Anda di halaman 1dari 190

PERANCANGAN REAKTOR GASIFIKASI SEKAM

SISTEM KONTINU

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat


menyelesaikan Program Studi Strata Satu di Jurusan Teknik Mesin
Institut Teknologi Nasional Bandung

Disusun Oleh :

IRVAN NURTIAN
12-2000-111

JURUSAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL

BANDUNG

2007
”Semua yang tampak berasal dari sesuatu yang tidak tampak.

Semua yang bisa dilihat berawal dari sesuatu yang tidak bisa dilihat.

Semua ada di dalam dirimu. Mintalah melalui dirimu sendiri.”

(Jalaluddin Rumi)

”Aku memutuskan untuk selalu memiliki kekuatan dan keyakinan diri.

Karena aku percaya, aku yakin, aku beriman,

bahwa cahaya kekuatan Tuhan yang menciptakan seluruh isi alam semesta

selalu mengalir dalam setiap keputusanku, pikiranku,

serta dalam semua tindakanku.

Sebab aku yakin bahwa sebenarnya aku hanyalah alat bagi Tuhan

untuk mewujudkan rencana-rencana-Nya.”

(Erbe Sentanu)
LEMBAR PENGESAHAN

PERANCANGAN REAKTOR GASIFIKASI SEKAM

SISTEM KONTINU

TUGAS AKHIR

IRVAN NURTIAN
NRP : 12-2000-111

Bandung, September 2007


Telah Diperiksa dan Disetujui
Dosen Pembimbing

DOSEN PEMBIMBING I DOSEN PEMBIMBING II

(H. Willy Adriansyah, Dr., Ir.) (Encu Saefudin, Ir., MT.)


ABSTRAK

Sekam atau kulit terluar dari gabah padi saat ini masih belum

dimanfaatkan secara optimal, para petani hanya memanfaatkannya untuk bahan

baku makanan ternak juga sebagai pengisi dan pembakar bata merah. Namun

dari riset menunjukkan, pemanfaatan sekam dapat menurunkan pemakaian bahan

bakar minyak hingga 80 persen. Tidak hanya itu, produk limbah pertanian ini

dapat menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan. Dengan alasan tersebut,

sangat tepat jika kemudian menjadikan sekam yang tersedia melimpah sebagai

bahan bakar alternatif. Caranya, dengan merancang suatu alat penggasifikasian

sekam dalam bentuk yang praktis dan murah, sehingga mudah terjangkau oleh

masyarakat luas.

Pada penelitian ini penulis mencoba untuk merancang sebuah reaktor

gasifikasi sekam dengan menggunakan sistem kontinu untuk memudahkan

pemasukan sekam baru dan pengeluaran abu sekam hasil pembakaran dengan

menggunakan mekanisme pengeluaran abu kontinu tanpa mengganggu proses

pembakaran itu sendiri untuk menghasilkan nyala api yang biru.

Dari perancangan dihasilkan sebuah rangkaian sistem mekanisme dengan

pemakaian motor listrik ¼ HP; 1410 rpm direduksi oleh sistem puli sabuk

diteruskan pada reduser juga sepasang roda gigi kerucut melalui poros sehingga

menghasilkan putaran kipas penyapu sebesar 10 rpm. Sedangkan efisiensi

pemisahan siklon yang didapat sebesar 99,7 persen dan daya gas pada burner

yang dihasilkan sebesar 40 kW.

i
KATA PENGANTAR

Puji Syukur atas Kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Hidayah,

Karunia berupa kekuatan, kemampuan juga kesehatan kepada penyusun sehingga

dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang berjudul “PERANCANGAN

REAKTOR GASIFIKASI SEKAM SISTEM KONTINU”.

Laporan tugas akhir ini disusun sebagai syarat untuk menyelesaikan

program pendidikan Strata-1 di Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi

Industri, Institut Teknologi Nasional Bandung.

Dalam penyusunan laporan ini penulis menemukan banyak rintangan dan

kesulitan. Bantuan, bimbingan, saran, petunjuk dan nasihat yang tak ternilai

harganya dari berbagai pihak memungkinkan penyusun dapat menyelesaikan

laporan ini. Selain itu penyusun secara khusus juga mengucapkan terima kasih

dan penghargaan sebesar-besarnya kepada :

1. Ibunda Rusmayanti dan Ayahanda Dadang Drajat tercinta, serta adik

tersayang Mulqy Arvy Mantasya yang tak hentinya memberikan dorongan dan

do’a dengan sepenuh hati serta bantuannya yang tak terhingga secara moril

maupun materil.

2. Bapak H. Willy Adriansyah, Dr., Ir. selaku dosen pembimbing I yang telah

banyak memberikan bimbingan dan pengarahan yang sangat berharga.

3. Bapak Encu Saefudin, Ir., M.T. selaku dosen pembimbing II dan dosen wali

yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan yang sangat berharga.

ii
4. Bapak Aman, selaku karyawan Laboratorium Termodinamika PPAU – IR ITB

yang banyak membantu dalam pembuatan.

5. Nendi Indrawan dan Nanan Rustandi, selaku partner terbaik yang selama ini

telah banyak membantu dan memberikan masukan yang teramat besar.

6. Terimakasih kepada Bapak Asmadi Ismail dan Ibu Yulina Ibrahim serta adik-

adikku Fajar Indrawijaya, Febri Arianto dan Fimarsha Waldi Anugraha untuk

seluruh bantuan dan do’anya kepada penyusun.

7. Untuk Debby Indriyani, terimakasih segenap semangatnya, pengertiannya,

kesabarannya dan do’anya yang tak pernah henti pula untuk penyusun.

”domou arigatou onegaishimasu, watashi wa anata ni totemo aishiteiru

8. Saudara Endi, Aryadie Rakhmadan, Dany Bangun Sudirman, William, Rio

Utomo, Isep Deni Wahjudin dan flik family selaku rekan yang tak henti-

hentinya memberikan bantuan dan semangat.

9. Perahu tak berdayung, terimakasih untuk kesetiaan menemani keluh kesah

bahagia dan tawa riang kesedihan penyusun.

10. Chevrollet 1509 UV, terimakasih atas kesediaan untuk membawa alat kami.

11. Seluruh staf Tata Usaha dan Dosen ITENAS, terimakasih atas ilmu dan

pengetahuan yang sudah diberikan selama ini.

12. Seluruh rekan seperjuangan di Teknik Mesin ITENAS angkatan 2000 yang tak

dapat disebutkan satu persatu..

Penyusun menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan

dalam penyusunan laporan ini disebabkan keterbatasan, kemampuan, dan

iii
pengalaman penyusun. Atas segala saran dan kritik yang sifatnya membangun

penyusun terima dengan senang hati demi kesempurnaan laporan selanjutnya.

Akhir kata penyusun menginginkan agar laporan ini berguna bagi

penyusun khususnya dan pembaca umumnya.

Bandung, September 2007

Penyusun

iv
DAFTAR ISI

halaman

LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRAK .................................................................................................. i

KATA PENGANTAR ................................................................................ ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. v

DAFTAR GAMBAR .................................................................................. ix

DAFTAR TABEL ...................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................. 1

1.2 Batasan Masalah.......................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................ 3

1.4 Metodologi Penyelesaian Masalah .............................................. 3

1.5 Sistematika Penulisan Laporan ................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sekam Sebagai Biomassa ........................................................... 5

2.2 Karakteristik Sekam Padi Sebagai Biomassa ............................... 9

2.3 Metoda Pembakaran Sekam Padi ................................................ 10

2.4 Jenis Penggasifikasi Sekam ........................................................ 11

2.4.1 Penggasifikasi Sekam Jenis Down-Draft ......................... 11

2.4.2 Penggasifikasi Sekam Jenis Cross-Draft ......................... 12

2.4.3 Penggasifikasi Sekam Jenis Up-Draft .............................. 13

v
2.5 Reaktor-reaktor Penghasil Gas dari Sekam .................................. 13

2.5.1 Reaktor Penghasil Gas dari Sekam DA-IRRI ................... 13

2.5.2 CPU Single-Burner Batch-Type Rice Husk Gasifier Stove 15

2.5.3 CPU Prototype IDD/T-LUD Rice Husk Gas Stove ........... 17

2.5.4 CPU Cross-Flow Type Rice Husk Gasifier Stove ............. 19

2.5.5 San San Rice Husk Gasifier Stove ................................... 20

2.6 Teori Pembakaran ....................................................................... 22

BAB III PERANCANGAN

3.1 Tahapan/Proses Perancangan ...................................................... 26

3.2 Penjabaran Tugas (Clarification of the Task) .............................. 27

3.3 Perancangan dengan Konsep (Conceptual Design) ..................... 37

3.3.1 Penentuan Tuntutan Perancangan .................................... 37

3.3.2 Pembuatan Struktur Fungsi ............................................. 39

3.3.2.1 Fungsi Keseluruhan .......................................... 40

3.3.2.2 Pembuatan Sub Fungsi ..................................... 41

3.3.3 Pembuatan Variasi Konsep .............................................. 45

3.4 Perancangan Wujud (Embodiment Design) ................................. 47

3.4.1 Prinsip Kerja Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinu . 47

3.4.2 Instalasi Reaktor Gasifikasi Kontinu ............................... 51

3.4.2.1 Tabung Reaktor Atas ........................................ 52

3.4.2.2 Ruang Penampungan Abu Sekam ..................... 53

3.4.2.3 Siklon (Cyclone) ............................................... 54

3.4.2.4 Blower .............................................................. 55

vi
3.4.2.5 Burner .............................................................. 56

3.4.3 Instalasi Mekanisme Sistem Penggerak untuk Pengeluaran

Abu ................................................................................. 56

3.4.3.1 Motor Listrik .................................................... 58

3.4.3.2 Reduser ............................................................ 59

3.4.3.3 Transmisi Sabuk dan Puli ................................. 61

3.4.3.4 Poros Horizontal dan Vertikal ........................... 61

3.4.3.5 Roda Gigi Kerucut ............................................ 64

3.4.3.6 Screw Conveyor ................................................ 64

3.4.3.7 Bantalan (Pillow Blok) ...................................... 64

3.4.3.8 Kupling Cakar .................................................. 64

BA B IV PERHITUNGAN

4.1 Analisis Energi Reaktor Gasifikasi Sekam .................................. 65

4.1.1 Energi yang Dibutuhkan .................................................. 65

4.1.2 Energi Masukan .............................................................. 66

4.1.3 Diameter Reaktor ............................................................ 67

4.1.4 Tinggi Reaktor ................................................................ 68

4.1.5 Waktu untuk Menghabiskan Sekam ................................ 69

4.1.6 Jumlah Udara yang Dibutuhkan untuk Gasifikasi ............ 70

4.1.7 Kecepatan Udara Superficial ........................................... 71

4.1.8 Tahanan pada Aliran Udara ............................................. 71

4.2 Perhitungan dari Segi Mekanik ................................................... 72

4.2.1 Kerja yang Diperlukan Reaktor Gasifikasi ...................... 72

vii
4.2.2 Perhitungan Transmisi Daya ........................................... 74

4.2.2.1 Transmisi Sabuk-V ........................................... 76

4.2.2.2 Perancangan/Perhitungan Poros ........................ 81

4.2.2.2.1 Poros Motor Listrik ......................... 85

4.2.2.2.2 Poros Reduser ................................. 90

4.2.2.3 Kopling Cakar .................................................. 95

4.2.2.4 Roda Gigi Kerucut ............................................ 98

4.2.3 Analisis Gaya .................................................................. 106

4.2.3.1 Analisis Gaya pada Poros Horizontal ................ 107

4.2.3.2 Analisis Gaya Pada Poros Vertikal .................... 120

4.2.4 Perhitungan Bantalan ...................................................... 138

4.2.4.1 Bantalan pada Poros Horizontal ........................ 138

4.2.4.2 Bantalan pada Poros Vertikal ............................ 140

4.2.5 Perhitungan Pasak ........................................................... 144

4.2.5.1 Pasak pada Puli 1 .............................................. 144

4.2.5.2 Pasak pada Puli 2 .............................................. 146

BAB V KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan ................................................................................ 149

5.2 Saran .......................................................................................... 152

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

viii
DAFTAR GAMBAR

halaman

Gambar 2.1A Down-Draft Type Gasifier (Bottom-Lit) ................................ 11

Gambar 2.1B Inverted Down-Draft Type Gasifier is Top-Lit with Up-Draft 12

Gambar 2.2 Cross-Draft Type Rice Husk Gasifier .................................... 12

Gambar 2.3 Up-Draft Type Rice Husk Gasifier ........................................ 13

Gambar 2.4 Reaktor Penghasil Gas dari Sekam DA-IRRI ......................... 14

Gambar 2.5 Gambar Skema dari Penggasifikasi Sekam DA-IRRI ............. 15

Gambar 2.6 Tungku Sekam Satu Pembakar CPU ..................................... 15

Gambar 2.7 Gambar Skema Tungku Sekam Satu Pembakar CPU ............ 16

Gambar 2.8 Model 1 Tungku Gas Sekam Prototype IDD/TLUD CPU ...... 18

Gambar 2.9 Model 2 Tungku Gas Sekam Prototype IDD/TLUD CPU ...... 19

Gambar 2.10 The CPU Cross Flow Rice Husk Gasifier Stove .................... 20

Gambar 2.11 The San San Rice Husks Gasifier .......................................... 21

Gambar 3.1 Fungsi Keseluruhan Mekanisme Pengeluaran Abu Reaktor

Gasifikasi Sekam Sistem Kontinu ......................................... 40

Gambar 3.2 Sub Fungsi Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinu .......... 41

Gambar 3.3 Struktur Fungsi Rancangan 1 ................................................ 42

Gambar 3.4 Struktur Fungsi Rancangan 2 ................................................ 43

Gambar 3.5 Struktur Fungsi Rancangan 3 ................................................ 44

Gambar 3.6A Gambar Skema Prinsip Kerja dari Reaktor Gasifikasi Sekam 49

Gambar 3.6B Gambar Instalasi Reaktor Gasifikasi Sekam .......................... 51

ix
Gambar 3.7A Tabung Reaktor (Gasifier Reactor) ....................................... 52

Gambar 3.7B Dimensi Tabung Reaktor ...................................................... 52

Gambar 3.8A Ruang Penampungan Abu Sekam ......................................... 53

Gambar 3.8B Dimensi Ruang Penampungan Abu Sekam ........................... 54

Gambar 3.9 Siklon (Cyclone) ................................................................... 55

Gambar 3.10 Blower Sentrifugal AC 220 Volt-1 Amp ............................... 55

Gambar 3.11 Burner ................................................................................... 56

Gambar 3.12 Penempatan Rancangan Reaktor Gasifikasi Sekam ............... 57

Gambar 3.13 Mekanisme Penggerak Pengeluaran Abu Sekam ................... 58

Gambar 3.14A Rancangan Dudukan Motor Listrik pada Rangka .................. 58

Gambar 3.14B Rangkaian pada Motor Listrik AC ........................................ 59

Gambar 3.15 Rancangan Dudukan Reduser pada Rangka .......................... 60

Gambar 3.16 Rancangan Sistem Transmisi Puli dan Sabuk V .................... 61

Gambar 3.17 Poros Horizontal ................................................................... 62

Gambar 3.18 Poros Vertikal ....................................................................... 63

Gambar 3.19 Roda Gigi Kerucut ................................................................ 64

Gambar 3.20 Screw Conveyor ................................................................... 64

Gambar 3.21 Pillow Blok ........................................................................... 64

Gambar 3.22 Kopling Cakar ...................................................................... 64

Gambar 4.1 Sistem Reduksi Putaran ........................................................ 73

Gambar 4.2 Skema Susunan Sistem Reduksi ............................................ 74

Gambar 4.3 Transmisi Daya Sistem Reduksi Putaran ............................... 76

x
Gambar 4.4 Transmisi Sabuk-V dan Puli .................................................. 77

Gambar 4.5 Penentuan Sumbu Sebagai Acuan ......................................... 82

Gambar 4.6 Analisis Gaya pada Puli dan Sabuk V ................................... 83

Gambar 4.7 Poros pada Motor Listrik ...................................................... 85

Gambar 4.8 Poros pada Reduser ............................................................... 90

Gambar 4.9 Kopling Cakar yang Digunakan ............................................ 95

Gambar 4.10 Dimensi Kopling Cakar ........................................................ 96

Gambar 4.11 Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut .............................. 99

Gambar 4.12 Roda Gigi Kerucut Istimewa Roda Gigi “Miter” ................... 100

Gambar 4.13 Gaya yang terjadi pada Roda Gigi Kerucut ........................... 106

Gambar 4.14 Dimensi Roda Gigi Kerucut dengan Poros dan tumpuannya... 107

xi
DAFTAR TABEL

halaman

Tabel 2.1 Produksi Padi di Indonesia .......................................................... 7

Tabel 2.2 Nilai Kalor Pembakaran dan Harga Per Satuan Energi dari

Berbagai Bahan Bakar dan Energi Listrik ................................... 8

Tabel 2.3 Sifat-sifat Sekam Padi Sebagai Bahan Bakar ............................... 10

Tabel 2.4 Komponen-komponen yang Terkandung dalam Udara Kering .... 22

Tabel 3.1 Hasil Kuesioner Pendahuluan ..................................................... 29

Tabel 3.2 Daftar Permintaan Konsumen ..................................................... 30

Tabel 3.3 Hasil Kuesioner Tingkat Kepentingan ......................................... 31

Tabel 3.4 Hasil Kuesioner Kompetisi Konsep ............................................ 33

Tabel 3.5 Hasil Pembuatan Spesifik Teknik ............................................... 34

Tabel 3.6 Target Spesifikasi Teknik ........................................................... 35

Tabel 3.7 Kriteria Perancangan .................................................................. 36

Tabel 3.8 Tuntutan Perancangan ................................................................ 38

Tabel 3.9 Seleksi Variasi Konsep ............................................................... 46

Tabel 4.1 Kebutuhan Energi untuk Memasak Makanan dan untuk

Mendidihkan Air ........................................................................ 66

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Gambar cara kerja reaktor gasifikasi sekam sistem kontinu

Lampiran B Foto-foto reaktor gasifikasi sekam sistem kontinu

Lampiran C Gambar teknik reaktor gasifikasi sekam sistem kontinu

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Biomassa (biomass) merupakan sumber energi yang potensial karena

sifatnya yang dapat diperbaharui (renewable) dan murah selain matahari.

Biomassa adalah segala material organik yang terkandung dalam tumbuh-

tumbuhan yang ada di darat maupun di laut. Kayu merupakan sumber biomassa

yang melimpah didaerah tropis, khususnya di Indonesia.

Penggunaan kayu sebagai bahan bakar mulai berkurang dan dibatasi

seiring dengan menipisnya cadangan hutan, oleh karena itu penggunaan kayu

sebagai sumber biomassa sudah tidak bisa lagi dikatakan murah dan ramah

lingkungan.

Sumber biomassa selain kayu adalah sekam atau kulit padi. Sekam sendiri

merupakan limbah yang dihasilkan dari proses pasca panen, dengan nilai

pembakaran kalor rendah (LHV, Lower Heating Value) yang relatif tinggi yaitu

sebesar 14.150 KJ/Kg. Hal ini dapat dijadikan alasan untuk mengganti kayu dan

sumber energi lainnya, mengingat Indonesia sebagai negara agraris dengan

produksi padi yang melimpah yaitu sekitar 52 juta ton pertahun. Jumlah total

sekam yang dapat dihasilkan sekitar 15.6 juta ton pertahun, 30% dari total

produksi padi.

Dengan semakin tingginya tingkat perkembangan teknologi dan

meningkatnya kebutuhan akan bahan bakar yang murah, selain menggunakan

1
bahan bakar gas LPG, solar dan minyak tanah yang harganya terus naik seiring

dengan pengurangan subsidi yang dilakukan oleh pemerintah sehingga sudah

tidak dapat dikatakan ekonomis lagi. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu

tersedianya reaktor gasifikasi sebagai pemanas atau yang lainnya yang

menggunakan bahan bakar murah atau dengan bahan bakar biomassa yang

sifatnya dapat diperbaharui (renewable). Dalam pembuatan tugas akhir ini, kami

mencoba membuat sebuah reaktor gasifikasi kontinu dengan menggunakan bahan

bakar biomassa yaitu kulit padi (sekam) dengan memanfaatkan gas dari hasil

pembakaran kulit padi tersebut yang diharapkan dapat berguna dalam dunia

industri.

1.2 Batasan Masalah

Batasan masalah pada perancangan reaktor gasifikasi kontinu dengan

menggunakan bahan bakar kulit padi (sekam) adalah sebagai berikut :

1. Menentukan rancangan dimensi yang mendukung terciptanya sebuah reaktor

gasifikasi sistem kontinu.

2. Menentukan sistem mekanisme pengeluaran abu pada reaktor gasifikasi sistem

kontinu yang sesuai dengan kriteria perancangan.

3. Menghitung kebutuhan minimal daya motor listrik untuk mewujudkan sebuah

mekanisme kontinu dari reaktor gasifikasi.

4. Menghitung dimensi utama dari komponen-komponen utama seperti poros,

pasak, roda gigi, puli, sabuk dan bantalan yang mendukung mekanisme

tersebut.

2
1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah merancang reaktor gasifikasi

kontinu menggunakan bahan bakar kulit padi (sekam). Sistem yang digunakan

yaitu sistem kontinu dengan pemanfaatan gas-gas diantaranya gas-gas yang

mudah terbakar yang dihasilkan ketika sekam dibakar, seperti karbon monoksida

(CO), hidrogen (H2), dan metana (CH4).

Pembakaran sekam dilakukan secara kontinu yaitu dengan arah tiupan

blower yang mengisap dari bawah unggun sedangkan sekam baru ditumpuk

secara kontinu diatas unggun. Abu hasil pembakaran akan turun keluar langsung

pada saluran pembuangan (Screw Conveyor) dengan adanya sebuah rangkaian

mekanisme yang berkaitan seingga tercapai sebuah mekanisme yang kontinu.

1.4 Metodologi Penyelesaian Masalah

Masalah yang ada dalam tugas akhir ini diselesaikan dengan pendekatan

empiris dengan memanfaatkan hasil penelitian yang releven, studi lapangan dan

studi literatur yang bersumber dari buku-buku, jurnal dan internet.

1.5 Sistematika Penulisan Laporan

Adapun bentuk penyajian laporan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, batasan masalah, tujuan

penulisan, metodologi penyelesaian masalah dan sistematika penulisan

laporan.

3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka meliputi alasan penggunaan sekam sebagai biomassa,

karakteristik sekam padi sebagai biomassa, metoda pembakaran sekam

padi, jenis-jenis reaktor gasifikasi yang sudah ada dan dasar teori

mengenai pembakaran sekam sebagai dasar perancangan reaktor

gasifikasi sekam.

BAB III PERANCANGAN

Perancangan meliputi tahapan/proses perancangan, penjabaran tugas

(clarification of the task), perancangan dengan konsep (conceptual

design), perancangan wujud (embodiment design), prinsip kerja reaktor

gasifikasi sekam, instalasi reaktor gasifikasi sekam dan instalasi

mekanisme sistem penggerak untuk pengeluaran abu.

BAB IV PERHITUNGAN

Perhitungan terdiri dari analisis energi reaktor gasifikasi sekam,

perhitungan dari segi mekanika meliputi kerja yang diperlukan reaktor

gasifikasi sekam sistem kontinyu, perhitungan transmisi daya pada

transmisi sabuk-v, kopling cakar dan roda gigi kerucut serta analisis

gaya

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi tentang kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sekam Sebagai Biomassa

Biomassa adalah semua material organik yang terkandung dalam tumbuh-

tumbuhan yang ada di muka bumi. Biomassa merupakan energi potensial karena

sifatnya yang terbaharui (renewable) dibandingkan dengan bahan bakar fosil yang

harus menunggu jutaan tahun agar dapat diproses sebagai bahan bakar untuk bisa

digunakan.

Biomassa dapat dikonversikan ke dalam bentuk energi yang lain, Tetapi

sebelumnya dilakukan penanganan lebih lanjut agar biomassa tersebut dapat

meningkatkan kualitas akhir dari pembakaran. Proses-proses tersebut antara lain

sebagai berikut :

1. Pengeringan

Proses pengeringan dilakukan untuk mengurangi kandungan air dari

biomassa tersebut agar sesuai dengan yang diinginkan. Pengeringannya dapat

dilakukan dengan proses mekanik dan termal atau ditempatkan di udara terbuka.

Untuk kadar air lebih dari 50% dilakukan proses pengeringan secara mekanik

yaitu dengan menggunakan metode sentrifugal dan dipres. Untuk kadar air

kurang dari 50% dilakukan proses pengeringan secara termal.

2. Pembentukan

Biomassa dicetak dengan berbagai bentuk dan ukuran, hal ini biasanya

dilakukan pada kayu mengingat dimensinya yang besar sehingga mudah dibawa

5
atau dipindahkan. Selain itu kayu yang dibentuk chips dapat lebih efisien apabila

digunakan untuk memanasakan ketel (boiler).

3. Briquetting

Briquetting adalah proses penghilangan sebagian material organik,

contohnya pada sekam padi (rice husk), serbuk gergaji (sawdust) dan kulit dari

biji kopi (coffee husk) yang bertujuan untuk meningkatkan penanganan dan

karakteristik pembakaran. Serbuk dari padi, kopi dan gergaji tadi dibentuk

menyerupai piston, screw dan chips dengan berbagai ukuran.

Pemanfaatan biomassa sudah dilakukan sejak jaman dahulu, contohnya

penggunaan kayu sebagai sumber energi untuk keperluan memasak. Pada

perkembangannnya ditemukan teknik baru dalam mangolah biomassa seperti

proses penguraian (pyrolysis) biomassa padat ke dalam bentuk cair atau gas

(gasification). Sifat-sifat biomassa sebagai bahan bakar antara lain :

1. Terbaharui (renewable).

2. Mempunyai kandungan air yang tinggi, sehingga memerlukan proses lanjutan

sebelum digunakan.

3. Nilai kalor pembakaran (Heating Value) yang rendah bila dibandingkan

dengan bahan bakar yang lain.

4. Menghasilkan kadar SO2 dan NOX yang rendah bila dibandingkan dengan

bahan bakar minyak lainnya.

5. Andal (reliable), dibandingkan dengan sumber energi terbaharui lainnya

misalnya matahari dan angin, biomassa lebih mudah disimpan dan

penggunaannya tidak bergantung pada alam.

6
6. Murah, biasanya merupakan hasil sampingan atau limbah dari pertanian.

Sekam padi merupakan sumber energi potensial untuk dikembangkan di

Indonesia, mengingat padi adalah komoditi pertanian terpenting. Produksi padi

dalam beberapa tahun terakhir menurut Biro Pusat Statistik dapat dilihat pada

tabel di bawah ini :

Tabel 2.1 Produksi Padi di Indonesia (10)

Luas Area Jumlah Pertumbuhan


Tahun
(Ha) (Ton) (%)
2000 11,790,000 51,900,000 2,03
2001 11,500,000 50,460,000 -2.854
2002 11,520,000 51,490,000 2.000
2003 11,480,000 52,140,000 1.247
2004 11,920,000 54,090,000 3.605
2005 11,840,000 54,150,000 0.111
2006 11,870,000 54,750,000 1.096

Sekam padi sebagai biomassa digunakan sebagai bahan bakar untuk proses

pengeringan, memasak ataupun untuk kepentingan sumber energi panas yang

dapat dikonversikan lagi menjadi bentuk energi lain baik dalam skala kecil

ataupun medium. Untuk skala besar dan medium tungku atau ruang bakar sudah

harus mengalami pengembangan lebih lanjut, sehingga dapat membakar tidak

hanya sekam padi tetapi berbagai macam tipe dari biomassa.

Nilai kalor pembakaran (LHV, Lower Heating Value) yang dimiliki oleh

sekam tadi relatif kecil jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya, tetapi

karena pertimbangan ekonomi dalam hal ini harganya yang sangat murah, maka

7
sekam padi layak diperhitungkan untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Berikut ini tabel yang berisi tentang nilai kalor pembakaran dan harga jual sekam

dibandingkan dengan sumber energi lain :

Tabel 2.2 Nilai Kalor Pembakaran dan Harga Per Satuan Energi
dari Berbagai Bahan Bakar dan Energi Listrik (7)

LHV Harga Per Satuan Effisiensi Termal Harga Per Satuan


Bahan Bakar
(KJ/Kg) (Rp/Kg) (%) Energi (Rp/MJ)

Listrik 700 *) 80 66,7

LPG 28000 4000 50 157,1

Minyak Tanah 24100 2500 #) 50 91,3

Batu Bara 24600 1000 50 40,7

Arang Kayu 16400 2000 50 122

Kayu Bakar 24650 1000 70 40,6

Bensin 34800 4500 #) 70 74,3

Solar 37600 4300 #) 50 62,7

Sekam 14150 200 40 21,2

Keterangan :

1. *) Harga listrik dalam Rp/kWH

2. #) Harga dalam satuan Rp/Liter

Harga yang berlaku di pasar lokal Bandung, Januari 2007

Pada tabel 2.1 dapat dilihat bahwa perkiraan total produksi padi pada

tahun 2006 sebesar lebih kurang 55 juta ton, dan apabila diambil rata-rata

rendemen untuk satu kuintal padi bisa menghasilkan 70 kg beras atau sekitar 70%

maka sekam padi yang diperoleh lebih kurang 15,6 juta ton, dikalikan dengan

8
nilai kalor pembakaran 14.150 kJ/kg maka selama satu tahun bisa dihasilkan

energi sebesar 220,74 × 10E6 MJ atau setara dengan daya 6,99 MW. Melihat

besarnya energi yang dihasilkan, sudah seharusnya pemanfaatan sekam padi

sebagai sumber energi dikembangkan, tidak hanya digunakan sebagai alat

pengering atau uuntuk memasak tetapi dapat dikonversikan ke dalam bentuk lain

misalnya energi listrik.

2.2 Karakteristik Sekam Padi Sebagai Biomassa

Sifat yang khas dari sekam padi adalah mengeluarkan asap yang perih di

mata dan bau yang menyengat pada saat dibakar, selain itu karakteristik lain dari

sekam padi adalah susah terbakar. Tidak seperti kayu, sekam padi membutuhkan

waktu pembakaran yang lama sampai bara api yang dihasilkan menjadi stabil.

Pada saat dilakukan pembakaran abu yang dihasilkan cenderung

menggumpal (agglomerat), ini terjadi karena pada saat dibakar sekam padi

mengeluarkan tar yang cukup banyak. Keluarnya tar yang cukup banyak dapat

dicegah dengan perbandingan bahan bakar (sekam padi) dan udara yang tepat.

Selain sifat-sifat yang disebutkan tadi, sekam padi juga memiliki sifat

abrasif karena kandungan silika yang cukup tinggi. Sifat-sifat sekam tadi bisa

dilihat pada tabel berikut :

9
Tabel 2.3 Sifat-sifat Sekam Padi Sebagai Bahan Bakar (7)

Nilai Kalor pembakaran (LHV) 14.150 KJ/Kg

Kadar Air (moisture content) 5,72 %

Kandungan Abu (ash content) 17,14 %

Silika, dalam SiO2 15,91 %


CHN, Selain yang terkandung dalam H2O

C 0.37

H 4,71 %

N 0,36 %

2.3 Metoda Pembakaran Sekam Padi

Secara umum penggunaan sekam sebagai bahan bakar dapat dilakukan

dengan cara, yaitu :

1. Dibakar langsung dalam timbunan, cara ini banyak digunakan oleh pengrajin

batu bata tradisional.

2. Dengan menggunakan sistem briquetting; sekam padi dipadatkan menjadi

bermacam-macam bentuk, seperti : piston, silinder dan bentuk lain sesuai

dengan penggunaan.

3. Dibakar diatas unggun (great burner) kemudian udara panasnya dialirkan

oleh blower ke ruang pengering atau bisa digunakan untuk keperluan dapur,

misalnya pada industri kerupuk.

4. Dengan proses pembakaran fluidized pada proses ini sekam padi dibuat

berkelakuan seperti fluida dengan cara meniupkan udara sehingga sekam

terapung di udara dan terbakar.

10
2.4 Jenis Penggasifikasi Sekam

Terdapat dua tipe umum penggasifikasi yang digunakan dalam

penggasifikasian kulit padi. Kedua tipe ini adalah penggasifikasi padat dan

cairan. Untuk tungku gas sekam, tipe penggasifikasi fixed-bed lebih cocok

digunakan. Bagaimana pun, dari perbedaan tipe dari penggasifikasi fixed-bed,

tipe down (menurun) draft dan cross draft (menyilang) dapat di presentasikan

seperti dibawah ini, yang telah ditemukan untuk lebih mengefektifkan sekam.

2.4.1 Penggasifikasi Sekam Jenis Down-Draft

Pada tipe ini (Gambar 2.1A), gas mengalir ke bawah mengantarkan asap

pembakaran ke dalam abu panas area penggasifikasian, membakar tar,

menghasilkan pembakaran yang bersih. Sisa bahan bakar masuk ke area

pembakaran. Pengisian kembali di atas dimaksudkan untuk pengoperasian

berkelanjutan

Secara jelas, penggasifikasi IDD atau T-LUD menyalakan bahan bakar

yang ada di atas reaktor. Bahan bakar tak bergerak dan area sisa nyala api

bergerak ke bawah. Pengisian kembali oleh bahan bakar batches, menghambat

proses penggasifikasian.
Air

Gas

Gambar 2.1A DownDraft Type Gasifier (Bottom-Lit) (7)

11
Gambar 2.1B Inverted DownDraft Type Gasifier is Top-Lit with UpDraft (7)

2.4.2 Penggasifikasi Sekam Jenis Cross-Draft

Pada jenis ini (Gambar 2.2), arah gas menyilang kolom bahan bakar

secara tegak lurus dengan arah area pembakaran. Pada jenis reaktor ini

penggasifikasi reaktor akan terus berlangsung ketika pengisian kembali bahan

bakar dan pengeluaran abu yang sedang dilakukan. Asap yang ditimbulkan dari

jenis reaktor ini tidak terlihat. Bagaimanapun, hal ini dapat dipisahkan dengan

merubah metode pembakaran bahan bakar dan penyediaan sebuah tempat untuk

asap. (untuk mengeluarkan dari tungku selama operasi berjalan).

Gambar 2.2 Cross Draft Type Rice Husk Gasifier (7)

12
2.4.3 Penggasifikasi Sekam Jenis Up-Draft

Dalam jenis ini (Gambar 2.3), api pertama ada di bawah, gas panas

bergerak ke atas selanjutnya keluar secara menyebar, selama bahan bakar terus

turun, akan tersedia ruang. Apabila jenis ini bekerja kurang baik dengan sekam,

keadaan kurang baik ini disebabkan produksi asap yang terlalu banyak selama

operasi berlangsung. Tungku sekam untuk jenis ini harus di desain dengan

cerobong untuk mengalihkan gas berlebih selama operasi berlangsung.

Gambar 2.3 Up Draft type Rice Husk Gasifier (7)

2.5 Reaktor-reaktor Penghasil Gas dari Sekam

2.5.1 Reaktor Penghasil Gas dari Sekam DA-IRRI

Tungku ini (Gambar 2.4) telah dikembangkan pada tahun 1986 selama

program kerjasama DA-IRRI untuk peralatan pertanian kecil di Philipina oleh Dr.

Robert Stickney, Engr. Vic Piamonte, dan Penulis. Tungku mengadopsi tipe down

draft dengan tungku pembakaran ganda dan pembakaran dari bawah. Gas hasil

pembakaran terlebih dahulu didinginkan di dalam pipa penukar panas yang

dicelupkan dalam air sebelum disalurkan ke bagian burner.

13
Selama proses, udara diisap dari reaktor dan ditiupkan ke pembakar

menggunakan sebuah blower listrik yang diletakkan diantara reaktor dan

pembakar.

Gambar 2.4 Reaktor Penghasil Gas dari Sekam DA-IRRI (7)

Tungku, seperti terlihat diatas, mempunyai diameter dalam reaktor 14,5

cm dan diameter luar reaktor 23 cm. Panjang bagian dalam 20 cm sedangkan

bagian luar 30 cm. Lubang kawat 3 mm persegi digunakan untuk menghubungkan

bahan bakar sekam. Tungku dioperasikan dengan tempat pertama lapisan arang

sekam di atas panggangan ditempatkan kira-kira tebal 1 cm sekam berikutnya

lapisan sebelum pembakaran. Blower dihidupkan untuk mengisap udara yang

dibutuhkan untuk pembakaran bahan bakar. Ketika semua bahan bakar terbakar

sempurna, tambahkan sejumlah sekam sebagai asupan ke dalam reaktor sampai

terisi penuh. Hasil uji menunjukan bahwa gas yang mudah terbakar berwarna

kebiru-biruan dihasilkan dari tungku. Pengosongan dan pengisian kembali sekam

14
dalam tungku ini hanya memerlukan kurang dari 5 menit. Gambar skema tungku

ditunjukkan dalam Gambar 2.5 di bawah.

Gambar 2.5 Gambar Skema dari Penggasifikasi Sekam DA-IRRI (7)

2.5.2 CPU Single-Burner Batch-Type Rice Husk Gasifier Stove

Tungku ini (Gambar 2.6) telah dikembangkan pada tahun 1989 di CPU

pada dasarnya teknologi gasifikasi sekam ini dititikberatkan untuk kegiatan

memasak dalam rumah tangga. Berikut adalah penggasifikasi tipe down-draft

dengan double-core dan merupakan pengembangan dari versi DA-IRRI.

Kesamaan, tungku ini mengikuti prinsip dari penggasifikasi tipe down-draft

dengan double core dimana pembakaran bahan bakar dimulai dari bawah reaktor.

Gambar 2.6 Tungku Sekam Satu Pembakar CPU (7)

15
Reaktor gasifikasi ini, seperti ditunjukkan skema dalam Gambar 2.7

dibawah, mempunyai diameter 15 cm dan tinggi 70 cm dan dipisahkan dari

pembakar. Sekam dibakar dalam reaktor dimulai dari bawah dan daerah

pembakaran bergerak ke atas sampai menjangkau atas paling akhir reaktor.

Bahan bakar sekam diberikan terus menerus ke dalam reaktor sampai daerah

pembakaran menjangkau paling atas bagian dari bahan bakar. Prinsip kerja

tungku ini adalah tipe Down-draft dimana udara dilewatkan sepanjang kolom

pembakaran arang. Motor listrik berdaya 90 watt digunakan untuk mengisap

udara dan gas dari reaktor. Jenis tungku ini mengambil pembakar jenis LPG

untuk memudahkan pembuatan. Jumlah gas dalam tungku diatur oleh alat yaitu

sebuah katup. Sebuah cerobong asap juga telah disediakan untuk tungku untuk

mengeluarkan sisa pembakaran dan kelebihan gas-gas, jika diinginkan.

Gambar 2.7 Gambar Skema Tungku Sekam Satu Pembakar CPU (7)

16
Hasil dari uji prestasi pada jenis tungku ini menunjukan bahwa tungku

beroperasi untuk waktu total dari 0.98 sampai 1,25 jam per beban. Jumlah

konsumsi bahan bakar per beban adalah 1,96 sampai 2,72 kg menghasilkan dari

0,53 sampai 1,04 arang. Uji mendidihkan dan memasak menunjukan bahwa 1,2

sampai 4,0 liter air dapat dididihkan ditungku dalam 10 sampai 34 menit, dan 0,7

sampai 1,0 kg beras dapat dimasak ditungku dalam 16 sampai 22 menit.

2.5.3 CPU Prototype IDD/T-LUD Rice Husk Gas Stove

Model-model dari tungku ini (Gambar 2.8 & 2.9) adalah model prototype

yang diperkenalkan yaitu tungku IDD/T-LUD. Tungku ini sama sekali berbeda

dari model Sri Lanka dalam faktor-faktor rancangan pembakar, pemanggang

arang, dan mekanisme pengaturan kecepatan kipas. Reaktor mempunyai diameter

dalam 15 cm dan tinggi 25 cm. Ruang abu tepat dibawah reaktor. Kipas dipasang

dalam pintu ruang abu, dan saklar untuk menghidupkan dan mematikan dilakukan

dengan menggunakan saklar putar. Tungku dapat memuat 600 gram sekam per

beban. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan gas pembakaran pada

pembakar tungku adalah kira-kira 32 sampai 35 detik. Waktu total yang

dibutuhkan sebelum semua bahan bakar sekam dihabiskan berkisar dari 15 sampai

20 menit, tergantung pada jumlah udara yang disediakan oleh kipas untuk reaktor

selama memasak. Setelah semua sekam dibakar, jumlah arang dan abu yang

dihasilkan berkisar dari 122 sampai 125 gram.

17
Gambar 2.8 Model 1 Tungku Gas Sekam Prototype IDD/TLUD CPU (7)

Perhitungan daya keluaran tungku berkisar dari 0,237 sampai 0,269 kW.

Laju konsumsi bahan bakar berkisar dari 0,33 sampai 0,43 kg sekam per menit.

Waktu yang dibutuhkan untuk daerah pembakaran sampai berjalan dari atas

sampai bawah reaktor berkisar dari 1,74 sampai 2,27 cm per menit. Efisiensi

termal didapat pada kisaran dari 12,28 sampai 13,83%.

Uji mendidihkan juga menunjukan bahwa satu liter air, dengan temperatur

awal 32 °C, mendidih sampai 100 °C dalam 9,0 sampai 9,5 menit. Selama

pengujian, tidak ada asap dan abu-abu beterbangan yang terlihat keluar dari

tungku.

18
Gambar 2.9 Model 2 Tungku Gas Sekam Prototype IDD/TLUD CPU (7)

2.5.4 CPU Cross-Flow Type Rice Husk Gasifier Stove

Tungku ini (Gambar 2.10) telah dicontoh setelah tungku penghasil gas

kayu AIT. Tungku ini telah dirancang sebagai percobaan untuk penggasifikasi

sekam untuk mode kontinu sehingga pengoperasiannya dapat secara kontinyu,

seperti yang diinginkan. Tungku menggunakan motor DC 3 watt untuk

menyediakan kebutuhan udara untuk gasifikasi sampai 15 cm kolom sekam dalam

penggasifier. Bahan bakar sekam mengalir dalam reactor penggasifikasi dengan

cara vertikal sedangkan udara bergerak masuk lapisan membakar sekam dengan

cara horizontal. Pembakar, yang mana ditempatkan di atas satu sisi tungku,

membakar bahan baker sekam dan disinilah proses memasak terjadi.

Asap keluaran terlihat jelas dalam tungku jenis ini. Water seal dibuat

diatas ruang pembakaran dan dibawah ruang abu untuk menjaga gas hasil

pembakaran langsung ke burner. Hasil dari uji prestasi menunjukan bahwa

19
tungku membutuhkan 2 kg sekam per beban. Waktu operasi per beban berkisar

dari 37 sampai 47 menit. Satu liter air dapat dididihkan ditungku dalam 8 sampai

11 menit.

Gambar 2.10 The CPU Cross Flow Rice Husk Gasifier Stove (7)

2.5.5 San San Rice Husk Gasifier Stove

Seperti dilaporkan di internet, tungku ini (Gambar 2.11) telah

dikembangkan oleh U. Tin Win, dibawah bimbingan Prof D. Grov dari Institut

Teknologi Indian dan oleh Dr. Graeme R. Quick. Tungku membakar sekam

langsung dengan pemberian udara lewat terus menerus pada tungku yang penuh

dengan lubang-lubang dari bawah sampai ke atas. Udara primer mengalir

langsung dalam daerah pembakaran penghasil gas pada bagian bawah tungku.

Sebuah engsel penutup dipasang untuk mengeluarkan abu bila perlu. Udara

20
sekunder dilewatkan terus menerus ke empat daerah tungku. Tungku dapat juga

menggunakan bahan bakar dengan campuran potongan sampah-sampah dapur,

daun-daun dan biomass segar, dan sekam. Masalah seringnya penyumbatan abu

dalam tungku dapat dikurangi dan asap yang dikeluarkan dapat diabaikan dan

berkurangnya polusi seperti dilaporkan.

Gambar 2.11 The San San Rice Husks Gasifier (7)

21
2.6 Teori Pembakaran

Reaksi kimia terjadi ketika ikatan-ikatan molekul dari reactants berpisah,

kemudian atom-atom dan elektron menyusun kembali membentuk unsur-unsur

pokok yang berlainan yang disebut hasil (products). Oksidasi yang terjadi secara

kontinyu pada bahan bakar menghasilkan pelepasan energi sebagai hasil dari

pembakaran.

Pembakaran dapat dikatakan sempurna (stoichiometric) apabila semua

karbon (C) yang terkandung dalam bahan bakar diubah menjadi karbondioksida

(CO2) dan semua hidrogen diubah menjadi air (H2O). Jika salah satu tidak

terpenuhi, maka pembakaran tidak sempurna.

Syarat terjadinya pembakaran adalah adanya oksigen (O2). Dalam

apliakasi pembakaran yang banyak terjadi, udara menyediakan oksigen yang

dibutuhkan. Komposisi yang terkandung pada udara kering dapat dilihat dari

tabel di bawah ini :

Tabel 2.4 Komponen-komponen yang Terkandung dalam Udara Kering (7)

Fraksi
Komponen
Mol (%)

Nitrogen 78.08

Oksigen 20.95
Argon 0.93

Karbondioksida 0.03

Neon, Helium, Metana dll 0.01

22
Unsur lain yang dapat terbakar adalah sulfur (S). Kontribusi dari sulfur

tidak banyak dalam hal pelepasan energi, tetapi dapat menyebabkan masalah

polusi dan korosi yang signifikan. Nilai 3,76 yang menyertai nitrogen (N2)

menunjukkan pembakaran dilakukan dengan memakai udara bebas, dimana udara

bebas diasumsikan sebagai campuran dari oksigen (O2) dan 3,76 nitrogen (N2)

yang inert.

Dua parameter yang sering digunakan untuk menentukan jumlah dari bahan

bakar dan udara pada proses pembakaran adalah perbandingan udara bahan bakar

Air Fuel Ratio (AFR) atau sebaliknya Fuel Air Ratio (FAR).

Perbandingan udara bahan bakar dapat diartikan sebagai jumlah udara

dalam suatu reaksi jumlah bahan bakar. AFR dapat ditulis dalam basis mol

(molar basis) atau basis massa (mass basis).

Konversi antara kedua nilai ini disempurnakan dengan menggunakan berat

molekul dari udara (Mair) dan bahan bakar (M fuel).

massa air molai r × M air


=
massa fuel molfuel × M fuel

 
(AF)mass = (AF)molar  M air 
 M fuel 

Hasil dari pembakaran akan terdapat karbondioksida, air dan nitrogen yang

menyertai oksigen (3,76 N2) dan nitrogen yang terdapat dalam bahan bakar. Pada

hasil pembakaran tidak terdapat oksigen dalam bentuk bebas.

23
Untuk pembakaran sempurna metana (CH4) dapat dilihat pada reaksi di

bawah ini:

CH 4 + a (O 2 + 3,76 N 2 ) → bCO 2 + cH 2 O + dN 2

Dengan menggunakan prinsip kekekalan massa sebelum dan sesudah reaksi untuk

karbon, hidrogen dan nitrogen, maka nilai a, b, c dan d dapat diketahui.

Pembakaran adalah hasil dari reaksi kimia yang kontinyu dan rumit yang

hasilnya bergantung pada banyak faktor. Sebagai contoh, ketika bahan bakar

dibakar dalam silinder pada internal combustion engine, tekanan dan temperatur

hasil dari pembakaran selalu berubah. AFR, kecepatan pembakaran, konstruksi

ruang bakar, adalah faktor lain yang sangat mempengaruhi proses pembakaran.

Dalam keadaan normal, jumlah pasokan udara dapat lebih besar atau

kurang dari jumlah teoritik. Sebagai contoh, 150 % udara teoritik berarti asupan

udara aktual adalah 1,5 kali dari jumlah udara teoritik atau sama dengan 50 %

udara berlebih (excess air) dan 80 % dari udara teoritik sama dengan 20 %

kekurangan udara.

AFR dari suatu pembakaran berpengaruh menentukan bagaimana

komposisi produk dan juga terhadap jumlah panas yang dilepaskan selama reaksi

berlangsung, maka diperlukan parameter baru yang mempresentasikan komposisi

campuran bahan bakar udara yaitu rasio ekuivalen FAR (Fuel Air Equivalent

Ratio, φ ).

φ=
(F/A )actual dan kebalikannya : =
(A/F)actual
(F/A )stoichiometric (A/F)stoichiometric

24
Jika nilainya lebih besar dari 1, campuran yang mengalami proses

pembakaran adalah campuran miskin. Istilah lainnya adalah koefisien udara

berlebih (excess air coefficient) = λ - 1.

25
BAB III

PERANCANGAN

3.1 Tahapan/Proses Perancangan

Perancangan merupakan langkah awal dari suatu proses produksi,

merancang berarti merumuskan dan memberikan pemecahan atas suatu masalah

yang sedang dihadapi. Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan yang bertujuan

untuk memperoleh reaktor gasifikasi sekam yang memiliki sistem kontinyu dan

mudah perawatannya.

Langkah awal dari perancangan ulang adalah memperjelas tujuan dari

perancangan yang sedang kita lakukan, sehingga dapat diketahui masalah yang

sebenarnya yang sedang dihadapi. Untuk itu perlu dibuat suatu daftar persyaratan

benda yang akan dirancang. Data merupakan sarana terciptanya sebuah analisis

yang baik.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan yang tepat yaitu dengan

menggunakan rumah kualitas (House of Quality) dalam upaya untuk mendapatkan

reaktor gasifikasi sekam sistem kontinyu yang diinginkan.

Untuk membangun House of Quality yang baik, pertama harus mengetahui

apa keinginan konsumen dilihat dari beberapa aspek yang mereka inginkan,

sebagai perancang yang harus mampu menjembatani keinginan konsumen

berdasarkan tingkat kepentingan yang mereka inginkan dan tindakan apa yang

akan perancang penuhi untuk memenuhi keinginan konsumen, sehingga dapat

diketahui kelebihan dan kekurangan produk yang perancang tawarkan dengan

26
produk yang sudah ada di pasaran. Didalam House of Quality ini perancang

membuat beberapa karakteristik teknis yang bertujuan untuk memperoleh solusi

dari keinginan konsumen tersebut.

3.2 Penjabaran Tugas (Clarification of the Task)

Poin pertama yang harus dilakukan oleh perancang ketika memulai

tahapan perancangannya adalah menjelaskan Penjabaran Tugas (Clarification of

the Task) yaitu menghimpun keinginan konsumen tentang produk yang akan

dirancang dan membuat daftar spesifikasi dari perancangan produk tersebut.

Pada penjabaran tugas ini akan dijelaskan beberapa tahapan yang harus

diselesaikan oleh perancang diantaranya adalah sebagai berikut :

Tahap 1 : Menentukan konsumen, siapakah mereka?

Pada tahap ini perancang menentukan tiga konsumen utama yang

mempunyai peranan penting berkaitan dengan produk yang akan dirancang.

Berikut daftar konsumen tersebut :

1. Pemilik perusahaan

Pihak ini dipilih sebagai salah satu konsumen karena mereka sangat

berpengaruh dalam menentukan produk yang akan digunakan. Mereka harus tahu

apakah produk yang akan dirancang mampu bekerja sesuai dengan yang

diharapkan, hemat energi, awet, murah atau justru sebaliknya. Oleh karena itu

sangatlah penting untuk mengetahui permintaan apa saja yang mereka inginkan.

27
2. Operator

Pihak ini dipilih sebagai salah satu konsumen karena merekalah yang

mengetahui mengenai karakter material yang akan diproses di lapangan dan yang

akan menggunakan produk yang kita rancang. Oleh karena itu sangatlah penting

untuk mengetahui permintaan apa saja yang mereka inginkan.

3. Teknisi

Pihak ini dipilih sebagai salah satu konsumen karena merekalah yang akan

merawat dan memperbaiki produk yang kita rancang bila terjadi kerusakan. Oleh

karena sangatlah penting untuk mengetahui permintaan apa saja yang mereka

inginkan.

Tahap 2 : Menentukan permintaan-permintaan konsumen : Apa yang mereka

inginkan?

Pada tahap ini perancang mencari tahu permintaan-permintaan apa saja

yang diinginkan oleh konsumen terpilih mengenai reaktor gasifikasi sekam sistem

kontinyu yang akan dirancang. Metoda yang digunakan adalah metoda survey

yang dilakukan meliputi tanya jawab dan membuat kuesioner yang diajukan

kepada para konsumen.

Untuk lebih jelasnya mengenai kuesioner yang diajukan dapat dilihat di

lampiran. Berikut merupakan hasil kuesioner yang diajukan :

Keterangan : P = Penting

TP = Tidak penting

28
Tabel 3.1 Hasil Kuesioner Pendahuluan

Pemilik
Operator Teknisi
NO ATRIBUT Perusahaan

P TP P TP P TP
1 Bersifat kontinuitas P P P
2 Mempunyai bentuk dan ukuran
yang memudahkan dalam P P P
pengoperasian

3 Menggunakan motor listrik


sebagai penggerak keluaran abu
P P P

4 Memiliki kapasitas reaktor


yang besar
P P P

5 Dapat dioperasikan dengan


sedikit pekerja
P P P

6 Mudah dibersihkan P P P
7 Mudah dalam perawatan P P P
8 Aman dalam pengoperasian P P P
9 Mempunyai umur yang panjang P P P
10 Mudah pemindahan dan
penempatan (praktis)
P P P

11 Mudah dibuat (manufaktur dan


perakitan)
P P P

12 Biaya operasional rendah P P P


13 Spare part mudah didapat
di pasaran
P P P

14 Material yang berkontak dengan


reaktor bersifat tahan panas
P P P

Keterangan : Atribut terpilih (permintaan terpilih) adalah permintaan yang

dinyatakan penting oleh ketiga konsumen tersebut di atas.

Sehingga dari hasil kuesioner pendahuluan didapat daftar permintaan

utama konsumen adalah sebagai berikut :

29
Tabel 3.2 Daftar Permintaan Konsumen

NO DAFTAR PERMINTAAN

1 Bersifat kontinuitas

2 Mempunyai bentuk dan ukuran yang


memudahkan dalam pengoperasian

3 Menggunakan motor listrik sebagai penggerak


keluaran abu

4 Memiliki kapasitas reaktor yang besar

5 Dapat dioperasikan dengan sedikit pekerja


6 Mudah dalam perawatan

7 Aman dalam pengoperasian

8 Mudah pemindahan dan penempatan (praktis)

9 Spare part mudah didapat di pasaran

10 Material yang berkontak dengan reaktor


bersifat tahan panas

Tahap 3 : Menentukan permintaan relatif tentang permintaan konsumen

Pada tahap ini dilakukan pembobotan terhadap daftar permintaan dengan

cara membuat kuesioner yang diajukan kepada konsumen. Kuesioner yang

dimaksud adalah kuesioner tingkat kepentingan. Pada kuesioner ini masing-

masing konsumen memiliki 100 point untuk didistribusikan kepada setiap

permintaan. Semakin besar angka yang dimasukkan, semakin penting pula

permintaan yang dimaksud.

Berikut merupakan hasil kuesioner yang diajukan :

30
Tabel 3.3 Hasil Kuesioner Tingkat Kepentingan

NILAI
NO DAFTAR PERMINTAAN
Pemilik
Operator Teknisi
Perusahaan

1 Bersifat kontinuitas 13 14 11

2 Mempunyai bentuk dan ukuran yang


7 13 7
memudahkan dalam pengoperasian

3 Menggunakan motor listrik sebagai


13 9 11
penggerak keluaran abu

4 Memiliki kapasitas reaktor yang besar 12 9 9

5 Dapat dioperasikan dengan sedikit


12 8 8
pekerja

6 Mudah dalam perawatan 7 7 15


7 Aman dalam pengoperasian 7 9 7
8 Mudah pemindahan dan penempatan 7 9 7
9 Spare part mudah didapat di pasaran 12 8 15

10 Material yang berkontak dengan


10 14 10
reaktor bersifat tahan panas

TOTAL POINT 100 100 100

Dari pembobotan di atas dapat kita pelajari sebagai berikut, misal tingkat

kepentingan antara permintaan “pemasukan sekam bersifat kontinuitas” dengan

“mudah dibersihkan“ bagi pihak “pemilik perusahaan“. Pada distribusi, pemilik

perusahaan memberikan nilai 13 untuk “pemasukan sekam bersifat kontinuitas ”

dan memberi nilai 7 untuk “mudah dalam perawatan”, artinya adalah bahwa

pemilik perusahaan ini lebih mementingkan pemasukan sekam bersifat kontinuitas

dibanding kemudahan dalam perawatan pada reaktor gasifikasi sekam yang akan

dirancang.

31
Tahap 4 : Mengidentifikasi dan mengevaluasi permintaan : Seberapa puaskah

konsumen sekarang?

Pada tahap ini dilakukan pengevaluasian terhadap daftar permintaan

dengan cara membuat kuesioner yang diajukan. Kuesioner yang dimaksud adalah

kuesioner tingkat kepuasaan.

Pada kuesioner ini mereka diminta untuk membandingkan reaktor

gasifikasi sekam yang telah ada dengan daftar permintaan yang ada, dimana

tujuannya mengetahui seberapa besar dapat terpenuhinya permintaan konsumen

terhadap sistem tersebut, sehingga konsumen merasa puas. Pada tahap ini juga

sebuah keputusan tentang keinginan konsumen dapat kita penuhi dengan cara

memberikan keputusan arah perbaikan secara logika hal-hal apa saja yang

mungkin dan sebenarnya terjadi di lapangan. Perbandingan ini dilakukan dengan

cara menuliskan tidak mungkin mengenai permintaan konsumen dalam keadaan

nilai yang sesuai pada tempat yang disediakan terhadap masing-masing sistem

dengan skala sebagai berikut :

• nilai 1 = Konsep yang dimaksud sama sekali tidak memenuhi permintaan

• nilai 2 = Konsep yang dimaksud memenuhi sebagaian kecil permintaan

• nilai 3 = Konsep yang dimaksud memenuhi beberapa permintaan

• nilai 4 = Konsep yang dimaksud memenuhi sebagian besar permintaan

• nilai 5 = Konsep yang dimaksud memenuhi semua permintaan

Untuk atribut yang tidak berhubungan disi dengan lambang ( – ).

Berikut merupakan sebuah concept competitor untuk reaktor gasifikasi

sekam sistem kontinyu :

32
1. Konsep non kontinyu ( Simbol = ¡ )

2. Konsep kontinyu ( Simbol = o )

Berikut merupakan hasil kuesioner yang diajukan :

Tabel 3.4 Hasil Kuesioner Kompetisi Konsep

NILAI KONSEP
NO ATRIBUT
¡ o
1 Bersifat kontinuitas 1 5

2 Mempunyai bentuk dan ukuran yang


3 4
memudahkan dalam pengoperasian

3 Menggunakan motor listrik sebagai penggerak


1 5
keluaran abu

4 Memiliki kapasitas reaktor yang besar 3 5

5 Dapat dioperasikan dengan sedikit pekerja 4 5

6 Mudah dalam perawatan 4 5


7 Aman dalam pengoperasian 4 4

8 Mudah pemindahan dan penempatan (praktis) – –

9 Spare part mudah didapat di pasaran 4 4

10 Material yang berkontak dengan reaktor


– –
bersifat tahan panas

Tahap 5 : Membuat spesifikasi teknik : Bagaimana permintaan konsumen akan

dipenuhi?

Sasaran dari tahap ini adalah :

• Mengubah bahasa permintaan konsumen menjadi bahasa keteknikan.

• Memberi tanda arah kemajuan dimana tanda ( + ) berarti semakin besar

semakin baik dan tanda negative ( – ) semakin kecil semakin baik.

• Memberi satuan untuk setiap spesifikasi teknik.

33
Berikut ini hasil tahap pembuatan spesifikasi teknik :

Tabel 3.5 Hasil Pembuatan Spesifik Teknik

SPESIFIKASI ARAH
NO ATRIBUT SATUAN
TEKNIK KEMAJUAN

1 Bersifat kontinuitas Jumlah sekam terbakar + m3/jam

2 Mempunyai bentuk dan Tinggi reaktor – m


ukuran yang memudahkan
Luas penempatan – m2
dalam pengoperasian

3 Menggunakan motor listrik


sebagai penggerak Daya motor listrik – hp
keluaran abu

4 Memiliki kapasitas reaktor


Volume reaktor – m3
yang besar

5 Dapat dioperasikan dengan


Jumlah operator – #
sedikit pekerja

Jumlah jenis alat


6 Mudah dalam perawatan – #
untuk merawat

7 Aman dalam pengoperasian Jarak isolasi reaktor – mm

8 Mudah pemindahan dan


Berat total reaktor – kg
penempatan (praktis)

9 Spare part mudah didapat Lama waktu mencari


– hari
di pasaran spare part

10 Material yang berkontak Material berkontak


dengan reaktor bersifat dengan reaktor + #
tahan panas tahan panas

Tahap 6 : Menentukan target secara teknik : Berapa nilai yang cocok secara

teknik

34
Berikut adalah target yang ditentukan oleh penulis mengenai reaktor

gasifikasi sekam sistem kontinyu yang dirancang :

Tabel 3.6 Target Spesifikasi Teknik

NO SPESIFIKASI TEKNIK TARGET

1 Jumlah sekam terbakar 42 cm3/s


2 Tinggi reaktor 0,5 m
2
3 Luas penempatan kompor 1m
4 Daya motor listrik 0,25 hp
3
5 Volume reaktor 0,050 m
6 Jumlah operator 1 orang
7 Jumlah jenis alat untuk merawat 2 jenis
8 Jarak isolasi reaktor 50 mm
9 Berat total kompor 50 kg
10 Lama waktu mencari spare part 1 hari

11 Material yang berkontak dengan


Bahan asbes
reaktor bersifat tahan panas

Tahap 7 : Menentukan demand dan wishes : mendefinisikan kriteria apakah suatu

kebutuhan (demand) atau suatu harapan (wishes) tersebut.

Kebutuhan (demand) adalah syarat yang harus dipenuhi dalam proses

perancangan, produk tidak akan diterima jika tidak memenuhi demand. Harapan

(wishes) adalah persyaratan yang sedapat mungkin harus dipenuhi jika

memungkinkan.

35
Tabel 3.7 Kriteria Perancangan

Keseluruhan ukuran / dimensinya memiliki besar


K maksimal tertentu
1 Geometri
Keseluruhan dimensi sistem mempunyai besar
H maksimum tertentu
K Dapat digunakan untuk kapasitas tertentu
2 Kapasitas Sistem mempunyai kapasitas tertentu (tergantung
H dimensi dan ukurannya)
K Sumber energi mekanik dari motor listrik
3 Energi - Efisiensi penggunaan energi sebesar mungkin
H - Energi input sekecil mungkin
Sumber api diperoleh dari api gas pembakaran
K sekam yang berreaksi dengan udara sekitar
4 Thermal
Gas hasil pembakaran sekam dapat dimanfaatkan
H untuk kepentingan energi thermal
- Material yang akan dipakai mudah dicari di
K pasaran
- Material mudah diproses
5 Material - Harga material yang digunakan semurah
mungkin
H - Material memiliki bobot jenis ringan
- Material tahan pada temperatur tinggi
- Dapat dibuat dengan proses pemesinan
konvensional
K - Beberapa komponen dibeli jadi
6 Produksi - Tiap komponen dapat dibuat terpisah
- Waktu pembuatan tiap komponen sekecil
H mungkin
- Mudah dirakit
K Dioperasikan oleh satu orang

Operasi dan - Dapat dioperasikan dengan mudah


7 - Biaya perawatan sekecil mungkin
Perawatan H - Jangka waktu perawatan cukup lama
- Bila ada kerusakan, mudah untuk diperbaiki
- Biaya pembuatan tidak terlalu mahal
8 Biaya H - Dapat bersaing di pasaran
Dapat menghasilkan api yang berwarna kebiru-
Jumlah dan bentuk
K biruan untuk yang dapat dimanfaatkan
9 produk yang dapat - Nyala api dari gas hasil pembakaran konstan
dihasilkan H - Sistem pengeluaran abu sekam dan pemasukan
sekam yang baru berlangsung kontinyu

Keterangan : K (kebutuhan atau demand) dan H (harapan atau wishes)

36
Dari tabel tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan kriteria

sebagai barikut : ” Merancang reaktor gasifikasi sekam sistem kontinyu dengan

bahan yang mudah didapat diproses, dirakit dan diperbaiki dengan mudah”

3.3 Perancangan dengan Konsep (Conceptual Design)

Pada tahap ini perancangan konsep produk dicari/dicoba ditemukan

sebanyak mungkin alternatif konsep produk, yang semuanya memenuhi semua

butir spesifikasi teknis produk. Pada evaluasi produk dipilih satu atau beberapa

konsep produk terbaik saja untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi produk,

berdasarkan kriteria pemilihan yang disusun berdasarkan spesifikasi teknis

produk.

3.3.1 Penentuan Tuntutan Perancangan

Untuk merancang sebuah alat atau produk kita akan selalu dihadapkan

pada pertimbangan-pertimbangan yang cukup banyak. Sehingga dalam

pengambilan keputusan akan mengalami berbagai macam kesulitan. Untuk

memudahkan pengambilan keputusan tersebut perlu dibuat sebuah daftar tuntutan

perancangan yang merupakan suatu batasan bagi perancang agar tidak terjadi over

design.

Dalam sebuah daftar tuntutan perancangan tersebut dapat dibagi menjadi

beberapa bagian antara lain sebagai berikut :

1. Fungsi

Merupakan penjelasan fungsi dari alat tersebut dan cara penggunaannya.

37
2. Tuntutan tetap

Tuntutan yang harus dipenuhi.

3. Tuntutan minim

Tuntutan yang mutlak harus dipenuhi, tetapi apabila tuntutan ini dilebihkan

maka akan memberikan nilai tambah, tanpa menambah biaya pembuatannya.

4. Tuntutan umum

Tuntutan yang harus dipenuhi, tetapi dapat bervariasi.

5. Keinginan

Tidak mutlak harus dipenuhi, tetapi bila dipenuhi akan memberikan nilai

tambah.

6. Termin

Batas waktu penyelesaian.

Dari penjelasan keenam point di atas, maka tuntutan perancangan tersebut

dapat disusun sebagai berikut :

Tabel 3.8 Tuntutan Perancangan

Tuntutan Spesifikasi Keterangan

1. Fungsi Dapat dimanfaatkan untuk


Menghasilkan nyala kepentingan energi thermal seperti
api kebiru-biruan memasak, pemanas, atau dapat
dikonversikan menjadi energi yang
lain misalnya menjadi energi listrik
2. Tuntutan khusus
- Kapasitas ruang bakar - Kapasitas bahan bakar 5 kg Pengambilan kapasitas
maksimum didasarkan atas
dimensi ruang bakar saat
pengisian bahan bakar awal

- Jenis bahan bakar - Kulit padi (sekam) kering

38
- Konstruksi Menggunakan sistem pembakaran Sistem mekanisme
dari bawah keatas dengan hisapan pengeluaran abu dilakukan
blower yang akan membawa gas agar sekam yang terbakar
yang mudah terbakar jika bereaksi dan menjadi abu dapat
dengan O2 di udara terbuka dan dikeluarkan dan bahan
sistem pembuangan abu digerakan bakar sekam baru dapat
oleh rangkaian mekanisme motor ditambahkan kembali
listrik sebagai penggerak sehingga reaktor bersifat
kontinyu

- Pengoperasian - Menggunakan energi listrik Penyalaan sistem


- Menggunakan sistem gasifikasi pembakaran sederhana
sekam secara kontinyu sehingga dilakukan secara terkontrol
api dapat terus menyala.
3. Tuntutan umum
- Dimensi alat - Panjang = 600 mm
- Lebar = 517 mm
- Tinggi = 1633 mm

- Konstruksi - Sederhana dan mudah - Konstruksi harus mengacu


- Mudah dalam pembuatan pada fungsi utama alat
- Mudah dalam pengoperasian

- Perawatan dan - Perawatan dan penggantian - Spesifikasi ini


Pembuatan elemen yang rusak mudah dimaksudkan agar dalam
dilakukan proses pembuatannya tidak
tersendat-sendat hanya
- Biaya perawatan murah karena masalah perawatan
- Menggunakan elemen yang alat
standar

- Kenyamanan - Bentuk ergonomis


- Aman bagi operator

4. Keinginan
Nilai ekonomi Dalam pengoperasian lebih
ekonomis

3.3.2 Pembuatan Struktur Fungsi

Setelah masalah utama diketahui, kemudian dibuat struktur fungsi secara

keseluruhan. Fungsi ini digambarkan dengan blok diagram yang menunjukan

hubungan antara input dan output. Input dan output berupa aliran material, energi

atau sinyal. Apabila fungsi secara keseluruhan terlalu rumit, maka cara yang bisa

mengatasinya adalah membagi menjadi beberapa sub fungsi.

39
3.3.2.1 Fungsi Keseluruhan

Pembuatan struktur fungsi dimaksudkan untuk mempelajari adanya suatu

pengertian bahwa rancangan suatu masalah dapat diibaratkan suatu fungsi yang

terdiri dari adanya suatu hubungan antara komponen input dan komponen output.

Hubungan input dan output dalam mekanisme rancangan yang akan dibuat

dapat berupa fungsi-fungsi keseluruhan sistem dan dibuatnya sub fungsi struktur

untuk menambah kejelasan dari suatu rancangan.

Fungsi keseluruhan sistem mekanisme alat reaktor gasifikasi sekam sistem

kontinyu dibentuk setelah kita mengetahui apa tugas yang dibuat dan spesifikasi

apa yang harus dipenuhi oleh suatu alat tersebut.

Untuk lebih jelasnya struktur fungsi keseluruhan dari suatu mekanisme

rancangan tersebut dapat dilihat pada gambar :

Energi 1 Menggasifikasikan sekam Posisi 1


dan mengeluarkan abu
Energi 2 sisa pembakarannya Posisi 2

Gambar 3.1 Fungsi Keseluruhan Mekanisme Pengeluaran Abu


Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinyu

Posisi 1 dan posisi 2 masing-masing posisi dari mekanisme sebelum diberi

energi (posisi awal) dan setelah diberi energi (posisi akhir).

40
3.3.2.2 Pembuatan Sub Fungsi

Dalam pembuatan struktur fungsi rancangan ditentukan terlebih dahalu,

dimana yang merupakan fungsi utama dari semua bagian yang ada dalam struktur

fungsi keseluruhan. Dari sana baru kita dapat membuat beberapa sub fungsi yang

tentunya merupakan perluasan dari tugas perancangan yang akan dibuat.

Pembuatan sub fungsi dimaksudkan untuk membagi pelaksanaan kerja

sistem kedalam bentuk yang lebih kecil agar semua komponen sistem dapat

terlihat dalam bentuk satuan kerja yang lengkap. Pembagian fungsi utama

kedalam beberapa sub fungsi dapat juga dikatakan sebagai suatu penjelasan

pembagian kerja dari rancangan sistem mekanisme yang dikerjakan dalam

melakukan aktivitasnya.

Bentuk pengembangan dasar rancangan yang telah dikombinasikan dengan

sub fungsi dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Mengeluarkan abu sisa


Transmisi daya hasil pembakaran sekam
Energi 1
Pengubah
Energi
Energi 2
Pengisapan gas Mengeluarkan gas yang
hasil pembakaran mudah terbakar jika
bereaksi dengan udara

Gambar 3.2 Sub Fungsi Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinyu

Beberapa dari alternatif sub fungsi dari mekanisme reaktor gasifikasi

sekam sistem kontinyu yang memungkinkan, untuk alternatif pengeluaran gas

hasil pembakaran yang dilakukan oleh blower sentrifugal dapat dilihat pada

gambar berikut :

41
1. Struktur Fungsi Rancangan 1

Pada alternatif rancangan 1 pembakaran awal sekam berada di dasar

tabung reaktor menutupi kipas penyapu, blower dipasang diatasnya.

Udara ditiupkan oleh blower dari atas tabung reaktor bersama dengan

pemasukan kembali bahan bakar sekam baru pada satu saluran masukan yang

sama. Gas hasil pembakaran sekam akan keluar melalui celah yang telah tersedia

melewati burner, dengan adanya reaksi dengan O2 di udara maka gas tersebut

akan bereaksi menjadi api berwarna kebiru-biruan.

Mekanisme pengeluaran abu dilakukan secara kontinyu oleh beberapa

rangkaian mekanisme yang digerakkan oleh motor listrik.

Gambar 2.3 Struktur Fungsi Rancangan 1

Gambar 3.3 Struktur Fungsi Rancangan 1

42
2. Struktur Fungsi Rancangan 2

Pada alternatif rancangan kedua ini, pembakaran awal sekam berada di

dasar tabung reaktor menutupi kipas penyapu, blower dipasang diatasnya.

Udara ditiupkan oleh blower dari atas tabung reaktor bersama dengan

pemasukan kembali bahan bakar sekam baru tetapi dengan saluran masukan yang

berbeda. Gas hasil pembakaran sekam akan keluar melalui celah yang telah

tersedia melewati burner, dengan adanya reaksi dengan O2 di udara maka gas

tersebut akan bereaksi menjadi api berwarna kebiru-biruan.

Mekanisme pengeluaran abu dilakukan secara kontinyu oleh beberapa

rangkaian mekanisme yang digerakkan oleh motor listrik.

Gambar 3.4 Struktur Fungsi Rancangan 2

43
3. Struktur Fungsi Rancangan 3

Pada alternatif rancangan ketiga, pembakaran awal sekam berada di dasar

tabung reaktor menutupi kipas penyapu. Blower diletakkan diatas cyclone.

Gas hasil pembakaran dihisap oleh blower dari celah yang telah tersedia

melewati cyclone yang akan membuang abu yang memungkinkan terisap blower.

Lalu gas diteruskan pada burner, dengan adanya reaksi dengan O2 di udara maka

gas tersebut akan bereaksi menjadi api berwarna kebiru-biruan.

Mekanisme pengeluaran abu dilakukan secara kontinyu oleh beberapa

rangkaian mekanisme yang digerakkan oleh motor listrik.

Gambar 3.5 Struktur Fungsi Rancangan 3

Sub fungsi – sub fungsi utama untuk menjalankan fungsi keseluruhan yang

kompleks tersebut adalah :

1. Sumber listrik, menghidupkan dan menggerakkan motor listrik dan blower.

Motor listrik yang menggerakkan reducer hingga ke mekanisme roda gigi

44
kerucut yang menggerakan kipas penyapu dan saluran keluaran screw

conveyor sehingga abu sekam yang telah terbakar dapat keluar.

2. Blower, yang akan menghisap gas pembakaran sekam dan mengalirkan

melewati cyclone ke burner lalu api kebiru-biruan akan keluar bila diberikan

sedikit api yang akan bereaksi dengan udara.

Struktur fungsi diatas semuanya memungkinkan untuk dikembangkan

menjadi variasi konsep.

3.3.3 Pembuatan Variasi Konsep

Langkah berikutnya dalam menentukan konsep rancangan adalah

membuat beberapa variasi bentuk rancangan dengan melakukan analisis bentuk

dan solusi pemecahan masalah yang disusun dalam bentuk matrik.

Pada tahap ini variasi konsep yang ada diseleksi terlebih dahulu sebelum

dilakukan pembentukan dari perancangan wujud lebih lanjut. Penyeleksian pada

tahap ini memggunakan kriteria yang baku dan bersifat umum. Jadi pada

dasarnya seleksi variasi konsep merupakan saringan awal sebelum dilakukan

evaluasi yang menggunakan kriteria yang sifat-sifatnya lebih khusus, tergantung

kepada apa yang dirancang.

Berikut tabel seleksi variasi konsep pada perancangan reaktor gasifikasi

sekam sistem kontinyu.

45
Tabel 3.9 Seleksi Variasi Konsep

Kriteria
KPS Keputusan Catatan
A B C D E F G

1 + + + + – + + +

2 + + + + – + + +

3 + + + + + + + +

Keterangan:

KPS = Kombinasi Prinsip Solusi

+ = Ya ? = Kurang Informasi

– = Tidak ! = Cek Spesifikasi

Kriteria : A = Memenuhi fungsi keseluruhan

B = memenuhi kebutuhan pada spesifikasi

C = secara prinsip dapat diwujudkan

D = Masih dalam harga yang diijinkan

E = Menjamin keselamatan terhadap komponen dan operator

F = Berdasarkan ide perancang

G = Informasi memadai

Kriteria E (masalah menjamin keselamatan terhadap komponen dan

operator) untuk variasi konsep pertama dan kedua bernilai negatif (–) yaitu tidak,

hal tersebut dikarenakan pada variasi konsep perancangan ke-1 dan ke-2 arah

blower meniupkan gasifikasinya kebawah, gas akan terperangkap dan mengalir

kebawah pada celah saluran gas. Hal tersebut akan memungkinkan terjadinya

tekanan gas bakar yang tinggi karena volume celah gas yang kecil sebelum keluar

46
pada burner, jika penggasifikasi-an sekam berjalan terus-menerus maka tekanan

gas bakar dalam celah reaktor akan semakin tinggi pula, ini sangat berbahaya bagi

keselamatan komponen bahkan operatornya sendiri.

Dari hasil seleksi variasi konsep yang dijabarkan pada tabel 3.9

memperlihatkan bahwa variasi konsep perancangan ke-3 memenuhi persyaratan

seleksi variasi perancangan dan lebih lanjut dapat diselesaikan pada proses

perancangan selanjutnya.

3.4 Perancangan Wujud (Embodiment Design)

Dalam perancangan suatu alat tahap pertama yang harus dilakukan adalah

memahami dan mempelajari fungsi serta cara kerja reaktor gasifikasi sekam juga

komponen pendukung yang akan dipakai guna memenuhi kebutuhan, agar alat

yang dimaksud dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Selanjutnya disini dapat diperluas ke penentuan konstruksi agar memenuhi

fungsi yang dimaksud sesuai dengan kasusnya dan komponen pendukung lainnya

dapat diperhitungkan selanjutnya. Awal proses perancangan yaitu dengan

mengumpulkan informasi dan data-data dengan menggunakan metode wawancara

dan referensi buku.

3.4.1 Prinsip Kerja Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinyu

Berikut prinsip kerja reaktor gasifikasi kontinyu sekam dalam

menghasilkan gas-gas yang mudah terbakar, awalnya karbon monoksida (CO)

dihasilkan dari bahan bakar sekam karena terbakarnya sekam dengan jumlah

udara terbatas. Sekam yang dibakar cukup untuk mengubah bahan bakar menjadi

47
arang dan tersedianya oksigen di udara dan gas-gas lain yang dihasilkan selama

proses reaksi dengan karbon dalam arang pada temperatur cukup tinggi akan

menghasilkan karbon monoksida (CO), hidrogen (H2), dan metana (CH4) yang

mudah terbakar. Gas-gas lain, seperti karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O)

yang tidak mudah terbakar, juga dihasilkan selama proses perubahan bahan bakar

sekam menjadi gas-gas yang mudah terbakar dengan menggunakan jumlah udara

terbatas selama proses pembakaran. Untuk mengatur persediaan udara dengan

adanya blower, jumlah kebutuhan udara untuk gasify sekam tercapai.

Seperti digambarkan dalam gambar 10 di bawah, bahan bakar sekam

dibakar di dalam reaktor dengan cara ditumpuk setelah sekam yang berada di

bawah terbakar. Bahan bakar dinyalakan dari bawah reaktor dengan terlebih

dahulu membakar potongan-potongan kertas sehingga sekam terbakar lalu

ditambahkannya sekam menumpuk memenuhi reaktor. Agar sekam yang telah

terbakar dibawah dan tertimbun oleh penambahan sekam, maka mulailah blower

dinyalakan sehingga gas pembakaran sekam turun kebawah dan laju pembakaran

sekamnya naik ke atas merambat pada tumpukan sekam yang berada di atasnya.

Pembakaran lapisan sekam atau daerah pembakaran, gerakan naik reaktor pada

kecepatan 1-2 cm/menit, tergantung pada jumlah udara yang diberikan oleh kipas

blower. Lebih banyak udara yang dihirup/ditarik dari sekam, semakin cepat

gerakan naik pembakaran bahan bakar. Selama daerah pembakaran bergerak

naik, sekam terbakar di dalam reaktor membentuk arang atau karbon. Karbon ini

beraksi dengan udara yang dihisap/dihirup oleh kipas blower ke luar reaktor dan

diubah menjadi gas-gas lain sehingga menghasilkan gas-gas yang mudah terbakar.

48
Gambar 3.6A Gambar Skema Prinsip Kerja dari Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinu

Gas-gas yang mudah terbakar yang keluar dari reaktor, terlebih dahulu

melalui cyclone sebagai penyaring abu sekam yang memungkinkan terhirup

keluar oleh blower, seperti dijelaskan dalam gambar, diteruskan ke lubang-lubang

pembakar (burner). Udara sekunder dimasukkan ke gas yang mudah terbakar,

kemudian lubang-lubang tambahan untuk penyalaan yang sempurna dengan

demikian menghasilkan nyala api berwarna biru. Jumlah nyala api yang

49
dikeluarkan oleh tungku diatur menggunakan katup yang dapat mengatur besar

atau kecilnya penarikan gas hasil pembakaran sekam.

Setelah nyala api biru keluar dari burner dan sekam mulai terbakar ke atas,

maka kipas penyapu digerakkan untuk menurunkan abu sekam yang telah terbakar

dan selanjutnya abu tersebut akan ditampung pada ruang penampungan yang

berada dibawahnya lalu dengan kemiringan ruang penampungan tersebut akan

membuat abu sekam yang menumpuk terbawa menuju lubang pengeluaran yang

akhirnya dapat dikeluarkan oleh mekanisme screw conveyor. Setelah abu sekam

keluar dari reaktor dan ruang penampungan abu mulailah dilakukan pengisian

bahan bakar sekam baru yang dimasukkan dan ditumpukkan kembali pada reaktor

secara kontinyu sehingga laju aliran keluaran abu seimbang dengan laju aliran

pemasukan bahan bakar sekam baru. Hal tersebut dilakukan secara terus menerus

selama nyala api biru yang dihasilkan dari gas pembakaran sekam dimanfaatkan

untuk kepentingan sumber energi panas.

50
3.4.2 Instalasi Reaktor Gasifikasi Kontinu

17

18

1 16

5
2
6

7
11
12 8

13 9

14 10

15

Gambar 3.6B Gambar Instalasi Reaktor Gasifikasi Sekam

Keterangan :

1. Tabung Reaktor Atas 10. Motor Listrik


2. Tabung Reaktor Bawah 11. Kopling Cakar
3. Kipas Penyapu 12. Reduser
4. Saringan Abu 13. Roda Gigi Kerucut
5. Bosh/Bantalan Luncur 14. Puli dan Sabuk
6. Poros Vertikal 15. Rangka
7. Pillow Blok 16. Cyclone
8. Screw Conveyor 17. Blower
9. Poros Horizontal 18. Burner

51
3.4.2.1 Tabung Reaktor Atas

Tabung reaktor ini berfungsi untuk membakar bahan bakar sekam dan

menghasilkan gas karbon monoksida (CO), hidrogen (H2), dan metana (CH4) yang

mudah terbakar. Gas-gas lain, seperti karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O)

yang tidak mudah terbakar, juga dihasilkan selama proses perubahan bahan bakar

sekam menjadi gas-gas yang mudah terbakar dengan menggunakan jumlah udara

terbatas selama proses pembakaran.

Gambar 3.7A Tabung Reaktor Atas

Mencari Volume Reaktor

d1 = 390 mm = 39 cm
t1 = 390 mm = 39 cm

d2 = 300 mm = 30 cm
t1 = 120 mm = 12 cm

V1

V2

Gambar 3.7B Dimensi Tabung Reaktor Atas

52
π × d 2 × t π × 39 2 × 39
V1 = = = 46565,4 cm 3 = 0,0465 m 3 = 46,5 liter
4 4
π × d1 × t 2 π × 39 2 × 12
2

V2 = = = 14327,82 cm 3 = 0,01432782 m 3 = 14,32 liter


'

4 4
π × ( d 1 − d 2 ) × t π × (39 2 − 30 2 ) × 12
2 2

V2 = = = 5849,82 cm 3 = 0,00584 m 3 = 5,84 liter


''

4 4
V2 = V 2 − V2 = 14,32 − 5,82 = 8,5 liter
' ''

Vtotal = V1 + V2 = 46,5 + 8,5 = 55 liter = 55 × 10-3 m3

Jika massa jenis sekam, ρ sekam 100 kg/m3, maka massa sekam yang dibutuhkan
untuk volume 55 × 10-3 m3 adalah:
kg
m = ρ × v = 100 3
× 55 × 10 −3 m 3 = 5,5 kg
m
Maka volume tabung reaktor adalah 5,5 kg sekam.

3.4.2.2 Ruang Penampungan Abu Sekam (Tabung Reaktor Bawah)

Ruang penampungan abu sekam ini berfungsi sebagai tempat

penampungan sekam yang telah terbakar dan masuk pada penampungan ini

dengan bantuan kipas penyapu yang berputar. Ruang penampungan ini dibuat

miring dan terdapat lubang pada ujung kemiringannya, hal tersebut dimaksudkan

agar abu sekam dapat turun dan keluar melalui lubang tersebut dengan dibantu

oleh mekanisme screw conveyor yang terdapat dibawah lubang keluaran tersebut.

Gambar 3.8A Ruang Penampungan Abu Sekam (Tabung Reaktor Bawah)

53
Gambar 3.8B Dimensi Ruang Penampungan Abu Sekam (Tabung Reaktor Bawah)

3.4.2.3 Siklon (Cyclone)

Siklon adalah suatu metoda pembuangan partikel-partikel dari aliran udara

atau gas, tanpa menggunakan penyaring, melalui pemisahan pusaran. Gravitasi

dan pengaruh putaran digunakan untuk memisahkan campuran fluida dan padatan.

Suatu aliran udara kecepatan putar tinggi yang terbentuk dalam suatu

wadah silinder atau kerucut dinamakan sebuah siklon. Aliran-aliran udara pola

spiral, dimulai pada bagian atas (sisi akhir) dari siklon dan berakhir pada bagian

bawah (batas) akhir sebelum keluar siklon dalam aliran lurus sampai pusat siklon

dan keluar di atas. Partikel-partikel yang lebih besar (tebal) dalam putaran aliran

udara lebih lamban mengalir melengkung sulit dari aliran udara dan mencapai

dinding luar, jatuh kemudian ke bagian bawah siklon yang mana partikel ini dapat

terbuang.

54
Gambar 3.9 Siklon (Cyclone)

3.4.2.4 Blower

Blower berfungsi untuk menghisap gas dari hasil pembakaran sekam pada

reaktor diantaranya gas yang mudah terbakar yaitu karbon monoksida (CO),

hidrogen (H2), dan metana (CH4) juga gas lain yang tidak mudah terbakar, seperti

karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O), kemudian gas tersebut dialirkan pada

burner dan jika diberikan api maka gas tersebut akan terbakar menjadi api biru.

Gambar 3.10 Blower Sentrifugal AC 220 Volt-1 Amp

55
3.4.2.5 Burner

Gambar 3.11 Burner

3.4.3 Instalasi Mekanisme Sistem Penggerak untuk Pengeluaran Abu

Salah satu yang harus diutamakan dalam perancangan mekanisme

pengeluaran abu sekam pada reaktor gasifikasi ini adalah rangkaian beberapa

komponen yang secara berurutan mampu mendukung juga mewujudkan sebuah

reaktor gasifikasi sekam dengan sistem kontinyu yaitu dari segi input masuknya

sekam pada tabung reaktor hingga pengaturan penurunan abu dan pengeluarannya

berjalan secara seimbang (balans). Gambar berikut menjelaskan rancangan dari

sistem mekanik untuk pengeluaran abu sekam yang ditempatkan pada sebuah

rangka yang memenuhi syarat kriteria perancangan.

56
Gambar 3.12 Penempatan Rancangan Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinyu

57
Gambar 3.13 Mekanisme Penggerak Pengeluaran Abu Sekam

3.4.3.1 Motor Listrik

Motor listrik adalah mesin yang merubah tenaga listrik kedalam tenaga

mekanik, prinsip kerjanya adalah apabila suatu penghantar yang membawa arus

listrik di dalam suatu medan magnet, maka akan timbul gaya mekanik.

Gambar 3.14A Rancangan Dudukan Motor Listrik pada Rangka

58
Kontruksinya tidak ada dasar perbedaan antara motor listrik untuk jenis

DC dan AC.

Gambar 3.14B Rangkaian Pada Motor Listrik AC

Besarnya daya motor listrik yang akan digunakan untuk menggerakkan

kipas penyapu dan screw conveyor sebagai mekanisme pengeluaran abu adalah ¼

Hp atau setara dengan 0,75 kW, dengan putaran sebesar 1440 rpm.

3.4.3.2 Reduser

Reduser merupakan sebuah alat yang berfungsi sebagai penerus putaran

atau pentransmisi daya. Pada reduser ini putaran atau daya yang diteruskan

berbeda arahnya/sumbunya sesuai dengan kegunaannya, hal tersebut dikarenakan

didalam sebuah reduser terdapat sistem transmisi roda gigi yang mampu

mereduksi putaran menjadi berlainan arahnya dengan arah input putaran yang

diberikan. Dengan adanya sistem transmisi roda gigi didalam sebuah reduser

maka reduser tidak hanya mampu meneruskan putaran tetapi juga dapat

mereduksi atau memberikan perbandingan memperbesar atau memperkecil nilai

input putaran yang diberikannya.

Pada perancangan reaktor gasifikasi sekam sistem kontinyu ini, reduser

sangat diperlukan untuk mereduksi putaran dari motor listrik yang sebelumnya

melewati sebuah transmisi sabuk dengan perbandingan pulinya. Perbandingan

59
reduser yang digunakan pada perancangan sistem mekanisme pengeluaran abu

sekam pada reaktor gasifikasi ini adalah sebesar 1:30 perbandingan tersebut

dipilih untuk mendapatkan torsi dan putaran yang sesuai untuk penurunan abu

oleh kipas penyapu.

Gambar 3.15 Rancangan Dudukan Reduser pada Rangka

Sampai saat ini transmisi roda gigi merupakan jenis transmisi yang paling

banyak digunakan, disesuaikan dengan segala dudukan gandar, daya, jumlah gigi,

dan rasio transmisi, ukuran transmisi juga beratnya. Keuntungan dari transmisi

roda gigi ini adalah kontruksinya yang sederhana, operasi terandalkan,

pemeliharaan murah, ukuran kontruksinya kecil namun efisiensinya tinggi.

Kerugian transmisi roda gigi antara lain gaya kaku, ayunan

ketidakseragaman karena adanya pembengkokan dan kekakuan pada pasangan

gigi yang berbeda-beda (misalnya takikan karena proses pemotongan), sangat

bising (kecuali kotak transmisi cacing).

60
3.4.3.3 Transmisi Sabuk dan Puli

Digunakan untuk poros sejajar dan menyilang, juga dimungkinkan

pergerakan dengan beberapa poros sabuk dengan satu sabuk, pada kedua-duanya

tidak bising, menampung kejutan dengan lentur, elemen kontruksi sederhana,

tanpa pelumasan (sehingga penutup sederhana sudah mencukupi), merupakan

transmisi yang cukup murah.

Gambar 3.16 Rancangan Sistem Transmisi Puli dan Sabuk V

Pada perancangan digunakan dua puli yang dihubungkan oleh belt tipe A

dengan perbandingan puli-1 dari motor listrik sebesar d1 = 50 mm (2 inchi) dan

puli-2 menuju reduser sebesar d2 = 116 mm (4,5 inchi). Perbandingan tersebut

dipilih karena memenuhi syarat untuk menggasilkan reduksi putaran kipas

penyapu dan screw conveyor yang diperlukan.

3.4.3.4 Poros Horizontal dan Vertikal

Poros merupakan salah satu elemen mesin yang terpenting dari setiap

mekanisme penggerak. Hampir semua mekanisme penggerak atau juga pada

mesin mentransmisikan daya bersamaan dengan putaran.

61
Dengan geometri yang berbentuk silinder secara umum poros berfungsi

sebagai berikut :

1) Penumpu beban

Beban yang diterima oleh poros biasanya berbentuk gaya lentur.

2) Penerus daya

Daya yang diterima poros dari motor penggerak diteruskan ke mesin.

3) Pengubah gerakan

Poros juga dapat mengubah gerakan rotasi menjadi gerakan translasi.

Dalam perancangan ini poros yang digunakan yaitu dalam dua buah arah sumbu

(horizontal dan vertikal) yang berfungsi sebagai alat untuk mentransmisikan daya

putaran. Seperti yang terlihat pada gambar berikut :

• Poros Horizontal

Gambar 3.17 Poros Horizontal

62
• Poros Vertikal

Gambar 3.18 Poros Vertikal

Komponen-komponen yang dibeli dari pasaran (yang sudah jadi) meliputi

Roda Gigi Kerucut, Screw Conveyor, Bantalan (pillow blok) dan Kopling Cakar

seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.19 – 3.22.

63
3.4.3.5 Roda Gigi Kerucut

Gambar 3.19 Roda Gigi Kerucut

3.4.3.6 Screw Conveyor

Gambar 3.20 Screw Conveyor

3.4.3.7 Bantalan (Pillow Block)

Gambar 3.21 Pillow Blok

3.4.3.8 Kopling Cakar

Gambar 3.22 Kopling Cakar

64
BAB IV

PERHITUNGAN

4.1 Analisis Energi Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinyu

Untuk melakukan perhitungan dari segi energi maka perancang akan

menentukan beberapa asumsi yang relefan untuk mendapatkan nilai akhir yang

dapat diberikan dari pemanfaatan gasifikasi sekam, yaitu mengasumsikan bahwa

api kebiru-biruan yang dihasilkan tersebut dimanfaatkan sebagai energi untuk

memasak air dan beberapa jenis bahan makanan sebagai acuan untuk

mendapatkan nilai yang dihasilkan oleh reaktor gasifikasi sekam.

Akhirnya beberapa parameter penting yang menjadi pertimbangan dalam

menentukan ukuran yang cocok juga nilai daya keluaran yang diinginkan untuk

sebuah tabung reaktor gasifikasi sekam akan mengacu pada perhitungan ini.

Berikut parameter dan berbagai persamaan untuk menghitung kebutuhan dasar

dalam merancang reaktor gasifikasi sekam di lihat dari segi energi :

4.1.1 Energi yang Dibutuhkan

Mengenai jumlah kebutuhan panas yang diberikan oleh reaktor gasifikasi

sekam tersebut dapat ditentukan berdasarkan pada jumlah makanan yang dimasak

atau air yang dididihkan. Berbagai energi panas spesifik secara bersamaan dapat

ditunjukkan dalam Tabel 4.1 berikut ini.

65
Tabel 4.1 Kebutuhan Energi untuk Memasak Makanan dan untuk Mendidihkan Air

Panas Spesifik Energi Total yang dibutuhkan


Makanan
(Kcal/kg. ºC) (Kcal/kg)*

Beras 0,42 - 0,44 79,3


Daging 0,48 - 0,93 56,5
Sayuran 0,93 74,5
Air 1,0 72

*Selisih temperatur pada 72ºC

Jumlah energi yang dibutuhkan untuk memasak makanan dapat dihitung

menggunakan rumus :

M f × Es
Qn = .............................................................................. (4.1)
T

dimana :

Qn : Energi yang dibutuhkan (Kcal/jam)

Mf : Massa makanan (kg)

Es : Energi spesifik (KCal/kg)

T : Waktu memasak (jam)

Contoh Perhitungan : Satu kilogram beras telah dimasak dalam 15 menit.

Berapa energi yang dibutuhkan untuk memasak beras?

Mf × Es 1kg × 79,3Kcal/kg
Qn = = = 317,2 Kcal/jam ........... (4.2)
T 15menit × (1jam / 60 menit)

4.1.2 Energi Masukan

Energi masukan ini berhubungan pada jumlah energi yang dibutuhkan

dalam faktor bahan bakar sekam yang masuk ke tabung reaktor. Laju konsumsi

bahan bakar tersebut dapat dihitung menggunakan rumus :

66
Qn
FCR = .......................................................................... (4.3)
HVf × ξ g

dimana :

FCR : Laju konsumsi bahan bakar (kg/jam)

Qn : Energi panas yang dibutuhkan (Kcal/jam)

HVf : Nilai kalor bahan bakar (Kcal/kg)

g : Efisiensi gasifikasi (%)

Contoh Perhitungan : Berapa jumlah bahan bakar yang dibutuhkan per jam

untuk reaktor gas sekam, yang digunakan untuk memasak beras dalam contoh

yang diberikan diatas? Asumsi efisiensi gasifikasi tungku adalah17%.

Qn 317,2 Kcal/jam
FCR = = = 0,62 kg sekam/jam ............. (4.4)
HVf × ξ g 3000 Kcal/kg × 0,17

4.1.3 Diameter Reaktor

Mengenai ukuran reaktor hubungannya dengan diamaeter tentang cross-

section silinder dimana sekam dapat terbakar. Diameter adalah fungsi dari jumlah

bahan bakar yang dihabiskan per satuan waktu (FCR) dibagi dengan specific

gasification rate (SGR) dari sekam, yang terjadi dalam kisaran dari 110 sampai

210 kg/m2.jam atau 56 sampai 130 seperti nampak oleh hasil beberapa pengujian

pada tungku gas sekam. Seperti ditunjukkan dibawah, diameter reaktor dapat

dihitung menggunakan rumus :

1,27 FCR 0,5


D= ............................................................................. (4.5)
SGR

67
dimana :

D : Diameter reaktor (m)

FCR : Laju konsumsi bahan bakar (kg/jam)

SGR : Specific Gasification Rate sekam (110-210 kg/m2.jam)

Contoh Perhitungan : Untuk tungku gas sekam dengan kebutuhan laju konsumsi

bahan bakar 2 kg/jam, hitung diameter reaktor bahan bakar gunakan specific

gasification rate 100 kg/m2.jam, didapat :

1,27 FCR 0,5 1,27 × 2kg/jam × 0,5


D= = = 0,15m ............................ (4.6)
SGR 100kg/m 2 .jam

4.1.4 Tinggi Reaktor

Mengenai jarak total dari atas sampai bawah reaktor. Tentukan bagaimana

panjang tungku akan dioperasikan pada beban penuh bahan bakar. Dasarnya,

tinggi reaktor suatu fungsi dari jumlah variabel-variabel seperti waktu yang

dibutuhkan untuk menghabiskan bahan bakar atau beroperasinya gasifikasi (T),

Specific Gasification Rate (SGR), dan massa jenis sekam ( rh). Seperti

ditunjukkan dibawah, tinggi reaktor dapat dihitung menggunakan rumus :

SGR × T
H= .................................................................................... (4.7)
rh

dimana :

H : Tinggi reaktor (m)

SGR : Specific Gasification Rate sekam (kg/m2.jam)

T : Waktu yang dibutuhkan untuk

menghabiskan bahan bakar (jam)

rh : Massa jenis sekam (kg/m3)

68
Contoh Perhitungan : Jika diinginkan waktu operasi untuk gasifikasi diatas

adalah 1 jam, ambil massa jenis sekam 100 kg/m3 untuk penggasifikasian, tinggi

reaktor didapat,

SGR × T 100kg/m 2 .jam × 1jam


H= = = 1m ..................................... (4.8)
rh 100kg/m 3

4.1.5 Waktu untuk Menghabiskan Sekam

Mengenai waktu total yang dibutuhkan untuk gasifikasi sekam sempurna

dalam reaktor. Waktu total ini termasuk waktu untuk menyalakan bahan bakar

dan waktu untuk menghasilkan gas, ditambah waktu untuk pembakaran sempurna

semua bahan bakar dalam reaktor. Massa jenis sekam ( rh), volume reaktor (Vr),

dan laju konsumsi bahan bakar (FCR) adalah faktor-faktor yang digunakan dalam

menentukan waktu total habisnya bahan bakar sekam dalam reaktor. Seperti

ditunjukkan di bawah, ini dapat dihitung menggunakan rumus:

× Vr
T= rh
..................................................................................... (4.9)
FCR

dimana :

T : Waktu untuk menghabiskan sekam (jam)

Vr : Volume reaktor (m3)

rh : Massa jenis sekam (kg/m3)

FCR : Laju konsumsi bahan bakar (kg/jam)

Contoh Perhitungan : Tungku gas sekam mempunyai diameter 20 cm dengan

tinggi reaktor 1,2 m dioperasikan pada laju konsumsi bahan bakar 2,5 kg/jam.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengoperasikan tungku?

69
× Vr 100kg/m 3 × /4 × (0,2m)2 × 1,2m
T= rh
= = 1,5jam ......................... (4.10)
FCR 2,5kg/jam

4.1.6 Jumlah Udara yang dibutuhkan untuk Gasifikasi

Mengenai laju aliran udara yang dibutuhkan gasifikasi sekam. Laju udara

ini sangat penting dalam menentukan ukuran kipas atau blower yang dibutuhkan

untuk reaktor dalam gasifikasi sekam. Seperti ditunjukkan, laju aliran udara dapat

ditentukan dengan mudah menggunakan laju konsumsi bahan bakar sekam (FCR),

udara stoichiometric sekam (SA), dan recommended equivalence ratio (e) untuk

gasifikasi sekam 0,3 sampai 0,4. Seperti ditunjukkan, ini dapat dihitung

menggunakan rumus:

× FCR × SA
AFR = ........................................................................ (4.11)
a

dimana :

AFR : Laju aliran udara (m3/jam)

e : equivalence ratio (0,3 – 0,4)

FCR : Laju konsumsi bahan bakar (kg/jam)

SA : stoichiometric udara sekam (4,5 kg udara/ kg sekam)

a : Massa jenis udara (1,25 kg/m3)

Contoh Perhitungan : laju konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan untuk tungku

gas sekam adalah 2,5 kg/jam. Jumlah udara yang dibutuhkan,

× FCR × SA 0,3 × 2,5kg/jam × 4,5kg udara /kg sekam


AFR = = 3
= 2,7m 3 /jam (4.12)
a 1,25kg/m

70
4.1.7 Kecepatan Udara Superficial

Mengenai kecepatan aliran udara di dasar bahan bakar. Kecepatan udara di

dasar sekam akan menyebabkan pembentukan saluran, yang mana mungkin

berpengaruh besar gasifikasi. Diameter reaktor (D) dan laju aliran udara (AFR)

menentukan kecepatan udara superficial dalam gasifikasi. Seperti ditunjukkan,

kecepatan udara dapat dihitung menggunakan rumus:

4AFR
Vs = ...................................................................................... (4.13)
D2
dimana :

Vs : kecepatan gas superficial (m/s)

AFR : Laju aliran udara (m3/jam)

D : Diameter reaktor (m)

Contoh Perhitungan : Untuk tungku dalam contoh diatas dengan dihitung laju

aliran udara 2,7 m3/jam dan diameter reaktor 20 cm, kecepatan gas superficial

menjadi.

4AFR 4 × 2,7m 3 /jam


Vs = = = 85,9m/jam = 2,38cm/detik ....................... (4.14)
D2 3,14 × (0,2m)2

4.1.8 Tahanan pada Aliran Udara

Mengenai jumlah tahanan yang didesak oleh bahan bakar dan oleh arang

dalam reaktor selama gasifikasi. Tahanan ini penting untuk menentukan apakah

kipas atau blower yang dibutuhkan untuk reaktor. Ketebalan kolom bahan bakar

(Tf) dan tahanan spesifik sekam (Sr), yang mana dapat ditentukan dalam Gambar

39, akan memberikan cukup informasi untuk tahanan total yang dibutuhkan untuk

71
kipas atau blower. Seperti ditunjukkan, tahanan total ini dapat dihitung

menggunakan rumus:

R f = Tf × S r .................................................................................. (4.15)
dimana :

Rf : Tahanan bahan bakar (cm dari H2O)

Tf : Ketebalan kolom bahan bakar (m)

Sr : Tahanan spesifik (cm of water/m depth of fuel)

Contoh Perhitungan : A 1-meter fuel column reactor with superficial air

velocity of 2.38 cm/sec will have a specific pressure resistance of 0.5 cm water

per m depth of fuel (Lihat Gambar 39). Karena itu, the calculated resistance

needed by the fan or by the blower will be,

R f = Tf × S r = 1m × 0,5cm water/m depth of fuel = 0,5cm of water

4.2 Perhitungan dari Segi Mekanik

4.2.1 Kerja yang Diperlukan Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinyu

Setelah kulit padi (sekam) terbakar pada tabung ruang bakar dan menjadi

bara dengan cara dibakar manual, lalu tabung ruang bakar diisi oleh sekam sampai

penuh bersamaan dengan dinyalakannya blower yang mengisap gas yang terbakar.

Blower dipasang pada cyclone dan gas yang diisap blower akan keluar melewati

burner yang berfungsi untuk mereaksikan gas hasil pembakaran menjadi api dan

tabung ruang bakar diisi penuh oleh sekam.

Sementara itu kipas penyapu yang berada dibawah ruang bakar pun mulai

digerakkan, pergerakan tersebut diberikan oleh motor listrik. Putaran motor listrik

72
direduksi oleh puli, daya motor ditransmisikan oleh sabuk-V ke puli. Berikut

adalah sistem reduksi putaran.

Kipas Penyapu

Bosh
Poros Vertikal

Pillow Blok
Gigi Kerucut Vertikal

Kupling Cakar

Screw Conveyor
Reduser

Puli 2 Puli 1

Gigi Kerucut Horizontal

Poros Horizontal Motor Listrik

Gambar 4.1 Sistem Reduksi Putaran

Motor listrik yang digunakan dan tersedia untuk menggerakan mekanisme

pengeluaran abu sekam ini yaitu motor listrik dengan daya sebesar ¼ HP dan

putaran sebesar 1410 rpm. Untuk akhirnya dapat menghasilkan putaran sebesar

10 rpm pada putaran kipas penyapu, maka putaran dari motor listrik tersebut harus

mengalami reduksi, reduksi tersebut tidak dapat secara langsung menggunakan

transmisi sabuk-V saja, hal tersebut dikarenakan perbandingan putaran yang dapat

ditransmisikan oleh sabuk V maksimal sebesar 1 : 7 untuk itu digunakan reduser

yang tersedia dengan perbandingan 1 : 30 dan untuk menginginkan arah putaran

yang berbeda pula yaitu mentransmisikan ke arah vertikal dari arah putaran

73
horizontal maka digunakan pula roda gigi kerucut yang tersedia dengan

perbandingan jumlah giginya yaitu sebesar 1 : 2 dari perancangan dan

perhitungan di atas maka motor listrik dengan daya ¼ HP dan putaran sebesar

1410 rpm dapat digunakan pada mekanisme pengeluaran abu sekam ini.

4.2.2 Perhitungan Transmisi Daya

Daya motor listrik yang dibutuhkan untuk melakukan proses pemutaran

kipas penyapu dan saluran pembuangan abu sekam (screw conveyor) terlebih

dahulu akan ditransmisikan melalui puli 1, sabuk-V, puli 2, reduser, kopling, gigi

kerucut sampai ke kipas penyapu dan saluran pembuangan abu sekam.

Adapun susunan sistem reduksi putaran yang akan digunakan adalah

sebagai berikut :

Motor Kipas
Puli 1 Penyapu
Listrik

Kopling Gigi Screw


Sabuk V
Cakar Kerucut Conveyor

Puli 2 Reduser

Gambar 4.2 Skema Susunan Sistem Reduksi

Dari skema susunan sistem reduksi putaran diatas maka berikut ini akan

dijelaskan perhitungan dari perbandingan diameter dan putaran puli, input putaran

pada reduser juga perhitungan putaran akhir pada arah vertikal dengan

menggunakan perbandingan transmisi roda gigi kerucut.

74
Motor Listrik dengan putaran (n1) = 1410 rpm , daya (P) = ¼ HP,

diameter puli 1 (d1) = 50 mm. Asumsi untuk putaran yang akan diberikan pada

reduser untuk direduksi kembali dengan perbandingan reduksinya sebesar 1 : 30

maka di perhitungkan besarnya yaitu (n2) = 600 rpm maka dapat di ketahui pula

besar diameter puli yang dapat dipasang pada reduser tersebut

n1 1410 rpm
= ; Perbandingan diameter puli d 1 : d 2
d1 50 mm
n1 d 1410 rpm × 50 mm
= 2 ⇔ d2 = = 116 mm
n2 d1 600

Perbandingan reduksi reduser 1 : 30


600 rpm
n 2 = 600 rpm ⇔ = 20 rpm ; untuk screw conveyor (n 3 ) = 20 rpm
30

Perbandingan roda gigi kerucut 1 : 2


20 rpm
= 10 rpm ; untuk kipas penyapu (n 4 ) = 10 rpm
2

Dengan perbandingan reduser 1 : 30 maka putaran yang direduksi dari n2

sebesar 600 rpm menjadi 20 rpm yaitu untuk menggerakkan screw conveyor

sebagai saluran pembuangan abu sekam. Akhirnya dengan perbandingan

transmisi roda gigi kerucut yang memiliki perbandingan reduksi 1 : 2 maka besar

putaran dari arah horizontal yang direduksi ke arah vertikal yaitu ke arah putaran

kipas penyapu dapat berubah menjadi 10 rpm sesuai dengan yang diinginkan.

75
Kipas Penyapu
n4 = 10 rpm

Bosh
Poros Vertikal

Gigi Kerucut Vertikal 1 : 2 Pillow Blok


n4 = 10 rpm

Kupling Cakar : n4 = 20 rpm

Screw Conveyor
Reduser 1 : 30 n3 = 20 rpm
Input = n2 = 600 rpm
Output = n3 = 20 rpm

Puli 2 Puli 1
d2 = 116 mm d1 = 50 mm
n2 = 600 rpm n1 = 1410 rpm

Gigi Kerucut Horizontal


n3 = 20 rpm
Motor Listrik ¼ HP
Poros Horizontal n1 = 1410 rpm

Gambar 4.3 Transmisi Daya Sistem Reduksi Putaran

4.2.2.1 Transmisi Sabuk-V

Sabuk-V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapesium.

Tenunan teteron atau semacamnya dipergunakan sebagai inti sabuk untuk

membawa tarikan yang besar (Gambar 4.3). Sabuk-V dibelitkan dikeliling alur

puli yang berbentuk V pula. Bagian sabuk yang sedang membelit pada puli ini

mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan bertambah besar.

76
Gaya gesekan juga akan bertambah karena pengaruh bentuk baji yang akan

menghasilkan transmisi daya yang besar pada tegangan yang relatif rendah. Hal

ini merupakan salah satu keunggulan sabuk-V dibandingkan dengan sabuk rata.

Pemasangan transmisi sabuk dan puli pada mekanisme pengeluaran abu

reaktor gasifikasi sekam tersebut seperti terlihat pada gambar berikut.

Reducer

Motor Listrik
Sabuk-V

Puli 2

Puli 1

Gambar 4.4 Transmisi Sabuk-V dan Puli

Kasus transmisi sabuk dan puli pada sistem mekanisme penggerak

pengeluaran abu sekam adalah sebagai berikut :

Daya (P) = ¼ HP = 0,1865 kW, putaran pada poros motor listrik (n1) = 1410

rpm, diameter poros motor listrik (d p = d1) = 14 mm, putaran pada poros input

reduser (n2) = 600 rpm, dan diameter poros reduser (Dp = d 2) = 22 mm.

77
Dari data tersebut, dapat ditentukan harga-harga sebagai berikut

1. – Daya yang akan ditransmisikan P (kW)

P = ¼ HP = 0,1865 kW

– Putaran poros motor listrik n1 = 1410 rpm

– Perbandingan putaran i (n1 = 1410rpm dan n2 = 600 rpm)

n1 1410 rpm
i = = = 2,35
n2 600 rpm

– Jarak sumbu poros C = 300 mm

2. Faktor koreksi fc = 1, berdasarkan Tabel 5.1 Faktor Koreksi ; Sularso didapat

uantuk jenis variasi beban sangat ringan (sampai 7,5 kW) dan dengan asumsi

jumlah jam kerja tiap hari 3-5 jam maka dipilih faktor koreksi fc = 1.

3. Daya rencan Pd = fc × P = 1 × 0,1865 kW = 0,1865 kW

4. Momen Rencana

Torsi puli penggerak Tp1 :

Pd
Tp1 = 9,74 × 10 5 × = 128,83 kg.mm
n motor

Torsi puli yang digerakkan Tp2 :

Pd
Tp2 = 9,74 × 10 5 × = 302,75 kg.mm
n reduser

5. Pemilihan penampang sabuk-V

Jenis sabuk V : tipe A

78
Dengan : dk1 = Diameter kepala puli penggerak = 59 mm

Dk1 = Diameter kepala puli yang digerakkan = 125 mm

maka dapat di cari besar diameter lingkaran jarak bagi ( Dp ) puli :

 h  11
d p1 = d k1 − 2 ×  = 59 − 2 ×  = 50 mm
 2  2
 h  11
Dp1 = Dk 2 − 2 ×  = 125 − 2 ×  = 116 mm
 2  2

6. Kecepatan sabuk v (m/s)

π × d p × n1 π × 50 mm × 1410 rpm
v = = = 3,7 m/s
60 × 1000 60 × 1000

7. Sudut kontak puli penggerak (puli 1)

Pergerakan
Puli CW

57 ( D p − d p )
= 180o − = 167,46o
C
180° −
= = 6,27°
2
8. Gaya tangensial efektif Fe (kg)

d
T = Fe ×
2
 P   0,1865 kW 
T = 9,74 × 10 5 ×  d  = 9,74 × 10 5 ×   = 128,83 kg.mm
 n1   1410 rpm 

79
maka :
dp
T = Fe ×
2
T 128,83 kg.mm
Fe = = = 5,1532 kg
dp / 2 25 mm

Jika µ = koefisien gesek antara puli dan sabuk = 0.25 maka

• Gaya tarik sabuk sisi kencang • rsabuk sisi kendor


F1 Fe = F1 − F2
= e µ' θ
F2 F2 = F1 − Fe
µ' θ
e −1 F2 = 15,16 kg − 5,15 kg
Fe = F1 − F2 = F1 µ' θ
e F2 = 10,01 kg
0 ,25 ' × 167,46
e −1
5,1532 kg = F1 0 ,25' × 167,46
e
1,52 × 1018 − 1
5,1532 kg = F1
1,52 × 1018
5,1532 kg = F1 × 0,34
5,1532 kg
F1 = = 15,16 kg
0,34

9. Perhitungan panjang keliling sabuk

π 1 C
L = 2C + (d p + D p ) + (D p − d p ) 2 − (D p − d p ) 2
2 2 4C
π 1
L = 2C + (d p + D p ) + (D p − d p ) 2
2 4C
π 1
L = 2 (300) + (50 + 116) + (116 − 50) 2
2 4 (300)
L = 864,38 mm

10. Jarak sumbu poros C dapat dinyatakan sebagai berikut.

b = 2L − ( Dp + d p )
b = 2 ( 864,38 mm ) − ( 116 mm + 50 mm ) = 1207,26 mm

b + b2 − 8 ( Dp − dp )2
C = = 300 mm
8

80
11. Kapasitas daya transmisi dari satu sabuk Po (kW)

Fe × v 5,1532 kg × 3,7 m/s


Po = = = 0,187 kW
102 102

12. Jumlah sabuk N

Pd 0,1865
N = = = 1,0281 ≈ 1 buah
Po × K θ 0,187 × 0,97

13. Daerah penyetelan jarak poros

∆Ci = 20 mm , ∆Ct = 25 mm

14. Jenis sabuk-V tipe A, No. 38 (991), 1 buah, dk = 59 mm Dk = 125 mm

Jarak sumbu poros 300 +− 20


25 mm
mm

4.2.2.2 Perancangan/Perhitungan Poros

Transmisi sabuk dan puli pada mekanisme penggerak pengeluaran abu ini,

aliran daya terjadi pada motor listrik menuju reduser. Pada motor listrik maupun

reduser terdapat poros yang menahan masing-masing puli untuk mentransmisikan

daya oleh sabuk tersebut, dimensi poros diukur secara langsung yaitu dimensi dari

motor listrik dengan diameter (d M) = 14 mm dan panjang (lM ) = 48 mm sedangkan

dimensi reduser dengan diameter (dR) = 22 mm dan panjang (lR) = 55 mm. Untuk

menghitung gaya batang poros tersebut, keduanya dihitung dengan asumsi poros

motor listrik maupun reduser adalah dijepit pada ujungnya sehingga analis gaya-

gaya pada tiap poros tersebut dapat diperoleh.

Sebelum menganalisis gaya pada masing-masing poros tersebut hal yang

paling utama yang harus dilakukan adalah penentuan sumbu, sumbu pada gambar

tiga dimensi biasanya dalam tiga arah yaitu x, y dan z ketiga sumbu tersebut

81
dijadikan sebagai acuan dalam perhitungan sehingga dapat lebih memudahkan

untuk menentukan arah dari beberapa gaya yang terjadi pada poros tersebut.

+y
+ y’

+ x’

+z +x

+y
+ y’

+x
+z +y
+ y’

+x
+z
+ x’

Gambar 4.5 Penentuan Sumbu Sebagai Acuan

82
+y
+ y’

+x
+ y + y’

+x

+ x’

+ y’

+ y’

+ x’

+ y’

F1y’ Sisi Kendor + y’


F1x’ Sisi Kendor
F1 F2 F2y’
Fp2x’ F2x’ Fp1x’
+ x’
F1x’
F2 F1 F1y’
F2x’ Sisi Kencang
F2y’
Sisi Kencang

Gambar 4.6 Analisis Gaya Pada Puli dan Sabuk-V

83
Untuk Puli Penggerak (Puli 1) Untuk Puli yang Digerakkan (Puli 2)
F1 = 15,16 kg (sisi kencang) F1 = 10,01 kg (sisi kencang)
F2 = 10,01 kg (sisi kendor) F2 = 15,16 kg (sisi kendor)
= 6,27 o = 6,27o

F1x' = F1 cos F1x' = F1 cos


F1x' = 15,16 ⋅ cos 6,27 F1x' = 10,01 ⋅ cos 6,27
F1x' = 15,069 kg F1x' = 9,95 kg

F1y' = F1 sin F1y' = F1 sin


F1y' = 15,16 ⋅ sin 6,27 F1y' = 10,01 ⋅ sin 6,27
F1y' = 1,656 kg F1y' = 1,093 kg

F2x' = F2 cos F2x' = F2 cos


F2x' = 10,01 ⋅ cos 6,27 F2x' = 15,16 ⋅ cos 6,27
F2x' = 9,95 kg F2x' = 15,069 kg

F2y' = F2 sin F2y' = F2 sin


F2y' = 10,01 ⋅ sin 6,27 F2y' = 15,46 ⋅ sin 6,27
F2y' = 1,093 kg F2y' = 1,656 kg

DBB Puli Penggerak (Puli 1)

+ y’ ΣFx' = 0
Sisi Kendor − F1x' − F2x' + Fp1x' = 0
F2 F2y’ Fp1x' = F1x' + F2x'
F2x’ Fp1y’ Fp1x' = 15,069 kg + 9,95 kg
Fp1x’ Fp1x' = 25,019 kg

+ x’
F1x’ ΣFy' = 0
F2y' + Fp1y' − F1y' = 0
F1 F1y’ Fp1y' = F1y' − F2y'
Sisi Kencang Fp1y' = 1,656 kg − 1,093 kg
Fp1y' = 0,563 kg

84
DBB Puli yang Digerakkan (Puli 2)

ΣFx' = 0
+ y’ − Fp2x' + F1x' + F2x' = 0
Sisi Kencang
F1y’
F1x’ Fp2x' = F1x' + F2x'
F1 Fp2x' = 9,95 kg + 15,069 kg
Fp2x' = 25,019 kg
Fp2x’
+ x’
Fp2y’ ΣFy' = 0
F2
− F1y' − Fp2y' + F2y' = 0
F2x’ Fp2y' = F2y' − F1y'
F2y’
Sisi Kendor
Fp2y' = 1,656 kg − 1,093 kg
– y’
Fp2y' = 0,563 kg

4.2.2.2.1 Poros Motor Listrik

Diketahui diameter poros (dM) dari motor listrik adalah 14 mm dan

panjang (lM) sebesar 48 mm seperti yang terlihat pada gambar berikut.

Motor Listrik
dM = 14

B A

lM = 48

Gambar 4.7 Poros pada Motor listrik

85
Dengan menganggap tumpuan dititik A adalah sebagai tumpuan jepit, maka gaya-

gaya pada poros dapat digambarkan sebagai berikut :

Gaya-gaya pada poros motor listrik


+
y
Fp1x’
A
TB =

+z B +
Fp1y’ x

MAy
+
y RAy
TA
Fp1x’ RAz

TB = A RAx MAx
B
+
z Fp1y’ +
x + ΣM A (x) = 0
− M Ax + Fp1y' (48 mm) = 0
M Ax = Fp1y' ( 48 mm)
+ M Ax = 0,563 kg × 48 mm
y
M Ax = 27,024 kg.mm
Tx
+ ΣM A (y) = 0
TB = − M Ay + Fp1x' (48 mm) = 0
B
+ + M Ay = Fp1x' ( 48 mm)
T
z x M Ay = 25,019 kg × 48 mm
TB = TA MAz
Tx M Ay = 1200,912 kg.mm
TB =
(+)
(+) 0
+ ΣM A (z) = 0
M Bz − M Az = 0
z 48 M Bz = M Az atau
Diagram TB = TA = 128,83 kg.mm

86
+y
a. Bidang y–z
1 RAy
+ ΣM A = 0
MAx
+z − M Ax + Fp1y' (48 mm) = 0
B A
M Ax = Fp1y' (48 mm)
RAz
M Ax = 0,563 kg × 48 mm
Fp1y’ M Ax = 27,024 kg.mm
Z = 48 mm
+ ΣFy = 0

Fp1y' − R Ay = 0
Potongan 1 ( 0 < z < 48)mm Fp1y' = R Ay = 0,563 kg
+y

V RAy + ΣF = 0
z

MV MAx R Az = 0
+z N
A

MV
+z

48 0
(–)

–27,024 kg.mm

+ ΣM z = 0 + ΣFy = 0
− M Ax + R Ay (z) + M V = 0 − R Ay + V = 0
M V = − M Ax + R Ay (z) V = R Ay = 0,563 kg
M V = − 27,024 kg.mm + 0,563 kg (z)
+ ΣF = 0
z
untuk N = 0
z=0 → M V = − 27,024 kg.mm
z = 48 → MV = 0

87
b. Bidang x–z
+x
+ ΣM A = 0
RAx
1 − M Ay + Fp1x' (48 mm) = 0
MAy
M Ay = Fp1x' (48 mm)
+z
B A M Ay = 25,019 kg × 48 mm
RAz
M Ay = 1200,912 kg.mm

Fp1x’ + ΣFx = 0
z = 48 mm
Fp1x' − R Ax = 0
Fp1x' = R Ax = 25,019 kg
Potongan 1 ( 0 < z < 48)
+x + ΣF = 0
z

V RAx R Az = 0

MH MAy
+z N
A

MH
+z

48 0
(–)

–1200,912 kg.mm

+ Mz = 0 + ΣFx = 0
− M Ay + R Ax (z) + M H = 0 − R Ax + V = 0
M H = − M Ay + R Ax (z) V = R Ax = 25,019 kg
M H = − 1200,912 kg.mm + 25,019 kg (z)
+ ΣF = 0
z

untuk N = 0
z=0 → M H = − 1200,912 kg.mm
z = 48 → MH = 0

88
Diagram momen resultan maksimum poros motor listrik
+y

+y
MAy
RAy
TA
Fp1x’ RAz

A RAx MAx
TB
+z B +x

+x
Fp1y’

MH

–1200,912 kg.mm

0
(–)

(–) +x
48
+z
–27,024 kg.mm
+x
MResultan Maksimum MV

Dari diagram momen lentur, untuk harga z = 0, diperoleh :

MV = – 27,024 kg.mm (harga momen lentur bidang y-z)

MH = – 1200,912 kg.mm (harga momen lentur bidang x-z)

Maka momen lentur gabungan (M Resultan Maksimum) adalah :

M Resultan Maksimum = MV + MH
2 2

M Resultan Maksimum = (- 27,024)2 + (- 1200,912)2 = 1201,216 kg.mm

89
Jika dipilih bahan poros adalah S40C dengan kekuatan tarik σB = 55 kg/mm2,

Sf1 = 6,0 dan Sf2 = 2,0 (dengan pengaruh massa dan baja paduan), Km = 2,0

(faktor koreksi lenturan) dan Kt = 1,5 (faktor koreksi puntiran), maka :

Tegangan geser yang diizinkan :


55 kg/mm 2
= B
= = 4,58 kg/mm 2
( Sf1 × Sf 2 ) ( 6,0 × 2,0 )
a

Diameter poros :
1/ 3
  5,1  
ds ≥    × ( K m ⋅ M ) 2 + ( K t ⋅ T ) 2 
 a  
ds ≥ 13,89 mm = 14 mm

4.2.2.2.2 Poros Reduser

Diketahui diameter poros (dR) dari reduser adalah 22 mm dan panjang (lR)

sebesar 55 mm seperti yang terlihat pada gambar berikut.

Reduser
dM = 22

B A

lM = 55

Gambar 4.8 Poros pada Reduser

Dengan menganggap tumpuan dititik A adalah sebagai tumpuan jepit, maka gaya-
gaya pada poros dapat digambarkan sebagai berikut :

90
Gaya pada poros reduser

+y

Fp2x’
A

+z
TB B +x
Fp2y’

MAy
+y
MAx RAy
TA
Fp2x’ RAz

A RAx
+z
TB B
Fp2y’ +x + ΣM A (x) = 0
M Ax − Fp2y' (55 mm) = 0
M Ax = Fp2y' (55 mm)
+y M Ax = 0,563 kg × 55 mm
M Ax = 30,965 kg.mm
Tx
+ ΣM A (y) = 0
TB = MBz M Ay − Fp2x' (55 mm) = 0
+z B M Ay = Fp2x' (55 mm)
+x T
M Ay = 25,019 kg × 55 mm
TA = MAz
Tx M Ay = 1376,045 kg.mm
TB = MBz
(+)
(+) 0 + ΣM A (z) = 0
M Bz − M Az = 0
z 48 M Bz = M Az atau
Diagram Torsi TB = TA = 302,75 kg.mm

91
a. Bidang y–z

Fp2y’ 1 +y
+ ΣM A = 0
M Ax − Fp2y' (55 mm) = 0
+z
B A M Ax = Fp2y' (55 mm)
RAz
MAx M Ax = 0,563 kg × 55 mm
RAy M Ax = 30,965 kg.mm

z = 55 mm
+ ΣFy = 0
− Fp2y' + R Ay = 0
Potongan 1 ( 0 ≤ z ≤ 55) mm Fp2y' = R Ay = 0,563 kg
+y
V
+ ΣF = 0
MV z
+ N R Az = 0
A
MAx
z RAy

MV
+z
55 0
(–)

– 30,965 kg.mm

+ ΣM z = 0 + ΣFy = 0
M Ax − R Ay (z) + M V = 0 R Ay + V = 0
M V = − M Ax + R Ay (z) R Ay = − V
M V = − 30,965 + 0,563 (z) V = − 0,563 kg

untuk + ΣFz = 0
z=0 → M V = − 30,965 kg.mm N = 0
z = 55 → MV = 0

92
b. Bidang x– z
+x ΣM A = 0
Fp2x’ 1 M Ay − Fp2x' (55 mm) = 0
M Ay = Fp2x' (55 mm)
+z M Ay = 25,019 kg × 55 mm
B A
RAz M Ay = 1376,045 kg.mm
MAy
RAx
+ ΣFx = 0
z = 55 mm − Fp2x' + R Ax = 0
Fp2x' = R Ax = 25,019 kg

Potongan 1 ( 0 ≤ z ≤ 55) mm + ΣF = 0
z
+x
V R Az = 0
MH
+z N
A
MAy
z
RAx

MH
+z
55 0
(–)

– 1376,045 kg.mm

+ Mz = 0 + Fy = 0
M Ay − R Ax (z) + M H = 0 R Ax + V = 0
M H = − M Ay + R Ax (z) V = − R Ax
M H = − 1376,045 + 25,019 (z) V = − 25,019 kg.mm

untuk
+ Fz = 0
z=0 → M H = − 1376,045 kg.mm N = 0
z = 55 → MH = 0

93
Diagram momen resultan maksimum poros reduser

+y
MAy
RAy
TA
Fp2x’ RAz

A RAx MAx
TB
+z B
+x
Fp2y’

MH
– 1376,0 kg.mm

0
(–)

(–) +x
+z 48
– 30,965 kg.mm
+x
MResult Maksimum MV

Dari diagram momen lentur, untuk harga z = 0, diperoleh :

MV = 30,965 kg.mm (harga momen lentur bidang y-z)

MH = 1376,045 kg.mm (harga momen lentur bidang x-z)

Maka momen lentur gabungan (M Resultan Maksimum) adalah :

M Resultan Maksimum = MV + MH
2 2

M Resultan Maksimum = (30,965)2 + (1376,045)2 = 1376.39 kg.mm

94
Jika dipilih bahan poros adalah S40C dengan kekuatan tarik σB = 55 kg/mm2,

Sf1 = 6,0 dan Sf2 = 2,0 (dengan pengaruh massa dan baja paduan), Km = 2,0

(faktor koreksi lenturan) dan Kt = 1,5 (faktor koreksi puntiran), maka :

Tegangan geser yang diizinkan :

55 kg/mm 2
= B
= = 4,58 kg/mm 2
( Sf 1 × Sf 2 ) ( 6,0 × 2,0 )
a

Diameter poros :

1/ 3
  5,1  
ds ≥    × ( Km ⋅ M ) + ( Kt ⋅ T ) 
2 2
⇔ d s ≥ 14,59 mm = 15 mm
 a  

4.2.2.3 Kopling Cakar

Konstruksi kopling ini adalah jenis yang paling sederhana diantara kopling

tak tetap lainnya. Kopling cakar persegi dapat meneruskan momen dalam dua

arah putaran, tetapi tidak dapat dihubungkan dalam keadaan berputar.

Bagian yang
menyambung pada
poros horizontal
Bagian yang
menyambung pada
poros reduser

karet peredam kopling

Gambar 4.9 Kopling Cakar yang Digunakan

95
Gambar 4.10 Dimensi Kopling Cakar

Pada mekanisme penggerak penggeluaran abu reaktor gasifikasi sekam ini

kupling cakar digunakan sebagai pereduksi dari reduser ke poros horizontal,

perhitungan kupling cakar adalah sebagai berikut :

1. – Daya yang ditransmisikan P (KW)

1
P = HP ≈ 0,1865 kW
4

– Putaran poros nporos = n4 = 20 rpm

2. – Dengan menganggap kadar karbon poros baja liat sebesar 0,20 % karbon.

– Kekuatan tarik σB = 40 kg/mm2

Misal : Sf1 = 6 dan Sf2 = 2,5 (dengan alur pasak)


σB 40 kg / mm 2
τa = = = 2,67 kg / mm 2
Sf 1 × Sf 2 ( 6 × 2,5 )
3. – Faktor koreksi fc = 1

– Daya rencana Pd = P = 0,1865 kW

– Momen rencana T = 9,74 × 105 × ( fc . P) / n4

T = 9,74 × 105 × (1 . 0,1865 kW) / 20 rpm

T = 9131,25 kg.mm

96
4. – Faktor koreksi momen puntir Kt = 2,5

– Faktor lenturan Cb = 1

– Diameter poros

1/ 3
 5,1 
d s =  ⋅ K t ⋅ Cb ⋅ T  = 33,97 mm ≈ 34 mm
τ a 

5. – Macam baja bahan kopling (% C) dengan menganggap kadar karbon baja

liat sebagai bahan cakar sebesar 0,25 %

– Kekuatan tarik σB = 45 kg/mm2

– Faktor keamanan Sf1 = 10 dan Sf2 = 5

– Tegangan geser yang diizinkan

σB 45 kg / mm 2
τa = = = 0,9 kg / mm 2
Sf1 × Sf 2 ( 10 × 5 )

6. – Diameter dalam cakar D1 (mm)

D1 = 1,2 ds + 10 = 1,2 . 34 + 10 = 50,8 mm

– Diameter luar cakar D2 (mm)

D2 = 2 d s + 25 = 2 . 34 + 25 = 93 mm

– Tinggi cakar h (mm)

h = 0,5 ds + 8 = 0,5 . 34 + 8 = 25 mm

7. Jari-jari rata-rata rm (mm)

D1 + D 2 50,8 mm + 93 mm
rm = = = 35,95 mm
4 4

8. Gaya tangensial Ft (kg)

T 9131,25 kg.mm
Ft = = = 253,9 kg
rm 35,95 mm

97
9. Tegangan geser cakar (kg/mm3)

8 Ft 8 253,9 kg
τ = ⋅ = ⋅ = 0,1065 kg / mm 2
π ( D2 − D12 )
2
π (93 − 50,8 2 ) mm
2

10. – Momen tahanan lentur cakar Tegangan lentur Z (mm3)

1 ( D2 − D1 )  π ( D1 + D2 ) 
2

Z = ⋅ ⋅   = 11214,21 mm 3
6 2  4n 

– Tegangan lentur yang terjadi σb (kg/mm2)

Ft × h 253,9 kg × 25 mm
σb = = = 0,189 kg / mm 2
n×Z 3 × 11214,21 mm 3

11. Tegangan geser maksimum max (kg/mm2)

a =

 B
2
+ 4τ 2 
 =
( 0,189 2 + 4 × 0,10652 ) = 0,142 kg/mm 2
2 2

12. max , a (kg/mm2)

0,142 kg/mm2 < 0,9 kg/mm2

4.2.2.4 Roda Gigi Kerucut

Roda gigi yang termasuk dasar adalah roda gigi dengan poros sejajar, dan

dari jenis ini yang paling dasar adalah roda gigi lurus. Namun, bila diinginkan

transmisi untuk putaran tinggi, daya besar dan bunyi kecil antara dua poros

sejajar, pada umumnya roda gigi lurus kurang dapat memenuhi syarat tersebut.

Dalam hal demikian perlu dipergunakan roda gigi miring. Teori tentang roda gigi

miring, pada dasarnya sama dengan teori roda gigi lurus, yang ditetapkan pada

bidang tegak lurus alur gigi.

98
Sepasang roda gigi kerucut yang saling berkait dapat diwakili oleh dua

bidang kerucut dengan titik puncak yang berimpit dan saling menggelinding tanpa

slip. Kedua bidang kerucut ini disebut “kerucut jarak bagi”. Besarnya sudut

puncak kerucut tersebut merupakan ukuran bagi putaran masing-masing porosnya.

Roda gigi kerucut yang alur giginya lurus dan menuju ke puncak kerucut

dinamakan roda gigi kerucut lurus. Dalam gambar berikut dijelaskan nama

bagian-bagian roda gigi kerucut.

Gambar 4.11 Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut

Sumbu poros roda gigi kerucut biasanya berpotongan dengan sudut 90º.

Bentuk khusus dari roda gigi kerucut berupa ”roda gigi miter” yang mempunyai

sudut kerucut jarak bagi sebesar 45º, seperti terlihat dalam gambar berikut.

99
Gambar 4.12 Roda Gigi Kerucut Istimewa Roda Gigi “Miter”

Pada mekanisme penggerak penggeluaran abu reaktor gasifikasi sekam ini,

roda gigi kerucut lurus digunakan sebagai transmisi putaran arah horizontal untuk

menggerakkan poros kipas penyapu. Perhitungan roda gigi kerucut adalah

sebagai berikut :

1. – Daya yang akan ditransmisikan P (KW)


1
P = HP ≈ 0,1865 kW
4
– Putaran poros penggerak nporos = n3 = 20 rpm

– Perbandingan reduksi i = 2

– Sudut poros = 90º

– Sisi kerucut R = 28 mm

2. Faktor koreksi fc = 1

3. Daya rencana Pd = fc × P = 1 × 0,1865 kW = 0,1865 kW

4. – Sudut kerucut jarak bagi δ1 , δ2 ( º )

δ1 = tan–1 ( 1 / i ) = tan–1 ( 1 / 2 ) = 26,56º

δ2 = 90º – δ1 = 90º – 26,56º = 63,44º

100
– Diameter lingkaran jarak bagi ujung luar d1 , d 2 (mm)

d 1 = 2 R sin δ1 = 2 × 28 mm × sin 26,56 = 25,04 mm

d 2 = 2 R sin δ2 = 2 × 28 mm × sin 63,44 = 50,09 mm

5. – Modul m (mm)
d1 25,04 mm
m = = = 1,38 mm
z1 18
– Sudut tekan o = 20º (gambar 6.37 ; Sularso)

6. – Jumlah gigi z1 = 18 , z2 = 36

– Perbandingan gigi i = 2

7. – Sudut kerucut jarak bagi δ1 = 26,56º , δ2 = 63,44º

– Diameter lingkaran jarak bagi d1 = 25,04 mm , d2 = 50,09 mm

8. – Kecepatan keliling v (m/s)


π ×d × n π × 25,04 × 20
v = = = 0,026 m/s
60 × 1000 60 × 1000
– Gaya tangensial Ft (kg)
102 × Pd 102 × 0,1865 kW
Ft = = = 731,65 kg
v 0,026 m/s
9. – Kelonggaran puncak Ck (mm)

Ck = 0,188 × m = 0,188 × 1,38 mm = 0,25 mm

– Kelonggaran belakang Co = 0 ; karena satuannya dalam mikrometer maka

Co = 0 (dianggap nol)

10. Faktor perubahan kepala x1 , x2


  z1  
2
  18  
2

x1 = 0,46  1 -    = 0,46  1 -    = 0,345


  z 2     36  

x 2 = - x1 = - 0,345

101
11. – Tinggi kepala h k1 , hk2 (mm)

h k1 = ( 1 + x1 ) m = ( 1 + 0,345 ) 1,38 mm = 1,85 mm

h k2 = ( 1 + x2 ) m = ( 1 – 0,345 ) 1,38 mm = 0,9 mm

– Tinggi kaki hf1 , hf2 (mm)

h f1 = ( 1 – x1 ) m + ck = ( 1 – 0,345 ) 1,38 mm + 0,25 mm = 1,15 mm

h f2 = ( 1 – x2 ) m + ck = ( 1 + 0,345 ) 1,38 mm + 0,25 mm = 1,15 mm

– Kedalaman gigi penuh H (mm)

H = 2 × m × ck = 2 × 1,38 mm × 0,25 mm = 3,01 mm

12. – Sudut kepala θk1 , θk2 ( º )

 h k1  -1  1,85 mm 
θ k 1 = tan -1   = tan   = 3,78º
 R   28 mm 
 h k2  -1  0,9 mm 
θ k 2 = tan -1   = tan   = 1,84º
 R   28 mm 
– Sudut kaki θf 1 , θf 2 ( º )

 h f1 
 = tan -1 
1,15 mm 
θ f 1 = tan -1   = 2,35º
 R   28 mm 
 hf2 
 = tan -1 
2,1 mm 
θ f 2 = tan -1   = 4,29º
 R   28 mm 

– Sudut kerucut kepala δk1 , δk2 ( º )

δk1 = δ1 + θk1 = 26,56º + 3,78º = 30,34º

δk2 = δ2 + θk2 = 63,44º + 1,84º = 65,28º

– Sudut kerucut kaki δf 1 , δf 2 ( º )

δf 1 = δ1 – θf 1 = 26,56º – 2,35º = 24,21º

δf 2 = δ2 – θf 2 = 63,44º – 4,29º = 59,15º

102
13. – Diameter lingkaran kepala dk1 , dk2 (mm)

d k1 = d1 + 2 hk1 cos δ1 = 25,04 + 2 (1,85) cos 26,56 = 28,34 mm

d k2 = d2 + 2 hk2 cos δ2 = 50,09 + 2 (0,9) cos 63,44 = 50,89 mm

– Jarak dari puncak sampai puncak gigi luar X1 , X2 (mm)

X1 = ( d2 / 2 ) – hk1 sin δ1 = ( 50,09 mm / 2 ) – 1,85 mm sin 26,56

= 24,21 mm

X2 = ( d1 / 2 ) – hk2 sin δ2 = ( 25,04 mm / 2 ) – 0,9 mm sin 63,44

= 11,75 mm

– Tebal lingkar gigi s1 , s2 (mm)

s1 = ( 0,5 π + 2 x1 × tan o ) m = ( 0,5 π + 2 (0,345) × tan 20º ) 1,38 mm

s1 = 2,51 mm

s2 = ( 0,5 π + 2 x2 × tan o ) m = ( 0,5 π – 2 (0,345) × tan 20º ) 1,38 mm

s1 = 1,82 mm

14. Bahan roda gigi σB1 , σB2 (kg/mm2), Perlakuan panas, Tegangan lentur yang

diizinkan σa1 , σa2 (kg/mm2) dan Kekerasan permukaan gigi HB1 , HB2

– Roda Gigi Horizontal (Roda gigi penggerak) :

Bahan SNC 21 dengan :

§ σB1 = 80 kg/mm2

§ σb1 = 39 kg/mm2

Perlakuan panas dengan celup dingin sementasi

Kekerasan Permukaan :

§ HRC = 55

§ HB1 = (55 + 3) × 10 = 580

103
– Roda Gigi Vertikal (Roda gigi yang digerakkan) :

Bahan S 45 C dengan :

§ σB2 = 70 kg/mm2

§ σb2 = 20 kg/mm2

Perlakuan panas dengan celup dingin dan temper

Kekerasan Permukaan :

§ HRC = 30

§ HB1 = (30 + 3) × 10 = 330

15. – Faktor dinamis Kv = 0,82 (Tabel hal 271 ; Sularso)

– Faktor geometri J1 = 0,185 , J2 = 0,230

– Faktor beban lebih Ko = 1,25 (Tabel hal 271 ; Sularso)

– Faktor distribusi beban Km = 1

– Faktor ukuran Ks
 4m 
K s =   ⇒ m ≥ 1,58
 = 1,38 ≥ 1,58
 2,24 
 4 1,38 
Ks =   = 0,143
 2,24 
 
16. Beban lentur yang diizinkan per satuan lebar pada penampang rata-rata F’b1 ,
F’b2 (kg/mm)
σ a1 × m × K v × J 1 22,7 × 1,38 × 0,82 × 0,185
F ' b1 = = = 26,58 kg/mm
Ko × Ks × Km 1,25 × 0,143 × 1
σ a2 × m × K v × J 2 14,4 × 1,38 × 0,82 × 0,230
F 'b 2 = = = 16,86 kg/mm
Ko × Ks × Km 1,25 × 0,143 × 1

17. – Harga terkecil dari antara tegangan kontak yang diizinkan σc = 102 kg/mm2

(diambil dari tabel 6.16 ; Sularso)

– Koefisien elastis Cp2 = (74,2)2 = 5506 kg/mm2 (tabel 6.19 ; Sularso)

104
– Faktor dinamis Cv = 0,82

– Faktor geometri I = 0,07 (dari tabel hal 273 ; Sularso)

– Faktor bebam lebih Co = 1,25

– Faktor distribusi beban Cm = 1,25

– Faktor kondisi permukaan Cf = 1

18. Beban permukaan yang diizinkan per satuan lebar pada penampang rata-rata
F’H (kg/mm)
d1 Cv × I 25,04 0,82 × 0,07
F' H = σ c × × = (102) 2 × ×
2

Cp
2
Co × Cm × Cf 5506 1,25 × 1 × 1
F' H = 2,168 kg/mm

19. Harga terkecil dari antara F’b1 , F’b2 , F’H , F’min (kg/mm)

§ Lebar gigi akibat beban permukaan


Ft 731,65
b ≥ ⇔ b ≥ ⇔ b ≥ 337,47 mm
F' H 2,168
§ Lebar gigi akibat beban lentur
Ft 731,65
b ≥ ⇔ b ≥ ⇔ b ≥ 43,39 mm
F' b2 16,86
Ft 731,65
b ≥ ⇔ b ≥ ⇔ b ≥ 27,52 mm
F' b1 26,58
Syarat roda gigi kerucut lurus yang aman adalah :
b R
≤ 10 ; ≤ 3
m b

b R
≤ 10 ≤ 3
m b
27,52 28
≤ 10 ≤ 3
1,38 31
19,94 ≥ 10 (tidak aman) 0,9 ≤ 3 (aman)

105
4.2.3 Analisis Gaya

Setelah melakukan beberapa point perhitungan diatas maka langkah

selanjutnya adalah menganalisis gaya yang terjadi pada roda gigi kerucut tersebut

secara berpasangan dengan roda gigi kerucut yang digerakkannya serta

melibatkan pula poros dan tumpuan (bearing). Gaya yang terjadi pada roda gigi

kerucut tersebut seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.13 Gaya yang terjadi pada Roda Gigi Kerucut

Sebelum melakukan analisis gaya, dimensi dari roda gigi kerucut beserta

poros dan tumpuan yang menyangganya harus ditampilkan. Dimensi tersebut

diukur secara langsung dan menggunakan satuan mm.

106
Gambar 4.14 Dimensi Roda Gigi Kerucut dengan Poros dan Tumpuannya

4.2.3.1 Analisis Gaya pada Poros Horizontal


+y –z

–x A’
A B
C D
+z E
–y +x

Analisis gaya-gaya pada poros horizontal (A’ABCDE) dilakukan dengan

mengasumsikan poros ABCD antara lain pada titik A yaitu kopling cakar sebagai

tumpuan engsel, titik B adalah roda gigi kerucut dengan gaya tangensial (Ft), gaya

107
aksial (Fa) dan gaya radial (Fr), titik C yaitu pillow blok sebagai tumpuan rol dan

titik E adalah bagian bebas yang menyambung pada screw conveyor. Berikut

adalah diagram benda bebas yang diasumsikan tersebut.

+y

A B

C D

+z +x

Fr

Fa
Ft

C D
B
+x

Daya (N) = ¼ HP = 0,1865 kW, n = 20 rpm (putaran pada poros horizontal)

maka : TA adalah torsi untuk input poros horizontal, sebagai berikut

N 0,1865 kW
TA = k × = 9,74 ⋅ 10 5 × = 9082,55 kg.mm
n 20 rpm

karena : TA = TB + TD

maka diasumsikan untuk TB (torsi pada roda gigi kerucut) dan TD (torsi pada

sambungan screw conveyor) sebagai berikut :

108
TB = 80% TA (asumsi untuk menggerakkan poros vertikal, kipas penyapu)

TB = 80% × 9082,55 kg.mm = 7266,04 kg.mm

TD = 20% TA (asumsi untuk screw conveyor, mengeluarkan abu)

TD = 20% × 9082,55 kg.mm = 1816,51 kg.mm

+y TB = Ft × rav
Fr TB 7266,04 kg.mm
Ft = = = 454,13 kg
rav 16 mm
F
 40 
rav γ = tan -1   = 28,39 o
 74 
Ft Φ = 20 o (standar untuk roda gigi kerucut)
Fa

Gaya Radial :
Fr = Ft tan Φ cos γ
Fr = 454,13 kg × tan 20 × cos 28,39
+x
Fr = 145,41 kg
+z

Gaya Aksial :
Fa = Ft tan Φ sin γ
Fa = 454,13 kg × tan 20 × sin 28,39
Fa = 78,59 kg

109
+y Fr

RAz Fa

RAx A Ft
rav = 16 mm RCz
TA B
C
RAy D TD
+z
RCy +x

Fr

Fa
Ft
MBz
Ft’ M Bz = Fa × rav
TB = MBx M Bz = 78,59 kg × 16 mm
Fa’
M Bz = 1257,44 kg.mm
+y
Fr’

RAz MBz
Fr
RAx A
RCz
TA B Fa
Ft C
RAy TB = MBx D TD
+z
RCy +x

T (kg.mm)

(+)

(+)
(+)

Diagram Momen Puntir (Torsi) x (mm)

110
a. Bidang x-y

+y 1 2 3
Fr = 145,41 kg

RAx +x
B C D
A
MBz = 1257,44 kg.mm
RAy RCy
53,26 mm 146,52 mm 31,65 mm

+ Σ MA = 0 + Σ Fy = 0
− M Bz + Fr (53,26 mm) − R Cy (199,78mm) = 0 R Ay − Fr + R Cy = 0
Fr (53,26 mm) − M Bz R Ay = Fr − R Cy
R Cy =
199,78 mm R Ay = 145,41kg − 32,47 kg
145,41kg × (53,26 mm) − 1257,44 kg.mm
R Cy = R Ay = 112,94 kg
199,78 mm
R Cy = 32,47 kg + ΣF = 0
x

R Ax = 0

Potongan 1 (0 x 53,26 mm)

+y + Mx = 0
Mx R Ay (x) − M x = 0
RAx N +x
M x = R Ay (x)
A untuk :
RAy x V x = 0 → Mx = 0
x = 53,26 mm → M x = 6014,12 kg.mm

+ Σ Fy = 0 + ΣF = 0
x

V = R Ay = 112,92 kg N = R Ax = 0

111
Potongan 2 (53,26 x 199,78 mm)
+y
Fr
Mx
RAx N +x
B
A
MBz (x – 53,26 mm)
V
RAy
x

+ Σ Fy = 0
+ Σ Mx = 0 R Ay − Fr − V = 0
R Ay (x) − M Bz − Fr (x − 53,26 mm) − M x = 0 V = R Ay − Fr
M x = R Ay (x) − M Bz − Fr (x − 53,26 mm) V = 112,92 − 145,41
M x = 112,92 (x) − 1257,44 − 145,41(x − 53,26) V = − 32,49 kg
untuk :
x = 53,26 mm → M x = 4756,68kg.mm + ΣF = 0
x

x = 199,78 mm → M x = − 3,76 kg.mm R Ax = N = 0

Potongan 3 (199,78 x 231,43 mm)

+y Fr (x – 199,78 mm)

Mx
RAx N +x
B C
A
MBz (x – 53,26 mm) V
RAy RCy
x

+ Σ Mx = 0
R Ay (x) − M Bz − Fr (x − 53,26 mm) + R Cy (x − 199,78 mm) − M x = 0
M x = R Ay (x) − M Bz − Fr (x − 53,26 mm) + R Cy (x − 199,78 mm)
M x = 112,92 (x) − 1257,44 − 145,41(x − 53,26) + 32,47 (x − 199,78)
untuk :
x = 199,78 mm → M x = − 3,76 kg.mm
x = 231,43 mm → M x = 0 + Σ Fy = 0
V = R Ay − Fr + R Cy
+ ΣF = 0
x V = 112,92 − 145,41 + 32,47
R Ax = N = 0 V = 0

112
Diagram Momen Lentur Bidang x-y

+y
Fr = 145,41 kg

RAx +x
B C D
A
MBz = 1257,44 kg.mm

RAy = 112,92 kg RCy = 32,47 kg


53,26 mm 146,52 mm 31,65 mm

MV (kg.mm)

6014,12
4756,68

(+)
199,78 231,43
x (mm)
0 53,26 (–)
– 3,76

113
b. Bidang x-z

+z 1 2 3
Ft = 454,13 kg

+x
B C D
A

RAz RCz
53,26 mm 146,52 mm 31,65 mm

+ Σ MA = 0 + Σ Fz = 0
Ft (53,26 mm) − R Cz (199,78 mm) = 0 R Az − Ft + R Cz = 0
Ft (53,26 mm) R Az = Ft − R Cz
R Cz =
199,78 mm R Az = 454,13 kg − 121,07 kg
R Cz =
454,13 kg (53,26 mm) R Az = 333,06 kg
199,78 mm
R Cz = 121,07 kg

Potongan 1 (0 x 53,26 mm)

+z + Mx = 0
Mx R Az (x) − M x = 0
N +x M x = R Az (x)
A untuk :
x V x = 0 → Mx = 0
RAz
x = 53,26 mm → M x = 17738,78 kg.mm

+ Σ Fz = 0 + ΣF = 0
x

V = R Az = 333,06 kg N = 0

114
Potongan 2 (53,26 x 199,78 mm)
+z
Ft
Mx
N +x
B
A
(x – 53,26 mm)
V
RAz
x

+ Σ Fz = 0
+ Σ Mx = 0 R Az − Ft − V = 0
R Az (x) − Ft (x − 53,26 mm) − M x = 0 V = R Az − Ft
M x = R Az (x) − Ft (x − 53,26 mm) V = 333,06 − 454,13
M x = 333,06 (x) − 454,13(x − 53,26) V = − 121,07 kg
untuk :
x = 53,26 mm → M x = 17738,78kg.mm + Σ Fx = 0
x = 199,78 mm → M x = 0 N =0

Potoan 3 (199,78 x 231,43 mm)

+z Ft (x – 199,78 mm)

Mx
N +x
B C
A
(x – 53,26 mm) V
RAz RCz
x

+ Σ Mx = 0
R Az (x) − Ft (x − 53,26 mm) + R Cz (x − 199,78 mm) − M x = 0
M x = R Az (x) − Ft (x − 53,26 mm) + R Cz (x − 199,78 mm)
M x = 333,06 (x) − 454,13(x − 53,26) + 121,07 (x − 199,78)
untuk :
x = 199,78 mm → M x = 0
x = 231,43 mm → M x = 0 + Σ Fz = 0
V = R Az − Ft + R Cz
+ ΣF = 0 V = 333,06 − 454,13 + 121,07
x

N = 0 V = 0

115
Diagram Momen Lentur Bidang x-z

+z
Ft = 454,13 kg

+x
B C D
A

RAz = 333,06 kg RCz = 121,07 kg


53,26 mm 146,52 mm 31,65 mm

MH (kg.mm)

17738,78

(+)

x (mm)
0 53,26 199,78 231,43

116
Gambar Diagram Momenntur Resultan (MResultan Maksimum)

117
Dari gambar diagram momen lentur bidang x-y dan bidang x-z maka

diperoleh harga maksimum dari kedua bidang tersebut yang terletak pada titik

yang sama yaitu titik B sebagai berikut :

MV = MB (x-y) = 6014,12 kg.mm (harga momen lentur maksimum bidang x-y)

MH = MB (x-z) = 17738,78 kg.mm (harga momen lentur maksimum bidang x-z)

Maka momen lentur gabungan (M Resultan) adalah :

M Resultan = MV + MH = 18730,56 kg.mm


2 2

Jika dipilih bahan poros adalah S55C-D, dengan kekuatan tarik σB = 72

kg/mm2 , maka :

dipakai Sf1 = 6,0

Sf 1 Keterangan

5,6 Untuk bahan SF dengan kekuatan yang dijamin

6,0 Untuk bahan S-C dengan pengaruh massa dan baja paduan

dipakai Sf2 = 1,3

Sf 2 Keterangan

1,3 – 3,0 Pengaruh konsentrasi tegangan dan kekerasan permukaan

dipakai Km = 2,0 (faktor koreksi lenturan)

dipakai Kt = 1,0 (faktor koreksi puntiran)

Kt Keterangan
1,0 jika beban dikenakan secara halus
1,0 – 1,5 jika terjadi sedikit kejutan atau tumbukkan
jika terjadi beban dikenakan dengan kejutan
1,5 – 3,0
atau tumbukkan besar

TMaksimum = 9082,55 kg.mm (torsi maksimum)

118
Tegangan geser yang diizinkan :

72 kg/mm 2
= B
= = 9,23 kg/mm 2
(Sf1 × Sf 2 ) (6,0 × 1,3)
a

Diameter Poros :
1
  5,1  
3

d s ≥    × (K m ⋅ M Resultan ) + (K t ⋅ TMaksimum )
2 2

 a  
1
 5,1   3

d s ≥   ×
2 
(2,0 ⋅ 18730,56 kg.mm) + (1,0 ⋅ 9082,55 kg.mm)
2 2

  9,23 kg/mm  
d s ≥ 27,72 mm = 28 mm

119
4.2.3.2 Analisis Gaya pada Poros Vertikal

Analisis gaya-gaya pada poros vertikal (EFGH) dilakukan dengan

mengasumsikan poros EFGH antara lain pada titik E yaitu roda gigi kerucut

dengan gaya tangensial (Ft), gaya aksial (Fa) dan gaya radial (Fr), titik F adalah

pillow blok 1 sebagai tumpuan engsel, titik G yaitu pillow blok 2 sebagai tumpuan

rol dan titik H adalah kipas penyapu sebagai tumpuan jepit. Berikut adalah

diagram benda bebas yang diasumsikan tersebut.

+y +y
rav
H Fr
+x
Ft
F
+z
Fa

+z
+x

Ft (Vertikal) = Ft (Horizonta l) = 454,13 kg


 74 
Γ = tan -1   = 61,61o
 40 
Φ = 20 (standar untuk roda gigi kerucut)
o

G Gaya Radial :
Fr = Ft tan Φ cos Γ
Fr = 454,13 kg × tan 20 × cos 61,61
F Fr = 78,59 kg

Gaya Aksial :
E Fa = Ft tan Φ sin Γ
+x
+z Fa = 454,13 kg × tan 20 × sin 61,61
Fa = 145,41 kg

120
+y
TE = M Ey = Ft × rav
TE = 454,13 kg × 29,6 mm
+x
H TE = 13442,25 kg.mm
+z
M Ez = Fa × rav
M Ez = 145,41 kg × 29,6 mm
M Ez = 4304,14 kg.mm

+y
G
TH
RHy MHz
MHx RHz
RHx
F
H +x
Ft
+z
Fa

E
Fr

G
RGx

RGz
RFy

MEz F RFx
Ft
F a’ RFz
Fr

Fr’
Fr Ft
Ft’ E
Fa +x
E
MEz Fa
MEy = TE
+z TE

121
Untuk memudahkan perhitungan semua gaya reaksi tumpuan dan diagram momen

lentur pada gambar poros vertikal ini, arah sumbu y positif diambil ke bawah,

karena pada titik H sebagai acuan yaitu tumpuan jepit, seperti gambar di bawah

ini.

+ Σ My = 0
TE − TH = 0
TH = TE = 13442,25kg.mm

TH
RHy Diagram Torsi
MHz
MHx RHz
RHx
H
+x

+z
T (kg.mm)

(+)

G RGx

RGz
RFy

F
RFx
(+)

RFz

Fr Ft
(+)
+x
E
MEz Fa
+z TE
y (mm)
+y

122
a. Bidang y-z

+z +z
H H

595,72 mm
G G RGz
116,42 mm
RFy

F F RFz
66,76 mm

Ft = 454,13 kg Ft = 454,13 kg

E E
Fa = 145,41 kg Fa = 145,41 kg

+y +y

+z
H

RGz zG1 zG2 zG3 RGz


G

RFy RFy
RFz RFz
F
zF1 zF2 zF3

Ft Ft

E
Fa Fa

+y I II III IV

Karena pada komponen I, arah gayanya adalah aksial maka defleksi lentur = 0

123
(# ) z G = 0
z G = z G1 + z G2 + z G3
dimana :
R Gz ⋅ L3 R Fz ⋅ y 2 Ft ⋅ y 2
z G1 = − ; z G2 = − ⋅ (3L − y) ; z G3 = ⋅ (3L − y)
3 EI 6 EI 6 EI

maka :
R Gz ⋅ L3 R ⋅ y2 F ⋅ y2
− − Fz ⋅ (3L − y) + t ⋅ (3L − y) = 0
3 EI 6 EI 6 EI
L3 y2 y2
R Gz + R Fz (3L − y) = Ft (3L − y)
3 6 6
R Gz ⋅ (70470164,91) + R Fz ⋅ (137314141,46) = 454,13 ⋅ (157515703,36)
454,13 kg ⋅ (157515703,36 mm) − R Fz ⋅ (137314141,46 mm)
R Gz =
70470164,91 mm
R Gz = 1015,08 kg − 1,95 R Fz LLLLLLLLL (1)

(# # ) z F = 0
z F = z F1 + z F2 + z F3
dimana :
R Gz ⋅ a 3 R Fz ⋅ y 2
z F1 = − ⋅ (3L − a) ; z G2 = − ⋅ (3L − y)
6 EI 6 EI
F ⋅ x2
z G3 = t ⋅ (3L − y)
6 EI

maka :
R Gz ⋅ a 3 R ⋅ y2 F ⋅ y2
− ⋅ (3L − a) − Fz ⋅ (3L − y) + t ⋅ (3L − y) = 0
6 EI 6 EI 6 EI
a3 y2 y2
R Gz (3L − a) + R Fz (3L − y) = Ft (3L − y)
6 6 6
R Gz ⋅ (104748242,61) + R Fz ⋅ (137314141,46) = 454,13 ⋅ (157515703,36)
454,13 kg ⋅ (157515703,36 mm) − R Gz ⋅ (104748242,61 mm)
R Fz =
137314141,46 mm
R Fz = 520,94 kg − 0,76 R Gz LLLLLLLLL (2)

124
Substitusi kan persamaan (2) ke (1) :
R Gz = 1015,08 kg − 1,95 ⋅ (520,94 kg − 0,76 R Gz )
R Gz = 1015,08 kg − 1015,83 kg + 1,48 R Gz
R Gz − 1,48 R Gz = 1015,08 kg − 1015,83 kg
− 0,48 R Gz = − 0,83 kg
R Gz = 1,56 kg

R Fz = 520,94 kg − 0,76 R Gz LLLLLLLLL (2)


R Fz = 520,94 kg − 0,76 ⋅ (1,56 kg )
R Fz = 520,94 kg − 1,19 kg
R Fz = 519,75 kg

RHy

RHz
H +z Asumsi :
MHx
RHy = 0, Karena tidak ada bagian yang bisa
menahan dalam arah sumbu y.
595,72 mm

+ Σ Fy = 0
RGz = 1,56 kg

Fa − R Fy + R Hy = 0
R Fy = Fa + R Hy
R Fy = 145,41kg + 0
G R Fy = 145,41kg
116,42 mm

RFy
+
ΣFz = 0
R Hz − R Gz − R Fz + Ft = 0
R Hz = R Gz + R Fz − Ft
Ft = 454,13 kg

RFz = 519,75 kg

F
66,76 mm

R Hz = 1,56 kg + 519,75 kg − 454,13 kg


R Hz = 67,18 kg
E
+ Σ ME = 0

Fa = 145,41 kg M Hx + R Hz (778,9) − R Gz (183,18) − R Fz (66,76) = 0


M Hx = − R Hz (778,9) + R Gz (183,18) + R Fz (66,76)
+y
M Hx = − 67,18 (778,9) + 1,56 (183,18) + 519,75(66,76)
M Hx = − 17342,23kg.mm
M Hx = 17342,23kg.mm

125
MHx = 17342,23 kg.mm Potongan 1 (0 y 595,72) mm
RHz
+z
H +z H

RHz = 67,18 kg
MHx
+ Σ Fz = 0
R Hz − V = 0

595,72 mm

y
V = R Hz

RGz = 1,56 kg
V = 67,18 kg

1 V
+ Σ Fy = 0
My
RFy = 145,41 kg

G N = 0
116,42 mm

N
+y

2
My = 0
Ft = 454,13 kg

+
RFz = 519,75 kg

F
66,76 mm

− M Hx + R Hz (y) − M y = 0
3 M y = − M Hx + R Hz (y)
E
M y = − 17342,23 kg.mm + 67,18 kg (y)
untuk :
Fa = 145,41 kg
y = 0 → M y = − 17342,23 kg.mm
+y
y = 595,72 mm → M y = 22678,24 kg.mm

Potongan 2 (595,72 y 712,14) mm

RHz +z + Σ My = 0
H
MHx − M Hx + R Hz (y) − R Gz (y − 595,72 mm) − M y = 0
M y = − M Hx + R Hz (y) − R Gz (y − 595,72 mm)
M y = − 17342,23+ 67,18 (y) − 1,56 (y − 595,72)
untuk :
y

y = 595,72 mm → M y = 22678,24kg.mm
G RGz
y = 712,14 mm → M y = 30317,72 kg.mm
( y – 595,72 mm)

+ ΣF = 0 + Σ Fy = 0
z

R Hz − R Gz − V = 0 N = 0
V = R Hz − R Gz
V
V = 67,18 kg − 1,56 kg
My
V = 65,62 kg
N
+y

126
Potongan 3 (712,14 y 778,9) mm

RHz +z
H
MHx

+ ΣF = 0
z

R Hz − R Gz − R Fz − V = 0
V = R Hz − R Gz − R Fz
V = 67,18 kg − 1,56 kg − 519,75 kg
y

G RGz V = − 454,13 kg
( y – 595,72 mm)

RFy + Σ Fy = 0
RFz − N − R Fy = 0
( y – 712,14 mm)

F N = − R Fy = 145,41kg
N = − 145,41kg

V
My
N
+y

+ Σ My = 0

− M Hx + R Hz (y) − R Gz (y − 595,72) − R Fz (y − 712,14) − M y = 0


M y = − M Hx + R Hz (y) − R Gz (y − 595,72) − R Fz (y − 712,14)
M y = − 17342,23+ 67,18 (y) − 1,56 (y − 595,72) − 519,7 (y − 712,14)
untuk :
y = 712,14 mm → M y = 30317,72 kg.mm
y = 778,90 mm → M y = 0

127
RHz = 67,18 kg
Ft = 454,13 kg
RFy = 145,41 kg

+y
F

E
H

G
RFz = 519,75 kg RGz = 1,56 kg
66,76 mm 116,42 mm 595,72 mm
MHx = 17342,23 kg.mm

Fa = 145,41 kg
+z
Diagram Momen Lentur Bidang y-z

– 17342,23

128
(–)
y (mm) 778,90 712,14 595,72 0

(+)
22678,24

30317,72

My (kg.mm)
b. Bidang y-x

+x +x
H H

595,72 mm
G G RGx

116,42 mm
RFx

F F RFx
66,76 mm

Fr = 78,59 kg Ft = 78,59 kg

E E

+y +y

+x
H

RGx xG1 xG2 xG3 RGx


G

RFx RFx
F
xF1 xF2 xF3

Fr Fr

E
Fa
+y I II III

129
(# ) x G = 0
x G = x G1 + x G2 + x G3
dimana :
R Gx ⋅ L3 R Fx ⋅ y 2 Fr ⋅ y 2
x G1 = − ; x G2 = − ⋅ (3L − y) ; x G3 = ⋅ (3L − y)
3 EI 6 EI 6 EI

maka :
R Gx ⋅ L3 R ⋅ y2 F ⋅ y2
− − Fx ⋅ (3L − y) + r ⋅ (3L − y) = 0
3 EI 6 EI 6 EI
L3 y2 y2
R Gx + R Fx (3L − y) = Fr (3L − y)
3 6 6
R Gx ⋅ (70470164,91) + R Fz ⋅ (137314141,46) = 78,59 ⋅ (157515703,36)
78,59 ⋅ (157515703,36 mm) − R Fx ⋅ (137314141,46 mm)
R Gx =
70470164,91 mm
R Gx = 175,67 kg − 1,95 R Fx LLLLLLLLL (1)

(# # ) x F = 0
x F = x F1 + x F2 + x F3
dimana :
R Gx ⋅ a 3 R Fx ⋅ y 2
x F1 = − ⋅ (3L − a) ; y G2 = − ⋅ (3L − y)
6 EI 6 EI
F ⋅ y2
x G3 = r ⋅ (3L − y)
6 EI

maka :
R Gx ⋅ a 3 R ⋅ y2 F ⋅ y2
− ⋅ (3L − a) − Fx ⋅ (3L − y) + r ⋅ (3L − y) = 0
6 EI 6 EI 6 EI
a3 y2 y2
R Gx (3L − a) + R Fx (3L − y) = Fr (3L − y)
6 6 6
R Gx ⋅ (104748242,61) + R Fx ⋅ (137314141,46) = 78,59 ⋅ (157515703,36)
78,59 ⋅ (157515703,36 mm) − R Gx ⋅ (104748242,61 mm)
R Fx =
137314141,46 mm
R Fx = 90,15 kg − 0,76 R Gx LLLLLLLLL (2)

130
Substitusi kan persamaan (2) ke (1) :
R Gx = 175,67 kg − 1,95 ⋅ (90,15 kg − 0,76 R Gx )
R Gx = 175,67 kg − 175,79 kg + 1,48 R Gx
R Gx − 1,48 R Gx = 175,67 kg − 175,79 kg
− 0,48 R Gx = − 0,12 kg
R Gx = 0,25 kg

R Fx = 90,15 kg − 0,76 R Gx LLLLLLLLL (2)


R Fx = 90,15 kg − 0,76 ⋅ (0,25 kg )
R Fx = 90,15 kg − 0,19 kg
R Fx = 89,96 kg

+
RHx ΣFx = 0
H MHz +x R Hx − R Gx − R Fx + Fr = 0
R Hx = R Gx + R Fx − Fr
R Hx = 0,25 kg + 89,96 kg − 78,59 kg
595,72 mm

R Hx = 11,62 kg
RGx = 0,25 kg

+ Σ ME = 0
M Hz + R Hx (778,9) − R Gx (183,18) − R Fx (66,76) = 0
M Hz = − R Hx (778,9) + R Gx (183,18) + R Fx (66,76)
G M Hz = − 11,62 (778,9) + 0,25 (183,18) + 89,96 (66,76)
116,42 mm

M Hz = − 2999,29 kg.mm
M Hz = 2999,29 kg.mm
RFx = 89,96 kg
Fr = 78,59 kg

F
66,76 mm

MEz = 4304,14 kg.mm

+y

131
MHz = 2999,29 kg.mm Potongan 1 (0 y 595,72) mm
RHx
+x
H +x H
RHx = 11,62 kg
MHz
+ ΣF = 0
x

R Hx − V = 0

595,72 mm

y
V = R Hx
RGx = 0,25 kg V = 11,62 kg

1 V
+ Σ Fy = 0
My
G N = 0
116,42 mm

N
+y

2
My = 0
RFx = 89,96 kg

+
Fr = 78,59 kg

F
66,76 mm

− M Hz + R Hx (y) − M y = 0
3 M y = − M Hx + R Hx (y)
E
M y = − 2999,29 kg.mm + 11,62 kg (y)
MEz = 4304,14 kg.mm untuk :
y = 0 → M y = − 2999,29 kg.mm
+y
y = 595,72 mm → M y = 3922,98 kg.mm

Potongan 2 (595,72 y 712,14) mm

RHx +x + Σ My = 0
H
MHz − M Hz + R Hx (y) − R Gx (y − 595,72 mm) − M y = 0
M y = − M Hz + R Hx (y) − R Gx (y − 595,72 mm)
M y = − 2999,29+ 11,62 (y) − 0,25 (y − 595,72)
untuk :
y

y = 595,72 mm → M y = 3922,98kg.mm
G RGx
y = 712,14 mm → M y = 5304,90 kg.mm
( y – 595,72 mm)

+ ΣF = 0 + Σ Fy = 0
x

R Hx − R Gx − V = 0 N = 0
V V = R Hx − R Gx
My V = 11,62 kg − 0,25 kg
N V = 11,37 kg
+y

132
Potongan 3 (712,14 y 778,9) mm

RHx +x
H
MHz

+ ΣF = 0
z

R Hx − R Gx − R Fx − V = 0
V = R Hx − R Gx − R Fx
V = 11,62 kg − 0,25 kg − 89,96 kg
y

G RGx V = − 78,59 kg
( y – 595,72 mm)

+ Σ Fy = 0

RFx − N − R Fy = 0
( y – 712,14 mm)

N = 0
F

V
My
N
+y

+ Σ My = 0

− M Hz + R Hx (y) − R Gx (y − 595,72) − R Fx (y − 712,14) − M y = 0


M y = − M Hz + R Hx (y) − R Gx (y − 595,72) − R Fx (y − 712,14)
M y = − 2999,29 + 11,62 (y) − 0,25 (y − 595,72) − 89,96 (y − 712,14)
untuk :
y = 712,14 mm → M y = 5304,90 kg.mm
y = 778,90 mm → M y = 0

133
RHx = 11,62 kg
Fr = 78,59 kg

+y
F

E
H

G
RFx = 89,96 kg RGx = 0,25 kg
66,76 mm 116,42 mm 595,72 mm

MEz = 4304,14 kg.mm


MHz = 2999,29 kg.mm

+x
Diagram Momen Lentur Bidang y-x

– 2999,29

134
(–)
y (mm) 778,90 712,14 595,72 0

(+)
3922,98

5304,90

My (kg.mm)
Gambar Diagram Momen Lentur Resultan (MResultan Maksimum)

135
Dari gambar diagram momen lentur bidang y-z dan bidang y-x maka

diperoleh harga maksimum dari kedua bidang tersebut yang terletak pada titik

yang sama yaitu titik F sebagai berikut :

MF (y-z) = 30317,72 kg.mm (harga momen lentur maksimum bidang y-z)

MF (y-x) = 5304,90 kg.mm (harga momen lentur maksimum bidang y-x)

Maka momen lentur gabungan (MResultan) adalah :

M Resultan Maksimum = M F (y -z) + M F (y -x) = 30778,34 kg.mm


2 2

Jika dipilih bahan poros adalah S55C-D, dengan kekuatan tarik σB = 72

kg/mm2 , maka :

dipakai Sf1 = 6,0

Sf 1 Keterangan

5,6 Untuk bahan SF dengan kekuatan yang dijamin

6,0 Untuk bahan S-C dengan pengaruh massa dan baja paduan

dipakai Sf2 = 1,3

Sf 2 Keterangan

1,3 – 3,0 Pengaruh konsentrasi tegangan dan kekerasan permukaan

dipakai Km = 2,0 (faktor koreksi lenturan)

dipakai Kt = 1,0 (faktor koreksi puntiran)

Kt Keterangan
1,0 jika beban dikenakan secara halus
1,0 – 1,5 jika terjadi sedikit kejutan atau tumbukkan
jika terjadi beban dikenakan dengan kejutan
1,5 – 3,0
atau tumbukkan besar

TMaksimum = 13442,25 kg.mm (torsi maksimum)

136
Tegangan geser yang diizinkan :

72 kg/mm 2
= B
= = 9,23 kg/mm 2
(Sf1 × Sf 2 ) (6,0 × 1,3)
a

Diameter poros :
1
  5,1  
3

d s ≥    × (K m ⋅ M Resultan ) + (K t ⋅ TMaksimum )
2 2

 a  
1
  
3
5,1
d s ≥   ×
2 
(2,0 ⋅ 30778,34 kg.mm) + (1,0 ⋅ 13442,25 kg.mm)
2 2

  9,23 kg/mm  
d s ≥ 32,65 mm = 33 mm

137
4.2.4 Perhitungan Bantalan

4.2.4.1 Bantalan pada Poros Horizontal


+y

A B

C D

+z +x

+y

RAz MBz
Fr
RAx A
TA RCz
B Fa
C
RAy Ft TB = MBx D TD
+z
RCy +x

Pada poros horizontal atau poros penggerak ini, terdapat satu buah

bantalan yang terletak pada titik C

dimana : ds = 27,72 mm (diameter poros rencana)

RCz = 121,07 kg dan RCy = 32,47 kg

Maka dapat diperoleh perhitungan sebagai berikut :

1. Beban bantalan dinamis ekivalen (Pr)

Karena pada bantalan poros horizontal beban ringan maka bantalan yang

digunakan adalah bantalan bola jenis terbuka dengan nomor bantalan 6006 dengan

diameter poros 27,72 mm 30 mm, maka pada tabel bantalan bola, didapat :

138
C = Kapasitas nominal dinamis spesifik = 1030 kg

Co = Kapasitas nominal statis spesifik = 740 kg

Gaya reaksi bantalan arah radial (Fr)

dimana : RCz = 121,07 kg dan RCy = 32,47 kg

Fr = R C = R Cz + R Cy
2 2

Fr = R C = (121,07 kg) 2 + (32,47 kg) 2 = 125,35 kg

maka Fr = RC = 125,35 kg

karena tidak ada gaya aksial pada batalan C maka : Y = 0 dan X = 1.

Jadi beban dinamis ekivalen :

Pr = X ⋅ Fr + Y ⋅ Fa = 1 × 125,35 kg + 0 = 125,35 kg

2. Faktor kecepatan ( fn )

n = 20 rpm (putaran input poros horizontal)


1/ 3 1/ 3
 33,3   33,3 
fn =   =   = 1,19
 n   20 

3. Faktor umur ( fh )

C  1030 
f h = f n .   = 1,19 .  = 9,78 ≈ 10
 Pr   125,35 

4. Umur nominal bantalan ( Lh )

L h = 500 × f h = 500 × 10 3 = 500000 jam kerja


3

5. Umur bantalan (t)

Jika pemakaian per-hari 6 jam, maka umur bantalan :

Lh 500000
t = = = 267,09 tahun
12 × 26 × 6 1872

139
4.2.4.2 Bantalan pada Poros Vertikal

+y TH
RHy MHz
H
+x MHx RHz
RHx
H
+x
+z

G RGx

RGz
RFy

G F
RFx
RFz

F
Fr Ft
+x
E
E
+x MEz Fa
+z
+z TE
+y

Pada poros vertikal atau poros yang digerakkan ini, terdapat dua buah

bantalan yang terletak pada titik F dan G,

dimana : ds = 32,65 mm (diameter poros rencana)

140
A. Untuk Bantalan F

Pada bantalan F terdapat gaya reaksi dalam dua arah yaitu radial dan aksial

sebagai berikut :

• Gaya radial RFx = 89,96 kg dan RFz = 519,75 kg

• Gaya radial RFy = 145,41 kg

Maka dapat diperoleh perhitungan sebagai berikut :

1. Beban bantalan dinamis ekivalen (P r)

Karena pada bantalan poros vertikal juga beban ringan maka bantalan

yang digunakan adalah bantalan bola jenis terbuka dengan nomor bantalan

6007 dengan diameter poros 32,65 mm 35 mm, maka pada tabel bantalan

bola, didapat :

C = Kapasitas nominal dinamis spesifik = 1250 kg

Co = Kapasitas nominal statis spesifik = 915 kg

Gaya reaksi bantalan arah radial (Fr)

dimana : RFx = 89,96 kg dan RFz = 519,75 kg

Fr = R F = R Fx + R Fz
2 2

Fr = R F = (89,96 kg) 2
+ (519,75 kg) 2
= 527,48 kg

maka : Fr = RF = 527,48 kg

Gaya reaksi bantalan arah aksial (Fa)

dimana : Fr = RFy = 145,41 kg

karena ada gaya aksial pada batalan F maka : Y = 1 dan X = 1.

Jadi beban dinamis ekivalen :

Pr = X ⋅ Fr + Y ⋅ Fa = 1 × 527,48 kg + 1 × 145,41 kg = 672,89 kg

141
2. Faktor kecepatan ( fn )

n = 10 rpm (putaran input poros vertikal)

1/ 3 1/ 3
 33,3   33,3 
fn =   =   = 1,49
 n   10 

3. Faktor umur ( fh )

C  1250 
f h = f n .   = 1,49 .  = 2,77 ≈ 3
 Pr   672,89 

4. Umur nominal bantalan ( Lh )

L h = 500 × f h = 500 × 33 = 13500 jam kerja


3

5. Umur bantalan (t)

Jika pemakaian per-hari 6 jam, maka umur bantalan :

Lh 13500
t = = = 7,21 tahun
12 × 26 × 6 1872

B. Untuk Bantalan G

Pada bantalan G hanya terdapat gaya reaksi dalam arah radial saja yaitu gaya

radial RGx = 0,25 kg dan RGz = 1,56 kg

Maka dapat diperoleh perhitungan sebagai berikut :

1. Beban bantalan dinamis ekivalen (P r)

Karena pada bantalan poros vertikal juga beban ringan maka

bantalan yang digunakan adalah bantalan bola jenis terbuka dengan nomor

bantalan 6007 dengan diameter poros 32,65 mm 35 mm, maka pada

tabel bantalan bola, didapat :

C = Kapasitas nominal dinamis spesifik = 1250 kg

Co = Kapasitas nominal statis spesifik = 915 kg

142
Gaya reaksi bantalan arah radial (Fr)

dimana : RGx = 0,25 kg dan RGz = 1,56 kg

Fr = R G = + R Gz
2 2
R Gx
Fr = R G = (0,25 kg) 2
+ (1,56 kg) 2
= 1,58 kg

dipilih Fr = 1,58 kg

karena ada gaya aksial pada batalan F maka : Y = 0 dan X = 1.

Jadi beban dinamis ekivalen :

Pr = X ⋅ Fr + Y ⋅ Fa = 1 × 1,58 kg + 0 = 1,58 kg

2. Faktor kecepatan ( fn )

n = 10 rpm (putaran input poros vertikal)

1/ 3 1/ 3
 33,3   33,3 
fn =   =   = 1,49
 n   10 

3. Faktor umur ( fh )

C  1250 
f h = f n .   = 1,49 .   = 1178,79 ≈ 1179
 r
P  1,58 

4. Umur nominal bantalan ( Lh )

L h = 500 × f h = 500 × 1179 3 = 8,19 × 1011 jam kerja


3

5. Umur bantalan (t)

Jika pemakaian per-hari 6 jam, maka umur bantalan :

Lh 8,19 × 1011
t = = = 4,38 × 10 8 tahun
12 × 26 × 6 1872

Berdasarkan perhitungan maka bantalan yang paling kritis yaitu bantalan F

yang terdapat pada poros yang vertikal, hal ini dikarenakan beban yang diberikan

143
pada bantalan ini cukup besar yaitu diantaranya beban aksial (berat poros, berat

roda gigi kerucut, dan kipas penyapu) dan beban radial (gaya radial dari roda gigi

kerucut). Seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Perhitungan Bantalan

Bantalan Umur

1 Pada Poros Horizontal :

Bantalan C 267,09 tahun

2 Pada Poros Vertikal :

Bantalan F 7,21 tahun


8
Bantalan G 4,38 × 10 tahun

4.2.5 Perhitungan Pasak

4.2.5.1 Pasak pada Puli 1

Pasak pada puli 1 yaitu pasak yang menghubungkan antara poros motor

listrik dengan puli 1, dimana diketahui diameter poros motor listrik (d s) = 13,89

mm 14 mm dan momen rencana dari poros motor listrik (T) = 128,83 kg.mm,

maka perhitungannya sebagai berikut :

1. Gaya tangensial pada pasak (F)

T 128,83 kg.mm
F = = = 18,4 kg
( ds / 2 ) ( 14 mm / 2 )

2. Ukuran pasak
Karena diameter poros (ds = 14 mm), pada tabel ukuran pasak dan alur pasak

berada diantara (12 – 17 mm) yaitu 5 x 5 mm, maka :

144
• Lebar pasak (b) = 5 mm

• Tinggi pasak (h) = 5 mm

• Kedalaman alur pasak pada poros (t1) = 3 mm

• Kedalaman alur pasak pada roda gigi (t2) = 2,3 mm

3. Tegangan geser yang diizinkan (τka)


55 kg/mm 2
= B
= = 3,06 kg/mm 2
Sf k 1 × Sf k 2 6× 3
ka

dimana :

σB = Kekuatan tarik pada bahan S40C = 55 kg/mm2

Sfk1 = Faktor keamanan pada pasak dengan harga pada umumnya diambil 6.

Sfk2 = Faktor keamanan pada pasak dengan dikenakan beban secara tiba-tiba

dan dengan tumbukan berat (2 – 5), dipilih 3

4. Panjang pasak
a. Panjang pasak akibat tegangan geser yang diizinkan (τka)

F F 18,4 kg
≥ ; l1 = = = 1,20 mm
b ⋅ l1 ka ⋅ b 3,06 kg/mm 2 × 5 mm
ka

Maka tegangan geser yang ditimbulkan pada pasak (τk)

F 18,4 kg
= = = 0,736 kg/mm 2
b⋅l 5 mm × 5 mm
k

dimana : F = Gaya tangensial pada pasak (kg)

b = Lebar pasak (mm)

l = Panjang pasak (mm)

145
b. Panjang pasak akibat tekanan permukaan (P)

F
Pa ≥
l2 ⋅ ( t 1 atau t 2 )
F 18,4 kg
l2 = = = 0,77 mm
Pa ⋅ t1 8 kg/mm 2 × 3 mm

dimana : Pa = Tekanan permukaan yang diizinkan untuk poros yang

diameter kecil adalah 8 kg/mm2

maka tekanan permukaan yang di timbulkan pada pasak (P)

F 18,4 kg
P = = = 7,97 mm
l ⋅ ( t 1 atau t 2 ) 0,77 mm × 3 mm

Dimana : F = Gaya tangensial pada pasak (kg)

b = Lebar pasak (mm)

l = Panjang pasak (mm)

Jadi panjang pasak (lk)

lk = 0,75 × d s = 0,75 × 14 mm = 10,5 mm

Panjang pasak jangan terlalu panjang dibandingkan dengan diameter

poros, sebagai perbandingan untuk ukuran pasak yang baik yaitu apabila :

b b 5
diantara 0,25 − 0,35 = = 0,35 ; Baik
ds ds 14
Maka :
lk lk 10,5
diantara 0,75 − 1,5 = = 0,75 ; Baik
ds ds 14

4.2.5.2 Pasak pada Puli 2

Pasak pada puli 2 yaitu pasak yang menghubungkan antara poros reduser

dengan puli 2, dimana diketahui diameter poros reduser (ds) = 14,59 mm 15 mm

146
dan momen rencana dari poros motor listrik (T) = 302,75 kg.mm, maka

perhitungannya sebagai berikut :

1. Gaya tangensial pada pasak (F)

T 302,75 kg.mm
F = = = 40,37 kg
( ds / 2 ) ( 15 mm / 2 )

2. Ukuran pasak

Karena diameter poros (ds = 15 mm), pada tabel ukuran pasak dan alur pasak

berada diantara (12 – 17 mm) yaitu 5 x 5 mm, maka :

• Lebar pasak (b) = 5 mm

• Tinggi pasak (h) = 5 mm

• Kedalaman alur pasak pada poros (t1) = 3 mm

• Kedalaman alur pasak pada roda gigi (t2) = 2,3 mm

3. Tegangan geser yang diizinkan (τka)

55 kg/mm 2
= B
= = 3,06 kg/mm 2
Sf k 1 × Sf k 2 6×3
ka

dimana :

σB = Kekuatan tarik pada bahan S40C = 55 kg/mm2

Sfk1 = Faktor keamanan pada pasak dengan harga pada umumnya diambil 6.

Sfk2 = Faktor keamanan pada pasak dengan dikenakan beban secara tiba-tiba

dan dengan tumbukan berat (2 – 5), dipilih 3

4. Panjang pasak

a. Panjang pasak akibat tegangan geser yang diizinkan (τka)

F F 40,37 kg
≥ ; l1 = = = 2,64 mm
b ⋅ l1 ka ⋅ b 3,06 kg/mm 2 × 5 mm
ka

147
Maka tegangan geser yang ditimbulkan pada pasak (τk)
F 40,37 kg
= = = 1,615 kg/mm 2
b ⋅l 5 mm × 5 mm
k

dimana : F = Gaya tangensial pada pasak (kg)

b = Lebar pasak (mm)

l = Panjang pasak (mm)

b. Panjang pasak akibat tekanan permukaan (P)

F
Pa ≥
l2 ⋅ ( t1 atau t 2 )
F 40,37 kg
l2 = = = 1,68 mm
Pa ⋅ t1 8 kg/mm 2 × 3 mm

dimana : Pa = Tekanan permukaan yang diizinkan untuk poros yang

diameter kecil adalah 8 kg/mm2

maka tekanan permukaan yang di timbulkan pada pasak (P)


F 40,37 kg
P = = = 8,01 mm
l ⋅ ( t 1 atau t 2 ) 1,68 mm × 3 mm

dimana : F = Gaya tangensial pada pasak (kg)

b = Lebar pasak (mm)

l = Panjang pasak (mm)

Jadi panjang pasak (lk)

lk = 0,75 × d s = 0,75 × 15 mm = 11,25 mm

Panjang pasak jangan terlalu panjang dibandingkan dengan diameter

poros, sebagai perbandingan untuk ukuran pasak yang baik yaitu apabila :

b b 5
diantara 0,25 − 0,35 = = 0,33 ; Baik
ds Maka : ds 15
lk lk 11,25
diantara 0,75 − 1,5 = = 0,75 ; Baik
ds ds 15

148
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil perhitungan perancangan, dapat disimpulkan bahwa mekanisme

penggerak pengeluaran abu sekam pada reaktor gasifikasi sekam sistem kontinu

yang dirancang ini dapat bekerja dengan baik sesuai dengan putaran keluaran

yang diinginkan. Adapun hasil perhitungannya adalah sebagai berikut :

1. Dari rangkaian mekanisme yang telah dirancang, maka diperoleh rasio

putaran 1 : 2 antara kipas penyapu dengan screw conveyor yaitu 10 rpm

untuk putaran kipas penyapu dan 20 rpm untuk putaran screw conveyor.

2. Sinkronisasi antara laju pengeluaran abu sekam dengan laju pemasukan

sekam baru dapat tercapai.

3. Hasil perhitungan setiap komponen sebagai berikut :

No Nama Komponen Keterangan


i ii iii
1 Motor listrik
• Daya yang ditransmisikan P = ¼ hp = 0,1865 kW
• Putaran pada pada poros n1 = 1410 rpm
2 Puli
• Diameter puli 1 d1 = 76 mm
• Diameter puli 2 d2 = 119,55 mm
3 Sabuk
• Tipe dan nomer nominal sabuk-V Tipe A ; No. 38
• Panjang sabuk L = 874,19 mm

149
i ii iii
4 Koping
• Jenis Kopling cakar
• Diameter
- Diameter dalam cakar D1 = 50,8 mm
- Diameter luar cakar D2 = 93 mm
• Tinggi cakar h = 25 mm
5 Roda gigi kerucut
• Diameter lingkaran jarak bagi d1 = 25,04 mm
ujung luar d2 = 50,09 mm
• Kecepatan keliling v = 0,026 m/s
• Gaya tangensial Ft = 731,65 kg
• Jumlah gigi z1 = 18 , z2 = 36
• Kelonggaran puncak Ck = 0,25 mm
• Kedalaman gigi penuh H = 3,01 mm
• Diameter lingkaran kepala dk1 = 28,34 mm
dk2 = 50,89 mm
• Roda Gigi Horizontal :
à Bahan SNC 21
à Kekuatan tarik σB1 = 80 kg/mm
2

à Tegangan lentur izin σb1 = 39 kg/mm


2

à Kekerasan brinell HRC = 55

• Roda Gigi Vertikal :


à Bahan S 45 C
à Kekuatan tarik σB1 = 70 kg/mm2
à Tegangan lentur izin σb1 = 20 kg/mm2
à Kekerasan brinell HRC = 30

150
i ii iii
6 Poros
• Poros Horizontal :
à Putaran n1 = 20 rpm
à Torsi Maksimum T = 9028,55 kg.mm
à Bahan Poros S55C-D
à Kekuatan Tarik σB = 72 kg/mm
2

à Diameter poros ds = 27,72 mm


• Poros Vertikal :
à Putaran n1 = 10 rpm
à Torsi Maksimum T = 13442,25 kg.mm
à Bahan Poros S55C-D
à Kekuatan Tarik σB = 72 kg/mm
2

à Diameter poros ds = 32,65 mm


7 Bantalan
• Pada Poros Horizontal :
à Umur Bantalan C tC = 267,09 tahun
• Pada Poros Vertikal :
à Umur Bantalan F tF = 7,21 tahun
à Umur Bantalan G 8
tG = 4,55 × 10 tahun
8 Pasak
• Pasak pada Poros Puli 1 :
à Bahan S40C
à Kekuatan Tarik σB = 55 kg/mm
2

à Diameter Poros ds = 13,89 mm


à Lebar Pasak b = 5 mm
à Tinggi Pasak h = 5 mm
à Panjang Pasak l = 10,5 mm
• Pasak pada Poros Puli 2 :
à Bahan S40C
à Kekuatan Tarik σB = 55 kg/mm
2

à Diameter Poros ds = 14,59 mm


à Lebar Pasak b = 5 mm
à Tinggi Pasak h = 5 mm
à Panjang Pasak l = 11,25 mm

151
5.2 Saran

1. Pemilihan daya dan putaran motor listrik hendaknya disesuaikan dengan daya

yang dibutuhkan oleh mekanisme penggerak pengeluaran abu sekam tentunya

dalam melakukan perhitungan tidak adanya asumsi atau faktor yang

diabaikan, sehingga mendapatkan daya yang sesuai dengan yang dibutuhkan

atau tidak berlebihan dan kekurangan daya.

2. Pada saat perancangan komponen mekanisme penggerak pengeluaran abu

sekam terutama dalam penentuan jenis transmisi dan bearing pada pillow blok

yang akan digunakan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan harus

disesuaikan dengan standar yang ada serta harus memperhatikan faktor

keamanannya.

152
DAFTAR PUSTAKA

1. E. P. Popov, Zainal Astamar, 1996. Mekanika Teknik (Mechanics of

Material). Jakarta : Erlangga.

2. Meriam, J. L., 1996. MEKANIKA STATIKA. Alih bahasa oleh Tony Mulia,

Ph.D. Edisi kedua. Jakarta:Erlangga.

3. Sularso dan K. Suga. 1997. “Dasar-Dasar Pemilihan dan Perancangan

Elemen Mesin”. Jakarta : PT. Pradnya Paramitha.

4. Sato. T dan Sugiarto N. 1994. “Menggambar Mesin Menurut Standar ISO “.

Jakarta : PT. Pradnya Paramitha.

5. Shigley, E. Joseph and Mischke, R. Charles, Mechanical Engineerng Design,

McGraw-Hill Book Company, London, 2004.

6. Taufiq Rochim.,”Teori & Teknologi Proses Pemesinan”., Higher Education

development Support Project (HEDS), 1993

7. Belonio, Alexis T, 2005, Rice Husk Gas Stove Handbook, Philippines: Central

Philippine University.

8. Ihromi, Diar dan Johansyah, Arman, 2003, Perancangan, Pembuatan dan

Pengujian Tungku Sekam untuk Pengering Padi Berkapasitas 5 Ton,

Bandung: ITENAS.

9. Perkins, Henry C dan Reynolds, William C, 1982, Termodinamika Teknik,

Jakarta: Erlangga.

10. http://en.wikipedia.org/wiki

11. Perry's Chemical Engineer's Handbook, The McGraw-Hill Companies, Inc.


LAMPIRAN
LAMPIRAN A
Cara Kerja dari Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinu
LAMPIRAN B
Foto-foto Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinu
1. Tabung Reaktor

Tabung Reaktor Atas

Tabung Reaktor Bawah

2. Rangka
3. Kipas Penyapu, Saringan Abu dan Poros Vertikal

4. Poros Horisontal
5. Motor Listrik

6. Reducer

7. Roda Gigi Kerucut


8. Screw Conveyor

9. Pillow Block

10. Puli dan Sabuk-V

11. Kopling Cakar


LAMPIRAN C
Gambar Teknik Reaktor Gasifikasi Sekam Sistem Kontinu

17

18

1 16

5
2
6

7
11
12 8

13 9

14 10

15

Keterangan :

1. Tabung Reaktor Atas 10. Motor Listrik


2. Tabung Reaktor Bawah 11. Kopling Cakar
3. Kipas Penyapu 12. Reduser
4. Saringan Abu 13. Roda Gigi Kerucut
5. Bosh/Bantalan Luncur 14. Puli dan Sabuk
6. Poros Vertikal 15. Rangka
7. Pillow Blok 16. Cyclone
8. Screw Conveyor 17. Blower
9. Poros Horizontal 18. Burner
Tentang Penulis
Irvan Nurtian, lahir di Bandung, 3 Desember 1982,

pukul satu lebih empat belas menit pagi, dibesarkan di

daerah Bandung Jawa Barat. Memulai karir

pendidikan dasar pada tahun 1988 di SD Negeri

Cirangrang III Bandung. Setelah tamat melanjutkan

SMP Negeri 25 Bandung sampai di tahun 1997

melanjutkan ke SMU Negeri 6 Cimahi Bandung. Pada tahun 2000 memulai karir

pendidikan tinggi strata satu di jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi

Industri Institut Teknologi Nasional Bandung. Menyelesaikan studi pada bulan

September 2007, dengan Tugas Akhir berjudul ”PERANCANGAN REAKTOR

GASIFIKASI SEKAM SISTEM KONTINU.”