Anda di halaman 1dari 2

Sumber : http://sawali.

info/2008/01/01/siapkah-guru-sastra-menyongsong-kbk/

Siapkah Guru Sastra Menyongsong KBK?


RENDAHNYA tingkat apresiasi sastra di kalangan pelajar sudah lama mencuat ke
permukaan. Berbagai macam forum diskusi digelar unluk menemukan solusinya.
Terakhir, program ‘Sastrawan Masuk Sekolah’ diusung oleh Yayasan Indonesia,
Majalah Horison, dan Depdiknas. Tidak main-main. Sastrawan-sastrawan papan atas
semacam Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ikram Jamil, atau Hamid
Jabar dilibatkan. Namun, seperti dapat ditebak, forum semacam itu hanya sekadar
melahirkan sejumlah slogan dan retorika. Kondisi apresiasi sastra di kalangan pelajar
tetap saja memprihatinkan.

Saya bukannya tidak setuju forum semacam diskusi sastra atau “Sastrawan Masuk
Sekolah” digelar. Bagaimanapun juga, forum semacam itu bisa sangat berarti dalam
upaya menumbuhkan minat pelajar terhadap sastra. Namun, menurut hemat saya, ada
agenda yang lebih substansial untuk digarap,yakni pemberdayaan guru “sastra”.
Dengan sengaja sastra diberi tanda kutip, sebab selama ini sastra belum menjadi
sebuah mata ajar yang otonom dan mandiri. Sastra masih nunut pada pelajaran
bahasa. Dengan kata lain, guru bahasa harus menjalankan tugas ganda. Selain
mengajarkan materi kebahasaan, mereka juga menyajikan materi apresiasi sastra.

Kalau guru bahasa memiliki kompetensi sastra yang memadai, jelas tidak ada
masalah. Mereka bisa mengajak siswa didiknya untuk ‘berlayar’ menikmati samudra
sastra dan estetikanya. Melalui sastra, siswa bisa belajar banyak tentang persoalan
hidup dan kehidupan, memperoleh “gizi” batin yang mampu mencerahkan hati nurani,
sehingga sanggup menghadapi kompleks dan rumitnya persoalan kehidupan secara
arif dan dewasa.

Namun, tidak semua guru bahasa memiliki kompetensi sastra yang memadai. Minat
dan kecintaan guru bahasa terhadap sastra masih menjadi tanda tanya. Tidak
berlebihan jika pengajaran sastra di sekolah cenderung monoton, kaku, bahkan
membosankan.

Tidak semua guru bahasa mampu menjadikan sastra sebagai “magnet” yang mampu
menarik minat siswa untuk mencintai sastra. Yang lebih memprihatinkan, pengajaran
sastra hanya sekadar menghafal nama-nama sastrawan beserta hasil karyanya. Siswa
tidak pernah diajak untuk menggumuli dan menikmati teks-teks sastra yang
sesungguhnya.

Kalau kondisi semacam itu terus berlanjut bukan mustahil peserta.didik akan
mengidap “rabun” sastra berkepanjangan. Implikasi lebih jauh, dambaan pendidikan
untuk melahirkan manusia yang utuh dan paripurna hanya akan menjadi impian
belaka.

Figur Sentral

Kini sudah saatnya dipikirkan pemberdayaan guru “sastra” dalam pengertian yang
sesungguhnya. Format pemberdayaan guru semacam seminar, lokakarya, penataran,
atau diklat yang cenderung formal dan kaku, tampaknya sudah tidak efektif. Forum
non-formal semacam bengkel sastra barangkali justru akan lebih efektif. Mereka bisa
saling berbagi pengalaman dan berdiskusi. Simulasi pengajaran sastra yang ideal bisa

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://sawali.info/2008/01/01/siapkah-guru-sastra-menyongsong-kbk/

dipraktikkan borsama-sama, sehingga guru “sastra” memperoleh gambaran konkret


lentang cara menyajikan apresiasi sastra yang sebenarnya kepada siswa.

Guru ‘sastra’ menjadi figur sentral dalam menaburkan benih dan menyuburkan
apresiasi sastra di kalangan peserta didik. Kalau pengajaran sastra diampu oleh guru
yang tepat, imajinasi siswa akan terbawa ke dalam suasana pembelajaran yang
dinamis, menarik, kreatif, dan menyenangkan. Sebaliknya, jika pengajaran sastra
disajikan oleh guru yang salah, bukan mustahil situasi pembelajaran akan terjebak
dalam atmosfer yang kaku, monoton, dan membosankan. Imbasnya, gema apresiasi
sastra siswa tidak akan pemah bergeser dari “lagu lama”, terpuruk dan tersaruk-saruk.

Kini, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang terjabarkan dalam Kurikulum


Tingkat satuan pendidikan (KTSP) sudah diluncurkan. Dari sisi muatan materi ajar,
KBK terkesan lebih ramping dibandingkan dengan Kurikulum 1994. Namun, dari sisi
pendalaman materi pun KBK lebih intens dan konkret dalam memberikan bekal
kompetensi kepada siswa.

Secara eksplisit, KBK sudah mencantumkan standar kompetensi dan kompelensi


dasar yang harus dikuasai siswa. Konsekuensinya, guru harus benar-benar mumpuni
dan berkompeten di bidangnya. Jika tidak, kegagalan KBK sudah menanti, menyusul
kegagalan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Demikian juga halnya dengan
pengajaran sastra. Guru bahasa yang sekaligus guru “sastra” jelas dituntut memiliki
kompetensi dan talenta sastra yang memadai.

Pertanyaan yang muncul, sudah siapkah guru “sastra” melaksanakan KBK alias
KTSP? Untuk menjawab pertanyaan ini, seyogyanya pemerintah segera melakukan
pemetaan, sehingga dapat diketahui guru bahasa yang memiliki kompetensi dan minat
di bidang sastra. Merekalah yang kelak diharapkan menjadi guru sastra yang mampu
membawa dunia siswa untuk mencintai sastra.

Guru bahasa yang nihil talenta dan miskin minat sastranya tidak usah dibebani tugas
ganda. Biarkan mereka berkonsentrasi di bidang kebahasaan, sehingga mampu
memberikan bekal kompetensi kebahasaan secara memadai. Sebaliknya, biarkan
pengajaran sastra diurus oleh guru bahasa yang benar-benar memiliki kompetensi dan
minat di bidang sastra. Dengan spesialisasi semacam itu, kompetensi bahasa dan
sastra siswa diharapkan bisa berkembang bersama-sama tanpa ada yang dianaktirikan.
***

http://sawali.info/2008/01/01/siapkah-guru-sastra-menyongsong-kbk/

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com