Anda di halaman 1dari 30

Hukum Memberontak Kepada Penguasa Muslim

Menurut Akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah


[Syaikh Fawaz bin Yahya Al Ghuslan]
Penerjemah: Al Ustadz Abdurrahman Mubarak Ata
Ma'had Riyadlul Jannah: Kp. Cikalagan RT 10/02 Telp. (021) 82495739
Cileungsi-Bogor-Indonesia

Dan dari Al Auza’i


dari Hasan bin Athiyah dia berkata : “Tidaklah suatu kaum itu
berbuat bid’ah kecuali akan Allah angkat satu sunnah yang serupa
kemudian tidak akan dikembalikan-Nya sampai hari kiamat.”

Dari Ayub As Sikhtiyani dia berkata : “Tidaklah bertambahnya


semangatnya ahli bid’ah itu kecuali akan semakin menjauhkan dia
dari Allah dan ahli bid’ah ini dinamakan Khawarij.” Dan dia berkata :
“Sesungguhnya Khawarij itu model-bentuknya berbeda-beda akan
tetapi mereka sama-sama dalam mengangkat senjata (terhadap
penguasa Muslim, red.).” (Al I’tisham karya As Syathibi 1-83)
Daftar Isi

Sambutan Dari Syaikh Abdullah Bin Shaleh Al Ubailan

Peringatan Terhadap Manhaj Khawarij

Bab I : Kewajiban Menjaga Persatuan Dan Larangan Perpecahan

Rasulullah Menyeru Kepada Persatuan Dan Berpegang Teguh Dengannya

Yang Menyempal Dari Al Jamaah Akan Mati Jahiliyah

Bab II : Kewajiban Mentaati Penguasa Muslim Walaupun Tidak Berhukum


Dengan Hukum Allah

Mendengar Dan Taatlah Kalian Walaupun Yang Memimpin Kalian Adalah


Bekas Budak Dari Habasyah

Larangan Taat Kepada Penguasa Dalam Bermaksiat Kepada Allah

Wajibnya Taat Kepada Penguasa Walaupun Hartamu Dirampas Dan


Punggungmu Dipukul

Larangan Mengatur Urusan Umat Secara Sirr (Sembunyi-Sembunyi) Pada


Perkara-Perkara Yang Merupakan Hak Penguasa

Bab III : Perintah Untuk Menasihati Penguasa, Mendoakan Mereka, Dan


Larangan Membongkar Kejelekan Penguasa Di Muka Umum

Tidak Boleh Memberontak Pada Penguasa Ketika Mereka Tidak Mau


Mendengar Nasihat

Larangan Mengangkat Pemimpin Tandingan

Sambutan Dari Syaikh Abdullah Bin Shaleh Al Ubailan

Sesungguhnya segala pujian yang sempurna hanyalah milik Allah, kita


memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya serta memohon ampun kepada-
Nya dan kita berlindung kepada-Nya dari segala kejelekan-kejelekan jiwa
kita dan dari kejelekan-kejelekan amalan kita. Barangsiapa yang diberi
petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan
barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa
menunjukinya.
Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq disemJbaJh selain Allah yang
tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah
hamba dan utusan-Nya.

Adapun sesudah itu, sungguh saya telah membaca Kitab karya saudaraku
yang mulia, As Syaikh Fawaz bin Yahya Al Ghuslaan yang semoga Allah
memberinya taufiq dengan segenap kebaikan,j pada permasalahan seputar
Bai’at dan Imamah. Saya berpendapat beliau telah melakukannya dengan
baik, perkataannya benar dan tepat dalam permasalahan yang sangat
penting ini. Hal ini adalah termasuk pokok agama dan tidak ada ikhtilaf
dikalangan para imam dalam permasalahan ini.

Berkata Imam Al Ajurri Rahimahullau Ta’ala dalam Kitab As Syarii’ah hal 21


: “Ulama tidak pernah berselisih, baik dahulu maupun sekarang bahwa kaum
Khawarij adalah kaum yang jelek, mereka bermaksiat kepada Allah Ta’ala
dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Walaupun mereka berpuasa dan shalat
dan sangat bersemangat dalam beribadah akan tetapi itu semua tidak
bermanfaat bagi mereka. Walaupun mereka melakukan amar ma’ruf dan
nahi munkar tetapi hal ini tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka
adalah kaum yang menafsirkan Al Qur’an menurut hawa nafsunya dan
mereka menipu kaum Muslimin. Sungguh Allah dan Rasul-Nya telah
memperingatkan kita dari kejelekan mereka, demikian pula para Khalifah Ar
Rasyidiin dan juga para shahabat serta para pengikut mereka Rahmatullahi
‘Alaihim.”

Dan berkata beliau (Imam Al Ajurri) pada halaman 28 : “Hendaklah seorang


itu jangan tertipu kalau melihat semangatnya mereka (kaum Khawarij) yang
telah memberontak imam yang adil ataupun dzolim kemudian mereka
mengumpulkan manusia dan mengangkat senjata dan menghalalkan darah
kaum Muslimin. Maka janganlah tertipu dengan bacaan Al Qur’an mereka,
dengan panjangnya sholat mereka, dengan kuatnya puasa mereka, dengan
fasihnya retorika mereka jika madzhabnya adalah madzhab Khawarij.”
Kemudian beliau membawakan hadits yang meriwayatkan tentang kesesatan
Khawarij.

Berkata lagi beliau dalam halaman 37 : “Dan sungguh aku telah


memperingatkan dari bahaya madzhab Khawarij ini dengan penjelasan yang
jelas bagi orang yang dijaga oleh Allah ‘Azza wa Jalla Al Karim dan tidak
berpendapat seperti mereka serta bersabar atas kedzaliman dan kejahatan
penguasa, tidak keluar memberontak mereka dengan mengangkat senjata.
Meminta kepada Allah agar menghilangkan kedzaliman dari pemimpinnya
dan dari seluruh kaum Muslimin, mendoakan kebaikan bagi penguasa,
berhaji bersama penguasa, berjihad bersama mereka melawan setiap
musuh, shalat Jumat dan ‘Ied di belakang mereka. Jika penguasa
memerintahkan untuk taat dan punya kemampuan untuk mentaatinya maka
ia pun mentaati mereka, jika tidak mampu maka ia pun minta udzur kepada
penguasanya. Jika memerintahnya dengan kemaksiatan ia tidak
mentaatinya. Jika terjadi fitnah di antara penguasa ia tetap berada di rumah
dan menjaga lisan dan tangannya, tidak terjerumus dalam fitnah yang
menimpa mereka serta tidak membantu siapapun dalam fitnah ini.
Barangsiapa yang sifatnya seperti ini maka dia di atas jalan kebenaran yang
lurus, Insya Allah.”

Berkata Imam As Syaukani Rahimahullahu Ta’ala dalam Kitab Sailul Jaraar


jilid 4 halaman 556 : “Akan tetapi mereka yang melihat kesalahan-kesalahan
penguasa dalam beberapa masalah hendaklah dia menasihatinya dan
janganlah menampakkan cacian kepadanya dihadapan banyak orang akan
tetapi lakukanlah seperti yang dijelaskan dalam hadits yaitu menasihatinya
dengan mengambil tangannya dan menyendiri kemudian mencurahkan
nasihat kepadanya serta tidak menghinakan penguasa Allah. Dan kami telah
menerangkan di awal kitab bahwasanya tidak diperbolehkan memberontak
penguasa walaupun mereka pada puncak kedzaliman selama mereka masih
shalat dan tidak terang pada mereka kekufuran. Hadits-hadits yang
berkaitan dengan hal ini mutawatir. Wajib bagi makmum untuk mentaati
imamnya dalam perkara ketaatan pada Allah. Dan tidak mentaatinya dalam
maksiat kepada Allah karena tidaklah ada ketaatan kepada makhluk dalam
perkara kemaksiatan kepada Khaliq.

Berkata Ibnul Qayyim dalam Miftah Daari As Sa’aadah jilid 1 halaman 72


: “Perkataanya :

‘Dan menasihati penguasa Muslimin.’

Ini juga menunjukkan tidak adanya kedengkian dan kebencian karena


nasihat itu tidak akan berkumpul dengan kedengkian karena dua hal ini
saling bertentangan. Maka barangsiapa yang telah menasihati penguasa,
sungguh dia telah berlepas diri dari kedengkian. Perkataannya :

‘Dan berpegang teguh dengan jamaah mereka.’

Hal ini adalah perkara yang membersihkan hati dari kedengkian dan
kebencian karena orang yang berpegang dengan jamaah Muslimin tersebut
akan mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai dirinya dan benci
dengan apa-apa yang mereka benci dan senang dengan apa-apa yang
menyenangkan mereka. Berbeda dengan orang yang menyempal dari
mereka dan sibuk mencela mereka serta mencari aib-aib mereka seperti
perbuatan kaum Rafidlah, Khawarij, Mu’tazilah dan lainnya yang mana
tidaklah mereka berbicara kecuali dengan kedengkian dan kebencian. Oleh
karena itu kalian dapati Rafidlah adalah orang yang paling jauh dari
keikhlasan dan paling benci kepada penguasa beserta umatnya dan paling
jauh dari Jamaatul Muslimin.” Selesai dari Imam Asy Syaukani.

Berkata Saikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pada


Risalah-nya (Al Ushuulus Sittah) : “Pokok yang ketiga adalah bahwasanya
termasuk dari sempurnanya persatuan adalah mendengar dan taat kepada
penguasa kita walaupun ia adalah seorang bekas budak Habasyi (Ethiopia,
pent.). Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah menerangkan hal ini
dengan penjelasan yang terang dan jelas dari segala sisinya. Akan tetapi
pokok ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang mengaku berilmu.
Bagaimana bisa mereka beramal?” Selesai ucapan beliau dari Kitab Al
Jaami’ul Faarid min Kutubin wa Rasaa’ili li A’immatid Da’wati Al
Islaamiyah.

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku dan kembalikanlah mereka ke


jalan-Mu yang lurus dan kembalikan mereka kepada jalan kekasih-Mu Al
Musthafa Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Yang mana Engkau telah berkata
kepadanya :

Katakanlah : “Inilah jalanKu, aku menyeru kepada Allah di atas bashirah,


aku dan orang-orang yang mengikutiku juga demikian. Maha Suci Allah dan
aku bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)

Dan Engkau telah berkata kepadanya :

“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutlah ia dan
janganlah kalian mengikuti jalan-jalan selainnya karena akan memecah-
belah kalian dari jalan Allah. Demikianlah aku wasiatkan kalian agar kalian
bertakwa.” (QS. Al An’am : 157)

Yang fakir kepada ampunan Rabbnya, Syaikh Abdullah bin Shalih Al ‘Ubailan.

BAB I

Kewajiban Menjaga Persatuan Dan Larangan Perpecahan

Bismillahirrahmaanirrahiim

Sesungguhnya segala pujian kesempurnaan hanyalah milik Allah, kita


memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampun kepada-Nya,
dan kita berlindung kepada-Nya dari segala kejelekan-kejelekan jiwa kita
dan dari kejelekan-kejelekan amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk
oleh Allah maka dia telah mendapat petunjuk dan barangsiapa yang
disesatkan-Nya maka tiada baginya wali dan pembimbing.

Amma ba’du,
Sungguh keadaan jahiliyah sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam, manusia saat itu berada pada perpecahan dan permusuhan yang
dahsyat, yang kuat memangsa yang lemah. Setiap kabilah mencari
kesempatan untuk menyerang saingannya. Maka Allah mengutus Rasul-Nya
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam untuk menyeru kepada persatuan dan
berpegang teguh dengannya. Dan juga memperingatkan dari perpecahan.
Hadits-hadits dalam permasalahan ini mencapai derajat mutawatir dari
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, shahabatnya, dan juga para
pengikutnya dari kalangan para imam Salaf yang mudah-mudahan ridha
Allah atas mereka semua.

Berfirman Allah Ta’ala :

“Dan janganlah kalian saling berselisih yang akan menyebabkan kalian


bercerai-berai dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al Anfal : 46)

Dan firman-Nya :

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dalam


agama mereka dan berselisih setelah datang penjelasan kepada mereka.
Dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali Imran : 105)

1. Dari Usamah bin Syuraik radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Tangan Allah di atas jamaah.” (HR.
Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan Tabrani dan Al Hakim)
2.Dari Ka’ab bin Ashim radliyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam berkata : “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melindungi umatku dari
persatuan di atas kesesatan.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan At Tirmidzi
dan yang lainnya)

3.Dari Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa yang menginginkan sungai-
sungai Surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan Al Jama’ah
karena sesungguhnya syaithan itu bersama dengan orang yang sendirian
dan ia dengan orang yang berduaan itu lebih jauh.” (HR. Ibnu Abi Ashim
dan Ahmad dan At Tirmidzi dan Al Hakim dan Ibnu Hibban)

4. Dari Fudhalah bin Ubaid berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi


Wa Sallam : “Tiga golongan yang tidak akan ditanya keadaan mereka
(pada hari kiamat) : Seorang laki-laki yang menyempal dari Al Jamaah
dan bermaksiat kepada imamnya kemudian mati dalam keadaan
bermaksiat. Seorang budak yang melarikan diri dari tuannya dan
kemudian mati. Seorang wanita yang ditinggal suaminya dalam keadaan
cukup nafkahnya kemudian dia berdandan sesudahnya.” (HR. Ibnu Abi
Ashim dan Ibnu Hibban dan Al Hakim)
5.Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa yang menyempal dari Al
Jamaah maka jika ia mati, matinya mati jahiliyah.” (HR. Muslim dalam
Shahih-nya)

6. Dari An Nu’man bin Basyir radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Al Jamaah itu adalah rahmat dan perpecahan itu adalah adzab.” (HR.
Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)

7. Dari Al Harits bin Basyir radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Aku perintahkan dengan lima perkara : Mendengar, taat, berpegang teguh
dengan Al Jamaah, berhijrah, dan berjihad.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi
Ashim dan At Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan dari


perpecahan dan menyempal dari Al Jamaah bahkan memberikan ancaman
keras terhadap hal ini. Berkata beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

8. Dari Abdullah bin Amr radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukan golonganku.”


(HR. Bukhari-Muslim)

9. Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan maka dia tidak
akan memiliki hujjah di hari kiamat nanti.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi
Ashim)

10. Dari Urfajah Al Asyja’i radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Barangsiapa yang mendatangi kalian dan memerintahkan kalian berkumpul


(untuk mengangkat amir) kepada seseorang dan menginginkan memecah-
belah barisan kalian maka bunuhlah!” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Dan kami telah meringkas beberapa hadits dalam permasalahan ini karena
terlalu panjang. Wallaahul Muwaafiq.

BAB II

Kewajiban Mentaati Penguasa Muslim Walaupun Tidak


Berhukum Dengan Hukum Allah

Al Jamaah, sebagaimana telah maklum tidak akan pernah tegak kecuali


harus dengan imam yang menyatukan kalimat. Dan seorang imam tidak
akan kuat kepemimpinannya kecuali kalau ia ditaati maka Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk mentaati pemimpin,
bersabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
11. Dari Anas radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam :

“Mendengar dan taatlah kalian walaupun yang memimpin kalian adalah


bekas budak dari Habasyah yang kepalanya seperti kismis, selama dia
menegakkan Kitabullah di antara kalian.” (HR. Bukhari dalam Shahih-
nya)

12. Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Barangsiapa yang mentaati aku maka dia telah mentaati Allah, barangsiapa
yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah.
Barangsiapa yang mentaati amir/pemimpin maka ia telah mentaatiku,
barangsiapa yang bermaksiat kepada amir/pemimpin maka ia telah
bermaksiat kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
13. Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Wajib bagi seorang Muslim untuk taat dalam hal-hal yang dia sukai ataupun
yang ia benci kecuali kalau diperintah untuk berbuat maksiat maka tidak
boleh mendengar dan taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

14. Dari Auf bin Malik radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Ketahuilah, barangsiapa yang di bawah seorang wali/pemimpin dan ia
melihat padanya ada kemaksiatan kepada Allah maka hendaklah ia
membenci kemaksiatannya. Akan tetapi janganlah (hal ini menyebabkan)
melepaskan ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

15. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu 'anhu berkata, bersabda


Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil


petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada
para pemimpin yang hatinya seperti hati syaithan dalam jasad manusia.”
Maka aku berkata : “Ya Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku
mendapati hal ini?” Berkata beliau : “Hendaklah engkau mendengar dan taat
pada amirmu walaupun dia memukul punggungmu dan merampas
hartamu.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

16. Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata, telah bersabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada kami maka dia bukan
golongan kami.” (Hadits shahih riwayat Bukhari-Muslim)

17. Dari Irbadh bin Sariyah radliyallahu 'anhu berkata, Rasulullah


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah berkhutbah kepada kami, beliau
berkata :

“Bertakwalah kalian kepada Allah, wajib bagi kalian untuk mendengar dan
taat walaupun pemimpin kalian adalah budak dari Habasyah. Dan
sesungguhnya barangsiapa yang hidup panjang di antara kalian akan
melihat perselisihan yang sangat banyak maka wajib bagi kalian berpegang
teguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah yang lurus dan terbimbing
sesudahku.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ad
Darimi)
18. Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya


dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar
dan taat (kepada amirnya, pent.) maka akan masuk Surga dari pintu mana
saja yang ia inginkan dari delapan pintu Surga.” (Hadits shahih riwayat
Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan At Tabrani)

Dan dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan


untuk mendengar dan taat itu terhadap penguasa yang jahat sebagaimana
terhadap pemerintah yang baik. Hadits-hadits yang telah lalu menerangkan
bagaimana sikap kita terhadap penguasa yang dikenal kejelekannya. Mereka
tidak melaksanakan petunjuk Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan juga
tidak mengamalkan sunnah-sunnah Rasul dan ini adalah permasalahan yang
jelas. Dan ada juga beberapa riwayat yang menguatkan hal ini :

19. Dari Adi bin Hatim radliyallahu 'anhu berkata, kami berkata :
“Ya Rasulullah, kami tidak bertanya padamu tentang sikap terhadap
penguasa-penguasa yang bertakwa/baik. Akan tetapi penguasa yang
melakukan ini dan itu (disebutkan kejelekankejelekan).” Maka Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bertakwalah kalian kepada Allah,
mendengar dan taatlah kalian.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al
Albani dalam Adz Dzilal)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melarang untuk mengatur urusan


umat secara sirr (sembunyi-sembunyi) pada perkara-perkara yang
merupakan hak penguasa.

20. Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata, datang seorang laki-laki
kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan berkata :

“Berilah aku nasihat!” Maka beliau bersabda : “Mendengar dan taatlah


kalian. Hendaklah kalian terang-terangan dan jauhilah oleh kalian mengatur
urusan umat secara sirr (karena ini adalah tugas penguasa, pent.).” (HR.
Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

Dan Rasul juga menjelaskan bahwa memberontak kepada penguasa itu tidak
boleh kecuali dalam dua keadaan, yaitu jika telah

melakukan kekufuran yang nyata atau mereka melarang melakukan shalat.


21. Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu 'anhu berkata :

“Kami membaiat Rasul untuk mendengar dan taat dalam sirr maupun
terang-terangan, untuk menunaikan hak penguasa, baik dalam keadaan
sulit maupun lapang serta ketika mereka mementingkan pribadi mereka.
Dan tidak memberontak kepada penguasa. Kecuali ketika kita melihat
kekufuran yang nyata dan ada bukti di sisi Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)
22. Dari Ummu Salamah radliyallahu 'anha berkata, telah bersabda
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan


kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia
telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya
(dialah yang berdosa, pent.).” Maka para shahabat berkata : “Apakah tidak
kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan,
selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam
Shahih-nya)

BAB III

Perintah Untuk Menasihati Penguasa, Mendoakan Mereka,


Dan Larangan Membongkar Kejelekan Penguasa Di Muka
Umum

Dan Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk menasihati


penguasa kita ketika nampak kemaksiatan-kemaksiatan mereka dan ketika
terjadi apa saja yang membutuhkan nasihat.
23. Dari Tamim Ad Dari radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Agama itu nasihat.” Maka kami bertanya : “Untuk siapa, ya Rasulullah?”


Maka Beliau menjawab : “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk
penguasa Muslimin dan umat mereka.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

24. Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Tiga golongan yang dengannya hati seorang Muslim tidak akan mendendam
: Ikhlas dalam beramal untuk Allah, menasihati penguasa, dan menetapi
persatuan umat. Maka sesungguhnya doa-doa mereka meliputi dari
belakang mereka.” (HR. Ashaabus Sunan)

Dan Nabi melarang mencela, mencaci para penguasa, dan menyebarkan aib-
aib mereka. Beliau memerintahkan untuk menasihati mereka dan
mendoakan kebaikannya. Berkata Imam At Thahawi dalam aqidahnya yang
banyak diterima oleh ummat ini :

“Kami tidak berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa dan


pemimpin kita walaupun ia seorang pemimpin yang jahat. Dan tidak
mendoakan kejelekan untuk mereka. Tidak melepaskan tangan dari ketaatan
kepada mereka. Karena ketaatan pada mereka termasuk ketaatan kepada
Allah dan merupakan kewajiban. Selama tidak diperintahkan kepada yang
maksiat. Kita mendoakan untuk mereka kebaikan dan ampunan.”

25. Dari Anas radliyallahu 'anhu berkata, telah melarang kami para
pembesar kami dari shahabat Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,
mereka berkata :

Bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Janganlah kalian mencela


pemimpin kalian dan janganlah kalian mendengki mereka, janganlah kalian
membenci mereka, bertakwalah kepada Allah, bersabarlah karena urusan ini
sudah dekat.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani)
26. Dari Abi Bakrah radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam :

“Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi maka barangsiapa yang


menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya, barangsiapa
yang memuliakan penguasa maka Allah akan memuliakannya.” (HR. Ibnu
Abi Ashim, Ahmad, At Thayalisi, At Tirmidzi, dan Ibnu Hibban.
Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
27. Dari Muadz bin Jabal radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Lima hal yang barangsiapa yang melakukan salah satunya maka dia akan
mendapat jaminan dari Allah : Siapa yang menjenguk orang sakit, yang
mengantar jenazah, yang keluar untuk berperang, atau masuk pada
penguasanya ingin menasihatinya dan memuliakannya atau orang yang
diam di rumahnya sehingga dengannya selamatlah manusia.” (HR. Ahmad,
Ibnu Abi Ashim, Al Bazar, Al Hakim, dan At Tabrani)

Rasul menerangkan kepada kita bagaimana tata cara menasihati penguasa.


Hendaklah tidak dilakukan di atas mimbar, di hadapan orang banyak.
28. Dari Iyadh bin Ghunaim radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah


melakukannya dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi
dengan cara mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia
menerimanya maka inilah yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia
telah melakukan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Hakim,
dan Baihaqi. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
29. Dari Ubaidillah bin Khiyar berkata :

“Aku mendatangi Usamah bin Zaid radliyallahu 'anhu dan aku katakan :
“Kenapa engkau tidak menasihati Utsman bin Affan untuk menegakkan
hukum had atas Al Walid?” Maka Usamah berkata : “Apakah kamu mengira
aku tidak menasihatinya kecuali harus dihadapanmu? Demi Allah sungguh
aku telah menasihatinya secara sembunyi-sembunyi antara aku dan ia saja.
Dan aku tidak ingin membuka pintu kejelekan dan aku bukanlah orang yang
pertama kali membukanya.” (Atsar yang shahih diriwayatkan Bukhari
dan Muslim)

Tidak ada toleransi sedikitpun dalam syariat ini untuk boleh memberontak
pada penguasa ketika mereka tidak mau mendengar nasihat. Bahkan yang
ada adalah perintah untuk bersabar, sesungguhnya dosanya akan
ditanggung mereka. Barangsiapa yang telah menasihati mereka dan
mengingkari kemungkarannya dengan cara yang benar maka ia telah
terlepas dari dosa.
30. Dari Wail bin Hujr radliyallahu 'anhu berkata :

Kami bertanya : “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika penguasa kami


merampas hak-hak kami dan meminta hak-hak mereka?” Bersabda beliau :
“Mendengar dan taatlah kalian pada mereka maka sesungguhnya bagi
merekalah balasan amalan mereka dan bagi kalianlah pahala atas kesabaran
kalian.” (HR. Muslim)

31. Dari Anas radliyallahu 'anhu berkata : “Bersabda Rasul Shallallahu


'Alaihi Wa Sallam :

“Kalian akan menjumpai sesudahku atsarah (pemerintah yang tidak


menunaikan hak-hak rakyatnya tapi selalu meminta hak-haknya, pent.)
maka bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
32. Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam :

“Kelak akan terjadi para penguasa dan mereka mengumpul-ngumpulkan


harta (korupsi, pent.).” Maka kami bertanya : “Maka apa yang engkau
perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab : “Tunaikanlah baiat yang
pertama, tunaikanlah hak-hak penguasa, sesungguhnya Allah akan bertanya
pada mereka atas apa-apa yang mereka lakukan terhadap kalian.” (HR.
Bukhari-Muslim)
33. Dari Mu’awiyah radliyallahu 'anhu berkata, ketika Abu Dzar radliyallahu
'anhu keluar ke Ar Rubdzah beberapa orang Iraq menemuinya dan
berkata :

“Wahai Abu Dzar, angkatlah bendera bersama kami maka orangorang akan
mendatangi kamu dan tunduk kepadamu.” Maka Abu Dzar berkata :
“Tenang-tenang wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasul
bersabda :

‘Kelak akan ada sesudahku penguasa maka muliakanlah ia, barangsiapa


yang menghinakannya maka ia telah membuat kehancuran dalam Islam dan
tidak akan diterima taubatnya sampai ia mengembalikan kehancuran umat
ini menjadi seperti semula.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim.
Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
34. Dari Abu Dzar radliyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam mendatangiku dan aku dalam keadaan tertidur dalam masjid
kemudian beliau berkata :

“Apa yang kamu lakukan jika kamu diusir dari negerimu?” Aku menjawab :
“Aku akan pergi ke Syam!” Beliau bertanya lagi : “Apa yang kamu lakukan
jika kamu diusir dari Syam?” Aku menjawab : “Aku akan lawan dengan
pedangku ya Rasulallah!” Maka beliau bersabda : “Maukah aku tunjukan
dengan yang lebih baik dari itu semua dan lebih mencocoki petunjuk?
Mendengar dan taatlah dan turutilah kemana pun mereka menggiringmu.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Ad Darimi, dan Ibnu Hibban.
Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

Demikian juga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah


memperingatkan dari menyebarkan aib penguasa dan kesalahannya di atas
mimbar-mimbar dan majlis-majlis karena hal ini akan menyebabkan
tersebarnya kejelekan yang dilarang oleh Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya :

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersebarnya kejelekan di


antara orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia
dan akhirat. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak
mengetahui.” (QS. An Nur : 19)
35. Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, Rasul Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam bersabda :

“Jika berkata seorang laki-laki : ‘Manusia telah binasa.’ Maka ia orang yang
paling binasa diantara mereka.” (HR. Muslim)

Dan Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarang menyebarkan fitnah


dan melarang perbuatan yang menyebabkan tersebarnya fitnah sekalipun
fitnah tersebut telah tersebar luas. Dan beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
mengabarkan bahwa fitnah itu tidak akan membawa kebaikan pada umat.
Bahkan beliau juga melarang untuk angkat senjata (melawan penguasa) dan
melarang bergabung dengan pemberontak lebih-lebih jika fitnahnya
disebabkan masalah dunia.

36. Dari Miqdad bin Aswad radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Sesungguhnya orang yang bahagia itu adalah yang telah menjauhi fitnah
dan ketika ditimpa musibah maka ia bersabar, alangkah bahagianya ia.”
(HR. Abu Dawud. Berkata Al Albani : “Shahih atas syarat Muslim.”)

Dalam akhir pembahasan ini saya akhiri kumpulan hadits ini dengan
perkataan Imam As Syaukani dalam Sailul Jarar dalam judul Kitabul
Baghyi, beliau berkata : “Pemberontak adalah siapa saja yang keluar dari
ketaatan kepada pemimpin. Pelakunya tercela walaupun bertujuan untuk
kemaslahatan Muslimin tanpa dalil dan tanpa menasihatinya terlebih
dahulu.” Sampai pada ucapan beliau : “Dan tidak boleh memberontak
kepada penguasa walaupun mereka pada puncak kedzaliman selama tidak
nampak pada mereka kekufuran yang nyata. Hadits-hadits yang
menerangkan hal ini mutawatir.”

Muhammad Shidiq Hasan Khan juga menukil riwayat yang sama dalam kitab
Ar Raudhatun Nadiyah dan Beliau sebutkan juga dalam Kitabul Baghyi
‘Alas Sulthani.

Dan yang terakhir, aku serukan kepada segenap dai untuk merealisasikan
perintah Allah dan Rasul-Nya yaitu menasihati para penguasa secara
sembunyi-sembunyi. Dan menjauhi tasyhir (membeberkan aib-aib penguasa
di hadapan umum, pent.). Dan tidak mendahulukan pendapat siapa pun
selain dari pendapat Allah dan Rasul-Nya.

Berkata seorang penyair :

Tinggalkanlah semua ucapan yang meyelisihi ucapan Muhammad.

Seorang tidak merasa aman dalam agamanya seperti yang terancam


bahaya.

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjadikan kita semua
bisa beramal untuk keridhaan-Nya di atas manhaj Rasul-Nya. Dan agar
menjauhkan kita dari fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.
Sesungguhnya Ia Maha Mampu untuk melakukan itu semua.

Dan semoga shalawat tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu


'Alaihi Wa Sallam, keluarganya, dan shahabatnya.

Catatan : Hadits-hadits yang disebutkan di sini telah dishahihkan oleh


Muhaddits Al Albani dalam berbagai kitab beliau yang berbeda-beda, sengaja
tidak dinukil disini karena khawatir terlalu panjang.

Diperbolehkan memperbanyak ebook ini dengan menyertakan sumber :


Maktabah As Sunnah
http://www.assunnah.cjb.net/