AGRITEK VOL. 17 NO.

5 SEPTEMBER 2009 5426

ISSN. 0852-

RENCANA TATA TANAM DALAM UPAYA HEMAT AIR di JI. JEPUN KIRI UPTD LENTENG KABUPATEN SUMENEP
Indiah Kustini Dosen Jurusan Teknik Sipil FT UNESA

ABSTRACT
The purpose of intend expedient to compare water economical, because year in year to increase water requirement just water circulate constant and experiences earth obstruction. Any thing vegetation that water is subsistence vegetation season this rice plant, crop and tobacco that water supply from irrigation net work. The obyek of the research is to practise agriculture in irrigation net work Jepun UPTD Lenteng Kabupaten Sumenep with plant areal 1396 ha. Design practise agriculture this one rice-crop/tobaccocrop, with vegetation tobacco 40 – 60 % with intensitas 220 %. The method this research is descriptive qualitative which is supported by numeric data or percentage, that is analisis data space whith theory than artificials net field water requirement. The factor which influence product minimum water requirement are the: perfumes to practise agriculture in November, for tree group area rice field which rotasi method, land preparation wich substratum or stagnant water 1 month 1/20 land rice and dry season water supply too rotasi metod. The research results show that the net field water requirement at the rainy season per hectar about 0,23 - 0,29 lt/sec/crop, minimum level is 0,20 lt/sec/crop. before income data space 0,29 - 0,35 , minimal 0,25 lt/sec/crop, so possible expendient economical water vegetation ± 0,06 lt/sec. Economical water 0,06 lt/sec, to make possible ascend intensitas dry season ± 60 % form intensitas vegetation 220 % up to 280 % per year Keyword: water economical, net field water requirement ABSTRAK Penelitian ini bertujuan dalam upaya melaksanakan hemat air, karena tahun demi tahun, kebutuhan air makin bertambah sedang siklus air tetap dan banyak mengalami gangguan alam. Salah satu tanaman yang kehidupnya tergantung dari air adalah tanaman semusim yaitu padi, palawija dan tembakau yang pemberian airnya melalui jaringan irigasi. Sebagai obyek penelitian adalah rencana tata tanam di jaringan irigasi Jepun UPTD Lenteng, Kabupaten Sumenep dengan baku sawah 1396 ha. Pola tanam yang ada padi – palawija/tembakau – palawija, dengan tanaman tembakau 40 – 60 % dengan intensitas 220 %. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif kualitatif dengan didukung data sekumder dan data lapangan kemudian dianalisis dengan teori yang ada kemudian dibuat beberapa alternatip kebutuhan air tanaman padi. Faktor yang mempengaruhi agar memiliki kebutuhan air yang minimum antara lain: pelaksanaan awal rencana tata tanam, baku sawah dibagi menjadi 3 golongan yang dilaksanakan secara rotasi, penyiapan lahan untuk pembibitan atau yang perlu digenangi dalam 1 bulan hanya 1/20 lahan dan pemberian air pada MK dilaksanakan secara giliran. Hasil penelitian menyatakan bahwa kebutuhan air tanaman di sawah pada MH/normal setiap ha 0,23 s/d 0,29, minimal 0,20 lt/dt pol , yang sebelum dilapangan (hasil pengamatan) 0,29 s/d 0,35, minimal 0,25 lt/dt.pol jadi didapat hemat air ± 0,06 lt/dt.pol. Hemat air 0,06 lt/dt dapat dimanfaatkan.untuk menaikkan intensitas pada musim kemarau ± 60 % dari intensitas tanaman 220 % menjadi 280 % per tahun.

210

Dari hasil study ketersediaan air di bendung pada MK cukup. pengamatan ke. terdapat sebuah bendung bernama Bendung Jepun yang ketersediaan airya sangat berguna bagi pertanian khususnya untuk tanaman padi dan palawija di sawah.AGRITEK VOL. dimana n = (N/5) + 1 dan N = Total pengamatan debit selama T tahun. MH dan MK I 80 %.dianalisis ber dasar kan debit andalan atau Q 80%. Namun yang sering terjadi ketersediaan air yang ada kurang mencukupi karena beberapa hal antara lain :kemungkinan pengelolaan air kurang diperhatikan.. dan terjadinya sedimentasi. Seperti halnya di daerah Kabupaten Sumenep khususnya di UPTD Lenteng.n. terutama pada MK 1 mengharapkan hasil tembakau yang baik. Neraca air adalah keseimbangan debit andalan dengan kebutuhan air irigasi dan memperhitungkan efisiensi saluran. sehingga pengunuaan air kurang optimum. 1. misalnya Sumber air Pasosongan. Debit Andalan Ketersediaan air pada bangunan pe nangkap air (bendung). 0852- Kata kunci: hemat air. Adanya sedimentasi menunjukkan bahwa jaringan irigasi kurang dikelola dengan baik. guna mengairi daerah irigasi (DI) Jepun 1396 Ha. sedang MK II 60% dengan tanam tembakau ± 40 %. 17 NO. kebutuhan air tanaman di sawah PENDAHULUAN Pulau Madura terletak di sebelah timur kota Surabaya. tepatnya di Desa Lenteng Kecamatan Lenteng. dengan intensitas tanam 240 %. (Srandart Perencanaan Irigasi 1986). Bendung Jepun meninggikan air Kali Sarokah. dari data lapangan 10 tahun terakhir yang tercatat di kantor UPTD Lenteng sama dengan luas baku DI nya. Kebutuhan air tanaman padi di sawah dilayani oleh 2 (dua) pengam bilan yaitu: pengambilan kiri digunakan menyalurkan ketersediaan air ke JI Jepun kiri dengan baku sawah 931 Ha dan pengambilan kanan digunakan menya-lurkan ketersediaan air ke JI Jepun kanan dengan baku sawah 465 Ha (Gambar 1) Luas dan jenis tanaman DI. Kehidupan penduduk di Kecamatan Lenteng dan sekitarnya 80 % meng harapkan dari hasil pertanian. Tambak Agung. apabila di hulu bendung dan di jaringan ada pekerjaan penggalian sedimen sehingga dapat untuk menampung air. Kebutuhan air tanaman di jaringan irigasi (JI) dicukupi oleh ketersediaan air dari sungai atau dari beberapa sumber air. Jepun pada musim-musim yang lalu. 5 SEPTEMBER 2009 5426 ISSN. kondisi jaringan terjadi rusak. di pulau tersebut sebagaian besar masyarakat menganda kan kehidupan dengan bertani. Sindir dan lain-lain. KERANGKA KONSEP Dalam menghitung rencana kebutuh an air tanaman di sawah harus mem perhatikan neraca air di bangunan peneng kap air. Data debit ditunujkkan pada Tabel 1 211 . yaitu debit kemungkinan terjadi atau tidak terpenuhi 20 % dari .

Hitungan dianjurkan menggunakan ketentuan Srandart Perencanaan Irigasi. NFR = (ETc .27(1 + (U2)/100) U2 = f(u) x ((2 /(x)0. Eto WLR = Pergantian lapisan air dilakukan dua kali. 5 SEPTEMBER 2009 5426 Gambar 1 . Skema Jaringan Irigasi Jepun ISSN.22)} + 0.5 mm/hari) dilakukan selama 20 hari pada bulan pertama dan setelah tranplantasi.71)/(24 . pemakaian air yang efektif (titik layu tanaman.ed)} = c{W. Evapotranspirasi Potensial (ETo) Evapotranspirasi potensial dihitung dengan metode Penman yang dimodifi-kasi. cara pemberian air.0. 0852- 2. b. pengolahan tanah. f(U) (ea . Kebutuhan Air Tanaman Kebutuhan air tanaman adalah air yang diperlukan tanaman untuk tum-buh. 17 NO.Re + WLR + ( IR) Kebutuhan air irigasi DR = NFR /e Kebutuhan air irigasi untuk palawija.25 212 .R n+(1-W).AGRITEK VOL. jenis tanaman. jenis tanah.71 Rn = Rns . jadwal tanam. klimatologi. keadaan saluran dll).22) x {(0.73 . Etc = kebutuhan air untuk tanaman penggunaan konsumtif. air yang hilang karena penguapan.R n + (1-W) . masing-masing 50 mm (2.15 ) W = (t . dengan rumus: ETo = c{ W. 1986.α ) x Rs ---> α = 0.f(U)(eaed)}/8. Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan air irigasi tiap hektar di sawah dihitung berdasarkan beberapa faktor yang berpengaruh yaitu: a.Rn1 Rns = (1 . air yang diserap oleh tanaman. kehilangan air. dengan rumus seperti berikut ini: NFR = ETc + P .64lt/dt/ha ed = RH x ea f (U) = 0.Re) / e ETc = kc . mm/hari Eto = evapotranspirasi potensial (mm/hr) Kc = koefisien tanaman P = kehilangan air akibat perkolasi Re = curah hujan efektif (mm/hari) e = efisiensi irigasi keseluruhan.

perlu mempertimbangkan kebutuhan air di lapangan (FPR). Jepun.0.1986) dengan persamaan sebagai berikut : IR = M ek/(ek-1).1 + 0. T = t + 273o K = (117. g.35 lt.74 x 10-9) / 59 mm/ /hari. Dari hasil perhitungan digunakan untuk mencari kebutuhan air tanaman di sawah dan merencana tata tanam dalam upaya hemat air di JI. 213 . Sesuai pola tanam seperti yang disajikan pada Gambar2.dt/ha METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk penelitian diskriptif. Desember periode 1 atau 2. Hujan Efektif Hujan efektif merupakan hujan yang meresap ke dalam tanah dan dimanfaatkan oleh tanaman. Pola Tanam dan Intensitas Tanam Pola tanam dan tata taman hasil observasi lapangan adalah: Padi . di mana Ra adalah besaran nilai angot dalam hubungannya dengan letak lintang Rnl = f(T) x f(ed) x f(n/N) f ( T ) = s x T4 . k = (M .9 x (n/N) Rekap data dan hasil hitungan -potranspirasi ditunjukkan pada Tabel 2 eva ISSN.1 x ETo selama penyiapan lahan T = Jangka waktu penyiapan lahan (hr) S = 300 mm (ketentuan). 2004). Hasil hitungan ditulis pada Tabel 3. Hujan efektif terjadi pada dependable rainfall antara 70 % sampai 80% curah hujjan dengan rumus: Keterangan: P = Probabilitas. f(ed) = 0.5 mm/hari) dilakukan selama 20 hari pada bulan pertama dan dua bulan setelah tranplantasi.54 x (n/N/100))) x Ra. Periode bero selama musim kemarau mencapai luas lahan sekitar 60%. karena pada saat itu biasanya tidak ada air. f. dimana : M = Eo + P. Awal tanam dimulai pada awal hujan . 17 NO. Hasil tanaman per tahun (intensitas tanaman) adalah 220 %. yang dimaksud adalah kondisi bangunan.044 x e0.AGRITEK VOL. dengan cara pengamatan. tembakau 2. Ketentuan dari Kriteria Perencanaan Irigasi untuk efisiensi saluran primer 90%. Efisiensi Irigasi. sekunder 90 % dan tersier80% h. Penggantian Genanangan Pergantian lapisan air dilakukan dua kali. Berdasarkan hasil penelitian dari Laboratorium Mekanikan Tanah Teknik Sipil UNESA adalah 2 mm /hari (Retno. 5 SEPTEMBER 2009 5426 Rs = (0. Data pengamatan dan dokumentasi . FPR adalah besar debit yang digunakan dilapangan untuk tanaman palawija . Kebutuhan air irigasi di lapangan Kebutuhan air irigasi rencana. M = Nomor urut data besar ke kecil. masing-masing 50 mm (2. 0852- P = M 100 % dan Re =0. Umur tanaman padi 3 bulan. Perkolasi adalah peristiwa kehilangan air akibat pergerakan air tanah yang disebabkan oleh penurunan air secara gravitasi ke dalam tanah Besar perkolasi dipengaruhi oleh sifat fisik tanah (Braja. d.34 .25 + (0. e. dokumentasi. N = Total pengamatan selama T tahun.5 bulan dan umur palawija (jagung) 3 bulan pada MK 1 Dan pada MK 2 hanya berumur 2 bulan yang diman faatkan untuk makanan ternak. mm/hari . Dari data nilai FPR di lapangan adalah 0.5 f(n/N) = 0.Palawija . Kebutuhan Air Pengolahan Tanah Kebutuhan air irigasi selama jangka waktu penyiapan/pengolahan tanah dihitung dengan rumus (Petunjuk Perencanaan Irigasi. 1998). T) / S Eo = 1.Palawija / Tembakau . menganalisis data-data lapangan dalam rumus statistik dan rumus pengairan.70 x R80 N +1 c.

5 7 3 0 . 4.AGRITEK VOL. ( l/ d t/h a ) S O R ( l/d t/h a ) T O R ( l/d t/h a ) 1 5. Sedimentasi di bangunan penangkap air. 3.8 5 11.0 0 .0 7 0 .3 3 1 .1 1 1 .4 1 2 3 1 2 D R .3 7214 1 .8 6 1 . ( l/ d t/h a ) 0 . hujan (7 tahun) dan data perkolasi.pangin0dan 4 penyinaran.4 9 0 .7 8 1 3 8 1 1 9 .3 2 J1u. diketahui bahwa.8 0 .0 2.2 6 0 . di 1 .2 3 1 .5 .6 R 8 k a p2it u.1 9 1 . K e b u t u h a n A ir II 261 Ha R .2 1 1 .1 1 . tinggi pengukuran).9 4 0 .2 6 0 .7 0 1 .1 6 .4 4 M.1 danT O R ( l/d t/h a ) jaringan 1 2 irigasnya.2 r h it .7 5 1 .5 5 0 .0 0 . 2 1 .8 4 0 .4 2 . dan di saluran sekunder bagian hilir Kondisi bangunan ukur perlu di kalibrasi Awal rencana tanam kurang teratur Pada MK2 bisa dikatakan tidak ada air perlu dibuat giliran glondong Rekap hasil pengukuran dan analisisis data sekunder disajikan dalam uraian berikut 0 . 5 SEPTEMBER 2009 5426 ISSN.4 2 1 .0 8 tahun (tempe ratur.0 3 1 . 0 .5 6 1 .4 7 O 1 DS e bRit( l/d t/h la) n 0 . kelembaman udara relatif /11.0 7 belokan.8 Padi 261 Ha 198 Palawija Ha Tembakau 104 Ha 1'57 Palawija Ha Palawija 157 Ha III 340 Padi 340 Ha Tembakau 136Ha Palawija 204 Palawija204Ha Gambar 2 Rencana Pola Tanam DI Jepun UPTD Lenteng Sumenep bangunan penangkap air (10 tahun).3 2 lama jamR ( l/d t/h a .9 5 1 . U Dari data pengamatan dan dokumentasi. e ff ( m m /h r ) 1 . HASIL DAN PEMBAHASAN 2 R .3 0 1 .u I 330 Padi 330 Ha Tembakau 132 Ha 198 Palawija N op D es 1 . e ff ( m m /h r ) 0 .7 8 1 .1 bawah 6ada di0saluran sepanjang saluran 0 .1 6 la e 37 R e r a ta ( m m /1 0ahbre)l.2 4 l) di tepatnya bangunan. terjadi: D R .7 0 0 .3 0 . 17 NO.9 F P-dan tinggi alat kecepatan odebit . 1 2 D a ta GOLLuas (Ha) NOV DES JAN PEB N opem ber 1 MAR APRIL D esem JULI AGS 2 MEI JUNI 3 1 SEP 2 OKT T 2 9 4 2 e .0 4 1 .3 2 /B u a Penangkap Air 0 . K e b u i a n gan M i un H asiul th htu nA ir d atae p en gu k u ran Jh u j an .3ukur saluran primer 0 .9 5 terakhirFyaitu: (l/d t/h a ) klimatologi selama 5 1 R e r a ta ( m m 0 h r ).9 8 1 0 .1 9 1 .6 0 2 .7 6 2 0 .6 3 0 . Data lapangan pada tahun N R data 0 .0 9 0 .0 s2i 3P.4 4 .2 1 1 .1 9 n 12.8 3 1 . 0852- T a b e l 3 T in N o.9e7i 1 .

30 hari. Hal ini menunjakan bahwa pada MK 2 sudah tidak ada air 7. pintu tersier (TOR) dan di sawah tidak tetap atau bervariasi antara 0. Apabila terjadi kekeringam sebaiknya digunakan pola pergiliran tanaman yang optimal.Luas pembibitan dibuat 1/20 dari luas lahan sawah.20 s/d 0.70 – 0. 10.50 – 0.14 s/d 0. Ketentuan yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan rencana tanam adalah: . hal ini menunjukkan memang ada hubungan variable tersebut dalam Tabel 3.10 lt/dt/ha.35.85 lt/dt/ha). tempat. besarnya pada MH (0. Dari beberapa alternatif seperti ditunjukkan pada Tabel 5 dapat direncana tata tanam dengan intensitas maksimum 280 % dengan pola tanam sesuai lapangan dan dapat ditanam PG! sebesar 10 %. 9. jenis dan luas tanaman baik pada MH maupun MK disertai penggunaan air yang efisien untuk mendapatkan produksi yang optimal. KESIMPULAN Kebutuhan air tanaman di lahan sawah dari hasil analisa data klimatologi dan data lapangan. - ISSN. Besar hujan efektif sebanding dengan debit. sedangkan pembukaan pintu tersier di setiap bangunan sadap sesuai instruksi dan sesuai keputusan dalam rapat HIPPA.14 s/d 0. . pemberian air dilakukan periode 7 hari. ANALISA DATA Tata tanam merupakan upaya pengaturan waktu.06 lt/dt dapat menaikkan intensitas ± 60 % dari intensitas tanaman 220 % menjadi 280 % per tahun. . Hal ini menunjukkan kebenaran karena tidak semua areal pada MK 2 ditanami. informasi neraca air ini dapat digunakan untuk mengetahui jumlah kelebihan air yang dapat dimanfaatkan serta mengantisipasi dampak kekeringan. . harus dilaksanakan pergiliran antar Blok/Rotasi I dan II Selisih waktu tanam untuk setiap golongan 10 hari Apabila terjadi pergiliran. 5 SEPTEMBER 2009 5426 6. Besar debit rerata dan andalan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pada awal MH terjadi debit besar.50 lt.10 – 0.29 lt/dt/ha. 0852- Besar LPR : (Luas Pembibitan x 20) + (Luas Garapan x 6) + (Luas Tanaman x 4) + (Luas Palawija /tembakau x 1) Kekurangan air MH dicukupi dengan air hujan/awal tanam tiap golongan dibagi 3 kelompok atau awal tanam di undur FPR min 0.06 lt/dt.34 lt/dt/ha. sesuai dengan LPR dan memperhatikan kehilangan air di sekunder 10 %.dt/ha). kemudian menurun sampai awal MK2. dengan memperhitungkan Luas Palawija Relatif. sedangkan nilai kebutuhan air berdasarkan pengamatan lapangan sebesar 0. sehingga dapat hemat air ± 0. Saran Untuk daerah irigasi lainnya perlu dianalisis neraca airnya.AGRITEK VOL.pol (Tabel 6) FPR yang disetujui oleh pihak pengairan dan pertanian adalah 0. MK 2 mulai mengecil (0.Pada awal tanam padi musim hujan dimulai awal MH atau dilakukan pada bulan November Periode 2 s/d Periode 3. Kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan point a s/d h disajikan pada Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa kebutuhan air di pinu intake intake (DR). Dari surplus (hemat) air 0. untuk memperbaiki sifat olah tanah.80 Q normal. sedang pada awal 8.29 lt/dt/ha. DAFTAR PUSTAKA 215 . Besar evapotransparasi pada Tabel 2.Pada akhir MK tanah dibalik.65 lt/dt/ha) lebih besar dibanding MK 1 (0. dapat ditentukan setiap hektar pada MH 0.pol Apabila debit air lebih kecil dari 0. 17 NO. sehingga perencanaan tata tanam merupakan perpaduan antara kebutuhan air untuk tanaman dengan ketersediaan air irigasi.Awal periode pembibitan dilakukan bersamaan dengan penyiapan lahan selama 20 .40 – 0.

Studi Tata Tanam Pada Jaringan Irigasi Jepun di UPTD Lenteng Sumenep. 2000.AGRITEK VOL. Malang: ITN Soejadi dkk. DPU Dirjen Pengairan. 2002. Irigasi I & II. 1986.P a d i .Stringham. Irigasi dan Bangunan Air. 1986. Dasar-dasar dan Praktek Irigasi.2002.T a n . Irigasi I. . Kebutuhan Air Tanaman. Saluran KP – 03.05. KP .T em bak au . Surabaya : University Press Unesa Surabaya Retno Widorini. T a b e l 5 C o n to h P e r h itu n g a n K e b u tu h a n T A N A M B LN O M H M 1 K M1 K . Israelsen. 1986.Pol 1 P a w in ih a n G a ra p a n 4 8 . . Kabupaten Sumenep. 2 A K . 17 NO. 5 SEPTEMBER 2009 5426 ISSN. Yogyakarta : UGM Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Kabupaten Sumenep. 2004. ( H a )( H a )( H a )( H a ) I P a w in ih a n G a ra p a n v NO V II II 6 11 105 2 A 330 330 297 264 B 261 216 . Surabaya : University Press Unesa Surabaya Indiah Kustini 2003. 0852- Darmanto dan Fatchan Nurrochmad. . Teknik Sipil FPTK : Unesa surabaya. Sumenep: CV Tata Surya Konsultan. Surabaya : Teknik Sipil ITS Suhardjono . Soleh. 1989. Riview Design Jaringan Irigasi Jepun UPTD Lenteng. Orson W.Hansen. Terjemahan : Endang Pipin Tacyan. Jakarta : Erlangga. Jakarta : DPU Pengairan Indiah Kustini 2003. Glen E. Moch. Pedoman penulisan dan Ujian Skripsi Universitas Negeri Surabaya Surabaya: University Press Unesa Surabaya Vaughn E. Soetjipto. Irigasi II. Standart Perencanaan Irigasi .

0852- 217 .AGRITEK VOL. 17 NO. 5 SEPTEMBER 2009 5426 ISSN.

2 d i in ta k e .b N e r a c a A ir R e n ca n a T a n a m A lt e rn a tif 1 d a n 2 A w a l T a n a m N o p e m b e r 3 218 .AGRITEK VOL.a N e ra c a A ir R e n c a n a T a n a m y a n g a d a 400 350 D e b it T e r s e d ia ( d e b it A n d a la n ) 300 250 Debit (lt/dt) 200 D e b it ya n g d im a n f a a tk a n p a f a b u la n b e rik u tn y a 150 100 50 0 N e r a c a a ir d a r i r e n c a n a t a n a m a lte r n a tif 1 . 17 NO. T a b e l 1 ) D e b it r e n c a n a ta n a m ya n g a d a m e n u ru t h itu n g a n D e b it r a ta . d a n in t e n s it a s 2 8 0 % " n e r a c a a ir d a r i r e n c a n a ta n a m a lte r n a yif 2 . 5 SEPTEMBER 2009 5426 ISSN. d e n g a n in te n s ita s 2 8 0 % d a n P G I 1 0 % " III I II III APR I II III M EI I II III JU N I I II III JU L I I II III AGS I II III SEP I II III OKT B u la n G a m b a r 3 . 0852- 400 350 300 250 Debit (lt/dt) 200 150 100 50 0 I II II I A PR I II I II M EI I II III JU N I I II I II JU LI I II III AGS I II II I SEP I II OKT III D e b it T e r s e d ia ( d e b it A n d a la n .ta b e l 1 D e b it y a n g d im a n f a a t k a n u n tu k m e n a ik k a n in te n s it a s B u la n G a m b a r 3 .

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 49 65 107 565 1043 1110 1100 1250 1914 1165 1193 1046 1033 1034 676 343 187 145 64. 2 27 85 56 4 13 3 5 1 Ags.1 78. ( % ) 84 89 94 78 87 92 96 93 96 Kec.2 75. klmatologi Kalianget. 2 28 88 58 1 4 3 5 1 1 28 88 59 1 5 3 5 1 Apr. Debit /Bulan 1 Andalan 2 Rata-rata (lt/dt) (lt/dt) Nop. Indiah 2003 Tabel 2 Nilai Evapotranspirasi DI Jepun No. Indiah 2003 1 2 3 4 28 28 29 76 75 73 99 100 100 3 3 3 11 10 10 3 3 3 7 7 7 1 1 1 219 . Mar.6 78 73. Jul. Angin ( m/detik) 1 ( km/jam ) 4 5 Tinggi peng. Debit /Bulan Mei Jun. Peb. 2 3 28 81 50 1 4 3 5 1 1 27 88 50 2 6 3 4 1 Jan. 17 NO. 2 29 82 80 1 5 3 6 1 28 83 85 2 7 3 6 1 1 2 3 4 No. 5 SEPTEMBER 2009 5426 ISSN. ( % ) 82 Kec. ( m ) 3 3 3 3 3 3 3 3 3 PET 6 6 6 5 6 6 6 6 6 ETo 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Hasil hitungan data pengukuran. 2 3 28 87 65 1 5 3 5 1 Okt.8 124 268 568 828 959 1017 1024 1096 1126 1117 1007 858 624 510 393 301 303 No. 2 3 28 84 47 2 5 3 5 1 Mei 2 28 88 33 1 4 3 4 0 1 27 87 30 1 5 3 4 0 Des.AGRITEK VOL.9 Hasil rekap data debit. 2 3 27 89 44 1 5 3 4 0 1 27 88 30 3 11 3 4 0 Peb. Data /Bulan 1 3 1 3 1 3 1 27 75 97 3 11 3 7 1 3 28 76 99 3 12 3 7 1 1 3 1 29 79 78 2 6 3 6 1 3 29 81 67 2 6 3 6 1 0 Temperatur ( C ) 29 28 28 28 28 27 27 28 28 Kelembaman ( % ) 83 83 83 82 78 77 77 80 79 Lama peny. Okt. 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 Andalan (lt/dt) 273 187 289 222 235 391 284 225 193 135 63 63 48 54 48 68 42 58 2 Rata-rata (lt/dt) 248 188 211 228 245 266 264 246 236 185 125 110 87. 0852- Tabel 1 Debit Andalan ( 80% ) Bangunan Penangkap Air Jepun dan Rerata di Intake No. Ags. 2 27 91 29 1 3 3 3 0 Jun. Data /Bulan 1 0 Temperatur ( C ) 29 Kelembaman ( % ) 80 Lama peny. Apr. 2 27 74 99 3 12 3 7 1 3 27 89 46 2 5 3 4 1 1 27 90 51 1 4 3 5 1 Mar. 2 3 28 87 73 1 4 3 6 1 Sep.9 62. Sep. UPTD Lenteng Sumenep. ( m ) 3 PET (mm/hari) 6 ETo (l/dt/ha) 1 Nop. Jan. Des. 2 27 88 44 1 4 3 4 0 Jul. Angin ( m/detik) 2 2 2 3 3 2 3 3 3 ( km/jam ) 7 7 8 5 9 9 11 10 12 5 Tinggi peng.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful