Anda di halaman 1dari 41

Presentasi Kasus Besar

Seorang wanita 64 tahun dengan adenoma thyroid,


hidronefrosis ren dextra et sinistra, tumor padat
ovarium, TB Paru LLKB dan Hipertensi

Oleh:
Suwondo Ariyanto G0003022
Satriyo Pinandito G0099132
Irma Putri D G0002082

Pembimbing
Dr. Sumarmi Soewoto, SpPD.,KGer

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2007
DAFTAR MASALAH

No Masalah Aktif Inaktif


1 Tumor Padat Ovarium 24 Oktober 2007
2 Adenoma Thyroid 24 Oktober 2007
3 Hipertensi Grade II 24 Oktober 2007
4 Infeksi Saluran Kemih 30 Oktober 2007
5 TB Paru BTA (+) LLKB 2 November 2007
Hidronefrosis Ren dextra et
6 11 November 2007
sinistra
7 Anemia 24 Oktober 2007 1 November 2007
8 HEPATOMEGALI 30 Oktober 2007
9 Hipoalbumin 25 Oktober 2007

2
LAPORAN KASUS

A. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada penderita tanggal 17 November 2007 di
bangsal Melati III
1. Identitas Penderita
Nama : Ny. S
Umur : 64 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Kristen
Pekerjaan : Pedagang makanan
Alamat : Pasar Gede, Solo
No. CM : 865055
Tanggal masuk : 24 Oktober 2007
Tanggal pemeriksaan : 17 November 2007
2. Keluhan Utama
Benjolan di perut
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Penderita adalah konsulan dari bagian obsgyn dengan diagnosa
tumor padat ovarium suspect ganas dengan hipertiroid. Kemudian dirawat
bersama dengan leader bagian interna. Penderita datang dengan keluhan
benjolan di perut. Benjolan dirasakan sejak ± 15 tahun yang lalu.
Benjolan mula-mula sebesar telur ayam, kemudian dalam 3 bulan terakhir
terus membesar hingga sebesar kepala orang dewasa. Benjolan tidak nyeri,
panas (-). Penderita sudah menopause sejak ± 20 tahun yang lalu.
Penderita mengaku melakukan KB suntik ± 25 tahun. Contact bleeding
(-), keputihan (+) hilang timbul. Penurunan berat badan (+), muntah (-),
mual (+), sebah (+). BAK 4 – 5 X sehari, @ 1 gelas blimbing, warna
kuning, nyeri saat BAK (-), anyang-anyangan (-), darah (-), nanah (-).

3
BAK sedikit-sedikit (-), nyeri pinggang (-). BAB 1 X sehari, warna coklat,
lembek, lendir (-), darah (-).
Penderita pernah periksa di bagian obstetri dan ginekologi RSDM
pada 6 hari dan 14 hari SMRS. Penderita didiagnosa ada tumor
kandungan. Kemudian penderita dirawat jalan dan diminta datang kembali
untuk kontrol di poliklinik untuk persiapan operasi.
Penderita mengeluh batuk sejak 3 minggu SMRS. Batuk terus
menerus. Batuk terutama kalau terlambat minum. Dahak (-), darah (-),
dada sakit (-), keringat pada malam hari (-).
3 bulan SMRS penderita mengeluh mudah capek, sakit kepala (+),
kadang berdebar-debar (+), mata berkunang-kunang (-), telinga
berdenging (-), sering kesemutan (-), kesulitan menelan (-).
12 tahun SMRS penderita pergi ke dokter karena ada benjolan di
perutnya. Penderita didiagnosa tumor kandungan dan disarankan operasi.
Penderita menolak operasi.
15 tahun SMRS penderita pergi ke dokter karena lemas dan capek.
Dokter menyuntik dan memberi obat jalan. Setelah minum obat 1 kali
penderita pingsan selama 7 jam. Kemudian dibawa ke RS Dokter Oen.
Penderita mondok selama 7 hari dan dikatakan ada benjolan di perutnya.
Penderita disarankan operasi, namun penderita menolak karena takut.
Penderita juga mengeluh ada benjolan di lehernya. Benjolan
dirasakan sejak ± 32 tahun yang lalu. Benjolan mula-mula seukuran
kelereng. Pada saat hamil benjolan membesar hingga sebesar bola tenis.
Kemudian benjolan sudah tidak membesar lagi sampai sekarang. Benjolan
tidak nyeri, panas (-). Suara serak (-), tidak dapat bicara (-), sesak (-),
gelisah (-), nafsu makan naik (+), keringat banyak (+).

4. Riwayat Penyakit Dahulu


a. Riwayat sakit darah tinggi : disangkal
b. Riwayat sakit gula : disangkal
c. Riwayat sakit jantung : disangkal

4
d. Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
e. Riwayat asma : disangkal
f. Riwayat sakit paru sebelumnya : disangkal
g. Riwayat minum obat TBC : disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Riwayat penyakit serupa : disangkal
b. Riwayat alergi : disangkal
c. Riwayat sakit gula : disangkal
d. Riwayat sakit darah tinggi : disangkal

6. Riwayat Fertilitas
Baik
7. Riwayat Obstetrik
Anak : Laki-laki,32 tahun, lahir spontan,
BB lahir 3000 gram, keadaan
sekarang baik.
8. Riwayat Haid
a. Menarche : 14 tahun
b. Lama : 7 hari
c. Siklus : satu bulan sekali, saat ini sudah 20 tahun tidak
menstruasi lagi
9. Riwayat KB
Penderita menggunakan KB suntik ± 25 tahun.
10. Riwayat Kebiasaan
a. Riwayat makan harian : makan semaunya tanpa batasan
tertentu.
b. Riwayat merokok : (+) sejak 20 tahun yang lalu, sehari
satu batang
c. Riwayat minum jamu : disangkal
d. Riwayat minum alkohol : disangkal

5
e. Riwayat olahraga : tidak pernah
11. Riwayat Gizi
Penderita makan teratur, 3 kali sehari sebanyak 6 sendok makan,
dengan sayur, lauk pauk tahu, tempe, kadang-kadang memakai telur dan
daging. Penderita tidak suka makanan asin dan asam. Hanya memakasi
sedikit garam dalam masakannya. Dalam sehari penderita minum kurang
lebih 8 gelas.
12. Riwayat Sosial Ekonomi
Penderita adalah seorang pedagang makanan yang mempunyai
warung makan di depan rumah, penderita bekerja di warung makan dari
pukul 04.30 sampai 07.30 pagi, menikah umur 17 tahun dengan suami
sekarang, mempunyai satu orang anak. Suami bekerja sebagai pedagang
sate. Sekarang tidak bekerja lagi. Penghasilan keluarga bersumber dari
anak dan warung makan. Penderita tinggal di dalam rumah bersama
suami, dan anak. Rumah tembok dengan atap genteng. Ventilasi dari
kaca di genteng, jendela kecil dan tidak ada di setiap ruangan.. Anak
bekerja sebagai petugas kebaktian di gereja. Hubungan dengan anak-anak
dirasakan baik.Saat ini penderita dirawat dengan biaya dari Asuransi
Kesehatan GAKIN.
13. Riwayat Perawatan dan Pengobatan :
a. Perawatan dan pengobatan yang pernah diberikan oleh
bagian interna selama 24 hari mondok di bangsal :
o Bed rest tidak total
o Diet lunak 1700 kkal, rendah garam.
o Infus RL 20 tpm
o Injeksi cefotaxim 1 gram/12 jam (sken test)
o Paracetamol 3 x 500 mg
o Curcuma 3 x 1 tab
o Captopril 1x tab 25 mg
o Noperten 1 x 1 tab

6
o Meropenem 1 gram/8 jam
o Injeksi ceftriaxon 1 gram/24 jam
o Diltiazem 60 mg 3 x 1 tab
o Transfusi PRC 2 kolf
b. Perawatan dan pengobatan pasien sejak masuk rumah
sakit tanggal 24 Oktober 2007 di RSDM :
Terapi bagian Obsgyn:
o Tranfusi albumin
o Terapi pengangkatan massa tumor kalau KU memungkinkan.
Terapi bagian Paru:
o OAT ( R/H/Z/E = 400/300/1000/1000)
o Tanggal 1 November 2007 dilakukan Pungsi diagnostik. Hasil
menusuk massa → kelanjutan dari abdomen.

14. Anamnesis Sistem (tanggal 17November 2007)


(sejak pasien masuk rumah sakit)
a. Keluhan utama : perut membesar.
b. Sistem saraf pusat :pusing (-), sakit kepala (+), kejang
(-), kaku kuduk (-)
c. Sistem Indera
- Mata : berkunang- kunang (-), kuning (-),
pandangan dobel (-), penglihatan
kabur (-), pandangan berputar (-),
- Hidung : mimisan (-), pilek (-)
- Telinga : pendengaran berkurang (-) ,
berdenging (-) keluar cairan (-),
darah (-)
d. Mulut : sariawan (-), luka pada sudut bibir (-), gusi berdarah (-),
mulut kering (-)

7
e. Tenggorokan : sakit menelan (-), suara serak (-),
gatal (-) benjolan pada leher (+)
nyeri tekan (-), dapat digerakkan
(+)
f. Sistem respirasi : sesak nafas (-), batuk (+), batuk
darah (-), mengi (-) tidur
mendengkur (-)
g. Sistem kardiovaskuler : sesak nafas saat beraktivitas (-),
nyeri dada (-), berdebar-debar
(+) kadang-kadang
h. Sistem gastrointestinal : mual (+), muntah (-), sakit perut
( -), susah berak (-), perut sebah
(+), mbeseseg (-), kembung (-),
nafsu makan berkurang (-), ampeg
(-), tinja lunak, warna coklat.
i. Sistem muskuloskeletal : nyeri (-) di kaki kanan, nyeri sendi
(-), kaku (-), badan lemas (-)
j. Sistem genitourinaria : sering kencing (-), air kencing
berwarna merah (-), nyeri saat
kencing (-), keluar darah (-),
kancing nanah (-), sulit memulai
kencing (-), BAK sehari 4-5 kali
per hari tiap kali BAK 1 gelas
belimbing.
k. Ekstremitas atas : luka (-), tremor (+), ujung jari
terasa dingin (-), kesemutan (-),
bengkak (-), sakit sendi ( -), panas
(-) , berkeringat (+)
l. Ekstremitas bawah : luka (-), tremor (-), ujung jari
terasa dingin (-), kesemutan di

8
kedua kaki (-), sakit sendi (-),
bengkak (+) minimal
m. Sistem neuropsikiatri : kejang (-), gelisah (-), kesemutan
(-), mengigau (-), emosi tidak
stabil (- )
SKORE MMSE : 24 Normal
Skala Depresi Geriatri : 3
Indeks Katz : E
Skor Norton : 16
n. Sistem Integumentum : Kulit kuning (-), pucat (-), gatal
(-)

B. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 17 November 2007 Setelah perawatan
selama kurang lebih 23 hari di RSDM.
1. Keadaan Umum
Sakit sedang, compos mentis, gizi kesan cukup
2. Tanda Vital
Tensi : 180/110 mmHg
Nadi : 80 x/menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup.
Frekuensi nafas : 22 x/menit, tipe thoracoabdominal
Suhu : 36,7 °C per axiler
3. Status Gizi
BB =50 kg
TB = 151 cm
50
BMI = = 21,93 kg/m2 (harga normal = 18,5-22,5 kg/m2)
(1,51 ) 2

BB 50
BBR = X 100 % = x 100 %= 98,04 % (normoweight = 90-
TB − 100 51
100%)
 Kesan normoweight

9
4. Kulit
Ikterik (-), peteki (-), turgor cukup, hiperpigmentasi (-), bekas garukan (-),
kulit kering (-), kulit hiperemis (-)
5. Kepala
bentuk mesocephal, rambut warna hitam, mudah dicabut (-), luka (- )
6. Wajah
Simetris, eritema (-)
7. Mata
konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan subkonjungtiva
(-/-), pupil isokor dengan diameter 3 mm/3 mm, reflek cahaya (+/+)
normal, oedem palpebra (-/-), strabismus (-/-)eksopthalmos (-/-)
8. Telinga
sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoid ( -) gangguan fungsi pendengaran
(-)
9. Hidung
Deviasi septum nasi (-), epistaksis (-), nafas cuping hidung (-), sekret (-),
fungsi pembau baik, foetor ex nasal (-)
10. Mulut
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), stomatitis (-), pucat (-), lidah
tifoid (-), papil lidah atropi (-), luka pada sudut bibir (-), foetor ex ore (-)
11. Leher
JVP tidak meningkat (R+2) cm, trakea bergeser ke dextra, pembesaran
tiroid (+), teraba massa difusa ukuran 5x4x3 cm, Nyeri tekan(-), mobile
(+), bruit(+) , pembesaran kelenjar getah bening (-)
Indeks wayne : 13 eutiroid
Indeks New Castle : 38 ragu-ragu
Indeks Krisis Tiroid : 15 bukan krisis
12. Thoraks

10
Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostalis (-), spider nevi (-),
pernafasan thorakoabdominal, sela iga melebar (-), pembesaran kelenjar
getah bening aksilla (-), rambut ketiak rontok (-)
Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat, thrill (-)
Perkusi : Batas jantung
kiri atas : SIC II linea parasternalis sinistra
kiri bawah : SIC V 2 cm lateral linea midclavicularis sinistra
kanan atas : SIC II linea parasternalis dextra
kanan bawah : SIC IV linea parasternalis dextra
 Konfigurasi jantung kesan melebar caudolateral
Auskultasi : HR 80 x/menit, bunyi jantung I-II intensitas normal, regular,
bising (-)
Pulmo
Depan
Inspeksi :
Statis : normochest, simetris kanan-kiri, sela iga tidak melebar,
retraksi (-)
Dinamis : simetris, sela iga tidak melebar, retraksi (-), pergerakan
paru simetris
Palpasi :
Statis : simetris, sela iga tidak melebar, retraksi (-), tidak ada
yang tertinggal
Dinamis : pengembangan paru kanan = kiri, tidak ada yang
tertinggal
Fremitus : fremitus raba kanan = kiri
Perkusi :
Kanan : sonor hingga SIC V
Kiri : sonor hingga SIC VIII

11
Auskultasi : suara dasar paru kanan-kiri vesikuler, RBK (-/-) RBH(-/-)
Wheezing (-/-)

Belakang
Inspeksi :
Statis : punggung kanan kiri simetris
Dinamis : pengembangan dada simetris
Palpasi : fremitus raba simetris
Perkusi : paru kanan sonor hingga Vth VI
Paru kiri sonor
Penanjakan diafragma : 3 cm kanan meningkat dibandingkan dengan kiri
Gambar :

13. Punggung
kifosis (-), lordosis (-), skoliosis (-), nyeri ketok kostovertebra (- / -)
14. Abdomen
Inspeksi : dinding perut lebih tinggi dari dinding dada,
distended (-), venektasi (-), sikatrik (-), striae alba (-)
Auskultasi : peristaltik tidak meningkat
Perkusi : timpani, nyeri ketok kostovertebra (-).
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar sulit dievaluasi dan lien
tidak teraba nyeri tekan supra pubik (-).Teraba
massa dengan konsistensi padat seukuran kepala
dewasa tidak terfixir.
Atas: 3 jari di atas pusat Ka:LMCD Ki: LMCS
Bawah: kesan masuk panggul
Gambar :

12
15. Genitourinaria
Ulkus (-), secret (-), tanda-tanda radang (-)
16. Kelenjar getah bening inguinal
tidak membesar
17. Ekstremitas
Superior dekstra : pitting odem (- ), sianosis (-), pucat (-), akral dingin
(-), eritema palmaris (-), luka (-), ikterik (-), spoon
nail (-), kuku pucat (-), jari tabuh (-), nyeri tekan
dan nyeri gerak (-), deformitas (-) tremor halus (+)
Superior sinistra : pitting odem (-), sianosis (-), pucat (-), akral dingin (-),
eritema palmaris (-), luka (-), ikterik (-), spoon nail
(-), kuku pucat (-), jari tabuh (-), nyeri tekan dan nyeri
gerak (-), deformitas (-), tremor halus (+)
Inferior dekstra : pitting odem (+), sianosis (-), pucat (-), akral dingin
(-), eritema palmaris (-), luka (-), ikterik (-), spoon
nail (-), kuku pucat (-), Jari tabuh (-), nyeri tekan
dan nyeri gerak (-), deformitas (-)
Inferior sinistra : pitting odem (+), sianosis (-), pucat (-), akral dingin
(-), eritema palmaris (-), luka (-), ikterik (-), spoon
nail (-), kuku pucat (-), jari tabuh (-), nyeri tekan
dan nyeri gerak (-), deformitas (-)

13
Foto Klinis

14
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium

Pemeriksaan 24/10 25/10 2710 29/10 30/10 01/11 5/11 15/11 17/11 Satuan Nilai Rujukan
Lk : 13,5-18.,00
Hb 9,9 9,8 9,3 12,2 12,2 11,9 gr/dl
Pr : 12,0-16,0
Lk : 40-54
Hct 28,2 26,5 26,8 37,6 37,8 36,5 %
Pr: 38-47
Jumlah
Lk : 4,6-6,2
Eritrosit 3,26 3,09 3,03 3,93 3,93 3,89 106/uL
Pr : 4,2-5,4

Jumlah Lekosit 22,6 18,4 13,7 8,3 6,5 5,7 103/uL


4,5-11

Jumlah
700 521 494 532 398 375 103/uL 150-440
Trombosit
Gol darah 0
GDS 108 Mg/dL 80-110
Glukosa puasa 92 Mg/dL 70-110
Glukosa 2 jam
Mg/dL 80-140
pp
Ureum 47 22 19 Mg/dL 10-50
Lk : 0,7-1,3
Kreatinin 1,2 0,7 1,1 Mg/dL
Pr : 0,6-1,1
Asam Urat 4,5 3,7 Mg/dL 2,4-5,7
Elektrolit
128 130 134
Na mmol/L 136-146
4,6 4,9 4,5
K mmol/L 3,5-5,1
100 104
Cl mmol/L 98-106
Ion Ca 1,15 mmol/L 1,00-1,20
Prot total 5,5 5,8 6,1 5,8 6,2 6,5 g/dL 6,6-8,7
Albumin 2,3 2,2 2,7 2,3 2,7 g/dL 3,5-5
Globulin 3,2 3,9 3,1 3,9 3,8 g/dL 0,6-5,2
Bil. Total 1,97 1,08 0,72 mg/dL 0-1,1
Bil direk 1,60 0,64 0,37 mg /dL 0-0,25
Bil. Indirek 0,37 0,44 0,35 mg /dL 0-0,75
SGOT 39 52 47 u/L 0-38
SGPT 42 57 32 u/L 0-41
AlkaliPhospat 249 174 113 u/L 0-270
Gamma GT 74 72 u/L 5-39
Kol total 110 mg /dL 50-200
HDL-D 10 mg /dL 41-67
LDL-D 80 mg /dL 0-130
Trigliserid 100 mg /dL 50-150
HbsAg Neg negatif
Anti HCV neg negatif
PT 13,1 12,6 13,0 detik 10-15
APTT 32,3 32,0 31,5 detik 20-40
INR 1,05 1,00 1,04

15
Urinalisa 30/10
warna Yellow
kekeruhan Very
cloudy
SG 1.015
pH 7
lekosit 500/µL +++
Nitrogen Neg
protein 75 mg/dL ++
glukosa norm
Ket neg
UBG norm
Bilirubin Neg
Eritrosit 250/µL +++++
Sedimen
Silinder -
Eritrosit >100/LPB
Leukosit >100/LPB
Epitel -
bakteri -
Lain - Lain -
Prot Esbach

16
Faeces Rutin

30/10/2007
Makroskopis
Warna coklat
Konsist lunak
Lendir (-)
Pus (-)
Darah (-)
Mikroskopis
Sel epitel (-)
Eritrosit (-)
Lekosit (-)
Protozoa (-)
Telur cacing (-)
Catatan/Saran
Tidak ditemukan
parasit patogen

17
Pemeriksaan Mikrobiologi (1/11/2007)
Bahan pemeriksaan : Urine
Sediaan langsung : Gram (-) batang
Pertumbuhan : (+)
Jenis kuman : E. Colli
Hitung kuman : >105
Hasil Uji Sensitifitas
NO Antibiotika Hasil
S I R
1 Ampicillin R
2 Amoxycilin R
3 Chloramphenichol R
4 Co-Trimoxaxole R
5 Cefotaxime R
6 Ciprofloxacin R
7 Ceftazidine R
8 Erithromycin R
9 Gentamycin R
10 Meropenam S
11 Norfloxacin R
12 Nitrofurantoin S
13 Tetracycline R
KETERANGAN :
S : Sensitif
I : Intermediate
R : Resisten

Pemeriksaan Endokrinologi (26 /10/2007)


Hasil nilai rujukan satuan keterangan
• FT3 1,82 2,3-4,2 pg/mL dewasa
• FT4 0,67 0,70-1,55 ng/dL
• TSHs 1,529 0,270-4,700 µIU/ml
Keterangan : angka pada hasil menggunakan sistem tiga desimal

Pemeriksaan Widal (27/10/2007) Titer-O Titer-H

18
S. Typhi neg neg
S. Para Typhi A neg neg
S. Para Typhi B neg neg
S. Para Typhi C neg neg

Pemeriksaan kultur darah (30/10/2007)


Tidak tumbuh kuman dalam 5 X 24 jam

Pemeriksaan BTA (02/11/2007)


BTA terlihat 3+

Pemeriksaan BTA (07/11/2007)


BTA tidak terlihat

Pemeriksaan Patologi Anatomi (13/11/2007)


Makroskopis : Benjolan leher depan sebesar telur bebek, batas tegas, kenyal.
Mikroskopis : Biopsi jarum benjolan leher depan menunjukkan beberapa sel
epitel follicle thyroid yang hiperplasia. Tak tampak tanda ganas.
Kesan : Adenoma kelenjar thyroid.

2. Pemeriksaan Radiologis/USG
USG dan Radiologi tanggal 30 Oktober 2007
USG Colli : Tampak massa heteroechoic dengan batas tidak tegas
menggeser trakea ke dextra, melekat dengan jaringan sekitarnya disertai
dengan kalsifikasi dengan CDFI tampak hipervaskularisasi prominen.
 Kesan : massa curiga malignan dari glandula tiroid sinistra.
Thorak : cor kardiomegali
Pulmo : tampak lesi noduli, coinlession (+), suspect metastasis disertai lesi
para kardial kanan DD encapsulated efusion, segmental pneumonia.

19
USG Abdomen : hepatomegali, nodul (-), kantong empedu, pankreas,
lien, paraaorta normoechoic, nodul (-), ginjal kanan normal, ginjal kiri
membesar, dilatasi pelvicalis (+), batu (-), tampak massa lobulated, ukuran
sulit ditentukan yang memenuhi cavum abdomen terutama kanan melekat
dengan jaringan sekitarnya.
 Kesan : massa curiga malignan, susp TPO. Hidronefrosis ginjal kiri
e/c obtruksi post renal.

USG Abdomen tanggal 11 November 2007


Tidak ada metastasis di hepar.
Massa padat memenuhi 2/3 perut, ada septa-septa yang mungkin
berasal dari tumor ovarium.
Kedua ren hidronefrosis grade IV
3. Pemeriksaan EKG tanggal 24 Oktober 2007
Irama : teratur
Frekuensi : 100x/menit
Aksis : normo aksis
Gelombang P : normal
Interval PR :0,12 detik (normal)
Kompleks QRS : 0,08 detik (normal)
Segmen ST : isoelektrik
Gelombang T : normal

20
Kesan : normo sinus rythim

D. RESUME
Penderita adalah konsulan dari bagian obsgyn dengan diagnosa
tumor padat ovarium suspect ganas dengan hipertiroid. Kemudian dirawat
bersama dengan leader bagian interna. Penderita datang dengan keluhan
benjolan di perut. Benjolan dirasakan sejak ± 15 tahun yang lalu.
Benjolan mula-mula sebesar telur ayam, kemudian dalam 3 bulan terakhir
terus membesar hingga sebesar kepala orang dewasa. Benjolan tidak nyeri,
panas (-). Penderita sudah menopause sejak ± 20 tahun yang lalu.
Penderita mengaku melakukan KB suntik ± 25 tahun, keputihan (+)
hilang timbul. Penurunan berat badan (+), mual (+), sebah (+). 6 hari
SMRS dan 14 hari SMRS penderita periksa di RSDM. Penderita datang
dengan keluhan yang sama. Penderita didiagnosa ada tumor kandungan.
Kemudian penderita dirawat jalan dan diminta datang kembali untuk
kontrol di poliklinik untuk persiapan operasi. Penderita mengeluh batuk
sejak 3 minggu SMRS. Batuk terus menerus. batuk terutama kalau
terlambat minum. 3 bulan SMRS penderita mengeluh mudah capek, sakit
kepala (+), kadang berdebar-debar (+). 12 tahun SMRS penderita pergi ke
dokter karena ada benjolan di perutnya. Penderita didiagnosa tumor
kandungan dan disarankan operasi. Penderita menolak operasi. 15 tahun
SMRS penderita pergi ke dokter karena lemas dan capek. Dokter
menyuntik dan memberi obat jalan. Setelah minum obat 1 kali penderita
pingsan selama 7 jam. Kemudian dibawa ke RS Dokter Oen. Penderita
mondok selama 7 hari dan dikatakan ada benjolan di perutnya. Penderita
disarankan operasi, namun penderita menolak karena takut. Penderita juga
mengeluh ada benjolan di lehernya. Benjolan dirasakan sejak ± 32 tahun
yang lalu. Benjolan mula-mula seukuran kelereng. Pada saat hamil
benjolan membesar hingga sebesar bola tenis. Kemudian benjolan sudah
tidak membesar lagi sampai sekarang. Benjolan tidak nyeri, panas
(-), nafsu makan naik (+), keringat banyak (+).

21
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tensi 180/110 mmHg,
pembesaran tiroid (+), trakea bergeser ke dextra, teraba massa difusa
ukuran 5x4x3 cm, Nyeri tekan(-), mobile (+), bruit(+).Konfigurasi jantung
kesan melebar caudolateral. Perkusi paru belakeng terdapat penanjakan
diafragma 3 cm kanan meningkat dibandingkan kiri. Dinding perut lebih
tinggi dari dinding dada, Teraba massa dengan konsistensi padat seukuran
kepala dewasa tidak terfixir. Atas: 3 jari di atas pusat Ka:LMCD Ki:
LMCS Bawah: kesan masuk panggul. Ekstremitas superior dextra et
sinistra tremor halus. Ekstremitas inferior dextra et sinistra pitting oedem
minimal.
Pada pemeriksaan laboratorium tanggal 17 November 2007
didapatkan Hb 11,9 g/dL, Hct 36,5 %, jumlah eritrosit 3,89.106/uL, protein
total 6,5 g/dL, albumin 2,7 g/dL. Pemeriksaan endokrinologi tanggal 26
Oktober 2007 FT3 1,82 pg/dL, FT4 0,67 ng/dL. Pemeriksaan mikrobiologi
1/11/2007 E.Colli hitung kuman > 105. Pemeriksaan BTA tanggal 2
November 2007 BTA terlihat 3+. Pemeriksaan USG Colli tanggal 30
Oktober 2007 kesan massa curiga malignan dari glandula thyroid sinistra.
USG Abdomen : hepatomegali, ginjal kiri membesar, dilatasi pelvicalis
(+),tampak massa lobulated, ukuran sulit ditentukan yang memenuhi
cavum abdomen terutama kanan melekat dengan jaringan
sekitarnya.Röntgen thorak tanggal 30 Oktober 2007 cor kardiomegali,
pulmo tampak lesi noduli, coinlession (+), suspect metastasis disertai lesi
para kardial kanan DD encapsulated efusion, segmental pneumonia.
Urinalisa 30/10/2007 protein +2, lekosit +3, eritrosit +5, sedimen urin :
eritrosit > 100/LPB, lekosit>100/LPB. USG abdomen tanggal 11
November 2007 massa padat memenuhi 2/3 perut, ada septa-septa yang
mungkin berasal dari tumor ovarium. Kedua ren hidronefrosis grade IV.
Pemeriksaan patologi anatomi benjolan di leher tanggal 13 November
2007 kesan adenoma kelenjar thyroid.

DAFTAR ABNORMALITAS

22
1. Benjolan di perut
2. Keputihan hilang timbul
3. Penurunan berat badan
4. Mual
5. Sebah
6. Batuk 3 minggu
7. Mudah capek
8. Sakit kepala
9. Benjolan di leher
10. Nafsu makan naik
11. Keringat banyak
12. Merokok (+) 20 tahun
13. Tensi 180/110 mmHg
14. Pembesaran thyroid
15. Trakea bergeser ke dextra, teraba massa diffusa ukuran 5x4x3
16. Bruit (+)
17. Jantung melebar ke caudo lateral
18. Perkusi paru kanan sonor hingga SIC V, paru kanan penanjakan diafragma
3 cm
19. Abdomen :Teraba massa dengan konsistensi padat seukuran kepala
dewasa tidak terfixir.
20. Ekstremitas superior dextra et sinistra tremor halus
21. Ekstremitas inferior dextra et sinistra pitting oedem minimal
22. Hipoalbumin
23. FT3 1,82 pg/dL, FT4 0,67 ng/dL.
24. BTA terlihat 3+
25. USG Colli 30/10/2007 kesan massa curiga malignan dari glandula thyroid
sinistra
26. Röntgen thorak tanggal 30 Oktober 2007 cor kardiomegali, pulmo tampak
lesi noduli, coinlession (+), suspect metastasis disertai lesi para kardial
kanan DD encapsulated efusion, segmental pneumonia.

23
27. USG Abdomen 30/10/2007: hepatomegali
28. USG Abdomen 30/10/2007 : dilatasi pelvicalis (+)
29. USG Abdomen 30/10/2007 : tampak massa lobulated, ukuran sulit
ditentukan yang memenuhi cavum abdomen terutama kanan melekat
dengan jaringan sekitarnya.
30. USG abdomen tumor ovarium. Kedua ren hidronefrosis grade IV
31. Pemeriksaan patologi anatomi kesan adenoma kelenjar thyroid
32. Urinalisa 30/10/2007 protein +2
33. Urinalisa 30/10/2007 lekosit +3, eritrosit +5, sedimen urin : eritrosit >
100/LPB, lekosit>100/LPB
34. Pemeriksaan mikrobiologi 1/11/2007 E.Colli hitung kuman > 105
35. Billirubin direct 0,37 mg/dL
36. SGOT 47 u/L
37. Protein total 6,5 g/dL

ANALISIS DAN SINTESIS


1. Abnormalitas 1,2,4,5, 18,19,29,30 massa abdomen curiga tumor padat
ovarium
2. Abnormalitas 3,7,9,10,11,14,,15,16,20,23,25,31 Adenoma Thyroid
3. Abnormalitas 28,30 hidronefrosis ren dextra et sinistra
4. Abnormalitas 6,24,26 TB paru BTA (+) Lesi Luas Kasus Baru
5. Abnormalitas 8,12,13,17,26 Hipertensi grade II
6. Abnormalitas 33,34  Infeksi Saluran Kemih
7. Abnormalitas 27,35,36,37  Hepatomegali
8. Abnormalitas 21,22,32  Hipoalbumin

PROBLEM DAN PEMECAHAN MASALAH


1. Problem 1 : Tumor Padat Ovarium
Ass : DD 1. Keganasan
2. Jinak

24
Ip.Dx : Biopsi, CT Scan, pemeriksaan tumor marker (CA 125)
Tx : Pengangkatan massa tumor
Mx : Awasi tanda – tanda kegawatan abdomen
Ex : Penjelasan pada penderita mengenai penyakitnya
2. Problem 2 : Adenoma Thyroid
Ass :-
Ip.Dx : -
Tx :-
Mx :-
Ex : Penjelasan pada penderita mengenai penyakitnya
3. Problem 3 : hidronefrosis ren dextra et sinistra grade IV
Ass : DD etiologi
 Obsruksi post renal
 batu
Ip.Dx : BNO, IVP Ginjal
Tx :-
Mx : monitoring produksi urin tiap hari, ureum, kreatinin, elektrolit
Ex : Penjelasan pasien tentang penyakitnya
4. Problem 4 : TB Paru BTA(+) Lesi Luas Kasus Baru
Ass : -
Ip.Dx : -
Tx : OAT ( R/H/Z/E = 400/300/1000/1000)
Mx : Evaluasi bakteriologi dan radiologi 2 dan 6 bulan setelah
Pengobatan.
Monitor fungsi hati, fungsi ginjal, asam urat, dan visus.
Ex : Menjelaskan pada penderita dan keluarga, pengobatan harus teratur
kontrol dan obat tidak boleh lupa diminum
5. Problem 5 : Hipertensi grade II
Ass : DD Primer
Sekunder
DD Komplikasi target organ

25
Ip.Dx : ekokardiografi, konsul mata
Tx : Bed rest tidak total
Diet lunak 1700 kkal
Infus RL 20 tpm
Diltiazem 3 x 60 mg
Captopril 1 x tab 25 mg
Noperten 1 x 1 tab
Mx : Keadaan Umum dan Vital Sign setiap hari
Ex : Diet rendah garam
6. Problem 6 : Infeksi Saluran Kemih
Ass : -
Ip.Dx : -
Tx : Injeksi meropenem 1 g/8 jam
Mx :-
Ex : Penjelasan kepada penderita tentang penyakitnya

7. Problem 7 : Hepatomegali
Ass : DD 1. penyakit hepar kronis
2. hepatoma
Ip.Dx : SPE, Seromarker heptitis
Tx : Curcuma 3 x 1 tab
Mx :-
Ex : Penjelasan kepada penderita tentang penyakitnya

8. Problem 8 : Hipoalbumin
Ass : DD etiologi
 Intake kurang
 Produksi berkurang
 Ekskresi berlebih
Ip.Dx : SPE
Tx : Transfusi Albumin

26
Mx :-
Ex : Penjelasan kepada penderita tentang penyakitnya

ALUR KETERKAITAN MASALAH

Tumor Padat Ovarium Hidronefrosis

Adenoma tiroid ISK

Hipertensi

TBC

27
Progress Report

14 November 2007 15 November 2007 16 November 2007

SUBYEKTIF

OBYEKTIF T : 170/60 T : 170/100 T : 170/110


N : 80 x/’ N : 84 x/1’ N : 80x/1’
Rr: 20 x/1’ Rr: 22x/1’ Rr: 22x/1’
S : 36,7 °C S : 36,7 °C S : 36,6°C
Leher : Kel tiroid Leher : Kel tiroid Leher : Kel tiroid
membesar membesar membesar
Abdomen : palpasi Abdomen : palpasi Abdomen : palpasi
Teraba massa tumor, Teraba massa tumor, Teraba massa tumor,
perkusi redup. perkusi redup. perkusi redup.
DIAGNOSIS - Obs. Massa tiroid - Obs. Massa tiroid - Obs. Massa tiroid
sinistra curiga maligna sinistra curiga maligna sinistra curiga maligna
- hidronephrosis ren - hidronephrosis ren - hidronephrosis ren
sinistra sinistra sinistra
- massa abdomen curiga - massa abdomen curiga - massa abdomen curiga
tumor padat ovarium tumor padat ovarium tumor padat ovarium
- TB paru BTA (+) - TB paru BTA (+) - TB paru BTA (+)
- ISK - ISK - ISK
- HT grade II - HT grade II - HT grade II
TERAPI •Tirah baring tidak total •Tirah baring tidak total •Tirah baring tidak total
•Diet lunak 1700 kkal •Diet lunak 1700 kkal •Diet lunak 1700 kkal
•Infus Ringer laktat 20 •Infus Ringer laktat 20 •Infus Ringer laktat 20
tpm tpm tpm
•Curcuma tab 3x1 •Curcuma tab 3x1 •Curcuma tab 3x1
•Diltiazem 60 mg 3x1 •Diltiazem 60 mg 3x1 •Diltiazem 60 mg 3x1
•Noperten 1x1 •Noperten 1x1 •Noperten 1x1
•Ceftriaxon 1 gr/24 jam •Ceftriaxon 1 gr/24 jam •Ceftriaxon 1 gr/24
jam0

PLANNING •Urine rutin ulang


•Kultur ulang
•SPE
•AFP
•Biopsi hepar

28
TINJAUAN PUSTAKA

HIPERTENSI

A. Definisi
Hipertensi yang tidak diketahui sebabnya didefinisikan sebagai hipertensi
essensial. Menurut JNC VII Klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi
menjadi :
Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VII
Klasifikasi tekanan Darah TDS (mmHg) TDD(mmHg)
Normal <120 dan < 80
Prahipertensi 120- 139 atau 80 - 89
Hipertensi derajat I 140 – 159 atau 90 - 99
Hipertensi derajat II ≥ 160 atau ≥ 100

B.Patogenesis
Hipertensi essensial adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama
karena interaksi antara faktor- faktor resiko tertentu. Faktor- faktor tersebut adalah
1.Faktor resiko seperti : diet dan asupan garam,stres, ras, obesitas,
merokok, genetis
2. Sistem saraf simpatis :
• Tonus simpatis
• Variasi diurnal
3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokontriksi
4.Pengaruh sistem otokrin setemapat yang berperan pada sistem renin,
angiotensin, dan aldosteron.
C.Efek hipertensi

29
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ target yang umum
dijumpai pada pasien hipertensi adalah :
1. Jantung
• Hipertrofi ventrikel kiri
• Angina atau infark miokardium
• Gagal jantung
2. Otak
• Stroke atau transient ischemic attack
3. Penyakit ginjal kronis
4. Penyakit arteri perifer
5. Retinopati
Faktor resiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi antara lain:
• Merokok
• Obesitas
• Kurangnya aktivitas fisik
• Dislipidemia
• Diabetes mellitus
• Mikroalbuminuria atau perhitungan LFG < 60ml/ menit
• Umur ( laki-laki > 55 tahu, perempuan 65 tahun)
• Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular prematur
( laki-laki < 55 tahun, perempuan < 65 tahun)
D. Pengobatan
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah :
• Target tekanan darah < 140/90mmHg untuk individu
beresiko tinggi ( diabetes, gagal ginjal, proteinuria) <
130/80mmHg
• Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular
• Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria

30
E.Hipertensi Pada Usia Lanjut
Hipertensi pada usia lanjut sama seperti hipertensi pada usaia lainnya,
bahkan resiko terjadinya komplikasi lebih besar. Pada usia lanjut hasil pengobatan
tidak hanya diukur oleh keberhasilan penurunan tekanan darah pada morbiditas
dan mortalitas kardiovaskular tetapi juga oleh berbagai hal, termasuk efek
terhadap diabetes, pencegahanndemensia atau penurunan kognitif, dan
pengaruhnya terhadap indeks massa tubuh. Pada usia lanjut, penurunan tekanan
darah harus hati-hati dengan memperhatikan apakah terdapat hipertensi berat yang
lama. Pada usia llanjut penururunan berat badan (pada obesitas) dan mengurangi
asupan garam sangat penting dalam pengelolaan hipertensi. Selain itu dianjurkan
melakukan latihan fisik secara teratur dan menghentikan konsumsi alkohol.

INFEKSI SALURAN KEMIH

A.Definisi
Infeksi Saluran Kemih adalah istilah umum yang menunjukkan
keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin.
Bakteriuria bermakna ( significant bacteriuria) : bakteriuria bermakna
menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme (MO) murni lebih dari 105 colony
forming units (cfu/ml) pada biakan urin. Bakteriuria bermakna mungkin tanpa
disertai presentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria asimptomatik ( covert
bakteriuria). Sebaliknya, bakteriuria bermakna disertai presentasi klinis ISK
dinamakan bakteriuria bermakna simptomatik.
• Infeksi Saluran Kemih Bawah ( ISK Bawah)
Presentasi klinis ISK bawah tergantung dari gender
o Perempuan
 Sistitis. Sistitis adalah presentasi klinis infeksi kandung
kemih disertai bakteriuria bermakna
 Sindroma uretra akut (SUA). Sindrom uretra akut adalah
presentasi klinis sistitis tanpa ditemukan mikroorganisme

31
( steril), sering dinamakan sistitis bakterialis. Penelitian
terkini SUA disebabkan MO anaerobik.
o Laki-laki
 Presentasi klinis ISK bawah pada laki-laki mungkin
sistitis, prostatitis, epidimidis, dan uretritis.
• Infeksi Saluran Kemih Atas ( ISK Atas)
o Pielonefritis akut (PNA). Pielonefritis akut adalah proses inflamasi
parenkim ginjal yang disebakan infeksi bakteri.
o Pielonefritis Kronis (PNK).Pielonefritis kronis mungkin akibat
lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa
kecil.
B.Faktor predisposisi ISK
o Litiasis
o Obstruksi Saluran Kemih
o Penyakit ginjal polikistik
o Nekrosis Papilar
o Diabetes Mellitus pasca transplantasi ginjal
o Nefropati analgesik
o Penyakit Sickle cell
o Senggama
o Kehamilan dan peserta KB dengan tablet rogesteron
o Kateterisasi
Mikroorganisme Saluran Kemih
o Escherichia coli merupakan MO
yang paling sering diisolasi dari pasien dengan infeksi simptomatik
maupun asimptomatik
o Mikroorganisme lainnya sering
ditemukan seperti proteus sp, klebsiella sp, dan stafilokokkus.
C.Patofisiologi ISK

32
Pada individu normal, urin selalu steril karena dipertahankan jumlah dan
frekuensi kencing. Uretro distal merupakan tempat kolonisasi mikroorganisme
non pathogenic gram postif dan gram negatif. Hampir semua pasien dengan ISK
disebabkan invasi mikroorganisme asending dari uretra ke dalam kandung
kemih.Pada beberapa pasien tertentu invasi mikroorganisme dapat mencapai
ginjal. Proses ini dipermudah refluks vesikoureter.

D. Presentasi Klinis ISK


PNA : presentasi klinis PNA seperti panas tinggi, disertai menggigil,
sakit pinggang.
ISK Bawah (sistitis) : sakit suprapubik, polakisuria, nokturia, disuria
Sindrom Uretra akut : presentasi klinis SUA sulit dibedakan denagn
sistitis. Pasien dengan SUA sering ditemukan pada perempuan usia 20 – 50 tahun.

E.Manajemen ISK
Prinsip manajemen ISK bawah meliputi intake cairan yang banyak,
antibiotik yang adekuat, dan kalau perlu terapi simptomatik untuk alkalisasi urin.
Hampir 80% pasien akan memberikan respons setelah 48 jam dengan
antibiotika tunggal; seperti ampisilin 3 gram, trimetoprim 200mg.
Bila infeksi menetap disertai memperlihatkan kelainan urinalisis (lekouria)
diperlukan terapi konvensional selama 5 – 10 hari.
Pemeriksaan mikroskop urin dan biakan urin tidak diperlukan jika semua
gejala hilang dan tanpa lekosuria.
Pada ISK atas, pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut
memerlukan rawat inap untuk memelihara status hidrasi dan terapi antibiotika
parenteral paling sedikit 48 jam.
The infectous disease society of America menganjurkan satu dari tiga alternative
terapi antibiotika IV sebagai terap[i awal selam 48 – 72 jam sebelum diketahui
MO sebagai penyebabnya :
o Fluorokuinolon

33
o Aminoglikosida dengan atau tanpa ampisilin
o Sefalosporin dengan spektrum luas dengan atau tanpa
aminoglikosida.

HIDRONEFROSIS
A.Definisi
Hidronefrosis adalah dilaatasi pelvis renalis dan kalikses, disertai atrofi
parenkim yang disebakan obstruksi aliran urin. Obstruksi dapa terjadi tiba-tiba
atau tersembunyi. Obstruksi dapat timbul pada setiap[ tempat di traktus urinarius,
dari uretra samapi pelvis renalis. Daftar berikut adalah penyebab yang paling
sering :
A. Kongenital : atresia uretra, pembentukan katup di ureter atau
uretra, kelainan arteri ginjal yang menekan.
B. Didapat
• Benda Asing : batu, papila yang nekrotik
• Tumor : hipertrofi prostat yang benigna ( BPH), karsinoma
prostat, tumor kandung kemih (papiloma dan karsinoma),
penyakit keganasan yang berdekatan ( limfoma retroperitoneal,
karsinoma serviks atau uterus)
• Radang : Prostatitis, uretritis, fibrosis retroperitoneal.
• Neurogenik : jejas pada medulla spinalis, disertai dengan
kelumpuhan kandung kemih.
• Hamil normal : ringan dan reversibel.
Hidronefrosis bilaterla terjadi hanya bila obstruksi di bawah kedua ureter.
Jika hambatan pada ureter atau di atasnya maka lesinya unilateral. Kadang-kadang
terjadi penyumbatan sempurna, sehingga tidak ada urin yang dapat lewat,
biasanya parsial/.
Telah dikertahui bahawa walau dengan obstruksi sempurna, filtrasi
glomerulus masih berlangsung beberapa saat, selanjutnya bahan filtrat berdifusi
kembali ke dalam jaringan interstisial ginjal dan ruang perirenal, untuk akhirnya

34
kembali ke sistem limfatik dan vena. Karena filtrasi berlangsung terus, kalikses
dan plevis yang bersangkutan menjadi dilatasi, sering mencolok sekali. Tekanan
yang sangat tinggi inio menimbulakna tekanan tinggi dalam pelvis renalis, begitu
pula kemudian terjadi transmisi kembali melalui duktus koligente, yang
menyebabkan kompresi pada susunan pembuluh darah. Baik insufisiensi arteri
maupun stasis vena adalah hasilnya. Efek paling berat tampak pada papila, karena
menerima kenaikan tekanan yang paling besar. Jejas berkurang ke arah korteks.
Karena itu, pada mulanya gangguan fungsi terbesar di tubulus, dengan gejala
utama gangguan pemekatan urin. Baru kemudian filtrasi glomerulus menjadi
berkurang. Penyelidikan eksperimental menunjukkan baha jejas ireversibel yang
hebat terjadi kurang lebih 3 minggu degan obstruksi sempurna dan dalam 3 bulan
pada obstruksi yang tak sempurna.
B.Gejala Klinik
Obstruksi bilateral yang menyeluruh menyebabkan anuria. Bila obstruksi
terjasi di bawah kandung urin, gejala yang menonjol adalah mengembungnya
kandung urin. Obstruksi bilateral yang tidak menyeluruh lebih sering
menyebabkan poliuria daripada oligouria, sebagai akibat gangguan mekanisme
pemekatan dari tubulus dan ini dapat mengaburkan wujud gangguan yang
sebenarnya. Sayangnya, hidronefrosis unilateral dapat lama sekali diam untuk
jangka waktu ayng lama, kecuali ginjal satunya untuk beberapa alasan tidak
berfungsi. Sering ginjal yang membesar ditemukan pada pemeriksaan fisik rutin.
Kadang-kadang penyebab dasar hidronefrosis seperti batu ginjal atau tumor yang
obstrukstif menghasilkan gejala yang secara tidak langsung menarik perhatian
pada hidronefrosis. Pengangkatan obstruksi biasanya dalam beberapa minggu
menjadaikan fungsi kembali normal. Namun, dengan berlalunya waktu,
perubahan menjadi ireversibel.

TUMOR OVARIUM

Jenis-jenis tumor ovarium :

35
A. Tumor nonneoplastik
1. Tumor akibat radang
2. Tumor lain
a. Kista folikel
b. Kista korpus luteum
c. Kista lutein
d. Kista inklusi germinal
e. Kista ebdometrium
f. Kista Stein-Leventhal

B. Tumor Neoplastik Jinak


1. Kistik
a. Kistoma ovarii simpleks
b. Kistadenoma ovarii serosum
c. Kistadenoma ovarii musinosum
d. Kista endometroid
e. Kista dermoid
2. Solid
a. Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma,
limfangioma.
b. Tumor Brenner
c. Tumor sisa adrenal (maskulinovo-blastoma)

Penyebab tumor ovarium

1. Akibat pertumbuhan
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan
pembenjolan perut. Tekanan tumor dalam perut dapat menimbulkan
gangguan miksi, obstipasi, edema pada tungkai. Pada tumor yang besar
dapat terjadi tidak nafsu makan, rasa sesak, dll

36
2. Akibat aktivitas hormonal
3. Akibat komplikasi

Diagnosis
Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri, terpisah dari
tumor; dalam hal ini mioma subserosum atau mioma intraligamenter dapat
menimbulkan kesulitan dalam diagnosis.
Metoda-metoda yang dapat dipakai untuk membantu dalam penegakan
diagnosis yang tepat antara lain :
1. Laparoskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah
tumor berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat-sifat
tumor itu.
2. USG
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor,
apakah tumor berasal dari uterus, ovarium atau kandung kencing, apakah
tumor kistik atau solid, dan dapat dibedakan pula antara cairan dalam
rongga perut yang bebas dan yang tidak.
3. Foto Roentgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrothoraks.
Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi
dalam tumor.
4. Parasentesis

TUMOR PADAT OVARIUM

Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma, Akan tetapi, ini tidak
berarti bahwa mereka itu semuanya neoplasma yang ganas, meskipun semuanya

37
mempunyai potensi maligna. Fibroma ovarii berasal dari elemen-elemen
fibroblastik stroma ovarium atau dari beberapa sel mesenkhim yang multipoten.

Frekuensi
Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan paling sering
ditemukan pada penderita dalam masa menopause dan sesudahnya.

Gambaran klinik
Tumor ini dapat mencapai diameter 2 sampai 30 cm, dan beratnya dapat mencapai
20 kilogram, dengan 90% unilateral. Permukaannya tidak rata, konsistensi keras.
Warnanya merah jambu keabu-abuan. Potensi keganasan fibroma ovarii sangat
rendah yaitu kurang dari 1%.

Terapi
Terapi adalah operasi ooforektomi.

TUBERCULOSIS PARU

A. Definisi
TB paru adalah suatu penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium tuberculosis kompleks dan menyerang organ paru,
tidak termasuk pleura (selaput pleura).

B. Jenis-jenis
1. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA), dibagi menjadi 2 :
a. TB paru BTA (+)
- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak
hasilnya BTA (+)

38
- Satu spesimen dahak hasilnya BTA (+) dan kelainan
radiologik menunjukkan gambaran tuberculosis
aktif.
- Satu specimen dahak hasilnya BTA(+) dan biakan
positif.

b. TB patu BTA (-)


- Pemeriksaan dahak 3 kali hasilnya negative (-),
gambaran klinik dan kelainan radiologik
menunjukkan tuberculosis aktif serta tidak respons
dengan pemberian antibiotic spectrum luas,
pertimbangan klinisi untuk diberikan obat
tubercukosis suklus penuh, atau
- Pemeriksaan dahak hasilnya BTA(-) dan biakan M.
Tuberculosis positif, gambaran radiologik positif.

2. Berdasar tipe penderita


a. Kasus baru
Adalah penderita yang belum pernah mendapat
pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan
OAT kurang dari 1 bulan.
b. Kasus kambuh
Penderita TB yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberculosis dan telah dinyatakan sembuh.
Atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat
dengan hasil pemeriksaan dahak BTA (+) atau biakan
positif.
c. Kasus pindahan]
d. Kasus lalai berobat
Penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan,
dan berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian dating lagi

39
berobat. Umumnya penderita tersebut kembali dengan
hasil pemeriksaan BTA (+).
e. Kasus gagal
f. Kasus kronik
g. Kasus bekas TB

C. Diagnosis
1. Gejala klinik
a. gejala respiratorik
- batuk ≥ 3 minggu
- batuk darah
- sesak nafas
- nyeri dada
b. gejala sistemik
- demam
- lain-lain : malaise, keringat malam, anoreksia, berat
badan menurun
2. Pemeriksan fisik
Pada pemeriksaan fisik penderita yang bukan penderita baru dapat
ditemukan antara lain suara nafas bronchial, amforik, suara nafas
melemah, ronki basah.
3. Pemeriksaan bakteriologik
Bahan untuk pemeriksaan ini adalah dahak (lebih sering
dilakukan), cairan pleura, LCS, bilasan bronkus.
4. Pemeriksaan radiologik

D. Terapi
Jenis obat utama yang digunakan adalah : Rifampisin, INH, Pirazinamid,
Streptomisin, Etambutol.

40
41