Anda di halaman 1dari 41

SISTEM PEMIDANAAN

DALAM KETENTUAN UMUM KONSEP RUU KUHP 2004 *)


Oleh :
Barda Nawawi Arief

A. Pengertian Dan Ruang Lingkup Sistem Pemidanaan

∗ Secara singkat, “sistem pemidanaan” dapat diartikan sebagai “sistem

pemberian atau penjatuhan pidana”.

∗ Sistem pemberian/penjatuhan pidana (sistem pemidanaan) itu dapat dili-

hat dari 2 (dua) sudut :

SISTEM
PEMIDANAAN

FUNGSIONAL SUBSTANTIF

HP HP HK. PELAKS. ATURAN ATURAN


MATERIEL FORMAL PIDANA UMUM KHUSUS

(1) Dari sudut fungsional (dari sudut

bekerjanya/berfungsinya/proses-nya), sistem pemidanaan dapat

diartikan sebagai :

• Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk fungsionali-

sasi/operasionalisasi/konkretisasi pidana;

* )
Bahan Sosialisasi RUU KUHP 2004, diselenggarakan oleh Departemen Hukum dan HAM, tgl. 23-24
Maret 2005, di Hotel Sahid Jakarta.

1
• Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) yang mengatur

bagaimana hukum pidana ditegakkan atau dioperasionalkan secara

konkret sehingga seseorang dijatuhi sanksi (hukum) pidana.

Dengan pengertian demikian, maka sistem pemidanaan identik

dengan sistem penegakan hukum pidana yang terdiri dari sub-

sistem Hukum Pidana Materiel/Substantif, sub-sistem Hukum Pidana

Formal dan sub-sistem Hukum Pelaksanaan Pidana. Ketiga sub-

sistem itu merupakan satu kesatuan sistem pemidanaan, karena tidak

mungkin hukum pidana dioperasionalkan/ditegakkan secara konkret

hanya dengan salah satu sub-sistem itu. Pengertian sistem

pemidanaan yang demikian itu dapat disebut dengan “sistem

pemidanaan fungsional” atau “sistem pemidanaan dalam arti

luas”.

(2) Dari sudut norma-substantif (hanya dilihat dari norma-norma

hukum pidana substantif), sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai :

• Keseluruhan sistem aturan/norma hukum pidana materiel untuk pe-

midanaan; atau

• Keseluruhan sistem aturan/norma hukum pidana materiel untuk

pemberian/penjatuhan dan pelaksanaan pidana;

Dengan pengertian demikian, maka keseluruhan peraturan perundang-

undangan (“statutory rules”) yang ada di dalam KUHP maupun UU

khusus di luar KUHP, pada hakikatnya merupakan satu kesatuan

sistem pemidanaan, yang terdiri dari “aturan umum” (“general rules”)

2
dan “aturan khusus” (“special rules”). Aturan umum terdapat di dalam

Buku I KUHP, dan aturan khusus terdapat di dalam Buku II dan III

KUHP maupun dalam UU Khusus di luar KUHP. Dengan demikian,

sistem hukum pidana substantif (sistem pemidanaan substantif) saat

ini dapat diragakan sebagai berikut :

SYSTEM OF
PUNISHMENT

STATUTORY
RULES

GENERAL SPECIAL
RULES RULES
Bk. II Bk. III
KUHP KUHP
BUKU I
KUHP
UU KHUSUS
(DI LUAR KUHP)

Bertolak dari pengertian di atas, sistem pemidanaan substantif dapat di-

gambarkan secara lebih sederhana dengan ragaan sebagai berikut :

3
SISTEM
PEMIDANAAN
SUBSTANTIF

ATURAN UMUM ATURAN KHUSUS


(General Rules) (Special Rules)

Berdasarkan uraian di atas, tulisan ini hanya membatasi pengertian

sistem pemidanaan dalam arti yang kedua, yaitu sistem pemidanaan

substantif yang terdapat dalam RUU KUHP, khususnya yang terdapat di

dalam “Ketentuan Umum” Buku I Konsep RUU KUHP 2004.

B. SISTEM PEMIDANAAN DALAM BUKU I RUU KUHP 2004

1. Sistematika Ketentuan Umum Buku I KUHP dan Konsep KUHP

Untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh dari sistem pemida-

naan yang tertuang dalam Ketentuan Umum Buku I Konsep 2004, dibanding-

kan dengan sistematika Buku I KUHP (WvS), berikut disajikan tabel per-

bandingan sebagai berikut :

SISTEMATIKA BUKU I KUHP (wVs) SISTEMATIKA BUKU I KONSEP 2004

BAB I. Tentang Batas-Batas Berla- Ruang Lingkup Berlakunya


kunya Aturan Pidana dalam Ketentuan Peraturan Per-
Perundang-undangan undang-undangan Pidana

BAB II. Tentang Pidana Bagian Kesatu : Menurut Waktu

4
BAB III. Tentang Hal-Hal Yang Bagian Kedua : Menurut Tempat
Menghapuskan, Mengu-
rangkan atau Memberatkan Bagian Ketiga : Waktu Tindak Pidana
Pengenaan Pidana
Bagian Keempat : Tempat Tindak Pidana
BAB IV. Tentang Percobaan
BAB I. Tindak Pidana dan Pertang-
gungjawaban Pidana
BAB V. Tentang Penyertaan dalam
Melakukan Perbuatan Pidana
Bagian Kesatu : Tindak Pidana
BAB VI. Tentang Perbarengan (Con-
Bagian Kedua : Pertanggungjawaban
cursus)
Pidana
BAB VII. Tentang Mengajukan dan
BAB III. Pemidanaan, Pidana dan
Menarik Kembali Pengaduan
Tindakan
Dalam Hal Kejahatan- Keja-
hatan Yang Hanya Dituntut
Bagian Kesatu : Pemidanaan
Atas Pengaduan
Bagian Kedua : Pidana
BAB VIII. Tentang Hapusnya
Kewe-nangan Menuntut
Bagian Ketiga : Tindakan
Pidana dan Menjalankan
Pidana
Bagian Keempat : Pidana dan Tindakan
bagi Anak
BAB IX. Tentang Arti Beberapa
Istilah Yang Dipakai dalam
Bagian Kelima : Faktor-faktor yang
Kitab Undang-Undang
Memperingan dan Memperberat Pidana
Aturan Penutup
Bagian Keenam : Perbarengan

BAB IV. Gugurnya Kewenangan


Penuntutan dan Pelak-
sanaan Pidana

Bagian Kesatu : Gugurnya Kewenangan


Penuntutan

Bagian Kedua : Gugurnya Kewenangan


Pelaksanaan Pidana

BAB V. Pengertian Istilah


BAB VI. Ketentuan Penutup

5
2. Latar Belakang Orientasi Sistematika Buku I Konsep

• Dari sistematika Konsep yang dikemukakan di atas terlihat, bahwa “Keten-

tuan Umum” Buku I Konsep hanya terdiri dari 6 (enam) Bab. Sistematika

demikian lebih sederhana dibandingkan dengan KUHP (WvS) yang berla-

ku saat ini, yang terdiri dari 9 (sembilan) Bab;

• Perubahan/penyederhanaan sistematika Konsep yang demikian dilatar

belakangi oleh perbedaan orientasi antara KUHP dengan Konsep.

Sistematika KUHP yang berlaku saat ini, tidak berorientasi/berdasarkan

urut-urutan 3 (tiga) masalah pokok dalam hukum pidana, sedangkan

Sistematika Konsep berorientasi pada ketiga masalah pokok itu, yaitu

masalah “tindak pidana”, masalah “pertanggungjawaban pidana”, dan

masalah “pidana dan pemidanaan”. Ketiga masalah pokok inilah yang

merupakan sub-sub sistem dari keseluruhan sistem pemidanaan.

Sistematika Konsep yang demikian, merupakan refleksi dari pandangan

dualistis.

• Karena Konsep bertolak dari pandangan dualistis yang memisahkan

antara tindak pidana dengan pertanggungjawaban pidana, maka Konsep

juga membuat sub-bab khusus tentang “Tindak Pidana” (disingkat TP) dan

sub-bab khusus tentang “Pertanggungjawaban Pidana” (disingkat PJP);

sedangkan di dalam KUHP yang berlaku saat ini tidak ada bab/sub-bab

tentang PJP (Kesalahan). Sehubungan dengan pemisahan itu pula, maka

Konsep memisahkan ketentuan tentang “alasan pembenar” dan “alasan

pemaaf”. Alasan pembenar ditempatkan di dalam sub-bab “Tindak

6
Pidana”, dan “alasan pemaaf” ditempatkan dalam sub-bab “Pertanggung-

jawaban Pidana”.

• Dipisahkannya ketentuan tentang “TP” dan “PJP”, di samping merupakan

refleksi dari pandangan dualistis, juga sebagai refleksi dari ide keseim-

bangan antara “perbuatan” (“daad”/”actus reus”, sebagai faktor objektif)

dan “orang” (“dader” atau “mens rea”/”guilty mind”, sebagai faktor subjek-

tif). Jadi Konsep tidak berorientasi semata-mata pada pandangan menge-

nai hukum pidana yang menitikberatkan pada “perbuatan atau akibatnya”

(Daadstrafrecht/Tat-strafrecht atau Erfolgstrafrecht) yang merupakan pe-

ngaruh dari aliran Klasik, tetapi juga berorientasi/berpijak pada “orang”

atau “kesalahan” orang yang melakukan tindak pidana (Daderstrafrecht/

Täterstrafrecht/Schuldstrafrecht), yang merupakan pengaruh dari aliran

Modern.

3. Sistem Aturan Umum Pemidanaan Dalam Konsep 2004

Telah dikemukakan di atas, bahwa 3 (tiga) masalah pokok dalam

hukum pidana, yaitu “tindak pidana”, “pertanggungjawaban pidana”, dan

“pidana dan pemidanaan”, masing-masing merupakan “sub-sistem” dan

sekaligus “pilar-pilar” dari keseluruhan bangunan sistem pemidanaan. Berikut

diuraikan secara singkat mengenai ketiga sub-sistem tersebut dalam Konsep

KUHP 2004.

3.1. Masalah Tindak Pidana

a. Dasar Patut Dipidananya Perbuatan

7
∗ Dasar patut dipidananya perbuatan, berkaitan erat dengan masalah

sumber hukum atau landasan legalitas untuk menyatakan suatu per-

buatan sebagai tindak pidana atau bukan. Seperti halnya dengan

KUHP (WvS), Konsep tetap bertolak dari asas legalitas formal (ber-

sumber pada UU). Namun Konsep juga memberi tempat kepada

“hukum yang hidup/hukum tidak tertulis” sebagai sumber hukum (asas

legalitas materiel).

∗ Dalam Konsep sebelumnya (s/d Konsep 2002) belum ada penegasan

mengenai pedoman/kriteria/rambu-rambu untuk menentukan sumber

hukum materiel mana yang dapat dijadikan sebagai sumber hukum

(sumber legalitas). Namun dalam perkembangan Konsep terakhir

(Konsep Desember 2004 yang sudah diserahkan kepada Menkumham

pada tgl. 4 Januari 2005), sudah dirumuskan pedoman/kriteria/rambu-

rambunya, yaitu “sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/

atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat

bangsa-bangsa”. Jadi, pedoman/kriterianya bertolak dari nilai-nilai na-

sional maupun internasional. Sesuai dengan nilai-nilai nasional (Pan-

casila), artinya sesuai dengan nilai/paradigma moral religius, nilai/

paradigma kemanusiaan (humanis), nilai/paradigma kebangsaan,

nilai/paradigma demokrasi (kerakyatan/hikmah kebijaksanaan), dan

nilai/paradigma keadilan sosial. Patut dicatat, bahwa rambu-rambu

yang berbunyi “sesuai dengan prinsip-prinsip hukum umum yang

diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa”, mengacu/bersumber dari

8
istilah “the general principles of law recognized by the community of

nations” yang terdapat dalam Pasal 15 ayat 2 ICCPR (International

Covenant on Civil and Political Rights).

∗ Sejalan dengan keseimbangan asas legalitas formal dan materiel itu,

Konsep juga menegaskan keseimbangan unsur melawan hukum

formal dan materiel dalam menentukan ada tidaknya tindak pidana.

Penegasan ini diformulasikan dalam Pasal 11 Konsep 2004 yang

lengkapnya berbunyi :

(1) “Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak


melakukan sesuatu yang oleh peraturan perundang-
undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang
dan diancam dengan pidana.
(2) Untuk dinyatakan sebagai tindak pidana, selain perbuatan
tersebut dilarang dan diancam pidana oleh peraturan
perundang-undangan, harus juga bersifat melawan hukum
atau bertentangan dengan kesadaran hukum masyarakat.
(3) Setiap tindak pidana selalu dipandang bersifat melawan
hukum, kecuali ada alasan pembenar.

∗ Adanya formulasi ketentuan umum tentang pengertian tindak pidana

dan penegasan unsur sifat melawan hukum materiel di atas, patut di-

catat sebagai suatu perkembangan baru karena ketentuan umum se-

perti itu tidak ada dalam KUHP (WvS). Di berbagai KUHP Asing (anta-

ra lain di Armenia, Belarus, Brunei, Bulgaria, China, Jerman, Latvia,

Macedonia, Perancis, Romania, Swedia, dan Yugoslavia), pengertian

dan hakikat tindak pidana inipun dirumuskan dalam “Aturan Umum”.

Bahkan ada yang merumuskan unsur-unsur tindak pidana secara rinci,

misalnya dalam KUHP Australia.1


1
Dalam Part 2.2 (“The lements of an offence”) Chapter 2 KUHP Australia, diuraikan secara rinci
“Physical elements” dan “Fault elements”.

9
b. Bentuk-bentuk Tindak Pidana (“Forms of Criminal Offence”)

∗ Sebagaimana dimaklumi, aturan pemidanaan dalam KUHP (WvS)

tidak hanya ditujukan pada orang yang melakukan tindak pidana,

tetapi juga terhadap mereka yang melakukan perbuatan dalam bentuk

“percobaan”, “permufakatan jahat”, “penyertaan”, “perbarengan” (con-

cursus), dan “pengulangan” (recidive). Hanya saja di dalam KUHP,

“permufakatan jahat” dan “recidive” tidak diatur dalam Aturan Umum

Buku I, tetapi di dalam Aturan Khusus (Buku II atau Buku III).

∗ Dalam Konsep, semua bentuk-bentuk tindak pidana atau tahapan

terjadinya/dilakukannya tindak pidana itu, dimasukkan dalam Ketentu-

an Umum Buku I. Bahkan dalam perkembangan terakhir (Konsep

2004) ditambah dengan ketentuan tentang “persiapan” (preparation)

yang selama ini tidak diatur dalam KUHP dan juga belum ada dalam

Konsep-konsep sebelumnya. *)

∗ Aturan umum “permufakatan jahat” dan “persiapan” dalam Buku I

Konsep, agak berbeda dengan “percobaan”. Perbedaannya adalah :

a. Penentuan dapat dipidananya “percobaan” dan lamanya pidana

ditetapkan secara umum dalam Buku I, kecuali ditentukan lain oleh

UU; pidana pokoknya (maksimum/minimum) dikurangi sepertiga.

b. Penentuan dapat dipidananya “permufakatan jahat” dan “persi-

apan” ditentukan secara khusus/tegas dalam UU (dalam perumus-

* )
Beberapa KUHP Asing yang juga mengatur “persiapan” di dalam aturan umumnya antara lain :
Armenia, (Psl. 35), Belanda (Psl. 46), Belarus (Psl. 15), Bulgaria (Psl. 17), China (Psl. 22), Korea
(Psl. 28), Macedonia (Psl. 18), Polandia (Psl. 14-15), Yugoslavia (Psl. 18). Di Indonesia, terlihat di
dalam UU Terorisme (Psl. 9, 11, 12 Perpu No. 1/2002 jo. UU No. 15/2003).

10
an tindak pidana ybs.). Aturan umum hanya menentukan pengerti-

an/batasan kapan dikatakan ada “permufakatan jahat” atau “persi-

apan”, dan lamanya pidana pokok (yaitu dikurangi dua pertiga).

Lihat Konsep Pasal 13 (“persiapan”) dan 15 (“permufakatan jahat”).

Catatan :

∗ Dalam Buku II RUU, “permufakatan jahat yang dapat dipidana” disebut/


diatur dalam 9 pasal (Psl. 230, 259:1, 273, 296, 344:2, 391:2, 480, 671,
719:2).

∗ Dari ke-9 pasal tsb., ada 32 tindak pidana permufakatan jahat yang dapat
dipidana. Ancaman pidananya semua menyimpang dari “ketentuan umum”
Buku I Konsep RUU (lihat “Tabel” lampiran); ini berarti tidak ada satu
delikpun (delik permupakatan jahat) yang ditundukkan pada aturan
umum pemidanaan untuk permufakatan jahat dalam Buku I RUU
KUHP.

∗ Formulasi delik permufakatan jahat dalam Buku II seharusnya sbb. :

 deliknya (TP permufakatan jahat) dirumuskan/ditentukan dalam Buku


II. Contoh perumusan deliknya sbb. :
“Permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana dalam Pasal .....,
dipidana”.

 ancaman pidananya tidak perlu dicantumkan dalam perumusan delik


ybs., kecuali akan menyimpang (membuat kekhususan) dari aturan
umum (Cttn: kalau semua menyimpang, tidak ada artinya lagi Psl.
15 Buku I).

∗ Khususnya mengenai bentuk/tahapan tindak pidana yang berupa

“percobaan”, ketentuan yang diatur tidak hanya mengenai unsur-unsur

(kapan) dapat dipidananya “percobaan”, tetapi diatur juga tentang

batasan “perbuatan pelaksanaan”, masalah “percobaan tidak mampu”,

masalah “pengunduran diri secara sukarela (Rücktritt)” dan “tindakan

penyesalan (Tätiger Reue)”. Adapun ketentuan umumnya sbb. :

11
a. Untuk percobaan tidak mampu (alat/objeknya) tetap dipidana,

tetapi maksimum pidananya dikurangi setengah (Pasal 19);

b. Untuk percobaan tidak selesai karena Rücktritt (pengunduran

diri secara sukarela), tidak dipidana (Psl. 17 ayat 1);

c. Untuk percobaan tidak selesai karena Tätiger Reue :

c.1. tidak dipidana, apabila pembuat dengan kehendaknya sendiri


mencegah tercapainya tujuan atau akibat perbuatannya
(Pasal 17 ayat 2);

c.2. tetap dipidana, apabila telah menimbulkan kerugian atau me-


nurut peraturan perundang-undangan telah merupakan tin-
dak pidana tersendiri (Pasal 17 ayat 3).

∗ Pengulangan (recidive) juga diatur secara umum dalam Buku I (seba-

gai alasan pemberatan pidana yang umum). Jadi berbeda dengan

KUHP saat ini, yang mengaturnya sebagai alasan pemberatan pidana

yang khusus untuk delik-delik tertentu (diatur dalam Buku II dan III).

Dikatakan ada “pengulangan” menurut Konsep (Psl. 23), apabila orang

melakukan pengulangan tindak pidana dalam waktu 5 (lima) tahun

sejak :

a. menjalani seluruh atau sebagian pidana pokok yang dijatuhkan;

b. pidana pokok yang dijatuhkan telah dihapuskan; atau

c. kewajiban menjalani pidana pokok yang dijatuhkan belum kedalu-

warsa.

Pemberatan pidananya diatur dalam Pasal 132, yaitu maksimumnya

diperberat sepertiga. Namun ketentuan Pasal 132 ini tidak berlaku un-

tuk anak (Pasal 112 Konsep).

12
3.2. Masalah Pertanggungjawaban Pidana (Kesalahan)

• Dalam Bab PJP (Kesalahan), Konsep menegaskan secara eksplisit dalam

Pasal 35 (1) “asas tiada pidana tanpa kesalahan” (“Geen straf zonder

schuld”; “Keine Strafe ohne Schuld”; “No punishment without Guilt”; asas

“Mens rea” atau “asas Culpabilitas”) yang di dalam KUHP tidak ada. Asas

culpabilitas ini merupakan salah satu asas fundamental, yang oleh kare-

nanya perlu ditegaskan secara eksplisit di dalam Konsep sebagai

pasangan dari asas legalitas. Penegasan yang demikian merupakan

perwujudan pula dari ide keseimbangan monodualistik.

• Konsep tidak memandang kedua asas/syarat itu sebagai syarat yang kaku

dan bersifat absolut. Oleh karena itu, Konsep juga memberi kemungkinan

dalam hal-hal tertentu untuk menerapkan asas “strict liability”, asas

“vicarious liability”, dan asas “pemberian maaf/pengampunan oleh hakim”

(“rechterlijk pardon” atau “judicial pardon”).

Catatan :

- Karena Buku I menegaskan, bahwa “strict liability” dan “vicarious


liability” dimungkinkan “untuk tindak pidana tertentu atau dalam
hal-hal tertentu” (lihat Psl. 35 ayat 2 dan 3 Konsep), maka “tindak
pidana atau hal-hal tertentu” itu ditentukan secara spesifik dalam
“aturan khusus” (misal di dalam Buku II KUHP atau UU di luar
KUHP).

- Dalam Buku II RUU, “ketentuan khusus” itu belum terlihat. Oleh


karena itu, perlu dikaji ulang. 2)
2 )
Sebagai bahan kajian perbandingan dapat dikemukakan, bahwa KUHP Australia menggunakan
“absolute liability” untuk delik-delik Computer Crime tertentu yang diatur dalam KUHP, misalnya

13
• Patut dicatat, bahwa ketentuan mengenai “rechterlijk pardon” tidak

ditempatkan dalam Bab PJP, tetapi di dalam Bab Pemidanaan. Di dalam

asas “judicial pardon” terkandung ide/pokok pemikiran :

1. menghindari kekakuan/absolutisme pemidanaan;

2. menyediakan “klep/katup pengaman” (“veiligheidsklep”);

3. bentuk koreksi judisial terhadap asas legalitas (“judicial corrective

to the legality principle”);

4. pengimplementasian/pengintegrasian nilai atau paradigma “hikmah

kebijaksanaan” dalam Pancasila;

5. pengimplementasian/pengintegrasian “tujuan pemidanaan” ke da-

lam syarat pemidanaan (karena dalam memberikan permaafan/

pengampunan, hakim harus mempertimbangkan tujuan pemida-

naan); jadi syarat atau justifikasi pemidanaan tidak hanya dida-

sarkan pada adanya “tindak pidana” (asas legalitas) dan “kesa-

lahan” (asas culpabilitas), tetapi juga pada “tujuan pemidanaan”.

• Di samping itu, di dalam Bab PJP ini Konsep juga mengatur tentang

masalah “Kekurangmampuan Bertanggung Jawab” (“verminderde toe-

rekeningsvatbaarheid”; Diminished Mental Capacity; Diminished Res-

terhadap Section 477.1 : “Unauthorised access, modification or impairment with intent to commit a
serious offence”; 477.2 : “Unauthorised modification of data to cause impairment”; 477.3 :
“Unauthorised impair-ment of electronic communication”; 478.1 : “Unauthorised access to, or
modification of, restricted data”; 478.2 : “Unauthorised impairment of data held on a computer disk
etc.”. Menurut Section 24 KUHP Australia, dalam delik absolute liability, mistake of fact (error facti)
tidak dapat digunakan sebagai alasan pembelaan (alasan penghapus pidana); dan menurut Section 23,
dalam delik strict liability, mistake of fact dapat digunakan sebagai alasan pembelaan.

14
ponsibility), masalah “pertanggungjawaban terhadap akibat yang tidak

dituju/tidak dikehendaki/tidak disengaja” (Erfolgshaftung), dan masalah

“kesesatan” (Error/Dwaling/Mistake), yang semuanya itu juga tidak diatur

di dalam KUHP saat ini.

Catatan :

- Pengaturan “Erfolgshaftung” dan “Error” di dalam Konsep tidak


berorientasi pada pandangan tradisional/klasik, tetapi tetap ber-
orientasi pada asas kesalahan.

• Karena masalah PJP berhubungan juga dengan masalah “subjek tindak

pidana”, maka di dalam Bab PJP ini ada pula ketentuan tentang subjek

berupa “korporasi”, yang selama ini juga belum diatur dalam KUHP (WvS).

3.3. Masalah Pemidanaan

a. Tujuan dan Pedoman Pemidanaan :

Berbeda dengan KUHP yang sekarang berlaku, di dalam Konsep

dirumuskan tentang “Tujuan dan Pedoman Pemidanaan”.*) Dirumuskan-

nya hal ini, bertolak dari pokok pemikiran bahwa :

- sistem hukum pidana merupakan satu kesatuan sistem yang ber-

tujuan (“purposive system”) dan pidana hanya merupakan alat/

sarana untuk mencapai tujuan;

- “tujuan pidana” merupakan bagian integral (sub-sistem) dari ke-

seluruhan sistem pemidanaan (sistem hukum pidana) di samping

* )
Beberapa negara yang di dalam KUHP-nya juga merumuskan “tujuan pidana/pemidanaan”, antara lain :
Armenia (Psl. 48 jo. Psl. 2 dan 11), Bellarus (Psl. 20 jo. Psl. 1), Bulgaria (Psl. 36), Latvia (Psl. 35),
Macedonia (Psl. 32), Romania (Psl. 52), dan Yugoslavia (Psl. 33).

15
sub-sistem lainnya, yaitu sub-sistem “tindak pidana”, “pertang-

gungjawaban pidana (kesalahan)”, dan “pidana”;

- perumusan tujuan dan pedoman pemidanaan dimaksudkan se-

bagai fungsi pengendali/kontrol/pengarah dan sekaligus mem-

berikan dasar/landasan filosofis, rasionalitas, motivasi, dan justifi-

kasi pemidanaan;

- dilihat secara fungsional/operasional, sistem pemidanaan meru-

pakan suatu rangkaian proses melalui tahap “formulasi” (kebi-

jakan legislatif), tahap “aplikasi” (kebijakan judisial/judikatif), dan

tahap “eksekusi” (kebijakan administratif/eksekutif); oleh karena

itu agar ada keterjalinan dan keterpaduan atara ketiga tahap itu

sebagai satu kesatuan sistem pemidanaan, diperlukan perumus-

an tujuan dan pedoman pemidanaan.

b. Ide-ide Dasar Sistem Pemidanaan :

Sistem pemidanaan yang dituangkan di dalam Konsep, dila-

tarbelakangi oleh berbagai ide-dasar atau prinsip-prinsip sbb. :

a. ide keseimbangan monodualistik antara kepentingan masyara-

kat (umum) dan kepentingan individu;

b. ide keseimbangan antara “social welfare” dengan “social defen-

ce”;

16
c. ide keseimbangan antara pidana yang berorientasi pada pelaku/

“offender” (individualisasi pidana) dan “victim” (korban);

d. ide penggunaan “double track system” (antara pidana/punish-

ment dengan tindakan/treatment/measures);

e. ide mengefektifkan “non custodial measures (alternatives to

imprisonment)”.

f. Ide elastisitas/fleksibilitas pemidanaan (“elasticity/flexibility of

sentencing”);

g. Ide modifikasi/perubahan/penyesuaian pidana (“modification of

sanction”; the alteration/annulment/revocation of sanction”; “re-

determining of punishment”);

h. Ide subsidiaritas di dalam memilih jenis pidana;

i. Ide permaafan hakim (“rechterlijk pardon”/”judicial pardon”);

j. Ide mendahulukan/mengutamakan keadilan dari kepastian hu-

kum;

Bertolak dari ide-ide dasar itu, maka di dalam Konsep ada

ketentutuan-ketentuan yang tidak ada dalam KUHP (WvS) yang

berlaku saat ini, yaitu antara lain :

1. adanya pasal yang menegaskan asas “tiada pidana tanpa kesalahan”

(asas culpabilitas) yang diimbangi dengan adanya ketentuan tentang

“strict liability” dan “vicarious liability” (Pasal 35);

17
2. adanya batas usia pertanggungajawaban pidana anak (“the age of

criminal responsibility”); Pasal 46.

3. adanya bab khusus tentang pemidanaan terhadap anak (Bab III

Bagian Keempat);

4. adanya kewenangan hakim untuk setiap saat menghentikan atau

tidak melanjutkan proses pemeriksaan perkara pidana terhadap anak

(asas diversi), Pasal 111;

5. adanya pidana mati bersyarat (Pasal 86);

6. dimungkinkannya terpidana seumur hidup memperoleh pelepasan

bersyarat (Pasal 67 jo. 69);

7. adanya pidana kerja sosial; pidana pembayaran ganti rugi, dan pe-

menuhan kewajiban adat dan/atau kewajiban menurut hukum yang

hidup (Pasal 62 jo 64);

8. adanya pidana minimal khusus yang disertai juga dengan aturan/pe-

doman pemidanaannya atau penerapannya (Pasal 66, 82, 120, 121,

130, 137);

9. dimungkinkannya penggabungan jenis sanksi (pidana dan tindakan);

10. dimungkinkannya pidana tambahan dijatuhkan sebagai sanksi yang

berdiri sendiri (Pasal 64 ayat 2);

11. dimungkinkannya hakim menjatuhkan jenis pidana lain yang tidak

tercantum dalam perumusan delik yang hanya diancam dengan pida-

na tunggal (Pasal 56-57);

18
12. dimungkinkannya hakim menjatuhkan pidana secara kumulatif wa-

laupun ancaman pidana dirumuskan secara alternatif (Pasal 58);

13. dimungkinkannya hakim memberi maaf/pengampunan (“rechterlijk

pardon”) tanpa menjatuhkan pidana/tindakan apapun kepada terdak-

wa, sekalipun telah terbukti adanya tindak pidana dan kesalahan

(Pasal 52 ayat 2).

14. adanya kewenangan hakim untuk tetap mempertanggungjawabkan/

memidana si pelaku walaupun ada alasan penghapus pidana, jika si

pelaku patut dipersalahkan (dicela) atas terjadinya keadaan yang

menjadi alasan penghapus pidana tersebut (dikenal dengan asas

“culpa in causa” atau asas “actio libera in causa”); Pasal 54 *)

15. dimungkinkannya perubahan/modifikasi putusan pemidanaan, wa-

laupun sudah berkekuatan tetap (Pasal 55 dan Pasal 2 ayat 3);

4. Ruang Berlakunya Hukum Pidana Menurut Konsep 2004

∗ Dilihat dari keseluruhan sistem pemidanaan, ruang berlakunya hukum pida-

na juga merupakan bagian integral dari sistem pemidanaan, karena kese-

luruhan aturan (umum dan khusus) untuk dapat dipidananya seseorang

terkait erat dengan asas-asas ruang berlakunya hukum pidana.

∗ Asas-asas ruang berlakunya hukum pidana menurut Konsep RUU KUHP

terdiri dari :

a. Menurut waktu : asas legalitas;

* )
Di dalam RUU 2004, redaksi Psl. 54 terdapat juga dalam Pasal 37 dan 53. Seharusnya hanya Pasal 54
saja (lihat Tabel Lampiran).

19
b. Menurut tempat : asas territorial, asas nasional aktif (personal), asas

nasional pasif (asas perlindungan), dan asas universal.

Jadi pada dasarnya, asas-asas ruang berlakunya hukum pidana menurut

Konsep tidak jauh berbeda dengan KUHP yang sekarang berlaku. Namun

ada juga perbedaan dan perkembangannya, sbb. :

a. Di samping mengatur ruang berlakunya hukum pidana menurut waktu

dan menurut tempat, Konsep juga mengatur tentang “waktu terjadinya

tindak pidana” (“tempus delicti”/Time of the Act/Time of

commission of an offence/ Time of perpetration of a crime)

dan “tempat terjadinya tindak pidana” (“locus delicti”/Place of the

Act/Place of commission of an offence/Place of perpetra-tion

of a crime); kedua hal ini tidak diatur dalam KUHP yang sekarang

berlaku.

b. Mengenai ruang berlakunya hukum pidana menurut waktu (asas Lega-

litas), Konsep tetap mempertahankan asas legalitas formal seperti

dalam KUHP, namun diperluas juga ke asas legalitas materiel;

c. Mengenai ruang berlakunya hukum pidana menurut tempat (asas teri-

torial, personal, nasional pasif, dan universal), pada awalnya (yaitu s/d

Konsep 2002) tidak jauh berbeda pengaturannya dengan KUHP. Namun

dalam perkembangan terakhir (Konsep 2004) mengalami perubahan

sebagai berikut :

Asas Teritorial :

20
• Dalam KUHP, asas teritorial diatur dalam Pasal 2 yang diperluas juga

dengan asas extra-teritorial dalam Pasal 3 (dalam “kendaraan air”

atau “pesawat udara” Indonesia di luar wilayah Indonesia);

• Dalam Konsep, kedua pasal itu dijadikan satu dan asas extra-teri-

torialnya diperluas juga untuk orang yang melakukan tindak pidana di

bidang teknologi informasi yang akibatnya dirasakan atau terjadi di

wilayah Indonesia dan dalam kapal atau pesawat udara Indonesia.

Perluasan itu dimaksudkan untuk dapat menjaring tindak pidana ma-

yantara (cyber crime).

• Redaksi lengkap asas teritorial di dalam Konsep itu (diatur dalam

Pasal 3 Konsep 2004) sbb.:

Pasal 3
Ketentuan pidana dalam peraturan perundang-undangan Indonesia berlaku
bagi setiap orang yang melakukan:
a. tindak pidana di wilayah Negara Republik Indonesia;
b. tindak pidana dalam kapal atau pesawat udara Indonesia; atau
c. tindak pidana di bidang teknologi informasi yang akibatnya dirasakan
atau terjadi di wilayah Indonesia dan dalam kapal atau pesawat udara
Indonesia.

Asas Nasional Aktif (Asas Personal)


• Menurut KUHP, berlakunya hukum pidana terhadap warga negara

Indonesia di luar Indonesia diatur tersebar dalam beberapa pasal dan

hanya untuk kejahatan-kejahatan tertentu, yang pengaturannya terke-

san digabung dengan pasal tentang asas nasional pasif (Lihat Pasal

5, 7, 8 KUHP).

• Di dalam Konsep 2004, pengaturannya disederhanakan dalam satu

pasal, yaitu Pasal 7, yang lengkapnya berbunyi sbb. :

21
Pasal 7
(1) Ketentuan pidana dalam peraturan perundang- undangan Indonesia
berlaku bagi setiap warga negara Indonesia yang melakukan tindak
pidana di luar wilayah negara Republik Indonesia.
(2) Ketentuan ayat (1) tidak berlaku untuk tindak pidana yang hanya
diancam pidana denda Kategori I atau denda Kategori II.
(3) Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat juga dilakukan walaupun tersangka menjadi warga negara
Indonesia setelah tindak pidana tersebut dilakukan.
(4) Warga negara Indonesia yang di luar wilayah Negara Republik
Indonesia melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) tidak dapat dijatuhi pidana mati jika tindak pidana tersebut menurut
hukum negara tempat tindak pidana tersebut dilakukan tidak diancam
dengan pidana mati.

• Jadi menurut Pasal 7 di atas, pada prinsipnya tindak pidana apapun

yang dilakukan oleh WNI di luar Indonesia, hukum pidana Indonesia

berlaku baginya, kecuali tindak pidana ringan (yaitu yang diancam

dengan pidana denda Kategori I atau II). Ketentuan demikian dida-

sarkan pada prinsip “equality before the law”.

Asas Nasional Pasif (Asas Perlindungan Kepentingan Nasional)

• Dalam KUHP, pengaturan asas nasional pasif ini digabung dengan

asas universal (lihat Pasal 4) dan “kepentingan nasional” yang akan

dilindungi juga dirumuskan secara limitatif/enumeratif yang rigid, yaitu

berupa :

1. kejahatan tertentu terhadap keamanan negara dan martabat

Presiden (Psl. 4 ke-1);

2. kejahatan mengenai mata uang, uang kertas, meterai, dan merek

(Pasal 4 ke-2 KUHP), dan

22
3. pemalsuan surat/sertifikat hutang atas tanggungan Indonesia atau

tanggungan daerah/bagian daerah Indonesia (Psl. 4 ke-3 KUHP);

Di samping itu, ada pula “kepentingan nasional” yang juga merupakan

“kepentingan internasional/universal”, yang diatur dalam Pasal 4 ke-4

KUHP jo. UU No. 4/1976, berupa :

4. kejahatan yang berkaitan dengan pembajakan laut dalam (Pasal

438, 444-446);

5. penyerahan perahu dalam kekuasaan bajak laut (Pasal 447);

6. pembajakan pesawat udara (Psl. 479 j);

7. kejahatan yang mengancam penerbangan sipil (Psl. 479 l s/d o).

• Di dalam Konsep 2004, asas nasional pasif diatur dalam pasal ter-

sendiri (yaitu diatur dalam Pasal 4), terpisah dari asas universal.

Bunyi lengkap Pasal 4 Konsep itu sbb. :

Pasal 4
Ketentuan pidana dalam peraturan perundang- undangan Indonesia berlaku
bagi setiap orang di luar wilayah Negara Republik Indonesia yang mela-
kukan tindak pidana terhadap :
a. warga negara Indonesia; atau
b. kepentingan negara Indonesia yang berhubungan dengan :
1. keamanan negara atau proses kehidupan ketatanegaraan;
2. martabat Presiden dan/atau Wakil Presiden dan pejabat Indonesia
di luar negeri;
3. pemalsuan dan peniruan segel, cap negara, meterai, uang/mata
uang, kartu kredit, perekonomian, perdagangan dan perbankan
Indonesia;
4. keselamatan/keamanan pelayaran dan penerbangan ;
5. keselamatan/keamanan bangunan, peralatan, dan aset nasional
(negara Indonesia);
6. keselamatan/keamanan peralatan komunikasi elektronik;
7. tindak pidana jabatan/korupsi; dan/atau
8. tindak pidana pencucian uang.

23
• Hal yang menarik dari Pasal 4 Konsep di atas, yang berbeda dengan

KUHP, ialah :

a. Yang dipandang sebagai “kepentingan nasional” tidak hanya

“kepentingan negara”, tetapi juga “kepentingan Warga negara

Indonesia di luar negeri” (yang menjadi sasaran/korban tindak

pidana). Dalam KUHP yang sekarang berlaku, kepentingan hu-

kum dari WNI di luar negeri, tidak dilihat sebagai “kepentingan

nasional” yang harus dilindungi oleh hukum nasional, tetapi

seolah-olah hanya diserahkan sepenuhnya kepada hukum yang

berlaku di negara asing itu. Dengan adanya Pasal 4 itu, berarti

pula hukum pidana (sistem pemidanaan) nasional dapat juga ber-

laku bagi WNA yang melakukan tindak pidana terhadap WNI di

luar teritorial Indonesia.3

b. Kepentingan nasional yang akan dilindungi itu tidak dirumuskan

secara “limitatif yang pasti (definite/rigid)”, yaitu tidak dengan me-

nyebut pasal-pasal tertentu, tetapi dirumuskan secara “limitatif

yang terbuka (open)”.

c. Kepentingan yang terancam oleh kejahatan-kejahatan yang bersi-

fat internasional/transnasional (seperti cyber crime, korupsi, dan

money laundering) juga dipandang sebagai kepentingan nasional

yang dilindungi.

Asas Universal

3
Asas perlindungan terhadap warga negara di luar negeri atau asas berlakunya hukum pidana nasional
terhadap orang asing di luar negeri, diatur juga di beberapa KUHP Asing (a.l. Bulgaria, China, Latvia,
Perancis, Romania).

24
• Seperti telah dikemukakan di atas, asas universal dalam KUHP yang

saat ini berlaku, diatur bersama-sama dengan asas nasional pasif

(dalam Pasal 4) dan hanya ditujukan pada kejahatan-kejahatan ter-

tentu.

• Dalam Konsep 2004, “kepentingan internasional/universal/global”

yang akan dilindungi, tidak dengan cara menyebut kejahatan-kejahat-

an internasional tertentu secara limitatif, tetapi dirumuskan secara

umum/terbuka agar dapat menampung perkembangan dari kesepa-

katan internasional.

• Redaksi lengkap dari asas universal di dalam Konsep (Psl. 5), sbb. :

Pasal 5
Ketentuan pidana dalam peraturan perundang- undangan Indonesia berlaku
bagi setiap orang yang di luar wilayah Negara Republik Indonesia melaku-
kan tindak pidana menurut perjanjian atau hukum internasional yang telah
dirumuskan sebagai tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan
di Indonesia.

-o0o-

Lampiran 1 :

BEBERAPA CATATAN TERHADAP BUKU I RUU KUHP 2004

25
RUU KUHP 2004 CATATAN BNA

∗ Formulasi Psl. 23 terkesan sbg. formu-


Paragraf 6 lasi “pemberatan pidana karena
Pengulangan pengulangan”;

Pasal 23 ∗ Masalah pemberatan pidana karena


Pidana diperberat dalam hal setiap orang pengulangan SUDAH diatur dalam Psl.
melakukan pengulangan tindak pidana 131 huruf (h);
dalam waktu 5 (lima) tahun sejak:
a. menjalani seluruh atau sebagian ∗ Seharusnya yang diformulasikan “pe-
pidana pokok yang dijatuhkan; ngertian/batasannya” saja, yaitu kapan
b. pidana pokok yang dijatuhkan telah dikatakan ada “pengulangan” (apa
dihapuskan; atau syarat-syaratnya), sehingga formulasi-
c. kewajiban menjalani pidana pokok nya menjadi :
yang dijatuhkan belum kedaluwarsa. Pasal 23
“Pengulangan tindak pidana terjadi,
apabila orang melakukan tindak pidana
lagi dalam waktu 5 (lima) tahun sejak :
a. menjalani seluruh atau sebagian
pidana pokok yang dijatuhkan;
b. pidana pokok yang dijatuhkan telah
dihapuskan; atau
c. kewajiban menjalani pidana pokok
yang dijatuhkan belum kedalu-
warsa”.

Bab II Bagian Kedua


Paragraf 3 ∗ Rumusan Psl. 37, 53, 54 pada intinya
Kesengajaan dan Kealpaan sama;
Pasal 37
Seseorang yang melakukan tindak pidana ∗ Seharusnya hanya dipilih satu pasal;
tidak dibebaskan dari pertanggungjawaban
pidana berdasarkan alasan penghapus pida- ∗ Berdasarkan kajian terakhir, seharusnya
na, jika orang tersebut telah dengan sengaja hanya Psl. 54 yang diambil dan ditem-
menyebabkan terjadinya keadaan yang patkan dalam Bab III paragraf 2
dapat menjadi alasan penghapus pidana (Pedoman pemidanaan). Jadi Psl. 37 dan
tersebut. 53 harusnya tidak ada (dihapus).

Bab III Bagian Kesatu


Paragraf 2
Pedoman Pemidanaan

26
Pasal 53
Seseorang yang melakukan tindak pidana
tidak dibebaskan dari pertanggungjawaban
pidana berdasarkan alasan penghapus pida-
na, jika orang tersebut patut dipersalahkan
sebagai penyebab terjadinya keadaan yang
dapat menjadi alasan penghapus pidana
tersebut.

Pasal 54
Seseorang yang melakukan tindak pidana
tidak dibebaskan dari pertanggungjawaban
pidana berdasarkan alasan penghapus pida-
na, jika orang tersebut telah dengan sengaja
menyebabkan terjadinya keadaan yang
dapat menjadi alasan penghapus pidana
tersebut.

Paragraf 5 ∗ Meletakkan Psl. 57 di bawah paragraf


Pedoman Penerapan Pidana dengan 5 tidak tepat, karena Psl. 57 mengatur
Perumusan Alternatif tindak pidana yang diancam dengan
pidana denda secara tunggal. Perumusan
Pasal 57 alternatif ada pada Psl. 58.
(1) Jika tindak pidana hanya diancam
dengan pidana denda maka dapat ∗ Psl. 57 seharusnya ditempatkan pada
dijatuhkan pidana tambahan atau Paragraf 4 (Pedoman Penerapan Pidana
tindakan. Penjara dengan Perumusan Tunggal)
(2) Terhadap orang yang telah berulang bersama-sama dengan Psl. 56.
kali dijatuhi pidana denda untuk tindak
pidana yang hanya diancam dengan ∗ Psl. 59 – 61 tidak tepat dimasukkan
pidana denda, dpa diajtuhi pidana dalam paragraf 5, karena :
penjara paling lama 1 (satu) tahun atau
pidana pengawasan bersama-sama - Psl. 59 (1) mengatur ttg. “saat
dengan pidana denda. berlakunya pidana penjara dan
tutupan”;
Pasal 58
- Psl. 59 (2) dan (3) mengatur ttg. “per-
(1) Jika suatu tindak pidana diancam hitungan masa penangkapan dan
dengan pidana pokok secara alternatif, penahanan dalam putusan pemi-
maka penjatuhan pidana pokok yang danaan”;
lebih ringan harus lebih diutamakan
apabila hal itu dipandang telah sesuai - Psl. 60 dan 61 mengatur ttg.
dan dapat menunjang tercapainya “pelaksanaan pidana penjara”.
tujuan pemidanaan.
(2) Jika pidana penjara dan denda Catatan:

27
diancamkan secara alternatif, maka
untuk tercapainya tujuan pemidanaan, - Karena normanya berbeda, sebaiknya
kedua jenis pidana pokok tersebut dapat Psl. 59 (1) dijadikan pasal
dijatuhkan secara kumulatif, dengan tersendiri, terpisah dari Psl. 59 (2)
ketentuan tidak melampaui separuh & (3).
batas maksimum kedua jenis pidana
pokok yang diancamkan tersebut. - Redaksi Psl. 59 (2) ada kekurangan
pada kalimat terakhir yang berbunyi:
(3) Jika dalam menerapkan ketentuan ayat
“dikurangkan seluruhnya atau
(2), dipertimbangkan untuk menjatuh-
sebagian dari pidana penjara
kan pidana pengawasan berdasarkan
pengganti denda, atau dari denda
ketentuan sebagaimana dimaksud
yang dijatuhkan”.
dalam Pasal 74 dan Pasal 75 ayat (1)
dan ayat (2), maka tetap dapat
Seharusnya kalimat terakhir itu ber-
dijatuhkan pidana denda paling banyak
bunyi :
separuh dari maksimum pidana denda
“dikurangkan seluruhnya atau
yang diancamkan tersebut
sebagian dari pidana penjara untuk
bersama-sama dengan pidana
waktu tertentu atau dari pidana
pengawasan.
penjara pengganti denda, atau dari
denda yang dijatuhkan”.
Pasal 59
(1) Pidana penjara dan pidana tutupan bagi ∗ Psl. 59-61 itu berasal dari KUHP yang
terdakwa yang sudah berada dalam sekarang berlaku (WvS), yaitu:
tahanan, mulai berlaku pada saat - Psl. 59 (1) dari Psl. 32 (1) WvS;
putusan telah memperoleh kekuatan - Psl. 59 (2) dari Psl. 33 (1) WvS;
hukum tetap, sedangkan bagi terdakwa - Psl. 59 (3) dari Psl. 33 (3) WvS;
yang tidak berada di dalam tahanan, - Psl. 60 dari Psl. 33a WvS;
pidana tersebut berlaku pada saat - Psl. 61 dari Psl. 34 WvS.
putusan mulai dilaksanakan.
(2) Dalam putusan ditetapkan bahwa masa ∗ Dalam WvS (KUHP) terjemahan Prof.
penangkapan dan masa penahanan yang Moeljatno, semua pasal tsb. (Psl. 32-34)
dijalani terdakwa sebelum putusan diberi judul “Rupa-rupa Ketentuan”.
memperoleh kekuatan hukum tetap,
dikurangkan seluruhnya atau sebagian ∗ Mengacu terjemahan Prof. Moeljatno,
dari pidana penjara pengganti denda, Psl. 59-61 RUU dapat diberi judul (pa-
atau dari denda yang dijatuhkan. ragraf) “Lain-lain Ketentuan Pemida-
naan”
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) berlaku juga bagi
terpidana yang berada dalam tahanan
untuk berbagai perbuatan dan dijatuhi
pidana untuk perbuatan lain daripada
yang menyebabkan terpidana berada
dalam tahanan sementara.

28
Pasal 60
(1) Jika narapidana yang berada dalam
lembaga pemasyarakatan mengajukan
permohonan grasi, maka waktu antara
pengajuan permohonan grasi dan saat
dikeluarkan Keputusan Presiden tidak
menunda pelaksanaan pidana yang telah
dijatuhkan.
(2) Jika terpidana berada di luar lembaga
pemasyarakatan mengajukan permo-
honan grasi, maka waktu antara menga-
jukan permohonan grasi dan saat dike-
luarkan Keputusan Presiden tentang
grasi tidak dihitung sebagai waktu
menjalani pidana.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak berlaku jika Presiden
menentukan lain.

Pasal 61
Jika narapidana melarikan diri, maka masa
selama narapidana melarikan diri tidak
diperhitungkan sebagai waktu menjalani
pidana penjara.

Paragraf 7 ∗ Psl. 79 (2) sub c dan d, sebaiknya di-


Pidana Pengganti Denda Kategori I gabung, sehingga redaksinya menjadi :

Pasal 79 c. untuk pidana penjara pengganti,


(1) …………………………… paling singkat 1 (satu) bulan dan
(2) Lamanya pidana pengganti sebagai- paling lama 1 (satu) tahun yang
mana dimaksud pada ayat (1) adalah: dapat diperberat paling lama 1
a. untuk pidana kerja sosial peng- (satu) tahun 4 (empat) bulan jika
ganti, berlaku ketentuan sebagai- ada pemberatan pidana denda
mana dimaksud dalam Pasal 83 karena perbarengan atau karena
ayat (3) dan ayat (4); adanya faktor pemberatan pidana
b. untuk pidana pengawasan, paling sebagai-mana dimaksud dalam Pasal
singkat 1 (satu) bulan dan paling 131.
lama 1 (satu) tahun;
c. untuk pidana penjara pengganti, ∗ Psl. 79 (4) ada kekurangan; seharusnya
paling singkat 1 (satu) bulan dan ada kata “Jika” (apabila) pada awal ka-
paling lama 1 (satu) tahun; limat.
d. untuk pidana penjara pengganti,
paling lama 1 (satu) tahun 4

29
(empat) bulan jika ada pembe-
ratan pidana denda karena per-
barengan atau karena adanya
faktor pemberatan pidana seba-
gaimana dimaksud dalam Pasal
131.
(3) …………………………………
(4) Setelah menjalani pidana pengganti,
sebagian pidana denda dibayar,
maka lamanya pidana pengganti
dikurangi menurut ukuran yang
sepadan sebagaimana ketentuan
dalam ayat (3).

Paragraf 9 ∗ Penempatan Psl. 82 di bawah paragraf 9


Pidana Pengganti Denda untuk tidak tepat, karena tidak mengatur
Korporasi tentang “pidana pengganti denda
untuk korporasi”, tetapi ttg.
Pasal 81 “pedoman penjatuhan pidana denda”
Jika pengambilan kekayaan atau penda-
patan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ∗ Sebaiknya Psl. 82 ditempatkan di bawah
74 ayat (2) tidak dapat dilakukan maka Psl. 77 :
untuk korporasi dikenakan pidana peng-
ganti berupa pencabutan izin usaha atau - Dapat ditempatkan dalam satu para-
pembubaran korporasi. graf yang sama dgn. Psl. 77 (paragraf
5), atau
Pasal 82
(1) Dalam penjatuhan pidana denda, wajib - Diberi paragraf baru (5a) berjudul :
dipertimbangkan kemampuan “Pedoman Penjatuhan Pidana Denda”
terpidana.
(2) Dalam menilai kemampuan terpidana,
wajib diperhatikan apa yang dapat
dibelanjakan oleh terpidana sehu-
bungan dengan keadaan pribadi dan
kemasyarakatannya.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
mengurangi untuk tetap diterapkan
minimum khusus pidana denda yang
ditetapkan untuk tindak pidana
tertentu.

LAMPIRAN 2 :

30
PERMUFAKATAN JAHAT DALAM KONSEP 2004

∗ Diatur dalam 9 pasal (Psl. 230, 259:1, 273, 296, 344:2, 391:2, 480, 671, 719:2).

∗ Dari ke-9 pasal tsb., ada 32 tindak pidana permufakatan jahat yang dapat dipidana,
yang pidananya semua menyimpang dari “ketentuan umum” Buku I Konsep RUU.

NO. PERMUFAKATAN JAHAT PENGATURAN PIDANA


TERHADAP

1. Psl. 227 (rahasia negara yang berhu- Pasal 230 sesuai dengan
bungan dengan pertahanan dan keaman- (Sama dgn. Psl. ketentuan pasal-
an negara). 116 KUHP pasal tersebut.
/WvS)

2. Psl. 229 (rahasia negara yang berhu- idem


bungan dengan pertahanan dan keaman-
an negara).

3. Psl. 209 (thd. Ideologi negara) Pasal 259 (1) idem

(Mirip dg. Psl. 110


4. Psl. 210 (thd. Ideologi negara) & 125 WvS; Idem
namun dlm. RUU
tdk. ada permufa-
katan jahat mela-
5. Psl. 211 (thd. Ideologi negara) kukan makar thd. Idem
Presd. (Psl. 213
RUU) seperti dlm.
6. Psl. 212 (thd. Ideologi negara) Psl. 110 jo. 103 Idem
WvS).

7. Psl 214 (Makar thd NKRI); Idem

8. Psl 215 (Makar thd. Penggulingan Idem


Pemerintah)

9. Pasal 216 (Pemberontakan) Idem

31
10. Pasal 232 (Sabotase) Idem

11. Psl 234 (Membantu musuh di wkt. Idem


Perang)

12. Psl 265 (Makar thd. Wilayah & bentuk Pasal 273 idem
pemerintahan Neg. Sahabat). (sama dengan
Psl. 139c WvS).

13. Pasal 266 (Makar thd. Wilayah & idem


bentuk pemerintahan Neg. Sahabat).

14. Pasal 344 (1) : perbuatan yang Pasal 344 (2) Idem Psl. 344 (1)
menimbulkan kebakaran, ledakan, atau (Sama dg. Psl. (maksimumnya
banjir; 187 WvS.) bervariasi : 9, 12, 15
th. penjara).

15. Psl. 391 (1) : TP Kemanusiaan Pasal 391 (2) Idem. Psl. 391 (1)
(minimal 3 th dan
maksimal 15 th
penjara).

16. TP Pornografi (7 TP : Psl. 469-475) Pasal 480 - penjara minimal 3


th. dan maksi-mal
15 th., dan
17. TP Pornoaksi (4 TP : Psl. 476-479) - denda minimal
Kategori III dan
maksimal Kate-
gori VI.

18. TP Korupsi (5 TP : Psl 666 s/d 670). Pasal 671 sama dgn. pidana
dalam Psl 666 s/d
Pasal 670.

19. TP pencucian uang dlm. Psl. 719 (1). Pasal 719 (2) - penjara minimal 3
th., dan maksi-
mal 15 th., dan

32
denda Kategori VI.

ANALISIS :

∗ Dari tabel permufakatan jahat RUU di atas dapat disimpulkan :

1. sistem perumusannya sama (tidak berbeda) dengan KUHP (WvS), yaitu :


a. permupakatan jahat yang dapat dipidana (yang dijadikan TP), ditentukan
secara khusus (tersendiri) dalam aturan khusus (Buku II); dan
b. ancaman pidananya juga ditentukan secara khusus untuk tiap-tiap delik
(jadi berbeda-beda atau bervariasi, tergantung delik pokoknya).

2. tidak ada satu delikpun (delik permupakatan jahat) yang ditundukkan pada
aturan umum pemidanaan untuk permufakatan jahat dalam Buku I RUU
KUHP.

∗ Sistem dan ide RUU KUHP berbeda dengan KUHP (WvS), khususnya dalam sistem
pemidanaannya (sub 1b). Dalam RUU, aturan pemidanaannya diletakkan dalam
“aturan umum” (Buku I), walaupun deliknya ditentukan secara khusus.

∗ Diletakkannya aturan pemidanaan untuk permufakatan jahat dalam Buku I, didasarkan


pada ide untuk membuat pola “keseragaman/kesamaan dan kesetaraan/kese-
bandingan bobot”. Ide ini dimunculkan dalam Konsep/RUU, justru berdasarkan
analisis/evaluasi terhadap sistem KUHP yang ancaman pidananya berbeda-beda
(bervariasi) dan tidak berpola, yaitu tidak ada keseragaman dan kesetaraan/keseban-
dingan bobot.

∗ Kalau formulasi ancaman pidana (bobot delik) permufakatan jahat dalam RUU sama
atau kembali lagi ke sistem KUHP (WvS), yaitu “bervariasi/tidak berpola/tidak sera-
gam/tidak ada kesebandingan”, maka ini suatu “kemunduran” dan TIDAK ADA
ARTINYA LAGI DIMASUKKANNYA KETENTUAN TENTANG PERMUFA-
KATAN JAHAT DALAM “ATURAN UMUM” (Pasal 15 BUKU I RUU KUHP).
Dirasakan “janggal”, kalau ada aturan umum Psl. 15 (Buku I) tetapi tidak
pernah bisa diterapkan dalam aturan khusus (Buku II).

∗ Catatan :
1. dirasakan janggal, tidak ada delik permufakatan jahat melakukan makar thd. Presd.
(Psl. 213) seperti dlm. Psl. 110 jo. 103 KUHP/WvS..
2. Psl. 719 (2) seharusnya juga ada untuk Psl. 720 (khususnya untuk “permufakatan
jahat”) karena Psl. 720 merupakan “pasangan” dari TPPU (“Money laundering”)
dalam Psl. 719.

LAMPIRAN 3 :

33
CATATAN FORMULASI BUKU II KONSEP 2004
YANG BERKAITAN DENGAN BUKU I

BUKU II RUU KUHP 2004 CATATAN BNA

BAB I : ∗ Psl. 259 mengatur ttg.:


Bagian Kelima - (1) “permufakatan jahat”;
Perluasan dan Pidana Tambahan - (2) tentang “persiapan” & “pemu-
dahan”;
Pasal 259 - (3) pengertian “mempersiapkan &
(1) Setiap orang yang melakukan memudahkan”;
permufakatan jahat untuk mela- - (5) perampasan brg. (pid.tambahan);
kukan tindak pidana sebagaimana - (6) alasan penghapus pid. (persiapan
dimaksud dalam Pasal 209, Pasal 210, perubahan ketatanegaraan secara
Pasal 211, Pasal 212, Pasal 214, Pasal konstitusional tidak dipidana)
215, Pasal 216, Pasal 232, atau Pasal
234, dipidana dengan pidana sesuai ∗ Psl. 260 mengatur ttg. “pidana tambah-
dengan ketentuan pasal tersebut. an” (“pencabutan hak” atau “pengumu-
man putusan hakim”) ;
(2) Pidana sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), berlaku juga bagi setiap orang ∗ PERMUFAKATAN JAHAT :
yang dengan maksud mempersiap- - Bobot (ancaman pidana) utk. Permu-
kan atau memudahkan ter-jadinya fakatan jahat, tdk. perlu dirumuskan.
tindak pidana sebagaimana dimaksud - Lihat bahan “Evaluasi Permufakatan
dalam Pasal 209, Pasal 210, Pasal Jahat”.
211, Pasal 212, Pasal 214, Pasal 215,
Pasal 216, Pasal 232, atau Pasal 234, ∗ PERSIAPAN :

(3) Mempersiapkan atau memudahkan - sistem formulasinya seharusnya sama


terjadinya tindak pidana sebagaimana dengan “permufakatan jahat” (lihat
dimaksud pada ayat (2) berupa : bahan “evaluasi Permufakatan
a. berusaha menggerakkan orang Jahat”);
lain untuk melakukan, menyuruh
melakukan, turut serta melakukan - dalam aturan khusus (spt. Psl. 259
tindak pidana itu, atau untuk ayat 3) tidak perlu lagi diberikan
memberi bantuan pada waktu pengertian/batasan “persiapan”,
melakukan tindak pidana atau karena dalam aturan umum sudah ada
memberi kesempatan, sarana, atau pengertiannya (lihat Psl. 13 ayat 2);
keterangan untuk melakukan
tindak pidana; - sekiranya pengertian/batasan “per-
b. berusaha memperoleh kesem- siapan” dalam Psl. 13 (2) dipandang
patan, sarana, atau keterangan kurang cukup, dapat saja batasan

34
bagi diri sendiri atau orang lain dalam Psl. 259 (3) diintegrasikan utk
untuk melakukan tindak pidana menyempurnakan rumusan Psl. 13
tersebut; (2).;
c. mempunyai persediaan barang
yang diketahuinya bahwa barang - pengertian Psl. 259 (3) sub a sebaik-
tersebut digunakan untuk melaku- nya dihapus, karena akan menggang-
kan tindak pidana; gu pengertian “menyuruhlakukan”
d. mempersiapkan atau merencana- (doenplegen), “turut serta”
kan untuk melaksanakan tindak (medeplegen), dan “pembantuan”
pidana tersebut yang akan diberi- (medeplichtige) yang sudah ada
tahukan kepada orang lain; atau dalam sistem KUHP (RUU).
e. berusaha mencegah, menghalangi,
atau menggagalkan suatu tindak-
an kekuasaan umum untuk men- ∗ PIDANA TAMBAHAN :
cegah tindak pidana tersebut. - pidana tambahan tidak perlu disebut
(4) Barang sebagaimana dimaksud pada dalam rumusan delik, karena sudah
ayat (3) huruf c dirampas. ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2)
(5) Tidak dipidana, setiap orang yang yang menyatakan :
bermaksud hanya mempersiapkan
perubahan ketatanegaraan secara “Pidana tambahan dapat dijatuh-
konstitusional. kan bersama-sama dengan pidana
pokok, sebagai pidana yang berdiri
Pasal 260 sendiri atau dapat dijatuhkan
(1) Pembuat tindak pidana sebagai-mana bersama-sama dengan pidana
dimaksud dalam Pasal 213 dapat tambahan yang lain”.
dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak sebagai-mana
dimaksud dalam Pasal 88 ayat (1)
huruf a, huruf b, huruf c, dan/atau
huruf d.
(2) Pembuat tindak pidana sebagai-mana
dimaksud dalam Pasal 209, Pasal 210,
Pasal 211, Pasal 212, Pasal 215, Pasal
216, Pasal 232, Pasal 233, Pasal 234,
Pasal 235, Pasal 236, atau Pasal 259,
atau Pasal 260 ayat (1) dapat dijatuhi
pidana tambahan berupa pencabut-an
hak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 88 ayat (1) huruf a dan/atau
huruf b.
(3) Pembuat tindak pidana sebagaima-na
dimaksud dalam Pasal 236, juga dapat
dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 88 ayat (1)
huruf c dan/atau huruf f dan

35
pengumuman putusan hakim seba-
gaimana dimaksud dalam Pasal 64
ayat (1) huruf c.

BAB II :
∗ Pidana tambahan tidak perlu disebut
Bagian Ketiga dalam rumusan delik, karena sudah ada
Pidana Tambahan aturan umum (Psl. 64 ayat 2). Lihat di
atas.
Pasal 264
(1) Pembuat tindak pidana sebagaimana ∗ Dengan adanya Psl. 64 (2), penjatuhan
dimaksud dalam Pasal 261, dapat pidana tambahan diserahkan sepenuh-
dijatuhi pidana tambahan berupa nya kepada hakim untuk memilih jenis
pencabutan hak sebagaimana dimak- pidana tambahan yang akan dijatuhkan,
sud dalam Pasal 88 ayat (1) huruf a, disesuaikan dengan kondisi pembuat
huruf b, dan/atau huruf c. (terpidana) dan kasus/perkaranya.
(2) Pembuat tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 262, dapat
dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak sebagaimana dimak-
sud dalam Pasal 88 ayat (1) huruf a
dan/atau huruf b.

BAB III :
Bagian Kelima ∗ PERMUFAKATAN JAHAT (Ps.273):
Permufakatan Jahat dan Pidana Tambahan
Formulasi delik permufakatan jahat
Pasal 273 dalam Buku II seharusnya sbb. :
Setiap orang yang melakukan permufa- - “Permufakatan jahat untuk melaku-
katan jahat untuk melakukan tindak kan tindak pidana dalam Pasal .....,
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal dipidana”.
265 atau Pasal 266, dipidana dengan pidana
sesuai dengan ketentuan pasal-pasal - ancaman pidananya tidak perlu
tersebut. dicantumkan dalam perumusan delik
ybs., kecuali akan menyimpang
Pasal 274 (membuat kekhususan) dari aturan
(1) Pembuat tindak pidana sebagai-mana umum.(Cttn: jangan “semuanya
dimaksud dalam Pasal 267 dapat menyimpang”, krn. kalau semua
dijatuhi pidana tambahan berupa menyimpang, tidak ada artinya lagi
pencabutan hak sebagaimana Psl. 15 Buku I).
dimaksud dalam Pasal 88 ayat (1)
huruf a, huruf b, huruf c, dan/atau - Lihat bahan “Evaluasi Permufakatan
huruf d. Jahat”.
(2) Pembuat tindak pidana sebagai-mana
dimaksud dalam Pasal 268 dapat

36
dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak sebagaimana dimak- ∗ PIDANA TAMBAHAN (Psl. 274):
sud dalam Pasal 88 ayat (1) huruf a, pidana tambahan tidak perlu diatur
huruf b, dan/atau huruf c; dalam Buku II (rumusan delik), karena
(3) Pembuat tindak pidana sebagaimana sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
dimaksud dalam Pasal 265, Pasal 266, Lihat di atas.
Pasal 269, Pasal 270, atau Pasal 273,
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak sebagaimana dimak-
sud dalam Pasal 88 ayat (1) huruf a
dan/atau huruf b.

BAB IV :
Bagian Ketiga ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur
Pidana Tambahan dalam Buku II (rumusan delik), karena
Pasal 282 sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
Lihat di atas.
(1) Pembuat tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 275 dapat
dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak sebagaimana dimak-
sud dalam Pasal 88 ayat (1) huruf a,
huruf b, dan/atau huruf c.
(2) Pembuat tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 276, Pasal 277,
Pasal 278, Pasal 279, Pasal 280, atau
Pasal 281 dapat dijatuhi pidana
tambahan berupa pencabutan hak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88
ayat (1) huruf c.

BAB VIII
Bagian Kesepuluh ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur
Pidana Tambahan dalam Buku II (rumusan delik), karena
sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
Pasal 389 Lihat di atas.
(1) Jika pembuat salah satu tindak pi-
dana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 344 sampai dengan Pasal 386
melakukan perbuatan tersebut dalam
menjalankan profesinya, maka dapat
dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak untuk menjalankan
profesi tersebut.
(2) Pembuat tindak pidana sebagaimana

37
dimaksud dalam Pasal 385 atau Pasal
386, juga dapat dijatuhi pidana
tambahan berupa pengumuman
putusan hakim.

BAB XIII ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur


Bagian Kelima dalam Buku II (rumusan delik), karena
Pidana Tambahan sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
Lihat di atas.
Pasal 451
Pembuat salah satu tindak pidana sebagai-
mana dimaksud dalam Pasal 442 sampai
dengan Pasal 449 dapat dijatuhi pidana
tambahan berupa pencabutan hak sebagai-
mana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (1)
huruf a, huruf b, huruf c, dan/atau huruf d.

BAB XIV ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur


Bagian Keempat dalam Buku II (rumusan delik), karena
Pidana Tambahan sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
Lihat di atas.
Pasal 462
Pembuat salah satu tindak pidana sebagai-
mana dimaksud dalam Bab ini, dapat dija-
tuhi pidana tambahan berupa pencabutan
hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88
ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, dan/atau
huruf d.

BAB XVI
Bagian Kesebelas ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur
Pidana Tambahan dalam Buku II (rumusan delik), karena
sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
Pasal 505 Lihat di atas.
(1) Pembuat salah satu tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
468, Pasal 484, Pasal 485, Pasal 486,
Pasal 488, Pasal 489 sampai dengan
Pasal 498 dapat dijatuhi pidana
tambahan berupa pencabutan hak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
88 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c,
dan/atau huruf d.
(2) Jika pembuat tindak pidana seba-

38
gaimana dimaksud dalam Pasal 488
dan Pasal 493 sampai dengan Pasal
498 melakukan perbuatan tersebut
dalam menjalankan profesinya, maka
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak untuk menjalankan
profesi tersebut.

BAB XXVII
Pasal 617 ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur
(1) Pembuat salah satu tindak pidana se- dalam Buku II (rumusan delik), karena
bagaimana dimaksud dalam Bab ini, sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa Lihat di atas.
pengumuman putusan hakim dan
pencabutan hak untuk menjalankan
profesinya selama waktu tertentu.

(2) Pembuat tindak pidana sebagaima-na


dimaksud dalam Pasal 592, Pasal 601,
Pasal 607, Pasal 609, Pasal 610, atau
Pasal 615, dapat dijatuhi pidana
tambahan sebagai-mana dimaksud
dalam Pasal 64 ayat (1) huruf a,
huruf b, dan/atau huruf d.

BAB XXVIII ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur


Bagian Kelima dalam Buku II (rumusan delik), karena
Pidana Tambahan sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
Lihat di atas.
Pasal 627
(1) Pembuat tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 619, Pasal 620,
Pasal 621, atau Pasal 623, atau dapat
dijatuhi pidana tambahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 64 ayat (1)
huruf a, huruf b, dan/atau huruf d.
(2) Pembuat tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 618 sampai
dengan Pasal 625 dapat dijatuhi pidana
tambahan berupa pengumuman
putusan hakim.

BAB XXIX ∗ Pemberatan pidana karena delik dilaku-


Bagian Keempat kan bersama-sama, tidak perlu dirumus-

39
Pemberatan Pidana kan secara khusus dalam Buku II (pe-
rumusan delik), karena sudah ada aturan
Pasal 636 umum Psl. 131 sub e.
Jika salah satu tindak pidana sebagai-
mana dimaksud dalam Bab ini dilaku-
kan oleh 2 (dua) orang atau lebih secara
bersama- sama, maka pidananya dapat
ditambah dengan 1/3 (satu per tiga),
kecuali tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 629.

BAB XXX
Bagian Ketiga ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur
Pidana Tambahan dan Ganti Rugi dalam Buku II (rumusan delik), karena
sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
Pasal 664 Lihat di atas.
Pembuat tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 639, Pasal 643,
Pasal 644, Pasal 646, Pasal 647, Pasal 648,
Pasal 653, atau Pasal 661, dapat dijatuhi
pidana tambahan berupa pencabutan hak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88
ayat (1) huruf b dan huruf c.

Pasal 665
Pembuat tindak pidana yang melakukan
salah satu tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Bab ini, dapat dijatuhi
pidana tambahan berupa pembayaran ganti
kerugian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 64 ayat (1) huruf d.

BAB XXXII ∗ Pidana tambahan tidak perlu diatur


Pasal 706 dalam Buku II (rumusan delik), karena
Pembuat tindak pidana sebagaimana di- sudah ada aturan umum (Psl. 64 ayat 2).
maksud dalam Pasal 704 atau Pasal 705, Lihat di atas.
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa
perampasan barang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 93 huruf b dan huruf c.

Pasal 708
Pembuat tindak pidana sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 677 sampai dengan

40
Pasal 678, Pasal 687, atau Pasal 688 dapat
dijatuhi pidana tambahan berupa pencabut-
an hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
88 ayat (1) huruf a, huruf b, atau huruf c.

Pasal 709
Pembuat tindak pidana sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 678, Pasal 679, Pasal
682, Pasal 687 sampai dengan Pasal 691,
Pasal 692, Pasal 694, Pasal 695, atau Pasal
696 dapat dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan hak untuk menjalankan profesi
tertentu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 88 ayat (1) huruf f.

41

Anda mungkin juga menyukai