P. 1
Kusta1

Kusta1

|Views: 1,016|Likes:
Dipublikasikan oleh Ariyati Aveiro

More info:

Published by: Ariyati Aveiro on Oct 23, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2015

pdf

text

original

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ( Studi Kualitatif

)

TESIS

Untuk memenuhi persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Magister Promosi Kesehatan

Soedarjatmi E4C006118

PROGRAM STUDI MAGISTER PROMOSI KESEHATAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008
TESIS

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA
Disusun oleh SOEDARJATMI E4C006118 Telah dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 04 Desember 2008 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Menyetujui Dewan Penguji

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. VG. Tinuk Istiarti, Mkes Widagdo,SKM,MHPEd. NIP. 131 764 483

DR.Laksmono NIP. 130 422 787

Penguji I

Penguji II

dr. Harbandinah P, SKM NIP. 130 354 865

Priyadi Nugraha, SKM, M.Kes NIP. 132 046 693

Mengetahui Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Drg. Zahroh Shaluhiyah, MPH, PhD NIP. 131 627 954

PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Soedarjatmi Nim : E4C006118

Menyatakan bahwa tesis judul: ” FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ” merupakan : 1. Hasil karya yang dipersiapkan dan disusun sendiri 2. Belum pernah disampaikan untuk mendapatkan gelar pada program Magister atau program lainnya. Oleh karena itu pertanggung jawaban tesis ini sepenuhnya berada pada diri saya. Demikian Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Semarang, 18 Desember 2008 Penyusun

Soedarjatmi NIM : E4C006118

RIWAYAT HIDUP Riwayat pendidikan penulis: 1. Bethesda Yogyakarta. Tahun 1986 sampai dengan tahun 1993 bekerja dibagian Fisioterapi RS. Tahun 1980 Lulus SMP Negeri 02 di Surakarta 3. 2. Tahun 1986 Lulus AkademiFisioterapi di Surakarta 5. Tahun 1993 sampai dengan sekarang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di RSUD Tugurejo Semarang. Tahun 2004 Lulus Sarjana Kesehatan Masyarakat Undip di Semarang 6. Tahun 1983 Lulus SMA Negeri 04 di Surakarta 4. Tahun 2006 masuk Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang Lulus tahun 2008 Riwayat pekerjaan penulis: 1. . Tahun 1976 Lulus SD Negeri 07 di Surakarta 2.

semoga segala bantuan.KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan atas karunia yang dilimpahkan kepada penulis. selaku pembimbing utama. selaku pembimbing kedua. MHPEd. bimbingan. selaku Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2. sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyususnan tesis ini. Bapak Priyadi Nugraha. SKM. nasehat dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal kebaikan dan mendapat ganti yang lebih baik dari Allah SWT. Tinuk Istiarti. MKes. dorongan dan semangat sehingga selesainya tesis ini. Ibu dr. nasehat. atas kesediaan dan keikhlasannya serta penuh pengertian telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan hingga selesainya tesis ini 4. untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya. MPH. Keberhasilan penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. VG. MKes. SKM.PhD. Zahroh Shaluhiyah. Harbandinah P. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat. Terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. Bapak DR. 3. bimbingan. yang telah banyak memberi masukan-masukan. bantuan dan masukan untuk kebaikan tesis ini 5. Ibu Dra. SKM. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat dan masukan untuk kebaikan tesis ini . Laksmono Widagdo. Ibu drg. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Magister Pascasarjana Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang.

Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi baiknya tesis ini. You and I. utamanya pada diri penulis dan bagi siapa saja yang membacanya. Bapak Teleng Warganto. 8. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih banyak kekurangan. do’a yang tiada hentinya. dan jauh dari sempurna..6. Joko Sugiarto. dukungan dan support bagi penulis. dorongan dan nasehatnya hingga terselesainya tesis ini. atas segala pengertian.SH. 9. Semarang. 10. E4C006118 . Selaku Direktur RSUD Tugurejo Semarang yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian. Putra penulis. suami tercinta penulis. our love will never die. orang tua penulis atas do’a. Desember 2008 Penulis Soedarjatmi NIM. Bapak-Ibu Sayoko. Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti. yang dengan ikhlas penuh pengertian dan selalu berdo’a menyemangati penulis dan membantu dalam mencari bahan di internet dan media lain hingga selesainya tesis ini. Bapak dr. 7. SpA. Akhirnya semoga tesis ini bisa bermanfaat. Rekan-rekan penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu dan memberi semangat terus-menerus kepada penulis hingga selesainya tesis ini.

terima kasih untuk semua perhatian. Untuk anak-anakku Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti atas do’a . pengertian. You and I our love will never die. pengertian dan bantuan kalian.HALAMAN PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya ini untuk : Suami tercinta. do’a. dukungan. kesetiaan dan kesabarannya. Semoga selesainya tesis ini menjadi penyemangat keberhasilan studi kalian .

Karena itu. bila engkau telah selesai dari satu urusan. dimana ada kesulitan disitu ada kelapangan.MOTTO Sesungguhnya. kerjakanlah urusan lain dengan tekun ( QS : Al Insyirah : 5 dan 7 ) .

.......................................................................................................................................................................................................................... 43 ............... Reaksi kusta ... Kerangka Konsep .................................................................................................................. Manfaat Penelitian ........................... Tujuan Penelitian ...................................................................... 3.................... Keaslian Penelitian ..................................................... Persepsi ............................................... B..... Diagnosa sakit kusta ............ D........... Definisi penyakit kusta ............................................................................................................ 2...... 2. Ruang Lingkup ................ C................................ HALAMAN KATA PENGANTAR ............................................................................................................................................................. Pertanyaan Penelitian ..... Kecacatan akibat penyakit kusta .................................................. Stigma ... 7.................................................................................. Green ..................................................... Perumusan Masalah ..... ABSTRAK.......................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ...................... HALAMAN PENGESAHAN ......................... Kerangka teori ......................................................................................................................... TINJAUAN PUSTAKA ............................................. B....................................................................... A..................................... MOTTO..... DAFTAR LAMPIRAN .... Perilaku menurut L.... Klasifikasi ........................................ HALAMAN PERNYATAAN ........... E... 6............................. 4.. Landasan Teori .................................................. C. Faktor-faktor yang menentukanterjadinya sakit kusta ...................................... D................................. Perilaku menurut Rosenstock (HBM).................................... DAFTAR SINGKATAN ................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................... DAFTAR TABEL................. A............................... Pengobatan ............. i ii iii iv v vii viii ix xi xii xiii xiv xv 1 1 4 5 5 6 7 11 11 11 11 15 16 17 18 22 23 24 27 29 32 35 35 37 41 BAB II BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta .............................................................................................................. F............. 42 A... Penyakit Kusta .....................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .........W........ E........................................................ 8............ 42 B................................................ HALAMAN RIWAYAT HIDUP ....................................................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN................ Latar Belakang ... 1.......................................................... DAFTAR ISI .... Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang ............................................. 1.............................................. Tanda-tanda tersangka kusta (suspek) ......................... F........................ 5............ F...............

........................................... 54 A............................................ 96 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB V .......... Umur dan jenis kelamin responden ................................................... 91 g................................. Pekerjaan responden .... 55 3................ 89 e......................................................... BAB IV Jenis dan Rancangan Penelitian ........................ Karakteristik Responden . 86 1................................ Gambaran Umum penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang .......... F........................ Persepsi terhadap kegawatan penyakit ..... Teknik Pengolahan dan Analisa Data ................ E.. 55 1........... Validitas dan Reabilitas Data ......................... Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ........ 90 f................................................... 56 C....................... Persepsi terhadap risiko berperilaku negatip ... 76 6............ 89 d......................... 70 5.... Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta .................. 56 2..... 95 B.......... Keterbatasan Penelitian.................................. 86 2.............. Sumber Data................. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi responden 87 a.. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip . 95 A............................................. Variabel penelitian dan Definisi Operasional .................. Pendidikan responden ............................ 55 4................... Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit....................... H. 88 c....................... faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta.... Pembahasan ................................................................... Instrumen yang Digunakan .........................C.......................................... Karakteristik responden ...................... Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip......................... Persepsi terhadap manfaat berperilaku positip....... 65 4............................... Berdasarkan lama menderita penyakit kusta... Saran ...................... 87 b............. 92 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .................... 86 A............ Persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta ...................................................... D..................................................................................................................... Berdasarkan status nikah .................... 54 B................... 83 PEMBAHASAN.... Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ................. Kesimpulan . Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit ........ 56 1.................................................. 43 45 46 48 49 51 52 HASIL PENELITIAN . Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta............. 61 3............................... 55 2..................... Populasi dan Sampel Penelitian .......................................... I............. 56 5........................ Stigma penyakit kusta .................................................................. Stigma penyakit kusta ........................................................ 78 7........ G..

........................4 Halaman Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti ......................... Perdedaan reaksi tipe I dan II .............3 Tabel 2.1 Tabel 2.......................... Perbedaan reaksi berat dan ringan tipe I ...... Klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO ...1 Tabel 2......2 Tabel 2..... Beda reaksi berat dan ringan.............. 7 17 19 20 21 .............................................................DAFTAR TABEL Nomor Tabel Judul Tabel Tabel 1........................................................

........ 34 Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok...... 41 Kerangka konsep penelitian ........................ 27 Alur Pelayanan Pasien Poliklinik Khusus penyakit kusta.....DAFTAR GAMBAR Nomor Gambar Gambar 2...2 Gambar 2........................... 24 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penderita ....3 Gambar 2................. 37 Basics of Health Belief Model.......... 42 ......................................1 Judul Gambar Halaman Perseptual.......6 Gambar 3.......4 Gambar 2...............5 Gambar 2...........W Green dan teori HBM......1 Gambar 2... 39 Kerangka Teori modifikasi teori L.......................................................................

paman.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Panduan wawancara mendalam dengan responden Panduan wawancara mendalam dengan suami. tetangga dan teman penderita kusta. ayah. Hasil wawancara dengan Responden Hasil wawancara dengan Informan Foto-foto penelitian .

DAFTAR SINGKATAN RSUD MB PB WHO MDT DDS BTA ENL HBM PHBS : Rumah Sakit Umum Daerah : Multi Basiler : Pausi Basiler : World Health Organization : Multi Drug Therapy : Diamino Diphenyl Sulphone : Bakteri Tahan Asam : Eritema Nodusum Leprosum : Health Belief Model : Perilaku hidup Bersih dan Sehat .

penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. Penelitian ini dilakukan dengan metode diskriptif kualitatif yang menggunakan rancangan studi kasus. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan kecacatan. Responden dipilih secara porposif terdiri dari penderita kusta yang berobat ke RSUD Tugurejo sebanyak 8 orang. penyakit kusta merupakan penyakit menular. melakukan perawatan diri dengan rajin dan mau berinteraksi dengan lingkungan. penderita yang sudah dalam keadaan cacat berjumlah 241. selanjutnya data di analisis dengan content analysis (diskripsi isi). Disarankan bagi Puskesmas untuk memberikan promosi kesehatan penyakit kusta yang mampu membentuk pengertian yang benar dan positip serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. berperilaku negatip yaitu tidak mau berobat karena malu. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi stigma. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. Penderita kusta berpersepsi.989 orang. berperilaku positip ditunjukkan dengan berobat secara rutin. Penderita kusta berpersepsi. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagian besar resonden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta. Penderita kusta berpersepsi bahwa. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. Kurangnya pengetahuan penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatif yaitu stigma tentang penyakit kusta. Semua responden berpersepsi bahwa masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta dan responden berpersepsi sikap membatasi diri. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Hasil penelitian menunjukkan. mengucilkan/mengisolasikan diri dan putus asa. Bagi RSUD Tugurejo. Kata kunci : Persepsi. Stigma. melakukan perawatan diri dan melaksanakan PHBS.Program Pasca Sarjana Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2008 Abstrak SOEDARJATMI (E4C006118) xvi + 97 halaman + 5 tabel + 7 gambar + 45 kotak (studi Kualitatif) FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan 4. penderita usia anak 163 dan penderita yang sedang diobati 1. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga agar berobat secara teratur.171 orang penderita kusta terdaftar. Kusta Daftar Pustaka : 45 ( 1975 – 2007 ) . dapat menimpa semua orang. Penderita kusta berpersepsi bahwa.

The leprosy patient have perception that negative behavior refer to not to get nursery because of ashame. 163 child age patient . The Leprosy patient have persception that leprosy desease is a dangerous and serious desease which is may caused death and physical defect along life.self isolation and desperate.2007) .The respondent were chosed propotion from the leprosy patient who were being in medical treatment at Tugurejo Hospital to the number of 8 patient. The lack knowledge of such a disease by leprosy patient bringing on negative perception arising out that is the leprosy disease stigma. frequently self care and want to interact with their neighborhood. All of the respondent have the same perception that the neighborhood and their friends did not know that the respondent having leprosy disease so they have perception introvert behavior. The need for the leprosy patient group existence by means of such activity program to improve the motivation and preventing physical defect effort. Keyword : Perception. furthermore the data were being analysed with content analysis. The result of Research indicate that leprosy patient have perception that leprosy is contagion to everybody . For the Tugurejo Hospital in order to optimize Medical Rehabilitation Service. cover their deformity are the action to reduce stigma.Post-Graduate Programme Magister Of Health Promotion Diponegoro University of Semarang 2008 Abstracts SOEDARJATMI (E4006118) " THE LEPROSY PATIENT BACKGROUND'S FACTORS CONCERNING LEPROSY DISEASE STIGMA " xvi + 97 + 5 tables + 7 picture + 45 appendix In year 2006 detected 4.171 leprosy patient registered in Central of Java. The objective of research is to discribe the Leprosy patient background's factors concerning leprosy disease stigma . conducting self treatment and carry on having clean dan healthy live behavior. Bibliography : 43 (1975 . out of those 241 leprosy patient had been physical defected condition. 1989 patient had being cured. The need for leprosy patient and family evaluation and monitoring program in order to get medicinal treatment consecutively. Suggestion: The "Puskesmas" to give leprosy disease health promotion which is enable to form the right understanding and positive as well as conducting routine medicinal treatment. The leprosy patient have perception that postive behavior refer to routine check up . The data collection were being done indepth-interview . Stigma and Leprosy.particularly for those who not having clean dan healthy live behavior and much of the respondent did not know how the leprosy desease spreading. The reasearch had been done in qualitative descriptive method which use the study case program.

Penyakit kusta berkembang lambat dengan masa tunas rata-rata 2 – 5 tahun kadang bisa lebih. kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat. Tanda utama penyakit ini adalah adanya bercak putih atau kemerahan yang mati rasa (anaestesi). Sedangkan secara psikologis bercak. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara –acara keagamaan serta acara di lingkungan masyarakat (2) Penyakit kusta juga menimbulkan masalah yang sangat kompleks. hubungan antar pribadi. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan.BAB I PENDAHULUAN A. psikologis. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang menahun disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) menyerang saraf tepi. budaya. terisolasi dari masyarakat. pekerjaan. Penularan terjadi dari seorang penderita yang tidak diobati ke orang lain melalui pernafasan atau kontak langsung yang lama dan terus menerus (1). Kecacatan yang berlanjut dan tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang tidak baik akan menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita mulai dari perkawinan. keamanan dan ketahanan nasional (1) . ekonomi. Kecacatannya juga memberikan gambaran yang menakutkan menyebabkan . masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial. keluarga dan teman-temannya (7) .

11. Tiga besar provinsi dengan penemuan penderita baru tertinggi tahun 2006 adalah Jawa Timur 5. guna-guna. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan percaya diri penderita dan keluarga dalam kehidupan sehari –hari. Masyarakat masih banyak beranggapan bahwa kusta disebabkan oleh kutukan.188 penderita dan Jawa Tengah 1. Sebenarnya stigma ini timbul karena adanya suatu persepsi tentang penyakit kusta yang keliru. depresi dan menyendiri bahkan sering dikucilkan oleh keluarganya. makanan ataupun keturunan. dianggap menjijikan dan harus dijauhi. (1).068 penderita. dosa. Proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat. Penderita kusta masih banyak di Indonesia jumlah penderita barupun masih banyak ditemukan. . Jumlah penduduk di Jawa Tengah 32.penderita kusta merasa rendah diri.788 penderita.500 terdapat 4. Salah satu misi Depertemen Kesehatan dalam pemberantasan penyakit kusta adalah menghilangkan stigma sosial (ciri negatip yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya) dengan mengubah persepsi masyarakat terhadap penyakit kusta melalui pembelajaran secara intensif tentang penyakit kusta. Jawa Barat 2. Menurunkan stigma dan mengurangi diskriminasi mendorong perilaku masyarakat dalam menerima penderita kusta. Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta berasal dari golongan ekonomi lemah keadaan tersebut turut memperburuk keadaan (1). Diera modern ini muncul istilah “stigmatisasi” yang lebih mencerminkan “kelas” daripada fisik.171 (0.0013%) orang menderita kusta terdaftar masyarakat menjauhi karena merasa jijik dan takut hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan atau pengertian juga kepercayaan yang keliru terhadap penyakit kusta.

tahun 2005 adalah 3. tahun 2006 sebanyak145 penderita dan tahun 2007 terdapat 130 penderita yang harus dirawat. Data kunjungan rawat jalan penderita kusta setiap tahun meningkat. Sebagian besar mereka menundukkan kepalanya dan penderita laki-laki menggunakan topi. (5) Tahun 2007 poli klinik khusus penderita kusta menemukan 192 kasus penderita baru.127 kunjungan.975 dan tahun 2007 sebanyak 4. (6) Dari pengamatan awal yang telah dilakukan peneliti ditemukan beberapa perilaku penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo berbeda dengan penderita penyakit lainnya. Terletak di Semarang bagian barat.839 pasien.Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo Semarang merupakan Rumah Sakit kelas B milik Provinsi Jawa Tengah. Survey awal yang dilakukan peneliti pada bulan Oktober 2007 terhadap 10 orang penderita kusta memperoleh hasil bahwa masih ada persepsi negatif (stigma) penderita kusta terhadap penyakit kusta Atas dasar hal tersebut diatas maka perlu diteliti mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. tahun 2006 berjumlah 3. sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan Rumah Sakit Khusus penderita kusta. Jika diajak bicara mereka tidak menatap lawan bicaranya dan sebagian besar memakai baju lengan panjang. sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. diantaranya mereka selalu mengambil tempat di belakang atau di sudut ruang saat menunggu giliran diperiksa. Jumlah penderita rawat inap kkusus kusta tahun 2005 adalah 190 pasien. .

mereka dikucilkan dan dikarantina. Hal ini merupakan masalah besar bagi diri sendiri karena rentan terjadi kecacatan dan bagi lingkungannya karena penderita ini merupakan sumber penularan. Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan penderita baru sebanyak 1. maka perlu pembelajaran yang benar kepada masyarakat luas tentang kesalahan dalam memahami penyakit kusta.B. penderita takut penyakitnya diketahui orang lain. Kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatip yaitu stigma tentang penyakit kusta . bertemu dengan tetangga. data di poli klinik khusus penderita kusta RSUD Tugurejo Semarang sejak tahun 2005 bukannya menurun tetapi dari tahun ketahun menunjukan meningkatan jumlah kunjungan. Berkaitan dengan fenomena stigma yang ternyata memang masih ada di masyarakat luas. kerabat dan petugas kesehatan. Berabad–abad lamanya berbagai mitos dan kepercayaan menciptakan proses stigma terhadap para penderita kusta. Perumusan masalah Penderita kusta semakin hari semakin bertambah. pada saat itu beberapa negara mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan sterilisasi orang yang terkena penyakit kusta. persepsi yang demikian akan menambah beban penderita. bahkan tahun 2007 rata-rata kunjungan pasien baru (penderita baru yang belum pernah minum obat) berjumlah 16 orang per bulan. Mereka menganggap benar tentang persepsi tersebut sehingga mereka akan mengisolasikan diri dari lingkungannya.788 orang. Mereka tidak akan berobat karena harus pergi kesarana kesehatan yang dengan sendirinya harus keluar rumah. Sebaliknya jika penderita mempunyai persepsi positip yaitu .

Ruang Lingkup Penelitian . Mendiskripsikan karasteristik responden. c. Tujuan Umum Mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. b. Tujuan 1. Tujuan Khusus a. d. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip. e. D. f. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Dari uraian tersebut diatas maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini dapat sebagai berikut : “Faktor – faktor apa saja yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ?” C. 2. Mendiskripsikan stigma tentang penyakit kusta menurut persepsi responden.percaya bahwa penyakit ini disebabkan oleh kuman dan bisa disembuhkan maka hal ini dapat membantu penderita untuk lebih percaya diri dan mempunyai motivasi juga dorongan untuk berobat agar cepat sembuh dan tidak terjadi kecacatan. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit.

dapat dipergunakan sebagai bahan informasi dan support yang dapat disampaikan kepada penderita saat berobat agar penderita tidak mempunyai persepsi yaitu stigma penyakit kusta sehingga tidak menghambat salah proses pengobatan yang sedang dijalani. Lingkup Keilmuan Penelitian ini termasuk dalam ilmu kesehatan masyarakat bidang promosi kesehatan khususnya kajian materi perilaku. 3. E. Lingkup Masalah Masalah dibatasi pada Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Lingkup Metode Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode kualitatif 5. Bagi Puskesmas dapat dijadikan masukan dalam pemberian penyuluhan dan melakukan pendekatan terhadap penderita kusta dalam rangka menurunkan angka kesakitan kusta. 2. . Lingkup Lokasi dan waktu Penelitian dilaksanakan di kota Semarang yaitu di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Juni 2008. 4. 2. Manfaat Penelitian 1.1. Bagi unit Pelayanan Kesehatan RSUD Tugurejo. Lingkup Sasaran Sasaran penelitian adalah penderita kusta.

penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta di Kota Semarang secara kualitatif belum pernah dilakukan oleh peneliti lain. tingkat jenis Ada hubungan antara beberapa berhubungan dengan pendidikan. .1 Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti. Judul dan nama Peneliti Metode dan Jenis penelitian Analitik kuantitatif dengan rancangan Sasaran Variabel yang diteliti Hasil 1. khususnya untuk mata kuliah perilaku kesehatan.3.1 dibawah ini. Tabel 1. penelitian ini sebagai pengalaman langsung dalam melakukan penelitian terutama dengan metode kualitatif dan penulisan hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah. Bagi Peneliti. Penelitian tentang penyakit kusta yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti selengkapnya dapat ditampilkan dalam tabel 1. Bagi Program Promosi Kesehatan Merupakan sumbangan bagi khasanah pustaka di program pendidikan Promosi Kesehatan. 4. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penyakit kusta telah banyak dilakukan tetapi sepanjang pengetahuan peneliti. F.Faktor-faktor risiko yang Penderita Kusta Umur. kelamin.

jenis Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan. pendapatan dengan praktik deteksi dini pada anak SD di Kabupaten Blora pendapatan. tipe reaksi karasteristik individu. pengetahuan. masa upaya deteksi dini penderita kusta kerja. oleh Warijan. motivasi keluarga.Faktor-faktor yang berhubungan dengan guru UKS perilaku dalam Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Guru UKS Umur. penyakit kusta. status kepegawaian. aspek klinis Joko Kurnianto.loka si lesi.kecacatan kusta kabupaten Tegal oleh di penelitian Case Control status sosial faktor risiko ekonomi. kelamin. 2002 kusta. sikap. Jenis pekerjaan. kusta aspek pengobatan terhadap kecacatan pada penderita di dan keteraturaan berobat.pencegah an cacat dan kusta perawatan diri Kabupaten Tegal 2. 2005 peranan guru penderita UKS praktik deteksi penderita kusta anak dan kusta peranan dini petugas kesehatan dan pada dengan di praktik .

praktik pengetahuan penemuan penderita baru. jenis Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan. kelamin.Kabupaten Blora. pelatihan. 2007 di Kabupaten penderita Blora baru kusta di Kabupaten Blora 4. Beberapa faktor yang berhubungan dengan penderita praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan Penderita kusta Umur. jenis Hubungan pendidikan ber pengaruh terhadap pendidikan. peranan Wasor dan wasor dan dengan praktik kusta penemuan peranan kusta kusta di Kabupaten Blora oleh Agus Prasetyo. kelamin.Faktor-fartor yang berhubungan dengan pengawas dalam praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Wasor Kusta Umur. pengetahuan. deteksi kusta dini di Kabupaten Blora. penemuan baru penderita sikap. 3. pendapatan .

Faktor umur.dalam pencarian di penelitian Cross Sectional keluarga. dukungan praktik pencarian pengobatan kusta di pengobatan puskesmas Kunduran Kabupaten oleh Blora Dian keluarga dan Puskesmas praktik penderita kusta mencari Kunduran. lama faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap kusta stigma sakit. pengobatan di pengetahuan. pendapatan. 2008 . 5. Judul : Faktor- Deskriptif kualitatif dengan indepth interview Penderita kusta Umur. pengetahuan. kelamin. sikap. jenis Mengetahui dan menguraikan faktor-faktor pendidikan. pekerjaan. Nugraheni. apa saja yang faktor internal. Rencana Penelitian. puskesmas Kunduran dukungan keluarga dan sikap secara bermakna tidak berhubungan dengan praktek penderita dalam mencari pengobatan. persepsi belakangi persepsi penderita penyakit kusta oleh Soedarjatmi. 2005 dalam jenis kelamin. melatar faktor ekternal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA . kegawatan penyakit. dan kusta sehingga penderita merasa terstigma karena penyakitnya. persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif stigma penderita kusta. manfaat berperilaku positif.penderita tentang: kemudahan kemungkinan terkena penyakit.

Cara keluar dari Penjamu (Host) . Definisi Penyakit Kusta Penyakit Kusta juga dikenal sebagai lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium lepra) yang terutama menyerang saraf tepi dan organ tubuh kecuali susunan saraf pusat.A. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. kuman kusta ini berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 8 mic. 2. 2. b.2 – 0. lebar 0. Penyakit Kusta 1.W. Penyakit kusta. Hansen dalam tahun 1873. B. Perilaku menurut Rosenstock (HBM) dan F. Waktu pembelahan sangat lama yaitu 2 – 3 minggu. Tentang stigma. E. Mycobacterium leprae untuk pertama kali ditemukan oleh G. Perilaku menurut L. hidup dalam sel dan bersifat tahan asam. Green. Mengenai persepsi. Kerangka teori. Landasan Teori yaitu 1.Pada bab ini penulis menguraikan tentang : A. Penyebab.5 mic. c. C. D. Sumber penularan Sampai saat ini hanya manusia yang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman kusta dapat hidup pada Armandillo. biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu – satu. Simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar Thymus. Faktor – faktor yang menentukan terjadinya sakit kusta a. A. Diluar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dapat bertahan sampai 9 hari.

Penularan terjadi apabila M. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti. Dari hasil penelitian menunjukan gambaran sebagai berikut : Dari 100 orang yang terpapar 95 orang tidak menjadi sakit. Kusta mempunyai masa inkubasi 2 – 5 tahun. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1 – 9 hari tergantung pada suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan. yang jumlah bakterinya banyak) merupakan sumber kuman yang terpenting di dalam lingkungan. hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. 3) faktor daya tahan tubuh. Cara Penularan Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi Basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). akan tetapi dapat juga bertahun–tahun. . secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. d. Penderita inipun tidak akan menularkan apabila berobat teratur. Telah terbukti bahwa saluran nafas bagian atas dari penderita lepramatous (tipe MB. 2) Faktor kuman kusta. semua itu tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1) faktor sumber penularan.Lepra yang solid (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. 3 orang sembuh sendiri tanpa diobati dan 2 orang menjadi sakit. adalah penderita MB saja.Kulit dan mukosa hidung telah lama diketahui sebagai sumber dari kuman. penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain.

e. Dari sebagian kecil ini 70% dapat sembuh dan hanya 30% yang dapat menjadi sakit. Sistim kekebalan yang efektif melawan kuman kusta adalah sistim kekebalan seluler. hal ini disebabkan karena adanya immunitas seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Bila orang tersebut mempunyai kekebalan tubuh yang tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten / kebal terhadap kuman kusta. 3). f. Dilain pihak manusia sebagian besar kebal (95%) terhadap kusta hanya sebagian kecil yang dapat ditulari (5%). . Tuan rumah Hanya sedikit orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah kontak dengan penderita. 2).Bila orang tersebut memilki kekebalan rendah terhadap kuman kusta mungkin akan menderita penyakit kusta yang dapat sembuh sendiri. Bila orang tersebut tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta merupakan kelompok terkecil dan mudah menderita kusta yang stabil dan progresif. Cara masuk ke dalam tubuh Tempat masuk kuman kusta kedalam tubuh sampai saat ini belum dapat dipastikan. diperkirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernafasan bagian atas. Tidak pada semua penderita terdapat banyak Mycobacterium leprae yang hidup sehingga hanya kira-kira 5 – 15 % dari penderita kusta yang dapat menularkan penyakit.

Upaya pemutusan mata rantai penularan dapat dilakukan melalui : 1). Penjamu yang mempunyai kekebalan tubuh tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten terhadap kuman kusta. 3). Isolasi terhadap penderita kusta namun hal ini tidak dianjurkan karena penderita yang sudah berobat tidak akan menularkan penyakit ke orang lain. Penjamu mempunyai kekebalan rendah terhadap kuman kusta bila menderita kusta biasanya tipe PB. Pengobatan MDT pada penderita kusta 2). 2).Seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Cara pemutusan mata rantai penularan Penentuan kebijaksanaan dan metoda pemberantasan penyakit kusta sangat ditentukan oleh pengetahuan epidemiologi kusta dan perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan. bila menderita kusta biasanya tipe MB g. 3). Vaksinasi BCG pada kontak serumah dengan penderita kusta. Penjamu yang tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta yang memrupakan kelompok terkecil. Perbaikan kondisi sosial ekonomi menghasilkan penurunan insidens kusta meskipun faktor-faktor yang mendukung penurunan ini tidak diketahui. kondisi perumahan. jumlah jiwa dalam satu rumah tangga dan jumlah anggota keluarga diperkirakan merupakan faktor penting . Kondisi sosial ekonomi diperkirakan memainkan peranan penting dalam upaya pemberantasan kusta.

b. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritematous). pembengkaan (edema) dan lain-lain. c. Untuk tujuan tertentu kadang jaringan diambil dari bagian tubuh tertentu (biopsi). Peradangan pada penderita kusta (neuritis) dapat dirasakan berupa rasa nyeri namun kadang-kadang penderita tidak merasakan adanya nyeri (silent neuritis). .3. Basil tahan asam (BTA) positif. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. 2). 3). Mati rasa dapat bersifat kurang rasa (hipertesi) atau tidak merasa sama sekali (anaestesi). Gangguan fungsi sensoris : mati rasa. Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise). Diagnosa Kusta Diagnosa penyakit kusta hanya dapat didasarkan pada penemuan tanda utama (Cardinal sign) yaitu : a. Gangguan fungsi otonom : kulit kering. retak. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). Gangguan saraf ini bisa berupa : 1). Bahan pemeriksaan BTA diambil dari kerokan kulit (skin smear) asal cuping telinga (rutin) dan bagian aktif suatu lesi kulit.

Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut 5). Apabila hanya ditemukan cardinal sign ke-2 dan petugas ragu orang tersebut dianggap sebagai kasus yang dicurigai (suspek) 4. Klasifikasi Klasifikasi penyakit kusta bertujuan untuk menentukan regimen pengobatan dan perencanaan operasional. lamprene . Kulit mengkilap 3). Luka yang tidak sakit Tanda-tanda tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar diagnosa penyakit kusta. Tanda-tanda tersangka kusta (Suspek) a. 2). Adanya cacat (deformitas) 4). Tanda-tanda pada saraf : 1). Bercak yang tidak gatal 4). 3). Rasa kesemutan tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. Lepuh tidak nyeri b. Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau multidrug therapy (MDT) yaitu menggunakan gabungan Refampicin. 5. Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka. Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih atau benjolan 2). Tanda-tanda pada kulit 1).Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda utama diatas.

dan diamino diphenyl sulphone (DDS) maka penyakit kusta di Indonesia diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu : a. Hasil pemeriksaan bakteriologis yaitu skin smear basil tahan asam (BTA) positif atau negatif. Tanda Utama Bercak yang mati rasa / kurang rasa di kulit.1 klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO. Pedoman utama untuk menentukan klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO adalah sebagai berikut : Tabel 2. Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan bila diagnosa meragukan. Tipe Pausi Basiler (PB) b. Sediaan apusan BTA negatif BTA positif Hanya satu saraf Lebih dari satu saraf PB Jumlah 1 s/d 5 MB Jumlah > 5 . b. Manifestasi klinik yaitu jumlah lesi kulit. jumlah saraf yang terganggu dan sebagainya. Tipe Multi Basiler (MB) Penyakit kusta dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu : a. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi (gangguan fungsi bisa berupa kurang/mati rasa atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh yang bersangkutan.

Sumber : Depertemen Kesehatan RI. Pengertian Reaksi kusta atau reaksilepra adalah suatu episode perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu kekebalan (seluler respon) atau reaksi anatigen-antibodi (respon) dengan akibat merugikan penderita terutama padasyaraf tepi yang menyebabkan gangguan fungsi (cacat) . b. Reaksi Up grading ) Terjadi pada penderita tipe PB maupun MB dan kebanyakan terjadi pada 6 bulan pertama pengobatan. Reaksi ini bisa terjadi saat penderita mendapat pengobatan atau sesudah mendapat pengobatan. hal ini terjadi karena meningkatnya respon kekebalan seluler secara cepat terhadap kuman kusta dikulit dan saraf penderita dan disi akan terjadi pergeseran tipe kustanya kearah PB. gangguan fungsi saraf tepi dan kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita. bila reaksi ini tidak di tangani dengan cepat dan tepat maka kecacatan permanen bisa terjadi (misal Claw hand. neuritis (nyeri pada saraf). a) Gejala reaksi dapat dilihat pada perubahan kulit. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Drop foot dan lain-lain). Reaksi kusta a. Jakarta 2005 6. . kasus yang sering terjadi penderita mengalami reaksi pada 6 bulan sampai satu tahun sesudah pengobatan dan berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Jenis Reaksi Jenis reaksi sesuai proses terjadinya dibedakan menjadi 2 yaitu : 1) Reaksi tipe I ( Reaksi Reversal.

menebal.2 Beda reaksi berat dan ringan pada reaksi tipe I Gejala 1. Jakarta 2005 fungsi kelemahan 2) Reaksi Tipe II (Reaksi ENL = Eritema Nodusum Leprosum) Terjadi pada penderita tipeMB dan merupakan reaksi humoral. . Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Lesi panas dan nyeri tekan. tangan dan kaki membengkak.b) Menurut keadaan reaksi maka reaksi tipe I ini dapat dibedakan yaitu reaksiringan dan reaksi berat c) Perjalanan reaksi berlangsung selama 6 – 12 minggu atau lebih Tabel 2. 2. Saraf tepi Tidak ada nyeri tekan saraf dan Nyeri tekan dan / atau gangguan fungsi gangguan misalnya otot. dimana kuman kusta yang utuh maupun tidak utuh menjadi antigen. Sumber : Depertemen Kesehatan RI. Lesi Kulit Reaksi Ringan Reaksi Berat membengkak Tambah aktif. Makula sampai ada yang pecah. yang menebal dapat sampai merah teraba panas dan membentuk plaque nyeri. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. merah. pada sendi terasa sakit dan ada kelainan kulit baru.

Gejala Gejala dapat dilihat pada perubahan lesi. gangguan konstitusi dan komplikasi pada organ tubuh. maka reaksi dapat dibedakan reaksi ringan dan reaksi berat. banyak. c. Syaraf tepi Tidak ada demam atau ringan saja Demam ringan sampai berat Tidak ada nyeri tekan. Tabel 2. neuritis (nyeri tekan) dan gangguan fungsi saraf tepi. gangguan fungsi 4. Kadang-kadang timbul berulang-ulang dan berlangsung lama. Organ Tubuh Tidak ada gangguan organ-organ Terjadi peradangan pada tubuh mata : liridocyslitis Testis: Epididimoorchitis Ginjal : Nephritis Kelenjar Limfadenitis Gangguan pada tulang Limfe : . Lesi Kulit Nodul Reaksi Ringan yang nyeri tekan. b. lama. Reaksi Berat jumlah Nodulnyeri tekan. Perjalanan reaksi Biasanya berlangsung selama 3 minggu atau lebih.3 Perbedaan reaksi Berat dan Ringan Tipe I Gejala 1. Keadaan Umum 3. ada pecah jumlah berlangsung sedikit biasanya hilang sendiri dalam yang 2-3 hari sampai (ulseratif). Menurut keadaan reaksi. 2.Tubuh membentuk antibodi dan komplemen (Antigen + antibodi + komplemen = immunokompleks) a. gangguan Ada fungsi nyeri tekan.

hidung dan tenggororan. Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

Tabel 2.4 Perbedaan reaksi Tipe I dan Tipe II No 1 Gejala / tanda Keadaan Umum Reaksi Tipe I Reaksi Tipe II sampai berat

Umumnya baik, demam Ringan ringan (sub febril) atau disertai tanpa demam umum tinggi

kelemahan dan demam

2

Peradangan di kulit

Bercak

kulit

lama Timbul

nodul

menjadi lebih meradang kemerahan, lunak dan (merah), dapat timbul nyeri tekan. Biasanya pada tungkai. lengan Nodul dan dapat

bercak baru

pecah (ulcerasi) 3 Saraf Sering terjadi umumnya Dapat terjadi berupa nyeri tekan saraf dan / atau gangguan fungsi saraf

4

Peradangan organ

pada Hampir tidak ada

Terjadi mata,kelenjar bening, testis, dll sendi,

pada getah ginjal,

5

Waktu timbulnya

Biasanya segera setelah Biasanya pengobatan mendapatkan

setelah

pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan 6 Tipe Kusta Dapatterjadi pada kusta Hanya pada kusta tipe tipe PB maupun MB 7 Faktor pencetus MB

Emosi, kelemahan, stess fisik lain, kehamilan, pasca persalinan,obat-obat yang meningkatkan kekebalan tubuh penyakit infeksi lainnya

Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

7. Pengobatan Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan/kutukan. Pada tipe MB lama pengobatan :12-18 bulan dan tipe PB lama pengobatan : 6 9 bulan Pengobatan penderita kusta menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment ( MDT ) jenis obatnya adalah Rifampicin, Dapson,

Lamprene tergantung dari tipe penyakitnya. Untuk tipe PB terdiri dari 2 macam obat 2 kapsul Rifampicin 300 mg dan 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya 1 tablet DDS 100 mg selama satu bulan, untuk tipe MB menggunakan 2 kapsul Rifampicin 300 mg, 3 kapsul Lamperen 100 mg, 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya minum DDS dan Lampren 50 mg masing-masing satu selama satu bulan.

8. Kecacatan akibat penyakit kusta a. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kecacatan antara lain 1). Faktor yang berhubungan dengan penderita (umur, jenis kelaimin) 2). Faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit ) 3). Kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat mikobakterium leprae, makin mudah serabut syaraf menderita trauma makin mudah rusak oleh mikobakterium leprae) 4). Pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama akan menimbulkan kecacatan pada penderita kusta. 5). Faktor pekerjaan : yang sering mengalami kecacatan adalah penderita kusta yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat. b. Pembagian Kecacatan Dilihat dari asal terjadinya kecacatan : 1). Kecacatan Primer Yaitu kecacatan langsung disebabkan oleh aktifitas penyakitnya sendiri, cacat ini terbentuk selama fase aktif dari penyakitnya. Kecacatan primer ini karakteristik untuk penyakit kusta dan perkembangannya bisa diramalkan, biasa terjadi pada : a). Wajah ( cuping telinga yang memanjang, hilangnya rambut alis, cacat hidung/ hidung pelana, wajah keriput, lemah pada syaraf wajah/paralise fasialis )

B. pemendekan jari tangan. diorganisasi dan di interpretasikan. Kaki (luka akibat tumpuan berat badan. Anggota gerak ( kithing pada tangan / “clow hand “ dan “claw thumb”.(8) . kaku / kontraktur) b). Kecacatan Sekunder Yaitu kecacatan yang tidak langsung disebabkan oleh penyakitnya sendiri tetapi disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan paralysis motoris / kelumpuhan . Tangan (luka pada ujung jari dan ruas jari hal ini disebabkan oleh cara memegang yang berlebihan karena tidak terasa. “tarsal collaps”.hidung. warna dan suara. Cacat ini terbentuk akibat salah dalam aktifitas / ”misuse” atau tidak pernah digunakan “disuse” sebagai akibat adanya hilangnya perasaan kulit / insensibilitas.telinga. Persepsi Persepsi setiap orang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda oleh karena itu persepsi mempunyai sifat subyektif. Sedangkan persepsi adalah proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi. kaku/kontraktur).”osteolisis dan absorbsi” tulang kaki.b). Solomon mendefinisikan bahwa sensasi sebagai tanggapan yang cepat dari indera penerima kita (mata.mulut dan jari) terhadap stimuli dasar seperti cahaya. Tejadinya cacat karena adanya trauma dan infeksi sekunder. biasa terjadi pada : a). kithing jari-jari kaki/ “ clow toes” dan semper / “ drop foot” ) 2).

1996) Sumber : Sulisna. Solomon. Perilaku Konsumen dan Komunikasi pemasaran.STIMULI Penglihatan Suara Bau Rasa Tekstur Sensasi Pemberian arti Persepsi Indra Penerima Perhatian Interpretasi Tanggapan Gambar 2.1 Perceptual (Michael R. sesuatu yang bersifat mengembangkan kreatifitas dan membantu memberikan makna bagi pengalaman panca indera tersebut. Robbins (2006) persepsi didefinisikan sebagai proses yang digunakan individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan inderawi mereka untuk memberi makna kepada lingkungan mereka dan menurut Kimble (1984) merupakan proses interpretasi terhadap informasi yang ditangkap oleh panca indra. Salah satu aspek penting yang berperan dalam diri seseorang ketika ia mempersepsikan sesuatu adalah pengetahuan yang dimiliki sebelumnya tentang apa yang sedang dipersepsikan. Bandung 2001 Persepsi dalam kamus psikologi adalah proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera (11) . Dikemukakannya pula bahwa persepsi merupakan suatu proses aktif dimana orang yang mempersepsikan sering melebihi informasi yang baru didapatkannya untuk membentuk suatu kesan dari ciri-ciri personal yang tak terlihat dan .

kelas dan tipe orang yang terlibat. Faktor-faktor internal antara lain : 1. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penafsiran stimulus atau rangsangan seseorang sehingga individu akan memberikan interpretasi dari obyek tertentu. Kondisi dan tuntutan biologis/fisiologi 3. sebagai produk dari persepsi ini merupakan kombinasi dari apa yang ada senyatanya dengan apa yang diharapkan dari orang yang dihadapinya. Lebih lanjut dikemukakan bahwa persepsi merupakan hasil proses pengamatan seseorang berasal dari komponen kognitif yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman proses belajar. Persepsi merupakan salah satu mata rantai perubahan sikap.kekuatan lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia karena orang yang mempersepsi tidak berada didalam lingkungan sosial yang kosong. Kesan akhir. Keturunan (heriditer) 2. Proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri) . kepribadian dan budaya yang dimiliki seseorang. Kecerdasan / pendidikan 4. Faktor yang berperan dalam pembentukan persepsi adalah kognitif. serta situasi tertentu yang sedang mempengaruhi individu yang sedang mempersepsi Persepsi adalah pandangan individu terhadap lingkungannya sebagai gambaran subyektif internal seseorang terhadap dunia luar.(15) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses persepsi sehingga terjadi perbedaa persepsi antara satu individu dengan individu lainnya terdiri dari faktor internal dan ekternal. pengetahuan dan pendidikan serta keadaan sosial budaya setempat.

atau minat. Faktor-faktor eksternal antara lain : 1. motivasi. tingkat pendidikan. Nilai-nilai individu yang dianut 10. Norma masyarakat. 2. kepentingan. pekerjaan. lingkungan. budaya. latar belakang sosial ekonomi. Efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus) 8. 4. Variabel lain yang ikut menentukan persepsi adalah umur. Pengaruh ekosistim lainnya (7) Persepsi tidak hanya sekedar mendengar.fisik. 3. Harapan terhadap objek 6. Adat istiadat. Sikap dan kenyakinan keagamaan 9. Ketergesahan menilai sesuatu berdasarkan informasi yang tidak lengkap 7. kepribadian dan pengalaman hidup individu (13) Jenis kelamin Umur Tingkat Pendidikan . Pengetahuan/pengalaman masa lalu tentang objek.5. pengalaman dan pengharapan. melihat dan merasakan sesuatu yang didapatkan disini lebih jauh disepakati persepsi melibatkan rangsangan internal dan eksternal. Konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/ tekanan sosial). Faktor pihak pelaku persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti : sikap.

hal yang memalukan. Beberapa Teknik dalam Manajemen Mutu. Universitas Gajahmada. Stigma adalah suatu karakteristik yang dipertimbangkan tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. Stigma Stigma berasal dari zaman Yunani kuno.Salim adalah hal yang membawa aib. Manajemen Rumah Sakit. kata ini menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap pada tubuh orang-orang yang dianggap bergolongan rendah seperti pencuri. malu atau takut karena sesuatu (14) . Sumber : Jacobalis.Pekerjaan Persepsi Sosial Ekonomi Budaya Lingkungan Fisik Kepribadian & Pengalaman Gambar 2. penjahat. pengkianat Negara dan tentu saja pada penderita kusta (39) . Ada banyak bukti yang mendukung bahwa orang yang dibuat merasa terstigmasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam . noda aib atau sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri.2000 C. proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat dianggap menjijikan dan harus dijauhi Stigma dalam kamus P. Di era modern muncullah istilah “stigmatisasi“ yang lebih mencerminkan kelas dari pada fisik. Yogyakarta. Samsi.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Penderita.

ini merupakan sikap negatip yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok atau individu. Efek dari stigmatisasi dapat berlangsung lama tetapi efek ini dapat dibatasi karena orang-orang yang mendapat stigma dapat menggunakan taktik yang beragam agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui stigma mereka diantaranya menyembunyikan secara selektif tentang stigma dimasa lalu. Banyak masyarakat berprasangka bahwa penyakit kusta sangat membahayakan bagi lingkungan mereka selain menularkan dan menjijikan mereka beranggapan bahwa penderita kusta tidak lagi berguna karena pada keadaan cacat penderita tidak produktif lagi. mencegah pengungkapan diri terhadap teman dekat dan berbagai stategi penipuan lainnya. Proses stigmatisasi atau “lebeling” memiliki dua akibat yaitu (12) : 1) Dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. Kenyakinan yang mendasari timbulnya prasangka tersebut disebut stereotype yaitu kenyakinan yang menghubungkan sekelompok orang dengan ciri-ciri tertentu dan stereotype adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok dan suatu image yang pada umumnya sangat sederhana. kaku dan klise serta tidak akurat.kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar. ketidak akuratan ini timbul dari proses . 2) Stigma pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya dan menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. Brehm dan Kanssin 1993 berpendapat bahwa prasangka adalah perasaan negatif yang ditujukan terhadap seseorang berdasar semata-mata pada kelompok tertentu dan melibatkan penilaian apriori.

Mengajarkan untuk tidak membenci. oleh apa yang sedang kita hadapi saat ini . Melakukan kontak langsung. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. Penderita kusta sering mendapat perlakuan diskriminasi dari lingkungannya biasanya diskriminasi ini merupakan perwujudan tingkah laku dari prasangka atau manifestasi prasangka dalam bentuk tingkah laku nyata. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta adalah proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. belajar mengenal dan memahami orang lain.overgeneralisasi (perluasan karakteristik) (9) . 4. 2. Beberapa kemungkinan upaya untuk mengurangi atau mencegah timbulnya prasangka (9) : 1.1981 dimasa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap sering dikaitkan dengan konsep mengenai postur fisik (9) Banyak faktor yang menimbulkan stigma kusta dan ini sangat bervariasi. dalam setiap masyarakat ada masalah yang komplek mengapa kusta ditakuti dan . Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. hal yang memalukan. Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang orang lain. 3. Mengoptimalkan / membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui pengukuhan positip. Pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan kita akan masa lalu. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. Menurut Wrightsman dan Deaux. D.

Beberapa alasan yang sifatnya umum diantaranya (3) : 1. hal ini menambah rasa takut penderita. beberapa kelompok percaya bahwa kusta disebabkan karena kutukan dewa karena berbuat salah. Takut Ketularan Pengucilan penderita kusta dilakukan karena alasan takut ketularan. Bau . 4. penderita dianggap korban guna-guna. sampai akhirnya masyarakat percaya bahwa kusta disebabkan oleh kuman kusta. disantet dan penyakit akibat sexual.menjadikan penyakit yang memalukan. 2. penderita dijauhkan dianggap berdosa dan lingkungan tidak ingin mengalaminya. Hukuman Mati Faktor lain adalah sampai tahun 1940 an penyakit kusta belum ada obat yang bisa mengobati secara efektif ini berarti penderita kusta seakan-akan telah divonis hukuman mati karena penyakitnya tidak bisa diobati. Percaya tentang akibat kusta Percaya tentang akibat kusta telah berbeda sepanjang waktu dan dimana tempat. Ketidak mampuan dan kecacatan Alasan lain untuk stigma adalah kecacatan dan ketidak mampuan yang disebabkan oleh penyakit itu. 3. kepercayaan ini mempengaruhi bagaimana penyakit dan penderita kusta diperlakukan. hidung melebar ini bararti sepintas orang melihat akan tau bahwa mereka menderita kusta. tebal. masyarakat takut terkena infeksi seperti penderita. penyakit kusta dengan tanda-tanda khusus di wajahnya dimana kulit menjadi keriput. 5.

Solusi pada Stigma kusta (2) Walaupun perkembangan yang besar. 2. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. kusta masih menjadi problem dibanyak negara diperkirakan bahwa antara 11 sampai 12 juta orang menderita kusta telah terobati akan tetapi stigma kusta masih sangat nyata dan perlu ditangani. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). Ada 2 komponen pendekatan dalam menangani stigma kusta (2) : 1. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Mencegah stigmatisasi orang lain. Membantu mereka yang benar-benar mengalami stigma kusta. hal ini akan lebih efektif dan efisien karena lebih baik mencegah stigmatisasi dari pada mencoba mengembalikan penderita yang sudah ditolak oleh masyarakat. 6. bau ini dapat menjijikan dan membuat keadaan memburuk sehingga masyarakat tidak mau menerima mereka. Banyak faktor yang menyebabkan penderita bereaksi terhadap penyakitnya diantaranya (18) . Stigmatisasi diri sendiri Hal ini sangat nyata.Beberapa pasien kusta mempunyai bau badan yang sangat jelas / khas disebabkan oleh luka – luka yang terinfeksi. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita.

kemudahan mencapai sarana tersebut. 4. rendah diri. 8. Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya. dsb). RSUD Tugurejo sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan rumah sakit khusus (RSK) penderita kusta. Sejarah RSUD Tugurejo. 2.1. Tahun 2000 mengalami perubahan status dari Rumah Sakit khusus menjadi Rumah Sakit Umum. Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dikenalnya. Pada tanggal 13 Januari 1994 dengan Peraturan Daerah tentang stuktur organisasi tata kerja Rumah Sakit Kusta Provinsi Jawa Tengah sebagai Rumah Sakit Khusus kelas C. Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit. Informasi. 7. Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya. 3. Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang. Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga. 1. tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu. 9. Tahun 2004 RSUD Tugurejo telah terjadi peningkatan kelas menjadi RSU kelas B non pendidikan. takut. 6. hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya. Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala yang menyimpang dari keadaan biasa. E. tahun 2006 RSUD Tugurejo telah terakreditasi dan . Tersedianya sarana kesehatan. pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu. 5. Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kerentanan individu untuk terserang penyakit itu).

Penanganan penderita di rawat jalan dilayani di poli khusus penyakit kusta dengan urutan sebagai berikut : a. 2. Dokter Spesialis Kulit melakukan anamnese. perawat melaksanakan anamnese dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. b. Dokter Spesialis Kulit dapat mengkonsulkan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam. c. radilogi atau pemeriksaan lain). RSUD Tugurejo melayani pasien kusta rawat jalan dan rawat inap. Pasien menyerahkan bukti pendaftaran ke poli khusus. menegakkan diagnosa kerja dan memberikan resep obat serta edukasi terhadap pasien. Penyakit Saraf. Pasien mendaftar di loket pendaftaran. Yang dilakukan RSUD Tugurejo terhadap penderita kusta. e. tujuan pelayanan ini adalah mengobati dan memutus rantai penularan penyakit kusta. Bagi pasien yang memerlukan rawat inap. f. d. Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium.lulus ISO 9000. . dokter memberikan surat perintah mondok dan perawat akan berkoordinasi dengan ruang Kenanga yaitu ruang khusus penderita kusta. Rehabilitasi medis atau lainnya sesuai dengan kondisi pasien. pemeriksaan. Sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan unggulan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah.

Informed consent dilakukan apabila perlu untuk tindakan. FISIK PASIEN LAMA PASIEN BARU PENATA LAKSA NAAN PEM. misal operasi. PENUN JANG PASIEN PULANG RAWAT INAP BTA (+) BTA (-) PENATA LAKSA NAAN EVALUASI 1 BULAN EDUKASI . PASIEN DATANG ANAMNESIS PEMERIK.g.

Perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu : faktor predisposisi. Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan. Landasan Teori Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek (11) yaitu aspek fisik. Sumber : Dokumen Instruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik Khusus RSUD Tugurejo Semarang. minat. keyakinan. persepsi. sikap dan sebagainya. sikap dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman. karena perilaku merupakan resultansi dari berbagai faktor. Green berpendapat (19) faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi. F. Selanjutnya Green mencoba menganalisis perilaku manusia pokok yaitu faktor perilaku.PASIEN PULANG RAWAT INAP Gambar 2. motivasi. psikis dan sosial yang secara rinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti: pengetahuan. Lawrence W. keinginan. dan faktor penguat. motivasi. sarana fisik dan sosial budaya masyarakat. Perilaku menurut Lawrence W. baik internal maupun eksternal (lingkungan). Green. faktor pemungkin. 1.(19) .3 : Alur Pelayanan Pasien Poliklinik khusus penyakit kusta. perseprsi.

kita dapat mengatakan faktor predisposisi sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. umur. Sumber daya itu meliputi ketersediaan sarana dan ketercapaian berbagai sumber daya. jenis kelamin dan ukuran keluarga.(11) Lingkungan keluarga yang nyaman mempunyai respon yang kuat terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan anggota keluarganya.Faktor predisposisi mencakup pengetahuan. nilai. Faktor pemungkin mencakup sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan. keyakinan. Hal ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat dalam setiap kasus. dan persepsi. Termasuk dalam faktor predisposisi adalah faktor demografis seperti status sosial ekonomi. berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak. Dalam arti umum. Perilaku seseorang cenderung untuk berkiblat pada perilaku yang berlaku dalam keluarga individu tersebut. Faktor penguat disini diterangkan bahwa lingkungan keluarga sangat dominan dalam mempengaruhi pembentukan perilaku seseorang.(11) . Lingkungan keluarga yang ideal dalam arti suatu keadaan yang menjamin kenyamanan pada tiap-tiap anggota keluarga akan membentuk perilaku yang terarah dan cenderung untuk bersikap terbuka terhadap nilai-nilai baru yang tentu saja diterima oleh keluarga tersebut. Keadaan demikian ini memungkinkan lingkungan keluarga lebih peduli terhadap apa yang dilakukan anggota keluarganya. sikap.

faktor penguat/pendorong dan faktor pendukung. model ini sering kali dipertimbangkan sebagai kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia (20) .W.Predisposing factors Knowledge Attitudes Beliefs Values Perseption Reinforsing Factors Attitudes and behavior of health other personnel peers.Green. Second edition.2000 2. Health Promotion Planning. groups or communities Enabling factors Availability of resources Accessibility Referrals Ruler orlaws Skills Environmental Factors Gambar 2. Sumber : L. etc Behavior (action) of individuals. parents or employers.4 : Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok yaitu faktor yang mempermudah. Perilaku menurut Rosenstock (Health Belief Model) Teori Health Belief Model (HBM) merupakan model kognisi yang menjelaskan bahwa perilaku sebagai hasil proses informasi rasional dan menekankan pada kognisi individu.

dan persepsi-persepsi ini memprediksi kemungkinan seseorang akan berperilaku. Namun ada pula kemungkinan motivasi kesehatan positif yang meliputi perilaku mau untuk berobat. Tanda-tanda seseorang perperilaku / bertindak. 3. 4. Persepsi seseorang terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. memeriksa atau mengendalikan kondisi kesehatan buruk jika mereka memandang rentan terhadap kondisi itu. Dalam konsep HBM dijelaskan bahwa perilaku adalah sebuah hasil dari sekumpulan persepsi. jika mereka percaya bahwa tindakan tertentu yang tersedia akan menguntungkan dalam mengurangi kerentanan atau keparahan kondisi. Persepsi seseorang terhadap benefits / untung – ruginya bila melakukan perilaku tersebut. Persepsi seseorang terhadap pembiayaan bila melakukan perilaku tersebut 5. 2. dan jika mereka percaya bahwa hambatan yang terantisipasi untuk mengambil tindakan dipertimbangkan dengan keuntungan. . Persepsi seseorang terhadap kegawatan suatu penyakit. HBM berhubungan dengan aspek kesehatan negatif yaitu perilaku seseorang ketika terancam suatu penyakit.Secara umum HBM diyakini bahwa individu akan mengambil tindakan untuk menghindarkan. Persepsi tersebut adalah : 1.

Jane. Philadelphia. Health Psychology a Text book.Cues to action Susceptibility Demographic variable Severity Likehood of Behaviour Benefits Cost Gambar 2. hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berfikir tentang penyakit yang diderita betul-betul merupakan ancaman kepada dirinya. individu akan melakukan tindakan pencegahan didasari oleh dua kenyakinan atau penilaian kesehatan (health beliefs) yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian.5 Basics of Health Belief Model Sumber : Ogden. Asumsinya bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut meningkat maka perilaku pencegahan juga meningkat. Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap risiko yang akan muncul. 1996 Proses kognitif dalam HBM dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan. .

pengalaman tentang masalah). dia percaya bahwa penyakitnya akan berakibat serius pada anggota tubuh.Penilaian kedua yang dibuat adalah perbandingan antara keuntungan dengan kerugian dari perilaku dalam usaha untuk memutuskan tindakan selanjutnya. . HBM menyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. pertimbangan keuntungan dan kerugian dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu variabel demografi (usia. Adanya gejala-gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi negatif penderita. variabel sosiopsikologi (kepribadian. akan tetapi penderita dengan persepsi positif merasa bahwa penyakit kusta adalah ancaman kesehatan yang serius melakukan pengobatan secara rutin adalah suatu keuntungan yang tinggi dan biaya yang rendah dibandingkan apabila sudah terjadi kelainan atau kecacatan. kelas sosial. kerentanan. Penderita sering mengatakan bahwa mereka merasa malu karena penyakitnya sehingga tidak memeriksakan diri. Ancaman. tekanan sosial) dan variabel struktural (pengetahuan. Contohnya perilaku penderita kusta yang mengasingkan diri merupakan kemudahan untuk terjadi adanya kecacatan dan sumber penularan. latar belakang budaya). keseriusan.

W.6.G. Kerangka Teori : modifikasi teori L.Internal factor .External factor Benefits Cost Gambar 2. Green dan teori HBM . Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan pustaka diatas diambil suatu kerangka teori yang bersumber dari teori Lawren W Green dan teori Health Belief Model (HBM) sebagai berikut : Susceptibility Demografik Variable Severity Perceived stigma Reinforsing Factor .

Variabel Bebas Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit Variabel Terikat Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Lama sakit Keluarga Tetangga Teman Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positif Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif Penderita kusta merasa terstigma Gambar 3.1.BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Penelitian . Kerangka konsep.

Bagaimanakah persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 2. Bagaimanakah faktor Demografik (umur. pekerjaan pendapatan dan lama sakit) melatar belakangi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 3. jenis kelamin. Bagaimanakah faktor internal (lingkungan keluarga) dan (lingkungan masyarakat) melatar belakangi persepsi penderita? eksternal C. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana faktor kegawatan penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 5.B. alasan yang mendasari penelitian jenis ini karena dapat menggali atau menghasilkan data deskriptif secara mendalam mengenai persepsi responden . Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Bagaimana faktor kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 4. pendidikan. Bagaimanakah faktor manfaat jika berperilaku positif melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 6. Bagaimana faktor risiko jika berperilaku negatip melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 7.

(22) Metode kualitatif lebih menekankan pada validitas dengan pemahaman bagaimana manusia sebenarnya berperilaku dan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh manusia ketika menggambarkan pengalaman. analisis induktif karena peneliti tidak memaksa diri untuk hanya membatasi penelitian pada upaya menerima atau menolak dugaan-dugaanya melainkan mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri. pengalaman dan pandangan semua peserta risetnya. dimana tujuan riset kualitatif sendiri adalah mengembangkan konsep-konsep yang dapat menjelaskan makna suatu fenomena dan membantu pemahaman lebih mendalam atas fenomena sosial dan perilaku dalam setting atau lingkungan yang alami (bukan percobaan / eksperimen) dengan demikian memberi penekanan pada makna-makna.terhadap stigma penyakit kusta. perilakunya dan penalaran yang tersirat pada metode kualitatif bersifat induktif (bergerak dari observasi menuju hipotesis dan bukan pengujian hipotesis/deduktif). Keempat. Kedua : berhubungan langsung dengan sasaran (responden). sikap. menarik dan unik bermakna dilapangan (30) . serta memberikan kemungkinan bagi perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar. (25) . perspektif yakni memahami secara menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti.(23) Metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan lain yakni : pertama.luwes karena rancangan studi ini bisa dimodifikasi meskipun sedang dilaksanakan (24). tidak lazim mendefinisikan suatu konsep. Luwes tak terlalu rinci. bersifat holistik. Tehnik kualitatif memberi kesempatan pada peneliti untuk mengamati dan berhubungan langsung dengan sasaran penelitian (responden) (22) Ketiga.

Sampel Penelitian kualitatif bertolak dari asumsi yang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang. b. c. Mau berpartisipasi menjadi subyek penelitian. selalu menundukkan kepala) saat berobat di RSUD Tugurejo Semarang. 2. . Data kunjungan pasien rawat jalan di poli khusus penderita kusta ratarata 344 orang per bulan. padanya terdapat pola tertentu namun penuh variasi (keragaman). Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta yang mendapat pelayanan di RSUD Tugurejo Semarang.D. menyendiri. penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sampel (30) . Tehnik pemilihan sampel dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Dalam penelitian ini sample berjumlah 8 (delapan) orang penderita kusta dengan kriteria sebagai berikut : a. Dari pengamatan penulis penderita yang terlihat tidak percaya diri dalam berperilaku (misal: memakai pakaian tertutup/lengan panjang. memakai topi.

Mau berpartisipasi dalam penelitian ini. dengan kriteria sebagai berikut : a. pendidikan. pekerjaan. b. Dalam penelitian ini berjumlah 5 orang E. e.d. b. 1) Karakteristik responden yang terdiri dari umur. Variabel Penelitian a. 3) Faktor persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit. Dalam penelitian ini sampel berjumlah 8 orang penderita Informasi dan tanggapan lain dalam penelitian yang digunakan sebagai cross check adalah keluarga dan lingkungan ( tetangga dan teman penderita) yang selanjutnya disebut sebagai Informan. penghasilan dan Lama sakit. 5) Faktor persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positip. 6) Faktor persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatip. jenis kelamin. 4) Faktor persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Terikat dalam penelitian ini adalah penderita kusta merasa terstigma. 2) Faktor-faktor internal dan eksternal responden terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Mau berkomunikasi dengan baik. Mau berkomunikasi dengan baik c. Variabel bebas. .

Variabel Bebas. a. 5) Lama sakit yaitu waktu yang dihitung saat pertama penderita di diagnosa sakit kusta sampai saat wawancara dilakukan 6) Lingkungan keluarga adalah lingkungan sosial yang paling dekat dengan penderita (11) 7) Lingkungan masyarakat adalah lingkungan sosial yang berada di sekitar tempat tinggal penderita (11) 8) Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. 4) Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh responden baik di luar maupun di dalam rumah untuk memperoleh penghasilan. 9) Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang penyakit kusta sebagai suatu . Definisi Operasional Penderita Kusta adalah seseorang yang dinyatakan positif menderita kusta yang melalui pemeriksaan laboratorium ditemukan Basil tahan asam (BTA) positif atau ditemukan tanda-tanda kusta.2. 1) Umur adalah bilangan tahun terhitung sejak lahir sampai ulang tahun terakhir 2) Jenis Kelamin adalah penggolongan responden berdasarkan jenis kelamin yang tercantum dalam status diri (laki-laki atau perempuan) 3) Pendidikan adalah jenjang / tingkat pendidikan formal yang diperoleh responden sampai saat wawancara.

menularkan. menganggap bahwa penyakitnya sama seperti penyakit lain dan perlu berobat sehingga sembuh. Daftar pertanyaan penelitian berisi tentang persepsi penderita dan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta . 10) Persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positif yaitu tanggapan responden mengenai keuntungan/manfaat apabila responden berperilaku positif terhadap penyakitnya. Instrumen yang Digunakan Instrumen yang digunakan dalam penelitian deskriptif adalah peneliti sendiri dengan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka yang berhubungan dengan responden sehingga pelaksanaan pengumpulan data dapat berlangsung efisien. 11) Persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. rendah diri. dan merasa disingkirkan oleh lingkungannya karena penyakit yang dideritanya.kondisi ancaman kesehatan yang berakibat serius atau kegawatan pada tubuh penderita. takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. Variabel terikat Penderita Kusta merasa terstigma : Suatu kondisi yang membuat penderita merasa malu. F. cacat dan sebagai sumber penularan b.

Tahap pengumpulan data dengan wawancara mendalam dilakukan perekaman menggunakan alat bantu MP3 recorder dan catatan lapangan sehingga data dapat terkumpul dengan baik. b. Data Sekunder Diperoleh dari catatan medik RSUD Tugurejo yang menyimpan data penderita termasuk hasil penyakit kusta penderita. yaitu data primer dan data sekunder. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan setelah peneliti memperoleh data dari responden melalui wawancara mendalam dengan menggunakan model analisis kualitatif. a. Adapun langkah-langkah analisis data kualitatif meliputi (26) pemeriksaan laboratorium dan catatan lain tentang . Tehnik Pengolahan dan Analisa Data 1. Sumber Data. G. Data Primer Diperoleh dengan wawancara dan pencatatan menggunakan daftar pertanyaan yang dibuat oleh peneliti kepada penderita kusta dengan berpedoman pada kebutuhan informasi / data yang menjadi variabel dalam penelitian. 2. Sumber Data Ada dua jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini.

dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh dapat didokumentasikan dan tidak ada informasi penting yang hilang. Transcribing Peneliti melakukan pembuatan transkrip dari hasil wawancara mendalam. situasi. dan transformasi data kasar yang muncul dari hasil wawancara mendalam dan catatan-catatan tertulis di lapangan. penyederhanaan. pengabstrakan. Transkrip dibuat langsung setelah proses wawancara mendalam. Reduksi data Peneliti melakukan pemilihan. Pembuatan transkrip dilakukan setelah peneliti memperoleh informasi dari responden dengan cara memutar ulang rekaman kaset hasil percakapan responden dengan peneliti. peneliti mencoba mengidentifikasikan beberapa kategori berdasarkan pedoman wawancara mendalam sehingga ketika memasuki proses . d. Pengikhtisaran atau tabulasi Peneliti melakukan pengikhtisaran atau membuat tabel data tiap butir instrumen dari para responden yang dibuat dengan mengelompokkan jawaban. b. Hal ini dilakukan berulang-ulang untuk mendeskripsikan situasi percakapan yang sesungguhnya. selanjutnya dikelompokkan ke dalam satu kategori.a. Untuk memudahkan proses. Berdasarkan tabel. Deskripsi tersebut berdasarkan interpretasi peneliti terhadap transkrip. informasi diinterpretasikan dan disajikan secara narasi. Comparative atau perbandingan Peneliti melakukan langkah ini berkali-kali sehingga menemukan kategori yang lebih luas. Apabila terdapat pemaknaan yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori yang sudah ada maka dibuat kategori yang baru. responden. c. dan lain-lain secara keseluruhan.

tetangga dan teman penderita kusta. lalu diinterpretasikan makna data antar tabel.tinggal mencocokkan dengan kategori yang ada. Uji validitas yang dilaksanakan pada penelitian kualitatif disebut triangulasi. Dengan triangulasi tehnik ini merujuk pada pengumpulan informasi atau data dari individu dan latar belakang dengan menggunakan berbagai metode. Perumusan pernyataan konklusif Peneliti merumuskan pernyataan-pernyataan konklusif terhadap tiap rincian masalah penelitian atau tujuan-tujuan khusus. Cara ini baik untuk mengurangi bias yang melekat pada satu metode dan memudahkan melihat keluasan penjelasan yang memudahkan. Tabel-tabel yang berkaitan diinterpretasikan hubungannya. Langkah ini dilakukan untuk menghubungkan antara kategori sehingga terbentuk suatu kerangka konsep atau suatu penjelasan yang komprehensif mengenai fenomena yang dapat ditangkap oleh penulis. Tehnik . meliputi persamaan dan perbedaannya. H. e. Validitas dan Reabilitas Data Uji validitas dimaksudkan untuk meningkatkan validitas tampilan dari sesuatu yang akan diteliti melalui uji coba dapat diketahui adanya pertanyaanpertanyaan yang benar-benar mengukur dari yang hendak diukur. yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan kesimpulan penelitian ini. Dan dalam penelitian ini triangulasi dilakukan kepada keluarga.

pemeriksaan keabsahan data dengan triangulasi dapat dilaksanakan melalui sumber data, metode dan teori. Peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, pengamatan dan dokumentasi.
(30)

Interview

dilaksanakan untuk mengetahui opini, persepsi, penilaian dan ingatan responden tentang pengalamannya (28) Realibilitas (keterandalan) pada penelitian kualitatif dapat dicapai dengan melakukan auditing data, hal ini dapat dilaksanakan dengan cara data hasil wawancara di tulis dan dikelompokkan sesuai dengan gambaran variabel yang dilihat pada penelitian. I. Keterbatasan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2008 di RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian ini tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Adapun kelemahan dan keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam untuk memperoleh gambaran faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Karena banyaknya faktor yang melatar belakangi persepsi maka penulis membatasi dan hanya meneliti faktor karakteristik, faktor internal, faktor ekternal, faktor kemudahan

kemungkinan terkena penyakit, faktor kegawatan penyakit, faktor manfaat berperilaku positip dan faktor risiko berperilaku negatif, karena faktor-faktor ini berpengaruh besar terhadap persepsi penderita kusta.

2. Pengumpulan

data

melalui

wawancara

mendalam

dengan

menggunakan banyak pertanyaan, membutuhkan waktu yang lama hal ini membuat responden jenuh,sehingga dimungkinkan adanya

subyektivitas jawaban. Untuk mengatasinya dilakukan triangulasi dengan melakukan cros chek pada suami, ayah, paman, tetangga dan teman penderita kusta.

3. Responden sangat tertutup terhadap penyakitnya, sehingga wawancara mendalam yang dilakukan sering mendapatkan jawaban yang singkat.

4. Responden sangat keberatan apabila penulis datang kerumahnya, ini mempersulit penulis dalam melakukan cross cek terhadap keluarga, tetangga dan teman penderita, sehingga penulis melakukan cross cek di RSUD Tugurejo dengan mendatangkan keluarga, dan penulis hanya mendapatkan 5 (lima) Informan sebagai cross cek.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo. RSUD Tugurejo merupakan Rumah Sakit kelas B milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di Semarang bagian barat , dalam pelayananya RSUD Tugurejo menyediakan 23 poliklinik diantaranya poliklinik khusus penyakit kusta. Tenaga yang melayani pasien berobat ke RSUD

Tugurejo meliputi : 32 dokter spesialis, 24 dokter umum, 7 dokter gigi, 3 apoteker, 1 psikolog, 60 tenaga medis, 268 tenaga keperawatan dan kesehatan, dan 138 tenaga non medis. Produk unggulan RSUD Tugurejo adalah sebagai

ini digunakan sebagai faktor triangulasi. Blora. Tegal dan daerah lain sekitar Semarang kemudian 1. 23 tahun.952 (67%) berasal dari luar Semarang yaitu Jepara.380 pasien. Kaliwungu.pusat diagnostik. mengambil responden sebanyak 8 (delapan) orang penderita kusta dan 5 (orang) yang terdiri dari suami. laki-laki berjumlah 3. Adapun tempat tinggal penderita 2. ayah. Sebagai pusat rujukan dan pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. pelayanan kusta dan sebagai pusat penanganan krisis perempuan dan anak (PPKPA).260 (29%). B. Adapun karakteristik responden meliputi jenis kelamin. umur. status pekerjaan dan lama menderita disajikan sebagai berikut : 1. Purwodadi. poliklinik kecantikan. jumlah kunjungan penderita kusta pada tahun 2007 ada sebanyak 4. Demak. Karakteristik Responden Penelitian mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ini. Adapun jenis kelamin dan asal penderita yang berobat ke poliklinik kusta tersebut bisa dilihat berikut ini : Penderita. Weleri. Umur dan jenis kelamin responden Karakteristik responden berdasarkan umur diketahui bahwa responden berumur 14 tahun. Kendal.120 (71%) sedangkan perempuan berjumlah 1. paman. Pati. Pekalongan. masing-masing berjumlah . 29 tahun dan 55 tahun. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut dengan Informan. pendidikan.428 (33%) berasal dari Semarang. pekerjaan.

Responden berdasarkan status nikah Dari delapan responden.1. Adapun karakteristik informan sebagai faktor triangulasi adalah sebagai berikut : Informan berjumlah lima orang. diketahui bahwa lulus SMA sebanyak tiga orang.000.000 – Rp. empat orang berjenis kelamin laki-laki. 5. dari tiga orang yang bekerja.per bulan dan sebanyak dua orang berpenghasilan antara Rp.. selama kurang lebih dua tahun sebanyak empat orang dan masing-masing satu orang telah menderita kurang lebih tiga tahun.500. 44 tahun . sebanyak lima orang tidak bekerja. Melihat hasil jawaban responden mengenai penghasilan rata-rata perbulan responden tidak sama. Pendidikan responden Dilihat dari latar belakang pendidikan responden. Jenis kelamin responden sebagian besar laki-laki sebanyak lima orang 2.000. Pekerjaan responden Responden berdasarkan jenis pekerjaan. lulus SMP dua orang.perbulan. 30 tahun. Responden berdasar lama menderita penyakit kusta. Berdasar lama menderita penyakit kusta. 35 tahun.satu orang dan umur 33 tahun serta 45 tahun masing-masing 2 dua orang. enam tahun dan lebih sepuluh tahun. 33 tahun. empat responden telah menikah dan empat lainnya tidak menikah. lulus SD dua orang dan satu orang tidak lulus bersekolah 3. Umur Informan masing-masing 24 tahun.000.500. 4. satu responden berpenghasilan kurang dari Rp. responden menyatakan telah menderita selama lima bulan sebanyak satu orang. adapun sebagai Pegawai Swasta ada sebanyak dua orang dan sebagai petani satu orang.

tidak bisa bekerja. saya takut ketahuan tetangga nanti pasti dikucilkan.Saya merasa bersalah.. tukang kayu. . noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa pandangan responden terhadap apa yang dilakukan keluarga atau masyarakat mengenai stigma penyakit kusta terhadap responden. dagang. hal yang memalukan. C. Dari delapan responden semuanya menyatakan masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta... Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta didefinisikan sebagai proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. Status pekerjaan bervariasi yaitu pegawai BUMN. lulus SMP dan lulus D3 masing-masing satu orang. was-was jika tubuh saya jadi cacat pasti tetangga menjauhi saya. pegawai negeri dan pegawai swasta. keluarga menganggap biasa saja terhadap penyakit yang diderita responden. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. Pendidikan lulus SMA berjumlah tiga orang. 1. didapatkan jawaban yang bervariasi. Sedangkan yang lainnya mengemukakan bahwa keluarga merasa was-was karena penyakit yang diderita responden. 2 orang mengatakan bahwa.keluarga nggak mau datang ke rumah..dan 46 tahun. Dari 8 (delapan) responden dengan karakteristik yang berbeda. Seperti yang dikemukakan berikut ini : Kotak 1 . faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta.

4. taunya sakit saraf karena kami berobat ke dokter saraf sampai habis-habisan.Biasa saja.... tetangga tidak tau. dikira saya kencing manis tidak bisa sembuh dan sekampung saya sendiri yang kena begini... . . adik biasa saja.Orang tua berfikir positip. (responden menangis). malu pada teman .5..Saya tidak pernah bilang kalau saya kena kusta...3. anak.. . untuk mengetahui lebih lanjut dapat dilihat dari beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 2 . terutama ibu.. tetangga atau teman menderita kusta. sedang teman penderita karena tidak mengetahui tentang penyakit temannya.. . ... masyarakat tidak tau saya sakit.Keluarga merasa syok takut.. sekarang ini kami kontrak bu tapi saya bersyukur pengobatan di sini gratis dan istri saya sudah sembuh walau belum seratus persen. .Takut..... memberi semangat pasti sembuh... R 1. masyarakat tidak tau.. tetangga bilang kena sengkolo.. kulo kenging lepra kering dados mboten ketingal. penulis tanyakan tentang pendapat teman-teman dilingkungan penderita bekerja...6.. Masyarakat tidak tau.takut dijauhi kalau orang-orang tau.. keponakan..masyarakat juga biasa saja nggak tau kalau saya kena lepra.. .Keluarga tidak menolak. sebagian besar menjawab orang-orang dilingkungannya tidak mengetahuinya kalau responden menderita kusta. rumah dan isinya habis untuk biaya berobat tapi tidak sembuh..2.7. Tidak tau kalau istri saya kena kusta.(responden menangis sampai lama). .8 Keterangan : R = Responden Lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang pendapat orang-orang dilingkungan penderita setelah mengetahui istri. Biasa saja..

. maka tidak penulis lanjutkan.. ini semua karena Privacy penderita dan penulis tidak mengharapkan terjadi hal-hal di luar penelitian ini. Dia orangnya enthengan bu.. seperti alergi seluruh badannya.3 4 Keterangan : I = Informan Sedangkan teman penderita mengungkapkan bahwa penderita seorang yang baik dengan siapa saja dan mulai bertanya-tanya tentang penyakit temannya itu. 1. ... di kerjaan dia baik.. 5 Dengan mulainya wawancara mendalam bertanya tentang penyakit temannya. I. Sebetulnya sakit apa bu? I.. seperti jawaban yang diberikan dibawah ini : Kotak 4 .2. Teman sekolahnya tidak ada yang tau dan saya meling tidak usah diberi tau.. Dari hasil wawancara mendalam tentang apa yang dilakukan dan pendapat orang-orang dilingkungan penderita. Dia itu pendiam.. jadi kalau mondok begini kasihan istri dan anaknya. taunya kalau ke rumah sakit ya kontrol ke dokter saraf. Selama ini biasa saja mungkin karena tidak tau dia kena kusta.. karena lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta maka tidak ada perubahan apapun terhadap penderita. tidak pernah cerita... Masyarakat tidak tau. . tidak pernah keluar rumah. seperti kutipan dibawah ini : Kotak 3 . Teman-temannya taunya ya sakitnya itu karena salah obat. walaupun jawaban yang diberikan bervariasi tetapi intinya semuanya mengutarakan.

orang tuanya sering menyuruh untuk datang tapi ya. taunya salah obat.. R 1.. I. kasihan ya kalau pada tau. tapi ya beda seperti saat belum kena dulu. kadang saya perhatikan pandangannya kosong.. nggak tau kalau sekarang sudah tersebar. . karena belum tau bu. Biasa saja.. dia sukanya diam saja di rumah.sebetulnya masyarakat tidak apa-apa. temannya ya masih pada main kerumah kegiatan ya masih mengikuti. menunjukkan bahwa lingkungan/tetangga tidak melakukan perubahan sikap terhadap penderita.hanya dia tidak mau keluar rumah. kegiatan remaja sering mendapat undangan tetapi tidak mau datang. . . Tetangga sering bertanya : sudah sembuh belum. didapatkan jawaban bahwa lingkungan / tetangga penderita menanyakan bukan karena penyakit kustanya tetapi seperti di ungkapkan dibawah ini : Kotak 5 .. disuruh bantu.. tindakan apa yang masyarakat lakukan terhadap penderita dan dari ungkapan tersebut.. membaca apa saja.. mungkin malu karena wajahnya jadi seperti itu. apa masih kontrol ke dokter saraf ? ..2. Masyarakat tidak tau kalau sakit kusta.4 Melihat tanggapan pada kotak 5.masih . Waktu itu kan belum tau.. sekarang agak pendiam.2.. dia juga sering ikut kegiatan masjid di kampung. jadi biasa saja. 4 Untuk mengetahui apakah stigma ini muncul dari masyarakat ataukah dari penderita sendiri. dia tidak mau kuliah lagi.. mereka tidak tau. Biasa saja.3. ... lebih lanjut dapat disimak tanggapan Informan mengenai.Sebetulnya seperti kegiatan karang taruna.bantu.. Sering rewang-rewang.3. 1. tapi tidak seperti sebelum sakit.. sekarang agak pendiam dan agak malas-malasan kalau ada kegiatan.

3.. tetap ikut kegiatan di kampungnya dan responden yang masih bersekolah selalu memakai baju lengan panjang. jarang ngrumpi kalih tonggo. tapi saya banyak tidak datangnya.2.. selesai langsung pulang. saya sering pakai jaket karena dilengan saya ada fleknya. seperti ini bu. . ada undangan sering dipaksa bapak datang. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta dapat dilihat dari beberapa tanggapan responden berikut ini : Kotak 6 . saya agak membatasi diri biar tetangga tidak tau. Kesekolah saya selalu pakai seragam panjang... akan tetapi penderita sendiri yang tidak mau untuk mengikuti kegiatan tersebut.1. kalau omongomong dengan tetangga saya seperlunya saja.. . tiga responden melakukannya dengan tetap bekerja. saya pilih tidak ketemu orang-orang.. satu responden dengan membatasi diri dan responden lain dengan diam saja (tidak melakukan tindakan apapun)..mengikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan di kampungnya. Kulo mendel mawon.7 Adapun perbedaan cara dalam menanggulangi cap buruk ( stigma) oleh responden dikemukakan sebagai berikut : Kotak 7 .Dirumah terus. arisan biasanya saya titip saja. Adapun mengenai bagaimana cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta.. R. saya malu bu. ada kegiatan yen purun nggih dateng. . .

5 2. Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain.. Mboten. Tidak. tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. . ..kata orang-orang saya kena sengkolo.. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit.. . R 7... kalau tidak datang justru jadi omongan orang.. penyakit ini juga bukan keturunan . Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu meliputi. sudah dislameti ya tidak sembuh-sembuh. R 4. biar saya tidak kelihatan kalau sakit kusta. ada kumpulan kampung saya tetap datang.. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1). ada kerja bakti. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita... Penyakit kusta adalah penyakit menular. tapi tetap saya jalankan. antara lain : faktor sumber penularan yaitu penderita. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. Saya tetap bekerja walaupun kadang-kadang saya tidak PeDe. ibu saya juga kena. Dari hasil jawaban terhadap responden mengenai pendapat apakah penyakit kusta dapat menular ke semua orang terlihat bahwa sebagian besar menjawab ”bisa” menularkan dan sebagian lagi menjawab ”tidak” menular dan seorang menjawab tidak menular juga bukan merupakan penyakit keturunan seperti di ungkapkan berikut ini : Kotak 8 . sak kampung mung kula thok. gejalanya persis seperti saya dan saat ini ibu tangannya sudah cacat. Bisa.6 .2. ikut kegiatan dikampung..

1 . Penyakit seperti alergi..5 Kemudian persepsi responden mengenai orang yang seperti apa yang mungkin terkena penyakit kusta. Penyakit kulit. 3. R 2. Tidak tau bu. ringkih.. .Selanjutnya hasil wawancara mendalam terhadap Informan tentang persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit dengan pertanyaan apa yang anda ketahui tentang penyakit kusta sebagian besar mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular. Orang yang jorok. dua responden menyatakan bahwa orang yang kebersihannya kurang dan kondisi kesehatannya menurun.. dari hasil jawaban ternyata sebagian responden tidak mengetahui tentang ciri atau kriteria orang yang mungkin terkena penyakit kusta. kurang resikan..2.. . Berikut kutipan sebagian jawaban responden : Kotak 9 ...sekampung hanya saya saja yang sakit kados niki. satu orang menyatakan. kados panu ning saged dados berat. kondisinya jelek. Kotak 10 . fisiknya berubah dan katanya bisa menular.. Penyakit yang tangan dan kakinya bisa mrotholi I. kemproh.. satu responden berpendapat bahwa orang yang golongan darahnya sama dengan penderita yang bisa tertular penyakit kusta. . penyakit kusta adalah penyakit kulit dan satu orang menjawab penyakit kusta adalah penyakit yang bisa membuat cacat..

. satu responden menjawab penyakit kusta menular melalui udara dan terdapat satu responden yang menjawab bahwa jika bersinggungan dengan penderita kusta akan tertular penyakitnya seperti di ungkapkan sebagai berikut : Kotak 13 . 1. apakah penyakit kusta dapat menimpa semua orang / orang lain didapat jawaban bahwa. bersinggungan dengan orang kusta yang pada kulitnya terdapat .4 Sedangkan cara penularan penyakit kusta menurut responden.. dua orang menjawab. Orang yang peduli kesehatan tidak akan ketularan. I. kurang perhatian kebersihan.. sebagian besar menjawab penyakit kusta bisa menular ke semua orang dan hanya tetangga penderita menjawab penyakit kusta tidak bisa menular seperti berikut ini : Kotak 11 . berikut kutipan jawaban : Kotak 12 . Tidak menular. orang yang kondisi kesehatannya menurun dan kurang menjaga kebersihan . . kondisinya drop.Selain itu menurut Informan mengenai.. Ringkih.... 4 Demikian juga hasil wawancara terhadap ke lima Informan sebagai faktor triangulasi mengenai orang yang bagaimana yang bisa tertimpa penyakit kusta. sebagian besar mengatakan tidak mengetahui tentang penularan penyakit kusta. I.. Orang yang jorok dalam hidupnya.

Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan mengenai kegawatan penyakit kusta dengan pertanyaan. gangguan gerak anggota atau bagian muka. Didapat jawaban bahwa. bisa ketularan penyakit kusta. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. adanya kecacatan.. lha pripun yen bobok kalih ibune. sebagian . Katanya petugas. 2 3.benjolan-benjolan seperti udunen.. Kemudian untuk tanda – tanda tersangka kusta diantaranya adanya kelainan kulit berupa bercak yang tidak terasa/mati rasa berwarna merah atau putih. adanya rasa kesemutan. tetangga penderita mengatakan. adanya luka yang tidak terasa sakit dan juga terjadinya reaksi akibat penyakit kusta. penularan penyakit kusta bisa melalui udara dan lainnya mengatakan kontak langsung dengan penderita bisa tertular penyakit kusta seperti tanggapan ayah penderita berikut ini : Kotak 14 . R5 Adapun berdasarkan wawancara terhadap Informan mengenai cara penularan penyakit kusta. adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut. anak saya sering kontak langsung dengan ibunya. I. dan golongan darahnya sama. benjolan di kulit. apakah penyakit kusta dianggab penyakit yang berbahaya? Apa alasannya ?.

Tidak berbahaya kalau minum obat akan sembuh. keringat dingin. Ya. lemes.. badannya sakit semua.. untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegawatan penyakit kusta dapat dilihat dari beberapa pendapat berikut ini: Kotak 16 . merubah fisik dan bisa menimbulkan kecacatan.. . semua menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat. R 1..7. karena kalau minum obat akan sembuh. Berbahaya. menakutkan karena fisiknya berubah. Sangat berbahaya. karena bisa menular ke orang lain.. tidak bisa aktifitas.. Tidak. . Ya. Ya.. bisa prothol – prothol. panas dingin..8 Selanjutnya mengenai Persepsi terhadap kegawatan penyakit menurut Informan adalah. bisa menular.. tidak bisa bangun. itu cina ada yang sampai mrotholi. .... .. .. .. dada keder.ini hidung saya jadi hilang bu.4. rasanya tak karuan. penyakitnya akan hilang. proses penyembuhan lama.6. kusta menakutkan. Sangat berbahaya. . kata ibu saya kalau kumat badan sakit semua.5. telat minum obat kumat. gejala-gejala yang muncul itu menakutkan. badan sakit semua.. cacat tidak bisa bekerja. kan bahaya bu.besar responden menyatakan penyakit kusta menimbulkan bahaya dan sebagian menyatakan bahwa penyakit kusta tidak berbahaya. mambu. .. ibu saya sering sampai nangis kalau kumat.2. adapun jawaban dari responden tersebut bisa disimak seperti berikut : Kotak 15 . karena gejala yang muncul sangat berat. banyak yang salah berobat.. Ya.. tidak banyak yang tau tentang penyakit kusta. keluarga . Ya.3..

.. Penyakit kusta merusak fisik. Kemudian responden lain berpendapat bahwa kusta kalau kumat (kambuh) gejala-gejala disebutkan seperti lemas.. dua responden menjawab kusta bahaya. 5 Penyakit kusta menimbulkan masalah yang sangat komplek. panas dingin badan sakit semua akan muncul lagi dan satu responden tidak mengetahui tentang seberapa besar bahaya yang timbul karena penyakit kusta. Wah.4. terus terang saya sangat depresi . terisolasi dari masyarakat.. . merusak mental. Mencermati jawaban responden mengenai seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta . Untuk jawaban-jawaban responden tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini : Kotak 17 . kalau saya lihat yang periksa bareng saya tangannya putus-putus. keluarga dan teman-temannya (7) ... kalau minum obat badan enak. I.. tidak berobat badan sakit semua. 1. kulitnya mlepuh – mlepuh seperti kena api. kecacatan yang berlanjut dan apabila tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang baik akan dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. tangan-kakinya rusak tidak bisa untuk bekerja. bisa membuat cacat di tubuhnya. … Ya.bisa kena semua. mental dan menyiksa lahir batin. merusak fisik. ... kusta berbahaya makanya saya periksa terus. Saya takut mati. kadang orang melihat saya seperti takut. . wajah berubah menjadi menakutkan. mrotholi. Penyakit kusta menyiksa lahir batin. dari delapan responden terdapat empat diantaranya menyatakan bahwa bahaya penyakit kusta bisa menimbulkan kecacatan.ya bahaya bu.

Wah. Tidak membunuh tapi merusak fisik. bagaimana ya bu. Dibawah ini kutipan jawaban dari beberapa responden : Kotak 19 .. sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian dan sebagian kecil responden mengemukaan pendapat. rasanya sepeti itu. cekot-cekot.5.. R 1.Tugurejo) mungkin saya sudah meninggal.. empat semua dekat dengan ibunya. Beberapa jawaban dapat dicermati berikut ini : Kotak 18 . kalau gak ke Tugu (RSUD.3..5. . Kalau kumat lemes.2. anak saya banyak bu. Bisa. . . kusta kering rasanya senutsenut sakit sekali bu.... drodog badan saya tidak ada daya. menurut Informan sebagian besar mengatakan bahaya penyakit kusta selain menular. . I. ya berat bu.. wajahnya menakutkan.4.. anak-anak ketularan. Yaitu bu bisa jadi cacat.. 1. rumah dijual untuk berobat. waktu itu saya sudah mutung berobat kemana-mana tidak sembuh sampai habishabisan. panas dingin. saya mikir apa saya mau mati soalnya jantung keder terus. Saya takut kalau istri saya cacat. Kusta basah bisa sampai mrotholi... Ibunya kalau kumat badannya sakit semua.. 2 Untuk wawancara mengenai persepsi penderita tentang apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian didapatkan jawaban.. . bisa membuat cacat dan satu orang mengungkapkan kalau kambuh badannya sakit semua.8 Kemudian seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta. penyakit kusta tidak bisa mengakibatkan kematian.. jadi saya kawatir kalau mereka tertular penyakit ini.

faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit). kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat kuman kusta). Bisa. saat pertama kena penyakit ini saya sempat koma. Ya. … Tidak menyebabkan kematian. Cacat ini terbentuk akibat salah . pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama dan faktor pekerjaan (penderita yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat).4.. I. didapatkan jawaban bahwa penyakit kusta tidak menyebabkan kematian. pada anggota gerak) b. 1.5 Kecacatan akibat penyakit kusta dipengaruhi oleh beberapa faktor..2.4.8 Selain itu menurut persepsi Informan mengenai apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian. antara lain : Faktor yang berhubungan dengan penderita sendiri (umur.. R 1. kalau berobat terus ya sembuh..3. Kalau kematian InsyaAllah tidak. seperti dikemukakan dibawah ini: Kotak 20 . Kecacatan sekunder yaitu kecacatan yang disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan kelumpuhan. panas tinggi dan tidak ada obatnya.. Kecacatan Primer yaitu kecacatan langsung yang disebabkan oleh aktifitas penyakitnya. Tidak bisa. .. Adapun kecacatan dibagi menjadi : a.. menurut kula wong sehat mawon bisa mati nggih.. jenis kelamin).5. . kematian ditangan tuhan. bisa sembuh kalau berobat. hanya bisa merusak fisik. ( pada wajah.3..

. Bisa. . lha niku bojo kula (ibunya penderita) ngertos-ngertos tangane ngeten ( jari-jarinya kithing) . .. itu orang cina yangbarengan periksa dengan saya. tangan dan kakinya cacat. menurut Informan. kakinya cacat awal-awalnya luka seperti ini (menunjuk luka dikaki) . berikut ini kutipan tentang jawaban responden : Kotak 21 ... semua badannya cacat.. . Ya. ini wajah saya sudah mulai cacat.. penyakit kusta bisa mengakibatkan kecacatan pada tubuh penderita. . Bisa. kemarin kena air panas tidak terasa. semua menyatakan bahwa penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan berikut ini : seperti di ungkapkan Kotak 22 . katanya awalnya cacat karena tidak terasa. tangan dan kakinya mrotholi semua.. Bisa. tangan saya kithing tidak terasa.5... tangan saya sudah mati rasa. saya takut cacat. kaki saya cacat.. kaki saya luka... kalau ngantar ke Tugurejo saya sering omong-omong dengan pasien lain.. saya sampai saat ini ada rasa takut cacat. kata pasien yang barengan kontrol. Ya.7 Sedangkan mengenai kecacatan. Tanggapan responden terhadap pertanyaan apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan mendapatkan hasil bahwa semua responden menjawab ”bisa”. kuping saya memanjang karena penyakit ini.3. keponakan saya ini tangannya sudah tidak nornal lagi. R 1. wajah.dalam aktifitas atau tidak pernah digunakan (disuse) bisa juga karena adanya infeksi sekunder.... Bisa. Ya. luka tidak sembuh-sembuh terus diamputasi .2. .. Bisa. Ya. tangan istri saya perasaannya berkurang. seperti tetangga saya. ini (menunjuk sepanjang tungkai kanan) tidak terasa lho bu.4. kaki.

Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip yaitu perilaku berobat penulis tanyakan dengan bagaimana menurut pandangan anda apabila penderita kusta diharuskan berobat secara rutin dalam waktu yang lama dan harus minum obat setiap hari? Apa alasan dari jawaban tersebut? Semua cacat permanen. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali.. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan. sebagai berikut : Beberapa jawaban responden diungkapkan Kotak 23 . Baik apabila berobat. bukan penyakit turunan/kutukan.2. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. pernah telat kontrol timbul lagi gejala seperti dulu.. Penderita yang sudah dalam keadaan lanjut. Dengan matinya kuman maka sumber penularan dari penderita ke orang lain terputus. 1. pengobatan hanya dapat mencegah cacat lebih responden menyatakan penderita kusta harus berobat secara rutin karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. Penyakit kusta dapat diobati.. I. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur.cacat. . Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit jadi kurang aktif sampai akhirnya hilang. karena kalau tidak berobat bisa kumat (kambuh) . 3 4. capek. Dulu kena air panas gak terasa sekarang jadi cacat. setelah minum obat saya tenang bu. keluar benthol-benthol. Setuju..

Ya harus berobat kesini (RSUD Tugurejo) karena di Jateng pusatnya disini.. dikamar terus. kusta kan bisa menular. 1.. Ya.. . . R 1... biar sembuh total. terawat. . kalau telat berobat ya kambuh lagi ... Harus bu. bagaimana pendapat anda setelah mengetahui teman anda menderita kusta? Berikut kutipan jawaban dari teman penderita kusta : Kotak 25 .2.... Harus berobat terus. keluar benjolan-benjolan. I.. 4 Untuk mendapat jawaban dari teman penderita. . .7. Harus diobati. Baik. kalau obatnya telat sering reaksi lagi. sehingga selalu penulis awali dengan seandainya teman anda sakit kusta.. Perlu berobat rutin.. diharuskan rajin menjalani pengobatan seperti pernyataan dibawah ini : Kotak 24 . . biar nggak kumat. penulis mengalami kesulitan karena teman penderita belum mengetahui kalau teman yang diantar berobat menderita kusta...3....8 Adapun menurut persepsi Informan apabila menderita penyakit kusta.. kalau tidak berobat sakit lagi.. jangan-jangan juga sakit kusta.dan saya telpon bapak saya untuk mengecek di rumahnya karena saya tau neneknya juga sakit tapi nggak pernah keluar. Saya ngomong pada orang tuanya untuk berobat sampai sembuh dan saya akan selalu membantu ngantar keponakan saya berobat ke tugu.5. Harus berobat ke RSUD Tugurejo karena ahlinya ada di Tugurejo. .4.6.. ibu saya kalau obat nya telat badannya sakit semua.3. kadang-kadang jenuh. Harus.

tangan dan kaki secara teratur. Melakukan perawatan diri.. R 1.3 Dalam pencegahan kecacatan. b.. sehingga penderita harus bisa melakukan perawatan diri dengan rajin agar cacatnya tidak bertambah berat. Perlu terapi psikologi. Dalam hal perawatan diri didapat beberapa jawaban responden. tidak stres. penderita kusta perlu mendapatkan pendidikan dan tindakan perawatan diri. Karena penderita kusta seperti saya ini sebetulnya masalah yang paling berat ”saya down sekali”. vaslin atau hand body lotion) yang berfungsi untuk menjaga kelembaban kulit. Prinsip pencegahan bertambahnya cacat pada dasarnya adalah 3M : a. tidak hanya fisik yang diobati. tidak stres dan satu responden perlu dilakukan terapi psikologi. tidak cacat. sebagian . 5 Selanjutnya mengenai persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Memeriksa mata.. Penderita harus mengerti bahwa pengobatan kusta sudah / akan membunuh bakteri kusta tetapi kecacatan yang terlanjur terjadi akan menetap seumur hidupnya. untuk mencegah maka perlu mengolesi dengan minyak ( minyak kelapa. hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh seorang penderita kusta dan alasan dari jawaban yang diberikan. Sebagian besar responden menjawab pertanyaan dengan jawaban ”berobat” biar sembuh. tangan dan kaki dari trauma fisik. c. tidak kelelahan. Melindung mata.I. minum obat. . Kekeringan pada kulit akan mengakibatkan luka-luka kecil yang bisa terinfeksi.. terapi mental sangat diperlukan. Tenang. sedangkan dua responden menjawab dengan berfikiran tenang. Seperti dikemukakan sebagai berikut : Kotak 26 .

karena kulit kering kadang sampai pecah. rawatlah dan istirahatkan bagian tangan sampai sembuh.basar responden menjawab dengan harus mengoles pelembab di tangan dan kaki agar kulit tidak kering. dari RSUD Tugurejo diberi vaslin sebagai pelembab dan satu responden menjawab. Tidak semua. kaki bisa terluka oleh : Benda panas. Adapun untuk kaki yang mati rasa. batu dalam sepatu dan lain-lain.. Jika ada luka. kalau ada benjolan-benjolan iya harus pakai pelembab. gesekan dari sepatu/sandal yang terlalu besar ataupun kecil. . Harus pakai. Untuk mencegahnya maka : . Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi tangan yang mati rasa. Berikut kutipan jawaban dari dua responden : Kotak 27 . Seringlah berhenti dan periksa tangan dengan teliti apakah ada luka atau lecet yang sekecil apapun. berjalan terlalu jauh atau cepat. jongkok yang lama dan sebagainya. dari RS Tugu saya diberi vaslin. R 4. Untuk mencegah terjadinya luka ditangan maka : Perlu melindungi tangan dari benda yang panas. tidak perlu menggunakan pelembab kalau tidak ada benjolan-benjolan dikulit. Tekanan tinggi ataupun lama berdiri terlalu lama tanpa gerak.. kasar ataupun tajam dengan memakai kaos tangan tebal atau alas kain. gesekan dari alat kerja dan pegangan yang terlalu kuat pada alat kerja. benda tajam..8 Selain itu untuk tangan yang mati rasa. tapi kalau tidak ada ya nggak perlu bu. memar atau lecet sekecil apapun.. bisa terluka oleh : benda panas. benda-benda tajam.

..wong niki mboten kraos.. . biar sembuh.... diobati. ada luka ya langsung diobati. Ya.. kalau ada luka terus disalep. langsung rawat dan istirahatkan kaki (jangan sekali-sekali diinjakkan).....3. . Ya.. .5. korengnya harus dilihat setiap hari. setiap hari penderita kusta diharuskan memeriksa anggota badannya. .4. nek wonten luka ngertos.. saya takut luka-luka itu menulari anak-anak saya.2.karena kulit saya mati rasa kalau ada luka saya sering tidak tau karena tidak sakit.6. karena luka bisa jadi cacat. biar tidak ”mbabrak-mbabrak” .8 Mencermati jawaban diatas menurut responden. memar atau lecet kecil. setiap hari. Ya. Sering berhenti dan memeriksa kaki dengan teliti apakah ada luka atau memar atau lecet yang kecil sekalipun. apakah terdapat luka baru ... Hal ini penulis tanyakan dengan melakukan wawancara tentang bagaimana menurut responden apabila setiap hari responden diharuskan memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak. Ya..7. Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi kaki yang mati rasa. pasien bapak-bapak tadi lukanya sampai bau mungkin nggak pernah diperiksa. Ya. Ya.. Kalau ada luka.Lindungi kaki dengan selalu memakai alas kaki. . biar tidak putusputus... Ya. setiap hari saya periksa badan saya.. Berikut kutipan jawaban dari responden : Kotak 28 . Ya. R 1.

Kecacatan pada kusta dapat terjadi lewat dua proses yaitu infiltrasi langsung kuman kusta ke susunan saraf tepi dan organ (misalnya mata) dan melalui reaksi kusta. Kusta merupakan masalah kesehatan masyarakat karena cacatnya. responden merasa takut lukanya bisa menular pada keluarganya . WHO membagi tingkat cacat kusta segabai berikut : Tingkat cacat 0 : jika mata. Sayangnya. mata tidak bisa menutup erat.atau tidak. Sementara sebenarnya hampir semua cacat dapat dicegah. tetapi cacat itu tidak kelihatan. tangan atau kaki tetap utuh. pemendekan. Tingkai cacat 1 : jika ada cacat pada mata. tangan atau kaki. orang yang cacat akibat kusta ” dicap” seumur hidup sebagai ”penderita kusta” walaupun sudah sembuh dari penyakit. responden memeriksa anggota badannya agar lukanya tidak menimbulkan cacat dan responden mengetahui kalau ada luka sehingga bisa cepat diobati supaya tidak tambah berat/menjalar. Proses terjadinya cacat kusta tergantung dari fungsi saraf. ada tiga macam fungsi saraf 1) fungsi motorik memberikan kekuatan pada otot (otot gerak). 2) fungsi sensorik memberi rasa raba dan 3) fungsi otonom mengurus kelenjar keringat dan kelenjar minyak (berhubungan dengan kekeringan kulit). lunglai. . jari kithing. Tingkat cacat 2 : jika kalau ada cacat akibat kerusakan saraf dan cacat itu kelihatan (borok luka. apabila terjadi luka baru tidak terasa sakit. luka pada cornea mata. Cacat kusta terjadi akibat gangguan fungsi saraf pada mata. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga. tangan atau kaki akibat kerusakan saraf karena penyakit kusta.

persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. Iya. keset nggih mambu. saya takut seperti orang kusta yang lain tangan dan kakinya cacat. langsung bisa di obatke... perasaan takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah..5. Iya. jari saya ada yang memendek. . ini kaki saya cacat . Nggih. Iya. ....6.4.. . R 1.. Ya. ning cina niku harus diperiksa setiap hari..7. cacat dan sebagai sumber penularan . . ben mboten kesuwen. menyatakan perlunya memeriksa kelainan atau kecacatan dibadannya setiap hari karena takut kecacatan tersebut berlanjut menjadi lebih parah. nek kula mboten onten cacat. kakinya cacat karena tidak pernah merasa tau-tau cacat. sepertinya ngga ada tanda-tanda tau-tau tangan saya ”kithing”. .. .8 Dengan melihat hasil dari jawaban semua responden....2.. dibawah ini merupakan pandangan dari masing-masing responden dalam pencegahan cacat kusta : Kotak 29 . takut ”mrotholi” tangannya. ”semper ” jalannya pincang. menularkan. 5.. terus . Iya bu. Ya bu. luka tak sembuh-sembuh diamputasi..Adapun dalam menggali persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip.cerita pasien yang bareng saya antri tangannya cacat. Karena badan saya seperti orang beri-beri saya takut kalau sewaktu-waktu terjadi cacat. Ya.3. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip.

capek. anggur.5 Sedangkan pandangan responden jika melihat penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu didapat jawaban.Stigmatisasi diri sendiri pada penderita kusta sangat nyata. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen. Tidak diperbolehkan makan saos. sebagian besar responden mengutarakan bahwa makanan tertentu tidak boleh dimakan dan keadaan stres. penderita yang mengucilkan diri karena malu dan penderita yang tidak mau berobat. sprit (alkohol).nanas. satu responden menjawab lebih baik mengucilkan diri dan satu responden lain sebenarnya mengetahui . R1. harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. nangka... duren. Tidak boleh stres.duren. daging kambing. semangka. nongko. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. memalukan.. tape.. boleh makan daging . dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. tidak kambing. Dari hasil jawaban mengenai hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang penderita kusta. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. seperti diungkap oleh dua responden dibawah ini : Kotak 30 . capek harus dihindari. Dalam penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta penulis melakukan wawancara mendalam mengenai pandangan responden terhadap risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan penderita.

R4 6. tidak percaya. dan saat pertama mengetahui penderita merasa kaget. . bu mbok jangan terapi obat saja harusnya ada terapi mental. Beberapa jawaban diungkapkan oleh responden berikut ini : ... seperti yang diungkapkan oleh responden dibawah ini : Kotak 31 . Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Penderita kusta pada umumnya tidak mengetahui bahwa dia menderita kusta. penderita kusta harus selalu berobat kalau tidak berobat maka tidak akan sembuh dan satu responden mengharapkan adanya terapi mental oleh psykolog karena selama ini hanya mendapatkan terapi obat saja hal ini dikatakan oleh responden ke 4 seperti dibawah ini : Kotak 32 .. R 2. Salah besar. berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat sebagian besar berpendapat bahwa.3 Sementara itu. reaksi terus. saudara atau perangkat desa. berkeinginan bunuh diri. sehingga saya juga sering tidak percaya diri... informasi tentang penyakit kusta justru didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. Saya tau tidak baik tapi kadang-kadang saya juga malu dan down bu..bahwa tindakan mengucilkan diri itu adalah salah. takut. saya sering melakukan itu. kalau tidak berobat tidak sembuh-sembuh. Lebih baik mengucilkan diri dari pada dirasani orang / tetangga. mengurung diri. tetapi respoden sendiri melakukannya juga.

saya dirasani. Takut sekali kalau tetangga tau. R 5.. Nggih ajrih. pendapat keluarga saat mengetahui bahwa responden menderita kusta diperoleh jawaban seperti kutipan dibawah ini : Kotak 35 . takut luar biasa saya waktu itu berusaha bunuh diri... Waktu itu saya berusaha bunuh diri. .. didapat beberapa jawaban dari sebagai berikut : Kotak 34 .3.. nanti saya dikucilkan (responden menangis).6..... takut menular keluarga. saya was-was bu sampai sekarang..Kotak 33 .... Putus asa.2.4 Adapun perasaan yang ada dalam pikiran responden setelah mengetahui bahwa penyakitnya adalah kusta. tapi saya percaya pasti ada obatnya.6 Kemudian persepsi responden tentang.4. Dari saudara saya yang bapaknya sakit seperti saya. . Syok. Saya takut tetangga tau.. Dari petugas RSU Tugurejo. ..7.. anak-anak saya... Ya kaget. R 1. saya tidak melanjutkan kuliah sampai sekarang... . saya malu.2. . Mental saya drop . . malu. Dari pak Bayan ..3.. .

saya disuruh berobat ke RSU Tugurejo karena bapaknya juga sembuh di sini.7.6.. Takut sekali. Bapak – ibu kaget selama ini taunya saya sakit karena salah obat.. saya gak tega... paman responden merasa kecewa karena penyakit keponakannya adalah kusta seperti diungkapkan dibawah ini : Kotak 36 . Istri mendorong saya berobat. wong keluarga lain tidak ada yang kena..4.. Kecewa. kasihan.2. R 1. sambil menunduk berkata : .. Periksa ke Tugurejo secara rutin pasti sembuh kata bapak.. orang tua saya takut kalau saya pada ”mrotholi” ... 3 Sementara itu.3... I. Suami saya bilang ”wong kok gaweane lara”.. Anak-anak dulu sukanya marah sekarang sudah tau suruh berobat terus. .. ayah penderita terlihat terpukul saat penulis menanyakan tentang perasaannya setelah mengetahui putrinya menderita kusta.. Orang tua bilang dikasih cobaan harus diterima. .8 Selain itu merurut Informan mengenai bagaimana perasaannya setelah mengetahui bahwa penyakit responden adalah kusta.5. tiga orang menyatakan merasa takut kalau tertularan penyakit ini dan merasa kasihan kalau penderita menjadi rendah diri. . Suami saat itu selalu berusaha mengobatkan saya ... . Pertama ya kaget.. ..

5 Sedangkan lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang apa yang terjadi pada saat mengetahui kalau istri. dan juga kaget karena penyakitnya adalah kusta dan satu orang tidak mengetahui kalau temannya sakit kusta sehingga penulis bertanya dengan seandainya teman anda di nyatakan menderita kusta bagaimana ? didapatkan jawaban seperti kutipan wawancara dibawah ini : Kotak 39 .. Mudah-mudahan tidak bu. mendukung atau tidak mendukung terhadap suatu obyek. saya takut I. Untuk mengetahui bagaimana sikap keluarga saat pertama mengetahui bahwa . nanti keluarganya malu. ibunya juga kena katanya di badan sakit semua. tetangga dan teman penderita telah menderita kusta semua merasa takut. malah sakite mboten mari-mari. was-was. keponakan. Wah. seandainya teman anda menderita kusta perasaan apa yang ada dalam pikiran anda? Berikut jawabannya: Kotak 38 . anak. ya kasihan.Kotak 37 .. saya kawatir kalau anak saya jadi minder di sekolahnya I. I. yang tidak mengetahui bahwa temannya menderita kusta sehingga penulis bertanya.. lain dengan teman penderita... 5 Sikap merupakan respon evaluasi yang dapat berupa respon positip maupun negatip.2 Meskipun empat orang menjawab tentang perasaan masing-masing... sikap akan menunjukkan apakah seseorang menyetujui atau tidak menyetujui . Saya sangat kasihan pada anak perempuan saya ini..

. was-was dan takut.responden terkena penyakit kusta. Mendukung untuk berobat. Ya cuek saja bu.4...3. cuek gitu.. Pasip saja bu.. bapak dan paman saya berobat ke RSU Tugurejo selalu ngantar saya .... Bapak selalu was-was takut saya seperti ibu.. R5 Adapun apa yang dilakukan keluarga setelah mengetahui kalau responden sakit kusta sebagian besar responden menyatakan keluarga mendorong untuk berobat hanya satu responden menjawab bahwa keluarga tidak peduli kalau responden menderita penyakit kusta. dan responden ke 5 menilai sikap keluarga saat itu pasip saja. berikut kutipannya : Kotak 41 . Ya tidak apa-apa........ Orang tua takut dan kecewa karena saya sakit sudah diobatkan kemana-mana katanya kena ”sengkolo” ternyata kena kusta. di ungkapkan oleh responden seperti dibawah ini : Kotak 40 .. . R5 . seperti kita lihat pada kutipan berikut : Kotak 42 .gak peduli saya kena kusta. . R 1.7 Sebagian besar menyatakan bahwa sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa.

di lakukan wawancara mengenai pandangan responden tentang sikap masyarakat sekitar dengan pertanyaan sebagai berikut : Apa pendapat orang-orang di lingkungan kerja/ teman anda setelah mengetahui anda menderita kusta? . Anak terbesar saya tau kalau ibunya sakit kusta baru-baru ini.5 7. di RS. dia sering ”nuturi” untuk berobat terus.4. . Adik-adiknya tidak tau. Keluarganya sudah mengobatkan ke mana-mana bu.2.. Dalam mencari faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. . Yaitu faktor yang terdapat diluar responden.. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. sangat kawatir. 1.. faktor ini berupa interaksi sosial di luar pribadi responden. Sepertinya biasa saja bu.. Informan menjawab dengan sikap yang berbeda-beda.. dibawah ini kutipan dari masing-masing jawaban : Kotak 43 . kalau disini kan tidak bayar. Adik-adiknya tidak diberi tau kalau kakaknya kena kusta. Orang tuanya sangat kecewa. mungkin karena dari keluarga kurang mampu jadi mau berobat ya mikir biaya. . Blora sana kakinya di amputasi. dua jarinya karena luka terus kemudian diamputasi I. .3.. keluarga saya sendiri taunya salah obat karena keponakan saya ini sering minum obat bebas... seperti masyarakat di sekitar tempat tinggal responden. Ibunya nangis saat saya beri tau kalau Afif juga kena kusta..Selain itu bagaimana sikap keluarga saat itu. masih kecil. dulu ya belum tau dan sekarang dia sering Bantu ibunya untuk pekerjaan rumah..

tetangga tidak pada tau bu. taunya kena gula dan kaki saya dipotong karena penyakit diabetes... . .. Teman-teman. didapat jawaban beragam yaitu : suami penderita mendapat kabar dari kakak perempuan penderita yang juga menderita kusta. . diabetes. .. ayah penderita mengetahui kalau putrinya menderita penyakit kusta karena istri/ ibu penderita menderita penyakit yang sama yaitu kusta. dipastikan bahwa teman atau tetangga tidak ada yang tau kalau responden sakit kusta. taunya saya sakit saraf.. Biasa saja.Tidak ada yang tau..4. Demikian juga tentang apa yang mereka lakukan terhadap responden. tidak tau kalau saya kena kusta.... katanya penyakit saya tidak bisa sembuh.. .. Teman-teman disekolah tidak ada yang tau kalau saya sakit kusta. semuanya beranggapan responden berobat karena penyakit lain seperti penyakit saraf. R 1.8 Mengenai dari mana Informan mengetahui tentang penyakit kusta yang diderita responden. kalau ke semarang ya dikira ke rumah saudara saya. . Tetangga dan teman saya tidak tau bu.6.. .Dengan melihat hasil jawaban semua responden. tapi saya takut juga sewaktu-waktu mereka tau... didapatkan jawaban sebagian besar dari lingkungan responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden .7..3. ya taunya saya sakit alergi. Lingkungan tidak tau. Kabeh mboten ngerti . paman penderita melihat .2. teman tidak tau.. alergi atau karena salah obat. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang dilakukan masyarakat dilingkungan responden dapat dilihat beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 44 . taunya salah obat.5. Teman kerja saya tidak ada yang tau kalau sakit.

. hal ini mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini yang dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. 5 Stigma kusta merupakan faktor utama yang menyebabkan keterlambatan pasien dalam pengobatan hal ini merupakan kerentanan terjadinya kecacatan. Teman saya. kakinya luka ngga sembuh-sembuh sudah diobatkan ke puskesmas. tidak sembuh terus saya bawa kesini. .. Dari saudaranya. mengetahui kalau tetangganya sakit kusta pada saat bertemu dengan saudara penderita yang sedang menunggu penderita.4. saya ketemu di RSUD tugurejo karena adiknya dirawat disini karena kusta dan saya ikut besuk di ruang kenanga.. dan ini mau mondok di ruang Kenanga.. ketidak mandirian fisik yang disebabkan oleh kecacatan dan keterbatasannya. sakitnya reaksi kusta. teman saya nggak sakit kusta kok bu. ke penyakit dalam. mereka bahkan kehilangan pekerjaan. karena menjalani rawat inap di ruang kenanga RSUD Tugurejo dan teman penderita tidak tau kalau penderita sedang sakit kusta. responden mengantar penderita karena luka dikaki yang tidak sembuh-sembuh. dibawah ini merupakan kutipan jawaban dari paman. tetangga penderita adalah pegawai RSUD Tugurejo. Stigmatisasi diri penderita terlihat sangat nyata. I 3. dirujuk ke penyakit kulit lantai 2.. . . tetangga dan teman penderita : Kotak 45 . kata suster. mendaftar ke poli penyakit dalam dan akhirnya dirujuk ke poli kulit. orang dengan kusta menjadi malu..keponakannya sakit kusta saat menengok penderita mondok di ruang Kenanga RSUD Tugurejo. Cacat permanen yang terlihat nyata oleh lingkungan akan membatasi mereka dalam menjalani kehidupan bermasyarakat secara normal. Saya taunya saat keponakan saya ini mondok di ruang kenanga.

Dengan terserangnya penyakit kusta responden merasa bahwa aktivitas sehari .BAB V PEMBAHASAN A. dengan tidak bekerja responden menyatakan bahwa tidak mempunyai penghasilan. Pembahasan 1. selain sulit dalam mencari pekerjaan responden merasa takut apabila pimpinan dan teman-temannya mengetahui bahwa responden terserang penyakit kusta dan responden sangat menyadari kelelahan akan mengakibatkan kekambuhan penyakitnya. hubungan pribadi. hanya ada satu responden yang tidak bersekolah. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara-acara di lingkungan masyarakat(2). Karakteristik Responden Gambaran umum responden menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 26 tahun sampai 35 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. mulai dari perkawinan. Sebagian besar responden telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai . dilihat dari segi pendidikan sebagian besar responden berpendidikan Sekolah Menengah Atas. Pendidikan merupakan (32) salah satu faktor yang mendasar untuk melaksanakan tindakan . Sebagian besar responden tidak bekerja.harinya sangat terganggu oleh penampilannya dikarenakan adanya perubahan pada fisik dan kepercayaan diri yang menurun. pekerjaan. Pada kelompok umur tersebut merupakan masa produktip dalam kehidupan responden. Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita.

responden seperti selalu menggunakan pakaian tertutup. walaupun ada juga yang tetap tidak sedang sakit.dengan 5 tahun. mencegah pengungkapan diri terhadap masyarakat. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta a. 2. Wawancara mendalam terhadap responden dalam mengatasi stigma ini diperoleh jawaban bahwa. tidak memperdulikan lingkungannya. memakai baju lengan panjang. rok panjang dan bagi . keluarga dan temantemannya (12). sebagian besar responden melakukannya dengan tetap bekerja. dalam kurun waktu sekian lama responden harus selalu berobat dan minum obat seraca rutin. hal yang memalukan. sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri. Untuk menghindari efek stigmatisasi penderita kusta menggunakan beragam cara agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui tentang penyakitnya diantaranya menyembunyikan secara efektif tentang penyakitnya. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden. Untuk mengatasi stigma ini. mengikuti kegiatan di kampungnya seolah-olah berkerudung. Hasil wawancara mendalam didapatkan hasil . apabila sampai terlambat dalam berobat responden menyatakan penyakitnya akan muncul kembali. malu dan takut karena sesuatu (14) . Stigma adalah hal-hal yang membawa aib. menutup diri. merasa sangat takut dan waswas saat mengetahui responden menderita kusta. bahwa semua responden menyatakan masyarakat disekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta dan sebagian keluarga responden. ada juga dengan cara membatasi diri.

faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1). sebagian responden menganggap bahwa orang yang jorok dan kondisinya menurun yang dapat tertular penyakit kusta. . Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. Sebagian besar responden mempunyai persepsi bahwa penyakit kusta dapat menimpa semua orang. Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta .gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi keparahan dan motivasi pasien untuk mengikuti instruksi yang diberikan (20). b. Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. jika tidak sama tidak akan tertular. dia percaya bahwa penyakit akan berakibat serius pada organ tubuh.penderita laki-laki menggunakan jaket. Adanya gejala . Sebagian besar responden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta dan ada yang mengatakan penyakit ini menular melalui udara dan satu responden menyatakan bisa tertular penyakit kusta apabila golongan darahnya sama dengan penderita. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. Dalam teori health belief model dinyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. antara lain : faktor sumber penularan yaitu tipe penyakit kusta . memakai sepatu berkaos kaki dan bertopi juga tidak menceritakan kepada siapapun tentang penyakit yang dideritanya.

Pada tipe MB lama pengobatan 12 – 18 bulan dan tipe PB lama pengobatan 6 – 9 bulan. tidak stres. Tujuan pengobatan ini adalah untuk mematikan kuman kusta. perasaan tenang. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian hal ini dikemukakan bahwa gejala yang muncul saat terkena penyakit ini sangat berat. . Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. d. justru penyakitnya menjadi berat dalam arti lain terlambat berobat untuk penyakit kustanya karena salah dalam mendiagnosa penyakit. Semua responden menyatakan orang yang menderita penyakit kusta harus berobat secara rutin. didapatkan jawaban bahwa sebagian besar responden menganggap kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius alasan responden adalah penyakit kusta mengakibatkan perubahan bentuk fisik dan kecacatan dimana kecacatan ini bisa menetap seumur hidupnya. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur.c. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. tidak lelah sangat membantu responden mengurangi frekuensi kekambuhan. Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan / kutukan. menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment (MDT). sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan (17). Pada penelitian ini. dan saat pertama kali berobat tidak langsung diketahui penyakitnya sehingga responden merasa pengobatan yang dilakukan kurang tepat.

terisolasi dari masyarakat. kecacatannya juga memberi gambaran yang menakutkan. nangka. dengan mengoles pelembab di tangan dan kakinya akan mengurangi kekeringan pada kulit yang bisa membuat luka / pecah-pecah. durian. Sebagian besar dari responden menyatakan. responden mengutarakan bahwa jenis-jenis makanan tertentu tidak boleh dimakan seperti daging kambing. karena . benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. keluarga dan teman-temannya (7). capek / kelelahan harus dihindari karena akan memunculkan gejala-gejala penyakit kusta (reaksi kusta). perawatan diri dengan rajin sangat perlu. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip Dari hasil wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh di lakukan. depresi dan menyendiri (1) Sebagian besar responden menanggapi bahwa penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu itu tidak baik. serta kehilangan status sosial secara progresif. hal ini menyebabkan penderita kusta merasa rendah diri. makanan beralkohol dan keadaan stres. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga kalau terjadi luka tidak terasa sakit. supaya cacatnya tidak bertambah parah.Kecacatan yang berlanjut dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal. menurut responden mengetahui terjadinya luka secara dini akan mengurangi terjadinya kecacatan karena luka bisa cepat diobati sehingga tidak bertambah berat/menjalar e. Menurut responden setiap hari penderita kusta harus memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak. Secara psikologis bercak.

sebagian besar responden merasa kaget. Responden lain sebenarnya mengetahui bahwa tindakan mengucilkan diri adalah tidak baik. Sebagian besar responden mengatakan. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. saudara atau perangkat desa. was-was dan takut. akan tetapi responden tersebut melakukannya juga karena malu dan down mentalnya.penderita kusta harus berobat. takut dan tidak percaya saat pertama kali mengetahui terserang penyakit kusta dan satu responden berusaha bunuh diri saat mengetahuinya. Berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat semua responden berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan besar karena penderita kusta jika tidak berobat selain tidak sembuh akan mengalami reaksi dan bisa menjadi cacat dan sebagian responden menyatakan perlu adanya terapi mental oleh psykolog karena selain fisik yang sakit penderita kusta juga menderita sakit secara mentalnya. hal ini karena keluarga tidak . sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa. Satu responden mengatakan keluarganya biasa saja dengan penyakit responden dan tidak merasa bahwa responden menderita penyakit kusta. f. Pada umumnya responden tidak mengetahui bahwa menderita kusta. apabila tidak berobat secara rutin maka tidak akan sembuh dan sebagian lagi menyatakan mengucilkan diri adalah tindakan yang paling tepat agar tidak menjadi bahan pembicaraan tetangga. keluarga mengatakan kalau yang berbahaya itu adalah sakit lepra. keluarga sangat kaget saat mengetahui responden terserang penyakit kusta. informasi tentang penyakit kusta didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan.

mereka mengira responden berpenyakit lain seperti penyakit saraf. Efek dari stigmatisasi berakibat dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). karena alergi obat atau karena salah obat sehingga masyarakat dan teman responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden. Semua responden mengatakan. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita.mengetahui perbedaan antara kusta dan lepra. baru di beri cobaan dari Allah g. diabetes. dan waktu pertama responden menderita kusta keluarga mengatakan bahwa harus diterima. Stigma menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap oleh masyarakat terhadap seseorang. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. Stigmatisasi diri sendiri penderita kusta sangat nyata. masyarakat disekitar tempat tinggal dan temantemannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta. dan pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya serta menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. orang yang terstigmatisasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar (12) . orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Dari hasil .

Dan cross chek yang dilakukan terhadap keluarga.wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum masyarakat. Semua Informan mengatakan penyakit kusta tidak menyebabkan kematian hanya bisa mengakibatkan kecacatan. Sebagian besar menganggap penyakit kusta adalah penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat. kurang menjaga kebersihan adalah orang yang bisa tertular penyakit ini. bisa menimpa semua orang dan orang yang kondisi kesehatannya menurun. dapat merubah bentuk fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. seorang Informan tidak mengetahui bahwa temannya dirawat karena menderita penyakit kusta sehingga wawancara terhadap teman responden tidak penulis lanjutkan. keluarga dan teman penderita kusta tidak memberikan suatu tindakan yang mengarah ke stigmatisasi terhadap responden. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak langsung yang erat dan lama dengan penderita (1) . Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun. disebabkan oleh kuman kusta. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe MB kepada orang lain dengan cara penularan langsung. bisa menular ke orang lain . dan tiga dari lima Informan mengatakan kontak langsung yang lama adalah cara penularan penyakit kusta selain melalui udara. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut sebagai Informan. . dengan menggunakan wawancara mendalam di peroleh hasil sebagian besar Informan mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular. Suami responden mengetahui jika istrinya menderita penyakit kusta dari keluarganya yang juga menderita penyakit ini dan Informan lain mengetahui dari petugas RSUD Tugurejo Semarang.

kawatir walau tetap membantu dalam berobat. harus berobat supaya sembuh dan sikapnya saat itu sangat kecewa. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1.Semua Informan setelah mengetahui berpendapat. Lima orang responden tidak . Responden (penderita kusta) dalam penelitian ini berjumlah 8 orang dengan rentang usia 14 – 51 tahun. mulai dari tidak bersekolah sampai dengan lulus Sekolah Menengah Atas. Dilihat dari latar belakang tingkat pendidikan responden. Mengenai pendapat orang-orang dilingkungan penderita. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. semua Informan mengatakan bahwa lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta sehingga lingkungan tidak melakukan tindakan apapun terhadap penderita. berjenis kelamin laki-laki sebanyak lima orang dan enam orang berasal dari luar Semarang.

terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) b. Penderita kusta berpersepsi. Penderita kusta berpersepsi. sikap membatasi diri dalam pergaulan. a. d. . penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. berperilaku negatip yaitu : 1) Tidak mau berobat karena malu. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi/ mengatasi cap buruk/stigma. tetangga dan teman-temannya menyangka penderita berpenyakit lain seperti penyakit diabetes. 3) Mau berinteraksi dengan lingkungan. Penderita kusta berpersepsi. penderita kusta berpersepsi. 3. penyakit syaraf atau penyakit alergi karena salah minum obat.bekerja dan enam orang telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai 5 tahun lamanya. 2. Penderita kusta berpersepsi bahwa. masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa penderita sedang mengalami sakit kusta. untuk berperilaku positip ditunjukkan dengan : 1) Berobat secara rutin. Penderita kusta berpersepsi bahwa. penderita beranggapan bahwa. c. dapat menimpa semua orang. 2) Melakukan perawatan diri dengan rajin. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. penyakit kusta merupakan penyakit menular.

Bagi Puskesmas.Tugurejo Semarang. untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan 2. 3) Putus asa. Saran 1. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan bersama. keperluan alat bantu (Orthotic Prosthetic) dan yang paling penting adalah pelayanan Psykologi untuk men support mental penderita. rumah sakit dengan unggulan penyakit kusta.2) Mengucilkan/mengisolasikan diri. Terapi Kerja (Occupational Therapi). melatih otot-otot yang lemah dan untuk mempersiapkan operasi bagi penderita yang akan dilakukan operasi perbaikan kecacatannya. penyehatan lingkungan dan berbagai program kesehatan masyarakat lainnya untuk dapat mendeteksi secara dini masyarakat yang . kecacatan. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan berbagai pelayanan kesehatan diantaranya promosi kesehatan. sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan penyakit kusta di Jawa Tengah agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. karena penderita kusta selain memerlukan pelayanan medis (obat) juga memerlukan pelayanan Fisioterapi untuk mencegah kecacatan.. Bagi RSUD. pemberantasan penyakit. B.

Number 4. Special Issue on Operational Research. Leprosy Review. Number 2. 2005. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. . Volume 76. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kehidupan seharihari.terserang penyakit kusta. 2005 3. Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. England. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga. serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. DAFTAR PUSTAKA 1. dan yang lebih penting persepsi terhadap stigma penyakit kusta harus dihilangkan karena penyakit kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Depertemen Kesehatan RI. December 2005. Volume 76. Sikap dan kepedulian keluarga untuk dapat memotivasi penderita agar berobat secara teratur. agar memeriksakan sedini mungkin dan berobat secara teratur serta melakukan perawatan diri untuk mencegah kecacatan. Leprosy Review. Cetakan XVII. 2. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 3.

Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Lawrence W. Health Promotion Planning. Laporan Kunjungan Rawat Jalan Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 6. Jane Ogen. edisi 2. 1997 19. 1996 . Sosiologi Kesehatan Beberapa konsep beserta Aplikasinya. Edisi Revisi. Jakarta. Bandung. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Seven edition. Jakarta. 2000 14. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Soekidjo Notoatmojo. The Contemporary English – Indonesia Dictionary. Tri Dayakisni. Health Psychology. Evaluasi Kunjungan Rawat Inap Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 7. 1996 15. Direktorat Kesehatan Jiwa Manajemen. Universitas Gajah Mada. Pedoman Pelaksanaan Pembentukan Kelompok Perawatan Diri. modern English Press. 2004 18. Gajah Mada University Press. 2003 13. 2005 12. Data penderita Kusta Provinsi JawaTengah. Yogyakarta. Srategi Penyuluhan Kesehatan. Dinamika Kelompok Penerapannya dalam laboratorium Ilmu Perilaku. Edisi 4. Jakarta. Buckingham. Pustaka Pelajar. Sarwono S. 2006 17. Open University Press. Rineka Cipta. 2001 8. Depertemen Kesehatan RI. Hudaniah. Yogyakarta. Mantra IB. UMM-Press. Depertemen Kesehatan RI. Psykologi 11. Depertemen Kesehatan RI. Peter Salim. Jakarta. 2001 9. Green. Mayfield Publishing Company. 2000 20. Psikology Sosial. Samsi. Sulisna. 2005 10. Universitas Sriwijaya.4. Yogyakarta. 2000 16. Baderal Munir. Saifuddin Azwar. Philadelphia. London. Promosi kesehatan Teori dan Aplikasi. Jacobalis. Pedoman Kusta Nasional untuk pelaksanaan pemberantasan kusta di daerah endemik Rendah. Jakarta. Perilaku Konsumen dan komunikasi Pemasaran. Cetakan ke dua. Jakarta Depertemen Kesehatan. Beberapa Teknik dalam menejemen Mutu Rumah Sakit. tahun 2007 5.

Becker MH. Belief. 23. Buku Panduan Diskusi Kelompok Terarah. Analisis Data Penelitian Kualitatif. 30. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pustaka Jaya. 2002 24. 27. bandung. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta. Pustaka Setia. 25. Jakarta. Remaja Rosdakarya. AED Healthcom. Philippines : Addison Wesley Publishing. Terjemahan. Attitude. 1995. Johana E. 2002. 28. Penerbit Universitas Indonesia. Hand Out Program Pasca Sarjana. 2007 22. 2004. M. L. PT Raja Grafindo Persada. 2007 . Charles B. Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Yogyakarta. Depertemen Kesehatan RI. A. Metode Penelitian Kualitatif. 1992. Burhan Bungin. 31. Surakarta. 1975. 35.21. Soekidjo Notoatmojo. I. Intention and Behavior an Introduction to Theory and Research. 1997. Mery Debus. Balai Pustaka. Sutopo. Thorofare. Basics Of Qualitative Research. Bandung. Utarini.J. 1993 dan Ilmu Perilaku 33. The Health Belief Model and Personal Health Behavior. yogyakarta. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Menjadi Peneliti Kualitatif. Andi Offset. Pascasarjana IKM-MPPK UGM. Ajzen. Hari Kusnanto. Sudarwan Danim. Metode Penelitian Kualitatif. Aditya Media. Anselm Strauss dan Juliet Corbin. Modul mata kuliah. Pengantar Pendidikan Kesehatan. 1991 32. Yogyakarta. Metode Penelitian Kesehatan. Yogyakarta. Jakarta. 29. HB. 2005. Prawitasari. Metode Kualitatif dalam Riset Kesehatan. 34. New Jersey. penerjemah Muhammad shodiq dan Imam Muttaqim. Sebelas Maret University Press. Slack Inc. Miles Matthew B. Fishbein. 2001 26. Modul Pelatihan Program P2 Kusta bagi Unit Pelayanan Kesehatan. Moleong. Edisi Kedua. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. Universitas Gajah Mada. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan.

Penelitian Pengembangan Model Penanggulangan Penyakit Kusta di daerah Endemis dengan Pendekatan Sosial Budaya.suryo. Volume 73. Number 2. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2001 41.id/web.powered by joomla-@copyright(c)2005 open source MaltersG Aenll errigahtetsd:27s Nerovveedmber. Intruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik khusus. Mem-PD-kan para mantan penderita Testimonials. Kamus Besar Bahasa Indonesia . 38.co. Workshop EDAN.36. 2008 . 2007 kusta. Balai Pustaka.komunikasi. Leprosy Review. Badan Litbang Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Leprosy Review. RSUD Tugurejo. edisi kedua.oxfordjournals. England 2002. Number 1. 1991 43. motivasi. http://her.org/cgi/content/full/cyll58v1 39. http://www.2007. 42. 2005 37.22 23 40. Rachmalina. Volume 76. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. 17 Pebruari. England.Leadership. Special issue on interation.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->