Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN

HASIL PEMANTAUAN PELAKASANAAN STANDAR


ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

ABSTRAK MASING-MASING PROVINSI

PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2007

1
1. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Secara umum sekolah yang terpilih seagai sampel monitoring termasuk kategori sekolah
terbaik. Sekolah-sekolah tersebut umumnya memiliki sarana dan perlengkapan yang cukup
baik dan memadai. Silabus dan RPP umumnya telah dimiliki dan disusun sendiri,
demikian juga dengan media dan sarana pendukung pembelajaran. Hanya saja, sebagian
bahan ajar masih belum begitu menunjukkan warna local. Namun, dari hasil wawancara
dapat disimpulkan bahwa guru merasa belum percaya diri dengan kondisi karena belum ada
kegaiatan pemantapan dan pengesahan dari Dinas Pendidikan setempat. Di beberapa sekolah,
proses pembelajarannya masih belum sepenuhnya mengikuti prinsip belajar aktif.

Kesiapan sekolah secara umum untuk melaksanakan KTSP sudah termasuk baik, karena
telah dimulai uji coba silabus yang disusun. Namun RPP belum semua guru memilikinya
terutama untuk bahan yang mereka ajarkan sewaktu terjadi pemantauan melalui observasi
langsung ke kelas sewaktu mengajar.

Nampaknya untuk pelaksanaan KTSP masih perlu pembinaan dan bimbingan teknis, paling
tidak untuk mengecek kembali yang telah dilakukan daerah/ sekolah dalam rangka
pemantapan silabus yang mereka susun termasuk keterampilan guru dalam membuat RPP,
sehingga pelaksanaan KTSP berjalan dengan sempurna.

2. Sumatera Utara

Menurut kepala sekolah, guru-guru di sekolahnya merasa kesulitan menyusun silabus


terutama dalam hal pengembangan penilaian dan bahan ajar yang sesuai SK, KD, dan
indikator. Selama ini, berbagai kesulitan itu diatasi melalui forum-forum diskusi antar guru,
bimbingan dari kepala sekolah dan/atau mendatangkan nara sumber yang kompeten di
bidangnya.

Setelah mengembangkan KTSP dan menyusun perangkat-perangkat yang dibutuhkan, guru-


guru mulai menyadari bahwa dalam merancang perangkat dan proses pembelajaran sangat
perlu dipertimbangkan hal-hal berikut, yaitu: karakteristik kompetensi, materi, keberadaan
alat dan bahan, alokasi waktu, jumlah siswa per kelas serta karakteristik dan potensi daerah
yang bersangkutan. Untuk menentukan alokasi waktu untuk setiap kompetensi, perlu
diperhatikan tingkat kesulitan kompetensi dan materi pelajaran, tingkat pencapaian atau
kemampuan rata-rata siswa, serta dukungan saranan dan prasarana pembelajaran.

3. Bengkulu

Sampai saat ini belum semua satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya
secara mandiri. Hal ini disebabkan masih terbatasnya kemampuan guru yang ada di daerah
sini pada umumnya. Untuk mengatasi keadaan ini diperlukan suatu tim yang profesional bisa
membantu sekolaj pada umumnya untuk mengembangkan kurikulum.

2
Berbagai permasalahan tentang kurikulum dan pembelajaran dapat diatasi bila terjadi
koordinasi dan kerjasama diantara tenaga kependidikan yang ada pada jajaran sekolah di
Provinsi Bengkulu. Kerjasama yang harmonis bisa terjadi dengan dibangunnya jaringan
kurikulum di wilayah Provinsi Bengkulu..

Berbagai upaya yang telah ditempuh dalam pembetukan dan pemberdayaan Tim
Pengembang Kurikulum di Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu:
1. Telah dibentuk Tim Pengembang Kurikulum Provinsi Bengkulu melalui surat keputusan,
melibatkan unsur-unsur: Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru berbagai jenjang, Dinas
Pendidikan
2. Melibatkan LPMP melakukan sosialisasi kebijakan pemerintah tentang KTSP dalam
kerjasama dengan Dinas Pendidikan, LPMP juga melibatkan perguruan tinggi.
3. Sejauh ini pengawas turut dilibatkan secara maksimal di dalam sosialisasi kurikulum.
4. Banyak sekolah yang secara sukarela mengembangkan KTSP meskipun belum pernah
mendapatkan sosialisasinya.
5. Selama ini secara informal Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu sering menunjuk guru
tertentu untuk dipersiapkan sebagai tim pengembang kurikulum.
6. Dengan terbentuknya Tim setelah kegiatan ini, secara otomatis anggotanya sudah
bertugas untuk melakukan sosialisasi dan-atau pendampingan dalam menyusun KTSP di
berbagai sekolah / wilayah yang masih menghadapi kesulitan.

4. Jambi

Sampai saat ini belum semua kabupaten/kota yang menginformasikan tentang kegiatannya
berkaitan dengan pembinaan sekolah dalam pengembangan KTSP. Dinas Pendidikan
provinsi juga kesulitan untuk memantau apakah semua kabupaten/kota telah mengalokasikan
dana untuk pembinaan KTSP. Untuk mengatasi hal ini, mulai tahun 2008 Dinas Pendidikan
Provinsi akan melakukan koordinasi secara proaktif.

5. Riau

Kesiapan sekolah untuk mengembangkan dan melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan


Pendidikan (KTSP) sudah terlihat pada saat masing-masing sekolah secara antusias
menyusun dokumen KTSP dan perangkatnya. Dalam proses tersebut, masing-masing
sekolah berkeinginan untuk menunjukkan karakteristik sekolahnya masing-masing.
Karakteristik yang ditonjolkan tersebut mengacu kepada kekhasan potensi dan kebutuhan
peserta didik serta karakteristik daerah. Pengembangan KTSP ini telah melibatkan seluruh
warga sekolah dan berkoordinasi dengan komite sekolah. .

Dengan demikian, semua yang dicantumkan dalam naskah KTSP merupakan hasil rumusan
bersama, sebagai contoh, dalam dokumen KTSP SMA Negeri 5 Pekanbaru tertulis visi
sekolah, yaitu “mewujudkan SMA Negeri 5 Pekanbaru sebagai lembaga pendidikan yang
berkualitas dan berprestasi berdasarkan iman dan taqwa”. Visi tersebut diterjemahkan ke
dalam rumusan misi sebagai berikut: (1)melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara
efektif dan optimal, (2) menumbuhkembangkan semangat dan dedikasi yang berwawwasan

3
keunggulan sebagai warga sekolah, (3) menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, indah,
tertib, dan aman, (4) memberikan pembinaan terhadap pengamalan agamanya bagi siswa, (4)
menerapkan manajemen partisipatif yang melibatkan seluruh warga sekolah dan komite
sekolah dengan asas kekeluargaan, (5) pengembangan teknologi informasi dan komunikasi
pada kesiapan pembelajaran, administrasi sekolah dan kurikulum, dan (6) pengembangan
perpustakaan menuju elektronic library eksternal/internal.

Visi dan misi tersebut diterjemahkan lebih lanjut ke dalam sasaran dan tujuan satuan
pendidikan dalam rangka membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena
rumusan visi, misi tersebut merupakan kesepakatan semua pihak, maka dalam proses
pelaksanaanya juga didukung oleh semua pihak. Hal ini memperlancar proses kemandirian
sekolah sebagai implikasi dari penerapan asas dsentralisasi.

6. Sumatera Barat

Umumnya sekolah-sekolah di Sumatera Barat, terutama SMA dan SMK telah mulai
menyusun KTSP sebelum masuk tahun ajaran tahun 2007. Meskipun pada awalnya proses
penyusunan KTSP dan perangkatnya bersifat “meraba-raba”, namun pengalaman yang
demikian mempercepat proses pemahaman terhadap kebijakan sebagai dasar penyusunan
KTSP. Pemahaman tersebut semakin menguat dengan adanya kaidah-kaidah atau rambu-
rambu penyusunan yang disusun oleh BSNP.

Dalam pengembangan KTSP, para pengembang mengawali dengan pengkajian terhadap


kebijakan nasional terutama SI dan SKL. Pengkajian SK dan KD dilakukan sebelum
merymuskan indikator pada saat merancang silabus dan RPP. Selain pengkajian kebijakan,
tim juga mempertimbangkan karakteristik, potensi, dan kemampuan rata-rata peserta didik.
Semua ini menjadi dasar dalam penjabaran lebih lanjut dalam penentuan alokasi waktu,
lingkup atau cakupan materi pembelajaran, rancangan kegiatan pembelajaran, penilaian, dan
sumber belajar. Dengan demikian, guru menjadi lebih mudah menyusun RPP mulai dari
kegiatan awal/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan akhir/penutup).

7. Sumatera Selatan

Dalam hal data pelaksanaan SI dan SKL di tiap kabupaten/kota, pihak Dinas Pendidikan
provinsi belum selesai melakukan pendataan yang menyeluruh, sehingga belum diketahui
secara pasti daerah-daerah mana yang sudah mendapat atau melakukan sosialisasi/menyusun
KTSP. Alasannya adalah, sejauh ini belum ada laporan resmi dari Dinas Kabupaten/Kota

Permasalahan SDM secara kesleuruhan di Sumatera Barat sempat dikeluhkan oleh jajaran
pimpinan di Dinas Pendidikan Provinsi, cara kerja yang kurang cekatan, cenderung
menunggu instruksi serta kurang percaya diri dalam menjabarkan kebijakan nasional ke
dalam pokok-pokok satuan kerja oprasional. Masih ada beberapa guru yang belum
memahami KTSP meskipun mereka pernah mendengarnya. Seperti SLB Dharma Wanita
(Karya Ibu) tidak tahu bagaimana menyusun KTSP. Pemahaman KTSP menurut beberapa
orang guru dan pengawas masih bersifat umum dan kurang memberikan wawasan bagi guru
yang berorientasi pada mata pelajaran. Hal ini disebabkan karena beberapa pengawas merasa

4
belum memahami KTSP, dan mereka mengusulkan agar para pengawas dilatih secara
khushs. Sistem penilaian PLB masih mengacu pada penilaian skolah normal yang seharusnya
perlu ada model khusus untuk penilaian dan pembelajaran pada pendidikan luar biasa.

Pendidikan khusus baik guru maupun institusinya, nampaknya lebih tertinggal dibandingkan
dengan sekolah-sekolah umum/reguler lainnya, terutama dalam hal mendapatkan informasi
tentang PP 22 dan 23 dan implementasinya dan kaitannya dengan penerapan KTSP. Guru
ragu-ragu ketika harus menerapkan standar isi yang dianggap terlalu sulit bagi siswa sekolah
luar biasa, terutama yang kategori C, C1, dan D1. Pelatihan KTSP sejauh ini terlalu umum,
pelatihan perlu yang lebih spesifik, sebaiknya ada pelatihan KTSP mulai dari penyusunan
Silabus, RPP termasuk strategi pembelajaran yang khas sesuai karakteristik mata pelajaran
dan tingkat perkembangan peserta didik. .

8. Lampung

Dalam perencanaan pembelajaran, rumusan yang ada dalam silabus sudah sesuai dengan apa
yang diharapkan dalam pedoman, tetapi aspek dalam silabus masih memuat pengalaman
belajar dan dalam penilaian masih ada tagihan yang terdiri dari tiga kolom yaitu jenis
tagihan, bentuk instrumen dan contoh instrumen. Pada lembaran pertama ada lembaran yang
menggambarkan program semester yang dalamnya mencakup perhitungan alokasi waktu
pada setiap indikator yang ada dalam masing-masing KD. Di samping itu, dilakukan uji blok
1, 2, 3, serta cadangan. Rumusan yang ada dalam tujuan pembelajaran sama dengan rumusan
indikator, rumusan materi ajar telah menjabarkan materi pokok yang ada dalam silabus dan
materi lebih diperjelas dalam bahan ajar (terlampir); mengenai rumusan metode ada
pemberian informasi dan diskusi; rumusan dalam langkah kegiatan telah sesuai yang
mencakup kegiatan awal menggali kemampuan dan pengetahuan siswa tentang pembiasan
lensa tipis yang telah dipelajari siswa di sekolah sebelumnya. Untuk kegiatan inti juga telah
merinci dari silabus yang mereka hasilkan dan sesuai dengan komponen-komponen yang
ada dalam silabus. Sebagai salah satu guru memberikan tugas kelompok dan tugas individual.
Pada alat dan bahan ada kesesuaian namun dalam penilaian hanya terdapat lembar kerja dan
tertulis. Bambaran ini tidak menggambarkan kebutuhan pada RPP yang memuat penilaiannya
seperti apa kuncinya mana dan teknik skoringnya bagaimana

9. Kepulauan Bangka Belitung

Sesuai dengan prinsip diversifikasi dan desentralisasi pendidikan, Kurikulum Tingkat satuan
Pendidikan (KTSP) disusun dan dikembangkan dengan mempertimbangkan satuan
pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan
peserta didik agar berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. KTSP sudah
diimplementasikan secara terbatas sejak tahun 2001 di sejumlah sekolah di beberapa
provinsi, dimaksudkan agar kesinambungan program pengembangan dan penyempurnaan
kurikulum sesuai dengan yang diharapkan.

5
10. Kepulauan Riau

Peran Dinas sangat besar dalam pelaksanaan KTSP di sekolah, karena fungsinya sebagai
fasilitator, koordinator, distributor, dan supervisor. Sebagai fasilitator, Dinas berperan dalam
menyediakan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan KTSP; sebagai koordinator, Dinas
berperan dalam melakukan hubungan antara sekolah dengan pemerintah pusat dalam
penyelenggaraan KTSP; sebagai distributor, Dinas meneruskan kebijakan dari pemerintah
pusat ke sekolah sebagai pelaksana KTSP; dan sebagai supervisor, Dinas berperan dalam
memantau pelaksanaan KTSP di sekolah.

Dinas Pendidikan Kepulauan Riau mempunyai peran yang cukup besar sebagai fasilitator
dalam menyelenggarakan kegiatan sosialisasi KTSP, walaupun ada kecenderungan masih
bergantung pada provinsi lain yang lebih progresif. Dalam penyelenggaraan kegiatan
sosialisasi tersebut, biasanya diselenggarakan oleh Dinas Provinsi bekerja sama dengan
Direktorat dan Instruktur yang telah mengikuti TOT. Materi sosialisasi berupa Kerangka
Dasar dan Struktur Kurikulum, KBM, Penilaian Berbasis Kelas (PBK), Penyusunan Silabus,
dan Penyusunan Bahan Ajar, serta mengaku cukup paham dengan substansi materi tersebut.
Dinas Pendidikan Provinsi melakukan distribusi untuk silabus masing-masing mata
pelajaran, termasuk juga beberapa naskah perangkat KTSP yang umum, berupa Pedoman
KTSP seperti Kerangka Dasar, Pedoman KBM, Pedoman Penilaian Berbasis Kelas, dan
Pedoman Pengembangan Silabus. Hal-hal lain yang dilakukan Dinas dalam mendukung
pelaksanaan KTSP di sekolah berupa pelatihan bagi guru dalam mengembangkan silabus dan
bahan ajar, menyediakan sarana dan prasarana seperti alat bantu mengajar dan bahan-bahan
untuk praktik, serta bantuan dana.

11. Banten

Kurikulum yang dibuat oleh sekolah sebaiknya pengurus komite diminta untuk memberi
masukan yang sesuai dengan bidangnya. Komite mendukung KTSP yang mengharuskan
murid mempunyai kompetensi sesuai dengan bidangnya. Sebaiknya tidak dipungut biaya
tambahan kecuali untuk ektrakurikuler yang insidentil, misalnya: lomba ilmiah. Praktek di
BPLP kegiatan otomotif yang saat ini dilaksanakan berbeda dengan system pemetaannya,
sehingga biayanya lebih murah. Buku pelajaran belum sepenuhnya memcukupi (baru 65-
80%). Buku-buku belum mencukupi tersedia di perpustakaan sehingga siswa harus membeli
buku sendiri sesuai dengan yang dibutuhkan.

12. Jawa Barat

Guru dan kepala sekolah yang menjadi responden rata-rata berpendidikan minimal S1,
dengan masa kerja minimal 10 tahun hingga 25 tahun. Sebagian besar dokumen KTSP
seperti Permendiknas No.22, 23, dan 24 tahun 2006, SE Mendiknas No.33/MPN/SE/2007,
Model-model KTSP, Silabus, RPP, Muatan Lokal, dan Pengembangan Diri telah dimiliki
sekolah, sedangkan Model Pembelajaran IPA/IPS Terpadu, Tematik, dan Program Khusus
(PLB) tidak dipunyai sekolah, mungkin karena peruntukan dokumen tersebut pada jenjang
pendidikan dasar dan sekolah luar biasa. Dokumen tersebut diperoleh dengan cara di copy
sendiri dalam bentuk CD dan cetak, serta dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD dan cetak.

6
Sebagian besar responden mengaku tidak mengalami kesulitan untuk memperolehnya dan
sebagian besar sudah mempelajari dokumen KTSP tersebut, sehingga mereka telah
memahami secara garis besar apa isi dari dokumen tersebut.

Bagi responden yang belum memiliki dokumen tersebut menjawab mengetahui mengenai
keberadaan dukumen tersebut berdasarkan penjelasan dari pengawas, kepala sekolah, dan
teman. Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP
dengan cara disusun sendiri dan diadaptasi atau disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan
sekolah. Dan sebagian dari mereka mengaku mengalami kesulitan dan sebagian lagi
mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menyusun KTSP.

Kesulitan dialami dalam merumuskan visi dan misi karena sulit menyamakan persepsi,
menetapkan mata pelajaran dalam menentukan jumlah jam dan strategi pembelajaran,
menetapkan dan mengembangkan muatan lokal kerena sulit menentukan program yang
berpotensi di masyarakat, menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri
karena sulit menyesuaikan antara minat siswa dengan sarana yang ada di sekolah, menyusun
kelender pendidikan karena terlambatnya kalender pendidikan dari Dinas Pendidikan
Kota/Provinsi ke sekolah, dan menentukan sumber dan alat pembelajaran karena kurangnya
sarana pembelajaran yang dimiliki sekolah.

Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang memadai mengenai KTSP, dalam
pelaksanaannya guru menyusun sendiri silabus yang digunakan dengan melibatkan
pengawas. Mereka telah mengetahui komponen apa saja yang harus ada dalam silabus, dan
mengerti perbedaan antara silabus dengan RPP.

Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan KTSP antara lain pemahaman guru
mengenai KTSP yang berbeda-beda dan keterbatasan sekolah dalam memenuhi fasilitas
pembelajaran. Dokumen KTSP yang sudah disusun atau ada di sekolah antara lain visi dan
misi sekolah, struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan, silabus, dan RPP.

Sosialisasi KTSP belum menyentuh pendidikan luar biasa, sehingga guru pada pendidikan
luar biasa belum mengetahui dengan pasti apa itu KTSP, mereka juga belum memiliki
dokumen KTSP, apalagi menerapkan KTSP. Kondisi ini memerlukan perhatian yang serius
dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat mengingat tanggung jawab pembinaan PLB ada
di pundaknya.

13. DKI Jakarta

Dari hasil wawancara, observasi dan angket, ada beberapa persoalan yang muncul,
diantaranya adalah: (1) Jika setiap SK terdiri dari beberapa KD, bolehkah dalam 1 SK di
jabarkan dalam beberapa silabus? (2) Terdapat beberapa materi pada pendidikan agama yang
tidak bisa dimasukkan ke dalam tema-tema yang ditentukan guru dalam pembelajaran
tematik di SD, bagaimana cara membelajarkan materi yang tidak masuk bisa masuk ke dalam
tema yang dipilih? (3) Belum adanya keseragaman format silabus, sebagai contoh, sebagian
guru menuliskan SK dan KD pada bagian atas secara narasi, ada pula yang menggunakan
matriks, mana yang benar? (4) Kata kerja operasional yang digunakan untuk merumuskan

7
indikator pada silabus dan tujuan pembelajaran pada RPP bolehkah sama ataukah harus
berbeda? Pemahaman guru umumnya memandang keduanya sama. (5) Guru kesulitan
mengembangkan metode pembelajaran pola baru. (6) Sosialisasi pengembangan
pembelajaran dengan metode dan pendekatan baru belum merata

Persoalan yang muncul seputar penyusunan RPP, antara lain:


(1) menentukan banyaknya indicator setiap KD. Diharapkan adanya sosialisasi yang lebih
komprehensif.
(2) Sebaiknya diadakan muker/raker untuk menyusun RPP agar guru tidak terlalu terbebani
oleh tugas administrasi.
(3) Kesulitan dalam menjabarkan rumusan yang lebih rinci dari indikator
(4) Perlu adanya Buku Pedoman Guru agar membantu guru yang mengalami kesulitan dalam
merumusan materi sangat memberatkan guru karena terlalu banyak aspek-aspek yang
dinilai pada semua pelajaran dalam pembuatan soal khususnya dalam pembuatan kisi-kisi
sulit dalam menentukan aspek (kognitif, afektif, dan psikomotor) dalam satu pelajaran.

Persoalan-persoalan di atas`mengindikasikan bahwa pemahaman guru sudah makin menguat


karena persoalan itu muncul akibat proses analisis dari dokumen yang dikembangkan.
Artinya, persoalan seperti itu tidak akan muncul apabila yang bersangkutan belum
mengalaminya.

14. Jawa Tengah

Guru di kota semarang pada umumnya semua pernah mengikuti kegiatan sosialisasi KTSP,
bahkan ada yang ikut lebih dari dua kali. Lembaga yang mengadakan kegiatan sosialisasi
KTSP tersebut ialah dari Dinas Pendidikan Propinsi dan Direktorat dan sekolah. Setelah
mengikuti sosialisasi KTSP, aspek yang dirasakan cukup paham ialah :

ƒ Kerangka dasar dan Stuktur Kurikulum (Kebijakan KTSP secara umum)


ƒ Kegiatan Pembelajaran(KBM) yang sesuai dengan KTSP
ƒ Penilaian Berbasis Kelas
ƒ Penyusunan Silabus
ƒ Penyusunan Bahan Ajar

15. Jawa Timur

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, di sekolah dasar kelas I, guru telah mampu
memetakan KD dan menjabarkannya menjadi indikator. Hasil pemetaan tersebut dijadikan
sebagai dasar untuk memilih tema-tema yang sesuai. Kesesuaian antara tema dengan KD,
dan Indikator yang dipetakan sudah baik dan proposional. Jaringan Tema pun dibuat dengan
tepat dan dirangkum. Guru kelas I pada perencanaan pembelajaran harian, menguraikan
kegiatan hariannya pada Langkah Pembelajaran pada sub kegiatan Inti. Pada Kegiatan Inti
diuraikan kegiatan hari ke satu sampai dengan hari keenam. Disamping itu, pada penilaian
tidak ada uraian soal tesnya, melainkan hanya tertulis tes perbuatan, tes lisan.

8
Pada satuan pendidikan menengah, sebagian daerah sudah terbiasa dengan KBK, seperti
Sidoarjo sehingga untuk menerapkan KTSP tidak terlalu bermasalah.

16. Daerah Istimewa Yogyakarta

Dengan pemberlakuan otonomi daerah termasuk dalam hal ini otonomi pendidikan,
pemerintah telah memberikan wewenang bahwa setiap sekolah/madrasah mengembangkan
kurikulum berdasarkan standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL), dan
berpedoman pada panduan yang ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan(BSNP).
Kebijakan dimaksud untuk memberikan kesempatan bagi sekolah (kepala sekolah, guru,
konselor, dan tenaga pendidik lainnya) mengembangkan kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP), silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP) yang disesuaikan
dengan kondisi dan karakteristik sekolah. Meskipun sosialisasi dan pelatihan KTSP telah
dilaksanakan oleh berbagai unit terkait, namun belum sepenuhnya sekolah/madrasah dapat
mengembangkan KTSP sesuai dengan harapan.

17. Bali

Standar Komptensi dan Komptensi dasar sudah sesuai dengan Standar Isi dan Standar
kelulusan. Rumusan indikator sudah tepat dengan kompetensi dasar, kata kerja kemampuan
sudah digunakan yaitu mengidentifikasi, menghitung, dan membedakan, serta rumusan sudah
mengacu pada kompetensi yang ingin dicapai. Materi pembelajaran menggunakan istilah
kegiatan pembelajaran, variasi kegiatan sudah cukup, komptensi yang ingin dicapai sudah
sesuai dengan pokok-pokok kegiatan. Penilaian yang digunakan yaitu pertanyaan lisan, dan
ulangan tes tulis, bentuk tagihannya pilihan ganda, dan uraian bebas.

18. Nusa Tenggara Barat

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru, metode dan strategi pembelajaran
sudah sesuai dengan tuntutan kompetensi. Indikator yang disusun oleh guru sudah terukur
dan mengacu kepada kompetensi dasar. Secara umum, teknik dan alat penilaian sudah
disesuaikan dengan tuntutan kompetensi dan indicator. Hanya saja, teknik penilaian yang
digunakan belum dicantumkan dalam silabus. Dalam proses pembelajaran, guru telah
menerapkan pembelajaran kontekstual, inkuiri, PAKEM. Dengan pembelajaran yang
demikian terlihat antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran.

19. Nusa Tenggara Timur

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi yang terletak di kawasan timur
Indonesia. Sejak terjadinya konflik di Timor Timur, banyak penduduk Timor Timur yang
mengungsi ke Provinsi ini. Sampai akhirnya Timor Timur menjadi negara merdeka para
pengungsi tetap menetap di wilayah Nusa tenggara Timur sebagai warga Negara Indonesia.
Provinsi NTT merupakan daerah yang kering curah hujannya, selain itu juga dapat dikatakan
miskin akan sumber daya alam. Dalam hal pendidikan, provinsi ini tetap berupaya agar setiap
penduduknya terjangkau oleh fasilitas pendidikan yang memadai.

9
Seiring dengan perubahan paradigma pendidikan di tingkat nasional, dimana kurikulum
berbasis kompetensi diamanatkan untuk diterapkan di sekolah-sekolah dan
pengembangannya pada tingkat satuan pendidikan, maka sekolah-sekolah di provinsi Nusa
Tenggara Timur menerapkan kurikulum berbasis kompetensi sudah sejak tahun 2003.
Namun demikian, pelaksanaannya masih terbatas pada sekolah-sekolah model percontohan
yang berskala nasional. Peran Dinas Pendidikan dalam hal ini sangat menentukan dalam
memberikan motivasi bagi terlaksananya kurikulum berbasis kompetensi (KTSP) dan
khususnya penerapan Permendiknas No. 22, 23, 24 tahun 2006.

20. Kalimantan Barat

Rumusan komponen silabus yang disusun sudah sesuai antara Standar Kompetensi dan
Kompetensi dasar dengan Standar Isi dan Standar Kelulusan. Dalam merumuskan indikator
sudah sesuai yaitu sudah menggunakan kata kerja kemampuan. Dalam rumusan materi
pembelajaran masih menggunakan materi pokok. Kegiatan pembelajaran sudah tepat dengan
rumusan dalam Kompetensi Dasar, baik dalam variasi kegiatan, dan dengan kompetensi yang
diinginkan. Teknik/bentuk penilaiannya sudah tepat, rumusan tugasnya juga sudah tepat.
Alokasi waktu dan sumber belajar juga sudah dicantumkan dalam silabus.

21. Kalimantan Selatan

Kegiatan pembelajaran masih berlangsung tradisional dimana guru dominan berceramah


diselingi tanya jawab dengan pertanyaan tertutup. Alat bantu yang digunakan hanya papan
tulis dan spidol. Kegiatan pembelajaran kurang bervariasi, guru selalu menuliskan rumus
struktur asam karboksilat dan ester, siswa diminta memberi nama senyawa tersebut. Hal
terjadi dalam pembelajaran dan penilaian. Untuk memperkaya pemahaman siswa, sebaiknya
guru memberikan nama asam karboksilat dan ester, siswa diminta menuliskan rumus
strukturnya. Kompetensi dasar yang diajarkan di kelas X ini, sebetulnya ada kelas XII dalam
standar isi tetapi menurut guru dalam rangka menyiapkan SMA Negeri 1 Banjarmasin
menjadi sekolah internasional maka KD tersbut diajarkan di kelas X.

22. Kalimantan Tengah

Sebagian sekolah sudah memiliki Permendiknas No. 22 dan 23 Tahun 2006, tetapi ada yang
belum memiliki Permendiknas No. 24 Tahun 2006 dan Surat Edaran Mendiknas No.
33/SE/2007 tentang Sosialisasi kurikulum. Sebagian besar sekolah sudah memiliki model-
model seperti model KTSP, silabus, RPP, tetapi banyak yang belum memiliki model lainnya
seperti model muatan lokal, pengembangan diri, IPA/IPS Terpadu, pembelajaran tematik,
dan program khusus (PLB). Dokumen yang mereka miliki mereka peroleh kebanyakan dari
mengcopy sendiri dalam bentuk CD dan ada juga yang mengcopy sendiri dalam bentuk
cetak, tetapi tidak ada yang memperoleh dari dinas atau membeli sendiri. Sebagian Kepala
Sekolah ada yang kesulitan untuk memperoleh dokumen-dokumen tersebut. Ada Kepala
Sekolah yang sudah mempelajari dokumen-dokumen yang mereka miliki tetapi ada juga
yang belum mempelajarinya. Pada umumnya SI dan SKL dipahami sebagai kebijakan yang
di dalamnya memuat tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar setiap mata pelajaran

10
di setiap jenjang kelas. Sementara standar kompetensi lulusan yang di dalamnya memuat
kemampuan yang harus dikuasai peserta didik di setiap mata pelajaran setelah yang
bersangkutan menyelesaikan pendidikannya pada jenjang tertentu. Permendiknas No. 24:
tentang pelaksanaan/penjelasan Permendiknas No 22 dan 23 Surat Edaran Mendiknas No.
33/SE/2007 tentang Sosialisasi KTSP: - Model-model KTSP:

23. Kalimantan Timur

Beberapa sekolah telah terbiasa dengan KBK sejak tahun 2003/2004, dan saat ini sekolah-
sekolah tersebut telah melaksanakan KTSP. Rata-rata kepala sekolah dan sebagian guru
telah mengikuti sosialisasi KTSP sebanyak 1 sampai dengan 4 kali, baik yang
diselenggarakan oleh Pusat Kurikulum maupun Direktorat terkait serta Dinas Pendidikan. Di
samping itu, setiap guru dai gugus dan MGMP juga sering melakukan pertemuan membahas
tantang KTSP. Di antara kepala sekolah dan guru yang pernah mengikuti pelatihan,
sebagian kecil masih merasakan kesulitan karena belum sepenuhnya paham tentang KTSP.
Namun, dilihat dari hasil observasi, wawancara, dan dokumen persiapan guru dapat
disimpulkan bahwa guru-guru tersebut sudah mulai mengarah kepada siatuasi pembelajaran
yang diinginkan, yaitu mengacu kepada pencapaian kompetensi melalui pembelajaran aktif,
kreatif dan menyenangkan (PAKEM). Kesulitan lain adalah pada saat mengembangkan
penilaian sesuai SK dan KD; mengembangkan LKS yang sesuai dengan SK dan KD serta
mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan SK dan KD.

Dalm hal penilaian, sebagian kecil guru merasakan kesulitan terutama dalam hal
pembobotan. Kesulitan tersebut umumnya disebabkan karena guru belum terbiasa membuat
patokan yang jelas dan terukur. Demikian juga dengan pelaporan, guru mengalami kesulitan
dalam mengisi rapor yang formatnya selalu berubah-ubah.

24. Gorontalo

Memalui observasi yang dilakukan di beberapa sekolah, kelihatan belum banyak variasi
pembelajaran yang digunakan guru. Proses belajar masih terlihat monoton, pada saat
observasi pelajaran IPA, guru terpaku pada bahan yang ada dalam buku teks. Pola
pembahasan yang diterapkan guru ialah siswa mempelajari tentang yang tertulis pada buku
teks. Selanjutnya siswa mengerjakan tugas latihan yang tertera di buku secara klasikal dan
melalui tanya jawab. Dalam kegiatan ini nampak bahwa aktivitas guru cenderung berperan
sebagai instruktur, misalnya guru berucap tentang hal-hal berikut: ingat konsepnya (saat anak
menulis), cek hasil pekerjaanmu, ada yang beda pendapat, bagaimana pendapatmu (petugas:
hasil pendapat teman yang lain), coba ulangi lagi, mana yang benar (jika ada lebih dari satu
hasil kerja anak untuk nomor yang sama), bagaimana ini kok diam saja, bagaimana kalau
nanti ada ulangan dengan soal seperti ini bisa-bisa kalian tidak bisa mengerjakan, hayo yang
wanita maju jangan hanya yang laki-laki, dan sebagainya.

Kesan petugas saat itu nampak bahwa pembelajaran kala itu belum menggambarkan “warna”
kurikulum berbasis kompetensi, yaitu sesuai dengan prinsip kurikulum berbasis kompetensi,
semua kegiatan pembelajaran terpusat pada perkembangan siswa. Oleh karena pencapaian

11
kompetensi bervariasi setiap siswa, maka guru perlu mepersiapkan rancangan pembelajaran
yang dapat mengakomodasi keberagaman pencapaian kompetensi siswa.

Dalam pengembangan strategi pembelajaran perlu diperhatikan bahwa semua informasi


(fakta, konsep, dan teori/generalisasi) memiliki nilai aplikatif yang mampu mengembangkan
keterampilan-keterampilan dan sikap-sikap yang dibutuhkan untuk hidup berkelanjutan
sebagai manusia dalam kondisi apa pun. Sehingga nampak bahwa guru belum berperan
sebagai seseorang yang melakukan pelayan maksimal kepada setiap siswa. Padahal dalam
kurikulum berbasis kompetensi peran pokok guru adalah memfasilitasi (fasilitator) siswa
agar berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Di samping itu, guru juga diharapkan mampu menumbuhkembangkan minat dan motivasi
(motivator) belajar sehingga setiap siswa memiliki kemamuan dan kemampuan berkembang
secara mandiri. Agar semua kekhasan siswa dapat diakomodasi maka guru juga diharapkan
mampu mengkreasi (kreator) berbagai cara, media, sumber, dan pendekatan pembelajaran,
serta mencoba melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam pembelajaran sebagai tuntutan
profesi (inovator).

25. Sulawesi Selatan

Pada umumnya responden menyatakan bahwa sekolah telah memiliki dokumen KTSP
meskipun secara legalitas belum disahkan oleh Dinas Pendidikan setempat. Bahan acuan
penyusunan KTSP diperoleh melalui CD dan cetak. Pada umumnya responden telah
memahami apa, mengapa, dan bagaimana KTSP, akan tetapi tidak secara spesifik dapat
menjelaskan sejauhmana pemahaman mereka berkaitan dengan KTSP. . Ada beberapa
sekolah yang secara baik dapat melaksanakan KTSP tetapi juga ada beberapa sekolah yang
masih mencoba-coba untuk menerapkan KTSP di sekolahnya. Namun secara prinsip sekolah
tidak mengalami hambatan jika kebijakan tersebut harus diterapkan di sekolahnya masing-
masing. Pada umumnya responden telah memahami apa, mengapa, dan bagaimana KTSP,
akan tetapi tidak secara spesifik dapat menjelaskan sejauhmana pemahaman mereka
berkaitan dengan KTSP. Namun secara prinsip sekolah tidak mengalami hambatan jika
kebijakan tersebut harus diterapkan di sekolahnya masing-masing

Permasalahan yang umum adalah implementasi KTSP itu sendiri di tiap-tiap satuan
pendidikan. Di samping itu, ada sekolah yang mengalami permasalahan seperti: dana hanya
berasal dari BOS, belum ada keterlibatan komite dan pengawas sekolah untuk membantu
sekolah dari permasalahan yang dihadapi.

26. Sulawesi Tengara

Sebagian sekolah sudah memiliki Permendiknas No. 22 dan 23 Tahun 2006, tetapi ada yang
belum memiliki Permendiknas No. 24 Tahun 2006 dan Surat Edaran Mendiknas No.
33/SE/2007 tentang Sosialisasi kurikulum. Sebagian besar sekolah sudah memiliki model-
model seperti model KTSP, silabus, RPP, tetapi banyak yang belum memiliki model lainnya
seperti model muatan lokal, pengembangan diri, IPA/IPS Terpadu, pembelajaran tematik,
dan program khusus (PLB). Dokumen yang mereka miliki mereka peroleh kebanyakan dari

12
mengcopy sendiri dalam bentuk CD dan ada juga yang mengcopy sendiri dalam bentuk
cetak, tetapi tidak ada yang memperoleh dari dinas atau membeli sendiri. Sebagian Kepala
Sekolah ada yang kesulitan untuk memperoleh dokumen-dokumen tersebut. Ada Kepala
Sekolah yang sudah mempelajari dokumen-dokumen yang mereka miliki tetapi ada juga
yang belum mempelajarinya. Pada umumnya SI dan SKL dipahami sebagai kebijakan yang
di dalamnya memuat tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar setiap mata pelajaran
di setiap jenjang kelas. Sementara standar kompetensi lulusan yang di dalamnya memuat
kemampuan yang harus dikuasai peserta didik di setiap mata pelajaran setelah yang
bersangkutan menyelesaikan pendidikannya pada jenjang tertentu. Permendiknas No. 24:
tentang pelaksanaan/penjelasan Permendiknas No 22 dan 23 Surat Edaran Mendiknas No.
33/SE/2007 tentang Sosialisasi KTSP: - Model-model KTSP:

KTSP dibuat oleh satuan pendidikan bersama komite. Renstra, visi, misi, tujuan pendidikan
satuan pendidikan dan nasional, struktur kurikulum, beban bel;ajar, kalender pendidikan Di
dalamnya ada beberapa komponen: Visi dan misi serta tujuan pendidikan, Kalender
pendidikan, Struktur kurikulum.

Silabus dibuat oleh guru mata pelajaran, memacu kreativitas guru untuk mengembangkan SK
dan KD dalam bentuk materi pembelajaran yang akan disajikan termasuk langkah-langkah
aplikasinya. Silabus memuat SK, KD materi pokok, indikator, pengalaman belajar, evaluasi
RPP dibuat oleh guru-guru mata pelajaran, memacu kreativitas guru untuk menentukan
indikator dan merancang proses belajar mengajar di kelas untuk mencapai tujuan
pembelajaran dengan mengacu pada pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan
(Pakem). RPP memuat mata pelajaran, SK, KD, indikator, tujuan, langkah-langkah, sumber
belajar, penilaian. Model-model muatan lokal: muatan lokal ditentukan berdasarkan rapat
dewan guru. pengembangan diri dipilih berdasarkan kriteria dan potensi sekolah yang
dimiliki: diaktifkan melalui ekstrakurikuler, model-model pembelajaran IPA/IPS Terpadu,
model-model pembelajaran tematik: tentang pembelajaran secara terpadu berdasarkan tema
yang ada, model-model khusus (PLB).

Walaupun Belum semua guru memiliki dokumen-dokumen tersebut, tetapi mereka sudah
pernah mendengar tentang dokumen-dokumen tersebut. Guru pernah mendengar tentang
dokumen tersebut dari Kepala dinas, pengawas, dan teman serta melalui studi banding.

Permasalahan yang ada dalam menyusun KTSP:


• Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal: belum ada referensi
• Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri: pengembangan diri
yang dilaksanakan ada yang fasilitasnya tidak ada di sekolah, sehingga guru dan siswa
mencari fasilitas lain dan belum ada referensi
• Menetapkan criteria ketuntasan: belum ada spesifikasi tiap mata pelajaran untuk
menentukan standar ketuntasan belajar minimal (SKBM)
• Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup: tidak ada referensi
• Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal: tidak ada
referensi
• Menetapkan materi pokok: materi pokok yang ada tidak sistematis

13
27. Sulawesi Tengah

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru, metode dan strategi pembelajaran
sudah sesuai dengan tuntutan kompetensi. Indikator yang disusun oleh guru sudah terukur
dan mengacu kepada kompetensi dasar. Secara umum, teknik dan alat penilaian sudah
disesuaikan dengan tuntutan kompetensi dan indicator. Hanya saja, teknik penilaian yang
digunakan belum dicantumkan dalam silabus. Dalam proses pembelajaran, guru telah
menerapkan pembelajaran kontekstual, inkuiri, PAKEM. Dengan pembelajaran yang
demikian terlihat antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran.

28. Sulawesi Utara

Dari hasil diskusi dan wawancara dengan tim pengembanga kurikulum, pengawas dan unsure
structural di Dinas Pendidikan dapat disimpulkan bahwa pada umumnya sekolah menyatakan
siap menerapkan KTSP, tetapi jika dilihat lebih jauh, kenyataanya mereka belum siap
terutama bila dilihat dari kesiapan perangkat pembelajaran. Hal lain yang sering membuat
bingung para pelaksana di lapangan adanya Adanya duplikasi program yang dikelolah oleh
Pusat. Berbagai duplikasi tersebut diiringi dengan persepsi dan interpretasi yang berbeda-
beda sehingga membingungkan pelaksana dilapangan. Persoalan ini akan diatasi melalui
koordinasi antara unit terkait baik di pusat maupun di daerah terutama dengan perguruan
tinggi setempat. Di samping itu, ada kesangsian terhadap kesiapan dan kinerja Tim
Pengembang Kurikulum yang dibentuk melalui SK Gubernur, jika tidak dilakukan
pembinaan yang berkelanjutan dan sistematis. Kesangsian ini berawal dari system perekrutan
yang tidak melalui tes khusus. Namun kesangsian ini dijawab oleh Kepala Pusat Kurikulum
dan Sesjen Depdiknas melalui beberapa alternatif, antara lain melalui peningkatan kerjasama
antara pusat dan daerah terutama dalam penyediaan nara sumber, pembiayaan, dan
pengedaan sarana pendukung. LPMP sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat belum
dapat dipastikan kinerjanya, apakah betul-betul mampu memberikan jaminan terhadap mutu
pendidikan di daerahnya. Kekhawatiran ini dapat diantisipasi melalui koordinasi semua pihak
terkait.

Sangat disadari bahwa sesungguhnya misi (hidden mission KTSP) adalah mengangkat
harkat dan martabat guru, namun pada kenyataanya, juklak dan juknis yang disusun oleh
pusat justeru membelenggu kreatifitas guru, bagaimana sekolah menyikapi hal ini?
Sementara penerapan KTSP akan terkendala apabila guru tidak diberdayakan. Di balik itu
ada kesangsian bahwa apakah TPK yang dibentuk di tingkat provinsi ada yang ahli tentang
sekolah bertaraf internasional (SBI)? Karena menurut UU, setiap daerah harus
mengembangkan sekolah bertaraf internasional

29. Sulawesi Barat

Dari hasil diskusi dan wawancara dengan tim pengembanga kurikulum, pengawas dan unsure
structural di Dinas Pendidikan dapat disimpulkan bahwa pada umumnya sekolah menyatakan
siap menerapkan KTSP, tetapi jika dilihat lebih jauh, kenyataanya mereka belum siap
terutama bila dilihat dari kesiapan perangkat pembelajaran. Hal lain yang sering membuat
bingung para pelaksana di lapangan adanya Adanya duplikasi program yang dikelolah oleh
Pusat. Berbagai duplikasi tersebut diiringi dengan persepsi dan interpretasi yang berbeda-

14
beda sehingga membingungkan pelaksana dilapangan. Persoalan ini akan diatasi melalui
koordinasi antara unit terkait baik di pusat maupun di daerah terutama dengan perguruan
tinggi setempat. Di samping itu, ada kesangsian terhadap kesiapan dan kinerja Tim
Pengembang Kurikulum yang dibentuk melalui SK Gubernur, jika tidak dilakukan
pembinaan yang berkelanjutan dan sistematis. Kesangsian ini berawal dari system perekrutan
yang tidak melalui tes khusus. Namun kesangsian ini dijawab oleh Kepala Pusat Kurikulum
dan Sesjen Depdiknas melalui beberapa alternatif, antara lain melalui peningkatan kerjasama
antara pusat dan daerah terutama dalam penyediaan nara sumber, pembiayaan, dan
pengedaan sarana pendukung. LPMP sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat belum
dapat dipastikan kinerjanya, apakah betul-betul mampu memberikan jaminan terhadap mutu
pendidikan di daerahnya. Kekhawatiran ini dapat diantisipasi melalui koordinasi semua pihak
terkait.

30. Maluku

Secara umum KTSP yang telah dibuat sekolah sudah memenuhi kategori minimal yang telah
ditetapkan dalam Panduan Penyusunan KTSP (BSNP). KTSP di sekolah ini dipilah menjadi
2 buku, yaitu: Buku I berisi KTSP secara umum dan Buku II berisi silabus dan RPP termasuk
penilaian pembelajaran.

Adapun daftar isi KTSP (Buku I) sekolah tersebut adalah:


• Bab I Pendahuluan; latar belakang masalah, pengertian KTSP, landasan dasar, dan tujuan
penyusunan kurikulum.
• Bab II Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah; visi, misi, tujuan sekolah, dan tujuan pendidikan
di SD.
• Bab III Kerangka Dasar, Struktur, dan Muatan Kurikulum; Kerangka Dasar Kurikulum,
Struktur Kurikulum, dan Muatan Kurikulum.
• Bab IV Kalender Pendidikan.

Pengembangan silabus dan RPP pada umumnya telah dilakukan oleh para guru di sekolah
ini. Hal ini terlihat dari dokumen yang mereka berikan untuk ditelaah. Sebagaimana talah
dipaparkan pada bagian 1, bahwa silabus dan RPP disusun dalam satu bundel buku termasuk
penilaian pembelajaran.

Silabus yang telah dibuat berisi identitas mata pelajaran, kelas, dan semester serta standar
kompetensi. Silabus dibuat dengan menggunakan format matrik memanjang yang berisi:
nomor (kolom 1), kompetensi dasar (2), materi pokok (3), kegiatan pembelajaran (4),
indikator (5), penilaian (6), alokasi waktu (7), alat/ sumber bahan (8), keterangan (9).

Sedangkan RPP dibuat dalam bentuk format deskriptif yang berisi; (1) identitas mata
pelajaran, (2) tujuan pembelajaran khusus, (3) kegiatan belajar mengajar (kegiatan awal,
kegiatan inti, dan penutup), (4) alat/ sumber, dan (5) penilaian. RPP tersebut ditandatangi
oleh guru dan kepala sekolah.
Untuk pelaksanaan pembelajaran di tingkat rendah, sekolah ini telah mengembangkan silabus
dan RPP tematik yang formatnya sama dengan silabus dan RPP pada umumnya. Hal yang

15
berbeda adalah mata pelajaran dikemas dalam tema-tema tertentu yang dikembangkan oleh
guru.

Sarana pendukung pembelajaran di sekolah ini cukup lengkap, ada perpustakaan, ruang UKS,
tempat praktek keterampilan, dan aula serta lapangan. Hal yang cukup menarik adalah
perpustakaan di sekolah ini dikelola dengan baik dan buku-bukunya ditata dengan rapi dan
terdapat pengkatalogisasian.

Secara umum sekolah ini telah mengembangkan dan melaksanakan KTSP, baik dilihat dari
sisi rancangan maupun pelaksanaannya, walaupun dalam beberapa hal perlu ada peningkatan
dan pengembangan lebih lanjut.

Beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan dari hasil monitoring adalah:


• Monitoring sebaiknya dilakukan ke sekolah-sekolah dengan kategori yang berbeda-beda,
misalnya: sekolah inti dan sekolah asor, sekolah yang ada di kota, semi kota, dan desa,
bahkan tertinggal. Hal ini perlu untuk melihat sebara jauh perbedaan dan hambatan-
hambatan yang dihadapi di bergaia sekolah tersebut dalam pengembangan dan
implementasi kurikulum dan pembelajaran.
• Perlu ada instrumen yang disusun sedemikian rupa untuk memotret hal-hal yang akan
dimonitoring sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Adanya instrumen dapat membantu
para pemonitor memperoleh data yang tepat dan akurat.
• Bahan pendukung lain, seperti: kamera digital perlu disarankan kepada para pemonitor
dalam pelaksanaan tugas monitoring.

31. Maluku Utara

Dengan pemberlakuan otonomi daerah termasuk dalam hal ini otonomi pendidikan,
pemerintah telah memberikan wewenang bahwa setiap sekolah/madrasah mengembangkan
kurikulum berdasarkan standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL), dan
berpedoman pada panduan yang ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan(BSNP).
Kebijakan dimaksud untuk memberikan kesempatan bagi sekolah (kepala sekolah, guru,
konselor, dan tenaga pendidik lainnya) mengembangkan kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP), silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP) yang disesuaikan
dengan kondisi dan karakteristik sekolah. Meskipun sosialisasi dan pelatihan KTSP telah
dilaksanakan oleh berbagai unit terkait, namun belum sepenuhnya sekolah/madrasah dapat
mengembangkan KTSP sesuai dengan harapan.

32. Papua Barat

Dokumen yang dimiliki disekolah hanya berupa,pedoman pembelajaran, pedoman penilaian


berbasis kelas kerangka dasar dan struktur kurikulum sedangkan silabus tidak semua mata
pelajaran hanya sebagian kecil saja yang dimiliki. Umumnya kepala sekolah belum pernah
mengikuti pelatihan penyusunan silabus dan guru-guru mengalami kesulitan dalam
menyusun silabus. Berdasarkan diskusi dengan kepala sekolah dan guru, hal-hal yang perlu
dipertimbangkan dalam mengembangkan silabus (termasuk indikator dan pengalaman belajar
siswa) ialah tingkat berpikir anak, karakteristik kompetensi, karakteristik materi dan

16
keberadaan alat dan bahan, sarna dan prasarana. Dalam menentukan alokasi waktu untuk
setiap kompetensi dasar adalah tingkat kesulitan siswa, keberadaan alat dan bahan, sarna dan
prasarana, penglaman guru dalam mengajar. Untuk menyusun program semester dan
program tahunan perlu dipertimbangkan kalender pendidikan nasional, jumlah hari efektif
pertahun, jumlah minggu efektif pertahun , alokasi waktu permata pelajaran

33. Papua

Pengembangan silabus dan RPP pada umumnya telah dilakukan oleh para guru di sekolah
ini. Hal ini terlihat dari dokumen yang mereka berikan untuk ditelaah. Sebagaimana talah
dipaparkan pada bagian 1, bahwa silabus dan RPP disusun dalam satu bundel buku termasuk
penilaian pembelajaran.

Silabus yang telah dibuat berisi identitas mata pelajaran, kelas, dan semester serta standar
kompetensi. Silabus dibuat dengan menggunakan format matrik memanjang yang berisi:
nomor (kolom 1), kompetensi dasar (2), materi pokok (3), kegiatan pembelajaran (4),
indikator (5), penilaian (6), alokasi waktu (7), alat/ sumber bahan (8), keterangan (9).

Sedangkan RPP dibuat dalam bentuk format deskriptif yang berisi; (1) identitas mata
pelajaran, (2) tujuan pembelajaran khusus, (3) kegiatan belajar mengajar (kegiatan awal,
kegiatan inti, dan penutup), (4) alat/ sumber, dan (5) penilaian. RPP tersebut ditandatangi
oleh guru dan kepala sekolah.
Untuk pelaksanaan pembelajaran di tingkat rendah, sekolah ini telah mengembangkan silabus
dan RPP tematik yang formatnya sama dengan silabus dan RPP pada umumnya. Hal yang
berbeda adalah mata pelajaran dikemas dalam tema-tema tertentu yang dikembangkan oleh
guru.

17