Anda di halaman 1dari 7

Hak Cipta © 2006 - 2008 Pusat Bahasa Depdiknas

Judul : MORALITAS BAHASA DALAM AKSIOLOGI KEILMUAN

Pengarang : Umar Solikhan

1. Pendahuluan

Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Ketika
Copernicus (1473—1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan
menemukan bahwa "bumi yang berputar mengelilingi matahari" dan bukan sebaliknya
seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama maka timbullah interaksi antara ilmu dan
moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik
ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapat
keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang
terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), seperti agama. Dari
interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran
metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo
oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi berputar
mengelilingi matahari (Sumantri, 2001:233).

Ketika ilmu dapat mengembangkan dirinya, yakni dari pengembangan


konsepsional yang bersifat kontemplatif disusul penerapan-penerapan konsep ilmiah ke
masalah-masalah praktis atau dengan perkataan lain dari konsep ilmiah yang bersifat
abstrak menjelma dalam bentuk konkret yang berupa teknologi, konflik antarilmu dan
moral berlanjut. Seperti kita ketahui, dalam tahapan penerapan konsep tersebut ilmu
tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan
pemahaman, tetapi lebih jauh lagi bertujuan memanipulasi faktor-faktor yang terkait
dalam gejala tersebut untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang terjadi. Bertrand
Russel menyebut perkembangan ini sebagai peralihan ilmu dari tahap “kontemplasi ke
manipulasi” (Sumantri, 2001:234).

Dalam tahap manipulasi masalah moral muncul kembali. Kalau dalam


kontemplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka dalam tahap
manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah. Atau
secara filsafati dapat dikatakan bahwa dalam tahap pengembangan konsep terdapat
masalah moral yang ditinjau dari segi ontologis keilmuan, sedangkan dalam tahap
penerapan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi aksiologi keilmuan.
Aksiologi itu sendiri adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan
yang diperoleh.

Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapai ekses ilmu dan teknologi
yang bersifat merusak para ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan pendapat. Ilmuwan
golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai,
baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam tahap ini tugas ilmuwan adalah

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Hak Cipta © 2006 - 2008 Pusat Bahasa Depdiknas

menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya,


terlepas apakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan baik ataukah untuk tujuan
yang buruk. Ilmuwan golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu
terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam
penggunaannya kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada asas-asa moral. Golongan
kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni, (1) ilmu secara faktual telah
dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang
dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuan; (2) ilmu telah berkembang
dengan pesat dan makin esoterik sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang
ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi salah penggunaan; dan (3) ilmu telah
berkembang sedemikian rupa sehingga terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat
mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi
genetika dan teknik perubahan sosial. Berdasarkan ketiga hal itu maka golongan kedua
berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa
merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan (Sumantri, 2001:234).

Pertanyaan yang muncul kemudian dalam pembahasan ini adalah masalah moral
apakah yang terjadi dalam ilmu bahasa dalam penggunaannya? Dilihat dari segi
ontologis dapat dikatakan bahwa hakikat bahasa adalah perpaduan antara bunyi dan
makna sehingga menjadi tanda sebagai alat untuk komunikasi manusia (Sibarani,
1992:3). Komunikasi di sini tentunya dimaksudkan sebagai komunikasi dengan nilai-
nilai yang baik untuk tujuan interaksi yang baik pula. Namun, ketika secara aksiologis
kemudian pengetahuan bahasa dipakai untuk tujuan-tujuan subjektif individu atau
kelompok maka masalah moral dari kegunaan atau fungsi bahasa muncul.

2. Perkembangan Ilmu Bahasa

Dalam sejarahnya kajian awal mengenai bahasa bersangkut paut dengan agama
(Hindu di India) dalam kaitannya dengan doa-doa. Orang India menganggap doa harus
diucapkan secara tepat antara lain dari segi bunyi, lafal, dan sintaksis karena dianggap
dewa akan marah jika pelafalan doa tidak tepat. Pada waktu itu belum ada tulisan karena
tulisan baru diperkenalkan pada abad IV sebelum masehi. Pengetahuan sebelumnya
masih bersifat lisan yang dalam perkembangannya kemudian dikodifikasi setelah
mengenal tulisan. Dalam kehidupan orang Yunani kuno demikian pula, bahasa
digunakan secara cermat dalam kaitannya dengan agama. Dalam perkembangan
kemudian, kajian bahasa di Yunani lebih bersifat sekuler (tidak berkaitan dengan agama)
dan dipelopori oleh Plato. Sementara itu dalam perkembangan lebih lanjut, ilmu bahasa
digunakan untuk tujuan tertentu. Orang Belanda datang ke Indonesia membawa ilmu
bahasa bukan karena ingin mempelajari atau membawa ilmu bahasa, melainkan untuk
misi dagang. Kebetulan mereka disertai pendeta-pendeta Kristen Protestan yang untuk
misinya mereka akhirnya mempelajari bahasa-bahasa daerah dan menyusun tatabahasa
dan kamus untuk tujuan misinya tersebut. Kini ketika ilmu bahasa sudah berkembang
sedemikian pesat, ilmu bahasa digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih kompleks
sehingga melebihi fungsi hakikinya sebagai alat untuk berkomunikasi. Dalam suatu
masyarakat yang mengalami perkembangan setapak demi setapak di seluruh bidang

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Hak Cipta © 2006 - 2008 Pusat Bahasa Depdiknas

kehidupan, seperti Indonesia, perkembangan bahasa berjalan seiring dengan


perkembangan bidang ekonomi, politik, maupun kultural. Pada zaman orang pintar
seperti sekarang ini, orang semakin menyadari akan pentingnya fungsi bahasa dalam
seluruh bidang kehidupan. Orang-orang pintar mengerti kekuatan bahasa dan
memanfaatkan pengetahuan bahasanya untuk melaksanakan dan mencapai tujuan-tujuan
tertentu. Oleh karena itu, tidaklah heran jika bahasa kemudian dapat dijadikan sebagai
alat kekuasaan dan hegemoni.

Menurut Faucault (M. Fakih dalam pengantar Artha, 2002:XVI), relasi


kekuasaan terjadi pada hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari, termasuk yang
tersembunyi dalam bahasa. Orang kemudian menjadi lebih sadar bahwa dominasi dan
relasi kekuasaan dioperasionalkan melalui kekuatan bahasa. Jika sudah demikian,
bagaimana pandangan kita terhadap nilai (moralitas) bahasa tersebut?

3. Moralitas Bahasa

Memandang bahasa dari segi moralitas penggunaannya bukanlah merupakan hal


yang mudah. Baik atau buruk, atau menilai secara moral penggunaan bahasa bergantung
dari sisi mana kita memandang. Dari sisi penyampai bahasa (komunikator), suatu bahasa
atau pernyataan dapat dikatakan baik meskipun dari sisi penerima (komunikan) berakibat
buruk, dan sebaliknya, suatu bahasa atau pernyataan dapat diangap baik oleh penerima
pesan meskipun dari sisi penyampai pesan sebenarnya tidak baik.

Secara umum pandangan yang ada mengenai moralitas adalah penilaian bahwa
sesuatu itu baik atau buruk. Filosof Yunani Aristoteles (Kurtiness dan Gerwitz, 1993:14)
menyatakan bahwa moralitas adalah hidup yang tertuang dalam perilaku yang benar,
yaitu perilaku yang benar dalam hubungannya dengan orang lain maupun dengan dirinya
sendiri. Immanuel Kant dalam metafisika kesusilaan (Tjahjadi,1991:47) mengartikan
moralitas (sittlichkeit) sebagai kesesuaian sikap dan perbuatan kita dengan norma atau
hukum batiniah kita, yakni apa yang kita pandang sebagai kewajiban kita. Apapun
batasan mengenai moralitas, berkaitan dengan aksiologi keilmuan sepantasnyalah kita
berpedoman pada para ilmuwan golongan kedua yang berpendapat bahwa ilmu secara
moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau
mengubah hakikat kemanusiaan.

Kenyataannya, ilmu bahasa atau pengetahuan mengenai bahasa kini digunakan


untuk melaksanakan atau mencapai tujuan-tujuan tertentu sehingga sesungguhnya dapat
kita pertanyakan moralitasnya. Memang sejak zaman dahulu bahasa telah digunakan
untuk tujuan tertentu, seperti telah diuraikan di atas bagaimana orang Belanda membawa
ilmu bahasa ke Indonesia untuk misinya, tetapi kini bahasa digunakan untuk tujuan-
tujuan yang lebih kompleks dan tersembunyi. Pengetahuan berbahasa atau ilmu bahasa
telah direkayasa sedemikian rupa untuk tujuan pribadi atau kelompok sehingga bahasa
bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan sebagai alat dengan makna tertentu.

3 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Hak Cipta © 2006 - 2008 Pusat Bahasa Depdiknas

4. Bahasa sebagai Alat Kekuasaan dan Hegemoni

Menurut Antonio Gramsci, konsep hegemoni terjadi ketika golongan masyarakat


yang tertindas tereksploitasi dan secara sukarela mengabdi kepada penindas mereka
(Fakih dalam pengantar Artha, 2002:xiv). Namun, dalam konsep sekarang hegemoni
yang terjadi bukan lagi berwujud penindasan secara faktual, melainkan bisa secara
tersamar sehingga kadang-kadang pihak yang tertindas tidak merasa tertindas atau tidak
merasa menjadi korban. Hal itu dimungkinkan terjadi karena konsep hegemoni dan
kekuasaan tersebut dioperasionalkan melalui bahasa. Kekuatan bahasa yang di antaranya
mengandung eufimisme memungkinkan segala sesuatu menjadi tampak baik, halus, dan
tersamar meskipun sebenarnya (kenyataannya) kurang baik. Lihat saja penggunaan kata-
kata yang marak, terutama pada zaman Orde Baru, oleh para birokrat terhadap rakyat
miskin. Ketika itu rakyat miskin atau yang dianggap melawan sering dikategorikan
sebagai "tidak beradab" sehingga harus "didisiplinkan", "diregulasi", dan "dibina".
Dengan demikian, istilah-istilah yang sering disuarakan oleh para penguasa pada waktu
itu seperti mendisiplinkan, meregulasi, dan membina sebetulnya mengaburkan makna
atau kenyataan sesungguhnya supaya program-program yang dilaksanakan terlihat baik
dan tidak berkesan menindas. Sampai saat ini gejala pemakaian bahasa seperti itu masih
sering terjadi, misalnya kenyataan penggusuran rumah-rumah atau bangunan yang
dianggap liar sebagai penertiban atau relokasi, penggusuran rumah-rumah rakyat yang
lokasinya akan dibangun perumahan atau mal-mal dikatakan sebagai penataan
lingkungan atau tata kota, proyek penggantian armada angkutan lama menjadi baru
menjadi peremajaan, dan belakangan ini di Semarang agenda tersembunyi proyek
perobohan bangunan bersejarah untuk membangun yang baru dikatakan sebagai
pengangkatan atau pendongkrakan bangunan (Pasar Johar).

Fenomena semacam itu akan terus terjadi sepanjang para penguasa dan kaum
cerdik pandai tidak ingin terbuka, ditambah faktor bahasa dengan kekuatan daya
pengaruhnya yang memang memungkinkan hal seperti itu. Dalam relasi antara bahasa
dan kekuasaan itu bahasa tidak lagi dapat dilihat sekadar sebagai alat komunikasi yang
netral dan bebas nilai karena bahasa sudah mengandung unsur kekuasaan. Dari situ
bahasa dapat dipertanyakannya nilai moralitasnya karena di balik bahasa tersebut
terdapat makna yang mengindikasikan martabat dan harkat manusia diturunkan. Dengan
demikian, relasi antara bahasa dan kekuasaan tersebut lebih banyak bertentangan
landasan ilmu secara moral. Parahnya, relasi antara bahasa dan kekuasaan tersebut,
seperti dikatakan Foucault (M. Fakih dalam pengantar Artha, 2002:xvi), terjadi tidak
hanya dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi pada hampir semua aspek kehidupan dan
hal itu dianggap Foucault mengingkari kenyataan.

5. Bahasa sebagai Alat Pembenaran Pribadi

Bahasa muncul sebagai alat pembenaran pribadi, baik individu maupun


kelompok, manakala bahasa dipakai untuk membenarkan anggapan, keyakinan,
tindakan, atau perilaku pribadi tanpa memperhatikan atau bahkan mengesampingkan

4 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Hak Cipta © 2006 - 2008 Pusat Bahasa Depdiknas

kebenaran (objektif) yang ada di pihak lain. Dalam hal ini komunikator dengan bebas
menafsirkan bahasa atau fakta yang ada dan dengan kecerdasan inteletualnya
mengoperasionalkan bahasa untuk membenarkan dirinya. Bahasa atau kenyataan yang
dapat dikaburkan atau bahkan dimanipulasikan kebenarannya biasanya berupa bahasa
yang cenderung ambigu/multitafsir dan kenyataan yang samar-samar.

Dalam konteks Indonesia, bahasa yang cenderung bersifat demikian banyak


terjadi di dalam dunia hukum dan perundang-undangan yang memang karena mungkin
belum mantap benar, akhirnya membuka celah untuk multitafsir. Kasus perdebatan
penerbitan SKP3 Suharto oleh Kejaksaan Agung akhir-akhir ini mungkin dapat menjadi
contoh bagaimana antara pihak yang setuju dengan penerbitan SKP3 dan pihak yang
menentang masing-masing dengan kepintaran berbahasanya menafsirkan undang-undang
dan membenarkan pendapat pribadinya. Kasus perdebatan tentang RUU AAP
(Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Antipornoaksi) yang marak belakangan
ini juga demikian. Masing-masing pihak, yang setuju dan yang tidak setuju dengan RUU
APP, berargumen dengan bahasanya dan membenarkan pendapatnya sendiri-sendiri
sehingga membingungkan masyarakat dan mengaburkan masalah hakikinya.

Masalah yang paling menyentak dan menyentuh harkat dan martabat


kemanusiaan akhir-akhir ini mungkin adalah ketika pejabat kementerian luar negeri
Amerika Serikat, dengan ringannya berkomentar bahwa bunuh diri tiga tahanan di
penjara Guantanamo sebagai "iklan yang bagus" untuk para tahanan dan bunuh diri itu
merupakan bagian dari strategi dan taktik mereka (para tahanan). Dari pernyataannya itu
terlihat jelas AS membela dirinya atas sorotan dan kritikan tajam masyarakat
internasional yang mensinyalir adanya kekejaman penanganan terhadap tahanan politik
milik AS tersebut. Pernyataan itu memunculkan kesan AS berusaha mengaburkan
kenyataan di tempat yang memang sangat tertutup tersebut.

Dari kasus-kasus di atas moralitas bahasa dapat dipertanyakan. Jika memang apa
yang disampaikan berakibat menurunkan martabat dan harkat kemanusiaan, bahasa yang
dioperasionalkan bertentangan dengan nilai moral yang baik.

6. Bahasa sebagai Alat Perjuangan dan Media Pembebasan

Munculnya fungsi bahasa sebagai alat perjuangan individu atau kelompok dan
juga sebagai media pembebasan disebabkan adanya kekuasaan dan hegemoni dalam
tatanan kehidupan manusia. Adanya kesadaran akan ketertindasan, bukan hanya dalam
hal ekonomi melainkan dalam berbagai aspek kehidupan, menimbulkan dorongan bagi
kaum yang merasa tertindas untuk melakukan perjuangan. Seperti halnya para penguasa
yang mengoperasionalkan dominasi kekuasaan mereka dengan bahasa, kaum tertindas
pun melakukan perjuangan kepentingan mereka dengan bahasa.

Bagi kaum tertindas bahasa digunakan sebagai media pembebasan seperti yang
terjadi ketika ada sekelompok penyandang cacat di Yogyakarta menentang penggunaan
kata disable yang artinya 'tidak mampu' bagi para tunanetra, tunarungu, dan tuna yang

5 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Hak Cipta © 2006 - 2008 Pusat Bahasa Depdiknas

lainnya dan menggantinya dengan istilah diffable yang merupakan singkatan dari bahasa
Inggris differently able people. Kata diffable selanjutnya mempunyai pengertian yang
memberdayakan dibandingkan dengan disable karena dalam kata diffable terkandung
makna bahwa orang yang tidak dapat melihat atau tidak dapat mendengar tidak serta
berarti tidak mampu. Mereka yang tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri masih
dapat melihat dengan mata hatinya, dan mereka yang tidak mampu mendengar masih
memiliki kemampuan lainnya. Dalam konteks bahasa sebagai media pembebasan bagi
para penyandang cacat tersebut terkandung nilai yang baik karena bertujuan
meningkatkan martabat kemanusiaan para penyandang cacat. Dengan demikian,
pengetahuan terhadap bahasa yang dipergunakan untuk memperjuangkan kelompok
penyandang cacat tersebut sesuai dengan landasan ilmu moral.

7. Simpulan

Bahasa yang pada awalnya sekadar alat komunikasi dari penutur (komunikator)
kepada petutur (komunikan) dalam perkembangannya kemudian diipergunakan untuk
tujuan-tujuan tertentu, dari tujuan yang sederhana yang berhubungan dengan agama
sampai pada tujuan yang lebih kompleks, seperti sebagai alat kekuasaaan dan hegemoni;
sebagai alat pembenaran pribadi; dan sebagai alat perjuangan dan media pembebasan.

Masalah moral dalam bahasa akan muncul manakala kecerdasan atau


pengetahuan akan bahasa secara manipulatif dipakai untuk kepentingan-kepentingan
atau tujuan subjektif individu atau kelompok sehingga mengaburkan bahkan
memutarbalikkan kenyataan. Menilai moralitas bahasa dalam pemakaiannya bergantung
dari sisi mana kita memandang. Bahasa mempunyai nilai moral buruk ketika dipakai
sebagai alat kekuasaan dan hegemoni serta alat pembenaran pribadi yang merendahkan
martabat dan kemanusiaan. Sebaliknya, bahasa mempunyai nilai moral baik ketika
dipakai sebagai alat perjuangan dan media pembebasan kaum tertindas karena bertujuan
meningkatkan martabat kemanusiaan.

Apapun batasan mengenai moralitas, berkaitan dengan aksiologi keilmuan,


sepantasnyalah kita berpedoaman pada para ilmuwan golongan kedua yang berpendapat
bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan
martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan. "Segalanya punya moral," kata Alice
dalam petualangannya di negeri ajaib, "Asalkan kamu mampu menemukannya" (Alice in
Wonderland).

6 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Hak Cipta © 2006 - 2008 Pusat Bahasa Depdiknas

DAFTAR PUSTAKA

Artha, Arwan Tuti. 2002. Bahasa dalam Wacana Demokrasi dan Pers. Yogyakarta: AK
Group.

Kurtines, William M. dan Gerwitz. 1993. Moralitas, Perilaku Moral, dan Perkembangan
Moral. Jakarta: Universitas Indonesia Press

Sibarani, Robert. 1992. Hakikat Bahasa. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Suriasumantri, Jujun S. 2002. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer.

Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tjahjadi, S.P. Lili. 1991. Hukum Moral. Yogyakarta: Kanisius.

7 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com