FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ( Studi Kualitatif

)

TESIS

Untuk memenuhi persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Magister Promosi Kesehatan

Soedarjatmi E4C006118

PROGRAM STUDI MAGISTER PROMOSI KESEHATAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008
TESIS

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA
Disusun oleh SOEDARJATMI E4C006118 Telah dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 04 Desember 2008 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Menyetujui Dewan Penguji

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. VG. Tinuk Istiarti, Mkes Widagdo,SKM,MHPEd. NIP. 131 764 483

DR.Laksmono NIP. 130 422 787

Penguji I

Penguji II

dr. Harbandinah P, SKM NIP. 130 354 865

Priyadi Nugraha, SKM, M.Kes NIP. 132 046 693

Mengetahui Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Drg. Zahroh Shaluhiyah, MPH, PhD NIP. 131 627 954

PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Soedarjatmi Nim : E4C006118

Menyatakan bahwa tesis judul: ” FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA ” merupakan : 1. Hasil karya yang dipersiapkan dan disusun sendiri 2. Belum pernah disampaikan untuk mendapatkan gelar pada program Magister atau program lainnya. Oleh karena itu pertanggung jawaban tesis ini sepenuhnya berada pada diri saya. Demikian Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Semarang, 18 Desember 2008 Penyusun

Soedarjatmi NIM : E4C006118

Tahun 1986 sampai dengan tahun 1993 bekerja dibagian Fisioterapi RS. Tahun 2006 masuk Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang Lulus tahun 2008 Riwayat pekerjaan penulis: 1.RIWAYAT HIDUP Riwayat pendidikan penulis: 1. Tahun 1986 Lulus AkademiFisioterapi di Surakarta 5. Tahun 1976 Lulus SD Negeri 07 di Surakarta 2. 2. . Tahun 2004 Lulus Sarjana Kesehatan Masyarakat Undip di Semarang 6. Tahun 1980 Lulus SMP Negeri 02 di Surakarta 3. Tahun 1983 Lulus SMA Negeri 04 di Surakarta 4. Bethesda Yogyakarta. Tahun 1993 sampai dengan sekarang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di RSUD Tugurejo Semarang.

Ibu drg. bantuan dan masukan untuk kebaikan tesis ini 5. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Magister Pascasarjana Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang. dorongan dan semangat sehingga selesainya tesis ini. Terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. Laksmono Widagdo. MKes. SKM. Bapak DR.KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan atas karunia yang dilimpahkan kepada penulis. Zahroh Shaluhiyah. atas kesediaan dan keikhlasannya serta penuh pengertian telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan hingga selesainya tesis ini 4. 3. selaku Ketua Program Studi Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2. nasehat dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal kebaikan dan mendapat ganti yang lebih baik dari Allah SWT. MHPEd. untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya. VG. Bapak Priyadi Nugraha. bimbingan. Tinuk Istiarti. sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyususnan tesis ini. Ibu Dra. Harbandinah P. semoga segala bantuan. Ibu dr. selaku pembimbing kedua.PhD. bimbingan. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat. MKes. yang telah banyak memberi masukan-masukan. Keberhasilan penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. SKM. selaku penguji yang telah memberikan berbagai pendapat dan masukan untuk kebaikan tesis ini . nasehat. MPH. selaku pembimbing utama. SKM.

6. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi baiknya tesis ini. Desember 2008 Penulis Soedarjatmi NIM. E4C006118 . Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti. 9. You and I. our love will never die. suami tercinta penulis. Joko Sugiarto. yang dengan ikhlas penuh pengertian dan selalu berdo’a menyemangati penulis dan membantu dalam mencari bahan di internet dan media lain hingga selesainya tesis ini. dan jauh dari sempurna. SpA. atas segala pengertian. Rekan-rekan penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu dan memberi semangat terus-menerus kepada penulis hingga selesainya tesis ini. orang tua penulis atas do’a. Bapak-Ibu Sayoko.SH. 7. Putra penulis. Bapak dr. Selaku Direktur RSUD Tugurejo Semarang yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian. 10. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih banyak kekurangan. Akhirnya semoga tesis ini bisa bermanfaat. Semarang. dukungan dan support bagi penulis. utamanya pada diri penulis dan bagi siapa saja yang membacanya. dorongan dan nasehatnya hingga terselesainya tesis ini.. Bapak Teleng Warganto. do’a yang tiada hentinya. 8.

dukungan. pengertian dan bantuan kalian. terima kasih untuk semua perhatian. kesetiaan dan kesabarannya. Semoga selesainya tesis ini menjadi penyemangat keberhasilan studi kalian . You and I our love will never die. pengertian. do’a. Untuk anak-anakku Fajar Pradipta dan Wikan Isthika Murti atas do’a .HALAMAN PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya ini untuk : Suami tercinta.

bila engkau telah selesai dari satu urusan.MOTTO Sesungguhnya. Karena itu. dimana ada kesulitan disitu ada kelapangan. kerjakanlah urusan lain dengan tekun ( QS : Al Insyirah : 5 dan 7 ) .

...................................................................................... B................. 4............................................. B................... Latar Belakang ....... F... HALAMAN PERNYATAAN ........ ABSTRAK........... Kecacatan akibat penyakit kusta ............................. DAFTAR LAMPIRAN ........................................ Perumusan Masalah ............................................... TINJAUAN PUSTAKA . Penyakit Kusta .....................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ................................. DAFTAR GAMBAR ..................................... Manfaat Penelitian ...... Definisi penyakit kusta ............... A......................................................................... Perilaku menurut Rosenstock (HBM)....... 1................................................................................................ Persepsi .................................... DAFTAR ISI ............................................................................................ Pertanyaan Penelitian ....................................................................................................................................... 2............................. BAB I PENDAHULUAN . Tanda-tanda tersangka kusta (suspek) ........ A.............................. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta ....................................................................... DAFTAR SINGKATAN ........................................................ Green ....... E.......................... Reaksi kusta ..................................................... 42 B........ MOTTO................................ C........................................... C.................................................... D.... Stigma .......... Keaslian Penelitian ..................................................... i ii iii iv v vii viii ix xi xii xiii xiv xv 1 1 4 5 5 6 7 11 11 11 11 15 16 17 18 22 23 24 27 29 32 35 35 37 41 BAB II BAB III METODE PENELITIAN ...... 42 A....................... 2......... 7................ 1.............................................................................................................................. Ruang Lingkup ..................................................................................................................................... 43 ................ Tujuan Penelitian ................ DAFTAR TABEL................................. Landasan Teori .. HALAMAN RIWAYAT HIDUP ....... 8.......................... HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................................................................................................. 6......................................... HALAMAN KATA PENGANTAR .......................................................... 3......................................... F................. Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang ................... Diagnosa sakit kusta ...................................... Kerangka Konsep ........................... D.................... Klasifikasi ....................... Kerangka teori ........................... Faktor-faktor yang menentukanterjadinya sakit kusta .................................................................................................................. HALAMAN PENGESAHAN .................................................. F......................................................................................................................... Pengobatan ............. E.............................W................................................... 5............................................................ Perilaku menurut L................................

.......... 43 45 46 48 49 51 52 HASIL PENELITIAN ..... Validitas dan Reabilitas Data .............................................................. 78 7........................................ H. I... Sumber Data......... Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta .................. 95 A..... E............................................................................... 55 2........................................ 55 4.............................. 86 1....... Pembahasan ......... 54 A....... 89 d................................... Keterbatasan Penelitian............ 92 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ................................................ 89 e.......................................... F.......... Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ................... Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit ...................................... Umur dan jenis kelamin responden ........................................................... 56 C...... 56 1....... 91 g........ Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit......................................... Karakteristik Responden ........................................... Gambaran Umum penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang . 55 1......................... Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi responden 87 a.......... 55 3...C........................... Berdasarkan status nikah ........................ 88 c............................................................. 76 6... Kesimpulan .................... Persepsi terhadap risiko berperilaku negatip ................ 96 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB V ........................... Pekerjaan responden ............... 56 2................ 65 4..... Populasi dan Sampel Penelitian ........................ faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Instrumen yang Digunakan ............................... Faktor Ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta.................. 83 PEMBAHASAN................................. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ..................... 61 3............................ Pendidikan responden .................................... G..... Berdasarkan lama menderita penyakit kusta.................................................... 86 A....... Saran ............. 95 B........ Persepsi terhadap kegawatan penyakit .......................... Stigma penyakit kusta ......... 70 5............. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta .... Persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta ........ 86 2................ 54 B............................... Variabel penelitian dan Definisi Operasional .......................... 87 b.............................................................................................. Karakteristik responden ........................ 56 5. 90 f......................... BAB IV Jenis dan Rancangan Penelitian ...... D.............. Stigma penyakit kusta .................................................................. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip............................................................ Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip .. Persepsi terhadap manfaat berperilaku positip....

............. 7 17 19 20 21 ...... Beda reaksi berat dan ringan...........................................................................DAFTAR TABEL Nomor Tabel Judul Tabel Tabel 1...................3 Tabel 2.......2 Tabel 2....... Perbedaan reaksi berat dan ringan tipe I .......................1 Tabel 2..4 Halaman Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti ............................. Perdedaan reaksi tipe I dan II ..........................1 Tabel 2........ Klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO .........................

...... 37 Basics of Health Belief Model.................................1 Gambar 2. 34 Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok................................. 27 Alur Pelayanan Pasien Poliklinik Khusus penyakit kusta..........4 Gambar 2... 41 Kerangka konsep penelitian ..............3 Gambar 2.................................................. 24 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penderita .....................1 Judul Gambar Halaman Perseptual. 42 ......5 Gambar 2.............6 Gambar 3....................................................W Green dan teori HBM.2 Gambar 2..... 39 Kerangka Teori modifikasi teori L.........DAFTAR GAMBAR Nomor Gambar Gambar 2....

paman. tetangga dan teman penderita kusta.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Panduan wawancara mendalam dengan responden Panduan wawancara mendalam dengan suami. ayah. Hasil wawancara dengan Responden Hasil wawancara dengan Informan Foto-foto penelitian .

DAFTAR SINGKATAN RSUD MB PB WHO MDT DDS BTA ENL HBM PHBS : Rumah Sakit Umum Daerah : Multi Basiler : Pausi Basiler : World Health Organization : Multi Drug Therapy : Diamino Diphenyl Sulphone : Bakteri Tahan Asam : Eritema Nodusum Leprosum : Health Belief Model : Perilaku hidup Bersih dan Sehat .

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Penderita kusta berpersepsi. Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan kecacatan. melakukan perawatan diri dan melaksanakan PHBS. berperilaku negatip yaitu tidak mau berobat karena malu. Kata kunci : Persepsi. Penderita kusta berpersepsi bahwa.171 orang penderita kusta terdaftar. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. Bagi RSUD Tugurejo. Penelitian ini dilakukan dengan metode diskriptif kualitatif yang menggunakan rancangan studi kasus. Kurangnya pengetahuan penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatif yaitu stigma tentang penyakit kusta. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagian besar resonden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta. dapat menimpa semua orang. Penderita kusta berpersepsi bahwa. Semua responden berpersepsi bahwa masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta dan responden berpersepsi sikap membatasi diri. penyakit kusta merupakan penyakit menular. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Stigma. Hasil penelitian menunjukkan. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. melakukan perawatan diri dengan rajin dan mau berinteraksi dengan lingkungan. mengucilkan/mengisolasikan diri dan putus asa. Penderita kusta berpersepsi. agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik.Program Pasca Sarjana Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang 2008 Abstrak SOEDARJATMI (E4C006118) xvi + 97 halaman + 5 tabel + 7 gambar + 45 kotak (studi Kualitatif) FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI PERSEPSI PENDERITA KUSTA TERHADAP STIGMA PENYAKIT KUSTA Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan 4. berperilaku positip ditunjukkan dengan berobat secara rutin. Disarankan bagi Puskesmas untuk memberikan promosi kesehatan penyakit kusta yang mampu membentuk pengertian yang benar dan positip serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi stigma. Kusta Daftar Pustaka : 45 ( 1975 – 2007 ) . Responden dipilih secara porposif terdiri dari penderita kusta yang berobat ke RSUD Tugurejo sebanyak 8 orang. penderita yang sudah dalam keadaan cacat berjumlah 241.989 orang. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga agar berobat secara teratur. selanjutnya data di analisis dengan content analysis (diskripsi isi). penderita usia anak 163 dan penderita yang sedang diobati 1.

cover their deformity are the action to reduce stigma. The Leprosy patient have persception that leprosy desease is a dangerous and serious desease which is may caused death and physical defect along life. frequently self care and want to interact with their neighborhood. The need for leprosy patient and family evaluation and monitoring program in order to get medicinal treatment consecutively. The objective of research is to discribe the Leprosy patient background's factors concerning leprosy disease stigma . For the Tugurejo Hospital in order to optimize Medical Rehabilitation Service. conducting self treatment and carry on having clean dan healthy live behavior. The result of Research indicate that leprosy patient have perception that leprosy is contagion to everybody . The data collection were being done indepth-interview . out of those 241 leprosy patient had been physical defected condition. The leprosy patient have perception that negative behavior refer to not to get nursery because of ashame. Bibliography : 43 (1975 . The reasearch had been done in qualitative descriptive method which use the study case program. 163 child age patient .2007) . Keyword : Perception.Post-Graduate Programme Magister Of Health Promotion Diponegoro University of Semarang 2008 Abstracts SOEDARJATMI (E4006118) " THE LEPROSY PATIENT BACKGROUND'S FACTORS CONCERNING LEPROSY DISEASE STIGMA " xvi + 97 + 5 tables + 7 picture + 45 appendix In year 2006 detected 4. Suggestion: The "Puskesmas" to give leprosy disease health promotion which is enable to form the right understanding and positive as well as conducting routine medicinal treatment.self isolation and desperate. The leprosy patient have perception that postive behavior refer to routine check up . The need for the leprosy patient group existence by means of such activity program to improve the motivation and preventing physical defect effort. furthermore the data were being analysed with content analysis. All of the respondent have the same perception that the neighborhood and their friends did not know that the respondent having leprosy disease so they have perception introvert behavior. 1989 patient had being cured.particularly for those who not having clean dan healthy live behavior and much of the respondent did not know how the leprosy desease spreading. The lack knowledge of such a disease by leprosy patient bringing on negative perception arising out that is the leprosy disease stigma.The respondent were chosed propotion from the leprosy patient who were being in medical treatment at Tugurejo Hospital to the number of 8 patient.171 leprosy patient registered in Central of Java. Stigma and Leprosy.

Penularan terjadi dari seorang penderita yang tidak diobati ke orang lain melalui pernafasan atau kontak langsung yang lama dan terus menerus (1). terisolasi dari masyarakat. kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat. Penyakit kusta berkembang lambat dengan masa tunas rata-rata 2 – 5 tahun kadang bisa lebih. budaya. Kecacatannya juga memberikan gambaran yang menakutkan menyebabkan . Kecacatan yang berlanjut dan tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang tidak baik akan menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. keamanan dan ketahanan nasional (1) . Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita mulai dari perkawinan. masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang menahun disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) menyerang saraf tepi. ekonomi. Sedangkan secara psikologis bercak. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara –acara keagamaan serta acara di lingkungan masyarakat (2) Penyakit kusta juga menimbulkan masalah yang sangat kompleks. hubungan antar pribadi. psikologis. keluarga dan teman-temannya (7) .BAB I PENDAHULUAN A. Tanda utama penyakit ini adalah adanya bercak putih atau kemerahan yang mati rasa (anaestesi). pekerjaan.

068 penderita. makanan ataupun keturunan. Menurunkan stigma dan mengurangi diskriminasi mendorong perilaku masyarakat dalam menerima penderita kusta. dosa. Proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat. (1). guna-guna. Penderita kusta masih banyak di Indonesia jumlah penderita barupun masih banyak ditemukan. Diera modern ini muncul istilah “stigmatisasi” yang lebih mencerminkan “kelas” daripada fisik.171 (0.11. Jawa Barat 2. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan percaya diri penderita dan keluarga dalam kehidupan sehari –hari. Jumlah penduduk di Jawa Tengah 32.500 terdapat 4. Salah satu misi Depertemen Kesehatan dalam pemberantasan penyakit kusta adalah menghilangkan stigma sosial (ciri negatip yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya) dengan mengubah persepsi masyarakat terhadap penyakit kusta melalui pembelajaran secara intensif tentang penyakit kusta. .0013%) orang menderita kusta terdaftar masyarakat menjauhi karena merasa jijik dan takut hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan atau pengertian juga kepercayaan yang keliru terhadap penyakit kusta. Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta berasal dari golongan ekonomi lemah keadaan tersebut turut memperburuk keadaan (1).penderita kusta merasa rendah diri. Sebenarnya stigma ini timbul karena adanya suatu persepsi tentang penyakit kusta yang keliru.188 penderita dan Jawa Tengah 1. depresi dan menyendiri bahkan sering dikucilkan oleh keluarganya. Masyarakat masih banyak beranggapan bahwa kusta disebabkan oleh kutukan.788 penderita. dianggap menjijikan dan harus dijauhi. Tiga besar provinsi dengan penemuan penderita baru tertinggi tahun 2006 adalah Jawa Timur 5.

127 kunjungan. Jika diajak bicara mereka tidak menatap lawan bicaranya dan sebagian besar memakai baju lengan panjang. diantaranya mereka selalu mengambil tempat di belakang atau di sudut ruang saat menunggu giliran diperiksa.839 pasien. . sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. (6) Dari pengamatan awal yang telah dilakukan peneliti ditemukan beberapa perilaku penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo berbeda dengan penderita penyakit lainnya. Data kunjungan rawat jalan penderita kusta setiap tahun meningkat. (5) Tahun 2007 poli klinik khusus penderita kusta menemukan 192 kasus penderita baru. tahun 2006 berjumlah 3. Terletak di Semarang bagian barat. Sebagian besar mereka menundukkan kepalanya dan penderita laki-laki menggunakan topi.975 dan tahun 2007 sebanyak 4. Jumlah penderita rawat inap kkusus kusta tahun 2005 adalah 190 pasien. tahun 2005 adalah 3. Survey awal yang dilakukan peneliti pada bulan Oktober 2007 terhadap 10 orang penderita kusta memperoleh hasil bahwa masih ada persepsi negatif (stigma) penderita kusta terhadap penyakit kusta Atas dasar hal tersebut diatas maka perlu diteliti mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta.Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo Semarang merupakan Rumah Sakit kelas B milik Provinsi Jawa Tengah. tahun 2006 sebanyak145 penderita dan tahun 2007 terdapat 130 penderita yang harus dirawat. sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan Rumah Sakit Khusus penderita kusta.

persepsi yang demikian akan menambah beban penderita. maka perlu pembelajaran yang benar kepada masyarakat luas tentang kesalahan dalam memahami penyakit kusta. Berabad–abad lamanya berbagai mitos dan kepercayaan menciptakan proses stigma terhadap para penderita kusta.B. Kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya penderita kusta tentang penyakit ini menyebabkan timbulnya persepsi negatip yaitu stigma tentang penyakit kusta . pada saat itu beberapa negara mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan sterilisasi orang yang terkena penyakit kusta. Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemukan penderita baru sebanyak 1. Mereka tidak akan berobat karena harus pergi kesarana kesehatan yang dengan sendirinya harus keluar rumah. Perumusan masalah Penderita kusta semakin hari semakin bertambah. mereka dikucilkan dan dikarantina. Hal ini merupakan masalah besar bagi diri sendiri karena rentan terjadi kecacatan dan bagi lingkungannya karena penderita ini merupakan sumber penularan. kerabat dan petugas kesehatan. Berkaitan dengan fenomena stigma yang ternyata memang masih ada di masyarakat luas. bahkan tahun 2007 rata-rata kunjungan pasien baru (penderita baru yang belum pernah minum obat) berjumlah 16 orang per bulan. bertemu dengan tetangga. Sebaliknya jika penderita mempunyai persepsi positip yaitu . penderita takut penyakitnya diketahui orang lain. data di poli klinik khusus penderita kusta RSUD Tugurejo Semarang sejak tahun 2005 bukannya menurun tetapi dari tahun ketahun menunjukan meningkatan jumlah kunjungan.788 orang. Mereka menganggap benar tentang persepsi tersebut sehingga mereka akan mengisolasikan diri dari lingkungannya.

Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip.percaya bahwa penyakit ini disebabkan oleh kuman dan bisa disembuhkan maka hal ini dapat membantu penderita untuk lebih percaya diri dan mempunyai motivasi juga dorongan untuk berobat agar cepat sembuh dan tidak terjadi kecacatan. Dari uraian tersebut diatas maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini dapat sebagai berikut : “Faktor – faktor apa saja yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta ?” C. e. Mendiskripsikan karasteristik responden. c. Tujuan 1. 2. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. f. b. Ruang Lingkup Penelitian . d. D. Tujuan Umum Mendiskripsikan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Tujuan Khusus a. Mendiskripsikan stigma tentang penyakit kusta menurut persepsi responden. Mendiskripsikan persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip.

Bagi Puskesmas dapat dijadikan masukan dalam pemberian penyuluhan dan melakukan pendekatan terhadap penderita kusta dalam rangka menurunkan angka kesakitan kusta. 2.1. Lingkup Masalah Masalah dibatasi pada Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. . Manfaat Penelitian 1. 4. Bagi unit Pelayanan Kesehatan RSUD Tugurejo. Lingkup Keilmuan Penelitian ini termasuk dalam ilmu kesehatan masyarakat bidang promosi kesehatan khususnya kajian materi perilaku. dapat dipergunakan sebagai bahan informasi dan support yang dapat disampaikan kepada penderita saat berobat agar penderita tidak mempunyai persepsi yaitu stigma penyakit kusta sehingga tidak menghambat salah proses pengobatan yang sedang dijalani. 3. Lingkup Lokasi dan waktu Penelitian dilaksanakan di kota Semarang yaitu di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Juni 2008. 2. E. Lingkup Metode Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode kualitatif 5. Lingkup Sasaran Sasaran penelitian adalah penderita kusta.

Bagi Program Promosi Kesehatan Merupakan sumbangan bagi khasanah pustaka di program pendidikan Promosi Kesehatan. F. kelamin. penelitian ini sebagai pengalaman langsung dalam melakukan penelitian terutama dengan metode kualitatif dan penulisan hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah. Bagi Peneliti. 4. .1 Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti. penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta di Kota Semarang secara kualitatif belum pernah dilakukan oleh peneliti lain.Faktor-faktor risiko yang Penderita Kusta Umur. tingkat jenis Ada hubungan antara beberapa berhubungan dengan pendidikan.3.1 dibawah ini. Judul dan nama Peneliti Metode dan Jenis penelitian Analitik kuantitatif dengan rancangan Sasaran Variabel yang diteliti Hasil 1. Penelitian tentang penyakit kusta yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana peneliti selengkapnya dapat ditampilkan dalam tabel 1. khususnya untuk mata kuliah perilaku kesehatan. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penyakit kusta telah banyak dilakukan tetapi sepanjang pengetahuan peneliti. Tabel 1.

loka si lesi. pendapatan dengan praktik deteksi dini pada anak SD di Kabupaten Blora pendapatan. status kepegawaian. kusta aspek pengobatan terhadap kecacatan pada penderita di dan keteraturaan berobat. sikap. motivasi keluarga.Faktor-faktor yang berhubungan dengan guru UKS perilaku dalam Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Guru UKS Umur. masa upaya deteksi dini penderita kusta kerja. aspek klinis Joko Kurnianto. 2002 kusta. tipe reaksi karasteristik individu.pencegah an cacat dan kusta perawatan diri Kabupaten Tegal 2. 2005 peranan guru penderita UKS praktik deteksi penderita kusta anak dan kusta peranan dini petugas kesehatan dan pada dengan di praktik . oleh Warijan. pengetahuan. penyakit kusta.kecacatan kusta kabupaten Tegal oleh di penelitian Case Control status sosial faktor risiko ekonomi. jenis Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan. Jenis pekerjaan. kelamin.

praktik pengetahuan penemuan penderita baru. 2007 di Kabupaten penderita Blora baru kusta di Kabupaten Blora 4. kelamin.Faktor-fartor yang berhubungan dengan pengawas dalam praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional Wasor Kusta Umur. jenis Hubungan pendidikan ber pengaruh terhadap pendidikan.Kabupaten Blora. pelatihan. penemuan baru penderita sikap. deteksi kusta dini di Kabupaten Blora. Beberapa faktor yang berhubungan dengan penderita praktek kusta Analitik kuantitatif dengan rancangan Penderita kusta Umur. peranan Wasor dan wasor dan dengan praktik kusta penemuan peranan kusta kusta di Kabupaten Blora oleh Agus Prasetyo. kelamin. 3. pengetahuan. pendapatan . jenis Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan.

pekerjaan. 2008 . pengetahuan. 2005 dalam jenis kelamin. pengobatan di pengetahuan. Nugraheni. jenis Mengetahui dan menguraikan faktor-faktor pendidikan. dukungan praktik pencarian pengobatan kusta di pengobatan puskesmas Kunduran Kabupaten oleh Blora Dian keluarga dan Puskesmas praktik penderita kusta mencari Kunduran.dalam pencarian di penelitian Cross Sectional keluarga. 5. sikap. Rencana Penelitian. Judul : Faktor- Deskriptif kualitatif dengan indepth interview Penderita kusta Umur. apa saja yang faktor internal. puskesmas Kunduran dukungan keluarga dan sikap secara bermakna tidak berhubungan dengan praktek penderita dalam mencari pengobatan. lama faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap kusta stigma sakit. persepsi belakangi persepsi penderita penyakit kusta oleh Soedarjatmi. melatar faktor ekternal. pendapatan. Faktor umur. kelamin.

penderita tentang: kemudahan kemungkinan terkena penyakit. dan kusta sehingga penderita merasa terstigma karena penyakitnya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . kegawatan penyakit. manfaat berperilaku positif. persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif stigma penderita kusta.

2. C.A.5 mic.2 – 0. kuman kusta ini berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 8 mic. Penyakit Kusta 1.Pada bab ini penulis menguraikan tentang : A. Mengenai persepsi. Landasan Teori yaitu 1. Definisi Penyakit Kusta Penyakit Kusta juga dikenal sebagai lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium lepra) yang terutama menyerang saraf tepi dan organ tubuh kecuali susunan saraf pusat. hidup dalam sel dan bersifat tahan asam. D. Mycobacterium leprae untuk pertama kali ditemukan oleh G. Hansen dalam tahun 1873. 2. Penyakit kusta. biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu – satu. lebar 0. Green. Kerangka teori. Perilaku menurut L. Simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar Thymus. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. Waktu pembelahan sangat lama yaitu 2 – 3 minggu. b. Cara keluar dari Penjamu (Host) . Perilaku menurut Rosenstock (HBM) dan F. Tentang stigma. A. B. Faktor – faktor yang menentukan terjadinya sakit kusta a.W. Sumber penularan Sampai saat ini hanya manusia yang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman kusta dapat hidup pada Armandillo. c. Penyebab. E. Diluar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dapat bertahan sampai 9 hari.

d. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti.Lepra yang solid (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. 3 orang sembuh sendiri tanpa diobati dan 2 orang menjadi sakit. 3) faktor daya tahan tubuh. Kusta mempunyai masa inkubasi 2 – 5 tahun. 2) Faktor kuman kusta. .Kulit dan mukosa hidung telah lama diketahui sebagai sumber dari kuman. secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. Cara Penularan Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi Basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1 – 9 hari tergantung pada suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan. Penderita inipun tidak akan menularkan apabila berobat teratur. Dari hasil penelitian menunjukan gambaran sebagai berikut : Dari 100 orang yang terpapar 95 orang tidak menjadi sakit. hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. Telah terbukti bahwa saluran nafas bagian atas dari penderita lepramatous (tipe MB. yang jumlah bakterinya banyak) merupakan sumber kuman yang terpenting di dalam lingkungan. akan tetapi dapat juga bertahun–tahun. penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. Penularan terjadi apabila M. adalah penderita MB saja. semua itu tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1) faktor sumber penularan.

2). diperkirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernafasan bagian atas.Bila orang tersebut memilki kekebalan rendah terhadap kuman kusta mungkin akan menderita penyakit kusta yang dapat sembuh sendiri. . Dari sebagian kecil ini 70% dapat sembuh dan hanya 30% yang dapat menjadi sakit. Sistim kekebalan yang efektif melawan kuman kusta adalah sistim kekebalan seluler. f. Dilain pihak manusia sebagian besar kebal (95%) terhadap kusta hanya sebagian kecil yang dapat ditulari (5%).e. Bila orang tersebut tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta merupakan kelompok terkecil dan mudah menderita kusta yang stabil dan progresif. Bila orang tersebut mempunyai kekebalan tubuh yang tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten / kebal terhadap kuman kusta. 3). Cara masuk ke dalam tubuh Tempat masuk kuman kusta kedalam tubuh sampai saat ini belum dapat dipastikan. hal ini disebabkan karena adanya immunitas seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Tidak pada semua penderita terdapat banyak Mycobacterium leprae yang hidup sehingga hanya kira-kira 5 – 15 % dari penderita kusta yang dapat menularkan penyakit. Tuan rumah Hanya sedikit orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah kontak dengan penderita.

Cara pemutusan mata rantai penularan Penentuan kebijaksanaan dan metoda pemberantasan penyakit kusta sangat ditentukan oleh pengetahuan epidemiologi kusta dan perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan. Pengobatan MDT pada penderita kusta 2). Upaya pemutusan mata rantai penularan dapat dilakukan melalui : 1). 2). kondisi perumahan. Vaksinasi BCG pada kontak serumah dengan penderita kusta. Kondisi sosial ekonomi diperkirakan memainkan peranan penting dalam upaya pemberantasan kusta. Perbaikan kondisi sosial ekonomi menghasilkan penurunan insidens kusta meskipun faktor-faktor yang mendukung penurunan ini tidak diketahui. bila menderita kusta biasanya tipe MB g. jumlah jiwa dalam satu rumah tangga dan jumlah anggota keluarga diperkirakan merupakan faktor penting . 3). Isolasi terhadap penderita kusta namun hal ini tidak dianjurkan karena penderita yang sudah berobat tidak akan menularkan penyakit ke orang lain. 3). Penjamu yang mempunyai kekebalan tubuh tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan menjadi resisten terhadap kuman kusta. Penjamu yang tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta yang memrupakan kelompok terkecil.Seseorang dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini yaitu : 1). Penjamu mempunyai kekebalan rendah terhadap kuman kusta bila menderita kusta biasanya tipe PB.

Bahan pemeriksaan BTA diambil dari kerokan kulit (skin smear) asal cuping telinga (rutin) dan bagian aktif suatu lesi kulit. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). pembengkaan (edema) dan lain-lain. Gangguan fungsi otonom : kulit kering. b. Gangguan saraf ini bisa berupa : 1). Untuk tujuan tertentu kadang jaringan diambil dari bagian tubuh tertentu (biopsi). Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf.3. Gangguan fungsi sensoris : mati rasa. Basil tahan asam (BTA) positif. . 2). c. Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise). Mati rasa dapat bersifat kurang rasa (hipertesi) atau tidak merasa sama sekali (anaestesi). 3). Diagnosa Kusta Diagnosa penyakit kusta hanya dapat didasarkan pada penemuan tanda utama (Cardinal sign) yaitu : a. retak. Peradangan pada penderita kusta (neuritis) dapat dirasakan berupa rasa nyeri namun kadang-kadang penderita tidak merasakan adanya nyeri (silent neuritis). Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritematous).

Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau multidrug therapy (MDT) yaitu menggunakan gabungan Refampicin. Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut 5).Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda utama diatas. Kulit mengkilap 3). lamprene . 5. Lepuh tidak nyeri b. 2). 3). Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih atau benjolan 2). Apabila hanya ditemukan cardinal sign ke-2 dan petugas ragu orang tersebut dianggap sebagai kasus yang dicurigai (suspek) 4. Tanda-tanda pada kulit 1). Tanda-tanda tersangka kusta (Suspek) a. Adanya cacat (deformitas) 4). Bercak yang tidak gatal 4). Klasifikasi Klasifikasi penyakit kusta bertujuan untuk menentukan regimen pengobatan dan perencanaan operasional. Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka. Rasa kesemutan tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. Luka yang tidak sakit Tanda-tanda tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar diagnosa penyakit kusta. Tanda-tanda pada saraf : 1).

Manifestasi klinik yaitu jumlah lesi kulit. Tanda Utama Bercak yang mati rasa / kurang rasa di kulit. b.dan diamino diphenyl sulphone (DDS) maka penyakit kusta di Indonesia diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu : a. Hasil pemeriksaan bakteriologis yaitu skin smear basil tahan asam (BTA) positif atau negatif. Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan bila diagnosa meragukan. Pedoman utama untuk menentukan klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO adalah sebagai berikut : Tabel 2. Sediaan apusan BTA negatif BTA positif Hanya satu saraf Lebih dari satu saraf PB Jumlah 1 s/d 5 MB Jumlah > 5 . Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi (gangguan fungsi bisa berupa kurang/mati rasa atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh yang bersangkutan. Tipe Multi Basiler (MB) Penyakit kusta dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu : a. Tipe Pausi Basiler (PB) b.1 klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO. jumlah saraf yang terganggu dan sebagainya.

Sumber : Depertemen Kesehatan RI. hal ini terjadi karena meningkatnya respon kekebalan seluler secara cepat terhadap kuman kusta dikulit dan saraf penderita dan disi akan terjadi pergeseran tipe kustanya kearah PB. Jakarta 2005 6. neuritis (nyeri pada saraf). Jenis Reaksi Jenis reaksi sesuai proses terjadinya dibedakan menjadi 2 yaitu : 1) Reaksi tipe I ( Reaksi Reversal. Reaksi Up grading ) Terjadi pada penderita tipe PB maupun MB dan kebanyakan terjadi pada 6 bulan pertama pengobatan. b. . Drop foot dan lain-lain). a) Gejala reaksi dapat dilihat pada perubahan kulit. kasus yang sering terjadi penderita mengalami reaksi pada 6 bulan sampai satu tahun sesudah pengobatan dan berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Pengertian Reaksi kusta atau reaksilepra adalah suatu episode perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu kekebalan (seluler respon) atau reaksi anatigen-antibodi (respon) dengan akibat merugikan penderita terutama padasyaraf tepi yang menyebabkan gangguan fungsi (cacat) . Reaksi kusta a. gangguan fungsi saraf tepi dan kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita. Reaksi ini bisa terjadi saat penderita mendapat pengobatan atau sesudah mendapat pengobatan. bila reaksi ini tidak di tangani dengan cepat dan tepat maka kecacatan permanen bisa terjadi (misal Claw hand.

Sumber : Depertemen Kesehatan RI. Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Saraf tepi Tidak ada nyeri tekan saraf dan Nyeri tekan dan / atau gangguan fungsi gangguan misalnya otot. Lesi panas dan nyeri tekan. Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. yang menebal dapat sampai merah teraba panas dan membentuk plaque nyeri. menebal. merah. tangan dan kaki membengkak. Makula sampai ada yang pecah. pada sendi terasa sakit dan ada kelainan kulit baru. Lesi Kulit Reaksi Ringan Reaksi Berat membengkak Tambah aktif.2 Beda reaksi berat dan ringan pada reaksi tipe I Gejala 1. Jakarta 2005 fungsi kelemahan 2) Reaksi Tipe II (Reaksi ENL = Eritema Nodusum Leprosum) Terjadi pada penderita tipeMB dan merupakan reaksi humoral. dimana kuman kusta yang utuh maupun tidak utuh menjadi antigen. . 2.b) Menurut keadaan reaksi maka reaksi tipe I ini dapat dibedakan yaitu reaksiringan dan reaksi berat c) Perjalanan reaksi berlangsung selama 6 – 12 minggu atau lebih Tabel 2.

Menurut keadaan reaksi. gangguan Ada fungsi nyeri tekan. Gejala Gejala dapat dilihat pada perubahan lesi. b. maka reaksi dapat dibedakan reaksi ringan dan reaksi berat. Perjalanan reaksi Biasanya berlangsung selama 3 minggu atau lebih. Reaksi Berat jumlah Nodulnyeri tekan. gangguan konstitusi dan komplikasi pada organ tubuh.3 Perbedaan reaksi Berat dan Ringan Tipe I Gejala 1. banyak. c. Kadang-kadang timbul berulang-ulang dan berlangsung lama. gangguan fungsi 4. Syaraf tepi Tidak ada demam atau ringan saja Demam ringan sampai berat Tidak ada nyeri tekan. ada pecah jumlah berlangsung sedikit biasanya hilang sendiri dalam yang 2-3 hari sampai (ulseratif). neuritis (nyeri tekan) dan gangguan fungsi saraf tepi. Tabel 2. Organ Tubuh Tidak ada gangguan organ-organ Terjadi peradangan pada tubuh mata : liridocyslitis Testis: Epididimoorchitis Ginjal : Nephritis Kelenjar Limfadenitis Gangguan pada tulang Limfe : . Lesi Kulit Nodul Reaksi Ringan yang nyeri tekan. 2. lama.Tubuh membentuk antibodi dan komplemen (Antigen + antibodi + komplemen = immunokompleks) a. Keadaan Umum 3.

hidung dan tenggororan. Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

Tabel 2.4 Perbedaan reaksi Tipe I dan Tipe II No 1 Gejala / tanda Keadaan Umum Reaksi Tipe I Reaksi Tipe II sampai berat

Umumnya baik, demam Ringan ringan (sub febril) atau disertai tanpa demam umum tinggi

kelemahan dan demam

2

Peradangan di kulit

Bercak

kulit

lama Timbul

nodul

menjadi lebih meradang kemerahan, lunak dan (merah), dapat timbul nyeri tekan. Biasanya pada tungkai. lengan Nodul dan dapat

bercak baru

pecah (ulcerasi) 3 Saraf Sering terjadi umumnya Dapat terjadi berupa nyeri tekan saraf dan / atau gangguan fungsi saraf

4

Peradangan organ

pada Hampir tidak ada

Terjadi mata,kelenjar bening, testis, dll sendi,

pada getah ginjal,

5

Waktu timbulnya

Biasanya segera setelah Biasanya pengobatan mendapatkan

setelah

pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan 6 Tipe Kusta Dapatterjadi pada kusta Hanya pada kusta tipe tipe PB maupun MB 7 Faktor pencetus MB

Emosi, kelemahan, stess fisik lain, kehamilan, pasca persalinan,obat-obat yang meningkatkan kekebalan tubuh penyakit infeksi lainnya

Sumber : Depertemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Buku pedoman nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta 2005

7. Pengobatan Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan/kutukan. Pada tipe MB lama pengobatan :12-18 bulan dan tipe PB lama pengobatan : 6 9 bulan Pengobatan penderita kusta menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment ( MDT ) jenis obatnya adalah Rifampicin, Dapson,

Lamprene tergantung dari tipe penyakitnya. Untuk tipe PB terdiri dari 2 macam obat 2 kapsul Rifampicin 300 mg dan 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya 1 tablet DDS 100 mg selama satu bulan, untuk tipe MB menggunakan 2 kapsul Rifampicin 300 mg, 3 kapsul Lamperen 100 mg, 1 tablet DDS 100 mg untuk hari pertama, hari kedua dan seterusnya minum DDS dan Lampren 50 mg masing-masing satu selama satu bulan.

8. Kecacatan akibat penyakit kusta a. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kecacatan antara lain 1). Faktor yang berhubungan dengan penderita (umur, jenis kelaimin) 2). Faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit ) 3). Kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat mikobakterium leprae, makin mudah serabut syaraf menderita trauma makin mudah rusak oleh mikobakterium leprae) 4). Pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama akan menimbulkan kecacatan pada penderita kusta. 5). Faktor pekerjaan : yang sering mengalami kecacatan adalah penderita kusta yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat. b. Pembagian Kecacatan Dilihat dari asal terjadinya kecacatan : 1). Kecacatan Primer Yaitu kecacatan langsung disebabkan oleh aktifitas penyakitnya sendiri, cacat ini terbentuk selama fase aktif dari penyakitnya. Kecacatan primer ini karakteristik untuk penyakit kusta dan perkembangannya bisa diramalkan, biasa terjadi pada : a). Wajah ( cuping telinga yang memanjang, hilangnya rambut alis, cacat hidung/ hidung pelana, wajah keriput, lemah pada syaraf wajah/paralise fasialis )

Cacat ini terbentuk akibat salah dalam aktifitas / ”misuse” atau tidak pernah digunakan “disuse” sebagai akibat adanya hilangnya perasaan kulit / insensibilitas. Sedangkan persepsi adalah proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi. Kaki (luka akibat tumpuan berat badan. kithing jari-jari kaki/ “ clow toes” dan semper / “ drop foot” ) 2). “tarsal collaps”. B. Tangan (luka pada ujung jari dan ruas jari hal ini disebabkan oleh cara memegang yang berlebihan karena tidak terasa. diorganisasi dan di interpretasikan.telinga. biasa terjadi pada : a). Persepsi Persepsi setiap orang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda oleh karena itu persepsi mempunyai sifat subyektif. kaku/kontraktur).hidung. warna dan suara. pemendekan jari tangan.mulut dan jari) terhadap stimuli dasar seperti cahaya. Tejadinya cacat karena adanya trauma dan infeksi sekunder.(8) . Kecacatan Sekunder Yaitu kecacatan yang tidak langsung disebabkan oleh penyakitnya sendiri tetapi disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan paralysis motoris / kelumpuhan .b). kaku / kontraktur) b).”osteolisis dan absorbsi” tulang kaki. Anggota gerak ( kithing pada tangan / “clow hand “ dan “claw thumb”. Solomon mendefinisikan bahwa sensasi sebagai tanggapan yang cepat dari indera penerima kita (mata.

Salah satu aspek penting yang berperan dalam diri seseorang ketika ia mempersepsikan sesuatu adalah pengetahuan yang dimiliki sebelumnya tentang apa yang sedang dipersepsikan.1 Perceptual (Michael R. Perilaku Konsumen dan Komunikasi pemasaran. Bandung 2001 Persepsi dalam kamus psikologi adalah proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera (11) . Robbins (2006) persepsi didefinisikan sebagai proses yang digunakan individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan inderawi mereka untuk memberi makna kepada lingkungan mereka dan menurut Kimble (1984) merupakan proses interpretasi terhadap informasi yang ditangkap oleh panca indra.STIMULI Penglihatan Suara Bau Rasa Tekstur Sensasi Pemberian arti Persepsi Indra Penerima Perhatian Interpretasi Tanggapan Gambar 2. Solomon. 1996) Sumber : Sulisna. Dikemukakannya pula bahwa persepsi merupakan suatu proses aktif dimana orang yang mempersepsikan sering melebihi informasi yang baru didapatkannya untuk membentuk suatu kesan dari ciri-ciri personal yang tak terlihat dan . sesuatu yang bersifat mengembangkan kreatifitas dan membantu memberikan makna bagi pengalaman panca indera tersebut.

kelas dan tipe orang yang terlibat. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penafsiran stimulus atau rangsangan seseorang sehingga individu akan memberikan interpretasi dari obyek tertentu. Proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri) . Persepsi merupakan salah satu mata rantai perubahan sikap. Kondisi dan tuntutan biologis/fisiologi 3. sebagai produk dari persepsi ini merupakan kombinasi dari apa yang ada senyatanya dengan apa yang diharapkan dari orang yang dihadapinya. pengetahuan dan pendidikan serta keadaan sosial budaya setempat.kekuatan lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia karena orang yang mempersepsi tidak berada didalam lingkungan sosial yang kosong. kepribadian dan budaya yang dimiliki seseorang. Kesan akhir. serta situasi tertentu yang sedang mempengaruhi individu yang sedang mempersepsi Persepsi adalah pandangan individu terhadap lingkungannya sebagai gambaran subyektif internal seseorang terhadap dunia luar. Keturunan (heriditer) 2. Lebih lanjut dikemukakan bahwa persepsi merupakan hasil proses pengamatan seseorang berasal dari komponen kognitif yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman proses belajar. Kecerdasan / pendidikan 4. Faktor-faktor internal antara lain : 1.(15) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses persepsi sehingga terjadi perbedaa persepsi antara satu individu dengan individu lainnya terdiri dari faktor internal dan ekternal. Faktor yang berperan dalam pembentukan persepsi adalah kognitif.

Faktor-faktor eksternal antara lain : 1. Ketergesahan menilai sesuatu berdasarkan informasi yang tidak lengkap 7.5. atau minat. motivasi. pengalaman dan pengharapan. Sikap dan kenyakinan keagamaan 9. Pengetahuan/pengalaman masa lalu tentang objek. Adat istiadat. Harapan terhadap objek 6. 4. Variabel lain yang ikut menentukan persepsi adalah umur. 3. Nilai-nilai individu yang dianut 10. 2. budaya. Norma masyarakat. kepribadian dan pengalaman hidup individu (13) Jenis kelamin Umur Tingkat Pendidikan . pekerjaan. Pengaruh ekosistim lainnya (7) Persepsi tidak hanya sekedar mendengar. tingkat pendidikan. melihat dan merasakan sesuatu yang didapatkan disini lebih jauh disepakati persepsi melibatkan rangsangan internal dan eksternal. Efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus) 8. latar belakang sosial ekonomi. lingkungan. Faktor pihak pelaku persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti : sikap.fisik. Konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/ tekanan sosial). kepentingan.

Samsi. Manajemen Rumah Sakit. Di era modern muncullah istilah “stigmatisasi“ yang lebih mencerminkan kelas dari pada fisik. malu atau takut karena sesuatu (14) . Beberapa Teknik dalam Manajemen Mutu. penjahat. noda aib atau sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri.Salim adalah hal yang membawa aib.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Penderita.2000 C. Stigma adalah suatu karakteristik yang dipertimbangkan tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. Ada banyak bukti yang mendukung bahwa orang yang dibuat merasa terstigmasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam . Yogyakarta. Sumber : Jacobalis. Universitas Gajahmada.Pekerjaan Persepsi Sosial Ekonomi Budaya Lingkungan Fisik Kepribadian & Pengalaman Gambar 2. proses inilah yang pada akhirnya membuat para penderita terkucil dari masyarakat dianggap menjijikan dan harus dijauhi Stigma dalam kamus P. pengkianat Negara dan tentu saja pada penderita kusta (39) . hal yang memalukan. Stigma Stigma berasal dari zaman Yunani kuno. kata ini menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap pada tubuh orang-orang yang dianggap bergolongan rendah seperti pencuri.

Proses stigmatisasi atau “lebeling” memiliki dua akibat yaitu (12) : 1) Dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. Efek dari stigmatisasi dapat berlangsung lama tetapi efek ini dapat dibatasi karena orang-orang yang mendapat stigma dapat menggunakan taktik yang beragam agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui stigma mereka diantaranya menyembunyikan secara selektif tentang stigma dimasa lalu. mencegah pengungkapan diri terhadap teman dekat dan berbagai stategi penipuan lainnya. ini merupakan sikap negatip yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok atau individu. Banyak masyarakat berprasangka bahwa penyakit kusta sangat membahayakan bagi lingkungan mereka selain menularkan dan menjijikan mereka beranggapan bahwa penderita kusta tidak lagi berguna karena pada keadaan cacat penderita tidak produktif lagi. kaku dan klise serta tidak akurat. Brehm dan Kanssin 1993 berpendapat bahwa prasangka adalah perasaan negatif yang ditujukan terhadap seseorang berdasar semata-mata pada kelompok tertentu dan melibatkan penilaian apriori.kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar. 2) Stigma pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya dan menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. ketidak akuratan ini timbul dari proses . Kenyakinan yang mendasari timbulnya prasangka tersebut disebut stereotype yaitu kenyakinan yang menghubungkan sekelompok orang dengan ciri-ciri tertentu dan stereotype adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok dan suatu image yang pada umumnya sangat sederhana.

dalam setiap masyarakat ada masalah yang komplek mengapa kusta ditakuti dan . 2. Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta adalah proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. Menurut Wrightsman dan Deaux. D. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. Beberapa kemungkinan upaya untuk mengurangi atau mencegah timbulnya prasangka (9) : 1. Penderita kusta sering mendapat perlakuan diskriminasi dari lingkungannya biasanya diskriminasi ini merupakan perwujudan tingkah laku dari prasangka atau manifestasi prasangka dalam bentuk tingkah laku nyata. 4. Mengajarkan untuk tidak membenci.overgeneralisasi (perluasan karakteristik) (9) . belajar mengenal dan memahami orang lain. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. Mengoptimalkan / membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui pengukuhan positip.1981 dimasa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap sering dikaitkan dengan konsep mengenai postur fisik (9) Banyak faktor yang menimbulkan stigma kusta dan ini sangat bervariasi. hal yang memalukan. Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang orang lain. oleh apa yang sedang kita hadapi saat ini . Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta. 3. Pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan kita akan masa lalu. Melakukan kontak langsung.

penyakit kusta dengan tanda-tanda khusus di wajahnya dimana kulit menjadi keriput.menjadikan penyakit yang memalukan. sampai akhirnya masyarakat percaya bahwa kusta disebabkan oleh kuman kusta. tebal. masyarakat takut terkena infeksi seperti penderita. penderita dijauhkan dianggap berdosa dan lingkungan tidak ingin mengalaminya. 3. beberapa kelompok percaya bahwa kusta disebabkan karena kutukan dewa karena berbuat salah. Beberapa alasan yang sifatnya umum diantaranya (3) : 1. hal ini menambah rasa takut penderita. Hukuman Mati Faktor lain adalah sampai tahun 1940 an penyakit kusta belum ada obat yang bisa mengobati secara efektif ini berarti penderita kusta seakan-akan telah divonis hukuman mati karena penyakitnya tidak bisa diobati. hidung melebar ini bararti sepintas orang melihat akan tau bahwa mereka menderita kusta. Percaya tentang akibat kusta Percaya tentang akibat kusta telah berbeda sepanjang waktu dan dimana tempat. Takut Ketularan Pengucilan penderita kusta dilakukan karena alasan takut ketularan. disantet dan penyakit akibat sexual. penderita dianggap korban guna-guna. kepercayaan ini mempengaruhi bagaimana penyakit dan penderita kusta diperlakukan. Ketidak mampuan dan kecacatan Alasan lain untuk stigma adalah kecacatan dan ketidak mampuan yang disebabkan oleh penyakit itu. Bau . 2. 4. 5.

akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). Membantu mereka yang benar-benar mengalami stigma kusta. Mencegah stigmatisasi orang lain. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. hal ini akan lebih efektif dan efisien karena lebih baik mencegah stigmatisasi dari pada mencoba mengembalikan penderita yang sudah ditolak oleh masyarakat. 6. bau ini dapat menjijikan dan membuat keadaan memburuk sehingga masyarakat tidak mau menerima mereka. Ada 2 komponen pendekatan dalam menangani stigma kusta (2) : 1.Beberapa pasien kusta mempunyai bau badan yang sangat jelas / khas disebabkan oleh luka – luka yang terinfeksi. Banyak faktor yang menyebabkan penderita bereaksi terhadap penyakitnya diantaranya (18) . penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. 2. kusta masih menjadi problem dibanyak negara diperkirakan bahwa antara 11 sampai 12 juta orang menderita kusta telah terobati akan tetapi stigma kusta masih sangat nyata dan perlu ditangani. dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Solusi pada Stigma kusta (2) Walaupun perkembangan yang besar. Stigmatisasi diri sendiri Hal ini sangat nyata.

Penanganan Penyakit Kusta di RSUD Tugurejo Semarang. 4. Tahun 2004 RSUD Tugurejo telah terjadi peningkatan kelas menjadi RSU kelas B non pendidikan. 6. E. Tahun 2000 mengalami perubahan status dari Rumah Sakit khusus menjadi Rumah Sakit Umum.1. tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu. RSUD Tugurejo sebelum menjadi rumah sakit umum merupakan rumah sakit khusus (RSK) penderita kusta. Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga. Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dikenalnya. 2. Pada tanggal 13 Januari 1994 dengan Peraturan Daerah tentang stuktur organisasi tata kerja Rumah Sakit Kusta Provinsi Jawa Tengah sebagai Rumah Sakit Khusus kelas C. 7. Tersedianya sarana kesehatan. Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya. hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya. 9. Informasi. Sejarah RSUD Tugurejo. 1. dsb). takut. Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya. rendah diri. pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu. 3. Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala yang menyimpang dari keadaan biasa. kemudahan mencapai sarana tersebut. 5. 8. Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit. Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kerentanan individu untuk terserang penyakit itu). tahun 2006 RSUD Tugurejo telah terakreditasi dan .

pemeriksaan. Sampai saat ini RSUD Tugurejo masih memberikan pelayanan unggulan penyakit kusta dan menjadi pusat rujukan serta pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium. e. dokter memberikan surat perintah mondok dan perawat akan berkoordinasi dengan ruang Kenanga yaitu ruang khusus penderita kusta. c. Penyakit Saraf. d. radilogi atau pemeriksaan lain). Bagi pasien yang memerlukan rawat inap. Yang dilakukan RSUD Tugurejo terhadap penderita kusta. f. Pasien mendaftar di loket pendaftaran. Penanganan penderita di rawat jalan dilayani di poli khusus penyakit kusta dengan urutan sebagai berikut : a. perawat melaksanakan anamnese dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. 2. menegakkan diagnosa kerja dan memberikan resep obat serta edukasi terhadap pasien. b. Pasien menyerahkan bukti pendaftaran ke poli khusus. RSUD Tugurejo melayani pasien kusta rawat jalan dan rawat inap. tujuan pelayanan ini adalah mengobati dan memutus rantai penularan penyakit kusta. Dokter Spesialis Kulit dapat mengkonsulkan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Dokter Spesialis Kulit melakukan anamnese.lulus ISO 9000. . Rehabilitasi medis atau lainnya sesuai dengan kondisi pasien.

PENUN JANG PASIEN PULANG RAWAT INAP BTA (+) BTA (-) PENATA LAKSA NAAN EVALUASI 1 BULAN EDUKASI . PASIEN DATANG ANAMNESIS PEMERIK.g. FISIK PASIEN LAMA PASIEN BARU PENATA LAKSA NAAN PEM. Informed consent dilakukan apabila perlu untuk tindakan. misal operasi.

motivasi. Selanjutnya Green mencoba menganalisis perilaku manusia pokok yaitu faktor perilaku. Landasan Teori Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek (11) yaitu aspek fisik. keyakinan.(19) . Sumber : Dokumen Instruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik Khusus RSUD Tugurejo Semarang. sarana fisik dan sosial budaya masyarakat. Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan. sikap dan sebagainya. psikis dan sosial yang secara rinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti: pengetahuan. Perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu : faktor predisposisi. karena perilaku merupakan resultansi dari berbagai faktor. sikap dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman.PASIEN PULANG RAWAT INAP Gambar 2. minat. Green berpendapat (19) faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi.3 : Alur Pelayanan Pasien Poliklinik khusus penyakit kusta. F. Green. Lawrence W. perseprsi. Perilaku menurut Lawrence W. keinginan. faktor pemungkin. persepsi. baik internal maupun eksternal (lingkungan). 1. motivasi. dan faktor penguat.

Termasuk dalam faktor predisposisi adalah faktor demografis seperti status sosial ekonomi. keyakinan. umur. Sumber daya itu meliputi ketersediaan sarana dan ketercapaian berbagai sumber daya.Faktor predisposisi mencakup pengetahuan.(11) . nilai. Perilaku seseorang cenderung untuk berkiblat pada perilaku yang berlaku dalam keluarga individu tersebut. Lingkungan keluarga yang ideal dalam arti suatu keadaan yang menjamin kenyamanan pada tiap-tiap anggota keluarga akan membentuk perilaku yang terarah dan cenderung untuk bersikap terbuka terhadap nilai-nilai baru yang tentu saja diterima oleh keluarga tersebut. sikap. kita dapat mengatakan faktor predisposisi sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. Faktor penguat disini diterangkan bahwa lingkungan keluarga sangat dominan dalam mempengaruhi pembentukan perilaku seseorang. dan persepsi. Hal ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat dalam setiap kasus.(11) Lingkungan keluarga yang nyaman mempunyai respon yang kuat terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan anggota keluarganya. berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak. Keadaan demikian ini memungkinkan lingkungan keluarga lebih peduli terhadap apa yang dilakukan anggota keluarganya. Faktor pemungkin mencakup sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan. jenis kelamin dan ukuran keluarga. Dalam arti umum.

Green. parents or employers. Sumber : L. Perilaku menurut Rosenstock (Health Belief Model) Teori Health Belief Model (HBM) merupakan model kognisi yang menjelaskan bahwa perilaku sebagai hasil proses informasi rasional dan menekankan pada kognisi individu. Health Promotion Planning. etc Behavior (action) of individuals.W.2000 2.Predisposing factors Knowledge Attitudes Beliefs Values Perseption Reinforsing Factors Attitudes and behavior of health other personnel peers. model ini sering kali dipertimbangkan sebagai kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia (20) . faktor penguat/pendorong dan faktor pendukung. groups or communities Enabling factors Availability of resources Accessibility Referrals Ruler orlaws Skills Environmental Factors Gambar 2.4 : Faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu atau kelompok yaitu faktor yang mempermudah. Second edition.

4.Secara umum HBM diyakini bahwa individu akan mengambil tindakan untuk menghindarkan. . dan jika mereka percaya bahwa hambatan yang terantisipasi untuk mengambil tindakan dipertimbangkan dengan keuntungan. Persepsi seseorang terhadap kegawatan suatu penyakit. Persepsi seseorang terhadap benefits / untung – ruginya bila melakukan perilaku tersebut. Dalam konsep HBM dijelaskan bahwa perilaku adalah sebuah hasil dari sekumpulan persepsi. Persepsi tersebut adalah : 1. Namun ada pula kemungkinan motivasi kesehatan positif yang meliputi perilaku mau untuk berobat. 3. Tanda-tanda seseorang perperilaku / bertindak. Persepsi seseorang terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. jika mereka percaya bahwa tindakan tertentu yang tersedia akan menguntungkan dalam mengurangi kerentanan atau keparahan kondisi. 2. memeriksa atau mengendalikan kondisi kesehatan buruk jika mereka memandang rentan terhadap kondisi itu. dan persepsi-persepsi ini memprediksi kemungkinan seseorang akan berperilaku. Persepsi seseorang terhadap pembiayaan bila melakukan perilaku tersebut 5. HBM berhubungan dengan aspek kesehatan negatif yaitu perilaku seseorang ketika terancam suatu penyakit.

1996 Proses kognitif dalam HBM dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan. Philadelphia.Cues to action Susceptibility Demographic variable Severity Likehood of Behaviour Benefits Cost Gambar 2. individu akan melakukan tindakan pencegahan didasari oleh dua kenyakinan atau penilaian kesehatan (health beliefs) yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian. hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berfikir tentang penyakit yang diderita betul-betul merupakan ancaman kepada dirinya. Health Psychology a Text book.5 Basics of Health Belief Model Sumber : Ogden. Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap risiko yang akan muncul.Jane. Asumsinya bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut meningkat maka perilaku pencegahan juga meningkat. .

kerentanan. Adanya gejala-gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi negatif penderita. dia percaya bahwa penyakitnya akan berakibat serius pada anggota tubuh. Contohnya perilaku penderita kusta yang mengasingkan diri merupakan kemudahan untuk terjadi adanya kecacatan dan sumber penularan. variabel sosiopsikologi (kepribadian. HBM menyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya. akan tetapi penderita dengan persepsi positif merasa bahwa penyakit kusta adalah ancaman kesehatan yang serius melakukan pengobatan secara rutin adalah suatu keuntungan yang tinggi dan biaya yang rendah dibandingkan apabila sudah terjadi kelainan atau kecacatan. Penderita sering mengatakan bahwa mereka merasa malu karena penyakitnya sehingga tidak memeriksakan diri. keseriusan. tekanan sosial) dan variabel struktural (pengetahuan. Ancaman.Penilaian kedua yang dibuat adalah perbandingan antara keuntungan dengan kerugian dari perilaku dalam usaha untuk memutuskan tindakan selanjutnya. pengalaman tentang masalah). kelas sosial. latar belakang budaya). pertimbangan keuntungan dan kerugian dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu variabel demografi (usia. .

Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan pustaka diatas diambil suatu kerangka teori yang bersumber dari teori Lawren W Green dan teori Health Belief Model (HBM) sebagai berikut : Susceptibility Demografik Variable Severity Perceived stigma Reinforsing Factor . Kerangka Teori : modifikasi teori L. Green dan teori HBM .W.G.External factor Benefits Cost Gambar 2.6.Internal factor .

Variabel Bebas Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit Variabel Terikat Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Lama sakit Keluarga Tetangga Teman Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positif Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatif Penderita kusta merasa terstigma Gambar 3. Kerangka konsep. Kerangka Konsep Penelitian .1.BAB III METODE PENELITIAN A.

Bagaimana faktor risiko jika berperilaku negatip melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 7. Bagaimanakah persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 2. Bagaimanakah faktor Demografik (umur. pendidikan. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. jenis kelamin. pekerjaan pendapatan dan lama sakit) melatar belakangi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 3. Bagaimanakah faktor internal (lingkungan keluarga) dan (lingkungan masyarakat) melatar belakangi persepsi penderita? eksternal C. Bagaimana faktor kemudahan kemungkinan terkena penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 4. Bagaimana faktor kegawatan penyakit kusta melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 5.B. alasan yang mendasari penelitian jenis ini karena dapat menggali atau menghasilkan data deskriptif secara mendalam mengenai persepsi responden . Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimanakah faktor manfaat jika berperilaku positif melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta? 6.

menarik dan unik bermakna dilapangan (30) . perspektif yakni memahami secara menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti. dimana tujuan riset kualitatif sendiri adalah mengembangkan konsep-konsep yang dapat menjelaskan makna suatu fenomena dan membantu pemahaman lebih mendalam atas fenomena sosial dan perilaku dalam setting atau lingkungan yang alami (bukan percobaan / eksperimen) dengan demikian memberi penekanan pada makna-makna. Tehnik kualitatif memberi kesempatan pada peneliti untuk mengamati dan berhubungan langsung dengan sasaran penelitian (responden) (22) Ketiga. sikap. bersifat holistik. perilakunya dan penalaran yang tersirat pada metode kualitatif bersifat induktif (bergerak dari observasi menuju hipotesis dan bukan pengujian hipotesis/deduktif).luwes karena rancangan studi ini bisa dimodifikasi meskipun sedang dilaksanakan (24). tidak lazim mendefinisikan suatu konsep. Keempat. Kedua : berhubungan langsung dengan sasaran (responden).(23) Metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan lain yakni : pertama. (22) Metode kualitatif lebih menekankan pada validitas dengan pemahaman bagaimana manusia sebenarnya berperilaku dan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh manusia ketika menggambarkan pengalaman. pengalaman dan pandangan semua peserta risetnya. serta memberikan kemungkinan bagi perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar.terhadap stigma penyakit kusta. analisis induktif karena peneliti tidak memaksa diri untuk hanya membatasi penelitian pada upaya menerima atau menolak dugaan-dugaanya melainkan mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri. (25) . Luwes tak terlalu rinci.

Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta yang mendapat pelayanan di RSUD Tugurejo Semarang.D. 2. . Populasi dan Sampel Penelitian 1. memakai topi. Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang. Data kunjungan pasien rawat jalan di poli khusus penderita kusta ratarata 344 orang per bulan. penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sampel (30) . selalu menundukkan kepala) saat berobat di RSUD Tugurejo Semarang. Mau berpartisipasi menjadi subyek penelitian. menyendiri. Dari pengamatan penulis penderita yang terlihat tidak percaya diri dalam berperilaku (misal: memakai pakaian tertutup/lengan panjang. b. Sampel Penelitian kualitatif bertolak dari asumsi yang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Tehnik pemilihan sampel dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Dalam penelitian ini sample berjumlah 8 (delapan) orang penderita kusta dengan kriteria sebagai berikut : a. c. padanya terdapat pola tertentu namun penuh variasi (keragaman).

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. 6) Faktor persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatip.d. 5) Faktor persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positip. 3) Faktor persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit. Variabel Terikat dalam penelitian ini adalah penderita kusta merasa terstigma. Mau berkomunikasi dengan baik c. jenis kelamin. b. Dalam penelitian ini berjumlah 5 orang E. 1) Karakteristik responden yang terdiri dari umur. 2) Faktor-faktor internal dan eksternal responden terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Mau berkomunikasi dengan baik. dengan kriteria sebagai berikut : a. b. Dalam penelitian ini sampel berjumlah 8 orang penderita Informasi dan tanggapan lain dalam penelitian yang digunakan sebagai cross check adalah keluarga dan lingkungan ( tetangga dan teman penderita) yang selanjutnya disebut sebagai Informan. Variabel bebas. . Variabel Penelitian a. penghasilan dan Lama sakit. Mau berpartisipasi dalam penelitian ini. e. pekerjaan. 4) Faktor persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. pendidikan.

1) Umur adalah bilangan tahun terhitung sejak lahir sampai ulang tahun terakhir 2) Jenis Kelamin adalah penggolongan responden berdasarkan jenis kelamin yang tercantum dalam status diri (laki-laki atau perempuan) 3) Pendidikan adalah jenjang / tingkat pendidikan formal yang diperoleh responden sampai saat wawancara. a. 9) Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang penyakit kusta sebagai suatu . 4) Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh responden baik di luar maupun di dalam rumah untuk memperoleh penghasilan. 5) Lama sakit yaitu waktu yang dihitung saat pertama penderita di diagnosa sakit kusta sampai saat wawancara dilakukan 6) Lingkungan keluarga adalah lingkungan sosial yang paling dekat dengan penderita (11) 7) Lingkungan masyarakat adalah lingkungan sosial yang berada di sekitar tempat tinggal penderita (11) 8) Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang. Definisi Operasional Penderita Kusta adalah seseorang yang dinyatakan positif menderita kusta yang melalui pemeriksaan laboratorium ditemukan Basil tahan asam (BTA) positif atau ditemukan tanda-tanda kusta.2. Variabel Bebas.

menganggap bahwa penyakitnya sama seperti penyakit lain dan perlu berobat sehingga sembuh. F. dan merasa disingkirkan oleh lingkungannya karena penyakit yang dideritanya. Variabel terikat Penderita Kusta merasa terstigma : Suatu kondisi yang membuat penderita merasa malu. rendah diri. cacat dan sebagai sumber penularan b. takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. menularkan. 11) Persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. Instrumen yang Digunakan Instrumen yang digunakan dalam penelitian deskriptif adalah peneliti sendiri dengan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka yang berhubungan dengan responden sehingga pelaksanaan pengumpulan data dapat berlangsung efisien.kondisi ancaman kesehatan yang berakibat serius atau kegawatan pada tubuh penderita. 10) Persepsi penderita terhadap manfaat bila berperilaku positif yaitu tanggapan responden mengenai keuntungan/manfaat apabila responden berperilaku positif terhadap penyakitnya. Daftar pertanyaan penelitian berisi tentang persepsi penderita dan faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta .

Sumber Data Ada dua jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini. Sumber Data. Data Sekunder Diperoleh dari catatan medik RSUD Tugurejo yang menyimpan data penderita termasuk hasil penyakit kusta penderita. Data Primer Diperoleh dengan wawancara dan pencatatan menggunakan daftar pertanyaan yang dibuat oleh peneliti kepada penderita kusta dengan berpedoman pada kebutuhan informasi / data yang menjadi variabel dalam penelitian.Tahap pengumpulan data dengan wawancara mendalam dilakukan perekaman menggunakan alat bantu MP3 recorder dan catatan lapangan sehingga data dapat terkumpul dengan baik. 2. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan setelah peneliti memperoleh data dari responden melalui wawancara mendalam dengan menggunakan model analisis kualitatif. b. yaitu data primer dan data sekunder. Adapun langkah-langkah analisis data kualitatif meliputi (26) pemeriksaan laboratorium dan catatan lain tentang . a. G. Tehnik Pengolahan dan Analisa Data 1.

Untuk memudahkan proses.a. Comparative atau perbandingan Peneliti melakukan langkah ini berkali-kali sehingga menemukan kategori yang lebih luas. Reduksi data Peneliti melakukan pemilihan. Pengikhtisaran atau tabulasi Peneliti melakukan pengikhtisaran atau membuat tabel data tiap butir instrumen dari para responden yang dibuat dengan mengelompokkan jawaban. selanjutnya dikelompokkan ke dalam satu kategori. Hal ini dilakukan berulang-ulang untuk mendeskripsikan situasi percakapan yang sesungguhnya. situasi. d. b. peneliti mencoba mengidentifikasikan beberapa kategori berdasarkan pedoman wawancara mendalam sehingga ketika memasuki proses . pengabstrakan. dan lain-lain secara keseluruhan. informasi diinterpretasikan dan disajikan secara narasi. responden. Transkrip dibuat langsung setelah proses wawancara mendalam. dan transformasi data kasar yang muncul dari hasil wawancara mendalam dan catatan-catatan tertulis di lapangan. Apabila terdapat pemaknaan yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori yang sudah ada maka dibuat kategori yang baru. dengan tujuan agar informasi yang telah diperoleh dapat didokumentasikan dan tidak ada informasi penting yang hilang. Berdasarkan tabel. c. Pembuatan transkrip dilakukan setelah peneliti memperoleh informasi dari responden dengan cara memutar ulang rekaman kaset hasil percakapan responden dengan peneliti. Deskripsi tersebut berdasarkan interpretasi peneliti terhadap transkrip. penyederhanaan. Transcribing Peneliti melakukan pembuatan transkrip dari hasil wawancara mendalam.

lalu diinterpretasikan makna data antar tabel. Perumusan pernyataan konklusif Peneliti merumuskan pernyataan-pernyataan konklusif terhadap tiap rincian masalah penelitian atau tujuan-tujuan khusus. H. Dan dalam penelitian ini triangulasi dilakukan kepada keluarga. Tehnik . e. tetangga dan teman penderita kusta. yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan kesimpulan penelitian ini. Langkah ini dilakukan untuk menghubungkan antara kategori sehingga terbentuk suatu kerangka konsep atau suatu penjelasan yang komprehensif mengenai fenomena yang dapat ditangkap oleh penulis. meliputi persamaan dan perbedaannya. Uji validitas yang dilaksanakan pada penelitian kualitatif disebut triangulasi.tinggal mencocokkan dengan kategori yang ada. Cara ini baik untuk mengurangi bias yang melekat pada satu metode dan memudahkan melihat keluasan penjelasan yang memudahkan. Dengan triangulasi tehnik ini merujuk pada pengumpulan informasi atau data dari individu dan latar belakang dengan menggunakan berbagai metode. Tabel-tabel yang berkaitan diinterpretasikan hubungannya. Validitas dan Reabilitas Data Uji validitas dimaksudkan untuk meningkatkan validitas tampilan dari sesuatu yang akan diteliti melalui uji coba dapat diketahui adanya pertanyaanpertanyaan yang benar-benar mengukur dari yang hendak diukur.

pemeriksaan keabsahan data dengan triangulasi dapat dilaksanakan melalui sumber data, metode dan teori. Peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, pengamatan dan dokumentasi.
(30)

Interview

dilaksanakan untuk mengetahui opini, persepsi, penilaian dan ingatan responden tentang pengalamannya (28) Realibilitas (keterandalan) pada penelitian kualitatif dapat dicapai dengan melakukan auditing data, hal ini dapat dilaksanakan dengan cara data hasil wawancara di tulis dan dikelompokkan sesuai dengan gambaran variabel yang dilihat pada penelitian. I. Keterbatasan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2008 di RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian ini tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Adapun kelemahan dan keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam untuk memperoleh gambaran faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta. Karena banyaknya faktor yang melatar belakangi persepsi maka penulis membatasi dan hanya meneliti faktor karakteristik, faktor internal, faktor ekternal, faktor kemudahan

kemungkinan terkena penyakit, faktor kegawatan penyakit, faktor manfaat berperilaku positip dan faktor risiko berperilaku negatif, karena faktor-faktor ini berpengaruh besar terhadap persepsi penderita kusta.

2. Pengumpulan

data

melalui

wawancara

mendalam

dengan

menggunakan banyak pertanyaan, membutuhkan waktu yang lama hal ini membuat responden jenuh,sehingga dimungkinkan adanya

subyektivitas jawaban. Untuk mengatasinya dilakukan triangulasi dengan melakukan cros chek pada suami, ayah, paman, tetangga dan teman penderita kusta.

3. Responden sangat tertutup terhadap penyakitnya, sehingga wawancara mendalam yang dilakukan sering mendapatkan jawaban yang singkat.

4. Responden sangat keberatan apabila penulis datang kerumahnya, ini mempersulit penulis dalam melakukan cross cek terhadap keluarga, tetangga dan teman penderita, sehingga penulis melakukan cross cek di RSUD Tugurejo dengan mendatangkan keluarga, dan penulis hanya mendapatkan 5 (lima) Informan sebagai cross cek.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Penderita kusta yang berobat di RSUD Tugurejo. RSUD Tugurejo merupakan Rumah Sakit kelas B milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di Semarang bagian barat , dalam pelayananya RSUD Tugurejo menyediakan 23 poliklinik diantaranya poliklinik khusus penyakit kusta. Tenaga yang melayani pasien berobat ke RSUD

Tugurejo meliputi : 32 dokter spesialis, 24 dokter umum, 7 dokter gigi, 3 apoteker, 1 psikolog, 60 tenaga medis, 268 tenaga keperawatan dan kesehatan, dan 138 tenaga non medis. Produk unggulan RSUD Tugurejo adalah sebagai

Adapun tempat tinggal penderita 2. Demak. Sebagai pusat rujukan dan pendidikan penyakit kusta di Jawa Tengah. Weleri. poliklinik kecantikan. pelayanan kusta dan sebagai pusat penanganan krisis perempuan dan anak (PPKPA). ini digunakan sebagai faktor triangulasi.260 (29%). Pekalongan. Umur dan jenis kelamin responden Karakteristik responden berdasarkan umur diketahui bahwa responden berumur 14 tahun. Blora. Karakteristik Responden Penelitian mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta ini. Kendal. tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut dengan Informan.pusat diagnostik. laki-laki berjumlah 3. mengambil responden sebanyak 8 (delapan) orang penderita kusta dan 5 (orang) yang terdiri dari suami.380 pasien. umur. Adapun jenis kelamin dan asal penderita yang berobat ke poliklinik kusta tersebut bisa dilihat berikut ini : Penderita. paman. pekerjaan. pendidikan.120 (71%) sedangkan perempuan berjumlah 1. Pati. status pekerjaan dan lama menderita disajikan sebagai berikut : 1.952 (67%) berasal dari luar Semarang yaitu Jepara. B. Adapun karakteristik responden meliputi jenis kelamin. Purwodadi. 29 tahun dan 55 tahun. Kaliwungu. masing-masing berjumlah . jumlah kunjungan penderita kusta pada tahun 2007 ada sebanyak 4.428 (33%) berasal dari Semarang. ayah. 23 tahun. Tegal dan daerah lain sekitar Semarang kemudian 1.

enam tahun dan lebih sepuluh tahun. 30 tahun.perbulan. 5.satu orang dan umur 33 tahun serta 45 tahun masing-masing 2 dua orang. Pendidikan responden Dilihat dari latar belakang pendidikan responden. Responden berdasarkan status nikah Dari delapan responden.000.000. Umur Informan masing-masing 24 tahun. lulus SMP dua orang.000.000 – Rp. diketahui bahwa lulus SMA sebanyak tiga orang. 33 tahun. Jenis kelamin responden sebagian besar laki-laki sebanyak lima orang 2. Berdasar lama menderita penyakit kusta. adapun sebagai Pegawai Swasta ada sebanyak dua orang dan sebagai petani satu orang. empat responden telah menikah dan empat lainnya tidak menikah. satu responden berpenghasilan kurang dari Rp. dari tiga orang yang bekerja. responden menyatakan telah menderita selama lima bulan sebanyak satu orang. selama kurang lebih dua tahun sebanyak empat orang dan masing-masing satu orang telah menderita kurang lebih tiga tahun. Adapun karakteristik informan sebagai faktor triangulasi adalah sebagai berikut : Informan berjumlah lima orang. lulus SD dua orang dan satu orang tidak lulus bersekolah 3. Responden berdasar lama menderita penyakit kusta.per bulan dan sebanyak dua orang berpenghasilan antara Rp.. 35 tahun. Pekerjaan responden Responden berdasarkan jenis pekerjaan. sebanyak lima orang tidak bekerja. 44 tahun .500. 4.500.1. Melihat hasil jawaban responden mengenai penghasilan rata-rata perbulan responden tidak sama. empat orang berjenis kelamin laki-laki.

tukang kayu. hal yang memalukan. dagang. Pendidikan lulus SMA berjumlah tiga orang. tidak bisa bekerja.keluarga nggak mau datang ke rumah. Dari 8 (delapan) responden dengan karakteristik yang berbeda. Seperti yang dikemukakan berikut ini : Kotak 1 . Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa pandangan responden terhadap apa yang dilakukan keluarga atau masyarakat mengenai stigma penyakit kusta terhadap responden. malu atau takut karena penyakit kusta yang dideritanya melalui panca indra penderita. Dari delapan responden semuanya menyatakan masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta.Saya merasa bersalah.dan 46 tahun. faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta... pegawai negeri dan pegawai swasta.. keluarga menganggap biasa saja terhadap penyakit yang diderita responden. was-was jika tubuh saya jadi cacat pasti tetangga menjauhi saya. Status pekerjaan bervariasi yaitu pegawai BUMN. noda aib atau sesuatu dimana penderita menjadi rendah diri. Sedangkan yang lainnya mengemukakan bahwa keluarga merasa was-was karena penyakit yang diderita responden. saya takut ketahuan tetangga nanti pasti dikucilkan. lulus SMP dan lulus D3 masing-masing satu orang. .. 2 orang mengatakan bahwa. 1. didapatkan jawaban yang bervariasi. Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Persepsi penderita tentang stigma penyakit kusta didefinisikan sebagai proses penderita untuk menerima tentang hal yang membawa aib. C.

. tetangga tidak tau.. Tidak tau kalau istri saya kena kusta. .. Biasa saja. sedang teman penderita karena tidak mengetahui tentang penyakit temannya. malu pada teman ..... terutama ibu.6..2... keponakan.. sebagian besar menjawab orang-orang dilingkungannya tidak mengetahuinya kalau responden menderita kusta..Keluarga tidak menolak... kulo kenging lepra kering dados mboten ketingal. . .takut dijauhi kalau orang-orang tau. masyarakat tidak tau saya sakit... Masyarakat tidak tau. . tetangga bilang kena sengkolo. masyarakat tidak tau.. ... taunya sakit saraf karena kami berobat ke dokter saraf sampai habis-habisan. penulis tanyakan tentang pendapat teman-teman dilingkungan penderita bekerja. dikira saya kencing manis tidak bisa sembuh dan sekampung saya sendiri yang kena begini. tetangga atau teman menderita kusta. rumah dan isinya habis untuk biaya berobat tapi tidak sembuh. .. .5.. (responden menangis).Orang tua berfikir positip.Biasa saja.7..4. memberi semangat pasti sembuh.Takut... sekarang ini kami kontrak bu tapi saya bersyukur pengobatan di sini gratis dan istri saya sudah sembuh walau belum seratus persen. adik biasa saja......(responden menangis sampai lama). .3. anak.8 Keterangan : R = Responden Lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang pendapat orang-orang dilingkungan penderita setelah mengetahui istri..Keluarga merasa syok takut. untuk mengetahui lebih lanjut dapat dilihat dari beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 2 .masyarakat juga biasa saja nggak tau kalau saya kena lepra. R 1.Saya tidak pernah bilang kalau saya kena kusta.

Masyarakat tidak tau. Selama ini biasa saja mungkin karena tidak tau dia kena kusta. tidak pernah keluar rumah. Teman sekolahnya tidak ada yang tau dan saya meling tidak usah diberi tau. seperti alergi seluruh badannya. seperti jawaban yang diberikan dibawah ini : Kotak 4 ... tidak pernah cerita.2.. . walaupun jawaban yang diberikan bervariasi tetapi intinya semuanya mengutarakan.. 1.. Dia itu pendiam.. Dari hasil wawancara mendalam tentang apa yang dilakukan dan pendapat orang-orang dilingkungan penderita. Sebetulnya sakit apa bu? I.. karena lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta maka tidak ada perubahan apapun terhadap penderita. seperti kutipan dibawah ini : Kotak 3 . I. . ini semua karena Privacy penderita dan penulis tidak mengharapkan terjadi hal-hal di luar penelitian ini. maka tidak penulis lanjutkan.3 4 Keterangan : I = Informan Sedangkan teman penderita mengungkapkan bahwa penderita seorang yang baik dengan siapa saja dan mulai bertanya-tanya tentang penyakit temannya itu.... taunya kalau ke rumah sakit ya kontrol ke dokter saraf. Teman-temannya taunya ya sakitnya itu karena salah obat.. 5 Dengan mulainya wawancara mendalam bertanya tentang penyakit temannya. di kerjaan dia baik. . Dia orangnya enthengan bu. jadi kalau mondok begini kasihan istri dan anaknya.

. taunya salah obat.. Sering rewang-rewang. I...2. dia sukanya diam saja di rumah.sebetulnya masyarakat tidak apa-apa. lebih lanjut dapat disimak tanggapan Informan mengenai. mereka tidak tau. didapatkan jawaban bahwa lingkungan / tetangga penderita menanyakan bukan karena penyakit kustanya tetapi seperti di ungkapkan dibawah ini : Kotak 5 . 4 Untuk mengetahui apakah stigma ini muncul dari masyarakat ataukah dari penderita sendiri. Waktu itu kan belum tau. kegiatan remaja sering mendapat undangan tetapi tidak mau datang. Masyarakat tidak tau kalau sakit kusta..hanya dia tidak mau keluar rumah. Biasa saja. . Biasa saja.. menunjukkan bahwa lingkungan/tetangga tidak melakukan perubahan sikap terhadap penderita. sekarang agak pendiam dan agak malas-malasan kalau ada kegiatan. R 1.3. membaca apa saja.masih . tapi ya beda seperti saat belum kena dulu. kasihan ya kalau pada tau. temannya ya masih pada main kerumah kegiatan ya masih mengikuti. mungkin malu karena wajahnya jadi seperti itu. tindakan apa yang masyarakat lakukan terhadap penderita dan dari ungkapan tersebut.Sebetulnya seperti kegiatan karang taruna.... jadi biasa saja. . dia tidak mau kuliah lagi. Tetangga sering bertanya : sudah sembuh belum.2... disuruh bantu. orang tuanya sering menyuruh untuk datang tapi ya. dia juga sering ikut kegiatan masjid di kampung. kadang saya perhatikan pandangannya kosong. nggak tau kalau sekarang sudah tersebar. 1. apa masih kontrol ke dokter saraf ? .. karena belum tau bu.bantu. .3.4 Melihat tanggapan pada kotak 5.... sekarang agak pendiam.. . tapi tidak seperti sebelum sakit.

. saya sering pakai jaket karena dilengan saya ada fleknya.. Kesekolah saya selalu pakai seragam panjang... Adapun mengenai bagaimana cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta. jarang ngrumpi kalih tonggo. ada kegiatan yen purun nggih dateng. satu responden dengan membatasi diri dan responden lain dengan diam saja (tidak melakukan tindakan apapun).7 Adapun perbedaan cara dalam menanggulangi cap buruk ( stigma) oleh responden dikemukakan sebagai berikut : Kotak 7 . saya agak membatasi diri biar tetangga tidak tau. kalau omongomong dengan tetangga saya seperlunya saja. . tetap ikut kegiatan di kampungnya dan responden yang masih bersekolah selalu memakai baju lengan panjang.. R.. .. selesai langsung pulang. .2. saya pilih tidak ketemu orang-orang. tapi saya banyak tidak datangnya. akan tetapi penderita sendiri yang tidak mau untuk mengikuti kegiatan tersebut. saya malu bu.. ada undangan sering dipaksa bapak datang. seperti ini bu. tiga responden melakukannya dengan tetap bekerja.Dirumah terus.mengikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan di kampungnya.1. arisan biasanya saya titip saja.3. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara responden mengatasi cap buruk karena menderita kusta dapat dilihat dari beberapa tanggapan responden berikut ini : Kotak 6 . Kulo mendel mawon. .

Bisa.. biar saya tidak kelihatan kalau sakit kusta.. ada kumpulan kampung saya tetap datang. Saya tetap bekerja walaupun kadang-kadang saya tidak PeDe. antara lain : faktor sumber penularan yaitu penderita... Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. ibu saya juga kena.. faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1). Dari hasil jawaban terhadap responden mengenai pendapat apakah penyakit kusta dapat menular ke semua orang terlihat bahwa sebagian besar menjawab ”bisa” menularkan dan sebagian lagi menjawab ”tidak” menular dan seorang menjawab tidak menular juga bukan merupakan penyakit keturunan seperti di ungkapkan berikut ini : Kotak 8 . penyakit ini juga bukan keturunan ... Penyakit kusta adalah penyakit menular.5 2. kalau tidak datang justru jadi omongan orang.6 . Tidak.kata orang-orang saya kena sengkolo. R 4... Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. . R 7. . Persepsi penderita terhadap kemudahan terkena penyakit yaitu meliputi.2. ada kerja bakti. . gejalanya persis seperti saya dan saat ini ibu tangannya sudah cacat. Mboten. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit. tapi tetap saya jalankan. ikut kegiatan dikampung... Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. sudah dislameti ya tidak sembuh-sembuh. sak kampung mung kula thok. tanggapan responden dalam memandang kusta sebagai suatu penyakit yang dapat menular terhadap setiap orang.

5 Kemudian persepsi responden mengenai orang yang seperti apa yang mungkin terkena penyakit kusta. R 2.... . satu orang menyatakan.. Orang yang jorok. . .. satu responden berpendapat bahwa orang yang golongan darahnya sama dengan penderita yang bisa tertular penyakit kusta. kondisinya jelek... kados panu ning saged dados berat..Selanjutnya hasil wawancara mendalam terhadap Informan tentang persepsi terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit dengan pertanyaan apa yang anda ketahui tentang penyakit kusta sebagian besar mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular. penyakit kusta adalah penyakit kulit dan satu orang menjawab penyakit kusta adalah penyakit yang bisa membuat cacat.sekampung hanya saya saja yang sakit kados niki. dua responden menyatakan bahwa orang yang kebersihannya kurang dan kondisi kesehatannya menurun.. kemproh. Kotak 10 . Penyakit yang tangan dan kakinya bisa mrotholi I. dari hasil jawaban ternyata sebagian responden tidak mengetahui tentang ciri atau kriteria orang yang mungkin terkena penyakit kusta.. ringkih.2. 3. Penyakit seperti alergi. Tidak tau bu. Penyakit kulit.1 . fisiknya berubah dan katanya bisa menular. kurang resikan. Berikut kutipan sebagian jawaban responden : Kotak 9 .

orang yang kondisi kesehatannya menurun dan kurang menjaga kebersihan ..4 Sedangkan cara penularan penyakit kusta menurut responden.. sebagian besar menjawab penyakit kusta bisa menular ke semua orang dan hanya tetangga penderita menjawab penyakit kusta tidak bisa menular seperti berikut ini : Kotak 11 . kurang perhatian kebersihan. Ringkih. kondisinya drop. bersinggungan dengan orang kusta yang pada kulitnya terdapat . .. berikut kutipan jawaban : Kotak 12 .. sebagian besar mengatakan tidak mengetahui tentang penularan penyakit kusta.. satu responden menjawab penyakit kusta menular melalui udara dan terdapat satu responden yang menjawab bahwa jika bersinggungan dengan penderita kusta akan tertular penyakitnya seperti di ungkapkan sebagai berikut : Kotak 13 . apakah penyakit kusta dapat menimpa semua orang / orang lain didapat jawaban bahwa. Orang yang peduli kesehatan tidak akan ketularan. I.. Tidak menular. I. 4 Demikian juga hasil wawancara terhadap ke lima Informan sebagai faktor triangulasi mengenai orang yang bagaimana yang bisa tertimpa penyakit kusta. 1. Orang yang jorok dalam hidupnya.Selain itu menurut Informan mengenai... dua orang menjawab.

adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut. tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. tetangga penderita mengatakan. Didapat jawaban bahwa. R5 Adapun berdasarkan wawancara terhadap Informan mengenai cara penularan penyakit kusta. Katanya petugas. dan golongan darahnya sama. bisa ketularan penyakit kusta. Kemudian untuk tanda – tanda tersangka kusta diantaranya adanya kelainan kulit berupa bercak yang tidak terasa/mati rasa berwarna merah atau putih. anak saya sering kontak langsung dengan ibunya. penularan penyakit kusta bisa melalui udara dan lainnya mengatakan kontak langsung dengan penderita bisa tertular penyakit kusta seperti tanggapan ayah penderita berikut ini : Kotak 14 . benjolan di kulit. apakah penyakit kusta dianggab penyakit yang berbahaya? Apa alasannya ?. adanya luka yang tidak terasa sakit dan juga terjadinya reaksi akibat penyakit kusta. lha pripun yen bobok kalih ibune.benjolan-benjolan seperti udunen. I. adanya kecacatan. gangguan gerak anggota atau bagian muka. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. adanya rasa kesemutan. sebagian .. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan mengenai kegawatan penyakit kusta dengan pertanyaan.. 2 3.

. gejala-gejala yang muncul itu menakutkan.2. cacat tidak bisa bekerja. bisa menular. Ya. kusta menakutkan. karena bisa menular ke orang lain. telat minum obat kumat.. menakutkan karena fisiknya berubah. itu cina ada yang sampai mrotholi. proses penyembuhan lama. Ya..6. keringat dingin. R 1. .8 Selanjutnya mengenai Persepsi terhadap kegawatan penyakit menurut Informan adalah.besar responden menyatakan penyakit kusta menimbulkan bahaya dan sebagian menyatakan bahwa penyakit kusta tidak berbahaya. .. . Ya. tidak bisa bangun.5. bisa prothol – prothol.. penyakitnya akan hilang... badan sakit semua. . tidak bisa aktifitas. kan bahaya bu. . banyak yang salah berobat. Ya. untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegawatan penyakit kusta dapat dilihat dari beberapa pendapat berikut ini: Kotak 16 .. Berbahaya. . semua menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat.. mambu.4. dada keder. lemes. Sangat berbahaya. tidak banyak yang tau tentang penyakit kusta... kata ibu saya kalau kumat badan sakit semua. ibu saya sering sampai nangis kalau kumat. Tidak berbahaya kalau minum obat akan sembuh. adapun jawaban dari responden tersebut bisa disimak seperti berikut : Kotak 15 .3.7.. badannya sakit semua... karena gejala yang muncul sangat berat. Sangat berbahaya.. panas dingin..... karena kalau minum obat akan sembuh. rasanya tak karuan. Tidak. Ya..ini hidung saya jadi hilang bu. merubah fisik dan bisa menimbulkan kecacatan.. . keluarga .

Saya takut mati...4. Wah. 1. … Ya. kalau saya lihat yang periksa bareng saya tangannya putus-putus.. panas dingin badan sakit semua akan muncul lagi dan satu responden tidak mengetahui tentang seberapa besar bahaya yang timbul karena penyakit kusta. Kemudian responden lain berpendapat bahwa kusta kalau kumat (kambuh) gejala-gejala disebutkan seperti lemas. bisa membuat cacat di tubuhnya. tangan-kakinya rusak tidak bisa untuk bekerja. terus terang saya sangat depresi . tidak berobat badan sakit semua. terisolasi dari masyarakat. keluarga dan teman-temannya (7) .. 5 Penyakit kusta menimbulkan masalah yang sangat komplek. kusta berbahaya makanya saya periksa terus. . Penyakit kusta menyiksa lahir batin. ..bisa kena semua. kecacatan yang berlanjut dan apabila tidak mendapatkan perhatian serta penanganan yang baik akan dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal serta kehilangan status sosial secara progresif. mental dan menyiksa lahir batin. merusak fisik. dua responden menjawab kusta bahaya.. I. Mencermati jawaban responden mengenai seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta . . mrotholi. kulitnya mlepuh – mlepuh seperti kena api. kalau minum obat badan enak. Untuk jawaban-jawaban responden tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini : Kotak 17 .. merusak mental. kadang orang melihat saya seperti takut. wajah berubah menjadi menakutkan..ya bahaya bu.. Penyakit kusta merusak fisik. dari delapan responden terdapat empat diantaranya menyatakan bahwa bahaya penyakit kusta bisa menimbulkan kecacatan.

.. menurut Informan sebagian besar mengatakan bahaya penyakit kusta selain menular. bisa membuat cacat dan satu orang mengungkapkan kalau kambuh badannya sakit semua. bagaimana ya bu.5.. ..Tugurejo) mungkin saya sudah meninggal. 2 Untuk wawancara mengenai persepsi penderita tentang apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian didapatkan jawaban.. rasanya sepeti itu.. Beberapa jawaban dapat dicermati berikut ini : Kotak 18 . jadi saya kawatir kalau mereka tertular penyakit ini.. rumah dijual untuk berobat.. . saya mikir apa saya mau mati soalnya jantung keder terus. Tidak membunuh tapi merusak fisik.. waktu itu saya sudah mutung berobat kemana-mana tidak sembuh sampai habishabisan.5. kalau gak ke Tugu (RSUD.. .. R 1. ya berat bu.. 1. .8 Kemudian seberapa besar bahaya tentang penyakit kusta. empat semua dekat dengan ibunya. Bisa. cekot-cekot. Ibunya kalau kumat badannya sakit semua. wajahnya menakutkan. Kusta basah bisa sampai mrotholi.. .. drodog badan saya tidak ada daya. Kalau kumat lemes.. sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian dan sebagian kecil responden mengemukaan pendapat. anak-anak ketularan. panas dingin. Wah. anak saya banyak bu.2. Saya takut kalau istri saya cacat. Yaitu bu bisa jadi cacat. penyakit kusta tidak bisa mengakibatkan kematian.4. I.3. Dibawah ini kutipan jawaban dari beberapa responden : Kotak 19 . kusta kering rasanya senutsenut sakit sekali bu.

kerusakan syaraf tepi (semakin dekat dengan kulit / superfisial makin besar kemungkinan mengalami kerusakan akibat kuman kusta).3. Ya.3. .4..5 Kecacatan akibat penyakit kusta dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kecacatan Primer yaitu kecacatan langsung yang disebabkan oleh aktifitas penyakitnya. Bisa. ( pada wajah. Cacat ini terbentuk akibat salah . panas tinggi dan tidak ada obatnya. Kalau kematian InsyaAllah tidak. pengobatan yang tidak sempurna dalam waktu lama dan faktor pekerjaan (penderita yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja berat). pada anggota gerak) b. .2. Adapun kecacatan dibagi menjadi : a. seperti dikemukakan dibawah ini: Kotak 20 .. didapatkan jawaban bahwa penyakit kusta tidak menyebabkan kematian. hanya bisa merusak fisik. kalau berobat terus ya sembuh. Kecacatan sekunder yaitu kecacatan yang disebabkan oleh adanya anaestesi / mati rasa dan kelumpuhan.. kematian ditangan tuhan.. I.8 Selain itu menurut persepsi Informan mengenai apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kematian. … Tidak menyebabkan kematian.5..4. R 1. Tidak bisa.. menurut kula wong sehat mawon bisa mati nggih... saat pertama kena penyakit ini saya sempat koma. 1. antara lain : Faktor yang berhubungan dengan penderita sendiri (umur. faktor yang berhubungan dengan penyakitnya (lama menderita dan tipe dari penyakit). bisa sembuh kalau berobat. jenis kelamin)..

menurut Informan.. kaki saya luka. semua menyatakan bahwa penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan berikut ini : seperti di ungkapkan Kotak 22 . luka tidak sembuh-sembuh terus diamputasi . kemarin kena air panas tidak terasa.. kakinya cacat awal-awalnya luka seperti ini (menunjuk luka dikaki) . Bisa. Ya.4. tangan dan kakinya mrotholi semua.5. . Tanggapan responden terhadap pertanyaan apakah penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan mendapatkan hasil bahwa semua responden menjawab ”bisa”. kuping saya memanjang karena penyakit ini... tangan dan kakinya cacat. .. .. keponakan saya ini tangannya sudah tidak nornal lagi.. semua badannya cacat. itu orang cina yangbarengan periksa dengan saya. saya takut cacat. kaki saya cacat..7 Sedangkan mengenai kecacatan. berikut ini kutipan tentang jawaban responden : Kotak 21 . Bisa... Ya.. tangan saya sudah mati rasa. .dalam aktifitas atau tidak pernah digunakan (disuse) bisa juga karena adanya infeksi sekunder. ini wajah saya sudah mulai cacat.. kata pasien yang barengan kontrol.2.3. ini (menunjuk sepanjang tungkai kanan) tidak terasa lho bu. wajah.. saya sampai saat ini ada rasa takut cacat.. Ya.. Bisa.. tangan istri saya perasaannya berkurang. kalau ngantar ke Tugurejo saya sering omong-omong dengan pasien lain. R 1. Ya. katanya awalnya cacat karena tidak terasa. kaki. penyakit kusta bisa mengakibatkan kecacatan pada tubuh penderita.. seperti tetangga saya. Bisa. Bisa. lha niku bojo kula (ibunya penderita) ngertos-ngertos tangane ngeten ( jari-jarinya kithing) . . tangan saya kithing tidak terasa.

Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. setelah minum obat saya tenang bu. Baik apabila berobat. bukan penyakit turunan/kutukan. Penderita yang sudah dalam keadaan lanjut. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur. Dengan matinya kuman maka sumber penularan dari penderita ke orang lain terputus. 1.2. . 3 4. sebagai berikut : Beberapa jawaban responden diungkapkan Kotak 23 .. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan. Dulu kena air panas gak terasa sekarang jadi cacat.. Penyakit kusta dapat diobati. pengobatan hanya dapat mencegah cacat lebih responden menyatakan penderita kusta harus berobat secara rutin karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. pernah telat kontrol timbul lagi gejala seperti dulu..cacat. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip yaitu perilaku berobat penulis tanyakan dengan bagaimana menurut pandangan anda apabila penderita kusta diharuskan berobat secara rutin dalam waktu yang lama dan harus minum obat setiap hari? Apa alasan dari jawaban tersebut? Semua cacat permanen. Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit jadi kurang aktif sampai akhirnya hilang. keluar benthol-benthol. karena kalau tidak berobat bisa kumat (kambuh) . Setuju.. capek. I.

. . biar sembuh total. sehingga selalu penulis awali dengan seandainya teman anda sakit kusta. terawat.. 1.. kalau tidak berobat sakit lagi. kadang-kadang jenuh. Perlu berobat rutin. dikamar terus. ibu saya kalau obat nya telat badannya sakit semua..8 Adapun menurut persepsi Informan apabila menderita penyakit kusta.. keluar benjolan-benjolan.5. I.. Ya harus berobat kesini (RSUD Tugurejo) karena di Jateng pusatnya disini. diharuskan rajin menjalani pengobatan seperti pernyataan dibawah ini : Kotak 24 . Harus diobati. penulis mengalami kesulitan karena teman penderita belum mengetahui kalau teman yang diantar berobat menderita kusta. 4 Untuk mendapat jawaban dari teman penderita. kalau telat berobat ya kambuh lagi . . bagaimana pendapat anda setelah mengetahui teman anda menderita kusta? Berikut kutipan jawaban dari teman penderita kusta : Kotak 25 .. .2.. Saya ngomong pada orang tuanya untuk berobat sampai sembuh dan saya akan selalu membantu ngantar keponakan saya berobat ke tugu.. .... .. jangan-jangan juga sakit kusta. Harus bu. .. Ya..6. Baik. biar nggak kumat.7..3.4. R 1.3.. kusta kan bisa menular. Harus..dan saya telpon bapak saya untuk mengecek di rumahnya karena saya tau neneknya juga sakit tapi nggak pernah keluar... kalau obatnya telat sering reaksi lagi. .. Harus berobat terus. Harus berobat ke RSUD Tugurejo karena ahlinya ada di Tugurejo.

tidak stres dan satu responden perlu dilakukan terapi psikologi. vaslin atau hand body lotion) yang berfungsi untuk menjaga kelembaban kulit.. Karena penderita kusta seperti saya ini sebetulnya masalah yang paling berat ”saya down sekali”. tangan dan kaki secara teratur. R 1. sedangkan dua responden menjawab dengan berfikiran tenang. tidak stres. Tenang. Perlu terapi psikologi. c. Prinsip pencegahan bertambahnya cacat pada dasarnya adalah 3M : a. Seperti dikemukakan sebagai berikut : Kotak 26 . hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh seorang penderita kusta dan alasan dari jawaban yang diberikan. sehingga penderita harus bisa melakukan perawatan diri dengan rajin agar cacatnya tidak bertambah berat. tidak kelelahan.. tidak cacat. 5 Selanjutnya mengenai persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip.I. b. Kekeringan pada kulit akan mengakibatkan luka-luka kecil yang bisa terinfeksi. Dalam hal perawatan diri didapat beberapa jawaban responden. Memeriksa mata... Melakukan perawatan diri. Melindung mata. Sebagian besar responden menjawab pertanyaan dengan jawaban ”berobat” biar sembuh. sebagian . terapi mental sangat diperlukan. Penderita harus mengerti bahwa pengobatan kusta sudah / akan membunuh bakteri kusta tetapi kecacatan yang terlanjur terjadi akan menetap seumur hidupnya.3 Dalam pencegahan kecacatan. untuk mencegah maka perlu mengolesi dengan minyak ( minyak kelapa. . penderita kusta perlu mendapatkan pendidikan dan tindakan perawatan diri. tidak hanya fisik yang diobati. tangan dan kaki dari trauma fisik. minum obat.

benda-benda tajam. tidak perlu menggunakan pelembab kalau tidak ada benjolan-benjolan dikulit. kaki bisa terluka oleh : Benda panas. berjalan terlalu jauh atau cepat. memar atau lecet sekecil apapun. batu dalam sepatu dan lain-lain. gesekan dari sepatu/sandal yang terlalu besar ataupun kecil.. Untuk mencegahnya maka : . Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi tangan yang mati rasa. Tekanan tinggi ataupun lama berdiri terlalu lama tanpa gerak. Jika ada luka. R 4. kalau ada benjolan-benjolan iya harus pakai pelembab. Adapun untuk kaki yang mati rasa. rawatlah dan istirahatkan bagian tangan sampai sembuh.. . Tidak semua.basar responden menjawab dengan harus mengoles pelembab di tangan dan kaki agar kulit tidak kering.. bisa terluka oleh : benda panas. Untuk mencegah terjadinya luka ditangan maka : Perlu melindungi tangan dari benda yang panas. dari RS Tugu saya diberi vaslin. tapi kalau tidak ada ya nggak perlu bu. Harus pakai. kasar ataupun tajam dengan memakai kaos tangan tebal atau alas kain.. Berikut kutipan jawaban dari dua responden : Kotak 27 . jongkok yang lama dan sebagainya. Seringlah berhenti dan periksa tangan dengan teliti apakah ada luka atau lecet yang sekecil apapun. benda tajam.8 Selain itu untuk tangan yang mati rasa. karena kulit kering kadang sampai pecah. gesekan dari alat kerja dan pegangan yang terlalu kuat pada alat kerja. dari RSUD Tugurejo diberi vaslin sebagai pelembab dan satu responden menjawab.

Kalau ada luka. R 1. biar tidak putusputus.. kalau ada luka terus disalep. Ya..8 Mencermati jawaban diatas menurut responden..2. setiap hari.... Ya. . Ya. .5. Ya.. saya takut luka-luka itu menulari anak-anak saya.... memar atau lecet kecil. ada luka ya langsung diobati.Lindungi kaki dengan selalu memakai alas kaki.3. langsung rawat dan istirahatkan kaki (jangan sekali-sekali diinjakkan). Ya. . apakah terdapat luka baru ..4. biar sembuh. diobati.7.. biar tidak ”mbabrak-mbabrak” . Sering berhenti dan memeriksa kaki dengan teliti apakah ada luka atau memar atau lecet yang kecil sekalipun. nek wonten luka ngertos.wong niki mboten kraos. . .karena kulit saya mati rasa kalau ada luka saya sering tidak tau karena tidak sakit. . Berikut kutipan jawaban dari responden : Kotak 28 ...6.. Ya.. karena luka bisa jadi cacat. korengnya harus dilihat setiap hari. Ya. Membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi kaki yang mati rasa... pasien bapak-bapak tadi lukanya sampai bau mungkin nggak pernah diperiksa. Hal ini penulis tanyakan dengan melakukan wawancara tentang bagaimana menurut responden apabila setiap hari responden diharuskan memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak. setiap hari penderita kusta diharuskan memeriksa anggota badannya.. Ya. setiap hari saya periksa badan saya.

ada tiga macam fungsi saraf 1) fungsi motorik memberikan kekuatan pada otot (otot gerak). responden memeriksa anggota badannya agar lukanya tidak menimbulkan cacat dan responden mengetahui kalau ada luka sehingga bisa cepat diobati supaya tidak tambah berat/menjalar. Cacat kusta terjadi akibat gangguan fungsi saraf pada mata. tangan atau kaki. WHO membagi tingkat cacat kusta segabai berikut : Tingkat cacat 0 : jika mata. tangan atau kaki akibat kerusakan saraf karena penyakit kusta. lunglai. orang yang cacat akibat kusta ” dicap” seumur hidup sebagai ”penderita kusta” walaupun sudah sembuh dari penyakit. tangan atau kaki tetap utuh. . apabila terjadi luka baru tidak terasa sakit. tetapi cacat itu tidak kelihatan. Proses terjadinya cacat kusta tergantung dari fungsi saraf. mata tidak bisa menutup erat. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga. Tingkat cacat 2 : jika kalau ada cacat akibat kerusakan saraf dan cacat itu kelihatan (borok luka. Sementara sebenarnya hampir semua cacat dapat dicegah. Kecacatan pada kusta dapat terjadi lewat dua proses yaitu infiltrasi langsung kuman kusta ke susunan saraf tepi dan organ (misalnya mata) dan melalui reaksi kusta. jari kithing. luka pada cornea mata.atau tidak. Tingkai cacat 1 : jika ada cacat pada mata. responden merasa takut lukanya bisa menular pada keluarganya . 2) fungsi sensorik memberi rasa raba dan 3) fungsi otonom mengurus kelenjar keringat dan kelenjar minyak (berhubungan dengan kekeringan kulit). Kusta merupakan masalah kesehatan masyarakat karena cacatnya. Sayangnya. pemendekan.

.3... Ya bu.6. menyatakan perlunya memeriksa kelainan atau kecacatan dibadannya setiap hari karena takut kecacatan tersebut berlanjut menjadi lebih parah.cerita pasien yang bareng saya antri tangannya cacat. Ya. Nggih. Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip... jari saya ada yang memendek. nek kula mboten onten cacat. ben mboten kesuwen. cacat dan sebagai sumber penularan . saya takut seperti orang kusta yang lain tangan dan kakinya cacat...... R 1. . kakinya cacat karena tidak pernah merasa tau-tau cacat. Iya. ning cina niku harus diperiksa setiap hari. ini kaki saya cacat ... langsung bisa di obatke. .Adapun dalam menggali persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. . luka tak sembuh-sembuh diamputasi.. . takut ”mrotholi” tangannya. keset nggih mambu. ”semper ” jalannya pincang.5. persepsi penderita terhadap risiko bila berperilaku negatif yaitu tanggapan responden interpretasinya terhadap penyakit yang diderita sebagai penyakit yang memalukan. Iya bu. .. 5.8 Dengan melihat hasil dari jawaban semua responden. sepertinya ngga ada tanda-tanda tau-tau tangan saya ”kithing”.4. terus .. dibawah ini merupakan pandangan dari masing-masing responden dalam pencegahan cacat kusta : Kotak 29 . menularkan. Iya.. .2. Karena badan saya seperti orang beri-beri saya takut kalau sewaktu-waktu terjadi cacat.7. Ya. perasaan takut lingkungan mengetahui dan tidak mau berobat sehingga akan menjadi parah. Iya.

5 Sedangkan pandangan responden jika melihat penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu didapat jawaban.duren. tidak kambing. tape. satu responden menjawab lebih baik mengucilkan diri dan satu responden lain sebenarnya mengetahui .. R1.Stigmatisasi diri sendiri pada penderita kusta sangat nyata.. capek. daging kambing. sprit (alkohol).. capek harus dihindari. penderita yang mengucilkan diri karena malu dan penderita yang tidak mau berobat. penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. Dalam penelitian tentang faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta penulis melakukan wawancara mendalam mengenai pandangan responden terhadap risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan penderita. harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita.. boleh makan daging . dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. Dari hasil jawaban mengenai hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang penderita kusta. anggur. nangka. Tidak diperbolehkan makan saos. duren. seperti diungkap oleh dua responden dibawah ini : Kotak 30 . memalukan. sebagian besar responden mengutarakan bahwa makanan tertentu tidak boleh dimakan dan keadaan stres. Tidak boleh stres. semangka. akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen.nanas. nongko. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat.

3 Sementara itu.. R4 6. kalau tidak berobat tidak sembuh-sembuh. mengurung diri. berkeinginan bunuh diri. saya sering melakukan itu. reaksi terus. sehingga saya juga sering tidak percaya diri. Lebih baik mengucilkan diri dari pada dirasani orang / tetangga. seperti yang diungkapkan oleh responden dibawah ini : Kotak 31 . Salah besar.. penderita kusta harus selalu berobat kalau tidak berobat maka tidak akan sembuh dan satu responden mengharapkan adanya terapi mental oleh psykolog karena selama ini hanya mendapatkan terapi obat saja hal ini dikatakan oleh responden ke 4 seperti dibawah ini : Kotak 32 .bahwa tindakan mengucilkan diri itu adalah salah. R 2.. takut. tidak percaya. Beberapa jawaban diungkapkan oleh responden berikut ini : . bu mbok jangan terapi obat saja harusnya ada terapi mental. tetapi respoden sendiri melakukannya juga. Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta Penderita kusta pada umumnya tidak mengetahui bahwa dia menderita kusta. dan saat pertama mengetahui penderita merasa kaget.. .. berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat sebagian besar berpendapat bahwa. saudara atau perangkat desa.. informasi tentang penyakit kusta justru didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. Saya tau tidak baik tapi kadang-kadang saya juga malu dan down bu.

6 Kemudian persepsi responden tentang... saya malu. tapi saya percaya pasti ada obatnya. Saya takut tetangga tau.. . Putus asa. Syok..6. Dari saudara saya yang bapaknya sakit seperti saya......Kotak 33 .2. pendapat keluarga saat mengetahui bahwa responden menderita kusta diperoleh jawaban seperti kutipan dibawah ini : Kotak 35 . .3. R 1.. nanti saya dikucilkan (responden menangis).. saya dirasani. Takut sekali kalau tetangga tau. Mental saya drop .. malu.. Nggih ajrih. anak-anak saya. takut luar biasa saya waktu itu berusaha bunuh diri... R 5.7. didapat beberapa jawaban dari sebagai berikut : Kotak 34 . ..3. .4 Adapun perasaan yang ada dalam pikiran responden setelah mengetahui bahwa penyakitnya adalah kusta. Dari pak Bayan . Dari petugas RSU Tugurejo. Waktu itu saya berusaha bunuh diri...4..2. . ... takut menular keluarga. saya tidak melanjutkan kuliah sampai sekarang. Ya kaget. .. saya was-was bu sampai sekarang.

6. Istri mendorong saya berobat.. R 1.. 3 Sementara itu.7.3. Orang tua bilang dikasih cobaan harus diterima..5.. Takut sekali. sambil menunduk berkata : ... . Anak-anak dulu sukanya marah sekarang sudah tau suruh berobat terus.. Suami saya bilang ”wong kok gaweane lara”. paman responden merasa kecewa karena penyakit keponakannya adalah kusta seperti diungkapkan dibawah ini : Kotak 36 ..8 Selain itu merurut Informan mengenai bagaimana perasaannya setelah mengetahui bahwa penyakit responden adalah kusta. Bapak – ibu kaget selama ini taunya saya sakit karena salah obat. Suami saat itu selalu berusaha mengobatkan saya . I. Periksa ke Tugurejo secara rutin pasti sembuh kata bapak. orang tua saya takut kalau saya pada ”mrotholi” . saya disuruh berobat ke RSU Tugurejo karena bapaknya juga sembuh di sini. ayah penderita terlihat terpukul saat penulis menanyakan tentang perasaannya setelah mengetahui putrinya menderita kusta....2. . wong keluarga lain tidak ada yang kena. Pertama ya kaget. saya gak tega. .. kasihan... tiga orang menyatakan merasa takut kalau tertularan penyakit ini dan merasa kasihan kalau penderita menjadi rendah diri.4.. Kecewa..... . .

.. lain dengan teman penderita.. Mudah-mudahan tidak bu. 5 Sikap merupakan respon evaluasi yang dapat berupa respon positip maupun negatip. seandainya teman anda menderita kusta perasaan apa yang ada dalam pikiran anda? Berikut jawabannya: Kotak 38 . saya kawatir kalau anak saya jadi minder di sekolahnya I. Saya sangat kasihan pada anak perempuan saya ini. was-was.. dan juga kaget karena penyakitnya adalah kusta dan satu orang tidak mengetahui kalau temannya sakit kusta sehingga penulis bertanya dengan seandainya teman anda di nyatakan menderita kusta bagaimana ? didapatkan jawaban seperti kutipan wawancara dibawah ini : Kotak 39 . 5 Sedangkan lebih lanjut ketika Informan ditanyakan tentang apa yang terjadi pada saat mengetahui kalau istri. tetangga dan teman penderita telah menderita kusta semua merasa takut. sikap akan menunjukkan apakah seseorang menyetujui atau tidak menyetujui . Wah. Untuk mengetahui bagaimana sikap keluarga saat pertama mengetahui bahwa . mendukung atau tidak mendukung terhadap suatu obyek.Kotak 37 .. malah sakite mboten mari-mari. keponakan.2 Meskipun empat orang menjawab tentang perasaan masing-masing. saya takut I. ibunya juga kena katanya di badan sakit semua.. nanti keluarganya malu.. yang tidak mengetahui bahwa temannya menderita kusta sehingga penulis bertanya. ya kasihan.. anak. I.

R5 Adapun apa yang dilakukan keluarga setelah mengetahui kalau responden sakit kusta sebagian besar responden menyatakan keluarga mendorong untuk berobat hanya satu responden menjawab bahwa keluarga tidak peduli kalau responden menderita penyakit kusta.. cuek gitu. R 1. dan responden ke 5 menilai sikap keluarga saat itu pasip saja. bapak dan paman saya berobat ke RSU Tugurejo selalu ngantar saya .. berikut kutipannya : Kotak 41 .. seperti kita lihat pada kutipan berikut : Kotak 42 .3...4..gak peduli saya kena kusta.. Ya tidak apa-apa. R5 ...7 Sebagian besar menyatakan bahwa sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa. Pasip saja bu. . . Mendukung untuk berobat. was-was dan takut... di ungkapkan oleh responden seperti dibawah ini : Kotak 40 ..responden terkena penyakit kusta. Ya cuek saja bu.... Bapak selalu was-was takut saya seperti ibu. Orang tua takut dan kecewa karena saya sakit sudah diobatkan kemana-mana katanya kena ”sengkolo” ternyata kena kusta...

kalau disini kan tidak bayar.. di lakukan wawancara mengenai pandangan responden tentang sikap masyarakat sekitar dengan pertanyaan sebagai berikut : Apa pendapat orang-orang di lingkungan kerja/ teman anda setelah mengetahui anda menderita kusta? . di RS. dia sering ”nuturi” untuk berobat terus. Informan menjawab dengan sikap yang berbeda-beda. 1...5 7. masih kecil. Orang tuanya sangat kecewa. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta.3. Adik-adiknya tidak tau.. mungkin karena dari keluarga kurang mampu jadi mau berobat ya mikir biaya. Keluarganya sudah mengobatkan ke mana-mana bu. dua jarinya karena luka terus kemudian diamputasi I. dibawah ini kutipan dari masing-masing jawaban : Kotak 43 .. Ibunya nangis saat saya beri tau kalau Afif juga kena kusta. keluarga saya sendiri taunya salah obat karena keponakan saya ini sering minum obat bebas. seperti masyarakat di sekitar tempat tinggal responden. Sepertinya biasa saja bu.. dulu ya belum tau dan sekarang dia sering Bantu ibunya untuk pekerjaan rumah. Anak terbesar saya tau kalau ibunya sakit kusta baru-baru ini. Blora sana kakinya di amputasi. Adik-adiknya tidak diberi tau kalau kakaknya kena kusta.4.. Yaitu faktor yang terdapat diluar responden. .Selain itu bagaimana sikap keluarga saat itu..2. . faktor ini berupa interaksi sosial di luar pribadi responden. . . Dalam mencari faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta... sangat kawatir.

... kalau ke semarang ya dikira ke rumah saudara saya. R 1.4.. taunya saya sakit saraf. . Demikian juga tentang apa yang mereka lakukan terhadap responden. Teman-teman disekolah tidak ada yang tau kalau saya sakit kusta. tidak tau kalau saya kena kusta. . .8 Mengenai dari mana Informan mengetahui tentang penyakit kusta yang diderita responden. didapat jawaban beragam yaitu : suami penderita mendapat kabar dari kakak perempuan penderita yang juga menderita kusta. . Lingkungan tidak tau. teman tidak tau. alergi atau karena salah obat. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang dilakukan masyarakat dilingkungan responden dapat dilihat beberapa tanggapan berikut ini : Kotak 44 .. Teman kerja saya tidak ada yang tau kalau sakit.6. Tetangga dan teman saya tidak tau bu.Dengan melihat hasil jawaban semua responden. Teman-teman. katanya penyakit saya tidak bisa sembuh. ayah penderita mengetahui kalau putrinya menderita penyakit kusta karena istri/ ibu penderita menderita penyakit yang sama yaitu kusta.. dipastikan bahwa teman atau tetangga tidak ada yang tau kalau responden sakit kusta..2. didapatkan jawaban sebagian besar dari lingkungan responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden . ... tetangga tidak pada tau bu... Biasa saja.7.5. taunya kena gula dan kaki saya dipotong karena penyakit diabetes. Kabeh mboten ngerti . taunya salah obat. semuanya beranggapan responden berobat karena penyakit lain seperti penyakit saraf. ya taunya saya sakit alergi. tapi saya takut juga sewaktu-waktu mereka tau..3.. .. . diabetes.Tidak ada yang tau. paman penderita melihat ...

. kakinya luka ngga sembuh-sembuh sudah diobatkan ke puskesmas.. tetangga penderita adalah pegawai RSUD Tugurejo. Dari saudaranya.. mendaftar ke poli penyakit dalam dan akhirnya dirujuk ke poli kulit.. tidak sembuh terus saya bawa kesini. saya ketemu di RSUD tugurejo karena adiknya dirawat disini karena kusta dan saya ikut besuk di ruang kenanga. teman saya nggak sakit kusta kok bu.keponakannya sakit kusta saat menengok penderita mondok di ruang Kenanga RSUD Tugurejo.. responden mengantar penderita karena luka dikaki yang tidak sembuh-sembuh. I 3. dirujuk ke penyakit kulit lantai 2. dibawah ini merupakan kutipan jawaban dari paman. ketidak mandirian fisik yang disebabkan oleh kecacatan dan keterbatasannya. mengetahui kalau tetangganya sakit kusta pada saat bertemu dengan saudara penderita yang sedang menunggu penderita. . .. dan ini mau mondok di ruang Kenanga. sakitnya reaksi kusta. tetangga dan teman penderita : Kotak 45 . Cacat permanen yang terlihat nyata oleh lingkungan akan membatasi mereka dalam menjalani kehidupan bermasyarakat secara normal. orang dengan kusta menjadi malu. kata suster. karena menjalani rawat inap di ruang kenanga RSUD Tugurejo dan teman penderita tidak tau kalau penderita sedang sakit kusta. 5 Stigma kusta merupakan faktor utama yang menyebabkan keterlambatan pasien dalam pengobatan hal ini merupakan kerentanan terjadinya kecacatan. ke penyakit dalam. hal ini mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini yang dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. Stigmatisasi diri penderita terlihat sangat nyata. Teman saya.. mereka bahkan kehilangan pekerjaan.4. Saya taunya saat keponakan saya ini mondok di ruang kenanga.

dengan tidak bekerja responden menyatakan bahwa tidak mempunyai penghasilan.harinya sangat terganggu oleh penampilannya dikarenakan adanya perubahan pada fisik dan kepercayaan diri yang menurun. Sebagian besar responden telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai . Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita. kegiatan bisnis sampai kehadiran mereka pada acara-acara di lingkungan masyarakat(2). mulai dari perkawinan. Pembahasan 1. Karakteristik Responden Gambaran umum responden menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 26 tahun sampai 35 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. hubungan pribadi. Dengan terserangnya penyakit kusta responden merasa bahwa aktivitas sehari . selain sulit dalam mencari pekerjaan responden merasa takut apabila pimpinan dan teman-temannya mengetahui bahwa responden terserang penyakit kusta dan responden sangat menyadari kelelahan akan mengakibatkan kekambuhan penyakitnya.BAB V PEMBAHASAN A. Pendidikan merupakan (32) salah satu faktor yang mendasar untuk melaksanakan tindakan . hanya ada satu responden yang tidak bersekolah. dilihat dari segi pendidikan sebagian besar responden berpendidikan Sekolah Menengah Atas. pekerjaan. Pada kelompok umur tersebut merupakan masa produktip dalam kehidupan responden. Sebagian besar responden tidak bekerja.

bahwa semua responden menyatakan masyarakat disekitar tidak mengetahui bahwa responden menderita penyakit kusta dan sebagian keluarga responden. merasa sangat takut dan waswas saat mengetahui responden menderita kusta. 2. Stigma adalah hal-hal yang membawa aib.dengan 5 tahun. Untuk mengatasi stigma ini. dalam kurun waktu sekian lama responden harus selalu berobat dan minum obat seraca rutin. hal yang memalukan. memakai baju lengan panjang. keluarga dan temantemannya (12). Wawancara mendalam terhadap responden dalam mengatasi stigma ini diperoleh jawaban bahwa. apabila sampai terlambat dalam berobat responden menyatakan penyakitnya akan muncul kembali. Hasil wawancara mendalam didapatkan hasil . mengikuti kegiatan di kampungnya seolah-olah berkerudung. sesuatu dimana seseorang menjadi rendah diri. menutup diri. Stigma penyakit kusta menurut persepsi responden. mencegah pengungkapan diri terhadap masyarakat. malu dan takut karena sesuatu (14) . sebagian besar responden melakukannya dengan tetap bekerja. walaupun ada juga yang tetap tidak sedang sakit. ada juga dengan cara membatasi diri. tidak memperdulikan lingkungannya. Untuk menghindari efek stigmatisasi penderita kusta menggunakan beragam cara agar orang lain tidak mempelajari atau mengetahui tentang penyakitnya diantaranya menyembunyikan secara efektif tentang penyakitnya. rok panjang dan bagi . Faktor-faktor yang melatar belakangi persepsi penderita kusta terhadap stigma penyakit kusta a. responden seperti selalu menggunakan pakaian tertutup.

sebagian responden menganggap bahwa orang yang jorok dan kondisinya menurun yang dapat tertular penyakit kusta. Sebagian besar responden mempunyai persepsi bahwa penyakit kusta dapat menimpa semua orang. memakai sepatu berkaos kaki dan bertopi juga tidak menceritakan kepada siapapun tentang penyakit yang dideritanya. dia percaya bahwa penyakit akan berakibat serius pada organ tubuh. antara lain : faktor sumber penularan yaitu tipe penyakit kusta . Penyakit ini dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. Persepsi penderita terhadap kemudahan kemungkinan terkena penyakit.gejala fisik mungkin mempengaruhi persepsi keparahan dan motivasi pasien untuk mengikuti instruksi yang diberikan (20). secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah semua tergantung dari beberapa faktor. jika tidak sama tidak akan tertular. Dalam teori health belief model dinyatakan bahwa ketika individu mengetahui adanya kerentanan pada dirinya.penderita laki-laki menggunakan jaket. . faktor kuman kusta dan faktor daya tahan tubuh (1). b. Sebagian besar responden tidak mengetahui cara penularan penyakit kusta dan ada yang mengatakan penyakit ini menular melalui udara dan satu responden menyatakan bisa tertular penyakit kusta apabila golongan darahnya sama dengan penderita. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain. Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta . Adanya gejala .

Penyakit kusta dapat diobati dan bukan penyakit turunan / kutukan. Persepsi penderita terhadap manfaat berperilaku positip. tidak lelah sangat membantu responden mengurangi frekuensi kekambuhan. tidak stres. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur. d. sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan (17).c. didapatkan jawaban bahwa sebagian besar responden menganggap kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius alasan responden adalah penyakit kusta mengakibatkan perubahan bentuk fisik dan kecacatan dimana kecacatan ini bisa menetap seumur hidupnya. Tujuan pengobatan ini adalah untuk mematikan kuman kusta. Sebagian besar responden berpandangan bahwa penyakit kusta bisa menimbulkan kematian hal ini dikemukakan bahwa gejala yang muncul saat terkena penyakit ini sangat berat. Persepsi penderita terhadap kegawatan penyakit. perasaan tenang. justru penyakitnya menjadi berat dalam arti lain terlambat berobat untuk penyakit kustanya karena salah dalam mendiagnosa penyakit. maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali. Semua responden menyatakan orang yang menderita penyakit kusta harus berobat secara rutin. dan saat pertama kali berobat tidak langsung diketahui penyakitnya sehingga responden merasa pengobatan yang dilakukan kurang tepat. Pada tipe MB lama pengobatan 12 – 18 bulan dan tipe PB lama pengobatan 6 – 9 bulan. . Pada penelitian ini. karena kalau tidak rutin akan kambuh lagi. menurut WHO menggunakan hemoterapi dengan Multi Drug Treatment (MDT).

Persepsi penderita terhadap risiko berperilaku negatip Dari hasil wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum risiko berperilaku negatip yaitu tentang hal-hal yang tidak boleh di lakukan. karena anggota badan penderita mengalami mati rasa sehingga kalau terjadi luka tidak terasa sakit. terisolasi dari masyarakat. menurut responden mengetahui terjadinya luka secara dini akan mengurangi terjadinya kecacatan karena luka bisa cepat diobati sehingga tidak bertambah berat/menjalar e. serta kehilangan status sosial secara progresif. perawatan diri dengan rajin sangat perlu. keluarga dan teman-temannya (7). kecacatannya juga memberi gambaran yang menakutkan. benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan. capek / kelelahan harus dihindari karena akan memunculkan gejala-gejala penyakit kusta (reaksi kusta). nangka. makanan beralkohol dan keadaan stres. dengan mengoles pelembab di tangan dan kakinya akan mengurangi kekeringan pada kulit yang bisa membuat luka / pecah-pecah. depresi dan menyendiri (1) Sebagian besar responden menanggapi bahwa penderita kusta yang selalu mengucilkan diri karena malu itu tidak baik. supaya cacatnya tidak bertambah parah. karena . Secara psikologis bercak. hal ini menyebabkan penderita kusta merasa rendah diri. responden mengutarakan bahwa jenis-jenis makanan tertentu tidak boleh dimakan seperti daging kambing. Menurut responden setiap hari penderita kusta harus memeriksa anggota badannya apakah terjadi luka atau tidak.Kecacatan yang berlanjut dapat menimbulkan ketidak mampuan melaksanakan fungsi sosial yang normal. Sebagian besar dari responden menyatakan. durian.

Faktor Internal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. Responden lain sebenarnya mengetahui bahwa tindakan mengucilkan diri adalah tidak baik. takut dan tidak percaya saat pertama kali mengetahui terserang penyakit kusta dan satu responden berusaha bunuh diri saat mengetahuinya. apabila tidak berobat secara rutin maka tidak akan sembuh dan sebagian lagi menyatakan mengucilkan diri adalah tindakan yang paling tepat agar tidak menjadi bahan pembicaraan tetangga. sebagian besar responden merasa kaget. hal ini karena keluarga tidak . keluarga sangat kaget saat mengetahui responden terserang penyakit kusta. keluarga mengatakan kalau yang berbahaya itu adalah sakit lepra. sikap keluarga saat itu selalu mendorong untuk berobat walaupun ada perasaan kecewa. informasi tentang penyakit kusta didapat dari orang lain seperti petugas kesehatan. Sebagian besar responden mengatakan. Berkaitan dengan pandangan responden tentang penderita yang tidak berobat semua responden berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan besar karena penderita kusta jika tidak berobat selain tidak sembuh akan mengalami reaksi dan bisa menjadi cacat dan sebagian responden menyatakan perlu adanya terapi mental oleh psykolog karena selain fisik yang sakit penderita kusta juga menderita sakit secara mentalnya. Satu responden mengatakan keluarganya biasa saja dengan penyakit responden dan tidak merasa bahwa responden menderita penyakit kusta. Pada umumnya responden tidak mengetahui bahwa menderita kusta. akan tetapi responden tersebut melakukannya juga karena malu dan down mentalnya.penderita kusta harus berobat. saudara atau perangkat desa. f. was-was dan takut.

dengan demikian pendapat bahwa kusta itu menjijikan. Stigmatisasi diri sendiri penderita kusta sangat nyata. memalukan harus ditutupi akan menjadi stigma yang nyata pada penderita. karena alergi obat atau karena salah obat sehingga masyarakat dan teman responden tidak melakukan tindakan apapun terhadap responden. mereka mengira responden berpenyakit lain seperti penyakit saraf. Faktor ekternal yang melatar belakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. masyarakat disekitar tempat tinggal dan temantemannya tidak mengetahui bahwa responden menderita kusta. orang dengan kusta dapat menjadi malu mungkin karena sikapnya juga kecacatannya dan sikap ini dapat mengisolasikan mereka dari masyarakat. diabetes. baru di beri cobaan dari Allah g. dan waktu pertama responden menderita kusta keluarga mengatakan bahwa harus diterima. Semua responden mengatakan. Stigma menunjukkan “tanda” yaitu tanda yang diberikan dalam bentuk cap oleh masyarakat terhadap seseorang.mengetahui perbedaan antara kusta dan lepra. Efek dari stigmatisasi berakibat dapat membuat masyarakat / orang lain untuk merubah persepsi dan perilaku mereka terhadap individu yang dikenai stigma. dan pada umumnya menyebabkan orang yang dikenai stigma untuk merubah persepsi tentang dirinya serta menjadikan mereka mendifinisikan diri sendiri sebagai orang yang menyimpang. orang yang terstigmatisasi menjadi berperilaku seolah-olah mereka dalam kenyataan yang memalukan atau namanya tercemar (12) . akan mengucilkan diri dan sikap ini akan menjadi permanen (3). penderita akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi. Dari hasil .

dengan menggunakan wawancara mendalam di peroleh hasil sebagian besar Informan mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular.wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum masyarakat. keluarga dan teman penderita kusta tidak memberikan suatu tindakan yang mengarah ke stigmatisasi terhadap responden. kurang menjaga kebersihan adalah orang yang bisa tertular penyakit ini. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak langsung yang erat dan lama dengan penderita (1) . Sebagian besar menganggap penyakit kusta adalah penyakit yang berbahaya karena penyakit kusta menimbulkan gejala yang berat. disebabkan oleh kuman kusta. dan tiga dari lima Informan mengatakan kontak langsung yang lama adalah cara penularan penyakit kusta selain melalui udara. Semua Informan mengatakan penyakit kusta tidak menyebabkan kematian hanya bisa mengakibatkan kecacatan. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe MB kepada orang lain dengan cara penularan langsung. dapat merubah bentuk fisik dan bisa menimbulkan kecacatan. Dan cross chek yang dilakukan terhadap keluarga. . Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun. bisa menular ke orang lain . tetangga dan teman penderita yang selanjutnya disebut sebagai Informan. bisa menimpa semua orang dan orang yang kondisi kesehatannya menurun. Suami responden mengetahui jika istrinya menderita penyakit kusta dari keluarganya yang juga menderita penyakit ini dan Informan lain mengetahui dari petugas RSUD Tugurejo Semarang. seorang Informan tidak mengetahui bahwa temannya dirawat karena menderita penyakit kusta sehingga wawancara terhadap teman responden tidak penulis lanjutkan.

mulai dari tidak bersekolah sampai dengan lulus Sekolah Menengah Atas. Mengenai pendapat orang-orang dilingkungan penderita. harus berobat supaya sembuh dan sikapnya saat itu sangat kecewa. Dilihat dari latar belakang tingkat pendidikan responden. berjenis kelamin laki-laki sebanyak lima orang dan enam orang berasal dari luar Semarang. semua Informan mengatakan bahwa lingkungan tidak mengetahui kalau menderita kusta sehingga lingkungan tidak melakukan tindakan apapun terhadap penderita. Responden (penderita kusta) dalam penelitian ini berjumlah 8 orang dengan rentang usia 14 – 51 tahun. kawatir walau tetap membantu dalam berobat. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Lima orang responden tidak .Semua Informan setelah mengetahui berpendapat. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1.

Penderita kusta berpersepsi. dapat menimpa semua orang. penyakit kusta merupakan penyakit yang berbahaya dan serius. penyakit kusta merupakan penyakit menular. Penderita kusta berpersepsi bahwa. tetangga dan teman-temannya menyangka penderita berpenyakit lain seperti penyakit diabetes. terutama orang yang tidak melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) b.bekerja dan enam orang telah menderita penyakit kusta antara 1 tahun sampai 5 tahun lamanya. masyarakat disekitar tempat tinggal dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa penderita sedang mengalami sakit kusta. Penderita kusta berpersepsi bahwa. penderita kusta berpersepsi. untuk berperilaku positip ditunjukkan dengan : 1) Berobat secara rutin. c. Penderita kusta berpersepsi. a. penyakit syaraf atau penyakit alergi karena salah minum obat. . 2) Melakukan perawatan diri dengan rajin. berperilaku negatip yaitu : 1) Tidak mau berobat karena malu. menutupi kekurangannya/kecacatannya merupakan tindakan untuk mengurangi/ mengatasi cap buruk/stigma. sikap membatasi diri dalam pergaulan. 2. 3. bisa menimbulkan kematian atau kecacatan seumur hidupnya. 3) Mau berinteraksi dengan lingkungan. Penderita kusta berpersepsi. penderita beranggapan bahwa. d.

karena penderita kusta selain memerlukan pelayanan medis (obat) juga memerlukan pelayanan Fisioterapi untuk mencegah kecacatan. Terapi Kerja (Occupational Therapi). kecacatan. sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan berbagai pelayanan kesehatan diantaranya promosi kesehatan. rumah sakit dengan unggulan penyakit kusta. Saran 1.. Perlunya program monitoring dan evaluasi bagi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kusta. Bagi RSUD. Bagi Puskesmas. melatih otot-otot yang lemah dan untuk mempersiapkan operasi bagi penderita yang akan dilakukan operasi perbaikan kecacatannya.2) Mengucilkan/mengisolasikan diri. B. penyehatan lingkungan dan berbagai program kesehatan masyarakat lainnya untuk dapat mendeteksi secara dini masyarakat yang . Perlu adanya suatu kelompok penderita kusta dengan program kegiatan bersama. pemberantasan penyakit. sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan penyakit kusta di Jawa Tengah agar mengoptimalkan pelayanan Rehabilitasi Medik.Tugurejo Semarang. keperluan alat bantu (Orthotic Prosthetic) dan yang paling penting adalah pelayanan Psykologi untuk men support mental penderita. untuk meningkatkan motivasi dan upaya pencegahan 2. 3) Putus asa.

Volume 76. 2. England. Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. dan yang lebih penting persepsi terhadap stigma penyakit kusta harus dihilangkan karena penyakit kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. DAFTAR PUSTAKA 1. Leprosy Review. serta untuk melaksanakan pengobatan secara rutin. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. agar memeriksakan sedini mungkin dan berobat secara teratur serta melakukan perawatan diri untuk mencegah kecacatan. Volume 76. Bagi Penderita Kusta dan Keluarga. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kehidupan seharihari. Sikap dan kepedulian keluarga untuk dapat memotivasi penderita agar berobat secara teratur.terserang penyakit kusta. Number 4. Cetakan XVII. 3. Depertemen Kesehatan RI. Special Issue on Operational Research. Number 2. Leprosy Review. . 2005. 2005 3. December 2005.

2003 13. Laporan Kunjungan Rawat Jalan Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 6. 2000 16. London. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 2005 12. Jakarta. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Cetakan ke dua. Pedoman Pelaksanaan Pembentukan Kelompok Perawatan Diri. Tri Dayakisni. Lawrence W. Soekidjo Notoatmojo. Buckingham. 2005 10. Jane Ogen. modern English Press. Universitas Gajah Mada. Green. Gajah Mada University Press. UMM-Press. edisi 2. 2006 17. Jakarta. Edisi 4. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Dinamika Kelompok Penerapannya dalam laboratorium Ilmu Perilaku. 2001 9. Direktorat Kesehatan Jiwa Manajemen. Sulisna. Jakarta Depertemen Kesehatan. Universitas Sriwijaya. Saifuddin Azwar. Rineka Cipta. Health Promotion Planning. Depertemen Kesehatan RI. Beberapa Teknik dalam menejemen Mutu Rumah Sakit. Evaluasi Kunjungan Rawat Inap Penderita Kusta Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang tahun 2007 7. Jakarta. Depertemen Kesehatan RI. 2001 8. Data penderita Kusta Provinsi JawaTengah. Yogyakarta. Jacobalis. Yogyakarta. The Contemporary English – Indonesia Dictionary. Seven edition. Jakarta. 1996 . Bandung. Psykologi 11. Depertemen Kesehatan RI. 1997 19. Mayfield Publishing Company. 2000 20. Perilaku Konsumen dan komunikasi Pemasaran.4. Sarwono S. Psikology Sosial. Hudaniah. Pedoman Kusta Nasional untuk pelaksanaan pemberantasan kusta di daerah endemik Rendah. Open University Press. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Baderal Munir. Jakarta. tahun 2007 5. 1996 15. Philadelphia. Promosi kesehatan Teori dan Aplikasi. Srategi Penyuluhan Kesehatan. Mantra IB. 2000 14. Health Psychology. Samsi. Sosiologi Kesehatan Beberapa konsep beserta Aplikasinya. Edisi Revisi. Peter Salim. 2004 18.

1975. Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi.J. 27. Modul Pelatihan Program P2 Kusta bagi Unit Pelayanan Kesehatan. Slack Inc. Johana E. 23. 2004. Basics Of Qualitative Research. yogyakarta. 1997. Edisi Kedua. Aditya Media. 2007 22. Sebelas Maret University Press. Terjemahan. Hari Kusnanto. Moleong. Belief. Hand Out Program Pasca Sarjana. 30. Pustaka Jaya. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2005. A. penerjemah Muhammad shodiq dan Imam Muttaqim. Modul mata kuliah. Andi Offset. Pascasarjana IKM-MPPK UGM. 29. Metode Kualitatif dalam Riset Kesehatan. 1991 32. Yogyakarta. Anselm Strauss dan Juliet Corbin. 31. New Jersey. Yogyakarta. Sutopo. Utarini. M. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 2001 26. I. 34. Mery Debus. Jakarta. Fishbein. 1993 dan Ilmu Perilaku 33. 1992. Metodologi Penelitian Kualitatif. Ajzen. Universitas Gajah Mada. 2002. Metode Penelitian Kesehatan. 2002 24. Pengantar Pendidikan Kesehatan. Charles B. Penerbit Universitas Indonesia. Intention and Behavior an Introduction to Theory and Research. 2007 . PT Raja Grafindo Persada. Bandung. Depertemen Kesehatan RI. HB. Thorofare. Surakarta. Yogyakarta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sudarwan Danim. Becker MH. Metode Penelitian Kualitatif. Balai Pustaka. Prawitasari. bandung. Yogyakarta. 25. Pustaka Setia. Metode Penelitian Kualitatif. L. Burhan Bungin. Buku Panduan Diskusi Kelompok Terarah. Philippines : Addison Wesley Publishing. Jakarta. 28. Attitude. AED Healthcom.21. Remaja Rosdakarya. Soekidjo Notoatmojo. Miles Matthew B. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. 1995. 35. The Health Belief Model and Personal Health Behavior. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Menjadi Peneliti Kualitatif.

Number 1.2007.co. a journal Contributing to better understanding of Leprosy and its control. England. http://www. Rachmalina. Volume 76. Volume 73. Badan Litbang Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.komunikasi.oxfordjournals.22 23 40. motivasi. Leprosy Review. 42.org/cgi/content/full/cyll58v1 39. Workshop EDAN. 2001 41. 2008 . England 2002. 17 Pebruari. Mem-PD-kan para mantan penderita Testimonials. Balai Pustaka. RSUD Tugurejo. Kamus Besar Bahasa Indonesia . 2005 37. Number 2. Penelitian Pengembangan Model Penanggulangan Penyakit Kusta di daerah Endemis dengan Pendekatan Sosial Budaya.id/web.powered by joomla-@copyright(c)2005 open source MaltersG Aenll errigahtetsd:27s Nerovveedmber.36.Leadership. 38. http://her. edisi kedua. 1991 43. Special issue on interation. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Intruksi Kerja Pelayanan Pasien di Poliklinik khusus. 2007 kusta.suryo. Leprosy Review.