Anda di halaman 1dari 1

Selamat Datang di Bethesda Stroke Center

Mewaspadai Sindroma Metabolik

Tuan B berusia 42 tahun, datang dengan keluhan kelemahan anggota gerak kanan mendadak disertai gangguan bicara.
Kelemahan dirasakan 12 jam sebelum masuk rumahsakit. Hasil pemeriksaan di UGD mengkonfirmasi kelamahan
anggota gerak kanan. Hasil pemeriksaan CT Scan kepala menunjukkan adanya sumbatan aliran darah di otak sebelah
kiri. Pemeriksaan fisik dan laboratorium menggambarkan adanya obesitas (Indeks Massa Tubuh = 28), diabetes mellitus
(gula darah puasa = 186, 2 jam post pandrial = 240), dan dislipidemia (cholesterol = 280, trigliserida = 384). Keluarga
Bapak B bertanya kepada dokter “apa sakit Bapak B dok?”. Dokter menjawab “berdasar hasil
pemeriksaan, Bapak B terkena stroke”. Sambil menggumam kaget, keluarga Bapak B berkata “masih
muda kok kena stroke ya”.

Apa yang dimaksud dengan sindroma metabolik ?

Sindroma metabolik adalah suatu faktor risiko multipel untuk penyakit kardioserebrovaskular (pembuluh darah jantung
dan otak). Sindroma metabolik bukanlah merupakan suatu kondisi penyakit, namun merupakan kondisi pra sakit.
Sindroma metabolik dihubungkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit pembuluh darah lain.
Sindroma ini pertama kali diamati dan dilaporkan pada tahun 1923 yang mengkategorikannya sebagai gabungan dari
hipertensi, hiperglikemia (kadar gula darah berlebih), dan gout (kadar asam urat tinggi). Berbagai abnormalitas metabolik
lain dikaitkan dengan sindroma ini diantaranya obesitas, mikroalbuminuria (kebocoran protein dalam kencing), dan
abnormalitas fibribolisis dan koagulasi (gangguan sistem pembekuan darah).

Kapan dikatakan SM?

Kriteria diagnosis untuk sindroma metabolik adalah: peningkatan lingkar pinggang (obesitas sentral)≥ 102 cm pada
laki-laki atau ≥ 88 cm pada perempuan, peningkatan nilai trigliserida ≥ 150 mg/dl atau sedang mendapat terapi,
nilai HDL-kholesterol yang rendah < 40 mg/dl pada laki-laki atau < 50 mg/dl pada perempuan atau sedang mendapat
terapi, peningkatan tekanan darah &ge; 130 mm Hg untuk tekanan darah sistolik atau &ge; 85 mmHg untuk tekanan
darah diastolic atau sedang mendapat terapi, peningkatan gula darah puasa &ge; 100 mg/dl atau sedang mendapat
terapi.

Bila ada minimal 3 dari 5 kriteria tersebut diatas, maka seseorang dikategorikan mengalami sindroma metabolik.
Seseorang dengan sindroma metabolik sering disebut dengan kegemukan sentral/ kegemukan perut, dengan lingkar
pinggang yang berlebih. Seseorang dengan sindroma metabolik memiliki kecenderungan untuk menderita hipertensi dan
diabetes. Fenomena lain yang sering teramati adalah rendahnya kadar kolesterol yang baik/ kolesterol HDL (High
Density Lipoprotein).

Prevalensi sindroma metabolik (SM) diperkirakan akan meningkat dalam beberapa waktu belakangan ini. Hal tersebut
sangat terkait dengan perubahan pola hidup di masyarakat. Prevalensi SM pada populasi yang berusia 20 -25 tahun
keatas di India sekitar 8%, dan di Amerika Serikat sebanyak 24% (Atul, dkk, 2006). Sindroma metabolik juga memiliki
dampak yang buruk terhadap prognosis penyakit kardioserebrovaskuler. Penelitian Klein, dkk (2007) memperlihatkan
bahwa 21,7% pasien gangguan jantung dengan sindroma metabolik akan mengalami kejadian penyakit
karioserebrovaskuler (infark miokard akut, stroke, atau kematian mendadak) ulang dalam waktu pengamatan 6,7 tahun.
Hal ini berarti sindroma metabolik harus segera dikendalikan begitu selamat dari penyakit jantung atau stroke. Bila tidak,
risiko serangan ulang akan terus mengancam.

http://www.strokebethesda.com Menggunakan Joomla! Generated: 20 October, 2010, 08:35