Anda di halaman 1dari 3

Berita : Tribunnews.

com - Rabu, 1 September 2010 02:35 WIB

Dilema Guru Mengembangkan Sastra di Sekolah Dasar


Tidak salah, jika para kritisi sastra mempertanyakan peranan guru terhadap
perkembangan sastra di sekolah. Hal ini dibuktikan, kurangnya kompetensi guru dalam
kesusastraan.

Khususnya guru di sekolah dasar, yang memiliki bejubel peranan sebagai : administrator,
pengajar semua mata pelajaran, ekstrakurikuler, dlsb. Jangankan memikirkan sastra,
banyak hal yang membuat mereka sering tidak fokus mengelola pembelajaran. Oleh
sebab itu, sastra di sekolah dasar kurang berkembang.

Sementara, untuk memupuk generasi masa depan yang sadar dan menjadi pelaku sastra di
negeri tercinta ini adalah siswa-siswi sekolah dasar. Pada kenyataannya, mereka disuguhi
pembelajaran yang kaku; membaca puisi, menulis puisi, mendengarkan prosa, tanpa
larung berdiskusi atau mengajak menela’ah secara baik dan benar.

Sehingga dalam prosesnya, mereka gampang jenuh dan cenderung tidak berminat
mengikuti pembelajaran sastra. Meskipun kurikulum tingkat satuan pendidikan sudah
dirancang sedemikian rupa – sebagai petunjuk bagi guru dalam melaksanakan proses
belajar mengajar – tetap saja kurang memberikan kontribusi yang cukup – untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran sastra di sekolah.

Pembentukan sikap siswa-siswi di sekolah dasar merupakan suatu masa yang tepat untuk
memberikan bekal kesusasteraan sejak dini.

Hal ini sesuai dengan teori tabularasa (kertas kosong) yang dikemukakan Jhon Locke
seorang tokoh empirisme, dalam buku pedagogik (2007 ; 74), diibaratkan sebagai
”tabularasa”, yaitu sebuah meja yang dilapisi lilin, yang digunakan di sekolah dalam
rangka belajar menulis.

Artinya, anak ibarat kertas putih yang bisa dicorat-coret oleh pengaruh lingkungan dan
manusia dewasa. Sebetulnya, bagi guru sekolah dasar, merupakan waktu yang pas untuk
memberikan pemahaman dan pengalaman kepada siswa tentang sastra – yang mampu
membentuk karakter siswa – berbudaya dan beretika.

Kaitan dengan kemampuan guru sekolah dasar dalam kesusastraan, memang sangat
menyedihkan. Betapa tidak, mereka harus memberikan pembelajaran sastra, sementara
kemampuan sastra itu sendiri tidak dimiliki.

Memang, guru sekolah dasar bukan ahli sastra atau sastrawan, setidaknya mereka perlu
diberikan seminar atau workshop tentang sastra. Banyaknya peran ganda mereka,
membuat konsentrasi dalam memberikan pengajaran terbagi-bagi, ini juga menjadi salah
satu faktor penghambat.

Apakah dengan begini, lalu pembelajaran dan pengajaran sastra di sekolah dasar akan
kreatif, efektif, dan menyenangkan? Selain kurangnnya seminar atau workshop sastra

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Berita : Tribunnews.com - Rabu, 1 September 2010 02:35 WIB

untuk guru, pihak-pihak terkait juga terkesan kurang respect terhadap perkembangan
sastra di sekolah dasar.

Padahal, sastra merupakan cara ampuh membentuk karakter siswa sebagai penerus
bangsa yang berbudaya dan beretika. Ironisnya, kenyataan di lapangan – paradoks –
dengan tujuan pendidikan nasional.

Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Pendidikan


nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Wajah pendidikan seperti ini, mungkin tidak akan pernah jelita sepanjang guru itu sendiri
tidak dibekali kemampuan sastra. Setidaknya, mengadakan seminar ataupun mengadakan
bengkel sastra yang direkomendasikan dinas pendidikan ke sekolah-sekolah, kemudian
mengundang sastrawan-sastrawan untuk memberikan pengarahan sastra kepada guru-
guru sebagai bekal di kelas.

Tindakan seperti itu merupakan langkah yang lebih baik dan aplikatif. Ketimbang
berretorika setiap rapat-rapat ataupun berapriori dalam ritus pendidikan selama ini, yang
mengharapkan pembelajaran sastra di sekolah berkembang dan maju.

Selama ini, guru sekolah dasar kurang diberdayakan dalam pengembangan sastra di
sekolah. Intensitas pengadaan seminar yang minim diikuti oleh guru, juga merupakan
alasan guru sekolah dasar gagap terhadap pengajaran sastra.

Bukan perkara mudah, tugas yang diemban guru sekolah dasar, apalagi mengembangkan
sastra yang seharusnya dipegang oleh guru ahli bahasa dan sastra. Ini menjadi tugas dinas
pendidikan untuk memikirkan solusi yang tepat, dalam kaitan pengembangan sastra di
sekolah dasar.

Jika pihak-pihak terkait sadar akan pentingnnya perkembangan sastra di sekolah dasar,
mungkin para kritisi sastra tidak lagi mengkambing hitamkan dunia pendidikan,
khususnya kepada guru sekolah dasar atas ”kegagalan sastra” selama ini. Betul, sudah
seharusnya perkembangan sastra di sekolah dasar merupakan tanggung jawab bersama.

Bukan mencari-cari kesalahan yang tidak sepatutnya disematkan kepada guru. Harus
dipikirkan oleh kita semua, baik pemerintah, guru dan sastrawan di negeri ini. Jangan
hanya menyalahkan salah satu pihak, agar perkembangannya itu sendiri selaras sesuai
dengan tumbuh-kembang generasi kita.

Selain itu, pembagian tugas guru di sekolah dasar harus dikelola oleh pihak-pihak terkait
dengan baik, agar tugas mengajar guru tidak tumpang tindih dengan administrasi yang
pada kenyataannya mengganggu proses belajar-mengajar.

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Berita : Tribunnews.com - Rabu, 1 September 2010 02:35 WIB

Salah satunya, mengangkat tenaga kerja seluas-luasnya untuk dijadikan pegawai negeri
sipil disetiap sekolah dasar, yang barang tentu harus sesuai dengan kompetensi dan
bidangnya masing-masing.

Agar fungsi guru sekolah dasar di kelas, tidak bekerja ke sana ke mari atau harus
mempersiapkan berbagai macam persiapan yang bukan kompetensinya.

Kemudian, menggalakan program guru bidang di sekolah dasar, yang harus segera
direalisasikan. Bagaimana tidak, satu kelas yang dikelola oleh satu orang guru,
merupakan pekerjaan yang sangat muskil menghasilkan murid berkualitas, terutama
dalam pembelajaran sastra. ***

3 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com