Anda di halaman 1dari 2

Sumber : http://sawali.

info/category/sastra/

OTONOMI PENGAJARAN SASTRA

GAUNG kegagalan pengajaran apresiasi sastra di sekolah sudah lama terdengar.


Banyak pengamat menilai pengajaran apresiasi sastra selama ini berlangsung
monoton, tidak menarik, bahkan membosankan. Siswa tidak diajak untuk menjelajah
dan menggauli keagungan nilai yang terkandung dalam teks sastra, tetapi sekadar
dicekoki dengan pengetahuan-pengetahuan tentang sastra yang bercorak teoretis dan
hafalan.

Mereka tidak diajak untuk mengapresiasi (baca: memahami dan menikmati) teks-teks
sastra yang sesungguhnya, tetapi sekadar menghafalkan nama-nama sastrawan berikut
hasil karyanya. Dengan kata lain, apa yang disampaikan guru dalam pengajaran sastra
barulah kulit luarnya saja, sehingga peserta didik gagal menikmati “lezat”-nya isi dan
aroma kandungan nilai dalam karya sastra. Kondisi pengajaran sastra yang semacam
itu tidak saja memprihatinkan, tetapi juga telah “membusukkan” proses pencerdasan
emosional dan spiritual siswa.

Belajar apresiasi sastra pada hakikatnya adalah belajar tentang hidup dan kehidupan.
Melalui karya sastra, manusia akan memperoleh gizi batin, sehingga sisi-sisi gelap
dalam hidup dan kehidupannya bisa tercerahkan lewat kristalisasi nilai yang
terkandung dalam karya sastra. Teks sastra tak ubahnya sebagai layar tempat
diproyeksikan pengalaman psikis manusia.

Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju proses globalisasi,
sastra menjadi makin penting dan urgen untuk disosialisasikan dan “dibumikan”
melalui institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam
membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang
memadai, para keluaran pendidikan diharapkan mampu bersaing pada era global
dengan sikap arif, matang, dan dewasa.

Dalam konteks demikian, kedudukan sastra menjadi semakin penting. Bukan saja
sastra memiliki kontribusi besar dalam memperhalus budi, memperkaya batin dan
dimensi hidup, melainkan juga lantaran telah masuk dalam kurikulum pendidikan.
Persoalannya ialah, kedudukan sastra dalam kurikulum kita dinilai masih dipandang
dengan sebelah mata. Pelajaran sastra belum mandiri, belum memiliki otonomi untuk
mengatur dirinya sendiri. Ia masih “nunut” dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.

***
MENGAPA otonomi pengajaran apresiasi sastra menjadi penting dipersoalkan?
Setidaknya ada tiga argumen yang layak dikemukakan. Pertama, berdasarkan
kenyataan di lapangan, tidak semua guru Bahasa Indonesia mampu menyajikan
pengajaran apresiasi sastra dengan baik. Guru yang mahir mengajarkan bahasa belum
tentu mampu tampil memikat saat mengajar sastra. Menyajikan puisi, misalnya, selain
dituntut menguasai materi ajar, guru juga harus mampu memberikan contoh yang
memikat dan sugestif di depan siswanya saat membaca puisi. Hal ini sulit dilakukan
oleh guru bahasa yang kurang memiliki minat serius dan “talenta” yang cukup tentang
sastra. Dalam kondisi demikian, mana mungkin peserta didik mampu memiliki bekal
apresiasi sastra yang memadai.

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://sawali.info/category/sastra/

Kedua, guru sastra bisa lebih berkonsentrasi dan total “beraksi” dalam mengampu
mata pelajaran, sehingga terangsang untuk terus meningkatkan profesionalismenya.
Dengan adanya spesialisasi, maka guru bahasa yang minat dan talentanya lebih
condong ke sastra dapat lebih mengaktualisasikan kemampuannya, sehingga mampu
menciptakan atmosfer pembelajaran apresiasi sastra yang kondusif, menarik, variatif,
interaktif, dan menyenangkan.

Ketiga, beban berat dunia pendidikan yang mengemban misi memanusiakan manusia
akan menjadi lebih ringan. Sebab, lewat pengajaran apresiasi sastra yang mandiri
proses internalisasi nilai-nilai budaya, moral, watak dan kepribadian, serta cipta dan
rasa akan lebih bisa berkembang. Dengan kata lain, otonomi pengajaran apresiasi
sastra akan memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi dunia pendidikan.

Sudah saatnya dunia pendidikan kita memosisikan sastra pada aras yang lebih
“terhormat” dalam kurikulum. Perlu ada pemikiran matang dan serius untuk
memisahkan pelajaran sastra dari pelajaran bahasa ke dalam kurikulum berbasis
kompetensi yang akan datang. Sudah terlalu lama pendidikan kemanusiaan (termasuk
sastra) di negeri ini dimarjinalkan dan mengalami “pembusukan”, sehingga gagal
menghasilkan anak-anak bangsa yang cerdas, baik secara intelektual, emosional,
maupun spiritual. Tidak kalah penting untuk dipikirkan adalah bagaimana lembaga
pencetak calon guru sastra mampu melahirkan lulusan yang benar-benar “siap”, bukan
lulusan “karbitan” yang tampil gagap saat diterjunkan di lapangan.

Sumber : http://sawali.info/category/sastra/

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com