Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN TETAP

BIOKIMIA II

0leh:

MIRWAN HASAN AZIZ

G1C 007 022

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA

UNIVERSITAS MATARAM

2010
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan tetap ini disusun sebagai sarat lulus praktikum biokimia 2:

Co Ass acara I Co Ass acara II

( ) ( )

Co Ass acara III Co Ass acara IV

( ) ( )
KATA PENGANTAR

Marilah kita panjatkan puji syukur yang tak terkira selayaknya


kehadirat ALLAH SWT, Tuhan semesta alam. Dimana berkat limpahan
rahmat-Nya laporan tetap biokimia 2 ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya. Kedua kalinya sholawat serta salam tidak lupa kita ucapkan
kepada Nabi Muhammad SAW, dimana berkat beliau kita masih berada
dijalan agama Allah ini.

Adapun punyusunan laporan tetap ini masih jauh dari kesempurnaan,


oleh karena itu saya berharap dengan rendah hati untuk adanya masukan
yang bersifat membangun demi kemajuan kita bersama di kemudian hari
Besar harapan saya laporan tetap ini bisa bermanfaat bagi kita semua,
khususnya untuk anak kimia. Untuk itu mudah-mudahan Laporan ini dapat
dijadikan referensi bagi semua pihak yang membutuhkan.

Mataram, Juli 2010

Penyusun
DAFTAR ISI

Cover ..................................................................................................I
Kata Pengantar ...............................................................................II
Daftar isi ...............................................................................III
 Laporan Acara 1
Uji sifat fisik dan kimia cairan tubuh (air liur dan empedu)........... 5
 Laporan Acara 2
Menetapkan kadar kolesterol ...................................................23
 Laporan Acara 3
factor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim (pengaruh suhu dn Ph
terhadap aktivitas enzim) ......................................................37
 Laporan Acara 4

Percobaan protein ................................................................50

Daftar Pustaka
UJI SIFAT FISIK DAN KIMIA
CAIRAN TUBUH

( AIR LIUR DAN EMPEDU)

UJI SIFAT FISIK DAN KIMIA CAIRAN TUBUH


( AIR LIUR DAN EMPEDU)

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan : Untuk mengetahui sifat fisik dan kimia air liur dan
empedu
2. Hari, tanggal : selasa, 18 Mei 2010
3. Tempat : Laboratorium Kimia Dasar FMIPA UNRAM

B. LANDASAN TEORI

Saliva adalah cairan yang lebih kental daripada air biasa. Tiap hari sekitar
1-1,5 liter saliva dikeluarkan oleh kelenjar saliva. Kelenjar saliva yang utama
adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis. Selain itu juga ada
beberapa kelenjar bukalis yang kecil (Ganong, 1995).

Saliva terdiri atas 99,24% air dan 0,58% merupakan ion-ion Ca++, Mg++ ,
Na+ , K+ , PO43-, Cl, HCO3-, SO42- serta zat-zat organik seperti musin dan enzim
amilase (Poedjiadi, 1994). Saliva mempunyai pH antara 6,0-7,4. Suatu kisaran
yang menguntungkan untuk kerja pencernaan dari -amilase. Enzim ini bekerja
secara optimal pada pH 6,6 (Guyton dkk, 1997). Amilase saliva mulai tidak aktif
pada pH 4,0. Oleh karena itu, setelah makanan ditelan dan masuk ke dalam
lambung, proses hidrolisis oleh enzim amilase saliva tidak berjalan lebih lama
lagi. Secara umum enzim -amilase bekerja optimal pada pH 6,6 (Guyton, 1997).

Sebagai produk makhluk hidup, secara teori selalu ada kemungkinan dari
pengaruh pH terhadap aktivitas biologis dari enzim. struktur tiga dimensi molekul
enzim dipengaruhi oleh derajat keasaman dari larutan tempat ia berada. Dalam
lingkungan pH optimum, protein enzim mengambil struktur tiga dimensi yang
sangat tepat sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan
yang setinggi-tingginya. Di luar pH optimum tersebut, struktur tiga dimensi enzim
mulai berubah, sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian
molekul enzim yang mengolah substrat. Akibatnya proses katalisis berjalan tidak
optimum. Diantara rentangan pH yang ada, sebanyak itu pula agaknya bangun tiga
dimensi yang mungkin diambil oleh suatu molekul protein enzim( Sadikin 2002).

C. ALAT DAN BAHAN

1. Alat- alat

- Tabung reaksi

- Penutup tabung reaksi

- Gelas ukur

- Pipet tetes

- Pipet volum

- Rak tabung reaksi

- Indikator universal

2. Bahan

- Air liur

- Larutan CuSO4

- Kertas saring

- NaOH 10%

- Pereaksi molisch

- Asam sulfat pekat

- Asam asetat encer

- HCl
- BaCl2 2%

- Empedu

- HNO3 pekat

- Larutan sukrosa 5%

- Air suling dan minyak

D. SKEMA KERJA

1. AIR LIUR

a. Penetapan pH Air Liur

Air liur (yang tidak disaring)

- Dicelupkan indicator universal


- Dicocokkan warna indicator dengan standar warna pH
- Ditentukan pH air liur

Hasil (pH air liur)

b. Uji biuret
2 ml air liur (tidak disaring)

- Dimasukkan dalam tabung reaksi


- Ditambah 2 ml NaOH 10 %
- Ditambah 1 tetes larutan CuSO4
- Bila belum terbentuk warna lembayung, ditambah lagi 1 tetes
CuSO4 (maksimal 10 tetes)

Hasil (larutan warna


lembayung)

c.Uji Mollisch

2 ml air liur (tidak


disaring)

- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

- Ditambah 2 tetes pereaksi mollisch

- Tabung reaksi dimiringkan dan dialirkan dengan hati-hati

- Ditambah 2 ml asam sulfat pekat dari biuret melalui dinding


tabung sehingga tidak bercampur

Hasil (reaksi positif bila ada


cincin ungu pada batas antara
2 cairan)

d. Uji presipitasi
2 ml air liur (disaring)

- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

- Ditambah 1 tetes asam asetat encer

Hasil (ada atau tidak


presipitasi amorf)

e. Uji sulfat

1 ml air liur (disaring)

- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

- Ditambah 3-5 tetes HCl

- Ditambah 5-10 tetes BaCl2 2%

Hasil (ada endapan putih


menyatakan adanya sulfat)

2. EMPEDU
1. Sifat empedu

Empedu

- Diperhatikan dan dicatat sifat fisiknya

Hasil

 Uji Gmelin

3 ml HNO3 pekat

- Dimasukkan dalam tabung reaksi

- Dimiringkan tabung

- Dialirkan secara hati-hati 3 ml larutan empedu encer dari


dinding tabung
Hasil (warna-warna yang
terbentuk pada
pembatas antara kedua
cairan)

 Uji Pettenkofer

5 ml larutan empedu
encer
- Dimasukkan dalam tabung reaksi

- Ditambah 5 tetes larutan sukrosa 5 %

- Dimiringkan tabung

- Dialirkan dengan hati-hati dari dinding tabung 3 ml asam


sulfat
Hasil (2 lapisan pekat
cairan dan
cincin yang terbentuk)
-

 Fungsi empedu sebagai emulgator

3 ml air suling

- Dimasukkan dalam tabung reaksi I

- Ditambah satu tetes minyak

- Dikocok

Hasil (ada atau tidak


emulsi stabil)

3 ml air suling
- Dimasukkan dalam tabung reaksi II

- Ditambah satu tetes minyak

- Ditambah 3 ml larutan empedu encer dan dikocok

Hasil (ada atau tidak


emulsi stabil)

E. HASIL PENGAMATAN

Langkah kerja Hasil Pengamatan

AIR LIUR :

Penetapan pH air liur

- Dicelupkan sepotong indikator universal ke


dalam air liur yang tidak disaring.
- Dicocokkan warna pada indikator tersebut
dengan standar warna pH untuk indikator
tersebut. Ditentuksn pH air liur.

Uji Biuret + NaOH 10%


membentuk 2 fase diatas
- Dimasukkan 2 ml air liur yang tidak disaring ke
ada keruh (berbuih),
dalam tabung reaksi.
bawah jernih.
- Ditambahkan 2 ml NaOH 10 %. Dicampur
dengan baik. + 3 tetes CuSO4 = warna
menjadi warna biru.
- Ditambahkan setetes larutan CuSO4. Dicampur
dengan baik. Bila belum terbantuk warna
lembayung ditambahkan lagi setetes CuSO4
hingga maksimum 10 tetes.

Uji Mollisch

- Dimasukkan 2 ml air liur yang tidak disaring ke -Tebentuk 2fase diatas


dalam tabung reaksi. coklat kemerahan dan
- Ditambahkan 2 tetes pereaksi mollisch. dibawah putih kekeruhan
Dicampur dengan baik.
- Dimiringkan tabung reaksi lalu dialirkan dengan
hati-hati. Ditambah 2 ml asam sulfat pekat dari +H2SO4 terbentuk 3
buret melalui dinding tabung sehingga tidak lapisan paling atas coklat
bercampur. Reaksi positif diitandai dengan muda pekat, tengah
pembentukan cincin berwarna ungu pada batas kehijauan paling bawah
antara kedua lapisan cairan. bening.

Uji Presipitasi

- Dimasukkan 2 ml air liur yang disaring ke -larutan menjadi agak


dalam tabung reaksi. keruh
- Ditambahkan 1 tetes asam asetat encer.
Dicampur dengan baik. Diperhatikan dan
dicatat apakah ada presipitasi amorf terbentuk.

Uji Sulfat

- Dimasukkan 1 liter air liur yang disaring ke +HCl larutan agak putih
dalam tabung reaksi. keruh
- Ditambahkan 3-5 tetes HCl. +BaCl2 larutan lebih
- Ditambahkan 5-10 tetes BaCl2 2 %. Dicampur jernih
dengan baik.
- Diperhatikan dan dicatat apakah ada endapan
putih yang menyatakan adanya sulfat.

EMPEDU :

Sifat Empedu

- Diperhatikan dan dicatat sifat fisik empedu. Sifat fisik : warna hijau,
bentuk oval, lembek.

Uji Gmelin

- Dimasukkan 3 ml HNO3 pekat ke dalam tabung Terbentuk beberapa fase


reaksi. atas hijau, tengah coklat
- Dimiringkan tabung reaksi, lalu dengan pipet kemerahan dan bawah
dialirkan secara hati-hati 3 ml larutan bening
empeduencer melalui dinding tabung reaksi
sehingga kedua larutan tersebut tidak
bercampur.
- Diperhatikan warna-warna yang terbentuk pada
perbatasan antara kedua lapisan.

Uji Pettenkofer
Larutan terdiri dari 3 fase
- Dimasukkan 5 ml larutan empedu encer ke
bagian atas hijau, tengah
dalam tabung reaksi.
agak hitam dan bawah
- Ditambahkan 5 tetes larutan sukrosa 5 %.
bening coklat.
- Dimiringkan tabung reaksi lalu dialirkan dengan
hati-hati 3 ml asam sulfat pekat melalui dinding
tabung sehingga tebentuk 2 lapisan cairan.
Diperhatikan cincin yang terbentuk pada
perbatasan antara kedua lapisan.

Fungsi Empedu Sebagai Emulgator


- Air suling + minyak =
- Disediakan 2 tabung reaksi. Pada masing-
hasil emulsi tidak
masing tabung dimasukkan 3 ml air suling.
stabil/memisah
- Pada kedua tabung ditambahkan 1 tetes minyak.
(warnanya tidak
- Pada tabung kedua ditambahkan 3 ml larutan
tercampur sempurna).
empedu encer.
- Air suling + minyak +
- Dikocok kedua tabung. Dicatat dan diperhatikan
empedu = emulsi stabil
apakah terbentuk emulsi yang stabil.
(warna bercampur rata =
hijau tua).

F. ANALISIS DATA

Persamaan reaksi

 Reaksi Biuret

O O O

NH2 C NH C NH2 + NaOH NH2 C NH C NH2 + NH3

CuSO 4 + 2NaOH Na2SO 4 + Cu(OH) 2 (ungu di atas)


Uji Sulfat

Ba2+ + SO42- BaSO4 (mengendap)


H+

Reaksi Molisch
H O
CH2OH HCOH HCOH HCOH C O + H2SO4 C H +
O
furfural
OH
-naftol

SO3H

H2 C C OH
O

cincin ungu


Uji Presipitasi

Air liur + CH3COOH → mengendap (koagulasi)


Uji Gmelin
Bilirubin + HNO3 → kompleks kuning kemerahan

Uji Pattenkofer
Sukrosa + H2SO4 → hidroksometilfurfural
Hidroksimetilfurfural + cairan empedu → cincin ungu

Fungsi Empedu sebagai Emulgator
Garam-garam empedu + minyak → micelles
Micelles + air → larut

G. PEMBAHASAN

Pratikum kali ini,yaitu uji sifat fisik dan kimia cairan tubuh ( air liur dan
empedu ). Dalam praktikum ini kita menggunakan saliva dan empedu. Saliva
yang digunakan ada yang disaring dan tidak disaring. pH saliva sendiri dalam
tubuh manusia sekitar 7,0 (Ganong, 1995).

Saliva mempunyai pH antara 6,0-7,4. Suatu kisaran yang menguntungkan


untuk kerja pencernaan dari -amilase. Enzim ini bekerja secara optimal pada pH
6,6 (Guyton dkk, 1997). Amilase saliva mulai tidak aktif pada pH 4,0. Oleh
karena itu, setelah makanan ditelan dan masuk ke dalam lambung, proses
hidrolisis oleh enzim amilase saliva tidak berjalan lebih lama lagi.

Pada uji biuret pereaksi yang digunakan ada 2, yaitu NaOH dan CuSO 4.
uji dilakukan deangan menambahkan saliva kepada masing – masing pereaksi.
Percobaan yang pertama saliva ditambahkan dengan NaOH terbentuk lapisan
yang tidak b ercampur ( air liur berada diatas dan NaOH berada dibawah),
sedangkan pada saat ditambahkan CuSO4 membentuk gumpalan yang tidak saling
bercampur berwarna ungu violet, dalam hal ini CuSO4 membetuk kompleks
sebagai ion Cu2+ sehingga pada gumpalan tersebut berwarna ungu.

Pada uji Molisch, liur + pereaksi molisch larutan berwarna coklat,


kemudian ditambahkan asam sulfat pekat terbentuk 2 lapisan ( tidak bercampur ),
lapisan atas terdapat cincin ungu,sedangkan bawah berwarna bening. Prinsip
reaksi ini adalah dehidrasi senyawa oleh asam sulfat pekat. Uji positif jika timbul
cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil
furfural dengan a-naftol dalam pereaksi molish. (F:\biokimia\karbohidrat\uji-
kualitatif-karbohidrat.html).

Uji sulfat. Dalam pengujian kadar sulfat dalam saliva ini kami
mencampurkan 1ml air liur yang sudah diencerkan dengan HCl tujuanya untuk
mengasamkan air liur tersebut lalu ditambahkan BaCl2 . Belerang anorganik
merupakan bagian terbesar dari belerang teroksidasi (85-90 %) dan berasal
terutama dari metabolisme protein. Maka akan terbentuk endapan putih yang
menunjukkan adanya belerang anorganik, reaksi yang terjadi adalah :
BaCl2 + SO42- → BaSO4 + 2Cl-
Pada uji presipitasi, pada saat air liur ditambahkan dengan asam asetat
encer embentuk endapan putih, air liur disini mengandung enzim amilase, amilase
yang direaksikan dengan asam asetat encer akan membentuk endapan putih, asam
asetat encer mempunyai kemampuan mengikat air dari gugus pengikat
air,sehingga kelarutan amilum akan berkurang dan akan mengendap

Percobaan empedu, Pankreas ayam ditumbuk dalam mortar sampai halus,


kemudian ditambahkan sedikit air sehingga diperoleh ekstraknya. Ekstrak
pankreas ayam yang siap dipakai biasanya memiliki pH netral (pH=7). Secara
teori, cairan pankreas cenderung memiliki pH yang lebih basa yaitu 7,5-8,2
(Guyton dkk, 1997).

Percobaan selanjutnya yaitu uji gmelin dalam hal ini ekstrak empedu yang
kita buat digunakan pada percobaan ini, dapat dilihat bahwa pada penambahan
HNO3 pekat terhadap ekstrak empedu kedua larutan tersebut tidak bercampur,
terdapat berbagai macam warna, warna yang paling atas berwarna hijau, warna
hijau tersebut lama-lama akan berubah menjadi biru baru kemudian ungu, warna
ungu tersebut lama-lama akan berubah menjadi warna orange dan terakhir
berwarna putih. Perubahan warna ini terjadi karena HNO 3 berfungsi sebagai zat
pengoksidasi. Hal ini sesuai dengan teori bahwa pigmen empedu yang dioksidasi
oleh berbagai pereaksi akan menghasilkan suatu turunan yang berwarna
( Anonim, 2009).

Uji selanjutnya yaitu uji Pettenfoker, prinsipnya sama dengan uji gmelin
yaitu penambahan zat pengoksidasi kuat ( H 2SO4 ) pada ekstrak
empedu,perubahan warna tersebut disebabkan karena oksidasi pigmen tersebut.

Percobaan selanjutnya adalah untuk mengetahui fungsi empedu sebagi


emulgator. Disediakan 2 tabung reaksi,Pada tabung pertama diisi air dan minyak
sedangkan pada tabung ke 2 diisi air + minyak + emoedu encer. Dari hasil
pengamatan tabung pertama dapat dilihat pada saat air ditetesi minyak, larutannya
tidak bercampur, hal ini disebabkan karena air dan minyak mempunyai perbedaan
massa jenis yang sangat besar, sehingga air dan minyak tidak dapat bercampur.
Sedangkan pada tabung 2 air yang ditetesi minyak ditambahkan cairan empedu.
Dari hasil pengamatan dapat dilihat butiran minyak bertambah banyak dan kecil
ukurannya semakin lama minyak dan air saling bercampur, dalam hal ini cairan
empedu berfungsi sebagai emulgator dalam proses pencernaan lemak. Minyak
merupakan ester asam lemak jenuh. Pada proses pembentukan emulsi ini bagian
yang hidrofob atau tidak suka air masuk kedalam lemak, sedangakan ujung yang
bermuatan negatif ada dibagian luar. Oleh karena adanya gaya tolak muatan listrik
negatif ini, maka akan terbentuk butiran-butiran minyak yang bertambah banyak
menjadi partikel-partikel kecil ( Poedjadi, 2007)

Kondisi pH dapat mempengaruhi aktivitas enzim melalui pengubahan


stuktur atau pengubahan muatan pada residu yang berfungsi dalam pengikatan
substrat atau katalis. Sebagai contoh, enzim bermuatan negatif (Enz-) bereaksi
dengan substrat bermuatan positif (SH+) :
Enz- + SH+  EnzSH

Pada pH yang rendah, Enz- mengalami protonasi dan kehilangan muatan


negatifnya (enzim dinetralisir) :
Enz- + H+  EnzH
Sedangkan, pada pH yang tinggi, SH+ mengalami ionisasi dan kehilangan
muatan positifnya (substrat dinetralisir) :
SH+  S + H+
Karena (berdasarkan definisi) satu-satunya bentuk yang mengadakan interaksi
adalah SH+ dan Enz-, nilai pH yang ekstrim (tinggi ataupun rendah) akan
menurunkan kecepatan reaksi.

G. KESIMPULAN


Sifat fisik dan kimia air liur dapat diidentifikasi melalui uji biuret, uji
molisch, uji presipitasi, dan uji sulfat.


Uji biuret pada air liur menghasilkan endapan berwarna ungu yang
merupakan kompleks Cu2+

Uji positif pada reaksi molisch jika timbul cincin merah ungu yang
merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural
dengan a-naftol dalam pereaksi molish.


Uji presipitasi pada air liur menghasilkan endapan putih,diakibatkn
karena asam asetat encer mempunyai kemampuan mengikat air dari
gugus pengikat air,sehingga kelarutan amilum akan berkurang dan akan
mengendap


Uji sulfat pada air liur menghasilkan larutan keruh akibat penambahan
HCl

dan membentuk gumpalan dengan penambahan BaCl2.


Cairan pankreas cenderung memiliki pH yang basa yaitu 7,5 – 8,2


uji Pettenfoker, prinsipnya sama dengan uji gmelin yaitu penambahan
zat pengoksidasi kuat ( H2SO4 ) pada ekstrak empedu,perubahan warna
tersebut disebabkan karena oksidasi pigmen tersebut.


H.NO3 dan H2SO4 berfungsi sebagai agen pengoksidasi yang dapat
menghasilkan suatu turunan yang berwarna


Minyak dan air tidak dapat bercampur karena perbedaan massa jenis
diantara keduannya


Empedu mempunyai sifat sebagai emulgator
MENETAPKAN KADAR
KOLESTROL

MENETAPKAN KADAR KOLESTROL

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan : Menentukan kadar kolesterol tinggi dan rendah
2. Hari, tanggal : Selasa, 11 Mei 2010
3. Tempat : Laboratorium Kimia Dasar FMIPA UNRAM

B. LANDASAN TEORI
Salah satu kelompok senyawa organic yang terdapat dalam tubuh,hewan
atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia adalah lipid. Lipid
dapat dibagi dalam beberapa golongan berdasarkan kemiripan sruktur
kimiawinya, yaitu: asam lemak, lemak,lilin, fosfolipid, terpen, steroid, dan lipid
kompleks. Beberapa senyawa penting yang termasuk dalam golngan steroid adalh
kolesterol (Poedjadi, 2007).
Kolesterol adalah sterol utama yang banyak terdapat di alam. Untuk
mengetahui adanya sterol dan kolesterol, dapat dilakukan uji kolesterol dengan
mengggunakan reaksi warna. Salah satu diantaranya adalah reaksi Liebermen
Burchard. Uji ini positif bila reaksi menunjukkan warna yang berubah dari merah,
kemudian biru, dan hijau. Warna hijau yang tejadi sebanding dengan konsentrasi
dalam bahan (Yazid, 2006).

Reduksi asam empedu merupakan salah satu faktor yang mampu


menurunkan kolesterol.Senyawa pembentuk asam empedu adalah kolesterol.
Kolesterol tubuh dibuang melalui dua jalur utama yaitu dengan mengubah
koleterol menjadi asam empedu dan melalui katabolisme mejadi hormon-hormon
steroid maupun pembentukan neutural sterol seperti kalestanon dan caposterol.
Perubahan kolesterol ke asam empedu merupakan perubahan yang bersifat siklis,
karena perubahan koleterol menjadi asam empedu akan diserap kembali oleh hati
dan diubah menjadi kolestrol, akibanya konsentrasi kolesterol dalam tubuh tidak
akan berkurang ( Seeley et, 2000).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat – alat
 Tabung reaksi
 Tutup tabung reaksi
 Alat Vortex Mixer
 Pipet tetes
 Pipet volum 5 ml
 Penangas air
 Alat spektrofotometer
 Kuvet

2. Bahan – bahan
 Alcohol absolute
 Serum konsentrasi tinggi dan rendah
 Petroleum benzin
 Aquades
 Colour reagen
 Asam asetat glacial
 Asam sulfat pekat
 Larutan kolestrol standar

D. SEKEMA KERJA
1. Uji sampel
2,5 ml alcohol (2 tabung reaksi)
+ 0,1 ml serum tinggi (tbg 1)
+ 0,1 ml serum rendah (tbg 2)
Kocok
Hasil
+ 5 ml peteoleum benzin
Campur dengan vortex mixer
30 detik
Hasil
+ 3 ml aquades
Kocok 10 – 15 detik
Diambil lapisan atas
Hasil
Lapisan atas (tabung reaksi)
Uapkan (penangas air 80oC)
→ larutan tinggal sedikit
Biarkan mengering diudara
Hasil
+ 4 ml colour reagen encer
Masukan (penangas air)
Dinginkan
Hasil
+ 3 ml H2SO4 pekat
2 lapisan
Kocok dengan vortex mixer
Diamkan (ruangan gelap) 30
menit
Hasil
Ukur A dan %T pada λ = 560
nm
Hasil

Blangko
4 ml CH3COOH glasial
(tabung reaksi)
+ 3 ml H2SO4 pekat
2 lapisan
Kocok dengan vortex mixer
Diamkan (ruangan gelap) 30
menit
Hasil
Ukur A dan %T pada λ = 560
nm
Hasil

2. Kurva kalibrasi
3 tabung reaksi
+ 0,5 ml, 1 ml, 2 ml
kolesterol pada masing-
tabung
Uapkan (penangas air 80oC)
Larutan kolesterol standar
125 mg %, 250 mg %, 500 mg %
+ 4 ml colour reagen encer
Masukan (penangas air)
Dinginkan
Hasil
+ 3 ml H2SO4 pekat
2 lapisan
Kocok dengan vortex mixer
Diamkan (ruangan gelap) 30
menit
Hasil
Ukur A dan %T pada λ = 560
nm
Hasil

Blangko masing – masing standar koesterol


4 ml CH3COOH glasial
(tabung reaksi)
+ 3 ml H2SO4 pekat
2 lapisan
Kocok dengan vortex mixer
Diamkan (ruangan gelap) 30
menit
Hasil
Ukur A dan %T pada λ = 560
nm
Hasil

E. HASIL PENGAMATAN
1) Serum konsentrasi tinggi

NO Langkah kerja Hasil pengamatan


A Uji sampel
1 Tabung reaksi sampel (S) + Putih keruh, ada endapan
0,1 ml serum, dikocok
2 + 5 ml petroleum benzin Terdapat 3 lapisan = putih (bawah),
putih agak bening (tengah), bening
3 Campur dengan vortex mixer (atas)
30 detik Terdapat 3 lapisan = putih (bawah),
4 + 3 ml aquades, disentrifugasi putih agak bening (tengah), bening
(atas)
5 Ambil lapisan atas Terbentuk 2 lapisan = putih keruh
6 Uapkan 80oC (bawah), bening (atas)
7 + 4 ml colour reagent
8 Ambil tabung lain untuk Larutan menguap dan larutan
blangko (B) dan masukan 4 ml tinggal sedikit
9 asam asetat glasial Tidak ada perubahan
Masukan tabung (S) dalam
10 penangas air, dinginkan
+ 3 ml H2SO4 pekat dalam Tidak ada perubahan
tabung S dan B, dimiringkan
Larutan menjadi agak kecoklatan,
terdapat 2 lapisan, atas bening dan
11 bawah kecoklatan
12 Kocok dengan vortex mixer Untuk blangko , atas pink dan
Diamkan tabung S dan B bawah bening
13 dalam ruangan gelap selama
30 menit
Ukur A dan % T larutan S dan
B pada λ = 560 nm
Absorban
Blangko = 0,128 % Transmitan
Sampel = 0,071 73,6 %
084,1 %

2) Serum konsentrasi rendah

NO Langkah kerja Hasil pengamatan


A Uji sampel
1 Tabung reaksi sampel (S) + Putih keruh, ada endapan
0,1 ml serum, dikocok
2 + 5 ml petroleum benzin Terdapat 3 lapisan = putih
(bawah), putih agak bening
3 Campur dengan vortex mixer (tengah), bening (atas)
30 detik Terdapat 3 lapisan = putih
4 + 3 ml aquades, disentrifugasi (bawah), putih agak bening
(tengah), bening (atas)
Terbentuk 2 lapisan = putih
5 Ambil lapisan atas keruh (bawah), bening (atas) dan
6 Uapkan 80oC aa endapan di bagian tengah
7 + 4 ml colour reagent
8 Ambil tabung lain untuk Larutan menguap dan larutan
blangko (B) dan masukan 4 ml tinggal sedikit
9 asam asetat glasial Tidak ada perubahan
Masukan tabung (S) dalam
10 penangas air, dinginkan
+ 3 ml H2SO4 pekat dalam Tidak ada perubahan
tabung S dan B, dimiringkan
Larutan menjadi agak
kecoklatan, terdapat 2 lapisan,
11 atas bening dan bawah
12 Kocok dengan vortex mixer kecoklatan
Diamkan tabung S dan B Untuk blangko , atas pink dan
13 dalam ruangan gelap selama bawah bening
30 menit
Ukur A dan % T larutan S dan
B pada λ = 560 nm
Absorban
Blangko = 0,128
Sampel = 0,061 % Transmitan
73,6 %
086,9 %

3) Kurva kalibrasi

No Langkah kerja Hasil pengamatan


1 3 tabung diisi masing – Tabung 1. Terlihat endapan
masing 0,5 ml, 1 ml, dan 2 bening
ml larutan kolesterol standar 2. Terlihat endapan
2 0,05 mg/ml petroleum benzin bening
Uapkan sampai kering dalam 3. Terlihat endapan
penangas air (80oC) sisanya bening
diuapkan pada suhu kamar
Kadar kolesterol;
Tabung 1 ; 125 mg %
Tabung 2 ; 250 mg %
3 Tabung 3 ; 500 mg %
+ 4 ml colour reagent

Tabung 1. Buihnya paling sedikit


dan bening
Tabung 2. Buihnya lebih banyak
4 dari tabung 1
5 Ambil tabung lain untuk Tabung 3. buihnya paling banyak
6 blangko (B) dan agak keruh
+ 4 ml colour reagent
7 Masukan tabung S dala
penangas air, dinginkan Semua larut dan berwarna bening
+ 3 ml H2SO4 pekat dalam
8 tabung S dan B, dimiringkan Blangko + H2SO4 terdapat 2
9 lapisan, lapisan atas berwarna
Kocok dengan vortex mixer pink dan lapisan bawah berwarna
10 Diamkan tabung S dan B bening
dalam ruang gelap selam 30 Tabung S ; terdapat 2 lapisan
menit
Ukur A dan % T larutan S
dan B pada λ = 560 nm
Absorban
Tabung 1; 0,052 % transmitans
Tabung 2; 0,051 88,7 %
Tabung 3; 0,051 88,6 %
88,7 %

F. ANALISIS DATA

1) Tabel Kurva Kalibrasi

ABSORBAN(A) KONSENTRASI(C)

0,051 125mg%

0,052 250mg%

0,052 500mg%
Absorban(A) kolesterol rendah = 0,061

Absorban(A) kolesterol tinggi = 0,071

2) Kurva Kalibrasi dan penentuan kadar kolesterol

0,071

0,061

0,052
0,051

125 250 500 1500 2625 C


Dari kurva diperoleh konsentrasi kolesterol pada:Serum kolesterol rendah = 1500mg
%

1) Serum Kolesterol tinggi = 2625mg%

G. PEMBAHASAN

Praktikum kali ini bertujuan unuk menetapkan kadar koleterol.


Kolesterol sendiri merupakan turunan steroid yang banyak terdapat pada
hewan dan manusia.Batu kantung empedu dan kuning telur merupakan
sumber yang kaya akan senyawa ini. Kolesterol merupakan senyawa yang
berguna dalam biosintesis hormone steroid, namun senyawa ini tidak
diperbolehkan dari luar tubuh dari asetil koenzim A (Anonim, 2009).

Pada percobaan pertama yaitu uji sampel. Sampel yang digunakan pada
percobaan ini ada 2 yaitu: kolesterol tinggi dan kolesterol rendah. Pengujian
untuk kolesterol tinggi dan rendah sama, tahap pertama yaitu alcohol absolut
ditambahkan serum menghasilkan laruatn yang agak keruh, hal ini
disebabkan karena alcohol absolut berfungsi sebagai pelarut yang mudah
menguap dan besifat polar, sedangkan molekul kolesterol dibagian kepala
pada posisi 3 memiliki struktur hidroksil yang bersifat polar (Lehninger,
1990). Diaman senyawa polar akan larut pada senyawa polar juga , sehingga
dari hasil pengamatan menunujukkan larutan yang agak keruh. Setelah
penambahan alcohol absolut, kemudian ditambahkan petroleum benzin, dan
tutup tabung reaksi, hal ini disebabkan karena petroleum benzin bersifat non
polar dan mudah menguap sehingga tabung eraksi harus dalm keadaan
tertutup. Dari hasil pengamatan dapat dilihat setelah penambahan petroleum
benzin terdapat 3 lapisan putih (bawah), putih agak bening (tengah), bening
(atas). Molekul kolesterol yang bersifat polar akan bereaksi dengan
alkokohol absolut, sedangkan molekul yang bersifat non polar akan bereaksi
dengan petroleum benzin. Setelah itu ditambahkan aquades sebelum dikocok
terdapat dua lapisan saja yaitu pada bagian atas berwarna bening dan bagian
bawahnya keruh terdapat endapan. Hal ini disebabkan karena aquades
bersifat polar akan bercampur dengan alcohol absolut dan molekul kolesterol
yang bersifat polar juga. Setelah itu ambil larutan yang terdapat pada bagian
atas yang merupakan petroleum benzin, hal ini dapat diketahui dari
perbedaan massa jenis, massa jenis air lebih besar dari petrolim benzin
sehingga molekul air berada di bawah, dan juga air akan menguap pada suhu
100ºC sehingga dapat dipastikan larutan yang terdapat diatas merupakan
senyawa petroleum benzin. Larutan tersbut dipanaskan pada suhu 80ºC. Dari
hasil pengamatan tidak terjadi perubahan apapun hanya saja larutan
berkurang akibat proses penguapan.

Larutan kemudian ditambahkan colour reagent, untuk kolesterol rendah


terdapat sedikit gelembung dan sedikit gel, sedangkan untuk kolesterol
tinggi terdapat Kristal yang tak berwarna, berasa, berbau dan mempunyai
titik lebur 150-151ºC (Poedjadi, 2007).

Selanjutnya larutan tersebut diatambahkan H2SO4, dari hasil


pengamatan dapat dilihat terdapat cincin orange kecokelatan, hal ini
disebabkan karena H2SO4 berfungsi sebagai kompleks warna. Setelah itu
larutan kemudian disimpan pada ruang gelap untuk diukur pada uv vis.
Penyimpanan pada ruang gelap bertujuan untuk mencegah flouresensi,
dimana larutan yang akan diukur tersebut tidak boleh terkena sinar, karena
akan mempengaruhi hasil absorban pada saat pengukuran. Pengukuran
dilakuka pada panjang gelombang 560 nm.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data;untuk uji sampel Pada


serum konsentrasi tinggi diperoleh nilai Absorban untuk blangko = 0,128
sampel = 0,071 dan % transmitan untuk blangko = 73,6 % sampel 084,1%
untuk serum konsentrasi rendah nilai absorban blangko 0,128 sampel =
0,061 dan % transmitans untuk blangko 73,6 % sampel 086,9 % untuk kurva
kalibrasi absorban tabung 1 = 0,052 tabung 2 = 0,051 tabung 3 0,051 dan %
transmitan tabung 1 = 88,7 % tabung 2 = 88,6 % tabung 3 = 88,7 %.
H. KESIMPULAN

 Kolesterol adalah sterol utama yang banyak terdapat di alam. Untuk


mengetahui adanya sterol dan kolesterol, dapat dilakukan uji kolesterol
dengan mengggunakan reaksi warna. Salah satu diantaranya adalah reaksi
Liebermen Burchard.

 Fungsi penambahan alcohol absolut yaitu sebagai pelrut yang bersifat


polar.

 fungsi dari penambahan asam asetat glasial adalah untuk melarutkan


kolestrol dan penambahan asam sulfat adalah untuk membentuk kompleks
berwarna.

 Pada serum konsentrasi tinggi diperoleh nilai Absorban untuk blangko =


0,128 sampel = 0,071 dan % transmitan untuk blangko = 73,6 % sampel
084,1% untuk serum konsentrasi rendah nilai absorban blangko 0,128
sampel = 0,061 dan % transmitans untuk blangko 73,6 % sampel 086,9 %
untuk kurva kalibrasi absorban tabung 1 = 0,052 tabung 2 = 0,051 tabung 3
0,051 dan % transmitan tabung 1 = 88,7 % tabung 2 = 88,6 % tabung 3 =
88,7 %.
FAKTOR – FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KERJA
ENZIM ( PENGARUH SUHU
DAN pH TERHADAP
AKTIVITAS ENZIM)

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KERJA ENZIM ( PENGARUH SUHU DAN pH
TERHADAP AKTIVITAS ENZIM)

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan : Untuk mengetahu aktivitas enzim ( pengaruh suhu
dan pH )
2. Hari, tanggal : selasa, 18 Mei 2010
3. Tempat : Laboratorium Kimia Dasar FMIPA UNRAM

B. LANDASAN TEORI
Saliva adalah cairan yang lebih kental daripada air biasa. Tiap hari sekitar
1-1,5 liter saliva dikeluarkan oleh kelenjar saliva. Kelenjar saliva yang utama
adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis. Selain itu juga ada
beberapa kelenjar bukalis yang kecil (Ganong, 1995).

Saliva juga merupakan sarana untuk mengekskresikan obat-obat tertentu


(misalnya etanol dan morfin), ion-ion organik seperti K+, Ca2+, HCO3-, tiosianat
(SCN-) serta yodium dan imunoglobin (IgA). (Murray, Granner, 1999).Nilai pH
saliva biasanya berkisar sekitar 6,8, kendati dapat bervariasi pada salah satu dari
kedua sisi netralitas tersebut. (Murray, Granner, 1999 )

Seperti protein pada umumnya, struktur ion enzim tergantung pada pH


lingkungannya. Enzim dapat berbentuk ion positif, ion negatif atau ion bermuatan
ganda ( zwitter ion ). Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan
berpengaruh terhadap efektivitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks
enzim substrat. Disamping pengaruh terhadap struktur ion pada enzim, pH rendah
atau tinggi dapat pula menyebabkan terjadinya proses denaturasi dan ini akan
mengakibatkan aktivitas enzim ( poedjadi,1994 )

Katalisator mempercepat reaksi kimia, mengalami perubahan selama


reaksi, tetapi berubah kembali kepada keadaan semula setelah reaksi-reaksi
selesai. Enzim merupakan biokatalisator yang bekerja spesifik. Aktivitas katalis
yang dimiliki enzim merupakan alat ukur yang selektif dan sensitif terhadap
aktivitas enzim. Aktivitas enzim dapat diamati dari sisa substrat, pH, suhu, dan
indikator. Aktivitas enzim dapat diamati dari sisa substrat atau produk yang
terbentuk. Faktor yang mempengaruhi pengukuran aktivitas enzim antara lain
konsentrasi enzim dan substrat, suhu, pH, dan indikator. Aktivitas enzim
meningkat bersamaan dengan peningkatan suhu, laju berbagai proses metabolisme
akan naik sampai batasan suhu maksimal. Prinsip biologis utama adalah
homeostatis, yaitu keadaan dalam tubuh yang selalu mempertahankan keadaan
normalnya. Perubahan relatif kecil saja dapat mempengaruhi aktivitas banyak
enzim. Adanya inhibitor non kompetitif irreversibel dan antiseptik dapat
menurunkan aktivitas enzim ( Hawab,2003 )

C. ALAT DAN BAHAN


A. Alat

 Spektrofotometer
 Tabung reaksi dan rak

 Beaker glass

 Erlenmeyer

 Pipet volume

 Termometer

 Penangas air

 Pipet tetes

 Air es

Bahan:

 Saliva
 Larutan pati

 Larutan Iodium

 Larutan dengan pH 3, 5, 9, dan 11

D. SKEMA KERJA
a. Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim

Air liur
Encerkan
Air liur encer

4 pasang tabung (0o, suhu ruang, 60o, 100o)


Tabung uji blangko
+ larutan pati 1 ml + larutan pati 1
ml
+ liur encer 100X + liur encer
200X
Keram 1 menit Keram 1 menit
+ 1 ml larutan iodine + 1 ml larutan
iodin
+ 8 ml aquades + 8 ml aquades
Hasil Hasil

b. Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim


Air liur
Encerkan
Air liur encer

4 pasang tabung pH (3, 5, 9, 11)


Tabung uji
+ larutan pati 1 ml dalam
berbagai pH
Keram pada suhu 37oC 5
menit
+ 200 ml liur encer
+ 1 ml larutan iodine
+ 8 ml aquades
Hasil

Tabung uji
+ larutan pati 1 ml dalam
berbagai pH
Keram pada suhu 37oC 5
menit
Keram 1 menit
+ 1 ml larutan iodine
+ 8 ml aquades
Hasil
Baca absorban pada λ 680 nm

E. HASIL PENGAMATAN

1. Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim

No Cara kerja Hasil pengamatan


A Pengaruh suhu terhadap
aktivitas enzim
1 Liur diencerkan 100x Liur encer
2 Tabung 1: 0oC
Tabung B Kurang bening dan endapan
Tabung U lebih sedikit
3 Tabung 2: suhu kamar Lebih bening dan endapan lebih
Tabung B banyak

Tabung U Keruh putih, ada endapan putih


didasar tabung
4 Tabung 3: 60oC Lebih jernih, ada endapan putih
Tabung B didasar tabung
Tabung U
5 Tabung 4: 100oC Endapan putih, larutan ungu
Tabung B + iodium kehitaman
Tabung U + iodium Larutan bening kekuningan

Biru tua pekat


Biru jernih

Suhu A uji A blangko


0oC 0,07 0,104
Suhu ruang 0,082 0.209
60oC 0,1 0,279
100oC 1,064 2,500

2. Penagruh pH terhadap aktivitas enzim

No Cara kerja Hasil pengamatan


A Ph 3
1 Tabung B
 Panaskan 37oc Terbentuk 2 fase: atas larutan
bening, bawah endapan putih
 + Iodium Larutannya berubah dari bening
menjadi biru tua
 + Air Suling Tidak terjadi perubahan
2 Tabung U
 Panaskan 37oc Terbentuk 2 fase: atas larutan
bening, bawah endapan putih
 + air liur Pada larutan ada endapan yang
 + Iodium melayang
Larutan berubah menjadi biru
 + Air Suling tua, ada endapan putih melayang
Terdapat 3 lapisan, atas biru
pH 5 muda, tengah biru tua, dan
1 Tabung B bawah endapan.

2 Tabung U Wwarna ungu kehitaman dan


terdapat endapan putih
Endapan putih dan larutan
pH 9 bening sedikit kekuningandan
1 Tabung B terdapat warna ungu diantaranya

2 Tabung U Terdapat 2 lapisan : atasnya


larutan ungu kehitaman,
pH 11 bwahnya endapan putih
1 Tabung B Terdapat 2 lapisan: atasnya
bening keunguan, bawah
2 Tabung U endapan putih

Terdapat 2 lapisan : atasnya


larutan ungu kehitaman,
bwahnya endapan putih
Terdapat 3 lapisan: dari atas
samapi bawah berturut- turut
yaitu: bening keunguan, biru
keunguan, endapan putih

pH A uji A blangko
3 2,470 1,363
5 0,165 2,500
9 0,107 0,161
11 0,087 0,101

a. ANALISIS DATA
4. Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim

Suhu A uji A blangko ∆A/menit


(v)
0oC 0,169 0,122 0,047
Suhu ruang 0,448 0,363 0,085
60oC 2,096 1,009 0,997
100oC 2,5 1,736 0,764

5. Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim

pH A uji A blangko ∆A/menit


(v)
3 2,5 2,5 0
5 2,5 1,06 0,144
9 2,5 0,23 2,27
11 0,14 0,09 0,05
Kurva hbungan antara kecepatan reaksi enzim dengan suhu

Kurva hubungan antara kecepatan reaksi enzim dengan pH

G. PEMBAHASAN
Sumber enzim -amilase yang digunakan dalam penelitian ini adalah saliva.
Secara umum enzim -amilase terdapat pada tanaman, jaringan mamalia, dan
mikroba (Winarno, 1986)..sumber enzim tersebut memiliki karakteristik dan
lingkungan kerja yang berbeda sehingga berbeda pula kemampuannya dalam
menghidrolisis pati.

Faktor - faktor yang sangat penting dalam menentukan aktivitas


enzimatik adalah suhu dan pH. suhu optimum enzim biasanya hampir sama
dengan suhu organisme asal enzim tersebut.Yazid dkk (2006). Pada mamalia dan
unggas, suhu tersebut berada di sekitar 37oC. Proses hidrolisis pati dengan sumber
enzim -amilase dari pankreon juga dilakukan pada suhu 37-38o C, menyesuaikan
suhu tubuh manusia. Sedangkan Pengaruh pH pada aktivitas enzim, Secara umum
enzim -amilase bekerja optimal pada pH 6,6 (Guyton, 1997). Sebagai produk
makhluk hidup, secara teori selalu ada kemungkinan dari pengaruh pH terhadap
aktivitas biologis dari enzim Sadikin (2002).

percobaan yang pertama kami lakukan adalah pegaruh suhu terhadap


aktaivitas enzim. Sebelumnya kami mengumpulkan air ludah atau liur terlebih
dahulu. Penambahan air liur pada pati di awal sebelum proses ini berfungsi
sebagai enzim yang akan mengkatalisis proses hidrolisa senyawa pati, karena pada
air liur terdapat enzim amylase yang akan mengubah amilum menjadi maltosa,
dan pati merupakan amilum. Amylase pada air ludah ini juga sering disebut
dengan enzim ptialin. Proses perubahan amilum menjadi maltosa merupakan
hidrolisis. Bila amilum ditambahkan air liur (amilase) maka molekul-molekulnya
akan terhidrolisis manjadi maltosa dengan BM 360 dan glukosa. Amilosa
merupakan suatu polimer linear yang terdiri dari unit-unit D-glukosa dalam ikatan
1,4 glukosida. Berbeda dengan amilopektin, amilosa merupakan suatu
polisakarida yang bercabang dan terdiri dari unit-unit D-glukosa dalam ikatan.

Dari hasil percobaan pada suhu 0o C tejadi aktivitas enzim,yaitu ditandai


dengan perubahan warna pada tabung uji dengan terbentuknya 3 warna,pada suhu
ini seharusnya enzim berada dalam keadaan tidak aktif,sehingga keja enzim disini
seharusnya sama sekali tidak ada. Hal ini juga sebenarnya dipengaruhi oleha
faktior pengenceran,karena semakin tinggi pengenceran maka semakin menurun
pula aktivitas enzim ( kecepatan reaksi enzim ). Selanjutnya dilakukan uji pada
suhu ruang,aktivitas enzim pada suhu ini dapat dikatakan normal atau tidak terjadi
perubahan warna,hal yang dapat mempengaruhi adalah kondisi lingkungan yang
kadang tidak sesuai dengan suhu ruang ( 28o C ), kemudian pada suhu 60o c,sama
halnya dengan suhu ruang tidak terjadi perubahan pada larutan. Pada kondisi ini
sebagian enzim terdenaturasi. apabila terjadi proses denaturasi, maka bagian aktif
enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim akan
berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun. Ini berarti pada suhu 60o C
bukanlah temperatur yang optimal untuk membuat enzim amylase bekerja dengan
baik dalam membantu reaksi hidrolisis

Pada suhu yang lebih tinggi ( 100 o C ), gerak termodinamik akan lebih
meningkat sehingga benturan antar molekul akan lebih sering. Namun molekul
protein juga mengalami denaturasi, sehingga bangun tiga dimensinya berubah
secara bertahap. Akibatnya kompleks ES akan sukar terbentuk sehingga produk
juga makin sedikit. Kecepatan reaksi enzimatik akan meningkat seiring dengan
peningkatan suhu sampai batas optimum. Setelah melewati suhu optimum, maka
kecepatan reaksi enzimatik akan kembali menurun. Suhu optimum enzim amilase
yang terdapat pada saliva adalah 37oC, sama dengan suhu normal tubuh.

Suhu penangas air selama proses uji sebenarnya perlu dijaga agar tetap
stabil pada kisaran 37-38o C.,sebab berpengaruh terhadap laju reaksi. Diluar suhu
optimum laju reaksi enzimatis selalu lebih rendah, Makin besar perbedaan suhu
reaksi dengan suhu optimum, makin rendah laju reaksi.

Percobaan 2, yaitu Pengaruh pH pada aktivitas enzim, Secara umum enzim


-amilase bekerja optimal pada pH 6,6 (Guyton, 1997). Sebagai produk makhluk
hidup, secara teori selalu ada kemungkinan dari pengaruh pH terhadap aktivitas
biologis dari enzim Sadikin (2002).Dalam lingkungan pH optimum, protein enzim
mengambil struktur tiga dimensi yang sangat tepat sehingga ia dapat mengikat
dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. Di luar pH
optimum tersebut, struktur tiga dimensi enzim mulai berubah, sehingga substrat
tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah
substrat. Akibatnya proses katalisis berjalan tidak optimum.

Dapat dilihat bahwa enzim amilase saliva memiliki pH optimal pada pH 7,


Namun Pada kurva yang diperoleh melalui percobaan didapat pada pH 9, karena
pada pH ini diperoleh aktivitas enzim yang tinggi (kecepatan reaksi enzimatik
tinggi). Umumnya, kecepatan reaksi enzimatik meningkat hingga mencapai pH
optimal dan menurun setelah pH lebih besar dari pH optimal. 3 dan 5, aktivitas
enzim masih ada, tetapi kecil (ditunjukkan oleh kecepatan reaksi enzimatik yang
kecil pula). Hal ini disebabkan pada pH kurang dari 4, enzim amilase saliva
menjadi tidak aktif. Pada pH 9 dan 11, aktivitas enzim menurun karena telah
terlewati pH optimal dari enzim tersebut.

H. KESIMPULAN

 Kecepatan reaksi enzimatik akan meningkat seiring dengan peningkatan suhu


sampai batas optimum. Setelah melewati suhu optimum, maka kecepatan
reaksi enzimatik akan kembali menurun. Suhu optimum enzim amilase
salivarius adalah 37OC, sama dengan suhu normal tubuh.
 Kecepatan reaksi enzimatik akan meningkat seiring
dengan peningkatan suhu sampai batas optimum. Setelah melewati suhu
optimum, maka kecepatan reaksi enzimatik akan kembali menurun. Suhu
optimum enzim amilase yang terdapat pada saliva adalah 37 oC, sama
dengan suhu normal tubuh.
 Enzim memiliki aktivitas maksimal pada pH optimumnya
(pH optimum enzim amilase saliva adalah 7. Penurunan atau kenaikan pH
akan mempengaruhi aktivitas enzim.

 Berdasarkan kurva Enzim memiliki aktivitas maksimal


pada suhu 60o C

 Berdasarkan kurva Enzim memiliki aktivitas maksimal


pada ph 9
PERCOBAAN PROTEIN

PERCOBAAN PROTEIN

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan : Memprlihatkan bahwa sebagai makromolekul
yang larut dalam bentuk larutan koloid, protein
dapat dipisahkan dari satu dan yag lain dengan
cara pengendapan dan bahan dan pereaksi
2. Hari, tanggal : Selasa, 26 Mei 2010
3. Tempat : Laboratorium kimia Dasar FMIPA Universitas
Mataram.

B. LANDASAN TEORI

Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang
paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi
yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang
dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein
mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur
serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel
makhluk hidup dan virus (Wikipedia, 2007).
Protein merupakan suatu zat makanan yang sangat penting bagi
tubuh karena zat ini berfungsi sebagai sumber energi dalam tubuh serta
sebagai zat pembangun dn pengatur. Protein adlaah polimer dari asam
amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida. Molekul protein
mengandung unsur-umsur C, H, O, N, P, S, dan terkadang mengandung
unsur logam seperti besi dan tembaga (Winarno, 1992).
Sebagian besar ilmu kimia organisme hidup menyangkut 5
golongan senyawa utama, yaitu: karbohidrat, lipida, mineral, asam nukleat
dan protein. Protein menentukan kebanyakan sifat-sifat yang ditemukan
dalam kehidupan. Protein menentukan metabolisme, membentuk jaringan
dan membertikan kemungkinan bagai kita untuk bergerak. Protein juga
berfungsi mengangkut senyawa-senyawa dan melindungi kita dari
penyebaran mikroorganisme yang merugikan. Bahkan sifat-sifat yang
diturunkan oleh suatu organisme untuk membentuk bermacam-macam
jenis protein dengan kecepatan yang berbeda (Ophart. 2003).
Selain itu proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan
baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis.
Di samping itu hemoglobin dalam butir darah merah (eritrosit) yang
berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh
adalah salah satu jenis protein (Riawan, 1990).
Di dalam darah, serum (bahasa Inggris: blood serum) adalah
komponen yang bukan berupa sel darah, juga bukan faktor koagulasi;
serum adalah plasma darah tanpa fibrinogen, (bahasa Latin: serum) berarti
bagian tetap cair dari susu yang membeku pada proses pembuatan keju.
Serum terdiri dari semua protein (yang tidak digunakan untuk pembekuan
darah) termasuk cairan elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan semua
substansi exogenous. Rumusan umum yaitu: serum = plasma - fibrinogen -
protein faktor koagulasi (Adkins. 2002).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat-alat
 Tabung reaksi
 Pipet tetes
 Kertas saring
 Corong
 Gelas kimia

2. Bahan-bahan
 Serum darah ayam
 Larutan amoniumsulfat jenuh
 Larutan NaOH 10%
 Larutan CuSO4 0,1%
 Larutan uji biuret
 Larutan albumin telur
 Etanol absolute
 Larutan NaOH encer
 Larutan CuSO4
D. SKEMA KERJA
1. Pengendapan protein dengan larutan garam konsentrasi tinggi
(salting out)
2 ml serum darah ayam (tabung reaksi)
+ 2 ml amonium sulfat (tetes
dami tetes)
Hasil
Saring endapan
Endapan dan filtrate
Lakukan uji biuret
Hasil

2. Pemisahan protein dengan etanol absolute


Tabung 1
+ 2 ml serum darah ayam
+ 2 ml etanol absolute
Hasil
Saring endapan
Endapan dan filtrate
Lakukan uji biuret
Hasil

Tabung 2 dan 3
+ 2 ml larutan albumin
+ 2 ml etanol absolute
Hasil
Saring endapan
Endapan dan filtrate
Lakukan uji biuret
Hasil

E. HASIL PENGAMATAN
1. Pengendapan protein dengan larutan garam konsentrasi tinggi
(salting out)

No Langkah kerja Hasil pengamatan


1 Serum ayam + ammonia Terbentuk koagulasi dan 2 lapisan: atas
warna putih dan bawah warna kream
dan terdapat endapan
2 Disaring + uji biuret
Filtrate Terbentuk 2 lapisan: atas ada bintik-
bintik dan larutan ungu bening, bawah
agak kental tapi tidak terdapat bintik-
Endapan bintik
Endapan berwarna putih susu, setelah
uji biuret warnanya ungu bening dan
3 Setelah dipanaskan ada bintik-bintik didalam larutan
Filtrate
Terdapat 2 lapisan: atas putih keruh,
Endapan bawah bening
Kream dan ada endapan merah

2. Pemisahan protein dengan etanol absolut

No Langkah kerja Hasil pengamatan


A Serum
1 Serum + etanol Terbentuk 2 lapisan: atas bening dan
bawah orange
2 Setelah dikocok Kream ada koloid (ada endapan)
3 Disaring
3.1 Filtrate Kuning bening
3.2 Endapan Kream
4 Filtrate + NaOH Terdapat 2 lapisan: atas bening
keunguan dan bawah bening ada bintik
5 Endapan + CuSO4 biru
Terdapat 2 lapisan: atas kehijauan ada
koloid warna kuning kehijauan. Dan
6 Endapan + biuret bawah warna kuning bening
Terdapat 2 lapisan: atas agak
7 Dipanaskan kecoklatan dan bawah kream ada
7.1 Filtrate endapan
7.2 Endapan
Coklat
B Putih telur Coklat dengan endapan berbentuk
1 Putih telur + etanol absolut gumpalan yang lebih coklat lagi

Terdapat 3 lapisan: atas keruh, bawah


2 Disaring bening kekuningan dan tengah warna
2.1 Filtrate putih ada koloid
2.2 Endapan
3 Filtrate + biuret Hijau
4 Endapan + biuret Putih dan ada koloid
Hijau bening ada koloid
5 Setelah dipanaskan Terdapat 2 lapisan: bawah putih kental
5.1 Filtrate dan atas ungu ada koloid

5.2 Endapan Hijau bening ada endapan warna


kuning dan merah
Terdapat 2 lapisan: atas filtrate warna
the dan endapan merah bata
Lapisan bawah warna putih (albumin
yang tidak larut)

F. ANALISIS DATA

G. - Albumin + NaOH ( basa)

+ CO2 - CO2 -
NH2 C H + H2O (larut)
NH2 C H + OH-
H R R

2Co(NH2)2 CoNH2 NH CoNH2 (biuret) + NH3

CuSO4 + 2H2O Cu(OH)2 + H2SO4

Cu(OH)2 + NH3 warna ungu

H. PEMBAHASAN
Percobaan kali ini bertujuan dimana protein diendapkan dengan
larutan garam konsentrasi tinggi dan dengan penambahan etanol absolut
dimana dengan melihat bahwa sebagai makromolekul yang larut dalam
bentuk larutan koloid, protein dapat dipisahkan satu dari yag lain dengan
cara pengendapan dengan bahan dan pereaksi tertentu.
Larutan protein yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan
albumin. Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat
terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih
telur (Poedjiadi, 1994).
Percobaan yang pertama adalah pengendapan protein dengan
larutan garam konsentrasi tinggi (salting out). Kelarutan protein akan
berkurang bila ke dalam larutan protein ditambahkan garam-garam
anorganik, akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. Peristiwa
pemisahan protein ini disebut salting out.
Bila garam netral yang ditambahkan berkonsentrasi tinggi, maka
protein akan mengendap. Pengendapan terus terjadi karena kemampuan
ion garam untuk menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam
anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena garam
anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul
protein akan berkurang (Winarno, 2002).
Berdasarkan percobaan pertama. Serum dengan penambahan
ammonium sulfat menghasilkan larutan orange putih keruh dengan
terdapar endapan dibawahnya. Protein dalam serum seperti teori diatas
dengan penambahan garam-garam anorganik dalam hal ini ammonium
sulfat akan membuat protein terpisah sebagai endapan. Dalam air protein
dapat diendapkan dengan penambahan amoniumsulfat ((NH4)2SO4) hingga
jenuh (Poedjiadi, 1994). Perlakuan selanjutnya yakni memisahkan antara
endapan dengan filtratnya. Endapan dan filtrat kemudian diuji dengan
pereaksi biuret (NaOH dan CuSO4) Uji filtrat dan endapan dengan
pereaksi biuret membuat larutan menjadi dua fase warna yang berbeda
yakni larutan ungu dan larutan kuning bening. Uji biuret ini khas untuk
mengetahui adanya ikatan peptide yang ada pada protein. Dimana dalam
suasana basa (akibat penambahan NaOH) Cu2+ akan bereaksi dengan
gugus –CO dan –NH2 pada asam amino dalam protein sehingga
membentuk suatu kompleks berwarna.Uji ini poisitif bila ditandai dengan
adanya larutan berwarna ungu, yakni kompleks Cu protein. Hal yang sama
juga terjadi pada putih telur dengan penambahan larutan Biuret yakni
adanya warna ungu, sementara etanol absolute digunakan untuk
memisahkan protein dengan senyawa-senyawa lain yang ada pada serum
dan putih telur ,dimana protein akan terendapkan.
Pengujian filtrat dan endapan dengan pereaksi biuret bertujuan
untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida, adanya cincin ungu juga
menandakan adanya ikatan peptida dalam protein (Riawan. 1990). Larutan
kemudian dipanaskan dimana setelah pemansan, Fitrat menghasilkan 2
lapisan warna yaitu putih keruh dan bening, sedangkan endapannya
menghasilkan larutan krem dan endapan merah. Hal ini dikarenakan panas
dapat mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik non polar.
Hal ini terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik dan
menyebabkan molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat
cepat sehingga mengacaukan ikatan molekul tersebut.
Protein telur mengalami denaturasi dan terkoagulasi selama
pemanasan. Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi
sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena
energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang
ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya
yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran
suhu yang sempit (Ophart, 2003).

I. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat di simpulkan
sebagai berikut:

1. Protein akan mengalami koagulasi (denaturasi protein akibat panas dan

alkohol )
2. Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat
terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih
telur

3. Protein dapat diendapkan oleh alcohol dan ammoniumsulfat karena


protein mempunyai gugus –NH2, -NH, -OH , -CO yang mengikat air.
Alkohol dan ammonium sulfat yang bersifat higroskopis akan menarik air
tersebut sehingga protein kehilangan air, mempunyai kelarutan terkecil
dan mudah mengendap

4. Pengendapan albumin Dasar reaksi : denaturasi protein adalah rusaknya


sifat fisik dan fisiologik protein. Dapat disebabkan karena pemanasan dan
penambahan asam kuat. Denaturasi hanya merusak ikatan sekunder,
tertier, dan kuartener.

5. Fungsi penambahan reagen NaOH : mencegah endapan Cu(OH)2,


memecah ikatan protein sehingga terbentuk urea, sbg katalisator CuSO4 :
donor Cu2+. Dasar reaksi : reaksi positif ditandai dengan terjadinya warna
ungu karena adanya kompleks yang terjadi antara ikatan peptide dengan O
dari air. Reaksi ini disebut reaksi biuret karena positif terhadap biuret
(kondensasi 2 molekul urea)
DAFTAR PUSTAKA

Baraas, F. 1993. Mencegah Serangan Jantung Dengan MenekanKolesterol.


Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ganong, W. F. 1995. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Hawab, H. M. 2003. Pengantar Biokimia. Malang: Bayumedia Publishing.

Murray, Robert K. et. al. 2003. Biokimia Harper Edisi 25. Jakarta: Penerbit buku

kedokteran EGC.

Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.

Sadikin, Mohamad. 2002. Biokimia Enzim. Jakarta: Widya Medika.

Sitepoe, M. 1993. Kolesterol Fobia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Yazid, Estien; Nursanti, Lisda. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk

Mahasiswa Analis. Yogyakarta:Penerbit ANDI.