FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ( Studi Kualitatif

)

TESIS

Untuk memenuhi persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Magister Promosi Kesehatan

Soedarjatmi E4C006118

PROGRAM STUDI MAGISTER PROMOSI KESEHATAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008
TESIS

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA
Disusun oleh SOEDARJATMI E4C006118 Telah dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 04 Desember 2008 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Menyetujui Dewan Penguji

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. VG. Tinuk Istiarti, Mkes Widagdo,SKM,MHPEd. NIP. 131 764 483

DR.Laksmono NIP. 130 422 787

Penguji I

Penguji II

dr. Harbandinah P, SKM NIP. 130 354 865

Priyadi Nugraha, SKM, M.Kes NIP. 132 046 693

Mengetahui Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Drg. Zahroh Shaluhiyah, MPH, PhD NIP. 131 627 954

PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Soedarjatmi Nim : E4C006118

Menyatakan bahwa tesis judul: ” FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ” merupakan : 1. Hasil karya yang dipersiapkan dan disusun sendiri 2. Belum pernah disampaikan untuk mendapatkan gelar pada program Magister atau program lainnya. Oleh karena itu pertanggung jawaban tesis ini sepenuhnya berada pada diri saya. Demikian Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Semarang, 18 Desember 2008 Penyusun

Soedarjatmi NIM : E4C006118

. Tahun 1993 sampai dengan sekarang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di RSUD Tugurejo Semarang. Tahun 1986 Lulus AkademiFisioterapi di Surakarta 5. Tahun 2006 masuk Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang Lulus tahun 2008 Riwayat pekerjaan penulis: 1. Bethesda Yogyakarta. Tahun 1983 Lulus SMA Negeri 04 di Surakarta 4. 2. Tahun 1976 Lulus SD Negeri 07 di Surakarta 2.RIWAYAT HIDUP Riwayat pendidikan penulis: 1. Tahun 2004 Lulus Sarjana Kesehatan Masyarakat Undip di Semarang 6. Tahun 1986 sampai dengan tahun 1993 bekerja dibagian Fisioterapi RS. Tahun 1980 Lulus SMP Negeri 02 di Surakarta 3.

nasehat. Bapak DR. bantuan dan masukan untuk kebaikan tesis ini 5. untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya. semoga segala bantuan. Terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. Keberhasilan penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Magister Pascasarjana Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang. SKM. Harbandinah P. selaku pembimbing utama. selaku pembimbing kedua. dorongan dan semangat sehingga selesainya tesis ini. bimbingan. selaku Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2. yang telah banyak memberi masukan-masukan. MKes. nasehat dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal kebaikan dan mendapat ganti yang lebih baik dari Allah SWT. 3. Zahroh Shaluhiyah. atas kesediaan dan keikhlasannya serta penuh pengertian telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan hingga selesainya tesis ini 4. Ibu drg. bimbingan. VG. Ibu dr. MHPEd. Laksmono Widagdo. SKM. MKes.KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan atas karunia yang dilimpahkan kepada penulis. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat. MPH. Tinuk Istiarti. Bapak Priyadi Nugraha. SKM. sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyususnan tesis ini. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat dan masukan untuk kebaikan tesis ini .PhD. Ibu Dra.

Bapak dr. 8. SpA. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi baiknya tesis ini. Rekan-rekan penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu dan memberi semangat terus-menerus kepada penulis hingga selesainya tesis ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih banyak kekurangan. Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti. dorongan dan nasehatnya hingga terselesainya tesis ini. You and I. E4C006118 . 10. Bapak Teleng Warganto. dukungan dan support bagi penulis.SH. do’a yang tiada hentinya. Joko Sugiarto. our love will never die.. utamanya pada diri penulis dan bagi siapa saja yang membacanya.6. 9. 7. Semarang. Akhirnya semoga tesis ini bisa bermanfaat. Desember 2008 Penulis Soedarjatmi NIM. Bapak-Ibu Sayoko. suami tercinta penulis. Putra penulis. yang dengan ikhlas penuh pengertian dan selalu berdo’a menyemangati penulis dan membantu dalam mencari bahan di internet dan media lain hingga selesainya tesis ini. atas segala pengertian. orang tua penulis atas do’a. Selaku Direktur RSUD Tugurejo Semarang yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian. dan jauh dari sempurna.

dukungan. Semoga selesainya tesis ini menjadi penyemangat keberhasilan studi kalian . You and I our love will never die.HALAMAN PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya ini untuk : Suami tercinta. do’a. pengertian. kesetiaan dan kesabarannya. terima kasih untuk semua perhatian. pengertian dan bantuan kalian. Untuk anak-anakku Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti atas do’a .

Karena itu. kerjakanlah urusan lain dengan tekun ( QS : Al Insyirah : 5 dan 7 ) . dimana ada kesulitan disitu ada kelapangan. bila engkau telah selesai dari satu urusan.MOTTO Sesungguhnya.

.............................................................................. Kerangka Konsep .......................... Diagnosa sakit kusta ................................................................. DAFTAR TABEL.......... 1............................................................... E.......................................................................................... BAB I PENDAHULUAN .......................... Faktor-faktor yang menentukanterjadinya sakit kusta ............DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .............................................. 4............................................ Perilaku menurut L................................................................................................ Ruang Lingkup .. F........................................................... Perumusan Masalah ....... Pengobatan ........................... Tanda-tanda tersangka kusta (suspek) .............W......................................... HALAMAN KATA PENGANTAR ..................................................... F............................................................................. 5....... i ii iii iv v vii viii ix xi xii xiii xiv xv 1 1 4 5 5 6 7 11 11 11 11 15 16 17 18 22 23 24 27 29 32 35 35 37 41 BAB II BAB III METODE PENELITIAN ............. C........... DAFTAR SINGKATAN .................................................. D......................... Green ........................................................................................................... 42 A... F................. Keaslian Penelitian .................................................................................. 43 .............................................................................................................. Pertanyaan Penelitian .................. C..................................... TINJAUAN PUSTAKA ................ Stigma .................. D.......................... Definisi penyakit kusta ....................................................................... Klasifikasi ................................. 8............................. 42 B................. Perilaku menurut Rosenstock (HBM)....................... Tujuan Penelitian .......................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................................................. Kerangka teori ...... Latar Belakang ................... Penyakit Kusta ............. HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. MOTTO............ DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... HALAMAN PERNYATAAN ...................................... HALAMAN RIWAYAT HIDUP ...... 2....... A.............................................................. Manfaat Penelitian ........................................... B.................... Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang ................ 7................................................... Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta .............................................................................. 1............................ 3... Persepsi .................................. ABSTRAK............................ B............................................................. Landasan Teori ................................ 6..................... DAFTAR LAMPIRAN .......... A........ Kecacatan akibat penyakit kusta ........... Reaksi kusta ............................................. E...................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................... 2..........................................................

................ Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ................................................. Persepsi terhadap kegawatan penyakit ........................................................ 89 e.............................. 95 A....... 96 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB V ........ 86 1.......................... 70 5........... D... faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta................ H............... 56 C............... Umur dan jenis kelamin responden ................................................. Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta .............. Saran .............. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip ...... Variabel penelitian dan Definisi Operasional ..... 78 7... 56 1....................... Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit ................... 55 3............................ Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta.. 54 B....... 91 g.................................................................... 83 PEMBAHASAN........................ 61 3........................................... Sumber Data.................................. Pembahasan ......... 92 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...... 87 b.......... 56 5................... Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta .............................. Pekerjaan responden ........ 55 4............. Gambaran Umum penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang ......... Keterbatasan Penelitian...................................... 43 45 46 48 49 51 52 HASIL PENELITIAN . 56 2.............................................. Berdasarkan status nikah .......... 86 2.............................. 54 A.............. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi responden 87 a... I.. 86 A........................................................................... Stigma penyakit kusta ................... 65 4........................................... Instrumen yang Digunakan .................... 76 6........................C. Karakteristik responden .... 55 2.................. Stigma penyakit kusta .................... Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit................ Karakteristik Responden ............. Berdasarkan lama menderita penyakit kusta....... F...... BAB IV Jenis dan Rancangan Penelitian ............................................................ Teknik Pengolahan dan Analisa Data ............... E..................................................................................................... Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip............. 88 c..... 95 B..................................... Kesimpulan .................................... Populasi dan Sampel Penelitian ......................................... Validitas dan Reabilitas Data ............ G...................... 90 f............ 55 1................................................ Persepsi terhadap risiko berperilaku negatip .. 89 d................. Persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta ................................................................................. Persepsi terhadap manfaat berperilaku positip. Pendidikan responden ............................................

..........4 Halaman Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti . 7 17 19 20 21 .............................................2 Tabel 2......................... Beda reaksi berat dan ringan............. Perbedaan reaksi berat dan ringan tipe I ..1 Tabel 2.............................1 Tabel 2....... Perdedaan reaksi tipe I dan II ... Klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO ........DAFTAR TABEL Nomor Tabel Judul Tabel Tabel 1....3 Tabel 2.............................................................................................

..........W Green dan teori HBM........ 42 . 39 Kerangka Teori modifikasi teori L.........................................................1 Judul Gambar Halaman Perseptual............. 24 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penderita .......... 34 Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok............................................6 Gambar 3....2 Gambar 2..................................1 Gambar 2..........DAFTAR GAMBAR Nomor Gambar Gambar 2............ 27 Alur Pelayanan Pasien Poliklinik Khusus penyakit kusta.........................5 Gambar 2. 37 Basics of Health Belief Model..........4 Gambar 2...3 Gambar 2............... 41 Kerangka konsep penelitian .....

tetangga dan teman penderita kusta. ayah. paman.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Panduan wawancara mendalam dengan responden Panduan wawancara mendalam dengan suami. Hasil wawancara dengan Responden Hasil wawancara dengan Informan Foto-foto penelitian .

DAFTAR SINGKATAN RSUD MB PB WHO MDT DDS BTA ENL HBM PHBS : Rumah Sakit Umum Daerah : Multi Basiler : Pausi Basiler : World Health Organization : Multi Drug Therapy : Diamino Diphenyl Sulphone : Bakteri Tahan Asam : Eritema Nodusum Leprosum : Health Belief Model : Perilaku hidup Bersih dan Sehat .

penyakit kusta merupakan penyakit menular. Kata kunci : Persepsi.989 orang. Stigma. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. dapat menimpa semua orang. Penderita kusta berpersepsi bahwa. berperilaku negatip yaitu tidak mau berobat karena malu. agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. melakukan perawatan diri dan melaksanakan PHBS. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan kecacatan. berperilaku positip ditunjukkan dengan berobat secara rutin. Penelitian ini dilakukan dengan metode diskriptif kualitatif yang menggunakan rancangan studi kasus. Responden dipilih secara porposif terdiri dari penderita kusta yang berobat ke RSUD Tugurejo sebanyak 8 orang. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga agar berobat secara teratur. mengucilkan/mengisolasikan diri dan putus asa. Disarankan bagi Puskesmas untuk memberikan promosi kesehatan penyakit kusta yang mampu membentuk pengertian yang benar dan positip serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. Kusta Daftar Pustaka : 45 ( 1975 – 2007 ) . terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagian besar resonden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta. penderita usia anak 163 dan penderita yang sedang diobati 1. melakukan perawatan diri dengan rajin dan mau berinteraksi dengan lingkungan. Bagi RSUD Tugurejo. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya.171 orang penderita kusta terdaftar. selanjutnya data di analisis dengan content analysis (diskripsi isi). penderita yang sudah dalam keadaan cacat berjumlah 241. Kurangnya pengetahuan penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatif yaitu stigma tentang penyakit kusta. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. Hasil penelitian menunjukkan. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta.Program Pasca Sarjana Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2008 Abstrak SOEDARJATMI (E4C006118) xvi + 97 halaman + 5 tabel + 7 gambar + 45 kotak (studi Kualitatif) FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan 4. Penderita kusta berpersepsi. Semua responden berpersepsi bahwa masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta dan responden berpersepsi sikap membatasi diri. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi stigma. Penderita kusta berpersepsi. Penderita kusta berpersepsi bahwa.

The Leprosy patient have persception that leprosy desease is a dangerous and serious desease which is may caused death and physical defect along life. 1989 patient had being cured. The leprosy patient have perception that negative behavior refer to not to get nursery because of ashame. The need for the leprosy patient group existence by means of such activity program to improve the motivation and preventing physical defect effort. The leprosy patient have perception that postive behavior refer to routine check up .self isolation and desperate. cover their deformity are the action to reduce stigma. The reasearch had been done in qualitative descriptive method which use the study case program. 163 child age patient . out of those 241 leprosy patient had been physical defected condition.The respondent were chosed propotion from the leprosy patient who were being in medical treatment at Tugurejo Hospital to the number of 8 patient. Keyword : Perception. furthermore the data were being analysed with content analysis. The result of Research indicate that leprosy patient have perception that leprosy is contagion to everybody .2007) . The data collection were being done indepth-interview . frequently self care and want to interact with their neighborhood.171 leprosy patient registered in Central of Java. Suggestion: The "Puskesmas" to give leprosy disease health promotion which is enable to form the right understanding and positive as well as conducting routine medicinal treatment. Stigma and Leprosy. The need for leprosy patient and family evaluation and monitoring program in order to get medicinal treatment consecutively. The objective of research is to discribe the Leprosy patient background's factors concerning leprosy disease stigma . conducting self treatment and carry on having clean dan healthy live behavior.Post-Graduate Programme Magister Of Health Promotion Diponegoro University of Semarang 2008 Abstracts SOEDARJATMI (E4006118) " THE LEPROSY PATIENT BACKGROUND'S FACTORS CONCERNING LEPROSY DISEASE STIGMA " xvi + 97 + 5 tables + 7 picture + 45 appendix In year 2006 detected 4. The lack knowledge of such a disease by leprosy patient bringing on negative perception arising out that is the leprosy disease stigma. For the Tugurejo Hospital in order to optimize Medical Rehabilitation Service. Bibliography : 43 (1975 .particularly for those who not having clean dan healthy live behavior and much of the respondent did not know how the leprosy desease spreading. All of the respondent have the same perception that the neighborhood and their friends did not know that the respondent having leprosy disease so they have perception introvert behavior.

kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat.BAB I PENDAHULUAN A. keluarga dan teman-temannya (7) . Sedangkan secara psikologis bercak. pekerjaan. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara –acara keagamaan serta acara di lingkungan masyarakat (2) Penyakit kusta juga menimbulkan masalah yang sangat kompleks. psikologis. Kecacatannya juga memberikan gambaran yang menakutkan menyebabkan . masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial. ekonomi. Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita mulai dari perkawinan. Penularan terjadi dari seorang penderita yang tidak diobati ke orang lain melalui pernafasan atau kontak langsung yang lama dan terus menerus (1). Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang menahun disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) menyerang saraf tepi. terisolasi dari masyarakat. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. Penyakit kusta berkembang lambat dengan masa tunas rata-rata 2 – 5 tahun kadang bisa lebih. Kecacatan yang berlanjut dan tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang tidak baik akan menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. keamanan dan ketahanan nasional (1) . hubungan antar pribadi. budaya. Tanda utama penyakit ini adalah adanya bercak putih atau kemerahan yang mati rasa (anaestesi).

Hal ini sangat penting untuk meningkatkan percaya diri penderita dan keluarga dalam kehidupan sehari –hari. Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta berasal dari golongan ekonomi lemah keadaan tersebut turut memperburuk keadaan (1).068 penderita.penderita kusta merasa rendah diri.500 terdapat 4. Penderita kusta masih banyak di Indonesia jumlah penderita barupun masih banyak ditemukan. Masyarakat masih banyak beranggapan bahwa kusta disebabkan oleh kutukan. Diera modern ini muncul istilah “stigmatisasi” yang lebih mencerminkan “kelas” daripada fisik. dosa.11. Sebenarnya stigma ini timbul karena adanya suatu persepsi tentang penyakit kusta yang keliru.788 penderita. makanan ataupun keturunan.0013%) orang menderita kusta terdaftar masyarakat menjauhi karena merasa jijik dan takut hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan atau pengertian juga kepercayaan yang keliru terhadap penyakit kusta. Menurunkan stigma dan mengurangi diskriminasi mendorong perilaku masyarakat dalam menerima penderita kusta. depresi dan menyendiri bahkan sering dikucilkan oleh keluarganya. guna-guna. dianggap menjijikan dan harus dijauhi. Salah satu misi Depertemen Kesehatan dalam pemberantasan penyakit kusta adalah menghilangkan stigma sosial (ciri negatip yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya) dengan mengubah persepsi masyarakat terhadap penyakit kusta melalui pembelajaran secara intensif tentang penyakit kusta. Jumlah penduduk di Jawa Tengah 32. . Tiga besar provinsi dengan penemuan penderita baru tertinggi tahun 2006 adalah Jawa Timur 5. (1). Jawa Barat 2.171 (0. Proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat.188 penderita dan Jawa Tengah 1.

. (6) Dari pengamatan awal yang telah dilakukan peneliti ditemukan beberapa perilaku penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo berbeda dengan penderita penyakit lainnya. tahun 2006 sebanyak145 penderita dan tahun 2007 terdapat 130 penderita yang harus dirawat. sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan Rumah Sakit Khusus penderita kusta. tahun 2006 berjumlah 3.Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo Semarang merupakan Rumah Sakit kelas B milik Provinsi Jawa Tengah.127 kunjungan. diantaranya mereka selalu mengambil tempat di belakang atau di sudut ruang saat menunggu giliran diperiksa. Data kunjungan rawat jalan penderita kusta setiap tahun meningkat. tahun 2005 adalah 3. Jumlah penderita rawat inap kkusus kusta tahun 2005 adalah 190 pasien. (5) Tahun 2007 poli klinik khusus penderita kusta menemukan 192 kasus penderita baru. Jika diajak bicara mereka tidak menatap lawan bicaranya dan sebagian besar memakai baju lengan panjang. Terletak di Semarang bagian barat. Sebagian besar mereka menundukkan kepalanya dan penderita laki-laki menggunakan topi. Survey awal yang dilakukan peneliti pada bulan Oktober 2007 terhadap 10 orang penderita kusta memperoleh hasil bahwa masih ada persepsi negatif (stigma) penderita kusta terhadap penyakit kusta Atas dasar hal tersebut diatas maka perlu diteliti mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah.839 pasien.975 dan tahun 2007 sebanyak 4.

maka perlu pembelajaran yang benar kepada masyarakat luas tentang kesalahan dalam memahami penyakit kusta. kerabat dan petugas kesehatan. data di poli klinik khusus penderita kusta RSUD Tugurejo Semarang sejak tahun 2005 bukannya menurun tetapi dari tahun ketahun menunjukan meningkatan jumlah kunjungan. Sebaliknya jika penderita mempunyai persepsi positip yaitu . Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan penderita baru sebanyak 1. Kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatip yaitu stigma tentang penyakit kusta . Berkaitan dengan fenomena stigma yang ternyata memang masih ada di masyarakat luas. Mereka tidak akan berobat karena harus pergi kesarana kesehatan yang dengan sendirinya harus keluar rumah. Berabad–abad lamanya berbagai mitos dan kepercayaan menciptakan proses stigma terhadap para penderita kusta. persepsi yang demikian akan menambah beban penderita. Mereka menganggap benar tentang persepsi tersebut sehingga mereka akan mengisolasikan diri dari lingkungannya. penderita takut penyakitnya diketahui orang lain. Perumusan masalah Penderita kusta semakin hari semakin bertambah.788 orang.B. Hal ini merupakan masalah besar bagi diri sendiri karena rentan terjadi kecacatan dan bagi lingkungannya karena penderita ini merupakan sumber penularan. bahkan tahun 2007 rata-rata kunjungan pasien baru (penderita baru yang belum pernah minum obat) berjumlah 16 orang per bulan. pada saat itu beberapa negara mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan sterilisasi orang yang terkena penyakit kusta. bertemu dengan tetangga. mereka dikucilkan dan dikarantina.

Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Tujuan 1. Tujuan Umum Mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. 2. Ruang Lingkup Penelitian . c.percaya bahwa penyakit ini disebabkan oleh kuman dan bisa disembuhkan maka hal ini dapat membantu penderita untuk lebih percaya diri dan mempunyai motivasi juga dorongan untuk berobat agar cepat sembuh dan tidak terjadi kecacatan. e. Dari uraian tersebut diatas maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini dapat sebagai berikut : “Faktor – faktor apa saja yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ?” C. Mendiskripsikan karasteristik responden. f. Tujuan Khusus a. D. d. Mendiskripsikan stigma tentang penyakit kusta menurut persepsi responden. b.

Bagi unit Pelayanan Kesehatan RSUD Tugurejo. 4. Lingkup Masalah Masalah dibatasi pada Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Lingkup Metode Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode kualitatif 5. . Bagi Puskesmas dapat dijadikan masukan dalam pemberian penyuluhan dan melakukan pendekatan terhadap penderita kusta dalam rangka menurunkan angka kesakitan kusta. Lingkup Sasaran Sasaran penelitian adalah penderita kusta. 2. Manfaat Penelitian 1. E. Lingkup Keilmuan Penelitian ini termasuk dalam ilmu kesehatan masyarakat bidang promosi kesehatan khususnya kajian materi perilaku. dapat dipergunakan sebagai bahan informasi dan support yang dapat disampaikan kepada penderita saat berobat agar penderita tidak mempunyai persepsi yaitu stigma penyakit kusta sehingga tidak menghambat salah proses pengobatan yang sedang dijalani. 3.1. 2. Lingkup Lokasi dan waktu Penelitian dilaksanakan di kota Semarang yaitu di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Juni 2008.

3. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penyakit kusta telah banyak dilakukan tetapi sepanjang pengetahuan peneliti.1 dibawah ini. penelitian ini sebagai pengalaman langsung dalam melakukan penelitian terutama dengan metode kualitatif dan penulisan hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah. Bagi Program Promosi Kesehatan Merupakan sumbangan bagi khasanah pustaka di program pendidikan Promosi Kesehatan. Tabel 1.1 Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti. tingkat jenis Ada hubungan antara beberapa berhubungan dengan pendidikan. Penelitian tentang penyakit kusta yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti selengkapnya dapat ditampilkan dalam tabel 1. . kelamin. 4. penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta di Kota Semarang secara kualitatif belum pernah dilakukan oleh peneliti lain. F. khususnya untuk mata kuliah perilaku kesehatan.Faktor-faktor risiko yang Penderita Kusta Umur. Judul dan nama Peneliti Metode dan Jenis penelitian Analitik kuantitatif dengan rancangan Sasaran Variabel yang diteliti Hasil 1. Bagi Peneliti.

oleh Warijan. 2005 peranan guru penderita UKS praktik deteksi penderita kusta anak dan kusta peranan dini petugas kesehatan dan pada dengan di praktik . jenis Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan. tipe reaksi karasteristik individu. motivasi keluarga. kusta aspek pengobatan terhadap kecacatan pada penderita di dan keteraturaan berobat. penyakit kusta. 2002 kusta. aspek klinis Joko Kurnianto.pencegah an cacat dan kusta perawatan diri Kabupaten Tegal 2. pengetahuan. sikap.loka si lesi.kecacatan kusta kabupaten Tegal oleh di penelitian Case Control status sosial faktor risiko ekonomi. Jenis pekerjaan. masa upaya deteksi dini penderita kusta kerja. kelamin. status kepegawaian. pendapatan dengan praktik deteksi dini pada anak SD di Kabupaten Blora pendapatan.Faktor-faktor yang berhubungan dengan guru UKS perilaku dalam Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Guru UKS Umur.

Kabupaten Blora. jenis Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan.Faktor-fartor yang berhubungan dengan pengawas dalam praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Wasor Kusta Umur. pendapatan . penemuan baru penderita sikap. deteksi kusta dini di Kabupaten Blora. kelamin. peranan Wasor dan wasor dan dengan praktik kusta penemuan peranan kusta kusta di Kabupaten Blora oleh Agus Prasetyo. 3. kelamin. jenis Hubungan pendidikan ber pengaruh terhadap pendidikan. 2007 di Kabupaten penderita Blora baru kusta di Kabupaten Blora 4. pengetahuan. Beberapa faktor yang berhubungan dengan penderita praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan Penderita kusta Umur. pelatihan. praktik pengetahuan penemuan penderita baru.

pendapatan. sikap. pengobatan di pengetahuan. kelamin. dukungan praktik pencarian pengobatan kusta di pengobatan puskesmas Kunduran Kabupaten oleh Blora Dian keluarga dan Puskesmas praktik penderita kusta mencari Kunduran. 2005 dalam jenis kelamin. apa saja yang faktor internal. pengetahuan. puskesmas Kunduran dukungan keluarga dan sikap secara bermakna tidak berhubungan dengan praktek penderita dalam mencari pengobatan.dalam pencarian di penelitian Cross Sectional keluarga. lama faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap kusta stigma sakit. 5. jenis Mengetahui dan menguraikan faktor-faktor pendidikan. Rencana Penelitian. persepsi belakangi persepsi penderita penyakit kusta oleh Soedarjatmi. Faktor umur. Judul : Faktor- Deskriptif kualitatif dengan indepth interview Penderita kusta Umur. pekerjaan. 2008 . Nugraheni. melatar faktor ekternal.

manfaat berperilaku positif. persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif stigma penderita kusta. kegawatan penyakit.penderita tentang: kemudahan kemungkinan terkena penyakit. dan kusta sehingga penderita merasa terstigma karena penyakitnya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .

Mycobacterium leprae untuk pertama kali ditemukan oleh G. Kerangka teori. Waktu pembelahan sangat lama yaitu 2 – 3 minggu.2 – 0. D. Penyebab. b. 2. kuman kusta ini berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 8 mic. Simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar Thymus. A. E. hidup dalam sel dan bersifat tahan asam. B. Cara keluar dari Penjamu (Host) . Hansen dalam tahun 1873. 2. Mengenai persepsi. Green. Perilaku menurut L. Diluar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dapat bertahan sampai 9 hari. Faktor – faktor yang menentukan terjadinya sakit kusta a.A. c. Definisi Penyakit Kusta Penyakit Kusta juga dikenal sebagai lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium lepra) yang terutama menyerang saraf tepi dan organ tubuh kecuali susunan saraf pusat. Sumber penularan Sampai saat ini hanya manusia yang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman kusta dapat hidup pada Armandillo. Perilaku menurut Rosenstock (HBM) dan F. Tentang stigma. Penyakit Kusta 1. Penyakit kusta. C.W.5 mic. Landasan Teori yaitu 1.Pada bab ini penulis menguraikan tentang : A. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu – satu. lebar 0.

hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. akan tetapi dapat juga bertahun–tahun. . 2) Faktor kuman kusta. 3 orang sembuh sendiri tanpa diobati dan 2 orang menjadi sakit. Penularan terjadi apabila M. yang jumlah bakterinya banyak) merupakan sumber kuman yang terpenting di dalam lingkungan. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita.Lepra yang solid (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. 3) faktor daya tahan tubuh. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Telah terbukti bahwa saluran nafas bagian atas dari penderita lepramatous (tipe MB. Kusta mempunyai masa inkubasi 2 – 5 tahun. kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1 – 9 hari tergantung pada suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti. Dari hasil penelitian menunjukan gambaran sebagai berikut : Dari 100 orang yang terpapar 95 orang tidak menjadi sakit. semua itu tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1) faktor sumber penularan. d. penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain.Kulit dan mukosa hidung telah lama diketahui sebagai sumber dari kuman. Penderita inipun tidak akan menularkan apabila berobat teratur. Cara Penularan Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi Basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. adalah penderita MB saja.

. 3). Cara masuk ke dalam tubuh Tempat masuk kuman kusta kedalam tubuh sampai saat ini belum dapat dipastikan. Dilain pihak manusia sebagian besar kebal (95%) terhadap kusta hanya sebagian kecil yang dapat ditulari (5%). Bila orang tersebut mempunyai kekebalan tubuh yang tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten / kebal terhadap kuman kusta. 2).Bila orang tersebut memilki kekebalan rendah terhadap kuman kusta mungkin akan menderita penyakit kusta yang dapat sembuh sendiri.e. hal ini disebabkan karena adanya immunitas seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). f. Tidak pada semua penderita terdapat banyak Mycobacterium leprae yang hidup sehingga hanya kira-kira 5 – 15 % dari penderita kusta yang dapat menularkan penyakit. Tuan rumah Hanya sedikit orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah kontak dengan penderita. Sistim kekebalan yang efektif melawan kuman kusta adalah sistim kekebalan seluler. Bila orang tersebut tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta merupakan kelompok terkecil dan mudah menderita kusta yang stabil dan progresif. Dari sebagian kecil ini 70% dapat sembuh dan hanya 30% yang dapat menjadi sakit. diperkirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernafasan bagian atas.

Isolasi terhadap penderita kusta namun hal ini tidak dianjurkan karena penderita yang sudah berobat tidak akan menularkan penyakit ke orang lain. kondisi perumahan. 3).Seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Penjamu yang mempunyai kekebalan tubuh tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten terhadap kuman kusta. jumlah jiwa dalam satu rumah tangga dan jumlah anggota keluarga diperkirakan merupakan faktor penting . 3). Upaya pemutusan mata rantai penularan dapat dilakukan melalui : 1). Penjamu mempunyai kekebalan rendah terhadap kuman kusta bila menderita kusta biasanya tipe PB. Cara pemutusan mata rantai penularan Penentuan kebijaksanaan dan metoda pemberantasan penyakit kusta sangat ditentukan oleh pengetahuan epidemiologi kusta dan perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan. Kondisi sosial ekonomi diperkirakan memainkan peranan penting dalam upaya pemberantasan kusta. Penjamu yang tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta yang memrupakan kelompok terkecil. Vaksinasi BCG pada kontak serumah dengan penderita kusta. Pengobatan MDT pada penderita kusta 2). Perbaikan kondisi sosial ekonomi menghasilkan penurunan insidens kusta meskipun faktor-faktor yang mendukung penurunan ini tidak diketahui. 2). bila menderita kusta biasanya tipe MB g.

Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise).3. Bahan pemeriksaan BTA diambil dari kerokan kulit (skin smear) asal cuping telinga (rutin) dan bagian aktif suatu lesi kulit. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Mati rasa dapat bersifat kurang rasa (hipertesi) atau tidak merasa sama sekali (anaestesi). 3). c. Gangguan fungsi otonom : kulit kering. 2). Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritematous). Untuk tujuan tertentu kadang jaringan diambil dari bagian tubuh tertentu (biopsi). retak. pembengkaan (edema) dan lain-lain. Gangguan fungsi sensoris : mati rasa. Peradangan pada penderita kusta (neuritis) dapat dirasakan berupa rasa nyeri namun kadang-kadang penderita tidak merasakan adanya nyeri (silent neuritis). Diagnosa Kusta Diagnosa penyakit kusta hanya dapat didasarkan pada penemuan tanda utama (Cardinal sign) yaitu : a. b. Gangguan saraf ini bisa berupa : 1). Basil tahan asam (BTA) positif. .

Rasa kesemutan tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. lamprene . Tanda-tanda pada kulit 1). Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut 5). Tanda-tanda pada saraf : 1). Kulit mengkilap 3). 2). Luka yang tidak sakit Tanda-tanda tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar diagnosa penyakit kusta. Apabila hanya ditemukan cardinal sign ke-2 dan petugas ragu orang tersebut dianggap sebagai kasus yang dicurigai (suspek) 4. Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih atau benjolan 2). Lepuh tidak nyeri b. Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau multidrug therapy (MDT) yaitu menggunakan gabungan Refampicin. Klasifikasi Klasifikasi penyakit kusta bertujuan untuk menentukan regimen pengobatan dan perencanaan operasional. Adanya cacat (deformitas) 4). 5. Bercak yang tidak gatal 4).Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda utama diatas. 3). Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka. Tanda-tanda tersangka kusta (Suspek) a.

b. Tipe Multi Basiler (MB) Penyakit kusta dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu : a. Tanda Utama Bercak yang mati rasa / kurang rasa di kulit. Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan bila diagnosa meragukan. Pedoman utama untuk menentukan klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO adalah sebagai berikut : Tabel 2. jumlah saraf yang terganggu dan sebagainya.dan diamino diphenyl sulphone (DDS) maka penyakit kusta di Indonesia diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu : a.1 klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO. Sediaan apusan BTA negatif BTA positif Hanya satu saraf Lebih dari satu saraf PB Jumlah 1 s/d 5 MB Jumlah > 5 . Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi (gangguan fungsi bisa berupa kurang/mati rasa atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh yang bersangkutan. Manifestasi klinik yaitu jumlah lesi kulit. Hasil pemeriksaan bakteriologis yaitu skin smear basil tahan asam (BTA) positif atau negatif. Tipe Pausi Basiler (PB) b.

bila reaksi ini tidak di tangani dengan cepat dan tepat maka kecacatan permanen bisa terjadi (misal Claw hand. Jakarta 2005 6. Jenis Reaksi Jenis reaksi sesuai proses terjadinya dibedakan menjadi 2 yaitu : 1) Reaksi tipe I ( Reaksi Reversal. gangguan fungsi saraf tepi dan kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita. .Sumber : Depertemen Kesehatan RI. a) Gejala reaksi dapat dilihat pada perubahan kulit. Reaksi ini bisa terjadi saat penderita mendapat pengobatan atau sesudah mendapat pengobatan. Reaksi kusta a. neuritis (nyeri pada saraf). Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Pengertian Reaksi kusta atau reaksilepra adalah suatu episode perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu kekebalan (seluler respon) atau reaksi anatigen-antibodi (respon) dengan akibat merugikan penderita terutama padasyaraf tepi yang menyebabkan gangguan fungsi (cacat) . Reaksi Up grading ) Terjadi pada penderita tipe PB maupun MB dan kebanyakan terjadi pada 6 bulan pertama pengobatan. b. hal ini terjadi karena meningkatnya respon kekebalan seluler secara cepat terhadap kuman kusta dikulit dan saraf penderita dan disi akan terjadi pergeseran tipe kustanya kearah PB. kasus yang sering terjadi penderita mengalami reaksi pada 6 bulan sampai satu tahun sesudah pengobatan dan berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. Drop foot dan lain-lain).

Sumber : Depertemen Kesehatan RI. Jakarta 2005 fungsi kelemahan 2) Reaksi Tipe II (Reaksi ENL = Eritema Nodusum Leprosum) Terjadi pada penderita tipeMB dan merupakan reaksi humoral. merah. tangan dan kaki membengkak. 2. Lesi Kulit Reaksi Ringan Reaksi Berat membengkak Tambah aktif. . Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Lesi panas dan nyeri tekan.2 Beda reaksi berat dan ringan pada reaksi tipe I Gejala 1.b) Menurut keadaan reaksi maka reaksi tipe I ini dapat dibedakan yaitu reaksiringan dan reaksi berat c) Perjalanan reaksi berlangsung selama 6 – 12 minggu atau lebih Tabel 2. yang menebal dapat sampai merah teraba panas dan membentuk plaque nyeri. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. menebal. dimana kuman kusta yang utuh maupun tidak utuh menjadi antigen. Makula sampai ada yang pecah. pada sendi terasa sakit dan ada kelainan kulit baru. Saraf tepi Tidak ada nyeri tekan saraf dan Nyeri tekan dan / atau gangguan fungsi gangguan misalnya otot.

banyak. Keadaan Umum 3. Organ Tubuh Tidak ada gangguan organ-organ Terjadi peradangan pada tubuh mata : liridocyslitis Testis: Epididimoorchitis Ginjal : Nephritis Kelenjar Limfadenitis Gangguan pada tulang Limfe : . Menurut keadaan reaksi. Syaraf tepi Tidak ada demam atau ringan saja Demam ringan sampai berat Tidak ada nyeri tekan. Perjalanan reaksi Biasanya berlangsung selama 3 minggu atau lebih. maka reaksi dapat dibedakan reaksi ringan dan reaksi berat. 2. ada pecah jumlah berlangsung sedikit biasanya hilang sendiri dalam yang 2-3 hari sampai (ulseratif). lama. gangguan Ada fungsi nyeri tekan.Tubuh membentuk antibodi dan komplemen (Antigen + antibodi + komplemen = immunokompleks) a. b. gangguan fungsi 4. c. Tabel 2. neuritis (nyeri tekan) dan gangguan fungsi saraf tepi. Lesi Kulit Nodul Reaksi Ringan yang nyeri tekan. Gejala Gejala dapat dilihat pada perubahan lesi. Reaksi Berat jumlah Nodulnyeri tekan.3 Perbedaan reaksi Berat dan Ringan Tipe I Gejala 1. gangguan konstitusi dan komplikasi pada organ tubuh. Kadang-kadang timbul berulang-ulang dan berlangsung lama.

hidung dan tenggororan. Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

Tabel 2.4 Perbedaan reaksi Tipe I dan Tipe II No 1 Gejala / tanda Keadaan Umum Reaksi Tipe I Reaksi Tipe II sampai berat

Umumnya baik, demam Ringan ringan (sub febril) atau disertai tanpa demam umum tinggi

kelemahan dan demam

2

Peradangan di kulit

Bercak

kulit

lama Timbul

nodul

menjadi lebih meradang kemerahan, lunak dan (merah), dapat timbul nyeri tekan. Biasanya pada tungkai. lengan Nodul dan dapat

bercak baru

pecah (ulcerasi) 3 Saraf Sering terjadi umumnya Dapat terjadi berupa nyeri tekan saraf dan / atau gangguan fungsi saraf

4

Peradangan organ

pada Hampir tidak ada

Terjadi mata,kelenjar bening, testis, dll sendi,

pada getah ginjal,

5

Waktu timbulnya

Biasanya segera setelah Biasanya pengobatan mendapatkan

setelah

pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan 6 Tipe Kusta Dapatterjadi pada kusta Hanya pada kusta tipe tipe PB maupun MB 7 Faktor pencetus MB

Emosi, kelemahan, stess fisik lain, kehamilan, pasca persalinan,obat-obat yang meningkatkan kekebalan tubuh penyakit infeksi lainnya

Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

7. Pengobatan Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan/kutukan. Pada tipe MB lama pengobatan :12-18 bulan dan tipe PB lama pengobatan : 6 9 bulan Pengobatan penderita kusta menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment ( MDT ) jenis obatnya adalah Rifampicin, Dapson,

Lamprene tergantung dari tipe penyakitnya. Untuk tipe PB terdiri dari 2 macam obat 2 kapsul Rifampicin 300 mg dan 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya 1 tablet DDS 100 mg selama satu bulan, untuk tipe MB menggunakan 2 kapsul Rifampicin 300 mg, 3 kapsul Lamperen 100 mg, 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya minum DDS dan Lampren 50 mg masing-masing satu selama satu bulan.

8. Kecacatan akibat penyakit kusta a. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kecacatan antara lain 1). Faktor yang berhubungan dengan penderita (umur, jenis kelaimin) 2). Faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit ) 3). Kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat mikobakterium leprae, makin mudah serabut syaraf menderita trauma makin mudah rusak oleh mikobakterium leprae) 4). Pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama akan menimbulkan kecacatan pada penderita kusta. 5). Faktor pekerjaan : yang sering mengalami kecacatan adalah penderita kusta yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat. b. Pembagian Kecacatan Dilihat dari asal terjadinya kecacatan : 1). Kecacatan Primer Yaitu kecacatan langsung disebabkan oleh aktifitas penyakitnya sendiri, cacat ini terbentuk selama fase aktif dari penyakitnya. Kecacatan primer ini karakteristik untuk penyakit kusta dan perkembangannya bisa diramalkan, biasa terjadi pada : a). Wajah ( cuping telinga yang memanjang, hilangnya rambut alis, cacat hidung/ hidung pelana, wajah keriput, lemah pada syaraf wajah/paralise fasialis )

kaku / kontraktur) b).(8) . B. Tangan (luka pada ujung jari dan ruas jari hal ini disebabkan oleh cara memegang yang berlebihan karena tidak terasa. Kecacatan Sekunder Yaitu kecacatan yang tidak langsung disebabkan oleh penyakitnya sendiri tetapi disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan paralysis motoris / kelumpuhan . Cacat ini terbentuk akibat salah dalam aktifitas / ”misuse” atau tidak pernah digunakan “disuse” sebagai akibat adanya hilangnya perasaan kulit / insensibilitas. diorganisasi dan di interpretasikan. warna dan suara. kaku/kontraktur). Kaki (luka akibat tumpuan berat badan. Persepsi Persepsi setiap orang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda oleh karena itu persepsi mempunyai sifat subyektif.b).hidung. Sedangkan persepsi adalah proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi.telinga. Anggota gerak ( kithing pada tangan / “clow hand “ dan “claw thumb”.mulut dan jari) terhadap stimuli dasar seperti cahaya. Solomon mendefinisikan bahwa sensasi sebagai tanggapan yang cepat dari indera penerima kita (mata. kithing jari-jari kaki/ “ clow toes” dan semper / “ drop foot” ) 2).”osteolisis dan absorbsi” tulang kaki. “tarsal collaps”. Tejadinya cacat karena adanya trauma dan infeksi sekunder. pemendekan jari tangan. biasa terjadi pada : a).

1 Perceptual (Michael R. sesuatu yang bersifat mengembangkan kreatifitas dan membantu memberikan makna bagi pengalaman panca indera tersebut. Solomon. 1996) Sumber : Sulisna. Perilaku Konsumen dan Komunikasi pemasaran.STIMULI Penglihatan Suara Bau Rasa Tekstur Sensasi Pemberian arti Persepsi Indra Penerima Perhatian Interpretasi Tanggapan Gambar 2. Salah satu aspek penting yang berperan dalam diri seseorang ketika ia mempersepsikan sesuatu adalah pengetahuan yang dimiliki sebelumnya tentang apa yang sedang dipersepsikan. Robbins (2006) persepsi didefinisikan sebagai proses yang digunakan individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan inderawi mereka untuk memberi makna kepada lingkungan mereka dan menurut Kimble (1984) merupakan proses interpretasi terhadap informasi yang ditangkap oleh panca indra. Bandung 2001 Persepsi dalam kamus psikologi adalah proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera (11) . Dikemukakannya pula bahwa persepsi merupakan suatu proses aktif dimana orang yang mempersepsikan sering melebihi informasi yang baru didapatkannya untuk membentuk suatu kesan dari ciri-ciri personal yang tak terlihat dan .

Faktor yang berperan dalam pembentukan persepsi adalah kognitif.(15) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses persepsi sehingga terjadi perbedaa persepsi antara satu individu dengan individu lainnya terdiri dari faktor internal dan ekternal. serta situasi tertentu yang sedang mempengaruhi individu yang sedang mempersepsi Persepsi adalah pandangan individu terhadap lingkungannya sebagai gambaran subyektif internal seseorang terhadap dunia luar. sebagai produk dari persepsi ini merupakan kombinasi dari apa yang ada senyatanya dengan apa yang diharapkan dari orang yang dihadapinya. kelas dan tipe orang yang terlibat. Persepsi merupakan salah satu mata rantai perubahan sikap. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penafsiran stimulus atau rangsangan seseorang sehingga individu akan memberikan interpretasi dari obyek tertentu. pengetahuan dan pendidikan serta keadaan sosial budaya setempat. Kondisi dan tuntutan biologis/fisiologi 3. Kecerdasan / pendidikan 4. Lebih lanjut dikemukakan bahwa persepsi merupakan hasil proses pengamatan seseorang berasal dari komponen kognitif yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman proses belajar. Keturunan (heriditer) 2.kekuatan lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia karena orang yang mempersepsi tidak berada didalam lingkungan sosial yang kosong. Kesan akhir. Proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri) . Faktor-faktor internal antara lain : 1. kepribadian dan budaya yang dimiliki seseorang.

Ketergesahan menilai sesuatu berdasarkan informasi yang tidak lengkap 7. Pengaruh ekosistim lainnya (7) Persepsi tidak hanya sekedar mendengar. kepentingan. Adat istiadat. Konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/ tekanan sosial). Sikap dan kenyakinan keagamaan 9. Faktor-faktor eksternal antara lain : 1. Norma masyarakat. Nilai-nilai individu yang dianut 10. 3. 2. Harapan terhadap objek 6. pengalaman dan pengharapan. budaya. latar belakang sosial ekonomi.fisik. Faktor pihak pelaku persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti : sikap.5. lingkungan. Pengetahuan/pengalaman masa lalu tentang objek. kepribadian dan pengalaman hidup individu (13) Jenis kelamin Umur Tingkat Pendidikan . Variabel lain yang ikut menentukan persepsi adalah umur. atau minat. pekerjaan. Efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus) 8. melihat dan merasakan sesuatu yang didapatkan disini lebih jauh disepakati persepsi melibatkan rangsangan internal dan eksternal. motivasi. 4. tingkat pendidikan.

Yogyakarta. kata ini menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap pada tubuh orang-orang yang dianggap bergolongan rendah seperti pencuri.Salim adalah hal yang membawa aib. Stigma Stigma berasal dari zaman Yunani kuno. Di era modern muncullah istilah “stigmatisasi“ yang lebih mencerminkan kelas dari pada fisik. proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat dianggap menjijikan dan harus dijauhi Stigma dalam kamus P.2000 C. Samsi.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Penderita. pengkianat Negara dan tentu saja pada penderita kusta (39) . hal yang memalukan. malu atau takut karena sesuatu (14) . Sumber : Jacobalis.Pekerjaan Persepsi Sosial Ekonomi Budaya Lingkungan Fisik Kepribadian & Pengalaman Gambar 2. Ada banyak bukti yang mendukung bahwa orang yang dibuat merasa terstigmasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam . noda aib atau sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri. penjahat. Beberapa Teknik dalam Manajemen Mutu. Manajemen Rumah Sakit. Stigma adalah suatu karakteristik yang dipertimbangkan tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. Universitas Gajahmada.

2) Stigma pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya dan menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. Banyak masyarakat berprasangka bahwa penyakit kusta sangat membahayakan bagi lingkungan mereka selain menularkan dan menjijikan mereka beranggapan bahwa penderita kusta tidak lagi berguna karena pada keadaan cacat penderita tidak produktif lagi. kaku dan klise serta tidak akurat. Kenyakinan yang mendasari timbulnya prasangka tersebut disebut stereotype yaitu kenyakinan yang menghubungkan sekelompok orang dengan ciri-ciri tertentu dan stereotype adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok dan suatu image yang pada umumnya sangat sederhana. Brehm dan Kanssin 1993 berpendapat bahwa prasangka adalah perasaan negatif yang ditujukan terhadap seseorang berdasar semata-mata pada kelompok tertentu dan melibatkan penilaian apriori.kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar. ketidak akuratan ini timbul dari proses . ini merupakan sikap negatip yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok atau individu. Proses stigmatisasi atau “lebeling” memiliki dua akibat yaitu (12) : 1) Dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. mencegah pengungkapan diri terhadap teman dekat dan berbagai stategi penipuan lainnya. Efek dari stigmatisasi dapat berlangsung lama tetapi efek ini dapat dibatasi karena orang-orang yang mendapat stigma dapat menggunakan taktik yang beragam agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui stigma mereka diantaranya menyembunyikan secara selektif tentang stigma dimasa lalu.

hal yang memalukan. dalam setiap masyarakat ada masalah yang komplek mengapa kusta ditakuti dan . Melakukan kontak langsung. Pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan kita akan masa lalu. 2. D. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. Mengajarkan untuk tidak membenci. Menurut Wrightsman dan Deaux. Penderita kusta sering mendapat perlakuan diskriminasi dari lingkungannya biasanya diskriminasi ini merupakan perwujudan tingkah laku dari prasangka atau manifestasi prasangka dalam bentuk tingkah laku nyata.1981 dimasa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap sering dikaitkan dengan konsep mengenai postur fisik (9) Banyak faktor yang menimbulkan stigma kusta dan ini sangat bervariasi. oleh apa yang sedang kita hadapi saat ini . Beberapa kemungkinan upaya untuk mengurangi atau mencegah timbulnya prasangka (9) : 1. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta adalah proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. 4.overgeneralisasi (perluasan karakteristik) (9) . belajar mengenal dan memahami orang lain. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang orang lain. Mengoptimalkan / membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui pengukuhan positip. 3.

Beberapa alasan yang sifatnya umum diantaranya (3) : 1. hidung melebar ini bararti sepintas orang melihat akan tau bahwa mereka menderita kusta.menjadikan penyakit yang memalukan. Takut Ketularan Pengucilan penderita kusta dilakukan karena alasan takut ketularan. Hukuman Mati Faktor lain adalah sampai tahun 1940 an penyakit kusta belum ada obat yang bisa mengobati secara efektif ini berarti penderita kusta seakan-akan telah divonis hukuman mati karena penyakitnya tidak bisa diobati. penderita dianggap korban guna-guna. masyarakat takut terkena infeksi seperti penderita. 5. beberapa kelompok percaya bahwa kusta disebabkan karena kutukan dewa karena berbuat salah. hal ini menambah rasa takut penderita. penderita dijauhkan dianggap berdosa dan lingkungan tidak ingin mengalaminya. sampai akhirnya masyarakat percaya bahwa kusta disebabkan oleh kuman kusta. 3. kepercayaan ini mempengaruhi bagaimana penyakit dan penderita kusta diperlakukan. 2. Bau . Percaya tentang akibat kusta Percaya tentang akibat kusta telah berbeda sepanjang waktu dan dimana tempat. penyakit kusta dengan tanda-tanda khusus di wajahnya dimana kulit menjadi keriput. tebal. Ketidak mampuan dan kecacatan Alasan lain untuk stigma adalah kecacatan dan ketidak mampuan yang disebabkan oleh penyakit itu. 4. disantet dan penyakit akibat sexual.

Stigmatisasi diri sendiri Hal ini sangat nyata. Solusi pada Stigma kusta (2) Walaupun perkembangan yang besar. Ada 2 komponen pendekatan dalam menangani stigma kusta (2) : 1. Mencegah stigmatisasi orang lain. 6. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. hal ini akan lebih efektif dan efisien karena lebih baik mencegah stigmatisasi dari pada mencoba mengembalikan penderita yang sudah ditolak oleh masyarakat. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. bau ini dapat menjijikan dan membuat keadaan memburuk sehingga masyarakat tidak mau menerima mereka. kusta masih menjadi problem dibanyak negara diperkirakan bahwa antara 11 sampai 12 juta orang menderita kusta telah terobati akan tetapi stigma kusta masih sangat nyata dan perlu ditangani. Banyak faktor yang menyebabkan penderita bereaksi terhadap penyakitnya diantaranya (18) . Membantu mereka yang benar-benar mengalami stigma kusta. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. 2.Beberapa pasien kusta mempunyai bau badan yang sangat jelas / khas disebabkan oleh luka – luka yang terinfeksi. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3).

Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala yang menyimpang dari keadaan biasa. kemudahan mencapai sarana tersebut. Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dikenalnya. Pada tanggal 13 Januari 1994 dengan Peraturan Daerah tentang stuktur organisasi tata kerja Rumah Sakit Kusta Provinsi Jawa Tengah sebagai Rumah Sakit Khusus kelas C. 5. takut. Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit. 8. 9. tahun 2006 RSUD Tugurejo telah terakreditasi dan . 4. Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya. 3. Tersedianya sarana kesehatan. E. 6.1. dsb). 1. Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang. Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kerentanan individu untuk terserang penyakit itu). Tahun 2004 RSUD Tugurejo telah terjadi peningkatan kelas menjadi RSU kelas B non pendidikan. 7. pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu. hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya. 2. RSUD Tugurejo sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan rumah sakit khusus (RSK) penderita kusta. rendah diri. Sejarah RSUD Tugurejo. tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu. Tahun 2000 mengalami perubahan status dari Rumah Sakit khusus menjadi Rumah Sakit Umum. Informasi. Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga. Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya.

d. dokter memberikan surat perintah mondok dan perawat akan berkoordinasi dengan ruang Kenanga yaitu ruang khusus penderita kusta. Pasien mendaftar di loket pendaftaran. Pasien menyerahkan bukti pendaftaran ke poli khusus. Penyakit Saraf.lulus ISO 9000. f. Dokter Spesialis Kulit dapat mengkonsulkan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Bagi pasien yang memerlukan rawat inap. . radilogi atau pemeriksaan lain). c. Sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan unggulan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. e. Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium. Rehabilitasi medis atau lainnya sesuai dengan kondisi pasien. tujuan pelayanan ini adalah mengobati dan memutus rantai penularan penyakit kusta. Yang dilakukan RSUD Tugurejo terhadap penderita kusta. pemeriksaan. Dokter Spesialis Kulit melakukan anamnese. 2. perawat melaksanakan anamnese dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. RSUD Tugurejo melayani pasien kusta rawat jalan dan rawat inap. menegakkan diagnosa kerja dan memberikan resep obat serta edukasi terhadap pasien. b. Penanganan penderita di rawat jalan dilayani di poli khusus penyakit kusta dengan urutan sebagai berikut : a.

PASIEN DATANG ANAMNESIS PEMERIK. Informed consent dilakukan apabila perlu untuk tindakan. FISIK PASIEN LAMA PASIEN BARU PENATA LAKSA NAAN PEM.g. misal operasi. PENUN JANG PASIEN PULANG RAWAT INAP BTA (+) BTA (-) PENATA LAKSA NAAN EVALUASI 1 BULAN EDUKASI .

keinginan. Sumber : Dokumen Instruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik Khusus RSUD Tugurejo Semarang. psikis dan sosial yang secara rinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti: pengetahuan. Perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu : faktor predisposisi. keyakinan. sikap dan sebagainya. Selanjutnya Green mencoba menganalisis perilaku manusia pokok yaitu faktor perilaku. faktor pemungkin. sarana fisik dan sosial budaya masyarakat. Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan. persepsi. sikap dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman. perseprsi. motivasi. 1. karena perilaku merupakan resultansi dari berbagai faktor. Green.(19) . motivasi. F.3 : Alur Pelayanan Pasien Poliklinik khusus penyakit kusta. minat. baik internal maupun eksternal (lingkungan). Lawrence W. Perilaku menurut Lawrence W. Green berpendapat (19) faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi. Landasan Teori Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek (11) yaitu aspek fisik.PASIEN PULANG RAWAT INAP Gambar 2. dan faktor penguat.

Faktor pemungkin mencakup sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan. Lingkungan keluarga yang ideal dalam arti suatu keadaan yang menjamin kenyamanan pada tiap-tiap anggota keluarga akan membentuk perilaku yang terarah dan cenderung untuk bersikap terbuka terhadap nilai-nilai baru yang tentu saja diterima oleh keluarga tersebut. Perilaku seseorang cenderung untuk berkiblat pada perilaku yang berlaku dalam keluarga individu tersebut. sikap. nilai. berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak. Faktor penguat disini diterangkan bahwa lingkungan keluarga sangat dominan dalam mempengaruhi pembentukan perilaku seseorang. Hal ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat dalam setiap kasus. keyakinan. kita dapat mengatakan faktor predisposisi sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. jenis kelamin dan ukuran keluarga.(11) . Dalam arti umum. Keadaan demikian ini memungkinkan lingkungan keluarga lebih peduli terhadap apa yang dilakukan anggota keluarganya. dan persepsi.Faktor predisposisi mencakup pengetahuan. Sumber daya itu meliputi ketersediaan sarana dan ketercapaian berbagai sumber daya.(11) Lingkungan keluarga yang nyaman mempunyai respon yang kuat terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan anggota keluarganya. umur. Termasuk dalam faktor predisposisi adalah faktor demografis seperti status sosial ekonomi.

Second edition. Health Promotion Planning. Perilaku menurut Rosenstock (Health Belief Model) Teori Health Belief Model (HBM) merupakan model kognisi yang menjelaskan bahwa perilaku sebagai hasil proses informasi rasional dan menekankan pada kognisi individu.4 : Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok yaitu faktor yang mempermudah. etc Behavior (action) of individuals. faktor penguat/pendorong dan faktor pendukung.2000 2.Green. parents or employers. model ini sering kali dipertimbangkan sebagai kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia (20) .W. Sumber : L.Predisposing factors Knowledge Attitudes Beliefs Values Perseption Reinforsing Factors Attitudes and behavior of health other personnel peers. groups or communities Enabling factors Availability of resources Accessibility Referrals Ruler orlaws Skills Environmental Factors Gambar 2.

Secara umum HBM diyakini bahwa individu akan mengambil tindakan untuk menghindarkan. Namun ada pula kemungkinan motivasi kesehatan positif yang meliputi perilaku mau untuk berobat. jika mereka percaya bahwa tindakan tertentu yang tersedia akan menguntungkan dalam mengurangi kerentanan atau keparahan kondisi. Persepsi seseorang terhadap kegawatan suatu penyakit. Persepsi seseorang terhadap benefits / untung – ruginya bila melakukan perilaku tersebut. dan jika mereka percaya bahwa hambatan yang terantisipasi untuk mengambil tindakan dipertimbangkan dengan keuntungan. 2. Persepsi tersebut adalah : 1. Dalam konsep HBM dijelaskan bahwa perilaku adalah sebuah hasil dari sekumpulan persepsi. dan persepsi-persepsi ini memprediksi kemungkinan seseorang akan berperilaku. 3. HBM berhubungan dengan aspek kesehatan negatif yaitu perilaku seseorang ketika terancam suatu penyakit. 4. Tanda-tanda seseorang perperilaku / bertindak. . Persepsi seseorang terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Persepsi seseorang terhadap pembiayaan bila melakukan perilaku tersebut 5. memeriksa atau mengendalikan kondisi kesehatan buruk jika mereka memandang rentan terhadap kondisi itu.

Philadelphia.5 Basics of Health Belief Model Sumber : Ogden. Health Psychology a Text book. 1996 Proses kognitif dalam HBM dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan. hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berfikir tentang penyakit yang diderita betul-betul merupakan ancaman kepada dirinya. Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap risiko yang akan muncul. individu akan melakukan tindakan pencegahan didasari oleh dua kenyakinan atau penilaian kesehatan (health beliefs) yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian.Jane. Asumsinya bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut meningkat maka perilaku pencegahan juga meningkat.Cues to action Susceptibility Demographic variable Severity Likehood of Behaviour Benefits Cost Gambar 2. .

pertimbangan keuntungan dan kerugian dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu variabel demografi (usia. variabel sosiopsikologi (kepribadian. pengalaman tentang masalah). latar belakang budaya). . Ancaman. tekanan sosial) dan variabel struktural (pengetahuan. HBM menyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. dia percaya bahwa penyakitnya akan berakibat serius pada anggota tubuh. kerentanan. kelas sosial. Penderita sering mengatakan bahwa mereka merasa malu karena penyakitnya sehingga tidak memeriksakan diri. akan tetapi penderita dengan persepsi positif merasa bahwa penyakit kusta adalah ancaman kesehatan yang serius melakukan pengobatan secara rutin adalah suatu keuntungan yang tinggi dan biaya yang rendah dibandingkan apabila sudah terjadi kelainan atau kecacatan. keseriusan. Adanya gejala-gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi negatif penderita.Penilaian kedua yang dibuat adalah perbandingan antara keuntungan dengan kerugian dari perilaku dalam usaha untuk memutuskan tindakan selanjutnya. Contohnya perilaku penderita kusta yang mengasingkan diri merupakan kemudahan untuk terjadi adanya kecacatan dan sumber penularan.

W.G. Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan pustaka diatas diambil suatu kerangka teori yang bersumber dari teori Lawren W Green dan teori Health Belief Model (HBM) sebagai berikut : Susceptibility Demografik Variable Severity Perceived stigma Reinforsing Factor . Kerangka Teori : modifikasi teori L.External factor Benefits Cost Gambar 2. Green dan teori HBM .6.Internal factor .

BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka konsep. Kerangka Konsep Penelitian . Variabel Bebas Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit Variabel Terikat Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Lama sakit Keluarga Tetangga Teman Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positif Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif Penderita kusta merasa terstigma Gambar 3.1.

pekerjaan pendapatan dan lama sakit) melatar belakangi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 3. Bagaimana faktor kegawatan penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 5. Bagaimana faktor risiko jika berperilaku negatip melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 7. Bagaimanakah persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 2. jenis kelamin. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimanakah faktor manfaat jika berperilaku positif melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 6. Bagaimana faktor kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 4. alasan yang mendasari penelitian jenis ini karena dapat menggali atau menghasilkan data deskriptif secara mendalam mengenai persepsi responden . Bagaimanakah faktor Demografik (umur. pendidikan. Bagaimanakah faktor internal (lingkungan keluarga) dan (lingkungan masyarakat) melatar belakangi persepsi penderita? eksternal C. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.B.

(23) Metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan lain yakni : pertama. perilakunya dan penalaran yang tersirat pada metode kualitatif bersifat induktif (bergerak dari observasi menuju hipotesis dan bukan pengujian hipotesis/deduktif). tidak lazim mendefinisikan suatu konsep.luwes karena rancangan studi ini bisa dimodifikasi meskipun sedang dilaksanakan (24). perspektif yakni memahami secara menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti. analisis induktif karena peneliti tidak memaksa diri untuk hanya membatasi penelitian pada upaya menerima atau menolak dugaan-dugaanya melainkan mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri. (25) . bersifat holistik. sikap. Kedua : berhubungan langsung dengan sasaran (responden). serta memberikan kemungkinan bagi perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar. (22) Metode kualitatif lebih menekankan pada validitas dengan pemahaman bagaimana manusia sebenarnya berperilaku dan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh manusia ketika menggambarkan pengalaman. Keempat.terhadap stigma penyakit kusta. dimana tujuan riset kualitatif sendiri adalah mengembangkan konsep-konsep yang dapat menjelaskan makna suatu fenomena dan membantu pemahaman lebih mendalam atas fenomena sosial dan perilaku dalam setting atau lingkungan yang alami (bukan percobaan / eksperimen) dengan demikian memberi penekanan pada makna-makna. Tehnik kualitatif memberi kesempatan pada peneliti untuk mengamati dan berhubungan langsung dengan sasaran penelitian (responden) (22) Ketiga. pengalaman dan pandangan semua peserta risetnya. Luwes tak terlalu rinci. menarik dan unik bermakna dilapangan (30) .

menyendiri. Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang. padanya terdapat pola tertentu namun penuh variasi (keragaman). Mau berpartisipasi menjadi subyek penelitian. 2. penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sampel (30) . Dari pengamatan penulis penderita yang terlihat tidak percaya diri dalam berperilaku (misal: memakai pakaian tertutup/lengan panjang. Dalam penelitian ini sample berjumlah 8 (delapan) orang penderita kusta dengan kriteria sebagai berikut : a. b. Data kunjungan pasien rawat jalan di poli khusus penderita kusta ratarata 344 orang per bulan. Tehnik pemilihan sampel dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling).D. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta yang mendapat pelayanan di RSUD Tugurejo Semarang. memakai topi. c. Sampel Penelitian kualitatif bertolak dari asumsi yang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Populasi dan Sampel Penelitian 1. . selalu menundukkan kepala) saat berobat di RSUD Tugurejo Semarang.

1) Karakteristik responden yang terdiri dari umur. 6) Faktor persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatip. Variabel bebas. Mau berkomunikasi dengan baik. . 2) Faktor-faktor internal dan eksternal responden terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. penghasilan dan Lama sakit. pekerjaan. Mau berpartisipasi dalam penelitian ini.d. pendidikan. e. 4) Faktor persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. jenis kelamin. b. 5) Faktor persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positip. Dalam penelitian ini sampel berjumlah 8 orang penderita Informasi dan tanggapan lain dalam penelitian yang digunakan sebagai cross check adalah keluarga dan lingkungan ( tetangga dan teman penderita) yang selanjutnya disebut sebagai Informan. Mau berkomunikasi dengan baik c. 3) Faktor persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit. b. dengan kriteria sebagai berikut : a. Dalam penelitian ini berjumlah 5 orang E. Variabel Terikat dalam penelitian ini adalah penderita kusta merasa terstigma. Variabel Penelitian a.

5) Lama sakit yaitu waktu yang dihitung saat pertama penderita di diagnosa sakit kusta sampai saat wawancara dilakukan 6) Lingkungan keluarga adalah lingkungan sosial yang paling dekat dengan penderita (11) 7) Lingkungan masyarakat adalah lingkungan sosial yang berada di sekitar tempat tinggal penderita (11) 8) Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. 4) Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh responden baik di luar maupun di dalam rumah untuk memperoleh penghasilan. 9) Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang penyakit kusta sebagai suatu . Variabel Bebas. 1) Umur adalah bilangan tahun terhitung sejak lahir sampai ulang tahun terakhir 2) Jenis Kelamin adalah penggolongan responden berdasarkan jenis kelamin yang tercantum dalam status diri (laki-laki atau perempuan) 3) Pendidikan adalah jenjang / tingkat pendidikan formal yang diperoleh responden sampai saat wawancara. Definisi Operasional Penderita Kusta adalah seseorang yang dinyatakan positif menderita kusta yang melalui pemeriksaan laboratorium ditemukan Basil tahan asam (BTA) positif atau ditemukan tanda-tanda kusta. a.2.

10) Persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positif yaitu tanggapan responden mengenai keuntungan/manfaat apabila responden berperilaku positif terhadap penyakitnya. dan merasa disingkirkan oleh lingkungannya karena penyakit yang dideritanya. menularkan.kondisi ancaman kesehatan yang berakibat serius atau kegawatan pada tubuh penderita. cacat dan sebagai sumber penularan b. Daftar pertanyaan penelitian berisi tentang persepsi penderita dan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta . Variabel terikat Penderita Kusta merasa terstigma : Suatu kondisi yang membuat penderita merasa malu. 11) Persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. menganggap bahwa penyakitnya sama seperti penyakit lain dan perlu berobat sehingga sembuh. F. rendah diri. Instrumen yang Digunakan Instrumen yang digunakan dalam penelitian deskriptif adalah peneliti sendiri dengan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka yang berhubungan dengan responden sehingga pelaksanaan pengumpulan data dapat berlangsung efisien.

Sumber Data. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan setelah peneliti memperoleh data dari responden melalui wawancara mendalam dengan menggunakan model analisis kualitatif. Data Primer Diperoleh dengan wawancara dan pencatatan menggunakan daftar pertanyaan yang dibuat oleh peneliti kepada penderita kusta dengan berpedoman pada kebutuhan informasi / data yang menjadi variabel dalam penelitian. 2. yaitu data primer dan data sekunder. Sumber Data Ada dua jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini. G. Adapun langkah-langkah analisis data kualitatif meliputi (26) pemeriksaan laboratorium dan catatan lain tentang .Tahap pengumpulan data dengan wawancara mendalam dilakukan perekaman menggunakan alat bantu MP3 recorder dan catatan lapangan sehingga data dapat terkumpul dengan baik. a. b. Tehnik Pengolahan dan Analisa Data 1. Data Sekunder Diperoleh dari catatan medik RSUD Tugurejo yang menyimpan data penderita termasuk hasil penyakit kusta penderita.

situasi. Hal ini dilakukan berulang-ulang untuk mendeskripsikan situasi percakapan yang sesungguhnya. Transkrip dibuat langsung setelah proses wawancara mendalam. informasi diinterpretasikan dan disajikan secara narasi. b. c. Untuk memudahkan proses. peneliti mencoba mengidentifikasikan beberapa kategori berdasarkan pedoman wawancara mendalam sehingga ketika memasuki proses . Apabila terdapat pemaknaan yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori yang sudah ada maka dibuat kategori yang baru. dan transformasi data kasar yang muncul dari hasil wawancara mendalam dan catatan-catatan tertulis di lapangan. responden. Deskripsi tersebut berdasarkan interpretasi peneliti terhadap transkrip. Transcribing Peneliti melakukan pembuatan transkrip dari hasil wawancara mendalam. dan lain-lain secara keseluruhan. Pengikhtisaran atau tabulasi Peneliti melakukan pengikhtisaran atau membuat tabel data tiap butir instrumen dari para responden yang dibuat dengan mengelompokkan jawaban. d. Berdasarkan tabel. Reduksi data Peneliti melakukan pemilihan. Comparative atau perbandingan Peneliti melakukan langkah ini berkali-kali sehingga menemukan kategori yang lebih luas. pengabstrakan.a. Pembuatan transkrip dilakukan setelah peneliti memperoleh informasi dari responden dengan cara memutar ulang rekaman kaset hasil percakapan responden dengan peneliti. selanjutnya dikelompokkan ke dalam satu kategori. penyederhanaan. dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh dapat didokumentasikan dan tidak ada informasi penting yang hilang.

Validitas dan Reabilitas Data Uji validitas dimaksudkan untuk meningkatkan validitas tampilan dari sesuatu yang akan diteliti melalui uji coba dapat diketahui adanya pertanyaanpertanyaan yang benar-benar mengukur dari yang hendak diukur. Tehnik . Langkah ini dilakukan untuk menghubungkan antara kategori sehingga terbentuk suatu kerangka konsep atau suatu penjelasan yang komprehensif mengenai fenomena yang dapat ditangkap oleh penulis. Uji validitas yang dilaksanakan pada penelitian kualitatif disebut triangulasi. yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan kesimpulan penelitian ini. e. H. lalu diinterpretasikan makna data antar tabel.tinggal mencocokkan dengan kategori yang ada. meliputi persamaan dan perbedaannya. Cara ini baik untuk mengurangi bias yang melekat pada satu metode dan memudahkan melihat keluasan penjelasan yang memudahkan. Dan dalam penelitian ini triangulasi dilakukan kepada keluarga. Dengan triangulasi tehnik ini merujuk pada pengumpulan informasi atau data dari individu dan latar belakang dengan menggunakan berbagai metode. Tabel-tabel yang berkaitan diinterpretasikan hubungannya. tetangga dan teman penderita kusta. Perumusan pernyataan konklusif Peneliti merumuskan pernyataan-pernyataan konklusif terhadap tiap rincian masalah penelitian atau tujuan-tujuan khusus.

pemeriksaan keabsahan data dengan triangulasi dapat dilaksanakan melalui sumber data, metode dan teori. Peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, pengamatan dan dokumentasi.
(30)

Interview

dilaksanakan untuk mengetahui opini, persepsi, penilaian dan ingatan responden tentang pengalamannya (28) Realibilitas (keterandalan) pada penelitian kualitatif dapat dicapai dengan melakukan auditing data, hal ini dapat dilaksanakan dengan cara data hasil wawancara di tulis dan dikelompokkan sesuai dengan gambaran variabel yang dilihat pada penelitian. I. Keterbatasan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2008 di RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian ini tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Adapun kelemahan dan keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam untuk memperoleh gambaran faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Karena banyaknya faktor yang melatar belakangi persepsi maka penulis membatasi dan hanya meneliti faktor karakteristik, faktor internal, faktor ekternal, faktor kemudahan

kemungkinan terkena penyakit, faktor kegawatan penyakit, faktor manfaat berperilaku positip dan faktor risiko berperilaku negatif, karena faktor-faktor ini berpengaruh besar terhadap persepsi penderita kusta.

2. Pengumpulan

data

melalui

wawancara

mendalam

dengan

menggunakan banyak pertanyaan, membutuhkan waktu yang lama hal ini membuat responden jenuh,sehingga dimungkinkan adanya

subyektivitas jawaban. Untuk mengatasinya dilakukan triangulasi dengan melakukan cros chek pada suami, ayah, paman, tetangga dan teman penderita kusta.

3. Responden sangat tertutup terhadap penyakitnya, sehingga wawancara mendalam yang dilakukan sering mendapatkan jawaban yang singkat.

4. Responden sangat keberatan apabila penulis datang kerumahnya, ini mempersulit penulis dalam melakukan cross cek terhadap keluarga, tetangga dan teman penderita, sehingga penulis melakukan cross cek di RSUD Tugurejo dengan mendatangkan keluarga, dan penulis hanya mendapatkan 5 (lima) Informan sebagai cross cek.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo. RSUD Tugurejo merupakan Rumah Sakit kelas B milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di Semarang bagian barat , dalam pelayananya RSUD Tugurejo menyediakan 23 poliklinik diantaranya poliklinik khusus penyakit kusta. Tenaga yang melayani pasien berobat ke RSUD

Tugurejo meliputi : 32 dokter spesialis, 24 dokter umum, 7 dokter gigi, 3 apoteker, 1 psikolog, 60 tenaga medis, 268 tenaga keperawatan dan kesehatan, dan 138 tenaga non medis. Produk unggulan RSUD Tugurejo adalah sebagai

laki-laki berjumlah 3. Karakteristik Responden Penelitian mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ini. Kaliwungu. Kendal. 23 tahun. masing-masing berjumlah . Sebagai pusat rujukan dan pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. Umur dan jenis kelamin responden Karakteristik responden berdasarkan umur diketahui bahwa responden berumur 14 tahun. Purwodadi. ayah. pelayanan kusta dan sebagai pusat penanganan krisis perempuan dan anak (PPKPA).380 pasien. pendidikan. umur.428 (33%) berasal dari Semarang. Demak. Pati. Adapun tempat tinggal penderita 2. Tegal dan daerah lain sekitar Semarang kemudian 1. paman. status pekerjaan dan lama menderita disajikan sebagai berikut : 1. Adapun karakteristik responden meliputi jenis kelamin.120 (71%) sedangkan perempuan berjumlah 1.260 (29%). pekerjaan. poliklinik kecantikan.952 (67%) berasal dari luar Semarang yaitu Jepara. jumlah kunjungan penderita kusta pada tahun 2007 ada sebanyak 4. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut dengan Informan. Pekalongan. Adapun jenis kelamin dan asal penderita yang berobat ke poliklinik kusta tersebut bisa dilihat berikut ini : Penderita. mengambil responden sebanyak 8 (delapan) orang penderita kusta dan 5 (orang) yang terdiri dari suami. B.pusat diagnostik. 29 tahun dan 55 tahun. Weleri. ini digunakan sebagai faktor triangulasi. Blora.

Responden berdasar lama menderita penyakit kusta. responden menyatakan telah menderita selama lima bulan sebanyak satu orang. lulus SMP dua orang.perbulan. empat responden telah menikah dan empat lainnya tidak menikah. satu responden berpenghasilan kurang dari Rp.000. Umur Informan masing-masing 24 tahun. Jenis kelamin responden sebagian besar laki-laki sebanyak lima orang 2. diketahui bahwa lulus SMA sebanyak tiga orang.500.per bulan dan sebanyak dua orang berpenghasilan antara Rp. 33 tahun.000. 30 tahun. empat orang berjenis kelamin laki-laki. selama kurang lebih dua tahun sebanyak empat orang dan masing-masing satu orang telah menderita kurang lebih tiga tahun. Adapun karakteristik informan sebagai faktor triangulasi adalah sebagai berikut : Informan berjumlah lima orang. adapun sebagai Pegawai Swasta ada sebanyak dua orang dan sebagai petani satu orang. 35 tahun. enam tahun dan lebih sepuluh tahun. 5. sebanyak lima orang tidak bekerja. 44 tahun . Responden berdasarkan status nikah Dari delapan responden. Pendidikan responden Dilihat dari latar belakang pendidikan responden. dari tiga orang yang bekerja. Pekerjaan responden Responden berdasarkan jenis pekerjaan.500.. 4.1. lulus SD dua orang dan satu orang tidak lulus bersekolah 3. Melihat hasil jawaban responden mengenai penghasilan rata-rata perbulan responden tidak sama.000. Berdasar lama menderita penyakit kusta.000 – Rp.satu orang dan umur 33 tahun serta 45 tahun masing-masing 2 dua orang.

. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita.. was-was jika tubuh saya jadi cacat pasti tetangga menjauhi saya. Dari delapan responden semuanya menyatakan masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta. Pendidikan lulus SMA berjumlah tiga orang. tidak bisa bekerja.keluarga nggak mau datang ke rumah. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa pandangan responden terhadap apa yang dilakukan keluarga atau masyarakat mengenai stigma penyakit kusta terhadap responden. Dari 8 (delapan) responden dengan karakteristik yang berbeda.Saya merasa bersalah. lulus SMP dan lulus D3 masing-masing satu orang. didapatkan jawaban yang bervariasi. Sedangkan yang lainnya mengemukakan bahwa keluarga merasa was-was karena penyakit yang diderita responden. 1. Status pekerjaan bervariasi yaitu pegawai BUMN. 2 orang mengatakan bahwa. saya takut ketahuan tetangga nanti pasti dikucilkan. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta didefinisikan sebagai proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib.. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. C.. dagang. pegawai negeri dan pegawai swasta. . faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. hal yang memalukan. tukang kayu. Seperti yang dikemukakan berikut ini : Kotak 1 .dan 46 tahun. keluarga menganggap biasa saja terhadap penyakit yang diderita responden.

. Tidak tau kalau istri saya kena kusta. taunya sakit saraf karena kami berobat ke dokter saraf sampai habis-habisan.. .. kulo kenging lepra kering dados mboten ketingal..3.Takut. sekarang ini kami kontrak bu tapi saya bersyukur pengobatan di sini gratis dan istri saya sudah sembuh walau belum seratus persen...masyarakat juga biasa saja nggak tau kalau saya kena lepra...Keluarga tidak menolak. .8 Keterangan : R = Responden Lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang pendapat orang-orang dilingkungan penderita setelah mengetahui istri. . tetangga tidak tau. . .4.Orang tua berfikir positip. R 1.Saya tidak pernah bilang kalau saya kena kusta.. anak...5. masyarakat tidak tau.. .. (responden menangis). .. untuk mengetahui lebih lanjut dapat dilihat dari beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 2 . adik biasa saja. Biasa saja. ... tetangga bilang kena sengkolo.Biasa saja.2.. dikira saya kencing manis tidak bisa sembuh dan sekampung saya sendiri yang kena begini.. malu pada teman ..takut dijauhi kalau orang-orang tau. sedang teman penderita karena tidak mengetahui tentang penyakit temannya.Keluarga merasa syok takut.. Masyarakat tidak tau. rumah dan isinya habis untuk biaya berobat tapi tidak sembuh.6.... masyarakat tidak tau saya sakit. penulis tanyakan tentang pendapat teman-teman dilingkungan penderita bekerja... terutama ibu.. sebagian besar menjawab orang-orang dilingkungannya tidak mengetahuinya kalau responden menderita kusta..(responden menangis sampai lama)..7. tetangga atau teman menderita kusta. keponakan.. memberi semangat pasti sembuh..

I.2. 5 Dengan mulainya wawancara mendalam bertanya tentang penyakit temannya. seperti kutipan dibawah ini : Kotak 3 . maka tidak penulis lanjutkan. Dia orangnya enthengan bu.. Selama ini biasa saja mungkin karena tidak tau dia kena kusta. walaupun jawaban yang diberikan bervariasi tetapi intinya semuanya mengutarakan.. 1. . ini semua karena Privacy penderita dan penulis tidak mengharapkan terjadi hal-hal di luar penelitian ini. Dari hasil wawancara mendalam tentang apa yang dilakukan dan pendapat orang-orang dilingkungan penderita. di kerjaan dia baik.... . seperti jawaban yang diberikan dibawah ini : Kotak 4 . Teman-temannya taunya ya sakitnya itu karena salah obat.. seperti alergi seluruh badannya.. jadi kalau mondok begini kasihan istri dan anaknya. tidak pernah cerita. tidak pernah keluar rumah.. Teman sekolahnya tidak ada yang tau dan saya meling tidak usah diberi tau. taunya kalau ke rumah sakit ya kontrol ke dokter saraf.. karena lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta maka tidak ada perubahan apapun terhadap penderita. Dia itu pendiam..3 4 Keterangan : I = Informan Sedangkan teman penderita mengungkapkan bahwa penderita seorang yang baik dengan siapa saja dan mulai bertanya-tanya tentang penyakit temannya itu. Masyarakat tidak tau. Sebetulnya sakit apa bu? I.. .

Masyarakat tidak tau kalau sakit kusta... ..4 Melihat tanggapan pada kotak 5...2. Sering rewang-rewang. kadang saya perhatikan pandangannya kosong. tindakan apa yang masyarakat lakukan terhadap penderita dan dari ungkapan tersebut.. jadi biasa saja. tapi ya beda seperti saat belum kena dulu. kasihan ya kalau pada tau.bantu.. kegiatan remaja sering mendapat undangan tetapi tidak mau datang. 1.3. nggak tau kalau sekarang sudah tersebar. Biasa saja. menunjukkan bahwa lingkungan/tetangga tidak melakukan perubahan sikap terhadap penderita.Sebetulnya seperti kegiatan karang taruna. . lebih lanjut dapat disimak tanggapan Informan mengenai. didapatkan jawaban bahwa lingkungan / tetangga penderita menanyakan bukan karena penyakit kustanya tetapi seperti di ungkapkan dibawah ini : Kotak 5 . sekarang agak pendiam. dia tidak mau kuliah lagi. Biasa saja. . dia sukanya diam saja di rumah. apa masih kontrol ke dokter saraf ? . mungkin malu karena wajahnya jadi seperti itu.3. taunya salah obat.hanya dia tidak mau keluar rumah. sekarang agak pendiam dan agak malas-malasan kalau ada kegiatan..sebetulnya masyarakat tidak apa-apa. karena belum tau bu... Waktu itu kan belum tau. I. 4 Untuk mengetahui apakah stigma ini muncul dari masyarakat ataukah dari penderita sendiri. membaca apa saja. disuruh bantu..masih . Tetangga sering bertanya : sudah sembuh belum...2. dia juga sering ikut kegiatan masjid di kampung. R 1. mereka tidak tau. tapi tidak seperti sebelum sakit. orang tuanya sering menyuruh untuk datang tapi ya... temannya ya masih pada main kerumah kegiatan ya masih mengikuti. ..

. .mengikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan di kampungnya. Adapun mengenai bagaimana cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta. R. Kesekolah saya selalu pakai seragam panjang. saya pilih tidak ketemu orang-orang. tiga responden melakukannya dengan tetap bekerja..Dirumah terus.. . . ada undangan sering dipaksa bapak datang.3. satu responden dengan membatasi diri dan responden lain dengan diam saja (tidak melakukan tindakan apapun). Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta dapat dilihat dari beberapa tanggapan responden berikut ini : Kotak 6 . seperti ini bu.. selesai langsung pulang. jarang ngrumpi kalih tonggo.. saya agak membatasi diri biar tetangga tidak tau.. Kulo mendel mawon. saya sering pakai jaket karena dilengan saya ada fleknya. akan tetapi penderita sendiri yang tidak mau untuk mengikuti kegiatan tersebut. arisan biasanya saya titip saja. .7 Adapun perbedaan cara dalam menanggulangi cap buruk ( stigma) oleh responden dikemukakan sebagai berikut : Kotak 7 ... kalau omongomong dengan tetangga saya seperlunya saja.1. ada kegiatan yen purun nggih dateng.2. tetap ikut kegiatan di kampungnya dan responden yang masih bersekolah selalu memakai baju lengan panjang. saya malu bu. tapi saya banyak tidak datangnya.

.2. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. Mboten. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor....6 . ibu saya juga kena. . tapi tetap saya jalankan. R 4. sak kampung mung kula thok. antara lain : faktor sumber penularan yaitu penderita.. kalau tidak datang justru jadi omongan orang. sudah dislameti ya tidak sembuh-sembuh. ada kumpulan kampung saya tetap datang. ada kerja bakti. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita... Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain.kata orang-orang saya kena sengkolo. Dari hasil jawaban terhadap responden mengenai pendapat apakah penyakit kusta dapat menular ke semua orang terlihat bahwa sebagian besar menjawab ”bisa” menularkan dan sebagian lagi menjawab ”tidak” menular dan seorang menjawab tidak menular juga bukan merupakan penyakit keturunan seperti di ungkapkan berikut ini : Kotak 8 . gejalanya persis seperti saya dan saat ini ibu tangannya sudah cacat. biar saya tidak kelihatan kalau sakit kusta. Penyakit kusta adalah penyakit menular. Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu meliputi. tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1).. Bisa.. Saya tetap bekerja walaupun kadang-kadang saya tidak PeDe.5 2. .. ikut kegiatan dikampung. penyakit ini juga bukan keturunan .. R 7. Tidak..

Kotak 10 . .sekampung hanya saya saja yang sakit kados niki. satu orang menyatakan.5 Kemudian persepsi responden mengenai orang yang seperti apa yang mungkin terkena penyakit kusta..2. Tidak tau bu.. Penyakit yang tangan dan kakinya bisa mrotholi I. kados panu ning saged dados berat... fisiknya berubah dan katanya bisa menular. satu responden berpendapat bahwa orang yang golongan darahnya sama dengan penderita yang bisa tertular penyakit kusta. Orang yang jorok. .1 . kemproh. dua responden menyatakan bahwa orang yang kebersihannya kurang dan kondisi kesehatannya menurun. 3.Selanjutnya hasil wawancara mendalam terhadap Informan tentang persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit dengan pertanyaan apa yang anda ketahui tentang penyakit kusta sebagian besar mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular. Berikut kutipan sebagian jawaban responden : Kotak 9 . dari hasil jawaban ternyata sebagian responden tidak mengetahui tentang ciri atau kriteria orang yang mungkin terkena penyakit kusta.. ringkih.. kurang resikan.. .. R 2... Penyakit kulit. Penyakit seperti alergi. penyakit kusta adalah penyakit kulit dan satu orang menjawab penyakit kusta adalah penyakit yang bisa membuat cacat. kondisinya jelek.

bersinggungan dengan orang kusta yang pada kulitnya terdapat .. dua orang menjawab.. Ringkih. kurang perhatian kebersihan.Selain itu menurut Informan mengenai. Tidak menular. I. berikut kutipan jawaban : Kotak 12 . satu responden menjawab penyakit kusta menular melalui udara dan terdapat satu responden yang menjawab bahwa jika bersinggungan dengan penderita kusta akan tertular penyakitnya seperti di ungkapkan sebagai berikut : Kotak 13 .4 Sedangkan cara penularan penyakit kusta menurut responden.. 4 Demikian juga hasil wawancara terhadap ke lima Informan sebagai faktor triangulasi mengenai orang yang bagaimana yang bisa tertimpa penyakit kusta. I... Orang yang jorok dalam hidupnya. 1.. Orang yang peduli kesehatan tidak akan ketularan. sebagian besar menjawab penyakit kusta bisa menular ke semua orang dan hanya tetangga penderita menjawab penyakit kusta tidak bisa menular seperti berikut ini : Kotak 11 . . kondisinya drop. orang yang kondisi kesehatannya menurun dan kurang menjaga kebersihan ... apakah penyakit kusta dapat menimpa semua orang / orang lain didapat jawaban bahwa. sebagian besar mengatakan tidak mengetahui tentang penularan penyakit kusta.

sebagian . lha pripun yen bobok kalih ibune. I. apakah penyakit kusta dianggab penyakit yang berbahaya? Apa alasannya ?. adanya kecacatan. adanya luka yang tidak terasa sakit dan juga terjadinya reaksi akibat penyakit kusta. benjolan di kulit. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan mengenai kegawatan penyakit kusta dengan pertanyaan. dan golongan darahnya sama. gangguan gerak anggota atau bagian muka. Didapat jawaban bahwa. 2 3.. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. penularan penyakit kusta bisa melalui udara dan lainnya mengatakan kontak langsung dengan penderita bisa tertular penyakit kusta seperti tanggapan ayah penderita berikut ini : Kotak 14 . bisa ketularan penyakit kusta. tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. Kemudian untuk tanda – tanda tersangka kusta diantaranya adanya kelainan kulit berupa bercak yang tidak terasa/mati rasa berwarna merah atau putih. tetangga penderita mengatakan. adanya rasa kesemutan. R5 Adapun berdasarkan wawancara terhadap Informan mengenai cara penularan penyakit kusta. adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut.. anak saya sering kontak langsung dengan ibunya. Katanya petugas.benjolan-benjolan seperti udunen.

karena kalau minum obat akan sembuh.5. karena bisa menular ke orang lain. . karena gejala yang muncul sangat berat.. semua menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat. tidak bisa aktifitas. rasanya tak karuan.. R 1.besar responden menyatakan penyakit kusta menimbulkan bahaya dan sebagian menyatakan bahwa penyakit kusta tidak berbahaya. tidak bisa bangun.. Tidak berbahaya kalau minum obat akan sembuh. Sangat berbahaya. adapun jawaban dari responden tersebut bisa disimak seperti berikut : Kotak 15 . penyakitnya akan hilang.ini hidung saya jadi hilang bu.7. kusta menakutkan. Ya. keluarga . kan bahaya bu. .. Sangat berbahaya. mambu. .4. itu cina ada yang sampai mrotholi..... gejala-gejala yang muncul itu menakutkan. keringat dingin.. bisa prothol – prothol. panas dingin.2. cacat tidak bisa bekerja. .. ibu saya sering sampai nangis kalau kumat. tidak banyak yang tau tentang penyakit kusta. Ya. Tidak... .. untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegawatan penyakit kusta dapat dilihat dari beberapa pendapat berikut ini: Kotak 16 . proses penyembuhan lama.8 Selanjutnya mengenai Persepsi terhadap kegawatan penyakit menurut Informan adalah. menakutkan karena fisiknya berubah. . Ya.. merubah fisik dan bisa menimbulkan kecacatan.. badan sakit semua.. kata ibu saya kalau kumat badan sakit semua.. Berbahaya. .. bisa menular.6.3. telat minum obat kumat. dada keder. badannya sakit semua.. lemes. . banyak yang salah berobat. Ya.. Ya.

bisa kena semua. I.. Wah. Untuk jawaban-jawaban responden tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini : Kotak 17 . Penyakit kusta menyiksa lahir batin. terus terang saya sangat depresi . bisa membuat cacat di tubuhnya.4. dua responden menjawab kusta bahaya. tidak berobat badan sakit semua. Kemudian responden lain berpendapat bahwa kusta kalau kumat (kambuh) gejala-gejala disebutkan seperti lemas.ya bahaya bu. kulitnya mlepuh – mlepuh seperti kena api. Saya takut mati. .. 5 Penyakit kusta menimbulkan masalah yang sangat komplek. tangan-kakinya rusak tidak bisa untuk bekerja. merusak mental... … Ya. . kadang orang melihat saya seperti takut. kalau saya lihat yang periksa bareng saya tangannya putus-putus. panas dingin badan sakit semua akan muncul lagi dan satu responden tidak mengetahui tentang seberapa besar bahaya yang timbul karena penyakit kusta. Mencermati jawaban responden mengenai seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta .. kecacatan yang berlanjut dan apabila tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang baik akan dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. merusak fisik. dari delapan responden terdapat empat diantaranya menyatakan bahwa bahaya penyakit kusta bisa menimbulkan kecacatan. mental dan menyiksa lahir batin. mrotholi... . wajah berubah menjadi menakutkan.. Penyakit kusta merusak fisik.. 1. keluarga dan teman-temannya (7) . kalau minum obat badan enak. kusta berbahaya makanya saya periksa terus. terisolasi dari masyarakat.

1.3. Ibunya kalau kumat badannya sakit semua.4. . rumah dijual untuk berobat. cekot-cekot.. menurut Informan sebagian besar mengatakan bahaya penyakit kusta selain menular. Wah.. Tidak membunuh tapi merusak fisik.. anak-anak ketularan. bisa membuat cacat dan satu orang mengungkapkan kalau kambuh badannya sakit semua.. anak saya banyak bu. kusta kering rasanya senutsenut sakit sekali bu. empat semua dekat dengan ibunya. wajahnya menakutkan... . Saya takut kalau istri saya cacat.. . kalau gak ke Tugu (RSUD. saya mikir apa saya mau mati soalnya jantung keder terus. Beberapa jawaban dapat dicermati berikut ini : Kotak 18 .. ..Tugurejo) mungkin saya sudah meninggal.5. I. waktu itu saya sudah mutung berobat kemana-mana tidak sembuh sampai habishabisan.. panas dingin...2. sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian dan sebagian kecil responden mengemukaan pendapat. Yaitu bu bisa jadi cacat. Kalau kumat lemes. R 1. penyakit kusta tidak bisa mengakibatkan kematian. bagaimana ya bu. ya berat bu. rasanya sepeti itu.. drodog badan saya tidak ada daya. Bisa.. Dibawah ini kutipan jawaban dari beberapa responden : Kotak 19 .5. jadi saya kawatir kalau mereka tertular penyakit ini.. Kusta basah bisa sampai mrotholi.8 Kemudian seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta. . 2 Untuk wawancara mengenai persepsi penderita tentang apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian didapatkan jawaban.

. kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat kuman kusta).. seperti dikemukakan dibawah ini: Kotak 20 .4. pada anggota gerak) b.. menurut kula wong sehat mawon bisa mati nggih. kalau berobat terus ya sembuh. Adapun kecacatan dibagi menjadi : a. ( pada wajah. jenis kelamin).2. saat pertama kena penyakit ini saya sempat koma. Bisa. I. Kecacatan sekunder yaitu kecacatan yang disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan kelumpuhan. Ya. pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama dan faktor pekerjaan (penderita yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat). antara lain : Faktor yang berhubungan dengan penderita sendiri (umur. didapatkan jawaban bahwa penyakit kusta tidak menyebabkan kematian..5 Kecacatan akibat penyakit kusta dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tidak bisa. kematian ditangan tuhan. faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit). Kecacatan Primer yaitu kecacatan langsung yang disebabkan oleh aktifitas penyakitnya.3.8 Selain itu menurut persepsi Informan mengenai apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian..5. hanya bisa merusak fisik. R 1... Kalau kematian InsyaAllah tidak. 1. Cacat ini terbentuk akibat salah . . … Tidak menyebabkan kematian... panas tinggi dan tidak ada obatnya. bisa sembuh kalau berobat.3..4.

ini (menunjuk sepanjang tungkai kanan) tidak terasa lho bu. tangan dan kakinya cacat. menurut Informan.4. R 1...... Bisa. penyakit kusta bisa mengakibatkan kecacatan pada tubuh penderita. kaki saya luka.. Ya. keponakan saya ini tangannya sudah tidak nornal lagi. saya sampai saat ini ada rasa takut cacat. Bisa. Tanggapan responden terhadap pertanyaan apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan mendapatkan hasil bahwa semua responden menjawab ”bisa”. . kuping saya memanjang karena penyakit ini. tangan dan kakinya mrotholi semua..7 Sedangkan mengenai kecacatan. Ya. tangan saya kithing tidak terasa.. tangan saya sudah mati rasa.. Bisa. kemarin kena air panas tidak terasa. kakinya cacat awal-awalnya luka seperti ini (menunjuk luka dikaki) . katanya awalnya cacat karena tidak terasa.. semua menyatakan bahwa penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan berikut ini : seperti di ungkapkan Kotak 22 . luka tidak sembuh-sembuh terus diamputasi . Bisa. saya takut cacat. seperti tetangga saya.. .. ini wajah saya sudah mulai cacat. Bisa. wajah. lha niku bojo kula (ibunya penderita) ngertos-ngertos tangane ngeten ( jari-jarinya kithing) .. Ya.5. . itu orang cina yangbarengan periksa dengan saya. kaki. ..3. berikut ini kutipan tentang jawaban responden : Kotak 21 .... . kata pasien yang barengan kontrol. kalau ngantar ke Tugurejo saya sering omong-omong dengan pasien lain.dalam aktifitas atau tidak pernah digunakan (disuse) bisa juga karena adanya infeksi sekunder. tangan istri saya perasaannya berkurang. kaki saya cacat.2. Ya. semua badannya cacat.

. Dengan matinya kuman maka sumber penularan dari penderita ke orang lain terputus. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip yaitu perilaku berobat penulis tanyakan dengan bagaimana menurut pandangan anda apabila penderita kusta diharuskan berobat secara rutin dalam waktu yang lama dan harus minum obat setiap hari? Apa alasan dari jawaban tersebut? Semua cacat permanen. Baik apabila berobat. pernah telat kontrol timbul lagi gejala seperti dulu. Penyakit kusta dapat diobati. keluar benthol-benthol.. bukan penyakit turunan/kutukan. capek. Setuju. pengobatan hanya dapat mencegah cacat lebih responden menyatakan penderita kusta harus berobat secara rutin karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit jadi kurang aktif sampai akhirnya hilang.. sebagai berikut : Beberapa jawaban responden diungkapkan Kotak 23 . 3 4.cacat.. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan. 1. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. setelah minum obat saya tenang bu. karena kalau tidak berobat bisa kumat (kambuh) .2. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur.. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. Penderita yang sudah dalam keadaan lanjut. Dulu kena air panas gak terasa sekarang jadi cacat. I.

.3. jangan-jangan juga sakit kusta.. penulis mengalami kesulitan karena teman penderita belum mengetahui kalau teman yang diantar berobat menderita kusta.8 Adapun menurut persepsi Informan apabila menderita penyakit kusta.. . 1. Perlu berobat rutin. . . kalau telat berobat ya kambuh lagi .2... biar nggak kumat. Harus berobat terus.. Saya ngomong pada orang tuanya untuk berobat sampai sembuh dan saya akan selalu membantu ngantar keponakan saya berobat ke tugu.. Harus berobat ke RSUD Tugurejo karena ahlinya ada di Tugurejo.. sehingga selalu penulis awali dengan seandainya teman anda sakit kusta. Harus diobati.. kadang-kadang jenuh...7. Harus bu. ibu saya kalau obat nya telat badannya sakit semua.. ..3. kalau obatnya telat sering reaksi lagi. terawat. 4 Untuk mendapat jawaban dari teman penderita.. ... Ya harus berobat kesini (RSUD Tugurejo) karena di Jateng pusatnya disini. diharuskan rajin menjalani pengobatan seperti pernyataan dibawah ini : Kotak 24 .5. Ya. Harus. Baik. bagaimana pendapat anda setelah mengetahui teman anda menderita kusta? Berikut kutipan jawaban dari teman penderita kusta : Kotak 25 .. biar sembuh total. dikamar terus.4.6. kalau tidak berobat sakit lagi.. R 1. . kusta kan bisa menular.dan saya telpon bapak saya untuk mengecek di rumahnya karena saya tau neneknya juga sakit tapi nggak pernah keluar... I... keluar benjolan-benjolan.

. Tenang. Kekeringan pada kulit akan mengakibatkan luka-luka kecil yang bisa terinfeksi. Prinsip pencegahan bertambahnya cacat pada dasarnya adalah 3M : a. hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh seorang penderita kusta dan alasan dari jawaban yang diberikan. .. tangan dan kaki secara teratur. Melindung mata. Melakukan perawatan diri.3 Dalam pencegahan kecacatan. Dalam hal perawatan diri didapat beberapa jawaban responden. Memeriksa mata.I. b. 5 Selanjutnya mengenai persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip.. Perlu terapi psikologi. tidak stres dan satu responden perlu dilakukan terapi psikologi. tidak kelelahan. tangan dan kaki dari trauma fisik. Seperti dikemukakan sebagai berikut : Kotak 26 . c. Sebagian besar responden menjawab pertanyaan dengan jawaban ”berobat” biar sembuh. untuk mencegah maka perlu mengolesi dengan minyak ( minyak kelapa. sebagian .. sehingga penderita harus bisa melakukan perawatan diri dengan rajin agar cacatnya tidak bertambah berat. penderita kusta perlu mendapatkan pendidikan dan tindakan perawatan diri. R 1. terapi mental sangat diperlukan. Karena penderita kusta seperti saya ini sebetulnya masalah yang paling berat ”saya down sekali”. tidak cacat. Penderita harus mengerti bahwa pengobatan kusta sudah / akan membunuh bakteri kusta tetapi kecacatan yang terlanjur terjadi akan menetap seumur hidupnya. tidak stres. sedangkan dua responden menjawab dengan berfikiran tenang. minum obat. tidak hanya fisik yang diobati. vaslin atau hand body lotion) yang berfungsi untuk menjaga kelembaban kulit.

. .8 Selain itu untuk tangan yang mati rasa. benda tajam. dari RS Tugu saya diberi vaslin. kalau ada benjolan-benjolan iya harus pakai pelembab. Seringlah berhenti dan periksa tangan dengan teliti apakah ada luka atau lecet yang sekecil apapun.. memar atau lecet sekecil apapun. berjalan terlalu jauh atau cepat. benda-benda tajam. dari RSUD Tugurejo diberi vaslin sebagai pelembab dan satu responden menjawab. kasar ataupun tajam dengan memakai kaos tangan tebal atau alas kain. Tekanan tinggi ataupun lama berdiri terlalu lama tanpa gerak.basar responden menjawab dengan harus mengoles pelembab di tangan dan kaki agar kulit tidak kering. Adapun untuk kaki yang mati rasa. batu dalam sepatu dan lain-lain. bisa terluka oleh : benda panas. karena kulit kering kadang sampai pecah. gesekan dari sepatu/sandal yang terlalu besar ataupun kecil. R 4. Jika ada luka. Untuk mencegah terjadinya luka ditangan maka : Perlu melindungi tangan dari benda yang panas.. Tidak semua.. tidak perlu menggunakan pelembab kalau tidak ada benjolan-benjolan dikulit. jongkok yang lama dan sebagainya. kaki bisa terluka oleh : Benda panas. gesekan dari alat kerja dan pegangan yang terlalu kuat pada alat kerja. tapi kalau tidak ada ya nggak perlu bu. Harus pakai. Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi tangan yang mati rasa. Untuk mencegahnya maka : . Berikut kutipan jawaban dari dua responden : Kotak 27 . rawatlah dan istirahatkan bagian tangan sampai sembuh.

biar tidak ”mbabrak-mbabrak” . ada luka ya langsung diobati..4. diobati. Ya. setiap hari..karena kulit saya mati rasa kalau ada luka saya sering tidak tau karena tidak sakit. Ya. setiap hari penderita kusta diharuskan memeriksa anggota badannya. pasien bapak-bapak tadi lukanya sampai bau mungkin nggak pernah diperiksa.Lindungi kaki dengan selalu memakai alas kaki.. . memar atau lecet kecil..wong niki mboten kraos..... korengnya harus dilihat setiap hari.3.. . .. Hal ini penulis tanyakan dengan melakukan wawancara tentang bagaimana menurut responden apabila setiap hari responden diharuskan memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak.5. biar tidak putusputus.. Ya. karena luka bisa jadi cacat..8 Mencermati jawaban diatas menurut responden.. Kalau ada luka. . Ya. . saya takut luka-luka itu menulari anak-anak saya. langsung rawat dan istirahatkan kaki (jangan sekali-sekali diinjakkan). Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi kaki yang mati rasa.. R 1. Ya.. nek wonten luka ngertos. setiap hari saya periksa badan saya.6. Berikut kutipan jawaban dari responden : Kotak 28 .7.2. Ya. kalau ada luka terus disalep. Ya.. Sering berhenti dan memeriksa kaki dengan teliti apakah ada luka atau memar atau lecet yang kecil sekalipun. Ya.... . apakah terdapat luka baru . biar sembuh.

Kusta merupakan masalah kesehatan masyarakat karena cacatnya. pemendekan. apabila terjadi luka baru tidak terasa sakit. responden merasa takut lukanya bisa menular pada keluarganya . Proses terjadinya cacat kusta tergantung dari fungsi saraf. mata tidak bisa menutup erat. ada tiga macam fungsi saraf 1) fungsi motorik memberikan kekuatan pada otot (otot gerak). karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga. Sementara sebenarnya hampir semua cacat dapat dicegah. Cacat kusta terjadi akibat gangguan fungsi saraf pada mata. Tingkai cacat 1 : jika ada cacat pada mata. orang yang cacat akibat kusta ” dicap” seumur hidup sebagai ”penderita kusta” walaupun sudah sembuh dari penyakit. 2) fungsi sensorik memberi rasa raba dan 3) fungsi otonom mengurus kelenjar keringat dan kelenjar minyak (berhubungan dengan kekeringan kulit). lunglai. responden memeriksa anggota badannya agar lukanya tidak menimbulkan cacat dan responden mengetahui kalau ada luka sehingga bisa cepat diobati supaya tidak tambah berat/menjalar. tangan atau kaki tetap utuh. Kecacatan pada kusta dapat terjadi lewat dua proses yaitu infiltrasi langsung kuman kusta ke susunan saraf tepi dan organ (misalnya mata) dan melalui reaksi kusta. WHO membagi tingkat cacat kusta segabai berikut : Tingkat cacat 0 : jika mata. tangan atau kaki akibat kerusakan saraf karena penyakit kusta. luka pada cornea mata. Tingkat cacat 2 : jika kalau ada cacat akibat kerusakan saraf dan cacat itu kelihatan (borok luka. . tangan atau kaki. jari kithing.atau tidak. tetapi cacat itu tidak kelihatan. Sayangnya.

saya takut seperti orang kusta yang lain tangan dan kakinya cacat.7. dibawah ini merupakan pandangan dari masing-masing responden dalam pencegahan cacat kusta : Kotak 29 . menyatakan perlunya memeriksa kelainan atau kecacatan dibadannya setiap hari karena takut kecacatan tersebut berlanjut menjadi lebih parah. perasaan takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. . .. langsung bisa di obatke.8 Dengan melihat hasil dari jawaban semua responden...Adapun dalam menggali persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. ”semper ” jalannya pincang.4.. Iya. R 1.. ning cina niku harus diperiksa setiap hari. terus . . Ya. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip..2. 5.cerita pasien yang bareng saya antri tangannya cacat. ... kakinya cacat karena tidak pernah merasa tau-tau cacat. persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. Nggih. takut ”mrotholi” tangannya. jari saya ada yang memendek. Iya bu. ... . luka tak sembuh-sembuh diamputasi. Iya. Iya. nek kula mboten onten cacat. ben mboten kesuwen.. cacat dan sebagai sumber penularan . ini kaki saya cacat .. menularkan... Ya.3. Ya bu.. Karena badan saya seperti orang beri-beri saya takut kalau sewaktu-waktu terjadi cacat. keset nggih mambu. sepertinya ngga ada tanda-tanda tau-tau tangan saya ”kithing”.6.5..

tape. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. R1. capek harus dihindari. harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita.. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. semangka. Dari hasil jawaban mengenai hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang penderita kusta. memalukan. daging kambing. sprit (alkohol). duren. seperti diungkap oleh dua responden dibawah ini : Kotak 30 .nanas.. satu responden menjawab lebih baik mengucilkan diri dan satu responden lain sebenarnya mengetahui . sebagian besar responden mengutarakan bahwa makanan tertentu tidak boleh dimakan dan keadaan stres.5 Sedangkan pandangan responden jika melihat penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu didapat jawaban. boleh makan daging . nongko. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. Tidak boleh stres. capek. Tidak diperbolehkan makan saos. tidak kambing. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen. Dalam penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta penulis melakukan wawancara mendalam mengenai pandangan responden terhadap risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan penderita. nangka. penderita yang mengucilkan diri karena malu dan penderita yang tidak mau berobat..duren. anggur.Stigmatisasi diri sendiri pada penderita kusta sangat nyata..

Saya tau tidak baik tapi kadang-kadang saya juga malu dan down bu... penderita kusta harus selalu berobat kalau tidak berobat maka tidak akan sembuh dan satu responden mengharapkan adanya terapi mental oleh psykolog karena selama ini hanya mendapatkan terapi obat saja hal ini dikatakan oleh responden ke 4 seperti dibawah ini : Kotak 32 . . tidak percaya. Beberapa jawaban diungkapkan oleh responden berikut ini : . berkeinginan bunuh diri. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Penderita kusta pada umumnya tidak mengetahui bahwa dia menderita kusta.. saya sering melakukan itu. Salah besar. reaksi terus. takut.. mengurung diri. berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat sebagian besar berpendapat bahwa. R 2. informasi tentang penyakit kusta justru didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. Lebih baik mengucilkan diri dari pada dirasani orang / tetangga. sehingga saya juga sering tidak percaya diri.. kalau tidak berobat tidak sembuh-sembuh. seperti yang diungkapkan oleh responden dibawah ini : Kotak 31 . R4 6. saudara atau perangkat desa. tetapi respoden sendiri melakukannya juga.. bu mbok jangan terapi obat saja harusnya ada terapi mental.3 Sementara itu. dan saat pertama mengetahui penderita merasa kaget.bahwa tindakan mengucilkan diri itu adalah salah.

6 Kemudian persepsi responden tentang... . didapat beberapa jawaban dari sebagai berikut : Kotak 34 . Dari pak Bayan . saya malu. saya tidak melanjutkan kuliah sampai sekarang... Saya takut tetangga tau.. Ya kaget.. Putus asa...4. tapi saya percaya pasti ada obatnya. Mental saya drop ..7.3.. Takut sekali kalau tetangga tau.6.. Syok... saya was-was bu sampai sekarang. takut menular keluarga. . Dari saudara saya yang bapaknya sakit seperti saya.. Waktu itu saya berusaha bunuh diri... .3.. anak-anak saya. R 5. Nggih ajrih.4 Adapun perasaan yang ada dalam pikiran responden setelah mengetahui bahwa penyakitnya adalah kusta. pendapat keluarga saat mengetahui bahwa responden menderita kusta diperoleh jawaban seperti kutipan dibawah ini : Kotak 35 . R 1. nanti saya dikucilkan (responden menangis).. .2. . saya dirasani. ...Kotak 33 .2. Dari petugas RSU Tugurejo. takut luar biasa saya waktu itu berusaha bunuh diri.. . malu..

. Anak-anak dulu sukanya marah sekarang sudah tau suruh berobat terus. tiga orang menyatakan merasa takut kalau tertularan penyakit ini dan merasa kasihan kalau penderita menjadi rendah diri. saya disuruh berobat ke RSU Tugurejo karena bapaknya juga sembuh di sini.. Pertama ya kaget...... Periksa ke Tugurejo secara rutin pasti sembuh kata bapak.8 Selain itu merurut Informan mengenai bagaimana perasaannya setelah mengetahui bahwa penyakit responden adalah kusta. orang tua saya takut kalau saya pada ”mrotholi” .. paman responden merasa kecewa karena penyakit keponakannya adalah kusta seperti diungkapkan dibawah ini : Kotak 36 . Bapak – ibu kaget selama ini taunya saya sakit karena salah obat. . Orang tua bilang dikasih cobaan harus diterima... Kecewa.. I. sambil menunduk berkata : . Takut sekali.. Suami saat itu selalu berusaha mengobatkan saya .. .5. . .6.. wong keluarga lain tidak ada yang kena.3. 3 Sementara itu. saya gak tega.. kasihan.. Suami saya bilang ”wong kok gaweane lara”. Istri mendorong saya berobat..2. R 1. ayah penderita terlihat terpukul saat penulis menanyakan tentang perasaannya setelah mengetahui putrinya menderita kusta.4.. .7..

seandainya teman anda menderita kusta perasaan apa yang ada dalam pikiran anda? Berikut jawabannya: Kotak 38 . dan juga kaget karena penyakitnya adalah kusta dan satu orang tidak mengetahui kalau temannya sakit kusta sehingga penulis bertanya dengan seandainya teman anda di nyatakan menderita kusta bagaimana ? didapatkan jawaban seperti kutipan wawancara dibawah ini : Kotak 39 . anak. Mudah-mudahan tidak bu.. mendukung atau tidak mendukung terhadap suatu obyek. ya kasihan. Untuk mengetahui bagaimana sikap keluarga saat pertama mengetahui bahwa .Kotak 37 ... Wah. malah sakite mboten mari-mari.. ibunya juga kena katanya di badan sakit semua. yang tidak mengetahui bahwa temannya menderita kusta sehingga penulis bertanya. 5 Sikap merupakan respon evaluasi yang dapat berupa respon positip maupun negatip. 5 Sedangkan lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang apa yang terjadi pada saat mengetahui kalau istri. I. was-was. saya kawatir kalau anak saya jadi minder di sekolahnya I. lain dengan teman penderita... saya takut I. tetangga dan teman penderita telah menderita kusta semua merasa takut.2 Meskipun empat orang menjawab tentang perasaan masing-masing... Saya sangat kasihan pada anak perempuan saya ini. nanti keluarganya malu. keponakan. sikap akan menunjukkan apakah seseorang menyetujui atau tidak menyetujui .

R 1.. Ya tidak apa-apa......3.. dan responden ke 5 menilai sikap keluarga saat itu pasip saja.. di ungkapkan oleh responden seperti dibawah ini : Kotak 40 .. Pasip saja bu.. R5 Adapun apa yang dilakukan keluarga setelah mengetahui kalau responden sakit kusta sebagian besar responden menyatakan keluarga mendorong untuk berobat hanya satu responden menjawab bahwa keluarga tidak peduli kalau responden menderita penyakit kusta. Bapak selalu was-was takut saya seperti ibu... seperti kita lihat pada kutipan berikut : Kotak 42 .7 Sebagian besar menyatakan bahwa sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa. berikut kutipannya : Kotak 41 ..gak peduli saya kena kusta. Mendukung untuk berobat. Orang tua takut dan kecewa karena saya sakit sudah diobatkan kemana-mana katanya kena ”sengkolo” ternyata kena kusta.. ..responden terkena penyakit kusta. R5 .4.. cuek gitu. was-was dan takut.. bapak dan paman saya berobat ke RSU Tugurejo selalu ngantar saya . . Ya cuek saja bu.

keluarga saya sendiri taunya salah obat karena keponakan saya ini sering minum obat bebas. Dalam mencari faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. di lakukan wawancara mengenai pandangan responden tentang sikap masyarakat sekitar dengan pertanyaan sebagai berikut : Apa pendapat orang-orang di lingkungan kerja/ teman anda setelah mengetahui anda menderita kusta? . sangat kawatir. Adik-adiknya tidak tau. Anak terbesar saya tau kalau ibunya sakit kusta baru-baru ini. seperti masyarakat di sekitar tempat tinggal responden.. Ibunya nangis saat saya beri tau kalau Afif juga kena kusta. mungkin karena dari keluarga kurang mampu jadi mau berobat ya mikir biaya. Adik-adiknya tidak diberi tau kalau kakaknya kena kusta.Selain itu bagaimana sikap keluarga saat itu. masih kecil. . . dia sering ”nuturi” untuk berobat terus.4. dibawah ini kutipan dari masing-masing jawaban : Kotak 43 .. Informan menjawab dengan sikap yang berbeda-beda.. . dulu ya belum tau dan sekarang dia sering Bantu ibunya untuk pekerjaan rumah. di RS.3. Blora sana kakinya di amputasi. Sepertinya biasa saja bu... kalau disini kan tidak bayar. Yaitu faktor yang terdapat diluar responden.2. Orang tuanya sangat kecewa. .. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta...5 7. 1.. dua jarinya karena luka terus kemudian diamputasi I. faktor ini berupa interaksi sosial di luar pribadi responden.. Keluarganya sudah mengobatkan ke mana-mana bu.

. .. diabetes. .. ..7. didapatkan jawaban sebagian besar dari lingkungan responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden .. . Teman-teman.5.. teman tidak tau.6.. Lingkungan tidak tau. tidak tau kalau saya kena kusta. Biasa saja. katanya penyakit saya tidak bisa sembuh. Demikian juga tentang apa yang mereka lakukan terhadap responden.4. .3... taunya salah obat.. dipastikan bahwa teman atau tetangga tidak ada yang tau kalau responden sakit kusta.. Kabeh mboten ngerti . Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang dilakukan masyarakat dilingkungan responden dapat dilihat beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 44 .Dengan melihat hasil jawaban semua responden. R 1.. taunya saya sakit saraf. paman penderita melihat . . ya taunya saya sakit alergi. semuanya beranggapan responden berobat karena penyakit lain seperti penyakit saraf... Teman kerja saya tidak ada yang tau kalau sakit. didapat jawaban beragam yaitu : suami penderita mendapat kabar dari kakak perempuan penderita yang juga menderita kusta.8 Mengenai dari mana Informan mengetahui tentang penyakit kusta yang diderita responden..2... Teman-teman disekolah tidak ada yang tau kalau saya sakit kusta. alergi atau karena salah obat. tapi saya takut juga sewaktu-waktu mereka tau. tetangga tidak pada tau bu. ayah penderita mengetahui kalau putrinya menderita penyakit kusta karena istri/ ibu penderita menderita penyakit yang sama yaitu kusta.Tidak ada yang tau. Tetangga dan teman saya tidak tau bu. kalau ke semarang ya dikira ke rumah saudara saya. taunya kena gula dan kaki saya dipotong karena penyakit diabetes.

ke penyakit dalam. ketidak mandirian fisik yang disebabkan oleh kecacatan dan keterbatasannya. tetangga dan teman penderita : Kotak 45 . dirujuk ke penyakit kulit lantai 2. 5 Stigma kusta merupakan faktor utama yang menyebabkan keterlambatan pasien dalam pengobatan hal ini merupakan kerentanan terjadinya kecacatan. Dari saudaranya.. mengetahui kalau tetangganya sakit kusta pada saat bertemu dengan saudara penderita yang sedang menunggu penderita. Teman saya. dibawah ini merupakan kutipan jawaban dari paman. tidak sembuh terus saya bawa kesini. teman saya nggak sakit kusta kok bu. Cacat permanen yang terlihat nyata oleh lingkungan akan membatasi mereka dalam menjalani kehidupan bermasyarakat secara normal. . I 3.. responden mengantar penderita karena luka dikaki yang tidak sembuh-sembuh. hal ini mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini yang dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. kata suster. sakitnya reaksi kusta.4. saya ketemu di RSUD tugurejo karena adiknya dirawat disini karena kusta dan saya ikut besuk di ruang kenanga. mereka bahkan kehilangan pekerjaan. mendaftar ke poli penyakit dalam dan akhirnya dirujuk ke poli kulit. karena menjalani rawat inap di ruang kenanga RSUD Tugurejo dan teman penderita tidak tau kalau penderita sedang sakit kusta. dan ini mau mondok di ruang Kenanga. kakinya luka ngga sembuh-sembuh sudah diobatkan ke puskesmas.. Stigmatisasi diri penderita terlihat sangat nyata. tetangga penderita adalah pegawai RSUD Tugurejo. ..keponakannya sakit kusta saat menengok penderita mondok di ruang Kenanga RSUD Tugurejo... Saya taunya saat keponakan saya ini mondok di ruang kenanga. orang dengan kusta menjadi malu. .

BAB V PEMBAHASAN A. dengan tidak bekerja responden menyatakan bahwa tidak mempunyai penghasilan. Pada kelompok umur tersebut merupakan masa produktip dalam kehidupan responden. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara-acara di lingkungan masyarakat(2). hubungan pribadi. selain sulit dalam mencari pekerjaan responden merasa takut apabila pimpinan dan teman-temannya mengetahui bahwa responden terserang penyakit kusta dan responden sangat menyadari kelelahan akan mengakibatkan kekambuhan penyakitnya. Sebagian besar responden tidak bekerja. mulai dari perkawinan. Sebagian besar responden telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai . Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita. Dengan terserangnya penyakit kusta responden merasa bahwa aktivitas sehari . dilihat dari segi pendidikan sebagian besar responden berpendidikan Sekolah Menengah Atas. pekerjaan. Pendidikan merupakan (32) salah satu faktor yang mendasar untuk melaksanakan tindakan .harinya sangat terganggu oleh penampilannya dikarenakan adanya perubahan pada fisik dan kepercayaan diri yang menurun. hanya ada satu responden yang tidak bersekolah. Karakteristik Responden Gambaran umum responden menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 26 tahun sampai 35 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. Pembahasan 1.

dengan 5 tahun. rok panjang dan bagi . Hasil wawancara mendalam didapatkan hasil . hal yang memalukan. sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri. merasa sangat takut dan waswas saat mengetahui responden menderita kusta. malu dan takut karena sesuatu (14) . Stigma adalah hal-hal yang membawa aib. ada juga dengan cara membatasi diri. apabila sampai terlambat dalam berobat responden menyatakan penyakitnya akan muncul kembali. Untuk menghindari efek stigmatisasi penderita kusta menggunakan beragam cara agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui tentang penyakitnya diantaranya menyembunyikan secara efektif tentang penyakitnya. menutup diri. 2. Wawancara mendalam terhadap responden dalam mengatasi stigma ini diperoleh jawaban bahwa. mengikuti kegiatan di kampungnya seolah-olah berkerudung. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden. responden seperti selalu menggunakan pakaian tertutup. mencegah pengungkapan diri terhadap masyarakat. walaupun ada juga yang tetap tidak sedang sakit. keluarga dan temantemannya (12). bahwa semua responden menyatakan masyarakat disekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta dan sebagian keluarga responden. memakai baju lengan panjang. sebagian besar responden melakukannya dengan tetap bekerja. tidak memperdulikan lingkungannya. Untuk mengatasi stigma ini. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta a. dalam kurun waktu sekian lama responden harus selalu berobat dan minum obat seraca rutin.

Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta . Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. jika tidak sama tidak akan tertular.gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi keparahan dan motivasi pasien untuk mengikuti instruksi yang diberikan (20). Dalam teori health belief model dinyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. memakai sepatu berkaos kaki dan bertopi juga tidak menceritakan kepada siapapun tentang penyakit yang dideritanya. Adanya gejala . Sebagian besar responden mempunyai persepsi bahwa penyakit kusta dapat menimpa semua orang. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. sebagian responden menganggap bahwa orang yang jorok dan kondisinya menurun yang dapat tertular penyakit kusta. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1). Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. . antara lain : faktor sumber penularan yaitu tipe penyakit kusta . Sebagian besar responden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta dan ada yang mengatakan penyakit ini menular melalui udara dan satu responden menyatakan bisa tertular penyakit kusta apabila golongan darahnya sama dengan penderita. b.penderita laki-laki menggunakan jaket. dia percaya bahwa penyakit akan berakibat serius pada organ tubuh.

Pada penelitian ini. karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. Sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian hal ini dikemukakan bahwa gejala yang muncul saat terkena penyakit ini sangat berat. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment (MDT).c. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan (17). Semua responden menyatakan orang yang menderita penyakit kusta harus berobat secara rutin. didapatkan jawaban bahwa sebagian besar responden menganggap kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius alasan responden adalah penyakit kusta mengakibatkan perubahan bentuk fisik dan kecacatan dimana kecacatan ini bisa menetap seumur hidupnya. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur. tidak stres. Pada tipe MB lama pengobatan 12 – 18 bulan dan tipe PB lama pengobatan 6 – 9 bulan. Tujuan pengobatan ini adalah untuk mematikan kuman kusta. tidak lelah sangat membantu responden mengurangi frekuensi kekambuhan. . justru penyakitnya menjadi berat dalam arti lain terlambat berobat untuk penyakit kustanya karena salah dalam mendiagnosa penyakit. d. dan saat pertama kali berobat tidak langsung diketahui penyakitnya sehingga responden merasa pengobatan yang dilakukan kurang tepat. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan / kutukan. perasaan tenang.

nangka. supaya cacatnya tidak bertambah parah. kecacatannya juga memberi gambaran yang menakutkan.Kecacatan yang berlanjut dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal. perawatan diri dengan rajin sangat perlu. serta kehilangan status sosial secara progresif. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip Dari hasil wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh di lakukan. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. Secara psikologis bercak. depresi dan menyendiri (1) Sebagian besar responden menanggapi bahwa penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu itu tidak baik. hal ini menyebabkan penderita kusta merasa rendah diri. responden mengutarakan bahwa jenis-jenis makanan tertentu tidak boleh dimakan seperti daging kambing. Sebagian besar dari responden menyatakan. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga kalau terjadi luka tidak terasa sakit. makanan beralkohol dan keadaan stres. dengan mengoles pelembab di tangan dan kakinya akan mengurangi kekeringan pada kulit yang bisa membuat luka / pecah-pecah. karena . terisolasi dari masyarakat. capek / kelelahan harus dihindari karena akan memunculkan gejala-gejala penyakit kusta (reaksi kusta). durian. Menurut responden setiap hari penderita kusta harus memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak. menurut responden mengetahui terjadinya luka secara dini akan mengurangi terjadinya kecacatan karena luka bisa cepat diobati sehingga tidak bertambah berat/menjalar e. keluarga dan teman-temannya (7).

keluarga sangat kaget saat mengetahui responden terserang penyakit kusta. Responden lain sebenarnya mengetahui bahwa tindakan mengucilkan diri adalah tidak baik. akan tetapi responden tersebut melakukannya juga karena malu dan down mentalnya. apabila tidak berobat secara rutin maka tidak akan sembuh dan sebagian lagi menyatakan mengucilkan diri adalah tindakan yang paling tepat agar tidak menjadi bahan pembicaraan tetangga. sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa. saudara atau perangkat desa. Satu responden mengatakan keluarganya biasa saja dengan penyakit responden dan tidak merasa bahwa responden menderita penyakit kusta.penderita kusta harus berobat. keluarga mengatakan kalau yang berbahaya itu adalah sakit lepra. was-was dan takut. hal ini karena keluarga tidak . informasi tentang penyakit kusta didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. takut dan tidak percaya saat pertama kali mengetahui terserang penyakit kusta dan satu responden berusaha bunuh diri saat mengetahuinya. Pada umumnya responden tidak mengetahui bahwa menderita kusta. Sebagian besar responden mengatakan. sebagian besar responden merasa kaget. f. Berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat semua responden berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan besar karena penderita kusta jika tidak berobat selain tidak sembuh akan mengalami reaksi dan bisa menjadi cacat dan sebagian responden menyatakan perlu adanya terapi mental oleh psykolog karena selain fisik yang sakit penderita kusta juga menderita sakit secara mentalnya. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta.

Efek dari stigmatisasi berakibat dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. dan waktu pertama responden menderita kusta keluarga mengatakan bahwa harus diterima. diabetes. Semua responden mengatakan.mengetahui perbedaan antara kusta dan lepra. masyarakat disekitar tempat tinggal dan temantemannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta. orang yang terstigmatisasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar (12) . dan pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya serta menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. Dari hasil . mereka mengira responden berpenyakit lain seperti penyakit saraf. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. karena alergi obat atau karena salah obat sehingga masyarakat dan teman responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden. Stigmatisasi diri sendiri penderita kusta sangat nyata. Stigma menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap oleh masyarakat terhadap seseorang. baru di beri cobaan dari Allah g. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta.

Dan cross chek yang dilakukan terhadap keluarga. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe MB kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Sebagian besar menganggap penyakit kusta adalah penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat.wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum masyarakat. disebabkan oleh kuman kusta. bisa menular ke orang lain . dapat merubah bentuk fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. . seorang Informan tidak mengetahui bahwa temannya dirawat karena menderita penyakit kusta sehingga wawancara terhadap teman responden tidak penulis lanjutkan. keluarga dan teman penderita kusta tidak memberikan suatu tindakan yang mengarah ke stigmatisasi terhadap responden. kurang menjaga kebersihan adalah orang yang bisa tertular penyakit ini. Semua Informan mengatakan penyakit kusta tidak menyebabkan kematian hanya bisa mengakibatkan kecacatan. bisa menimpa semua orang dan orang yang kondisi kesehatannya menurun. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut sebagai Informan. dan tiga dari lima Informan mengatakan kontak langsung yang lama adalah cara penularan penyakit kusta selain melalui udara. dengan menggunakan wawancara mendalam di peroleh hasil sebagian besar Informan mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak langsung yang erat dan lama dengan penderita (1) . Suami responden mengetahui jika istrinya menderita penyakit kusta dari keluarganya yang juga menderita penyakit ini dan Informan lain mengetahui dari petugas RSUD Tugurejo Semarang. Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun.

Semua Informan setelah mengetahui berpendapat. berjenis kelamin laki-laki sebanyak lima orang dan enam orang berasal dari luar Semarang. kawatir walau tetap membantu dalam berobat. Responden (penderita kusta) dalam penelitian ini berjumlah 8 orang dengan rentang usia 14 – 51 tahun. harus berobat supaya sembuh dan sikapnya saat itu sangat kecewa. semua Informan mengatakan bahwa lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta sehingga lingkungan tidak melakukan tindakan apapun terhadap penderita. Dilihat dari latar belakang tingkat pendidikan responden. Lima orang responden tidak . Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Mengenai pendapat orang-orang dilingkungan penderita. mulai dari tidak bersekolah sampai dengan lulus Sekolah Menengah Atas. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.

Penderita kusta berpersepsi. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) b. sikap membatasi diri dalam pergaulan. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi/ mengatasi cap buruk/stigma. a. Penderita kusta berpersepsi bahwa. . tetangga dan teman-temannya menyangka penderita berpenyakit lain seperti penyakit diabetes. c.bekerja dan enam orang telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai 5 tahun lamanya. dapat menimpa semua orang. 2. penyakit syaraf atau penyakit alergi karena salah minum obat. 3) Mau berinteraksi dengan lingkungan. masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa penderita sedang mengalami sakit kusta. Penderita kusta berpersepsi. penderita beranggapan bahwa. d. 2) Melakukan perawatan diri dengan rajin. untuk berperilaku positip ditunjukkan dengan : 1) Berobat secara rutin. penderita kusta berpersepsi. Penderita kusta berpersepsi. penyakit kusta merupakan penyakit menular. berperilaku negatip yaitu : 1) Tidak mau berobat karena malu. 3. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. Penderita kusta berpersepsi bahwa. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius.

karena penderita kusta selain memerlukan pelayanan medis (obat) juga memerlukan pelayanan Fisioterapi untuk mencegah kecacatan. B.. kecacatan. Bagi Puskesmas. melatih otot-otot yang lemah dan untuk mempersiapkan operasi bagi penderita yang akan dilakukan operasi perbaikan kecacatannya.2) Mengucilkan/mengisolasikan diri. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan bersama. sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan berbagai pelayanan kesehatan diantaranya promosi kesehatan. Bagi RSUD. pemberantasan penyakit. Terapi Kerja (Occupational Therapi). rumah sakit dengan unggulan penyakit kusta. keperluan alat bantu (Orthotic Prosthetic) dan yang paling penting adalah pelayanan Psykologi untuk men support mental penderita. penyehatan lingkungan dan berbagai program kesehatan masyarakat lainnya untuk dapat mendeteksi secara dini masyarakat yang . 3) Putus asa. untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan 2. sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan penyakit kusta di Jawa Tengah agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta.Tugurejo Semarang. Saran 1.

2. dan yang lebih penting persepsi terhadap stigma penyakit kusta harus dihilangkan karena penyakit kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. 2005 3. 3. 2005. Cetakan XVII. . Number 2. Depertemen Kesehatan RI. agar memeriksakan sedini mungkin dan berobat secara teratur serta melakukan perawatan diri untuk mencegah kecacatan. Leprosy Review. Leprosy Review. England. serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. Special Issue on Operational Research. Sikap dan kepedulian keluarga untuk dapat memotivasi penderita agar berobat secara teratur.terserang penyakit kusta. Number 4. December 2005. Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kehidupan seharihari. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. DAFTAR PUSTAKA 1. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga. Volume 76. Volume 76.

Pedoman Pelaksanaan Pembentukan Kelompok Perawatan Diri. Buckingham. Jakarta Depertemen Kesehatan. Seven edition. Mantra IB. edisi 2. Hudaniah. Pedoman Kusta Nasional untuk pelaksanaan pemberantasan kusta di daerah endemik Rendah. Peter Salim. Depertemen Kesehatan RI. Direktorat Kesehatan Jiwa Manajemen.4. Lawrence W. Saifuddin Azwar. Jakarta. Edisi 4. Edisi Revisi. 2000 14. 2005 12. 2001 9. 2000 16. Universitas Sriwijaya. Jane Ogen. Jacobalis. Beberapa Teknik dalam menejemen Mutu Rumah Sakit. Sosiologi Kesehatan Beberapa konsep beserta Aplikasinya. Baderal Munir. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Psikology Sosial. Open University Press. Laporan Kunjungan Rawat Jalan Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 6. 2005 10. Yogyakarta. Tri Dayakisni. 2006 17. Jakarta. Perilaku Konsumen dan komunikasi Pemasaran. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Yogyakarta. 1997 19. The Contemporary English – Indonesia Dictionary. modern English Press. 2000 20. 2001 8. Promosi kesehatan Teori dan Aplikasi. Srategi Penyuluhan Kesehatan. Depertemen Kesehatan RI. Health Promotion Planning. Universitas Gajah Mada. 1996 . Jakarta. Dinamika Kelompok Penerapannya dalam laboratorium Ilmu Perilaku. 2003 13. Soekidjo Notoatmojo. Depertemen Kesehatan RI. Philadelphia. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. London. 2004 18. Bandung. Sulisna. Rineka Cipta. Data penderita Kusta Provinsi JawaTengah. UMM-Press. Cetakan ke dua. tahun 2007 5. Sarwono S. Samsi. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Jakarta. Psykologi 11. Gajah Mada University Press. Green. Evaluasi Kunjungan Rawat Inap Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 7. Health Psychology. Jakarta. Mayfield Publishing Company. 1996 15.

Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 1993 dan Ilmu Perilaku 33. Utarini. Metode Kualitatif dalam Riset Kesehatan. 29. Yogyakarta. Andi Offset. 35. Slack Inc. 1975. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2002 24. Thorofare. Depertemen Kesehatan RI. 1995. Moleong. M. Attitude. 30. Surakarta. 2007 22. 1992. Burhan Bungin. 2001 26. Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Sebelas Maret University Press. bandung. Pustaka Jaya. Jakarta. 31. Ajzen. Jakarta. Fishbein. Pengantar Pendidikan Kesehatan. New Jersey. Johana E. 1997. The Health Belief Model and Personal Health Behavior. Terjemahan. 1991 32. Metode Penelitian Kualitatif. Balai Pustaka. Universitas Gajah Mada. I. Soekidjo Notoatmojo. Belief.21. Hand Out Program Pasca Sarjana. 27. PT Raja Grafindo Persada. Mery Debus. Edisi Kedua. Miles Matthew B. Menjadi Peneliti Kualitatif. Modul Pelatihan Program P2 Kusta bagi Unit Pelayanan Kesehatan. penerjemah Muhammad shodiq dan Imam Muttaqim. Bandung. Metodologi Penelitian Kualitatif. Pustaka Setia. 34. Remaja Rosdakarya. Aditya Media. Anselm Strauss dan Juliet Corbin. Hari Kusnanto. 23. L. Intention and Behavior an Introduction to Theory and Research. Sutopo. 2005. Yogyakarta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Prawitasari. A. 28. Becker MH.J. 25. Modul mata kuliah. Penerbit Universitas Indonesia. Metode Penelitian Kesehatan. 2007 . Sudarwan Danim. 2002. Charles B. Yogyakarta. yogyakarta. Pascasarjana IKM-MPPK UGM. Yogyakarta. Metode Penelitian Kualitatif. AED Healthcom. Buku Panduan Diskusi Kelompok Terarah. Philippines : Addison Wesley Publishing. Basics Of Qualitative Research. HB. 2004.

powered by joomla-@copyright(c)2005 open source MaltersG Aenll errigahtetsd:27s Nerovveedmber. 38. RSUD Tugurejo.2007.suryo. Badan Litbang Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Volume 73. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mem-PD-kan para mantan penderita Testimonials.org/cgi/content/full/cyll58v1 39.komunikasi. Leprosy Review. 2005 37.oxfordjournals. 17 Pebruari.id/web. Balai Pustaka. edisi kedua. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. Special issue on interation.22 23 40. Number 2. 42. 2001 41. England 2002. Intruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik khusus. 2007 kusta. Kamus Besar Bahasa Indonesia . 1991 43. Number 1. Leprosy Review. motivasi. 2008 . Penelitian Pengembangan Model Penanggulangan Penyakit Kusta di daerah Endemis dengan Pendekatan Sosial Budaya. http://www. Volume 76. http://her.co.Leadership. Workshop EDAN. Rachmalina.36. England.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful