FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ( Studi Kualitatif

)

TESIS

Untuk memenuhi persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Magister Promosi Kesehatan

Soedarjatmi E4C006118

PROGRAM STUDI MAGISTER PROMOSI KESEHATAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008
TESIS

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA
Disusun oleh SOEDARJATMI E4C006118 Telah dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 04 Desember 2008 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Menyetujui Dewan Penguji

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. VG. Tinuk Istiarti, Mkes Widagdo,SKM,MHPEd. NIP. 131 764 483

DR.Laksmono NIP. 130 422 787

Penguji I

Penguji II

dr. Harbandinah P, SKM NIP. 130 354 865

Priyadi Nugraha, SKM, M.Kes NIP. 132 046 693

Mengetahui Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Drg. Zahroh Shaluhiyah, MPH, PhD NIP. 131 627 954

PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Soedarjatmi Nim : E4C006118

Menyatakan bahwa tesis judul: ” FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ” merupakan : 1. Hasil karya yang dipersiapkan dan disusun sendiri 2. Belum pernah disampaikan untuk mendapatkan gelar pada program Magister atau program lainnya. Oleh karena itu pertanggung jawaban tesis ini sepenuhnya berada pada diri saya. Demikian Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Semarang, 18 Desember 2008 Penyusun

Soedarjatmi NIM : E4C006118

Tahun 2004 Lulus Sarjana Kesehatan Masyarakat Undip di Semarang 6. 2. Tahun 1986 sampai dengan tahun 1993 bekerja dibagian Fisioterapi RS. Bethesda Yogyakarta.RIWAYAT HIDUP Riwayat pendidikan penulis: 1. Tahun 1976 Lulus SD Negeri 07 di Surakarta 2. Tahun 1980 Lulus SMP Negeri 02 di Surakarta 3. Tahun 1986 Lulus AkademiFisioterapi di Surakarta 5. . Tahun 1983 Lulus SMA Negeri 04 di Surakarta 4. Tahun 2006 masuk Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang Lulus tahun 2008 Riwayat pekerjaan penulis: 1. Tahun 1993 sampai dengan sekarang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di RSUD Tugurejo Semarang.

Bapak DR. selaku pembimbing kedua. Harbandinah P. SKM. VG. Tinuk Istiarti. selaku Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2. Laksmono Widagdo. MPH. MHPEd. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat. nasehat dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal kebaikan dan mendapat ganti yang lebih baik dari Allah SWT. selaku pembimbing utama. Bapak Priyadi Nugraha. sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyususnan tesis ini.KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan atas karunia yang dilimpahkan kepada penulis. MKes. dorongan dan semangat sehingga selesainya tesis ini. untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya. semoga segala bantuan. Ibu dr. atas kesediaan dan keikhlasannya serta penuh pengertian telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan hingga selesainya tesis ini 4. Ibu drg. bimbingan. Ibu Dra. MKes. yang telah banyak memberi masukan-masukan. SKM. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat dan masukan untuk kebaikan tesis ini . SKM. nasehat. bantuan dan masukan untuk kebaikan tesis ini 5. 3. bimbingan.PhD. Keberhasilan penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. Zahroh Shaluhiyah. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Magister Pascasarjana Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang. Terimakasih penulis sampaikan kepada: 1.

yang dengan ikhlas penuh pengertian dan selalu berdo’a menyemangati penulis dan membantu dalam mencari bahan di internet dan media lain hingga selesainya tesis ini. 9. dukungan dan support bagi penulis.6. Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti. our love will never die. dan jauh dari sempurna. Joko Sugiarto. Akhirnya semoga tesis ini bisa bermanfaat. 7. You and I. Bapak-Ibu Sayoko. dorongan dan nasehatnya hingga terselesainya tesis ini. 10. Putra penulis. suami tercinta penulis. E4C006118 . Semarang. Desember 2008 Penulis Soedarjatmi NIM. atas segala pengertian. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi baiknya tesis ini. orang tua penulis atas do’a. do’a yang tiada hentinya. Bapak dr. Rekan-rekan penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu dan memberi semangat terus-menerus kepada penulis hingga selesainya tesis ini. SpA. Bapak Teleng Warganto. 8. utamanya pada diri penulis dan bagi siapa saja yang membacanya. Selaku Direktur RSUD Tugurejo Semarang yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian.. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih banyak kekurangan.SH.

Semoga selesainya tesis ini menjadi penyemangat keberhasilan studi kalian . dukungan. Untuk anak-anakku Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti atas do’a . do’a. pengertian dan bantuan kalian. terima kasih untuk semua perhatian.HALAMAN PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya ini untuk : Suami tercinta. kesetiaan dan kesabarannya. pengertian. You and I our love will never die.

Karena itu.MOTTO Sesungguhnya. kerjakanlah urusan lain dengan tekun ( QS : Al Insyirah : 5 dan 7 ) . dimana ada kesulitan disitu ada kelapangan. bila engkau telah selesai dari satu urusan.

............................................................................................................................ Pengobatan ............................................ Reaksi kusta ...................... Green .. 2.............................................................................. 42 B............................. HALAMAN PENGESAHAN .......................................................... HALAMAN PERNYATAAN ................................ TINJAUAN PUSTAKA ...................................... Ruang Lingkup ......................... Tanda-tanda tersangka kusta (suspek) ... Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta ......... Faktor-faktor yang menentukanterjadinya sakit kusta ............................................................................ 1..................................................................... Perumusan Masalah .......... Diagnosa sakit kusta ............................ HALAMAN KATA PENGANTAR ......................... 42 A............ i ii iii iv v vii viii ix xi xii xiii xiv xv 1 1 4 5 5 6 7 11 11 11 11 15 16 17 18 22 23 24 27 29 32 35 35 37 41 BAB II BAB III METODE PENELITIAN .....W.... 3.................................................................... F............ 8........................................................................ 5.... Kerangka Konsep .............. A............ C....... 6..................... 1................................................... Kecacatan akibat penyakit kusta ....................................................... E......................... Landasan Teori .................. 4........................................................................................................................................... B............................................................................ Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang ............ 43 ................................................................................... F................................ B..................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .. D............................................................................. 2........................................... ABSTRAK................ Kerangka teori .................................. Manfaat Penelitian ..... HALAMAN RIWAYAT HIDUP ....................................................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN.......................................................................................................................................... Keaslian Penelitian ...... A... Perilaku menurut L.................................................... Stigma ............ MOTTO........................................... C.......................... Definisi penyakit kusta ...................................................................... Latar Belakang ....................... Klasifikasi .......... 7.................................... DAFTAR TABEL...................................................................................................... Penyakit Kusta ..... Perilaku menurut Rosenstock (HBM)................................ Persepsi ........................................................... BAB I PENDAHULUAN ......... E........................ DAFTAR LAMPIRAN .................................................................. DAFTAR SINGKATAN . Pertanyaan Penelitian ............................................................... Tujuan Penelitian ............................ F................... D..................................... DAFTAR ISI ............................................................. DAFTAR GAMBAR .....................................................................................

............. 55 1. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ....... Berdasarkan lama menderita penyakit kusta.......... 56 2................................................. 95 A... 90 f....................... 95 B........... Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit.................. Stigma penyakit kusta ..................... Pekerjaan responden .................. Karakteristik responden ........... Karakteristik Responden .......... Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip................ 91 g........................... 56 5..................... 86 1... Gambaran Umum penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang ................... Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip ............. 89 e.... Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi responden 87 a... Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ... Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ... 61 3..... 92 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ........... 86 A................................................. 55 2. Persepsi terhadap risiko berperilaku negatip ..................................... 54 A......................................................................................... Umur dan jenis kelamin responden .............. 87 b......................... Populasi dan Sampel Penelitian .......................... Variabel penelitian dan Definisi Operasional . 56 1......................................... Sumber Data.. Pendidikan responden ......... G......................... H................. 65 4....................................................... I........ Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ............ F........ Persepsi terhadap manfaat berperilaku positip....... Persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta ........................C........................................ 83 PEMBAHASAN...................................... Keterbatasan Penelitian.... Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta................. 86 2...................... Instrumen yang Digunakan .............................. 88 c................................................................................... 54 B.......................... BAB IV Jenis dan Rancangan Penelitian ........... 55 4.................................................... D...................... Kesimpulan .... Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit ....................... 56 C............. Berdasarkan status nikah ..... Persepsi terhadap kegawatan penyakit ................................................................................ Stigma penyakit kusta ............... 78 7.............. 89 d.. E........................................ 96 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB V ................................................. faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta..................... Validitas dan Reabilitas Data ................. 55 3.... 76 6.......................................................... Pembahasan ........................................................................................... Saran ................................ 43 45 46 48 49 51 52 HASIL PENELITIAN ...................... 70 5............................................

....1 Tabel 2................................. Perdedaan reaksi tipe I dan II ............................................................................. Beda reaksi berat dan ringan............4 Halaman Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti ...................1 Tabel 2............. Klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO ....................2 Tabel 2..............DAFTAR TABEL Nomor Tabel Judul Tabel Tabel 1......................... 7 17 19 20 21 .......... Perbedaan reaksi berat dan ringan tipe I ..........3 Tabel 2...

.....6 Gambar 3....5 Gambar 2.................. 27 Alur Pelayanan Pasien Poliklinik Khusus penyakit kusta................ 42 ...............4 Gambar 2.........W Green dan teori HBM..1 Judul Gambar Halaman Perseptual..........................2 Gambar 2.................................1 Gambar 2............DAFTAR GAMBAR Nomor Gambar Gambar 2........................... 41 Kerangka konsep penelitian ... 24 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penderita .......... 37 Basics of Health Belief Model....................................3 Gambar 2.................. 39 Kerangka Teori modifikasi teori L.................... 34 Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok........

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Panduan wawancara mendalam dengan responden Panduan wawancara mendalam dengan suami. Hasil wawancara dengan Responden Hasil wawancara dengan Informan Foto-foto penelitian . paman. ayah. tetangga dan teman penderita kusta.

DAFTAR SINGKATAN RSUD MB PB WHO MDT DDS BTA ENL HBM PHBS : Rumah Sakit Umum Daerah : Multi Basiler : Pausi Basiler : World Health Organization : Multi Drug Therapy : Diamino Diphenyl Sulphone : Bakteri Tahan Asam : Eritema Nodusum Leprosum : Health Belief Model : Perilaku hidup Bersih dan Sehat .

Penderita kusta berpersepsi. Kusta Daftar Pustaka : 45 ( 1975 – 2007 ) . Hasil penelitian menunjukkan. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagian besar resonden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta. penderita usia anak 163 dan penderita yang sedang diobati 1. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. penyakit kusta merupakan penyakit menular. melakukan perawatan diri dan melaksanakan PHBS.989 orang. berperilaku negatip yaitu tidak mau berobat karena malu. melakukan perawatan diri dengan rajin dan mau berinteraksi dengan lingkungan. Responden dipilih secara porposif terdiri dari penderita kusta yang berobat ke RSUD Tugurejo sebanyak 8 orang. Penderita kusta berpersepsi bahwa. Stigma.171 orang penderita kusta terdaftar. penderita yang sudah dalam keadaan cacat berjumlah 241. Penderita kusta berpersepsi. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. dapat menimpa semua orang. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan kecacatan. Penderita kusta berpersepsi bahwa. selanjutnya data di analisis dengan content analysis (diskripsi isi). Semua responden berpersepsi bahwa masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta dan responden berpersepsi sikap membatasi diri. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi stigma. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. Disarankan bagi Puskesmas untuk memberikan promosi kesehatan penyakit kusta yang mampu membentuk pengertian yang benar dan positip serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. Bagi RSUD Tugurejo. agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. Kurangnya pengetahuan penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatif yaitu stigma tentang penyakit kusta. mengucilkan/mengisolasikan diri dan putus asa. Penelitian ini dilakukan dengan metode diskriptif kualitatif yang menggunakan rancangan studi kasus.Program Pasca Sarjana Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2008 Abstrak SOEDARJATMI (E4C006118) xvi + 97 halaman + 5 tabel + 7 gambar + 45 kotak (studi Kualitatif) FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan 4. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga agar berobat secara teratur. Kata kunci : Persepsi. berperilaku positip ditunjukkan dengan berobat secara rutin.

The objective of research is to discribe the Leprosy patient background's factors concerning leprosy disease stigma . Keyword : Perception. furthermore the data were being analysed with content analysis. The result of Research indicate that leprosy patient have perception that leprosy is contagion to everybody . The data collection were being done indepth-interview . The lack knowledge of such a disease by leprosy patient bringing on negative perception arising out that is the leprosy disease stigma.171 leprosy patient registered in Central of Java.Post-Graduate Programme Magister Of Health Promotion Diponegoro University of Semarang 2008 Abstracts SOEDARJATMI (E4006118) " THE LEPROSY PATIENT BACKGROUND'S FACTORS CONCERNING LEPROSY DISEASE STIGMA " xvi + 97 + 5 tables + 7 picture + 45 appendix In year 2006 detected 4. Bibliography : 43 (1975 .self isolation and desperate. 1989 patient had being cured. The need for leprosy patient and family evaluation and monitoring program in order to get medicinal treatment consecutively. The Leprosy patient have persception that leprosy desease is a dangerous and serious desease which is may caused death and physical defect along life. For the Tugurejo Hospital in order to optimize Medical Rehabilitation Service. out of those 241 leprosy patient had been physical defected condition. Suggestion: The "Puskesmas" to give leprosy disease health promotion which is enable to form the right understanding and positive as well as conducting routine medicinal treatment.particularly for those who not having clean dan healthy live behavior and much of the respondent did not know how the leprosy desease spreading. All of the respondent have the same perception that the neighborhood and their friends did not know that the respondent having leprosy disease so they have perception introvert behavior. The reasearch had been done in qualitative descriptive method which use the study case program. frequently self care and want to interact with their neighborhood. Stigma and Leprosy. The leprosy patient have perception that postive behavior refer to routine check up . cover their deformity are the action to reduce stigma. The need for the leprosy patient group existence by means of such activity program to improve the motivation and preventing physical defect effort.2007) . The leprosy patient have perception that negative behavior refer to not to get nursery because of ashame. 163 child age patient .The respondent were chosed propotion from the leprosy patient who were being in medical treatment at Tugurejo Hospital to the number of 8 patient. conducting self treatment and carry on having clean dan healthy live behavior.

hubungan antar pribadi. Sedangkan secara psikologis bercak. Tanda utama penyakit ini adalah adanya bercak putih atau kemerahan yang mati rasa (anaestesi). masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara –acara keagamaan serta acara di lingkungan masyarakat (2) Penyakit kusta juga menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang menahun disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) menyerang saraf tepi. psikologis. Penyakit kusta berkembang lambat dengan masa tunas rata-rata 2 – 5 tahun kadang bisa lebih. Kecacatannya juga memberikan gambaran yang menakutkan menyebabkan . keamanan dan ketahanan nasional (1) . pekerjaan. keluarga dan teman-temannya (7) . benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan.BAB I PENDAHULUAN A. budaya. Kecacatan yang berlanjut dan tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang tidak baik akan menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. terisolasi dari masyarakat. Penularan terjadi dari seorang penderita yang tidak diobati ke orang lain melalui pernafasan atau kontak langsung yang lama dan terus menerus (1). Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita mulai dari perkawinan. ekonomi. kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat.

Tiga besar provinsi dengan penemuan penderita baru tertinggi tahun 2006 adalah Jawa Timur 5. Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta berasal dari golongan ekonomi lemah keadaan tersebut turut memperburuk keadaan (1). Penderita kusta masih banyak di Indonesia jumlah penderita barupun masih banyak ditemukan.penderita kusta merasa rendah diri. guna-guna.068 penderita.0013%) orang menderita kusta terdaftar masyarakat menjauhi karena merasa jijik dan takut hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan atau pengertian juga kepercayaan yang keliru terhadap penyakit kusta.11.788 penderita.500 terdapat 4. dianggap menjijikan dan harus dijauhi. . makanan ataupun keturunan. Masyarakat masih banyak beranggapan bahwa kusta disebabkan oleh kutukan. Menurunkan stigma dan mengurangi diskriminasi mendorong perilaku masyarakat dalam menerima penderita kusta. Jawa Barat 2. (1). Sebenarnya stigma ini timbul karena adanya suatu persepsi tentang penyakit kusta yang keliru.188 penderita dan Jawa Tengah 1. Salah satu misi Depertemen Kesehatan dalam pemberantasan penyakit kusta adalah menghilangkan stigma sosial (ciri negatip yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya) dengan mengubah persepsi masyarakat terhadap penyakit kusta melalui pembelajaran secara intensif tentang penyakit kusta. Proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat. Jumlah penduduk di Jawa Tengah 32. Diera modern ini muncul istilah “stigmatisasi” yang lebih mencerminkan “kelas” daripada fisik. depresi dan menyendiri bahkan sering dikucilkan oleh keluarganya. dosa.171 (0. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan percaya diri penderita dan keluarga dalam kehidupan sehari –hari.

tahun 2006 berjumlah 3. Terletak di Semarang bagian barat. Jumlah penderita rawat inap kkusus kusta tahun 2005 adalah 190 pasien. diantaranya mereka selalu mengambil tempat di belakang atau di sudut ruang saat menunggu giliran diperiksa. Survey awal yang dilakukan peneliti pada bulan Oktober 2007 terhadap 10 orang penderita kusta memperoleh hasil bahwa masih ada persepsi negatif (stigma) penderita kusta terhadap penyakit kusta Atas dasar hal tersebut diatas maka perlu diteliti mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan Rumah Sakit Khusus penderita kusta. . tahun 2005 adalah 3. Jika diajak bicara mereka tidak menatap lawan bicaranya dan sebagian besar memakai baju lengan panjang.Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo Semarang merupakan Rumah Sakit kelas B milik Provinsi Jawa Tengah. sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. tahun 2006 sebanyak145 penderita dan tahun 2007 terdapat 130 penderita yang harus dirawat. (5) Tahun 2007 poli klinik khusus penderita kusta menemukan 192 kasus penderita baru.975 dan tahun 2007 sebanyak 4. (6) Dari pengamatan awal yang telah dilakukan peneliti ditemukan beberapa perilaku penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo berbeda dengan penderita penyakit lainnya. Data kunjungan rawat jalan penderita kusta setiap tahun meningkat. Sebagian besar mereka menundukkan kepalanya dan penderita laki-laki menggunakan topi.127 kunjungan.839 pasien.

maka perlu pembelajaran yang benar kepada masyarakat luas tentang kesalahan dalam memahami penyakit kusta. Perumusan masalah Penderita kusta semakin hari semakin bertambah. Mereka tidak akan berobat karena harus pergi kesarana kesehatan yang dengan sendirinya harus keluar rumah. bahkan tahun 2007 rata-rata kunjungan pasien baru (penderita baru yang belum pernah minum obat) berjumlah 16 orang per bulan. Berabad–abad lamanya berbagai mitos dan kepercayaan menciptakan proses stigma terhadap para penderita kusta. data di poli klinik khusus penderita kusta RSUD Tugurejo Semarang sejak tahun 2005 bukannya menurun tetapi dari tahun ketahun menunjukan meningkatan jumlah kunjungan. kerabat dan petugas kesehatan. penderita takut penyakitnya diketahui orang lain. Hal ini merupakan masalah besar bagi diri sendiri karena rentan terjadi kecacatan dan bagi lingkungannya karena penderita ini merupakan sumber penularan. mereka dikucilkan dan dikarantina. pada saat itu beberapa negara mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan sterilisasi orang yang terkena penyakit kusta. Sebaliknya jika penderita mempunyai persepsi positip yaitu .788 orang. bertemu dengan tetangga. persepsi yang demikian akan menambah beban penderita. Kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatip yaitu stigma tentang penyakit kusta .B. Berkaitan dengan fenomena stigma yang ternyata memang masih ada di masyarakat luas. Mereka menganggap benar tentang persepsi tersebut sehingga mereka akan mengisolasikan diri dari lingkungannya. Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan penderita baru sebanyak 1.

d. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Tujuan Khusus a. Dari uraian tersebut diatas maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini dapat sebagai berikut : “Faktor – faktor apa saja yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ?” C. b. 2. D. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit.percaya bahwa penyakit ini disebabkan oleh kuman dan bisa disembuhkan maka hal ini dapat membantu penderita untuk lebih percaya diri dan mempunyai motivasi juga dorongan untuk berobat agar cepat sembuh dan tidak terjadi kecacatan. Mendiskripsikan karasteristik responden. c. Tujuan 1. Mendiskripsikan stigma tentang penyakit kusta menurut persepsi responden. f. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Tujuan Umum Mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Ruang Lingkup Penelitian . Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip. e.

Lingkup Masalah Masalah dibatasi pada Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Bagi Puskesmas dapat dijadikan masukan dalam pemberian penyuluhan dan melakukan pendekatan terhadap penderita kusta dalam rangka menurunkan angka kesakitan kusta. 2. . Manfaat Penelitian 1. 2. 4. Bagi unit Pelayanan Kesehatan RSUD Tugurejo. Lingkup Lokasi dan waktu Penelitian dilaksanakan di kota Semarang yaitu di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Juni 2008. E. 3. dapat dipergunakan sebagai bahan informasi dan support yang dapat disampaikan kepada penderita saat berobat agar penderita tidak mempunyai persepsi yaitu stigma penyakit kusta sehingga tidak menghambat salah proses pengobatan yang sedang dijalani.1. Lingkup Keilmuan Penelitian ini termasuk dalam ilmu kesehatan masyarakat bidang promosi kesehatan khususnya kajian materi perilaku. Lingkup Metode Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode kualitatif 5. Lingkup Sasaran Sasaran penelitian adalah penderita kusta.

tingkat jenis Ada hubungan antara beberapa berhubungan dengan pendidikan. Penelitian tentang penyakit kusta yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti selengkapnya dapat ditampilkan dalam tabel 1. kelamin. 4. penelitian ini sebagai pengalaman langsung dalam melakukan penelitian terutama dengan metode kualitatif dan penulisan hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah.1 Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penyakit kusta telah banyak dilakukan tetapi sepanjang pengetahuan peneliti. Bagi Peneliti. . Tabel 1.3. Judul dan nama Peneliti Metode dan Jenis penelitian Analitik kuantitatif dengan rancangan Sasaran Variabel yang diteliti Hasil 1. F. penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta di Kota Semarang secara kualitatif belum pernah dilakukan oleh peneliti lain. Bagi Program Promosi Kesehatan Merupakan sumbangan bagi khasanah pustaka di program pendidikan Promosi Kesehatan. khususnya untuk mata kuliah perilaku kesehatan.Faktor-faktor risiko yang Penderita Kusta Umur.1 dibawah ini.

pendapatan dengan praktik deteksi dini pada anak SD di Kabupaten Blora pendapatan.Faktor-faktor yang berhubungan dengan guru UKS perilaku dalam Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Guru UKS Umur. motivasi keluarga. 2002 kusta. 2005 peranan guru penderita UKS praktik deteksi penderita kusta anak dan kusta peranan dini petugas kesehatan dan pada dengan di praktik . kelamin. Jenis pekerjaan. pengetahuan. penyakit kusta.kecacatan kusta kabupaten Tegal oleh di penelitian Case Control status sosial faktor risiko ekonomi.loka si lesi. tipe reaksi karasteristik individu. sikap. aspek klinis Joko Kurnianto. kusta aspek pengobatan terhadap kecacatan pada penderita di dan keteraturaan berobat.pencegah an cacat dan kusta perawatan diri Kabupaten Tegal 2. masa upaya deteksi dini penderita kusta kerja. jenis Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan. oleh Warijan. status kepegawaian.

kelamin. pengetahuan. peranan Wasor dan wasor dan dengan praktik kusta penemuan peranan kusta kusta di Kabupaten Blora oleh Agus Prasetyo. jenis Hubungan pendidikan ber pengaruh terhadap pendidikan. 3. jenis Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan. pelatihan. penemuan baru penderita sikap.Faktor-fartor yang berhubungan dengan pengawas dalam praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Wasor Kusta Umur. 2007 di Kabupaten penderita Blora baru kusta di Kabupaten Blora 4. Beberapa faktor yang berhubungan dengan penderita praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan Penderita kusta Umur. deteksi kusta dini di Kabupaten Blora. praktik pengetahuan penemuan penderita baru. kelamin.Kabupaten Blora. pendapatan .

2008 .dalam pencarian di penelitian Cross Sectional keluarga. Faktor umur. pengobatan di pengetahuan. Judul : Faktor- Deskriptif kualitatif dengan indepth interview Penderita kusta Umur. jenis Mengetahui dan menguraikan faktor-faktor pendidikan. Rencana Penelitian. kelamin. apa saja yang faktor internal. 5. puskesmas Kunduran dukungan keluarga dan sikap secara bermakna tidak berhubungan dengan praktek penderita dalam mencari pengobatan. persepsi belakangi persepsi penderita penyakit kusta oleh Soedarjatmi. lama faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap kusta stigma sakit. melatar faktor ekternal. sikap. 2005 dalam jenis kelamin. pengetahuan. pekerjaan. dukungan praktik pencarian pengobatan kusta di pengobatan puskesmas Kunduran Kabupaten oleh Blora Dian keluarga dan Puskesmas praktik penderita kusta mencari Kunduran. Nugraheni. pendapatan.

kegawatan penyakit. persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif stigma penderita kusta. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . manfaat berperilaku positif.penderita tentang: kemudahan kemungkinan terkena penyakit. dan kusta sehingga penderita merasa terstigma karena penyakitnya.

Diluar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dapat bertahan sampai 9 hari.W. 2. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. Penyebab. 2.Pada bab ini penulis menguraikan tentang : A. Green. B. Definisi Penyakit Kusta Penyakit Kusta juga dikenal sebagai lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium lepra) yang terutama menyerang saraf tepi dan organ tubuh kecuali susunan saraf pusat. Hansen dalam tahun 1873. Cara keluar dari Penjamu (Host) . Kerangka teori. b.A. Landasan Teori yaitu 1. Sumber penularan Sampai saat ini hanya manusia yang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman kusta dapat hidup pada Armandillo.5 mic. Mycobacterium leprae untuk pertama kali ditemukan oleh G. Simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar Thymus. Perilaku menurut Rosenstock (HBM) dan F. Perilaku menurut L. kuman kusta ini berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 8 mic.2 – 0. Tentang stigma. Mengenai persepsi. c. Faktor – faktor yang menentukan terjadinya sakit kusta a. E. lebar 0. D. biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu – satu. A. Penyakit kusta. Waktu pembelahan sangat lama yaitu 2 – 3 minggu. hidup dalam sel dan bersifat tahan asam. C. Penyakit Kusta 1.

Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti. kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1 – 9 hari tergantung pada suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan. semua itu tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1) faktor sumber penularan. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. d. yang jumlah bakterinya banyak) merupakan sumber kuman yang terpenting di dalam lingkungan. 3 orang sembuh sendiri tanpa diobati dan 2 orang menjadi sakit. Telah terbukti bahwa saluran nafas bagian atas dari penderita lepramatous (tipe MB.Kulit dan mukosa hidung telah lama diketahui sebagai sumber dari kuman. akan tetapi dapat juga bertahun–tahun. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain. . Penderita inipun tidak akan menularkan apabila berobat teratur. Penularan terjadi apabila M.Lepra yang solid (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. 3) faktor daya tahan tubuh. adalah penderita MB saja. hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. Dari hasil penelitian menunjukan gambaran sebagai berikut : Dari 100 orang yang terpapar 95 orang tidak menjadi sakit. 2) Faktor kuman kusta. Cara Penularan Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi Basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Kusta mempunyai masa inkubasi 2 – 5 tahun.

diperkirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernafasan bagian atas.Bila orang tersebut memilki kekebalan rendah terhadap kuman kusta mungkin akan menderita penyakit kusta yang dapat sembuh sendiri. Cara masuk ke dalam tubuh Tempat masuk kuman kusta kedalam tubuh sampai saat ini belum dapat dipastikan. Bila orang tersebut tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta merupakan kelompok terkecil dan mudah menderita kusta yang stabil dan progresif. hal ini disebabkan karena adanya immunitas seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Tidak pada semua penderita terdapat banyak Mycobacterium leprae yang hidup sehingga hanya kira-kira 5 – 15 % dari penderita kusta yang dapat menularkan penyakit. Dilain pihak manusia sebagian besar kebal (95%) terhadap kusta hanya sebagian kecil yang dapat ditulari (5%). . 3). Sistim kekebalan yang efektif melawan kuman kusta adalah sistim kekebalan seluler. Bila orang tersebut mempunyai kekebalan tubuh yang tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten / kebal terhadap kuman kusta. Dari sebagian kecil ini 70% dapat sembuh dan hanya 30% yang dapat menjadi sakit. Tuan rumah Hanya sedikit orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah kontak dengan penderita.e. f. 2).

Pengobatan MDT pada penderita kusta 2). bila menderita kusta biasanya tipe MB g. Penjamu mempunyai kekebalan rendah terhadap kuman kusta bila menderita kusta biasanya tipe PB. Isolasi terhadap penderita kusta namun hal ini tidak dianjurkan karena penderita yang sudah berobat tidak akan menularkan penyakit ke orang lain. 3). 2).Seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Vaksinasi BCG pada kontak serumah dengan penderita kusta. Kondisi sosial ekonomi diperkirakan memainkan peranan penting dalam upaya pemberantasan kusta. jumlah jiwa dalam satu rumah tangga dan jumlah anggota keluarga diperkirakan merupakan faktor penting . Cara pemutusan mata rantai penularan Penentuan kebijaksanaan dan metoda pemberantasan penyakit kusta sangat ditentukan oleh pengetahuan epidemiologi kusta dan perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan. 3). Upaya pemutusan mata rantai penularan dapat dilakukan melalui : 1). kondisi perumahan. Penjamu yang mempunyai kekebalan tubuh tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten terhadap kuman kusta. Perbaikan kondisi sosial ekonomi menghasilkan penurunan insidens kusta meskipun faktor-faktor yang mendukung penurunan ini tidak diketahui. Penjamu yang tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta yang memrupakan kelompok terkecil.

Gangguan fungsi sensoris : mati rasa. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). 3).3. pembengkaan (edema) dan lain-lain. 2). Bahan pemeriksaan BTA diambil dari kerokan kulit (skin smear) asal cuping telinga (rutin) dan bagian aktif suatu lesi kulit. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritematous). Diagnosa Kusta Diagnosa penyakit kusta hanya dapat didasarkan pada penemuan tanda utama (Cardinal sign) yaitu : a. Basil tahan asam (BTA) positif. Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise). Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Untuk tujuan tertentu kadang jaringan diambil dari bagian tubuh tertentu (biopsi). c. retak. Gangguan fungsi otonom : kulit kering. b. Gangguan saraf ini bisa berupa : 1). Mati rasa dapat bersifat kurang rasa (hipertesi) atau tidak merasa sama sekali (anaestesi). . Peradangan pada penderita kusta (neuritis) dapat dirasakan berupa rasa nyeri namun kadang-kadang penderita tidak merasakan adanya nyeri (silent neuritis).

Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih atau benjolan 2). Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau multidrug therapy (MDT) yaitu menggunakan gabungan Refampicin. Kulit mengkilap 3). 2). Adanya cacat (deformitas) 4). Tanda-tanda tersangka kusta (Suspek) a. Rasa kesemutan tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka.Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda utama diatas. Tanda-tanda pada saraf : 1). Apabila hanya ditemukan cardinal sign ke-2 dan petugas ragu orang tersebut dianggap sebagai kasus yang dicurigai (suspek) 4. Klasifikasi Klasifikasi penyakit kusta bertujuan untuk menentukan regimen pengobatan dan perencanaan operasional. Tanda-tanda pada kulit 1). Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut 5). 5. Bercak yang tidak gatal 4). Lepuh tidak nyeri b. 3). lamprene . Luka yang tidak sakit Tanda-tanda tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar diagnosa penyakit kusta.

1 klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO. Tipe Pausi Basiler (PB) b. Pedoman utama untuk menentukan klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO adalah sebagai berikut : Tabel 2. Sediaan apusan BTA negatif BTA positif Hanya satu saraf Lebih dari satu saraf PB Jumlah 1 s/d 5 MB Jumlah > 5 . jumlah saraf yang terganggu dan sebagainya.dan diamino diphenyl sulphone (DDS) maka penyakit kusta di Indonesia diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu : a. b. Tanda Utama Bercak yang mati rasa / kurang rasa di kulit. Hasil pemeriksaan bakteriologis yaitu skin smear basil tahan asam (BTA) positif atau negatif. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi (gangguan fungsi bisa berupa kurang/mati rasa atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh yang bersangkutan. Tipe Multi Basiler (MB) Penyakit kusta dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu : a. Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan bila diagnosa meragukan. Manifestasi klinik yaitu jumlah lesi kulit.

.Sumber : Depertemen Kesehatan RI. Reaksi ini bisa terjadi saat penderita mendapat pengobatan atau sesudah mendapat pengobatan. Pengertian Reaksi kusta atau reaksilepra adalah suatu episode perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu kekebalan (seluler respon) atau reaksi anatigen-antibodi (respon) dengan akibat merugikan penderita terutama padasyaraf tepi yang menyebabkan gangguan fungsi (cacat) . neuritis (nyeri pada saraf). bila reaksi ini tidak di tangani dengan cepat dan tepat maka kecacatan permanen bisa terjadi (misal Claw hand. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Reaksi kusta a. Jakarta 2005 6. Jenis Reaksi Jenis reaksi sesuai proses terjadinya dibedakan menjadi 2 yaitu : 1) Reaksi tipe I ( Reaksi Reversal. Drop foot dan lain-lain). Reaksi Up grading ) Terjadi pada penderita tipe PB maupun MB dan kebanyakan terjadi pada 6 bulan pertama pengobatan. kasus yang sering terjadi penderita mengalami reaksi pada 6 bulan sampai satu tahun sesudah pengobatan dan berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. gangguan fungsi saraf tepi dan kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita. hal ini terjadi karena meningkatnya respon kekebalan seluler secara cepat terhadap kuman kusta dikulit dan saraf penderita dan disi akan terjadi pergeseran tipe kustanya kearah PB. a) Gejala reaksi dapat dilihat pada perubahan kulit. b.

2. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Sumber : Depertemen Kesehatan RI. yang menebal dapat sampai merah teraba panas dan membentuk plaque nyeri. . merah.2 Beda reaksi berat dan ringan pada reaksi tipe I Gejala 1. menebal. pada sendi terasa sakit dan ada kelainan kulit baru.b) Menurut keadaan reaksi maka reaksi tipe I ini dapat dibedakan yaitu reaksiringan dan reaksi berat c) Perjalanan reaksi berlangsung selama 6 – 12 minggu atau lebih Tabel 2. tangan dan kaki membengkak. Makula sampai ada yang pecah. dimana kuman kusta yang utuh maupun tidak utuh menjadi antigen. Lesi panas dan nyeri tekan. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta 2005 fungsi kelemahan 2) Reaksi Tipe II (Reaksi ENL = Eritema Nodusum Leprosum) Terjadi pada penderita tipeMB dan merupakan reaksi humoral. Saraf tepi Tidak ada nyeri tekan saraf dan Nyeri tekan dan / atau gangguan fungsi gangguan misalnya otot. Lesi Kulit Reaksi Ringan Reaksi Berat membengkak Tambah aktif.

Organ Tubuh Tidak ada gangguan organ-organ Terjadi peradangan pada tubuh mata : liridocyslitis Testis: Epididimoorchitis Ginjal : Nephritis Kelenjar Limfadenitis Gangguan pada tulang Limfe : . Gejala Gejala dapat dilihat pada perubahan lesi. Tabel 2. gangguan konstitusi dan komplikasi pada organ tubuh.3 Perbedaan reaksi Berat dan Ringan Tipe I Gejala 1. maka reaksi dapat dibedakan reaksi ringan dan reaksi berat. Keadaan Umum 3. gangguan Ada fungsi nyeri tekan. banyak. ada pecah jumlah berlangsung sedikit biasanya hilang sendiri dalam yang 2-3 hari sampai (ulseratif). neuritis (nyeri tekan) dan gangguan fungsi saraf tepi. lama. b. Syaraf tepi Tidak ada demam atau ringan saja Demam ringan sampai berat Tidak ada nyeri tekan. c. 2. gangguan fungsi 4. Menurut keadaan reaksi. Lesi Kulit Nodul Reaksi Ringan yang nyeri tekan. Perjalanan reaksi Biasanya berlangsung selama 3 minggu atau lebih.Tubuh membentuk antibodi dan komplemen (Antigen + antibodi + komplemen = immunokompleks) a. Reaksi Berat jumlah Nodulnyeri tekan. Kadang-kadang timbul berulang-ulang dan berlangsung lama.

hidung dan tenggororan. Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

Tabel 2.4 Perbedaan reaksi Tipe I dan Tipe II No 1 Gejala / tanda Keadaan Umum Reaksi Tipe I Reaksi Tipe II sampai berat

Umumnya baik, demam Ringan ringan (sub febril) atau disertai tanpa demam umum tinggi

kelemahan dan demam

2

Peradangan di kulit

Bercak

kulit

lama Timbul

nodul

menjadi lebih meradang kemerahan, lunak dan (merah), dapat timbul nyeri tekan. Biasanya pada tungkai. lengan Nodul dan dapat

bercak baru

pecah (ulcerasi) 3 Saraf Sering terjadi umumnya Dapat terjadi berupa nyeri tekan saraf dan / atau gangguan fungsi saraf

4

Peradangan organ

pada Hampir tidak ada

Terjadi mata,kelenjar bening, testis, dll sendi,

pada getah ginjal,

5

Waktu timbulnya

Biasanya segera setelah Biasanya pengobatan mendapatkan

setelah

pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan 6 Tipe Kusta Dapatterjadi pada kusta Hanya pada kusta tipe tipe PB maupun MB 7 Faktor pencetus MB

Emosi, kelemahan, stess fisik lain, kehamilan, pasca persalinan,obat-obat yang meningkatkan kekebalan tubuh penyakit infeksi lainnya

Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

7. Pengobatan Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan/kutukan. Pada tipe MB lama pengobatan :12-18 bulan dan tipe PB lama pengobatan : 6 9 bulan Pengobatan penderita kusta menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment ( MDT ) jenis obatnya adalah Rifampicin, Dapson,

Lamprene tergantung dari tipe penyakitnya. Untuk tipe PB terdiri dari 2 macam obat 2 kapsul Rifampicin 300 mg dan 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya 1 tablet DDS 100 mg selama satu bulan, untuk tipe MB menggunakan 2 kapsul Rifampicin 300 mg, 3 kapsul Lamperen 100 mg, 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya minum DDS dan Lampren 50 mg masing-masing satu selama satu bulan.

8. Kecacatan akibat penyakit kusta a. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kecacatan antara lain 1). Faktor yang berhubungan dengan penderita (umur, jenis kelaimin) 2). Faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit ) 3). Kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat mikobakterium leprae, makin mudah serabut syaraf menderita trauma makin mudah rusak oleh mikobakterium leprae) 4). Pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama akan menimbulkan kecacatan pada penderita kusta. 5). Faktor pekerjaan : yang sering mengalami kecacatan adalah penderita kusta yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat. b. Pembagian Kecacatan Dilihat dari asal terjadinya kecacatan : 1). Kecacatan Primer Yaitu kecacatan langsung disebabkan oleh aktifitas penyakitnya sendiri, cacat ini terbentuk selama fase aktif dari penyakitnya. Kecacatan primer ini karakteristik untuk penyakit kusta dan perkembangannya bisa diramalkan, biasa terjadi pada : a). Wajah ( cuping telinga yang memanjang, hilangnya rambut alis, cacat hidung/ hidung pelana, wajah keriput, lemah pada syaraf wajah/paralise fasialis )

kithing jari-jari kaki/ “ clow toes” dan semper / “ drop foot” ) 2).mulut dan jari) terhadap stimuli dasar seperti cahaya. B. pemendekan jari tangan. Sedangkan persepsi adalah proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi. warna dan suara.telinga. kaku/kontraktur). kaku / kontraktur) b). Kaki (luka akibat tumpuan berat badan. Cacat ini terbentuk akibat salah dalam aktifitas / ”misuse” atau tidak pernah digunakan “disuse” sebagai akibat adanya hilangnya perasaan kulit / insensibilitas. Kecacatan Sekunder Yaitu kecacatan yang tidak langsung disebabkan oleh penyakitnya sendiri tetapi disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan paralysis motoris / kelumpuhan . Tejadinya cacat karena adanya trauma dan infeksi sekunder.hidung.”osteolisis dan absorbsi” tulang kaki.(8) . Tangan (luka pada ujung jari dan ruas jari hal ini disebabkan oleh cara memegang yang berlebihan karena tidak terasa. Solomon mendefinisikan bahwa sensasi sebagai tanggapan yang cepat dari indera penerima kita (mata. Anggota gerak ( kithing pada tangan / “clow hand “ dan “claw thumb”. diorganisasi dan di interpretasikan.b). Persepsi Persepsi setiap orang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda oleh karena itu persepsi mempunyai sifat subyektif. biasa terjadi pada : a). “tarsal collaps”.

Robbins (2006) persepsi didefinisikan sebagai proses yang digunakan individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan inderawi mereka untuk memberi makna kepada lingkungan mereka dan menurut Kimble (1984) merupakan proses interpretasi terhadap informasi yang ditangkap oleh panca indra.STIMULI Penglihatan Suara Bau Rasa Tekstur Sensasi Pemberian arti Persepsi Indra Penerima Perhatian Interpretasi Tanggapan Gambar 2. sesuatu yang bersifat mengembangkan kreatifitas dan membantu memberikan makna bagi pengalaman panca indera tersebut. Bandung 2001 Persepsi dalam kamus psikologi adalah proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera (11) . Perilaku Konsumen dan Komunikasi pemasaran.1 Perceptual (Michael R. 1996) Sumber : Sulisna. Solomon. Salah satu aspek penting yang berperan dalam diri seseorang ketika ia mempersepsikan sesuatu adalah pengetahuan yang dimiliki sebelumnya tentang apa yang sedang dipersepsikan. Dikemukakannya pula bahwa persepsi merupakan suatu proses aktif dimana orang yang mempersepsikan sering melebihi informasi yang baru didapatkannya untuk membentuk suatu kesan dari ciri-ciri personal yang tak terlihat dan .

sebagai produk dari persepsi ini merupakan kombinasi dari apa yang ada senyatanya dengan apa yang diharapkan dari orang yang dihadapinya. kelas dan tipe orang yang terlibat. Kecerdasan / pendidikan 4. Kondisi dan tuntutan biologis/fisiologi 3. Persepsi merupakan salah satu mata rantai perubahan sikap. serta situasi tertentu yang sedang mempengaruhi individu yang sedang mempersepsi Persepsi adalah pandangan individu terhadap lingkungannya sebagai gambaran subyektif internal seseorang terhadap dunia luar. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penafsiran stimulus atau rangsangan seseorang sehingga individu akan memberikan interpretasi dari obyek tertentu. Kesan akhir. Lebih lanjut dikemukakan bahwa persepsi merupakan hasil proses pengamatan seseorang berasal dari komponen kognitif yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman proses belajar. Faktor yang berperan dalam pembentukan persepsi adalah kognitif. Keturunan (heriditer) 2. Proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri) . Faktor-faktor internal antara lain : 1. kepribadian dan budaya yang dimiliki seseorang.(15) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses persepsi sehingga terjadi perbedaa persepsi antara satu individu dengan individu lainnya terdiri dari faktor internal dan ekternal.kekuatan lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia karena orang yang mempersepsi tidak berada didalam lingkungan sosial yang kosong. pengetahuan dan pendidikan serta keadaan sosial budaya setempat.

Pengaruh ekosistim lainnya (7) Persepsi tidak hanya sekedar mendengar. kepribadian dan pengalaman hidup individu (13) Jenis kelamin Umur Tingkat Pendidikan . Norma masyarakat. 3. Pengetahuan/pengalaman masa lalu tentang objek. Nilai-nilai individu yang dianut 10. Sikap dan kenyakinan keagamaan 9. pengalaman dan pengharapan.5. motivasi. pekerjaan. lingkungan. budaya. kepentingan. Konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/ tekanan sosial). Ketergesahan menilai sesuatu berdasarkan informasi yang tidak lengkap 7. 4. melihat dan merasakan sesuatu yang didapatkan disini lebih jauh disepakati persepsi melibatkan rangsangan internal dan eksternal. Faktor-faktor eksternal antara lain : 1. Faktor pihak pelaku persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti : sikap. Harapan terhadap objek 6. latar belakang sosial ekonomi. Adat istiadat. Variabel lain yang ikut menentukan persepsi adalah umur. atau minat. tingkat pendidikan. Efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus) 8.fisik. 2.

Stigma Stigma berasal dari zaman Yunani kuno. proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat dianggap menjijikan dan harus dijauhi Stigma dalam kamus P. kata ini menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap pada tubuh orang-orang yang dianggap bergolongan rendah seperti pencuri. penjahat. Di era modern muncullah istilah “stigmatisasi“ yang lebih mencerminkan kelas dari pada fisik. Yogyakarta. Samsi. pengkianat Negara dan tentu saja pada penderita kusta (39) .2000 C. Beberapa Teknik dalam Manajemen Mutu. malu atau takut karena sesuatu (14) .2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Penderita. Stigma adalah suatu karakteristik yang dipertimbangkan tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. Manajemen Rumah Sakit. hal yang memalukan. noda aib atau sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri.Pekerjaan Persepsi Sosial Ekonomi Budaya Lingkungan Fisik Kepribadian & Pengalaman Gambar 2. Ada banyak bukti yang mendukung bahwa orang yang dibuat merasa terstigmasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam . Sumber : Jacobalis.Salim adalah hal yang membawa aib. Universitas Gajahmada.

kaku dan klise serta tidak akurat. Efek dari stigmatisasi dapat berlangsung lama tetapi efek ini dapat dibatasi karena orang-orang yang mendapat stigma dapat menggunakan taktik yang beragam agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui stigma mereka diantaranya menyembunyikan secara selektif tentang stigma dimasa lalu. ketidak akuratan ini timbul dari proses .kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar. Kenyakinan yang mendasari timbulnya prasangka tersebut disebut stereotype yaitu kenyakinan yang menghubungkan sekelompok orang dengan ciri-ciri tertentu dan stereotype adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok dan suatu image yang pada umumnya sangat sederhana. ini merupakan sikap negatip yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok atau individu. Banyak masyarakat berprasangka bahwa penyakit kusta sangat membahayakan bagi lingkungan mereka selain menularkan dan menjijikan mereka beranggapan bahwa penderita kusta tidak lagi berguna karena pada keadaan cacat penderita tidak produktif lagi. 2) Stigma pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya dan menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. Proses stigmatisasi atau “lebeling” memiliki dua akibat yaitu (12) : 1) Dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. mencegah pengungkapan diri terhadap teman dekat dan berbagai stategi penipuan lainnya. Brehm dan Kanssin 1993 berpendapat bahwa prasangka adalah perasaan negatif yang ditujukan terhadap seseorang berdasar semata-mata pada kelompok tertentu dan melibatkan penilaian apriori.

hal yang memalukan. D. 4. Melakukan kontak langsung. 3. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta adalah proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. Beberapa kemungkinan upaya untuk mengurangi atau mencegah timbulnya prasangka (9) : 1. oleh apa yang sedang kita hadapi saat ini . 2. Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang orang lain. belajar mengenal dan memahami orang lain. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. Penderita kusta sering mendapat perlakuan diskriminasi dari lingkungannya biasanya diskriminasi ini merupakan perwujudan tingkah laku dari prasangka atau manifestasi prasangka dalam bentuk tingkah laku nyata.1981 dimasa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap sering dikaitkan dengan konsep mengenai postur fisik (9) Banyak faktor yang menimbulkan stigma kusta dan ini sangat bervariasi. Pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan kita akan masa lalu. dalam setiap masyarakat ada masalah yang komplek mengapa kusta ditakuti dan . Mengoptimalkan / membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui pengukuhan positip. Menurut Wrightsman dan Deaux. Mengajarkan untuk tidak membenci. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta.overgeneralisasi (perluasan karakteristik) (9) . noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri.

tebal. disantet dan penyakit akibat sexual. 3. sampai akhirnya masyarakat percaya bahwa kusta disebabkan oleh kuman kusta. 4. 2. Hukuman Mati Faktor lain adalah sampai tahun 1940 an penyakit kusta belum ada obat yang bisa mengobati secara efektif ini berarti penderita kusta seakan-akan telah divonis hukuman mati karena penyakitnya tidak bisa diobati. 5. penyakit kusta dengan tanda-tanda khusus di wajahnya dimana kulit menjadi keriput. Beberapa alasan yang sifatnya umum diantaranya (3) : 1. penderita dijauhkan dianggap berdosa dan lingkungan tidak ingin mengalaminya. masyarakat takut terkena infeksi seperti penderita. kepercayaan ini mempengaruhi bagaimana penyakit dan penderita kusta diperlakukan. beberapa kelompok percaya bahwa kusta disebabkan karena kutukan dewa karena berbuat salah. hidung melebar ini bararti sepintas orang melihat akan tau bahwa mereka menderita kusta.menjadikan penyakit yang memalukan. Percaya tentang akibat kusta Percaya tentang akibat kusta telah berbeda sepanjang waktu dan dimana tempat. hal ini menambah rasa takut penderita. Takut Ketularan Pengucilan penderita kusta dilakukan karena alasan takut ketularan. Ketidak mampuan dan kecacatan Alasan lain untuk stigma adalah kecacatan dan ketidak mampuan yang disebabkan oleh penyakit itu. penderita dianggap korban guna-guna. Bau .

Membantu mereka yang benar-benar mengalami stigma kusta. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. hal ini akan lebih efektif dan efisien karena lebih baik mencegah stigmatisasi dari pada mencoba mengembalikan penderita yang sudah ditolak oleh masyarakat. Mencegah stigmatisasi orang lain.Beberapa pasien kusta mempunyai bau badan yang sangat jelas / khas disebabkan oleh luka – luka yang terinfeksi. Solusi pada Stigma kusta (2) Walaupun perkembangan yang besar. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. 6. bau ini dapat menjijikan dan membuat keadaan memburuk sehingga masyarakat tidak mau menerima mereka. Ada 2 komponen pendekatan dalam menangani stigma kusta (2) : 1. kusta masih menjadi problem dibanyak negara diperkirakan bahwa antara 11 sampai 12 juta orang menderita kusta telah terobati akan tetapi stigma kusta masih sangat nyata dan perlu ditangani. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). Banyak faktor yang menyebabkan penderita bereaksi terhadap penyakitnya diantaranya (18) . 2. Stigmatisasi diri sendiri Hal ini sangat nyata. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan.

hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya. Tahun 2004 RSUD Tugurejo telah terjadi peningkatan kelas menjadi RSU kelas B non pendidikan. tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu. Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kerentanan individu untuk terserang penyakit itu). 4. Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala yang menyimpang dari keadaan biasa. 9. 2. E. 3. kemudahan mencapai sarana tersebut. Tahun 2000 mengalami perubahan status dari Rumah Sakit khusus menjadi Rumah Sakit Umum. takut.1. Pada tanggal 13 Januari 1994 dengan Peraturan Daerah tentang stuktur organisasi tata kerja Rumah Sakit Kusta Provinsi Jawa Tengah sebagai Rumah Sakit Khusus kelas C. Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit. Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya. Informasi. RSUD Tugurejo sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan rumah sakit khusus (RSK) penderita kusta. Tersedianya sarana kesehatan. 5. Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang. 8. Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya. Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga. pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu. 1. rendah diri. Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dikenalnya. tahun 2006 RSUD Tugurejo telah terakreditasi dan . dsb). Sejarah RSUD Tugurejo. 6. 7.

dokter memberikan surat perintah mondok dan perawat akan berkoordinasi dengan ruang Kenanga yaitu ruang khusus penderita kusta. Pasien menyerahkan bukti pendaftaran ke poli khusus. perawat melaksanakan anamnese dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan unggulan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. Penanganan penderita di rawat jalan dilayani di poli khusus penyakit kusta dengan urutan sebagai berikut : a. tujuan pelayanan ini adalah mengobati dan memutus rantai penularan penyakit kusta. c. e. Penyakit Saraf. Yang dilakukan RSUD Tugurejo terhadap penderita kusta. pemeriksaan.lulus ISO 9000. d. Dokter Spesialis Kulit dapat mengkonsulkan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Dokter Spesialis Kulit melakukan anamnese. Bagi pasien yang memerlukan rawat inap. 2. radilogi atau pemeriksaan lain). menegakkan diagnosa kerja dan memberikan resep obat serta edukasi terhadap pasien. f. Rehabilitasi medis atau lainnya sesuai dengan kondisi pasien. b. Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium. . RSUD Tugurejo melayani pasien kusta rawat jalan dan rawat inap. Pasien mendaftar di loket pendaftaran.

FISIK PASIEN LAMA PASIEN BARU PENATA LAKSA NAAN PEM. PENUN JANG PASIEN PULANG RAWAT INAP BTA (+) BTA (-) PENATA LAKSA NAAN EVALUASI 1 BULAN EDUKASI .g. PASIEN DATANG ANAMNESIS PEMERIK. misal operasi. Informed consent dilakukan apabila perlu untuk tindakan.

Landasan Teori Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek (11) yaitu aspek fisik. faktor pemungkin. perseprsi. motivasi. Lawrence W. sikap dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman. 1. persepsi. Selanjutnya Green mencoba menganalisis perilaku manusia pokok yaitu faktor perilaku. motivasi. dan faktor penguat. Green berpendapat (19) faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi. baik internal maupun eksternal (lingkungan). karena perilaku merupakan resultansi dari berbagai faktor. Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan.PASIEN PULANG RAWAT INAP Gambar 2. psikis dan sosial yang secara rinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti: pengetahuan. keinginan. Perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu : faktor predisposisi. Green. sarana fisik dan sosial budaya masyarakat. keyakinan. minat. sikap dan sebagainya.3 : Alur Pelayanan Pasien Poliklinik khusus penyakit kusta. Perilaku menurut Lawrence W. Sumber : Dokumen Instruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik Khusus RSUD Tugurejo Semarang. F.(19) .

Termasuk dalam faktor predisposisi adalah faktor demografis seperti status sosial ekonomi. Keadaan demikian ini memungkinkan lingkungan keluarga lebih peduli terhadap apa yang dilakukan anggota keluarganya.(11) Lingkungan keluarga yang nyaman mempunyai respon yang kuat terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan anggota keluarganya. umur. nilai. dan persepsi. jenis kelamin dan ukuran keluarga.Faktor predisposisi mencakup pengetahuan. kita dapat mengatakan faktor predisposisi sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. Hal ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat dalam setiap kasus. Dalam arti umum.(11) . Faktor penguat disini diterangkan bahwa lingkungan keluarga sangat dominan dalam mempengaruhi pembentukan perilaku seseorang. berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak. keyakinan. sikap. Lingkungan keluarga yang ideal dalam arti suatu keadaan yang menjamin kenyamanan pada tiap-tiap anggota keluarga akan membentuk perilaku yang terarah dan cenderung untuk bersikap terbuka terhadap nilai-nilai baru yang tentu saja diterima oleh keluarga tersebut. Faktor pemungkin mencakup sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan. Perilaku seseorang cenderung untuk berkiblat pada perilaku yang berlaku dalam keluarga individu tersebut. Sumber daya itu meliputi ketersediaan sarana dan ketercapaian berbagai sumber daya.

4 : Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok yaitu faktor yang mempermudah.2000 2. Perilaku menurut Rosenstock (Health Belief Model) Teori Health Belief Model (HBM) merupakan model kognisi yang menjelaskan bahwa perilaku sebagai hasil proses informasi rasional dan menekankan pada kognisi individu.W.Predisposing factors Knowledge Attitudes Beliefs Values Perseption Reinforsing Factors Attitudes and behavior of health other personnel peers.Green. model ini sering kali dipertimbangkan sebagai kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia (20) . groups or communities Enabling factors Availability of resources Accessibility Referrals Ruler orlaws Skills Environmental Factors Gambar 2. Health Promotion Planning. parents or employers. Second edition. faktor penguat/pendorong dan faktor pendukung. Sumber : L. etc Behavior (action) of individuals.

Tanda-tanda seseorang perperilaku / bertindak. Namun ada pula kemungkinan motivasi kesehatan positif yang meliputi perilaku mau untuk berobat.Secara umum HBM diyakini bahwa individu akan mengambil tindakan untuk menghindarkan. Dalam konsep HBM dijelaskan bahwa perilaku adalah sebuah hasil dari sekumpulan persepsi. dan persepsi-persepsi ini memprediksi kemungkinan seseorang akan berperilaku. 2. . HBM berhubungan dengan aspek kesehatan negatif yaitu perilaku seseorang ketika terancam suatu penyakit. memeriksa atau mengendalikan kondisi kesehatan buruk jika mereka memandang rentan terhadap kondisi itu. Persepsi seseorang terhadap kegawatan suatu penyakit. Persepsi seseorang terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. jika mereka percaya bahwa tindakan tertentu yang tersedia akan menguntungkan dalam mengurangi kerentanan atau keparahan kondisi. Persepsi seseorang terhadap pembiayaan bila melakukan perilaku tersebut 5. 4. dan jika mereka percaya bahwa hambatan yang terantisipasi untuk mengambil tindakan dipertimbangkan dengan keuntungan. Persepsi seseorang terhadap benefits / untung – ruginya bila melakukan perilaku tersebut. 3. Persepsi tersebut adalah : 1.

Jane. Health Psychology a Text book.Cues to action Susceptibility Demographic variable Severity Likehood of Behaviour Benefits Cost Gambar 2. .5 Basics of Health Belief Model Sumber : Ogden. Philadelphia. Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap risiko yang akan muncul. 1996 Proses kognitif dalam HBM dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan. Asumsinya bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut meningkat maka perilaku pencegahan juga meningkat. individu akan melakukan tindakan pencegahan didasari oleh dua kenyakinan atau penilaian kesehatan (health beliefs) yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian. hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berfikir tentang penyakit yang diderita betul-betul merupakan ancaman kepada dirinya.

pertimbangan keuntungan dan kerugian dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu variabel demografi (usia. kerentanan. kelas sosial.Penilaian kedua yang dibuat adalah perbandingan antara keuntungan dengan kerugian dari perilaku dalam usaha untuk memutuskan tindakan selanjutnya. Ancaman. keseriusan. dia percaya bahwa penyakitnya akan berakibat serius pada anggota tubuh. . HBM menyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. latar belakang budaya). Adanya gejala-gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi negatif penderita. Penderita sering mengatakan bahwa mereka merasa malu karena penyakitnya sehingga tidak memeriksakan diri. Contohnya perilaku penderita kusta yang mengasingkan diri merupakan kemudahan untuk terjadi adanya kecacatan dan sumber penularan. variabel sosiopsikologi (kepribadian. akan tetapi penderita dengan persepsi positif merasa bahwa penyakit kusta adalah ancaman kesehatan yang serius melakukan pengobatan secara rutin adalah suatu keuntungan yang tinggi dan biaya yang rendah dibandingkan apabila sudah terjadi kelainan atau kecacatan. tekanan sosial) dan variabel struktural (pengetahuan. pengalaman tentang masalah).

W.G.External factor Benefits Cost Gambar 2.Internal factor . Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan pustaka diatas diambil suatu kerangka teori yang bersumber dari teori Lawren W Green dan teori Health Belief Model (HBM) sebagai berikut : Susceptibility Demografik Variable Severity Perceived stigma Reinforsing Factor . Kerangka Teori : modifikasi teori L.6. Green dan teori HBM .

Kerangka konsep.1. Variabel Bebas Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit Variabel Terikat Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Lama sakit Keluarga Tetangga Teman Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positif Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif Penderita kusta merasa terstigma Gambar 3. Kerangka Konsep Penelitian .BAB III METODE PENELITIAN A.

pekerjaan pendapatan dan lama sakit) melatar belakangi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 3. Bagaimanakah faktor manfaat jika berperilaku positif melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 6.B. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana faktor risiko jika berperilaku negatip melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 7. Bagaimanakah faktor Demografik (umur. Bagaimanakah persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 2. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. jenis kelamin. alasan yang mendasari penelitian jenis ini karena dapat menggali atau menghasilkan data deskriptif secara mendalam mengenai persepsi responden . Bagaimana faktor kegawatan penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 5. pendidikan. Bagaimana faktor kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 4. Bagaimanakah faktor internal (lingkungan keluarga) dan (lingkungan masyarakat) melatar belakangi persepsi penderita? eksternal C.

terhadap stigma penyakit kusta. Tehnik kualitatif memberi kesempatan pada peneliti untuk mengamati dan berhubungan langsung dengan sasaran penelitian (responden) (22) Ketiga. (25) . (22) Metode kualitatif lebih menekankan pada validitas dengan pemahaman bagaimana manusia sebenarnya berperilaku dan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh manusia ketika menggambarkan pengalaman. dimana tujuan riset kualitatif sendiri adalah mengembangkan konsep-konsep yang dapat menjelaskan makna suatu fenomena dan membantu pemahaman lebih mendalam atas fenomena sosial dan perilaku dalam setting atau lingkungan yang alami (bukan percobaan / eksperimen) dengan demikian memberi penekanan pada makna-makna.(23) Metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan lain yakni : pertama. perilakunya dan penalaran yang tersirat pada metode kualitatif bersifat induktif (bergerak dari observasi menuju hipotesis dan bukan pengujian hipotesis/deduktif). Kedua : berhubungan langsung dengan sasaran (responden). serta memberikan kemungkinan bagi perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar. tidak lazim mendefinisikan suatu konsep. perspektif yakni memahami secara menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti. Keempat. menarik dan unik bermakna dilapangan (30) . bersifat holistik. pengalaman dan pandangan semua peserta risetnya. sikap. Luwes tak terlalu rinci. analisis induktif karena peneliti tidak memaksa diri untuk hanya membatasi penelitian pada upaya menerima atau menolak dugaan-dugaanya melainkan mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri.luwes karena rancangan studi ini bisa dimodifikasi meskipun sedang dilaksanakan (24).

memakai topi. Dalam penelitian ini sample berjumlah 8 (delapan) orang penderita kusta dengan kriteria sebagai berikut : a. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Dari pengamatan penulis penderita yang terlihat tidak percaya diri dalam berperilaku (misal: memakai pakaian tertutup/lengan panjang. selalu menundukkan kepala) saat berobat di RSUD Tugurejo Semarang. Sampel Penelitian kualitatif bertolak dari asumsi yang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. b. . Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang. 2. Mau berpartisipasi menjadi subyek penelitian. menyendiri. penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sampel (30) . Tehnik pemilihan sampel dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta yang mendapat pelayanan di RSUD Tugurejo Semarang. padanya terdapat pola tertentu namun penuh variasi (keragaman).D. Data kunjungan pasien rawat jalan di poli khusus penderita kusta ratarata 344 orang per bulan. c.

Mau berkomunikasi dengan baik. b. b. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. e. Variabel bebas. 4) Faktor persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. pekerjaan. Mau berkomunikasi dengan baik c. Mau berpartisipasi dalam penelitian ini. Variabel Terikat dalam penelitian ini adalah penderita kusta merasa terstigma. Dalam penelitian ini berjumlah 5 orang E. Dalam penelitian ini sampel berjumlah 8 orang penderita Informasi dan tanggapan lain dalam penelitian yang digunakan sebagai cross check adalah keluarga dan lingkungan ( tetangga dan teman penderita) yang selanjutnya disebut sebagai Informan. 6) Faktor persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatip. jenis kelamin. dengan kriteria sebagai berikut : a.d. 3) Faktor persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit. pendidikan. Variabel Penelitian a. . penghasilan dan Lama sakit. 5) Faktor persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positip. 2) Faktor-faktor internal dan eksternal responden terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. 1) Karakteristik responden yang terdiri dari umur.

Definisi Operasional Penderita Kusta adalah seseorang yang dinyatakan positif menderita kusta yang melalui pemeriksaan laboratorium ditemukan Basil tahan asam (BTA) positif atau ditemukan tanda-tanda kusta.2. 4) Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh responden baik di luar maupun di dalam rumah untuk memperoleh penghasilan. 9) Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang penyakit kusta sebagai suatu . a. 1) Umur adalah bilangan tahun terhitung sejak lahir sampai ulang tahun terakhir 2) Jenis Kelamin adalah penggolongan responden berdasarkan jenis kelamin yang tercantum dalam status diri (laki-laki atau perempuan) 3) Pendidikan adalah jenjang / tingkat pendidikan formal yang diperoleh responden sampai saat wawancara. 5) Lama sakit yaitu waktu yang dihitung saat pertama penderita di diagnosa sakit kusta sampai saat wawancara dilakukan 6) Lingkungan keluarga adalah lingkungan sosial yang paling dekat dengan penderita (11) 7) Lingkungan masyarakat adalah lingkungan sosial yang berada di sekitar tempat tinggal penderita (11) 8) Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. Variabel Bebas.

takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. F. Variabel terikat Penderita Kusta merasa terstigma : Suatu kondisi yang membuat penderita merasa malu. menganggap bahwa penyakitnya sama seperti penyakit lain dan perlu berobat sehingga sembuh.kondisi ancaman kesehatan yang berakibat serius atau kegawatan pada tubuh penderita. Daftar pertanyaan penelitian berisi tentang persepsi penderita dan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta . dan merasa disingkirkan oleh lingkungannya karena penyakit yang dideritanya. cacat dan sebagai sumber penularan b. 11) Persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. rendah diri. Instrumen yang Digunakan Instrumen yang digunakan dalam penelitian deskriptif adalah peneliti sendiri dengan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka yang berhubungan dengan responden sehingga pelaksanaan pengumpulan data dapat berlangsung efisien. 10) Persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positif yaitu tanggapan responden mengenai keuntungan/manfaat apabila responden berperilaku positif terhadap penyakitnya. menularkan.

Adapun langkah-langkah analisis data kualitatif meliputi (26) pemeriksaan laboratorium dan catatan lain tentang . b. Data Sekunder Diperoleh dari catatan medik RSUD Tugurejo yang menyimpan data penderita termasuk hasil penyakit kusta penderita. Sumber Data. Tehnik Pengolahan dan Analisa Data 1. a. Data Primer Diperoleh dengan wawancara dan pencatatan menggunakan daftar pertanyaan yang dibuat oleh peneliti kepada penderita kusta dengan berpedoman pada kebutuhan informasi / data yang menjadi variabel dalam penelitian. Sumber Data Ada dua jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini. yaitu data primer dan data sekunder. 2. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan setelah peneliti memperoleh data dari responden melalui wawancara mendalam dengan menggunakan model analisis kualitatif.Tahap pengumpulan data dengan wawancara mendalam dilakukan perekaman menggunakan alat bantu MP3 recorder dan catatan lapangan sehingga data dapat terkumpul dengan baik. G.

a. Reduksi data Peneliti melakukan pemilihan. pengabstrakan. dan transformasi data kasar yang muncul dari hasil wawancara mendalam dan catatan-catatan tertulis di lapangan. c. Pengikhtisaran atau tabulasi Peneliti melakukan pengikhtisaran atau membuat tabel data tiap butir instrumen dari para responden yang dibuat dengan mengelompokkan jawaban. responden. Deskripsi tersebut berdasarkan interpretasi peneliti terhadap transkrip. situasi. dan lain-lain secara keseluruhan. informasi diinterpretasikan dan disajikan secara narasi. dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh dapat didokumentasikan dan tidak ada informasi penting yang hilang. Untuk memudahkan proses. Comparative atau perbandingan Peneliti melakukan langkah ini berkali-kali sehingga menemukan kategori yang lebih luas. Berdasarkan tabel. Pembuatan transkrip dilakukan setelah peneliti memperoleh informasi dari responden dengan cara memutar ulang rekaman kaset hasil percakapan responden dengan peneliti. penyederhanaan. selanjutnya dikelompokkan ke dalam satu kategori. b. peneliti mencoba mengidentifikasikan beberapa kategori berdasarkan pedoman wawancara mendalam sehingga ketika memasuki proses . Transcribing Peneliti melakukan pembuatan transkrip dari hasil wawancara mendalam. Apabila terdapat pemaknaan yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori yang sudah ada maka dibuat kategori yang baru. Hal ini dilakukan berulang-ulang untuk mendeskripsikan situasi percakapan yang sesungguhnya. d. Transkrip dibuat langsung setelah proses wawancara mendalam.

meliputi persamaan dan perbedaannya. lalu diinterpretasikan makna data antar tabel. Cara ini baik untuk mengurangi bias yang melekat pada satu metode dan memudahkan melihat keluasan penjelasan yang memudahkan.tinggal mencocokkan dengan kategori yang ada. Validitas dan Reabilitas Data Uji validitas dimaksudkan untuk meningkatkan validitas tampilan dari sesuatu yang akan diteliti melalui uji coba dapat diketahui adanya pertanyaanpertanyaan yang benar-benar mengukur dari yang hendak diukur. Tehnik . Langkah ini dilakukan untuk menghubungkan antara kategori sehingga terbentuk suatu kerangka konsep atau suatu penjelasan yang komprehensif mengenai fenomena yang dapat ditangkap oleh penulis. Uji validitas yang dilaksanakan pada penelitian kualitatif disebut triangulasi. Perumusan pernyataan konklusif Peneliti merumuskan pernyataan-pernyataan konklusif terhadap tiap rincian masalah penelitian atau tujuan-tujuan khusus. tetangga dan teman penderita kusta. Dan dalam penelitian ini triangulasi dilakukan kepada keluarga. yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan kesimpulan penelitian ini. e. Dengan triangulasi tehnik ini merujuk pada pengumpulan informasi atau data dari individu dan latar belakang dengan menggunakan berbagai metode. Tabel-tabel yang berkaitan diinterpretasikan hubungannya. H.

pemeriksaan keabsahan data dengan triangulasi dapat dilaksanakan melalui sumber data, metode dan teori. Peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, pengamatan dan dokumentasi.
(30)

Interview

dilaksanakan untuk mengetahui opini, persepsi, penilaian dan ingatan responden tentang pengalamannya (28) Realibilitas (keterandalan) pada penelitian kualitatif dapat dicapai dengan melakukan auditing data, hal ini dapat dilaksanakan dengan cara data hasil wawancara di tulis dan dikelompokkan sesuai dengan gambaran variabel yang dilihat pada penelitian. I. Keterbatasan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2008 di RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian ini tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Adapun kelemahan dan keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam untuk memperoleh gambaran faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Karena banyaknya faktor yang melatar belakangi persepsi maka penulis membatasi dan hanya meneliti faktor karakteristik, faktor internal, faktor ekternal, faktor kemudahan

kemungkinan terkena penyakit, faktor kegawatan penyakit, faktor manfaat berperilaku positip dan faktor risiko berperilaku negatif, karena faktor-faktor ini berpengaruh besar terhadap persepsi penderita kusta.

2. Pengumpulan

data

melalui

wawancara

mendalam

dengan

menggunakan banyak pertanyaan, membutuhkan waktu yang lama hal ini membuat responden jenuh,sehingga dimungkinkan adanya

subyektivitas jawaban. Untuk mengatasinya dilakukan triangulasi dengan melakukan cros chek pada suami, ayah, paman, tetangga dan teman penderita kusta.

3. Responden sangat tertutup terhadap penyakitnya, sehingga wawancara mendalam yang dilakukan sering mendapatkan jawaban yang singkat.

4. Responden sangat keberatan apabila penulis datang kerumahnya, ini mempersulit penulis dalam melakukan cross cek terhadap keluarga, tetangga dan teman penderita, sehingga penulis melakukan cross cek di RSUD Tugurejo dengan mendatangkan keluarga, dan penulis hanya mendapatkan 5 (lima) Informan sebagai cross cek.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo. RSUD Tugurejo merupakan Rumah Sakit kelas B milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di Semarang bagian barat , dalam pelayananya RSUD Tugurejo menyediakan 23 poliklinik diantaranya poliklinik khusus penyakit kusta. Tenaga yang melayani pasien berobat ke RSUD

Tugurejo meliputi : 32 dokter spesialis, 24 dokter umum, 7 dokter gigi, 3 apoteker, 1 psikolog, 60 tenaga medis, 268 tenaga keperawatan dan kesehatan, dan 138 tenaga non medis. Produk unggulan RSUD Tugurejo adalah sebagai

Kaliwungu. umur. paman. pendidikan. pelayanan kusta dan sebagai pusat penanganan krisis perempuan dan anak (PPKPA). Adapun karakteristik responden meliputi jenis kelamin. B.pusat diagnostik. 23 tahun. Pati. jumlah kunjungan penderita kusta pada tahun 2007 ada sebanyak 4. ayah. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut dengan Informan. Blora. Tegal dan daerah lain sekitar Semarang kemudian 1. masing-masing berjumlah . laki-laki berjumlah 3. Adapun tempat tinggal penderita 2. 29 tahun dan 55 tahun. Pekalongan. Demak.952 (67%) berasal dari luar Semarang yaitu Jepara. poliklinik kecantikan.380 pasien. pekerjaan. Weleri. Kendal. Purwodadi.428 (33%) berasal dari Semarang. status pekerjaan dan lama menderita disajikan sebagai berikut : 1. Sebagai pusat rujukan dan pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. ini digunakan sebagai faktor triangulasi. Umur dan jenis kelamin responden Karakteristik responden berdasarkan umur diketahui bahwa responden berumur 14 tahun.120 (71%) sedangkan perempuan berjumlah 1.260 (29%). Adapun jenis kelamin dan asal penderita yang berobat ke poliklinik kusta tersebut bisa dilihat berikut ini : Penderita. mengambil responden sebanyak 8 (delapan) orang penderita kusta dan 5 (orang) yang terdiri dari suami. Karakteristik Responden Penelitian mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ini.

lulus SMP dua orang.perbulan. Jenis kelamin responden sebagian besar laki-laki sebanyak lima orang 2. 4.000. adapun sebagai Pegawai Swasta ada sebanyak dua orang dan sebagai petani satu orang. 30 tahun. Berdasar lama menderita penyakit kusta. 33 tahun. satu responden berpenghasilan kurang dari Rp.per bulan dan sebanyak dua orang berpenghasilan antara Rp.000. selama kurang lebih dua tahun sebanyak empat orang dan masing-masing satu orang telah menderita kurang lebih tiga tahun. 5.. Responden berdasarkan status nikah Dari delapan responden. empat responden telah menikah dan empat lainnya tidak menikah. Melihat hasil jawaban responden mengenai penghasilan rata-rata perbulan responden tidak sama. 35 tahun. enam tahun dan lebih sepuluh tahun. 44 tahun . responden menyatakan telah menderita selama lima bulan sebanyak satu orang.500.satu orang dan umur 33 tahun serta 45 tahun masing-masing 2 dua orang.000 – Rp. dari tiga orang yang bekerja. Umur Informan masing-masing 24 tahun. diketahui bahwa lulus SMA sebanyak tiga orang.500.1. sebanyak lima orang tidak bekerja. empat orang berjenis kelamin laki-laki. Responden berdasar lama menderita penyakit kusta. Pekerjaan responden Responden berdasarkan jenis pekerjaan.000. Adapun karakteristik informan sebagai faktor triangulasi adalah sebagai berikut : Informan berjumlah lima orang. Pendidikan responden Dilihat dari latar belakang pendidikan responden. lulus SD dua orang dan satu orang tidak lulus bersekolah 3.

Sedangkan yang lainnya mengemukakan bahwa keluarga merasa was-was karena penyakit yang diderita responden. Dari delapan responden semuanya menyatakan masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta. Seperti yang dikemukakan berikut ini : Kotak 1 . . Dari 8 (delapan) responden dengan karakteristik yang berbeda.Saya merasa bersalah. tukang kayu. dagang. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta didefinisikan sebagai proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib..keluarga nggak mau datang ke rumah. hal yang memalukan. saya takut ketahuan tetangga nanti pasti dikucilkan. pegawai negeri dan pegawai swasta. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa pandangan responden terhadap apa yang dilakukan keluarga atau masyarakat mengenai stigma penyakit kusta terhadap responden. faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. C. 1. 2 orang mengatakan bahwa.dan 46 tahun. was-was jika tubuh saya jadi cacat pasti tetangga menjauhi saya. keluarga menganggap biasa saja terhadap penyakit yang diderita responden. Pendidikan lulus SMA berjumlah tiga orang.. Status pekerjaan bervariasi yaitu pegawai BUMN. didapatkan jawaban yang bervariasi.. tidak bisa bekerja.. lulus SMP dan lulus D3 masing-masing satu orang. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri.

Orang tua berfikir positip.6. malu pada teman .... sebagian besar menjawab orang-orang dilingkungannya tidak mengetahuinya kalau responden menderita kusta. .. Biasa saja. keponakan...Takut. . dikira saya kencing manis tidak bisa sembuh dan sekampung saya sendiri yang kena begini..8 Keterangan : R = Responden Lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang pendapat orang-orang dilingkungan penderita setelah mengetahui istri.masyarakat juga biasa saja nggak tau kalau saya kena lepra.. . .. sekarang ini kami kontrak bu tapi saya bersyukur pengobatan di sini gratis dan istri saya sudah sembuh walau belum seratus persen. . terutama ibu... . adik biasa saja.. masyarakat tidak tau. kulo kenging lepra kering dados mboten ketingal... Masyarakat tidak tau. masyarakat tidak tau saya sakit. .Keluarga tidak menolak. (responden menangis)... tetangga atau teman menderita kusta.. penulis tanyakan tentang pendapat teman-teman dilingkungan penderita bekerja.4.Biasa saja. Tidak tau kalau istri saya kena kusta.Saya tidak pernah bilang kalau saya kena kusta.... tetangga tidak tau. anak. untuk mengetahui lebih lanjut dapat dilihat dari beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 2 .(responden menangis sampai lama)..7. memberi semangat pasti sembuh..2..Keluarga merasa syok takut. R 1. taunya sakit saraf karena kami berobat ke dokter saraf sampai habis-habisan..3....5.. sedang teman penderita karena tidak mengetahui tentang penyakit temannya. . rumah dan isinya habis untuk biaya berobat tapi tidak sembuh. tetangga bilang kena sengkolo..takut dijauhi kalau orang-orang tau..

... di kerjaan dia baik. maka tidak penulis lanjutkan.. 1.. .. . Dari hasil wawancara mendalam tentang apa yang dilakukan dan pendapat orang-orang dilingkungan penderita. walaupun jawaban yang diberikan bervariasi tetapi intinya semuanya mengutarakan. 5 Dengan mulainya wawancara mendalam bertanya tentang penyakit temannya. jadi kalau mondok begini kasihan istri dan anaknya.. ..2. tidak pernah cerita. I. tidak pernah keluar rumah.. Dia itu pendiam. ini semua karena Privacy penderita dan penulis tidak mengharapkan terjadi hal-hal di luar penelitian ini. Sebetulnya sakit apa bu? I.. seperti jawaban yang diberikan dibawah ini : Kotak 4 . Masyarakat tidak tau. karena lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta maka tidak ada perubahan apapun terhadap penderita.3 4 Keterangan : I = Informan Sedangkan teman penderita mengungkapkan bahwa penderita seorang yang baik dengan siapa saja dan mulai bertanya-tanya tentang penyakit temannya itu. seperti kutipan dibawah ini : Kotak 3 . Dia orangnya enthengan bu.. seperti alergi seluruh badannya. Teman sekolahnya tidak ada yang tau dan saya meling tidak usah diberi tau. taunya kalau ke rumah sakit ya kontrol ke dokter saraf. Teman-temannya taunya ya sakitnya itu karena salah obat. Selama ini biasa saja mungkin karena tidak tau dia kena kusta.

jadi biasa saja.... tapi tidak seperti sebelum sakit.3. taunya salah obat.Sebetulnya seperti kegiatan karang taruna... orang tuanya sering menyuruh untuk datang tapi ya. 1. dia juga sering ikut kegiatan masjid di kampung. didapatkan jawaban bahwa lingkungan / tetangga penderita menanyakan bukan karena penyakit kustanya tetapi seperti di ungkapkan dibawah ini : Kotak 5 . membaca apa saja.4 Melihat tanggapan pada kotak 5. mungkin malu karena wajahnya jadi seperti itu. mereka tidak tau. nggak tau kalau sekarang sudah tersebar. kasihan ya kalau pada tau.. dia sukanya diam saja di rumah. disuruh bantu. kadang saya perhatikan pandangannya kosong. I. Biasa saja. tindakan apa yang masyarakat lakukan terhadap penderita dan dari ungkapan tersebut.. .masih . Tetangga sering bertanya : sudah sembuh belum. Waktu itu kan belum tau. Sering rewang-rewang. sekarang agak pendiam dan agak malas-malasan kalau ada kegiatan. dia tidak mau kuliah lagi... menunjukkan bahwa lingkungan/tetangga tidak melakukan perubahan sikap terhadap penderita..2. karena belum tau bu.hanya dia tidak mau keluar rumah.bantu.. kegiatan remaja sering mendapat undangan tetapi tidak mau datang.2. 4 Untuk mengetahui apakah stigma ini muncul dari masyarakat ataukah dari penderita sendiri.. . Biasa saja. temannya ya masih pada main kerumah kegiatan ya masih mengikuti.. R 1. sekarang agak pendiam...3. .. . tapi ya beda seperti saat belum kena dulu. apa masih kontrol ke dokter saraf ? .sebetulnya masyarakat tidak apa-apa. lebih lanjut dapat disimak tanggapan Informan mengenai. Masyarakat tidak tau kalau sakit kusta.

Kesekolah saya selalu pakai seragam panjang.mengikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan di kampungnya.. saya agak membatasi diri biar tetangga tidak tau.2... . kalau omongomong dengan tetangga saya seperlunya saja.3. ada kegiatan yen purun nggih dateng. R. saya malu bu. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta dapat dilihat dari beberapa tanggapan responden berikut ini : Kotak 6 . seperti ini bu..1. . arisan biasanya saya titip saja.. jarang ngrumpi kalih tonggo. akan tetapi penderita sendiri yang tidak mau untuk mengikuti kegiatan tersebut. tetap ikut kegiatan di kampungnya dan responden yang masih bersekolah selalu memakai baju lengan panjang. tapi saya banyak tidak datangnya. saya sering pakai jaket karena dilengan saya ada fleknya. tiga responden melakukannya dengan tetap bekerja. satu responden dengan membatasi diri dan responden lain dengan diam saja (tidak melakukan tindakan apapun)... saya pilih tidak ketemu orang-orang. Adapun mengenai bagaimana cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta. ada undangan sering dipaksa bapak datang. Kulo mendel mawon.7 Adapun perbedaan cara dalam menanggulangi cap buruk ( stigma) oleh responden dikemukakan sebagai berikut : Kotak 7 . selesai langsung pulang.Dirumah terus. . ..

R 4.. biar saya tidak kelihatan kalau sakit kusta.. Dari hasil jawaban terhadap responden mengenai pendapat apakah penyakit kusta dapat menular ke semua orang terlihat bahwa sebagian besar menjawab ”bisa” menularkan dan sebagian lagi menjawab ”tidak” menular dan seorang menjawab tidak menular juga bukan merupakan penyakit keturunan seperti di ungkapkan berikut ini : Kotak 8 . Tidak. Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu meliputi.kata orang-orang saya kena sengkolo. penyakit ini juga bukan keturunan . Penyakit kusta adalah penyakit menular.. Bisa. gejalanya persis seperti saya dan saat ini ibu tangannya sudah cacat. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Mboten.. ibu saya juga kena.2. Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. . Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita.. sudah dislameti ya tidak sembuh-sembuh. .. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. R 7. sak kampung mung kula thok. antara lain : faktor sumber penularan yaitu penderita. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1).. ada kumpulan kampung saya tetap datang. Saya tetap bekerja walaupun kadang-kadang saya tidak PeDe. tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. kalau tidak datang justru jadi omongan orang..5 2.. ikut kegiatan dikampung.. ada kerja bakti.6 . .. tapi tetap saya jalankan.

. . ringkih. kados panu ning saged dados berat. Kotak 10 . Penyakit kulit. Penyakit seperti alergi. kemproh.. R 2. dua responden menyatakan bahwa orang yang kebersihannya kurang dan kondisi kesehatannya menurun. kurang resikan. satu orang menyatakan. Berikut kutipan sebagian jawaban responden : Kotak 9 . 3. Tidak tau bu. Penyakit yang tangan dan kakinya bisa mrotholi I. Orang yang jorok.. ...Selanjutnya hasil wawancara mendalam terhadap Informan tentang persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit dengan pertanyaan apa yang anda ketahui tentang penyakit kusta sebagian besar mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular.2. penyakit kusta adalah penyakit kulit dan satu orang menjawab penyakit kusta adalah penyakit yang bisa membuat cacat. fisiknya berubah dan katanya bisa menular.. kondisinya jelek.5 Kemudian persepsi responden mengenai orang yang seperti apa yang mungkin terkena penyakit kusta. satu responden berpendapat bahwa orang yang golongan darahnya sama dengan penderita yang bisa tertular penyakit kusta.sekampung hanya saya saja yang sakit kados niki... dari hasil jawaban ternyata sebagian responden tidak mengetahui tentang ciri atau kriteria orang yang mungkin terkena penyakit kusta....1 .

apakah penyakit kusta dapat menimpa semua orang / orang lain didapat jawaban bahwa. orang yang kondisi kesehatannya menurun dan kurang menjaga kebersihan .4 Sedangkan cara penularan penyakit kusta menurut responden. dua orang menjawab.. Orang yang peduli kesehatan tidak akan ketularan.... sebagian besar menjawab penyakit kusta bisa menular ke semua orang dan hanya tetangga penderita menjawab penyakit kusta tidak bisa menular seperti berikut ini : Kotak 11 . Tidak menular. 4 Demikian juga hasil wawancara terhadap ke lima Informan sebagai faktor triangulasi mengenai orang yang bagaimana yang bisa tertimpa penyakit kusta. Ringkih. I. satu responden menjawab penyakit kusta menular melalui udara dan terdapat satu responden yang menjawab bahwa jika bersinggungan dengan penderita kusta akan tertular penyakitnya seperti di ungkapkan sebagai berikut : Kotak 13 . berikut kutipan jawaban : Kotak 12 .. kurang perhatian kebersihan... . 1.. I.Selain itu menurut Informan mengenai. bersinggungan dengan orang kusta yang pada kulitnya terdapat . kondisinya drop. sebagian besar mengatakan tidak mengetahui tentang penularan penyakit kusta. Orang yang jorok dalam hidupnya.

I. sebagian . dan golongan darahnya sama. Katanya petugas. Kemudian untuk tanda – tanda tersangka kusta diantaranya adanya kelainan kulit berupa bercak yang tidak terasa/mati rasa berwarna merah atau putih. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. adanya luka yang tidak terasa sakit dan juga terjadinya reaksi akibat penyakit kusta. bisa ketularan penyakit kusta. adanya rasa kesemutan. anak saya sering kontak langsung dengan ibunya. lha pripun yen bobok kalih ibune. benjolan di kulit. tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. tetangga penderita mengatakan. gangguan gerak anggota atau bagian muka. adanya kecacatan. 2 3. Didapat jawaban bahwa.benjolan-benjolan seperti udunen.. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan mengenai kegawatan penyakit kusta dengan pertanyaan.. apakah penyakit kusta dianggab penyakit yang berbahaya? Apa alasannya ?. R5 Adapun berdasarkan wawancara terhadap Informan mengenai cara penularan penyakit kusta. adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut. penularan penyakit kusta bisa melalui udara dan lainnya mengatakan kontak langsung dengan penderita bisa tertular penyakit kusta seperti tanggapan ayah penderita berikut ini : Kotak 14 .

kusta menakutkan.besar responden menyatakan penyakit kusta menimbulkan bahaya dan sebagian menyatakan bahwa penyakit kusta tidak berbahaya. cacat tidak bisa bekerja. itu cina ada yang sampai mrotholi. tidak bisa aktifitas.. .. bisa menular.2. Sangat berbahaya. Ya. . bisa prothol – prothol.. .8 Selanjutnya mengenai Persepsi terhadap kegawatan penyakit menurut Informan adalah. keluarga . Tidak. kan bahaya bu. Ya.. karena gejala yang muncul sangat berat. mambu...ini hidung saya jadi hilang bu. karena bisa menular ke orang lain.... banyak yang salah berobat. R 1. Ya. ibu saya sering sampai nangis kalau kumat.. semua menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat.6. kata ibu saya kalau kumat badan sakit semua. tidak bisa bangun. dada keder.7.. . penyakitnya akan hilang... . . karena kalau minum obat akan sembuh. gejala-gejala yang muncul itu menakutkan.. merubah fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. telat minum obat kumat. panas dingin. badan sakit semua. untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegawatan penyakit kusta dapat dilihat dari beberapa pendapat berikut ini: Kotak 16 ... Sangat berbahaya. . lemes.. Tidak berbahaya kalau minum obat akan sembuh. Ya. rasanya tak karuan. Berbahaya. badannya sakit semua. Ya.5. tidak banyak yang tau tentang penyakit kusta.4.. adapun jawaban dari responden tersebut bisa disimak seperti berikut : Kotak 15 . keringat dingin.3. . menakutkan karena fisiknya berubah. proses penyembuhan lama...

Saya takut mati. terisolasi dari masyarakat.. I. kadang orang melihat saya seperti takut. Mencermati jawaban responden mengenai seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta . Wah.ya bahaya bu..4. Penyakit kusta menyiksa lahir batin.. dua responden menjawab kusta bahaya. tangan-kakinya rusak tidak bisa untuk bekerja. kusta berbahaya makanya saya periksa terus. terus terang saya sangat depresi . kalau saya lihat yang periksa bareng saya tangannya putus-putus. 1. mental dan menyiksa lahir batin. tidak berobat badan sakit semua.. wajah berubah menjadi menakutkan. kecacatan yang berlanjut dan apabila tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang baik akan dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif.. 5 Penyakit kusta menimbulkan masalah yang sangat komplek. merusak fisik. kalau minum obat badan enak. merusak mental.bisa kena semua.. bisa membuat cacat di tubuhnya.. dari delapan responden terdapat empat diantaranya menyatakan bahwa bahaya penyakit kusta bisa menimbulkan kecacatan. kulitnya mlepuh – mlepuh seperti kena api. … Ya. ... Penyakit kusta merusak fisik. mrotholi. Kemudian responden lain berpendapat bahwa kusta kalau kumat (kambuh) gejala-gejala disebutkan seperti lemas. keluarga dan teman-temannya (7) . . panas dingin badan sakit semua akan muncul lagi dan satu responden tidak mengetahui tentang seberapa besar bahaya yang timbul karena penyakit kusta. Untuk jawaban-jawaban responden tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini : Kotak 17 . .

drodog badan saya tidak ada daya. jadi saya kawatir kalau mereka tertular penyakit ini. . Kusta basah bisa sampai mrotholi. 1. . rasanya sepeti itu. . Beberapa jawaban dapat dicermati berikut ini : Kotak 18 . 2 Untuk wawancara mengenai persepsi penderita tentang apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian didapatkan jawaban. R 1. .4. . sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian dan sebagian kecil responden mengemukaan pendapat.5..8 Kemudian seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta... waktu itu saya sudah mutung berobat kemana-mana tidak sembuh sampai habishabisan. cekot-cekot.. Wah. bagaimana ya bu. Dibawah ini kutipan jawaban dari beberapa responden : Kotak 19 . I. Tidak membunuh tapi merusak fisik. rumah dijual untuk berobat. Saya takut kalau istri saya cacat. ya berat bu. penyakit kusta tidak bisa mengakibatkan kematian. saya mikir apa saya mau mati soalnya jantung keder terus. bisa membuat cacat dan satu orang mengungkapkan kalau kambuh badannya sakit semua..2.. empat semua dekat dengan ibunya. Ibunya kalau kumat badannya sakit semua.. Bisa..5. panas dingin.. anak-anak ketularan....3. menurut Informan sebagian besar mengatakan bahaya penyakit kusta selain menular.Tugurejo) mungkin saya sudah meninggal. anak saya banyak bu. Yaitu bu bisa jadi cacat... kalau gak ke Tugu (RSUD. Kalau kumat lemes. kusta kering rasanya senutsenut sakit sekali bu.. wajahnya menakutkan.

.. kematian ditangan tuhan. Adapun kecacatan dibagi menjadi : a. Tidak bisa. ( pada wajah. hanya bisa merusak fisik. … Tidak menyebabkan kematian. antara lain : Faktor yang berhubungan dengan penderita sendiri (umur... R 1. Cacat ini terbentuk akibat salah . pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama dan faktor pekerjaan (penderita yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat).3. Kecacatan sekunder yaitu kecacatan yang disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan kelumpuhan.3. I. pada anggota gerak) b.5.4.5 Kecacatan akibat penyakit kusta dipengaruhi oleh beberapa faktor.. 1. didapatkan jawaban bahwa penyakit kusta tidak menyebabkan kematian.. bisa sembuh kalau berobat. kalau berobat terus ya sembuh.. saat pertama kena penyakit ini saya sempat koma. kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat kuman kusta). panas tinggi dan tidak ada obatnya.. . .2. jenis kelamin). Kalau kematian InsyaAllah tidak. seperti dikemukakan dibawah ini: Kotak 20 . Kecacatan Primer yaitu kecacatan langsung yang disebabkan oleh aktifitas penyakitnya. Ya.. menurut kula wong sehat mawon bisa mati nggih. Bisa. faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit).4.8 Selain itu menurut persepsi Informan mengenai apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian.

katanya awalnya cacat karena tidak terasa. kalau ngantar ke Tugurejo saya sering omong-omong dengan pasien lain..7 Sedangkan mengenai kecacatan. kaki saya cacat. . Tanggapan responden terhadap pertanyaan apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan mendapatkan hasil bahwa semua responden menjawab ”bisa”. kaki... lha niku bojo kula (ibunya penderita) ngertos-ngertos tangane ngeten ( jari-jarinya kithing) ... Ya. wajah. ini (menunjuk sepanjang tungkai kanan) tidak terasa lho bu. kakinya cacat awal-awalnya luka seperti ini (menunjuk luka dikaki) ... itu orang cina yangbarengan periksa dengan saya. Bisa. Ya. kuping saya memanjang karena penyakit ini. luka tidak sembuh-sembuh terus diamputasi . .. Ya. kaki saya luka.. berikut ini kutipan tentang jawaban responden : Kotak 21 .2. tangan dan kakinya cacat... Bisa. semua badannya cacat. .4. menurut Informan..3. saya sampai saat ini ada rasa takut cacat.dalam aktifitas atau tidak pernah digunakan (disuse) bisa juga karena adanya infeksi sekunder. Ya. . semua menyatakan bahwa penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan berikut ini : seperti di ungkapkan Kotak 22 .5.. tangan saya kithing tidak terasa. tangan dan kakinya mrotholi semua. keponakan saya ini tangannya sudah tidak nornal lagi.. tangan saya sudah mati rasa. saya takut cacat. kata pasien yang barengan kontrol. tangan istri saya perasaannya berkurang. ini wajah saya sudah mulai cacat... Bisa. . kemarin kena air panas tidak terasa. R 1. Bisa.. seperti tetangga saya. Bisa. penyakit kusta bisa mengakibatkan kecacatan pada tubuh penderita.

Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip yaitu perilaku berobat penulis tanyakan dengan bagaimana menurut pandangan anda apabila penderita kusta diharuskan berobat secara rutin dalam waktu yang lama dan harus minum obat setiap hari? Apa alasan dari jawaban tersebut? Semua cacat permanen. . Penyakit kusta dapat diobati. Dengan matinya kuman maka sumber penularan dari penderita ke orang lain terputus. pernah telat kontrol timbul lagi gejala seperti dulu. Dulu kena air panas gak terasa sekarang jadi cacat. setelah minum obat saya tenang bu. sebagai berikut : Beberapa jawaban responden diungkapkan Kotak 23 . Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip.cacat. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur. 1.2. Penderita yang sudah dalam keadaan lanjut. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali... keluar benthol-benthol. Baik apabila berobat. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan.. bukan penyakit turunan/kutukan. karena kalau tidak berobat bisa kumat (kambuh) . capek. pengobatan hanya dapat mencegah cacat lebih responden menyatakan penderita kusta harus berobat secara rutin karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit jadi kurang aktif sampai akhirnya hilang. 3 4.. I. Setuju.

.. kadang-kadang jenuh. keluar benjolan-benjolan.. 1. dikamar terus..... 4 Untuk mendapat jawaban dari teman penderita. .7. .. . kusta kan bisa menular.. penulis mengalami kesulitan karena teman penderita belum mengetahui kalau teman yang diantar berobat menderita kusta.3..2. Baik. sehingga selalu penulis awali dengan seandainya teman anda sakit kusta. kalau telat berobat ya kambuh lagi . biar sembuh total.. ibu saya kalau obat nya telat badannya sakit semua. Saya ngomong pada orang tuanya untuk berobat sampai sembuh dan saya akan selalu membantu ngantar keponakan saya berobat ke tugu. ...8 Adapun menurut persepsi Informan apabila menderita penyakit kusta.. R 1..dan saya telpon bapak saya untuk mengecek di rumahnya karena saya tau neneknya juga sakit tapi nggak pernah keluar.. bagaimana pendapat anda setelah mengetahui teman anda menderita kusta? Berikut kutipan jawaban dari teman penderita kusta : Kotak 25 . Ya.6. diharuskan rajin menjalani pengobatan seperti pernyataan dibawah ini : Kotak 24 . Harus.. Harus berobat terus. Harus bu. . biar nggak kumat. kalau obatnya telat sering reaksi lagi. .4... jangan-jangan juga sakit kusta. I. kalau tidak berobat sakit lagi.. Harus berobat ke RSUD Tugurejo karena ahlinya ada di Tugurejo.3. Perlu berobat rutin. Harus diobati... Ya harus berobat kesini (RSUD Tugurejo) karena di Jateng pusatnya disini.5. terawat.

Memeriksa mata. tangan dan kaki dari trauma fisik. Prinsip pencegahan bertambahnya cacat pada dasarnya adalah 3M : a. b. Seperti dikemukakan sebagai berikut : Kotak 26 . Karena penderita kusta seperti saya ini sebetulnya masalah yang paling berat ”saya down sekali”.3 Dalam pencegahan kecacatan. hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh seorang penderita kusta dan alasan dari jawaban yang diberikan. Tenang. Sebagian besar responden menjawab pertanyaan dengan jawaban ”berobat” biar sembuh. tangan dan kaki secara teratur.. tidak kelelahan. tidak cacat.I. sebagian . untuk mencegah maka perlu mengolesi dengan minyak ( minyak kelapa. sehingga penderita harus bisa melakukan perawatan diri dengan rajin agar cacatnya tidak bertambah berat. minum obat. R 1. Perlu terapi psikologi. 5 Selanjutnya mengenai persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Penderita harus mengerti bahwa pengobatan kusta sudah / akan membunuh bakteri kusta tetapi kecacatan yang terlanjur terjadi akan menetap seumur hidupnya. Dalam hal perawatan diri didapat beberapa jawaban responden. tidak stres. tidak stres dan satu responden perlu dilakukan terapi psikologi. sedangkan dua responden menjawab dengan berfikiran tenang. tidak hanya fisik yang diobati. Melakukan perawatan diri... . vaslin atau hand body lotion) yang berfungsi untuk menjaga kelembaban kulit. Melindung mata. Kekeringan pada kulit akan mengakibatkan luka-luka kecil yang bisa terinfeksi. c. terapi mental sangat diperlukan. penderita kusta perlu mendapatkan pendidikan dan tindakan perawatan diri..

Tidak semua. Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi tangan yang mati rasa. karena kulit kering kadang sampai pecah. dari RSUD Tugurejo diberi vaslin sebagai pelembab dan satu responden menjawab.. batu dalam sepatu dan lain-lain. R 4.. memar atau lecet sekecil apapun.basar responden menjawab dengan harus mengoles pelembab di tangan dan kaki agar kulit tidak kering. benda tajam. gesekan dari alat kerja dan pegangan yang terlalu kuat pada alat kerja. kalau ada benjolan-benjolan iya harus pakai pelembab. dari RS Tugu saya diberi vaslin. Untuk mencegahnya maka : . . kaki bisa terluka oleh : Benda panas. Berikut kutipan jawaban dari dua responden : Kotak 27 . tidak perlu menggunakan pelembab kalau tidak ada benjolan-benjolan dikulit. Tekanan tinggi ataupun lama berdiri terlalu lama tanpa gerak. rawatlah dan istirahatkan bagian tangan sampai sembuh. jongkok yang lama dan sebagainya. Untuk mencegah terjadinya luka ditangan maka : Perlu melindungi tangan dari benda yang panas. Adapun untuk kaki yang mati rasa..8 Selain itu untuk tangan yang mati rasa. bisa terluka oleh : benda panas. Jika ada luka. berjalan terlalu jauh atau cepat. tapi kalau tidak ada ya nggak perlu bu. Harus pakai. benda-benda tajam. Seringlah berhenti dan periksa tangan dengan teliti apakah ada luka atau lecet yang sekecil apapun. gesekan dari sepatu/sandal yang terlalu besar ataupun kecil.. kasar ataupun tajam dengan memakai kaos tangan tebal atau alas kain.

Lindungi kaki dengan selalu memakai alas kaki.. Ya. biar tidak putusputus..5. Ya. . R 1. ...3..wong niki mboten kraos.karena kulit saya mati rasa kalau ada luka saya sering tidak tau karena tidak sakit. setiap hari. Hal ini penulis tanyakan dengan melakukan wawancara tentang bagaimana menurut responden apabila setiap hari responden diharuskan memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak.7.. setiap hari saya periksa badan saya. Berikut kutipan jawaban dari responden : Kotak 28 .. biar tidak ”mbabrak-mbabrak” . langsung rawat dan istirahatkan kaki (jangan sekali-sekali diinjakkan).. . biar sembuh. saya takut luka-luka itu menulari anak-anak saya. Ya.2. karena luka bisa jadi cacat..8 Mencermati jawaban diatas menurut responden.. ada luka ya langsung diobati. ...4. ..... Ya. apakah terdapat luka baru .. kalau ada luka terus disalep. Ya. Ya. Ya.6. nek wonten luka ngertos. Ya. pasien bapak-bapak tadi lukanya sampai bau mungkin nggak pernah diperiksa. Kalau ada luka.. memar atau lecet kecil.. Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi kaki yang mati rasa. . Sering berhenti dan memeriksa kaki dengan teliti apakah ada luka atau memar atau lecet yang kecil sekalipun. korengnya harus dilihat setiap hari. diobati. setiap hari penderita kusta diharuskan memeriksa anggota badannya.

Kecacatan pada kusta dapat terjadi lewat dua proses yaitu infiltrasi langsung kuman kusta ke susunan saraf tepi dan organ (misalnya mata) dan melalui reaksi kusta. lunglai. luka pada cornea mata. tangan atau kaki akibat kerusakan saraf karena penyakit kusta. responden memeriksa anggota badannya agar lukanya tidak menimbulkan cacat dan responden mengetahui kalau ada luka sehingga bisa cepat diobati supaya tidak tambah berat/menjalar. pemendekan. WHO membagi tingkat cacat kusta segabai berikut : Tingkat cacat 0 : jika mata. Tingkat cacat 2 : jika kalau ada cacat akibat kerusakan saraf dan cacat itu kelihatan (borok luka. Proses terjadinya cacat kusta tergantung dari fungsi saraf. tetapi cacat itu tidak kelihatan. ada tiga macam fungsi saraf 1) fungsi motorik memberikan kekuatan pada otot (otot gerak). Kusta merupakan masalah kesehatan masyarakat karena cacatnya. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga. orang yang cacat akibat kusta ” dicap” seumur hidup sebagai ”penderita kusta” walaupun sudah sembuh dari penyakit. 2) fungsi sensorik memberi rasa raba dan 3) fungsi otonom mengurus kelenjar keringat dan kelenjar minyak (berhubungan dengan kekeringan kulit). Cacat kusta terjadi akibat gangguan fungsi saraf pada mata. mata tidak bisa menutup erat.atau tidak. . apabila terjadi luka baru tidak terasa sakit. tangan atau kaki tetap utuh. tangan atau kaki. Tingkai cacat 1 : jika ada cacat pada mata. jari kithing. Sementara sebenarnya hampir semua cacat dapat dicegah. Sayangnya. responden merasa takut lukanya bisa menular pada keluarganya .

4. Ya.. ini kaki saya cacat . Ya bu.5. menyatakan perlunya memeriksa kelainan atau kecacatan dibadannya setiap hari karena takut kecacatan tersebut berlanjut menjadi lebih parah. dibawah ini merupakan pandangan dari masing-masing responden dalam pencegahan cacat kusta : Kotak 29 . ning cina niku harus diperiksa setiap hari.. Iya bu. takut ”mrotholi” tangannya.6. . ... Iya. .2.7. . . Ya.Adapun dalam menggali persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip... Karena badan saya seperti orang beri-beri saya takut kalau sewaktu-waktu terjadi cacat. sepertinya ngga ada tanda-tanda tau-tau tangan saya ”kithing”. menularkan. 5.8 Dengan melihat hasil dari jawaban semua responden.... persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. Iya.. langsung bisa di obatke. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip. ”semper ” jalannya pincang.. Iya. ben mboten kesuwen. jari saya ada yang memendek. luka tak sembuh-sembuh diamputasi. saya takut seperti orang kusta yang lain tangan dan kakinya cacat. R 1.... perasaan takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah.. nek kula mboten onten cacat.3. Nggih. cacat dan sebagai sumber penularan .. terus .cerita pasien yang bareng saya antri tangannya cacat. . keset nggih mambu. kakinya cacat karena tidak pernah merasa tau-tau cacat.

daging kambing.nanas. nangka. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. anggur. capek harus dihindari. Tidak diperbolehkan makan saos. tidak kambing. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. sprit (alkohol). satu responden menjawab lebih baik mengucilkan diri dan satu responden lain sebenarnya mengetahui . harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. semangka. sebagian besar responden mengutarakan bahwa makanan tertentu tidak boleh dimakan dan keadaan stres. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen.. duren. penderita yang mengucilkan diri karena malu dan penderita yang tidak mau berobat..duren. Dalam penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta penulis melakukan wawancara mendalam mengenai pandangan responden terhadap risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan penderita. Tidak boleh stres. seperti diungkap oleh dua responden dibawah ini : Kotak 30 .Stigmatisasi diri sendiri pada penderita kusta sangat nyata.5 Sedangkan pandangan responden jika melihat penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu didapat jawaban. R1. nongko.. memalukan. capek. tape. boleh makan daging .. Dari hasil jawaban mengenai hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang penderita kusta.

Salah besar. informasi tentang penyakit kusta justru didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. seperti yang diungkapkan oleh responden dibawah ini : Kotak 31 . reaksi terus. kalau tidak berobat tidak sembuh-sembuh. berkeinginan bunuh diri. saya sering melakukan itu. Lebih baik mengucilkan diri dari pada dirasani orang / tetangga.. tetapi respoden sendiri melakukannya juga... Beberapa jawaban diungkapkan oleh responden berikut ini : . tidak percaya. dan saat pertama mengetahui penderita merasa kaget.. mengurung diri. takut. Saya tau tidak baik tapi kadang-kadang saya juga malu dan down bu.. saudara atau perangkat desa.3 Sementara itu. R4 6.bahwa tindakan mengucilkan diri itu adalah salah. sehingga saya juga sering tidak percaya diri. bu mbok jangan terapi obat saja harusnya ada terapi mental. R 2. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Penderita kusta pada umumnya tidak mengetahui bahwa dia menderita kusta.. . penderita kusta harus selalu berobat kalau tidak berobat maka tidak akan sembuh dan satu responden mengharapkan adanya terapi mental oleh psykolog karena selama ini hanya mendapatkan terapi obat saja hal ini dikatakan oleh responden ke 4 seperti dibawah ini : Kotak 32 . berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat sebagian besar berpendapat bahwa.

pendapat keluarga saat mengetahui bahwa responden menderita kusta diperoleh jawaban seperti kutipan dibawah ini : Kotak 35 . Takut sekali kalau tetangga tau.3. Dari saudara saya yang bapaknya sakit seperti saya. . saya malu. saya was-was bu sampai sekarang... tapi saya percaya pasti ada obatnya. Putus asa.... Dari pak Bayan . nanti saya dikucilkan (responden menangis).6...7... Dari petugas RSU Tugurejo. ..Kotak 33 .3.... takut luar biasa saya waktu itu berusaha bunuh diri... saya tidak melanjutkan kuliah sampai sekarang. Saya takut tetangga tau.4 Adapun perasaan yang ada dalam pikiran responden setelah mengetahui bahwa penyakitnya adalah kusta.. . saya dirasani. R 1.. . anak-anak saya. . Syok..6 Kemudian persepsi responden tentang. R 5.. Nggih ajrih.4. didapat beberapa jawaban dari sebagai berikut : Kotak 34 .. malu. . Ya kaget. . takut menular keluarga.2..2.. Waktu itu saya berusaha bunuh diri. Mental saya drop .

. saya disuruh berobat ke RSU Tugurejo karena bapaknya juga sembuh di sini. Periksa ke Tugurejo secara rutin pasti sembuh kata bapak.4. Istri mendorong saya berobat. Orang tua bilang dikasih cobaan harus diterima.. Anak-anak dulu sukanya marah sekarang sudah tau suruh berobat terus. I.. R 1.8 Selain itu merurut Informan mengenai bagaimana perasaannya setelah mengetahui bahwa penyakit responden adalah kusta. paman responden merasa kecewa karena penyakit keponakannya adalah kusta seperti diungkapkan dibawah ini : Kotak 36 . ayah penderita terlihat terpukul saat penulis menanyakan tentang perasaannya setelah mengetahui putrinya menderita kusta. . . .. 3 Sementara itu... . wong keluarga lain tidak ada yang kena.. Suami saya bilang ”wong kok gaweane lara”.. sambil menunduk berkata : .. Takut sekali.. tiga orang menyatakan merasa takut kalau tertularan penyakit ini dan merasa kasihan kalau penderita menjadi rendah diri...6. Bapak – ibu kaget selama ini taunya saya sakit karena salah obat.3.2. Kecewa.....5... saya gak tega. kasihan.7. Suami saat itu selalu berusaha mengobatkan saya . orang tua saya takut kalau saya pada ”mrotholi” . Pertama ya kaget...

ibunya juga kena katanya di badan sakit semua. mendukung atau tidak mendukung terhadap suatu obyek. nanti keluarganya malu. dan juga kaget karena penyakitnya adalah kusta dan satu orang tidak mengetahui kalau temannya sakit kusta sehingga penulis bertanya dengan seandainya teman anda di nyatakan menderita kusta bagaimana ? didapatkan jawaban seperti kutipan wawancara dibawah ini : Kotak 39 . 5 Sikap merupakan respon evaluasi yang dapat berupa respon positip maupun negatip. anak. Untuk mengetahui bagaimana sikap keluarga saat pertama mengetahui bahwa . saya kawatir kalau anak saya jadi minder di sekolahnya I. lain dengan teman penderita.2 Meskipun empat orang menjawab tentang perasaan masing-masing. saya takut I... Mudah-mudahan tidak bu. tetangga dan teman penderita telah menderita kusta semua merasa takut. sikap akan menunjukkan apakah seseorang menyetujui atau tidak menyetujui ..... malah sakite mboten mari-mari... Saya sangat kasihan pada anak perempuan saya ini. Wah. ya kasihan. I. 5 Sedangkan lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang apa yang terjadi pada saat mengetahui kalau istri. seandainya teman anda menderita kusta perasaan apa yang ada dalam pikiran anda? Berikut jawabannya: Kotak 38 . keponakan. was-was. yang tidak mengetahui bahwa temannya menderita kusta sehingga penulis bertanya.Kotak 37 .

... R 1....... R5 .. Mendukung untuk berobat. bapak dan paman saya berobat ke RSU Tugurejo selalu ngantar saya . dan responden ke 5 menilai sikap keluarga saat itu pasip saja. Pasip saja bu...3.gak peduli saya kena kusta. was-was dan takut. Orang tua takut dan kecewa karena saya sakit sudah diobatkan kemana-mana katanya kena ”sengkolo” ternyata kena kusta. R5 Adapun apa yang dilakukan keluarga setelah mengetahui kalau responden sakit kusta sebagian besar responden menyatakan keluarga mendorong untuk berobat hanya satu responden menjawab bahwa keluarga tidak peduli kalau responden menderita penyakit kusta. ... Bapak selalu was-was takut saya seperti ibu.. Ya tidak apa-apa.7 Sebagian besar menyatakan bahwa sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa. cuek gitu. berikut kutipannya : Kotak 41 ..responden terkena penyakit kusta. seperti kita lihat pada kutipan berikut : Kotak 42 . .. di ungkapkan oleh responden seperti dibawah ini : Kotak 40 . Ya cuek saja bu.4.

. dulu ya belum tau dan sekarang dia sering Bantu ibunya untuk pekerjaan rumah.2.3. Yaitu faktor yang terdapat diluar responden. . Orang tuanya sangat kecewa.. di lakukan wawancara mengenai pandangan responden tentang sikap masyarakat sekitar dengan pertanyaan sebagai berikut : Apa pendapat orang-orang di lingkungan kerja/ teman anda setelah mengetahui anda menderita kusta? . dia sering ”nuturi” untuk berobat terus. dua jarinya karena luka terus kemudian diamputasi I. Sepertinya biasa saja bu...4. Informan menjawab dengan sikap yang berbeda-beda. . sangat kawatir... Adik-adiknya tidak diberi tau kalau kakaknya kena kusta. . Adik-adiknya tidak tau.Selain itu bagaimana sikap keluarga saat itu.5 7. kalau disini kan tidak bayar. masih kecil. dibawah ini kutipan dari masing-masing jawaban : Kotak 43 . Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Ibunya nangis saat saya beri tau kalau Afif juga kena kusta. Anak terbesar saya tau kalau ibunya sakit kusta baru-baru ini. di RS.. Dalam mencari faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. faktor ini berupa interaksi sosial di luar pribadi responden.. mungkin karena dari keluarga kurang mampu jadi mau berobat ya mikir biaya. keluarga saya sendiri taunya salah obat karena keponakan saya ini sering minum obat bebas. Keluarganya sudah mengobatkan ke mana-mana bu... 1. Blora sana kakinya di amputasi. seperti masyarakat di sekitar tempat tinggal responden. .

paman penderita melihat .. diabetes.3. .6.5...2. alergi atau karena salah obat.. . semuanya beranggapan responden berobat karena penyakit lain seperti penyakit saraf. . taunya salah obat.Tidak ada yang tau. .. ayah penderita mengetahui kalau putrinya menderita penyakit kusta karena istri/ ibu penderita menderita penyakit yang sama yaitu kusta. tapi saya takut juga sewaktu-waktu mereka tau. R 1.. kalau ke semarang ya dikira ke rumah saudara saya. dipastikan bahwa teman atau tetangga tidak ada yang tau kalau responden sakit kusta. taunya kena gula dan kaki saya dipotong karena penyakit diabetes.. katanya penyakit saya tidak bisa sembuh. didapatkan jawaban sebagian besar dari lingkungan responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden ... ... tetangga tidak pada tau bu.... Lingkungan tidak tau. teman tidak tau. .8 Mengenai dari mana Informan mengetahui tentang penyakit kusta yang diderita responden.7. Biasa saja. Demikian juga tentang apa yang mereka lakukan terhadap responden. Tetangga dan teman saya tidak tau bu. Teman-teman disekolah tidak ada yang tau kalau saya sakit kusta. didapat jawaban beragam yaitu : suami penderita mendapat kabar dari kakak perempuan penderita yang juga menderita kusta. .4. Teman-teman. tidak tau kalau saya kena kusta. ya taunya saya sakit alergi. Kabeh mboten ngerti . Teman kerja saya tidak ada yang tau kalau sakit. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang dilakukan masyarakat dilingkungan responden dapat dilihat beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 44 ... taunya saya sakit saraf.Dengan melihat hasil jawaban semua responden.

ke penyakit dalam. Stigmatisasi diri penderita terlihat sangat nyata.. karena menjalani rawat inap di ruang kenanga RSUD Tugurejo dan teman penderita tidak tau kalau penderita sedang sakit kusta. mendaftar ke poli penyakit dalam dan akhirnya dirujuk ke poli kulit. saya ketemu di RSUD tugurejo karena adiknya dirawat disini karena kusta dan saya ikut besuk di ruang kenanga.keponakannya sakit kusta saat menengok penderita mondok di ruang Kenanga RSUD Tugurejo. dan ini mau mondok di ruang Kenanga. Teman saya. Saya taunya saat keponakan saya ini mondok di ruang kenanga. tidak sembuh terus saya bawa kesini. . mereka bahkan kehilangan pekerjaan. orang dengan kusta menjadi malu. sakitnya reaksi kusta.. kakinya luka ngga sembuh-sembuh sudah diobatkan ke puskesmas. 5 Stigma kusta merupakan faktor utama yang menyebabkan keterlambatan pasien dalam pengobatan hal ini merupakan kerentanan terjadinya kecacatan. I 3.. mengetahui kalau tetangganya sakit kusta pada saat bertemu dengan saudara penderita yang sedang menunggu penderita.. Cacat permanen yang terlihat nyata oleh lingkungan akan membatasi mereka dalam menjalani kehidupan bermasyarakat secara normal. dibawah ini merupakan kutipan jawaban dari paman. Dari saudaranya. . tetangga penderita adalah pegawai RSUD Tugurejo. teman saya nggak sakit kusta kok bu. tetangga dan teman penderita : Kotak 45 . dirujuk ke penyakit kulit lantai 2.. ketidak mandirian fisik yang disebabkan oleh kecacatan dan keterbatasannya.4.. kata suster. . responden mengantar penderita karena luka dikaki yang tidak sembuh-sembuh. hal ini mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini yang dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat.

harinya sangat terganggu oleh penampilannya dikarenakan adanya perubahan pada fisik dan kepercayaan diri yang menurun. pekerjaan. Karakteristik Responden Gambaran umum responden menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 26 tahun sampai 35 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. selain sulit dalam mencari pekerjaan responden merasa takut apabila pimpinan dan teman-temannya mengetahui bahwa responden terserang penyakit kusta dan responden sangat menyadari kelelahan akan mengakibatkan kekambuhan penyakitnya. hanya ada satu responden yang tidak bersekolah. Pendidikan merupakan (32) salah satu faktor yang mendasar untuk melaksanakan tindakan . hubungan pribadi. Dengan terserangnya penyakit kusta responden merasa bahwa aktivitas sehari . dilihat dari segi pendidikan sebagian besar responden berpendidikan Sekolah Menengah Atas. Sebagian besar responden tidak bekerja. Pada kelompok umur tersebut merupakan masa produktip dalam kehidupan responden. mulai dari perkawinan.BAB V PEMBAHASAN A. dengan tidak bekerja responden menyatakan bahwa tidak mempunyai penghasilan. Sebagian besar responden telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai . Pembahasan 1. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara-acara di lingkungan masyarakat(2). Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita.

bahwa semua responden menyatakan masyarakat disekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta dan sebagian keluarga responden. memakai baju lengan panjang. hal yang memalukan. responden seperti selalu menggunakan pakaian tertutup. Wawancara mendalam terhadap responden dalam mengatasi stigma ini diperoleh jawaban bahwa. menutup diri. mencegah pengungkapan diri terhadap masyarakat. ada juga dengan cara membatasi diri. dalam kurun waktu sekian lama responden harus selalu berobat dan minum obat seraca rutin. walaupun ada juga yang tetap tidak sedang sakit. malu dan takut karena sesuatu (14) . 2. apabila sampai terlambat dalam berobat responden menyatakan penyakitnya akan muncul kembali. keluarga dan temantemannya (12).dengan 5 tahun. Untuk menghindari efek stigmatisasi penderita kusta menggunakan beragam cara agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui tentang penyakitnya diantaranya menyembunyikan secara efektif tentang penyakitnya. merasa sangat takut dan waswas saat mengetahui responden menderita kusta. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta a. Untuk mengatasi stigma ini. sebagian besar responden melakukannya dengan tetap bekerja. tidak memperdulikan lingkungannya. Stigma adalah hal-hal yang membawa aib. Hasil wawancara mendalam didapatkan hasil . Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden. rok panjang dan bagi . mengikuti kegiatan di kampungnya seolah-olah berkerudung. sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri.

Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. Dalam teori health belief model dinyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. sebagian responden menganggap bahwa orang yang jorok dan kondisinya menurun yang dapat tertular penyakit kusta. Sebagian besar responden mempunyai persepsi bahwa penyakit kusta dapat menimpa semua orang. antara lain : faktor sumber penularan yaitu tipe penyakit kusta . . Sebagian besar responden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta dan ada yang mengatakan penyakit ini menular melalui udara dan satu responden menyatakan bisa tertular penyakit kusta apabila golongan darahnya sama dengan penderita. jika tidak sama tidak akan tertular. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta . Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. dia percaya bahwa penyakit akan berakibat serius pada organ tubuh. Adanya gejala .gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi keparahan dan motivasi pasien untuk mengikuti instruksi yang diberikan (20). faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1). memakai sepatu berkaos kaki dan bertopi juga tidak menceritakan kepada siapapun tentang penyakit yang dideritanya.penderita laki-laki menggunakan jaket. b.

Sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian hal ini dikemukakan bahwa gejala yang muncul saat terkena penyakit ini sangat berat. didapatkan jawaban bahwa sebagian besar responden menganggap kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius alasan responden adalah penyakit kusta mengakibatkan perubahan bentuk fisik dan kecacatan dimana kecacatan ini bisa menetap seumur hidupnya. d. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan (17). menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment (MDT). Tujuan pengobatan ini adalah untuk mematikan kuman kusta. Semua responden menyatakan orang yang menderita penyakit kusta harus berobat secara rutin. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Pada penelitian ini. perasaan tenang. justru penyakitnya menjadi berat dalam arti lain terlambat berobat untuk penyakit kustanya karena salah dalam mendiagnosa penyakit. karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur.c. Pada tipe MB lama pengobatan 12 – 18 bulan dan tipe PB lama pengobatan 6 – 9 bulan. tidak lelah sangat membantu responden mengurangi frekuensi kekambuhan. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. . dan saat pertama kali berobat tidak langsung diketahui penyakitnya sehingga responden merasa pengobatan yang dilakukan kurang tepat. Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan / kutukan. tidak stres.

terisolasi dari masyarakat. serta kehilangan status sosial secara progresif. supaya cacatnya tidak bertambah parah. dengan mengoles pelembab di tangan dan kakinya akan mengurangi kekeringan pada kulit yang bisa membuat luka / pecah-pecah. depresi dan menyendiri (1) Sebagian besar responden menanggapi bahwa penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu itu tidak baik. durian. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga kalau terjadi luka tidak terasa sakit. nangka. Menurut responden setiap hari penderita kusta harus memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak. karena . responden mengutarakan bahwa jenis-jenis makanan tertentu tidak boleh dimakan seperti daging kambing. hal ini menyebabkan penderita kusta merasa rendah diri. makanan beralkohol dan keadaan stres. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip Dari hasil wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh di lakukan. Sebagian besar dari responden menyatakan. menurut responden mengetahui terjadinya luka secara dini akan mengurangi terjadinya kecacatan karena luka bisa cepat diobati sehingga tidak bertambah berat/menjalar e. keluarga dan teman-temannya (7). perawatan diri dengan rajin sangat perlu.Kecacatan yang berlanjut dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal. kecacatannya juga memberi gambaran yang menakutkan. Secara psikologis bercak. capek / kelelahan harus dihindari karena akan memunculkan gejala-gejala penyakit kusta (reaksi kusta).

takut dan tidak percaya saat pertama kali mengetahui terserang penyakit kusta dan satu responden berusaha bunuh diri saat mengetahuinya. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. was-was dan takut. keluarga sangat kaget saat mengetahui responden terserang penyakit kusta. hal ini karena keluarga tidak . Sebagian besar responden mengatakan. apabila tidak berobat secara rutin maka tidak akan sembuh dan sebagian lagi menyatakan mengucilkan diri adalah tindakan yang paling tepat agar tidak menjadi bahan pembicaraan tetangga.penderita kusta harus berobat. keluarga mengatakan kalau yang berbahaya itu adalah sakit lepra. Satu responden mengatakan keluarganya biasa saja dengan penyakit responden dan tidak merasa bahwa responden menderita penyakit kusta. sebagian besar responden merasa kaget. Pada umumnya responden tidak mengetahui bahwa menderita kusta. Responden lain sebenarnya mengetahui bahwa tindakan mengucilkan diri adalah tidak baik. akan tetapi responden tersebut melakukannya juga karena malu dan down mentalnya. informasi tentang penyakit kusta didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. f. Berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat semua responden berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan besar karena penderita kusta jika tidak berobat selain tidak sembuh akan mengalami reaksi dan bisa menjadi cacat dan sebagian responden menyatakan perlu adanya terapi mental oleh psykolog karena selain fisik yang sakit penderita kusta juga menderita sakit secara mentalnya. sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa. saudara atau perangkat desa.

mengetahui perbedaan antara kusta dan lepra. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Semua responden mengatakan. Stigma menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap oleh masyarakat terhadap seseorang. orang yang terstigmatisasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar (12) . masyarakat disekitar tempat tinggal dan temantemannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta. Dari hasil . memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. diabetes. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. Efek dari stigmatisasi berakibat dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. dan pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya serta menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. baru di beri cobaan dari Allah g. karena alergi obat atau karena salah obat sehingga masyarakat dan teman responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden. mereka mengira responden berpenyakit lain seperti penyakit saraf. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). dan waktu pertama responden menderita kusta keluarga mengatakan bahwa harus diterima. Stigmatisasi diri sendiri penderita kusta sangat nyata.

Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun. disebabkan oleh kuman kusta. Semua Informan mengatakan penyakit kusta tidak menyebabkan kematian hanya bisa mengakibatkan kecacatan. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe MB kepada orang lain dengan cara penularan langsung. keluarga dan teman penderita kusta tidak memberikan suatu tindakan yang mengarah ke stigmatisasi terhadap responden. bisa menular ke orang lain . Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak langsung yang erat dan lama dengan penderita (1) . Dan cross chek yang dilakukan terhadap keluarga. seorang Informan tidak mengetahui bahwa temannya dirawat karena menderita penyakit kusta sehingga wawancara terhadap teman responden tidak penulis lanjutkan. Sebagian besar menganggap penyakit kusta adalah penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat. bisa menimpa semua orang dan orang yang kondisi kesehatannya menurun. . kurang menjaga kebersihan adalah orang yang bisa tertular penyakit ini. dapat merubah bentuk fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. dengan menggunakan wawancara mendalam di peroleh hasil sebagian besar Informan mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular.wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum masyarakat. dan tiga dari lima Informan mengatakan kontak langsung yang lama adalah cara penularan penyakit kusta selain melalui udara. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut sebagai Informan. Suami responden mengetahui jika istrinya menderita penyakit kusta dari keluarganya yang juga menderita penyakit ini dan Informan lain mengetahui dari petugas RSUD Tugurejo Semarang.

mulai dari tidak bersekolah sampai dengan lulus Sekolah Menengah Atas. Dilihat dari latar belakang tingkat pendidikan responden. semua Informan mengatakan bahwa lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta sehingga lingkungan tidak melakukan tindakan apapun terhadap penderita. berjenis kelamin laki-laki sebanyak lima orang dan enam orang berasal dari luar Semarang. kawatir walau tetap membantu dalam berobat. Lima orang responden tidak . Responden (penderita kusta) dalam penelitian ini berjumlah 8 orang dengan rentang usia 14 – 51 tahun.Semua Informan setelah mengetahui berpendapat. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Mengenai pendapat orang-orang dilingkungan penderita. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. harus berobat supaya sembuh dan sikapnya saat itu sangat kecewa.

berperilaku negatip yaitu : 1) Tidak mau berobat karena malu. Penderita kusta berpersepsi bahwa. 3) Mau berinteraksi dengan lingkungan. untuk berperilaku positip ditunjukkan dengan : 1) Berobat secara rutin. Penderita kusta berpersepsi. sikap membatasi diri dalam pergaulan. penderita beranggapan bahwa. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. a.bekerja dan enam orang telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai 5 tahun lamanya. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. . c. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi/ mengatasi cap buruk/stigma. Penderita kusta berpersepsi. masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa penderita sedang mengalami sakit kusta. 2. d. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) b. penyakit syaraf atau penyakit alergi karena salah minum obat. Penderita kusta berpersepsi bahwa. 3. 2) Melakukan perawatan diri dengan rajin. tetangga dan teman-temannya menyangka penderita berpenyakit lain seperti penyakit diabetes. dapat menimpa semua orang. penyakit kusta merupakan penyakit menular. Penderita kusta berpersepsi. penderita kusta berpersepsi.

Saran 1. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. pemberantasan penyakit. kecacatan. Terapi Kerja (Occupational Therapi). sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan penyakit kusta di Jawa Tengah agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. penyehatan lingkungan dan berbagai program kesehatan masyarakat lainnya untuk dapat mendeteksi secara dini masyarakat yang . sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan berbagai pelayanan kesehatan diantaranya promosi kesehatan. untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan 2. melatih otot-otot yang lemah dan untuk mempersiapkan operasi bagi penderita yang akan dilakukan operasi perbaikan kecacatannya. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan bersama. karena penderita kusta selain memerlukan pelayanan medis (obat) juga memerlukan pelayanan Fisioterapi untuk mencegah kecacatan.Tugurejo Semarang.2) Mengucilkan/mengisolasikan diri. 3) Putus asa.. keperluan alat bantu (Orthotic Prosthetic) dan yang paling penting adalah pelayanan Psykologi untuk men support mental penderita. rumah sakit dengan unggulan penyakit kusta. B. Bagi RSUD. Bagi Puskesmas.

Volume 76. Depertemen Kesehatan RI. serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. dan yang lebih penting persepsi terhadap stigma penyakit kusta harus dihilangkan karena penyakit kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. 3. December 2005. Leprosy Review. Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Special Issue on Operational Research. 2005. England. 2005 3. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kehidupan seharihari. Leprosy Review. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. Number 2. 2. . Volume 76. DAFTAR PUSTAKA 1. agar memeriksakan sedini mungkin dan berobat secara teratur serta melakukan perawatan diri untuk mencegah kecacatan.terserang penyakit kusta. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga. Cetakan XVII. Number 4. Sikap dan kepedulian keluarga untuk dapat memotivasi penderita agar berobat secara teratur.

2004 18. Green. Rineka Cipta. Lawrence W. Edisi Revisi. Yogyakarta. Seven edition. 2001 9. 2005 10. Saifuddin Azwar. 2005 12. Jakarta. 2006 17. Pedoman Pelaksanaan Pembentukan Kelompok Perawatan Diri. Yogyakarta. tahun 2007 5. Beberapa Teknik dalam menejemen Mutu Rumah Sakit. Health Psychology. Cetakan ke dua. Jacobalis. 2000 20. Buckingham. Evaluasi Kunjungan Rawat Inap Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 7. Data penderita Kusta Provinsi JawaTengah. Promosi kesehatan Teori dan Aplikasi. Universitas Gajah Mada. Dinamika Kelompok Penerapannya dalam laboratorium Ilmu Perilaku. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Jakarta. Peter Salim.4. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Sarwono S. The Contemporary English – Indonesia Dictionary. modern English Press. Jane Ogen. 2000 14. London. Universitas Sriwijaya. 1997 19. Pedoman Kusta Nasional untuk pelaksanaan pemberantasan kusta di daerah endemik Rendah. Health Promotion Planning. Depertemen Kesehatan RI. Samsi. Tri Dayakisni. 2003 13. Gajah Mada University Press. Bandung. Jakarta. Yogyakarta. Depertemen Kesehatan RI. Psykologi 11. edisi 2. Mayfield Publishing Company. Sosiologi Kesehatan Beberapa konsep beserta Aplikasinya. Perilaku Konsumen dan komunikasi Pemasaran. Jakarta. 1996 15. Philadelphia. Edisi 4. 2001 8. Depertemen Kesehatan RI. Open University Press. Laporan Kunjungan Rawat Jalan Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 6. 2000 16. 1996 . Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Psikology Sosial. Mantra IB. Srategi Penyuluhan Kesehatan. Jakarta Depertemen Kesehatan. Hudaniah. Soekidjo Notoatmojo. UMM-Press. Sulisna. Jakarta. Pustaka Pelajar. Baderal Munir. Direktorat Kesehatan Jiwa Manajemen.

Penerbit Universitas Indonesia. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. 28.21. Becker MH. Aditya Media. Moleong. Remaja Rosdakarya. 2005. 2002. Soekidjo Notoatmojo. Sutopo. Sudarwan Danim. 1997. 34. Yogyakarta. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Fishbein. Edisi Kedua. Yogyakarta. Basics Of Qualitative Research. HB. 29. Miles Matthew B. 1992. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Metode Penelitian Kesehatan. Philippines : Addison Wesley Publishing. Ajzen. 30. Depertemen Kesehatan RI. Andi Offset. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. 1975. Attitude. Hand Out Program Pasca Sarjana. Jakarta. New Jersey. Slack Inc. Anselm Strauss dan Juliet Corbin. Modul mata kuliah. 31. I. 2007 22. A. 2007 . Hari Kusnanto. Jakarta. yogyakarta. Mery Debus. Thorofare. Prawitasari. Pustaka Setia. 27. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1991 32. Universitas Gajah Mada. 1995. The Health Belief Model and Personal Health Behavior. Metode Kualitatif dalam Riset Kesehatan. Metode Penelitian Kualitatif. Johana E. PT Raja Grafindo Persada. Intention and Behavior an Introduction to Theory and Research. Surakarta. bandung. Burhan Bungin. Belief. Sebelas Maret University Press. Pascasarjana IKM-MPPK UGM. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Menjadi Peneliti Kualitatif. 25. Balai Pustaka. 1993 dan Ilmu Perilaku 33. Pustaka Jaya. Terjemahan. Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Charles B. Pengantar Pendidikan Kesehatan. 2002 24. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta. 2001 26. Buku Panduan Diskusi Kelompok Terarah.J. Modul Pelatihan Program P2 Kusta bagi Unit Pelayanan Kesehatan. Utarini. Yogyakarta. AED Healthcom. L. Bandung. penerjemah Muhammad shodiq dan Imam Muttaqim. 23. 35. M.

Workshop EDAN. 2001 41.2007. Number 1. 2005 37. Balai Pustaka.powered by joomla-@copyright(c)2005 open source MaltersG Aenll errigahtetsd:27s Nerovveedmber. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Intruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik khusus. 2008 . 2007 kusta. edisi kedua. 17 Pebruari. 1991 43. motivasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia . Leprosy Review.22 23 40. Badan Litbang Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.komunikasi. Volume 73. Special issue on interation. Number 2.36. 42.id/web. RSUD Tugurejo.suryo. 38. http://www. England 2002. Mem-PD-kan para mantan penderita Testimonials. Volume 76. England. Rachmalina.co.org/cgi/content/full/cyll58v1 39.Leadership. http://her. Leprosy Review.oxfordjournals. Penelitian Pengembangan Model Penanggulangan Penyakit Kusta di daerah Endemis dengan Pendekatan Sosial Budaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful