Anda di halaman 1dari 27

SANTA CRUZ

1. Latar Belakang

Peristiwa 12 November 1991 di Dilli Timor Timur (Timtim) atau peristiwa Santa Cruz adalah
kerusuhan yang terjadi antara kelompok anti integrasi dengan aparat keamanan di tempat
pemakaman Santa Cruz Dilli Timtim. Kelompok anti integrasi selesai melaksanakan misa di
gereja Motael Dilli dilanjutkan demonstrasi yang anarkhis menuntut referendum. Dalam
kerusuhan tersebut tidak hanya mengakibatkan korban pihak sipil tetapi juga dari personel
TNI.

Peristiwa ini merupakan peluang bagi kelompok anti integrasi di Portugal untuk melakukan
provokasi politik yang didukung oleh pemerintah Portugal. Kelompok ini menggunakan
sebuah kapal ferry yaitu Lusitania Expresso berbendera Portugal yang berlayar dari Lisabon
Portugal menuju Dilli Timtim untuk mencari dukungan dan menarik perhatian dunia
Internasional dengan misi mengadakan tabur bunga di tempat pemakaman Santa Cruz Dilli.

Salah satu bentuk respon dari pemerintah Indonesia untuk meredam misi provokasi adalah
membentuk Satuan Tugas Aru Jaya (Satgas Aru Jaya) yang mempunyai tugas pokok untuk
mencegah dan mengusir ferry Lusitania Expresso yang akan melaksanakan ziarah ke tempat
pemakaman Santa Cruz Timor Timur.

2. Analisis dan Kronologis Kejadian.

Sebelum membahas analisis penghadangan / pengusiran terhadap ferry Lusitania Expresso,


maka terlebih dahulu akan diuraikan kronologis langkah – langkah yang dilaksanakan oleh
pemerintah RI/TNI dan TNI AL mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai dengan
pengakhiran.

a. Kronologis

Kapal Lusitania Expresso:


1) 23 Januari 1992 berangkat dari Lisabon Portugal
2) 24 Februari 1992 berangkat dari Colombo Srilanka.
3) 8 Maret 1992 tiba di Darwin Australia.
4) 9 Maret 1992 berangkat dari Darwin menuju Dilli.
5) 11 Maret 1992 jam 0600 WITA, meninggalkan perairan Indonesia.

Pemerintah RI / TNI / TNI AL:


1) 17 Februari 1992 Armada Timur (Armatim) mengerahkan beberapa kapal perang untuk
menghalau gerakan Lusitania Expresso.
2) 6 Maret 1992 jam 14.28 WITA Pesud Nomad P – 802 mendeteksi Lusitania Expresso pada
posisi 11º 52’ S - 122º 07’ T dengan haluan 110 menuju arah Darwin/Australia dan kecepatan
10 knot.

3) 10 Maret 1992 jam 14.10 WITA Pesud P – 802 mendeteksi Lusitania Expresso pada posisi
10º 25’ S - 128º 29’ T atau sekitar 127 Nm Tenggara Pulau Yako. Pada pukul 21.30 WITA
KRI Kihajar Dewantara – 364 (KRI KDA – 364) menemukan Lusitania Expresso.

4) 11 Maret 1992 jam 03.00 WITA KRI Yos Soedarso – 353 (KRI YOS – 353) bergabung
dengan KRI KDA – 364 yang sedang membayangi Lusitania Expresso. Jam 05.00 WITA
ferry tersebut sudah berada pada posisi 23 Nm dari ujung Timor Timur.
05.58 WITA, KRI YOS - 353 menaikkan isyarat K-9 (tanda Internasional sebagai isyarat
untuk membuka jalur komunikasi FM – 16).
06.03 WITA, Dansatgas Aru Jaya memerintahkan KRI YOS – 353 untuk mengusir Lusitania
Expreso yang telah memasuki laut territorial Indonesia. KRI YOS – 353 melaksanakan
komunikasi, namun sampai dengan jam 06.06 WITA fery tersebut belum mematuhi perintah
KRI YOS – 353 untuk merubah haluan keluar dari perairan Indonesia.
06.15 WITA, setelah mendapat peringatan keras secara lisan dari KRI YOS – 353, Lusitania
Expresso berbalik arah 180 derajat menuju haluan 150º yang merupakan arah ke Darwin.
07.31 WITA, Lusitania Expreso menaikan tanda isyarat 2 bola hitam pada posisi 4,5 Nm dari
batas laut territorial (masih berada di dalam laut territorial), sebagai tanda kapal terbatas olah
geraknya. Kemudian, KRI YOS – 353 menaikan bendera RJ – 2 dan RJ – 3, karena ferry
tersebut belum bergerak dan masih mengapung di laut territorial, namun diindikasikan hanya
mengulur waktu dan mengadakan tawar menawar dengan KRI YOS – 353.
08.55 WITA, KRI YOS – 353 kembali menaikan isyarat bendera RJ yang artinya peringatan
bahwa seharusnya kerusakan mesin sudah dapat diatasi.
09.22 WITA, nahkoda Lusitania Expresso menginformasikan kepada KRI YOS – 353 bahwa
kerusakan dapat diatasi dan bergerak ke haluan 157º menuju Darwin. KRI KDA – 364
membayangi sampai dengan batas ZEE Indonesia – Australia dan meyakinkan bahwa ferry
tersebut tetap menuju Darwin.

b. Analisis.

Keberhasilan pemerintah RI /TNI khususnya TNI AL dalam penghadangan dan pengusiran


Lusitania Expresso merupakan suatu keberhasilan diplomasi dalam mengemban misi
menjaga kedaulatan NKRI. Pelaksanaan operasi pengusiran tersebut akan dianalisis dalam
makalah ini berdasarkan prinsip – prinsip Operasi Militer Selain Perang :

1) Proporsional.

Jika menggunakan kekerasan bersenjata harus dalam rangka terpaksa/membela diri sesuai
dengan aturan yang berlaku dan dalam melaksanakan tindakan harus sepadan (tidak
berlebihan).

Satgas Aru Jaya telah menentukan rencana pelibatan yang dipertegas dengan 16 langkah
petunjuk teknis interaksi, termasuk di dalamnya status kesiagaannya dalam tahap – tahap
menghadang kapal Lusitania Expresso .
Di dalam melaksanakan penghadangan dan pengusiran Lusitania Expresso, Satgas Aru Jaya
telah bertindak secara proporsional karena lebih mengutamakan pendekatan persuasif,
dimana tindakan yang diambil hanya sampai dengan langkah yang ke – 5 dari 16 langkah
yang sudah ditetapkan.

Bila unsur Satgas Aru Jaya mengambil tindakan berlebihan, misalnya menerapkan tindakan
diatas langkah yang ke – 5, maka akan mendapatkan persepsi yang berbeda dengan dunia
Internasional dan mudah dipolitisir, karena dengan penggunaan senjata pada situasi saat itu
akan berpotensi merugikan bangsa Indonesia dan mendapat kecaman dunia Internasional.

Satgas Aru Jaya dalam operasionalnya mengusir Lusitania Exspresso tidak di perairan ZEE
tetapi di perairan laut Teritorial. Hal ini bertujuan untuk mengutamakan legalitas dalam
bertindak dan menghormati kebebasan berlayar bagi setiap kapal. Sesuai dengan Pasal 58
UNCLOS 82 bahwa setiap negara memiliki kebebasan pelayaran dan penerbangan serta
kebebasan meletakan pipa dan kebel bawah laut.

Penegakan kedaulatan di laut memiliki dua dimensi pemahaman, yaitu kedaulatan


(sovereignty) dan hak berdaulat (sovereign right) di laut suatu negara yang telah diatur secara
universal dalam UNCLOS 1982. Pada tiap rezim perairan Indonesia ditetapkan kedaulatan
dan hak berdaulat sbb :

a. Di Laut Teritorial (12 Nm) dari garis pangkal, Indonesia memiliki kedaulatan penuh,
artinya negara berhak mengatur segala ketentuan hukum nasional.
b. Di Zona Tambahan (24 Nm) dari garis pangkal, Indonesia memiliki hak berdaulat dalam
bidang kepabeanan, sanitasi, imigrasi dan fiskal.
c. Di ZEEI Indonesia (200 Nm) dari garis pangkal, memiliki hak berdaulat dalam eksplorasi
dan eksploitasi sumber daya laut.
d. Di Landas Kontinen sampai kedalaman 350 meter, Indonesia berhak untuk melakukan
pemanfaatan sumber daya alam.

2)Tujuan / Sasaran (Objective). Setiap operasi harus mempunyai tujuan/sasaran yang jelas
dan dapat dicapai.

Pemerintah RI memutuskan untuk tidak mengizinkan Lusitania Expresso berlayar di perairan


territorial dan perairan kepulauan RI serta perlu adanya tindakan pencegahan oleh aparat
keamanan dalam hal ini ABRI/TNI AL (Sebutan bagi TNI pada saat itu) dengan sejumlah
batasan – batasan pada level operasionalnya.

Dengan demikian tujuan dan sasaran operasi yang akan dilaksanakan oleh TNI AL / Satgas
Aru Jaya sangat jelas yaitu menegakkan kedaulatan wilayah perairan Republik Indonesia
dengan cara mengusir kapal ferry Lusitania Expresso yang akan memasuki wilayah perairan
Teritorial Timor Timur yang bertujuan politis dan menarik perhatian dunia Internasional
dengan dalih misi kemanusiaan / tabur bunga di tempat pemakaman Santa Cruz.

3) Kesatuan Komando dan Pengendalian. Seluruh kekuatan/unsur-unsur yang termasuk


dalam wadah OMSP berada di bawah satu komando dan pengendalian Panglima/Komandan/
Pimpinan yang ditunjuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam
rangka pelaksanaan tugas-tugas yang telah ditetapkan.
Panglima ABRI pada saat itu Jenderal TNI Try Soetrisno menugaskan Pangarmatim Laksda
TNI Tanto Koeswanto sebagai penanggung jawab operasi pengusiran Lusitania Expresso
dengan didukung oleh komando samping yaitu TNI AD, TNI AU dan Polri. Pangarmatim
menunjuk Danguspurlatim Kolonel Laut (P) Haryono sebagai Komandan Satgas Aru Jaya.

Satgas Aru Jaya merupakan eselon pelaksana dalam bentuk komando operasi mandiri dimana
proses perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran dilaksanakan oleh Komando yang ditunjuk
oleh Panglima TNI dengan melibatkan satu angkatan atau lebih. KRI yang disebar dalam
melaksanakan patrolinya tetap dalam satu kesatuan komando Dan Satgas Aru Jaya.
Sedangkan, unsur – unsur non TNI AL yang dioperasikan tetap dibawah kendali instansinya.
Hubungan dengan Satgas Aru Jaya hanya sebatas koordinasi.

4) Keamanan (security). Selama perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran, pengamanan


informasi harus diutamakan karena kebocoran rencana dapat mempengaruhi keberhasilan
operasi, serta untuk menghindari korban di pihak rakyat yang tidak berdosa.

Salah satu faktor pendukung keberhasilan Satgas Aru Jaya mencapai tugas pokoknya adalah
tingkat kerahasiaan sangat tinggi, dalam hal ini kapal Lusitania Expresso tidak mengetahui
keberadaan Satgas Aru Jaya, namun sebaliknya Satgas Aru Jaya mengetahui posisi dan rute
Lusitania Expresso.

5) Keterpaduan dan Kesatuan Dukungan. Operasi dilaksanakan secara terpadu dengan


melibatkan institusi/ komponen bangsa yang terkait dan harus ada kesatuan dukungan dari
semua pihak yang terlibat/terkait.

Walaupun Satgas Aru Jaya dalam pelaksanaanya lebih dominan melibatkan personel dan Alat
Utama TNI AL, akan tetapi institusi dan komponen maritim lainnya seperti TNI AD, TNI
AU, Bea Cukai, Imigrasi dan Polairud juga dilibatkan dalam pelaksanaan operasi tersebut.
Peran dan dukungan dari institusi non TNI AL tersebut tidak hanya pada pelaksanaannya saja
tetapi juga mulai dari persiapan, seperti contoh untuk mengantisipasi tindakan pemeriksaan
yang akan dilaksanakan oleh tim pemeriksa (Tim Boarding) terhadap Lusitania Expresso,
maka Satgas Aru Jaya menyiapkan tim pemeriksa tersebut dengan melibatkan personel
Pasukan Katak, Denjaka, Bea Cukai dan Imigrasi. Bahkan Tim Pemeriksa dilatih dan
dibekali pengetahuan tentang kepabeanan di Kantor Bea Cukai Surabaya dan dokumen
keimigrasian di Ditjen Imigrasi Jakarta.

Hal ini menunjukan bahwa TNI AL melibatkan komponen cadangan / pendukung dalam
memberdayakan wilayah pertahanan laut.

6) Legitimasi (legitimacy). Pelaksanaan OMSP harus berdasarkan keputusan politik


pemerintah yang berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk
kepentingan pertahanan negara dan atau dalam rangka mendukung kepentingan nasional.

Segala tindakan yang digunakan oleh Satgas Aru Jaya dalam melaksanakan tugas pokoknya
adalah selain didasari keputusan politik yang ditetapkan oleh pemerintah, juga berdasarkan
payung hukum pada tataran hukum Nasional dan hukum Internasional yang berlaku saat itu :
a) Hukum Nasional.

UU Nomor 20 Tahun 1982. Walaupun UU ini sudah tidak berlaku lagi, akan tetapi salah
satu undang – undang yang menjadi payung hukum bagi Satgas Aru Jaya pada saat itu adalah
UU Nomor 20 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara
(Hankamneg) Republik Indonesia.

Hal ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi kita bahwa pada saat itu Satgas Aru Jaya bertindak
atas dasar hukum bukan hanya berdasar atas perintah lisan semata untuk mencegah dan
mengusir Lusitania Expresso yang diprediksi akan menimbulkan instabilitas keamanan di
Timor Timur karena mem-provokasi politik anti integrasi. Akan tetapi peristiwa sejarah
tersebut juga perlu dianalisis berdasarkan payung hukum yang berlaku saat ini agar bisa
dijadikan sebagai pelajaran yang berharga bagi kemajuan TNI AL.

Pasal 30 ayat (2) UU Nomor 20 Tahun 1982 menyebutkan bahwa TNI AL bertugas selaku
penegak kedaulatan negara (Gaklat) di laut, mempertahankan keutuhan seluruh perairan
dalam yurisdiksi Nasional serta melindungi kepentingan Nasional di dan atau lewat laut,
bertugas untuk mengembangkan potensi nasional menjadi kekuatan pertahanan keamanan
negara di bidang maritim (Binpotnaskuatmar). Disamping itu di dalam penjelasan pasal 30
ayat (2) UU Nomor 20 Tahun 1982 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan tugas Gaklat di
laut mencakup juga pengertian penegakan hukum (Gakkum) di laut.

Dengan demikian UU Nomor 20 Tahun 1982 merupakan salah satu payung hukum bagi
Satgas Aru Jaya pada waktu itu dalam melaksanakan tugas pokoknya, karena berdasarkan
UU ini tugas TNI AL adalah Gaklat dan Gakkum di laut serta Pembinaan Potensi Nasional
Kekuatan Maritim / Binpotnaskuatmar .

Bila kita hubungkan dengan undang – undang yang berkaitan dengan TNI/TNI AL saat ini
maka tugas – tugas yang telah dilaksanakan oleh Satgas Aru Jaya adalah sesuai dengan :

UU TNI Nomor 34 Tahun 2004, Pasal 7 ayat (1) menyebutkan bahwa tugas pokok TNI
adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia
dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
Dengan demikian Satgas Aru Jaya bertindak sesuai dengan tugas yang tercantum di didalam
pasal 7 ayat 1 UU No 34 / 2004 tentang OMSP.

Pasal 9 ayat 2 dan 3, menjelaskan bahwa Angkatan Laut bertugas :


(1) Menegakkan hukum dan menajga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai
dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
(2) Melaksanakan tugas diplomasi Angkatan laut dalam rangka mendukung kebijakan politik
luar negeri yang ditetapkan oleh pemerintah.

Tugas yang telah dilaksanakan oleh Satgas Aru Jaya adalah sangat jelas sesuai dengan yang
tercantum dalam pasal 9 ayat (1) sampai dengan (5).

UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara pasal 10 ayat 3, disebutkan bahwa
Tentara Nasional Indonesia bertugas melaksanakan kebijakan pertahanan negara untuk :
Mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, Melindungi kehormatan dan
keselamatan bangsa, Menjalankan Operasi Militer Selain Perang.

Hal ini menunjukan bahwa TNI/TNI AL/Satgas Aru Jaya telah melaksanakan tugas mengusir
Lusitania Expresso dalam rangka melindungi kehormatan dan keselamatan bangsa,
mempertahankan kedaulatan dan keutuhan NKRI. Pasal ini bisa dikaitkan dengan tugas
pokok Satgas Aru Jaya karena tindakan yang diambil Lusitania Expresso untuk tabur bunga
di Santa Cruz adalah suatu misi yang bernuansa provokasi politik yang dapat merugikan
kehormatan bangsa Indonesia.

b) Hukum Laut Internasional.

Untuk memperkuat payung hukum yang digunakan oleh Satgas Aru Jaya, maka landasan
hukum yang digunakan tidak hanya hukum Nasional tetapi juga hukum Internasional, yaitu :

UNCLOS 1982 (United Nation Convention On The Law of The Sea) :


Pasal 19 ayat 1, disebutkan bahwa lintas adalah damai sepanjang tidak merugikan bagi
kedamaian, ketertiban atau keamanan negara pantai.

Pasal 19 ayat 2.d, adalah ayat yang secara jelas dan tegas dijadikan sebagai dasar hukum
Satgas Aru Jaya dalam menghadang dan mengusir Lusitania Expresso. Pasal ini menyebutkan
bahwa lintas suatu kapal asing harus dianggap membahayakan kedamaian, ketertiban atau
keamanan negara pantai, apabila kapal tersebut melakukan kegiatan yang mengancam negara
pantai atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah atau kemerdekaan
negara pantai.

Dengan demikian, pelayaran Lusitania Expresso akan membahayakan keamanan dan


ketertiban bangsa Indonesia pada umumnya dan Timor Timur pada khususnya, karena misi
mereka penuh dengan propaganda provokasi politik.

Pasal 25 tentang Hak Perlindungan Negara Pantai, disebutkan bahwa negara pantai dapat
mengambil langkah – langkah yang diperlukan di laut teritorialnya untuk mencegah lintas
yang tidak damai. Dalam hal ini bila kapal memasuki perairan pedalaman atau singgah di
suatu fasilitas pelabuhan di luar perairan pedalaman, negara pantai mempunyai hak untuk
bertindak mencegah pelanggaran apapun terhadap persyaratan yag diitentukan bagi
masuknya kapal tersebut ke perairan pedalaman atau persinggahan.

Pasal ini kontradiktif dengan apa yang disampaikan oleh pemerintah Portugal bahwa TNI AL
melanggar hukum laut Internasional yang tidak mengizinkan Lusitania Expresso memasuki
perairan Indonesia. Perlu digaris bawahi bahwa dasar hukum yang digunakan oleh Portugal
adalah Hukum Laut Internasional/Konvensi Jenewa tahun 1958 yang menyebutkan bahwa
batas perairan suatu negara adalah 3 Nm dari pantai, padahal hukum laut Internasional ini
sudah diperbaharui dan berubah menjadi UNCLOS 1982, dimana disebutkan bahwa lebar
laut territorial adalah 12 Nm dari pantai.

7) Pegang Teguh Tujuan (Perseverance). Untuk mencapai sasaran yang diinginkan, waktu
yang ditempuh bisa berkepanjangan, oleh karena itu harus ada ketekunan/keteguhan hati
dalam melaksanakan tugas
Cerminan keseriusan dan teguh pada tujuan yang diperlihatkan oleh Satgas Aru Jaya tidak
hanya pada pelaksanaan saja, tetapi juga jauh hari sebelum Lusitania Expresso memasuki
perairan Yurisdiksi Indonesia, unsur – unsur Satgas Aru Jaya sudah berada di daerah operasi /
sektor pengamanan yang telah ditentukan.Begitu juga pada pelaksanaan pengusiran ferry
tersebut, unsur Satgas Aru Jaya menugaskan KRI KDA – 364 untuk membayangi sampai
dengan laut lepas mendekati perairan perbatasan RI - Australia. Hal ini dilakukan untuk
meyakinkan bahwa Lusitania Expresso benar – benar telah keluar dari perairan Indonesia dan
menuju Australia.

Sikap teguh pada tujuan ini pun tidak berhenti sampai disini saja, tetapi terus dilaksanakan
oleh KRI KDA – 364, dimana setelah Lusitania Expresso kembali dari Australia, KRI KDA –
364 kembali menjemput di sekitar perairan Pulau Ashmore dan membayangi sampai dengan
perairan Selat Bali dan diserah terimakan kepada KRI Fatahilllah – 361 untuk dikawal
sampai dengan prairan Selat Sunda yang sudah ditunggu oleh KRI Wihelmunas Zakarias
Johanes – 332 yang mengawal sampai dengan Samudera Hindia atau sekitar sebelah Barat
Pulau Sabang.

8) Terkoordinasi. Koordinasi antar institusi terkait dan koordinasi antar unsure / satuan
dalam komando OMSP dilaksanakan dengan cermat dan terus-menerus mulai tahap
perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran

Satgas Aru Jaya selain melaksanakan koordinasi ke dalam intern TNI AL, juga koordinasi
dengan satuan – satuan di luar TNI AL yaitu Koops AU II dalam rangka pengintaian strategis
oleh Pesud B-737, Kodam VI/Udayana khususnya Kolakops Timor Timur, Kanwil Imigrasi
Jawa Timur dan NTT serta Kanwil Bea Cukai NTT.

9) Tidak memihak (impartial). Dalam menyelesaikan konflik komunal (horizontal), tidak


memihak pada salah satu kelompok, kemudian dalam mengambil tindakan harus tegas sesuai
dengan aturan yang berlaku terhadap salah satu atau kedua kelompok yang bertikai bila
mereka melakukan pelanggaran terhadap aturan atau kesepakatan yang telah ditetapkan.

Secara tidak langsung Satgas Aru Jaya telah bertindak adil / tidak memihak. Perlu diketahui
bahwa posisi Lusitania Expresso adalah berseberangan dengan sebagian masyarakat Timor
Timur yang pro integrasi pada saat itu. Bila Satgas Aru Jaya tidak berhasil mencegah /
mengusir Lusitania Expresso, maka bila ditinjau dari perspektif keamanan sangatlah tidak
adil karena misi ferry tersebut diprediksi akan menimbulkan gejolak/situasi yang tidak
memungkinkan di Dilli. Para penumpang Lusitania Expresso yang sebagian besar adalah para
aktivis anti integrasi Timor Timur akan melaksanakan provokasi politik dengan dalih tabur
bunga di Santa Cruz. Bila misi ini dibiarkan maka akan menimbulkan konflik komunal antara
kelompok pro integrasi dengan yang anti integrasi.

4. Kelebihan dan Kekurangan

a. Kelebihan

1) Kehadiran unsur – unsur Satgas Aru Jaya secara terus menerus dan lebih awal di perairan
Timor Timur (18 Feb 1992 sudah menempati sektor patrolinya, kurang 3 minggu menjelang
kedatangan Lusitania Expresso yaitu tanggal 11 Maret 1992) sangat menguntungkan bagi
Satgas itu sendiri dengan pertimbangan :

a) Memperkecil peluang lolosnya Lusitania Expresso memasuki perairan Laut Timor.


b) Menimbulkan dampak penangkalan yang sangat menguntungkan bagi Indonesia pada
umumnya dan TNI AL pada khususnya.

2) Satgas Aru Jaya mengutamakan pendekatan Persuasif dalam mengusir Lusitania Expresso,
dimana tindakan yang diambil hanya sampai dengan langkah yang ke – 5 dari 16 langkah
yang sudah ditetapkan, karena bila unsur Satgas Aru Jaya mengambil tindakan diatas langkah
yang ke – 5, maka berpotensi merugikan dan mendapat kecaman dunia Internasional.

b. Kekurangan : Nihil

5. Hal – hal bermanfaat bagi TNI AL

a. Aspek Edukatif

1) Walaupun Lusitania Expresso merupakan sebuah kapal penumpang sipil, akan tetapi
Satgas Aru Jaya telah menyiapkan segala sesuatunya secara proporsional untuk menghadapi
situasi yang terjelek yaitu adanya kekuatan asing yang melindungi manuvra kapal tersebut.
Hal ini dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga oleh unsur/satuan TNI AL yaitu timbulnya
kewaspadaan dan kesiapsiagaan yang tinggi dalam menghadapi tugas apapun termasuk
melaksanakan Operasi Militer Selain Perang di masa sekarang dan yang akan datang.

2) Pelayaran Lusitania Expresso membawa misi provokasi politik yang dapat menimbulkan
instabilitas keamanan Indonesia pada umumnya dan Timor Timur pada khususnya, akan
tetapi unsur – unsur Satgas Aru Jaya tidak terpancing emosinya untuk bertindak dengan
kekerasan dalam menghadapi manuver kapal Lusitania Expresso tersebut. Hal ini dapat
dijadikan sebagai pelajaran bagi SDM, unsur / satuan TNI /TNI AL dalam menghadapi tugas
operasi atau situasi yang memang tidak perlu menggunakan kekerasan, kecuali
membahayakan individu/satuan itu sendiri.

b. Aspek Instruktif

1) Pelayaran Lusitania Expresso merupakan misi provokasi politik yang sangat sensitif bagi
bangsa Indonesia. Pemerintah Indonesia / TNI/ TNI AL perlu mewaspadai misi – misi serupa
yang akan mengganggu keamanan NKRI.

2) Satgas Aru Jaya dalam pelaksanaan operasi pengusiran Lusitania Expresso, melibatkan
komponen di luar TNI AL yang berkaitan dengan tugas pokoknya. TNI AL perlu
memberdayakan komponen maritime/Cadangan, tidak hanya pada situasi menuju kearah
meningkatnya eskalasi konflik, akan tetapi perlu memberdayakan sejak dini dalam berbagai
tugas OMSP, terutama dalam mensosialisasikan Sistem Pertahanan Semesta (SISHANTA).

c. Aspek Inspiratif

1) Satgas Aru Jaya telah membuat 16 langkah petunjuk teknis yang terukur (Rule of
Engagement - ROE), bertingkat dan proporsional untuk diterapkan oleh unsur – unsurnya
dalam melaksanakan tindakan pencegahan menghadapi Lusitania Expresso. Hal ini bisa
dijadikan sebagai acuan untuk dikembangkan sesuai dengan situasi tugas yang dihadapi bagi
suatu satuan tugas TNI AL dimasa sekarang dan akan datang.

2) Satgas Aru Jaya dalam pelaksanaan tugas pokoknya melibatkan kapal – kapal dari luar
institusi TNI AL seperti kapal Polairud, kapal Imigrasi. Namun pelibatan kapal tersebut
hanya sebatas koordinasi, sedangkan kendalinya tetap dibawah instansinya. Hal ini akan lebih
efektif bila kapal – kapal tersebut dibawah satu institusi/berada dalam satu atap yaitu Sea and
Coast Guard (Sesuai dengan UU No 17/2008 tentang Pelayaran yang menyebutkan bahwa
Sea and Coast Guard harus terbentuk paling lambat 3 tahun setelah UU tersebut
diberlakukan).

6. Kesimpulan

a. Tujuan kapal Lusitania Expresso beserta para aktivis di dalamnya adalah semata – mata
bersifat provokasi politis bukan untuk tujuan kemanusiaan.

b. Pelaksanaan pengusiran Lusitania Expresso yang dilakukan oleh Satgas Aru Jaya didasari
atas keputusan politik pemerintah dengan payung hukum Nasional dan Hukum Internasional
(UNCLOS 82).

c. Tindakan para aktivis yang ada di dalam kapal Lusitania Expresso merupakan ancaman
non state actor dan berpotensi menjadi ancaman State Actor karena didukung dan sejalan
dengan kepentingan pemerintah negara lain pada saat itu.

d. Pengusiran Lusitania Expresso pada tanggal 11 Maret 1992 merupakan keberhasilan


pemerintah/TNI dan TNI AL dalam melaksanakan peran diplomasi menjaga kedaulatan
NKRI.

Penembakan di Santa Cruz, Dilli,


dalam ingatan.
Posted on 12/03/2009 by Togar Silaban| 1 Comment

Suara rentetan tembakan terdengar cukup jelas. Orang-orang berhamburan, lari


menyelamatkan diri, sambil berteriak-teriak. Beberapa orang berlari ke kuburan,
mereka bersembunyi dibalik nisan. Tembakan terus terdengar, gambar menjadi tidak
teratur, karena perekam gambar juga ikut berlari, bersembunyi dibalik nisan di
pemakaman Santa Cruz Dilli Timor Timur.

Video tentang penembakan di Santa Cruz Dilli pada tahun 1991, disiarkan secara
internasional oleh CNN. Seingat saya dalam satu hari, gambar-gambar itu ditayangkan
beberapa kali di CNN. Seluruh dunia menyaksikan bagaimana penembakan secara
sporadis yang mengakibatkan korban tewas berjatuhan. Dunia mengecam Indonesia,
karena telah melakukan pelanggaran HAM berat di Santa Cruz.

Tak banyak yang dijelaskan dari tayangan CNN itu, tidak juga ada informasi tentara
dari satuan mana saja yang terlibat dalam penembakan. Dari sisi Pemerintah
Indonesia, jelas bahwa Panglima Teritorial wilayah setempat (Pangdam), secara
administratif, dinilai bertanggung jawab atas kasus itu. Maka sebagai konsekuensinya
“The Rising Star General” (pada waktu itu), Mayor Jenderal Sintong Panjaitan dicopot
sebagai Pangdam Udayana.

Saya masih tidak bisa melupakan tayangan CNN itu, karena beberapa hari kemudian,
saya dan beberapa orang teman mahasiswa penerima beasiswa yang disponsori CIDA
(Canada) diberitahu bahwa Pemerintah Canada menghentikan beasiswa CIDA sebagai
protes terhadap Indonesia karena kejadian di Santa Cruz, Dilli. Kami yang sedang
berada di Winnipeg, Canada, diberitahu oleh Prof. Booy, Direktur Beasiswa
Internasional University of Manitoba. Untungnya beasiswa bagi mahasiswa yang
sedang belajar di Canada tidak langsung dihentikan. Jadi kami masih bisa bernafas
lega, tidak langsung pulang dari Canada tahun 1991 itu. Kami masih diperbolehkan
menerima beasiswa sampai menyelesaikan kuliah. Tapi kerjasama CIDA Canada
dengan Indonesia tidak diperpanjang lagi. Akibatnya pada waktu itu mereka yang
sudah sempat ikut seleksi beasiswa CIDA, tidak jadi berangkat ke Canada.

Itulah kejadian Santa Cruz yang masih tertinggal dalam ingatan saya.
Peristiwa sei lepan
gak ketemu aku..
Kasus marsinah

Marsinah
Marsinah (lahir 10 April 1969 – meninggal 8 Mei 1993 pada umur 24 tahun) adalah seorang
aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang
diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga
hari. Mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan,, Nganjuk, dengan
tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

Dua orang yang terlibat dalam otopsi pertama dan kedua jenazah Marsinah, Haryono
(pegawai kamar jenazah RSUD Nganjuk) dan Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian
Forensik RSUD Dr. Soetomo Surabaya), menyimpulkan, Marsinah tewas akibat
penganiayaan berat.

Marsinah memperoleh Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama.

Kasus ini menjadi catatan ILO (Organisasi Buruh Internasional), dikenal sebagai kasus 1713.

[sunting] Latar Belakang

Awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th.
1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya
dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Himbauan tersebut tentunya
disambut dengan senang hati oleh karyawan, namun di sisi pengusaha berarti tambahannya
beban pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur Putera
Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan
PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah
dari Rp 1700 menjadi Rp 2250.

[sunting] Garis waktu

Marsinah adalah salah seorang karyawati PT. Catur Putera Perkasa yang aktif dalam aksi
unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat
dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggul Angin
Sidoarjo.

3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer
(Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh.

4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan
harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Tunjangan tetap Rp
550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.
Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam
kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15
orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.

Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa
digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa
mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah
karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk
menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah
itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai
akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.

[sunting] Proses penyelidikan

Tanggal 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk
melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung
jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan
beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya.

Delapan petinggi PT CPS ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi, termasuk
Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap,
mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian
diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah
membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi
Susanto, juga termasuk salah satu yang ditangkap.

Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim
dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D.
Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam
pembunuh Marsinah.

Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat
pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat
pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI.

Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS)
menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik,
lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita,
Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.

Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain
itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan
Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi,
Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan
(bebas murni). Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan
ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah
"direkayasa".
[sunting] Komite solidaritas

Tahun 1994, dibentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KASUM). KASUM adalah
komite yang didirikan oleh 10 LSM. KASUM merupakan lembaga yang ditujukan khusus
untuk mengadvokasi dan investigasi kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah oleh Aparat
Militer. KASUM melakukan berbagai aktivitas untuk mendorong perubahan and
menghentikan intervensi militer dalam penyelesaian perselisihan perburuhan. Munir menjadi
salah seorang pengacara buruh PT. CPS melawan Kodam V/Brawijaya atas tindak kekerasan
dan pembunuhan terhadap Marsinah.

[sunting] Pentas drama monolog Marsinah Menggugat

Pada 26 November 1997 malam, pentas drama monolog Marsinah Menggugat oleh Ratna
Sarumpaet dan Teater Satu Merah Panggung di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa
Timur (TBJ), Jl. Gentengkali, Surabaya, dilarang pihak kepolisian. Sebelumnya pentas sudah
dilakukan di tujuh kota, terakhir dua hari sebelumnya pentas tersebut sukses di Malang.
Pentas ini digelar oleh panitia pertunjukan dari Korp Puteri Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (Kopri PMII).

Sebelumnya pihak panitia melayangkan surat pemberitahuan ke Polda Jatim pada 12


November 1997. Menurut Petunjuk Pelaksanaan (juklak) POLRI yang dikeluarkan oleh
KAPOLRI, pertunjukan kebudayaan semacam teater atau drama, tidak memerlukan ijin,
hanya pemberitahuan. Surat ijin pemakaian gedung juga sudah dikeluarkan Taman Budaya
Jatim tertanggal 20 November 1997.

Pukul 15.00 WIB, pihak panitia diminta menemui langsung Kasat IPP di Polwiltabes.

Pukul 16.00, pintu ditutup aparat dan dijaga ketat. Mereka yang datang untuk menonton
Marsinah Menggugat, dilarang masuk.

Sekitar pukul 19.00, para peonton sudah berdatangan. Mereka bergerombol di depan pintu
masuk ditutup dan dijaga beberapa petugas. Sementara Ratna Sarumpaet dengan beberapa
panitia tetap bertahan di panggung pertunjukan. Ia bersikeras tetap di tempat itu sampai
jadwal sewa gedung untuk pertunjukan selesai, pukul 23.00 WIB.

Pukul 19.20 Ketua PMII Jawa Timur dan Ketua Panitia Kegiatan dengan didampingi
beberapa aktivis FKMS bernegosiasi dengan aparat untuk meminta ijin masuk, tetapi gagal.

Sekitar pukul 20.00, Ratna meminta maaf kepada penonton yang datang bergerombol di
depan pintu. Ratna dengan memanjat pagar, mengucapkan maafnya dan kemudian
menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Sekitar pukul 21.00, penonton yang tidak bergeming, mulai dihalau petugas. Pengamanan
pintu TBJ ditambah dengan puluhan Polisi Unit Reaksi Cepat (URC) Polwiltabes, Satuan
Perintis Polresta Surabaya, Brimob, dan beberapa aparat dari KODAM V Brawijaya serta
sejumlah besar satuan intelejen.

Setelah penonton pulang, sekitar pukul 23.00, Ratna bersama panitia keluar dan terus dikawal
petugas. [1] [2]
Kasus Univ. Muslim Indonesia

KRONOLOGIS PERISTIWA UMI

Aksi unjuk rasa telah terjadi selama seminggu di Ujung Pandang. Aksi ini
disulut oleh keluarnya SK No. 900 tahun 1996 tentang kenaikan tarif angkutan
dari Rp 300,- menjadi Rp 500,-. Sementara untuk pelajar dan mahasiswa, tarif
tetap Rp 300,-. Karena perbedaan tarif mahasiswa-pelajar dengan masyarakat
umum sangat tinggi (sekitar 70%) maka seringkali mahasiswa-pelajar ditolak
untuk naik kendaraan umum. Sedangkan masyarakat umum merasa bahwa tarif
tersebut terlalu tinggi. Penaikan tarif tersebut sebenarnya jauh lebih
tinggi dari yang diizinkan oleh Menhub, yakni 30%. SK Walikota ini mulai
diberlakukan tanggal 21 April 1996.
Berikut ini rangkaian kronologis peristiwa Ujung Pandang yang dikutip dari
sumber-sumber independen.

22 April 1996

Jam 11.00 siang, Forum Pemuda Indonesia Merdeka yang terdiri dari mahasiswa
dari berbagai perguruan tinggi menghadap ke kantor Gubernur. Mereka menuntut
penurunan tarif angkutan umum. Saat aksi tersebut diwarnai oleh pemukulan
terhadap seorang pegawai kator gubernur oleh seorang "mahasiswa". Terjadi
juga perusakan Mobil Pajero (mobil mewah yang menjadi kendaraan dinas para
pejabat di Sulsel) yang diparkir di halaman kantor Gubernur. Para pelaku
perusakan dan pemukulan tersebut diragukan status kemahasiswaan oleh para
peserta unjuk
rasa. Hari itu dicapai kesepakatan bahwa tuntutan mahasiswa akan dibahas
oleh Pemda. Mahasiswa memberikan waktu 3 x 24 jam agar tuntutan mereka
dipenuhi. Para pengunjuk rasa kemudian kembali ke UMI (Universitas Muslim
Indonesia). Sesampai di UMI, entah siapa yang memulai, ada orang yang
membakar ban-ban bekas di jalan depan kampus sehingga memacetkan lalu-lintas.

23 April 1996

Kira-kira pukul 09.00 wita, di depan kampus UMI sekelompok orang yang
memakai penutup kepala mengadakan aksi menghentikan kendaraan angkutan umum
dan membuat kekacauan. Aksi ini memancing mahasiswa UMI dan Universitas '45
(yang letaknya berhadapan dengan UMI turun ke jalan. Situasi dengan segera
menjadi panas. Pukul 13.00 para pengunjuk rasa menahan bus DAMRI dan memaksa
penumpang serta supirnya turun. Massa memalang bus tersebut di
jalan. Kejadian ini memancing ratusan militer dari Yon Armed, Garnisun dan
Poltabes mengepung massa. Dandim 1408/BS, Letkol Sabar Yudo Suroso mengajak
mahasiswa ke DPRD. Usulan tersebut ditolak oleh wakil mahasiswa karena
menganggap tidak ada gunanya lagi menghadap DPRD. Siang itu juga, tanpa ijin
dari pihak kampus, aparat-aparat militer menyerbu kampus UMI. Mereka memukul
denganpentungan dan menyemprotkan gas air mata kepada siapa saja yang
berada dalam kampus. Militer juga merusak kendaraan yang diparkir di depan
kampus. Puluhan mahasiswa cedera dan diangkut ke RS Pelamonia (RS ABRI) dan
sejumlah lainnya ditahan. Sore harinya, dua buah taksi digulingkan oleh massa.

24 April 1996

Aksi mahasiswa terus berlanjut dengan melibatkan lebih banyak perguruan


tinggi. Mahasiswa memblokir jalan-jalan di depan kampus mereka. Puluhan
mahasiswa Unhas menuju kantor DPRD untuk menuntut pertangungjawaban terhadap
tindak kekerasan yang telah dilakukan oleh militer di kampus UMI. Mereka
juga mengajukan beberapa tuntutan antara lain (a) tinjau ulang SK Walikota
No. 900/1996, (b) berhentikan Malik B. Masri sebagai walikota, (c) meminta
fraksi
ABRI di DPRD agar menyampaikan aspirasi mahasiswa untuk memberikan sangsi
kepada pihak-pihak militer yang terlibat tindak kekerasan di Kampus UMI, (d)
tuntutan permintaan maaf dari ABRI atas korban yang timbul akibat kekerasan
militer, (e) meminta pemerintah mengganti kerugian yang timbul akibat
kerusakan yang ditimbulkan oleh penyerbuan. Pada saat yang bersamaan,
mahasiswa IKIP juga menggelar aksi di kampus mereka. Mereka memprotes
keputusan pengadilan negeri Ujung Pandang yang mengeksekusi tanah di lokasi
perpustakaan IKIP. Setelah lewat jam. 09.00 wita, tim eksekutor tidak juga
datang. Mahasiswa
mengalihkan isu protes menjadi kenaikan tarif angkutan. Tiba-tiba, entah
siapa yang memulai, ada (mahasiswa?) yang menghentikan kendaraan angkutan
kota dan menurunkan sopir serta penumpangnya. Para pengunjuk rasa mulai
melempari militer dan apa saja yang lewat di depan kampus IKIP. Aksi serupa
juga terjadi di depan kampus UMI dan Universitas 45. Pukul 11.30 Kampus IKIP
diserbu aparat militer. Penyerbuan juga terjadi kembali di UMI dan
Universitas '45. Puluhan mahasiswa cedera dan ditahan oleh pihak militer.
Anggota masyarakat yang menonton aksi-aksi tersebut di jalan Pampang (depan
kampus Universitas '45) mengatakan bahwa militer mengejar mahasiswa hingga
ke ruang-ruang kuliah dan menyeretnya keluar ke jalan raya. Di sana
mahasiswa tersebut dipukuli, diinjak-injak dan dihantam dengan popor
senapan. Di kampus Universitas '45 terdengar jeritan memilukan dari para
mahasiswi yang juga mendapat perlakuan brutal oleh pihak militer. Perlakuan
militer yang sangat diluar batas tersebut membuat masyarakat yang semula
hanya menonton menjadi geram. Akhirnya, masyarakat turut melemparui petugas
keamanan. Pukul 15.30 terjadi penyerbuan besar-besaran oleh militer kedalam
kampus UMI. Militer tersebut datang dengan panser dan pasukan anti
huru-hara. Mahasiswa di kejar hingga ke ruang-ruang kuliah dan samapi di
pinggir Sungai Pampang, di belakang kampus UMI. Ratusan mahasiswa cedera
dan ditahan. Sore itu juga didapoati jenasah Syaiful Bya, mahasiswa fakultas
teknik UMI
angkatan 1994 di Sungai Pampang. Kamis dinihari (25 April), jenasah Syaiful
Bya diambil oleh petugas keamanan dan dibawa ke Gorontalo untuk dimakamkan.
Tindakan ini diambil karena pihak militer khawatir bahwa jenasah ini akan
diarak keliling kota. Menurut masyarakat di sekitar Sungai Pampang, mereka
melakukan pencarian hingga pukul 21.00 dan menemukan dua jenasah (salah
satunya adalah Syaiful Bya). Namun, jenasah yang lainnya menjadi tidak jelas
karena diambil oleh pihak militer.
25 April 1996

UMI dan Universitas 45 diliburkan sampai hari Minggu. Namun demonstrasi


masih tetap berlangsung, bahkan dalam skala yang lebih besar. Aksi lebih
ditujukan pada protes terhadap tindak kekerasan oleh militer yang
mengakibatkan tewasnya Syaiful Bya. Kapendam VII Wirabuana dan Dandim
1408/BS memebrikan keterangan pers yang menyatakan bahwa mahasiwa yang
meninggal itu akibat tenggelam karena tidak mau terlibat unjuk rasa.
Pukul 10.30, ratusan mahasiswa Unhas, UKIP dan Universitas Al-Ghazali
mengadakan aksi unjuk rasa di jalan depan kampus mereka (Unhas, Al-Ghazali,
UKIP, Univ. 45 dan UMI terletak di jalan Perintis Kemerdekaan). Akibatnya
jalan tersebut macet total dan arus kendaraan yang akan keluar kota juga
macet. Pada hari itu juga ditemukan jenasah Syarif Badaruddin, Andi Sultan
dan Sitti Juana. Jenasah Andi Sultan diarak oleh rekan-rekannya ke kantor
Harian Fajar.
Pukul 13.00 wita, di depan kantor gubernur sebuah sepeda motor milik anggota
militer dibakar oleh massa.

26 April 1996

Pagi hari, harian Pedoman Rakyat dan Harian Fajar, koran lokal yang terbit
di Ujung Pandang memberitakan hasil pertemuan Mekkah. Pertemuan ini
dinamakan demikian karena Gubernur, Pangdam dan Walikota sedang menjalani
ibadah Haji dan karenanya mereka berapat di Mekkah. Pertemuan itu
menghasilkan beberapa keputusan, antara lain penundaan pemberlakuan kenaikan
tarif angkutan dan menginstruksikan kepada Organda (Organisasi Pengendara)
untuk menganakan tarif Rp 200,- untuk mahasiswa dan pelajar.
Pada hari itu juga, mulai pagi hingga siang, ratusan sopir angkutan kota
("pete-pete")
mengadakan aksi unjuk rasa memprotes penangguhan kenaikan tarif. Aksi
mahasiswa tetap berlangsung di depan kampus mereka. Di kampus Universitas
Muhamadiyah terdengar isu bahwa sopir angkutan kota akan menyerbu kampus
mereka. Sementara, aparat militer disiagakan di dekat kompleks pertokoan
Jl. Somba Opu, karena ada berita pengunjuk rasa akan menyerbu kompleks
pertokoan yang didominasi oelh orang Cina tersebut.
Pada siang harinya, jeasah Tarif dan Andi Sultan dimakamkan. Rektor UMI,
Mochtar Nurjaya SE,MSi membantah keterangan Kapendam VII/Wirabuana dan
Dandim 1408/BS. Ia mengakui bahwa ia menyaksikan langsung beberapa luka
bekas tusukan benda tajam pada diri korban yang meninggal. Menurutnya, tidak
logis bila dikatakan bahwa meninggalnya para mahasiswa tersebut tidak
berkaitan dengan penyerbuan aparat keamanan kedalam kampus. Penyerbuan itu
menimbulkan kerugian yang sangat besar, berupa hancurnya kendaraan dan kaca
gedung di
dalam kampus. Bahkan Purek III UMI Drs. Zein Irwanto sempat diancam akan
ditembak oleh parat keamanan pada hari rabu (24/4). Mobil VW kepala
Laboratorium UMI, Ir. Kasim Anis serta kendaraan lainnya dirusak oleh militer.
Kasdam VII Wirabuana, Brigjen Fachrul Razi mengatakan bahwa para petugas
yang bertindak diluar jalur komando sehingga menimbulkan korban jiwa akan
ditindak.
Kesaksian Otje Kambara

Berikut ini adalah kesaksian Otje Kombara, mahasiswa Fakultas Pertanian


Universitas '45 Angkatan '90 yang menjadi korban sikap represif aparat
militer. Otje menderita luka di punggung, kepala, dada dan kaki. Penuturan
ini diberikan kepada Harian Fajar, Ujung Pandang.

"Saat itu, saya dan beberapa mahasiswa dikejar petugas. Untuk menyelamatkan
diri, kami masuk diruang PMI yang letaknya di lantai Dasar Kampus Uni. 45.
Ternyata petugas tetap mengejar dan memukuli kami. Mungkin karena posisi
saya yang paling depan, pukulan yang saya terima benar-benar diluar dugaan.
Badan saya rasanya babak belur, sementara dada dan perut saya ditendang.
Kepala saya juga dipukul dengan laras pelontar gas air mata. Kemudian kami
dilempar ke atas truk tentara. Kami seperti sayuran dibuang keatas truk.
Kondisi saya waktu itu benar-benar sudah agak hilang. Diatas truk saya baru
merasa agak enak, seperti melayang dan tidak merasakan apa-apa lagi.
Kemudian kami dibawa ke Makodim untuk diperiksa. Saya dipoeriksa tidak
terlalu lama karena kondisi saya benar-benar payah. Darah sudah mengucur
dari kepala dan memenuhi wajah. Saya langsung dibawa kesini (RSU Labuang
Aji), bahkan diantar sendiri oleh PR III Universitas '45 Pak Ridwan Djonny
Silamma".

27 April 1996

Ratusan mahasiswa kembali turun ke jalan untuk memprotes tindakan


sewenang-wenang yang dilakukan oleh militer kepada para mahasiswa. Tuntutan
lain yang disampaikan tetap berupa penurunan tarif angkutan umum.

29 April 1996

Sejak pagi hingga sore, ratusan mahasiswa UMI, Universita '45 dan Unhas
kembali menggelar aksi unjuk rasa. Jalan-jalan di Ujung Pandang menjadi
lengan. Jl. Perintis Kemerdekaan macet total. Dengan demikian, selama
seminggu penuh Ujung Pandang digoncang aksi unjukrasa. Jumlah mereka yang
"resmi" diketahui telah meninggal ada 3 orang yakni Syaiful Bya, Andi Sultan
dan Tasrif. Jenasah mereka tidak diotopsi. Investigasi terus menerus
dilakukan untuk memastikan jumlah mahasiswa yang meninggal. Mengenai tidak
diotopsinya korban kemungkinan karena hasil tekanan pihak militer agar
pembuktian kasus ini menjadi sulit. Namun
banyak saksi mata melihat bahwa para mahasiswa yang menjadi korban
kebrutalan militer tersebut menderita luka-luka yang sangat parah.

Tambahan kronologi

Kronologi Kasus UMI


Setelah lima bulan, baru masyarakat tahu siapa tentara yang menjadi terdakwa peristiwa UMI akhir
April lalu yang menelan tiga korban jiwa, luka-luka dan kerugian materi. Pengadilan atas enam
perwira muda berpangkat Letda dimulai 25 September di Mahkamah Militer II Ujungpandang.

Senin, 22 April 1996


Malik B Masry, Walikota Ujungpandang mengeluarkan SK No. 900 tentang "penyesuaian" tarif
angkutan dalam kota Ujungpandang sebesar 66,66 %, dari Rp300 menjadi Rp500 rata-rata. Hal
tersebut membuat mahasiswa keberatan. Karena SK itu dinilai jauh di atas ketentuan menteri
perhubungan yang menaikkan tarif angkutan hanya rata-rata 33 persen. Sebagai jawaban, 50
mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) dipimpin Laode Ota, aktivis mahasiswa UMI, hari itu
juga menghadap ke Gubernur Sulawesi Selatan dan menuntut untuk menegur walikota. Tetapi
rombongan mahasiswa tersebut hanya diterima Wakil Gubernur Dharmadi.

Selasa, 23 April 1996


Ribuan mahasiswa UMI tumpah ke jalan poros, depan kampusnya. Mereka membajak sebuah bus
Damri dan memaksa sopirnya melintangkan kendaraannya di Jl. Urip Sumohardjo. Kaca-kaca mobil
dipecahkan dan bannya dikempeskan.

Pasukan keamanan anti huru hara dari Yon Armed diturunkan sejak pukul 12.00 siang ke lokasi unjuk
rasa. Komandan Kompi II Yon Armed 6-67, Lettu Art. Syamsuddin memimpin pleton Armada Medan.
Masing-masing pleton yang berjumlah 37 prajurit tersebut dilengkapi dengan helm, tameng dan rotan.
Sedangkan ketiga komandan pleton dilengkapi dengan helm, pistol isyarat, borgol dan dua amunisi
gas air mata. Bentrokan dengan mahasiwa pun tak terelakkan lagi. Lemparan-lemparan batu dari
mahasiswa melawan sepasukan pasukan anti huru-hara yang mendesak mahasiswa hingga masuk
ke lingkungan kampus. Korban luka pun berjatuhan.

Rabu, 24 April 1996


Unjuk rasa meluas ke seluruh perguruan tinggi di Ujungpandang, khususnya IKIP dan Universitas '45.
Sekitar pukul 09.00 WITA, pasukan dari Yon Armed 6-76 diperintahkan mengamankan unjuk rasa di
kampus IKIP. Tetapi sekitar pukul 13.30, pasukan kembali ditarik ke lingkungan UMI.

Tiga peleton pasukan Armed dan batalyon kavaleri tersebut kemudian membentuk formasi berlapis
10, melebar hingga 25 meter hingga jembatan dari Sungai Pampang. Mereka mendesak mahasiswa
hingga masuk ke kampus sambil membentuk formasi mengepung. Dan Mayor Rihananto, Wakil
Komandan Yonkav, bernegosiasi dengan mahasiswa. Akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk
mundur.

Tetapi "gencatan senjata" tidak berlangsung lama. Saat istirahat makan siang, ketika seorang
petugas Pemda hendak menarik truk sampah yang masih melintang di depan Mesjid Agung yang
berada di seberang kampus UMI, para mahasiswa kembali melemparkan batu ke arah petugas. Tiga
pleton pasukan yang berjaga kembali maju ke arah kampus dan melemparkan gas air mata.

Pukul 15.00 WITA, mahasiswa membakar ban-ban di tengah jalan. Tetapi Rihantoro kembali berhasil
bernegoisasi dengan wakil mahasiswa. Bahkan mereka membuat kesepakatan yang berisi:
mahasiswa menghentikan unjuk rasa dan kembali ke rumah masing-masing, pasukan keamanan
meninggalkan daerah sekitar kampus, dan kalau kesepakatan tersebut dilanggar, maka pasukan
keamanan dapat bertindak tegas. Keadaan kembali tenang.

Tetapi sekitar pukul 17.00 WITA, pasukan Armed melihat pasukan Yon Kavaleri bergerak masuk ke
kampus melalui pintu timur. Melihat gerakan pasukan tersebut, Rihananto memerintahkan ketiga
komandan pleton Armed, yaitu Letda Art Budiyana, Letda Art Djoni Prasetyo dan Letda Art Agus
Priyanto untuk mempersiapkan pasukannya.

Kejadian inilah yang menjadi puncak peristiwa April itu. Pasukan Armed melepaskan tembakan gas
air mata yang memaksa ribuan mahasiswa berlarian menyelamatkan diri. Hujan batu, botol dan beling
kembali menderas. Tetapi pasukan Armed dan Kavaleri malah mengganas. Mereka memburu
mahasiswa sampai ke ruang-ruang kuliah. Pasukan juga diperintahkan oleh masing-masing
komandannya untuk menangkap para mahasiswa yang kelihatan sebagai perusuh.

Setelah kelompok penangkap mahasiswa keluar, Rihananto memerintahkan pleton untuk mengubah
formasi. Pleton Letda Budiyana melebar ke lapangan tenis, pleton Letda Djoni Prasetyo mengawasi
gedung Fakultas Ekonomi dan pleton Letda Agus Priyanto mengawasi gedung utama UMI.

Tetapi setelah perubahan formasi ini, ketiga komandan pleton sudah tidak mampu lagi
mengendalikan pasukannya. Ada tentara yang masih mengejar-ngejar sampai ke ruangan kuliah
serta menggebuki mahasiswa. Dari bentrokan sore hari inilah terdengar beberapa kali tembakan
meletus.

Suasana semakin semrawut dan menakutkan ketika tiga panser masuk ke halaman kampus.
Mahasiswa berlarian menyelamatkan diri ke arah Sungai Pampang yang terletak di belakang kampus
UMI. Mahasiswa putri menyeberang dengan naik perahu, sedangkan yang putra banyak yang nekat
berenang melintasi sungai.

Akibat bentrokan frontal sore hari itu, tiga mahasiswa meninggal. Sayiful Bya, mahasiswa Teknik
Aristektur UMI angkatan 1994, ditemukan sekarat di Sungai Pampang. Meski sempat dibawa ke
Rumah Sakit '45, nyawa pemuda asal Gorontalo ini tidak tertolong lagi. Andi Sultan Iskandar,
mahasiswa Fakultas Ekonomi UMI, juga ditemukan tewas. Esoknya (25 April) Tasyrif, mahasiswa
Teknik Aristektur ditemukan telah menjadi mayat.

Kamis, 25 April 1996


Unjuk rasa belum reda, bahkan kian meluas ke perguruan tinggi lain di Ujungpandang. Kota ini
menjadi lumpuh, karena para pengemudi angkutan umum enggan menjalankan kendaraannya. Di
depan kampus UMI, mahasiswa membakar sebuah sepeda motor. Hari itu juga DPRD Sulawesi
Selatan mengadakan rapat membahas kasus tersebut. Hasil rapat menyepakati penangguhan
pelaksanaan SK Walikota Ujungpandang No. 900 sampai waktu yang tidak ditentukan. Penangguhan
ini juga disepakati oleh Gubernur Sulsel Zaenal Basri Palaguna, Pangdam VII Wirabuana Mayjen
Sulatin, dan Walikota Malik B Masry yang pada saat itu sedang menunaikan ibadah haji. Mereka
mengadakan rapat selama 3,5 jam di Hotel Hilton, Makkah pada hari yang sama.

Tarif angkutan umum dalam kota Ujungpandang akhirnya kembali seperti semula, yaitu Rp300 jauh
dekat setiap rute. Tarif ini bertahan hingga sekarang.

Selasa, 30 April 1996


Komnas HAM datang ke Ujungpandang. Tim Komnas dipimpin Sekjen Baharuddin Lopa, didampingi
Soegiri dan Roekmini Koesoemastoeti meninjau kampus-kampus yang menjadi ajang unjuk rasa. Di
kampus UMI, Lopa menemukan antara lain, selongsong peluru dan bercak darah.

Rabu, 1 Mei 1996


Di kampus Unhas, Piagam Kerukuanan Mahasiswa-ABRI yang melambangkan akhir ujuk rasa,
ditandatangani oleh para wakil mahasiswa dan ABRI. Meski demikian, sejumlah mahasiswa tetap
melanjutkan demonstrasinya, menuntut pertanggungjawaban ABRI atas korban jiwa di kalangan
mahasiswa.

Sabtu, 11 Mei 1996


Pangdam VII Wirabuana Mayjen Sulatin mengumumkan hasil kerja tim penyelidikan kasus
Ujungpandang dari Datasemen Pomdam VII Wirabuana yang dipimpin Kolonel Joko Sungkono. Tim
ini telah memeriksa sebanyak 50 saksi, terutama sekitar peristiwa Rabu, 24 April. "Tim penyidikan
kasus ini menemukan adanya 12 oknum ABRI yang diduga bersalah, karena telah melakukan
tindakan reaktif yang berlebih-lebihan," kata Sulatin. Selanjutnya, ia menjanjikan akan mengajukan
yang terlibat ke Mahkamah Militer, paling lambat akhir Mei. Tetapi sampai bulan Mei berakhir dan
berlalu, Sulatin tidak menepati janjinya.

Senin, 3 Juni 1996


Sekitar pukul 12.00 WITA, 30-an aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pro
Demokrasi (AMPD) Makasar, mendatangi kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Mereka diterima
Wagub Dharmadi dan Sekwilda Hakamuddin Jamal. Juru bicara AMPD, Akbar Endra, mahasiswa
Unhas, membacakan tuntutan agar Gubernur Sulsel bertanggung jawab atas kematian tiga
mahasiswa UMI, setidaknya mencopot Malik B Masry dari jabatannya sebagai Walikota
Ujungpandang.

Seperti biasa, pejabat hanya menampung pendapat. Wagub tidak memberikan jawaban, namun
berjanji akan meneruskan permintaan mahasiswa ke gubernur. Malang bagi Akbar Endra, sepulang
dari kantor gubernur, ia ditikam seorang pria berpakaian hansip di depan kantor LBH Ujungpandang.
Untung tikaman itu hanya mengenai lengan Akbar. Meski nomor polisi kendaraan pelaku dicatat
Akbar dan dilaporkan ke Poltabes Ujungpandang, tidak ada tindak lanjut dari pihak polisi sampai
sekarang.

Rabu, 5 Juni 1996


Gubernur Sulsel H Zaenal Basri Palaguna mengeluarkan pernyataan akan mengganti kerugian materi
yang dialami tiga kampus yang diserang tentara, yaitu UMI, Universitas '45 dan IKIP Ujungpandang.
Kerugian di kampus UMI, menurut hitungan sementara yang dilakukan Senat Mahasiswa UMI waktu
itu adalah Rp397 juta, termasuk kerusakan 6 buah mobil dan 245 sepeda motor milik mahasiswa.
Janji untuk mengganti kerugian kampus ini pun hingga sekarang belum ditepati.

Kamis, 6 Juni 1996


Mahasiswa Universitas '45 yang bosan menunggu janji Pangdam VII Wirabuana Mayjen Sulatin untuk
menyeret pelaku pembantaian mahasiswa di UMI, kembali menggelar demonstrasi akbar di depan
kampusnya. Mereka membakar ban-ban bekas, dan menggelar mimbar bebas di tengah jalan poros
Urip Sumoharjo. Aparat keamanan tidak membubarkan demonstrasi tersebut. Tapi aktivis mahasiswa
Universitas '45, Abdul Wahab Tahir, yang memimpin unjuk rasa tersebut, dipecat oleh Dr. Andi Jaya
Sose, SE, MBA, Rektor Universitas 45.

Kamis, 25 Juli 1996


Lima puluh orang mahasiswa UMI yang tidak sabar menanti janji Sulatin kembali mendatangi gedung
DPRD Sulsel. Mereka bahkan bermalam di tempat itu. Sementara itu, ratusan mahasiswa lainnya
berziarah ke makam Tasyrif, salah seorang mahasiswa UMI yang tewas akibat insiden 24 April.
"Kami sudah bosan menunggu realisasi janji-janji panglima untuk menyeret para pelaku pembantaian
mahasiswa ke Mahkamah Militer," kata Selle KS Dalle, aktivis mahasiswa UMI.

Jumat, 26 Juli 1996


Kapendam VII Wirabuana Letkol CKU Mochtar Darise kembali menjanjikan akan menyidangkan
tentara yang terlibat kerusuhan 24 April. "Akan disidangkan setelah 17 Agustus," katanya ketika itu.
Keterlambatan penanganan kasus ini menurut Mochtar, disebabkan penyidikan di tingkat oditur yang
ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. "Tim penyidikan kasus Ujungpandang dari Pomdam
Wirabuana telah menyerahkan berkas pemeriksaan kasus ini ke oditur militer. Tapi di tingkat oditur,
kasus ini perlu diproses lagi, termasuk melakukan penyidikan ulang terhadap bukti-bukti yang
diajukan," katanya.

Kapendam Mochtar Darise juga membantah dugaan ABRI sengaja memetieskan kasus ini sampai
terlupakan. "Pasti diproses, sebab sudah diserahkan kepada oditur militer. Cuma, ini kan menyangkut
nasib manusia. Kita harus cermat, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses
selanjutnya," ujarnya.

Jumat, 9 Agustus 1996


Sekjen Komnas HAM Baharuddin Lopa menulis surat kepada Pangdam VII Wirabuana, Mayjen
Sulatin. Dalam surat Komnas HAM bernomor 1639 itu, Lopa menanyakan perkembangan
penanganan kasus Ujungpandang. "Agar dapat diselesaikan proses hukumnya dalam waktu yang
tidak terlalu lama," ujar Lopa. Kendati begitu, Lopa tidak merasa perlu untuk menemui Pangdam VII
Wirabuana secara langsung. "Cukuplah kalau saya ingatkan," katanya.
Ia juga mengakui kalau perkara ini tidak mudah. "Tak usah terlalu cepat. Di dunia ini tidak bisa tanam
pohon ini hari, lalu besok berbuah. Tunggu dulu. Segala sesuatu itu terikat oleh waktu. Tuhan sudah
atur itu," ujar Lopa kepada TEMPO Interaktif, di Ujungpandang, Selasa 13 Agustus.

Senin, 19 Agustus 1996


Terjadi pergantian Pangdam VII Wirabuana. Mayjen Sulatin digantikan oleh Mayjen Agum Gumelar.
Usai pelantikan, kepada wartawan, Agum berjanji akan memperhatikan perkembangan penyidikan
kasus Ujungpandang. "Percayalah, siapa pun yang bersalah di negeri ini pasti ditindak," kata Agum
Gumelar.

Rabu, 25 September 1996


Lima bulan setelah peristiwa April, sidang perdana kasus Ujungpandang di Mahkamah Militer digelar.
Enam perwira muda dari Batalyon Armed dan Kavaleri diajukan sebagai terdakwa. Saat itulah, kali
pertama masyarakat mengetahui nama-nama terdakwa. Enam terdakwa lainnya, hingga kini masih
dirahasiakan. "Mereka itu kan tidak ditahan. Karena itu, tidak diumumkan," kata seorang oditur di
Mahmil Ujungpandang. TL
Peristiwa Trisakti

Tragedi Trisakti
Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa
pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan
empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.

Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan
Hendriawan Sie. Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-
tempat vital seperti kepala, leher, dan dada.

[sunting] Latar belakang dan kejadian

Ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia.
Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR, termasuk
mahasiswa Universitas Trisakti.

Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju gedung DPR/MPR pada pukul
12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri--militer datang kemudian.
Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri.

Akhirnya, pada pukul 17.15 para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya
aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para
mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di universitas Trisakti.
Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikan
ke RS Sumber Waras.

Satuan pengamanan yang berada di lokasi pada saat itu adalah Brigade Mobil Kepolisian RI,
Batalyon Kavaleri 9, Batalyon Infanteri 203, Artileri Pertahanan Udara Kostrad, Batalyon
Infanteri 202, Pasukan Anti Huru Hara Kodam seta Pasukan Bermotor. Mereka dilengkapi
dengan tameng, gas air mata, Styer, dan SS-1.

Pada pukul 20.00 dipastikan empat orang mahasiswa tewas tertembak dan satu orang dalam
keadaan kritis. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru
tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam.

[sunting] Rentang waktu

• 10.30 -10.45
o Aksi damai civitas akademika Universitas Trisakti yang bertempat di
pelataran parkir depan gedung M (Gedung Syarif Thayeb) dimulai
dengan pengumpulan segenap civitas Trisakti yang terdiri dari
mahasiswa, dosen, pejabat fakultas dan universitas serta karyawan.
Berjumlah sekitar 6000 orang di depan mimbar.
• 10.45-11.00
o Aksi mimbar bebas dimulai dengan diawali acara penurunan
bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang
dikumandangkan bersama oleh peserta mimbar bebas, kemudian
dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda
keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat Indonesia
sekarang ini.

• 11.00-12.25
o Aksi orasi serta mimbar bebas dilaksanakan dengan para pembicara
baik dari dosen, karyawan maupun mahasiswa. Aksi/acara tersebut
terus berjalan dengan baik dan lancar.

• 12.25-12.30
o Massa mulai memanas yang dipicu oleh kehadiran beberapa
anggota aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar bebas (jalan
layang) dan menuntut untuk turun (long march) ke jalan dengan
tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Kemudian
massa menuju ke pintu gerbang arah Jl. Jend. S. Parman.

• 12.30-12.40
o Satgas mulai siaga penuh (berkonsentrasi dan melapis barisan
depan pintu gerbang) dan mengatur massa untuk tertib dan
berbaris serta memberikan himbauan untuk tetap tertib pada saat
turun ke jalan.

• 12.40-12.50
o Pintu gerbang dibuka dan massa mulai berjalan keluar secara
perlahan menuju Gedung MPR/DPR melewati kampus Untar.

• 12.50-13.00
o Long march mahasiswa terhadang tepat di depan pintu masuk
kantor Walikota Jakarta Barat oleh barikade aparat dari kepolisian
dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.

• 13.00-13.20
o Barisan satgas terdepan menahan massa, sementara beberapa
wakil mahasiswa (Senat Mahasiswa Universitas Trisakti) melakukan
negoisasi dengan pimpinan komando aparat (Dandim Jakarta Barat,
Letkol (Inf) A Amril, dan Wakapolres Jakarta Barat). Sementara
negoisasi berlangsung, massa terus berkeinginan untuk terus maju.
Di lain pihak massa yang terus tertahan tak dapat dihadang oleh
barisan satgas samping bergerak maju dari jalur sebelah kanan.
Selain itu pula masyarakat mulai bergabung di samping long march.

• 13.20-13.30
o Tim negoisasi kembali dan menjelaskan hasil negoisasi di mana
long march tidak diperbolehkan dengan alasan oleh kemungkinan
terjadinya kemacetan lalu lintas dan dapat menimbulkan
kerusakan. Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya
tersebut merupakan aksi damai. Massa terus mendesak untuk maju.
Dilain pihak pada saat yang hampir bersamaan datang tambahan
aparat Pengendalian Massa (Dal-Mas) sejumlah 4 truk.
• 13.30-14.00
o Massa duduk. Lalu dilakukan aksi mimbar bebas spontan di jalan.
Aksi damai mahasiswa berlangsung di depan bekas kantor Wali
Kota Jakbar. Situasi tenang tanpa ketegangan antara aparat dan
mahasiswa. Sementara rekan mahasiswi membagikan bunga
mawar kepada barisan aparat. Sementara itu pula datang
tambahan aparat dari Kodam Jaya dan satuan kepolisian lainnya.

• 14.00-16.45
o Negoisasi terus dilanjutkan dengan komandan (Dandim dan
Kapolres) dengan pula dicari terobosan untuk menghubungi
MPR/DPR. Sementara mimbar terus berjalan dengan diselingi pula
teriakan yel-yel maupun nyanyian-nyanyian. Walaupun hujan turun
massa tetap tak bergeming. Yang terjadi akhirnya hanya saling
diam dan saling tunggu. Sedikit demi sedikit massa mulai
berkurang dan menuju ke kampus.
o Polisi memasang police line. Mahasiswa berjarak sekitar 15 meter
dari garis tersebut.

• 16.45-16.55
o Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negoisasi di mana hasil
kesepakatan adalah baik aparat dan mahasiswa sama-sama
mundur. Awalnya massa menolak tapi setelah dibujuk oleh Bapak
Dekan FE dan Dekan FH Usakti, Adi Andojo SH, serta ketua SMUT
massa mau bergerak mundur.

• 16.55-17.00
o Diadakan pembicaraan dengan aparat yang mengusulkan
mahasiswa agar kembali ke dalam kampus. Mahasiswa bergerak
masuk kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut agar pasukan
yang berdiri berjajar mundur terlebih dahulu. Kapolres dan Dandim
Jakbar memenuhi keinginan mahasiswa. Kapolres menyatakan rasa
terima kasih karena mahasiswa sudah tertib. Mahasiswa kemudian
membubarkan diri secara perlahan-lahan dan tertib ke kampus.
Saat itu hujan turun dengan deras.
o Mahasiswa bergerak mundur secara perlahan demikian pula aparat.
Namun tiba-tiba seorang oknum yang bernama Mashud yang
mengaku sebagai alumni (sebenarnya tidak tamat) berteriak
dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa.
Hal ini memancing massa untuk bergerak karena oknum tersebut
dikira salah seorang anggota aparat yang menyamar.

• 17.00-17.05
o Oknum tersebut dikejar massa dan lari menuju barisan aparat
sehingga massa mengejar ke barisan aparat tersebut. Hal ini
menimbulkan ketegangan antara aparat dan massa mahasiswa.
Pada saat petugas satgas, ketua SMUT serta Kepala kamtibpus
Trisakti menahan massa dan meminta massa untuk mundur dan
massa dapat dikendalikan untuk tenang. Kemudian Kepala
Kamtibpus mengadakan negoisasi kembali dengan Dandim serta
Kapolres agar masing-masing baik massa mahasiswa maupun
aparat untuk sama-sama mundur.
• 17.05-18.30
o Ketika massa bergerak untuk mundur kembali ke dalam kampus, di
antara barisan aparat ada yang meledek dan mentertawakan serta
mengucapkan kata-kata kotor pada mahasiswa sehingga sebagian
massa mahasiswa kembali berbalik arah. Tiga orang mahasiswa
sempat terpancing dan bermaksud menyerang aparat keamanan
tetapi dapat diredam oleh satgas mahasiswa Usakti.
o Pada saat yang bersamaan barisan dari aparat langsung
menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan
gas air mata sehingga massa mahasiswa panik dan berlarian
menuju kampus. Pada saat kepanikan tersebut terjadi, aparat
melakukan penembakan yang membabi buta, pelemparan gas air
mata dihampir setiap sisi jalan, pemukulan dengan pentungan dan
popor, penendangan dan penginjakkan, serta pelecehan seksual
terhadap para mahasiswi. Termasuk Ketua SMUT yang berada
diantara aparat dan massa mahasiswa tertembak oleh dua peluru
karet dipinggang sebelah kanan.
o Kemudian datang pasukan bermotor dengan memakai
perlengkapan rompi yang bertuliskan URC mengejar mahasiswa
sampai ke pintu gerbang kampus dan sebagian naik ke jembatan
layang Grogol. Sementara aparat yang lainnya sambil lari mengejar
massa mahasiswa, juga menangkap dan menganiaya beberapa
mahasiswa dan mahasiswi lalu membiarkan begitu saja mahasiswa
dan mahasiswi tergeletak di tengah jalan. Aksi penyerbuan aparat
terus dilakukan dengan melepaskan tembakkan yang terarah ke
depan gerbang Trisakti. Sementara aparat yang berada di atas
jembatan layang mengarahkan tembakannya ke arah mahasiswa
yang berlarian di dalam kampus.
o Lalu sebagian aparat yang ada di bawah menyerbu dan merapat ke
pintu gerbang dan membuat formasi siap menembak dua baris
(jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada
di dalam kampus. Dengan tembakan yang terarah tersebut
mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal
dunia. Yang meninggal dunia seketika di dalam kampus tiga orang
dan satu orang lainnya di rumah sakit beberapa orang dalam
kondisi kritis. Sementara korban luka-luka dan jatuh akibat
tembakan ada lima belas orang. Yang luka tersebut memerlukan
perawatan intensif di rumah sakit.
o Aparat terus menembaki dari luar. Puluhan gas air mata juga
dilemparkan ke dalam kampus.

• 18.30-19.00
o Tembakan dari aparat mulai mereda, rekan-rekan mahasiswa mulai
membantu mengevakuasi korban yang ditempatkan di beberapa
tempat yang berbeda-beda menuju RS.

• 19.00-19.30
o Rekan mahasiswa kembali panik karena terlihat ada beberapa
aparat berpakaian gelap di sekitar hutan (parkir utama) dan sniper
(penembak jitu) di atas gedung yang masih dibangun. Mahasiswa
berlarian kembali ke dalam ruang kuliah maupun ruang ormawa
ataupun tempat-tempat yang dirasa aman seperti musholla dan
dengan segera memadamkan lampu untuk sembunyi.
• 19.30-20.00
o Setelah melihat keadaan sedikit aman, mahasiswa mulai berani
untuk keluar adari ruangan. Lalu terjadi dialog dengan Dekan FE
untuk diminta kepastian pemulangan mereka ke rumah masing-
masing. Terjadi negoisasi antara Dekan FE dengan Kol.Pol.Arthur
Damanik, yang hasilnya bahwa mahasiswa dapat pulang dengan
syarat pulang dengan cara keluar secara sedikit demi sedikit (per 5
orang). Mahasiswa dijamin akan pulang dengan aman.

• 20.00-23.25
o Walau masih dalam keadaan ketakutan dan trauma melihat
rekannya yang jatuh korban, mahasiswa berangsur-angsur pulang.
o Yang luka-luka berat segera dilarikan ke RS Sumber Waras. Jumpa
pers oleh pimpinan universitas. Anggota Komnas HAM datang ke
lokasi

• 01.30
o Jumpa pers Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin di
Mapolda Metro Jaya. Hadir dalam jumpa pers itu Pangdam Jaya
Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolda Mayjen (Pol) Hamami
Nata, Rektor Usakti Prof Dr Moedanton Moertedjo, dan dua anggota
Komnas HAM AA Baramuli dan Bambang W Soeharto.