Anda di halaman 1dari 6

Ciri-ciri fatique pada material adalah

I. Adanya penumpulan di ujung material (blunting)

II. Crack Tip Opening Displacement (CTOD)

Penumpulan diujung material (blunting), adanya pemusatan tegangan di ujung

III. Fatique Cracking Criteria

a. Pengaruh Paduan dan Fasa Kedua


Retak karena fatique juga dipengaruhi oleh paduan dan partikel fasa kedua. Ductile
fracture dipengaruhi oleh perambatan retak karena void yang disebabkan karena partikel
fasa kedua.
Ada 3 jenis partikel yaitu:

1
IV. partikel kecil (> 500 angstrom) disebut dengan presipitat,
yang berguna untuk mengatasi tegangan mulur yang besar

V. partikel menengah ( 500 – 5000 angstrom) disebut dengan


inhibitor yang berguna untuk meningkatkan kekerasan dan
ketangguhan

VI. partikel besar (0.5 – 50 micron), pada sebagian material


tidak berpengaruh selama sifat mekanik material tidak
berubah tetapi untuk beberapa material dapat digunakan
meningkatkan kekerasan dan ketahanan aus.

Sebagian besar perambatan void terjadi karena partikel menengah (intermediate


particles), sedangkan partikel besar berguna untuk fracture toughness material.
Bentuk retak yang terjadi tergantung dari volume fraksi partikel sedangkan harga KIc
tergantung dari volume retakan dan jarak partikel. Selain itu kondisi retakan juga
dipengaruhi sifat partikel, kemampuan deformasi plastis partikel, kekuatan partikel dan
kekuatan susunan matrik partikel.

b. Pengaruh Proses Pengerjaan dan Anisotropi


Setiap tahapan proses yang dialami oleh material akan berpengaruh pada
ketangguhan dan keuletan material. Tahapan proses pengerjaan juga berpengaruh pada
ukuran butir. Oleh karena itu pengontrolan ukuran butir penting selama proses pengerjaan.
Dapat dikatakan bahwa ukuran butir beragam tergantung dari jenis paduan, dan terdapat
perubahan sifat akibat perubahan suhu rekristalisasi dan temperature pengerjaan.
Proses pengerjaan logam menyebabkan terjadinya anisotropi. Anisotropi dapat terjadi pada
material yang mengalami pengerjaan misalnya pengelasan, tempa (forging), pengerolan.
Anisotropi mengakibatkan bentuk butir menjadi memanjang (elongated grain size).
Perubahan bentuk butir menyebabkan adanya tegangan yang berbeda pada butir.
Perbedaan tegangan tersebut mengakibatkan kemungkinan material mengalami fatique.

2
c. Pengaruh Temperatur
Temperatur berpengaruh terhadap sifat material secara keseluruhan dan juga
berpengaruh terhadap fracture toughness material. Pada temperature yang rendah material
memiliki tegangan mulur (yield stress) yang tinggi akibat dari daerah plastis yang
mengecil. Temperatur juga berpengaruh pada ketangguhan material dan menyebabkan
adanya transisi dari ulet menjadi getas.

VII. Fatique Crack Propagation (Polymer, Ceramic, Composite)

a. Fatique Crack Propagation on Polymer


Retak lelah yang terjadi pada polimer tergantung pula pada jenis polimer yaitu
amorphous dan semikristalin. Perambatan retak lelah pada polimer pada intinya tergantung
pada:

VIII. Jenis polimer ; semikristalin atau amorphous

IX. Crosslink

X. Rubbery addition

XI. Berat molekul

Struktur amorphous dan kristalin

Bentuk polimer semikristalin menghambat perambatan retak lelah dengan kata lain
retak lelah akan mudah merambat pada polimer amorphous. Cross link atau ikatan
antar atom pada serat polimer juga mempercepat terjadinya retak. Berat molekul makin
besar akan menurunkan perambatan retak lelah.

3
Proses perambatan retak karena adanya microvoid pada polimer

Untuk polimer memiliki kurva S-N yang berbeda dengan kurva S-N untuk logam
karena berkaitan dengan beragamnya jenis polimer.

Kurva S-N untuk polimer

b. Fatique Crack Propagation on Ceramic


Keramik memiliki sifat getas sehingga tidak terjadi deformasi plastis. Pada keramik
tidak terjadi CTOD atau fenomena blunting pada crack tip. Sehingga perambatan retak
lelah akan mudah terjadi. Yang perlu dilakukan adalah menambahkan unsur yang dapat
menambah keuletan. Yang perlu diperhatikan juga adalah adanya partikel debu (debris)
yang dapat menurunkan laju perambatan retak lelah.

4
Contoh retak pada keramik

c. Fatique Crack Propagation on Composite


Yang perlu diperhatikan dalam perambatan retak lelah pada komposit adalah bahwa
serat dan fiber merupakan penghambat laju perambatan retak lelah. Sehingga dapat
dikatakan bahwa perambatan retak lelah pada komposit tergantung pada jenis serat yang
digunakan.

i. Environment assisted cracking


Ciri environment assisted cracking:

XII. terjadi intergranular corrosion (korosi batas butir)

XIII. adanya hydrogen embrittlement


Hydrogen embrittlement adalah atom hydrogen yang terperangkap dalam logam
cair pada waktu pembekuan, volume menyusut, tekanan gas didalam naik dan
mengakibatkan retak
Hydrogen attack terjadi pada material yang lingkungannya mengandung gas
hydrogen sehingga mengakibatkan gas hydrogen masuk dan menyebabkan retak
rambut (fissure)

5
Intergranular Corrosion