Anda di halaman 1dari 2

Sumber : http://www.sawali.co.

cc/

Guru sebagai Hamba Kemanusiaan?

Sejarah kita telah mencatat, guru senantiasa tampil di garda depan dalam membebaskan
generasi bangsanya dari belenggu kebodohan, keterbelakangan, dan keterasingan
peradaban. Lewat entitas pengabdian yang tulus, tanpa pamrih, total, dan intens, guru
telah banyak melahirkan anak-anak bangsa yang cerdas, terampil, sekaligus bermoral.
Tak dapat disangkal lagi, jasa guru dalam mewarnai dinamika peradaban dari zaman ke
zaman benar-benar teruji oleh sejarah.

Dulu, ketika institusi pendidikan kita masih berbentuk padepokan atau pertapaan, seorang
guru alias resi menjadi figur sentral, otonom, dan bebas menuangkan kreativitasnya
dalam menggembleng para cantrik. Resi pada zamannya dinilai menjadi sosok yang
benar-benar mumpuni, pinunjul, dan kaya ilmu, sehingga menjadi figur yang dihormati
dan disegani. Apa yang dikatakan sang resi dianggap sebagai “sabda” tak terbantahkan.
Perilaku dan kepribadiannya menjadi cermin dan referensi bagi para cantriknya. Tak
berlebihan kalau padepokan menjadi sebuah institusi yang kredibel dan begitu tinggi
citranya di mata masyarakat.

Resi alias guru, sejatinya adalah hamba kemanusiaan. Mereka menjadi pelayan, abdi
pendidikan. Mereka menjadi agen kebudayaan yang memberikan ruang penyadaran
sehingga mampu membuka mata dan nurani terhadap kesejatian diri, harga diri, harkat,
dan martabat bangsanya.

Sebagai hamba kemanusiaan, dengan sendirinya guru sangat akrab dengan kehidupan
anak-anak bangsa yang masih butuh sentuhan kearifan, kejujuran, kesabaran, dan
ketulusan nurani. Karena tugasnya bersentuhan langsung dengan kehidupan sebuah
generasi, guru tak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga diharapkan terampil
menyajikannya kepada siswa didik secara menarik sekaligus menyenangkan. Selain itu,
guru juga dituntut memiliki integritas kepribadian yang baik sehingga tak gampang
tergoda melakukan tindakan tercela yang akan meruntuhkan citra dan kredibilitasnya. Hal
ini sangat beralasan, sebab tugas guru tak hanya sebagai pentransfer ilmu, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai luhur baku kepada siswa didiknya.

Pergeseran Nilai

Seiring derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan, beban yang mesti
dipikul guru jelas semakin berat. Modernisasi yang membawa imbas terjadinya
pergeseran tata nilai menjadi persoalan krusial bagi guru. Guru mesti dihadapkan pada
persoalan serius ketika nilai-nilai kemanusiaan mulai dimarginalkan, nilai-nilai moral dan
agama semakin terbonsai, nilai kesalehan hidup (baik individu maupun sosial) makin
terabaikan.

Dalam pandangan Erich Fromm, era modernisasi yang mengibarkan bendera peradaban
teknologi, bukan perjuangan manusia mencapai kebebasan dan kebahagiaan, melainkan
merupakan masa di mana manusia telah terhenti menjadi manusia. Manusia telah berubah

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://www.sawali.co.cc/

menjadi mesin yang tidak berpikir dan berperasaan sehingga gampang kehilangan kontrol
terhadap sistem yang telah dibangun bersama. Meminjam bahasa Max Weber,
masyarakat tak ubahnya seperti ”kandang besi” yang memasung dan membelenggu
kehidupan manusia modern.

Iklim dan atmosfer kehidupan modern semacam itu, disadari atau tidak, juga memiliki
andil yang cukup besar terhadap munculnya generasi ”robot” yang kehilangan kepekaan
etika, estetika, dan religi. Mereka telah menjadi generasi instan yang kehilangan apresiasi
terhadap nilai kejujuran, kesabaran, dan ketelatenan. Untuk mencapai harapan dan
keinginan, mereka tak segan-segan mencari jalan pintas dan suka menerabas.

Yang lebih mencemaskan, para pelajar masa kini dinilai juga mulai kehilangan sikap
hormat dan respek terhadap gurunya. Hubungan guru dan murid telah kehilangan
kedalaman komunikasi yang intens dan harmonis. Akibatnya, guru seringkali tak berdaya
dalam menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif; efektif, menarik, dan
menyenangkan.

Dalam kondisi demikian, diperlukan sinergi antara guru, orang tua, tokoh masyarakat,
tokoh agama, dan elemen pendidikan yang lain Di tengah situasi peradaban yang makin
rumit dan kompleks, stakeholder pendidikan perlu memiliki kesamaan visi dalam upaya
membebaskan generasi masa depan negeri ini dari belenggu peradaban yang makin abai
terhadap nilai-nilai luhur baku. Orang tua perlu mengembalikan fungsi keluarga sebagai
basis penanaman nilai moral, budaya, dan agama. Kesibukan memburu gebyar materi
jangan sampai menjadi penghalang untuk dekat dengan anak-anak. Demikian juga halnya
dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Mereka perlu mengembalikan fungsinya
sebagai kekuatan kontrol terhadap berbagai perilaku menyimpang yang rentan dilakukan
oleh anak-anak.

Sebagai hamba kemanusiaan, guru juga perlu mengembalikan ”khittah”-nya sebagai


sosok yang benar-benar bisa ”digugu dan ditiru” sehingga tetap sanggup menjalankan
perannya sebagai agen kebudayaan yang memberikan ruang penyadaran terhadap nilai-
nilai kesejatian diri. ***

Sumber : http://www.sawali.co.cc/

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com