FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ( Studi Kualitatif

)

TESIS

Untuk memenuhi persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Magister Promosi Kesehatan

Soedarjatmi E4C006118

PROGRAM STUDI MAGISTER PROMOSI KESEHATAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008
TESIS

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA
Disusun oleh SOEDARJATMI E4C006118 Telah dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 04 Desember 2008 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Menyetujui Dewan Penguji

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. VG. Tinuk Istiarti, Mkes Widagdo,SKM,MHPEd. NIP. 131 764 483

DR.Laksmono NIP. 130 422 787

Penguji I

Penguji II

dr. Harbandinah P, SKM NIP. 130 354 865

Priyadi Nugraha, SKM, M.Kes NIP. 132 046 693

Mengetahui Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Drg. Zahroh Shaluhiyah, MPH, PhD NIP. 131 627 954

PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Soedarjatmi Nim : E4C006118

Menyatakan bahwa tesis judul: ” FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ” merupakan : 1. Hasil karya yang dipersiapkan dan disusun sendiri 2. Belum pernah disampaikan untuk mendapatkan gelar pada program Magister atau program lainnya. Oleh karena itu pertanggung jawaban tesis ini sepenuhnya berada pada diri saya. Demikian Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Semarang, 18 Desember 2008 Penyusun

Soedarjatmi NIM : E4C006118

Tahun 2006 masuk Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang Lulus tahun 2008 Riwayat pekerjaan penulis: 1. Tahun 1986 Lulus AkademiFisioterapi di Surakarta 5. Tahun 2004 Lulus Sarjana Kesehatan Masyarakat Undip di Semarang 6.RIWAYAT HIDUP Riwayat pendidikan penulis: 1. . Tahun 1980 Lulus SMP Negeri 02 di Surakarta 3. Bethesda Yogyakarta. Tahun 1983 Lulus SMA Negeri 04 di Surakarta 4. Tahun 1986 sampai dengan tahun 1993 bekerja dibagian Fisioterapi RS. 2. Tahun 1976 Lulus SD Negeri 07 di Surakarta 2. Tahun 1993 sampai dengan sekarang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di RSUD Tugurejo Semarang.

semoga segala bantuan. Zahroh Shaluhiyah. MPH. bantuan dan masukan untuk kebaikan tesis ini 5. bimbingan. SKM. Keberhasilan penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. Terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. dorongan dan semangat sehingga selesainya tesis ini. nasehat. Laksmono Widagdo. atas kesediaan dan keikhlasannya serta penuh pengertian telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan hingga selesainya tesis ini 4. Bapak Priyadi Nugraha. selaku pembimbing kedua. MKes. VG. SKM.KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan atas karunia yang dilimpahkan kepada penulis. MHPEd. Ibu dr. sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyususnan tesis ini. Ibu drg. SKM. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat. untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya. Tinuk Istiarti. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Magister Pascasarjana Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang. selaku Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2. Harbandinah P. MKes. Ibu Dra. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat dan masukan untuk kebaikan tesis ini .PhD. nasehat dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal kebaikan dan mendapat ganti yang lebih baik dari Allah SWT. selaku pembimbing utama. 3. Bapak DR. yang telah banyak memberi masukan-masukan. bimbingan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih banyak kekurangan. You and I. Akhirnya semoga tesis ini bisa bermanfaat. SpA. dukungan dan support bagi penulis. dorongan dan nasehatnya hingga terselesainya tesis ini. yang dengan ikhlas penuh pengertian dan selalu berdo’a menyemangati penulis dan membantu dalam mencari bahan di internet dan media lain hingga selesainya tesis ini. Bapak dr. 8.6. atas segala pengertian. dan jauh dari sempurna. Bapak-Ibu Sayoko. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi baiknya tesis ini. Desember 2008 Penulis Soedarjatmi NIM. 10. orang tua penulis atas do’a. Putra penulis. Joko Sugiarto. our love will never die.SH. 7. suami tercinta penulis. do’a yang tiada hentinya. Rekan-rekan penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu dan memberi semangat terus-menerus kepada penulis hingga selesainya tesis ini. 9.. Bapak Teleng Warganto. utamanya pada diri penulis dan bagi siapa saja yang membacanya. E4C006118 . Semarang. Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti. Selaku Direktur RSUD Tugurejo Semarang yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian.

pengertian. terima kasih untuk semua perhatian.HALAMAN PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya ini untuk : Suami tercinta. dukungan. kesetiaan dan kesabarannya. Untuk anak-anakku Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti atas do’a . You and I our love will never die. Semoga selesainya tesis ini menjadi penyemangat keberhasilan studi kalian . do’a. pengertian dan bantuan kalian.

Karena itu.MOTTO Sesungguhnya. kerjakanlah urusan lain dengan tekun ( QS : Al Insyirah : 5 dan 7 ) . dimana ada kesulitan disitu ada kelapangan. bila engkau telah selesai dari satu urusan.

............................................ 42 A................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... Diagnosa sakit kusta .................................... Perilaku menurut L.... 1............................................................................................... Kerangka teori ........................... Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta ........................................................ F.................................................................... Keaslian Penelitian ........................... Ruang Lingkup .... Pengobatan ............................................. E...................................................................................... A........................ 42 B............................. DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................. F................. Stigma ................... MOTTO................. Tanda-tanda tersangka kusta (suspek) .............................. Tujuan Penelitian ...................... 2.................................. HALAMAN PERSEMBAHAN....... Kecacatan akibat penyakit kusta ................................................................ HALAMAN RIWAYAT HIDUP ........... Faktor-faktor yang menentukanterjadinya sakit kusta ........................... D................. DAFTAR ISI ..................................................................................... Reaksi kusta ......................... Perumusan Masalah .... Perilaku menurut Rosenstock (HBM)...................... A............................ Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang ................ B.... HALAMAN PENGESAHAN ................................. 2.....DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... 1......................................................................... DAFTAR TABEL..........................................W..................................................................... C.............. Klasifikasi ................................................................ B...... Latar Belakang ............................................ C.................................. Definisi penyakit kusta ...................................................................................................................................... 4.......... Persepsi ..... 7................................................................................... 6........................................................... DAFTAR GAMBAR ...... Green ............ HALAMAN KATA PENGANTAR ..................................................................................... i ii iii iv v vii viii ix xi xii xiii xiv xv 1 1 4 5 5 6 7 11 11 11 11 15 16 17 18 22 23 24 27 29 32 35 35 37 41 BAB II BAB III METODE PENELITIAN ................... Pertanyaan Penelitian ........................... Kerangka Konsep .... HALAMAN PERNYATAAN ......................................... E................................................. 3........ Landasan Teori ............................................................... ABSTRAK. TINJAUAN PUSTAKA .... 5....... Manfaat Penelitian ............................................................................................................................ DAFTAR SINGKATAN ..................................... Penyakit Kusta ...................... D................................................................................................................................................................................. 43 ............................................................... 8................................. F...........................

..... Persepsi terhadap manfaat berperilaku positip.. 78 7.... Variabel penelitian dan Definisi Operasional ....... 87 b........... 86 1......... 56 1............... 55 1... 89 e............ H......... Pekerjaan responden ........ 55 4..................................................... 56 C..................................... 54 B...... Karakteristik responden ..................................... Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta .................. Karakteristik Responden ................................ F............. 90 f............ 76 6.................................................... Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit............. 61 3....................................... 95 B.... Persepsi terhadap risiko berperilaku negatip .................................. Persepsi terhadap kegawatan penyakit .............................................................C.................................................................. 96 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB V ................. Kesimpulan ......... 89 d................ Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi responden 87 a......... faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta.............. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ... Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip ............................................................................. 92 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ................. 88 c... Keterbatasan Penelitian. Stigma penyakit kusta .............. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ........................................ 86 A...................................... E.................. Persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta .......... 95 A....................... Pendidikan responden ............................................... I................................................. Saran ............................... Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit ................................................ 56 5..... Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip..... Berdasarkan lama menderita penyakit kusta.............. Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta.......... D..... 43 45 46 48 49 51 52 HASIL PENELITIAN ...................................... Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ............................................. Instrumen yang Digunakan ..... 55 2...................... Sumber Data. BAB IV Jenis dan Rancangan Penelitian ................ Berdasarkan status nikah ............................. 70 5........................................................... 55 3.. 91 g............... Pembahasan ....................... 56 2. 86 2..... Validitas dan Reabilitas Data .................... Populasi dan Sampel Penelitian .............................. 54 A................................................................. 65 4................................................................................... 83 PEMBAHASAN..... Stigma penyakit kusta ................................... Gambaran Umum penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang ......... Umur dan jenis kelamin responden .......................................................... G.

...1 Tabel 2.............................................2 Tabel 2.......................................... Klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO ..... 7 17 19 20 21 ......... Perdedaan reaksi tipe I dan II ............... Beda reaksi berat dan ringan....DAFTAR TABEL Nomor Tabel Judul Tabel Tabel 1...4 Halaman Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti ...........................................1 Tabel 2............................................................ Perbedaan reaksi berat dan ringan tipe I ..3 Tabel 2.........

........................3 Gambar 2...........................1 Judul Gambar Halaman Perseptual...................6 Gambar 3.............................................. 42 .DAFTAR GAMBAR Nomor Gambar Gambar 2.2 Gambar 2...... 41 Kerangka konsep penelitian .. 24 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penderita ............1 Gambar 2........................................4 Gambar 2.W Green dan teori HBM..............5 Gambar 2........... 39 Kerangka Teori modifikasi teori L....... 34 Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok.......................................... 37 Basics of Health Belief Model.. 27 Alur Pelayanan Pasien Poliklinik Khusus penyakit kusta.......

tetangga dan teman penderita kusta.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Panduan wawancara mendalam dengan responden Panduan wawancara mendalam dengan suami. Hasil wawancara dengan Responden Hasil wawancara dengan Informan Foto-foto penelitian . paman. ayah.

DAFTAR SINGKATAN RSUD MB PB WHO MDT DDS BTA ENL HBM PHBS : Rumah Sakit Umum Daerah : Multi Basiler : Pausi Basiler : World Health Organization : Multi Drug Therapy : Diamino Diphenyl Sulphone : Bakteri Tahan Asam : Eritema Nodusum Leprosum : Health Belief Model : Perilaku hidup Bersih dan Sehat .

Kata kunci : Persepsi. penderita usia anak 163 dan penderita yang sedang diobati 1. berperilaku negatip yaitu tidak mau berobat karena malu. penyakit kusta merupakan penyakit menular. Kurangnya pengetahuan penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatif yaitu stigma tentang penyakit kusta. Penderita kusta berpersepsi. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagian besar resonden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta. Penelitian ini dilakukan dengan metode diskriptif kualitatif yang menggunakan rancangan studi kasus.171 orang penderita kusta terdaftar. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga agar berobat secara teratur. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. dapat menimpa semua orang. melakukan perawatan diri dan melaksanakan PHBS. Semua responden berpersepsi bahwa masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta dan responden berpersepsi sikap membatasi diri. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Penderita kusta berpersepsi bahwa. mengucilkan/mengisolasikan diri dan putus asa. Hasil penelitian menunjukkan.Program Pasca Sarjana Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2008 Abstrak SOEDARJATMI (E4C006118) xvi + 97 halaman + 5 tabel + 7 gambar + 45 kotak (studi Kualitatif) FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan 4. Kusta Daftar Pustaka : 45 ( 1975 – 2007 ) . melakukan perawatan diri dengan rajin dan mau berinteraksi dengan lingkungan. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi stigma. selanjutnya data di analisis dengan content analysis (diskripsi isi).989 orang. penderita yang sudah dalam keadaan cacat berjumlah 241. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. Stigma. Bagi RSUD Tugurejo. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan kecacatan. berperilaku positip ditunjukkan dengan berobat secara rutin. agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. Responden dipilih secara porposif terdiri dari penderita kusta yang berobat ke RSUD Tugurejo sebanyak 8 orang. Disarankan bagi Puskesmas untuk memberikan promosi kesehatan penyakit kusta yang mampu membentuk pengertian yang benar dan positip serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. Penderita kusta berpersepsi bahwa. Penderita kusta berpersepsi.

furthermore the data were being analysed with content analysis. 1989 patient had being cured. The need for the leprosy patient group existence by means of such activity program to improve the motivation and preventing physical defect effort. Keyword : Perception. The result of Research indicate that leprosy patient have perception that leprosy is contagion to everybody . conducting self treatment and carry on having clean dan healthy live behavior.The respondent were chosed propotion from the leprosy patient who were being in medical treatment at Tugurejo Hospital to the number of 8 patient. The lack knowledge of such a disease by leprosy patient bringing on negative perception arising out that is the leprosy disease stigma. Suggestion: The "Puskesmas" to give leprosy disease health promotion which is enable to form the right understanding and positive as well as conducting routine medicinal treatment.2007) . 163 child age patient . cover their deformity are the action to reduce stigma.self isolation and desperate. The leprosy patient have perception that postive behavior refer to routine check up . The reasearch had been done in qualitative descriptive method which use the study case program.Post-Graduate Programme Magister Of Health Promotion Diponegoro University of Semarang 2008 Abstracts SOEDARJATMI (E4006118) " THE LEPROSY PATIENT BACKGROUND'S FACTORS CONCERNING LEPROSY DISEASE STIGMA " xvi + 97 + 5 tables + 7 picture + 45 appendix In year 2006 detected 4.171 leprosy patient registered in Central of Java. Stigma and Leprosy. Bibliography : 43 (1975 . The need for leprosy patient and family evaluation and monitoring program in order to get medicinal treatment consecutively. The Leprosy patient have persception that leprosy desease is a dangerous and serious desease which is may caused death and physical defect along life. The leprosy patient have perception that negative behavior refer to not to get nursery because of ashame. All of the respondent have the same perception that the neighborhood and their friends did not know that the respondent having leprosy disease so they have perception introvert behavior. frequently self care and want to interact with their neighborhood.particularly for those who not having clean dan healthy live behavior and much of the respondent did not know how the leprosy desease spreading. For the Tugurejo Hospital in order to optimize Medical Rehabilitation Service. The data collection were being done indepth-interview . The objective of research is to discribe the Leprosy patient background's factors concerning leprosy disease stigma . out of those 241 leprosy patient had been physical defected condition.

Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita mulai dari perkawinan. keluarga dan teman-temannya (7) . budaya. kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat. pekerjaan. psikologis. masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial. ekonomi. Kecacatan yang berlanjut dan tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang tidak baik akan menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. Sedangkan secara psikologis bercak. hubungan antar pribadi. Penularan terjadi dari seorang penderita yang tidak diobati ke orang lain melalui pernafasan atau kontak langsung yang lama dan terus menerus (1). Penyakit kusta berkembang lambat dengan masa tunas rata-rata 2 – 5 tahun kadang bisa lebih. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. Tanda utama penyakit ini adalah adanya bercak putih atau kemerahan yang mati rasa (anaestesi). terisolasi dari masyarakat. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang menahun disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) menyerang saraf tepi. Kecacatannya juga memberikan gambaran yang menakutkan menyebabkan .BAB I PENDAHULUAN A. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara –acara keagamaan serta acara di lingkungan masyarakat (2) Penyakit kusta juga menimbulkan masalah yang sangat kompleks. keamanan dan ketahanan nasional (1) .

penderita kusta merasa rendah diri. .188 penderita dan Jawa Tengah 1. dosa. Tiga besar provinsi dengan penemuan penderita baru tertinggi tahun 2006 adalah Jawa Timur 5. Penderita kusta masih banyak di Indonesia jumlah penderita barupun masih banyak ditemukan. Menurunkan stigma dan mengurangi diskriminasi mendorong perilaku masyarakat dalam menerima penderita kusta. Diera modern ini muncul istilah “stigmatisasi” yang lebih mencerminkan “kelas” daripada fisik.788 penderita.0013%) orang menderita kusta terdaftar masyarakat menjauhi karena merasa jijik dan takut hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan atau pengertian juga kepercayaan yang keliru terhadap penyakit kusta. Jawa Barat 2.171 (0. Masyarakat masih banyak beranggapan bahwa kusta disebabkan oleh kutukan.11. guna-guna. Salah satu misi Depertemen Kesehatan dalam pemberantasan penyakit kusta adalah menghilangkan stigma sosial (ciri negatip yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya) dengan mengubah persepsi masyarakat terhadap penyakit kusta melalui pembelajaran secara intensif tentang penyakit kusta. Jumlah penduduk di Jawa Tengah 32. Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta berasal dari golongan ekonomi lemah keadaan tersebut turut memperburuk keadaan (1).500 terdapat 4. depresi dan menyendiri bahkan sering dikucilkan oleh keluarganya. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan percaya diri penderita dan keluarga dalam kehidupan sehari –hari. dianggap menjijikan dan harus dijauhi. Proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat. (1).068 penderita. makanan ataupun keturunan. Sebenarnya stigma ini timbul karena adanya suatu persepsi tentang penyakit kusta yang keliru.

diantaranya mereka selalu mengambil tempat di belakang atau di sudut ruang saat menunggu giliran diperiksa. (6) Dari pengamatan awal yang telah dilakukan peneliti ditemukan beberapa perilaku penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo berbeda dengan penderita penyakit lainnya. Terletak di Semarang bagian barat.Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo Semarang merupakan Rumah Sakit kelas B milik Provinsi Jawa Tengah.127 kunjungan.839 pasien. Jumlah penderita rawat inap kkusus kusta tahun 2005 adalah 190 pasien. . Data kunjungan rawat jalan penderita kusta setiap tahun meningkat.975 dan tahun 2007 sebanyak 4. sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. tahun 2005 adalah 3. Survey awal yang dilakukan peneliti pada bulan Oktober 2007 terhadap 10 orang penderita kusta memperoleh hasil bahwa masih ada persepsi negatif (stigma) penderita kusta terhadap penyakit kusta Atas dasar hal tersebut diatas maka perlu diteliti mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. (5) Tahun 2007 poli klinik khusus penderita kusta menemukan 192 kasus penderita baru. Jika diajak bicara mereka tidak menatap lawan bicaranya dan sebagian besar memakai baju lengan panjang. tahun 2006 berjumlah 3. Sebagian besar mereka menundukkan kepalanya dan penderita laki-laki menggunakan topi. sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan Rumah Sakit Khusus penderita kusta. tahun 2006 sebanyak145 penderita dan tahun 2007 terdapat 130 penderita yang harus dirawat.

788 orang. Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan penderita baru sebanyak 1. kerabat dan petugas kesehatan. Mereka tidak akan berobat karena harus pergi kesarana kesehatan yang dengan sendirinya harus keluar rumah. persepsi yang demikian akan menambah beban penderita. Mereka menganggap benar tentang persepsi tersebut sehingga mereka akan mengisolasikan diri dari lingkungannya. maka perlu pembelajaran yang benar kepada masyarakat luas tentang kesalahan dalam memahami penyakit kusta. Berkaitan dengan fenomena stigma yang ternyata memang masih ada di masyarakat luas. Sebaliknya jika penderita mempunyai persepsi positip yaitu . bahkan tahun 2007 rata-rata kunjungan pasien baru (penderita baru yang belum pernah minum obat) berjumlah 16 orang per bulan. Perumusan masalah Penderita kusta semakin hari semakin bertambah. bertemu dengan tetangga. penderita takut penyakitnya diketahui orang lain. Hal ini merupakan masalah besar bagi diri sendiri karena rentan terjadi kecacatan dan bagi lingkungannya karena penderita ini merupakan sumber penularan.B. Kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatip yaitu stigma tentang penyakit kusta . pada saat itu beberapa negara mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan sterilisasi orang yang terkena penyakit kusta. data di poli klinik khusus penderita kusta RSUD Tugurejo Semarang sejak tahun 2005 bukannya menurun tetapi dari tahun ketahun menunjukan meningkatan jumlah kunjungan. mereka dikucilkan dan dikarantina. Berabad–abad lamanya berbagai mitos dan kepercayaan menciptakan proses stigma terhadap para penderita kusta.

d. Mendiskripsikan stigma tentang penyakit kusta menurut persepsi responden. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip. Tujuan Khusus a. 2. Tujuan Umum Mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. b. D. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit.percaya bahwa penyakit ini disebabkan oleh kuman dan bisa disembuhkan maka hal ini dapat membantu penderita untuk lebih percaya diri dan mempunyai motivasi juga dorongan untuk berobat agar cepat sembuh dan tidak terjadi kecacatan. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Tujuan 1. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. f. Dari uraian tersebut diatas maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini dapat sebagai berikut : “Faktor – faktor apa saja yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ?” C. Ruang Lingkup Penelitian . e. Mendiskripsikan karasteristik responden. c.

Bagi Puskesmas dapat dijadikan masukan dalam pemberian penyuluhan dan melakukan pendekatan terhadap penderita kusta dalam rangka menurunkan angka kesakitan kusta. E. 3. Bagi unit Pelayanan Kesehatan RSUD Tugurejo. Manfaat Penelitian 1. 2. Lingkup Lokasi dan waktu Penelitian dilaksanakan di kota Semarang yaitu di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Juni 2008. Lingkup Masalah Masalah dibatasi pada Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. 2. 4. .1. Lingkup Sasaran Sasaran penelitian adalah penderita kusta. Lingkup Keilmuan Penelitian ini termasuk dalam ilmu kesehatan masyarakat bidang promosi kesehatan khususnya kajian materi perilaku. Lingkup Metode Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode kualitatif 5. dapat dipergunakan sebagai bahan informasi dan support yang dapat disampaikan kepada penderita saat berobat agar penderita tidak mempunyai persepsi yaitu stigma penyakit kusta sehingga tidak menghambat salah proses pengobatan yang sedang dijalani.

khususnya untuk mata kuliah perilaku kesehatan. kelamin.Faktor-faktor risiko yang Penderita Kusta Umur.1 Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti. penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta di Kota Semarang secara kualitatif belum pernah dilakukan oleh peneliti lain. .1 dibawah ini. Judul dan nama Peneliti Metode dan Jenis penelitian Analitik kuantitatif dengan rancangan Sasaran Variabel yang diteliti Hasil 1. Penelitian tentang penyakit kusta yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti selengkapnya dapat ditampilkan dalam tabel 1. Bagi Program Promosi Kesehatan Merupakan sumbangan bagi khasanah pustaka di program pendidikan Promosi Kesehatan. 4. tingkat jenis Ada hubungan antara beberapa berhubungan dengan pendidikan. penelitian ini sebagai pengalaman langsung dalam melakukan penelitian terutama dengan metode kualitatif dan penulisan hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah. Bagi Peneliti. Tabel 1.3. F. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penyakit kusta telah banyak dilakukan tetapi sepanjang pengetahuan peneliti.

status kepegawaian. kelamin. 2005 peranan guru penderita UKS praktik deteksi penderita kusta anak dan kusta peranan dini petugas kesehatan dan pada dengan di praktik . 2002 kusta. kusta aspek pengobatan terhadap kecacatan pada penderita di dan keteraturaan berobat. pengetahuan. sikap. penyakit kusta.loka si lesi.Faktor-faktor yang berhubungan dengan guru UKS perilaku dalam Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Guru UKS Umur. oleh Warijan. aspek klinis Joko Kurnianto.kecacatan kusta kabupaten Tegal oleh di penelitian Case Control status sosial faktor risiko ekonomi. pendapatan dengan praktik deteksi dini pada anak SD di Kabupaten Blora pendapatan. jenis Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan. tipe reaksi karasteristik individu.pencegah an cacat dan kusta perawatan diri Kabupaten Tegal 2. Jenis pekerjaan. motivasi keluarga. masa upaya deteksi dini penderita kusta kerja.

jenis Hubungan pendidikan ber pengaruh terhadap pendidikan. peranan Wasor dan wasor dan dengan praktik kusta penemuan peranan kusta kusta di Kabupaten Blora oleh Agus Prasetyo.Faktor-fartor yang berhubungan dengan pengawas dalam praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Wasor Kusta Umur. deteksi kusta dini di Kabupaten Blora. penemuan baru penderita sikap. 3. pengetahuan. pelatihan. praktik pengetahuan penemuan penderita baru.Kabupaten Blora. kelamin. Beberapa faktor yang berhubungan dengan penderita praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan Penderita kusta Umur. kelamin. jenis Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan. pendapatan . 2007 di Kabupaten penderita Blora baru kusta di Kabupaten Blora 4.

Rencana Penelitian. puskesmas Kunduran dukungan keluarga dan sikap secara bermakna tidak berhubungan dengan praktek penderita dalam mencari pengobatan. kelamin. dukungan praktik pencarian pengobatan kusta di pengobatan puskesmas Kunduran Kabupaten oleh Blora Dian keluarga dan Puskesmas praktik penderita kusta mencari Kunduran. lama faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap kusta stigma sakit. Faktor umur. melatar faktor ekternal. pekerjaan. jenis Mengetahui dan menguraikan faktor-faktor pendidikan. Nugraheni. pengobatan di pengetahuan.dalam pencarian di penelitian Cross Sectional keluarga. Judul : Faktor- Deskriptif kualitatif dengan indepth interview Penderita kusta Umur. 2005 dalam jenis kelamin. pengetahuan. 2008 . apa saja yang faktor internal. persepsi belakangi persepsi penderita penyakit kusta oleh Soedarjatmi. sikap. 5. pendapatan.

manfaat berperilaku positif. persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif stigma penderita kusta.penderita tentang: kemudahan kemungkinan terkena penyakit. kegawatan penyakit. dan kusta sehingga penderita merasa terstigma karena penyakitnya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .

E. c. Landasan Teori yaitu 1. B. Perilaku menurut L.Pada bab ini penulis menguraikan tentang : A. Green.5 mic. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. C.W. Penyakit Kusta 1. Hansen dalam tahun 1873. Waktu pembelahan sangat lama yaitu 2 – 3 minggu. D. Kerangka teori. Sumber penularan Sampai saat ini hanya manusia yang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman kusta dapat hidup pada Armandillo. lebar 0. Faktor – faktor yang menentukan terjadinya sakit kusta a. Diluar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dapat bertahan sampai 9 hari. Mengenai persepsi. A. Cara keluar dari Penjamu (Host) . 2. biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu – satu. hidup dalam sel dan bersifat tahan asam. Mycobacterium leprae untuk pertama kali ditemukan oleh G. Perilaku menurut Rosenstock (HBM) dan F. Penyebab. Tentang stigma. b.A. kuman kusta ini berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 8 mic. Penyakit kusta. Definisi Penyakit Kusta Penyakit Kusta juga dikenal sebagai lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium lepra) yang terutama menyerang saraf tepi dan organ tubuh kecuali susunan saraf pusat. Simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar Thymus. 2.2 – 0.

3 orang sembuh sendiri tanpa diobati dan 2 orang menjadi sakit. d. adalah penderita MB saja. Telah terbukti bahwa saluran nafas bagian atas dari penderita lepramatous (tipe MB.Lepra yang solid (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. Kusta mempunyai masa inkubasi 2 – 5 tahun. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti.Kulit dan mukosa hidung telah lama diketahui sebagai sumber dari kuman. sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Penderita inipun tidak akan menularkan apabila berobat teratur. semua itu tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1) faktor sumber penularan. Cara Penularan Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi Basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. 2) Faktor kuman kusta. Penularan terjadi apabila M. . akan tetapi dapat juga bertahun–tahun. 3) faktor daya tahan tubuh. Dari hasil penelitian menunjukan gambaran sebagai berikut : Dari 100 orang yang terpapar 95 orang tidak menjadi sakit. hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. yang jumlah bakterinya banyak) merupakan sumber kuman yang terpenting di dalam lingkungan. kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1 – 9 hari tergantung pada suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan.

f. Dilain pihak manusia sebagian besar kebal (95%) terhadap kusta hanya sebagian kecil yang dapat ditulari (5%). 2). Bila orang tersebut tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta merupakan kelompok terkecil dan mudah menderita kusta yang stabil dan progresif. diperkirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernafasan bagian atas. Dari sebagian kecil ini 70% dapat sembuh dan hanya 30% yang dapat menjadi sakit.e.Bila orang tersebut memilki kekebalan rendah terhadap kuman kusta mungkin akan menderita penyakit kusta yang dapat sembuh sendiri. Tuan rumah Hanya sedikit orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah kontak dengan penderita. 3). . Bila orang tersebut mempunyai kekebalan tubuh yang tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten / kebal terhadap kuman kusta. Tidak pada semua penderita terdapat banyak Mycobacterium leprae yang hidup sehingga hanya kira-kira 5 – 15 % dari penderita kusta yang dapat menularkan penyakit. Cara masuk ke dalam tubuh Tempat masuk kuman kusta kedalam tubuh sampai saat ini belum dapat dipastikan. hal ini disebabkan karena adanya immunitas seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Sistim kekebalan yang efektif melawan kuman kusta adalah sistim kekebalan seluler.

Penjamu mempunyai kekebalan rendah terhadap kuman kusta bila menderita kusta biasanya tipe PB. Kondisi sosial ekonomi diperkirakan memainkan peranan penting dalam upaya pemberantasan kusta. 3). bila menderita kusta biasanya tipe MB g. Penjamu yang mempunyai kekebalan tubuh tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten terhadap kuman kusta. 3). Vaksinasi BCG pada kontak serumah dengan penderita kusta. kondisi perumahan. 2). jumlah jiwa dalam satu rumah tangga dan jumlah anggota keluarga diperkirakan merupakan faktor penting . Perbaikan kondisi sosial ekonomi menghasilkan penurunan insidens kusta meskipun faktor-faktor yang mendukung penurunan ini tidak diketahui. Cara pemutusan mata rantai penularan Penentuan kebijaksanaan dan metoda pemberantasan penyakit kusta sangat ditentukan oleh pengetahuan epidemiologi kusta dan perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan. Penjamu yang tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta yang memrupakan kelompok terkecil. Upaya pemutusan mata rantai penularan dapat dilakukan melalui : 1).Seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Pengobatan MDT pada penderita kusta 2). Isolasi terhadap penderita kusta namun hal ini tidak dianjurkan karena penderita yang sudah berobat tidak akan menularkan penyakit ke orang lain.

Peradangan pada penderita kusta (neuritis) dapat dirasakan berupa rasa nyeri namun kadang-kadang penderita tidak merasakan adanya nyeri (silent neuritis). Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritematous). Diagnosa Kusta Diagnosa penyakit kusta hanya dapat didasarkan pada penemuan tanda utama (Cardinal sign) yaitu : a. . Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). pembengkaan (edema) dan lain-lain. Mati rasa dapat bersifat kurang rasa (hipertesi) atau tidak merasa sama sekali (anaestesi). Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf.3. Gangguan fungsi otonom : kulit kering. 3). Gangguan fungsi sensoris : mati rasa. b. Basil tahan asam (BTA) positif. Untuk tujuan tertentu kadang jaringan diambil dari bagian tubuh tertentu (biopsi). c. 2). Bahan pemeriksaan BTA diambil dari kerokan kulit (skin smear) asal cuping telinga (rutin) dan bagian aktif suatu lesi kulit. Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise). retak. Gangguan saraf ini bisa berupa : 1).

Lepuh tidak nyeri b. Adanya cacat (deformitas) 4). Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut 5).Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda utama diatas. 3). Tanda-tanda pada kulit 1). Kulit mengkilap 3). Luka yang tidak sakit Tanda-tanda tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar diagnosa penyakit kusta. Klasifikasi Klasifikasi penyakit kusta bertujuan untuk menentukan regimen pengobatan dan perencanaan operasional. 2). 5. Bercak yang tidak gatal 4). Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka. Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih atau benjolan 2). Tanda-tanda tersangka kusta (Suspek) a. lamprene . Apabila hanya ditemukan cardinal sign ke-2 dan petugas ragu orang tersebut dianggap sebagai kasus yang dicurigai (suspek) 4. Tanda-tanda pada saraf : 1). Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau multidrug therapy (MDT) yaitu menggunakan gabungan Refampicin. Rasa kesemutan tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka.

Hasil pemeriksaan bakteriologis yaitu skin smear basil tahan asam (BTA) positif atau negatif. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi (gangguan fungsi bisa berupa kurang/mati rasa atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh yang bersangkutan. Manifestasi klinik yaitu jumlah lesi kulit. Sediaan apusan BTA negatif BTA positif Hanya satu saraf Lebih dari satu saraf PB Jumlah 1 s/d 5 MB Jumlah > 5 . Tipe Multi Basiler (MB) Penyakit kusta dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu : a. b. jumlah saraf yang terganggu dan sebagainya.1 klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO.dan diamino diphenyl sulphone (DDS) maka penyakit kusta di Indonesia diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu : a. Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan bila diagnosa meragukan. Tanda Utama Bercak yang mati rasa / kurang rasa di kulit. Tipe Pausi Basiler (PB) b. Pedoman utama untuk menentukan klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO adalah sebagai berikut : Tabel 2.

Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Reaksi Up grading ) Terjadi pada penderita tipe PB maupun MB dan kebanyakan terjadi pada 6 bulan pertama pengobatan. Reaksi ini bisa terjadi saat penderita mendapat pengobatan atau sesudah mendapat pengobatan. bila reaksi ini tidak di tangani dengan cepat dan tepat maka kecacatan permanen bisa terjadi (misal Claw hand.Sumber : Depertemen Kesehatan RI. gangguan fungsi saraf tepi dan kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita. Jakarta 2005 6. kasus yang sering terjadi penderita mengalami reaksi pada 6 bulan sampai satu tahun sesudah pengobatan dan berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. . Pengertian Reaksi kusta atau reaksilepra adalah suatu episode perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu kekebalan (seluler respon) atau reaksi anatigen-antibodi (respon) dengan akibat merugikan penderita terutama padasyaraf tepi yang menyebabkan gangguan fungsi (cacat) . Reaksi kusta a. Drop foot dan lain-lain). a) Gejala reaksi dapat dilihat pada perubahan kulit. neuritis (nyeri pada saraf). hal ini terjadi karena meningkatnya respon kekebalan seluler secara cepat terhadap kuman kusta dikulit dan saraf penderita dan disi akan terjadi pergeseran tipe kustanya kearah PB. Jenis Reaksi Jenis reaksi sesuai proses terjadinya dibedakan menjadi 2 yaitu : 1) Reaksi tipe I ( Reaksi Reversal. b. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta.

Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Lesi Kulit Reaksi Ringan Reaksi Berat membengkak Tambah aktif. Jakarta 2005 fungsi kelemahan 2) Reaksi Tipe II (Reaksi ENL = Eritema Nodusum Leprosum) Terjadi pada penderita tipeMB dan merupakan reaksi humoral. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. . 2. yang menebal dapat sampai merah teraba panas dan membentuk plaque nyeri.2 Beda reaksi berat dan ringan pada reaksi tipe I Gejala 1. Saraf tepi Tidak ada nyeri tekan saraf dan Nyeri tekan dan / atau gangguan fungsi gangguan misalnya otot. menebal.b) Menurut keadaan reaksi maka reaksi tipe I ini dapat dibedakan yaitu reaksiringan dan reaksi berat c) Perjalanan reaksi berlangsung selama 6 – 12 minggu atau lebih Tabel 2. Sumber : Depertemen Kesehatan RI. merah. tangan dan kaki membengkak. pada sendi terasa sakit dan ada kelainan kulit baru. Lesi panas dan nyeri tekan. dimana kuman kusta yang utuh maupun tidak utuh menjadi antigen. Makula sampai ada yang pecah.

ada pecah jumlah berlangsung sedikit biasanya hilang sendiri dalam yang 2-3 hari sampai (ulseratif). c. gangguan fungsi 4. Perjalanan reaksi Biasanya berlangsung selama 3 minggu atau lebih. gangguan Ada fungsi nyeri tekan. gangguan konstitusi dan komplikasi pada organ tubuh. neuritis (nyeri tekan) dan gangguan fungsi saraf tepi. maka reaksi dapat dibedakan reaksi ringan dan reaksi berat. Menurut keadaan reaksi. lama. b. 2. Lesi Kulit Nodul Reaksi Ringan yang nyeri tekan.3 Perbedaan reaksi Berat dan Ringan Tipe I Gejala 1. Gejala Gejala dapat dilihat pada perubahan lesi.Tubuh membentuk antibodi dan komplemen (Antigen + antibodi + komplemen = immunokompleks) a. Reaksi Berat jumlah Nodulnyeri tekan. banyak. Organ Tubuh Tidak ada gangguan organ-organ Terjadi peradangan pada tubuh mata : liridocyslitis Testis: Epididimoorchitis Ginjal : Nephritis Kelenjar Limfadenitis Gangguan pada tulang Limfe : . Kadang-kadang timbul berulang-ulang dan berlangsung lama. Syaraf tepi Tidak ada demam atau ringan saja Demam ringan sampai berat Tidak ada nyeri tekan. Tabel 2. Keadaan Umum 3.

hidung dan tenggororan. Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

Tabel 2.4 Perbedaan reaksi Tipe I dan Tipe II No 1 Gejala / tanda Keadaan Umum Reaksi Tipe I Reaksi Tipe II sampai berat

Umumnya baik, demam Ringan ringan (sub febril) atau disertai tanpa demam umum tinggi

kelemahan dan demam

2

Peradangan di kulit

Bercak

kulit

lama Timbul

nodul

menjadi lebih meradang kemerahan, lunak dan (merah), dapat timbul nyeri tekan. Biasanya pada tungkai. lengan Nodul dan dapat

bercak baru

pecah (ulcerasi) 3 Saraf Sering terjadi umumnya Dapat terjadi berupa nyeri tekan saraf dan / atau gangguan fungsi saraf

4

Peradangan organ

pada Hampir tidak ada

Terjadi mata,kelenjar bening, testis, dll sendi,

pada getah ginjal,

5

Waktu timbulnya

Biasanya segera setelah Biasanya pengobatan mendapatkan

setelah

pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan 6 Tipe Kusta Dapatterjadi pada kusta Hanya pada kusta tipe tipe PB maupun MB 7 Faktor pencetus MB

Emosi, kelemahan, stess fisik lain, kehamilan, pasca persalinan,obat-obat yang meningkatkan kekebalan tubuh penyakit infeksi lainnya

Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

7. Pengobatan Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan/kutukan. Pada tipe MB lama pengobatan :12-18 bulan dan tipe PB lama pengobatan : 6 9 bulan Pengobatan penderita kusta menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment ( MDT ) jenis obatnya adalah Rifampicin, Dapson,

Lamprene tergantung dari tipe penyakitnya. Untuk tipe PB terdiri dari 2 macam obat 2 kapsul Rifampicin 300 mg dan 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya 1 tablet DDS 100 mg selama satu bulan, untuk tipe MB menggunakan 2 kapsul Rifampicin 300 mg, 3 kapsul Lamperen 100 mg, 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya minum DDS dan Lampren 50 mg masing-masing satu selama satu bulan.

8. Kecacatan akibat penyakit kusta a. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kecacatan antara lain 1). Faktor yang berhubungan dengan penderita (umur, jenis kelaimin) 2). Faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit ) 3). Kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat mikobakterium leprae, makin mudah serabut syaraf menderita trauma makin mudah rusak oleh mikobakterium leprae) 4). Pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama akan menimbulkan kecacatan pada penderita kusta. 5). Faktor pekerjaan : yang sering mengalami kecacatan adalah penderita kusta yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat. b. Pembagian Kecacatan Dilihat dari asal terjadinya kecacatan : 1). Kecacatan Primer Yaitu kecacatan langsung disebabkan oleh aktifitas penyakitnya sendiri, cacat ini terbentuk selama fase aktif dari penyakitnya. Kecacatan primer ini karakteristik untuk penyakit kusta dan perkembangannya bisa diramalkan, biasa terjadi pada : a). Wajah ( cuping telinga yang memanjang, hilangnya rambut alis, cacat hidung/ hidung pelana, wajah keriput, lemah pada syaraf wajah/paralise fasialis )

Sedangkan persepsi adalah proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi.(8) .b). Cacat ini terbentuk akibat salah dalam aktifitas / ”misuse” atau tidak pernah digunakan “disuse” sebagai akibat adanya hilangnya perasaan kulit / insensibilitas. Persepsi Persepsi setiap orang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda oleh karena itu persepsi mempunyai sifat subyektif. pemendekan jari tangan. diorganisasi dan di interpretasikan. kaku / kontraktur) b). kithing jari-jari kaki/ “ clow toes” dan semper / “ drop foot” ) 2). kaku/kontraktur). Kecacatan Sekunder Yaitu kecacatan yang tidak langsung disebabkan oleh penyakitnya sendiri tetapi disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan paralysis motoris / kelumpuhan . Solomon mendefinisikan bahwa sensasi sebagai tanggapan yang cepat dari indera penerima kita (mata. biasa terjadi pada : a).mulut dan jari) terhadap stimuli dasar seperti cahaya.telinga. Kaki (luka akibat tumpuan berat badan.hidung. B. Tejadinya cacat karena adanya trauma dan infeksi sekunder. warna dan suara. Tangan (luka pada ujung jari dan ruas jari hal ini disebabkan oleh cara memegang yang berlebihan karena tidak terasa.”osteolisis dan absorbsi” tulang kaki. Anggota gerak ( kithing pada tangan / “clow hand “ dan “claw thumb”. “tarsal collaps”.

Salah satu aspek penting yang berperan dalam diri seseorang ketika ia mempersepsikan sesuatu adalah pengetahuan yang dimiliki sebelumnya tentang apa yang sedang dipersepsikan. 1996) Sumber : Sulisna. sesuatu yang bersifat mengembangkan kreatifitas dan membantu memberikan makna bagi pengalaman panca indera tersebut. Robbins (2006) persepsi didefinisikan sebagai proses yang digunakan individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan inderawi mereka untuk memberi makna kepada lingkungan mereka dan menurut Kimble (1984) merupakan proses interpretasi terhadap informasi yang ditangkap oleh panca indra. Solomon.1 Perceptual (Michael R.STIMULI Penglihatan Suara Bau Rasa Tekstur Sensasi Pemberian arti Persepsi Indra Penerima Perhatian Interpretasi Tanggapan Gambar 2. Perilaku Konsumen dan Komunikasi pemasaran. Dikemukakannya pula bahwa persepsi merupakan suatu proses aktif dimana orang yang mempersepsikan sering melebihi informasi yang baru didapatkannya untuk membentuk suatu kesan dari ciri-ciri personal yang tak terlihat dan . Bandung 2001 Persepsi dalam kamus psikologi adalah proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera (11) .

(15) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses persepsi sehingga terjadi perbedaa persepsi antara satu individu dengan individu lainnya terdiri dari faktor internal dan ekternal. Proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri) . serta situasi tertentu yang sedang mempengaruhi individu yang sedang mempersepsi Persepsi adalah pandangan individu terhadap lingkungannya sebagai gambaran subyektif internal seseorang terhadap dunia luar. pengetahuan dan pendidikan serta keadaan sosial budaya setempat. Persepsi merupakan salah satu mata rantai perubahan sikap. Kondisi dan tuntutan biologis/fisiologi 3. Kecerdasan / pendidikan 4. kepribadian dan budaya yang dimiliki seseorang. Keturunan (heriditer) 2. Faktor yang berperan dalam pembentukan persepsi adalah kognitif. Kesan akhir. Lebih lanjut dikemukakan bahwa persepsi merupakan hasil proses pengamatan seseorang berasal dari komponen kognitif yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman proses belajar. sebagai produk dari persepsi ini merupakan kombinasi dari apa yang ada senyatanya dengan apa yang diharapkan dari orang yang dihadapinya. Faktor-faktor internal antara lain : 1. kelas dan tipe orang yang terlibat. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penafsiran stimulus atau rangsangan seseorang sehingga individu akan memberikan interpretasi dari obyek tertentu.kekuatan lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia karena orang yang mempersepsi tidak berada didalam lingkungan sosial yang kosong.

Nilai-nilai individu yang dianut 10. 4. lingkungan. motivasi. melihat dan merasakan sesuatu yang didapatkan disini lebih jauh disepakati persepsi melibatkan rangsangan internal dan eksternal. Norma masyarakat. tingkat pendidikan. Konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/ tekanan sosial). pengalaman dan pengharapan. budaya. Harapan terhadap objek 6.5. kepribadian dan pengalaman hidup individu (13) Jenis kelamin Umur Tingkat Pendidikan . Adat istiadat. Faktor pihak pelaku persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti : sikap.fisik. Pengaruh ekosistim lainnya (7) Persepsi tidak hanya sekedar mendengar. Sikap dan kenyakinan keagamaan 9. pekerjaan. latar belakang sosial ekonomi. 3. Variabel lain yang ikut menentukan persepsi adalah umur. atau minat. Efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus) 8. Ketergesahan menilai sesuatu berdasarkan informasi yang tidak lengkap 7. kepentingan. Pengetahuan/pengalaman masa lalu tentang objek. Faktor-faktor eksternal antara lain : 1. 2.

hal yang memalukan.2000 C.Pekerjaan Persepsi Sosial Ekonomi Budaya Lingkungan Fisik Kepribadian & Pengalaman Gambar 2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Penderita.Salim adalah hal yang membawa aib. pengkianat Negara dan tentu saja pada penderita kusta (39) . malu atau takut karena sesuatu (14) . Stigma adalah suatu karakteristik yang dipertimbangkan tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. Universitas Gajahmada. penjahat. proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat dianggap menjijikan dan harus dijauhi Stigma dalam kamus P. Beberapa Teknik dalam Manajemen Mutu. noda aib atau sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri. Stigma Stigma berasal dari zaman Yunani kuno. Ada banyak bukti yang mendukung bahwa orang yang dibuat merasa terstigmasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam . Di era modern muncullah istilah “stigmatisasi“ yang lebih mencerminkan kelas dari pada fisik. Manajemen Rumah Sakit. kata ini menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap pada tubuh orang-orang yang dianggap bergolongan rendah seperti pencuri. Samsi. Yogyakarta. Sumber : Jacobalis.

Banyak masyarakat berprasangka bahwa penyakit kusta sangat membahayakan bagi lingkungan mereka selain menularkan dan menjijikan mereka beranggapan bahwa penderita kusta tidak lagi berguna karena pada keadaan cacat penderita tidak produktif lagi. Brehm dan Kanssin 1993 berpendapat bahwa prasangka adalah perasaan negatif yang ditujukan terhadap seseorang berdasar semata-mata pada kelompok tertentu dan melibatkan penilaian apriori. Kenyakinan yang mendasari timbulnya prasangka tersebut disebut stereotype yaitu kenyakinan yang menghubungkan sekelompok orang dengan ciri-ciri tertentu dan stereotype adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok dan suatu image yang pada umumnya sangat sederhana. ketidak akuratan ini timbul dari proses . Efek dari stigmatisasi dapat berlangsung lama tetapi efek ini dapat dibatasi karena orang-orang yang mendapat stigma dapat menggunakan taktik yang beragam agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui stigma mereka diantaranya menyembunyikan secara selektif tentang stigma dimasa lalu.kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar. Proses stigmatisasi atau “lebeling” memiliki dua akibat yaitu (12) : 1) Dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. kaku dan klise serta tidak akurat. ini merupakan sikap negatip yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok atau individu. mencegah pengungkapan diri terhadap teman dekat dan berbagai stategi penipuan lainnya. 2) Stigma pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya dan menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang.

Beberapa kemungkinan upaya untuk mengurangi atau mencegah timbulnya prasangka (9) : 1. oleh apa yang sedang kita hadapi saat ini . Menurut Wrightsman dan Deaux. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. Pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan kita akan masa lalu. belajar mengenal dan memahami orang lain. Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang orang lain.overgeneralisasi (perluasan karakteristik) (9) . Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta adalah proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. Penderita kusta sering mendapat perlakuan diskriminasi dari lingkungannya biasanya diskriminasi ini merupakan perwujudan tingkah laku dari prasangka atau manifestasi prasangka dalam bentuk tingkah laku nyata. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. 3. 2. Mengoptimalkan / membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui pengukuhan positip. Mengajarkan untuk tidak membenci. hal yang memalukan. dalam setiap masyarakat ada masalah yang komplek mengapa kusta ditakuti dan .1981 dimasa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap sering dikaitkan dengan konsep mengenai postur fisik (9) Banyak faktor yang menimbulkan stigma kusta dan ini sangat bervariasi. D. Melakukan kontak langsung. 4. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri.

4. penderita dianggap korban guna-guna. Ketidak mampuan dan kecacatan Alasan lain untuk stigma adalah kecacatan dan ketidak mampuan yang disebabkan oleh penyakit itu. Percaya tentang akibat kusta Percaya tentang akibat kusta telah berbeda sepanjang waktu dan dimana tempat.menjadikan penyakit yang memalukan. masyarakat takut terkena infeksi seperti penderita. hal ini menambah rasa takut penderita. hidung melebar ini bararti sepintas orang melihat akan tau bahwa mereka menderita kusta. 5. Bau . Beberapa alasan yang sifatnya umum diantaranya (3) : 1. sampai akhirnya masyarakat percaya bahwa kusta disebabkan oleh kuman kusta. tebal. disantet dan penyakit akibat sexual. 3. 2. penyakit kusta dengan tanda-tanda khusus di wajahnya dimana kulit menjadi keriput. Takut Ketularan Pengucilan penderita kusta dilakukan karena alasan takut ketularan. beberapa kelompok percaya bahwa kusta disebabkan karena kutukan dewa karena berbuat salah. Hukuman Mati Faktor lain adalah sampai tahun 1940 an penyakit kusta belum ada obat yang bisa mengobati secara efektif ini berarti penderita kusta seakan-akan telah divonis hukuman mati karena penyakitnya tidak bisa diobati. kepercayaan ini mempengaruhi bagaimana penyakit dan penderita kusta diperlakukan. penderita dijauhkan dianggap berdosa dan lingkungan tidak ingin mengalaminya.

Beberapa pasien kusta mempunyai bau badan yang sangat jelas / khas disebabkan oleh luka – luka yang terinfeksi. hal ini akan lebih efektif dan efisien karena lebih baik mencegah stigmatisasi dari pada mencoba mengembalikan penderita yang sudah ditolak oleh masyarakat. Stigmatisasi diri sendiri Hal ini sangat nyata. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. Mencegah stigmatisasi orang lain. 2. bau ini dapat menjijikan dan membuat keadaan memburuk sehingga masyarakat tidak mau menerima mereka. 6. Solusi pada Stigma kusta (2) Walaupun perkembangan yang besar. kusta masih menjadi problem dibanyak negara diperkirakan bahwa antara 11 sampai 12 juta orang menderita kusta telah terobati akan tetapi stigma kusta masih sangat nyata dan perlu ditangani. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. Membantu mereka yang benar-benar mengalami stigma kusta. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). Banyak faktor yang menyebabkan penderita bereaksi terhadap penyakitnya diantaranya (18) . orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Ada 2 komponen pendekatan dalam menangani stigma kusta (2) : 1. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan.

Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga. kemudahan mencapai sarana tersebut. RSUD Tugurejo sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan rumah sakit khusus (RSK) penderita kusta.1. 8. Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit. 6. tahun 2006 RSUD Tugurejo telah terakreditasi dan . 9. Sejarah RSUD Tugurejo. Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dikenalnya. Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya. 3. Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang. 4. Tahun 2004 RSUD Tugurejo telah terjadi peningkatan kelas menjadi RSU kelas B non pendidikan. E. Informasi. 7. Pada tanggal 13 Januari 1994 dengan Peraturan Daerah tentang stuktur organisasi tata kerja Rumah Sakit Kusta Provinsi Jawa Tengah sebagai Rumah Sakit Khusus kelas C. pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu. Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala yang menyimpang dari keadaan biasa. dsb). 5. takut. hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya. Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya. Tahun 2000 mengalami perubahan status dari Rumah Sakit khusus menjadi Rumah Sakit Umum. tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu. Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kerentanan individu untuk terserang penyakit itu). 2. 1. rendah diri. Tersedianya sarana kesehatan.

Pasien menyerahkan bukti pendaftaran ke poli khusus. RSUD Tugurejo melayani pasien kusta rawat jalan dan rawat inap. Rehabilitasi medis atau lainnya sesuai dengan kondisi pasien. Penyakit Saraf. Sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan unggulan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. Penanganan penderita di rawat jalan dilayani di poli khusus penyakit kusta dengan urutan sebagai berikut : a. . b. Dokter Spesialis Kulit melakukan anamnese. dokter memberikan surat perintah mondok dan perawat akan berkoordinasi dengan ruang Kenanga yaitu ruang khusus penderita kusta. Dokter Spesialis Kulit dapat mengkonsulkan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam. c. pemeriksaan. Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium.lulus ISO 9000. e. 2. tujuan pelayanan ini adalah mengobati dan memutus rantai penularan penyakit kusta. radilogi atau pemeriksaan lain). Bagi pasien yang memerlukan rawat inap. Pasien mendaftar di loket pendaftaran. perawat melaksanakan anamnese dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. f. d. menegakkan diagnosa kerja dan memberikan resep obat serta edukasi terhadap pasien. Yang dilakukan RSUD Tugurejo terhadap penderita kusta.

misal operasi. PENUN JANG PASIEN PULANG RAWAT INAP BTA (+) BTA (-) PENATA LAKSA NAAN EVALUASI 1 BULAN EDUKASI . PASIEN DATANG ANAMNESIS PEMERIK.g. Informed consent dilakukan apabila perlu untuk tindakan. FISIK PASIEN LAMA PASIEN BARU PENATA LAKSA NAAN PEM.

PASIEN PULANG RAWAT INAP Gambar 2. sarana fisik dan sosial budaya masyarakat. persepsi. Selanjutnya Green mencoba menganalisis perilaku manusia pokok yaitu faktor perilaku. minat. motivasi. Perilaku menurut Lawrence W. Landasan Teori Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek (11) yaitu aspek fisik. sikap dan sebagainya. Green. psikis dan sosial yang secara rinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti: pengetahuan. motivasi. Sumber : Dokumen Instruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik Khusus RSUD Tugurejo Semarang. karena perilaku merupakan resultansi dari berbagai faktor. keinginan. F. Green berpendapat (19) faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi. baik internal maupun eksternal (lingkungan). perseprsi. sikap dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman. Perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu : faktor predisposisi. Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan. 1. dan faktor penguat.3 : Alur Pelayanan Pasien Poliklinik khusus penyakit kusta. faktor pemungkin. keyakinan.(19) . Lawrence W.

keyakinan. Perilaku seseorang cenderung untuk berkiblat pada perilaku yang berlaku dalam keluarga individu tersebut. nilai.Faktor predisposisi mencakup pengetahuan. Keadaan demikian ini memungkinkan lingkungan keluarga lebih peduli terhadap apa yang dilakukan anggota keluarganya. dan persepsi.(11) Lingkungan keluarga yang nyaman mempunyai respon yang kuat terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan anggota keluarganya. Termasuk dalam faktor predisposisi adalah faktor demografis seperti status sosial ekonomi. Hal ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat dalam setiap kasus. Dalam arti umum. jenis kelamin dan ukuran keluarga. Lingkungan keluarga yang ideal dalam arti suatu keadaan yang menjamin kenyamanan pada tiap-tiap anggota keluarga akan membentuk perilaku yang terarah dan cenderung untuk bersikap terbuka terhadap nilai-nilai baru yang tentu saja diterima oleh keluarga tersebut. kita dapat mengatakan faktor predisposisi sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. Faktor penguat disini diterangkan bahwa lingkungan keluarga sangat dominan dalam mempengaruhi pembentukan perilaku seseorang. sikap. umur. berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak. Faktor pemungkin mencakup sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan.(11) . Sumber daya itu meliputi ketersediaan sarana dan ketercapaian berbagai sumber daya.

Sumber : L.Green. Perilaku menurut Rosenstock (Health Belief Model) Teori Health Belief Model (HBM) merupakan model kognisi yang menjelaskan bahwa perilaku sebagai hasil proses informasi rasional dan menekankan pada kognisi individu. etc Behavior (action) of individuals.Predisposing factors Knowledge Attitudes Beliefs Values Perseption Reinforsing Factors Attitudes and behavior of health other personnel peers. parents or employers. groups or communities Enabling factors Availability of resources Accessibility Referrals Ruler orlaws Skills Environmental Factors Gambar 2. faktor penguat/pendorong dan faktor pendukung. Second edition. Health Promotion Planning.W. model ini sering kali dipertimbangkan sebagai kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia (20) .4 : Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok yaitu faktor yang mempermudah.2000 2.

2. 4. Tanda-tanda seseorang perperilaku / bertindak. jika mereka percaya bahwa tindakan tertentu yang tersedia akan menguntungkan dalam mengurangi kerentanan atau keparahan kondisi. 3. Persepsi seseorang terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Persepsi tersebut adalah : 1. Dalam konsep HBM dijelaskan bahwa perilaku adalah sebuah hasil dari sekumpulan persepsi. HBM berhubungan dengan aspek kesehatan negatif yaitu perilaku seseorang ketika terancam suatu penyakit. . Persepsi seseorang terhadap kegawatan suatu penyakit. dan jika mereka percaya bahwa hambatan yang terantisipasi untuk mengambil tindakan dipertimbangkan dengan keuntungan.Secara umum HBM diyakini bahwa individu akan mengambil tindakan untuk menghindarkan. Namun ada pula kemungkinan motivasi kesehatan positif yang meliputi perilaku mau untuk berobat. memeriksa atau mengendalikan kondisi kesehatan buruk jika mereka memandang rentan terhadap kondisi itu. Persepsi seseorang terhadap benefits / untung – ruginya bila melakukan perilaku tersebut. dan persepsi-persepsi ini memprediksi kemungkinan seseorang akan berperilaku. Persepsi seseorang terhadap pembiayaan bila melakukan perilaku tersebut 5.

Asumsinya bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut meningkat maka perilaku pencegahan juga meningkat. Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap risiko yang akan muncul. hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berfikir tentang penyakit yang diderita betul-betul merupakan ancaman kepada dirinya. individu akan melakukan tindakan pencegahan didasari oleh dua kenyakinan atau penilaian kesehatan (health beliefs) yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian.5 Basics of Health Belief Model Sumber : Ogden. 1996 Proses kognitif dalam HBM dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan.Cues to action Susceptibility Demographic variable Severity Likehood of Behaviour Benefits Cost Gambar 2. . Philadelphia. Health Psychology a Text book.Jane.

pertimbangan keuntungan dan kerugian dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu variabel demografi (usia. kerentanan. Ancaman. latar belakang budaya). pengalaman tentang masalah). dia percaya bahwa penyakitnya akan berakibat serius pada anggota tubuh. Contohnya perilaku penderita kusta yang mengasingkan diri merupakan kemudahan untuk terjadi adanya kecacatan dan sumber penularan. HBM menyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. tekanan sosial) dan variabel struktural (pengetahuan. Penderita sering mengatakan bahwa mereka merasa malu karena penyakitnya sehingga tidak memeriksakan diri. . Adanya gejala-gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi negatif penderita.Penilaian kedua yang dibuat adalah perbandingan antara keuntungan dengan kerugian dari perilaku dalam usaha untuk memutuskan tindakan selanjutnya. keseriusan. akan tetapi penderita dengan persepsi positif merasa bahwa penyakit kusta adalah ancaman kesehatan yang serius melakukan pengobatan secara rutin adalah suatu keuntungan yang tinggi dan biaya yang rendah dibandingkan apabila sudah terjadi kelainan atau kecacatan. variabel sosiopsikologi (kepribadian. kelas sosial.

G.W.External factor Benefits Cost Gambar 2.6. Kerangka Teori : modifikasi teori L. Green dan teori HBM . Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan pustaka diatas diambil suatu kerangka teori yang bersumber dari teori Lawren W Green dan teori Health Belief Model (HBM) sebagai berikut : Susceptibility Demografik Variable Severity Perceived stigma Reinforsing Factor .Internal factor .

BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Bebas Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit Variabel Terikat Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Lama sakit Keluarga Tetangga Teman Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positif Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif Penderita kusta merasa terstigma Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian . Kerangka konsep.

Bagaimanakah faktor Demografik (umur.B. pendidikan. pekerjaan pendapatan dan lama sakit) melatar belakangi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 3. Bagaimanakah persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 2. Bagaimana faktor risiko jika berperilaku negatip melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 7. jenis kelamin. Bagaimana faktor kegawatan penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 5. Bagaimana faktor kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 4. Bagaimanakah faktor internal (lingkungan keluarga) dan (lingkungan masyarakat) melatar belakangi persepsi penderita? eksternal C. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pertanyaan Penelitian 1. alasan yang mendasari penelitian jenis ini karena dapat menggali atau menghasilkan data deskriptif secara mendalam mengenai persepsi responden . Bagaimanakah faktor manfaat jika berperilaku positif melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 6.

menarik dan unik bermakna dilapangan (30) .luwes karena rancangan studi ini bisa dimodifikasi meskipun sedang dilaksanakan (24). perilakunya dan penalaran yang tersirat pada metode kualitatif bersifat induktif (bergerak dari observasi menuju hipotesis dan bukan pengujian hipotesis/deduktif). dimana tujuan riset kualitatif sendiri adalah mengembangkan konsep-konsep yang dapat menjelaskan makna suatu fenomena dan membantu pemahaman lebih mendalam atas fenomena sosial dan perilaku dalam setting atau lingkungan yang alami (bukan percobaan / eksperimen) dengan demikian memberi penekanan pada makna-makna. analisis induktif karena peneliti tidak memaksa diri untuk hanya membatasi penelitian pada upaya menerima atau menolak dugaan-dugaanya melainkan mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri.(23) Metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan lain yakni : pertama. serta memberikan kemungkinan bagi perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar.terhadap stigma penyakit kusta. pengalaman dan pandangan semua peserta risetnya. Tehnik kualitatif memberi kesempatan pada peneliti untuk mengamati dan berhubungan langsung dengan sasaran penelitian (responden) (22) Ketiga. perspektif yakni memahami secara menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti. bersifat holistik. tidak lazim mendefinisikan suatu konsep. sikap. (25) . Luwes tak terlalu rinci. (22) Metode kualitatif lebih menekankan pada validitas dengan pemahaman bagaimana manusia sebenarnya berperilaku dan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh manusia ketika menggambarkan pengalaman. Keempat. Kedua : berhubungan langsung dengan sasaran (responden).

Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta yang mendapat pelayanan di RSUD Tugurejo Semarang. Data kunjungan pasien rawat jalan di poli khusus penderita kusta ratarata 344 orang per bulan. Tehnik pemilihan sampel dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling). b. penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sampel (30) . padanya terdapat pola tertentu namun penuh variasi (keragaman). Sampel Penelitian kualitatif bertolak dari asumsi yang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Dari pengamatan penulis penderita yang terlihat tidak percaya diri dalam berperilaku (misal: memakai pakaian tertutup/lengan panjang. memakai topi. menyendiri. Populasi dan Sampel Penelitian 1. selalu menundukkan kepala) saat berobat di RSUD Tugurejo Semarang. . Dalam penelitian ini sample berjumlah 8 (delapan) orang penderita kusta dengan kriteria sebagai berikut : a.D. Mau berpartisipasi menjadi subyek penelitian. 2. c. Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang.

Dalam penelitian ini berjumlah 5 orang E. Variabel Terikat dalam penelitian ini adalah penderita kusta merasa terstigma. Mau berkomunikasi dengan baik c. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. b. 1) Karakteristik responden yang terdiri dari umur. dengan kriteria sebagai berikut : a. Mau berkomunikasi dengan baik. 3) Faktor persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit. Mau berpartisipasi dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini sampel berjumlah 8 orang penderita Informasi dan tanggapan lain dalam penelitian yang digunakan sebagai cross check adalah keluarga dan lingkungan ( tetangga dan teman penderita) yang selanjutnya disebut sebagai Informan. . pekerjaan. Variabel Penelitian a. e. Variabel bebas. b. jenis kelamin. 4) Faktor persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. 5) Faktor persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positip.d. 6) Faktor persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatip. pendidikan. 2) Faktor-faktor internal dan eksternal responden terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. penghasilan dan Lama sakit.

Definisi Operasional Penderita Kusta adalah seseorang yang dinyatakan positif menderita kusta yang melalui pemeriksaan laboratorium ditemukan Basil tahan asam (BTA) positif atau ditemukan tanda-tanda kusta. a. 9) Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang penyakit kusta sebagai suatu . 1) Umur adalah bilangan tahun terhitung sejak lahir sampai ulang tahun terakhir 2) Jenis Kelamin adalah penggolongan responden berdasarkan jenis kelamin yang tercantum dalam status diri (laki-laki atau perempuan) 3) Pendidikan adalah jenjang / tingkat pendidikan formal yang diperoleh responden sampai saat wawancara. 4) Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh responden baik di luar maupun di dalam rumah untuk memperoleh penghasilan. Variabel Bebas.2. 5) Lama sakit yaitu waktu yang dihitung saat pertama penderita di diagnosa sakit kusta sampai saat wawancara dilakukan 6) Lingkungan keluarga adalah lingkungan sosial yang paling dekat dengan penderita (11) 7) Lingkungan masyarakat adalah lingkungan sosial yang berada di sekitar tempat tinggal penderita (11) 8) Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang.

F. Daftar pertanyaan penelitian berisi tentang persepsi penderita dan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta . cacat dan sebagai sumber penularan b. 11) Persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. Variabel terikat Penderita Kusta merasa terstigma : Suatu kondisi yang membuat penderita merasa malu. rendah diri.kondisi ancaman kesehatan yang berakibat serius atau kegawatan pada tubuh penderita. takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. menganggap bahwa penyakitnya sama seperti penyakit lain dan perlu berobat sehingga sembuh. 10) Persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positif yaitu tanggapan responden mengenai keuntungan/manfaat apabila responden berperilaku positif terhadap penyakitnya. menularkan. Instrumen yang Digunakan Instrumen yang digunakan dalam penelitian deskriptif adalah peneliti sendiri dengan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka yang berhubungan dengan responden sehingga pelaksanaan pengumpulan data dapat berlangsung efisien. dan merasa disingkirkan oleh lingkungannya karena penyakit yang dideritanya.

Data Sekunder Diperoleh dari catatan medik RSUD Tugurejo yang menyimpan data penderita termasuk hasil penyakit kusta penderita. yaitu data primer dan data sekunder. Adapun langkah-langkah analisis data kualitatif meliputi (26) pemeriksaan laboratorium dan catatan lain tentang . b. Sumber Data Ada dua jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini. Data Primer Diperoleh dengan wawancara dan pencatatan menggunakan daftar pertanyaan yang dibuat oleh peneliti kepada penderita kusta dengan berpedoman pada kebutuhan informasi / data yang menjadi variabel dalam penelitian. G. a. Tehnik Pengolahan dan Analisa Data 1. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan setelah peneliti memperoleh data dari responden melalui wawancara mendalam dengan menggunakan model analisis kualitatif. Sumber Data. 2.Tahap pengumpulan data dengan wawancara mendalam dilakukan perekaman menggunakan alat bantu MP3 recorder dan catatan lapangan sehingga data dapat terkumpul dengan baik.

d. Transkrip dibuat langsung setelah proses wawancara mendalam. Hal ini dilakukan berulang-ulang untuk mendeskripsikan situasi percakapan yang sesungguhnya. informasi diinterpretasikan dan disajikan secara narasi. Apabila terdapat pemaknaan yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori yang sudah ada maka dibuat kategori yang baru. Transcribing Peneliti melakukan pembuatan transkrip dari hasil wawancara mendalam. dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh dapat didokumentasikan dan tidak ada informasi penting yang hilang. Pengikhtisaran atau tabulasi Peneliti melakukan pengikhtisaran atau membuat tabel data tiap butir instrumen dari para responden yang dibuat dengan mengelompokkan jawaban. peneliti mencoba mengidentifikasikan beberapa kategori berdasarkan pedoman wawancara mendalam sehingga ketika memasuki proses . responden. Reduksi data Peneliti melakukan pemilihan. Comparative atau perbandingan Peneliti melakukan langkah ini berkali-kali sehingga menemukan kategori yang lebih luas. situasi. b. dan transformasi data kasar yang muncul dari hasil wawancara mendalam dan catatan-catatan tertulis di lapangan.a. Untuk memudahkan proses. pengabstrakan. selanjutnya dikelompokkan ke dalam satu kategori. penyederhanaan. Berdasarkan tabel. dan lain-lain secara keseluruhan. Deskripsi tersebut berdasarkan interpretasi peneliti terhadap transkrip. c. Pembuatan transkrip dilakukan setelah peneliti memperoleh informasi dari responden dengan cara memutar ulang rekaman kaset hasil percakapan responden dengan peneliti.

yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan kesimpulan penelitian ini. Tabel-tabel yang berkaitan diinterpretasikan hubungannya. Langkah ini dilakukan untuk menghubungkan antara kategori sehingga terbentuk suatu kerangka konsep atau suatu penjelasan yang komprehensif mengenai fenomena yang dapat ditangkap oleh penulis. Dan dalam penelitian ini triangulasi dilakukan kepada keluarga. Perumusan pernyataan konklusif Peneliti merumuskan pernyataan-pernyataan konklusif terhadap tiap rincian masalah penelitian atau tujuan-tujuan khusus. Validitas dan Reabilitas Data Uji validitas dimaksudkan untuk meningkatkan validitas tampilan dari sesuatu yang akan diteliti melalui uji coba dapat diketahui adanya pertanyaanpertanyaan yang benar-benar mengukur dari yang hendak diukur. Uji validitas yang dilaksanakan pada penelitian kualitatif disebut triangulasi. meliputi persamaan dan perbedaannya. Cara ini baik untuk mengurangi bias yang melekat pada satu metode dan memudahkan melihat keluasan penjelasan yang memudahkan. lalu diinterpretasikan makna data antar tabel.tinggal mencocokkan dengan kategori yang ada. Tehnik . Dengan triangulasi tehnik ini merujuk pada pengumpulan informasi atau data dari individu dan latar belakang dengan menggunakan berbagai metode. e. tetangga dan teman penderita kusta. H.

pemeriksaan keabsahan data dengan triangulasi dapat dilaksanakan melalui sumber data, metode dan teori. Peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, pengamatan dan dokumentasi.
(30)

Interview

dilaksanakan untuk mengetahui opini, persepsi, penilaian dan ingatan responden tentang pengalamannya (28) Realibilitas (keterandalan) pada penelitian kualitatif dapat dicapai dengan melakukan auditing data, hal ini dapat dilaksanakan dengan cara data hasil wawancara di tulis dan dikelompokkan sesuai dengan gambaran variabel yang dilihat pada penelitian. I. Keterbatasan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2008 di RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian ini tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Adapun kelemahan dan keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam untuk memperoleh gambaran faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Karena banyaknya faktor yang melatar belakangi persepsi maka penulis membatasi dan hanya meneliti faktor karakteristik, faktor internal, faktor ekternal, faktor kemudahan

kemungkinan terkena penyakit, faktor kegawatan penyakit, faktor manfaat berperilaku positip dan faktor risiko berperilaku negatif, karena faktor-faktor ini berpengaruh besar terhadap persepsi penderita kusta.

2. Pengumpulan

data

melalui

wawancara

mendalam

dengan

menggunakan banyak pertanyaan, membutuhkan waktu yang lama hal ini membuat responden jenuh,sehingga dimungkinkan adanya

subyektivitas jawaban. Untuk mengatasinya dilakukan triangulasi dengan melakukan cros chek pada suami, ayah, paman, tetangga dan teman penderita kusta.

3. Responden sangat tertutup terhadap penyakitnya, sehingga wawancara mendalam yang dilakukan sering mendapatkan jawaban yang singkat.

4. Responden sangat keberatan apabila penulis datang kerumahnya, ini mempersulit penulis dalam melakukan cross cek terhadap keluarga, tetangga dan teman penderita, sehingga penulis melakukan cross cek di RSUD Tugurejo dengan mendatangkan keluarga, dan penulis hanya mendapatkan 5 (lima) Informan sebagai cross cek.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo. RSUD Tugurejo merupakan Rumah Sakit kelas B milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di Semarang bagian barat , dalam pelayananya RSUD Tugurejo menyediakan 23 poliklinik diantaranya poliklinik khusus penyakit kusta. Tenaga yang melayani pasien berobat ke RSUD

Tugurejo meliputi : 32 dokter spesialis, 24 dokter umum, 7 dokter gigi, 3 apoteker, 1 psikolog, 60 tenaga medis, 268 tenaga keperawatan dan kesehatan, dan 138 tenaga non medis. Produk unggulan RSUD Tugurejo adalah sebagai

Adapun jenis kelamin dan asal penderita yang berobat ke poliklinik kusta tersebut bisa dilihat berikut ini : Penderita. pelayanan kusta dan sebagai pusat penanganan krisis perempuan dan anak (PPKPA). Tegal dan daerah lain sekitar Semarang kemudian 1. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut dengan Informan.952 (67%) berasal dari luar Semarang yaitu Jepara. ini digunakan sebagai faktor triangulasi.120 (71%) sedangkan perempuan berjumlah 1. Kaliwungu. poliklinik kecantikan. pekerjaan.428 (33%) berasal dari Semarang. Blora.pusat diagnostik. Adapun karakteristik responden meliputi jenis kelamin. paman.380 pasien. ayah. laki-laki berjumlah 3. Purwodadi. Pekalongan.260 (29%). mengambil responden sebanyak 8 (delapan) orang penderita kusta dan 5 (orang) yang terdiri dari suami. masing-masing berjumlah . Weleri. 29 tahun dan 55 tahun. status pekerjaan dan lama menderita disajikan sebagai berikut : 1. B. Adapun tempat tinggal penderita 2. Karakteristik Responden Penelitian mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ini. pendidikan. Kendal. Pati. Umur dan jenis kelamin responden Karakteristik responden berdasarkan umur diketahui bahwa responden berumur 14 tahun. 23 tahun. jumlah kunjungan penderita kusta pada tahun 2007 ada sebanyak 4. Demak. umur. Sebagai pusat rujukan dan pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah.

000. Melihat hasil jawaban responden mengenai penghasilan rata-rata perbulan responden tidak sama. lulus SD dua orang dan satu orang tidak lulus bersekolah 3.per bulan dan sebanyak dua orang berpenghasilan antara Rp. 4. responden menyatakan telah menderita selama lima bulan sebanyak satu orang. Umur Informan masing-masing 24 tahun.000 – Rp.500. 30 tahun. 33 tahun. lulus SMP dua orang. Pendidikan responden Dilihat dari latar belakang pendidikan responden. Adapun karakteristik informan sebagai faktor triangulasi adalah sebagai berikut : Informan berjumlah lima orang.perbulan.1.satu orang dan umur 33 tahun serta 45 tahun masing-masing 2 dua orang.000. satu responden berpenghasilan kurang dari Rp. sebanyak lima orang tidak bekerja.000. 44 tahun . 35 tahun. selama kurang lebih dua tahun sebanyak empat orang dan masing-masing satu orang telah menderita kurang lebih tiga tahun. empat orang berjenis kelamin laki-laki.500. dari tiga orang yang bekerja. empat responden telah menikah dan empat lainnya tidak menikah. enam tahun dan lebih sepuluh tahun. Responden berdasar lama menderita penyakit kusta.. adapun sebagai Pegawai Swasta ada sebanyak dua orang dan sebagai petani satu orang. Responden berdasarkan status nikah Dari delapan responden. Jenis kelamin responden sebagian besar laki-laki sebanyak lima orang 2. diketahui bahwa lulus SMA sebanyak tiga orang. 5. Berdasar lama menderita penyakit kusta. Pekerjaan responden Responden berdasarkan jenis pekerjaan.

Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta didefinisikan sebagai proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib.. 2 orang mengatakan bahwa.dan 46 tahun. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa pandangan responden terhadap apa yang dilakukan keluarga atau masyarakat mengenai stigma penyakit kusta terhadap responden. faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. didapatkan jawaban yang bervariasi. Pendidikan lulus SMA berjumlah tiga orang. Status pekerjaan bervariasi yaitu pegawai BUMN. tidak bisa bekerja. lulus SMP dan lulus D3 masing-masing satu orang.. keluarga menganggap biasa saja terhadap penyakit yang diderita responden. hal yang memalukan. C. .. pegawai negeri dan pegawai swasta. Dari 8 (delapan) responden dengan karakteristik yang berbeda.Saya merasa bersalah. 1. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. tukang kayu. was-was jika tubuh saya jadi cacat pasti tetangga menjauhi saya. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. Dari delapan responden semuanya menyatakan masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta. dagang. Sedangkan yang lainnya mengemukakan bahwa keluarga merasa was-was karena penyakit yang diderita responden.. saya takut ketahuan tetangga nanti pasti dikucilkan.keluarga nggak mau datang ke rumah. Seperti yang dikemukakan berikut ini : Kotak 1 .

. ..Keluarga merasa syok takut. keponakan. malu pada teman . untuk mengetahui lebih lanjut dapat dilihat dari beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 2 .. (responden menangis).masyarakat juga biasa saja nggak tau kalau saya kena lepra.2..Orang tua berfikir positip. masyarakat tidak tau saya sakit.. adik biasa saja. .3... rumah dan isinya habis untuk biaya berobat tapi tidak sembuh.. dikira saya kencing manis tidak bisa sembuh dan sekampung saya sendiri yang kena begini.. anak. sebagian besar menjawab orang-orang dilingkungannya tidak mengetahuinya kalau responden menderita kusta. tetangga atau teman menderita kusta.. sedang teman penderita karena tidak mengetahui tentang penyakit temannya.. tetangga bilang kena sengkolo.7.. kulo kenging lepra kering dados mboten ketingal.takut dijauhi kalau orang-orang tau.... Tidak tau kalau istri saya kena kusta. Masyarakat tidak tau. taunya sakit saraf karena kami berobat ke dokter saraf sampai habis-habisan.. R 1...6.Keluarga tidak menolak.. penulis tanyakan tentang pendapat teman-teman dilingkungan penderita bekerja.... .... masyarakat tidak tau.4..Takut. terutama ibu. sekarang ini kami kontrak bu tapi saya bersyukur pengobatan di sini gratis dan istri saya sudah sembuh walau belum seratus persen.. tetangga tidak tau. Biasa saja. . . memberi semangat pasti sembuh.Biasa saja.Saya tidak pernah bilang kalau saya kena kusta... ..(responden menangis sampai lama).5. .8 Keterangan : R = Responden Lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang pendapat orang-orang dilingkungan penderita setelah mengetahui istri. .

5 Dengan mulainya wawancara mendalam bertanya tentang penyakit temannya. seperti jawaban yang diberikan dibawah ini : Kotak 4 . I. Dia orangnya enthengan bu..2. tidak pernah cerita. Teman-temannya taunya ya sakitnya itu karena salah obat. Sebetulnya sakit apa bu? I.. walaupun jawaban yang diberikan bervariasi tetapi intinya semuanya mengutarakan.. maka tidak penulis lanjutkan. seperti alergi seluruh badannya. jadi kalau mondok begini kasihan istri dan anaknya... karena lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta maka tidak ada perubahan apapun terhadap penderita. taunya kalau ke rumah sakit ya kontrol ke dokter saraf. Dari hasil wawancara mendalam tentang apa yang dilakukan dan pendapat orang-orang dilingkungan penderita... Dia itu pendiam. Selama ini biasa saja mungkin karena tidak tau dia kena kusta. Teman sekolahnya tidak ada yang tau dan saya meling tidak usah diberi tau.. 1.. ini semua karena Privacy penderita dan penulis tidak mengharapkan terjadi hal-hal di luar penelitian ini... di kerjaan dia baik.3 4 Keterangan : I = Informan Sedangkan teman penderita mengungkapkan bahwa penderita seorang yang baik dengan siapa saja dan mulai bertanya-tanya tentang penyakit temannya itu. tidak pernah keluar rumah. . . . Masyarakat tidak tau. seperti kutipan dibawah ini : Kotak 3 .

karena belum tau bu.. kasihan ya kalau pada tau.3. nggak tau kalau sekarang sudah tersebar. tapi tidak seperti sebelum sakit. Biasa saja.. mungkin malu karena wajahnya jadi seperti itu. membaca apa saja. tapi ya beda seperti saat belum kena dulu.. R 1. orang tuanya sering menyuruh untuk datang tapi ya.2. Sering rewang-rewang. temannya ya masih pada main kerumah kegiatan ya masih mengikuti. menunjukkan bahwa lingkungan/tetangga tidak melakukan perubahan sikap terhadap penderita. lebih lanjut dapat disimak tanggapan Informan mengenai. I. 1. didapatkan jawaban bahwa lingkungan / tetangga penderita menanyakan bukan karena penyakit kustanya tetapi seperti di ungkapkan dibawah ini : Kotak 5 . apa masih kontrol ke dokter saraf ? . 4 Untuk mengetahui apakah stigma ini muncul dari masyarakat ataukah dari penderita sendiri. .4 Melihat tanggapan pada kotak 5. jadi biasa saja.. kadang saya perhatikan pandangannya kosong. taunya salah obat. tindakan apa yang masyarakat lakukan terhadap penderita dan dari ungkapan tersebut. dia sukanya diam saja di rumah.... kegiatan remaja sering mendapat undangan tetapi tidak mau datang.Sebetulnya seperti kegiatan karang taruna.masih ... Masyarakat tidak tau kalau sakit kusta.3. dia juga sering ikut kegiatan masjid di kampung. Biasa saja. mereka tidak tau. sekarang agak pendiam.2.. Waktu itu kan belum tau.. sekarang agak pendiam dan agak malas-malasan kalau ada kegiatan...hanya dia tidak mau keluar rumah. ..bantu... dia tidak mau kuliah lagi. . disuruh bantu. Tetangga sering bertanya : sudah sembuh belum.sebetulnya masyarakat tidak apa-apa. .

.3. seperti ini bu. .. Kesekolah saya selalu pakai seragam panjang.. kalau omongomong dengan tetangga saya seperlunya saja. tapi saya banyak tidak datangnya.2. tetap ikut kegiatan di kampungnya dan responden yang masih bersekolah selalu memakai baju lengan panjang. . saya malu bu. tiga responden melakukannya dengan tetap bekerja. jarang ngrumpi kalih tonggo. satu responden dengan membatasi diri dan responden lain dengan diam saja (tidak melakukan tindakan apapun).1. saya pilih tidak ketemu orang-orang.7 Adapun perbedaan cara dalam menanggulangi cap buruk ( stigma) oleh responden dikemukakan sebagai berikut : Kotak 7 .. ada undangan sering dipaksa bapak datang.mengikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan di kampungnya. ada kegiatan yen purun nggih dateng. . selesai langsung pulang. saya sering pakai jaket karena dilengan saya ada fleknya. arisan biasanya saya titip saja.. . R.... akan tetapi penderita sendiri yang tidak mau untuk mengikuti kegiatan tersebut. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta dapat dilihat dari beberapa tanggapan responden berikut ini : Kotak 6 . Adapun mengenai bagaimana cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta.Dirumah terus. Kulo mendel mawon. saya agak membatasi diri biar tetangga tidak tau.

Dari hasil jawaban terhadap responden mengenai pendapat apakah penyakit kusta dapat menular ke semua orang terlihat bahwa sebagian besar menjawab ”bisa” menularkan dan sebagian lagi menjawab ”tidak” menular dan seorang menjawab tidak menular juga bukan merupakan penyakit keturunan seperti di ungkapkan berikut ini : Kotak 8 ... kalau tidak datang justru jadi omongan orang. sudah dislameti ya tidak sembuh-sembuh.. . Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor.. ikut kegiatan dikampung... penyakit ini juga bukan keturunan . Saya tetap bekerja walaupun kadang-kadang saya tidak PeDe.5 2.. biar saya tidak kelihatan kalau sakit kusta.kata orang-orang saya kena sengkolo. tapi tetap saya jalankan.. gejalanya persis seperti saya dan saat ini ibu tangannya sudah cacat. ada kerja bakti. tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. Tidak.. ibu saya juga kena. Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu meliputi.2. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. . R 4.. antara lain : faktor sumber penularan yaitu penderita.6 . Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. sak kampung mung kula thok. R 7.. Bisa. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. . Penyakit kusta adalah penyakit menular. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1). ada kumpulan kampung saya tetap datang. Mboten.

. fisiknya berubah dan katanya bisa menular.. . Berikut kutipan sebagian jawaban responden : Kotak 9 . kados panu ning saged dados berat.sekampung hanya saya saja yang sakit kados niki. satu orang menyatakan.. Tidak tau bu. . kurang resikan. dua responden menyatakan bahwa orang yang kebersihannya kurang dan kondisi kesehatannya menurun. Kotak 10 .5 Kemudian persepsi responden mengenai orang yang seperti apa yang mungkin terkena penyakit kusta. penyakit kusta adalah penyakit kulit dan satu orang menjawab penyakit kusta adalah penyakit yang bisa membuat cacat. Penyakit seperti alergi.. satu responden berpendapat bahwa orang yang golongan darahnya sama dengan penderita yang bisa tertular penyakit kusta.. ...2.. ringkih. Penyakit yang tangan dan kakinya bisa mrotholi I.Selanjutnya hasil wawancara mendalam terhadap Informan tentang persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit dengan pertanyaan apa yang anda ketahui tentang penyakit kusta sebagian besar mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular. R 2. kondisinya jelek..1 . dari hasil jawaban ternyata sebagian responden tidak mengetahui tentang ciri atau kriteria orang yang mungkin terkena penyakit kusta. 3. kemproh.. Orang yang jorok. Penyakit kulit.

. satu responden menjawab penyakit kusta menular melalui udara dan terdapat satu responden yang menjawab bahwa jika bersinggungan dengan penderita kusta akan tertular penyakitnya seperti di ungkapkan sebagai berikut : Kotak 13 . dua orang menjawab. berikut kutipan jawaban : Kotak 12 . kurang perhatian kebersihan. 1. kondisinya drop.. orang yang kondisi kesehatannya menurun dan kurang menjaga kebersihan . Orang yang jorok dalam hidupnya. 4 Demikian juga hasil wawancara terhadap ke lima Informan sebagai faktor triangulasi mengenai orang yang bagaimana yang bisa tertimpa penyakit kusta.. Orang yang peduli kesehatan tidak akan ketularan. I..4 Sedangkan cara penularan penyakit kusta menurut responden. ...Selain itu menurut Informan mengenai. sebagian besar menjawab penyakit kusta bisa menular ke semua orang dan hanya tetangga penderita menjawab penyakit kusta tidak bisa menular seperti berikut ini : Kotak 11 . sebagian besar mengatakan tidak mengetahui tentang penularan penyakit kusta. Tidak menular. apakah penyakit kusta dapat menimpa semua orang / orang lain didapat jawaban bahwa. bersinggungan dengan orang kusta yang pada kulitnya terdapat . Ringkih.. I..

Didapat jawaban bahwa. tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. lha pripun yen bobok kalih ibune.. anak saya sering kontak langsung dengan ibunya. adanya rasa kesemutan. adanya kecacatan. adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan mengenai kegawatan penyakit kusta dengan pertanyaan. gangguan gerak anggota atau bagian muka. adanya luka yang tidak terasa sakit dan juga terjadinya reaksi akibat penyakit kusta. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit.benjolan-benjolan seperti udunen. Katanya petugas. 2 3. Kemudian untuk tanda – tanda tersangka kusta diantaranya adanya kelainan kulit berupa bercak yang tidak terasa/mati rasa berwarna merah atau putih.. penularan penyakit kusta bisa melalui udara dan lainnya mengatakan kontak langsung dengan penderita bisa tertular penyakit kusta seperti tanggapan ayah penderita berikut ini : Kotak 14 . R5 Adapun berdasarkan wawancara terhadap Informan mengenai cara penularan penyakit kusta. benjolan di kulit. tetangga penderita mengatakan. sebagian . bisa ketularan penyakit kusta. dan golongan darahnya sama. apakah penyakit kusta dianggab penyakit yang berbahaya? Apa alasannya ?. I.

. itu cina ada yang sampai mrotholi. untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegawatan penyakit kusta dapat dilihat dari beberapa pendapat berikut ini: Kotak 16 . Tidak. kan bahaya bu. .. .. badan sakit semua. karena bisa menular ke orang lain. Ya.3. karena gejala yang muncul sangat berat.. merubah fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. keluarga .. karena kalau minum obat akan sembuh. badannya sakit semua. tidak banyak yang tau tentang penyakit kusta... .2.. Sangat berbahaya. proses penyembuhan lama...7. tidak bisa aktifitas. Berbahaya. lemes.. . Sangat berbahaya. panas dingin.. . R 1. Ya. bisa menular.. Ya.. telat minum obat kumat. cacat tidak bisa bekerja. menakutkan karena fisiknya berubah. tidak bisa bangun. dada keder. bisa prothol – prothol. gejala-gejala yang muncul itu menakutkan. keringat dingin.ini hidung saya jadi hilang bu. . Ya. Ya.. penyakitnya akan hilang.4...8 Selanjutnya mengenai Persepsi terhadap kegawatan penyakit menurut Informan adalah.. adapun jawaban dari responden tersebut bisa disimak seperti berikut : Kotak 15 . Tidak berbahaya kalau minum obat akan sembuh.. kusta menakutkan. rasanya tak karuan.. semua menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat.5. mambu.besar responden menyatakan penyakit kusta menimbulkan bahaya dan sebagian menyatakan bahwa penyakit kusta tidak berbahaya.6.. banyak yang salah berobat. . kata ibu saya kalau kumat badan sakit semua. ibu saya sering sampai nangis kalau kumat.

Penyakit kusta menyiksa lahir batin.4. keluarga dan teman-temannya (7) . merusak mental. … Ya. Penyakit kusta merusak fisik. Mencermati jawaban responden mengenai seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta .bisa kena semua. 5 Penyakit kusta menimbulkan masalah yang sangat komplek. .. kulitnya mlepuh – mlepuh seperti kena api. kecacatan yang berlanjut dan apabila tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang baik akan dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. mrotholi. . terisolasi dari masyarakat. kusta berbahaya makanya saya periksa terus. dua responden menjawab kusta bahaya. dari delapan responden terdapat empat diantaranya menyatakan bahwa bahaya penyakit kusta bisa menimbulkan kecacatan. wajah berubah menjadi menakutkan. kadang orang melihat saya seperti takut.. tidak berobat badan sakit semua. Saya takut mati.. panas dingin badan sakit semua akan muncul lagi dan satu responden tidak mengetahui tentang seberapa besar bahaya yang timbul karena penyakit kusta... . merusak fisik.ya bahaya bu. bisa membuat cacat di tubuhnya. Kemudian responden lain berpendapat bahwa kusta kalau kumat (kambuh) gejala-gejala disebutkan seperti lemas. tangan-kakinya rusak tidak bisa untuk bekerja. I. kalau saya lihat yang periksa bareng saya tangannya putus-putus. mental dan menyiksa lahir batin. Wah.. kalau minum obat badan enak. terus terang saya sangat depresi . Untuk jawaban-jawaban responden tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini : Kotak 17 ... 1..

. drodog badan saya tidak ada daya. kusta kering rasanya senutsenut sakit sekali bu. 2 Untuk wawancara mengenai persepsi penderita tentang apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian didapatkan jawaban. penyakit kusta tidak bisa mengakibatkan kematian.. 1. . rasanya sepeti itu. saya mikir apa saya mau mati soalnya jantung keder terus.. cekot-cekot..5. wajahnya menakutkan. Wah. kalau gak ke Tugu (RSUD. anak saya banyak bu. menurut Informan sebagian besar mengatakan bahaya penyakit kusta selain menular. empat semua dekat dengan ibunya.2.8 Kemudian seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta. bagaimana ya bu. Saya takut kalau istri saya cacat. Bisa.Tugurejo) mungkin saya sudah meninggal.5.3.. waktu itu saya sudah mutung berobat kemana-mana tidak sembuh sampai habishabisan. Tidak membunuh tapi merusak fisik.. .4. Dibawah ini kutipan jawaban dari beberapa responden : Kotak 19 .. Kusta basah bisa sampai mrotholi.. rumah dijual untuk berobat. . Ibunya kalau kumat badannya sakit semua.. anak-anak ketularan.. ya berat bu.. Yaitu bu bisa jadi cacat. I... sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian dan sebagian kecil responden mengemukaan pendapat. . Kalau kumat lemes.. Beberapa jawaban dapat dicermati berikut ini : Kotak 18 . .. panas dingin. R 1. jadi saya kawatir kalau mereka tertular penyakit ini. bisa membuat cacat dan satu orang mengungkapkan kalau kambuh badannya sakit semua.

pada anggota gerak) b. Kalau kematian InsyaAllah tidak. Ya. … Tidak menyebabkan kematian. Kecacatan Primer yaitu kecacatan langsung yang disebabkan oleh aktifitas penyakitnya. Bisa.. hanya bisa merusak fisik. jenis kelamin). panas tinggi dan tidak ada obatnya. pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama dan faktor pekerjaan (penderita yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat). kematian ditangan tuhan.2..4.5. I. Kecacatan sekunder yaitu kecacatan yang disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan kelumpuhan.5 Kecacatan akibat penyakit kusta dipengaruhi oleh beberapa faktor. . seperti dikemukakan dibawah ini: Kotak 20 . menurut kula wong sehat mawon bisa mati nggih.3.. R 1. antara lain : Faktor yang berhubungan dengan penderita sendiri (umur. Tidak bisa. kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat kuman kusta).. Cacat ini terbentuk akibat salah .. Adapun kecacatan dibagi menjadi : a. bisa sembuh kalau berobat.8 Selain itu menurut persepsi Informan mengenai apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian.. .. kalau berobat terus ya sembuh.. 1. didapatkan jawaban bahwa penyakit kusta tidak menyebabkan kematian. ( pada wajah.4.3. saat pertama kena penyakit ini saya sempat koma. faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit)..

2. . . ini (menunjuk sepanjang tungkai kanan) tidak terasa lho bu..3. Bisa. Bisa.dalam aktifitas atau tidak pernah digunakan (disuse) bisa juga karena adanya infeksi sekunder.7 Sedangkan mengenai kecacatan. itu orang cina yangbarengan periksa dengan saya.. tangan saya sudah mati rasa. kuping saya memanjang karena penyakit ini. penyakit kusta bisa mengakibatkan kecacatan pada tubuh penderita. Bisa.. katanya awalnya cacat karena tidak terasa. kalau ngantar ke Tugurejo saya sering omong-omong dengan pasien lain. R 1.. lha niku bojo kula (ibunya penderita) ngertos-ngertos tangane ngeten ( jari-jarinya kithing) . luka tidak sembuh-sembuh terus diamputasi .5. menurut Informan. tangan saya kithing tidak terasa. Ya. Tanggapan responden terhadap pertanyaan apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan mendapatkan hasil bahwa semua responden menjawab ”bisa”.. semua menyatakan bahwa penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan berikut ini : seperti di ungkapkan Kotak 22 ... seperti tetangga saya. kaki saya luka. Ya.4. tangan dan kakinya cacat. kata pasien yang barengan kontrol. berikut ini kutipan tentang jawaban responden : Kotak 21 . .. kemarin kena air panas tidak terasa. Ya.. keponakan saya ini tangannya sudah tidak nornal lagi. saya takut cacat... tangan dan kakinya mrotholi semua. kakinya cacat awal-awalnya luka seperti ini (menunjuk luka dikaki) . ini wajah saya sudah mulai cacat.. kaki. . wajah. Ya. Bisa. Bisa.... semua badannya cacat. saya sampai saat ini ada rasa takut cacat. kaki saya cacat. ... tangan istri saya perasaannya berkurang.

bukan penyakit turunan/kutukan. Dengan matinya kuman maka sumber penularan dari penderita ke orang lain terputus. capek. pernah telat kontrol timbul lagi gejala seperti dulu. pengobatan hanya dapat mencegah cacat lebih responden menyatakan penderita kusta harus berobat secara rutin karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. keluar benthol-benthol. Penderita yang sudah dalam keadaan lanjut. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip yaitu perilaku berobat penulis tanyakan dengan bagaimana menurut pandangan anda apabila penderita kusta diharuskan berobat secara rutin dalam waktu yang lama dan harus minum obat setiap hari? Apa alasan dari jawaban tersebut? Semua cacat permanen. Dulu kena air panas gak terasa sekarang jadi cacat. 1.. 3 4. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. Penyakit kusta dapat diobati. Setuju.. Baik apabila berobat.2. setelah minum obat saya tenang bu. karena kalau tidak berobat bisa kumat (kambuh) .. sebagai berikut : Beberapa jawaban responden diungkapkan Kotak 23 . I. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit jadi kurang aktif sampai akhirnya hilang. ..cacat.

Ya.... R 1....2. Saya ngomong pada orang tuanya untuk berobat sampai sembuh dan saya akan selalu membantu ngantar keponakan saya berobat ke tugu. Harus berobat ke RSUD Tugurejo karena ahlinya ada di Tugurejo.6.8 Adapun menurut persepsi Informan apabila menderita penyakit kusta. Harus berobat terus. kusta kan bisa menular. 4 Untuk mendapat jawaban dari teman penderita. Ya harus berobat kesini (RSUD Tugurejo) karena di Jateng pusatnya disini.3. jangan-jangan juga sakit kusta... biar sembuh total.. diharuskan rajin menjalani pengobatan seperti pernyataan dibawah ini : Kotak 24 . ..4. kalau tidak berobat sakit lagi. kalau telat berobat ya kambuh lagi .3. Harus diobati. Harus bu.5. kadang-kadang jenuh. penulis mengalami kesulitan karena teman penderita belum mengetahui kalau teman yang diantar berobat menderita kusta. Baik.. bagaimana pendapat anda setelah mengetahui teman anda menderita kusta? Berikut kutipan jawaban dari teman penderita kusta : Kotak 25 . Harus.. 1.. Perlu berobat rutin... I. . sehingga selalu penulis awali dengan seandainya teman anda sakit kusta. keluar benjolan-benjolan. biar nggak kumat. terawat. . . ibu saya kalau obat nya telat badannya sakit semua... . kalau obatnya telat sering reaksi lagi. .. . dikamar terus....dan saya telpon bapak saya untuk mengecek di rumahnya karena saya tau neneknya juga sakit tapi nggak pernah keluar.7.

3 Dalam pencegahan kecacatan. minum obat. sehingga penderita harus bisa melakukan perawatan diri dengan rajin agar cacatnya tidak bertambah berat.. Melakukan perawatan diri. Melindung mata.. penderita kusta perlu mendapatkan pendidikan dan tindakan perawatan diri. tidak kelelahan. tidak cacat. R 1. hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh seorang penderita kusta dan alasan dari jawaban yang diberikan. tidak stres. Karena penderita kusta seperti saya ini sebetulnya masalah yang paling berat ”saya down sekali”.I. tangan dan kaki dari trauma fisik. c. Kekeringan pada kulit akan mengakibatkan luka-luka kecil yang bisa terinfeksi. vaslin atau hand body lotion) yang berfungsi untuk menjaga kelembaban kulit. sebagian . Seperti dikemukakan sebagai berikut : Kotak 26 . Penderita harus mengerti bahwa pengobatan kusta sudah / akan membunuh bakteri kusta tetapi kecacatan yang terlanjur terjadi akan menetap seumur hidupnya. Tenang. tangan dan kaki secara teratur. b. tidak hanya fisik yang diobati. Dalam hal perawatan diri didapat beberapa jawaban responden.. Sebagian besar responden menjawab pertanyaan dengan jawaban ”berobat” biar sembuh. sedangkan dua responden menjawab dengan berfikiran tenang. terapi mental sangat diperlukan. untuk mencegah maka perlu mengolesi dengan minyak ( minyak kelapa. . Prinsip pencegahan bertambahnya cacat pada dasarnya adalah 3M : a.. Memeriksa mata. tidak stres dan satu responden perlu dilakukan terapi psikologi. 5 Selanjutnya mengenai persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Perlu terapi psikologi.

tapi kalau tidak ada ya nggak perlu bu.. Untuk mencegahnya maka : . Tidak semua. Adapun untuk kaki yang mati rasa. memar atau lecet sekecil apapun.. berjalan terlalu jauh atau cepat. karena kulit kering kadang sampai pecah. kasar ataupun tajam dengan memakai kaos tangan tebal atau alas kain. tidak perlu menggunakan pelembab kalau tidak ada benjolan-benjolan dikulit. Jika ada luka. Berikut kutipan jawaban dari dua responden : Kotak 27 .basar responden menjawab dengan harus mengoles pelembab di tangan dan kaki agar kulit tidak kering. jongkok yang lama dan sebagainya. Tekanan tinggi ataupun lama berdiri terlalu lama tanpa gerak. Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi tangan yang mati rasa. benda-benda tajam. gesekan dari sepatu/sandal yang terlalu besar ataupun kecil. . kaki bisa terluka oleh : Benda panas. kalau ada benjolan-benjolan iya harus pakai pelembab. dari RS Tugu saya diberi vaslin.. gesekan dari alat kerja dan pegangan yang terlalu kuat pada alat kerja.. bisa terluka oleh : benda panas. rawatlah dan istirahatkan bagian tangan sampai sembuh. R 4. Untuk mencegah terjadinya luka ditangan maka : Perlu melindungi tangan dari benda yang panas. batu dalam sepatu dan lain-lain. dari RSUD Tugurejo diberi vaslin sebagai pelembab dan satu responden menjawab. Seringlah berhenti dan periksa tangan dengan teliti apakah ada luka atau lecet yang sekecil apapun. Harus pakai.8 Selain itu untuk tangan yang mati rasa. benda tajam.

setiap hari. karena luka bisa jadi cacat... . . apakah terdapat luka baru . kalau ada luka terus disalep. biar tidak ”mbabrak-mbabrak” . Sering berhenti dan memeriksa kaki dengan teliti apakah ada luka atau memar atau lecet yang kecil sekalipun. pasien bapak-bapak tadi lukanya sampai bau mungkin nggak pernah diperiksa.. Kalau ada luka.7. Hal ini penulis tanyakan dengan melakukan wawancara tentang bagaimana menurut responden apabila setiap hari responden diharuskan memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak.5... nek wonten luka ngertos. Ya. Ya. langsung rawat dan istirahatkan kaki (jangan sekali-sekali diinjakkan). Ya. Ya.. biar sembuh. diobati.. Ya.. Ya. ..8 Mencermati jawaban diatas menurut responden. Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi kaki yang mati rasa..2.karena kulit saya mati rasa kalau ada luka saya sering tidak tau karena tidak sakit. biar tidak putusputus.4..3. setiap hari saya periksa badan saya. Ya. Ya. ada luka ya langsung diobati.. .wong niki mboten kraos.6. saya takut luka-luka itu menulari anak-anak saya.... memar atau lecet kecil. setiap hari penderita kusta diharuskan memeriksa anggota badannya.. .. R 1.. .. korengnya harus dilihat setiap hari.Lindungi kaki dengan selalu memakai alas kaki. Berikut kutipan jawaban dari responden : Kotak 28 .

tetapi cacat itu tidak kelihatan. tangan atau kaki tetap utuh. Kecacatan pada kusta dapat terjadi lewat dua proses yaitu infiltrasi langsung kuman kusta ke susunan saraf tepi dan organ (misalnya mata) dan melalui reaksi kusta. Sayangnya. ada tiga macam fungsi saraf 1) fungsi motorik memberikan kekuatan pada otot (otot gerak). 2) fungsi sensorik memberi rasa raba dan 3) fungsi otonom mengurus kelenjar keringat dan kelenjar minyak (berhubungan dengan kekeringan kulit). WHO membagi tingkat cacat kusta segabai berikut : Tingkat cacat 0 : jika mata. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga. mata tidak bisa menutup erat.atau tidak. orang yang cacat akibat kusta ” dicap” seumur hidup sebagai ”penderita kusta” walaupun sudah sembuh dari penyakit. jari kithing. Tingkat cacat 2 : jika kalau ada cacat akibat kerusakan saraf dan cacat itu kelihatan (borok luka. tangan atau kaki akibat kerusakan saraf karena penyakit kusta. . Kusta merupakan masalah kesehatan masyarakat karena cacatnya. lunglai. responden merasa takut lukanya bisa menular pada keluarganya . Tingkai cacat 1 : jika ada cacat pada mata. responden memeriksa anggota badannya agar lukanya tidak menimbulkan cacat dan responden mengetahui kalau ada luka sehingga bisa cepat diobati supaya tidak tambah berat/menjalar. luka pada cornea mata. Proses terjadinya cacat kusta tergantung dari fungsi saraf. Cacat kusta terjadi akibat gangguan fungsi saraf pada mata. pemendekan. Sementara sebenarnya hampir semua cacat dapat dicegah. tangan atau kaki. apabila terjadi luka baru tidak terasa sakit.

8 Dengan melihat hasil dari jawaban semua responden.3. Iya.. kakinya cacat karena tidak pernah merasa tau-tau cacat. persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan.7..5. ”semper ” jalannya pincang. terus . .Adapun dalam menggali persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. saya takut seperti orang kusta yang lain tangan dan kakinya cacat. Ya bu.. R 1. keset nggih mambu. Iya. Ya. ning cina niku harus diperiksa setiap hari.. luka tak sembuh-sembuh diamputasi. Iya bu. langsung bisa di obatke. dibawah ini merupakan pandangan dari masing-masing responden dalam pencegahan cacat kusta : Kotak 29 . menularkan. cacat dan sebagai sumber penularan . jari saya ada yang memendek.... .. menyatakan perlunya memeriksa kelainan atau kecacatan dibadannya setiap hari karena takut kecacatan tersebut berlanjut menjadi lebih parah. sepertinya ngga ada tanda-tanda tau-tau tangan saya ”kithing”. ben mboten kesuwen. 5. Karena badan saya seperti orang beri-beri saya takut kalau sewaktu-waktu terjadi cacat. nek kula mboten onten cacat..6.2.. Nggih. . Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip. takut ”mrotholi” tangannya.. Iya..4. Ya... . perasaan takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah.cerita pasien yang bareng saya antri tangannya cacat... . ini kaki saya cacat . .

. nongko. R1. boleh makan daging . akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. Tidak diperbolehkan makan saos.duren. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. nangka.. semangka.5 Sedangkan pandangan responden jika melihat penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu didapat jawaban. tape. sprit (alkohol).. penderita yang mengucilkan diri karena malu dan penderita yang tidak mau berobat. Dalam penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta penulis melakukan wawancara mendalam mengenai pandangan responden terhadap risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan penderita.nanas. anggur.Stigmatisasi diri sendiri pada penderita kusta sangat nyata. memalukan. capek harus dihindari. harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. capek. tidak kambing. Tidak boleh stres. satu responden menjawab lebih baik mengucilkan diri dan satu responden lain sebenarnya mengetahui . daging kambing. sebagian besar responden mengutarakan bahwa makanan tertentu tidak boleh dimakan dan keadaan stres. duren. Dari hasil jawaban mengenai hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang penderita kusta.. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. seperti diungkap oleh dua responden dibawah ini : Kotak 30 .

Salah besar. Beberapa jawaban diungkapkan oleh responden berikut ini : .. . bu mbok jangan terapi obat saja harusnya ada terapi mental. berkeinginan bunuh diri.. tidak percaya.. kalau tidak berobat tidak sembuh-sembuh. penderita kusta harus selalu berobat kalau tidak berobat maka tidak akan sembuh dan satu responden mengharapkan adanya terapi mental oleh psykolog karena selama ini hanya mendapatkan terapi obat saja hal ini dikatakan oleh responden ke 4 seperti dibawah ini : Kotak 32 .. sehingga saya juga sering tidak percaya diri. takut. tetapi respoden sendiri melakukannya juga. mengurung diri. saudara atau perangkat desa. R 2.. berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat sebagian besar berpendapat bahwa. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Penderita kusta pada umumnya tidak mengetahui bahwa dia menderita kusta.3 Sementara itu. R4 6. seperti yang diungkapkan oleh responden dibawah ini : Kotak 31 . Lebih baik mengucilkan diri dari pada dirasani orang / tetangga. saya sering melakukan itu.bahwa tindakan mengucilkan diri itu adalah salah. Saya tau tidak baik tapi kadang-kadang saya juga malu dan down bu.. dan saat pertama mengetahui penderita merasa kaget. informasi tentang penyakit kusta justru didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. reaksi terus.

saya malu. saya was-was bu sampai sekarang..2... .... Takut sekali kalau tetangga tau. . malu. .. R 5. Waktu itu saya berusaha bunuh diri. Dari petugas RSU Tugurejo.6 Kemudian persepsi responden tentang..4 Adapun perasaan yang ada dalam pikiran responden setelah mengetahui bahwa penyakitnya adalah kusta.. Saya takut tetangga tau. Ya kaget.. didapat beberapa jawaban dari sebagai berikut : Kotak 34 . .. saya tidak melanjutkan kuliah sampai sekarang..6. tapi saya percaya pasti ada obatnya. Putus asa.. Dari saudara saya yang bapaknya sakit seperti saya. ..4. Mental saya drop .. nanti saya dikucilkan (responden menangis).2. saya dirasani.Kotak 33 . R 1. Nggih ajrih.. anak-anak saya. Dari pak Bayan .3...3...7... pendapat keluarga saat mengetahui bahwa responden menderita kusta diperoleh jawaban seperti kutipan dibawah ini : Kotak 35 . Syok. takut menular keluarga. . takut luar biasa saya waktu itu berusaha bunuh diri. .

5. Suami saat itu selalu berusaha mengobatkan saya .. orang tua saya takut kalau saya pada ”mrotholi” .. Bapak – ibu kaget selama ini taunya saya sakit karena salah obat. . R 1. Anak-anak dulu sukanya marah sekarang sudah tau suruh berobat terus. ......6.8 Selain itu merurut Informan mengenai bagaimana perasaannya setelah mengetahui bahwa penyakit responden adalah kusta. . Suami saya bilang ”wong kok gaweane lara”. saya gak tega. saya disuruh berobat ke RSU Tugurejo karena bapaknya juga sembuh di sini... ayah penderita terlihat terpukul saat penulis menanyakan tentang perasaannya setelah mengetahui putrinya menderita kusta. tiga orang menyatakan merasa takut kalau tertularan penyakit ini dan merasa kasihan kalau penderita menjadi rendah diri.. Pertama ya kaget. Kecewa...4. Periksa ke Tugurejo secara rutin pasti sembuh kata bapak. sambil menunduk berkata : . I. .3... Takut sekali...7..2. 3 Sementara itu. Istri mendorong saya berobat.. Orang tua bilang dikasih cobaan harus diterima.. wong keluarga lain tidak ada yang kena. paman responden merasa kecewa karena penyakit keponakannya adalah kusta seperti diungkapkan dibawah ini : Kotak 36 . kasihan. .

dan juga kaget karena penyakitnya adalah kusta dan satu orang tidak mengetahui kalau temannya sakit kusta sehingga penulis bertanya dengan seandainya teman anda di nyatakan menderita kusta bagaimana ? didapatkan jawaban seperti kutipan wawancara dibawah ini : Kotak 39 . tetangga dan teman penderita telah menderita kusta semua merasa takut. I. keponakan. 5 Sikap merupakan respon evaluasi yang dapat berupa respon positip maupun negatip... Saya sangat kasihan pada anak perempuan saya ini. saya kawatir kalau anak saya jadi minder di sekolahnya I. Mudah-mudahan tidak bu. mendukung atau tidak mendukung terhadap suatu obyek. ibunya juga kena katanya di badan sakit semua. Wah. anak.. ya kasihan. Untuk mengetahui bagaimana sikap keluarga saat pertama mengetahui bahwa .2 Meskipun empat orang menjawab tentang perasaan masing-masing. seandainya teman anda menderita kusta perasaan apa yang ada dalam pikiran anda? Berikut jawabannya: Kotak 38 ... 5 Sedangkan lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang apa yang terjadi pada saat mengetahui kalau istri. sikap akan menunjukkan apakah seseorang menyetujui atau tidak menyetujui . nanti keluarganya malu.Kotak 37 ... malah sakite mboten mari-mari. lain dengan teman penderita. yang tidak mengetahui bahwa temannya menderita kusta sehingga penulis bertanya. was-was.. saya takut I.

was-was dan takut. di ungkapkan oleh responden seperti dibawah ini : Kotak 40 .... ..3... seperti kita lihat pada kutipan berikut : Kotak 42 . .4. berikut kutipannya : Kotak 41 . R 1... Pasip saja bu.. Ya tidak apa-apa.responden terkena penyakit kusta. Orang tua takut dan kecewa karena saya sakit sudah diobatkan kemana-mana katanya kena ”sengkolo” ternyata kena kusta.. Mendukung untuk berobat.7 Sebagian besar menyatakan bahwa sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa..gak peduli saya kena kusta... bapak dan paman saya berobat ke RSU Tugurejo selalu ngantar saya ... dan responden ke 5 menilai sikap keluarga saat itu pasip saja.. cuek gitu.. Bapak selalu was-was takut saya seperti ibu. R5 Adapun apa yang dilakukan keluarga setelah mengetahui kalau responden sakit kusta sebagian besar responden menyatakan keluarga mendorong untuk berobat hanya satu responden menjawab bahwa keluarga tidak peduli kalau responden menderita penyakit kusta. R5 . Ya cuek saja bu.

1..5 7. Adik-adiknya tidak diberi tau kalau kakaknya kena kusta.. faktor ini berupa interaksi sosial di luar pribadi responden. Blora sana kakinya di amputasi. .. ... Ibunya nangis saat saya beri tau kalau Afif juga kena kusta. Adik-adiknya tidak tau.. kalau disini kan tidak bayar. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. dibawah ini kutipan dari masing-masing jawaban : Kotak 43 . masih kecil. dia sering ”nuturi” untuk berobat terus.. . mungkin karena dari keluarga kurang mampu jadi mau berobat ya mikir biaya. keluarga saya sendiri taunya salah obat karena keponakan saya ini sering minum obat bebas. sangat kawatir.. dulu ya belum tau dan sekarang dia sering Bantu ibunya untuk pekerjaan rumah.4. Sepertinya biasa saja bu. Anak terbesar saya tau kalau ibunya sakit kusta baru-baru ini.Selain itu bagaimana sikap keluarga saat itu.. Dalam mencari faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Orang tuanya sangat kecewa. Yaitu faktor yang terdapat diluar responden. Keluarganya sudah mengobatkan ke mana-mana bu. di RS. . Informan menjawab dengan sikap yang berbeda-beda.. di lakukan wawancara mengenai pandangan responden tentang sikap masyarakat sekitar dengan pertanyaan sebagai berikut : Apa pendapat orang-orang di lingkungan kerja/ teman anda setelah mengetahui anda menderita kusta? .3. dua jarinya karena luka terus kemudian diamputasi I. seperti masyarakat di sekitar tempat tinggal responden.2.

Lingkungan tidak tau.8 Mengenai dari mana Informan mengetahui tentang penyakit kusta yang diderita responden..4. Teman kerja saya tidak ada yang tau kalau sakit. Kabeh mboten ngerti . ayah penderita mengetahui kalau putrinya menderita penyakit kusta karena istri/ ibu penderita menderita penyakit yang sama yaitu kusta.. kalau ke semarang ya dikira ke rumah saudara saya. dipastikan bahwa teman atau tetangga tidak ada yang tau kalau responden sakit kusta. diabetes..7.. taunya saya sakit saraf. tetangga tidak pada tau bu. Demikian juga tentang apa yang mereka lakukan terhadap responden. .. . Biasa saja. semuanya beranggapan responden berobat karena penyakit lain seperti penyakit saraf. Teman-teman. alergi atau karena salah obat. paman penderita melihat .. tapi saya takut juga sewaktu-waktu mereka tau.6.. didapat jawaban beragam yaitu : suami penderita mendapat kabar dari kakak perempuan penderita yang juga menderita kusta.. tidak tau kalau saya kena kusta. . teman tidak tau. katanya penyakit saya tidak bisa sembuh.. taunya kena gula dan kaki saya dipotong karena penyakit diabetes.2..Dengan melihat hasil jawaban semua responden.. Teman-teman disekolah tidak ada yang tau kalau saya sakit kusta. didapatkan jawaban sebagian besar dari lingkungan responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden .. .. .. ya taunya saya sakit alergi.3. Tetangga dan teman saya tidak tau bu. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang dilakukan masyarakat dilingkungan responden dapat dilihat beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 44 .5.Tidak ada yang tau. taunya salah obat.. R 1. . ..

. Stigmatisasi diri penderita terlihat sangat nyata.. karena menjalani rawat inap di ruang kenanga RSUD Tugurejo dan teman penderita tidak tau kalau penderita sedang sakit kusta. tetangga dan teman penderita : Kotak 45 . .keponakannya sakit kusta saat menengok penderita mondok di ruang Kenanga RSUD Tugurejo.4. Cacat permanen yang terlihat nyata oleh lingkungan akan membatasi mereka dalam menjalani kehidupan bermasyarakat secara normal. sakitnya reaksi kusta. dibawah ini merupakan kutipan jawaban dari paman. hal ini mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini yang dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. kata suster. mengetahui kalau tetangganya sakit kusta pada saat bertemu dengan saudara penderita yang sedang menunggu penderita. Dari saudaranya. tetangga penderita adalah pegawai RSUD Tugurejo.. ... teman saya nggak sakit kusta kok bu. Saya taunya saat keponakan saya ini mondok di ruang kenanga. dirujuk ke penyakit kulit lantai 2. orang dengan kusta menjadi malu. ketidak mandirian fisik yang disebabkan oleh kecacatan dan keterbatasannya. I 3. saya ketemu di RSUD tugurejo karena adiknya dirawat disini karena kusta dan saya ikut besuk di ruang kenanga. Teman saya. 5 Stigma kusta merupakan faktor utama yang menyebabkan keterlambatan pasien dalam pengobatan hal ini merupakan kerentanan terjadinya kecacatan. kakinya luka ngga sembuh-sembuh sudah diobatkan ke puskesmas.. responden mengantar penderita karena luka dikaki yang tidak sembuh-sembuh. dan ini mau mondok di ruang Kenanga. mendaftar ke poli penyakit dalam dan akhirnya dirujuk ke poli kulit. ke penyakit dalam. mereka bahkan kehilangan pekerjaan.. tidak sembuh terus saya bawa kesini.

Pendidikan merupakan (32) salah satu faktor yang mendasar untuk melaksanakan tindakan . Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita. Pembahasan 1.harinya sangat terganggu oleh penampilannya dikarenakan adanya perubahan pada fisik dan kepercayaan diri yang menurun. Sebagian besar responden telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai . Sebagian besar responden tidak bekerja. pekerjaan. dilihat dari segi pendidikan sebagian besar responden berpendidikan Sekolah Menengah Atas. Dengan terserangnya penyakit kusta responden merasa bahwa aktivitas sehari . kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara-acara di lingkungan masyarakat(2). hubungan pribadi.BAB V PEMBAHASAN A. mulai dari perkawinan. selain sulit dalam mencari pekerjaan responden merasa takut apabila pimpinan dan teman-temannya mengetahui bahwa responden terserang penyakit kusta dan responden sangat menyadari kelelahan akan mengakibatkan kekambuhan penyakitnya. Karakteristik Responden Gambaran umum responden menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 26 tahun sampai 35 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. dengan tidak bekerja responden menyatakan bahwa tidak mempunyai penghasilan. hanya ada satu responden yang tidak bersekolah. Pada kelompok umur tersebut merupakan masa produktip dalam kehidupan responden.

2. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta a. rok panjang dan bagi .dengan 5 tahun. ada juga dengan cara membatasi diri. malu dan takut karena sesuatu (14) . merasa sangat takut dan waswas saat mengetahui responden menderita kusta. apabila sampai terlambat dalam berobat responden menyatakan penyakitnya akan muncul kembali. Hasil wawancara mendalam didapatkan hasil . hal yang memalukan. sebagian besar responden melakukannya dengan tetap bekerja. mencegah pengungkapan diri terhadap masyarakat. mengikuti kegiatan di kampungnya seolah-olah berkerudung. keluarga dan temantemannya (12). responden seperti selalu menggunakan pakaian tertutup. sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri. Untuk mengatasi stigma ini. menutup diri. Stigma adalah hal-hal yang membawa aib. bahwa semua responden menyatakan masyarakat disekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta dan sebagian keluarga responden. dalam kurun waktu sekian lama responden harus selalu berobat dan minum obat seraca rutin. memakai baju lengan panjang. Wawancara mendalam terhadap responden dalam mengatasi stigma ini diperoleh jawaban bahwa. Untuk menghindari efek stigmatisasi penderita kusta menggunakan beragam cara agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui tentang penyakitnya diantaranya menyembunyikan secara efektif tentang penyakitnya. tidak memperdulikan lingkungannya. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden. walaupun ada juga yang tetap tidak sedang sakit.

sebagian responden menganggap bahwa orang yang jorok dan kondisinya menurun yang dapat tertular penyakit kusta. Adanya gejala . . Sebagian besar responden mempunyai persepsi bahwa penyakit kusta dapat menimpa semua orang. Dalam teori health belief model dinyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya.gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi keparahan dan motivasi pasien untuk mengikuti instruksi yang diberikan (20). memakai sepatu berkaos kaki dan bertopi juga tidak menceritakan kepada siapapun tentang penyakit yang dideritanya. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. antara lain : faktor sumber penularan yaitu tipe penyakit kusta . dia percaya bahwa penyakit akan berakibat serius pada organ tubuh. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. jika tidak sama tidak akan tertular. Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta . b. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1).penderita laki-laki menggunakan jaket. Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. Sebagian besar responden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta dan ada yang mengatakan penyakit ini menular melalui udara dan satu responden menyatakan bisa tertular penyakit kusta apabila golongan darahnya sama dengan penderita.

Tujuan pengobatan ini adalah untuk mematikan kuman kusta. tidak lelah sangat membantu responden mengurangi frekuensi kekambuhan. tidak stres. . Pada penelitian ini. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. didapatkan jawaban bahwa sebagian besar responden menganggap kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius alasan responden adalah penyakit kusta mengakibatkan perubahan bentuk fisik dan kecacatan dimana kecacatan ini bisa menetap seumur hidupnya. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian hal ini dikemukakan bahwa gejala yang muncul saat terkena penyakit ini sangat berat. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur. perasaan tenang. karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan (17). maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. dan saat pertama kali berobat tidak langsung diketahui penyakitnya sehingga responden merasa pengobatan yang dilakukan kurang tepat. menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment (MDT). Pada tipe MB lama pengobatan 12 – 18 bulan dan tipe PB lama pengobatan 6 – 9 bulan. Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan / kutukan. justru penyakitnya menjadi berat dalam arti lain terlambat berobat untuk penyakit kustanya karena salah dalam mendiagnosa penyakit.c. Semua responden menyatakan orang yang menderita penyakit kusta harus berobat secara rutin. d.

benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. hal ini menyebabkan penderita kusta merasa rendah diri. Menurut responden setiap hari penderita kusta harus memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak. keluarga dan teman-temannya (7). Sebagian besar dari responden menyatakan. supaya cacatnya tidak bertambah parah. makanan beralkohol dan keadaan stres. durian. kecacatannya juga memberi gambaran yang menakutkan. capek / kelelahan harus dihindari karena akan memunculkan gejala-gejala penyakit kusta (reaksi kusta). serta kehilangan status sosial secara progresif. terisolasi dari masyarakat. Secara psikologis bercak. nangka. karena . menurut responden mengetahui terjadinya luka secara dini akan mengurangi terjadinya kecacatan karena luka bisa cepat diobati sehingga tidak bertambah berat/menjalar e. depresi dan menyendiri (1) Sebagian besar responden menanggapi bahwa penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu itu tidak baik. responden mengutarakan bahwa jenis-jenis makanan tertentu tidak boleh dimakan seperti daging kambing. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip Dari hasil wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh di lakukan. perawatan diri dengan rajin sangat perlu. dengan mengoles pelembab di tangan dan kakinya akan mengurangi kekeringan pada kulit yang bisa membuat luka / pecah-pecah. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga kalau terjadi luka tidak terasa sakit.Kecacatan yang berlanjut dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal.

Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. Pada umumnya responden tidak mengetahui bahwa menderita kusta. keluarga sangat kaget saat mengetahui responden terserang penyakit kusta. sebagian besar responden merasa kaget. Satu responden mengatakan keluarganya biasa saja dengan penyakit responden dan tidak merasa bahwa responden menderita penyakit kusta. hal ini karena keluarga tidak . apabila tidak berobat secara rutin maka tidak akan sembuh dan sebagian lagi menyatakan mengucilkan diri adalah tindakan yang paling tepat agar tidak menjadi bahan pembicaraan tetangga. Responden lain sebenarnya mengetahui bahwa tindakan mengucilkan diri adalah tidak baik. sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa.penderita kusta harus berobat. was-was dan takut. informasi tentang penyakit kusta didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. f. akan tetapi responden tersebut melakukannya juga karena malu dan down mentalnya. Berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat semua responden berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan besar karena penderita kusta jika tidak berobat selain tidak sembuh akan mengalami reaksi dan bisa menjadi cacat dan sebagian responden menyatakan perlu adanya terapi mental oleh psykolog karena selain fisik yang sakit penderita kusta juga menderita sakit secara mentalnya. saudara atau perangkat desa. takut dan tidak percaya saat pertama kali mengetahui terserang penyakit kusta dan satu responden berusaha bunuh diri saat mengetahuinya. Sebagian besar responden mengatakan. keluarga mengatakan kalau yang berbahaya itu adalah sakit lepra.

memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. karena alergi obat atau karena salah obat sehingga masyarakat dan teman responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden. dan waktu pertama responden menderita kusta keluarga mengatakan bahwa harus diterima. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. diabetes.mengetahui perbedaan antara kusta dan lepra. mereka mengira responden berpenyakit lain seperti penyakit saraf. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. orang yang terstigmatisasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar (12) . masyarakat disekitar tempat tinggal dan temantemannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta. Efek dari stigmatisasi berakibat dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. Stigmatisasi diri sendiri penderita kusta sangat nyata. dan pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya serta menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. Stigma menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap oleh masyarakat terhadap seseorang. Semua responden mengatakan. baru di beri cobaan dari Allah g. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. Dari hasil .

Sebagian besar menganggap penyakit kusta adalah penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat. kurang menjaga kebersihan adalah orang yang bisa tertular penyakit ini. Suami responden mengetahui jika istrinya menderita penyakit kusta dari keluarganya yang juga menderita penyakit ini dan Informan lain mengetahui dari petugas RSUD Tugurejo Semarang. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe MB kepada orang lain dengan cara penularan langsung. dapat merubah bentuk fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. keluarga dan teman penderita kusta tidak memberikan suatu tindakan yang mengarah ke stigmatisasi terhadap responden. Dan cross chek yang dilakukan terhadap keluarga. bisa menimpa semua orang dan orang yang kondisi kesehatannya menurun.wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum masyarakat. seorang Informan tidak mengetahui bahwa temannya dirawat karena menderita penyakit kusta sehingga wawancara terhadap teman responden tidak penulis lanjutkan. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut sebagai Informan. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak langsung yang erat dan lama dengan penderita (1) . Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun. dan tiga dari lima Informan mengatakan kontak langsung yang lama adalah cara penularan penyakit kusta selain melalui udara. . bisa menular ke orang lain . dengan menggunakan wawancara mendalam di peroleh hasil sebagian besar Informan mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular. disebabkan oleh kuman kusta. Semua Informan mengatakan penyakit kusta tidak menyebabkan kematian hanya bisa mengakibatkan kecacatan.

Dilihat dari latar belakang tingkat pendidikan responden. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Responden (penderita kusta) dalam penelitian ini berjumlah 8 orang dengan rentang usia 14 – 51 tahun.Semua Informan setelah mengetahui berpendapat. harus berobat supaya sembuh dan sikapnya saat itu sangat kecewa. mulai dari tidak bersekolah sampai dengan lulus Sekolah Menengah Atas. semua Informan mengatakan bahwa lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta sehingga lingkungan tidak melakukan tindakan apapun terhadap penderita. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Mengenai pendapat orang-orang dilingkungan penderita. kawatir walau tetap membantu dalam berobat. berjenis kelamin laki-laki sebanyak lima orang dan enam orang berasal dari luar Semarang. Lima orang responden tidak .

.bekerja dan enam orang telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai 5 tahun lamanya. Penderita kusta berpersepsi bahwa. Penderita kusta berpersepsi. penyakit syaraf atau penyakit alergi karena salah minum obat. dapat menimpa semua orang. Penderita kusta berpersepsi. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. d. penderita beranggapan bahwa. untuk berperilaku positip ditunjukkan dengan : 1) Berobat secara rutin. 3) Mau berinteraksi dengan lingkungan. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi/ mengatasi cap buruk/stigma. sikap membatasi diri dalam pergaulan. masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa penderita sedang mengalami sakit kusta. 3. penderita kusta berpersepsi. 2) Melakukan perawatan diri dengan rajin. Penderita kusta berpersepsi bahwa. Penderita kusta berpersepsi. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. 2. penyakit kusta merupakan penyakit menular. tetangga dan teman-temannya menyangka penderita berpenyakit lain seperti penyakit diabetes. berperilaku negatip yaitu : 1) Tidak mau berobat karena malu. a. c. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) b.

melatih otot-otot yang lemah dan untuk mempersiapkan operasi bagi penderita yang akan dilakukan operasi perbaikan kecacatannya. kecacatan. pemberantasan penyakit. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. karena penderita kusta selain memerlukan pelayanan medis (obat) juga memerlukan pelayanan Fisioterapi untuk mencegah kecacatan. Terapi Kerja (Occupational Therapi).2) Mengucilkan/mengisolasikan diri. Bagi RSUD. sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan penyakit kusta di Jawa Tengah agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. keperluan alat bantu (Orthotic Prosthetic) dan yang paling penting adalah pelayanan Psykologi untuk men support mental penderita. 3) Putus asa. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan bersama. untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan 2. sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan berbagai pelayanan kesehatan diantaranya promosi kesehatan. Saran 1.. rumah sakit dengan unggulan penyakit kusta. Bagi Puskesmas.Tugurejo Semarang. penyehatan lingkungan dan berbagai program kesehatan masyarakat lainnya untuk dapat mendeteksi secara dini masyarakat yang . B.

3. serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. Sikap dan kepedulian keluarga untuk dapat memotivasi penderita agar berobat secara teratur. 2. Number 2. Depertemen Kesehatan RI.terserang penyakit kusta. December 2005. DAFTAR PUSTAKA 1. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kehidupan seharihari. agar memeriksakan sedini mungkin dan berobat secara teratur serta melakukan perawatan diri untuk mencegah kecacatan. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga. 2005. dan yang lebih penting persepsi terhadap stigma penyakit kusta harus dihilangkan karena penyakit kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. . Cetakan XVII. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. England. Number 4. Special Issue on Operational Research. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Leprosy Review. Volume 76. 2005 3. Leprosy Review. Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Volume 76.

Jane Ogen. Pedoman Pelaksanaan Pembentukan Kelompok Perawatan Diri. Promosi kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta. Health Promotion Planning. Laporan Kunjungan Rawat Jalan Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 6. Evaluasi Kunjungan Rawat Inap Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 7. Universitas Gajah Mada. Data penderita Kusta Provinsi JawaTengah. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Jacobalis. Sulisna. Lawrence W. Open University Press. Sosiologi Kesehatan Beberapa konsep beserta Aplikasinya. Pustaka Pelajar. Soekidjo Notoatmojo. Philadelphia.4. Green. Health Psychology. 2003 13. Yogyakarta. Rineka Cipta. Dinamika Kelompok Penerapannya dalam laboratorium Ilmu Perilaku. Edisi Revisi. Direktorat Kesehatan Jiwa Manajemen. Depertemen Kesehatan RI. Jakarta. edisi 2. Yogyakarta. 2000 20. 2006 17. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Beberapa Teknik dalam menejemen Mutu Rumah Sakit. Mayfield Publishing Company. UMM-Press. Perilaku Konsumen dan komunikasi Pemasaran. Sarwono S. Pedoman Kusta Nasional untuk pelaksanaan pemberantasan kusta di daerah endemik Rendah. Universitas Sriwijaya. 2004 18. Saifuddin Azwar. tahun 2007 5. London. Bandung. 2001 9. 1996 . Seven edition. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Depertemen Kesehatan RI. Peter Salim. 2005 10. Mantra IB. Jakarta Depertemen Kesehatan. Jakarta. Baderal Munir. 1997 19. Psykologi 11. Buckingham. Tri Dayakisni. Edisi 4. 2001 8. 2000 14. Psikology Sosial. 1996 15. Jakarta. modern English Press. Jakarta. Cetakan ke dua. 2000 16. Srategi Penyuluhan Kesehatan. Gajah Mada University Press. 2005 12. Samsi. Depertemen Kesehatan RI. Hudaniah. Yogyakarta. The Contemporary English – Indonesia Dictionary.

1975. The Health Belief Model and Personal Health Behavior. Analisis Data Penelitian Kualitatif. AED Healthcom. Moleong. Edisi Kedua. Sebelas Maret University Press. 1991 32. Charles B. Metode Kualitatif dalam Riset Kesehatan. 27. Aditya Media. Pustaka Setia. Hand Out Program Pasca Sarjana. Surakarta. Universitas Gajah Mada. 2002 24. Ajzen. Philippines : Addison Wesley Publishing. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. Fishbein. 29.J. A. Depertemen Kesehatan RI. Prawitasari. Johana E. Yogyakarta.21. Balai Pustaka. Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Modul mata kuliah. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. 2004. I. bandung. 1993 dan Ilmu Perilaku 33. Modul Pelatihan Program P2 Kusta bagi Unit Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Metode Penelitian Kesehatan. Yogyakarta. Burhan Bungin. Hari Kusnanto. Remaja Rosdakarya. 1997. Yogyakarta. Pengantar Pendidikan Kesehatan. PT Raja Grafindo Persada. Becker MH. Terjemahan. 2002. 23. Miles Matthew B. Soekidjo Notoatmojo. Buku Panduan Diskusi Kelompok Terarah. 2001 26. 30. Yogyakarta. Jakarta. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Thorofare. Pustaka Jaya. Metodologi Penelitian Kualitatif. Anselm Strauss dan Juliet Corbin. Basics Of Qualitative Research. Attitude. yogyakarta. 1995. penerjemah Muhammad shodiq dan Imam Muttaqim. Penerbit Universitas Indonesia. Intention and Behavior an Introduction to Theory and Research. Menjadi Peneliti Kualitatif. 35. New Jersey. Metode Penelitian Kualitatif. Belief. 31. 25. Sutopo. M. 34. 2007 . Pascasarjana IKM-MPPK UGM. Andi Offset. Mery Debus. Utarini. Bandung. Slack Inc. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 2007 22. HB. 28. 1992. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sudarwan Danim. L.

Workshop EDAN. http://her. Special issue on interation.36.powered by joomla-@copyright(c)2005 open source MaltersG Aenll errigahtetsd:27s Nerovveedmber.komunikasi. England 2002. 2001 41. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. 1991 43. motivasi.2007.id/web. Intruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik khusus. Balai Pustaka. http://www. Number 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia . Volume 73. Volume 76.org/cgi/content/full/cyll58v1 39. Penelitian Pengembangan Model Penanggulangan Penyakit Kusta di daerah Endemis dengan Pendekatan Sosial Budaya.oxfordjournals. Leprosy Review.suryo.22 23 40. edisi kedua. Leprosy Review. 2005 37. Rachmalina. England. 17 Pebruari. RSUD Tugurejo. 42. Number 2.co.Leadership. 2007 kusta. Badan Litbang Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. 2008 . 38. Mem-PD-kan para mantan penderita Testimonials. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful