Anda di halaman 1dari 3

Sumber : http://bataviase.co.

id/content/sumber-berita

Mengajar Sastra tidak Mudah


ADA dasarnya, guru bahasa dan sastra Indonesia mengenal dengan baik puisi "Senja
di Pelabuhan Kecil" karya penyair Chairil Anwar,yang ditulis pada 1946. Apa sebab?
Karena puisi tersebut sering dicatat penulis buku pelajaran bahasa dan sastra
Indonesia untuk tingkat SMA. Namun demikian, bila ditanya lebih jauh, apakah Anda
tahu puisi tersebut terdapat dalam buku puisi yang mana, khususnya bagi para guru
yang mengajar di daerah, maka jawabnya adalah tidak tahu.

Sebab buku-buku teks semacam itu sulit didapat, baik di perpustakaan sekolah
maupun perpustakaan daerah. Dengan demikian, pelajaran sastra Indonesia,
sebagaimana dikatakan Neneng Sri, seorang guru bahasa dan sastra Indonesia di
Kuningan, lebih mengarah kepada pelajaran sejarah sastra. Seperti kapan Chairil
Anwar lahir dan meninggal, serta buku apa saja yang ditulisnya. Selain itu,
pengetahuan guru tentang apa dan bagaimana puisi, juga sangat kurang. Kurangnya
pengetahuan guru tentang puisi juga disebabkan buku-buku khusus tentang apa dan
bagaimana puisi ditulis juga sangat jarang terbit. Tidak semudah mendapatkan buku
tentang apa dan bagaimana menulis cerita pendek, yang antara lain ditulis oleh Jakob
Sumardjo, Panuti Sudjiman, dan se-jumlah teoritikus lainnya.

"Berkaitan dengan langkanya buku tentang apa dan bagaimana menulis puisi, perlu
diselenggarakan lokakarya penulisan puisi, yang pada satu sisi akan memudahkan
para guru untuk memahami puisi dan mendalami puisi dalam pelajaran sastra
Indonesia," ujar Neneng Sri, dalam acara diskusi sastra yang digelar Fakultas Ilmu
Keguruan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Kuningan (Uniku) beberapa
waktu lalu, dengan pembicara antara lain penyair Acep Zamzam Noor.

Berkaitan dengan tidak adanya buku semacam itu, tidak aneh kalau banyak guru
bahasa dan sastra Indonesia tidak tahu lebih lanjut tentang puisi yang ditulis oleh
Chairil Awar, Amir Hamzah, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, Rendra, Abdul Hadi
W.M., Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono.

Berkaitan itu pula, jangan harap guru bahasa dan sastra Indonesia bisa mengetahui
dengan mendalam karya-karya puisi yang ditulis Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi
Ag., Yudhistira AN.M. Massardi, Afrizal Malna, Acep Zamzam Noor, Nirwan
Dewanto, Joko Pinurbo, Dorothea Rosa Herliany, hingga generasi kemudian seperti
yang ditulis oleh Ah-da Imran, yang juga bukunya sulit didapat di daerah karena
memang peredarannya terbatas. Alasan klasik adalah, sebagaimana dikatakan para
penerbit, buku puisi merupakan projek rugi. Jika pun masuk ke dalam projek
pengadaan buku, potongan nya sangat besar.

PENGETAHUAN guru tentang puisi dan mendatanginya secara sungguh-sungguh,


menjadi penting dilakukan. Karena selain soal gaya bahasa, metafora, dan majas, yang
kelak diajarkan dari puisi adalah nilai yang dikandung di dalam puisi itu sendiri.
"Seorang guru bahasa dan sastra Indonesia memang harus kreatif ketika buku-buku
itu sulit didapat, meski pengajaran sastra bukan hanya puisi," ujar Kikin Kus-wandi,
guru bahasa dan sastra Indonesia di Banjar, Jawa Barat.

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bataviase.co.id/content/sumber-berita

Yang dimaksud dengan daya kreativitas dalam pengajaran bahasa dan sastra
Indonesia dalam konteks yang demikian itu, antara lain dalam mengatasi sulitnya
mendapatkan buku-buku teks sastra sebagai sumber rujukan, seorang guru pelajaran
bahasa dan sastra Indoensia memang harus aktif dengan cara antara lain mencari
bahan-bahan sendiri, entah lewat internet ataupun koran. Kalau perlu ramai-ramai
datang ke dinas pendidikan setempat untuk minta buku, atau minta diselenggarakan
pelatihan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, yang diselenggarakan dengan cara
kerja sama, entah dengan majalah sastra Horison, Pusat Bahasa, maupun dengan Balai
Bahasa, dan lembaga lainnya.

Tadi disebutkan bahwa pengetahuan guru bahasa dan sastra Indonesia tentang apa dan
bagaimana puisi itu sangat kurang. Hal itu disebabkan banyak hal. Pertama guru
memang tidak suka sastra, kedua karena guru yang mengajar bukan dari bidangnya,
dan ketiga karena mahasiswa tidak aktif dalam kegiatan sastra. Berkaitan dengan itu,
lagi-lagi, sebagaimana dikatakan penyair Nita Widiati Efsa, pengajaran sastra harus
menyenangkan. Apa sebab? Karena ia tidak hanya mengajak siswa ke pengetahuan
bahasa itu sendiri, tetapi juga ke makna-makna yang dikandungnya.

Sebagai contoh Iata baca petikan puisi di bawah ini, yang ditulis almarhum Rendra,
dalam pola ucap naratif.../ Tetapi ini/ Seonggok jagung di kamar/ dan seorang pemuda
tamat SLA/ Tak ada uang tak bisa menjadi mahasiswa/ Hanya ada seonggok jagung di
kamarnya// ta memandang jagung itu/ dan ia melihat dirinya terlunta-lunta

Inti dari petikan puisi "Sajak Seonggok Jagung," tidak hanya bicara soal kemiskinan
itu sendiri pada satu sisi, tetapi pada sisi lainnya bicara juga soal gagalnya pendidikan,
yang menyebabkan macetnya daya kreativitas di dalam diri seseorang - karena
keberhasilan selalu diandalkan dengan lulus dari perguruan tinggi. Padahal pada
kenyataannya di dalam kehidupan sehari-hari, banyak yang lulus dari perguruan tinggi
tidak bisa mendapat pekerjaan, dan malah jadi parasit bagi lingkungan

hidupnya. Inilah yang dikritik Rendra. Lebih jauhnya, puisi yang ditulis oleh Rendra
itu hendak berbicara bahwa seorang pemuda dengan se-oonggok jagung di kamar itu
sesungguhnya bisa hidup jika ia kreatif, yakni dengan cara mengolah jagung itu
sendiri. Jagung dalam puisi tersebut adalah serupa simbol, atau metafora, atau apa
pun, yang bisa diolah, yang bisa dijadikan bahan sebagai sumber penghidupan.

Dalam konteks yang demikian sebagaimana dikatakan Sapardi Djoko Damono dalam
percakapannya dengan penulis beberapa waktu lalu di Bandung, guru bahasa dan
sastra Indonesia dalam mengajarkan puisi di kelas, bukan hanya mengetahui apa dan
bagaimana bentuk-bentuk pengucapan puisi itu sendiri, tetapi juga harus luas
pengetahuan dalam menafsirnya. "Puisi tidak hanya bersangkutan dengan realitas
sosial, tetapi juga dengan persoalan-persoalan religius, dan hal-hal yang bersifat
psikologis," ujar penyair Sapardi yang juga dikenal sebagai akademisi sastra
Indonesia modern.

Jika dalam menafsir puisi berhadapan dengan pengetahuan semacam itu, tentu saja
dalam pelajaran sastra lainnya, dalam hal ini pelajaran cerita pendek, novel, dan
drama, pastilah berhadapan dengan soal yang sama pula. Apalagi dalam pelajaran
drama, ada yang namanya bedah karakter, selain bedah plot. Pengetahuan guru
tentang psikologi tentu dituntut banvak.

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bataviase.co.id/content/sumber-berita

Pertanyaannya, jika menyangkut soal drama yang sekarang lebih sering disebut teater
itu, adakah sekolah-sekolah bisa menyediakan teks (naskah) drama secara utuh,
seperti yang ditulis oleh Arifin C. Noer, Rendra, Putu Wijaya, N. Riantiarno, dan
lainnya? Jawabnya sama, seperti dikatakan Lilis Ramawati, guru di Tasikmalaya,
tidak mudah didapat. "Padahal perguruan tinggi teater sekarang ada di Bandung,
Yogyakarta, dan beberapa kota lainnya," ucapnya.

Lepas dari semua itu, dalam konteks ini saya melihat, model lokakarya
penyelenggaraan acara sastra yang digelar majalah sastra Horison bekerja sama
dengan Ford Foundation dan dinas-dinas terkait, perlu diteruskan oleh pemerintah
dengan penyelenggaraan yang merata ke seluruh sekolah, atau ke seluruh kabupaten
dengan sasaran para gurunya.

"Kita kalah dengan Malaysia. Mereka serius dalam mengajarkan bahasa dan sastra
mereka. Karya-karya sastra penting yang ditulis oleh para sastrawan Indonesia
dipelajari mereka. Di kita, pelajaran bahasa dan sastra Indonesia itu seperti main-main
saja," ujar penyair Taufiq Ismail dalam suatu kesempatan di Jakarta.

Ini memang suatu masalah yang perlu dipecahkan penyelenggara pendidikan pada
2010. Itu pun kalau Menteri Pendidikan peduli dengan semua itu. (Soni Farid Mau-
lana/"PRT"

Sumber : http://bataviase.co.id/

3 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com