P. 1
Bank Indonesia, Kajian Stabilitas Keuangan No.10, Maret 2008

Bank Indonesia, Kajian Stabilitas Keuangan No.10, Maret 2008

4.94

|Views: 3,451|Likes:
Dipublikasikan oleh Muhammad Arief Billah
Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) ini disusun sebagai bagian dari pelaksanaan tugas Bank Indonesia dalam mewujudkan misi ≈mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan stabilitas sistem keuangan dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan.
Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) ini disusun sebagai bagian dari pelaksanaan tugas Bank Indonesia dalam mewujudkan misi ≈mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan stabilitas sistem keuangan dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Muhammad Arief Billah on Jul 17, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

Sections

Penerbit: Bank Indonesia Jl. MH Thamrin No.

2, Jakarta Indonesia

Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) ini disusun sebagai bagian dari pelaksanaan
tugas Bank Indonesia dalam mewujudkan misi ≈mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan stabilitas sistem keuangan dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan∆.

KSK diterbitkan secara semesteran dengan tujuan untuk : Meningkatkan wawasan publik dalam memahami stabilitas sistem keuangan Mengkaji risiko-risiko potensial terhadap stabilitas sistem keuangan Menganalisa perkembangan dan permasalahan dalam sistem keuangan Merekomendasi kebijakan untuk mendorong dan memelihara sistem keuangan yang stabil.

Informasi dan Order : KSK ini terbit pada bulan Maret 2008 dan didasarkan pada data dan informasi per Desember 2007, kecuali dinyatakan lain. Dokumen KSK lengkap dalam format pdf tersedia pada web site Bank Indonesia : http://www.bi.go.id Permintaan, komentar dan saran harap ditujukan kepada : Bank Indonesia Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Biro Stabilitas Sistem Keuangan Jl.MH Thamrin No.2, Jakarta, Indonesia Telepon : (+62-21) 381 8902, 381 8075 Fax : (+62-21) 351 8629 Email : BSSK@bi.go.id

Kajian Stabilitas Keuangan I - 2007 ( No. 10, Maret 2008 )

ii

Daftar Isi

Kata Pengantar Gambaran Umum Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Kondisi Makroekonomi Kondisi Sektor Riil Boks 1.1. Macroeconomic Stress Test Boks 1.2. Potensi Tekanan dari Utang Luar Negeri Bab 2 Sektor Keuangan Struktur Sistem Keuangan Indonesia Perbankan Pendanaan dan Risiko Likuiditas Perkembangan dan Risiko Kredit Risiko Pasar Profitabilitas dan Permodalan Lembaga Keuangan Bukan Bank dan Pasar Modal Perusahaan Pembiayaan Pasar Modal Boks 2.1. Perkembangan Industri Asuransi dan Potensi Risiko bagi Sistem Keuangan Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Prospek Ekonomi dan Persepsi Risiko Profil Risiko Perbankan: Tingkat dan Arah

vi 3 9 9 14 19 20 25 25 26 26 27 35 37 40 40 42 47 53 53 54

Prospek Sistem Keuangan Indonesia Potensi Kerawanan Boks 3.1. Dampak Kenaikan Harga Minyak terhadap Stabilitas Sistem Keuangan Boks 3.2. Bencana Alam, Lingkungan Hidup dan Stabilitas Sistem Keuangan

55 56 58 59

Bab 4 Infrastruktur Keuangan Sistem Pembayaran Perkembangan Sistem Pembayaran Kebijakan dan Mitigasi Risiko dalam Sistem Pembayaran Biro Informasi Kredit Mitigasi Risiko Sistem Keuangan Forum Stabilitas Sistem Keuangan Crisis Management Protocol Artikel Artikel 1 Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar Artikel 2 Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan Glosari

63 63 63 64 65 67 67 68

71

79 93

iii

Daftar Tabel dan Grafik
Tabel
1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 2.1 2.2 3.1 3.2 4.1 4.2 4.3 Indikator Ekonomi Dunia Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pengaruh Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Ekuitas Konglomerasi Peringkat Daya Saing √ World Economic Forum Perkembangan Indeks Harga Beberapa Bursa Regional Perkembangan Indeks Harga Sektoral 42 43 1.8 1.9 1.10 Konsensus Proyeksi Beberapa Indikator Ekonomi 53 Persepsi Risiko Indonesia Perkembangan Nilai dan Volume Setelmen dalam Sistem BI-RTGS Transaksi APMK Perbandingan Ketentuan SID 64 64 66 54 1.11 1.12 1.13 1.14 1.15 1.16 1.17 1.18 1.19 47 1.20 1.21 3.1.1 Proyeksi NPL Gross Tahun 2008 dengan Berbagai Skenario Harga Minyak 58 1.23 1.24 1.25 1.26 1.27 1.28 1.29 2.1 2.2 2.3 2.4 1.22 16 17 10 14 Pangsa Ekspor Non-Migas Indonesia Per Negara 11

Grafik
1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 Indeks Harga Saham Global Ekspor Non-Migas Indonesia Nilai Impor Non-Migas Indonesia Indeks Harga Beberapa Komoditas Suku Bunga Internasional Tingkat Bunga Riil Indonesia dan AS 9 10 10 11 11 11 11 12 12 12 12 12 13 13 13 14 14 15 15 15 15 16 16 16 17 17 18 18 18 25 26 26 27

Outlook Sovereign Rating Indonesia Standard &
Poor»s

Outlook Sovereign Rating Indonesia Moody»s Outlook Sovereign Rating Indonesia Fitch
Komposisi Aliran Modal Masuk Komposisi Aliran Modal Portfolio Asing Portfolio Investment Ratio Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Nilai Tukar Mata Uang Dunia Inflasi Indonesia dan BI-Rate Perkembangan Suku Bunga Indonesia Selisih antara Suku Bunga Kredit dengan Suku Bunga Deposito Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Kredit Konsumsi Pertumbuhan ROA dan ROE Perkembangan Debt to Equity Ratio Probability of Default Perusahaan Non-Financial Go Public (Desember 2007) Probability of Default Perusahaan Non-Financial Go Public (Juni 2008) Probability of Default Perusahaan Non-Financial Go Public (Juni dan Desember 2007) Kewajiban Neto Valas terhadap Equity Pertumbuhan PDB Sektoral Pembiayaan Korporasi Tbk dan Ekspansinya (Pertumbuhan Aset) Tingkat Pengangguran di Indonesia Perkembangan DER dan TL/TA Aset Lembaga Keuangan Pertumbuhan DPK per Valuta (mtm) Pertumbuhan DPK per Komponen (mtm) Rasio Alat Likuid Perbankan

Tabel Boks : 2.1.1 Perkembangan Jumlah Usaha Asuransi 2003-2006

iv

2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 2.10 2.11 2.12 2.13 2.14 2.15 2.16 2.17 2.18 2.19 2.20 2.21 2.22 2.23 2.24 2.25 2.26 2.27 2.28 2.29 2.30 2.31 2.32 2.33 2.34 2.35 2.36 2.37 2.38 2.39 2.40 2.41 2.42 2.43

Suku Bunga Rata-rata PUAB O / N Pertumbuhan Kredit Komposisi Aktiva Produktif Perkembangan Kredit valas Pertumbuhan Kredit Jenis Penggunaan Perkembangan Kredit Sektor Ekonomi Perkembangan UL Non Performing Loan Nominal NPL Perkembangan Nominal NPL Perkembangan NPL Gross Kelompok Bank Perkembangan Nominal NPL Sektor Ekonomi Pangsa NPL Menurut Sektor Ekonomi Perkembangan NPL Kredit Jenis Penggunaan Pangsa NPL Menurut Jenis Penggunaan Kredit Perkembangan NPL Gross Perkembangan Rasio NPL Gross Kredit Konsumsi Nominal NPL Korporasi dan MKM NPL Gross MKM dan Korporasi NPL Valas dan Rupiah Stress Test NPL terhadap CAR Perkembangan Suku Bunga dan Nilai Tukar Suku Bunga Kredit per Kelompok Bank Maturity Profile Rupiah Maturity Profile Valas Perkembangan PDN (Overall) SUN yang Dimiliki Perbankan Perkembangan NII Perbankan Rasio ROA Kelompok Bank Komposisi Pendapatan Bunga Bank Rasio CAR Kelompok Bank Semester II 2007 Rasio Modal Inti terhadap ATMR dan CAR Peta Perkembangan Modal Inti Stress Test CAR Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan Kegiatan Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan Kinerja Perusahaan Pembiayaan Sumber Dana PP Swasta Nasional

27 28 28 28 29 29 30 30 30 31 31 31 31 32 32 32 33 33 33 34 34 35 35 36 36 37 37 37 38 38 38 38 39 40 40 40 41 41

2.44 2.45 2.46 2.47 2.48 2.49 2.50 2.51 2.52 2.53 2.54 2.55 2.56 2.57 2.58 2.59 3.1 3.2

Sumber Dana PP Patungan Inflows pada SUN-SBI-Saham Volatilitas Bursa Asia Bursa Regional: Perkembangan Indeks Saham Pasar Saham: Nilai Transaksi & IHSG Market Efficiency Coefficient Pasar Saham: Nilai Kapitalisasi & Nilai Emisi Perkembangan Harga Beberapa Seri SUN Yield Penanaman Tenor 5 Tahun Kepemilikan SUN SUN: Likuiditas Pasar Berbagai Tenor Emisi dan Posisi Obligasi Korporasi Perkembangan NAB Jenis Reksa Dana Reksa Dana: NAB & Unit Penyertaan Reksa Dana: Redemption & Subscription Perkembangan Komposisi NAB Reksa Dana Profil Risiko Perbankan dan Arahnya Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index)

41 42 42 43 43 43 44 44 44 45 45 45 45 45 46 46 55 55

4.1

Aktivitas Transaksi Sistem Pembayaran Semester II 2007 63

Kredit, NPL dan Penyisihan Penghapusan Kredit 35

Grafik Boks : 1.2.1 1.2.2 1.2.3 Utang Luar Negeri Indikator Debt Burden Indonesia Rencana Pembayaran ULN Indonesia 20 20 20 47 47 47 48 48 48 48 58

2.1.1. Permodalan Asuransi 2003-2006 2.1.2. Aset-Premi-Klaim: 2003-2006 2.1.3. Perkembangan Laba Asuransi: 2003-2006 2.1.4. Beberapa Indikator Kesehatan Perusahaan Asuransi 2.1.5. Investasi Perusahaan Asuransi: 2003-2006 2.1.6. Premi: Unit Link & Total: 2003-2006 2.1.7. Hasil Investasi: Unit Link terhadap Total: 2003-2006 3.1.1. NPL Perbankan dan Harga Minyak

v

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami menyambut gembira penerbitan Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.10, Maret 2008 ini. KSK merupakan penyampaian informasi kepada para stakeholders tentang salah satu pelaksanaan fungsi pokok Bank Indonesia disamping menjaga stabilitas moneter, yakni memelihara stabilitas sistem keuangan. Sebagaimana edisi-edisi sebelumnya, KSK edisi ini memuat hasil analisis tentang sumber-sumber instabilitas, langkah mitigasi risiko dan prospek stabilitas keuangan ke depan. Selain itu, secara khusus KSK edisi ini juga memuat dua artikel masing-masing tentang hasil survei kredit properti dan survei neraca keuangan rumah tangga (household). Keberadaan kedua artikel tersebut sangat penting karena sejarah telah menunjukkan bahwa krisis keuangan dapat berasal dari kegagalan sektor properti dan ketidakmampuan sektor rumah tangga memenuhi kewajibannya kepada lembaga-lembaga keuangan. Penerbitan KSK edisi ini juga sangat strategis mengingat semakin beratnya tantangan yang harus dihadapi oleh sektor keuangan dan perekonomian Indonesia. Tantangan terbesar berasal dari meningkatnya risiko perekonomian global terutama sebagai akibat krisis subprime mortgage yang melanda negara-negara besar di dunia. Krisis subprime mortgage ini telah mengguncang pasar keuangan dunia sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan global dan menurunnya kepercayaan pada pelaku bisnis. Tantangan berikutnya adalah meningkatnya tekanan inflasi di tengah melambatnya pertumbuhan perekonomian dunia, terkait dengan kenaikan harga minyak dunia dan harga komoditi pokok. Dari dalam negeri, tantangan antara lain berasal dari semakin meningkatnya intensitas bencana alam serta kondisi makroekonomi yang belum tentu sebaik kondisi sepanjang tahun 2007. Meningkatnya tantangan-tantangan tersebut di atas memerlukan kewaspadaan dari semua pihak yang terkait di sektor keuangan. Untuk mendukung kewaspadaan tersebut, sangat diperlukan adanya informasi yang up to date yang disertai dengan kajian tentang isu-isu yang terkait dengan sektor keuangan. Dalam konteks inilah, penerbitan KSK akan berperan dalam menyampaikan informasi dan kajian secara rutin sehingga bermanfaat untuk semua pihak yang terkait, termasuk para pelaku bisnis, pejabat Pemerintah, serta akademisi dan pengamat. Patut dicatat bahwa tahun 2007 yang baru saja dilewati merupakan salah satu tahun terbaik dalam konteks stabilitas sistem keuangan. Stabilitas sektor keuangan Indonesia terjaga dengan baik, sedangkan perbankan sebagai industri terbesar dalam sektor tersebut terus menunjukkan kinerja yang semakin baik. Hal ini antara lain terlihat dari pelaksanaan fungsi intermediasi yang terus meningkat sehingga pertumbuhan kredit mencapai 25,5%, sementara rasio

non-performing loans (NPL) gross dapat ditekan hingga 4,64% atau untuk pertama kalinya sejak krisis berada di bawah
5%. Ke depan salah satu tantangannya adalah bagaimana mengarahkan pertumbuhan kredit agar lebih mengarah

vi

untuk tujuan produktif serta mendorong kemajuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang telah terbukti cukup tahan terhadap krisis. Dengan harapan-harapan tersebut di atas, sekali lagi kami menyambut gembira penerbitan KSK edisi ini. Untuk itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun dan semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga kajian-kajian yang dilakukan akan bermanfaat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan ke depan sehingga mampu menopang stabilitas makroekonomi yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat seluas-luasnya.

Jakarta, Maret 2008 DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA

Muliaman D. Hadad

vii

viii

Gambaran Umum

Gambaran Umum

1

Gambaran Umum

Halaman ini sengaja dikosongkan

2

Gambaran Umum

Gambaran Umum

Stabilitas sistem keuangan Indonesia selama semester II 2007 tetap terjaga dengan prospek yang positif. Hal tersebut berhasil dicapai dengan dukungan stabilitas makroekonomi dan kinerja sektor riil yang terus menunjukkan perbaikan meskipun belum sepenuhnya sesuai harapan. Kinerja sektor keuangan terutama perbankan juga semakin menggembirakan sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan kredit yang lebih besar dengan kualitas kredit yang semakin baik. Lembaga keuangan bukan bank, terutama perusahaan pembiayaan, dan pasar saham juga terus bertumbuh di tengah semakin meningkatnya tekanan gejolak pasar keuangan global. Pasar surat utang juga mengalami pertumbuhan yang menggembirakan meskipun terdapat beberapa kali tekanan di tahun 2007, yang dapat dimitigasi dampak negatifnya. Ke depan, sumber-sumber instabilitas perlu terus dimonitor dan dimitigasi dampak negatifnya, antara lain dengan disusunnya Crisis

Management Protocol dan ditingkatkannya koordinasi antara otoritas
perbankan dengan otoritas pasar modal dan lembaga keuangan non-bank.

1. SUMBER-SUMBER INSTABILITAS
Ketahanan sistem keuangan pada paruh kedua tahun 2007 menghadapi tantangan yang semakin berat dibandingkan dengan semester sebelumnya. Sumbersumber instabilitas yang sudah ada pada semester sebelumnya terus berlanjut di tengah semakin dinamisnya perkembangan sektor keuangan. Secara umum, tekanan terbesar terhadap sistem keuangan selama semester II 2007 lebih banyak ditimbulkan oleh gejolak lingkungan eksternal. Hal ini terutama terlihat dari semakin bergejolaknya pasar keuangan global. Bahkan, bursa saham global semakin sering terkoreksi secara signifikan yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian dan menurunnya kepercayaan diantara sesama pelaku bisnis di pasar keuangan dunia sebagai dampak lanjutan dari krisis

subprime mortgage. Meskipun bank-bank di Indonesia
tampaknya tidak ada yang terlibat langsung dalam transaksi subprime mortgage, namun sejalan dengan

3

Gambaran Umum

semakin terintegrasinya ekonomi nasional dengan ekonomi dunia maka gejolak pasar uang global yang ditimbulkan oleh krisis tersebut cepat berimbas kepada sektor keuangan domestik. Akibatnya, setiap kali terjadi tekanan terhadap bursa saham global maka bursa saham Indonesia juga ikut terkoreksi secara dalam. Keadaan ini dapat membahayakan sistem keuangan apabila pada saat yang bersamaan terjadi aliran modal keluar secara serentak dan tiba-tiba (sudden reversal). Peningkatan gejolak lingkungan eksternal juga muncul sebagai akibat dari kenaikan harga minyak dunia dan komoditi pokok. Dalam periode laporan, harga minyak dunia bahkan sempat melampaui USD110 perbarel. Sementara itu, harga komoditi pokok juga terus melambung, terutama harga produk-produk pertanian, barang tambang dan hasil alam. Kenaikan harga-harga ini menimbulkan ancaman inflasi tinggi yang dapat menurunkan daya beli masyarakat baik pada tingkat global maupun domestik. Bagi sektor keuangan, inflasi tinggi akan mengurangi kemampuan debitur dalam melunasi kreditnya sehingga berpotensi meningkatkan non-

juga masih menjadi sumber instabilitas. Dengan tingginya ketergantungan terhadap perbankan maka gejolak atau krisis yang melanda perbankan dengan cepat akan menjalar kepada industri lain di sektor keuangan. Lambatnya penyelesaian berbagai kendala di sektor riil, seperti masalah ketenagakerjaan dan keterbatasan infrastruktur, dapat menghambat kegiatan investasi dan mengganggu kelancaran kegiatan bisnis dunia usaha. Meskipun pada semester laporan kenaikan kredit konsumsi sedikit lebih rendah dari kredit modal kerja, namun kewaspadaan perlu tetap ditingkatkan untuk mencegah terkonsentrasinya kredit pada pembiayaan konsumen. Konsentrasi tersebut dapat membahayakan sektor keuangan terutama apabila pendapatan rumah tangga ( household income) tidak cukup kuat untuk memenuhi kewajiban pada bank dan lembaga keuangan lainnya. Selain itu, konsentrasi terhadap kredit konsumsi dapat membuat berkurangnya perhatian untuk meningkatkan kredit tujuan produktif yang justru lebih dibutuhkan guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Bencana alam yang terjadi silih berganti di Indonesia akhir-akhir ini juga merupakan salah satu sumber instabilitas yang perlu diwaspadai. Walaupun Bank Indonesia telah mengeluarkan ketentuan tentang perlakuan khusus terhadap kredit bank di daerah yang terkena bencana alam, namun apabila bencana alam itu terjadi secara meluas dan terus menerus maka ketahanan sektor keuangan akan ikut terganggu. Sumber instabilitas penting lainnya terkait dengan semakin terintegrasinya bisnis perbankan dengan bisnis lembaga keuangan non-bank yang menyebabkan batasbatas antara produk perbankan dan produk lembaga keuangan lainnya semakin kabur. Hal ini perlu sekali diwaspadai mengingat inovasi produk keuangan yang tidak disertai dengan kejelasan tentang mitigasi risiko

performing loans (NPL).
Permasalahan pokok lainnya yang berkontribusi pada peningkatan gejolak lingkungan eksternal adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia yang dipicu oleh beban berat perekonomian Amerika Serikat. Paska krisis subprime mortgage, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat menjadi sangat melambat dan bahkan beberapa pengamat menyebutnya sebagai diambang resesi. Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia akan menimbulkan tekanan pada sektor keuangan karena mengganggu kinerja eksportir yang menjadi nasabah bank dan lembaga keuangan lainnya. Sementara itu, tingginya ketergantungan terhadap perbankan, berbagai kendala di sektor riil dan terkonsentrasinya kredit pada pembiayaan konsumen

4

Gambaran Umum

dan transparansi produk yang memadai dapat merugikan nasabah dan membahayakan stabilitas sistem keuangan. Selanjutnya, kemungkinan meningkatnya gangguan keamanan karena semakin dekatnya pelaksanaan Pemilu juga perlu menjadi perhatian. Meskipun dari pengalaman Pemilu sebelumnya tidak terdapat hal-hal yang perlu dikhawatirkan dan masyarakat juga sudah semakin terbiasa dengan dinamika pesta demokrasi, namun sektor keuangan perlu selalu waspada dalam mengantisipasi setiap kemungkinan yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan, termasuk yang terkait dengan persiapan pelaksanaan Pemilu ini.

stabilitas sistem keuangan seperti halnya sektor riil dan rumah tangga (household). Untuk mengurangi ketergantungan terhadap perbankan, mitigasi risiko yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan mendorong financial deepening yang memungkinkan lembaga keuangan non-bank untuk lebih berperan dalam sektor keuangan. Financial deepening juga memungkinkan berkembangnya pasar hedging dan derivative, sehingga dapat membantu lembaga-lembaga keuangan dan pelaku bisnis untuk melakukan manajemen risiko yang lebih baik. Untuk mengurangi risiko yang terkait dengan semakin bergejolaknya pasar global maka hal yang paling penting dilakukan adalah meningkatkan koordinasi antara

2. MITIGASI RISIKO
Untuk memperkecil peluang terjadinya instabilitas pada sektor keuangan beberapa langkah mitigasi risiko telah dilakukan. Pertama, memperkuat manajemen risiko perbankan. Selama periode laporan, kemampuan melaksanakan manajemen risiko semakin meningkat. Hal ini merupakan dampak positif dari pelaksanaan sertifikasi manajemen risiko bagi pengelola bank serta persiapanpersiapan yang telah dilakukan perbankan dalam rangka implementasi Basel II. Selain itu, penggunaan pendekatan

otoritas perbankan dengan otoritas pasar modal dan lembaga keuangan lainnya. Dengan adanya koordinasi yang erat maka langkah-langkah antisipasi dapat segera dirumuskan sebelum permasalahan menjadi meluas. Tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan fungsi Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) serta mempercepat disahkannya Rancangan Undang-undang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK). Selain itu, penyusunan Crisis

Management Protocol yang mengatur prosedur dan
langkah-langkah yang harus dilakukan pada saat krisis, juga merupakan hal yang sangat penting dalam konteks menjaga stabilitas sistem keuangan.

risk based supervision oleh pengawas bank juga telah
mendorong perbankan untuk melaksanakan manajemen risiko yang lebih baik. Mitigasi risiko juga dilakukan dengan meningkatkan efektivitas pemantauan (surveillance) terhadap sistem keuangan. Untuk itu, secara terus menerus dilakukan review dan pengembangan dari berbagai metode dan pendekatan yang digunakan dalam rangka surveillance, baik yang bersifat kuantitatif seperti stress test dan simulasi, maupun yang bersifat kualitatif seperti pemantauan secara berkala terhadap perkembangan sektor-sektor yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap

3. PROSPEK STABILITAS SISTEM KEUANGAN
Ke depan, stabilitas sistem keuangan diperkirakan akan tetap terjaga, meskipun terdapat tantangan yang lebih berat pada tahun 2008, terutama sebagai akibat melambatnya ekonomi Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak dunia, serta dampak ikutan (contagion) atas tingginya tekanan terhadap pasar keuangan global. Kondisi ini dapat memicu instabilitas melalui transmisi perlambatan ekonomi Indonesia. Beberapa hal yang

5

Gambaran Umum

mendukung ketahanan sistem keuangan tersebut, terutama perbankan, adalah semakin meningkatnya kemampuan manajemen risiko perbankan serta semakin membaiknya pelaksanaan surveillance terhadap stabilitas sistem keuangan, baik dari segi metode maupun luasnya cakupan. Disamping itu, berbagai stress test yang telah dilakukan memberikan indikasi yang kuat bahwa perbankan sebagai sokoguru sektor keuangan cukup tahan terhadap goncangan risiko kredit, risiko suku bunga, risiko nilai tukar, dan risiko harga surat utang negara (SUN). Hal lain yang memperkuat optimisme ke depan adalah semakin kuatnya permodalan bank. Ketentuan modal inti minimum sebesar Rp80 miliar pada akhir 2007 umumnya telah dapat dipenuhi oleh semua bank umum. Selanjutnya, dengan adanya kewajiban bank umum untuk memiliki modal inti minimum sebesar Rp100 miliar pada tahun 2010 diharapkan perbankan akan semakin memperkuat permodalannya sehingga akan lebih mampu menghadapi risiko yang lebih besar. Ditengah-tengah meningkatnya risiko ketidakpastian di pasar keuangan global, prospek sistem keuangan Indonesia masih terlihat positif karena ditunjang oleh penguatan harga komoditas dan manajemen risiko yang lebih baik. Meskipun kecenderungan naiknya harga komoditas umumnya disambut dengan kekhawatiran, namun penting dicatat bahwa peningkatan harga

komoditas tersebut juga mendorong terbukanya peluang bisnis pada sektor-sektor seperti pertambangan (batubara), energi alternatif, dan perkebunan (crude palm oil, kedelai, dan tebu). Upaya memelihara stabilitas sistem keuangan memerlukan informasi yang cukup tentang semua sektor yang terkait. Untuk mengetahui secara lebih dini perkembangan sektor properti maka dikembangkan suatu model Early Warning System (EWS) yang dapat menjelaskan perilaku kredit properti. Model yang dihasilkan memperlihatkan bahwa NPL properti 6 bulan ke depan cenderung turun, dan akan kembali naik pada periode 12 bulan kemudian. Sementara itu, hasil survei neraca rumah tangga ( household ) pada 6 lokasi (Bodetabek, D.I. Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Barat) menunjukkan bahwa seluruh rumah tangga di lokasi survei mampu memenuhi kewajibannya baik terhadap bank maupun lembaga keuangan non bank. Hal ini memberikan petunjuk bahwa tekanan terhadap ketahanan sistem keuangan yang berasal dari sektor rumah tangga, khususnya pada 6 lokasi tersebut, tidak mengkhawatirkan. Ke depan, untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang peranan sektor rumah tangga dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, maka cakupan survei neraca rumah tangga perlu diperluas kepada lokasi-lokasi lainnya di Indonesia.

6

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

7

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Halaman ini sengaja dikosongkan

8

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Bab 1

Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Selama semester II 2007 stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga dari gejolak di pasar keuangan global. Sementara itu, ekspansi ekonomi terus berlanjut, meskipun diperkirakan akan melambat di 2008 akibat dipicu naiknya harga minyak dunia. Dalam kondisi tersebut, inflasi masih terkendali, bahkan tingkat suku bunga domestik mulai menurun yang dapat memberikan peluang bagi aktivitas perekonomian.

1.1. KONDISI MAKROEKONOMI
Perkembangan ekonomi internasional pada semester II 2007 didominasi oleh kekhawatiran akan resesi perekonomian Amerika Serikat yang dipicu oleh krisis

itu, indeks bursa saham Indonesia sampai dengan akhir Desember 2007 masih mengalami peningkatan meskipun dengan volatilitas yang semakin tinggi. Kecilnya dampak krisis subprime mortgage ke pasar keuangan domestik karena tidak adanya lembaga keuangan Indonesia yang melakukan penanaman langsung pada kredit jenis ini. Selain itu, tetap bergairahnya pasar saham domestik didukung pula dengan semakin membaiknya fundamental makroekonomi. Dampak lanjutan dari permasalahan krisis subprime

subprime mortgage dan menurunnya tingkat konsumsi
Amerika Serikat. Krisis subprime mortgage merupakan titik balik dari skim perkreditan berisiko tinggi yang diberikan lembaga keuangan dalam rangka pembiayaan perumahan. Krisis ini sudah terjadi sejak tahun 2006, namun dampaknya baru meluas sejak awal semester II 2007. Laporan tentang kerugian yang dialami oleh investorinvestor besar kredit sub-prime mortgage, termasuk bankbank bereputasi tinggi di Amerika Serikat dan Eropa, yang diiringi dengan laporan tentang masih terus meningkatnya

mortgage menyebabkan turunnya daya beli masyarakat

Grafik 1.1 Indeks Harga Saham Global
35.000 30.000 Singapore New York Indonesia Hongkong Dow Jones Nikkei 35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 0 2006
Sumber: Bloomberg

delinquency rate dan foreclosure rate debitur subprime mortgage menjadi sentimen negatif yang memicu investor
melakukan redemption besar-besaran secara bersamaan. Aksi redemption tersebut berpengaruh kepada pasar keuangan negara-negara lain termasuk di emerging

25.000 20.000 15.000 10.000 5.000

markets, sehingga mengakibatkan pelemahan indeks
bursa saham global. Namun demikian, berbeda dengan

0 2007

9

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

di Amerika Serikat. Melambatnya belanja konsumsi rumah tangga kemudian membatasi pendapatan sektor korporasi sehingga menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja. Mengingat belanja konsumsi rumah tangga merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat maka penurunannya menyebabkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut pada 2007 melambat 0,4% menjadi sebesar 2,2%, atau lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 2,6%. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Amerika Serikat sudah mendekati resesi. Karena ekonomi Amerika Serikat menggerakkan hampir 20% ekonomi dunia, pelemahannya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi global. Akibatnya, pada tahun 2007, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat hingga ke level 4,9%. Perlambatan tersebut lebih dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi yang terjadi di negara-negara maju, sementara pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang khususnya China dan India masih cukup tinggi. Namun terdapat kekhawatiran bahwa ekonomi China melakukan pengetatan moneter yang berdampak kepada perlambatan pertumbuhan ekonomi China.
Tabel 1.1 Indikator Ekonomi Dunia
% Kategori World Output*) Advanced Economies*) Emerging & Developing Countries*) Consumer PriceAdvanced Economies Emerging & Developing Countries (exclude Zimbabwe) LIBOR
2) 1)

Pelemahan ekonomi Amerika Serikat yang berkepanjangan berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market sejalan dengan semakin ketatnya persaingan ekspor antar negara-negara tersebut khususnya di Asia. Hal ini disebabkan penurunan daya beli rumah tangga di Amerika Serikat yang merupakan konsumen utama produk ekspor negaranegara tersebut. Khusus untuk Indonesia, kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap nilai dan volume ekspor. Sampai dengan November 2007 nilai ekspor Indonesia masih tumbuh cukup tinggi meskipun menunjukkan kecenderungan menurun. Dalam 11 bulan pertama tahun 2007, ekspor Indonesia tumbuh 16,5% (y-o-y), sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2004-2006 dengan rata-rata sebesar 18,8% per tahun.

Grafik 1.2 Ekspor Non-Migas Indonesia
Juta USD 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 2006 Sumber: BI 2007 Manufacturing Mining and Quarrying Agriculture, Hunting, Fishing Total Juta USD 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0

2005 4,4 2,5 7,0 2,3 5,2

2006 5,0 3,0 7,7 2,3 5,1

Proyeksi 2007 4,9 2,6 7,8 2,1 5,9 2008 4,1 1,8 6,9 2,0 5,3

Grafik 1.3 Nilai Impor Non-Migas Indonesia
Juta USD Juta USD

8.000 7.000 6.000 5.000

Manufacturing Mining and Quarrying Agriculture, Hunting, Fishing Total

8.000 7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0

US Dollar Deposit Euro Deposit Yen Deposit Oil Price (USD) - rata-rata
3)

3,8 2,2 0,1 41,3

5,3 3,1 0,4 20,5

5,2 4,0 0,9 6,6

4,4 4,1 1,1 9,5

4.000 3.000 2.000 1.000 0 2006
Sumber: BI

Sumber: World Economic Outlook - IMF Oktober 2007 *) World Economic Outlook Update Projection - IMF January 2008

2007

10

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Tabel 1.2 Pangsa Ekspor Non-Migas Indonesia Per Negara
%

Grafik 1.5 Suku Bunga Internasional
% SIBOR ECB FFR LIBOR

Negara USA Canada Singapura Malaysia India Jepang China Korea Selatan Eropa
Sumber: BI

2003 14,61 0,80 10,46 4,80 3,53 14,44 5,64 3,74 18,31

2004 14,07 0,71 10,86 5,01 3,94 15,17 6,09 3,27 16,51

2005 14,00 0,70 10,60 4,92 4,34 14,76 6,01 4,03 16,24

2006

2007
6 5 4 3 2 1 0 2001

6 5 4 3 2 1 0

13,19 12,00 0,67 0,59 9,82 9,57 4,84 5,05 4,37 5,26 15,21 14,35 6,98 7,31 4,23 4,10 16,11 15,72

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

Sumber: Bloomberg

Grafik 1.4 Indeks Harga Beberapa Komoditas
500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 2000
Sumber: BI

Amerika Serikat. Disamping itu, sejumlah bank sentral negara lain juga melakukan hal yang sama. Berbagai
500

Minyak Timah Minyak Sawit Beras Aluminium

Tembaga Emas Kopi Karet

langkah yang ditempuh oleh the Fed dan sejumlah bank sentral negara lain tersebut cukup efektif meredam sentimen negatif yang beredar di pasar. Dampaknya, indeks bursa saham global yang sempat anjlok karena aksi

450 400 350 300 250 200 150 100 50 0

redemption, secara perlahan kembali menguat.
Grafik 1.6 Tingkat Bunga Riil Indonesia dan AS
% %

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

Relatif tetap tingginya nilai ekspor Indonesia terutama didukung oleh kenaikan harga-harga komoditas ekspor di pasar internasional, terutama minyak, CPO, timah dan karet. Selain itu, meningkatnya diversifikasi negara tujuan ekspor Indonesia ke negara-negara Asia khususnya ke China dan India ikut mendukung bertumbuhnya ekspor Indonesia. Peningkatan ekspor kepada dua negara ini cukup mampu mengkompensasi dampak perlambatan ekspor akibat permasalahan di perekonomian Amerika Serikat.

4 AS 2 0 -2 Indonesia -4 -6 -8 2005
Sumber: Bloomberg, BI, BPS

4 2 0 -2 -4 -6 -8 2006 2007

Grafik 1.7 Outlook Sovereign Rating Indonesia Standard & Poor»s
BBB+

Dalam upaya pemulihan ekonomi Amerika Serikat, the Fed melakukan penurunan suku bunga Fedfund rate ke level 4,25% pada Desember 2007 dan berlanjut menjadi 2,25% pada Maret 2008. Selain menurunkan suku bunga, the Fed juga melakukan liquidity injections dalam jumlah besar ke sistem perbankan dan pasar keuangan untuk mencegah semakin dalamnya potensi krisis ekonomi di

BBB BBB BB+ BB BB B+ B BB CCC+ SD SD Jul-92 Sep-94 Des-96 Feb-99 Apr-01 Jul-03

Stable Outlook

Sep-05

Nov-07

Sumber: Bloomberg

11

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Grafik 1.8 Outlook Sovereign Rating Indonesia Moody»s
BBB BBB BB+ BB BB B+ B BCCC+ Jun-97 Positive Outlook

Grafik 1.10 Komposisi Aliran Modal Masuk
% of Total Liabilities, BOP 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2004 2005 2006 2007 37 28 63 72 Direct investment (in Indonesia) Portfolio investment (Liabilities) 57 43 45

55

Des-98

Jun-00

Des-01

Jun-03

Nov-04

Mei-06

Nov-07
Sumber: BI

Sumber: Bloomberg

Grafik 1.9 Outlook Sovereign Rating Indonesia Fitch
Baa2 Baa3 Ba1 Ba2 Ba3 B1 B2 B3 Caa1 Mar-94 Stable Outlook 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 -5 -10 Jun-96 Okt-98 Jan-01 Mei-03 Ags-05 Nov-07
Sumber: BI

Grafik 1.11 Komposisi Aliran Modal Portfolio Asing
% of Total Liabilities, BOP 40 Bond & Note (Public) Others - SBI (Public) Equity Securities (Private) Debt Sec. (Private) 22 18

23 19 16 14 3 -2 2006 2007

15 11

6

6

3

-4 2004

-1 2005

Sumber: Bloomberg

Penurunan tajam Fedfund rate menyebabkan semakin tingginya interest rate differential suku bunga negara-negara
% 2,00

Grafik 1.12 Portfolio Investment Ratio

emerging market terhadap suku bunga Amerika Serikat.
Pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market yang relatif cukup kuat dan ekspektasi tingginya imbal hasil investasi menimbulkan sentimen positif kepada negaranegara emerging market termasuk Indonesia. Semakin tingginya tingkat bunga rill Indonesia dibandingkan Amerika

1,50

PI/CA PI/FDI PI/Int»l Reserve

2,18 1,63

1,04 1,00 0,80

0,94

0,50 0,10 0,00

0,28 0,03

0,24 0,03 Malaysia 0,12 Philippines

0,20

Serikat, membaiknya imbal hasil rupiah dan membaiknya
Sumber: BI

Thailand

Indonesia

outlook sovereign rating Indonesia dari lembaga-lembaga
rating internasional semakin mendorong masuknya aliran dana investasi asing ke Indonesia. Namun demikian, kekhawatiran terhadap kemungkinan masih akan terus meluasnya dampak krisis memilih investasi jangka pendek dalam bentuk portofolio aset-aset keuangan. Di Indonesia, pada tahun 2007, pangsa aliran modal portofolio dalam komponen aliran modal mencapai 55% sedangkan pangsa Foreign Direct Investment (FDI) sebesar 45%. Sementara pangsa investasi dalam SBI (money market) meningkat tajam menjadi 14%.

subprime mortgage menyebabkan para investor sangat
berhati-hati dalam melakukan investasi. Mereka cenderung

12

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Dalam skala regional, rasio portofolio di Indonesia baik terhadap Capital Account (CA), FDI, dan cadangan devisa lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Malaysia, meskipun lebih rendah daripada Filipina. Peningkatan ekspor dan terus masuknya aliran investasi portfolio ke Indonesia mendukung terjadinya surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2007 yang lebih tinggi dibandingkan 2006. Perbaikan kinerja NPI mendorong naiknya jumlah cadangan devisa menjadi USD56,92 miliar pada Desember 2007 atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Sejalan dengan surplus NPI, imbal hasil rupiah yang menarik dan faktor resiko yang terjaga, nilai tukar rupiah pada 2007 secara rata-rata menguat 0,29% dibandingkan
Grafik 1.13 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
IDR/USD 9.600 9.500 9.400 9.300 9.200 9.100 9.000 8.900 8.800 8.700 8.600 8.500
9.474 9.255 9.157 8.929 9.018 9.366 9.128 9.093 9.155 9.174 9.138 9.087 9.075 9.077 9.172 9.095 8.842 8.981 9.067 9.358 9.105 9.102 9.267 9.356
9.295 9.201 9.108 9.165 9.124 9.129 9.134 9.109 9.039 8.968

2006 sehingga menjadi sebesar Rp9.125 pada akhir tahun. Akan tetapi, dibandingkan nilai tukar mata uang beberapa negara lain, selama 2007 indeks nilai tukar rupiah paling rendah walaupun volatilitasnya masih dalam batas yang terkendali. Volatilitas nilai tukar yang terkendali dan konsistensi kebijakan moneter untuk menjaga kestabilan harga berdampak kepada perbaikan ekspektasi inflasi. Selama semester II 2007, laju inflasi bergerak terkendali. Secara keseluruhan tingkat inflasi tahun 2007 berada dalam batas yang ditargetkan oleh Bank Indonesia yaitu 6%±1%. Ekspektasi laju inflasi yang terkendali mendorong dilakukannya penurunan BI rate secara bertahap dan terukur hingga mencapai level 8,00% pada Desember 2007.
Grafik 1.15 Inflasi Indonesia dan BI-Rate
% %

IDR/USD 9.600
Rata-rata bulanan Rata-rata triwulanan Rata-rata tahunan Rata-rata semesteran
9.238 9.125 9.181 9.210

9.500 9.400 9.300 9.200 9.100 9.000 8.900 8.800 8.700 8.600 8.500

16

Inflasi (y-o-y)

16

12 BI-rate 8

12

8

4

4

0 2005
Sumber: BPS & BI

0 2006 2007

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2006 2007
Sumber: Bloomberg

Grafik 1.14 Nilai Tukar Mata Uang Dunia
1 Januari 2007 = 100 Indeks Indeks

Peningkatan ekspor dan peningkatan daya konsumsi yang didukung oleh terjaganya stabilitas makroekonomi, laju inflasi yang terkendali, serta penurunan suku bunga mendorong ekonomi Indonesia
115 110 105 100 95

115 110 105 100 95 90 85 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 2007
Ket: Peningkatan indeks = penguatan nilai tukar Sumber: Bloomberg

terus bertumbuh meskipun terhambat oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Secara keseluruhan, selama tahun 2007 pertumbuhan ekonomi mencapai 6,33%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,48%. Ke depan, risiko kerawanan sektor eksternal diperkirakan masih cukup tinggi. Hal ini dipengaruhi

SGD JPY

PHP IDR

KRW THB

EUR

90 85

13

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Tabel 1.3 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
% Indikator
GDP Growth (%) - Sisi Pengeluaran - Consumption - Investment (Gross Fixed Capital Form) - Exports - Imports
Sumber: BI

1.2. KONDISI SEKTOR RIIL
Fundamental ekonomi yang membaik menyebabkan penurunan BI rate secara bertahap diikuti oleh suku bunga
2007

2005 2006
5,60 5,48

2007 Tw I Tw II Tw III Tw IV
5,99 6,34 6,52 6,47

domestik lainnya. Dibandingkan akhir semester sebelumnya,
6,33

pada akhir semester II 2007 suku bunga Kredit Investasi (KI), Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Konsumsi (KK) turun masing-masing 98 bps, 88 bps dan 78 bps sehingga menjadi

4,41

3,91

4,57

4,60

5,43

6,92

5,41

9,93 8,60 12,35

2,91 9,16 7,57

7,82 8,95 8,45

6,96 9,78 7,29

8,83 7,78 8,15

9,75 9,14 9,64

8,37 8,00 8,38

sebesar 13,01%, 13,00% dan 16,13%. Meskipun penurunan BI rate masih ditransmisikan secara terbatas kepada suku bunga kredit yang tergambar dari masih relatif besarnya selisih antara suku bunga kredit (khususnya kredit

potensi terus meluasnya krisis subprime mortgage yang masih berlanjut terhadap perekonomian global melalui pasar keuangan, dan tekanan laju inflasi dari kenaikan harga minyak dunia dan makanan. Selain itu terdapat juga kekhawatiran akan terjadinya resesi ekonomi dunia yang dipicu oleh pelemahan ekonomi Amerika Serikat apabila paket stimulus ekonomi yang dipersiapkan pemerintahnya tidak cukup mampu menahan memburuknya kondisi ekonomi negara itu. Dengan pertimbangan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2008 yang pada Oktober 2007 diperkirakan oleh IMF akan tumbuh sebesar 4,8% mengalami koreksi pada Januari 2008 hingga turun

konsumsi) dengan suku bunga deposito, ekspektasi suku bunga rendah dan stabilitas makroekonomi yang terjaga memberikan sentimen positif yang mendorong keyakinan konsumen (demand) dan optimisme produsen (supply) terhadap perkembangan perekonomian ke depan.
Grafik 1.16 Perkembangan Suku Bunga Indonesia
% KK 15 KI KMK 10 BI-rate SBI 1 bln Dep Rp 1 bln 5 5 Tabungan 0 2005
Sumber: BI

%

15

10

menjadi 4,1%. Kondisi ini juga mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih rendah dari perkiraan awal, yaitu pada level 6,5% menurut perkiraan IMF. Angka ini sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia sebesar 6,2%-6,8%. Perkembangan makroekonomi tersebut di atas mempengaruhi ketahanan sektor keuangan. Hal ini antara
10 % 2005 2006

0 2006 2007

Grafik 1.17 Selisih antara Suku Bunga Kredit dengan Suku Bunga Deposito
% 2007 10 8 6 4 2 0

lain terlihat dari hasil macro stress test tentang risiko kredit
8

di industri perbankan (lihat Boks 2.1). Selain faktor-faktor
6

makroekonomi, ketahanan sektor keuangan juga dapat
4

dipengaruhi oleh utang luar negeri. Analisis mengenai
2

potensi tekanan dari sisi utang luar negeri ini disajikan
0

pada Boks 2.2.

Rata-rata

KMK

KI

KK

Sumber: BI

14

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Dari sisi demand, peningkatan keyakinan konsumen tercermin dari kecenderungan meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen yang berdampak kepada peningkatan konsumsi swasta. Hal ini antara lain dapat diamati dari peningkatan kredit konsumsi. Selain didorong oleh penurunan suku bunga, peningkatan konsumsi swasta tersebut juga didukung oleh peningkatan daya beli sebagian anggota masyarakat dan faktor musiman seperti perayaan hari-hari besar keagamaan dan tahun baru selama semester II 2007.
Grafik 1.18 Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen
Indeks 150,0
1

go public pada tahun 2007 relatif membaik dibandingkan
tahun sebelumnya. Hal ini antara lain terlihat dari kenaikan rentabilitas usaha (ROA dan ROE) dan penurunan leverage.
Grafik 1.20 Pertumbuhan ROA dan ROE
600 500 400 300 200 100 0 -100
Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4Tw 1 Tw 2 Tw 3

350 ROA (kiri) ROE (kanan) 300 250 200 150 100 50 0 -50 -100 2003 2004 2005 2006 2007

Sumber: BEI

125,0 Optimis 100,0 Pesimis 1,20 75,0 1,00 50,0 Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini Indeks Keyakinan Konsumen Indeks Ekspektasi Konsumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112

Grafik 1.21 Perkembangan Debt to Equity Ratio

0,80 0,60 0,40

25,0 2005
Sumber: BI

2006

2007

Grafik 1.19 Kredit Konsumsi
Outstanding Rp triliun 300 250 200 150 100 50 NPL (left axis) 0 2004
Sumber: BI

0,20 0,00 Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 2005 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 2006 2007

% 30 25 20 15 Growth (right axis) 10 5 0 2005 2006

Sumber: BEI

Kredit (left axis)

Namun demikian, peningkatan kinerja sektor korporasi tersebut belum diiringi oleh peningkatan ekspansi usaha yang memadai. Bahkan sebelum sektor korporasi berkembang lebih maju, berbagai gejolak di pasar keuangan seperti dampak krisis subprime mortgage serta kenaikan harga bahan bakar minyak dan komoditi pokok telah datang menghadang. Gejolak tersebut berpotensi menahan perkembangan kinerja sektor korporasi ke depan. Dalam kaitan ini, hasil estimasi

Sementara itu, dari sisi supply, sejalan dengan kondisi makroekonomi yang cukup mendukung maka kinerja keuangan korporasi khususnya perusahaan non-financial

probability of default (PD) perusahaan non financial go public di Indonesia menunjukkan bahwa jumlah

1 Survei Konsumen Desember 2007. Survei ini dilakukan secara rutin setiap bulan sejak Oktober 1999 oleh Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia.

perusahaan dengan PD di atas 0,5 diperkirakan meningkat

15

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

dari 21 perusahaan pada akhir Desember 2007 menjadi 22 perusahaan pada akhir Juni 2008. Hal ini mengindikasikan adanya potensi penurunan kinerja
Grafik 1.22 Probability of Default Perusahaan Non-Financial Go Public (Desember 2007)
Distribusi Forecast Probability of Default Desember 2007

Grafik 1.24 Probability of Default Perusahaan Non-Financial Go Public (Juni dan Desember 2007)
% Des-07 Jun-07 18,9 16,2 10,0 10,0 9,8 9,8 12,1 12,1 9,4 6,9 0,0 0,0 Agri Mining 9,4 6,9 7,1 7,1

178

Bsc Idty Misc Idty Cnsmr Gds Property Infrstrctr & Che

Trade, Invstmt

korporasi yang meningkatkan risiko kredit pada sektor riil ke depan. Sektor-sektor ekonomi yang diperkirakan
22 3 0 0 2 0 0 0 0

mengalami peningkatan PD adalah sektor Perdagangan, Jasa dan Investasi (Trade, Service and Investment), serta sektor Industri Lain-lain (Miscellaneous Industry). Selain menghadapi potensi peningkatan risiko kredit, perusahaan-perusahaan di sektor riil juga dapat terekspose risiko nilai tukar. Hasil stress test terhadap 47 perusahaan besar atau konglomerasi Indonesia menunjukkan bahwa

0,0-0,1 0,1-0,2 0,2-0,3 0,3-0,4 0,4-0,5 0,5-0,6 0,6-0,7 0,7-0,8 0,8-0,9 0,9-1,0

Grafik 1.23 Probability of Default Perusahaan Non-Financial Go Public (Juni 2008)
Distribusi Forecast Probability of Default Juni 2008

181

kinerja konglomerasi relatif tetap terjaga apabila rupiah melemah menjadi kisaran Rp9.500/USD. Namun, apabila nilai tukar Rupiah melemah menjadi Rp14.000/USD,
19 2 1 0 0 2 0 0 0

terdapat potensi terganggunya kinerja 1 konglomerasi sehingga permodalannya turun sebesar 100%. Meskipun

0,0-0,1 0,1-0,2 0,2-0,3 0,3-0,4 0,4-0,5 0,5-0,6 0,6-0,7 0,7-0,8 0,8-0,9 0,9-1,0

Tabel 1.4 Pengaruh Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Ekuitas Konglomerasi
Pengurangan Equity 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Jmlh Konglomerasi bermasalah Nilai Tukar Rupiah (IDR/USD) 9.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9.500 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10.000 6 1 0 0 0 0 0 0 0 0 7 10.500 11.000 6 6 1 0 0 0 0 0 0 0 13 8 1 5 1 0 0 0 0 0 0 15 11.500 12.000 7 5 4 2 1 0 0 0 0 0 19 8 6 0 5 1 1 0 0 0 0 21 12.500 13.000 13.500 14.000 8 5 2 1 4 1 1 0 0 0 22 7 3 5 0 1 4 1 1 0 0 22 6 3 4 2 0 2 3 1 1 0 22 3 5 2 5 0 1 3 1 1 1 22 25.000 0 0 0 1 2 2 3 0 0 14 22 35.000 0 0 0 0 0 0 2 0 0 20 22 45.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 22

16

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

secara umum konglomerasi tampaknya cukup tahan terhadap gejolak nilai tukar, namun mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik akhir-akhir ini, maka sangat diperlukan kehati-hatian mengingat cukup banyak konglomerasi yang memiliki rasio kewajiban neto valas terhadap modal lebih dari 25%.
Grafik 1.25 Kewajiban Neto Valas terhadap Equity
% 200 175 150 125 100 75 50 25 0 (25) (50) A C E G I K M O Q S U W Y AA AC AE AG AI AK AM AO AQ Rasio kewajiban neto valas thp equity > 25%

Secara umum, terbatasnya pertumbuhan investasi adalah karena sektor korporasi masih menghadapi berbagai hambatan dalam pengembangan usahanya, terutama masalah keterbatasan infrastruktur dan ketenagakerjaan. Belum tuntasnya penyelesaian permasalahan-permasalahan tersebut menyebabkan daya saing investasi Indonesia belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Menurut World Economic Forum East Asia (Juni 2007), secara rata-rata peringkat daya saing investasi Indonesia diantara negara-negara ASEAN hanya berada di atas Vietnam dan Filipina.
Tabel 1.5 Peringkat Daya Saing - World Economic Forum
Country Indonesia Malaysia Vietnam Thailand China Philippines Singapore GCI 2007- 2008 GCI 2006-2007 (of 131 countries) (of 122 countries) 54 21 68 28 34 71 7 54 19 64 28 35 75 8

Sementara itu, meskipun komponen investasi dalam struktur PDB menunjukkan pertumbuhan, namun pertumbuhan tersebut masih bersifat terbatas. Pertumbuhan lebih didorong oleh kemajuan di sektor non-

traded (pengangkutan, komunikasi, listrik, gas dan air serta
jasa dan keuangan). Sementara, sektor industri Di tengah-tengah tekanan risiko usaha yang makin tinggi, sektor korporasi cenderung untuk menjalankan usaha dengan menggunakan sumber dana internal dibandingkan dengan sumber dana eksternal seperti kredit perbankan. Meskipun terdapat tren penurunan suku bunga, alokasi kredit yang disediakan oleh bank belum dimanfaatkan dengan maksimal. Hal ini sekaligus dapat
Grafik 1.26 Pertumbuhan PDB Sektoral
(Growth, yoy) 16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 2005 Sumber: BI 2006 2007
Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Komunikasi Jasa-jasa Pertambangan & Penggalian Listrik, Gas dan Air Bersih Perdagangan, Hotel, dan Restoran Keuangan, Persewaan, dan Jasa

pengolahan yang diharapkan sebagai sektor utama pendorong pertumbuhan ekonomi karena mempunyai

multiplier effect yang besar kepada sektor ekonomi lain,
belum tumbuh tinggi, hanya sekitar 4,9%. Kondisi ini masih sama dengan semester sebelumnya.

menjelaskan mengapa penyaluran kredit oleh perbankan khususnya kredit investasi masih belum sesuai harapan. Kecenderungan pembiayaan korporasi dengan sumber dana internal tersebut dapat diamati dari relatif tingginya rasio modal sendiri terhadap total aset pada perusahaan yang go public. Pada satu sisi, kecenderungan pembiayaan menggunakan dana internal menunjukkan semakin membaiknya kondisi keuangan korporasi karena sudah

17

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Grafik 1.27 Pembiayaan Korporasi Tbk dan Ekspansinya (Pertumbuhan Aset)
1,0 0,8 0,6 0,4 0,2 0,0 -0,2
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
Sumber: BEI

khususnya sektor investasi. Di tengah-tengah derasnya aliran dana masuk ke Indonesia, rasio hutang terhadap
1,0

modal (debt-to-equity ratio) perusahaan-perusahaan non

Pertumbuhan Aset (kiri) Pembiayaan dengan Modal Sendiri (kanan)

0,8 0,6 0,4 0,2 0,0 -0,2

financial go public malah cenderung menurun. Hal ini
menunjukkan aliran dana yang masuk belum terserap ke sektor korporasi, khususnya yang telah go public.
Grafik 1.29 Perkembangan DER dan TL/TA
1,20 1,00 1,20 1,00 0,80 0,60 0,40
Debt Equity Ratio Total Liabilies/Total Assets

Grafik 1.28 Tingkat Pengangguran di Indonesia
%

0,80 0,60 0,40 0,20 0,00
Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4

12 10 8 6

0,20 0,00

2005
Sumber: BEI

2006

2007

4 2 0 2001
Sumber: BPS

Ke depan, tantangan di sektor rill diperkirakan cukup
2002 2003 2004 2005 Feb-06 Ags-06 Feb-07 Ags-07

tinggi terkait potensi kenaikan inflasi dan pengaruh perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Agar perekonomian dapat tumbuh lebih kuat diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk mengatasi kendalakendala yang ada di sektor riil. Sejalan dengan itu, sektor Mikro, Kecil dan Menengah (MKM) yang terbukti telah mampu bertahan dalam kondisi krisis perlu lebih ditingkatkan perannya dalam perekonomian. Dengan demikian perbaikan kondisi makroekonomi akan dapat benar-benar diikuti oleh membaiknya perkembangan di sektor riil sehingga akan meningkatkan ketahanan perekonomian dan sektor keuangan domestik terhadap vulnerabilitas sektor eksternal.

tidak lagi tergantung pada pembiayaan dari hutang. Namun pada sisi lain, kecenderungan tersebut berpotensi menghambat korporasi untuk melakukan ekspansi usaha secara penuh mengingat terbatasnya dana internal. Apabila kondisi ini berlanjut maka ketersediaan lapangan pekerjaan baru akan menjadi semakin terbatas sehingga menyulitkan upaya penurunan tingkat pengangguran yang masih tergolong tinggi. Sementara itu, aliran dana dari luar negeri (capital

inflows) yang umumnya berupa portfolio aset-aset finansial
belum banyak membantu pembiayaan di sektor rill,

18

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Boks 1.1 Macroeconomic Stress Test

Untuk

mengetahui

dampak

kondisi

TL IHSG GDP INF

= Total Loans = Indeks Harga Saham Gabungan = Produk Domestik Bruto = Inflasi

makroekonomi terhadap risiko kredit perbankan dilakukan macroeconomic stress test yang diestimasi dengan menggunakan fixed-effect panel model . Adapun model yang dikembangkan adalah model regresi linear berdasarkan General Unrestricted Model sebagai berikut:

XRATE = Nilai Tukar Menggunakan data dari 15 bank besar di

Yit = αi + δt +
dimana:
Yit Xit

j=1

ΣγY
i

k

it - j

+

m=0

Σβ X
i

n

Indonesia dari Desember 1995 s.d. Mei 2005, hasil
it - m +

εit

stress test menunjukkan bahwa perubahan risiko kredit, terutama variable LLP/TL, secara signifikan dipengaruhi oleh perubahan indikator makroekonomi seperti M2 dan inflasi. Hal ini berarti secara umum

: risiko kredit (LLP/TL dan NPL/TL) : variabel makroekonomi (GDP, EXRATE) Harga Premium, Harga Solar, M1, M2, IHSG, INF,

shock yang ditimbulkan oleh faktor makroekonomi
meningkatkan risiko kredit pada bank. Oleh karena itu, setiap perkembangan yang terjadi dalam lingkungan makroekonomi baik domestik maupun internasional sangat perlu dipantau dan diantisipasi dengan cermat oleh para pihak yang terlibat di sektor keuangan. Kegagalan dalam memonitor dan mengantisipasi perkembangan makroekonomi dapat membahayakan industri perbankan dan sistem keuangan secara keseluruhan.

ai eit t LLP M1 NPL M2

: efek individu dari setiap bank : residual, dimana et~N(0, σ ) : periode = Loan Loss Provisions = Narrow Money = Non Performing Loans = Broad Money
2

19

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Boks 1.2 Potensi Tekanan Dari Utang Luar Negeri

Salah satu aspek penting yang perlu dicermati terkait dengan perkembangan makroekonomi adalah potensi tekanan dari utang luar negeri (ULN). Sampai dengan Desember 2007 ULN Indonesia mencapai US$136,6 miliar yang didominasi oleh Pemerintah (51,0%), diikuti Swasta & lain-lain (49%).
Grafik Boks 1.2.1 Utang Luar Negeri
Juta USD 90.000 80.000 70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Pemerintah Swasta Lain-lain

Namun demikian, kewaspadaan perlu lebih ditingkatkan mengingat terdapat beberapa tanda peningkatan potensi tekanan dari sisi ULN. Pertama, jumlah ULN terus meningkat. Dibandingkan dengan posisi tahun 2006 terdapat kenaikan ULN sebesar 7%. Peningkatan tersebut juga terjadi pada ULN jangka pendek, yaitu dari USD16,5 miliar menjadi USD23,1 miliar atau naik 40,2%. Akibatnya, rasio ULN jangka pendek terhadap total ULN meningkat dari 13% menjadi 17%. Kedua, rasio ULN jangka pendek terhadap cadangan devisa juga meningkat, yaitu dari 38,7% (akhir 2006) menjadi 40,6% (akhir 2007). Selain itu, laju peningkatan cadangan devisa lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan ULN jangka pendek. Perkembangan ULN tersebut sangat penting untuk dicermati dampaknya terhadap ketahanan sektor keuangan mengingat ULN atau modal asing yang masuk banyak yang ditempatkan dalam SBI dan SUN, dan cenderung terus meningkat. Pada akhir 2007 jumlah SBI dan SUN yang dimiliki asing tercatat sebesar USD11,3 miliar atau meningkat USD3,2 miliar (39,3%) dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Tekanan terhadap ketahanan sektor keuangan dapat muncul apabila modal asing yang ditempatkan pada

Secara umum, sustainability ULN Indonesia terlihat masih baik. Hal ini antara lain terlihat dari indikatorindikator seperti external debt to GDP ratio, external

debt to export ratio dan debt service ratio (DSR). Ketiga
rasio tersebut pada tahun 2007 berada pada posisi yang lebih rendah dari nilai benchmark yang ditetapkan oleh World Bank sehingga dapat dikatakan berada pada level yang cukup aman.
Grafik Boks 1.2.2 Indikator Debt Burden Indonesia
% 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1997 1998 1999 2005 2006 2007 0 100 150 ED / EXPORT (RHS) ED / GDP (RHS) DSR (LHS) ST ED / RESERVE (LHS) % 300 250 200

domestic securities tersebut tiba-tiba mengalir keluar
Grafik Boks 1.2.3 Rencana Pembayaran ULN Indonesia
Juta USD 2.800 Pemerintah (lhs) 2.400 2.000 1.600 1.200 800 Swasta (lhs) Total (rhs) Juta USD 5.000 4.500 4.000 3.500 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 500 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul 2008 Ags Sep Okt Nov Des

50

400 0

Sumber : Dint/PPLN

20

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

secara serentak (sudden reversal). Di samping itu, tekanan juga dapat timbul karena cukup besarnya angka rencana pembayaran ULN. Untuk tahun 2008, rencana pembayaran tersebut mencapai USD23,7 miliar, terdiri dari pembayaran ULN Pemerintah sebesar USD9,1 miliar (38,3%) dan pembayaran ULN swasta

sebesar USD14,6 miliar (61,7%). Dengan demikian, pihak Pemerintah dan swasta perlu mengupayakan agar ULN tersebut dapat dilunasi pada waktunya sehingga tidak menimbulkan reputational risk dan tidak meningkatkan country risk Indonesia di mata dunia internasional.

21

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Halaman ini sengaja dikosongkan

22

Bab 2 Sektor Keuangan

Bab 2 Sektor Keuangan

23

Bab 2 Sektor Keuangan

Halaman ini sengaja dikosongkan

24

Bab 2 Sektor Keuangan

Bab 2

Sektor Keuangan

Pada semester II 2007 sektor keuangan Indonesia masih tetap terpelihara stabilitasnya, khususnya pada sektor perbankan yang mampu menyerap gejolak volatilitas yang relatif tinggi di pasar surat utang pemerintah. Industri perbankan yang mendominasi sektor keuangan terus menunjukkan kinerja yang menggembirakan dengan laju pertumbuhan kredit yang tinggi meskipun komposisi kredit untuk tujuan produktif masih perlu ditingkatkan. Kualitas kredit membaik, tercermin dari rasio NPL gross posisi akhir Desember 2007 yang untuk pertama kalinya sejak krisis berada di bawah 5%. Perbankan tetap likuid dengan manajemen risiko yang semakin baik dalam menghadapi gejolak pasar, yang disertai dengan profitabilitas dan permodalan yang memadai.

2.1. STRUKTUR SISTEM KEUANGAN INDONESIA
Dibandingkan dengan KSK edisi sebelumnya, struktur sistem keuangan Indonesia tidak banyak mengalami perubahan. Sistem keuangan masih terdiri dari bank umum dan BPR, serta industri keuangan non-bank, yaitu asuransi, dana pensiun, perusahaan pembiayaan, sekuritas dan pegadaian. Data menunjukkan bahwa perbankan masih tetap mendominasi, namun dengan pangsa yang cenderung menurun menjadi sekitar 79% dari total aset seluruh sistem keuangan. Selain itu, industri perbankan juga masih didominasi oleh 15 bank besar dengan pangsa mencapai sekitar 70% dari total aset perbankan. Selain perbankan, penurunan pangsa cukup besar juga terjadi pada perusahaan pembiayaan. Sementara itu, pangsa total aset perusahaan sekuritas menunjukkan
2006 1,1%

Grafik 2.1 Aset Lembaga Keuangan
% total aset sektor keuangan 2005 0,3% 3,5% 5,3% 1,0%

7,3%

81,5% Bank Umum Komersial Perusahaan Asuransi PerusahaanPembiayaan Pegadaian Bank Perkreditan Rakyat Dana Pensiun Persahaan Sekuritas

3,2% 8,2% 1,1%

4,6%

3,7% 0,3%

79,0%
Sumber: BI dan sumber lainnya

25

Bab 2 Sektor Keuangan

kenaikan cukup signifikan, diikuti oleh perusahaan asuransi yang juga mengalami sedikit kenaikan pangsa. Secara agregat, total dana yang dikelola oleh sektor keuangan mencapai sekitar 64% dari total PDB Indonesia.
2Ω

seperti dari giro dan tabungan, dalam rangka efisiensi biaya. Tingginya pertumbuhan tabungan pada periode laporan tidak terlepas dari maraknya berbagai macam inovasi untuk produk tabungan, seperti kemudahan tabungan sebagai alat pembayaran (debit card) dan produk

2.2. PERBANKAN 2.2.1. Pendanaan dan Risiko Likuiditas

tabungan berjangka dengan bunga yang lebih tinggi.
Grafik 2.3 Pertumbuhan DPK per Komponen (mtm)
% 12 Semester I 9 Tabungan 6 3 Giro Semester II

Perkembangan Dana Pihak Ketiga
Sepanjang semester II 2007 dana pihak ketiga (DPK) sebagai sumber dana utama perbankan terus meningkat. Pada akhir 2007, total DPK industri perbankan mencapai Rp1.510,7 triliun atau dalam satu semester meningkat sebesar Rp157,0 triliun (11,60%). Namun demikian, perkembangan tersebut tidak lagi diwarnai preferensi penempatan dana dalam valuta asing seperti yang terjadi pada semester sebelumnya. Selama semester laporan, DPK rupiah tumbuh 13,62% sedangkan DPK valas hanya tumbuh 1,36%.
Grafik 2.2 Pertumbuhan DPK per Valuta (mtm)
% 9 Semester I 6 3 DPK Rupiah

Deposito

0

-3 2006 Juni 2007 2007

Sementara itu, pertumbuhan deposito yang rendah tampaknya terkait dengan semakin menurunnya suku bunga deposito seiring dengan turunnya BI rate. Karena imbal hasil deposito yang cenderung menurun, nasabah memilih alternatif investasi lain yang lebih

menguntungkan, salah satunya dengan melakukan penanaman dalam reksa dana. Akibatnya, selama semester II 2007 NAB reksa dana tumbuh pesat yaitu sebesar 36,4%.

0 -3 DPK valas -6 2006 Juni 2007 2007 Semester II

Kecukupan Likuiditas
Kondisi likuiditas perbankan selama semester II 2007 cukup terkendali. Perbankan memiliki ketahanan likuiditas

Meskipun deposito masih memegang pangsa terbesar dari total DPK, namun pertumbuhannya pada semester II 2007 justru lebih kecil dibandingkan dengan giro dan tabungan. Giro dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 9,25% dan 23,69%, namun deposito hanya tumbuh 6,15%. Perkembangan tersebut sejalan dengan strategi bank untuk menggali sumber dana murah,
2 PDB nominal harga berlaku

yang cukup baik, tercermin dari tingginya rasio antara jumlah alat likuid3Ω terhadap jumlah non core deposit (NCD)4Ω. Pertumbuhan alat likuid perbankan yang lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan kewajiban jangka pendek menyebabkan rasio alat likuid laporan meningkat dari sebesar 138,9% pada akhir semester
3 Alat likuid terdiri dari kas dan penempatan pada BI (giro BI, SBI dan Fasbi) 4 Asumsi non core deposit (NCD) adalah 30% giro dan tabungan + 10% deposito jangka waktu s.d 3 bulan

26

Bab 2 Sektor Keuangan

sebelumnya menjadi sebesar 147,7% per akhir semester laporan.
Grafik 2.4 Rasio Alat Likuid Perbankan
Rp triliun 480 400 320 240 160 80 0 Des'06 Jun '07 Alat Likuid NCD Sept'07 Des '07 Alat Likuid/NCD 60 120 % 180

mencapai angka 21% pada minggu kedua September akibat cukup besarnya kontraksi likuiditas pada saat yang bersamaan, yang sebagian besar untuk settlement Obligasi Retail Indonesia (ORI) dan pembayaran pajak. Namun dengan pengelolaan likuiditas yang cukup baik, antara lain melalui pemanfaatan fasilitas SBI Repo, kondisi tersebut tidak menimbulkan permasalahan likuiditas di industri perbankan.
Grafik 2.5 Suku Bunga Rata-rata PUAB O / N
% 16

12

PUAB sore

PUAB pagi

Namun demikian, preferensi penempatan alat likuid perbankan pada instrumen yang bersifat likuid dan berisiko

8 PUAB Va LN 4 PUAB Va DN

rendah seperti SBI dan Fasbi masih menunjukkan peningkatan. Pada akhir semester II 2007, penempatan perbankan pada SBI dan Fasbi mencapai Rp250,70 triliun, atau naik 11,86% dalam tempo 6 bulan. Dengan imbal hasil yang cukup tinggi dan risiko yang rendah, penempatan likuiditas pada SBI dan Fasbi sangat menguntungkan sekaligus membantu manajemen likuiditas mengingat DPK sebagai sumber dana utama perbankan masih terkonsentrasi pada dana jangka pendek yang rentan terhadap penarikan secara tiba-tiba. Pada akhir semester laporan, konsentrasi dana jangka pendek pada DPK mencapai 93,3%. Angka ini berpotensi meningkat apabila bank terus menerapkan strategi menggali sumber dana murah. Sementara itu, tingkat suku bunga PUAB terendah sempat mencapai kurang dari 1% pada pertengahan Oktober. Hal ini antara lain karena transaksi keuangan belum sepenuhnya aktif setelah libur hari raya Idul Fitri, tercermin dari penurunan volume transaksi PUAB rupiah yang mencapai 70% dari pekan sebelumnya. Selain itu, tidak dibukanya window Fasbi pada libur hari raya mengakibatkan supply likuiditas yang berasal dari Fasbi dan SBI jatuh waktu tidak dapat terserap kembali sehingga menambah likuiditas pasar.
0 Jan'07 Mar'07 Mei'07 Juli'07 Sep'07 Nov'07

2.2.2. Perkembangan dan Risiko Kredit

Pasar Uang Antar Bank (PUAB)
Kondisi Pasar Uang Antar Bank (PUAB) sepanjang semester II 2007 cukup stabil meskipun dengan tingkat bunga yang berfluktuasi yang disebabkan adanya segmentasi di pasar PUAB. Tercatat suku bunga PUAB

Perkembangan Kredit
Membaiknya kondisi ekonomi, terutama rendahnya suku bunga dan didukung dengan berbagai kebijakan untuk mendorong intermediasi sepanjang 2007, menunjukkan hasil sangat menggembirakan pada periode laporan. Selama semester II 2007 kredit perbankan

overnight (O/N) tertinggi selama semester II 2007 pernah

27

Bab 2 Sektor Keuangan

meningkat sangat signifikan (Rp141,5 triliun atau 15,7%) dibandingkan periode sebelumnya (Rp 71,1 triliun atau 8,5%) sehingga total pertumbuhan kredit sepanjang 2007 mencapai 25,5%, melebihi target 22%. Secara umum, perbankan lebih menekankan penyaluran kredit pada jenis dengan risiko yang lebih terkendali meskipun beberapa jenis kredit dengan risiko lebih tinggi, seperti kredit pada sektor Industri dan kredit
0% 100% 80%

Grafik 2.7 Komposisi Aktiva Produktif

10,1% 20,8% 13,7% Kredit BI SSB ABA

7,8% 19,5% 14,0%

60% 40% 20% 55,1%

58,4%

dalam valas, tercatat meningkat cukup besar. Namun demikian, peningkatan kredit ini lebih selektif dibandingkan era sebelum krisis terutama karena telah diterapkannya manajemen risiko yang lebih baik oleh perbankan. Preferensi risiko yang lebih terkendali tercermin antara lain dari besarnya peningkatan kredit dalam bentuk modal kerja dan konsumsi dibanding jenis kredit investasi, dan kecenderungan penyaluran kredit kepada debiturdebitur lama dibanding dengan debitur-debitur baru. Sejalan dengan perkembangan tersebut, pangsa kredit dalam aktiva perbankan mengalami peningkatan. Sementara itu, rendahnya suku bunga tidak menyurutkan minat masyarakat untuk menyimpan dananya di perbankan, tercermin dari meningkatnya DPK
Rp triliun

Jun-07

Des-07

Kredit perbankan dalam valuta asing terus meningkat sejalan dengan kenaikan kegiatan ekspor dan impor serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD sebesar Rp590/USD. Kenaikan mencapai 21,8% atau 27% dari total kenaikan kredit perbankan selama periode laporan. Namun demikian, pangsa kredit valas dalam total kredit perbankan relatif stabil pada kisaran 20% (akhir Desember 2007 sebesar 21,0%). Dari sisi risiko, perkembangan kredit valuta asing ini belum mengkhawatirkan karena pangsanya relatif kecil.

Grafik 2.8 Perkembangan Kredit valas
% 40,0 Nominal (kiri) YOY YTD 35,0 30,0 25,0 20,0 160,0 140,0 120,0 100,0 15,0 10,0 5,0 0,0 -5,0 -10,0 2005 Juni 2006 Juni 2007 Juni Des 220,0 200,0 180,0

perbankan yaitu sebesar Rp157,0 triliun (11,60%). Peningkatan tersebut masih lebih rendah daripada peningkatan kredit sehingga loan-to-deposit ratio (LDR) pada akhir Desember 2007 mencapai 69,2% atau lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2007 sebesar 66,8%.
Grafik 2.6 Pertumbuhan Kredit
% 30,0 25,0 20,0 15,0 10,0 5,0 0,0 -5,0 2006

Kredit Modal Kerja (KMK) merupakan jenis kredit dengan kenaikan kredit terbesar dan pertumbuhan tertinggi sepanjang paruh kedua tahun 2007. KMK menyumbang 62,5% dari total kenaikan kredit sepanjang semester laporan atau tumbuh 28,6% (yoy). Kenaikan
Juni 2007 Juni Des

tersebut diikuti oleh Kredit Konsumsi (KK) yang

28

Bab 2 Sektor Keuangan

menyumbang 23,6% dari total kenaikan kredit atau tumbuh 24,6% (yoy).
Grafik 2.9 Pertumbuhan Kredit Jenis Penggunaan
35,0 30,0 25,0 20,0 15,0 10,0 5,0 0,0 -5,0 -10,0 2006 Jun 2007 Jun Des line = YOY bar = YTD KMK KI KK

Grafik 2.10 Perkembangan Kredit Sektor Ekonomi
Rp triliun 300,0 280,0 260,0 240,0 220,0 200,0 180,0 160,0 140,0 120,0 2006 Jun 2007 Jun Des Lain-lain Industri Perdagangan Gabungan

total kenaikan kredit perbankan pada periode laporan atau tumbuh 32,7% yoy. Hal ini kemudian diikuti oleh sektor

Dengan perkembangan tersebut, pangsa kredit tetap didominasi oleh KMK yaitu sebesar 53,3% dari total kredit perbankan, diikuti oleh KK dengan pangsa sebesar 28,2%, sedangkan sisanya dalam bentuk Kredit Investasi (KI). Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, besarnya pangsa penyaluran kredit pada jenis KMK dan KK mencerminkan preferensi bank untuk menyalurkan kredit pada jenis dengan risiko kredit yang lebih terkendali. Hal ini karena KMK umumnya berupa kredit berjangka pendek dalam jumlah yang relatif cukup besar yang diberikan pada debitur-debitur lama yang telah dikenal perbankan, sementara KK biasanya mencakup fasilitas kredit yang relatif lebih kecil dengan debitur mayoritas rumah tangga. Perbankan memilih berkonsentrasi pada KMK dan KK karena dapat membantu memitigasi mismatch sumber dana yang dominan berjangka pendek. Namun demikian, ke depan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi maka proporsi kredit untuk tujuan produktif (kredit investasi dan modal kerja) perlu lebih ditingkatkan. Preferensi memilih risiko yang lebih terkendali juga tercermin dari perkembangan kredit berdasarkan sektor ekonomi. Sektor Perdagangan yang umumnya jenis kredit modal kerja, naik paling besar yaitu mencapai 24,6% dari

Lain-lain yang umumnya kredit konsumsi dengan kenaikan mencapai 23,4% (tumbuh 24,7% yoy). Dengan perkembangan tersebut, pangsa kredit Sektor Perdagangan sudah mencapai 21,6% dari total kredit perbankan dan telah melampaui pangsa kredit Sektor Industri sebesar 20,5%. Pilihan kredit dengan risiko yang terkendali juga tercermin pada perkembangan kredit Mikro, Kecil dan Menengah (MKM) yang periode laporan meningkat sebesar Rp60,0 triliun (tumbuh 22,5% yoy). Dengan peningkatan tersebut, kredit MKM menyumbang 40,7% dari total kenaikan kredit perbankan periode laporan sehingga totalnya mencapai 50,2% dari total kredit perbankan. Diperkirakan pada semester I 2008, kredit tumbuh tidak sebesar periode laporan, namun tetap akan lebih besar dibandingkan semester I tahun 2007. Hal ini dikarenakan cukup besarnya fasilitas kredit yang belum ditarik nasabah (undisbursed loans) sampai dengan akhir tahun 2007. Selama semester laporan jumlah undisbursed

loans (UL) perbankan naik sebesar Rp32,7 triliun atau
18,6% sehingga pada akhir Desember 2007 mencapai angka sebesar Rp208,3 triliun. Secara persentase, total UL pada akhir tahun tersebut mencapai 20,7% dari total kredit perbankan, atau relatif stabil paska krisis dengan kisaran 20%-21%.

29

Bab 2 Sektor Keuangan

Grafik 2.11 Perkembangan UL
Rp triliun 220 210 200 190 180 850 170 160 150 140 2006 Jun 2007 Jun Des 800 750 UL (kiri) Kredit Rp triliun 1050 1000 950 900

turunnya nominal NPL menyebabkan penurunan pembentukan penyisihan penghapusan kredit sebesar Rp2,1 triliun atau 4,8%. Setelah memperhitungkan pembentukan penyisihan ini, rasio NPL Net turun dari 2,9% menjadi 1,9%, juga menjadi rasio terendah paska krisis.
Grafik 2.12 Non Performing Loan
% 11 10 9 8 7 NPL Gross Rp triliun 75 70 65 60 55 50 NPL Nominal NPL Net 45 40 35 30 25 2004 2005 2006 2007 Des

700

Risiko Kredit
Membaiknya kondisi makroekonomi sangat membantu proses restrukturisasi kredit perbankan, sehingga untuk pertamakalinya sejak paska krisis rasio NPL

6 5 4 3 2 1 2003

gross berada di bawah 5%. Hal ini juga seiring dengan
semakin efektifnya pelaksanaan manajemen risiko oleh perbankan serta sebagai dampak dari berbagai kebijakan
22,0 Rp triliun 20,0 18,0 16,0 14,0 12,0 10,0 8,0 6,0 4,0 2,0 2006 Jun 2007 Jun Des Macet (kanan) Diragukan (kiri) Kurang Lancar (kiri) Total NPL

Grafik 2.13 Nominal NPL
Rp triliun 75,0 70,0 65,0 60,0 55,0 50,0 45,0 40,0 35,0 30,0

yang dikeluarkan Bank Indonesia dan Pemerintah yang kondusif bagi perbaikan kualitas kredit perbankan. Perbaikan kredit bermasalah terutama terdapat pada bankbank besar milik Pemerintah sehingga tekanan risiko pada sistem keuangan mengalami penurunan. Selama semester II 2007 total kredit bermasalah menurun sebesar Rp9,0 triliun atau 15,5% dibandingkan periode sebelumnya yang hanya turun Rp0,6 triliun atau 1,0% sehingga nominal NPL turun menjadi Rp48,6 triliun. Semua kredit pembentuk NPL (kategori Kurang Lancar, Diragukan dan Macet) mengalami penurunan masingmasing 30,2%, 34,5% dan 10,3%. Sementara itu, kredit dengan kategori Dalam Perhatikan Khusus juga ikut membaik dengan turunnya nominal sebesar 6,6% dibandingkan posisi akhir Juni 2007. Membaiknya kualitas kredit tersebut menjadi semakin terlihat positif dengan meningkatnya kredit perbankan sebesar Rp141,7 triliun atau 15,7% selama semester laporan, sehingga rasio NPL Gross turun dari 6,4% menjadi 4,6%. Pada sisi lain,

Berkurangnya kredit bermasalah pada kelompok bank-bank besar berperan mengurangi tekanan terhadap ketahanan sistem keuangan. Selama semester II 2007, nominal NPL kelompok bank ini turun cukup besar (Rp8,5 triliun atau 18,5%) dan diikuti dengan peningkatan kredit yang cukup besar. Akibatnya, rasio NPL gross kelompok bank ini turun dari 7,4% menjadi 5,2%. Penurunan NPL bank-bank besar tersebut lebih banyak terjadi karena restrukturisasi dan hapus buku pada bank-bank BUMN. Namun demikian, terdapat peningkatan kredit non-lancar pada kelompok kantor cabang bank asing sebesar Rp0,5 triliun atau 14,3%, sehingga rasio NPL gross mereka untuk

30

Bab 2 Sektor Keuangan

pertama kalinya menyamai rasio NPL gross kelompok bank besar yaitu sebesar 5,2%.
Grafik 2.14 Perkembangan Nominal NPL
Rp miliar

ketat agar jangan sampai memburuk kualitasnya karena dapat menimbulkan gangguan terhadap ketahanan sektor keuangan. Sementara itu, perbaikan kualitas kredit juga terjadi pada Sektor Perdagangan sebagai sektor dengan pangsa nominal NPL kedua terbesar. Nominal NPL sektor ini turun sebesar Rp2,2 triliun atau 19,6%, sehingga rasio

Asing

NPL grossnya turun dari 6,1% menjadi 4,1%.
Campuran Bank Kecil Bank Menengah
Rp triliun

Grafik 2.16 Perkembangan Nominal NPL Sektor Ekonomi

Bank Besar -10000 -8000 -6000 -4000 -2000 0 2000

Lain-lain Jasa Sosial Jasa Dunia Usaha Pengangkutan

Grafik 2.15 Perkembangan NPL Gross Kelompok Bank
% 9,0 8,4 7,4 Des 06 Jun-07 Des-07 5,2 3,8 4,0 3,2 3,0 4,0 3,3 3,1 2,2 3,0 1,8 3,6 5,1 5,2

Perdagangan Konstruksi Listrik Industri Pertambangan Pertanian -5,0 -4,0 -3,0 -2,0 -1,0 0,0 1,0

6,0

Dapat ditambahkan bahwa pada semester laporan dari seluruh sektor ekonomi, hanya penyaluran kredit kepada Sektor Pertambangan saja yang sedikit mengalami penurunan kualitas, sedangkan sembilan sektor lainnya

0,0 Besar Menengah Kecil Campuran Asing

menunjukkan perbaikan. Dari segi stabilitas sistem Dua sektor ekonomi dengan nominal NPL terbesar, yaitu Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Perdagangan, mengalami perbaikan kualitas kredit yang cukup menggembirakan. Membaiknya kondisi makroekonomi selama semester laporan dan turunnya BI rate sebesar 50 bps dibandingkan periode laporan sebelumnya berdampak positif pada outlook debitur pada saat restrukturisasi.
%

keuangan dan pelaksanaan fungsi intermediasi perbankan hal ini sangat menggembirakan. Ke depan, kemajuan ini perlu dipertahankan sambil terus mengupayakan perbaikan kualitas kredit kepada Sektor Pertambangan.
Grafik 2.17 Pangsa NPL Menurut Sektor Ekonomi

Akibatnya, nominal NPL Sektor Industri Pengolahan turun cukup besar yaitu sebesar Rp4,0 triliun atau 21,7% sehingga rasio NPL grossnya turun dari 10,0% menjadi 7,10%. Akan tetapi, data menunjukkan bahwa Sektor Industri Pengolahan masih mendominasi pangsa NPL yaitu sebesar 35,3% dari total NPL perbankan. Dengan demikian, penyaluran kredit kepada sektor ini perlu monitoring yang

100 Gabungan Lainnya 80 60 40 Industri 20 0 2000 2001 2002 Pertanian 2003 2004 2005 2006 2007 Des Jasa Dunia Usaha Perdagangan

Gabungan Lainnya = Pertambangan, Listrik, Jasa Sosial, Konstruksi, Pengangkutan

31

Bab 2 Sektor Keuangan

Dari segi jenis penggunaan, kualitas kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI) mengalami perbaikan cukup besar. Membaiknya kualitas kredit Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Perdagangan tersebut di atas, secara tidak langsung juga memperbaiki kualitas KMK sebagai jenis kredit dengan pangsa NPL terbesar dalam total NPL perbankan. Secara nominal NPL KMK turun sebesar Rp6,1 triliun atau 23,3% sehingga rasio NPL gross kredit ini turun dari 5,8% menjadi 3,7%. Sejalan dengan kemajuan tersebut, pangsa NPL KMK dalam total NPL perbankan turun dari 52,1% menjadi 48,8%. Sementara itu, NPL KI juga mengalami perbaikan tercermin dari penurunan nominal sekitar Rp2,9 triliun atau 19,1% sehingga rasio NPL grossnya turun dari 9,1% menjadi 6,6%. Dalam kaitan ini, pangsa nominal NPL KI tercatat mencapai 30,0% dari total NPL perbankan pada akhir

Mengingat pangsa NPL KMK dan KI dalam total NPL perbankan masih tergolong sangat besar, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa monitoring yang ketat sangat diperlukan dalam menjaga agar perkembangan tersebut tidak membahayakan ketahanan perbankan. Alasan lain pentingnya monitoring yang ketat adalah kenyataan bahwa kredit seperti KI biasanya ditujukan kepada debitur korporasi, berjangka panjang dan dengan jumlah fasilitas cukup besar serta sering dalam bentuk valas sehingga debitur juga menjadi terekspose risiko nilai tukar yang dapat menambah potensi default kreditnya.
Grafik 2.20 Perkembangan NPL Gross
% 22,0 % 4,0 Konsumsi (kanan) 3,5 17,0 Investasi (kiri)

semester II 2007.
12,0

3,0 2,5

Grafik 2.18 Perkembangan NPL Kredit Jenis Penggunaan
Rp triliun

7,0 Modal Kerja (kiri) 2,0 2002

2,0 1,5

2003

2004

2005

2006

2007

Des

Konsumsi

Kelompok terakhir kredit berdasarkan jenis penggunaannya adalah kredit konsumsi (KK). Selama

Investasi

semester laporan, jenis kredit ini mengalami sedikit perbaikan kualitas ditandai dengan turunnya nominal NPL

Modal Kerja

sebesar Rp0,01 triliun atau 0,1%, sehingga rasio NPL gross
-7,0 -6,0 -5,0 -4,0 -3,0 -2,0 -1,0 0,0

KK menurun dari 3,5% menjadi 3,1%. Kecilnya perbaikan kualitas mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi sektor rumah tangga masih belum menggembirakan terutama dari segi pendapatan. Pada sisi lain, hal ini juga dapat diartikan bahwa sektor rumah tangga belum mampu mengelola pendapatannya dengan baik. Secara umum, terdapat 3 komponen kredit konsumsi yang perlu diperhatikan, yaitu kartu kredit, kredit

Grafik 2.19 Pangsa NPL Menurut Jenis Penggunaan Kredit
100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2002 2003 Modal Kerja 2004 Investasi 2005 2006 Konsumsi 2007 Des

kepemilikan rumah (KPR) dan jenis lainnya (meliputi antara lain kredit kendaraan bermotor, multiguna dan kredit tanpa

32

Bab 2 Sektor Keuangan

agunan). Dari ketiga jenis kredit konsumsi ini, pada akhir semester II 2007 rasio NPL gross tertinggi terdapat pada kartu kredit, yaitu sebesar 12,0%, sedangkan rasio NPL gross KPR dan jenis lainnya tercatat masing-masing sebesar 3,02% dan 1,90%. Tingginya rasio NPL gross kartu kredit antara lain karena masih adanya kendala perpajakan dalam melakukan penghapusbukuan kredit. Namun demikian, perbankan umumnya sudah membentuk cadangan yang memadai sehingga rasio NPL netto kartu kredit sebenarnya cukup rendah.
Grafik 2.21 Perkembangan Rasio NPL Gross Kredit Konsumsi
% 15 13 10 8 KPR Kartu Kredit Lainnya

MKM turun sebesar Rp7 triliun atau 23,8%, sehingga rasio NPL grossnya turun dari 7,3% menjadi 4,6%. Meskipun pangsa kredit non-MKM terhadap total kredit perbankan hanya sebesar 48,9% atau lebih rendah dari pangsa kredit MKM, namun penurunan NPL kredit non-MKM merupakan hal yang sangat menggembirakan mengingat debitur nonMKM umumnya berasal dari sektor korporasi dengan jumlah fasilitas yang besar, berjangka waktu panjang dan sering dalam bentuk valas sehingga dapat membahayakan ketahanan sistem keuangan apabila tidak mampu melunasi pinjamannya kepada perbankan. Pengalaman krisis tahun 1997/1998 menunjukkan bahwa debitur korporasi sangat rentan terhadap krisis keuangan.

Grafik 2.22 Nominal NPL Korporasi dan MKM
Rp triliun 50 45 40 35 Korporasi (kiri) 20 Rp triliun 25

5 3 0 2002

30
2003 2004 2005 2006 2007 Des

15 UMKM (kanan) 10

25 20

Sementara itu, kualitas kredit Mikro Kecil dan Menengah (MKM) juga menunjukkan perbaikan, ditandai dengan penurunan nominal NPL sebesar Rp2,0 triliun atau 10,0% sehingga rasio NPL grossnya turun dari 4,8% menjadi 3,5%. Perbaikan kualitas kredit ini didukung oleh membaiknya kondisi ekonomi dan adanya berbagai kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia yang ditujukan untuk mendorong kemajuan usaha MKM. Jenis kredit ini diperkirakan tidak akan menimbulkan tekanan pada stabilitas sistem keuangan dalam jangka pendek karena tipikal kreditnya cukup terdiversifikasi dengan plafon kredit yang relatif kecil dan jumlah debitur cukup besar, serta terkonsentrasi pada jenis konsumsi. Perbaikan kualitas juga terlihat pada kredit non-MKM yang umumnya debitur dengan fasilitas kredit di atas Rp5 miliar. Selama semester II 2007, nominal NPL kredit non-

15 10 5 2001 0 2004 2005 ` 2006 2007 Des 5

Grafik 2.23 NPL Gross MKM dan Korporasi
% 13,0 12,0 11,0 10,0 9,0 8,0 7,0 6,0 5,0 4,0 2003 2004 Korporasi (kiri) 2005 ` 2006 2007 Des 2,5 2,0 4,5 4,0 3,5 3,0 MKM (kanan) 5,0 % 5,5

Kinerja kredit valas membaik sehingga mengurangi tekanan risiko pada perbankan. Dalam kenyataannya sebagian besar debitur korporasi yang direstrukturisasi oleh

33

Bab 2 Sektor Keuangan

bank-bank BUMN merupakan debitur dengan fasilitas kredit valas. Keberhasilan restrukturisasi tersebut mendorong penurunan nominal NPL valas sebesar Rp2,1 triliun atau 2,14%, sehingga rasio NPL grossnya turun dari 7,9% menjadi 5,1%. Sementara itu, nominal NPL kredit rupiah menurun sebesar Rp6,8 triliun atau turun 16,9%, sehingga rasio NPL gross kredit tersebut turun dari 5,3% menjadi 3,8%.

diperoleh cukup tinggi untuk menutupi tambahan penyisihan penghapusan kredit yang dibutuhkan, serta kuatnya permodalan.

Grafik 2.25 Stress Test NPL terhadap CAR
% 22,5

20,0

Grafik 2.24 NPL Valas dan Rupiah
% 35,0 30,0 25,0 20,0 15,0 10,0 5,0 0,0 2001 NPL Valas (USD) NPL Gross (kiri) USD miliar 4,5 4,0 3,5 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Des
15,0 Car Awal 1 2 3 4 5 7 10 15 20 25 Skenario Kenaikan NPL 15 Bank Besar Bank Menengah Bank Kecil 17,5

Mitigasi Risiko
Untuk menurunkan risiko kredit perbankan, beberapa upaya terus dilakukan. Perbankan melakukan mitigasi risiko kredit dengan menerapkan manajemen risiko

Stress Test
Guna mengetahui ketahanan sistem perbankan terhadap gejolak risiko kredit dilakukan suatu stress test yang memperlihatkan pengaruh kenaikan NPL terhadap permodalan bank. Dalam stress test tersebut, perbankan digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu 15 bank besar, bank menengah dan bank kecil. Sementara itu, skenario kenaikan NPL dibuat dalam beberapa alternatif dan dikaitkan dengan NPL posisi akhir semester II 2007. Hasil stress test menunjukkan bahwa perbankan masih mampu menghadapi shock berupa kenaikan NPL sampai dengan sebesar 25% dari posisi laporan. Khusus untuk 15 bank besar, rata-rata CAR turun sekitar 1% (terendah 0% dan tertinggi 5,5%) dari 18,0% menjadi 16,9%. Bahkan, CAR bank menengah dan bank kecil cenderung selalu lebih tinggi dibandingkan dengan CAR bank besar untuk setiap skenario. Cukup besarnya kemampuan perbankan dalam mengatasi kenaikan NPL tersebut adalah karena laba yang

pada setiap lini bisnis, serta dengan meningkatkan kemampuan bank dalam mengelola risiko dengan pengembangan kompetensi sumber daya manusia melalui program sertifikasi. Implementasi Basel II juga diharapkan akan memperkuat pelaksanaan manajemen risiko kredit perbankan ke depan. Upaya penting lainnya yang dilakukan perbankan untuk memitigasi risiko kredit adalah menjaga kecukupan pembentukan penyisihan

penghapusan kredit. Selama periode laporan, penyisihan yang dibentuk turun sebesar Rp2,1 triliun atau 4,8% sejalan dengan menurunnya nominal NPL perbankan. Meskipun menurun, namun penyisihan yang dibentuk cukup konservatif untuk mengantisipasi kerugian. Mitigasi risiko kredit juga terbantu oleh kebijakankebijakan yang dikeluarkan Pemerintah. Salah satunya adalah adanya jaminan yang diberikan Pemerintah terhadap kredit untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) sehingga risiko yang harus ditanggung perbankan menjadi lebih

34

Bab 2 Sektor Keuangan

Grafik 2.26 Kredit, NPL dan Penyisihan Penghapusan Kredit
Rp triliun 100 90 80 70 60 50 PPAP (kiri) 40 30 2000 400 300 200 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Nominal NPL (kiri) Kredit (kanan) 1100 1000 900 800 700 600 500

tahun 2007 masih berlanjut pada semester II meskipun sedikit melambat pada akhir tahun. Sejalan dengan hal itu, rata-rata suku bunga deposito 1 bulan rupiah pada semester laporan hanya turun 27 bps, padahal pada semester sebelumnya turun 150 bps. Sementara itu, suku bunga kredit modal kerja (KMK), kredit investasi (KI) dan kredit konsumsi (KK) turun masing-masing sebesar 88 bps, 98 bps dan 78 bps. Walaupun suku bunga KK turun lebih rendah dibandingkan suku bunga kredit lainnya namun penurunannya lebih besar bila dibandingkan semester sebelumnya. Melambatnya penurunan suku bunga pada akhir tahun tampaknya terkait dengan sempat tertahannya penurunan BI rate. Namun demikian, secara umum tampak bahwa bank-bank sudah lebih berani menurunkan suku bunga kreditnya. Pada akhir Desember 2007, suku bunga KMK dan KI masing-masing sebesar 13,00% dan 13,01%
Grafik 2.27 Perkembangan Suku Bunga dan Nilai Tukar
% 22 19 16 13 KMK (ki) 10 8500 7 4 2002 Kurs (kn) Deposito 1 bln (ki) 7500 2003 2004 2005 2006 2007 KK (ki) 10500 KI (ki) 9500 Rp triliun 11500

rendah. Selain itu, Pemerintah juga telah merevisi paket investasi yang dapat meningkatkan kepastian berusaha bagi pelaku bisnis. Hal ini secara tidak langsung membantu mengurangi potensi risiko kredit bagi perbankan. Dalam konteks restrukturisasi kredit, implementasi Peraturan Pemerintah No.33/2006 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara, diharapkan juga akan membantu mitigasi risiko kredit terutama bagi bank-bank milik Pemerintah. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia juga turut membantu perbankan dalam memitigasi risiko kredit. Kebijakan moneter yang kondusif akan memudahkan perbankan melakukan langkahlangkah untuk memperbaiki kualitas kredit disamping terus meningkatkan fungsi intermediasi terutama untuk tujuan produktif. Sementara itu, serangkaian kebijakan perbankan juga telah diterbitkan untuk mendorong pelaksanaan manajemen risiko yang efektif di perbankan. Tidak kalah pentingnya adalah pembentukan Biro Informasi Kredit (BIK) untuk membantu penyediaan informasi kredit yang dibutuhkan dunia usaha sehingga mengurangi risiko kredit

Grafik 2.28 Suku Bunga Kredit per Kelompok Bank
% 40 Jun06 Jun07 30 Des06 Des07

karena faktor kelemahan informasi.

2.2.3. Risiko Pasar
20

Membaiknya kondisi makroekonomi yang mendorong penurunan BI rate cenderung membuat risiko pasar yang dihadapi perbankan relatif terkendali. Trend penurunan suku bunga yang telah berlangsung sejak awal
10

0 KMK KI KK KMK KI KK KMK KI KK KMK KI KK KMK KI KK Persero BPD BUSN Asing & camp. Seluruh

35

Bab 2 Sektor Keuangan

atau sudah mencapai level terendah sejak tahun 2001, dan hanya suku bunga KK yang relatif masih tinggi yaitu
Rp triliun

Grafik 2.29 Maturity Profile Rupiah
450 300 150 0 (150) (300) (450) Des05 Des06 Des07 sd 1 bln 1 - 3 bln 3 - 6 bulan 6 - 12 bln Jun06 Jun07

sebesar 16,13%. Tingginya suku bunga KK terutama disumbangkan oleh kelompok bank campuran dan kelompok kantor cabang bank asing yang rata-ratanya masih di atas 30%. Dengan trend penurunan suku bunga yang berlanjut selama semester II 2007, perbankan umumnya melakukan pengelolaan risiko suku bunga dengan memelihara portofolio dengan posisi net short untuk jangka pendek dan net long pada jangka panjang. Dengan demikian bank menikmati keuntungan saat suku bunga turun. Komposisi profil maturitas tersebut terjadi

> 12 bln

Grafik 2.30 Maturity Profile Valas
USD Miliar 10 5

baik untuk portofolio rupiah maupun valas dengan tren yang cenderung meningkat dibandingkan posisi akhir tahun lalu terutama untuk portofolio valas. Peningkatan posisi valas ini perlu mendapat perhatian, karena meskipun jumlahnya masih relatif kecil namun menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat khususnya untuk posisi net short jangka pendek. Meskipun bank diperkirakan mampu mengatasi gejolak nilai tukar karena ditopang oleh permodalan yang relatif tinggi, namun pelaksanaan manajemen risiko yang efektif juga sangat diperlukan. Pergerakan nilai tukar yang cukup fluktuatif pada akhir Semester II 2007 tidak sampai menimbulkan instabilitas karena bank memelihara rasio Posisi Devisa Netto (PDN) yang masih relatif rendah, yaitu sebesar 4,47%. Namun demikian, dibandingkan dengan posisi akhir semester sebelumnya sebesar 3,92%, terdapat
0

(5) (10) Des05 Des06 Des07 sd 1 bln 1 - 3 bln 3 - 6 bulan 6 - 12 bln Jun06 Jun07

(15) > 12 bln

Stress Test
Dengan kondisi profil maturitas seperti di atas maka potensi risiko suku bunga akan meningkat apabila terjadi pembalikan arah pergerakan suku bunga. Masih belum berkembangnya pasar hedging dan derivative yang dapat mendukung pelaksanaan mitigasi risiko membuat bank perlu sangat berhati-hati menghadapi kemungkinan terjadinya pergerakan suku bunga yang berlawanan tersebut. Hasil stress test menunjukkan bahwa setiap peningkatan suku bunga 1% akan berpengaruh pada penurunan CAR rata-rata sebesar 34 bps.

peningkatan rasio PDN yang cukup besar. Peningkatan tersebut terjadi karena kenaikan profil maturitas untuk posisi short jangka pendek. Meskipun secara rata-rata rasio PDN tersebut masih jauh di bawah batas maksimum 20%, namun trend peningkatan tersebut perlu diwaspadai dengan meningkatkan manajemen risiko serta mempersiapkan

contingency plan yang memadai. Berdasarkan hasil stress
test tentang dampak apresiasi/depresiasi nilai tukar rupiah terhadap permodalan (CAR) diketahui bahwa secara umum perbankan masih mampu memelihara CAR di atas 8%.

36

Bab 2 Sektor Keuangan

Grafik 2.31 Perkembangan PDN (Overall)
% 24 BUSN 20 16 12 8 Bank asing 16.9 14.7 Bank campuran SELURUH 16.9 15.3 BPD PDN Tertinggi 19.2 17.4 Bank persero

rendah. Strategi tersebut cukup berhasil karena juga didukung oleh permodalan perbankan yang kuat. Dengan demikian, tekanan terhadap permodalan baru akan dirasakan apabila harga SUN jatuh secara signifikan. Hasil stress test menunjukkan bahwa CAR bank akan berkurang menjadi di bawah 8% apabila terjadi penurunan harga SUN sebesar 20% atau lebih. Ke depan, di samping

4

mengandalkan permodalan yang kuat, perbankan perlu
0
Sep Des Mar Jun Sep Des

2006

2007

terus meningkatkan kemampuan manajemen risikonya.

Grafik 2.32 SUN yang Dimiliki Perbankan
% 100 % 21

2.2.4. Profitabilitas dan Permodalan

Profitabilitas
Profitabilitas perbankan selama semester II 2007 relatif membaik dibandingkan semester sebelumnya.

75

17

50

13

Dibandingkan dengan posisi yang sama pada tahun sebelumnya, pendapatan bunga bersih (NII) perbankan naik dari Rp46,4 triliun pada Desember 2006 menjadi Rp50

25

9

0

Des»05

Jun»06 Des»06 trading (ki) SUN Trading thd TA (ka)

Jun»07

Des»07 investment (ki) SUN thd TA (ka)

5

triliun pada Desember 2007. Hal tersebut terkait dengan kenaikan pendapatan bunga dari Rp87 triliun (selama semester I 2007) menjadi sebesar Rp89 triliun (selama semester II 2007) yang disertai dengan turunnya biaya bunga dari Rp40,6 triliun menjadi Rp39 triliun. Peningkatan profitabilitas ini terutama karena peningkatan jumlah kredit yang lebih tinggi dibanding peningkatan dana pihak ketiga (DPK), yang didukung oleh membaiknya kualitas kredit dan kecenderungan perbankan untuk mengurangi sumber dana mahal.
Grafik 2.33 Perkembangan NII Perbankan
Rp triliun 16,0 14,0 12,0 10,0 8,0 6,0 4,0

Sejalan dengan trend penurunan suku bunga, minat perbankan untuk memiliki SUN khususnya dengan portofolio trading terus menunjukkan peningkatan. Hal ini terlihat dari naiknya kepemilikan perbankan atas SUN trading sebesar Rp12,5 triliun dibandingkan dengan akhir semester sebelumnya, sehingga komposisi SUN trading meningkat dari 61,2% menjadi 64,3% dari total keseluruhan SUN yang dimiliki perbankan. Kondisi ini dapat menyebabkan perbankan semakin terekspose oleh risiko pasar yang terkait dengan harga SUN. Meskipun kenaikan komposisi SUN trading tersebut tidak terlalu besar, namun kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat pasar keuangan global akhir-akhir ini cenderung terus bergejolak. Sejauh ini, strategi yang dilakukan perbankan untuk memitigasi risiko pasar yang terkait dengan harga SUN adalah dengan memelihara proporsi SUN trading yang

2,0 Des «03

Pendapatan Bunga Jun «04 Des «04

Beban Bunga

NIM Jun «07 Des «07

Jun «05 Des «05 Jun «06 Des «06

37

Bab 2 Sektor Keuangan

Sementara itu, ROA mengalami sedikit penurunan dari 2,81% menjadi 2,78% karena kenaikan NII diimbangi oleh kenaikan aset. Dengan menggolongkan perbankan menjadi kelompok bank besar dan kelompok lainnya diketahui bahwa penurunan ROA hanya dialami oleh kelompok bank lainnya yaitu dari 3,26% menjadi 2,98%. Sementara itu, kelompok bank besar justru mengalami peningkatan ROA dari 2,62% menjadi 2,69%.
Grafik 2.34 Rasio ROA Kelompok Bank
4 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 Jun'07 Des'07

Permodalan
Meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan selama periode laporan mendorong terjadinya peningkatan ATMR perbankan. Dalam kaitan ini, peningkatan ATMR yang lebih tinggi dari kenaikan modal menyebabkan rasio permodalan (CAR) turun dari 20,7% menjadi 19,3%. Penurunan CAR ini dialami oleh seluruh kelompok bank. Penurunan terbesar dialami oleh kelompok bank lainnya yaitu dari 23,8% menjadi 22,1%, sedangkan penurunan terkecil terdapat pada kelompok bank besar yaitu dari 19,3% menjadi 18,0%.
Grafik 2.36 Rasio CAR Kelompok Bank Semester II 2007
% 25 Jun'07 20 Des'07

15

Bank Besar

Bank Lainnya

Industri
10

Pangsa pendapatan bunga kredit terus meningkat. Sejalan dengan peningkatan kredit yang disalurkan maka

5 0

pangsa pendapatan bunga kredit juga turut meningkat dari 63,5% menjadi 64,7%. Sementara itu, pangsa pendapatan bunga dari surat-surat berharga (SSB) meningkat dari 16,8% menjadi 16,9%. Selanjutnya, sejalan dengan penurunan BI rate maka pendapatan dari SBI turun dari 11,8% menjadi 10,2%.
Grafik 2.35 Komposisi Pendapatan Bunga Bank
%
0 30

Bank Besar

Bank Lainnya

Industri

Grafik 2.37 Rasio Modal Inti terhadap ATMR dan CAR

CAR 25 20 15 10 5 Tier 1 : ATMR

E

I

Lainnya

A

B

C

D

F

G

H

J

K

M

N

O

15 BB

Asg

Cmpr

8,90

9,16

8,21

7,88

8,3

63,1

59,2

60,1

63,5

64,7

Meskipun mengalami penurunan, CAR perbankan Indonesia masih tergolong tertinggi di Asia. Permodalan

22,0 6,01 Des «05 BI

22,9 8,75 Jun «06 SSB

21,4 10,37 Des «06 Kredit

16,8 11,78 Jun «07 Lainnya

16,9 10,2 Des «07

perbankan sebagian besar adalah modal inti (Tier I) dengan rasio terhadap ATMR sebesar 16,8% pada akhir Desember 2007. Tingginya rasio modal inti terhadap ATMR ini

38

Indst

L

Bab 2 Sektor Keuangan

mencerminkan bahwa solvabilitas perbankan dalam kondisi yang memadai dalam menyerap risiko usahanya serta memberi ruang gerak yang cukup bagi perbankan untuk melakukan ekspansi kredit. Penting dicatat bahwa walaupun CAR perbankan secara agregat tergolong tinggi, masih terdapat beberapa bank menengah dan kecil yang memiliki CAR marginal (antara 9% - 12%). Dengan CAR yang marginal, bank-bank tersebut akan sangat rentan terhadap peningkatan risiko terutama apabila tidak memiliki manajemen risiko yang baik. Sementara itu, terkait dengan kewajiban bank umum untuk memiliki modal inti minimum sebesar Rp80 miliar pada akhir 2007, diketahui bahwa seluruh bank telah memenuhi kewajiban tersebut. Mengingat pada akhir 2010 perbankan diwajibkan memiliki modal inti minimum sebesar Rp100 miliar maka pemantauan ke depan ditekankan untuk mengetahui potensi pemenuhan ketentuan tersebut. Pada akhir Desember 2007 jumlah bank yang memiliki modal inti antara Rp80 miliar s.d. Rp100 miliar tercatat sejumlah 20 bank.
Grafik 2.38 Peta Perkembangan Modal Inti
50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 9 < 80 M 9 9 80 M - 100 M 100 M - 200 M 200 M -1 T >1T 30 25 20 23 25 25 43 39 41 29 30 33 Des'06 Jun'07 Des-07

-

Naiknya suku bunga terhadap net maturity profile asset dan kewajiban bank dibawah 3 bulan. Dalam hal ini, apabila bank dalam posisi long atau aset lebih besar dibanding kewajiban maka akan berdampak positif bagi bank dan sebaliknya.

-

Melemahnya nilai tukar terhadap posisi devisa netto bank. Dalam hal ini, apabila bank dalam posisi long maka akan berdampak positif bagi bank dan sebaliknya. Disamping itu, stress test dimaksud dilengkapi

dengan skenario turunnya harga SUN menjadi di bawah par pada persentase tertentu serta meningkatnya NPL bank pada persentase tertentu. Dampak dari skenario tersebut akan ditransmisikan pertama kali pada laba rugi bank dan kemudian pada permodalan bank. Selain mempertimbangkan risiko pasar, stress test ini juga memperhitungkan risiko kredit dengan skenario yang digunakan berupa memburuknya kondisi perkreditan tiap kategori. Skenario tersebut adalah NPL naik sebesar 5% dari kredit kategori Lancar (L) dan Dalam Perhatian Khusus (DPK), diikuti 5% kredit kategori Kurang Lancar (KL) menurun menjadi kategori Diragukan (D) dan 5% kredit kategori Diragukan (D) turun menjadi Macet (M). Di samping itu, skenario stress test ini juga dilengkapi dengan naiknya suku bunga 3% yang akan mempengaruhi aset dan kewajiban bank, khususnya dengan maturity di bawah 3 bulan, melemahnya nilai tukar sebesar Rp500 terhadap Posisi Devisa Netto bank dan turunnya nilai Surat Utang Negara sebesar 5% dari harga par. Selanjutnya, besarnya dampak skenario tersebut terhadap permodalan

Data SIMWAS, sebelum judgement pengawas

Stress Test
Guna melihat ketahanan 15 bank besar dalam menghadapi memburuknya kondisi perekonomian, dilakukan stress test yang terintegrasi (integrated stress

bank sangat tergantung kepada kondisi NPL, aktiva dan kewajiban valas, kecukupan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif, besarnya laba rugi bank dan permodalan bank. Berdasarkan skenario tersebut, hasil stress test terhadap 15 bank besar menunjukkan bahwa 1 bank rasio

test ) yang mencakup perubahan beberapa variabel
ekonomi yaitu:

39

Bab 2 Sektor Keuangan

CARnya menjadi di bawah ketentuan. Selain itu, secara rata-rata terdapat penurunan CAR sebesar 1,5% yaitu dari rata-rata 18,0% menjadi 16,5%. Dengan demikian, secara umum permodalan bank terlihat masih cukup kuat menghadapi berbagai shock yang datang dari beberapa jenis risiko secara simultan.

hanya tumbuh 15,52% atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun sebelumnya sebesar 37,65%.
Grafik 2.40 Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan
Milliar Rp 140

Grafik 2.39 Stress Test CAR
% 30 25 20 15 10 5 0 A B C D E F G H I J K L M N O CAR AWAL CAR BARU

120 100 80 60 40 20 0 Aset Pembiayaan Pendanaan

2004 2005 2006 Jun 07 Nov

Modal

Grafik 2.41 Kegiatan Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan
%

100

2.3. LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK DAN PASAR MODAL
Sampai dengan akhir semester II 2007, lembaga keuangan bukan bank dan pasar modal terus berkembang ditengah meningkatnya tekanan sebagai akibat dari bergejolaknya pasar global. Sementara itu, meningkatnya NPL pembiayaan konsumen oleh perusahaan pembiayaan perlu diwaspadai agar tidak menimbulkan tekanan terhadap ketahanan perbankan dan sistem keuangan. Kewaspadaan juga semakin diperlukan karena meskipun pasar keuangan terus menguat, namun volatilitas jangka pendek cenderung meningkat.

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

Sewa Guna Usaha Swasta Nasional Patungan Total

Anjak Piutang 10% 46% 34% 3% 1% 2%

Kartu Kredit 0% 2% 1%

Pembiayaan Konsumen 87% 50% 63%

Jenis pembiayaan PP, khususnya PP Swasta Nasional tetap terkonsentrasi pada pembiayaan konsumen yaitu kredit kendaraan bermotor. Kredit jenis ini memiliki potensi risiko yang cukup tinggi terkait dengan ekspektasi turunnya permintaan kendaraan bermotor sebagai dampak

2.3.1. Perusahaan Pembiayaan
Pada tahun 2007 (s.d November 2007), kinerja perusahaan pembiayaan (PP) meningkat cukup pesat terlihat dari meningkatnya total aset sekitar 16% menjadi Rp126,4 triliun, atau lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya meningkat sekitar 13%. Namun, dari segi pembiayaan cenderung melambat, yaitu

kenaikan harga minyak dunia. Tingginya risiko pembiayaan konsumen juga tercermin dari meningkatnya NPL pembiayaan konsumen, yaitu dari 1,24% (Desember 2006) menjadi 1,52% (Oktober 2007). Sementara itu, profitabilitas PP meningkat. Hal ini terlihat pada naiknya laba sebelum pajak sebesar 11% menjadi Rp4,48 triliun, padahal tahun sebelumnya turun

40

Bab 2 Sektor Keuangan

sebesar 13%. Namun demikian, ROE menurun menjadi 19% (November 2007) dibandingkan dengan 21%
Ribu

Grafik 2.43 Sumber Dana PP Swasta Nasional
16 14 Pinjaman Perbankan Domestik Pinjaman Luar Negeri SSB

(Desember 2006) terutama karena berkurangnya efektivitas pengelolaan aset oleh PP Swasta Nasional. PP Patungan mengalami peningkatan efisiensi, tercermin pada turunnya rasio Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO) dari sekitar 90% (Desember 2006) menjadi sekitar 76% (November 2007). Meningkatnya efisiensi PP Patungan terutama karena meluasnya akses terhadap sumber dana yang didukung pula oleh semakin terdiversifikasinya pembiayaan.

12 10 8 6 4 2 0

Des 05

Des 06

Jun 07

Jul 07

Ags 07

Sep 07

Okt 07

Nov 07

Grafik 2.44 Sumber Dana PP Patungan
Ribu 35 Pinjaman Perbankan Domestik 30 25 Pinjaman Luar Negeri SSB

Grafik 2.42 Kinerja Perusahaan Pembiayaan
Ribu 120 100 80 60 0 ,15 40 20 0 0,35

20

0 ,30
15

0 ,25
10

0,20
5 0

0 ,10 0 ,05 Des 05 Des 06 ROA SN ROE SN Nov 07 ROA PP ROE PP 0 ,00

Des 05

Des 06

Jun 07

Jul 07

Ags 07

Sep 07

Okt 07

Nov 07

menjadi 3,90 (November 2007). Pada tahun 2007, terdapat 9 perusahaan yang telah melakukan penawaran umum obligasi dengan nilai emisi sebesar Rp6,15 triliun. Selain itu, terdapat 1 perusahaan melakukan right issue, dan 1 perusahaan melakukan penerbitan obligasi di luar negeri. Terkonsentrasinya PP pada pembiayaan konsumen terutama untuk pembelian kendaraan bermotor dan meningkatnya NPL pembiayaan konsumen tersebut, serta tingginya ketergantungan PP terhadap sumber dana perbankan dapat meningkatkan eksposur risiko bagi bank. Sementara itu, penerapan PBI No.8/6/PBI/2006 tentang Penerapan Manajemen Risiko Secara Konsolidasi Bagi Bank Yang Melakukan Pengendalian Terhadap Perusahaan Anak berpotensi menyebabkan PP yang terafiliasi dengan bank mengalami kerugian karena meningkatnya biaya pencadangan sejalan dengan meningkatnya NPL

Pembiayaan Total Pembiayaan SN Pembiayaan Ptgn

Pinjaman dari perbankan domestik tetap menjadi sumber dana utama PP Swasta Nasional. Pada 2007 jumlah pinjaman tersebut meningkat sekitar 30% menjadi Rp13,47 triliun. Sementara itu, pinjaman perbankan domestik kepada PP secara keseluruhan meningkat sebesar 19% sehingga mencapai angka Rp35,47 triliun yang terutama diberikan kepada PP Patungan. Di samping pinjaman dari perbankan domestik, PP Patungan juga memanfaatkan sumber dana pinjaman luar negeri. Porsi pinjaman luar negeri PP Patungan mencapai 52% dari total pinjaman (November 2007). Selama 2007, PP cukup aktif menghimpun dana melalui penerbitan obligasi sehingga rasio pinjaman terhadap ekuitas menurun dari 3,98 (Desember 2006)

41

Bab 2 Sektor Keuangan

pembiayaan konsumen. Kerugian PP tersebut selanjutnya akan tercermin dalam neraca konsolidasi bank sehingga perlu diwaspadai sejak dini.

masing-masing Rp35 triliun (SBI), Rp29 triliun (SUN) dan Rp33 triliun (net beli saham). Tetap relatif tingginya yield penanaman rupiah mempertahankan minat investor asing untuk melakukan

2.3.2. Pasar Modal

penanaman pada instrumen keuangan rupiah. Namun demikian, terdapat perubahan perilaku portofolio dari para investor asing yang terutama merupakan manager hedge

Portfolio Investor Asing
Memasuki semester II 2007, tekanan stabilitas sistem keuangan cenderung membesar terutama karena semakin agresifnya investor asing untuk melakukan profit taking jangka pendek. Perilaku investasi investor asing tersebut menyebabkan terkoreksinya perkembangan pasar keuangan. Selama semester laporan, penanaman investor asing pada instrumen keuangan rupiah tetap naik yaitu sekitar Rp49 triliun atau hampir sama dengan peningkatan pada semester sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, selama tahun 2007 penanaman asing pada SBI, SUN dan saham meningkat sekitar Rp98 triliun, terdiri dari

funds. Investor asing menjadi semakin agresif melakukan profit taking jangka pendek serta realisasi keuntungan
khususnya dalam rangka menutup kerugian dari portofolio aset keuangan subprime. Perilaku tersebut menyebabkan terjadinya koreksi pasar saham yang cukup signifikan serta meningkatkan volatilitas. Koreksi pasar saham tersebut kemudian turut menjadi sentimen negatif yang berkontribusi pada melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Pasar Saham
Grafik 2.45 Inflows pada SUN-SBI-Saham
Triliun Rp 30 20 10 Saham SBI SUN

Pada semester II 2007 pasar saham global mengalami koreksi signifikan terutama karena kuatnya sentimen negatif dari ekspektasi memburuknya prospek perekonomian AS sebagai dampak krisis subprime mortgage. Kondisi tersebut berdampak nyata pada bursa emerging markets Asia dan menyebabkan melemahnya perkembangan indeks pada
Tabel 2.1 Perkembangan Indeks Harga Beberapa Bursa Regional
Pertumbuhan (%) Sem II 07 IHSG STI KLCI SET PCOMM HSCI NIKKEI NASDAQ DJI SIASA 1.805,52 2.985,83 1.096,24 679,84 3.940,47 2.802,68 336,39 3.415,29 2.139,28 3.548,20 1.354,38 776,79 5.148,42 3.109,64 356,40 2.603,23 2.745,83 3.445,82 1.447,04 858,10 4.422,22 3.874,22 301,09 2.674,46 13.365,87 18.658,13 1.897,13 18,49 18,83 23,55 14,26 30,65 10,95 5,95 -23,78 7,87 89,16 21,55 2007 28,35 -2,89 6,84 10,47 -14,11 24,59 -15,52 2,74 -0,58 41,32 8,81

0 -10 -20

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

2007

Grafik 2.46 Volatilitas Bursa Asia
70
IHSG

Des 06

Jun 07

Des 07

60 50 40 30 20 10 0
1/12

KLCI SET PCOMM STI

12.463,15 13.443,75 6.979,53 13.202,68 1.434,46 1.743,60

2/12

3/12

4/12

5/12

6/12

7/12

8/12

9/12

10/12 11/12 12/12

KOSPI

2007

42

Bab 2 Sektor Keuangan

Grafik 2.47 Bursa Regional: Perkembangan Indeks Saham
6000 5000 4000 3000
IHSG SET NIKKEI STI PCOMM NASDAQ KLCI HSCI

Grafik 2.48 Pasar Saham: Nilai Transaksi & IHSG
140 120 100 80 1500 60 1000 500 0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Triliun Rp Indonesia Asing IHSG

IHSG

3000 2500 2000

2000 1000 0
29 Des 29 Jan 28 Feb 29 Mar 29 Apr 29 Mei 29 Jun 29 Jul 29 Ags 29 Sep 29 Okt 29 Nov

40 20 0 2007
2007

2006

tahun 2007. Bahkan, pada beberapa bursa Asia, khususnya yang perekonomiannya terkait langsung dengan AS, indeks harga saham turun cukup tajam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat mengalami koreksi tajam sehingga turun sebesar 7% pada Agustus 2007 dan mencapai tingkat terendah yaitu 1.908,64 pada tanggal 17 Agustus. Aktifnya penanaman yang dilakukan investor asing pada saham yang terutama ditujukan untuk profit taking jangka pendek telah mendorong kembali peningkatan harga sehingga IHSG mencapai 2.745,83 pada akhir Desember 2007. Oleh karena itu, secara keseluruhan selama tahun 2007 IHSG tetap menguat sekitar 28%. Secara sektoral, penguatan indeks yang besar terjadi pada sektor pertanian, sektor pertambangan dan sektor aneka industri.
Tabel 2.2 Perkembangan Indeks Harga Sektoral
Pertumbuhan (%) Sem II 07 2007 Pertanian Industri Dasar Konstruksi, Properti, RE Konsumsi Keuangan Infrastruktur Pertambangan Aneka Industri Jasa Perdagangan 1.190,71 1.680,12 148,79 120,82 390,19 204,39 754,54 282,14 274,28 196,10 211,72 437,01 223,14 750,43 324,96 387,38 2.754,76 238,05 251,82 436,04 260,57 874,07 3.270,09 477,35 392,24 41,10 31,80 75,24 12,00 9,17 -0,54 78,97 15,18 41,24 63,96 21,39 18,94 -0,22 16,77 16,48 98,54 46,90 1,26

Pada satu sisi, perilaku portofolio investor asing mampu mendorong kenaikan harga, namun di sisi lain telah mengakibatkan semakin volatile-nya perkembangan harga. Angka koefisien efisiensi pasar (market efficiency

coefficient) untuk bursa emerging market Asia sebagian
besar berada di bawah 75%. Hal ini memberikan konfirmasi bahwa memang koreksi pasar telah membuat semakin berfluktuasinya harga dalam jangka pendek, namun pasar tetap cukup memiliki ketahanan sehingga stabilitas perkembangan harga dalam jangka panjang tetap terpelihara.
Grafik 2.49 Market Efficiency Coefficient
% 90,0 80,0 70,0 60,0 50,0 40,0 30,0

Des 06

Jun 07

Des 07

20,0 10,0 0,0
12 Jan

MEC-IHSG MEC-PCOMM
12 Feb 12 Mar 12 Apr 12 Mei

MEC-KLCI MEC-STI
12 Jun 12 Jul 12 Ags

MEC-SET
12 Sep 12 Okt 12 Nov 12 Des

2007

Sementara itu, pada tahun 2007 pembiayaan melalui pasar saham mengalami peningkatan sebagaimana tampak pada meningkatnya emisi saham sekitar 17% menjadi sekitar Rp328 triliun, atau meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya naik sekitar

920,31 1.647,04

43

Bab 2 Sektor Keuangan

5%. Pesatnya perkembangan indeks saham telah berkontribusi pada meningkatnya kapitalisasi pasar sebesar
115

Grafik 2.51 Perkembangan Harga Beberapa Seri SUN

59% menjadi sekitar Rp1.988,3 triliun. Sementara itu,
110

jumlah perusahaan yang melakukan emisi saham bertambah 24 sehingga menjadi 468 perusahaan.
Grafik 2.50 Pasar Saham: Nilai Kapitalisasi & Nilai Emisi
(N Kapitalisasi, Triliun Rp) 2.500 N Kap (BEJ) 2.000 N Kap (BES) N Emisi (N Emisi, Triliun Rp) 340 330 320 310 1.500 1.000 500 300 290 280 270 260 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul 2007 Ags Sep Okt Nov Des 250
8 6 4 12 10 %

105 100 95 FR0023 FR0028 90
2 Jan 2 Feb 2 Mar

FR0025 FR0030
2 Apr 2 Mei 2 Jun

FR0026 FR0043
2 Jul 2 Ags 2 Sep

FR0027
2 Okt 2 Nov 2 Des

2007

Grafik 2.52 Yield Penanaman Tenor 5 Tahun

Pasar Obligasi
Pada semester II 2007 pasar SUN yang merupakan acuan pasar obligasi domestik mengalami mild correction sehingga sempat turun rata-rata sekitar 4%. Koreksi pasar tersebut terutama terjadi karena sempat tertahannya penurunan BI rate yang berdampak pada menyempitnya potensi kenaikan harga SUN. Kondisi tersebut mendorong investor melakukan switching portofolio dari SUN yang harganya sudah terlalu tinggi kepada SUN yang harganya masih di bawah par terutama melalui pembelian di pasar perdana. Pada tahun 2007 harga SUN secara rata-rata hanya naik sekitar 5%, atau jauh melambat dibandingkan dengan kenaikan pada tahun 2006 sekitar 20%. Tingginya minat investor domestik pada SUN tercermin dari meningkatnya kepemilikan SUN oleh perbankan dan residen non perbankan. Pada akhir semester II 2007 kepemilikan perbankan domestik pada SUN kembali sedikit meningkat sehingga menjadi sebesar Rp265 triliun, dengan pangsa terhadap total SUN relatif tetap, yaitu sekitar 58%. Sementara itu, kepemilikan SUN oleh residen non

2 Indonesia 0
2 Jan 2 Feb 2 Mar 2 Apr 2 Mei 2 Jun 2 Jul 2 Ags 2 Sep 2 Okt 2 Nov 2 Des

Philipina

Thailand

Singapura

20 0 7

perbankan naik cukup pesat, yaitu sekitar 19% menjadi Rp116 triliun. Dengan perkembangan tersebut pangsa kepemilikan SUN oleh residen non perbankan meningkat dari 22% (akhir Juni 2007) menjadi 25% (akhir Desember 2007). Investor residen non perbankan antara lain terdiri dari perorangan, lembaga keuangan bukan bank, yayasan dan lembaga keuangan lainnya. Distribusi likuiditas SUN terkonsentrasi pada tenor 1 tahun s.d 5 tahun yang harganya sudah tinggi dan berada di atas par. Ekspektasi akan tertahannya penurunan suku bunga pada tahun 2008 telah mendorong para investor untuk mengurangi kepemilikan SUN yang harganya sudah tinggi dan mengalihkan penanaman pada SUN yang harganya relatif murah. Terkonsentrasinya SUN pada tenor 1 tahun s.d 5 tahun menyebabkan perilaku switching

portfolio investor tersebut menimbulkan tekanan terhadap
harga SUN.

44

Bab 2 Sektor Keuangan

Grafik 2.53 Kepemilikan SUN
Rp triliun 300

Sementara itu, perusahaan emiten obligasi bertambah 13 menjadi 175 perusahaan. Dengan perkembangan tersebut, pembiayaan melalui penerbitan obligasi korporasi

250

meningkat sebesar 25% menjadi sekitar Rp85 triliun.
200 150 100 50 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul 2007 Residen Ags Sep Asing Okt Nov Des

Reksa Dana
Trend penurunan suku bunga pada tahun 2007 juga mendorong kenaikan kinerja reksa dana. Pada tahun 2007 NAB reksa dana meningkat 79% menjadi sekitar Rp91 triliun, atau sedikit meningkat dibandingkan kenaikan pada tahun sebelumnya sebesar 76%. Hal ini juga didukung oleh tetap menguatnya perkembangan pasar saham yang mengakibatkan meningkatnya NAB reksa dana jenis saham
FR VR ORI

Perbankan

Grafik 2.54 SUN: Likuiditas Pasar Berbagai Tenor
Rp triliun 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 29 Tahun

sekitar 300% menjadi Rp35 triliun. Perkembangan NAB sejalan dengan tingginya minat investor sebagaimana terlihat dari perkembangan unit penyertaan yang
Grafik 2.56 Perkembangan NAB Jenis Reksa Dana
Rp triliun 40 35
Pendapatan Tetap Saham Campuran Pasar Uang Terproteksi

Pada tahun 2007 pembiayaan oleh perusahaan melalui penerbitan obligasi korporasi meningkat cukup pesat. Hal ini terutama didukung oleh tren penurunan suku bunga. Emisi obligasi korporasi naik sekitar 30% menjadi sekitar Rp134 triliun, atau jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya meningkat sekitar 13%.
Grafik 2.55 Emisi dan Posisi Obligasi Korporasi
Emisi & Posisi, Rp triliun 140 Emisi 120 175 100 80 60 40 160 20 0
Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

30 25 20 15 10 5 0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

2007

Grafik 2.57 Reksa Dana: NAB & Unit Penyertaan
Emiten 180

NAB Triliun Rp - Unit Penyertaan Miliar 100 90 80 70
170 165

NAB Unit Penyertaan 1800

Posisi

Emiten

NAB Unit Penyertaan

NAB/Unit

1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0

60 50 40 30 20 10

155 2006 2007

0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

2007

45

Bab 2 Sektor Keuangan

meningkat sekitar 47% dan tingginya subscription (sebesar Rp122,8 triliun) dibandingkan redemption (sebesar Rp102,7 triliun). Sempat terkoreksinya pasar SUN mengakibatkan melambatnya pertumbuhan NAB jenis reksa dana pendapatan tetap menjadi sekitar 11%. Namun demikian, secara keseluruhan, koreksi pasar SUN tidak berdampak nyata terhadap pasar reksa dana karena telah semakin terdiversifikasinya penanaman investor pada berbagai alternatif jenis reksa dana yang mencakup reksa dana terproteksi, reksa dana indeks dan exchange traded funds. Dengan diversifikasi tersebut, pangsa NAB masing-masing jenis reksa dana menjadi relatif berimbang yaitu: 23%
Grafik 2.58 Reksa Dana: Redemption & Subscription
Rp triliun 14 Redemption 12 10 8 6 4 2 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Subscription
90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00

Grafik 2.59 Perkembangan Komposisi NAB Reksa Dana
% Pendapatan Tetap Saham Campuran Pasar Uang Terproteksi Indeks

Des 03

Des 04

Des 05

Des 06

Des 07

(pendapatan tetap), 38% (saham), 16% (campuran), 5% (pasar uang) dan 18% (terproteksi). Pada tahun 2008, perkembangan NAB reksa dana yang terutama didukung bullish- nya pasar saham diperkirakan akan terus berlanjut. Sejalan dengan itu, berbagai jenis reksa dana berbasis saham akan semakin berkembang. Namun demikian, semakin bergejolaknya harga saham serta adanya potensi risiko karena alternatif penanaman baru belum dipahami oleh para investor, dapat mendorong terjadinya koreksi reksa dana. Oleh karena itu, semakin terdiversifikasinya penanaman pada reksa dana akan menjadi faktor utama yang mendukung stabilitas

2007

perkembangan reksa dana.

46

Bab 2 Sektor Keuangan

Boks 2.1

Perkembangan Industri Asuransi dan Potensi Risiko bagi Sistem Keuangan

Perkembangan Industri Asuransi
Salah satu industri terpenting dalam sistem keuangan Indonesia adalah industri asuransi. Berdasarkan data terakhir yang diperoleh, jumlah perusahaan asuransi menurun dari 157 (2005) menjadi 146 (2006), sedangkan permodalan meningkat dari Rp25 triliun (2005) menjadi Rp34 triliun (2006). Penerapan risk based capital (RBC) menyebabkan berkurangnya jumlah perusahaan asuransi terkait dengan ketidakmampuan memperkuat modal. Namun demikian, terjadi perluasan bisnis asuransi, terlihat dari meningkatnya jumlah lembaga penunjang asuransi dari 219 perusahaan (2005) menjadi 256 perusahaan (2006).
180

Dari segi kinerja, selama tahun 2006 terjadi peningkatan aset sekitar 23% menjadi Rp171 triliun, sementara premi dan klaim meningkat masing-masing sekitar 14% menjadi Rp52 triliun dan Rp38 triliun. Peningkatan terutama terjadi pada asuransi jiwa, yaitu aset meningkat 31% menjadi Rp71 triliun sedangkan premi dan klaim meningkat masing-masing sekitar 20% menjadi Rp27 triliun dan Rp23 triliun. Laba asuransi jiwa juga meningkat pesat yaitu sekitar 85% menjadi Rp2,3 triliun.
Grafik Boks 2.1.2. Aset-Premi-Klaim: 2003-2006
Rp triliun
Aset Premi Klaim

Table Boks 2.1.1 Perkembangan Jumlah Usaha Asuransi 2003-2006
2003 I. Perusahaan Asuransi a. Asuransi Jiwa b. Asuransi Kerugian c. Reasuransi d. Asuransi Sosial II. Penunjang Asuransi a. Pialang Asuransi b. Pialang Reasuransi c. Adjuster Asuransi d. Konsultan Aktuaria e. Agen Asuransi 60 104 4 5 120 21 25 20 0 2004 57 101 4 5 128 19 30 23 5 2005 51 97 4 5 134 21 30 28 6 2006 45 92 4 5 154 29 30 34 9

160 140 120 100 80 60 40 20 0

2003

2004

2005

2006

Grafik Boks 2.1.3. Perkembangan Laba Asuransi: 2003-2006
Rp miliar 2500,0
Asuransi Jiwa Asuransi Kerugian Asuransi Sos & Jamsostek

2000,0

Reasuransi Asuransi PNS & TNI

Grafik Boks 2.1.1. Permodalan Asuransi 2003-2006
Rp triliun 16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 2003 2004 2005 2006 Asuransi Jiwa Reasuransi Asuransi PNS & TNI Asuransi Kerugian Asuransi Sos & Jamsostek

1500,0 1000,0 500,0 0,0 2003 2004 2005 2006

Sejalan dengan peningkatan laba tersebut maka ROA, ROE, ROI dan investment yield dari asuransi jiwa juga meningkat. Asuransi jiwa menjadi semakin aktif dan efisien dalam mengelola investasi disamping tetap

47

Bab 2 Sektor Keuangan

memelihara kehati-hatian. Sementara itu, asuransi umum juga semakin aktif berinvestasi namun dalam pengelolaan investasi tampaknya tidak seefisien asuransi jiwa.
Grafik Boks 2.1.4. Beberapa Indikator Kesehatan Perusahaan Asuransi
20,00 18,00 16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 ROA-AJ ROA-AU ROE-AJ ROE-AU ROI-AJ ROI-AU Invyield - AJ Invyield - AU
2005 2006

asuransi konvensional juga memiliki karakteristik tabungan. Nasabah Unit Link selain memperoleh pertanggungan atas jiwa juga akan memperoleh pengembalian investasi sejumlah tertentu.
Grafik Boks 2.1.6. Premi: Unit Link & Total: 2003-2006
Rp miliar 30
Premi Unit Link Total Premi Premi UL/T Premi

% Premi UL/Premi Total 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00

25 20 15 10 5 0 2003 2004 2005 2006

Grafik Boks 2.1.5. Investasi Perusahaan Asuransi: 2003-2006
Rp triliun 70
Surat Berharga Pem Deposito Saham & Obligasi Reksadana

Grafik Boks 2.1.7. Hasil Investasi: Unit Link terhadap Total: 2003-2006
Rp miliar 7 6 5 4 3 2 1 0
Hasil Inv Unit Link Hasil Inv Total Hsl Inv UL/Hsl Inv Total

Hasil Inv UL/Hasil Inv Total 40.00 35.00 30.00 25.00 20.00

60 50 40 30 20 10 0 2003 2004 2005 2006

15.00 10.00 5.00 0.00 2003 2004 2005 2006

Dari segi aktivitas investasi, tampak bahwa perusahaan asuransi semakin aktif melakukan penanaman tidak hanya pada deposito namun juga pada saham dan obligasi serta reksa dana. Pada tahun 2006 investasi asuransi pada saham dan obligasi naik 158% menjadi Rp60 triliun, sedangkan penanaman pada reksa dana naik 29% menjadi Rp10 triliun.

Pada tahun 2006, terdapat 21 perusahaan yang menyelenggarakan Unit Link. Premi Unit Link terus meningkat meskipun kontribusinya terhadap total premi asuransi jiwa relatif rendah, yaitu sekitar 25%. Penyelenggaraan Unit Link menyebabkan asuransi jiwa semakin aktif melakukan investasi sehingga risiko pasar menjadi meningkat. Hal tersebut terlihat pada melambatnya kenaikan hasil investasi pada saat naiknya suku bunga (tahun 2005) dan meningkat pesatnya hasil investasi dengan mulai turunnya suku bunga (tahun 2006). Berkembangnya asuransi jiwa juga didukung oleh kerja sama antara asuransi jiwa dengan

Potensi Risiko
Penting dicatat bahwa relatif bagusnya perkembangan asuransi jiwa terutama didukung oleh berkembangnya produk asuransi non konvensional yaitu Unit Link. Produk tersebut selain memiliki karakteristik

48

Bab 2 Sektor Keuangan

perbankan melalui Bancassurance. Sampai dengan akhir tahun 2007 terdapat sekitar 27 bank besar yang melakukan Bancassurance terutama berupa keagenan produk asuransi termasuk Unit Link. Bancassurance dalam bentuk keagenan produk asuransi memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Di satu sisi, perusahaan asuransi akan memperluas nasabah, sementara di sisi lain, perbankan berpeluang untuk meningkatkan fee

• Kemungkinan terdapatnya misselling karena kekurangpahaman tenaga penjual di bank tentang karakteristik produk asuransi. • Perkembangan produk asuransi yang semakin mirip produk bank dan bahkan semakin terkait dengan produk bank menyebabkan semakin rumitnya proses klaim; Dengan adanya potensi peningkatan risiko pasar dan risiko reputasi tersebut di atas maka bank perlu berhati-hati dalam menawarkan produk Unit Link dan Bancassurance. Kehati-hatian tersebut dibangun melalui pemahaman yang utuh tentang produk yang ditawarkan serta langkah-langkah mitigasi risiko yang telah dipersiapkan untuk mengantisipasi potensi kerugian.

based income.
Namun demikian, kegiatan bancassurance dalam bentuk kegiatan keagenan tetap berpotensi meningkatkan risiko bagi bank terutama dalam bentuk risiko reputasi. Hal tersebut karena :

49

Bab 2 Sektor Keuangan

Halaman ini sengaja dikosongkan

50

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

51

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Halaman ini sengaja dikosongkan

52

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Bab 3

Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Secara umum prospek sistem keuangan Indonesia tetap positif. Hal tersebut didukung oleh kondisi makroekonomi yang relatif kondusif di tengah peningkatan tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Prospek tersebut juga ditopang oleh kondisi internal sektor keuangan terutama perbankan dengan permodalan yang kuat dan kemampuan manajemen risiko yang cenderung membaik. Eratnya koordinasi antara otoritas perbankan dengan otoritas pasar modal dan lembaga keuangan non-bank sangat diperlukan untuk memperkuat ketahanan sektor keuangan ke depan.

3.1. PROSPEK EKONOMI DAN PERSEPSI RISIKO
Meskipun akhir-akhir ini terdapat tekanan inflasi dalam perekonomian domestik yang dibarengi dengan gejala perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi global, namun prospek ekonomi Indonesia tetap positif dengan pertumbuhan diperkirakan di atas 6%. Analis ekonomi Asia Pasifik menyebutkan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh peningkatan perdagangan internasional dan tingkat inflasi yang relatif terkendali. Di samping itu, investasi dan ekspor mulai menjadi penopang pertumbuhan ekonomi disamping sektor konsumsi yang semenjak paska krisis menjadi penopang perekonomian Indonesia. Kondisi ini didorong oleh penurunan tingkat suku bunga domestik dan iklim investasi yang semakin membaik kendati belum sepenuhnya pulih seperti sebelum krisis. Prospek makroekonomi yang cukup baik ini akan memperkuat kestabilan sistem keuangan dan menopang perekonomian Indonesia.

Tabel 3.1 Konsensus Proyeksi Beberapa Indikator Ekonomi
2007 2008

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 PDB (%yoy) Inflasi (% yoy) 6,0 6,3 6,5 6,1 6,2 6,1 6,1 6,1 6,4 6,0 6,5 6,6 6,4 6,7 6,4 6,6

Neraca Perdagangan (US$ milliar) 7,9 8,4 8,1 8,7 8,5 8,9 9,4 10,4
Sumber: Asia Pacific Consensus Forecast

Sementara itu, investor asing diperkirakan akan masih terus menganggap kondisi ekonomi dan instrumen investasi Indonesia menarik dan relatif stabil, meskipun terdapat peningkatan persepsi risiko sebagaimana tercermin pada yield spread yang cenderung meningkat. Namun demikian, peningkatan aliran investasi terutama yang berjangka pendek perlu diwaspadai karena sangat rentan terhadap gejolak eksternal yang berpotensi mendorong terjadinya aliran modal keluar secara serentak dan tiba-tiba (sudden reversal).

53

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Tabel 3.2 Persepsi Risiko Indonesia
Obligasi Indo 41 Indo 17 Indo 45 Rating Ba3 (Moody's) BB+ (S&P) Ba3 (Moody's) Ytm (%) 7,27 8,96 11,01 Yield Spread (bps) Sep 2007 386,6 475,2 546,6 Des 2007 423,9 495,2 653,4

alam, gejolak harga komoditas pokok, dan potensi kenaikan harga minyak dunia maka perbankan ke depan diperkirakan akan menghadapi peningkatan risiko kredit. Akan tetapi, dengan semakin membaiknya RCS perkreditan bank maka peningkatan risiko kredit diperkirakan tidak akan signifikan. Sementara itu, risiko likuiditas tetap rendah dengan tren stabil sejalan dengan tingginya rasio alat likuid

Sumber: Bloomberg

3.2. PROFIL RISIKO PERBANKAN: TINGKAT DAN ARAH
Karena perbankan mendominasi sektor keuangan Indonesia maka tingkat dan arah dari profil risiko perbankan akan berdampak besar terhadap stabilitas. Secara umum, risiko perbankan selama semester II 2007 relatif terkendali dan cenderung stabil. Gejolak-gejolak yang terjadi di pasar keuangan baik domestik maupun global tidak sampai mengganggu ketahanan sistem perbankan sehingga kinerjanya tetap terjaga dan fungsi intermediasi terus membaik. Hal tersebut dibarengi pula dengan peningkatan efisiensi dan penurunan kredit bermasalah sehingga profitabilitas terus meningkat meskipun rasio permodalan (CAR) sedikit menurun sebagai akibat kenaikan kredit perbankan. Sementara itu, peningkatan fungsi intermediasi perbankan telah diimbangi oleh risk control systems (RCS) kredit yang terus membaik. Kemajuan dalam manajemen risiko kredit yang dibarengi dengan pelaksanaan restrukturisasi kredit pada beberapa bank BUMN merupakan faktor-faktor yang menyebabkan membaiknya kualitas kredit perbankan. Sebagaimana dikemukakan pada Bab 2, pada akhir 2007 untuk pertama kalinya setelah krisis rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di bawah 5%. Namun demikian, di tengah masih banyaknya permasalahan internal dan eksternal seperti sektor riil yang belum sepenuhnya pulih, meningkatnya intensitas bencana

terhadap non-core deposits perbankan. Likuiditas perbankan juga tetap terkendali, antara lain tercermin dari tidak terdapatnya gejolak di pasar uang antar bank (PUAB) yang mengganggu kinerja perbankan. Namun demikian, potensi peningkatan risiko likuiditas tetap ada mengingat struktur dana pihak ketiga perbankan masih kurang berimbang, baik dari sisi tenor, volume maupun kepemilikan. Hal lain yang juga berpotensi meningkatkan risiko likuiditas adalah kemungkinan terjadinya shock di pasar keuangan global yang kemudian menjalar ke pasar keuangan domestik. Risiko pasar dari sisi nilai tukar relatif rendah dengan tren stabil. Secara teknis, risiko nilai tukar tetap terkendali karena posisi devisa netto (PDN) perbankan yang relatif rendah, jauh di bawah rasio maksimum 20%. Sedangkan risiko pasar dari sisi suku bunga masih tetap moderat dengan tren stabil, sejalan dengan profil maturitas perbankan yang short pada jangka pendek dan long pada jangka panjang. Meskipun strategi profil maturitas tersebut sampai saat ini efektif dalam mengatasi risiko suku bunga, namun kerawanan dapat timbul apabila terjadi pembalikan arah suku bunga. Hal ini perlu diwaspadai mengingat instrumen keuangan yang dapat digunakan sebagai pengendali risiko suku bunga masih relatif terbatas karena belum berkembangnya pasar hedging dan derivative di Indonesia. Selanjutnya, risiko pasar dari sisi harga SUN juga masih tergolong moderat dengan tren stabil. Sejauh ini

54

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Grafik 3.1 Profil Risiko Perbankan dan Arahnya
Risiko Pasar
Inherent Risk

Risiko Likuiditas

Risiko Kredit

Smt-II 2007 Outlook

Smt-II 2007 Outlook

Smt-II 2007 Outlook

strategi yang ditempuh bank untuk meminimalisir risiko harga SUN adalah dengan memelihara portfolio SUN

trading yang rendah. Namun demikian, kewaspadaan perlu
ditingkatkan khususnya apabila terjadi kenaikan portfolio SUN trading yang diiringi dengan kejatuhan harga karena gejolak pasar yang umumnya di luar kendali bank. Untuk risiko operasional, masih banyak tantangan yang dihadapi perbankan Indonesia. Hal ini antara lain karena masih adanya gangguan yang terkait dengan teknologi informasi. Selain itu, kemungkinan terjadinya

fraud dan kelemahan operasional lainnya perlu terus
diminimalisir dengan meningkatkan fungsi internal control. Pengukuran risiko operasional juga masih menjadi suatu tantangan karena keterbatasan data dan keahlian yang dimiliki perbankan. Implementasi Basel II nantinya diharapkan dapat mendorong peningkatan kemampuan perbankan dalam pengukuran dan pengendalian risiko operasional.

3.3. PROSPEK SISTEM KEUANGAN INDONESIA
Kondisi stabilitas sistem keuangan selama semester II 2007 relatif terjaga dengan prospek yang positif. Hal tersebut sejalan dengan kondisi makroekonomi yang membaik, pasar keuangan domestik yang relatif stabil, serta

infrastruktur dan kinerja perbankan yang terus meningkat.

High Moderate Low

Suku Bunga

Harga SUN

Nilai Tukar

Strong

Acceptable

Weak Risk Control

Strong

Acceptable

Weak Risk Control

Strong

Acceptable

Weak Risk Control

Stabilitas sistem keuangan selama 2007 sebagian besar diwarnai oleh dampak perkembangan perekonomian dunia, seperti krisis subprime mortgage dan peningkatan harga minyak dunia dan komoditi pokok. Meningkatnya tekanan dari perekonomian global tersebut mendorong kenaikan tipis indeks stabilitas sistem keuangan (financial

stability index) dari 1,21 pada akhir Juni 2007 menjadi
1,25 pada akhir Desember 2007. Memasuki tahun 2008, semakin meningkatnya ketidakpastian dalam pasar keuangan global sebagai akibat lanjutan dari krisis subprime mortgage dan melemahnya perekonomian Amerika Serikat berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap pasar keuangan domestik dan kinerja korporasi yang menjadi debitur bank. Dari dalam negeri, bencana alam yang terjadi silih berganti
Grafik 3.2 Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index)
2,5 FSI FSI (average)

2 1,5

1,34 1,251,27

1

0,5

0
M04 M08 M12 M04 M08 M12 M04 M08 M12 M04 M08 M12 M04 M08 M12 M04

2003

2004

2005

2006

2007

2008

55

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

berpotensi untuk meningkatkan jumlah kredit bermasalah. Hal-hal tersebut diperkirakan akan menimbulkan tekanan terhadap ketahanan sistem keuangan pada semester I 2008 sehingga indeks stabilitas sistem keuangan akan sedikit meningkat menjadi 1,34 pada akhir Juni 2008. Meskipun terdapat potensi penurunan stabilitas sistem keuangan yang berasal dari perusahaan korporasi yang menjadi debitur bank, namun secara umum perbankan diperkirakan akan dapat mengatasinya dengan pembentukan cadangan aktiva produktif dan permodalan yang memadai. Selain itu, langkah-langkah restrukturisasi kredit yang terus akan dilanjutkan juga diperkirakan dapat semakin meningkatkan kualitas kredit perbankan. Berbagai gejolak dan perkembangan yang terjadi dalam perekonomian domestik dan global tidak selamanya dipandang sebagai suatu ancaman. Kenaikan harga minyak dunia dan komoditas pokok lainnya justru membuat pencarian sumber energi alternatif menjadi semakin penting. Disamping itu, sejak krisis, berbagai jenis infrastruktur strategis kurang mendapat perhatian sehingga Pemerintah perlu meluncurkan berbagai paket kebijakan untuk mempercepat pembangunan

peningkatan harga minyak dunia dan komoditi pokok, serta melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Sampai saat ini, dampak krisis subprime mortgage masih terus berlanjut dan telah berimbas ke beberapa segmen lain. Di Amerika Serikat, krisis tersebut selain telah merugikan perusahaan-perusahaan keuangan besar, juga berdampak pada monoline company sebagai perusahaan yang menjamin ketepatan pembayaran pokok maupun bunga dari obligasi atau surat berharga lainnya pada saat penerbit mengalami default. Dua perusahaan monoline terbesar Amerika Serikat (Ambac Financial Group Inc., dan MBIA) telah mengalami kerugian dan penurunan peringkat sehingga harga sahamnya sempat anjlok. Perkembangan tersebut dapat mengakibatkan semakin sempitnya credit

market di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya
yang terkait. Meskipun Indonesia tidak mengalami kerugian langsung akibat krisis subprime mortgage , namun imbasnya turut dirasakan sejalan dengan semakin terintegrasinya ekonomi domestik dengan ekonomi global. Sementara itu, kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan biaya-biaya produksi dan mendorong kenaikan harga-harga yang menurunkan daya beli masyarakat. Akibatnya, kemungkinan meningkatnya kredit bermasalah menjadi semakin besar sehingga dapat menimbulkan tekanan pada sistem keuangan (lihat Boks 3.1). Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia yang dipicu oleh menurunnya perekonomian Amerika Serikat

infrastruktur. Hal-hal ini mendorong terbukanya peluang bisnis yang besar pada sektor-sektor seperti crude palm

oil , batubara, gula, infrastruktur dan properti.
Pengembangan sektor-sektor tersebut perlu dukungan iklim investasi yang lebih menarik, serta pembiayaan dari lembaga-lembaga keuangan dan pasar modal.

3.4. POTENSI KERAWANAN
Faktor-faktor yang menjadi potensi kerawanan pada semester sebelumnya diperkirakan masih akan terus membayangi ketahanan sistem keuangan. Dari sisi eksternal, potensi kerawanan terbesar terkait dengan gejolak perekonomian dunia, terutama sebagai dampak dari berlanjutnya kerugian akibat krisis subprime mortgage,

juga telah mulai merembet ke beberapa negara di Eropa. Kebijakan penurunan suku bunga yang ditempuh Amerika Serikat untuk mengatasi perlambatan ekonomi justru mendorong semakin melebarnya perbedaan suku bunga yang berpotensi memicu derasnya arus modal jangka pendek yang masuk pasar keuangan domestik. Kerawanan dapat timbul apabila terjadi pembalikan arus modal

56

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

tersebut secara serentak dan tiba-tiba (sudden reversal) ke luar Indonesia. Dari sisi internal, potensi kerawanan dapat timbul sebagai akibat bencana alam yang datang silih berganti, gejolak kenaikan harga komoditi pokok, dan persiapan Pemilu. Potensi kenaikan risiko kredit akibat bencana alam antara lain telah direspon dengan penerbitan ketentuan perbankan yang terkait dengan pemberian kredit kepada debitur di daerah bencana (lihat Boks 3.2). Sementara itu, penanggulangan kenaikan harga komoditi pokok dan antisipasi persiapan Pemilu, sangat memerlukan langkahlangkah konkrit dari Pemerintah. Sementara itu, terdapat beberapa tantangan yang perlu dijawab oleh perbankan Indonesia ke depan. Tantangan pokok antara lain adalah pelaksanaan

konsolidasi perbankan, dan implementasi Basel II. Konsolidasi perbankan diyakini akan meningkatkan daya saing dan skala ekonomis dari bank-bank domestik, serta akan memudahkan pelaksanaan pengawasan bank. Pada sisi lain, implementasi Basel II akan semakin mendorong peningkatan kualitas manajemen risiko perbankan. Potensi kerawanan dapat semakin berkurang dengan mengefektifkan Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) yang merupakan media pertukaran informasi dan pembahasan berbagai risiko yang berpotensi menimbulkan

shock dan krisis di sektor keuangan. Ke depan, koordinasi
yang lebih erat antara otoritas perbankan dengan otoritas pasar modal dan lembaga keuangan non-bank sangat diperlukan untuk lebih meningkatkan ketahanan sistem keuangan.

57

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Boks 3.1

Dampak Kenaikan Harga Minyak terhadap Stabilitas Sistem Keuangan

Menjelang akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008, harga minyak dunia cenderung terus meningkat, bahkan sempat melebihi US$110 per barel. Dalam kaitan ini kewaspadaan sangat diperlukan mengingat pengalaman pada tahun 2005 menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dapat menimbulkan tekanan terhadap sistem keuangan, khususnya melalui peningkatan jumlah kredit bermasalah (NPL) di perbankan. Namun demikian, apabila diperhatikan data sepanjang tahun 2007, hubungan antara harga minyak dunia dan NPL perbankan tampaknya tidak selalu searah. Sebagaimana terlihat dalam Grafik Boks 3.1.1, walaupun harga minyak cenderung meningkat, namun NPL perbankan menurun. Hal ini terjadi karena selama periode tersebut NPL perbankan lebih banyak dipengaruhi oleh restrukturisasi kredit. Sungguhpun demikian, karena dampak dari kenaikan harga minyak dunia kemungkinan baru akan terlihat setelah beberapa bulan kemudian, diperlukan pemantauan yang seksama oleh perbankan terhadap debitur-debitur yang sensitif terhadap perubahan harga minyak dunia. Dengan pemantauan yang cermat dapat diperkirakan kemungkinan besarnya peningkatan NPL dan kebutuhan pembentukan cadangan (provisions) yang diperlukan. Sementara itu, untuk mengetahui dampak perubahan harga minyak dunia terhadap NPL perbankan telah pula dilakukan suatu simulasi. Sebagai
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

Grafik Boks 3.1.1. NPL Perbankan dan Harga Minyak
USD/barel % 10.00 9.00 8.00 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00
Harga Minyak (aksis kiri) NPL (aksis kanan) Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov

1.00 0.00

2004

2005

2006

2007

dasar perhitungan dalam simulasi adalah tingkat rasio NPL gross per akhir Desember 2007 sebesar 4,6%. Hasil simulasi menunjukkan bahwa, ceteris paribus, setiap peningkatan 10% harga minyak dunia akan mengakibatkan peningkatan rasio NPL gross tiga bulan kemudian sekitar 0,20%. Dengan demikian, apabila harga minyak dunia meningkat misalnya menjadi USD115 dan hal tersebut terjadi secara terus menerus, maka rasio NPL gross tiga bulan berikutnya diperkirakan akan menjadi sebesar 5,66% (lihat Tabel Boks 3.1.1.). Angka-angka di atas menunjukkan bahwa peningkatan harga minyak dunia merupakan suatu hal yang dapat berpengaruh signifikan terhadap perbankan sehingga tidak boleh diabaikan dalam kegiatan surveillance stabilitas sistem keuangan.

Tabel Boks 3.1.1. Proyeksi NPL Gross Tahun 2008 dengan Berbagai Skenario Harga Minyak
Skenario Harga Minyak Dunia Rasio NPL gross (%)

USD 75

USD 85

USD 100

USD 110

USD 115

USD 120

USD 125

4,82%

5,02%

5,37%

5,57%

5,66%

5,75%

5,82%

58

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Boks 3.2

Bencana Alam, Lingkungan Hidup dan Stabilitas Sistem Keuangan

Sejak beberapa waktu terakhir bencana alam terus menerus melanda Indonesia. Berita tentang gempa, banjir dan longsor hampir setiap hari menghiasi media massa. Terjadinya bencana alam tersebut terutama karena semakin meningkatnya kerusakan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup dan bencana alam yang ditimbulkannya dapat berdampak negatif terhadap stabilitas sistem keuangan. Bencana alam tidak saja berpotensi mengakibatkan biaya ekonomi tinggi, namun juga dapat merusak infrastruktur sehingga mengganggu pelayanan jasa keuangan dan pelaksanaan sistem pembayaran. Bagi perbankan, bencana alam dapat meningkatkan risiko kredit melalui kenaikan NPL dan menimbulkan risiko operasional. Selanjutnya, gangguan operasional yang serius dapat menimbulkan risiko reputasi. Oleh karena itu, Disaster

lingkungan hidup melalui pembiayaan terhadap proyek-proyek seperti mitigasi efek rumah kaca, produksi bahan pengganti bahan bakar minyak, daur ulang sampah dan pemrosesan limbah industri. Salah satu isu terakhir terkait dengan lingkungan hidup adalah pemanasan global (global warming). Isu tersebut telah menjadi salah satu topik penting dalam Konferensi Tingkat Tinggi mengenai perubahan lingkungan ( United Nations Climate Change

Conference) yang berlangsung di Bali tanggal 3-14
Desember 2007. Dalam kaitan ini, pertanyaan yang paling relevan adalah bagaimana sektor keuangan berkontribusi aktif dalam mitigasi dampak pemanasan global? Indonesia memiliki kekayaan alam yang terdiri dari kawasan hutan yang meliputi 25% dari keseluruhan hutan di wilayah Asia Timur dan Pasifik. Laporan dari World Bank menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki karakteristik keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi. Dengan potensi kawasan hutan yang besar, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengurangi efek rumah kaca yang selama ini dianggap penyebab utama pemanasan global. Pembentukan carbon

Recovery Plan atau Business Continuity Plan yang
memadai perlu dipersiapkan secara baik. Tidak diragukan lagi, menjaga lingkungan hidup merupakan cara yang paling tepat untuk mencegah terjadinya bencana alam. Sebagai otoritas perbankan, Bank Indonesia telah berupaya mendorong bank untuk mendukung pemeliharaan lingkungan hidup. Hal ini antara lain tercermin dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang Penilaian Aktiva Produktif Bank Umum yang mewajibkan bank agar pada saat melakukan penilaian prospek bisnis debitur mengevaluasi upaya-upaya yang telah dilakukan debitur dalam rangka memelihara lingkungan hidup. Selanjutnya, untuk mendukung pemulihan kondisi perekonomian paska bencana alam, Bank Indonesia telah menerbitkan PBI No.8/15/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Perlakuan Khusus terhadap Kredit Bank bagi Daerah-daerah tertentu di Indonesia yang Terkena Bencana Alam. Disamping itu, perbankan juga dapat membantu menjaga kondisi

market yang dicetuskan sebagai hasil kesepakatan Kyoto Protocol 1997 dapat menjadi peluang bagi
lembaga-lembaga keuangan untuk terjun dalam bisnis pembiayaan aktivitas yang dapat menurunkan emisi efek rumah kaca atau greenhouse gas (GHG). Di dalam carbon market, negara yang melebihi kuota dalam emisi GHG dapat mengkompensasinya dengan cara pembiayaan proyek penurunan emisi GHG baik di negaranya sendiri maupun di negara lain. Transaksi karbon (carbon transaction) didefinisikan sebagai pembelian kontrak dimana pihak pertama membayar pihak kedua untuk melakukan aktivitas penurunan emisi GHG atau untuk memperoleh hak

59

Bab 3 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

untuk melakukan emisi sejumlah GHG sehingga pihak pertama dapat memenuhi batasan emisi GHG-nya. Pembayaran dapat dilakukan dalam bentuk tunai,

kemungkinan besar akan terus meningkat. Carbon

market internasional sendiri mengalami pertumbuhan
kapitalisasi senilai US$30 miliar sepanjang tahun 2006, atau tiga kali lebih besar dari tahun 2005. Sudah saatnya dipikirkan upaya-upaya untuk menghidupkan perdagangan karbon di pasar keuangan Indonesia sebagai salah satu sumber pembiayaan proyek-proyek lingkungan hidup.

equity, utang (debt), convertible debt, warrant, atau
dalam bentuk alih teknologi. Dewasa ini, EU ETS ( European Union Emissions Trading Scheme ) merupakan carbon market yang terbesar dengan kapitalisasi mewakili negara-negara maju yang telah secara aktif meramaikan carbon market yang disalurkan untuk pembiayaan pengurangan emisi GHG di negaranegara Eropa sendiri dan di negara-negara berkembang. Mengingat eksposur Indonesia pada carbon

Daftar Pustaka
Asia Cleantech, ≈Avoided deforestation credits head for the voluntary carbon markets∆, 7 Januari 2008. New Energy Finance, ≈Clean energy investment breaks the $100bn barrier in 2007∆, Press Release 2 Januari 2008. The World Bank, ≈Environment at a Glance Indonesia∆, 2004 The World Bank, ≈State and Trends of the Carbon Market 2007∆, Mei 2007. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) website (http://unfccc.int).

market masih relatif sangat kecil, dan pangsa carbon market pada pasar keuangan Indonesia juga masih
relatif sangat kecil maka dampaknya pada stabilitas sistem keuangan dapat diabaikan. Namun demikian,

carbon market berpotensi untuk menjadi sumber
pendanaan bagi proyek-proyek lingkungan hidup di Indonesia. Selanjutnya, karena potensi Indonesia dalam memberikan kontribusi untuk mengurangi efek rumah kaca sangat besar maka eksposur carbon market ini

60

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

61

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

Halaman ini sengaja dikosongkan

62

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

Bab 4

Infrastruktur Keuangan

Selama paruh kedua tahun 2007, infrastruktur keuangan Indonesia tetap mendukung terpeliharanya stabilitas sistem keuangan. Kendati terdapat peningkatan volume dan nilai setelmen, sistem pembayaran berfungsi tanpa kendala sehingga dapat memitigasi risiko setelmen dan risiko operasional. Sementara itu, Biro Informasi Kredit semakin berperan dalam penyediaan informasi kredit untuk pelaku bisnis. Infrastruktur keuangan juga semakin kuat dengan semakin berfungsinya Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK).

4.1. SISTEM PEMBAYARAN 4.1.1. Perkembangan Sistem Pembayaran
Sistem pembayaran Indonesia tetap handal dan tidak menunjukkan adanya potensi risiko sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan. Pada semester II 2007, 96,51% dari total nilai transaksi pembayaran antarbank dilakukan melalui sistem BI-RTGS (Bank Indonesia-

melalui kartu kredit dan kartu account based (ATM, ATM+Debet dan Debet). Dibandingkan dengan semester sebelumnya, nilai transaksi pembayaran melalui sistem BI-RTGS pada semester laporan menurun 10,42% dari Rp22,09 ribu triliun menjadi Rp20,01 ribu triliun, meskipun dari segi volume meningkat 15,34% dari 3,87 juta transaksi menjadi 4,57 juta transaksi. Penurunan nilai transaksi pembayaran antara lain terkait dengan penjarangan intervensi dalam pengelolaan moneter. Sementara

Real Time Gross Settlement). Sementara itu, pemrosesan
melalui kliring mencapai 3,49% sedangkan sisanya
Grafik 4.1 Aktivitas Transaksi Sistem Pembayaran Semester II 2007
0,0002% 3,4852% 0,0045%

kenaikan volume transaksi pembayaran terjadi karena peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pada waktuwaktu khusus seperti peringatan hari besar keagamaan, tutup buku akhir tahun, dan tahun baru. Alasan lain peningkatan volume transaksi pembayaran adalah kenaikan kegiatan transaksi di pasar valas untuk memenuhi kebutuhan valas dari korporasi, serta

96,5101% RTGS Kliring Kartu Kredit Kartu account based (ATM, ATM+Debet&Debet)

berlanjutnya peningkatan kegiatan transaksi di pasar modal pada semester laporan.

63

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

Tabel 4.1 Perkembangan Nilai dan Volume Setelmen dalam Sistem BI-RTGS
Semester I 2007 Nilai Transaksi (ribu triliun) Volume Transaksi (juta) Rp22,09 3,87 Rp20,01 Semester II 2007 Nilai Transaksi (ribu triliun) Volume Transaksi (juta) 4,57 (10,42%) 15,34% Pertumbuhan Nilai Volume

sebelumnya sebesar Rp1,10 ribu triliun, dengan volume transaksi sebesar 657,26 juta transaksi atau turun sebesar 23,12% dibandingkan semester sebelumnya sebesar 809,22 juta. Penurunan nilai dan volume transaksi APMK ini terutama karena penurunan volume dan nilai transaksi kartu jenis account based berupa kartu ATM dan ATM+Debet yang mendominasi (sekitar 95,97%) total transaksi APMK.

Sebagai kesinambungan dari kegiatan pada semester sebelumnya, implementasi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada Penyelenggara Kliring Lokal (PKL) terus berlanjut sehingga pada akhir semester II 2007 terdapat 41 PKL yang telah menyelenggarakan SKNBI. Sementara itu, nilai transaksi kliring kredit pada semester laporan tercatat sebesar Rp195,49 triliun dengan volume transaksi 19,62 juta transaksi. Sedangkan nilai transaksi kliring debet tercatat sebesar Rp527,23 triliun dengan volume transaksi 20,28 juta transaksi. Dibandingkan dengan semester I 2007, baik kliring kredit maupun kliring debet mengalami peningkatan baik dari sisi nilai maupun volume. Kenaikan nilai dan volume kliring kredit masingmasing sebesar 12,91% dan 8,22%, sedangkan kenaikan nilai dan volume kliring debet masing-masing sebesar 11,47% dan 2,11%. Dalam semester laporan, Bank Indonesia telah memberikan persetujuan kepada 7 institusi penerbit APMK yang berupa kartu kredit, kartu debet, kartu ATM dan kartu prabayar. Meskipun terjadi peningkatan jumlah kartu, penggunaan APMK berupa kartu kredit, kartu debet dan kartu ATM menunjukkan penurunan dibandingkan semester sebelumnya. Jumlah kartu yang beredar dalam semester laporan adalah sebesar 44,35 juta kartu atau naik 8,74% dibandingkan semester sebelumnya yang tercatat sebesar 40,46 juta kartu. Sementara itu, nilai transaksi menggunakan APMK tercatat sebesar Rp0,98 ribu triliun atau turun sebesar 12,51% dibandingkan semester a. Intensifikasi Pemenuhan Sistem BI-RTGS terhadap CP-SIPS CP SIPS merupakan standar internasional yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlements
Jenis Kartu (dalam juta) Kartu Kredit Kartu Debet (ATM dan ATM+Debet) Total 35,20 44,35 590,04 657,26 941,64 981,20

Tabel 4.2 Transaksi APMK
Jumlah kartu (dalam juta) 9,15 Volume Transaksi 67,22 Nilai Transaksi (dalam triliun) 39,56

4.1.2. Kebijakan dan Mitigasi Risiko dalam Sistem Pembayaran
Dalam pengoperasian sistem pembayaran terdapat potensi risiko yang dihadapi oleh Bank Indonesia baik sebagai regulator dan operator sistem pembayaran maupun sebagai institusi pengguna sistem pembayaran. Terkait dengan potensi risiko tersebut, Bank Indonesia melakukan upaya mitigasi antara lain sebagai berikut :

(BIS) melalui Committee on Payment and Settlement Systems (CPSS). Pemenuhan standar internasional ini
akan membantu mitigasi risiko. Untuk pemenuhan CP SIPS, ketentuan Sistem BI-RTGS dibuat lebih transparan, termasuk dengan mengumumkan kebijakan pengenaan biaya sistem

64

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

BI-RTGS yang digunakan oleh Bank Indonesia. Selain transparan, ketentuan sistem BI-RTGS yang disusun juga memperhatikan aspek efisiensi bagi peserta sistem BI-RTGS dengan cara memberikan kebebasan untuk memilih jenis kepesertaannya dalam sistem BIRTGS. Dari segi aplikasi, telah diimplementasikan fiturfitur keamanan baru dalam sistem BI-RTGS guna meningkatkan keamanan penyelenggara (Bank Indonesia) dan peserta. Selanjutnya, Bank Indonesia juga akan mengeluarkan ketentuan mengenai perlindungan konsumen pengguna sistem pembayaran, antara lain mencakup perlindungan dalam pengkreditan dan pendebetan rekening nasabah serta pemberian bunga dan kompensasi. d.

kondisi apapun. Uji coba tersebut juga dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan sistem back up pada penyelenggara. Untuk menjaga kelangsungan sistem BI-RTGS peserta, Bank Indonesia memberikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan uji coba koneksi ke penyelenggara untuk memastikan bahwa backup-nya berfungsi dengan baik. Dalam hal

backup peserta tidak dapat digunakan, Bank
Indonesia juga telah menyediakan Fasilitas Guest

Bank, yang dapat digunakan oleh peserta untuk
melakukan penyelesaian transaksi sistem BI-RTGS.

Peningkatan

Keamanan

Alat

Pembayaran

Menggunakan Kartu Proses perizinan dapat dimanfaatkan untuk

b.

Pengawasan Sistem Pembayaran Pengawasan yang efektif akan mengurangi risiko dalam sistem pembayaran. Dalam upaya

meningkatkan keamanan APMK sebelum APMK tersebut digunakan secara luas oleh masyarakat. Dalam proses pemberian izin penerbitan APMK, Bank Indonesia menerapkan prinsip kehati-hatian antara lain dengan cara menganalisa dokumen permohonan yang diajukan oleh institusi calon penerbit APMK. Peningkatan keamanan dari sisi teknologi instrumen dilakukan dengan mendorong penggunaan teknologi chips untuk kartu ATM dan kartu Debet. Sementara itu, untuk meminimalkan risiko bagi konsumen, Bank Indonesia melakukan pengawasan langsung kepada penyelenggara APMK dan pengawasan tidak langsung dengan menganalisa laporan

mempertahankan penyelenggaraan sistem BI-RTGS yang cepat, aman, dan handal, Bank Indonesia terus melakukan pengawasan terhadap peserta baik secara

onsite maupun offsite. Pengawasan onsite dilakukan
dengan melakukan kunjungan langsung ke lokasi produksi peserta untuk mengetahui kepatuhan peserta terhadap ketentuan sistem BI-RTGS. Sementara itu, pengawasan offsite dilakukan dengan menganalisis laboran-laporan yang disampaikan oleh peserta, antara lain laporan hasil pemeriksaan internal dan laporan hasil security audit.

penyelenggaraan APMK yang diserahkan secara periodik kepada Bank Indonesia.

c.

Business Continuity Plan Sistem Pembayaran Untuk menjaga kelangsungan sistem BI-RTGS, Bank Indonesia melaksanakan uji coba secara periodik dengan menggunakan berbagai skenario kondisi guna mempersiapkan dan melatih personil yang terlibat dalam operasional agar selalu siap dalam

4.2. BIRO INFORMASI KREDIT
Upaya penting lainnya yang telah ditempuh untuk memperkuat infrastruktur sektor keuangan Indonesia adalah pendirian Biro Informasi Kredit (BIK) di Bank Indonesia. Pembentukan BIK ini merupakan salah satu

65

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

program dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API), khususnya pilar ke-5 yaitu mewujudkan infrastruktur yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri perbankan yang sehat. Secara umum, BIK ditujukan untuk membantu perbankan dan lembaga keuangan lainnya dalam memperlancar proses penyediaan dana dan penerapan manajemen risiko melalui tersedianya informasi kualitas debitur yang dapat diandalkan. Adanya informasi yang lengkap dan transparan mengenai debitur sangat dibutuhkan untuk menghindari terjadinya assymetric

pelaksanaan SID yang on line dan real time. Adapun cakupan SID sebagai berikut: Pelapor SID meliputi Bank Umum, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), BPR Syariah, Lembaga Penyelenggara Kartu Kredit Selain Bank (LPKKSB) dan Lembaga Keuangan Bukan Bank. Bagi Bank Umum, BPR dengan total aset sebesar Rp10 miliar atau lebih dan LPKKSB, pelaporan ini bersifat wajib, sedangkan bagi perusahaan keuangan lainnya dan BPR dengan aset kurang dari Rp10 miliar, pelaporan bersifat sukarela. Laporan debitur meliputi seluruh fasilitas penyediaan dana yang tercatat dalam pembukuan mulai dari Rp1,- ke atas. Laporan informasi debitur wajib disampaikan secara on line ke Bank Indonesia setiap bulan melalui aplikasi SID dengan menggunakan website. Bagi pelapor yang menyampaikan laporan debitar sesuai yang ditetapkan berhak untuk memperoleh informasi debitur individual (IDI) secara on line dan real time. Informasi yang tercakup dalam IDI antara lain identitas debitur, pemilik/pengurus debitur, jumlah fasilitas yang diterima debitur di bank pelapor, jumlah baki debet atau oustanding fasilitas, agunan serta kualitas kreditnya. Sanksi bagi pelapor yang tidak menyampaikan laporan atau koreksi laporan sesuai ketentuan atau sesuai dengan perjanjian. Perbedaan ketentuan SID yang berlaku saat ini dengan ketentuan SIPD (SID lama) sebagai berikut :

information dalam analisa pemberian kredit agar risiko
kredit dapat diminimalisir. Penyediaan informasi debitur sebenarnya sudah lama dilakukan Bank Indonesia. Pada mulanya dikenal dengan nama Sistem Informasi Kredit (SIK) yang kemudian diubah menjadi Sistem Informasi Penyediaan Dana (SIPD) dan sejak tahun 2005 dikenal dengan nama Sistem Informasi Debitur (SID) yaitu sistem yang digunakan untuk mengelola dan menyediakan informasi mengenai individual debitur. Sejak berlakunya Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7/8/PBI/2005 tanggal 24 Januari 2005 tentang SID maka laporan informasi debitur ke Bank Indonesia wajib dilakukan secara on line melalui website yang disediakan oleh Bank Indonesia. Pelaksanaan SID berbasis web ini menggunakan aplikasi yang terus disempurnakan mulai dari penggunaan aplikasi yang pertama yaitu versi 504 dan saat ini versi 510. Peningkatan dan pengembangan versi aplikasi SID akan membantu kecepatan dalam

Tabel 4.3 Perbandingan Ketentuan SID

Keterangan
Pelapor IDI Plafon yang dilaporan Debtor Indenfication Number (DIN)

Ketentuan SID Lama
Bank Umum On line tetapi tidak real time Rp50 juta atau lebih Tidak ada unique number

Ketentuan SID yang Sedang Berlaku
Bank Umum, BPR, PKKSB dan LKNB On line dan real time Seluruh nilai fasilitas yang diberikan Kepada masing-masing debitur diberikan DIN

66

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

Tabel 4.3 Perbandingan Ketentuan SID (lanjutan)

Keterangan
Pemeriksaan Penyampaian Laporan Jaringan komunikasi

Ketentuan SID Lama
Tidak terdapat pemeriksaan khusus SID Melalui switching PT. Aplikanusa Lintasarta Dial-up via VSAT

Ketentuan SID yang Sedang Berlaku
Dilakukan pemeriksaan khusus SID Langsung ke server BI (Kantor Pusat) Dial-up via ekstranet BI

Bagi pemberi kredit, manfaat BIK dan SID adalah membantu mempercepat proses analisa dan pengambilan keputusan pemberian kredit. Selain itu, dengan informasi yang lebih komprehensif dan akurat maka risiko kredit dapat diminimalisir. Sementara itu, bagi penerima kredit, manfaat BIK dan SID adalah mempercepat waktu persetujuan kredit. Disamping itu, nasabah baru akan mendapat akses yang lebih luas kepada pemberi kredit karena informasi kinerja kreditnya di tempat lain dapat diketahui oleh calon pemberi kredit melalui SID. Manfaat lainnya adalah debitur dapat melakukan pengecekan terhadap kebenaran data kreditnya yang dilaporkan oleh pelapor yaitu dengan mengajukan permohonan tertulis ke Bank Indonesia dengan menunjukkan bukti identitas diri atas nama debitur yang bersangkutan.

melakukan koordinasi dan tukar menukar informasi dalam rangka sinkronisasi peraturan perundangundangan dan ketentuan di bidang perbankan, lembaga keuangan non bank, dan pasar modal. melakukan penyiapan ∆macro early warning system∆ sektor keuangan terhadap permasalahan lembagalembaga dalam sistem keuangan yang berpotensi sistemik berdasarkan hasil early warning system yang dihimpun dari lembaga pengawas yang

bersangkutan. mengkoordinasikan dan mensinkronisasikan penyusunan Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI). melakukan kerjasama persiapan Financial Sector

Assessment Program (FSAP).
Untuk mendukung pelaksanaan fungsi-fungsi

4.3 MITIGASI RISIKO SISTEM KEUANGAN 4.3.1. Forum Stabilitas Sistem Keuangan
Dalam memitigasi risiko sistem keuangan, berbagai upaya telah dilakukan antara lain mencakup meningkatkan efektivitas kordinasi berbagai instansi terkait dalam Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK). Selama semester II 2007, Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) semakin meningkatkan fungsinya. Sebagaimana dilaporkan dalam KSK edisi sebelumnya, FSSK terdiri dari Forum Pengarah, Forum Pelaksana dan Tim Kerja, dengan fungsi antara lain sebagai berikut: menunjang pengambilan keputusan terhadap bank bermasalah yang ditengarai sistemik.

tersebut di atas maka pada bulan Oktober 2007 telah dibentuk 2 Sub Tim Kerja dan 3 Gugus Tugas pada tingkat Forum Pelaksana. Sub Tim Kerja yang baru tersebut terdiri dari Sub Tim Kerja ASKI dan Sub Tim Kerja FSAP. Sementara itu, Gugus Tugas yang baru mencakup Gugus Tugas Subprime Crisis, Gugus Tugas Crisis Management Protocol dan Gugus Tugas Repo. Secara rutin, FSSK telah mengadakan pertemuanpertemuan untuk membahas perkembangan terakhir di sektor keuangan Indonesia. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut dibahas langkah-langkah antisipasi yang perlu dilakukan. Selain itu, untuk mendorong tukar menukar informasi, Bank Indonesia setiap bulan secara teratur telah

67

Bab 4 Infrastruktur Keuangan

menyampaikan kepada FSSK informasi terakhir tentang perkembangan industri perbankan serta hasil penilaian terhadap stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.

sedang dilakukan penyusunan kerangka kerja, dan akan segera dilanjutkan dengan penyusunan kerangka hukum, penyusunan organisasi dan mekanisme koordinasi, penyiapan infrastruktur, penyiapan data dan information

4.3.2. Crisis Management Protocol
Sementara itu, terkait dengan Crisis Management

sharing, penetapan indikator dan skenario, penyusunan
program komunikasi, dan pelaksanaan simulasi krisis. Diperkirakan seluruh kegiatan tersebut dapat diselesaikan pada bulan April 2008.

Protocol sudah dirampungkan beberapa kegiatan
termasuk penetapan ruang lingkupnya. Pada saat ini

68

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Artikel

69

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Halaman ini sengaja dikosongkan

70

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Artikel I

Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar
Wimboh Santoso5 , Noer Azam Achsani6 , Herawanto7

Tujuan kajian ini adalah membangun model ekonomi yang berguna sebagai petunjuk peringatan dini atas dampak negatif perkembangan industri properti dan real estate terhadap stabilitas sistem keuangan serta untuk mengetahui perilaku pembiayaan pelaku usaha industri properti dan real estate. Dengan menggunakan data 1996 √ Agustus 2006, hasil kajian menunjukkan bahwa model EWS yang dibangun mampu menjelaskan perilaku PDB konstruksi, kredit properti serta NPL properti dengan sangat baik, khususnya pada periode prediksi 3, 6 dan 12 bulan.

1. PENDAHULUAN
Industri properti, merupakan salah satu sumber utama pendorong bangkitnya perekonomian suatu negara. Pada kebanyakan negara berkembang, industri properti memainkan peran strategis karena industri ini melibatkan industri hulu sampai ke hilir. Maraknya pertumbuhan industri properti secara cepat akan ditransmisikan kepada industri lainnya seperti industri semen, besi beton, batu bata, kayu, konsultan, dan agen properti. Namun demikian, implikasi perkembangan industri properti tidak hanya terbatas pada industri di atas. Pertumbuhan industri

properti secara cepat akan merambat ke sektor jasa keuangan karena perusahaan properti membutuhkan dana investasi konstruksi yang berasal dari bank/lembaga keuangan. Di sisi lain, pembeli properti yang membutuhkan dana untuk membiayai propertinya juga akan meminta pembiayaan kepada bank/lembaga keuangan. Pada saat inilah sistem keuangan mulai terkait oleh industri properti. Perkembangan industri properti dan real estate di Indonesia selama 3 tahun terakhir menunjukkan gejala pertumbuhan yang membaik setelah terpuruk akibat krisis ekonomi 1997. Berkembangnya industri properti dan real estate ini dapat dijadikan indikator bagi membaiknya

5 Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia, alamat e-mail: wimboh@bi.go.id 6 Peneliti, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat IPB, alamat e-mail: achsani@yahoo.com 7 Peneliti Senior, Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia, alamat e-mail: herawanto@bi.go.id

perekonomian nasional karena perkembangan industri tersebut terkait erat dengan masalah ketenagakerjaan maupun industri pendukung (seperti semen, batu-bata,

71

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

keramik, cat, besi, kayu), transportasi dan sektor-sektor terkait lainnya. Studi Literatur di berbagai negara (misalnya Nathakumaran et al (1996), Key et al (1994), Wood and Williams (1992), Newell and Higgins (1996), Krystalogianni

terbangunnya early warning system yang baik maka perkembangan industri properti di masa-masa mendatang dapat diprediksi. Tahap kedua, pelaksanaan survei untuk mempelajari perilaku pembiayaan dari para pelaku industri properti dan real estate (pengembang, perbankan, dan konsumen) serta mengetahui ekspektasi pelaku di industri properti dan real estate tentang prospek industri tersebut ke depan. Survei ini digunakan untuk mengklarifikasi model ekonomi yang disusun pada tahap pertama.

et al (2004) dan Everhart and Duva-Hernandez (2001))
juga menunjukkan bahwa industri properti dan real estate juga menjadi indikator penting kesehatan ekonomi. Kinerja industri properti dan real estate ini sekaligus juga dapat dijadikan sinyal bagi sektor keuangan, khususnya sektor perbankan. Kejadian di masa lalu menunjukkan bahwa tekanan pada industri property dan real estate mampu memicu krisis, antara lain seperti yang dicerminkan oleh kasus US savings and loan crisis di US akhir 1980-an, financial crisis di Swedia dan Jepang awal 1990-an serta US subprime mortgage loan April 2007. Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian Koehler (2001), Carson (2001), Van den Bergh (2001) dan Zhu (2003). Mencermati eratnya keterkaitan peran industri properti dan real estate, baik terhadap ekonomi secara keseluruhan maupun terhadap stabilitas keuangan maka perilaku industri properti menjadi sangat penting untuk dipelajari secara kontinu. Adapun penelitian ini bertujuan untuk: (i) Membangun model ekonomi yang dapat digunakan untuk memperoleh petunjuk peringatan dini atas dampak negatif perkembangan industri properti dan real estate terhadap stabilitas sistem keuangan, (ii) Mengetahui perilaku pembiayaan dari para pelaku usaha di industri properti dan real estate (pengembang, perbankan, dan konsumen), (iii) Mengetahui ekspektasi pelaku di industri properti dan real estate dan prospek industri tersebut ke depan. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama, menyusun model yang dapat digunakan sebagai petunjuk peringatan dini ( Early Warning System EWS) perkembangan industri properti dan real estate. Dengan

2. EARLY WARNING SYSTEM INDUSTRI PROPERTI
DAN REAL ESTATE DI INDONESIA
Shock (baik yang bersumber dari internal maupun
external) akan menyebabkan fluktuasi dalam perekonomian. Dalam jangka panjang, fluktuasi tersebut akan membentuk suatu siklus (business cycle) berupa naikturunnya perekonomian yang sangat mungkin akan terulang di masa datang. Apabila siklus tersebut dapat dipahami dengan baik maka perilaku ekonomi ke depan bisa diketahui jauh hari sebelumnya. Dalam kondisi demikian, deteksi dini atau peramalan siklus perekonomian menjadi suatu hal yang penting baik bagi pemerintah maupun pelaku usaha. Dalam membangun model Early Warning System (EWS) industri properti dan real estate di Indonesia serta menganalisis dampak industri properti dan real estate terhadap variabel makroekonomi dan stabilitas keuangan digunakan lima kriteria, yaitu : Akurat, Antisipatif, Komprehensif, Flexible dan Kiwari (up to date). Untuk mencapai tujuan tersebut, model dibangun dengan menggunakan metode Business Cycle Analysis (analisis siklus bisnis). Metode ini dirintis oleh National Bureau of

Economic Research (NBER) dan saat ini banyak digunakan
di negara-negara maju, khususnya Negara OECD. Di Indonesia dan di negara berkembang lainnya, metode ini masih sangat jarang digunakan karena keterbatasan data.

72

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Dalam business cycle analysis dikenal 3 macam

gerak bagi pengambil kebijakan khususnya dalam proses perumusan dan penentuan kebijakan. Dengan menggunakan data 1996 - Agustus 2006, hasil studi menunjukkan bahwa model EWS yang dibangun mampu menjelaskan perilaku PDB Konstruksi, Kredit Properti serta NPL Properti dengan sangat baik, baik pada periode prediksi 3, 6 maupun 12 bulan. Secara ringkas, hasil analisis siklus bisnis dapat disajikan sebagai berikut: Properti. NPL Properti Hasil pengembangan model early

composite indexes serta 1 reference series. Masing-masing composite index merupakan kombinasi dari beberapa
variabel. Ketiga index tersebut adalah leading, coincident dan lagging indexes. Reference Series adalah variabel yang dapat menggambarkan kondisi perekonomian secara agregat yang akan dipelajari, dalam hal ini adalah indikator sektor properti dan real estate. Leading index bergerak mendahului coincident maupun reference series .

Coincident index bergerak seiring dengan reference series. Lagging index bergerak mengikuti (lag) coincident maupun reference series. Leading index menarik perhatian, karena dapat
memberikan deteksi dini (early warning system) tentang arah pergerakan perekonomian secara agregat. Sementara

warning system untuk NPL Properti menunjukkan bahwa
prediksi NPL Properti pada periode 3 dan 6 bulan ke depan (akhir 2006 √ Maret 2007) menurun. Hal ini sejalan dengan data NPL (out of sample), namun demikian pada prediksi 12 bulan ke depan (Agustus 2007), NPL Properti diindikasikan akan mengalami kenaikan. Hal ini pun sejalan dengan pemberitaan di berbagai media yang juga menunjukkan arah yang sama. Adapun variabel utama yang menjadi komponen penyusun leading index NPL properti adalah Konsumsi Listrik dan Indeks Harga Konsumen (pada periode prediksi 3 bulan ke depan), serta SBI 1 bulan (pada periode prediksi 6 dan 12 bulan ke depan). Konsumsi Listrik mempunyai korelasi negatif, yang menunjukkan bahwa tingginya konsumsi listrik akan diikuti dengan rendahnya NPL Properti. Sebaliknya Indeks Harga Konsumen dan SBI 1 bulan berkorelasi positif, yang mencerminkan tingginya harga-harga dan SBI 1 bulan akan memicu naiknya NPL pada periode 6 dan 12 bulan sesudahnya. Properti. Kredit Properti Model early warning system Kredit Properti menunjukkan bahwa Kredit Properti untuk periode prediksi 3, 6 dan 12 bulan ke depan (November 2006 √ Agustus 2007) diindikasikan akan mengalami peningkatan. Hal ini pun sejalan dengan data kredit property terkini maupun pendapat pelaku pasar sektor properti. Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa variabel utama yang menjadi penyusun leading index Kredit Properti diantaranya adalah: Stok Perkantoran Sewa, Stok

coincident index dapat memberikan gambaran tentang current economic situation dan lagging index untuk
mengkonfirmasikan pergerakan kedua indeks terdahulu. Studi ini menggunakan tiga alternatif reference series yang terkait erat dengan industri properti dan real estate, yaitu : Alternatif 1: Indikator perbankan yang mencakup kredit properti dan NPL kredit properti, Alternatif 2: Value-

added konstruksi yang diukur dari PDB sektor konstruksi
(bangunan), dan Alternatif 3: Tingkat penyerapan yang diukur dengan tingkat hunian/penjualan atau indeks harga sewa/jual (untuk properti dan real estate komersial) dan indeks harga jual atau tingkat penjualan (untuk properti dan real estate residential). Selanjutnya, alternatif reference

series ke-3 tidak jadi digunakan akibat perubahan definisi
harga pada 2002, sehingga series yang tersedia sangat pendek dan tidak memenuhi syarat. Dari dua alternatif yang tersedia, kemudian dikembangkan early warning

system untuk mendeteksi perilaku reference series pada
periode prediksi 3, 6 dan 12 bulan ke depan. Pengembangan EWS dalam 3 periode tersebut dilakukan tidak hanya didasarkan pada pertimbangan keakuratan hasil analisis semata, namun juga memperhatikan ruang

73

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Hotel Berbintang dan Tingkat Hunian Apartemen. Stok apartemen sewa dan tingkat hunian apartemen sewa berhubungan positif dengan kredit properti, sehingga tingginya kedua indikator tersebut akan diikuti dengan kecenderungan naiknya kredit. Sebaliknya stok hotel berbintang berhubungan negatif dengan kredit properti, sehingga rendahnya stok hotel berbintang menjadi indikasi akan adanya kenaikan kredit properti pada periode sesudahnya. PDB Sektor Konstruksi. Sebagaimana dua model terdahulu, model early warning system untuk PDB konstruksi juga mampu menjelaskan pergerakan PDB dengan sangat baik pada periode prediksi 3, 6 maupun 12 bulan. Model yang dikembangkan mengindikasikan bahwa pada hasil prediksi dengan periode 3, 6 dan 12 bulan ke depan (November 2006 √ Agustus 2007) akan mengalami peningkatan. Hasil prediksi ini masih menunggu konfirmasi data aktual PDB yang sedang disiapkan untuk dipublikasikan. Namun demikian, hasil

merupakan komponen utama penyusun leading index untuk kredit properti dengan korelasi negatif. Artinya, perbankan cenderung bersikap backward looking , sehingga tingginya NPL cenderung diikuti oleh rendahnya kredit Properti. Coincident index memperlihatkan bahwa pergerakan NPL Properti akan berjalan seiring dengan indikator ekonomi lain seperti Konsumsi Listrik, Ekspor, Kurs Riil, Tingkat Penjualan Lahan Industri serta Tingkat Hunian dan Stok Apartemen Sewa. Selanjutnya, perilaku NPL properti akan diikuti oleh Kredit Properti, M1 serta

Net Foreign Assets.

3. PERILAKU PEMBIAYAAN DAN EKSPEKTASI PELAKU INDUSTRI PROPERTI
Untuk mengetahui perilaku pembiayaan dan ekspektasi pelaku industri properti dilaksanakan survei yang ditujukan untuk mengetahui perilaku pembiayaan dan ekspektasi ke depan dari para pelaku usaha di industri properti dan real estate yang mencakup pengembang, perbankan, dan konsumen. Survei dilaksanakan di 10 kota di Indonesia, yaitu: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Yogyakarta, Medan, Palembang, Makasar, dan Balikpapan. Pemilihan Lokasi Sampel dilakukan dengan bantuan analisis SSA (Shift-share Analysis) dan LQ (Location

early warning system tersebut sejalan dengan pendapat
pelaku pasar dan para pakar industri properti di tanah air. Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa variabel utama penyusun early warning system PDB Konstruksi adalah SBI 1 bulan, Tingkat Hunian Ritel dan Real

Investment Approval untuk Hotel. .

SBI 1 bulan

Quotient).
SSA merupakan suatu metode analisis untuk mengukur apakah sebuah sektor di wilayah tertentu memiliki kinerja lebih baik dibanding rata-rata daerah lainnya atau dibanding kinerja di tingkat nasional. Sedangkan LQ digunakan untuk mengidentifikasi sektor basis di suatu wilayah. Suatu sektor dikatakan sektor basis apabila memiliki koefisien LQ > 1. Sebaliknya, apabila koefisien LQ<1 maka dapat dikategorikan sebagai bukan sektor basis. Suatu daerah akan dipilih menjadi sampel apabila di daerah tersebut sektor properti (konstruksi) menjadi sektor basis penopang ekonomi serta memiliki kinerja yang lebih baik dibanding daerah lainnya secara nasional.

berhubungan negatif dengan PDB Konstruksi, sehingga rendahnya SBI 1 bulan akan diikuti dengan tingginya kegiatan ekonomi di sektor properti. Sebaliknya Tingkat hunian ritel dan Real Investment Approval untuk Hotel bertanda positif, sehingga tingginya tingkat hunian dan

Real Investment Approval akan diikuti dengan peningkatan
aktifitas di sektor properti. Untuk mempelajari dampak sektor properti ke perekonomian secara umum serta stabilitas sistem keuangan, akan dianalisis variabel NPL Properti baik sebagai

leading indicator , maupun keterkaitannya dengan coincident serta lagging indicators. NPL Properti sendiri

74

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Hasil survei baik ke pengembang, konsumen maupun perbankan, adalah sebagai berikut: Pengembang. Bagi pengembang perumahan tipe kecil dan KPR bersubsidi, penjualan dengan cara pre-selling lebih diminati dibandingkan dengan post-selling. Dengan cara penjualan pre-selling, pengembang mendapatkan kepastian pembeli serta tambahan modal. Sebaliknya, meskipun harus indent antara 2-6 bulan, konsumen juga lebih senang karena harga jual rumah bisa lebih murah dan sesuai dengan kemampuan finansial mereka. Semakin besar tipe rumah yang akan dibeli, maka penjualan tipe

lainnya berasal dari uang muka penjualan, pinjaman bank serta pinjaman non-bank. Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi keputusan pengembang untuk meminjam uang di bank adalah: tingkat suku bunga, harga properti, harga bahan bangunan, tingkat hunian dan permintaan akan properti.
Grafik A1.3 Sumber Pembiayaan
70,00 60,00 50,00 40,00 30,00

post-selling semakin digemari. Selain itu, kecenderungan
untuk menggunakan dana sendiri juga semakin besar.
Grafik A1.1 Cara Penjualan Rumah
% 70 60 50 40 30 20 10 0 Tipe kecil subsidi Tipe kecil non subsidi Tipe sedang Tipe besar
36 43 48 49 64 57 52 51

20,00 10,00 0,00 1
1. Modal sendiri

2

3

4

5

6

7

2. Uang muka penjualan

3. Pinjaman Bank

4. Pinjaman lembaga non Bank

Pre selling

Post selling

Konsumen. Salah satu temuan menarik adalah bahwa sejumlah besar konsumen residensial (sekitar 40 persen) membeli rumah dengan menggunakan dana sendiri dengan beberapa alasan antara lain: (i) tidak ingin terlibat hutang, (ii) prosedur perbankan yang rumit, serta (iii) memiliki dana yang cukup. Semakin besar tipe rumah yang akan dibeli, semakin besar porsi penggunaan dana
Grafik A1.2 Cara Penjualan Produk Properti Komersial
%

sendiri, meskipun secara keseluruhan dana perbankan masih lebih besar. Faktor-faktor yang diyakini terkait erat

70 60 50 40 42 30 20 10 0 Apartemen Perkantoran 37 63 58

Pre Selling

Post Selling

dengan pengajuan kredit diantaranya adalah tingkat suku bunga, tingkat pendapatan dan besarnya uang muka.

54

46

Grafik A1.4 Komposisi Pembiayaan Konsumen Residensial

Pertokoan

8,6

4,9

0,6 0,6 38,3

Dari sisi sumber pembiayaan, porsi terbesar dana yang dipakai oleh para pengembang berasal dari dana sendiri. Hal ini terkait dengan proses pembebasan dan penyiapan lahan sampai siap bangun yang harus ditanggung sendiri oleh pengembang. Selain itu, dana
46,9 Dana Sendiri Dana Sendirii dan Bank Dana sendiri dan Non Bank Dana sendiri, Bank dan Non Bank Bank Non Bank

75

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Grafik A1.5 Pendanaan Properti Komersial

Secara umum, baik perbankan, konsumen maupun pengembang berpendapat bahwa kondisi sektor properti di Indonesia pada 2007 lebih baik apabila dibandingkan

4% 15%

5%

1%

pada 1999. Pada 1999, sektor properti dalam kondisi mulai meningkat setelah mencapai titik terendah pada saat krisis, dan pada 2007 kondisinya membaik menuju ke puncak.
75%

Selain itu, responden berpendapat tingkat bunga kredit properti yang berlaku saat ini dianggap masih terlalu tinggi, dan mengharapkan suku bunga ideal yang berkisar 8-12%. Responden juga berpendapat bahwa angsuran bulanan

Dana Sendiri Dana Sendiri dan Bank

Perbankan Dana Sendiri dan Non Bank

Dana Non Bank

Pembeli properti tipe komersial (apartemen dan pertokoan) banyak menggunakan dana sendiri mengingat daya beli konsumen golongan ini rata-rata cukup baik. Sedangkan dari sisi penjualan, sebagian besar dilakukan dengan cara post-selling . Dengan cara penjualan seperti ini, pembeli mendapatkan kejelasan lokasi serta bentuk dan kualitas bangunan yang akan dibeli.
Grafik A1.6 Cara Pembelian Komersial
% Pre Selling 80
79 76

yang mencapai 30% dari pendapatan masih terlalu tinggi dan mengharapkan angsuran bulanan yang berkisar pada angka 10%.

4. PENUTUP
Early Warning System (EWS) untuk industri properti
dan real estate disusun dengan tiga reference series, yaitu

: Kredit Properti, NPL Properti dan PDB Sektor Konstruksi.
Sistem deteksi dini yang dibangun untuk ketiga reference

series tersebut memiliki kemampuan prediksi sampai 12
bulan ke depan dengan ketepatan yang tinggi. Hasil

Post Selling

analisis business cycles sejalan dengan kondisi riil di lapangan seperti yang ditulis berbagai media (nasional maupun internasional), serta temuan hasil survei. Wawancara dengan pelaku pasar menunjukkan

60

63

40
37 24

20

21

bahwa saat ini industri properti sedang dalam fase naik, namun demikian laporan-laporan media menunjukkan

0 Apartemen Perkantoran Pertokoan

banyaknya properti komersial yang kosong dan berpotensi meningkatkan NPL Properti. Di lain pihak, hasil wawancara dengan perbankan dan pelaku pasar mengindikasikan bahwa NPL dan suku bunga merupakan beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam bisnis properti. Oleh karena itu, pemantauan terhadap credit risk exposure (khususnya pada sektor properti) perlu terus diupayakan guna memitigasi resiko yang dapat ditimbulkan oleh NPL Properti tersebut.

Perbankan. Faktor-faktor yang terkait dengan besarnya kredit properti adalah: (i) prospek industri properti, (ii) tingkat penyerapan/permintaan pasar properti, serta (iii) stabilitas makro, keamanan maupun politik. Sedangkan, faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya NPL Properti adalah : (i) tingkat suku bunga, (ii) tingkat pendapatan masyarakat, (iii) tingkat penyerapan/ permintaan properti dan (iv) inflasi.

76

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Untuk mengembangkan Early Warning System ke depan yang mendukung pemeliharaan kestabilan sistem keuangan, perlu diupayakan penyempurnaan data dan monitoring aktif indikator terkait EWS yang tidak hanya

untuk sektor properti, namun juga untuk sektor lainnya. Hal ini telah menjadi perhatian negara-negara maju yang mengembangkan 19 jenis leading indicators untuk melihat pergerakan ekonomi dan keuangan ke depan.

77

Artikel I - Survey Industri Properti: Mencermati Potensi Tekanan Kemampuan Membayar

Daftar Pustaka

Akerlof, George. 1970. The Market for Lemons: Quality , Uncertainty and the Market Mechanism. Quarterly journal of Economics 84: 488-500. Bernanke, Ben S. and Alan S. Blinder. 1988. Credit, Money,

Samuelson, P.A. 1976. Optimality of Sluggish Predictors

under Ergodic Probabilities. International Economic
Review 17:1-7. Sims, C. 1980. Macroeconomics and Reality. Econometrica, Vol. 48 page 1-48. Siregar, Doli. 2002. Dasar-Dasar Penilaian Properti. Stiglitz, J. E. 1992. Capital Markets and Economics

And Aggregate Demand . National Bureau Of
Economic Research. Working Paper No. 2534. Bussiere, M and Marcel F. 2002. Towards a New Early

Warning System of Financial Crises. Working Paper European Central Bank
no. 145. Greef , I.J.M. de and R.T.A. de Haas. 2000. Housing Prices, Bank Lending, and Monetary Policy. Paper presented at the Financial Structure, and Behaviour and

Fluctuations in Capital Economies. European
Economics Review. Vol. 36, pages 269-306. Sugema, Iman. 2000. Indonesia»s Deep Economic Crisis: The Role of the Banking Sector in It»s Origin and Propagation, PhD thesis, The Australian National University. Whitley, J and Richard W. 2003. A Quantitative Framework

Monetary Policy inthe EMU Conference, October 56, 2000, Groningen. Kiyotaki, N and Moore J. 1997. Credits Cycles. Journal of Political Economy, Vol. 105, pages 211-248 Krytalogianni, A., G. Matysiak, dan S. Tsolacos. 2004.

for Commercial Property and its Relationship to the Analysis of Financial Stability of the Corporate Sector.
Bank of England Working Paper no. 207. Zhang, Whenda and Juzhong Zhuang. 2002. Leading

Forecasting UK Commercial Real Estate Cycle Phases With Leading Indicators: A Probit approach. Applied
Economics. Nanthakumaran, N., B. O»Roarty, and A. Orr. 1997. The Impact of Economic Indicators on Industrial Property Market Performance. Center for Property Research. University of Aberdeen. UK.

Indicators of Business Cycle in Malaysia and the Philippines. ERD Working Paper No. 32

78

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

Artikel II

Survey Neraca Rumah Tangga8 : Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan
Wimboh Santoso9 , Bagus Santoso10

Survey rumah tangga bertujuan menyusun struktur neraca rumah tangga masyarakat. Neraca rumah tangga merupakan salah satu indikator penting bagi proses pelaksanaan surveillance stabilitas sistem keuangan. Dengan tersusunnya neraca rumah tangga diharapkan analisis mengenai kemampuan rumah tangga dalam mendapatkan kredit perbankan dan potensi terjadinya credit default dari sektor rumah tangga dapat dilakukan dengan lebih akurat. Selanjutnya, dengan menggunakan teknik random sampling dilakukan survey terhadap responden di seluruh kabupaten/kota di 6 lokasi yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Bodetabek, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Hasil survey menunjukkan bahwa rata-rata rumah tangga mampu memenuhi kewajibannya baik terhadap bank maupun lembaga keuangan non bank seperti tercermin dari nilai rasio total liabilities/core income, rasio bank liabilities/core income dan rasio non-bank liabilities/core income yang masing-masing mencapai 19,98%, 14,42%, dan 5,56%.

I. LATAR BELAKANG
Sebagai salah satu unit di sistem ekonomi, rumah tangga berperan penting dalam sistem keuangan. Rumah tangga dalam sistem keuangan dapat berperan sebagai Investor/Debitur (surplus unit) dan Kreditur (deficit unit) seperti tercermin dari diagram 1. Dengan demikian,

tekanan yang dihadapi oleh neraca rumah tangga berpotensi mempengaruhi kinerja lembaga keuangan dan sebaliknya. Apabila tidak diantisipasi dengan baik, risiko tersebut dapat menimbulkan gangguan terhadap sistem keuangan secara keseluruhan. Oleh karena itu, surveillance terhadap sektor tersebut menjadi hal yang sangat penting sehingga potensi risiko dapat diukur dan dimonitor.

8 Disarikan dari laporan hasil survey yang dilaksanakan melalui kerja sama antara Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia dengan Bagus Santoso dan Setiyono (Universitas Gadjah Mada), Viverita (Universitas Indonesia), FX. Sugiyanto (Universitas Diponegoro), Niki Lukviarman (Universitas Andalas), Maryunani (Universitas Brawijaya) dan Nury Effendi (Universitas Padjadjaran) 9 Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia; e-mail address: wimboh@bi.go.id 10 Pengajar Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, e-mail address: bagussantoso@ugm.ac.id

Untuk mendukung proses surveillance terhadap sektor rumah tangga dibutuhkan ketersediaan data, khususnya dalam bentuk Neraca Rumah Tangga (Household Balance Sheet) yang saat ini dirasakan masih

79

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

Gambar A1.1 Kerangka Analisis Stabilitas Sistem Keuangan

yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Bodetabek, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Household balance sheet dari wilayah tersebut merupakan langkah awal dalam program pembangunan household balance sheet Indonesia. Dalam

Household Financial Condition Macro economic Corporate

Probability of Default

Bank

Capital Profitability

Probability of Default

Non Bank Financial Institution Money Market Financial System Infrastructure

Capital Profitability JSI, Yield Curve, Interbank Money Market

Financial Performance International and Domestic : - Economic Factor - Non Economic Factor

Financial System Stability

pelaksanaannya, pemilihan metode studi untuk melaksanakan survei diserahkan sepenuhnya kepada

surveyor dengan terlebih dahulu didiskusikan dengan
penyelenggara.

Inflation Target Monetary Stability Inflation

- Intermediation - Transmission Mechanism Growth Domestic Product

Untuk membangun balance sheet tersebut digunakan data primer sebagai hasil survei lapangan yang dilakukan berdasarkan tehnik random sampling. Adapun pelaksanaan survei mencakup hal-hal sebagai berikut:

belum mencukupi. Dengan tersusunnya neraca rumah tangga diharapkan analisis atas potensi risiko yang dihadapi sektor rumah tangga dapat dilakukan dengan memadai.

1.

Responden survei merupakan rumah tangga (RT) yang terdapat di 6 wilayah survei. Rumah tangga didefinisikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang hidup dalam satu bangunan fisik/sensus dengan makanan dan kebutuhan hidup lainnya

II. TUJUAN
Tujuan dilakukannya survei neraca rumah tangga ini adalah untuk: Menyusun struktur neraca rumah tangga masyarakat di seluruh kabupaten/kota di 6 lokasi yang akan digunakan sebagai dasar analisa untuk mengetahui kemampuan rumah tangga dalam mendapatkan kredit perbankan dan untuk mengetahui potensi terjadinya kredit bermasalah (credit default) dari sektor rumah tangga. Membantu kegiatan surveillance BI terhadap 2.

dibiayai secara bersama (Badan Pusat Statistik). Pemilihan dan penentuan jumlah responden penelitian di tiap kabupaten/kota proporsional dengan jumlah penduduk kabupaten/kota. Proporsi jumlah responden di tiap-tiap kabupaten/kota terhadap total responden di suatu propinsi sama dengan proporsi rasio jumlah penduduk di tiap-tiap kabupaten/kota terhadap total penduduk propinsi. Demikian pula, proporsi jumlah responden di tiaptiap kecamatan terhadap total responden di suatu kabupaten/kota sama dengan proporsi rasio jumlah penduduk di masing-masing kecamatan terhadap total penduduk kabupaten/kota. Pemilihan wilayah sampel pada studi ini didasarkan pada pertimbangan

household sector di Indonesia, terutama dalam
kaitannya dengan stabilitas sistem keuangan.

III. METODOLOGI DAN DATA III.1. Metodologi
Survei ini merupakan studi kuantitatif. Proses wawancara dengan responden dilakukan dengan tatap muka langsung. Melalui survei ini akan dibangun

bahwa daerah tersebut merupakan daerah yang representatif sesuai dengan metodologi survei. Disamping itu, pemilihan daerah juga

mempertimbangkan faktor kemudahan akses ke daerah tersebut. 3. Basis sampling adalah kelurahan/desa.

household balance sheet (neraca rumah tangga) di 6 lokasi,

80

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

III. 2. Data
Data untuk jumlah penduduk yang diperlukan untuk melakukan estimasi jumlah responden, nama kecamatan, dan nama desa lokasi survei diperoleh dari kantor BPS Propinsi, BPS Kabupaten/Kota yang bersangkutan, dan web

IV. HASIL ANALISA IV.1. Analisa Neraca
Sesuai tujuan survei, dari data yang dikompilasikan kemudian disusun Neraca Rumah Tangga baik untuk tingkat propinsi maupun untuk masing-masing kabupaten/kota. Elemen-elemen neraca yang dihimpun dari kuesioner dikelompokkan menjadi elemen Aktiva (Assets) dan elemen Passiva (Liabilities and Equities) sebagai berikut:
Tabel A2.3 Elemen Aktiva dan Pasiva
Kabupaten Solok, Agam, Padang Pariaman Bandung, Indramayu, Karawang, Garut Tangerang, Bogor, Bekasi Kudus Bantul, Kulonprogo Sleman, Gunung Kidul Malang, Pasuruan, Batu 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Tabungan Kantor Pos Piutang Saham Obligasi Reksadana Dana Pensiun Bapertarum Penyertaan modal usaha Ternak Emas Kendaraan Rumah Bangunan Tanah Harta Lainnya 7 8 9 10 11 No 1 2 3 4 5 6 Elemen Aktiva Kas Tabungan Deposito Giro Tabungan Asuransi Tabungan Koperasi No 1 2 3 4 5 6 Elemen Pasiva Utang Bank Utang Koperasi Utang Pegadaian Utang Toko/Dealer Uang Warung Utang Pemilik Rumah/ Tanah Utang Saudara Utang Majikan Utang Arisan/Teman Utang Pelepas Uang Utang Lainnya

site Pemerintah Daerah. Data penduduk yang dipakai adalah
data penduduk tahun 2004. Jumlah responden per masingmasing propinsi sebanyak 500 orang sehingga total kumulatif responden untuk 6 lokasi adalah 3.000 orang.
Tabel A2.1 Wilayah Survei
Wilayah Sumbar Jabar Bodetabek Jateng DIY Jatim Kotamadya Padang, Bukittinggi Bandung Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok Semarang, Surakarta, Pekalongan, Magelang Yogyakarta Malang, Pasuruan

Tabel A2.2 Beberapa Penyesuaian yang Dilakukan
Wilayah Jatim DIY Snow Ball Kotamadya Purposive Sampling: 5 besar kontributor PDRB Jatim -

Jateng

Jabar

Bodetabek Sumbar

Secara umum tidak ada penyesuaian, kec. untuk daerah-daerah yang terkena dampak gempa Pertimbangan anggaran Pertimbangan anggaran untuk untuk kecamatan kecamatan yang maju yang maju - 5 terbesar daerah kontributor PDRB Jabar '(kec. Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) - Desa yang dikunjungi diseleksi 'berdasarkan pertimbangan jarak ke pusat kota Snow Ball Pertimbangan anggaran Pertimbangan anggaran

Dari data kuesioner pula berhasil dihimpun elemenelemen pendapatan dan pengeluaran rumah tangga sebagai berikut:
Tabel A2.4 Elemen Pendapatan dan Pengeluaran
No 1 2 3 4 Elemen Pendapatan Gaji & Tunjangan Penghasilan usaha Netto Penerimaan Pensiun Beasiswa/Ikatan Dinas No 1 2 3 4 Elemen Pengeluaran Pangan Pakaian Sewa rumah dan tanah Peralatan rumah tangga tahan lama

81

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

Tabel A2.4 Elemen Pendapatan dan Pengeluaran (lanjutan)
No 5 6 7 Elemen Pendapatan Ganti Rugi Asuransi Hasil Menang Undian Pendapatan Bunga Piutang dan Bunga Tabungan Hasil Netto Penjualan Tanah Hasil Netto Penjualan Emas Hasil Netto Penjualan Kendaraan Bantuan Pemerintah Non-Beasiswa Bantuan Lembaga NonPemerintah Non-Beasiswa Penerimaan Lainnya No 5 6 7 Elemen Pengeluaran Transportasi Kendaraan, dan bahan bakar Listrik, air, dan telekomunikasi Pendidikan Kesehatan Rekreasi dan Perhiasan Aneka barang dan jasa Pembayaran pokok pinjaman Pembayaran bunga cicilan. Variabel Total Utang Kekayaan Bersih Pendapatan Total Pendapatan

Tabel A2.5 Definisi Variabel (lanjutan)
Definisi Utang Bank + Utang LKNB + Utang Lain-lain Total Aset - Total Utang Gaji & Tunjangan + Penghasilan usaha Netto + Penerimaan Pensiun Gaji dan Tunjangan + Pendapatan Usaha Netto + Penerimaan Pensiun + Beasiswa/ Ikatan Dinas + Ganti Rugi Asuransi + Hasil Menang Undian + Pendapatan Bunga Piutang dan Bunga Tabungan + Hasil Netto Penjualan Tanah + Hasil Netto Penjualan Emas dan Perhiasan + Hasil Netto Penjualan Kendaraan + Bantuan Pemerintah NonBeasiswa + Bantuan Lembaga NonPemerintah Non-Beasiswa + Penerimaan Lainnya Pangan+Pakaian+Sewa rumah dan tanah+Peralatan rumah tangga tahan lama+Transportasi, kendaraan, dan bahan bakar+Listrik, air, dan telekomunikasi + Pendidikan + Kesehatan + Rekreasi + Aneka barang dan jasa Pembayaran pokok pinjaman + Pembayaran bunga cicilan Pembayaran bunga cicilan Pendapatan √ Konsumsi

8 9 10 11 12 13

8 9 10 11 12 13

Konsumsi

Sebelum disusun menjadi Neraca, elemen-elemen Neraca di atas diklasifikasikan atas dasar perkiraan kegunaannya (usefulness). Karena data Neraca Rumah Tangga ini akan digunakan dalam rangka memelihara Stabilitas Sistem Keuangan maka untuk aset dikelompokkan sesuai likuiditasnya, sedangkan untuk utang dikelompokkan sesuai sumber pendanaannya, yaitu Bank dan Lembaga Keuangan non Bank (LKNB).
Tabel A2.5 Definisi Variabel
Variabel Aktiva Lancar Definisi Kas + Tabungan + Deposito + Giro + Tabungan Asuransi + Tabungan Koperasi + Tabungan Kantor Pos + Piutang + Saham + Obligasi + Reksadana Dana Pensiun+Bapertarum+Penyertaan modal usaha+Ternak Emas + Kendaraan + Rumah + Bangunan + Tanah + Harta Lainnya Aktiva Lancar + Aktiva Tetap + Investasi Utang Bank Utang Koperasi + Utang Pegadaian Utang Toko/Dealer+Uang Warung+Utang Pemilik Rumah/Tanah+Utang Saudara+Utang Majikan+Utang Arisan/Teman+Utang Pelepas Uang+Utang Lainnya Total Cicilan + Bunga Pembayaran Bunga Pendapatan Bersih

Dari hasil survei dan berdasarkan pengelompokan elemen laporan keuangan tersebut, didapatkan struktur neraca rumah tangga. Struktur neraca rumah tangga ini merupakan struktur neraca per penduduk (jumlah per elemen neraca dibagi dengan jumlah sampel per lokasi) yang ditampilkan sebagai berikut: 1. Sumatera Barat
Average Asset ( Rp )
Current Assets : Cash Saving, Deposit and Checking Acc Insurance, Cooperatives, Post Office Account receivable Stock, Bond, Mutual Fund Total Current Asset Investment 5.905.440 912.000 25.925.010 12.235.804 Household Debt: Landlord Household Debt: Relatives Household Debt: Employer Household Debt: ROSCA/ Friends 0 81.200 800 17.720 2.827.600 2.172.157 14.107.812

Average Liabilities ( Rp )
Household Debt: Banks Household Debt: Non Banks Household Debt: Store/ Dealer Household Debt: Kiosk 2.400 4.758.878 899.858 518.548

Investasi Aktiva Tetap Total Aktiva Utang Bank Utang LKNB Utang Lain-lain

82

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

Average Asset ( Rp )
Fixed Assets : Gold and Jewelry Vehicle House and buildings Land Total Fixed Asset Other Assets Total Assets 6.440.278 34.756.541 221.637.302 50.354.506 313.188.627 3.031.080 354.380.520

Average Liabilities ( Rp )
Household Debt: Money Lender Household Debt: Others Total Others Debt Total Debt Net Worth Total Liabilities and Equity 175.832 1.847.581 7.506.318 346.874.202 354.380.520 4.000

Dari struktur neraca rumah tangga di Jawa Barat terlihat bahwa aktiva tetap (terutama berupa rumah dan bangunan), merupakan komponen terbesar dari total aset, yaitu dengan pangsa sebesar 87%. Aktiva lancar, investasi, dan aktiva lain-lain mengambil pangsa sebesar 10%, 2%, dan 1%. Dari sisi aktiva lancar, komponen terbesar adalah tabungan, deposito, dan giro dengan pangsa sebesar 68% dari

Pada neraca rumah tangga di Sumatera Barat, komposisi aktiva tetap mendominasi keseluruhan total aset dengan pangsa sebesar 88,38%. Dari sisi aktiva lancar, komponen terbesar adalah tabungan, deposito, dan giro yaitu sebesar 54,42% dari total aktiva lancar. Sementara itu, dari sisi pasiva komponen terbesar adalah modal (net worth), yaitu sebesar 97,88% dari total pasiva. Dari sisi utang, rumah tangga di Sumatera Barat masih mengandalkan pada sektor perbankan dengan pangsa sebesar 63,40% dari total utang. Sementara itu, pangsa utang kepada lembaga keuangan non bank dan utang lain-lain sebesar 11,99% dan 24,61%. 2. Jawa Barat
Average Asset ( Rp )
Current Assets : Cash Saving, Deposit and Checking Acc Insurance, Cooperatives, Post Office Account receivable Stock, Bond, Mutual Fund Total Current Asset Investment Fixed Assets : Gold and Jewelry Vehicle House and buildings Land Total Fixed Asset Other Assets Total Assets 3.044.710 33.112.080 242.889.742 46.670.200 325.716.732 5.521.400 374.183.034 Total Liabilities and Equity 374.183.034 Net Worth 363.559.128 2.912.344 5.040.000 36.319.732 6.625.170 Household Debt : Landlord Household Debt : Relatives Household Debt : Employer Household Debt : ROSCA/ Friends Household Debt : Money Lender Household Debt : Others Total Others Debt Total Debt 126.200 1.614.376 10.623.906 396 38.400 160.680 0 12.000 2.400.146 1.152.812 24.814.429

total aktiva lancar. Sementara itu, dari sisi pasiva, komponen terbesar adalah modal (net worth) dengan pangsa sebesar 97% dari total pasiva. Selain dari modal sendiri, rumah tangga di Jawa Barat lebih banyak menggantungkan pembiayaannya pada perbankan yang mencapai 82% dari total utang. 3. Bodetabek
Average Asset ( Rp )
Current Assets : Cash Saving, Deposit and Checking Acc Insurance, Cooperatives, Post Office Account receivable Stock, Bond, Mutual Fund Total Current Asset Investment Fixed Assets : Gold and Jewelry Vehicle House and buildings Land Total Fixed Asset Other Assets Total Assets 2.779.087 39.825.257 173.407.263 40.703.755 256.715.362 1.569.723 290.693.882 Total Liabilities and Equity 290.693.882 Net Worth 278.688.032 5.558.247 328.063 23.357.737 9.051.059 Household Debt : Landlord Household Debt : Relatives Household Debt : Employer Household Debt : ROSCA/ Friends Household Debt : Money Lender Household Debt : Others Total Others Debt Total Debt 10.119 2.084.163 4.659.396 12.005.850 0 470.593 31.621 85.692 915.243 918.553 15.637.631

Average Liabilities ( Rp )
Household Debt: Banks Household Debt : Non Banks Household Debt : Store/ Dealer Household Debt : Kiosk 395 1.976.814 5.436.380 1.910.074

Average Liabilities ( Rp )
Household Debt, Banks Household Debt : Non Banks Household Debt : Store/ Dealer Household Debt : Kiosk 200 1.276.500 8.748.377 261.153

Dari struktur neraca rumah tangga di Bodetabek terlihat bahwa aktiva tetap (terutama berupa rumah dan bangunan), merupakan komponen terbesar dari total aset, yaitu dengan pangsa sebesar 88,31%. Aktiva lancar, investasi, dan aktiva lain-lain mengambil pangsa sebesar 8,04%, 3,11%, dan 0,54%. Dari sisi

83

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

aktiva lancar, komponen terbesar adalah tabungan, deposito, dan giro dengan pangsa sebesar 66,95% dari total aktiva lancar. Sementara itu, dari sisi pasiva, komponen terbesar adalah modal (net worth) dengan pangsa sebesar 95,87% dari total pasiva. Selain dari modal sendiri, rumah tangga di Bodetabek lebih banyak menggantungkan pembiayaannya pada perbankan yang mencapai 45,28% dari total utang. Sedangkan, pangsa utang ke lembaga keuangan non bank dan utang lain-lain sebesar 15,91% dan 38,81%. 4. D.I. Yogyakarta
Average Asset ( Rp )
Current Assets : Cash Saving, Deposit and Checking Acc Insurance, Cooperatives, Post Office Account receivable Stock, Bond, Mutual Fund Total Current Asset Investment Fixed Assets : Gold and Jewelry Vehicle House and buildings Land Total Fixed Asset Other Assets Total Assets 3.909.800 41.542.785 250.522.599 121.388.179 417.363.362 14.604.568 466.726.959 Total Liabilities and Equity 466.726.959 Net Worth 449.200.522 5.905.440 148.810 24.520.981 10.238.048 Household Debt : Landlord Household Debt : Relatives Household Debt : Employer Household Debt : ROSCA/ Friends Household Debt : Money Lender Household Debt : Others Total Others Debt Total Debt 148.527 1.847.581 17.526.437 20.635 22.639 125.298 11.905 49.569 2.597.860 2.089.595 13.779.277 Cash

dari total aktiva lancar. Sementara itu, dari sisi pasiva, komponen terbesar adalah modal (net worth) dengan pangsa sebesar 96,24% dari total pasiva. Selain dari modal sendiri, rumah tangga di D.I.Yogyakarta lebih banyak menggantungkan pembiayaannya pada perbankan yang mencapai 80,87% dari total utang. Sedangkan, pangsa utang ke lembaga keuangan non bank dan utang lain-lain sebesar 8,59% dan 10,54%. 5. Jawa Tengah
Average Asset ( Rp )
Current Assets : 1.245.918 8.311.627 2.451.280 3.840.979 892.200 16.742.004 1.339.525

Average Liabilities ( Rp )
Household Debt : Banks Household Debt : Non Banks Household Debt : Store/ Dealer Household Debt : Kiosk Household Debt : Landlord Household Debt : Relatives Household Debt : Employer Household Debt : ROSCA/ Friends Household Debt : Money Lender 292 0 52.900 1200 39.330 440 17.200 915.772 6.229.433 323.162.133 329.391.566 4.776.312 537.350 804.410

Average Liabilities ( Rp )
Household Debt : Banks Household Debt : Non Banks Household Debt : Store/ Dealer Household Debt : Kiosk 6.250 1.462.759 14.172.833 1.506.023

Saving, Deposit and Checking Acc Insurance, Cooperatives, Post Office Account receivable Stock, Bond, Mutual Fund Total Current Asset Investment Fixed Assets : Gold and Jewelry Vehicle House and buildings Land Total Fixed Asset Other Assets Total Assets

3.719.063 28.022.390 238.762.016 40.048.548 310.552.017 758.020 329.391.566

Household Debt : Others Total Others Debt Total Debt Net Worth Total Liabilities and Equity

Berdasarkan struktur neraca rumah tangga di Jawa Tengah yang dihitung secara rata-rata terlihat bahwa aktiva tetap (terutama berupa rumah dan bangunan),

Berdasarkan struktur neraca rumah tangga di D.I.Yogyakarta yang dihitung secara rata-rata terlihat bahwa aktiva tetap (terutama berupa rumah dan bangunan), merupakan komponen terbesar dari total aset, yaitu dengan pangsa sebesar 89,42%. Aktiva lancar, investasi, dan aktiva lain-lain mengambil pangsa sebesar 5,25%, 2,19%, dan 3,13%. Dari sisi aktiva lancar, komponen terbesar adalah tabungan, deposito, dan giro dengan pangsa sebesar 56,19%

merupakan komponen terbesar dari total aset, yaitu dengan pangsa sebesar 94,28%. Aktiva lancar, investasi, dan aktiva lain-lain mengambil pangsa sebesar 5,08%, 0,41%, dan 0,23%. Dari sisi aktiva lancar, komponen terbesar adalah tabungan, deposito, dan giro dengan pangsa sebesar 50% dari total aktiva lancar. Sementara itu, dari sisi pasiva, hampir seluruh kebutuhan rumah tangga dibuayai oleh modal sendiri (net worth) dengan pangsa sebesar

84

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

98,11% dari total pasiva. Selain dari modal sendiri, rumah tangga di Jawa Tengah lebih banyak menggantungkan pembiayaannya pada perbankan yang mencapai 76,67% dari total utang. Sedangkan, pangsa utang ke lembaga keuangan non bank dan utang lain-lain sebesar 8,63% dan 14,70%. 6. Jawa Timur
Average Asset ( Rp )
Current Assets : Cash Saving, Deposit and Checking Acc Insurance, Cooperatives, Post Office Account receivable Stock, Bond, Mutual Fund Total Current Asset Investment Fixed Assets : Gold and Jewelry Vehicle House and buildings Land Total Fixed Asset Other Assets Total Assets 4.126.520 34.236.390 219.749.584 78.583.960 336.696.454 3.350.240 369.516.409 Total Liabilities and Equity 369.516.409 Net Worth 361.758.772 4.218.410 1.940.200 23.664.177 5.805.538 Household Debt : Landlord Household Debt : Relatives Household Debt : Employer Household Debt : ROSCA/ Friends Household Debt : Money Lender Household Debt : Others Total Others Debt Total Debt 148.527 1.735.965 7.757.637 700 0 212.000 7.900 58.286 1.458.087 2.343.074 13.704.406

sebesar 6,40%, 1,57%, dan 0,91%. Dari sisi aktiva lancar, komponen terbesar adalah tabungan, deposito, dan giro dengan pangsa sebesar 57,91% dari total aktiva lancar. Sementara itu, dari sisi pasiva, hampir seluruh kebutuhan rumah tangga dibiayai oleh modal sendiri (net worth) dengan pangsa sebesar 97,90% dari total pasiva. Selain dari modal sendiri, rumah tangga di Jawa Timur lebih banyak

Average Liabilities ( Rp )
Household Debt : Banks Household Debt : Non Banks Household Debt : Store/ Dealer Household Debt : Kiosk 0 1.308.552 5.386.946 634.727

menggantungkan pembiayaannya pada perbankan yang mencapai 69,44% dari total utang. Sedangkan, pangsa utang ke lembaga keuangan non bank dan utang lain-lain sebesar 8,18% dan 22,38%.

IV.2. Analisa Rasio
Analisa Rasio Total Liabilities/Total Asset Rasio ini menunjukkan kemampuan total aset dalam mencover kewajiban rumah tangga. Apabila nilai rasio ini kurang dari 1 (= 100%), maka nilai kewajiban rumah tangga lebih kecil daripada total asetnya. Artinya, rumah tangga masih memiliki kemampuan untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Dari survei yang telah dilakukan terlihat bahwa seluruh rumah tangga di area survei masih memiliki

Berdasarkan struktur neraca rumah tangga di Jawa Timur yang dihitung secara rata-rata terlihat bahwa aktiva tetap (terutama berupa rumah dan bangunan), merupakan komponen terbesar dari total aset, yaitu dengan pangsa sebesar 91,12%. Aktiva lancar, investasi, dan aktiva lain-lain mengambil pangsa

kemampuan untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Rumah tangga di Bodetabek memiliki rasio tertinggi, sedangkan rumah tangga di Jawa Tengah memiliki rasio terendah. Analisa Rasio Total Liabilities/Current Asset Rasio ini menunjukkan kemampuan kemampuan

Rasio Lokasi Total Liabilities/Total Asset Total Liabilities/Current Asset (%) (%) 2,12 2,84 4,13 1,89 3,76 2,10 28,95 29,25 51,40 37,21 71,48 32,78 Total Bank Liabilities/Current Asset (%) 18,36 24,09 23,27 28,53 57,80 22,76 Total Bank Liabilities/Fixed Asset (%) 2,40 3,26 4,68 2,01 4,20 2,30

Sumbar Jabar Bodetabek Jateng DIY Jatim

85

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

aktiva lancar untuk mengcover kewajiban rumah tangga. Apabila rasio ini kurang dari 1 (= 100%) maka nilai kewajiban rumah tangga lebih kecil dibandingkan dengan aset lancarnya. Artinya rumah tangga masih memiliki kemampuan untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Hasil survei menunjukkan bahwa seluruh rumah tangga di area survei masih memiliki kemampuan untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Rumah Tangga D.I.Yogyakarta memiliki rasio tertinggi, sedangkan Sumatera Barat memiliki rasio terendah. Analisa Rasio Total Bank Liabilities/Current Asset Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar untuk mengcover kewajiban rumah tangga terhadap bank. Apabila rasio ini kurang dari 1 (=100%) maka nilai kewajiban rumah tangga lebih kecil dibandingkan dengan aset yang dimilikinya. Artinya rumah tangga masih memiliki kemampuan untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Hasil survei menggambarkan bahwa semua rumah tangga di area survei masih memiliki kemampuan untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Rumah Tangga di D.I. Yogyakarta memiliki rasio tertinggi dan Sumatera Barat memiliki rasio terendah. Analisa Rasio Total Bank Liabilities/Fixed Asset Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva tetap untuk mengcover kewajiban rumah tangga terhadap bank. Apabila rasio ini kurang dari 1 (=100%) maka nilai kewajiban rumah tangga lebih kecil

dibandingkan dengan aset yang dimilikinya. Hal ini berarti rumah tangga masih memiliki kemampuan untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Hasil survei menggambarkan bahwa semua rumah tangga di area survei masih memiliki kemampuan untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Rumah tangga di Bodetabek memiliki rasio tertinggi dan Jawa Tengah memiliki rasio terendah. Analisa Rasio Total Liabilities/Core Income Rasio ini menunjukkan kemampuan pendapatan utama rumah tangga untuk meng cover

kewajibannya. Hasil survei menunjukkan bahwa seluruh rumah tangga di area survei memiliki kemampuan untuk melakukan pinjaman. Analisa Rasio Bank Liabilities/Core Income Rasio ini menunjukkan kemampuan pendapatan utama rumah tangga untuk mengcover kewajibannya ke bank. Hasil survei menunjukkan bahwa rumah tangga di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki nilai rasio yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tangga di daerah lain. Analisa Rasio Non-Bank Liabilities/Core Income Rasio ini menunjukkan kemampuan pendapatan utama rumah tangga untuk mengcover kewajiban rumah tangga ke non bank (misal: koperasi ataupun lembaga microfinance lainnya dan pegadaian). Hasil survei menunjukkan bahwa rumah tangga di Jabar memiliki kemampuan pendapatan yang paling baik dalam mengcover kewajiban hutang non bank

Rasio Lokasi Total Liabilities/Core Income (%) 13,02 18,59 15,54 25,33 31,47 15,94 Bank Liabilities/Core Income Total Non-Bank Liabilities/Core Income Interest Payment/Core Income (%) (%) (%) 8,25 15,31 7,03 19,42 25,45 11,07 4,76 3,28 8,50 5,91 6,02 4,87 1,73 0,38 1,90 1,44 10,08 2,66

Sumbar Jabar Bodetabek Jateng DIY Jatim

86

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

dibandingkan dengan rumah tangga di lokasi lainnya. Sementara itu, rumah tangga di Bodetabek memiliki kemampuan pendapatan yang paling rendah dalam mengcover kewajiban hutang non bank

rasio terendah, yaitu 4,816%. Dengan kata lain, rumah tangga di Jabar memiliki kemampuan pendapatan yang paling baik dalam mengcover cicilan pinjaman. Sementara itu, rumah tangga di Bodetabek memiliki proporsi kewajiban pembayaran cicilan pinjaman yang paling besar, dengan rasio 22,485%. Atau dengan kata lain rumah tangga di Bodetabek memiliki kemampuan pendapatan yang paling rendah dalam mencover kewajiban pembayaran cicilan pinjaman. Analisa Rasio (Total Installment+Interest Payment)/ Current Asset Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar untuk mengcover cicilan pinjaman (pokok dan bunga). Hasil survei menunjukkan bahwa diantara rumah tangga di semua lokasi survei, rumah tangga di Jabar memiliki proporsi kewajiban pembayaran cicilan pinjaman yang paling kecil karena memiliki rasio terendah, yaitu 9,950%. Dengan kata lain,

dibandingkan rumah tangga di lokasi lainnya. Analisa Rasio Interest Payment/Core Income Rasio ini menunjukkan proporsi pendapatan utama rumah tangga yang digunakan untuk membayar bunga pinjaman. Hasil survei menunjukkan bahwa diantara rumah tangga di semua lokasi survei, rumah tangga di Jabar memiliki proporsi kewajiban pembayaran bunga yang paling kecil. Dengan kata lain, rumah tangga di Jabar memiliki kemampuan pendapatan yang paling baik dalam mengcover kewajiban bunga pinjaman. Sementara itu, dengan proporsi kewajiban pembayaran bunga pinjaman yang paling besar, rumah tangga di DIY memiliki kemampuan pendapatan yang paling rendah dalam mencover kewajiban tersebut.

Rasio Lokasi (Total Installment + Interest Payment)/ Total Income (%) 5,53 4,82 22,49 10,89 12,58 10,92 (Total Installment + Interest Payment)/ Current Asset (%) 13,95 9,95 82,25 20,17 35,11 26,76 Collateral / Agreed Bank Loan

Sumbar Jabar Bodetabek Jateng DIY Jatim

3,14 1,40 1,64 11,46

Analisa Rasio (Total Installment+Interest Payment)/ Total Income Rasio ini menunjukkan proporsi pendapatan utama rumah tangga yang digunakan untuk membayar cicilan pokok beserta bunga. Hasil survei menunjukkan bahwa diantara rumah tangga di semua lokasi survei, rumah tangga di Jabar memiliki proporsi kewajiban pembayaran cicilan pinjaman (pokok dan bunga) yang paling kecil karena memiliki

rumah tangga di Jabar memiliki kemampuan pendapatan yang paling baik dalam mengcover cicilan pinjaman. Sementara itu, proporsi kewajiban pembayaran cicilan pinjaman yang paling besar dimiliki oleh rumah tangga di Bodetabek dengan rasio 82,253%. Dengan kata lain, rumah tangga di Bodetabek memiliki kemampuan pendapatan yang paling rendah dalam mencover kewajiban pembayaran cicilan pinjaman.

87

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

Analisa Rasio Collateral/Agreed Bank Loan Rasio ini menunjukkan jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan nilai jaminan. Apabila nilai rasio ini kurang dari 1 berarti pinjaman yang diberikan tebih tinggi daripada nilai jaminan. Ambang batas untuk rasio ini adalah 1,25. Nilai rasio yang lebih tinggi daripada nilai ambang batas menunjukkan bahwa propinsi dimaksud masih potensial untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Hasil survei menunjukkan bahwa rumah tangga di Jawa Barat, Bodetabek, D.I.Yogyakarta dan Jawa Timur berpotensi untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar dibandingkan pinjaman mereka saat ini.

(assets) dan utang bank, utang Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB), utang lain-lain, dan kekayaan bersih di sisi passiva (liabilities and equities). Di lihat dari komposisinya, sisi aktiva neraca rumah tangga didominasi oleh fixed assets (khususnya aset berupa rumah dan bangunan), sedangkan di sisi passiva, total utang didominasi oleh utang bank yang mencapai rata-rata 69,67% dari total utang. Secara umum, rumah tangga di seluruh lokasi survei berpotensi untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar. Hal ini terlihat dari nilai rasio total liabilities/total asset, total liabilities/current asset, total bank liabilities/current asset, dan total bank liabilities/fixed asset. Hasil survei juga menunjukkan bahwa berdasarkan pendapatan utama yang dimiliki, seluruh rumah tangga di lokasi survei mampu

VI. KESIMPULAN
Survei Neraca Rumah Tangga yang dilakukan di 6 lokasi, yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Bodetabek, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta dan Jawa Timur berhasil membangun sebuah Neraca Rumah Tangga (Household

memenuhi kewajibannya baik terhadap bank maupun lembaga keuangan non bank. Kemampuan ini tercermin dari nilai rasio total liabilities/core income, bank liabilities/ core income dan rasio non-bank liabilities/core income. Sementara itu, apabila dilihat dari elemen total pendapatan dan aktiva lancar, rumah tangga di 6 lokasi survei mampu memenuhi kewajiban membayar cicilan pokok beserta bunganya. Hal ini terlihat dari rasio (total installment + interest payment)/current asset.

Balance Sheets) per November 2007 baik untuk tingkat
propinsi maupun per wilayah kabupaten/kota. Struktur Neraca Rumah Tangga di 6 lokasi survei terdiri dari current assets, investasi, fixed assets, dan aktiva lain-lain disisi aktiva

88

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

Daftar Pustaka

Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Universitas Gadjah Mada, 2007. Laporan Akhir Household Balance Sheet Survey Daerah Istimewa Yogyakarta 2007 Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan Universitas Brawijaya, 2007. Laporan Akhir Survei Neraca Rumah Tangga Propinsi Jawa Timur 2007 Center for Banking Research Universitas Andalas, 2007. Laporan Pelaksanaan Survey Neraca Rumah Tangga 2007 di Sumatera Barat Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi Universitas Diponegoro, 2007. Laporan Akhir Survei Household Balance Sheet Wilayah Jawa Tengah Tahun 2007 Laboratorium Penelitian, Pengabdian Pada Masyarakat dan Pengkajian Ekonomi Universitas Padjajaran, 2007. Laporan Akhir Survei Household Balance Sheet

Laboratorium Studi Manajemen Universitas Indonesia, 2007. Survey Neraca Rumah Tangga Bank Indonesia: Analisis Temuan Lee, Kevin and Paul Mizen (2005), ≈Household Credit and Probability Forecast of Financial Distress in the United Kingdom∆ Rinaldi, Laura and Alicia Sanchis Arellano (2006), ≈Household Debt Sustainability: What Explains Household Non Performing Loan? An Empirical Analysis, Working Paper no.570, European Central

Bank, January 2006.

89

Artikel II - Survey Neraca Rumah Tangga: Indikator Penting Dalam Surveillance Stabilitas Sistem Keuangan

Halaman ini sengaja dikosongkan

90

Glosari

Glosari

91

Glosari

Halaman ini sengaja dikosongkan

92

Glosari

Glosari

Ambil untung (profit taking): tindakan investor dengan menjual aset/surat berharga pada saat harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan. (BI-RTGS): Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) penyelesaian transaksi secara elektronis dan real time dimana rekening peserta dapat didebit/dikredit berkali-kali dalam sehari sesuai perintah. (ETF): Exchange Traded Fund (ETF) Suatu jenis reksadana yang memiliki karakteristik mirip dengan suatu perusahaan terbuka dimana unit penyertaannya dapat diperdagangkan di bursa. ETF ini merupakan kombinasi dari reksadana tertutup dan reksadana terbuka. Manajemen kontinuitas bisnis (business continuity

Mitigasi risiko (risk mitigation): upaya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya dan dampak risiko. Protokol Manajemen Krisis (Crisis Management Protocol): Kerangka kerja yang menetapkan tindakan, peran, dan tanggung jawab otoritas dalam menangani krisis sehingga kerugian ekonomi dapat diminimalkan Redemption: Redemption penjualan sekuritas sebelum jatuh tempo Restrukturisasi: Restrukturisasi penyesuaian persyaratan kredit dengan penambahan dana dan/atau konversi seluruh atau sebagian tunggakan bunga menjadi pokok kredit baru, dan/atau konversi seluruh atau sebagian dari kredit menjadi penyertaan bank dalam perusahaan, yang dapat disertai dengan penjadwalan kembali dan/atau persyaratan kembali (reconditioning). Risiko kredit (credit risk) : risiko yang timbul akibat kegagalan debitur atau mitra bisnis memenuhi kewajibannya. Risiko likuiditas (liquidity risk): risiko yang timbul akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya akibat ketidaksesuaian dana masuk dan keluar. Risiko operasional (operational risk): risiko yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung akibat ketidakmampuan atau kegagalan proses internal, manusia dan sistem atau kejadian eksternal. Risiko pasar (market risk): risiko atas posisi perdagangan akibat perubahan harga. (SIPS): Sistematically Important Payment Systems (SIPS) sistem pembayaran yang berperan penting dan dapat menimbulkan dampak sistemik jika tidak diatur dan diawasi dengan baik.

management): pengelolaan risiko untuk memastikan tetap
berjalannya fungsi-fungsi penting dalam keadaan gangguan dan proses pemulihan yang efektif.

Financial deepening: istilah yang menggambarkan
perkembangan sektor keuangan pada suatu negara.

Financial Sector Assessment Program (FSAP): program IMF
dan Bank Dunia yang ditujukan untuk menilai ketahanan sistem keuangan suatu negara termasuk kepatuhan terhadap standar-standar internasional. Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (Capital

Adequacy Ratio/CAR) : Rasio kecukupan modal bank;
merupakan pembagian jumlah modal yang meliputi tier I, tier II, dan tier III dengan aktiva tertimbang menurut risiko. Kredit belum tersalur (undisbursed loans): kredit yang telah disetujui namun belum dicairkan. Kredit Bermasalah (non performing loan/NPL): terdiri dari kredit yang tergolong Kurang Lancar (KL), Diragukan (D) dan Macet (M). Manajemen krisis (crisis management) : proses yang meliputi identifikasi, mitigasi dan penyelesaian krisis.

93

Glosari

Sistem kontrol risiko (risk control systems) : sistem pengendalian risiko yang telah dituangkan dalam kebijakan dan prosedur bank sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen risiko yang baik. keuangan: Stabilitas sistem keuangan suatu sistem keuangan dengan intermediasi keuangan yang efektif dimana lembaga, pasar dan infrastruktur pasar mampu memfasilitasi aliran dana antara penabung dan debitur sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi.

Subprime mortgage: surat utang kepemilikan rumah atau
KPR kepada masyarakat yang memiliki kualitas kredit yang rendah tetapi memberikan imbal hasil tinggi

Sudden reversal: aliran modal keluar secara serentak dan
tiba-tiba Volatilitas: Volatilitas standar deviasi dari perubahan nilai suatu instrumen keuangan dengan jangka waktu spesifik; digunakan untuk menghitung risiko dari instrumen keuangan pada suatu periode waktu umumnya secara tahunan.

Stress testing: estimasi potensi kerugian terhadap eksposur
kredit dan likuiditas yang dihasilkan dari beberapa skenario perubahan harga dan volatilitas.

94

Kajian Stabilitas Keuangan
No. 10, Maret 2008
PENGARAH
Halim Alamsyah Wimboh Santoso

KOORDINATOR & EDITOR
Agusman

TIM PENYUSUN
Ardiansyah, Linda Maulidina, Ratih A. Sekaryuni, Herawanto, Pipih Dewi Purusitawati, Wini Purwanti, Endang Kurnia Saputra, Ita Rulina, Ricky Satria, Fernando R. B, Noviati, Cicilia A. Harun, Sagita Rachmanira, Reska Prasetya, Elis Deriantino, Primitiva Febriarti, Hero Wonida, Mestika Widantri, Heny S

KOMPILATOR, LAYOUT & PRODUKSI
Ita Rulina Ricky Satria Primitiva Febriarti

KONTRIBUTOR
Direktorat Pengawasan Bank 1 Direktorat Pengawasan Bank 2 Direktorat Pengawasan Bank 3 Direktorat Perbankan Syariah Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Direktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Pengelolaan Devisa

PENGOLAHAN DATA
Suharso I Made Yogi Tita Hapsari

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->