Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

ANEKA RAGAM PEMILU DI INDONESIA

Oleh Kelompok 15 :
1. Abdul Rosid
2. Hafizh Nur Huda

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM


FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA UIN SUNAN
KALIJAGA
2010
BAB 1

PENDAHULUAN

Bismillahirrohmanirrohim

Dalam sebuah Negara demokratis, pemilu merupakan kegiatan politik yang sangat

penting dalam proses penyelenggaraan kekuasaan dalam sebuah Negara. Oleh karena itu,

penting kiranya kami deskripsikan bagaimana jalannya pemilu di Indonesia dari waktu ke

waktu.

Begitu mendasarnya pemilu sebagai pelaksana kedaulatan rakyat dapat ditelusuri

sejak awal berdirinya republik ini yang diawali pemilu tahun 1955, pemilu- pemilu

dikurun orde baru dan terakhir pemilu bulan april 2004 pada era reformasi. Namun baru

berlangsung tahun kemarin kita di Negara kesatuan ini telah diselenggarakan pemilu;

yaitu pemilihan umum dewan perwakilan rakyat, dewan perwakilan rakyat daerah, juga

pemilihan umum dewan perwakilan daerah.

Mungkin dalam hal ini kami akan mendeskrisikan satu persatu dari mulai

pengertian dan dasar pemikiran diselenggarakannya pemilu yang selalu menjadi momok

pembicaraan masyarakat Indonesia, Asas- asas dan tujuan pemilu itu sendiri, dan aneka

ragam pemilu di Negara Indonesia dari waktu ke waktu akan kami paparkan dalam

sebuah makalah kecil ini.


BAB 2

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN DAN DASAR DIADAKANNYA PEMILU

A. Pengertian Pemilu

Dari sudut pandang ilmu Hukum Tata Negara, pemilu merupakan objek pembahasan

yang menarik. Salah satu kajian ilmu Hukum Tata Negara adalah hal- hal yang ada

kaitannya dengan masalah- masalah kekuasaan. Dalam kaitannya dengan kekuasaan

maka dari sudut pandang ilmu Hukum Tata Negara, pemilu merupakan proses pergantian

kekuasaan yang dilakukan secara berkala dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

sesuai dengan prinsip- prinsip yang digariskan oleh konstitusi. Pendiri Negara yang juga

perancang konstitusi UUD 1945 telah menetapkan ajaran tentang kedaulatan rakyat yang

ditransformasikan kepada badan perwakilan rakyat yang dinamakan MPR, DPR, dan

DPRD. Implementasi dari ajaran kedaulatan rakyat yang diamanatkan oleh konstitusi

tidak dapat dilepaskan dari pemilihan umum, karena pemilihan umum merupakan

konskuensi logis dianutnya prinsip kedaulatan rakyat (demokrasi) dalam kehidupan

berbangsa dan bernegara.

Prinsip kehidupan ketatanegaraan yang berkedaulatan rakyat (demokratis)

ditandai bahwa setiap warga negara berhak ikut aktif dalam setiap proses pengambilan

keputusan Negara.

B. Dasar Pemikiran Diadakannnya Pemilu


Negara Republik Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berdasarkan kedaulatan

rakyat. Prinsip ini tercantum dalam UUD 1945. Untuk melaksanakan prinsip kedaulatan

rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan,

perlu dibentuk lembaga- lembaga permusyawaratan /perwakilan rakyat yang anggota-

anggotanya dipilih melalui Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara demokratis dan

transparan (keterbukaan).

Pemilihan umum merupakan sarana demokrasi guna mewujudkan sistem

pemerintahan Negara yang berkedaulatan rakyat. Pemerintahan Negara yang dibentuk

melalui pemilihan umum itu adalah yang berasal dari rakyat, dijalankan sesuai kehendak

rakyat dan diabdikan untuk kesejahtraan rakyat. Hanya pemerintahan Negara yang

memancarkan kedaulatan rakyatlah yang memiliki kewibawaan kuat sebagai pemerintah

yang amanah. Pemerintahan yang dibentuk melalui suatu pemilihan umum akan memiliki

legitimasi yang kuat.

2. ASAS- ASAS DAN TUJUAN PEMILU

A. Asas Pemilu

Berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia

Nomor XIV/MPR 1998 tentang Perubahan dan Tambahan Atas Ketetapan Majelis

Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor III/MPR/1988 tentang

pemilihan umum, bahwa pemilihan umum dilaksanakan secara demokratis dan


transparan, berdasarkan asas jurdil (jujur dan adil) dan luber (langsung, umum,

bebas, dan rahasia).

a. Jujur

Dalam penyelenggaraan pemilihan umum, penyelenggara/pelaksana,

pemerintah dan partai politik peserta pemilihan umum, pengawas dan

pemantau pemilihan umum, termasuk pemilih, serta semua pihak yang terlibat

secara tidak langsung, harus bersikap dan bertindak jujur sesuai peraturan

perundang- undangan yang berlaku.

b. Adil

Dalam penyelenggaraan pemilihan umum, setiap pemilih dan partai politik

peserta pemilihan umum mendapat perlakuan yang sama, tanpa ada

pengistimewaan atau diskriminasi terhadap pemilih atau peserta pemilu. Asas

jujur dan adil tidak hanya ditujukan kepada pemilih atau peserta pemilu saja,

tetapi juga penyelenggara pemilu.

c. Langsung

Rakyat pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung sesuai

dengan kehendak hati nuraninya, tanpa perantara.

d. Umum

Pada dasarnya semua warga Negara yang memenuhi persyaratan minimal

dalam usia, yaitu sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau telah/pernah

kawin berhak ikut memilih dalam pemilihan umum. Warga Negara yang

sudah berumur 21 (dua puluh Satu) tahun berhak dipilih. Jadi pemilihan yang

bersifat umum itu mengandung makna menjamin kesempatan yang berlaku


menyeluruh bagi semua warga Negara yang telah memnuhi persyaratan

tertentu tanpa diskriminasi (pengecualian) berdasar acuan suku, agama, ras,

golongan, jenis kelamin, kedaerahan, dan status sosial.

e. Bebas

Setiap warga Negara yang berhak memilih, bebas untuk menentukan

pilihannya tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun. Di dalam melaksanakan

haknya, setiap warga Negara dijamin keamanannya, sehingga dapat memilih

sesuai dengan kehendak hati nurani dan kepentingannya.

f. Rahasia

Dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin bahwa pilihannya tidak akan

diketahui oleh pihak manapun dan dengan jalan apapun. Pemilih memberikan

suaranya pada surat suara dengan tidak dapat diketahui oleh orang lain kepada

siapa suaranya diberikan. Asas rahasia ini tidak berlaku lagi bagi pemilih yang

telah keluar dari tempat pemungutan suara dan secara suka rela bersedia

mengungkapkan pilihannya kepada pihak manapun.

B. Tujuan Pemilu

Untuk mewujudkan tata kehidupan Negara sebagaimana dimaksud oleh

Pancasila, Undang- Undang Dasar 1945, serta cita- cita proklamasi kemerdekaan

17 Agustus 1945, perlu diselenggarakan pemilihan umum. Pemilihan umum

bertujuan untuk memilih wakil rakyat, membentuk pemerintahan, melanjutkan


perjuangan mengisi kemerdekaan, dan mempertahankan keutuhan Negara

Kesatuan Republik Indonesia.

Pemilihan umum yang demokratis merupakan sarana untuk menegakkan

kedaulatan rakyat dan untuk mencapai tujuan Negara. Oleh karena itu, pemilihan

umum tidak boleh menyebabkan rusaknya sendi- sendi kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara.

3. Aneka Ragam Pemilu di Indonesia dari Waktu ke Waktu

A. Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD

Sepanjang sejarah Indonesia yang menganut Negara berkedaulatan rakyat,

telah diselenggarakan 10 kali pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD,

yaitu pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004 dan

2009. Namun disini kami mengklarifikasikannya menjadi tiga bagian, yaitu

pemilu tahun 1955, pemilu masa orde baru, dan pemilu era reformasi.

1. Pemilu 1955

Pemilu pertama dilangsungkan pada tahun 1955 dan bertujuan untuk memilih

anggota- anggota DPR dan Konstituante. Pemilihan Umum tahun 1955

merupakan pemilu nasional yang aman dan damai.

Sebagaimana pemilu tahun 2004, partai politik peserta pemilu pada pemilu 1955

juga mencantumkan nama calon legislatifnya, sesuai dengan ketentuan UU No. 7

Tahun 1953 tentang pemilihan anggota konstituante dan anggota DPR. Sifat
terbuka dapat dilihat dari mekanisme pemilihannya, sebagaimana dijelaskan

dalam pasal 67 adalah pemilih memberikan suara kepada suatu daftar dengan

menusuk tanda gambar daftar itu.(pasal 67 ayat 2 UU No. 7 Tahun 1953). Selain

itu, ketentuan UU yang menentukan bahwa pemilih yang mempunyai tempat

tinggal lebih dari satu, harus menentukan salah satu tempat tinggalnya. Baik

untuk menghindari adanya pendaftar doble dan juga untuk menghindari adanya

kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh pemilih dengan memilih didua

tempat.

Lima besar dalam pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia, Masyumi,

Nahdlatul Ulama, Partai Komunis Indonesia, dan partai Syarekat Islam Indonesia.

Sebagai sebuah langkah awal untuk membentuk pemerintah yang demokkratis,

pemilu tahun 1955 menjadi preseden baik bagi tumbuhnya semangat

berdemokrasi untuk Indonesia.

2. Pemilu Orde Baru

Pemilu selama orde baru berlangsung selama enam kali dan hasil pemilu orde

baru pada waktu itu didominasi oleh Golkar, dimana dia selalu menjadi pemenang

pemilu dengan perolehan suara mutlak (diatas 50%).

Pada pemilu orde baru memang mengandung berbagai kelemahan. Pertama,

dari segi keterwakilan, wakil- wakil yang dicalonkan oleh partai tidak terikat oleh

ketentuann domisili. Kedua, dari segi hubungan antara wakil dan konstituennya,

sisitem pemilu pada orde baru melahirkan hubungan yang renggang antara rakyat
dan wakilnya. Ketiga, komposisi DPR didominasi oleh mereka yang berasal dari

wilayah yang padat penduduknya.

Selain itu, dari sudut sistem kepartaian, pemilu orde baru memang

menunjukan kesetabilan politik yang pada waktu itu hanya terdapat tiga partai

politik, maka akan lebih mudah bagi partai yang menang dalam pemilu untuk

memobilisasi massa dalam pemilu- pemilu berikutnya. Namun, kesetabilan

tersebut tidak membawa dampak baik bagi masyarakat, karena justru kesetabilan

itu memunculkan sebuah implikasi negative yaitu hak politik rakyat terbendung.

Karena dalam perjalanannya, partai politik yang sudah ada itu tidak lagi sejalan

dengan aspirasi rakyat.

3. Pemilu Masa Reformasi

Reformasi ternyata membawa perubahan yang signifikan, termasuk dalam

penyelenggaraan pemilu 1999. Ternyata sistem multi partai pada saat itu

membuktikan bahwa rakyat Indonesia sebelumnya terbelenggu aspirasi

politiknya. Munculnya banyak partai politik pada saat itu yaitu 48 partai politik

membuktikan bahwa masyarakat Indonesia tidak buta politik. Dari segi

kelembagaan, pelaksanaan pemilu pada Tahun 1999 mengawali sebuah pemilu

yang mendekati demokratis, ada komisi pemilihan umum. Terdapat juga lembaga

pengawas dan pemantau pemilu yang non partisan. Dan lembaga yang terakhir ini

dalam pemilu orde baru mustahil terjadi.

Pada pemilu 2004, nampaknya dari segi kelembagaan pemilu ada perubahan.

Komposisi KPU tidak lagi seperti pemilu 1999. KPU berdasarkan UU No. 12
Tahun 2003 tidak lagi menyertakan wakil- wakil dari partai politik dan

pemerintah.

Meskipun pemilu 2004 diwarnai oleh beberapa kerumitan, tetapi secara umum

sistem pemilu 2004 lebih baik dibandingkan ddengan pemilihan sebelummnya.

Pemilih dapat menentukan sendiri pilihannya, baik pilihan partainya maupun

pilihan wakil- wakilnya. Sistem pemilihan yang seperti ini dapat merekatkan

hubungan antara si wakil dan yang di wakilinya.

Mungkin kekurangan atau kelemahan pemilu 2004 ini hanya pada kurang

efisiennya sosialisasi mengenai pendaftaran pemilih, cara pencoblosan dan

sosialisai caleg masing- masing parpol seharusnya dilaksanakan jauh- jauh hari

sebelumnya.

4. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden

Pemilihan umum presiden dan wakil presiden pertama diselenggarakan pada

Tahun 2004.
Pemilu pertama dilangsungkan pada tahun 1955 dan bertujuan untuk memilih anggota-
anggota DPR dan Konstituante. Pemilu ini seringkali disebut dengan Pemilu 1955, dan
dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Namun, Ali
Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat pemungutan suara, kepala pemerintahan
telah dipegang oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap.

Sesuai tujuannya, Pemilu 1955 ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu:

• Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai
politik dan individu,
• Tahap kedua adalah Pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

Lima besar dalam Pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia, Masyumi, Nahdlatul
Ulama, Partai Komunis Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

Pemilu 1971

Pemilu berikutnya diselenggarakan pada tahun 1971, tepatnya pada tanggal 5 Juli 1971.
Pemilu ini adalah Pemilu pertama setelah orde baru, dan diikuti oleh 10 partai politik.

Lima besar dalam Pemilu ini adalah Golongan Karya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai
Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

Pada tahun 1975, melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik
dan Golkar, diadakanlah fusi (penggabungan) partai-partai politik, menjadi hanya dua
partai politik (yaitu Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia) dan
satu Golongan Karya.

Pemilu 1977-1997

Pemilu-Pemilu berikutnya dilangsungkan pada tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.
Pemilu-Pemilu ini diselenggarakan dibawah pemerintahan Presiden Soeharto. Pemilu-
Pemilu ini seringkali disebut dengan "Pemilu Orde Baru". Sesuai peraturan Fusi Partai
Politik tahun 1975, Pemilu-Pemilu tersebut hanya diikuti dua partai politik dan satu
Golongan Karya. Pemilu-Pemilu tersebut kesemuanya dimenangkan oleh Golongan
Karya.
Pemilu 1999

Pemilu berikutnya, sekaligus Pemilu pertama setelah runtuhnya orde baru, yaitu Pemilu
1999 dilangsungkan pada tahun 1999 (tepatnya pada tanggal 7 Juni 1999) di bawah
pemerintahan Presiden BJ Habibie dan diikuti oleh 48 partai politik.

Lima besar Pemilu 1999 adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golkar,
Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional.

Walaupun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan meraih suara terbanyak (dengan


perolehan suara sekitar 35 persen), yang diangkat menjadi presiden bukanlah calon dari
partai itu, yaitu Megawati Soekarnoputri, melainkan dari Partai Kebangkitan Bangsa,
yaitu Abdurrahman Wahid (Pada saat itu, Megawati hanya menjadi calon presiden). Hal
ini dimungkinkan untuk terjadi karena Pemilu 1999 hanya bertujuan untuk memilih
anggota MPR, DPR, dan DPRD, sementara pemilihan presiden dan wakilnya dilakukan
oleh anggota MPR.

Pemilu 2004
Pada Pemilu 2004, selain memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota, rakyat juga dapat memilih anggota DPD, suatu lembaga perwakilan
baru yang ditujukan untuk mewakili kepentingan daerah

Pemilu 2009

diselenggarakan untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 132
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2009-
2014. Pemungutan suara diselenggarakan secara serentak di hampir seluruh wilayah
Indonesia pada tanggal 9 April 2009 (sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 5 April,
namun kemudian diundur[1]).
38 partai memenuhi kriteria untuk ikut serta dalam pemilu 2009. Partai Demokrat
memenangkan suara terbanyak, diikuti dengan Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDI-P).

KPU

Secara institusional, KPU yang ada sekarang merupakan KPU ketiga yang dibentuk
setelah Pemilu demokratis sejak reformasi 1998. KPU pertama (1999-2001) dibentuk
dengan Keppres No 16 Tahun 1999 yang berisikan 53 orang anggota yang berasal dari
unsur pemerintah dan Partai Politik dan dilantik oleh Presiden BJ Habibie. KPU kedua
(2001-2007) dibentuk dengan Keppres No 10 Tahun 2001 yang berisikan 11 orang
anggota yang berasal dari unsur akademis dan LSM dan dilantik oleh Presiden
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tanggal 11 April 2001. KPU ketiga (2007-2012)
dibentuk berdasarkan Keppres No 101/P/2007 yang berisikan 7 orang anggota yang
berasal dari anggota KPU Provinsi, akademisi, peneliti dan birokrat dilantik tanggal 23
Oktober 2007 minus Syamsulbahri yang urung dilantik Presiden karena masalah hukum

Untuk menghadapi pelaksanaan Pemilihan Umum 2009, image KPU harus diubah
sehingga KPU dapat berfungsi secara efektif dan mampu memfasilitasi pelaksanaan
Pemilu yang jujur dan adil. Terlaksananya Pemilu yang jujur dan adil tersebut merupakan
faktor penting bagi terpilihnya wakil rakyat yang lebih berkualitas, dan mampu
menyuarakan aspirasi rakyat. Sebagai anggota KPU, integritas moral sebagai pelaksana
pemilu sangat penting, selain menjadi motor penggerak KPU juga membuat KPU lebih
kredibel di mata masyarakat karena didukung oleh personal yang jujur dan adil.

Tepat 3 (tiga) tahun setelah berakhirnya penyelenggaraan Pemilu 2004, muncul


pemikiran di kalangan pemerintah dan DPR untuk meningkatkan kualitas pemilihan
umum, salah satunya kualitas penyelenggara Pemilu. Sebagai penyelenggara pemilu,
KPU dituntut independen dan non-partisan.

Untuk itu atas usul insiatif DPR-RI menyusun dan bersama pemerintah mensyahkan
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu. Sebelumnya
keberadaan penyelenggara Pemilu terdapat dalam Pasal 22-E Undang-undang Dasar
Tahun 1945 dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 Tentang Pemilu DPR, DPD dan
DPRD, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 Tentang Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden.

Dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu diatur


mengenai penyelenggara Pemilihan Umum yang dilaksanakan oleh suatu Komisi
Pemilihan Umum (KPU) yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. Sifat nasional
mencerminkan bahwa wilayah kerja dan tanggung jawab KPU sebagai penyelenggara
Pemilihan Umum mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sifat
tetap menunjukkan KPU sebagai lembaga yang menjalankan tugas secara
berkesinambungan meskipun dibatasi oleh masa jabatan tertentu. Sifat mandiri
menegaskan KPU dalam menyelenggarakan Pemilihan Umum bebas dari pengaruh pihak
mana pun.

Perubahan penting dalam undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara


Pemilu, meliputi pengaturan mengenai lembaga penyelenggara Pemilihan Umum
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah; Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden; serta Pemilihan Umum
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang sebelumnya diatur dalam beberapa
peraturan perundang-undangan kemudian disempurnakan dalam 1 (satu) undang-undang
secara lebih komprehensif.

Dalam undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu diatur


mengenai KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota sebagai lembaga
penyelenggara pemilihan umum yang permanen dan Bawaslu sebagai lembaga pengawas
Pemilu. KPU dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab sesuai dengan peraturan
perundang-undangan serta dalam hal penyelenggaraan seluruh tahapan pemilihan umum
dan tugas lainnya. KPU memberikan laporan Presiden kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu juga mengatur


kedudukan panitia pemilihan yang meliputi PPK, PPS, KPPS dan PPLN serta KPPSLN
yang merupakan penyelenggara Pemilihan Umum yang bersifat ad hoc. Panitia tersebut
mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan semua tahapan penyelenggaraan
Pemilihan Umum dalam rangka mengawal terwujudnya Pemilihan Umum secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Dalam rangka mewujudkan KPU dan Bawaslu yang memiliki integritas dan kredibilitas
sebagai Penyelenggara Pemilu, disusun dan ditetapkan Kode Etik Penyelenggara Pemilu.
Agar Kode Etik Penyelenggara Pemilu dapat diterapkan dalam penyelenggaraan
Pemilihan Umum, dibentuk Dewan Kehormatan KPU, KPU Provinsi, dan Bawaslu.

Di dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 Tentang Pemilu DPR, DPD dan DPRD,
jumlah anggota KPU adalah 11 orang. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor
22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu, jumlah anggota KPU berkurang menjadi
7 orang. Pengurangan jumlah anggota KPU dari 11 orang menjadi 7 orang tidak
mengubah secara mendasar pembagian tugas, fungsi, wewenang dan kewajiban KPU
dalam merencanakan dan melaksanakan tahap-tahap, jadwal dan mekanisme Pemilu
DPR, DPD, DPRD, Pemilu Presiden/Wakil Presiden dan Pemilu Kepala Daerah Dan
Wakil Kepala Daerah.

Menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu,


komposisi keanggotaan KPU harus memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-
kurangnya 30% (tiga puluh persen). Masa keanggotaan KPU 5 (lima) tahun terhitung
sejak pengucapan sumpah/janji.
Penyelenggara Pemilu berpedoman kepada asas : mandiri; jujur; adil; kepastian hukum;
tertib penyelenggara Pemilu; kepentingan umum; keterbukaan; proporsionalitas;
profesionalitas; akuntabilitas; efisiensi dan efektivitas.

Cara pemilihan calon anggota KPU-menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007


Tentang Penyelenggara Pemilu-adalah Presiden membentuk Panitia Tim Seleksi calon
anggota KPU tanggal 25 Mei 2007 yang terdiri dari lima orang yang membantu Presiden
menetapkan calon anggota KPU yang kemudian diajukan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat untuk mengikuti fit and proper test. Sesuai dengan bunyi Pasal 13 ayat (3)
Undang-undang N0 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu, Tim Seleksi Calon
Anggota KPU pada tanggal 9 Juli 2007 telah menerima 545 orang pendaftar yang
berminat menjadi calon anggota KPU. Dari 545 orang pendaftar, 270 orang lolos seleksi
administratif untuk mengikuti tes tertulis. Dari 270 orang calon yang lolos tes
administratif, 45 orang bakal calon anggota KPU lolos tes tertulis dan rekam jejak yang
diumumkan tanggal 31 Juli 2007.

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden


Pemilihan umum presiden dan wakil presiden (pilpres) pertama kali diadakan dalam
Pemilu 2004.

Pemilu 2004

Pemilu 2004 merupakan pemilu pertama di mana para peserta dapat memilih langsung
presiden dan wakil presiden pilihan mereka. Pemenang Pilpres 2004 adalah Susilo
Bambang Yudhoyono. Pilpres ini dilangsungkan dalam dua putaran, karena tidak ada
pasangan calon yang berhasil mendapatkan suara lebih dari 50%. Putaran kedua
digunakan untuk memilih presiden yang diwarnai persaingan antara Yudhoyono dan
Megawati yang akhirnya dimenangi oleh pasangan Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Pergantian kekuasaan berlangsung mulus dan merupakan sejarah bagi Indonesia yang
belum pernah mengalami pergantian kekuasaan tanpa huru-hara. Satu-satunya cacat pada
pergantian kekuasaan ini adalah tidak hadirnya Megawati pada upacara pelantikan
Yudhoyono sebagai presiden.

Pemilu 2009

Pilpres 2009 diselenggarakan pada 8 Juli 2009. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-
Boediono berhasil menjadi pemenang dalam satu putaran langsung dengan memperoleh
suara 60,80%, mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan
Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto

Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala


Daerah
emilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah (pilkada) menjadi bagian dari
rezim pemilu sejak 2007. Pilkada pertama di Indonesia adalah Pilkada Kabupaten Kutai
Kartanegara pada 1 Juni 2005.