P. 1
CGPI 2001-SWA

CGPI 2001-SWA

|Views: 736|Likes:
Dipublikasikan oleh Elsara Eva Saika

More info:

Published by: Elsara Eva Saika on Oct 22, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2012

pdf

text

original

Sajian Utama

Saatnya Menjadi Perusahaan

Perusahaan-perusahaan yang menerapkan good corporate governance makin diburu investor. Harga sahamnya pun naik hingga ratusan persen. Inilah survei pertama penerapan konsep ini di Indonesia.

Terpercaya
Harmanto Edy Djatmiko

B

uat kalangan bisnis seperti Anda, istilah good corporate governance (GCG) tentu tak asing lagi. Kita juga patut berterima kasih kepada para pejabat dan wakil rakyat kita yang berandil besar memopulerkan istilah ini. Belakangan,

beliau-beliau ini seakan takut dianggap ketinggalan zaman kalau tak membubuhkan tiga kata bahasa Inggris itu dalam setiap pidato mereka. Kendati kian populer, toh pemahaman atas GCG lebih banyak keliru ketimbang benamya, karena masing-masing menafsir sesuai kepentingannya. Kalangan bisnis umumnya menafsirkan GCG sebatas bagaimana perusahaan meningkatkan laba, menempatkan manajer dan karyawan serta mencapai target usaha, bahkan lebih sempit lagi sebagai masalah pembagian kekuasaan. Sementara para pejabat dan wakil rakyat, umumnya menafsir GCG sebagai keharusan perusahaan agar bermanfaat bagi pemerintah atau lingkungan sosialnya. Yang benar adalah paduan dari kedua tafsiran tersebut, plus sejumlah kepentingan lain. Secara umum, GCG adalah sistem dan struktur yang baik untuk mengelola perusahaan dengan tujuan meningkatkan nilai pemegang saham serta mengakomodasi (stakeholders) berbagai seperti pihak yang berkepentingan asosiasi bisnis, dengan perusahaan pekerja,

kreditor,

pemasok,

konsumen,

pemerintah dan masyarakat luas. Sejarah lahirnya GCG berawal dari reaksi para pemegang saham di Amerika Serikat pada 1980-an yang terancam kepentingannya. Sekadar menyegarkan ingatan kita, kala itu di AS terjadi gejolak ekonomi yang luar biasa. Banyak perusahaan melaku kan restrukturisasi dengan menghalalkan segala cara untuk merebut kontrol atas

perusahaan lain seperti akuisisi internal, corporate divesture, leverage buy out hingga hostile takeover. Perilaku seenaknya ini menimbulkan protes keras dari publik yang menilai manajemen perusahaan mengabaikan kepentingan para pemegang saham sebagai pemilik perusahaan. Memang, badai merger dan akuisisi di era 1980-an banyak merugikan para pemegang saham akibat kesalahan manajemen dalam mengambil keputusan. Untuk menjamin dan mengamankan kepentingan pemegang saham, misalnya, muncul gagasan pemberdayaan komisaris sebagai salah satu wacana penegakan GCG. Konsep GCG dengan cepat diterima kalangan bisnis maupun masyarakat luas. Bahkan, bagus tidaknya kinerja saham suatu perusahaan kini ikut ditentukan sejauh mana keseriusannya menerapkan GCG. Survei CLSA Emerging Market April lalu, misalnya, menemukan korelasi positif antara harga saham dan praktik GCG. Selama tiga tahun terakhir, nilai saham 100 perusahaan di pasar yang sedang berkembang (emerging market) meningkat rata-rata 127% (dalam US$). Dan, 25 perusahaan peringkat teratas yang mempraktikkan GCG dengan sangat baik, nilai sahamnya meroket rata-rata 267%. Sebaliknya, perusahaan yang tak peduli atau asal-asalan dalam menerapkan GCG seperti di Indonesia, Pilipina dan Pakistan, indeks sahamnya berantakan semua. Mirip dengan di AS, mencuatnya konsep GCG di Indonesia juga sebagai reaksi atas perilaku para pengelola perusahaan yang tak memperhitungkan stakeholdernya. Hal ini tersibak gamblang tatkala krisis mendera negeri ini sejak pertengahan 1997. Krisis memberi pelajaran berharga bahwa pembangunan yang dipacu selama ini temyata tak didukung struktur ekonomi yang kokoh. Hampir semua pengusaha besar kita menggelindingkan roda bisnis dengan manajemen yang acak-acakan dan sarat praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Riset McKinsey & Company tentang praktek GCG di 7 negara Asia (Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan, Filipina,Thailand dan Indonesia), menempatkan Indonesia di posisi terbawah. Menurut Mc-Kinsey pula, investor bersedia membayar premium 27% jika perusahaan di Indonesia bersedia menerapkan GCG. Sementara itu. Political and Economic Risk Consultancy, lembaga riset yang berkantor pusat di Hong Kong, menempatkan Indonesia sebagai negara terburuk kedua dalam GCG dengan skor 8,33 pada 2001 dan 8,29 pada 2000 (skor 0 sebagai yang terbaik dan skor 10 yang terburuk).

SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001

2

Hasil-hasil survei di atas cukuplah memberi pertanda bahwa sudah saatnya perusahaan-perusahaan Indonesia didorong untuk segera memperbaiki kualitas GCGnya. Atas dasar itu pula, SWA bekerjasama dengan lembaga independen The Indonesian Institute for Corporate Governance, untuk pertama kalinya di Indonesia, menyelenggarakan survei Corporate Governance Perception Index terhadap

perusahaan-perusahaan yang sahamnya masuk dalam Indeks LQ45. Tujuannya, selain memberikan penghargaan agar perusahaan termotivasi melaksanakan GCG, juga untuk memetakan masalah-masalah spesifik yang dihadapi perusahaan di negeri ini dalam menerapkan konsep GCG.

SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001

3

yang hanya mengangguk seraya merasakan hal yang sama. suara mereka senada. apa yang Anda ucapkan itu benar. posisinya di nomor 9 dengan nilai 7. Para pengusaha. Figur yang dimaksud. terutama di Indonesia. Berdasarkan riset Political and Economic Risk Consultancy (Hong Kong) pada Juni 2001. Dari riset ituJelas betapa buruknya kedua negara.3. mulai dari lembaga riset dalam dan luar negeri. Namun. Padahal. negaranya (Filipina) pun tak terlalu baik dalam hal ini. T uan. Pambudi Masih banyak yang menganggap sekadar kepatuhan. dan mengabaikan praktek usaha yang sehat lewat cara kotor macam KKN." Demikian I Nyoman Tjager. Sebetulnya. tentunya. yang jauh-jauh datang untuk urun bicara. hingga para pejabat yang merasa belum lengkap tanpa menyisipkan ini dalam skrip pidatonya. Luz. apa yang dibicarakan? Good Corporate Governance (GCG). sementara Indonesia di posisi 11 dengan nilai 8. agar tercapai peningkatan nilai pemegang saham dengan tetap mengakomodasi kepentingan berbagai pihak yang berhubungan dengan perusahaan (stakeholder). perlunya sistem dan struktur yang baik dalam mengelola perusahaan. Perlukah tindakan afirmatif? AIM Manila. Kendati belum ada keseragaman. mantan Dirjen BUMN di Hotel Mulia 30 Agustus lalu. Seperti halnya Indonesia. Ini penting. persoalannya. disebabkan pengelolaan perusahaan yang amburadul). Prof.Barisan Perusahaan Terpercaya Teguh S. dunia usaha. Skala yang digunakan: 0 = terbaik dan 10 = terburuk. Termasuk. ini fondasi masa depan perusahaan terpercaya. menjalankan bisnis serampangan. Suara yang menyeruak sebagai reaksi dari keyakinan bahwa kehancuran dunia usaha negara-negara Asia di tengah krisis moneter. Dengan aksen berbeda. Yaitu. Mike Luz dari SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 4 . padanan verbal yang tepat belumlah satu suara. selalu di tingkat implementasinya. diartikan sebagai tata kelola perusahaan yang baik. Paling sering. Dalam bahasa Indonesia. tiga kata itu semakin nyaring terdengar di ruang publik. Pelantunnya beragam.

hanya berdasarkan informasi publik. Di sini. Contoh kongkret pertanyaan nomor 1 (komitmen perseroan terhadap GCG): (1) Sejauh mana perseroan menaruh perhatian terhadap semangat GCG? (2) Apakah perseroan memiliki code atau manual corporate governance (3) Apakah perseroan memiliki buku panduan yang secara khusus mengatur tugas-kewajiban-kewenangan. persepsi ini diperoleh melalui tiga pendekatan. (6) Transparansi dan akuntabilitas. (4) Struktur direksi. (5) Hubungan dengan stakeholder. (7) Tanggapan terhadap riset IICG. digelar survei bertitel Good Corporate Governance Perception Index (GCGPI) atas 52 perusahaan publik yang masuk indeks LQ 45 di Bursa Efek Jakarta. Pertama. Dengan metode itu. GCGPI merupakan persepsi atau cara pandang IICG terhadap penerapan GCG para responden. Pertama kali ini di Tanah Air. yang terkadang amat minim. (2) Pelaksanaan RUPST dan perlakuan atas pemegang saham minoritas. Ketiga. ternyata. Semua jawaban diberi bobot. Melakukan riset selama Juli 2000 sampai Juni 2001. sampai berita di media massa. IICG membentuk Tim Kerja — meliputi Penanggung Jawab. perbedaan realisasi pendekatan kelak mempengaruhi secara signifikan hasil indeks persepsi. kepemilikan saham (sebagai pemegang saham minoritas dengan cara membeli saham 52 perusahaan). situs korporat. Semakin banyak informasi yang SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 5 . Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG) — lembaga di bawah naungan Masyarakat Transparansi Indonesia — mencoba melangkah lebih jauh. Sebagai survei persepsi. Untuk melahirkan indeks penerapan GCG. Kriteria tersebut: (1) Komitmen perseroan terhadap implementasi GCG. tak ada keraguan tentang hal itu. terhadap 22 emiten dapat dilakukan seluruh pendekatan. dengan indikator penilaian yang ditetapkan Komite Penilaian. melalui tiga metode itu diperoleh sumber informasi sejauh mana perusahaan menerapkan GCG di lingkungannya. sementara 30 emiten lainnya. Kedua. Yakni. kemudian direkapitulasi untuk menghasilkan skor akhir. dan berbagai hal yang berkaitan dengan komisaris dan direksi? Semua jawaban dan perusahaan melalui sekretaris korporat atau investor relations. Komite Penilaian.Seperti Tjager. dan Analis — dan mendasarkannya pada 7 kriteria yang terbagi 40 pertanyaan. analisis informasi publik — laporan keuangan. Pasalnya. mendeteksi sejauh mana penerapannya. bahkan hanya dari kliping koran. wawancara dengan wakil perseroan (sekretaris korporat atau investor relations). (3) Dewan Komisaris. Di tengah lantunan tentang pentingnya GCG. akan mempengaruhi persepsi para analis IICG terhadap pelaksanaan GCG di perusahaan tersebut.

SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 6 . semakin jelas apa yang sebenarnya terjadi. yang kaidah pelaksanaannya mengacu pada kesepakatan yang berlaku umum di beberapa negara. dan itu berpengaruh terhadap persepsi. pemegang saham asing. akuntabilitas— dimilikinya dewan komisaris dan direksi yang kompeten di bidangnya. Pertama. dapat diperbandingkan. termasuk Indonesia. jelas. dan kepemilikan GCG MENUNTUT TRANSPARANSI. Kemudian. tanggung jawab—memastikan dipatuhinya semua peraturan. terutama untuk menyangkut perusahaan. Keempat. Menurut Sudirman Said. Kedua. penjelasan mengenai peran dan tanggungjawab. termasuk nilai-nilai sosial. Juga. serta mendukung usaha yang bertujuan untuk keseimbangan kepentingan manajemen dan pemegang saham. Ketiga. kewajaran/kesetaraan (fairness) —adanya jaminan perlindungan hak pemegang saham termasuk minoritas. Sayang masih banyak perusahaan publik yang pelit membagi informasi.tergali. acuannya ditetapkan Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance Indonesia (KNKCGI) yang mencakup empat komponen utama. transparansi — mewajibkan adanya informasi yang terbuka. dan menjamin terlaksananya komitmen dengan investor. Di sini. pengelolaan perusahaan. semua skor perusahaan diurutkan dari yang terbesar hingga terkecil untuk menghasilkan indeks. seluruh susunan kriteria dan pertanyaan berdasarkan aspek yang terkait dengan pengelolaan perusahaan dalam kerangka GCG. masalah keuangan. Direktur Eksekutif IICG. tepat waktu.

75 55.25 14.50 3.75 10.88 4.25 12.50 14.00 6.88 13.31 11.25 4.81 13.50 69.13 Bahtera Adimina Samudera 3.00 78.56 5.75 53.25 Medco Energi International 4.06 5.69 10.13 11.44 3.13 10.56 10.63 18.38 Makindo 3.44 11.25 63.13 United Tractor 6.75 48.50 7.50 7.25 61.63 12.00 Bank BCA 6.38 E 15 14.88 5.88 8.25 12.94 3.06 9.50 Matahari Putra Prima 5.88 8.50 8.25 F 15 13.44 8.75 9.00 9.88 4.13 G TOTAL 5 100 5.75 8.81 6.00 11.00 4.00 Astra Internasional 10.50 70.44 14.13 14.75 12.63 7.88 13.19 14.88 10.94 10.69 11.88 3.06 9.38 13.75 3.13 Gajah Tunggal 5.75 Bimantara Citra 4.00 63. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 A 10 Timah 9.75 Aneka Tambang 6.00 Citra Marga Nusaphala Persada 5.75 10.63 9.44 12.13 Komatsu Indonesia 7.13 9.94 5.00 65.75 58.19 5.38 Dankos Laboratories 5.50 8.38 11.00 9.13 7.00 5.69 10.13 3.38 9.75 58.81 15.38 8.13 3.69 12.19 5.94 6.50 Bank BII 5.75 9.88 10.50 8.50 12.19 10.94 15.50 9.88 9.19 4.13 Astra Otoparts 6.63 Metrodata Electronics 5.19 13.00 77.88 7.63 13.75 66.25 65.63 8.38 10.94 3.63 5.75 4.75 Skala Emiten B 15 12.75 59.13 10.81 13.94 SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 7 .25 11.75 66.00 76.25 Bank CIC 5.19 9.25 14.94 12.25 8.44 13.75 51.06 4.19 10.56 D 15 11.69 11.44 14.44 5.25 12.31 3.00 8.00 75.56 11.00 65.00 64.13 13.94 14.63 Astra Graphia 6.25 15.Tabel 1 INDEKS PERSEPSI CORPORATE GOVERNANCE ATAS 22 EMITEN No.81 16.69 13.94 6.81 6.88 12.88 9.69 12.81 13.63 9.13 C 25 12.00 Lautan Luas 6.44 9.75 3.50 Charoen Phokpand Indonesia 3.63 13.13 5.56 7.75 Kalbe Farma 3.19 12.31 15.88 11.13 13.

00 5.25 0.38 0.13 25.75 9.69 5.81 0.50 19.19 Pabrik Kertas Tjiwi Kimia 0. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Emiten A B C D E F G 5 3.00 2.00 30.19 5.00 Panin Bank 2.88 37.38 6.63 6.13 8.00 1.50 0.00 2.63 Kriteria Penelitian : A = Komitmen perseroan terhadap corporate governance B = Pelaksanaan RUPS dan perlakuan terhadap minority shareholder C = Dewan Komisaris D = Struktur Direksi E = Hubungan dengan stakeholder F = Transparansi dan akuntabilitas G = Tanggapan terhadap riset IICG Sumber : The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 8 .25 5.50 10.69 3.44 4.19 Tempo Scan Pacific 2.00 1.00 5.81 2.50 Indorama Syntetics 1.69 7.00 1.00 0.44 9.88 5.88 5.25 10.75 0.25 2.56 7.19 26.00 9.19 15 15 15 0.19 Bhakti Investama 1.00 6.81 22.00 10.00 2.19 23.25 24.94 33.75 1.06 6.25 2.00 6.94 9.00 1.19 Fajar Surya Wisesa 1.75 2.25 8.69 2.75 2.81 5.25 Semen Gresik 1.44 0.38 0.19 Jakarta International Hotel & Development 1.44 7.00 5.50 2.00 2.44 8.00 2.00 31.50 10.25 TOTAL 100 43.25 Gudang Garam 0.00 8.50 0.06 10.75 2.50 24.25 7.38 6.06 Indosat 2.31 36.88 Barito Pacific Timber 1.00 2.88 Bentoel International Investama 1.69 9.00 12.88 7.69 10.01 Skala 10 15 25 Telkom 5.19 27.25 2.13 0.88 6.25 6.00 Multipolar 1.94 Indah Kiat Pulp & Paper 0.88 0.56 5.00 8.56 5.31 22.69 8.50 9.00 0.44 10.69 8.75 8.00 2.13 PP London Sumatera Plantation 0.00 1.94 41.25 Indocement Tunggal Prakarsa 1.25 1.50 2.50 3.00 8.69 6.63 Astra Agro Lestari 2.13 8.00 0.19 Budi Acid Jaya 0.19 HM Sampoerna 0.25 2.25 6.44 0.25 1.00 1.69 0.25 0.69 5.25 6.00 3.94 Semen Cibinong 1.13 6.00 2.44 9.31 5.94 7.88 7.88 7.00 2.00 1.88 0.31 Mulia Industrindo 1.00 0.75 0.00 8.56 1.44 10.00 2.19 Ultra Jaya 0.75 2.00 2.50 8.00 5.00 2.25 7.44 2.25 1.63 4.25 2.69 35.69 14.00 7.31 0.50 31.Tabel 2 INDEKS PERSEPSI CORPORATE GOVERNANCE ATAS 22 EMITEN No.06 2.00 Lippo E-net 1.25 2.00 1.00 4.00 8.19 Lippo Sekuritas 0.75 1.75 1.19 38.13 8.94 2.44 8.00 1.63 16.69 3.88 8.63 3.13 Alfa Retailindo 1.06 6.25 8.44 8.44 9.81 Ramayana Lestari Sentosa 1.25 8.00 4.25 6.00 1.69 6.00 2.38 1.25 2.00 1.75 41.13 Lippo Bank 6.63 8.81 0.69 9.25 2.31 40.69 8.00 2.25 Indofood Sukses Makmur 2.00 2.56 2.25 8.31 2.50 6.25 0.56 0.75 1.25 1.13 33.06 2.25 6.25 2.75 0.63 29.50 28.06 21.94 21.00 Trimegah Sekuritas 1.44 0.44 9.25 6.75 8.81 0.69 5.69 17.

Telkom dan Indosat — selain terkenal bluechips sahamnya. pada 22 perusahaan yang bisa diterapkan seluruh metode pendekatan. Indosat. ini boleh dikata "kecelakaan". IICG menemukan secara umum. Di antaranya. Rendahnya perhatian juga ditunjukkan dari hanya 7 responden yang menyatakan memiliki panduan (code) pelaksanaannya. wawancara. Hanya 14 responden. Dari kriteria pertama (komitmen perusahaan) yang berbobot nilai 10%. juga terbuka pada investor. yang informasinya minim dan bersifat sekunder. betapa rendahnya perhatian perusahaan terhadap GCG. Tak heran. karena alas an sibuk. Pihak IICG. lewat ketiga pendekatan riset. Responsnya? "Banyak yang tidak menanggapi. HM Sampoerna. bukan kebutuhan (needs). menyatakan sudah menjalankannya sebagai landasan kegiatan operasional. sudah mengupayakan berbagai hal untuk mendapatkan informasi langsung dari responden. Bisa jadi mengindikasi. AI dan Medco masuk dalam 10 besar perusahaan yang dipersepsi telah melaksanakan GCG (Tabel 1: Indeks Persepsi Corporate Governance atas 22 Emiten). Namun. ternyata termasuk daftar 30 emiten. responden memandang penerapan GCG sekadar ketaatan (compliance) terhadap regulasi.Hasilnya. Di satu sisi. sebab saat diriset. Yang mengejutkan. memang berpengaruh besar terhadap skor per-sepsi. skornya sangat jauh berbeda dari 30 emiten. Apalagi. karena minimnya informasi (Tabel 2). beberapa nama besar seperti Timah. termasuk juga oleh 28 perusahaan lain yang masuk Tabel 2. Indofood Suk-ses Makmur. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 9 . analis yang terjun langsung ke lapangan selama penelitian. Seperti disinggung dalam metodologi di atas. seperti dituturkan Nur Sodiq. seyogyanya hal tersebut tak bisa dijadikan excuse. Informasi. beberapa nama besar lain seperti Telkom. sekretaris korporat investor relations kedua perusahaan sedang sibuk-sibuknya mengatasi demo karyawan seputar kisruhnya KSO Aria West dan tukar guling Indosat-Telkom. misalnya. karena hasilnya digunakan untuk menjawab hingga 40% pertanyaan dari seluruh kriteria." katanya. Metode ini berpengaruh sangat signifikan. Kesimpulan penelitian ini pun menyatakan telak demikian. dan Gudang Garam — yang terkenal bluechips — temyata di luar kelompok 22 emiten.

2. 5.94 15. Tanggapan terhadap Riset IICG Emiten Astra Graphia Astra Internasional Bank BCA Bank CIC Dankos Laboratories Skor 5. 3. 5. 1. Hubungan dengan Stakeholder Emiten Astra Internasional Bank BCA Citra Marga Nusaphala Persada Timah Bank BII Skor 14.75 5 BESAR IPCG BERDASARKAN MASING-MASING KRITERIA A: No.19 11. 4. 2. 4.50 9.31 G: No. 1. 3. 5.D: No. 2. 1. Dewan Komisaris Emiten Bank CIC Matahari Putra Prima Bank BII Bank BCA Astra Internasional Skor 18.00 5. 3.88 United Tractor 13.75 11. 4.88 Bimantara Citra 13.44 14. 4.63 15. 3.63 10.38 Pelaksanaan RUPS dan Perlakuan Terhadap Minority Shareholder Emiten Skor Astra Internasional 13. F: No. 3.44 14. Komitmen Perseroan Terhadap Corporate Governance Emiten Skor Astra Internasional 10.69 C: No.00 5. 4. 2. 2.69 12. 3. 1. 5. 1. 5.44 10. 4.88 Medco Energi International 13.00 Komatsu Indonesia 7.88 10. 4. 1. 5.00 5.00 SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 10 .44 14.75 12. 2. Struktur Direksi Emiten Bank CIC Timah Bank BCA Aneka Tambang Matahari Putra Prima Skor 12.00 5.88 E: No.44 16. 2.88 Metrodata Electronics 13. 3.44 14. Transparansi dan Akuntabilitas Emiten Timah Bank BCA Aneka Tambang Komatsu Indonesia Astra Internasional Skor 13.38 Astra Otoparts 6. 1.00 Timah 9.25 15.00 Astra Graphia 6.25 B: No. 5.

34 di antaranya telah memiliki komisaris independen. beberapa hal positif dicatat IICG. sebenarnya cukup lumayan. Secara umum. fungsi sekretaris korporat yang masih memble. juga para sekretaris korporat belum baik menjalankan tugasnya. dilihat dari substansinya. Kemudian. Lalu. dalam hal ketersediaan bahan RUPS. Selain taat menyampaikan informasi material ke otoritas bursa (BEJ/Bapepam). dari panduan KNKCGI. Akan tetapi. selain karena alas an kesibukan menanggapi permintaan wawancara IICG. Memang. dan mengurangi potensi konflik kepentingan. Seluruh responden sudah memiliki sekretaris korporat. dari 52 emiten. Masih banyak yang menolak wawancara dengan dalih tidak tahu atau "itu bukan wewenang saya". bagaimana kriteria lima yang berbobot nilai 15%? Ihwal hubungan dengan stakeholder. Pembatasan itu demi efektivitas pengendalian. sebelum ditetapkan dalam RUPS. Dari 22 emiten. dan 23 responden sudah menjalankan program pengembangan komunitas. yang perlu dicatat di sini. Rapat dewan komisaris pun. 11 responden sudah membentuk serikat pekerja. Ini memprihatinkan. Padahal. tu- SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 11 . 19 responden menyatakan belum memiliki sistem yang mengatur secara khusus evaluasi kinerja dewan komisaris. kata Sodiq. yang bisa dijadikan salah satu ukuran efektivitas pengendalian perusahaan. Padahal. Kendati begitu. merunut dari penuturan Sodiq. Meski demikian. hanya 11 responden yang memiliki sistem evaluasi kinerja baku atas direksi. masih jauh dari semangat GCG. nominasi dan seleksi anggota direksi masih ditentukan pemegang saham pengendali dan direksi lainnya. hanya 45% responden yang menjadwalkannya berkala sebulan sekali. yang berfungsi hanya alat stempel. sementara 23% reponden lainnya menjadwalkan sekali dalam tiga bulan.Pada kriteria kedua (bobot 15%). Minimnya informasi. banyak komisaris independen dari kalangan internal perusahaan—mantan komisaris hingga pendiri perusahaan. dan melibatkannya dalam pengambilan keputusan. yang namanya independen sudah pasti tak ada hubungannya dengan pemilik perusahaan. Juga. Keprihatinan yang sama juga muncul dari kriteria ketiga (bobot 25%). karena merugikan pemegang saham yang semestinya diberi informasi lengkap. dari 52 responden. hanya 6 responden yang membatasi perangkapan jabatan. Ini menyedihkan. Kemudian. Lantas. masih minim. bahkan terkesan akal-akalan. Hasil kriteria keempat (bobot 15%) juga tak kalah memprihatinkan. Indikasinya. 30 responden memiliki program pengembangan pegawai secara berkala. 92% melaksanakan RUPS tepat waktu. hanya 30 responden yang menyediakannya.

mayoritas responden belum menanggapi secara serius riset IICG sebagai hal penting. lanjutnya. ketaatan menyampaikan informasi publik (public expose) sudah dilakukan seluruh emiten. merasa dapat berjalan tanpa GCG. dan tak melihat ada dampak finansial secara langsung." kata Sodiq. merusak citra perusahaan sebagai perusahaan terbuka (Tbk. "Paparannya. sebab manfaatnya besar untuk jangka panjang. Fondasi perusahaan yang kokoh. Adapun dari kriteria ke-7 (bobot 5%). Banyak perusahaan. Sementara itu. secara keseluruhan. sebagai referensi investasi dan kinerja manajemen.) yang ternyata tertutup. agar perusahaan tidak menganggap remeh. Bahkan 30 responden aktif melakukan paparan publik dua kali lebih dalam setahun. Mengutip laporan Mc. tak sedikit perusahaan yang belum menyadari pentingnya laporan tahunan bagi stakeholder. perilaku tertutup mereka bisa mengaburkan informasi tentang pelaksanaan GCG. GCG bukan metode penjualan atau management tools macam balance score card. posisi ini memang sekadar pajangan. Kinsey baru-baru ini. Apakah perusahaan memang tidak mau memikirkan dan menerapkannya? Yang paling mungkin terjadi — dirujuk dari rendahnya kesadaran emiten menerapkan ini hanya sebatas kepatuhan. Dari 49 laporan tahunan emiten yang dianalisis.gasnya sebagai penghubung perusahaan dengan investor. Sebab. Dilihat dari nilai yang didapat. ini jelas pekerjaan rumah perusahaan—terutama 30 emiten—membenahi sekretaris korporatnya. landasan tata kelola perusahaan. benar adanya. yang langsung bisa dilihat hasilnya. yang mungkin sudah baik diterapkan. la mewanti-wanti. masih sering seperti company profile yang penuh produk jualan. Lalu. bukan kebutuhan — adalah: Belum tertarik manfaat jangka panjang penerapannya. kualitas isi laporan tahunan belum memberikan informasi memadai. kata Sudirman. serta tunjangan direksi dan komisaris. Kalau bicara soal itu. sementara 7 emiten selalu terlambat. baru 31 responden tepat waktu. dan hanya 43% yang mengungkap gaji. Nah. dalam hal laporan keuangan ke bursa. Lain halnya kalau memang ingin tertutup. pada kriteria ke-6 (bobot 15%). ini merupakan subjektivitas peneliti IICG atas respons emiten. investor semakin memperhatikan sejauh mana perusahaan menerapkan tata SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 12 . Namun demikian.Ini. ini juga yang mesti menjadi catatan. Agaknya. serta menilai ketaatan perusahaan terhadap ketentuan yang berlaku. Juga. hanya 47% yang memperbarui pengungkapan risiko yang dihadapi perusahaan.

agar benar-benar menerapkan hal ini." katanya. Dirut PT Timah. Medco pun meminta bantuan konsultan. hati-hati. Tampaknya. dan transparansi) paling tinggi di riset IICG. investor memandang GCG sebagai cara mengurangi risiko "kecelakaan finansial". ujarnya. Terlepas dari lirikan investor ataupun tidak.kelola yang baik. hubungan dengan stakeholder. berarti telah menjadi perusahaan terpercaya (trusted company). GCG diyakininya sungguh pentingbagi perusahaan. kemakmuran perusahaan dan pemegang saham dapat diwujudkan tanpa GCG. Erry Riyana. pada hubungan dengan stakeholder." papamya. Timah berupaya menerapkan sebaik-baiknya. Sementara itu. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 13 . Dalam hal transparansi. Tak heran. Digunakannya konsultan dalam penerapan GCG memang makin kencang belakangan. Selain kepatuhan pada peraturan. tak mau kalah. Ernst & Young. di samping laporan perkembangan lainnya. transparan. misalnya Erry mengaku rajin mengirimkan laporan secara berkala ke publik berbentuk laporan kinerja. katanya. mulai dari karyawan level bawah sampai puncak. Investor yakin. "Untuk Indonesia. seperti juga Timah. Maka. juga pandangan jangka panjang. dibuatkan pengembangan kemampuan yang terencana. sepakat. Di tempat lain. membuatkan tahap-tahap penerapan tatakelola perusahaan yang baik di lingkungannya. yakni kesembronoan pengelolaan yang berujung pada kehancuran. bertanggungjawab. Sebab. "Mustahil. Mengapa? "Karena. bahkan meminta bantuan konsultan temama. laporan keuangan diberikan 14 hari sebelum RUPS. selepas lengsemya Soeharto. Menariknya. Alhasil. telah berupaya mengelola diri menjadi lebih tertib." katanya. kelompok usaha ini benar-benar ingin menjadi perusahaan yang dikelola secara profesional dan jauh dari citra KKN. perusahaan apapun yang menerapkan GCG. Untuk transparansi. dan pada beberapa kriteria (direksi. PT Bimantara Citra yang berada diposisi 10 riset IICG. Direktur Keuangan merangkap Sekretaris Korporat. PT Medco Energi International yang berada di posisi 6. "Anda bisa lihat berapa banyaknya press release yang kami keluarkan setiap tahun. agar investor punya kesempatan mempelajarinya. Lalu. pihaknya tidak segan-segan menyambat konsultan untuk menilai sejauh mana praktek GCG telah diterapkan dengan baik di lingkungannya. Seperti diungkap Sugiharto. perusahaannya makin serius menerapkan GCG. sehingga seluruh risiko perseroan pun lebih dapat diprediksi. tak heran juga jika skor Timah tertinggi. mereka bahkan berani membayar premium 27% jika menerapkan hal ini. tak segan bermitra dengannya. Sehingga." ujarnya yakin.

yakni pemahaman yang menganggap GCG bukan jalan pintas yang berdampak pada kinerja finansial. Aturan komposisi pun masih mengambang. pemegang saham dan investor kurang aktif memberdayakan diri. tak terlalu penting. Sodiq tidak kaget dengan komentar Erry yang terakhir. Yang tercantum. Goei Siauw Hong Kedua. "Masih ada yang menganggap sebagai membuka rahasia dagang dan mengancam daya saing. bahwa terkadang penerapan elemen GCG tak mudah. Yang diatur memang hanya tanggung jawab seperti mengawasi direksi. struktur pemilikan atau pengendalian perusahaan masih terkonsentrasi pada perorangan atau keluarga pendiri. Di Indonesia." katanya seraya melengkapkan. agar perusahaan lebih profesional di samping bentuk pertanggungjawaban terhadap pemegang saham dan stakeholder. Menurutnya. problem kepemilikan. perusahaan membuat caranya sendiri untuk hal-hal yang belum ada contohnya. beberapa hal kompleks membuat penerapan GCG masih terbata-bata di Tanah Air. sehingga SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 14 . misalnya. Alhasil. Sekretaris Korporatnya. kalimat: "Komposisi dewan komisaris harus sedemikian rupa. Ketiga. Sudah dianggap kebijakan internal. yang penting kepatuhan menerapkannya. Di sinilah persoalannya. Akibatnya. Erry tak membantah. belum ada presedennya. sehingga daya tawamya lemah saat berhadapan dengan manajemen. Dirut BEJ. seperti seleksi komisaris independen. Metrodata. Iamencontohkan praktek keterbukaan informasi. beberapa aturan yang dibuat KNKCGI memang masih ada yang tidak tegas dan spesifik. Sebetulnya. lain lagi ceritanya. disertai sanksi bagi yang melakukan tindakan tidak etis. Menurut Mas Achmad Daniri. karena menyadari itu penting. penegakan peraturan. Kalaupun belum menganggap kebutuhan. komisaris tak bisa mandiri dan independen mengawasi kinerja manajemen. Sebab.Peringkat 7 riset IICG. Kuncinya. Pertama. ia justru menambahkan: Unsur budaya yang berkembang di lingkungan usaha nasional belum menunjang perkembangan penerapan GCG. Menurut Irawan Gozali. atau Pemerintah dalam kasus BUMN. perusahaan ini tak memerlukan jasa konsultan untuk menerapkan GCG. Dalam hal dewan komisaris yang dikeluhkan. seperti yang sudah disinggung di atas. penggunaan konsultan atau tidak.

"Sudahlah. Kendati begitu. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 15 . semuanya kembali pada informasi. penerapan pola GCG kami sama dengan AI." katanya berdalih. Demikianlah barisan perusahaan terpercaya. Kembali pada hasil riset IICG. ada kebanggaan banyak emiten yang telah berupaya menjadi perusahaan terpercaya. menyadari pentingnya. mengapa begitu?" Danny Walla. kapan lagi. Menurutnya. Ia juga menandaskan." Tanpa aturan seleksi. sebagai tindak afirmatif. tepat dan cepat. Kalau tidak. karena adanya ketidaksepahaman tentang manfaat tata kelola. Begitukah? Nirwan Idrus. melihat hasilnya. Menurutnya. Jangan-jangan. yang masuk rumpun AI berada di posisi 27. Bahkan. Nirwan mempertanyakan. Sudirman tidak menolak kritik Nirwan. inilah potret penerapan GCG di Indonesia. agar penerapan GCG tidak sebatas wacana. "Kami tidak menilai mereka (30 emiten) tidak kooperatif dan tidak menerapkan GCG." katanya mencoba bijak. Kendati begitu. kami harus memulainya. katanya. sosialisasinya harus ditingkatkan." katanya. sebagai lembaga yang bermisi memberi advokasi terhadap penerapan GCG di kalangan privat. la mengajak melihat apa yang dilakukan lembaganya merupakan upaya. Preskom AAL. "Karena. mengapa Astra Agro Lestari (AAL). karena kurang dari 50% perusahaan yang disurvei memenuhi kriteria penilaian lewat tiga metode pendekatan. "Dengan responden seadanya. "Kami menyadari kelemahan-kelemahan yang ada. Pertama. GCG harus dijadikan gerakan nasional. Sebab." ujarnya. rutin setiap minggu. elemen dalam tata kelola perusahaan yang baik telah berupaya diterapkan semaksimal mungkin. mereka menilai masih ada titik-titik lemah yang harus dikembangkan lagi. mempertanyakan pula. Kedua. terasa ada keprihatinan. penelitian ini belum sempuma." lanjutnya bersemangat.memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif. pihaknya telah melakukan riset dengan cara yang komprehensif sebagai riset persepsi melalui metode yang ada. yang meletakkan fondasi krusial bagi sosok perusahaan yang dikelola dengan baik. survei ini belum mencerminkan apa-apa seputar wajah sesungguhnya penerapan GCG di Indonesia. menolaknya telak. IICG. memiliki beberapa rekomendasi penting. termasuk menjadi pemilik saham yang ikut RUPS. Mungkin. meski terkadang aturannya belum jelas. "Apakah ciri-ciri yang bagus di perusahaan induk tak diteruskan anak-anak usahanya?" "Ya. Direktur Eksekutif Institut Pengembangan Manajemen Indonesia. seperti rapat dewan komisaris mengevaluasi kinerja manajemen. terutama oleh otoritas terkait seperti BEJ. indeks perusahaannya seharusnya tidak jauh dari AI. Bapepam dan KNKCGI.

Namun yakinlah. disertai sanksi bagi yang melakukan tindakan tidak etis. Tidak lagi sebatas wacana. Mas Achmad Daniri SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 16 . Khusus perlindungan pihak yang dirugikan praktek pengelolaan perusahaan yang buruk dan penegakan hukum. akibat bad corporate governance. inilah titik lemah selama ini. meningkatkan law enforcement dan perlindungan terhadap pihak yang dirugikan. Sekarang. perlu waktu. yang penting. seluruh mata menatap sejauh mana komitmen Anda pada hal ini. Keempat. kita harus memulainya sejak sekarang. "Kuncinya. GCG mungkin tak akan bergaung. mendorongnya menjadi standar mutu. Memang.Ketiga. untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor dan kemudahan fund raising Indonesia." ujamya. "Terutama. kalau saja pengawasan perilaku perusahaan dilakukan secara tegas. yakni pemahaman yang menganggap GCG bukan jalan pintas yang berdampak pada kinerja finansial. tetapi gerakan yang kongkret. Beberapa hal kompleks membuat penerapan GCG masih terbata-bata di Tanah Air. Menurutnya." Agaknya. sehingga tak ada lagi pernyataan seperti yang dilontarkan Tjager. analis saham Goei Siauw Hong sepakat. Seperti kata Sudirman. penegakan peraturan. Kalau mau jujur dan mau menoleh ke belakang. bagaimana semua pihak melihat GCG sebagai hal yang urgen demi pengelolaan perusahaan yang baik. penerapan GCG tak bisa lagi ditoleransi.

Susahny Menembus Responden Nur Sodiq R iset terhadap penerapan good corporate governance (GCG) adalah riset data kualitatif. infomasi yang ada juga dibandingkan dengan infomasi publik dari berbagai sumber. IICG menjadi salah satu pemegang saham minoritas dengan segala hak yang melekat. dan bukan konsumsi publik. wawancara dengan wakil perusahaan (responden). bila kesadaran responden terhadap pentingnya GCG cukup baik. misalnya. Padahal dalam banyak hal. Dengan kata lain. Responden dalam riset meliputi emiten yang masuk LQ 45 Bursa Efek Jakarta periode Juli 2000-Juni 2001. Hal itu sejak awal disadari bakal menimbulkan banyak kesulitan. membeli saham perusahaan responden (emiten yang diperingkat). Riset serupa yang dilakukan di beberapa negara. budaya dan hubungan antar organ perusahaan. Metode tersebut hanya dapat diandalkan. perusahaan cukup transparan dan "jujur" menilai dirinya sendiri. harus mengetahui bagaimana karakteristik. Pendekatan kedua. Dalam riset kali ini. hanya berhasil dilaksanakan dengan 22 emiten dari 52 responden—jumlah perusahaan yang SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 17 . Sebab implementasi GCG sangat terkait dengan kebijakan manajemen dalam mengelola perusahaan. Pertama. Artinya. menggunakan hak suara. untuk menilai implementasi GCG. kualitas informasi publik—khususnya yang disediakan responden—dan infrastruktur pengaksesnya cukup memadai. sehingga kredibel sebagai bahan analisis. Wawancara dengan responden. Di sarnping itu. dan memperoleh informasi relevan melalui surat kabar. Walaupun menggunakan ketiga pendekakatan itu. seperti hadir di RUPS. untuk melengkapi sekaligus menjadikan lebih objektif. banyak mengandalkan data public dan menggunakan kuesioner yang harus diisi responden. informasi tersebut masuk kriteria “rahasia perusahaan". bukan berarti pengumpulan informasi berjalan mulus. Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) menggunakan tiga pendekatan menembus responden. Melalui pembeIian saham. Di samping itu.

B. Hanya empat responden yang menanggapi secara tertulis tidak bersedia diwawancarai. Maka. nilai jawaban dikalikan dengan persentase bobot setiap pertanyaan dan bobot kriteria. C dan D. diperoleh dengan mengikuti RUPS. Jawaban-jawaban punya gradasi dari A — paling baik/sesuai dengan praktek GCG atac regulasi — hingga D (buruk atau tidak sesuai dengan regulasi). Melalui RUPS. Sementara itu. Padahal. Dengan memiliki KTUR. Sementara itu. serta tanggapan terhadap riset GCG.rencananya dimasukkan dalam pemeringkatan. apabila responden memiliki komisaris independen dengan komposisi lebih dari 30% jumlah komisaris. hanya 33 perusahaan yang RUPS nya dapat diikuti tim periset. mayaritas. B (3). Untuk rnelihat sejauh mana perhatian responden. Ke-7 kriteria itu: Komitmen perseroan terhadap implementasi GCG. Untuk melakukan wawancara. khususnya terhadap hak-hak pemegang saham. hubungan dengan pemegang saham. karena digunakan untuk menjawab 40% pertanyaan dalam kriteria pemeringkatan. Uatuk jawaban A diberi nilai 4. transparansi dan akuntabilitas. indeks yang diperoleh tidak dapat dibandingkan antara responden yang dapat diwawancarai dengan yang tidak diwawancarai. Dari 52 perusahaan yang diperingkat. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 18 . pelaksanaan RUPS tahunan dan perlakuan terhadap pemegang saham minoritas. Dengan alasan "sibuk". Informasi yang sudah dikumpulkan. nilai jawabannya A (4). Dengan demikian. atau biro administrasi efek yang ditunjuk emiten. karena kendala teknis—tidak terbit atau terlambatnya penyampaian Konfirmasi Tertulis untuk RUPS (KTUR). selanjutnya digunakan untuk menjawab 40 pertanyaan dalam 7 kriteria pemeringkatan. pemegang saham memperoleh hak sepenuhnya selama mengikuti RUPS. hasil wawancara sangat signifikan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki bobot persentase sesuai dengan efektivitasnya dalam implementasi GCG. Selanjutnya.responden tidak menanggapi permintaan wawancara. skor pertanyaannya: 25% x 15% x 4 = 0. sudah dikirimkan 3-4 kali surat permohonan selama 6 bulan. Bobot persentase pertanyaan komisaris independen 15 %. Sisanya tidak dapat dihadiri. tidak seluruh RUPS emiten (responden) dapat dihadiri. C (2) dan D (1). diperoleh berbagai informasi yang digunakan untuk menjawab 8%-15% pertanyaan. Sebagai contoh. Setiap pertanyaan punya empat jawaban A. nilainya 0. penilaiannya sebagai berikut: Bobot persentase aspek dewan komisaris 25%. di samping konfirmasi melalui telepon. dewan komisaris. jika tidak ada/tidak diperoleh data. yang diterbitkan emiten. Namian demikian. struktur direksi.15.

Jumlah nilai dari 40 pertanyaan. Di samping itu. lantaran luasnya cakupan GCG. Bila melihat metode yang digunakan. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 19 . setidaknya risetdapat dijadikan acuan: Melihat sejauh mana implementasi GCG di kalangan emiten Indonesia sudah berjalan. digunakan untuk menentukan skor Corporate Governance Perception Index. Walau dengan segala keterbatasan. kemungkinan munculnya bias dalam penilaian tidak dapat dihindari. untuk memotret implementasi GCG secara utuh di perusahaan pun amat sulit. Bias dapat diperoleh dari responden. karena kualitas informasi yang disampaikan sewaktu wawancara. Penulis adatah Sekretaris Eksekutif IICG. atau dari periset.

"Sebaik apapun perusahaan. Atas dasar profesionalisme manajemen Bimantara mulai menerapkan good corporate governance (GCG). meskipun masih dalam format sederhana. tidak akan dilirik investor asing. Sebagai perusahaan publik yang sahamnya banyak dimiliki asing. Bimantara secara cermat melihat bahwa terhitung sejak krisis kemarin. yang awalnya memang milik putra mantan Presiden Soeharto. Tanpa gembar-gembor. hingga hari ini pun mayoritas masyarakat Indonesia sepertinya sulit menerima. sejak Bimantara masuk lantai bursa. asal ada kemauan dari pemegang saham mayoritas. Bahkan. Implementasinya pun tidak sulit. praktis sejak itu pula kekuasaan keluarga Cendana telah habis di perusahaan. bahwa Bimantara bukan/tidak lagi milik dinasti Cendana atau Bambang Trihatmodjo. kreditor. melepaskan diri dari belitan masa lalu." kata Edwin. investor asing hanya berminat pada perusahaan yang menerapkan GCG. penerapan GCG di perusahaan ini diimplementasi sejak 1995. kecuali ikut dalam wacana baru GCG. maupun calon mitra bisnis.. Padahal. jika tidak menerapkan GCG.Biar Bimantara Citra: Lebih Cantik Dan Seksi Dengan menerapkan GCG. Pelaksanaan GCG dengan benar mulai dilaksanakan dua tahun lalu. Pasalnya. masih dalam tahap belajar. Akbar Faizal dan Ishak Rafick Bebaskan Diri dari Masa Lalu B ukan persoalan mudah bagi manajemen PT Bimantara Citra Tbk. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 20 . belum mengikuti standar atau aturan global seperti yang diinginkan investor asing. Itu pun. Artinya. citra perusahaan bisa makin bagus di mata investor. diakui Direktur Utama Edwin Kawilarang. Perjalanan waktu ternyata mengajarkan Bimantara banyak hal. Berikut pengalaman PT Bimantara Citra dan Medco Energi International. Bimantara agaknya tak punya pilihan.

khususnya di perusahaanperusahaan Indonesia. financial & accounting. memberikan nilai tambah ke pemegang saham. Nilai saham pun melambung hingga 30%. Salah satu penyebabnya. Sejak menerapkannya." ungkap Edwin. "Ini sih bukan rahasia lagi. Banyak contoh kasus. proses penerapan GCG di Bimantara dilakukan melalui berbagai tahap. GCG itu kan sistem yang mengatur. Tinggallah manajemen melongo dan pusing memikirkan utang yang semakin menggunung. sekaligus sebagai bentuk perhatian ke stakeholder. kredit pinjaman bank dalam jumlah luar biasa besamya "dimakan" sendiri pemilik perusahaan/ pemegang saham. bahkan sebelum dihantam badai krisis. Misalnya. Praktis. misalnya. Bimantara sendiri tak punya tujuan muluk-muluk menerapkan GCG. Tujuannya. secara internal GCG dibutuhkan dalam tataran perbaikan kinerja. pemerintah. GCG memberi poin tersendiri bagi Bimantara. pemasok dan kreditor juga sangat membutuhkan penerapan GCG. Manual-manual itu sangat penting. human resources. Yakni. konglomerasi ini bermain di 7 lini usaha/bisnis. penerapan GCG juga mengubah visi dan misi Bimantara secara keseluruhan. media dan logistik. kreditor dan masyarakat sekitar. agar masyarakat tahu bagaimana langkah yang sebaiknya dilakukan manajemen perusahaan. di mata investor Bimantara bak gadis cantik yang siap disunting. karyawan. Persekongkolan pemerintah dengan konglomerasi di Korea. mengelola dan mengawasi proses pengendalian bisnis perusahaan untuk menaikkan nilai saham. Secara teknis. Harta perusahaan juga ikut dikuras untuk kepentingan pribadi pemilik perusahaan. Diakui Edwin. Bahkan. yang sebenamya sangat berguna untuk mengidentifikasi kemungkinan risiko. manajemen fokus pada tiga lini usaha: telekomunikasi.Menurut Edwin. minimal guna mengurangi risiko investasi. sekaligus bagaimana menghadapinya. Empat lini bisnis SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 21 . termasuk pengaturan hubungan kerja. menyusun manual-manual seperti corporate policy." Edwin memaparkan. rapuhnya manajemen karena pemegang saham selalu ikut mencampuri manajemen. kami tak pernah melaksanakan risk management manual. "Kami hanya ingin menarik para investor menanamkan dananya di perusahaan kami. Jepang dan Indonesia. "Dulunya. information & reporting. operation management dan investment & reporting. Sebelumnya. Adapun secara ekstemal. jika kemudian banyak perusahaan sangat cepat ambruk. internal audit. Saat ini." ujar Edwin. pemisahan peran yang jelas antara pemilik/pemegang saham dengan manajemen. mengapa kekhawatiran seperti ini harus muncul. Tak heran. risk management.

Argumen Edwin tampaknya sebagai bantahan rumor yang berkembang. untuk kegiatan sosial pun harus dilaporkan ke pemegang saham—dulunya. yang kecil tentu saja kalah. Soal transparansi yang sering menjadi pokok masalah di internal perusahaan. Transparansi dalam pengambilan keputusan juga telah dilakukan. untuk mengevaluasi karyawan. "Kami kan perusahaan publik. diberikan pada detikdetik terakhir pelaksanaan RUPS. kendala pelaksanaan GCG bukan tidak ada. Sehingga. budaya kerja harus berubah. rapat direksi harus tercatat dan termonitor. Saat voting. karena uang yang digunakan untuk kegiatan sosial adalah hak pemegang saham. juga mendapat porsi perhatian ekstra serius." ujarnya. Adapun langkah mencapai target tadi. yang tentu juga punya agenda jelas.lainnya dijual. Kami bisa ditegur dong. bahwa berkas-berkas RUPS Bimantara." Edwin menjelaskan. dan berkas harus diberikan dua minggu sebelum RUPS. tentu saja sesuai dengan mekanisme. yakni ketika semua elemen mampu melakukan perbaikan budaya kerja. kinerja karyawan terpatok pada model top-down. semua diundang dan dimintai pendapatnya. Bahkan. Toh. Bimantara adalah anak emas yang seakan-akan semua orang butuh padanya. ketika tidak lagi memberi nilai tambah. Wajar sajalah. sebab memang tak ada aturannya. pembuatan laporan keuangan yang terbuka dan terkontrol para analis. baik ke pemegang saham mayoritas maupun minoritas. Namun. Misalnya. Penerapan fairness juga menjadi perhatian utama dengan perlakuan sama tanpa keistimewaan. Akibatnya. para pemegang saham tidak lagi punya waktu memeriksa laporan dengan teliti. "Direksi di sini rapat sedikitnya sekali seminggu. Dan tentunya. masa itu telah lewat dan manajemen menyadari. Sebagai perusahaan bercap Cendana. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 22 . tidak pernah. Serta. Bimantara menargetkan masuk dalam tiga besar pada akhir 2002. Pelaksanaan GCG mengharuskan semua pelaporan seperti ini. Begitu aturannya dari Bapepam. dengan penerapan key performance indicator. berbagai indikator yang digunakan perusahaan global untuk menilai karyawannya. Tapi saat RUPS. Edwin bangga Bimantara masuk dalam 10 besar terbaik perusahaan yang telah melaksanakan GCG sesuai hasil survei Majalah SWA bekerjasama dengan Institute of Corporate Governance. Bahkan. khususnya dalam budaya kerja. Misalnya. "Tapi. tak punya pilihan kecuali semua pihak ikut serta dalam pengembangan perusahaan (bottom up)." kata Edwin.

prinsip fairness dijalankan dan dikaitkan dengan sumber daya manusia. Cara pengelolaan seperti itu diyakini telah ikut menyeret Indonesia ke dalam kesulitan lewat ribuan perusahaan yang karam." ujarnya Begitulah Medco lantas direstrukturisasi. karena budaya perusahaan telah terbentuk bertahun-tahun lamanya.PT Medco Energi International Tbk. Jadi jauh sebelum penerapannya menjadi kebutuhan. bisnis intinya diperjelas. pria berkacamata minus in punya pengalaman panjang di Arthur Andersen dan Bank Chemical. Pada saat sama. : Berani Melakukan Perpindahan Budaya P T Medco Energi International Tbk. kata Direktur Keuangan merangkap Sekretaris Korporat Medco Sugiharto. Medco bertransforma dan family centris menjadi professional oganization. Untuk melicinkan jalan perpindahan budaya itu. GCG di negeri ini baru menjadi tuntutan para investor dari kreditor setelah krisis membuka selubung pengelolaan perusahaan yang rawan penyelewengan pada Juli 1997. Untuk itu. (Medco) mungkin termasuk salah satu perintis penerapan good corporate governance (GCG) di Indonesia. menerapkan GCG sejak 1994. termasuk yang sekelas Grup Sinar Mas (BII). Sebelum bergabung dengan Medco. modal. dan lain-lain. diperlukan kekuatan yang bisa memaksa. Harus ada perpindahan budaya dari budaya keluarga yang tertutup menjadi perusahaan public yang terbuka. Grup Gajah Tunggal (BDNI) dan Chandra Asri. Meskipun demikian. Selanjutnya. Kekuatan itu adalah pemegang saham publik. dua perusahaan yang punya standar internasional dalam penerapan GCG. dan di-go public kan pada 12 Oktober 1994. "Dengan go public. Kini survei Indonesian Institute of Corporate Governance menempatkan Medco di urutan ke6 perusahaan yang menerapkan GCG dengan baik Direkrutnya Sugiharto pada 1994 oleh pemilik Medco Arifin Panigoro juga dalan rangka penerapan GCG. Transparansi menjadi kata kunci untu semua yang berkepentingan pada kesuksesan. stafing. bagi Sugiharto menerapkan GCG bukanlah hal yang mudah. maka yang berkata bukanlah Sugiharto kepada Pak Arifin dan keluarga tapi publik lah yang berkata. terjadilah proses restruturisasi organisasi perusahaan. Perusahaan pertambangan ini. Medco. kata Sugiharto. pemilik tidak lagi ikut campur dalam operasi sehari-hari perusahaan. Medco mengadakan benchmark study untuk menilai kompensasi SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 23 .

ini memperkecil peluang munculnya KKN. itu tak berarti semuanya nantinya menjadi serba kolektif. bagi Medco. Toh. yang juga anggota Dewan Pakar PPP. Bagi Sugiharto. dan sebagainya yang ditujukan untuk memperkokoh GCG. Dalam penerapan GCG.karyawan. akses kepada pendanaan. "Untuk level manajer sampai Vice President ada training Transformational Leadership. adanya perpindahan budaya pada gilirannya memberikan maslahat ekonomi jangka panjang bagi Medco. lebih mudah sejak Medco menerapkan GCG. penyempurnaan berjalan terus dari waktu ke waktu. baik yang konvensional. Anggaran untuk penerapan GCG masuk dalam biaya operasional. Baru belakangan perusahaan ini melibatkan banyak pihak dalam seminar. dan syaratnya gampang. "Sebagai Chief Financial Officer merangkap Corporate Secretary. hal itu bukan proyek melainkan sudah inheren dengan kinerja perusahaan. Pelatihan ini bekerjasama dengan konsultan manajemen asal ITB. sehingga penumpukan wewenang bisa dihindari. sumber dana Medco juga meluas dari domestik menjadi internasional. Harus ada perpindahan budaya dari budaya keluarga yang tertutup menjadi perusahaan publik yang terbuka. "Dengan melakukan go public. Itu keuntungan riil yang dituai dengan masuk pasar modal. Ini diikuti level Direktur. I Gede Rake. Artinya." tutur Sugiharto. Menurut Sugiharto. ada yang disebut Synergistic Leadership. pasar uang ataupun equity." jelasnya bersemangat.Pada gilirannya. Implementasinya melahirkan demokratisasi dalam pengambilan keputusan. penerapan GCG merupakan proses dinamis. Singkatnya. delegation of authority tetap diperlukan." katanya. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 24 . tidak diperkenankan. Selain saya. awalnya Medco tidak melibatkan konsultan. Sebab. saya berwenang memberikan keterangan tentang affair perusahaan. "Dana internasional itu murah. Sementara karyawan memiliki pengembangan karier sendiri. Menerapkan GCG bukanlah hal yang mudah. pelatihan. cepat. karena budaya perusahaan telah terbentuk bertahun-tahun lamanya. mudah. terutama karena tersedianya dana murah dari pasar modal. Jangka waktunya dua minggu.bawah dalam penggajian. Ini sengaja dilakukan agar Medco tidak berada dalam posisi ter." katanya memberi contoh. Training ini wajib diikuti dan merupakan kombinasi antara training dan outbond. Tidak ada anggaran khusus untuk semua itu. Pada tingkatan yang lebih tinggi.

Anggota komite adalah direksi. mereka bisa juga disebut independen. Medco juga melengkapi dirinya dengan internal audit. apa artinya penerapan GCG di Medco bagi kinerja sahamnya di pasar modal? "Paling tidak kami termasuk the good performing company secara konsisten sejak IPO. Komite ini dilengkapi buku SOP yang bernama Authoritative Table. Medco termasuk perusahaan yang rajin mengeluarkan siaran pers. bisa diharapkan keputusan yang diambil adalah yang terbaik karena telah dibahas dari segala sisi.Dalam pengambilan keputusan penting. dan promoter—bisa dari anak-anak perusahaan yang menjadi pimpro. Dengan demikian. corporate finance manager. "Karyawan yang masuk ke sini pertama kali harus menandatangani kode etik. Medco selalu mengadakan analist meeting. Dari bagan organisasinya. dalam masalah transparansi. terlihat gamblang bahwa Medco memiliki diskripsi pekerjaan yang jelas antara Board of Directors dan Board of Commisioner. Medco kemudian juga memasukkan dua orang asing sebagai komisaris. termasuk pemegang saham minoritas. Setelah merestrukturisasi utang. termasuk dengan wartawan. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 25 . Dengan penerapan GCG selama ini. Secara substansi. yaitu Wijarso dan John Karamoy. baik yang ada di dalam maupun di luar perusahaan. Dia juga konsisten mengangkat komisaris independen." jawabnya bangga." jelasnya. investor relations (sebagai sekretaris). Selain itu. "Mereka mewakili pemegang saham dari luar negeri. "Mereka bertugas menjadi wasit pada seluruh rapat yang ada di perusahaan. lanjutnya. Medco juga memiliki kode etik perusahaan. semua diambil melalui comittee. sebagai watchdog. Di samping itu. Selain benefit di atas." kata Sugiharto. kata Sugiharto. Complience officer harus menguasai seluruh peraturan. Medco termasuk yang paling telanjang. serta investor relations dan compliance officer. setiap ada corporate action. Medco memang termasuk the best ten dalam volume perdagangan di bursa. Medco dinilai banyak orang sebagai perusahaan yang peduli terhadap pemegang sahamnya. Bapepam mengakui." kata Sugiharto. disclosure dan laporan keuangan tahunan maupun triwulanan. Perusahaan ini juga konsisten memberikan laporan keuangan 14 hari sebelum RUPS.

pada 1956. Di bawah "tatapan" 130 direktur sepanjang sejarah GE yang fotonya terpampang di dinding ruang rapat besar yang digunakan. Immelt yang kelahiran Cincinnati.Praktik Di Mata Investor Mancanegara Prih Sarnianto Good corporate governance tidak menjamin kinerja bisnis bagus. Apa yang dilakukan perusahaan mancanegara dalam hal yang berkaitan dengan kepentingan pemegang saham minoritas ini. 15 pria dan tiga wanita — para anggota board — berkumpul di lantai ke-53 Gedung General Electric Co. James McNemey (51 tahun). perusahaan yang didirikan Thomas A. Tak menyertakan Welch yang sangat disegani. Welch membesarkan General Electric (GE). Di situ. di Rockefeller Center. mengalahkan Robert Nardelli (52 tahun) dan W. dua kali GE menyabet gelar runner-up perusahaan terbaik yang menjalankan GCG. Proses penggantian CEO yang paling menarik perhatian dunia bisnis ini dimulai empat tahun lalu ketika. Rahasia sukses lainnya? Mungkin ini: good corporate governance (GCG). Inilah kado terakhir buat Welch yang tak lama kemudian menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Jeffrey Immelt. Ohio. mereka mendapatkan lebih dari sekadar kajian formal tentang strategi dan SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 26 . Para anggota komite yang semuanya direktur dari luar itu menemui para kepala divisi dan pemain kunci lainnya. cara yang unik dalam memilih penggand sang chairman legendaris itu memberikan andil yang menentukan kemenangan GE. Dari tiga kali survei majalah Business Week terhadap korporasi Amerika Serikat. Itulah salah satu kiat Jack F. tetapi bisa mengangkat nilai saham. New York. Edison pada 1892 ini merebut peringkat puncak dari tangan Campbell Soup Co. dan apa pula respons investor? M enjadi nomor satu atau dua di setiap bisnis yang digeluti.. Boleh jadi. mereka menentukan satu dari tiga eksekutif terbaik yang telah dijaring secara seksama untuk menjadi nakhoda terpercaya mereka. Akhir Januari 2000. Pada puncak pemilihan itu. atas anjuran Welch. komite pengembangan manajemen GE mulai melakukan serangkaian perjalanan 2-3 hari ke lapangan untuk mencari calon pengganti sang CEO.

6 juta itu terbuka sejalan dengan para pemegang saham minoritas. pemilihan CEO yang sangat terbuka ini dipandang oleh responden—para chief executive dan direktur perusahaan lain. Dua kriteria besar lainnya. serta pakar GCG—sebagai indikasi bahwa GE memiliki dewan direksi yang benar-benar independen serta punya akuntabilitas tinggi kepada pemegang saham —dua dari empat kriteria besar yang mencerminkan GCG. adalah: kepentingan para outside director yang masing-masing menguasai saham GE senilai rata-rata US$ 6.operasional perusahaan. Dalam hal performa. "Standar terpenting GCG tak dapat di. dan komite penominasi (nominating committee) tak satu pun dari dalam. perusahaan di bidang proxy advisory. Dalam hal kualitas direksi? Ada bukti tak langsung: hanya dalam bilangan minggu. nilai-nilai. dan faktor personal boardroom tetapi tak terlihat dari luar. yang tercermin dari kiprah mereka. Kebijakan board Home Depot yang orisinal juga menarik banyak perusahaan untuk menirunya. pihak yang kepentingannya sering dilupakan. Wilcox. misalnya.9 miliar ketika mulai dipegang Welch pada April 1981. bukan hanya untuk sebuah board tetapi juga untuk seorang CEO yang justru menyuruh board tersebut melakukannya. Rupanya. cara ini mengilhami mereka melakukan atau menganjurkan hal serupa. "Itu sangat unik. komite kompensasi. seorang direktur GE yang mantan CEO Illinois Tool Works Inc. menurut versi Business Week. performa perusahaan dan kualitas direksi.ukur secara eksternal. Bahkan." ujar Silas Cathcart.. pada 2000 menduduki peringkat ke-8 dalam hal GCG ini adalah kebijakan yang mewajibkan direktur dari luar untuk secara lainnya yang sangat jelas terlihat di dalam SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 27 . Tanda-tanda lainnya. keberanian mengambil posisi independen. boleh dibilang tak ada perusahaan besar yang mengalahkan GE yang nilai pasamya meroket jadi hampir US$ 500 miliar dari hanya US$ 13. Vice Chairman Georgeson Shareholders Communication Inc. "Termasuk kualitas karakter. bukan cuma board GE yang sering dijadikan panutan. dan mereka yang duduk di komite audit. Tanda-tanda eksternal yang mudah terlihat dalam hal independensi GE adalah kenyataan bahwa mayoritas besar dari 18 anggota board berasal dari luar." kata John C. dua calon bos GE yang kalah langsung dibajak untuk menakhodai perusahaan Fortune 500 lainnya — Nardelli oleh Home Depot dan McNemey oleh 3M." Dalam hal praktik corporate governance yang inovatif. karena dapat melakukan pembicaraan informal dalam acara makan siang atau makan malam yang santai. Salah satu praktik yang paling menarik dari perusahaan yang. telah bicara dengan sendirinya.

tahun lalu 16 anggota dewan yang ada mengevaluasi efektivitas masing-masing terhadap 35 kriteria dalam upaya meningkatkan kontribusi mereka. Mereka juga melakukan melakukan survei gaji direksi. melakukan hal yang tak kalah unik.formal turun ke lima toko milik perusahaan setiap kuartal. Compaq bahkan kesulitan merekrut CEO yang bagus dari luar. para kandidat khawatir akan jadi semacam sopir cadangan. apa untungnya menerapkan GCG? Banyak. yang terpisah dari CEO-nya. kinerja keuangan Campbell Soup dan Compaq boleh dibilang kedodoran dibandingkan para pesaing masing-masing dan nilai sahamnya jeblok dibandingkan indeks saham S&P 500. setelah kampiun industri PC ini mendepak CEO kedua mereka dalam lima tahun terakhir. Kalau kenyataan lapangan lain dari teori. mereka juga bisa berperan lebih besar buat perusahaan. karena sejak lama para pakar manajemen meyakinkan dunia usaha bahwa. Benjamin Rosen. Secara tersirat. mengundurkan diri pada awal 2001. Selama 18 bulan terakhir sampai 2000. misalnya." ujar Patrick McGum. para anggota board tersebut dapat menolong menyampaikan unek-unek ini kepada manajemen puncak. Dengan begitu. lalu secara sukarela memutuskan me mangkas kompensasi tahunan mereka menjadi US$ 113 ribu dari US$ 160 ribu! Memang. Para direktur Campbell Soup. Memiliki board yang sangat independen di bawah chairman non-eksekutif yang sangat kuat. Kunjungan ke toko membuat anggota dewan direksi memperoleh informasi dari tangan pertama. tak ada jaminan bahwa ketaatan terhadap prinsip-prinsip GCG akan membuat kinerja perusahaan mencorong. ini menyalahkan Rosen yang kelewat kuat pengaruhnya. eksekutif Institutional Shareholders Services Inc. Dan ini ironis. Ini mungkin hal yang biasa-biasa saja seandainya para direksi tersebut tidak menyimpulkan bahwa gaji mereka kelewat besar.hak para pemegang saham ini bisa SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 28 . "Rupanya. Solusinya: Home Depot membuka toko satu jam lebih lambat pada hari Minggu. yang paling ideal bagi perusahaan adalah memiliki chairman yang kuat. Sebagai contoh. sehingga setiap minggu para staf dapat memulai kerja dengan pelatihan selama satu jam. Praktik yang sangat menghormati hak. ketika para staf di toko-toko mengeluh karena tak bisa lagi melakukan pelatihan customer service lantaran kelewat sibuk. langganan peringkat puncak yang pada 2000 menduduki peringkat ke-3. Johnetta Cole. Rampung dengan proses suksesi yang tak kalah transparan dari GE. Aturan ini dijaga benar. sehingga salah seorang direktur yang merasa tak punya waktu untuk kunjungan toko tersebut.

karena dapat melakukan pembicaraan informal dalam acara makan siang atau makan malam yang santai. perusahaan yang pada 2000 GCG-nya terburuk menurut Business Week dan pada 2001 terpilih jadi jadi salah satu yang paling amburadul menurut Fortune. Toh. Sangat disegani. kalangan perusahaan yang mengabaikan GCG akan mengalami tekanan yang lebih besar manakala kinerja bisnisnya menurun. ia menaruh dua direktur independen ketika dua petinggi yang orang dalam mengundurkan diri. Tak heran kalau kalangan investor tetap menganggap apa yang dilakukan Eisner cuma semacam basa. kebijakan CEO Michael D.. Maklum. Yang masih belum dilakukan Eisner? Justru yang terpenting: la belum mau mencopot teman-teman dekatnya — termasuk pengacaranya. Eisner yang memberikan paket pesangon US$ 75 juta kepada mantan Presiden Direktur Michael Ovits dua tahun lalu mendapat sorotan semakin tajam.basi ketimbang perubahan yang sebenamya. rektor universitas yang menerima bantuan US$ 1 juta darinya. la juga tidak memperbarui anti-takeover poisoning plan — rencana yang jika diterapkan akan membuat akuisisi terhadap Disney jadi kelewat mahal — yang kedaluwarsa pada 1999 dan telah membuat aturan yang menjamin agar para anggota komite audit. mantan kepala SD anak-anaknya — dari jajaran anggota dewan. Eisner setuju melakukan pemilihan tahunan anggota dewan pada 2001. perusahaan baru bisa dikatakan memiliki dewan yang independen kalau direktur yang orang dalam tak lebih dari dua orang. Buat meredam kritik terhadap perusahaan pemilik theme park paling terkenal di dunia ini.membuat masyarakat pemegang saham memiliki pengertian yang lebih besar terhadap perusahaan tersebut di masa sulit. Jack Welch Atas desakan kalangan investor institusional. Padahal. komite kompensasi dan komite pengembangan eksekutif seluruhnya orang luar. Ambil contoh Walt Disney Co. arsiteknya. Sebaliknya. kebijakan ini masih dipandang belum cukup. sehingga sejak Mei 1998 kapitalisasi pasar Disney terpangkas hampir 18% atau US$ 15 SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 29 . mereka mendapatkan lebih dari sekadar kajian formal tentang strategi dan operasional perusahaan. board di Disney masih dipenuhi orang-orangnya Eisner. Eisner mengubah beberapa praktik governance yang kurang rancak. Di tengah menurunnya kinerja keuangan. Salah satunya. menurut standar yang disepakati kalangan bisnis dan pakar GCG.

menanggalkan sistem saham dual-class yang memungkinkan Senior Chairman Don Tyson mengendalikan hampir 90% voting power di perusahaan itu. (peringkat ke-2 terburuk menurut Business Week) dan Cendant Corp. yang menguasai 1. dana pensiun AFL-CIO mengupayakan debat terbuka secara online tentang gaji CEO di 500 perusahaan publik papan atas.8 juta saham." Di dua perusahaan lain — Rite Aid Corp. California Public Employees Retirement System (Calpers) memaksa Tyson Foods Inc. (ke-4 terburuk)—praktik GCG yang jelek bahkan telah menimbulkan skandal akunting yang memicu kericuhan manajemen dan mengundang penyelidikan Securities and Exchange Commission. professor ilmu hukum dari Universitas Stanford. Para investor aktivis.. Direktur Riset Council of Institutional Investors. Pelopomya tak lain kalangan investor institusional yang memiliki otot finansial jauh lebih kuat ketimbang investor individual.miliar lebih. Bapepam-nya AS." ujar Damon A. Associate SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 30 . "tetapi Disney tidak melompat ke arah yang benar-benar baru. Kenyataan bahwa empat dari 9 direktur yang ada adalah orang dalam dan lima anggota dewan direksi sudah berusia 70 tahun atau lebih membuat orang kian mengerinyitkan dahi. di Rite Aid yang sampai diharuskan mengubah laporan keuangannya selama tiga tahun terakhir. Lalu. "Mereka itu seperti mimpi buruk dalam masalah corporate governance. Internet jelas telah membuat para pemegang saham yang aktivis lebih mudah dan murah untuk mengontak dan mengorganisasi investor lain. Silvers." ujar Ann Yeger. tidak memberi dukungan suara kepada dua direktur yang dekat dengan Chairman John H. dana pensiun ini sekarang memanfaatkan Internet buat menghimpun suara. Calpers juga mendorong para investor lain. sekarang juga telah menggunakan Internet buat melecut para manajer dan anggota dewan yang kinerianya kurang bagus untuk bekerja lebih keras. Koppes. Domini Social Security Fund telah mengumumkan rencananya untuk ambil suara dalam masalah proxy melalui dunia maya. komite audit cuma bertemu dua kali pada tahun fiskal 1999. Untuk memperkuat gerakannya. Di AS." ujar Richard H. "Hitung saja biaya menyurati seluruh pemegang saham perusahaan. dari Greenway Partners LP sampai Lens Inc. Skandal tersebut membuat para investor kian meragukan kredibilitas dewan mereka. Bagaimana tidak. Dan strategi ini bukan tak mungkin akan memicu revolusi baru yang memperjuangkan GCG. "Yang namanya peningkatan mestinya adalah langkah ke arah yang benar. Tyson. Buat menghilangkan mimpi buruk ini —yang jadi kenyataan merugikan bagi para pemegang saham — di banyak negara gerakan yang membela hak-hak pemegang saham minoritas makin marak.

bakal mempengaruhi independensi mereka. misalnya Shareholders Association di Swedia. juga mulai melakukan tekanan serupa. Salah satu caranya. mereka memenangkan beberapa kursi. Emerson Electric dan Micron Technology. terutama perbankan. kian banyak perang proxy—yang biasanya dilakukan di balik pintu yang tertutup rapat oleh para power broker local— diledakkan di ruang publik. Calpers berupaya mengomunikasikan suara yang akan diberikan. dengan dukungan Association for Defence Minority Shareholders. Gillan. dua minggu sebelum RUPS. Ketika dana pensiun ini memublikasikan suara yang mereka berikan (votes) berkaitan dengan masalah proxy. beberapa investor institusional besar seperti DWS dan Union Investment di Jerman. untuk melepas yang saham sejak lama SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 31 . The Economist mencatat. seperti yang mereka lakukan ketika mencegah merger Volvo-Renault dan "membujuk" Skandia membatalkan sistem pemberian bonusnya yang kontroversial. para investor akan tahu rencana Calpers untuk tidak memberikan suara pada Januari lalu dalam pemilihan beberapa direktur Tyson Foods. Associate General Counsel Calpers. Tak mau lagi dirugikan begitu saja oleh Groupe Andre yang terus memburuk kinerjanya. Dengan mengklik situs web dana pensiun ini. Di Benua Lama ini. Dan. tahun lalu para investor menuntut pemilik rantai pertokoan fashion Kookai ini untuk menempatkan wakil investor minoritas di jajaran dewan. dengan memanfaatkan kekuatan media massa. Calpers mempublikasikan sikapnya pada RUPS di 300 perusahaan — tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu yang cuma100 perusahaan. "Kami mencoba mempengaruhi opini orang banyak dalam masalah pemberian suara. "Dengan menggunakan situs web. Calpers membuktikan. Kita bisa memperoleh akses kepada semua orang. menerangkan." Kayla J. Calpers yakin. semakin aktif. Kebijakan Pemerintah Jerman menghapus corporate capital gains atas penjualan saham yang berlaku efektif awal tahun depan diperkirakan bakal mendorong kalangan perusahaan. walau tak ada lembaga yang setangguh Calpers. Melalui situsnya.General Counsel AFL-CIO. Menjelang RUPS tahun ini. Di Eropa. Alasannya: beberapa anggota dewan ketiga perusahaan tersebut punya hubungan bisnis atau personal dengan perusahaan atau manajemen puncak yang. kelompok pemegang saham kecil. ternyata situs web cukup ampuh mengundang para pemegang saham untuk berpartisipasi. situs mereka menarik 30 ribu hit lebih/bulan. Demikian pula." Terlebih. berkat bantuan media massa.

Presiden Direktur Templeton Emerging Market Funds. termasuk Philippine Airlines yang terpuruk. Pakistan dan Filipina—hanya yang disebut terakhir ini yang meluncurkan kebijakan yang berani. Di antara negara yang terbanyak memiliki perusahaan dengan GCG yang amburadul—Cina. Alasannya? "Kami tidak yakin Mr. Joseph Estrada memberi izin sobatnya. Di Asia. Tan berada dalam posisi yang SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 32 . untuk mengambilalih The Philippine National Bank (PNB). yang pemilikan saham silang dan praktik GCG-nya nya jauh lebih parah. yang kita kenal sekarang. Malaysia. Tahun lalu. akan lebih banyak pemilikan asing di perusahaan Jerman. "Kemampuan PNB menagih outstanding loans ke perusahaan-perusahaan tersebut menjadi pertanyaan besar.mereka simpan. mengajukan complaint kepada bank sentral negeri berbahasa Tagalog tersebut. diketahui menjadi debitor besar PNB. pemilikan saham silang yang menjadi salah satu penghambat besar penerapan GCG akan sangat berkurang. Thailand menerbitkan "code of good practices on good corporate governance. Kalau ramalan Stephen Davis jadi kenyataan.besar di negeri itu. campur tangan pemerintah untuk membenahi perilaku dunia bisnis lebih dalam lagi." ujar pendiri Davis Global Advisor. Di era pemerintahan yang lalu. Padahal. Langsung mendirikan komite untuk mengubah UU Sekuritas dan mempromosikan "an economic philosophy of transparency and free enterprise." Musababnya sederhana. beberapa perusahaan Tan. taipan Lucio Tan.” Gloria Mancapagal Arroyo "Ini akan menjadi akhir Germany Inc." Mark Mobius. hanya 18% saham Jerman yang berada di tangan asing—tak sampai setengah dibandingkan tingkat pemilikan saham oleh asing di Francis dan Belanda. mendirikan semacam kemitraan asosiasi publik-swasta untuk mengumpulkan mformasi tentang praktik pemerintah terhadap perusahaan yang terdaftar di bursa buat menjamin kepentingan investor institusional." Negara Asia lainnya Korea Selatan. bank pemerintah yang merupakan kreditor ke-6 ter. Indonesia. Saat ini. "Ini bakal mengubah insider market yang rendah likuiditasnya menjadi pasar dengan likuiditas jauh lebih tinggi seperti di bagian lain Eropa. lembaga yang beraktivitas meningkatkan akuntabilitas perusahaan di seluruh dunia.

Sam. kenyataannya para pemegang saham memperlakukan perusahaan seolah merugi. SWA/19/XVII/20 September-3 Oktober 2001 33 . Tugasnya: mengambil alih kontrol mayoritas dari Tan. yang disegani. kalangan non-pemerintah di Asia juga mulai bangkit. kapitalisas pasar perusahaan anjiok men. ini tak menghilangkan kemungkinan lain sebagai pemicu sentimen negatif tersebut: Kalau perusahaan yang GCG-nya bagus saja bisa jeblok kinerjanya(sehingga secara tak sengaja merugikan pemegang saham). katanya. 25 perusahaan peringkat teratas. Presiden Gloria Macapagal Arroyo langsung mendirikan komite untuk mengubah UU Sekuritas dan mempromosikan "an economic philosophy of transparency and free enterprise. pada tahun yang sama. putra chairman Samsung Group Lee Kun Hee yang berusia 33 tahun. yang mempraktikkan GCG dengansangat baik. nilai saham 100 perusahaan di pasar yang sedang berkembang meningat rata-rata 127% (dalam US$). Kontroversi pun merebak. Namun. Bagaimana bisa?'" Sangat mungkin para investor khawatir terhadap menurunnya bisnis elektronik global. sebuah LSM yang membela hak-hak pemilik saham meluncurkan kampanye untuk menghadang Samsung yang hendak menempatkan Lee Jae-Yong. Tetapi. bos The Philippine Insurance Corp. menjalankan bank tersebut menurut standar GCG tertinggi." ujar para eksekutif Samsung." Ia juga mengangkat Noberto Nazareno. Perusahaan yang seenaknya dalam soal GCG? Dihukum oleh pasar.memungkinkannya melaksanakan tugas dengan baik sebagai direktur (PNB). sebagai vice president perusahaan itu. "Kami jadi bertanya-tanya: 'Perusahaan.jadi 2 triliun won (hanya separuh nilainya pada awal tahun). nilai sahamnya meroket ratarata 267%. menjadi Chairman PNB. dan memicu pertanyaan lain. Di antara perusahaan itu. Tengok saja bursa-bursa yang penuh dengan perusahaan yang praktik GCG-nya amburadul— termasuk Indonesia. bagaimana pula yang GCG-nya jelek dan jelas-jelas berisiko tinggi untuk menerapkan kebijakan yang merugikan pemegang saham? Penelitian CLSA Emerging Market yang hasilnya diterbitkan April lalu membuktikan adanya korelasi langsung antara harga saham dan praktik GCG. Awal tahun ini. lalu melego kembali PNB ke swasta.8 miliar).sung meraup laba sangat besar—sekitar 6 triliun won (US$ 4. membukukan laba. Filipina dan Pakistan—indeks sahamnya semua jeblok. Selain itu. "Pada tahun fiskal yang berakhir Desember lalu. Selama tiga tahun terakhir. karena kepentingannya yang lain menjadi taruhan Begitu Estrada jatuh. misalnya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->