Anda di halaman 1dari 2

EMPAT MASALAH DEMOKRATISASI DI INDONESIA

Semenjak reformasi, yang dilakukan pada tahun 1998, praktis pelaksanaan demokrasi di
Indonesia mengalami banyak tantangan dan hambatan. Kecenderungan yang terjadi adalah
makin memudarnya kerpercayaan masyarakat terhadap gerakan demokrasi yang saat ini
dilaksanakan. Bahkan kecenderungan masyarakat kelas bawah merindukan kembalinya situasi
dan kondisi seperti pada orde baru makin besar. Tidak dapat dipungkiri memang demokratisasi
yang dilaksanakan di Indonesia saat ini hanya dinikmati oleh elit-elit tertentu yang menguasai
sumber-sumber daya di masyarakat, sehingga hal inilah yang kemudian membuat masyarakat
menjadi tidak percaya kepada demokrasi yang sedang dilaksanakan.

Berbagai masalah memang dapat ditemukan di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan
pelaksanaan demokrasi. Sekian banyak permasalahan demokrasi memang mengundang
pendapat dari berbagai ahli, Cornelis Lay (seorang pakar politik UGM) menyebutkan bahwa
permasalahan demokrasi yang ada di Indonesia saat ini jangan-jangan permasalaha demokrasi
yang terjadi di Indonesia saat ini hanya karena kita menamai gerakannya sebagai gerakan
demokrasi. Karena menamainya demokrasilah akhirnya terjadi kebingunangan bentuk dari
demokrasi itu sendiri.

Bahkan dari berbagai teori yang ada pengertian demokrasi selalu menjadi perdebatan. Dalam
argumentasinya mengambil contoh pada negara Amerika, semenjak berdirinya negara Amerika
tidak pernah menyebut diri sebagai negara demokrasi, disebutkan oleh Lay bahwa Amerika
hanya menyebut negaranya sebagai negara Republik jadi bukan demokrasi.
Secara umum permasalahan demokratisasi di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Defisit Demokrasi
Berdasarkan hasil riset Demos (2005) membuktikan bahwa kebebasan sipil dan politik- termasuk
kebebasan membentuk partai; kebebasan untuk berpartisipasi dalam asosiasi sosial dan politik
indepensen; kebebasan beragama dan berkeyakinan; serta kebebasan media- sudah dianggap
lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Namun beberapa hal yang perlu menjadi perhatian
adalah :
a. Demokratisasi bukan sekedar liberalisasi politik
b. Masih muncul kesenjangan antara aspek yang esensial/ substantif (konstistusionalisme; rule of
law, supremasi sipil; peradilan yang bebasa; responsivitas negara; democratic governance; hak-
hak warga negara) dengan aspek instrumental.
c. Kinerja instrumen memburuk.
d. Kebebasan membentuk partai bukanlah mengumbar politik yang pada akhirnya
menghilangkan perwakilan yang berkualitas.

2. Representasi Bermasalah
• Problem keterwakilan politikà kesenjangan antara agenda masyarakat dengan agenda partai
politik dan parlemen
• Belum berjalannya reformasi internal dan desetralisasi kepertaian  kebanyakan partai lebih
berpatokan pada elit-elit yang ada di pusat. Meminjam istilah dari Ketut Putra Erawan, partai
politik di Indonesia masih belum mampu melakukan Institusionalisasi Kepartaian baik di tingkat
akar rumput, parlemen, dan kelembagaan.
• Hal ini mungkin bisak dikaitkan dengan hasil penelitian dari asia barometer sebagai berikut :

Melihat gejala inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan kenapa partai Politik kemudian
merekrut artis dan ‘kalangan penekun agama’ sebagai orang yang dicalonkannya.

3. Demokrasi Oligarkis
- Hasil riset demos (2005) menunjukkan kehadiran elite oligarkis yang telah menyesuaikan diri
dengan demokrasi.
- Strateginya:
a. Beradaptasi (75 % user & abuser; 14 %promoter)
b. Memonopoli (jalur legislatif 61 %);
c. Memanipulasi proses demokrasi (mendayagunakan sumberdaya publik 10 %; membeli
dukungan suara (13 %); penggunaan cara otoritarian (15 %); mengerahkan masa (8 %) dan
memanipulasi sentimen etnik/ agama (12 %) .
- adapun elite oligarkis tersebut adalah : Aktor-aktor eksekutif, agen-agen represi;militer atau
preman, politisi; anggota parlemen; aktor-aktor bisnis, aktor-aktor organisasi sosial, dan tokoh-
tokoh informal.
- Adapun pola interaksi aliansi antar elit yang terbentuk adalah sebagai berikut : Intra elite politikà
aktor politik lintas blok (38 %), Aliansi elite politik dengan elite bisnis (26 %), dan Aliansi elite
politik dengan militer (4 %).
- Demokrasi Oligarkis di Indonesia dapat berjalan pada umumnya terbentuk karena : jaringan
sosial yang sangat luas yang dimiliki oleh para elit, penguasaan sumber-sumber ekonomi pada
masyarakat, penguasaan atas kekuatan kekerasan yang dapat melakukan represi terhadap
masyarakat, dan penguasaan terhadap kekuasaan legal formal di masyarakat.

4. Demokrat Mengambang
Bagaimana dengan aktor pro-demokrasi ?
n Tidak engage dalam pemerintahan dan representasi politik
n Kurang mempunyai basis dukungan kerakyatan yang kuatà tidak punya konstituen
n Terfragmentasi dalam ideologi dan strategi (fokus ke penguatan civil society tanpa politisasi
atau melakukan rekoneksi antara penguatan masyarakat dengan aksi politik (engage).
n Hasil penelitian dari Demos (2007) juga menyebutkan bahwa para pelaku pro demokrasi
kebanyakan bertindak secara populis, salah satu contohnya masuk ke dalam lingkaran elit/partai
yang sudah populer, sehingga gerakan demokrasi tetap saja tidak berjalan dengan baik.

http://halilintarblog.blogspot.com/2008/12/empat-masalah-demokratisasi-di.html