Anda di halaman 1dari 2

Sumber : http://www.sawali.co.

cc/

Guru Bahasa, Sastra, dan KTSP


Jika dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, muatan sastra dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tampak lebih utuh dan komprehensif. Ada
keterampilan reseptif (mendengarkan dan membaca) dan produktif (berbicara dan
menulis) sekaligus di dalamnya. Dengan kata lain, ada aktivitas siswa untuk
mendengarkan sastra, membaca sastra, berbicara sastra, dan menulis sastra selama
kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kalau muatan sastra dalam KTSP ini disajikan
dengan baik, fenomena “rabun sastra” yang konon sudah menggejala di kalangan pelajar
itu, saya yakin akan dapat teratasi.

Persoalannya sekarang, sudah benar-benar dalam kondisi siapkah para guru bahasa
menyajikan muatan sastra dalam KTSP itu kepada siswa didik? Sanggupkah para guru
bahasa kita memikul peran ganda; sebagai guru bahasa dan sekaligus guru sastra?
Mampukah para guru bahasa kita memberikan bekal yang cukup memadai kepada anak-
anak negeri ini dalam mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis sastra? Hal ini
penting saya kemukakan, sebab selama ini memang tidak ada spesifikasi dalam penyajian
materi bahasa dan sastra. Guru bahasa dengan sendirinya harus menjadi guru sastra.

Kalau guru bahasa memiliki kompetensi sastra yang memadai, jelas tidak ada masalah.
Mereka bisa mengajak siswa didiknya untuk “berlayar” menikmati samudra sastra dan
estetikanya. Melalui sastra, siswa bisa belajar banyak tentang persoalan hidup dan
kehidupan, memperoleh “gizi” batin yang mampu mencerahkan hati nurani, sehingga
sanggup menghadapi kompleks dan rumitnya persoalan kehidupan secara arif dan
dewasa. Namun, secara jujur mesti diakui, tidak semua guru bahasa memiliki kompetensi
sastra yang memadai. Minat dan kecintaan guru bahasa terhadap sastra masih menjadi
tanda tanya. Tidak berlebihan jika pengajaran sastra di sekolah cenderung monoton,
kaku, bahkan membosankan.

Tidak semua guru bahasa mampu menjadikan sastra sebagai “magnet” yang mampu
menarik minat siswa untuk mencintai sastra. Yang lebih memprihatinkan, pengajaran
sastra hanya sekadar menghafal nama-nama sastrawan beserta hasil karyanya. Siswa
tidak pernah diajak untuk menggumuli dan menikmati teks-teks sastra yang
sesungguhnya. Kalau kondisi semacam itu terus berlanjut bukan mustahil peserta didik
akan mengidap “rabun” sastra berkepanjangan. Implikasi lebih jauh, dambaan pendidikan
untuk melahirkan manusia yang utuh dan paripurna hanya akan menjadi impian belaka.

Kini sudah saatnya dipikirkan pemberdayaan guru bahasa dalam pengertian yang
sesungguhnya. Format pemberdayaan guru semacam seminar, lokakarya, penataran, atau
diklat yang cenderung formal dan kaku, tampaknya sudah tidak efektif. Forum non-
formal semacam bengkel sastra barangkali justru akan lebih efektif. Mereka bisa saling
berbagi pengalaman dan berdiskusi. Simulasi pengajaran sastra yang ideal bisa
dipraktikkan bersama-sama, sehingga guru bahasa memperoleh gambaran konkret
tentang cara menyajikan apresiasi sastra yang sebenarnya kepada siswa.

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://www.sawali.co.cc/

Guru bahasa menjadi figur sentral dalam menaburkan benih dan menyuburkan apresiasi
sastra di kalangan peserta didik. Kalau pengajaran sastra diampu oleh guru yang tepat,
imajinasi siswa akan terbawa ke dalam suasana pembelajaran yang dinamis, menarik,
kreatif, dan menyenangkan. Sebaliknya, jika pengajaran sastra disajikan oleh guru yang
salah, bukan mustahil situasi pembelajaran akan terjebak dalam atmosfer yang kaku,
monoton, dan membosankan. Imbasnya, gema apresiasi sastra siswa tidak akan pemah
bergeser dari “lagu lama”, terpuruk dan tersaruk-saruk.

Kini, KTSP sudah diluncurkan. Dari sisi muatan materi ajar, KTSP terkesan lebih
ramping dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Namun, dari sisi pendalaman
materi, KTSP terasa lebih intens dan konkret dalam memberikan bekal kompetensi
kepada siswa. Secara eksplisit, KTSP sudah mencantumkan standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Konsekuensinya, guru harus benar-benar
mumpuni dan berkompeten di bidangnya. Jika tidak, kegagalan KTSP sudah menanti,
menyusul kegagalan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Demikian juga halnya dengan
pengajaran sastra. Guru bahasa yang sekaligus guru sastra jelas dituntut memiliki
kompetensi dan talenta sastra yang memadai.

Ada baiknya Depdiknas perlu segera melakukan pemetaan guru bahasa untuk mengetahui
guru bahasa yang memiliki kompetensi dan minat di bidang sastra. Merekalah yang kelak
diharapkan menjadi guru sastra yang mampu membawa dunia siswa untuk mencintai
sastra. Guru bahasa yang nihil talenta dan miskin minat sastranya tidak usah dibebani
tugas ganda. Biarkan mereka berkonsentrasi di bidang kebahasaan, sehingga mampu
memberikan bekal kompetensi kebahasaan secara memadai. Sebaliknya, biarkan
pengajaran sastra diurus oleh guru bahasa yang benar-benar memiliki kompetensi dan
minat di bidang sastra. Dengan spesialisasi semacam itu, kompetensi bahasa dan sastra
siswa diharapkan bisa berkembang bersama-sama tanpa ada yang dianaktirikan. ***

Artikel dari : http://www.sawali.co.cc/

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com