Anda di halaman 1dari 29

TUGAS UJIAN TAKE HOME

MATA KULIAH :
SISTEM MANAJEMEN SUPPLY OBAT DI RUMAH SAKIT

Dibuat Oleh :
Candra Wijaya, S.Si, Apt
NIM: 09/293175/PFA/896

Dosen Pengampu :
Dra. Dwi Pudjaningsih, M.Kes, Apt

Magister Manajemen Farmasi


Universitas Gadjah Mada
Tahun 2010

1
Soal Ujian Take Home :
Sebuah rumah sakit dengan 150 tempat tidur, mempunyai 4 orang apoteker, direktur
menghendaki untuk melakukan pelayanan farmasi klinik kepada apoteker-apoteker yang ada,
demikian juga untuk kompetensi yang dimiliki apoteker dapat terterapkan di rumah sakit.
Buatlah perencanaan penerapan seluruh kompetensi apoteker di rumah sakit tersebut berbasis
kepada drug management cycle, uraikan manajemen pendukung dan manajemen obatnya
dahulukan uraiannya menurut tingkat prioritas yang harus tersedia terlebih dahulu. Prinsip-
prinsip drug management cycle secara komperhensif sudah dapat memiliki kerangka berpikir
merencanakan sebuah instalasi farmasi rumah sakit yang efektif dan efisien. Perencanaan
yang dibuat harus sampai pada tingkat pengendaliannya, sehingga secara manajemen
lengkap, dan bisa digunakan sebagai acuan untuk bekerja.
Jawab :
A. Dari soal diatas diketahui bahwa :
1. Rumah sakit tersebut memiliki 150 tempat tidur
2. 4 orang apoteker
3. Oleh direktur RS Mengharapkan pelayanan farmasi klinik oleh ke empat apoteker
tersebut.
B. Tugas yang harus dilakukan dari soal diatas adalah :
1. Buat Perencanaan penerapan seluruh kompetensi apoteker di rumah sakit berbasis
kepada Drug Management Cycle !
2. Uraikan manajemen pendukung dan manajemen obat sesuai dengan tingkat prioritas
yang harus tersedia !
3. Buat perencanaan tersebut sampai dengan tingkat pengendalian (lengkap secara
manajamen dan dapat digunakan sebagai kerangka acuan bekerja !
C. Pembahasan :
I. Latar Belakang
Rumah Sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah
setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat. Guna melaksanakan tugasnya, rumah sakit
mempunyai berbagai fungsi, yaitu menyelenggarakan pelayanan

2
medik; pelayanan penunjang medik dan non medik; pelayanan dan
asuhan keperawatan; pelayanan rujukan; pendidikan dan pelatihan;
penelitian dan pengembangan; serta administrasi umum dan
keuangan.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit
yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut diperjelas dalam
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar
Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit
adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit
yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk
pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat
Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan farmasi,
mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari paradigma lama (drug oriented) ke
paradigma baru (patient oriented) dengan filosofi Pharmaceutical Care (pelayanan
kefarmasian). Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu
dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat
dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan (Anonim, 2004).
Pengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen rumah sakit yang
sangat penting dalam penyediaan pelayanan kesehatan secara keseluruhan, karena
ketidak efisienan dan ketidaklancaran pengelolaan obat akan memberi dampak negatif
terhadap rumah sakit, baik secara medik, sosial maupun secara ekonomi (Santoso &
Danu, 1999).

II. Landasan Teoritis


A. Manajemen Obat
Manajemen obat di rumah sakit merupakan salah satu unsur penting
dalam fungsi manajerial rumah sakit secara keseluruhan, karena ketidak efisienan
akan memberikan dampak negatif terhadap rumah sakit baik secara medis maupun
secara ekonomis. Tujuan manajemen obat di rumah sakit adalah agar obat yang
diperlukan tersedia setiap saat dibutuhkan, dalam jumlah yang cukup, mutu yang
terjamin dan harga yang terjangkau untuk mendukung pelayanan yang bermutu.
Manajemen obat merupakan serangkaian kegiatan kompleks yang merupakan suatu
siklus yang saling terkait, pada dasarnya terdiri dari 4 fungsi dasar yaitu : Seleksi

3
(Selection) dan Perencanaan (Planning), Pengadaan (Procurement), Distribusi
(Distribution), serta Penggunaan (Use).
Dalam sistem manajemen obat, masing-masing fungsi utama terbangun
berdasarkan fungsi sebelumnya dan menentukan fungsi selanjutnya. Seleksi
seharusnya didasarkan pada pengalaman aktual terhadap kebutuhan untuk
melakukan pelayanan kesehatan dan obat yang digunakan, perencanaan dan
pengadaan memerlukan keputusan seleksi dan seterusnya. Siklus manajemen obat
didukung oleh faktor-faktor pendukung manajemen (management support) yang
meliputi organisasi, keuangan atau finansial, sumber daya manusia (SDM), dan
sistem informasi manajemen (SIM). Setiap tahap siklus manjemen obat yang baik
harus didukung oleh keempat faktor tersebut sehingga pengelolaan obat dapat
berlangsung secara efektif dan efisien. Siklus pengelolaan obat tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut :

Keterangan :
= - - - - - - garis koordinasi
= garis aktivitas pengelolaan
Sumber : Quick D. Jonathan. Managing Drug Supply

4
Pada dasarnya, manajemen obat di rumah sakit adalah bagaimana cara
mengelola tahap-tahap dan kegiatan tersebut agar dapat berjalan dengan baik dan
saling mengisi sehingga dapat tercapai tujuan pengelolaan obat yang efektif dan
efisien agar obat yang diperlukan oleh dokter selalu tersedia setiap saat dibutuhkan
dalam jumlah cukup dan mutu terjamin untuk mendukung pelayanan yang
bermutu.
Manajemen obat di rumah sakit dilakukan oleh Instalasi Farmasi Rumah
Sakit. Berkaitan dengan pengelolaan obat di rumah sakit, Departemen Kesehatan
RI melalui SK No. 85/Menkes/Per/1989, menetapkan bahwa untuk membantu
pengelolaan obat di rumah sakit perlu adanya Panitia Farmasi dan Terapi,
Formularium dan Pedoman Pengobatan.
Pengelolaan obat berhubungan erat dengan anggaran dan belanja rumah
sakit. Mengingat begitu pentingnya dana dan kedudukan obat bagi rumah sakit,
maka pengelolaannya harus dilakukan secara efektif dan efisien sehingga dapat
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pasien dan rumah sakit.
Pengelolaan tersebut meliputi seleksi dan perencanaan, pengadaan, penyimpanan,
distribusi dan penggunaan.
1. Seleksi dan perencanaan (Selection and planning)
Tersedianya berbagai macam obat dipasaran, membuat para dokter tidak
mungkin up to date dan membandingkan berbagai macam obat tersebut. Produk
obat yang sangat bervariasi juga menyebabkan tidak konsistennya pola
peresepan dalam suatu sarana pelayanan kesehatan. Hal ini akan menyulitkan
dalam proses pengadaan obat. Disinilah letak peran seleksi dan perencanaan
obat.
a. Seleksi (Selection)
Seleksi atau pemilihan obat yang akan digunakan di rumah sakit.
Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang
terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis,
menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial,
standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat. Penentuan
seleksi obat merupakan peran aktif apoteker dalam PFT untuk menetapkan
kualitas dan efektifitas, serta jaminan purna transaksi pembelian.

5
b. Perencanaan (planning)
Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis,
jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan
anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode
yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah
ditentukan antara lain Konsumsi, Epidemiologi, Kombinasi metode konsumsi
dan epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Dalam pengelolaan obat yang baik perencanaan idealnya dilakukan
dengan berdasarkan atas data yang diperoleh dari tahap akhir pengelolaan,
yaitu penggunaan obat periode yang lalu. Tujuan dari perencanaan adalah
untuk mendapatkan jenis dan jumlah obat yang sesuai dengan kebutuhan,
menghindari terjadinya stock out (kekosongan) obat dan meningkatkan
penggunaan obat secara rasional.
Perencanaan merupakan tahap yang penting dalam pengadaan obat di
IFRS, apabila lemah dalam perencanaan maka akan mengakibatkan
kekacauan dalam suatu siklus manajemen secara keseluruhan, mulai dari
pemborosan dalam penganggaran, membengkaknya biaya pengadaan dan
penyimpanan, tidak tersalurkannya obat sehingga obat bisa rusak atau
kadaluarsa.
Perencanaan merupakan tahap awal pada siklus pengelolaan obat. Ada
beberapa macam metode perencanaan, yaitu:
1) Metode morbiditas/epidemiologi
Yaitu berdasarkan pada penyakit yang ada. Dasarnya adalah jumlah
kebutuhan obat yang digunakan untuk beban kesakitan (morbidity load),
yaitu didasarkan pada penyakit yang ada di rumah sakit atau yang paling
sering muncul dimasyarakat. Metode ini paling banyak digunakan di
rumah sakit. Tahap-tahap yang dilakukan yaitu:
a) Menentukan beban penyakit
(1) Tentukan beban penyakit periode yang lalu, perkirakan penyakit
yang akan dihadapi pada periode mendatang
(2) Lakukan stratifikasi/pengelompokkan masing-masing jenis,
misalnya anak atau dewasa, penyakit ringan, sedang, atau berat,
utama atau alternatif

6
(3) Tentukan prediksi jumlah kasus tiap penyakit dan persentase
(prevalensi) tiap penyakit.
b) Menentukan pedoman pengobatan
(1) Tentukan pengobatan tiap-tiap penyakit, meliputi nama obat,
bentuk sediaan, dosis, frekuensi, dan durasi pengobatan
(2) Hitung jumlah kebutuhan tiap obat per episode sakit untuk masing-
masing kelompok penyakit
c) Menentukan obat dan jumlahnya
(1) Hitung jumlah kebutuhan tiap obat untuk tiap penyakit
(2) Jumlahkan obat sejenis menurut nama obat, dosis, bentuk sediaan,
dan lain-lain
Perencanaan dengan menggunakan metode morbiditas ini lebih ideal,
namun prasyarat lebih sulit dipenuhi. Sementara kelemahannya yaitu
seringkali standar pengobatan belum tersedia atau belum disepakati dan data
morbiditas tidak akurat.
2) Metode konsumsi
Metode konsumsi adalah suatu metode perencanaan obat berdasarkan
pada kebutuhan riil obat pada periode lalu dengan penyesuaian dan
koreksi berdasarkan pada penggunaan obat tahun sebelumnya. Metode ini
banyak digunakan di Apotek. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu:
a) Pastikan beberapa kondisi berikut:
(1) Dapatkah diasumsikan pola pengobatan periode yang lalu baik
atau rasional?
(2) Apakah suplai obat periode itu cukup dan lancar?
(3) Apakah data stok, distribusi, dan penggunaan obat lengkap dan
akurat?
(4) Apakah banyak terjadi kecelakaan (obat rusak, tumpah,
kadaluarsa) dan kehilangan obat?
(5) Apakah jenis obat yang akan digunakan sama?
b) Lakukan estimasi jumlah kunjungan total untuk periode yang akan
datang
(1) Hitung kunjungan pasien rawat inap maupun rawat jalan pada
periode yang lalu

7
(2) Lakukan estimasi periode yang akan datang dengan
memperhatikan:
(a) Perubahan populasi daerah cakupan pelayanan, perubahan
cakupan pelayanan
(b) Pola morbiditas, kecendrungan perubahan insidensi
(c) Penambahan fasilitas pelayanan
Perhitungan metode konsumsi
(1) Tentukan metode konsumsi
(2) Hitung pemakaian tiap jenis obat dalam periode lalu
(3) Koreksi hasil pemakaian tiap jenis obat dalam periode lalu
terhadap kecelakaan dan kehilangan obat
(4) Koreksi langkah sebelumnya (koreksi hasil pemakaian tiap jenis
obat dalam periode lalu terhadap kecelakaan dan kehilangan
obat) terhadap stock out.
(5) Lakukan penyesuaian terhadap kesepakatan langkah 1 dan 2
(6) Hitung periode yang akan datang untuk tiap jenis obat
Perencanaan obat dengan metode konsumsi akan memakan waktu lebih
banyak tetapi lebih mudah dilakukan, namun aspek medik penggunaan
obat kurang dapat dipantau. Kelemahannya yaitu kebiasaan pengobatan
yang tidak rasional seolah-olah ditolerir.
3)Metode gabungan, metode ini untuk menutupi kelemahan kedua metode diatas.
Pedoman perencanaan obat untuk rumah sakit yaitu Daftar Obat
Essensial Nasional (DOEN), Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi
Rumah Sakit, ketentuan setempat yang berlaku, data catatan medik, anggaran
yang tersedia, penetapan prioritas, siklus penyakit, sisa persediaan, data
pemakaian periode yang lalu, atau dari rencana pengembangan.
Perencanaan yang telah dibuat harus dilakukan koreksi dengan
menggunakan metode analisis nilai ABC untuk koreksi terhadap aspek
ekonomis, karena suatu jenis obat dapat memakan anggaran besar disebabkan
pemakaiannya banyak atau harganya mahal. Dengan analisis nilai ABC ini,
dapat diidentifikasi jenis-jenis obat yang dimulai dari golongan obat yang
membutuhkan biaya terbanyak.
Pada dasarnya obat dibagi dalam tiga golongan yaitu golongan A jika
obat tersebut mempunyai nilai kurang lebih 80 % sedangkan jumlah obat
8
tidak lebih dari 20 %, golongan B jika obat tersebut mempunyai nilai sekitar
15 % dengan jumlah obat sekitar 10 % - 80 %, dan golongan C jika obat
mempunyai nilai 5 % dengan jumlah obat sekitar 80 % - 100 %.
Analisa juga dapat dilakukan dengan metode VEN (Vital, Esensial dan
Non Esensial) untuk koreksi terhadap aspek terapi, yaitu dengan
menggolongkan obat kedalam tiga kategori. Kategori V atau vital yaitu obat
yang harus ada yang diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan, kategori E
atau essensial yaitu obat yang terbukti efektif untuk menyembuhkan penyakit
atau mengurangi pasienan, kategori N atau non essensial yaitu meliputi
berbagai macam obat yang digunakan untuk penyakit yang dapat sembuh
sendiri, obat yang diragukan manfaatnya dibanding obat lain yang sejenis.5
Analisa kombinasi metode ABC dan VEN yaitu dengan melakukan
pendekatan mana yang paling bermanfaat dalam efisiensi atau penyesuaian
dana.

2. Pengadaan (Procurement) dan Penyimpanan serta pengendalian inventori


a. Pengadaaan (Procurement)
Pengadaan obat merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang
telah direncanakan dan disetujui melalui :
1) Pembelian :
a) Secara tender (oleh Panitia Pembelian Barang Farmasi)
b) Secara langsung dari pabrik/distributor/pedagang besar farmasi/rekanan
2) Produksi/pembuatan sediaan farmasi :
a) Produksi Steril
b) Produksi Non Steril
3) Sumbangan/droping/hibah pembelian secara tender.
Tujuan pengadaan adalah memperoleh obat yang dibutuhkan dengan
harga layak, mutu baik, pengiriman obat terjamin tepat waktu, proses
berjalan lancar tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebihan.
Pengadaan memegang peranan yang penting, karena dengan pengadaan
rumah sakit akan mendapatkan obat dengan harga, mutu dan jumlah, yang
sesuai dengan kebutuhan. Rumah sakit tidak dapat memenuhi kebutuhan
pasien jika persediaan obat tidak ada, hal ini dapat berakibat fatal bagi pasien

9
dan akan mengurangi keuntungan yang seharusnya dapat diterima rumah
sakit.
Keputusan Presiden No. 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah berlaku untuk pengadaan obat di
rumah sakit milik pemerintah, pengadaan obat ini dibiayai oleh Anggaran
Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) maupun Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD). Dalam Keppres ini, pelaksanaan pengadaan
barang/jasa dilakukan dengan menggunakan:
1) Penyedia barang/jasa, yaitu dengan menggunakan badan usaha atau orang
perseorangan yang kegiatan usahanya menyediakan barang/ layanan jasa.
2) Pengadaan barang/jasa swakelola, yaitu direncanakan, dikerjakan, dan
diawasi sendiri oleh institusi pemerintah penanggungjawab anggaran atau
institusi pemerintah penerima kuasa dari penanggungjawab anggaran atau
kelompok masyarakat penerima hibah. Swakelola dapat dilaksanakan oleh
pengguna barang/jasa, instansi pemerintah lain, kelompok
masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah.
Untuk menentukan sistem pengadaan perlu mempertimbangkan jenis,
sifat, dan nilai barang/jasa yang ada. Prinsip pengadaan barang/ jasa yaitu:
1) Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan
menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang
ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat
dipertanggungjawabkan.
2) Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan
yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan
3) Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi
penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui
persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan
memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur
yang jelas dan transparan
4) Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan
barang/jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara
evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya

10
terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi
masyarakat luas pada umumnya .
5) Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi
semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi
keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun.
6) Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun
manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang
berlaku dalam pengadaan barang/jasa.
Proses pengadaan obat memiliki beberapa proses yang baku, dan
merupakan siklus yang berjalan terus menerus sesuai dengan kegiatan rumah
sakit. Langkah proses pengadaan dimulai dengan mereview daftar obat-
obatan yang diadakan, menentukan jumlah item yang akan dibeli,
menyesuaikan dengan situasi keuangan, memilih metode pengadaan,
memilih rekanan, membuat syarat kontrak kerja, memonitor pengiriman
barang dan memeriksa, melakukan pembayaran serta menyimpan yang
kemudian didistribusikan. Agar proses pengadaan berjalan lancar dan dengan
manjemen yang baik memerlukan struktur komponen berupa personel yang
terlatih dan menguasai permasalahan pengadaan, adanya prosedur yang jelas
dan terdokumentasi didasarkan pada pedoman baku, sistem informasi yang
baik, didukung oleh dana dan fasilitas yang memadai.
Tiga elemen penting pada proses pengadaan yaitu :
1) Metode pengadaan yang dipilih, bila tidak teliti dapat menjadikan biaya
tinggi
2) Penyusunan dan persyaratan kontrak kerja, sangat penting untuk menjaga
agar pelaksanaan pengadaan terjamin mutu, waktu dan kelancaran bagi
semua pihak.
3) Order pemesanan, agar barang sesuai macam, waktu dan tempat.
Setelah barang diadakan kegiatan berikutnya adalah pada proses
penyimpanan dan pengendalian inventori.
b. Penyimpanan dan Pengendalian Inventori
Merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan
yang ditetapkan
1) Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya
11
2) Dibedakan menurut suhunya, kestabilannya
3) Mudah tidaknya meledak/terbakar
4) Tahan/tidaknya terhadap cahaya
disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan
perbekalan farmasi sesuai kebutuhan.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan kualitas obat,
mengoptimalkan manajemen persediaan, memberikan informasi kebutuhan
obat yang akan datang, melindungi permintaan yang naik turun, melindungi
pelayanan dari pengiriman yang terlambat, menambah keuntungan bila
pembelian banyak, menghemat biaya pemesanan, dan mengurangi kerusakan
dan kehilangan.
Kegiatan dari penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan yang
dilakukan dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Menerima obat/barang dan dokumen-dokumen pendukungnya antara lain
surat pesanan/surat kontrak, surat kiriman, faktur obat/barang.
2) Memeriksa obat/barang dengan dokumen-dokumen yang bersangkutan
baik dari segi jumlah, mutu, expire date, merk, harga, dan spesifikasi lain
bila diperlukan, pentingnya meneliti barang-barang adalah sangat perlu
untuk menjamin kebenaran dari spesifikasi kuantitas dan kualitas barang
yang diterima.
3) Menyimpan obat/barang sesuai ketentuan:
a) Perlu diperhatikan lokasi dari tempat penyimpanan digudang dan
menjamin bahwa obat yang disimpan mudah diperoleh dan
mengaturnya sesuai penggolongan barang, kelas terapi obat/khasiat
obat dan sesuai abjad.
b) Perlu diperhatikan untuk obat-obatan dengan syarat penyimpanan
khusus, obat-obat thermolabiel, dan expiration date obat.
c) Memeriksa secara berkala dan menjaga obat dari kerusakan/hilang
yang merupakan fungsi dari pemeliharaan dan pengendalian (control
link).
d) Memilih dan melakukan pengepakan untuk persiapan pengiriman obat
dan menyiapkan dokumen-dokumennya.
e) Mengirim obat dengan dokumen-dokumen pendukungnya dan
mengarsipkannya.
12
f) Mengadministrasikan keluar masuknya obat dengan tertib.
g) Menjaga kebersihan dan kerapian ruang kerja dan tempat
penyimpanan/gudang.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam fungsi penyimpanan adalah:
1) Masalah keamanan dan bahaya kebakaran merupakan resiko terbesar dari
penyimpanan, apalagi barang-barang farmasi sebagian adalah mudah
terbakar.
2) Pergunakan tenaga manusia seefektif mungkin, jangan berlebih jumlah
karyawannya sehingga banyak waktu menganggur yang merupakan biaya,
demikian juga sebaliknya, kekurangan tenaga akan menimbulkan antrian
di pusat pelayanan yang akan merugikan kedua belah pihak.
3) Pergunakan ruangan yang tersedia seefisien mungkin, baik dari segi
besarnya ruangan dan pembagian ruangan.
4) Memelihara gudang dan peralatannya sebaik mungkin.
5) Menciptakan suatu sistem penataan yang lebih efektif untuk lebih
memperlancar arus barang.
Ada beberapa macam sistem penataan obat, antara lain yang
pertama sistem First In First Out (FIFO) yaitu obat yang datang kemudian
diletakkan dibelakang obat yang terdahulu, yang kedua Last in First Out
(LIFO) yaitu obat yang datang kemudian diletakkan didepan obat yang
datang dahulu, yang ketiga First Expired First Out (FEFO) yaitu obat yang
mempunyai tanggal kadaluarsa lebih dahulu diletakkan didepan obat yang
mempunyai tanggal kadaluarsa kemudian. Ada beberapa cara penempatan
obat yang dapat dilakukan yaitu menurut jenisnya, menurut abjad, menurut
pabrik yang memproduksi dan menurut khasiat farmakoterapinya.

3. Distribusi (Distribution)
Merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit
untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat
jalan serta untuk menunjang pelayanan medis. Sistem distribusi dirancang atas
dasar kemudahan untuk dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan :
a. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada
b. Metode sentralisasi atau desentralisasi
c. Sistem floor stock, resep individu, dispensing dosis unit atau kombinasi
13
Sistem distribusi obat di rumah sakit terbagi menjadi pendistribusian obat untuk
pasien rawat inap, rawat jalan, dan distribusi obat di luar jam kerja.
a. Pendistribusian obat untuk pasien rawat inap
Merupakan kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi untuk memenuhi
kebutuhan pasien rawat inap di rumah sakit, yang diselenggarakan secara
sentralisasi dan atau desentralisasi dengan sistem persediaan lengkap di
ruangan, sistem resep perorangan, sistem unit dosis dan sistem kombinasi
oleh Satelit Farmasi.
b. Pendistribusian obat untuk pasien rawat jalan
Merupakan kegiatan pendistribusian obat untuk memenuhi kebutuhan pasien
rawat jalan di rumah sakit, yang diselenggarakan secara sentralisasi dan atau
desentralisasi dengan sistem resep perorangan oleh Apotik Rumah Sakit.
c. Pendistribusian obat di luar jam kerja
Merupakan kegiatan pendistribusian obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan
pasien di luar jam kerja yang diselenggarakan oleh:
a. Apotek rumah sakit/satelit farmasi yang dibuka 24 jam
b. Ruang rawat yang menyediakan obat-obat emergensi Sistem pelayanan
distribusi terdiri dari:
1) Sistem persediaan lengkap di ruangan
a) Pendistribusian perbekalan farmasi untuk persediaan di ruang rawat
merupakan tanggung jawab perawat ruangan.
b) Setiap ruang rawat harus mempunyai penanggung jawab obat.
c) Perbekalan yang disimpan tidak dalam jumlah besar dan dapat
dikontrol secara berkala oleh petugas farmasi.

3) Sistem resep perorangan


Pendistribusian perbekalan farmasi resep perorangan/pasien rawat jalan
dan rawat inap melalui Instalasi Farmasi.
4) Sistem unit dosis
Pendistribusian obat-obatan melalui resep perorangan yang disiapkan,
diberikan/digunakan dan dibayar dalam unit dosis tunggal atau ganda,
yang berisi obat dalam jumlah yang telah ditetapkan atau jumlah yang
cukup untuk penggunaan satu kali dosis biasa.

14
3. Penggunaan (Use)
Penggunaan obat adalah proses yang meliputi peresepan oleh dokter,
pelayanan obat oleh farmasi serta penggunaan obat oleh pasien. Seorang dokter
diharapkan membuat peresepan yang rasional, dengan indikasi yang tepat, dosis
yang tepat, memperhatikan efek samping dan kontra indikasinya serta
mempertimbangkan harga dan kewajarannya. Obat yang ditulis dokter pada
resep selanjutnya menjadi tugas farmasi untuk menyiapkan dan menyerahkan
kepada pasien.
Penggunaan obat dikatakan rasional apabila memenuhi kriteria obat
yang benar, indikasi yang tepat, obat yang manjur, aman, cocok untuk pasien
dan biaya terjangkau, ketepatan dosis, cara pemakaian dan lama yang sesuai,
sesuai dengan kondisi pasien, tepat pelayanan, serta ditaati oleh pasien. Manfaat
penggunaan obat yang rasional adalah meningkatkan mutu pelayanan,
mencegah pemborosan sumber dana, dan meningkatkan akses terhadap obat
esensial. Sebaliknya penggunaan obat dikatakan tidak rasional yaitu jika
a. Pemakaian obat dimana sebenarnya indikasi pemakaiannya secara medik
tidak ada atau samar-samar
b. Pemilihan obat yang keliru untuk indikasi penyakit tertentu
c. Cara pemakaian obat, dosis, frekuensi dan lama pemberian tidak sesuai
d. Pemakaian obat dengan potensi toksisitas atau efek samping lebih besar
padahal obat lain yang sama kemanfaatan (efficacy) dengan potensi efek
samping lebih kecil juga ada
e. Pemakaian obat-obat mahal padahal alternatif yang lebih murah dengan
kemanfaatan dan keamanan yang sama tersedia
f. Tidak memberikan pengobatan yang sudah diketahui dan diterima
kemanfaatan dan keamanannya (established efficacy and safety)
g. Memberikan pengobatan dengan obat-obat yang kemanfaatannya dan
keamanannya masih diragukan
h. Pemakaian obat yang semata-mata didasarkan pada pengalaman individual
tanpa mengacu pada sumber informasi ilmiah yang layak, atau hanya didasari
pada sumber informasi yang diragukan kebenarannya.

B. Kompetensi Apoteker di Rumah Sakit

15
Standar Kompetensi Apoteker di Indonesia telah disusun oleh kelompok
ahli dalam bidang Industri, Rumah Sakit, dan Apotek. Dibawah naungan organisasi
profesi dan telah ditetapkan pemberlakuannya oleh Pimpinan Pusat ISFI periode
2000-2004 dengan SK BPP ISFI Nomor 1008/BPP/SK016 tertanggal 8 Oktober
2003.Berdasarkan rapat-rapat Pengurus Pusat periode 2005-2009 yang dihadiri
pula oleh Majelis Pakar dan Badan Sertifikasi Profesi Apoteker telah disepakati
bahwa Standar Kompetensi disusun kembali sehingga dapat disesuaikan dengan
Sistem Kesehatan Nasional 2005, Kebijakan Obat Nasional 2006, Kebijakan Obat
Tradisional Nasional 2007, standar kompetensi yang berlaku umum, Pedoman
Penyusunan Standar Profesi Depkes, dan perbandingan model penyusunan standar
kompetensi di negara lain, serta mempertimbangkan standar pelayanan
kefarmasian di Apotek dan Rumah Sakit yang ditetapkan oleh Departemen
Kesehatan. Sedangkan Petunjuk Pelaksanaan akan ditetapkan oleh organisasi
profesi setelah standar profesi tersebut ditetapkan dan diberlakukan oleh Menteri
kesehatan Republik Indonesia. Khusus bagi tenaga Apoteker yang bekerja di
pemerintahan, Petunjuk Pelaksanaannya akan ditetapkan oleh Departemen
Kesehatan.
Pekerjaan Kefarmasian diselenggarakan berdasarkan ilmu pengetahuan
dan teknologi di bidang farmasi dalam upaya pencegahan penyakit, peningkatan
kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan. Pekerjaan kefarmasian
hanya dapat dilakukan oleh tenaga kefarmasian yang memiliki keahlain dan
kewenangan yang berdasarkan pada Standar Profesi dan paradigma Pelayanan
Kefarmasian. Standar Profesi dan paradigma Pelayanan Kefarmasian merupakan
pedoman yang harus diikuti oleh tenaga kefarmasian dalam menjalankan pekerjaan
kefarmasian.
Kompetensi umum apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian
harus mempunyai kemampuan sebagai berikut :
1. Menguasai Ilmu Kefarmasian
2. Menguasai Asuhan Kefarmasian
3. Menguasai Regulasi Kefarmasian
4. Menguasai Manajemen Praktek Kefarmasian
5. Menguasai Akuntabilitas Praktek Kefarmasian
6. Menguasai Komunikasi Kefarmasian
7. Pendidikan dan Pelatihan Kefarmasian
16
8. Penelitian dan Pengembangan Kefarmasian
Pekerjaan kefarmasian yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian dapat
diselenggarakan pada :
1. Pemerintah yang melakukan kebijakan kefarmasian.
2. Sarana produksi sediaan farmasi berupa pabrik sediaan farmasi, pabrik bahan
baku sediaan farmasi, pabrik obat tradisisonal, dan pabrik lain yang memerlukan
tenaga kefarmasian untuk menjalankan tugas dan fungsi produksi dan
pengawasan mutu.
3. Sarana distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan.
4. Sarana pelayanan sediaan farmasi melalui praktik di apotek, instalasi farmasi
rumah sakit, puskesmas, klinik/praktek bersama; dan
5. Sarana kesehatan lain yang ditetapkan Menteri.
Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di rumah sakit harus
mempunyai kompetensi sebagai berikut :
1. Mampu malaksanakan pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan.
2. Mampu melaksanakan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan (Good
Distribution Practice) di rumah sakit.
3. Mampu melaksanakan fungsi farmasi klinik bersama dokter untuk kepentingan
pasien dalam penggunaan obat dan alat kesehatan yang rasional.
4. Mampu melaksanakan fungsi konsultasi, informasi, dan edukasi tentang obat
yang digunakan oleh pasien dan masyarakat serta yang membutuhkan
5. Mampu melaksanakan fungsi pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan
sesuai kebutuhan rumah sakit.
6. Mampu melaksanakan Good Inventory Practices dan Good Storage Practices.
7. Mampu melaksanakan Good Laboratory Practices
Atau secara lebih lengkap kompetensi apoteker di rumah sakit dapat di jelaskan
pada tabel berikut ini :

17
C. Farmasi Klinis
Istilah farmasi klinis dibuat untuk menguraikan kerja apoteker yang tugas
utamanya berinteraksi dengan tim kesehatan lain, interview dan menaksir pasien,
membuat rekomendasi terapi spesifik, memonitor respons pasien atas terapi obat
dan memberi informasi tentang obat. Farmasi klinis tempat kerjanya di rumah sakit
dan ruang gawat darurat dan pelayanannya lebih berorientasi pada pasien dari pada
berorientasi produk. Farmasi klinis dipraktekkan terutama pada pasien rawat inap
dimana data hubungan dengan pasien dan tim kesehatan mudah diperoleh.
Rekam Medis ( medical record ) atau file dari pasien adalah dokumen resmi
termasuk informasi yang diberikan rumah sakit, dimulai dari riwayat pasien ,
kemajuan latihan fisik sehari-hari yang dibuat tenaga kesehatan yang profesional
yang berinteraksi dengan pasien, konsultasi , catatan perawatan, hasil laboratorium,
prosedur diagnosa dan sebagainya.

18
Farmasi klinis memerlukan pengetahuan terapi yang tinggi, pengertian
yang baik atas proses penyakit dan pengetahuan produk-produk farmasi. Tambahan
lagi farmasi klinis memerlukan ketrampilan berkomunikasi yang baik dengan
pengetahuan obat yang padat ketrampilan monitoring obat, pemberian informasi
obat, ketrampilan perencanaan terapi dan kemampuan memperkirakan dan
menginterpretasikan hasil laboratorium dan fisik.
Penakaran farmakokinetik dan monitoring merupakan ketrampilan dan
pelayanan istimewa dari farmasi klinis. Seorang farmasi klinis adalah sering
merupakan anggota tim kesehatan yang aktif , ikut serta ke bangsal untuk
mendiskusikan terapi di ruang rawat inap.

III. Penyelesaian Kasus

Dari uraian kasus diatas rumah sakit tersebut di klasifikasikan berdasarkan


pada kapasitas pola tempat tempat tidurnya yaitu 100-199. Untuk jumlah apoteker di
rumah sakit yang ideal berdasarkan petunjuk Depkes RI adalah 30 tempat tidur di
rumah sakit harus dilayani oleh 1 orang apoteker. Sehingga dari petunjuk Depkes RI
mengenai ketentuan jumlah apoteker dengan jumlah tempat tidur yang berjumlah
150, dapat diakatan rumah sakit tersebut masih kurang ideal, karena hanya memiliki
4 orang apoteker saja.
Namun untuk mengangkat seorang tenaga kerja / pegawai tidaklah mudah,
banyak pertimbangan yang harus dilakukan terutama masalah ketersediaan anggaran
yang ada dengan klasifikasi kompetensi yang dibutuhkan serta output yang akan
dicapai dari penambahan pegawai tersebut nantinya. Untuk itu peranan 4 orang
apoteker yang ada harus dilakukan secara maksimal dengan membuat strategi
operasional yang mendukung agar peranan Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
sebagai revenue center dapat benar-benar terwujud.
Strategi yang dapat diterapkan dalam kaitannya pada kasus ini adalah
melaksanakan pelayanan farmasi klinik dan penerapan kompetensi apoteker di
rumah sakit berdasarkan pada prinsip-prinsip drug management cycle secara
komperhensif, dimana tujuan akhirnya adalah sebuah instalasi farmasi yang efektif
dan efisen. Untuk itu langkah pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan
pembenahan pada lingkup organisasi di IFRS tersebut, dimana tercipta suatu bagan
organisasi yang menggambarkan uraian tugas, fungsi, wewenang dan tanggung

19
jawab serta hubungan koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan farmasi yang
ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit.
Secara garis besar dalam organisasi maupun IFRS, pembagian tugas
berdasarkan peran apoteker di rumah sakit tersebut meliputi 2 peran utama yaitu
peran apoteker dalam manajemen farmasi dan peran apoteker sebagai pelayanan
farmasi klinis. Dalam hal ini untuk 4 orang apoteker tersebut pembagian perannya di
IFRS tersebut dapat dibagi 2 orang apoteker bertugas pada manajemen farmasi
rumah sakit, sedangkan 2 orang apoteker lagi bertugas sebagai apoteker pada
pelayanan farmasi klinis di rumah sakit tersebut.
Peran Apoteker dalam manajemen farmasi rumah sakit dapat dikatakan
sebagai peran yang paling urgent, karena siklus pengelolaan obat harus diatur
sedemikian rupa agar pelayanan kesehatan di rumah sakit khususnya dalam hal
penyediaan obat-obatan dapat terlaksanan secara terus-menerus. Karena itulah
apoteker perlu memiliki pengetahuan dibidang manajemen yang baik. Dalam setiap
implementasi peran yang dilakukan perlu dilakukan evaluasi adanya perubahan, baik
langsung maupun tidak langsung, dan perlu dilakukan pula penilaian kesesuaian
dengan tujuan dan target dari program yang dilaksanakan, dalam kriteria ini yang
diinginkan adalah setiap tahap yang dilakukan dapat berjalan secara efektif dan
efisien oleh apoteker di rumah sakit tersebut. Implementasi peran apoteker di rumah
sakit yang perlu mendapatkan evaluasi untuk mengetahui apakah indikator tersebut
sudah berlangsung secara efektif dan efisien terdiri dari :
- Peranan apoteker dalam tahap seleksi dan perencanaan obat di IFRS
Peran ini merupakan awal yang sangat berarti terhadap rumah sakit,
karena dengan melakukan pemilihan obat yang tepat bagi kebutuhan rumah sakit
maka pelayanan dapat berlangsung dengan baik dan dapat memenuhi keinginan
berbagai pihak yang mempunyai kebijakan di rumah sakit.
Dalam tahap ini evaluasinya menyangkut Persentase kepatuhan terhadap
formularium atau obat esensial, dimana obat yang ada dalam formularium yang
dilayani dilakukan perbandingan dengan keseluruhan obat yang dilayani di rumah
sakit tersebut, evaluasi pada peranan apoteker dalam tahap seleksi juga dilakukan
terhadap Rata-rata ketersediaan obat indikator, yakni dengan melihat
perbandingan jumlah obat yang tersedia dengan rata-rata pemakaian obat tiap
bulannya; Persentase formularium dengan DOEN, yakni jumlah obat dalam
formularium yang terdapat dalam DOEN dibandingkan dengan yang ada di
20
formularium, kemudian untuk mengetahui dibuat dalam persentase dengan
mengalikannya 100%, pelayanan tersebut dapat dikatakan efektif apabila hasil
yang diperoleh mendekati 100%.
Sedangkan dalam tahap perencanaan, peranan apoteker dilakukan evaluasi
terhadap persentase dana yang tersedia dengan kebutuhan, yaitu dengan
membandingan dana yang ada dengan dana yang dibutuhkan; Persentase
perencanaan dengan kenyataan, yakni dengan membandingkan antara jumlah
obat yang ada dalam perencanaan dengan jumlah obat yang kenyataan diadakan;
Persentase kesesuaian antara perencanaan dengan kenyataan untuk masing-
masing obat, yaitu perbandingan antara jumlah obat indikator yang ada dalam
perencanaan dengan kenyataan yang diadakan, semua evaluasi dalam
kemampuan apoteker di IFRS akan dikatakan efektif apabila hasil dari evaluasi
tersebut mendekati nilai 100%.

- Peranan Dalam Pengadaan Perbekalan Farmasi.


Perencanaan pengadaan kebutuhan perbekalan farmasi memerlukan kajian
yang cermat, tepat dan teliti berdasarkan pada stok yang ada serta dilakukan
pengkajian obat yang akan diadakan sesuai dengan formularium yang terkendali,
dan formularium tersebut secara terus-menerus dilakukan pemutakhiran.
Sehingga dengan begitu anggaran menjadi efektif dan efisen.
Dalam pengadaan yanng berbasis pada formularium maupun metode
pengadaan lain dilakukan juga dengan melakukan analisis-analisis ekonomi,
seperti Economic Order Quantity untuk obat-obatan maupun perbekalan farmasi
yang kebutuhannya tetap, Just in time, untuk sediaan obat-obatan yang memiliki
harga yang mahal namun jarang dipakai, dan obat-obatan yang di akan diadakan
sebelumnya telah disusun menggunakan metode Pareto atau ABC analisis. Dalam
arti Apoteker harus mempunyai kemampuan administrasi dan manajerial dalam
mengelolah data kebutuhan obat yang kemudian di tuangkan ke dalam rencana
operasional yang digunakan dalam anggaran serta berkonsultasi dengan Panitia
Farmasi dan Terapi (PFT).

- Peranan dalam Penyimpanan Obat


Pengaturan obat langsung dilakukan dan dikelola di bawah pengawasan
dan tanggung jawab Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Hal ini perlu karena
21
pentingnya pengaturan dan pengendalian stok untuk menjamin mutu dari obat-
obatan maupun alat kesehatan yang disimpan dapat dipakai ataupun berefek
sesuai dengan yang diharapkan. Pada kegiatan penyimpanan ini sangat
dibutuhkan sistem informasi manajemen yang andal, agar pelayanan dapat
memberikan outcome yang positif. dan untuk mempersiapkan laporan dibuat pola
sistem dan prosedur kerja serta administrasi yang sesuai dan memenuhi syarat.
Dalam tahap ini untuk mengetahui apakah pekerjaan yang dilakukan
Apoteker sudah efektif perlu di evaluasi terhadap : Persentase kesesuaian antara
stelling card (kartu tunggu) dengan kenyataan, yakni dengan membandingkan
antara jumlah obat dalam kenyataan yang tidak cocok dengan kartu stelling yang
cocok; TOR = Turn Over Ratio, yakni dengan membandingkan jumlah penjualan
dalam Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan rata-rata total nilai persediaan dalam
HPP; pada kedua indikator tersebut nilai yang didapat akan menjadi efektif dan
efisIen jika hasilnya diperoleh nilai yang besar, untuk TOR sepengetahun penulis
ada rumah sakit yang dapat mencapai TOR lebih dari 80 kali dalam setahun;
Persentase kesesuaian antara kebijakan sistem penyimpanan dengan kenyataan,
yakni dengan membandingkan antara obat yang disimpan tidak sesuai kebijakan
dengan yang sesuai, persentase yang baik apabila nilai yang diperoleh mendekati
100%.

- Peranan Dalam Distribusi Obat


Distribusi obat untuk pasien rawat jalan dan rawat inap dilaksanakan oleh
Apotek Farmasi Rumah Sakit, yang harus mempertimbangkan pula segi
efektifitas dan efisensi dalam hal biayanya serta keamanan dan ketepatan obat
setelah kegiatan dispensing obat oleh petugas farmasi di IFRS. pada kasus ini
mengingat keterbatasan jumlah apoteker dan rumah sakit tersebut tidak terlalu
besar, sistem distribusi yang dapat digunakan untuk pasien rawat inap adalah
dengan sistem obat resep individual sentralisasi. Dalam sistem ini semua obat
yang diperlukan untuk pengobatan di dispensing dari IFRS. Resep orisinil oleh
perawat dikirim ke IFRS kemudian order / resep tersebut diproses sesuai dengan
kaidah cara dispensing yang baik dan obat disiapkan untuk di distribusikan
kepada penderita tertentu, dimana yang memberikannya adalah perawat rumah
sakit tersebut. Keuntungan dari sistem disteribusi ini adalah :

22
a. Semua resep /order dikaji langsung oleh apoteker, yang juga dapat memberi
keterangan atau informasi kepada perawat berkaitan dengan obat penderita
b. Memberi kesempatan interaksi profesional antara apoteker-dokter-perawat-
penderita
c. Memungkinkan pengendalian yang lebih dekat atas perbekalan
d. Mempermudah penagihan biaya obat penderita

- Peran Apoteker dalam penggunaan sediaan farmasi di IFRS


Sesuai dengan kompetensi yang dimiliki apoteker di rumah sakit, apoteker
juga memiliki peran dalam hal mengontrol penggunaan sediaan farmasi, agar
sediaan tersebut dapat memberikan manfaat bagi pasien di rumah sakit, dalam
peran ini aspek farmakoekonomi dapat digunakan untuk melihat efektivitas dan
efiisensi penggunaan sedian farmasi tersebut. Tujuannya agar rasionalisasi
penggunaan obat oleh pasien dapat terealisasi.
Dalam peran ini evaluasi yang dilakukan oleh apoteker meliputi :
indikator persepan obat kepada pasien terhadap :
a. Average number of medicines per encounter, yakni dengan
menghitung jumlah R/ resep (dalam bulan atau tahun) dibandingkan dengan
jumlah lembar resep. Dalam hal ini semakin besar nilai rata-rata dari nomal
yang ditetapkan, maka dapat dikatakan pola peresepan yang dilakukan
persepan berlebih atau kurang rasional
b. Percentage of medicines prescribe by generic name, yakni menghitung
jumlah obat yang ditulis (R/) dengan generik dibandingkan dengan obat yang
ditulis, dalam hal ini berkaitan dengan keputusan menteri kesehatan yang
menginginkan agar di rumah sakit dokter-dokter yang melakukan peresepan
untuk menulis resep dengan resep obat dengan nama generik, hal ini untuk
menyebarluaskan penggunaan obat generik kepada masyarakat, terutama
masyarakat yang kurang mampu dan menekan biaya pengobatan di rumah
sakit.
c. Percentage of encounters with an antibiotic prescribed, yaitu jumlah obat
antibiotik yang ditulis dibandingkan dengan semua obat yang ditulis, dalam
penggunaan obat yang rasional, kuur pengobatan dengan antibiotik harus
sesuai dengan indikasinya, semakin besar ketidaksesuaian yang didapatkan,

23
maka dapat dikatakan bahwa penggunaan antibiotik di rumah sakit tersebut
kurang rasional
d. Percentage of encounters with an injection prescribed, yaitu jumlah
obat injeksi yang ditulis dibandingkan dengan semua obat yang ditulis pada
evaluasi ini dilakukan untuk menilai terhadap peranan penggunaan injeksi di
rumah sakit, semakin besar persentase yang ditulis, berkaitan dengan semakin
tingginya pola pengobatan yang menggunakan injeksi dalam terapinya. Dan
hal ini berhubungan dengan mengukur ketersediaan apotek tersebut bagi
kebutuhan rumah sakit.
e. Percentage of medicines prescribed from formulary, yaitu jumlah obat yang
masuk formularium dibandingkan dengan semua obat yang ditulis kemudian
dikalikan dengan 100%, persentase ini akan menggambarkan seberapa efektif
penggunaan formularium dalam peresepan yang ditulis oleh tenaga medis,
semakin besar persentase penyimpangan yang didapatkan maka dapat
dikatakan bahwa penggunaan formularium di rumah sakit tersebut kurang
berhasil.
f. Percentage of non formulary medicines, yakni jumlah obat yang ditulis
dan termasuk non formularium dibandingkan dengan jumlahsemua obat
kemudian dikalikan dengan 100%.
g. Persentase obat yang rusak dan kadaluwarsa, yakni dengan :
1) menghitung jumlah obat yang rusak dan kadaluwarsa dengan jumlah keseluruhan obat
kemudian dikalikan dengan 100%
2) mengHitung nilai obat yang rusak dan kadaluwarsa bandingkan dengan total nilai persediaan
kemudian dikalikan dengan 100%
penilaian ini menggambarkan efektifitas apoteker dalam mengelola
inventorynya, sehingga semakin besar persentase yang didapatkan maka
kinerja yang telah dilakukan dapat diniali kurang efektif
h. Persentase obat yang disimpan sesuai FIFO & FEFO, yakni dengan
menghitung jumlah obat yang disimpan apakah tidak sesuai dengan
FIFO&FEFO bandingkan dengan yang cocok kemudian dikalikan dengan
100%
i. Tingkat ketersediaan obat , yakni dengan membandingkan antara
jumlah obat (tertentu) yang tersedia dengan rata-rata penggunaan obat per
bulan _dalam bulan
24
j. Persentase obat dengan tingkat aman, yakni dengan membandingkan
total jenis obat dengan tingkat minimal, sama dengan waktu tunggu dengan
total jenis obat dalam persediaan kemudian dikalikan dengan 100%
k. Patient care indicators, terdiri dari :
1) Average consultation time, yakni rata-rata waktu yang digunakan dalam
konsultasi
2) Average dispensing time, yakni rata-rata waktu yang digunakan untuk
memberikan pelayanan sejak resep diterima sampai obat diberikan
kepada pasien disertai informasi
3) Percentage of medicines actually dispensed, yakni dengan menghitung
jumlah obat yang dilayani dibandingkan dengan keseluruhan obat yang
seharusnya dilayani kemudian dikalikan dengan 100%
4) Percentage of adequately labeled, yakni dengan menghitung jumlah
label yang dibuat yang tidak sesuai standar bandingkan dengan label
yang sesuai standar label yang harus dipenuhi
5) Percentage of patients’ knowledge of correct dosage, yakni dengan
membandingkan jumlah pasien yang tidak mengerti dosis dan pemakaian
obat dengan yang mengerti kemudian dikalikan dengan 100%
6) Percentage of patient complains, yakni perhitungan yang dibuat dengan
terlebih dahulu membual kuesioner, dan melakuan penyebaran
kueisioner tersebut untuk mengetahui seberapa besar pasien yang
dilayani merasa puas dengan pelayanan farmasi di rumah sakit
7) Percentage of medical doctors complains, sama dengan untuk
mengetahui penilaian kepuasan pasien, yakni dengan membuat kuesioner
kepuasan dokter, kemudian menghitung persentase dokter yang tidak
puas terhadap pelayanan yang dilakukan di IFRS.
8) Biaya per kunjungan resep, yakni dengan membandingkan dana
pemakaian obat tahun lalu dengan jumlah kunjungan resep tahun lalu
9) Kesesuaian ketersediaan obat dengan pola penyakit, yakni dengan
membandingkan antara jumlah jenis obat yang tersedia dengan jumlah
jenis obat untuk semua kasus (dilihat dari standar pengobatan) X 100 %,
semakin besar persentase yang didapat akan menggambarkan bahwa
ketersediaan obat di IFRS tersebut sudah sesuai dengan pola penyakit
yang ada.
25
10) Percentage patients treated without medicines, yakni dengan
menghitung pasien yang mengalami DRP karena ada indikasi tetapi
tidak mendapatkan obat
11) Percentage medicine – costs spent on antibiotic, yakni dengan meng
hitung biaya antibiotika yang digunakan bandingkan dengan keseluruhan
biaya obat
12) Percentage medicine costs spent on injection, yakni dengan menghitung
biaya injeksi yang digunakan bandingkan dengan keseluruhan biaya obat
13) Prescription in accordance with treatment guidelines, yakni dengan
melihat tingkat kepatuhan terhadap standar diagnosa dan terapi
14) Percentage of health facilities with access to impartial medicine
information, yakni dengan menetapkan standar informasi yang harus
dilakukan, bandingkan antara pasien yang mendapatkan informasi tidak
sesuai standar dengan yang sesuai standar kemudian X 100%
- Peran Apoteker dalam pelayanan farmasi klinis
Berkaitan dengan kasus ini 2 dari 4 orang apoteker yang ada dapat di optimalkan
dalam hal pelayanan farmasi klinis di rumah sakit tersebut, dimana peran
apoteker dalam hal klinis ini meliputi :
1. Peranan Dalam Kontrol Kualitas Obat
Apoteker melakukan kontrol kualitas obat galenika, analitik, biologis,
mikrobiologis, fisika, dan kimia
2. Peranan Sebagai Pusat Informasi, yakni :
a. Memberikan informasi mengenai obat bagi yang memerlukannya.
Mengevaluasi dan membandingkan obat-obatan yang tergolong dalam
satu kelompok farmakologis.
b. Membantu para dokter dalam pemilihan obat yang aman dan efektif.
c. Mendidik tenaga paramedis
d. Bertukar informasi dengan apoteker di rumah sakit lain untuk lebih
meningkatkan pengetahuan tentang cara memberikan informasi mengenai
obat..
Karena itulah selain memerlukan pengetahuan terapi yang tinggi, pengertian
yang baik atas proses penyakit dan pengetahuan produk-produk farmasi.

26
Pelayanan farmasi klinis juga memerlukan ketrampilan berkomunikasi yang
baik.
Pada Drug Management Cycle hal yang perlu diperhatikan selain
kegiatan-kegiatan utamanya (Selection, Procurement, Distribution, and Use)
terdapat manajemen pendukung yang juga harus diperhatikan, meliputi :
a. Organisasi
Faktor pendukung organisasi mencakup tentang struktur orgnisasi dari IFRS
tersebut telah diatur secara jelas terhadap tugas, fungsi dan jabatan dari petugas
IFRS, memiliki Standar Operasional Prosedur yang baik, yaitu suatu sistem yang
dibuat untuk pengaturan kerja di instalasi farmasi rumah sakit, agar nantinya
pekerjaan yang dilakukan dapat sesuai dengan yang diharapkan. Karena itu di
IFRS tersebut, ke empat apoteker harus saling bekerjasama dengan baik,
walaupun dalam hal tugas dan wewennang berbeda. Dan dapat mengakomodir
keperluan dari para staf yang ada dalam IFRS tersebut agar dapat melakukan
pekerjaannya sesuai dengan SOP maupun tugas pokok dan fungsinya.
b. Keuangan
Keuangan sangat mendukung terhadap jalannya suatu kegiatan, karena dengan
budget yang cukup maka kegiatan tersebut diharapkan dapat lebih berkualitas dan
dapat memenuhi tujuan yang diharapkan. Untuk itu pengelolaan keuangan yang
dimaksud adalah pengelolaan keuangan yang menjunjung tinggi aspek
transparasi, akuntabel, tepat sasaran, dan efisen. Apalagi dalam hal ini instalasi
farmasi rumah sakit merupakan revenue center.
c. Sistem Informasi Manajemen
Saat ini untuk memiliki daya saing yang unggul salah satunya adalah dengan
memiliki keunggulan dalam hal teknologi dan informasi atau TI. Karena dengan
penerapan teknologi informasi yang dalam hal ini adalah sistem informasi
manajemen Obat di IFRS yang terintegrasi di setiap unit pelayanan lainnya, maka
pekerjaan akan menjadi lebih mudah dan efisen dalam hal tenaga kerja dan
penyimpanan file. Dengan SIM obat ini kegiatan yang ada di IFRS juga lebih
mudah untuk dilakukan evaluasi untuk mencari feed back dari suatu masalah
tersebut. Agar lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan IFRS, pada desain
program SIM apoteker harus ikut terlibat sehingga lebih memahami situasi yang
berkembang saat itu dan dapat meramalkan kebutuhan program selanjutnya.
d. Sumber daya Manusia.
27
Bagi rumah sakit dan organisasi lainnya Sumber Daya Manusia (SDM)
merupakan intangible asset, karena dengan adanya SDM yang memiliki
kompetensi dan knowledge yang tinggi di bidangnya masing-masing, maka akan
dapat menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan
berbagai aset berwujud (tangible asset) seperti modal. Karena itu untuk
meningkatkan kompetensi dan knowledge dari Intangible assetnya, manajemen
rumah sakit dalam hal ini bagian HRD harus berupaya untuk membuat program-
program pelatihan maupun kursus-kursus yang disesuaikan dengan
kebutuhannya. Karena telah terbukti intangible asset ini akan berkolerasi positif
terhadap keunggulan bersaing dari rumah sakit tersebut.
Dari penerapan peran farmasis tersebut baik terhadap aspek manajerial
maupun aspek pelayanan farmasi klinis diharapkan rumah sakit tersebut memiliki
keunggulan kompetitif yang dapat bersaing dan memberikan value added kepada
konsumernya sehingga quality of life dari pasien dapat semakin meningkat.
IV. Daftar Pustaka
Anonim, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang
Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta : Depkes RI.
Anonim, 2002, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Supervisi dan Evaluasi
Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Jakarta : Direktorat Jenderal
Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan
Djoko, W., 1999, Manajemen Mutu. Teori Strategi dan Aplikasi. Vol. I. Surabaya : Airlangga
University Press
Daris, A., 2006, Perkembangan praktek kefarmasian (online)
http://www.ikatanapotekerindonesia.net/artikel-a-konten/sekilas-
info/153.html, diakses 23 agustus 2010
Gandjar,I.G., 2009, Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia, Kompetensi Apoteker di
Indonesia, (online) diakses tanggal 23 Agustus 2010.
Handayani, S., 2008, Standar Kokpetensi Apoteker (online)
http://srihandayani.blogsome.com/2008/05/17/standar-kompetensi-apoteker/
diakses tanggal 23 agustus 2010.
Istinganah., dkk. 2006, Evaluasi Sistem Pengadaan Obat dari Dana APBD Tahun 2001-2003
Terhadap Kesediaan dan Efisiensi Obat [Jurnal]. Manajemen Pelayanan
Kesehatan Vol. 09/No. 01/Maret 2006.
28
Ida Prista Maryetty, 2008, Regulasi Obat yang Mempengaruhi Peresepan. (Online).
fkuii.org/tiki_wiki_attachment.php?
attId=199&page=pengobatan_rasional_handout diakses tanggal 23 Agustus
2010.
Ozal, 2010 Metode perencanaan (online) http://apoteker-istn.blogspot.com/2010/03/metode-
perencanaan.html, diakses 23 agustus 2010
Pudjaningsih, D., 1996, Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat di Farmasi
Rumah Sakit [Tesis]. Yogyakarta : Magister Manjemen Rumah Sakit
Universitas Gadjah Mada ;
Quick, 1997, Managing Drug Supply (2nd ed). Management Sciences for Health USA :
Kumarian Press
Siregar, J.P dan Amalia, l., 2004, Farmasi Rumah Sakit : Teori dan Penerapan. Jakarta :
EGC.
Yoga, AC., 2003, Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Jakarta : UI Press

29