FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ( Studi Kualitatif

)

TESIS

Untuk memenuhi persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Magister Promosi Kesehatan

Soedarjatmi E4C006118

PROGRAM STUDI MAGISTER PROMOSI KESEHATAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008
TESIS

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA
Disusun oleh SOEDARJATMI E4C006118 Telah dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 04 Desember 2008 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Menyetujui Dewan Penguji

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. VG. Tinuk Istiarti, Mkes Widagdo,SKM,MHPEd. NIP. 131 764 483

DR.Laksmono NIP. 130 422 787

Penguji I

Penguji II

dr. Harbandinah P, SKM NIP. 130 354 865

Priyadi Nugraha, SKM, M.Kes NIP. 132 046 693

Mengetahui Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Drg. Zahroh Shaluhiyah, MPH, PhD NIP. 131 627 954

PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Soedarjatmi Nim : E4C006118

Menyatakan bahwa tesis judul: ” FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ” merupakan : 1. Hasil karya yang dipersiapkan dan disusun sendiri 2. Belum pernah disampaikan untuk mendapatkan gelar pada program Magister atau program lainnya. Oleh karena itu pertanggung jawaban tesis ini sepenuhnya berada pada diri saya. Demikian Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Semarang, 18 Desember 2008 Penyusun

Soedarjatmi NIM : E4C006118

Tahun 2004 Lulus Sarjana Kesehatan Masyarakat Undip di Semarang 6. . Tahun 1986 sampai dengan tahun 1993 bekerja dibagian Fisioterapi RS. Tahun 1976 Lulus SD Negeri 07 di Surakarta 2.RIWAYAT HIDUP Riwayat pendidikan penulis: 1. Tahun 1986 Lulus AkademiFisioterapi di Surakarta 5. Tahun 1993 sampai dengan sekarang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di RSUD Tugurejo Semarang. Bethesda Yogyakarta. Tahun 1983 Lulus SMA Negeri 04 di Surakarta 4. Tahun 2006 masuk Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang Lulus tahun 2008 Riwayat pekerjaan penulis: 1. Tahun 1980 Lulus SMP Negeri 02 di Surakarta 3. 2.

Ibu Dra. bimbingan. selaku pembimbing kedua. atas kesediaan dan keikhlasannya serta penuh pengertian telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan hingga selesainya tesis ini 4.PhD. dorongan dan semangat sehingga selesainya tesis ini. nasehat dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal kebaikan dan mendapat ganti yang lebih baik dari Allah SWT. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Magister Pascasarjana Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang. SKM. bimbingan. Laksmono Widagdo. MHPEd. Harbandinah P. Bapak Priyadi Nugraha. selaku Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2. Terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. Ibu dr. SKM. Keberhasilan penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat. Zahroh Shaluhiyah. Bapak DR. SKM. MKes. semoga segala bantuan. Tinuk Istiarti. VG. sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyususnan tesis ini. yang telah banyak memberi masukan-masukan. bantuan dan masukan untuk kebaikan tesis ini 5. nasehat.KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan atas karunia yang dilimpahkan kepada penulis. MKes. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat dan masukan untuk kebaikan tesis ini . Ibu drg. 3. selaku pembimbing utama. MPH.

dan jauh dari sempurna. Semarang. our love will never die. Rekan-rekan penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu dan memberi semangat terus-menerus kepada penulis hingga selesainya tesis ini. Akhirnya semoga tesis ini bisa bermanfaat. E4C006118 . suami tercinta penulis. 9. do’a yang tiada hentinya. SpA. You and I. Desember 2008 Penulis Soedarjatmi NIM. orang tua penulis atas do’a. Selaku Direktur RSUD Tugurejo Semarang yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian. 8.6. Bapak Teleng Warganto. atas segala pengertian. yang dengan ikhlas penuh pengertian dan selalu berdo’a menyemangati penulis dan membantu dalam mencari bahan di internet dan media lain hingga selesainya tesis ini. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi baiknya tesis ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih banyak kekurangan.SH. 10. utamanya pada diri penulis dan bagi siapa saja yang membacanya. Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti. dukungan dan support bagi penulis. 7. dorongan dan nasehatnya hingga terselesainya tesis ini. Putra penulis.. Bapak dr. Bapak-Ibu Sayoko. Joko Sugiarto.

Untuk anak-anakku Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti atas do’a . You and I our love will never die. pengertian dan bantuan kalian. kesetiaan dan kesabarannya.HALAMAN PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya ini untuk : Suami tercinta. do’a. pengertian. dukungan. Semoga selesainya tesis ini menjadi penyemangat keberhasilan studi kalian . terima kasih untuk semua perhatian.

kerjakanlah urusan lain dengan tekun ( QS : Al Insyirah : 5 dan 7 ) . Karena itu. bila engkau telah selesai dari satu urusan. dimana ada kesulitan disitu ada kelapangan.MOTTO Sesungguhnya.

... Ruang Lingkup ............................................................. Faktor-faktor yang menentukanterjadinya sakit kusta ................ HALAMAN PERSEMBAHAN........................................................ 1........................................................................................................................ A.......................................................... Stigma ............. 1.......... 42 B........................................ Pertanyaan Penelitian ...... Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang ............................ Keaslian Penelitian ................................................................... Landasan Teori ............................ B...................... Perumusan Masalah .......... 43 ...... BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 6................................................................................................................................. F.... Perilaku menurut Rosenstock (HBM)............. D...................................... Diagnosa sakit kusta ................................. 5... HALAMAN PERNYATAAN ........ Kerangka Konsep ....... Penyakit Kusta ............................ Tanda-tanda tersangka kusta (suspek) ........................................................ 7................................. Manfaat Penelitian ... 2.......... Kerangka teori . TINJAUAN PUSTAKA .......................... E.. DAFTAR ISI ............................................................ Green ......................... A....................... C........................... i ii iii iv v vii viii ix xi xii xiii xiv xv 1 1 4 5 5 6 7 11 11 11 11 15 16 17 18 22 23 24 27 29 32 35 35 37 41 BAB II BAB III METODE PENELITIAN ............................................................. 4....................................... MOTTO.................................................................................................................................................... F....................... Definisi penyakit kusta .................... HALAMAN KATA PENGANTAR ............................... Latar Belakang ................. Reaksi kusta .... Kecacatan akibat penyakit kusta .. Klasifikasi ....... DAFTAR SINGKATAN .... 3................. 2.................... DAFTAR GAMBAR .............. E.......................................... Persepsi ................................................ B....................................... C............................................... ABSTRAK............................................................................................................. 8......................................................................... Tujuan Penelitian ................................................................................................................................................... HALAMAN RIWAYAT HIDUP ....... 42 A...................................................................................................................................................... Pengobatan ........................ DAFTAR LAMPIRAN ............DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...................... Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta . DAFTAR TABEL............................... Perilaku menurut L........................................................................................... F............W................................................................................................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ............................. D...................................................................................................................

..................................... 76 6.... Sumber Data.............. 55 2...................... Kesimpulan . Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip ........... Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. G............ 92 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............... 86 2.................................. 83 PEMBAHASAN.............................. 55 3..... 91 g................................C.............................................................. 95 A.. 56 5........................ 89 d...... Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ... BAB IV Jenis dan Rancangan Penelitian ........................ Saran .................. 95 B........ Stigma penyakit kusta ......................... Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip....................... E...................................................... Pendidikan responden ................... Pekerjaan responden .................... Keterbatasan Penelitian.................. Instrumen yang Digunakan ........................................... Populasi dan Sampel Penelitian .. 56 2.... Persepsi terhadap risiko berperilaku negatip ......... Persepsi terhadap kegawatan penyakit ........ Variabel penelitian dan Definisi Operasional ..... 87 b........................ 55 4....... Karakteristik Responden .............. Pembahasan .................... Teknik Pengolahan dan Analisa Data .................................... 89 e........... Berdasarkan status nikah ............................... 55 1.................................. 56 1............................................................. Karakteristik responden ....................... F............. Persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta ..... 54 A....................................................... Umur dan jenis kelamin responden .. 96 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB V .................. 88 c.......................... Persepsi terhadap manfaat berperilaku positip.................. Validitas dan Reabilitas Data ............................................................................ 61 3................................................. 78 7................ Berdasarkan lama menderita penyakit kusta........................................................................ 54 B........ 65 4..... 86 1................................ Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit ............................................................................................. Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ............. 90 f............ Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta............................................................. Gambaran Umum penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang .......................... 56 C................................... H. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi responden 87 a.................. 70 5............................... 43 45 46 48 49 51 52 HASIL PENELITIAN ......... 86 A....................................... D...... I................. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ................ faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta... Stigma penyakit kusta .....................

.................................. Klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO ..3 Tabel 2..........................DAFTAR TABEL Nomor Tabel Judul Tabel Tabel 1..................................... Perdedaan reaksi tipe I dan II ......................1 Tabel 2.....1 Tabel 2.................................. 7 17 19 20 21 .....2 Tabel 2................... Beda reaksi berat dan ringan...... Perbedaan reaksi berat dan ringan tipe I ...............................................4 Halaman Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti ...

............6 Gambar 3. 24 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penderita ...........................W Green dan teori HBM........DAFTAR GAMBAR Nomor Gambar Gambar 2........................................ 34 Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok.. 39 Kerangka Teori modifikasi teori L......................5 Gambar 2.........................................1 Judul Gambar Halaman Perseptual.... 37 Basics of Health Belief Model........................1 Gambar 2..........4 Gambar 2.........3 Gambar 2............ 41 Kerangka konsep penelitian .....2 Gambar 2........ 42 .. 27 Alur Pelayanan Pasien Poliklinik Khusus penyakit kusta...................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Panduan wawancara mendalam dengan responden Panduan wawancara mendalam dengan suami. paman. tetangga dan teman penderita kusta. Hasil wawancara dengan Responden Hasil wawancara dengan Informan Foto-foto penelitian . ayah.

DAFTAR SINGKATAN RSUD MB PB WHO MDT DDS BTA ENL HBM PHBS : Rumah Sakit Umum Daerah : Multi Basiler : Pausi Basiler : World Health Organization : Multi Drug Therapy : Diamino Diphenyl Sulphone : Bakteri Tahan Asam : Eritema Nodusum Leprosum : Health Belief Model : Perilaku hidup Bersih dan Sehat .

berperilaku negatip yaitu tidak mau berobat karena malu. Stigma. Bagi RSUD Tugurejo. melakukan perawatan diri dengan rajin dan mau berinteraksi dengan lingkungan. Penderita kusta berpersepsi bahwa. agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. selanjutnya data di analisis dengan content analysis (diskripsi isi).989 orang. penderita yang sudah dalam keadaan cacat berjumlah 241. Disarankan bagi Puskesmas untuk memberikan promosi kesehatan penyakit kusta yang mampu membentuk pengertian yang benar dan positip serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi stigma. penderita usia anak 163 dan penderita yang sedang diobati 1. Penderita kusta berpersepsi. Kusta Daftar Pustaka : 45 ( 1975 – 2007 ) . Kata kunci : Persepsi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga agar berobat secara teratur. penyakit kusta merupakan penyakit menular. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. Kurangnya pengetahuan penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatif yaitu stigma tentang penyakit kusta. melakukan perawatan diri dan melaksanakan PHBS. Penderita kusta berpersepsi bahwa. Semua responden berpersepsi bahwa masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta dan responden berpersepsi sikap membatasi diri. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan kecacatan. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagian besar resonden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta.Program Pasca Sarjana Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2008 Abstrak SOEDARJATMI (E4C006118) xvi + 97 halaman + 5 tabel + 7 gambar + 45 kotak (studi Kualitatif) FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan 4. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. Penelitian ini dilakukan dengan metode diskriptif kualitatif yang menggunakan rancangan studi kasus. dapat menimpa semua orang. mengucilkan/mengisolasikan diri dan putus asa. Penderita kusta berpersepsi.171 orang penderita kusta terdaftar. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. berperilaku positip ditunjukkan dengan berobat secara rutin. Responden dipilih secara porposif terdiri dari penderita kusta yang berobat ke RSUD Tugurejo sebanyak 8 orang. Hasil penelitian menunjukkan.

The result of Research indicate that leprosy patient have perception that leprosy is contagion to everybody . 1989 patient had being cured. The leprosy patient have perception that negative behavior refer to not to get nursery because of ashame.Post-Graduate Programme Magister Of Health Promotion Diponegoro University of Semarang 2008 Abstracts SOEDARJATMI (E4006118) " THE LEPROSY PATIENT BACKGROUND'S FACTORS CONCERNING LEPROSY DISEASE STIGMA " xvi + 97 + 5 tables + 7 picture + 45 appendix In year 2006 detected 4. furthermore the data were being analysed with content analysis. frequently self care and want to interact with their neighborhood.The respondent were chosed propotion from the leprosy patient who were being in medical treatment at Tugurejo Hospital to the number of 8 patient. The lack knowledge of such a disease by leprosy patient bringing on negative perception arising out that is the leprosy disease stigma. All of the respondent have the same perception that the neighborhood and their friends did not know that the respondent having leprosy disease so they have perception introvert behavior. Stigma and Leprosy. The need for the leprosy patient group existence by means of such activity program to improve the motivation and preventing physical defect effort. The data collection were being done indepth-interview . The leprosy patient have perception that postive behavior refer to routine check up . The Leprosy patient have persception that leprosy desease is a dangerous and serious desease which is may caused death and physical defect along life. The reasearch had been done in qualitative descriptive method which use the study case program. conducting self treatment and carry on having clean dan healthy live behavior. cover their deformity are the action to reduce stigma.self isolation and desperate. Bibliography : 43 (1975 . The need for leprosy patient and family evaluation and monitoring program in order to get medicinal treatment consecutively. out of those 241 leprosy patient had been physical defected condition. Suggestion: The "Puskesmas" to give leprosy disease health promotion which is enable to form the right understanding and positive as well as conducting routine medicinal treatment. For the Tugurejo Hospital in order to optimize Medical Rehabilitation Service.2007) . The objective of research is to discribe the Leprosy patient background's factors concerning leprosy disease stigma . 163 child age patient .171 leprosy patient registered in Central of Java. Keyword : Perception.particularly for those who not having clean dan healthy live behavior and much of the respondent did not know how the leprosy desease spreading.

BAB I PENDAHULUAN A. Sedangkan secara psikologis bercak. Kecacatan yang berlanjut dan tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang tidak baik akan menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. terisolasi dari masyarakat. Kecacatannya juga memberikan gambaran yang menakutkan menyebabkan . Tanda utama penyakit ini adalah adanya bercak putih atau kemerahan yang mati rasa (anaestesi). psikologis. keluarga dan teman-temannya (7) . pekerjaan. masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial. Penularan terjadi dari seorang penderita yang tidak diobati ke orang lain melalui pernafasan atau kontak langsung yang lama dan terus menerus (1). kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang menahun disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) menyerang saraf tepi. hubungan antar pribadi. Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita mulai dari perkawinan. budaya. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara –acara keagamaan serta acara di lingkungan masyarakat (2) Penyakit kusta juga menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Penyakit kusta berkembang lambat dengan masa tunas rata-rata 2 – 5 tahun kadang bisa lebih. ekonomi. keamanan dan ketahanan nasional (1) .

Menurunkan stigma dan mengurangi diskriminasi mendorong perilaku masyarakat dalam menerima penderita kusta.penderita kusta merasa rendah diri. guna-guna. depresi dan menyendiri bahkan sering dikucilkan oleh keluarganya. Tiga besar provinsi dengan penemuan penderita baru tertinggi tahun 2006 adalah Jawa Timur 5. Masyarakat masih banyak beranggapan bahwa kusta disebabkan oleh kutukan. Jumlah penduduk di Jawa Tengah 32. makanan ataupun keturunan.788 penderita.11. Penderita kusta masih banyak di Indonesia jumlah penderita barupun masih banyak ditemukan. . Diera modern ini muncul istilah “stigmatisasi” yang lebih mencerminkan “kelas” daripada fisik.500 terdapat 4.171 (0. Sebenarnya stigma ini timbul karena adanya suatu persepsi tentang penyakit kusta yang keliru. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan percaya diri penderita dan keluarga dalam kehidupan sehari –hari. dosa. Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta berasal dari golongan ekonomi lemah keadaan tersebut turut memperburuk keadaan (1).0013%) orang menderita kusta terdaftar masyarakat menjauhi karena merasa jijik dan takut hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan atau pengertian juga kepercayaan yang keliru terhadap penyakit kusta.188 penderita dan Jawa Tengah 1. Proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat. Jawa Barat 2. (1). dianggap menjijikan dan harus dijauhi. Salah satu misi Depertemen Kesehatan dalam pemberantasan penyakit kusta adalah menghilangkan stigma sosial (ciri negatip yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya) dengan mengubah persepsi masyarakat terhadap penyakit kusta melalui pembelajaran secara intensif tentang penyakit kusta.068 penderita.

975 dan tahun 2007 sebanyak 4. Jika diajak bicara mereka tidak menatap lawan bicaranya dan sebagian besar memakai baju lengan panjang.839 pasien. tahun 2005 adalah 3. tahun 2006 berjumlah 3. (5) Tahun 2007 poli klinik khusus penderita kusta menemukan 192 kasus penderita baru. Data kunjungan rawat jalan penderita kusta setiap tahun meningkat. sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan Rumah Sakit Khusus penderita kusta. (6) Dari pengamatan awal yang telah dilakukan peneliti ditemukan beberapa perilaku penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo berbeda dengan penderita penyakit lainnya. Jumlah penderita rawat inap kkusus kusta tahun 2005 adalah 190 pasien.127 kunjungan. Sebagian besar mereka menundukkan kepalanya dan penderita laki-laki menggunakan topi. sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. Terletak di Semarang bagian barat. diantaranya mereka selalu mengambil tempat di belakang atau di sudut ruang saat menunggu giliran diperiksa. . Survey awal yang dilakukan peneliti pada bulan Oktober 2007 terhadap 10 orang penderita kusta memperoleh hasil bahwa masih ada persepsi negatif (stigma) penderita kusta terhadap penyakit kusta Atas dasar hal tersebut diatas maka perlu diteliti mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. tahun 2006 sebanyak145 penderita dan tahun 2007 terdapat 130 penderita yang harus dirawat.Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo Semarang merupakan Rumah Sakit kelas B milik Provinsi Jawa Tengah.

Hal ini merupakan masalah besar bagi diri sendiri karena rentan terjadi kecacatan dan bagi lingkungannya karena penderita ini merupakan sumber penularan. Berkaitan dengan fenomena stigma yang ternyata memang masih ada di masyarakat luas. data di poli klinik khusus penderita kusta RSUD Tugurejo Semarang sejak tahun 2005 bukannya menurun tetapi dari tahun ketahun menunjukan meningkatan jumlah kunjungan. Perumusan masalah Penderita kusta semakin hari semakin bertambah. Mereka tidak akan berobat karena harus pergi kesarana kesehatan yang dengan sendirinya harus keluar rumah. penderita takut penyakitnya diketahui orang lain. bahkan tahun 2007 rata-rata kunjungan pasien baru (penderita baru yang belum pernah minum obat) berjumlah 16 orang per bulan. Berabad–abad lamanya berbagai mitos dan kepercayaan menciptakan proses stigma terhadap para penderita kusta. Mereka menganggap benar tentang persepsi tersebut sehingga mereka akan mengisolasikan diri dari lingkungannya. pada saat itu beberapa negara mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan sterilisasi orang yang terkena penyakit kusta. persepsi yang demikian akan menambah beban penderita.788 orang. Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan penderita baru sebanyak 1. kerabat dan petugas kesehatan.B. maka perlu pembelajaran yang benar kepada masyarakat luas tentang kesalahan dalam memahami penyakit kusta. Kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatip yaitu stigma tentang penyakit kusta . mereka dikucilkan dan dikarantina. Sebaliknya jika penderita mempunyai persepsi positip yaitu . bertemu dengan tetangga.

Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Ruang Lingkup Penelitian . Tujuan Khusus a. d. 2. f. D. Mendiskripsikan karasteristik responden. Tujuan 1. b. Dari uraian tersebut diatas maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini dapat sebagai berikut : “Faktor – faktor apa saja yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ?” C.percaya bahwa penyakit ini disebabkan oleh kuman dan bisa disembuhkan maka hal ini dapat membantu penderita untuk lebih percaya diri dan mempunyai motivasi juga dorongan untuk berobat agar cepat sembuh dan tidak terjadi kecacatan. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Tujuan Umum Mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. c. Mendiskripsikan stigma tentang penyakit kusta menurut persepsi responden. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip. e.

2. Lingkup Sasaran Sasaran penelitian adalah penderita kusta. 2. Lingkup Masalah Masalah dibatasi pada Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. 3. Bagi unit Pelayanan Kesehatan RSUD Tugurejo. E. Lingkup Metode Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode kualitatif 5. .1. Bagi Puskesmas dapat dijadikan masukan dalam pemberian penyuluhan dan melakukan pendekatan terhadap penderita kusta dalam rangka menurunkan angka kesakitan kusta. Lingkup Lokasi dan waktu Penelitian dilaksanakan di kota Semarang yaitu di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Juni 2008. Lingkup Keilmuan Penelitian ini termasuk dalam ilmu kesehatan masyarakat bidang promosi kesehatan khususnya kajian materi perilaku. Manfaat Penelitian 1. dapat dipergunakan sebagai bahan informasi dan support yang dapat disampaikan kepada penderita saat berobat agar penderita tidak mempunyai persepsi yaitu stigma penyakit kusta sehingga tidak menghambat salah proses pengobatan yang sedang dijalani. 4.

Faktor-faktor risiko yang Penderita Kusta Umur. . Tabel 1. kelamin. Judul dan nama Peneliti Metode dan Jenis penelitian Analitik kuantitatif dengan rancangan Sasaran Variabel yang diteliti Hasil 1.1 Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti. 4. penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta di Kota Semarang secara kualitatif belum pernah dilakukan oleh peneliti lain. Bagi Program Promosi Kesehatan Merupakan sumbangan bagi khasanah pustaka di program pendidikan Promosi Kesehatan. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penyakit kusta telah banyak dilakukan tetapi sepanjang pengetahuan peneliti.1 dibawah ini. Penelitian tentang penyakit kusta yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti selengkapnya dapat ditampilkan dalam tabel 1. tingkat jenis Ada hubungan antara beberapa berhubungan dengan pendidikan. penelitian ini sebagai pengalaman langsung dalam melakukan penelitian terutama dengan metode kualitatif dan penulisan hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah. Bagi Peneliti. F.3. khususnya untuk mata kuliah perilaku kesehatan.

kecacatan kusta kabupaten Tegal oleh di penelitian Case Control status sosial faktor risiko ekonomi. pengetahuan. aspek klinis Joko Kurnianto. sikap. kelamin.loka si lesi. jenis Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan. Jenis pekerjaan. status kepegawaian. kusta aspek pengobatan terhadap kecacatan pada penderita di dan keteraturaan berobat. motivasi keluarga. tipe reaksi karasteristik individu. 2002 kusta.Faktor-faktor yang berhubungan dengan guru UKS perilaku dalam Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Guru UKS Umur.pencegah an cacat dan kusta perawatan diri Kabupaten Tegal 2. pendapatan dengan praktik deteksi dini pada anak SD di Kabupaten Blora pendapatan. 2005 peranan guru penderita UKS praktik deteksi penderita kusta anak dan kusta peranan dini petugas kesehatan dan pada dengan di praktik . oleh Warijan. penyakit kusta. masa upaya deteksi dini penderita kusta kerja.

Faktor-fartor yang berhubungan dengan pengawas dalam praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Wasor Kusta Umur. pelatihan. 2007 di Kabupaten penderita Blora baru kusta di Kabupaten Blora 4. pengetahuan. praktik pengetahuan penemuan penderita baru. kelamin. jenis Hubungan pendidikan ber pengaruh terhadap pendidikan. pendapatan .Kabupaten Blora. peranan Wasor dan wasor dan dengan praktik kusta penemuan peranan kusta kusta di Kabupaten Blora oleh Agus Prasetyo. jenis Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan. 3. deteksi kusta dini di Kabupaten Blora. Beberapa faktor yang berhubungan dengan penderita praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan Penderita kusta Umur. kelamin. penemuan baru penderita sikap.

Rencana Penelitian. sikap. puskesmas Kunduran dukungan keluarga dan sikap secara bermakna tidak berhubungan dengan praktek penderita dalam mencari pengobatan. 2008 . melatar faktor ekternal. persepsi belakangi persepsi penderita penyakit kusta oleh Soedarjatmi. jenis Mengetahui dan menguraikan faktor-faktor pendidikan. lama faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap kusta stigma sakit. pengetahuan. kelamin. dukungan praktik pencarian pengobatan kusta di pengobatan puskesmas Kunduran Kabupaten oleh Blora Dian keluarga dan Puskesmas praktik penderita kusta mencari Kunduran.dalam pencarian di penelitian Cross Sectional keluarga. pekerjaan. apa saja yang faktor internal. Judul : Faktor- Deskriptif kualitatif dengan indepth interview Penderita kusta Umur. Faktor umur. 5. 2005 dalam jenis kelamin. pengobatan di pengetahuan. Nugraheni. pendapatan.

persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif stigma penderita kusta. manfaat berperilaku positif. kegawatan penyakit.penderita tentang: kemudahan kemungkinan terkena penyakit. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . dan kusta sehingga penderita merasa terstigma karena penyakitnya.

A. lebar 0.2 – 0.Pada bab ini penulis menguraikan tentang : A. Sumber penularan Sampai saat ini hanya manusia yang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman kusta dapat hidup pada Armandillo. kuman kusta ini berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 8 mic. C. Penyebab. Kerangka teori. Definisi Penyakit Kusta Penyakit Kusta juga dikenal sebagai lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium lepra) yang terutama menyerang saraf tepi dan organ tubuh kecuali susunan saraf pusat. Faktor – faktor yang menentukan terjadinya sakit kusta a. c. Perilaku menurut L. Perilaku menurut Rosenstock (HBM) dan F. Tentang stigma. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. Landasan Teori yaitu 1. Hansen dalam tahun 1873. b. hidup dalam sel dan bersifat tahan asam. Cara keluar dari Penjamu (Host) . D. biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu – satu. Penyakit Kusta 1. Green. Diluar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dapat bertahan sampai 9 hari. 2. 2.5 mic. Waktu pembelahan sangat lama yaitu 2 – 3 minggu. Penyakit kusta. Mengenai persepsi. E.W. Mycobacterium leprae untuk pertama kali ditemukan oleh G.A. Simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar Thymus. B.

secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1 – 9 hari tergantung pada suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan. adalah penderita MB saja. 3 orang sembuh sendiri tanpa diobati dan 2 orang menjadi sakit. semua itu tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1) faktor sumber penularan. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti. akan tetapi dapat juga bertahun–tahun.Kulit dan mukosa hidung telah lama diketahui sebagai sumber dari kuman. Dari hasil penelitian menunjukan gambaran sebagai berikut : Dari 100 orang yang terpapar 95 orang tidak menjadi sakit. penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain.Lepra yang solid (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. . sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Cara Penularan Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi Basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. Penularan terjadi apabila M. d. yang jumlah bakterinya banyak) merupakan sumber kuman yang terpenting di dalam lingkungan. 2) Faktor kuman kusta. Kusta mempunyai masa inkubasi 2 – 5 tahun. Penderita inipun tidak akan menularkan apabila berobat teratur. Telah terbukti bahwa saluran nafas bagian atas dari penderita lepramatous (tipe MB. 3) faktor daya tahan tubuh.

Cara masuk ke dalam tubuh Tempat masuk kuman kusta kedalam tubuh sampai saat ini belum dapat dipastikan. Tidak pada semua penderita terdapat banyak Mycobacterium leprae yang hidup sehingga hanya kira-kira 5 – 15 % dari penderita kusta yang dapat menularkan penyakit. . Dari sebagian kecil ini 70% dapat sembuh dan hanya 30% yang dapat menjadi sakit. Bila orang tersebut tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta merupakan kelompok terkecil dan mudah menderita kusta yang stabil dan progresif. Sistim kekebalan yang efektif melawan kuman kusta adalah sistim kekebalan seluler. hal ini disebabkan karena adanya immunitas seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Tuan rumah Hanya sedikit orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah kontak dengan penderita.Bila orang tersebut memilki kekebalan rendah terhadap kuman kusta mungkin akan menderita penyakit kusta yang dapat sembuh sendiri. Dilain pihak manusia sebagian besar kebal (95%) terhadap kusta hanya sebagian kecil yang dapat ditulari (5%). 3). diperkirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernafasan bagian atas. f.e. 2). Bila orang tersebut mempunyai kekebalan tubuh yang tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten / kebal terhadap kuman kusta.

Pengobatan MDT pada penderita kusta 2). Cara pemutusan mata rantai penularan Penentuan kebijaksanaan dan metoda pemberantasan penyakit kusta sangat ditentukan oleh pengetahuan epidemiologi kusta dan perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan. Penjamu mempunyai kekebalan rendah terhadap kuman kusta bila menderita kusta biasanya tipe PB. Vaksinasi BCG pada kontak serumah dengan penderita kusta. jumlah jiwa dalam satu rumah tangga dan jumlah anggota keluarga diperkirakan merupakan faktor penting . Perbaikan kondisi sosial ekonomi menghasilkan penurunan insidens kusta meskipun faktor-faktor yang mendukung penurunan ini tidak diketahui. 3). Upaya pemutusan mata rantai penularan dapat dilakukan melalui : 1). Penjamu yang tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta yang memrupakan kelompok terkecil. 2).Seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). kondisi perumahan. Penjamu yang mempunyai kekebalan tubuh tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten terhadap kuman kusta. 3). bila menderita kusta biasanya tipe MB g. Isolasi terhadap penderita kusta namun hal ini tidak dianjurkan karena penderita yang sudah berobat tidak akan menularkan penyakit ke orang lain. Kondisi sosial ekonomi diperkirakan memainkan peranan penting dalam upaya pemberantasan kusta.

Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). pembengkaan (edema) dan lain-lain. retak. c. Mati rasa dapat bersifat kurang rasa (hipertesi) atau tidak merasa sama sekali (anaestesi). Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise). Peradangan pada penderita kusta (neuritis) dapat dirasakan berupa rasa nyeri namun kadang-kadang penderita tidak merasakan adanya nyeri (silent neuritis). Diagnosa Kusta Diagnosa penyakit kusta hanya dapat didasarkan pada penemuan tanda utama (Cardinal sign) yaitu : a. . 2).3. Basil tahan asam (BTA) positif. Untuk tujuan tertentu kadang jaringan diambil dari bagian tubuh tertentu (biopsi). Gangguan fungsi sensoris : mati rasa. Bahan pemeriksaan BTA diambil dari kerokan kulit (skin smear) asal cuping telinga (rutin) dan bagian aktif suatu lesi kulit. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritematous). 3). Gangguan fungsi otonom : kulit kering. Gangguan saraf ini bisa berupa : 1). Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. b.

Tanda-tanda pada saraf : 1). Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka. lamprene . Klasifikasi Klasifikasi penyakit kusta bertujuan untuk menentukan regimen pengobatan dan perencanaan operasional. Adanya cacat (deformitas) 4). Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut 5). Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih atau benjolan 2). Bercak yang tidak gatal 4). Tanda-tanda pada kulit 1). Luka yang tidak sakit Tanda-tanda tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar diagnosa penyakit kusta. Kulit mengkilap 3).Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda utama diatas. 5. 3). Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau multidrug therapy (MDT) yaitu menggunakan gabungan Refampicin. Rasa kesemutan tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. Lepuh tidak nyeri b. Tanda-tanda tersangka kusta (Suspek) a. 2). Apabila hanya ditemukan cardinal sign ke-2 dan petugas ragu orang tersebut dianggap sebagai kasus yang dicurigai (suspek) 4.

Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi (gangguan fungsi bisa berupa kurang/mati rasa atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh yang bersangkutan. Pedoman utama untuk menentukan klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO adalah sebagai berikut : Tabel 2.dan diamino diphenyl sulphone (DDS) maka penyakit kusta di Indonesia diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu : a. Sediaan apusan BTA negatif BTA positif Hanya satu saraf Lebih dari satu saraf PB Jumlah 1 s/d 5 MB Jumlah > 5 . Manifestasi klinik yaitu jumlah lesi kulit. Tipe Pausi Basiler (PB) b. Tanda Utama Bercak yang mati rasa / kurang rasa di kulit. Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan bila diagnosa meragukan. jumlah saraf yang terganggu dan sebagainya. Hasil pemeriksaan bakteriologis yaitu skin smear basil tahan asam (BTA) positif atau negatif. Tipe Multi Basiler (MB) Penyakit kusta dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu : a.1 klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO. b.

Reaksi ini bisa terjadi saat penderita mendapat pengobatan atau sesudah mendapat pengobatan. Jakarta 2005 6. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. a) Gejala reaksi dapat dilihat pada perubahan kulit. Reaksi Up grading ) Terjadi pada penderita tipe PB maupun MB dan kebanyakan terjadi pada 6 bulan pertama pengobatan. Pengertian Reaksi kusta atau reaksilepra adalah suatu episode perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu kekebalan (seluler respon) atau reaksi anatigen-antibodi (respon) dengan akibat merugikan penderita terutama padasyaraf tepi yang menyebabkan gangguan fungsi (cacat) . hal ini terjadi karena meningkatnya respon kekebalan seluler secara cepat terhadap kuman kusta dikulit dan saraf penderita dan disi akan terjadi pergeseran tipe kustanya kearah PB. Drop foot dan lain-lain). Reaksi kusta a. kasus yang sering terjadi penderita mengalami reaksi pada 6 bulan sampai satu tahun sesudah pengobatan dan berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. neuritis (nyeri pada saraf). bila reaksi ini tidak di tangani dengan cepat dan tepat maka kecacatan permanen bisa terjadi (misal Claw hand.Sumber : Depertemen Kesehatan RI. gangguan fungsi saraf tepi dan kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita. b. Jenis Reaksi Jenis reaksi sesuai proses terjadinya dibedakan menjadi 2 yaitu : 1) Reaksi tipe I ( Reaksi Reversal. .

pada sendi terasa sakit dan ada kelainan kulit baru. Jakarta 2005 fungsi kelemahan 2) Reaksi Tipe II (Reaksi ENL = Eritema Nodusum Leprosum) Terjadi pada penderita tipeMB dan merupakan reaksi humoral. . Saraf tepi Tidak ada nyeri tekan saraf dan Nyeri tekan dan / atau gangguan fungsi gangguan misalnya otot. dimana kuman kusta yang utuh maupun tidak utuh menjadi antigen.b) Menurut keadaan reaksi maka reaksi tipe I ini dapat dibedakan yaitu reaksiringan dan reaksi berat c) Perjalanan reaksi berlangsung selama 6 – 12 minggu atau lebih Tabel 2. Sumber : Depertemen Kesehatan RI. tangan dan kaki membengkak. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Makula sampai ada yang pecah. Lesi Kulit Reaksi Ringan Reaksi Berat membengkak Tambah aktif. 2. Lesi panas dan nyeri tekan. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. merah.2 Beda reaksi berat dan ringan pada reaksi tipe I Gejala 1. menebal. yang menebal dapat sampai merah teraba panas dan membentuk plaque nyeri.

lama. gangguan konstitusi dan komplikasi pada organ tubuh. Lesi Kulit Nodul Reaksi Ringan yang nyeri tekan. Perjalanan reaksi Biasanya berlangsung selama 3 minggu atau lebih. maka reaksi dapat dibedakan reaksi ringan dan reaksi berat. b. Syaraf tepi Tidak ada demam atau ringan saja Demam ringan sampai berat Tidak ada nyeri tekan. ada pecah jumlah berlangsung sedikit biasanya hilang sendiri dalam yang 2-3 hari sampai (ulseratif). Keadaan Umum 3. Organ Tubuh Tidak ada gangguan organ-organ Terjadi peradangan pada tubuh mata : liridocyslitis Testis: Epididimoorchitis Ginjal : Nephritis Kelenjar Limfadenitis Gangguan pada tulang Limfe : . gangguan Ada fungsi nyeri tekan. Kadang-kadang timbul berulang-ulang dan berlangsung lama. Gejala Gejala dapat dilihat pada perubahan lesi. neuritis (nyeri tekan) dan gangguan fungsi saraf tepi. Tabel 2. c.Tubuh membentuk antibodi dan komplemen (Antigen + antibodi + komplemen = immunokompleks) a.3 Perbedaan reaksi Berat dan Ringan Tipe I Gejala 1. Reaksi Berat jumlah Nodulnyeri tekan. gangguan fungsi 4. banyak. Menurut keadaan reaksi. 2.

hidung dan tenggororan. Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

Tabel 2.4 Perbedaan reaksi Tipe I dan Tipe II No 1 Gejala / tanda Keadaan Umum Reaksi Tipe I Reaksi Tipe II sampai berat

Umumnya baik, demam Ringan ringan (sub febril) atau disertai tanpa demam umum tinggi

kelemahan dan demam

2

Peradangan di kulit

Bercak

kulit

lama Timbul

nodul

menjadi lebih meradang kemerahan, lunak dan (merah), dapat timbul nyeri tekan. Biasanya pada tungkai. lengan Nodul dan dapat

bercak baru

pecah (ulcerasi) 3 Saraf Sering terjadi umumnya Dapat terjadi berupa nyeri tekan saraf dan / atau gangguan fungsi saraf

4

Peradangan organ

pada Hampir tidak ada

Terjadi mata,kelenjar bening, testis, dll sendi,

pada getah ginjal,

5

Waktu timbulnya

Biasanya segera setelah Biasanya pengobatan mendapatkan

setelah

pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan 6 Tipe Kusta Dapatterjadi pada kusta Hanya pada kusta tipe tipe PB maupun MB 7 Faktor pencetus MB

Emosi, kelemahan, stess fisik lain, kehamilan, pasca persalinan,obat-obat yang meningkatkan kekebalan tubuh penyakit infeksi lainnya

Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

7. Pengobatan Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan/kutukan. Pada tipe MB lama pengobatan :12-18 bulan dan tipe PB lama pengobatan : 6 9 bulan Pengobatan penderita kusta menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment ( MDT ) jenis obatnya adalah Rifampicin, Dapson,

Lamprene tergantung dari tipe penyakitnya. Untuk tipe PB terdiri dari 2 macam obat 2 kapsul Rifampicin 300 mg dan 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya 1 tablet DDS 100 mg selama satu bulan, untuk tipe MB menggunakan 2 kapsul Rifampicin 300 mg, 3 kapsul Lamperen 100 mg, 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya minum DDS dan Lampren 50 mg masing-masing satu selama satu bulan.

8. Kecacatan akibat penyakit kusta a. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kecacatan antara lain 1). Faktor yang berhubungan dengan penderita (umur, jenis kelaimin) 2). Faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit ) 3). Kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat mikobakterium leprae, makin mudah serabut syaraf menderita trauma makin mudah rusak oleh mikobakterium leprae) 4). Pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama akan menimbulkan kecacatan pada penderita kusta. 5). Faktor pekerjaan : yang sering mengalami kecacatan adalah penderita kusta yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat. b. Pembagian Kecacatan Dilihat dari asal terjadinya kecacatan : 1). Kecacatan Primer Yaitu kecacatan langsung disebabkan oleh aktifitas penyakitnya sendiri, cacat ini terbentuk selama fase aktif dari penyakitnya. Kecacatan primer ini karakteristik untuk penyakit kusta dan perkembangannya bisa diramalkan, biasa terjadi pada : a). Wajah ( cuping telinga yang memanjang, hilangnya rambut alis, cacat hidung/ hidung pelana, wajah keriput, lemah pada syaraf wajah/paralise fasialis )

b). pemendekan jari tangan.”osteolisis dan absorbsi” tulang kaki.hidung.mulut dan jari) terhadap stimuli dasar seperti cahaya. Tejadinya cacat karena adanya trauma dan infeksi sekunder. Solomon mendefinisikan bahwa sensasi sebagai tanggapan yang cepat dari indera penerima kita (mata. Tangan (luka pada ujung jari dan ruas jari hal ini disebabkan oleh cara memegang yang berlebihan karena tidak terasa. kithing jari-jari kaki/ “ clow toes” dan semper / “ drop foot” ) 2). Cacat ini terbentuk akibat salah dalam aktifitas / ”misuse” atau tidak pernah digunakan “disuse” sebagai akibat adanya hilangnya perasaan kulit / insensibilitas. Persepsi Persepsi setiap orang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda oleh karena itu persepsi mempunyai sifat subyektif. kaku / kontraktur) b). Kecacatan Sekunder Yaitu kecacatan yang tidak langsung disebabkan oleh penyakitnya sendiri tetapi disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan paralysis motoris / kelumpuhan .(8) . Anggota gerak ( kithing pada tangan / “clow hand “ dan “claw thumb”. diorganisasi dan di interpretasikan.telinga. biasa terjadi pada : a). warna dan suara. Kaki (luka akibat tumpuan berat badan. Sedangkan persepsi adalah proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi. kaku/kontraktur). “tarsal collaps”. B.

Dikemukakannya pula bahwa persepsi merupakan suatu proses aktif dimana orang yang mempersepsikan sering melebihi informasi yang baru didapatkannya untuk membentuk suatu kesan dari ciri-ciri personal yang tak terlihat dan .1 Perceptual (Michael R. Salah satu aspek penting yang berperan dalam diri seseorang ketika ia mempersepsikan sesuatu adalah pengetahuan yang dimiliki sebelumnya tentang apa yang sedang dipersepsikan. Perilaku Konsumen dan Komunikasi pemasaran. Robbins (2006) persepsi didefinisikan sebagai proses yang digunakan individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan inderawi mereka untuk memberi makna kepada lingkungan mereka dan menurut Kimble (1984) merupakan proses interpretasi terhadap informasi yang ditangkap oleh panca indra. Solomon. Bandung 2001 Persepsi dalam kamus psikologi adalah proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera (11) . 1996) Sumber : Sulisna.STIMULI Penglihatan Suara Bau Rasa Tekstur Sensasi Pemberian arti Persepsi Indra Penerima Perhatian Interpretasi Tanggapan Gambar 2. sesuatu yang bersifat mengembangkan kreatifitas dan membantu memberikan makna bagi pengalaman panca indera tersebut.

serta situasi tertentu yang sedang mempengaruhi individu yang sedang mempersepsi Persepsi adalah pandangan individu terhadap lingkungannya sebagai gambaran subyektif internal seseorang terhadap dunia luar. Faktor-faktor internal antara lain : 1. Kesan akhir. Keturunan (heriditer) 2. Faktor yang berperan dalam pembentukan persepsi adalah kognitif.kekuatan lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia karena orang yang mempersepsi tidak berada didalam lingkungan sosial yang kosong. Kecerdasan / pendidikan 4. sebagai produk dari persepsi ini merupakan kombinasi dari apa yang ada senyatanya dengan apa yang diharapkan dari orang yang dihadapinya. kepribadian dan budaya yang dimiliki seseorang. Kondisi dan tuntutan biologis/fisiologi 3. kelas dan tipe orang yang terlibat. pengetahuan dan pendidikan serta keadaan sosial budaya setempat. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penafsiran stimulus atau rangsangan seseorang sehingga individu akan memberikan interpretasi dari obyek tertentu. Proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri) . Lebih lanjut dikemukakan bahwa persepsi merupakan hasil proses pengamatan seseorang berasal dari komponen kognitif yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman proses belajar.(15) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses persepsi sehingga terjadi perbedaa persepsi antara satu individu dengan individu lainnya terdiri dari faktor internal dan ekternal. Persepsi merupakan salah satu mata rantai perubahan sikap.

Pengaruh ekosistim lainnya (7) Persepsi tidak hanya sekedar mendengar. Adat istiadat. Sikap dan kenyakinan keagamaan 9. melihat dan merasakan sesuatu yang didapatkan disini lebih jauh disepakati persepsi melibatkan rangsangan internal dan eksternal. Faktor pihak pelaku persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti : sikap. motivasi. tingkat pendidikan. Nilai-nilai individu yang dianut 10. Faktor-faktor eksternal antara lain : 1. 3.5. 4. 2. Efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus) 8. Harapan terhadap objek 6. Variabel lain yang ikut menentukan persepsi adalah umur. lingkungan. kepribadian dan pengalaman hidup individu (13) Jenis kelamin Umur Tingkat Pendidikan . latar belakang sosial ekonomi.fisik. atau minat. pekerjaan. budaya. Pengetahuan/pengalaman masa lalu tentang objek. kepentingan. Konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/ tekanan sosial). Ketergesahan menilai sesuatu berdasarkan informasi yang tidak lengkap 7. pengalaman dan pengharapan. Norma masyarakat.

Samsi.2000 C.Salim adalah hal yang membawa aib. kata ini menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap pada tubuh orang-orang yang dianggap bergolongan rendah seperti pencuri.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Penderita. Yogyakarta. Universitas Gajahmada. proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat dianggap menjijikan dan harus dijauhi Stigma dalam kamus P. penjahat. Stigma adalah suatu karakteristik yang dipertimbangkan tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. noda aib atau sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri. Manajemen Rumah Sakit. Ada banyak bukti yang mendukung bahwa orang yang dibuat merasa terstigmasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam . Sumber : Jacobalis. Stigma Stigma berasal dari zaman Yunani kuno. pengkianat Negara dan tentu saja pada penderita kusta (39) . hal yang memalukan. Di era modern muncullah istilah “stigmatisasi“ yang lebih mencerminkan kelas dari pada fisik.Pekerjaan Persepsi Sosial Ekonomi Budaya Lingkungan Fisik Kepribadian & Pengalaman Gambar 2. Beberapa Teknik dalam Manajemen Mutu. malu atau takut karena sesuatu (14) .

Proses stigmatisasi atau “lebeling” memiliki dua akibat yaitu (12) : 1) Dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. Kenyakinan yang mendasari timbulnya prasangka tersebut disebut stereotype yaitu kenyakinan yang menghubungkan sekelompok orang dengan ciri-ciri tertentu dan stereotype adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok dan suatu image yang pada umumnya sangat sederhana. ini merupakan sikap negatip yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok atau individu. 2) Stigma pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya dan menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. Efek dari stigmatisasi dapat berlangsung lama tetapi efek ini dapat dibatasi karena orang-orang yang mendapat stigma dapat menggunakan taktik yang beragam agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui stigma mereka diantaranya menyembunyikan secara selektif tentang stigma dimasa lalu. ketidak akuratan ini timbul dari proses . mencegah pengungkapan diri terhadap teman dekat dan berbagai stategi penipuan lainnya. Brehm dan Kanssin 1993 berpendapat bahwa prasangka adalah perasaan negatif yang ditujukan terhadap seseorang berdasar semata-mata pada kelompok tertentu dan melibatkan penilaian apriori.kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar. kaku dan klise serta tidak akurat. Banyak masyarakat berprasangka bahwa penyakit kusta sangat membahayakan bagi lingkungan mereka selain menularkan dan menjijikan mereka beranggapan bahwa penderita kusta tidak lagi berguna karena pada keadaan cacat penderita tidak produktif lagi.

oleh apa yang sedang kita hadapi saat ini .overgeneralisasi (perluasan karakteristik) (9) . Pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan kita akan masa lalu. 4. Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang orang lain. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta adalah proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. 3. dalam setiap masyarakat ada masalah yang komplek mengapa kusta ditakuti dan . Mengoptimalkan / membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui pengukuhan positip. D. Penderita kusta sering mendapat perlakuan diskriminasi dari lingkungannya biasanya diskriminasi ini merupakan perwujudan tingkah laku dari prasangka atau manifestasi prasangka dalam bentuk tingkah laku nyata. hal yang memalukan. Mengajarkan untuk tidak membenci. Menurut Wrightsman dan Deaux. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. belajar mengenal dan memahami orang lain. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. 2. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta.1981 dimasa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap sering dikaitkan dengan konsep mengenai postur fisik (9) Banyak faktor yang menimbulkan stigma kusta dan ini sangat bervariasi. Melakukan kontak langsung. Beberapa kemungkinan upaya untuk mengurangi atau mencegah timbulnya prasangka (9) : 1.

hidung melebar ini bararti sepintas orang melihat akan tau bahwa mereka menderita kusta. penderita dijauhkan dianggap berdosa dan lingkungan tidak ingin mengalaminya. Hukuman Mati Faktor lain adalah sampai tahun 1940 an penyakit kusta belum ada obat yang bisa mengobati secara efektif ini berarti penderita kusta seakan-akan telah divonis hukuman mati karena penyakitnya tidak bisa diobati. masyarakat takut terkena infeksi seperti penderita. beberapa kelompok percaya bahwa kusta disebabkan karena kutukan dewa karena berbuat salah. 3. hal ini menambah rasa takut penderita. Ketidak mampuan dan kecacatan Alasan lain untuk stigma adalah kecacatan dan ketidak mampuan yang disebabkan oleh penyakit itu. sampai akhirnya masyarakat percaya bahwa kusta disebabkan oleh kuman kusta. disantet dan penyakit akibat sexual. 2. Bau . Takut Ketularan Pengucilan penderita kusta dilakukan karena alasan takut ketularan. Percaya tentang akibat kusta Percaya tentang akibat kusta telah berbeda sepanjang waktu dan dimana tempat.menjadikan penyakit yang memalukan. kepercayaan ini mempengaruhi bagaimana penyakit dan penderita kusta diperlakukan. Beberapa alasan yang sifatnya umum diantaranya (3) : 1. 5. tebal. penderita dianggap korban guna-guna. 4. penyakit kusta dengan tanda-tanda khusus di wajahnya dimana kulit menjadi keriput.

kusta masih menjadi problem dibanyak negara diperkirakan bahwa antara 11 sampai 12 juta orang menderita kusta telah terobati akan tetapi stigma kusta masih sangat nyata dan perlu ditangani. Banyak faktor yang menyebabkan penderita bereaksi terhadap penyakitnya diantaranya (18) . bau ini dapat menjijikan dan membuat keadaan memburuk sehingga masyarakat tidak mau menerima mereka. Stigmatisasi diri sendiri Hal ini sangat nyata. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). 6. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Membantu mereka yang benar-benar mengalami stigma kusta. 2. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. Solusi pada Stigma kusta (2) Walaupun perkembangan yang besar. hal ini akan lebih efektif dan efisien karena lebih baik mencegah stigmatisasi dari pada mencoba mengembalikan penderita yang sudah ditolak oleh masyarakat. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. Mencegah stigmatisasi orang lain.Beberapa pasien kusta mempunyai bau badan yang sangat jelas / khas disebabkan oleh luka – luka yang terinfeksi. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. Ada 2 komponen pendekatan dalam menangani stigma kusta (2) : 1.

5. pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu. 6.1. 8. 9. tahun 2006 RSUD Tugurejo telah terakreditasi dan . 7. Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala yang menyimpang dari keadaan biasa. RSUD Tugurejo sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan rumah sakit khusus (RSK) penderita kusta. 4. Tahun 2000 mengalami perubahan status dari Rumah Sakit khusus menjadi Rumah Sakit Umum. kemudahan mencapai sarana tersebut. rendah diri. hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya. Sejarah RSUD Tugurejo. dsb). Tersedianya sarana kesehatan. Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit. Informasi. Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang. Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga. Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kerentanan individu untuk terserang penyakit itu). Pada tanggal 13 Januari 1994 dengan Peraturan Daerah tentang stuktur organisasi tata kerja Rumah Sakit Kusta Provinsi Jawa Tengah sebagai Rumah Sakit Khusus kelas C. Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dikenalnya. Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya. Tahun 2004 RSUD Tugurejo telah terjadi peningkatan kelas menjadi RSU kelas B non pendidikan. E. 1. takut. 2. Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya. 3. tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu.

Penyakit Saraf. tujuan pelayanan ini adalah mengobati dan memutus rantai penularan penyakit kusta. . Yang dilakukan RSUD Tugurejo terhadap penderita kusta. Dokter Spesialis Kulit dapat mengkonsulkan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Pasien mendaftar di loket pendaftaran. 2. d.lulus ISO 9000. Dokter Spesialis Kulit melakukan anamnese. Sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan unggulan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. radilogi atau pemeriksaan lain). e. RSUD Tugurejo melayani pasien kusta rawat jalan dan rawat inap. Rehabilitasi medis atau lainnya sesuai dengan kondisi pasien. dokter memberikan surat perintah mondok dan perawat akan berkoordinasi dengan ruang Kenanga yaitu ruang khusus penderita kusta. Bagi pasien yang memerlukan rawat inap. pemeriksaan. perawat melaksanakan anamnese dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Pasien menyerahkan bukti pendaftaran ke poli khusus. b. Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium. menegakkan diagnosa kerja dan memberikan resep obat serta edukasi terhadap pasien. c. f. Penanganan penderita di rawat jalan dilayani di poli khusus penyakit kusta dengan urutan sebagai berikut : a.

PASIEN DATANG ANAMNESIS PEMERIK.g. Informed consent dilakukan apabila perlu untuk tindakan. misal operasi. PENUN JANG PASIEN PULANG RAWAT INAP BTA (+) BTA (-) PENATA LAKSA NAAN EVALUASI 1 BULAN EDUKASI . FISIK PASIEN LAMA PASIEN BARU PENATA LAKSA NAAN PEM.

baik internal maupun eksternal (lingkungan).3 : Alur Pelayanan Pasien Poliklinik khusus penyakit kusta. F. faktor pemungkin. sikap dan sebagainya. 1. Perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu : faktor predisposisi. keinginan. Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan.(19) . Perilaku menurut Lawrence W. Selanjutnya Green mencoba menganalisis perilaku manusia pokok yaitu faktor perilaku. sarana fisik dan sosial budaya masyarakat. dan faktor penguat. persepsi. Lawrence W. keyakinan. Landasan Teori Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek (11) yaitu aspek fisik. minat. karena perilaku merupakan resultansi dari berbagai faktor. Green.PASIEN PULANG RAWAT INAP Gambar 2. perseprsi. motivasi. Green berpendapat (19) faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi. sikap dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman. motivasi. Sumber : Dokumen Instruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik Khusus RSUD Tugurejo Semarang. psikis dan sosial yang secara rinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti: pengetahuan.

kita dapat mengatakan faktor predisposisi sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. Perilaku seseorang cenderung untuk berkiblat pada perilaku yang berlaku dalam keluarga individu tersebut.(11) . Hal ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat dalam setiap kasus. sikap.(11) Lingkungan keluarga yang nyaman mempunyai respon yang kuat terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan anggota keluarganya. Keadaan demikian ini memungkinkan lingkungan keluarga lebih peduli terhadap apa yang dilakukan anggota keluarganya. Lingkungan keluarga yang ideal dalam arti suatu keadaan yang menjamin kenyamanan pada tiap-tiap anggota keluarga akan membentuk perilaku yang terarah dan cenderung untuk bersikap terbuka terhadap nilai-nilai baru yang tentu saja diterima oleh keluarga tersebut. Dalam arti umum. Termasuk dalam faktor predisposisi adalah faktor demografis seperti status sosial ekonomi. jenis kelamin dan ukuran keluarga. Sumber daya itu meliputi ketersediaan sarana dan ketercapaian berbagai sumber daya. Faktor pemungkin mencakup sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan. Faktor penguat disini diterangkan bahwa lingkungan keluarga sangat dominan dalam mempengaruhi pembentukan perilaku seseorang. dan persepsi. umur. nilai. keyakinan. berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak.Faktor predisposisi mencakup pengetahuan.

Perilaku menurut Rosenstock (Health Belief Model) Teori Health Belief Model (HBM) merupakan model kognisi yang menjelaskan bahwa perilaku sebagai hasil proses informasi rasional dan menekankan pada kognisi individu.Green. Sumber : L.2000 2. model ini sering kali dipertimbangkan sebagai kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia (20) . Health Promotion Planning. etc Behavior (action) of individuals.4 : Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok yaitu faktor yang mempermudah. Second edition. faktor penguat/pendorong dan faktor pendukung. groups or communities Enabling factors Availability of resources Accessibility Referrals Ruler orlaws Skills Environmental Factors Gambar 2.W. parents or employers.Predisposing factors Knowledge Attitudes Beliefs Values Perseption Reinforsing Factors Attitudes and behavior of health other personnel peers.

dan jika mereka percaya bahwa hambatan yang terantisipasi untuk mengambil tindakan dipertimbangkan dengan keuntungan. Persepsi seseorang terhadap benefits / untung – ruginya bila melakukan perilaku tersebut. 4. 2.Secara umum HBM diyakini bahwa individu akan mengambil tindakan untuk menghindarkan. Dalam konsep HBM dijelaskan bahwa perilaku adalah sebuah hasil dari sekumpulan persepsi. memeriksa atau mengendalikan kondisi kesehatan buruk jika mereka memandang rentan terhadap kondisi itu. Namun ada pula kemungkinan motivasi kesehatan positif yang meliputi perilaku mau untuk berobat. dan persepsi-persepsi ini memprediksi kemungkinan seseorang akan berperilaku. Persepsi tersebut adalah : 1. Tanda-tanda seseorang perperilaku / bertindak. Persepsi seseorang terhadap pembiayaan bila melakukan perilaku tersebut 5. Persepsi seseorang terhadap kegawatan suatu penyakit. . 3. jika mereka percaya bahwa tindakan tertentu yang tersedia akan menguntungkan dalam mengurangi kerentanan atau keparahan kondisi. Persepsi seseorang terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. HBM berhubungan dengan aspek kesehatan negatif yaitu perilaku seseorang ketika terancam suatu penyakit.

hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berfikir tentang penyakit yang diderita betul-betul merupakan ancaman kepada dirinya. Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap risiko yang akan muncul. 1996 Proses kognitif dalam HBM dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan.Jane. Philadelphia.Cues to action Susceptibility Demographic variable Severity Likehood of Behaviour Benefits Cost Gambar 2.5 Basics of Health Belief Model Sumber : Ogden. . Health Psychology a Text book. individu akan melakukan tindakan pencegahan didasari oleh dua kenyakinan atau penilaian kesehatan (health beliefs) yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian. Asumsinya bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut meningkat maka perilaku pencegahan juga meningkat.

Ancaman. latar belakang budaya). kelas sosial. Adanya gejala-gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi negatif penderita. akan tetapi penderita dengan persepsi positif merasa bahwa penyakit kusta adalah ancaman kesehatan yang serius melakukan pengobatan secara rutin adalah suatu keuntungan yang tinggi dan biaya yang rendah dibandingkan apabila sudah terjadi kelainan atau kecacatan. . variabel sosiopsikologi (kepribadian. Contohnya perilaku penderita kusta yang mengasingkan diri merupakan kemudahan untuk terjadi adanya kecacatan dan sumber penularan. keseriusan. HBM menyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya.Penilaian kedua yang dibuat adalah perbandingan antara keuntungan dengan kerugian dari perilaku dalam usaha untuk memutuskan tindakan selanjutnya. tekanan sosial) dan variabel struktural (pengetahuan. dia percaya bahwa penyakitnya akan berakibat serius pada anggota tubuh. pengalaman tentang masalah). Penderita sering mengatakan bahwa mereka merasa malu karena penyakitnya sehingga tidak memeriksakan diri. kerentanan. pertimbangan keuntungan dan kerugian dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu variabel demografi (usia.

6. Green dan teori HBM .G. Kerangka Teori : modifikasi teori L.W.Internal factor . Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan pustaka diatas diambil suatu kerangka teori yang bersumber dari teori Lawren W Green dan teori Health Belief Model (HBM) sebagai berikut : Susceptibility Demografik Variable Severity Perceived stigma Reinforsing Factor .External factor Benefits Cost Gambar 2.

Variabel Bebas Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit Variabel Terikat Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Lama sakit Keluarga Tetangga Teman Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positif Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif Penderita kusta merasa terstigma Gambar 3. Kerangka konsep.BAB III METODE PENELITIAN A.1. Kerangka Konsep Penelitian .

pekerjaan pendapatan dan lama sakit) melatar belakangi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 3. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Bagaimana faktor risiko jika berperilaku negatip melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 7. Bagaimana faktor kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 4. Bagaimanakah persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 2. Bagaimanakah faktor Demografik (umur. Bagaimanakah faktor internal (lingkungan keluarga) dan (lingkungan masyarakat) melatar belakangi persepsi penderita? eksternal C. Bagaimana faktor kegawatan penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 5. alasan yang mendasari penelitian jenis ini karena dapat menggali atau menghasilkan data deskriptif secara mendalam mengenai persepsi responden . pendidikan. Pertanyaan Penelitian 1. jenis kelamin. Bagaimanakah faktor manfaat jika berperilaku positif melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 6.B.

(23) Metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan lain yakni : pertama.terhadap stigma penyakit kusta. dimana tujuan riset kualitatif sendiri adalah mengembangkan konsep-konsep yang dapat menjelaskan makna suatu fenomena dan membantu pemahaman lebih mendalam atas fenomena sosial dan perilaku dalam setting atau lingkungan yang alami (bukan percobaan / eksperimen) dengan demikian memberi penekanan pada makna-makna. perspektif yakni memahami secara menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti. bersifat holistik. sikap. tidak lazim mendefinisikan suatu konsep. Kedua : berhubungan langsung dengan sasaran (responden). serta memberikan kemungkinan bagi perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar.luwes karena rancangan studi ini bisa dimodifikasi meskipun sedang dilaksanakan (24). (25) . (22) Metode kualitatif lebih menekankan pada validitas dengan pemahaman bagaimana manusia sebenarnya berperilaku dan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh manusia ketika menggambarkan pengalaman. analisis induktif karena peneliti tidak memaksa diri untuk hanya membatasi penelitian pada upaya menerima atau menolak dugaan-dugaanya melainkan mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri. menarik dan unik bermakna dilapangan (30) . pengalaman dan pandangan semua peserta risetnya. Keempat. perilakunya dan penalaran yang tersirat pada metode kualitatif bersifat induktif (bergerak dari observasi menuju hipotesis dan bukan pengujian hipotesis/deduktif). Tehnik kualitatif memberi kesempatan pada peneliti untuk mengamati dan berhubungan langsung dengan sasaran penelitian (responden) (22) Ketiga. Luwes tak terlalu rinci.

Dalam penelitian ini sample berjumlah 8 (delapan) orang penderita kusta dengan kriteria sebagai berikut : a. Tehnik pemilihan sampel dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling). selalu menundukkan kepala) saat berobat di RSUD Tugurejo Semarang. menyendiri.D. penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sampel (30) . Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang. padanya terdapat pola tertentu namun penuh variasi (keragaman). Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta yang mendapat pelayanan di RSUD Tugurejo Semarang. Dari pengamatan penulis penderita yang terlihat tidak percaya diri dalam berperilaku (misal: memakai pakaian tertutup/lengan panjang. b. Sampel Penelitian kualitatif bertolak dari asumsi yang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Data kunjungan pasien rawat jalan di poli khusus penderita kusta ratarata 344 orang per bulan. Mau berpartisipasi menjadi subyek penelitian. c. Populasi dan Sampel Penelitian 1. 2. . memakai topi.

Dalam penelitian ini berjumlah 5 orang E. Variabel Terikat dalam penelitian ini adalah penderita kusta merasa terstigma. Mau berpartisipasi dalam penelitian ini. Mau berkomunikasi dengan baik c. b. 6) Faktor persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatip. pendidikan. .d. jenis kelamin. 2) Faktor-faktor internal dan eksternal responden terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. b. pekerjaan. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. dengan kriteria sebagai berikut : a. penghasilan dan Lama sakit. Variabel bebas. 1) Karakteristik responden yang terdiri dari umur. Mau berkomunikasi dengan baik. 3) Faktor persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit. e. 4) Faktor persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Dalam penelitian ini sampel berjumlah 8 orang penderita Informasi dan tanggapan lain dalam penelitian yang digunakan sebagai cross check adalah keluarga dan lingkungan ( tetangga dan teman penderita) yang selanjutnya disebut sebagai Informan. 5) Faktor persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positip. Variabel Penelitian a.

9) Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang penyakit kusta sebagai suatu . 1) Umur adalah bilangan tahun terhitung sejak lahir sampai ulang tahun terakhir 2) Jenis Kelamin adalah penggolongan responden berdasarkan jenis kelamin yang tercantum dalam status diri (laki-laki atau perempuan) 3) Pendidikan adalah jenjang / tingkat pendidikan formal yang diperoleh responden sampai saat wawancara. Definisi Operasional Penderita Kusta adalah seseorang yang dinyatakan positif menderita kusta yang melalui pemeriksaan laboratorium ditemukan Basil tahan asam (BTA) positif atau ditemukan tanda-tanda kusta. 4) Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh responden baik di luar maupun di dalam rumah untuk memperoleh penghasilan. Variabel Bebas.2. 5) Lama sakit yaitu waktu yang dihitung saat pertama penderita di diagnosa sakit kusta sampai saat wawancara dilakukan 6) Lingkungan keluarga adalah lingkungan sosial yang paling dekat dengan penderita (11) 7) Lingkungan masyarakat adalah lingkungan sosial yang berada di sekitar tempat tinggal penderita (11) 8) Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. a.

cacat dan sebagai sumber penularan b. 11) Persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. Daftar pertanyaan penelitian berisi tentang persepsi penderita dan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta . menularkan. Instrumen yang Digunakan Instrumen yang digunakan dalam penelitian deskriptif adalah peneliti sendiri dengan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka yang berhubungan dengan responden sehingga pelaksanaan pengumpulan data dapat berlangsung efisien. rendah diri. takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. dan merasa disingkirkan oleh lingkungannya karena penyakit yang dideritanya. menganggap bahwa penyakitnya sama seperti penyakit lain dan perlu berobat sehingga sembuh.kondisi ancaman kesehatan yang berakibat serius atau kegawatan pada tubuh penderita. 10) Persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positif yaitu tanggapan responden mengenai keuntungan/manfaat apabila responden berperilaku positif terhadap penyakitnya. F. Variabel terikat Penderita Kusta merasa terstigma : Suatu kondisi yang membuat penderita merasa malu.

2. Data Primer Diperoleh dengan wawancara dan pencatatan menggunakan daftar pertanyaan yang dibuat oleh peneliti kepada penderita kusta dengan berpedoman pada kebutuhan informasi / data yang menjadi variabel dalam penelitian. b. Sumber Data Ada dua jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini. Sumber Data.Tahap pengumpulan data dengan wawancara mendalam dilakukan perekaman menggunakan alat bantu MP3 recorder dan catatan lapangan sehingga data dapat terkumpul dengan baik. a. Tehnik Pengolahan dan Analisa Data 1. Data Sekunder Diperoleh dari catatan medik RSUD Tugurejo yang menyimpan data penderita termasuk hasil penyakit kusta penderita. Adapun langkah-langkah analisis data kualitatif meliputi (26) pemeriksaan laboratorium dan catatan lain tentang . Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan setelah peneliti memperoleh data dari responden melalui wawancara mendalam dengan menggunakan model analisis kualitatif. G. yaitu data primer dan data sekunder.

a. dan transformasi data kasar yang muncul dari hasil wawancara mendalam dan catatan-catatan tertulis di lapangan. d. b. peneliti mencoba mengidentifikasikan beberapa kategori berdasarkan pedoman wawancara mendalam sehingga ketika memasuki proses . informasi diinterpretasikan dan disajikan secara narasi. dan lain-lain secara keseluruhan. pengabstrakan. Hal ini dilakukan berulang-ulang untuk mendeskripsikan situasi percakapan yang sesungguhnya. Transkrip dibuat langsung setelah proses wawancara mendalam. Transcribing Peneliti melakukan pembuatan transkrip dari hasil wawancara mendalam. responden. Pengikhtisaran atau tabulasi Peneliti melakukan pengikhtisaran atau membuat tabel data tiap butir instrumen dari para responden yang dibuat dengan mengelompokkan jawaban. Apabila terdapat pemaknaan yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori yang sudah ada maka dibuat kategori yang baru. Comparative atau perbandingan Peneliti melakukan langkah ini berkali-kali sehingga menemukan kategori yang lebih luas. dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh dapat didokumentasikan dan tidak ada informasi penting yang hilang. Deskripsi tersebut berdasarkan interpretasi peneliti terhadap transkrip. penyederhanaan. Reduksi data Peneliti melakukan pemilihan. Pembuatan transkrip dilakukan setelah peneliti memperoleh informasi dari responden dengan cara memutar ulang rekaman kaset hasil percakapan responden dengan peneliti. selanjutnya dikelompokkan ke dalam satu kategori. Untuk memudahkan proses. c. Berdasarkan tabel. situasi.

tetangga dan teman penderita kusta. Cara ini baik untuk mengurangi bias yang melekat pada satu metode dan memudahkan melihat keluasan penjelasan yang memudahkan. Perumusan pernyataan konklusif Peneliti merumuskan pernyataan-pernyataan konklusif terhadap tiap rincian masalah penelitian atau tujuan-tujuan khusus. H. Dan dalam penelitian ini triangulasi dilakukan kepada keluarga. Tabel-tabel yang berkaitan diinterpretasikan hubungannya. e. Langkah ini dilakukan untuk menghubungkan antara kategori sehingga terbentuk suatu kerangka konsep atau suatu penjelasan yang komprehensif mengenai fenomena yang dapat ditangkap oleh penulis. Uji validitas yang dilaksanakan pada penelitian kualitatif disebut triangulasi. Validitas dan Reabilitas Data Uji validitas dimaksudkan untuk meningkatkan validitas tampilan dari sesuatu yang akan diteliti melalui uji coba dapat diketahui adanya pertanyaanpertanyaan yang benar-benar mengukur dari yang hendak diukur.tinggal mencocokkan dengan kategori yang ada. yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan kesimpulan penelitian ini. Tehnik . lalu diinterpretasikan makna data antar tabel. Dengan triangulasi tehnik ini merujuk pada pengumpulan informasi atau data dari individu dan latar belakang dengan menggunakan berbagai metode. meliputi persamaan dan perbedaannya.

pemeriksaan keabsahan data dengan triangulasi dapat dilaksanakan melalui sumber data, metode dan teori. Peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, pengamatan dan dokumentasi.
(30)

Interview

dilaksanakan untuk mengetahui opini, persepsi, penilaian dan ingatan responden tentang pengalamannya (28) Realibilitas (keterandalan) pada penelitian kualitatif dapat dicapai dengan melakukan auditing data, hal ini dapat dilaksanakan dengan cara data hasil wawancara di tulis dan dikelompokkan sesuai dengan gambaran variabel yang dilihat pada penelitian. I. Keterbatasan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2008 di RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian ini tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Adapun kelemahan dan keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam untuk memperoleh gambaran faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Karena banyaknya faktor yang melatar belakangi persepsi maka penulis membatasi dan hanya meneliti faktor karakteristik, faktor internal, faktor ekternal, faktor kemudahan

kemungkinan terkena penyakit, faktor kegawatan penyakit, faktor manfaat berperilaku positip dan faktor risiko berperilaku negatif, karena faktor-faktor ini berpengaruh besar terhadap persepsi penderita kusta.

2. Pengumpulan

data

melalui

wawancara

mendalam

dengan

menggunakan banyak pertanyaan, membutuhkan waktu yang lama hal ini membuat responden jenuh,sehingga dimungkinkan adanya

subyektivitas jawaban. Untuk mengatasinya dilakukan triangulasi dengan melakukan cros chek pada suami, ayah, paman, tetangga dan teman penderita kusta.

3. Responden sangat tertutup terhadap penyakitnya, sehingga wawancara mendalam yang dilakukan sering mendapatkan jawaban yang singkat.

4. Responden sangat keberatan apabila penulis datang kerumahnya, ini mempersulit penulis dalam melakukan cross cek terhadap keluarga, tetangga dan teman penderita, sehingga penulis melakukan cross cek di RSUD Tugurejo dengan mendatangkan keluarga, dan penulis hanya mendapatkan 5 (lima) Informan sebagai cross cek.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo. RSUD Tugurejo merupakan Rumah Sakit kelas B milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di Semarang bagian barat , dalam pelayananya RSUD Tugurejo menyediakan 23 poliklinik diantaranya poliklinik khusus penyakit kusta. Tenaga yang melayani pasien berobat ke RSUD

Tugurejo meliputi : 32 dokter spesialis, 24 dokter umum, 7 dokter gigi, 3 apoteker, 1 psikolog, 60 tenaga medis, 268 tenaga keperawatan dan kesehatan, dan 138 tenaga non medis. Produk unggulan RSUD Tugurejo adalah sebagai

Blora. Demak. mengambil responden sebanyak 8 (delapan) orang penderita kusta dan 5 (orang) yang terdiri dari suami. Adapun jenis kelamin dan asal penderita yang berobat ke poliklinik kusta tersebut bisa dilihat berikut ini : Penderita. Pati.pusat diagnostik. status pekerjaan dan lama menderita disajikan sebagai berikut : 1. pelayanan kusta dan sebagai pusat penanganan krisis perempuan dan anak (PPKPA). masing-masing berjumlah . Sebagai pusat rujukan dan pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. pekerjaan. ini digunakan sebagai faktor triangulasi. poliklinik kecantikan. Karakteristik Responden Penelitian mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ini.952 (67%) berasal dari luar Semarang yaitu Jepara. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut dengan Informan. Purwodadi. paman. 29 tahun dan 55 tahun. pendidikan. Umur dan jenis kelamin responden Karakteristik responden berdasarkan umur diketahui bahwa responden berumur 14 tahun. Adapun tempat tinggal penderita 2. 23 tahun. Tegal dan daerah lain sekitar Semarang kemudian 1.380 pasien. Kaliwungu.428 (33%) berasal dari Semarang. Adapun karakteristik responden meliputi jenis kelamin. umur. Kendal. B.120 (71%) sedangkan perempuan berjumlah 1. laki-laki berjumlah 3.260 (29%). ayah. jumlah kunjungan penderita kusta pada tahun 2007 ada sebanyak 4. Pekalongan. Weleri.

adapun sebagai Pegawai Swasta ada sebanyak dua orang dan sebagai petani satu orang.000.perbulan. selama kurang lebih dua tahun sebanyak empat orang dan masing-masing satu orang telah menderita kurang lebih tiga tahun. empat orang berjenis kelamin laki-laki.000 – Rp. 33 tahun. Responden berdasarkan status nikah Dari delapan responden. enam tahun dan lebih sepuluh tahun. 30 tahun. empat responden telah menikah dan empat lainnya tidak menikah. Pekerjaan responden Responden berdasarkan jenis pekerjaan.1. sebanyak lima orang tidak bekerja. responden menyatakan telah menderita selama lima bulan sebanyak satu orang. Pendidikan responden Dilihat dari latar belakang pendidikan responden. lulus SD dua orang dan satu orang tidak lulus bersekolah 3. diketahui bahwa lulus SMA sebanyak tiga orang. Adapun karakteristik informan sebagai faktor triangulasi adalah sebagai berikut : Informan berjumlah lima orang.satu orang dan umur 33 tahun serta 45 tahun masing-masing 2 dua orang. 5.000. dari tiga orang yang bekerja. 4. lulus SMP dua orang. Melihat hasil jawaban responden mengenai penghasilan rata-rata perbulan responden tidak sama.500. Umur Informan masing-masing 24 tahun. Responden berdasar lama menderita penyakit kusta.. Berdasar lama menderita penyakit kusta. satu responden berpenghasilan kurang dari Rp. 35 tahun.per bulan dan sebanyak dua orang berpenghasilan antara Rp. Jenis kelamin responden sebagian besar laki-laki sebanyak lima orang 2.500.000. 44 tahun .

tukang kayu. Dari delapan responden semuanya menyatakan masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta. keluarga menganggap biasa saja terhadap penyakit yang diderita responden. Pendidikan lulus SMA berjumlah tiga orang. saya takut ketahuan tetangga nanti pasti dikucilkan. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta didefinisikan sebagai proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. Seperti yang dikemukakan berikut ini : Kotak 1 . 1. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. 2 orang mengatakan bahwa. Dari 8 (delapan) responden dengan karakteristik yang berbeda.keluarga nggak mau datang ke rumah.Saya merasa bersalah. was-was jika tubuh saya jadi cacat pasti tetangga menjauhi saya. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa pandangan responden terhadap apa yang dilakukan keluarga atau masyarakat mengenai stigma penyakit kusta terhadap responden. faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta.. Sedangkan yang lainnya mengemukakan bahwa keluarga merasa was-was karena penyakit yang diderita responden. hal yang memalukan. didapatkan jawaban yang bervariasi. tidak bisa bekerja. . lulus SMP dan lulus D3 masing-masing satu orang. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita... pegawai negeri dan pegawai swasta. C. dagang.dan 46 tahun. Status pekerjaan bervariasi yaitu pegawai BUMN..

. malu pada teman ... adik biasa saja.6.masyarakat juga biasa saja nggak tau kalau saya kena lepra. memberi semangat pasti sembuh. .4..3.. sekarang ini kami kontrak bu tapi saya bersyukur pengobatan di sini gratis dan istri saya sudah sembuh walau belum seratus persen.2. .... .8 Keterangan : R = Responden Lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang pendapat orang-orang dilingkungan penderita setelah mengetahui istri. masyarakat tidak tau.Takut. anak. ... (responden menangis). tetangga tidak tau.5..Biasa saja.Keluarga tidak menolak. dikira saya kencing manis tidak bisa sembuh dan sekampung saya sendiri yang kena begini. tetangga bilang kena sengkolo.. R 1..takut dijauhi kalau orang-orang tau. sedang teman penderita karena tidak mengetahui tentang penyakit temannya..7. taunya sakit saraf karena kami berobat ke dokter saraf sampai habis-habisan. penulis tanyakan tentang pendapat teman-teman dilingkungan penderita bekerja..Saya tidak pernah bilang kalau saya kena kusta.. Biasa saja. tetangga atau teman menderita kusta.. sebagian besar menjawab orang-orang dilingkungannya tidak mengetahuinya kalau responden menderita kusta.Keluarga merasa syok takut. masyarakat tidak tau saya sakit. Masyarakat tidak tau.(responden menangis sampai lama)...... untuk mengetahui lebih lanjut dapat dilihat dari beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 2 ..... kulo kenging lepra kering dados mboten ketingal. .. .. rumah dan isinya habis untuk biaya berobat tapi tidak sembuh. terutama ibu. .Orang tua berfikir positip.. Tidak tau kalau istri saya kena kusta... keponakan.

. seperti alergi seluruh badannya. Selama ini biasa saja mungkin karena tidak tau dia kena kusta.2. seperti kutipan dibawah ini : Kotak 3 . tidak pernah cerita.3 4 Keterangan : I = Informan Sedangkan teman penderita mengungkapkan bahwa penderita seorang yang baik dengan siapa saja dan mulai bertanya-tanya tentang penyakit temannya itu. I. seperti jawaban yang diberikan dibawah ini : Kotak 4 .. 5 Dengan mulainya wawancara mendalam bertanya tentang penyakit temannya. Sebetulnya sakit apa bu? I.. karena lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta maka tidak ada perubahan apapun terhadap penderita. taunya kalau ke rumah sakit ya kontrol ke dokter saraf. jadi kalau mondok begini kasihan istri dan anaknya.... . walaupun jawaban yang diberikan bervariasi tetapi intinya semuanya mengutarakan. di kerjaan dia baik. 1. Dari hasil wawancara mendalam tentang apa yang dilakukan dan pendapat orang-orang dilingkungan penderita. tidak pernah keluar rumah. Teman sekolahnya tidak ada yang tau dan saya meling tidak usah diberi tau.. Dia orangnya enthengan bu. Dia itu pendiam. ini semua karena Privacy penderita dan penulis tidak mengharapkan terjadi hal-hal di luar penelitian ini. . Teman-temannya taunya ya sakitnya itu karena salah obat.. . Masyarakat tidak tau. maka tidak penulis lanjutkan....

kasihan ya kalau pada tau...3. dia sukanya diam saja di rumah..2. sekarang agak pendiam. mereka tidak tau. .sebetulnya masyarakat tidak apa-apa. orang tuanya sering menyuruh untuk datang tapi ya. tapi ya beda seperti saat belum kena dulu. ... taunya salah obat.. dia juga sering ikut kegiatan masjid di kampung. disuruh bantu. Sering rewang-rewang. Masyarakat tidak tau kalau sakit kusta.. tindakan apa yang masyarakat lakukan terhadap penderita dan dari ungkapan tersebut.. . 1.3. didapatkan jawaban bahwa lingkungan / tetangga penderita menanyakan bukan karena penyakit kustanya tetapi seperti di ungkapkan dibawah ini : Kotak 5 . tapi tidak seperti sebelum sakit. R 1. .bantu. sekarang agak pendiam dan agak malas-malasan kalau ada kegiatan. Tetangga sering bertanya : sudah sembuh belum. 4 Untuk mengetahui apakah stigma ini muncul dari masyarakat ataukah dari penderita sendiri.. kadang saya perhatikan pandangannya kosong. temannya ya masih pada main kerumah kegiatan ya masih mengikuti.. mungkin malu karena wajahnya jadi seperti itu. dia tidak mau kuliah lagi.. kegiatan remaja sering mendapat undangan tetapi tidak mau datang.. karena belum tau bu.Sebetulnya seperti kegiatan karang taruna. lebih lanjut dapat disimak tanggapan Informan mengenai. nggak tau kalau sekarang sudah tersebar.. apa masih kontrol ke dokter saraf ? .masih . menunjukkan bahwa lingkungan/tetangga tidak melakukan perubahan sikap terhadap penderita. Waktu itu kan belum tau... Biasa saja. jadi biasa saja. I.2. membaca apa saja.. Biasa saja.hanya dia tidak mau keluar rumah.4 Melihat tanggapan pada kotak 5.

tetap ikut kegiatan di kampungnya dan responden yang masih bersekolah selalu memakai baju lengan panjang.. saya pilih tidak ketemu orang-orang.2..Dirumah terus. . . saya malu bu. Adapun mengenai bagaimana cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta.7 Adapun perbedaan cara dalam menanggulangi cap buruk ( stigma) oleh responden dikemukakan sebagai berikut : Kotak 7 .mengikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan di kampungnya. . Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta dapat dilihat dari beberapa tanggapan responden berikut ini : Kotak 6 ..3..1. saya agak membatasi diri biar tetangga tidak tau. ada undangan sering dipaksa bapak datang.. satu responden dengan membatasi diri dan responden lain dengan diam saja (tidak melakukan tindakan apapun). Kesekolah saya selalu pakai seragam panjang. . saya sering pakai jaket karena dilengan saya ada fleknya. arisan biasanya saya titip saja.. Kulo mendel mawon. kalau omongomong dengan tetangga saya seperlunya saja. R. seperti ini bu.. jarang ngrumpi kalih tonggo. tapi saya banyak tidak datangnya. tiga responden melakukannya dengan tetap bekerja. selesai langsung pulang.. akan tetapi penderita sendiri yang tidak mau untuk mengikuti kegiatan tersebut. ada kegiatan yen purun nggih dateng.

... Dari hasil jawaban terhadap responden mengenai pendapat apakah penyakit kusta dapat menular ke semua orang terlihat bahwa sebagian besar menjawab ”bisa” menularkan dan sebagian lagi menjawab ”tidak” menular dan seorang menjawab tidak menular juga bukan merupakan penyakit keturunan seperti di ungkapkan berikut ini : Kotak 8 . sak kampung mung kula thok. Saya tetap bekerja walaupun kadang-kadang saya tidak PeDe. .. sudah dislameti ya tidak sembuh-sembuh.2. ibu saya juga kena. Tidak. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. tapi tetap saya jalankan. tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang.. penyakit ini juga bukan keturunan .. . kalau tidak datang justru jadi omongan orang. ada kumpulan kampung saya tetap datang. Bisa.kata orang-orang saya kena sengkolo. Mboten. Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. biar saya tidak kelihatan kalau sakit kusta. ada kerja bakti. .... Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita.6 . antara lain : faktor sumber penularan yaitu penderita. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. R 7..5 2. Penyakit kusta adalah penyakit menular. R 4. gejalanya persis seperti saya dan saat ini ibu tangannya sudah cacat.. ikut kegiatan dikampung. Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu meliputi. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1).

. dua responden menyatakan bahwa orang yang kebersihannya kurang dan kondisi kesehatannya menurun..Selanjutnya hasil wawancara mendalam terhadap Informan tentang persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit dengan pertanyaan apa yang anda ketahui tentang penyakit kusta sebagian besar mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular.sekampung hanya saya saja yang sakit kados niki. Orang yang jorok.. kados panu ning saged dados berat.1 . kurang resikan.. Kotak 10 . . Tidak tau bu. kemproh. satu orang menyatakan. Penyakit seperti alergi. ringkih. dari hasil jawaban ternyata sebagian responden tidak mengetahui tentang ciri atau kriteria orang yang mungkin terkena penyakit kusta. fisiknya berubah dan katanya bisa menular... penyakit kusta adalah penyakit kulit dan satu orang menjawab penyakit kusta adalah penyakit yang bisa membuat cacat. Berikut kutipan sebagian jawaban responden : Kotak 9 .5 Kemudian persepsi responden mengenai orang yang seperti apa yang mungkin terkena penyakit kusta.2. satu responden berpendapat bahwa orang yang golongan darahnya sama dengan penderita yang bisa tertular penyakit kusta... R 2. Penyakit yang tangan dan kakinya bisa mrotholi I. Penyakit kulit.. 3... kondisinya jelek. .

Tidak menular. kurang perhatian kebersihan. I. satu responden menjawab penyakit kusta menular melalui udara dan terdapat satu responden yang menjawab bahwa jika bersinggungan dengan penderita kusta akan tertular penyakitnya seperti di ungkapkan sebagai berikut : Kotak 13 ..Selain itu menurut Informan mengenai. Ringkih.. .. orang yang kondisi kesehatannya menurun dan kurang menjaga kebersihan . dua orang menjawab. sebagian besar menjawab penyakit kusta bisa menular ke semua orang dan hanya tetangga penderita menjawab penyakit kusta tidak bisa menular seperti berikut ini : Kotak 11 .. 1. berikut kutipan jawaban : Kotak 12 . 4 Demikian juga hasil wawancara terhadap ke lima Informan sebagai faktor triangulasi mengenai orang yang bagaimana yang bisa tertimpa penyakit kusta. bersinggungan dengan orang kusta yang pada kulitnya terdapat ... sebagian besar mengatakan tidak mengetahui tentang penularan penyakit kusta. apakah penyakit kusta dapat menimpa semua orang / orang lain didapat jawaban bahwa.. Orang yang peduli kesehatan tidak akan ketularan. I. Orang yang jorok dalam hidupnya.4 Sedangkan cara penularan penyakit kusta menurut responden. kondisinya drop..

R5 Adapun berdasarkan wawancara terhadap Informan mengenai cara penularan penyakit kusta. benjolan di kulit. tetangga penderita mengatakan. anak saya sering kontak langsung dengan ibunya. apakah penyakit kusta dianggab penyakit yang berbahaya? Apa alasannya ?. gangguan gerak anggota atau bagian muka. sebagian . Kemudian untuk tanda – tanda tersangka kusta diantaranya adanya kelainan kulit berupa bercak yang tidak terasa/mati rasa berwarna merah atau putih. bisa ketularan penyakit kusta. Didapat jawaban bahwa. dan golongan darahnya sama. I. adanya luka yang tidak terasa sakit dan juga terjadinya reaksi akibat penyakit kusta. penularan penyakit kusta bisa melalui udara dan lainnya mengatakan kontak langsung dengan penderita bisa tertular penyakit kusta seperti tanggapan ayah penderita berikut ini : Kotak 14 .. lha pripun yen bobok kalih ibune. adanya rasa kesemutan.. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan mengenai kegawatan penyakit kusta dengan pertanyaan.benjolan-benjolan seperti udunen. 2 3. Katanya petugas. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. adanya kecacatan. tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut.

6. kan bahaya bu. badannya sakit semua.. kusta menakutkan. keringat dingin.... proses penyembuhan lama. Sangat berbahaya.3. merubah fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. itu cina ada yang sampai mrotholi. Sangat berbahaya.. Berbahaya.. cacat tidak bisa bekerja. Ya.. mambu.. keluarga . Ya. ..5. adapun jawaban dari responden tersebut bisa disimak seperti berikut : Kotak 15 .ini hidung saya jadi hilang bu. banyak yang salah berobat.. kata ibu saya kalau kumat badan sakit semua. menakutkan karena fisiknya berubah. ibu saya sering sampai nangis kalau kumat..7.. bisa menular. .. panas dingin. karena bisa menular ke orang lain. .2. tidak banyak yang tau tentang penyakit kusta. badan sakit semua. . tidak bisa bangun. Ya.. gejala-gejala yang muncul itu menakutkan. . dada keder. semua menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat. Ya. . .besar responden menyatakan penyakit kusta menimbulkan bahaya dan sebagian menyatakan bahwa penyakit kusta tidak berbahaya.. penyakitnya akan hilang.. bisa prothol – prothol. tidak bisa aktifitas.. telat minum obat kumat. Ya.. lemes. untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegawatan penyakit kusta dapat dilihat dari beberapa pendapat berikut ini: Kotak 16 . karena kalau minum obat akan sembuh.. Tidak. rasanya tak karuan. karena gejala yang muncul sangat berat. . R 1. Tidak berbahaya kalau minum obat akan sembuh..8 Selanjutnya mengenai Persepsi terhadap kegawatan penyakit menurut Informan adalah.4.

Penyakit kusta merusak fisik. mental dan menyiksa lahir batin. kulitnya mlepuh – mlepuh seperti kena api. bisa membuat cacat di tubuhnya. . panas dingin badan sakit semua akan muncul lagi dan satu responden tidak mengetahui tentang seberapa besar bahaya yang timbul karena penyakit kusta..4.. Penyakit kusta menyiksa lahir batin. keluarga dan teman-temannya (7) . kalau saya lihat yang periksa bareng saya tangannya putus-putus. Untuk jawaban-jawaban responden tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini : Kotak 17 . kusta berbahaya makanya saya periksa terus.. merusak mental. terisolasi dari masyarakat. kalau minum obat badan enak. tidak berobat badan sakit semua..bisa kena semua... Wah. 1. … Ya.. I. Mencermati jawaban responden mengenai seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta .ya bahaya bu. kecacatan yang berlanjut dan apabila tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang baik akan dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif.. Saya takut mati. 5 Penyakit kusta menimbulkan masalah yang sangat komplek. merusak fisik. . Kemudian responden lain berpendapat bahwa kusta kalau kumat (kambuh) gejala-gejala disebutkan seperti lemas. dari delapan responden terdapat empat diantaranya menyatakan bahwa bahaya penyakit kusta bisa menimbulkan kecacatan. kadang orang melihat saya seperti takut. wajah berubah menjadi menakutkan.. . mrotholi. dua responden menjawab kusta bahaya. tangan-kakinya rusak tidak bisa untuk bekerja. terus terang saya sangat depresi .

R 1.. cekot-cekot.... anak-anak ketularan. ya berat bu. empat semua dekat dengan ibunya.5. sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian dan sebagian kecil responden mengemukaan pendapat. 1. saya mikir apa saya mau mati soalnya jantung keder terus.. jadi saya kawatir kalau mereka tertular penyakit ini. rumah dijual untuk berobat. menurut Informan sebagian besar mengatakan bahaya penyakit kusta selain menular. anak saya banyak bu. wajahnya menakutkan. . bagaimana ya bu. . Beberapa jawaban dapat dicermati berikut ini : Kotak 18 . Dibawah ini kutipan jawaban dari beberapa responden : Kotak 19 .2..5. Kusta basah bisa sampai mrotholi. Tidak membunuh tapi merusak fisik.. bisa membuat cacat dan satu orang mengungkapkan kalau kambuh badannya sakit semua. Yaitu bu bisa jadi cacat. waktu itu saya sudah mutung berobat kemana-mana tidak sembuh sampai habishabisan. 2 Untuk wawancara mengenai persepsi penderita tentang apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian didapatkan jawaban..8 Kemudian seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta.3. Bisa.. . kalau gak ke Tugu (RSUD. kusta kering rasanya senutsenut sakit sekali bu. . penyakit kusta tidak bisa mengakibatkan kematian..Tugurejo) mungkin saya sudah meninggal. panas dingin.. .4. Saya takut kalau istri saya cacat... Kalau kumat lemes. rasanya sepeti itu. Wah.. Ibunya kalau kumat badannya sakit semua. I.. drodog badan saya tidak ada daya.

2. Ya. Tidak bisa. antara lain : Faktor yang berhubungan dengan penderita sendiri (umur.4. . jenis kelamin). kalau berobat terus ya sembuh. kematian ditangan tuhan. Kalau kematian InsyaAllah tidak. bisa sembuh kalau berobat... faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit). didapatkan jawaban bahwa penyakit kusta tidak menyebabkan kematian. . saat pertama kena penyakit ini saya sempat koma.3. ( pada wajah. Bisa. panas tinggi dan tidak ada obatnya.4.3.. pada anggota gerak) b.. menurut kula wong sehat mawon bisa mati nggih. Kecacatan Primer yaitu kecacatan langsung yang disebabkan oleh aktifitas penyakitnya. hanya bisa merusak fisik.. Adapun kecacatan dibagi menjadi : a. R 1.. Cacat ini terbentuk akibat salah ... kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat kuman kusta)..5 Kecacatan akibat penyakit kusta dipengaruhi oleh beberapa faktor. … Tidak menyebabkan kematian. Kecacatan sekunder yaitu kecacatan yang disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan kelumpuhan. I. 1. pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama dan faktor pekerjaan (penderita yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat). seperti dikemukakan dibawah ini: Kotak 20 .5.8 Selain itu menurut persepsi Informan mengenai apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian.

. Ya.4. penyakit kusta bisa mengakibatkan kecacatan pada tubuh penderita. Tanggapan responden terhadap pertanyaan apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan mendapatkan hasil bahwa semua responden menjawab ”bisa”. Bisa..... saya sampai saat ini ada rasa takut cacat. Bisa...5. berikut ini kutipan tentang jawaban responden : Kotak 21 . menurut Informan... R 1.. luka tidak sembuh-sembuh terus diamputasi . tangan saya sudah mati rasa.. tangan saya kithing tidak terasa. kaki. . kuping saya memanjang karena penyakit ini. seperti tetangga saya. Ya. tangan dan kakinya cacat. kakinya cacat awal-awalnya luka seperti ini (menunjuk luka dikaki) . lha niku bojo kula (ibunya penderita) ngertos-ngertos tangane ngeten ( jari-jarinya kithing) . Bisa. itu orang cina yangbarengan periksa dengan saya. Ya. tangan dan kakinya mrotholi semua. kata pasien yang barengan kontrol.7 Sedangkan mengenai kecacatan. .dalam aktifitas atau tidak pernah digunakan (disuse) bisa juga karena adanya infeksi sekunder.. Ya...2. keponakan saya ini tangannya sudah tidak nornal lagi.. tangan istri saya perasaannya berkurang.3. Bisa. saya takut cacat.. ini (menunjuk sepanjang tungkai kanan) tidak terasa lho bu. . kemarin kena air panas tidak terasa. wajah. kaki saya luka.. semua badannya cacat. ini wajah saya sudah mulai cacat. kalau ngantar ke Tugurejo saya sering omong-omong dengan pasien lain. Bisa. semua menyatakan bahwa penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan berikut ini : seperti di ungkapkan Kotak 22 . kaki saya cacat. katanya awalnya cacat karena tidak terasa.. .

karena kalau tidak berobat bisa kumat (kambuh) . Setuju. pernah telat kontrol timbul lagi gejala seperti dulu. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. I.. sebagai berikut : Beberapa jawaban responden diungkapkan Kotak 23 . Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Dengan matinya kuman maka sumber penularan dari penderita ke orang lain terputus... pengobatan hanya dapat mencegah cacat lebih responden menyatakan penderita kusta harus berobat secara rutin karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit jadi kurang aktif sampai akhirnya hilang. setelah minum obat saya tenang bu. keluar benthol-benthol. 3 4. 1.cacat. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip yaitu perilaku berobat penulis tanyakan dengan bagaimana menurut pandangan anda apabila penderita kusta diharuskan berobat secara rutin dalam waktu yang lama dan harus minum obat setiap hari? Apa alasan dari jawaban tersebut? Semua cacat permanen.2. Penyakit kusta dapat diobati.. capek. Dulu kena air panas gak terasa sekarang jadi cacat. Penderita yang sudah dalam keadaan lanjut. . Baik apabila berobat. bukan penyakit turunan/kutukan. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur.

kalau obatnya telat sering reaksi lagi.. biar nggak kumat.. dikamar terus..dan saya telpon bapak saya untuk mengecek di rumahnya karena saya tau neneknya juga sakit tapi nggak pernah keluar..3.8 Adapun menurut persepsi Informan apabila menderita penyakit kusta. Harus berobat ke RSUD Tugurejo karena ahlinya ada di Tugurejo.... terawat. Harus diobati.5. kusta kan bisa menular. 4 Untuk mendapat jawaban dari teman penderita.. kadang-kadang jenuh. . Perlu berobat rutin. . . . bagaimana pendapat anda setelah mengetahui teman anda menderita kusta? Berikut kutipan jawaban dari teman penderita kusta : Kotak 25 . ibu saya kalau obat nya telat badannya sakit semua... . kalau tidak berobat sakit lagi. sehingga selalu penulis awali dengan seandainya teman anda sakit kusta. jangan-jangan juga sakit kusta. biar sembuh total.3.6.. Harus bu. Ya harus berobat kesini (RSUD Tugurejo) karena di Jateng pusatnya disini. 1. penulis mengalami kesulitan karena teman penderita belum mengetahui kalau teman yang diantar berobat menderita kusta. I. . ... Saya ngomong pada orang tuanya untuk berobat sampai sembuh dan saya akan selalu membantu ngantar keponakan saya berobat ke tugu.4. R 1. kalau telat berobat ya kambuh lagi . Harus.2.. diharuskan rajin menjalani pengobatan seperti pernyataan dibawah ini : Kotak 24 . keluar benjolan-benjolan..... Harus berobat terus..7... Baik. Ya.

sebagian ... . vaslin atau hand body lotion) yang berfungsi untuk menjaga kelembaban kulit. R 1. Melindung mata. Dalam hal perawatan diri didapat beberapa jawaban responden. Perlu terapi psikologi. c. sedangkan dua responden menjawab dengan berfikiran tenang. tidak hanya fisik yang diobati. untuk mencegah maka perlu mengolesi dengan minyak ( minyak kelapa. Memeriksa mata.. Sebagian besar responden menjawab pertanyaan dengan jawaban ”berobat” biar sembuh.I. terapi mental sangat diperlukan.3 Dalam pencegahan kecacatan. Kekeringan pada kulit akan mengakibatkan luka-luka kecil yang bisa terinfeksi. minum obat. tidak kelelahan.. Prinsip pencegahan bertambahnya cacat pada dasarnya adalah 3M : a. tidak stres. Penderita harus mengerti bahwa pengobatan kusta sudah / akan membunuh bakteri kusta tetapi kecacatan yang terlanjur terjadi akan menetap seumur hidupnya. Karena penderita kusta seperti saya ini sebetulnya masalah yang paling berat ”saya down sekali”. tangan dan kaki dari trauma fisik. tangan dan kaki secara teratur. b. Tenang. tidak cacat. Seperti dikemukakan sebagai berikut : Kotak 26 . 5 Selanjutnya mengenai persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh seorang penderita kusta dan alasan dari jawaban yang diberikan. penderita kusta perlu mendapatkan pendidikan dan tindakan perawatan diri. tidak stres dan satu responden perlu dilakukan terapi psikologi. Melakukan perawatan diri. sehingga penderita harus bisa melakukan perawatan diri dengan rajin agar cacatnya tidak bertambah berat.

karena kulit kering kadang sampai pecah. tapi kalau tidak ada ya nggak perlu bu. Seringlah berhenti dan periksa tangan dengan teliti apakah ada luka atau lecet yang sekecil apapun. berjalan terlalu jauh atau cepat. Berikut kutipan jawaban dari dua responden : Kotak 27 . Untuk mencegahnya maka : . rawatlah dan istirahatkan bagian tangan sampai sembuh.8 Selain itu untuk tangan yang mati rasa. Adapun untuk kaki yang mati rasa. Tekanan tinggi ataupun lama berdiri terlalu lama tanpa gerak. memar atau lecet sekecil apapun. gesekan dari alat kerja dan pegangan yang terlalu kuat pada alat kerja. kalau ada benjolan-benjolan iya harus pakai pelembab. dari RSUD Tugurejo diberi vaslin sebagai pelembab dan satu responden menjawab. R 4.. Untuk mencegah terjadinya luka ditangan maka : Perlu melindungi tangan dari benda yang panas... Jika ada luka. tidak perlu menggunakan pelembab kalau tidak ada benjolan-benjolan dikulit. dari RS Tugu saya diberi vaslin. benda tajam. batu dalam sepatu dan lain-lain. kaki bisa terluka oleh : Benda panas. jongkok yang lama dan sebagainya. kasar ataupun tajam dengan memakai kaos tangan tebal atau alas kain. Harus pakai. Tidak semua. gesekan dari sepatu/sandal yang terlalu besar ataupun kecil. . Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi tangan yang mati rasa. benda-benda tajam. bisa terluka oleh : benda panas.basar responden menjawab dengan harus mengoles pelembab di tangan dan kaki agar kulit tidak kering..

biar sembuh. korengnya harus dilihat setiap hari..wong niki mboten kraos. . ada luka ya langsung diobati. Ya.3. pasien bapak-bapak tadi lukanya sampai bau mungkin nggak pernah diperiksa.. Ya. Kalau ada luka. langsung rawat dan istirahatkan kaki (jangan sekali-sekali diinjakkan).. nek wonten luka ngertos. Hal ini penulis tanyakan dengan melakukan wawancara tentang bagaimana menurut responden apabila setiap hari responden diharuskan memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak.. Sering berhenti dan memeriksa kaki dengan teliti apakah ada luka atau memar atau lecet yang kecil sekalipun. .6. kalau ada luka terus disalep. Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi kaki yang mati rasa. . diobati... .. R 1. Berikut kutipan jawaban dari responden : Kotak 28 . apakah terdapat luka baru ... Ya..karena kulit saya mati rasa kalau ada luka saya sering tidak tau karena tidak sakit. Ya. . biar tidak ”mbabrak-mbabrak” . Ya. karena luka bisa jadi cacat.. memar atau lecet kecil... biar tidak putusputus. setiap hari.2. saya takut luka-luka itu menulari anak-anak saya. setiap hari saya periksa badan saya..7...Lindungi kaki dengan selalu memakai alas kaki.. Ya. Ya. .8 Mencermati jawaban diatas menurut responden.5.4.. Ya.. setiap hari penderita kusta diharuskan memeriksa anggota badannya.

atau tidak. tangan atau kaki tetap utuh. tangan atau kaki akibat kerusakan saraf karena penyakit kusta. Cacat kusta terjadi akibat gangguan fungsi saraf pada mata. Kecacatan pada kusta dapat terjadi lewat dua proses yaitu infiltrasi langsung kuman kusta ke susunan saraf tepi dan organ (misalnya mata) dan melalui reaksi kusta. jari kithing. Sementara sebenarnya hampir semua cacat dapat dicegah. mata tidak bisa menutup erat. . Tingkai cacat 1 : jika ada cacat pada mata. 2) fungsi sensorik memberi rasa raba dan 3) fungsi otonom mengurus kelenjar keringat dan kelenjar minyak (berhubungan dengan kekeringan kulit). responden merasa takut lukanya bisa menular pada keluarganya . ada tiga macam fungsi saraf 1) fungsi motorik memberikan kekuatan pada otot (otot gerak). Tingkat cacat 2 : jika kalau ada cacat akibat kerusakan saraf dan cacat itu kelihatan (borok luka. lunglai. Sayangnya. pemendekan. Kusta merupakan masalah kesehatan masyarakat karena cacatnya. luka pada cornea mata. tetapi cacat itu tidak kelihatan. WHO membagi tingkat cacat kusta segabai berikut : Tingkat cacat 0 : jika mata. responden memeriksa anggota badannya agar lukanya tidak menimbulkan cacat dan responden mengetahui kalau ada luka sehingga bisa cepat diobati supaya tidak tambah berat/menjalar. apabila terjadi luka baru tidak terasa sakit. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga. tangan atau kaki. Proses terjadinya cacat kusta tergantung dari fungsi saraf. orang yang cacat akibat kusta ” dicap” seumur hidup sebagai ”penderita kusta” walaupun sudah sembuh dari penyakit.

Ya bu. ini kaki saya cacat . ”semper ” jalannya pincang...2. Nggih.5. menyatakan perlunya memeriksa kelainan atau kecacatan dibadannya setiap hari karena takut kecacatan tersebut berlanjut menjadi lebih parah.. .Adapun dalam menggali persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Ya. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip.. keset nggih mambu. Iya bu.4...3.cerita pasien yang bareng saya antri tangannya cacat... . 5. . .7. luka tak sembuh-sembuh diamputasi. Iya. persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan... Karena badan saya seperti orang beri-beri saya takut kalau sewaktu-waktu terjadi cacat. takut ”mrotholi” tangannya. Ya. R 1.. ning cina niku harus diperiksa setiap hari.. sepertinya ngga ada tanda-tanda tau-tau tangan saya ”kithing”. saya takut seperti orang kusta yang lain tangan dan kakinya cacat. kakinya cacat karena tidak pernah merasa tau-tau cacat. . menularkan..8 Dengan melihat hasil dari jawaban semua responden.. nek kula mboten onten cacat. langsung bisa di obatke. ben mboten kesuwen. cacat dan sebagai sumber penularan . dibawah ini merupakan pandangan dari masing-masing responden dalam pencegahan cacat kusta : Kotak 29 .. terus . . Iya.6. Iya. perasaan takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. jari saya ada yang memendek..

tape. Tidak boleh stres.. daging kambing.5 Sedangkan pandangan responden jika melihat penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu didapat jawaban.. duren.duren. nangka. harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. R1. anggur. capek harus dihindari. seperti diungkap oleh dua responden dibawah ini : Kotak 30 . sprit (alkohol). dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. Tidak diperbolehkan makan saos. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi.Stigmatisasi diri sendiri pada penderita kusta sangat nyata.. capek. Dalam penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta penulis melakukan wawancara mendalam mengenai pandangan responden terhadap risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan penderita. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat.. satu responden menjawab lebih baik mengucilkan diri dan satu responden lain sebenarnya mengetahui . penderita yang mengucilkan diri karena malu dan penderita yang tidak mau berobat.nanas. Dari hasil jawaban mengenai hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang penderita kusta. nongko. semangka. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen. sebagian besar responden mengutarakan bahwa makanan tertentu tidak boleh dimakan dan keadaan stres. memalukan. tidak kambing. boleh makan daging .

berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat sebagian besar berpendapat bahwa. saudara atau perangkat desa. reaksi terus. tidak percaya. sehingga saya juga sering tidak percaya diri... seperti yang diungkapkan oleh responden dibawah ini : Kotak 31 .. saya sering melakukan itu. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Penderita kusta pada umumnya tidak mengetahui bahwa dia menderita kusta.3 Sementara itu. takut.. informasi tentang penyakit kusta justru didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan.. berkeinginan bunuh diri. dan saat pertama mengetahui penderita merasa kaget. . R 2. kalau tidak berobat tidak sembuh-sembuh. Beberapa jawaban diungkapkan oleh responden berikut ini : . bu mbok jangan terapi obat saja harusnya ada terapi mental.. Salah besar. penderita kusta harus selalu berobat kalau tidak berobat maka tidak akan sembuh dan satu responden mengharapkan adanya terapi mental oleh psykolog karena selama ini hanya mendapatkan terapi obat saja hal ini dikatakan oleh responden ke 4 seperti dibawah ini : Kotak 32 . tetapi respoden sendiri melakukannya juga. R4 6. Saya tau tidak baik tapi kadang-kadang saya juga malu dan down bu. Lebih baik mengucilkan diri dari pada dirasani orang / tetangga. mengurung diri.bahwa tindakan mengucilkan diri itu adalah salah.

anak-anak saya.3. Ya kaget. Waktu itu saya berusaha bunuh diri.... . saya tidak melanjutkan kuliah sampai sekarang. tapi saya percaya pasti ada obatnya..Kotak 33 .6 Kemudian persepsi responden tentang..2..2.. Nggih ajrih. R 1. didapat beberapa jawaban dari sebagai berikut : Kotak 34 .4.. Dari saudara saya yang bapaknya sakit seperti saya. Dari petugas RSU Tugurejo. Putus asa.. .. saya was-was bu sampai sekarang. .... saya dirasani. Syok.. Dari pak Bayan . . . saya malu.. malu. nanti saya dikucilkan (responden menangis). Mental saya drop ...4 Adapun perasaan yang ada dalam pikiran responden setelah mengetahui bahwa penyakitnya adalah kusta... ..3..6. Saya takut tetangga tau.7. takut menular keluarga.. Takut sekali kalau tetangga tau. R 5. pendapat keluarga saat mengetahui bahwa responden menderita kusta diperoleh jawaban seperti kutipan dibawah ini : Kotak 35 . takut luar biasa saya waktu itu berusaha bunuh diri. .

. orang tua saya takut kalau saya pada ”mrotholi” .. . Istri mendorong saya berobat. saya gak tega.6...3. Kecewa.. ayah penderita terlihat terpukul saat penulis menanyakan tentang perasaannya setelah mengetahui putrinya menderita kusta.. . R 1. Takut sekali. . I.. paman responden merasa kecewa karena penyakit keponakannya adalah kusta seperti diungkapkan dibawah ini : Kotak 36 .4.8 Selain itu merurut Informan mengenai bagaimana perasaannya setelah mengetahui bahwa penyakit responden adalah kusta. tiga orang menyatakan merasa takut kalau tertularan penyakit ini dan merasa kasihan kalau penderita menjadi rendah diri.... Anak-anak dulu sukanya marah sekarang sudah tau suruh berobat terus.7. . wong keluarga lain tidak ada yang kena. Suami saat itu selalu berusaha mengobatkan saya . .....2. kasihan. 3 Sementara itu. Pertama ya kaget. Orang tua bilang dikasih cobaan harus diterima. Periksa ke Tugurejo secara rutin pasti sembuh kata bapak. Bapak – ibu kaget selama ini taunya saya sakit karena salah obat.. Suami saya bilang ”wong kok gaweane lara”. sambil menunduk berkata : ...5... saya disuruh berobat ke RSU Tugurejo karena bapaknya juga sembuh di sini.

. mendukung atau tidak mendukung terhadap suatu obyek.. seandainya teman anda menderita kusta perasaan apa yang ada dalam pikiran anda? Berikut jawabannya: Kotak 38 .. keponakan. nanti keluarganya malu. lain dengan teman penderita. tetangga dan teman penderita telah menderita kusta semua merasa takut. was-was. Mudah-mudahan tidak bu. sikap akan menunjukkan apakah seseorang menyetujui atau tidak menyetujui . I. Saya sangat kasihan pada anak perempuan saya ini.. Untuk mengetahui bagaimana sikap keluarga saat pertama mengetahui bahwa . saya takut I. yang tidak mengetahui bahwa temannya menderita kusta sehingga penulis bertanya. 5 Sikap merupakan respon evaluasi yang dapat berupa respon positip maupun negatip. 5 Sedangkan lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang apa yang terjadi pada saat mengetahui kalau istri. ibunya juga kena katanya di badan sakit semua.2 Meskipun empat orang menjawab tentang perasaan masing-masing. malah sakite mboten mari-mari... saya kawatir kalau anak saya jadi minder di sekolahnya I.Kotak 37 .. ya kasihan. Wah. dan juga kaget karena penyakitnya adalah kusta dan satu orang tidak mengetahui kalau temannya sakit kusta sehingga penulis bertanya dengan seandainya teman anda di nyatakan menderita kusta bagaimana ? didapatkan jawaban seperti kutipan wawancara dibawah ini : Kotak 39 . anak..

Bapak selalu was-was takut saya seperti ibu. cuek gitu. Mendukung untuk berobat... Ya cuek saja bu. berikut kutipannya : Kotak 41 . di ungkapkan oleh responden seperti dibawah ini : Kotak 40 .3.gak peduli saya kena kusta. bapak dan paman saya berobat ke RSU Tugurejo selalu ngantar saya ..7 Sebagian besar menyatakan bahwa sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa.. .... R 1.... Orang tua takut dan kecewa karena saya sakit sudah diobatkan kemana-mana katanya kena ”sengkolo” ternyata kena kusta.responden terkena penyakit kusta. seperti kita lihat pada kutipan berikut : Kotak 42 .. Ya tidak apa-apa. Pasip saja bu.. was-was dan takut. R5 .... ..4.. dan responden ke 5 menilai sikap keluarga saat itu pasip saja. R5 Adapun apa yang dilakukan keluarga setelah mengetahui kalau responden sakit kusta sebagian besar responden menyatakan keluarga mendorong untuk berobat hanya satu responden menjawab bahwa keluarga tidak peduli kalau responden menderita penyakit kusta.

di RS.4.2. kalau disini kan tidak bayar.....3. .. Blora sana kakinya di amputasi. 1.Selain itu bagaimana sikap keluarga saat itu. dibawah ini kutipan dari masing-masing jawaban : Kotak 43 . sangat kawatir. masih kecil. mungkin karena dari keluarga kurang mampu jadi mau berobat ya mikir biaya. Adik-adiknya tidak diberi tau kalau kakaknya kena kusta. Anak terbesar saya tau kalau ibunya sakit kusta baru-baru ini. Informan menjawab dengan sikap yang berbeda-beda. . seperti masyarakat di sekitar tempat tinggal responden... Dalam mencari faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. . dua jarinya karena luka terus kemudian diamputasi I.5 7. Sepertinya biasa saja bu. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Ibunya nangis saat saya beri tau kalau Afif juga kena kusta. dia sering ”nuturi” untuk berobat terus. Adik-adiknya tidak tau.. Yaitu faktor yang terdapat diluar responden.. keluarga saya sendiri taunya salah obat karena keponakan saya ini sering minum obat bebas. . dulu ya belum tau dan sekarang dia sering Bantu ibunya untuk pekerjaan rumah. Keluarganya sudah mengobatkan ke mana-mana bu. Orang tuanya sangat kecewa. di lakukan wawancara mengenai pandangan responden tentang sikap masyarakat sekitar dengan pertanyaan sebagai berikut : Apa pendapat orang-orang di lingkungan kerja/ teman anda setelah mengetahui anda menderita kusta? .. faktor ini berupa interaksi sosial di luar pribadi responden.

6.Dengan melihat hasil jawaban semua responden. ... alergi atau karena salah obat...Tidak ada yang tau. tetangga tidak pada tau bu. .8 Mengenai dari mana Informan mengetahui tentang penyakit kusta yang diderita responden. Lingkungan tidak tau. tapi saya takut juga sewaktu-waktu mereka tau. Tetangga dan teman saya tidak tau bu.5. R 1. Teman-teman disekolah tidak ada yang tau kalau saya sakit kusta.. tidak tau kalau saya kena kusta. teman tidak tau. dipastikan bahwa teman atau tetangga tidak ada yang tau kalau responden sakit kusta. didapat jawaban beragam yaitu : suami penderita mendapat kabar dari kakak perempuan penderita yang juga menderita kusta. ayah penderita mengetahui kalau putrinya menderita penyakit kusta karena istri/ ibu penderita menderita penyakit yang sama yaitu kusta.. Biasa saja. taunya saya sakit saraf. paman penderita melihat . katanya penyakit saya tidak bisa sembuh...3. Teman-teman.2. .. didapatkan jawaban sebagian besar dari lingkungan responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden . diabetes.7... Teman kerja saya tidak ada yang tau kalau sakit. ya taunya saya sakit alergi... Kabeh mboten ngerti . . taunya salah obat. taunya kena gula dan kaki saya dipotong karena penyakit diabetes.. .. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang dilakukan masyarakat dilingkungan responden dapat dilihat beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 44 . semuanya beranggapan responden berobat karena penyakit lain seperti penyakit saraf.. kalau ke semarang ya dikira ke rumah saudara saya. .4. Demikian juga tentang apa yang mereka lakukan terhadap responden. .

responden mengantar penderita karena luka dikaki yang tidak sembuh-sembuh. teman saya nggak sakit kusta kok bu. tidak sembuh terus saya bawa kesini... karena menjalani rawat inap di ruang kenanga RSUD Tugurejo dan teman penderita tidak tau kalau penderita sedang sakit kusta. Cacat permanen yang terlihat nyata oleh lingkungan akan membatasi mereka dalam menjalani kehidupan bermasyarakat secara normal. dibawah ini merupakan kutipan jawaban dari paman. 5 Stigma kusta merupakan faktor utama yang menyebabkan keterlambatan pasien dalam pengobatan hal ini merupakan kerentanan terjadinya kecacatan. dan ini mau mondok di ruang Kenanga. ketidak mandirian fisik yang disebabkan oleh kecacatan dan keterbatasannya. mengetahui kalau tetangganya sakit kusta pada saat bertemu dengan saudara penderita yang sedang menunggu penderita...keponakannya sakit kusta saat menengok penderita mondok di ruang Kenanga RSUD Tugurejo. orang dengan kusta menjadi malu. tetangga dan teman penderita : Kotak 45 . hal ini mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini yang dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. ke penyakit dalam. saya ketemu di RSUD tugurejo karena adiknya dirawat disini karena kusta dan saya ikut besuk di ruang kenanga. kakinya luka ngga sembuh-sembuh sudah diobatkan ke puskesmas.4. Saya taunya saat keponakan saya ini mondok di ruang kenanga. . dirujuk ke penyakit kulit lantai 2. tetangga penderita adalah pegawai RSUD Tugurejo. I 3. Stigmatisasi diri penderita terlihat sangat nyata. sakitnya reaksi kusta. mereka bahkan kehilangan pekerjaan.. kata suster. Teman saya. . . mendaftar ke poli penyakit dalam dan akhirnya dirujuk ke poli kulit.. Dari saudaranya.

harinya sangat terganggu oleh penampilannya dikarenakan adanya perubahan pada fisik dan kepercayaan diri yang menurun. Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita. Karakteristik Responden Gambaran umum responden menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 26 tahun sampai 35 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. Dengan terserangnya penyakit kusta responden merasa bahwa aktivitas sehari . kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara-acara di lingkungan masyarakat(2). selain sulit dalam mencari pekerjaan responden merasa takut apabila pimpinan dan teman-temannya mengetahui bahwa responden terserang penyakit kusta dan responden sangat menyadari kelelahan akan mengakibatkan kekambuhan penyakitnya. mulai dari perkawinan.BAB V PEMBAHASAN A. pekerjaan. dengan tidak bekerja responden menyatakan bahwa tidak mempunyai penghasilan. Pada kelompok umur tersebut merupakan masa produktip dalam kehidupan responden. Sebagian besar responden telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai . hubungan pribadi. Pendidikan merupakan (32) salah satu faktor yang mendasar untuk melaksanakan tindakan . Pembahasan 1. hanya ada satu responden yang tidak bersekolah. dilihat dari segi pendidikan sebagian besar responden berpendidikan Sekolah Menengah Atas. Sebagian besar responden tidak bekerja.

hal yang memalukan. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta a. responden seperti selalu menggunakan pakaian tertutup. Untuk mengatasi stigma ini. apabila sampai terlambat dalam berobat responden menyatakan penyakitnya akan muncul kembali. memakai baju lengan panjang. bahwa semua responden menyatakan masyarakat disekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta dan sebagian keluarga responden. dalam kurun waktu sekian lama responden harus selalu berobat dan minum obat seraca rutin. sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri. ada juga dengan cara membatasi diri. Wawancara mendalam terhadap responden dalam mengatasi stigma ini diperoleh jawaban bahwa. sebagian besar responden melakukannya dengan tetap bekerja. Hasil wawancara mendalam didapatkan hasil . malu dan takut karena sesuatu (14) . merasa sangat takut dan waswas saat mengetahui responden menderita kusta. mencegah pengungkapan diri terhadap masyarakat. Untuk menghindari efek stigmatisasi penderita kusta menggunakan beragam cara agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui tentang penyakitnya diantaranya menyembunyikan secara efektif tentang penyakitnya. mengikuti kegiatan di kampungnya seolah-olah berkerudung. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden. tidak memperdulikan lingkungannya. walaupun ada juga yang tetap tidak sedang sakit. rok panjang dan bagi . keluarga dan temantemannya (12). menutup diri. 2.dengan 5 tahun. Stigma adalah hal-hal yang membawa aib.

Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1). Sebagian besar responden mempunyai persepsi bahwa penyakit kusta dapat menimpa semua orang. memakai sepatu berkaos kaki dan bertopi juga tidak menceritakan kepada siapapun tentang penyakit yang dideritanya. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor.gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi keparahan dan motivasi pasien untuk mengikuti instruksi yang diberikan (20). sebagian responden menganggap bahwa orang yang jorok dan kondisinya menurun yang dapat tertular penyakit kusta. .penderita laki-laki menggunakan jaket. antara lain : faktor sumber penularan yaitu tipe penyakit kusta . Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta . Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. dia percaya bahwa penyakit akan berakibat serius pada organ tubuh. b. Adanya gejala . Sebagian besar responden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta dan ada yang mengatakan penyakit ini menular melalui udara dan satu responden menyatakan bisa tertular penyakit kusta apabila golongan darahnya sama dengan penderita. jika tidak sama tidak akan tertular. Dalam teori health belief model dinyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita.

justru penyakitnya menjadi berat dalam arti lain terlambat berobat untuk penyakit kustanya karena salah dalam mendiagnosa penyakit. Pada tipe MB lama pengobatan 12 – 18 bulan dan tipe PB lama pengobatan 6 – 9 bulan. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan (17). dan saat pertama kali berobat tidak langsung diketahui penyakitnya sehingga responden merasa pengobatan yang dilakukan kurang tepat. menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment (MDT). Pada penelitian ini. perasaan tenang. tidak lelah sangat membantu responden mengurangi frekuensi kekambuhan. Sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian hal ini dikemukakan bahwa gejala yang muncul saat terkena penyakit ini sangat berat. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Semua responden menyatakan orang yang menderita penyakit kusta harus berobat secara rutin. tidak stres.c. didapatkan jawaban bahwa sebagian besar responden menganggap kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius alasan responden adalah penyakit kusta mengakibatkan perubahan bentuk fisik dan kecacatan dimana kecacatan ini bisa menetap seumur hidupnya. Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan / kutukan. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Tujuan pengobatan ini adalah untuk mematikan kuman kusta. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. . d. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur.

capek / kelelahan harus dihindari karena akan memunculkan gejala-gejala penyakit kusta (reaksi kusta). supaya cacatnya tidak bertambah parah. karena . Sebagian besar dari responden menyatakan. responden mengutarakan bahwa jenis-jenis makanan tertentu tidak boleh dimakan seperti daging kambing. makanan beralkohol dan keadaan stres. durian. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga kalau terjadi luka tidak terasa sakit. hal ini menyebabkan penderita kusta merasa rendah diri. dengan mengoles pelembab di tangan dan kakinya akan mengurangi kekeringan pada kulit yang bisa membuat luka / pecah-pecah. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip Dari hasil wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh di lakukan. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. nangka. Secara psikologis bercak. kecacatannya juga memberi gambaran yang menakutkan. perawatan diri dengan rajin sangat perlu. menurut responden mengetahui terjadinya luka secara dini akan mengurangi terjadinya kecacatan karena luka bisa cepat diobati sehingga tidak bertambah berat/menjalar e. keluarga dan teman-temannya (7). depresi dan menyendiri (1) Sebagian besar responden menanggapi bahwa penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu itu tidak baik. Menurut responden setiap hari penderita kusta harus memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak. terisolasi dari masyarakat.Kecacatan yang berlanjut dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal. serta kehilangan status sosial secara progresif.

akan tetapi responden tersebut melakukannya juga karena malu dan down mentalnya. was-was dan takut. Responden lain sebenarnya mengetahui bahwa tindakan mengucilkan diri adalah tidak baik. saudara atau perangkat desa. informasi tentang penyakit kusta didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan.penderita kusta harus berobat. sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa. sebagian besar responden merasa kaget. Pada umumnya responden tidak mengetahui bahwa menderita kusta. keluarga mengatakan kalau yang berbahaya itu adalah sakit lepra. f. Sebagian besar responden mengatakan. apabila tidak berobat secara rutin maka tidak akan sembuh dan sebagian lagi menyatakan mengucilkan diri adalah tindakan yang paling tepat agar tidak menjadi bahan pembicaraan tetangga. keluarga sangat kaget saat mengetahui responden terserang penyakit kusta. Satu responden mengatakan keluarganya biasa saja dengan penyakit responden dan tidak merasa bahwa responden menderita penyakit kusta. Berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat semua responden berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan besar karena penderita kusta jika tidak berobat selain tidak sembuh akan mengalami reaksi dan bisa menjadi cacat dan sebagian responden menyatakan perlu adanya terapi mental oleh psykolog karena selain fisik yang sakit penderita kusta juga menderita sakit secara mentalnya. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. hal ini karena keluarga tidak . takut dan tidak percaya saat pertama kali mengetahui terserang penyakit kusta dan satu responden berusaha bunuh diri saat mengetahuinya.

dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. mereka mengira responden berpenyakit lain seperti penyakit saraf. orang yang terstigmatisasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar (12) . karena alergi obat atau karena salah obat sehingga masyarakat dan teman responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Dari hasil . dan pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya serta menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. dan waktu pertama responden menderita kusta keluarga mengatakan bahwa harus diterima. Stigma menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap oleh masyarakat terhadap seseorang. Stigmatisasi diri sendiri penderita kusta sangat nyata. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. masyarakat disekitar tempat tinggal dan temantemannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta. baru di beri cobaan dari Allah g. Semua responden mengatakan. diabetes.mengetahui perbedaan antara kusta dan lepra. Efek dari stigmatisasi berakibat dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma.

bisa menular ke orang lain . Sebagian besar menganggap penyakit kusta adalah penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe MB kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun. seorang Informan tidak mengetahui bahwa temannya dirawat karena menderita penyakit kusta sehingga wawancara terhadap teman responden tidak penulis lanjutkan. dan tiga dari lima Informan mengatakan kontak langsung yang lama adalah cara penularan penyakit kusta selain melalui udara. Suami responden mengetahui jika istrinya menderita penyakit kusta dari keluarganya yang juga menderita penyakit ini dan Informan lain mengetahui dari petugas RSUD Tugurejo Semarang. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut sebagai Informan. bisa menimpa semua orang dan orang yang kondisi kesehatannya menurun. disebabkan oleh kuman kusta. dapat merubah bentuk fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. Dan cross chek yang dilakukan terhadap keluarga. kurang menjaga kebersihan adalah orang yang bisa tertular penyakit ini. . dengan menggunakan wawancara mendalam di peroleh hasil sebagian besar Informan mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular.wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum masyarakat. Semua Informan mengatakan penyakit kusta tidak menyebabkan kematian hanya bisa mengakibatkan kecacatan. keluarga dan teman penderita kusta tidak memberikan suatu tindakan yang mengarah ke stigmatisasi terhadap responden. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak langsung yang erat dan lama dengan penderita (1) .

berjenis kelamin laki-laki sebanyak lima orang dan enam orang berasal dari luar Semarang. harus berobat supaya sembuh dan sikapnya saat itu sangat kecewa. Lima orang responden tidak .Semua Informan setelah mengetahui berpendapat. semua Informan mengatakan bahwa lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta sehingga lingkungan tidak melakukan tindakan apapun terhadap penderita. Dilihat dari latar belakang tingkat pendidikan responden. mulai dari tidak bersekolah sampai dengan lulus Sekolah Menengah Atas. kawatir walau tetap membantu dalam berobat. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Mengenai pendapat orang-orang dilingkungan penderita. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Responden (penderita kusta) dalam penelitian ini berjumlah 8 orang dengan rentang usia 14 – 51 tahun.

menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi/ mengatasi cap buruk/stigma. Penderita kusta berpersepsi. penyakit kusta merupakan penyakit menular. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) b. berperilaku negatip yaitu : 1) Tidak mau berobat karena malu. masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa penderita sedang mengalami sakit kusta. . c. penyakit syaraf atau penyakit alergi karena salah minum obat. penderita beranggapan bahwa. 2) Melakukan perawatan diri dengan rajin. 2. tetangga dan teman-temannya menyangka penderita berpenyakit lain seperti penyakit diabetes. 3) Mau berinteraksi dengan lingkungan. Penderita kusta berpersepsi. 3. d. Penderita kusta berpersepsi bahwa. a. Penderita kusta berpersepsi bahwa. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. dapat menimpa semua orang. Penderita kusta berpersepsi. penderita kusta berpersepsi.bekerja dan enam orang telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai 5 tahun lamanya. untuk berperilaku positip ditunjukkan dengan : 1) Berobat secara rutin. sikap membatasi diri dalam pergaulan.

Saran 1. Terapi Kerja (Occupational Therapi).Tugurejo Semarang. 3) Putus asa. B. keperluan alat bantu (Orthotic Prosthetic) dan yang paling penting adalah pelayanan Psykologi untuk men support mental penderita. rumah sakit dengan unggulan penyakit kusta. sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan penyakit kusta di Jawa Tengah agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan berbagai pelayanan kesehatan diantaranya promosi kesehatan..2) Mengucilkan/mengisolasikan diri. penyehatan lingkungan dan berbagai program kesehatan masyarakat lainnya untuk dapat mendeteksi secara dini masyarakat yang . melatih otot-otot yang lemah dan untuk mempersiapkan operasi bagi penderita yang akan dilakukan operasi perbaikan kecacatannya. kecacatan. untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan 2. Bagi Puskesmas. pemberantasan penyakit. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan bersama. Bagi RSUD. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. karena penderita kusta selain memerlukan pelayanan medis (obat) juga memerlukan pelayanan Fisioterapi untuk mencegah kecacatan.

Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga. Volume 76. Leprosy Review.terserang penyakit kusta. Volume 76. Number 2. DAFTAR PUSTAKA 1. 2005 3. serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. Sikap dan kepedulian keluarga untuk dapat memotivasi penderita agar berobat secara teratur. Number 4. dan yang lebih penting persepsi terhadap stigma penyakit kusta harus dihilangkan karena penyakit kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. 2. Leprosy Review. Depertemen Kesehatan RI. 2005. . agar memeriksakan sedini mungkin dan berobat secara teratur serta melakukan perawatan diri untuk mencegah kecacatan. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kehidupan seharihari. Cetakan XVII. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. 3. Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. England. December 2005. Special Issue on Operational Research.

Jakarta. Seven edition. tahun 2007 5. London. 2001 9. Sosiologi Kesehatan Beberapa konsep beserta Aplikasinya. Edisi 4. Universitas Gajah Mada. 1996 . Pedoman Kusta Nasional untuk pelaksanaan pemberantasan kusta di daerah endemik Rendah. Green. Psykologi 11. Laporan Kunjungan Rawat Jalan Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 6. UMM-Press. Yogyakarta. Yogyakarta. 1996 15. Philadelphia. Mantra IB. Pustaka Pelajar. Bandung. modern English Press. Srategi Penyuluhan Kesehatan. Depertemen Kesehatan RI. Pedoman Pelaksanaan Pembentukan Kelompok Perawatan Diri.4. Open University Press. 2003 13. Universitas Sriwijaya. Jakarta. 2005 10. The Contemporary English – Indonesia Dictionary. Sulisna. Peter Salim. 2005 12. Psikology Sosial. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Promosi kesehatan Teori dan Aplikasi. Sarwono S. 2000 14. Lawrence W. Hudaniah. Cetakan ke dua. Depertemen Kesehatan RI. 2000 20. Tri Dayakisni. 2001 8. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Data penderita Kusta Provinsi JawaTengah. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Edisi Revisi. Direktorat Kesehatan Jiwa Manajemen. Health Promotion Planning. Samsi. Gajah Mada University Press. Jane Ogen. Jakarta. Buckingham. Jakarta. Rineka Cipta. Soekidjo Notoatmojo. Evaluasi Kunjungan Rawat Inap Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 7. Depertemen Kesehatan RI. Beberapa Teknik dalam menejemen Mutu Rumah Sakit. Jakarta Depertemen Kesehatan. Dinamika Kelompok Penerapannya dalam laboratorium Ilmu Perilaku. 2006 17. 1997 19. Health Psychology. Saifuddin Azwar. edisi 2. Jacobalis. Baderal Munir. Perilaku Konsumen dan komunikasi Pemasaran. Yogyakarta. Jakarta. 2000 16. 2004 18. Mayfield Publishing Company.

Metode Penelitian Kualitatif. HB. bandung. 1992. Moleong. Balai Pustaka. 2005. Belief. 2002. Intention and Behavior an Introduction to Theory and Research. Thorofare. 34. Surakarta. Jakarta. Ajzen. 1995. AED Healthcom. 29. Andi Offset. 2001 26. Modul mata kuliah. Sudarwan Danim. Metode Penelitian Kualitatif. Aditya Media. Metodologi Penelitian Kualitatif. Fishbein.J. M. Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. A. Charles B. Attitude. Modul Pelatihan Program P2 Kusta bagi Unit Pelayanan Kesehatan. Sebelas Maret University Press. 1993 dan Ilmu Perilaku 33. Depertemen Kesehatan RI. Yogyakarta. Burhan Bungin. 2007 . Penerbit Universitas Indonesia. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Yogyakarta. Becker MH. Bandung. Pascasarjana IKM-MPPK UGM.21. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. Slack Inc. New Jersey. Soekidjo Notoatmojo. Philippines : Addison Wesley Publishing. 31. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Yogyakarta. Edisi Kedua. yogyakarta. 1975. 2002 24. 1997. Remaja Rosdakarya. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Miles Matthew B. 27. Universitas Gajah Mada. Metode Kualitatif dalam Riset Kesehatan. Basics Of Qualitative Research. Utarini. Sutopo. penerjemah Muhammad shodiq dan Imam Muttaqim. Hand Out Program Pasca Sarjana. Johana E. L. 28. Anselm Strauss dan Juliet Corbin. Prawitasari. Buku Panduan Diskusi Kelompok Terarah. 2007 22. Pengantar Pendidikan Kesehatan. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Terjemahan. 35. Menjadi Peneliti Kualitatif. PT Raja Grafindo Persada. 23. Pustaka Setia. 1991 32. I. Mery Debus. Jakarta. The Health Belief Model and Personal Health Behavior. 30. Metode Penelitian Kesehatan. Pustaka Jaya. Yogyakarta. Hari Kusnanto. 25. 2004.

2005 37. 1991 43. Volume 73. Rachmalina. 2007 kusta. England 2002. 2008 .oxfordjournals. edisi kedua. Volume 76. 2001 41.komunikasi. Leprosy Review. Badan Litbang Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Workshop EDAN.36.22 23 40. motivasi. Number 2. Number 1. England. Leprosy Review.id/web. RSUD Tugurejo. http://www. 17 Pebruari.2007. http://her. Intruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik khusus.suryo. Special issue on interation. 42. 38.powered by joomla-@copyright(c)2005 open source MaltersG Aenll errigahtetsd:27s Nerovveedmber. Balai Pustaka. Penelitian Pengembangan Model Penanggulangan Penyakit Kusta di daerah Endemis dengan Pendekatan Sosial Budaya.org/cgi/content/full/cyll58v1 39.Leadership.co. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mem-PD-kan para mantan penderita Testimonials. Kamus Besar Bahasa Indonesia .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful