Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA


SISWA KELAS VII.6 SMP NEGERI 25 KOTA BEKASI
PADA POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE KELUARGA BAHAGIA ( KB )

DI SUSUN OLEH :

RIYADI BANGUN BAWONO


NIP : 19780905 200604 1 012

SMP NEGERI 25 KOTA BEKASI


Jl. Raya Jaya Wijaya, Perum. Harapan Jaya, Kel. Harapan Jaya,
Kec. Bekasi Utara, Kota Bekasi, 17124, Telp. (021) 88960671

BEKASI
2010
FORMAT IDENTITAS DAN PENGESAHAN
1. Judul Penelitian : MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS VII.6 SMP NEGERI 25 KOTA BEKASI
PADA POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINEAR SATU
VARIABEL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE KELUARGA BAHAGIA ( KB )

2. Mata Pelajaran : MATEMATIKA

3. Peneliti : RIYADI BANGUN BAWONO, S.Pd


NIP. 19780905 200604 1 012

4. Observer/Pengamat : 1. HERI WIDODO, S.Pd, M.Pd


NIP. 19720305 199903 1 002
2. JULI JULIATI SURJANI, S.Pd
NIP. 19700714 200003 2 003

5. Lokasi Penelitian : SMP NEGERI 25 KOTA BEKASI BEKASI

6. Waktu Penelitian : SEPTEMBER 2009

Bekasi, 31 September 2009


Observer 1 Observer 2 Peneliti

Heri Widodo, S.Pd, M.Pd Juli Juliati Surjani, S.Pd Riyadi Bangun Bawono, S.Pd
NIP. 19720305 199903 1 002 NIP. 19700714 200003 2 003 NIP. 19780905 200604 1 012

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 25
Kota Bekasi

Drs. Beben Subendi


NIP. 19500903 197903 1 001

LEMBAR PENGESAHAN
USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

1. Judul Penelitian : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa


Kelas VII. 6 SMP Negeri 25 Kota Bekasi
Pada Pokok Bahasan Persamaan Linier Satu Variabel
Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Keluarga
Bahagia (KB)
2. Ketua Penelitian
a. Nama : Riyadi Bangun Bawono, S.Pd., M.Pd.
b. Jenis kelamin : Laki-laki
c. Pangkat/Golongan/NIP : Penata Muda / IIIa / 480133524
d. Sekolah : SMP Negeri 25 Kota Bekasi
e. Alamat Sekolah : Jl. Raya Jaya Wijaya, Perum. Harapan Jaya,
Bekasi Utara, Kota Bekasi, Telp. (021) 88960671, 17124.
f. Alamat Rumah : Jl. Al-Bahar, Gg. H. Iger No. 113, Rt. 002/001, Harapan
Jaya, Bekasi Utara, Kota Bekasi, 17124
g. No. Telepon/HP : (021) 88965853 – 081317145821
3. Nama Anggota Peneliti : 1. Heri Widodo, S.Pd, M.Pd.
2. Juli Juliati Surjani, S.Pd.
4. Lama Penelitian : 2 Bulan

Mengetahui Bekasi, 31 September 2009


Kepala SMP Negeri 25 Kota Bekasi Ketua Peneliti

Dra. Beben Subendi Riyadi Bangun Bawono, S.Pd.


NIP. 19500903 197903 1 001 NIP. 19780905 200604 1 012

Mengetahui :
Kepala Dinas Pendidikan Pengawas
Kota Bekasi

Drs. H. Kodrato, MM., M.B.A. Drs. H. Abd. Kohhar M., MM.


Pembina Utama Pembina Utama Muda
NIP. 480 059 214 NIP. 130 803 421
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS
VII. 2 SMP NEGERI 25 KOTA BEKASI PADA POKOK BAHASAN
PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE KELUARGA BAHAGIA (KB)

A. Judul : MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS


VII.2 SMP NEGERI 25 KOTA BEKASI PADA POKOK BAHASAN
PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE KELUARGA BAHAGIA ( KB )

B. Latar Belakang Masalah


Perkembangan dan kemajuan suatu negara ditentukan oleh berbagai aspek.
Salah satu aspek yang sangat penting adalah aspek pendidikan, karena melalui
kegiatan pendidikan suatu negara bisa memperoleh penambahan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan dewasa ini telah menjadi kebutuhan masyrakat yang semakin hari
semakin terasa arti pentingnya. Namun cukup banyak permasalahan yang dihadapi dalam
proses pemenuhan akan pendidikan, salah satu permasalahan yang mendasar yang terjadi
di dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah kualitas pendidikan. Prestasi belajar
siswa di Indonesia dari suatu lembaga pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu dapat
dilihat dari kualitas lulusan yang dihasilkan. Salah satu indikator untuk melihat kualitas
pendidikan adalah prestasi belajar yang dicapai oleh siswa.
Sampai sekarang pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa
pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus
pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama
strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih
memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa
menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan di
benak mereka sendiri.
Dalam proses belajar, anak belajar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi
pengetahuan kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Melalui proses belajar
yang mengalami sendiri, menemukan sendiri, secara berkelompok seperti bermain, maka
anak menjadi senang, sehingga tumbuhlah minat untuk belajar, khususnya belajar
matematika.
Prestasi belajar siswa di Indonesia, khususnya prestasi belajar matematika
siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih tergolong rendah. Hartadji (2001: 4)
menjelaskan salah satu hasil yang menunjukkan hasil tersebut, yaitu hasil survei dari
asosiasi penilaian pendidikan internasional The Third Internasional Mathematics and
Science Study tahun 1999 bahwa prestasi belajar matematika anak Indonesia untuk SMP
berada pada urutan 34 dari 38 negara, dimana Malaysia diurutan ke-14 dan Singapura
diurutan teratas. Kenyataan ini perlu mendapat perhatian mengingat dalam GBPP
dijelaskan bahwa tujuan umum pendidikan matematika pada jenjang pendidikan
menengah adalah memberi tekanan pada penalaran dan pembentukan sikap siswa serta
juga memberi tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya untuk mencapai
tujuan umum pendidikan matematika, penambahan secara terus menerus baik dalam segi
materi, metode evaluasi harus dilaksanakan oleh semua pihak, terutama guru.
Salah satu perubahan yang terlihat jelas telah dilakukan di Indonesia yaitu telah berulang
kali terjadi perubahan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan.
Saat ini Indonesia sedang melakukan perubahan mendasar dalam kurikulum,
yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan
dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis
diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran
2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan
(SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan
Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh
BSNP.
Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI,
namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan
sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan,
struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan
silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang
Pelaksanaan SI dan SKL.
Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan
oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan
kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak
ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan
KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila
perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam
penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat,
situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
Depdiknas (2006 : 7) mengemukakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) memiliki stressing yang berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya.
Perbedaan tersebut terlihat pada penekanan keragaman potensi dan karakteristik daerah
dan lingkungan. Dalam Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan
Menengah dinyatakan bahwa:
Daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik
lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik
daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat
keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan
pengembangan daerah.
Pada SMP Negeri 25 Kota Bekasi, kurikulum tingkat satuan pendidikan telah
mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2007/2008, namun demikian dari hasil wawancara
dan observasi penulis terhadap guru matematika pada tanggal 20 Agustus 2009 dan
tanggal 24 Agustus 2009 diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika
khususnya untuk kelas VII masih sangat rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan
harian siswa yang hanya berkisar antara 40 – 60. Dan dari hasil wawancara ini pula
ditambahkan oleh guru matematika bahwa pokok bahasan yang dianggap paling sulit
dipahami siswa adalah pokok bahasan persamaan linear satu variabel. Menurut guru
tersebut, siswa sering kali mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal sehingga
guru seringkali melakukan pengajaran remidial, dan siswa yang mengikuti remedial
mencapai 70 % dari jumlah siswa dalam satu kelas jika diadakan kuis atau ulangan blok
untuk soal materi persamaan linear satu variabel.
Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh
beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam siswa atau yang berasal dari luar diri siswa.
Jika fokus perhatian diarahkan pada kegiatan belajar di sekolah, maka rendahnya prestasi
belajar siswa dipengaruhi dari luar diri siswa. Model pembelajaran yang digunakan guru
dalam proses belajar mengajar di kelas merupakan salah satu faktor dari luar diri siswa.
Dari hasil observasi penulis, terlihat metode pembelajaran yang digunakan guru
matematika di SMP Negeri 25 Kota Bekasi khususnya di kelas VII sudah cukup
bervariasi antara lain menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi dalam satu
pertemuan. Namun demikian, terlihat siswa masih kurang aktif dalam proses belajar
mengajar. Hal ini mungkin disebabkan oleh guru terlalu jauh membimbing siswa dalam
menemukan penyelesaian suatu masalah sehingga motivasi siswa untuk belajar kurang.
Sementara kegiatan pembelajaran yang diinginkan dalam kurikulum berbasis kompetensi
adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan guru sebagai fasilitator, motivator
dan kreator.
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang banyak digunakan
dalam penerapan materi pelajaran berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi.
Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, namun terdapat beberapa
tipe dari model tersebut. Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap
penulis dapat memotivasi siswa dalam peran aktif mengikuti proses belajar mengajar
adalah model pembelajaran kooperatif tipe Keluarga Bahagia (KB) yang diadopsi dari
tipe Teams-Games-Tournament (TGT), selanjutnya TGT kita sebut dengan KB. Menurut
Wartono dkk (2004) pembelajaran kooperatif tipe Keluarga Bahagia (KB) merupakan
jenis pembelajaran kooperatif yang masih berkaitan dengan STAD (Student Team
Acluevment Division) yang merupakan tipe lainnya dari pembelajaran kooperatif.
Dalam pembelajaran kooperatif tipe Keluarga Bahagia (KB), semua siswa
dalam setiap kelompok diharuskan untuk berusaha memahami dan menguasai materi
yang sedang diajarkan dan selalu aktif ketika kerja kelompok, sehingga saat ditunjuk oleh
guru untuk mempersentasikan jawabannya, mereka dapat menyumbangkan skor untuk
kelompoknya, sedangkan dalam STAD, semua siswa diharapkan berperan aktif dalam
kelompoknya, namun demikian anggota dalam suatu kelompok bebas memilih
anggotanya untuk mempersentasikan hasil kerja mereka, sehingga hanya sebagian siswa
saja yang berperan aktif dalam kelompoknya.
Lebih lanjut Wartono dkk (2004) menjelaskan bahwa dalam pembelajaran
kooperatif tipe Keluarga Bahagia (KB) siswa memainkan permainan dengan anggota-
anggota tim lain untuk memperoleh tambahan skor pada tim mereka, permainan ini
disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk
mengetes kemampuan pengetahuan siswa, pertanyaan-pertanyaan ditulis pada kartu-kartu
yang diberi angka yang dimainkan pada meja-meja turnamen yang diisi wakil-wakil
kelompok yang berbeda namun mempunyai kemampuan yang setara yang ditunjuk oleh
guru. Tiap wakil dari kelompok-kelompok tersebut akan mengambil sebuah kartu yang
diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka
tersebut. Turnamen ini memungkinkan siswa dari semua tingkat untuk menyumbangkan
skor-skor bagi kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Dengan demikian
siswa akan termotivasi untuk berperan aktif dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya, dari hasil wawancara lebih lanjut yang dilakukan penulis terhadap
guru matematika, diperoleh keterangan bahwa siswa-siswa kelas VII.6 merupakan siswa-
siswa dengan prestasi belajar terendah di kelas VII, berdasarkan nilai matematikanya saat
awal pendaftaran di sekolah tersebut dan dari rata-rata nilai kuis, ulangan blok dan
ulangan harian matematikanya.
Atas alasan yang telah dikemukakan, maka penulis berkeinginan untuk
mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi
Belajar Matematika Siswa Kelas VII.6 SMP Negeri 25 Kota Bekasi pada Pokok Bahasan
Persamaan Linear Satu Variabel Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Keluarga
Bahagia (KB)”.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut: apakah prestasi belajar matematika siswa kelas VII.6
SMP Negeri 25 Kota Bekasi pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel dapat
ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Keluarga Bahagia (KB) ?

D. Pemecahan Masalah
Dalam upaya memecahkan permasalahan tentang rendahnya prestasi belajar
matematika siswa kelas VII.6 SMP Negeri 25 Kota Bekasi pada pokok bahasan
persamaan linear satu variabel akan dilakukan proses belajar mengajar dengan
menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Keluarga Bahagia (KB).

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka
tujuan dari penelitian ini adalah : meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas
VII.6 SMP Negeri 25 Kota Bekasi pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel
dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Keluarga Bahagia (KB).

F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah:

1. Bagi guru:
Dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas,
sehingga materi pelajaran matematika yang dianggap sulit bagi siswa dapat dipahami
lebih muda oleh siswa.

2. Bagi siswa:
Dapat meningkatkan prestasi belajar matematikanya, khususnya pada pokok bahasan
persamaan linear satu variabel.

3. Bagi sekolah:
Sebagai masukkan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada
khususnya.

G. Kajian Pustaka
1. Proses Belajar Mengajar Matematika
Belajar dan Mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda tetapi antara
keduanya terdapat keterkaitan yang saling mempengaruhi dan menunjang satu sama
lain dalam keberhasilan proses belajar mengajar. Untuk memperoleh pengertian yang
obyektif tentang proses belajar mengajar matematika maka perlu lebih dahulu
dikemukakan mengenai proses belajar mengajar itu sendiri, khususnya pengertian
belajar dan mengajar secara umum.
Winkel (1991: 36) mengemukakan belajar adalah suatu aktifitas mentalis
psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap.
Menurut Cronbach, Harold Spears dan Geoch yang dikutip dan diterjemahkan
oleh Tabrani Rusyan A, et al (1994 : 34) “ belajar itu senantiasa merupakan
perubahan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati,
mendengarkan, meniru dan sebagainya”. Sedangkan menurut Burton W.H, seperti
yang dikutip dan diterjemahkan oleh Tabrani Rusyan A, et al (1994 : 34) dalam
bukunya “The Guidance of Learning” menyatakan “belajar adalah perubahan tingkah
laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu, individu
dengan lingkungannya yang berupa aspek pengetahuan, sikap dan keterampilannya”.
Belajar merupakan perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya
adanya interaksi individu, individu dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku
itu berupa aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan.
Purwoto (1997 : 24) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu proses yang
berlangsung dari keadaan tidak tahu menjadi tahu, atau dari tahu menjadi lebih tahu,
dari tidak terampil menjadi terampil, dari belum cerdas menjadi cerdas, dari sikap
belum baik menjadi baik, dari pasif menjadi aktif, dari tidak teliti menjadi teliti dan
seterusnta”.
Selanjutnya Hamalik (2003: 27) mendefinisikan belajar sebagai: (1)
modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengakuan, (2) suatu proses
perubahan tingkahlaku individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurut Hutabarak (1995: 11) dalam Fathurrahman (2001 : 55) belajar adalah
kegiatan yang dilakukan untuk menguasai pengetahuan, kemampuan, kebiasaan,
keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik antara individu dengan
lingkungannya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
proses perubahan tingkah laku individu yang mengakibatkan bertambahnya
pengetahuan, keterampilan, dan nilai sikap yang diperoleh melalui interaksi individu
dengan lingkungannya.
Selanjutnya, mengajar didefinisikan oleh Engkoswara (1998: 1) sebagai suatu
upaya menanamkan sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan dasar dari
seseorang yang telah mengetahui dan menguasainya kepada seseorang. Sedangkan
Roestiyah (1994: 44) mengatakan bahwa mengajar adalah proses interaksi siswa
dengan siswa dan konsultasi guru dan guru bertindak selaku organisator belajar siswa
sehingga tujuan belajar dapat tercapai.
Hudoyo (1988: 5) mendefinisikan belajar sebagai suatu kegiatan dimana
pengajar menyampaikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kepada peserta
didik.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa mengajar
adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan dan pengalaman
yang dimiliki serta menanamkan sikap dan nilai-nilai kepada peserta didik dan
menciptakan kondisi belajar bagi sehingga tujuan belajar dapat tercapai secara
optimal.
Berdasarkan definisi belajar dan mengajar di atas dapat dikatakan bahwa
kegiatan belajar dan mengajar mempunyai keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan
satu sama lain. Belajar merupakan proses perubahan, sedangkan mengajar merupakan
proses pengaturan agar perubahan itu terjadi.
Berkaitan dengan proses belajar mengajar matematika, harus memperhatikan
karakteristik matematika. Sumarmo (2002: 2) mengemukakan beberapa karakteristik
matematika yaitu materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif,
materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur. Sedangkan menurut Hudoyo
(1988: 3) pelajaran matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak, sehingga
pemahamannya membutuhkan daya nalar yang tinggi dibutuhkan ketekunan,
keuletan, perhatian dan motivasi yang tinggi untuk dapat memahami materi pelajaran
matematika.
Menurut Gagne dalam Russefendi (1979: 138) dalam belajar matematika ada
dua aspek yang dapat dipahami siswa, objek langsung dan objek tidak langsung.
Objek langsung antara lain fakta, keterampilan, konsep dan aturan, sedangkan objek
tidak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah,
mandiri (belajar, bekerja dan lain-lain), bersikap positif terhadap matematika.
Jadi, belajar matematika itu bertujuan untuk: (1) melatih cara berpikir dan bernalar;
(2) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

2. Prestasi Belajar matematika


Prestasi belajar merupakan ukuran mengenai tingkat keberhasilan siswa
setelah mengalami proses belajar. Menurut Poerwadharmnita (1984: 169) prestasi
belajar adalah hasil yang telah dicapai dari sesuatu yang telah dilakukan. Sehubungan
dengan hal tersebut Winkel (1991: 102) mengemukakan bahwa prestasi belajar bukti
keberhasilan suatu usaha yang dapat dicapai, lanjut Winkel (1991: 102), prestasi
belajar yang dihasilkan oleh siswa menghasilkan penalaran-penalaran dalam
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar
merupakan hasil yang dicapai setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur
dengan menggunakan suatu alat evaluasi (tes). Seorang siswa yang belajar
matematika, berarti bahwa siswa tersebut melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan
yaitu belajar matematika, sehingga hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar
matematika adalah prestasi belajar matematika.

3. Persamaan Linear Satu Variabel


Persamaan linear adalah kalimat terbuka yang memiliki hubungan sama
dengan dan peubahnya berpangkat satu (M. Cholik, dkk, 2003: 164). Menurut
Sugijono (1998: 88) kalimat terbuka adalah kalimat yang belum diketahui nilai
kebenarannya (benar atau salah). Lanjut Sugijono (1999: 98) variabel atau peubah
adalah lambang (simbol) yang terdapat pada kalimat terbuka yang dapat diganti oleh
sebarang anggota dari himpunan semesta, sehingga menjadi kalimat benar atau salah.
Persamaan linear satu variabel adalah persamaan yang terdiri dari satu variabel dan
pangkat tertinggi dari variabel tersebut ada satu.
Contoh Persamaan linear satu variabel:
a. 2x + 6 = 8 c. 3t – 7 = 2t + 8
b. 2 – 3a =5 d. 2p + 3p + 1 = 21

4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT)


Konsep model pembelajaran pertama kali dikembangkan oleh Bruce dan
Koleganya. Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi pembelajaran
atau prinsip pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis model
pembelajaran yang mengutamakan kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Slavin dalam Allyn dan Bacon (1999, Geogle. Kooperatif. 3 Februari
2006), pembelajaran kooperatif merujuk pada kaidah pengajaran yang memerlukan
siswa dari kemampuan yang heterogen untuk bekerjasama dalam kelompok untuk
mencapai tujuan tertentu.
Lima unsur asas pembelajaran kooperatif menurut Slavin dalam Allyn dan
Bacon ((1999, Geogle. Kooperatif. 3 Februari 2006) adalah:
1. Saling bergantung antara satu sama lain secara positif.
2. Saling berinteraksi secara langsung.
3. Akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri
4. Kemahiran kooperatif
5. Pemprosesan kelompok.
Beberapa cara pembelajaran kooperatif telah dikembangkan tokoh-tokoh
pendidikan misal; jigsaw, TGT / KB, STAD, Belajar Bersama (Learning Together),
NHT (Numbered Heads Together) dan Meja Bulat (Round Table).
Lebih lanjut Nur dkk (2000), mengemukakan tiga tujuan dalam pembelajaran
kooperatif, yaitu;
a. Berkaitan dengan hasil belajar akademik, salah satu tujuannya adalah untuk
meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
b. Berkaitan dengan penerimaan terhadap perbedaan individu, pembelajaran
kooperatif bertujuan untuk melatih siswa menghargai satu sama lain dalam
keadaan perbedaan latar belakang dan kondisi yang ada pada siswa.
c. Berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosial, pembelajaran kooperatif
mengajarkan siswa ketrampilan kerja sama, hal ini sangat penting karena saat ini
sebagian lapangan kerja dilakukan dalam organisasi yang membutuhkan kerja
sama dengan orang lain.
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif menurut Ismail (2000: 23)
adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa
b. Menyajikan informasi
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d. Membimbing kelompok belajar untuk menemukan penyelesaian suatu masalah.
e. Melakukan evaluasi.
f. Memberikan penghargaan.
Berdasarkan asas pembelajaran kooperatif, tujuan dan langkah-langkah
pelaksanaan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok
yang memungkinkan siswa memperoleh prestasi belajar yang lebih baik, dibanding
model pembelajaran yang lain.
Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif Keluarga Bahagia (KB)
(Wartono, 2004: 16). Selanjutnya Wartono, dkk (2004: 16) menjelaskan dalam
Keluarga Bahagia (KB) siswa memainkan permainan pengacakan kartu dengan
anggota-anggota tim lain untuk memperoleh poin pada skor tim mereka. Permainan
ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka.
Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan-pertanyaan yang relevan
dengan materi pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan siswa dari
Penyampaian pelajaran siswa di kelas. Setiap wakil kelompok akan mengambil
sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai
dengan angka tersebut. Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen.
Berdasarkan langkah-langkah yang dikemukakan Ismail (2002: 23) dan
Wartono (2004: 16), dapat disimpulkan langkah-langkah model pembelajaran
kooperatif tipe Keluarga Bahagia (KB)yaitu sebagai berikut:
No Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Guru menyampaikan indikator
1 Siswa memberi perhatian penuh
pencapaian hasil belajar.
2 Guru memotivasi siswa. Siswa memberi perhatian penuh.
Guru menginformasikan model
3 Siswa memberi perhatian penuh.
pembelajaran yang digunakan.
Guru mengawali pembelajaran dengan
Siswa menjawab pertanyaan yang
4 mengecek pemahaman dasar siswa
diberikan oleh guru
tentang persamaan linear satu variabel.
Guru mengelompokkan siswa yang Siswa mengikuti petunjuk guru untuk
5 terdiri dari 4 atau lebih 5 orang siswa berkumpul dengan anggota kelompok
yang heterogen. yang telah ditentukan.
Siswa menerima dan memastikan
Guru membagi LKS kepada masing-
6 setiap anggota kelompoknya sudah
masing kelompok
memiliki LKS.
Guru meminta setiap kelompok Siswa secara kelompok menyelesaikan
7
menyelesaikan soal-soal LKS. LKS.
8 Guru memantau kerja dari kelompok Siswa aktif dalam kelompoknya ketika
selama diskusi berlangsung. diskusi dalam menyelesaikan soal.
Guru menunjuk wakil dari kelompok Siswa yang ditunjuk guru mewakili
9
menuju meja turnamen. kelompoknya menuju meja turnamen.
Guru meminta setiap wakil kelompok
melakukan permainan di meja turnamen Siswa di meja turnamen memilih kartu
10
dengan mengambil sebuah kartu yang yang telah diacak.
telah diacak dan diberi angka
Guru meminta wakil tiap kelompok
mempresentasikan jawabannya dari soal Siswa yang mewakili kelompoknya
11
yang telah dipilih melalui pengacakan mempresentasikan jawabannya.
kartu.
Guru memberi skor untuk masing- Siswa menerima skor untuk
12 masing kelompok sesuai dengan jawaban kelompoknya sesuai dengan hasil
mereka. presentasenya.
Guru memberikan penghargaan pada
kelompok yang memperoleh skor tinggi.
13
Siswa mampu memberikan gambaran
tentang persamaan linear satu variabel.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini
adalah “dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Keluarga Bahagia,
prestasi belajar matematika siswa kelas VII.6 SMP Negeri 25 Kota Bekasi pada
pokok bahasan persamaan linear satu variabel dapat ditingkatkan”.

I. Rencana, Prosedur dan Metode Penelitian


1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Ciri utama dari
penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk
memperbaiki proses belajar di kelas.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan Agustus sampai Oktober 2009
pada semester ganjil tahun ajaran 2009/2010 di kelas VII.6 SMP Negeri 25 Kota
Bekasi.

3. Definisi Operasional
1. Prestasi belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah
mempelajari materi matematika pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu
Variabel dalam kurun waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan tes.
2. Pembelajaran kooperatif tipe Keluarga Bahagia (KB) adalah suatu model
pembelajaran yang mengutamakan peran aktif semua anggota kelompok/tim
dalam menemukan suatu penyelesaian masalah, sehingga ketika wakil dari setiap
kelompok melakukan permainan pengacakan kartu untuk menulis nomor soal dan
melakukan pertandingan/turnamen melalui presentasi jawaban dari soal yang
dipilih, wakil dari setiap kelompok tersebut dapat memberikan skor maksimal
bagi kelompoknya.

4. Faktor yang Diselidiki


Untuk menjawab permasalahan yang timbul, ada beberapa faktor yang ingin
diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor siswa, yaitu melihat minat dan kemampuan siswa dalam mempelajari
matematika, khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan Persamaan Linear
Satu Variabel.
b. Faktor guru, yaitu melihat bagaimana materi pelajaran disiapkan, teknik yang
digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Keluarga
Bahagia (KB).
c. Faktor sumber belajar, yaitu melihat apakah sumber pelajaran dapat mendukung
pelaksanaan model pembelajaran yang akan diterapkan.

5. Prosedur Pelaksanaan
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 3 (tiga) siklus,
dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada
faktor-faktor yang diselidiki.
Adapun pelaksanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur penelitian tindakan
kelas berikut, yaitu (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan pelaksanaan;
(3) observasi dan evaluasi; (4) refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan, kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi:
1) Membuat rencana pembelajaran.
2) Membuat lembar observasi, untuk melihat kondisi belajar mengajar di kelas
ketika model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament
diaplikasikan.
3) Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu siswa
lebih memahami materi pelajaran yang diajarkan.
4) Membuat alat evaluasi untuk melihat apabila prestasi belajar met siswa
dengan menggunakan model pembelajaran yang diterapkan dapat
ditingkatkan.
5) Membuat jurnal, untuk mengetahui refleksi diri.
b. Pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah
melaksanakan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
c. Observasi dan evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap
pelaksanaan tindakan serta melakukan evaluasi.
d. Refleksi, pada tahap ini hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi
sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Kemudian dari hasil tersebut akan dilihat
apakah telah memenuhi target, maka penelitian akan dilanjutkan paad siklus
berikutnya dan kelemahan-kelemahan/kekurangan-kekurangan yang terjadi pada
siklus sebelumnya akan diperbaiki pad siklus berikutnya.
Pada penelitian ini penulis berencana melaksanakan prosedur penelitian
sebanyak 3 (tiga) siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan. Jumlah
pertemuan ini disesuaikan dengan kepadatan materi yang ada.
Materi-materi pelajaran pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel
setiap siklus dapat dirinci sebagai berikut:
• Siklus I
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Kalimat Benar dan Kalimat Salah
b. Kalimat Terbuka
c. Himpunan Kalimat Terbuka

Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Berbagai Bentuk Persamaan Linear Satu Variabel

• Siklus II
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian Persamaan Linear Satu Variabe
b. Bentuk Setara Persamaan Linear Satu Variabel

Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel dengan
cara Substitusi

• Siklus III
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel Dengan
Cara Menambahkan Atau Mengurangi Kedua
Persamaan Dengan Bilangan Yang Sama
b. Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel dengan
cara mengalikan atau membagi kedua ruas persamaan
dengan nilai yang sama
Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Menyelesaikan soal-soal cerita

6. Data dan Teknik Pengambilan Data


a. Sumber data, yaitu guru dan siswa.
b. Jenis data: jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif.
Data tersebut diperoleh dari tes hasil belajar, lembar observasi dan jurnal.
c. Teknik pengambilan data.
1) Lembar observasi, digunakan untuk memperoleh data mengenai kondisi
pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games tournament.
2) Jurnal, digunakan untuk memperoleh data mengenai refleksi diri.
3) Tes, digunakan untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar matematika.

7. Indikator kinerja
Sebagai indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah jika
minimal 80% siswa telah memperoleh nilai ≥ 65 (ketentuan dari sekolah).
Seorang siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar secara individu apabila
siswa tersebut telah mencapai ketentuan belajar secara individual apabila siswa
tersebut telah mendapat nilai ≥ 65 (ketentuan dari sekolah).
Kriteria tingkat keberhasilan belajar siswa sesuai tujuan akhir penelitian ini
yaitu dikelompokkan ke dalam 5 kategori, dengan kriteria sebagai berikut:

a. Tingkat keberhasilan belajar siswa yang hasil belajarnya diatas KKM dalam %
( > 81%) : sangat tinggi
(61 – 80%) : tinggi
(41 – 60%) : sedang
(21 – 40%) : rendah
( < 20%) : sangat rendah

Hasil belajar siswa secara klasikal


> 85 % siswa daiatas KKM : tuntas
< 85 % siswa daiatas KKM : belum tuntas

b. Tingkat keaktifan siswa dalam presentasi kelompok dalam %


( > 81%) : sangat baik
(61 – 80%) : baik
(41 – 60%) : cukup
(21 – 40%) : kurang
( < 20%) : sangat kurang
c. Skala sikap siswa
No Pernyataan Skor
SS S R TS STS
5 4 3 2 1

SS = Sangat Setuju
S = Setuju
R = Ragu-ragu
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju

8. Rancangan dan Model Penelitian Tindakan kelas


Rancangan dari model pembelajaran tindakan kelas di atas merupakan
gambaran secara umum. Namun, dalam penelitian ini akan dilaksanakan beberapa
siklus hingga mencapai indikator penelitian yang telah ditetapkan.
Kegiatan penelitian ini akan dilaksanakan dengan langkah dan dalam rentang
waktu 3 bulan, dengan jadwal kegiatan seperti tertuang dalam tabel berikut:

Agustus September Oktober


No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
1 Tahap persiapan
a. Studi eksplorasi x
b. Identifikasi & rumusan masalah x
c. Instrumen penelitian x
2 Siklus 1
a. Perencanaan x
b. Tindakan & Obs. TM 1 x
c. Tindakan & Obs. TM 2 x
d. Analisis & refleksi x
Agustus September Oktober
No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
3 Siklus 2
a. Perencanaan x
b. Tindakan & Obs. TM 1 x
c. Tindakan & Obs. TM 2 x
d. Analisis & refleksi x
4 Siklus 3
a. Perencanaan x
b. Tindakan & Obs. TM 1 x
c. Tindakan & Obs. TM 2 x
d. Analisis & refleksi x
5 Tahap Penyelesaian
a. Penyusunan draft laporan x x
b. Seminar lokal x
c. Perbaikan draft laporan x
d. Seminar x
e. Laporan akhir x

RENCANA ANGGARAN BIAYA

Jumlah dan rincian biaya yang diusulkan:

Rincian
No Jenis Pengeluaran Jumlah (Rp)
Pengeluaran
1 Upah Pelaksanaan : (Orang x Jam x Rp)
a. Penulis 1 x 20 x 15.000 300.000
b. Observer 2 x 20 x 5.000 200.000 500.000
3 Biaya Pembuatan Instrumen : (Paket x Rp)
a. Penggandaan Skala Sikap 50 x 10 x 150 75.000
b. Rencana Pembelajaran 10 x 30 x 150 45.000 120.000
4 Biaya Pengumpulan Data (Orang x Jam x Rp)
Pengolahan Data 1 x 20 x 10.000 200.000 200.000
5 Penulisan Laporan (Jumlah x Rp)
1 x 50.000 50.000
Penggandaan Laporan (Exp x Rp)
4 x 50.000 200.000 250.000
6 Biaya Seminar Lokal (Orang x Rp)
Transport Lokal Personalia 1 x 25.000 25.000
Konsumsi 1 x 15.000 15.000
Nara Sumber 1 x 100.000 100.000 140.000
7 Lain-lain (Satuan x Rp)
2 rim Kertas HVS 2 x 60.000 120.000
1 lusin bolpoin 1 x 50.000 50.000
1 pak spidol witheboard 1 x 80.000 80.000 250.000
8 Transport (Orang x Rp)
Studi awal 1 x 25.000 25.000
Konsumsi studi awal 1 x 15.000 15.000 40.000
Jumlah Anggaran 1.500.000
Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah.

DAFTAR PUSTAKA

Adiawan, M, Cholik dan Sugiono, 2003. Matematika Untuk SLTP Kelas 2. Jakarta:
Erlangga.
Allyn dan Bacon, 1999. Coperatif Learning Theory Rosearch Practice.
(Onlinb. www,Google Com. Kooperatif. Diaskes 3 Februari 2006).
Engkoswara, 1988. Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud
Hartadji, Nursyafi’i, 2001. Pengembangan dan Uji Coba Perangkat CTL. Jakarta :
Depdiknas.
Hudoyo, Herman, 1988. Belajar Mengajar Matematika. Jakarta : P2 LPTK.
Ibrahim, M. Dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri
Surabaya : University Perss.
Ismail, 2002. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : Depdiknas.
Kusrini, dkk, 2003. Matematika Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Kelas I. Jakarta :
Depdiknas.
Nur, Muhamad dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press
UNESA.
Pupuh Fathurrahman, 2001. Strategi Belajar Mengajar, Bandung : Tunas Nusantara.
Purwoto, 1997. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Surakarta : UNS Press.
Rahardi, Moersetyo. Penerapan Model Belajar Kooperatif Tipe Teams Games
Tournament Dalam Pembelajaran Matematika Sekolah Menengah Umum Conline,
www Google. Com (Http:// TGT.Com).
Roestiyah, N. K, 1994. Masalah Pengajaran Sebagai Suatu Sistem. Jakarta : Rineka
Cipta.
Russefendi, E. T, 1979. Pengajaran Matematika Modern. Bandung : Tarsito.
Tabrani Rusyan A., Atang Kusdinar, Zainal Arifin, 1994. Pendekatan Proses Belajar
Mengajar. Bandung : Remaja Karya.
Sugiyono, 1998. Metode Penelitian Administrasi, Bandung : Alvabeta
Sumarmo,U (2002). Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Menerapkan Kurikulum
Berbasis Kompetensi . Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional.
Bandung
Wartono, dkk. 2004. Materi Penelitian Terintegrasi Sains. Jakarta : Depdiknas.
Winkel, W. S, 1991, Psikologi Pendidikan, Bandung : Alumni.
WJS. Poerwadharminta. 1984. Kamus Lengkap. Bandung : Angkasa Offset.

Anda mungkin juga menyukai