Anda di halaman 1dari 4

JAKARTA – Peringatan Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang adanya peningkatan harga dan

aktivitas transaksi saham di luar kebiasaan dibandingkan periode sebelumnya (Unusual Market
Activity/UMA) adalah bentuk perlindungan bursa pada investor.

"Pengumuman UMA sebagai perlindungan bursa terhadap investor. Investor harus melihat lagi
saham yang masuk UMA tersebut," ujar direktur utama BEI, Ito Warsito hari ini.

Ia melanjutkan, bahwa BEI mengeluarkan UMA agar dapat menjadi parameter bagi investor
apakah pergerakan saham itu wajar naik atau tidak. Karena kenaikan tergantung kepada kondisi
maupun fundamental suatu perusahaan.

"Kalau diberikan UMA lalu ada alert yang muncul maka ada suspensi untuk cooling down
selama satu hari atau lebih. Bila ada investor yang masih beli saham yang masuk UMA maka
investor itu bandel," pungkasnya.

Sebelumnya, direktur penilaian perusahaan BEI, Eddy Sugito mengatakakn bahwa fenomena
banyaknya saham ataupun waran yang masuk UMA karena saat ini pasar modal Indonesia
sedang marak terjadi.

"UMA kemungkinan karena market saat ini sedang menarik. Dengan market yang marak pasti
akan terjadi pergerakan-pergerakan saham yang diluar kebiasaan (UMA)," ujar direktur penilaian
perusahaan BEI, Eddy Sugito belum lama ini.

Ia melanjutkan, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa memang ada certain investor yang
memang ingin menaikkan harga suatu saham. Oleh karena itu BEI memberitahukan adanya
UMA ke pasar agar dapat menjadi peringatan (alert) untuk pasar agar berhati-hati dalam
melakukan investasi.

"Tetapi jika pasar suka, ya tidak masalah. Mungkin juga fenomena UMA ini karena pasar
melihat jika harga saham di rak pertama (saham unggulan) yang harganya tinggi, maka pasar
melihat kepada rak kedua (saham perusahaan yang jarang terpantau). Karena siapa tahu harganya
murah tetapi PER-nya (Price Earning Ratio) bagus," jelasnya.

Inilah yang membuat saham-saham yang biasanya tergolong saham tidur mulai mengalami
pergerakan yang cukup signifikan sehingga terjadi UMA atas saham-saham medioker tersebut.
Namun bagi bursa sendiri banyaknya UMA tersebut bisa merupakan pertanda positif.

"Karena ini berarti pasar Indonesia semakin tidak seragam. Karena ada aktivitas jual dan beli
tidak dilakukan dalam waktu yang sama dan atas saham yang sama. Semakin tidak seragam,
maka pasar semakin sempurna," tutupnya.

Sekedar informasi sampai dengan hari ini sudah tercatat 69 efek, baik saham maupun waran
yang masuk UMA.
Editor: ANGGRAINI LUBIS
(dat04/kez)

Comments
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Top of Form

Bottom of Form

engupas Fenomena Panic Selling & Panic Buying di Bursa Saham ; Apakah Sebaiknya yang
Dilakukan Investor?
Kamis, 11 Februari 2010 12:18 WIB
(Vibiznews – Stocks) – Mengapa saham BUMI bisa turun hingga 20% dalam sehari? Mengapa
saham BUMI juga bisa naik hingga 20% dalam sehari? Fenomena seperti ini sering terjadi di
seluruh bursa saham di dunia. Situasi seperti ini ditengarai disebabkan oleh panic selling
dan panic buying. Dalam tulisan ini, kita akan mengupas kedua fenomena tersebut dan apa
pelajaran yang dapat kita tarik sebagai seorang investor.
Panic Selling
Panic selling bisa diartikan sebagai aksi penjualan besar-besaran pada suatu saham oleh investor.
Aksi ini biasanya disebabkan karena investor panik mendengar suatu berita yang berhubungan
dengan ekonomi atau emiten, sehingga mereka beramai-ramai menjual sahamnya. Tekanan jual
pada suatu saham tersebut tidak disertai dengan volume pembelian, sehingga memicu penurunan
secara drastis dengan volume yang sangat tipis.
Fenomena ini terjadi karena sebagian besar investor saham adalah follower atau pengikut. Bila
seorang investor besar atau bandar melakukan penjualan sahamnya dalam jumlah yang besar,
biasanya investor ritel akan mengikuti tindakan investor besar tersebut. Hal tersebutlah yang
memicu harga saham longsor sangat dalam.
Kasus penjualan besar-besaran pernah terjadi pada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Tanggal 1 September 2008, saham bumi masih bertengger di harga Rp 5300. Kemudian harga
terus melorot hingga Rp 710 pada tanggal 21 November. Anda bisa membayangkan dalamnya
koreksi ini! Penurunan yang sangat tajam dalam jangka waktu yang sangat singkat ini dipicu oleh
aksi penjualan pada saham BUMI secara besar-besaran oleh investor.
Saat itu, secara fundamental BUMI nyaris tidak memiliki masalah. Penurunan harga hanya
karena kepanikan investor saja. Saham BUMI saat itu berulang kali mengalami penurunan hingga
batas auto rejection bawah. Bahkan saham BUMI sempat dihentikan perdagangannya sementara
atau suspend.
Panic Buying
Fenomena ini merupakan kebalikan dari panic selling yang sudah dijabarkan diatas. Disini
investor melakukan pembelian terhadap suatu saham tanpa melihat nilai fundamental perusahaan.
Pembelian ini dipicu oleh adanya berita yang memicu ekpekstasi yang positif terhadap emiten.

Fenomena ini baru saja terjadi pada saham PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) bulan Januari lalu.
Tanggal 20 Januri, harga saham berada di level Rp 205 per lembar. Saham mengalami kenaikan
selama 2 hari berturut-turut hingga mencapai Rp 280 pada 22 Januari. Berarti saham mengalami
kenaikan harga hampir 40% hanya dalam 2 hari.
Inilah contoh dari aksi panic buying yang dilakukan investor. Aksi ini dipicu oleh adanya berita
bahwa perseroan berencana untuk memasuki bisnis sektor pertambangan yang sedang
mengalami booming saat ini. Berita ini mengakibatkan investor berekspektasi positif terhadap
prospek perseroan.
Kesimpulan
Ternyata ada hal yang bisa kita dapatkan dengan mempelajari kedua fenomena di pasar modal ini.
Pada umumnya investor ritel membuat keputusan investasi itu bukan berdasarkan akal sehat,
melainkan berdasarkan emosi. Lantas apa yang dapat kita lakukan sebagai seorang investor?
Pada saat fenomena panic selling terjadi, disinilah pentingnya disiplin dalam cut loss. Jika
portofolio kita sudah mengalami loss hingga poin tertentu, segera lakukan cut loss sebelum harga
saham jatuh lebih dalam. Sebaliknya pada saatpanic buying terjadi, bertindaklah berdasarkan akal
sehat. Jadilah investor yang logis, jangan lakukan transaksi berdasarkan emosi. Karena cepat atau
lambat, harga pasti akan kembali ke nilai wajarnya. Tetapi bagi anda yang berani berspekulasi,
sekedar ikut “numpang” di saham yang sedang mengalami panic buying juga bisa menghasilkan
keuntungan. Asalkan anda menerapkan disiplin yang ketat dalam take profit dan cut loss sebelum
anda “buntung”. Selamat berinvestasi dengan logis!
(Arman Boy Manullang/AB/vbn)

Tinggalkan sebuah Komentar