Anda di halaman 1dari 2

Sumber : http://www.sawali.co.cc/2009/06/tak-ada-lagi-alasan-untuk-mengebiri.

html

Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra


Secara jujur harus diakui, selama ini sastra belum mendapatkan tempat yang
terhormat dalam dunia pendidikan kita. Selalu saja ada dalih untuk mengebirinya.
Entah lantaran kurikulumnya, ketidaksiapan gurunya, sulitnya menentukan bahan ajar,
atau minimnya minat siswa. Beberapa alasan klasik untuk menutupi nihilnya
"kemauan baik" untuk memosisikan sastra pada aras yang berwibawa dan
bermartabat. Yang lebih memprihatinkan, masih ada opini "menyesatkan" bahwa
sastra hanya sekadar produk dunia khayalan dan lamunan yang tak akan memberikan
manfaat dalam kehidupan nyata.

Sastra pada hakikatnya merupakan "prasasti" kehidupan; tempat diproyeksikannya


berbagai fenomena hidup dan kehidupan hingga ke ceruk-ceruk batin manusia. Sastra
bisa menjadi bukti sejarah yang otentik tentang peradaban manusia dari zaman ke
zaman. Hal ini bisa terjadi lantaran sastra tak pernah dikemas dalam situasi yang
kosong. Artinya, teks sastra tak pernah diciptakan lepas konteks dari masyarakat,
tempat sang pengarang hidup dan dibesarkan. Dengan kata lain, teks sastra akan
mencerminkan situasi dan kondisi masyarakat pada kurun waktu tertentu. Sebagai
sebuah produk budaya, dengan sendirinya teks sastra tak hanya merekam kejadian-
kejadian faktual pada kurun waktu tertentu, tetapi juga menafsirkan dan mengolahnya
hingga menjadi adonan teks yang indah, subtil, dan eksotis. Kepekaan intuitif sang
pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan menjadi modal yang cukup
potensial untuk melahirkan teks-teks sastra yang mampu mengharubiru emosi
pembaca.

Karena diciptakan dengan mempertimbangkan kode bahasa, kode budaya, dan kode
sastra, sebuah teks sastra memiliki kandungan nilai yang sarat dengan sentuhan
kemanusiawian. Dengan membaca teks sastra, nurani pembaca menjadi lebih peka
terhadap persoalan hidup dan kehidupan. Teks sastra juga mampu memberikan "gizi
batin" yang akan mempersubur khazanah rohani pembaca sehingga terhindar dari
kekeringan dan "kemiskinan" nurani. Tek sastra juga mampu merangsang peminat
dan pembacanya untuk menghindari perilaku-perilaku anomali yang secara sosial
sangat tidak menguntungkan. Agaknya masuk akal kalau Danarto pernah bilang
bahwa kaum remaja-pelajar yang suka tawuran dan selalu menggunakan bahasa
kekerasan dalam menyelesaikan masalah merupakan potret kegagalan pengajaran
sastra di sekolah. Mereka tak pernah membaca teks sastra sehingga tidak memiliki
kepekaan dan kearifan dalam menghadapi masalah kehidupan yang mencuat ke
permukaan.

Persoalannya sekarang, masihkah kita mencari-cari alasan untuk mengebiri sastra


dalam dunia pendidikan ketika peradaban benar-benar sedang "sakit"? Masihkah kita
berdalih untuk menyingkirkan sastra dari dunia pendidikan ketika nilai-nilai kesalehan
hidup gagal merasuk ke dalam gendang nurani siswa lewat khotbah dan ajaran-ajaran
moral? Masihkah kita mengambinghitamkan kurikulum pendidikan ketika apresiasi
sastra di kalangan pelajar menjadi mandul, bahkan banyak pelajar kita yang mengidap
"rabun sastra"?

1 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com


Sumber : http://www.sawali.co.cc/2009/06/tak-ada-lagi-alasan-untuk-mengebiri.html

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang bukan hal yang mudah untuk dijawab.
Sastra bukan "sihir" yang sekali "abrakadabra" langsung bisa mengubah keadaan.
Sastra lebih banyak bersentuhan dengan ranah batin dan wilayah kerohanian sehingga
hasilnya tak kasat mata. Nilai-nilai kesalehan hidup yang terbangun melalui proses
apresiasi sastra berlangsung melalui tahap internalisasi, pengkraban nilai-nilai,
persentuhan dengan akar-akar kemuliaan dan keluhuran budi, serta pergulatan tafsir
hidup yang akan terus berlangsung dalam siklus kehidupan pembacanya. Proses
apresiasi sastra semacam itu akan menghasilkan "kristal-kristal" kemanusiaan yang
akan memfosil dalam khazanah batin pembaca sehingga menjadi pribadi yang
beradab dan berbudaya. Ini artinya, mengebiri sastra dalam kehidupan tak jauh
berbeda dengan upaya pengingkaran terhadap nilai-nilai kemuliaan dan martabat
manusia itu sendiri.

Dalam konteks demikian, sesungguhnya tak ada alasan lagi untuk melakukan proses
marginalisasi terhadap sastra, apalagi dalam dunia pendidikan yang notabene menjadi
"agen perubahan" untuk melahirkan generasi masa depan yang cerdas, bermoral, dan
religius. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pun kini sudah amat
akomodatif dan bersahabat dengan sastra. Jika kurikulum sebelumnya membidik
sastra hanya sekadar tempelan seperti dalam sebuah mozaik, kini sastra sudah menjadi
bagian esensial dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Lihat saja Standar Kompetensi (SK) dan KD mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP di
sini! Keterampilan mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis, tak
hanya dioptimalkan dalam pembelajaran aspek kebahasaan, tetapi juga dalam
pembelajaran aspek kesastraan. Jadi, dalam pembelajaran sastra di SMP, kini sudah
ada keterampilan mendengarkan sastra, berbicara sastra, membaca sastra, dan menulis
sastra. Jelas ini memberikan gambaran bahwa sesungguhnya tidak ada alasan lagi
untuk mengebiri sastra dalam dunia pendidikan. Kurikulum pendidikan yang
memberikan ruang gerak secara leluasa kepada para guru bahasa dalam mengelola
proses pembelajaran, jelas akan memberikan prospek yang cerah dalam gerak dan
dinamika apresiasi sastra di kalangan siswa.

Nah, kalau kurikulum sudah memberikan atmosfer yang cukup kondusif, ternyata
siswa masih "rabun sastra", bagaimana? Bisa jadi ada kesalahan pada aras
implementasinya. Guru, jelas, menjadi faktor utama. Menyajikan materi kesastraan
jelas sangat berbeda dengan menyajikan materi kebahasaan. Untuk memberikan
sugesti kepada siswa, guru sastra diharapkan memiliki wawasan sastra yang "canggih"
sekaligus mampu memberikan keteladanan tentang kecintaannya terhadap sastra.
Sarana pendukung, seperti perpustakaan dan fasilitas pembelajaran lainnya, juga
menjadi penentu. Bagaimana siswa bisa belajar apresiasi sastra dengan baik kalau rak
perpustakaan sekolah hanya dihuni buku-buku usang?

Yang tidak kalah penting adalah memperbanyak agenda kegiatan sastra, semacam
pentas baca puisi atau cerpen, lomba dan festival, atau menyediakan media publikasi
(cetak) untuk menerbitkan karya-karya siswa. Dengan cara demikian, sastra tak akan
terjebak menjadi pengetahuan kognitif dalam ranah memori siswa, tetapi menyatu
dalam sikap dan emosi, yang akan terus melekat dan mengakar dalam khazanah batin
siswa hingga kelak mereka menjadi insan yang memiliki sikap responsif terhadap
masalah-masalah kemanusiaan. Nah, bagaimana? ***

2 Perpustakaan Pribadi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com