung banget…ngerti
nggak…”protesku.

“Baru pertama kali !? “ Budi terkaget kaget, Andi sampai harus melepas kuluman
bibirnya dari putting dadaku.

“Huuussss…ngapain dilepas..”tanganku menarik kepala Andi dan membenamkannya


kembali ke payudaraku.

Sambil tersenyum nakal, lidah Budi menari nari dari perut ke bawah dan makin ke
bawah. “ Tenang Rin…kamu bakal puas dan nggak akan melupakan pengalaman
pertamamu…ok ?”

Gilaaaa jilatan Budi lebih canggih dari suamiku. Nafasku mulai tersengal sengal. Aku
sungguh tidak menduga kalau kenikmatannya melebihi ekspetasiku.
Tiba tiba aku merasa benda tumpul menyelusup penuh ke miss V ku…ups
enaaakk..tapi…” Bud !! pake kondom !! gue gak mau tanpa kondom ! ok ? tarik
lagi..! jangan merusak mood ku..”kataku tegas.

“Sorry…sorry Rin…ok ambil dulu. “Sambil berjingkat Budi mengambil kondom di


saku celana jeansnya.

“Kalo gitu gue dulu..hehe” Andi yang memasang kondomnya dengan buru buru
segera memposisikan batangnya ke hadapan miss V ku, dan dengan tidak menunggu
lama segera menghunjamkan dalam dalam…uuuffff.. sekali lagi nikmat.!!

Budi yang tidak jadi mengambil kondomnya segera mengarahkan batangnya ke


mulutku. Ahhh threesome memang nikmat….Andi mengocok lebih cepat kali ini, ,
kulirik suamiku yang meskipun tempat tidur berguncang keras, dia sama sekali tidak
terganggu. Memang bercinta di depan suami yang tertidur memberi sensasi yang
berbeda. Getaran yang lain dari yang lain, antara takut ketahuan, kenikmatan tiada
tara bercampur menjadi satu…hehe gue nakal banget ya…
“Gantian dong…”rintihku, aku ingin disetubuhi bergantian kali ini.

“Gimana Rin?…nikmat Rin?… enak Rin?…ahhhh kamu sexy sekali… kamu nakal
sekali “ Kata Andy sambil menepuk keras pantatku. Batangnya makin kencang
menghajar miss V ku.

“ Tepuk lagi dooong…please…yang agak keras…ahhh!” Rintihku.


“Lebih keras !! Andi..please ….gigit punggungku…please ahhhh…”Teriakku.

Plak ! tiba tiba Budi menampar pelan pipiku, tangannya segera menjambak rambutku
dan menariknya ke atas. Kepalaku yang mendongak ke atas membuat mulutku
terbuka lebar, dengan cepat Budi mengisinya dengan batang mantapnya. Ufffff…gue
sampe kesedak tapi nikmat…batang Budi tidak panjang tapi diameternya 1,5 kali
milik suamiku. Aku lebih suka yang begini, kalau terlalu panjang malah nggak
nyaman karena terlalu mentok. Hmmm…baunya khas…beda dengan milik suamiku.
Sengaja aku gigit gigit karena gemas. Gila…ada juga batang yang sexy kaya begini.
Nggak bosan aku menjilatinya. Kocokanku dan lumatan bibirku membuat keluar
cairan bening di ujung batangnya….hmm mulai terangsang neeehh..

“Sepertinya kamu suka bondage Rin…gimana kali kita coba juga ok ? mau ?” Tanpa
menunggu jawabanku Andi sibuk merobek robek gaun tipisku menjadi tali.

Kalo nikmat begini kenapa harus menolak “ Terserah kalian …yang penting gue
pengen puas malem ini…! Ayo…Bud..jangan berhenti please…!” Teriakku histeris
saking nikmatnya.

Ayo Rin aku ikat tanganmu ya…jangan kuatir nggak terlalu keras kok…pengen
posisi nungging atau gimana ?….”Tanya Andi mengikat lembut tanganku ke besi
tempat tidur, lidahnya menari nari kadang di leherku, buah dadaku membuatku
kegelian.” Nungging please Bud..please…masukkan dalam dalam ya…janji
lho….yang keras pokoknya…siksa aku please perkosa aku
please….ayoooo..”.Rintihku
Posisiku benar benar menggairahkan. Menungging dengan kedua kaki dan tangan
terikat di tempat tidur, sementara suamiku menggeletak tertidur dengan nyenyak.
Bisa kalian bayangkan…sexy bukan ?

Andi benar benar tidak membuang waktu, posisi yang menungging membuat
batangnya menghunjam penuh dalam dalam. Kedua tangannya dengan keras menarik
pinggangku agar batangnya masuk seluruhnya. Deritan tempat tidur besi membuat
suasana lebih menggairahkan. Badanku terasa bergetar hebat…menjelang orgasme…
uhhhh…kedua pahaku terasa kaku. Aku pejamkan mataku, sementara Andi makin
mempercepat hentakannya. “Ahhhh !!! aahhh!! Andi ternyata ejakulasi terlebih
dahulu. Batangnya terasa berdenyut denyut. “Gantian cepet…aku belum nyampe…
cepet! Teriakku.
Sigap sekali Budi mengganti posisi Andi, karena tahu aku menjelang orgasme, Budi
tidak mengurangi ritme hentakan yang sudah dibangun oleh Andi. Luar biasa nikmat
sekali. Mataku terasa gelap…ohhhhhhh aku …aku orgasmeeee..!!! denyutan
vaginaku bertambah cepat.

Tiba tiba suami mengerang pelan disebelahku ! kami terdiam terpaku….ups !!


mungkin suamiku terganggu gara gara tempat tidur terlalu bergoyang keras. Aku
gosok gosok pelan punggungnya agar tertidur lagi…hihihi gue bener bener nakal ya.
Budi tersenyum senyum sambil mengocok pelan batangnya di vaginaku.

Agar aman, Budi menurunkan ritmenya, kali ini dia ingin menikmati persetubuhan
ini. Sementara tubuhku lemas sekali, tetapi karena kondisi terikat tubuhku tidak bisa
bergerak leluasa. Tiba tiba terasa batang Andi mengganti posisi batang Budi…uhhhh
kok lebih enak ya… Mataku masih terpejam menikmati. “Kok kamu lagi sih An…
Budi kan belum keluar…kasihan dong” Kataku pelan.
Tidak sampai 5 menit, Andi sudah mengerang keras hmmm sudah dua kali dia
ejakulasi. Aku masih memjamkan mata menikmati. Budi kembali menghunjamkan
batangnya tetapi kali ini tangannya meremas rambutku..uhhhh ..”hmmm batang
kalian kok lebih enak sihh…kok lain…? Bisikku.

Penasaran aku buka mataku menoleh ke belakang..hah !! Ada beberapa laki laki lain
masuk kedalam kamarku ?! Mereka semua sibuk mengocok batangnya masing
masing “Andiii! Apa apan ini !!..Teriakku.

“Tenang …tenang..Rin…kenalkan ini Robert..”Kata Andi sambil menunjuk laki laki


yang tengah menyetubuhiku dari belakang. “Dan yang sebelumnya tadi, kenalkan
Doni…”

“Kami ber enam sekarang, kamu nggak keberatan kan dipuaskan oleh 6 laki laki ?
Fantasimu bakal terpenuhi Rin”…Kata Andi kalem..

“Aaaaah jangan begitu dong…gue ngeri…aduuuhhh gimana sih….”Aku mulai panik.


NGeri juga kalo digilir banyak cowok begini meski aku pernah berfantasi gila gilaan
digilir puluhan cowok. Tapi apa harus malam ini…rasanya aku belum siap…Dan lagi
kalo suamiku tiba tiba bangun terus melihat aku lagi disetubuhi habis habisan gimana
hayo….aduhhh tapi batang Robert yang mengaduk aduk vaginaku sungguh
enak..Aku kembali meracau “ lebih cepaaaat…lebih cepat….uhhhh…ayooo…”
Robert mengayun pinggangnya lebih kuat membuat pantatku berbunyi keras kena
hempasan pahanya. Robert cepat mengerang, dan didalam vaginaku terasa ada cairan
mengalir…kurang ajar ! rupanya mereka tidak memakai kondom.
“Hei ! pakai kondomnya dong..! eh kok kalian tambah banyak ?“ Aku protes berat
karena kuatir juga kalo mereka nggak bersih dan mengapa sekarang ada 15 cowok ?
“Rin kalo pake kondom dengan 15 cowok begini kamu bakal lecet, mending tanpa
kondom deh, aku jamin temen temen bersih kok. Mereka semua masih perjaka loh…
bayangin kamu merawanin 13 perjaka…asyik kan ? Andi sibuk promosi.

“nggak mau ! Andi please jangan dong…jangan masukin sperma kalian ke


tubuhku……pake kondom dong please…pokoknya jangan masukkan sperma
kalian…please”

“Rin…mereka kan masih perjaka…dijamin gak sampe 5 menit semburatlah…ok ?


tapi oklah kita semua pake kondom….ok guys !! setuju !! kata Andi ke mereka.

Tanpa menunggu jawabanku lagi, mereka langsung menggilirku habis habisan. Aku
hanya bisa pasrah nikmat ketika batang batang mereka bergantian menyetubuhiku.
Memang benar rata rata Cuma 3 menit…tapi masalahnya mereka tidak berhenti di
ronde pertama, istirahat 5 menit sudah recovery lagi, artinya masing masing cowok
rata rata 3 kali menyetubuhiku… sama saja, rasanya bibir vaginaku menebal. Tapi
terus terang saja aku mengalami multi orgasme.

Aku benar benar kelelahan ketika Andi mencoba memasukkan batangnya ke anusku.
“Andi please jangan dong…gue belum pernah…” rengekku.

Tapi Andi tidak menghentikan usahanya. Gila anak ini…” Please jangan
dong..”rengekku lagi.

“Hmmm..Rin kamu bilang tadi pengen coba bondage…nanggung dong kalo Cuma
begitu aja, gue masukin ya…pokoknya gue masukin deh..loe nangis gue nggak
perduli, pokoknya kita semua menikmati tubuhmu sepuas puasnya…bukankah itu
yang kamu minta Rin ? “Kata Andi mulai kasar.

Andi mulai menekan batangnya ke anusku…duuuhhh perih banget ! Sementara


Robert, Doni, Agung dan cowok cowok lain mengocok batangnya di wajahku sambil
sesekali memukulkannya ke wajahku. Agung bahkan memaksa aku melumat
batangnya. sementara batang Andi mulai masuk makin dalam…

“jangan keluarkan sperma kalian di wajahku ok ? gue nggak mau…ok ? Pintaku


memelas…Aku memang menikmati digilir tapi tidak untuk merasakan sperma
mereka, bagiku hanya sperma suamiku yang boleh masuk ke dalam tubuhku. Tadi
aku kecolongan si Robert, kurang ajar banget..!!

“Ayo Rin ! nikmati ! ini yang kamu minta bukan ?! “ Andi mulai menggoyangkan
batangnya perlahan. Aku belum pernah anal, dan memang ternyata cukup
menyakitkan. Tetapi karena sudah terlanjur basah aku harus bisa menikmatinya.
Ahhh ternyata masuk depan belakang ini memang nikmat…gila nikmat banget.
“Rin sekarang teman teman ingin mengisi vaginamu dengan sperma mereka
bagaimana ….mau kan…? “ Tanya Andi.

“Jangan Di…gue udah bilang jangan…udah nikmati aja…kenapa sih harus masukin
sperma kalian…becek..nggak enak…” Rengekku.

“Hmmmm, tapi kamu tidak ada pilihan lain bukan kalau kami paksa….”Senyum
culas Andi mengembang.

“Ayolah Rin….Cuma 15 cowok kok….udah gini aja, mereka nggak usah coitus lagi,
tadi kan udah..kali ini cuma onani didepan vaginamu, trus vagina elo gue buka lebar
lebar agar sperma mereka masuk semua…ok ? Mereka penasaran neeeh …sperma 15
cowok muat nggak ke dalam satu vagina… ok ya Rin…” Rayu Andi.

“Duuuhhh Di..please gue nggak bisa nikmatin…dan lagi sprei jadi basah semua
dong…kalo suami gue bangun gimana dong lihat sperma berceceran…ayolah plesase
bukain ikatan gue ya…udah puas semua kan ? Dan lagi suami gue bentar lagi bangun,
gue gak sempat bersih bersih dong “ Gue kuatir juga kalo mereka melaksanakan
aksinya. Terus terang gak siap deh kalo vagina gue di isi sprema mereka…gila apa !

Tapi dasar mereka cowok bandel, tangan tangan mereka sudah sibuk mengocok
masing masing batangnya. Arrrghhh !! gue bener bener sebel …hhhh tangan dan kaki
gue bener bener terikat, mati kutu sama sekali tidak bisa bergerak. Sementara Jemari
Andi sibuk mengobok obok vaginaku…aduh..diapain sih punya gue…!

Budi mulai mendekatkan batangnya ke vaginaku dan….ahhh kurang ajar…!


Spermanya disemprotkan keras keras, tentu saja langsung masuk karena bibir
vaginaku dibuka lebar oleh jari jari Andi..
Doni mengikuti dari belakang…diikuti Rudi, Robert, Syuman dan aaahhh…sungguh
kurang ajar mereka.

“Rin…coba lihat…terisi penuh kan…semua bisa masuk lohhh…” Andi tersenyum


senyum.

“Di…coba gue masukin batang gue…luber nggak hahahaha “ Robert segera


menghunjamkan batangnya, tentu saja sprema di dalamnya muncrat keluar kena
tekanan dari luar…

Ok ..Rin gimana kalo kamu kami biarkan terikat begini…surprise untuk suamimu…
ok ? hehehe”

“Andi..jangan dong please…lepasin dong ikatan gue…please..” Aku mulai panik.


“Nggak mau…biar suamimu tahu kalo kamu nakal…ok ? kami pergi thanks
honey….” Andi menepuk nepuk pipiku.
Arggghhh bang**t..!! Andi !! lepasin gue dong…gue teriak neeeh !!!” Ancam ku.

Ups !!! kalo gitu mulut kamu perlu ditutup sayang…”Tangan andi mengambil
sobekan kain bajuku untuk menyumpal mulutku…ahhhh kurang ajar !!!

Mereka menutup pintu dan membiarkan aku terikat, aduhhh bagaimana kalau
suamiku bangun nanti…!! Aduhhh gimana alasanku nanti ? …mataku jadi gelap…

Bonus Pic:

Ibu dan Anak dalam satu ranjang bersamaku


Posted by admin on March 7, 2009 – 12:38 am
Filed under Daun Muda

Didalam cerita dewasa pengalaman saya yang pertama yang saya beri judul “Masa
kecil saya di Palembang”, saya menceritakan bagaimana saya diperkenalkan kepada
kenikmatan senggama pada waktu saya masih berumur 13 tahun oleh Ayu, seorang
wanita tetangga kami yang telah berumur jauh lebih tua. Saya dibesarkan didalam
keluarga yang sangat taat dalam agama. Saya sebelumnya belum pernah terekspos
terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Pengetahuan saya mengenai hal-hal
persetubuhan hanyalah sebatas apa yang saya baca didalam cerita-cerita porno
ketikan yang beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku SMP.

Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi anak lelaki seperti saya walaupun
melihat tubuh wanita bugil sekalipun. Anak-anak lelaki masa ini mungkin susah
membayangkan bahwa anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar di buku
mode-blad punya kakak saya seperti Lana Lobell, dimana terdapat gambar-gambar
bintang film seperti Ginger Roberts, Jayne Mansfield, yang memperagakan pakaian
dalam, ini saja sudah cukup membuat kita terangsang dan melakukan masturbasi
beberapa kali.

Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika


diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil
wanita seperti Ayu, tetapi bisa mengalami kenikmatan bersanggama dengan wanita
sungguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua. Dengan hanya
memandang tubuh Ayu yang begitu mulus dan putih saja sucah cukup sebetulnya
untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara
nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya. Apalagi betul-betul
melihat kemaluannya yang mulus tanpa jembut. Bisa mencium dan mengendus bau
kemaluannya yang begitu menggairahkan yang kadang-kadang masih berbau sedikit
amis kencing perempuan dan yang paling hebat lagi buat saya adalah bisanya saya
menjilat dan mengemut kemaluannya dan kelentitnya yang seharusnyalah masih
merupakan buah larangan yang penuh rahasia buat saya.
Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa
yang disebut cunnilingus, atau mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut.
Sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita, mulai
dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkan dan menggigit
bibir luarnya (labia majora), lalu melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu
mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan. Yang terakhir
barulah saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam liang sanggamanya yang
sudah banjir.

Setelah kesempatan saya dan Ayu untuk bermain cinta (saya tidak tahu apakah itu
bisa disebut bermain cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin berani
dan Ayu dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari, paling
sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia akan langsung masuk kedalam kamar
tidur saya, dan tidak lama kemudian sayapun segera menyusul.

Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan
sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya dia duduk
dipinggiran tempat tidur saya. Saya biasanya langsung menerkam payudaranya yang
sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari bundaran yang
kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar menurut penilaian saya. Ayu
sangat suka apabila saya mengemut pentil susunya yang menjadi tegang dan
memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera menjadi becek apabila saya
sudah mulai ngenyot-ngenyot pentilnya.

Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada
permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai klimaks.
Untunglah Ayu selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedot-nyedot
kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan sampai dua
atau tiga kali sebelum saya memasukkan penis saya kedalam liang peranakannya, dan
setelah saya pompa hanya beberapa kali saja maka saya seringkali langsung
menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya. Barulah untuk ronde kedua saya bisa
menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Ayu bisa menyusul dengan
orgasmenya sehingga saya bisa merasakan empot-empotan vaginanya yang seakan-
akan menyedot penis saya lebih dalam kedalam sorga dunia.

Ayu juga sangat doyan mengemut-ngemut penis saya yang masih belum bertumbuh
secara maksimum. Saya tidak disunat dan Ayu sangat sering menggoda saya dengan
menertawakan “kulup” saya, dan setelah beberapa minggu Ayu kemudian berhasil
menarik seluruh kulit kulup saya sehingga topi baja saya bisa muncul seluruhnya.
Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik atau mengupas kulup saya
sampai terasa sakit, lalu dia akan mengobatinya dengan mengemutnya dengan lembut
sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti memperolah permainan baru dengan
mempermainkan lidahnya disekeliling leher penis saya sampai saya merasa begitu
kegelian dan kadang-kadang sampai saya tidak kuat menahannya dan mani saya
tumpah dan muncrat ke hidung dan matanya.
Kadang-kadang Ayu juga minta “main” walaupun dia sedang mens. Walaupun dia
berusaha mencuci vaginanya lebih dulu, saya tidak pernah mau mencium vaginanya
karena saya perhatikan bau-nya tidak menyenangkan. Paling-paling saya hanya
memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang terasa banjir dan becek karena darah
mensnya. Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan biasanya saya cepat
sekali ejakulasi. Apabila saya mencabut kemaluan saya dari vagina Ayu, saya bisa
melihat cairan darah mensnya yang bercampur dengan mani saya. Kadang-kadang
saya merasa jijik melihatnya.

Satu hari, kami sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama, dimana kami berdua
sedang telanjang bugil dan Ayu sedang berada didalam posisi diatas menunggangi
saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa
mengisap-isap payudaranya sementara dia menggilas kemaluan saya dengan dengan
kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks saja
karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. Dan pasangan suami isteri yang
tadinya menyewa kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah kontrakan mereka
yang baru.

Saya sudah ejakulasi sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan jus dari
kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks
dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak
perempuannya yang bernama Efi ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya dan
berkata, “Ibu main kancitan, iya..?” (kancitan = ngentot, bahasa Palembang)

Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang
dipuncak klimaksnya, Ayu diam saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan
melihat Efi datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami
dimana penis saya sedang bersatu dengan dengan kemaluan ibunya. Lalu dia duduk di
pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.

“Hayo, ibu main kancitan,” katanya lagi.

Lalu pelan-pelan Ayu menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa
berusaha menutupi kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut
dan kemaluan saya .

“Efi, Efi. Kamu ngapain sih disini?” kata Ayu lemas.

“Efi pulang sekolah agak pagi dan Efi cari-cari Ibu dirumah, tahunya lagi kancitan
sama Bang Johan,” kata Efi tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan saya.
Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Ayu tenang-tenang saja.

“Efi juga mau kancitan,” kata Efi tiba-tiba.


“E-eh, Efi masih kecil..” kata ibunya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan
dasternya.

“Efi mau kancitan, kalau nggak nanti Efi bilangin Abah.”

“Jangan Efi, jangan bilangin Abah.., kata Ayu membujuk.

“Efi mau kancitan,” Efi membandel. “Kalo nggak nanti Efi bilangin Abah..”

“Iya udah, diam. Sini, biar Johan ngancitin Efi.” Ayu berkata.

Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegup-degup
seperti alu menumbuk. Saya sudah sering melihat Efi bermain-main di pekarangan
rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih begitu kecil. Dari
mana dia mengerti tentang “main kancitan” segala?

Ayu mengambil bantal yang sedang menutupi kemaluan saya dan tangannya
mengelus-ngelus penis saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.

“Sini, biar Efi lihat.” Ayu mengupas kulit kulup saya untuk menunjukkan kepala
penis saya kepada Efi. Efi datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas penis
saya. Aduh maak, saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi saya
diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.

Tempat tidur saya cukup besar dan Ayu kemudian menyutuh Efi untuk membuka
baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur didekat saya. Saya duduk dikasur dan
melihat tubuh Efi yang masih begitu remaja. Payudaranya masih belum berbentuk,
hampir rata tetapi sudah agak membenjol. Putingnya masih belum keluar, malahan
sepertinya masuk kedalam. Ayu kemudian merosot celana dalam Efi dan saya melihat
kemaluan Efi yang sangat mulus, seperti kemaluan ibunya. Belum ada bibir luar,
hanya garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya melihat itilnya yang seperti
mengintip dari sela-sela garis kemaluannya. Efi merapatkan pahanya dan matanya
menatap kearah ibunya seperti menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Saya mengelus-elus bukit venus Efi yang agak menggembung lalu saya coba
merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, Efi menurut, dan saya berlutut di
antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan Efi.

“Ibu, Efi malu ah..” kata Efi sambil berusaha menutup kemaluannya dengan kedua
tangannya.

“Ayo, Efi mau kancitan, ndak?” kata Ayu.

Saya mengendus kemaluan Efi dan baunya sangat tajam.


“Uh, mambu pesing.” Saya berkata dengan agak jijik. Saya juga melihat adanya
“keju” yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan Efi.

“Tunggu sebentar,” kata Ayu yang lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu
sambil mempermainkan bibir kemaluan Efi dengan jari-jari saya. Efi mulai membuka
pahanya makin lebar.

Sebentar kemudian Ayu datang membawa satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia
pun mulai mencuci kemaluan Efi dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan
kemaluan Efi mulai memerah karena digosok-gosok Ayu dengan handuk tadi. Setelah
selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kemaluan Efi. Baunya tidak lagi
setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kemaluan Efi yang hanya berbau
amis sedikit saja. Saya mulai membuka celah-celah kemaluannya dengan
menggunakan lidah saya dan Efi-pun merenggangkan pahanya semakin lebar. Saya
sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya dengan sangat jelas. Bagian
samping kemaluan Efi kelihatan sangat lembut ketika saya membuka belahan
bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat merah.

Saya isap-isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan
kelentitnya dengan ujung lidah saya, Efi menggeliat-geliat sambil mengerang, “Ibu,
aduuh geli, ibuu.., geli nian ibuu..”

Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala penis saya kearah belahan bibir
kemaluan Efi dan tanpa melihat kemana masuknya, saya dorong pelan-pelan.

“Aduh, sakit bu..,” Efi hampir menjerit.

“Johan, pelan-pelan masuknya.” Kata Ayu sambil mengelus-elus bukit Efi.

Saya coba lagi mendorong, dan Efi menggigit bibirnya kesakitan.

“Sakit, ibu.”

Ayu bangkit kembali dan berkata,”Johan tunggu sebentar,” lalu dia pergi keluar dari
kamar.

Saya tidak tahu kemana Ayu perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun
berlutut didepan kemaluan Efi dan sambil memegang batang penis, saya
mempermainkan kepalanya di clitoris Efi. Efi memegang kedua tangan saya erat-erat
dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.

Saya merasa kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Saya
sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan Ayu yang longgar dan penis saya
tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah. Tetapi liang vagina Efi
yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba Efi mendorong tubuh saya mundur
sambil berteriak, “Aduuh..!” Rupanya tanpa saya sadari, saya sudah mendorong lebih
dalam lagi dan Efi masih tetap kesakitan.

Sebentar lagi Ayu datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak
kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga
melumasi kemaluan Efi. Kemudian dia memegang batang kemaluan saya dan
menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki liang vagina Efi. Terasa licin memang dan
saya-pun bisa masuk sedikit demi sedikit. Efi meremas tangan saya sambil menggigit
bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak tahu pasti.

Saya melihat Efi menitikkan air mata tetapi saya meneruskan memasukkan batang
penis saya pelan-pelan.

“Cabut dulu,” kata Ayu tiba-tiba.

Saya menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan Efi. Saya bisa melihat
lobangnya yang kecil dan merah seperti menganga. Ayu kembali melumasi penis
saya dan kemaluan Efi dengan minyak kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk
masuk kedalam lobang Efi yang sedang menunggu. Saya dorong lagi dengan hati-
hati, sampai semuanya terbenam didalam Efi. Aduh nikmatnya, karena lobang Efi
betul-betul sangat hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan
dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam liang kemaluan Efi. Efi yang masih
kecil. Saya juga sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat itu kami berdua
sedang merasakan bersanggama dengan disaksikan Ayu, ibunya sendiri.

Efi belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan baik,
dan dia diam saja menerima tumpahan air mani saya. Saya juga tidak melihat reaksi
dari Efi yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atau tidak. Saya merebahkan
tubuh saya diatas tubuh Efi yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja.

Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping
Efi. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Ayu sudah terangsang
lagi setelah melihat saya menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah saya dan
mendudukinya dan menggilingnya dengan vaginanya yang basah, dan didalam kami
di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis saya yang sudah mulai lemas sehingga
penis saya itu mulai menegang kembali.

Wajah saya begitu dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium sedikit bau anus
yang baru cebok dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu kami
memang begitu menggebu-gebu, dan saya sedot dan jilat kemaluan Ayu sepuas-
puasnya, sementara Efi menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Saya sudah mengenal kebiasaan Ayu dimana dia sering kentut kalau betul-betul
sedang klimaks berat, dan saat itupun Ayu kentut beberapa kali diatas wajah saya.
Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar ketika dia kentut, dan sayapun
melepaskan semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari itu didalam mulut Ayu.
“Alangkah lemaknyoo..!” saya berteriak dalam hati.

“Ugh, ibu kentut,” kata Efi tetapi Ayu hanya bisa mengeluarkan suara seperti
seseorang yang sedang dicekik lehernya.

Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Efi. Ternyata dia masih belum cukup
dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih anak kecil, dan
pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Ayu
terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atau tiga kali
seminggu. Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah setiap
kali kami selesai bersanggama. Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh saya
menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk melayani
Ayu, tetapi saya selalu saya merasa ingin makan telur banyak-banyak. Saya sangat
beruntung karena kami kebetulan memelihara beberapa puluh ekor ayam, dan setiap
pagi saya selalu menenggak 4 sampai 6 butir telur mentah. Saya juga memperhatikan
dalam tempo setahun itu penis saya menjadi semakin besar dan bulu jembut saya
mulai menjadi agak kasar. Saya tidak tahu apakah penis saya cukup besar
dibandingkan suami Ayu ataupun lelaki lain. Yang saya tahu adalah bahwa saya
sangat puas, dan kelihatannya Ayu juga cukup puas.

Saya tidak merasa seperti seorang yang bejat moral. Saya tidak pernah melacur dan
ketika saya masih kawin dengan isteri saya yang orang bule, walaupun perkawinan
kami itu berakhir dengan perceraian, saya tidak pernah menyeleweng. Tetapi saya
akan selalu berterima kasih kepada Ayu (entah dimana dia sekarang) yang telah
memberikan saya kenikmatan didalam umur yang sangat dini, dan pelajaran yang
sangat berharga didalam bagaimana melayani seorang perempuan, terlepas dari
apakah itu salah atau tidak.

Tamat

Abg Bule Pacar Keponakanku


Posted by admin on March 3, 2009 – 12:13 am
Filed under Daun Muda

Cerita dewasa ini terjadi ketika aku masih tinggal di amerika dan memiliki sebuah
bisnis besar disana, dimana kejadian ini berawal ketika aku memergoki keponakanku
sedang ngentot pacarnya yang bule karena keponakanku tidak bisa memuaskannya
akhirnya aku sendiri yang bertindak. Simak kelanjutan kisah ini :

Jam sudah menunjukkan pukul 2.00 siang. Hari ini berlalu dengan sangat
membosankan. Meeting tentang implementasi software masih saja berlangsung sedari
pagi tadi. Si konsultan yang sok pinter itu masih melakukan presentasi tentang
feature-feature softwarenya. Sudah penat pikiranku mendengarnya, sehingga kadang
kala aku berpikir.. Kalau saja ini semua cuma film, aku tinggal menekan tombol “fast
forward” saja biar cepat selesai. Aku terpaksa ikut meeting ini karena semua board of
management datang, termasuk the big boss.., my dad.

Begitu seriusnya meeting tersebut, hingga makan siangpun dilakukan di ruang


meeting dengan membeli nasi kotak. Shit! Because having lunch is my favorite time
in the office.. He.. He..

Jam 3.15 selesai jugalah segala macam cobaan ini. Aku bergegas kembali ke
ruanganku bersama Lia, sekretarisku. Di lobby tampak resepsionis baru, Dian,
tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda hormat. Kubalas senyumnya sambil
memperhatikan Noni yang duduk di sebelah Dian. Resepsionis yang satu lagi ini
tampak jengah dan pura-pura tidak melihatku. Memang akhir-akhir ini dia tampak
ketakutan bila bertemu, mungkin karena sering aku pakai dia untuk memuaskan nafsu
birahiku.

Resepsionis baru Dian, adalah bekas pegawai salon langgananku. Aku rekrut dia
karena memang kantorku butuh resepsionis cadangan kalau-kalau Noni tidak masuk.
Tetapi alasan utama adalah karena bentuk fisik terutama buah dadanya yang amat
mengusik nafsu kelelakianku.

Lia kembali ke mejanya, sedangkan aku masuk ke ruanganku. Sesampai di dalam,


kuhempaskan tubuhku di kursi sambil menghela nafas panjang. Kubuka laptopku
untuk browsing internet guna menghilangkan penat. Aku buka situs “barely legal
teens” yang menampilkan ABG bule yang cantik-cantik. Melihat gambar-gambar itu,
tiba-tiba aku teringat pengalamanku beberapa tahun yang lalu ketika aku masih kuliah
di Amerika.

*****

Aku tinggal di sebuah apartemen di daerah Anaheim, California. Apartemenku ini


terletak tak jauh dari Disneyland, sehingga banyak turis yang berkunjung ke daerah
itu. Aku mengambil pasca sarjana di sebuah universitas yang tak jauh dari
apartemenku. Singkat kata, lokasi apartemenku ini strategis sekali, kemana-mana
dekat.

Kadang kala di akhir pekan, bila tidak ada acara lain, aku berkunjung ke rumah
sepupuku di Long Beach. Sepupuku ini, Linda, berusia jauh lebih tua dariku, dan
mempunyai anak laki-laki remaja. Namanya Franky, berumur 17 tahun, dan waktu itu
duduk di bangku SMA/high school.
Pada suatu hari, aku mendapat undangan bbq dari Linda, sepupuku itu. Kukebut
Honda Civic-ku menembus belantara highway menuju Long Beach. Tak lama,
akupun sampai di rumahnya yang mempunyai pekarangan cukup luas.

“Hi.. Bert, ayo masuk” Linda menyapaku.


“Sombong nih udah lama nggak ke sini”
“Sedang sibuk nih, banyak tugas” alasanku.

Memang beberapa minggu ini aku menghabiskan akhir minggu bersama-sama dengan
teman-temanku.

“Hi.. Oom Robert” Franky menyapaku.


“Gimana notebook-nya sudah nggak pernah ngadat lagi khan?”
“Nggak Frank.. Kamu memang jago” pujiku.

Franky ini memang terkenal pintar, dan hobby komputer. Notebook-ku yang rusak
bisa dia perbaiki, sedangkan saat aku bawa ke toko tempat aku membeli, aku
disarankan untuk membeli yang baru saja. Wajahnya pun ganteng, hanya saja dia
agak sedikit feminin. Berkacamata, selalu berpakaian rapi, dengan rambut kelimis
disisir ke samping, membuatnya tampak smart, santun, dan.. Anak Mami.

“Ini Oom, kenalin my special friend” katanya.

Agak kaget juga aku melihat gadis ABG yang muncul dari dalam. Dia gadis bule
seusia Franky, dengan tubuh yang tinggi semampai dan rambut pirang sebahu.

“Hi.. I am Kirsten” katanya menyapaku.


“Hello.. I am Robert. Nice to meet you” kataku sambil menatap matanya yang
berwarna biru.
“Hebat juga kamu Frank” kataku menggoda. Diapun tertawa senang.

Kami pun lalu ke halaman belakang, dimana bbq diadakan. Beberapa tamu telah
datang. Freddy, suami Linda tampak sedang mempersiapkan peralatannya. Akupun
kemudian berbincang basa-basi dengannya.

Sepanjang acara, kadang aku lirik Kirsten, ABG bule itu. T-shirt warna hijau ketatnya
memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang terbungkus BH. Karena ukuran buah
dadanya yang besar, saat dia berjalan, buah dadanya itupun bergoyang-goyang
menggemaskan. Ditambah dengan celana pendek jeans yang memperlihatkan
pahanya yang mulus menambah indahnya pemandangan saat itu. Celana jeans yang
pendek itu kadang memperlihatkan sebagian bongkahan pantatnya. Memang saat itu
sedang musim panas, sehingga mungkin wajar saja berpakaian minim seperti itu.
“Bert, kita mau minta tolong nih. Aku dan Freddy mau ke pesta penikahan temanku
di New York. Tolong ya kamu jagain rumah sama si Franky. Tolong awasin dia
supaya nggak macem-macem” Linda meminta bantuanku ketika kami telah
menyantap makan malam kami.
“Yach OK deh.. Asal ada oleh-olehnya saja” jawabku.
“Beres deh..” sahut Linda sambil tertawa.
“Memang perlu juga nih pergantian suasana untuk beberapa hari”, pikirku.

*****

“Frank.. Oom pergi dulu ke kampus. Ada tugas kelompok nih. Pulangnya agak
malam, OK. Take care, and behave”
“Iya Oom.. Jangan kuatir.” jawabnya sambil memakan cerealnya.

Sesampai di kampus, aku pun mulai menyelesaikan tugas bersama kelompokku.


Ternyata cepat selesai juga tugas tersebut. Setelah makan siang di cafetaria, akupun
kembali ke rumah sepupuku.

Tiba di depan rumah sepupuku itu, tampak sebuah mobil lain sedang parkir di
halaman rumah. Akupun tak ambil pusing dan masuk ke ruang tamu lewat pintu
belakang. Saat duduk si sofa, tiba-tiba kudengar suara-suara mencurigakan dari dalam
kamar Franky. Akupun mengendap-endap menuju jendela kamarnya yang terkuak
sedikit. Di dalam kulihat Kirsten sedang menciumi Franky dengan bernafsu.

“Come on open your mouth a little bit” katanya sambil kemudian terus menciumi
Franky yang tampak kewalahan.
“Here touch my breasts” Kirsten menarik tangan Franky untuk kemudian
diletakkannya di dadanya yang terbungkus tank top warna pink.

Aku terbeliak melihat pemandangan ini, dan tiba-tiba saja akalku berjalan. Aku
bergegas ke ruanganku untuk mengambil videocam yang kugunakan kemarin untuk
merekam pesta bbq. Saat aku kembali mengintip ke kamar Franky, tampak Kirsten
mengangkat tank topnya sehingga menampakkan buah dadanya yang mulus dan
ranum di depan wajah Franky.

“You may kiss them.. Come on.. Suck my breasts” katanya. Franky masih tampak
terdiam bengong sehingga Kirstenpun tampak tak sabar dan menarik kepalanya
menuju buah dadanya.
“Ahh.. Shit.. Yeah.. Suck it.. That’s right.. Ahh” erangnya ketika Franky mulai
menghisapi buah dadanya yang putih mulus berputing merah muda itu.

Kemaluanku memberontak di dalam celanaku, tapi tetap aku berkonsentrasi merekam


semua adegan ini.
“Now it’s my turn. I want to suck your cock. I want to taste Indonesian cock” Kirsten
berkata seperti itu sambil berlutut di depan Franky. Dibukanya celana Franky
sehingga tinggal celana dalamnya saja yang masih tertinggal.

Kirsten mulai menjilati kemaluan Franky dari luar celana dalamnya, sambil matanya
menatap menggoda ke arah Franky.

“You like that? Hmm.. You like that? ” erangnya menggoda.


“Ohh..” tiba-tiba Franky mengejang dan tampak cairan ejakulasinya membasahi
celana dalamnya.
“Shit.. Franky.. You came already?” tampak Kirsten kecewa.
“You’ve never done this before huh?”

Frankypun tertunduk lesu, sementara Kirsten dengan sedikit kesal membenahi


pakaiannya dan kembali bangkit berdiri. Saat itu aku mengambil keputusan untuk
menerjang masuk ke dalam. Pintu ternyata tidak terkunci, dan mereka tampak kaget
melihat aku masuk membawa video camera.

“What the hell are you doing?!!” tanyaku.


“Oh anu Oom.. Nggak kok.. Anu..” Franky tampak terbata-bata tidak bisa menjawab.
“It is not what it looks like. Nothing happened, sir..” Kirstenpun tampak agak sedikit
ketakutan.
“Hey.. I got all the proof here” sahutku.
“I am going to tell your Mom and your parents too, Kirsten”
“Please don’t.. Sir” tampak Kirsten mulai panik dan mencoba merayuku agar
menyimpan rahasia ini. Sementara Franky tampak pucat pasi sambil mengenakan
kembali pakaiannya.
“Stay here.. I want to talk with both of you” kataku sambil keluar membawa
videocam meninggalkan mereka berdua. Kusimpan baik-baik barang bukti ini.

Sekembalinya ke ruangan itu, Franky dan Kirsten tampak gelisah duduk di tepi
ranjang. Persis seperti maling yang tertangkap di tayangan Buser SCTV He. He..

“You won’t tell anybody, will you sir? ” tanya Kirsten berharap.
“Well.. It depends. If you let me fuck you.. I won’t” jawabku.

Aku memang horny sekali melihat Kirsten saat itu. Dengan rok mini dan tank top-
nya, tampak kesegaran tubuh ranum ABG bule ini.

“Lho kok..” tanya Franky kaget.


“Iya Frank. Oom pengen ngerasain pacarmu ini. Ngerti!! Sekalian kamu bisa belajar
gimana lelaki sejati make love. Biar nggak malu-maluin” jawabku.
“You want to taste real indonesian cock, don’t you? You little slut” kataku sambil
meremas-remas rambut pirang Kirsten.
Akupun lalu duduk di samping gadis remaja bule ini di ranjang. Kuremas-remas
pundaknya yang mulus.

“Pindah sana.. Duduk di kursi!!” perintahku pada Franky.

Kutarik wajah cantik Kirsten, dan kukulum bibirnya. Sementara tanganku meremas-
remas buah dadanya dari balik tank topnya. Pertama kali dia tak memberikan reaksi,
akan tetapi setelah beberapa lama, dia mulai mengerang nikmat.

“Hmm.. Hmm” erangnya ketika tanganku merogoh ke balik tanktopnya dan memilin
puting buah dadanya yang telah mengeras.

Kuangkat ke atas tank topnya sehingga buah dadanya yang tak tertutup BH mencuat
menantang di depan wajahku.

“You want me to suck your breast?” tanyaku.


“Hmm.. Yeah.. Please sir..” jawabnya mendesah.
“Ahh.. Sstt.. Oh yeah..” erangnya lagi ketika buah dadanya aku hisap sambil
tanganku memainkan puting buah dadanya yang lain.
“Ini namanya nipple, Frank. Cewek biasanya suka kalau bagian ini dijilat dan dihisap.
Ngerti?” kataku sambil menunjukkan cara menjilat dan menghisap puting buah dada
kekasih cantiknya ini. Sementara Kirsten makin mengerang tak karuan menerima
kenikmatan yang diberikan mulutku di dadanya.
“Ok now it is your turn to suck my cock. You want it, right?” tanyaku sambil berdiri
menghadapnya yang duduk di atas ranjang.
“Come on open your present, you naughty girl!!” perintahku lebih lanjut.

Tangan halus Kirstenpun mulai membuka retsleting celanaku. Karena tak sabar,
akupun membantunya membuka celana itu berikut celana dalamnya. Tampak
kemaluanku sudah berdiri tegak dengan gagahnya di depan wajah cantik Kirsten.

“Is it big enough for you, Kirsten?” tanyaku sambil meremas-remas rambut
pirangnya.
“Yes, sir.. Very big..” jawabnya sambil tangannya mengelus-elus kemaluanku.
Matanya yang biru indah tampak sedang mengagumi kemaluanku yang besar.
“What are you waiting for? Come on suck my big Indonesian cock. Let your
boyfriend watch!!” perintahku sambil sedikit mendorong kepalanya ke arah
kemaluanku.

Kirstenpun mulai mengulum kemaluanku. Sesekali dijilatinya batang kemaluanku


sambil matanya menatapku menggoda.

“You like it, huh?” tanyaku sambil meremas remas rambutnya gemas.
“Yes.. Very much, sir” katanya sambil tersenyum manis.
Tangannya yang halus mengocok-ngocok kemaluanku. Dijilatinya kepala
kemaluanku, dan kemudian dikulumnya lagi senjata pamungkasku. Mulutnya yang
berbibir tipis khas orang bule tampak penuh disesaki kemaluanku. Kusibakkan
rambutnya yang jatuh menutupi, sehingga pipinya yang menonjol menghisapi
kemaluanku tampak jelas tertampang di hadapan Franky.

“Lihat Frank.. Cewekmu suka banget kontol Oom. Makanya kalau punya kontol yang
besar..” kataku menggoda Franky.

Di atas kursi, Franky terdiam bengong melihat pacar bulenya yang cantik sedang
dengan lahap menghisapi kemaluanku. Tampak Franky mulai terangsang karena dia
mulai memegang-megang kemaluannya sendiri.

“OK.. It’s time to fuck you” kataku sambil melepas baju yang kukenakan sehingga
aku sekarang sudah telanjang bulat.

Aku duduk di kursi di hadapan Franky dan kuminta Kirsten untuk menghampiriku.
Kusuruh dia duduk dipangkuan membelakangiku. Kuciumi pundak Kirsten yang
masih mengenakan tank topnya, dan kuraba pahanya yang putih menggairahkan itu.
Sesampai di celana dalamnya, kusibakkan celana itu ke samping sehingga tampak
vaginanya yang bersih tak berbulu, merekah mengundang. Kupermainkan jariku di
vaginanya, dan kuusap-usap klitorisnya. Tubuh Kirsten agak sedikit melonjak sambil
dia mengerang-erang kenikmatan.

“Yeaah.. That’s it.. That’s it” desahnya sambil menggelinjang.


“Ini namanya klitoris, Frank. Ini daerah paling sensitif. Catat itu!” kataku. Franky
tampak masih mengusap-usap kemaluannya sendiri melihat kekasih bulenya kukerjai.
“You want me to fuck you now?” tanyaku pada Kirsten yang terus menerus
mengerang dan mendesah.
“Please.. Please..” jawabnya.
“But your boyfriend is looking” kataku lagi.
“I don’t care. Please fuck me, sir..” Kirsten menjawab sambil meraba-raba buah
dadanya sendiri. Tanganku masih mengusap-usap kemaluan gadis remaja cantik ini
sementara mulutku menciumi pundaknya yang bersih mulus.

Franky tiba-tiba berdiri dari kursi dan menuju Kirsten. Tangannya mengusapi rambut
Kirsten sementara tangannya yang lain mulai membuka retsleting celana yang
dikenakannya.

“Hey!! Mau ngapain kamu? Nggak usah ikut-ikut. Balik duduk sana. Kamu lihat saja
dulu!!” perintahku. Dengan menurut Frankypun kembali duduk menatap pacarnya
yang sedang akan disetubuhi Oomnya.
Kirsten mengarahkan kemaluanku ke vaginanya. Ketika dia merendahkan tubuhnya,
sedikit demi sedikit kemaluanku pun memasuki tubuhnya.

“Hmm.. Oh my god.. Ohh..” erangnya ketika vaginanya disesaki kemaluanku.


“You like that?” tanyaku.

Kirsten tak menjawab, akan tetapi dia mulai menaik turunkan tubuhnya di atas
pangkuanku. Badannya agak aku condongkan ke belakang hingga aku dapat
menciumi bibirnya, tatkala kemaluanku memompa vagina ABG bule cantik ini.
Tanganku menarik tanktopnya ke atas sehingga buah dadanya yang berayun-ayun
menggemaskan dapat aku remas sepuas hati.

“Perhatikan baik-baik Franky. Begini caranya memuaskan pacarmu!!” kataku di sela-


sela erangan Kirsten.

Setelah beberapa lama, aku turunkan tubuh Kirsten dari pangkuanku, dan kutarik dia
menuju ranjang. Kurebahkan tubuhku di ranjang dan Kirsten kemudian menaiki
tubuhku.

“I want to ride your big dick. Is it Ok, sir?” tanyanya.


“Yes.. Do it. Let your boyfriend watch and learn!” kataku.

Kembali vagina sempit Kirsten menjepit nikmat kemaluanku. Tubuh padatnya


tampak naik turun menikmati kelelakianku, terkadang digesek-gesekkannya
pantatnya maju mundur menambah sensasi nikmat yang aku rasakan.

“Oh my god.. So big.. Yes.. Yess.. Oh yess..” erang Kirsten sambil terus memompa
kemaluanku.

Kulihat Franky sekarang sedang mengocok kemaluannya sendiri. Mungkin sudah


tidak tahan dia melihat pacarnya aku setubuhi.

“Ohh.. I am cumming.. Yeahh..” jerit Kirsten sambil menjatuhkan tubuhnya


dipelukanku.

Tampak butiran keringat membasahi keningnya. Kuusap rambutnya dan kuciumi


wajahnya yang cantik itu.

“OK I want to cum in your pretty face. Suck it again” perintahku.

Kirstenpun kemudian menciumi wajahku, leherku kemudian menghisap puting


dadaku. Kemudian dengan gaya menggoda, dia menjilati perutku dan terus menuju ke
bawah. Tak lama kembali mulutnya menghisapi kemaluanku dengan bernafsu.
“Look at your boyfriend while you are sucking my cock!!” perintahku.

Kirsten pun menoleh ke kiri ke arah Franky sementara kemaluanku masih menyesaki
mulutnya. Tangannya menyibakkan rambutnya sendiri, sehingga pacarnya dapat
melihatnya dengan jelas ketika dia mengulum kemaluanku.

“Ehmm.. Ehmm..” erangnya sambil tangannya mengocok bagian bawah batang


kemaluanku yang tidak muat masuk ke dalam mulutnya.

Aku memandang Franky sambil mengelus-elus rambut pirang pacarnya yang cantik
ini. Tampak makin cepat Franky mengocok kemaluannya sendiri sambil menatap
Kirsten yang sedang menghisapi kemaluanku.

“Ahh” Tak lama Frankypun menjerit ketika dia mengalami orgasme. Sementara
Kirsten, pacarnya, masih menikmati kemaluanku dengan lahap.
“Oh shit.. I am cumming..” jeritku.

Kirsten membuka mulutnya ketika cairan ejakulasiku tersembur keluar mengenai


wajah dan mulutnya.

*****

Mengenang kejadian itu, terasa nafsu birahiku timbul. Terlebih setelah melihat
gambar di notebookku dimana seorang laki-laki sedang dihisap kemaluannya oleh
seorang wanita, sementara dia melahap buah dada wanita yang lain dengan rakusnya.

“Masih ada waktu untuk melakukan seperti itu”, pikirku setelah melihat jam
tanganku. Memang sore itu aku ada janji untuk latihan driving dengan seorang teman.
“Lia.. Tadi bapak sudah pulang belum?” tanyaku lewat telepon pada sekretarisku.
“Sudah Pak.. Sehabis meeting tadi langsung pulang” jawabnya.
“Kalau gitu kamu kemari sebentar. Ajak Dian juga”, perintahku lebih lanjut. Memang
enak punya karyawati cantik.

*****

• Home
• About

Cerita Dewasa

Category Archives: gangbang


Pembantuku “oh parni oh mirna”
82
Posted by admin on September 28, 2009 – 2:11 pm
Filed under gangbang

Di sebuah rumah di kota P, terdapat laki-laki muda yang masih single. Pria tersebut
bernama Bonsa (samaran). Perawakannya ganteng dan berbody atletis, berkulit putih
dan memiliki batang kemaluan yang besar dan panjang, dengan panjang 18 cm dan
diameter 5 cm. Dia mempunyai libido sex yang tinggi, tidak jarang melakukan onani
sampai setiap hari jika sedang bernafsu. Di rumahnya dia ditemani 3 orang pembatu
yang masih muda dan seksi.
Pembantunya semua wanita, yang pertama (dari umur), Mirna asal Malang, umurnya
25 tahun, sudah menikah (suaminya tetap di Malang) dan mempunyai dua orang
anak. Walau sudah menikah, tubuhnya masih bagus, body seksi dan kulitnya putih
susu. Payudaranya masih kencang, berisi, dan montok dengan ukuran 36B. Lubang
kemaluannya masih rapat walau sudah pernah melahirkan 2 anak. Kedua, Marni asal
Lumajang, status janda tanpa anak (cerai), umur 19 tahun, tubuhnya tinggi sekitar 175
cm. Bodynya seksi, payudaranya berukuran 36B juga tapi sudah menggantung, alat
vitalnya bagus dan sedikit sudah longgar, tapi masih enak, rapih karena bulu
kemaluannya dicukur habis. Ketiga, Parni asal Jember, umur 16 tahun belum
menikah tapi sudah tidak perawan lagi, tubuhnya biasa dibandingkan dengan yang
lain, tetapi sangat menggairahkan. Payudaranya besar berukuran 39A, kulitnya putih
dan liang senggamanya masih sempit (baru satu kali melakukan hubungan sex).
Hari kamis Bonsa pulang kerja lebih awal, tetapi dia sampai di rumahnya baru sore
hari, karena dia tadi bersama temannya nonton film biru dulu di kantornya
(ruangannya). Setelah sampai di rumah, Bonsa ingin langsung masuk kamar untuk
melepaskan nafsunya yang terbendung dengan melakukan onani. Tetapi ketika
hendak masuk kamar, Bonsa melihat pembantu-pembatunya bersenda gurau dengan
menggenakan baju yang seksi, dengan hanya memakai rok mini dan atasannya “you
can see”. Dia memperhatikan senda gurau pembantunya yang bercanda dengan
memegang payudara temannya. Otak Bonsa cepat berpikir kotor, apalagi sudah dari
tadi dia sedang bernafsu.
Bonsa berjalan mendekati pembantunya yang berada di taman belakang, dia
mengendap-ngendap mendekati Marni yang paling dekat dan membelakangiinya.
Setelah dekat, dipeluk tubuh Marni yang berdiri dan langsung bibirnya bergerilya di
leher Marni.
“Tuann.. lepaskan Tuan, saya pembantu Tuan..” katanya.
Tapi Bonsa tetap acuh saja dan terus menciumi leher bagian belakang milik Marni,
sedangkan yang lain hanya diam saja ketakutan.
“Aug..!” desah Marni saat Bonsa mulai meremas payudara miliknya.
“Kamu semua harus melayaniku, aku sedang ingin bercinta..!” kata Bonsa seraya
melepaskan pelukannya tapi tidak melepaskan genggamannya di tangan Marni.
“Tappii.. Tuuan..” jawab mereka ketakutan.
“Tidak ada tapi-tapian..” jawab Bonsa sambil kembali memeluk Marni dan mulai
menciumnya.
“Augghh..” desah Marni saat tangan Bonsa menyelinap ke selangkangannya dengan
mereka tetap berciuman, sementara Parni dan Mirna hanya melihatnya tanpa berkedip
(mungkin sudah terangsang), tangannya pun mulai masuk ke dalam roknya masing-
masing.
Ciuman Bonsa mulai turun ke arah payudara milik Marni, dikecupnya payudara
Marni walau masih tebungkus BH dan kaosnya, sedangkan tangan Bonsa meremas-
remas susunya yang kiri dan tangannya yang satunya sudah berhasil melewati CD-
nya.
“Augh..” desah Marni.
Dibuka bajunya dan BH-nya, “Wau besar juga susumu Mar..” kata Bonsa sambil
tangannya memainkan susu Marni dan memelintir puting susunya.
“Ah, Tuaan bisaa aja, ayo dong nyusu duluu.. augh..!” jawab Marni sambil
mendorong kepala Bonsa higga susunya langsung tertelan mulut Bonsa.
“Augghh..” desah Marni merintih kenikmatan, sedang tangannya Marni masuk ke
celana Bonsa dan langsung mengocok batang kejantanan Bonsa.
Dijilat dan dihisap payudara Marni, tangannya meremas serta mempermainkan puting
susunya, kadang digigit dan disedot payudara Marni.
“Auughh..!” Marni berteriak kencang saat susunya disedot habis dan tangan Bonsa
masuk ke liang senggamanya.
Ciuman Bonsa turun setelah puas menyusu pada Marni, dijilatnya perut Marni dan
membuka roknya. Setelah terbuka, terlihat paha putih dan liang senggamanya yang
telah basah yang sangat membuat nasfu Bonsa bertambah. Sedangkan Mirna dan
Parni sudah telanjang bulat dan melakukan masturbasi sendiri sambil melihat tuannya
bercinta dengan temannya.
Diciuminya bibir kemaluan Marni yang masih terbungkus CD.
“Augghh..” desah Marni tidak kuat.
Karena tidak kuat lagi, Marni mendorong kepala Bonsa dan langsung menurunkan
CD-nya, setelah itu didorong masuk kepala Bonsa ke liang senggamanya.
“Auughh.. ughh..” desah Bonsa saat lidah Bonsa menjilati bibir kemaluannya.
Lidah Bonsa semakin liar saja, dimasukkan lidahnya ke liang itu dan dijilati semua
dinding kemaluan itu tanpa ada sedikitpun yang terlewati. Klitorisnya pun tidak
ketinggalan digigit dan dijilati.
“Aauugghh.. aagghh..!” desah Marni.
Lidah Bonsa terus menjilati bagian dalam vagina Marni. Marni mulai mengejang
bagai tersambar petir jilatan lidah Bonsa. Tangannya mulai menjabak rambut Bonsa,
tapi Bonsa tidak marah dan sebaliknya malah mempercepat jilatan lidahnya.
“Aagghh.. aku mau keeluu.. uuaarr.. Tuua.. an..” rintih Marni.
Dijilati terus Marni dengan lidahnya, dan akhirnya, “Croott.. crroott..!” cairan kental,
panas, dan asin keluar dengan deras di lidah Bonsa, dijilati cairan itu dan ditelan
Bonsa.
Setelah itu Bonsa berjalan ke arah Parni yang sedang tiduran dan masturbasi.
Ditidurinya langsung tubuh Marni, dicium payudaranya yang sudah mengeras. Dijilat
dan digigit puting susu Parni dan Parni hanya mendesah saja, tapi tangannya masih di
dalam liang kemaluannya. Sedangkan Marni masih menjilati tangannya yang habis
membersihkan ciran yang keluar dari lubang senggamanya. Tangan Bonsa bergerak
turun membelai semua sudut pahanya dan jilatannya mulai turun dari payudara Parni.
Setelah puas menjilati bagian bawah dari payudara Parni (perut dan sekitarnya),
Bonsa mulai memasukkan lidahnya ke liang kemaluan Parni yang sudah banjir.
“Aaugghh..!” desah Parni ketika lidah Bonsa menjilati dinding kemaluannya.
Tangan Parni meremas susunya sendiri menahan geli dan nikmat, dipelintir-pelintir
sendiri puting susunya. Lidah Bonsa ditarik keluar dan digantikan tangannya,
langsung masuk tiga jari sekaligus dan mulutnya beraksi lagi di susu Parni.
“Auugghh.. aagghh.. ugghh.. ugh..!” desah Parni yang bergerak ke kanan ke kiri,
menahan nikmat yang luar biasa.
“Aagghh.. Parni.., mau.. kee.. luar Tuaa.. ann..!” teriak Parni sambil memasukkan
tangannya ke liang senggamanya.
Dengan maksud membantu mempercepat keluar karena Bonsa mengetahui Parni mau
keluar, tangan Bonsa diganti dengan lidahnya dan tangannya memelintir serta
meremas payudara Parni.
“Aaaghh.. Parni.. keluu.. uarr..! Croott.. ccrroott..!” cairan panas membasahi lagi
lidah Bonsa dan langsung Bonsa bersihkan serta menelannya (prinsip Bonsa menelan
cairan dari kemaluan wanita adalah dapat membuat awet muda). Parni lemas sekitika,
dia hanya meremas pelan buah dadanya, dan Bonsa mengecup bibir Parni.
Kemudian Bonsa bergerak ke Mirna yang sedang berciuman dengan Marni temannya.
Kaki Mirna sudah terbuka lebar dan terlihat lubang kemaluannya yang merah
menyala, memperlihatkan banjir oleh cairan kental. Tangan Mirna terus meremas-
remas payudara Marni dan demikian sebaliknya. Karena sudah terbuka kaki Mirna,
maka Bonsa berlutut dan langsung menancapkan lidahnya ke liang milik Mirna.
“Agghh..!” desah Mirna saat lidah Bonsa sudah menjilati liangnya dan juga
menghisap klitorisnya.
Mirna dan Marni terus berciuman, sedangkan Parni melakukan masturbasi lagi.
Bonsa terus menjilati dan memasukkan tanganya ke kemaluan Mirna, dijilat dan
dihisap terus sampai Mirna berhenti berciuman dan mengejang. Tubuhnya bergerak
ke kanan dan ke kiri. Tangan Marni meremas susu Mirna, dan mulutnya menjilati
susunya yang sebelah lagi, sedangkan tangannya masuk ke kemaluannya sendiri
sambil dimaju-mundurkan.
“Aagh.. uugghh.. saya mau.. keluar Tuu.. ann..!” jerit Mirna, dan Bonsa masih terus
menjilati dengan cepat dan terus bertambah cepat.
“Ccrrott.. ccrroott..!” keluar cairan panas membasahi lidah dan wajah Bonsa lagi, dan
seperti sebelumnya, dijilati dan ditelan cairan yang keluar dari kemaluan Mirna.
Setelah selesai menjilati kemaluan Mirna, Bonsa menarik tangan Marni dan
menyuruhnya berposisi nungging atau doggy style. Dipukul pantat Marni dengan
batang kejantanannya dan tangannya meremas susu Marni agar membangkitkan
rangsangan lagi. Setelah terlihat merekah lubang kemaluan Marni, batang
keperkasaan Bonsa pun langsung ditancapkan ke vagina Marni.
“Aaagghh..!” desah Marni saat batang kejantanan Bonsa masuk semua ke lubang
senggamanya.
Bonsa pun mulai memompa secara teratur dan stabil, diselingi hentakan-hentakan
yang tiba-tiba,”Aaagghh..!” desah Marni.
Bonsa terus memompa dan sekarang mulai bertambah cepat, karena melihat Marni
yang kepalanya mendangak ke atas dan berteriak semakin keras mengucapkan kata-
kata kotor.
“Agghh.. Tuan, rudal Tuan ennakk banget.. Saya mau keluar Tuu.. an..!” teriak Marni
yang malah mempercepat sodokan Bonsa ke liang senggamanya.
“Aagh.. saya keluu.. arr..!” tubuh Marni mengejang dan cairan keluar membasahi
batang kemaluan Bonsa, terasa panas cairan tersebut.
Dan setelah selesai, Bonsa mencium punggung Marni dan berkata, “Liang kamu juga
enak, kapan-kapan layani tuan lagi ya..?”
Marni hanya diam berbaring di rumput dan tangannya meremas susunya sendiri.
Bonsa merangkak ke arah Parni yang duduk dan sedang masturbasi sendiri,
sedangkan Mirna sedang menikmati jilatan lidah Marni yang bangun lagi ke
kemaluannya. Diacungkan batang keperkasaan Bonsa ke arah Parni dan disuruh
memasukkan ke mulutnya. Parni langsung menyambar batang kemaluan tuannya dan
mulai menjilati serta memasukkan ke mulutnya.
“Aagghh..!” desah Bonsa, “Kamu hebat juga ya kalau ngemut beginian..!” kata Bonsa
memuji hisapan pembantunya.
Parni memang ahli, dia menjilat dari ujung sampai ke buah zakar tuannya, kadang
dimasukkan semua batang tuannya ke mulutnya dan disedot serta dimaju-mundurkan
mulutnya. Setelah puas dengan kepunyaan tuannya, Parni meminta tuannya
memasukkan keperkasaannya ke lubang kenikmatannya. Bonsa berbaring di rumput
dan menyuruh Parni berada di atasnya. Parni menuntun batang kejantanan tuannya ke
liangnya dalam posisi dia duduk di atas tuannya.
“Aggh..!” desah Bonsa dan Parni saat kejantanan Bonsa masuk ke liang Parni.
Bonsa mendorong pinggulnya untuk menekan kemaluannya masuk dan Parni
menggoyangkan pinggangnya agar batang tuannya bisa maraba semua bagian dalam
vaginanya. Naik turun dan bergoyang memutar Parni untuk mengimbangi sodokan
liar tuannya. Tangan Bonsa pun meremas susu Parni yang bergoyang mengikuti
gerakan Parni.
“Agghh.. uuggkkhh..!” desah Parni.
Parni pun terus berteriak mengeluarkan kata-kata kotor dan mendesah ketika dia
merasa sudah mau keluar.
“Aaghh.. ruu.. dall.. Tuan.. enak, saya.. mau.. keluarr..! Enakk..!”
Bonsa mempercepat gerakannya dan demikian juga Parni.
“Croott.. croott..” keluar cairan panas yang kali ini lebih panas dari milik Marni ke
batang kemaluan Bonsa.
“Kamu hebat Parni..” kata Bonsa sambil mengecup susu Parni.
“Aghh.. Tuan juga hebat, kontol Tuan enak..!”
Bonsa menarik Mirna yang menjilati bibir kemaluan Marni dan digantikan Parni.
Setelah mengistirahatkan kemaluannya, Bonsa menyuruh Marni menjilati dan
menyedot rudalnya agar berdiri kembali. Dan setelah berdiri, maka Bonsa
memasukkan batang kejantanannya ke lubang kenikmatan Mirna dalam posisi tiduran
(Mirna di bawah dan Bonsa di atas menindih).
“Agghh..!” desah Marni saat batang kemaluan tuannya baru masuk setengah.
“Rapet banget lubangmu Mir..!” kata Bonsa ketika agak kesulitan memasukkan
seluruh batang kemaluannya.
Dihentakkan dan disodok rudal Bonsa ke pembatunya, dan secara spontan Mirna
berteriak merintih kesakitan karena milik tuannya terlalu besar dan dimasukkan
secara paksa.
“Aaghh.. iighh..!” teriak Mirna.
Bonsa mendiamkan sebentar rudalnya yang telah masuk ke kemaluan Mirna. Setelah
itu mulai dipompa pelan dan semakin lama semakin cepat.
“Aghh.. uugghh.. koonn.. tooll Tuaann.. enakk..!” teriak Mirna saat sodokan Bonsa
mulai tambah cepat dan mulut tuannya menghisap susunya.
Bonsa terus menghisap dan memompa cepat rudalnya, dan Mirna mulai bergerak ke
kiri ke kanan dan kemaluannya secara spontan mulai menjepit rudal tuannya yang
berada di dalam sarangnya.
“Aaaghh, sayaa.. keluarr.. uughh.. ughh..!” Mirna menjerit kencang tidak beraturan
karena nafasnya mulai kehabisan menahan kenikmatan sodokan batang rudal
tuannya.
Akhirnya, “Crroott.. ccrroott..!” keluarlah cairan panas ke kemaluan Bonsa, dan
cairannya sangat banyak hingga keluar mengalir dari liang senggamanya.
“Boleh juga memek kamu dan susu kamu, nanti malam ke kamarku..!” kata Bonsa
setelah mengecup bibir kemaluan Mirna yang sudah banjir dan masih mengeluarkan
cairan.
“Ah Tuan bisa aja, memang saya hebat..? Nanti malam saya akan jadi pembatu sexx
tuan, dan saya berikan layanan super special dari memek saya ini, Tuan..”
Karena masih berdiri tegak dan masih belum ejakulasi, maka Bonsa menyuruh
pembantunya bertiga untuk menghisap dan menjilat kemaluannya sampai
mengeluarkan sperma. Marni, Parni dan Mirna berebutan menghisap dan
memasukkan batang kemaluan tuannya ke mulut mereka. Bonsa sudah merasa mau
keluar dan ditariknya kemaluannya sambil mulai mengocok dengan cepat di hadapan
wajah pembantu-pembantunya.
“Aaaghh..!” desah Bonsa saat dia mengeluarkan beban sex-nya yang ada di alat
vitalnya.
Semburan sperma tadi mengenai wajah Mirna, Parni dan Marni. Karena sperma yang
dikeluarkan sangat banyak, maka sampai mengalir ke susu mereka bertiga. Bonsa
menyuruh Parni membersihkan sisa sperma di batang kejantanannya dengan mulut
Parni, sedangkan Parni membersihkan kemaluan tuannya. Yang lainnya menjilati dan
menelan sperma yang mengalir dan menempel di mulut, wajah, dan susu mereka
masing-masing.
Setelah selesai, Bonsa berkata, “Kalian semua hebat dan terima kasih atas pelayanan
kalian. Kalian akan mendapatkan bonusku setiap akhir minggu atau semau kalian
atau saya. Dan Mirna, jangan lupa nanti malam..!”
Bonsa berrjalan mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam untuk mandi.
“Terimah kasih Tuan telah memuaskan kami, dan kami akan mengambil bonus
Tuan.” jawab pembantu Bonsa ketika melihat tuannya masuk ke rumah.
Mereka bertiga saling mencumbu, dan setelah itu masuk dan mandi bertiga.
Demikianlah pengalaman sex Bonsa dan pembantunya yang masih berlangsung
sampai sekarang, walaupun Bonsa sekarang sudah mempunyai istri dan dua orang
anak laki-laki. Mungkin anak laki-lakinya meneruskan perilaku ayahnya.
Mengikuti obsesi temanku part 2
22
Posted by admin on September 28, 2009 – 2:09 pm
Filed under gangbang

Kamis berlalu dgn mengingatkan janji doni tentang rencana kita dan kemudin
berpisah di parkiran kantor, sampai jumat sore aku pulang kantor dan sempat singgah
sebentar ke rumah doni untuk mengatur siasat bersam doni yang tentu saja tanpa
ketahuan veve, istrinya. Setelah janjian bersama veve dan doni aku bergegas balik ke
rumah. Malam minggu aku, ina dan nita di jemput veve dan doni. Dengan berlima
melaju menuju tempat dugem ****** jam menunjukan pukul 23.30, setelah sampai,
dengerin musik dan rencana berjalan lancar seperti yang sudah di atur kami berdua.
Veve dan nita sudah mulai teller sedangkan ina masih oke. Ina Sempat di ajak doni
melantai setelah doni dan veve tentu saja, sedangkan veve kembali ku tawarkan
minuman dan di buka lagi satu pitch olehnya, begitu juga nita. Tampak oleh ku doni
dan ina berpagutan di tengah hingar bingar musik dan tentu saja suasana ramai. Aku
duduk di apit veve dan nita, aku belum berani untuk menyentuh veve, takut rencana
terbongkar ato kalau ngamuk bisa2 buyar rencana untuk pesta sex malam ini dan
memang harus “more little passion” sedikit bersabar tentu saja, pasti ku nikmti malam
menjelang pagi ini. Veve menggenakan “blus” terusan berwarna hitam, dan membuat
kulit putihnya makin jelas kelihatan. Baik wajah maupun pahanya yang tersorot
cahaya lampu yang ga jelas arahnya yang berputar ke sana kemari. Setelah tinggal
setengah minumn mereka doni dan ina datang dan langsung mengajak balik, doni
berbisik di telinga ku, kalo sudah saatnya cabut dan menjalankn rencananya. Sisa
minumn veve di habiskan doni dan sisa minuman nita di minum ina. Sedangkan
punya ku tidak sempat ku habiskan sebab takut teller berat nanti, malah susah
ngacengnya. Doni menuju billing, kelamaan kalo manggil soalnya sebab karyawan
tuch pub pada sibuk semuanya. Setelah lunas langsung berangkat, aku juga tidak tahu
habis berapa tadi doni membayar bill – nya yang pasti bonnya di simpan nanti di bagi
dua sama aku.
Di tengah jalan veve mengatakan untuk mencari pom bensin sebab sudah kebelet
kencing, langsung aku tanggap dan bilang di rumah ku saja. Doni yang lagi nyetir
cuma melirik ku dan mengedipkan matanya tanda setuju dan sesuai rencana kita.

Sampai di rumah aku turun membuka pagar dan ina membantu veve turun dan
menuntunnya menuju kamar mandi. Pada saat veve turun dari mobil, rok dari blusnya
sedikit tersingkap dan itu sudah cukup membuat aku menelan ludah tanpa di sadari
veve. Si doni cuman mendehem melihat tingkah ku yang terpaku pada istrinya.
“he..bro bantu tuch si nita, tuch mata genit amat ya !!”kata doni setelah ina dan veve
menuju ke dalam
“ehh sori don sudah ga sabar, Btw cepet masukin mobil mu entar langsung di ajak
pulang sama istri mu, bahaya” kataku mengingatkan doni. Doni langsung
memasukkan mobilnya ke dalam garasi, aku memapah nita ke rung tengah.
“mas aku kok jadi pengen ya” begitu suara yang keluar dari mulut nit, yang ku balas
dengan ciuman dan kembali ku papah ke dalam kamar, takut salah ngomong nich
anak apalagi kalo mintanya ke doni, bisa buyar rencana kami. Rencananya doni akan
menyetubuhi istrinya di ruang tamu ato sofa pada saat itu aku muncul bersama ina
atau nita seperti kemaren aku membawa mereka ke dalam kamar untuk doni. Setelah
veve mulai menerima keadaan atau sedikit cuek baru di tengah2 pemainan kami
bertukar posisi. Setelah memapah nita ke dalam kamar aku mandi biar seger dan
mengenakan celana pendek. Ku lihat di ranjang nita telah melepaskan pakaian
atasnya, sambil meremas2 buah dadanya sendiri. Aku mendekat dan mencium bibir
mungilnya, setelah membuka pintu kamar ku lihat di ruang tengah veve sedang
jongkok dan mengoral doni sambil membelakangi ku. Doni memberi isyaart dengan
tangannya bahwa belum saatnya aku muncul. Terpikir oleh ku kalau ina muncul
bahaya. Ku tarik kembali nita yang mau melangkah keluar, ku tarik kembli ke dalam
kamar, di samping pintu kamar biar bisa ngintip doni dan veve sekalian. Nita duduk
dan menarik celana ku turun dan aku memang ga menggunakan celana dalam lagi
dari tadi.
“mmmmm.. terus nita lidah mungil mu memang enaakkk terus say” aku mulai
menikmati sepongan nita di kepala adik ku, ujung lidahnya menusuk lubang kencing
ku di kepala penis menimbulkan sensasi yang luar biasa. Kembali ku intip doni
sedang menghajar veve dengan dogy, hanya pantat veve yang di tepian sofa dengan
kedua lutut bertumpu di lantai. doni menoleh kebelakang, ke arah kamar ku, aku
sigap menghentikan sepongan nita, ku balikan tubuh nita, ku pelorotkan celana
dalamnya, tinggal rok mininya yang ku angkat ke atas dan nit mengerti dan
membimbing kontol ku menuju meQnya.
“mmmpppphhh enakk mas….” Jawab nita
“sudah basah toch” tanya ku
“dari tadi sudah pengen di gini’in”balas nita
“di gini’in gimana ??” Tanya ku, menggoda sambil meningkatkan penetrasi kontol ku
yang mulai menimbulkan bunyi
“bodo ach !!mmmpphhh pake nanya lagi..” balas niat yang sambil memaju
mundurkan pantat mulus nan mungilnya mengikuti sodok’kan ku dari belakang. Ku
angkat tubuh mungilnya dengan tetap membelakangi ku menuju keluar kamar. Nita
menyilangkan kakinya melingkari pinggang ku. Ku lihat ina belum muncul, tetapi
bukan itu focus ku, melainkan veve, istri teman karib ku ini.
Langsung menuju doni yang dan veve, ku lihat celana dalam veve (CD hitam) cuman
di geser kesamping sementara doni memompa vegi veve yang tangannya meremas2
bantal di sofa ruang tengah ku.
“lagi asik, bareng dong..” kata ku sambil menurunkan nita dan membuat posisinya
nungging sama seperti veve dan bersebelahan.
Veve kaget, bangkit dan menoleh ke belakang menatap suaminya. Doni cuman
mengangguk. Veve kemudian kembali menidurkan tubuhnya. Pandangan veve tertuju
pada nita yang sedang ku garap di sebelah yang hanya dua jengkal dari wajahnya.
“aduh…oh..ohhhh enak mas terus” nita terlihat sangat menikmati sodokn dik ku di
Meqnya
“aduh mas..kan malu kalo gini” protes veve
dapat ku lihat wajah cantiknya yang memerah dan horni
“Ga apa2 ma, sama teman sendiri masa malu” balas doni sambil menusuk kemaluan
istrinya dengan gempuran keras dan cepat membuat veve yang dari tadi memendam
lenguhannya, mengeluarkan suara2 erotis.
“ aduh..terusss..ya…mmm.. enakkk….nicccceee…”suara veve, begitu mata veve
menatapku yang melihatnya,veve kemudian memalingkan wajahnya ke samping
menjauhi nita dan aku tetapi tetap suaranya sudah di kuasai nafsu masih terdengar.
Iihhh… aduh maaasssssssss !! suara nita
“acchhh udah nanggung gini kok berhenti si pa…” kata veve yang memprotes doni
sambil menoleh ke belakang, mencabut konolnya yang bengkok seperti pisang.
Kemudian di masukkan lagi oleh doni. Di genjot sebentar kemudian di cabut lagi
membuat veve sedikit menggeram tak sabar sambil nunduk dan di masukan lagi. Aku
kemudian mencabut adik ku dari memek nita dan nita bangkit duduk di sofa dan
membuka kakinya lebar2. veve masih menenggelamkan wajahnya ke sofa kemudian
ke samping dan begitu doni mencabut meriamnya, langsung ku tepuk bahunya dan
minta pergantian posisi.
Ku gosok2 sebentar di gerbang meq veve setelah pas, pantat veve secara refleks di
mundurkan sebelum ku dorong adik ku masuk. Tampaknya veve belum sadar bahwa
aku, teman karib suminya yang sedang menyetubuhinya. Tapi setelah beberapa
genjotan:
“kok tambah enaaaakkk…. rasanya notttok ..mmmm dan..dan. panjaa… APA !!
KAMU jhon !! veve tdk melanjutkan omongannya, setelah menoleh kebelakang dan
KAGET melihat ku yng menghajar meqnya. Aku tidak mau membairkan veve
berpikir mumpung masih di kuasai nafsu, ku percepat genjot’n ku di meQnya dan
terlihat pandangan veve ke arah ku, bola mata hitamnya terbenam tanda di menikmati
sambil melenguh keenakkan
“mmpphh enak..ya…terussss..aduh…kok…. enak..gini…mmmmmmmmmm” suara
veve
Doni menggenjot nita dengan posisi konvensionl dan nita mencapai orgasme
pertamanya.
“ahhk mas doni enak…….mmmmppphhhhhh …hahhhh!” suara nita yang kemudian
lemas
Dan ina ternyata di belakang dari tadi, kapan muculnya nich anak, sudah bugil dan
menonton kami berempat sambil memilin ujung puting susunya dan mengelus2
kemalunnya sendiri di atas kursi.

aku benar2 bernafsu dengan bodi veve jadi ku remes pantatnya ku tarik resleting
blusnya ku buka pakaiannya.Veve cuman diam pasrah dan mungkin bingung karena
ada lelaki lain yang membuka bajunya dan sedang menyetubuhi dirinya selain
suaminya sendiri. Sekalian ku buka BHnya dan tanpa membuang waktu ku raih buah
dadanya
“lu tahu ga…!! aku sdh terpesona den..gan kamu ve sej…ak …masih paca..ran dgn
doni” kata ku di iringi suara nafsu yang terbata2.
“ya… enak mas…aduh kok gini….mmpphh enak banget”. Kata veve, ku tarik
tubuhnya dengan kedua tangan ku menggengam melonnya dan begitu veve
menolehkan kepalanya!! Langsung ku sambar mulut dan bibirnya dan tangan kiri ku
naik menahan kepalanya. Sebab dia belum membuka mulutnya hanya bibirnya yang
ketemu bibirku. Langsung ku hentak dengan keras kontol ku yang dari tadi masuk
pelan2 dengan satu hentakan keras.
“auuuuwwww.. kasar amat sich”begitu suara veve keluar dan mulutnya terbuka, lidah
ku masuk dan mendapati lidahnya dan veve membalasnya dengan air liur kami saling
berpindah mulut. aku ingin mencium wanita cantik istri teman ku ini sampai dia
benar2 orgsme jadi sambil ku genjot dan tangan kiri tetap menahan kepalanya utk
terus berciuman.
Ku genjot terus dengan kecepatan tinggi.
Mmmppphh..waw..w…wa….ach…ach…” suara tak jelas dari mulut veve yang
sedang berpagutan dgn ku dan terus ku genjot meq istri teman ku ini dengan
kecepatan tinggi.

Tidak lama kemudian tangan veve melingkar ke belakang, mendorong serta menahan
pantat ku supaya tetap diam sehingga kemaluan ku terbenam lebih dalam ke meQnya.
Begitu ku lepas pagutan ku.
“aacckk……….maasssssssssss sss “ tubuhnya jatuh terkulai di sofa, tampaknya dia
telah mencapai puncak kenikmatan. Ku lihat ina lagi meng-angkangkan kedua
kakinya dan doni sedang menggenjotnya di atas kursi yang di duduki ina, sambil
tangan ina menekan pantat doni agar kontol doni masuk lebih dalam.
“iya mas..terus.. lebih dalam lagi mas… aduh enak…iiihhhh.. “suara ina.
“kamu benar2 montak ina…egghhhhh… tete’k mu kencang bangeettt” kata doni dan
ina yang sedang dalam pertempuran birahi mereka.
Ku balikkan tubuh veve dan ku cium lagi, lidah ku masuk ke dalam mulutnya tanpa
ada penolakkan lagi dari veve dan kami berpagutan setelah itu ku turunkan celana
dalamnya atau pakaian terakhir yang masih melekat di tubuhnya. Ku biarkan tiduran
dan menuju nita kembali yang sudah pulih tenaganya.
Ku buka juga rok mininya, sehingga kami berlima telanjang bulat.
Dan ku sodokkan meriam ku ke arah lubang pantat nita dan nita menaik turunkan
pantat rapetnya di atas penis ku. Tangan ku meraih buah dada gadis muda yang masih
ranum ini dari belakang dan meremasnya dengan penuh nafsu. biasanya aku paling
cepat moncrot kalo kena lubang sempit ini. Dan suara nita benar2 menambah gairah
dan birahi.
“iihh..mas.. …mmmm..aduh…geli aaachhhh “ nita menikmati di bo’olin
“tahannnn dikit ..entar lagi manis… aaachhkkhh…” aku sudah tidak sabar dan
melihat veve sedang memandang kami dengan pandangan sayu

Ku lirik ke arah doni karena ku dengar suara ina sedang histeris di gempur doni.
Ternyata pisang doni telah berpindah dari meq ke lubang pantat ina. Sedangkan
tangan kiri ina masih menekan pantat doni dan tangan kanannya mengosok2
clitorisnya.
“Achhh…aduh..mas…mas…ackhhhkkk k..” suara ina sambil kedua jari tangan
kanannya membuka bibir veginya dan maninya muncrat seperti semprotan selang air
membasahi lantai.
Iya pantat mu… rapeet bangeettt….” Doni mencabut kontolnya dan mengarahkan ke
mulut ina sambil tangannya mengocok maninya, ina langsung memasukan kepala
penis doni ke dalam mulutnya sehingga peju doni di telan ina tanpa satu tetespun
jatuh ke lantai.
Ku balikkan tubuh nita tanpa melepas kontol ku di pantatnya dan dgn dogy kepala
nita menghadap veve dan merek saling berpagutan. Ku gencot sampai meriam ku
terbenam pantat nita yang di susul nita mulai mengejang kembali, menubruk tubuh
veve dan kembali terkulai lemas. Dengan refleks veve bangkit dan mendorong ku
untuk duduk dan di basahi ujung meriam ku dengan ludahnya dan menaiki ku
berhadapan.

“mas sekarang giliran ku dong di atas” kata veve


“ok… make me come..” jawab ku
Di iringi wajah veve sedikit terpejam dan mengigit bibir manisnya mencoba
merasakan penetrasi kontol ku ke MeQnya.
“oh…gila.. panjang amat, gedenya si.. sama kayak punya doni tapi panjangny ga
kuku…mmmppphhh enak.”!
Begitu veve memompa penis ku, kelihatan buah dadanya ikut begoyang2, langsung
ku sambar dengan kedua tangan ku dan ku emut bergantin membuat veve makin
kesetanan kadang naik turun, kadang di benamkan dalam2 sambil diputar pinggulnya,
dan maju mundur di atas penis ku.
“acchh..iya mas ..terus mas…emut terus jgn di lepas ya…aduh hampir lagi” kata veve
“jgn berjenti…. Teruuusss..enak bangeeettt.. “ balas ku yang merasakan kepala penis
ku di pijet2 kemaluan istri teman ku yang cantik ini.
“ahhh….aaahhh….ahhhhhh.ak uuuu mau lagiiii..” kata veve mulai histeris
Aku yang sudah merasakan sperma ku sudah menuju ujung kepala penis langsung
menarik kepalanya dan ku pagut bibirnya dengan lidah menjalar ke dalam mulutnya
dengan penuh nafsu di iringi pelukan erat kami dan keringat saling bercucuran. aku
dan veve menumpahkan mani kami secara bersamaan dengan lidah kami saling
menyedot meraih sisa2 kenikmatan yang masih tersisa. Si doni yng melihat ini sambil
memaju-mundurkan meriamnya menuju mulut ina seperti orang ngentot dan
mengelurkan maninya kembali di mulut ina. Nita ternyata ke belakang dan kembali
dengan dua kasur yng di tariknya, di lemparkan sprei seadanya dan kami berlima
terlelap dalam tidur. Doni memeluk ina dan nita sambil mengecup mereka kemudian
terlelap sedangkan aku dan veve terlalu cape untuk turun dari sofa sehingga kami
tidur sambil berpelukkan di sofa.

Paginya aku terbangun karena veve yang tidur di atas ku juga bangun, ku lirik jam
menunjukan pukul sepuluh pagi. Veve bangun menuju kamar mandi belakang tanpa
berkata sedikitpun, ku lihat doni,ina dan nita masih saling berpelukan dalam tidur
mereka. Karena laper ku tlp 1408, (tahu sendirikan ini nomor telpon mana!!) untuk
pesan makan. Belum ada 10 menit setelah aku mandi tuch pesanan sudah datang dan
veve belum nongol, sedangkan mereka yang masih tidur tetap dgn posisi yang sama.
Setelah veve selesai mandi ku tawarkan makan, dan kami tetap diam sambil makan.
“aku tahu kamu sama suami ku pasti merencanakan ini” kata veve membuka
pembicaraan ketika kami duduk di meja makan.
“ yep benar” kata ku dalam hati “masa bodoh..sudah terlanjur” mau di apain lagi
“aku tahu karena doni pernah bercerita tentang rencana ini tapi ku tolak mentah2 dan
dia ga ku beri jatah seminggu” kata veve lancar, memang dasar penyiar radio
ngomong ceplas ceplos dan to the poin.
“trus”kejar ku.
“ ya ku kira sudah kapok dia, eh ternyata..” ga di lanjutkan omongannya
“ ternyata kamu suka kan !!” balas ku.
“ achh lu “sambil mencubit paha ku dan membersihkan bekas makanan kami berdua.
‘eh lu lihat anu ku ga “ kata veve
“anu apa” jawabku
“ituuu.. CD ku” balasnya
“sudah ga usah pake lebih baik kok” kata ku sambil mendekatinya yang membuang
sisa makanan di sampah sambil jongkok. ku angkat roknya dan memang ga pake CD
dan adik ku langsung siap tegang dan keras melihat sasarannya di temukan.
“jgn nakal mas ach..” balas veve tapi tanpa menoleh
Ku tarik tubuhnya kebelakang dan secara refleks veve menahan tubuhnya agar tidak
ambruk dengan bertumpu pada meja beton (meja utk penggorengan di dapur
biasanya) agar tidak terjatuh.
Ku pelorotkan celana pendek ku lagi dan mengocok adik ku sebentar dengan tangan
kanan dan tangan kiri membuka belahan pantatnya dan mengelus bibir meqnya.
‘ mas ach… ngapaiiinnnnnnn…! Suaranya mengikuti hujaman meriam ku ke
MeQnya dengn satu hentakan
“aaccchh.. sudah ngceng toch…tuch burung nakal amat sichh..mmmmmpphh pagi2
gini sudah bangun” suara veve di tengah genjotan ku.
Sudah ku bilangkan …cantik, kamu ga perlu pake CD dan bukan itu saja baju juga,
kan percuma lu pake” kata ku.
“mmmpphhh kenapa” balas veve
“kan… sekarang km, ku bugilin lagi” jawab ku
“terseraah lu tapii..mmmppphhh… jangan berhenti… terus puasin aku..”balas veve,
di ikuti tangan ku kembali menelanjangi sambil terus menggenjotnya.
Saking kencangnya genjotan ku, bibir veginya tertarik kedalam begitu kontol ku
masuk dan ikut tertarik keluar begitu ku tarik hujaman pedang panajng ku ini. Setelah
lima menit dlm posisi ini tubuhnya mengejang2 ku cabut adik ku karena aku bisa2
ikut muncrat juga
“accchhhhkkkk gila” gumam ku menahan gejolak peju ku yang hampir muncrat, aku
mundur dan setelah menguasai nafsu ku. Ku lihat tubuh veve bergetar dan cairan
cintanya mengalir mengikuti pahanya ke bawah. Ku dekti dan ku basahi dengan
tangan ku, ku usapkan di lobang pantatnya sambil menggenjot kembali meQnya
Aku tahu kalau doni pernah mencoba anal sama veve namun di tolak veve dan kali ini
gue pingin melakukannya dan pingin tahu ekspresinya.
“don’t ever thingking to do that” kata veve memprotes tangan ku di lubng pantatnya,
setelah ku genjot, tarik dan ku masukan karena selip, penis ku menuju lubang
pantatnya.
Auwwww.. gila lu… achkk..” kata veve
‘aku berhenti ga” tanya ku
“jangan berhenti… terus di Di situ saja jangan yang itu” kata veve memprotes usaha
ku
di menjerit kecil dan ku paskan ke meqnya lagi dan ku genjot. Tetapi gerakan tadi ku
ulang2 terus sampai ku yakin dia pasrah dan ku masukan ke dalam lubang pantatnya.
“sambil tangan kiri membimbing kontol ku tangan kanan menahan tubuhnya
“aaa…. Lu nakal…nakallll..!!protesnya, aku sempat menoleh ke belakang takut doni
ga setuju istrinya ku kerjai dengan cara ini tetapi ku lihat tdk ada pergerakan. Kini
tangan kiri masuk mengobok2 veginya dan kontol ku maju mundur ke pantatnya,
“aduh..iiihh…. itu tempat eeee..ichk jijik ku..” kta veve
“aku kan ga veve..’ balas ku”
“Iya tapi sakit” lanjut veve
“tahan dikit sayang nanti juga enak, aku janji” kata ku menenangkannya sambil
menerobos pantatnya keluar masuk adik ku yang makin tegang.
“mmpphh he..he..” hanya itu balas veve
Ku lirik di meja dapur ada timun kecil , ku gapai dengan tangan dan ku masukkan ke
dalam meqinya setelah ku basahi dengan ludah ku, dan ku genjot dengan kecepatan
tinggi.
aaaCckhhhhhh ….aduhhh mas… enak bnget.. aku di apain ini mas.” Suara veve
kebingungan dengan menahan gejolak yang melandanya. merasakan kedua lubangnya
di hajar timun dan meriam ku. masih dengan posisi nungging dengan pakaiannya
sebagai alas.
aaaaaahhh…..aaaaahhhh…hhhhhhhh hhh” suranya memekik nyaring dan ketika
timun ku cabut maninya keluar lebih banyak dari orgsme pertamanya.
Veve memekik nyaring dan menggapi kepala ku dan di cium habis mulut ku dengan
lidahnya menyapu rongga mulut ku dengan liar dan tak terkendali….
Mengiringi peju ku yang sebentar lagi muncrat ku lepas pagutannya dan ku paskan ke
kepalanya dan di jilatnya dengan rakus menggunkan sisa2 tenaganya.
Ooohh..ooohhhh…ohhhh….ohhh….” suara ku mengikuti semprotan sperma ku ke
dalam mulutnya yang tidak dapat di hindarinya. Ku angkat veve menuju kamar tidur
ku dan kami tidur saling berpelukan.

Doni bangun sore hari mandi dan membangunkan aku dan veve. Setelah itu mereka
bergegas pulang, aku di hadiahi ciuman liar veve dengan lidahnya menyapu lidah dan
rongga mulut ku. Doni pun sempat bermain satu ronde bersama pembantu2 ku.

Esoknya doni menelpon ku dan protes kalo karena menganal istrinya serta
mengeluarkan mani ku di dalam mulut istrinya. Tetapi katanya, istrinya suka dan
meminta kalo kami main lagi, veve pingin di meq dan pantatnya secara bersamaan.
Yang di sesalkan doni bukan dirinya yang pertama kali menganal istrinya. dalam hati
ku“ salah mu sendiri pake takut sama istri” ya ga!!

Kami berencana sabtu depan melakukannya lagi tetapi hari rabu doni sudah menuju
rumah ku dan menggarap pembantu2 ku, setelah mendahului ku pulang kantor. aku
tahu setelah ina mengirim sms ke hp ku sebelum aku pulang kantor. aku telp istrinya,
dan istrinya menyuruh ku utk menjeput di rumahnya dan sampai rumah doni. ku
genjot lagi wanita cantik ini sampai puas menumpahkan peju ku di mulut dan
meqnya, baru di antar ke rumah ku, ke doni dan pembantu2 ku yang sudah siap
melanjutkan pesta liar kami malam itu..

Mengikuti obsesi temanku part 1


19
Posted by admin on September 28, 2009 – 2:07 pm
Filed under gangbang

Kehidupan sehari2 yang benar2 terpenuhi baik jasmani maupun rohani membuat ku
tidak pernah berpikir tentang pasangan hidup ku. Padahal tahun depan usia ku genap
30 thn, sampai saat ini aku belum berpikir utk mencari pasangan hidup ku alias Istri.
Untuk urusan seks, dua pembantu ina dan nita selalu siap melayani nafsu seks ku,
baik siang atau malam. Sebagai informasi, mereka ku berikan obat anti hamil atau
apalah namanya (susah banget namanya). Lewat teman ku sedaerah yang seorang
dokter. Sebab untuk urusan seks, mereka sampai saat ini masih ku butuhkan tetapi
untuk mempunyai anak dari si ina atau Nita !!! Aku belum siap tentu saja untuk
menjadi seorang ayah. Dan selama ini tidak ada seorangpun yang tahu kehidupan ku,
baik orang tua maupun teman dekat ku si doni.
Sehari2 aku bekerja sebagai karyawan swasta di kota S, kadang dugem sama teman2,
kalo tidak ku habiskan di rumah bersama ina dan Nita. Di kantor aku punya seorang
Teman akrab bernama doni, yang sudah menikah kurang lebih 5 tahun dan sampe
sekarang belum mempunyai momongan.
( si doni memang tau aku punya pembantu, yang dia tahu cuman satu orang. Itu pun
ku bilang ke doni kalau pembantu ku seorang wanita berumur, jadi dia tdk pernah
curiga. Dan Selama enam bulan ini doni belum ke rumah ku, paling aku yang maen
kerumah kontrakan-nya yg bekas kontrakan ku sama dia dulu, sebelum dia menikah
tentunya. Setelah Doni menikahi mantan pacarnya alias istrinya sekarang yaitu veve,
aku pindah ke tempat kontrakan yang sekarang ku tempati bersama ina dan nita,
pembantu2 ku. Dan aku kenal baik dgn veve istrinya, yg sering di bawa ke kamarnya,
waktu masih satu kontrakan sama si doni. Veve, istri teman ku ini adalah wanita
cantik, kulit putih, cukup tinggi utk ukuran cewek 170 cm, hanya beda 5 cm dari aku
dan doni, veve bekerja sebagai penyiar radio, dan jujur saja, aku kadang iri sama doni
yang mempunyai gebetan cakep macam veve. Karena akrab dengan si doni, nyokap
ku sering nelpon ke doni, utk nanya kabar ku, apakah aku sudah punya pacar apa
belum ?, lagi deket sama siapa ?? dan bla…bla aku sama doni sudah saling mengerti
untuk urusan yang satu ini)

“bro, km kudu cepat cari istri bro, Ingat sekarang km 29 thn kapan dekat sama cewek,
ajak pacaran kek” sahut doni
“ dugem, ML ama perek, itu bukan hal yang positif bro…” tambah doni di saat
istirahat makan siang di kantor.
“ye…. Alaaaa…., lu kayak Mario Teguh aja, ini masa muda man !! kudu di nikmati
sebaik mungkin“ balas ku
“tuch !! si veve cepet di bunting’in, kapan punya anak kau….”tambah ku.
“tapi kan beda bro, aku kan sekarang ga pake bayar buat ML, ga’k kaya km “ balas si
doni
“ sapa bilang aku harus bayar buat gituan !!” timpal ku
“ wacckhh !! berarti km lagi deket ama some one, siapa tuch cewek ??, di mana
rumahnya ??, cantik ga orangnya ?? kenalin dong !! “ langsung di cerca doni dgn
berbagai pertanyaan.
Dalam hati “ sial…… Salah ngomong gue, bisa gawat nich kalo di tau dengan siapa
aku melampiaskan nafsu setan ku, waduh ..!!!!”
“Ada dech…. !!” balas ku
“ackh pelit lu, ayo dong bro..” mulai memaksa dgn muka penasarnnya
Aku cuma menggeleng utk mengatakan tdk sambil makan. Dan selama makan dia
masih terus berusaha mencari tahu, tetapi kali ini aku lebih waspada agar tdk salah
ngomong seperti tadi.
Dan selama seminggu kemudian doni masih mencoba mencaritahu, ku biarkan saja
nanti juga nyerah ni anak.

“ok kalo lu ga mau beritahu gue siapa gebetan mu, it’s ok!” kata doni di sela2 kerja di
kantor, dalam hati “ akhirnya nyerah juga ni anak”.
“asal km tau saja, kalo nyokap mu tlp nanya aku, apa km sdh punya pacar apa belum,
ku bilang sdh tante, tapi dia ga beritahu aku “ langsung kaget aku, terbayang omelan
nyokap tentang milih cewek, kalo gini ceritanya juga repot, mana aku belum punya
cewek lagi…. Si doni berpikir aku sdh punya cewek sehingga sering Indehoi sama
cewek ku , padahal sama pembantu2 ku di rumah.
“gi mana bro..” tepukkan doni di bahu ku membuyarkan pikiran ku.
“Ok… kalo km pingin tahu don” balas ku. “bodo amat nanti pas tahu, juga ngerti dia
kenapa gue pake rahasia segala.”pikir ku
“Yes…yes..yes” gaya doni kesenangan sambil mengepalkan kedua tangannya.
“nanti saja ikut aku pulang ke kontrakan don”sambung ku
“ok bro, gitu baru namanya teman, eh emang lu janjian ketemu di kontrakan ya ?? apa
sudah sekontrakan sama tuch cewek, hebat juga lu ya !! diam2 menghanyutkan….”
balas doni dengan senyum
“nanti saja kalo pingin tahu, sekarang lu balik ke meja, kita di lihat si bos dari tadi
ngomong melulu” balas ku
Tanpa menjawab langsung menghilang doni dari pandangan ku.

Setelah pekerjan kantor selesai, ku bergegas menuju parkir kendaraan untuk pulang.
“he…bro mo kabur ya ! jangan lupa janji mu tadi” sahut si doni dari belakang ku
“motor mu tinggalin di sini aja, bareng aku, besok ku jemput kau kalo berangkat
Kantor gimana !” sambung doni
Ok bro… besok jgn telat ya ! sambil mengikuti doni menuju inovanya.
Tenang… aku ga kayak km, kalo molor susah bangunnya, ngomong2… akhir2 ini lu
ga telat, apa sering di bangunin tuckh cewek, siapa si namanya ??? “ pancing doni
“nanti saja lu kenalan sendiri” balas ku kecut, lagian bagaimana mo beritahu, kalo
hampir setiap pagi aku dibangunkan ina dan nita, pembantu2 ku di rumah. Pasti
tambah bingung dan tambah banyak pertanyaan lagi.

Setelah itu cabut kita menuju rumah ku, dalam hati aku berpikir ini anak pasti banyak
pertanyaan-nya
Pas lihat Ina sama nita, dan pasti lebih kaget lagi kalo tau sama mereka aku sering
ML. Dalam perjalanan, doni bercerita tentang obsesinya bertukar pasangan, gue
pura2 kaget dan sedikit berdebat tentang itu.

“Jadi lu maksa ingin tahu cewek atau pacar ku biar bisa swinger gitu “ tanya ku
“ya kali aja lu mu” balasnya sambil cenge-ngesan
“emang si… veve cantik & seksi tapi kayaknya ga dech don”
“gue juga liat gebetan mu, kalo gue sreg baru rencana ini gue tawarin ke lu, tapi
kayaknya lu ga setuju padahal dulu kita tukaran bookingan cewek bisa ya !! .”sahut si
doni sambil mengingatkan kenakalan kami berdua waktu lampau.
“ya beda monyong, lu istri di samakan dgn pecun !! jawab ku agak kesal …..
“cuma obsesi bro dan yang pasti aku tetap sayang kok sama istri ku” jawabnya
dengan senyum mantap.
“ya seterah lu dach” (bukan salah ketik) balas ku.

Setelah 30 menit perjalanan, Sampailah rumah ku, aku berniat turun utk membuka
pintu pagar tapi Ina sdh keluar dari rumah dan membuka pintu pagarnya setelah itu
doni memarkirkan mobilnya di garasi.
“sapa tuch bro” Tanya doni
“ina, pembantu ku” jawab ku, biar si doni tambah penasaran
“kata mu.. pembantu mu wanita berumur alias sudah tuwir, kok yang itu muda dan
bahenol bro ?? pertanyaan doni muncul lagi padahal mobilnya belum sempat di
parkir.
“kalo bisa dapat yang muda dan bahenol kenapa tdk ! ya ngga bro” balas ku sekena-
nya
“Ok dech…pantesan kalo pulang langsung cepet, ada yg enak di lihat di rumah ya !”
sahut doni di ikuti gelak tawa kami berdua…
“tapi gebetan mu ga cemburu kalo pembantu mu seksi dan bahenol kayak gitu !!”
Sambung pertanyaan doni sambil turun dari mobilnya menuju rumah.
Aku terdiam sebentar sebelum menjawabnya, dalam hati “ ni anak ga sadar juga,
ya !!”
“ nggak.. emangnya kenapa harus cemburu ?” balas ku agar doni tambah penasaran
“ ya… dengan pembantu seperti si…. Siapa sich namanya tadi “ Tanya doni sambil
berbisik
“ina” balas ku
“ya seperti si ina pasti cewek cemburulah, tapi kalo gebetan ato pacar lu ga cemburu
berarti hebat juga tu cewek, bikin gue tambah penasaran “ sambung doni, sambil
melirik ina yang lagi menyiram tanaman depan rumah setelah menutup pagar rumah.

“eh…mas udah pulang” sahut si nita dari dalam rumah begitu aku dan doni masuk.
“iya ta,” balas ku

“ta tolong buatin kopi buat teman ku ya” sahut ku ke nita, nita mengangguk dan
menuju dapur
“ itu gebetan mu jhon” Tanya doni
“mmmppppphhh..itu nita adiknya si ina “ balas ku biar tambah penasaran dia
“kakaknya bahenol, adiknya seksi lu benar2 beruntung punya pembantu kayak Ina,
sudah gitu di kasih bonus adiknya yang imut2 menggemaskan, bener2 gue yakin lu
tambah betah di rumah gara2 mereka” sambung doni dan kembali di ikuti tawa kami.
“oh..trus pacar lu mana !! pasti lebih cakep lagi” doni berkata sambil duduk di sofa
“kok bisa lebih cakep lagi gimana ??” tanya ku
“lebih cakep dari mereka maksud ku”balas doni
“ siapa bilang aku punya pacar, kamu kan bilang…..” omongan ku terputus, saat nita
mengantar kopi buat kami. aku cuma tersenyum kala doni mencuri pandang ke paha
mulus nita saat meletakkan gelas di meja.
“kamu kan bilang pas di kantor, kalo kamu ML sekarang ga pake bayar sekarang
soalnya sdh punya Istri”melanjutkan omongan ku yang terputus. Doni cuman
mengangguk sambil terus menyeruput kopi panas.
“ aku juga ga bayar dan aku ga bilang klo sdh punya gebetan” jawabku sambil meraih
kopi ku
“trus keris lu sering di umbah (cuci) sama apa dan dgn siapa kalo ga sama cewek
bokingan ??” Tanya doni sambil minum kopi dgn gelas kopi tepat di depan wajahnya
dengan pandangan tajam ke arah ku.
Tanpa menjawab aku cuman memandang dengan ekor mata ke arah ina yang tampak
lewat kaca di ruang tamu masih menyiram bunga dengan mengedipkan mata ke arah
doni sambil tersenyum.

“DENGAN INA” !!!!!!” jawab doni terkejut dan suara tinggi sampai kopi di
tangannya hampir tumpah
“brengsek lu don bisa kedengaran si ina” balas ku
“sory..trus “ tanyanya sambil melanjutkan ngopinya
“ya bukan sama si ina saja, adiknya juga” balas ku setelah meletkkan gelas kopi ku
“ADIKNYA JUGA !!!!! kembali untuk kedua kalinya dia terkejut sampai kopi yang
baru di minum tersedak dan keluar dari mulutnya, juga gelas di tangan tumpah saking
kagetnya.
“achk…lu sdh di ksi tau jgn keras2 omongan-nya, pelanin dikit napa!! Sahut ku
setengah berbisik.
“sudah biarin saja nanti di beresin Nita.” Ayo kita ke kamar saja ngomongnya, lu
parah amat sikh…!!
“sory bro..lu benar2 edan..!! sahutnya sahut doni yang mendahului ku menuju kamar
ku.

Setelah masuk kamar ku, doni langsung bertanya.


“jadi bagaimana tawaranku bro !!” tawaran apa, aku pura2 ga ngerti padahal itu yang
ku harapkan juga
“swing….” Cuman kata itu sambil menatapku tajam sambil tiduran di ranjang.
“enakan lu dapat mereka berdua gue dapat veve doang, males ackhhh !!! jawab ku
sok jual mahal
“bro gue tahu lu juga sukakan sama istriku, mata lu sering lirik istri ku !!!, please bro
dari pada sama orang lain, mending sama teman sendiri” lanjutnya
“Lu pikir dulu baik2 don, gue mandi dulu”sahut ku
aku langsung menuju kamar mandi, Meninggalkan doni. Setelah keluar kamar mandi
dengan menggenakan CD di balik handuk , doni berkata pada ku.
“aku sudah mantap, tapi veve belum ngerti rencana ini, tapi gampang di atur, lu tahu
sendiri kalo veve sama aku habis dugem” kata doni, dan gue tahu istrinya kalo kena
chivas ato jack daniels langsung tiarap.
Aku cuma tertawa sambil berkata
“lu tahu ga bro !!, ina dan nita ku kerjai dengan cara yang sama, ku ajak mereka
dugem setelah itu ku garap di rumah” jawabku sambil tersenyum.
“dasar ueeediiaan !!!” jawab doni sambil menggerutu
“trus rencana mu kapan bro” Tanya ku, ga sabar
“ala lu bro so’k jual mahal tadi…. sekarang setuju juga” ledek doni, aku cuma
senyum genit ke arahnya
“ sekarang rabu, malam minggu ini kita dugem bareng, jgn lupa kamu ajak mereka
berdua ok” sambung doni
“Ok… jgn kuatir bro, tapi kalo lu niat batalin aku juga fine aja bro” balas ku
“tapi sekarang ku boleh nyobain salah satu dari mereka ga ??, itung2 lu DP setengah
kan !!” kata doni ingin mengerjai ina ato nita sekarang.
“enak aja… trus tiba2 lu batalin rencana sama veve, gue dong yang rugi !!”kataku
“lagian lu kira beli barang !! pake DP segala…!! Sambung ku
“tetap jadi bro… malah itu yang gue tunggu2, percaya dech ama aku, pasti jadi
rencana malam minggu ini” balas doni.
“ok dech, tapi janji rencana mlm minggu harus jadi.. kalo ga jadi utang ku 5,6 jt ga
jadi ato lunas” balas ku sebagai jaminan kalo rencananya batal, sebab dulu aku
minjam duit ke doni 10 jt utk beli sepeda motor dan sudah ku cicil sampe sisa segitu.

“siiipppp… lu benar sohib ku bro..”jawab doni kesenangan…..


“Btw. Yang mana dulu don, lu pingin ina apa nita ?? kita harus atur siasat biar
mereka ga curiga” tany ku ke doni.
“aku pingin yang imut dulu (nita maksudnya), tadi waktu ngantar kopi tuch anak
bibirnya merah tipis dan senyum juga manis, dan pahanya mulus.. bikin konak”
sambung doni yang kelihatn sdh bernafsu… ingin cepat2
“gini aja, lu tunggu di sini, gue ke bawah dan ku bawa nita ke sini, jgn kuatir sambil
indehoi ku gendong ke sini, jadi dalam keadaan horni berat dia nantinya” jawab ku
“aaaccchhh… masih lu garap dulu tuch anak ga langsung aku aja” protes doni
“lu kira perek maen ajak, pilih lansung di garap, sudah tunggu sini !!” jawab ku ke
doni sambil melepaskan celana dalam ku dari balik handuk. Ku lempar CD-ku ke
arah doni dan doni cuman mengumpat “jorok” di iringi langkah ku keluar mencari si
nita. Ternyata lagi nonton sinetron ke sayangannya Isabella, jam tayang 19:00 di
indosiar. Ku tanya ke nita di mana ina, kata nita lagi mandi si ina.benar2 kesempatan
….
“mas ga pake CD ya tuch adiknya sudah nyundul handuk, iiihhh malu dong mas !!”
jawab nita
Ku dekati nita dan ku terkam bibir mungilnya
“mas malu ada tamu, gimana sich nanti aja kenapa sich mas ..mmmmpppphhhh!”
omongan nita terputus sambil terus ku emut terus bibirnya dan tangan kanan ku
meremas toketnya dari balik kaos putihnya dan tangan kiri ku menurunkan celana
pendeknya sekaligus celana dalamnya, dan jari ku bermain-main di goa hangatnya
yang makin lama mulai basah dan lengket akibat cairan yang keluar dari MeQ
berbulu halus ini. Tangan kirinya telah meraih meriam ku dan mengocoknya pelan2.
“mas di kamar ku aja, malu klo temannya sampai keluar kamar” kembali nita,
mencoba mengingtkan tetapi dia ga sadar sebentar lagi dia di garap aku dan doni, gue
tahu kalo nita sudah horni ga nolak lagi pasti. Dari pada protes melulu, aku bangkit
dan berdiri mengarahkan adik ku ke wajahnya dan nita tanggap langsung di emut
kepala si otong, diapit bibir tipisnya yang merah ini. Ga lama2 aku di oral nita karena
aku kuatir ina datang dan protes juga karena ada tamu (teman ku doni) ku angkat nita
dgn saling berhadapan kakinya melingkari pinggang ku dan tangannya mengarahkan
adik kecil ku masuk ke Vegi-nya. Nampak di wajahnya yang horni sambil menggigit
bibir menahan penetrasi pedang ku yang sedang menerobos ke sarung pedang nita.
Setelah diam sebentar aku mulai memompa pelan2 dan sambil mengamati apakah dia
sudah benar2 horni, dan jangan sampai orgasme… bahaya nanti. setelah keluar
rintihan dari mulutnya dan mulai meracau ga karuan. Sambil ku gendong dan
membawanya ke kamar dan terus ku genjot terus pelan2, nita memejamkan matanya,
ku percepat langkah ku. cairan dari kemaluan kami membasahi pangkal paha dan
terus mengalir sampai ke betis ku, aku benar yakin nich anak ga bakalan nolak lagi
kalo sudah horni kayak gini. Langsung menuju kamar, ku lihat doni tdk ada di
ranjang, tetapi ku lihat pintu kamar mandi terbuka dikit dan lampu dalam kamar
mandi mati jadi di dalam gelap. “Achhhkkk ini akal2-an doni biar bisa ngintip dulu”
pikir ku. Langsung ku turunkan dan ku balikkan nita dengan dogy membelakangi
kamar mandi, dan ku pompa pelan2. belum beberapa lama, ku rasakan tepukan di
bahu, dan ku tahu itu doni meminta “pergantian tugas” aku mundur dan doni
memasukkan kontol ngacengnya yang seperti pisang bengkok. Bentuk seperti ini
banyak wanita yang suka karena mengaduk-aduk isi vegi, sedangkan punya ku cuman
lurus dan panjang jadi cewek pasti terasa notok sampe ke pangkal rahim. Untuk
ukuran diameternya sama kali, cuman kepala meriam ku yang lebih gede dari punya
si doni. Nita makin meracau ga karuan dan belum sadar kalo doni yang
menggencotnya,
“mmmpphhh.. teruuussssss..duh… enaaaaakkkkk…iihhhhh aduh… mas” suara nita,
membuat doni makin bersemangat

Ku tinggalkan mereka dengan kontol ngaceng berat mencari ina, aku menuju kamar
mandi di belakang dapur, sebab kata nita tadi, ina sedang mandi. Benar saja, ina
sudah habis mandi dan menyisir rambutnya di depan cermin + washtafel, di samping
pintu kamar mandi. Aku berjalan menuju ina yang membelakangi ku, sambil
mengurut adik ku yang ngaceng berat dan si ina dapat melihat dari pantulan cermin
sambil tersenyum.
“looo… wes ngaceng pollll mas..” protes ina, sebab veginya masih kering dan pasti
sedikit sesak sebab belum licin dan susah masuknya nanti. Tanpa membalikkan
tubuhnya yang tetap membelakangi ku dan menatap cermin, ku tarik lilitan
handuknya dan ku tunggingkan dengan bertumpu pada washtafel kedua tangangnya.
Bongkahan pantatnya ku tampar, sampai lima jari ku mengecap di pantat mulus nan
montoknya, yang membuatnya sedikit menjerit2. Tangan kanan ku menerobos
MeQnya dan mengocok pelan2 dan ina mulai mendesih dan nafasnya mulai tdk
teratur. Setelah sedikit basah ku posisikan adik ku di depan goa hangat ina dan ku
dorong pelan2 setelah “sasaran terkunci”. Dan ku pompa vegi ina, aku tahu ina dan
nita berbeda. Ina kalo di genjot dengan dogy cepat keluarnya (orgasme) sedangkan
nita dengan gaya konvensionl alias pria di atas pasti cepet terkulai. jadi aku yakin
doni dgn nita pasti masih bertempur dgn serunya. Setelah beberapa genjotan tubuh
ina meregang dan kakinya gemeteran tanda kalau dia sudah klimaks, dan cairan
hangat menyembur dari dalam gua kenikmatannya. Ku tahan tubuhnya biar tidak
ambruk dgn tetap posisi dogy sambil ku peluk dari belakang. Kemudian sambil terus
memeluknya, aku duduk di kursi tanpa melepas si “jhon kecil” yang masih bersarang
di memek ina, ku sandarkan punggungnya di dada ku dan kedua tangannya ku
lingkarkan ke belakang bahuku serta kedua kakinya ku buka lebar2. adik kecil ku
yang bersarang di meqnya ku cabut dan menerobos anusnya, ina selalu meringis
setiap kali aku menerobos anusnya, tetapi itu hanya sementara setelah itu dia selalu
menikmatinya kemudian. Dengan tangan ku melingkar kedua kakinya dari belakang
dan mengangkatnya menuju cermin dpt ku lihat lewat cermin cairan kewanitaan yang
mengalir dari meQnya yang habis di bombardir meriamku. Setelah memompa lubang
pantatnya sebentar, sambil menggendong ina aku membawa ina menuju kamar. Di
depan kamar tidur ku, ina kembali meregang utk orgasme kedua kalinya, karena tdk
ada yang menyumpal meQnya, maninya muncrat ke depan membasahi lantai di depan
pintu kamar ku.

Tanpa menurunkan ina aku terus melangkah ke kamar, begitu ku buka pintu kamar,
terlihat doni tidur di ranjang sedangkan nita di atasnya sedang memompa pisang doni
keluar masuk vegi mungilnya, sambil berpagutan mereka berdua, ina menoleh setelah
melihat adiknya dan doni sedang bergumul di ranjang dan mengatakan :
“mas… kalian benar2 nakal ya !! protesnya
Ina ku turunkan dan tiduran di samping doni dan nita, aku menuju nita dan doni. Doni
mengerti juga nita, mereka berhenti dari aktivits mereka. Kemudian adik kecil ku
mengarah ke lubang pantat nita dan pergumulan di mulai kembali setelah satu
hentakan membuat kepala “otong” menerobos lubang pembuangan limbah nita,
sementara ina dan doni sudah berpagutan dan tangan kanan doni sudah mendarat di
melon 34 b milik ina.
Tak lama kemudian nita memekik tanda orgasmenya. saking dahsyatnya, anus nita
ikut berkedut2 kencang di susul doni dan aku, sama2 menumpahkan mani kami ke
meq dan dubur nita. Tubuh mungil nita terkulai lemas di antara kami berdua.

Ku cabut penis ku menuju ina dan mengarahkan kepalanya untuk membersihkan


penis ku yang baru masuk lubang pantat adiknya dan memang sudah sering di
lakukan mereka berdua tanpa jijik. Setelah penis ku bersih giliran punya doni di
sambar ina dengan mulutnya yang memang lihai kalau blowjob.

Setelah mandi doni kembali mengingatkan rencana sabtu dan langsung cabut pulang,
ku lirik jam dinding berbunyi, tanda pukul 22.00 malam setelah itu memakai celana
pendek ku..
“thank’s bro… benar2 dua ronde yang melelahkan, gue cabut… jangan lupa malam
minggu rencana kita” kata doni setelah beristirahat 30 mnt.
“ok..bro..jgn lupa nanti pagi jemput aku ke kantor” kata ku sambil mengingatkan kalo
sepeda motor ku di tinggalkan di kantor dan menutup pintu pagar rumah.
aku masih melanjutkan satu ronde lagi bersama ina dan nita sebelum kami bertiga
terlelap sebelum terbangun pagi hari karena bel berbunyi. Ternyata doni sudah datang
menjeput ku untuk berangkat ke kantor. Doni sempat melihat ina dan nita yang masih
terlelap, ingin digarap kembali tapi aku melarang sebab mereka masih kecapean
setelah semalam di bombardir meriam2 kami. Biasanya mereka, yakni ina dan nita
selalu membangunkan aku kalau hampir telat. tetapi karena pergumulan semalam,
mereka mungkin masih lelah dan “cape dech “!!, Sehingga telat bangunnya.

Sahabat Istriku
81
Posted by admin on July 16, 2009 – 7:48 am
Filed under gangbang

Kisah ini terjadi beberapa bulan berselang saat kami sedang berada dikota B, kota
kelahiran istriku, kebetulan kami mempunyai rumah disana dan saat itu liburan anak
sekolah.

Sudah 2 hari kami berada di kota, hampir seluruh sudut kota kami jelajahi dan anak
anak juga sangat senang menikmati liburannya dengan mengunjungi berbagai lokasi
wisata di kota berhawa sejuk itu.

Saat itu kami sedang berada disebuah factory outlet ketika sebuah suara terdengar
“Hey……, apa kabar ..? seorang wanita berusia sedikit diatas istriku tiba tiba
setengah berteriak menegur Anita,

“Eh.., Mira….apa kabar..” jawab istriku yang langsung menghampiri wanita itu dan
mereka berpelukan.

“Pa…ingat kan..ini Mira….” kata istriku

“Tentu saja aku ingat…apa kabar..? “tanyaku menyalaminya

Mira adalah sahabat istriku saat masih kuliah…, wajahnya khas sunda, tidak terlalu
cantik, namun putih dan bersih, terakhir kami bertemu empat tahun lalu disuatu pesta
di Jakarta, ketika itu ia datang dengan suaminya.., lupa..aku namanya…namun
suaminya adalah seorang arsitek.

Kedua wanita lalu ngobrol entah apa yang dibicarakan namun tampak mereka bicara
tak putus – putusnya, bahkan istriku nampaknya lupa kalau ia sedang belanja, dan
akupun melangakah meninggalkan mereka dan menggandeng anak anaku
meneruskan belanja kami, kubiarkan istriku melepas kerinduan dengan sahabatnya.

Sesaat kemudian kedua wanita itu menghampiriku dan Mira pamit mau pulang.

“Kasihan…ia sudah bercerai” kata istriku dimobil

“Lho..kok…? tanyaku

”suaminya kawin lagi dengan wanita lain, dan ia tidak mau dimadu, ya akhirnya
mereka cerai…sudah 3 tahun ia menjanda” panjang lebar istriku menjelaskan

“Lalu…?” tanyaku lagi

“Ya sudah…Mira sekarang membuka butik” jelas Anita


Percakapan berhenti sampai disitu karena anak anak mulai cerewet minta makan dan
kamipun berhenti di sebuah restoran yang sejak dulu menjadi langganan kami.

“Pa.. Mira kusuruh kesini ya…, sebelum kita pulang, biar dia nginep disini…” istriku
membuka percakapan sore itu ketika kami sedang santai di teras rumah kami yang
terletak agak dibagian atas kota

“Boleh” jawabku..dan sungguh …saat itu tidak ada satupun pemikiran yang aneh
aneh melintas di benakku, aku sedang melepas semua pikirang tentang pekerjaan dan
benar benar bersantai, lagi pula anak anak juga tidak mau tinggal diam…selalu ribut
tidak karuan

Anita mengambil HP nya, setengah jam ia ngobrol dengan sahabatnya itu, dan
menjelang pukul 8, ketika kami baru saja menyelesaikan makan malam kami, suara
mobil memasuki halaman.

“Hai…..” sapa Mira ketika kami menyambutnya, malam itu ia nampak segar dengan
celana panjang yang mencetak bentuk pantatnya dan atasan model sekarang yang
agak gombrong itu, namun sampai saat itu kembali aku belum ‘memikirkan hal itu’
sama sekali..

Istriku segera menarik tangan wanita itu dan mengajaknya kedalam sementara
pembantu kami membawakan barang bawaannya masuk rumah.

Kebetulan rumah kami agak besar dan masih memiliki sebuah kamar yang tidak
terpakai, dan kesitulah barang bawaan Mira diletakan.

Malam itu aku masuk kamar duluan, setelah anak anak tertidur, sementara istriku
masih asyik ngobrol dengan kawannya, dan tak lama kemudian aku terlelap.

Rasa hangat dan geli yang nikmat menyadarkanku, dan aku tahu kalau mulut istriku
sudah mengulum batang kemaluanku yang segera berdiri walau aku sendiri masih
setengah sadar, entah kapan celanaku sudah turun sampai kelutut aku benar benar tak
tahu.

Sesaat kemudian tanpa melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku, celanaku


sudah terlepas seluruhnya, dan menyusul baju lainnya.

Setelah saling mencumbu, menjilat dan bergumul, akhirnya dengan posisi diatas
Anita memasukan batang kemaluanku kedalam vaginanya yang hangat itu dan mulai
bergoyang, mula mula perlahan semakin lama semakin cepat, sementara mulutnya
berdesis seperti orang kepedasan.
“Srrrt…” aku tak tahan lagi dan melepaskan air maniku duluan dalam vagina istriku
yang masih terus bergoyang mengejar puncak kenikmatannya, dan akhirnya beberapa
puluh detik kemudian istriku melenguh dan mendesis desis ketika ia menggapai
klimaxnya, untung …pikirku…telat sedikit saja kemaluanku sudah melemas dan bisa
pusing dia kalau tidak berhasil mencapai klimaxnya.

Tubuh istriku ambruk diatas tubuhku, dan…plop…..kemaluanku terlepas dengan


sendirinya, kami berciuman dan saling memeluk, yah…walaupun banyak
petualangan kami namun setiap kali berhubungan sex ……..kami sangat puas dan
nilai keintiman yang ada diantara kami kalau sedang berdua sangat berbeda dibanding
kalau sedang ‘bertualang’.

Kami tidak banyak bercakap malam itu, capek setelah seharian berputar putar dan
belanja serta nikmatnya sex yang baru saja kami rasakan membuat kami segera
terlelap dalam selimut….berpelukan telanjang bulat.

Pagi pagi aku sudah terjaga…, melihat istriku masih tidur.. aku lalu mengenakan
celana pendek dan kaos oblong, masuk kamar mandi yang ada diadalam kamr, cuci
muka…lalu keluar keruang makan…mencari kopi.

Saat melintas dapur kulihat Mira sedang asyik mengaduk kopi digelas…dan ketika
melihatku nia tersenyum…

Mira hanya mengenakan baju tidur yang agak tipis… dan buah dadanya yang saat itu
tidak menggunakan bra…membayang jelas…, masih pagi.., baru bangun…….
melihat pemandangan seperti itu…langsung saja ‘adik kecil’ diselangkangan
berontak keras….

“Mas…kopinya suka manis ?” tanya Mira


“Lho..kok…mana pembantu..masa kamu yang bikin ..?” tanyaku
“Kusuruh kepasar….Mira ingin masak kalau boleh…tanya Anita deh….hobby Mira
kan masak..” jawabnya.

Ingin kutanya ‘hobby’ nya yang lain..tapi mengingat ia teman istriku dan aku belum
diberi tanda oleh istriku aku menjaga lidahku supaya jangan nakal….

“Jangan terlalu manis..ah….nanti bisa diabetes…” jawabku, hampir…saja


kulanjutkan…’kalau diabet bisa impoten…rugi …’ tapi kembali kujaga lidah ku..

Siang itu aku bersantai dikamar sementara istriku dan Mira asyik memasak…, anak
anaku juga asyik dengan urusan mereka masing – masing dikamarnya

“Hey….makanan sudah siap.”teriak istriku dan hawa dingin kota Bandung serta
suasana yang nyaman sungguh membuat kami lapar……
Mataku sempat menelusuri tubuh Mira yang tampak sibuk mengambilkan nasi,
menyipakan lauk pauk dan dengan tank top ketat, celana jeans yang dikenakannya
mencetak bentuk tubuhnya, sesungguhnya wanita ini bukan wanita yang akan kita
pikirkan, berusia menjelang pertengahan, wajahnya biasa saja tidak terlalu cantik,
tubuhnya juga sudah tidak sekencang gadis muda.. namun kulitnya sangat putih dan
bersih, dari wajah serta penampilannya serta cara bicaranya terlihat jelas kalau ia
bukan ‘petualang’, dan yang agak ‘mengganggu’ pemikiranku adalah sdh 3 tahun
bercerai…’jangan jangan sudah rapat kembali’

Pepes ikan mas, sayur asam, sambal dan ayam goreng yang nikmat dalam waktu
singkat bersih tandas dan beberapa saat kemudian aku sudah terbuai dalam mimpi,
entah apa yang diperbuat istriku, sahabatnya dan anak anak sudah tidak kupedulikan
lagi.

Setelah mandi sore kami menyempatkan diri pergi ke mall, beli jagung bakar, makan
malam dan menjelang Pk. 9.00 malam kami sudah kembali kerumah…anak – anak
langsung masuk kamar dan sesaat kemudian suasana sudah sepi…

Aku sedang membaca dikamar ketika istriku masuk dan duduk disampingku, dengan
wajah yang berbinar-binar ia berkata “Pa..menurut papa Mira bagaimana..?”
tanyannya tiba tiba.
“Bagaimana apa…”tanyaku
“Ah…mama kan melihat papa memperhatikan Mira, waktu makan siang tadi, …
minat….?” lanjut istriku
“Mmmmm bukan gitu” lalu kusampaikan isi pemikiranku siang tadi dan istriku
mencubitku “buktikan mau ? lubangnya masih ada atau nggak..? jawab Anita.
“Mm……….tapi kan dia teman mama dan belum tentu memahami gaya hidup kita”
jawabku, langsung saja ada yang terasa bergerak diantara pahaku…’kalau iya
lumayan kan…’pikirku

Sudah terlalu lama istriku mengenal diriku…kali ini dia yang menjadi ‘pengatur laku’
“sudah..pokoknya papa..nurut saja. ya…nggak rugi deh…” lalu sambil mencium
pipiku ia beranjak keluar kamar…

Aku mencoba kembali ke bacaanku, namun konsentrasi ku sudah buyar..

Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah istriku serta
Mira yang sudah berganti pakaian dengan daster, wajahnya tampak segar dengan
rambut diikat kebelakang sementara dadanya tampak menggantung lepas..sayang
daster batik yang dikenakannya agak tebal..sehingga tidak ada bayangan yang
timbul…

“Ngobrol disini saja ya Mir…, pa boleh kan Mira ngobrol dulu disini ..?,” pembantu
belum tidur lagi nonton TV, dikamar Mira nggak enak, nggak ada Exhaust Van
nya”…, memang terkadang istriku merokok, terbayang kan kalau asap rokok tidak
dikamar tidak bisa keluar..?

“Walau awalnya agak canggung namun sebentar saja pembicaraan kami sudah relax,
Anita duduk disisiku dan kami duduk diranjang bersandar santai, sementara Mira
duduk diujung ranjang…., kami ngobrol segala hal sampai suatu saat istriku
bertanya..(aku yakin dia sudah bertanya sebelumnya…tapi diulangi lagi untuk ku),
“Mir…kalau boleh tahu….kamu kan sudah pisah 3 tahun sama mantan mu…, nah
kalau ‘kepingin…itu..’ bagaimana kamu mengatasinya…? tanpa tedeng aling aling
Anita bertanya yang membuat wajah Mira merah bagi kepiting rebus.
“Ya…gitu deh……….., udah ah….kok nanya in yang begituan sih…….” jawab Mira
tersipu.

Tiba tiba Anita bangkit, lalu mengambil lap top yang biasa kugunakan, meletakannya
dipangkuannya dan…menyalakannya serta memanggil Mira mendekat…

Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan istriku…walau aku tahu apa yang ada
dipikrannya, sekejab kemudian terdengar suara Mira berteriak kecil…”Ih…gila ya
kamu……..” sambil melirik kearahku.

Berkali kali terdengar jerit tertahan Mira saat melihat apa yang tersaji di laptop ku,
ya..kumpulan gambar photo ‘petualangan’ kami…bermacam occasion yang sudah ku
compile dalam suatu album, ada yang istriku sedang ‘dikeroyok’, ada yang sedang
swinging dengan pasangan lain dan macam macam lainnya.

“Sebentar ya…” kata Anita yang lalu beranjak ke kamar mandi Mira tidak menjawab
namun matanya terus menatap layar lap top dengan wajah yang berubah ubah..antara
percaya dan tidak..antara ingin tahu dan tertarik….ia masih asyik menscroll gambar
gambar itu dan Anita yang sudah kembali duduk didekatku…tangannya langsung
menyusup kedalam celana pendek yang kukenakan.

Istriku alau merangkul leherku, mencium bibirku..lidah kami saling bertautan dan
tangannya dengan nakal memainkan kemaluanku yang masih tersimpan didalam
celana pendek yang kukenakan…beberapa saat kemudian celana yang kukenakan
sudah terlepas…

Ketika Anita menengok…ia terpana….karena saat itu istriku sedang asyik menjilat
dan menghisap batang kemaluanku…dan ketika istriku melihat bahwa sahabatnya
memperhatikan nya…ia menghentikan gerakannya dan memberi tanda agar
mendekat…. dan entah sadar atau tidak Mira mendekati kami duduk disamping
tempat tidur.

Tiba –tiba istriku menarik tangan Mira dan meletakannya di batang kemaluan ku
yang sudah mengeras.
Tangan yang terasa dingin bertemu dengan batang kemaluan yang sangat panas…
memberikan sensasi padaku..dan benar seperti kata istriku……. Mira sudah terlalu
lama tidak menyentuh laki laki…, sesaat kemudian dua mulut mungil menjadikan
batang kemaluanku sebagai ‘mainan’, saat Mira menghisap kepala kemaluanku
istriku menjilati bijiku dan begitu bolak balik…kujulurkan tanganku…kutarik Mira
agar merayap keatas dan sesaat kemudian bibirnya sudah berpagutan dengan
bibirku…

Ketika dasternya kulepas..buah dadanya terpampang jelas…puting susunya lebih


besar dari istriku merah agak kehitaman, kontras dengan kulit putihnya…, dan walau
sdh tidak terlalu padat dan agak turun sedikit namun asyik juga.

Mulutku melumat puting susu yang sudah mengeras itu dan tanganku menyusup ke
bawah pusarnya…terasa selangkangan yang lembab agak basah…dengan bulu bulu
yang cukup lebat.

Istriku yang mengerti apa yang kuinginkan, menghentikan gerakannya menjilati


kemaluanku..lalu memberi kesempatan padaku untuk mengubah posisi.

Kubaringkan Mira telentang..dan kucium bibirnya…lalu perlahan jilatanku merambat


turun…lehernya, pundaknya dan buah dadanya ganti berganti kujilati dan kuhisap
putingnya sementara ia hanya memejamkan mata mengerang lirih….

Lidahku turun terus kebawah…dan ketika sampai di perutnya ia mulai


menggelinjang…kuambil bantal..kuminta ia mengganjal pinggulnya dan kini aku
mulai konsentrasi pada vagina yang merekah membasah itu.

Dengan kedua tanganku kusibak bulu bulu di area itu….kubuka vaginanya…dan


lidahku mulai menari nari di klitorisnya…, sesekali menerobos masuk dan kembali
menjilat, menghisap dan menjilat..
Anita yang rupanya tidak tahan dari belakang juga ‘menyerang’ku.

“Ssshh…..aduh….sdh nggak tahan……” sesekali kepalaku dijepitnya dengan


pahanya..dan aku mengerti..sudah terlalu lama ia ‘haus’..maka ketika aku menyudahi
permainan lidahku dan merayap naik ketas tubuhnya dengan serta merat tangannya
menyambut dan memelukku, dan setelah batang kemaluanku terarah tepat dengan
perlahan mulai kubenamkan…Mira mengerang…. membuka pahanya semakin lebar,
…setelah kepala kemaluanku masuk…dengan satu hentakan yang diiringi desahan
keras dari wanita ini kubenamkan batang kemaluanku hingga habis.

Kubiarkan sesaat kemaluanku terendam dalam vagina yang sangat hangat namun
‘legit’ itu, memang sih kelebihan wanita jawa barat umumnya bisa membuat
vaginanya enak..tidak kering agak basah sedikit, tapi legit..atau mungkin pengaruh
suka makan lalaban?..dan baru kemudian kutarik sedikit…lalu kubenamkan
lagi..demikian berulang – ulang… sementara Mira memeluk dan kakinya bahkan
melingkari pinggangku…

Tiba kurasakan sensasi lain…wah…….ternyata istriku mengusap dan memegangi


bijiku saat batang kemaluanku bergerak memompa naik turun di vagina Mira, bahkan
sesat kemudia bukan lagi usapan yang kurasakan namun
…..jilatan….gila…………….rasa nikmat yang luar biasa menyerangku …………,
batang kemlauanku terbenam dijepit kemaluan Mira dan lidah Anita menjilati
bijiku..sesekali batangku terjilat saat tertarik keluar…..

Aku tahu kalau begini terus tidak lama lagi pasti tumbang…….. maka, ku rubah
posisi, tanpa melepaskan batang kemaluanku dari vaginanya , kubalik posisi hingga
Mira kini diatasku, kini aku punya ‘mainan’ tambahan’, buah dada yang bergoyang
dan menggayut diatasku dengan leluasa kuremas…, sesekali putingnya kuhisap…,
disisi lain istriku juga jadi lebih leluasa ‘menggarap’ kemaluan ku yang sedang
menyatu dalam vagina sahabatnya itu.

Mira mulai bergerak teratur….mungkin terlalu lama tidak merasakan kemaluan laki
laki membuatnya tidak tahan terlalu lama…..ia naik turun diatasku dengan teratur…
semakin lama semakin cepat..kemaluannya mulai menghangat…dan aku
‘membantunya’ dengan menghisap puting susunya…..dan akhirnya dengan satu
teriakan tertahan ia melemparkan kepalanya kebelakang..mencengkeram pundaku dan
mendesah lirih…”Ah…ssss…………….hhh………….
…..ah……..aduh…..keluar………..” lalu ia ambruk diatas dadaku.

Kucium bibirnya dan dengan perlahan ia kurebahkan kesamping…, sesungguhnya


aku yakin akalu kuteruskan sedikit lagi ia masih bisa menggapai satu klimax lagi
walau tidak sedahsyat yang barusan..namun aku juga tahu kalau istriku sudah
menanti..

Kusuruh Anita menungging dan dari belakang batang kemaluanku yang masih basah
kuyup dangn lendir Mira menerobos memasuki lubang vagina istriku..yang juga
sudah basah….

Kami sudah mengenal satu dengan lain sangat baik….maka irama yang berkembang
sudah dalam kontrol kami dan karena desakan di bijiku sudah sedemikian
mendesak…kuberi tanda pada Anita untuk meningkatkan ‘speed’ dan akhirnya…
srrrrt…..creeet……….air maniku menyembur deras mengisi vagina istriku sementara
istriku juga mencapai klimax pada saat yang sama dan mendesah desah keras.

Cukup lama kami terdiam dan berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang, ganti
berganti kedua wanita itu mencium bibirku dan tangan mereka mengelus serta
mengusap ngusap kemaluanku yang masih basah itu…, namun juga masih susut.
Belum terlalu rasanya beristirahat Mira sudah mulai memainkan kembali mulutnya di
selangkanganku sementara Anita berjongkok diatas wajahku dan lidahku langsung
saja menerobos masuk ke lubang vaginanya……, vagina istriku walau sudah banyak
yang ‘menikmati’ namun tetap terawat dan terasa nikmat… juga klitorisnya masih
tetap mungil kemerahan….sekitar lima menit kami dalam posisi itu sebelum
berbalik… kini kembali aku diatas Mira yang dengan melebarkan kakinya menerima
kemaluanku dan Anita memelukku dari belakang menjilati leher dan belakang
telingaku..kadang lidahnya turun ke bawah hingga ke belahan pantatku….

Aku menggenjot Mira yang terlentang dibawah tubuhku dengan teratur dan pada
irama yang tetap, bibir kami saling bertemu dalam ciuman yang panas…istriku
mengelus dan mengusap usap bijiku yang memberikan sensasi nikmat dan seperti
tadi…………Mira yang masih haus itu kembali mencapai klimax
duluan…..”Mas……….ah…….cepet….cepet.. .aduh…………enaaaak..hhh………”
dan setelah seluruh tubuhnya menegang ia tergolek lemas, aku berhenti sebentar
tanpa mencabut kemaluanku yang masih terbenam dalam vagina yang berdenyut
denyut itu…….dan semenit kemudian mulai lagi kugerakan maju mundur secara
teratur….”waw……….geli….ah……..aduhh.. …………” Mira merintih dan
mendesah….namun aku meneruskan gerakanku dengan cepat mengejar ejakulasi
kedua yang ingin kugapai…dan “Aduh…….keluar…lagi……ah……” dan istriku
juga semakin giat mengusap dan meremas bijiku dan ketika aku merasa tak tahan
lagi……kucabut kemaluanku dari vagina Mira dan istriku segera membuka mulutnya
menerima kemaluanku yang basah penuh lendir itu.

Tidak sampai dua menit, aku setengah menjambak rambutnya menembakan air
maniku dalam mulut Anita yang tanpa ragu langsung menelannya.,

Setelah melemas, kemaluanku dilepas dari mulutnya namun bukan berarti berhenti
karena lidahnya masih terus menjilati hingga batang kemaluanku bersih dari cairan.

Sekali ini aku perlu waktu setengah jam untuk dapat ‘bangkit’ kembali…. dan
setengah jam lebih dikocok dalam vagina Anita untuk kemudian melepaskan isinya
yang sudah semakin sedikit dalam vagina yang sejak awal ‘belum sempat diisi’ air
maniku

Entah jam berapa Mira kembali ke kamarnya karena saat aku berada dalam
pelukannya dengan wajahku terbenam diantara buah dadanya…aku terlelap.

Saat terjaga paginya aku diberi ciuman yang amat manis dari istriku…sambil berbisik
”Mira bilang terima kasih, punya papa jauh lebih enak dari mantannya dulu
katanya..” aku hanya tersenyum karena benar benar merasa ‘habis…..’, terkuras
energi dan air maniku….,
Hampir tengah hari baru aku beranjak dari tempat tidur setelah anak anak ribut tidak
karuan mengajak pergi……………………

Selingkuh vs. Selingkuh


40
Posted by admin on May 5, 2009 – 6:24 pm
Filed under gangbang

Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu yaitu ketika masih umur 22 tahun dan masih
kuliah di tahun ke-tiga. Dalam libur Natal selama seminggu, sepupu jauhku (anak
dari sepupu mamaku) dari Semarang datang berkunjung ke sini untuk menghadiri
undangan pernikahan sekalian mengisi liburan. Namanya Yessica, dia lebih muda dua
tahun dariku dan sedang kuliah tahun kedua di sebuah PTS di kotanya. Setelah lama
tidak bertemu, hampir tujuh tahunan aku sendiri agak pangling ketika menjemputnya
di bandara, soalnya penampilannya sudah jauh berbeda. Dia yang dulunya pemalu
dan konservatif kini telah menjadi seorang gadis belia yang modis dan mempesona
setiap pria, tubuhnya putih langsing dengan perut rata, rambutnya juga hitam panjang
seperti gadis Sunsilk. Dia tiba di sini sekitar pukul tujuh malam, dari bandara aku
langsung mengajaknya makan malam di sebuah kafe. Ternyata dia enak juga diajak
ngobrol karena kami sama-sama cewek gaul, padahal waktu kecil dulu kami tidak
terlalu cocok karena waktu itu dia agak tertutup.

Keesokan harinya aku mengajaknya jalan-jalan menikmati kota Jakarta serta sempat
berkenalan dengan Ratna dan cowoknya yang kebetulan bertemu waktu lagi shopping
di TA. Royal juga saudaraku yang satu ini, belanjaannya banyak dan semuanya
bermerk, aku saja sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Malamnya sepulang dari
undangan yang diadakan di sebuah restoran mewah di ibukota, aku langsung
menjatuhkan diri ke kasur setelah melepaskan gaun pestaku dan menyisakan celana
dalam pink saja. Aku rebahan bugil di ranjang merenggangkan otot-ototku sambil
menunggu Yessica yang sedang memakai kamar mandi, dia tadi minum alkohol
lumayan banyak, kemungkinan dia muntah-muntah di dalam sana kali pikirku.

“Yes, sekalian ambilin kaos gua di gantungan baju di dalam dong,” pintaku ketika dia
keluar limabelas menit kemudian, matanya nampak sayu karena pengaruh alkohol
dan kelelahan.

Dia memberikan kaos itu padaku lalu memintaku membantu melepaskan kait
belakang gaun malamnya. Setelah memakai kaos, aku membuka kait dan
menurunkan resleting gaunnya. Yessica pun memeloroti gaunnya sehingga
nampaklah dadanya yang montok, ukurannya tidak beda jauh dengan milikku, cuma
putingnya lebih kecil sedikit dari punyaku. Hanya dengan bercelana dalam G-string
dia berjongkok di depan kopornya mencari pakaian tidur.
“Kenapa Ci? Kok ngeliatin gua terus, jangan-jangan lu..?” katanya nyengir karena
merasa kulihat terus tubuhnya sambil membanding-bandingkan dengan tubuhku.
“Yee.. Nggak lah yaw!! Dasar negative thinking aja lo ah!” ujarku sambil tertawa.

Malam itu, sambil berbaring kami ngobrol-ngobrol, pembicaraan kami cukup seru
dari masalah fashion, kuliah, cinta dan sex sehingga bukannya tertidur, kami malah
larut dalam obrolan dan canda-tawa. Terlebih lagi ketika memasuki topik seks dan
aku menceritakan secara gamblang kehidupan seksku yang liar, dia terkagum-kagum
akan keliaranku dan kelihatannya dia juga terangsang.

Namun ketika gilirannya bercerita, suasana jadi serius, di sini dia menceritakan
dirinya sedang ribut besar dengan pacarnya yang selingkuh dengan cewek lain, aku
dengan penuh perhatian mendengarnya curhat padaku. Nampak matanya berkaca-
kaca dan setetes air mata menetes dari matanya yang sipit, dia memeluk bantal lalu
menangis tersedu-sedu dibaliknya. Sebagai wanita yang sama-sama pernah dikhianati
pria, aku juga mengerti perasaannya, maka kurangkul dia dan kuelus-elus
punggungnya untuk menenangkannya. Aku berusaha keras menghiburnya agar tidak
terlalu larut dalam kesedihan dan memberikan air putih padanya.

Beberapa saat kemudian tangisnya mulai mereda, dengan masih sesegukan dia
memanggil namaku.

“Hh-mm.. Apa?”
“Ci, tadi lu bilang lu pernah bikin film bokep pribadi kan ya
“Mm.. Iya, so what?” jawabku sambil mengangguk.
“Boleh gua liat nggak, hitung-hitung penghilang stress.. Boleh ya?”
“Ehh.. Eh.. Gimana ya? Sekarang?” aku bingung karena risih juga kalau film
pribadiku dilihat orang lain.

Akhirnya karena didesak terus dan mengingat sama-sama cewek ini, akupun
menyerah. Kunyalakan komputer di seberang ranjangku dan mengambil VCD-nya
yang kusimpan di lemari. Yessica adalah orang pertama di luar geng-ku yang pernah
menonton vcd ini. Gambar di layar komputer memperlihatkan diriku sedang dikerjai
para tukang bangunan, serta adegan seks massal dimana Verna juga belakangan ambil
bagian didalamnya membuat jantung kami berdebar-debar. Yessica nyengir-nyengir
ketika melihatku yang tadinya berontak akhirnya takluk dan menikmati diperkosa
oleh empat kuli bangunan itu.

“Hi… hi… hi… Malu-malu mau nih yee!” godanya yang kutanggapi dengan
mencubit pahanya.

Aku merasakan vaginaku becek setelah menonton film yang kubintangi sendiri itu,
kurasa hal yang sama juga dialami oleh Yessica karena waktu nonton tadi dia sering
menggesek-gesekkan pahanya.
“Ci, gua juga mau dong bikin bokep pribadi kaya lu” pintanya yang membuatku
kaget.
“Ngaco lu, jangan yang nggak-nggak ah, nanti gua dibilang ngerusak anak orang lagi,
nambah-nambah dosa gua aja!” aku menolaknya.
“Aahh.. Ayolah Ci, lagian gua juga sudah nggak perawan ini, sudah basah jadi
tanggung sekalian aja mandi”
“Jangan Yes, gua nggak enak ke lu”
“Ayolah, gua cuma mau ngebales aja kok, Napoleon juga membalas berselingkuh
waktu tahu istrinya selingkuh, itu baru adil, ya kan” katanya sok sejarah.
“Ya.. illah.. Napoleon aja sampai dibawa-bawa, kalaupun gua mau, bikinnya sama
siapa, cowoknya mana?”
“Di villa aja Ci, penjaga villa lu masih kerja di sana kan? Sekali-kali gua mau coba
gimana rasanya kontol kampung nih, please”

Karena didesak terus dan dia sendiri yang minta, maka akupun terpaksa
menyetujuinya, lagian aku sendiri sudah lama tidak berkunjung ke sana, pasti Pak
Joko dan Taryo senang apalagi aku ke sana membawa ‘barang baru’.

Kami tidur sekitar jam duabelas dan bangun jam delapan pagi. Setelah sarapan, kami
mengemasi barang bawaan, lalu pamit pada mamaku memberitahukan bahwa kami
akan ke villa. Aku memakai baju untuk suasana rileks berupa halter neck merah yang
memperlihatkan punggungku dipadu dengan celana pendek jeans yang ketat. Yessica
memakai gaun terusan mini yang menggantung sejengkal di atas lutut, rambutnya
yang panjang diikat ke belakang dengan jepit rambut Tare Panda. Kami berangkat
dari Jakarta sekitar jam sepuluh dan tiba di tujuan jam satu lebih, gara-gara liburan
yang menyebabkan jalan agak macet.

“Sudah siap lu Yes? Kalau mau berubah pikiran belum telat sekarang, tapi kalau
mereka sudah ngerjain lu, gua nggak bisa apa-apa lagi” tanyaku ketika sudah mau
dekat.
“I’m ready for it, lagian gua juga mau tahu rasanya diperkosa itu kaya apa” katanya
yakin.

Kamipun sampai ke villaku, Pak Joko membuka pintu garasi beberapa saat setelah
kubunyikan klakson.

“Waduh Neng, sudah lama kok nggak ke sini.. Bapak kangen nih!” sapanya
menyambut kami.
“Iya Pak.. habis Citra sibuk banget sih di Jakarta, kalau libur baru bisa main,” kataku,
“O.. Iya Pak, kenalin itu sepupu Citra, namanya Yessica”

Pak Joko terkagum-kagum memandang Yessica yang baru saja turun dari mobil,
Yessica juga mengangguk dan tersenyum padanya. Kusuruh Yessica meletakkan dulu
tasnya di kamar sementara kami mengeluarkan barang, setelah dia masuk, Pak Joko
berbicara dengan suara pelan padaku.

“Eh.. Neng, Neng Yessica itu boleh dientot apa nggak, habis nge-gemesin banget sih,
ayunya itu loh”
“Idih, Bapak jorok ah.. Dateng-dateng langsung mikirnya gitu”
“Duh, maaf-maaf Neng kalau nggak boleh, Bapak khilaf Neng”
“Nggak kok Pak, Bapak nggak salah, justru dia yang ngajak ke sini minta digituin,
malah minta disyuting lagi Pak, Bapak mau kan disyuting, tenang aja Pak buat
koleksi pribadi kok”

Pria setengah baya itu menunjukkan ekspresi senang mendengar jawabanku, dia
langsung bergegas mau menemui Yessica untuk langsung mulai. Tapi buru-buru
kutahan dengan menarik lengannya.

“Eh.. Sabar-sabar Pak nanti dulu dong, kita harus cari suasana dulu biar lebih hot,
lagian kita lapar nih mau makan siang dulu, Bapak sekalian ikut makan aja yah”
kataku sambil menyerahkan sekotak ayam goreng KFC dan menyuruhnya
menyiapkan nasi.
“O iya Pak, si Taryo ada nggak? Mau manggil dia juga nih” tanyaku pada Pak Joko
yang sedang beres-beres.
“Wah kurang tahu tuh Neng, telepon aja dulu”

Aku pun lalu menelepon vila sebelah, baru kujawab teleponnya setelah beberapa kali
di sana bilang ‘halo.. Halo.. Siapa ini?’ untuk mengenali suaranya. Setelah yakin itu
suara Taryo aku lalu mengundangnya ke sini dan mengutarakan maksudku. Tentu dia
senang sekali ditawari seperti itu, tapi dia cuma bisa menemani hari ini saja karena
dia bilang besok siang majikannya mau datang berlibur. Ketika kututup telepon,
dibelakangku Yessica baru saja turun dari tangga lantai atas.

“Ngapain aja lu, lama amat beresin barang, yuk makan dulu, lapar nih!” kataku.
“Duh sori tadi sakit perut, kepaksa setor dulu ke WC deh”

Aku memberi usul bagaimana kalau kita makan di taman belakang dekat kolam
renang saja, mumpung cuaca juga bagus, juga kusuruh Pak Joko menggelar tikar
seperti piknik. Ketika lagi beres-beres bel berbunyi, itu pasti Taryo pikirku. Aku
menyuruh Pak Joko meneruskan beres-beres sementara aku ke depan membukakan
pintu.

Taryo, si penjaga villa tetangga, muncul di depan pintu dan langsung memelukku
begitu pintu kututup. Kami berpelukan dengan bibir saling berpagutan, tangannya
mengelusi punggungku turun hingga berhenti di pantat, di sana dia remas bokongku
yang montok. Serasa sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dan saling
melepas rindu saja deh, what.. Taryo jadi kekasihku? Nggak lah yaw.. Just as sex
partner!

“Mmhh.. Jangan sekarang ah, mau makan dulu, yuk sekalian gua kenalin sama
sepupu gua!” aku melepaskan pelukannya sebelum dia bertindak lebih jauh lagi mau
memelorotkan celanaku.
“Ehehehe.. habis kangen banget sama neng sih, apalagi neng tambah cantik kalau
rambutnya kaya sekarang” katanya sambil mengomentari rambutku yang sudah lebih
panjang dari yang dulu (kini sudah menyentuh bahu) dan kembali kuhitamkan.

Aku memberikan piring dan sendok garpu padanya dan mengajaknya ke taman.
Disana Pak Joko dan Yessica juga baru menyendok nasi dan fried chicken ke
piringnya. Kami mulai makan dalam suasana santai, obrolan nakal mereka
meramaikan suasana, malah sekali aku hampir tersedak karena tertawa. Taryo
menenangkan dengan menepuk-nepuk punggungku dan dadaku, ujung-ujungnya
tetap meremas payudaraku.

“Apa sih pegang-pegang malah tambah kesedak tahu!” omelku sambil menepis
tangannya.

Pelan-pelan Yessica mulai terbiasa dengan suasana seperti ini, dengan keudikan
kedua orang ini, bahkan dia pun mulai berani jawab waktu ditanya aneh-aneh oleh
mereka.

“Tuh, pahanya satu lagi, habisin aja Pak!” tawarku.


“Paha? Mana paha?” celoteh si Taryo pura-pura bego sementara tangannya meraih
pahaku.

Langsung kutampik lagi tangannya dan disambut gelak-tawa. Setelah semua selesai
makan limabelas menit kemudian kusuruh Pak Joko dan Taryo membersihkan
perangkat makan dan mencucinya dahulu sekalian menunggu makanan di perut turun.

“Dah nggak risih lagi kan, habis ini kita action nih, siap nggak?” tanyaku pada
Yessica.
“Siapa takut, lagian gua seneng bisa ngebales si brengsek itu, biar dia tahu cewek
juga bisa selingkuh, apalagi gua selingkuhnya sama orang yang nggak pernah dia
duga” tegasnya.
“Tuh mereka sudah beres Yes, showtime” kataku melihat kedua penjaga villa itu
keluar, “Pak Joko, tolong handycamnya masih di meja dalam”

Pak Joko pun masuk lagi dan keluar membawa handycamnya. Kami duduk melingkar
di tikar, aku memberi instruksi bak seorang sutradara. Kuperingatkan pada kedua pria
itu agar tidak menyentuhku dulu selama aku mensyuting, agar hasilnya maksimal,
tidak goyang seperti hasil syuting Verna.
Setelah semua siap, keduanya merapatkan duduk mereka pada Yessica, terlihat dia
agak nervous dibuatnya.

“Santai aja Yes, ntar juga enjoy kok” saranku.

Kamera kunyalakan, tanpa disuruh lagi keduanya sudah mulai duluan. Pak Joko
meletakkan tangannya di paha Yessica yang duduk bersimpuh, tangan itu merabai
pahanya secara perlahan dan menyingkap roknya. Taryo di sebelah kanan meremas
payudaranya, sepertinya agak keras karena Yessica meringis dan mendesah lebih
panjang. Sementara lidahnya menjilati leher jenjang Yessica, ke atas terus
menggelikitik kupingnya dan menyapu wajahnya yang mulus.

Tangan Pak Joko sudah masuk ke dalam rok Yessica yang tersingkap, diremasinya
kemaluannya yang masih tertutup celana dalam putih tipis yang memperlihatkan bulu
kemaluannya. Pria kurus itu juga membuka resleting celananya hingga penisnya yang
sudah tegak menyembul keluar, lalu tangan Yessica digenggamkan padanya dan
disuruh mengocoknya. Bibir mungilnya dipagut oleh Taryo, mereka berciuman
dengan hot, lidah mereka keluar saling jilat dan belit. Sambil berciuman Taryo
menurunkan resleting punggung Yessica lalu memeloroti bajunya lewat bahu, juga
disuruhnya Pak Joko memeloroti yang sebelah kiri, setelahnya bra-nya mereka lucuti
pula. Kini payudara montok saudaraku yang cantik ini terekspos sudah.

Pak Joko langsung mencaplok susu kirinya dengan liar dan ganas, pipinya sampai
kempot menyedot benda itu, aku mendekatkan handycam untuk lebih fokus ke
momen itu.

“Gimana Pak? Manis nggak susunya?” tanyaku sambil mensyuting.


“Mantap neng, ini baru pas susunya!” dia melepas sebentar emutannya untuk
berkomentar lalu kembali menyusu dan mengorek-ngorek kemaluannya, tangan
lainnya mengelusi punggung Yessica.

Taryo masih terus menciuminya, lidahnya terus menyapu rongga mulutnya, begitu
pula Yessica juga dengan liar beradu lidah dengannya. Jempol Taryo menggesek-
gesek putingnya diselingi pencetan dan pelintiran. Yessica sendiri makin intens
mengocoki penis Pak Joko sehingga penjaga villaku ini terpaksa menghentikannya
karena tidak mau buru-buru keluar. Kini dia suruh sepupuku merunduk (sehingga
posisinya setengah berbaring ke samping) dan mengoral penisnya. Dengan bernafsu,
Yessica melayani penis Pak Joko dengan mulut dan lidahnya, mula-mula dia jilati
buah pelir dan batangannya dengan pola naik-turun, sampai di kepalanya sengaja dia
gelitik dengan lidahnya dan dikulum sejenak. Pemiliknya sampai mengerang-ngerang
keenakan sambil meremasi payudaranya yang menggantung.

Taryo menarik gaun itu ke bawah hingga lepas, menyusul celana dalamnya. Setelah
menelanjangi Yessica, dia melepaskan bajunya sendiri. Diobok-oboknya vagina
Yessica dengan jari-jarinya, liang itu pun semakin becek akibat perbuatannya,
cairannya nampak meleleh keluar dan membasahi jarinya.

“Enngghh.. Uuuhh.. Uhh!” desah Yessica disela-sela aktivitas menyepongnya.

Kemudian Pak Joko rebahan di tikar dan dia suruh Yessica naik ke wajahnya,
rupanya dia mau menjilati vaginanya. Gantian sekarang Taryo yang dikaraoke,
penisnya yang hitam berurat dan lebih besar dari Pak Joko dikocok-kocok oleh
Yessica yang sedang mengemut pelirnya. Dia menyentil-nyetilkan lidahnya pada
lubang kencingnya sehingga Taryo mengerang nikmat.

“Ayo dong Neng, masukin aja, jangan cuma bikin geli gitu” kata Taryo sambil
menekan penis itu masuk ke mulutnya, lalu wajahnya pun dia tekan dalam-dalam
saking tidak sabarnya sehingga mata Yessica membelakak karena sesak. Dia meronta
ingin melepaskan benda itu dari mulutnya, tapi tangan Taryo yang kokoh menahan
kepalanya.

“Sudah dong Tar, jangan sadis gitu ah, bisa mati tercekik dia, kontol lu kan gede”
bujukku agar Taryo memberinya sedikit kelegaan.
“Non Yessicanya seneng kok Neng, tuh buktinya!” tangkis Taryo memperlihatkan
Yessica yang kini malah memaju-mundurkan kepalanya mengoral penisnya, tapi
kepalanya tetap dipegangi sehingga tidak bisa lepas.

Kamera kudekatkan ke wajah Yessica yang tengah asyik mengulum penis Taryo,
mulutnya penuh terisi oleh batang besar itu sehingga hanya terdengar desahan
tertahan. Kemudian kuarahkan ke bawah mengambil adegan Pak Joko sedang
melumat vaginanya, dia menjulurkan lidahnya menyapu bibir vaginanya. Tangan
kanannya mengelus-elus pantat dan pahanya yang mulus, tangan kirinya dijulurkan
ke atas memijati payudaranya.

Ekspresi keenakan Yessica terlihat dari gerak pinggulnya yang meliuk-liuk. Lidah
Pak Joko menjilat lebih dalam lagi, dipakainya dua jari untuk membuka bibir
vaginanya dan disapunya daerah itu dengan lidahnya. Kemaluannya jadi tambah
basah baik oleh ludah maupun cairan vaginanya sendiri. Walaupun terangsang berat
aku masih tetap mensyuting mereka sambil sesekali meremas payudaraku sendiri,
kemaluanku juga sudah mulai lembab.

“Emmh.. Emmhh.. Angghh!” Yessica mendesah tertahan dengan mata merem-melek,


tangannya meremasi rambut Pak Joko di bawahnya.

Cairan bening meleleh membasahi vaginanya dan mulut Pak Joko. Pak Joko makin
mendekatkan wajahnya ke selangkangannya dan menyedot vaginanya selama kurang
lebih lima menit, selama itu tubuh Yessica menggelinjang hebat dan sepongannya
terhadap penis Taryo makin bersemangat. Puas menikmati vagina, Pak Joko menarik
keluar kepalanya dari kolong Yessica. Dia mengambil posisi duduk dan menaikkan
Yessica ke pangkuannya. Tangannya yang satu membuka lebar bibir vaginanya
sedangkan yang lain membimbing penisnya memasuki liang itu.

Taryo cukup mengerti keadaannya dengan membiarkan Yessica melepas penisnya


yang sedang dioral untuk mengatur posisi dulu. Yessica menurunkan tubuhnya
menduduki penis Pak Joko hingga penis itu melesak ke dalamnya diiringi erangan
panjang. Pak Joko juga melenguh nikmat akibat jepitan vagina Yessica yang kencang
itu. Aku mendekatkan kamera ke selangkangan mereka agar bisa meng-close-up
adegan itu. Yessica mulai naik-turun di pangkuannya, payudaranya diremasi dari
belakang oleh Pak Joko.

Kembali Taryo memasukkan penisnya ke mulut Yessica yang langsung disambut


dengan jilatan dan kuluman. Kurang dari lima belas menit, Taryo sudah mengerang
tak karuan sambil menekan kepala Yessica.

“Hhmmpphh.. Oohh.. Keluar Neng!” demikian erangnya panjang.

Pipi Yessica sampai kempot mengisapi sperma Taryo, namun hebatnya belum
nampak setetespun cairan itu meleleh keluar dari mulutnya, padahal di saat yang
sama Pak Joko juga sedang menggenjotnya dari bawah. Hingga erangan Taryo
berangsur-angsur mereda, dia pun mulai melepas penis itu dan menjilati sisa-sisa
sperma di batangnya. Penis Taryo kelihatan sedikit menyusut setelah menumpahkan
isinya.

“Wuihh.. Gile bener sepongan Neng Yessica nggak kalah dari Neng Citra”
komentarnya.

Kamera kudekatkan ke wajah Yessica yang sedang menjilati sisa-sisa sperma di penis
Taryo dengan rakus. Sambil men-charge penisnya, Taryo bermain-main dengan
payudara Yessica, kedua bongkahan kenyal itu dia caplok dengan telapak tangannya
dan dihisapi bergantian. Kulit payudara yang putih itu sudah memerah akibat
cupangan Taryo. Suara erangan sahut-menyahut memanaskan suasana.

Yessica terus menaik-turunkan tubuhnya dengan bersemangat, semakin lama makin


cepat dan mulutnya menceracau tak karuan.

“Oohh.. Aauuhh.. Aahh!” lolongnya dengan kepala mendongak ke langit bersamaan


dengan tubuhnya yang mengejang, didekapnya kepala Taryo erat-erat sehingga
wajahnya terbenam di belahan payudaranya. Momen indah ini terabadikan melalui
handycamku dan terus terang aku sendiri sudah terangsang berat dan ingin segera
bergabung, tapi sepertinya belum saatnya, nampaknya mereka berdua sedang getol-
getolnya menggarap Yessica sebagai barang baru daripada aku yang sudah sering
mereka kerjai.
Yessica ambruk di atas tubuh Pak Joko dengan penis masih tertancap. Pak Joko
mendekapnya dan mencumbunya mesra, lidah mereka berpaut dan saling menghisap.
Kini Taryo yang senjatanya sudah di reload meminta gilirannya. Pak Joko pun
menurunkan Yessica dari tubuhnya dan ke dalam mengambil minum. Kedua
pergelangan kaki Yessica dipegangi Taryo lalu dia bentangkan pahanya lebar-lebar.
Setelah menaikkan kedua betisnya ke bahu, Taryo menyentuhkan kepala penisnya ke
bibir vaginanya.

Walaupun vagina itu sudah basah, tapi karena penis Taryo termasuk besar, lebih
besar dari Pak Joko, Yessica meringis dan mengerang kesakitan saat liang
senggamanya yang masih rapat diterobos benda hitam itu, tubuhnya tegang sambil
meremasi tikar di bawahnya, mungkin dia belum terbiasa dengan penis seperti itu.
Taryo sendiri juga mengerang nikmat akibat himpitan dinding vaginanya

“Uuuhh.. Uhh.. Sempit banget sih, asoy!” erangnya ketika melakukan penetrasi.

Aku sebagai juru kamera sudah terlalu menghayati sampai tak sadar kalau tangan
kiriku menyelinap lewat bawah bajuku dan memijiti payudaraku sendiri, kuputar-
putar putingku yang sudah mengeras dari tadi. Taryo mulai menggerakkan penisnya
perlahan yang direspon Yessica dengan rintihannya. Pak Joko kembali dari dalam, dia
bersimpuh di samping mereka lalu meletakkan tangan Yessica pada penisnya. Dia
menikmati penisnya dipijat Yessica sambil meremas payudaranya.

Taryo menaikkan tempo permainannya, disodoknya Yessica sesekali digoyangnya ke


kiri dan kanan untuk variasi, tak ketinggalan tangannya meremasi pantatnya yang
montok. Yessica semakin menggeliat keenakan, desahannya pun semakin
mengekspresikan rasa nikmat bukan sakit. Pak Joko merundukkan badannya agar bisa
menyusu dari payudaranya, diemut-emut dan ditariknya puting itu dengan mulutnya.

Sekitar limabelas menit kemudian mereka berganti posisi karena Pak Joko juga sudah
mau mencoblos lagi. Kali ini tanpa melepas penisnya Taryo mengangkat tubuh
Yessica, dia sendiri membaringkan diri di tikar sehingga Yessica kini diatasnya.
Kemudian Pak Joko menyuruhnya agar mengangkat pinggulnya, Yessica lalu
mencondongkan badannya ke depan sehingga pantatnya menungging dan
payudaranya tepat di atas wajah Taryo.

“Bapak tusuk di pantat yah Neng, tahan yah kalo agak sakit” kata Pak Joko meminta
ijin.
“Jangan terlalu kasar yah Pak, saya takut nggak tahan” kata Yessica dengan suara
lemas.
“Engghh.. Pak!” erangnya saat Pak Joko memasukkan telunjuknya ke anusnya, lalu
dia masukkan juga jari tengahnya sambil diludahi dan digerak-gerakkan untuk
melicinkan jalan bagi penisnya.
Setelah merasa cukup, Pak Joko mulai memasukkan barangnya ke sana, kelihatannya
cukup susah sehingga dia harus pakai cara tarik ulur, keluarin satu senti masukkan
tiga senti sampai menancap cukup dalam dan setelah setengahnya lebih dengan
sedikit tenaga dia hujamkan hingga mentok.

“Akkhh.. Sakit..!!” erangannya berubah jadi jeritan ketika pantatnya dihujam seperti
itu.

Kedua penjaga villa ini bagaikan kuda liar menggarap kedua liang senggama
sepupuku, kedua tubuh hitam yang menghimpit tubuh putih mulus itu seperti sebuah
daging ham diantara dua roti hangus, mereka sudah bermandikan keringat dan
nampak sebentar lagi akan mencapai puncak. Aku sejak tadi sibuk berpindah sana-
sini untuk mencari sudut yang bagus.

Yessica mulai mengejang dan mengerang panjang menandai klimaksnya. Tapi kedua
penjaga villa itu tanpa peduli terus menggenjotnya hingga beberapa menit kemudian.
Mereka mencabut penisnya dan menelentangkan Yessica di tikar. Mereka cukup
mengerti permintaan Yessica agar tidak membuang di dalam karena sedang masa
subur, Pak Joko menumpahkan ke wajah dan mulutnya, sedangkan Taryo ke perut
dan dadanya. Meskipun masih lemas, Yessica tetap menggosokkan sperma itu ke
badannya. Ketiganya rebahan dan mengatur kembali nafasnya.

“Gimana Yes, puas nggak?” tanyaku.


“Aduh Ci.. Lemes banget, kayak nggak bisa bangun lagi rasanya deh!” jawabnya
lemas dengan sisa tenaganya.
“Gimana Bapak-Bapak, masih kuat nggak? Gua belum dapat nih!” kataku pada kedua
orang itu.
“Iya ntar Neng, harus isi tenaga dulu nih!” jawab Pak Joko.
“Ya sudah istirahat aja dulu, gua mau minum nih haus!” kataku meninggalkan
mereka dan menuju ke dalam.

Aku menuangkan air dingin dari kulkas dan meminumnya. Setelah menutup pintu
kulkas dan membalik badan tiba-tiba Taryo sudah di belakangku, kaget aku sampai
gelas di tanganku hampir jatuh.

“Duh.. Ngagetin aja lu Tar, dateng nggak kedengeran gitu kaya setan aja!” omelku,
“Ngapain? Mo minum?”

Tanpa berkata-kata dia mengambil gelas yang kusodorkan dan meminumnya. Aku
melihat tubuhnya yang telanjang, penisnya dalam posisi setengah tegang, pelirnya
menggantung di pangkal pahanya seperti kantung air. Setelah berbasa-basi sejenak
aku mendekati dan memeluknya, berpelukan mulut kami mulai saling memagut, lidah
bertemu lidah, saling jilat dan saling belit, kugenggam penisnya dan kupijati.
Elusannya mulai turun dari punggungku ke bongkahan pantatku yang lalu dia remasi.
Kemudian kuajak dia ke ruang tengah lalu kupersilakan dia duduk di sofa. Aku
berdiri di hadapannya dan melepas pakaianku satu persatu hingga tak menyisakan
apapun di badanku dengan gerakan erotis. Aku berhenti tepat di depannya yang
sedang duduk, nampak dia terbengong-bengong menyaksikan keindahan tubuhku,
tangannya merabai paha dan pantatku.

“Neng cukur jembut yah, jadi rapih deh hehehe..” komentarnya terhadap bulu
kemaluanku yang beberapa hari lalu kurapihkan pinggir-pinggirnya hingga bentuknya
memanjang.

Menanggapinya aku hanya tersenyum seraya mendekatkan kemaluanku sejengkal dan


sejajar dari wajahnya, seperti yang sudah kuduga, dia langsung melahapnya dengan
rakus.

“Eemmhh.. Yess!” desahku begitu lidahnya menyentuh vaginaku.

Kurenggangkan kedua pahaku agar lidahnya bisa menjelajah lebih luas. Sapuan
lidahnya begitu mantap menyusuri celah-celah kenikmatan pada kemaluanku. Aku
mendesah lebih panjang saat lidahnya bertemu klitorisku yang sensitif. Mulutnya
kadang mengisap dan kadang meniupkan angin sehingga menimbulkan sensasi luar
biasa. Sementara tangannya terus meremas pantatku dan sesekali mencucuk-cucuk
duburku. Aku mengerang sambil meremas rambutnya sebagai respon permainan
lidahnya yang liar. Puas menjilati vaginaku, dia menyuruhku duduk menyamping di
pangkuannya. Dengan liarnya dia langsung mencaplok payudaraku, putingnya
dikulum dan dijilat, tangannya menyusup diantara pahaku mengarah ke vagina.
Selangkanganku terasa semakin banjir saja karena jarinya mengorek-ngorek lubang
vaginaku.

Selain payudaraku, ketiakku yang bersih pun tak luput dari jilatannya sehingga
menimbulkan sensasi geli, terkadang dihirupnya ketiakku yang beraroma parfum
bercampur keringatku. Tanganku merambat ke bawah mencari penisnya, benda itu
kini telah kembali mengeras seperti batu. Kuelusi sambil menikmati rangsangan-
rangsangan yang diberikan padaku. Jari-jarinya berlumuran cairan bening dari
vaginaku begitu dia keluarkan. Disodorkannya jarinya ke mulutku yang langsung
kujilati dan kukulum, terasa sekali aroma dan rasa cairan yang sudah akrab denganku.

Tubuhku ditelentangkan di meja ruang tamu dari batu granit hitam itu setelah
sebelumnya dia singkirkan benda-benda diatasnya. Nafasku makin memburu ketika
penis Taryo menyetuh bibir vaginaku.

“Cepet Tar, masukin yang lu dong, nggak tahan lagi nih!” pintaku sambil membuka
pahaku lebih lebar seolah menantangnya.
Karena mejanya pendek, Taryo harus menekuk lututnya setengah berjinjit untuk
menusukkan penisnya. Aku menjerit kecil merasa perih akibat cara memasukkannya
yang sedikit kasar. Selanjutnya kami larut dalam birahi, aku mengerang sejadi-
jadinya sambil menggelengkan kepala atau menggigit jariku. Kini dia berdiri tegak
memegangi kedua pergelangan kakiku, sehingga pantatku terangkat dari meja.
Payudaraku terguncang-guncang mengikuti irama goyangannya yang kasar.

Dalam waktu duapuluh menit saja aku sudah dibuatnya orgasme panjang sementara
dia sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar.

Sekarang dia merubah posisi dengan menurunkan setengah tubuhku dari meja,
dibuatnya aku nungging dengan kedua lututku bertumpu di lantai, tetapi badan atasku
masih di atas meja sehingga kedua payudaraku tertekan di sana. Dia kembali
menusukku, tapi kali ini dari belakang, posisi seperti ini membuat sodokannya terasa
makin deras saja.

Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan kami beradu yaitu
bunyi plok.. plok.. tak beraturan yang bercampur baur dengan erangan kami. Tak
lama kemudian aku kembali orgasme, tubuhku lemas sekali setelah sebelumnya
mengejang hebat, keringatku sudah menetes-netes di meja.

Namun sepertinya Taryo masih belum selesai, nampak dari penisnya yang masih
tegang. Aku cuma diangkat dan dibaringkan di sofa, lumayan aku bisa beristirahat
sebentar karena dia sendiri katanya kecapekan tapi masih belum keluar. Kami
menghimpun kembali tenaga yang tercerai-berai.

“Yessica sama Pak Joko mana Tar? Kok nggak masuk-masuk?” tanyaku pelan.
“Nggak tahu juga Neng, mungkin sudah mulai ngentot lagi di luar, kita lihat aja yuk!”
“Oo… kalo gitu ntar aja deh, masih lemas”

Namun sebagai jawabannya Taryo malah menggendong tubuhku dan membawaku ke


kebun. Di sana Yessica maupun Pak Joko sudah tidak ada lagi yang ada hanya baju
mereka yang berceceran di atas tikar. Sayup-sayup terdengar suara desahan tak jauh
dari sini, tepatnya dari kolam renang.

Dengan menggendongku, Taryo berbelok ke kanan menuju ke kolam. Di sana kami


melihat di kolam daerah dangkal Pak Joko sedang asyik menggenjot sepupuku dari
belakang dengan doggy style. Yessica mendesah-desah dan sesekali menjerit kecil
menerima sodokan Pak Joko, rambut panjangnya kini basah oleh air dan terurai
karena ikat rambutnya sudah dilepas.

“Neng, kita nyebur juga yuk, biar seger” ajak Taryo.


Aku menganggukkan kepala menyetujuinya, diapun melangkah turun ke air, di sana
tubuhku dia turunkan hingga terendam air. Hmm.. Rasanya dingin dan menyegarkan,
sepertinya keletihanku agak terobati oleh air.

“Masih kuat juga Pak Joko, sejak kapan mulai lagi nih?” sapa Taryo.
“Kuat dong, buat neng-neng cantik ini kapan lagi,” sahut Pak Joko di tengah
aktivitasnya.

Air kolam merendamku hingga dada ke atas, aku sandaran pada dinding kolam
mengendurkan otot-ototku. Taryo kembali menghampiri dan menghimpit tubuhku.
Diciumnya aku dibibir sejenak lalu ciumannya merambat ke telinga dan leher
sehingga aku menggeliat geli. Penisnya kugenggam lalu kukocok di dalam air. Dia
angkat satu kakiku dan mendekatkan penisnya ke vaginaku. Dengan dibantu tanganku
dan dorongan badannya, masuklah penis itu ke vaginaku.

Air semakin beriak ketika dia memulai genjotannya yang berangsur-angsur tambah
kencang. Kakiku yang satunya dia angkat sehingga tubuhku melayang di air dengan
bersandar pada tepi kolam. Aku menengadahkan wajah menatap langit yang sudah
mulai senja dan mengeluarkan desahan nikmat dari mulutku. Mulutnya melumat
payudaraku dan mengisapnya dengan gemas membuatku semakin tak karuan.

Aku menoleh ke sebelah untuk melihat Yessica yang berada sekitar lima meter dari
kami, sekarang mereka sudah berganti posisi, Yessica duduk di atas pangkuan Pak
Joko menggoyang-goyangkan tubuhnya di atas penis Pak Joko yang disaat bersamaan
sedang mengenyot payudaranya. Tangan kiri Pak Joko bergerilya mengelusi
punggung dan pantatnya. Taryo memang sungguh perkasa, padahal kan sebelumnya
dia sudah menggarap Yessica sampai orgasme berkali-kali. Aku sendiri sudah mulai
kecapekan dan setengah sadar karena sodokan-sodokan brutalnya. Gesekan-gesekan
penisnya dengan dinding vaginaku seperti menimbulkan getaran-getaran listrik yang
membuatku gila. Mataku mebeliak-beliak keenakan hingga akhirnya aku klimaks lagi
bersamaan dengan Taryo. Spermanya yang hangat mengalir mengisi rahimku.

“Neng.. Neng keluar nih saya!” erangnya panjang sambil meringis.

Rasanya sungguh lemas, badan seperti mati rasa, mataku juga makin berat. Mungkin
karena kecapaian di perjalanan atau Taryo yang terlalu bersemangat, akupun tak
sadarkan diri, padahal jarang sekali aku pingsan setelah bersenggama. Aku masih
sempat merasakan diriku digendong Taryo lalu dibaringkan di pinggir kolam, juga
menyaksikan Yessica sedang mengoral Pak Joko yang berdiri berkacak pinggang,
nampaknya mereka juga sudah mau selesai, tapi entahlah karena aku keburu tidak
sadar.

Aku terbangun ketika langit sudah gelap di kamarku, masih telanjang dan terbaring di
ranjang. Yessica lah yang membangunkanku dengan mengguncangkan tubuhku. Dia
juga masih telanjang, cuma ada kami berdua di kamar ini. Aku mengucek-ngucek
mataku sambil menggeliat.

“Jam berapa Yes?” tanyaku dengan pelan.


“Setengah tujuh, mandi yuk, gua juga baru bangun!” ajaknya.
“Entar ah, masih lemes sepuluh menit lagi deh!” jawabku dengan malas dan menarik
selimut menutup tubuh bugilku.
“Ci, handycamnya mana? Lihat dong hasilnya, bagus nggak?”
“Mm.. Di ruang tengah kali, terakhir gua taro sana, coba lihat aja”
“O iya, Yes.. Sekalian buatin air hangat yah, tinggal buka krannya aja kok, itu
otomatis!” pintaku sebelum dia keluar dari kamar.

Dia kembali tak lama kemudian dengan membawa handycam dan segelas air putih.
Kugeser tubuhku duduk bersandar ke ujung ranjang. Dia minta aku menyalakan alat
itu karena tidak mengerti. Kami menyaksikan hasil rekamanku tadi melalui layar
kecil pada alat itu.

“Hot juga lu Yes mainnya, bakat jadi bintang bokep nih!” godaku melihat
keliarannya, “By the way, gimana perasaan lu sesudah ngeliat ini?”
“Lega Ci, gua akhirnya bisa juga ngebales cowok brengsek itu, biar tahu rasa dia
ceweknya main sama orang-orang kaya gini, putus ya putus, gua dah nggak peduli
lagi kok” katanya berapi-api.
“Sudah dong jangan nafsu gitu Yes, serem ah liatnya!” kataku sambil mengelus-elus
punggungnya menenangkan.
“Eh.. Gimana airnya, bisa tumpah nih!” kataku mendadak baru ingat limabelas menit
kemudian gara-gara asyik ngobrol sambil menonton rekaman itu.

Kami buru-buru ke kamar mandi dengan berlari kecil dan benar saja airnya sudah
meluap tapi sepertinya belum lama karena lantainya belum terlalu banjir. Terpaksa
harus kubuang sedikit airnya, lalu kutaburi buble bath dan mengocoknya hingga
berbusa. Kusuruh Yessica agar membawa saja handycamnya ke sini agar bisa nonton
sambil berendam. Hhmm.. Segarnya berendam di air hangat berbusa itu, sepertinya
segala beban seharian hilang sudah oleh kesegarannya.

Di bathtub kami saling menggosok punggung kami sambil menonton handycam yang
diletakkan di tepi bak yang agak lebar, aku juga membantu Yessica mengkramas
rambutnya yang panjang itu. Setelah dua puluh menitan kamipun menyelesaikan
mandi kami, kuguyur badanku dengan air membersihkan busa-busa yang menempel
lalu mengelap badan dengan handuk. Yessica ke kamar dahulu karena aku mau buang
air kecil dulu. Aku keluar dari kamar mandi sambil mengikat tali pinggang
kimonoku, di ruang tengah aku berpapasan dengan Pak Joko yang juga baru masuk
dari pintu yang menuju kolam.
“Eh Bapak, Taryo mana Pak, kok nggak keliatan?” sapaku.
“Oo.. Tadi katanya mau pulang dulu ke rumahnya, ndak tahu deh ngapain,”
jawabnya, “Tapi nanti katanya mau ke sini lagi sekalian bawain makanan”

Aku lalu meninggalkannya dan masuk ke kamarku, di sana Yessica yang masih
memakai gulungan handuk di kepalanya sedang mengoleskan body lotion pada
pahanya. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi, Taryo datang membawa empat
bungkus nasi uduk, dia bilang tadi dia menengok istri dan orang tuanya dulu di desa
tak jauh dari sini. Kami makan di meja makan, tidak terlalu enak sih, tapi lumayan
lah buat sekedar ganjal perut.

Di tengah makan, terdengarlah suara dering HP dari kamarku.

“HP lu tuh Yes, sana gih terima dulu!” kataku padanya.

Yessica bergegas ke kamar meninggalkan makannya yang belum habis sementara


kami bertiga meneruskan makan. Taryo selesai paling awal, saat itu Yessica masih
belum kembali juga, lama juga neleponnya pikirku.

“Saya panggilin Neng Yessi dulu yah!” kata Taryo setelah meminum airnya seraya
melangkah ke kamarku.

Pak Joko sudah selesai makan, sedangkan aku tidak habis karena nasinya
kebanyakan, tak enak pula jadi sisanya kubuang. Kami berdua membereskan sendok-
garpu dan gelas ke bak cucian, serta membuang kertas pembungkus ke tempatnya.

“Yes, ini makannya habisin dulu dong, dingin nanti!” teriakku padanya, “Wah
jangan-jangan si Taryo dah mulai lagi tuh, habis belum keluar-keluar sih”

Kami berdua pun segera ke kamarku dan benar juga apa kataku tadi. Taryo sudah
telanjang, duduk selonjoran di ranjang dan mendekap Yessica yang duduk
membelakanginya bersandar pada tubuhnya. Kimono putih bermotif bunga-bunga
kuningnya tersingkap kemana-mana, payudara kirinya yang terbuka dipencet-pencet
dan dimainkan putingnya oleh Taryo. Pahanya terbuka lebar dan dipangkalnya tangan
Taryo bermain-main diantara kerimbunan bulunya, mengelusi dan mengocok dengan
jarinya.

Tak ketinggalan bahu kirinya yang terbuka dicupangi olehnya. Yessica hanya
mendesah dengan ekspresi wajah menunjukkan kepasrahan dan rasa nikmat.

Pak Joko yang terangsang sudah mulai grepe-grepe pantatku dan mulai menyingkap
bagian bawah kimonoku. Namun kutepis tangannya.
“Ntar dong Pak, baru juga makan, masih penuh nih perutnya, nggak enak”
“Ya sudah nggak apa-apa pemanasan aja dulu neng, boleh ya” jawabnya sambil
membuka bajunya sendiri.

Dia menyuruhku jongkok di depan penis hitamnya yang setengah ereksi. Akupun
menggenggam penis itu dan mulai memainkan lidahku, kuawali dengan menjilati
hingga basah kepala penisnya, lalu menciumi bagian batangnya hingga pelirnya.
Kantong bola itu kuemut disertai mengocok batangnya dengan tanganku.

Perlahan tapi pasti benda itu ereksi penuh karena teknik oralku. Desahan Yessica
tidak terdengar lagi, kulirikan mataku melihatnya, ternyata, keduanya sedang asyik
berfrech-kiss. Posisi mereka tidak berubah, Yessica hanya menengokkan kepalanya
ke samping saja agar bisa saling memagut bibir dengan Taryo.

Pak Joko menikmati sekali permainan lidahku, dia terus merem-melek dan mendesah
tak henti-hentinya saat penisnya kukulum dan kuhisap-hisap. Lama juga aku
mengkaraokenya, sampai mulutku pegal, akhirnya dia suruh aku berhenti agar tidak
cepat-cepat keluar. Saat itu Taryo dan Yessica sudah ber-posisi 69 dengan pria di
atas. Yessica masih mengenakan kimononya yang sudah terbuka sana-sini
memainkan penis Taryo yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Taryo
sibuk melumat vagina Yessica, klitorisnya dijilati sehingga tubuh Yessica menegang
kenikmatan. Kulihat paha mulusnya menegang dan menjepit kepala Taryo.

Setelah berdiri Pak Joko memagut bibirku yang kubalas dengan tak kalah hot, aku
memainkan lidahku sambil tanganku memijat penisnya. Tangannya meraih tali
pinggangku dan menariknya lepas hingga kimonoku terbuka. Sambil terus berciuman
tangannya menggeser kain yang menyangga pada kedua bahuku maka melorotlah
kimono itu, ditubuhku pun sudah tidak menempel apapun lagi.

Aku melepas ciuman untuk mengajaknya ke ranjang agar lebih nyaman. Di sebelah
Yessica dan Taryo yang masih ber-69 kutelungkupkan tubuh telanjangku dan
menaruh kepalaku di atas kedua lengan terlipat seperti posisi mau dipijat, dari sini
dapat kulihat jelas ekspresi wajah Yessica yang meringis menikmati vaginanya
dilumat Taryo, sementara dia memainkan penis yang menggantung di atas wajahnya.
Pak Joko menaikiku lalu mencium juga mengelusi punggungku, aku mendesah
merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku,
disapukannya lidahnya pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit
sehingga aku menjerit kecil.

Mulutnya turun ke bawah lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Betis kananku
dia tekuk, lalu dia emuti jari-jari kakiku. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha
kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-
jarinya menyentuh vaginaku, dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok
klitorisku. Rambutku dia sibakkan dan aku merasakan hembusan nafasnya terasa
dekat wajahku. Leher dan tengukku digelikitik pakai lidahnya, juga telingaku, aku
tertawa-tawa kecil sambil mendesah dibuatnya. Aku suka rangsangan dengan sensasi
geli seperti ini.

Sementara di sebelah kami semakin seru karena Taryo sudah menindih Yessica dan
memacu tubuhnya dengan cepat. Yessica menggelinjang dan mengerang setiap kali
Taryo menyentakkan pinggulnya naik-turun, tangannya kadang meremasi sprei dan
kadang memeluk erat si Taryo. Pak Joko mengangkat pantatku ke atas, kutahan
dengan lututku dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atasku.
Sesaat kemudian aku merasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku.

Seperti biasa aku meringis dengan mata terpejam menghayati moment-moment


penetrasi itu. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman
penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan terutama waktu dia
memutar-mutar penisnya di vaginaku, rasanya seperti sedang dibor saja, aku tak rela
kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makannya aku selalu mendesah:

“Terus.. Terus.. Jangan pernah stop!”

Yessica dan Taryo berguling ke samping sehingga kini Yessica yang berada di atas
dan lebih memegang kendali. Dengan liarnya dia menggoyangkan tubuhnya di atas
Taryo, diraihnya tangan Taryo untuk meremas payudaranya. Wow.. Kali ini dia
bahkan lebih binal dan agresif dari tadi siang, di tengah erangannya dia memaki-maki
pacarnya yang menyakiti hatinya.

“Randy anjing.. Ahh.. Lu kira aku uuhh.. nggak bisa.. Nyeleweng apa! Engghh..
Terus Bang.. Entot gua buat ngebales.. Aahh.. Cowok sialan itu!!”

Kocokan Pak Joko padaku bertambah cepat dan kasar, otomatis eranganku pun
tambah tak karuan, sesekali bahkan aku menjerit kalau sodokannya keras. Karena
sudah tak bisa bertahan lagi, aku mengalami orgasme dahsyat, sementara Pak Joko
dia tak mempedulikan kelelahanku, justru semakin gencar menyodokku. Tanpa
melepas penisnya dia baringkan tubuhku menyamping dan menaikkan kaki kiriku ke
pundaknya, dengan begini penisnya menancap lebih dalam ke vaginaku.
Selangakanku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima
tusukan.

Dalam posisi ini aku bisa menyaksikan Taryo dan Yessica tanpa menoleh.
Payudaranya yang berayun-ayun akibat goyangan badannya mendapat kuluman
Taryo, beberapa kali kulumannya lepas karena Yessica menggoyangkan tubuhnya
dengan kencang, namun dengan sabar Taryo menangkapnya dengan mulut dan
mengulumnya lagi.
“Yahh.. Entot aku Bang.. Sedot susuku sampai puas.. Ahh.. Perlakukan aku
sesukamu.. Biar bajingan itu tahu rasa!!” erangnya terengah-engah melampiaskan
dendamnya

Sambil terus menggenjot, Pak Joko menyorongkan kepalanya ke payudaraku,


putingnya ditangkap dengan mulut kemudian digigit dan ditarik-tarik, aku merintih
dan meringis karena nyeri, namun juga merasa nikmat. Sementara situasi di sebelah
nampaknya makin seru, kalau tadi siang Yessica didominasi oleh mereka berdua, kini
sebaliknya Yessicalah yang lebih mendominasi permainan dan justru Taryo dibuat
ngos-ngosan oleh keliarannya. Setelah menggelinjang dan mendesah ketika mencapai
klimaks, dia mencabut penis itu dari vaginanya, lalu menggeser dirinya ke bawah dan
menjilati serta mengulum penis itu seperti orang kelaparan. Taryo sampai merem-
melek dan mendesah-desah dibuatnya.

Dalam jangka waktu lima menitan cairan putih kentalnya sudah menyemprot
bagaikan kilang minyak, bercipratan membasahi wajah Yessica, Yessica terus
mengocok dengan tangannya, mulutnya dibuka membiarkan cipratan itu masuk ke
mulutnya, rambutnya yang panjang itu juga terkena cipratan sperma. Setelah
semprotannya reda, dia menjilati sisanya yang masih menetes, kepala penis Taryo
yang seperti jamur hitam itu disedot-sedot. Sesudahnya dia mengelap cipratan di
wajahnya dengan jarinya, dihisapnya jari-jarinya yang belepotan sperma itu, sisanya
dibalurkan merata di wajahnya. Kemudian dia rebahan di atas tubuh Taryo, kepalanya
bersandar di dadanya, keduanya berpelukan seperti sepasang kekasih.

Aku merasakan sebentar lagi giliran aku klimaks, dinding vaginaku makin berdenyut.

“Ayoo.. Pak, terus.. Citra sudah mau..!” desahku dengan nafas tersenggal-senggal.

Tak lama kemudian aku merasakan tubuhku makin terbakar, aku menggeliat sambil
memeluk guling erat-erat. Desahan panjang menandakan orgasmeku bersamaan
dengan mengucurnya cairan cintaku membasahi selangkanganku. Dia melepas
penisnya dan menurunkan kakiku, spermanya dikeluarkan di dadaku, setelah itu dia
ratakan cairan kental itu ke seluruh payudaraku hingga basah mengkilap.

Belum habis rasa lelahku, dia sudah tempelkan kepala penisnya di bibirku, menyuruh
membersihkannya. Dengan sisa-sisa tenaga aku genggam benda itu dan menyapukan
lidahku dengan lemas, kujilat bersih dan sisa-sisa spermanya kutelan saja. Akhirnya
kami pun terbaring bersebelahan, keringatku bercucuran dengan deras, dadaku naik-
turun dengan cepat karena ngos-ngosan.

“Ck.. Ck.. Ck.. What a naughty girl you are, Ci!” terdengar Yessica berkata dari
sebelahku.
Aku menoleh ke arahnya yang masih berbaring di tubuh Taryo, dan membalasnya
tersenyum. Kami masih sempat ngobrol-ngobrol beberapa menit sebelum satu-persatu
tertidur kecapekan.

Pagi jam sembilan aku terbangun dan menemukan diriku telanjang tertutup selimut,
tidak ada siapapun di kamar semua sudah pergi. Jendela sudah terbuka sehingga sinar
matahari menerangi kamar ini, dari luar terdengar suara kecipak air. Aku turun dari
ranjang dan melihat ke luar jendela, di kolam Yessica sedang berenang sendirian,
tanpa sehelai benangpun.

“Yes.. Ooii!” sapaku sedikit teriak sambil melambai, “Mana tuh dua orang itu!?”

Dia menoleh ke asal suara dan balas melambai, “Nggak tahu tuh, kalau Pak Joko tadi
lagi nyapu di depan, sini Ci, segar loh renang pagi gini!”

Aku keluar dari kamar dan menyusulnya ke kolam. Baru turun dari tangga, aku
hampir bertabrakan dengan Pak Joko yang muncul di sebelah dengan memegang
sapu, dia baru masuk ke sini setelah selesai membersihkan halaman depan.

“Aduh, Bapak, ngagetin aja.. Hampir deh!” kataku sambil mengelus dada, “O ya,
Taryo hari ini nggak bisa ke sini ya katanya?”
“Haduh.. Bapak juga kaget Neng nongolnya mendadak gini.. Taryo ya, tadi pagi dia
pulang ke kampungnya lagi, tapi memang dia bilang hari ini nggak bisa ke sini
soalnya entar siang majikannya datang!”

Kebetulan dia ingin minta ijin padaku untuk menengok cucunya yang baru sembuh di
desa, tapi sesudah makan siang dia berjanji akan kembali. Setelah dia pergi tinggallah
kami dua gadis di villa ini.

Hampir sejam lamanya kami berenang dan mengobrol di kolam. Setelah mandi bersih
aku memasak dua bungkus mie Korea untuk sarapan. Habis makan aku mengajaknya
jalan-jalan mengelilingi kompleks sekalian menikmati suasana pegunungan yang
tenang dan sejuk. Sepanjang jalan, hampir semua orang yang kami temui (terutama
pria) memperhatikan kami, bahkan beberapa sempat menggoda dengan kata-kata.
Tidak heran sih, karena aku memakai pakaian kemarin yang seksi itu, sedangkan
Yessica memakai rok mini warna hitam dengan atasan kaos u can see kuning yang
ketat sehingga mencetak bentuk badan dan payudaranya yang menantang. Untung
hari ini tidak banyak angin, kalau tidak rok yang bahannya lembut itu sudah tertiup
angin kemana-mana.

Kami sih berlagak cuek aja dengan tatapan-tatapan nakal mereka. Siapa sangka justru
penjaga villa yang biasa kurang dianggap malah lebih beruntung dibanding om-om
dan pemuda kaya yang kami temui. Ketika pulang kami melihat di villa sebelah
sudah terparkir dua buah mobil dan beberapa anak-anak asyik bermain di balik pagar.
Majikan Taryo dan familinya sudah datang, berarti dia tidak bisa menemani kami lagi
karena sibuk melayani mereka.

Di rumah, Yessica meminta kalau nanti ML lagi agar kembali disyuting, dia juga
menyayangkan kenapa aku tidak mensyutingnya semalam, padahal menurut dia
semalam itu sangat hot adegannya. Iya juga sih pikirku, tapi kan waktu itu nafsu
sudah diubun-ubun sampai lupa mau mensyuting juga.

Jam tigaan, setelah Pak Joko kembali, Yessica memintaku mensyutingnya lagi. Kali
ini settingnya di ruang tengah tempat Taryo menggarapku kemarin. Yessica dan Pak
Joko duduk bersebelahan di sofa, begitu kuberi aba-aba, mereka berpelukan, Pak
Joko melumat bibir Yessica dan lidah mereka mulai beradu. Sambil berciuman
tangan Pak Joko meraba-raba paha mulusnya semakin ke atas menyingkap roknya
yang pendek, Yessica pun tidak kalah aktif, dia meremasi selangkangan Pak Joko dari
luar celananya. Kemudian Pak Joko menjatuhkan tubuhnya ke depan menindih
Yessica. Mereka mulai saling melucuti pakaian pasangannya sampai bugil.

Yessica dua kali orgasme di atas sofa, selanjutnya kami pindah ke kamar mandi,
mereka bercinta di bawah siraman shower, Yessica menyandarkan tangannya di
tembok menerima sodokan Pak Joko dari belakangnya. Sambil menggenjot, Pak Joko
menyuruhku mengambil sabun cair dekat bathtub, dia menuangkannya ke tangannya
lalu membalurinya ke tubuh Yessica. Tangannya yang kasar itu menggosok seluruh
tubuhnya, paha, pantat, perut, naik ke payudaranya, lama-lama tubuh sabun cair itu
semakin berbusa di tubuh Yessica.

Usai menyabuni Yessica, dia membalik tubuhnya menghadapnya. Kaki kanannya


diangkat sepinggang, penisnya diarahkan memasuki lubang senggamanya. Dengan
gencarnya dia mengocok sepupuku dalam posisi berdiri. Tak lama kemudian Yessica
menengadah dan mengerang panjang mengalahkan suara shower.

“Oohh.. Keluar Pak!!” sambil mempererat pelukannya.

Yessica berlutut dan menerima semprotan sperma Pak Joko di wajahnya. Adegan di
kamar mandi ini menyudahi persenggamaan siang ini. Malam harinya kami main
threesome di kamarku. Pak Joko berbaring sambil menikmati vagina Yessica yang
naik ke wajahnya, sementara aku sibuk melayani penisnya dengan mulut dan lidahku.
Semakin kukulum semakin keras dan berdenyut benda itu, kulakukan itu sepuluh
menit lamanya. Sayang sekali kalau cepat-cepat orgasme sedangkan aku belum
mencapai kepuasanku. Akupun naik ke selangakangannya dan memasukkan benda itu
ke vaginaku.

“Uuugghh..!” desahku saat benda itu menusuk ke dalam.


Di sela-sela kegiatan menikmati vagina sepupuku, dia juga mendesah merasakan
jepitan vaginaku terhadap penisnya. Liarnya goyanganku membuatnya makin liar
memperlakukan Yessica, jilatan-jilatannya nampak lebih seru sampai suara
menyeruput cairannya pun terdengar. Tangannya dijulurkan ke atas meraih kedua
payudaranya, meremasnya sambil terus menyedot vaginanya.

“Ahh.. Ohh.. Pak!” desah Yessica sambil menggeliat-geliat.

Setelah Yessica mencapai orgasme, Pak Joko mengajak ganti posisi. Kali ini aku
nungging di atas Yessica dengan gaya 69, kembali Pak Joko menusukku dari
belakang, sesekali kurasakan lidah Yessica pada vaginaku, di bawah sana dia sedang
menjilati vagina dan penis Pak Joko yang sedang keluar masuk. Sebagai responnya,
aku juga menjilati vaginanya yang basah oleh cairan orgasme dan ludah. Aku
menjilati bibir vaginanya hingga klitorisnya yang merah itu. Hhmm.. Dia memakai
pembersih kewanitaan dengan merek yang sama seperti punyaku, aku sudah hafal
dengan aromanya.

Tangan Pak Joko mulai merayap di payudaraku, memilin putingnya dan memijatinya.
Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi sesuatu yang mau meledak dalam diriku, aku
mengerang panjang saat mencapai puncak. Genjotannya masih berlangsung beberapa
menit ke depan sehingga memberiku kenikmatan lebih lama. Selesai membawaku ke
puncak, kini dia mengincar Yessica. Dia rebahan lalu menyuruh Yessica menaiki
penisnya yang masih mengacung tegak, benda itu basah mengkilap berlumuran
lendirku. Dia mengisi vaginanya dengan penis itu diiringi desahan, setelah berhasil
menancapkannya tanpa buang waktu lagi dia menggoyangkan tubuhnya. Pak Joko
sendiri turun menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas merespon goyangan
badannya.

Birahiku mulai naik lagi, maka aku menaiki wajah Pak Joko dalam posisi berhadapan
dengan Yessica. Tanpa diminta lagi, lidahnya sudah beraksi menyusuri organ
kewanitaanku, jilatannya diselingi kocokan jari tangan yang bergerak liar di dalam
vaginaku, desahanku pun semakin menjadi-jadi. Kedua telapak tanganku saling
genggam dengan Yessica. Rasa nikmatku kulampiaskan dengan memagut bibir
sepupuku, lidah bertemu lidah lalu saling jilat. Lidah Pak Joko bukan saja menjilati
vaginaku, duburku pun tidak luput darinya.

“Yeeaah, gitu Pak.. Terus.. Yahh.. Jilati aku sepuasmu!” demikian desahku
menghayati setiap jilatannya.

Orgasmeku hanya lebih beberapa detik dari Yessica, tubuh kami menggelinjang di
atas tubuh Pak Joko diiringi erangan yang sahut-menyahut. Cairan yang meleleh dari
vaginaku dilahapnya dengan rakus sekali sampai terdengar suara menyeruputnya.
Yessica mencabut penis itu dari vaginanya kemudian rebahan di antara paha Pak Joko
mengoral penisnya. Aku juga merundukkan badanku ke depan mendekati penis yang
masih tegak itu. Berdua kami melayani Adik kecilnya dengan kocokan, jilatan, dan
hisapan selama lima menit hingga isinya muncrat ke wajah kami. Kami masih terus
mengocok-ngocoknya hingga tetes terakhir, pemiliknya sampai berkelejotan dan
melenguh nikmat akibat perbuatan kami. Maninya sudah tidak sebanyak kemarin
sehingga kami sedikit berebutan untuk mendapatkannya.

Kami terkulai lemas, tubuh kami sudah berkeringat, nafas pun sudah putus-putus.

“Hebat juga ya Bapak ini, bisa tahan segitu lama sama dua cewek” pujiku.
“Ahh.. Neng ini, sebenernya sih berkat jamu tadi sore hehehe!” katanya dengan
tersipu malu.
“Oo.. Pantes tadi nafasnya bau gitu, tapi hebat juga ya jamunya Pak” sahut Yessica
sambil merapat dan menyandarkan kepalanya pada dadanya.

Sungguh seperti kaisar saja Pak Joko malam itu, tidur diapit dua gadis muda dan
cantik, suatu hal yang membuat banyak cowok iri tentunya. Dia juga berterima kasih
pada kami karena telah membuatnya merasa muda kembali di usianya. Besoknya jam
sebelas kami sudah berangkat kembali ke Jakarta. Tidak lupa kami memberi ciuman
perpisahan padanya, Yessica pipi kiri dan aku pipi kanan, lalu dibalasnya dengan
menepuk pantat kami bersamaan.

Hari itu juga, sore harinya kami membawa rekaman handycam itu ke Verna untuk
ditransfer dalam bentuk vcd (komputer Verna memang paling lengkap walau
sebenarnya milik adiknya yang sedang kuliah di luar negeri). Cd masternya dibawa
Yessica sebagai koleksi pribadinya, copy-nya untuk kami, tentunya hanya untuk
kalangan kita-kita saja. Dia mengabariku seminggu setelah kepulangannya bahwa dia
telah memutuskan hubungan dengan pacarnya setelah sebelumnya dia mengajak
cowoknya menonton bersama rekaman di villa itu sebagai pembalasannya. Kata-kata
terakhir pada cowoknya sebelum berpisah adalah…

“Kalau lu bisa main gila, gua juga bisa bikin yang lebih gila!”

Sekarang ini dia sudah mempunyai pacar baru yang lebih muda empat tahun darinya,
sifatnya juga lembek, biar lebih gampang dikendalikan katanya. Duh.. Dasar Yessica,
jadi woman rule nih ceritanya. O, ya met skripsi juga Yes, good luck and success.

Baca cerita trus konak? langsung lihat videonya aja bro…klik disini untuk menonton
video bokep pilihan kami

Permohonan Seorang Teman dan Suaminya


25
Posted by admin on May 5, 2009 – 5:40 pm
Filed under gangbang
Aku punya teman SMU dulu. Hubungan kami sangat baik, karena kami sama-sama
aktif di OSIS. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Australia, sedangkan aku,
karena keadaan ekonomi yang pas-pasan, puas menamatkan pendidikan di salah satu
perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah.

Setelah lulus, aku bekerja di Jakarta. Entah suatu kebetulan atau bukan, saat bekerja
di salah satu perusahaan swasta, aku bertemu kembali dengan Anna, yang bekerja di
perusahaan rekanan perusahaan kami. Kami bertemu waktu ada penandatanganan
kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan tempatku bekerja. Kami pun
kembali akrab setelah tidak bertemu sepuluh tahun. Ia masih tetap cantik seperti dulu.
Dari ceritanya, aku dapatkan informasi bahwa ia memperoleh master di bidang
marketing. Selain itu, sama sepertiku, ia telah tiga tahun menikah, suaminya orang
Jawa Timur, tetapi mereka belum dikaruniai anak; sedangkan aku ketika itu masih
lajang. Usai kerja, kami suka pulang bareng, sebab rumahnya searah denganku.
Kadang-kadang jika ia dijemput suaminya, aku ikut numpang mobil mereka.

Aku tak pernah terpikir kalau temanku Anna memiliki suatu rahasia yang suaminya
sendiri pun tak pernah tahu. Suatu ketika, kuingat waktu itu hari kamis, aku ikut
pulang di mobil mereka, kudengar Anna berkata pada suaminya,

”Pa, lusa aku ulang tahun yang ke-28, kan? Aku akan minta hadiah istimewa darimu.
Boleh kan?”

Sambil menyetir, suaminya menjawab, ”Ok, hadiah apa rupanya yang kau minta,
sayang?”

”Hmmm, akan kusebutkan nanti malam waktu kita…” sambil tersenyum dan
mengerlingkan mata penuh arti.

Suaminya bergumam, ”Beginilah istriku. Kalau ada maunya, harus dituruti. Kalau
tidak kesampaian, bisa pecah perang Irak.” Kemudian tak berapa lama, ia
melanjutkan, ”Gimana Gus, waktu SMU dulu, apa gitu juga gayanya?”
Kujawab, ”Yah, begitulah dia. Waktu jadi aku ketua dan dia sekretaris OSIS, dia
terus yang berkuasa, walaupun program kerja aku yang nyusun.”

”Idiiiih, jahat lu Gus, buka kartu!” teriak Anna sambil mencubit lenganku pelan.

Suaminya dan aku tertawa. Sambil kuraba bekas cubitannya yang agak pedas, tetapi
memiliki nuansa romantis, kubayangkan betapa bahagianya suaminya beristrikan
Anna yang cantik, pintar dan pandai bergaul.
Aku kemudian turun di jalan depan kompleks perumahan mereka dan melanjutkan
naik angkot ke arah rumahku yang letaknya tinggal 3 km lagi.
Aku sudah lupa akan percakapan di mobil mereka itu, ketika malam minggu, aku
cuma duduk-duduk di rumah sambil menonton acara televisi yang tidak menarik,
tiba-tiba kudengar dering telepon.

”Gus, kau ada acara? Anna dan aku sedang merayakan ulang tahunnya. Datanglah ke
rumah kami. Dia sudah marah-marah, sebab baru tadi aku bilang mau undang kau
makan bersama kami. Ok, jangan lama-lama ya?” suara Dicky, suami Anna
terdengar.
”Wah, kebetulan Mas, aku sedang bete nich di rumah. Aku datang sekitar 20 menit
lagi ya?” jawabku.
”Baiklah, kami tunggu” katanya sambil meletakkan gagang telepon.

Aku bersiap-siap mengenakan baju hem yang agak pantas, kupikir tak enak juga
hanya pakai kaos. Sepeda motor kukeluarkan dan segera menuju rumah Dicky dan
Anna.

Setibanya di sana, kuketuk pintu. Anna membuka pintu. Kulihat gaunnya begitu
indah membalut tubuhnya. Potongan gaunnya di bagian dada agak rendah, sehingga
menampakkan belahan buah dadanya yang sejak SMU dulu kukagumi, sebab pernah
kulihat keindahannya tanpa sengaja waktu ia berganti baju saat olah raga dulu.

Kusalami dia sambil berkata, ”Selamat ulang tahun, ya An! Panjang umur, murah
rejeki, cepat dapat momongan, rukun terus dalam rumah tangga”

Tanpa kuduga, tanganku disambut dengan hangatnya sambil diberikannya pipinya


mencium pipiku. Yang lebih tak terduga, pinggiran bibirnya – entah disengaja atau
tidak – menyentuh tepi bibirku juga.

”Trims ya Gus” katanya.

Aku masuk dan mendapati Dicky sedang duduk di ruang tamu sambil menonton
televisi. Dicky dan Anna mengajakku makan malam bersama. Cukup mewah makan
malam tersebut, sebab kulihat makanan restoran yang dipesan mereka. Ditambah
makanan penutup berupa puding dan beragam buah-buahan membuatku amat
kenyang. Usai makan buah-buahan, Dicky ke ruang bar mini dekat kamar tidur
mereka dan mengambil sebotol champagne.

”Wah, apa lagi nich?” tanyaku dalam hati.

”Ayo Gus, kita bersulang demi Anna yang kita cintai” kata suaminya sambil
memberikan gelas kepadaku dan menuangkan minuman keras tersebut.

Kami bertiga minum sambil bercerita dan tertawa. Usai makan, kami berdua kembali
ke ruang tamu, sedangkan Anna membereskan meja makan. Dicky dan aku asyik
menonton acara televisi, ketika kulihat dengan ekor mataku, Anna mendatangi kami
berdua.

”Mas, ganti acaranya dong, aku mau nonton film aja! Bosen acara TV gitu-gitu terus”
rajuknya kepada suaminya.

Dicky menuju bufet tempat kepingan audio video dan sambil berkata padaku, ia
mengganti acara televisi dengan film, ”Nah, gitulah istriku tersayang, Gus. Kalau lagi
ada maunya, jangan sampai tidak dituruti.”

Kami tertawa sambil duduk bertiga. Aku agak kaget waktu menyaksikan, ternyata
film yang diputar Dicky adalah film dewasa alias blue film.

”Pernah nonton film begini, Gus? Jangan bohong, pria seperti kita jaman SMP saja
sudah baca Playboy dulu, bukan?” tanyanya.
”He.. he.. he.. nonton sich jangan ditanya lagi, Mas. Udah sering. Prakteknya yang
belum” tukasku sambil meringis.

Agak risih juga nonton bertiga Anna dan suaminya, sebab biasanya aku nonton
sendirian atau bersama-sama teman pria.

”Anna kemarin minta kita nonton BF bertiga. Katanya demi persahabatan” ujar
suaminya.
”Ya Gus, bosen sich, cuma nonton berdua. Sekali-sekali variasi, boleh kan?” kata
Anna menyambung ucapan suaminya dan duduk semakin rapat ke suaminya.

Kami bertiga nonton adegan film. Mula-mula seorang perempuan bule main dengan
pria negro. Lalu pria Asia dengan seorang perempuan Amerika Latin dan seorang
perempuan bule.

”Wah, luar biasa” batinku sambil melirik Anna yang mulai duduk gelisah.

Kulihat suami Anna sesekali mencium bibir Anna dan tangannya yang semula
memeluk bahu Anna, mulai turun meraba-raba tepi buah dada Anna dari luar
bajunya. Cerita ketiga semakin panas, sebab pemainnya adalah seorang perempuan
bule yang cantik dan bertubuh indah dan dua orang pria, yang satu Amerika Latin dan
yang satunya lagi bule. Si perempuan diciumi bibir lalu buah dadanya oleh si pria
bule, sedang si pria Amerika Latin membuka perlahan-lahan rok dan celana dalam si
perempuan sambil menciumi lutut dan pahanya. Kedua pria tersebut menelentangkan
si perempuan di sofa, yang satu menciumi dan meremas buah dadanya, sedang yang
lain menciumi celah-celah paha. Adegan itu dilakukan secara bergantian dan akhirnya
si pria bule menempatkan penisnya ke klitoris si perempuan hingga si perempuan
merintih-rintih. Rintihannya makin menjadi-jadi sewaktu penis tersebut mulai
memasuki vaginanya. Di bagian atas, buah dadanya diremas dan diciumi serta disedot
si pria Amerika Latin. Si perempuan kemudian memegang pinggang si pria Amerika
Latin dan mencari penisnya untuk diciumi dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Si
pria memberikan penisnya sambil terus meremas buah dada si perempuan. Begitulah,
penis yang satu masuk keluar vaginanya, sedang penis yang lain masuk keluar
mulutnya.

Aku merasakan penisku menegang di balik celana dan sesekali kuperbaiki dudukku
sebab agak malu juga pada Anna yang melirik ke arah risleting celanaku. Aku merasa
horny, tetapi apa daya, aku hanya penonton, sedangkan Anna dan Dicky, entah apa
yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kukerling Dicky dan Anna yang sudah
terpengaruh oleh film tersebut.

Tak lama kemudian kulihat gaun Anna semakin turun dan buah dadanya sudah
semakin tampak. Benar-benar indah buah dadanya, apalagi saat kulihat yang sebelah
kiri dengan putingnya yang hitam kecoklatan, sudah menyembul keluar akibat
jamahan tangan suaminya. Desahan Anna bercampur dengan suara si perempuan bule
di film yang kami saksikan. Mereka berdua tampak tidak peduli lagi dengan
kehadiranku. Aku lama-lama segan juga, tetapi mau pamit kayaknya tidak etis.
Kuluman bibir Dicky semakin turun ke leher Anna dan berlabuh di dada sebelah kiri.
Bibirnya melumat puting sebelah kiri sambil tangan kanannya meremas-remas buah
dada kanan Anna. Gaun Anna hampir terbuka lebar di bagian dada.

Tiba-tiba Anna bangkit berdiri dan menuju dapur. Ia kemudian keluar dan membawa
nampan berisi tiga gelas red wine. Ia sodorkan kepada kami berdua dan kembali ke
dapur mengembalikan nampan. Aku dan suaminya minum red wine ketika kurasakan
dari arah belakangku Anna menunduk dan mencium bibirku tiba-tiba.

”Mmmmfff, ahhh, An, jangan!” kataku sambil menolakkan wajahnya dengan


memegang kedua pipinya.

Anna justru semakin merapatkan wajah dan tubuhnya dari arah atas tubuhku.
Lidahnya masuk dengan lincahnya ke dalam mulutku sedangkan bibirnya menutup
rapat bibirku, buah dadanya kurasakan menekan belakang kepalaku. Aku masih
mencoba melawan dan merasa malu diperlakukan demikian di depan suaminya.

Rasa segan bercampur nafsu yang menggelora membuat wajahku semakin memanas,
terlebih atas permainan bibir dan lidah Anna serta buah dada yang ditekankan
semakin kuat.

Kudengar suara suaminya, “Tak usah malu, Gus. Nikmati saja. Ini bagian dari
permintaan spesial Anna kemarin. Kali ini ia tidak minta kado yang lain, tapi
kehadiranmu.”
Aku berhasil melepaskan diri dari serangan Anna dan sambil terengah-engah
kukatakan, ”An, tolong… jangan perlakukan aku seperti tadi. Aku malu. Dicky, aku
minta maaf, aku mau pulang saja.”

Aku bergegas menuju pintu. Tapi tiba-tiba Anna menyusulku sambil memeluk
pinggangku dari belakang.

Sambil menangis ia berkata, ”Gus, maafkan aku. Aku tidak mau kau pulang sekarang.
Ayolah, kembali bersama kami.”

Ia menarik tanganku duduk kembali. Aku terduduk sambil menatap lantai, tak berani
melihat wajah mereka berdua. Di seberangku, Dicky dan Anna duduk berjejer.

Dicky berkata, ”Gus, tolonglah kami. Ini permintaan khusus Anna. Sebagai sahabat
lamanya, kuharap kau tidak keberatan. Sekali lagi aku minta maaf. Kami sudah
konsultasi dan berobat ke dokter agar Anna hamil. Ternyata bibitku tidak mampu
membuahinya. Padahal kami saling mencintai, aku amat mencintainya, dia juga
begitu terhadapku. Kami tidak mau cerai hanya oleh karena aku tidak bisa
menghamilinya. Kami tidak mau mengangkat anak. Setelah kami bicara hati ke hati,
kami sepakat meminta bantuanmu agar ia dapat hamil. Kami mau agar anak yang ada
di dalam rumah tangga kami berasal dari rahimnya, walaupun bukan dari bibitku.
Aku senang jika kau mau menolong kami.”

Aku tidak menjawab. Kucoba menatap mereka bergantian.

Kemudian Anna menambahkan kalimat suaminya, ”Aku tahu ini berat buatmu. Jika
aku bisa hamil olehmu, anak itu akan menjadi anak kami. Kami minta
kerelaanmu,Gus. Demi persahabatan kita. Please!” katanya memohon dengan wajah
mengiba dan kulihat air matanya menetes di pipinya.

”Tapi, bagaimana dengan perasaan suamimu, An? Kau tidak apa-apa Dick?” tanyaku
sambil menatap wajah mereka bergantian.

Keduanya menggelengkan kepala dan hampir serempak menjawab, ”Tidak apa-apa.”

”Aku pernah cerita pada suamiku, bahwa dulu kau pernah punya hati padaku, tapi
kutolak karena tidak mau diganggu urusan cinta” papar Anna lagi.
”Ya Gus, Anna sudah ceritakan persahabatan kalian dulu. Aku dengar darinya, kau
bukan orang yang suka jajan dan sejak dulu kau tidak nakal terhadap perempuan.
Kami yakin kau bersih, tidak punya penyakit kelamin. Makanya kami sepakat
menentukan dirimu sebagai ayah dari anak kami” tambah suaminya.
”Bagaimana Gus, kau setuju? Kau rela? Tolonglah kami ya!” pintanya mengiba.
Aku tidak menjawab. Hatiku tergetar. Tak menduga ada permintaan gila semacam ini
dari sepasang suami istri yang salah satunya adalah sahabatku dulu. Namun di hati
kecilku timbul keinginan untuk menolong mereka, meskipun di sisi lain hatiku,
merasakan getar-getar cinta lama yang pernah timbul terhadap Anna.

”Gus, kau mau kan?” tanya Anna sambil berjalan ke arahku.


”Baiklah, asal kalian tidak menyesal dan jangan salahkan jika aku jadi benar-benar
suka pada Anna nanti” jawabku tanpa berani menatap muka mereka.
”Tak apa, Gus. Aku tak keberatan berbagi Anna denganmu. Aku tahu kau dulu tulus
mencintai dia, pasti kau takkan menyakiti dia. Sama seperti aku, tak berniat menyakiti
dirinya” kata Dicky lagi.

Anna lalu duduk di lengan kursi yang kududuki sambil memegang daguku dan
menengadahkan wajahku hingga wajah kami bersentuhan dan dengan lembut ia
mencium kedua kelopak mataku, turun ke hidung, pipi dan akhirnya bibirku ia kecup
lembut. Berbeda dengan ciumannya tadi, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa,
sehingga kubalas lembut ciumannya. Aku hanyut dalam ciuman yang memabukkan.
Sekelebat kulihat Dicky mengamati kami sambil mengelus-elus risleting celananya.

Anna mengajakku duduk ke sofa panjang, tempat Dicky berada. Kini ia diapit olehku
dan suaminya di sebelah kanannya. Kami berdua terus berciuman.

Adegan di video kulirik sekilas, suasana semakin panas sebab si perempuan bule
sudah disetubuhi oleh dua pria sekaligus, yang satu berada di bawah tubuhnya dengan
kontol menancap dalam toroknya, sedangkan kontol yang satu lagi memasuki
duburnya. Kedua kontol tersebut masuk keluar secara berirama menambah keras
rintihan dan jeritan nikmat si perempuan.

Kami bertiga terpengaruh oleh tayangan demikian, sambil melihat film tersebut, aku
terus menciumi wajah, bibir dan leher Anna, sementara suaminya sudah membuka
gaun Anna, turun hingga sebatas pinggulnya hingga terpampanglah kini kedua
teteknya yang sintal.

Desahan Anna semakin liar ketika lidahku menggelitiki lehernya yang jenjang dan
suaminya berganti memagut bibirnya. Bibir dan lidahku semakin turun menuju celah-
celah teteknya. Tangan kiriku meremas tetek kanannya sambil bibirku melumat pentil
tetek kirinya. Ia mengerang semakin kuat, ketika tangan kiriku turun ke pinggulnya
dan mengelus-elus pinggul dan pinggangnya. Ciumanku semakin turun ke perutnya
dan berhenti di pusarnya. Lama menciumi dan menggelitiki pusarnya, membuatnya
makin menggeliat tak menentu.

Suaminya kulihat berdiri dan membuka seluruh pakaiannya. Dicky kini dalam
keadaan bugil dan memberikan kontolnya untuk digelomoh Anna. Dengan bernafsu,
Anna mencium kepala kontol suaminya, batangnya dan akhirnya memasuk-keluarkan
kontol itu ke dalam mulutnya. Tangan kanannya memegang batang kontol suaminya
sambil bibir dan lidahnya terus melakukan aksinya. Kulihat kontol suaminya agak
panjang, lebih panjang dari punyaku, maklum suaminya lebih tinggi daripada aku,
cocoklah Anna mendapat suami tinggi sebab tingginya 167 Cm, sama denganku.

Sambil terus memesrai kontol suaminya, Anna mengangkat sedikit pantat dan
pinggulnya seakan-akan memberikan kesempatan buatku melepaskan gaunnya sama
sekali. Secara alamiah, kedua tanganku bergerak menurunkan gaunnya hingga ke
lantai, sehingga tubuh Anna hanya tinggal ditutupi selembar kain segitiga di bagian
bawahnya. Tangan kiri Anna bergerak cepat melepaskan celana dalamnya. Kini ia
benar-benar telanjang, sama seperti suaminya. Anna duduk kembali sambil menelan
kontol suaminya, hingga pangkalnya. Ia sudah benar-benar dalam keadaan puncak
birahi.

Aku mengambil posisi berlutut di celah-celah paha Anna. Kuamati sela-sela paha
Anna. Toroknya dihiasi rambut-rambut jembut yang tipis, tapi teratur. Agaknya ia
rajin merawat toroknya, sebab rambut-rambut kemaluan itu dicukur pada bagian
labia, sehingga memperlihatkan belahan yang indah dengan itil yang tak kalah
menariknya. Kuarahkan jari-jariku memegang itilnya.

”Auuwww, aaahhh, enak Gus… terusin dong…” desisnya sambil menggeliatkan


pinggulnya dengan indah.

Aku tidak menjawab, tetapi malah mendekatkan wajahku ke pahanya dan lidahku
kujulurkan ke itilnya.

”Ooooohhhh, nikmatnyaaaaa…” desahnya sambil mempercepat gerakan mulutnya


terhadap kontol Dicky.

Kuciumi itilnya sambil sesekali melakuan gerakan menyedot. Itilnya sudah tegang
sebesar biji kacang hijau. Indah sekali bentuknya, apalagi ketika kukuakkan labianya
bagian atas itilnya. Kedua labianya kupegang dengan kedua tanganku dan kubuka
lebar-lebar lalu dengan lembut kujulurkan lidahku menusuk ke dalam toroknya.

”Aaaaaahhhhhh… Gusssss… kau pintar banget!” rintihannya semakin meninggi.

Aku melakukan gerakan mencium, menjilat, menusuk, menyedot secara bergantian,


bahkan tak urung kuisap itil dan kedua labianya secara bergantian, hingga erangan
dan rintihannya semakin keras. Cairan birahinya mengalir semakin banyak. Kusedot
dan kumasukkan ke dalam mulutku. Gurih rasanya. Kedua tangannya kini memegang
belakang kepalaku dan menekankannya kuat-kuat ke pahanya sambil menggeliat-
geliat seksi. Semakin lama gerakannya semakin kuat dan dengan suatu hentakan
dahsyat, ia menekan dalam-dalam toroknya ke wajahku. Agaknya ia sudah orgasme.
Kurasakan aliran air menyembur dari dalam toroknya. Rupa-rupanya cairan kawinnya
bercampur dengan air seninya. Anehnya, aku tidak merasa jijik, bahkan kuisap
seluruhnya dengan buas. Ia menolakkan kepalaku, mungkin merasa jengah karena
kuisap seluruh cairannya, tanpa mau menyisakan sedikit pun. Aku tidak mengikuti
perlakuannya, tapi terus menekan wajahku menjilati seluruh cairannya yang menetes
dan mengalir ke pahanya.

Aku masih bersimpuh di celah-celah paha Anna, ketika ia mendekatkan wajahnya


mencium bibirku.

”Makasih ya Gus, kamu pintar banget bikin aku puas!” katanya.

Kulihat Dicky terpengaruh atas orgasme istrinya, ia berdiri dan berkata, ”Ayo sayang,
aku belum dapet nih!”

”Aaahh, aku masih capek, tapi ya dech. Aku di bawah ya” sambutnya sambil
menelentangkan tubuh di sofa panjang tersebut.

Suaminya mengambil posisi di sela-sela paha Anna dan menggesek-gesekkan


kontolnya ke itil Anna. Anna kembali naik birahi atas perlakuan Dicky. Makin lama
Dicky memasukkan kontolnya semakin dalam ke dalam torok Anna. Anna membalas
dengan membuka lebar-lebar pahanya. Kedua kakinya dipentang dan dipegang oleh
kedua tangan suaminya. Anna lalu mengisyaratkan aku mendekatinya. Aku jalan
mendekati wajahnya. Ia lalu membuka celana panjangku hingga melorot ke lantai.
Celana dalamku pun dibukainya dengan ganas dan kedua tangannya memegang
kontolku. Sambil menyentuh kontolku, perlahan-lahan ia dekatkan wajahnya ke arah
pahaku dan menjilat kepala kontolku.

”Ahhh, ssshhh, Ann… Nikmatnyaaaa” desahku sambil membuka bajuku.

Kini kami bertiga benar-benar seperti bayi yang baru lahir, telanjang bulat. Anehnya,
aku tidak merasa malu seperti mula-mula. Adegan yang hanya kulihat dulu di blue
film, kini benar-benar kualami dan kupraktekkan sendiri. Gila! Tapi akal sehatku
sudah dikalahkan. Entah oleh rasa suka pada Anna atau karena hasrat liarku yang
terpendam selama ini.

Anna semakin liar bergerak menikmati tusukan kontol suaminya sambil melumat
kontolku. Kedua tanganku tidak mau tinggal diam dan meremas-remas kedua tetek
Anna dengan pentilnya yang semakin mencuat bagaikan stupa candi.

Hunjaman kontol suaminya kulihat semakin hebat sebab Anna semakin kuat
menciumi dan menjilati bahkan menelan kontolku hingga masuk seluruhnya ke dalam
mulutnya. Kurasakan kepala kontolku menekan ujung tenggorokannya, tapi Anna
tidak peduli, air ludahnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal lelah menelan
kontolku. Bahkan ketika seluruh kontolku ia telan, lidahnya mengait-ngait lubang
kencingku, rasanya agak panas, tapi geli bercampur nikmat. Aku ikut merintih tanpa
kusadari. Kini desahan dan erangan kami bertiga sudah melampaui adegan di film
yang sudah tak kami hiraukan lagi.

Sekilas sempat kulihat adegan di video memperlihatkan pergantian adegan dari


adegan si perempuan bule berjongkok di atas pinggang si pria Amerika Latin
memasuk-keluarkan kontolnya sambil menggelomoh kontol si pria bule. Kemudian si
pria bule menempatkan diri di belakang si perempuan dan memasukkan kontolnya ke
dalam dubur si perempuan sambil kedua tangannya meremas tetek si perempuan.
Dari bahwa, si pria Amerika Latin menciumi bibir si perempuan. Rintihan si
perempuan bertambah kuat sewaktu kedua pria tersebut mengeroyok torok dan
duburnya dengan hebat. Erangannya berganti dengan jeritan nikmat ketika kedua pria
itu semakin kuat menghentakkan kontol mereka dalam-dalam.

Terpengaruh oleh adegan tersebut, Dicky menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya


ke torok istrinya. Tangan kiri Anna mengelus-elus itilnya sendiri dengan kencang,
sedang kontol suaminya masuk keluar semakin cepat. kontolku disedot kuat-kuat oleh
Anna dan gigitan gemasnya kurasakan pada batang kontolku. Remasanku makin kuat
di tetek Anna sambil sesekali kuciumi bibirnya.

”Ahhh, aku hampir sampai, An… Aaahhh torokmu enak benar!” rintih Dicky.
”Sabar sayang, aku juga hampir dapat. Sama-sama ya? Oooohhhh, akkhhhh… enak
benar tusukan kontolmu. Ayo sayang, yang dalam… aaauhhggghhhhh…
Ooouukhhhhh” rintih Anna semakin tinggi hingga tiba-tiba ia menjerit.

Jeritan Anna membahana memenuhi ruangan bagaikan raungan serigala, ketika


dengan hebatnya kontol suaminya menghunjam dengan cepat dan berhenti saat
orgasmenya pun menjelang. Kedua pahanya menjepit pinggul suaminya sedang
mulutnya menelan kontolku hingga ujungnya kurasakan menekan tekak
tenggorokannya. Kuperhatikan tubuh Anna yang indah bergetar-getar beberapa saat,
apalagi di bagian pahanya.

Suaminya menghempaskan tubuh di atas tubuh Anna, sementara kedua tangan Anna
memeluk tubuh suaminya. Aku melepaskan diri dari Anna dan mengambil tempat
duduk sambil mengamati mereka berpelukan sambil bertindihan.

Kulihat adegan film hampir habis. Berarti kami bertiga main satu setengah jam, sebab
tayangan film tadi kulihat berdurasi dua jam, sedangkan waktu kami bercakap-cakap
bertiga tadi, permainan film baru berlangsung setengah jam.

”Luar biasa daya tahan Anna” pikirku.

Kudengar Anna berkata dari balik himpitan tubuh suaminya, ”Ntar giliranmu ya Gus.
Kasihan kamu belum apa-apa, padahal aku dan suamiku sudah dapat!”
”Nggak apa-apa An. Santai aja. Aku kan cuma pelengkap penderita” candaku.
”Jangan gitu dong say” Anna menolakkan tubuh suaminya dan berdiri lalu
mendekatiku.
”Kamu kan orang penting, makanya kamu yang kami minta menemani saat
istimewaku malam ini” katanya sambil mencium bibirku lembut sambil melingkarkan
kedua tangannya ke leherku.
”Mas, kita main di kamar aja yuk, biar lebih enak” pinta Anna pada suaminya.

Suaminya hanya mengangguk dan mematikan video lalu bergerak mengikuti istrinya
ke arah kamar mereka. Aku masih duduk.

Anna berhenti melangkah dan mengajakku, ”Ayo dong Gus, kita di kamar aja, di sini
kurang leluasa”

Aku berdiri dan mengikuti mereka.

Kamar tidur mereka cukup luas, kira-kira 5 X 6 meter. Ranjang yang terletak di tepi
salah satu sisi ruangan berukuran besar. Hawa sejuk AC menerpa ketika kami bertiga
bagaikan anak-anak kecil, bertelanjang badan, beriringan masuk kamar.

Anna langsung merebahkan tubuhnya di tengah ranjang. Suaminya mengikuti sambil


melabuhkan ciuman. Aku masih berdiri memandangi mereka, ketika tangan Anna
mengisyaratkanku agar mendekati mereka. Aku mengikuti ajakannya dan duduk di
sisi lain tubuhnya sambil mengelus-elus lengan dan perutnya. Tangan Anna menarik
pergelangan tanganku agar mengelus dan meremas teteknya. Tanganku mulai
beroperasi di bagian dadanya dan memainkan pentilnya yang kembali mengeras
akibat sentuhan jari-jariku. Kupilin-pilin pentilnya dengan lembut dan kudekatkan
mukaku ke dadanya. Lidahku kujulurkan menjilati pentil teteknya. Lama kugelitik
pentilnya, setelah itu kumasukkan pentilnya ke dalam mulutku sambil melakukan
gerakan menyedot. Saking gemasnya, kusedot juga teteknya yang tidak begitu besar,
tetapi masih kenyal karena belum pernah menyusui bayi.

”Ooogghh, ya, yahh, gitu Gus, enak tuch…” desisnya sambil menyambut ciuman
suaminya.

Kedua teteknya kuremas sambil terus mengisap, memilin, menyedot pentilnya dengan
gerakan bervariasi, kadang-kadang lembut, kadang ganas, hingga Anna menggeliat-
geliat dilanda birahi. Kuteruskan penjelajahan bibirku ke arah perutnya dan turun ke
rambut-rambut jembutnya yang halus di atas celah pahanya yang putih. Kembali
lidahku bermain di itilnya dan celah-celah toroknya yang mulai basah lagi. Ludahku
bercampur dengan lendir kawinnya yang harum. Ciumanku semakin buas turun ke
celah-celah antara torok dan duburnya. Ketika mendekati duburnya, lidahku
kuruncingkan dan kugunakan mengait-ngait celah-celah duburnya.
”Owww, apa yang kau lakukan Gus? Koq enak banget sich?” jeritnya sambil
menaikkan pinggulnya akibat perlakuan lidahku pada duburnya.
”Tenang sayang, nikmati saja” kataku sambil menciumi duburnya dengan bibirku dan
menggunakan jari telunjuk kananku untuk memasuki duburnya.
”Sssshhh, aaahhhh, terusin Gus! Yahhhh enakkkkk” desahnya.

Dicky sudah menciumi tetek Anna dalam posisi terbalik, di mana dadanya diberikan
untuk diraba dan diciumi oleh istrinya juga. Mereka berdua mendesah, tetapi
kupastikan yang paling dilanda hasrat menggelora adalah Anna, sebab bagian bawah
tubuhnya kuciumi habis-habisan, hingga semakin becek toroknya akibat bibir dan
lidahku yang tak berhenti melakukan aksinya.

”Sudah, sudah Gus. Ayo, sekarang giliran kamu!” katanya sambil tangannya menarik
rambutku perlahan agar menghentikan aksiku pada torok dan duburnya.

Lalu ia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar sehingga menampakkan toroknya


yang merona merah jambu dengan sangat indahnya. Rambut-rambut jembut halus di
atas itil dan toroknya memberikan nuansa romantis yang tak terlukiskan. Tubuh Anna
benar-benar bagaikan pualam. Geliatnya begitu erotis, membuat pria manapun takkan
mampu menguasai diri untuk tidak menyetubuhinya dalam keadaan begitu rupa.

”Ayo sayang, jangan ragu-ragu membagikan cintamu padaku” rayu Anna sambil
terus menciumi dada suaminya yang ada di atas tubuhnya, sedang dadanya masih
berada dalam kuluman Dicky, suaminya.

Aku berlutut di antara kedua pahanya dan kontolku kutaruh pelan-pelan menyentuh
itilnya. Ia menggelinjang-gelinjang antara geli dan nikmat.

”Ooouggghh, jangan siksa aku dong, masukkan sayangggg!” erangnya.

Aku tidak mengikuti permintaannya, melainkan terus memainkan kontolku


menggesek itilnya hingga kurasakan semakin tegang ditekan oleh kepala kontolku.
Dengan tangan kananku, kupegang pangkal kontolku dan kusentuhkan juga ke labia
toroknya bergantian, kiri dan kanan, lalu sesekali mengusap celah-celah toroknya
dengan kepala kontol dari arah itilnya ke bawah.

”Ssshhh, ooohhhh, enak banget sayang… Ayo dong, aku nggak tahan nichhh…
Masukin kontolmu Gussss……” Anna memohon.

Tak tahan mendengar permintaannya, kujejalkan kepala kontol ke celah-celah


toroknya, tapi tidak semuanya kumasukkan. Tangan kananku masih kupakai untuk
menggerakkan kontolku merangsek masuk dan menjelajahi dinding-dinding
toroknya, kanan dan kiri. Ia menaik-turunkan pinggulnya menyambut masuknya
kontolku.
”Ohhhh, nikmaatttt…” desisnya.

Suaminya memandang ke arahku sambil tersenyum. Kini ia berlutut di sebelah kanan


kepala Anna dan memberikan kontolnya untuk dikulum isterinya.

Dengan lembut kumasukkan kontolku makin dalam, perlahan-lahan hingga kontolku


masuk sebatas pangkalnya.

”Aaaahhh……” erang Anna lagi.

Kedua tangan Anna menarik tubuhku menindih badannya. Ia melakukan hal itu
sambil tetap mengulum kontol suaminya.

Gerakanku menaik turunkan tubuh di atas Anna berlangsung dengan ritme pelan,
tetapi kadang-kadang kuselingi dengan gerakan cepat dan dalam.

Berulang-ulang Anna merintih, ”Gila Gus, enak banget kontolmu! Oooouugghhhh…


yahh… aaahhh… sedappppp!”

Pinggulnya sesekali naik menyambut masuknya kontolku. Semakin lama gerakan


pinggulnya makin tak menentu.

Gerakanku makin cepat dan kuat. Desahannya makin kuat mengarah pada jeritan.
Dengan beberapa kali hentakan, kubuat Anna bergetar semakin tinggi menggapai
puncak kenikmatan.

”Gusss, terusin… Aaaahhhh, aku dapet lagi, oooouuggghhh!” ia menggeram sambil


mengangkat pinggulnya menyambut tekanan kontolku yang kuhunjamkan dalam-
dalam ke memeknya.

Jari-jari tangannya memeluk punggungku dengan erat, bahkan cengkeraman kukunya


begitu kuat, terasa sakit menghunjam kulitku, tetapi perasaan itu bercampur dengan
kenikmatan luar biasa. Kurasakan guyuran cairan kawinnya membasahi kontolku
sedemikian rupa dan dinding toroknya berkejat-kejat memijat batang kontolku,
hingga tak kuasa kubendung luapan pejuku memasuki rongga toroknya.

”Anna!!!! Ogggghhh, enak banget, sayang!” desahku sambil memeluk erat-erat


tubuhnya dan menciumi bibirnya rapat-rapat.

Anna menyambut ciumanku. Kurasakan bibir kami berdua agak dingin, sebab aliran
darah kami seakan-akan terdesak ke bagian bawah. Kedua belah pahanya menjepit
kedua pahaku dengan kuatnya dan jepitan memeknya seolah-olah ingin mematahkan
batang kontolku. Dinding toroknya masih berdenyut-denyut memilin kontolku. Tak
terkatakan nikmatnya.
Suaminya tahu diri dan menarik tubuh menyaksikan permainan kami berdua. Lama
kami berpelukan dalam posisi berdekapan. Ia tidak mau melepaskan tubuhku.
Denyutan toroknya masih terus terasa memijat-mijat batang kontolku, hingga
perasaanku begitu nyaman dan damai dalam pelukannya. Beberapa kali ingin kutarik
tubuhku, tapi ia tidak mengijinkan tubuhku meninggalkan tubuhnya. Ia hanya
membolehkan tubuhku miring ke kanan, hingga ia pun miring ke kiri. Dengan masih
berpelukan dalam keadaan miring, mulutnya masih terus menciumi mulutku. Bibir
kami berpagutan dan lidahnya masuk rongga mulutku menggapai langit-langit
mulutku. Kulakukan hal yang sama bergantian dengannya. Beberapa saat kemudian
kurasakan cairan kenikmatan kami mengalir di sela-sela pahaku, juga kuperhatikan
menetesi pahanya.

kontolku mengecil setelah melakukan tugasku untuk ‘mengawininya’ dengan baik.


Aku melepaskan diri dari pelukannya dan berbaring di sebelah sebelah kiri tubuhnya.
Suaminya menempatkan diri berbaring di sebelah kanannya. Anna kini diapit oleh
dua pria. Aku menatap langit-langit kamar mereka sambil merenung, betapa gilanya
kami bertiga melakukan ini. Aku tak tahu apa yang ada di benak mereka berdua.
Elusan jari-jari Anna di tubuhku membuatku tak habis pikir, betapa dahsyat
permainan seks perempuan ini. Ia memiliki kekuatan melawan dua pria sekaligus.

Ia mencium bibir suaminya sambil berbisik, ”Mas Dicky, makasih ya atas hadiah
ulang tahunnya!”
Lalu ia juga mencium bibirku, menatap dengan mata berkaca-kaca dan berkata, ”Gus,
trims buat kadomu. Kami benar-benar berterima kasih padamu.”

Aku tak menjawab, merasa bodoh, tetapi haru menyambut ciumannya disertai tetesan
air yang turun ke pipinya. Aku mengusap air matanya sambil memagut bibirnya
lembut. Lama kami melakukan hal itu dan kembali berbaring. Anna bangun dan
mengambil handuk kecil untuk melap toroknya yang basah oleh cairan kawin kami
berdua. Lalu ia kembali berbaring di antara suaminya dan aku.

Suaminya membelai-belai tetek Anna dan memberi tanda agar Anna menaiki
tubuhnya. Rupanya suaminya minta dilayani lagi. Anna lalu menempatkan diri di atas
tubuh suaminya. Mula-mula ia berjongkok di atas pinggang suaminya dan
memasukkan kontol suaminya dengan dibantu oleh tangan kanannya. Setelah kontol
tersebut masuk, perlahan-lahan ia menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuh suaminya.
Suaminya menyambut gerakan Anna sambil meremas-remas teteknya.

Beberapa saat kemudian Anna merebahkan tubuhnya di atas tubuh suaminya.


Gerakan mereka makin kuat. Sesekali pantat suaminya terangkat ke atas, sedang
Anna menurunkan tubuhnya dan menekan kuat-kuat hingga kontol suaminya
menancap dalam-dalam. Aku beringsut menuju bagian bawah tubuh mereka dan
memperhatikan bagaimana kontol suaminya masuk keluar torok Anna.
Kudengar suara suaminya, ”Ann, duburmu kan nganggur tuch. Gimana kalau
dimasuki kontol Agus seperti yang pernah kulakukan?”
Kudengar suara Anna, ”Ya Mas, aku baru mau usul begitu. Tahu nich, kalian berdua
begitu pandai memuaskan aku. Ayo Gus, tusuk duburku dong!” pintanya memohon.

Aku heran juga atas kelakuan suami istri ini, tetapi kupikir mungkin karena Anna
pernah di luar negeri, hal-hal begini tidak aneh lagi buatnya. Bagiku memang
pengalaman baru. Main dengan perempuan beberapa kali pernah kulakukan, tapi
main bertiga begini apalagi mengeroyok torok dan dubur sekaligus, ini benar-benar
pengalaman luar biasa bagiku.

Kuamati kemaluan kedua suami istri itu. Perlahan-lahan kuelus-elus torok Anna yang
basah oleh lendir birahinya. Jari-jariku kemudian mengarah ke duburnya. Dengan
lendir kawinnya kubasahi lubang duburnya. Telunjuk jari kananku kumasukkan
pelan-pelan ke dalam duburnya.

”Yaaah gitu Gus, enak tuch… Lebih dalam lagi!!! Ayoooo!!!!” desahnya dengan
suara yang serak-serak basah karena dilanda nafsu.

Jariku masuk makin dalam ke duburnya membuat gerakan tubuhnya semakin tak
menentu. Dengan toroknya dirojok kontol suaminya dan jariku memasuki duburnya,
Anna berkayuh menuju pulau kenikmatan.

”Gusss, jangan cuman jarimu dong, sayang! Sekarang masukin kontolmu… Ayooo
dong!!!” pintanya.

Kedua paha Anna berada di bagian luar paha suaminya, membuka lebar-lebar celah
toroknya bagi masuknya kontol suaminya. Kutempatkan kedua pahaku menjepit paha
Anna. Kepala kontol kubalur dengan air ludahku dan kumasukkan perlahan-lahan ke
dalam dubur Anna. Mula-mula agak susah, sebab sempit, tetapi mungkin karena
mereka sudah pernah melakukan hal itu, tak terlalu masalah bagi kontolku untuk
melakukan eksplorasi ke dalam duburnya.

”Sssshhhh, ohhhh enak banget Gusssss! Terusin yang lebih dalam sayang!” rintihnya.

Aku bergerak makin leluasa memasuk-keluarkan kontolku ke dalam duburnya.


Sedang dari bawah, kontol suaminya masuk keluar toroknya. Anna berada di antara
tubuh suaminya dan aku, melayani kami berdua sekaligus mengayuh biduk
kenikmatan tak terperikan. Gerakan suaminya makin kuat, mungkin tak lama lagi ia
akan orgasme. Anna pun semakin liar menggerakkan pinggul dan pinggangnya,
apalagi dari bawah, suaminya menetek pada teteknya secara bergantian. Jeritan Anna
yang begitu kuat seperti tadi kembali memenuhi ruangan kamar itu. Namun agaknya
tak masalah bagi mereka, sebab rumah mereka begitu besar dan dengan konstruksi
yang begitu bagus, suara rintihan dan jeritan kami dari dalam kamar tersebut takkan
terdengar keluar.

Kedua tangan Anna memeluk tubuh suaminya erat-erat sambil menekan tubuhnya
kuat-kuat hingga kupastikan kontol suaminya telah masuk sampai pangkalnya,
sedangkan kontolku kugerakkan berirama ke dalam duburnya.

”Gus, lagi Gus, yang kuat!!” pinta Anna.

Kedua pundak Anna kupegang kuat sambil menghentakkan kontol sedalam-dalamnya


ke dalam duburnya. Aneh, kupikir ia akan kesakitan diserang demikian rupa pada
duburnya, ternyata sebaliknya, ia malah merasakan kenikmatan luar biasa menyertai
kenikmatan hunjaman kontol suaminya.

Kami bertiga secara cepat melakukan gerakan menekan. Suaminya dari bawah, Anna
di atasnya menekan ke bawah, aku dari atas tubuh Anna menekan dalam-dalam
kontolku ke dalam dubur Anna.

”Massss, oooouggghhhh Gussss… aku dapet lagi! Ouuuggghhhhhhhhhhhh……..


sssshhhhhh…… akkkkhhhhh” jerit Anna.
Kurasakan betapa jepitan duburnya begitu kuat, sama seperti toroknya tadi, menjepit
kontolku. Denyut kenikmatan kurasakan begitu hebat.

Tak berapa lama, Anna memintaku melepaskan diri dari suaminya. Ia lalu berlutut
tepat di depanku. Semula aku tak mengerti maksudnya. Kuelus-elus punggung,
pinggul dan teteknya dari belakang tubuhnya. Tangan kanannya ia mencari kontolku
dan mengarahkan kontolku ke duburnya lagi.

”Wah, masih mau lagi dia?” kataku dalam hati.

kontolku kembali memasuki duburnya dalam posisi kami berdua berlutut. Lalu ia
mengisyaratkan aku merebahkan tubuh ke belakang. Aku turuti permintaannya dan
dengan kontol tetap berada di dalam duburnya, aku berbaring terlentang sedang Anna
kini ada di atasku dalam posisi sama-sama terlentang. Ia mengambil inisiatif bergerak
menaik turunkan tubuhnya hingga kontolku masuk keluar dengan bebasnya ke dalam
duburnya. Dari atas sana kuamati suaminya bangkit mendekati kami berdua dan
kembali mengarahkan kontolnya ke torok Anna. Kini gantian aku yang berada di
bawah, Anna di tengah, dan suaminya di atas Anna.

Desahan, rintihan dan jeritan kami silih-berganti dan kadang-kadang bersamaan


keluar dari bibir kami bertiga. Tanganku kumainkan meremas-remas tetek Anna dari
bawah.
Beberapa saat kemudian, di bawah sana, suaminya berteriak, ”Ayo sayang, aku mau
keluar nih!!!!”

”Tunggu sayang” kata Anna.

Dan tiba-tiba ia bangkit hingga kontolku terlepas dari duburnya. Dengan cepat ia
tolakkan tubuh suaminya, hingga jatuh terbaring, lalu ia berlutut di antara paha
suaminya dan menggenggam kontol suaminya sambil memasuk-keluarkan kontol itu
ke dalam mulutnya. Cairan peju suaminya muncrat mengenai wajah dan mulut Anna,
tetapi ia tidak jijik menjilati cairan kenikmatan yang keluar itu. Kuperhatikan ulah
Anna terhadap kontol suaminya. kontolku masih tegang menanti giliran berikut.

Anna menoleh ke arahku sambil berkata, ”Gus, masih mau lagi, kan? Ayo, sayang!”

Ia kemudian menungging di depan tubuhku sambil terus menjilati kontol suaminya


yang semakin lemas. Kutempatkan tubuh di belakang Anna lalu kumasukkan kembali
kontol ke dalam duburnya.

”Gus, ganti-gantian dong masukin kontolmu, jangan hanya duburku. Bergantian


torokku juga sayang!” katanya.

”Wah, hebat benar Anna, masih juga ada permintaannya yang begini rupa?” pikirku.

Kucabut kontolku dari duburnya dan kumasukkan ke dalam toroknya yang merah
merekah. Lendir kawinnya masih banyak tapi kontolku tetap dijepit kuat sewaktu
memasuki toroknya. Usai memasukkan kontol ke toroknya dalam 2-3 kali hunjaman,
kucabut lagi dan ganti duburnya kutusuk 2-3 kali. Begitu seterusnya, hingga
kudengar kembali ia menjerit pertanda akan orgasme lagi.

”Aaaaggghhh, nikmatnyaaahhhhh…… Gussss!!!! Ooooogggghhhh……” jeritnya


kuat sekali.

Jepitan toroknya begitu luar biasa saat jeritannya terdengar, hingga tak bisa lagi
kutahan aliran pejuku kembali memasuki kepala kontolku dan keluar tanpa tedeng
aling-aling.

”Aaaahhh, Annn… nikmat sekali sayang!” erangku sambil memeluk tubuhnya dari
belakang dan meremas-remas kedua teteknya.

Tubuhku masih menghimpit tubuhnya dari belakang, sedangkan Anna masih terus
menciumi dan menjilati kontol suaminya. Tak bosan-bosannya ia melakukan itu.
Benar-benar pemain seks yang hebat!
Kami bertiga berbaring lunglai dalam keadaan telanjang bulat di ranjang berukuran
king size itu. Sprey ranjang sudah kusut dan di sana-sini lelehan cairan kenikmatan
kami bertiga bertebaran. Aku benar-benar lelah dan ngantuk hingga tertidur.

Lewat tengah malam, kurasakan jilatan lidah pada kontolku. Dengan mata berat,
kutoleh ke bawah, kulihat Anna sudah menciumi dan menjilati kontolku kembali. Di
sebelahku suaminya tertidur nyenyak. kontolku yang lemas, kembali tegang karena
perlakuan lidah dan mulut Anna. Melihat keadaan itu, Anna senang dan mengajakku
main lagi.

Anna menempatkan pinggulnya di tepi ranjang, kedua kakinya berjuntai ke bawah


hingga terpampanglah belahan toroknya yang merekah. Entah sudah berapa kali
tusukan suaminya dan aku telah dialami torok ini, tetapi seakan tak kenal lelah dan
memiki kemampuan ‘tempur’ yang dahsyat. Sambil menempatkan diri di depannya,
kontolku kuarahkan kembali memasuki toroknya. Anna yang berbaring kembali
merintih saat kontol kumainkan di itil dan toroknya. Geliat pinggulnya begitu erotis
menyambut hunjaman kontolku. Gerakan kami berdua semakin cepat, hingga
akhirnya tubuhku ia tarik kuat-kuat menjatuhi tubuhnya. kontolku masuk sedalam-
dalamnya menikmati remasan dinding toroknya. Aku belum dapat lagi, sehingga
kontolku masih tetap tegang. Kami berdua masih berpelukan dalam posisi tersebut.

Anna berbisik di telingaku, ”Gus, lihat nggak tadi. Suamiku bisa main beberapa
ronde, padahal biasanya satu ronde saja ia sudah menyerah. Mungkin karena ada
teman mainnya, jadi semangat dia.”

Aku tidak menjawab.

Ia melanjutkan, ”Ngomong-ngomong kontolmu koq kuat banget sih, main beberapa


ronde, koq kuat betul? Kau suka minum obat kuat ya? Atau kau sudah pengalaman
main sama perempuan nich?” desaknya.

”Ah, aku bisa kuat gini kan karena Anna. Abis kamu dulu tolak cintaku sih” jawabku.
”Tapi sekarang kamu bisa menikmati tubuhku juga walau aku sudah bersuami, kan?”
rajuknya.
”Iya, tapi bagaimanapun Dicky masih suami kamu? Kamu bukan nyonya Agus, kan?”
balasku.
”Sudahlah, yang penting hatiku dan tubuhku bisa kau miliki juga di samping
suamiku” katanya menutup pembicaraan kami, sambil menciumi bibirku lagi.

Aku terdiam dan bangkit berdiri.

”Mau ke mana, Gus?” tanyanya melihatku berjalan keluar kamar.


”Aku mau duduk di luar dulu” kataku sambil melangkah keluar.
Aku memungut celana dalamku dan duduk di ruang tempat kami nonton video tadi.
Beberapa saat kemudian kulihat Anna menyusulku, masih dalam keadaan telanjang
bulat. Ia duduk di sebelahku.

”Ada apa, Gus? Kamu tersinggung atas kata-kataku tadi?” tanyanya.


”Nggak An. Aku cuma tak habis pikir, koq bisa-bisanya aku melakukan hal ini pada
kamu yang sudah bersuami dan suamimu mengijinkan” kataku sambil menatap
wajahnya.
”Gus, hidup ini memang penuh misteri” katanya berfilsafat.
”Yang penting, kita menjalaninya dengan tenang dan damai. Bahkan kamu dapat
pahala dengan memberikan kebahagiaan buatku dan suamiku. Atau kamu nyesel atas
kejadian ini” desaknya sambil membelai wajahku.
”Tidak sayang, aku tidak menyesal. Yang kupikirkan bagaimana jika aku tak mampu
melepaskan diri darimu sebab dulu pernah mencintaimu” kataku sambil menciumi
rambutnya.

Anna merebahkan kepalanya di pangkuanku dan jari-jarinya bermain lembut di


pahaku, bisiknya, ”Aku hanya menjalani hidup ini Gus. Suamiku tahu kalau aku
benar-benar ingin punya anak, tapi ia tidak bisa menghamiliku. Kami sudah lama
membicarakan dirimu dan menimbang segalanya. Aku, kelak kau menikah dengan
gadis baik, yang bisa memberikanmu kebahagiaan seutuhnya.”
Jari-jarinya terus menelusuri setiap inci pahaku hingga kurasakan kontolku kembali
menegang.

”An, aku mau tanya satu hal. Kuharap kau tidak tersinggung” kataku.
”Koq kau begitu ahli main, sampai main anal segala?” tanyaku.
”Oh itu. Kamu tidak usah curiga. Jenuh menunggu anak tidak kunjung ada, kami
berdua suka mencoba-coba berbagai posisi. Tadinya sih atas anjuran dokter, mana
tahu bisa jadi. Lama-lama setelah suamiku mau periksa ke dokter, baru ketahuan
kalau bibitnya lemah, sehingga tak bisa membuahi rahimku. Tapi kami sudah telanjur
suka posisi macem-macem. Begitulah ceritanya Gus!” katanya.

Aku tidak menanggapi kalimatnya dengan kata-kata, tetapi mengangkat dagunya dan
mencium bibirnya. Ciuman membara yang kembali terjadi di antara kami membuat
kami berdua kembali hanyut dalam gelora asmara. Jari-jarinya bermain di dadaku
sedangkan jari-jariku membelai tubuhnya. Ia berlutut ia antara pahaku dan kembali
mencium dan menjilati kontolku sehingga mencapai ketegangan puncak.

”Gimana Gus, kamu mau main lagi kan?” tanyanya sambil memandang wajahku.
”Ya sayang, tapi kamu tidak capek?” tanyaku kembali.
”Nggak Gus, demi kamu, aku mau lagi” jawabnya.

Anna berbaring di sofa panjang dan ketika aku akan menindihnya dari atas ia
melarangku.
”Kenapa, An?” tanyaku tak mengerti.
”Ntar dulu, kita coba posisi ini. Kau pasti suka deh!” katanya.

Ia turun dari sofa ke karpet di bawah, lalu ia tarik kedua kakinya ke arah kepalanya,
kedua tangannya menahan belakang lututnya hingga kembali toroknya terpampang
lebar-lebar menantikan kedatangan kontolku. Aku memasukkan kontol ke dalam
toroknya sambil menikmati posisi tersebut. Sambil memasuk-keluarkan kontolku ke
dalam toroknya, kuamati Anna semakin menarik bagian bawah tubuhnya ke atas
sedemikian rupa hingga pinggulnya agak terangkat. Aku mulai paham maksudnya.
Dengan posisi berlutut, aku memasukkan kontolku ke toroknya. Hunjaman kontol
agak berat kurasa dengan posisi itu, tetapi nikmatnya tak terkatakan.

Beberapa saat kami mempertahankan posisi itu, lalu ia berkata, ”Gus, pegang
tanganku.”

Kutarik kedua tangannya dan tubuhnya melekat erat di tubuhku hingga teteknya
begitu terasa kenyal menghimpit dadaku.

”Gus, kamu kuat nggak jika berdiri sekarang?” bisiknya pelan di telingaku.

Aku tidak menjawab, tapi berusaha berdiri sambil menapakkan kedua tanganku di
belakang tubuh. Akhirnya kami berdua berdiri dengan posisi saling menempel. Tiba-
tiba kedua kakinya ia angkat tinggi dan memeluk kedua pahaku. Untungnya tubuh
Anna langsing, sehingga aku kuat dibebani oleh tubuhnya dengan cara demikian.
Sambil memeluk leherku erat-erat, ia menaik-turunkan tubuhnya hingga torokanya
turun naik di atas kontolku. Kupegang erat kedua bongkah pantatnya sambil
menghunjamkan kontol ke dalam toroknya.

”Gus, jalan yuk” bisiknya lagi.

Aku menurut saja kata-katanya. Kulangkahkan kaki selangkah demi selangkah


mengitari ruangan itu sambil menikmati naik-turunnya tubuh Anna menghunjam
kontolku. Baru kuingat, inilah yang disebut dalam kamasutra sebagai posisi monyet
menggendong anaknya.

Kami melakukan hal itu agak lama dan kemudian ia berkata, ”Gus, aku udah mau
dapet lagi. Turunkan aku dong!”

Kuturunkan tubuhnya dan ia mengambil posisi berlutut menghadap sofa sambil


memintaku memasuki tubuhnya dari belakang. Kuarahkan kontol ke toroknya lalu
memaju-mundurkan tubuhku sambil meremas-remas kedua teteknya dari belakang.
Erangan Anna semakin kuat ketika hunjaman kontolku semakin cepat masuk-keluar
toroknya. Aku tidak ingat sudah berapa lama kami melakukan itu, ketika tiba-tiba
kurasakan dinding toroknya kembali berdenyut-denyut tanda akan orgasme lagi.
”Guuuussss… Aaaauuuukhhhhhh nikmatnya sayanggggg!!!” jeritnya sambil
menghempaskan pantatnya kuat-kuat ke arah pahaku.
Cairan toroknya begitu banyak kurasakan.

”Ann, koq banyak banget cairanmu?” tanyaku heran.

Masih dengan napas tersengal-sengal, ia menjawab, ”Gus, akh, eeeh… aku kadang-
kadang bisa orgasme sambil keluar pipis. Kalau benar-benar birahi, itu yang kualami.
Dengan Dicky kejadian begini amat jarang, tapi denganmu koq bisa begitu mudah
kurasakan? Maaf ya Gus, jadi becek gini” katanya.

”Kamu jadi nggak bisa orgasme dengan beceknya torokku. Pake duburku lagi dech”
lanjutnya.

Kutempatkan tubuhnya di sofa dan kuangkat kedua kakinya ke atas sambil


mengarahkan kontol ke duburnya yang basah akibat tetesan cairannya. Kepala
kontolku masuk sedikit demi sedikit. Kumasukkan hingga leher kontolku. Pada tahap
itu, kukeluarkan lagi kontolku. Demikian seterusnya masuk keluar.

Ia merengek, ”Gus, masukkan lebih dalam dong! Jangan siksa aku, aku jadi mau
dapat lagi nih karena kepandaian kamu main!”
Kutekan kontolku masuk keluar makin dalam ke duburnya, sementara kedua
tanganku menahan kedua kakinya yang terpentang lebar-lebar. Jari-jari tangan
kanannya menampar-nampar labia toroknya dan sesekali memilin-milin itilnya,
sedangkan tangan kirinya meremas-remas kedua teteknya bergantian.

”Kasihan juga perempuan ini, andaikan suaminya bangun, ia sudah bisa membantu
meremas tetek dan menyentuh toroknya” pikirku.

Kami berdua semakin cepat melakukan gerakan, geliat pinggulnya begitu seksi ketika
hunjaman kontolku semakin cepat ke dalam duburnya. Dengan suatu sentakan kuat,
kumasuki liang duburnya sedalam-dalamnya dan kunikmati denyutan duburnya yang
begitu kuat hingga kurasakan seakan-akan pejuku tertahan akibat jepitan hebatnya.

Aku merasa tersiksa atas keadaan itu, dan dengan cepat kucabut kontolku tanpa
menghiraukan protesnya, ”Ada apa, Gus? Keluarin aja di situ!”

Cairan pejuku hampir saja muncrat di luar tubuhnya, karena aku sudah mencapai
puncak kenikmatan. Kulihat toroknya masih membuka lebar, kupentang kedua
pahanya dan kembali kontol kubenamkan dalam-dalam memasuki rongga toroknya.
Denyutan toroknya masih terasa begitu kencang tetapi karena begitu banyak
cairannya, jepitannya tak sekencang duburnya. Sambil mengerang kuhunjamkan
kontolku sedalam-dalamnya.
”Guuusss, gila kamuuuuu… enak banget sihhhhhh?” jeritnya sambil memeluk
pinggangku kuat-kuat dan merasakan kukunya lagi-lagi menancap di bagian belakang
tubuhku.

Tak terasa kami berdua main dua ronde lagi di ruang keluarga itu. Dan tertidur dalam
keadaan berpelukan dengan bertelanjang bulat di karpet. Kami baru terbangun ketika
merasakan silau cahaya matahari memasuki celah-celah gordyn ruangan itu. Anna
terbangun, hingga membuatku juga ikut terbangun. Kami berdua berdiri sambil
berciuman lagi. Sambil menggandeng tanganku, Anna mengajakku menuju kamar
tidur mereka dan kami menyaksikan suaminya masih tidur nyenyak. Anna
mengajakku mandi berdua di kamar mandi di kamar mereka. Kami berdua mandi di
bathtub saling menyabuni tubuh dan kembali bersenggama satu ronde di dalam air.
Luar biasa. Entah sudah berapa kali orgasme yang Anna nikmati. Ketika kami keluar
dari kamar mandi, suaminya masih tidur, sampai Anna membangunkannya dengan
ciuman lembut. Setelah suaminya mandi, kami sarapan bertiga.

Suaminya minta maaf karena begitu nyenyak tidur. Anna menukas, ”Nggak apa-apa
koq Mas. Agus maklum dan ia bisa melayani permintaanku main lagi di ruang
keluarga dan di kamar mandi.”

”Luar biasa. Kalian berdua benar-benar hebat” puji suaminya tanpa rasa cemburu
sedikit pun.
”Gus, aku sangat berterima kasih atas kedatanganmu. Belum pernah kulihat Anna
segembira ini” lanjutnya.
”Kuharap ini bukan yang terakhir kali kita bertiga, walaupun tadinya aku merasa aneh
dengan ide gilanya Anna mengajak kamu main dengan kami. Setelah kualami sendiri,
ternyata amat nikmat. Aku sendiri merasa seakan-akan menjadi pengantin baru kayak
dulu lagi” katanya lagi.

Aku hanya tersenyum menanggapi percakapan itu.

Itulah pengalamanku pertama kali bertiga dengan Anna dan suaminya. Beberapa kali
kami masih melakukan hal serupa. Kadang-kadang Anna memintaku tidur di
rumahnya ketika suaminya tugas selama tiga minggu di luar negeri. Tiada hari tanpa
persetubuhan yang kami lakukan berdua. Uniknya lagi, saat suaminya menelepon dari
luar negeri, Anna sengaja mengaktifkan headphone agar suaminya dapat mendengar
desahan dan rintihan kami. Entah apa yang dilakukan suaminya di ujung sana, tapi ia
berterima kasih kepadaku yang mau membantu mereka. Hal itu kami lakukan cukup
lama.

Pernah Anna mengajak aku dan suaminya main bersama seorang teman
perempuannya waktu kuliah di Australia. Henny namanya, orang Sunda. Orangnya
tidak secantik Anna, tetapi manis. Sudah menikah tetapi juga sama dengan Anna,
belum punya anak. Akhirnya aku mengerti bahwa baik Anna maupun Henny adalah
biseks. Mereka bulan lesbian murni, tetap menginginkan lelaki, tetapi tak bisa
melupakan teman intimnya dulu. Kisah ini akan kuceritakan di saat berikut.

Suami Anna sangat berterima kasih, ketika setahun kemudian meneleponku


memberitahukan bahwa Anna sedang hamil dua bulan. Ia memintaku datang ke
rumah mereka, tetapi aku mengelak dengan alasan sedang ada kerjaan kantor yang
tak dapat ditinggalkan. Padahal, aku tak kuasa menahan gejolak di hati, bahwa benih
yang dikandung Anna adalah anakku. Aku hanya dapat berharap mereka bahagia
dengan kehadiran anak itu.

Tiga tahun kemudian aku menikah dengan seorang gadis Jawa. Ia tidak secantik
Anna, tidak juga semanis Henny, tetapi ia mencintaiku dengan tulus dan mau
menerima diriku apa adanya. Pernah Anna meneleponku karena rindu lama tak
bertemu denganku dan bertanya apakah aku tidak ingin melihat anakku yang pernah
ia kandung. Aku katakan rindu, tetapi tak kuasa bertemu mereka. Hanya berharap
mereka bahagia dan rukun selalu. Mendengar kata-kataku, Anna terisak di telepon
dan berharap, jika suatu ketika aku mau bertemu dengannya, Dicky tak pernah
cemburu, bahkan jika aku memintanya, ia akan melayaniku lagi.

Suka sama ceritanya? gimana kalo sekalian nonton video bokep? klik disini untuk
melihat koleksi video bokep kami

Bercinta Berempat
31
Posted by admin on April 15, 2009 – 12:09 pm
Filed under gangbang

Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang wanita karir, yang entah
bagaimana ceritanya wanita karir tersebut mengetahui nomor kantorku.

Siang itu disaat aku hendak makan siang tiba-tiba telepon lineku berbunyi dan
ternyata operator memberitau saya kalau ada telepon dari seorag wanita yang engak
mau menyebutkan namanya dan setelah kau angkat.

“Hallo, selamat siang joko,” suara wanita yang sangat manja terdengar. “Helo juga,
siapa ya ini?” tanyaku serius. “Namaku Karina,” kata wanita tersebut mengenalkan
diri. “Maaf, Mbak Karina tahu nomor telepon kantor saya dari mana?” tanyaku
menyelidiki. “Oya, aku temannya Yanti dan dari dia aku dapat nomor kamu,”
jelasnya. “Ooo… Yanti,” kataku datar.

Aku mengingat kisahku, sebelumnya yang berjudul empat lawan satu. Yanti adalah
seorang wanita karir yang juga ‘mewarnai’ kehidupan sex aku.
“Gimana kabarnya Yanti dan dimana sekarang dia tinggal?” tanyaku. “Baik, sekarang
dia tinggal di Surabaya, dia titip salam kangen sama kamu,” jelas Karina.

Sekitar 10 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang sudah kenal lama. Suara
Karina yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk
fisiknya dari wanita tersebut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Karina
membuyarkan lamunanku.

“Hallo… Joko, kamu masih disitu?” tanya Karina. “Iya… Iya Mbak… ” kataku
gugup. “Hayo mikirin siapa, lagi mikirin Yanti yaa?” tanyanya menggodaku. “Nggak
kok, malahan mikirin Mbak Karina tuh,” celetukku. “Masa sih… Aku jadi GR deh”
dengan nada yang sangat menggoda. “Joko, boleh nggak aku bertemu dengan kamu?”
tanya Karina. “Boleh aja Mbak… Bahkan aku senang bisa bertemu dengan kamu,”
jawabanku semangat “Oke deh, kita ketemuan dimana nih?” tanyanya semangat.
“Terserah Mbak deh, Joko sih ngikut aja?” jawabku pasrah. “Oke deh, nanti sore aku
tunggu kamu di Mc. Donald plasa senayan,” katanya. “Oke, sampai nanti joko… Aku
tunggu kamu jam 18.30,” sambil berkata demikian, aku pun langsung menutup
teleponku.

Aku segera meluncur ke kantin untuk makan siang yang sempat tertunda itu. Sambil
membayangkan kembali gimana wajah wanita yang barusan saja menelpon aku.
Setelah aku selesai makan aku pun langsung segera balik ke kantor untuk melakukan
aktivitas selanjutnya.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tiba saatnya aku pulang kantor
dan aku segera meluncur ke plasa senayan. Sebelumnya prepare dikantor, aku mandi
dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, aku
sengaja membelinya dikantin karena aku nggak mau ketemu wanita dengan tanpak
kotor dan bau badan, kan aku menjadi nggak pede dengan hal seperti itu.

Tiba di Plasa Senayan, aku segera memarkirkan mobil kijangku dilantai dasar. Jam
menunjukkan pukul 18.15. Aku segera menuju ke MC. Donald seperti yang dikatakan
Karina. Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar jalan, sehingga aku bisa
melihat orang lalu lalang diarea pertokaan tersebut.

Saat mataku melihat situasi sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita
setengan baya yang duduk sendirian. Menurut perkiraanku, wanita ini berumur
sekitar 32 tahun. Wajahnya yang lumayan putih dan juga cantik, membuat aku
tertegun, nataku yang nakal, berusaha menjelajahi pemadangan yang indah dipandang
yang sangat menggiurkan apa lagi abgian depan yang sangat menonjol itu. Kakinya
yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih dan juga montok dibalik
rok mininya, membuat aku semakin gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya
diriku bila yang aku lihat itu adalah orang yang menghubungiku tadi siang dan aku
lebih bahagia lagi bila dapat merasakan tubuhnya yang indah itu.
Tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdetuk
kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku.

“Maaf apakah kamu Joko?” tanyanya sambil menatapku. “Iy… Iyaa… Kamu pasti
Karina,” tanyaku balik sambil berdiri dan mengulurkan tanganku.

Jarinya yang lentik menyetuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesr
ketika tangannya yang lembut dan juga halus meremas tangaku dengan penuh
perasaan.

“Silahkan duduk Karina,” kataku sambil menarik satu kursi di depanku. “Terima
kasih,” kata Karina sambil tersenyum. “Dari tadi kamu duduk disitu kok nggak
langsung kesini aja sih?” tanyaku. “Aku tadi sempat ragu-ragu, apakah kamu
memang Joko,” jelasnya. “Aku juga tadi berpikir, apakah wanita yang cantik itu
adalah kamu?” kataku sambil tersenyum.

Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang
kami berdua saling bercanda, saling menggoda dan sesekali bicara yang
‘menyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah cantik saja
wajahnya yang semakin matang.

Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Karina adalah seorang wanita yang
sedang bertugas di Jakarta. Karina adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 4
hari dinas di Jakarta.

“Karin, kamu kenal Yanti dimana?” tanyaku.

Yanti adalah teman chattingku di YM, aku dan Yanti sering online bersama. Dan
kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga kisah rumah tangga,
bahkan masalah sex sekalipun. Mulutnya yang mungil menjelaskan dengan penuh
semangat.

“Emangnya Yanti menikah kapan? Aku kok nggak pernah diberitahu sih,” tanyaku
penuh penasaran. “Dia menikah dua minggu yang lalu dan aku nggak tahu kenapa dia
nggak mau memberi tahu kamu sebelumnya,” Jawabnya penuh pengertian. “Ooo,
begitu… ” kataku sambil manggut-manggut. “Ini adalah hari pertamaku di Jakarta
dan aku berencana menginap 4 hari, sampai urusan kantorku selesai,” jelasnya tanpa
aku tanya. “Sebenarnya tadi Yanti juga mau dateng tapi berhubung ada acara
keluarga jadi kemungkinan dia akan datang besok harinya dia bisa dateng,” jelasnya
kembali. “Memangnya Mbak Karina menginap dimana nih?” tanyaku penasaran.
“Kebetulan sama kantor sudah dipesankan kamar buat aku di hotel H… “jelasnya.
“Mmm, emangnya Mbak sama siapa sih?” tanyaku menyelidik. “Ya sendirilah,
Joko… Makanya saat itu aku tanya Yanti,” katanya “Tanya apa?” tanyaku mengejar.
“Apakah punya teman yang bisa menemaniku selama aku di Jakarta,” katanya. “Dan
dari situlah aku tahu nomor telepon kamu,” lanjutnya.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 10.25 wib, dan aku lihat sekelilingku
pertokoan mulai sepi karena memang sudah mulai larut malam. Dan toko pun sudah
mulai tutup.

“Jok… Kamu mau anter aku balik ke hotel nggak?” tanyanya. “Boleh, masa iya sih
aku tega sih biarin kamu balik ke hotel sendirian,” kataku.

Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke
hotel H… Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Plasa Senayan. Aku dan Karina
bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 5, dan sesampainya di depan kamarnya,
Karina menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang mengundang syaraf
kelaki-lakianku serasa berontak ketika berjalan dibelakangnya.

Dan ketika aku hendak masuk ternyata ada dua orang wanita yang sedang asyik
ngegosip dan mereka pun tersenyum setelah aku masuk kekamarnya. Dalam batinku,
aku tenyata dibohongi ternyata dia nggak sendiri. Karina pun memperkenalkan
teman-temannya yang cantik dan juga sex yang berbadan tinggi dan juga mempunyai
payudara yang besar dia adalah Miranda(36b) sedangkan yang mempunyai badan
yang teramat sexy ini dan juga berpayudara yang sama besarnya bernama
Dahlia(36b). Dan mereka pun mempersilahkan aku duduk.

Tanpa dikomando lagi mereka pun perlahan-lahan memulai membuka pakaian


mereka satu persatu, aku hanya bisa melotot saja tak berkedip sekali pun, tak terasa
adik kecilku pun segera bangun dari tidurnya dan segera bangun dan langsung
mengeras seketika itu juga. Setelah mereka telanjang bulat terlihatlah pemandangan
yang sangat indah sekali dengan payudara yang besar, Karina pun langsung
menciumku dengan ganasnya aku sampai nggak bisa bernafas karena serangan yang
sangat mendadak itu dan aku mencoba menghentikannya.

Setelah itu dia pun memohon kepadaku agar aku memberikan kenikmatan yang
pernah aku berikan sama Yanti dan kawan-kawan. Setelah itu Karina pun langsung
menciumku dengan garangnya dan aku pun nggak mau tinggal diam aku pun
langsung membalas ciumannya dengan garang pula, lidah kamipun beraduan, aku
mulai menghisap lidahnya biar dalam dan juga sebaliknya. Sedangkan Miranda
mengulum penisku ke dalam mulutnya, mengocok dimulutnya yang membuat sensasi
yang tidak bisa aku ungkapkan tanpa sadar aku pun mendesah.

“Aaahh enak Mir, terus Mir hisap terus, aahh… ”

Sedangkan Dahlia menghisap buah zakarku dengan lembutnya membuat aku semakin
nggak tertahankan untuk mengakhiri saja permaianan itu. Aku pun mulai menjilati
vagina Karina dengan lembut dan perlahan-lahan biar dia bisa merasakan permaianan
yang aku buat. Karina pun menjerit keras sambil berdesis bertanda dia menikmati
permainanku itu.

Mirandapun nggak mau kalah dia menghisap payudaranya Karina sedangkan Dahlia
mencium bibir Karina agar tidak berteriak ataupun mendesis. Setelah beberapa lama
aku menjilati vaginanya terasa badannya mulai menegang dan dia pun mendesah.
“Jok… Akuu mauu keeluuarr.”

Nggak beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak itu akupun langsung
menghisapnya sampai bersih tanpa tersisa. Setelah itu aku pun langsung memasukkan
penisku ke dalam vagina Karina, perlahan-lahan aku masukkan penisku dan sekali
hentakan langsung masuk semua ke dalam vaginanya yang sudah basah itu. Aku pun
langsung menggenjotnya dengan sangat perlahan-lahan sambil menikamati sodokan
demi sodokan yang aku lakukan dan Karina pun mulai mendesah nggak karuan.

“Aaahh enak Jok, terus Jok, enak Jok, lebih dalam Jok aahh, sstt… ”

Membuat aku bertambah nafsu, goyanganku pun semakin aku percepat dan dia mulai
berkicau lagi.

“Aaahh enak Jok, penis kamu enak banget Jok, aahh… ”

Setelah beberapa lama aku mengocok, diapun mulai mengejang yang kedua kalinya
akupun semakin mempercepat kocokanku dan tak beberapa lama aku mengocoknya
keluarlah cairan dengan sangat derasnya dan terasa sekali mengalir disekitar penisku.
Akupun segera mencabut penisku yang masih tegang itu. Miranda segera mengulum
penisku yang masih banyak mengalir cairan Karina yang menempel pada penisku,
sedangkan Dahlia menghisap vaginanya Karina yang masih keluar dalam vaginanya
dengan penuh nafsunya.

Miranda pun mulai mengambil posisi, dia diatas sedangkan aku dibawah.
Dituntunnya penisku untuk memasuki vaginanya Miranda dan serentak langsung
masuk. Bless… Terasa sekali kehangatan didalam vaginanya Miranda. Dia pun mulai
menaik turunkan pantatnya dan disaat seperti itulah dia mulai mempercepat
goyangannya yang membuat aku semakin nggak karuan menahan sensasi yang
diberikan oleh Miranda.

Dahlia pun mulai menghisap payudara Miranda penuh gairah, sedangkan Karina
mencium bibir Miranda dengan garangnya, Miranda mempercepat goyangannya yang
membuat aku mendesah.

“Aaahh enak Mir… Terus Mir… Goyang terus Mir… Lebih dalam lagi Mir… Aaahh
sstt”
Dan selang beberapa menit aku merasakan penisku mulai berdenyut,

“Mir… Aku… ingiin keeluuaarr”

Seketika itu juga muncratlah air maniku didalam vaginanya, entah berapa kali
munceratnya aku nggak tahu karena terlalu nikmatnya dan diapun masih mengoyang
semakin cepat. Seketika itu juga tubuhnya mulai menegang dan terasa sekali
vaginanya berdenyut dan selang beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak
sekali, aku pun langsung mengeluarkan penisku yang sudah basah kuyup ditimpa
cairan cinta. Mereka pun berebutan menjilati sisa-sia cairan yang masih ada
dipenisku, Dahlia pun langsung menjilati vaginanya Miranda yang masih mengalir
cairan yang masih menetes di vaginanya. Akupun melihat mereka seperti kelaparan
yang sedang berebutan makanan, setelah selang beberapa lama aku mulai memeluk
Dahlia dan aku pun mulai mencium bibirnya dan mulai turun ke lehernya yang
jenjang menjadi sasaranku yang mulai menari-nari diatasnya.

“Ooohh… Joko… Geelli… ” desah Dahlia.

Serangan bibirku semakin menjadi-jadi dilehernya, sehingga dia hanya bisa merem
melek mengikuti jilatan lidahku.

Miranda dan Karina mereka asyik berciuman dan saling menjilat payudara mereka.
Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhnya sehingga bibirku
sekarang berhadapan dengan 2 buah bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang.
Aku pun mulai menjilati dan sekali-kali aku gigit puntingnya dengan gigitan kecil
yang membuat dia tambah terangsang lagi dan dia medesah.

“Aaahh enak sekali Jok… Terus Jok hisap terus Jok enak Jok aahh sstt… ”

Dahlia pun membalasnya dengan mencium bibirku dengan nafsunya dan setelah itu
turun ke pusar dan setelah itu dia mulai mengulum, mengocok, menjilat penisku
didalam mulutnya. Setelah dia puas aku kembali menyerangnya langsung ke arah
lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat.
Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesis hebat. Tanpa
menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan kepermukaan bibir vagina.

Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tumbuh disekitar selangkangannya


untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya.

“Ssstt… Jok… Nikmat sekali… Ughh,” rintihnya.

Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku diujung


clitorisnya. Gerak tubuh Dahlia yang terkadang berputar-putar dan naik turun,
membuat lidahku semakin menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya.
“Joko… Gila banget lidah kamu… ” rintihnya “Terus… Sayang… Jangan lepaskan…
” pintanya.

Paha Dahlia dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilatnya.
Dahlia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejola
dihatinya.

“Oohh… Joko, aku nggak tahan… Ugh… ” rintihnya. “Joko cepet masukan penis
kamu aku sudah nggak tahan nih,” pintanya.

Perlahan aku angkat kaki kanannya dan aku baringkan ranjang yang empuk itu.
Batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaannya dan sekali hentak.

“Bleest… ” kepala penisku menggoyang vaginanya Dahlia. “Aowww… Gila besar


sekali Jok… Punya kamu,” Dahlia merintih.

Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Dahlia mengelinjang hebat danm
sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa
dibatang kemaluanku.

“Joko… Jangan berhenti sayang… Oogghh,” pinta Dahlia.

Dahlia terus menggoyangkan kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku
yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Sesekali Dahlia membantu
pinggulnya untuk berputar-putar.

“Joko… Kamu… Memang… Jagoo… Ooohh,” kepalannya bergerak ke kiri dan ke


kanan seperti orang triping.

Beberapa saat kemudian Dahlia seperti orang kesurupan dan ingin memacu birahinya
sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Dahlia semakin
liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan
lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyang
dinding vagina Dahlia.

“Joko… Terus… Sayang… Jangan berhenti… ” Dahlia meminta.

Permainanku benar-benar memancing birahi Dahlia untuk mencapai kepuasan


birahinya. Sesaat kemudian, Dahlia benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya.
Tubuhnya bergerak hebat.

“Joko… Aakuu… Kelluuaarr… Aaakkhh… Goyang sayang,” rintih Dahlia.


Gerakan penisku kubuat patah-patah, sehingga membuat birahi Dahlia semakin tak
terkendali.

“Jok… Ooo… Aaammpuunn,” rintihnya panjang.

Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga
mentok dilangit-langit vagina Dahlia. Aku merasakan semburan cairan membasahi
seluruh penisku.

Dahlia yang sudah mendapat kedua orgasmenya, sedangkan aku masih berusaha
untuk mencari kepuasan birahiku. Posisi Dahlia, sekarang menungging. Penisku yang
masih tertancap pada lubang vaginanya langsung aku hujamkan kembali ke lubang
vaginanya Dahlia.

“Ooohh… Joko… Kamu… Memang… Ahli… ” katanya sambil merintih.

Kedua tanganku mencengkeram pinggul Dahlia dan menekan tubuhnya supaya


penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya.

“Dahlia… Vagina kamu memang enak banget,” pujiku. “Kamu suka minum jamu yaa
kok seret?” tanyaku.

Dahlia hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan


penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijiti oleh vagina Dahlia
dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku diterima
Dahlia karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku.

Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah
mengoyak birahiku.

“Dahlia… Aku mau… Keluar… “kataku mendesah. “Aku juga sayang… Ooohh…
Nikmat terus… Terus… ” Dahlia merintih. “Joko… Keluarin didalam… Aku ingin
rasakan semprotan… Kamu… ” pintanya. “Iya sudah… Ooogh… Aaakhh… ”
rintihku.

Gerekan maju mundur dibelakang tubuh Dahlia semakin kencang, semakin cepat dan
semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama.

“Joko… Aku… Aku… Ngaak kkuuaatt… Aaakhh” rintih Dahlia. “Aku juga sudah…
Ooogh… Dahh,” aku merintih. “Crut… Crut… Crut… ” spermaku muncrat
membanjiri vaginanya Dahlia.
Karena begitu banyak spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah
vagina Dahlia. Setelah beberapa saat kemudian Dahlia membalikkan tubuhnya dan
berhadapan dengan tubuhku.

“Joko, ternyata Yanti benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar
biasa” kata Dahlia merintih. “Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh
hatiku saja,” kataku merendah. “Kamu luar biasa… ” Dahlia tidak meneruskan kata-
katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih
termangu.

Segera aku palingkan wajahku ke arah Karina dan Miranda, ternyata mereka sudah
tertidur pulas mungkin karena sudah terlalu lelah, dan akupun tak kuasa menahan
lelah dan akhirnya akupun tertidur pulas. Dan setelah 4 jam aku tertidur aku pun
terbangun karena ada sesuatu yang sedang mengulum batang kemaluanku dan
ternyata Miranda sudah bangun dan aku pun menikmatinya sambil menggigit bibir
bawahku. Dan kuraih tubuhnya dan kucium bibirnya penuh dengan gairah dan
akhirnya kami pun mengulang kembali sampai besok harinya. Dengan terpaksa aku
menginap karena pertarunganku dengan mereka semakin seru aja.

Ketika pagi telah tiba akupun langsung ke kamar mandi di ikuti oleh mereka dan
akupun mandi bareng dan permainan dimulai kembali didetik-detik ronde terakhir.
Tanpa terasa kami berempat sudah naik didalam bathup, kami mandi bersama.
Guyuran air dipancurkan shower membuat tubuh mereka yang molek bersinar diterpa
cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut. Dengan halus, mereka
menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya mereka. Aku mengosok
keseluruh tubuh mereka satu persatu, sesekali jariku yang nakal memilih punting
mereka.

“Ughh… Joko… ” mereka merintih dan bergerak saat aku permainkan puntignya
yang memerah.

Sebelum aku meinggalkan mereka, kami berempat berburu kenikmatan. Dan entah
sudah berapa kali mereka yang sedang membutuhkan kehangatan mendapatkan
orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berempat memburu
birahinya yang tidak kenyang.

Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 08.00 wib, dimana aku harus berangkat
kerja dan pada jam seperti ini jalanan macet akupun mempercepat jalannya agar tidak
terkena macet yang berkepanjangan. Aku meninggalkan Hotel H… Sambil
menikmati sisa-sisa kenikmatan yang sudah ditinggalkan oleh permainan tadi.

Istri Konglomerat
31
Posted by admin on April 15, 2009 – 12:07 pm
Filed under gangbang

Aku sedang menyantap makan siang di sebuah cafe yang terletak di lantai dasar
gedung kantorku. Hari itu aku ditemani Pak Erwan, manajer IT perusahaanku dan
Lia, sekretarisku. Biasanya aku makan siang hanya dengan Lia, sekretarisku, untuk
kemudian dilanjutkan dengan acara bobo siang sejenak sebelum kembali lagi ke
kantor. Tetapi hari itu sebelum aku pergi, Pak Erwan ingin bertemu untuk
membicarakan proyek komputerisasi, sehingga aku ajak saja dia untuk bergabung
menemaniku makan siang.

Aku dan Pak Erwan berbincang-bincang mengenai proyek implementasi software dan
juga tambahan hardware yang diperlukan. Memang perusahaanku sedang ingin
mengganti sistem yang lama, yang sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan
perusahaan yang terus berkembang. Sedangkan Lia sibuk mencatat pembicaraan kita
berdua.

Sedang asyik-asyiknya menyantap steak yang kupesan, tiba-tiba HPku berbunyi.


Kulihat caller idnya.. Dari Santi.

“Hallo Pak Robert. Kapan nih kesini lagi” suara merdu terdengar diseberang sana.
“Oh iya. Nanti sebentar lagi saya ke sana. Saya sedang makan siang nih. Bapak
tunggu sebentar ya” jawabku.
“He.. He.. Sedang nggak bisa ngomong ya Pak” Santi menggoda.
“Betul Pak.. OK sampai ketemu sebentar lagi ya” kataku sambil menutup
pembicaraan.
“Dari klien” kataku.

Aku sangat hati-hati tidak mau affairku dengan Santi tercium oleh mereka. Hal ini
mengingat Pak Arief, suami Santi, adalah manajer keuangan di kantorku. Kebetulan
Pak Arief ini sedang aku kirim training ke Singapore, sehingga aku bisa leluasa
menikmati istrinya.

Seusai menikmati makan siang, aku berkata pada Lia bahwa aku akan langsung
menuju tempat klienku. Seperti biasa, aku minta supaya aku tidak diganggu kecuali
kalau ada emergency. Kamipun berpisah.. Mereka kembali ke lantai atas untuk
bekerja, sedangkan aku langsung menuju tempat parkir untuk berangkat mengerjai
istri orang he.. He..

Setelah kesal karena terjebak macet, sampai jugalah aku di rumah Santi. Hari sudah
menjelang sore. Bayangkan saja, sudah beberapa jam aku di jalan tadi. Segera
kuparkirkan Mercy silver metalik kesayanganku, dan memencet bel rumahnya. Santi
sendiri yang membukakan pintu. Dia tersenyum gembira melihat kedatanganku.
“Aih.. Pak Robert kok lama sih” katanya.
“Iya.. Tadi macet total tuh.. Rumah kamu sih jauh.. Mungkin di peta juga nggak ada”
candaku.
“Bisa aja Pak Robert..” jawab Santi sambil tertawa kecil.

Dia tampak cantik dengan baju “you can see” nya yang memperlihatkan lengannya
yang mulus. Buah dadanya tampak semakin padat dibalik bajunya. Mungkin karena
sudah beberapa hari ini aku remas dan hisap sementara suaminya aku “asingkan” di
negeri tetangga.

Kamipun masuk ke dalam rumah dan aku langsung duduk di sofa ruang keluarganya.
Santi menyuguhkan orange juice untuk menghilangkan dahagaku. Nikmat sekali
meminum orange juice itu setelah lelah terjebak macet tadi. Dahagakupun langsung
hilang, tetapi setelah melihat Santi yang cantik, dahagaku yang lainpun muncul. Aku
masih bernafsu melihat Santi, meskipun telah lima hari berturut-turut aku setubuhi
dia.

Kucium bibirnya sambil tanganku mengelus-elus pundaknya. Ketika aku akan


membuka bajunya, dia menahanku.

“Pak.. Santi ada hadiah nih untuk bapak”


“Apaan nih?” jawabku senang.
“Ini ada teman Santi yang mau kenal sama bapak. Orangnya cantik banget.”

Lalu dia bercerita kalau dia berkenalan dengan seorang wanita, Susan, saat dia sedang
berolahraga di gym. Setelah mulai akrab, merekapun bercerita mengenai kehidupan
seks mereka. Singkat cerita, Susan menawarkan untuk berpesta seks sambil bertukar
pasangan di rumah mereka.

“Dia ingin coba ini bapak. Katanya belum pernah lihat yang sebesar punya Pak
Robert” kata Santi sambil meraba-raba kemaluanku.
“Saya sih OK saja” jawabku riang.
“Oh ya.. Nanti pura-pura saja Pak Robert suamiku” kata Santi sambil pamit untuk
menelpon kenalan barunya itu.

Aku dan Santi kemudian meluncur menuju rumah Susan di kawasan Kemang.
Untung jalanan Jakarta sudah agak lengang. Tak lama kamipun sampai di rumahnya
yang luas. Seorang satpam tampak membukakan pintu garasi. Santipun menjelaskan
kalau kami sudah ada janji dengan majikannya. Susan menyambut kami dengan
ramah.

“Ini perkenalkan suami saya”


Seorang laki-laki paruh baya dengan kepala agak botak memperkenalkan diri.
Namanya Harry, seorang pengusaha properti yang sukses. Santipun memperkenalkan
diriku pada mereka.

Aku kagum pada rumah mereka yang sangat luas. Dengan perabot-perabot yang
mahal, juga koleksi lukisan-lukisan pelukis terkenal yang tergantung di dinding.
Bayangkan saja betapa kayanya mereka, karena orang sekelas aku saja kagum
melihat rumahnya yang sangat wah itu.

Tetapi aku lebih kagum melihat Susan. Wanita ini memang cantik sekali. Terutama
kulitnya yang putih dan mulus sekali. Ibaratnya kalau dihinggapi nyamuk, si nyamuk
akan jatuh tergelincir. Disamping itu bodynya tampak seksi sekali dengan buah dada
yang besar dan bentuk tubuh yang padat. Sekilas mengingatkan aku pada bintang film
panas di jaman tahun 80-an.. Entah siapa namanya itu.

Merekapun menyuguhkan makan malam. Kamipun bercerita basa-basi ngalor ngidul


sambil menikmati hidangan yang disediakan. Ditengah makan malam itu, Santi pamit
untuk ke toilet. Dengan matanya dia mengajakku untuk mengikuti dia.

“Pak, habis ini pulang aja yuk” kata Santi berbisik perlahan setelah keluar dari ruang
makan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Habisnya Santi nggak nafsu lihat Pak Harry itu. Sudah tua, botak, perutnya buncit
lagi”.

Aku tertawa geli dalam hati. Tetapi aku tentu saja tidak menyetujui permintaan Santi.
Aku sudah ingin menikmati istri Pak Harry yang cantik sekali seperti boneka itu.
Kupaksa saja Santi untuk kembali ke ruang makan.

Setelah makan, kamipun ke ruang keluarga sambil nonton video porno untuk
membangkitkan gairah kami. Tak lama, seorang gadis pembantu kecil datang untuk
menyuguhkan buah-buahan. Tetapi mungkin karena kaget melihat adegan di layar TV
home theater itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas kristal sehingga pecah
berkeping-keping. Kulihat tampak Susan melotot memarahi pembantunya itu,
sedangkan si pembantu kecil itu tampak ketakutan sambil meminta maaf berkali-kali.

Adegan di TV tampak semakin hot saja. Tampak Pak Harry mulai mengerayangi
tubuh Santi di sofa seberang. Sedangkan Santi tampak ogah-ogahan melayaninya.

“Sebentar Pak.. Santi mau lihat filmnya dulu”

Aku tersenyum mendengar alasan Santi ini. Sementara itu Susan minta ijin ke dapur
sebentar. Akupun mencoba menikmati adegan di layar TV. Meskipun sebenarnya aku
tidak perlu lihat yang seperti ini, mengingat tubuh Susan sudah sangat mengundang
gairahku. Tak lama akupun merasa ingin buang air kecil, sehingga akupun pamitan ke
belakang.

Setelah dari toilet, aku berjalan melintasi dapur untuk kembali ke ruang keluarga.
Kulihat di dalam, Susan sedang berkacak pinggang memarahi gadis kecil
pembantunya tadi.

“Ampun non.. Sri nggak sengaja” si gadis kecil memohon belas kasihan pada
majikannya, Susan yang cantik itu.
“Nggak sengaja nggak sengaja. Enak saja kamu bicara ya. Itu gelas harganya lebih
dari setahun gaji kamu tahu!!” bentak Susan.
“Gajimu aku potong. Biar tau rasa kamu..”

Si gadis kecil itu terdiam sambil terisak-isak. Sementara wajah Susan menampakkan
kepuasan setelah mendamprat pembantunya habis-habisan. Mungkin betul kata
orang, kalau wanita kurang dapat menyalurkan hasrat seksualnya, cenderung menjadi
pemarah. Melihat adegan itu, aku kasihan juga melihat si gadis pembantu itu. Tetapi
entah mengapa justru hasrat birahiku semakin timbul melihat Susan yang sepertinya
lemah lembut dapat bersikap galak seperti itu.

“Dasar bedinde.. Verveillen!!” Susan masih terus berkacak pinggang memaki-maki


pembantunya. Dengan tubuh yang putih bersih dan tinggi, kontras sekali melihat
Susan berdiri di depan pembantunya yang kecil dan hitam.
“Ampun non.. Nggak akan lagi non..”
“Oh Pak Robert..” kata Susan ketika sadar aku berada di pintu dapur. Diturunkannya
tangan dari pinggangnya dan beranjak ke arahku.
“Sedang sibuk ya?” godaku.
“Iya nih sedang kasih pelajaran ik punya pembantu” jawabnya sambil tersenyum
manis.
“Yuk kita kembali” lanjutnya.

Kamipun kembali ke ruang keluarga. Kulihat Santi masih menonton adegan di layar
sementara Pak Harry mengelus-elus pahanya. Aku dan Susanpun langsung berciuman
begitu duduk di sofa. Aku melakukan “french kiss” dan Susanpun menyambut penuh
gairah.

Kutelusuri lehernya yang jenjang sambil tanganku meremas buah dadanya yang
membusung padat. Susanpun melenguh kenikmatan. Tangannya meremas-remas
kemaluanku. Dia kemudian jongkok di depanku yang masih duduk di sofa, sambil
membuka celanaku. Celana dalamku dielusnya perlahan sambil menatapku
menggoda. Kemudian disibakkannya celana dalamku ke samping sehingga
kemaluankupun mencuat keluar.
“Oh..my god.. Bener kata Santi.. Very big.. I like it..” katanya sambil menjilat kepala
kemaluanku.

Kemudian dibukanya celana dalamku, sehingga kemaluankupun bebas tanpa ada


penghalang sedikitpun di depan wajahnya. Dielus-elusnya seluruh kemaluan
termasuk buah zakarku dengan tangannya yang halus. Tingkah lakunya seperti anak
kecil yang baru mendapat mainan baru.

Kemaluankupun mulai dihisap mulut Susan dengan rakus. Sambil mengulum dan
menjilati kemaluanku, Susan mengerang,emmhh.. emhh, seperti seseorang yang
sedang memakan sesuatu yang sangat nikmat. Kuelus-elus rambutnya yang hitam dan
diikat ke belakang itu.

Sambil menikmati permainan oral Susan, kulihat suaminya sedang mendapat handjob
dari Santi. Tampak Santi mengocok kemaluan Pak Harry dengan cepat, dan tak lama
terdengar erangan nikmat Pak Harry saat dia mencapai orgasmenya. Santipun
kemudian meninggalkan Pak Harry, mungkin dia pergi ke toilet untuk membersihkan
tangannya.

Sementara itu Susan masih dengan bernafsu menikmati kemaluanku yang besar.
Memang kalau kubandingkan dengan kemaluan suaminya, ukurannya jauh berbeda.
Apalagi setelah dia mengalami orgasme, tampak kemaluan Pak Harry sangat kecil
dan tertutup oleh lemak perutnya yang buncit itu. Tak heran bila istrinya sangat
menikmati kemaluanku.

Tak lama Santipun kembali muncul di ruang itu, dan menghampiriku. Susan masih
berjongkok di depanku sambil mempermainkan lidahnya di batang kemaluanku. Santi
duduk di sampingku dan mulai menciumiku. Dibukanya bajuku dan puting
dadakupun dihisapnya. Nikmat sekali rasanya dihisap oleh dua wanita cantik istri
orang ini. Seorang di atas yang lainnya di bawah. Sementara Pak Harry tampak
menikmati pemandangan ini sambil berusaha membangkitkan kembali senjatanya
yang sudah loyo.

Kuangkat baju Santi dan juga BHnya, sehingga buah dadanya menantang di depan
wajahku. Langsung kuhisap dan kujilati putingnya. Sementara tanganku yang satu
meremas buah dadanya yang lain. Sementara Susan masih mengulum dan menjilati
kemaluanku.

Setelah puas bermain dengan kemaluanku, Susan kemudian berdiri. Dia kemudian
melepaskan pakaiannya hingga hanya kalung berlian dan hak tingginya saja yang
masih melekat di tubuhnya. Buah dadanya besar dan padat menjulang, dengan puting
yang kecil berwarna merah muda. Aku terkagum dibuatnya, sehingga kuhentikan
kegiatanku menghisapi buah dada Santi. Susan kemudian menghampiriku dan
kamipun berciuman kembali dengan bergairah.
“Ayo isap susu ik ” pintanya sambil menyorongkan buah dada sebelah kanannya ke
mulutku. Tak perlu dikomando lagi langsung kuterkam buah dadanya yang kenyal
itu. Kuremas, kuhisap dan kujilati sepuasnya. Susanpun mengerang kenikmatan.

Setelah itu, dia kembali berdiri dan kemudian berbalik membelakangiku. Diapun
jongkok sambil mengarahkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang berambut tipis
itu. Kamipun bersetubuh dengan tubuhnya duduk di atas kemaluanku menghadap
suaminya yang masih berusaha membangunkan perkakasnya kembali. Kutarik
tubuhnya agak kebelakang sehingga aku dapat menciumi kembali bibirnya dan
wajahnya yang cantik itu.

“Eh.. Eh.. Eh..” dengus Susan setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke dalam
vaginanya. Aku terus menyetubuhinya sambil meremas-remas buah dadanya dan
sesekali menjilati dan menciumi pundaknya yang mulus.

Sementara itu Santi bersimpuh di ujung sofa sambil meraba-raba buah zakarku,
sementara aku sedang menyetubuhi Susan. Terkadang dikeluarkannya kemaluanku
dari vagina Susan untuk kemudian dikulumnya. Setelah itu Santi memasukkan
kembali kemaluanku ke dalam liang surga Susan.

Setelah beberapa menit, aku berdiri dan kuminta Susan untuk menungging di sofa.
Aku ingin menggenjot dia dari belakang. Kusetubuhi dia “doggy-style” sampai
kalung berlian dan buah dadanya yang besar bergoyang-goyang menggemaskan.
Kadang kukeluarkan kemaluanku dan kusodorkan ke mulut Santi yang dengan lahap
menjilati dan mengulumnya. Benar-benar nikmat rasanya menyetubuhi dua wanita
cantik ini.

“Ahh.. Yes.. Yes.. Aha.. Aha.. That’s right.. Aha.. Aha..” begitu erangan Susan
menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Hal itu menambah suasana erotis di
ruangan itu.

Sementara Pak Harry rupanya telah berhasil membangunkan senjatanya.


Dihampirinya Santi dan ditariknya menuju sofa yang lain di ruangan itu. Santipun
mau tak mau mengikuti kemauannya. Memang sudah perjanjian bahwa aku bisa
menikmati istrinya sedangkan Pak Harry bisa menikmati “istriku”.

Sementara itu, aku masih menggenjot Susan secara doggy-style. Sesekali kuremas
buah dadanya yang berayun-ayun akibat dorongan tubuhku. Kulihat Pak Harry
tampak bernafsu sekali menyetubuhi Santi dengan gaya missionary. Tak beberapa
lama kudengar erangan Pak Harry. Rupanya dia sudah mencapai orgasme yang kedua
kalinya.

Santipun tampak kembali pergi meninggalkan ruangan. Sementara aku masih


menyetubuhi Susan dari belakang sambil berkacak pinggang. Setelah itu kubalikkan
badannya dan kusetubuhi dia lagi, kali ini dari depan. Sesekali kuciumi wajah dan
buah dadanya, sambil terus kugenjot vaginanya yang sempit itu.

“Ohh.. Aha.. Aha.. Ohh god.. I love your big cock..” Susan terus meracau
kenikmatan.

Tak lamapun tubuhnya mengejang dan dia menjerit melepaskan segala beban
birahinya. Akupun sudah hampir orgasme. Aku berdiri di depannya dan kusuruh dia
menghisap kemaluanku kembali. Sementara, aku lirik ke arah Pak Harry, dia sedang
memperhatikan istrinya mengulumi kemaluanku. Kuremas rambut Susan dengan
tangan kiriku, dan aku berkacak pinggang dengan tangan kananku.

Tak lama akupun menyemburkan cairan ejakulasiku ke mulut Susan. Diapun menelan
spermaku itu, walaupun sebagian menetes mengenai kalung berliannya. Diapun
menjilati bersih kemaluanku.

“Thanks Robert.. I really enjoyed it” katanya sambil membersihkan bekas spermaku
di dadanya.
“No problem Susan.. I enjoyed it too.. Very much” balasku.

Setelah itu, kamipun kembali mengobrol beberapa saat sambil menikmati desert yang
disediakan. Kamipun berjanji untuk melakukannya lagi dalam waktu dekat.

Dalam perjalanan pulang, Santi tampak kesal. Dia diam saja di dalam mobil. Akupun
tidak begitu menghiraukannya karena aku sangat puas dengan pengalamanku tadi.
Akupun bersenandung kecil mengikuti alunan suara Al Jarreau di tape mobilku.

“We’re in this love together..”


“Kenapa sih sayang?” tanyaku ketika kami telah sampai di depan rumahnya.
“Pokoknya Santi nggak mau lagi deh” katanya.
“Habis Santi nggak suka sama Pak Harry. Udah gitu mainnya cepet banget. Santi
nanggung nih.”

Akupun tertawa geli mendengarnya.

“Kok ketawa sih Pak Robert.. Ayo.. Tolongin Santi dong.. Santi belum puas.. Tadi
Santi horny banget lihat bapak sama Susan make love” rengeknya.
“Wah sudah malam nih.. Besok aja ya.. Lagian saya ada janji sama orang”.
“Ah.. Pak Robert jahat..” kata Santi merengut manja.
“Besok khan masih ada sayang” hiburku.
“Tapi janji besok datang ya..” rengeknya lagi saat keluar dari mobilku.
“OK so pasti deh.. Bye”
Sebenarnya aku tidak ada janji dengan siapa-siapa lagi malam itu. Hanya saja aku
segan memakai Santi setelah dia disetubuhi Pak Harry tadi. Setidak-tidaknya dia
harus bersih-bersih dulu.. He.. He.. Mungkin besok pagi saja aku akan menikmatinya
kembali, karena Pak Arief toh masih beberapa hari lagi di luar negeri.

Kukebut mobilku mengarungi jalan tol di dalam kota. Semoga saja aku masih dapat
melihat film bagus tayangan HBO di TV nanti.

Temanku Aku Dan Istriku


30
Posted by admin on April 15, 2009 – 12:05 pm
Filed under gangbang

Ivan namaku berpostur tinggi dengan berat yang ideal serta penampilan dan wajah
keren kalau kata teman-temanku, saat ini aku berusia 24 tahun, kelahiran Bandung.
Terus terang aku termasuk lelaki yang mempunyai libido seks tinggi dan butuh
variasi yang bermacam-macam dalam melakukan hubungan seks. Saat ini aku sudah
bekerja dan mempunyai posisi yang cukup bagus. Serta sudah mempunyai seorang
istri yang cantik dan berkulit putih mulus dengan postur tubuh yang menarik serta
selalu merangsang nafsuku.

Cerita yang akan kutampilkan ini adalah pengalamanku beberapa waktu lalu. Saat itu
aku mendapat undangan dari seorang teman lamaku yang bernama Jay. Jay adalah
temanku semasa kuliah dulu di kota Surabaya. Sejak lulus dari kuliah kami tidak
pernah bertemu, tetapi komunikasi melalui telepon tetap berjalan lancar. Saat ini dia
juga sudah menikah, dan aku belum mengenal istrinya. Dia juga saat ini sudah
berkerja di salah satu perusahaan besar di Surabaya, sedangkan aku berkerja di
Jakarta sampai sekarang.

Pada saat menghubungiku, Jay mengatakan bahwa dia akan berada di Jakarta selama
satu minggu lamanya dan tinggal sementara di sebuah apartemen yang telah
disediakan oleh perusahaannya. Dia juga datang bersama istrinya dan saat ini mereka
juga belum mempunyai anak seperti aku dan istriku, maklum kami kan masing-
masing baru menikah dan masih fokus ke karir kami, baik istriku ataupun istri Jay
hanya ibu rumah tangga saja, sebab kami pikir kondisi itu lebih aman untuk
mempertahankan sebuah rumah tangga, karena dunia kerja pergaulannya menurut
kami tidaklah aman bagi istri-istri kami.

Malam itu sampailah kami di kamar apartemen yang dihuni oleh Jay dan istrinya.
“Hai.. Jay gimana kabar kamu, sudah lama yach kita nggak ketemu, kenalkan ini
istriku Lusi,” kataku.
“Hai Van, nggak ngira gua kalau bakalan bisa ketemu lagi sama kamu, hai Lusi.. apa
kabar, ini Sari istriku, Sari ini Ivan dan Lusi..” kata Jay balik memperkenalkan
istrinya dan mengajak kami masuk.
Kemudian kami ngobrol bersama sambil menikmati makanan yang telah disiapkan
oleh Jay dan Sari. Kulihat Lusi dan Sari cepat akrab walaupun mereka baru ketemu,
begitu juga dengan aku dan Jay.

Ketika Sari dan Lusi asyik ngobrol macam-macam, Jay menarikku ke arah balkon
yang ada dan segera menarik tanganku sambil membawa minuman kami masing-
masing.
“Eh.. Van gua punya ide, mudah-mudahan aja elo setuju.. karena ini pasti sesuai
dengan kenakalan kita dulu.. gimana..” kata Jay.
“Mengenai apa..” kataku.
“Tapi elo jangan marah ya.. kalau nggak setuju..” kata Jay lagi.
“Oke gua janji..” kataku.
“Begini.. gua tau kita kan masing-masing punya libido seks yang tinggi, gimana kalau
kita coba bermain seks bersama malam ini, dengan berbagai variasi tentunya, elo
boleh pakai istri gua dan gua juga boleh pake istri kamu, gimana..” ucap Jay.
“Ah.. gila kamu..” kataku spontan.

Tetapi aku terdiam sejenak dan berpikir sambil memandangi Lusi dan Sari yang
sedang asyik ngobrol. Kulihat Sari sangat cantik tidak kalah cantiknya dengan Lusi,
dan aku yakin bahwa sebagai laki-laki aku sangat tertarik untuk menikmati tubuh
seorang wanita seperti Lusi maupun Sari yang tidak kalah dengan ratu-ratu
kecantikan Indonesia.

“Gimana Van.. kan kita akan sama-sama menikmatinya, tidak ada untung rugilah..”
kata Jay meminta keputusanku lagi.
“Tapi gimana caranya.. mereka pasti marah.. kalau kita beritahu..” aku balik bertanya.
“Tenang aja, gua punya caranya kalau elo setuju..” kata Jay lagi.
“Gua punya Pil perangsang.. lalu kita masukkan ke minuman istriku dan istrimu..
tentunya dengan dosis yang lebih banyak, agar mereka cepat terangsang, dan kita
mulai bereaksi.”
“Oke.. gua setuju..” kataku.
Dan kami pun mulai melaksanakan rencana kami tersebut.

Jay mengambil gelas lagi dan memasukkan beberapa butir pil perangsang ke dalam
dua buah gelas yang sudah diisi soft drink yang akan kami berikan kepada Lusi dan
Sari. “Aduh.. asyik amat.. apa sich yang diobrolin.. nich.. minumnya kita tambah..”
kata Jay sembari memberikan gelas yang satu ke Sari, sedangkan aku memberikan
yang satu lagi ke Lusi, karena kebetulan minuman milik mereka yang sebelumnya
kelihatan sudah habis. Kemudian Lusi dan Sari langsung menenggak minuman yang
kami berikan beberapa kali. Aku duduk di samping Lusi dan Jay duduk di dekat Sari,
kami pun ikutan ngobrol bersama mereka. Beberapa waktu kemudian, baik aku
maupun Jay mulai melihat Lusi dan Sari mulai sedikit berkeringat dan gelisah sambil
merubah posisi duduk dan kaki mereka, mungkin obat perangsang tersebut mulai
bereaksi, pikirku.
Kemudian Jay berinisiatif mulai memeluk Sari istrinya dari samping, begitu juga aku,
dengan sedikit meniupkan desah nafasku ke tengkuk Lusi istriku.
“Sar.. aku sayang kamu..” kata Jay.
Kulihat tangannya mulai meraba paha Sari, istrinya.
“Eh Jay.. apaan.. sich kamu.. kan malu.. akh.. ah..” kudengar suara Sari halus.
“Nggak pa-pa.. ah.. ah.. kamu sayangku.. ah..” desah Jay meneruskan serangannya ke
Sari.
Melihat kondisi itu, Lusi agak bingung.. tapi aku tahu kalau dia pun mulai terangsang
dan tak kuasa menahan gejolak nafsunya.
“Lus.. aku cinta kamu.. ukh.. ulp.. ah..”
Aku pun mulai memeluk Lusi istriku dan langsung mencium bibirnya dengan nikmat,
dan kurasa Lusi pun menikmatinya. Aku pun mulai memeluk tubuh istriku dari
depan, dan tanganku pun mulai meraba bagian pahanya sama seperti yang dilakukan
oleh Jay.
“Lus.. akh.. ak.. kamu.. sangat cantik sayang..” kataku.
“Akh.. Van.. ah.. ah..” desah istriku panjang, karena tanganku mulai menyentuh
bagian depan kemaluannya, dan mengelus dan mengusapnya dengan jari tangan
kananku, setelah terlebih dahulu menyibakkan CD-nya secara perlahan.

Kulihat Jay sudah membuka bajunya dan mulai perlahan membuka kancing baju Sari
istrinya, yang kelihatan sudah pasrah dan sangat terangsang. “Ah.. Jay.. ah.. ah.. ah..”
desah Sari kudengar. Dan Jay sudah berhasil membuka seluruh pakaian Sari, dan
kulihat betapa mulusnya kulit Sari yang saat ini hanya tinggal CD-nya saja, dan itu
pun sudah berhasil ditarik oleh Jay. Tinggallah tubuh bugil Sari di atas sofa yang
kami gunakan bersama itu dengan kelakuan Jay pada dirinya. Kulihat Jay pun sudah
membuka semua pakaiannya dan sekarang tanpa sehelai benang pun yang menutupi
tubuh Sari maupun Jay yang saat ini saling rangkul dan cium di sampingku dan
istriku. “Ah.. ulp.. ulp.. ulp.. ah.. sst.. sst..” kulihat Sari menjilat dan menghisap
kemaluan Jay yang putih kemerahan dengan nikmatnya. “ukh..ukh..ohh..ukh..” erang
Jay menikmati permainan Sari.

Aku pun sekarang sudah berhasil membuka semua pakaian Lusi istriku, kulanjutkan
dengan meremas buah dadanya yang kenyal itu dan kulanjutkan dengan mengisap
kedua puting susunya perlahan dan berulang-ulang. “Ah.. ah.. ah.. Van.. terus.. ah..
ah..” desah Lusi keenakan. Tangan Lusi pun mulai membuka celanaku dengan
tergesa-gesa karena hanya celanaku yang belum kubuka dan kelihatannya Lusi sudah
mulai tidak sabaran. “Akh.. akh.. ukh.. oh..” ketika celana dan CD-ku terbuka dan
jatuh ke bawah, Lusi segera memegang kemaluanku dan menjilatinya seperti apa
yang dilakukan oleh Sari.

Aku kemudian segera mengatur permainan dengan mengambil posisi jongkok dan
membuka lebar kedua kaki istriku dan mulai menjilati klitorisnya dan semua bagian
luar kemaluannya,
“Aah.. oh.. terus.. terus Van.. enak.. akh.. akh..” desah Lusi.
“Ulp.. ulp.. sst.. sst.. ah.. uhm.. uhm.. uhm..”
Aku terus menjilati klitoris istriku dan kulihat bibir kemaluan dan klitorisnya
merekah merah merangsang serta kelihatan basah oleh jilatanku dan air kenikmatan
milikya yang tentunya terus mengalir dari dalam kemaluannya.
“Ah.. terus.. ah.. ah.. terus Van.. enak.. akh.. akh.. ukh..” rintih Lusi.
Yang membuka lebar kedua kakinya serta meremas buah dadanya sendiri dengan
penuh kenikmatan.

Perlahan kulihat Jay menggendong Sari istrinya dan membaringkannya sejajar di


sebelah istriku di sofa panjang yang kami pakai bersama ini, kemudian Jay mulai
memasukkan kedua jari tangannya ke lubang kemaluan milik Sari dan mengocoknya
pelan serta menariknya keluar masuk.
“Akh.. Jay.. ahk.. kamu.. gila Jay.. akh.. terus.. terus Jay.. ahh..” rintih Sari terdengar.
“Ukh.. ah.. ulp.. akh.. akh.. akh.. oh.. oh.. oh..”
Suara dan desahan dari istriku dan Sari secara bersamaan dan penuh kenikmatan.
Perlahan tangan kananku mulai ikut meraba kemaluan Sari yang berada di sebelah
istriku. Dan aku pun ikutan memasukkan kedua buah jariku ke kemaluan Sari
tersebut. Dan Jay pun membiarkan semua itu kulakukan, kemudian sambil terus
mengocok lubang kemaluan Sari, tangan kiri Jay pun mulai ikut meraba kemaluan
istriku yang saat ini tanpa rambut, karena habis kucukur kemarin, permainan ini terus
berlanjut baik Sari maupun istriku membuka dan menutup matanya menikmati
permainan yang aku dan Jay lakukan.

Perlahan aku mulai meraba buah dada sari dengan tangan kananku dan meremasnya
pelan, kurasakan buah dada milik Sari lebih kenyal dibanding milik istriku, tetapi
buah dada istriku lebih besar dan menantang untuk dihisap dan dipermainkan.
Kemudian aku mulai berdiri dan mengarahkan kemaluanku yang berukuran panjang
16 cm serta diameter 4 cm itu ke arah mulut istriku, dan tangan kananku terus
meremas buah dada milik Sari. Istriku dan Sari pun membiarkan semuanya ini terus
berlanjut. Dan kulihat Jay tetap memasukkan dan mengocok kedua lubang kemaluan
yang di depannya dengan kedua buah tangannya dengan sekali-kali meremas buah
dada milik istriku maupun Sari, istrinya.

Kemudian Jay mulai berdiri dan mengarahkan kemaluannya ke lubang kemaluan Sari
yang sudah sangat basah, “Ah.. Jay.. terus.. masukkan.. terus Jay semuanya..” kata
Sari.
Melihat itu aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluan
istriku.
“Akh.. ukh.. ah.. oh.. ah.. oh..” erang istriku keenakan.
Saat ini baik posisiku dan jay maupun Lusi dan Sari berada pada posisi yang sama.
Aku dan Jay terus menarik turunkan kemaluan kami di lubang kemaluan milik Sari
dan Lusi. Begitu juga dengan Sari dan Lusi membuka lebar kakinya dan memeluk
pinggangku maupun Jay seolah-olah mereka takut kehilangan kami berdua.

Selang beberapa saat kemudian Jay menghentikan kegiatannya dan memintaku


mundur, kemudian memasukkan batang kemaluannya yang berukuran panjang 17 cm
tetapi diameternya mungkin 3 cm dan kelihatan begitu panjang dari punyaku hanya
punyaku lebih besar dan keras dibanding kemaluan Jay yang terus menuju ke lubang
kemaluan milik istriku. Kulihat istriku cukup kaget tetapi hanya pasrah dan terus
menikmati kemaluan milik Jay yang mulai mengocok lubang miliknya tersebut. Aku
pun mulai juga mengarahkan kemaluanku ke lubang kemaluan milik Sari, perlahan
kurasakan lubang kemaluan Sari masih cukup sempit serta menjepit batang
kemaluanku yang kutekan perlahan.
“Akh.. akh.. Sar.. memekmu begitu padat.. dan enak.. akh..” kataku.
“Terus.. Van.. Terus.. punyamu begitu besar.. terus Van.. enak.. akh..” rintih Sari.
“Van.. terus.. beri aku kenikmatan.. akh.. akh.. terus Van.. enak.. lebih dalam Van..
akh..”
“Lus.. punyamu begitu enak.. sangat.. rapat dan menjepit kontolku.. akh..” desah Jay
kepada istriku.
“Ehm.. ehm.. ukh.. ukh.. lebih dalam Jay.. lebih dalam.. teruskan Jay.. teruskan..
kontolmu.. sangat panjang.. akh.. dan menyentuh.. dinding.. rahimku.. akh.. akh..
enak.. Jay..” desah istriku lirih.

Kemudian aku terus meremas dan menjilat puting susu milik Sari dan sekali-kali
kugigit pelan putingnya dan Sari terus menikmatinya, sementara kemaluanku terus
naik-turun mengocok lubang kemaluan Sari yang terasa padat dan kenyal serta
semakin basah tersebut. Terasa batang kemaluanku serasa masuk ke lubang yang
sangat sempit dan padat ditumbuhi daging-daging yang berdenyut-denyut menjepit
dan mengurut batang kemaluanku yang semakin keras dan menantang lubang
kemaluan Sari yang kubuat basah sekali, dan Sari pun terus menikmati dan
mengangkat pinggulnya serta menggoyangkannya saat menerima hujaman batang
kemaluanku yang saat masuk hanya menyisakan dua buah biji kemaluan yang
menggantung dan terhempas di luar kemaluan Sari tersebut.
“Akh.. Sar.. enak.. sekali.. punyamu.. akh.. akh..” desahku.
“Oh Van.. aku sangat.. suka.. milikmu ini.. Van yang besar dan keras ini.. akh.. ogh..
ogh.. terus Van.. ah..”

Kulihat Jay membalikkan tubuh istriku dan memasukan kemaluannya yang panjang
putih kemerahan tersebut dari belakang,
“Akh.. akh.. akh.. Jay.. terus.. lebih dalam Jay.. akh.. enak.. Jay..” rintih istriku, yang
kulihat buah dadanya menggantung bergoyang mengikuti dorongan dari kemaluan
Jay yang terus keluar masuk, dan kemudian tangan Jay meremas buah dada tersebut
serta menariknya.
“Akh.. Jay.. akh.. ogh.. ogh.. ahh..” jerit nikmat istriku menikmati permainan Jay dari
belakang tersebut.
“Ogh.. Lus.. buah dadamu begitu besar.. dan.. enak.. ukh.. ehm.. ehmm..” sahut Jay
penuh kenikmatan.

Sari mencoba merubah gaya dalam permainan kami, saat ini dia sudah berada di atas
tubuhku yang duduk dengan kaki yang lurus ke depan, sedangkan Sari memasukkan
dan menekan kemaluannya dari atas ke arah kemaluanku.
“Blees..”
“Aakh.. enak.. akh.. Van punyamu begitu besar.. akhg..” desah sari yang terus
menaik-turunkan tubuhnya dan sesekali menekan dan memutar pinggulnya
menikmati kemaluanku yang terasa nikmat dan ngilu tetapi enak.
“Oh.. Sar.. terus.. ah.. ah..” desahku.
“Oh Van.. oh.. oh.. oh.. Van.. aku hampir keluar Van.. aogh.. ogh..” jerit Sari.
“Okh.. Van.. okh.. aku ke.. luar.. okh.. okh..” tubuh Sari mengejang bagaikan kuda
dan kurasakan kemaluanku pun bergetar mengimbangi orgasme yang dicapai Sari.
“Oh.. ukh.. okh.. Sar aku juga keluar.. okh.. okh..”
Kami pun berpelukan dan mengejang bergetar bersama serasa berada di awan,
menikmati saat klimaks kami tersebut selama beberapa saat hingga kemudian kami
berdua merasa lemas, dan tetap berpelukan dengan posisi Sari di atas, seolah kami
sangat takut kehilangan satu sama lain sambil memandangi permainan Jay dan istriku
di sebelah kami.

Kulihat Lusi istriku sangat menikmati permainan ini dengan posisi bagaikan anjing
atau kuda yang sedang kawin, buah dada istriku yang besar bergoyang-goyang ke
depan-belakang dengan cepatnya, sekujur tubuh Jay maupun istriku berkilap
dikarenakan keringat yang mengalir pelan karena permainan seks mereka ini, kulit
Jay yang putih mulus karena dia berdarah Manado ini kelihatan bersinar begitu juga
istriku begitu menikmati panjangnya kemaluan Jay. Tangan istriku meremas sandaran
sofa dan berteriak lirih, “Ah.. ah.. ah.. uh.. uh.. uh.. Jay tekan terus Jay dengan keras..
ah.. ah..” kulihat satu tangan istriku memutar dan memelintir puting susunya sendiri
serta sekali-kali meremas keras buah dadanya tersebut seolah takut kehilangan
kenikmatan permainan mereka tersebut.

Aku kemudian mendorong kepalanya dan sebagian tubuhku dan berbaring di bawah
buah dada istriku, kemudian berinisiatif untuk ikut meremas buah dadanya dan
mengisap puting susunya, “Akh.. Van.. akh.. enak.. ogh.. ogh.. ogh.. terus Van..”
rintih istriku, terasa olehku kemudian Sari menjilati dan menghisap batang
kemaluanku yang mulai mengeras kembali.
“Ogh.. ogh.. ogh.. Van.. ogh.. ogh.. Jay.. kontolmu sangat panjang dan membuatku
sangat.. puas Jay.. akh.. terus.. akh..” kata Lusi.
“Ulp.. ulp.. ulp.. ulp.. ulp..” jilatan Sari di kemaluanku yang mengeras.
“Okh.. Jay.. aku.. hampir.. ke.. ke.. luar.. Jay.. terus” desah istriku.
Kuremas dan kupelintir dengan keras puting susu dan buah dada istriku, dan kulihat
Jay juga mengejang.
“Akh.. akh.. akh.. akh.. Lus.. aku juga keluar.. akh.. akh..” jerit Jay kuat, kemudian
tubuhnya mengejang dan bergetar hebat.
“Ogh.. ogh.. ogh.. ogh..” istriku pun mengejang dan meremas sandaran sofa dengan
kuat. Beberapa saat. Aku pun kembali merasakan kenikmatan mengalir di batang
kemaluanku dan.. “Akh.. akh.. akh.. akh..” kemaluanku pun memuncratkan spermaku
kembali, sebagian ke wajah Sari dan sebagian lagi meloncat hingga ke tubuh istriku
dan aku pun kembali mengejang kenikmatan dan kulihat Sari terus menjilati
kemaluanku yang besar tersebut dan membersihkannya dengan lidahnya.
Kemudian kami terbaring dan tertidur bersama di sofa tersebut hingga pagi harinya,
dalam kondisi tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku, istriku, Jay dan Sari
istrinya. Permainan ini kembali kami ulangi pagi harinya. Dan kembali kami ulangi
bersama dalam beberapa hari hingga saatnya Jay dan Sari harus pulang ke Surabaya,
ini semua adalah awal dari permainan seks bersama kami yang hingga kini seringkali
kami lakukan kembali jika aku dan istriku ke Surabaya, ataupun mereka ke Jakarta.
Bahkan kadang-kadang-kadang Sari sendiri ke Jakarta bermain seks bertiga denganku
dan istriku, ataupun aku atau istriku yang ke Surabaya bermain seks bertiga atau
bersama dengan salah satu dari Jay atau Sari.

Dikolam Renang
57
Posted by admin on April 1, 2009 – 9:35 am
Filed under gangbang

Kira-kira jam 12 siang, aku baru selesai makan, hpku berbunyi, ternyata yang
menelepon adalah teman dekatku, Dina. Dia mengajakku untuk menemaninya di
rumah omnya. Dia bilang omnya harus pergi untuk suatu urusan, jadi dia sendirian di
rumah omnya. “Ada kolam renangnya Nes, kamu bawa bikini aja, kita bisa berenang
sampe puas”, katanya. Kupikir gak ada salahnya nemenin Dina disana, toh aku juga
gak ada kerjaan. Maka dengan taksi aku menuju alamat rumah omnya. Sesampai
disana, Dina menyambutku hanya ber bikini. Memang bodi Dina sangat mengundang
napsu lelaki yang melihatnya. Toketnya besar, pantat juga besar. Mana bikininya
minim lagi sehingga toketnya seakan mau tumpah dari branya yang sepertinya
kekecilan. Perutnya rata dan jembutnya yang lebat nongol dari bagian atas dan
samping cd bikininya ang minim sekali. “Dah makan Nes”, tanyanya. “Udah”,
jawabku. Aku langsung diajaknya ke halaman belakang. Kulepas pakaian luarku,
tinggal bikini yang gak kalah seksinya dengan bikini Dina. Aku langsung nyebur ke
kolam dan berenang mondar mandir. “Din, tadi malem kamu maen ama om ya,
berapa ronde?” “Om Rizal kuat banget deh Nes, aku dikerjainya 3 ronde, malem 2
ronde dan paginya msih sekali lagi, sampe lemes deh”. “Wah nikmat dong kamu
Din”. “Iya om lama lagi maennya, aku nyampe beberapa kali baru om ngecret”.
“Gede gak kontolnya”. “Gede banget, ntar kalo dia pulang kita ngelayani dia gantian
ya, kamu pasti nikmat deh dientot om”. Gak lama kemudian hp Dina berdering. Dia
menerima telponnya, setelah selesai Dina bilang, “Nes, aku harus nganterin dokumen
ke tempat temennya om. Om ada disana, dokumen pentingnya ketinggalan. Kamu
aku tinggal sebentar gak apa ya”. Ya aku mau bilang apa. Segera Dina berpakaian
dan meninggalkanku sendiri dirumah itu. Aku masuk kedalem rumah, membuka
lemari es dan mengambil buah2an, cake dan minuman. Semuanya aku bawa kekolam.
aku bersantai saja di kolam, makan dan minum sambil berenang. Karena cape, aku
berbaring saja di dipan dipinggir kolam membelakangi rumah. Aku mendengar ada
orang masuk dan berjalan kekolam. “Din, kamu ya”, kataku tanpa menoleh
kebelakang.
“Aku”, terdengar suara lelaki, berat. Aku segera menoleh ke belakang. Kulihat ada
lelaki ganteng, tegap atletis tersenyum memandangku. Aku segera bangun dari dipan.
Dia melotot memandangi tubuhku yang gak kalah merangsangnya hanya berbalut
bikini minim. “Aku om Rizal’, kayanya memperkenalkan diri. “Om ini om nya Dina
ya. Saya Ines om, temennya Dina. Dina yang ngajak saya kesini, disuru nemenin dia
karena sendirian, eh malah ditinggal”. “Iya, Dina mana, katanya mau nganterin
dokumen kerumah temen om, om tunggu2 gak dateng2, makanya om pulang mau
ambil dokumennya”. “Dina udah pergi dari tadi om, dokumennya udah dibawa,
selisipan kali”. Om Rizal mengambil hpnya, rupanya dia menelpon Dina. “Iya, Dina
ada dirumah temen om, dokumennya sudah dikasi ke temen om, ya udah lah. Kamu
jangan pulang dulu ya, Nes”. Dia duduk didipan, aku ditariknya duduk disebelahnya.
Aku jadi keinget crita Dina tentang dia dientot om Rizal sampe 3 ronde, sekarang
giliran aku rupanya. Napsuku bangkit dengan sendirinya. Segera tanpa membuang-
buang waktu lagi om Rizal menyambar tubuhku. Dilumatnya bibirku dan tangannya
beraksi meremas toketku yang masih terbungkus bra bikini. “Hhhmm..gimana Nes?
Udah siap dientot?” kurasakan hembusan nafasnya di telingaku. Tangan gempalnya
mulai meremasi toketku, sementara tangan yang lainnya mulai mengelus-elus pahaku.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya bisa menikmati perlakuannya dengan
jantung berdebar-debar. Tangan yang satunya juga sudah mulai naik ke bagian
selangkangan lalu dia menggesekkan jarinya pada daerah itilku yang masih tertutup
cd bikiniku. Dengan sekali sentakan ditariknya turun braku, “Whuua..bener kata
Dina, kamu seksi dan merangsang sekali Nes”, pujinya. “Toket Dina kan lebih besar
om”, jawabku terengah. Kini dengan leluasa tangannya menjelajahi toketku dengan
melakukan remasan, belaian, dan pelintiran pada pentilku, sambil tangan satunya
merogoh-rogoh ke dalam cdku. Tiba2 dia mendorongku telentang didipan,
dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian
selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke pinggir cd bikiniku, mula-mula
hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan
diantara kerimbunan jembutku, jarinya mencari liang nonokku. Perasaan nikmat
begitu menyelubungiku karena hampir semua daerah sensitifku diserang olehnya
dengan sapuan lidahnya pada leherku, remasan pada toketku, dan permainan jarinya
pada nonokku, serangan-serangan itu sungguh membuatku terbuai. Kedua mataku
terpejam sambil mulutku mengeluarkan desahan-desahan “Eeemmhh..uuhh”. Dia
langsung membuka pakaiannya, begitu cdnya terlepas benda didalamnya yang sudah
mengeras langsung mengacung siap memulai aksinya. Aku terbelalak memandang
kontol hitam itu, panjangnya memang termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya
itu cukup lebar, dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Dia yang sudah telanjang
bulat mendekatiku. Aku menggeser tubuhku memberinya tempat. Dengan lembut
dibelainya pipiku, lalu belaian itu perlahan-lahan turun ke bahuku dimana kurasakan
bra bikiniku mulai terlepas dan kemudian dia menarik lepas cd bikiniku hingga aku
telanjang bulat. Dia mencium bagian dalam cd bikiniku itu dengan penuh perasaan,
lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir nonokku. “Enak, baru
cairan kamu aja udah enak, apalagi nonok kamu” katanya. Direngkuhnya aku dalam
pelukannya. Tangannya bergerak menjelajahi tubuhku. Dia mengencangkan remasan
pada toketku kananku sehingga aku merintih kesakitan “Aaakkhh..sakit om!”. Dia
hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat reaksiku. “Uuuhh..sakit ya Nes, mana yang
sakit..sini om liat” katanya sambil mengusap-usap toketkuku yang memerah akibat
remasannya. Dia lalu melumat toketkuku sementara tangan satunya meremas-remas
toketku yang lain. Perlahan-lahan akupun sudah mulai merasakan enaknya. Tubuhku
menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang
nonokku sambil mulutnya terus melumat toketkuku, terasa pentilku disedot-sedot
olehnya, kadang juga digigit pelan atau dijilat-jilat. Kini mulutnya mulai naik, jilatan
itu mulai kurasakan pada leherku hingga akhirnya bertemulah bibirku dengan
bibirnya yang tebal itu. Naluri sexku membuatku lupa akan segalanya, lidahku malah
ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai ludah kami bertukar dan menetes-
netes sekitar bibir.

Om Rizal lalu berlutut sehingga kontolnya kini tepat dihadapanku yang sedang
telentang didipan.
“Ayo Nes, kenalan nih sama kontol om, hehehe..!” katanya sambil menggosokkan
kontol itu pada wajahku. Aku mulai menjilati kontol hitam itu mulai dari kepalanya
sampai biji pelernyanya, semua kujilati sampai basah oleh liurku. Semakin lama aku
semakim bersemangat melakukan oral sex itu. Kukeluarkan semua teknik
menyepong-ku sampai dia mendesah nikmat. Saking asiknya aku baru sadar bahwa
posisi kami telah berubah menjadi gaya 69 saat kurasakan benda basah menggelitik
itilku. Dia kini berada di bawahku dan menjilati belahan nonokku, bukan cuma itu dia
juga mencucuk-cucukan jarinya ke dalamnya sehingga nonokku makin lama makin
basah saja. Aku disibukkan dengan kontolnya di mulutku sambil sesekali
mengeluarkan desahan. Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta
jarinya pada nonokku, tubuhku mengejang dan cairan nonokku menyembur dengan
derasnya, aku telah dibuatnya nyampe. Tubuhku lemas diatas tubuh nya dan tangan
kananku tetap menggenggam batang kontolnya.

Setelah puas menegak cairan nonokku, dia bangkit berdiri di dipan. Tangan kokohnya
memegang kedua pergelangan kakiku lalu membentangkan pahaku lebar-lebar
sampai pinggulku sedikit terangkat. Dia sudah dalam posisi siap menusuk, ditekannya
kepala kontolnya pada nonokku yang sudah licin, kemudian dipompanya sambil
membentangkan pahaku lebih lebar lagi. Kontol yang gemuk itu masuk ke nonokku
yang cukup sempit. Dia terus menjejalkan kontolnya lebih dalam lagi sampai
akhirnya seluruh kontol itu tertancap. “Ooohh..nonok kamu lebih peret dari nonok
Dina, Nes, nikmat banget deh”. Aku senang juga mendengar pujiannya. “Ines juga
nikmat om, kontol om gede banget”. “Kamu belum pernah ngerasain kontol gede ya
Nes”. “Yang gede sering om, tapi yang segede kontol om baru kali ini, enjot terus
om, nikmaaat”. Puas menikmati jepitan dinding nonokku, pelan-pelan dia mulai
menggenjotku, maju mundur terkadang diputar. Kurasakan semakin lama
pompaannya semakin cepat sehingga aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku
menggigiti jariku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-
kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari. Tampangku yang
sudah semrawut itu nampaknya makin membangkitkan napsunya, dia menggenjotku
dengan lebih bertenaga, bahkan disertai sodokan-sodokan keras yang membuatku
makin histeris. Kemudian tangan kanannya maju menangkap toketku yang
tergoncang-goncang. Hal ini memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Setengah
permainan, dia mengganti posisi. aku disuruhnya nungging di dipan. Dari belakang
dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. “Nah, ini baru namanya
pantat” dia meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya. Saat dia
mulai mengelus nonokku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia
makin leluasa merambahi daerah itu. Dia mulai mempersiapkan kembali kontolnya
dengan menggosok-gosokkan pada bibir nonok dan pantatku. Kemudian dia
menyelipkan kontolnya di antara selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis
nikmat saat kontol itu pelan-pelan memasuki nonokku. Kakiku mengejang ketika
menerima sodokan pertamanya yang dilanjutkan dengan sodokan-sodokan
berikutnya. Mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika
tangannya meremas-remas kedua toketku sambil sesekali dipermainkannya pentilku
yang sudah mengeras. “Ooohh.. enak banget deh ngentotin kamu Nes!” celotehnya.
Tusukan-tusukan itu seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku
bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari nonokku dengan deras sampai
membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali,
kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah nyampe sekali lagi. Aku
mengira dia juga akan segera mengecretkan pejunya, ternyata perkiraanku salah, dia
masih dengan ganas mengenjotku tanpa memberi waktu istirahat. Rambut panjangku
ditariknya sehingga kepalaku terangkat. Sudah cukup lama aku digenjotnya namun
belum terlihat tanda-tanda akan ngecret. Variasi gerakannya sangat lihai sampai
membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan. Mendadak dia
menarik lepas kontolnya, aku sudah siap menerima semprotan pejunya, namun
ternyata kontol itu masih mengacung dengan gagahnya.

Om Rizal lalu duduk, “Sini Nes, om pangku!” suruhnya. Aku menurut saja dan tanpa
diminta lagi aku naik ke pangkuannya, taku menuntun kontolnya memasuki
momokkku. Begitu kuturunkan pantatku langsung aku bergoyang di pangkuannya,
dia pun membalas gerakkanku dengan menaik turunkan pantatnya berlawanan
denganku sehingga tusukannya makin dalam. Wajahnya dibenamkan pada belahan
toketku, tangannya yang tadi mengelus-ngelus punggungku mulai meraba toketku,
mulutnya menangkap toketku yang satu lagi. Toketku disedot dan dikulumnya,
kumisnya yang terkadang menyapu permukaan toketku memberi rasa geli dan sensasi
yang khas. Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh
keenakan, “Uuugghh..nonok kamu enak banget, Nes”. esahanku bercampur baur
dengan lenguhannya. Kepalaku tengadah disertai lolongan panjang dari mulutku saat
aku nyampe lagi, cairan nonokku kembali tercurah sampai membasahi dipan, secara
refleks aku juga mempererat rangkulanku hingga wajahnya makin terbenam pada
toketku. “Om, kuat banget sih ngentotnya, Ines dah beberapa kali nyampe, om belum
ngecret juga, lemes om”. “Tapi nikmat kan?” Kemudian dia melepaskan kontolnya
dan menyuruhku berlutut di hadapannya, diraihnya kepalaku dan didekatkan pada
kontolnya yang lalu kujilati dan kusedot, rasanya sudah bercampur dengan cairan
nonokku. Ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilatinya tiba-tiba dia
melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas, “Nes, aku mau ngecret, di
bobok kamu ya”. Segera aku dibaringkan didipan, dia menaiki aku dan sekali enjot
kontol besarnya langsung ambles semuanya di nonokku. Dienjotkannya kontolnya
keluar msuk dengan cepat dan akhirnya, “Ooohh..Nes, aku ngecret” dan disusul
‘creett..creet..’ pejunya menyemprot dengan deras didalam nonokku, terasa sekali
semburan kuatnya menghangati bagian dalem nonokku. Demikian lelahnya aku,
sampai tubuh seperti lumpuh dan mata terasa makin berat.
Sebelum terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku “nonok
kamu enak banget, aku jadi ketagihan nih!”.

Tiba-tiba kurasakan ada yang menciumku sambil meremas toketku, juga kurasakan
ada jari-jari yang menggelitik nonokku. Aku mendesah nikmat, kubuka mata,
Ahh..aku terbangun. Terkejut sekali aku. Begitu mata kubuka langsung nampak
sesosok tubuh berada diantara kedua belah pahaku yang terbuka lebar. Ketika
kesadaranku berangsur-angsur pulih nampak sosok lelaki telanjang yang bukan om
Rizal, wajahnya berada dekat nonokku sambil mengorek-ngoreknya dengan jarinya.
Aku berusaha bangkit dengan sisa tenagaku, tubuhku sedikit bergeser. Kutepis tangan
itu dari nonokku dan langsung kurapatkan pahaku. Ketika menengok ke samping aku
lihat Dina tersenyum memandangku. “Nes, ini om Usman, temennya om Rizal.
Kayanya om Usman napsu banget ngeliat kamu telanjang. aku masuk dulu ya”, Dina
meninggalkan aku bersama om Usman yang sepertinya sudah siap untuk mengentoti
aku. Om Rizal hanya senyum2 duduk di kursi didekatku. “Kamu Ines, temennya Dina
ya, tadi enak dientot om Rizal”, tanyanya. “emangnya om sudah disini dari tadi”,
jawabku. “Iya, nonton kamu ngentot sama om Rizal, jadi sekarang aku napsu banget
nih Nes, pengen ngentotin kamu juga, mau ya”. Om Usman mengambil kesempatan
ketika aku sedang bingung itu dengan merenggangkan pahaku sambil mengelus-
elusnya. Mulutku mengeluarkan desahan ketika jari-jarinya mulai menyentuh itilku
dan mengelusnya. Elusannya pada rambutku turun ke pipi, dan terus menurun ke
leher hingga berhenti di toketku kananku yang lalu dibelai dan diremasnya. Dia
mendekatkan mulutnya pada toketku dan menangkapnya dengan mulutnya. Gak lama
kemudian dia bangkit dan mengajakku nyebur ke kolam, om Rizal ikut nyebur juga.
Wah asik juga nih, maen ber3 di kolam. Aku menyibakkan rambut basahku ke
belakang, melihat tubuh telanjangku yang telah basah oleh air kolam mereka berdua
semakin bergairah dan mengerubungiku. Tangan-tangan mereka mulai menjamahi
tubuhku. Aku tidak tahu lagi siapa yang mengerjai kedua toketkuku, meremas-remas
pantatku, memilin-milin pentilku, dan mengusap-usap nonokku karena kupejamkan
mataku dan tubuhku menggelinjang menahan nikmat. Tak terasa aku sudah berada di
tepi kolam daerah 1,5 meter. Tubuhku dihimpit oleh om Usman di belakang dan om
Rizal di depan, keduanya memelukku sehingga posisiku seperti daging burger yang
dijepit diantara 2 roti. om Rizal menciumi wajahku, sesampainya di bibir, dia
langsung melumatnya, lidahnya mendesak-desak ingin masuk ke mulutku, napsuku
yang kembali naik membuatku membuka mulutku mempersilakan lidahnya bermain-
main di mulutku. Sesudah itu mulutnya terus turun sampai ke toketkuku.
Enngghh..om..!” desahku menahan geli bercampur nikmat ketika mulutnya melumat
toketkuku secara bergantian. Aku merasakan pentilku disedot, digigit pelan bahkan
sesekali ditarik oleh mulutnya, sementara telapak tangan om Usman bercokol di
nonokku terus saja menggosok-gosok bibir nonokku.

Beberapa saat kemudian om Usman merentangkan kedua pahaku, betisku dinaikkan


ke bahunya “Nes..aku dah pengen ngentotin kamu sekarang ya!” katanya tidak
sabaran. Aku melihat di bawah air sana, kontolnya yang besar dan lebih panjang dari
kontol om Rizal mulai mendesak masuk ke nonokku, “Aaahhkk..ahh..om” itulah yang
keluar dari mulutku saat dia menekankan dalam-dalam kontol supernya hingga
amblas seluruhnya, aku meringis sambil
mencengkram lengan om Usman yang memelukku. “Ooohh..” dia juga mendesah
setelah berhasil menancapkan kontolnya di dalam nonokku. “Gimana Man?? seret ga
nonoknya??” tanya om Rizal pada temannya. “Buset, seret amat nih nonok, udah ga
perawan tapi rasanya kaya perawan, pinter juga Ines ngerawatnya!” puji om Usmanl
sambil mulai menggenjot. Aku mulai merasakan kontol itu bergerak keluar masuk
pada nonokku, mula-mula gerakan itu lembut, namun lama-lama bertambah kencang.
Aku mendesah-desah tidak karuan ditambah lagi dari belakang om Rizal bertubi-tubi
mencupangi leher jenjangku serta mempermainkan toketku,
pantatku meliuk-liuk ke kiri-kanan sehingga om Usman makin seru menggenjotku
sampai air di sekitar kami beriak dengan dahsyat. “Akkhh.. oohh..eemmhh..!”
eranganku tertahan tatkala bibirku dilumat om Usman. Akupun merespon
cumbuannya, lidah kami saling beradu dengan liar.
Diserang dari dua arah begini sungguh membuatku kewalahan hingga akhirnya terasa
dinding-dinding nonokku berdenyut makin kencang dan erangan panjang keluar dari
mulutku disertai mengejangnya tubuhku sampai menekuk ke atas, otomatis kedua
toketkuku pun makin membusung. Tubuhku lemas dalam pelukan mereka. Tapi om
Usman belum tampak mereda, dia
masih bersemangat menyodokkan kontolnya . Aku merasa lelah dan ingin istirahat
sejenak maka
kudorong tubuh om Usman. “Udah dulu.. om, Ines lemes..uuhh” aku memelas. Dia
lalu menarik lepas kontolnya dan menurunkan pahaku sehingga aku dapat sedikit
bernafas lega.

“Nes, pengen diemut deh”, kata om Usman. Aku melihat ke bawah air sana, kontol
om Usman yang baru saja mengacak-acak nonokku, kuraih dan kugenggam, masih
keras. Dia dengan berkacak pinggang sesekali mendengus ketika jari-jarku mulai
mengocok dan membelai biji pelernya. Om Rizal pun mendekatiku dan meraih
tanganku yang satu, lalu diletakkan pada kontolnya. Kini kontol om Usman berada
ditangan kiriku dan kontol om Rizal di tangan kananku, mereka merem melek
menikmati pelayananku sambil sesekali membelai badanku. “Nah..sekarang aku
pengen ngerasain mulut kamu Nes, ayo dong.. diemut ” desak om Usman. Di bawah
air kuraih kontolnya dan kumasukkan dalam mulutku, karena panjangnya, benda itu
sampai mentok di tenggorokanku. Lidahku mulai menjilat dan mengulum, sementara
kurasakan sebuah tangan mengelus dan meremas pantatku dari belakang. Napsuku
makin naik, terlebih tangan itu terkadang menyelipkan jarinya pada nonok atau
pantatku. Aku makin liar mengemutnya, aku sendiri sudah merasa sesak di air.
Gerakan pantatnya makin . Akhirnya beberapa semprotan kurasa menerpa langit-
langit mulut dan tenggorokanku, aku menelan pejunya, rasanya asin dan kental.
Segera aku timbul ke permukaan. Nafasku mengap-mengap sehingga toketku ikut
naik turun seirama nafasku yang kacau. Mimik wajah om Usman menunjukkan dia
puas sekali ngecret di mulutku. Kulihat kontolnya sudah tidak setegang tadi lagi,
ukurannya menyusut.

Beberapa menit kami beristirahat, om Rizal mengajakku naik ke pinggir kolam.


“Gantian Nes.. sekarang aku di bawah, kamu di atas!” Wah aku jadi kerja rodi nih
ngelayani napsu 2 lelaki yang kuat ngentotnya. Mana Dina gak keluar2 lagi. Tapi ya
udah, namanya juga berburu kenikmatan ya aku lakukan juga. Tanpa diminta lagi aku
mengangkangi tubuhnya yang sudah rebah telentang di
atas lantai marmer. Aku tanpa ragu menuntun kontolnya yang sudah kembali
mengeras ke arah nonokku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Dengan
bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya, bahkan aku ikut membantu kedua
belah telapak tangannya meremasi toketkuku. Om Usman menonton adeganku sambil
tetap berendam di tepi kolam, kadang-kadang tangannya iseng merabai pahaku.
“Ayo..goyang Nes..oohh!” om Rizal sepertinya ketagihan dengan goyanganku, begitu
juga om Usman, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia keluar dari kolam dan
berdiri di sebelahku, kontolnya mengacung di depan mukaku. “Emut lagi Nes”,
katanya sambil menjejalkan kontolnya ke mulutku. Dengan tetap bergoyang, aku juga
mengisap-ngisap kontol om Usman. Saat mereka sedang asyik-asyiknya
menikmatiku, tiba-tiba pintu terbuka, Dina muncul, bertelanjang bulat. Dia hanya
bisa melongo melihat aku sedang dikerjai berdua. Tetap dalam posisinya om Rizal
menengok ke samping dan menyapa Dina, “Ayo Din, join”. Beberapa saat kemudian
om Usman mencabut kontolnya dari mulutku, namun aku masih harus menyelesaikan
urusanku dengan om Rizal. om Usman mendekati Dina dan menepuk pantatnya. om
Rizal sibuk menggerakkan pinggulnya membalas goyanganku. 15 menit dalam posisi
‘woman on top’ sampai akhirnya tubuhku bergetar seperti menggigil lalu “Aaahh..!!”
Desahan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas. Tubuhku
melemas dan ambruk ke depan, ke dalam pelukannya. Dia peluk tubuhku sambil
kontolnya tetap dalam nonokku, kami berdua basah kuyup oleh air kolam maupun
keringat yang mengucur. “Ganti posisi yah Nes” katanya dekat telingaku. Lalu
tubuhku ditelungkupkan. Aku nurut saja ketika posisiku diatur seperti merangkak.
Segera kontolnya terbenam lagi dalam nonokku, dan dienjotkannya dengan cepat dan
keras, kontolnya keluar masuk menggesek dinding nonokku, walaupun lemes aku
merasa nikmat luar biasa. Dengan keras dia sodok-sodokan kontolnya dan toketku
yang
menggantung diremas-remasnya. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan om
Rizal, juga dengan rintihan Dina yang sedang dientot om Usman dalam posisi
telentang di dipan. Om Rizal menarik wajahku dan memagut bibirku, diciumnya aku
dengan lembut. Akhirnya kembali kukeluarkan cairan hangat dari nonokku, aku
nyampe lagi. Permainan itu membuatku merem-melek dan banyak menguras
tenagaku, akupun ambruk dengan nafas yang kacau. Dia mencabut kontolnya yang
masih ngaceng dengan kerasnya. Om Rizal menggantikan posisi om Usman yang
rupanya sudah ngecret. Bener2 hebat om Rizal, gak ada matinya. Dengan penuh
napsu dia mengentoti Dina yang terkapar lemes, sampai akhirnya diapun ngecret di
nonok Dina.

Malemnya setelah makan, om Rizal meninggalkan kami beryiga, dia masih ada
urusan yang harus diselesaikan. Om Usman tidak menyia2kan kesempatan ini, minta
dilayani oleh kami berdua. Dia berbaring telanjang di ranjang. Dina segera
mengocok-ngocok kontolnya perlahan. Aku berjongkok di depannya. Dina mulai
memasukkan kontol om Usman ke dalam mulutnya. Kepalanya mulai bergerak naik
turun. Pipinya yang sedikit menonjol disesaki kontol om Usman.
Sementara aku menciumi dan menjilati pahanya menunggu giliran. Sesaat kemudian,
Dina mengeluarkan kontol om Usman dari mulutnya, dan aku langsung meraihnya
dengan bernafsu. Kujilati terlebih dahulu mulai dari kepala sampai ke pangkal
batangnya, dan perlahan aku mulai menghisap kontol om Usman. Om Usman
menarik Dina dan menciuminya. Dinapun membalas pagutan om Usman. Ciuman
dan jilatannya kemudian beralih ke pentil om Usman, sementara kontolnya masih
menjejali mulutku. Segera om Usman menarik Dina kedalam pelukannya. Om Usman
menjilati pentilnya. “Ahh…ssstt…” erangan nikmat keluar dari mulut Dina. Erangan
ini
semakin keras terdengar saat jari om Usman mengusap-usap nonoknya.

“Sebentar ya Nes..”kata om Usman sambil mencabut kontolnya dari mulutku. Dina


ditariknya sampai berbaring dan om Usman mengarahkan kontolnya ke nonok Dina.
“Pelan-pelan ya om.” desah Dina perlahan. Kontol om Usman mulai menerobos
nonok Dina. Erangan Dina semakin
menjadi. Tangannya tampak meremas sprei ranjang. Mulutnya setengah terbuka, dan
matanya terpenjam. “Ahhhh…ahhhh” desah Dina saat om Usman mulai menggenjot
kontolnya keluar masuk. Dina mulai menggelinjang merasakan kontol om Usman
menghunjam ke nonoknya sementara aku menonton adegan itu dengan penuh napsu.
Om Usman menghentikan enjotannya dan mengganti posisi, sekarang Dina yang
diatas. SKembali kontol om Usman menerobos nonok Dina. “Ahhhh….” erangnya.
Dina kemudian menggoyang-goyangkan tubuhnya turun naik mengocok kontol om
Usman didalam nonoknya. Om Usman meraih aku kedalam pelukannya dan mencium
bibirku. Toketku diremasnya dengan gemas, pentilku mendapat giliran selanjutnya.
“Sstttthhhh….sstttt” erangku saat om Usman menjilati dan dengan gemas mengisap
toketku. Sementara Dina masih menggoyang-goyangkan tubuhnya. Matanya
terpejam. Om Usman memilin-milin pentil Dina sementara aku menjilati pentil om
Usman. “Ahhhhh……” erang Dina panjang saat dia nyampe. Tubuhnya mengejang
beberapa saat, kemudian lunglai di atas tubuh om Usman. Om Usman menciumi
pundak Dina beberapa saat, sebelum digulingkan kesebelahnya.

“Giliranmu Nes..” katanya. Akus langsung menghentikan hisapanku pada pentilnyau,


dan dengan bergairah menggantikan posisi Dina. Aku menaiki tubuhnya dan
kuarahkan kontol om Usman ke nonokku. “Ihhh..gede banget…iihhhh” desahku saat
kontolnya menerobos nonokku. Dengan bernapsu aku menggoyang-goyangkan
tubuhku. Toketku berguncang-guncang saat aku mengenjotkan pantatku turun naik.
Terkadang om Usman menarik tubuhku agar dia bisa menghisapi pentilku. Bosan
dengan posisi ini, om Usman minta aku menungging sambil memegang tepian bagian
kepala ranjang. Disodokkannya kontolnya kembali ke dalam nonokku. Aku kembali
mengerang. “Ihh..ihh..” desahku saat dienjot dari belakang. Dina tak berkedip
melihat aku dientot secara “doggy-style”. “Sini Din” om Usman memanggilnya. Saat
dia menghampiri, langsung om Usman kembali menciumi Dina, sementara itu
tangannya memegang pinggangku sambil sesekali menepuk-nepuk pantatku.
“Ihh..ihh.. Ines nyampe mas.” erangku saat aku nyampe. Dia melepaskan kontolnya
dari nonokku. Aku ditelentangkannya dan segera kontolnya ambles lagi dinonokku.
Om Usman dengan penuh napsu mengenjotkan kontolnya dengan cepat dan keras,
keluar masuk menggesek nonokku, sampai akhirnya dia menjerit keenakan. Terasa
ada semburan peju hangat didalam nonokku. Diapun terkulai.
“Om mainnya hebat banget …” kata Dina sambil tersenyum. “Iya..kita berdua aja
dibuat kewalahan…”sahutku sambil mengusap-usap dadanya. “Habis kalian cantik-
cantik sih. Jadi nafsu nih” jawabnya. “Kita sih puas banget deh dientot om, lemes tapi
nikmaat banget, ya Nes” kata Dina. “Yang gemesin ini lho..gede banget ukurannya”
kataku sambil mulai mengusap-usap kontolnya. “Iya.Rahasianya apa sih om?”
TKurasakan kontolnya mulai mengeras lagi, luar biasa.

“Om, buat kenang-kenangan Dina video ya..” ujar Dina tiba-tiba, sambil bangkit
mengambil HPnya. “Jangan ah. Udah nggak usah” om Usman menolak. “Ah..nggak
apa om. Habis kontolnya gemesin banget deh..Dina nggak ambil mukanya kok..”
sahutnya. “Awas, bener ya. Jangan kelihatan mukanya lho” kata om Usman lagi.
“Om berdiri di sini aja biar lebih jelas. Terus kamu isepin Nes.. Ntar gantian” kata
Dina. Om Usman bangkit dan berdiri di samping ranjang. Aku
kemudian berjongkok di depannya, dan mulai menjilati kontolnya. “Rambut lkamu
Nes..jangan nutupin” kata Dina sambil mulai merekam adegan itu. Om Usman
membantu aku menyibakkan rambutku dan aku mulai mengulum kontolnya sambil
mengelus-elus biji pelernya. Dina merekam adegan itu dengan antusias. Om Usman
mengerang nikmat, sambil membantu menyibakkan rambutku. Cukup lama aku
mengemut kontolnya. Sementara tampak Dina sangat terangsang melihat aku
menikmati kontol om Usman. “Nes..gantian dong..” katanya beberapa saat kemudian.
Hpnya diserahkan ke aku, dan gantian Dina sekarang yang berjongkok di depan om
Usman. Disibakkannya rambutnya kesamping agar aku dapat merekam adegan
dengan jelas. Dijilatinya perlahan seluruh kontol om Usman. Lubang kencingnya
digelitik dengan lidahnya, kemudian mulutnya mulai mengulum perlahan kontol om
Usman. “Jangan pakai tangan Din..” kata ku yang sedang merekam adegan itu. Dina
kemudian melepas tangannya yang memegang kontol om Usman, dan ia memaju
mundurkan kepalanya. Sesaat kemudian dia mengeluarkan kontol dari mulutnya dan,
tetap dengan tanpa memegang kontol, Dina menjilatinya sambil bergumam gemas.
Kemudian dihisapnya kembali kontol om Usman dengan bernafsu. Diperlakukan
seperti itu, om Usman gak tahan lagi. “Arrghh.. hampir ngecret nih..” erangnya.
“Om yang ambil ya..” kataku sambil menyerahkan hp padanya. Aku kemudian
berjongkok bersama dengan Dina. Kontol itu kukocok-kocoknya. Om Usman tidak
tahan lagi. Sambil merekam adegan, dia ngecret membasahi muka kami. Setelah
beristirahat sej

• Home
• About

Cerita Dewasa

Category Archives: Umum


Dada Nyonya Syeni
105
Posted by admin on September 30, 2009 – 11:55 am
Filed under Umum

Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa
saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan
status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang
juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan
pencernaan, dll.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas
hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”,
artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan,
ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 %
pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku
kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini
membantuku.
“Ah kamu . bisa aja”
“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.

Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah.
Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang
menjelang 30 tahun.
Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para
pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak “pelit waktu”.
Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara
mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal
kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya
secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.
Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja
praktekku ..

Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti
pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong
yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan …. inilah yang mencolok :
dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan
blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin
mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini
warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin “bersinar”.
Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.

“Kenapa Bu .” sapaku.
“Ini Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules”
“Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu “
“Benar dok”
“Badannya panas ?”
Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.
“Agak anget kayanya”
Kayanya radang tenggorokan.
“Trus mulesnya . kebelakang terus engga”
“Iya Dok”
“Udah berapa kali dari pagi”
“Hmmm . dua kali”
“Ibu ingat makan apa saja kemarin ?”
“Mmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah”
“Buah2 an ?”
“Oh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah”
“Coba ibu baring disitu, saya perika dulu”

Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke
dipan yang memang agak tinggi itu.
Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan
karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia
memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos
yang dipakainya tak berkancing.
Stetoskopku udah kupasang ke kuping
Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.

“Hmmm gimana Bu”


“Eh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok” katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang
tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit
kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.
Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata,
dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah
dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.

Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita.
Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah.
Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat
lebih.
Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada
nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2
bukit.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada
maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.
“Engga apa-apa Dok” kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah
leher.

Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya


stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.

“Ambil nafas Bu.”

Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan
betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.
Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya.


Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.
Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini
tanganku merasakannya langsung.
Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan
tibanya musim buah.

“Cukup Bu .”
Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.
“Sakit apa saya Dok” tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah
Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan
posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin
tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke
bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .

“Radang tenggorokan dan disentri”


“Disentri ?” katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.
“Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat” walaupun dada dan perutnya
sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.
“Karena apa Dok disentri itu ?” Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku
jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh
pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara
membuka pakaian yang berbeda ?

“Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin” Syeni sudah turun
dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih “tersisa”
Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan
kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik
sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku
tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.
Aku memberikan resep.

“Sebetulnya ada lagi Dok”


“Apa Bu, kok engga sekalian tadi” Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.
“Maaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm ..” Diam.
“Khawatir apa Bu “
“Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir .”
“Setahu saya . itu bukan penyakit keturunan” kataku memotong, udah siap2 mau
pulang.
“Benar Dok”
“Ibu merasakan keluhan apa ?”
“Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan”
“Oh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan
engga di payudara” Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang
benar2 montok itu.
“Saya engga tahu Dok”
“Bisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri” kataku.
“Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa ..”

Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku
dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.
“Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di
rumah, dan laporkan hasilnya pada saya”
Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan
mengambil boneka manequin sebagai model.

“Baik dok, saya akan periksa sendiri”


“Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi”
“Terima kasih Dok”
“Sama-sama Bu, selamat sore”
Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.
Lima hari kemudian, Ny Syeni nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien
terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga
menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat
seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.

“Gimana Bu . udah baikan”


“Udah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi”
“Perutnya ?”
“Udah enak”
“Syukurlah … Trus, apa lagi yang sakit ?”
“Itu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok”
“Udah diperiksa belum ..?”
“Udah sih . cuman …” Dia tak meneruskan kalimatnya.
“Cuman apa .”
“Saya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..”
“Memang terasa ada, gitu “
“Kayanya ada kecil . tapi ya itu . saya engga yakin”

Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa . ? Ah,
jangan ge-er kamu.
“Maaf Dok .. Apa bisa …. Saya ingin yakin” katanya lagi setelah beberapa saat aku
berdiam diri.
“Maksud Ibu, ingin saya yang periksa” kataku tiba2, seperti di luar kontrol.
“Eh .. Iya Dok” katanya sambil senyum tipis malu2. Wajahnya merona. Senyuman
manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga
tak ingat namanya.
“Baiklah, kalau Ibu yang minta” Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok.
Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih
dan mulus !
Oh ya . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.

Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya,
dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke
pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah . paha itu lagi .
makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun ! baru kali ini aku terangsang
oleh pasien.

“Silakan dibuka kancingnya Bu”


Syeni membuka kancing bajunya, seluruh kancing ! Kembali aku menikmati
pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini
warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.
“Dada kanan Bu ya .”
“Benar Dok”
Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari2ku
gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses
fore-play saja ..
“Maaf ya Bu .” kataku sambil mulai mengurut. Tanpa membuka cup-nya, aku hanya
menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow ! bukan main padatnya buah dada wanita
ini.
Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.

“Yang mana Bu benjolan itu ?”


“Eehh . di dekat putting Dok . sebelah kanannya .”
Aku menggeser cup Bhnya lebih kebawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu
yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku
atau engga.

“Dibuka aja ya Dok” katanya tiba2 sambil tangannya langsung ke punggung


membuka kaitan Bhnya tanpa menunggu persetujuanku. Oohhh . jangan dong . Aku
jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa-apa lah ..
Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan .. syeni memelorotkan
sendiri cup-nya …
Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya … benar2 bundar bulat, putih
mulus halus, dan yang membuatku tersengal, putting kecilnya berwarna pink, merah
jambu !
Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas
saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh putting merah jambunya itu ..
Dan .. Putting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas ! Wajar saja.
Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau
nafas Syeni sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Syeni memejamkan mata
seolah sedang dirangsang !
Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda2 kangker.

“Yang mana Bu ya .” Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar
bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar2 tegang sekarang.
“Itu Dok . coba ke kiri lagi .. Ya .itu .” katanya sambil tersengal-sengal. Jelas sekali,
disengaja atau tidak, Syeni telah terrangsang .
“Oh . ini ..bukan Bu . engga apa-apa”
“Syukurlah”
“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bahkan
dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras ! Tapi Syeni
membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem ! Untung
aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak
terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.

‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Tapi …


“Sekalian Dok, diperiksa yang kiri .” Katanya sambil menggeser BH nya ke bawah.
hah ? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang
merangsang .. Putting kirinyapun sudah tegang . Sejenak aku bimbang, kuteruskan,
atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi,
keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau
tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga
dong . aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku
memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.

“Kenapa Dok ?” Pertanyaan yang mengagetkan.


“Ah .. engga apa-apa … cuman kagum” Ah ! Kata-kataku meluncur begitu saja tak
terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.
“Kagum apa Dok” Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok
ditanyakan.
“Indah .” Lagi-lagi aku lepas kontrol
“Ah . dokter bisa aja .. Indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.
“Apalagi .”
“Engga kok . biasa-biasa aja” Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !
“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan
matanya.

Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.


Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga
beres nih. Dan makin engga beres, Syeni menuntun tangan kiriku untuk pindah ke
dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini
bukan gerakan Sarari, tapi gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja,
bahkan menikmati.
Ketika rintihan Syeni makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu
curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini
ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang
praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Syeni kontan membisu. Lalu aku
bersandiwara.

“Ambil nafas Bu ” seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.
Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.
“Udah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok”
“Dok ..” Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah
terbuka. Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku
mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan
aneh pasienku? Di ruang periksa?
Gila !
Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman
hebat. Bibirnya manis rasanya .
Aku sadar kembali. Melepas.

“Dok .. Please . ayolah .” Tangannya meremas celana tepat di penisku


“Ih kerasnya ..”
“Engga bisa dong Bu ..’
“Dokter udah siap gitu .”
“Iya .. memang .. Tapi masa .”
“Please dokter .. Cumbulah saya .”
Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh
dengan wanita molek begini ?
“Nanti aja . tunggu mereka pulang” Akhirnya aku larut juga .
“Saya udah engga tahan .”
“Sebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah
mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi” Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi
jalan.
“Okey ..okey . Bener ya Dok”
“Bener Bu”
“Kok Ibu sih manggilnya, Syeni aja dong”
“Ya Syeni” kataku sambil mengecup pipinya.
“Ehhhhfff”
Begitu Syeni keluar ruangan, Nia masuk.
“habis Dok”
Dia langsung berberes. Rapi kembali.
“Dokter belum mau pulang ?”
“Belum. Silakan duluan”
“Baiklah, kita duluan ya”
Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari
wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu
nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa,
menunggu.
Syeni masuk.

“Kunci pintunya” perintahku.


Sampai di ruang periksa Syeni langsung memelukku, erat sekali.
“Dok …”
“Ya .Syeni .”
Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli
menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini .. Benar-benar ..ehm ..
Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien,
menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku,
menantang. Gile bener ..
Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri
wanita muda cantik dan sexy, dengan gaya menantang.
Kubuka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua
gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku
urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya
tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar2 mendebarkan ..
Syeni membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang
melepas kaitan Bhnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya
tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi …
Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Syeni yang
bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang
putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang
buah indah itu dengan mulutku.

“Ooohhh .. Maaassss ..” Syeni merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas !


Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak
susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya,
juga kecil, “menunjuk”, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayipun
menyentuhnya. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak.
“Maaaasss .. Sedaaaap ..” Rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi putting
dadanya.
Syeni mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku
mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan putting yang menggairahkan ini.
Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Akupun ikut rebah dan
menindih tubuhnya. Kulanjutkan meng-eksplorasi buah dada indah ini dengan
mulutku, bergantian kanan dan kiri.
Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba2 sekarang bergerak menolak
punggungku.

“Lepas dulu dong bajunya . Mas .” kata Syeni


Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi
sewaktu aku mau melepas CD-ku, Syeni mencegahnya. Sambil masih duduk,
tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari Cdku, membuatku
makin tegang aja .. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku
telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang
cantik, sexy dan telanjang dada.

“Wow .. Bukan main ..” Katanya sambil menatap penisku.

Wah . tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya.
Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan
dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan …. Gila !
Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam
yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap. Yang “tersaji”
sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam,
melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Syeni, tak
merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah
kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin “pusing” …
Kemana CD-nya ? Oh .. Dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Syeni kulihat
senyum tipis.

“Ada di mobil” katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.


“Kapan melepasnya ?”
“Tadi, sebelum turun .”
Kupelorotkan roknya sampai benar2 lepas .. kini tubuh ibu muda yang putih itu
seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambur kelaminnya, tampak sebagian clit-nya
yang berwarna merah jambu juga ! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah
kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.
Syeni lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung
menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku
menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena ..
“Maass .. Masukin Mas .. Syeni udah engga tahan lagi ..” Wah . dia maunya langsung
aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi,
menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.
“Uuuuuhhhhhh .. Sedaaaapppp ..” Rintihnya. Padahal baru kepala penisku aja yang
masuk.
Aku menekan lagi.
“Ouufff .. Pelan-pelan dong Mas ..”
“Sorry …” Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Syeni memang sempit.
Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti … Sampai penisku
tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di
batang penisku. Ohh nikmatnya ..
Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak2an. Dipannya berderit setiap aku
melakukan gerakan menusuk.

Sadarkah kau?
Siapa yang kamu setubuhi ini?
Pasienmu dan isteri orang!
Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.
Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia
punya buah dada yang indah ? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah
dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang
tak ada benjolan ? Okey, deh. Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa
menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula,
kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang . Okey deh,
aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda
molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?

Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di
atas tubuh telanjangnya … sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan.
Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis
untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.
Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku.
Karena memang aku tak mampu menahan lagi .. Creetttttttt………..Kesempr otkan
kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Syeni, sambil mengejang
dan mendenyut ….
Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.
Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. …
Oh .. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku.
Pasien yang memiliki vagina yang “legit” ..

Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Syeni yang disimpan di tasnya
berbunyi. Wajah Syeni mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk
mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam. Memegang HP
berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku
tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon
sambil telanjang bulat ! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh
yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar spanyol.
“Siapa Syen” tanyaku.
“Koko, Suamiku” Oh .. Mendadak aku merasa bersalah.
“Curiga ya dia”
“Ah .engga .” katanya sambil menghambur ke tubuhku.
“Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.
“Suamimu tahu kamu ke sini”
“Iya dong, memang Syeni mau ke dokter” Tiba2 dia memelukku erat2.
“Terima kasih ya Mas … nikmat sekali .. Syeni puas”
“Ah masa .. “
“Iya bener .. Mas hebat mainnya .”
“Ah . engga usah basa basi”
“Bener Mas .. Malah Syeni mau lagi .”
“Ah .udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu”
“Lain kali Syeni mau lagi ya Mas”
“Gimana nanti aja .. Entar jadi lagi”
“Jangan khawatir, Syeni pakai IUD kok” Inilah jawaban yang kuinginkan.
“Oh ya ..?”
“Si Koko belum pengin punya anak”

Kami berberes. Syeni memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus
mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas
tangan.
“Kok BH-nya engga dipakai ?”
“Entar aja deh di rumah”
“Entar curiga lho, suamimu”
“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”
Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita
muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blose ketatnya membentuk sepasang bulatan
dada yang tanpa BH. Bauh dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya.
Aku terrangsang lagi … Cara Syeni mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy
sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.

“Kok ngliatin aja, pakai dong bajunya”


“Habis . kamu sexy banget sih …”
“Ah .. masa .. Kok bajunya belum dipakai ?”
“Entar ajalah . mau mandi dulu .”
Selesai berpakaian, Syeni memelukku yang masih bugil erat2 sampai bungkahan
daging dadanya terasa terjepit di dadaku.
“Syeni pulang dulu ya Yang . kapan-kapan Syeni mau lagi ya .”
“Iya .. deh . siapa yang bisa menolak..” Tapi, kenapa nih .. Penisku kok bangun lagi.
“Eh .. Bangun lagi ya ..” Syeni ternyata menyadarinya.
Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.
“Mas mau lagi .?”
“Ah . kamu kan ditunggu suami kamu”
“Masih ada waktu kok …” katanya mulai menciumi wajahku.
“Udah malam Syen, lain waktu aja”

Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya
aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku
didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Syeni
naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku
dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Syeni menekan ke bawah duduk di
tubuhku. ..
Penisku langsung menerobos vaginanya ..
Syeni bergoyang bagai naik kuda .
Sekali lagi kami bersetubuh .
Kali ini Syeni mampu menccapai klimaks, beberapa detik sebelum aku
menyemprotkan vaginanya dengan air maniku …
Lalu dia rebah menindih tubuhku .. Lemas lunglai.

“Kapan-kapan ke rumahku ya … kita main di sana ..” Katanya sebelum pergi.


“Ngaco . suamimu .?”
“Kalo dia sedang engga ada dong ..”
Baiklah, kutunggu undanganmu.
Sejak “peristiwa Syeni” itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada
wanita dengan stetoskop membuatku jadi “syur”, padahal sebelum itu, merupakan
pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin
banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy . …
Akibat Salah Pijat
80
Posted by admin on September 30, 2009 – 11:52 am
Filed under Umum

Cerita ini berawal ketika kantor saya mengadakan workshop (jalan-jalan tahunan) dan
saat itu tujuan kami adalah hotel Novus, Puncak. Adalah salah satu teman bernama
Tari Rismayati (panggilan Riris) yang masih single juga sama seperti saya. Dia
berumur satu tahun dibawah saya dan belum berkeluarga juga. Terus terang saya
heran melihat dia. Secara fisik Riris orangnya tergolong cantik, rambut panjang
sebahu, wajah oval, kulit kuning langsat cenderung putih mulus, dengan buah dada
yang besar menantang. Dan yang paling membuat saya berdehem dalam hati kalau
melihat pinggul dan pantatnya yang besar dan membulat mencetak celana dalam
ukuran mini yang selalu dia pakai jika di kantor. Itu selalu saya perhatikan setiap hari
bahwa ukuran roknya selalu kekecilan dengan pinggul yang indah jika sedang
berjalan.

Satu minggu sebelum berangkat Workshop, kami sempat makan siang bersama
disebuah restoran dalam gedung kantor kami. Setelah ngobrol kesana kemari
akhirnya subject pembicaraan mengarah ke workshop.
Saya bertanya, “‘Ntar workshop gimana kamu?”.
Riris menjawab dengan wajah yang lesu, “Ach, nggak tau juga Di, aku lagi bete nich,
kayaknya kesana lumayan buat nyegerin pikiran aku.”
“Lho emangnya ada apa,”tanyaku menyelidik.
“Aku abis putus ama cowok ku soalnya dia selingkuh, maen belakang, trus ketauan
ama aku,”celetuknya dengan muka sedikit memerah menahan marah.
“Ya udah,” sambungku “Ntar saya temenin kamu disana biar ngelupain dia.”
Dia tersenyum sambil bilang, “Tapi aku lagi mo sendiri Ardi.”
Aku tak kalah gesit menjawab ucapannya, “Iya Ris, Aku juga lagi mo sendiri aja ‘en
rencana ntar aku mo sewa kamar sendiri aja, kalau kamu mau gabung aja kita bisa
ngobrol ampe malem keluarin semua unek-unek yang ada dikepala kita masing-
masing.”

Aku terus menjelaskan rencanaku minggu depan dihotel tersebut. Dan tak diduga
respon dari Riris, “Oleh juga tuh Di, aku emang butuh itu enak kali yah ngobrol
ngobrol kita berdua sampe malem”. “Iya, sekalian kalau kamu mau, saya juga nggak
keberatan ngelonin kamu tidur,” candaku kepadanya.
“Ha, gila kamu” mata Riris memancarkan arti yang tidak dapat saya cerna.

Satu hari sebelum berangkat kami didata ulang oleh panitia, menyangkut pembagian
kamar tidur. Sudah menjadi tradisi kantor kami, bahwa satu kamar berdua, dan diatur
oleh nomor nomor kamar yang ada. Saya berdua dengan teman saya Hendra, dan
Riris waktu itu terdata satu kamar bersama Wina. Dan tibalah waktunya bahwa kami
satu kantor berangkat menuju hotel Novus ada hari Sabtu bersama sama dengan
menggunakan satu bis besar. Kantor kami hanya berjumlah total 50 orang bersama
orang asing juga. Rupanya dalam batas akhir sebelum naik ke bis, ada dua orang yang
batal ikut karena alasan keluarga, mereka adalah Tiara, dan Wina. Wina?, bukannya
Wina satu kamar dengan Riris, dan berarti nanti Riris sendirian dong dikamar.
Pendulumku langsung bereaksi mendengar kabar tersebut. Sambil mengisi waktu,
kami banyak bersenda gurau dalam perjalanan hingga akhirnya tiba tepat makan
siang di hotel. Setelah kami makan dengan lahap, kami diberikan kunci kamar oleh
panitia dan langsung check-in ke dalam kamar masing masing.

Sore harinya kami memanfaatkan kolam renang yang ada di hotel untuk bermain
main. Dapat saya lihat Riris yang sudah memakai pakaian renang yang seksi. Uh,
bukan main indahnya, saya betul betul terangsang melihat keadaan Riris seperti itu.
Otak kotorku mulai bekerja supaya bagaimana dapat tidur dengannya malam ini.
Dalam kumpulan laki laki ada Pak Kardi yang nyeletuk kepada teman laki laki
berkata, “Waduh si Riris kalo abis berenang gue mau tuh mandiin dia.” Sambil
matanya juga tak lepas dari gerakan pantat Riris yang berlenggang lengok kekiri
kekanan mengikuti irama langkahnya.

Ketika Riris sudah selesai bermain dikolam renang dan akan kembali ke kamarnya,
akupun mengikutinya seakan akan akupun sudah selesai dan ingin mandi. Sambil
berjalan dibelakangnya, saya melihat celana dalam mini berenda yang dipakai Riris
tercetak jelas oleh baju renang tipis yang berwarna ungu.
“Waduh, kok cepet selesainya Ris,” celetukku sambil berjalan disampingnya.

Riris menjawab, “Habis aku nggak tahan airnya terlalu dingin.”


Sambil dia menyilangkan tangannya dikedua belah dadanya yang padat montok
tersebut.
“Trus kamu ngapain juga selesai,” tanya dia lanjut.
“Akh, aku udah bosen mendingan mandi air hangat terus nunggu makan malam, khan
enak tuh”.
Lalu pembicaraan kami terpisah ketika Riris harus mengambil arah kekiri dan saya
kekanan sambil berucap, “Sampai nanti ,. dagg”.

Waktu menunjukan pukul delapan, setelah perut saya isi dan kenyang sekali rasanya.
Makan malam dihotel ini terasa nikmat sekali. Saya melihat sudah beberapa kali Riris
menguap dan kemudian pamit dari kerumunan anak anak untuk pamit ke kamar.
Dalam perjalanan ke kamarnya, dia ada melihat saya dan kemudian mengerdipkan
mata seperti memberi tanda ke saya. Dengan sedikit tegang saya berpura pura seolah
saya pun capek setelah bermain seharian dengan teman kantor dan ingin tidur.

Pada sore hari saya sudah memberitahu ke Hendra (teman sekamar saya) bahwa
mungkin saya akan begadang keluar hotel, jadi nanti dia tidak kawatir atau curiga
kepada saya. Dalam perjalanan dari restoran ke cottage agak jauh.
Riris berjalan kecil sendiri dan saya dengan cepat mengejarnya, dan menyapanya,
“Ris, udah ngantuk ya sayang, mau tidur..”
Riris menyahut, “Iya nih, nggak tahu kenapa nich badan semua jadi pegel semua,
mungkin tadi renangnya kebanyakan kali.” Sambil berkata begitu, dia mengusap usap
belakang lehernya sambil kepala digelengkan kekiri lalu kekanan.
“Makanya kamu juga sih terlalu over berenangnya, kamu kebanyakan diliat ama
temen temen cowok lagi pas kamu berenang,” sahutku.
“Hm, aku tahu, justru karena mereka aku jadi lebih semangat,” kata Riris sambil
masih tetap mengusap leher belakangnya.
“Kamu mau saya pijit pijit kecil Ris,” kataku sedikit berani.
“Hhh, boleh juga, tapi cuman di leher sama sekitar pundak yah,” sahutnya sedikit
lemah.
Tak lama kami sudah tiba didepan pintu kamar Riris. Setelah dia membuka pintu
kami berdua langsung masuk, saya sempat melihat pada sudut mata Riris ketika dia
tutup pintu, matanya seperti melihat kiri kanan takut takut kalau ada orang disekitar
yang melihat kami.

Dalam kamar Riris mempersilahkan saya duduk sambil dia permisi sebentar ke toilet.
Sambil menunggu Riris saya menonton TV yang ada dikamar. Tidak begitu lama,
Riris sudah keluar dan telah berganti baju tidur daster. Daster yang dipakai berwarna
kuning dengan ukuran yang dapat saya katakan mini. Kenapa demikian? Daster
tersebut hanya sebatas setengah pahanya saja dan berenda kuning juga, kemudian di
pundaknya hanya mengenakan satu tali saja. Buah dada yang ranum menantang
sekali dengan dua puting yang mencuat. Gila bukan main, dia sudah tidak memakai
BH, tapi masih memakai celana dalam.

Celana dalam itu jelas tercetak menerawang tembus pandang dari daster kuning
tersebut. Celana dalam Riris juga dalam ukuran yang sexy, mini CD warna putih,
kontras dengan daster yang dipakai. Sebelum saya memberi komentar, Riris sudah
berbicara,
“Ardi, kamu jangan salah sangka dulu, saya pakai ini supaya kamu mudah pijat leher
dan pundak saya, lagi pula saya juga tidak bawa baju tidur lain selain yang ini,
mudah-mudahan kamu tidak keberatan.”
“Oh, tentu tidak dong Ris, suka suka kamu aja, yang penting bajunya jangan
menggangu pijat memijat,” kataku sambil menelan ludah beberapa kali.
Riris tersenyum lagi dan berkata, “Kamu pijet saya pake kaos lengan panjang apa
tidak mengganggu, apa lagi nanti kamu naik ke ranjang kalau perlu, keliatannya
celana panjang kamu juga ganggu, apa nggak lebih baik ganti yang pendek atau
dilepas sekalian?”
Saya bengong atas ucapannya, lalu saya katakan, “Betul juga Ris, saya buka kaos aja
deh,” sambil saya mengangkat koas saya sehingga saya sudah bertelanjang dada, dan
kemudian Riris melihat ke celana panjang saya sambil mulutnya sedikit
dimonyongkan. Saya pun membuka celana panjang saya, dan hanya tertinggal celana
boxer saya. Riris tersenyum puas setelah melihat saya akan mudah nanti memijitnya.
Dia langsung naik ke ranjang dan berbaring terlungkup, sambil memanggil nama
saya, “Di, ayo dong mulai, badan Riris makin pegel nih”. Mendengar rengekan Riris
saya langsung naik ke ranjang dan memulai aktivitas dengan memijit Riris.

Sungguh sempurna tubuh Riris dari belakang. Mimpi apa aku semalam sehingga Riris
begitu pasrah memberikan sajian gratis seindah ini. Kulit yang mulus dengan
pinggang ramping, pinggul yang besar dengan buah pantat yang membulat mumbul
tinggi. Dapat kulihat dengan jelas belahan pantat Riris yang dibalut dengan CD
mininya. Sebentar saja tangan saya sudah memijat bagian leher yang tegang, dan
seeskali kebawah meijat pundaknya. Riris terkadang bersuara mendesah ketika
tangan saya sedikit keras memijitnya,
“Uh, oh, hmm,” desahnya putus putus, membuat saya makain panas saja.
Adik kecil dibalik celana boxerku sudah mengacung keras siap tempur, entah apa
yang sedang dipikir Riris sekarang.

Kemudian setelah kurang lebih 4 menit, Riris minta dipijit agak kebawah. Dengan
yakin tangan saya kedua duanya merayap ke bawah, dari arah ketiak terus turun
kebawah. Sambil sekali kali jari jemari saya dengan nakalnya menyentuh dari
samping kedua bukit ranum yang mengembung keluar kesamping karena tertindih
tubuhnya. Saya terus terang sudah tidak ada pikiran positif, otak ngeres saya terus
bermain main fantasi, hingga suatu ketika,
“Di, pijatan kamu enak deh sekarang Riris minta dipijat bagian depan ya sayang,”
sahut Riris sambil membalikan tubuhnya kedepan.

Waduh mak bukan main saat itu saya betul betul tidak tahan saya langsung meraba
kedua belah susunya yang tegak menjulang, hal yang membuat Riris langsung kaget.
“Mardi,.! saya minta tolong kamu untuk pijat saya kenapa kamu memanfaatkan itu
dengan meraba tubuh saya,” hardiknya.
Langsung saya kaget, saya kira dia minta lanjut dalam permainan tersebut ternyata
dia memang betul betul minta dipijit. Langsung saya minta maaf kepadanya,
“Waduh maaf deh Ris, aku kelepasan, maklum deh tubuh kamu ranum sekali, sexy
apalagi dengan itu (sambil menunjuk kedua buah dada Riris) yang mancung bikin aku
jadi geregetan mau iseng.”
“Maaf ya sekali lagi Maaf,” kataku dengan penyesalan.

Riris yang melihat saya begitu agak melunak tapi kemudian dia menangis sambil
berkata, “uhh, hh, hg hg hg,. emang setiap laki laki yang mau sama Riris cuman mau
tubuh Riris aja, ini juga terjadi dengan cowok Riris yang dulu, maunya making love
terus sama Riris, nggak ada perasaan sama sekali.”
Aku terhenyak, ternyata wanita didepan saya ini memang sudah pernah melakukan
hubungan suami istri sebelum menikah, dan pendulumku kembali kontak. Dengan
gaya yang gentle saya memeluk dia dari belakang dalam posisi duduk, tangan saya
berada di perutnya sambil berkata,
“Riris, aku tuh memang udah salah, kamu Maafin ya, aku janji pokoknya malem ini
kita cuman sayang sayangan aja deh nggak sampe kelewatan,” kataku
menenangkannya.

Dia menengok ke belakang hingga wajahnya dekat sekali denganku dan berucap,
“Bener ya janji, kamu cuman kelonin aku aja nggak sampe kebablasan?”.
Aku mengiyakan dengan anggukan kepala sambil mencium kecil pipi kanannya.
Dia tersenyum, kemudian membalas mencium kecil bibirku. Aku pun serta merta
tangan kanan mulai naik dari perut meraba buah dada yang menggantung tersebut.
Riris menutup mata merasakan kenikmatan tersebut, kemudian dengan itu juga aku
mencium bibirnya yang sensual, sambil sesekali kuhisap bibir bawahnya dan lidahku
menjelajah ke rongga giginya dan menghisap lidahnya.

Riris benar benar menikmatinya, maka setelah melihat lampu hijau seperti itu, kedua
tanganku sudah berada pada dua buah dada ranumnya. Oh alangkah nikmatnya
tanganku bermain disana, meremas remas sambil kupelintir kedua puting susunya
dengan ibu jari dan telunjukku. Riris terkadang bergetar tubuhnya ketika kombinasi
yang kulakukan yaitu meremas sambil memuntir puting susunya. “Ah, Ardi kamu
pinter bikin aku terangsang ya, ingat lho kita nggak boleh lebih jauh dari ini,” kata
Riris mengingatkanku.
“Iya dong sayang aku pasti inget, khan ada kamu juga yang ngingetin!”

Sambil berkata begitu aku membaringkan tubuhnya diranjang dan aku dari belakang
langsung ke depan menindihnya sambih terus melanjutkan meremas dan mencium
bibir sensual nan menggairahkan tersebut. Riris masih terus mengingatkan, namun
bahasa tubuhnya lain. Alat kelamin kami sudah bersentuhan, dimana batang
kemaluanku yang sudah keras menggesek bibir luar kemaluannya dan gerakan kami
seperti orang yang sedang bersenggama. Saya mendorong kebawah, Riris mendorong
pula pantatnya yang tembem keatas, saya tarik pinggang saya, dia pun demikian.

Ketika mulut saya sudah mulai menjalar kedadanya dia mulai protes.
“Mardi, kamu nggak boleh kesana sayang, ohh, hh!” desah Riris tapi tangannya sama
sekali tidak menutupi dadanya.
Saya menjawab dengan lembut, “Riris sayang, kalau peting cium atau jilatin nenen
aja boleh dong, khan nggak kenapa napa?” saya mencoba tawar menawar dengannya.
“Ohh, kamu katanya kelonin aku, kok sekarang kita peting sih? ” rajuknya dengan
muka bersemu merah menahan birahi yang terpancar keluar dari tubuhnya. Tanpa
menunggu alasan lagi dari si cantik itu langsung mulutku menjilat puting susu yang
memerah muda, karena birahi sambil aku menyedot putingnya bagaikan anak kecil
yang sedang netek keibunya. Riris menggigit bibir sendiri menahan luapan emosinya
yang meletup letup kian besar. Oh nikmatnya tiada tara menjilati dan menyedot susu
seorang Riris.

Kaki Riris sudah menyepak kesana kemari membuat daster yang dikenakan tidak bisa
menutupi bagian bawahnya. Terus terang sambil menjilat, saya memperhatikan
gundukan yang tembem di bawah pusar yang bagai kue apem mumbul dengan sedikit
bulu bulu kemaluannya yang menyembul keluar menambah indahnya pemandangan
tersebut. Pinggulnya bergerak tak menentu membuat indahnya pemilik gundukan
tersebut.
“Hhh, Mardi.. hh enak sayang”, erang Riris.
Mendapat respon seperti tangan saya secara reflek mulai turun menjelajah dari buah
dadanya ke bawah perut, mengusap daerah pusar yang rata nan halus, kemudian turun
lagi dibawah pusar yang ditumbuhi bulu bulu halus, kemudian meraba daerah
selangkangan Riris yang wow bukan main empuknya.

Aku tekan sekali sekali sambil kuremas secara acak. Hal ini menyebabkan gerakan
pinggul Riris yang makin panas. Suasana alam puncak pada malam hari yang dingin,
tidak dapat membuat tubuh kami berdua kedinginan malah justru sebaliknya. Saya
dapat melihat butiran butiran keringat birahi yang menetes dari dahi Riris yang
sedang membasahi rambut panjang dan indah itu.
Oh.. aku benar benar makin terbawa emosi birahi yang menggebu. Riris antara sadar
dan tidak masih mengingatkan saya,
” Di, kamu nggak boleh buka CD aku yah.. kita khan udah janji cuman peting aja,”
katanya sambil menahan sesuatu dalam tubuh yang bergelora.
“Oke Ris, aku buka daster kamu aja yah, liat tuh udah nggak karuan bentuknya
sayang,” sahutku mencoba menawar.
Dan berhasil. Riris sendiri yang meloloskan dasternya, dia angkat dari bawah dan
dinaikkan lewat lehernya. Berarti keadaan kami sekarang hanya masing masing
tinggal celana dalam saja. Kami langsung berpelukan sambil berciuman panjang, oh
nikmatnya dapat memeluk Riris dalam keadaan begini. Kulit kami langsung
bersinggungan tanpa ada pemisah lagi. Setelah pelukan plus ciuman aku rasa cukup,
tanganku mulai bermain ke arah selangkangan Riris dengan mengusap lembut naik
turun melewati belahan vaginanya. Dari luar celananya saya bisa merasakan bahwa
didalam sudah lembab sekali, tentu banyak cairan yang sudah keluar dari lubang
vaginanya. Vagina Riris benar benar tembem aku rasa kalau aku benamkan milikku
ke dalamnya pasti nikmat sekali.
Karena Riris menggunakan CD mini yang memang kurang bahan untuk menutupi
kemaluannya, jari saya dengan mudahnya dapat melesat masuk melalui samping
selangkangan dan bermain di sana, sebentar kemudian keluar lagi tanpa sempat Riris
protes pada saya untuk tidak boleh melakukannya. Sesekali jari saya bermain pada
bibir vaginanya agak lama setelah dia membuka suara,
“Di, jangan nanti aku keterusan.. ohh,” sambil meliukan pinggangnya bergoyang
goyang.

Aku tetap tenang mengelus bahkan saat tangannya ingin mengeluarkan tanganku dari
dalam CDnya seluruh jariku masuk dan meremas vagina Riris dengan lembut. Hal ini
membuat Riris melenguh keras, dan lupa untuk melarang saya. Sambil tangan-tangan
meremas vagina Riris, tangan kiri masih terus aktif memerah susu ranum baik yang
kiri maupun yang kanan sambil dibantu oleh mulutku untuk mengisap bibir dan salah
satu puting susu yang nganggur.

Jari tengahku mulai memainkan aksinya dengan mengilik klitoris Riris. Benar saja,
klitoris itu sudah membesar dan basah. Riris menggeliat tak tentu arah sambil
mendesah,
“Oh.. Mardi enak sekali sayang, nghh.. kamu udah nggak boleh lebih dari itu ya..”
Ternyata alam sadar Riris masih ada, dia masih ingat bahwa kita hanya boleh peting.
Aku berkata sambil berbisik ditelinganya.
“Riris sayang.. CDnya dibuka ya biar kamu nggak kegencet, liat tuh CD kamu
kekecilan nggak bisa nampung pantat kamu yang bulat besar sama vagina kamu yang
tembem, lagian kamu juga udah basah, khan sayang ntar CDnya jadi lengket.”
Awalnya dia tidak mau, tapi saya katakan lagi.
“Ris.. nggak kenapa napa deh sayang.. khan aku masih pake boxerku, jadi cuman
kamu aja yang telanjang, kalau aku tidak.”

Akhirnya Riris setuju, aku loloskan CD mini putih berenda itu, dan kali ini aku benar
benar melihat Riris dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, dengan keadaan
birahi tinggi. Bukan main indahnya bentuk vagina Riris, dia mempunyai bulu vagina
yang lebat denga bulu-bulu halus semua warna hitam. Bulu-bulu tersebut nampak
rapih, karena dalam keadaan lurus tidak keriting seperti wanita kebanyakan. Mulutku
mulai menjalankan aksinya, aku mulai menyusuri ke arah pusarnya terus turun dan
berhenti tepat dibawah vaginanya.

Riris sedikit jengah dan berkata, “Oh, kamu jangan liat punya kayak gitu dong.. aku
kan malu” sambil tangannya mencoba menutupi.
Tapi dengan cepat tanganku menahannya dan langsung bibirku mencium bibir luar
vaginanya sambil kuhisap-hisap kedua belah bibir vagina Riris.
Dia benar benar kelojotan,” Ah Mardi, gila kamu, oh.. enak banget, hmm.. oh iya
bener gitu sayang.. ohh..”
Aku makin berani kusapukan lidahku naik turun sambil tak lupa klitoris yang sebesar
kacang tanah itu aku emut emut dan didalam bibirku aku kedut kedutkan. Lidahku
mulai merangsek masuk ke dalam lubang vagina Riris yang memang benar benar
sudah basah. Wangi semerbak yang tercipta karena napsu biharinya membuat aku
makin berlipat ganda untuk keinginan menyetubuhinya. Dalam keadaan yang gamang
tersebut kepala Riris tersentak kekiri dan kekanan menahan luapan cinta yang tak
kunjung reda, aku diam-diam melepas celana boxerku sambil bibir tak lepas dari
vaginanya.

Cukup mudah untuk melepas celan boxerku karena memang celana dalam dengan
kondisi longgar. Satu kali tarik dengan tangan kiri, lolos sudah dan aku sudah
telanjang bulat bersama Riris, tanpa dia sadari. Aku bisa melihat dan merasakan Riris
hampir sampai titik orgasme, dan aku mulai dengan menuntun batang kemaluanku
yang sudah siap tempur dengan topi baja yang mengkilap. Kedua belah kaki Riris aku
lebarkan sambil tangan kiriku mempermainkan klitorisnya dengan ibu jari dan tangan
kananku mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vagina Riris.

Riris masih antara sadar dan tidak ketika kepala penisku bertemu dengan lubang
depan yang merah menganga. Kepala penis langsung seperti kena hisap alat yang
kuat oleh lubang vagina Riris. Riris mulai merasa aneh karena dia merasakan lain,
bukan jari tanganku dan bukan bibirku yang bermain di kemaluannya. Dengan sedikit
membuka mata dia melihatku. Aku tidak mau dia nanti memberontak menolak
keadaan ini, langsung aku peluk dia sambil sedikit aku goyangkan tanpa aku
mendorong masuk ke dalamnya. Cukup kepala penis saja yang terjepit di dalam
vagina Riris.

Riris melotot kearahku dan dia berbicara dengan suara serak,


“Mardi.. kok kamu masukin, khan kita udah janji sayang cuman peting, nggak boleh
begini dong.” Namun dalam bahasa tubuhnya pinggul dia tetap mengimbangi
gerakanku yang naik turun menggesek vaginanya.
“Riris.. aku cuman masukin kepalanya aja sayang, kamu juga ngerasainkan?”
Tambahku, “Itu juga udah cukup buat kita, lagi nggak usah dimasukin semua.. kamu
enak khan digini’in?” sambil aku goyang kekiri dan kekanan. Kepala penisku benar
benar dijepit erat oleh vagina Riris.

Riris merem melek keenakan, dan tangan Riris akhirnya memelukku dan
mengimbangi gerakanku. Baru aku tahu kalau dalam keadaan begini Riris benar
benar dapat berkata vulgar, karena tiba tiba dia berkata,
“Di, penis kamu enak banget sih hangat kena vagina Riris.”
“Oh, Riris ini mah nggak seberapa sayang,” kataku.
Setelah kurang lebih tiga menit kami seperti itu, aku merasakan pantat Riris menaik
lebih tinggi, seakan akan ingin merasakan lebih batangku. Maka akupun mulai sedikit
demi sedikit mendorong lebih dalam, ternyata makin panas gerakan kami berdua, dan
walhasil seluruh batangku terbenam di dalam vagina Riris. Dan aku rasa Riris pun
mengetahui hal itu, dan dia mulai meracau lagi,
“Oh Ardi.. enak banget penis kamu masuk semua ke dalem vaginaku sayang.. hh”
“Ohh, Di.. dorong lagi biar makin dalem sayang..”
Bukan main, aku makin nafsu saja mendengar erangan dan kata-kata vulgarnya. Aku
pun tidak mau kalah sambil memompa aku bertanya,
” Riris.. penis Mardi lagi ngapain vaginanya Riris sayang?”
“Hhh, skh.. hh penis kamu lagi ngentotin vagina aku sayang,” sambil Riris meremas
pantatku gemas.
Aku pura pura tidak mendengar ingin dia mengulang lagi kata katanya,
“Ha.. lagi ngapain sayang?”
“Lagi dientot sayang..ohh nikmatnya..”
Aku bertanya lagi, “Emang Riris mau dientot ama Mardi?”
Riris menyahut,”Iya sayang Riris ketagihan nih mengentot sama kamu, abis penis
kamu mantap, nikmat, enak rasanya.”

Sambil begitu saya benar-benar merasakan jepitan-jepitan halus dari dinding vagina
Riris. Benar benar wanita yang tercipta sempurna untuk bersenggama. Lubang
vaginanya mempunyai jepitan yang kuat dengan variasi batang kemaluanku di dalam
seperti dirayapi oleh jutaan semut, jadi seperti terkena setrum kecil, tapi hangat
dengan sebentar-bentar vagina tersebut mencucup kembang kempis menyedot seluruh
batang kemaluanku.

Setelah lebih 20 menit kami bersenggama dengan ucapan ucapan vulgar, Riris sudah
hampir mendekati klimaksnya.
“Ayo Mardi, aku udah mau keluar, entot terus aku iya teken biar kena klitorisku oh..
benar begitu sayang.. aduh, enak bener ngentot ama kamu.”
Gila juga nih perempuan, kalo dalam keadaan birahi begini omongannya jadi vulgar
seperi ini. Akupun merasakan intensitas kedutan vagina Riris makin tinggi, dan
sepertinya akupun ingin melepaskan kenikmatan bersama Riris sayangku.
“Oh, Ris.. enak banget vagina kamu ada empot ayamnya sayang, rasanya legit, rapet,
peret, oh, aku mau klimak sayang, gimana nih didalam atau diluar,” kataku dalam
keadaan yang kejang kejang nikmat.
Lalu dijawab oleh Riris, “Didalem aja Mardi biar enak, aku juga mau ngerasain
disemprot ama penis kamu, dan mungkin besok lusa ada dapet haid, jadi aman,”
desah Riris yang juga menahan amukan dalam gelora birahi yang siap meledak
beberapa saat lagi.

Akhirnya aku merasakan batang kemaluanku diremas kuat sekali oleh otot vaginanya,
gerakan pinggul Riris terhenti, sambil pantatnya ditinggikan aku mengocok sedikit
memberikan nuansa lain dalam vaginanya, lagi Riris menggeram dan..
“Oh sayang aku klimaks, ouh.. ahh. nggh ahh enak.. enak hh..”
Aku pun tak tahan penisku diremas dan disedot oleh vagina Riris, dengan satu dan
dua kali sentakan penisku menyemportkan sperma jauh langsung masuk kedalam
rahim Riris, dan yang semportan kedua tak kalah nikmatnya. Gerakan kami seperti
begitu kompak, ketika aku menyemprotkan sperma, vagina Riris menyedot kencang
hingga kami berdua merasakan nikmat senggama yang sangat indah.
Puas aku selesai klimaks dan begitu juga Riris, ketika aku ingin melepas penisku,
Riris mencegahnya.
“Biarin didalam dulu sampe ngecil dan keluar sendiri yah.”
Akhirnya kami berbaring menyamping dengan keadaan kemaluan kami masing-
masing masih menyatu, masih dapat aku rasakan kedutan dalam vagina Riris namun
sudah melemah, dan batangku mulai berangsur-angsur mengecil dan akhirnya lepas
dengan sendirinya dari vagina Riris.

Waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi, setelah kami selesai mandi berdua di dalam
bathup, dan ketika aku mau kembali ke kamarku Riris menahannya, dan dia minta
sekali lagi untuk bermain cinta. Akupun melayaninya. Katanya mumpung ada waktu.
Ronde kedua kami lakukan lebih hot lagi karena yang kedua dilakukan tanpa takut-
takut seperti yang pertama, dan kami akhiri dengan klimaks bareng dengan sempurna.

Sepulangnya dari puncak, hubunganku dengan Riris makin hangat, tapi kami selalu
menutupi di kantor dengan berpura pura bahwa antara kami tidak ada hubungan apa-
apa hanya sebatas teman kerja. Padahal kalau ada waktu di kantorpun kami peting.
Saya berkerja di bagian komputer, Riris bagian Settlement. Kalau salah satu dari
kami ingin dipeluk, maka kami memberikan kode untuk menuju ruang komputer
yang tidak ada orang, kemudian kami ketempat yang paling pojok supaya aman dan
berpelukan. Biasanya kami berpelukan sambil mengusap usap apa yang perlu diusap,
biasanya saya meremas gemas pantatnya, dan meremas lembut buah dadanya, sambil
dibarengi dengan ciuman bibir dengan sedikit panas. Setelah kami puas, Riris
biasanya keluar lebih dulu dari ruang komputer, dan tidak lama kemudian baru saya.

Rasa ingin bersenggama dengan Riris demikian besar, begitu juga Riris yang ingin
sekali bercinta dengan saya. Akhirnya saya mencari kost-kost’an yang dekat dengan
kantor yang fungsinya kalau istirahat makan siang kami dapat mencuri waktu berdua
kekost’an saya dan kami berdua saling melepas hasrat terpendam dan setelah selesai
kami dapat dengan cepat kembali ke kantor, dan untuk makan siang kami
membiasakan ngemil di kantor, jadi tidak begitu lapar.

Demikianlah cerita saya, yang sekarang Riris sudah meninggalkan saya karena dia
mendapat pekerjaan baru dan sudah menikah dengan pilihannya yang tepat. Saya
masih ngekost namun sudah tidak ada Riris yang menemani.
Airin, Istri Temanku
69
Posted by admin on September 30, 2009 – 11:49 am
Filed under Umum

Hendro adalah suami Airin sahabat istriku dia baru pulang dari LA dan kebetulan
adikku titip barang buatku, sudah hampir 10 hari Airin menilponku untuk mengambil
barangnya tetapi aku masih belum sempat juga, sampai tadi pagi Hendro sendiri yang
meneleponku, aku jadi sungkan maka kuputuskan untuk mengambilnya siang ini.
Rumah Hendro yang di Kemang ini letaknya agak ujung meski demikian, halaman
rumahnya sangat luas dan menyenangkan sekali. Ketika aku sampai dirumahnya, tak
kulihat Mercy Hendro yang biasanya parkir digarasinya. Yang ada hanya BMW putih
milik Airin serta sebuah jip Pajero yang diparkir agak jauh dari halaman. Dengan
bersiul siul aku turun dari mobil dan menuju pintu masuk rumah Hendro, kulihat
pintu itu tertutup dan tak seorangpun yang nampak. Kupencet bel dipintu, tapi tak
seorangpun yang keluar, bila ada mobil didepan, berarti mestinya ada orang didalam
rumah itu, aku menduga pasti Airin sedang sibuk dikamarnya sehingga tak
mendengar kedatanganku. Karena sudah seringkali berkunjung jerumah ini, maka aku
langsung saja menuju pintu belakang untuk mencari orang yang ada dirumah, karena
Hendro sudah bilang kalau dia atau Airin tak ada, maka paketnya akan dititipkan
pada yang dirumah. Benar dugaanku, pintu belakang terbuka, tetapi didalam senyap
sekali, hanya sayup sayup kudengar suara musik dari dalam. Aku jadi kuatir, apakah
terjadi sesuatu dengan Airin, dengan pelan pelan aku masuk dan mencari sumber
suara itu. Rupanya suara itu datang dari salah satu kamar diruang atas, maka aku
segera naik keatas yang kuketahui sebagai kamar pribadi Hendro dan Airin.Dengan
langkah pelahan aku menuju sumber suara musik yang lembut itu, kulihat pintunya
tidak ditutup rapat sehingga suara musik itu dapat terdengar sampai diruang bawah.
Ketika kuintip dari celah pintu yang terbuka, aku tak dapat melihat apa apa,
karenanya aku mendorong pintu itu lebih lebar lagi agar aku dapat melihat apa yang
ada dalam kamar itu……..
Aku benar benar terkejut ketika aku berhasil melihat kedalam kamar itu….kulihat
Airin yang telanjang bulat sedang berpelukan dengan seorang pria yang masih
berpakaian lengkap. Aku belum dapat melihat wajah si pria, tetapi dari bentuk
badannya dapat kuperkirakan bahwa pria ini masih sangat muda dan berperawakan
tinggi. Pria itu asyik sekali menciumi buah dada Airin yang putih montok itu, aku
berdebar debar menyaksikan semua ini, tak kusangka bahwa Airin yang selama ini
kelihatannya alim ternyata suka menyeleweng, memang selama ini aku sering juga
membayangkan kecantikan Airin, tubuhnya tinggi besar dengan profil seperti
perempuan India, kulitnya putih bersih dengan badan yang agak sedikit kegemukan,
tetapi wajahnya cantik sekali dengan mata yang sayu dan bibir yang selalu basah,
cantik sekali. Apa yang kulihat saat ini membuktikan kalau seleraku pada Airin tidak
keliru, badan Airin benar benar mulus, meskipun perutnya agak gendut dan
pinggangnya lebar, tetapi jembutnya amit amit lebat sekali menutupi nonoknya
sampai mencapai pusarnya, belum lagi ketiaknya rimbun sekali. Si pria itu dengan
telaten menciumi buah dada Airin serta meremas remasnya dengan kalem sekali, dari
jauh kulihat lidahnya menjulur julur menjilati puting susu Airin dan terus bergerak
kebawah sampai kepusar Airin, diantara suara musik kudengar erangan Airin yang
merasa keenakan dengan rangsangan yang diberikan oleh pria muda itu.

Aku mengagumi ketelatenan pria itu, karena ia benar benar kalem, karena semua
gerakannya yang serba tenang itu pastilah membuat Airin jadi tambah bernafsu.
Ketika ciuman sipria itu mencapai bagian selangkangan Airin, kudengar Airin
merintih agak keras, rupanya sipria itu mulai menjilati nonok Airin yang sudah
merekah penuh dengan cairan itu. Jilatannya sungguh membuat aku terkagum kagum,
ia dengan tenang mengangkat kedua kaki Airin tinggi tinggi sehingga nonok Airin
jadi terangkat keatas, kemudian pria itu mengambil bantal dan mengganjalnya
dibawah pantat Airin. Dengan posisi seperti itu ia mulai menjilati belahan nonok
Airin sampai kelubang dubur Airin. Airin kulihat hanya bisa menggerak gerakkan
pantatnya saja, rupanya ia benar benar kegelian oleh service yang diberikan oleh
sipria itu. Mendadak Airin berusaha untuk bangkit, si priapun lalu mendekati Airin
yang membisikkan sesuatu ketelinganya. Mendengar itu sipria yang ternyata seorang
anak muda dengan wajah yang tampan sekali lalu tersenyum dan mulai membuka
pakaiannya. Aku jadi tambah kagum dengan anak muda yang bersama Airin ini,
karena ternyata kontolnya juga hebat meskipun kuperkirakan tidak sepanjang
kepunyaanku, tetapi bentuknya kekar dan ujungnya yang pelontos kelihatan lebih
besar dari batang kontolnya sehingga menyerupai jamur. Begitu ia sudah telanjang
dengan ****** ngaceng yang mendongak keatas,ia segera mendekati Airin yang
sudah berbaring terlentang itu, kemudian ia mendekatkan kontolnya kedekat wajah
Airin sementara ia sendiri mendekatkan wajahnya kedekat nonok Airin.
Dengan posisi tersebut keduanya bebas untuk saling menikmati alat kelamin
pasangannya. Benar saja, dengan rakus Airin memasukkan ****** sipria tadi
kemulutnya dan menghisapnya sambil memejamkan mata, sementara sipria kembali
lagi asyik dengan menjilati nonok Airin yang menganga itu. Aku lebih tertarik
dengan cara sipria itu menjilati nonok Airin, karena kulihat lidahnya yang panjang itu
menjulur masuk kedalam liang nonok Airin dan bukan sekedar menjilati tepi tepi
nonok Airin yang sudah membengkak itu. Kulihat itil Airin justru dibiarkannya
menganggur sehingga kadang kadang justru Airin yang mengulurkan tangannya
untuk menggosok itilnya sendiri. Benar benar hebat anak muda itu, kontolnya yang
lurus itu dengan lancar masuk kedalam mulut Airin dan ketika dikeluarkan, Airin
menarik kulitnya kebawah sehingga ujungnya yang seperti topi baja itu terbuka lebar,
dengan guratan yang dalam memisahkan ujung ****** dengan batangnya. Dipusat
rasa geli itulah Airin menjulurkan lidahnya dan menjilatinya berulang ulang sampai
sipria itu menggeliat geliat menahan geli. Aduh betul betul gila yang dilakukan orang
orang ini, aku sudah tak kuat menyaksikan semua ini, kontolku yang ngaceng sampai
terasa sakit karena terjepit celanaku, tetapi aku tak dapat berbuat apa apa kecuali
melihat saja. Hebatnya mereka betul betul menikmati permainan pendahuluan ini,
karena sampai sebegitu lama belum kelihatan gelagatnya mereka akan mulai
bersetubuh yang sebenarnya. Aku makin yakin kalau Airin adalah seorang hyperseks,
aku merasa benar benar kecolongan, karena tak pernah kusangka kalau Airin begitu
hot dan akhli dalam hubungan seks. Isteriku yang selama ini kuanggap jago, ternyata
masih belum ada seujung kuku dibanding dengan Airin, padahal bila dilihat dari
posturnya, maka isteriku adalah seorang seks maniak, karena isteriku agak bungkuk
dan aku diam diam juga tahu kalau isteriku juga suka main dengan pria lain, tetapi
selama ini aku diam saja karena teman mainnya rata rata orang yang dari kalangan
atas dan aku yakin kemampuan mereka tidak diatasku. Kenapa isteriku kok mau main
main dengan mereka, penyebabnya hanya satu, isteriku juga menyukai avontuur, jadi
hubungan seks yang sifatnya curi curi itu sangat disukai oleh isteriku. Akupun juga
suka seks seperti ini, tetapi sampai saat ini aku dan isteriku belum pernah saling
terbuka, mungkin kalau kami bisa terbuka maka makin banyak kenikmatan yang bisa
aku reguk.
Lamunanku jadi buyar ketika kulihat Airin berdiri sambil melap nonoknya dengan
sehelai handuk, sementara si pria itu berdiri juga disampingnya sambil
memperhatikan semua gerakan Airin. Selesai membersihkan nonoknya Airin
berjongkok didepan sipria dan mulai lagi mengulum ****** si pria itu, dari kejauhan
kulihat si pria memegang kepala Airin yang sudah menelan habis batang kontolnya
itu. Rupanya Airin hanya sekedar membersihkan ****** sipria itu agar tidak
berlendir karena setelah itu ia mengeluarkan ****** si pria itu dan langsung
memeluk sipria sambil berdiri serta mengangkat kaki kirinya keatas tempat tidur.
Dengan posisi seperti itu, si pria muda menggenggam kontolnya sendiri dan
menepatkannya diantara selangkangan Airin, setelah dirasakan sudah masuk Airin
langsung mengangkat kedua kakinya dan melingkarkan kepantat sipria sementara dari
belakang kulihat ****** sipria itu lenyap diantara selangkangan Airin. Dengan
sambil memegang pantat Airin dan Airin merangkulkan tangannya dipundak
keduanya asyik berciuman. Aku benar benar tak tahan, aku pergi menjauh dari kamar
itu dan mengeluarkan handphone untuk menghubungi Airin dikamarnya itu, aku
sudah benar benar nekad ingin ikut nimbrung dalam permainan itu, dan aku sudah
tidak memikirkan akibatnya lagi,rasanya apapun yang terjadi aku akan hadapi yang
penting ngacengku ini bisa hilang.
Dari kejauhan kudengar tilpon Airin berdering, tetapi tidak juga diangkat, aku yakin
bahwa Airin sedang menguber kenikmatan jadi dia agak acuh dengan dering tilpon
itu, tetapi aku tak mau kalah aku juga terus menunggu… Akhirnya telepon itu
diangkat juga, jantungku dag dig dug karena tegangnya, “Hallo….siapa ya ?”
kudengar suara Airin yang agak serak dan mendesah. Aku yakin Airin menerima
tilponku itu sambil terus bersetubuh, ” Airin ya…ini aku Roy, kenapa sih kok lama
menerimanya ?” “Oh Roy, maaf aku sedang dikamar mandi, ada apa Roy, apa kamu
mau ambil paket dari LA ?” Dalam hati aku tertawa mendengar kebohongan Airin
itu, “Nggak Rin, kok rasanya suaramu aneh sepertinya kamu sedang menikmati
sesuatu gitu lho” Sambil berbicara begitu aku kembali mendekati pintu kamar tadi,
ketika kuintai benar dugaanku, tubuh Airin masih bersatu dengan tubuh sipria itu,
tetapi sekarang posisinya lain, sipria itu berbaring sementara Airin duduk dipangkal
pahanya, aku yakin bahwa saat itu ****** sipria terbenam dalam nonok Airin.
Mendengar perkataanku Airin tertawa ” Menikmati apa Roy ?” Barangkali aja kamu
sedang main dengan Hendro ya ?” Airin tertawa dan berkata lagi “kamu ini ada ada
saja Roy”, aku lalu menjawab dengan agak berbisik ” Rin, aku sebenarnya sudah
dalam rumahmu, aku sudah lihat kamu main main sama cowok dikamarmu, aku
sekarang nunggu kamu dikamar sebelah, cepetan deh” Tanpa menunggu jawaban
Airin, tilpon kututup dan aku masuk kekamar sebelahnya dan menunggu dengan
berdebar debar.
Lebih dari lima menit Airin tidak juga kunjung muncul, aku jadi berpikir apakah dia
menyelesaikan hajatnya terlebih dahulu ataukah dia lagi bingung menyuruh sicowok
itu untuk pergi. Tapi aku yang sudah terangsang nggak karuan ini langsung aja
mencopot celana panjangku dan dengan separuh telanjang karena bajuku masih
kupakai aku duduk dikursi sambil mengelus elus kontolku yang rasanya jadi tambah
panjang dari biasanya itu. Saat itulah pintu kamar terbuka dan Airin masuk kekamar
itu, wajahnya pucat pasi dan gemetaran, Airin hanya memakai duster yang kelihatan
sekali kalau didalamnya dia tak memakai apa apa, karena kulihat susunya bergerak
gerak ketika ia berjalan. Airin dengan wajah pucat mencoba untuk tersenyum melihat
aku yang separuh telanjang itu. Tanpa banyak bicara aku langsung berdiri dan
mendekati Airin, aku langsung merangkul Airin dan menciumnya. Airin diam saja,
entah karena perasaan takut atau bagaimana, aku tak perduli aku langsung membuka
dusternya sambil bertanya, “Dimana anak tadi Rin ?” Airin tak menjawab, begitu
duster Airin terbuka benar dugaanku Airin tak memakai apa apa dibalik duster itu,
aku langsung mengulum pentil susunya yang coklat itu dan tangannya kubimbing
agar memegang kontolku yang panas itu. Airin tetap diam saja, kudorong Airin
keatas tempat tidur yang ada dikamar itu dan begitu ia sudah terbaring langsung
kukuakkan pahanya dan kucobloskan kontolku.
Tiba tiba saja Airin berkata “Roy apa cukup masuk dipunyaku, hati hati lho ” Aku
membatalkan untuk memasukkan kontolku langsung, lalu aku mengambil ludah
dengan jariku untuk kuoleskan keujung kontolku, setelah kulihat basah dan licin
barulah kumasukkan lagi diantara bibir nonok Airin yang membengkak itu. Kulihat
Airin memejamkan matanya sambil menggigit bibir, sekali sentak kontolku amblas
masuk kedalam liang nonok Airin. Saat itulah Airin merintih dan secara refleks
tangannya memelukku, kubalas pelukannya dan kucium bibir Airin yang tebal dan
merekah itu, sengaja aku membiarkan kontolku mentok terbenam didasar nonoknya
karena aku menunggu agar dia yang menggoyangkan pantat untuk merasakan
enaknya kontolku, aku hanya menciumi dan menggigiti bibirnya sambil tanganku
meremas remas susunya yang kenyal dan montok itu, benar saja tak lama kemudian
mulai kurasakan goyangan pantat Airin berusaha untuk menepatkan ujung kontolku
dibagian yang paling sensitif didalam nonoknya, awalnya pelan pelan kurasakan
ujung kontolku digosok gosok dinding rahim Airin, lama kelamaan gosokan itu
makin keras dan akhirnya menggila karena Airin yang sudah hilang sungkannya
sekarang benar benar menggoyang pantatnya agar supaya terasa nikmatnya, aku
sendiri begitu melihat Airin sudah bereaksi langsung kupacu kontolku dengan
gerakan memutar juga untuk mengimbangi Airin, seperti dugaanku, nonok Airin
tidak terlalu peret, bahkan boleh dikatakan longgar, namun nikmatnya berpetualang
menyebabkan persetubuhan ini benar benar terasa lain, apalagi Airin sangat pandai
membuat ujung kontolku seperti digerus setiap kali mentok didasar nonoknya. Kami
sama sekali tak ada niatan untuk berganti posisi karena yang kami kejar hanyalah
puncak kenikmatan yaitu memancarnya air mani kami secara bersamaan.
Suara kontolku yang keluar masuk diliang berkecipak karena liang Airin sudah penuh
dengan lendir yang membuat liang Airin jadi becek nggak karuan. Airin sendiri yang
sudah seperti orang kesurupan tanpa sungkan menjilati dadaku dan kadang kadang
menggigit pundakku, rasa geli yang mengumpul diujung kontolku membuat aku jadi
tak tahan lagi, dengan melenguh keras kusemprotkan air maniku sementara itu Airin
sendiri juga mencengkeram pundakku dan menjepitkan kedua kakinya kepahaku, dia
juga mencapai puncak kepuasannya.
Kubiarkan saja Airin yang kelelahan terbaring lemas sambil memejamkan matanya,
kuperhatikan cuping hidungnya penuh dengan bintik keringat, wajahnya yang cantik
membuat penampilannya sangat anggun, aku tak tahu apa yang terjadi dalam rumah
tangganya, apakah Hendro tahu semua ini, dan mengapa Airin begitu berani
memasukkan laki laki disiang hari bolong seperti ini, kenapa tak ada yang
dikhawatirkannya, aku menduga pasti ada sesuatu yang misterius dirumah ini, tetapi
aku tak perduli, karena urusanku hanyalah dengan Airin sendiri dan kalau boleh
dikatakan lebih khusus lagi dengan nonok Airin yang membuat birahiku jadi naik itu.
Ketika membuka matanya, wajah Airin langsung merona merah, dia sangat malu
kepadaku dengan semua ini katanya “Roy, kamu jangan bilang pada Hendro ya, aku
malu sekali lho” Aku tak menjawab hanya kucium bibirnya yang tebal dan
merangsang itu. Airin berkata lagi ” Tak nyana lho Roy kalau kamu mendadak
muncul, bikin aku jadi kaget sekali ” “Roy kapan kapan kita keluar saja ya, apakah
Novie juga mengerti kalau kamu jagoan seperti ini ?” Aku hanya tersenyum saja ”
Ayo deh aku pulang dulu ya, entar kalau Hendro datang bisa gawat nich, kemana
cowok tadi Rin ?” Airin menjawab kalau cowok tadi sudah disuruhnya pulang. Airin
langsung berdiri dan memakai dusternya serta mengantarku kedepan. Aku sengaja tak
mau bertanya macam macam, tetapi aku percaya bahwa Airin juga tahu kalau Hendro
juga suka main perempuan jadi scorenya draw. Aku menaiki mobilku sambil
tersenyum sendiri karena teringat akan pengalamanku sendiri dengan Novie
isteriku…

Aku dan Nadya


57
Posted by admin on September 30, 2009 – 11:47 am
Filed under Umum

Semenjak kedatangannya, suasana kantor agak berubah. Orang2 jadi semakin rajin,
entah mengapa. Dia bukanlah direktur yang baru, bukan pula sekretaris baru yang
seksi. Namanya Nadya. Perempuan berumur 27 tahun ini disukai sekaligus dibenci.
Disukai karena kerjanya cepat dan sangat efektif, serta sangat cerdas, tetapi disisi lain
dia selalu mengeluh dan memarahi kami karena keterlambatan kami atau hal2 sepele
lainnya.

Nadya bukanlah direktur, juga bukan senior designer. Posisinya sama denganku,
junior designer. Yang membedakannya denganku dan beberapa teman lainnya adalah,
Nadya lulusan universitas kenamaan di Amerika Serikat, dengan prestasi cum laude.
Selain itu Nadya juga keponakan dari Owner perusahaan desain interior ini. Berdarah
Jawa- Belanda, dengan tampang indo layaknya model2 catwalk, rambut hitam
panjang, dengan kacamata tipis dan pakaiannya yang selalu modis, sudah barang
tentu lelaki menyukainya. Namun entah kenapa kami malas untuk akrab dengannya,
selain karena sikapnya yang selalu ketus dan tidak bersahabat itu, juga karena kami
merasa tidak selevel dengannya. Apalagi kebanyakan dari kami adalah lulusan
universitas lokal, dan sewaktu kuliah, membolos sudah jadi makanan kami (tidak bisa
nyontek di kuliah desain interior). Walaupun kami datang dari universitas mentereng,
tetap saja tidak bisa membandingkan diri kami dengan Nadya.

Aku sendiri berusia 29 tahun, masih jomblo dan belum menikah. Bukan karena aku
tidak laku, tapi aku masih agak shock ketika setahun yang lalu pacarku selingkuh
dengan sahabatnya sendiri. Memang mereka tidak melakukan hal2 yang melanggar
norma kesusilaan, tetapi jalan dengan laki2 lain dan saling berkirim sms mesra di
tengah2 persiapan pernikahan, apa bukan selingkuh itu namanya ?

Teman2ku yang lain sering menggodaku agar aku mendekati dan mencoba akrab
dengan Nadya, karena menurut informasi yang beredar, Nadya belum memiliki pacar.
Wajar saja hal ini terjadi mengingat yang masih bujangan di kantor ini selain aku dan
Nadya, Cuma ada seorang desainer senior yang selalu tidak beruntung dalam masalah
percintaan, dan seorang office boy. Aku pun bertanya2 kenapa Nadya tidak laku
padahal dia sangat cantik dan pintar. Apa karena sikapnya yang ketus ? atau mungkin
saja dia lesbian ? haha.

Minggu ini minggu yang sangat melelahkan. Selain mengerjakan desain interior
untuk sebuah mall yang akan dibangun, aku dan Nadya harus rapat sore hari bersama
developer sebuah gedung perkantoran. Selama di mobilku, Nadya hanya diam saja,
sembari mendengarkan musik di ipodnya. Sudah barang tentu dia pasti tidak akan
menjawab jika aku sekedar ingin mengobrol atau berbasa-basi dengannya. Sebab
selama ini pembicaraanku dengan dia hanya sebatas pekerjaan saja. Dia juga tidak
pernah bergabung dengan orang2 kantor mencari makanan murah disekeliling gedung
perkantoran. Entah dia makan dimana, karena menurut para direksi dan senior
designer, Nadya tidak pernah makan bersama mereka. Tentu saja, karena walaupun
sudah berduit dan lebih berumur dari kami, para direksi dan senior designer pasti
mencari makan murah untuk berhemat.

Rapat berlangsung sangat lama. Waktu sudah menunjukkan pukul jam 8 malam.
Tetapi Nadya masih berdiskusi dengan pihak pengembang soal konsep desain interior
gedung perkantoran itu. Bila rapat dengan rekan yang lain, pasti mereka akan
mencari2 alasan atau sengaja mengarahkan pembicaraan agar rapat cepat selesai.
Akhirnya rapat selesai juga. Waktu menunjukkan pukul 8.30. rapat berlangsung
sangat lancar, dan tidak satupun ucapan Nadya yang dibantah. Harus kuakui gadis ini
sangat hebat dalam berargumen.

Jalanan sudah agak lengang karena jam macet sudah lewat. Aku dan Nadya berada di
dalam mobil, menuju ke kantor. Aku membuka pembicaraan.
“Udah malem, di kantor ga ada siapa2, mau cari makan dulu sebelum kembali ke
kantor ? “ tanyaku berbasa basi.
“Gak usah, langsung ke kantor aja” jawabnya pelan dan pasti. Tak sampai 5 detik dia
langsung memasangkan headset ipod ke telinganya. Buset. Dingin sekali
tanggapannya. Yasudah. Aku tidak ambil pusing, dengan buru2 aku segera menyetir
mobil ke arah kantor, agar aku bisa cepat pulang dan makan malam.

Kantor kami terletak di sebuah gedung berlantai 7, di daerah yang mentereng di


Jakarta Selatan. Kantor Konsultan desain interior kami berada di lantai paling atas,
berbagi lantai dengan 3 kantor lainnya. Aku memarkirkan mobilku dengan asal2an di
tempat parkir. Tumben, pikirku, para satpam lagi kemana ? aku dan Nadya langsung
masuk, menaiki lift, dan kemudian masuk ke kantor. Suasana kantor agak gelap
karena memang sudah tidak ada siapapun. Aku mencoba membuka pintu pantry
untuk mengambil makanan ringan di kulkas, namun pintu pantry sudah terkunci.
Memang kebiasaan office boy kami untuk mengunci semua pintu di kantor kecuali
pintu utama, yang biasanya selalu dikunci oleh satpam setelah semua pergi.

Untung saja pintu belum dikunci ketika kami masuk. Entah karena malas atau apa,
kami tidak menyalakan lampu utama. Karena besok pagi desain awal hasil rapat
sudah masuk ke desainer senior, maka kami membereskan hasil rapat tadi di ruang
rapat utama. Nadya bekerja dengan sangat teliti mengetik laporan dengan MacBook
nya. Sementara aku mengumpulkan hasil sketsa ‘dan denah ruangan dalam satu
bundel, sambil menahan perut lapar dan tak henti2nya aku melihat ke arah jam.
Setelah tugasku beres, aku membereskan mejaku, dan bersiap untuk pulang
sementara Nadya mem-print hasil ketikannya. Nadya sudah akan pergi ketika aku
memasukkan alat tulis ke tasku.
“Aku pulang duluan ya..” Nadya berjalan ke arah pintu. Aku tersenyum sekenanya
dan meregangkan tubuh dulu sebelum benar2 akan pulang. Tiba2…

“SHIT !” aku mendengar teriakan Nadya dari arah pintu utama. Aku bergegas berlari
ke arah pintu utama. Rupanya Nadya sedang berdiri mematung di depan pintu yang
tertutup.
“Kenapa ?” tanyaku heran
“Pintunya dikunci” jawab Nadya sambil menarik2 handle pintu sekuat tenaga.
Sial, pikirku. Rupanya tidak ada satpam di luar itu dikarenakan mereka sedang
patroli, sekaligus mengecek adakah orang yang lembur malam ini. Rupanya karena
kami berdua tidak menyalakan lampu2 utama, yang menyebabkan ruangan kantor
seperti tidak ada orang, mereka mengunci pintu tanpa memeriksa terlebih dahulu.
Aku mulai panic karena jalan satu2nya keluar dari kantor ini adalah pintu itu. Tangga
darurat ada di seberang pintu kantor. Sial. Sekali lagi sial. Semua pintu sudah
dikunci. Aku berlari mengintip ke jendela. Sia2. Jendela kantor kami tidak ada yang
menghadap ke kantor satpam. Aku blingsatan kesana kemari, dan dengan marah
kutendang pintu kaca yang tebal itu. Tak ada reaksi kecuali kakiku sakit. Desain pintu
yang kuat agar kantor aman ternyata menjebak kami di kantor

Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku dan menelpon office boy, untuk
menyuruhnya kembali ke kantor. Sial sekali lagi. Telponnya tidak aktif. Hebat.
Nadya diam, walau bisa kulihat mukanya memerah menahan marah. Mungkin dia
juga ingin cepat pulang, ada janji atau apapun. Tapi Nadya tetap berusaha kalem
dengan menelpon pamannya, sang owner perusahaan desain ini. Aku bisa mendengar
percakapan mereka.
“Hallo om..”
“Eh Nadya, ada apa ?”
“Om, aku kekunci di kantor”
“Lah kok bisa ? “
Nadya menjelaskan situasinya ke pamannya.
“Waduh…. Gawat juga.. OB nya pun ga bisa ditelpon ?”
“Iya om….”
“Teriak2 gih, coba panggil satpamnya”
Percuma, kupikir. Aku pernah lembur dan melihat kelakuan para satpam itu ketika
waktu sudah menunjukkan jam 9 keatas. Setelah patroli dan mengunci pintu2 utama,
mereka langsung ke kantor mereka, untuk nonton tv rame2, main kartu, bahkan
kadang2 mabuk bareng.
“Ga bisa om…” nada bicara Nadya sudah mulai memelas.
“Hmm… om akan usahakan cari bantuan, tapi om lagi di luar kota sekarang”
“KOK OM GAK BILANG DARI TADI KALAU ADA DI LUAR KOTA ?!?”
Nadya meledak. Ditengah kekalutan aku mencoba menelpon semua nomor telpon
kantor. Dan sialnya, kebanyakan dari mereka tidak aktif. Ada yang mengangkatnya
dengan background suara hingar bingar diskotik dan suara teler ga karuan. Tolol. Di
tengah minggu malah dugem. Nadya, terus menekan pamannya. Aku berusaha
menelpon semuanya, tetapi entah kenapa sinyal hapeku tiba2 hilang. Aku kalut,
mencari telpon kantor. Dan hanya telpon di meja front office saja yang bisa dipakai
untuk menelepon ke luar. Aku berlari kearah front office dengan panik. Dan
bodohnya tiba2 aku terjatuh tersangkut pojokan meja. Aku jatuh ke meja menimpa
telpon kantor. Aku kaget dan langsung bangkit. Berharap telpon tidak rusak. Aku lalu
mengangkat telponnya. Ternyata ada nada sambung. Aku mencoba menekan nomer
yang kuhapal. Lagi2 sial. Rupanya kejadian tadi menyebabkan tombol 0 rusak dan
tidak bisa ditekan. Nomer telpon HP mana yang tidak ada 0 nya ? sedangkan aku
tidak punya nomor telpon rumah orang kantor. Ide tiba2 muncul, aku membuka laci
front office untuk melihat data nomer telpon pegawai.

SIAL ! SIAL! Lacinya terkunci. Sementara itu Nadya masih menelpon pamannya.
“JADI GIMANA DONG OM ?!?” Bentak Nadya
“Sabar, kamu sama siapa disana ?”
Nadya menyebutkan namaku.
“Oh… sama dia…. Aman kalau sama dia, Nadya, kamu tunggu besok aja, kamu…”
Belum sempat pamannya menyelesaikan kalimatnya, Nadya dengan kesal
melemparkan handphonenya ke dinding dan handphonenya hancur berkeping2.

“Kenapa kamu banting ?!?!?” Bentakku


Nadya hanya terdiam. Dia menarik nafas dalam2.
“Telpon kantor ? “ tanyanya pendek
“Rusak” jawabku tak kalah pendeknya.
“Kenapa ?” Mukanya mulai memerah. Matanya berkaca2
“Tadi aku jatuh, telponnya ketindih badanku” Aku menjawab sambil memalingkan
muka.

“TOLOL !!” Nadya membentakku dan tangan kanannya mengayun akan menampar
pipiku. Dengan tangkas aku menangkap tangannya dan melepasnya kembali.
“Lebih tolol mana sama orang yang ngebanting hape nya sendiri ? “ sindirku.

—– 30 menit berlalu ——-

Ruang rapat penuh asap rokok sekarang. Aku menghisap rokok kretekku dalam2 dan
membuang asapnya ke langit2. Nadya duduk di pojokan sambil menghisap rokok
mentholnya. Kami sudah saling diam selama 30 menit lebih. Tidak ada alasan bagiku
untuk mengobrol dengan wanita judes ini. Bikin pusing. Tapi aku mencoba
menengok untuk melihat keadaannya. Khawatir juga. Jangan2 nekat gantung diri.

“Apa kamu lihat2 ?” Nadya membalas tatapanku dengan pertanyaan dingin


“Gw punya mata, boleh dong liat kemana aja” Jawabku tak kalah dingin.
“Ngeri tau gak, berdua doang sama cowok macem kamu”
“Eh…. Lu baru masuk kemaren sore Nad, blom kenal siapa gw..” Aku menatap
penuh emosi ke arah Nadya.
“Ah…semua cowok sama aja” Nadya membuang muka
“Apa maksud lu ?” Tanyaku penasaran
“Ah, tau lah….” Jawabnya sembari mematikan rokoknya di pot bunga yang sekarang
beralih fungsi sebagai asbak.
“Lo tau kan otak cowok isinya seks melulu ?” Suara Nadya terdengar tidak enak
Aku hanya terdiam.
“Bahaya tau gak berdua doang sama cowok asing. Salah2 gw diperkosa” Nadya
berkata ketus
“EH. Sori ya mbak-sok pintar-lulusan luar negri-masuk karena koneksi” Nada
bicaraku meninggi. “Biar kata lu cantik, juga, ga bakal ada cowok mau perkosa lo !
Mana ada orang mau merkosa orang ngeselin macem elo !!!” Bentakku.
“Orang yang gak bisa bersosialisasi macem lo ! Orang yang egois ! Ga ada empati
sedikitpun sama orang kantor ! Ga ada bagus2nya! Mentang2 ni kantor punya om lu,
lu mau seenaknya aja disini ?!?!? “ Aku sudah naik pitam. Tidak mampu menahan
kesabaran lagi.

“Ah… “ Nadya tidak bisa berkata2 lagi.


“Enak aja lo bilang gw mau merkosa elo ! mendingan gw tidur ama pecun daripada
nyentuh badan lo !” Nafasku habis. Sudah kuluapkan semua kekesalanku kepada
Nadya.
Tiba2 Nadya berlutut. Melepas kacamatanya dan mulai menitikkan air mata. Dia
membanting kacamatanya dan mulai menangis sesenggukan. Shit. Rupanya kata2ku
tadi kelewat kasar. Makin lama tangis Nadya makin keras. Aku pun berlutut
mendekatinya dan mencoba memegang bahunya.

“Nadya…. Sorry… mungkin gw terlalu kasar” aku meminta maaf


Nadya menepis tanganku dan terus menangis.
“Nad….” Aku agak membungkuk untuk melihat wajahnya. Tapi tiba2 Nadya
memelukku dan menangis di dalam pelukanku. Aku terdiam sembari mengelus2
punggung Nadya. Sekitar 10 menit dia menghabiskan tangisnya di pelukku. Aku
yang pegal lalu duduk di lantai bersandar pada dinding. Nadya duduk di sebelahku,
dengan pandangan kosong. Tak beberapa lama Nadya memulai pembicaraan.

“Maaf… tadi aku lancang ngecap kamu” katanya pelan


“Gw juga Nad… maaf tadi terlalu kasar” jawabku.
“Aku yang mulai” lanjut Nadya. “Kupikir semua laki2 sama. Baik pada awalnya tapi
ternyata brengsek”
“Ah. Semua laki2 brengsek kok Nad” Jawabku
Lalu kami terdiam cukup lama.

“Aku pernah diperkosa” Nadya tiba2 bercerita.


“Eh……” Aku tidak bisa menyembunyikan mimik heran dari mukaku.
“Waktu aku baru kuliah di US, ada kakak kelas yang ngedeketin aku..” Lanjut Nadya
“Dia baik banget, sampe pada akhirnya aku diundang ke pesta di asramanya…
Pestanya rame, dan ternyata minumannya beralkohol semua.”
“Aku dibuat mabuk” dia terus bercerita “ Lalu aku dibawa masuk ke kamar, dan
disana aku diperkosa olehnya” Nadya menghela nafas panjang dulu.
“Sejak saat itu aku ga pernah percaya sama cowok” Nadia lalu mengambil sebatang
rokok menthol dari bungkusnya, meremas bungkusnya yang sudah kosong, lalu
melemparkan bungkusnya ke pot bunga. Aku memberikan korek apiku ke Nadya.
Nadya lalu menyalakan rokoknya dengan korek milikku.

Aku tidak berani berbicara lagi. Aku tadi telah lancing berbicara seperti itu kepada
Nadya.
“Gimana kehidupan cinta kamu ?” tanya Nadya
“Mmmm…” Aku diam tak berani menjawab
“Setelah kejadian itu, aku ga pernah berhubungan sama laki2 lagi” katanya.
“Sekarang giliran kamu cerita” Katanya sambil tersenyum kepadaku

Aku sedikit terkejut. Ternyata jika tersenyum Nadya manis sekali. Aku tidak pernah
melihatnya tersenyum semenjak dia masuk kantor.
“Mmmm… Aku harusnya tahun lalu nikah…” jawabku
“Tapi ?” Tanyanya sambil menghisap rokok mentholnya.
“Tunanganku selingkuh” Jawabku pelan. Tak ingin rasanya menceritakan hal
tersebut. Aku menarik nafas dalam2 dan memandang ke arah langit2. Nadya tidak
menimpali jawabanku. Dia mematikan rokoknya di pot bunga.

Waktu berjalan sangat lama. Aku dan Nadya berbicara tentang banyak hal. Mulai dari
jaman kuliah, sma, segala macam. Ternyata Nadya menyenangkan jika diajak bicara.
Tak jarang ia tertawa bersamaku, menertawakan kejadian2 konyol di kantor yang
terjadi sebelum kedatangannya. Tak terasa sudah jam 12 malam. Aku sangat capek.
Aku mencoba tidur. Aku masih bersender pada dinding, sementara Nadya tertidur,
dengan menggunakan bahuku sebagai sandaran.

“Dingin……” Nadya tiba2 memelukku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sebagai
lelaki normal, yang sudah lama tidak berhubungan dengan perempuan, aku tiba2
merasa deg2an, dan suhu tubuhku memanas. Aku mengira Nadya bisa merasakannya,
karena dia memeluk tubuhku sekarang. “Hmmmm.. jadi yang bujangan di kantor
Cuma aku, kamu, sama Pak Yudi ? “ tanya Nadya.
“Iya” jawabku pelan sambil menahan perasaan aneh ini.
“Hehe” Nadya tertawa kecil
“Kenapa ? “ tanyaku.
“Nope… nothing” katanya sambil menahan tawa.
“Well… I guess. Ga ada salahnya kalo satu dari kalian aku pacarin” Nadya
melanjutkan ucapannya.
“Oh jadi lu demen ya sama om2 bujangan tua” timpalku
“Haha… enak aja. Coba kamu itung, 45 – 27 = 18, jauh kan umurku sama Pak Yudi”
jawabnya
“27 ? Kirain 35…” ledekku.
Nadya berusaha untuk menjewer telingaku tetapi aku menghindar, menangkap
tangannya, tetapi aku kehilangan keseimbangan duduk, sehingga aku terjatuh kearah
kanan dan tak sengaja menarik Nadya ikut jatuh juga menimpa tubuhku. Aku yang
jatuh menyimpang kekanan ditimpa oleh Nadya yang menghadapi telingaku.
Akhirnya dia menjewer telingaku tanpa ampun.
“Aduh !. Sakit tau !” Aku berusaha memberontak tapi Nadya malah tertawa2 dan
tidak melawan rontaanku. Aku berusaha bangkit tetapi Nadya malah memelukku.

“Aku ingin diperlakukan dengan lembut oleh laki2” bisik Nadya.


Aku memperbaiki posisi jatuhku. Aku tiduran terlentang di ruang rapat, dan Nadya
menimpa tubuhku. Aku bangkit, dan Nadya ikut memperbaiki posisinya. Aku
kembali duduk, tetapi sekarang Nadya ada di pangkuanku dan tetap memelukku.
“Aku merhatiin kamu terus semenjak pertama kali masuk kantor” Nadya kembali
berbisik. “Kamu paling sopan, dan lembut sama perempuan kalo dibandingin sama
yang lain”
“Ditambah lagi… kamu belum nikah kan… dan om ku bilang, kamu orang yang
baik” Nadya terus berbicara.
“Baru tadi kan bilangnya, gw juga denger” jawabku
“Enggak. Dari awal aku masuk kantor, om udah bilang kalo kamu selain kinerjanya
paling bagus, kamu juga sopan, ramah dan orangnya menyenangkan” Nadya
membantah ucapanku. “Kayaknya lucu kalau kita pacaran……” Nadya melanjutkan
ucapannya.
Aku kaget. Baru pertama kali seumur hidup ada perempuan yang mengatakan ingin
kupacari. Dan perempuan itu adalah perempuan yang cantiknya minta ampun seperti
Nadya. Aku tak bisa bicara apa2.

Kami berdua saling memandang. Tiba2 entah siapa yang memulai, kami memajukan
kepala kami masing2 dan berciuman. Bibir Nadya sungguh hangat. Aku memeluk
erat pinggangnya dan Nadya meremas rambutku. Kami berdua berciuman sangat
lama. Kurasakan kacamata Nadya menekan2 mukaku. Tapi aku tidak peduli. Bibir
kami saling memagut. Lidah kami saling beradu. Aku semakin menguatkan
pelukanku. Dan nadya melepaskan ciumannya. Hidungnya beradu dengan hidungku.
Dapat kurasakan nafasnya yang panas dan memburu. Nadya melepas kacamatanya
dan meletakkannya di sembarang tempat. Tanpa terasa Nadya membuka kancing
bajuku. Dia melakukannya sambil menciumi leherku. Agak sulit membuka kancingku
dalam keadaan seperti itu, tetapi Nadya cuek.

Aku tak mau kalah. Kulepaskan leherku dari jangkauan bibir nadya, dan mulai
meraih kancing kemejanya. Tak berapa lama bajunya terbuka. Tanpa diminta Nadya
membuka ikat pinggangnya dan melepas celananya. Didepanku berdiri perempuan
blasteran Jawa-Belanda, dengan kulit yang putih dan mulus, hanya memakai pakaian
dalam berwarna merah menyala. Aku menelan ludah, melihat tubuh Nadya yang
indah, bagaikan model catwalk yang langsing dan proporsional.

Nadya kembali menyerangku. Bibir kami kembali saling berciuman, tanpa sadar
tanganku mengarah pada buah dada Nadya. Aku meremasnya dengan lembut. Buah
dadanya yang proporsional terasa sangat empuk di tanganku. Aku dengan cepat
menyisipkan tanganku ke dalam BHnya. Nadya tiba2 memegang pergelangan
tanganku. Dia menahan tanganku dan seakan menyuruhku untuk mundur. Setelah aku
menarik tanganku kembali, tangan Nadya mengarah ke punggungnya, dan dia
melepas pengait BHnya, melepas BH nya sendiri. Nadya tersenyum kepadaku dan
berkata “Kenapa melongo gitu…. Kayak orang bego tau….” Aku malu sendiri dan
membuang muka.

Nadya memegang pipiku, dan kemudian tangannya menyusuri badanku, untuk


kemudian membuka ikat pinggangku. Aku pasrah, dan Nadya pun menciumi badanku
mulai dari leher sampai ke perutku. Aku kaget saat tangan Nadya masuk ke celana
dalamku dan menggenggam penisku. Nadya lalu mengoral penisku. Aku sedikit
kaget, karena tidak terbiasa dengan oral seks. Pada saat dengan tunanganku dulu,
boro2 oral seks, pegang2 sedikit saja sudah kena marah. Padahal aku bukan orang
yang tanpa pengalaman seks. Sebelum berpacaran dengannya, aku beberapa kali
melakukannya dengan pacar2ku yang dulu.
Aku meringis menahan geli akibat permainan lidah Nadya. Dia sangat pintar
memainkan penisku dengan mulutnya. Tindakannya bervariasi, tidak hanya
mengulumnya, tetapi juga dengan menciumi bagian2 yang sensitive dan memainkan
lidahnya di kepala penisku. Kupikir, sebelum kejadian perkosaan yang menimpanya
di US, Nadya sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.

Aku kaget dan berusaha menahan kepala Nadya ketika kurasakan spermaku hampir
keluar. Nadya tampaknya mengerti dan menghentikan kegiatannya. Dan dalam
beberapa menit kemudian, Nadya menanggalkan semua baju dalamnya, begitu juga
denganku. Badan telanjang kami berdua bergumul di lantai ruang rapat. Saling
berciuman, berpelukan dan menikmati keindahan tubuh masing2.

Hingga pada akhirnya Nadya telentang di atas karpet, kepalanya tepat berada di
bawah kepalaku. Mataku memandang lekat2 matanya yang indah.
“Nad…”
“ya…. “ jawabnya
“Are you sure you want to do this ?” tanyaku
“Why did you ask ?” katanya sambil tersenyum.
“We’re already gone too far” lanjutnya. “and now I consider you as my lover though”
senyum tipisnya meluluhkan hatiku. Aku mencium keningnya. Kedua kaki Nadya
tanpa disuruh kini telah melingkari pinggangku. Kami berciuman dengan hangat.
Kedua tangannya melingkari leherku. Kudekatkan penisku ke mulut vaginanya yang
mulai terasa basah. Pelan2 aku menggesekkan penisku di mulut vaginanya, mencari
jalan masuk. Tetapi tiba2 otot vaginanya menegang, seakan menolak penisku untuk
masuk. Aku terdiam dan memandang wajahnya, aku takut dia masih trauma akibat
kejadian di US itu.

“It’s okay….” Nadya mengisyaratkan bahwa dia tidak apa2.


Nadya membuka pahanya sedikit lebih lebar lagi dan dia tampak mencoba untuk
rileks. Pelan2 kudekatkan kembali kepala penisku di bibir vaginanya. Kepala penisku
sudah mulai masuk. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur, walaupun baru
sedikit yang masuk. Perlahan namun pasti, penisku semakin masuk kedalam lubang
vaginanya.

“aah….. “ Nadya mengerang pelan dan agak meringis ketika penisku masuk
sepenuhnya ke dalam vaginanya. Aku menggerakan penisku maju mundur dalam
posisi misionaris.
“Mmmhhh… sayang… pelan2 “ Nadya mengingatkanku untuk tidak bergerak terlalu
cepat. Dinding vaginanya seakan memijat2 batang penisku dengan lembut. “Aahhh…
sayang… mmmhhh….. uuhhh…” Nadya mengerang, menandakan dia mendekati
orgasme. Tetapi aku tidak ingin malam ini berakhir secepat itu. Aku menghentikan
gerakanku, dan ketika Nadya akan membuka mulutnya untuk bertanya, aku langsung
meraih pantatnya dan menggendongnya. Aku kemudian duduk di kursi rapat dan
menaikkan badan Nadya di pangkuanku. Nadya mulai berpegang pada pundakku. Dia
mengerti dan segera menaikkan pantatnya, lalu dengan pelan2 dia mengarahkan
lubang vaginanya ke kepala penisku. Nadya bergerak naik turun di pangkuanku.
Vaginanya terus2an memijat2 batang penisku dengan lembut.

Aku memegangi pinggangnya. Nadya menghentikan gerakannya dan berbisik lembut


kepadaku. “Sayang… kalo udah mau keluar bilang ya…. Aku gak mau kamu keluarin
disitu…” aku mengiyakannya dan dia mulai kembali beraksi. Goyangannya tidak liar
dan asal, tetapi begitu rapih. Begitu elegan dan anggun. Suara erangan kami
memenuhi ruang rapat. Kami sudah tidak peduli lagi tentang kemungkinan satpam
kembali lagi keatas dan menolong kami yang terkunci. Aku sudah tidak berpikir lagi
untuk kembali menelpon orang kantor, atau mencoba mendobrak pintu pantry dan
keluar lewat tangga darurat.

Yang ada dipikiranku hanyalah Nadya. Rasanya tidak percaya gadis yang tadinya
cuek dan judes kepadaku ini bisa ada dipelukanku sekarang.

“Mmmmmhhh….” Nadya agak menggelinjang.


“Aaahhh…..” Nadya kembali bersuara
Aku bisa merasakan Nadya akan mengalami orgasme, karena selain merasakan
gelinjangan tubuhnya, aku pun merasakan vaginanya makin menjepit penisku. Aku
pun mengimbangi dengan menggerakkan pantatku.naik turun di kursi itu. Kursi yang
biasanya dipakai rapat itu menjadi saksi bisu percintaan kami.

“Sayang……. Ahhhhh….” Nadya pun makin mempercepat gerakannya. Aku lalu


bangkit sambil menggendong Nadya. Aku mendudukkan Nadya di meja rapat, Nadya
tetap memelukku, dan aku terus menggerakkan penisku maju mundur.

“Uuuhh…. Uhhhh…. Sayang……. Aku mau…. Ahhhhh….” Nadya menggelingjang


dengan hebatnya… “Tahan sedikit… aku juga mau…..”
“Ahhhhh…..” paha Nadya mencengkram pinggangku dan kepalanya mendongak
keatas. Mengerang nikmat menandakan bahwa dia sudah orgasme. Aku terus
menggerakkan penisku, dan…”Nadya…. Ahhh…..” Nadya jatuh telentang di meja
rapat dan aku mencabut penisku dari lubang vaginanya. Sperma segera berhamburan
dari penisku. Nadya segera bangkit dan memelukku. Kami berpelukan erat. Tidak
berciuman, tidak melakukan apapun. Hanya berpelukan selama beberapa lama tanpa
berbicara apa2. Nadya lalu melepaskan pelukannya dan turun dari meja. Dia lalu
mencium pipiku lembut, kemudian dia mulai memakai kembali bajunya.

Aku masih berdiri telanjang dan tertegun. Melihat Nadya yang bagaikan malaikat itu
memakai bajunya satu persatu.
“eh… pake baju dong…. Ntar keburu pagi” Nadya mengingatkanku
Aku segera mengenakan kembali bajuku. Aku kembali mencoba tidur dengan
bersandar di dinding. Nadya kembali pada posisinya, bersandar di bahuku.
Singkat cerita pagi pun datang. Kami berhasil keluar jam 7 pagi. Hari itu kami berdua
sengaja diliburkan karena kejadian konyol itu. Selanjutnya bisa ditebak. Nadya mulai
terbuka pada orang2 kantor. Dia sudah bisa berkomunikasi dengan akrab, dan
sinisnya makin lama menghilang. Ditambah lagi ketika kini kami sudah berpacaran.
Nadya menjadi ceria dan orang2 kantor tampak takjub melihat perubahan itu.

One thing leads to another. Dan sekarang, setelah kegagalan pernikahanku yang dulu,
setelah beberapa lama berpacaran, aku akan mempersiapkan pernikahanku dengan
Nadya.

Video Bokep 3gp Terbaik


o Video Bokep dipaksa bugil disungai.
o Video Ngentot Mahasiswa.
o Bokep Memek Tiara Mantabs.
o Neng Tika suka ngentot.
o Video Sex smu nganjuk.
o Video cewek smu ngentot di mobil.
o Bokep Penganten baru.
o Video erin cewek bispak.
o Video bonkep gangbang 2 cewek 1 cowok di hotel.
o Video sex training jadi psk.
Koleksi 17 Tahun

o Pengalaman di Mess
o Cewek Bispak SMP
o Cinta Pertama
o Mahasiswi gila
o Bercinta Berempat
o Airin, Istri Temanku
o Ngentot Dgn Bos ku
o Mona Namanya
o Gay: Abang Becak
o Monopoli

Web Porno Lainnya


Categories
o Cerita Pemerkosaan
o Daun Muda
o gangbang
o Pengalaman pertama
o Sesama pria
o Sesama Wanita
o Setengah baya
o Tukar pasangan
o Umum
Blogroll
o cerita dewasa
o video bokep
o Video Sex
Tags

17 tahun 17tahun amateur anal anime ass


adult story

big tits bikini blondes bugil cerita dewasa


cerita 17tahun

cerita porno cerita sex cewek bugil cewek telanjang fetish gambar humor

gambar porno gangbang gay hardcore hentai hot

jilbab lesbian lucah matur nude oral orgy


picture porn porno private photos sarah azhari sex sex
humor shemale swinger teen upskirt voyeur xxx

Archives
o February 2010
o October 2009
o September 2009
o July 2009
o June 2009
o May 2009
o April 2009
o March 2009