Anda di halaman 1dari 7

Sumber : http://gurumenulisbuku.blogspot.

com/

MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU DENGAN MENULIS BUKU*

Oleh : Johan Wahyudi

Pengantar

“Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra
menjadi bisu, ilmu pengetahuan pun lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek.”
(Barbara Tuchman)

Ungkapan Barbara Tuchman di atas benar-benar mengetuk hati jikalau mau


merenung-kannya. Betapa besar manfaat sebuah buku. Manfaat yang takkan
berbanding dengan apapun. Buku adalah samudera ilmu yang takkan habis ditimba
dan diminum. Buku adalah guru paling bijaksana. Buku takkan pernah marah dan
takkan pernah berdendam. Justru buku akan tertawa karena ia terbuka. Buku akan
memberikan semua yang dimilikinya, tanpa harap berbalas. Dengan buku pula,
seseorang dapat berdialog dengan pikiran penulis. Pakar pendidikan, Rene Descartes,
pernah berkata, “…membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan
dengan cendekiawan yang paling cemerlang dari masa lampau-yakni para penulis
itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu
mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik semata-mata…”
(http://grelovejogja.wordpress.com/2007/08/07/motifasi-membaca-dan-
menulis/#comment-2662 diakses pada 30 Nopember 2008)

Jika sudah diketahui kebaikan sebuah buku, tentu akan lebih baik pula penulisnya.
Penulis buku telah berjibaku untuk mengimplementasikan pikiran menjadi sebuah
buku. Penulis pastilah akan menuangkan semua gagasan terbaik. Ia akan mencari
referensi ketika ia sedang ‘mati ide’. Ia takkan pernah memaksakan diri untuk berani
berteori tanpa dasar ilmiah yang kuat. Penulis menyadari bahwa sebuah buku akan
menciptakan perubahan krusial dan fundamental. Karena itulah, penulis buku pastilah
seseorang yang profesional.

Guru (dan) Menulis


Menurut Moh. Uzer Usman (2005: 7), tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik,
mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai
hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan
pada siswa.

Proses belajar berhubungan dengan bagaimana seseorang melakukan suatu kegiatan


jasmani dan rohani dalam rangka memperoleh pengetahuan baru. Soedomo Hadi
(2005: 23) mengemukakan bahwa tugas-tugas pendidik dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu (1) Tugas Educational ; (2) Tugas Instruksioanal; (3) Tugas Managerial.

a. Tugas Educational
Dalam hal ini pendidik mempunyai tugas memberi bimbingan yang lebih banyak
diarahkan pada pembentukan “kepribadian” anak didik, sehingga anak didik akan
menjadi manusia yang mempunyai sopan santun tinggi, mengenal kesusilaan, dapat

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://gurumenulisbuku.blogspot.com/

menghargai pendapat orang lain, mempunyai tenggang rasa terhadap sesama, rasa
sosialnya berkembang, dan lain-lain.

b. Tugas Instruksional
Dalam tugas ini kewajiban pendidik dititikberatkan pada perkembangan dan
kecerdasan daya intelektual anak didik, dengan tekanan perkembangan kemampuan
kognitif, kemampuan afektif, dan kemampuan psikomotorik, sehingga anak dapat
menjadi manusia yang cerdas, bermoral baik, dan sekaligus juga terampil.

c. Tugas Managerial (Pengelolaan)


Dalam hal ini pendidik berkewajiban mengelola kehidupan lembaga (kelas atau
sekolah yang diasuh oleh guru). Pengelolaan itu meliputi :
- Personal atau anak didik, yang lebih erat berkaitan dengan pembentukan kepribadian
anak.
- Material dan sarana, yang meliputi alat-alat, perlengkapan media pendidikan, dan
lain-lain yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
- Operasional atau tindakan yang dilakukan, yang menyangkut metode mengajar,
sehingga dapat tercipta kondisi yang seoptimal mungkin bagi terlaksananya proses
belajar mengajar dan dapat memberikan hasil sebaik-baiknya bagi anak didik.

Selain pendapat di atas, Adam dan Decey (dalam Moh. Uzer Usman, 2005: 9),
berpendapat bahwa peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar
meliputi beberapa hal, yaitu (1) Guru sebagai demonstrator; (2) Guru sebagai
Pengelola Kelas; (3) Guru sebagai Mediator dan Fasilitator; (4) Guru sebagai
Evaluator.

Melalui peranannya sebagai demonstrator, guru hendaknya senantiasa menguasai


bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkannya
dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal
ini sangat menen-tukan hasil belajar yang dicapai siswa.

Dalam peranannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas
sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu
diorganisasi. Lingkungan ini perlu diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar
terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan.

Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang


cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi
untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Sebagai fasilisator, guru
hendaknya mampu meng-usahakan sumber belajar yang berguna serta dapat
menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara
sumber, buku teks, majalah, ataupun surat kabar.

Guru hendaknya menjadi evaluator yang baik. Kegiatan ini bertujuan untuk
mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah
materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat
dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.Pada akhirnya harus ada hubungan
saling bekerja sama antara guru dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, agar
tercapai tujuan akhir dari pembelajaran yang dilakukan. Guru tidak akan berarti bila

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://gurumenulisbuku.blogspot.com/

tidak ada siswa. Sedangkan siswa hendaknya melaksanakan pembelajaran dengan


baik sesuai dengan bimbingan guru.

Untuk meningkatkan profesionalisme, guru hendaknya dapat menulis. Menulis dalam


pengertian luas, seperti menulis buku ajar, buku pengayaan, artikel, makalah, atau
penelitian tindakan kelas (classroom action research). Ini disebabkan menulis dan
guru ibarat sekeping mata uang yang saling berkait dan saling mendukung. Dengan
menulis, seorang guru akan mendapatkan banyak keuntungan, seperti :’

1. menguasai materi pelajaran dengan lebih baik. Ketika menulis buku, sebenarnya
guru telah belajar untuk materi pelajaran yang akan diajarkan. Secara otomatis, materi
pelajaran itu dikuasai dengan lebih, bahkan sangat baik;

2. bertambah kewibawaan dan kesahajaannya di depan siswa. Seorang guru yang


menguasai materi pelajaran dengan baik, ia akan disegani, dihormati, penuh percaya
diri dan tampak lebih berwibawa di depan siswa;

3. menjadi teladan di lingkungan kerja dan masyarakat karena tidak berteori saja.
Istilah lain : tidak jarkoni (iso ujar tidak bisa nglakoni= bisa bicara tak bisa
menjalaninya). Ketika telah menunjukkan kemampuannya mengimplementasikan ide
menjadi sebuah buku, seorang guru akan dikenal dan terkenal di masyarakat.
Kemampuannya itu akan menem-patkan dirinya sebagai figur atau teladan;

4. memperoleh keuntungan finansial yang lebih dari cukup. Awal Januari 2008 lalu,
pemerintah melalui BSNP, Badan Standar Nasional Pendidikan, melakukan sosialisasi
penulisan buku ajar. Untuk buku yang dinyatakan lolos, pemerintah akan membelinya
dengan banderol Rp 100 juta – Rp 175 juta per judul. Bayangkan jika ada seorang
penulis mampu meloloskan lima buah buku. Ia telah menganthongi uang tak kurang
dari Rp 500 juta. Itu yang menggunakan sistem beli hak cipta. Sekarang,
bandingkanlah yang meng-gunakan jalur royalti. Saat ini, perusahaan penerbitan
memberikan royalti berkisar 5% - 10%. Bayangkanlah jika sebuah buku dicetak 100
ribu per judul. Berapakah royalti yang akan diterimanya? Maka, adakah seorang
penulis yang miskin?

5. dapat menaikkan pangkat dan golongan secara cepat. Untuk kenaikan pangkat dan
golongan dari IVa ke IVb, seorang guru dituntut dengan kemampuan menulis karya
ilmiah sejumlah 12 poin. Berdasarkan pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK),
sebuah buku ajar yang lolos bernilai 8 poin. Artinya, dengan dua buku saja, seorang
guru sudah lebih dari cukup untuk nongkrong di golongan IVb. Bandingkanlah
dengan penelitian tindakan kelas (PTK) yang hanya bernilai 4 poin;

6. mengkomunikasikan idenya dengan leluasa. Penulis adalah raja. Ia dapat berbuat


apa saja dengan tulisannya. Kebebasan berekspresi dan mengekspresikan ide akan
membuahkan ide-ide cemerlang. Semakin sering penulis menuangkan ide, ia akan
semakin pandai dan matang dalam menulis;

7. dapat menguatkan, menolak, dan memunculkan ide atau gagasan baru karena terus
belajar. Ketika menulis, seorang penulis akan mengendapkan atau sedimentasi ide.
Penulis akan menyelaraskan setiap ide yang ditemukan. Jika ditemukan keganjilan,

3 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://gurumenulisbuku.blogspot.com/

penulis akan melakukan pembandingan ilmiah. Akhirnya, apakah ide itu ditolak,
dikuatkan, atau justru menemukan ide baru;

8. mendakwahkan ilmu dengan cara baik dan bijaksana. Metode dakwah atau
menyiarkan ilmu yang paling baik adalah dengan menuliskannya. Artinya, seorang
penulis sebenarnya juga seorang misionaris, dai, mubaligh, atau pun guru. Jika ia
menulis dengan niat ikhlas berdakwah, maka ia tidak hanya mendapatkan keuntungan
materi, tetapi akan mendapat-kan lebih dari itu, yaitu keuntungan rohani/pahala;

9. dapat menemukan metode pembelajaran yang paling tepat. Ini disebabkan karena
guru telah menguasai materi pelajaran. Ketika materi pelajaran telah dikuasai, penulis
buku yang juga seorang guru akan menemukan metode pembelajaran dengan tepat.
Penulislah yang paling tahu materi dan metode pembelajaran yang paling tepat
digunakan;

10. berkesempatan berjumpa dengan petinggi negara. Ketika surat keterangan lolos
BSNP akan diberikan, seorang penulis akan diundang pejabat berwenang untuk
menerima SK tersebut secara langsung. Itulah saat paling membahagiakan karena
dapat berjumpa dengan orang yang selama ini hanya dapat dilihat melalui media.
Sudah diundang, diberi uang saku, diberi akomodasi, tiket pesawat gratis, dan lain-
lain;

11. berkesempatan untuk menjadi pembicara, narasumber, atau tamu pada forum
ilmiah. Lagi-lagi, keuntungan berlipat akan didapat. Keuntungan untuk
mempromosikan buku hasil tulisannya, mendapatkan sertifikat sebagai pembicara,
dikenal dan terkenal, men-dapatkan keuntungan uang saku, mendapatkan kesempatan
untuk berbagi pengalaman, dan lain-lain.

Semua aspek dapat dimanfaatkan dan mendatangkan keuntungan. Semua celah akan
menjadi sebuah kesempatan. Dan kesempatan tidak akan datang dua kali. Oleh karena
itu, begitu kesempatan itu datang, hendaknya guru tidak membiarkan kesempatan itu
berlalu. Memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan lebih dari sekadar bayangan.
Karena memang sedemikian banyak keuntungan yang akan diperolehnya. Maka,
seorang guru harus memotivasi diri agar secepatnya berkarya.

Menjadi Penulis Buku

Jika motivasi kuat untuk menjadi penulis sudah dimiliki, seorang guru dapat memulai
untuk berkarya. Untuk menjadi seorang penulis buku, tidak diperlukan modal banyak.
Seorang penulis buku hanya membutuhkan ketekunan. Jika sifat itu sudah dimiliki,
seorang penulis buku tinggal memilih jenis buku yang akan ditulisnya.
Jenis buku ada bermacam-macam. Berdasarkan isinya, buku diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu buku fiksi dan buku nonfiksi. Berdasarkan peruntukannya, buku
diklasifikasikan menjadi buku umum dan buku sekolah. Berdasarkan tujuannya, buku
diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu buku ajar dan buku pengayaan. Inilah yang
akan dibahas.

4 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://gurumenulisbuku.blogspot.com/

1. Buku Ajar
Buku ajar adalah buku yang digunakan dalam proses kegiatan belajar. Buku ajar
dikenal pula dengan sebutan buku teks, buku materi, buku paket, atau buku panduan
belajar. Untuk menjadi penulis buku ajar, dapat diawali dengan tahapan-tahapan
berikut.

a. Membaca dan menelaah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD).


SKKD adalah standar isi buku yang mengacu kepada kurikulum yang sedang
digunakan.

b. Menyusun peta konsep. Peta konsep adalah sistematika pendistribusian materi yang
mengacu kepada SKKD.

c. Mengumpulkan materi yang relevan dengan SKKD untuk dijabarkan sesuai dengan
peta konsep. Materi ini harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, aktualitas,
kemenarikan, kegunaan, dan eksklusivisme.

d. Membaca buku ajar yang telah dinyatakan lolos BSNP agar memperoleh inspirasi
dan dapat membuat modifikasi.

e. Memahami instrumen penilaian buku ajar yang telah ditetapkan BSNP. Ini
disebabkan setiap buku ajar harus dinilaikan ke BSNP agar diperoleh standar isi yang
sama.

f. Mengembangkan materi sesuai dengan peta konsep. Akan lebih baik jika diawali
dari tingkat kebahasaan yang dikuasai.

g. Merefleksikan koherensi materi dalam satu bab/unit untuk ditemukan kekurangan.

h. Minta pertimbangan pihak lain untuk memberi kritikan atau in put.


i. Buku siap dicetak

2. Buku Pengayaan
Buku pengayaan yaitu buku yang diperuntukkan untuk memperkaya dan memperkuat
materi yang telah disajikan dalam buku ajar. Buku pengayaan mempunyai banyak
kelebihan dibandingkan buku ajar, seperti :
a. Tidak dibatasi usia kurikulum.
b. Buku pengayaan mempunyai cakupan yang lebih luas. Materi apapun dapat diguna-
kan sebagai bahan penulisan.
c. Mempunyai masa edar lebih lama sehingga menguntungkan secara finansial.
d. Kajian hanya menfokus ke topik/judul sehingga tidak melelahkan.
e. Biasanya lebih tipis dan harga terjangkau.
f. Dapat ditulis tanpa batas waktu (deadline).

Untuk menulis buku pengayaan, seorang penulis sebaiknya memahami langkah-


langkah di bawah ini.
a. Memahami dengan baik SKKD sesuai dengan jenjang pendidikan.
b. Mengidentifikasi komponen SKKD yang masih memerlukan buku pengayaan.
c. Menyusun mind set.

5 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://gurumenulisbuku.blogspot.com/

d. Mengumpulkan bahan.
e. Mengembangkan bahan sesuai dengan yang telah dibuat.
f. Meminta pihak ketiga untuk memberi masukan atau in put.
g. Buku siap dicetak.

Menembus Dunia Penerbitan (Publishing)

Sudah siapkah naskah buku Anda untuk diterbitkan? Percuma seorang penulis jikalau
naskah itu tidak dipublikasikan. Keinginan untuk berbagi ilmu dengan pembaca dan
menjadi terkenal kandas di tengah jalan. Untuk menghindari keadaan yang demikian,
Anda perlu melakukan beberapa hal berikut ini.

1. Cobalah Anda banyak bersosialisasi dengan kalangan penulis, kritikus, resensator,


dan penerbit. Sampaikan bahwa Anda mempunyai naskah buku yang menarik dan
belum ada pesaing-nya. Jika penerbit belum tertarik, mintalah nomor telepon dan
alamat penerbit agar suatu saat dapat berkomunikasi lagi. Anda pun dapat mencari
alamat penerbit di buku telepon atau lewat internet.

2. Jika penerbit mulai tertarik, cobalah Anda selalu berkomunikasi dengan pihak
penerbit, khususnya editor. Ini agar terjalin komunikasi dan mempermudah langkah
Anda menuju dunia penerbitan. Editor adalah orang yang akan mengemas buku Anda
sesuai karakteris-tik penerbit atau perusahaan. Di tangannyalah nasib naskah buku
Anda ditentukan.

3. Jika naskah Anda perlu perbaikan atau revisi, ikutilah saran itu agar kesempatan itu
tidak terbuang. Lakukan dan berikanlah naskah terbaik agar Anda menjadi anak emas
penerbit. Setiap penerbit mempunyai karakteristik atau spesifikasi sendiri. Ini
berkaitan dengan tujuan sebuah penerbitan, yaitu meraih untung atau profit.

4. Setelah naskah dianggap baik, Anda akan diberi dua opsi atau pilihan : beli putus
atau royalti. Beli putus artinya naskah Anda dibeli tunai dan hak cipta telah berpindah
tangan. Sistem royalti yaitu sistem bagi hasil sesuai dengan jumlah buku yang terjual.
Royalti untuk penulis berbeda-beda. Namun, royalti penulis Indonesia berkisar 5% -
10% dari harga buku. Kedua sistem ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.
5. Jika naskah buku Anda belum beruntung diterbitkan, Anda dapat menjualnya
melalui iklan, internet, dan hand out. Oleh karena itu, Anda perlu menambah
wawasan tentang dunia publishing.

6. Agar produktivitas menulis Anda makin baik, cobalah selalu mengikuti even atau
kegiatan, semacam lomba/sayembara menulis, bedah buku, diskusi, dan lain-lain. Ini
bertujuan lebih dari sekadar silaturahmi. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, trend
buku yang menjadi best seller beserta dengan kelebihan buku telah Anda dapatkan.

7. Sering-seringlah Anda membaca buku best seller. Buku dikatakan best seller pasti
mempunyai kelebihan yang tidak ditemukan dalam buku lain. Maka, inspirasi Anda
pun berkembang dan bertambah.

8. Jika suatu saat Anda diundang untuk mengikuti suatu even, manfaatkanlah even itu
untuk mempromosikan kemampuan Anda. Tonjolkanlah melalui kemampuan Anda
berko-munikasi dan menguasai isi buku yang Anda tulis dengan baik dan benar.

6 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://gurumenulisbuku.blogspot.com/

9. Jika ada pihak lain mengajak untuk berkolaborasi atau bekerja sama menulis buku,
janganlah kesempatan itu Anda buang. Gunakanlah kepercayaan itu sebagai batu
loncatan untuk menjadi penulis terkenal. Ingatlah, bahwa pohon tumbuh tinggi dan
besar berawal dari sebutir biji.

10. Jika Anda telah terkenal dan dikenal, peliharalah nama baik Anda dengan selalu
konsisten terhadap ilmu yang telah Anda tulis. Ingat, lebih mudah meraih daripada
menjaganya. Bersikaplah ringan kaki untuk pergi menyampaikan kebenaran. Jangan
kikir berbagi. Banyak memberi akan banyak menerima.

Nah, kini Anda telah menjadi guru yang profesional. Seorang guru yang juga seorang
penulis buku. Seorang guru yang menguasai materi pelajaran dengan sangat baik.
Seorang guru yang mempunyai kreativitas mengembangkan materi dan metode
pembelajaran. Seorang guru yang mampu mengimplementasikan pikiran dan
kecemerlangan ide menjadi sebuah buku. Anda akan dikenal banyak orang dan
dikenang sejarah. Bahkan, Anda telah menjadi seorang guru yang serba kaya : kaya
ilmu dan kaya harta. Namun, jangan lupa : Anda tetap seorang guru yang selalu
dinanti generasi bangsa ini.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti dkk. 2002. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.


Jakarta : Erlangga.

http://grelovejogja.wordpress.com/2007/08/07/motifasi-membaca-dan-
menulis/#comment-2662 diakses pada 1 Desember 2008.

Moh. Uzer Usman. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.

Muhibin Syah. 2008. Pembelajaran Bermakna.


http://mgmpips.wordpress.com/2008/04/06. diakses pada 1 Desember 2008..

Oemar Hamalik. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.


Partoyo. 2007. Upaya Meningkatkan Minat dan Kompetensi Menulis Karangan dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan CTL (PTK, Tesis). Surakarta :
UNS.

Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi.


Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
Permendiknas No. 24/2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan

Pusbuk Depdiknas. 2008. Sosialisasi Penilaian Standar Buku Teks Pelajaran 2008
(Periode 1). Solo : Pusbuk-Ikapi Jawa Tengah.

Soedomo Hadi. 2005. Pendidikan (Suatu Pengantar). Surakarta: LPP dan UNS Press.

7 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com