Anda di halaman 1dari 3

Sumber Artikel : http://bataviase.co.

id/

Imajinasi dan Pendidikan Kita


Oleh Agus Wibowo
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

IMAJINASI dalam Wikipedia didefinisikan sebagai kekuatan atau proses menghasilkan


citra mental dan ide. Dalam disiplin ilmu psikologi, imajinasi merupakan proses
membangun kembali persepsi dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi persepsi
pengertian.

Menurut Tedjoworo (2001), imajinasi merupakan daya yang sangat penting dalam
kehidupan manusia. Imajinasi mampu mengantarkan manusia pada penemuan-penemuan
penting seperti ilmu pengetahuan, teknologi, dan semua kreativitas lainnya. Dengan
imajinasi, manusia bahkan bisa merancang strategi, visi, dan memprediksi masa depan
secara tepat.

Begitu pentingnya imajinasi sampai-sampai beberapa negara Barat meletakkannya


sebagai aspek penting dan fundamental dalam pendidikan. Singkatnya, imajinasi menjadi
basis kurikulum. Oleh karena itu, tak mengherankan jika kita menjumpai kurikulum
berikut atmosfer sekolah dan kampus di negara-negara Barat yang sangat membanggakan
sekaligus mementingkan pengajaran kesusasteraan selaku stimulus penting untuk
menggulirkan pengembaraan imajinatif seseorang; agar melayang hinggap di awan
kreativitas, dan akhirnya mengantar kesadaran masyarakat negara-negara tersebut
menjadi pela-hap buku yang teramat rakus.

Negara Jepang bahkan sukses mengombinasikan talenta imajinasi dengan kekayaan


kultural mereka sehingga selain kreativitas anak didik terpupuk dan terasah, mereka juga
tidak tercerabut dari naungan budaya luhur lokal yang turun-temurun.

Bukan aspek penting

Bagaimana dengan negara kita-khususnya dalam sistem pendidikan kita? Tampaknya,


imajinasi belum menjadi aspek fundamental ketimbang capaian-capaian portofolio.
Kurikulum pendidikan kita masih lebih mementingkan pengetahuan (kognitif),
ketimbang aspek imajinasi yang memicu kreativitas. Kurikulum kita, kata Suyanto
(2000), belum berani bercengkerama atau setidaknya bersinggungan dengan imajinasi
dan kreativitas.

Benar kurikulum mengalami perubahan dari tahun ke tahun, tetapi belum ada penanda
signifikan terangkulnya imajinasi dalam pendidikan. Kurikulum 1975, misalnya, lebih
memfokuskan pada hasil belajar; aspek imajinasi tidak mendapat porsi. Pun dengan
kurikulum 1984, 1994, hingga mutahir, meski sedikit menggeser orientasi belajar ke arah
proses, tetap tidak menyentuhapalagi mengembangkan imajinasi dan kreativitas.

Kurikulum itu temyata berdampak pada cara mengajar guru. Karena dituntut
menuntaskan hasil belajar, guru pun menjadi mekanistis; ambil jadi, apa adanya, dan

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber Artikel : http://bataviase.co.id/

miskin ide-ide yang menggugah imajinasi anak didik. Parahnya lagi, guru justru sering
menjadi penghambat imajinasi dan kreativitas anak. Misalnya ketika ada anak didik yang
berbeda pendapat dengan sang guru bukannya dipuji-sebagai suatu kreavitas berpikir-
melainkan malah mendapat ancaman, bahkan dicap sebagai anak kurang ajar atau anak
kurang sopan.

Padahal, kesalahan anak didik hanya pada penggunaan bahasa dalam menyampaikan
perbedaan pendapat itu. Sejatinya, tidak ada maksud anak didik kurang sopan kepada
gurunya. Akhirnya, anak didik mengaj ah dan membiarkan guru menang sendiri.
Tertanam dalam diri anak didik, jika beda atau berseberangan dengan guru, akan
mendapat hukuman, dan ujung-ujungnya nilai rapor yang jelek.

Sementara itu, perlakuan orang tua dalam keluarga juga sering memasung imajinasi dan
kreativitas anak didik. Beberapa tipe orang tua itu di antaranya, pertama, tipe orang tua
yang suka mengancam jika anak berbuat salah, gagal melakukan sesuatu. Ancaman itu
akan membuat anak merasa tertekan untuk melakukan sesuatu yang yang baru. Kedua,
tipe orang tua otoriter, yakni semua keputusan ditentukan orang tua.

Anak tidak boleh beda pendapat, apalagi tidak setuju dengan keputusan orang tua.
Ketiga, orang tua yang tidak toleran, yakni melarang anak mereka bermain atau bergaul
dengan anak dari keluarga yang berbeda paham, keyakinan, status sosial. Keempat, orang
tua yang terlalu ketatmengawasi anak sehingga sedikit-sedikit memberikan kritik yang
kurang membangun.

Akibat sistem pendidikan kita yang menyumbat imajinasi, kata Faisal Afif (2004), anak
didik menjadi frustrasi. Hal ini terjadi karena mereka kehilangan kemampuan abstraksi
sosial mereka tatkala merumuskan ragam langkah alternatif dalam mencari solusi atas
hadirnya permasalahan ataupun tantangan di hadapan yang semakin hari semakin
kompleks. Sekaligus kehilangan sensitivitas dan kreativitasnya sewaktu melihat peluang
cemerlang yang terpampang di masa mendatang. Singkatnya, ketika sistem pendidikan
kita memangkas dan memacetkan kreativitas, bangsa ini menjadi sekum-pulan manusia
yang kering; dalam imajinasi, pemahaman hidup, ide dan kreativitasnya.

Menghidupkan sastra

Sebelum anak didik- dalam lingkup luas bangsa ini-semakin miskin imajinasi, yang
bermuara pada rendahnya kreativitas, stakeholders pendidikan perlu merumuskan strategi
jitu. Salah satunya dengan mengoptimalkan pengajaran sastra. Mengapa? Karena
pengajaran sastra diyakini mampu menyuplai energi imajinasi, yang muaranya memberi
rangsangan inspirasi, sekaligus kreativitas. Sastra juga diyakini memberi kontribusi
positif bagi kehidupan. Terutama, sumbangan imajinasi yang menjadi medium manusia
mendapat ide atau teori. Ide atau teori inilah yang selanjutnya menjadi karya nyata.

Jika kita se-lisik sejarah para penemu dan pemikir besar dan inovatif di berbagai disiplin
ilmu, ternyata mereka memiliki latar belakang sastra yang kuat-setidaknya penikmat
sastra. Sebut di antaranya Edward W Said, yang membongkar epistemologi orientalisme

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber Artikel : http://bataviase.co.id/

sambil membuka pintu pascakolonialisme; Michel Foucault, yang mengadakan analisis


wacana untukmelihat prawacana; atau Antonio Gramsci, yang melihat sastra sebagai
medium pembaruan moral dan untuk mengungkapkan ideologi-ideologi kelompok sosial.

Beberapa ilmuwan ternama seperti astronomer Carl Sagan, kosmolog Free Dyson, dan
rocketry Wernher von Braun, konon mengawali karier mereka dari kegemaran membaca
sastra fiksi-sains. Bahkan Copernicus (1512) yang merumuskan teori heliosentris
(matahari sebagai pusat orbit) juga seorang sastrawan. Ketika teori itu diumumkan pada
publik, semua ilmuan berdecak kagum. Bagaimana tidak? Pada era tersebut tidak ada alat
yang mendukung untuk melakukan riset secara langsung atau pergi ke orbit matahari.
Tentunya Copernicus merupakan seorang yang mempunyai ilmu gaib karena mampu
meneropong teramat jauh. Anggapan mistis itu terbantahkan karena ternyata lahirnya
teori tersebut berawal dari imajinasi dan intuisi Copernicus-yang juga seorang sastrawan.

Imajinasi yang terlahir dari olah sastra menjadi amat penting. Sampai-sampai, seorang
Einstein yang dikenal sebagai bapak penemu teori relativitas menegaskan "Imagination is
more inqmrtant Hian knowledge." Ungkapan Einstain itu tentu tidak muncul tiba-tiba,
tetapi karena ia merupakan penggemar berat puisi-puisi penyair Wordsworth dan Mary
Shelley. Bila kita menggunakan logika Eistein itu, teramat sia-sialah sistem pendidikan
kita jika terus mengejar pengetahuan semata (kognitif), sementara mengabaikan
imajinasi.

Model pendidikan seperti itu justru tidak akan berdaya hasil guna, sekaligus tidak akan
berkorelasi positif bagi kehidupan anak didik. Maka tidak ada pilihan, selain membuka
ruang imajinasi- melalui pengajaran sastra seluas-luasnya. Dalam sistem ini, pengajaran
sastra tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai sebuah pengetahuan yang berisi hafalan
tentang nama sastrawan, bentuk puisi, periode sastra, atau dua contoh karyanya.
Pengajaran sastra yang utama, kata Radhar Panca Dhahana (2010), adalah pengembangan
imajinasi anak didik yang seluas-luasnya demi apresiasi dan kreasi.

Jika kurikulum kita masih ingin meniru pola pendidikan Barat, perlu dilaksanakan
dengan kreativitas yang berbeda. Adapun rincian terapan kurikulernya dapat
diperbincangkan bersama-sama oleh berbagai pihak terkait. Bisa jadi kurikulum baku
yang sudah ada sekarang diubah seperlunya saja, tanpa harus merombaknya secara total
karena hakikat masalahnya bukan pada isi kurikulum, melainkan lebih substantif berupa
pembangunan atmosfer kemerdekaan aspiratif dalam mengapresiasi sastra di sekolah dan
kampus secara natural.

Sementara itu, pengajaran bahasa-yang merupakan aspek terpenting dari sastra-juga perlu
diubah. Pengajaran bahasa harus menjadi proses pembiasaan berbahasa yang baik dan
benar. Guru harus menjadi teladan bagi anak didiknya dalam penguasaan keterampilan
berbahasa. Kebiasaan berbahasa anak didik hanya dapat dibentuk dalam suasana disiplin
para guru bahasa Indonesia itu sendiri. Maka, para guru bahasa harus mempunyai
kebiasaan membaca, terbuka dengan pemikiran baru, dan membiasakan menulis sehingga
merangsang siswa untuk melakukan hal yang sama.

3 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com