Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN

DEMI KESTABILAN EKONOMI SERANTAU, ELOK JUGA TARIF LISTRIK


DISERAGAMKAN

LATAR BELAKANG

Stabilitas ekonomi merupakan salah satu persyaratan bagi pertumbuhan ekonomi


suatu Negara. Jadi kalau stabilitas ekonomi suatu Negara terganggu, maka pertumbuhan
ekonomi yang baik akan terganggu juga, maka pertumbuhan ekonomi yang baik akan
terganggu juga. Kemudian, listrik merupakan salah satu komoditi strategis dalam
perekonomian suatu Negara. Jadi dengan pengaturan system kelistrikan yang baik di suatu
negara maka system ini akan memberikan beberapa keuntungan pada pertumbuhan
perekonomian Negara tersebut.

Tak bisa disangkal, listrik merupakan infrastruktur utama bagi kegiatan


perekonomian masyarakat karena fasilitas tersebut menjadi stimulan untuk meningkatkan
kesejahteraan. Untuk itu, tingkat kebutuhan listrik harus dipenuhi secara optimal.
Oleh karena itu untuk mencapai kestabilan ekonomi, dapat juga dilakukan
penyeragaman tarif listrik di suatu Negara atau antar Negara. Maka pada makalah ini akan
membahas penyeragaman tariff listrik antar Negara serantau, demi terciptanya kestabilan
ekonomi masing-masing Negara tersebut.
Kebijakan Pemerintah tentang tarif dasar listrik adalah bahwa tarif listrik secara
bertahap dan terencana diarahkan untuk mencapai nilai keekonomiannya sehingga tarif listrik
rata-rata dapat menutup biaya yang dikeluarkan. Kebijakan ini diharapkan akan dapat
memberikan signal positif bagi investor dalam berinvestasi di sector ketenagalistrikan.

II. ISI
Listrik merupakan salah satu komoditi strategis dalam perekonomian suatu Negara
karena selain digunakan secara luas oleh masyarakat terutama untuk keperluan penerangan,
listrik juga merupakan salah satu sumber energi utama bagi sektor industri. Oleh karena itu,
Pemerintah suatu Negara memberi perhatian yang cukup besar terhadap harga penjualan
listrik kepada konsumen, mengingat perubahan harga listrik akan mempunyai dampak yang
cukup signifikan terhadap kenaikan harga-harga umum, yang pada gilirannya akan
berpengaruh juga terhadap perekonomian secara makro. Salah satu faktor yang menentukan
tingkat harga penjualan listrik adalah biaya penyediaan tenaga listrik.

Untuk menyeragamkan tariff listrik di Negara serantau ini, ada beberapa aspek yang
harus diperhatikan yaitu :

1. Subsidi listrik

2. Subsidi BBM

3. Aspek Industri

1. SUBSIDI LISTRIK

Pengertian Subsidi
Mike Crosetti (1999), seperti yang dikutip oleh Kadoatje (2002), mendefinisikan
subsidi sebagai berikut:

“All measures that keep prices for consumers below the market level, keep prices for
producers above the market level, reduce costs for consumers or producers by giving direct
or indirect financial support”. Subsidi merupakan kebijakan yang ditujukan untuk membantu
kelompok konsumen tertentu agar dapat membayar produk atau jasa yang diterimanya
dengan tarif di bawah harga pasar, atau dapat juga berupa kebijakan yang ditujukan untuk
membantu produsen agar memperoleh pandapatan di atas harga yang dibayar oleh konsumen,
dengan cara mem-berikan bantuan keuangan, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Dengan adanya subsidi tersebut, diharapkan ketersediaan listrik dapat terpenuhi,


kelangsungan penyediaan listrik dapat berjalan stabil, serta memberi kesem-patan kepada
pelanggan yang kurang mampu dan masyarakat yang belum ter-jangkau pelayanan PT. PLN
untuk dapat ikut menikmati energi listrik.
Perbandingan Tarif Listrik Untuk Industri Indonesia dengan Malaysia,
Singapura, Thailand dan India

Sumber dan Sasaran Penggunaan Subsidi

Pada umumnya subsidi berasal dari pemerintah. Namun dalam prak-teknya, subsidi
dapat juga berasal dari perusahaan listrik, pelanggan, atau pihak lain. Subsidi dari pemerintah
dapat berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, atau Pemerintah Kabupaten/Kota.
Subsidi yang bersumber dari perusa-haan listrik pada umumnya berupa subsidi dari
perusahaan listrik milik pemerintah ke perusahaan listrik milik swasta, dalam rangka menarik
minat perusahaan swasta agar bersedia melakukan investasi di industri listrik. Subsidi dari
pelanggan pada umumnya berupa subsidi silang antar kelompok pelanggan, misalnya dari
pelanggan industri ke pelanggan peru-mahan. Sementara itu, subsidi dari pihak lain dapat
berupa sumbangan, hibah, atau grant yang diberikan kepada perusahaan penghasil energi
listrik.

Bila ditinjau dari sisi penggu-naannya, subsidi pada dasarnya dapat diberikan kepada
konsumen dan dapat juga diberikan kepada produsen. Subsidi untuk konsumen listrik dapat
diberikan kepada konsumen yang kurang mampu, misalnya konsumen dengan kapasitas
terpasang kurang dari 450 VA, dimana pemakaian listriknya dibawah kebutuhan listrik
minimum. Subsidi kepada konsumen dapat juga diberikan kepada masyarakat daerah
tertinggal atau terpencil agar mereka dapat menikmati energi listrik. Subsidi untuk produsen
dapat diberikan kepada perusahaan swasta yang bersedia membangun instalasi pembangkit
listrik untuk daerah pedesaan, atau subsidi investasi perluasan jaringan listrik ke pedesaan.
Subsidi untuk produsen juga dapat diwujudkan dalam bentuk subsidi silang antar produsen,
kesepakatan untuk membeli daya listrik yang dihasilkan produsen swasta (purchase power
agreement), atau kemu-dahan dalam investasi, misalnya kemudahan perijinan, pembebasan
bea masuk untuk barang modal, serta keringanan pajak.

Perbandingan Subsidi Listrik di Beberapa Negara ASEAN

Kelebihan dan kekurangan dari setiap jenis subsidi

Negara Jenis Subsidi Kelebihan Kekurangan


Indonesia Purchase Power 
Kelangsungan usaha
Agreement IPP swasta lebih
terjamin Menarik
bagi investor
Subsidi dari Masyarakat miskin Masyarakat yang lebih
pemerintah kepada dapat menikmati listrik miskin (belum terjang
kelompok pelanggan dengan harga murah kau aliran listrik) tidak
tertentu menikmati subsidi
Pemerintah harus
meng alokasikan dana
untuk subsidi
Malaysia Purchase Power Kelangsungan usaha
Agreement IPP swasta lebih
terjamin Menarik
bagi investor
Subsidi silang antar Pelanggan miskin Masyarakat yang lebih
kelompok pelanggan mendapat subsidi miskin (belum terjang
Pemerintah tidak kau aliran listrik) tidak
menang gung beban menikmati subsidi
subsidi
Filipina Subsidi silang antar Pelanggan miskin Menyebabkan
kelompok pelanggan mendapat subsidi ekonomi biaya tinggi
(dari kelompok Pemerintah tidak
industri dan menanggung beban
perdagangan ke subsidi
rumah tangga)
Filipina Subsidi silang antar Pelanggan di pulau-
kelompok pelanggan pulau kecil mendapat
(dari pelanggan di pu subsidi Pemerintah
lau besar ke pe tidak menang gung
langgan di pulau beban subsidi
kecil)
Subsidi silang antar Pemerintah tidak Secara keseluruhan,
produsen (dari menang gung beban terlalu banyak jenis
produsen mi lik subsidi Menarik bagi subsidi, memungkinkan
pemerintah ke investor terjadinya korupsi
produsen swasta) Pengawasan sulit
dilakukan
Thailand Purchase Power Kelangsungan usaha 
Agreement IPP dan SPP swasta
lebih terjamin
Menarik bagi investor
Subsidi silang antar Pemerintah tidak Dapat menyebabkan
kelompok pelanggan menang gung beban ekonomi biaya tinggi jika
dengan tarif yang subsidi dibebankan kepada
berbeda di setiap pelanggan kelompok
kelompok pelanggan industri dan perdagangan
Subsidi silang antar Pemerintah tidak
kelompok pelanggan menang gung beban
yang berbeda lokasi subsidi
tempat tinggalnya
Vietnam Subsidi dari Masyarakat dapat Pemerintah
pemerintah untuk menik-mati listrik menanggung semua
semua pelanggan dengan tarif murah beban subsidi Subsidi
tidak tepat sasaran.
Masyarakat kaya juga
menikmati subsidi
Tidak menarik bagi
investor Mendorong
terjadinya pemborosan
pemakaian energi listrik

Berdasarkan uraian pada tabel di atas dapat diambil beberapa pemahaman tentang
subsidi, yaitu :

1. Purchase Power Agreement merupa-kan suatu bentuk subsidi yang baik untuk diterapkan
karena mampu memberikan kepastian usaha bagi IPP swasta.

2. Subsidi dari pemerintah untuk kelompok pelanggan tertentu menyebabkan beban


pemerintah untuk menyediakan dana subsidi menjadi bertambah.

2. SUBSIDI BBM

Sektor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan industry juga tidak dapat dilepaskan dalam
masalah ketenagalistrikan yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi. BBM berpotensi
mengganggu stabilitas ekonomi yaitu berkaitan dengan subsidi bahan bakar minyak
sehubungan dengan tingginya harga minyak dunia.

Kebijakan subsidi harga bahan bakar minyak yang dianut banyak pemerintahan negara-
negara di Asia guna menjaga pertumbuhan ekonomi dan kepentingan warganya kini terancam
akibat harga minyak mentah dunia yang akan terus bertahan tinggi. Banyak dari
pemerintahan ini perlu memikirkan kembali kebijakan subsidi yang menyedot dana miliaran
dollar AS ini.

Harga minyak yang tinggi dan relatif bertahan dalam jangka panjang dipastikan akan
mengancam kebijakan subsidi BBM yang dianut banyak pemerintahan di Asia.
Mempertahankan kebijakan subsidi akan menyita dana negara dalam jangka panjang.

Kalau subsidi listrik antar Negara serantau ini sudah seragam, tentulah harus ada
penyeragaman harga BBM, dan memungkinkan harga BBM akan murah di Negara serantau
tersebut. Karena tidak ada lagi tindakan ekspor maupun impor BBM illegal dari dan ke
Negara-negara serantau tersebut. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi Negara-negara
serantau tersebut. Karena adanya tindakan ekspor dan impor illegal sangat tidak
menguntungkan bagi Negara yang bersangkutan. Dan kalaulah tariff BBM sudah murah
maka akan mengakibatkan/menimbulkan tariff listrik yang murah juga antar Negara serantau
tersebut.

3. ASPEK INDUSTRI

Aspek industri juga mempengaruhi kestabilan ekonomi suatu Negara. Karena industri
juga menggunakan listrik sebagai bahan utama dalam proses kegiatan industri. Tetapi
banyak pergeseran dominasi share penjualan energy listrik perusahaan listrik Negara (PLN)
kepada pelanggannya dari kelompok pelanggan industry ke kelompok Rumah Tangga.

Penurunan share industry dalam total penjualan listrik PLN tersebut tentunya akan
berdampak negative terhadap masa depan kinerja PLN. Sebagaimana diketahui, biaya
produksi listrik, selain ditentukan oleh harga bahan bakar juga ditentukan oleh waktu/saat
listrik dikonsumsi pelanggan.

Oleh sebab itu, perlu dikaji dan dilakukan analisis apakah penyebab terjadinya
penurunan peran sektor industry tersebut, dan selanjutnya diproyeksikan prospek untuk
tahun-tahun mendatang. Hal itu penting bagi perencanaan PLN, baik dalam perencanaan
penyediaan energy berkaitan erat dengan investasi, baik investasi di sektor ketenagalistrikan
maupun sektor lainnya, karena kepastian akan penyediaan energi merupakan salah satu
prasyarat utama investasi.

PENYEBAB TURUNNYA SHARE PENJUALAN LISTRIK PLN ke SEKTOR


INDUSTRI

Ada tiga faktor yang menjadi penyebab turunnya share penjualan listrik PLN ke sector
industry, yaitu :

1. Deindustrialisasi, adalah adanya penutupan atau pemindahan industry dari Negara


yang satu ke Negara yang lain, ynag memang menjadi fenomena dalam masa krisis.

2. Switching, adalah pengalihan sumber listrik di sector industry PLN ke non PLN, yang
bisa berupa pembangkitan sendiri atau pembelian listrik dari perusahaan lain.
Keterbatasan jumlah, jaringan, dan kualitas listrik PLN di satu sisi, sementara di sisi
lain harga bahan bakar minyak domestic yang masih disubsidi, impor diesel/genset
yang dibebaskan bea masuknya, serta dibukanya peluang bagi swasta untuk
berinvestasi di bidang pembangkitan telah mendorong industry untuk melakukan
switching.

3. Transformasi struktur ekonomi dari perekonomian industry ke perekonomian jasa-


jasa. Dalam struktur perekonomian semacam ini, peran sector komersial
menggantikan peran sector industry sebagai pembeli utama energy listrik.

Share China dalam konsumsi listrik dunia mengalami peningkatan dalam


periode 1980-2002, sebaliknya dengan share Amerika Serikat. Peningkatan share
China tersebut juga dialami oleh Negara-negara Asia lainnya terutama Korea Selatan,
sehingga secara keseluruhan share Asia terhadap konsumsi energy listrik dunia juga
mengalami peningkatan.

Meningkatan share Negara-negara di kawasan Asia dalam konsumsi listrik


global dalam periode 1980-2002 merupakan konsekuensi dari pertumbuhan konsumsi
listrik yang lebih pesat di kawasan tersebut di bandingkan pertumbuhan konsumsi
listrik di kawasan lain.

Dengan adanya penyeragaman tarif listrik di Negara serantau, diharapkan


tidak adanya lagi yang namanya Deindustrialisasi, Switching, dan Transformasi
struktur ekonomi dari perekonomian industry ke perekonomian jasa-jasa. Karena
harga listrik sudah seragam dan harga BBM juga sudah seragam. Jadi percuma saja
industry melakukan hal tersebut karena harga listrik dan BBM sudah sama di Negara
serantau ini.
III. KESIMPULAN

Dari apa yang telah diuraikan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

1. Dengan penyeragaman tarif listrik di Negara serantau, dapat menyebabkan harga tarif
dasar listrik antar Negara serantau tersebut menjadi murah, maka subsidi listrik
pemerintah menjadi kecil. Hal ini sangat menguntungkan pada Negara-negara serantau
yang bersangkutan. Dan dapat meringankan beban masyarakat.

2. Penyeragaman tarif listrik Negara-negara serantau, membuat tarif dasar listrik di


Negara yang bersangkutan akan menjadi murah, secara tidak langsung akan membuat
tarif BBM menjadi murah juga karena tidak adanya kegiatan ekspor maupun impor
BBM illegal dari dan ke Negara serantau. Dan ini juga menimbulkan keuntungan pada
Negara-negara serantau yang bersangkutan. Dan dapat meringankan beban masyarakat.

3. Penyeragaman tarif listrik dapat meniadakan deindustrialisasi, switching, dan


transformasi struktur ekonomi dari perekonomian industry ke perekonomian jasa-jasa.
Sebab buat apa pihak industry melakukan itu kalau tari listrik dam BBM sudah seragam
di Negara serantau. Hal ini juga sangat menguntungkan masing-masing Negara serantau
yang terkait.

4. Dengan adanya penyeragaman tarif listrik, maka tingkat perpindahan penduduk dari
Negara yang satu ke Negara yang lain akan berkurang. Karena tidak adanya perpindahan
penduduk akibat adanya perbedaan tarif listrik, yaitu karena ingin mencari tarif listrik
yang lebih murah dari tempat asalnya.

5. Dengan adanya penurunan tariff dasar listrik dan BBM, maka akan menurunkan
beberapa harga bahan pokok.

6. Dengan adanya penyeragaman tariff listrik, maka akan lebih mudah mengadakan
interkoneksi tenaga listrik antar Negara-negara serantau yang bersangkutan. Karena
harga tariff dasar listriknya sudah sama. Tidak akan membayar lebih murah atau lebih
mahal dari harga di negaranya. Dan hal ini sangat menguntungkan Negara-negara yang
bersangkutan.

7. Dengan adanya tariff listrik yang seragam antar Negara serantau, maka dapat
mengurangi tingkat pengangguran di Negara yang bersangkutan. Karena banyak
perusahaan yang akan atau tetap beroperasi akibat adanya tariff dasar listrik dan tariff
BBM yang murah. Dan hal ini menyenangkan hati masyarakat.

8. Dengan adanya keuntungan-keuntungan di atas, maka akan terciptalah kestabilan


ekonomi pada Negara-negara serantau yang bersangkutan. Dengan adanya kestabilan
ekonomi, maka akan terciptalah pertumbuhan ekonomi yang baik di Negara-negara
serantau yang bersangkutan.

9. Dengan adanya kestabilan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang baik, maka akan
terciptalah kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.