Anda di halaman 1dari 9

Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.

html

SASTRA SEHARUSNYA TAK LAGI SEBELAH MATA DI


MATA KTSP
fenny

PENDAHULUAN

Dalam sejarah pendidikan di Indonesia, pada rentang waktu tahun 1945-1949


dikeluarkan Kurikulum 1947 dengan istilah Rencana Pelajaran 1947, kurikulum
pertama masa kemerdekaan, istilahnya leer plan (bhs. Belanda), rencana pelajaran ini
lebih populer dibanding dengan istilah curriculum (bhs. Inggris) Tahun 1950-1961,
ditetapkan Kurikulum 1952 dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952.
Kurikulum tahun 1952 ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut rencana
pelajaran terurai ”silabus mata pelajarannya jelas sekali”. Tetapi dipenghujung masa
kekuasan Soekarna, muncul rencana kurikulum 1964 dengan fokus pengembangan
daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana) Masa Orde Baru lahir
empat kurikulum, yaitu Kurikulum 1968, 1975, 1984, dan 1994. Kurikulum 1968
lebih bersifat politis, tujuannya lebih pada upaya mengganti rencana pendidikan 1964.
kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat “hanya memuat mata pelelajaran pokok-
pokok saja” muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tdk mengaitkan dengan
permasalahan faktual di lapangan. Kurikulum 1975, pendekatan kurikulum ini
menekankan pada tujuan. Maksudnya agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Tetapi
realitanya kurikulum ini banyak menuai kritik karena Guru dibikin sibuk menulis
rincian apa yg akan dicapai dari setiap kegitan Pembelajaran.(setiap pelelajaran
dijabarkan ke dalam tujuan kurikuler, setiap pokok bahasan diurai menjadi TIU, dari
TIU dijabarkan menjadi sejumlah TIK.

Selanjutnya Kurikulum 1984, dimana kurikulum ini mengutamakan pendekatan


proses, posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Model ini terkenal dengan
istilah CBSA – tetapi dalam prakteknya justru banyak yang salah mengartikan (Guru
banyak santai). Dan yang terakhir di era orde baru adalah Kurikulum 1994 dan
Suplemen Kurikulum 1999, kurikulum ini bergulir lebih pada upaya memadukan
kurikulum-kurikulum sebelumnya. Jiwa kurikulum ini ingin mengkombinasikan
antara kurikulum 1975 dgn 1984, antara pendekatan tujuan dengan proses. Namun
dalam perjalanannya keinginan untuk mengkombinasikan antara tujuan dan proses ini
justru menyebabkan beban siswa menjadi terlalu berat (dari muatan nasional hingga
lokal).

Pada era reformasi muncul Kurikulum 2004 yang dikenal dengan nama Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) yang pada tahun 2006 dilengkapi dengan Standar Isi dan
Standar Kelulusan yang memandu sekolah dalam menyusun Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP).(http//Prayanta’s Site. KTSP Sebagai Kuriulum
Kerakyatan).

Dengan berubahnya kurikulum pada pendidikan kita, secara otomatis merubah pula
system pendidikan yang kita lakukan. Hal yang serupa juga terjadi pada pembelajaran
bahasa dan sastra Indonesia, dalam perjalanannya pembelajaran bahasa dan sastra
Indonesia juga mengalami perubahan. Pembelajaran yang dahulu hanya menitik

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.html

beratkan pada kemampuan dalam bidang kognitif saja, namun saat ini sudah berubah
ke arah yang lebih baik dengan menitik beratkan tidak hanya pada kognitif saja
namun juga pada aspek afektif dan psikomotornya.

Pembelajaran sastra di Indonesia ternyata tidak pernah lepas dari berbagai persoalan,
baik yang berkaitan dengan keberadaannya di sekolah—yang menyatu dengan
pembelajaran bahasa Indonesia—, materi, bahan ajar penunjang, sampai metode serta
cara penyampaiannya. Berbagai diskusi dan kajian telah diadakan untuk memecahkan
masalah tersebut, namun masalah pun tak kunjung habis.(http//Wiyatmi_full_paper-
pemb_jenderhiski.pdf. Menggagas Pembelajaran Sastra Berperspektif Jender)
Jika dilihat dari perjalanan kurikulum kita yang sudah mengalami banyak perubahan
serta telah berjalan begitu lama, seharusnya tidak ada hal yang tertinggal atau kurang
diperhatikan oleh pendidikan kita. Dengan kata lain seharusnya semua aspek yang
harusnya ada sudah tercakup dalam pendidikan kita. Namun ternyata tidak demikian
halnya dengan bidang sastra dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, bidang yang paling dominan ialah bidang
berbahasa, sedangkan bidang sastra hanya mendapatkan porsi yang sangat sedikit bila
dibandingkan dengan bidang bahasa.

Pembelajaran sastra dapat memberikan sumbangan bagi pendidikan dan masyarakat


jiak cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu; membantu keterampilan berbahasa,
meningkatkan pengetahuan budaya, mengembambangkan cipta dan rasa, dan
menunjang pembentukan watak.

Bidang sastra dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia membutuhkan waktu
yang lebih banyak harusnya dibandingkan waktu yang saat ini telah disediakan oleh
lembaga pendidikan kita. Sebab sastra merupakan bidang yang membutuhkan banyak
sekali keterampilan. Tidak hanya perlu tau tentang ilmunya, namun juga perlu dapat
mempraktikan secara langsung. Namun dengan adanya waktu yang singkat
bagaimana guru dapat menyiapkan siswanya menguasai bidang sastra?
Sepertinyapun tidak hanya waktu singkat yang menjadi alasan sastra tidak mendapat
tempat dalam pembelajaran, guru yang hanya menitik beratkan pembelajaran pada
bidang bahasa saja itupun juga turut andil dalam membentuk sastra terpinggirkan.
Hal di ataslah yang melatarbelakangi penulis menulis tentang Kelemahan KTSP di
Bidang Sastra. Sebab selama ini sastra selalu mendapat porsi yang tidak memadai bila
dibandingkan dengan bidang bahasa. Sastra seakan menjadi anak tiri pendidikan.
Sudah saatnya Sastra Seharusnya Tak Lagi Sebelah Mata di Mata KTSP.

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

2.1.1 pengertian KTSP

Kurikulum adalah program dan isi dari suatu sistem pendidikan yang berupaya
melaksanakan proses akumulasi ilmu pengetahuan antargenerasi dalam suatu
masyarakat. Dalam sebuah masyarakat yang homogen, masalah kurikulum tidak
terlalu merisaukan. Namun dilihat dari konteks masyarakat yang plural/majemuk
seperti Indonesia, kurikulum adalah pertarungan antar kekuasaan yang hidup dalam

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.html

suatu masyarakat. Kelompok masyarakat yang dominan akan mempertahankan


kurikulum untuk mempertahankan dominasinya melalui sistem persekolahan.
Sebelum diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pendidikan di
Indonesia menggunakan satu kurikulum, yaitu Kurikulum Nasional (sentralistik) yang
dipakai sebagai acuan tunggal. Semua lembaga pendidikan formal di negeri ini, baik
di kota besar, pelosok gunung, maupun di pinggiran pantai, punya kurikulum sama.
Sehingga dengan demikian, proses pendidikan yang diterapkan adalah dalam upaya
membentuk keseragaman berpikir. Melalui proses pendidikan nasional, generasi muda
Indonesia dibentuk oleh sistem pendidikan yang mengacu kepada politik etatisme.

Munculnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tampaknya menunjukkan


bahwa politik kebijakan pemerintah dalam pengembangan dan operasionalisasi
kurikulum mulai desentralistis, akomodatif, dan terbuka. Meskipun demikian,
efektivitas perubahan politik kebijakan tersebut dalam menjawab problem fungsional
kurikulum masih harus dibuktikan.

Melalui kebijakan KTSP, sekolah-sekolah diberi kebebasan menyusun kurikulum


sendiri sesuai dengan konteks lokal, kemampuan siswa, dan ketersediaan sarana-
prasarana. Kebebasan semacam itu tentu dilatari semangat pembaruan dalam bidang
pendidikan yang selama ini diidamkan.

KTSP ialah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-
masing satuan pendidikan (sekolah/madrasah). Sedangkan pemerintah pusat hanya
memberi rambu-rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan KTSP, yaitu: (1)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
(3) Peraturan Menteri Pendidikan Nasinal Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
(SI) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah; (4) Peraturan Menteri Pendidikan
Nasinal Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk
untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah; (5) Peraturan Menteri Pendidikan
Nasinal Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan dari kedua Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional tersebut; dan (6) Panduan dari BSNP (Badan Standar Nasional
Pendidikan).( Muhaimin, dkk. 2008)

Sesungguhnya KTSP bukanlah hal yang benar-benar baru bagi dunia pendidikan di
Indonesia. KTSP hanyalah penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang telah
berlaku di Indonesia. Kompetensi-Kompetensi yang terdapat dalam KTSP
sesungguhnyapun ada dalam KBK (2004) namun jika dalam KBK hanya
menitikberatkan pada ketercapaian kompetensi tanpa memandang siapa yang
menggunakan kompetensi itu, sedikit berbeda dengan KTSp. KTSP memikirkan juga
siapa yang menggunakan kompetensi itu sehingga yang paling tahulah yang
seharusnya merencanakan yang terbaik untuk para siswa—yaitu sekolah yang
bersangkutan. Maka dari itu KTSP disusun oleh sekolah yang bersangkutan dan
diterapkan pula pada sekolah yang bersangkutan.

Dengan demikian, ide dasar KTSP ialah mengembangkan pendidikan yang


demokratis dan nonmonopolistik dengan cara memberikan otonomi yang lebih besar
kepada sekolah/madrasah yang mengembangkan kurikulum, karena masing-masing
sekolah/madrasah dipandang lebih tahu tentang kondisi satuan pendidikan.

3 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.html

2.1.2 pengembangan KTSP

Pengembangan KTSP pada dasarnya merupakan operwujudan dari otonomi sekolah,


yang dalam pengembangannya masih tetap menggunakan pendekatan KBK dalam
standar Isi dan dalam prosesnya mengintegrasikan dengan kebutuhan pengembangan
potensi peserta didik secara utuh serta tuntutan kondisi lingkungan peserta didik untuk
hidup atau memiliki kecakapan hidup (life skill). Pendidikan kecakapan hidup ialah
suatu keniscayaan dalam menghantarkan peserta didik untuk dapat hidup cerdas pada
jamannya.

Pengembangan kurikulum berbasis kecakapan hidup (life skill) atau disingkat KBL
lebih menekankan pada penyiapan peserta didik yang beragam untuk cerdas hidup.
Sedangkan KBK menekankan pada penyiapan peserta didik untuk cerdas kerja sesuai
standar keilmuan, keterampilan, sikap, dan nilai. Perbedaan kedua pendekatan
tersebut (KBK dan KBL) antara lain dapat dilihat pada tabel berikut:

(Tabel tidak dapat ditampilkan)

2.2 sastra

2.2.1 definisi sastra

Sastra merupakan istilah yang mempunyai arti luas, meliputi sejumlah kegiatan yang
berbeda-beda. Beberapa pengertian tentang sastra sangatlah beragam, walaupun
keragaman tersebut cenderung bersifat saling melangkapi. Beberapa pengertian
tersebut terinci sebagai berikut. Sastra adalah bahasa. Sastra adalah ungkapan spontan
dari perasaan yang mendalam. Sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa (pikiran:
ide, gagasan, pandangan, pemikiran dari semua kegiatan mental manusia). Sastra
adalah insperasi kehidupan yang dimaterikan dalam bentuk keindahan. Sastra adalah
semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam dan kebenaran
moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk yang mempesona.
Ada dua pengertian sastra yang dapat digunakan sebagai pijakan kokoh untuk
memahami apa yang dimaksud dengan sastra. Pertama, sastra ialah ekspresi pikiran
dan perasaan manusia, baik lisan maupun tulis, dengan menggunakan bahasa yang
indah menurut konteksnya (hutomo, 1989). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa
ada tiga hal yang penting yang menunjukkan ciri khas sastra, yaitu; sastra adalah
ekspresi pikiran dan perasaan manusia; bentuk lusan dan tulis; serta penggunaan
bahasa yang indah menurut konteksnya. Kedua, pengertian sastra yang mendasarkan
diri pada hubungan pengarang dengan teks, kenyataan dengan teks, dan teks dengan
pembaca (c.f. Luxemburg, 1989).

Berdasar atas berbagai pengertian tersebut dapat ditarik benang merah tentang
pengertian sastra yang fungsional, yaitu; sastra ialah bentuk seni yang diungkapkan
oleh pikiran dan perasaan manusia dengan keindahan bahasa, keaslian gagasan, dan
kedalaman pesan (najid, 2003).

4 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.html

2.2.2 sastra dalam pembelajaran

Kita sering berusaha memikirkan tentang berbagai kebutuhan yang dapat dipenuhi
dengan pendidikan di negara-negara berkembang. Apabila karya-karya sastra
dianggap tidak berguna, tidak bermanfaat lagi untuk menafsirkan masalah-masalah
dunia nyata, maka tentu saja pembelajaran sastra tidak akan ada gunanya lagi untuk
diadakan. Namun, jika dapat ditunjukkan bahwa sastra itu memiliki relevansi dengan
masalah-masalah dunia nyata, maka pembelajaran sastra harus kita pandang sebagai
sesuatu yang penting yang patut menduduki tempat yang selayaknya (Rahmanto,
1996).

Jika pembelajaran sastra dilakukan dengan cara yang tepat, maka pembelajaran sastra
dapat juga memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah
nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat. Masalah yang kita
hadapi sekarang ialah menentukan bagaimana pembelajaran sastra dapat memberikan
sumbangan yang maksmal untuk dunia pendidikan dan masyarakat pada umumnya.
Pembelajaran sastra dapat memberikan sumbangan bagi pendidikan dan masyarakat
jika cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu; membantu keterampilan berbahasa,
meningkatkan pengetahuan budaya, mengembambangkan cipta dan rasa, dan
menunjang pembentukan watak.

PEMBAHASAN

3.1 waktu yang tidak memenuhi

Sastra, tidak seperti halnya ilmu kimia atau sejarah, tidak menyuguhkan ilmu
pengetahuan dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia
dan alam dengan keseluruhannya. Setiap karya sastra selalu menghadirkan sesuatu
dan kerap menyajikan banyak hal yang apabila dihayati akan benar-benar menambah
pengetahuan orang yang menghayatinya.(Rahmanto R. 1996)

Yang dimaksud pengetahuan dalam hal ini mengandung suatu pengertian yang luas.
Dengan bernagai cara kita dapat menguraikan dan mencerap pengetahuan semacam
itu dalam karya sastra. Sebagai contoh, banyak fakta yang diungkapkan dalam karya
sastra, tetapi masih banyak fakta-fakta yang harus kita gali dari sumber-sumber lain
untuk memahami situasi dan problematika yang dihadirkan dalam suatu karya sastra.
Dalam melaksanakan pembelajaran sastra, kita tidak boleh berhenti pada penguraian
keterampilan ataupun pengetahuan. Sehingga kecakapan-kecakapan yang dimiliki
siswa—yang memiliki kecakapan yang beraneka ragam—mampu dikembangkan
secara optimal dan harmonis agar siswa dapat menyadari potensinya dan dapat
mengabdikan diri bagi kepentingan-kepentingan generasinya.

Dari uraian di atas sudah jelas bahwa pembelajaran sastra membutuhkan waktu yang
cukup banyak agar siswa mampu menguasai sastra tidak hanya pada ilmunya,
melainkan mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya. Kurikulum kita yang
menjadi patokan pengembangan pendidikan di setiap sekolah harusnya mampu
melihat hal tersebut dengan baik. Namun hal berbeda terjadi pada kurikulum kita.
Pembelajaran sastra yang harusnya mendapat sorota yang sama dengan pembelajaran

5 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.html

di bidang lain justru tidak terjadi. Sastra masih dianggap sebagai pelangkap bidangan
kebahasaan saja.

Bukti nyata dari hal itu terlihat dalam jumlah kompetensi dasar yang mencerminkan
bidang sastra. Berikut merupakan salah satu contoh standar kompetensi dan
kompetensi dasar pada tingkat SMA kelas XI semester I

Tabel standar kompetensi dan kompetensi dasar SMA kelas XI semester I


Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Mendengarkan
1. Memahami berbagai informasi dari amanat dan wawancara.
1.1 Menemukan pokok-pokok isi sambutan/ khotbah yang didengar
1.2 Merangkum isi pembicaraan dalam wawancara

Berbicara
2. Mengungkapkan secara lisan informasi membaca dan wawancara.
2.1 Menjelaskan secara lisan uraian topik tertentu dari hasil membaca (artikel atau
buku)
2.2 Menjelaskan hasil wawancara tentang tanggapan nara sumber terhadap topik
tertentu

Membaca
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring.
3.1 Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca
intensif.
3.2 Membacakan berita televisi dengan intonasi dan lafal yang baik.

Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk proposal, surat dagang, karangan ilmiah.
4.1 Menuulis proposal untuk berbagai keperluan
4.2 Menulis surat dagang dan surat kuasa.
4.3 Melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka dan catatan kaki.

Mendengarkan
5. Memahami pementasan drama
5.1 mengidentifikasi peristiwa, pelaku, dan konflik pada pementasan drama
5.2 menganalisis pementasan drama berdasarkan teknik pementasan

Berbicara
6. memerankan tokoh dalam pementasan drama
6.1 menyampaikan dialog disertai gerak-gerik dan mimik, sesuai dengan watak tokoh
6.2 mengekspresikan perilaku dan dialog tokoh protagonis dan atau antagonis

Membaca
7. memmahami berbagai hikayat dan novel Indonesia/ novel terjemahan.
7.1 menemukan unsur-unsur intrinsik dan ektrinsik hikayat.
7.2 menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ektrinsik novel indonesia/ terjemehan

6 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.html

Menulis
8. mengungkapkan informasi melalui penulisan resensi
8.1 mengungkapkan prisip-prinsip penulisan resensi
8.2 mengaplikasikan prinsip-prinsip penulisan resensi.

Dari tabel di atas dapat kita amati bahwa, dari tujuh belas kompetensi dasar yang
harus dikuasai siswa, sastra hanya mendapatkan tempat enam kompetensi dasar. Bila
ditinjau dari waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kompetensi-kompetensi itu dapat
kita lihat dari tebel berikut.

(Tabel tidak dapat ditampilkan)

Berdasarkan tebel di atas dapat kita hitung berapa alokasi waktu yang diberikan untuk
bidang sastra dalam setiap jenjang pendidikan dalam satu semester. Dalam satu
semester, siswa mendapat pembelajaran dalam ± 20 minggu. Jika dalam setiap
minggu bahasa dan sastra Indonesia mendapat 4 x 45 menit, maka waktu yang
diperoleh dalam setiap semester ialah 80 jam pertemuan. Jika tiap tatap muka ialah 2
jam pertemuan maka bahasa dan sastra Indonesia memiliki 40 kali tatap muka. Dan
setiap kompetensi dasar memiliki jatah ± 2-3 kali tatap muka.lantas sastra hanya
mendapat jatah waktu 12-18 kali tatp muka. Bagaimana siswa dapat mengasilkan
kemampuan yang maksimal?

3.2 sastra dan guru

Sejak tahun 1950 itu kurikulum telah mengalami perubahan pada tahun-tahun 1958,
1964, 1968, 1975/1976, dan 1984 untuk SMA, sementara pada tahun 1987 perubahan
terjadi pada kurikulum untuk SMP. Sejak awal, bidang studi sastra Indonesia
terintegrasi dalam bidang studi bahasa Indonesia, sampai kurikulum 1975/1976. Baru
pada kurikulum 1984—khususnya untuk SMA—nama bidang studi ini berubah
menjadi Bahasa dan Sastra Indonesia dalam program inti, serta Sastra Indonesia
dikhususkan untuk program pilihan Pengetahuan Budaya. Namun dalam
kenyataannya, pengajaran sastra di SMP maupun SMA bukan berupa program
pengetahuan budaya. Sastra Indonesia hanya semata-mata menumpang pada
pengajaran bahasa Indonesia dan diberikan hanya selama 2-3 jam per
minggu.(http//Johnherf.word press.com. Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah)
Pengajaran sastra di sini lebih banyak kegiatannya untuk mempelajari ragam bahasa,
di sisi-sisi ragam bahasa lainnya. Hal ini terlihat bahwa pembobotan beban materinya
hanya seperenam dari seluruh materi bidang studi/mata pelajaran Bahasa Indonesia,
dengan nama pokok bahasan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Dengan
pemberian nama ini sudah terlihat terjadinya penyempitan kedudukan sastra.

Sementara itu, meskipun pada kurikulum 1994 masih juga terasa adanya upaya
mengintegralkan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, kurikulum 1994 memberi
penekanan akan pentingnya membaca secara langsung karya-karya sastra, dan bukan
sekadar membaca ringkasan atau sinosipnya. Namun demikian, di dalam praktiknya,
pembelajaran sastra ibarat anak tiri yang hampir-hampir tidak mendapat perhatian
yang selayaknya dari para guru. Para guru yang mengajar sastra hampir selalu
merupakan juga guru yang mengajar bahasa.

7 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.html

Hal semacam ini sebenarnya tidak menjadi masalah sekiranya para guru itu juga
mempunyai perhatian yang sama besarnya; namun kenyataan cenderung mampu
membuktikan bahwa umumnya para guru itu sekadar menyambi saja tugas sebagai
pengajar sastra. Kendati demikian, jika diamati secara saksama, realitas yang
semacam ini bukan sepenuhnya kesalahan para guru melainkan kesalahan paradigma
pengajaran maupun pembelajaran bahasa dan sastra yang pernah diterima oleh para
guru itu ketika mereka masih dalam pendidikan.

Faktor yang ikut memperparah tidak signifikannya atau bahkan gagalnya pengajaran
maupun pembelajaran sastra di sekolah adalah pada guru itu sendiri. Bukan suatu
rahasia lagi bahwa sebagian besar guru sastra adalah guru bahasa yang lebih
memberikan perhatian kepada permasalahan bahasa, utamanya pada masalah-masalah
teknis. Oleh karena itu, jika pengajaran sastra berada dalam posisi terpuruk, bukan
sesuatu yang perlu diherankan. Namun permasalahannya tentu bukan hanya pada
“keheranan” atau tidaknya, melainkan pada apa upaya atau langkah-langkah yang
dapat dijalankan untuk memperbaiki kenyataan yang sedemikian itu.

3.3 solusi sastra dalam KTSP

Setiap permasalahn yang datang dalam kehidupan ini tidak mungkin tanpa ada
formula yang bisa digunakan untuk menyelesaikannya. Begitu pula dengan masalah
sastra dalam KTSP ini, pasti ada hal yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki mutu
pendidikan kita. Solusi untuk masalah waktu yang kurang dalam pembelajaran sastra
ialah sebagai berikut:
• KTSP merupakan kurikulum yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah
khususnya guru yang melaksanakan pembelajaran untuk melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan kebutuhan siswanya. Maka dari itu kurikulum bukanlah kitab suci yang
tidak boleh dirubah sesuai dengan kebutuhan. Jika guru menginginkan perubahab
pada kompetensi yang ada, maka guru boleh mengubah kompetensi-kompetensi yang
dirasa perlu digunakan dalam pembelajaran.
• Waktu untuk belajar tidak hanya ketika waktu yang sudah dicanangkan (jam
pelajaran formal), sehingga guru dapat menyiasati waktu pembelajaran yang dirasa
kurang denganmenggunakan waktu di luar jam pelajaran formal. Misalnya saja guru
dapat memasukkan bidang sastra pada kegiatan ekstrakurikuler.
• Yang membuat kurikulum haruslah orang yang kompeten dalam bidangnya. Jika
seorang pembuat kurikulum tidak memahami bidang itu, maka yang terjadi ialah tidak
sempurnanya kurikulum yang dihasilkan. Seperti halnya dengan kurikulum dalam
bahasa dan sastra Indonesia, jika yang membuat tidak mengerti tentang bahasa dan
sastra Indonesia, maka yang terjadi ialah dunia pendidikan kita saat ini. Sastra
menjadi terabaikan.

Sedangkan solusi untuk masalah guru dalam pembelajaran sastra ialah sebagai
berikut:
• Seorang guru bahasa dan sastra Indonesia, seharusnya memiliki perhatian yang sama
dalam membelajarkan siswanya, baik itu sastra maupun bahasa. Jika setiap guru
bahasa dan sastra Indonesia memiliki perhatian yang sama, maka ketimpangan sastra
dalam dunia pendidikan tidak akan terjadi hingga berlarut-larut. Maka dari itu
dibutuhkan kesadaran guru bahasa dan sastra Indonesia untuk memperhatikan sastra
serupa ia memperhatikan bahasa.

8 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://bissastra.blogspot.com/2009/04/sastra-seharusnya-tak-lagi-sebelah-mata.html

• Dalam pendidikannya, guru bahasa dan sastra Indonesia harus dibekali kemampuan
yang cukup dalam bidang sastra, sehingga tidak ada keraguan guru untuk
membelajarkan sastra kepada siswa-siswanya.
• Seorang guru seharusnya mampu untuk memberiakan dorongan terhadap siswanya
agar mau mempelajari sastra, sehingga di mata siswa sastra bukanlah hal yang
menjemukan atau hal yang menakutkan. Seorang guru harus mampu menjadi
motivator bagi diri sendiri serta untuk siswa-siswanya.

SIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, hal yang dapat kita simpulkan ialah sebagai berikut:
• Sastra seharusnya memiliki hak yang sama dengan bidang-bidang pembelajaran
yang lain, sebab sastra juga memiliki peran penting dalam pembentukan watak
bangsa.
• Seorang pembuat kurikulum harusnya mengerti tentang dunia pendidikan. Jika
pembuat kurikulum tidak mengerti tentang bahasa dan sastra, maka kurikulum yang
dihasilkanpun tidak akan mampu digunakan secara maksimal.
• Waktu yang singkat dalam pembalajaran formal bukanlah hambatan yang kemudian
hanya mampu disesali guru dan pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan, sebab
kurikulum KTSP memberikan kebebasan yang luas untuk guru yang ingin
mengembangkan potensi siswanya.
• Seorang guru tidak harus diam dan menyerah pada keadaan siswa dan dunia
pendidikan, namun seorang guru juga harus memiliki kecakapan yang baik untuk
mampu mengubah siswanya menjadi generasi yang dapat diandalkan oleh bangsa.
Dan untuk mencapai hal itu guru harus memiliki inovasi yang hebat dalam
membelajarkan sastra pada siswanya.
• Guru juga harus mampu menjadi motivator yang baik untuk memberikan motivasi
pada siswanya agar menjadi manusia unggul yang dapat diandalkan.
Demikian ialah sekilas tentang sastra dalam kurikulum yang tidak seimbang. Semoga
dengan adanya ulasan ini, kita mampu memperbaiki hal-hal yang masih lemah dalam
pendidikan kita. Tentunya semua masyarakat juga harus turut serta dalam mengubah
paradigma pembelajaran kita Indonesia.

DAFTAR RUJUKAN
BSNP. 2006. Standar Isi. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.
http//Johnherf.word press.com. Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah. Diakses 2
januari 2009
http//Prayanta’s Site. KTSP Sebagai Kuriulum Kerakyatan. Diakses 29 Desember
2008
http// Wiyatmi_full_paper-pemb_jenderhiski.pdf. Menggagas Pembelajaran Sastra
Berperspektif Jender. Diakses 29 desember 2008
Hutomo, Suripan Sadi. 1989. Mutiara yang Terlupakan. Surabaya: HISKI Jatim.
Luxemburg, Jan van. 1989. Tentang Sastra. Terjemahan Achadiati Ikram. Jakarta:
Intermasa.
Muhaimin, dkk. 2008. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) pada Sekolah dan Madrasah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Najid, Moh. 2003. Mengenal Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: University Press.
Rahmanto B. 1996. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

9 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com