Anda di halaman 1dari 6

Volume 6 No.

1 Tahun 2007

ANALISA PENGATURAN TEGANGAN MENGGUNAKAN ON LOAD TAP CHANGER


DALAM MENINGKATKAN TEGANGAN TERIMA 20 KV

Ramdhan Halid Siregar dan Syahrizal

Teknik Elektro Fakultas Teknik


Universitas Syiah Kuala
Jl. Syech Abdurrauf Darussalam Banda Aceh

ABSTRAK diturunkan sesuai dengan keadaan beban. Oleh karena


itu, pada titik terjauh beban penerimaan tidak akan
Pusat-pusat pembangkit tenaga listrik berada jauh mengalami terlalu banyak penurunan tegangan. Akibat
dari pusat beban, hal ini mengakibatkan kerugian yang tegangan pengirim dinaikkan maka pada titik beban
cukup besar dalam penyaluran daya listrik. Kerugian terdekat dengan sumber akan menerima tegangan yang
tersebut disebabkan oleh saluran yang cukup panjang. lebih tinggi dibandingkan dengan titik beban yang jauh
Sehingga dalam penyaluran daya listrik melalui dari sumber. Oleh karena itu tegangan tersebut perlu
transmisi maupun distribusi akan mengalami tegangan dikendalikan.
jatuh (drop voltage) sepanjang saluran yang dilalui. Ada Adapun tujuan pengendalian tegangan sistem
beberapa cara untuk memperbaiki jatuh tegangan salah dengan menggunakan on load tap changer adalah agar
satunya adalah menggunakan metode on load tap penggunaan daya dan tegangan menjadi lebih ekonomis;
changer yang terdapat pada transformator daya. yaitu tegangan yang digunakan sesuai dengan tegangan
Kenaikan dan penurunan tegangan dapat dilakukan yang di desain dari peralatan yang dipakai, sampai pada
dengan menambah atau mengurangi jumlah tap yang suatu batas tertentu.
terdapat pada transformator daya. Dari analisa diperoleh Tulisan ini menganalisa pengaturan tegangan pada
bahwa dengan menaikkan tegangan pada gardu induk jaringan distribusi primer 20 kV menggunakan on load
melalui perubahan tap pada transformator daya dapat tap changer pada transformator daya. Sehingga besarnya
meningkatkan tegangan ujung pelayanan hingga ke tegangan keluaran dari transformator daya dapat
batas-batas toleransi . dikendalikan dan mampu meningkatkan perbaikan jatuh
tegangan pada tegangan ujung terima yang berada jauh
Kata Kunci : On load tap charger, transformator daya, dari gardu induk.
dan drop tegangan

2. PENGANTAR BESAR JATUH TEGANGAN


1. PENDAHULUAN (DROP VOLTAGE)

Sistem tipikal tenaga listrik memiliki empat unsur Jatuh tegangan yang terjadi pada jaringan distribusi
utama yaitu; pembangkit tenaga listrik, saluran transmisi, 20 kV diakibatkan oleh nilai resistansi dan reaktansi dari
saluran distribusi dan beban atau disebut juga sebagai saluran. Gambar 1 menerangkan bahwa nilai resistansi
pengguna tenaga listrik. Perkembangan sistem terhubung seri terhadap nilai reaktansi. Sehingga besar
kelistrikan saat ini telah mengarah pada peningkatan jatuh tegangan dapat diketahui melalui analisis
efisiensi dan mutu tegangan dalam penyaluran energi perhitungan.
listrik. Peningkatan efisiensi dan mutu tersebut dapat Jatuh tegangan pada sistem distribusi mencakup
dimulai dari pembangkitan, transmisi dan distribusi. jatuh tegangan pada:
Pada sisi distribusi, peningkatan efisiensi dapat • Penyulang utama 7%
dilakukan dengan cara mengurangi terjadinya jatuh • Trafo distribusi 4%
tegangan pada saluran dan memberikan tingkat tegangan • JTR 5%
yang aman bagi peralatan pelanggan. • Sambungan Rumah 2%
Besarnya tegangan yang diterima oleh konsumen Jumlah 18%
listrik tidaklah sama, hal ini terjadi karena adanya
impedansi dari jaringan. Oleh karena itu, jatuh tegangan Sesuai dengan definisi, jatuh tegangan adalah:
selalu ada pada setiap bagian dari sistem tenaga, mulai ∆V = Vk − Vt .......................................................... (1)
dari sumber sampai ke pelanggan. Jatuh tegangan
berbanding lurus dengan besarnya arus dan sudut Dengan,
phasanya, yaitu arus yang mengalir di seluruh sistem Vk = nilai mutlak tegangan ujung kirim
tenaga. Dengan pemasangan on load tap changer pada
sistem maka tegangan pengirim dapat dinaikkan maupun Vt = nilai mutlak tegangan ujung terima

Jurnal Rekayasa Elektrika 35


Volume 6 No.1 Tahun 2007

Vt biasanya diambil tegangan sistem yang bersangkutan,


X P+jQ
dalam hal ini Vf yang merupakan tegangan fasa sistem.
L I
Jadi persamaan tersebut dapat ditulis dalam bentuk :
R

⎛ ∆V ⎞
⎟% = ∆V ×100%
Vk V


t
Beban

⎜ Vf ⎟ Vf
⎝ ⎠
(a)
Menurut persamaan (1) maka diperoleh:
∆V = Vk − Vt ≅ IR Cos ϕt + IX L Sin ϕt

Sehingga persamaan dapat ditulis sebagai berikut:


d
Vk

V
⎛ ∆V ⎞
⎜ ⎟ % = (∆V ) % ≅ IR Cos ϕt + IX L Sin ϕt ×100 % ...... (3)
⎜ Vf ⎟ Vf
O
IR Vt
a b c e
⎝ ⎠
IR

l I
IR Cos t
f g Dengan, Vf adalah tegangan fasa nominal atau tegangan
IX L Sin f
pengenal dari sistem yang bersangkutan.
Telah dikatakan sebelumnya bahwa tegangan
dV
pelayanan yang diterima oleh pelanggan tidak dapat
V konstan yang disebabkan oleh banyak faktor.
(b)

Gambar 1. Saluran Distribusi Jarak Pendek [1]


a) Rangkaian ekivalen
b) Pasor diagram

Gambar 1.b merupakan diagram pasor dari Gambar 240 V

1.a, dengan titik O sebagai titik pusat dari lingkaran 230 V

dengan jari-jari Od = Vk, kita buat lingkaran, sehingga 220 V


240 V

memotong perpanjangan Vt pada titik e. Jadi Vk = Oe =


210 V
Oa + ac + ce 204 V

Oleh karena ce << Vk; ce dapat diabaikan, sehingga Vk


200 V

≈ Oa + ac 190 V

Profil tegangan pada beban penuh


Selanjutnya, Oa = Vt; ac = ab + bc dimana
ab = IR Cos ϕ t dan bc = IXL Sin ϕ t ; 240 V

sehingga:
230 V

ac = dV = IR Cos ϕt + IX L Sin ϕt
220 V

216 V
210 V

Selanjutnya Vk, dapat ditulis dalam bentuk: 200 V

Vk ≈ Vt + dV 190 V

Profil tegangan pada beban ringan


≈ Vt + IR Cos ϕ t + IX L Sin ϕ t
Gambar 2. Variasi tegangan pelayanan pada Beban [1]
Atau
Vk − Vt ≈ IR Cos ϕt + IX L Sin ϕ t Adapun variasi tegangan pelayanan yang di izinkan
adalah sebesar, maximum +5% dan minimum -10% dari
Sesuai dengan definisi diatas : tegangan nominalnya berdasarkan standar SPLN[1].
Dari Gambar 2 dapat diketahui variasi tegangan
∆V ≅ Vk − ∆Vt Maka didapat: pelayanan pada beban penuh yang terdekat dengan
sumber maupun beban yang terjauh dari sumber
∆V ≅ IR Cos ϕt + IX L Sin ϕt ..................................... (2)

2.2 Pengubah Sadapan Berbeban (On Load Tap


Changer) Pada Trafo Daya
2.1 Jatuh Tegangan Dalam Prosen
Untuk dapat mengendalikan tegangan primer
Jatuh tegangan dalam prosen, menurut definisi : jaringan distribusi dan menjaga tegangan sistem yang
⎛ ∆V ⎞ V − Vt sampai pada pelanggan masih memenuhi syarat, maka
⎜⎜ ⎟⎟% = k ×100 % harus lengkapi oleh peralatan berupa pengatur tegangan
⎝ Vt ⎠ vt
berbeban pada gardu induknya. Oleh karena itu trafo
utama di gardu induk yang memasok tegangan jaringan

36
Jurnal Rekayasa Elektrika
Volume 6 No.1 Tahun 2007

distribusi primer, trafonya dilengkapi dengan peralatan dengan kompensator saluran (line drop compensation)
pengubah sadapan berbeban (On Load Tap Changer), pada saluran yang dikontrol. Fungsi kompensator
yaitu tegangan dapat diubah tanpa memutus sirkitnya. saluran adalah untuk mempertahankan tegangan disuatu
Sadapan (tap) ini dapat mengubah perbandingan belitan titik pada saluran tersebut, yang letaknya jauh dari gardu
dari trafonya, tap dapat dibuat pada belitan tegangan induk. Suatu titik yang akan dipertahankan tegangannya,
tingginya maupun disisi tegangan rendahnya. Untuk dilakukan secara otomatis dengan mengatur dudukan /
mengantisipasi tegangan masukan transformator setting dari tahanan dan reaktansi rangkaian pengendali
berubah-ubah, maka secara umum trafo dilengkapi kompensator saluran.
sadapan sehingga tegangan sekundernya konstan. Agar Pada Gambar 3, digambarkan bagan sederhana dari
peralatan kendali tegangan dapat bekerja secar benar kompensator saluran berikut dengan diagram pasor dari
diperlukan trafo tegangan untuk mendeteksi tegangan sirkit pengendalinya.
yang akan kita kendalikan. Rangkaian sekunder dari titik pengaturan

trafo tegangan ini merupakan sumber energi untuk rele sumber


catu daya IL trafo arus RL XL
ER

tegangan yang sensitif, yang dapat mengikuti perubahan beban

tegangan yang akan dikendalikan dan meneruskannya ke trafo daya


dikendalikan oleh trafo

suatu alat sehingga tap dapat berubah [1]. rele pengatur tegangan
tegangan XL
RL

Untuk dapat mengikuti perkembangan beban, ERO ER rele pengatur


perubahan sadapan beban selalu dilengkapi dengan
RPT
tegangan

kompensator. Kompensator jatuh tegangan saluran (line


drop compensator) digunakan untuk mempertahankan (a)

kenaikan tegangan yang diakibatkan oleh kenaikan


ERO

beban. Peralatan ini terdiri dari kombinasi


resistor/tahanan dan reaktor yang dapat disetel nilainya.

L
X
ER IL

I
L
R
L

2.3 Pengubah Sadapan Tanpa Beban (No-Load


Tap Changer) Pada Trafo Distribusi IL

(b)

Salah satu perlengkapan agar tegangan pelayanan Gambar 3. Bagan Kompensator saluran [2]
masih dalam batas-batas yang diperbolehkan, maka trafo a). Bagan sirkit kompensator saluran
distribusinya dilengkapi dengan sadapan tanpa beban b). diagram pasor
pada sisi tegangan tingginya, di samping itu pada sisi
tegangan rendahnya atau tegangan terminal sisi sekunder Pada kompensator saluran terdapat trafo tegangan
trafonya sudah dibuat 231/400 V atau +5 % di atas nilai dan arus untuk mendeteksi tegangan dan arus beban.
nominalnya 220/380 V. Pengaturan sadapan tanpa beban Rele pengatur tegangan pada kompensator jaringan
pada trafo distribusi harus dikaitkan dengan pengaturan berfungsi untuk mengontrol kerja pengatur tegangan.
tegangan sadapan berbeban pada trafo utama di gardu Misalkan, tegangan pada titik dari saluran yang akan
induk yang bersangkutan [1]. dipertahankan adalah ER, maka setiap perubahan ER oleh
Dalam mengatur tegangan pelayanan dengan arus beban akan menyebabkan perubahan ERO, yaitu
menggunakan dua sadapan dari trafo utama maupun tegangan keluaran dari pengaturan tegangan di gardu
trafo distribusinya, hanya dimungkinkan pada jaringan induknya. Adanya perubahan ERO, menyebabkan rele
yang beroperasi radial. Pemanfaatan sadapan tanpa pengatur tegangan (RPT) bekerja sehingga tegangan
beban dari trafo distribusi, umumnya dilakukan pada keluaran mengatur kembali ke harga ER lagi, jadi disini
saluran udara tegangan menengah yang panjang, di ER bernilai konstan dan dari diagram pasornya. Bahwa
daerah yang kepadatan bebannya relatif masih rendah. untuk mendapatkan nilai ER yang konstan dengan arus
Terdapat trafo distribusi yang mempunyai 3 sadapan beban yang berubah-ubah, maka nilai tahanan dan
tanpa beban yaitu +5%, 0% dan -5%; pada sistem 20 kV, reaktansi dari rangkaian pengaturnya harus dirubah atau
ekivalen dengan 21 kV, 20 kV dan 19 kV. nilai RL dan XL perlu diatur kembali.
Sisi tegangan rendah (TR) dari kedua macam trafo Penyetelan atau pengaturan kembali nilai RL dan XL
tersebut diatas, tegangan terminal sekudernya (tanpa tergantung ada tidaknya beban yang disadap antara
beban) sudah dibuat 231/400 V atau +5% diatas nilai gardu induk (tempat alat pengatur tegangan) dan titik
nominalnya 220/380 V. yang menjadi pedoman (tegangan yang dipertahankan
tetap pada nilai tertentu). Bila tidak ada beban yang
disadap diantara itu, setelan R dapat ditentukan sebagai
2.4 Kompensator Saluran (Line Drop berikut :
Compensation)
TA p
Dalam mengatur tegangan primer jaringan distribusi Rset = x Reff .............................................. (4)
dengan memakai pengubah sadapan berbeban (on load ⎛N ⎞
PT ⎜⎜ 1 ⎟⎟
tap changer) pada trafo daya di gardu induknya, maka ⎝ N2 ⎠
untuk dapat bekerja secara otomatis, perlu dilengkapi

Jurnal Rekayasa Elektrika 37


Volume 6 No.1 Tahun 2007

dengan : ∆V R = Jatuh tegangan yang diakibatkan oleh tahanan


i
TAp = arus nominal dari trafo arus = In1 arus nominal
sisi primernya saluran seksi ke-i dari penyulang antara
pengatur di gardu induk dan titik pengaturan,
⎛ N1 ⎞ dalam V/seksi
⎜⎜ ⎟⎟ = perbandingan belitan trafo tegangan
⎝ N2 ⎠ n

Reff = tahanan efektif pengantar saluran dari gardu ∑ | ∆V


i =1
R | i = jatuh tegangan total, yang disebabkan
induk sampai titik pengatur dalam ohm
oleh tahanan penyulang antara pengatur di
L − S1 gardu induk dan titik pengaturan, dalam V.
Reff =r× Ω ............................................ (5) |IL| = Besar arus beban pada gardu induk, dalam
2 amper
dengan : |IL,i| = arus beban pada seksi i feeder, dalam amper
r = tahanan per fasa per Km dari penghantar mulai |ra,i | = tahanan penghantar saluran pada seksi i, dalam
dari gardu induk sampai titik pengatur Ω /Km
S1 = jarak antara gardu induk dan titik pengatur dalam |li| = panjang seksi i dari saluran, dalam Km
Km
L = panjang total penyulang utama Demikian juga, untuk setelan X dari kompensator
jatuh-tegangan pada saluran, masih dapat juga
Juga X perlu disetel sebagai berikut: ditentukan oleh persamaan (6), tetapi dalam menentukan
Xeff yang lebih memadai. Lokay memberikan persamaan
l n1 sebagai berikut:
X set = × X eff V ............................................ (6)
⎛ N1 ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ n
⎝ N2 ⎠
∑ ∆V
i =1
x i
Dimana Xeff merupakan reaktansi penghantar utama X eff = Ω ..................................... (10)
dari gardu induk sampai titik pengatur dalam ohm. IL
Besarnya Xeff ditentukan oleh persamaan berikut:
dan
L − S1
X eff = X L × Ω ............................................ (7) n
2 ∑ ∆V
x i = I L,1 × X L,1 × I1 + ...... + I L,n + X L,n × I n V
i =1
dan
XL = Xa + Xd Ω / Km .......................................... (8) dengan :
∆Vv i = jatuh tegangan yang diakibatkan oleh reaktansi
dengan:
Xa = reaktansi induktif dari masing-masing kawat pada seksi ke-i dari penyulang antara pengatur
penghantar penyulang, Ω /Km di gardu induk sampai titik pengatur, V/seksi
n
Xd = faktor spacing dari reaktansi-induktif, Ω /Km
XL = reaktansi-induktif dari penghantar saluran Ω /Km ∑ ∆V
i =1
x i = jatuh tegangan total yang diakibatkan oleh

Dalam perhitungan tahanan/reaktansi efektif, tidak reaktansi induktif dari penyulang antara
termasuk tahanan dan reaktansi dari trafo-trafonya. Bila pengatur tegangan di gardu induk dan titik
antara gardu induk dan titik pengatur terdapat beban- pengaturan, V
beban sadapan, setelan R masih dapat ditentukan oleh X L ,1 = reaktansi induktif (sebagaimana ditentukan
persamaan (4), tetapi dalam menentukan Reff yang oleh persamaan (8) dari seksi ke-i dari
memadai, Lokay memberikan persamaan dalam penyulang, Ω / Km
menghitung Reff sebagai berikut:
Meskipun cara yang baru dijelaskan diatas dalam
n

∑ ∆V
i =1
R
menentukan R dan X efektif sedikit. Lokay
menyarankan sebagai alternatif dan cara praktis untuk
Reff = i
Ω .......................................... (9) menghitung arus (IL) dan tegangan pada lokasi regulator
IL dan tegangan titik pengatur.
n
Perbedaan antara dua nilai tegangan merupakan
∑ ∆V R = I L ,1 × ra ,1 × I 1 + I L , 2 × ra , 2 × I 2 + ..... jatuh tegangan antara pengatur (gardu induk) dan titik
i =1 i pengatur, yang mana dapat ditentukan sebagai berikut:
..... + L, n × ra ,n × l V
∆V = I L × Reff × cosϕ + I L × X eff × sinϕ V ........ (11)
dengan :
Dari sini nilai Reff dan Xeff dapat ditentukan dengan
mudah, bila faktor daya dari beban dan perbandingan

38
Jurnal Rekayasa Elektrika
Volume 6 No.1 Tahun 2007

rata-rata r/x dari feeder/penghantar antara pengatur primer distribusi tertinggi yang diperkenankan diluar
(gardu induk) dan titik pengatur di ketahui. beban puncak dan pada saat beban puncak.
Jadi tegangan primer yang diperkenankan di luar
beban puncak adalah:
VTT VP
150 kV 20 kV

VP.pu = VTT.pu – IP.pu ZT.pu ........................................ (13)

Pengaturan
Langkah selanjutnya, memperhitungkan banyaknya
Tegangan di GI
langkah yang dibutuhkan untuk menaikkan maupun
menurunkan tegangan.
30 MVA; 12,5 %
D/y Y SP Y=1

Y=0 VP. pu − RPT pu


Y1 Sasaran Pengaturan
Tegangan N= ................................................ (14)
Gambar 4. Gardu induk yang mencatu beberapa K
penyulang primer yang dilengkapi dengan pengaturan Di mana K merupakan kemampuan sadapan berbeban
tegangan [1] (LTC) dari trafo tenaga di gardu induk dapat mengatur
±10% dalam 32 langkah.
Pada Gambar 4, terlihat suatu bagian dari sistem Untuk membuat sket profil tegangan penyulang
distribusi tegangan menengah dengan beberapa pada beban puncak tahunan, perlu dihitung terlebih
penyulang radial yang dicatu oleh suatu gardu induk. dahulu jatuh tegangan yang terjadi sepanjang penyulang.
Gardu induk itu sendiri dicatu melalui suatu sistem Jatuh tegangan mengakibatkan tegangan ujung kirim
transmisi. dari penyulang tidak sama dengan tegangan ujung terima.
Sadapan berbeban pada trafo tenaganya dipakai Sehingga diperoleh tegangan ujung terima:
untuk mengatur tegangan rel primer distribusinya (Vp),
dimana tegangan Vp diatur konstan, sedangkan tegangan VP.pu max = RPTpu - ∆V pu ...................................... (15)
transmisi (VTT) dan IZT jatuh tegangan pada trafo
tenaganya tergantung dari beban. Bila jatuh tegangan Kriteria tegangan pada beban puncak tahunan adalah
pada penyulang utamanya dibatasi pada nilai tertentu,
maka penyulang ini masih dapat diperluas/diperpanjang VP.pu max = Tegangan Max penyualang – LJV....... (16)
atau bebannya ditambah lagi bila pada penyulang ini
dipasang alat pengatur tegangan. Pada gambar 4
pengatur tegangan penyulang dinyatakan dengan simbol Kriteria tegangan pada beban nol:
O, dipasang pada lokasi y=y1, naik dan turunnya posisi
sadapan pada alat pengatur ini bekerja secara otomatis VP.pu max= VPmax – LJV .......................................... (17)
dengan mengacu pada tegangan titik sasaran pengaturan,
yaitu titik yTP, yang besarnya sesuai dengan apa yang
kita hendaki. 4. HASIL DAN ANALISA
Sebagai analasis perhitungan untuk mendapatkan
3. METODOLOGI PERHITUNGAN perbaikan jatuh tegangan pada jaringan distribusi 20 kV
maka penulis menggunakan gambar 5 sebagai data
Perhitungan perbaikan jatuh tegangan pada jaringan masukan dalam perhitungan selanjutnya.
distribusi primer 20 kV dilakukan dengan mengontrol Dari Gambar 5 diketahui trafo tenaga 30 MVA, 3φ ,
tegangan keluaran dari transformator daya. Pengaturan 150/20 kV, 12,5; hubungan Delta/Bintang. Trafo tenaga
tegangan keluaran transformator daya dilakukan dengan ini dilengkapi sadapan berbeban yang dapat mengatur
menganalisa penggunaan on load tap changer untuk tegangan dalam 32 langkah, yang setiap langkahnya
mendapatkan jumlah tap yang dibutuhkan baik 5/8%. Dengan beban puncak tahunan sebesar 2.250 kVA
menaikkan maupun menurunkan tegangan. pada faktor daya 0,96 dan tersebar disepanjang saluran.
Pada langkah pertama, perhitungan dilakukan Panjang saluran udara tegangan menengah utamanya
dengan menganalisa besaran dari rele pengatur tegangan 110 Km. Saluran udara tegangan menengah ini memakai
(RPT) untuk tegangan tertinggi yang diperkenankan penghantar AAAC 150 mm2 dimana impedansinya
pada beban nol dengan mempertimbangkan lebar jalur (0,2162+j0,0.3305). Lebar Jalur Variasi yang digunakan
variasi (LJV) adalah: atau 0,00909 (2/220) pu V.
RPTpu = VPmax – Lebar Jalur Variasi ..................... (12)

Dalam hal ini kompensator saluran tidak


dipergunakan maka:
Rset = 0 dan Xset = 0
L= 110 km
2
AAAC 150 mm
30 MVA; 12,5 %; Dy; 150/ 2.25 MVA
Sehingga untuk mendapatkan angka maksimum dari 20kV Cos = 0,96
Lagging
setiap langkah (tap) pengurangan dan penaikan yang
diperlukan, terlebih dahulu harus diketahui tegangan Gambar 5. One line diagram dari penyulang hingga
beban

Jurnal Rekayasa Elektrika 39


Volume 6 No.1 Tahun 2007

Dari perhitungan diperoleh bahwa jatuh tegangan 22 SD 15 55 6.96617 0.06966 0.97125


yang terjadi di ujung saluran adalah 9,28% dari 20 kV, 23 SD 13 57.5 7.17247 0.07172 0.96919
sehingga untuk mendapat angka maksimum menaikkan SD 20 60
24 7.36917 0.07369 0.96722
dan menurunkan tap diperoleh bahwa jumlah tap yang
25 SD 14 62.5 7.55628 0.07556 0.96535
dibutuhkan untuk menurun diluar beban puncak adalah 5
26 SA 01 65 7.73379 0.07734 0.96357
tap. Sedangkan jumlah langkah menaik pada saat beban
puncak adalah 11 tap. 27 SA 02 67.5 7.90171 0.07902 0.96189
28 SA 10 70 8.06003 0.08060 0.96031
V
P.p 29 SA 08 72.5 8.20875 0.08209 0.95882
u
Max V 30 SA 03 75 8.34789 0.08348 0.95743
TT,pu =
LJV = +0,00909
1,05
RPTpu = 1,04091 Beban Nol 31 SA 04 77.5 8.47742 0.08477 0.95614
LJV = -0,00909
32 SA 07 80 8.59736 0.08597 0.95494
Min V 33 SA 09 82.5 8.70771 0.08708 0.95383
TT,pu =
1,00
34 TP 05 85 8.80846 0.08808 0.95283
Beban Penuh LJV
= +0
35 TP 01 87.5 8.89961 0.08900 0.95191
,0 09
LJ
V=
-0,
09
36 TP 08 90 8.98117 0.08981 0.95110
0 09
09
37 SA 06 92.5 9.05314 0.09053 0.95038
0,948 pu V
38 SA 05 95 9.11551 0.09116 0.94975
39 TP 06 97.5 9.16828 0.09168 0.94923
0 Panjang Penyulang S= 110 km 40 TP 02 100 9.21146 0.09211 0.94880
41 TP 03 102.5 9.24504 0.09245 0.94846
Gambar 6. Profil jatuh tegangan dari penyulang utama 42 TP 07 105 9.26903 0.09269 0.94822
43 TP 04 107.5 9.28342 0.09283 0.94808
Seperti diketahui bersama bahwa jatuh tegangan SD 01 110
44 9.28822 0.09288 0.94803
berbanding lurus dengan arus yang mengalir pada sistem
dan sudut phasanya. Sesuai dengan Gambar 6 dapat
dilihat bahwasanya pada saat beban puncak, tegangan
5. KESIMPULAN
pada trafo daya telah ditingkatkan menjadi 1,04091 pu.
Sehingga tegangan ujung terima menjadi 0,948 pu
Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat
dengan lebar jalur variasi ± 0,00909 pu .
disimpulkan :
1. Perbaikan jatuh tegangan pada tegangan ujung
Tabel 1. Perbaikan jatuh tegangan sepanjang penyulang terima dapat dilakukan dengan menaikkan tegangan
ujung kirim.
No Nama Jarak (∆V)% Pu Vp.pu 2. Semakin panjang jarak penyulang maka semakin
1 SB 03 2.5 0.41739 0.00417 1.03674 besar pula jatuh tegangan
2 SB 06 5 0.82519 0.00825 1.03266 3. Besar tegangan yang diterima oleh beban yang
3 SB 09 7.5 1.22340 0.01223 1.02868
terdekat dengan sumber adalah 20.7348 kV pada
SB 05 10
penyulang LW 06 sadapan SB 03 sedangkan pada
4 1.61201 0.01612 1.02479
titik beban yang terjauh dari sumber adalah 18,96
5 SB 04 12.5 1.99102 0.01991 1.02100 kV
6 SB 14 15 2.36044 0.02360 1.01731
7 SD 12 17.5 2.72026 0.02720 1.01371
8 SD 08 20 3.07049 0.03070 1.01021 6. REFERENSI
9 SD 02 22.5 3.41112 0.03411 1.00680
SD 21 25 [1] Hasan Basri 1997, Sistem Distribusi Daya Listrik,
10 3.74216 0.03742 1.00349
ISTN, Jakarta.
11 SD 06 27.5 4.06360 0.04064 1.00027
[2] Turan Gonen 1976, Electric Power Distribution
12 SD 16 30 4.37544 0.04375 0.99716 System Engineering, McGraw-Hill Book Company.
13 SD 19 32.5 4.67769 0.04678 0.99413 [3] Walter Coffer 1996, Electrical Power Distribution
14 SD 05 35 4.97035 0.04970 0.99121 and Transmission, Prentice-Hall Inc.
15 SD 11 37.5 5.25341 0.05253 0.98838 [4] Westinghouse Electric Corporation 1965, Electric
16 SD 17 40 5.52688 0.05527 0.98564
Utility Engineering Book Distribution System, East
SD 07 42.5
Pittsburg Pensilvania.
17 5.79075 0.05791 0.98300
18 SD 04 45 6.04502 0.06045 0.98046
19 SD 03 47.5 6.28970 0.06290 0.97801
20 SD 09 50 6.52478 0.06525 0.97566
21 SD 10 52.5 6.75027 0.06750 0.97341

40
Jurnal Rekayasa Elektrika