Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan
makalah ini dengan tepat pada waktunya. Banyak rintangan dan hambatan yang
kelompok hadapi dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan dan
dukungan dari teman-teman serta bimbingan dari dosen pembimbing, sehingga
kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses
pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak
lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan, dorongan dan doa.
Seperti pepatah mengatakan “Tiada gading yang tak retak” begitu pula
dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman demi penyempurnaan makalah
ini.

Penyusun

Kelompok 2

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................1
BAB I ......................................................................................................................3
PENDAHULUAN...................................................................................................3
Latar belakang Masalah.........................................................................3
Tujuan....................................................................................................3
Metode Penulisan...................................................................................4
BAB II ....................................................................................................................5
TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................5
Sejarah Keperawatan Internasional........................................................5
Sejak zaman manusia itu diciptakan/ Zaman Purba (Primitive
culture)............................................................................................5

Zaman keagamaan .........................................................................6

Zaman masehi.................................................................................6

Zaman permulaan abad 21..............................................................6

Zaman sebelum perang dunia kedua...............................................7

Masa selama perang dunia kedua...................................................7

Masa pasca perang dunia kedua......................................................7

Periode tahun 1950..........................................................................8

Perawatan pada Beberapa Bangsa dan Negara ....................................8


Sejarah Perkembangan Keperawatan Nasional....................................12
Dampak Sejarah Terhadap Profil Perawat Indonesia............................14
BAB III..................................................................................................................17
PENUTUP............................................................................................................17
Kesimpulan..........................................................................................18
Saran....................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................18

ii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang Masalah
Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan profesional yang
merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang berdasarkan pada ilmu
dan etika keperawatan. Keperawatan sebagai bagian intergral dari pelayanan
kesehatan, ikut menentukan mutu dari pelayanan kesehatan. Tenaga keperawatan
secara keseluruhan jumlahnya mendominasi tenaga kesehatan yang ada, dimana
keperawatan memberikan konstribusi yang unik terhadap bentuk pelayanan
kesehatan sebagai satu kesatuan yang relatif, berkelanjutan, koordinatif dan
advokatif. Keperawatan sebagai suatu profesi menekankan kepada bentuk
pelayanan profesional yang sesuai dengan standar dengan memperhatikan kaidah
etik dan moral sehingga pelayanan yang diberikan dapat diterima oleh masyarakat
dengan baik lanjut.
Perkembangan dunia keperawatan merupakan sebuah profesi yang tidak
dapat terlepas dari dunia keperawatan di masa sebelumnya. Untuk mencapai
profesionalitas dunia keperawatan di saat ini, dunia keperawatan harus melewati
tahap-tahap yang begitu banyak, di mana terjadi berbagai peristiwa yang penting
yang terjadi pada masa-masa lampau tersebut hingga mendorong perkembangan
profesi keperawatan, baik di dunia internasional maupun nasional. Dengan acuan
inilah, maka penulis merasa perlu untuk memaparkan tentang bagaimana
perkembangan sejarah dunia keperawatan baik di dunia internasional maupun
nasional. Penulis berharap melalui paparan ini kita dapat lebih mengenal
bagaimana sejarah keperawatan yang ada, dan melalui hal itu kita dapat lebih
mengenal dunia keperawatan dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan kita
sebagai calon perawat dan/atau perawat.

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui bagaimana sejarah keperawatan internasional,
2. Mengetahui bagaimana sejarah keperawatan nasional, dan

3
3. Mengetahui bagaimana hubungan dari sejarah keperawatan yang ada dengan
keperawatan saat ini.

Metode Penulisan
Dalam makalah ini kelompok kami membahas tentang Sejarah
Keperawatan Nasional dan Internasional, yang terdiri dari 3 bab utama. Pada bab I
berisi tentang latar belakang dari penulisan makalah ini, tujuan di adakannya
penulisan, dan metode penulisan makalah ini. Bab II merupakan bagian yang
berisi penjelasan tentang tinjauan pustaka, yang membahas materi/pokok bahasan
makalah ini,yakni, Sejarah Keperawatan Internasional, Perawatan pada beberapa
Bangsa dan Negara, Sejarah Keperawatan Nasional dan Dampak Sejarah pada
Profil Perawat Indonesia. Bab III merupakan bagian terakhir yang berisi
kesimpulan dan saran.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah Keperawatan Internasional
Keperawatan sebagai suatu pekerjaan sudah ada sejak manusia ada di
bumi ini, keperawatan terus berkembang sesuai dengan kemajuan peradaban
teknologi dan kebudayaan. Konsep keperawatan dari abad ke abad terus
berkembang, berikut adalah perkembangan keperawatan di dunia.

Sejak zaman manusia itu diciptakan/ Zaman Purba (Primitive culture)


Di mana pada dasarnya manusia diciptakan telah memiliki naluri
untuk merawat diri sendiri sebagaimana tercermin pada seorang ibu. Naluri
yang sederhana adalah memelihara kesehatan dalam hal ini adalah menyusui
anaknva sehingga harapan pada awal perkembangan keperawatan, perawat
harus memiliki naluri keibuan (mother instinct) kemudian bergeser ke zaman
purba di mana pada zaman ini orang masih percaya pada sesuatu tentang
adanya kekuatan mistis yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia,
kepercayaan ini dikenal dengan nama animisme, di mana seseorang yang
sakit dapat disebabkan karena kekuatan alam atau pengaruh kekuatan gaib
sehingga timbul keyakinan bahwa jiwa yang jahat akan dapat
menimbulkan kesakitan dan jiwa yang sehat dapat menimbulkan kesehatan
atau kesejahteraan. Pada saat itu peran perawat sebagai ibu yang merawat
keluarganya yang sakit dengan memberikan perawatan fisik serta mengobati
penyakit dengan menghilangkan pengaruh jahat. Kemudian dilanjutkan
dengan kepercayaan pada dewa-dewa di mana pada masa itu penyakit
dianggap disebabkan karena kemarahan dewa sehingga kuil-kuil didirikan
sebagai tempat pemujaan dan orang yang sakit meminta kesembuhan di kuil
tersebut dengan bantuan priest physician. Setelah itu perkembangan
keperawatan terus berubah dengan adanya diakones dan philantrop yang
merupakan suatu kelompok wanita tua dan janda yang membantu pendeta dalam
merawat orang sakit serta kelompok kasih sayang yang anggotanya
menjauhkan diri dari keramaian dunia dan hidupnya ditujukan pada
perawatan orang yang sakit sehingga akhirnya berkembanglah rumah-rumah

5
perawatan dan akhirnya mulailah awal perkembangan ilmu keperawatan.

Zaman keagamaan
Perkembangan keperawatan ini mulai bergeser ke arah spiritual di
mana seseorang yang sakit dapat disebabkan karena adanya dosa atau kutukan
Tuhan. Pusat perawatan adalah tempat-tempat ibadah, sehingga pada waktu
itu pemimpin agama dapat disebut sebagai. tabib yang mengobati pasien
karena ada anggapan yang mampu mengobati adalah pemimpin agama
sedangkan pada waktu itu perawat dianggap sebagai budak yang hanya
membantu dan bekerja atas perintah pemimpin agama.

Zaman masehi
Keperawatan dimulai pada saat perkembangan agama Nasrani, di
mana pada saat itu banyak membentuk diakones (deaconesses), suatu organisasi
wanita yang bertujuan mengunjungi orang sakit sedangkan orang laki-laki di
berikan tugas dalam membrikan perawatan untuk mengubur bagi orang yang
meninggal, sehingga pada saat itu berdirilah rumah sakit di Roma seperti
Monastic Hospital. Pada saat itu rumah sakit di gunakan sebagai tempat merawat
orang sakit,orang cacat,miskin dan yatim piatu. Pada saat itu pula di daratan
benua Asia, khususnya di Timur Tengah, perkembangan keperawatan mulai maju
seiring dengan perkembangan agama Islam. Keberhasilan Nabi Muhammad SAW
dalam menyebarkan agama islam di ikuti dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi seperti ilmu pasti, kimia, kesehatan dan obat-obatan.
Sebagaimana dalam AlQuran di tuliskan pentingnya menjaga kebersihan diri,
makanan, lingkungan dan lain-lain. Perkembangan tersebut melahirkan tokoh
Islam dalam keperawatan yang di kenal dengan nama Rufaidah.

Zaman permulaan abad 21


Pada permulaan abad ini perkembangan keperawatan berubah, tidak lagi
dikaitkan dengan faktor keagamaan akan tetapi berubah kepada faktor
kekuasaan, mengingat pada masa itu adalah masa perang dan terjadi

6
eksplorasi alam sehingga pesatlah perkembangan pengetahuan. Pada masa itu
tempat ibadah yang dahulu digunakan untuk merawat sakit tidak lagi digunakan.

Zaman sebelum perang dunia kedua


Pada masa perang dunia kedua ini timbal prinsip rasa cinta sesama
manusia di mana saling membantu sesama manusia yang membutuhkan. Pada
masa sebelum perang dunia kedua ini tokoh keperawatan Florence Nightingale
(1820-1910) menyadari adanya pentingnya suatu sekolah untuk mendidik para
p eraw at, Florence N ightingale mempunyai pandangan bahw a dalam
mengembangkan keperawatan perlu dipersiapkan pendidikan bagi perawat,
ketentuan jam kerja perawat dan mempertimbangkan pendapat perawat. Usaha
Florence adalah dengan menetapkan struktur dasar di pendidikan perawat
diantaranya mendirikan sekolah perawat mnetapkan tujuan pendidikan perawat
serta menetapkan pengetahuan yang harus di miliki para calon perawat. Florence
dalam merintis profesi keperawatan diawali dengan membantu para korban akibat
perang krim (1854 - 1856) antara Roma dan Turki yang dirawat di sebuah barak
rumah sakit (scutori) yang akhirnya mendirikan sebuah rumah sakit dengan
nama rumah sakit Thomas di London dan juga mendirikan sekolah perawatan
dengan nama Nightingale Nursing School.

Masa selama perang dunia kedua


Selama masa selama perang ini timbal tekanan bagi dunia pengetahuan
dalam penerapan teknologi akibat penderitaan yang panjang sehingga perlu
meningkatkan diri dalam tindakan perawat mengingat penyakit dan korban
perang yang beraneka ragam.

Masa pasca perang dunia kedua


Masa ini masih berdampak bagi masyarakat seperti adanya penderitaan
yang panjang akibat perang dunia kedua, dan tuntutan perawat untuk
meningkatkan masyarakat sejahtera semakin pesat. Sebagai contoh di Amerika,
perkembangan keperawatan pada masa itu diawali adanya kesadaran masyarakat
akan pentingnya kesehatan, pertambahan penduduk yang relatif tinggi sehingga
menimbulkan masalah baru dalam pelayanan kesehatan, pertumbuhan ekonomi

7
yang mempengaruhi pola tingkah laku individu, adanya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran dengan diawali adanya penemuan-
penemuan obat-obatan atau cara-cara untuk memberikan penyembuhan bagi
pasien, upaya-upaya dalam tindakan pelayanan kesehatan seperti pelayanan
kuratif, preventif dan promotif dan juga terdapat kebijakan Negara tentang
peraturan sekolah perawat. Pada masa itu perekembangan perawat di mulai
adanya sifat pekerjaan yang semula bersifat individu bergeser ke arah pekerjaan
yang bersifat tim. Pada tahun 1948 perawat di akui sebagai profesi sehingga
pada saat itu pula terjadi perhatian dalam pemberian penghargaan pada perawat
atas tangung jawabnya dalam tugas.

Periode tahun 1950


Pada masa itu keperawatan sudah mulai menunjukkan perkembangan
khususnya penataan pada sistem pendidikan. Hal tersebut terbukti di
negara Amerika sudah dimulai pendidikan setingkat master dan doktoral.
Kemudian penerapan proses keperawatan sudah mulai dikembangkan
dengan memberikan pengertian bahwa perawatan adalah suatu proses, yang
dimulai dari pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi.

Perawatan pada Beberapa Bangsa dan Negara


a. Mesir.
Bangsa mesir pada zaman purba telah menyembah banyak dewa. Dewa
yang terkenal antara lain Isis. Mereka beranggapan bahwa dewa ini menaruh
minat terhadap orang sakit dan memberikan pertolongan pada waktu si sakit
sedang tidur. Didirikanlah kuil yang merupakan rumah sakit pertama di mesir
Ketabiban
Ilmu ketabiban terutama ilmu bedah telah dikenal oleh bangsa mesir
zaman purba (± 4800 SM). Dalam menjalankan tugasnya sebagai tabib ia
menggunakan bidai (spalk), alat-alat pembalut, ia mempunyai pengetahuan
tentang anatomi, Hygienr umum serta tentang obat-obatan. Didalam buku-buku
tertulis dalam kitab Papyrus didalamnya memuat kurang lebih 700 macam resep

8
obat-obatan dari Mesir.

b. Babylon dan syiria


Ilmu pengetahuan tentang anatomi dan obat-obat ramuan telah diketahui
oleh bangsa Babylon sejak beberapa abad SM. Pada salah satu tulisan yang
menyatakan bahwa pada 680 SM orang telah mengetahui cara menahan darah
yang keluar dari hidung dan merawat jerawant pada muka.
Bangsa Babylon menyembah dewa oleh karena itu perawatan atau pengobatan
berdasarkan kepercayaan tersebut.

c . Yahudi kuno
Ilmu pengetahuan bangsa Yahudi banyak di peroleh dari bangsa Mesir.
Misalnya : cara-cara memberi pengobatan orang yang terkenal adalah Musa. Ia
juga dikenal sebagai seorang ahli hygiene. Dibawah pimpinannya bangsa Yahgudi
memajukan minatnya yang besar terhadap kebersihan umum dan kebersihan diri.
Undang-undang kesehatan bangsa Yahudi menjadi dasar bagi hygiene modern
dimana cara-cara dan peraturannya sesuai dengan bakteriologi zaman sekarang,
misalnya :
1. Pemeriksaan dan peminilah bahan makanan yang akan di makan
2. Mengadakan cara pembuangan kotoran manusia
3. Pelarangan makan daging babi karena dapat menimbulkan suatu penyakit
4. Memberitahukan kepada yang berwajib bila ada penyakit yang berbahaya,
sehingga dapat diambil tindakan

c. India
Bangsa India (Hindu) di zaman purba telah memeluk agama Brahmana,
disamping memuja dan meminta pertolongan kepada dewa (dikuil) untuk
menyembuhkan orang sakit. Di India telah terdapat RS khususnya di Utara saat
pemerintahan Rasa Asoka, ± 8 RS dimana sebagian kemudian dijadikan sekolah-
sekolah pengobatan dan perawatan

9
d . Tiongkok
Bangsa Tiongkok telah mengenal penyakit kelamin diantaranya gonorhoea
dan syphilis. Pencacaran juga telah dilakukan sejak 1000 SM ilmu urut dan
psikoterapi.
Orang-orang yang terkenal dalam ketabiban :
1. Seng Lung Dikenal sebagai "Bapak Pengobatan, yang ahli penyakit dalam
dan telah menggunakan obat-obat dari tumbuh-tumbuhan dan mineral
(garam-garaman). Semboyannya yang terkenal adalah Lihat, Dengar,
Tanya, Rasa.
2. Chang Chung Ching ± 200 Sm telah mengerjakan lavement dengan
menggunakan bamboo.

e . Yunani
Bangsa Yunani zaman purba memuja dan memuliakan banyak dewa
(polytheisme) dewa yang terkenal adalah dewa yang dianggap sebagai dewa
pengobatan putri dan dewa yang bernama hygiene sebagai Dewi kesehatan, maka
timbullah perkataan higyene. Untuk pemujaan terhadap para dewa didirikan kuil
(1134 SM) yang juga berfungsi sebagai pengobatan orang sakit dan perawatan
dikerjakan oleh para budak-budak.
Orang-orang ternama dalam ketabiban antara lain:
1. Hippocrates (hidup ± 400 SM) adalah bapak pengobatan
2. Plato ahli filsafat Yunani, otak sebagai pusat kesadaran
3. Aristoteles ahli filsafat, ahli jiwa dan ilmu hayat.

G. Roma
Rumah sakit Roma zaman purba di sebut valentrumdinari Roma yang
terdapat di swiss ditemukan alat-alat perawatan ex. Peralatan untuk huknah pot-
pot tempat selep. Juga ditemukan instrument untuk keperluan pembedahan ex :
pisau, pincet, klem arteri, speculum. Tokoh terkenal Julius Caesar (101-44 SM).
Seorang wali Negara yang pertama-tama mengakui guru-guru hygiene dan
menganjurkan tentang kesehatan dan kebersihan.

10
H. Irlandia
Pengetahuan tentang pengobatan telah diketahui lama SM. Tentang
Rumah sakit, Seorang putri raja bernama Macha (abad ke 3) mendirikan rumah
sakit untuk orang-orang miskin yang sakit. Nama RS tersebut Broin Beargh à
rumah kesusahan

I. Amerika
Antara revolusi Amerika dan Perang Sipil, keperawatan di Amerika
mungkin dapat disejajarkan dengan keperawtan di Eropa. Rumah sakit umum
yang awal didirikan dalam koloni termasuk Philadelphia Almshouse dan Bellevue
Hospital di New York. “Rumah sakit” yang awal didirikan ini memberikan
perawatan bagi orang yang sakit, fakir miskin, gila, lemah, tahanan, dan anak
yatim piatu. Pemberi perawatan atau pemberi layanan digambarkan sebagai orang
miskin atau tahanan yang sering mabuk.
Pada tahun 1639, Augustinian Sisters bermigrasi ke Kanada dan pada
akhirnya membangun rumah sakit pertama, Hotel Dieu, di Quebec city. Pada
tahun 1809 di Amerika Serikat, Bunda Elizabeth Seton mendirikan perkumpulan
Sisters of Charity of St. Joseph yang pertama di Amerika, tepatnya di Maryland.
Pada akhirnya, perkumpulan lain atau cabang dari perkumpulan lain dalam Gereja
Katolik Roma berkembang di bawah Sisters of Charity di seluruh wilayah Timur
Amerika Serikat dan Kanada. Perkumpulan religious ini mengembangkan
program pendidikan keperawatan dan memberikan layanan keperawatan. Setelah
ekspansi kea rah barat Amerika Serikat, perkumpulan religious Katolik Roma
membangun rumah sakit di New Orleans, Chicago, dan San Fransisco.
Perkumpulan religious dari gereja protestan, termasuk Episcopal Sisterhood of
Holy Communion dan English Lutheran Church, juga membangun rumah sakit
dan memberikan asuhan keperawatan.
Kebanyakan perkembangan keperawatan dikaitkan dengan kebutuhan
untuk memberikan perawatan bagi orang yang sakit dan serdadu yang terluka
selama masa-masa perang. Fakta ini terbukti benar dalam perkembangan
keperawatan di Amerika Serikat. Selama Perang Sipil, Dorothea Dix di tunjuk
sebagai pimpinan korps perawat pertama angkatan darat Amerika Serikat. Dia

11
hanya merekrut wanita yang berusia lebih dari 30 tahun dan memiliki tampang
biasa-biasa saja. Dia mampu merekrut 2000 wanita untuk merawat pasukan
bersenjata. Para perawat ini membalut luka, memberikan obat, dan membantu
memberikan makan. Selain luka perang, para serdadu menderita disentri dan
cacar, dan banyak perawat meninggal karena penyakit yang ditularkan saat
menjalankan tugas.
Sama seperti Nightingale di Crimea, perawat di perang sipil mendapatkan
banyak pertentangan dari dokter pria. Kapal rumah sakkit digunakan untuk
memindahkan orang yang terluka ke rumah sakit, dan perawat memberikan
perawatan bersama asisten medis. Banyak wanita asertif, yang dikenal tidak hanya
karena kemampuan merawat mereka tetapi juga karena pengaruh mereka di
bidang lain, memberikan layanan keperawatan selama perang sipil. Beberapa dari
mereka yang paling berpengaruh adalah Louisa May Alcott, yang pada akhirnya
menjadi figur penting kesusastraan, Harriet Tubman, yang sebagai perawat dan
anggota pergerakan penghapusan perbudakan memberikan perawatan dan
kenyamanan untuk rekan-rekan Amerika-Afrika di Underground Railroad; dan
Sojourner Truth, perawat Amerika-Afrika lainnya yang memberikan perawatan
untuk serdadu Union Army yang terluka dan aktif dalam akar awal pergerakan
wanita.
Rumah sakit sederhana telah didirikan dikota besar oleh bangsa Asteken di
Amerika Utara, sedang RS yang baik dan merupakan RS pertama didirikan pada
tahun 1521 oleh cortez dari Mexico yaitu RS san Jesu Nazareno.

Sejarah Perkembangan Keperawatan Nasional


Sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia telah banyak dipengaruhi
oleh kolonial penjajah diantaranya Jepang, Belanda dan Inggris. Dalam
perkembangannya di Indonesia dibagi menjadi dua masa diantaranya:
Pertama, masa sebelum kemerdekaan, terbagi atas 3 masa penjajahan,
yakni:
1. Masa Penjajahan Belanda
Perkembangam keperawatan di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi sosial
ekonomi yaitu pada saat penjajahan kolonial Belanda, Inggris dan Jepang. Pada
masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi

12
yang disebut Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang
sakit.
Tahun 1799 didirikan rumah sakit Binen Hospital di Jakarta untuk
memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Usaha pemerintah kolonial
Belanda pada masa ini adalah membentuk Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas
Kesehatan Rakyat. Daendels mendirikan rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan
Semarang, tetapi tidak diikuti perkembangan profesi keperawatan, karena
tujuannya hanya untuk kepentingan tentara Belanda.

2. Masa Penjajahan Inggris (1812 – 1816)


Gurbernur Jenderal Inggris ketika VOC berkuasa yaitu Raffles sangat
memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya yaitu kesehatan
adalah milik manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat
kesehatan penduduk pribumi antara lain :
- pencacaran umum
- cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa
- kesehatan para tahanan
Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda, kesehatan
penduduk lebih maju. Pada tahun 1819 didirikan RS. Stadverband di Glodok
Jakarta dan pada tahun 1919 dipindahkan ke Salemba yaitu RS. Cipto
Mangunkusumo (RSCM). Tahun 1816 – 1942 berdiri rumah sakit – rumah sakit
hampir bersamaan yaitu: RS. PGI Cikini Jakarta, RS. ST Carollus Jakarta, RS. ST.
Boromeus di Bandung, RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan itu berdiri
pula sekolah-sekolah perawat.

3. Zaman Penjajahan Jepang (1942 – 1945)


Pada masa ini perkembangan keperawatan mengalami kemunduran, dan
dunia keperawatan di Indonesia mengalami zaman kegelapan. Tugas keperawatan
dilakukan oleh orang-orang tidak terdidik, pimpinan rumah sakit diambil alih oleh
Jepang, akhirnya terjadi kekurangan obat sehingga timbul wabah.

Kedua, masa setelah kemerdekaan, pada tahun 1949 telah banyak

13
rumah sakit yang didirikan serta balai pengobatan dan dalam rangka memenuhi
kebutuhan tenaga kesehatan pada tahun 1952 didirikan sekolah perawat,
kemudian pada tahun 1962 telah dibuka pendidikan keperawatan setara
dengan diploma. Pada tahun 1985 untuk pertama kalinya dibuka pendidikan
keperawatan setingkat dengan sarjana yang dilaksanakan di Universitas
Indonesia dengan nama Program Studi Ilmu Keperawatan dan akhirnya dengan
berkembangnya Ilmu Keperawatan, maka menjadi sebuah Fakultas Ilmu
keperawatan dan beberapa tahun kemudian diikuti berdirinya pendidikan
keperawatan setingkat S1 di berbagai univeisitas di Indonesia seperti di Bandung,
Yogyakarta, Surabaya dan lain-lain.

Dampak Sejarah Terhadap Profil Perawat Indonesia


Sejarah adalah setiap peristiwa atau kejadian di masa lampau yang
menyenangkan maupun memilukan. Sejarah bukan sebatas cerita untuk generasi
mendatang yang ditulis sekadar untuk dihafalkan. Setiap manusia memiliki
sejarah masing-masing, baik yang bersifat individual, komunal, maupun
nasional. Sama halnya dengan sejarah perjuangan bangsa. Kemerdekaan yang
diraih bukan hanya melibatkan tentara, tetapi juga seluruh elemen bangsa. Mulai
dari pemimpin sampai rakyat jelata, orang tua sampai anak-anak. Semuanya
bahu-membahu berjuang dengan semangat patriotisme.
Sejarah akan mewarnai masa depan. Apa yang terjadi di masa sekarang
dipengaruhi oleh sejarah pada masa sebelumnya. Kesuksesan yang diraih
seseorang dalam hidupnya merupakan hasil atau buah dari keuletan dan
perjuangannya di masa lalu. Contohnya adalah negara Jepang. Negara tersebut
menjadi salah satu negara yang pesat perekonomiannya. Keberhasilan ini salah
satunya dipengaruhi oleh semangat bangsa ini untuk terus maju dan meningkatkan
produktivitasnya. Teori yang sama berlaku pula di negara kita. Keterpurukan yang
dialami bangsa Indonesia di hampir segala bidang disebabkan oleh perilaku korup
yang telah mendarah daging di negara ini sejak dulu.
Sistem hegemoni yang diterapkan oleh bangsa Eropa selama menjajah
Indonesia telah memberi dampak yang sangat besar pada seluruh lini kehidupan,
termasuk profesi perawat. Posisi Indonesia sebagai negara yang terjajah

14
(subaltern) menyebabkan kita selalu berada pada kondisi yang tertekan, lemah,
dan tidak berdaya. Kita cenderung menuruti apa saja yang menjadi keinginan
penjajah. Situasi ini terus berlanjut dalam kurun waktu yang lama sehingga
terbentuk suatu formasi kultural. Kultur di dalamnya mencakup pola perilaku,
pola pikir, dan pola bertindak. Formasi kultural ini terus terpelihara dari generasi
ke generasi sehingga menjadi sesuatu yang superorganic. Sejarah keperawatan
di Indonesia pun tidak lepas dari pengaruh penjajahan. Kali ini, penulis mencoba
menganalisis mengapa masyarakat menganggap perawat sebagai pembantu
profesi kesehatan lain—dalam hal ini profesi dokter. Ini ada kaitannya dengan
konsep hegemoni. Seperti dijelaskan di awal, perawat awalnya direkrut dari
Boemi Putera yang tidak lain adalah kaum terjajah, sedangkan dokter didatangkan
dari negara Belanda—sebab pada saat itu di Indonesia belum ada sekolah
kedokteran. Sesuai dengan konsep hegemoni, posisi perawat di sini adalah
sebagai subaltern yang terus-menerus berada dalam cengkeraman kekuasaan
dokter Belanda (penjajah). Kondisi ini menyebabkan perawat berada pada posisi
yang termarjinalkan. Keadaan ini berlangsung selama berabad-abad sampai
akhirnya terbentuk formasi kultural pada tubuh perawat.
Posisi perawat sebagai subaltern yang tunduk dan patuh mengikuti apa
keinginan penjajah lama-kelamaan menjadi bagian dari karakter pribadi
perawat. Akibatnya, muncul stigma di masyarakat yang menyebut perawat
sebagai pembantu dokter. Karena stigma tersebut, peran dan posisi perawat di
masyarakat semakin termarjinalkan. Kondisi semacam ini telah membentuk
karakter dalam diri perawat yang pada akhirnya berpengaruh pada profesi
keperawatan secara umum. Perawat menjadi sosok tenaga kesehatan yang tidak
mempunyai kejelasan wewenang atau ruang lingkup. Orientasi tugas perawat
dalam hal ini bukan untuk membantu klien mencapai derajat kesehatan yang
optimal, melainkan membantu pekerjaan dokter. Perawat tidak diakui sebagai
suatu profesi, melainkan pekerjaan di bidang kesehatan yang aktivitasnya bukan
didasarkan atas ilmu, tetapi atas perintah/instruksi dokter—sebuah rutinitas
belaka. Pada akhirnya, timbul sikap ma-nut perawat terhadap dokter.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah berkembangnya
perilaku profesional yang keliru dari diri perawat. Ada sebagian perawat

15
yang menjalankan praktik pengobatan yang sebenarnya merupakan
kewenangan dokter. Realitas seperti ini sering kita temui di masyarakat.
Uniknya, sebutan untuk perawat pun beragam. Perawat laki-laki biasa
disebut mantri, sedangkan perawat perempuan disebut suster.
Ketimpangan ini terjadi karena perawat sering kali diposisikan sebagai
pembantu dokter. Akibatnya, perawat terbiasa bekerja layaknya seorang
dokter, padahal lingkup kewenangan kedua profesi ini berbeda.
Tidak menutup kemungkinan, fenomena seperti ini masih terus
berlangsung hingga kini. Hal ini tentunya akan menghambat upaya
pengembangan keperawatan menjadi profesi kesehatan yang profesional. Seperti
kita ketahui, kultur yang sudah terinternalisasi akan sulit untuk diubah.
Dibutuhkan persamaan persepsi dan cita-cita antar-perawat serta kemauan
profesi lain untuk menerima dan mengakui perawat sebagai sebuah profesi
kesehatan yang profesional. Tentunya kita berharap pengakuan ini bukan
sekedar wacana, tetapi harus terealisasikan dalam kehidupan profesional.
Paradigma yang kemudian terbentuk karena kondisi ini adalah
pandangan bahwa perawat merupakan bagian dari dokter. Dengan
demikian, dokter berhak "mengendalikan" aktivitas perawat terhadap
klien. Perawat menjadi perpanjangan tangan dokter dan berada pada posisi
submisif. Kondisi seperti ini sering kali temui dalam pelayanan kesehatan
di rumah sakit. Salah satu penyebabnya adalah masih belum
berfungsinya sistem kolaborasi antara dokter dan perawat dengan benar.
Jika kita cermati lebih jauh, hal yang berlaku justru sebaliknya.
Dokter seharusnya merupakan bagian dari perawatan klien. Seperti kita
ketahui, perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling sering dan
paling lama berinteraksi dengan klien. Asuhan keperawatan yang
diberikan pun sepanjang rentang sehat-sakit. Dengan demikian, perawat
adalah pihak yang paling mengetahui perkembangan kondisi kesehatan klien
secara menyeluruh dan bertanggung jawab atas klien. Sudah selayaknya
jika profesi kesehatan lain meminta "izin" terlebih dahulu kepada
perawat sebelum berinteraksi dengan klien. Hal yang sama juga berlaku untuk
keputusan memulangkan klien. Klien baru boleh pulang setelah perawat

16
menyatakan kondisinya memungkinkan. Walaupun program terapi sudah
dianggap selesai, program perawatan masih terus berlanjut karena
lingkup keperawatan bukan hanya pada saat klien sakit, tetapi juga setelah
kondisi klien sehat.

BAB III
PENUTUP

17
Kesimpulan
Keperawatan merupakan sebuah ilmu dan profesi yang memberikan
pelayanan kesehatan guna untuk meningkatkan kesehatan bagi masyarakat.
Keperawatan ternyata sudah ada sejak manusia itu ada dan hingga saat ini Profesi
keperawatan berkembang dengan pesat. Sejarah perkembangan keperawatan di
Indonesia tidak hanya berlangsung di tatanan praktik, dalam hal ini
layanan keperawatan, tetapi juga di dunia pendidikan keperawatan. Tidak
asing lagi, pendidikan keperawatan memberi pengaruh yang besar terhadap
kualitas layanan keperawatan. Karenanya, perawat harus terus
meningkatkan kompetensi dirinya, salah satunya melalui pendidikan
keperawatan yang berkelanjutan.

Saran
Dari kesimpulan yang ada maka kita sebagai perawat atau calon
perawat harus terus meningkatkan kompetensi dirinya, salah satunya melalui
pendidikan keperawatan yang berkelanjutan, sehingga kita tidak mengalami
ketertinggalan dari keperawatan internasional. Selain itu, sebagai calon
perawat dan/atau perawat kita sebaiknya mempelajari bagaimana sejarah
perkembangan dunia keperawatan yang ada, sehingga kita lebih mengenal
bagaimana profesi keperawatan dan melalui hal itu kita bisa belajar
mengharga profesi yang kita jalani.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat A. Aziz Alimul. 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan Eds 2.

18
Salemba Medika: Jakarta
Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta
Blasis,Ka
Anonim. 2009. sejarah perkembangan keperawatan di dunia, dalam
http://perawattegal.wordpress.com di akses selasa 24 agustus 2010 Pukul
10:15am

19